P. 1
madrasah pada masa klasik islam bab2

madrasah pada masa klasik islam bab2

|Views: 4,876|Likes:
Published by troupez_damour
madrasah pada masa klasik islam bab2
madrasah pada masa klasik islam bab2

More info:

Published by: troupez_damour on Nov 08, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/28/2013

pdf

text

original

Duwar al-kutub atau perpustakaan telah memainkan peranan sangat penting sebagai
lembaga pendidikan. Daur al-kutub bukan hanya merupakan tempat kumpulan buku, tapi
juga berfungsi sebagai sarana belajar, saling tukar informasi, dan berdiskusi. Dalam
sejarah Islam masa klasik, perpustakaan banyak didirikan baik oleh perorangan,
masyarakat, maupun oleh pemerintah.

Para khalifah, gubernur dan penguasa lokal pada masa Dinasti Abbasiyah, dalam
rangka membina pemikiran dan ilmu pengetahuan, mendirikan bangunan khusus yang
biasanya dinamakan dengan bait al-hikmah atau khiza'nah al-hikmah atau shawawin al-
hikmah. Pada dasarnya, lembaga bait al-hikmah di atas berfungsi sebagai perpustakaan
(daur al-kutub}, yang tampaknya juga aktif di sana para guru, para ilmuwan, di samp ing
aktivitas penterjemahan, penulisan naskah, dan penjilidannya. 16

Bait al-Hikmah yang pertama adalah bait al-hikmah yang didirikan oleh khalifah
Abbasiyah di Baghdad. Bait al-hikmah ini didirikan pertama kali oleh Abu Ja'far al-
Manshur (135-157 H/ 752-774 M). Aktivitasnya terus menanjak dan menjadi sangat
terkenal pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid dan al-Ma'mun, ketika lembaga ini
juga berfungsi sebagai tempat pengajaran.

Termasuk Bait al-hikmah yang terkenal adalah bait al-hikmah yang terdapat di
Qairawan. Disebutkan bahwa bait al-hikmah ini didirikan oleh Ziadatullah III al-Aghlabi
(290-296 H), gubernur Dinasti Abbasiyah yang berkedudukan di Afrika Utara. Di
lembaga bait al-hikmah di Qairawan ini terdapat perpustakaan dan tempat dilakukannya
aktivitas penterjemahan, karang mengarang, tempat pengajaran ilmu kedokteran,
apoteker, matemiatika, astronomi, ilmu ukur, ilmu tumbuh-tumbuhan, musik, dan lain

Hasan al-Basya, Dirasatfi al-Hadharah al-Islamiyah , (Kairo: Bar al-Nahdhah al-'Arabiyyah, 16
1975), h. 99; Lihat juga Abu Hasan 'Ali ibn 'Ali al-Mas'udi, Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jawhar ,
Penyunting Muhammad Muhy al-Din 'Abd al-Hamid, Jilid 2, (Beirut: Dar al-Fikr, 1973), h. 283.

sebagainya. 17

Adapun khizanah al-hikmah, yang terkenal di antaranya adalah khizanah al-hikmah
yang didirikan oleh al-Fath bin Khaqan, menteri dari khalifah Abbasiyah, al-Mutawakkil
(232-247 H/846-861 M). Khalifah al-Mu'tadhid juga mendirikan perpustakaan-
perpustakaan dan tempat-tempat dan bangunan-bangunan di sisi jalan yang digunakan
sebagai tempat pengajaran.

Perpustakaan, baik dengan aktivitas yang banyak seperti halnya dengan Bait al-
hikmah
tersebut, maupun yang hanya berfungsi sebagai perpustakaan, pada waktu itu
sangat banyak mengimpun buku-buku dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan.
Sebagian perpustakaan itu ada yang menghimpun lebih dari sejuta buku.

Di samping perpustakaan-perpustaakn itu, tersebar pula apa yang dinamakan mahal
al-waraqah
(secara harfiah berarti tempat kertas) yang berfungsi sebagai pusat ilmu
pengetahuan dan peradaban. Mahal al-waraqah ini aktivitas utamanya adalah pembuatan
naskah buku, penulisan kaligrafi untuk buku, di samping fungsinya sebagai pusat
peradaban. Al-Ya'qubi, sejarawan terkenal abad ketiga Hijrah, pada tahun 278 H (891 M)
meneliti bahwa di Baghdad ketika itu terdapat sebanyak lebih dari seratus mahal al-
waraqah.

Setelah periode Abbasiyah pertama berakhir, politik dunia Islam mengalami
disintegrasi. Negara Dinasti Abbasiyah mendapat saingan besar dari negara Bani
Umayyah di Spanyol dan negara Dinasti Fathimiyah di Mesir. Kedua negara Islam
terakhir ini, bersama dinasti-dinasti kecil lainnya, juga ambil bagian aktif dalam lapangan
ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pengajaran. Semuanya mengalami kemajuan pesat.

Para pakar peradaban sering mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban
buku, dalam arti bahwa buku telah dimanfaatkan secara serius sebagai sumber ilmu
pengetahuan. Hal itu karena al-Qur'an yang merupakan pedoman hidup kaum Muslim
menempatkan ilmu pengetahuan pada kedudukan yang tinggi dan terhormat. Karena
itulah, orang-orang Islam dari semua kalangan sangat menghargai buku, dan buku dalam
kaitannya dengan peradaban Islam sama artinya dengan perpustakaan. 18

Perpustakaan di dunia Islam telah berkembang sebagai lembaga pendidikan
sebelum Madrasah masuk ke dalam khazanah pendidikan Islam. Ketika Madrasah
mulai
muncul perpustakaan tetap berkembang, bahkan Madrasah pun melengkapi dirinya
dengan bangunan perpustakaan. Kendatipun perpustakaan di sini telah dibatasi fungsinya
hanya sebagai tempat baca.

Seperti halnya halaqah al-dars , perpustakaan pun sempat dipertanyakan apakah ia
merupakan lembaga pendidikan, ataukah cukup disebut sebagai perpustakaan saja, tanpa
diberi status atau predikat sebagai lembaga pendidikan. Seakan ingin menjawab keraguan

Hasan al-Basya, op. cit , h. 100. 17
Ahmad Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam , edisiIndonesia (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 18
132-3.

ini, Ahmad Syalabi mengatakan bahwa perpustakaan di dunia Islam klasik telah
menjalankan fungsi sebagai perguruan tinggi seperti di zaman modern.

Untuk menguatkan pandangannya itu Ahmad Syalabi menyebut beberapa
perpustakaan yang nyata-nyata melebihi fungsinya sebagai perpustakaan, karena juga
berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Perpustakaan
"Khizanah al-Hikmah" , di Karkar bagian Qufs (dekat Baghdad), misalnya, selalu
didatangi orang-orang dari berbagai negeri untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan.
Perpustakaan ini terletak di istana milik Ali ibn Yahya. Perpustakaan ini dilengkapi
dengan asrama, tempat menginap orang-orang yang berasal dari negeri yang jauh. Bukan
itu saja, perbelanjaan dan makanan mereka juga ditanggung oleh ibnu Yahya.

Begitu juga perpustakaan yang terletak di " Dar al-'Ilm " yang didirikan oleh Abu al-
Qasim Ja'far ibn Muhammad ibn Hamdan al-Maushili di Mosul. Perpustakaan ini dibuka
setiap hari dan bisa dimanfaatkan oleh siapa saja. Sebagai pengagum dan pecinta syair,
JaTar memanfatkan perpustakaannya itu untuk mengajarkan syair-syair gubahannya, atau
syair-syair orang lain yang dipelajarinya, kepada para pengunjung. Para pengunjung yang
datang dari negeri yang jauh dan kebetulan tidak berpunya, selalu diberi buku-buku dan
uang oleh Ja'far. Karena alasan-alasan itu., Ahmad Syalabi mengingatkan bahwa siapa
saja yang menulis tentang lembaga pendidikan Islam di masa klasik, maka dia tidak dapat
meninggalkan pembicaraan tentang perpustakaan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->