P. 1
madrasah pada masa klasik islam bab2

madrasah pada masa klasik islam bab2

|Views: 4,876|Likes:
Published by troupez_damour
madrasah pada masa klasik islam bab2
madrasah pada masa klasik islam bab2

More info:

Published by: troupez_damour on Nov 08, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/28/2013

pdf

text

original

Sejak Nabi Muhammad Saw., mendapat wahyu dari, SWT, ayat-ayat al-Qur'an dan
penafsirannya merupakan mate pengajaran yang sangat penting. Karena itu, beliau melal
tugasnya disetiap kesempatan yang memungkinkan baginya untuk menyampaikan
risalahnya. Nabi Saw., ketika itu memar menghadapi kenyataan bahwa risalah yang akan

S.I. Poeradisastra, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern (Jakarta: P3M, 1981), 7

h. 8.

M. Quraish Shihab, op. cit ., h. 178 . 8
S.I. Poeradisastra, op. cit ., h. 7. 9

disampaikan terhadang oleh adat-istiadat dan kebiasaan yang berlaku di tengah-tengah
kaumnya, yang dalam banyak hal bahkan bertentanga dengan wahyu yang diterimanya
dari Allah SWT.

Nabi Saw., akhirnya menyusun strategi. Pertama-tama beliau menyampaikan
dakwahnya secara sembunyi-sembunyi. Ada kalanya beliau menyampaikan dakwah di
perjalanan, tapi kerapkali juga dikediamannya; adakalanya dakwah Islam disampaikan
kepada orang perorangan, tapi kalau situasj memungkinkan beliau juga tampil di hadapan
jamaah. Orang yang pertamakali menyambut seruan Nabi Saw., adalah istri beliaul
sendiri, Siti Khadijah, kemudian disusul oleh Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Shidiq,
kemudian beliau menyeru yang lainnya kepada Islam. Dakwah secara sembunyi-
sembunyi (sirriyah) ini berlangsung selama tiga tahun.

Pada periode ini, Nabi Saw. menggunakan Darul Arqam (rumah kediaman sahabat,
al-Arqam bin Abi Al-Arqam r.a.) sebagai tempat pertemuan dengan para sahabatnya.
Praktek belajar-mengajar yang dilakukan Nabi Saw. ketika itu, menurut Muhammad
Raf'at Sa'id, betul-betul sudah terorganisir dengan rapi, sesuai dengan target yang hendak
dicapai terhadap peserta didik. Jadi bukan hanya sekadar pemahaman, hafalan, dan
pelaksanaan, tetapi lebih dari itu untuk melahirkan kader-kader pendidik. Karena itu 10
setelah tiga tahun digembleng secara sembunyi-sembunyi, maka di masa-masa berikutnya
para sahabat itu sudah tumbuh menjadi kader-kader pendidik andalan Nabi Saw., yang
kelak mendampingi beliau dalam menyampaikan risalah Islam secara terang-terangan.

Mencermati proses belajar-mengajar yang berlangsung di Darul Arqam, yang
menurut Said sudah berlangsung secara sistematis, dan telah menggariskan tujuannya
dengan jelas, yaitu mendidik kader, maka kiranya tidak berlebihan jika Said berpendapat
bahwa Darul Arqam itulah yang merupakan "lembaga pendidikan Islam" pertama yang
diselenggarakan di kota Mekkah. Tetapi tentu saja Darul Arqam tidak bisa dikatakan 11
sebagai lembaga pendidikan Islam dalam arti yang sebenarnya, sebab yang disebut
lembaga tentunya keberadaannya telah mapan dan mantap di tengah-tengah masyarakat,
padahal Darul Arqam hanya merupakan rumah seorang sahabat bernama al-Arqam bin
Abi al-Arqam r.a. yang digunakan oleh Nabi Saw., untuk menyampaikan ayat-ayat al-
Qur'an dan mengajarkan agama kepada para pengikutnya, ketika situasinya tidak
memungkinkan untuk menyampakan hal tersebut di muka umum.

Bahkan ketika Nabi Saw., mulai melakukan dakwahnya secara terang-terangan,
sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al-Hijr ayat 94, apa yang disebut Lembaga
Pendidikan Islam dalam arti formal belum tumbuh secara ajeg. Alasannya karena kaum
Muslim pengikut Nabi yang jumlahnya belum banyak ketika itu kerapkali menghadapi
berbagai macam siksaan dari orang-orang kafir Quraisy.

Muhammad Ra'fat Said, Rasulullah SAW. Profil Seorang Pendidik: Methodologi Pendidikan dan 10
Pengajarannya, esidi Indonesia Jakarta: Firdaus, 1994), h. 93. Sebenarnya Said menggunakan is tilah
"madrasah", tetapi sebagaimana kita tahu bahwa lembaga pendidikan model madrasah di dunia Islam belum
ada pada zaman Nabi dan para sahabat, madrasah baru lahir pada abad ke-4 H.
Ibid., h. 108 . 11

Lembaga pendidikan Islam yang bersifat semi-formal atau hampir mendekati ciri-
ciri sebuah lembaga formal, karena memiliki metodologi pengajaran dan jadwal yang
tetap, baru tumbuh seiring dengan perkembangan dakwah Islam yang mulai memperoleh
sambutan relatif luas, yaitu di Madinah.

Di antara para sahabat Nabi yang memeluk Islam setelah Khadijah, Ali bin Abi
Thalib, dan Abu Bakar Shiddiq, ialah Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair bin
Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidilah, Arqam
bin Abi al-Arqam, Abu Ubaidillah bin Jarrah, Fatimah binti Khattab dan suaminya Sa'id
bin Zaid, dan beberapa sahabat lainnya. Merekalah "murid-murid" Nabi Saw., pertama
yang memperoleh pendidikan di Darul Arqam. Mereka pula yang menjadi guru-guru
pertama, setelah Nabi Saw. sendiri, dalam sejarah Islam.

Dengan merekalah biasanya Nabi Saw. menetapkan waktu-waktu tertentu untuk
mengadakan pertemuan dalam rangka menyampaikan pelajaran di rumah-rumah para
sahabat secara bergantian. Itulah yang dikenal dengan majlis atau lingkaran-lingkaran
belajar (halaqah dars). Dengan kata lain, majlis atau halaqah merupakan perkembangan
berikutnya dari lembaga pendidikan Islam yang mulai menampakkan sosoknya dengan
jelas, meskipun belum permanen.

Ketika jumlah kaum Muslimin ini mulai banyak, kebutuhan untuk belajar membaca
dan menulis muncul sejalan dengan kebutuhan kaum Muslim untuk memahami dan
mendalami ayat-ayat al-Qur'an. Maka pada fase berikutnya muncullah apa yang
kemudian dikenal sebagai kuttab , sebuah lembaga pengajaran al-Qur'an untuk tingkat
dasar. Di samping itu, rumah terutama rumah orang alim juga digunakan sebagai tempat
belajar.

Dan ketika masjid mulai didirikan, umat Islam tidak menyia-nyiakannya begitu
saja. Masjid juga digunakan untuk proses belajar mengajar. Ruangan mesjid pun segera
dimanfaatkan sebagai tempat berlangsungnya halaqah-halaqah al-dras .

Dalam perjalanan sejarah Islam yang panjang itu, para peneliti sejarah pendidikan
Islam mencatat nama-nama lembaga pendidikan yang pernah muncul dalam sejarah Islam
di masa Idasik dan telah memberi jasa besar bagi perkembangan intelektual dalam Islam.
Lembaga-lembaga pendidikan itu di antaranya adalah seperti Dar al-Hikmah, al- Khan at,
al-Bimaristan, ar- Ribath , dan lain-lain. Dalam perkembangannya, akhirnya muncul
lembaga pendidikan yang tertata rapih dan proses pendidikan dan pengajarannya
berlangsung secara lebih sistematis. Inilah yang disebut Madrasah , lembaga pendidikan
yang dapat dikatakan sebagai puncak dari perkembangan lembaga pendidikan, tempat
proses belajar-mengajar berlangsung dalam Islam.

Secara sepintas, lembaga-lembaga pendidikan yang pernah muncul mendahului
berdirinya Madrasah dalam sejarah Islam itu akan dijelaskan satu persatu secara
berurutan, sedangkan mengenai Madrasah akan dijelaskan pada bagian tersendiri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->