P. 1
SKRIPSI

SKRIPSI

|Views: 6,524|Likes:
Published by riswet

More info:

Published by: riswet on Nov 08, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/11/2013

pdf

text

original

1

PENGGUNAAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS XI IS 1 SMA NEGERI 1 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2008/2009 (Penelitian Tindakan Kelas)

SKRIPSI

Oleh:

SWETY RETNA NIM K7405113

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009

2

PENGGUNAAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS XI IS 1 SMA NEGERI 1 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2008/2009 (Penelitian Tindakan Kelas)

Oleh:
SWETY RETNA NIM K7405113

Skripsi Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009

3

HALAMAN PERSETUJUAN Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Persetujuan Pembimbing, Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Wahyu Adi, M.Pd NIP.131 841 881

Sri Sumaryati, S.Pd, M.Pd NIP. 132 309 135

4

Skripsi ini telah direvisi oleh Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Tim Penguji Skripsi: Nama Terang Ketua Sekretaris Anggota I Anggota II : Drs. Sudiyanto, M.Pd. : Jaryanto, S.Pd, M.Si. : Drs. Wahyu Adi, M.Pd. : Sri Sumaryati, S.Pd, M.Pd. Tanda Tangan ....................... ....................... ....................... .......................

5

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Pada hari Tanggal Tim Penguji Skripsi: Nama Terang Ketua Sekretaris Anggota I Anggota II : Drs. Sudiyanto, M.Pd. : Jaryanto, S.Pd, M.Si. : Drs. Wahyu Adi, M.Pd. : Sri Sumaryati, S.Pd, M.Pd. Tanda Tangan ....................... ....................... ....................... ....................... : Selasa : 14 April 2009

Disahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Dekan,

Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd NIP. 131 658 563

6

ABSTRAK Swety Retna. K7405113. PENGGUNAAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS XI IS 1 SMA NEGERI 1 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2008/2009. Skripsi. Surakarta. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, April 2009. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan pendekatan contextual teaching and learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning dalam upaya meningkatkan hasil belajar akuntansi. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas. Obyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta yang berjumlah 41 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan kolaborasi antara penulis, guru kelas dan melibatkan partisipasi siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Prosedur penelitian meliputi tahap: (1) identifikasi masalah, (2) persiapan, (3) penyusunan rencana tindakan, (4) implementasi tindakan, (5) pengamatan, dan (6) penyusunan laporan. Proses penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi. Setiap siklus dilaksanakan dalam empat kali pertemuan, masing-masing pertemuan selama 1 x 45 menit. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar akuntansi melalui penggunaan pendekatan contextual teaching and learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning. Hal tersebut terefleksi dari beberapa indikator sebagai berikut: (1) Siswa antusias dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran akuntansi, (2) Siswa mampu mengatasi kesulitan belajar dengan berdiskusi dengan teman yang lebih paham akan materinya dan belajar bertanya, (3) siswa mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya ke depan kelas, (4) guru mampu memberikan metode pembelajaran akuntansi dengan nuansa baru. Hal ini antara lain diinformasikan oleh beberapa siswa melalui kegiatan wawancara setelah semua siklus tercapai, (5) kemampuan siswa dalam memahami akuntansi meningkat. Hal ini dapat dilihat dari nilai akhir dan nilai rata-rata kelas yang mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II. Peningkatan tersebut terjadi setelah guru melakukan beberapa upaya, antara lain: (1) penggunaan pendekatan contextual teaching and learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning, (2) guru membuat inovasi baru dalam menyampaikan pelajaran akuntansi dengan membentuk kelompok-kelompok belajar dan membuka kegiatan diskusi dan tanya jawab, (3) siswa diminta untuk mengulang pelajaran yang diberikan guru melalui kegiatan presentasi pada waktu pelajaran berikutnya.

7

MOTTO ....Aku belajar bahwa untuk menjadi sempurna adalah omong kosong. Kadang kita sukses, kadang kita gagal. Yang penting kita harus tetap semangat hidup dan melakukan hal yang kita yakini... Dan satu hal yang pasti : sebaik apapun aku dalam satu hal, aku tidak akan pernah menjadi master, akan ada hal baru yang harus aku pelajari! (Kate Bosworth) Hanya ada satu bukti dari kemampuan: ”Tindakan”. (Marie) Percayalah pada dirimu sendiri dan apa pun yang kamu impikan. Jangan pernah katakan ”aku tak bisa” tetapi katakanlah ”aku pasti bisa!” dan kau akan mendapatkan impianmu. (Penulis) Untuk mencapai suatu kemungkinan kau harus mau mencoba ketidakmungkinan yang ada. Teruslah berusaha dan jangan menyerah. Dengan tetap berpegang pada agama dan ridho Allah terjanglah semua rintangan di sepanjang jalanmu hingga kau mendapatkannya. Itulah keberhasilan yang sebenarnya. (Penulis)

8

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan sebagai wujud rasa sayang, cinta kasih penulis dan terima kasih penulis kepada : Ibu dan Bapak yang aku sayangi dan aku hormati, terima kasih atas doa restu dan kasih sayang yang terus mengalir untukku sehingga aku dapat menyelesaikan studiku dengan lancar. Sweta, Nunu, dan Aga yang aku sayangi, kalian adalah sumber semangatku. Bude Lily dan keluarga, terima kasih sudah banyak membantuku selama ini. Anjar Arief Sutrisno, terima kasih atas dukungan dan semangatnya. Pak Wahyu, Pak Bayu dan Bu Sri, terima kasih atas bimbingan, kesabaran dan motivasinya. Saudara seperjuanganku, Riska dan Zum terima kasih atas kritik, saran, dukungan dan kasih sayang kalian yang telah membangunku menjadi orang yang lebih baik, you’re the best sisters I ever had. Sahabat-sahabatku Nurin, Amee, Shinta, Werdi, Riana,Yosita, Nurla, Dewi, Harini, Gina, dan Sinonggo, thanks atas dukungan dan doanya. Anak-anak SQ, I’m very lucky and happy to have you as my second family, thanks for all. Teman-teman BKK Akuntansi 2005, thank u.

9

-

Almamater UNS. KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga skipsi ini dapat diselesaikan dengan baik oleh penulis untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi dalam menyelesaikan penulisan skipsi ini dapat diatasi berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, atas segala bentuk bantuannya penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. 2. 3. bijaksana. 4. Drs. Wahyu Adi, M.Pd., selaku Pembimbing I yang telah memberikan arahan, bimbingan dan motivasi sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. 5. Khresna Bayu Sangka, S.E, M.M selaku Pembimbing II pertama, meskipun hanya setengah perjalanan tetapi banyak memberikan semangat untuk penyelesaian skripsi ini. 6. Sri Sumaryati, S.Pd, M.Pd selaku Pembimbing II yang telah memberikan dukungan, nasehat dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik . 7. 8. Drs. H. M. Thoyibun, S.H, MM, selaku Kepala SMA Negeri 1 Surakarta yang telah memberikan izin pelaksanaan penelitian. Drs. Wiyono selaku guru akuntansi SMA Negeri 1 Surakarta dan siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian dalam skripsi ini. Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Drs. Saiful Bachri, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah memberikan ijin penulisan skripsi ini. Drs. Wahyu Adi, M.Pd., selaku Ketua Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi yang telah memberikan bimbingan, pengarahan dengan

10

9.

Bapak Ibu tercinta, yang selalu memberikan dorongan baik moril maupun spiritual, kasih sayang serta doa yang tak henti-hentinya mengiringi penulis hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

10. skripsi ini.

Teman-teman dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan Semoga amal kebaikan semua pihak tersebut mendapatkan imbalan dari

Allah SWT. Amin. Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan, namun penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan perkembangan ilmu pengetahuan pada khususnya.

Surakarta, April 2009

Penulis

11

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...................................................................................... HALAMAN PENGAJUAN ........................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... HALAMAN ABSTRAK ................................................................................ HALAMAN MOTTO .................................................................................... KATA PENGANTAR.................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................. i ii iii iv vi vii ix xi

HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... viii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xiv DAFTAR TABEL .......................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... A. Latar Belakang Masalah ............................................................. B. Identifikasi Masalah .................................................................... C. Pembatasan Masalah .................................................................... D. Perumusan Masalah ..................................................................... E. Tujuan Penelitian ......................................................................... F. Manfaat Penelitian ....................................................................... BAB II. LANDASAN TEORI ....................................................................... A. Tinjauan Pustaka ......................................................................... 1. Pendididkan ........................................................................... 1 1 6 7 7 7 8 9 9 9

2. Proses Belajar Mengajar ......................................................... 10 3. Pendekatan dalam Pembelajaran ............................................ 11 4. Pendekatan Contextual Teaching and Learning ..................... 14

12

a. Makna Contextual Teaching and Learning....................... 14 b. Keunggulan pendekatan Contextual Teaching and Learning ............................................................................... 16 c. Pentingnya penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning dalam pembelajaran akuntansi ................... 18 5. Hasil Belajar ........................................................................... 21 6. Hasil Belajar Akuntansi........................................................... 22 7. Rancangan Pembelajaran Akuntansi dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning............................................. 24 B. Penelitian Yang Relevan .............................................................. 24 C. Kerangka Berpikir ........................................................................ 26 D. Hipotesis Tindakan ...................................................................... 27 BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 28 A. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................... 28 B. Pendekatan Penelitian .................................................................. 29 C. Teknik Pengumpulan Data ........................................................... 34 D. Prosedur Penelitian....................................................................... 35 E. Proses Penelitian .......................................................................... 36 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.............................. 40 A. Deskripsi Lokasi Penelitian.......................................................... 40 B. Identifikasi Masalah Pembelajaran Akuntansi Kelas XI IS 1 di SMA Negeri 1 Surakarta ................................................... 42 C. Deskripsi Hasil Penelitian ............................................................ 44 1. Siklus I .................................................................................... 44 a. Perencanaan Tindakan Siklus I ......................................... 44 b. Pelaksanaan Tindakan Siklus I ......................................... 48 c. Observasi dan Interpretasi.................................................. 52 d. Analisis dan Refleksi Tindakan Siklus I ........................... 54 2. Siklus II ................................................................................... 55 a. Perencanaan Tindakan Siklus II ........................................ 55

13

b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II ........................................ 58 c. Observasi dan Interpretasi.................................................. 61 d. Analisis dan Refleksi Tindakan Siklus II ......................... 63 D. Pembahasan.................................................................................. 64 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ....................................... 69 A. Simpulan....................................................................................... 69 B. Implikasi ....................................................................................... 71 1. Implikasi Teoretis..................................................................... 71 2. Implikasi Praktis....................................................................... 72 C. Saran ............................................................................................. 72 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 74 LAMPIRAN ................................................................................................... 77

14

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Alur Kerangka Berpikir Gambar 2. Siklus Penelitian Tindakan Gambar3. Grafik Tingkat Keaktifan Siswa pada Siklus I Gambar 4. Grafik Tingkat Kepasifan Siswa pada Siklus I Gambar 5. Grafik Tingkat Keaktifan Siswa pada Siklus II Gambar 6. Grafik Tingkat Kepasifan Siswa pada Siklus II Gambar 7. Grafik Hasil Penelitian 1 Gambar 8. Grafik Hasil Penelitian 2 27 32 53 54 63 63 65 68

15

DAFTAR TABEL Tabel 1. Keunggulan Pendekatan CTL dibanding pendekatan Tradisional 17 Tabel 2. Jadwal Penelitian, Bentuk dan Strategi Penelitian Tabel 3. Indikator Ketercapaian Belajar Siswa Tabel 4. Profil Hasil Penelitian 29 38 65

16

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Catatan Lapangan 1 Lampiran 2. Catatan Lapangan 2 Lampiran 3.Gambar Pelaksanaan Siklus I Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 1 Lampiran 5. Materi Pembelajaran Siklus I Lampiran 6. Soal Latihan Kerja Kelompok Siklus I Lampiran 7. Soal Evaluasi Akhir Siklus I Lampiran 8. Catatan Lapangan 3 Lampiran 9. Gambar Pelaksanaan Siklus II Lampiran 10. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 2 Lampiran 11. Materi Pembelajaran Siklus II Lampiran 12. Soal Latihan Kerja Kelompok Siklus II Lampiran 13. Soal Evaluasi Akhir Siklus II Lampiran 14. Daftar Nilai Siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta Lampiran 15. Tabel Pengamatan Siklus I Lampiran 16. Tabel Pengamatan Siklus II Lampiran 17. Daftar Pertanyaan Wawancara Lampiran 18. Ijin penelitian Lampiran 19. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian 79 82 87 89 93 97 101 106 111 113 117 119 123 127 128 130 132

17

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah kegiatan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis dengan tujuan menggali dan mengembangkan potensi-potensi dalam diri manusia. Melalui pendidikan diharapkan terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam rangka menyikapi perubahan global yang melanda dunia. Perubahan global akan mempengaruhi tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Perubahan yang terus menerus itu menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional. Perbaikan tersebut antara lain melalui peningkatan mutu atau kualitas tenaga pendidik, penyempurnaan dan perbaikan sarana dan prasarana sekolah, perubahan strategi dan pendekatan pembelajaran ataupun melalui penyempurnaan kurikulum. Tuntutan untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia melalui penyempurnaan kurikulum telah beberapa kali dilakukan. Pada tahun pelajaran 2008/2009 digunakanlah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP) sebagai kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum ini diharapkan mampu menjawab tantangan masa depan yaitu mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Penyempurnaan Kurikulum tersebut mengacu pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu berkenaan dengan pasal-pasal sebagai berikut: 1. Pasal 3 tentang Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

1

18

berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab; 2. Pasal 35 ayat (1) tentang Standar Nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala; 3. Pasal 36 ayat (1) dan ayat (2) tentang pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional dan tujuan pendidikan, serta memperhatikan prinsip diversifikasi sesuai dengan potensi peserta didik; 4. 5. Pasal 37 ayat (1) tentang muatan wajib pada kurikulum Pasal 38 ayat (1) tentang kerangka dasar dan struktur pendidikan dasar dan menengah; dan kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah, dan ayat (2) tentang peran koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah. Melalui perubahan kurikulum diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan yang secara menyeluruh mencakup pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya, yakni aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, perilaku, pengetahuan, kesehatan, keterampilan dan seni. Pengembangan aspek-aspek tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi siswa untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan berhasil di masa datang. Dengan demikian siswa memiliki ketangguhan, kemandirian, dan jati diri yang dikembangkan melalui pembelajaran dan atau pelatihan yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Mulyasa (2004: 58-59) menyatakan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) perlu memperhatikan halhal sebagai berikut:

19

Pertama, pembelajaran harus lebih menekankan pada praktek, baik di laboratorium maupun di masyarakat. Dalam hal ini guru harus mampu memilih serta menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mempraktekkan apa-apa yang dipelajarinya. Kedua, pembelajaran harus dapat menjalin hubungan sekolah dengan masyarakat. Dalam hal ini setiap guru harus mampu dan jeli melihat berbagai potensi masyarakat yang bisa didayagunakan sebagai sumber belajar dan menjadi penghubung antar sekolah dengan lingkungannya. Ketiga, perlu dikembangkan iklim pembelajaran yang demokratis dan terbuka, melalui pembelajaran terpadu. Keempat, pembelajaran perlu ditekankan pada masalah-masalah aktual yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan nyata yang ada di masyarakat. Kurikulum yang telah disempurnakan menuntut adanya perubahan pada strategi dan pendekatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran diselenggarakan untuk membentuk watak, peradaban, dan meningkatkan mutu kehidupan siswa. Untuk itu pelaksanaan kegiatan pembelajaran harus menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, sfisien, dan bermakna. Dalam hal ini kegiatan pembelajaran harus mampu mengembangkan dan meningkatkan kompetensi, kreatifitas, kemandirian, kerjasama, solidaritas, kepemimpinan, empati, toleransi, dan kecakapan hidup siswa. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dewasa ini gencar disosialisasikan adalah pendektan kontekstual. Pendekatan kontekstual sering disebut Contextual Teaching and Learning (CTL). Drs. Bandono (2008) mengungkapkan:
Contextual Teaching and Learning merupakan proses pembelajaran yang

holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. Dalam artikel karya Drs. Bandono, menurut pendekatan kontekstual, pembelajaran yang efektif meliputi : 1. Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. 2. Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru

20

digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. 3. Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. 4. Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. 5. Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. 6. Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. 7. Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penerapan komponen-komponen pada pendekatan kontekstual ini mampu menciptakan suatu pembelajaran yang efektif yang mampu meningkatkan minat serta pemahaman siswa terhadap suatu pembelajaran. Untuk mengetahui apakah kegiatan pembelajaran di sekolah telah seperti yang diharapkan, peneliti melakukan penelitian di SMA Negeri 1 Surakarta. Sekolah ini peneliti pilih menjadi lokasi penelitian karena sekolah tersebut merupakan SMA terbaik di Surakarta. Sekolah itu telah berstandar Internasional. Dengan predikatnya yang demikian peneliti berasumsi bahwa tenaga pendidik yang ada di dalamnya adalah guru-guru profesional. Peneliti yakin mereka telah menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Kenyataan yang ada sungguh di luar dugaan. Pada awalnya peneliti membayangkan akan menyaksikan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum yang kini berlaku, namun yang peneliti saksikan adalah guru yang tetap bertahan pada tradisi lama. Begitu masuk kelas, setelah memberikan sedikit ceramah tentang materi pelajaran, guru memberi para siswanya beberapa tugas yang harus diselesaikan. Tidak ada waktu untuk bertanya jawab. Setiap kali,

21

siswa hanya diminta untuk membuka buku teks dan mengerjakan buku Lembar Kerja. Peneliti melihat suasana pembelajaran yang jauh dari menyenangkan dan menggairahkan. Siswa yang awalnya duduk tegak sebagai tanda siap mengikuti kegiatan pembelajaran, sebagian besar langsung tertunduk lemas. Kegiatan pembelajaran pun terasa pasif. Hanya beberapa siswa saja yang terlihat aktif membuka-buka buku dan berdiskusi dengan teman sekitarnya. Beberapa siswa yang terlihat rajin membaca dapat menyelesaikan tugas tersebut dengan cepat. Namun sebagian besar yang lain, yang sejak awal kurang antusias karena mungkin mengalami kesulitan dalam memahami konsep akuntansi tak kunjung menyelesaikan tugasnya. Bahkan akhirnya mereka mengambil jalan pintas: menyontek hasil pekerjaan teman. Setelah melakukan beberapa kali pengamatan peneliti menyimpulkan bahwa guru tersebut mempunyai gaya mengajar yang monoton dan kurang menarik. Para siswa terlihat merasa jenuh. Dari suasana pembelajaran yang demikian mustahil akan dicapai prestasi yang maksimal. Dari survey awal yang dilakukan peneliti, nilai rata-rata kelas 69,22. Angka ini belum memenuhi nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) mata pelajaran akuntansi, yaitu 70. Siswa yang mendapat nilai 70 ke atas sebanyak 68% dari keseluruhannya, 32% sisanya masih di bawah standar ketuntasan minimal. Di antara siswa yang belum tuntas, bahkan ada yang mendapat nilai sangat rendah, yaitu 17. Siswa yang mengumpulkan tugas rumah secara tepat waktu sebanyak 40%. Sebanyak 55% mengumpulkan tugasnya dengan terlambat 2 minggu dari waktu yang ditentukan. Sisanya, sebesar 5% tidak mengumpulkan tugas rumah. Ini menunjukkan bahwa tingkat keaktifan dan minat siswa dalam mengikuti pelajaran sangat rendah. Berangkat dari kondisi tersebut di atas, peneliti tergerak untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning. Komponen-komponen pembelajaran yang terdapat dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning sangat baik untuk menanamkan

22

pengetahuan pada siswa dalam pembelajaran akuntansi, termasuk di kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta. Agar pelaksanaan pendekatan ini berjalan efektif dalam pembelajaran akuntansi di SMA Negeri 1 Surakarta kelas XI IS 1, peneliti memilih dua komponen pendekatan Contextual Teaching and Learning. Hal ini disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi di kelas tersebut. Peneliti mengambil komponen learning community (masyarakat belajar) dan questioning (bertanya). Dengan menerapkan komponen learning community diharapkan siswa yang termasuk kurang bisa akan berinteraksi dengan siswa yang pandai untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam belajar dengan diskusi. Komponen questioning memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya lebih lanjut kepada guru tentang materi yang belum mereka kuasai dengan baik dengan demikian pemahaman mereka meningkat. Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning dalam pembelajaran akuntansi diharapkan dapat meningkatkan minat belajar dan pemahaman mereka mengenai pelajaran akuntansi. Metode-metode mengajar bisa dilakukan secara bervariasi sehingga memacu semangat siswa dalam belajar dan kemudian meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “Penggunaan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009”. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan hasil pengamatan dan survey awal yang dilakukan, peneliti mengidentifikasikan permasalahan yang terdapat pada pembelajaran akuntansi keuangan kelas XI IS 1 SMA Negeri Surakarta sebagai berikut: 1. Siswa umumnya kurang antusias mengikuti pembelajaran akuntansi karena kesulitan memahami konsep yang diberikan oleh guru yang hanya

23

menggunakan metode ceramah dan hanya sedikit diselingi dengan tanya jawab. 2. Kebanyakan siswa tidak mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan oleh guru dengan kemampuan mereka sendiri. Mereka cenderung menyalin hasil pekerjaan teman. 3. Guru belum menggunakan metode pembelajaran yang mampu membangkitkan minat dan pemahaman siswa dalam pembelajaran akuntansi. 4. Keaktifan dan minat siswa terhadap mata pelajaran akuntansi masih sangat rendah. Hal ini terlihat, antara lain pada cara siswa mengumpulkan tugas rumah. Hanya sedikit siswa yang mengumpulkan tugas rumahnya secara tepat waktu. C. Pembatasan Masalah Agar masalah yang teridentifikasi dapat dikaji secara mendalam, maka perlu dilakukan pembatasan masalah. Pada penelitian ini masalah yang akan penulis kaji lebih dalam adalah tentang penggunaan pendekatan dalam pembelajaran yang tepat untuk membangun semangat dan meningkatkan pemahaman mereka pada mata pelajaran akuntansi, yaitu dengan: 1. Penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning. 2. Penilaian dilakukan dengan menilai proses dan hasil pembelajaran. Proses pembelajaran adalah proses kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di dalam kelas. Sedangkan hasil belajar dilihat dari peningkatkan prestasi belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dalam satu siklus. D. Perumusan Masalah Masalah penelitian ini adalah "Apakah Penggunaan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan menekankan komponen learning community dan questioning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Akuntansi Kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009?”

24

E. Tujuan Penelitian Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan menekankan komponen learning community dan questioning dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Akuntansi Kelas XI IS1 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009. F. Manfaat Penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan : 1. Bagi Guru Sebagai alternatif pemecahan masalah pembelajaran dengan menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa tidak hanya nilai tetapi juga keterampilan. 2. Bagi Siswa Mendapatkan kemudahan dalam memahami materi pelajaran dan memberi pengalaman belajar inovatif baru untuk meningkatkan hasil belajar mereka. 3. Bagi Peneliti a. b. Memberi pengalaman baru mengenai penerapan metode pembelajaran inovatif. Sebagai alternatif untuk mengatasi permasalahan pembelajaran yang mungkin muncul saat mengajar kelak.

25

BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Pendidikan Pendidikan merupakan komponen penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Makna pendidikan tercermin dari pengertian pendidikan itu sendiri. Menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra (2002: 9), ”Pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien”. Menurutnya, pendidikan lebih dari sekedar pengajaran. Pendidikan adalah suatu proses dimana suatu bangsa / negara membina dan mengembangkan kesadaran diri di antara individu-individu. Soedomo Hadi (2005: 18) dalam buku Pengantar Pendidikan mengatakan, ”Pendidikan itu adalah pengaruh, bantuan atau tuntunan yang diberikan oleh orang yang bertanggungjawab kepada anak didik”. Sedangkan menurut Darnelawati yang dikutip oleh Fitri (2008) berpendapat bahwa, ”Pendidikan formal adalah pendidikan di sekolah yang berlangsung secara teratur dan bertingkat mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat. Tujuan pendidik adalah untuk memperkaya budi pekerti, pengetahuan dan untuk menyiapkan seseorang agar mampu dan terampil dalam suatu bidang pekerjaan tertentu”.

26

Proses pendidikan itu sendiri melibatkan banyak hal yang dijabarkan dalam unsur-unsur pendidikan. Menurut Tirtahardja, dkk (2005) unsur-unsur pendidikan antara lain sebagai berikut: a. b. c. pendidik (interaksi edukatif) d. (tujuan pendidikan) Subjek yang dibimbing (peserta didik) Orang yang membimbing (pendidik) Interaksi antara peserta didik dengan Ke arah mana bimbingan ditujukan yang diberikan dalam

e. Pengaruh bimbingan (materi pendidikan) f. (alat dan metode)

Cara yang digunakan dalam bimbingan

g. Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).

Peserta didik adalah anak yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan 9 tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu. Sedangkan pendidik adalah orang yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Interaksi edukatif adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik ke arah tujuan pendidikan. Interaksi ini dilakukan dengan sengaja melalui penyampaian materi berupa pengetahuan yang dilaksanakan dalam suatu lingkungan pendidikan tertentu. Dari pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan adalah suatu proses pembelajaran yang diberikan oleh seorang pendidik kepada anak didik agar anak didik memiliki keterampilan untuk mencapai tujuan hidupnya. Pendidikan merupakan suatu proses yang kompleks yang melibatkan banyak unsur didalamnya dimana masing-masing unsur saling berkaitan membentuk

27

suatu sistem yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan juga merupakan usaha suatu bangsa dalam memajukan generasi mudanya, jadi pendidikan yang dimaksud disini adalah pendidikan secara formal atau melalui lembaga pendidikan, yaitu sekolah, perguruan tinggi, dan seterusnya.

2.

Proses Belajar Mengajar

Salah satu unsur pendidikan adalah interaksi edukatif atau biasa disebut Proses Belajar Mengajar. Drs. A Tabrani Rusyan (1989: 4) mengatakan: Proses belajar mengajar pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah pada pencapaian tujuan pendidikan. Untuk itu hendaknya dipahami benar bahwa terjadinya perilaku belajar pada pihak peserta didik dan perilaku mengajar pada pihak pendidik tidak berlangsung hanya dari satu arah, tetapi terjadi secara timbal balik dimana kedua pihak berperan dan berbuat secara aktif di dalam suatu kerangka dan dengan menggunakan cara dan kerangka berpikir yang seyogyanya dipahami dan disepakati bersama.

Menurut Anwar Holil (2008), ”Proses belajar mengajar adalah kegiatan yang integral (terpadu) antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan guru sebagai pengajar yang sedang mengajar”. Sedangkan Anis Matta (2008) dalam tulisannya mengenai komunikasi efektif dalam proses belajar mengajar mengungkapkan: Proses belajar mengajar merupakan interaksi antar berbagai unsur, dengan unsur utama adalah siswa, kebutuhan berbagai sumber, serta situasi belajar yang memberikan kemungkinan kegiatan belajar. Guru juga merupakan faktor yang menentukan seperti melakukan pengembangan bahan ajar serta perangkat lainnya. Komunikasi menjadi unsur penentu didalam proses tersebut. Semakin efektif komunikasi yang dilakukan, maka akan semakin banyak tujuan dari proses belajar mengajar yang akan tercapai.

28

Dalam pengertian interaksi sudah barang tentu ada unsur memberi dan menerima, baik bagi guru maupun bagi peserta didik. Drs. A. Tabrani Rusyan (1989: 6) mengatakan: Setiap proses interaksi belajar-mengajar selalu ditandai dengan adanya sejumlah unsur, yakni: a. Tujuan yang ingin dicapai,

b. Adanya guru dengan peserta didik sebagai individu yang terlibat dalam proses interaksi tersebut, c. Adanya bahan pelajaran, dan

d. Adanya metode sebagai alat (wasilah) untuk menciptakan situasi belajar-mengajar.

Jadi dapat dikatakan bahwa proses belajar mengajar merupakan interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dengan peserta didik atau siswa dalam suatu situasi pendidikan yang dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi isi, metode, serta alat-alat pendidikan.

3.

Pendekatan dalam Pembelajaran

Penerapan suatu metode pembelajaran dalam proses belajar mengajar memerlukan pendekatan tertentu. Membahas pendekatan pembelajaran tidak terlepas dari pengertian pendekatan itu sendiri. Pendekatan yang menjadi pokok bahasan adalah pendekatan dalam pembelajaran. Akhmad Sudrajat (2008) dalam artikelnya mengenai pendekatan dalam pembelajaran mengemukakan: Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, didalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.

29

Pendekatan dalam belajar mengajar pada dasarnya adalah melakukan proses belajar mengajar yang menekankan pentingnya belajar melalui proses mengalami untuk memperoleh pemahaman. Pendekatan ini mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan berhasil-tidaknya belajar yang diinginkan. Peningkatan mutu belajar mengajar sebenarnya tidak terlepas dari pendekatan dalam belajar-mengajar karena berhasil tidaknya hasil belajarmengajar dapat dilihat dari mutu lulusan, dari produknya, atau proses belajarmengajar dikatakan berhasil jika masukan rata, menghasilkan banyak lulusan dan bermutu tinggi, yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, serta yang memadai. Juga jika prosesnya menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat kerja yang besar, dan percaya pada diri sendiri. Untuk memperoleh hasil diatas, maka salah satu jalan kita perlu meningkatkan kualitas belajar mengajar dengan menciptakan pendekatan pembelajaran yang tepat. Banyak pendekatan pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan, salah satunya seperti yang dibahas oleh Suwarna, M.Pd (2006: 101) dalam buku Pengajaran Mikro, menurutnya beberapa pendekatan utama dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut: a. Model Pendekatan Induktif, yaitu pendekatan yang menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Dalam strategi ini guru mempresentasikan data dan berdasar data tersebut guru mengajak siswa membangun konsep atau pengertian. b. Model Pendekatan deduktif, ditandai dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Implementasi model ini meliputi langkah-langkah presentation of the abstraction, clarification of term, presentation of examples, dan student generate examples.Jadi, guru memberikan penggambaran mengenai konsep, kemudian memberi contoh dan siswa mengikutinya. c. Model Pendekatan Proses, merupakan pengembangan dari pendekatan induktif. Pendekatan ini dilakukan dengan langkah-langkah: 1)membuat daftar gejala/fakta, 2) mengelompokkan data, 3) memberi nama atau label pada data yang telah dikelompokkan, 4) mengoleksi data, 5) membuat grafik hubungan antar data, 6) menjelaskan dan membahas lebih lanjut persoalan yang dipelajari, 7) memprediksikan berbagai kemungkinan dari hasil pembahasan, dan 8) membuat kesimpulan berdasarkan data.

30

d. Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning,yaitu pendekatan yang memiliki tujuh komponen pembelajaran aktif. Penerapan pendekatan ini cukup mudah, yaitu: 1) Kembangkan pemikiran bahwa anak belajar lebih bermakna dengan bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya. 2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik. 3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. 4) Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompokkelompok) 5) Hadirkan model dalam contoh pembelajaran. 6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan. 7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. Pemilihan pendekatan pembelajaran harus relevan dengan tujuan dan harus tampak baik dalam perencanaan pembelajaran maupun situasi pembelajaran di kelas, laboratorium maupun di lapangan. Apapun model pendekatan yang digunakan dalam suatu proses pembelajaran, pada akhirnya siswa harus mampu memperoleh pengertian tentang konsep keilmuan yang ia pelajari. Penerapan pendekatan pembelajaran dalam proses belajar mengajar harus memungkinkan para siswa memahami arti pelajaran yang mereka pelajari. Seperti yang dikatakan filsuf terkenal, Alfred North Whitehead dalam Elaine B Johnson Ph.D (2007: 37), “Si anak harus menjadikannya (ide-ide) milik mereka, dan harus mengerti penerapannya dalam situasi kehidupan nyata mereka pada saat yang sama”. Salah satu pendekatan diatas, yaitu pendekatan kontekstual meminta para siswa melakukan hal itu. Karena pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) mengajak para siswa membuat hubungan-hubungan yang mengungkapkan makna, CTL memiliki potensi untuk membuat para siswa berminat belajar, dan, seperti yang dikatakan Whitehead, “Tidak ada perkembangan mental tanpa adanya minat. Minat adalah dasar dari perhatian dan pemahaman”. Sesuai pernyataan Depdiknas yang dikutip oleh Suwarna M.Pd (2006: 120) mengungkapkan bahwa “Pendekatan kontekstual tidak sulit diterapkan pada kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya”. Maka pendekatan ini sangat cocok diterapkan untuk mengatasi

31

masalah pembelajaran terutama dalam membangun minat belajar dan pemahaman siswa seperti yang terjadi pada pembelajaran akuntansi di kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta.
4.

Pendekatan Contextual Teaching and Learning

a. Makna Contextual Teaching and Learning

Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning, siswa harus menyadari makna dari belajar dan apa manfaatnya bagi dirinya dan kehidupannya nanti. Dengan mengetahui ia akan mendapatkan sesuatu dari apa yang dipelajarinya, diharapkan siswa akan berusaha sendiri untuk mencapainya. Peran seorang guru dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning adalah sebagai pendukung yang membantu siswa mencapai tujuan yang mereka harapkan. Guru tidak menjadi pusat informasi siswa, tetapi menjadi fasilitator bagi siswa untuk mendapatkan semua pengetahuan yang mereka perlukan. Elaine B Johnson, Ph.D (2007: 67) dalam bukunya “Contextual Teaching and Learning” menyatakan bahwa, Sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka. Untuk mencapai tujuan ini, sistem tersebut meliputi delapan komponen berikut: membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, melakukan pekerjaan yang berarti, melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, melakukan kerjasama, berpikir kritis dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian autentik.

32

Menurut Depdiknas (2008), dinyatakan bahwa penerapan pendekatan kontekstual (CTL) memiliki tujuah komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakatbelajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (authentic assesment). Adapaun tujuh komponen tersebut sebagai berikut: 1) Konstruktivisme (constructivism) Konstruktivisme merupakan landasan berpikir CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuan yang dimilikinya. 2) Menemukan (inquiry) Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat faktafakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hipotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion). 3) Bertanya (questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk : (a)menggali informasi, (b) menggali pemahaman siswa, (c) membangkitkan respon kepada siswa, (d) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, (e) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, (f) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, (g) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, (h) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa. 4) Masyarakat Belajar (learning community) Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. 5) Pemodelan (modeling) Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya

33

model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar. 6) Refleksi (reflection) Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu. 7) Penilaian yang sebenarnya ( authentic assessment) Penialaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil. Dari beberapa pendapat di atas, dapat dinyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru untuk menciptakan proses pembelajaran yang bermakna. Komponen-komponen pembelajaran yang ditawarkan dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning sangat membantu guru mengaktifkan siswa dalam belajar. Dengan keaktifan siswa dalam setiap pembelajaran, siswa diharapkan mampu untuk memaknai apa manfaat belajar bagi mereka, sehingga siswa menemukan minat mereka dalam pembelajaran.
b. Keunggulan Pendekatan Contextual Teaching and Learning

Saat ini masih banyak pembelajaran yang mengandalkan guru sebagai satu-satunya sumber informasi, sehingga metode ceramah menjadi pilihan dalam melaksanakan penbelajaran. Hal ini mengakibatkan siswa menjadi pasif dan kurang kreatif. Paradigma lama ini pun mengubah siswa menjadi anak yang berlaku seperti gelas kosong yang minta untuk diisi. Kegiatan belajar yang kurang menyenangkan dan monoton membuat siswa tidak menikmati belajar itu sendiri. Paradigma pembelajaran lama harus

34

segera ditinggalkan. Pendekatan tradisional yang selama ini menjadi andalan bagi banyak guru dalam pembelajaran harus dialihkan ke pendekatan yang modern yang menciptakan pembelajaran menyenangkan bagi siswa. Salah satunya adalah pendekatan Contextual Teaching and Learning. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan pendekatan pembelajaran modern yang menempatkan siswa sebagai subjek belajar yang aktif, menciptakan inovasi bagi guru menjadikan pembelajaran sebuah kegiatan yang menyenangkan dan bermakna. Penerapan pendekatan ini dalam pembelajaran diharapkan mampu mengatasi masalah yang sering ditemui dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tradisional. Zulfikri Kamin (2008) memaparkan keunggulan pendekatan dibandingkan dengan pendekatan tradisional sebagai berikut. Tabel 1. Perbedaan Pandangan Kontekstual (CTL) dan Tradisional PENDEKATAN CTL 1. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran 2. Siswa belajar dari temen melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi. 3. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan 4. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman. 5. Bahasa yang diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata. 6. Siswa menggunakan kemampuan berfikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif 7. Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya. 8. Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan
PENDEKATAN TRADISIONAL

CTL

1.

Siswa adalah penerima informasi secara pasif. 2. Siswa belajar secara individual. 3. 4. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis

Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan. 5. Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural, rumus diterangkan sampai paham, kemudian dilatih (drill). 6. Siswa secara pasif menerima rumus tanpa memberikan konstribusi ide dalam proses pembelajaran. 7. Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang berada diluar diri manusia. 8. Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.

35

mengembangkan pembelajaran 9. Pembelajaran tidak mereka masing-masing. memperhatikan pengalaman 9. Penghargaan terhadap pengalaman siswa. siswa sangat diutamakan. 10. Hasil belajar diukur hanya 10. Hasil belajar diukur dengan berbagai dengan tes. cara; proses kerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes dll. Dari tabel 1 dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan kontekstual atau CTL memiliki beberapa keunggulan, yaitu: 1) siswa aktif mencari sendiri informasi yang ia perlukan dalam pembelajarannya, sehingga menumbuhkan kemandirian dan kreatifitas. 2) siswa tumbuh menjadi pribadi yang menyadari pentingnya pembelajaran yang mereka lakukan. 3) pembelajaran tidak hanya memberikan ilmu tetapi juga mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik.
4) penilaian terhadap pengalaman siswa diperhatikan.

c. Pentingnya Penerapan Pendekatan Contextual Teaching and Learning

dengan Menekankan Komponen learning community dan questioning dalam Pembelajaran Akuntansi Di era modern seperti sekarang ini, masalah dalam dunia pendidikan terutama yang berkaitan dengan proses pembelajaran semakin kompleks. Untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, telah banyak dilakukan riset pendidikan yang bertujuan menciptakan inovasi dalam pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran itu sendiri. Pendekatan pendidikan dengan paradigma lama telah perlahan ditinggalkan karena dianggap tidak andal lagi dalam menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten dengan era saat ini. Pendekatan tradisional yang menganggap bahwa guru adalah pusat pengetahuan dan sumber ilmu, kini telah diperbaharui dengan pendekatan pembelajaran baru yang menempatkan

36

siswa sebagai pusat dalam pembelajaran. Siswa yang tadinya pasif sebagai pendengar saja, sekarang menjadi subjek belajar yang harus aktif mencari dan menggali ilmu untuk mendapatkan pengetahuan, sedangkan guru hanya memfasilitasi. Pendekatan baru ini diharapkan dapat menciptakan mental siswa yang kuat dan terampil dalam memanfaatkan pengetahuan mereka di masa yang akan datang. Beberapa dekade belakangan ini dikembangkan suatu pendekatan yang mempunyai komponen-komponen pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Pendekatan baru ini muncul pertama kali di Amerika, yaitu pendekatan Contextual Teaching and Learning yang sering disingkat menjadi CTL atau pendekatan kontekstual. Pendekatan Contextual Teaching and Learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang membantu guru untuk mengaktifkan siswa dalam membuat makna dari pembelajaran yang mereka laksanakan. Siswa didorong untuk membuat pengaitan antara materi dan praktek, membuat kelompok belajar, dan sebagainya. Komponen-komponen dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning antara lain: (1) Konstruktivisme, (2) Menemukan (inquiry),(3) bertanya (questioning), (4) Kelompok belajar (learning community), (5) Permodelan (modeling), (6) Refleksi (reflection), dan (7) penilaian autentik (authentic assessment). Ketujuh komponen ini sering disebut sebagai suatu syarat belajar siswa aktif. Dari ketujuh komponen diatas, komponen learning community adalah ciri pendekatan Contextual Teaching and Learning. Learning community berkaitan dengan komponen questioning atau bertanya, karena dalam suatu diskusi kelompok terdapat interaksi dua arah antar anggota kelompok, yang satu bertanya dan lainnya menjawab. Jadi kedua komponen ini mampu untuk saling mendukung satu sama lain jika diterapkan dalam proses pembelajaran. Baik learning community maupun questioning memiliki beberapa kelebihan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah dalam pembelajaran, terutama masalah keaktifan dan kurangnya pemahaman siswa.

37

Lianekke Gunawan (2006) dalam artikelnya mengatakan manfaat menerapkan kelompok belajar (learning community) antara lain: 1) Belajar dengan membentuk kelompok belajar sendiri dapat memotivasi semangat belajar antara teman satu dengan teman yang lainnya. 2) Saling berbagi informasi dan pengetahuan antar teman. Teman yang pandai dapat mengajari dan menularkan kepandaian kepada teman lain. 3) 4) Membangun komunikasi timbale balik dengan adanya diskusi. Bekerjasama menyelesaikan tugas sekaligus bersosialisasi.

Dengan menerapkan kelompok belajar dalam proses belajar mengajar, siswa diharapkan mampu membangun motivasi dan komunikasi antar siswa. Komunikasi antar siswa akan menciptakan arus informasi timbal balik sehingga mampu meningkatkan pemahaman siswa. Pentingnya belajar secara kelompok membantu siswa menggali informasi dari teman sebayanya. Dengan menerapkan komponen ini memungkinkan semua siswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau relatif sejajar. Siswa yang pandai akan membagi pengetahuannya dengan yang kurang pandai, siswa yang kurang pandai pun tidak akan minder atau merasa rendah diri ketika ia harus bertanya tentang hal yang ia belum mengerti karena mereka dapat berdiskusi secara terbuka dalam kelompok belajar. Depdikbud (1985) mengungkapkan manfaat dari kemampuan bertanya (questioning) dalam pembelajaran: 1) Mengembangkan kemampuan siswa dalam menemukan dan menilai informasi yang didapat. 2) Meningkatkan kemampuan siswa dalam membentuk dan mengungkapkan pertanyaan yang didasarkan atas informasi yang lengkap dan relevan 3) Mendorong siswa untuk mengembangkan ide dan mengemukakan ide-ide itu kepada anggota kelompoknya secara timbale balik.

38

4) Memberi kesempatan kepada semua anggota kelompok mempunyai sukses melebihi yang bisa dicapai, missal menemukan ideide baru atau lainnya yang lebih lengkap.

Usman (1995) mengungkapkan, dalam memberikan pertanyaan lisan pada proses pembelajaran ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu: 1) Kehangatan dan keantusiasan. Untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar mengajar, guru perlu menunjukkan sikap baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban siswa. Sikap dan cara guru termasuk suara, ekspresi wajah, gerakan dan posisi badan menunjukkan ada tidaknya kehangatan dan keantusiasan.
2) Kebiasaan yang perlu dihindari:

a) Tidak boleh mengulang-ulang pertanyaan bila siswa tidak mampu menjawab, b) Tidak boleh mengulang-ulang jawaban siswa,

c) Tidak boleh menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan sebelum siswa memperoleh kesempatan menjawab, d) Mengusahakan agar siswa tidak menjawab pertanyaan secara serempak, dan e) Mengusahakan agar pertanyaan yang diajukan tidak ganda.

Bertanya merupakan suatu ketrampilan yang sebaiknya ada dalam diri setiap siswa. Kegiatan bertanya ini dapat dilakukan antara siswa dengan siswa maupun atara guru dengan siswa. Dengan bertanya siswa dapat memperoleh informasi baru, belajar melatih kepercayaan diri, dan membantu siswa mengingat sesuatu yang telah ia pelajari. Pentingnya penerapan komponen bertanya (questioning) dalam pembelajaran adalah membantu siswa aktif dalam pembelajaran dan membantu meningkatkan pemahaman siswa mengenai suatu materi. Kegiatan bertanya dapat dilakukan oleh siswa kepada siswa lainnya, siswa kepada guru maupun guru kepada siswanya.

39

Fungsi bertanya itu sendiri adalah untuk mengembangkan minat dan keingintahuan, memusatkan perhatian pada pokok masalah, mendiagnosis kesulitan belajar, menguatkan keaktifan siswa dalam belajar, meningkatkan kemmapuan memahami informasi, kemampuan mengungkapkan pendapat, dan mengukur hasil belajar. Jadi, komponen ini sangat penting untuk menentukan keberhasilan dalam pemecahan masalah pembelajaran.

5.

Hasil Belajar

Belajar dilakukan oleh setiap manusia dalam hidupnya. Belajar merupakan proses yang dilaksanakan seumur hidup dari saat manusia lahir hingga ia mati. Proses belajar banyak sekali melibatkan kegiatan yang kompleks. Makna belajar itu sendiri sangat beragam tergantung sudut pandang masing-masing individu yang memaknainya. A.Suhaenah Suparno (2001) mengungkapkan dalam bukunya Membangun Kompetensi Belajar, mengatakan: Belajar merupakan suatu aktivitas yang menimbulkan perubahan yang relatif permanen sebagai akibat dari upaya-upaya yang dilakukannya. Perubahan-perubahan tersebut tidak disebabkan faktor kelelahan (fatigue), kematangan, ataupun karena mengkonsumsi obat tertentu. Belajar juga dihasilkan melalui kegiatan-kegiatan meniru hal-hal yang diamati di lingkungan; misalnya seseorang yang belajar bagaimana cara makan dengan menggunakan pisau dan garpu, maka cara yang paling efektif untuk melakukannya adalah melalui peniruan perilaku orang-orang yang sedang makan menggunakan sendok dan garpu. Meniru adalah pekerjaan yang sangat efektif di dalam proses belajar.

Sedangkan menurut Dewi Salma Prawiradilaga (2008: 132), “belajar merupakan proses berpikir, terjadi secara internal dalam diri seseorang untuk memahami atau mendalami suatu kemampuan atau kompetensi atau keahlian tertentu baik yang kasat mata maupun yang abstrak”.

40

Dari pendapat diatas, dapat dipahami bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk mendapatkan suatu hasil belajar berupa kemampuan yang akan terwujud dalam perubahan tingkah laku individu tersebut secara permanen, dan kemampuan tersebut bisa diperoleh salah satunya dengan meniru. Hasil belajar merupakan tujuan yang ingin dicapai seseorang ketika ia melakukan sebuah kegiatan pembelajaran. Dalam buku Penilaian Hasil Belajar (1991: 2) disebutkan: “Perolehan perubahan diri yang ternyatakan sebagai perubahan tindak tanduk itulah pada hakikatnya merupakan hasil belajar. Hasil belajar itu mungkin saja berupa abilitas dalam ranah nalar (kognisi) dan atau dalam ranah budi pekerti (afeksi) dan atau dalam ranah gerak-gerik (psikomotor)”. Dr. Nana Sudjana (2005: 3) mengungkapkan “Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris.” Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2007), “prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, atau diciptakan secara individu maupun secara kelompok” Pendapat ini berarti prestasi tidak akan pernah dihasilkan apabila seseorang tidak melakukan kegiatan. Hasil belajar atau prestasi belajar adalah suatu hasil yang telah dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar. Oleh karena itu prestasi belajar bukan ukuran, tetapi dapat diukur setelah melakukan kegiatan belajar. Keberhasilan seseorang dalam mengikuti program pembelajaran dapat dilihat dari prestasi belajar seseorang tersebut. Jadi hasil belajar atau prestasi belajar merupakan perubahan tingkah laku maupun abilitas yang kemudian menjadi milik individu yang belajar, baik dalam bidang kognitif, afektif, maupun psikomotoris.

6.

Hasil Belajar Akuntansi

41

Akuntansi merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada siswa SMA khususnya jurusan IPS. Fungsi mata pelajaran ini di SMA adalah memberikan bekal pengetahuan dasar mengenai akuntansi keuangan. Menurut Achmad Tjahjono dan Sulastiningsih (2003: 3), “secara umum akuntansi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem informasi yang berfungsi menyediakan informasi kuantitatif dari suatu unit organisasi atau kesatuan ekonomi yang ditujukan kepada para pemakai sebagai dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi.” Sedangkan menurut Soemarso S.R. (2004: 7), “Akuntansi keuangan adalah bidang akuntansi yang berhubungan dengan penyusunan laporan keuangan secara berkala untuk suatu unit ekonomi secara keseluruhan kepada pihak-pihak diluar perusahaan.” Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa akuntansi merupakan salah satu bidang akuntansi yang berhubungan dengan penyediaan informasi kuantitatif suatu kesatuan ekonomi yang ditujukan untuk pihak-pihak diluar perusahaan. Bidang ini pun menjadi salah satu mata pelajaran dalam kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) khususnya jurusan IPS. Setiap proses pendidikan dilakukan dengan tujuan mendapatkan suatu hasil berupa kemampuan dari individu yang melakukan proses belajar, begitu pula pendidikan mengenai akuntansi keuangan. Hasil belajar akuntansi keuangan pun tidak terlepas dari pengertian hasil belajar secara umum, yaitu kemampuan yang diperoleh berupa pengetahuan, pemahaman, serta keterampilan dalam mata pelajaran akuntansi.

7.

Rancangan Pembelajaran Akuntansi

42

dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning Sebelum kegiatan belajar mengajar dilakukan, maka perlu disusun rancangan pembelajaran akuntansi keuangan melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning sebagai berikut. 1) Guru menciptakan pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, kemudian memberikan materi sambil melakukan refleksi dan pengaitan dengan materi sebelumnya, sehingga siswa mampu mengingat kembali dan membuat keterkaitan,
2) Siswa dikondisikan dalam suasana learning community dengan membagi

kelas menjadi kelompok-kelompok belajar kecil antara 2-4 anak untuk berdiskusi mengenai materi yang hendak diberikan oleh guru, 3) Guru mendemonstrasikan tentang materi dan siswa diberi kesempatan untuk mempelajari, memahami dan mengembangkan materi yang sudah diterima siswa,
4) Siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan mendiskusikan materi yang

baru mereka pelajari dan memberikan pendapat tentang demonstrasi yang dilakukan oleh guru kemudian membangun pemahaman mereka,
5) Setelah itu, siswa diberikan soal latihan yang pertama-tama dilaksanakan

secara kelompok dengan anggota kelompok belajar yang telah ditentukan di awal pembelajaran,
6) Siswa diminta membuat laporan secara individu maupun kelompok

mengenai hasil kerjanya, kemudian menunjuk secara acak 2 kelompok untuk mempresentasikannya.

B.

Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan merupakan hasil penelitian orang lain yang relevan dijadikan titik tolak penelitian kita dalam mencoba melakukan

43

pengulangan, revisi, modifikasi, dan sebagainya. Penelitian yang relevan dan selaras dengan judul penelitian yang diambil, yaitu “Penggunaan Pendekatan Contextual Teaching and Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI IS I SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009” adalah sebagai berikut: 1. I Dewa Putu Nyeneng (2005) dalam penelitiannya yang berjudul Model Pembelajaran Langsung (Direct Intructional) dengan Pendekatan Kontekstual (Contectual Teaching And Laerning) untuk Meningkatkan Aktivitas, Konsepsi dan Hasil Belajar Fisika Mahasiswa Pendidikan Fisika FKIP Unila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian mahasiswa dalam belajar Fisika Modern cukup baik, hal ini terbutkti dari respon positif mahasiswa selama mengikuti kegiatan belajar. Aktivitas belajar mahasiswa sangat baik. Setiap kegiatan belajar Fisika Modern hanya sebagian kecil (kurang dari 10%) mahasiswa melakukan kegiatan menyimpang. Kosepsikonsepsi mahasiswa terhadap konsep fisika meningkat dari siklus ke siklus, yaitu pada siklus 1 94%, siklus II meningkat menjadi 160% dan pada siklus III meningkat menjadi 265%. Hasil belajar fisika Modern meningkat, dari siklus ke siklus, rata-rata hasil belajar fisika mahasiswa pada siklus I adalah 74.73, siklus II 79.13, dan siklus III 87. Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal meningkat dari siklus ke siklus. 2. Asep Sugiharto (2008) dalam penelitiannya yang berjudul Pembuktian Hasil Belajar Siswa Dalam Penggunaan Pendekatan Kontekstual pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Respon siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan konstektual rata-rata 78,8 % setuju, 4,55 % tidak setuju, 16,65 % tidak tahu, sedangkan respon siswa terhadap soal-soal dalam pembelajaran dengan pendekatan konstektual rata-rata 75 % setuju, 9,93 % tidak setuju, dan 15,07 % tidak tahu. Berdasarkan kajian teoretis dan hasil-hasil penelitian yang relevan di atas, maka tahap berikutnya peneliti menyusun kerangka berpikir yang mengarahkan perumusan hipotesis. Dengan adanya ulasan mengenai hasil penelitian yang

44

relevan tersebut, perumusan hipotesis dalam kerangka pemikiran penelitian ini memiliki dasar yang kuat.

C.

Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir merupakan alur penalaran yang sesuai dengan tema dan masalah penelitian serta didasarkan pada kajian teoritis. Kerangka berpikir ini digambarkan dengan skema secara holistik dan sistematik. Selaras dengan judul penelitian yang diambil, yaitu “Penggunaan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Diklat 2008/2009”. Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yaitu peningkatan hasil belajar yang optimal, diperlukan interaksi timbal balik yang positif antara guru dengan siswa melalui metode pembelajaran yang tepat. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat adalah penggunaan metode yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan selaras dengan materi yang disampaikan. Jika tidak, maka akan menyebabkan proses belajar mengajar menjadi tidak berdaya guna atau tidak optimal sehingga menimbulkan permasalahan dalam pembelajaran. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran akuntansi keuangan di SMA Negeri 1 Surakarta adalah guru belum menggunakan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran akuntansi keuangan. Perhatian dan antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran sangat kurang. Banyak siswa yang menghindari mengerjakan tugas dan tidak fokus mengikuti pembelajaran sehingga pemahaman mereka rendah dan hasil belajar mereka kurang optimal. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut peneliti menawarkan pendekatan Contextual Teaching and Learning terutama komponen learning community dan questioning sehingga akan terbentuk suasana belajar yang lebih hidup dengan diskusi dan tanya jawab sekaligus dapat memberikan semangat baru bagi siswa dalam pembelajaran akuntansi keuangan. Dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan

45

questioning diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat karena minat dan pemahaman mereka terhadap pembelajaran akuntansi keuangan pun meningkat. Dari alur penalaran diatas, maka dapat digambarkan kerangka berpikir sebagai berikut: Permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran : Guru belum menggunakan metode pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran akuntansi.

Siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran sehingga perhatian siswa terhadap pembelajaran pun rendah

Hasil Belajar akuntansi kurang optimal

Penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning

Komponen Learning Community

Komponen Questioning

Siswa aktif berdiskusi dalam kelompok belajar.

Siswa membangun pemahaman dengan aktif bertanya kepada guru dan teman.

Siswa lebih antusias dan aktif dalam pembelajaran sehingga pemahaman yang dimiliki siswa meningkat

Hasil belajar akuntansi meningkat (siswa lebih bersemangat dan prestasi belajar meningkat)

46

D.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan keterangan diatas, dapat dirumuskan hipotesis bahwa ”Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning dapat meningkatkan hasil pembelajaran akuntansi pada siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta.” BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Surakarta, yang beralamat di Jl. Monginsidi No.40 Surakarta. Sekolah ini dipimpin oleh Bapak Drs. H.M Thoyibun, S.H, M.M yang bertindak sebagai kepala sekolah. Sekolah ini memiliki 34 kelas yang terdiri atas : a. Kelas X sebanyak 13 kelas, terdiri dari 3 kelas RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Interbasional), 2 kelas Akselerasi, dan 8 kelas Reguler. b. Kelas XI sebanyak 11 kelas, terdiri dari 2 kelas RSBI, 8 kelas Jurusan IPA (IA), dan 3 kelas Jurusan IPS (IS).
c. Kelas XII sebanyak 10 kelas, terdiri dari 7 kelas Jurusan IPA (IA), dan 3

kelas Jurusan IPS (IS). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IS 1 dengan jumlah siswa 41 siswa. Alasan pemilihan sekolah ini sebagai tempat penelitian adalah: a. Menurut pendapat beberapa siswa (khususnya kelas XI IPS 1) bahwa dalam pembelajaran akuntansi yang dilakukan saat ini kurang menarik sehingga banyak siswa kurang memahami materi dan hasil yang diperoleh menjadi kurang maksimal; b. Antara peneliti dengan pihak sekolah sudah ada hubungan yang baik; c. Sekolah tersebut belum pernah dipergunakan sebagai objek penelitian sejenis, sehingga terhindar dari kemungkinan penelitian ulang;

47

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan secara kolaborasi dengan guru mata pelajaran akuntansi yaitu Bapak Drs.Wiyono, yang membantu dalam pelaksanaan observasi dan refleksi selama penelitian berlangsung, sehingga secara tidak langsung kegiatan penelitian bisa terkontrol sekaligus menjaga kevalidan hasil penelitian.

2. Waktu Penelitian

28 Penulis merencanakan pelaksanaan penelitian dari bulan Agustus 2008 sampai Maret 2009. Waktu ini meliputi kegiatan persiapan sampai penyusunan laporan penelitian, dengan jadwal sebagai berikut: Tabel 2. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Dalam Penelitian Ag t Ok t

Waktu Jenis Kegiatan 1.Persiapan Penelitian a. Penyusunan Judul b. Penyusunan Proposal c. Perijinan 2. Perencanaan Tindakan 3. Implementasi Tindakan a. Siklus I b. Siklus II 4. Review 5. Penyusunan Laporan

November Januari

Februari

Maret

B.

Pendekatan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas. Menurut Rustam dan Mudilarto (2004), Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan

48

merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Kegiatan penelitian ini diawali dari permasalahan yang dialami guru di dalam kelas. Permasalahan ini muncul dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung dan menimbulkan dampak negatif terhadap siswa maupun pembelajaran itu sendiri. Adanya permasalahan dalam kelas ini oleh guru direfleksikan dalam suatu tindakan perbaikan yang terencana dan terukur dengan pengamatan maupun ukuran kuantitatif melalui peningkatan hasil belajar yang dicapai siswa. Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang terpola dan dirancang khusus untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di dalam proses pembelajaran. Penelitian ini harus dilaksanakan secara terencana dan menurut pada prosedur yang telah ada. Pelaksanaan penelitian tindakan ini melalui beberapa siklus, tiap pelaksanaan penelitian minimal dilakukan 2 siklus. Bila hasil yang diharapkan sampai siklus 2 belum maksimal, maka akan dilanjutkan pada siklus 3 dan seterusnya. Untuk lebih memahami apa yang disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK), perlu diketahui pengertian dan karakteristik PTK itu sendiri. Menurut Suharsimi Arikunto (2007) ada tiga kata yang membentuk pengertian Penelitian Tindakan Kelas, maka ada tiga pengertian yang dapat diterangkan: 1. Penelitian –menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang brmanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. 2. Tindakan –menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa. 3. Kelas –dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Seperti sudah lama dikenal dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan istilah kelas adalah sekelompok siswa dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Dengan menggabungkan batasan pengertian tiga kata inti, yaitu (1) penelitian, (2) tindakan, dan (3) kelas, segera dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan

49

belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru dilakukan oleh siswa. Menurut Rustam dan Mundilarto (2004) PTK memiliki karakteristik sebagai berikut. 1. Masalah berawal dari guru 2. Tujuannya memperbaiki pembelajaran 3. Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidahkaidah penelitian 4. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran 5. Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti. Penelitian tindakan kelas dilihat dari karakteristiknya merupakan penelitian yang berawal dari ketidaksesuaian harapan guru terhadap pembelajaran dengan kenyataan yang ada. Ketidaksesuaian itu menimbulkan masalah pembelajaran dan menuntut perbaikan guna mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian dilakukan oleh guru dengan prosedur yang ada dan dilaksanakan dalam proses pembelajaran sehingga dapat langsung diamati hasilnya. Menurut Hopkins (1993) yang dikutip oleh Baskoro Adi Prayitno (2008), menyebutkan ada 6 (enam) prinsip dasar yang melandasi penelitian tindakan kelas. 1. Prinsip pertama, bahwa tugas guru yang utama adalah menyelenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas. Untuk itu, guru memilki komitmen dalam mengupayakan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran secara terus menerus. 2. Prinsip kedua bahwa meneliti merupakan bagian integral dari pembelajaran, yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode pengumpulan data. 3. Prinsip ketiga bahwa kegiatan meneliti, yang merupakan bagian integral dari pembelajaran, harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada alur dan kaidah ilmiah. 4. Prinsip keempat bahwa masalah yang ditangani adalah masalahmasalah pembelajaran yang riil dan merisaukan tanggungjawab profesional dan komitmen terhadap pemerolehan mutu pembelajaran. 5. Prinsip kelima bahwa konsistensi sikap dan kepedulian dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan. 6. Prinsip keenam adalah cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak seharusnya dibatasi pada masalah pembelajaran di ruang kelas,

50

tetapi dapat diperluas pada tataran di luar ruang kelas, misalnya: tataran sistem atau lembaga. Berdasar enam prinsip diatas dapat dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan salah satu wujud komitmen seorang guru dalam menjalankan keprofesionalannya mewujudkan pembelajaran yang berkualitas. Selain mengajar guru juga dituntut memiliki suatu ketrampilan melaksanakan penelitian dengan prosedur yang tepat dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan dalam meningkatkan hasil pembelajaran. Menurut DR. Sulipan, M.Pd, ada beberapa ahli yang mengemukakan model penelitian tindakan kelas, secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Namun perlu diketahui bahwa tahapan pelaksanaan dan pengamatan sesungguhnya dilakukan secara bersamaan. Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut. Pelaksanaan Perencanaan SIKLUS I Refleksi Perencanaan Pengamatan Pelaksanaan Pengamatan Refleksi

SIKLUS II Gambar 2. Alur PTK Keterangan: Tahap 1: Perencanaan tindakan Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal
SIKLUS SELANJUTNYA sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan

51

dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan (apabaila dilaksanakan secara kolaboratif). Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang dilakukan. Bila dilaksanakan sendiri oleh guru sebagai peneliti maka instrumen pengamatan harus disiapkan disertai lembar catatan lapangan. Yang perlu diingat bahwa pengamatan yang diarahkan pada diri sendiri biasanya kurang teliti dibanding dengan pengamatan yang dilakukan terhadap hal-hal yang berada di luar diri, karena adanya unsur subjektivitas yang berpengaruh, yaitu cenderung mengunggulkan dirinya. Dalam pelaksanaan pembelajaran rencana tindakan dalam rangka penelitian dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan, yaitu implementasi atau penerapan isi rencana tindakan di kelas yang diteliti. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap 2 ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha mentaati apa yang sudah dirumuskan dalam rencana tindakan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak kaku dan tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan. Tahap 3: Pengamatan Tindakan Tahap ke-3, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat (baik oleh orang lain maupun guru sendiri). Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kegiatan pengamatan ini tidak terpisah dengan pelaksanaan tindakan karena pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap 2 dan 3 dimaksudkan untuk memberikan peluang kepada guru pelaksana yang berstatus juga sebagai pengamat, yang mana ketika guru tersebut sedang melakukan tindakan tentu tidak sempat menganalisis peristiwanya ketika sedang terjadi. Oleh karena itu kepada guru pelaksana yang berstatus sebagai pengamat ini untuk melakukan "pengamatan balik" terhadap apa yang terjadi ketika tindakan berlangsung. Sambil melakukan pengamatan balik ini guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi.

52

Tahap 4: Refleksi terhadap tindakan Tahap ke-4 ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Istilah "refleksi" dari kata bahasa Inggris reflection, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pemantulan. Kegiatan refleksi ini sebetulnya lebih tepat dikenakan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. Inilah inti dari penelitian tindakan, yaitu ketika guru pelaku tindakan mengatakan kepada peneliti pengamat tentang hal-hal yang dirasakan sudah berjalan baik dan bagian mana yang belum. Apabila guru pelaksana juga berstatus sebagai pengamat, maka refleksi dilakukan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain guru tersebut melihat dirinya kembali, melakukan "dialog" untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rancangan dan mengenali hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Dalam hal seperti ini maka guru melakukan ”self evaluation” yang diharapkan dilakukan secara obyektif. Untuk menjaga obyektifitas tersebut seringkali hasil refleksi ini diperiksa ulang atau divalidasi oleh orang lain, misalnya guru/teman sejawat yang diminta mengamati, ketua jurusan, kepala sekolah atau nara sumber yang menguasai bidang tersebut. Jadi pada intinya kegiatan refleksi adalah kegiatan evaluasi, analisis, pemaknaan, penjelasan, penyimpulan dan identifikasi tindak lanjut dalam perencanaan siklus selanjutnya. Keempat tahap dalam penelitian tindakan tersebut adalah unsur untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun, dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi. Apabila dikaitkan dengan "bentuk tindakan" sebagaimana disebutkan dalam uraian ini, maka yang dimaksud dengan bentuk tindakan adalah siklus tersebut. Jadi bentuk penelitian tindakan tidak pernah merupakan kegiatan tunggal tetapi selalu berupa rangkaian kegiatan yang akan kembali ke asal, yaitu dalam bentuk siklus. Hasil refleksi dan evaluasi di tiap siklus menjadi penentu apakah penelitian perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya atau tidak.

53

C. Teknik Pengumpulan Data Dalam kegiatan penelitian, cara memperoleh data diketahui dengan nama teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah: 1. Wawancara Wawancara dilakukan oleh peneliti terhadap guru dan siswa mengenai proses pembelajaran yang selama ini dilakukan dan bagaimanakah respon atau hasil yang timbul dari proses pembelajaran tersebut. Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara bebas terpimpin dimana penginterviu memberikan pertanyaan sesuai dengan rancangan yang telah dibuat, namun cara menyampaikan pertanyaan tersebut tergantung pada kebijaksanaan interviewer. Data yang dihasilkan dari kegiatan wawancara ini berupa catatan lapangan yang medeskripsikan atau menggambarkan proses pembelajaran yang selama ini dilakukan. 2. Observasi Observasi dilaksanakan oleh peneliti dengan mengamati proses pembelajaran dikelas saat guru tengah memberikan materi pelajaran. Observasi hanya dilakukan sebatas mengamati, mengidentifikasi, dan mencatat apa kekurangan dan kelebihan dalam proses pembelajaran. Data yang dihasilkan dari kegiatan observasi berupa catatan lapangan yang mendeskripsikan proses pembelajaran saat observasi awal, siklus I dan siklus II dilakukan. Catatan lapangan ini juga memuat refleksi yang dilakukan penulis terhadap pembelajaran. 3. Dokumentasi Dokumentasi merupakan upaya untuk memberikan gambaran bagaimana sebuah penelitian tindakan kelas dilakukan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan mengambil gambar kegiatan para siswa dan guru dalam pelaksanaan

54

pembelajaran saat penelitian dilaksanakan. Data yang dihasilkan dari kegiatan ini berupa gambar atau foto kegiatan pembelajaran. 4. Tes Tes merupakan alat yang digunakan peneliti untuk mengetahui hasil dari penelitian yang telah dilakukan. Tes dilakukan dengan dua cara, yaitu tes tertulis dan praktek atau lisan dengan mempresentasikan pekerjaan mereka di depan kelas. Data yang didapatkan dari kegiatan ini adalah tabel pengamatan berupa hasil belajar atau nilai ujian siswa dan skor penilaian keaktifan yang digunakan sebagai indikator ketercapaian hasil penelitian.

D. Prosedur Penelitian Prosedur Penelitian merupakan tahapan-tahapan yang ditempuh dalam penelitian dari awal sampai akhir secara urut. Prosedur penelitian ini terdiri dari beberapa tahap kegiatan yaitu: 1. Tahap Pengenalan Masalah Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti pada tahap ini adalah : a. Mengidentifikasi masalah b. Menganalisis masalah secara mendalam dengan mengacu pada teori-teori yang relevan c. Menyusun bentuk tindakan yang sesuai dengan siklus pertama d. Menyusun alat monitoring dan evaluasi 2. Tahap Persiapan Tindakan Pada tahap ini peneliti melakukan persiapan yang meliputi : a. Penyusunan jadwal penelitian

55

b. Penyusunan rencana pembelajaran c. Penyusunan soal evaluasi 3. Tahap Penyusunan Rencana Tindakan Rencana tindakan disusun dalam dua siklus, yaitu : siklus I dan siklus II. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan interpretasi, serta tahap analisis dan refleksi. 4. Tahap Implementasi Tindakan Dalam tahap ini peneliti melaksanakan hipotesis tindakan, yakni untuk menumbuhkan minat siswa dalam pembelajaran akuntansi sehingga meningkatkan pemahaman yang akhirnya meningkatkan pula hasil belajar akuntansi siswa. Hipotesis tindakan ini dimaksudkan untuk menguji kebenarannya melalui tindakan yang telah direncanakan. 5. Tahap Pengamatan Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan terhadap siswa yang sedang melakukan kegiatan belajar-mengajar dibawah bimbingan guru. 6. Tahap Penyusunan Laporan Pada tahap ini peneliti menyusun laporan dari semua kegiatan yang telah dilakukan selama penelitian.

E. Proses Penelitian

Indikator yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatnya hasil belajar akuntansi siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta melalui pengoptimalan penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan

56

menekankan komponen learning community dan questioning. Setiap tindakan upaya peningkatan indikator tersebut dirancang dalam satu unit sebagai satu siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) Perencanaan Tindakan, (2) Pelaksanaan Tindakan, (3) Observasi dan Interpretasi, dan (4) Analisis dan Refleksi untuk perencanaan siklus berikutnya. Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus dan setiap siklus dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan. 1. a. Pada tahap ini peneliti dan guru kelas menyusun: 1) Skenario pembelajaran sebagai berikut :
a) Guru menjelaskan materi pelajaran sebelumnya mengenai jurnal

Rancangan Siklus I Tahap Perencanaan

umum, kemudian mengaitkan dengan materi yang akan dipelajari selanjutnya, yaitu buku besar.
b) Guru membuka kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai

materi buku besar. c) Guru membentuk siswa dalam kelompok kecil, kemudian memberikan soal untuk mereka pecahkan bersama dalam kelompok. d) Soal tersebut nantinya akan dibacakan oleh guru dan diberi waktu untuk mendiskusikan. Hal ini dilakukan untuk melatih berfikir kritis.
e) Guru menunjuk 2 kelompok secara acak untuk mempresentasikan

hasil diskusi mengenai soal latihan yang sudah dikerjakan. f) Guru memberikan waktu untuk siswa melakukan tanya jawab antar kelompok dan berdiskusi atas presentasi yang telah dilakukan 2) Instrumen untuk evaluasi yang berupa soal tes tertulis. 3) Menetapkan indikator ketercapaian. Indikator ketercapaian ini dinilai dari beberapa komponen, seperti yang disajikan dalam tabel berikut ini. Tabel 3. Indikator Ketercapaian Belajar Siswa

57

Aspek yang diukur Keaktifan siswa selama apersepsi Keaktifan siswa dalam kelompok saat mengikuti pembelajaran

Persentase Target Capaian 70%

Cara mengukur Diamati saat guru memberikan apersepsi kepada siswa pada awal pembelajaran. Diamati saat pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi dan dihitung dari jumlah siswa yang menunjukkan perhatian dan kesungguhan dalam kelompok selama KBM Diamati saat pembelajaran, dihitung dari jumlah siswa yang diteliti dan benar (tepat) dalam menyelesaikan soal Dihitung dari jumlah siswa yang mendapatkan nilai 70 ke atas. Tahap pelaksanaan,

70%

Ketelitian dan ketepatan siswa dalam menyelesaikan soal Ketuntasan hasil belajar (standar nilai 70) b.

80%

80%

dilakukan dengan melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan yang dilakukan bersamaan dengan observasi terhadap dampak tindakan.
c.

Tahap observasi dan

interpretasi, dilakukan dengan mengamati dan menginterpretasikan aktivitas penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning pada proses pembelajaran akuntansi tentang kekurangan dan kemajuan aplikasi tindakan pertama untuk mendapatkan data.
d.

Tahap

analisis

dan

refleksi, dilakukan dengan menganalisis hasil observasi dan interpretasi sehingga diperoleh kesimpulan bagian mana yang perlu diperbaiki / disempurnakan dan bagian mana yang telah memenuhi target.

58

2.

Rancangan Siklus II Pada siklus II perencanaan tindakan dikaitkan dengan hasil yang telah dicapai pada tindakan siklus I sebagai upaya perbaikan dari siklus tersebut dengan materi pembelajaran sesuai dengan silabus mata pelajaran akuntansi, termasuk perwujudan tahap pelaksanaan, observasi dan interpretasi, serta analisis dan refleksi yang juga mengacu pada siklus sebelumnya.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

59

A. Deskripsi Lokasi Penelitian
1. Riwayat Singkat

Sejarah SMA Negeri 1 Surakarta dibagi menjadi 4 (empat) periode, sebagai berikut.
a. Periode cikal bakal (Agustus 1943 - Juli 1945)

Pada bulan Agustus 1943 Bapak Mr. Widodo (saat itu kepala bagian pendidikan kesunanan) dan Bapak Soetopo Adi Saputro (waktu itu kepala pendidikan karisidenan Surakarta), mengusulkan membuka sekolah yang sederajat dengan A.M.S. (tingkat SMA) dan disetujui. Tanggal 3 November 1943 dikeluarkan SK X/II/1943 sebagai peresmian berdirinya Sekolah Lanjutan Atas di Surakarta dengan nama “Koto Chu Gakko” di Manahan ( sekarang SMP Negeri 1 Surakarta). Bulan Juli 1945 mendapat guru tetap sebanyak 5 orang dan 12 orang guru lain yang disebut sebagai cikal bakal.
b. Periode “Pengungsi” (Agustus 1945 – April 1948)

Pada periode ini, yaitu bulan Agustus 1945 sekolah sempat ditutup karena para siswa ikut berjuang melawan penjajah. Bulan April 1946 baru dibuka kembali, dan bulan Juni 1946 dilaksanakan ujian penghabisan pertama kali. Pada bulan April 1947 nama SMT diganti SMA. Periode ini disebut periode pengungsi karena saat itu ada beberapa siswa Jakarta yang mengungsi di SMA Negeri 1 Surakarta. Bulan Juli 1947 gedung sekolah dipakai sebagai asrama KBRI, bulan April 1948 dengan diserahkannya kembali gedung sekolah di Manahan, maka para siswa mulai mendapat pelajaran seperti biasa.
c. Periode Mahasiswa (Desember 1949)

Didirikan SMA Negeri A/B yang secara resmi dibuka pada tanggal 15 Desember 1949, bertempat di jalan Monginsidi 56 Solo (Sekarang SMA N I/II) yang lebih dikenal “SMA Margoyudan“.
d. Periode Kemapanan (1949 – sekarang)

Di bawah pimpinan Drs. H. Djambari Soetjipto (mulai tahun 1981) 40 bersama Bp. Widagdo kepala SMA N II Surakarta, dirintis sertifikasi tanah

60

gudah menjadi dengan luas tanah 7105 m2. Batas tanah dengan bangunan SMA N 2 (sebelah barat) dan dengan Universitas Kristen Surakarta (di sebelah Timur) menjadi jelas yang sebelumnya menjadi satu sertifikat milik Yayasan Kristen Surakarta. Pada periode ini SMA N 1 Surakarta telah meraih banyak prestasi baik di bidang akademis maupun non akademis.
2. Keadaan Lingkungan Belajar

Letak SMA Negeri 1 Surakarta di Jl. Monginsidi No.40 Surakarta cukup strategis karena mudah dijangkau oleh sarana transportasi. Namun, karena dekat dengan jalan besar, justru menyebabkan SMA Negeri 1 Surakarta menjadi sedikit ramai dan bising. Meski begitu, ruang kelas telah diatur agak ke dalam agar proses belajar mengajar tidak sampai terganggu bisingnya jalan raya.
3. Visi dan Misi a. Visi Sekolah

Mewujudkan insan yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, disiplin, cerdas, berbudi luhur dan berwawasan luas.
b. Misi Sekolah

1) Memelihara dan meningkatkan pengamalan agama yang terhadap dianut ajaran dengan

mengembangkan sikap toleransi. 2) Menanamkan warga sekolah. 3) Melaksanakan pembelajaran yang menghasilkan dan optimal insan pendidikan, pelayanan sehingga yang kesadaran

berdisiplin tinggi kepada seluruh

berprestasi dalam semua bidang.

61

4) Membudayakan perilaku santun, jujur dan menjunjung tinggi nilainilai luhur budaya bangsa. 5) Meningkatkan fasilitas sekolah sebagai sumber belajar. 6) Mendayagunakan menambah wawasan. 7) Menjalin berbagai kerjasama institusi baik dengan lokal dan

mengembangkan kegiatan yang

maupun internasional. 8) Meningkatkan kepedulian kesadaran warga dan

sekolah

terhadap kelestarian lingkungan sekolah SMA Negeri 1 Surakarta.

4. Pelaksanaan Kurikulum

Kurikulum yang diterapkan SMA Negeri 1 Surakarta tahun ajaran 2008/2009 adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan sebuah kurikulum yang benarbenar dibuat oleh sekolah yang meilibatkan unsur kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, konselor, komite sekolah dan nara sumber, sehingga dengan sinerginya unsur-unsur tersebut akan menemukan kemudahan dalam proses pembuatan kurikulum. B. Identifikasi Masalah Pembelajaran Akuntansi di Kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta

62

Sebelum melaksanakan penelitian, terlebih dahulu peneliti mengadakan identifikasi masalah atau observasi awal untuk mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya pada saat pembelajaran akuntansi berlangsung. Observasi awal ini dilakukan peneliti pada waktu melaksanakan PPL mulai dari tanggal 12 Agustus 2008 sampai awal November 2008. Hasil dari identifikasi masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Ditinjau dari segi siswa

a.

Siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran akuntansi. Pembelajaran akuntansi di kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta

dapat dikatakan kurang hidup karena siswa kurang antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Beberapa siswa mengeluhkan sulitnya mempelajari akuntansi. Siswa mengatakan sering tertinggal materi dan kurang mendapat penjelasan dari guru. Alasan yang selalu diungkapkan siswa adalah terlalu banyak latihan soal dan kurangnya materi. Padahal, latihan soal sebenarnya sangat diperlukan siswa agar dapat mempelajari akuntansi dengan baik. Namun, karena para siswa jenuh dengan kegiatan yang monoton, siswa menjadi kurang bersemangat dalam belajar. Tentu hal ini sangat berpengaruh pada hasil belajar yang diperoleh. b. Siswa kurang percaya diri dengan kemampuan diri sendiri Kebiasaan siswa yang satu ini sangatlah buruk. Soal-soal latihan yang diberikan guru setiap minggunya hanya dikerjakan oleh 40% siswa. Siswa-siswa lain baru akan mengerjakan bila guru telah memberi peringatan dan kebanyakan dari siswa ini tidak mengerjakan tugas mereka sendiri. Para siswa hanya mengandalkan teman yang telah mengerjakan. Hal ini akan membentuk kebiasaan yang kurang baik bagi siswa dan tentu saja akan sangat menghambat ketika siswa dituntut untuk mengerjakan ujian seorang diri. Pada kenyataannya, ini sangat berpengaruh pada hasil belajar yang diperoleh. c. Siswa kurang aktif baik dalam proses pembelajaran maupun dalam mengerjakan tugas rumah. sehingga tidak mengerjakan soal-soal latihan berdasar kemampuannya.

63

Masalah ini hampir sama dengan poin sebelumnya. Namun, penekanannya adalah disini siswa sangat malas mengerjakan tugas yang diberikan. Para siswa perlu peringatan lebih dari satu kali untuk mengerjakan tugas rumah mereka. Strategi pemberian nilai tugas yang setiap minggunya diumumkan pun tidak dapat membangkitkan semangat dan keaktifan siswa. Di dalam proses pembelajaran pun, dari pengamatan peneliti setiap kali pelajaran, rata-rata siswa yang aktif bertanya dan memperhatikan hanya sekitar 30% saja. 36% dari siswa menunjukkan perhatian namun kadang juga mencatat atau membaca buku pelajaran lain. 34% siswa lain benar-benar tidak fokus pada pembelajaran. Hal ini menjadikan suasana belajar yang kurang optimal.
2. Ditinjau dari segi guru

Guru belum menggunakan metode pembelajaran yang mampu membangkitkan semangat siswa dan meningkatkan pemahaman mereka pada mata pelajaran akuntansi. Pembelajaran akuntansi di SMA N 1 Surakarta dikatakan kurang hidup, penggunaan metode pembelajaran yang monoton dan kurang menarik menjadikan siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Meskipun guru telah memberi dorongan dan pendekatan secara pribadi kepada siswa, namun keaktifan dan antusias siswa terhadap pembelajaran akuntansi masih belum dapat ditingkatkan. C. Deskripsi Hasil Penelitian Proses penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu : (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi tindakan. 1. Siklus I Penerapan pembelajaran akuntansi pada siklus I melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning adalah : a. Perencanaan Tindakan Siklus I

64

Kegiatan perencanaan Tindakan I dilaksanakan pada hari Rabu 29 Oktober 2008 di ruang tamu SMA Negeri 1 Surakarta. Guru bersama peneliti mendiskusikan rancangan tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian ini. Peneliti mengungkapkan permasalahan siswa dalam membangun semangat belajar serta memahami materi akuntansi Kemudian disepakati bahwa pelaksanaan tindakan pada siklus I akan dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, yakni pada hari Selasa 4 November, Rabu tanggal 5 November, Selasa tanggal 11 November 2008 dan Rabu 12 November 2008. Tahap perencanaan tindakan I meliputi kegiatan sebagai berikut : 1) Peneliti bersama guru mendiskusikan skenario pembelajaran akuntansi menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning, dengan skenario pembelajaran sebagai berikut: a) Pertemuan pertama (1) Salam pembuka, guru mengabsen siswa. (2) Menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif. (3) Mengulangi sedikit materi yang terdahulu yang masih ada kaitannya dengan materi yang akan diajarkan dengan cara memberikan pertanyaan kepada siswa (tanya jawab) agar guru tahu seberapa jauh pemahaman siswa. (4) Guru mendemonstrasikan cara memposting dari jurnal ke kolom buku besar. (5) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami materi yang telah disampaikan dan membuka kesempatan untuk tanya jawab atau komponen questioning. (6) Membentuk kelompok belajar (learning community) untuk mengerjakan soal latihan bersama pada pertemuan selanjutnya. Masing-masing kelompok beranggotakan 4 siswa. Siswa diberi

65

kebebasan memilih teman satu kelompoknya agar mereka lebih nyaman dan bersemangat. (7) Guru memberitahukan bahwa soal latihan tersebut diharapkan dapat dipresentasikan siswa pada pertemuan berikutnya sesuai dengan tugas masing-masing. (8) Guru membuat kesimpulan dari materi yang sudah diajarkan sebelum menutup pelajaran, dan menutup dengan salam penutup. b) Pertemuan kedua (1) Salam pembuka, guru mengabsen siswa. (2) Guru menyampaikan mengenai rencana kegiatan yang telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya. (3) Guru meminta siswa untuk duduk sesuai dengan kelompok yang telah dibentuk dan dikondisikan untuk duduk saling berhadapan dalam satu meja. (4) Guru memonitor apakah semua siswa telah duduk dengan kelompoknya masing-masing sambil memperingatkan bahwa soal akan segera dibacakan. (5) Siswa diharapkan untuk mendengarkan dengan seksama karena tiap soal hanya akan dibaca sekali dengan toleransi pengulangan satu kali. Setiap soal diberi waktu mengerjakan jurnalnya dalam kolom yang telah disediakan selama 1 menit, dan dibacakan sampai 10 soal. Setelah itu, siswa diminta memposting ke buku besar, yang juga telah disediakan kolom beserta nama akunnya, dan diberi waktu 15 menit. (6) Guru memberi batas waktu pengerjaan dan meminta siswa mengumpulkan tugas kelompoknya. (7) Sebelum kegiatan pembelajaran diakhiri, guru mengingatkan siswa untuk mempersiapkan kegiatan presentasi pada pertemuan selanjutnya. c) Pertemuan Ketiga

66

(1) Salam pembuka, guru mengabsen siswa. (2) Guru mengkondisikan siswa untuk duduk sesuai dengan kelompoknya seperti pada pertemuan sebelumnya. (3) Siswa diminta mempersiapkan presentasi sementara guru mengundi kelompok yang akan mendapat giliran presentasi. Sebelumnya guru telah membagikan lembar kerja kelompok yang telah dikumpulkan pada pertemuan sebelumnya secara acak untuk dikoreksi oleh kelompok yang lain. (4) Kelompok yang mendapat giliran pertama presentasi diminta mengerjakan soal no.1 samapi no.5 baik jurnal maupun buku besarnya. Kelompok yang mendapat giliran kedua mempresentasikan soal no.6 sampai no.10. (5) Selama presentasi berlangsung, siswa kelompok lain diberi kesempatan untuk bertanya pada kelompok yang sedang mempresentasikan di depan kelas dan berdiskusi. (6) Guru mengawasi dengan baik agar suasana pembelajaran tetap tertib dan tenang. (7) Setelah dua kelompok mendapat giliran presentasi dan lembar kerja juga telah selesai dikoreksi, mengumpulkan hasil kerja mereka untuk penilaian. (8) Guru membuat kesimpulan dari soal yang sudah berikan sebelum jam pelajaran berakhir dan memberikan penjelasan atas jawaban soal latihan agar siswa mengetahui letak kesalahannya. d) Pertemuan Keempat (2) Salam pembuka, guru mengabsen siswa. (3) Guru menyampaikan indikator tentang kegiatan yang akan dilakukan. (4) Siswa mempersiapkan diri untuk mengerjakan evaluasi akhir atas materi yang telah dibahas.

67

(5) Guru membagikan soal untuk evaluasi akhir berupa soal uraian dan meminta saling bekerja sama. (6) Guru mengawasi dengan baik agar hasil dari evaluasi dapat mencerminkan tertib dan tenang. (7) Guru meminta lembar jawab soal. (8) Guru membuat kesimpulan dari soal yang sudah berikan sebelum jam pelajaran berakhir agar siswa mengetahui letak kesalahannya. 2) Guru dan peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Program (RPP) untuk materi buku besar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning yang menekankan pada komponen learning community dan questioning. 3) Peneliti dan guru menyusun instrumen penelitian, yang berupa test dan non-test. Instrumen test dari hasil pekerjaan siswa (evaluasi akhir siklus). Sedangkan instrumen non-test dinilai berdasarkan pedoman observasi yang dilakukan oleh penulis dengan mengamati keaktifan dan sikap siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. b. Pelaksanaan Tindakan I Pelaksanaan tindakan I dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, seperti yang telah direncanakan, yaitu tanggal 4, 5, 11 dan 12 November 2008 di ruang kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta. Pertemuan dilaksanakan selama 4 x 45 menit sesuai dengan skenario pembelajaran dan RPP. Materi pada pelaksanaan tindakan I ini adalah buku besar 2 kolom dan 3 kolom. Pada pertemuan pertama, guru mendemonstrasikan materi secara jelas dan membentuk kelompok belajar, kemudian pada pertemuan kedua, siswa diminta untuk kerja kelompok mengerjakan soal latihan yang telah dirancang secara khusus dengan pendekatan Contextual Teaching kemampuan mereka dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan soal dengan agar siswa dalam mengerjakan tidak

68

and Learning. Pertemuan ketiga diisi dengan presentasi hasil kerja kelompok pada pertemuan kedua dan pertemuan keempat diisi dengan evaluasi belajar siswa dari siklus I. Urutan pelaksanaan tindakan tersebut adalah sebagai berikut : 1) Pertemuan Pertama (Selasa, 4 November 2008) Guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam, kemudian mengabsen siswa, siswa yang tidak masuk adalah Dio Adhi Atmaja. Seusai mengabsen, guru memotivasi siswa sebelum memulai pelajaran dengan memberi pertanyaan tentang jurnal yang berhubungan dengan harta, utang, modal, pendapatan dan beban. Guru menunjuk beberapa siswa yang ramai sendiri untuk menjawab transaksi mengenai investasi awal, Nur, dan Drian menjawab pembelian peralatan, Kemudian dan guru penerimaan pendapatan. Beberapa siswa seperti Aldy, Avianty, Muh. pertanyaannya. mendemonstrasikan pencatatan jurnal tersebut dan mempostingnya ke dalam kolom buku besar. Guru mengambarkan prosedur atau cara memposting dari jurnal yang telah dicatat ke dalam kolom-kolom buku besar 2 dan 3 kolom dan menunjuk beberapa siswa untuk mencoba mendemonstrasikan di depan kelas. Setelah memberikan demonstrasi pemostingan transaksi ke kolom buku besar, guru memberi kesempatan pada siswa untuk menanyakan hal-hal yang mereka rasa belum jelas. Beberapa siswa meminta guru untuk memberikan contoh pada transaksi yang lain seperti sewa dibayar dimuka, pembayaran utang, piutang dan sebagainya. Ada sekitar 10 siswa yang bertanya. Sebelum menutup pembelajaran, guru membuat kesimpulan pembelajaran dan menjelaskan mengenai rencana pengerjaan soal latihan dengan cara berkelompok untuk pertemuan selanjutnya. Kemudian guru meminta siswa membentuk kelompok dengan anggota 4 siswa setiap kelompok. Guru menutup pelajaran dengan salam. 2) Pertemuan Kedua (Rabu, 5 November 2008)

69

Pada pertemuan kedua, seperti sebelumya guru mengabsen siswa, Dio Adhi Atmaja tidak hadir. Sebelum memulai kegiatan belajar mengajar guru meminta siswa untuk duduk sesuai dengan kelompoknya dan duduk saling berhadapan dalam satu meja. Guru membagikan lembar kerja yang berisi kolom-kolom jurnal dan buku besar yang masih kosong pada masing-masing kelompok. Setelah semua kelompok menerima lembar kerja, siswa diminta memperhatikan guru. Soal latihan berupa transaksi-transaksi akan dibacakan oleh guru yang kemudian diminta langsung dijawab oleh siswa secara berkelompok pada kolom jurnal yang telah disediakan di lembar kerja dengan diberi batas waktu pengerjaan untuk tiap soalnya. Tiap transaksi diberi waktu 1 menit untuk mengerjakannya. Pada kegiatan ini semua siswa terlihat sangat antusias dan tekun mengerjakan serta berdiskusi. Sebagian dari mereka meminta guru untuk memberi mereka toleransi waktu yang lebih lama untuk mengerjakan tiap soalnya. Dapat dilihat bahwa hampir semua siswa (sekitar 32 siswa) tampak begitu bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Setiap kali guru membacakan soal dan mengatakan ”satu menit!” dan ”waktu habis! soal berikutnya!” para siswa bergemuruh dan meminta tambahan waktu. Kelompok Jayanti, Ardian, Herawan dan Rima tampak tenang-tenang saja, karena mereka merupakan siswa-siswa yang pandai di kelas. Namun kelompok Mukti Ali dan Aldy Fariz gaduh karena ketinggalan. Untuk itu, guru memberi toleransi satu menit lagi pada saat mengerjakan jurnal. Setelah 10 transaksi dibacakan, guru memberikan waktu 15 menit untuk berdiskusi mempostingkan transaksi dalam jurnal ke kolom buku besar 2 dan 3 kolom sesuai perintah pengerjaan. Kegiatan ini berjalan dengan tertib dan diberi toleransi waktu 5 menit dari yang ditetapkan.

70

Setelah jam pelajaran berakhir dan waktu untuk mengerjakan telah selesai, guru meminta siswa mengumpulkan lembar kerja kelompok mereka dan mengingatkan mengenai kegiatan presentasi yang akan diadakan pada pertemuan selanjutnya. 3) Pertemuan Ketiga (Selasa, 11 November 2008) Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, kemudian mengabsen siswa, Dio Adhi Atmaja kembali tidak hadir. Siswa mengatakan bahwa Dio sakit, jadi seringkali tidak mengikuti pelajaran. Guru meminta siswa untuk kembali duduk sesuai dengan kelompoknya. Guru menyampaikan rencana pembelajaran hari ini, yaitu presentasi. Kemudian, guru membagikan lembar kerja kelompok yang telah dikerjakan pada pertemuan sebelumnya secara acak untuk dikoreksi. Guru mengundi dengan gulungan kertas untuk menentukan kelompok yang akan mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Kesempatan presentasi diberikan pada dua kelompok saja agar lebih efektif dan tiap kelompok diminta mengerjakan 5 transaksi jurnal dan buku besarnya dan diberi waktu 15 menit. Setelah diundi, kelompok Rima mendapat giliran pertama. Selama presentasi, keempat anggota kelompok aktif mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Guru mengawasi jalannya presentasi sambil berkeliling dan membuka kegiatan diskusi bagi siswa atau kelompok lain yang ingin menyanggah kelompok presenter. Seusai presentasi, kelompok pertama diberi kesempatan mengambil undian untuk menentukan kelompok berikutnya yang akan mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Kelompok Retno mendapat kesempatan kedua presentasi, dan berjalan cukup baik. Guru membahas bersama hasil kerja kelompok dan membuka kesempatan tanya jawab. Kegiatan tanya jawab ini dimanfaatkan oleh

71

beberapa siswa yang masih belum mengerti tentang pengisian buku besar terutama kolom ”Keterangan” dan ”Saldo”. Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam sambil mengingatkan mengenai evaluasi yang akan diadakan pada hari Rabu besok. 4) Pertemuan Keempat (Rabu, 12 November 2008) Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam dan mengabsen siswa. Guru meminta siswa duduk dengan rapi dan membagikan soal evaluasi yang harus dikerjakan sendiri, tidak boleh bekerja sama, bahkan guru memberi peringatan bahwa mengerjakan harus dengan bolpoin dan tak boleh ada coretan di pekerjaan. Waktu yang diberikan untuk menyelesaikan soal adalah 45 menit. Kegiatan evaluasi berjalan baik. Hasil evaluasi langsung dikumpulkan begitu bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi.

c.

Observasi dan Interpretasi Peneliti mengamati proses pembelajaran akuntansi dengan

menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning di kelas XI IS 1. Peneliti mengambil posisi di dalam kelas, yaitu di belakang para siswa sambil sesekali berkeliling untuk mengamati dengan jelas jalannya pembelajaran sehingga dapat menilai dengan baik. Pada pertemuan pertama yaitu hari Selasa 4 November 2008, guru menyampaikan materi buku besar dengan modelling dan questioning dengan jelas. Sedangkan pada pertemuan kedua, siswa diminta untuk membuat kelompok dan mengerjakan soal secara berkelompok yang hasilnya nanti harus dipresentasikan oleh dua kelompok yang dipilih secara acak. Pertemuan ketiga, guru melaksanakan kegiatan presentasi bagi tiap kelompok sesuai dengan tugas masing-masing siswa dalam kelompoknya. Pertemuan yang ketiga digunakan guru dan penulis untuk melakukan evaluasi akhir dari

72

siklus I agar hasil belajar dari siklus I dapat segera diketahui. Dari kegiatan tersebut, deskripsi tentang jalannya proses pembelajaran akuntansi dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning sudah dijelaskan secara rinci dalam pelaksanaan tindakan I. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar akuntansi, diperoleh gambaran tentang aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, yaitu sebagai berikut: 1) Siswa yang betul-betul aktif selama pemberian apersepsi sebesar 67,5% sedangkan 32,5% lainnya belum dapat memusatkan perhatian pada awal pembelajaran. 2) Siswa yang aktif dalam kelompok selama kegiatan kerja kelompok berlangsung sebesar 80%, sedangkan 20% lainnya kurang kompak dan tidak saling membantu dalam kelompok. Hal ini disebabkan karena siswa yang merasa tidak bisa mengerjakan tidak mau ikut berdiskusi karena kurangnya motivasi dalam diri mereka. 3) Kelompok yang dapat mengerjakan tugas dari guru dengan tepat dan teliti sebesar 75%, sedangkan yang lainnya masih kurang lengkap dalam mengisi kolom-kolom jurnal maupun buku besar dan banyak melakukan kesalahan fatal. 4) Berdasarkan hasil pekerjaan siswa dapat diidentifikasi bahwa siswa yang sudah mampu mengerjakan transaksi akuntansi ke dalam jurnal dan mempostingnya ke buku besar dan mendapatkan nilai 70 ke atas sebesar 84,5%, sedangkan 15,5% siswa lainnya belum sempurna dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Hal ini disebabkan mereka masih kesulitan memahami suatu transaksi dan kurang mampu menganalisis transaksi dengan baik sehingga tidak dapat mencatat jurnal dan buku besar dengan benar. Hasil observasi dan interpretasi tersebut dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

73

Grafik Tingkat Keaktifan Siswa

35 30 25 Jumlah Siswa 20 15 10 5 0

Keaktifan Selama Apersepsi Keaktifan dalam Kelompok Ketelitian dalam menyelesaikan soal Ketuntasan Hasil Belajar

Gambar 3. Garfik Tingkat Keaktifan Siswa pada Siklus I

Grafik Tingkat Kepasifan Siswa
Siswa yang pasif saat pemberian apersepsi Siswa yang pasif dalam kelompok belajar Siswa yang kurang tepat dan teliti dalam menyelesaikan soal

14 12 10 8 Jumlah Siswa 6 4 2 0

SIKLUS I

Siswa yang belum tuntas dalam pembelajaran

Gambar 4. Grafik Tingkat Kepasifan Siswa pada Siklus I d. Analisis dan Refleksi Tindakan Siklus I

74

Berdasarkan hasil observasi saat pelaksanaan Siklus I, peneliti dapat memberikan analisis sebagai berikut: 1) Beberapa kelemahan guru dalam Siklus I a) kembali. b) Guru dalam memberikan materi terlalu tegang, siswa mengeluh karena menganggap pembelajaran seperti horor. 2) Dari segi siswa ditemukan beberapa kekurangan sebagai berikut: a) Siswa masih banyak yang kurang konsentrasi dalam mengikuti pembelajaran, saat pemberian apersepsi beberapa dari mereka bermain sendiri. b) Saat kerja kelompok beberapa siswa mengabaikan tugas dalam kelompoknya, terutama Firdaus, Muhammad Nur, Aldy Fariz, dan Putro. c) Dari segi ketuntasan belajar, masih terdapat 6 siswa yang tidak tuntas dalam mengerjakan ujian dan dengan kesalahan yang cukup fatal. Rata-rata kelas sudah cukup baik, yaitu 84,5 dibanding sebelum diterapkannya siklus I yaitu hanya 69,2. Tindakan refleksi yang dapat diambil berdasarkan pengamatan dan analisis yang telah dilakukan adalah : 1) Guru masih harus meluangkan waktu untuk melakukan pendekatan terhadap anak, sehingga setiap anak mengalami kesulitan akan mudah teratasi. 2) 2. Siklus II Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning pada siklus II adalah sebagai berikut: a. Perencanaan Tindakan Siklus II Guru lebih kreatif dalam menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif sehingga siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. Guru kurang jelas dalam membacakan soal saat kerja kelompok sehingga siswa harus meminta guru mengulangi

75

Kegiatan perencanaan Tindakan II dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 15 November 2008 di ruang tamu SMA Negeri 1 Surakarta. Guru bersama peneliti mendiskusikan rancangan tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian ini. Peneliti mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil analisis dan refleksi dari siklus I, kemudian disepakati bahwa pelaksanaan tindakan pada siklus II akan dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, yakni pada hari Selasa 18 November 2008, Rabu tanggal 19 November 2008, Selasa 25 November dan hari Rabu tanggal 26 November 2008 dengan rancangan sebagai berikut: 1) Peneliti bersama guru mendiskusikan skenario pembelajaran akuntansi dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan pada komponen learning community dan questioning, yaitu dengan skenario pembelajaran sebagai berikut: a) Pertemuan Pertama (1) Salam pembuka, mengabsen siswa. (2) Menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif. (3) Mengulangi materi dengan membahas soal yang telah diujikan (4) Guru pada pertemuan sebelumnya dan materi 4 membuka dengan dan kesempatan tanya jawab. memulai bentuk memberikan buku besar memperkenalkan 4 kolom. (5) Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum mereka pahami. Ketika siswa tidak ada yang bertanya, maka guru yang akan menanyakan pada siswa terutama pada siswa-siswa yang masih belum mendapat hasil maksimal pada saat ujian sebelumnya. Siswa diberi keleluasaan waktu untuk bertanya dan guru akan menjelaskan kembali. kolom

mendemonstrasikan cara memposting dari jurnal ke buku besar

76

(6) Guru memberikan soal latihan di LKS dan diberi kebebasan untuk mengerjakan dengan teman sebangkunya agar berdiskusi. (7) Guru memberitahukan bahwa di pertemuan selanjutnya guru akan memberikan latihan lagi yang akan dikerjakan secara kelompok. (8) Salam penutup. b) Pertemuan Kedua (1) Salam pembuka, mengabsen siswa. (2) Guru menyampaikan rencana kegiatan yang akan dilakukan dalam pembelajaran. (3) Guru membagi Lembar Kerja yang akan digunakan untuk kerja kelompok seperti pada siklus I. Anggota kelompok diperkecil menjadi 2 orang saja karena pada siklus I masih terdapat siswa yang tidak aktif karena 4 anggota terlalu banyak sehingga ada yang menganggur dan malas. (4) Guru membacakan soal yang telah disiapkan dan meminta siswa untuk mengerjakan jurnalnya sesuai waktu yang telah ditetapkan, yaitu 1 soal 1 menit. Dibacakan 15 soal kemudian siswa diberi waktu memposting ke buku besarnya. (5) Guru berkeliling sambil mengamati kelompok siswa yang kesulitan dan memberikan arahan dengan sabar pada setiap kelompok. (6) Guru mengumpulkan pekerjaan siswa dan memberitahukan akan membahas hasil kerja kelompok ini di pertemuan berikutnya. (7) Salam penutup. c) Pertemuan Ketiga (1) Salam pembuka, mengabsen siswa. (2) Guru kembali membagikan jawaban kepada setiap kelompok secara acak untuk dikoreksi.

77

(3) Guru membuka kegiatan presentasi dengan mengundi kelompok yang akan mendemonstrasikan hasil kerja kelompoknya. (4) Guru membahas pekerjaan siswa dengan terlebih dahulu mengidentifikasi kesalahan apa yang sering dilakukan oleh siswa saat membuat jurnal sampai saat memposting ke buku besar. (5) Guru membuka kesempatan untuk bertanya bagi siswa yang masih menemui kesulitan pada saat mengerjakan buku besar 4 kolom. (6) Salam Penutup. d) Pertemuan Keempat (1) Salam Pembuka. (2) Siswa mempersiapkan diri mengerjakan evaluasi akhir atas materi yang telah dibahas. (3) Guru membagikan soal dan meminta siswa untuk mengerjakan sendiri soalnya. (4) Guru mengawasi jalannya kegiatan evaluasi dengan baik. (5) Guru mengumpulkan lembar jawab soal. (6) Salam penutup. 2) Guru dan peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk materi akuntansi buku besar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning. 3) Peneliti dan guru menyusun instrumen penelitian, yang berupa test dan non-test. Instrumen test dari hasil pekerjaan siswa (evaluasi akhir siklus). Sedangkan instrumen non-test dinilai berdasarkan pedoman observasi yang dilakukan oleh peneliti dengan mengamati keaktifan dan sikap siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. b. Pelaksanaan Tindakan II

78

Kegiatan pelaksanaan Tindakan II dilaksanakan selama 4 kali pertemuan seperti yang telah direncanakan, yakni pada hari Selasa 18 November 2008, Rabu tanggal 19 November 2008, Selasa 25 November dan hari Rabu tanggal 26 November 2008. Pertemuan dilaksanakan selama 4 x 45 menit sesuai dengan skenario pembelajaran dan RPP. Pelaksanaan tindakan II hampir sama dengan pelaksanaan tindakan I, hanya pada pelaksanaan tindakan II ini terdapat perbaikan yang masih diperlukan dari tindakan I. Materi yang disampaikan pada pelaksanaan tindakan II masih sama dengan pelaksanaan tindakan I, yaitu buku besar namun bentuk buku besar yang diajarkan berbeda. Pada pertemuan pertama Siklus II guru mendemonstrasikan cara memposting jurnal ke Buku Besar 4 kolom dengan jelas dan dibuka kesempatan tanya jawab, pertemuan kedua siswa mengerjakan soal secara berkelompok masih dengan metode yang diterapkan di Siklus I, namun anggota kelompoknya diperkecil menjadi 2 orang. Pada pertemuan ketiga, dilaksanakan kegiatan diskusi dan presentasi, kegiatan ini ditambah dengan tanya jawab yang lebih efektif untuk membangun pemahaman siswa, pertemuan keempat merupakan evaluasi akhir Siklus II. Urutan pelaksanaan tindakan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Pertemuan Pertama (Selasa, 18 November 2008) Guru mengucapkan salam dan mengabsen siswa, ada 1 siswa yang absen yaitu, Dio Adhi Atmaja, siswa ini sakit sehingga jarang sekali mengikuti pelajaran. Guru memulai memberikan materi dengan memperkenalkan bentuk buku besar 4 kolom. Siswa memperhatikan dengan seksama, pada kegiatan ini sebanyak 30 siswa sudah cukup aktif memperhatikan guru. Kemudian guru mendemonstrasikan cara memposting transaksi dari jurnal ke dalam buku besar 4 kolom dengan transaksi-transaksi jurnal yang ada dalam LKS. Setelah mencontohkan sebanyak 5

79

transaksi siswa diberi kesempatan untuk bertanya. Kegiatan ini banyak dimanfaatkan oleh siswa untuk menanyakan kesulitan-kelsulitan yang dihadapi dalam memposting. Kebanyakan mereka menanyakan bagaimana mengisi kolom keterangan dan saldo serta urutan membuat buku besar. Guru memberi catatan pada siswa mengenai hal-hal yang ditanyakan tersebut dan meminta beberapa siswa mendemonstrasikan ke depan kelas. Sebelum menutup pelajaran, guru menyampaikan mengenai kegiatan kerja kelompok yang akan dilaksanakan pada pertemuan berikutnya dan mengumumkan kelompok belajar akan diperkecil menjadi 2 anggota tiap kelompok. Untuk mempermudah, guru meminta siswa berkelompok dengan teman sebangku saja, tetapi tidak melarang apabila ingin berkelompok dengan siswa lain. Setelah kelompok terbentuk, guru menutup pelajaran dengan salam. 2) Pertemuan Kedua (Rabu, 19 November 2008) Guru membuka pelajaran hari ini dengan mengucap salam kemudian mengabsen siswa, Dio Adhi Atmaja masih tidak hadir. Guru meminta siswa untuk duduk tenang dan guru membagikan lembar jawab kerja kelompoknya. Setiap bangku hanya mendapat satu bendel lembar kerja yang nantinya akan dikerjakan bersama teman sebangkunya. Guru membacakan soal berupa transaksi yang harus langsung diisikan ke kolom jurnal dalam waktu 1 menit tiap soalnya. Kali ini siswa terlihat lebih tenang dibanding pada siklus I. Sebanyak 35 siswa terlihat antusias dan serius berdiskusi. Setelah 10 soal dibacakan, siswa diminta memposting jurnal tersebut ke dalam buku besar 4 kolom dan diberi waktu 15 menit untuk mengerjakan. Guru mengawasi kegiatan ini dengan berkeliling dan memberikan pengarahan pada kelompok-kelompok yang mengajukan pertanyaan.

80

Guru mengumpulkan kembali lembar jawab siswa dan mengatakan akan membahasnya bersama pada pertemuan selanjutnya. Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam. 3) Pertemuan Ketiga (Selasa, 25 November 2008) Pertemuan ketiga dibuka dengan mengucapkan salam dan mengabsen siswa, yang tidak masuk masih Dio Adhi Atmaja. Sebelum memulai pelajaran guru mengingatkan siswa pada kegiatan presentasi yang akan dilakukan dan membagikan lembar kerja yang telah dikerjakan pada pertemuan sebelumnya. Kegiatan presentasi dilaksanakan dengan mengundi kelompok yang akan mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Kelompok Mukti Ali mendapat giliran pertama untuk mempresentasikan transaksi no.1 sampai no.5. Pada saat presentasi, kelompok ini banyak bercanda dan terlihat kurang fokus. Meskipun begitu, kelompok ini mampu menjawab pertanyaan yang diajukan guru maupun siswa. Kelompok berikutnya adalah kelompok Gigih, kelompok ini mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dengan cukup baik, namun kurang serius. Guru membuka kesempatan tanya jawab mengenai soal yang telah dipresentasikan, dari hasil koreksi sebanyak 18 kelompok sudah mengerjakan soal dengan sempurna, maka guru memberikan penguatan bagi 2 kelompok yang masih salah dan memberitahu letak kesalahannya. Guru meminta siswa mengerjakan soal-soal yang ada di LKS dan kembali membuka kesempatan tanya jawab mengenai transaksitransaksi yang mereka masih kesulitan dalam mempostingnya. Kesempatan ini banyak digunakan siswa untuk bertanya dan meminta penjelasan, yang paling aktif adalah Rima, Febriana, Mukti Ali, Louis, dan Ardian.

81

Setelah kegiatan belajar mengajar selesai guru memberi kesimpulan atas kegaiatan presentasi yang telah dilaksanakan dan menutup pelajaran dengan salam. 4) Pertemuan Keempat ( Rabu, 26 November 2008) Guru membuka pelajaran dengan salam dan meminta siswa mempersiapkan diri mengerjakan evaluasi akhir atas materi yang telah dibahas. Guru membagikan soal dan meminta siswa untuk mengerjakan sendiri soalnya. Guru mengawasi jalannya kegiatan evaluasi dengan baik. Setelah waktu untuk mengerjakan soal habis, guru mengumpulkan lembar jawab soal dan menutup pelajaran dengan salam penutup. c. Observasi dan Interpretasi Peneliti mengamati proses pembelajaran akuntansi menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning di kelas XI IS 1. Peneliti mengambil posisi di dalam kelas, sebab guru kelas menginginkan agar peneliti dapat mengamati langsung proses belajar mengajar akuntansi dengan seksama. Pada pertemuan pertama yaitu hari Selasa 18 November 2008, guru menyampaikan materi buku besar dengan demonstrasi (modelling) secara jelas dengan membuka kesempatan tanya jawab (questioning). Sedangkan pada pertemuan kedua, siswa diberi soal yang harus dikerjakan secara berkelompok dengan teman sebangkunya (learning community). Pertemuan yang ketiga diisi dengan presentasi dan penguatan melalui kegiatan tanya jawab (questioning). Pertemuan keempat merupakan kegiatan evaluasi dari pelaksanaan tindakan Siklus II. Dari kegiatan tersebut, diperoleh deskripsi tentang jalannya proses pembelajaran akuntansi dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning seperti yang telah diungkapkan dalam pelaksanaan tindakan II.

82

Berdasarkan hasil observasi terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar akuntansi, diperoleh informasi tentang motivasi dan aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, yaitu sebagai berikut: 1) Siswa yang aktif selama pemberian apersepsi sebesar 75%, sedangkan 25% lainnya belum secara optimal dalam persiapan mengikuti pelajaran. 2) Siswa yang aktif dalam kelompok selama kegiatan belajar mengajar berlangsung sebesar 87%, sedangkan 13% lainnya masih kurang konsentrasi dalam mengikuti proses pembelajaran dan tidak mau bekerja sama dengan teman kelompoknya. 3) Siswa yang dapat mengerjakan tugas dari guru dengan tepat dan teliti sebesar 87,5%, sedangkan yang lainnya hanya mengerjakan sebisa mereka, hal ini dikarenakan siswa tersebut belum paham dan tidak mau bertanya pada saat diberi kesempatan bertanya. 4) Berdasarkan hasil pekerjaan siswa dapat diidentifikasi bahwa siswa yang sudah mampu mengerjakan ujian akhir dan mendapatkan nilai 70 ke atas sebesar 87,5%, sedangkan 12,5% siswa lainnya belum sempurna dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Hal ini banyak disebabkan kekeliruan siswa dalam membuat jurnal dan ketidaktelitian dalam mengidentifikasi bentuk buku besar yang diminta dalam soal sehingga cara pengerjaan salah. Hasil observasi dan interpretasi tersebut dapat dilihat dari grafik berikut ini:

83

Grafik Tingkat Keaktifan Siswa

40 30 Jumlah Siswa 20 10 0

Keaktifan selama apersepsi Keaktifan siswa dalam kelompok Ketelitian dalam mengerjakan soal
Ketuntasan hasil belajar

Gambar 5. Grafik Tingkat Keaktifan Siswa pada Siklus II
Grafik Tingkat Kepasifan siswa
Siswa yang pasif saat pemberian apersepsi Siswa yang pasif dalam kelompok belajar Siswa yang kurang tepat dan teliti dalam mengerjakan soal

10 8 6 4 2 0

Jumlah Siswa

Siklus II

Siswa yang belum tuntas dalam pembelajaran

Gambar 6. Grafik Tingkat Kepasifan siswa pada Siklus II d. II Berdasarkan hasil observasi dan interpretasi tindakan pada siklus II, peneliti melakukan analisis sebagai berikut: 1) Beberapa kelemahan guru dalam siklus II ini adalah: a) Dalam membacakan soal dan menerangkan suara guru masih dikeluhkan siswa kurang jelas. Analisis dan Refleksi Tindakan Siklus

84

b) Guru sudah lebih santai dalam memberikan materi namun siswa masih merasa guru kurang friendly atau terlalu tegang sehingga mereka kurang nyaman. 2) Sedangkan dari siswa kekurangan masih ditemukan antara lain: a) Kurangnya perhatian dari beberapa siswa terhadap pembelajaran. Justru siswa-siswa ini adalah siswa yang dirasa kurang begitu memahami materi. b) Masih ada beberapa siswa yang tidak mau bekerja dengan kelompoknya, terutama Firdaus dan Aldy. c) Dari segi hasil belajar sudah ada peningkatan dari siklus I yaitu 86. Secara keseluruhan rata-rata naik, namun masih terdapat 5 siswa yang tidak lulus atau mendapat nilai kurang dari 70. Tindakan refleksi yang dapat diambil berdasarkan pengamatan dan analisis yang telah dilakukan adalah : 1) Guru lebih memperbaiki gaya mengajar yang lebih dapat membuat siswa merasa nyaman dan tidak tegang. 2) Guru agar lebih memperhatikan volume suara dan kejelasan pengucapan kalimat agar siswa tidak mengalami kebingungan. D. Pembahasan Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II dapat dinyatakan bahwa terjadi peningkatan kualitas dan hasil pembelajaran akuntansi melalui penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen leaning community dan questioning dari siklus satu ke siklus berikutnya. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel 4 berikut ini:

Tabel 4. Peningkatan kualitas dan hasil pembelajaran Aspek yand dinilai Siklus Jumlah (%) Peningkata

85

n Keaktifan siswa selama apersepsi Keaktifan dalam Kelompok Belajar Ketepatan dan ketelitian dalam mengerjakan soal Ketuntasan Hasil belajar Siklus I Siklus II Siklus I Siklus II Siklus I Siklus II Siklus I Siklus II 27 siswa 30 siswa 32 siswa 35 siswa 30 siswa 36 siswa 34 siswa 35 siswa 67.5 75 80 87.5 75 87.5 84.5 87.5 7.5% 7.5% 12.5% 3%

Peningkatan kualitas dan hasil pembelajaran akuntansi tersebut juga dapat dilihat pada grafik berikut ini :
Grafik Peningkatan Keaktifan Siswa
40 35 30 25 20 15 10 5 0 I II II I

I II

I II

Keaktifan selama apersepsi Keaktifan dalam kelompok Ketepatan dan ketelitian dalam mengerjakan soal Ketuntasan Hasil Belajar

Jumlah Siswa

Siklus

Gambar 7. Grafik Hasil Penelitian I Penelitian Tindakan Kelas (Clasroom Action Research) ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam empat tahap, yaitu : (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi tindakan. Deskripsi hasil penelitian dari siklus I sampai siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut: Sebelum melaksanakan siklus I, peneliti melakukan survei awal untuk mengetahui kondisi yang ada di SMA Negeri 1 Surakarta. Dari hasil survei ini, peneliti menemukan bahwa pembelajaran akuntansi pada siswa kelas XI IS 1 masih kurang optimal dimana siswa kurang antusias mengikuti pembelajaran dan

86

hasil evaluasi belajarnya kurang maksimal. Oleh karena itu, peneliti mengadakan diskusi dengan guru kelas dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning. Alasan utama peneliti mengambil dua komponen ini adalah karena kondisi siswa yang merasa lebih paham ketika temannya yang menjelaskan, maka pembelajaran kelompok dan kegiatan bertanya diharapkan dapat membangun interaksi edukatif antara siswa dengan guru serta meningkatkan pemahaman melalui diskusi. Kemudian guru kelas dibantu peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guna melaksanakan kegiatan siklus I. Materi pada pelaksanaan tindakan siklus I ini adalah Buku Besar. Guru memberikan materi dengan mendemonstrasikan (modelling) pemostingan transaksi jurnal ke buku besar. Hari berikutnya siswa diminta mengerjakan soal dengan kelompok belajar mengenai materi yang telah diajarkan. Namun, dari hasil pengamatan terhadap proses belajar mengajar akuntansi pada siklus I masih terdapat kekurangan dan kelemahan, yaitu siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan kerja kelompok, dimana dari 4 siswa anggota kelompok, hanya 2 atau 3 orang saja yang mau aktif mengerjakan. Selain itu, kesempatan presentasi untuk tanya jawab banyak diabaikan para siswa yang tidak maju. Karena itu, penulis mencari solusi dan menyusun rencana pembelajaran siklus II untuk mengatasi kekurangan dan kelemahan dalam pembelajaran akuntansi pada siklus I. Materi pembelajaran pada siklus II masih sama hanya saja bentuk buku besar yang dipelajari berbeda, materi ini membahas tentang prosedur mencatat dari jurnal ke dalam buku besar bentuk 4 kolom. Pada saat peneliti melakukan wawancara dengan siswa, siswa merasa cukup antusias dengan komponen learning community yang kemarin telah diterapkan, selain siswa menjadi aktif, siswa juga merasa tidak segan bertanya dan berdiskusi dengan teman satu kelompoknya. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses belajar mengajar akuntansi pada siklus II, kualitas pembelajaran baik hasil maupun proses sudah

87

menunjukkan

peningkatan.

Siswa

yang

sebelumnya

kurang

aktif

saat

pembelajaran, sekarang menjadi lebih antusias dan lebih merespon apersepsi guru. Dengan memperkecil anggota kelompok menjadi 2 orang saja ternyata membuat siswa jauh lebih aktif dalam mengerjakan tugasnya. Kegiatan presentasi dengan tanya jawab oleh guru juga lebih efektif. Meskipun begitu, masih diperlukan juga motivasi dari guru dan pendekatan dari guru untuk mendukung berhasilnya proses belajar mengajar akuntansi. Guru merasa kegiatan pemberian motivasi ini akan dapat dilaksanakan tiap saat nanti. Oleh sebab itu masalah yang dihadapi pada pembelajaran akuntansi sudah dapat teratasi dengan cara penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning. Teratasinya masalah pembelajaran tersebut dapat dilihat dari aspek-aspek pengamatan yang telah dilakukan yaitu menurunnya tingkat kepasifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, antara lain: 1. 2. 3. 4. Ketidakaktifan siswa dalam menanggapi apersepsi yang diberikan Siswa yang tidak aktif dalam kelompok belajar menurun dari 8 Siswa yang belum mengerjakan soal dengan tepat dan teliti Siswa yang hasil belajarnya belum tuntas menurun dari 5 siswa Penurunan tingkat kepasifan siswa dalam mengikuti pembelajaran tersebut dapat dilihat pada grafik dibawah ini: guru saat pemberian materi menurun dari 13 siswa menjadi 10 siswa. siswa menjadi 5 siswa dengan memperkecil jumlah anggota kelompok belajar. menurun dari 10 siswa menjadi 4 siswa. menjadi 4 siswa.

88

Grafik Penurunan Tingkat Kepasifan Siswa 14 12 10 Jumlah Siswa 8 6 4 2 0 SIKLUS II II I II

Siswa yang pasif saat pemberian apersepsi Siswa yang pasif dalam kelompok belajar

I II I I

Siswa yang kurang tepat dan teliti dalam mengerjakan soal Siswa yang belum tuntas dalam pembelajaran

Gambar 8. Grafik Hasil Penelitian II Berdasarkan tindakan tersebut, guru berhasil melaksanakan pembelajaran akuntansi yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan hasil pembelajaran akuntansi. Selain itu, peneliti juga dapat meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran yang efektif dan menarik. Keberhasilan pembelajaran akuntansi dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning dapat dilihat dari indikator-indikator sebagai berikut: 1) 2) bertanya. 3) 4) siswa. 5) Nilai dari hasil pekerjaan yang telah diberikan guru menunjukkan peningkatan dari siklus I sampai siklus II. Siswa sudah mampu memahami materi akuntansi. Pada setiap penyampaian materi, guru selalu memberikan motivasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membantu keaktifan belajar Siswa terlihat antusias dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran akuntansi. Siswa sudah mampu mengatasi kesulitan belajar dengan berdiskusi dengan teman yang lebih paham akan materinya dan belajar

89

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, SARAN A. Simpulan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan di kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta ini dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus meliputi empat tahap, yaitu : (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi tindakan. Simpulan hasil penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut, terdapat peningkatan keaktifan, minat dan motivasi yang mengarah pada peningkatan hasil belajar akuntansi dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning pada siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta. Peningkatan hasil belajar akuntansi tersebut terjadi setelah guru melakukan beberapa upaya yang dikemas dalam dua siklus tindakan diantaranya : 1. Penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning dalam pembelajaran akuntansi. 2. Guru membuat inovasi baru dalam menyampaikan pelajaran akuntansi dengan menciptakan kelompok belajar dan membuka kegiatan tanya jawab dalam presentasi, tanya jawab ini dilakukan oleh guru pada siswa, siswa pada guru, maupun siswa pada siswa lain. 3. Siswa dikondisikan dalam suatu kelompok diskusi yang akan saling bertukar pikiran antar siswa, saling mengajari sehingga mampu memahami materi dengan baik. 4. Guru lebih memberikan peran dalam menciptakan suasana belajar dan membantu siswa mencapai pemahaman sehingga meningkatkan hasil belajar mereka.

90

Upaya tersebut terbukti meningkatkan hasil belajar akuntansi pada siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta. Hal tersebut dapat terlihat dari beberapa 69 temuan di kelas, yaitu (1) siswa terlihat antusias dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran akuntansi, (2) siswa sudah mampu mengatasi kesulitan belajar dengan berdiskusi dengan teman yang lebih paham akan materinya dan belajar bertanya sehingga mampu memahami materi akuntansi dengan baik, (3) guru telah mampu melaksanakan metode pembelajaran akuntansi dengan nuansa baru. Hal ini antara lain diinformasikan oleh beberapa siswa melalui kegiatan wawancara setelah semua siklus tercapai, (4) kemampuan siswa dalam memahami akuntansi pun meningkat dilihat dari nilai akhir dan nilai rata-rata kelas yang mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II. Selain itu, terdapat beberapa manfaat dari penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning dalam pembelajaran, antara lain (1) membantu siswa dalam memahami materi, (2) melibatkan siswa dalam pembelajaran, sehingga siswa menjadi lebih aktif, (3) siswa dapat menambah pengalaman dan pengetahuan melalui kegiatan presentasi dan diskusi kelompok, dan (4) menumbuhkan minat belajar dan antusiasme terhadap pembelajaran akuntansi dengan metode pembelajaran yang menyenangkan. Unsur penting dalam pembelajaran ini adalah penggunaan ragam metode dan pendekatan pembelajaran yang dipilih. Pemilihan metode dan pendekatan tertentu akan mempengaruhi berhasil tidaknya suatu pembelajaran. Pengetahuan yang diterima siswa juga sangat dipengaruhi oleh metode dan pendekatan yang diterapkan guru dalam pembelajaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penerapan metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat akan berpengaruh terhadap proses dan hasil dari pembelajaran. Dalam pembelajaran akuntansi ini digunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning. Dengan menekankan komponen learning community dan questioning, hasil belajar akuntansi siswa dapat

91

meningkat. Hal ini dikarenakan dalam penggunaannya, siswa diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi dalam kelompok belajar, serta mempresentasikan hasil kerja kelompoknya sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa tidak hanya berasal dari pengalaman pada saat melihat guru mengajar, tetapi juga diperoleh dari kegiatan yang dilakukan siswa itu sendiri. Pengetahuan dibangun atas dasar konsep yang diterima siswa yang dikembangkan berdasarkan pengalaman yang telah mereka dapat. Pengetahuan tersebut bersifat lebih kekal (bertahan lama) dalam pikiran siswa. Jadi, dapat dirumuskan bahwa fungsi pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning dalam pembelajaran adalah untuk membangkitkan motivasi belajar siswa dalam rangka membangun pengetahuan melalui diskusi, tanya jawab, dan praktek. B. Implikasi Berdasarkan hasil penelitian beserta pembahasan dan simpulan yang dikemukakan tersebut diatas maka implikasi dari penelitian ini sebagai berikut: 1. Implikasi Teoretis Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran yaitu berasal dari pihak guru maupun siswa. Faktor dari pihak guru yaitu kemampuan guru dalam mengembangkan materi, kemampuan guru dalam menyampaikan materi, kemampuan guru dalam mengelola kelas, dan metode yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Sedangkan faktor dari siswa yaitu minat belajar atau motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran akuntansi. Faktor-faktor tersebut saling mendukung satu sama lain, sehingga harus diupayakan secara maksimal agar semua faktor tersebut dapat dimiliki oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Apabila guru memiliki kemampuan baik, maka guru dapat menyampaikan materi dengan baik. Materi tersebut akan diterima siswa dengan baik apabila siswa juga memiliki minat dan motivasi yang tinggi untuk aktif dalam proses pembelajaran. Dengan

92

demikian, kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar, kondusif, efektif dan efisien. Penggunaan pendekatan yang tepat dalam menerapkan suatu metode pembelajaran sangat berpengaruh terhadap kualitas dan efektivitas penyampaian materi yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini akan berpengaruh pula pada motivasi dan keaktifan siswa pada saat mengikuti pembelajaran sehingga tercipta kegiatan belajar mengajar yang berkualitas. 2. Implikasi Praktis Penelitian ini memberikan gambaran secara jelas bahwa melalui penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning dalam pembelajaran akuntansi dapat meningkatkan hasil belajar akuntansi. Bagi guru bidang studi akuntansi, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif pilihan dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Disamping itu dapat menjadikan siswa lebih aktif dan menghapus pandangan siswa terhadap pembelajaran yang membosankan menjadi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Apalagi bagi guru yang memiliki kemampuan dalam mengajak siswa untuk dapat berkomunikasi dengan baik, sehingga siswa menjadi tidak malu untuk bertanya atau maju ke depan kelas menyampaikan pendapatnya dan hasil pekerjaannya. Pemberian tindakan dari siklus I sampai siklus II memberikan deskripsi bahwa terdapatnya kekurangan dan kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran akuntansi berlangsung. Namun, kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi pada pelaksanaan tindakan pada siklus II. Dari pelaksanaan tindakan yang kemudian dilakukan refleksi terhadap proses pembelajaran, dapat dideskripsikan terdapatnya peningkatan kualitas baik proses maupun hasil dari pembelajaran akuntansi. C. Saran Berkaitan dengan simpulan di atas, maka peneliti dapat mengajukan saransaran sebagai berikut :

93

1.

Guru harus selalu meningkatkan kemampuannya dalam mengembangkan dan menyampaikan materi, serta dalam mengelola kelas, sehingga kualitas pembelajaran yang dilakukan dapat terus meningkat seiring dengan peningkatan kemampuan yang dimilikinya. Selain itu, guru hendaknya mau membuka diri untuk menerima berbagai bentuk masukan, saran, dan kritikan agar dapat lebih memperbaiki kualitas mengajarnya.

2. 3.

Guru hendaknya menerapkan metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Bagi guru yang belum menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning dapat menerapkan pendekatan tersebut dengan berbagai komponennya dalam pembelajaran agar pemahaman siswa menjadi lebih meningkat.

4.

Penelitian ini dapat diterapkan di kelas lain maupun di sekolah lain, namun dalam penerapannya harus diikuti penyesuaian dengan konteks kelas maupun sekolah masing-masing. Hal ini perlu dilakukan karena meskipun sekolah-sekolah di Indonesia memiliki pola pengajaran yang hampir sama, tetapi setiap sekolah memiliki karakteristik tertentu yang berbeda dengan sekolah lain. Maka dengan adanya penyesuaian tersebut diharapkan dapat menciptakan pola pengajaran yang lebih baik.

94

DAFTAR PUSTAKA

A.Suhaenah Soeparno. 2001. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional 2001. A.Tabrani Rusyan, Atang Kusdinar, B.A., dan Drs. Zainal Arifin. 1989. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: CV Remadja Karya. Achmad Tjahjono dan Sulastiningsih. 2003. Akuntansi Pengantar: Pendekatan Terpadu Buku I. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Akhmad Sudrajat. 2008. Pendekatan dalam Pembelajaran. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/21/Pendekatan-Pembelajaran/. Diakses pada tanggal 15 Januari 2008. Anis Matta. 2008. Komunikasi Efektif dalam Proses Belajar Mengajar. http://www.google.com/. Diakses pada tanggal 15 Januari 2009. Anwar Holil. 2008. Proses Belajar Mengajar. www.anwarholil.blogspot.com Diakses pada tanggal 15 Januari 2009. Azyumardi Azra. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara. Bandono, M.M. 2008. Menyusun Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning. http://bandono.web.id/cv/. Diakses tanggal 29 Juni 2008 Baskoro Adi Prayitno. 2008. Konsep Dasar PTK(Penelitian Tindakan Kelas). http://baskoro1.blogspot.com/2008/06/konsep-dasar-ptk-penelitiantindakan.html. Diakses tanggal 22 Agustus 2008 Depdikbud. 1985. Peningkatan Prestasi Belajar: Manfaat Bertanya. http://www.google.co.id/gwt/n? site=search&mrestrict=wml&q=Manfaat+ketrampilan+bertanya&output/w ww.dunia belajar.com. Diakses pada tanggal 15 Januari 2009. Depdiknas. 2008. Pendekatan Contextual Teaching and Learning. http://www.infogue.com/viewstory/2008/05/14/pendekatan_kontekstual_at

95

au_contextual_teaching_and_learning_ctl_/? url=http://ipotes.wordpress.com/2008/05/13/ Diakses pada tanggal 10 Juli 2008. Dewi Salma Prawiradilaga. 2008. Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Kencana Prenada Media Group. Fitri. 2008. Pendidikan. http://smacepiring.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 15 Januari 2009. Johnson, Elaine B., PH.D. 2007. Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung: Penerbit MLC. Lianekke Gunawan. 2006. Dunia Belajar Anak: Manfaat Belajar Kelompok. http://www.google.co.id/manfaat+belajar+kelompok/www.dunia belajar.com/. Diakses pada tanggal 15 Januari 2009 Mulyasa. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional (Dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK). Bandung: PT Remaja Rosdakarya. --------------------.1991. Penilaian Hasil Belajar. Semarang:--------. Dr.Nana Sudjana. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rustam dan Mudilarto. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Soedomo Hadi. 2005. Pendidikan Suatu Pengantar. Surakarta: LPP UNS. Soemarso S.R. 2004. Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Salemba Empat. Prof. DR. Suharsimi Arikunto, Prof. Suhardjono, dan Prof. Supardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara. Dr.Sulipan, M.Pd. ---------. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). www.profesiguru.com. Diakses tanggal 22 agustus 2008. Suwarna, M.Pd, dkk. 2006. Pengajaran Mikro. Yogyakarta: Tiara Wacana. Syaiful Bahri Djamarah. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Jakarta: Rineka Cipta. Tirtarahardja, Umar, dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

96

UU No.20 Tahun 2003 ( SISDIKNAS). www.google.co.id Diakses tanggal 10 Januari 2005.

Usman. 1995. Ketrampilan Bertanya. www.google.com Diakses pada tanggal 15 Januari 2009. Zulfikri Kamin. 2008. Pendekatan Kontekstual. http://pakguruonline.pendidikan.net. Diakses 10 Agustus 2008.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->