P. 1
Lap.ptk.Edy Smp1rbg

Lap.ptk.Edy Smp1rbg

|Views: 1,341|Likes:
Published by EdyIrianto

More info:

Published by: EdyIrianto on Nov 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/14/2013

pdf

text

original

PENERAPAN PEMBELAJARAN MULTIMEDIA DALAM KEGIATAN MENGAJAR IPA MATERI POKOK SISTEM DALAM KEHIDUPAN MANUSIA UNTUK MENINGKATKAN

HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP N 1 REMBANG TAHUN PELAJARAN 2007/2008 Oleh : Edy Sri Irianto, S.Pd. ABSTRAK Pembelajaran dikelas kadang membosankan bagi siswa sehingga pemahaman konsep yang diharapkan tidak dapat tercapai, siswa kurang termotivasi untuk belajar yang mengakibatkan prestasi tidak dapat meningkat. Beberapa kendala dialami seorang guru dalam proses pembelajaran di kelas yang sesuai dengan keinginan dan kondisi siswa sehingga kebuntuan komunikasi siswa dengan guru terbentuk,.salah satu penyebabnya adalah karena metode dan media yang digunakan seorang guru dalam memberi pelajaran kurang menarik bagi siswa. Kehadiran ICT dewasa ini membawa perubahan dan angin segar bagi dunia pendidikan, tidak hanya dipergunakan untuk kebutuhan administrasi belaka namun sekarang sudah bergeser pada penggunaan dalam proses pembelajaran di kelas. Multimedia interaktif adalah salah satu efek hadirnya ICT sekarang ini yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan pada proses pembelajaran di kelas, karena multimedia sudah banyak terbukti mampu meningkatkan mutu pendidikan . Hal ini juga perlu dipertimbangan beberapa dampak negatif yang timbul dan bagaimana multimedia itu dikelola dengan benar yang sesuai dengan dunia pendidikan. Hasil Penelitian membuktikan bahwa multimedia dapat meningkatkan aspek pemahaman konsep materi pelajaran bila dibandingkan dengan memnggunakan media lain (charta, torso, dan model). Berdasarkan tindakan yang sudah dilaksanakan di SMP Negeri 1 Rembang pada siswa kelas VIII A tahun pelajaran 2007/2008 tentang penggunaan multimedia mampu meningkatkan aspek pemahaman materi, dan meningkatkan motivasi belajar siswa. Hasil rerata tes awal tindakan diperoleh 72.5 % (59.5) anak belum mencapai KKM. Pada siklus I nilai rerata 66.4 dengan 65 % siswa memperoleh nilai sama dan atau diatas KKM, dan pada siklus II nilai rerata sebesar 69.8 dengan 80 % siswa tuntas dalam aspek pemahaman konsep. Disamping itu hasil observasi juga membuktikan bahwa penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran dapat memotivasi dan meningkatkan belajar siswa.

Kata Kunci : Multimedia, meningkatkan hasil belajar siswa.

1

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia Pendidikan di Indonesia dewasa ini menghadapi era globalisasi alih teknologi dengan pesatnya, perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) mengalami perubahan yang sangat berarti bahkan hampir disemua aspek. Dibandingkan dengan negara-negara lain, dunia pendidikan di Indonesia masih ketinggalan dalam penggunaan ICT dalam pembelajaran, hal itu disebabkan antara lain Indonesia masih kebingungan dalam memilih paradigma mana yang pas dalam menyelesaikan masalah, program dulu baru anggarannya atau anggarannya dulu baru programnya (Suparlan, Mei 2008). Pembaharuan dalam bidang pendidikan memerlukan keberanian untuk mencari metode dan membangun paradigma baru. Fenomena yang selalu terjadi dalam dunia pendidikan di era global ialah selalu tertinggalnya perkembangan dunia pendidikan itu sendiri jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi, informasi, dan dunia bisnis yang menggiringnya (Prof. Suyanto, Ph.D). Pendidikan di Indonesia sebelum krisis ekonomi tahun 1997 yang kemudian diikuti krisis multi dimensi sistem dan proses pembelajaran tidak mendukung bagi tercapainya pendidikan yang berkualitas, tidak mendukung akan dihasilkannya sumberdaya manusia yang dapat bersaing dalam era globalisasi. Kurikulum padat materi, mengedepankan pendekatan kognitif, diberikan dalam tradisi satu arah (one way direction-pasif). Beberapa perubahan mulai diambil dengan menyadari beberapa kelemahan yang ada, antara lain melakukan desentralisasi pendidikan dalam kerangka otonomi daerah yang dikuti manajemen berbasis sekolah, mengikutsertakan peran Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan dan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang kemudian dikembangkannya lebih lanjut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Didalam kurikulum ini pembelajaran menerapkan system PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan), pembelajaran dua arah (two way teaching learning), pembelajaran diluar kelas (beyond the class room), dan memanfaatkan teknologi multimedia atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau biasa disebut sebagai Information and Communication Tecnology (ICT). Penggunaan ICT disekolah telah merubah kita dalam meningkatkan mutu pendidikan yang tadinya lebih berpusat pada guru (teacher centered) menjadi student centered (berpusat pada siswa) , tadinya pembelajaran umumnya menjemukan karena tidak partisipatif (tidak ada peran 2

siswa) dan sekarang lebih menyenangkan adanya partisipasi siswa, akses terhadap data dan informasi dapat dilakukan secara on line, yang jelas ICT membuka era baru dunia pendidikan. Namun tidak dapat dipungkiri bila keberadaan ICT dalam dunia dalam menentukan mutu pendidikan . Tidak dapat disangkal bahwa terpaan teknologi berupa perangkat lunak (software) maupun perangkat keras (hardware) sudah sekian menyatu dengan kehidupan manusia modern. Dalam bidang pendidikan kehadiran media pembelajaran misalnya sudah dirasakan banyak membantu tugas guru dalam mencapai tujuan pembelajarannya. Dalam era teknologi dan informasi ini, pemanfaatan kecanggihan teknologi untuk kepentingan pembelajaran sudah bukan merupakan hal yang baru lagi. Salah satu media pembelajaran baru yang akhir-akhir ini semakin menggeserkan peranan guru adalah teknologi multimedia yang tersedia melalui perangkat komputer. Perkembangan teknologi informasi khususnya komputer membawa banyak perubahan pada sebuah program aplikasi seharusnya didesain terutama pada upaya menjadikan teknologi ini mampu memanipulasi keadaan sesungguhnya. Penekanannya terletak pada upaya yang berkesinambungan untuk memaksimalkan aktifitas belajar sebagai interaktif kognitif antar siswa, materi subyek, dan instruktur (dalam hal ini komputer yang diprogramkan). Pembelajaran berbasis komputer (Computer based Instruction/CBI) adalah suatu konsep baru yang sampai saat ini banyak jenis dan desain dan implementasinya, terutama dalam dunia pendidikan dan pembelajaran. Kondisi ini muncul sebagai wujud nyata dari globalisasi Teknologi Informasi dan Komunikasi. ( Rakmat Setiadi dan Akhril Agus 2003 ;3). Dewasa ini, CBI telah berkembang menjadi berbagai model dimulai dari CAI (Computer Assisted Intruction), kemudian mengalami perbaikan menjadi ACAI (Intelligent Computer Assited Intruction), dengan dasar orientasi aktifitas yang berbeda muncul pula CAL (Computer Assited Learning), CBL (Computer Based Learning, CAPA (Computer Assisted Personalized Assigment), dan ITS (Intelligent Tutorial System). Secara umum bahan belajar ini menjelaskan tentang makna komputer sebagai salah satu media dalam pembelajaran dan penyusunan bahan belajar berbasis komputer. Penggunaan charta di dalam proses pembejaran sudah tidak jamannya lagi, Karena beberapa kelemahan dalam penggunaan charta sudah jelas, terutama pada mata pelajaran IPA di SMP ada beberapa materi pelajaran yang tidak memungkinkan dilaksanakan di laboratorium 3 pendidikan juga dapat membawa beberapa kendala tersendiri dan memungkinkan menjadi hal-hal yang anti klimaks

karena beberapa alasan, misalnya karena keterbatasan alat dan bahan atau memang materi itu tidak bisa dilaksanakan dengan penyampaian kinerja ilmiah. Biasanya apa yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi tersebut tidak ada jalan lain adalah mengunakan media pembantu berupa charta/model. Dengan kehadiran teknologi komputer dewasa ini guru dapat mengembangkan imajinasinya dalam membuat bahan ajar berbantuan komputer (multimedia) menggantikan media charta misalnya dalam membantu siswa dalam menyampaikan pembelajarannya, disamping itu kehadiran teknologi ini memungkinkan sudah merupakan barang yang tidak asing lagi bagi siswa. B. Perumusan Masalah Apakah pembelajaran menggunakan bahan ajar multimedia dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa dan meningkatkan prestasi belajar siswa ? C. Tujuan Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk : 1. Meningkatkan prestasi belajar siswa umumnya , khususnya meningkatkan pendalaman materi/pemahaman konsep Sstem dalam Kehidupan Manusia. 2. Untuk mengetahui dan menanggulangi kendala seorang guru dalam mengatasi proses pembelajaran siswa untuk memahami suatu materi pelajaran. D. Manfaat Penelitian 1. Untuk guru diharapkan metode ini sebagai metode alternatif pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi komputer sehingga dapat digunakan sebagai model variasi dalam menyampaiakan materi pelajaran. 2. Untuk siswa, pembelajaran menggunakan bahan ajar multimedia ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar. 3. Untuk Sekolah, dengan hadirnya bahan ajar berbantuan komputer ini (multimedia) diharapkan sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, umumnya dunia pendidikan. siswa untuk dapat berkreasi dalam mendalami suatu materi bahan ajar dan tidak menjemukan karena multimedia

4

KERANGKA TEORITIS, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS A. Landasan Teori 1. Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak terlepas dengan perangkat komputer yang dewasa ini menguasai teknologi pembelajaran di sekolah-sekolah. Komputer adalah alat atau seperangkat yang dipakai untuk mengolah informasi menurut prosedur yang telah dirumuskan. Kata Komputer semula dipergunakan untuk mengambarkan orang yang pekerjaannya melakukan perhitungan aritmatika, dengan atau tanpa alat bantu, tetapi arti kata ini kemudian dipindahkan kepada mesin itu sendiri. Asal mulanya, pengolahan informasi hampir eksklusif berhubungan dengan masalah aritmatika, tetapi komputer modern dipakai untuk banyak tugas yang tidak berhubungan dengan aritmatika. Namun dalam perkembanganya istilah yang lebih baik dan yang cocok untuk arti luas seperti komputer adalah yang memproses informasi atau sistem pengolah informasi. Dalam perkembangannya akhirnya komputer merambah pada dunia pendidikan, yang mula-mula perangkat in dipergunakan untuk membantu dalam pekerjaan administrasi pendidikan, namun akhirnya sekarang komputer bergeser penggunaannya dalam pengunaan pengajaran. Penggunaan ICT (Information and Communication Technology) dalam proses pembelajaran disekolah sekarang ini sudah tidak asing lagi. Dalam bukunya bertajuk “Effective Teaching, Evidence and Practice”, Daniel Muijs dan David Reynolds menjelaskan beberapa hal tentang kecakapan ICT dapat membantu siswa belajar. a. Presenting Information. ICT memiliki kemampuan yang sangat luar biasa untuk menyampaikan informasi.Ensiklopedia yang jumlahnya beberapa jilid pun dapat disimpan di harddisk/flasdisk. b. Quick and Automatic Completion of Routine Tasks. Tugas-tugas rutin kita dapat selesaikan dengan menggunakan bantuan komputer dengan cepat dan otomatis. c. Assessing and Handling Information. Dengan komputer yang berhubungan dengan internet, kita dapat dengan mudah memperoleh dan mengirimkan informasi dengan mudah dan cepat. Melalui jaringan internet, kita dapat memiliki website yang

5

menjangkau ujung dunia manapun. Masih banyak lagi manfaat yang bisa kita ambil dari pengunaan ICT dalam proses pembelajaran di sekolah. 2. Stategi Pembelajaran Gaya pembelajaran merujuk kepada ciri istimewa kepunyaan seseorang siswa untuk memperlihatkan, interaksi, dan memberikan umpan balik dalam suasana pembelajaran atau pada proses belajar mengajar (Keefe, 1979). Seseorang pelajar mulai sejak kecil gaya belajarnya sudah dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sosial-ekonomi dan budaya keluarga, emosi, dan alam disekitarnya. Atas perbedaan-perbedaan tersebut, maka gaya pembelajaran seorang siswa mungkin berbeda dari gaya pembelajaran siswa lain. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat siswa yang lebih cenderung kepada pembelajaran melalui penglihatan dan pendengaran, terdapat pula juga siswa lebih leluasa dengan pembelajaran melalui bahan manipulatif atau reflektif, ada juga siswa yang suka belajar dalam suasana kelompok dan ada pula siswa yang lebih enak dilaksanakan dengan secara perorangan atau sendirian (Felder, 1996). Walaupun seorang siswa dikatakan bertanggungjawab terhadap pembelajarannya sendiri, tetapi guru memegang peranan yang sangat penting sebagai motivator dan pemudah cara melalui berbagai strategi pengajaran yang digunakan. Hasil yang didapat berbagai gaya pembelajaran seorang siswa dan beberapa strategi pengajaran yang diberikan guru kadangkadang tidak sinkron/yang diharapkan siswa sehingga menyebabkan seorang siswa menjadi bosan dan tidak memperhatikan dalam proses pengajaran dan menyebabkab prestasi yang diharapkan tidak dapat tercapai. Sebaliknya, guru yang berhadapan dengan siswa yang tidak berminat dalam pembelajaran menyebabkan seorang guru akan kehilangan langkah dalam menyampaikan materi pelajaran. Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, guru harus mengenal dengan pasti dan memahami gaya pembelajaran siswar supaya strategi pengajaran yang sesuai dapat digunakan dan memenuhi kehendak siswa dalam proses pembelajaran. 3. Penggunaan Multimedia dalam Proses Pembelajaran Hampir tidak ada pendapat yang menyatakan ICT berdampak negatif dalam proses pembelajaran, ICT telah membuka era baru bagi proses belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa, bukan hanya saja ICT bermanfaat langsung bagi peningkatan mutu siswa itu sendiri tetapi manajemen pendidikan, biaya pendidikan, sumber pendidikan semuanya berubah karena penggunaan dan keberadaan ICT. 6

Pendapat para ahli psikologi kognitif, seseorang siswa akan ingat 10% dari apa yang dia baca, 20% dari pada apa yang didengar, 30% apa yang dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan didengar, 70% apa yang ia suarakan sendiri dan 90% apa yang ia lakukan sendiri (Rief, 1993). Multimedia merupakan satu gabungan teks, grafik, audio, video, dan animasi. Dengan gabungan elemen-elemen ini dalam suatu pengajaran yang dikemas dalam bahan ajar interaktif berbantuan komputer ini (multimedia) , seorang guru boleh mewujudkan satu suasana pembelajaran yang penuh dengan persembahan audio visual yang dapat menarik minat pelajar serta memberikan rangsangan kepada siswa dalam memahami materi pelajaran juga dapat memenuhi kebutuhan berbagai gaya pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Multimedia interaktif juga dapat memberikan pembelajaran kooperatif dan interaktif sesama pelajar (seorang siswa lebih suka belajar dari teman sebayanya). Dengan kehadiran multimedia ini seorang siswa berpeluang membentuk kumpulan kecil dan berdiskusi untuk memahami suatu masalah/topik, menyelesaiakan masalah dan membuat keputusan dan meghasilkan proyek multimedia bersama yang nantinya sepenuhnya akan digunakan dalam proses pembelajaran tersebut, Menurut konstruktivisme, siswa adalah bertanggungjawab atas pembelajarannya sendiri. Pelajar membina pengetahuan sendiri berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari alam sekitarnya (Scott, 1987). Beberapa masalah akan muncul sebagai akibat dari diterapkannya teknologi ini dalam latar pendidikan. 1. Berkaitan dengan orientasi filosofis. Kaum obyektivis menilai desain multimedia sebagai sesuau yang sangat riil yang dapat membantu pendidikan siswa menuju kepada tujuan yang diharapkan (Jonassen, 1991). Materi yang berwujud pengetahuan atau ketrampilan yang hendak dicapai oleh siswa harus dirancang secara jadi oleh pengembang instruksional dan dikemas dalam tenologi multimedia ini. Kaum konstruktivis berpendapat sebaliknya, bahwa pengetahuan hendaknya dibentuk oleh siswa sendiri berdasarkan penafsirannya terhadap pengalaman dan gejala hidup yang dialami (Merril, 1991). Berdasarkan pandangan ini maka pelajar bersifat aktif, kolaboratif dan terkondisi dalam konteks dunia yang riil. 2. Berhubungan dengan lingkungan pelajar. 7

Lingkungan belajar multimedia interaktif dapat dikatagorikan tiga jenis yakni lingkungan prespektif, demokratis dan sibernetik. Lingkungan prespektif menekankan bahwa prestasi belajar merupakan pencapaian dari tujuan-tujuan belajar yang ditetapkan secara eksternal. Interaksi belajar terjadi antara siswa dengan bahan-bahan belajar yang sudah tersedia dan belajar merupakan suatu kejadian yang bersifat prosedural. Lingkungan belajar demokratis menekankan kontrol proaktif siswa atas proses belajarnya sendiri, yang mencakup penetapan tujuan belajar sendiri, kontrol siswa terhadap urutan-urutan pembelajaran, hakekat pengalaman dan kedalaman materi belajar yang dicarinya. Lingkungan belajar sibernetik menekankan saling ketergantungan antara sistem belajar dan siswa. 3. Berhubungan dengan desain instruksional. Pada umumnya desain pembelajaran multimedia dibuat berdasarkan besar kecilnya kontrol siswa atas pembelajarannya. Sebagian peneliti mengatakan bahwa siswa bisa diberdayakan melalui kontrol yang lebih besar atas belajarnya tetapi siswa bisa juga dihambar melalui kontrol atas belajarnya. 4. Berhubungan dengan umpan balik. Sifat dari umpan balik pembelajaran multimedia sangat bervariasi tergantung pada lingkungan di mana multimedia itu digunakan. Dalam lingkungan belajar preskriptif, umpan balik sering mengambil bentuk korektif dan deteksi terhadap kesalahan yang dibuat. Dalam lingkungan belajar demokratis, umpan balik sering mengambil bentuk nasehat atau anjuran, yakni sekedar pemberitahuan kepada siswa tentang akibat-akibat yang muncul dari suatu pilihan tertentu atau juga berisi rekomendasi. Dalam lingkungan sibernetik, umpan balik merupakan suatu negoisasi atau perundingan. Siswa menetapkan arah atau petunjuk sendiri dan membuat pilihan sendiri dan sistem belajar akan berusaha mempelajari pola-pola yang muncul sehubungan dengan kebutuhan siswa itu dan memberikan respon terhadap siswa dengan menyediakan tantangan-tantangan baru. 5. Sifat sosial dari jenis pembelajaran.

8

Banyak kritik telah dilontarkan terhadap pembelajaran multimedia sebagai pembelajaran yang bersifat isolatif sehingga bertentangan dengan tujuan sosial dari sekolah. Siswa seolah-olah dikondisikan untuk menjadi individualis-individualis dan kontaks sosial dengan teman-teman menjadi sesuatu yang asing. Itulah beberapa masalah yag perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk menggunakan teknologi multimedia dalam kegiatan pembelajarannya. Salah satu usaha yang harus dikembangkan untuk mengantisipasi sejumlah masalah diatas maka akhir-akhir ini perhatikan pendidik mulai diarahkan kepada belajar kooperatif dalam pembelajaran multimedia, memperluas pendekatan belajar kooperatif ini dalam lingkungan belajar yang berbasis komputer. Beberapa keuntungan penerapan belajar kooperatif dalam pembelajaran multimedia antara lain : 1) adanya ketergantungan dan tanggungjawab dari setiap kelompok. 2) Adanya interakti yang proaktif dimana usaha seseorang individu akan mendukung usaha anggota kelompok lainnya. 3) Kesempatan latihan untuk bekerjasama. 4) Pengembangan dan pemeliharaaan kelompok (Marsel Ruben Payong, Sinar Harapan 2001). Dalam membuat bahan ajar berbantuan komputer (multimedia) perlu diperhatikan beberapa trik sehingga multimedia yang dihasilkan akan menarik dilihat dari segi aspek pembelajarannya. 1. Optimalkan Komponen Pemicu (Triger) Komponen pemicu dalam multimedia pembelajaran meliputi judul, tujuan pembelajaran dan appersepsi yang menarik dan menantang. Judul, merupakan titik awal sebagai penarik perhatian pengguna. Judul jangan mempergunakan kalimat yang kaku, namun judul hendaknya dibuat dengan kalimat yang lebih menantang dan menarik. 2. Modifikasi Tujuan Pembelajaran Tujuan pembelajaran jangan hanya terpaku dengan rumusan kompetensi dasar atau indikator yang telah ada dalam kurikulum. Redaksi tujuan pembelajaran yang ada pada kompetensi dasar atau indikator dapat dibuat yang lebih kreatif dan dapat dikembangkan/diperluas dengan kalimat yang jelas, realistis, dan dapat diukur. Pengguna (siswa) perlu diberitahu manfaat yang akan diperoleh setelah belajar menggunakan multimedia pembelajaran. Menurut 9 de Porter dkk, menggunakan

istilah AMBAK (Apa Manfaatnya BAgiKu ?).Dengan rumusan dengan jelas siswa tahu kemana arah saat menggunakan media tersebut. 3. Berikan Appersepsi yang Kontekstual dePorter dkk dalam buku “Quantum Teaching” memfungsikan apersepsi untuk ‘membawa dunia mereka kedunia kita’. Yaitu mengaitkan apa yang telah diketahui atau dialami pengguna dengan apa yang akan dipelajari dalam multimedia pembelajaran. Kontekstualitas dalam apersepsi menjadi penting, karena kita mencoba menarik mereka ke dunia yang kita ciptakan dalam media, melalui hal-hal yang dianggap paling ‘akrab’ dengan pengguna. Dengan menyatukan kedua dunia ini, maka pengguna ‘merasa diajak’ berkomunikasi dengan media kita. B. Kerangka Berpikir Pembelajaran akan menarik dan dapat diterima siswa apabila pembelajaran itu disampaikan sesuai dengan kehendak dan kemauan siswa, manakala siswa sudah tidak tertarik dengan gaya pembelaaran oleh seorang guru maka pembelajaran mustahil akan berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Gaya pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa pada umumnya diberikan seorang guru tanpa mempertimbangkan kondisi dan perhatian siswa saat menerima pembelajaran, tetapi hanya berpedoman pada materi yang akan disampaikan saja. Sementara pada mata pelajaran IPA tidak semua materi bisa disampaikan melalui pratikum/kinerja ilmiah, hal itu disebabkan mungkin karena tidak tersedianya laboratorium yang dengan peralatan yang lengkap atau memang topik/materi menghendaki demikian. Apabila kondisi sudah demikian salah satu alternatif seorang guru menyampaikan materi pelajarannya dengan bantuan media charta sebagai alat bantu, karena charta adalah media yang paling murah , mudah didapat dan dibuat. Namun media charta ini kurang mendapat perhatian dan simpati bila dipergunakan untuk media bagi seorang guru menjelaskan suatu topik, membosankan dan monoton. Berdasarkan permasalahan di lapangan yang demikian dan kajian teori diatas, untuk menciptakan gaya pembelajaran yang menarik dan mendapat perhatian dari siswa dapat dikemukakan pola pembelajaran dengan bantuan komputer yaitu multimedia sebagai pengganti media charta pada topik/materi pelajaran non-eksperimen pada mata pelajaran IPA di sekolah. 10

Mengapa harus multimedia ? banyak pakar berpendapat bahwa multimedia (ICT) adalah media yang bisa diterapkan pada dunia pendidikan sebagai media pembelajaran terhadap jawaban tantangan di era globalisasi sekarang ini, disamping menarik, dan tidak membosankan. Penggunaan ICT (multimedia) sangat mempengaruhi berbagai aspek pengelolaan pendidikan diantaranya adalah sebagai berikut : Apa yang dipelajari (what is learned), bagaimana suatu obyek dipelajari who is teaching). C. Hipotesis Tindakan Berdasar kerangka berfikir diatas dapat dikemukakan suatu hipotesis tindakan sebagai berikut : Pembelajaran menggunakan multimedia dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa, motivasi belajar dan prestasi siswa, ( How it is learned), kapan dan dimana proses belajar mengajar terjadi, dan siapa yang belajar dan siapa yang mengajar (who is learning and

PELAKSANAAN PENELITIAN A. Setting dan Subyek Penelitian Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan di SMP Negeri 1 Rembang dengan sasaran adalah siswa kelas VIII A Tahun pelajaran 2007/2008 dengan jumlah siswa 40 siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada awal semester ganjil B. Sumber data Sumber data dalam penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer adalah diambil dari hasil tes yang selesaikan dikerjakan siswa khusus aspek pemahaman konsep, sedangkan data sekunder diperoleh dari data observasi saat pembelajaran berlangsung. C. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan teknik tes dan non tes. Teknik tes digunakan guru untuk mengukur sejauh mana pemahaman konsep siswa terhadap materi yang diberikan berbentuk tes tertulis jenis pilihan ganda dengan 4 (empat) option yang dilaksanakan pada akhir siklus, sedangkan teknik non tes berupa lembar observasi yang berisi tentang catatan-catatan siswa pada proses pembelajaran 11 dengan mengambil materi pada Standar Komptensi 1. Memahami Berbagai System dalam Kehidupan Manusia.

berlangsung saat menggunakan alat bantu multimedia. Alat ukur ini digunakan untuk mengetahui motivasi siswa dan meningkatkan dalam mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan alat bantu multimedia. D. Analisa Data Teknik analisa data yang peneliti gunakan adalah menggunakan analisis deskripsi komparatif (Analisis Kuantitatif) yaitu dengan cara membandingkan hasil tes pada saat kondisi awal, nilai tes setelah siklus I dan nilai tes setelah siklus II. Data kualitatif yang diperoleh dari non tes menggunakan analisis deskripsi kualitatif berdasarkan hasil observasi refleksi tiap siklus. Data ini diperoleh dari sumber data berupa catatan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran berlangsung yang meliputi : minat siswa, keaktifan siswa, kekompakan kelompok, ketertarikan media yang digunakan dan ketercapaian tujuan kemudian disimpulkan yang nantinya untuk menentukan langkah perbaikan pembelajaran berikutnya. E. Indikator Kinerja Indikator keberhasilan kinerja dalam penelitian ini adalah adalah : (1) Adanya peningkatan nilai rata-rata ulangan harian yang diperoleh pada aspek pemahaman konsep mata pelajaran IPA, yaitu sekurang-kurang sama dengan nilai KKM yang telah ditentukan 6,50. (2) Adanya peningkatan motivasi belajar siswa melalui peran aktif siswa dalam pembelajaran melalui media yang digunakan. F. Prosedur Penelitian. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan dua (2) siklus (Kemmis dan Mc. Taggart, 1997). Sebelum memulai dengan siklus pertama diawali dengan (a) refleksi awal untuk melakukan penyidikan dalam upaya menetapkan topik area (thematic concern) yang akan diteliti, kemudian dilanjutkan dengan (b) perencanaan secara keseluruhan, (c) implementasi tindakan dan observasi dan (d) refleksi). Memasuki siklus berikutnya dimulai dengan (a) tahap perencanaan lanjut sebagai revisi atas perencanaan yang disusun sebelumnya dengan memanfaatkan hasil refleksi, (b) pelaksanaan dan observasi lanjut, dan (c) refleksi lanjut. Jika dibuatkan diagramnya, Tahapan PTK adalah sebagai berikut.

12

Refleksi Observasi Tindakan

Rencana

Rencana Yang direvisi

Refleksi Observasi Tindakan Tahapan PTK Secara lebih rinci prosedur Penelitian Tindakan Kelas dijabarkan sebagai berikut : 1. Refleksi Awal, menentukan topik tindakan yang yaitu menentukan alat/media bantu yang menarik pada proses pembelajaran untuk memotivasi belajar siswa, hal ini didasarkan dari hasil refleksi pembelajaran sebelumnya (perlakuan pembelajaran sebelumnya). 2. a. 1) 2) 3) multimedia. 4) 5) Membuat lembar observasi untuk melihat kondisi dan motivasi siswa dalam proses pembelajaran berlangsung. Menyusun alat evaluasi akhir pembelajaran (akhir siklus I) b. Implementasi Tindakan dan Observasi (Do) Melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai skenario yang sudah direncanakan yang tertuang pada RPP dan LKS siswa. Kemudian pada tahap selanjutnya pada saat proses pembelajaran berlangsung dilaksanakan 13 Siklus I Perencanaan (planning) Membuat Rencana Pelajaran (RP) Menentukan alat bantu/media pembelajaran yang menarik bagi siswa, yaitu bahan ajar berbantuan komputer (multimedia) Menentukan/membuat skenario pembelajaran dengan media

observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan lembar observasi yang telah dibuat. c. Refleksi (See) Hasil proses pembelajaran dan hasil observasi yang sudah dibuat serta selanjutnya digunakan merefleksi diri apakah dianalisis. Hasil observasi

kegiatan pembelajaran tersebut dapat meningkatkan aspek pemahaman konsep siswa dalam penguasaan materi (dengan melihat nilai hasil tes pemahaman konsep ) yang telah disampaikan dan dapat memotivasi dan meningkatkan prestasi belajar siswa. Kemudian hasil data yang dihasilkan dapat untuk menentukan tindakan pada tahap/siklus selanjutnya. 3. Siklus II Kegiatan pada siklus II proses pembelajarannya hampir sama dengan siklus I, hanya materinya yang berbeda ( System Pernapasan pada Manusia) dan penggunaan multimedia interaktif dengan teknik yang berbeda. Pebedaan perlakuan antara lain : a. Pada siklus I penggunaaan multimedia dilakukan secara demonstrasi belum sepenuhnya melibatkan siswa dan pada siklus II penggunaan multimedia interaktif dengan cara melibatkan keaktifan siswa secara kelompok dan ditambah dengan bebarapa perubahan perlakuan dalam proses pembejarannya sebagai hasil temuan dari tindakan pada siklus sebelumnya. b. Multimedia interaktif yang digunakan dibuat dan dirancang sendiri oleh guru dengan penyajian yang melibatkan keaktifan siswa, menyesuaikan kondisi siswa yang sifatnya adalah perbaikan dengan mengoptimalkan media proses pembelajaran sebelumnya yang digunakan dan multimedia

mengoptimalkan peran serta siswa sehingga siswa semakin termotivasi dalam meningkatkan proses belajar baik yang dilaksanakan di kelas maupun semakin termotivasinya belajar di rumahnya. c. Diberikan tugas (internet). dengan memanfaatkan pembelajaran berbasis komputer

14

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Kondisi Awal Pada pertemuan sebelumya dalam penyampaian proses pembelajaran materi Sistem Gerak pada Manusia kegiatan non-eksperimen, alat bantu yang digunakan adalah model rangka manusia (torso) dan charta rangka manusia. Pembelajaran dilaksanakan selama 4 jam pelajaran dengan 2 kali tatap muka, setiap tatap muka alokasi waktunya 2 jam pelajaran selama 80 menit Hasil yang didapat setelah akhir pembelajaran diadakan tes pemahaman konsep secara keseluruhan hasilnya belum baik ( 72.5 % anak dibawah KKM yang telah ditetapkan ), hal itu disebabkan kurangnya perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran karena monoton, dan proses pembelajaran kurang menarik sehingga kurang memotivasi siswa. B. Deskripsi Siklus I 1. Perencanaan Tindakan Rencana tindakan pada siklus I dilaksanakan selama 4 jam pelajaran dengan 2 kali tatap muka, masing-masing setiap tatap muka selama 2 jam pelajaran selama 80 menit, dengan materi yang disampaikan adalah Sistem Percernaan pada Manusia Rencana pelaksanaannya dibagi menjadi tiga bagian yaitu : (1). Tahap Perencanaan, (2) Tahap Implementasi dan Observasi dan, (3). Tahap Refleksi. Proses pembelajaran secara rinci telah tercantum dalam RPP yang telah disusun. (RPP terlampir) 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan pada siklus I adalah realisasi dari perencanaan yang telah dibuat sesuai skenario pembelajaran yang telah disusun dalam RPP, yang meliputi apersepsi, motovasi, kegiatan inti pembelajaran (Implementasi tindakan dan Observasi)., dan penutup Selama proses pembelajaran berlangsung diadakan penilaian proses pembelajaran dengan alat lembar observasi (penilaian no-tes). Lembar observasi ini selanjutnya dipergunakan untuk evaluasi selama pembelajaran dan dipergunakan untuk menentukan langkah siklus berikutnya. Pada akhir sklus diadakan tes tertulis untuk mengukur aspek pemahaman konsep materi yang telah diberikan.

15

C. Deskripsi Siklus II 1. Perencanaan Tindakan Rencana tindakan pada siklus II adalah merupakan hasil refleksi tindakan pada siklus I , dilaksanakan selama 4 jam pelajaran dengan 2 kali tatap muka, masingmasing setiap tatap muka selama 2 jam pelajaran selama 80 menit, dengan materi yang disampaikan adalah Sistem Pernapasan pada Manusia dengan multimedia interaktif dengan tambahan tugas rumah berbasis internet. Rencana pelaksanaannya hampir sama dengan silus I yaitu dibagi menjadi tiga bagian yaitu : (1). Tahap Perencanaan, (2) Tahap Implementasi dan Observasi dan, (3). Tahap Refleksi. Proses pembelajaran secara rinci telah tercantum dalam RPP. 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan pada siklus II adalah realisasi dari hasil refleksi pada siklus I, perencanaan yang telah dibuat sesuai skenario pembelajaran yang telah disusun dalam RPP, yang meliputi apersepsi, motovasi, kegiatan inti pembelajaran (Implementasi tindakan dan Observasi), dan penutup, pada siklus ini multimedia yang digunakan adalah multimedia interaktif yang disusun/dibuat oleh guru sendiri yang merupakan bahan ajar interaktif berbantuan komputer. Seperti pada siklus sebelumnya selama proses pembelajaran berlangsung diadakan penilaian proses pembelajaran dengan alat lembar observasi (penilaian non-tes). Lembar observasi ini selanjutnya dipergunakan untuk evaluasi perkembangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran berlangsung.. Pada akhir siklus diadakan tes tertulis untuk mengukur aspek pemahaman konsep materi yang telah diberikan dan diberikan tugas tambahan mengenai materi sebelumnya dengan cara memaanfaatkan media internet (penugasan pembelajaran berbasis internet). D. Pembahasan Tiap Siklus 1. Nilai Tes (Analisis Kuantitatif) Pada pembelajaran selanjutnya kegiatan pembelajaran non-eksperimen pada materi Sistem dalam Kehidupan Manusia dengan perlakuan alat Bantu charta/torso pada sebelum perlakuan penelitian, media multimedia pada siklus I, dan multimedia interaktif pada siklus II, hasil tes pemahaman konsep dapat dilihat pada tabel berikut :

16

Tabel 1. Hasil tes Pemahaman Konsep sebelum Tindakan Interval 45 – 49 50 – 54 55– 59 60 - 64 65 – 69 70 – 74 75 – 79 Frekuensi 1 7 6 15 5 4 2 Prosentase 2.5 % 17.5 % 15 % 37.5 % 12.5 % 10 % 5%

Berdasarkan tabel diatas didapat bahwa siswa memperoleh nilai interval 65 – 79 sebanyak 11 siswa ( 27.50 %), sedangkan siswa lain sebanyak 29 siswa (72.5 %) memperoleh nilai dibawah 65 (dibawah standar KKM yang telah ditentukan). Dengan demikian bahwa hasil pembelajaran aspek pemahaman konsep masih banyak siswa yang belum tuntas Tabel 2. Hasil tes Pemahaman Konsep Siklus I Interval 50 – 54 55– 59 60 - 64 65 – 69 70 – 74 75 – 79 80 – 84 85 – 89 Frekuensi 4 1 9 6 13 2 3 2 Prosentase 10 % 2.5 % 22.5 % 15 % 32.5 % 5% 7.5 % 5%

Berdasarkan tabel diatas siswa yang memperoleh nilai diatas KKM sebanyak 26 siswa yaitu 65 %, sedangkan sebanyak 14 siswa ( 35 %) mendapat nilai dibawah kkM. Dengan demikian secara klasikal pembelajaran aspek pemahaman konsep pada siklus I belum tuntas, walaupun sudah ada peningkatan sebesar 37.5 % dari sebelumnya. Tabel 3. Hasil tes Pemahaman Konsep Siklus II 17

Interval 55 – 59 60– 64 65 - 69 70 – 74 75 – 79 80 – 84 85 – 89 90– 94

Frekuensi 1 7 5 16 6 2 2 1

Prosentase 2.5 % 17.5 % 12.5 % 40 % 15 % 5% 5% 2.5 %

Pada akhir perlakuan siklus II sebanyak 32 siswa yaitu sebesar 80 % sudah mencapai nilai pemahaman konsep sama atau diatas KKM yang telah ditentukan (KKM = 65). Hal ini dapat disimpulkan bahwa pada perlakuan pembelajaran di akhir siklus II sudah mengalami peningkatan yang berarti bila dibandingkan perlakuan pembelajaran sebelumnya. 2. Analisis Kualitatif (non-tes) Hasil catatan lembar observasi yang telah dilakukan pada saat siswa melakukan kegiatan pembelajaran dapat disimpulkan sebagai berikut : a. Sebelum siklus 1) Pada saat pembelajaran dengan menggunakan media torso (model rangka manusia) dan charta siswa kurang begitu antusias (memperhatikan). 2) Pertanyaan yang diajukan siswa masing kurang, hal itu dikarenakan siswa masih berpusat pada guru. 3) Diskusi kelompok (kerjasama antar siswa) belum terlihat, LKS masih dikerjakan secara individu. 4) Penggunaan media kurang menarik siswa (bersifat monoton) 5) Metode yang diterapkan guru belum sesusi dengan keinginan siswa 6) Tujuan pembelajaran belum tercapai. b. Siklus I 1) Pada saat pembelajaran dengan menggunakan multimedia satu arah , siswa mulai ada perhatiaan dalam proses pembelajarannya 18

2) Pertanyaan yang diajukan siswa frekuensinya sudah mulai meningkat, begitu juga siswa sudah mulai menjawab pertanyaan yang diajukan guru. 3) Diskusi kelompok (kerjasama antar siswa) sudah mulai terlihat , ada beberapa siswa yang menjawab LKS masih mencontek teman sesama anggotanya. 4) Penggunaan media menarik siswa, walaupun masih sederhana. 5) Metode yang diterapkan guru, siswa sudah bisa menyesuaikan. 6) Tujuan pembelajaran sudah mulai ada peningkatan. c. Siklus II 1) Pada saat pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif , siswa mulai antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. 2) Pertanyaan yang diajukan siswa frekuensinya sudah mulai meningkat, begitu juga siswa sudah mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru. 3) Diskusi kelompok sudah tampak, terlihat dalam menjawab LKS sudah ada kerjasama antara siswa satu dengan siswa lain dalam satu kelompok. 4) Siswa merasa senang dalam mengikuti pelajaran 5) Penggunaan multimedia interaktif menjadi daya tarik siswa tersendiri, hal itu terlihat ada beberapa siswa yang berkeinginan mengcopy CD multimedia interaktif. 6) Metode yang diterapkan guru, siswa sudah bisa menyesuaikan. 7) Tujuan pembelajaran sudah tercapai sesuai dengan perencanaan E. Pembahasan dan Hasil Penelitian Secara keseluruhan hasil nilai tiap siklus dapat dirangkum pada tabel berikut ini : Tabel 4. Hasil nilai tes tiap siklus Nilai Pada Sebelum Tindakan Siklus I Siklus II Nilai Terendah 45 50 55 Nilai Tertinggi 75 85 90 Nilai rata-rata 59.5 66.4 69.8

Hasil tes pemahaman konsep pada awal perlakuan nilai rata-rata yang didapat 59,5 dengan nilai tertinggi 75, nilai terendah 45 dengan ketuntasan 27,5 % (mencapai nilai lebih dari atau sama dengan 65), dan yang belum tuntas sebesar 72.5 % sehingga secara klasikal 19

belum memenuhi ketuntasan yang telah ditetapkan. Pada siklus I diperoleh nilai terendah 50, nilai tertingi 85 dengan rata-rata kelas 66.4, ketuntasan 62.5 % dan yang tidak tuntas 33.6 %, walaupun pada siklus I belum memenuhi ketuntasan klasikal yang telah ditentukan akan tetapi sudah ada kenaikan perolehan nilai, hal ini pemahaman konsep siswa terhadap materi pelajaran mengalami peningkatan. Pada akhir siklus II diperoleh nilai terendah 55, nilai tertinggi 90 dengan nilai rata-rata kelas 69.8, ketuntasan klasikal 80 % (32 anak) dan yang belum tuntas 20 % (8 anak). .Secara klasikal perolehan nilai pada pemahaman konsep sudah mencapai kriteria yang telah ditetapkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan bantuan media multimedia dapat dipergunakan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa (Analisis Kuantitatif). Hasil analisis kualitatif yang didapat dari hasil lembar observasi (penilaian non-tes) dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan multimedia dapat memotivasi dan meningkatkan prestasi belajar siswa. Dengan demikian Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan sudah bisa meningkatkan aspek pemahaman prestasi siswa dapat meningkat. PENUTUP A. Simpulan Dari hasil penelitian yang sudah dilaksanakan dan pembahasan dalam penelitian ini dapat diambil simpulan sebagai berikut : 1. Pembelajaran menggunakan multimedia pada kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan aspek pemahaman konsep siswa khususnya mata pelajaran IPA pada materi Sistem dalam Kehidupan Manusia. 2. Pembelajaran menggunakan multimedia interaktif dapat memotivasi proses pembelajaran sehingga siswa lebih dapat berkonsentrasi dan perhatian dalam mengikuti pelajaran, karena penggunaan media yang menarik. B. Saran 1. Diharapkan hadirnya teknologi komputer di dunia pendidikan dapat membuka wawasan baru bagi guru untuk mengembangkan kemampuannya dalam menyampaikan konsep materi pelajaran sesuai dengan yang diharapkan dan dapat memotivasi belajar siswa sehingga

20

pembelajaran di dalam kelas dengan memanfaatkan multimedia yang sesuai dengan pembelajaran yang menjadi harapan dan keinginan siswa 2. Multimedia tidak hanya bisa diterapkan pada mata pelajaran IPA saja, namun multimedia bisa diterapkan pada semua mata pelajaran lain, baik pembelajaran yang dilaksanakan non eksperimen maupun sebagai media pembantu dalam pembelajaran eksperimen/kinerja. DAFTAR PUSTAKA Giam kah How, Jabatan Sains dan Matematik MPSK, 1999/2000, Gaya Pembelajaran Multimedia dalam Pengajaran dan Pembelajaran, Jurnal Pendidikan TIGAENF. Indra Djati Sidi, Makalah “Implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Pembelajaran. Kusrianto, Adi, 2006, Macromedia Flash Profesional 8, Jakarta : PT Elex Media Komputindo Lilik Gani HA, M.Sc.,Ph.D, makalah Seminar “Strategi Pengembangan ICT untuk Pembelajaran, Departemen Pendidikan Nasional. Marsel Ruben Payong, 2001, Beberapa Masalah dalam Pembelajaran Multimedia, Sinar Harapan. Permana, Budi, 1999, Microsoft PowerPoint 2000, Jakarta : PT Elex Media Komputindo Ramadhan, Arif, 2004, Internet dan Aplikasinya, Jakarta : PT Elex Media Komputindo Suparlan, Artikel “Penggunaan ICT dalam Proses Pembelajaran di Sekolah”’ Website: www.suparlan.com Tim Pelatih Proyek PGSM Propinsi Jawa Tengah, 1999/2000, Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Tengah Proyek Perluasan SLTP Propinsi jawa Tengah Tim IPA,2007, IPA Terpadu 2A, Yudhistira Usman, Moh, Uzer, 1990, Menjadi Guru Profesional, Bandung : Remaja Rosdakarya ------------------------, 2006, Kumpulan Makalah Pelatihan Lesson Study Bagi Guru Berprestasi dan Pengurus MGMP MIPA SMP Seluruh Indonesia , Direktorat Pembinaan dan Pelatihan, Dirjen PMPTK Depdiknas dengan FMIPA UNY. -----------------------, Komputer sebagai Media http://kurteks.upi.edu/media/berbasis 20%komputer.htm 21 Pembelajaran,

---------------------, Pembelajaran, http://id/wikipedia.org/wiki/pembelajaran.

BIODATA PENULIS

Edy Sri Irianto, S.Pd. lahir di Jepara, 13 Pebruari 1964. Menyelesaikan Pendidikan DIII Jurusan Teknik Bangunan FPTK-IKIP Semarang (Sekarang UNNES) 1987, mengambil S1 Jurusan Pendidikan Biologi di IKIP PGRI Tuban lulus tahun 2002. Tahun 1988-1989 pernah menjadi guru tidak tetap di SMP Mataram Semarang, tahun 1989 – 2006 menjadi PNS di SMP Negeri 4 Rembang. Kemudian tahun 2007 sampai sekarang aktif mengajar di SMP Negeri 1 Rembang. Mulai tahun 2000 menjadi sekretaris MGMP IPA SMP Kabupaten Rembang sampai sekarang, Juara I Lomba PTK jenjang SMP FIG Kabupaten Rembang Tahun 2008.

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->