P. 1
Kumpulan_Cerpen_Pilihan

Kumpulan_Cerpen_Pilihan

|Views: 2,169|Likes:
Published by arkho ian
kumpulan cerpen yang bisa dinikmati oleh semua pencinta cerpen.
kumpulan cerpen yang bisa dinikmati oleh semua pencinta cerpen.

More info:

Published by: arkho ian on Nov 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

PENYESALAN MARNI Cerpen: Humam S. Chudori Sumber: Republika, Edisi 09/16/2007 Sejak di-pehaka, Himawan sering sekali dirawat di rumah sakit. Penyakit asma yang dideritanya sering kambuh. Padahal, sebelum kena pehaka, ia jarang dirawat di rumah sakit kendati tiap bulan mesti mengunjungi dokter. Tragisnya, setelah empat kali dirawat di rumah sakit, Marni mengalami nasib serupa dengan suaminya -- kena pehaka. Sejak itu neraca keuangan keluarga Himawan mulai goncang. "Jadi orang itu jangan penyakitan," kata Marni, tatkala suaminya pulang dari rumah sakit, setelah kesekian kalinya ia dirawat. Himawan diam. Betapa tidak, baru dua langkah pasangan suami-istri itu masuk ke dalam rumah, Marni sudah melontarkan kalimat ketus. "Kalau sudah begini, apalagi yang harus dijual?" kata Marni lagi. Himawan tak menyahut. Hatinya terasa sakit mendengar kalimat yang dilontarkan istrinya. Rasanya ia ingin mendaratkan tamparan ke muka perempuan itu jika tidak ingat tubuhnya sendiri masih lemah. Sebetulnya ia ingin langsung ke kamar, tiduran. Namun, setelah mendengar kata-kata istrinya itu tubuhnya langsung lemas. Gemetar. Limbung. Matanya seperti berkunang-kunang. Kepalanya terasa nyut-nyutan. Ia kehilangan tenaga untuk melangkah ke kamar. Karena itu, ia langsung duduk di atas tikar. Di ruang tamu. Rumah itu memang sudah lama tak punya kursi tamu lagi, sudah mereka dijual. Sebelumnya beberapa perabotan rumah lain -- televisi, kulkas, dan bupet -- juga sudah mereka jual. Sejak tak ada meja kursi tamu, di ruangan yang tidak terlalu luas itu hanya ada selembar tikar plastik yang tak pernah digulung. Watak asli Marni baru disadari Himawan setelah anak pertama mereka lahir. Semula sifat buruk istrinya dianggap Himawan sebagai bawaan jabang bayi, lantaran istrinya nyaris tidak mengalami kekosongan. Setelah dua bulan dinikahi Himawan. Sikap dan kelakuan Marni mulai berubah. Ketika pertama kali berhenti haid, Himawan menganggap kelakuan perempuan itu berubah karena mengalami fase ngidam. Himawan menyadari orang yang sedang ngidam -- seperti yang sering didengarnya dari orang lain -- emosinya labil. Itulah sebabnya lelaki itu berusaha untuk tidak tersinggung. Dia sendiri sangat berharap secepatnya mempunyai keturunan, lantaran terlambat menikah.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Bukan sekali dua kali Himawan mendengar cerita tentang kelakuan orang ngidam yang berubah nyleneh. Menjadi manja, gampang cemberut, bahkan serba ingin menang sendiri. Meski pada umumnya orang ngidam cuma ingin makan yang serba pedas atau masam. Kebiasaan orang ngidam seringkali menjadi aneh, kolokan, bahkan tidak jarang membuat suaminya kesal. Ketika Erna -- adik Himawan -- ngidam bukan hanya sekali menyuruh suaminya membelikan bakso di tengah malam. Widodo pun mengabulkan permintaan Erna. Ia terpaksa mencari makanan yang diminta 'jabang bayi'. Namun, alangkah kesalnya lelaki itu setelah sampai di rumah. Erna hanya mencoba sesendok kuahnya. Dan, makanan yang diperoleh dengan susah payah itu tidak disentuh sama sekali. Celakanya jika permintaan Erna tidak dituruti, ia akan marah-marah kepada suaminya. Meskipun demikian, Widodo tak berani menolak permintaan 'sang jabang bayi'. Memang tidak sedikit orang ngidam yang tidak berubah kelakuannya. Tidak ada perubahan perilaku atau kebiasaan, kecuali menjadi sering muntah karena perutnya terasa mual. Andaikata tak pernah memikirkan masa depan anak, barangkali, Himawan sudah menceraikan istrinya. Ia sudah merasakan sendiri betapa tidak enaknya menjadi korban perceraian orangtua. Lantaran ia dan dua orang adiknya memang produk rumahtangga yang berantakan alias broken home. Ketika masih bekerja, Marni acapkali berkata kepada Rita -- tetangga depan rumahnya -- kalau dirinya tidak bekerja, kebutuhan rumah tangganya pasti takkan pernah bisa tercukupi. "Berapa sih gaji seorang sopir seperti suami saya?" kata Marni, tatkala mereka belum di-pehaka, mengeluh kepada Rita usai menceritakan penghasilannya. "Sama saja, Mbak," kata Rita jika tetangga depan rumahnya sudah berkata demikian, "Suami saya juga sopir." "Kalau suami Dik Rita lain. Biar sopir tapi sopir kedutaan besar. Pasti gajinya besar. Karena itu, kamu tidak perlu bekerja lagi seperti saya." Apabila Marni sudah mulai membicarakan penghasilan suaminya, Rita berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Waktu itu mereka -- baik Himawan maupun Marni -- masih aktif bekerja. Mereka masih punya penghasilan. Namun, setelah di-pehaka Marni tak berani lagi membicarakan gajinya. Ia tak pernah membanggakan penghasilannya. Walaupun demikian, toh ternyata Marni masih merasa lebih hebat dari para tetangganya yang tidak bekerja. Ia memang sering melecehkan wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga. Itu sebabnya tak ada tetangga yang mau dekat dengan Marni, kecuali Rita.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Sejak di-pehaka, Marni tidak pernah melamar kerja lagi. Karena, ia sudah tak mungkin bekerja lagi. Pertama, karena usianya sudah di atas kepala empat. Kedua, pendidikannya pas-pasan. Hanya berijazah slta dan tidak punya ijazah lain. Ijazah dari kursus ketrampilan, misalnya. Dan, ketiga, pengalaman kerjanya tidak bisa digunakan sebagai referensi mencari pekerjaan lain. Sebab pekerjaannya hanya sebagai pemandu penonton bioskop. Ya, tugas Marni di tempat kerjanya hanyalah mengantar penonton ke kursi sesuai dengan nomor karcisnya. Sementara itu, sudah banyak bioskop yang tidak mampu bertahan. Menghentikan usahanya. Tidak beroperasi. Gulung tikar. Untungnya, Hendy, ayah Himawan, meninggalkan warisan kepada anakanknya, termasuk Himawan. Sebuah rumah yang kini dikontrakkan. Dari hasil kontrakan itulah keluarga Himawan berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari selama belum mendapatkan pekerjaan lagi, meski tidak cukup juga. "Kalau sudah begini apalagi yang masih bisa dijual, Mas?" Marni mengulang pertanyaan sebelumnya, setelah lama Himawan tak melontarkan sepatah kata pun. Himawan masih duduk mematung. Mengatur napasnya yang tak teratur. "Orang ditanya istri kok diam saja." "Rumah warisan bapak masih ada," kata Himawan, pelan. Nyaris tak terdengar. Setelah ia berhasil menepis rasa galau yang memenuhi benaknya. "Sudah gila kamu, Mas?" "Tadi kamu tanya barang apalagi yang masih bisa dijual. Rumah peninggalan bapak masih laku dijual. Kalau laku dijual masih cukup untuk biaya hidup kita. Paling tidak dalam waktu beberapa tahun ke depan," jawab Himawan lemah. "Jika nanti kurang ya rumah ini yang kita jual." Marni diam. "Kalau bukan rumah itu apalagi, coba pikir? Jual perabotan? Perabotan apa yang masih bisa di jual? Tikar atau bantal? Atau jual tenaga? Nyatanya kita juga sudah tidak bisa bekerja? Bukankah ini artinya tenaga kita juga sudah tak laku?" kali ini Himawan sudah tidak kuasa untuk menahan kekesalannya. Suaranya gemetar. "Mas!" "Atau kamu mau jual diri? Jual diri kamu juga sudah tidak laku. Kamu su... sudah tua...." Himawan tak mampu melanjutkan kalimatnya. Nafasnya sesak. Dia terjatuh. Tidak kuat duduk. Tubuhnya mendadak kejang-kejang. Mulutnya terkatup

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

rapat. Nafasnya berhenti. Dengan terbata-bata Marni menceritakan kematian suaminya kepada Rita, tetangga depan rumahnya. Ada nada sesal, tatkala ia menceritakan peristiwa yang telah menyebabkan Himawan menghembuskan napas terakhirnya. "Andaikata akan begini jadinya...." Marni tak melanjutkan kalimatnya. "Ya, sabar saja, Mbak. Barangkali sudah menjadi suratan takdir." "Masalahnya bukan itu, Rita," Marni memotong kalimat Rita, "Almarhum masih meninggalkan utang sama saudara-saudara saya. Ya, selama ini biaya rumah sakit sudah tidak ditanggung kantor. Lha wong Mas Himawan sudah tidak kerja." Rita masih diam. "Untungnya, dulu saya juga kerja. Kalau tidak, mungkin utang almarhum bisa dua kali lipat lebih. Selama ini saya yang menanggung biaya keluarga. Gaji suami selama ini sudah habis buat biaya berobat. Di kantornya, Mas Himawan hanya mendapat ganti sebagian dari biaya yang dikeluarkan. Itu pun tidak seberapa jika dibandingkan dengan biaya yang harus kami tanggung selama ini. Sebab, tiap bulan Mas Himawan, tidak bisa tidak, harus tetap berobat. Terlambat berobat, ia harus dirawat," lanjutnya berapi-api. Rita tetap diam. "Coba kalau saya tidak pernah bekerja, apa tidak...." "Maaf," Rita memotong kalimat yang belum usai dilontarkan Marni, "Perut saya sakit. Ingin buang air." Dengan tergopoh-gopoh Rita pulang. Ia tidak ingin mendengar kalimat Marni selanjutnya. Kedatangan Rita ke rumah Marni, malam itu, semula hendak menghibur sang tetangga yang belum genap seminggu ditinggal suaminya. Namun, setelah mendengar ceritanya Rita justru merasa muak. Bahkan kesal. Yang disesalkan Mbak Marni ternyata bukan karena kematian suaminya, tapi karena almarhum masih meninggalkan utang, pikir Rita.***

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

ATHEIS Cerpen: M. Dawam Rahardjo Sumber: Media Indonesia, Edisi 09/02/2007 KAKAK kami Suparman kini tinggal di Jakarta menjelang masa pensiun. Tapi ia tidak terikat. Karena ia mengelola sebuah perusahaan konsultan sendiri, dengan karyawan sekitar 50 orang. Ia adalah seorang arsitek lulusan ITB. Setelah lulus, ia melamar sebagai arsitek di sebuah perusahaan. Setelah mendapatkan pengalaman, ia mendirikan perusahaan sendiri bersama beberapa orang kawannya. Usahanya ini boleh dikatakan maju, berkat kegiatan pembangunan di Ibu Kota. Kakak kami itu ialah saudara tertua dalam keluarga kami yang tinggal di sebuah desa bernama Jatiwarno di Wonogiri. Sekitar 30 kilometer dari Kota Solo. Daerah tempat tinggal kami itu dikenal kering. Dulu sering kali menjadi berita di koran karena kelaparan. Di zaman kolonial pernah terjadi busung lapar. Kini Wonogiri tidak lagi kering seperti dulu karena di situ dibangun waduk Gajah Mungkur. Sekarang sudah ada ladang-ladang ubi kayu dan jagung selain sawah padi. Waduk ini juga menjadi pusat pariwisata yang dikunjungi terutama oleh orang-orang Solo. Keluarga kami, keluarga Parto Sentono lebih populer dipanggil Kiai Parto adalah sebuah keluarga yang religius. Ayah kami itu adalah seorang petani yang juga berperan sebagai ulama lokal karena ia adalah santri lulusan Mamba'ul Ulum dan tinggal di pesantren Jamsaren. Jadi ia pernah berguru kepada KH Abu Amar, Ulama Solo yang masyhur itu. Itulah sebabnya Kiai Parto mengirim kami, anak-anaknya, ke pesantren sebagai lembaga pendidikan. Mas Parman sebagai anak tertua dikirim ke Gontor Ponorogo yang jaraknya tidak jauh dari desa kami. Kakak saya yang kedua Muhammad Ikhsan dipondokkan ke Pesantren Pabelan di bawah pimpinan Kiai Haji Hamam Ja'far. Saya sendiri sebagai anak ketiga cukup bersekolah di Madrasah Al-Islam, Honggowongso, Solo. Jadi saya punya dua orang adik. Yang pertama, dikirim ke Tebu Ireng, sedangkan adik saya yang paling bontot disuruh belajar ke madrasah Mu'alimat Muhammadiyah, Yogyakarta. Walaupun semuanya berlatar belakang pendidikan pesantren, kami semua mempunyai profesi yang berbeda-beda, misalnya Mas Parman menjadi seorang arsitek, sedangkan saya sendiri menjadi petani jagung dan ubi kayu meneruskan pekerjaan bapak. Karena itulah, saya adalah anak yang paling dekat dengan keluarga dan menyelenggarakan pertemuan halalbihalal setiap tahun dengan keluarga. Bapak merasa sangat bangga anaknya bisa masuk ke pondok modern Gontor. Mas Parman sendiri juga merasa mantap berguru dengan Kiai Zarkasi dan Kiai Sahal. Di masa sekolah dasar, kami semua dididik langsung oleh bapak kami. Mas Parman ternyata berhasil menjadi seorang santri yang cerdas. Bapak sangat berharap kelak Mas Parman menjadi seorang ulama modern. Bapak memang tidak mengikuti perkembangan anaknya itu sehingga ia merasa

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

terkejut ketika pada suatu hari ia berkunjung ke Gontor, anaknya itu ternyata sudah tidak lagi bersekolah di situ. Namun sebentar kemudian, ia mendengar di mana anaknya berada. Ternyata Mas Parman yang pandai matematika itu ikut ujian SMP negeri dan lulus dengan nilai yang sangat baik. Ia kemudian melamar untuk bersekolah di Solo dan diterima di SMA 2 atau SMA B yang terletak di Banjar Sari. Sekolahnya itu berdekatan dengan SMA 1 jurusan sastra budaya. Sehingga ia banyak bergaul dengan pelajar-pelajar sastra. Walaupun belajar ilmu eksakta, Mas Parman ternyata punya bakat seni. Ia bisa melukis dan membuat puisi. Ia ikut di klub sastra remaja yaitu sastra remaja Harian Nasional di Yogya. Bapak tidak bertanya banyak kepada anak sulungnya itu. Walaupun ia merasa sangat kecewa dan agak marah karena Mas Parman telah mengambil keputusan besar tanpa berkonsultasi dengan Bapak dulu. Saya mewakili keluarga menanyakan perihal keputusannya itu kepada Mas Parman. "Mas, kenapa tidak minta izin bapak dulu ketika Mas keluar dari Gontor?," tanyaku pada suatu hari. "Kalau aku bilang dulu pada bapak, pasti tidak dikasih izin," jawabnya. "Kenapa pula Mas berani mengambil keputusan besar itu?" tanyaku lagi. "Aku ternyata tidak betah tinggal di pondok. Aku merasa pesantren ini adalah sebuah masyarakat buatan. Kami hidup menyendiri, dilarang bergaul dengan penduduk desa. Kami di pondok menganggap diri sebagai keluarga ndoro," jawabnya lagi. "Itu kan karena kepentingan para santri sendiri supaya tidak terkontaminasi oleh pengaruh luar," jelas saya. "Tapi hidup kan menjadi artifisial, santri hanya diajar sesuatu yang baik tapi tidak mengetahui dunia nyata yang tidak terlalu bersih. Malah banyak kotornya." "Kalau hanya itu alasannya, mengapa Mas tetap mengambil keputusan?" tanya saya. "Terus terang saja, aku sendiri jenuh dan bosan hidup di pondok. Aku memahami jika sebagian santri melakukan homo bahkan mencuri-curi bergaul dengan perempuan di luar pondok." "Nah, itulah akibatnya kalau para santri tidak disiplin." "Pokoknya aku bosan, yang lebih mendasar lagi aku tidak bisa menerima pelajaran-pelajaran agama. Kupikir pendidikan semacam itu tidak berguna, karena tidak membekali santri untuk bisa hidup dalam realitas yang sering keras itu di luar dunia pesantren. Jadi apa gunanya aku bersusah payah mencapai kelulusan. Itulah maka aku mengambil keputusan untuk pindah sekolah." "Mas Ikhsan ternyata senang nyantri di Pabelan," ujar saya.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

"O... Pabelan itu beda dengan Gontor, Kiainya juga alumni Gontor, tapi ia bisa berbeda dengan Gontor. Santri Pabelan bebas bergaul bahkan diharuskan. Kiai Hamam bisa menerima saran dari LP3ES untuk menyelenggarakan program lingkungan hidup. Pesantren bahkan menyediakan air bersih yang diolah dari kali Pabelan untuk penduduk desa. Kiai Hamam juga membuat pemandian umum desa. Sehingga santri-santrinya bisa bergaul dengan penduduk desa setiap pagi sore sambil mandi bersama." Mas Parman kemudian melanjutkan perubahan di dalam hidupnya. "Har, aku ingin memberitahukan padamu, perubahan pola hidupku di Solo. Aku sekarang sudah tidak menjalankan salat, juga puasa Ramadan," katanya jujur. "Mas, apakah ini tidak terlalu jauh? Ibu bapak pasti akan marah besar sama Mas," jawab saya. "Ya jangan dilaporkan ke ibu bapak, tapi ceritakan saja apa adanya kepada Mas Ikhsan, barangkali ia bisa menerima dengan kepala dingin." Saya kemudian berpisah dengan Mas Parman dan melaksanakan wasiatnya. Tidak hentihentinya saya berpikir dan merenung, sehingga memberatkan pikiran saya. Sebagai adik kandung, saya menyayangkan keputusan dan langkah radikal Mas Parman. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa sehingga hanya bisa menerima dengan sedih yang menjadi unek-unek terus-menerus. Sebab, saya pun juga ingin jawaban terhadap masalah-masalah yang ditimbulkan keputusan kakak saya itu. Saya khawatir sikapnya itu akan memengaruhi kakak dan adikku yang lainnya sehingga unek-unek itu saya sampaikan kepada Mas Ikhsan. Ia juga tampak terkejut tapi hanya terdiam saja tanpa reaksi. Karena itu aku minta kepada Mas Ikhsan untuk bertemu sendiri dengan Mas Parman. Akhirnya, pada suatu hari, Mas Ikhsan menyempatkan diri untuk bertemu langsung dengan Mas Parman di Solo. Ia tinggal di daerah Manahan. Berikut ini adalah laporan Mas Ikhsan kepadaku dari hasil pertemuannya dengan Mas Parman. "Aku diajak Mas Parman pada suatu malam di suatu warung hik yang masyhur dengan jualan wedang ronde dan makanan tradisional Surakarta. Mas Parman memang romantis. Dia tidak ragu mengajakku menikmati suasana Solo di waktu malam yang dirasakan rakyat jelata. Terkesan olehku bahwa ia memang merakyat hidupnya. Karena setiap kali kami berbincang-bincang, selalu saja ada orang yang menyapa. Ada juga para pengemis dan gelandangan. Di warung hik itulah aku mencoba secara tenang menanyakan banyak hal kepada Mas Parman. "Mas, aku sudah mendengar semua cerita mengenai dirimu dari adik kita, Haryono, terus terang saja aku terkejut. Timbul seribu satu pertanyaan dalam pikiranku, aku masih seorang santri yang baik dan terus bercita-cita menjadi ulama pemikir modern. Sebagai adik, aku tidak bisa memahami sikapmu. Bahkan aku tidak percaya dengan cerita Haryono, aku juga sudah tanya kepada Haryono bagaimana pandangannya. Tapi ia tidak banyak memberi penjelasan sehingga aku harus langsung bertemu denganmu. Mohon jangan tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan dan komentarku. Aku bahkan ingin belajar

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

kepada Mas, yang memiliki sebuah pengalaman dramatis." "O... boleh saja, jadi aku sekarang sudah tidak menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim." "Kalau begitu, Mas telah murtad?" tanyaku. "Ya, sebelum hukuman murtad dijatuhkan kepadaku, aku lebih baik keluar saja dulu dari Islam. Sekarang siapa pun juga tidak berhak menghakimiku." "O... begitu, aku pun tidak akan menghakimimu. Cuma aku ingin bertanya apakah Mas telah meninggalkan seluruh akidah Islam?" tanyaku ingin tahu. "Ya, aku sekarang seorang atheis, aku sudah tidak percaya kepada Tuhan." "Lalu status Mas sekarang sebagai apa?" tanyaku. "Aku sudah menjadi humanis. Aku bercita-cita ingin menjadi pemikir bebas." "Untuk menjadi orang seperti itu kan tidak perlu meninggalkan akidah. Islam memberi kebebasan." "Ya aku tahu, aku hanya ingin mengatakan bahwa selama di Gontor aku tidak pernah memperoleh penjelasan yang memuaskan mengenai Tuhan. Dan mengapa orang harus percaya kepada Tuhan. Aku ingin bebas dari belenggu akal dan aku harus bisa mendasarkan perilakuku berdasarkan rasionalitas. Tidak dibelenggu iman dan syariat. Sekarang ini aku merasakan diriku menjadi orang bebas, tanpa belenggu. Ketika menjadi orang Islam aku merasa terjatuh ke dalam belenggu. Sekarang ini aku merasa mengalami pencerahan." "Mas kan tahu bahwa Islam itu mengajarkan perbuatan baik berdasarkan iman. Jadi manusia memerlukan Tuhan untuk bisa berbuat baik." "Inilah yang saya tidak setujui dalam Islam. Seperti kamu tahu sendiri, perbuatan baik itu tidak diakui Tuhan jika tidak didasarkan kepada iman. Mengapa harus begitu. Buddha Gautama mengajarkan perbuatan-perbuatan baik tanpa mensyaratkan iman kepada-Nya. Demikian pula Konghucu. Aku suka dengan dua agama yang kita sebut sebagai agama bumi itu. Aku ingin menjadi orang baik tanpa iman. Kalau mendengar keteranganmu itu terkesan olehku bahwa Tuhan itu adalah ciptaan manusia sendiri, bukannya sebaliknya." "Astaghfirullahal'adzim." "Dalam kenyataannya, agama itu hanyalah candu yang membius dan membuat lupa terhadap kesengsaraan dan penindasan yang menimpa mereka." "Berlindung aku dari bisikan semacam itu."

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

"Sorry ya, jangan anggap aku sesat. Semuanya itu sudah kupikirkan dan kurenungkan dalam-dalam. Pokoknya aku ingin bebas menjadi humanis." "Tapi aku yakin bahwa Islam akan membawaku ke sana, tapi sampean punya pendapat yang lain dan aku ingin belajar darimu sebagai seorang kakak tertua." "Kamu tidak perlu jawaban verbal dariku. Lihat saja perbuatanku. Bukankah agamamu mengajarkan bahwa Tuhan itu akan bisa ditemui dengan perbuatan baik di dunia ini." "Kalau gitu, Mas masih percaya kepada Tuhan." "Tidak! Aku tidak bisa percaya pada adanya Tuhan. Aku hanya ingin berbuat baik kepada sesama manusia berdasarkan alasan-alasan yang rasional saja." "Wah, menurutku manusia yang percaya kepada Tuhan itu tentu akan terdorong untuk berbuat baik, karena itu apa salahnya kita percaya akan adanya Tuhan." "Ya terserah. Cuma saya tidak mau percaya kepada Tuhan yang diciptakan manusia. Tuhan begini, sama saja dengan dewa-dewa Hindu maupun Yunani." Begitulah Mas Ikhsan menceritakan kembali dialognya. "Lalu bagaimana tanggapan dan sikapmu?" "Lakumdinukum waliyadin, biar dia percaya apa yang ia percayai dan kita percaya apa yang kita percayai." "Lalu bagaimana pandanganmu mengenai kakak kita itu?" "Aku tidak menganggap dia orang sesat. Ia hanya memilih suatu jalan hidup. Dalam hatiku, aku percaya bahwa Mas Suparman itu sebetulnya percaya kepada Tuhan. Cuma dia tidak mau merumuskan apa Tuhan itu. Bukankah agama kita mengajarkan bahwa apa pun yang kita pikirkan mengenai Tuhan, itu bukan Tuhan. Jadi Tuhan itu diimani saja, tidak perlu dirasionalkan. Walaupun teori-teori mengenai Tuhan boleh saja dikemukakan. Biar dia tidak percaya kepada Tuhan, asalkan ia berbuat baik dan melaksanakan ajaran Islam menurut ukuran-ukuran kita. Tidak perlu kita mensyaratkan iman kepadanya." Mas Suparman yang kini sudah menjelang masa pensiun itu sekitar enam puluh lima tahunan nampaknya, paling tidak menurut kesan saya, telah mencapai apa yang ia cita-citakan berdasarkan kebebasan yang ia yakini. Saya berpendapat bahwa pada dasarnya, kakak kami itu masih seorang muslim yang baik. Hidupnya sesuai dengan sepuluh wasiat Tuhan yang didendangkan Iin dan Jaka Bimbo. Pertama aku masih percaya bahwa ia masih punya iman dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Seperti kata Jalaludin Rumi dan Al Halaj, ia pada akhirnya akan memperoleh pengertian Tuhan yang sebetulnya melekat pada dirinya

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

sendiri jika ia masih tetap bisa menjalankan hidup yang benar berarti Allah masih membimbingnya. Cuma, dia tidak tahu dan tidak mengaku. Malah saya berpendapat bahwa sikap Mas Parman itulah yang mencerminkan Tauhid yang semurni-murninya. Wallahu'alam. Kedua, ia berbuat baik kepada ibu bapaknya, ia tidak pernah mau menyakiti kedua orang tuanya. Harus kami akui bahwa di antara kami, Mas Parmanlah yang paling banyak membantu orang tua kami. Ketiga, ia bisa menjaga harta anak-anak yatim, yaitu adik-adiknya, ia tidak mau mengambil bagian warisannya. Ia serahkan semuanya kepada kita. Mas Parman juga membuat yayasan yang menampung anak-anak yatim. Tutur katanya tidak pernah menyakiti orang lain, ia selalu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan tercela.***

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

BIDADARI ITU DIBAWA JIBRIL Cerpen: A Mustofa Bisri Sumber: Media Indonesia, Edisi 03/09/2003 SEBELUM jilbab populer seperti sekarang ini, Hindun sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia memang seorang muslimah taat dari keluarga taat. Meski mulai SD tidak belajar agama di madrasah, ketaatannya terhadap agama, seperti salat pada waktunya, puasa Senin-Kamis, salat Dhuha, dsb, tidak kalah dengan mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah di perguruan tinggi. Ketika di perguruan tinggi dia justru seperti mendapat kesempatan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.Dalam soal syariat agama, seperti banyak kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislamria, sikapnya tegas. Misalnya bila dia melihat sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terang-terangan. Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah--dia biasa memanggilnya ukhti--jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan menyemprotnya dengan lugas. Dia pernah menegur dosennya yang dilihatnya sedang minum dengan memegang gelas tangan kiri, "Bapak kan muslim, mestinya bapak tahu soal tayammun;" katanya, "Nabi kita menganjurkan agar untuk melakukan sesuatu yang baik, menggunakan tangan kanan!" Dosen yang lain ditegur terang-terangan karena merokok. "Merokok itu salah satu senjata setan untuk menyengsarakan anak Adam di dunia dan akherat. Sebagai dosen, Bapak tidak pantas mencontohkan hal buruk seperti itu." Dia juga pernah menegur terangterangan dosennya yang memelihara anjing. "Bapak tahu enggak? Bapak kan muslim?! Anjing itu najis dan malaikat tidak mau datang ke rumah orang yang ada anjingnya!"Di samping ketaatan dan kelugasannya, apabila bicara tentang Islam, Hindun selalu bersemangat. Apalagi bila sudah bicara soal kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela di Tanah Air yang menurutnya banyak dilakukan oleh orang-orang Islam, wah, dia akan berkobar-kobar bagaikan banteng luka. Apalagi bila melihat atau mendengar ada orang Islam melakukan perbuatan yang menurutnya tidak rasional, langsung dia mengecapnya sebagai klenik atau bahkan syirik yang harus diberantas. Dia pernah ikut mengoordinasi berbagai demonstrasi, seperti menuntut ditutupnya tempattempat yang disebutnya sebagai tempat-tempat maksiat; demonstrasi menentang sekolah yang melarang muridnya berjilbab; hingga demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara murni. Mungkin karena itulah, dia dijuluki kawan-kawannya si bidadari tangan besi. Dia tidak marah, tetapi juga tidak kelihatan senang dijuluki begitu. Yang penting menurutnya, orang Islam yang baik harus selalu menegakkan amar makruf nahi mungkar di mana pun berada. Harus membenci kaum yang ingkar dan menyeleweng dari rel agama. Bagi Hindun, amar makruf nahi mungkar bukan saja merupakan bagian dari keimanan dan ketakwaan, tetapi juga bagian dari jihad fi sabilillah. Karena itu dia biarkan saja kawan-kawannya menjulukinya bidadari tangan besi.Ketika beberapa lama kemudian dia menjadi istri kawanku, Mas Danu, ketaatannya kian bertambah, tetapi kelugasan dan kebiasaannya menegur terang-terangan agak berkurang. Mungkin ini disebabkan karena Mas Danu orangnya juga taat, namun sabar dan lemah lembut. Mungkin dia sering melihat bagaimana Mas Danu, dengan kesabaran dan kelembutannya, justru lebih sering berhasil dalam

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

melakukan amar makruf nahi mungkar. Banyak kawan mereka yang tadinya mursal, justru menjadi insaf dan baik oleh suaminya yang lembut itu. Bukan oleh dia.***Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka, kabar Mas Danu dan Hindun. Dulu sering aku menerima telepon mereka. Sekadar silaturahmi. Saling bertanya kabar. Tetapi, kemudian sudah lama mereka tidak menelepon. Aku sendiri pernah juga beberapa kali menelepon ke rumah mereka, tapi selalu kalau tidak terdengar nada sibuk, ya, tidak ada yang mengangkat. Karena itu, ketika Mas Danu tiba-tiba menelepon, aku seperti mendapat kejutan yang menggembirakan. Lama sekali kami berbincang-bincang di telepon, melepas kerinduan.Setelah saling tanya kabar masing-masing, Mas Danu bilang, "Mas, Sampeyan sudah dengar belum? Hindun sekarang punya syeikh baru lo?""Syeikh baru?" tanyaku. Mas Danu memang suka berkelakar."Ya, syeikh baru. Tahu, siapa? Sampeyan pasti enggak percaya.""Siapa, mas?" tanyaku benar-benar ingin tahu."Jibril, mas. Malaikat Jibril!""Jibril?" aku tak bisa menahan tertawaku. Kadang-kadang sahabatku ini memang sulit dibedakan apakah sedang bercanda atau tidak."Jangan ketawa! Ini serius!""Wah. Katanya, bagaimana rupanya?" aku masih kurang percaya."Dia tidak cerita rupanya, tetapi katanya, Jibril itu humoris seperti Sampeyan."Saya ngakak. Tetapi, di seberang sana, Mas Danu kelihatannya benar-benar serius, jadi kutahan-tahan juga tawaku. "Bagaimana ceritanya, mas?""Ya, mula-mula dia ikut grup pengajian. Kan di tempat kami sekarang lagi musim grup-grup pengajian. Ada pengajian eksekutif; pengajian seniman; pengajian pensiunan; dan entah apa lagi. Nah, lama-lama gurunya itu didatangi malaikat Jibril dan sekarang malaikat Jibril itulah yang langsung mengajarkan ajaran-ajaran dari langit. Sedangkan gurunya itu hanya dipinjam mulutnya.""Bagaimana mereka tahu bahwa yang datang itu malaikat Jibril?""Lo, malaikat Jibrilnya sendiri yang mengatakan. Kepada jemaahnya, gurunya itu, maksud saya malaikat Jibril itu, menunjukkan bukti berupa fenomena-fenomena alam yang ajaib yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia.""Ya, tetapi jin dan setan kan bisa melakukan hal seperti itu, mas!" selaku, "Kan ada cerita, dahulu Syeikh Abdul Qadir Jailani, sufi yang termasyhur itu, pernah digoda iblis yang menyamar sebagai Tuhan berbentuk cahaya yang terang benderang. Konon, sebelumnya, Iblis sudah berhasil menjerumuskan 40 sufi dengan cara itu. Tetapi, karena keimanannya yang tebal, Syeikh Abdul Qadir bisa mengenalinya dan segera mengusirnya.""Tak tahulah, mas. Yang jelas jemaahnya banyak orang pintarnya lo.""Wah."Ketika percakapan akhirnya disudahi dengan janji dari Mas Danu dia akan terus menelepon bila sempat, aku masih tertegun. Aku membayangkan sang bidadari bertangan besi yang begitu tegar ingin memurnikan agama itu kini "hanya" menjadi pengikut sebuah aliran yang menurut banyak orang tidak rasional dan bahkan berbau klenik. Allah Mahakuasa! Dialah yang kuasa menggerakkan hati dan pikiran orang.***Beberapa minggu kemudian aku mendapat telepon lagi dari sahabatku Mas Danu. Kali ini, dia bercerita tentang istrinya dengan nada seperti khawatir."Wah, mas; Hindun baru saja membakar diri.""Apa, mas?" aku terkejut setengah mati, "membakar diri bagaimana?""Gurunya yang mengaku titisan Jibril itu mengajak jemaahnya untuk membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran dosa. Mereka menyiram diri mereka dengan spritus kemudian membakarnya.""Hei," aku ternganga. Dalam hati aku khawatir juga, soalnya aku pernah mendengar di luar negeri pernah

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

terjadi jemaah yang diajak guru mereka bunuh diri."Yang lucu, mas," suara Mas Danu terdengar lagi melanjutkan, "gurunya itu yang paling banyak terbakar bagian-bagian tubuhnya. Berarti kan dia yang paling banyak dosanya ya, mas?!"Aku mengangguk, lupa bahwa kami sedang bicara via telepon."Doakan sajalah mas!" kata sahabatku di seberang menutup pembicaraan.Beberapa hari kemudian Mas Danu menelepon lagi, menceritakan bahwa istrinya kini jarang pulang. Katanya ada tugas dari Syeikh Jibril yang mengharuskan jemaahnya berkumpul di suatu tempat. Tugas berat, tetapi suci. Memperbaiki dunia yang sudah rusak ini."Pernah pulang sebentar, mas" kata Mas Danu di telepon, "dan Sampeyan tahu apa yang dibawanya? Dia pulang sambil memeluk anjing. Entah dapat dari mana?"***Setelah itu, Mas Danu tidak pernah menelepon lagi. Aku mencoba menghubunginya juga tidak pernah berhasil. Baru hari ini. Tak ada hujan tak ada angin, aku menerima pesan di HP-ku, SMS, isinya singkat: "Mas, Hindun sekarang sudah keluar dari Islam. Dia sudah tak berjilbab, tak salat, tak puasa. (Danu)."Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Danu saat menulis SMS itu. Aku sendiri yang menerima pesan itu, tidak bisa menggambarkan perasaanku sendiri. Hanya dari mulutku meluncur saja ucapan masya Allah.***Rembang, Akhir Ramadan 1423

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

LUKISAN KALIGRAFI Cerpen: A Mustofa Bisri Sumber: Kompas, Edisi 11/24/2002 Bermula dari kunjungan seorang kawan lamanya Hardi. Pelukis yang capai mengikuti idealismenya sendiri lalu mengikuti jejak banyak seniman yang lain: berbisnis; meski bisnisnya masih dalam lingkup bidang yang dikuasainya. Seperti kebanyakan bangsanya, Hardi sangat peka terhadap kehendak pasar. Dia kini melukis apa saja asal laku mahal. Mungkin karena kecerdasannya, dia segera bisa menangkap kela-kuan zaman dan mengikutinya. Dia melukis mulai perempuan cantik, pembesar negeri, hingga kaligrafi. Menurut Hardi, kedatangannya di samping silaturrahmi, ingin berbincang-bincang dengan Ustadz Bachri soal kaligrafi. Ustadz Bachri sendiri yang sedikit banyak mengerti soal kaligrafi Arab, segera menyambutnya antusias. Namun, ternyata tamunya itu lebih banyak berbicara tentang aliran-aliran seni mulai dari naturalis, surealis, ekpresionis, dadais, dan entah apa lagi. Tentang teknik melukis, tentang komposisi, tentang perspektif, dan istilah-istilah lain yang dia sendiri baru dengar kali itu. Sepertinya memang sengaja menguliahi Ustadz Bachri soal seni dan khususnya seni rupa. Yang membuat Ustadz Bachri agak kaget, ternyata, meskipun sudah sering pameran kaligrafi, Hardi sama sekali tak mengenal aturan-aturan penulisan khath Arab. Tak tahu bedanya Naskh dan Tsuluts, Diewany dan Faarisy, atau Riq'ah dan Kufi. Apalagi falsafahnya. Katanya dia asal “menggambar” tulisan, mencontoh kitab Quran atau kitabkitab bertulisan Arab lainnya. Dia hanya tertarik dengan makna ayat yang ia ketahui lewat Terjemahan Quran Departemen Agama, lalu dia tuangkan ayat itu ke dalam kertas atau kanvas. Bila ayat itu berbicara tentang penciptaan langit dan bumi, maka dia pun melukis pemandangan, lalu di atasnya dituliskan ayat yang bersangkutan. Kalau tidak begitu, dia tulis ayat yang dipilihnya dalam bentuk-bentuk tertentu yang menurutnya sesuai dengan makna ayat. Ada hurufnya yang ia bentuk seperti mega, burung, macan, tokoh wayang, dan sebagainya. Ustadz Bachri bersyukur atas kedatangan kawannya yangmeskipun agak sok- telah memberinya wawasan mengenai kesenian, terutama seni rupa. ***RINGKAS cerita, begitu si tamu berpamitan seperti biasa Ustadz Bachri mengiringkannya sampai pintu. Nah, sebelum keluar melintasi pintu rumahnya itulah si tamu tiba-tiba berhenti seperti terkejut. Matanya memandang kertas bertulisan Arab yang tertempel di atas pintu, lalu katanya, “Itu tulisan apa? Siapa yang menulis?” Ustadz Bachri tersenyum, “Itu rajah. Saya yang menulisnya sendiri.” “Rajah?” “Ya, kata Kiai yang memberi ijazah, itu rajah penangkal jin.” “Itu kok warnanya aneh; sampeyan menulis pakai apa?” Matanya tanpa berkedip terus memandang ke atas pintu. “Pakai kalam biasa dan tinta cina dicampur sedikit dengan minyak za'faran. Katanya minyak itu termasuk syarat penulisan rajah.” “Wah,” kata tamunya masih belum melepas pandangannya ke tulisan di atas pintu, “sampeyan mesti melukis kaligrafi.” “Saya? Saya melukis kaligrafi?” katanya sambil tertawa spontan. “Tidak. Saya serius ini,” tukas tamunya, “sampeyan mesti melukis kaligrafi. Goresan-goresan sampeyan berkarakter. (“Ini apa pula maksudnya?” Ustadz Bachri membatin, tak paham). Kalau bisa di atas kanvas. Tahu kanvas kan?! Betul ya. Tiga bulan lagi, kawan-kawan pelukis kaligrafi kebetulan akan pameran; Nanti sampeyan

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

ikut. Ya, ya!” Ustadz Bachri tidak bisa berkata-kata, tapi rasa tertantang muncul dalam dirinya. Kenapa tidak, pikirnya. Orang yang tak tahu khath saja berani memamerkan kaligrafinya, mengapa dia tidak? Namun, ketika didesak tamunya, dia hanya mengangguk asal mengangguk. Setelah tamunya itu pergi, dia benar-benar terobsesi untuk melukis kaligrafi. Setiap kali duduk-duduk sendirian, dia oret-oret kertas, menuliskan ayat-ayat yang ia hapal. Dia buka kitab-kitab tentang khath dan sejarah perkembangan tulisan Arab. Bahkan dia memerlukan datang ke kota untuk sekadar melihat lukisan-lukisan yang dipajang di galeri dan toko-toko, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk membeli kanvas, cat, dan kuas. Anak-anak dan istrinya agak bingung juga melihat dia datang dari kota dengan membawa oleh-oleh peralatan melukis. Lebih heran lagi ketika dia jelaskan bahwa dialah yang akan melukis. Meski mula-mula istri dan anak-anaknya mentertawakan, namun melihat keseriusannya, ramai-ramai juga mereka menyemangati. Mereka dengan riang ikut membantu membereskan dan membersihkan gudang yang akan dia pergunakan untuk “sanggar melukis”. Mungkin tidak ingin diganggu atau malu dilihat orang, Ustadz Bachri memilih tengah malam untuk melukis. Istri dan anak-anaknya pun biasanya sudah lelap tidur, saat dia mulai masuk ke gudang berkutat dengan cat dan kanvas-kanvasnya. Kadang-kadang sampai subuh, dia baru keluar. Di gudangnya yang sekarang merangkap sanggar itu, berserakan beberapa kanvas yang sudah belepotan cat tanpa bentuk. Di antaranya sudah ada yang sedemikian tebal lapisan catnya, karena sering ditindas. Karena begitu dia merasa tidak sreg dengan lukisannya yang hampir jadi, langsung ia tindas dengan cat lain dan memulai lagi dari awal. Hal itu terjadi berulang kali. “Ternyata sulit juga melukis itu,” katanya suatu ketika dalam hati, “enakan menulis pakai kalam di atas kertas.” Hampir saja Ustadz Bachri putus asa. Tapi, istri dan anak-anaknya selalu melemparkan pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar yang kedengaran di telinganya seperti menyindir nyalinya. Maka, dia pun bertekad, apa pun yang terjadi harus ada lukisannya yang jadi untuk diikutkan pameran. Sampai akhirnya, ketika seorang kurir yang dikirim oleh Hardi kawannya itu, datang mengambil lukisannya untuk pameran yang dijanjikan, dia hanya-atau, alhamdulillah, sudah berhasil-menyerahkan sebuah “lukisan”. Ketika sang kurir menanyakan judul lukisan dan harga yang diinginkan, seketika dia merasa seperti diejek. Tapi kemudian dia hanya mengatakan terserah. “Bilang saja kepada Mas Hardi, terserah dia!” katanya. Dia sama sekali tidak menyangka. ***MESKIPUN ada rasa malu dan rendah diri, dia datang juga pada waktu pembukaan pameran untuk menyenangkan kawannya Hardi, yang berkali-kali menelepon memaksanya datang. Ternyata pameran-di mana “lukisan” tunggalnya diikutsertakan-itu diselenggarakan di sebuah hotel berbintang. Wah, rasa malu dan rendah dirinya pun semakin memuncak. Dengan kikuk dan sembunyi-sembunyi dia menyelinap di antara pengunjung. Dari kejauhan dilihatnya Hardi berkali-kali menoleh ke kanan ke kiri. Mungkin mencari-cari dirinya. Ada pidato-pidato pendek dan sambutan tokoh kesenian terkenal, tapi dia sama sekali tidak bisa tenang mendengarkan, apalagi menikmatinya. Dia sibuk mencari-cari “lukisan”-nya di antara deretan lukisan-lukisan kaligrafi yang di pajang yang rata-rata tampak indah dan mempesona. Apalagi dipasang sedemikian rupa dengan pencahayaan yang diatur apik untuk mendukung tampilan setiap lukisan. “Apakah lukisanku juga

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

tampak indah di sini?” pikirnya, “di mana gerangan lukisanku itu dipasang?” Sampai akhirnya, ketika acara pidato-pidato usai dan para pengunjung beramairamai mengamati lukisan-lukisan yang dipamerkan, dia yang mengalirkan diri di antara jejalan pengunjung, belum juga menemukan lukisannya. Tiba-tiba terbentik dalam kepalanya “Jangan-jangan lukisanku diapkir, tidak diikutkan pameran, karena tidak memenuhi standar.” Aneh, mendapat pikiran begitu, dia tiba-tiba justru menjadi tenang. Dia pun tidak lagi menyembunyikan diri di balik punggung para pengunjung. Bahkan, dia sengaja mendekati sang Hardi yang tampak sedang menerang-nerangkan kepada sekerumunan pengunjung yang menggerombol di depan salah satu lukisan. Lukisan itu sendiri hampir tak tampak olehnya tertutup banyak kepala yang sedang memperhatikannya. “Lha ini dia!” tiba-tiba Hardi berteriak ketika melihatnya. Dia jadi salah tingkah dilihat oleh begitu banyak orang, “Ini pelukisnya!” kata Hardi lagi, lalu ditujukan kepada dirinya, “Kemana saja sampeyan. Sudah dari tadi ya datangnya? Sini, sini. Ini, bapak ini seorang kolektor dari Jakarta, ingin membeli lukisan sampeyan.” Astaga, ternyata lukisan yang dirubung itu lukisannya. Dia lirik tulisan yang terpampang di bawah lukisan yang menerangkan data lukisan. Di samping namanya, dia tertarik dengan judul (yang tentu Hardi yang membuatkan): Alifku Tegak di Mana-mana. Wah, Hardi ternyata tidak hanya pandai melukis, tapi pandai juga mengarang judul yang hebat-hebat, pikirnya. Di kanvasnya itu memang hanya ada satu huruf, huruf alif. Lebih kaget lagi ketika dia membaca angka dalam keterangan harga. Dia hampir tidak mempercayai matanya: 10.000 dollar AS, sepuluh ribu dollar AS! Gila! “Begitu melihat lukisan Anda, saya langsung tertarik;” tiba-tiba si bapak kolektor berkata sambil menepuk bahunya, “apalagi setelah kawan Anda ini menjelaskan makna dan falsafahnya. Luar biasa!” Dia tersipu-sipu. Hardi membisikinya, “Selamat, lukisan sampeyan dibeli beliau ini!” “Katanya, Anda baru kali ini ikut pameran,” kata si bapak kolektor lagi tanpa memperhatikan air mukanya yang merah padam, “teruskanlah melukis dari dalam seperti ini.” (“Melukis dari dalam? Apa pula ini?” pikirnya) Wartawan-wartawan menyuruhnya berdiri di dekat lukisan alifnya itu untuk diambil gambar. Dia benar-benar salah tingkah. Pertanyaan-pertanyaan para wartawan dijawabnya sekenanya. Mau bilang apa? Besoknya hampir semua media massa memuat berita tentang pameran yang isinya hampir didominasi oleh liputan tentang dirinya dan lukisannya. Hampir semua koran, baik ibu kota maupun daerah, melengkapi pemberitaan itu dengan menampilkan fotonya. Sayang dalam semua foto itu sama sekali tidak tampak lukisan alifnya. Yang terlihat hanya dia sedang berdiri di samping kanvas kosong! Beberapa hari kemudian, beberapa wartawan datang ke rumah Ustadz Bachri. Bertanya macam-macam tentang lukisan alifnya yang menggemparkan. Tentang proses kreatifnya, tentang bagaimana dia menemukan ide melukis alif itu, tentang prinsip keseniannya, dlsb. Seperti ketika pameran dia asal menjawab saja. Ketika makan siang, istri dan anak-anaknya ganti mengerubutinya dengan berbagai pertanyaan tentang lukisan alifnya itu pula. “Kalian ini kenapa, kok ikut-ikutan seperti wartawan?!” teriaknya kesal. “Tidak pak, sebenarnya apa sih menariknya lukisan Bapak? Kok sampai dibeli sekian mahalnya?” tanya anak sulungnya. “Kenapa sih Bapak hanya menulis alif?” tanya si bungsu sebelum dia sempat menjawab pertanyaan kakaknya, “mengapa tidak sekalian Bismillah, Allahu Akbar, atau setidaknya

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Allah, seperti umumnya kaligrafi yang ada?” Istrinya juga tidak mau kalah rupanya. Tidak sabar menunggu dia menjawab pertanyaan-pertanyaan anakanaknya. “Terus terang saja, Mas, sampeyan menggunakan ilmu apa, kok lukisanmu sampai tidak bisa difoto?” Ustadz Bachri geleng-geleng kepala. Kepada para wartawan dan orang lain, dia bisa tidak terus terang, tapi kepada keluarganya sendiri bagaimana mungkin dia akan menyembunyikan sesuatu. Bukankah dia sendiri yang mengajarkan dan memulai tradisi keterbukaan di rumah. “Begini,” katanya sambil menyantaikan duduknya; sementara semuanya menunggu penuh perhatian, “terus terang saja; saya sendiri sama sekali tidak menyangka. Kalian tahu sendiri, saya melukis karena dipaksa Hardi, tamu kita yang pelukis itu. Saya merasa tertantang.” “Saya sendiri baru menyadari bahwa meskipun saya menguasai kaidah-kaidah khath, ternyata melukis kaligrafi tidak semudah yang saya duga. Apalagi, kalian tahu sendiri, sebelumnya saya tidak pernah melukis. Lihatlah, di gudang kita, sekian banyak kanvas yang gagal saya lukisi. Bahkan, saya hampir putus-asa dan akan memutuskan membatalkan keikutsertaan saya dalam pameran. Tapi, Hardi ngotot mendorong-dorong saya terus.” “Lalu, ketika cat-cat yang saya beli hampir habis, saya baru teringat pernah melihat dalam pameran kaligrafi dalam rangka MTQ belasan tahun yang lalu, seorang pelukis besar memamerkan kaligrafinya yang menggambarkan dirinya sedang sembahyang dan di atas kepalanya ada lafal Allah. Saya pun berpikir mengapa saya tidak menulis Allah saja?” Ustadz Bachri berhenti lagi, memperbaiki letak duduknya, baru kemudian lanjutnya, “Ketika saya sudah siap akan melukis, ternyata cat yang tersisa hanya ada dua warna: warna putih dan silver. Tetapi, tekad saya sudah bulat, biar hanya dengan dua warna ini, lukisan kaligrafi saya harus jadi. Mulailah saya menulis alif. Saya merasa huruf yang saya tulis bagus sekali, sesuai dengan standar huruf Tsuluts Jaliy. Namun, ketika saya pandang-pandang letak tulisan alif saya itu persis di tengah-tengah kanvas. Kalau saya lanjutkan menulis Allah, menurut selera saya waktu itu, akan jadi wagu, tidak pas. Maka, ya sudah, tak usah saya lanjutkan. Cukup alif itu saja.” “Jadi, tadinya Bapak hendak menulis Allah?” sela si bungsu. “Ya, niat semula begitu. Yang saya sendiri kemudian bingung, mengapa perhatian orang begitu besar terhadap lukisan alif saya itu. Saya juga tidak tahu apa yang dikatakan Hardi kepada kolektor dari Jakarta itu, tetapi dugaan saya dialah yang membuat lukisan saya bernilai begitu besar. Termasuk idenya memberi judul yang sedemikian gagah itu.” “Tetapi, sampeyan belum menjawab pertanyaan saya,” tukas istrinya, “sampeyan menggunakan ilmu apa, sehingga lukisan sampeyan itu ketika difoto tidak jadi dan yang tampak hanya kanvas kosong yang diberi pigura?” “Wah, kamu ini ikut-ikutan mempercayai mistik ya?! Ilmu apa lagi? Saya tadi kan sudah bilang, alif itu saya lukis hanya dengan dua warna yang tersisa. Sedikit putih untuk latar dan sedikit silver untuk huruf alifnya. Mungkin, ya karena silver di atas putih itu yang membuatnya tak tampak ketika difoto.” Istri dan anak-anaknya tak bertanya-tanya lagi; tetapi Ustadz Bachri tak tahu apa mereka percaya penjelasannya atau tidak. *

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

MUBALIG KONDANG Cerpen: A Mustofa Bisri Sumber: Media Indonesia, Edisi 10/27/2002 KETIKA jauh-jauh hari istriku menginformasikan bahwa di kota kami akan kedatangan seorang dai kondang dari Ibu Kota, aku tak begitu memerhatikan. Waktu itu pikiranku sedang mengembara ke soal-soal lain. Hari ini dia mengingatkan lagi."Pak, nanti malam Sampeyan ikut ke kota apa tidak?" katanya sambil mendekati saya yang sedang duduk termenung di lincak*) depan rumah."Ada apa ke kota?" tanyaku malas."Lo, Sampeyan ini bagaimana sih; kan nanti malam ada pengajian akbar?!" dia jatuhkan pantatnya yang tambun ke lincak bambu hingga menimbulkan suara berderak; aku sedikit bergeser sambil berdoa mudah-mudahan lincak kesayanganku tak ambrol. "Orang sedesa upyek**) membicarakan dai kondang Ibu Kota yang akan mengisi pengajian nanti malam, kok Sampeyan tenang-tenang saja. Makanya Sampeyan itu jadi orang mbok kumpul-kumpul. Jangan mengurung diri di rumah saja, seperti katak dalam tempurung!"Istriku berhenti sebentar, merogoh dunak di bawah lincak, meraup biji-biji jagung dan menebarkannya ke halaman. Tak lama ayamayam peliharaannya ribut, riuh rendah suaranya, berebut jagung. Disenggolnya pundakku dengan pundaknya sendiri yang gempal hingga aku hampir terjengkang sambil berkata melanjutkan omelannya:"Ustaz makin bikin rombongan nyewa colt. Ibu-ibu juga bikin rombongan sendiri. Bu Lurah menyiapkan bus mini dan truk. Tadi saya sudah daftar dua orang. Kalau Sampeyan enggak pergi, biar nanti saya sama simbok. Ini pengajian akbar, mubalignya dari Jakarta. kita mesti datang agak gasik supaya dapat tempat."Istriku --seperti kebanyakan warga kampung yang lain-- mungkin maniak pengajian. Di mana saja ada pengajian --di kota kecamatan atau di desadesa-- dia mesti mendengar dan datang menghadirinya. Saya tak tahu apa saja yang diperolehnya dari pengajian-pengajian yang begitu rajin ia ikuti itu. Nyatanya, kelakuannya --seperti kebanyakan warga kampung yang lain-dari dulu tidak berubah. Kesukaannya menggunjing orang tidak berkurang. Hobinya bohong juga berlanjut. Senangnya kepada duit malah bertambah-tambah. Seperti juga Haji Mardud yang sering menjadi panitia pengajian itu, sampai sekarang tak juga berhenti merentenkan uang. Si Salim dan Parman yang rajin mendatangi pengajian juga masih terus rajin merekap togel. Imron itu malah sambil ngaji sambil nggodain cewek-cewek. Lalu apa gunanya pengajianpengajian itu jika tak mengubah apa-apa dari perilaku masyarakat pengajian?Mubalig kondang dari Ibu Kota? Apa istimewanya? Mubalig di manamana ya begitu itu. Tidak sedikit dari mereka yang cuma pinter ngomong; ngompor-ngompori; menakut-nakuti; melawak. Ngapusi masyarakat yang awam. Kalau hanya tidak konsekuen --mengajak baik tapi diri sendiri tak bisa melakukannya-- masih lumayan. Ini tidak, mengajak baik tapi diri sendiri justru melakukan yang sebaliknya. Menganjurkan hidup sederhana, diri sendiri bermewah-mewah. Menganjurkan kerukunan, diri sendiri provokator. Bahkan ada yang keterlaluan. Dengan berani menggunakan ayat-ayat Quran dan hadis Nabi untuk kepentingan politik praktis dan menyebar kebencian. Bangga jika agitasinya melecehkan pihak lain --sering kali malah pribadi-- ditepuki."Hei, Kang!" aku kaget, kembali istriku menyenggolkan pundak-gempalnya ke

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

pundakku, sekali lagi aku hampir terjengkang, "diajak ngomong, malah bengong! Piye? Berangkat apa enggak?""Sudahlah kau berangkat saja dengan simbok!" kataku biar dia tidak terus ngomel. Kalau enggak malas nanti aku berangkat sendiri, nyepeda.""Ya sudah!" katanya agak ketus. Diambilnya lagi segenggam jagung dan disebarkannya ke arah ayam-ayam yang memang seperti menunggu. Lalu bangkit dari lincak, meninggalkanku sendirian lagi. Alhamdulillah, aku bisa melamun lagi.***Menjelang isyak rupanya istriku dan simbok sudah berdandan. Begitu selesai sembahyang langsung rukuh mereka copot dan memperbaiki sebentar dandanan mereka."Mau mengaji kok seperti mau mendatangi ngantenan," kataku begitu datang dari surau dan melihat mereka sibuk membedaki muka mereka."Cerewet!" kata mereka hampir serempak."Kalau makan, ambil sendiri di grobok!" teriak istriku begitu melewati pintu rumah. Dan, ditinggalkannya aku sendirian. Kudengar keriuhan dari kelurahan yang tak jauh dari rumahku. Pastilah itu ibu-ibu sedang rebutan naik bus mini dan anak-anak-anak muda rebutan naik truk. Dari arah surau juga kudengar kesibukan rombongan mau berangkat ke kota. Mereka yang akan mendengarkan --atau melihat atau sekadar kepingin tahu-- mubalig kondang dari Ibu Kota.Tak lama kemudian suasana menjadi sepi. Rombongan-rombongan sudah berangkat. Setelah makan, aku rebahkan badanku di balai-balai, berharap bisa tertidur, tapi mata tak mau terpejam juga. Aku menyesal juga tadi tidak ikut, ketimbang bengong sendirian begini. Kalau bosan dengan pengajiannya, aku kan bisa jalan-jalan, cuci mata. Terpikir begitu, akhirnya aku pun bangkit. Kukenakan baju, kuambil sepeda pusakaku, dan kututup pintu rumahku.Kukayuh sepedaku pelan-pelan menuju kota. Aku toh tidak sedang mengejar apa-apa. Hampir tak kujumpai manusia dan yang kudengar hanya sesekali lenguh sapi dan suara jengkerik. Untunglah listrik sudah masuk desaku. Meskipun lampu-lampu yang terpasang di pinggir jalan hanya jarangjarang dan tidak begitu terang, cukup membantu juga. Apalagi lampu berko sepedaku nyalanya byarpet. Bersepeda malam-malam begini, aku jadi teringat Sudin, kawanku di pesantren dulu yang suka mengajakku balapan mengayuh sepeda bila ngluyur bersama. Dia sering dimarahi Pak Sahlan yang menyewakan sepeda kepada santri-santri, karena sering merusakkan sepedanya. Di mana kira-kira anak badung itu sekarang?Sudin anak orang kaya kota yang konon sudah putus asa melihat kelakuan anaknya dan terpaksa 'membuangnya' ke pesantren. Sering kali dulu aku ditraktir Sudin nonton bioskop dan makan-makan di restoran. Dan, tidak jarang pulangnya ke pesantren sudah larut malam. Karena sudah berkali-kali ditakzir, dihukum, sebab nonton, aku pun lalu menolak jika Sudin mengajak nonton. Aku malu dengan kawan-kawan santri yang lain. Sudin sendiri sepertinya berpedoman sudah telanjur basah. Karena sudah terkenal sebagai langganan takzir, dia pun cuek. Menganggap takzir sebagai perkara biasa yang tidak perlu ditakuti. Dia tidak hanya ditakzir karena nonton, tapi juga karena melanggar banyak larangan dan menyalahi banyak peraturan pesantren; seperti berkelahi dengan kawan, membolos, mengintip santri putri, dlsb. Berbagai macam bentuk takzir sudah dicobanya, mulai dari membersihkan kakus; membayar denda; mengisi kulah masjid; dlsb. Rambutnya tak sempat tumbuh, karena sering kena hukuman gundul. Terakhir Sudin diusir dari pesantren karena kedapatan mencuri kas pesantren."Eit!" hampir saja aku terjatuh. Akar pohon asam di tepi

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

jalan membuat sepedaku oleng. Untung aku segera bisa menguasainya. Lamunanku buyar. Tapi aku bersyukur, tak terasa kota sudah kelihatan dekat.Di pinggir jalan menuju alun-alun yang kulalui, berderet-deret mobil diparkir. Ada colt, ada bus, dan terbanyak truk. Rupanya --melihat nomor-nomor polisi berbagai kendaraan itu-- mereka yang datang menghadiri pengajian, tidak hanya dari dalam kota. Dari luar kota juga banyak. Dari suara pengeras suara yang sudah terdengar, aku tahu ceramah mubalig kondang sudah mulai.Dua orang anak muda gondrong tiba-tiba menghadangku dan menyeret sepedaku ke sebuah halaman yang di depannya ada papan tulis bertuliskan 'TITIPAN SEPEDA Rp1000'. Untung di kantongku ada persis seribu rupiah. Kuulurkan satu-satunya lembaran uang yang kumiliki itu kepada salah seorang anak muda yang kelihatan tidak sabar. Aku terus ngeloyor menyibak kerumunan orang di mana-mana. Termasuk mereka yang mengerumuni pedagang-pedagang yang mremo menjual berbagai macam makanan dan mainan anak-anak.Luar biasa. Lautan manusia meluber ke mana-mana. Suara pengeras suara bergaung-gaung ke berbagai penjuru, melantunkan pidato mubalig yang berkobar-kobar dan sesekali menyanyi atau menyampaikan lelucon-lelucon. Setiap kali disusul dengan gemuruh teriakan dan tepuk tangan hadirin.Dari kejauhan mubalig itu sudah kelihatan, karena panggung yang tinggi dan lampu yang luar biasa terangnya. Entah berapa watt saja. Hanya beberapa puluh pengunjung di bagian depan, di kanan-kiri panggung, yang duduk di kursi; lainnya lesehan di rerumputan alun-alun. Banyak ibu-ibu yang menggelar selendangnya untuk tidur anaknya yang masih kecil, bahkan bayi. Tapi, aku tak melihat istriku dan simbok. Entah di mana mereka duduk. Aku terus menerobos pelan-pelan dan kadang harus melingkar-lingkar dan berjalan miring di antara pengunjung, agar bisa lebih dekat ke panggung.Semakin dekat, semakin jelas sosok mubalig kondang yang dari kejauhan suaranya menggelegar itu. Ternyata tubuhnya sedang-sedang saja. Yang membuat tampak gagah justru pakaiannya. Dia mengenakan setelan baju koko, tapi tidak seperti yang biasa dikenakan orang di kampungku. Baju kokonya mengilap, mungkin dari sutra. Di bagian leher dan dadanya ada bordiran kembang-kembang dari benang emas. Sorban yang disampirkan di pundaknya juga tidak seperti umumnya sorban. Warna dan coraknya serasi benar dengan setelan bajunya. Ada dua cincin bermata zamrud dan pirus, besar-besar, di jari-jari manisnya. Penampilan mubalig kondang memang lain dengan mubalig lokal yang biasa kami saksikan. Bicaranya mantap. Gerakan tubuh dan tangannya benar-benar sejiwa dengan isi ceramahnya.Dan, wajahnya.... Dan, wajahnya.... Nanti dulu. Wajah itu seperti sudah aku kenal. Tapi tak mungkin. Tak mungkin! Masa dia? Tapi persis sekali. Dahinya yang sempit itu, matanya yang agak sipit dengan sorot yang nakal itu, hidungnya yang bulat itu, mulutnya yang lebar dan seperti terus mengejek itu, dagunya yang terlalu panjang itu, dan telinganya yang lebar sebelah itu, ah tak mungkin lain. Aku tak salah lagi, pastilah itu dia. Sudin!Aku tiba-tiba kepingin mendengarkannya."Jadi sekali lagi, Saudara-saudara, maksiat yang sudah merajalela itu harus kita perangi! Juga kenakalan remaja sekarang ini sudah sangat mengkhawatirkan. Apa jadinya generasi kita yang akan datang bila kenakalan remaja itu tidak segera kita tanggulangi sekarang juga. Kalau di waktu muda malas, apa jadinya bila sudah tua? Kere, saudara-saudara! Kere! 'Tul enggak?!""Betuuul!! Kereee!!" teriak hadirin serempak."Kalau di waktu

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

muda sudah suka jambret, apa jadinya bila sudah tua. Apa, saudara-saudara? Ko... ko...!""Korupsiii!!!" sekali lagi hadirin berteriak menyambutnya, disusul tempik-sorak gegap gempita."Ya, korupsi!" ulangnya berwibawa.Ah, Sudin, kau masih belum juga bisa fasih melafalkan huruf 'r' sampai sekarang.Memang ajaib. Sudin kawan di pesantren yang tadi baru saja datang di lamunanku, kini -meski juga seperti tidak nyata-- berdiri di depanku. Apa tadi itu firasat? Baru dilamun, tiba-tiba ketemu! Sudin yang nakal. Sudin yang di pesantren langganan takzir. Sudin yang diusir karena mencuri uang kas pesantren. Ah, siapa mengira kini jadi mubalig kondang seperti itu. Bagaimana ceritanya Sudin sampai memunyai karamah begitu besar? Bagiku itu sungguh musykil.Kalau ini nanti kuceritakan kepada orang-orang kampung --kalau kukatakan bahwa Almukarram KH Drs Samsuddin, mubalig kondang yang baru saja berceramah di alun-alun itu adalah Sudin, kawan nakal saya di pesantren-- pasti tak ada yang percaya. Istriku sendiri pun pasti akan menertawakan. Lebih baik kuceritakan kepadamu saja.****)semacam balai-balai sederhana**) ribut; sibuk membicarakan .

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

LELAKI YANG MENYISIR RINDU Cerpen: Asma Nadia Sumber: Republika, Edisi 01/30/2005 Ibu tua dalam kebaya, menangis tanpa suara. Matanya nanap menatap laut lepas. Pada ombak-ombak kecil berkejaran. Dulu sekali, dia dan tiga anaknya sering menghabiskan waktu di sana. Mereka berempat saja. Sebab suami, yang telah membawanya ke tanah serambi itu, telah berpulang ketika Din, anaknya yang paling kecil baru belajar jalan. Berempat saja. Berlari di antara kaki-kaki ombak yang lincah menggulung. Bermain pasir, dan berlomba mengejar perahu nelayan yang menepi. Dari pinggir laut, mereka biasa menikmati rumah-rumah bagus yang terletak tak jauh dari tempat tinggal mereka. Rumah-rumah orang kaya, katanya. Sambil berkhayal, seperti apa rasanya tinggal di sana. "Kaki harus bersih," kata Yanti, anaknya yang paling tua dan terkenal rapi. "Pasti makan enak terus!" timpal Azhar, anaknya nomor dua yang berbadan besar. Sementara Din, yang bungsu diam saja. Hanya matanya memandang lekat. Barangkali membandingkan bangunan kokoh itu dengan rumah mereka yang semi permanen. Ruangan satu kamar, yang sebagian besar masih berupa bilik. Sebagai ibu, telah dia beri segala yang bisa. Bekerja apa saja untuk menyekolahkan anak-anak, meski napasnya tak cukup membawa mereka ke perguruan tinggi. Hanya si bungsu saja yang kini bekerja di Banda, sempat menamatkan kuliahnya. Sementara anak-anak yang lain hanya tamatan SMA. Begitu cepatnya waktu. Kedua matanya yang cekung masih merayapi senja yang turun diantara barisan pohon-pohon kelapa. Rasanya belum lama dia dan anakanak bermain di sana. Melihat orang-orang memanjat batang kelapa, dan memetik buahnya yang bergerombol di pucuk. Ibu tua dalam kebaya mengapus air matanya. Ia tak mengerti kenapa kesedihan itu semakin kental dari tahun ke tahun. Mungkin usia, pikirnya. Mungkin juga kesendirian. Sejak anak-anak lulus SMA, dia mulai merasa kesepian. Seolah berlomba-lomba mereka meninggalkannya, meski dengan alasan yang bisa dimengerti, bekerja. Dan waktu yang berkelebat cepat, tiba-tiba sudah membawa mereka pada tahapan lain dalam kehidupan, menikah dan punya anak. Harusnya dia bisa mengerti, dan bukan meratapi diri. Mungkin mereka sibuk. Perempuan itu masih menangis sesenggukan tanpa suara. Pipinya yang keriput, basah. Sudah dua hari raya, keluarga besar mereka tak berkumpul. Anak-anak sudah tak mengingatnya lagi. Padahal hari ini, pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan merapikan rumah, lalu masak ala kadarnya. Ini hari jadinya. Dulu dia dan anak-anak selalu membuat syukuran sederhana untuk mengingat bertambahnya usia. Bukan upaya membawa gaya hidup Barat dalam kehidupan mereka. Tapi mereka jarang makan enak, dan makan enak itu jadi lebih berarti

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

ketika disesuaikan dengan tanggal kelahiran anggota keluarga. Dengan cermat pula, perempuan berkebaya itu menyimpan uang sedikit demi sedikit, agar anak-anak bisa makan istimewa, beberapa kali dalam setahun. Dan hari ini hari jadinya. Perempuan tua dalam kebaya menutup jendela kayu. Berhenti berharap. Satu dua air mata masih menitik. Anak-anak sudah tak mengingatnya lagi! Laki-laki itu menginjak pedal gas dalam-dalam, hingga mobilnya terasa terbang. Dia sudah terlambat. Seharusnya kemarin. Sesekali diliriknya jam di pergelangan tangan. Tak sabar ingin segera sampai. Dia ingin segera menemui Mak, meminta maaf atas keterlambatannya. Perasaan rindunya berbaur dengan rasa bersalah yang kental, membayangkan perempuan yang melahirkannya menunggu sia-sia. "Kakak tak bisa datang, Din. Abang pun masih repot dengan kerjaannya. Tak bisa ditinggalkan," suara Yanti di telepon kemarin, "sampaikan salam pada Mak." Din hanya mengangguk. Sambil dalam hati menghitung, ini sudah dua tahun, Yanti yang tinggal di Medan tak pulang. Sementara Azhar beralasan panjang meski tak jelas, namun intinya sama. "Tak bisa, aku Din. Kau saja, ya?" Padahal Yanti dan Azhar pula yang memintanya menunda kunjungan itu. "Cuma sehari, Din. Kakak masih cari waktu bicara sama si Abang." "Kalau hari ini tak bisa. Besok pagi-pagi sekali kita jalanlah." Din mengembuskan napas kesal. Kalau tahu begitu, lebih baik kemarin dia berangkat sendiri. Apalagi semuanya sudah siap. Dia memang tak pintar bicara seperti kedua kakaknya. Tapi mimpi itu didekapnya sejak lama. Sejak dia sadar keinginan yang disimpan kuat-kuat di bilik hati Mak, meski perempuan berkebaya itu tak pernah mengucapkan. Itu pula alasan Din belum mau menikah. Dia bisa melihat bagaimana kedua saudaranya serta merta terampas oleh rutinitas berkeluarga, dan pelan-pelan berkurang perhatian pada Mak. "Anakku sakit, kalau dipaksa mana bisa istirahat di rumah Mak!" "Aduh, lagi tanggung bulan nih, Din." Padahal tanggung bulan atau tidak, Mak mereka nyaris tak pernah meminta apa-pun. Cukup kedatangan tiga permata hatinya. Mata tuanya akan segera bercahaya. "Istriku tak enak badan, kepalanya pening-pening terus. Sampaikan maafku pada Mak." "Si Abang tak memberi izin, Din. Soalnya ada acara di gubernuran. Tak mungkin dia ke sana sendiri tanpa kakak, kan?" Kasihan Mak, pasti rindu. Din, laki-laki berusia tiga puluh tiga tahun itu, menekan pedal gas lebih dalam. Tekadnya kuat. Dia sudah harus melihat wajah Mak, saat matahari pertama terbit nanti. Suara orang mengaji di surau baru berakhir ketika kijang tuanya berhenti. Lelaki itu menengok ke arah laut yang bergejolak tenang. Laut yang menyimpan

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

sejarah masa kecil mereka. Laut yang membuktikan, betapa tegarnya Mak membesarkan ketiga anaknya. Tangan Din mengetuk pintu, bersama salam yang dibisikkannya. Suara sandal diseret dari dalam terdengar mendekat. Tak lama pintu terbuka, sesosok perempuan tua dalam balutan kebaya yang lusuh menatapnya beberapa kejap. Lalu memeluknya tanpa kata-kata. "Mau kau ajak kemana Mak?" Din tersenyum saja. Hati-hati dia menuntun langkah Mak ke mobil. "Tak jauh. Mak tenang saja." Perempuan berkebaya itu tak bertanya lagi. Wajahnya lurus menghadap ke depan. Tak ada yang tahu betapa hatinya melonjak karena kebanggaan yang terselip. Anaknya si Din, sudah jadi orang tampaknya. Sudah bisa pula membawa Mak-nya berkeliling naik mobil. "Jangan cepat-cepat, Din." Din tersenyum, disorongkannya wajah ke arah Mak. Dikecupnya lembut dahi yang penuh guratan usia itu. "Tenang saja, Mak." Din, anaknya yang paling muda memang berbeda. Mungkin karena dia belum berkeluarga. Dibandingkan yang lain, si Bungsu itu lebih perhatian. Malah sejak dua tahun ini, hanya Din saja yang setia mengunjunginya. "Kemarin kemana kau, Din? Mak menunggu sampai maghrib." Din memutar setirnya. Kendaraan bergerak pelan. Di sepanjang sisi jalan, laut berayun lembut. Dia sudah di sini sekarang, dekat dengan Mak. Tapi perasaan bersalah karena membiarkan Mak menunggu kemarin, masih mengganjal di hatinya. Rasanya seperti menjadi Amad Rhang Manyang, anak durhaka serupa Malin Kundang dalam mitos Aceh, yang sering diprotesnya. Ibu mengutuk anak rasanya kejam sekali. Sulit untuk membayangkan ibu-ibu Aceh setega itu. Tak mungkin. "Kemarin tu Kak Yanti dan Bang Azhar...," Din memulai penjelasannya. Mak mengangguk-angguk mendengarkan. Mata Din beberapa kali beralih dari jalan di hadapannya. Mak-nya tak berubah. Perempuan Jawa yang telah lama hidup di tanah sebrang ini, masih tetap saja berkebaya. Ketika dia tanyakan kepada Mak, kenapa tetap mengenakan kain dan kebaya, padahal pakaian itu membuatnya tak leluasa bergerak. Perempuan tua itu hanya menjawab singkat. "Beginilah ayahmu melihat Mak pertama kali, Din." Din mengagumi Mak. Jerih payah dan kegigihan perempuan itu luar biasa dalam membesarkan ketiga anaknya. Bagi lelaki itu, keputusan Mak untuk tidak menikah lagi, seolah menjadi bukti totalitas pengabdian yang telah dipilihnya. Totalitas untuk bersama anak-anak. Sungguh menjadi ironi karena ketika anak-anaknya mampu membalas budi, totalitas serupa tak bisa mereka berikan. Din melenguh dalam hati. Seharusnya dia bisa lebih sering bersama Mak. Harusnya. Tapi tenggat-tenggat dari kantor, lalu tugas-tugas keluar kota, menyisakan hanya sedikit waktu. Itupun terkadang sudah dibalut lelah dan

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

pening. Padahal Mak semakin tua. Tak berapa lama mobil berhenti. Mak turun dengan pandangan penuh tanya. "Eh, kemana kau ajak Mak, Din?" Rumah bercat putih itu berdiri di antara rumah-rumah lain yang lebih besar. Dulu mereka sering memandang rumah-rumah di kawasan elit ini, dengan kaki terendam air. "Kau tak mengajak Mak melamar perempuan secara mendadak, kan?" Din menggeleng. Dituntunnya langkah Mak hingga berada tepat di depan pintu. "Ini rumah Mak," bisiknya ke telinga perempuan itu. Mak menatapnya dengan pandangan tak percaya. Lalu tersedu-sedu di dadanya. Tidak. Mak tak boleh menangis. Sebab rumah ini dibelinya untuk membahagiakan wanita itu. Mak tak boleh lagi tinggal sendirian dalam rumah bilik satu kamar. Perempuan itu sudah melewati begitu banyak bilangan tahun di sana. Mak butuh tempat yang lebih sehat, tempat yang lebih nyaman, di mana dia bisa menunggu kedatangan mereka dengan lebih tenang. "Din...." Lelaki itu mengangguk. Mengajak perempuan itu berkeliling di dalamnya. Rumah bercat putih itu memiliki tiga kamar tidur. "Supaya Yanti bisa membawa anak-anaknya menginap di sini, Mak." "Ya... ya...." Mak mengangguk. Lidahnya kelu. Tak disangkanya Din yang selama ini tak banyak bicara membelikannya sebuah rumah. "Nah, kamar yang satunya lagi buat Bang Azhar dan istrinya kalau datang." Mak mengangguk lagi. Di wajahnya terselip rasa khawatir. "Kau benar-benar punya uang untuk membeli ini, Din?" tanya Mak, setelah beberapa lama mereka hanya diam mengagumi rumah baru itu. Din mengusap-usap punggung ibunya. "Jangan sampai kau pakai uang orang," kata Mak lagi. "Mak tak perlu khawatir." Dan dengan satu kalimat itu, Din kembali ke mobilnya. Matahari mulai menyibak langit, saat Din menstarter kijangnya. Mak memandangnya dari mulut rumah, melambaikan tangan. Din membalasnya dengan senyum lepas dan rindu yang belum selesai. Dia ingin semua tuntas hari ini, dan Mak bisa segera menempati rumah barunya. Dia tak berencana meninggalkan Mak lama. Hanya beberapa jam ke kota untuk membeli perabot baru bagi Mak. Penduduk asli desa nelayan itu, jika masih ada mungkin mengenal sosok lakilaki berumur tiga puluhan yang wajah kerasnya tampak keruh. Sementara kedua matanya menyimpan kabut. Dua hari sejak musibah itu, sosoknya muncul dari arah berlawanan dengan pengungsi. Dan lelaki itu tak beranjak meski lima hari telah berlalu, dan gempa-gempa lain masih kerap menggoyang bumi. Tanpa alas kaki, sosoknya berjalan di wilayah nelayan yang telah rata dengan tanah. Rumah-rumah dan perahu tak tampak lagi. Begitupun deretan rumahrumah bagus yang dulu dibangun beberapa kilometer dari pantai. Semuanya runtuh. Sekarang hanya batang-batang pohon kelapa yang menjulang, diantara

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

serpihan tubuh-tubuh manusia yang mengambang di laut tenang, dan sebagian terserak di pantai. Kedua mata lelaki itu awas mencari-cari sesuatu. Ketika menemukan yang dicarinya, lelaki itu akan mulai bekerja. Setelah selesai dia akan bersimpuh, dengan kepala tertunduk khidmat, berdoa di atas pusara yang digalinya. Setiap hari, tanpa bicara lelaki itu bekerja. Menguburkan setiap jenazah yang dilihatnya langsung dengan tangannya. Tidak seperti relawan lain yang mengangkut semua dengan kendaraan dan menguburkan secara massal. Uniknya lagi, lelaki itu hanya mencari jenazah perempuan. Tak peduli wajahwajah itu kini tampak mirip karena kembung oleh gelombang dan mulai rusak karena waktu. Pun tak berhenti, meski matanya selalu saja gagal mengenali penggal kain yang dikenakan, sebab tak banyak yang masih melekat di badan jenazah. Dia hanya tahu, dia tidak boleh berhenti. Sebab, satu dari mereka, mungkin saja perempuan berkebaya yang melepasnya di pintu rumah. Sungguh, dia tak berencana meninggalkan Mak lama. Hanya beberapa jam ke kota untuk membeli perabot baru. Tapi sesuatu menghalanginya untuk segera kembali. Gelombang besar yang tiba-tiba saja datang.*** RANTI MENDERAS Cerpen: Asma Nadia Sumber: Republika, Edisi 07/07/2002 Pertama kali berdampingan dengannya, aku mencium harum badannya. Wangi, seperti aroma keik di hotel-hotel bintang lima. Mengalir lewat udara membelaibelai setiap hidung pada jejak pertama pintu masuk. Enak dan menggoda.Penampilannya 'baru' dan rapi. Meski terlihat agak canggung, tapi ia berusaha keras menyesuaikan diri. Ia belajar lewat apa yang dipandang, dan didengar. Ia memperhatikan, mengamati, menyimpulkan. Tak semuanya benar, tapi aku menghargai usahanya mencoba. Dulu, mula-mula kemari, tiga tahun yang lalu, aku pun seperti dia. Anak gunung yang turun ke kota besar. Canggung, rikuh, tapi seperti yang lain, cepat terjerat pesona ibu kota.Maka kebun teh di puncak gunung berganti sawah manusia di tiap sudut kota. Matahari dan udara bening pagi yang didominasi aroma daun dan pepohonan bercampur tanah basah, menjadi udara penuh knalpot dan polusi yang lewat ambang batas. Tarian riak sungai dari celah pegunungan menjelma cahaya lampu yang berpendar di perempatan-perempatan jalan.Lalu semua potret desa tiba-tiba tercerabut dari ingatan. Seperti rumput-rumput yang tersabit tukang kebun dengan sekali sentak.“Ya, seperti itu.”Ia terperanjat. Tapi tak menolak pendapatku.“Masa?”Suaranya lemah serupa bisikan. Pandangannya mengkilat seolah tak percaya secepat itu orang akan melupakan kampung halaman.Aku mengangguk mantap. “Tak ada yang tahan godaan ibu kota, teman!”“Panggil saya Ranti.”Ia tak melanjutkan percakapan. Menyoroti orang-orang yang masuk ke tempat kami. Para pelayan menghampiri dengan senyum terlalu ramah, yang akan hilang tak sampai 2 menit. Senyum pelayanan, senyum servis. Senyum, karena kita harus tersenyum, atau mendapat komplain dari pelanggan.Di sampingku Ranti mulai membiasakan diri. Tersenyum. Meski tak banyak orang

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

yang menanggapi. Mereka hanya melirik kami sekilas, lalu cepat memutar pandangan, memilih meja yang nyaman.“Padahal semua meja sama saja.” Keluh Ranti tak mengerti.“Tidak, tidak sama.” Aku tersenyum. Puas karena bisa sekali lagi menempatkan diriku sebagai senior.“Kamu lihat meja yang di tengah itu Ranti?”Ranti mengangguk. Matanya mengarah ke meja tepat di pusat café yang disoroti lampu kristal hingga lebih terang benderang.“Oh, yang diduduki orangorang yang sedang rapat, kan? Mereka pasti teman atau relasi ya?”Aku tak menanggapi. Ranti masih terus memandang. “Yang laki-lakinya gagah, jasnya bagus ya?”Aku mengangguk.“Tapi perempuannya, mereka....”“Ranti... itu bukan sekedar meeting.”“Bukan?”Aku menggeleng.“Itu mungkin lobi-lobi yang dilakukan, dan wanita-wanita cantik itu punya peran. Sering keberhasilan negosiasi bisnis terletak pada kerling mata, atau senyum, bahkan dada mereka.”Ranti tercengang.Satu dua... tiga detik. Aku mengibaskan tangan ke wajahnya.“Hus jangan bengong! Nanti kamu akan terbiasa.”“Maksudmu...”Aku mengangguk, lagi.Si “gadis desa” menyebut nama Gusti Allah berkalikali.“Jangan lupa, kamu sekarang di Jakarta.”Ranti manggut-manggut. “Meja itu memang dipilih oleh orang-orang yang datang beramai-ramai, kamu lihat sofanya bisa diduduki banyak orang.”“Kalau yang itu?” Ranti menoleh ke meja di sisi-sisi ruangan. Cuma ada dua kursi berhadapan di sana. Lampunya lebih redup di bandingkan yang sebelumnya. Tiba-tiba wajahnya cerah, penuh senyum.“Kenapa?”“Saya tidak menyangka. Ternyata di Jakarta masih ada bapak yang tetap memperhatikan anak-anaknya, sekalipun mereka beranjak besar.” Ia meletakkan tangannya pada dada. Terharu.Mataku menerobos pengunjung kafe, cepat menemukan sosok yang dimaksud Ranti. Seorang lelaki setengah baya dengan uban di pelipis-pelipisnya. Sekejap tadi dia tersenyum lebar. Ramah dan kebapakan, mungkin itu yang tertangkap di benak Ranti. “Licik, buaya gak tahu diri!” itu kataku.Ranti terperangah.“Jangan kasar begitu.”Aku terbahak-bahak. Aduh si Ranti ini, naif sekali.“Ran, kamu pikir gadis dengan rok celana jeans ketat, dan kaos gantung itu anaknya?”“Iya, kayaknya anak sekolahan, ya? Mungkin kelas satu es ema, atau tiga esempe.”“Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi aku pasti dia perempuan 'bawaan'!”“Ahh, masa? Kayaknya masih kecil. Lihat tampangnya juga polos. Tidak pakai dandanan macam-macam!”“Pasti! Coba kamu perhatikan lagi.”Dua pasang mata kami terfokus pada pasangan 'bapak dan anak' tadi. Lima menit sebelumnya mereka hanya saling pandang, dan bercakap-cakap. Sekarang pun masih. Tapi tak lagi dengan bahasa lisan, melainkan lewat tangan-tangan yang bertemu. Di bawah meja yang tidak tertutup taplak seluruhnya, dua pasang kaki bertaut. Lelaki dengan wajah kebapakan tadi menggelinjang kegelian.“Ciss!”Ranti menunjukkan wajah muak. Memalingkan wajahnya. Tak sanggup melihat keterusan adegan di depan kami.“Meja itu memang dicari pasangan yang ingin privacy lebih. Contohnya kayak bapak tadi.”“Kamu benar. Rasanya sulit mencari kemurnian tanpa nista di pergaulan malam ibu kota.”“Ya... begitulah.”Lampu-lampu di panggung mulai dinyalakan. Pasangan demi pasangan, sebagian besar anak-anak muda. Sebagian lagi campuran tengah baya-muda, dan ada juga... usia dewasa mengalir dari pintu utama kafe. Seperti pancuran yang tak henti-henti dari hulu sungai. Mengalir dalam gelombang deras, seiring waktu yang melarut.Di atas panggung, seorang penyanyi ibu kota, dengaan dandanan seperti Barbie, rambut disasak tinggi dan

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

terjurai seperti air mancur di taman kota, dan baju yang super sexy, mulai mengalunkan suara. Band di belakang meningkahi dengan beat-beat cepat. Si penyanyi diiringi tiga penari latar dengan baju semi striptease, berjingkrakjingkrak di atas panggung.“Itu penyanyi yang....”“Ya. Yang katanya baru cerai dari suaminya.”“Astaghfirullah, itu di samping panggung, yang menunggui... lelaki yang dikabarkan teman selingkuhnya. Katanya tidak benar?”“Tidak benar gimana? Lihat cara penyanyi itu sebentar-sebentar melangkah ke arahnya dan mendaratkan kecupan di pipi lelaki itu. Lihat caranya menggelayut pada tubuh lelaki itu. Lihat...,” aku menjelaskan panjang lebar. Ranti makin terpana.“Gusti Allah, mereka ciuman! Di depan orang banyak!”Ranti histeris. Aku menepuknepuk punggungnya.“Kalau ibu-ibu di kampung saya melihatnya, bisa pingsan mereka!”“Memang ajaib.”“Padahal katanya lulusan pesantren!” istighfar lagi.“Gak jaminan. Ingat, ini Jakarta, Ranti!”Suasana ruangan kian bising. Lampu-lampu kristal bundar di langit-langit berputar memantulkan kerlap warna warni. Pelayan-pelayan beredar dengan baki di tangan. Sedikit membungkuk saat meletakkan menu di meja. Tersenyum-hilang sebelum dua menit -- lagi. Suara tawa cekikikan terdengar tak normal. Orang-orang menari. Lupa diri.“Eh, lihat pasangan itu! Mereka berbeda! Lihat pakaiannya.”“Ya, sepertinya.”“Maksudmu? Mereka pasti pasangan suami istri yang mungkin sedang merayakan hut pernikahan ke dua puluh mereka.”Aku menatap lelaki dan perempuan, dengan pakaian terhormat di arah jarum jam 5. Sepertinya keduanya tak sempat pulang dari kantor dan langsung kemari.“Tidak.”Ranti terlengak, lalu matanya menggodaku.“Kamu pasti bercanda, kan? Mereka pasti suami istri!”“Tidak. Mereka mungkin suami, tapi suami orang lain. Dan istri, tapi istri dari orang lain.”“Astaga...mereka se...se....”“Selingkuh!” cepat kupotong habis ucapannya, “Yang lelaki sudah sering kemari. Tapi selama dua tahun menjadi langganan di sini, ia sudah berganti pasangan tiga kali.”Ranti melongo.“Dan dia selalu memilih tempat di pojok itu. Kecuali kalau sudah terisi oleh orang lain. Kamu lihat sikap perempuan yang dibawanya? Agak cemas dan hati-hati. Mereka berharap lampu paling temaram mengamankan bayangan mereka dari pandangan orang lain. Itu tempat paling eksklusif!”“Kenapa kamu selalu seperti ini?” Suara Ranti menghembuskan udara kesal.“Seperti bagaimana?”“Penuh prasangka!”“Aku lebih suka kalau ternyata semua memang cuma prasangka burukku!”“Apa kamu selalu seyakin ini?”“Hanya untuk hal-hal yang aku yakini. Percaya deh, Ran... aku sering melihat lelaki itu!”“Mungkin satu dari tiga perempuan yang pernah diajaknya, istrinya.” Desis Ranti lirih.“Mungkin, tapi menurutku tidak. Kalau lelaki mau selingkuh, biasanya ia tak membawa istri ke tempat di mana ia sering bersama wanita lain.”“Di mana istrinya?”“Mana aku tahu. Mungkin di rumah, bergumul sama cucian piring kotor, debu di atas tivi, dan anak-anak yang berantem karena berebut chanel tivi!”“Kasihan.”“Mungkin juga dia selingkuh di tempat lain seperti ini. Haha....”Ranti memandangku dengan raut tak suka. Aku buru-buru mengerem tawa.“Maaf, aku berlebihan, ya?”Ranti mengangguk. Wajah cerah dan harum aroma tubuhnya tiba-tiba sudah berkurang setengahnya. Mungkin tergilas suasana drastis malam di ibu kota.“Saya jadi ingin pulang. Tidak betah. Tapi bagaimana caranya?”Aku menatapnya setengah kasihan. “Tidak bisa. Kamu tahu kamu tidak bisa pulang lagi.”“Kenapa?”“Aduh, Ranti....”“Tapi saya ingin pulang. Saya ingin kembali ke hutan dari mana saya berasal. Saya rindu celoteh

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

jernih anak-anak di pinggiran sungai, juga pegunungan. Di sana hutan-hutan bernyanyi sepanjang hari lewat daunnya yang gemerisik. Saya rindu ibu-ibu berkerudung membawakan shalawat dan yasinan setiap malam Jumat. Suaranya selalu sampai ke tempat saya. Dibawa angin sampai jauh. Saya rindu....”“Ran, tidak bisa! Itu sudah nasib kita.”“Saya tidak mungkin bertahan di sini. Saya bisa mati.”“Eh lupa? Kita kan memang benda mati menurut mereka. Tidak bisa. Kecuali kalau bos menemukan pajangan kayu yang lebih antik lagi dari kamu!”Dan Ranti mulai tersedu-sedu. Terus terisak sepanjang malam, dan esok serta esoknya lagi. Tapi pelitur mengkilat yang menyebarkan bau wangi menahan deras air matanya. ***Depok, 9 April 2002

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

PEREMPUAN Cerpen: Avi Basuki Sumber: Suara Pembaruan, Edisi 11/13/2005 Aku tak sanggup lagi berpaling. Sesekali saja aku bisa memandang ke arah kelam ruangan diterangi lampu kuning redup berpendar pelan, seperti ratusan lilin sayu yang bergoyang ditiup angin. Membuat bayangan tubuh kami seperti sepasang bidadari terbang melayang tak menyentuh lantai kayu yang sudah tak mulus lagi. Aku hanya ingin menenggelamkan kepalaku ke dalam harum rimba rambut hitam berkilau yang berwangi indah itu. Seperti sebuah magnet sedap membuatku melekat dan mendekapnya sangat dekat. Jari-jari lentik dari tangan kanannya kubiarkan bertengger kuat di atas genggaman kiriku, halus seperti sutra, sudah pasti harum seperti rambut panjangnya yang sesekali jatuh di atas hidungku, aromanya seperti sebuah pecut sedap yang menyiksa nikmat. Tangan kirinya aku biarkan tergeletak sengaja di belakang punggungku, sesekali aku bisa merasakannya naik ke atas sampai ke pundak, bergeser ke leher dan membelai rambutku yang terpangkas pendek di bawah topi hitam borsalino yang terus bertengger. Membuat bulu-bulu halus di leher belakangku seperti sebaris rumput alang tertiup angin dingin di sebuah pagi buta berembun. Aku ingin terus memeluknya erat, sangat erat sampai ia tak bisa berlari menjauh lagi. Sangat erat sampai wajahnya terus menempel di sisi kanan pipiku. Sampai aku bisa mendengar dengus nafasnya yang terengah, sampai aku bisa merasakan lekuk seluruh tubuhnya yang bergetar halus, bergerak dan bertumpu. Sampai aku bisa merasakan tubuh kakunya perlahan mencair dan membiarkan aku jadi sanggup membawanya kemanapun aku melangkah. Sampai aku bisa merasakan degup jantungnya yang berdetak semakin keras seperti jam dinding mabuk yang bingung bersuara. Sampai payudara besarnya bertumpu di atas dadaku yang hampir tak berbentuk, rata di balik kutang seadanya di bawah kemeja putih baju laki-laki yang membuatku merasa jantan melangkah tegap di atas sepatu dansa licin mengkilap yang tak henti bergeser. Aku ingin memilikinya, aku ingin ia tak pergi, aku ingin jadi laki-laki yang bisa membawanya pulang nanti malam. Aku ingin tak jadi perempuan hari itu dan aku ingin ia tahu. "Aku tak ingin berdansa dengan wanita," kataku setengah merajuk, Cico memandangku putus asa. Aku memandangnya dengan tajam. Matanya seakan merengek supaya aku bisa memaafkannya, paling tidak untuk kali ini. "Cico, sudah berapa kelas aku harus antri untuk bisa berdansa dengan seorang laki-laki dan kini kau memintaku untuk jadi laki-laki?" kataku lagi, setengah berbisik, takut kalau murid yang lain mendengar. "Tolonglah, kali ini saja," katanya lagi, wajahnya begitu dekat di telingaku, bisikannya seperti setengah menangis. Aku mendengus, sangat lemah. Aku tak pernah bisa bilang tidak pada laki-laki yang sedih. Laki-laki, gumamku dalam hati. Sebuah rasa pedih seperti mengiris perlahan di bawah payudaraku. Perih seperti sebuah luka terbuka yang tertetes jeruk lemon. Aku mencoba memandangnya lagi tapi ia sudah beranjak pergi, terlihat berdebat gembira dengan sepasang penari yang sedang berlatih. Aku melihat mereka berdansa, begitu harmonis dan tampak bahagia. Aku

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

mendengus lagi dan perlahan mencoba berdiri dan mendekat ke arah seorang perempuan sendiri. "Mau coba denganku?" tanyaku sopan, berusaha tersenyum semanis mungkin. Gadis itu memandangku dengan tanda tanya besar, matanya yang hampirhampir bundar seperti dua bola ping pong dengan bulatan lebih kecil berwarna biru. Ia kemudian tersenyum, gigi-gigi mungilnya tampak putih teratur berbaris rapi di dalam bibirnya yang bergincu mengkilat berwarna merah jambu. Ia mengangguk dan meraih tanganku yang sudah terulur. Jari-jemarinya begitu mungil berkuku panjang, seperti tubuhnya yang terasa begitu tipis seakan hendak melayang. Aku membawanya ke dalam dekapanku yang canggung. "Maaf, aku belum pernah jadi laki-laki," kataku setengah malu, mencoba mengingat langkah-langkah yang baru saja diperagakan Cico. Gadis itu tersenyum lagi, wajahnya terasa begitu dekat, nafasnya yang hangat menghembus perlahan di pipi. "Tak mudah jadi laki-laki," kataku lagi, meminta maaf entah untuk yang ke berapa kalinya. Berharap supaya ia tak bosan ketika aku salah langkah. "Jangan khawatir, kita bisa coba lagi," ia berkata sambil memandangku, manis. Aku tersenyum tipis. Aku mencoba memeluknya lebih erat, seperti yang biasa dilakukan Cico dan penari laki-laki yang lain. Tubuhnya terasa tipis, hanya bulatan payudaranya saja yang terasa lunak di dadaku. Hangat. Aku tersenyum sendiri. Tangan kananku memeluk punggungnya, aku bisa merasakan seluruh lekuk tubuhnya. "Maaf," kataku lagi setengah berbisik, ketika sekali lagi aku salah langkah. "Kau harus lebih tenang," serunya berbisik di dalam telingaku, napasnya hangat berhembus perlahan, membuat rambutku seperti jadi setengah berdiri dan tubuhku bergetar sejenak. Pelukkannya jadi serasa lebih erat, wajahnya melekat di atas pipi kananku, aku bisa merasakan bulu matanya menutup, matanya terpejam, seperti yang biasa aku lakukan jika aku berdansa dengan seorang laki-laki yang mahir. Sesekali aku rasakan bibirnya bergesek dengan telingaku. Tubuhku terasa bergetar lagi. Aku mulai melangkah benar. Pagi sudah jadi siang namun mataku masih saja tak cerah. Aku memandang keluar jendela apartemen melihat ke arah langit kelabu yang seperti jadi langganan di setiap musim gugur yang gemar berkabut. Kopi di cangkirku masih setengah, pahit, dan tak lezat. Aku biarkan ia bertengger di atas kedua tanganku menjadi dingin dan tak nikmat untuk di minum lagi. Seperti sebuah cinta yang berakhir. Seperti tadi malam. Seperti setiap kisah cintaku yang selalu kandas dan tak pernah berlayar penuh, membiarkanku kembali ke sebuah titik pertama di mana aku berawal, di sebuah kesendirian yang sendu yang selalu membuat hatiku perih. "Bagaimana mungkin kau tak mencintaiku lagi?" tanyaku perih, rumah makan itu remang kekuningan, di atas meja kami sebuah lilin mungil berpendar lemah, hampir habis seluruhnya terbakar. Matanya seperti berlari dari pertanyaanku. Aku terus mencarinya, aku ingin masuk dan menikamnya tajam. Ia mendengus perlahan, seperti tak ingin menjawab pertanyaanku. Aku putus asa dan tak mencarinya lagi. Beberapa pasangan lain tampak duduk di meja-meja di

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

seberang, kebanyakan saling memandang, berpegangan tangan. Mataku perih. Dulu kami seperti itu, pikirku dalam hati. "Cinta berakhir," katanya tiba-tiba, mengejutkanku dari sebuah lamunan picisan. Aku memandangnya, matanya berada di tempat di mana aku mudah menerkam. Tapi aku tak ingin menusuknya lagi. Aku hanya ingin menangis dan pergi. Berharap kalau saat ini tidak pernah terjadi. Aku memandangnya. "Cinta tidak pernah berakhir, hanya berubah," aku berusaha berkata, di tengah sungguk tangisku yang tak lancar. Matanya seperti dua buah tanda tanya besar. Aku beranjak berdiri dan pergi meninggalkannya sendiri. Aku juga tak ingin menyelesaikan perubahan itu. Mataku lelah dan tubuhku penat. Kakiku membawaku untuk segera tidur. Pemandangan di luar jendela masih saja sama. Lalu lintas jalan di bawah belum ramai berjalan. Di hari Minggu seperti ini biasanya tak banyak yang lalu. Kopi itu sudah dingin dan aku beranjak menuju dapur ketika telpon genggamku berdering keras. "Rita?" seru suara seorang wanita di seberang. Aku tak mengenal nomornya. "Ya?" jawabku bertanya. "Hai, aku Yvonne, kau ingat?" "Ya?" jawabku tak jelas. "Partner dansamu di kelas." Dadaku berdegup kencang, mencoba mengingat gadis bermata bundar yang sudah beberapa minggu ini berdansa denganku. Bibirku tersenyum tipis. "Kau pergi ke milonga nanti malam?" "Ya?" Seluruh koleksi kosa kataku seakan hilang tertelan angin musim gugur yang terdengar bertiup menimpa jendela. "Ok, sampai ketemu nanti malam!" "Ya." Aku tak tahu gaun apa yang harus aku kenakan. Malam itu Yvonne bergaun hitam. Tipis dan menerawang, membuat bagian bawah kakinya terlihat di bawah sinar lampu. Atasannya mungil bertali spaghetti, membuat dadanya seperti mencuat bak dua buah bulat yang menunggu di petik. Aku mengelus dadaku sendiri, rata dan tak bergairah. Aku melambaikan tanganku ke arahnya di kejauhan, di antara lautan manusia yang berdansa dan berpelukan. Setengah berlari ia datang menghampiri. Seperti seekor gazelle lincah di atas sepatu tali temali berhak tinggi. Wajahnya cerah dengan sebuah korsase merah besar mengikat di lehernya. Ia seperti sekuntum bunga mawar. Sebuah peluk dan cium mesra segera menghampiriku. Aroma tubuhnya sedap. Aku berusaha menghirupnya sedapat mungkin. Takut kalaukalau ia segera hilang. "Dansa denganku?" tanyanya lucu. Aku mengangguk. Aku ingin berdansa dengannya sepanjang malam. Paling tidak sampai malam ini berakhir. Sampai sedihku tak hadir. Sampai esok. Sampai semuanya berubah lagi. Mungkin.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

KESEDIHAN Cerpen: Chekov, Anton Pavlowich Sumber: Kompas, Edisi 07/21/2002 KERAMAIAN senja. Salju basah yang lebat dengan malas terbang mengitari nyala lentera yang baru saja dinyalakan, dan perlahan-lahan hinggap dengan lembut pada atap, punggung kuda, pundak dan topi-topi. Iona Potapov, sang kusir, telah lama memutih karenanya. Ia bertekuk-sejauh mana badan makhluk hidup bisa melakukannya- duduk di atas kursi kereta dan tak bergerak. Tumpukan salju telah menimbuninya. Walaupun demikian pada saat itu seakan-akan ia tidak menemukan alasan untuk mengibaskan salju dari dirinya....Kuda betinanya juga memutih dan bergeming. Dengan bentuk-bentuk kaki yang ceking dan kaku, dia mirip permen jahe. Sang kuda barangkali tenggelam dalam pikirannya. Kuda mana pun-yang dipisahkan dari weluku, dari lukisan-lukisan alam nan biru, kemudian terbuang pada jeram yang dipenuhi dengan nyala api yang mengerikan, gemerisik yang bising dan hiruk-pikuk manusia-maka mau tak mau akan berpikir. Iona dan kuda betinanya sudah lama tak beranjak dari tempat. Mereka hanya keluar dari terminal pada waktu makan siang, dan selanjutnya tidak. Sesaat, kegelapan malam datang menghampiri kota. Api lentera yang pucat meredupkan warna-warna cat yang hidup. Kegaduhan jalanan pun mulai ramai. "Kusir, ke Viborskaya," terdengar oleh Iona. "Kusir!" Iona terkejut. Melalui bulu matanya yang dipenuhi oleh salju ia melihat seorang opsir tentara memakai mantel berkudung. "Ke Viborskaya!"ulang sang opsir. "Ah, kamu tidur ya? Ke Viborskaya!" Sebagai tanda setuju Iona menggerakkan tali kekang. Lapisan salju berhamburan dari punggung kuda. Sang opsir duduk di kursi penumpang. Iona mendecak, menggelengkan kepala, sedikit bangkit dan seterusnya seperti kebiasaan para kusir (bukan karena keperluan), ia mencambuk kudanya. Si kuda betina menggerakkan leher, menyerongkan kakinya yang kaku dan dengan enggan bergerak dari tempatnya tadi. "Hai, mau kemana kau, bangsat!" terdengar oleh Iona teriakan orang-orang yang berlalu lalang di samping dan di depan dalam kegelapan. "Rupanya setan telah membawamu! Yang benar dong!" "Kamu tak becus mengendalikan kuda rupanya! Ke sebelah kanan!" Sang Opsir marah. Seorang kusir pedati menyumpahi Iona, sedang seorang pejalan kaki yang bahunya terendus moncong kuda, menatap marah sambil menyeka salju dari tangannya. Iona duduk gelisah di pojok tempat duduknya seakan mau jatuh. Ia menyentakkan sikut dan memalingkan mata seolah-olah tidak mengerti mengapa dan buat apa berada di sana. "Mereka bajingan!" kata sang Opsir. "Toh mereka tinggal menghindar bertabrakan dengan keretamu atau mereka jatuh ke bawah kaki kuda. Mereka tentunya tahu hal itu." Iona melirik penumpangnya dan menggerakkan bibirnya... tampaknya dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi dari kerongkongnya tak sepatah katapun keluar, kecuali hanya desisan. "Ada apa?" tanya sang Opsir. Iona berpaling dan dengan senyuman yang pahit ia menegangkan tenggorokannya dan mengerang: "Anak saya... Anak saya meninggal... minggu ini." "Hmmm... mati karena apa?" Iona memalingkan seluruh tubuhnya pada si penumpang seraya berkata: "Siapa yang tahu hal itu! Ia demam.... tiga hari dirawat di rumah sakit dan kemudian meninggal.... Begitulah Kehendak Tuhan!" "Belok goblok!" terdengar dalam kegelapan. "Kamu linglung, anjing tua?

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Pakai matamu!" Iona kembali menjulurkan leher, sedikit bangkit dan mengibaskan cambuk dengan gemulai dan berat. Beberapa saat kemudian ia menoleh pada penumpang, tetapi kali ini Sang Opsir memejamkan mata dan tampaknya ia tidak bersimpati untuk mendengarkan. Setelah menurunkan penumpang di Viborsaya, Iona berhenti di depan restoran dan lagi-lagi salju yang basah mengecat putih Iona dan kudanya. Satu jam berlalu, dua jam.... Tiga orang laki-laki, dua di antaranya tinggi dan kurus, seorang lagi kecil dan bungkuk datang menghampiri dengan suara langkah yang keras pada trotoar. "Kusir, ke jembatan Poliskaya!" teriak Si Bungkuk dengan suara yang geram. "Kami bertiga... dua puluh kopek*!" Iona menarik cambuk dan memukulkannya pada kuda. Dua puluh kopek... harga yang tidak seimbang.... Tetapi harga tidak menjadi masalah... satu rubel**, lima kopek... baginya sama saja... Yang penting ada penumpang. Orang-orang muda ini sambil saling dorong dan menyumpah, naik ke kereta. Ketiganya langsung menjatuhkan diri ke kursi kereta. Timbul sebuah pertanyaan: siapa dua orang dari mereka yang harus duduk dan siapa yang harus berdiri? Setelah perang mulut, tingkah polah dan omelan yang panjang, mereka sampai pada keputusan yaitu: karena yang paling kecil adalah Si Bungkuk, maka ia lah yang harus berdiri. "Baik, ayo maju!" Kata Si Bungkuk parau, sambil mencari posisi yang enak dan menghembuskan napas pada leher Iona. "Cambuk! A ha... Kawan topi apa ini? Dicari di seluruh Petersburg pun tak akan ada yang sejelek ini." "Ha... ha... Ha..." Iona tertawa. "Ada kok..." "Ya, ada, ayo cepat! Begini caramu mengendalikan kuda sepanjang jalan? Hai? Mau kupukul lehermu?" "Kepalaku sakit..." kata salah seorang yang jangkung. "Kemarin di rumah Duhmasov, saya dan Vaska minum empat botol brendi." "Aku tak mengerti, buat apa kau berdusta," kata Si Jangkung yang lain dengan marah. "Dia bohong seperti binatang." "Demi Tuhan, betul kok...." "Ya betul, sebetul kutu batuk!" "He... he... he..." Iona tersenyum lebar. "Tuan-tuan yang berbahagia!" "Cuih, demi setan!" Si Bungkuk menyela. "Kau akan berangkat atau tidak, tua bangka? Begini caramu membawa kereta? Cambuk kudamu! Demi setan! Kendalikan dengan benar!" Iona merasakan badan gelisah dan suara parau Si Bungkuk di balik punggungnya. Dia mendengar pula cacian orang-orang. Sedikit-demi sedikit kesepian yang membanjiri dadanya reda. Si Bungkuk terus menyumpah dengan enam tingkat sumpah serapah sampai tak bisa lagi menyumpah dan batuk. Teman-temannya yang jangkung mulai membicarakan Nadezda Petrovna. Iona menoleh pada mereka. Setelah menunggu sedikit jeda, ia menoleh lagi dan berkomat-kamit: "Anak saya... Anak saya minggu ini... meninggal". "Kita semua akan mati," Si Bungkuk menarik napas, setelah menyeka bibirnya sehabis batuk. "Ayo Cepat! Tuan-tuan, aku tak tahan lagi merayap seperti ini! Kapan dia akan mengantarkan kita ke tujuan?" "Kalau begitu... beri dia sedikit semangat di lehernya?" "Tua bangka! Kau dengar itu? Baik! Kan kusentil lehermu! Pergi ke pesta dengan orang sepertimu, rasanya lebih baik jalan kaki! Kau dengar, ular kadut? Atau kau tak peduli dengan kata-kata kami?" Iona sebenarnya mendengar lebih dari sekadar suara hantaman di kuduknya. "Ha... ha... ha..." Iona tertawa. "Tuan-tuan yang berbahagia... semoga Tuhan memberkati Anda!" "Kusir, kau telah kawin?" tanya Si Jangkung. "Saya? Ha... ha... ha... satu-satunya istri saya sekarang ada di tanah yang lembab... He... he... he... kuburan! Anak saya pun meninggal... Hal yang aneh. Kematian memasuki pintu yang salah. Seharusnya dia

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

menjemputku, eh malah dia datang pada anak saya..." Dan Iona berpaling untuk menceritakan bagaimana anaknya meninggal, tetapi pada saat itu Si Bungkuk memberi tanda bahwa 'Puji Tuhan', akhirnya mereka sampai. Setelah menerima 20 kopek, Iona menatap hampa pada para tukang pesta itu, yang kemudian menghilang ke balik pintu gerbang yang gelap. Kembali Iona menyendiri dan kembali kesepian menghampirinya. Kesedihan yang beberapa saat lalu mereka muncul lagi dan membanjiri dadanya dengan kekuatan yang lebih besar. Mata Iona menerawang dengan sedih dan penuh harap pada kerumunan yang berlalu lalang di kedua sisi jalan: tak dapatkah ia menemukan satu dari ribuan orang ini yang mau mendengarkannya? Akan tetapi, gerombolan orang ini berlalu tanpa ada yang peduli, baik pada dirinya maupun pada kesedihan itu. Kemasygulan hati Iona tumpah ruah seakan-akan hendak membanjiri dunia, tetapi belum terlihat. Sang kemalangan sanggup bersembunyi pada sel yang sangat kecil, sehingga pada saat terang sekalipun tak ada yang mampu melihatnya.... Iona melihat penjaga rumah yang membawa karung, dan memutuskan untuk bicara dengannya. "Kawan, jam berapa ini?" tanya Iona. "Hampir jam sepuluh... Kenapa kau berhenti di sini? Ayo pergi sana!" Iona maju beberapa langkah, bertekuk dan menyerah pada duka lara. Menunjukkan pada orang-orang dia pikir sudah tidak ada gunanya. Belum juga lima menit berlalu, ia sudah meluruskan badan dan menggelengkan kepala seolah ia menderita sakit yang parah. Ia mengibaskan pecutnya.... Dan tak kuasa menahan hal ini lebih lama lagi. "Kembali ke terminal!" pikirnya. "Ya, ke terminal." Dan kuda betina kecilnya seakan-akan mengerti pikiran Iona, ia mulai berlari kecil. Satu setengah jam kemudian Iona sudah duduk di dekat perapian besar yang kotor. Di lantai, di atas bangku-bangku orang-orang mendengkur. Udara pengap dan bau. Iona melihat pada orang-orang ini. Ia menggaruk-garuk kepala dan menyesal mengapa pulang terlalu cepat.... "Buat dedak saja sudah tak cukup," pikirnya. "Itu sebabnya aku sedih. Manusia yang tahu betul bagaimana seharusnya ia bekerja... yang sanggup mencukupi makanannya, dan makanan kudanya, selalu hidup lebih tenang." Di salah satu sudut, seorang kusir muda terbangun, tenggorokannya mengorok dan ia menjangkau ember air. "Mau minum?" "Begitulah." "Minumlah... demi kesehatanmu.... Anakku.. anakku meninggal minggu ini... kau dengar... di rumah sakit... Begitu ceritanya!" Iona menatap untuk melihat efek apa yang ditimbulkan dari kata-katanya. Tetapi ia tak melihat apa pun. Si pemuda telah menutupi kepalanya dan kembali tertidur. Sebesar rasa haus pemuda itu, sebesar itu pula keinginan Iona untuk berbicara. Seminggu akan segera berlalu sejak kematian anaknya dan dia masih belum dapat membicarakannya dengan siapa pun.... Ia ingin membicarakannya dengan serius, dan tersusun... Iona ingin menceritakan bagaimana anaknya terjangkit penyakit, bagaimana anaknya menderita, apa yang dikatakan sebelum anaknya meninggal, bagaimana anaknya meninggal... Iona ingin memaparkan dengan jelas dan tersusun bagaimana ia harus mendaftarkan penguburan dan bagaimana ia berlari ke rumah sakit untuk mengambil pakaian mendiang. Ia masih mempunyai seorang putri, Anisya, di desa... Ya, timbul hasrat untuk menceritakan hal ini, juga padanya. Sang pendengar akan mengaduh, menarik napas, meratap. Makanya harus bicara pada seorang wanita. Walaupun mereka makhluk yang menyedihkan, tetapi mereka selalu meraung sejak dua kata pertama. "Ah lebih baik melihat kuda," pikir Iona. "Selalu ada waktu untuk

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

tidur... Kau akan tidur nyenyak, tak ada yang perlu ditakuti..." Iona memakai mantelnya dan pergi ke istal tempat kuda betinanya berdiri. Dia berpikir tentang dedak, jerami, cuaca... Dia tak mampu berpikir lagi tentang anaknya, ketika sendirian begini. Membicarakannya dengan seseorang mungkin dia mampu, tetapi memikirkan dan menggambarkan anaknya.. sungguh sesuatu yang sangat mengerikan.... "Kamu masih makan?" Iona bertanya pada kuda, sambil menatap matanya yang bercahaya. "Ayo terus kunyah. Sejak kita tak cukup uang untuk membeli dedak, kita hanya makan jerami. Ya... Aku terlalu tua untuk jadi kusir... Mestinya anakku lah yang menjadi kusir, kusirmu sekarang... bukan aku, ... Mestinya dia masih hidup." Iona terdiam sejenak, kemudian melanjutkan: "Begitulah... Kuzma Ionitc telah pergi... dia mengucapkan selamat tinggal padaku. Dia pergi tanpa alasan.... Bayangkan, seandainya kamu punya anak, dan kamu adalah ibu kandungnya... kemudian anakmu mati... Kau juga akan sedih bukan?" Kuda betinanya yang kecil tetap memamah biak, mendengarkan, dan mengendus tangan sang majikan. Iona terhanyut dan menceritakan semua itu padanya. * Diterjemahkan oleh Trisna Gumilar dari bahasa aslinya, 'Toska'. Diambil dari buku kumpulan cerpen: A.P. Chekov-Raskazy I Povesty, hal: 56-60. Terbitan: Izdatelstvo Detskaya Literatura, Moskwa, 1964.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

AIR Cerpen: Djenar Maesa Ayu Sumber: Kompas, Edisi 06/25/2006 Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket, liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. Menerima. Membuahinya. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Rasa mual merajalela. Pun mulai membukit perut saya. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya, sudah satu bulan setengah usia janinnya. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda," kata ayahnya. Saya akan menjaganya. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Terus menyeruak dan mendarat lengket, liat, di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah muda. Ketuban sudah pecah. Rasa takut seketika membuncah. Tapi segera mentah berganti dengan haru memanah. Sembilan bulan sudah. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. Tidak mengambil cuti, mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. Tapi… "Kami mengerti, tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil," kata supervisor saya. Saya akan menjaganya. Air ketuban sudah hampir kering. Baru pembukaan delapan, masih harus menunggu dua pembukaan lagi. Harus operasi. Tapi saya ngotot persalinan alami. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. Dan jika operasi, saya khawatir tidak bisa langsung mengurusnya sendiri. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. Membayar pembantu, apalagi suster, jelas belum mapan. Materi yang ada, belum cukup untuk hidup sebagai majikan. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking. Kepala saya pening. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin. Tapi saya berkata dengan yakin. "Robek saja, Dok. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya." Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. Suara tangisnya seisi ruangan melengking. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. Mengecup kedua matanya yang masih lengket. Masih tak percaya. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di dalam rahim saya. Masih tak percaya. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. Lantas suster membawanya. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. Saya ingin protes, tapi tak bisa. Saya hanya bisa berjanji dalam hati, setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami lagi, ketika suster itu berkata, "Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. Sekarang kami akan membawanya ke kamar bayi." Saya akan menjaganya. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. Suster yang sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. Lucu, sekarang ke dua payudara kecil ini

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

pun gemuk membungkah seperti kelapa. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. Di mana makhluk mungil itu? Saya begitu tak sabar menunggu. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya menyusu. Saya sudah tidak butuh rehat. Air susu saya sudah sarat. Payudara sudah terasa berat. "Benar Ibu sudah siap?" Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya, tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. Cukup lama saya harus menenangkannya. Berusaha memberikan pengertian. Berusaha memberikan rasa aman. Dan harapan. Harapan akan segera pulang. Harapan akan segera pulang membawa uang. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. Jika saat itu tiba, kami akan menjelajah dunia. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. Kalau perlu, kalau ia mau, saya akan membeli rumah berikut taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Membeli apa pun yang ia inginkan semudah orang membuang kentut. Tapi tidak mudah memberikan sejuta harapan. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. Hanya cukup untuk makan sekadar, membayar listrik, air, telepon, kontrakan, dan sekolah yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Dan saya tetap akan pergi. Tetap akan pulang. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. Tetap menunggu saya pulang. Saya tetap akan pergi. Tetap akan pulang. Ia membiarkan saya pergi. Tak menunggu saya pulang. "Capek ah nunggu, aku udah mau tidur!" semprotnya. Saya akan menjaganya. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. Sudah jam delapan. Baru akan dimulai merekam adegan. Saya harus segera menghayati peran. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. Padahal saya sudah begitu ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Melayang seperti burung tanpa harus terhambat kemacetan. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. Lampaui semua beban. Lampaui semua luka dan penderitaan. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir sebagai manusia yang merasa disia-siakan. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. Tak bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. "Action!" teriak sutradara. Saya akan menjaganya. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya, kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. Di gelas itu berdiri

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

sebotol bir merek bintang. Entah disengaja untuk menarik perhatian. Entah ia sudah teler dan lupa menyimpan. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. Tapi lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia tertidur dengan amat tenang. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. Saya kecup kedua matanya yang merapat, persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. Tapi ia menggeliat. Lantas meronta, menghalau saya supaya tak dekat-dekat. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. "Bangsaaaaaaaat!" Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. Ada cahaya di ujung lorong, igau saya. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya kemilau dengan tangan terbuka. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. Saya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Ada kegelapan, igau saya. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan luka. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. Menunggu. Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum menyerahkan untuknya menyusu. Menunggu. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Menunggu. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. Menunggu. Seperti sekarang saya menunggu emosi saya pergi. Menunggu kesadaran saya kembali. Menunggu. Seperti saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Satu saat nanti ia kembali. Saya kembali ke kamarnya. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang sudah kembali pulas tidur. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Pelan-pelan saya ambil dan buka. Ada puisi di dalamnya. Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

WAKTU NAYLA Cerpen: Djenar Maesa Ayu Sumber: Kompas, Edisi 03/31/2002 NAYLA melirik arloji di tangan kanannya. Baru jam lima petang. Namun, langit begitu hitam. Matahari sudah lama tenggelam. Ia menjadi muram seperti cahaya bulan yang bersinar suram. Hatinya dirundung kecemasan. Apakah jam tangannya mati? Lalu jam berapa sebenarnya sekarang? Nayla memeriksa jam di mobilnya. Juga jam lima petang. Jam pada ponselnya pun menunjukkan jam lima petang. Ia memijit nomor satu nol tiga. Terdengar suara operator dari seberang, "Waktu menunjukkan pukul tujuh belas, nol menit, dan dua puluh tiga detik." Lalu manakah yang lebih benar. Penunjuk waktu atau gejala alam? Nayla menambah kecepatan laju mobilnya. Kemudi di tangannya terasa licin dan lembab akibat telapak tangannya yang mulai basah berkeringat. Ia harus menemukan seseorang untuk memberinya informasi waktu yang tepat. Tapi jika Nayla berhenti dan bertanya, berarti ia akan kehilangan waktu. Sementara masih begitu jauh jarak yang harus dilampaui untuk mencapai tujuan. Nayla sangat tidak ingin kehilangan waktu. Seperti juga ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melakukan banyak hal yang belum sempat ia kerjakan. Namun Nayla pada akhirnya menyerah. Ia menepi dekat segerombolan anakanak muda yang sedang nongkrong di depan warung rokok dan menanyakan jam kepada mereka. Tapi seperti yang sudah Nayla ramalkan sebelumnya, jawaban dari mereka adalah sama, jam lima petang. Hanya ada sedikit perbedaan pada menit. Ada yang mengatakan jam lima lewat lima, jam lima lewat tiga, dan jam lima lewat tujuh. Nayla semakin menyesal telah membuang waktu untuk sebuah pertanyaan konyol yang sudah ia yakini jawabannya, yaitu jam lima petang. Berarti benar ia masih punya banyak waktu. Sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah menjadi abu. ***ENTAH kapan persisnya Nayla mulai tidak bersahabat dengan waktu. Waktu bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti dan mengintai dalam kegelapan. Siap menghunuskan pisau ke dadanya yang berdebar. Debaran yang sudah pernah ia lupakan rasanya. Debaran yang satu tahun lalu menyapanya dan mengulurkan persahabatan abadi, hampir abadi, sampai ketika sang pembunuh tiba-tiba muncul dengan sebilah belati. Sebelumnya Nayla begitu akrab dengan waktu. Ketika cincin melingkar agung di jari manisnya. Ketika tendangan halus menghentak dinding perutnya. Menyusui. Memandikan bayi. Bercinta malam hari. Menyiapkan sarapan pagipagi sekali. Rekreasi. Mengantar anak ke sekolah. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Memarahi pembantu. Membuka album foto yang berdebu. Mengiris wortel. Pergi ke dokter. Menelepon teman-teman. Berdoa di dalam kegelapan. Doa syukur atas kehidupan yang nyaris sempurna. Kehidupan yang selama ini ia idam-idamkan. Kala itu, waktu adalah pelengkap, sebuah sarana. Mempermudah kegiatannya sehari-hari. Menuntunnya menjadi roda kebahagiaan keluarga. Mengingatkan kapan saatnya menabur bunga di makam orang tua, kakek, nenek dan leluhur. Membeli hadiah Natal, ulang tahun dan hari kasih sayang. Mengirim pesan sms kepada si pencari nafkah supaya tidak terlambat makan. Memperkirakan lauk apa yang lebih mudah dimasak supaya tidak terlambat menjemput anak di tempat les. Bercinta berdasarkan sistem

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

kalender, kapan sperma baik untuk dimasukkan dan kapan lebih baik dikeluarkan di luar. Waktu bukanlah sesuatu yang patut diresahkan. Karena waktu yang berjalan, hanyalah roda yang berputar tiga ribu enam ratus detik kali dua puluh empat jam. Gerakan mekanis rutinitas kehidupan. Menggelinding di atas jalan bebas hambatan. Sementara banyak yang sudah terlupakan. Suara mesin tik membahana dalam kamar yang lengang. Riuh rendah suara karyawan di kafetaria gedung perkantoran. Ngeceng di Plaza Senayan. Mengeluh bersama sahabat tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Menampar pipi laki-laki kurang ajar di diskotek. Menghapus air mata yang menitik. Melamun. Membaca stensilan. Makan nasi goreng kambing ramairamai dalam mobil di pinggir jalan. Masak Indomie rebus rasa kari ayam. Menatap matahari terbenam. Nonton Formula One atau Piala Dunia di Sports Bar. Menatap mata kekasih dengan berbinar-binar. Bersentuhan tangan ketika memasangkan celemek di paha kekasih dengan tangan bergetar. Menanti dering telepon dengan hati berdebar. Memilih kartu ucapan rindu yang tidak terlalu norak tanpa lebih dulu menunggu hari besar datang dengan dada berdebar. Memilih baju terbaik setiap ada janji dengan pacar dengan jantung berdebar. Menanti pujian dengan rasa berdebar. Bercinta dengan rasa, jantung, dada, hati, tangan, kaki, payudara, vagina, leher, punggung, ketiak, mata, hidung, mulut, pipi, raga, berdebar. Yang terlupakan adalah waktu yang mengalir dalam lautan debar, samudera getar, cakrawala harapan. ***MUNGKIN Nayla tidak bermaksud dengan sengaja melupakan, ia hanya tidak sadar. Ia hanya pingsan keletihan dan belum jua siuman. Ia hanya terhipnotis bandul jam yang bergerak kiri kanan dan berdetak dalam keteraturan. Membuat raganya beku. Lidahnya kelu. Hatinya membatu. Imajinasinya buntu. Kadang dalam tidur imajinasinya memberontak terbang. Mengepakkan sayap bersama dengan burung-burung dan kupu-kupu. Mengendarai ikan paus di samudera lepas. Bungy jumping. Arung jeram. Baca komik Petualangan Tintin. Minum teh di atas awan sambil diskusi tentang cerpen Anton Chekov dengan almarhum ayah dan bertanya mana yang lebih mahal antara berlian dengan Fancy Diamond kepada almarhumah ibu. Menjadi Arnold Schwarzeneger dan menggagalkan aksi teroris yang hendak menabrakkan pesawat ke gedung World Trade Center. Menelan biji durian. Makan rambutan. Nonton Cirque du Soleil. Nonton N'SYNC dan dipanggil ke atas panggung untuk diberi kecupan oleh Justin Timberlake. Bertinju dengan Moehammad Ali. Mengalahkan Michael Jordan. Merebut suami Victoria Beckham. Mengedit karya Gabrielle Garcia Marques. Minum sirup markisa. Baca puisi bareng Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Diculik UFO. Punya toko buku kecil di Taman Ismail Marzuki. Melaju kencang ke pusat getaran yang mendebarkan. Tapi mimpi juga terbatas waktu. Debaran itu mendadak buyar ketika terdengar suara ketukan pembantu di pintu luar kamar. Suara kokok ayam jantan. Kicau burung. Kemilau sinar matahari menerobos jendela. Dan suara alarm jam ketika jarum panjangnya menunjuk angka dua belas dan jarum pendeknya menunjuk angka enam. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang menyampaikan bahwa sudah terdeteksi sejenis kanker ganas pada ovariumnya. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang memvonis umur Nayla hanya akan bertahan maksimal satu tahun ke depan. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

untuk sembuh. Suara alarm itu, adalah suara yang menyadarkannya kembali dari pengaruh hipnotis bandul waktu masa lalu, masa kini dan masa depan. ***MANUSIA sudah menerima hukuman mati tanpa pernah tahu kapan hukuman ini akan dilaksanakan. Karena itu Nayla tidak tahu mana yang lebih layak, merasa terancam atau bersyukur. Di satu sisi ia sudah tidak perlu lagi bertanya-tanya kapan eksekusi akan dilaksanakan. Tapi apakah setahun yang dokter maksudkan adalah 12 bulan, 52 minggu dan 365 hari dari sekarang? Bagaimana kalau satu tahun dimulai dari ketika kanker itu baru tumbuh. Atau satu minggu sebelum Nayla datang ke dokter. Atau mungkin benar-benar pada detik ketika dokter itu mengatakan satu tahun. Lalu berapa lamakah waktu sudah terbuang? Dari manakah Nayla harus mulai berhitung? Mata Nayla berkunang-kunang. Perutnya mulai terasa sakit seiring dengan bunyi dari segala bunyi jam, berdetak keras memekakkan telinganya. Satu, sepuluh, seratus, seribu, sepuluh ribu, seratus ribu, sejuta detik mengejar dan mengepung pendengarannya ke mana pun Nayla melangkah. Memaksa mata Nayla menyaksikan lalu lalang kaki-kaki bergegas, suara klakson dari pengendara yang tak sabaran, lonceng tanda masuk sekolah, jutaan tangan karyawan memasukkan kartu ke dalam mesin absen, aksi dorong mendorong masuk ke dalam bus, tubuh-tubuh meringkuk di atas atap kereta api, semua orang tidak mau ketinggalan. Semua orang harus tepat waktu sampai di tujuan. Semua orang tidak lagi punya kesempatan, untuk sekadar berhenti memandang embun sebelum menitik ke tanah. Matahari yang bersinar tidak terlalu cerah. Awan berbentuk mutiara, semar atau gajah. Kelopak bunga mulai merekah. Kaki anjing pincang sebelah. Semut terinjak-injak hingga lebur dengan tanah. Padi menguning di sawah. Burung bercinta di atas rumah. Semua orang melangkah bagai tidak menjejak tanah. Sejak saat itu, alarm Nayla tidak pernah berhenti berbunyi. ***NAYLA ingin menunda waktu. Nayla ingin mengulur siang hingga tidak kunjung tiba malam. Nayla ingin merampas bulan supaya matahari selalu bersinar. Nayla ingin menghantamkan palu ke arah jam hingga suara alarmnya bungkam. Nayla ingin menunda kematian. Tapi Nayla selalu terlambat. Nayla selalu berada di pihak yang lemah dan kalah akan rutinitas yang tak mau menyerah. Dan ia mulai merasa kewajibannya sebagai beban. Ia mulai cemburu pada orang-orang yang masih dapat berjalan santai sambil berpegangan tangan. Atau orang-orang yang berjemur di tepi kolam renang sambil membaca koran. Ketika, ia tergesa-gesa menyiapkan air hangat, sarapan dan seragam. Berdesakan di antara hiruk pikuk suara dan keringat dalam pasar. Memastikan pendingin ruangan belum saatnya dibersihkan. Membayar iuran telepon dan listrik bulanan. Memberi makan ikan. Memberi peringatan berkali-kali pada pembantu yang tidak juga mengerjakan perintah yang sudah diinstruksikan. Mengikuti senam seks dan kebugaran. Menjadi pendengar yang baik bagi suami yang berkeluh-kesah tentang pekerjaan. Memutar otak untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan dalam sebulan. Menyimpan kekecewaan ketika anak sudah tidak lagi mau mengikuti nasihat yang seharusnya diindahkan. Dan masih saja ada yang kurang. Masih ada saja yang tidak sempurna. Sarang laba-laba di atas plafon. Terlalu banyak menggunakan jasa telepon. Buah dada yang mulai mengendur. Vagina yang tidak lagi lentur. Terlalu letih hingga tidur mendengkur. Seragam sekolah yang luntur. Kurang becus mengatur keuangan. Terlalu banyak pemborosan. Kurang

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

peka. Kurang perhatian. Kurang waktu.... Waktu... Waktu... Waktu... Waktu...................? Bahkan Nayla merasa sudah tidak punya waktu untuk sekadar memanjakan perasaan. Tidak nongkrong bersama teman-teman. Tidak belanja perhiasan. Tidak pergi ke klab malam. Tidak dalam sehari membaca buku lebih dari dua puluh halaman. Tidak lagi nonton film layar lebar di studio twenty one. Tidak lagi mengerjakan segala sesuatu yang baginya dulu merupakan kesenangan. Nayla mulai merasakan dadanya berdebar. Semangatnya bergetar. Ia ingin menampar suaminya jika membela anaknya yang kurang ajar. Ia ingin ngebut tanpa mengenakan sabuk pengaman. Ia ingin bersendawa keras-keras di depan mertua dan ipar-ipar. Ia ingin berjemur di tepi pantai dengan tubuh telanjang. Ia ingin mengatakan ia senang bercinta dengan posisi dari belakang. Ia ingin mewarnai rambutnya bak Dennis Rodman. Ia ingin berhenti minum jamu susut perut dan sari rapet. Ia ingin memelihara anjing, kucing, babi, penguin, panda dan beruang masing-masing satu pasang. Ia ingin makan soto betawi sekaligus dua mangkok besar. Ia ingin berhenti hanya makan sayur dan buah-buahan waktu malam. ***APA yang sedang mengkhianati dirinya hingga ia merasa sama sekali tidak bersalah atas debaran di dadanya yang begitu memukau? Apa yang sedang memberi pengakuan sehingga ia merasa begitu lama membuang-buang waktu? Apakah hidup diberikan supaya manusia tidak punya pilihan selain berbuat baik? Dan mengapa pertanyaan ini baru datang ketika sang algojo waktu sudah mengulurkan tangan? Mungkin hidup adalah ibarat mobil berisikan satu tanki penuh bahan bakar. Ketika sang pengendara sadar bahan bakarnya sudah mulai habis, ia baru mengambil keputusan perlu tidaknya pendingin digunakan, untuk memperpanjang perjalanan, untuk sampai ke tujuan yang diinginkan. Nayla memacu laju mobilnya semakin kencang. Memburu kesempatan untuk bersimpuh memohon pengampunan atas dosa-dosa yang Nayla sesali tidak sempat ia lakukan, sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah jadi abu...***

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

SAYA DI MATA SEBAGIAN ORANG Cerpen: Djenar Maesa Ayu Sumber: Kompas, Edisi 10/26/2003 SEBAGIAN orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa. Sebagian lagi menganggap saya murahan! PADAHAL saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan! Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan! Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau saya murahan! Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan! Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual. Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! SAYA katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua temanteman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton, tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air hangat

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering saya rasakan. Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial. Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur. Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan kami hanya sebatas pertemanan. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

ada komitmen percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. Perbuatan yang saya jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. Semua orang merasa lebih tahu dibanding diri saya sendiri. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya ini berjam- jam, berhari-hari, berminggu- minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, sementara teman- teman saya semakin banyak, silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema. Mereka bergunjing lewat telepon. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. Mereka saling mengirim surat elektronik. Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. Di rumah. Di kantor. Di pertokoan. Di restoran. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan membawa teman baru. Pembicaraan mendadak berhenti. Mereka sembunyi-sembunyi bertukar senyum. Mereka sembunyi- sembunyi bermain mata. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Pandangan mereka menyapu bersih kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan. Menyeleksi mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai, kantong belanja, hingga jenis kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. Jika teman saya kelihatan indah, maka dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang. Jika teman saya kelihatan berkantong tebal, maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras uang. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan, mulailah mereka dengan teori cinta-cintaan. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benarbenar berteman, perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar. Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa. Sebagian lagi menganggap saya murahan! SAYA tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. Banyak dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus terakhiri. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi keterbukaan. Saya tidak pernah membohongi, saya tidak pernah akal-akalan. Sehingga jika dibilang hubungan kami berakhir, sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Yang berubah hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. Tapi kami masih saling berbagi cerita walaupun jarang. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap, menikah, atau masih melajang. Hal- hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada sebagian orang yang menanggap saya munafik, pembual, sok gagah, sakit jiwa, atau murahan itu. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B. Setelah putus dengan si B ternyata ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. Alangkah sayangnya sebuah

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah jalan. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. Saya hanya heran. Tapi walaupun saya heran, saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik, pembual, sakit jiwa, sok gagah, atau murahan. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Membuat darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. Malam-malam panjang. Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Ereksi yang tidak lama kekal. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. Sebagian orang menamakan kejadiankejadian seperti itu sebagai cinta semalam. Sebagian orang merasa kejadiankejadian seperti itu bertentangan dengan moral. Sementara buat saya kejadiankejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses pengenalan. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau lanjut berteman. Tapi tetap orang menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual. Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! MUNGKIN jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang, saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. Karena, ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air hangat untuk bilas badan. Mengirim makan siang. Menemani makan malam. Mendongeng tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. Bercerita tentang film yang baru saja diputar, membayar ongkos perawatan, ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya terima karena saya munafik. Pembual. Sok gagah. Sakit jiwa. Murahan!

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

KEKASIH BATU Cerpen: Husnul Kuluqi Sumber: Pikiran Rakyat, Edisi 12/02/2006 AKU akan ceritakan padamu tentang seorang lelaki yang sering kujumpa di taman. Ia bernama Zillo, datang dari kawasan industri. Di setiap Sabtu sore dengan seragam kerja yang masih melekat di tubuh ia akan ada di sana, memandangi patung gadis yang ada di tengah kolam. Patung itu dalam posisi berdiri, kepalanya memandang datar ke depan, wajahnya tampak murung dan tatapan matanya kosong. Itu adalah patung terindah yang pernah dilihatnya. Senja mulai menepi. Malam perlahan turun menyelimuti bumi. Lampu-lampu hias sepanjang taman telah pula dinyalakan. Beberapa pasang muda-mudi mulai berdatangan. Mereka biasa menghabiskan malam minggu di taman. Ada yang duduk-duduk di bangku kayu, ada yang duduk tepat di tepi kolam, ada pula yang duduk bergerombol di bawah batang-batang palma yang menjulang. Lelaki itu duduk di salah satu bangku kayu. Ia tak peduli dengan bau keringat dari tubuhnya. Ia terus memandang ke arah patung batu yang berdiri sendiri dipagut sunyi waktu. "Malam yang indah," lelaki itu bergumam sendiri. Ini Sabtu ke empat ratus delapan puluh lelaki itu berada di taman. Ia melirik ke arah patung batu yang diam-diam dicintainya. Memandang patung itu, ia menemukan sepercik kedamaian dan ketenangan di hatinya yang kerontang. Itulah sebabnya ia senang berlama-lama memandang patung batu itu. Ia seperti menemukan hiburan yang menyenangkan setelah seharian berada di pabrik, menggulung berpuluh-puluh benang dalam ukuran besar dengan ruang panas yang membuat keringat tak berhenti mengucur membasahi baju. Patung itu seakan memberikan kesegaran tersendiri setelah badan dan jiwanya terkurung tembok-tembok penuh kebisingan. Malam semakin larut. Lelaki itu sendirian di taman, duduk di bangku kayu. Ia membungkuk. Dipungutnya sebutir kerikil yang tergeletak di dekat sepatu kirinya, lalu dilempar ke kolam tepat di depan patung gadis itu. Kerikil itu melesak ke dasar kolam menyisakan bunyi plung yang sangat jelas di tengah keheningan malam. Meninggalkan lingkaran-lingkaran di permukaan air yang kemudian melebar dan lenyap. "Aku mencintaimu," ia berbisik lirih di antara hamparan rumput hijau yang berselimut bening embun dan desir angin yang menggoyang ranting-ranting bougenvile yang banyak tumbuh di taman. Semesta hening. Bintang-bintang menunduk. Bulan di langit masih cemerlang cahayanya. Ia mengingatkan pada banyak mimpi-mimpinya yang selalu datang sejak masa remajanya. Lelaki itu menarik nafas berat. Mimpi-mimpi itu mulai datang sejak ia menemukan sehelai sapu tangan di pantai saat plesir bersama teman-teman sekolahnya. Sejak itulah seorang perempuan dengan rambut ikal tergerai tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya. Mimpi itu terus diingatnya hingga bertahun-tahun sampai akhirnya nasib menggariskannya sebagai buruh pabrik. Di rumah petaknya yang sempit, wajah perempuan itu tetap menyambanginya dalam mimpi.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Bahkan dengan senyum yang semakin indah, dengan wajah yang semakin sumringah. "Akh, engkaulah perempuan itu. Wajahmu adalah wajah perempuan yang selalu hadir dalam mimpiku," lelaki itu membatin. Malam semakin sunyi. Jalanan benar-benar telah sepi. Lelaki yang dikurung kesunyian taman itu berjalan ke bibir kolam. Ia berdiri tepat di seberang patung batu itu dan memandang lurus ke arahnya. "Aku mencintaimu. Engkau cantik sekali," katanya lirih. Malam bagai membeku. Angin seperti berhenti berdesir sejenak. Bulan bintang menunduk bersaksi. Semesta diam. Tubuh patung batu itu seolah bergerak. Wajahnya yang sedikit menunduk perlahan terangkat. Ia tak lagi terlihat murung. Senyumnya mengembang. Kedua tangannya dijulurkan ke depan seolah menyambut lelaki yang berdiri di tepi kolam. Seperti terkena sihir, lelaki itu melangkah menuju perempuan batu, menyeberangi kolam, membiarkan baju dan celananya basah. Lantas ia berdiri di depan perempuan batu itu sambil menggenggam kedua tangannya yang dingin. "Aku hanya batu," jawabnya pelan dan pilu. "Apa bedanya dengan aku. Meski tubuhku masih seonggok daging, jiwaku sudah lama mati. Aku tak punya hak lagi atas tubuhku. Aku bergerak ke sana kemari tidak ubahnya seperti robot yang sudah diatur. Rutinitas telah merampas badanku juga membatukan hatiku. Dan waktu telah mengajariku untuk jadi kaum yang menurut pada setiap aturan atau kebijakan. Ya, peraturan dan kebijakan yang terus menerus meminggirkan kami, memiskinkan kami, memojokkan kami dan tak sekali pun menghargai tetes-tetes keringat kami," sergah lelaki itu. Ada ledakan kemarahan di matanya. Tapi seperti biasa, kemarahan itu diredamnya di dasar hati. "Karena itu kau selalu datang kemari untuk menghibur diri?" tanya perempuan itu dengan paras yang tampak kian cantik di bawah pendar cahaya bulan yang gemetar. Ada percik keriangan yang perlahan muncul di bola matanya. Keriangan yang bertahun-tahun menghilang dari hatinya sejak tubuhnya mengeras jadi sebongkah batu. "Ya. Juga untuk menemanimu," jawab si lelaki dengan jujur. Nada suaranya terdengar lebih tenang dan dengus nafas lebih teratur, pertanda kelelahan yang menyiksa selama jam-jam kerja sudah sirna. "Begitu setianya engkau padaku," bisik perempuan itu. Ada keharuan yang merambat di sulur-sulur hatinya. Matanya berkaca-kaca. "Apa salah? Sedang engkau kekasihku. Perempuan yang tak pernah berhenti menanam benih-benih kerinduan. Kekasih yang selalu datang dalam mimpi. Engkau cintaku. Kekasih yang tumbuh dan hidup di segenap ingatanku," sahut si lelaki dengan suara yang mengalun di antara desir angin malam yang tertahan ranting-ranting kembang. Perempuan itu menunduk. Dua titik air bening yang serupa kristal di sudut matanya pecah menjadi anak sungai kecil yang mengalir di mulus lekuk pipinya. Lelaki itu mencium sisa aroma kehidupan yang menguar ke udara dari mata yang kini basah. Kehidupan yang begitu getir. Perempuan itu menerawang, menatap kosong ke langit malam. Ada kabut kembali berlayar di matanya.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Kabut hitam yang telah membunuh sempurna hari-harinya. Di sana ada kesedihan panjang. Dan selalu perempuan itu hanya bisa memandang kelengangan air kolam. "Aku akan tetap mencintaimu. Aku akan tetap menemanimu. Siapa pun kamu," hibur si lelaki. Malam tambah sunyi. Seekor kodok meloncat ke kolam membuat bayangan bulan yang sedang bercermin berantakan oleh gelombang kecil. "Demi bintang-bintang yang menari di malam sunyi. Demi bulan yang menggantung di langit biru. Demi angin malam yang membelai daun-daun. Berhentilah engkau mencintaiku. Karena aku hanya manusia malang. Perempuan yang tak lagi memiliki keluarga. Berhentilah engkau bermimpi tentang aku. Karena aku hanya dongeng masa lalu, perempuan yang telah dikutuk jadi batu," ucap perempuan itu dengan suara parau. Air matanya mengalir berkilat. Kesedihan yang telah sekian lama terkubur kini muncul lagi mencabik-cabik dadanya. Kenangan buruk yang sekian lama dipendam kini menari-nari di matanya yang basah dan lelah. Wajah ayah bundanya, juga kakek-neneknya berganti-ganti datang seperti menyodorkan lakon sedih yang nyaris tiada habisnya. Lelaki itu dengan sabar mendengarkan cerita si perempuan malang. Hatinya trenyuh. Dalam hatinya muncul rasa iba dan kasihan. Direngkuhnya kepala si perempuan lantas disandarkannya di dadanya yang bidang dan dibelainya rambutnya penuh kasih seperti ia membelai rambut Rus keponakan kecilnya. "Siapa yang mengutukmu menjadi batu?" tanya si lelaki ingin tahu. "Bram. Dia lelaki terkaya di kota ini. Memiliki puluhan hotel dan tempat-tempat peristirahatan mewah yang tersebar di sepanjang pulau ini. Ia juga memiliki 999 arca yang menghiasi tempat-tempat peristirahatan itu," jawab si perempuan dengan isak tangis yang tersisa. "Ia lelaki kaya. Dengan kekayaan itu engkau bisa hidup mewah, berkecukupan dalam sandang maupun pangan. Engkau bisa pergi ke mana saja mencari hiburan jika sedang jenuh di rumah. Kenapa engkau menolak?" si lelaki kembali bertanya. "Aku tidak mencintainya dan tidak pernah bisa mencintainya," jawab si perempuan. Ada dendam tersimpan di antara getar suaranya. Dendam yang berurat berakar dalam hati dan tubuh yang telah lama membatu. Lelaki itu terdiam sejenak. Malam bagaikan mati. Semesta terasa pulas dalam belaian udara malam yang dingin. Taman sudah lama sepi, bangku-bangku kayu yang berjajar di antara rumpun-rumpun kembang sudah lama kosong dan sunyi. Bayang-bayang pohonan sepanjang pembatas taman serupa barisan hantu malam yang menyeramkan. "Kenapa engkau tidak bisa mencintai lelaki kaya itu?" si lelaki bertanya di antara tatapan sendu lampu taman. "Karena ia telah menghancurkan keluargaku. Dengan caranya yang licik dia membangkrutkan usaha orang tuaku. Dia membuat keluargaku jatuh miskin. Lalu dengan wajah malaikat dia datang pada orang tuaku, menawarkan bermacam pinjaman. Dia sengaja melilitkan utang di leher orang tuaku. Dia mengira orang tuaku akan menggadaikan tubuhku untuk melunasi utang yang kian membengkak. Tapi orang tuaku tidak melakukan itu. Ayah memilih

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

menggadaikan semua yang dimiliki: rumah, sawah, dan kebun kami. Dia marah sekali karena usahanya mendapatkan tubuhku tak berhasil. Setahun kemudian ayah meninggal. Mayatnya ditemukan di sebuah gudang tua dengan tubuh penuh luka. Pada tahun berikutnya ibu menyusul mati bunuh diri dengan cara menenggak racun serangga setelah diperkosa kaki-tangan bajingan itu," papar si perempuan dengan penuh kebencian. Lelaki itu kembali terdiam, ada perih yang tiba-tiba menyesaki rongga dadanya. Selembar daun kering melayang di udara dan jatuh di bawah kaki bangku kayu, mengabarkan akhir dari sebuah kisah perjalanannya. Ah, hidup. Di manakah tangan kasihmu ketika anak-anakmu direnggut kebahagiaannya dan nasib memburunya dengan sebilah pisau keperihan yang terus menerus dihunjamkan di detak jantungnya? Lelaki itu menarik nafas berat dan mengembuskannya pada kesiur angin malam yang kian tajam. "Ke mana kau pergi setelah kedua orang tuamu meninggal?" lelaki itu bertanya dengan hati-hati. "Aku bersembunyi di rumah nenek di tepi pantai di sebuah pulau. Di sana kujalani hari-hari baruku sebagai yatim-piatu. Aku mencoba untuk tetap tersenyum menjalani getirnya hidup. Tapi ketika kerinduan pada ayah-bunda merongrong dada, aku merasakan kesepian yang tiada tara. Kesepian yang terus datang selaksa ombak menerjang karang sunyi di pantai. Kakek dan nenek berusaha menghiburku. Kakek sering mengajakku ke pantai di senja hari, menyaksikan matahari merah perlahan tenggelam ke dalam laut. Sementara nenek membuatkan aku saputangan warna biru dengan gambar hati di salah satu sudutnya. Suatu hari saputangan itu hilang waktu aku jalan-jalan dengan kakek. Aku sedih sekali karena saputangan itu tanda cinta kasih nenek untukku, satu-satunya cucu perempuan. Nenek menghiburku dengan mengatakan, kelak siapa pun yang menemukan saputangan itu, dialah jodohku. Lelaki yang cinta dan ketulusannya tak perlu diragukan seperti matahari yang selalu datang pagi hari untuk menghangatkan kehidupan di bumi. Aku pun terus menunggu lelaki itu," jawab si perempuan. Ada sedikit percik harapan di redup sinar matanya. "Bagaimana dengan nasib kakek dan nenekmu selanjutnya?" lelaki itu kembali bertanya kepada si perempuan batu. Ia begitu penasaran akan cerita perempuan itu. "Nenek meninggal ketika rumahnya terbakar. Itu bukan kebakaran biasa. Beberapa warga melihat beberapa orang berwajah sangar sengaja membakarnya. Sedang kakek dibunuh manakala berusaha menyelamatkanku. Aku keluar pulau. Hari itu aku benar-benar merasa sebatang kara. Aku kehilangan orang-orang tercinta. Demi darah yang telah ditumpahkan ke hitam tanah aku tak akan menyerahkan tubuhku pada lelaki itu. Dan aku bersumpah, demi ibu yang melahirkanku, demi ayah yang membesarkanku, demi kakek nenek yang mengasihiku dan demi hari-hariku yang telah disihir jadi kelabu aku memilih menjadi batu dari pada menjadi seonggok daging pemuas nafsu. Lelaki itu marah sekali mendengar sumpahku. Dan ia mengutukku menjadi patung ke seribu. Patung yang akan dijadikan lambang kemegahan hidupnya. Atas sumpahku dan atas kutuknya, aku pun menjadi patung batu. Patung yang

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

hanya mampu melihat bayangan matahari dan bulan di atas kolam," tutur si perempuan bercampur antara kemarahan dan kesedihan. "Lalu lelaki kaya itu memboyong tubuh batumu, menjadikanmu penghias di taman ini?" tanya si lelaki seraya menebak rangkaian jalan ceritanya. "Ya. Bahkan ia sengaja menaruhku di alam terbuka agar aku tersiksa kepanasan saat hari siang terik dan membeku kedinginan saat hujan deras mengguyur tubuhku. Dan ini lebih baik buatku daripada harus hidup dengan lelaki yang tidak kucintai," jawabnya pasrah. Tak ada lagi nada pemberontakan ataupun kemarahan dalam suaranya. Lelaki itu membelai rambut si perempuan. Kisah perempuan itu telah menyeretnya memasuki sebuah lorong yang penuh liku-liku. "Sekarang kau tak akan sendiri lagi. Aku akan menemanimu selalu," bisik si lelaki di telinga perempuan batu. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan saputangan yang sudah lama disimpan. Lalu diusapnya pipi perempuan itu dengan saputangan yang masih basah itu. "Ini milikmu?" tanya si lelaki sambil memperlihatkan saputangan itu. Perempuan batu memandang seksama saputangan itu. Warnanya mulai tampak pudar, tapi gambar hati masih tampak jelas di salah satu sudutnya. Ia tak percaya. Ditatapnya mata lelaki yang sejuk serupa embun. "Engkau selalu menjaganya?" perempuan itu balik bertanya. "Begitulah. Aku juga membawanya kemana pun pergi," si lelaki menjawab polos. Perempuan itu memeluk si lelaki. Ada perasaan damai yang belum pernah dirasakan sebelumnya, menyelinap di rongga dadanya. "Percayalah, aku akan selalu menemanimu. Sampai kapan pun," lanjut si lelaki. Ia berharap perempuan yang kini berada dalam pelukannya itu tidak menyangsikan ketulusan cintanya. "Tapi aku hanya batu," kata si perempuan seperti tersadar akan keberadaan dirinya. Lelaki itu semakin erat memeluk tubuhnya. Ia berharap perempuan batu itu mendengar gemuruh di dadanya. "Atas nama rindu yang kutanam di setiap denyut nafasku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," si lelaki bersumpah dengan sungguh-sungguh. Sepasang cahaya bintang di langit selatan memancar lebih terang. Ribuan kunang-kunang muncul dari balik daun-daun yang menunduk mendengar sumpah si lelaki. Lantas beterbangan di sekeliling mereka. "Lihat, kunang-kunang pun ikut merayakan pertemuan kita," seru si lelaki seperti mau bersorak. Perempuan batu melepas pelukannya. Dengan tangan saling berpegangan, keduanya terus memandang takjub kunang-kunang yang menari dengan senyum mengembang. Tiba-tiba, tubuh si lelaki perlahan mengeras. Meregang kaku menjadi batu. Tak ada penyesalan di wajahnya. Senyum di bibirnya mengabarkan itu. ** "MAMA, lihat! Patung itu sekarang ada dua," teriak seorang bocah perempuan pada mamanya. Orang-orang yang sedang berjalan-jalan di Minggu pagi pun berhamburan ke tepi kolam. Mereka terkejut mendapati patung laki-laki yang

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

tiba-tiba ada di sebelah patung perempuan. Dari manakah ia?” Gumam mereka terheran-heran. "Sepasang patung yang indah," desis seorang perempuan muda tak habis mengerti. Di bangku kayu seorang lelaki paruh baya menemukan sebuah tas ransel berisi botol air mineral kosong, pisau, gunting, masker, dan kartu pengenal. Sementara petugas kebersihan taman menemukan selembar saputangan biru bergambar hati mengapung di air kolam. Aku mengenali barang-barang itu sebagai milik lelaki yang sering terlihat duduk sendiri di tepi kolam. Dan ketika aku menulis bagian akhir cerita ini, aku merasa akulah patung lelaki itu yang berbahagia bersanding dengan kekasih tercinta.***

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

SEORANG PEREMPUAN DAN POHONNYA Cerpen: Oka Rusmini Sumber: Media Indonesia, Edisi 10/10/2004 INILAH mungkin wujud sesungguhnya dari sebuah kesialan itu. Ketika Pandora membuka peti, seluruh kutukan yang paling mengerikan berlompatan, bergulingan, lalu melekat erat-erat di tubuh perempuan. Seperti uap, kadang baunya menyengat dan memusingkan orang-orang yang berada di sekitarnya. Bahkan membuat mual si pemilik tubuh. Kutukan itu menempel erat, tak ada sepotong makhluk pun bisa mengupasnya. Semua itu harus dijalani seorang perempuan. Dengan tubuhnya yang indah dan bertaburan aroma sering mengundang keringat lelaki meleleh. Perempuan harus punya cinta , harus jatuh cinta, dan harus mahir bercinta! Konon, tanpa rasa cinta seluruh makhluk di bumi ini tidak ada. Katanya cinta juga bisa membuat pralaya, grubug, kiamat! Apakah pohon tumbuh juga karena cinta? Aku tumbuh karena cinta? Cinta dari siapa? Apakah aku memiliki orang-orang yang mencintai aku? Atau, punyakah aku cinta? Bolehkah kita hidup tanpa cinta? Bisakah kita tumbuh tanpa cinta? Besarkah kita? Hidupkah? Lalu kenapa harus ada perceraian, perpisahan? Di mana cinta bersembunyi saat itu? Apa itu bagian dari cinta dengan wujudnya yang berbeda? Aku tidak percaya cinta itu ada. Sejak adikku berkata: "Kita ini anak siapa? Kenapa orang yang mengaku orang tua kita sibuk dengan anak-anak mereka. Lalu pada siapa kita harus mengadu? Bermanja-manja. Minta tolong. Kita ini anak siapa? Apakah kelahiran kita diinginkan? Kenapa sejak kecil kita harus mencoba mengerti tentang mereka? Kapan mereka mau mendengarkan kita, memperlakukan kita sama seperti anak-anak baru mereka? Berpikir tentang kita? Khawatir sesuatu yang membahayakan mengancam kita? Punyakah mereka cinta, harapan, dan cerita ketika membuat kita?" Aku tidak bisa menjawabnya. Pemikiran itu justru tidak pernah ada di otakku sampai adikku berkata seperti itu. Iya, punyakah manusia-manusia yang membuat kami ada sepotong cinta? Mungkin secuil. Sampai buntu otakku, tidak ada jawabannya. Tapi aku senang dengan pertanyaan adikku itu. Aku mulai mencari hakikat cinta yang membuat aku ada. Melalui sebuah pohon beringin besar yang tumbuh di kuburan. Dia begitu ramah. Kukuh dan kuat. Setiap memandangnya kutemukan figur bapak. Sulur-sulur yang memenuhi tubuhnya sering kulihat seperti tangan lelaki yang ingin mendekapku. Kadang keteduhan daunnya yang hijau dan beraroma cinta seperti potret seorang ibu yang menimang anaknya. Menciumi tubuhnya yang lembab. Kutemukan kedamaian dan kasih sayang. Kutemukan wajah bapak dan ibuku yang hilang. Aku mengagumi pohon beringin besar yang tumbuh dekat Pura Dalem di tikungan gang. Aku sering lewat di jalan itu menuju kantor. Kulewati jalan itu

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

hampir lima tahunan. Tapi aku tidak pernah melihat pohon itu, sampai sebuah peristiwa menimpaku. Aku hampir ditabrak dokar. Pohon itulah yang menolongku sehingga aku tidak masuk lubang besar. Tangannya yang kukuh merangkul tubuhku yang kurus. Aku pun berayun tidak jadi masuk got. Kami tertawa dan melempar senyum. Aku selalu mengagumi pohon itu. Terlihat kekar, dengan urat-urat keras dan kaku. Bagiku, dia satu-satunya makhluk hidup yang paling menggairahkan dibanding makhluk hidup yang lain. Dia sangat seksi mengalahkan ratusan lelaki yang pernah kukenal dalam hidupku. Kau tahu pohon beringin? Kuceritakan padamu tentang aku dulu, sebelum kau mengenal pohon beringinku. (saat ini kehadiran dia seperti seorang kekasih bagiku. Diam-diam, aku sering melumatnya di dalam otakku. Menggenggam bayangnya untuk menidurkan tubuhku). Begini ceritanya, diamlah. Aku akan memulai cerita ini. Aku seorang perempuan, tubuhku kurus. Tulang-tulangku terbuat dari lidi enau, terlalu kecil untuk kriteria seksi. Tapi aku menyukai bentuk tulangku yang kecil, terlihat lucu. Rapi dan cantik. Mirip susunan gamelan. Tubuhku juga tidak gampang menggelembung seperti balon. Sering juga aku terobsesi ingin gendut, kesannya seksi memiliki tubuh sintal. Kuambil pompa kumasukkan ke mulutku, aku ingin sekali melihat tubuhku gendut. Seperti apa tampangku kalau gendut? Seperti drum minyak tanah? Atau seperti ibu-ibu gendut yang kerjanya menonton tv sambil mengunyah camilan. Pipinya tumbuh seperti bakpao. Jari-jariku tangkai bunga rumput. Rambutku buih ombak. Tubuhku belalang hijau yang sering menggerogoti dan membunuh daun-daun muda. Otakku ditumbuhi beratus jenis akar. Bukan urat kupikir, karena setiap akar dalam otakku, selalu memiliki cerita sendiri, satu dengan yang lain berbeda. Kau pasti tidak percaya. Kadang, akar-akar dalam otakku juga berbicara sendiri. Yang sering membuatku jengkel, akar dalam otakku sering memiliki keinginan sendiri. Sering sekali dia bertindak semaunya. Sialnya, dia juga bisa memaksaku! Untuk melakukan suatu hal yang dia inginkan. Kau bisa bayangkan akar-akar otakku? Dia itu makhluk paling egois, yang selalu meremas setiap impianku, dan menggelindingkan mimpinya sendiri untuk kuteguk. Main paksa!Pernah aku datang ke praktek dokter terkenal. Kata orang-orang, dia adalah dokter terbaik di pulauku, tamatan sekolah terbaik di Jerman. Orangnya lucu, tampangnya tidak menunjukkan dia seorang intelektual (seperti teman-teman yang sering kutemui), dia terlihat seperti lelaki minder, tapi aku yakin otaknya pasti ditumbuhi akar. Ketika dia melihatku, aku merasa langsung sembuh. Matanya saja mampu mengobati penyakitku. Aku tak bicara, dia langsung memegang kepalaku. Dia benar-benar mengerti maksudku, aku direbahkan di kasur putih, sebuah alat yang kupikir mangkuk, menyekap kepalaku. Sebuah sinar, mengupas tubuh dan tulangku. Juga otakku rasanya seperti dikelupas. Sinar itu juga hampir membunuh mataku. "Sudah. Anda bisa duduk kembali."Dia hanya manggutmanggut, menulis sesuatu di kertas, lalu menyuruhku antre di apotek.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Aku tak pernah menebus obat yang diberikannya, karena matanya mampu membuatku lebih segar. Bagiku itu sudah cukup. Sejak bertemu dengan dokter itu, aku merasa lebih fit. Aku punya teman yang mengerti bahwa kepalaku tidak dipenuhi urat tapi akar! *** Sekarang aku ada di jalan. Motorku tiba-tiba saja mati di sebuah tikungan yang sangat tajam, aku merasa ada beratus-ratus mata menatapku. Aku mendengus. Menantang tatapan mata itu. Gila! Mata itu berasal dari sebuah pohon beringin besar, sangat besar! Daunnya membungkus batangnya. Kakiku, kakiku, kaku! Benar-benar kaku. Aku mendekat, tubuh pohon beringin itu memiliki aroma khas, daging manusia terbakar! Aku menarik napas, wanginya benar-benar luar biasa, merasuk, dan melubangi pori-pori tulangku. Aku menyukai bau itu, begitu khas, dan membuatku bergairah. Sejak bertemu dengan pohon beringin itu, aku melupakan dokterku. Yang ada di kepalaku hanya tubuh pohon itu, daunnya rimbun, dan hijau, dia tampak begitu seksi dan menakjubkan. Akar-akarnya begitu liar ketika menyentuh tubuh tanah. Aku sering bergidik, ketika mereka mulai bermesraan. Kadang beringin besar itu meneteskan cairan yang berbau anyir. Aku senang memandang kemesraan tanah, dan pohon beringin itu. Yang membuatku takjub lagi, tanah itu mengandung bangkai manusia. Itulah pohon beringin itu, orang-orang sering datang mengambil daunnya untuk upacara. Musik di tabuh, bunga di sebar. Setiap orang-orang datang pohon beringin itu tersenyum, sambil merontokkan beberapa daunnya. Dia senang mendengar gamelan, kadang matanya sering nakal ketika melihat perempuan-perempuan cantik berkain dan berkebaya ketat bersandar di tubuhnya. Orang-orang yang memetik daunnya sering bercerita padaku, pohon beringin itu sesungguhnya telah ada sejak raja Denpasar membangun Pura Dalem ini, bahkan raja bisa berdialog dengannya. Pohon itu juga bisa menceritakan asalusul kerajaan Bali, bahkan dia juga konon bisa memberi tahu, perempuan tercantik yang harus dijadikan istri oleh raja untuk menambah kewibawaan,kekuasaan dan kejantanan. Masih kata orang-orang, pohon beringin itu bisa membunuh orang-orang yang ingin menguji kesaktiannya. Getahnya bisa membuat orang buta. Ranting pohonnya bisa menjelma keris tajam yang siap menjatuhkan tubuhnya di jantung manusia, menghisap darah dan menyedot energi hidup. Aku menyukai pohon beringin itu. Sampai suatu hari, ketika aku menikah. Pohon itu tiba-tiba saja muncul di atas tubuhku. Dia ingin menindih tubuhku. Bahkan dari sorot matanya aku tahu dia ingin meremas dan membunuh lelakiku. Kulihat, akar-akarnya mulai mendekati ubun-ubun lelakiku. Aku ingin berteriak, membangunkan lelaki yang tertidur di sebelah kiriku. Lelakiku tetap diam, bahkan membalikkan tubuhnya. *** Pagi-pagi aku terbangun. Setumpuk cucian piring, sisa nasi, sisa sayuran, dan sisa makanan kami. Tiga hari! Belum dicuci! Aku menutup mataku. Berjalan menuju ruang tamu, kakiku menyentuh benda asing, begitu lengket dan bau

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

anyir. Itu muntahanku, memenuhi seluruh ruang tamuku. Bahkan kulihat kaki kursi dan meja tamu mengambang. Kelihatan sekali mereka jijik. Aku meraba kursi tamu, mereka merenggut tanganku. Lalu bersin, bau cat hampir saja membuatku muntah. Bantal kursiku melompat dan menutup mulutku, muntahanku kembali tertelan. Sekarang aku berbalik. Masih menutup mata. Aku ingin berada di belakang. Aku mencium bau apek, bau yang luar biasa. Pelan-pelan aku membuka mataku. Hyang Jagat! Setumpuk bajuku, dan baju lelakiku! Seminggu, dua minggu, tiga minggu? Aku tidak tahu berapa ratus hari baju-baju itu telah berada di tempat cucian. Perutku yang membuncit terasa ingin meletus. *** "Hal terbodoh yang dimiliki manusia adalah mencintai seseorang. Dan kau adalah makhluk bodoh, tolol, goblok! Sialnya lagi kamu perempuan! Dan kamu sedang menunjukkan pada dunia bahwa kau perempuan terhebat. Buktinya, kamu bisa menumbuhkan sepotong dagingmu dan daging lelakimu di perutmu. Kau bangga bisa membuat manusia? Sakitkah? Tidak nyamankah?" Aku terdiam. Sambil tetap memejamkan mata berharap ada kekuatan gaib yang membantuku membersihkan rumahku. Membantu mencuci piring, mencuci baju, menyetrika, dan membersihkan sisa muntahanku yang tidak pernah di pel lelakiku, tiga bulan usia makhluk di perutku. Seumur itu juga muntahan di ruang tamu! "Menjadi manusia itu sial! Coba kau putar otakmu. Ketika kau jatuh cinta, seluruh tubuhmu kau biarkan terbuka, kau berharap semua lelaki bisa dengan santai menghirup aroma keindahannya. Lalu, kau akan memberikan pada seorang lelaki. Juga atas nama cinta! Kau akan melayaninya, bahkan ketika lelaki itu meminta tubuhmu, kau dengan senang hati membuka kulitmu, membiarkan lelakimu itu menyantap tubuhmu. Lalu apa yang terjadi? Ketika lelakimu itu menyantap tubuhmu dengan sendok dan garpu. Membalikkan tubuhmu seperti ikan panggang, menusuk, mengerat dagingmu, lalu menelannya dengan rakus, sampai lelaki itu memekik. Apa yang kau dapat? Tubuhmu ditumbuhi daging, daging yang memiliki akar-akar kuat, menguras seluruh tubuhmu. Itukah hasilnya cinta? Untuk sepotong lelaki, kau korbankan tubuhmu, dagingmu!" Aku terdiam, sambil tetap memejamkan mataku. Ya, kurasakan tulangtulangmu sedikit menciut. Gumpalan daging dalam perutku seperti terus mendesak, sering juga dia melompat-lompat, membuatku mual. Dan kembali muntah. Seluruh makanan yang kumasukkan keluar, persis seperti yang kutelan. Lalu mana makanan untuk tubuhku? Sementara tiap malam lelakiku menyantap tubuhku lengkap dengan pisau, sendok, dan garpu. Kadang ditemani white wine terbaik. "Menjadi perempuan itu menurutku sudah kutukan. Kau tambah lagi dengan cinta. Memang kau sering katakan: Hidupku tidak akan lengkap, menjadi perempuan itu harus bisa mencintai, dan cinta itu harus jatuh ke sepotong lelaki, bukan makhluk lainnya, perempuan misalnya! Kau berteriak, dan menyadarkan dirimu sendiri. Kadang aku berpikir kau sedang berkata dan memaki dirimu sendiri. Tapi mencintai itu suatu keunikan. Kau pernah rasakan rasa seperti ini: jam yang tiba-tiba begitu lambat. Hidangan lezat yang hambar,

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

atau kau tidak bisa tidur karena potongan lelaki itu muncul di seluruh ruangan yang kau kunjungi. Bahkan ketika kamu memejamkan mata. Hasilnya apa? Tubuhmu yang tambun. Rasa sakit yang terus mengerat daging di perutmu. Mual yang tak ada habisnya, tulang di pinggangmu yang mau patah! Atau sudah patah?" Aku lelah. Tak ingin makan, tak ingin pulang. Dan, kupikir aku mulai merasa tak memiliki siapa pun. Tidak juga daging yang mulai tumbuh dan membesar di perutku. Kuseret tubuhku. Aku datang ke pohon beringin kesayanganku."Kau datang lagi kan? Bahagia?" Aku terdiam, menjatuhkan tubuhku yang mulai membesar. Meluruskan kakiku, dan menyandarkan punggungku ke batang tubuh beringin itu. *** Sebuah kelelahan yang dalam merusak seluruh akar-akar dalam otakku. Cucian piring yang menumpuk, baju-baju kotor, sampah di dapur, muntahanku yang memenuhi ruang tamu. Kamar tidur yang tidak pernah diganti seprainya. Korden-korden yang diselubungi debu. Taman-taman yang mulai dirambah alang-alang yang makin liar dan meninggi. Kaca-kaca jendela yang menghitam, genteng bocor, kasur bau apek. Aku merebahkan tubuhku yang makin membesar, ku cium harum rumput. Ketika rasa lapar mengejarku. Daging dalam tubuhku makin menjadi-jadi, kurasakan daging itu mulai menggigit perutku, menguras seluruh simpanan lemak yang menggumpal di perutku. Aku meringis, kutelan rontokan daun-daun beringin yang mulai membusuk, dan hampir menyelimuti tubuhku. Perutku makin membesar, bahkan daging yang di tanam oleh lelakiku makin menyusahkan. Pelan-pelan aku mengangkat kakiku tinggi-tinggi. Aku mengambil pisau, ku potong kakiku, kukerat dagingnya. Darah segar menetes dan aku mengisapnya pelan-pelan. Beratus-ratus tahun aku hidup dari sebuah kaki. Besoknya, kulihat sepotong tubuh lelakiku diusung orang-orang, wajahnya pucat, kain putih mengikat tubuhnya. Orang-orang melempar tubuhnya ke tanah. Aku bersembunyi di balik tumbukan daun beringinku. Ketika senja datang, akar pohon beringin menguras tanah tempat lelaki di tanam. Seperti potongan kayu kering, lelakiku dihidangkan di depanku. Aku menyerahkan sebuah kakiku, dan lelaki itu menatap mataku, kuhidangkan potongan kakiku, dia mulai bergerak, dia mulai hidup dan bisa bernafas. Sebuah kaki kuberikan untuk sepotong lelaki yang pernah dibenamkan tanah. Senja turun, dan jatuh menimpa kepalaku. Buntalan perutku meletus, sepotong daging meloncat dari tubuhku. Sepotong lelaki! Beringin itu mencengkeram tubuhku dengan akar-akarnya yang menggantung, lalu membenamkannya ke tanah. Aku berteriak. Mengamuk. Menyelamatkan potongan daging lelaki yang muncrat dari perutku. Dengan sisa kekuatanku, kubunuh pohon beringin itu. Kugigit tubuhnya, kumakan daun-daunnya sampai tak tersisa. Sampai orangorang tidak pernah lagi bisa melihat tubuh pohon itu lagi. Aku puas, sambil menggendong potongan tubuh lelaki kecilku.***

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

SEPOTONG TUBUH Cerpen: Oka Rusmini Sumber: Bali Post, Edisi 07/21/2002 PEREMPUAN itu mengurai rambutnya yang panjang. Aroma bunga cempaka berhamburan, berlompatan dan turun dari keping rambutnya yang mulai rapuh."Aku ingin menari. Bisakah? Adakah tempat untukku menari? Aku masih memiliki tubuh. Setiap lekuknya kupersembahkan untuk Tuhan!" Dia menyanyikan kidung yang indah. Begini bunyinya. Alahu kumarem maremkan santonyakaremDuremkem sermemiymbcde seremkybbbbBeremkem senem geremdem bademrem Entah apa artinya, tetapi orang-orang kampung senang mendengar suaranya yang indah. Dialah satu-satunya perawan suci di kampung itu, tempat para perempuan mengadukan nasib mereka. "Kau jelmaan dewi, tolong aku, lelakiku tak habis-habisnya mencangkuli tubuhku. Lihat!" Perempuan dua puluh tahun itu membuka kebayanya, puting susunya hampir lepas. Lehernya yang jenjang penuh gigitan. Punggungnya yang kurus dipenuhi tulang-tulang yang menonjol, penuh keratan. Kau bisa menyaksikan sapu lidi, potongan kayu, juga ada runcing pisau, dan paku. "Lelakiku berniat memakan tubuhku, tolong aku!" Perempuan itu bersimpuh, mencium lantai tempat perempuan setengah baya itu duduk. "Aku ingin menari? Kau ingin melihatnya?""Aku tidak ingin melihat pementasan tari. Katakan padaku apa yang harus kulakukan? Aku sudah tidak tahan. Lelaki itu terus memahat tubuhku. Aku bukan kayu, dan tidak ingin jadi patung hidup!""Pernahkah kau telanjang?""Apa maksudmu?""Aku bertanya padamu! Pernahkah kau telanjang?!""Pertanyaan apa itu!""Aku hanya ingin jawabanmu. Kalau kau minta tolong padaku, kau juga harus jujur menjawab pertanyaan yang kuajukan padamu. Hanya perempuan tolol yang tidak mengerti bahasa!""Aku sedang susah. Aku perlu bantuanmu. Aku capek mendengar pidato! Orang-orang di luar sudah sering meracau. Apa kau juga ingin belajar pidato? Di jalan-jalan kutemukan mulut-mulut terbuka. Ratusan suara muncul, tak mengubah apa pun. Tolong, jangan beri aku kotbah!""Aku tidak sedang berkotbah. Aku hanya ingin telanjang.""Untuk apa?""Untuk menutup mulut para lelaki yang membuatku muak. Kau pikir aku tidak sumpek! Radio isinya kotbah, televisi juga. Hotel-hotel dipenuhi orang-orang yang membuka mulut mereka lebarlebar. Kau pernah melihat para manusia itu memiliki mulut yang lebih besar dari tubuh mereka, bahkan kulihat mulutnya memakan kepala." "Hyang Jagat! Sungguhkah itu?!" "Iya. Aku melihat orang-orang di jalan berhimpitan, karena jalan raya sudah dipenuhi oleh tumpukan kertas seminar, huruf-huruf yang berlarian di trotoar. Aku sesak nafas!""Hyang jagat!""Makanya aku ingin telanjang, mungkin aku bisa membersihkan bumiku ini dari tumpukan suarasuara itu, aku akan menelannya.""Dengan telanjang?""Iya. Kau mau ikut?""Aku seorang istri, aku akan berdosa bila mempertontonkan tubuhku di jalan! Apa kata Tuhan?""Tuhan tak pernah bersuara.""Aku takut dosa.""Pernahkah kau telanjang?""Kenapa kau bertanya seperti itu?""Aku ingin jawaban, pernahkah kau telanjang di depan orang lain?""Ya!""Kau senang melakukannya?""Rasanya tidak.""Untuk siapa?""Lelakiku.""Lelaki yang memahat tubuhmu ini?""Ya.""Maukah kau telanjang untuk orang lain?""Lelakiku akan membawakan parang, lalu menebas kepalaku. Aku akan mati, jangan suruh aku

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

melakukan itu. Di tubuhku, ada potongan daging yang baru tumbuh, usianya baru dua bulan.""Kau harus ajak daging hidupmu itu telanjang.""Tetapi dia masih potongan daging!""Itu yang bagus!""Besok, ketika matahari terbenam kau boleh datang padaku. Kau bisa lihat tubuhku. Kau mau?""Melihat tubuhmu?""Ya. Aku ingin menari telanjang.""Apa menariknya tubuhmu?""Kau ingin menyaksikan tubuhku menelan sampah huruf-huruf yang ditebar orangorang di luar itu kan?""Kau akan telanjang? Bukankah kau perawan suci tempat para perempuan mengadukan nasibnya?""Aku juga memiliki keinginan. Kau perempuan tolol! Apakah tubuhmu hanya untuk lelakimu? Tidakkah kau ingin bersedekah pada kosmis dan membiarkan kosmis juga menyaksikan aroma tubuhmu?""Kupikir kau mulai gila!"Perempuan muda itu menggigil. Telanjang di trotoar? Sambil menari? Bukankah itu ide gila!Hyang Jagat! Apakah perempuan di negeri yang penuh carut marut ini juga mulai gila! Perempuan itu berjalan ke luar. Benar saja, setiap dia berpapasan dengan mahluk, sepertinya dia benar-benar kaget. Mereka tidak memiliki telinga. Wajah mereka datar, mata mereka kosong. Tanpa malu-malu mereka telanjang, melepaskan seluruh serat yang menempel di tubuh mereka. Perempuan muda itu mencium bau bunga cempaka.Hyang Jagat! Tiba-tiba aja dia merasa ada yang mau melepaskan pakaiannya secara paksa, dia berteriak! Dan terus berlari! *** Perawan setengah baya itu mengusap rambut panjangnya. Membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Dia memejamkan mata sambil menghirup kuncup bunga mawar yang mulai merekah persis di depan jendela. Harum bunga itu begitu menggairahkannya. Dia merasa tubuhnya mulai berair. Helai-helai rambutnya mengusap seluruh bagian tubuhnya. Perempuan itu memejamkan mata."Apakah aku akan hamil?""Kau mau?""Ya, aku ingin hamil. Merasakan sebuah cairan bisa memecahkan dagingku. Apakah ada cairan yang begitu hebat! Konon tubuhku juga berasal dari cairan itu? Tetapi Karna tidak memerlukan cairan untuk lahir. Bisakah aku melahirkan anak tanpa memecahkan tubuhku, seperti Kunti melahirkan Karna?""Kau bukan Kunti!""Kami memiliki kesamaan!""Apa?!""Kami sama-sama perempuan!"Suasana hening. Perempuan itu memejamkan matanya, lalu mengusap tubuhnya dengan udara pagi yang memiliki beratus-ratus tangan. Perempuan itu menggeliat, begitu banyak tangan mengusap tubuhnya. Dia merasakan kehangatan yang dalam, dia merasa dicintai dan dikasihi. Tiba-tiba saja dia ingat pada ibu! "Ibu, kaukah itu?""Kenapa, kau takut?""Tanganmukah?""Kau tidak perlu tahu siapa aku. Untuk apa? Kau suka sentuhanku?""Aku merindukan kau!""Jangan cengeng!""Tidak bolehkah perempuan menangis?""Tidak! Aku juga tidak suka mendengar suaramu yang merengek seperti itu. Tolol!""Di depanmu tidak bolehkah aku menangis?""Tidak!""Tetapi aku ingin menangis!""Aku akan pergi! Aku tak pernah mengajari kau kecengengan!"Perempuan itu terdiam. Ya, ibu memang tidak pernah menangis, dia pernah menyaksikan aji membawa perempuan muda, memasukkan ke rumah dan memeliharanya tiga hari. Ibu tidak pernah menangis, beratus-ratus perempuan muda selalu datang dan pergi, memandang ibu dengan penuh ejekan. Ibu tetap tanpa ekspresi, sibuk majejahitan, atau mempersiapkan rangkaian sesaji untuk merajan. Kerja ibu hanya berkutat dengan benda-benda itu. Kadang terpikir oleh perempuan itu, apakah ibu memiliki kekasih para leluhur? Apakah ibu bercinta dengan mereka? Ibu tidak pernah menunjukkan kelaparannya sebagai istri? Sorot mata ibu tetap

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

ingin. "Ibu, pernahkah ibu memiliki keinginan?""Tentu.""Apa?""Aku ingin kau tidak cengeng. Hanya perempuan tolol yang selalu mengeluh dengan hidup. Hidup itu harus diajak bertarung. Kau harus mampu bersabung dengannya. Kalau kau menang, itulah nikmatnya menjadi perempuan!""Apa artinya itu?""Cari sendiri, kelak hidup sendiri yang akan menuntunmu!"Ibu tidak pernah berkata lembut. Suaranya tegas, bahkan cenderung kasar, padahal dia seorang rabi, istri terhormat. Tetapi ibu memang tidak begitu peduli dengan simbol-simbol kehormatan itu. Bagi ibu, bagaimana dia bisa tetap hidup dan mendidik anak-anaknya!Mungkinkah ibu memiliki kekasih para dewa? Dewa siapa yang mau menjadi kekasih ibu? Habis, ibu tidak pernah berhenti ke merajan. Jangan-jangan ibu bercinta di balik tembok pelinggih, atau di atas bunga kamboja, atau di bawah guguran bunga-bunga itu?"Aku ingin telanjang!" Perempuan itu berteriak. Mengurai rambutnya, memandikan tubuhnya dengan kembang. Lalu di bukanya jendela lebar-lebar, dia meloncat, menari, dan berjalan di trotoar, sambil memunguti tumpukan huruf-huruf memasukkannya ke mulut. Semakin terik matahari semakin banyak perempuan mengikuti dirinya, mereka telanjang! Menelan huruf-huruf. Hyang Jagat, mereka hamil! Apa mereka akan melahirkan Kurawa? Denpasar, Juli 2002

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

KERANGKA Cerpen: Rabindrath Tagore Sumber: Pikiran Rakyat, Edisi 11/21/2002 DAHULU kami menempati kamar tidur kecil yang di dinding sebelahnya ada kerangka manusia tergantung. Di malam hari, kerangka itu berderak-derak diterpa angin sepoi-sepoi, sedang di siang hari kami sendiri yang menderekderekannya. Saat itu seorang mahasiswa kedokteran mengenalkan dan mengajarkan kami tentang kerangka. Bahkan, pengasuh kami berharap agar kami lebih pandai menguasai ilmu anatomi tubuh.Cerita itu sudah lama berlalu. Saat itu kerangka yang tergantung di dinding kamar, hilang entah ke mana. Begitu pula dengan pengetahuan tentang anatomi tubuh, tidak berbekas di benak kami.Di hari yang lain, rumah kami dihebohkan oleh peristiwa aneh, tapi saya harus bermalam di situ. Dalam kegelisahan, rasa kantuk tidak kunjung datang. Saya hanya berjalan-jalan di sekitar kamar. Tidak lama, terdengar dering bel jam hampir setiap kali jarumnya berdetak. Lampu minyak lama-lama sinarnya meredup, ruang menjadi gelap. Di rumah kami, baru-baru ini, telah terjadi beberapa peristiwa kematian. Tentu saja, matinya lampu tadi menyebabkan timbulnya perasaan-perasaan yang mengerikan. Lampu yang mati itu laiknya sebuah kehidupan manusia, yang kapan pun bisa terjadi dan mudah dilupakan.Sekonyong-konyong pikiran saya mulai dihantui kerangka itu. Saya bayangkan sosok manusia, pemilik kerangka itu. Terbayang tiba-tiba, sosok itu berjalan mengitari ranjang tidur saya. Dalam bayangan saya, sosok itu seperti sedang bernafas. Tampaknya makhluk itu seperti sedang mencari sesuatu. Ada langkah pelan-pelan. Saya menyadari rasa takut itu akibat perasaan yang berlebihan sehingga membuat gelisah. Kendati seperti itu, saya tetap merasa ada yang aneh."Siapakah di sana?" teriak saya. Ada langkah kaki yang tiba-tiba berhenti di sebelah ranjang saya.Ada suara membalas, "Aku...Aku ke sini untuk mencari kerangkaku."Alangkah tololnya diri ini, takut pada makhluk yang dibayangan sendiri. Dengan lantang saya katakan, "Baiklah! Ini kerjaan yang menyenangkan malam ini! Apa kamu masih membutuhkan kerangka itu?"Ada suara menjawab yang terdengar di balik tirai kamar saya. "Betapa tidak! Dalam kerangka itu ada bagian dadaku. Biarlah, aku tak mau melihatnya lagi?""Tentu saya tahu masudmu," jawab saya. "Lanjutkan kepenasaran itu, lalu enyahlah. Saya akan coba melepas kantuk."Aku tahu, kau sendirian," balas suara itu. "Namun, bolehkah aku duduk sebentar dan ngobrol denganmu, mengingatkanku pada usia 35 tahun, yang saat itu juga aku pernah mengobrol dengan seorang pria. Kala itu, aku mengembara bersama angin pembakaran jenazah. Sungguh menyenangkan berada di dekatmu dan mengobrol layaknya seseorang yang hidup lagi."Saya rasakan ada seseoarang duduk dekat tirai kamar. Mencoba tidur, tapi susah sekali, akhirnya saya ladeni makhluk itu. "Baiklah, ayo kita bicarakan sesuatu agar senang sama-sama," ajak saya.Jam menunjukkan pukul dua."Saat aku masih jadi muda, ada seseorang yang membuatku seperti mati ketakutan. Dia adalah suamiku. Aku seperti seekor ikan yang terjebak ke dalam jaring. Dia menculik dari rumah masa kecilku yang sepi. Aku tidak bisa menghindar darinya."Dua bulan kemudian setelah pernikahanku, suamiku meninggal dunia. Kemudian, ayah mertuaku berkata pada ibu mertuaku, 'Perhatikanlah! Apakah kau tidak

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

melihatnya? Perempuan itu sangat buruk!'""Baiklah, apakah kau masih mendengarkanku? Semoga ceritaku ini menyenangkanmu?""Sungguh saya senang permulaan cerita yang sangat menarik," balas saya."Berikutnya, aku kembali ke rumah ayahku dengan perasaan bahagia. Di hari-hari itu, kecantikanku sangat jarang dimiliki orang lain. Kendati orang mencoba menyembunyikan hal tersebut dariku, tetapi aku sangat menyadarinya. Bagaimana pendapatmu?""Sangat mungkin! Tapi saya belum pernah melihatmu," bisik saya."Apa? Belum pernah melihatku? Bagaimana dengan kerangkaku? Ha...ha...ha...! Tak apalah. Aku hanya bercanda. Bagaimana aku dapat mempercayai kebenarannya padamu? Bahwa di dunia lubang mata itu terdapat mata besar dan hitam? Senyuman pada bibirku sangat menawan sehingga gigiku membuat pesona bagi lelaki yang dahulu pernah melihatnya.""Senyuman itu membuktikan kerapian, daya tarik, lesung pipi, dan kemolekan diriku, yang telah berubah jadi susunan kerangka tua dan kering. Hal ini membuatku murka. Tidak ada seorang dokter pun yang mampu menganalisis anatomi tubuhku, kendati pernah ada seorang dokter muda yang memperkirakan kerangka terbentuk dari setangkai bunga melati.""Aku tak punya teman yang menyertaiku," kata sebuah suara. "Kakakku berkeputusan untuk tidak menikah. Dulu aku pernah duduk di sebuah taman idaman, yang dalam benakku, semua orang di dunia jatuh cinta padaku. Kurasa setiap pemuda gagah di dunia bertekuk lutut di hadapanku, laiknya sebilah rumput. Entah mengapa, saat itu perasaanku kian sedih.""Saat kawan baik kakakku, Shekhar, berhasil menyelesaikan studi kedokteran, dia menjadi dokter keluarga kami. Di balik tirai, dulu aku sering memperhatikan ia. Kakakku berkelakuan sangat aneh, tidak pernah memperhatikan dunia dengan sempurna sehingga ia mundur hingga ke sudut yang jauh dari dunia. Kawan dekat satu-satunya, Shekhar, orang yang paling sering kulihat. Saat duduk di kebun itulah, aku membayangkan semua lelaki di dunia bertumpu di kakiku, Shekhar di antaranya."Sejenak dia berhenti. "Apa kau masih mendengarkanku? Apa yang kau pikirkan?""Saya ingin seperti Shekhar!""Sebentar. Dengarkan dulu semua ceritanya. Pada suatu hari, di musim hujan, aku terkena demam. Dokter itu memeriksaku. Itu merupakan saat pertemuan pertama kami. Kupalingkan wajah ke arah jendela. Di luar lembayung senja menyorot wajahku. Tatkala dokter itu memperhatikan wajahku, aku berkhayal kalau diriku sendiri yang menatap wajah ini. Kuperhatikan senja indah itu bagai bunga layu di atas bantal. Rambut keritingku tergerai di jidat dan bulu mataku merunduk rendah seperti sebuah bayangan di pipiku."Dokter itu bertanya kepada kakakku, "Mungkin saya harus memeriksa nadi adikmu."Aku julurkan lenganku yang lemah dari balik selimut. Sebelumnya aku belum pernah melihat dokter yang gelisah saat memeriksa nadiku yang sakit. Jari tangannya bergetar. Dia rasakan panas akibat demamku. Aku juga rasakan nadi ini terasa panas."Tidakkah kau mempercayaiku?""Sangat percaya," jawab saya."Walau sangat sakit, aku masih bisa bertahan untuk beberapa waktu. Rasanya dunia ini hampir aku lupakan, di sana hanya ada seorang dokter dan pasiennya.""Malam itu diam-diam aku kenakan gaun warna kuning. Kulakukan diam-diam karena kalau memakai gaun warna putih seperti seorang janda. Kujalin untaian bunga melati di rambutku. Dengan membawa sebuah cermin kecil, aku lalu kembali duduk di taman.""Baiklah! Lalu apa kesenangan itu seperti membuatmu bosan?" tanya

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

saya."Nggak begitu! sesungguhnya aku tidak suka menatap diri sendiri. Aku tatap diriku ini seperti dokter itu juga menatap diriku. Aku sedang terpesona dan jatuh cinta.""Sejak itu aku tidak pernah sendirian. Kuperhatikan selalu diriku yang mempesona itu, yang kuharap dokter itu memperhatikanku. Khayalanku selalu bersama sang dokter.""Apa yang ada di benakmu jika cerita ini berakhir?""Ya, akhir yang menarik! Tapi akhir cerita itu belum sempurna, kan? Walau bagaimana, saya kira harus menghabiskan sisa malam ini."Namun, kisah selanjutnya lebih serius. Di mana asalnya ada tawa? Di mana kerangka dengan giginya yang menonjolnya itu ditinggalkan? Yang terjadi kemudian, dokter itu mendirikan tempat praktik kecil, di lantai dasar rumah kami."Terkadang aku bertanya sambil bercanda mengenai obat-obatan dan racun yang bisa mematikan manusia. Dengan senang hati, dokter itu menceritakan aktivitasnya sehingga di antara kami menjadi lebih akrab, apalagi bercerita soal kematian. Cinta dan kematian merupakan hal yang nyata bagiku. Ceritaku hampir berakhir, tidak banyak lagi yang harus diceritakan.""Malam juga akan berakhir," gumam saya.Tidak lama, aku rasakan dokter itu tampak kaku, ada rasa malu yang diam-diam dalam keakraban sebelumnya. Aku perhatikan dokter itu mengenakan pakaian lengkap, seperti akan meminjam kereta kuda kakakku untuk semalam. Dengan segera, aku temui kakakku untuk menanyakan sesuatu. Setelah berbincang ke sana ke mari, aku pertegas pertanyaanku. "Kulihat dokter itu menggunakan kereta kudamu, ke mana ia akan pergi?""Pergi untuk mati," jawab kakakku singkat."Yang benar, ke mana ia pergi?""Untuk menikah," jawab kakakku lebih terbuka."Sungguhkah!" kataku, terbahak lebar."Diam-diam aku tahu kalau dokter itu akan mendapatkan uang banyak dari pernikahannya. Namun apa alasannya mempermalukan diriku dengan rencana yang ditutup-tutupi? Bukanlah dia sudah bersumpah dan mengatakan akan sangat patah hati jika ia menikah? Lelaki memang sulit dipercaya. Aku pahami ini sebagai pelajaran, dari seorang pria yang kucintai di dunia ini."Dokter itu masuk ke ruang praktiknya sesaat setelah memeriksa pasiennya. Aku berkata, "Baiklah dokter, kini aku sudah menikah?" Aku tertawa parau. Keterusteranganku membuat dokter itu malu."Bagaimana? Tidakkah ada lampu-lampu dan suara musik?" tanyaku acuh tak acuh.Dengan nafas tersengal, dokter itu balik menjawab, "Kau kira pernikahan sekadar perayaan seperti itu?"Aku tertawa lagi seperti biasa. "Bukan, bukan itu maksudku. Belum pernah kudengar sebelumnya kalau dalam pesta pernikahan tanpa ada lampu-lampu dan musik." "Aku omeli juga kakakku yang sedang bersemangat menyusun rencana perayaan pernikahan."Aku sudah tahu risikonya jika mempelai wanita datang ke rumah. Aku bertanya, "Dokter akan memeriksa nadi para gadis sekarang?" Ha...ha...ha...! Aku bersumpah kalau kata-kataku tadi akan membuat hati sang dokter tergores seperti anak panah menusuk dada.Acara pernikahan itu akan dilangsungkan di rumah malam ini. Sebelumnya seperti kebiasaan mereka; dokter dan kakakku minum anggur bersama. Perlahan sinar bulan memancar di atas langit. Sambil tertawa, aku hampiri dokter. "Lupakah kau bahwa perayaan pernikahan akan segera dimulai?""Oh ya, aku hampir lupa! Aku harus katakan sedikit tentang sesuatu. Sebelumnya aku pernah masuk ke dalam kamar praktiknya untuk mengambil sejenis serbuk mematikan, yang telah kucampurkan ke dalam gelas anggurnya. Tidak ada yang tahu."Dokter itu menegak anggur itu. Matanya yang tampak sedih di arahkan padaku. "Aku

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

harus berlalu sekarang," kata dokter.Musik mulai dimainkan. Di dalam kamar, aku kenakan gaun untuk pernikahan, lengkap dengan pernak-pernik perhiasan. Kemudian, aku berlalu ke kebun sambil membentangkan seprai. Ini adalah malam yang indah. Aroma bunga melati menusuk hidung. Suara musik terdengar lamat-lamat. Bulan yang bulat sempurna, menjadi samar. Aku menutup mataku dan tersenyum. Kuberkhayal kalau orang-orang akan menemukanku dan mereka terpesona oleh senyum manisku. Aku masuk ke dalam kamar pengantin agar malam abadiku berlalu bersama senyuman itu. Wajahku berseri-seri. Tapi di manakah kamar idamanku itu? Ke manakah perhiasan-perhiasanku? Keramaian suara membuatku terbangun. Aku lihat ada tiga anak laki-laki sedang mempelajari kerangkaku. Di dada yang berdegup oleh kebahagiaan dan kemalangan, seorang guru menunjukkan bagian kerangkaku dengan tongkatnya. Dan siapa yang kini tertinggal di dalam senyum terakhir yang kubentuk di bibirku?Aku diam sebentar."Bagaimana, sukakah kau pada ceritaku?""Dahsyat!" jawab saya.Ayam jantan berkokok menandakan malam segera siang. "Apakah kau masih di sini?" tanya saya. Tidak ada jawaban. Di luar, cahaya pagi menerobos masuk, menerangi ruangan itu.***Terjemahan Edi Warsidi

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

SUATU HARI DI BULAN DESEMBER 2002 Cerpen: Sapardi Djoko Damono Sumber: Kompas, Edisi 03/30/2003 DI rumah pemasyarakatan itu sempat timbul ribut-ribut kecil ketika Marsiyam melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan, menurut penilaian temanteman di situ, sangat tampan. Sebelumnya tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa ada perempuan bunting di situ. Dan mungkin tidak ada yang benar-benar yakin bahwa Marsiyam memang bunting sebelum melahirkan. Berbagai jenis pikiran baik dan buruk beredar di bangunan yang berdasarkan perhitungan akal sehat sudah tidak bisa menampung pesakitan lagi itu. Tidak ada seorang laki-laki pun di situ, kecuali kepala penjara. Tapi, apa ada alasan untuk mencurigainya sebagai bapak bayi itu? Rasanya tidak. Tampang lelaki yang tak pernah tersenyum itu jauh dari selera perempuan mana pun. "Tampangnya nyebelin," kata mereka. Dan tampang bayi laki-laki itu minta ampun cantiknya. M>small 2small 0< dikenai hukuman dua tahun penjara sebab dituduh telah menganiaya suaminya, seorang lelaki yang bekerja sebagai guru, yang-menurut sementara tetangga-"sudah sepantasnya dianiaya," entah sebab apa. Mereka kawin sekitar tiga tahun dan belum dikaruniai anak. Guru itu selalu menyalahkannya dan malah sering menuduhnya telah berbuat serong dengan laki-laki lain. Marsiyam mula-mula menerima tuduhan itu dengan tenang, bahkan dia yakin kecemburuan suaminya itu muncul justru karena lelaki itu sangat mencintainya. Ia sadar dirinya cantik, dan tentunya ada alasan juga bagi suaminya untuk memelihara rasa curiganya. Sampai pada suatu sore ketika ia sedang memasak untuk makan malam, ketika suaminya mendekatinya dan mendesakkan pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan, yang menuduhnya telah berselingkuh dengan seorang pemuda pengangguran yang suka membantu keluarga itu membetulkan atap bocor atau kabel listrik yang korslet. Anak muda itu memang lumayan tampangnya, dan sering berada di rumahnya ketika guru itu sedang mengajar. Marsiyam meladeni rentetan pertanyaan suaminya dengan sabar, tetapi semakin lama lelaki yang pendapatannya tak cukup untuk hidup layak itu menunjukkan tampang yang semakin menyebalkan. Marsiyam menyekam kesabarannya, dan mendadak bagaikan api kemarahannya berkobar. Ia ambil barang sekenanya di dapur itu, dipukulkannya ke kepala suaminya yang langsung terkapar di lantai. Diinjaknya tubuh yang tengkurap itu berkali-kali sambil menjerit-jerit, "Aku memang tak bisa punya anak, mau apa kau. Aku memang gabuk, mau apa kau." Tetangga pun berdatangan dan beberapa bulan kemudian ia harus duduk di kursi terdakwa untuk mendengarkan keputusan hakim. Suaminya telah melaporkannya ke polisi sehabis peristiwa di dapur itu. TENTU saja penjara bukanlah tempat yang diidam-idamkannya, tetapi di luar dugaan Marsiyam dengan cepat bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat yang aneh hubungan-hubungan antarmanusianya itu. Seperti kampung saja, di situ ada ibu muda yang konon menganiaya madunya, ada tukang copet yang suka beroperasi di ka-er-el, ada organisator berbagai arisan yang menggelapkan uang puluhan juta, ada dokter yang kerja sambilannya menjual narkoba, ada

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

pengacara yang ketahuan menyogok jaksa, dan ratusan perempuan lain yang entah profesinya. Marsiyam yang pendiam dan tidak banyak cingcong itu diterima di kalangan mereka, bahkan oleh grup-grup yang biasanya bermusuhan. Tidak ada yang mau percaya bahwa perempuan semacam itu telah tega memukuli dan menginjak-injak suaminya, guru yang konon juga dikenal tidak banyak ulah. Marsiyam tidak tahu alasan apa yang menyebabkan perempuan-perempuan itu lebih suka memanggilnya Marsinah atau Mariyam. Menurut mereka, nama Marsiyam susah diingat-suatu alasan yang menurutnya pasti sekenanya saja. Dan selama ia di sana tidak pernah ada orang yang menengoknya. Ia hanya menggelengkan kepala atau menunduk kalau ditanya, "Kau tak ada keluarga, ya?" Atau, "Kau sudah dibuang keluargamu, ya?" Ia menjalankan tugas rutinnya dengan tekun, tidak pernah membantah sipir yang mana pun, yang beberapa di antaranya dianggap ganas oleh rekan-rekannya. Sampai malam itu, ketika ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Tidak ada yang bisa yakin bahwa perempuan muda itu pernah bunting. Tak pernah ngidam, tak pernah muntah-muntah. Perutnya rata saja. Tapi tibatiba saja ada bayi keluar dari rahimnya. Tak ada seorang pun di sana yang percaya pada mukjizat; mana ada orang jahat percaya akan hal semacam itu? Tetapi pertanyaan yang beredar tetap sama, siapa gerangan yang telah membuntinginya kalau bukan kepala penjara, satu-satunya lelaki di bangunan itu yang boleh berhubungan dengan mereka? Tapi mereka tak percaya juga akan hal itu. Sipir-sipir perempuan yang ganas itu pasti mengetahui perselingkuhan semacam itu dan akan menggunduli lelaki yang rambutnya tinggal beberapa lembar itu-tidak peduli ia atasan mereka atau bukan. Marsiyam diberi kesempatan mendapatkan kamar khusus untuk mendampingi bayinya sebab toh beberapa hari lagi masa hukumannya akan habis. Tanpa dirasa, sudah dua tahun ia berada di dalam bangunan itu, tanpa sama sekali pernah berhubungan dengan dunia luar. Dokter penjual narkoba itu dengan bangga membantunya, juga tukang copet dan dedengkot arisan. Mereka merasa mendapatkan kebahagiaan dengan membantu ibu muda itu. Sore itu akhirnya tiba juga. Marsiyam harus meninggalkan rumah pemasyarakatan karena masa hukumannya sudah habis, meskipun ia tak merasa sudah dimasyarakatkan. Ia gendong bayinya sambil menenteng barang bawaannya. "Kau pulang ke mana Marsinah?" tanya si gembong arisan. "Entahlah." "Kapan-kapan nanti aku boleh menjengukmu, Mariyam? Kalau aku keluar nanti, tentu bayimu sudah besar, sudah sekolah," kata dokter yang harus meringkuk di bangunan itu bertahun-tahun lagi. Marsiyam hanya tersenyum. Tidak memedulikan penyebutan namanya yang selalu keliru itu. Ditatapnya bayi yang digendongnya dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa wajahnya mirip lelaki muda yang dulu suka membetulkan atap bocor dan kabel listrik yang korslet di rumahnya. Perempuan itu menyimpan saja perasaannya, yang ia sendiri tidak tahu apa. Selama dalam masa hukuman, ia memang pernah beberapa kali bermimpi bertemu lelaki muda

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

itu, yang katanya menjenguknya untuk meminta maaf lantaran telah menyebabkannya masuk penjara. Ia selalu merasa bahagia setiap kali pemuda itu muncul dalam mimpinya. Sejak semula ia tahu bahwa sebenarnya suaminyalah yang mandul, tetapi ia tidak pernah mengatakan itu karena pasti akan menyinggung perasaan dan menyebabkan guru itu semakin tidak masuk akal tuduhan dan tindakannya. Ia menoleh untuk terakhir kalinya kepada rekan-rekannya ketika diiringkan oleh beberapa sipir keluar dari bangunan itu. "KAU mau pulang ke mana, Marsiyam?" tanya salah seorang sipir. Ia kaget mendengar namanya disebut dengan benar untuk pertama kali sejak dua tahun yang lalu. "Pulang." "Ke mana?" "Ke rumah." "Rumah siapa?" "Rumah suamiku. Ia pasti senang aku bisa mendapatkan anak. Ini anaknya. Aku yakin ia akan menerima kami. Ini anaknya." ***

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

ULAR BERBISA Cerpen: Tahar Ben Jelloun Sumber: Media Indonesia, Edisi 07/28/2002 AKU suka bepergian naik kapal laut. Di zaman sekarang, naik kapal laut adalah sebuah kemewahan. Kita bisa menghabiskan waktu luang selama perjalanan. Sebuah kesempatan untuk mengosongkan pikiran dan bersiap memasuki irama hidup yang baru. Musim panas ini aku tengah berada di atas kapal pesiar Marrakech yang sedang melintas antara Sete dan Tangiers. Aku baru saja duduk saat seorang lelaki bertubuh pendek berusia sekitar lima puluhan menyambutku dengan lengan terbuka, lalu memelukku. Aku belum pernah berjumpa dengan orang ini sebelumnya. Aku tak berkata apa pun. Tampaknya ini sebuah salah paham, mungkin ia mengira aku adalah orang lain yang dikenalnya. Tapi tidak, ternyata tidak seperti itu.Orang itu berkata kepadaku, "Namaku Haji Abdul Karim dan aku dilahirkan di Marrakech pada suatu siang yang amat panas. Aku menikahi seorang perempuan Sicilia dan kami memiliki tiga orang anak yang mengenal dan menyukai Anda. Aku sendiri, sayangnya, bukan orang yang suka membaca. Istriku sering membacakan buku-buku untukku. Aku tak banyak membaca, tapi aku punya banyak pengalaman, tentang yang kasatmata maupun yang gaib. Bidang usahaku, jika Anda tertarik mengetahuinya, adalah berupaya menarik orang-orang asing untuk mencintai negeriku dengan menunjukkan kepada mereka segenap keindahan dan keunikannya. Tapi, alasan mengapa aku ingin menjumpai Anda-dan aku telah menunggu sangat lama untuk ini adalah karena aku ingin menceritakan sebuah kisah kepada Anda, sebuah kisah nyata. Anda seorang penulis, bukan? Baik, dengarkanlah. Kisah ini tentang Ibrahim, seorang lelaki pendiam dan baik hati yang bekerja keras untuk menafkahi keluarganya, ini adalah sebuah kisah tentang seseorang yang bernasib buruk. Dengarlah..."Haji Abdul Karim sedang berada di tengah bar dan para penumpang lain mengerubunginya untuk ikut mendengarkan kisahnya.***Sudah lama sekali turis-turis tak lagi berhenti di depan Ibrahim dan ular-ularnya. Terlalu tua, letih, dan hilang kepercayaan diri, ular-ular itu tak lagi mematuhi alunan musik penarik ular yang dimainkan tuannya. Bahkan, walaupun ia mengganti seruling atau nadanya, mereka tetap saja menyurukkan kepala seperti yang tampak mengantuk.Untuk membuat pertunjukannya kembali menarik perhatian orang, hanya ada satu jalan: ganti binatang-binatang itu, bukan alat musiknya. Ibrahim memutuskan untuk berkorban dan membeli seekor ular berbisa yang masih muda, penuh gairah hidup, dan berkilat-kilat. Binatang ini dibawa kepadanya dari sebuah desa yang dikenal sebagai sarang ular.Ia lalu memainkan sebuah komposisi musik karyanya sendiri untuk ular itu. Ular berbisa yang berbakat menari itu memiliki lenggak-lenggok tarian yang sangat unik. Ia akan melenggok dan bergoyanggoyang mengikuti irama musik dengan hentakan yang tepat dan lidahnya melelet keluar di ujung nada. Ibrahim kembali pulih rasa percaya dirinya.Ularular yang lain kembali bersemangat oleh kehadiran ular berbisa berwarna biru yang cantik itu.Malam harinya, Ibrahim bermimpi aneh sekali: lapangan luas itu lengang dan diterangi cahaya bulan. Ia duduk di tengahnya, bersila. Ia tak mampu bergerak, seakan-akan terpaku di atas bumi oleh sebuah lem ajaib. Di hadapannya muncul ular berbisa itu, tapi dalam bayangan sesosok gadis

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

berwarna kebiru-biruan. Ia tak tahu pasti apakah gadis itu memakai pakaian berwarna biru ataukah warna kulitnya memang biru.Makhluk itu memiliki tubuh seorang perempuan, tapi dengan kepala ular. Saat berputar mengelilinginya, makhluk itu berbicara, "Siang tadi aku menunjukkan kepadamu kemampuanku. Aku bukanlah apa yang kaukira. Kau tak boleh mengutukku untuk bergoyang dan melenggak-lenggok seumur hidup hanya untuk menyenangkan hati turis-turismu. Aku lebih terhormat dari sekadar itu. Aku masih muda, aku ingin hidup, merasai segala rasa dan kesenangan, dan mengumpulkan kenangan untuk masa tuaku. Jika turis-turismu ingin ketegangan, suruh mereka pergi ke Amazon atau ke sebuah negeri di mana bebatuan memiliki ingatan. Kuperingatkan kau, jika kau memaksaku lagi untuk melakukan pertunjukan, kau pasti akan menyesal.... Atau, jangan-jangan kau tak akan punya waktu lagi, bahkan hanya untuk sekadar menyesal sekalipun."Saat berbicara, makhluk itu berputar mengitarinya, menggosokgosokkan tubuhnya pada tangan dan pinggul Ibrahim. Ibrahim mencoba menyahut, tetapi lidahnya kelu. Ia terhipnotis.Dengan penuh percaya diri, makhluk itu melanjutkan perkataannya, "Jangan coba-coba mencari-cari alasan dan berdalih agar aku jatuh iba kepadamu. Bebaskan aku dan kau akan memperoleh kedamaian. Aku punya banyak kerjaan. Ini musim panen dan aku harus pulang ke balik batu. Aku menyukai tangan dingin para gadis pemetik jagung. Turis-turismu itu membuatku muak. Mereka tidak menarik. Dan kau, kau cukup puas dengan upah menyedihkan pemberian mereka. Cobalah lebih punya harga diri.Kini kau boleh pergi. Lapangan ini akan segera dipenuhi orang. Matahari bakal segera terbit. Dan kau, piara ini baik-baik. Tapi jika kau ingin kedamaian, berikan kembali kebebasanku."Ibrahim terjaga dengan sekujur tubuh gemetar. Ia memeriksa kotak tempat penyimpanan ular. Ular biru berbisa itu masih ada, sedang tidur nyenyak penuh kedamaian.Ia segera mengambil air wudu, lalu menunaikan salat subuh. Setelahnya, ia berdoa seraya menyatukan telapak tangannya, memohon agar Tuhan memberinya pertolongan dan perlindungan, "Ya Allah, Engkau Mahabesar dan Mahapengasih.Jagalah diriku dari segala kejahatan. Aku ini orang miskin. Mencari nafkah dengan bantuan hewan-hewan melata. Aku tak tahu bagaimana caranya melawan kejahatan dan aku tak bisa berganti pekerjaan. Sekarang ini zaman susah. Dalam keluarga kami, pekerjaan semacam ini telah dilakukan turun-temurun. Aku lahir dan dibesarkan di tengah-tengah binatang melata. Aku tak pernah benar-benar memercayai mereka sepenuhnya. Mereka licik. Sebagai seorang muslim yang baik, aku memang tak percaya pada reinkarnasi, tapi terkadang aku berjumpa dengan orang-orang yang hati dan jiwanya seperti ular berbisa, yang mewujud dalam segala kemunafikan dan senyum palsu."Tidak biasanya ia berdoa seperti itu. Selama bertahun-tahun ia menjalankan mata pencahariannya tanpa banyak tanya. Tapi semalam, mimpi itu membuatnya terhenyak.Ada sesuatu yang membuat mimpi itu terasa begitu nyata. Ibrahim ketakutan. Merasa takut kalau-kalau sesuatu yang mengerikan bakal menimpanya.Hari itu ia akan melakukan pertunjukan di sebuah hotel besar di hadapan sekelompok turis asing yang mau membayar lebih untuk menyaksikan tontonan eksotis ini: seekor ular menari-nari diiringi alunan musik. Ibrahim berdoa sebelum meninggalkan rumah. Ia tiba di hotel pada waktu yang telah disepakati. Para turis itu baru selesai makan. Mereka sedang minum anggur dan bir. Pemandu wisata segera

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

memperkenalkan Ibrahim, "Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan, kini akan kami persembahkan apa yang sering Anda dengar, tapi belum pernah Anda saksikan, sesuatu yang membedakan Afrika Utara dengan Selatan. Di sini kami tak memiliki ilmu sihir, yang kami punya adalah puisi. Kami memiliki pawang ular paling terkenal di seantero wilayah ini, inilah dia seorang lelaki yang rela mempertaruhkan hidupnya untuk membuat Anda tegang, inilah Ibrahim dan ular-ularnya.... "Kamera-kamera telah disiapkan. Beberapa orang turis tampak tak terkesan; mereka terus saja makan kue-kue berbentuk tanduk kijang dan minum teh mentol. Ibrahim memulai pertunjukannya. Ia tampak ragu-ragu. Dibungkukkannya tubuhnya pada para hadirin. Saat menunduk, sepintas ia merasa seperti melihat sosok makhluk aneh yang muncul dalam mimpinya semalam. Makhluk betina itu kini berkepala seekor burung dan mengenakan djellaba ketat berwarna biru, dadanya rata tanpa payudara.Makhluk itu duduk di atas dahan sebatang pohon, mengayun-ayunkan kakinya seperti seorang anak kecil. Ibrahim memainkan serulingnya, lalu membuka kotak tempat penyimpanan ular. Para turis menatap lekat-lekat pada kotak itu. Ibrahim memasukkan tangannya ke dalam kotak. Dia hendak mencekal ular berbisa berwarna biru. Tapi, alih-alih tercekal olehnya, ular itu justru membelit pergelangan tangannya. Saat ia hendak menyentuh kepalanya, binatang itu mematuknya. Racunnya masih ada. Bisa ular itu belum dihilangkan saat ia membelinya. Ibrahim roboh dengan tubuh kaku, mulutnya dipenuhi darah dan buih putih. Buih itu adalah bisa ular. Para turis mengira itu hanyalah sebuah lelucon yang buruk. Beberapa orang merasa kecewa, yang lainnya merasa sebal karena makan siang mereka terganggu oleh sebuah kematian. Foto-foto diambil. Sebuah cendera mata tentang kematian yang datang tiba-tiba. Sebuah cendera mata tentang seorang seniman yang tewas di atas panggung. Jenazah Ibrahim dipindahkan ke kamar mayat dan disimpan dalam laci nomor 031.***ALI dan Fatima, dua anak kecil yang selalu berjalan bergandengan tangan saat pergi bersama ke sekolah, kini telah dewasa. Dipertunangkan sejak kecil, mereka kini telah menjadi sepasang suami-istri kelas menengah. Mereka menikah karena saling mencintai dan tak seorang pun bisa menghentikan perkawinan itu. Tapi, di balik segalanya, mereka sesungguhnya terpisah oleh banyak hal: Ali berhasil melanjutkan pendidikannya dan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan swasta, sedangkan Fatima berasal dari keluarga miskin, adalah berkah baginya dia bisa membaca dan menulis. Ali adalah seorang lelaki yang 'lirikan matanya bisa menjatuhkan seekor burung yang sedang terbang' dan sebagai kiasan gairahnya terhadap perempuan, ia digelari 'bermata hijau', walaupun sebenarnya bola matanya berwarna hitam. Ia suka mabuk, ngebut-ngebutan dengan mobilnya dan mencuri istri orang. Fatima adalah seorang ibu rumah tangga yang baik dan menghabiskan waktunya untuk mengurusi rumah. Dia mengabdikan diri sepenuhnya pada suaminya dan kedua anak mereka.Sebagai seorang perempuan yang pasrah terhadap nasib, dia tidak terlalu cerdas, tapi selalu ada saat dibutuhkan. Dia tak pernah menyimpan rahasia sedikit pun terhadap suaminya, seorang perempuan yang lembut dan baik budi, bahkan terkadang kebaikannya malah lebih mirip suatu kebodohan. Seperti ibunya, dan juga neneknya dulu, Fatima hidup dalam sebuah kedamaian yang semu, hingga pada suatu hari saat dia memutuskan untuk melakukan sesuatu agar suaminya betah di rumah.Ali menghabiskan waktunya di banyak tempat. Tiada yang bisa

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

membuatnya betah di rumah. Ketika Fatima berani memprotes, Ali menamparnya dua kali dan pergi membanting pintu. Ia tak pernah menyembunyikan kesenangannya. Ia menggodai gadis-gadis tanpa pernah menyangkalnya dan bersikap seolah-olah ia belum menikah. Ini membuat Fatima merasa cemburu. Dan, rasa cemburu membuatnya sakit, sedangkan para dokter tak mampu membuat suaminya pulang. Mereka mendiagnosisnya terserang demam. Fatima tak berani mengadu kepada keluarganya, tetapi orang-orang yang dekat dengannya tahu bahwa ia tak bahagia.Suatu hari ia memutuskan untuk datang kepada seorang peramal. "Suamimu memang ganteng. Ia mengkhianatimu dan akan selalu begitu. Sifat itu bahkan lebih kuat daripada dirinya sendiri. Aku bisa melihat kerumunan perempuan cantik yang ingin memeluknya. Ia dianugerahi gairah yang besar. Ia bisa memberi perempuan kenikmatan yang tak bisa diberikan oleh lelaki lain. Bisa dibilang ia dilahirkan untuk memuaskan perempuan-perempuan yang ditakdirkan terikat dengan lelaki-lelaki yang lemah. Tugasnya adalah memperbaiki apa yang rusak. Kau tak bisa berbuat apa-apa soal ini. Lelaki semacam ini tak diciptakan untuk pernikahan dan kehidupan berkeluarga. Walaupun kau menyembunyikannya dalam penjara, perempuan-perempuan itu tetap akan menemukannya dan merebutnya darimu. Hadapilah dengan tabah! Hanya itu yang bisa kukatakan padamu, Nak." Fatima merasa putus asa. Dia berkeluh-kesah pada Khadijah, seorang tetangga yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit lokal. Khadijah merasa tersentuh atas beban hidup Fatima. Dia sendiri sebenarnya pernah mencoba menarik perhatian Ali, tetapi tidak berhasil. Dia bukan hanya mengerti kecemburuan temannya itu, tapi juga berbagi rasa itu dengannya. Dia menyarankan Fatima agar menemui seorang dukun, seorang perempuan yang dikenal mampu menyelesaikan berbagai masalah perkawinan. Perempuan itu membuka kantor di sebuah gedung dan hanya menemui orang setelah melakukan perjanjian. Dia adalah seorang perempuan modern yang pernah belajar psikologi. Penampilannya sama sekali tidak mirip dengan nenek sihir dalam dongeng yang hanya memiliki mata satu dan tampak mengerikan. Perempuan itu menyuruh Fatima agar menceritakan masalahnya. Dia mengeluarkan buku catatan dan menanyakan sejumlah pertanyaan."Kau ingin suamimu kembali dan kau ingin agar ia hanya menjadi milikmu? Aku bisa saja memberimu pil untuk dicampurkan dengan kopi yang diminum suamimu, tapi dalam rotinya, tapi ia bisa keracunan. Kau tentu ingin ia kembali padamu dalam keadaan segar-bugar.... "Fatima membisikkan sesuatu kepada Khadijah, lalu berkata pada perempuan itu, "Aku tak ingin ia jadi lemah syahwat. Aku ingin ia tetap sama seperti lelaki yang aku cintai: kuat, penuh cinta, dan lembut.""Kalau begitu, aku akan memberimu sebuah resep kuno peninggalan nenek moyang kita: segumpal kecil adonan roti tanpa ragi yang telah disimpan semalam suntuk dalam mulut sesosok mayat, sebaiknya mayat yang masih segar, bukan yang telah lama tersia-sia di kamar mayat. Suamimu hanya perlu menggigit adonan ini dan memakannya, Lalu dia akan berubah perangai dan kembali kepadamu seperti yang kauimpikan. Adonan ini harus langsung berpindah dari mulut mayat itu ke mulutnya, tanpa disentuh orang lain. Jika kau tak bisa membuatnya memakannya, kau mungkin bisa melakukannya saat ia tidur."Fatima merasa kesulitan menemukan mayat. Tapi, Khadijah memberi isyarat kepadanya. Fatima lalu membayar pada asisten si dukun yang

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

kantornya terletak di dekat ruang tunggu.Siang itu juga adonan itu telah siap. Khadijah membungkusnya dengan sapu tangan dan pergi ke rumah sakit. Malam itu ia memang bertugas jaga. Ia sedang bernasib baik, seperti yang kadang-kadang terjadi padanya. Khadijah bergegas ke kamar mayat dan membuka sejumlah laci, mencari-cari mayat paling segar untuk menaruh adonan itu. Nomor 031 masih hangat. Mulut mayat itu setengah terbuka.Masih ada buih dan darah di sekitar mulutnya. Khadijah tak mengalami kesulitan untuk menaruh adonan di antara geligi mayat itu. Esok paginya ia membawa pulang adonan itu dengan sapu tangan yang sama.Ali sedang tertidur lelap. Dengan lembut, Fatima membuka mulutnya, lalu menaruh adonan itu di dalamnya. Ali menggigitnya tanpa sadar. Ia tidak terbangun dan tak akan pernah bangun. Ali sudah mati. Bisa ular itu masih aktif.Fatima pingsan. Pada saat itulah perempuan bertubuh biru berkepala ular muncul di hadapannya dan berkata, "Dukun itu tidak ada. Yang ada hanyalah kebodohan. Seseorang menentang kemauanku dan ia mati. Yang lainnya mencoba ikut-ikutan dan ia kehilangan segalanya. Yang satu kehilangan martabatnya, yang satunya lagi kehilangan harga dirinya. Satu hal yang bisa dipetik: orang mestinya berhatihati terhadap ular berbisa, terutama jika mereka telah dikutuk oleh rembulan pada suatu malam saat sang bulan dipenuhi oleh kesedihan. Selamat tinggal, anakku. Setidak-tidaknya, akhirnya kau merasa damai dari suamimu. Seperti yang kaulihat, aku tak sepenuhnya jahat, bukan?"***

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

MAGI DARI TIMUR Cerpen: Sutardji Calzoum Bachri Sumber: Riau Pos, Edisi 08/09/2003

Jika para wali di langit tinggi Jika para wali berarak di awan Jika para wali menapak langit tinggi Mari ikut bersama-sama (disarankan dinyanyikan seperti When the Saints Go Marching In)
BEGITULAH dia Pak Tua itu menyanyi dengan harmonika berjalan menapaknapak pantai. Sementara burung poididi, si raja udang, elang, gagakagaknya, makadawaktu, murai dan lainnya meloncat-loncat girang dan bising dengan kicau lagu masing-masing, seakan tak perduli dengan irama nyanyi dan langkah loncat Pak Tua di pantai antara pasir dan bebatuan. Angin pantai senja itu jinak. Tapi sejinak-jinaknya angin pantai, tetaplah dapat menyibak-nyibak perdu, ranting dan dedaunan berangan dan pelepah pepohonan kelapa kembar, mendesah dan menderu dalam gumam yang dalam. Maka engkau takkan dapat mendengar penuh nyanyi dan harmonika Pak Tua kalau kalian tak dapat masuk ke dalam dirinya. Dalam diri Pak Tua ada ruang yang luas dan lapang yang dibuat dan dimuat oleh kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa, pencapaian dan pelepasan yang ikhlas dan tenang. Memang tak gampang masuk ke dalam ruang jiwa Pak Tua, namun jika engkau sanggup bersabar, jika kalian punya waktu dan memiliki hal-hal dan kejadian yang dapat kalian resapkan, engkau bakal bisa masuk ke dalam diri Pak Tua itu dan dapat jelas mendengar nyanyi dan harmonikanya. Lihatlah, ia terus menyanyi, menapak-napak di pasir pantai meloncat-loncatkan kaki tua yang masih tegap itu pada punggung kokoh bebatuan:

Bila para wali di langit suci Jika para wali berarak di awan Bila para wali di langit suci Mari ikut bersama-sama
Burung poididi, raja udang, makadawaktu, gagakgulana, kakaktua, dan burung sukadukatuaku, berkicau-kicau bising dan indah memberikan warna suara pada langit senja jingga merah keperak-perakan. Pelepah-pelepah kelapa kembar, dedaunan berangan dan perdu pantai disibak rebak angin mensiar-suirkan nyanyi sendiri-sendiri tanpa perduli. Namun di antara sibuk bising nyanyi angin, pepohonan, dan para burung itu, nada dan nyanyi burung makadawaktu-lah yang mengatas segala. Suaranya yang aneh , acuh tak acuh, dan terdengar netral, berderam keluar dengan tenang dan penuh wibawa dari paruh yang panjang melengkung bagaikan pedang: Waketu waktu waktu waktu waketuku waktu, mengatas segala suara kicau dan nyanyi yang ada di sekitarnya.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Tapi seperti sudah kukatakan tadi, jika engkau dapat masuk ke dalam diri Pak Tua, hirau kicau deram desah burung, pepohonan dan alam yang di luar kelihatan bising tak perduli, saling sendiri menyanyi, semuanya jadi terasa selaras sepadan dan menyatu dalam nyanyi Pak tua itu. Lelah dan puas menyanyi, Pak Tua menggeletakkan tubuh girangnya di pasir pantai, melelap dalam kesejenakan tidur. Ia kelihatan sebagai batu bernafas di sela banyak bebatuan yang terhampar di pantai. Dalam tidurnya ia sering mengeluarkan dengkur yang aneh, bagaikan kord-kord harmonika yang tak dapat dilacak nadanya. Memang dulu ketika muda bekerja sebagai pelaut di kapal tanker Yunani “Philosophia’, menyanyi dan mabuk-mabukan dengan teman-teman pelaut sekapal dari berbagai bangsa, ia tak pernah mau menyelaraskan suaranya yang aneh itu dalam nyanyi bersama. Dalam mabuknya ia berkicau tak ada do bersama. Bahkan tak ada do sebenar do. Begitu juga re dan seterusnya. Paling yang do mirip do yang tak sebenar do yang hampir do yang walau do bukan do yang meski do bukannya do tapi do, namun do tak juga do, tak sampai do namun do mirip do apalah do kalau tak do. Biasanya kalau ia sudah berkicau begitu, teman-temannya setanker Philosophia akan bilang: “Engkau benar, engkau ini Magi dari Timur”. Dan ia dalam mabuknya tertawa sementara pikirannya bilang pada dirinya sendiri: “Bukan hanya dari Timur, juga dari Barat, Utara, Selatan. Tapi tentulah itu tak dilafazkan pada teman-temannya sekapal. Karena ia tahu, sebagaimana teman-temannya tahu: Bagi para bijak cukuplah satu arah, untuk menunjukkan banyak arah yang ada. Kini batu bernafas itu yang punggungnya mengarah tenggelamnya senja, terus tenggelam dalam lelap diiringi dengkur harmonikanya. Dengkur yang bersuara harmonika itu sudah lama lama sekali tak terpisahkan pada tidurnya. Dulu puluhan tahun yang lalu, ketika SD kelas tiga ia pertama kali mengenal harmonika. Ibunya membelikannya sebuah harmonika 3 dollar Straits Settlement, mata uang yang berlaku waktu itu di semenanjung Malaya, Singapura, Brunei dan Riau. Sejak itu setiap bulan ia menghabiskan 3 sampai 4 harmonika. Tetapi ibunya tak pernah menolak kalau ia minta uang untuk harmonika. “Engkau menghabiskan harmonika seperti orang makan jagung rebus,” bilang abangnya yang iri. Tapi ibunya bilang: Biarlah. Di antara kalian dialah yang akan pergi jauh dan lama. Dia akan berpisah jauh dari kita. Mungkin untuk selama-lamanya. Memang sengaja aku biarkan bising dan sibuk dengan harmonikanya. Aku biarkan dia, sambil bergantungan di akar hawa pepohonan Riau seperti Tarzan, menyanyi-nyanyi dan menghisap harmonika. Aku biarkan dia berenang di lautan, timbul tenggelam bagaikan lumba-lumba, sambil menghisap harmonika. Aku biarkan dirinya, parunya, dan harmonikanya kuyup dengan laut, selat, sungai, akar, dan pepohonan Riau. Nanti, biarpun ia pergi jauh, dia takkan terpisahkan dari kita. Setiap ia menampilkan dirinya dan harmonikanya, selalu ada kita di sana.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Sejak berusia 50 tahun ia mulai mendengkurkan harmonikanya. Tapi sejak usia itu pulalah ia tak pernah bermimpi. Tidurnya selalu kosong mimpi tapi sarat pada makna hayat kediriannya. Mimpi hanya untuk luka yang ingin disembuhkan, angan-angan dan harapan, untuk kejadian-kejadian yang diharapkan dan dicemaskan akan datang, juga untuk hiburan. Tetapi aku, aku sudah lama tak membutuhkan mimpi. Aku telah melepas-atasi luka, aku telah lama mencapai atasi sampai. Aku tak membutuhkan hiburan karena aku adalah kegirangan. Aku tidak menanti dan tak mengharap. Karena aku adalah yang dinanti dan diharapkan, katanya dalam omong-omong dengan Paul Wisdom, teman akrabnya sesama mantan pelaut Philosophia ketika suatu hari kebetulan bertemu di Batam. ‘Engkau memang benar-benar Magi dari Timur, seperti dulu sudah kubilang waktu di kapal,” kata Paul Wisdom. Dan seperti biasa, kembali kilatan dalam pikirannya bilang: “Bukan hanya dari Timur, tetapi juga dari Selatan, Utara dan Barat”. Tetapi seperti biasa pula tak diucapkan lantang pada temannya. Karena ia tahu, bagi para bijak seperti Paul Wisdom cukuplah satu arah untuk menunjukkan banyak arah yang ada. Ketika tidur Pak Tua selalu tersenyum. Bukan hanya di wajahnya yang kerut merut dihiasi alur usia, tetapi sekujur tubuhnya, kaki, bahu, perut dan tangan dan lengannya tersenyum. Semakin lelap semakin mengembang senyum di sekujur tubuhnya. Bahkan tattoo perempuan telanjang di tangan kirinyakenang-kenangan di masa pelautnya-yang tadi ikut berkeringat ketika Pak Tua meloncat-loncat menyanyi, ikut pula tersenyum. Kedua buah dadanya yang ikut keriput bersama usia Pak Tua, kini serupa dengan kembang senyum, mengundang hasrat keakraban bagi yang menatapnya. Maka tak heran kalau Alina, gadis kecil 5 tahun, yang sengaja melepaskan diri dari pengasuhnya, sedikitpun tak gentar ketika menemukan batu bernafas itu. Ia berjongkok di depan Pak Tua, mendengarkan dengan cermat dan asyik pada dengkur harmonika dari batu keras bernafas namun penuh dilimpahi senyum akrab di sekujurnya. Ia terpukau pada buah dada tattoo yang mengembangkan senyum. Alina mengusap-usap lengan yang tersenyum seakan menjawab suatu jabat tangan. Sebesar-besarnya buah dada dari tattoo di lengan tentulah takkan besar benar. Tapi bagi Alina, buah dada tua yang mengembangkan senyum itu menjadi besar penuh susu segar. Ia menundukkan muka ke buah dada kiri tattoo dan mulai menghisapnya. Pak Tua terbangun. -Itu hanya gambar-kata Pak Tua sambil tersenyum. Tanpa malu-malu dan tidak terkejut Alina bilang: “Aku ingin menyusu, Kek”. -Kau sudah lama tak perlu menyusu-kata kakek. -Memang sudah lama aku tak menyusu. Tapi sekarang aku ingin. Pak tua mengalihkan hasrat Alina, memainkan harmonika dengan lembut dan membisikkan lagu di sela-sela riff-nya. Alina senang kegirangan. -Siapa namamu? -Alina. -Usiamu?

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

-5 tahun. -Kakek namanya siapa? -Nama. -Nama Kakek?! -Ya Nama. -Aku bilang nama Kakek siapa?-gusar Alina. -Ya Nama. Alina tambah gusar dan kesal. -Orang harus punya nama, Kek. Namaku Alina. Kakek namanya apa? -Nama-jawab kakek sambil memungut ranting dan menuliskan : N-a-m-a, di atas pasir pantai. -Ah masak nama Kakek Nama. Biasanya nama orang itu Abdul, Alek, Wina, Hadi, Hamid, Rahman. Tapi Kakek namanya Nama. Tak lazim, Kek. Kakek tersenyum dan tertawa. Ia tahu sedang menghadapi anak yang cerdas. Kata ‘tak lazim’ yang diucapkan seorang anak 5 tahun, menambah kesan kecerdasannya. -Ya. Baiklah. Biar lebih jelas dan lazim namaku ini-kata kakek, sambil menggoreskan ranting di pasir dan menulis bin Tafsir setelah N-a-m-a. -Nama bin Tafsir, itulah nama jelasku. Kalau pakai Tafsir pasti akan lebih jelas memanggil atau mengenalku. Jika kau sebut Tafsirnya kau akan lebih kenal aku. Alina terbengong-bengong dan bilang “aku tak mengerti, Kek”. -Ya aku tahu kau belum paham. Tapi nantilah jika semakin tambah usiamu, semakin banyaklah kejadian yang kau alami dan saksikan, kau akan bisa akrab dan paham dengan namaku dan dengan nama-nama lainnya. Buat sekarang, kau panggil aku Kakek, itu sudah bagus-kata Pak Tua. Senja semakin kelam. Burung-burung sudah menutup kicaunya. Semak-semak dan perdu mulai menyatu dalam bayangan kelam. Pepohonan kelapa kembar mulai tak kelihatan kembarnya. Dermaga yang jauh sayup, mulai menyalakan lampunya. -Sudah waktunya pulang-kata Pak Tua.-Kau bisa pulang sendiri?-tanyanya. -Itu rumahku-jawab Alina menunjukkan sebuah vila mungil 200 meter dari situ, yang menjadi terang karena lelampunya sudah dihidupkan. -Kakek rumahnya di mana?-tanya Alina. Kakek menunjuk pada gundukan tanah yang luas di ketinggian pantai, ditutupi rumput yang tebal dan rapi dan di pinggir gundukan penuh merambat bunga-bunga. Bagi Alina rumah kakek kelihatan aneh sebagai gundukan tanah yang luas dan lapang. -Boleh aku ikut Kakek? -Buat apa-jawab Pak Tua. -Ya ingin tau aja-jawab Alina.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Aku cuma ingin tahu jalannya. Sampai rumah Kakek aku langsung pulang. Nanti kan aku bisa jalan sendiri ke rumah Kakek, tentu bila Kakek mengizinkan. Ya, nanti-nanti kau bisa sendirian ke sana, kata kakek sambil membimbing Alina menuju ke rumah. Sampai rumah Pak Tua, Alina jadi tahu bahwa rumah kakek dalam tanah. Gundukan besar dan rapi dengan rumputan dan bunga-bunga itu adalah atapnya. Percis sebuah kuburan besar tetapi lelampu luar dan dalam rumah yang segera dinyalakan kakek, serta warna-warni bunga-bunga rerumputan sejuk dan tebal membuat Alina senang dan jauh dari ketakutan. Di bagian depan bukit rumah Pak Tua itu, terpancang papan lebar kokoh dan besar bagaikan sebuah nisan yang besar dan jelas tercantum nama Pak Tua: Nama bin Tafsir. Kakek tersenyum melihat Alina dengan bantuan cahaya lelampu taman mencoba mengeja namanya. Sudah waktunya kau pulang sekarang. Nanti ayah dan ibumu bisa cemas. Lantas digaetnya tangan Alina dan diantarnya bocah kecil itu separuh jalan menuju rumah orangtuanya. ***

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

BERCINTA DI BAWAH BULAN Cerpen: Kurnia Effendi Sumber: Media Indonesia, Edisi 08/04/2002 INILAH ritual yang kuangankan sejak usia dua belas tahun: bercinta di bawah bulan!Di bawah leleh cahayanya yang melumuri langit dan tergenang di atas laut, seperti emas cair yang selalu bergelombang mengikuti tarian ombak. Seperti itu pula tubuhku meliuk mengelilingi tubuhmu, ditumbuhi gairah yang menggelegak setelah bertahun-tahun kuhimpun dengan sabar hingga terlampau sulit dibendung. Mengingatkan peristiwa desakan air dalam dam raksasa yang hanya dibatasi tanggul rapuh dan meruntuhkannya. Menyebabkan jutaan kubik air tumpah, lalu mengalir dengan kecepatan tak terduga. Merobohkan seluruh benda yang dilintasi, nyaris tanpa peduli. Sebagaimana percintaan yang berlangsung tanpa mempertimbangkan sekitarnya, karena seluruh pori tubuh kita mekar menguapkan aroma syahwat. Mengaduk-aduk darah yang berlalulalang amat gegas, dari jantung ke seluruh tubuh. Melewati jaringan aorta menuju jemari yang meregang. Dari lorong arteri memasuki bagian-bagian tersembunyi. Dan sebaliknya, dari akar-akar rambut kembali ke pusat pembuluh. Seperti Audi Sporty yang meluncur kencang di jalan tol, membuat napas kita tersengal oleh perebutan antara hasrat dan kesabaran.Oh, mana mungkin ada kesabaran dalam sebuah percintaan yang bergelora? Tentu tiada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, bagi percumbuan yang mirip geliat hiu mengitari mangsanya, sebelum mencabik-cabik korban dengan taringnya, sampai menjadi sayatan-sayatan penuh hamburan warna merah. Hanya bedanya, saat ini warna bulan yang menyiram rambutmu menjadi kelebatankelebatan cahaya kuning sewaktu kaugoyangkan kepalamu mengikuti irama tubuhku. Menyerupai tarian Boi G Sakti yang lentur sekaligus kejang. Sementara suara laut menirukan ribuan tambur basah yang ditabuh tangan kanak-kanak pada sebuah karnaval lepas senja.Kita berdua semakin bersemangat bercinta di bawah bulan. Di hamparan pasir putih yang dari butirannya membersit kerlip kilau lantaran mengandung serbuk kaca. Dan, kadang-kadang dua pasang kaki kita saling menjalin, menelikung, menyebabkan tubuh kita terguling dalam dekapan erat. Menggelepar memasuki air pantai. Dijilat-jilat lidah ombak dengan mesra, dan perlahan-lahan terisap pusaran pasir lembut di bawah air yang tergerus riak gelombang. Seperti diajak kembali ke tengah laut, mungkin menuju palung, dan tentu saja: suara decap kecupan bibirmu yang mematuk setiap inci leherku terdengar bagai kicau camar, yang demikian riang menemukan beribu-ribu ikan kecil mengambang, berenang dalam suatu koloni ketika air pasang. Sebab, bulan tengah mencapai purnama.Seperti juga api cinta dalam dada kita yang mencapai puncak bara. Dan, geliat nyala itulah tubuh kita, yang berputar saling menjepit mirip anyaman rotan. Bergantian dilahap tatapan bulan, punggungmu dan punggungku yang telanjang. Di antara siluet masif dua badan saling dekap. Sementara sesekali butir keringat pada busung indah payudaramu memantulkan kilatan warna tembaga, campuran rona kulit duku pada tubuhmu dengan sorot cahaya bulan. Ah, seandainya tak banyak lubang pada tubuh kita, tentu kita berdua akan terapung seraya terus menggeliat dan tertiup angin ke tengah samudra. Sebagaimana pelampung yang terombang-ambing ombak, dan

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

hanya sesekali disambar bidikan sinar lampu menara mercu yang berdiri angkuh di sisi pelabuhan.Tapi kita tak terapung! Sungguh. Karena selain air laut belum mencapai lutut, gelombang cinta yang memadukan pancaindra ke pusat saraf, membuat kita terus menari. Menyusun jejak demi jejak kenikmatan, untuk kita kekalkan dalam erangan panjang yang suaranya akan memantul menjadi gema tak putus di langit. Menyentuh paras bulan bening, sampai ia tersipu karena tak berkedip menyaksikan adegan percintaan kita yang demikian panas. Tampak melalui uap yang terbang dari pori-pori serupa kabut melayang, sebagai pengorbanan embun malam kepada terik surya pagi. Serupa asap hangat kepundan yang membubung sehabis sibuk melebur belerang. Ya, itulah hawa yang mengalir atas nama gelora cinta. Alangkah nikmatnya!Apalagi hasrat itu telah menjadi impian yang pernah bergulung dari malam ke malam sejak usiaku dua belas tahun, ketika gambar perempuan telanjang menjadi awal pacu darahku. Dan, setiap suara perempuan menebar getaran yang meniup bulu-bulu halus di relung telingaku. Wangi keringat perempuan menjadi aroma yang mengirimkan ilusi tentang harum tubuh bidadari. Sebuah usia yang mengubah sentuhan tangan perempuan menjadi semacam demam, dan membuat jantungku luluh dalam debar. Ketika itu, seluruh imaji tentang perempuan adalah titisan Ken Dedes dan Dewi Aphrodite.Ya! Usia lelaki perawan yang kemudian berjanji kepada diri sendiri untuk menjaga kesucian hingga tiba saatnya bercinta pertama kali dengan seorang perempuan perawan. Yang secara lahir dan batin dicintai baik siang maupun malam, dalam kubangan duka maupun gembira. Saat jauh di seberang pulau atau ketika berimpit dalam persetubuhan yang syahdu.Ternyata, engkaulah perempuan yang akan kucintai sepanjang hidup. Sampai-sampai tanganku tak hendak menyentuh batang zakarku sendiri jika semata bermaksud melakukan masturbasi. Bahkan selintas keinginan untuk mencobanya diam-diam di sebuah kamar sunyi pun kusingkirkan demi menjaga keperawanan, meskipun godaan untuk sekadar membelainya sejak lunglai hingga tegak berdiri itu datang demikian bertubitubi. Mirip bujukan ular yang menyamar peri agar kupetik buah khuldi, sementara barang berharga itu kulindungi dengan segala daya dan pengorbanan demi cintaku padamu. Karena kita akan melakukan ritual percintaan paling hangat pada kesempatan yang sangat ditunggu-tunggu. Di tepi pantai saat bulan purnama terbit dari rahim lautan, yang seolah mendidih setelah merendam tubuh apinya. Sebagai kesempatan terindah untuk menyerahkan -tidak hanya jiwaku akan tetapi juga -- badanku yang perawan. Yang akan membuat tubuh perawanmu juga gemetar dalam puncak ngilu keterharuan, mengingat betapa aku laki-laki yang pandai menghargai sebuah percintaan tulus.Diawali sebuah rayuan dari lubuk hati yang memukau, di antara kepingan-kepingan nafsu yang telah dibuat membeku selama bertahun-tahun dalam perjalanan mencapai hari ini. Hari yang mungkin diberkahi. Hari yang memiliki malam amat cerah dan hangat, karena paras ayu bulan purnama senantiasa memamerkan senyum. Dan, secara diam-diam mengalirkan pengaruh sihirnya kepada kita berdua.Itulah yang menyebabkan kita masingmasing rela saling berpagut bibir. Tangan kita bagai mengandung sengat halus, saling meraba dengan getar vibrasi yang lembut. Menyusup ke dalam pakaian, memasuki ketiak dan celah-celah yang lain. Meremas bahu dan tonjolan-tonjolan lainnya. Membelai rambut yang terurai di kepala kita dan bulu-bulu yang lain.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Mencubit paha dan bagian-bagian tubuh di sekitarnya. Lihatlah: jemari kita bermain dengan kecepatan jemari Indra Lesmana pada bilah-bilah piano saat tenggelam dalam jam session. Gesekan tangan kita di pipi dan leher mengingatkan atraksi biola Vanessa Mae yang menghanyutkan. Sementara cengkeraman kukumu ke kulit punggungku setegang pemanjat tebing yang menggantungkan harapan kepada kekuatan ruas jari paling ujung. Desah napas kita meniru seorang pelari. Erangan erotik yang terdengar dari mulutmu melampaui rasa sakit seorang ibu yang melahirkan bayi pertamanya. Lalu kita pun melempar pakaian yang lolos lembar demi lembar ke udara, disambut angin yang berembus mendorong perahu nelayan ke tengah laut. Sejenak busana kita melayang tak beraturan dan jatuh ke permukaan laut, yang menyerupai agaragar biru kelam pada setiap pahatan ombak, dan menguning pada gigir lunaknya.Sampai akhirnya tubuh kita bugil, bercahaya karena mata bulan yang rakus segera menerkamnya. Sungguh membuatku cemburu, karena terasa tak adil caranya memandang. Dan, tak kutunggu waktu lagi: segera kudekap erat tubuh hangatmu yang meronta manja. Menggelinjang liar namun pintar mengisap sejak bagian atas sampai paling bawah. Meluluhkan sendi-sendi di satu sisi dan membangkitkan seluruh sel berahi di sisi lain. Maka terjadilah adonan yang saling lekat dan saling rekat, berputar bagai gasing pada sumbu yang berpindah-pindah. Beribu denyar berlomba menuju ubun-ubun, lalu kurasakan asin yang aneh pada lidahku, yang kupastikan bukan cipratan air laut, melainkan darah dari bibirmu yang kugigit lantaran kelewat gemas. Sebaliknya leherku bagai melepuh oleh hirupan panjang yang membuat kesadaranku tercerabut sejenak oleh kepayang. Seperti vertigo yang singgah, sungguh tak terbayangkan sejak awal, karena kita berdua adalah perjaka dan perawan yang sangat diberkati.Bercinta di bawah bulan! Menggelepar dalam pangkuan ombak laut di tepi pantai yang dihiasi pohon-pohon nyiur. Di bawahnya berserak pasir kuarsa, dan serbuk kulit lokan yang tak terkuburkan. Membuat seluruh saraf di telapak kaki mengalami sensasi. Terlebih ketika sepasang tanganmu terangkat ke udara dan tatapan matamu menyala pantulan bulan. Membuatku terpesona, seolah menyaksikan Dewi Yemanja yang kasmaran.Sampai tak kusadari perubahan mulai terjadi menjelang puncak ekstase paling bersejarah dalam hidupku. Juga hidupmu, kukira. Meskipun kemudian muncul perasaan cemas, sewaktu gerakanmu semakin liar. Urai rambutmu berkibaran mirip lidah api keemasan berlatar langit dengan desiran angin garam. Desahmu mengandung nada tinggi, mengingatkan erang Sharon Stone dalam film Basic Instinct. Dan, tentu mengingatkan segala kemungkinan yang terjadi ketika engkau mulai dekat dengan orgasme.Ya! Sesuatu yang tibatiba membuatku takut, namun terlambat. Dari ujung jari-jari tanganmu tumbuh kuku yang runcing, berkilau di bawah sinar bulan. Dengan kecepatan yang tak sanggup kuikuti: terayun ke arah wajahku. Kepalaku bergerak menghindar, namun tak sepenuhnya berhasil karena bagian bawah badan kita sedang menjadi satu. Ini merupakan perasaan yang amat sulit dijelaskan. Ketika puncak gelora sedang kugapai, secara bersamaan keliaranmu menunjukkan tanda-tanda yang menakjubkan. Nikmat bercampur rasa sakit, atau sebaliknya, kepedihan berlumur nikmat.Ah, lihatlah darah yang kemudian terciprat dari luka di wajahku. Engkau tampak sangat menikmati. Melalui senyuman yang begitu memesona. Senyum yang menyimpan kepuasan tiada tara. Membuatku

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

merasa rela, bahkan sewaktu cabikan tanganmu beralih ke dadaku setelah terjadi jarak dengan ujung payudaramu. Terasa bagai cakaran yang indah, yang melukis langit malam dengan darah. Sebagian menabur wajahmu yang kian cantik, kian membuatku tergila-gila bercinta di bawah bulan. Di antara kecipak air laut, di tengah embusan angin yang lengket oleh garam, di atas pasir pada sebuah pantai yang landai. Di musim berahi yang kutunggu sejak usia dua belas tahun.Kesabaran menunggumu, tentu. Menunggu peristiwa ini terjadi, dan ternyata sungguh luar biasa! Tak pernah sebersit pun kubayangkan: kelopak bibirmu yang ranum bergantian mengulum mulutku, di sela cabikan tanganmu yang bergerak mirip baling-baling pada sebuah kincir angin. Aku mengerang tak habis-habis, karena pemandangan selanjutnya sungguh menggairahkan. Ketika bagian perutku mulai terbuka, dan aku demikian bahagia memandangi ususku perlahan-lahan lolos dari rongga.Tentu memerlukan waktu yang lama untuk mengatur kembali untaian usus di antara lambung dan tulang iga setelah percintaan ini selesai. Meskipun tak kupikirkan benar, karena kemudian kulihat bulan bergetar di atap langit. Cahayanya semakin bening menyala, bagai benarbenar leleh ke rambut kita yang berkeramas keringat dan air laut.Betapa tubuh kita mirip sepasang hiu yang bertarung. Sesekali engkau menggigit leherku, dan kubalas dengan gigitan yang lebih bertenaga. Lalu engkau memekik tertahan, sebelum mengulang cabikan dengan kuku-kuku runcingmu. Beberapa luka baru terbentuk di atas pusar. Bahkan di dinding usus yang mulai tersayat. Mengingatkan aku pada kisah Aryo Penangsang, walau peristiwa ini jauh lebih indah dan menarik.Sungguh peristiwa yang tak mungkin terlupakan. Kecuali satu hal: apakah sepasang matamu yang menyala kuning akan disertai ketajaman telingamu menangkap lolong serigala di bukit hutan yang jauh? Seperti Michelle Pfeiffer di akhir film Wolf? Sedikit demi sedikit tumbuh taring pada kedua sisi mulutmu, bulu cokelat di punggung-tanganmu, atau perubahan yang lebih menakjubkan lainnya. Meskipun itu tak kupikirkan benar, karena hasratku telah sampai. Dan, aku perlu berterima kasih kepadamu, cintaku. Sebagai perempuan, engkau telah memenuhi segala impianku.Ya, inilah ritual yang kuangankan sejak usia dua belas tahun: bercinta di bawah bulan!***Jakarta, 2 Maret 2002Keterangan:tiada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni; salah satu baris pada puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni.Dewi Yemanja; nama dewi laut di Bahia - Brasilia, yang dipercaya sebagai pembawa berkah bagi para nelayan, di film Woman on Top.Dewi Aphrodite; nama dewi kecantikan bangsa Yunani KunoKen Dedes; perempuan tercantik dari Tumapel, istri Tunggul Ametung yang kemudian menjadi istri Ken Arok setelah Tunggul Ametung dibunuh dengan keris Empu Gandring .

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

CERITA DI MALAM PERTAMA Cerpen: Titis Basino Sumber: Suara Karya, Edisi 05/30/2002 Pesta empat hari empat malam dari perkawinan Arti dan Pramono hampir berakhir. Tinggal beberapa tamu yang masih menghabiskan minumnya yang terakhir sambil melirik ke arah mempelai berdiri seakan mengerti bahwa kehadirannya tak lagi diharapkan. Bunga anggrek kuning berseling putih cantik memberisenyum selamat malam pada Arti yang berhai risau. Tidak karena malam ini malam pertamanya. Tidak. Tapi ada yang harus diceritakan pada Pram yang kini bisa disebut suaminya. Apa kata Pram kalau tahu Arti seorang ... Sambil menggandeng tangan Arti, Pram mengajak naik ke tingkat delapanbelas, di mana mereka akan menghabiskan malam pertamanya. Hotel megah itu menyenandungkan kidung selamat pisah dara remaja. - Sebaiknya aku bicara dulu sebelum kita berangkat tidur, Pram. - Ya, kita bicara sambil bercanda di kamar. Kedua orangtua Arti dan juga orangtua Pram pamit pulang ke rmah masing-masing. Tinggal suasana malam yang penuh keindahan di hotel dengan senyum para pelayan yang menyembunyikan pengertian bahwa mereka akan mendapat persen banyak besok dari pengantin laki-laki.*** Hawa dingin dari alat pendingin menggigilkan Arti. Arti tak ingin mengecewakan Pram, tapi dia tak ingin pula ditolak kalau Pram tahu istrinya hanyalah seperti remaja kota besar lainnya. Kalau saja tangga mampu dia naiki, Arti ingin lewat tangga saja agar dia tak terlalu cepat sampai di kamar pengantin mereka. Tapi tingkat delapanbelas setinggi 90 meter, bukan satu perjalanan yang mengasyikkan walau dipanjat oleh mempelai berdua. Karena itu mereka naik lift. Suara gemerisik dari lift mengajak Arti bersiap menyusun kata demi kata untuk disajikan pada Pram, agar tidak kecewa. Nah sampai kita di tingkat delapanbelas, lalu: - Lalu aku mau bicara sebelum kita melepas baju pengantin ini. - Baik, kau mulai saja aku ambilkan minum ya. - Tidak, kau disini saja. Keduanya duduk di pinggiran tempat tidur. Permadani yang bertabur melati menyemburkan wangi cinta suci. redupnya lampu di kedua sisi tempat tidur mereka, menyembunyikan tingkah polah manusia-manusia yang tidur di kamar itu. - Nah katakan apa rahasia pengentinku malam ini ... ? - Begini Pram, - Ya? dalam hati Pramono berdenyit kengerian kalau pengantinnya akan mengatakan bahwa dia bukan gadis lagi, bukan gadis, dan dia memang bukan perjaka. Itu rahasia masing-masing manusia itu. Itu tak akan membuat malam ini menjadi malam yang membatalkan perkawinan mereka. Tapi perasaan ngeri itu akan menjadikan satu pusat kekecewaan. Bukan itu. Semoga yang akan dikatakan Arti ... - Pram, kau kau harus mendengarnya dari mula. - Baik, ayolah kau mulai saja. - Aku dulu semasa remaja, masih di sekolah menengah pertama, aku tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. - Tentu manis, kau memang saat itu belum bertemu denganku. - Tapi, aku tidak pernah diperhatikan orangtuaku. Ibu tak pernah ada di rumah dan aku selalu menemui rumah yang kosong. Ruang makan sepi. Dan seekor kucing yang setia saja tak mampu menghiburku. saudaraku bermain mencari kesenangan juga di luar rumah. - Nah mulai saat ini kau tidak akan menjadi manusia yang kesepian lagi, aku akan selalu pulang untuk makan siang bersamamu. - Ya, tidak itu saja, aku lalu pergi, mencari tempat di mana aku ada yang memperhatikan. - Lalu? - Aku tidak makan di

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

rumah yang sepi dan mencengkam itu. Aku pergi ke rumah Desi. Rumahnya besar tapi selalu ramai karena penuh teman-teman yang bercanda, dan membual sambil menghabiskan waktu siangnya. Merokok di situ bukan soal, siapa yang paling pandai memegang rokok akan menjadi pusat perhatian. Lama kelamaan siang hari itu disambung malam dan kalau malam mereka tidak saja merokok tapi juga mengganja. - Dan kau? - Mula pertama aku tidak ingin menuruti kebiasaan mereka. Tapi, mereka menganggapku anak bawang, mereka menganggapku bukan termasuk sebagian dari mereka. Aku dikucilkan. Di luar lingkungan mereka aku malah tidak dianggap punya satu tujuan. Padahal aku telah mengikuti kebiasaan mereka merokok. Aku telah ikut menghamburkan uang orangtuaku yang memang aku dapat dengan mudah. Aku tidak akan meninggalkan mereka begitu saja setelah aku bersama mereka sekian lama. Mereka biasa tidur bersama. laki-laki dan perempuan. - Satu kamar? - Ya, satu tempat tidur. - Dan aku masih ragu untuk mengadakan langkah selanjutnya. Tapi mereka akan mengadakan pemilihan anggota yang lebih intim dengan mengadakan perjanjian yang akan disetujui dengan tandatangan dari darah kami masing-masing. Aku bimbang. Dan aku pulang. Aku tidak menemui seorang pun di rumah, rumah itu tetap sepi, ibu di perusahaan besar dan ayah di luar negeri mengatur perdagangan yang mengalirkan uang ke perusahaan ibu. Berdua mereka bekerja seakan lupa bahwa aku ada di antara hidup mereka. Bahka aku dan kedua saudaraku menantikan mereka, pulang. Aku ingin mengatakan bahwa aku ini anak mereka tapi tidak pernah berkesempatan, karena ibu dan ayah berpendapat bahwa uang adalah pengganti dan sarana kebahagiaan seseorang. Aku selalu mendapat uang di penghujung minggu, aku biasa menerima uang tanpa bersusah payah meminta dan menerangkan untuk apa aku pergunakan. Mereka selalu pergi pagi sebelum aku bangun, dan meninggalkan aku sendiri dengan pembantu dan kedua adikku. - Itu dulu kini kau tidak akan sendiri. - Tapi aku terbawa arus berkawan dengan amat pesat. Saat itu, belum usia 17 aku telah menerima tawaran mereka menyuntikkan obat jahanam itu ke badanku. Hanya karena aku takut terpisah dari pertemuan dengan mereka. Aku takut kesepian. Beberapa bulan berjalan, aku tiba-tiba dipanggil oleh orangtuaku. Mukaku masih mengantuk dari keracunan obat yang aku masukkan ke badanku semalam. Polisi telah menelpon orangtuaku, menemukan aku berkumpul dengan teman-teman segerombolanku. - Kau pusing? Ke mana saja kau selama ini? - Papa dari mana? Mengapa baru sekarang aku ditanyai? - Kau tahu kan papa cari uang. Sedemikian sibuk aku untuk membahagiakanmu, mengapa kau selalu pergi? Mengganja? Minumminum dan apa lagi? - Memang aku mengerjakan semua itu, karena aku ingin berteman, sedang di rumah tak ada siapa pun yang aku ajak bertimbang rasa. Kau tidak kekurangan, bukan? Dan ada yang mengawasimu selama ini, ada perawat, ada sopir mengantar ke mana kau pergi. Mengapa kau kerjakan itu? Tak tahukah kau bahwa itu menyusahkan orangtuamu? Sebenarnya aku ingin membukakan matanya, ingin aku berteriak bahwa aku ini anak papa dan mama. Bukan anak perawat dan sopir atau pembantu. Mengapa harus mereka yang menemaniku di rumah ini? Aku tidak tega mengasari ayahku, hingga aku hanya bisa berkata pelan. - Aku hanya ingin berada di antara orang-orang yang senasib denganku, tak ada yang menemani kami semua di rumah, orangtua kami semua sibuk dan kami mendapatkan uang dengan amat mudah. Salah siapa aku tidak

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

akan mengatakan. Bawalah aku ke mana papa suka, aku tidak akan menolak. Aku ingin kembali seperti anak papa dahulu. - Ya, kau akan aku bawa ke rumah sakit. - Dan sejak saat itu aku diserahkan ke Pamardi Siwi. Har-hari yang sepi dan penuh kengerian ada di sekitarku. Terali besi menghambat semua perjalanan otakku, karena memang satu yang aku damba, obat perangsang penggoda jiwa itu. Latihan-latihan untuk kembali jadi manusia yang mandiri diajarkan dengan segala cara pada kami yang ada di sana. Dokter-dokter yang menanganiku seorang ahli jiwa yang sabar dan cantik. Dia mengajakku berwawancara mengeluarkan semua keluhanku, tiap kali aku ingin menghisap ganja. Tapi dengan kesadaran perlahan-lahan aku berusaha menghindarinya, dengan segala macam cara yang disarankan dokter cantik itu. Aku berhasil sembuh. Aku tidak dibawa ke rumah, aku masih jarang bertemu ibu walau aku sudah dirawat di rumah penyelamat itu. Seakan ibu memang menjauhiku, atau itu memang caranya mencintaiku? Atau dia lebih mencintai uangnya? Atau mencintai tugasnya di luar rumah? Tapi satu aku tahu pasti dia menginginiku untuk sembuh. Dan aku ingin membuktikan aku bisa sembuh dan suatu saat menjadi seorang ibu yang tidak akan meninggalkan anaknya tanpa perhatian sama sekali. - Lalu kau dibawa ke mana? - Seorang sopir yang baru yang tidak aku kenal menghantarku ke Halim. Aku akan di bawa oleh orangtuaku ke Australia. Aku menanyakan ke mana sopir yang lama? Ternyata dia telah dipecat karena dia mengetahui seluk-beluk masa laluku, dan mereka ingin aku membuang masa laluku, dengan melemparkan aku ke luar negeri. dari Australia aku belajar ke Eropa lalu ke Amerika. - Lalu aku menemuimu di Eropa. Di Amerika, mengapa kau tak pernah menceritakannya? - Ya, aku ingin mendapatkan cintamu dahulu, dan aku tak mau kau lari dariku bila kau tahu aku hanya seorang gadis yang pernah dirawat di Pamardi Siwi. - Aku tidak semudah itu melepas dan menilai seseorang yang telah membuktikan keakuannya di luar keluarga. Sekian tahun kau selalu sendiri dan kau tak pernah mengidap lagi, itu satu tanda kau telah benar-benar lepas dari masa lalumu. Mengapa kau masih mengingatnya kembali? Kau tak boleh terlalu kejam pada dirimu sendiri. Kau kini manusia lain dari sepuluh tahun yang lalu. Arti terdiam. Kamar pengantin itu seakan bersinar kemilau oleh nasehat yang keluar dari mulut laki-laki yang kini akan menuntunnya untuk menjadi anak manusia yang tegap di antara keriuhan segala goda. Sejak malam itu seakan detik amat cepat berlalu seperti seekor kelinci melompati padang hijau. Dalam pelukan seorang menusia berhati baja, Arti membayangkan kembali hariharinya. Kawan-kawan yang beraneka citra, berbagai obat yang mengancam nyawa dan kemewahan yang hampir meruntuhkannya. Pantas tak seorang pun dari temannya hadir di pesta perkawinan ini. Orangtuanya benar-benr tak hendak mengembalikan ingatan putrinya, dan tak hendak melepas pria yang tak pernah tahu masa lalunya. Itu memang menjadi rahasia mereka, tapi tidak demikian di antara kedua suami-istri pengantin yang akan mengarungi hidupnya bersama di jagad raya. ***

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

GEROBAK Cerpen: Seno Gumira Ajidarma Sumber: Kompas, Edisi 10/15/2006 Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba, gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami, seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung, atau bahkan gerobak sampah lainnya, dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan di depan. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. Dari balik dinding gerobak berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut, biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil, dengan seorang bapak bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. Karena tidak pernah betul-betul mengamati, aku hanya melihat gerobakgerobak itu selintas pintas, ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota, kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang, memasang tenda plastik, menggelar tikar, dan tidur-tiduran dengan santai. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. Apabila tanah lapang sudah penuh, mereka menginap di kaki lima, dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumah-rumah gedung bertingkat. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung kakekku. "Kakek, siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?" Kakek menjawab sambil menghela napas. "Oh, mereka selalu datang selama bulan puasa, dan nanti menghilang setelah Lebaran. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan." "Negeri Kemiskinan?" "Ya, mereka datang untuk mengemis." Aku tidak bertanya lebih lanjut, karena kakekku adalah orang yang sibuk. Di samping menjadi pejabat tinggi, perusahaannya pun banyak sekali, dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. Semuanya ia tangani sendiri. Dari jendela loteng, kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. Anak-anak kecil itu tampaknya seusiaku. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah, anak-anak itu pekerjaannya hanya bermain-main saja. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anakanak itu, tetapi Kakek tentu saja melarangku. "Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu," kata Kakek, "kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita." "Apa yang mereka pikirkan Kek?" "Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. Apa yang akan kamu pikir jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela, dalam kerumunan nyamuk yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding warna-warni waktu berbuka puasa?"

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Aku tertegun. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati, bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. Memang mereka tidak pernah menyebutkan kata-kata semacam, "Hati-hati terhadap orang miskin," atau "Orang miskin itu jahat," tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan sudah tidak jelas warnanya lagi. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol tepinya, memang selalu kulihat mata yang menatap, tetapi tak bisa kuketahui apa yang dikatakan mata itu. Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. Di mana tempatnya, Kakek tidak pernah menjelaskan, tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja, karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak-gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Benarkah, seperti kata Kakek, mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di depan rumah- rumah orang untuk mengemis. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Ketika kemudian gerobakgerobak itu makin banyak saja berjajar-jajar di depan rumah, gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan pula. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya harus tahu, bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa, sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami, bahkan mobil Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan pagar. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet, dan di tepi jalan keluarga gerobak yang memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu pemandangan. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka sendiri. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar, tidur-tiduran menatap langit dengan santai, dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit mengantar kolak untuk berbuka puasa, karena tentu mendahulukan Kakek, mendapat omelan panjang dan pendek. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. "Tenang saja," kata Kakek, "sehabis Lebaran mereka akan menghilang, biasanya kan begitu." "Tapi kali ini banyak sekali, mereka seperti mengalir tidak ada habisnya."

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

"Ya, tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran, pulang ke Negeri Kemiskinan." Para tetangga tidak membantah. Mereka juga berharap begitu. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota, tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. >diaC< Pada hari Lebaran, gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba, kali ini kota kami penuh sesak dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. Gerobak-gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil, dihela seorang lelaki kuat yang melangkah keliling kota. Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung, mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah, kokoh, kuat, asri, dan mewah dari luar pagar tembok. Pada hari Lebaran, penghuni rumahrumah gedung itu banyak yang pulang kampung, meninggalkan rumah yang kadangkadang dijaga satpam, dititipkan kepada tetangga, atau ditinggal dan dikunci begitu saja. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran, pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana, pasti tidak lewat jalan tol, entah dari mana, seperti hadir begitu saja di dalam kota. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung, kali ini gerobakgerobak itu masih tetap di sana. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat, bahkan sebagian telah pula masuk, merayapi tembok, melompati pagar, dan hidup di dalam rumah- rumah gedung itu. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut, orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut, makan di meja makan mereka, tidur di tempat tidur mereka, mandi di kamar mandi mereka, dan berenang di kolam renang mereka. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? "Mereka masih di sini Kek, padahal hari Lebaran sudah berlalu," kataku kepada Kakek. Lagi-lagi Kakek menghela napas. "Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang." "Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?" "Ya, tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang, dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai." Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. Rupa-rupanya seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur, sehingga kadangkadang mereka tampak seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. Baru kusadari betapa manusia-manusia gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. Seperti mereka betul-betul hanyalah patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi, di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi?

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini. "Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti," katanya kepada Nenek, "apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?" "Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur," sahut Nenek, "kita harus menerima segala akibat perbuatan kita. Heran, kenapa manusia tidak pernah cukup puas dengan apa yang sudah mereka miliki." Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. Apakah maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu, setelah hari Lebaran berlalu, gerobak-gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. Sebaliknya semakin lama semakin banyak, muncul di berbagai sudut kota entah dari mana, menduduki setiap tanah yang kosong, bahkan merayapi tembok, melompati pagar, memasuki rumah-rumah gedung bertingkat, tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh, tinggal di sana entah sampai kapan. Barangkali saja untuk selama-lamanya. ***

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

MALAIKAT KECIL Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas, Edisi 06/16/2002 MESKIPUN tubuhku telah rapat pukulan Bapak, masih saja pukulan demi pukulan itu kuterima. Teriakan dan tangisan minta ampunku pun gagal meredam amarahnya. Dengan wajah beringas menumpahkan sumpah serapah penuh aroma alkohol, Bapak terus menghajarku, serupa petinju kelas berat menghajar sansak. Pukulan bertubi-tubi itu mengantarkan aku ke puncak rasa sakit, hingga akhirnya, aku tak merasakan lagi rasa sakit itu. Sejak saat itu, tangisku pun terhenti. Aku masih menyisakan perlawanan dengan menatap Bapak lekat-lekat.Sekarang pukul aku, bajingan cilik!" Aroma alkohol Bapak membadai di ruang hidungku. "Ayo pukul! Ayooo pukul!!!" Aku tetap berdiri mematung. Pelan-pelan kuraih pisau lipat dari kantung celana, dan beberapa detik kemudian kurasakan tanganku berkelebat. Wajah Bapak tergores. Darah menetes. Bapak tersenyum sambil mengusap pipi dan menjilat darah yang melekat di jari tangannya. "Aku senang kamu mulai berani melawan. Ayo teruskan. Teruskan! Aku ingin kamu jadi bajingan besar. Pembunuh besar! Bukan pengecut!" Bapak terus mendesakku, hingga aku terpojok di sudut ruangan. Mulut Bapak hanya beberapa sentimeter dari wajahku. Aroma alkohol terus membadai. "Aku ingin kamu jadi bajingan besar. Maling besar. Tak hanya jadi pencopet yang hanya bisa mengutil kerupuk!" Bapak kembali melayangkan pukulan tepat di ulu hatiku. Rasa nyeri menggerayangi sukmaku. Aku terhuyung. Dengan sisa-sisa kekuatanku, kuayunkan pisau lipat. Namun, hanya angin yang bisa kurobek. Tawa Bapak berderai, mengiringi rebah tubuhku. Ibu, yang sejak tadi menangis terisak, langsung menubruk tubuhku. Kurasakan airmatanya yang hangat menetes di pipiku. "Tinggalkan kami bajingan tua!" kutuk Ibu dengan suara gemetar. Bapak tertawa. Sinis. "Justru kamu yang harus pergi. Aku tidak ingin anakku dididik pelacur malang seperti kamu." "Bagaimanapun dia anakku. Aku yang mengandungnya. Kamu tak lebih dari pejantan...." "Dasar mulut ember! Kamu mestinya merasa bersyukur karena aku mau menitipkan benihku di rahimmu!" Tangis Ibu terhenti. Ia tertawa. Masam. "Sebelum aku kau tiduri, entah berapa lelaki telah menggauliku. Hingga aku hamil. Jadi, tak ada yang bisa menjamin kalau Socra ini anakmu. Bisa saja dia anak cendekiawan, seniman, politikus, pengusaha, birokrat, atau koruptor, manusia sejenis ular, kadal, macan, buaya, setan atau bahkan iblis. Kamu tak berhak mendidiknya menjadi maling atau pembunuh macam kamu, meskipun mungkin saja ia berdarah tukang jagal, garong atau rampok sekalipun. Titisan darah pembunuh tak harus jadi pembunuh! Bukankah ia juga punya hak untuk menjadi semacam malaikat kecil?" Ibu terus memelukku. Melindungiku dari serangan Bapak. "Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai mulut pelacur?" Mendadak handphone Bapak menjerit. "Ya, dengan saya sendiri. Ini siapa ya? Oooo Bapak. Ada apa Pak? Apa yang bisa saya bantu? Eeeeee... bisa-bisa... Soal itu gampang. Bapak bisa langsung kirim ke rekening saya. Tidak mahal Pak. Bapak tahu sendiri, ini risikonya kan besar. Oke. Terima kasih..." Tanpa memandang kami sedetik pun, Bapak langsung bergegas. Beberapa menit kemudian kudengar deru mobil Bapak meninggalkan halaman rumah. ITULAH saat terakhir aku bertemu Bapak. Mungkin dua puluh tahun. Atau mungkin

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

lebih. Yang kuingat, tubuhku masih lekat dengan seragam sekolah menengah umum. Bapak begitu membenci jika kenakalanku hanya sedang-sedang saja: berkelahi dengan kawan, tawuran atau kegiatan remeh lainnya. "Jadi apa saja, kalau hanya tanggung, ya tak menghasilkan apa-apa!" bentaknya. "Aku ingin jadi politisi saja. Saya harap Bapak mau membiayaiku kuliah..." "Untuk apa? Sudah terlalu banyak orang yang hidup dari kebohongan." "Bapak ingin saya jadi maling atau pembunuh?" "Itu jauh lebih jantan dibanding mereka yang berkedok kemuliaan padahal yang dilakukan sama, mengais-ais rezeki di lumpur comberan. Kalau jadi maling atau pembunuh, hanya tanganmu yang kotor. Tapi tidak mulutmu. Mencuci tangan jauh lebih gampang daripada mencuci lidah. Kamu sama sekali tak berbakat bersilat lidah..." Ketika aku lulus SMU, Bapak meninggalkan ibu. Tak ada yang ditinggalkan, selain sumpah serapah. Ia pergi bagai angin. Entah ke mana. Ibu juga tidak merasa perlu untuk mencari Bapak. Bentakan kemarahannya selalu menumpas kerinduanku pada Bapak. "Tak ada yang perlu disesali. Bahkan harus disyukuri, termasuk jika Bapakmu pergi ke neraka sekalipun!" Dengan susah payah, Ibu membiayai aku kuliah di Kota Besar: sebuah peradaban baru yang melucuti keprimitifanku. Otakku bekerja keras menyerap gagasan-gagasan gemerlap yang mungkin datang dari langit. Tidak serupa "kuliah" rutin Bapak yang mengajarkan kekerasan... darah... darah... dan darah! Aku sangat sedih, ibu tak bisa merasakan kebahagiaan ketika aku berhasil menyelesaikan kuliah. Di tengah pergulatan melawan kanker rahim yang ganas, Ibu pernah mengucap. "Aku ingin kamu jadi malaikat kecil yang dengan sayap-sayap kecil terbang mengawal arwahku kelak..." Akhirnya, Ibu harus menyerah pada maut. Satu-satunya caraku membalas pengorbanan Ibu hanyalah berusaha menjadi malaikat kecil yang terbang mengawal arwah Ibu. Malaikat kecil? Ah aku yakin, Ibu terlalu berlebihan. Harapan Ibu itu seperti sinar matahari yang berupaya menghancurkan kegelapan malam yang muncul dari rongga impian pemabuk seperti Bapak, "Aku lebih bangga kamu jadi maling besar. Pembunuh besar!" Dengan pedih, kata-kata Bapak itu hingga kini terus terngiang. Juga siang itu, ketika aku mengunjunginya di penjara Wallcatraz yang lembab, dingin dan terkenal "angker". Hanya penjahat-penjahat besar yang berhak menginap di penjara tua yang terletak di pulau terpencil itu. Aku memasuki lorong-lorong kompleks penjara itu dengan sedikit gemetar. Di sepanjang lorong berulang kali kutemui laki-laki berwajah sangar digelandang para sipir dengan ringan cambukan dan pukulan. Langkahku terasa berat menyusuri lorong-lorong panjang itu, hingga sampai di ruang besuk. "Socra ya?" Rupanya ingatan Bapak masih cukup tajam. Ia dengan cepat mengenaliku. Tubuhnya tampak kurus. Kumis dan jenggot tumbuh sangat lebat, selebat sumpah serapahnya yang selalu lekat kukenang. Meskipun tampak sedikit lemah, Bapak masih menatapku dengan nanar. Bola matanya serupa bola api. Keharuan menggenang di kantung batinku. Aku tak kuasa menahan dua anak sungai yang mengalir di pipiku. "Tangisan hanya menunjukkan kelemahan." Aku tersengat. Ada rasa bangga yang diam-diam merayap di rongga jiwaku. Bagaimana mungkin Bapak bisa setegar itu? Bukankah hidupnya di ambang maut? Besok pagi, dia harus menghadapi regu tembak. Belasan timah panas akan merobek jantungnya! "Jantungku telah kuberikan kepada hidup..." Bapak mendesis, seperti ular licik yang tetap tegar menghadapi sayatan belati pemburu. "Tapi kenapa Bapak

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

harus membunuh Hakim Agung Lopez Mannees itu? Bahkan sampai menghabisi keluarganya?" Bapak tersenyum. Sama sekali tak menunjukkan penyesalan. "Ya, kenapa tidak? Itu memang pekerjaanku. Ada orang yang merasa dirugikan oleh keputusan Pak Lopez. Ia berani membayarku dengan mahal. Dan aku sepakat pada aturan permainan. Tidak akan menyebut nama dia." "Tapi kalau Bapak mau mengungkap otak pembunuhan itu, barangkali hukuman Bapak tidak akan seberat ini." "Untuk apa? Sejelek-jeleknya pembunuh adalah yang mengingkari kesepakatan dan bersikap pengecut. Eeeee... kamu sendiri bagaimana? Sudah sangat lama kita tak bertemu, sudah berapa orang yang kau bunuh, anakku." "Maafkan aku. Aku telah mengecewakan Bapak. Aku sudah berusaha keras. Tapi ternyata aku sama sekali tak berbakat menjadi perampok, maling atau pembunuh macam Bapak... Maafkan aku..." Suaraku tertahan. Air mataku hendak tumpah, tapi cepat kecegah. Aku tak ingin Bapak tertawa geli melihat kecengenganku. "Lantas selama ini kamu jadi apa? Dan apa saja yang kau kerjakan?" Kata-kata Bapak membadai dalam rongga jiwaku. Pertanyaan itu begitu telak, setelak pukulan tinju Bapak yang dulu hinggap di ulu hatiku. Otakku bekerja keras merancang kalimat yang hendak kuucapkan. Tapi, kalimat-kalimat itu justru menjelma gumpalan-gumpalan aneh yang menyumbat tenggorokan. Tarikan demi tarikan napas kulakukan untuk menenangkan jiwaku yang gelisah. Tapi tak juga menolong. Aku tetap saja gagal menguasai diriku. "Bapak telah siap menghadapi maut?" ucapku tiba-tiba, mencoba mengalihkan pembicaraan. Bapak memandangku dengan tatapan yang tetap saja nanar. Bola-bola api itu berpendar-pendar di matanya. "Kapan pun aku siap. Dan sedikit pun aku tak gentar pada maut. Aku mampu mereguk segala kenikmatan dan kemewahan juga atas jasa maut. Jadi kalau kini sang maut itu berbalik meremas jantungku, aku dengan senang hati menerimanya." "Apa yang Bapak inginkan menjelang kematian? Mungkin ada pesan?" "Satusatunya yang kusesali adalah kegagalanku membinamu menjadi maling besar, atau pembunuh besar..." "Bukan itu. Maksud saya yang lebih berkaitan dengan perjalanan Bapak nanti..." "Aku sama sekali tak takut dengan kematian. Karena selama ini aku hidup dari kematian orang lain. Dan kematian itu sangat indah, anakku. Berulang kali aku membikin orang mengerjat-ngerjat kesakitan, kemudian nyawanya loncat... bersama angin... ah... fantastis..." "Mungkin Bapak perlu bimbingan untuk berdoa?" "Kenapa kamu bilang begitu? Apakah kamu...?" "Ya. Aku ditugaskan untuk membimbing bapak untuk berdoa." "Jadi kamu ini pendoa? Semacam rahib, anakku? Apakah Tuhan sudi menerima doa pendosa macam aku ini?" Aku mengangguk, pelan. Kulihat mata Bapak berkaca-kaca. Baru kali ini kulihat air mata Bapak menitik. "Ibu mengharapkan aku menjadi semacam malaikat kecil yang terbang mengawal perjalanan arwah Ibu." "Mungkin juga arwah Bapakmu..." Bapak langsung memelukku. Erat. Sangat erat. Baru kali ini kurasakan kasih sayang seorang Bapak mengalir dan menggenangi ceruk-ceruk jiwaku. Pelukan Bapak merenggang, ketika terdengar suara sol sepatu menghajar kesunyian. "Sudah siap Bapa?" ujar seorang petugas dengan sangat santun. "Biarkan kami bicara dulu," ucapku pelan. Petugas itu pelan-pelan meninggalkan kami. Ruang penjara kami rasakan sangat kuat menekan kami. Pelan-pelan, dinding-dinding yang dingin itu terasa menghimpit kami. Kami berpelukan. Erat sekali. Seolah-olah kami tak bisa dipisahkan oleh kekuatan apa pun. Kurasakan pundakku basah. KUTINGGALKAN penjara

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

dengan langkah yan sangat berat. Waktu terasa melaju begitu cepat. Gerimis putih yang menaburi senja membuat hari semakin tua, semakin gelap. Selebihnya adalah detik-detik arloji yang mengiris waktu, menjadi kepingankepingan masa lalu yang muram. Suara ledakan senapan regu tembak itu membentuk dinding rongga jiwaku. Aku melihat wajah Bapak tersenyum. Kematian itu begitu indah. Tapi tidak untuk yang ditinggalkan. Arwah Bapak pun terbang menyusun arwah Ibu. Tapi aku tak pernah tahu, apakah aku bisa menjelma malaikat kecil yang terbang mengawal arwah mereka. ***Jogja, awal Mei 2001

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

TENTANG ANGIN Cerpen: Ammi E.N. Sumber: Jawa Pos, Edisi 08/03/2003 Jam tujuh pagi. Mestinya aku sudah tidak jet lug lagi. Tetapi nyatanya aku masih tetap merasa setengah gila setiap kali menjenguk keluar dan gelap yang menyergap. Lampu kota masih sepenuhnya menyala, tetapi lalu lintas mulai ramai dengan kendaraan yang sebagian masih menghidupkan lampunya. Beberapa taksi tampak berjajar di belokan jalan, persis di sebelah kanan hotel tempat aku menginap. Seorang sopir berdiri menyandar pada boks telepon di sudut trotoar. Tiba-tiba aku merasa ingin sekali menelepon seseorang di Yogya sana. Tetapi sepagi ini belum satu pun kios penjual kartu telepon buka. Dan ketika aku selesai acara malam nanti, juga tak ada satu kios pun yang masih buka. Segera seorang sopir taksi mendekati. Menawarkan jasa sambil menunjuk sebuah taksi berwarna kuning kunyit yang diparkir tepat di depan hotel. Tawarmenawar sebentar (hampir tak ada taksi berargometer di kota ini) dengan bahasa isyarat, karena aku tidak menguasai bahasanya, begitu juga sebaliknya. Empat puluh Peso Mexicano, kami bersepakat. Jadilah aku berangkat dengan taksi yang sopirnya berwajah sangat Latin seperti dalam telenovela. Selendang yang membelit leher kunaikkan hingga kepala begitu taksi mulai melaju meninggalkan Plaza Diana, hotel tempatku menginap. Seperti kemarin, kuarahkan pandang ke kiri-kanan jalan. Toko-toko yang tak pernah kulihat ketika buka dan menggelar dagangannya. Hanya dari barang yang dipajang di etalase yang dibiarkan tampak dari luar saja aku tahu jenis dagangannya. Kulihat berjajar beberapa toko sepatu di sebelah kanan jalan. Salah satunya, yang agak besar, memajang berjenis-jenis sepatu dengan cara sangat menarik. Selalu mataku tertumbuk pada sepasang sepatu kecil yang diletakkan lebih menonjol dari yang lain. Sepatu kecil yang mungkin aku akan membelinya jika Uzsi masih ada. Mendesah. Hanya itu yang bisa kulakukan mengenangkan Uzsi kecil yang lucu itu. Seandainya dia masih ada, mungkin akan lain ceritanya. Tetapi itu hanya pengandaian, karena nyatanya Uzsi telah meninggal setengah tahun lalu ketika demam berdarah mewabah. Sebuah penyakit yang kata temanku tak bergengsi, tetapi sering menyebabkan orang mati karena tak segera tertangani. Sebuah "kesalahan" yang kurasa tak akan berhenti kusesali. Aku sedang tidak di rumah ketika dia mengalami gejala itu. Ketika aku pulang, kudapati kondisinya sudah memburuk. Tiga hari kutunggui dia di rumah sakit. Waktu seolah pedang berkilat yang merembet pelan sambil merejam-rejam. Sampai akhirnya aku merasa benar-benar tertikam ketika tak kutemui lagi detak di jantungnya. Adam, lelakiku, ternyata lebih tertikam. Didapatinya anaknya telah terbujur tanpa nyawa, sekalipun masih ada sisa hangat di tubuhnya. Dia tak pernah tahu, bagaimana anaknya meregang nyawa. Dia tak pernah merasa bagaimana waktu mencabik-cabik harapan hingga akhirnya habis tak bersisa. "Kenapa tak kaukabari aku sejak kemarin?" tanyanya parau menahan air mata.

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

"Bukannya kau dead line?" aku balik bertanya. "Aku bisa pamit pulang." Beberapa meter di depan adalah persimpangan jalan yang di tengahnya terdapat patung pahlawan berkuda dikelilingi air mancur-air mancur besar. Di bawahnya tertulis nama kota ini dengan cat warna keemasan yang sudah mulai pudar. Guadalajara. Di persimpangan sebelah sana berdiri Fiesta Americana Hotel, tempat konferensi yang kuikuti terselenggara. Aku minta taksi untuk berhenti di seberang hotel, di depan rumah makan sederhana. Panitia tidak menyediakan sarapan bagi peserta. Sarapan di hotel terlalu mahal untukku yang bergantung hidup dari allowances lembaga. Segera kupesan pan cake, satu-satunya menu yang kukenal, dan sebotol air mineral. Sebenarnya aku benci daging. Sagu, gandum dan sejenisnya juga tak cocok sebagai menu utama bagi pencernaanku. Tapi tak ada pilihan. Aku tak bisa memanjakan perutku dengan nasi di sini. Kusantap lembaran kue yang ditaburi daging itu sambil menahan rasa mual. Oh, Adam pasti akan mengolokku habis-habisan. Dibilangnya aku ndesa karena tidak bisa makan selain nasi. Adam, lelaki yang kunikahi hanya dua bulan setelah pertemuan pertama kami. Sebuah keputusan yang gila, karena aku hampir tak mengenalnya kecuali dari tulisan-tulisannya, dari pembicaraan orang tentangnya. Sebuah perkenalan yang terlampau minim, karena hanya tentang militansinya sebagai pekerja seni dan tajamnya diksi opininya yang kuketahui. Lain tidak. Ketika kemudian kukenal dia secara langsung, beberapa gambaranku memudar. Tetapi kekagumanku tetap tinggal. Bahkan, yang tak kuduga akan muncul dari pertemuan itu adalah, rasa cinta. Cinta yang gila karena sebegitu cepat mengkristalkan tekadku untuk kawin dengannya. "Aku serius, Dam," kataku di telepon waktu itu. "Aku juga tidak main-main. Aku mencintaimu lebih dari yang dapat kucintakan pada perempuan lain," katanya pula. "Lalu?" "Seandainya kita bisa kawin...," suara yang dingin dan datar. "Kita bisa mengawinkan diri," kataku pasti. "Kau mau?" "Ya, I merry you, you merry me . Kau suamiku dan aku istrimu," dengan lancar kuucap ijab itu. Hening sesaat. Aku yakin dia mencoba mencari kesungguhan kata-kataku. Aku sendiri takjub bukan main dengan pernyataanku. Beberapa detik sempat kusesali betapa emosionalnya mengucap kalimat itu. Meski tanpa petugas pencatat nikah dan saksi, tetapi aku merasa punya tanggung jawab moral dengan mengucapnya. Dan itu berarti akan ada berbagai konsekuensi. "Dam, rasanya aku mau nangis," kalimat pertamaku begitu perasaan kukuasai lagi. "Kau pikir aku ra kudu mrebes mili?" Dan sejak itulah, kami menjadi suami-istri. Persuami-istrian yang hanya kami sendiri yang mengakui, karena tak ada surat bukti, tak ada pencatatan, tak ada

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

pesta maupun persaksian. Tak ada apa pun kecuali bahwa kami merasa saling "memiliki". Kata yang kubenci sebelum peristiwa ini. Kami pun bercinta dengan cara kami. Dalam imajinasi. Betapa nikmat mencumbunya dalam khayal. Begitu indah membayangkan dia menyentuhku, menciumku. Suaranya telah mampu menghadirkan dirinya karena hampir tak pernah lepas, setiap menit menyergap telingaku, menggetarkanku melalui telepon yang juga tak pernah lepas dari genggamku. Ya, karena dia tetap tinggal di kotanya, dan aku tetap di kotaku. Hanya sesekali kami bertemu, beberapa bulan sekali. Ketika kami sama-sama tak ada pekerjaan dan kerinduan begitu sakit menggigit. Lalu suatu hari, ketika kami bertemu, "Dam, aku pingin punya anak," kataku. "Kamu bercanda?" "Tidak." "Kamu akan terepoti oleh kehamilan dan kelahirannya," dia tampak ragu. "Berat, Yang. Kamu tidak akan bisa lakukan apa yang kamu mau seperti sekarang. Aku tidak bisa membayangkan kamu terpenjara oleh perutmu yang besar, dan pengurusan bayi yang luar biasa melelahkan." "Aku siap. Aku ingin perwujudan dari cinta kita. Dan anak itulah wujudnya." Jadilah siang itu kami bercinta. Membiarkan spermanya menjalari rahimku dan bertemu dengan sel telurku di sana. Ufh, perutku tak mampu lagi menampung sisa pan cake yang masih lebih dari sepertiganya. Kutegak air banyak-banyak, membayar bill, dan berlalu dari restoran itu. Oh, hotel masih sepi. Barangkali aku terlalu pagi. Information desk masih kosong. Kulongok cyber cafe di belakang lobby. Juga sepi. Bahkan belum satu pun komputer dihidupkan. Daripada siang nanti harus mengantre, aku memutuskan untuk menunggu saja komputer itu siap dan duduk di kursi untuk pengantre. Sambil duduk, kubuka katalog konferensi. Women’s Rights International Conference. Kubuka lembar demi lembar. Tetapi pikiranku telanjur melayang-layang. Pada perkawinanku dengan Adam yang harus kandas di tengah jalan. Aku yang memutuskan. Dengan hati berdarah-darah, kami berpisah. Kematian Uzsi telah menorehkan luka teramat dalam bagi Adam. Rasa salah, penyesalan, membuatnya bertekad menjadi bapak yang baik buat anaknya. Dia memohonku untuk sekali lagi mengandung anaknya yang anakku juga. "Aku menghormatimu sebagai perempuan yang punya hak atas alat reproduksinya. Tetapi untuk satu hal itu, beranak, aku tak mampu. Dulu aku meragukanmu, sekarang aku mohon, biarkan sekali lagi kaukandung anak kita." Untuk kesekian kali aku menggeleng. Bukan karena tak lagi cinta padanya, tetapi aku sungguh-sungguh takut menanam benih lagi di rahimku. Placenta prifea yang mengenaiku dan membuatku harus menjalani sexio caecarian pada kelahiran Uzsi telah menghabiskan nyali. Sering, orang-orang (sekalipun tidak setuju pada cara kami kawin) menyarankan setengah mendesak agar aku hamil lagi demi Adam. Tetapi

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

kujawab, bahwa rahimku adalah milikku. Aku yang berhak menentukan mau hamil atau tidak, karena aku yang paling tahu tentang kondisiku. Sudah terlalu lama rahim perempuan bukan otonomi mereka sendiri. Negara suka campur tangan mengaturnya dengan berbagai kebijakan. Dan laki-laki, sebagai pasangan, seringkali merasa lebih berhak dari perempuan si pemilik itu sendiri. Memang Adam bukan laki-laki seperti itu, tetapi keinginannya yang sangat kuat untuk punya anak lagi membuatku tertekan. Sampai akhirnya, kuputuskan untuk berpisah dengannya. Kulipat menjadi lipatan paling kecil. Dan kusimpan di sudut terjauh hatiku. Tetapi tanpa kusadar, dia sering terbuka dengan sendirinya. Dan aku lagi-lagi menghubunginya, menemuinya. Pernah kami bertemu suatu sore di stasiun, ketika dia ada kerja dekat kotaku. Kuniatkan sekadar bertemu, bercerita, saling ejek, tertawa bersama, dan sedikit menciumnya. Tetapi ternyata ujung-ujungnya aku tak tahan untuk bercinta lagi dengannya. Aku terjebak dalam jeratan rasa yang sebegitu kuat lekatnya. Seorang panitia memberi tanda bahwa komputer siap dioperasikan. Cepat-cepat kugunakan salah satunya. Kubuka mail address-ku dan ketemui 3 new messages. Aku yakin, dari Adam salah satunya. Dan debar di jantungku semakin menggelora. Dear, Aku rindu. Adam (yang tetap suamimu) Pelan, aku menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Mungkin, oh tidak, bukan mungkin tetapi pasti, aku juga rindu. Tetapi mengakui kerinduan itu sama artinya dengan menjeratkan diri lagi pada cintanya. Dan aku sudah bertekad untuk lari. Bukankah dulu, sebelum bertemu Adam, aku meyakini bahwa cinta tak harus memiliki? Dan bukankah aku sudah meniatkan diri menjadi angin, yang berpeluk dan berjauhan tanpa saling terikat pada kepemilikan? Aku ingin menjadi angin yang kauhirup dan menyatu dalam darahmu tanpa kau harus tahu, Adam. "Excusme, the time is over," seorang perempuan mendekatiku. "Eh, gracias ," aku tergagap. Lima belas menit berlalu. Aku harus menyerahkan komputer itu pada pengantre lain. Sign out, tanpa satu huruf pun sempat kutulis untuk Adam. Aku naik ke hall di lantai 4, mengambil translation equipment karena presentasi hari ini dalam bahasa Spanyol, dan masuk ke ruang sambil merapatkan selendangku.***

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

PEREMPUAN MAISESA Cerpen: Teguh Winarsho AS Sumber: Kedaulatan Rakyat, Edisi 01/12/2003 TERIK matahari memekik di atas amben. Tak ada kipas angin. Hanya lemari usang, setumpuk pakaian rombeng, dan amben reot kini, tidakkah kamu dengar, Sayang? -- berkerat-kerat lantaran kamu terus menggeliat-geliat dalam tarian rahim seorang perempuan suci, wajahnya pucat nyaris sekarat. Dua jam. Tiga jam. Empat jam. Dan kamu mengerucut dari selangkangan diiringi caci-maki segerombolan perempuan di ujung gang. Juga sorak sorai membahana menyambut bayi mungil, merah, menggelambir, mirip anak tikus.Tapi kamu tak mengoek. Membuat aku merasa terkutuk. Sebab bayi sehat harus menangis keras: Oeeekk! Oeeekk! Tapi matamu berkedip-kedip seperti kerlip bintang di gugus langit. Ada tanda-tanda kehidupan di matamu, Nak. Juga pada hidungmu yang kembang kempis mengendus ompol. Maka, aku, perempuan suci itu, pantas bersyukur dan bangga: Telah lahir dari rahimku bayi laki-laki sehat dan montok! Inilah kelahiran yang diberkati Tuhan seru sekalian alam sebab matahari tak henti-henti memanggang.''Pak Modin sudah datang,'' ucap Salmi, dukun beranak. Serak.''Suruh pulang. Anakku sudah suci. Tak butuh adzan!''Samar kulihat kelebat surban putih membanting pintu. Bersungutsungut melepas dahak. Lalu, ruang kembali lengang. Hanya Salmi, dukun beranak dan bayiku yang molek rakus menyusup tetek. ''Minum. Minumlah sepuasmu, Nak. Air susu ini mengalir dari surga di mana dalam tidur keabadiannya para ahli ibadah melepas dahaga. Sekarang giliranmu. Air susu ini masih hangat akan membuat badanmu sehat. Kuat. Tapi... aauuw... Jangan kau gigit, Nak.'' Aku sedikit mengejang sebab terasa geli. Tapi tak apa. Ini hanya awal. Kelak pasti akan terbiasa.'"Selamat Maisesa. Selamat. Maaf, kukira tadi bayimu mati.'' Salmi tersenyum masam mengulurkan tangan.''Terima kasih. Kamu baik sekali.'' Kusambut uluran tangan Salmi, kugenggam erat sebelum kulepas.''Bayimu tampan. Akan kamu beri nama siapa?'' Salmi mengeliling menatap bayiku. Kedua mata tuanya mengerjap kagum.Nama? Aku tersentak. Aku tak pernah berpikir tentang nama. Apakah setiap anak yang lahir ke dunia harus diberi nama? Juga memeluk salah satu agama? ''Akan kupikirkan nanti, Salmi...'' Kuelus-elus ubun-ubun bayiku. Kulit kepala itu terasa lembut, menguar bedak wangi. Hidungku mengembang dikepung rasa haru. Kini aku benar-benar menjadi seorang Ibu. Oh, Ibu! Ibu! Tapi Ibuku sudah lama mati sewaktu aku masih bayi. Sedang Ayah? Hmm.''Pasti banyak yang suka dengan bayimu...''''Cukup Salmi!'' Aku memotong. ''Demi Tuhan. Aku tidak akan menjualnya!''''Kenapa?'' Salmi mengerutkan kening. Mundur satu langkah. ''Umurmu baru tujuh belas. Dengan uang satu juta kamu bisa bersenangsenang.''''Tidak Salmi. Aku akan merawat bayiku hingga ia tumbuh besar. Kamu lihat, bayi ini tampan sekali.''''Tapi orang-orang akan bertanya-tanya siapa ayah bayimu.''''Bodoh! Mulai sekarang mereka harus tahu bahwa bayi laki-laki bisa tumbuh tanpa kehadiran seorang Ayah!''Salmi terdiam. Mencoba tersenyum tapi gagal. ''Baiklah,'' Salmi menghempas nafas. Menggelung rambut. Meraih tas hitam. Bersiap pulang. ''Tapi ingat Maisesa, aku selalu siap menerima bayimu jika tiba-tiba kamu berubah pikiran.''Sekadar basa-basi aku mengangguk. ''Akan selalu kuingat..''Tapi aku Maisesa. Perempuan suci. Pantang menjual darah

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

daging sendiri.***BAYI tampan itu kuberi nama Gandring. Ia kini telah tumbuh menjadi bocah ajaib; nakal tapi cerdas. Kecerdasannya melompat jauh di atas rata-rata teman seusianya. Matanya seperti biji kelereng dari kristal, menyorot tajam. Gerakan-gerakan tubuhnya gesit sedikit liar. Membuat setiap orang berdecak kagum; geleng-geleng kepala heran. Dan, aku, Ibunya, kian hari dadaku kian membusung bangga. Sebab telah lahir dari rahim perempuan suci seorang bocah laki-laki cerdas bermata sebening kristal.Tapi laknat tak pernah pergi jauh. Sebab Gandring tak berayah. Maka, mulut-mulut nyinyir itu terus meradang dalam iri dengki. Menghembus-hembuskan hawa busuk yang dipungut dari lembah hitam ditimpukkan di kepalaku. Kecuali malam hari, aku nyaris tak berani keluar rumah. Mendekam di kamar persis seorang penderita kusta menunggu Gandring pulang sekolah. Tatapan orang-orang kampung selalu membuat perutku mau muntah.''Hai, Maisesa! Tidak malukah kamu pada anakmu? Setiap malam dia pergi ngaji sementara kamu malah kencan dengan puluhan laki-laki!''''Maisesa, kamu tidak pantas jadi Ibu Gandring. Berikan anakmu pada kami. Kami akan mendidik anakmu dengan baik!''''Anakmu cerdas, Maisesa. Sayang jika jatuh ke tangan yang salah...''Aku cuma tertawa mendengar semua omong kosong itu. Tahu apa mereka tentang Gandring? Gandring adalah darah dagingku. Aku Ibunya. Aku yang mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari. Aku berhak sepenuhnya atas diri Gandring. Tahukah mereka betapa payah saat-saat hamil manakala sejumput beras tak tersisa di dapur sehingga aku harus rela mengemis lantaran tak seorang lakilaki pun sudi menjamah tubuhku? Tahukah mereka betapa sakit saat-saat melahirkan; ketika terik matahari memekik di atas genting nyaris membakar?Tidak! Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka cuma sekumpulan orang bodoh yang pandai bersilat lidah. Bicara atas nama kearifan tapi menyimpan niat busuk. Lihatlah, mata mereka begitu nyalang dan mulut mereka berbusa. Itu pertanda dusta. Tapi mereka ingin merampas anakku. Mereka mengira aku tidak becus mengurus anak. Mereka lupa bahwa akulah yang melahirkan Gandring. Hanya perempuan suci yang melahirkan anak cerdas dan tampan. Sedang mereka? Berbahagialah, sebab anak-anakmu jelek, bodoh, hitam, kucel dan bau!''Ibu, Ibu, aku dapat ranking satu!''''Bagus. Lebih giat lagi belajar. Kelak kamu akan jadi orang besar.''Kucium kening Gandring yang licin bagai porselin. Kutuntun ke kamar mandi, kubasuh kedua tangannya dengan air dingin. Anak yang cerdas memang harus diperlakukan istimewa. Dijaga supaya tidak jatuh sakit. Lalu, kuhamparkan makanan lezat bergizi di atas meja makan agar tubuhnya tetap sehat. Juga segelas susu coklat. Buah mangga dan apukat. ''Makanlah yang banyak, Nak. Sebab orang lapar sering gelap mata.''''Tapi guru ngaji bilang, makan tak boleh terlalu kenyang...''''Oh, ya? Siapa guru ngajimu?''''Ustadz Hudan.''***NAMAKU Maisesa. Perempuan suci yang diberi kemurahan oleh Tuhan hingga mencapai usia tiga puluh lima, tapi kecantikanku justru semakin sempurna seperti gadis belasan tahun. Lihatlah, puluhan lakilaki setiap malam masih bertekuk lutut dihadapanku, merajuk seperti kerbau dungu. Merengek dengan mata sayu. Tapi aku kuda betina binal dalam gairah gadis belasan tahun yang sedang tumbuh mekar, dengan puting susu meranum dan bulu-bulu lebat menghijau. Membuat para laki-laki cepat puas hanya dalam beberapa menit bahkan detik. Maka, rezeki mengalir lebih cepat sebab antrean di belakang masih panjang. Maka, takdir gemilang itu pun datang lebih awal,

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

bahwa: Telah diangkat derajat perempuan Maisesa menjadi perempuan kaya raya!Tapi aku tidak bahagia. Aku justru sedih. Sebab Gandring anak semata wayang yang kukagumi dan kubanggakan kini mulai berani membangkang. Ia tujuh belas tahun, hampir lulus SMU. Matanya masih memancar cahaya kristal. Sedang wajahnya kian matang dalam ketampanan seorang laki-laki dewasa gagah dan perkasa. Membuat gadis-gadis teman sekolahnya blingsatan. Juga Ibu-ibu muda yang suka ngrumpi di warung atau pinggir jalan. Mereka takjub memandang. Ngiler.Bahkan, mungkin, jika mereka tengah mengupas sebutir mangga sembari menatap wajah Gandring, tak akan pernah mereka rasakan ketajaman pisau itu mengelupas jari-jari mereka. Mereka sudah berpengalaman pastilah akan membayangkan kenikmatan bercinta dengan seorang pemuda gagah dan tampan dalam gairah pertama yang menggebu-gebu. Oh.... Gandring!Kadang aku menyesal telah melahirkan anak laki-laki rupawan seperti Gandring. Ia hanya mengundang birahi perempuan. Dan gadis cantik itu. Siapa namanya? Dia tergila-gila pada Gandring. Suratnya bertumpuk di laci meja belajar. Foto-foto. Juga kartu ucapan. Tapi aku tak sanggup membaca surat-surat itu sebab dadaku tiba-tiba terasa panas seperti terbakar. Aku merasa kehilangan dan dikhianati. Mungkin aku marah dan benci. Atau cemburu. Gandring, tidak tahukah kamu betapa aku sangat mencintaimu? Oh, Gandring, Gandring, aku Ibumu berhak sepenuhnya atas dirimu. Tubuhmu. Lalu, malam-malam, diam-diam aku kerap mengintip lubang kunci, melihat Gandring yang tengah tidur pulas telanjang dada. Betapa kekar dada itu. Penuh bulu....Tapi malam ini aku sudah tak sadar. Sudah terlalu lama aku menunggu hingga bosan. Sedang lubang kunci itu terlalu sempit untuk hasrat yang kian tak tertahan. Malam ini ingin kusempurnakan kesucianku sebagai perempuan sekaligus Ibu. Sebab namaku Maisesa. Perempuan suci yang diberkati Tuhan dengan birahi dan kecantikan. Maka, kuberanikan diri memutar gagang pintu. Berjalan mengendap-endap menghampiri ranjang... ***Kulonprogo-Depok, 2002

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

BULAN TERKAPAR DI TROTOAR Cerpen: Ahmadun Y Herfanda Sumber: Jawa Pos, Edisi 06/06/2004 Bulan terkapar di trotoar. Tubuhnya kotor dan ada bercak-bercak darah pada wajah serta lambung kirinya. Dan, lihatlah, kini ia menggeliat, mencoba untuk bangkit. Mula-mula ia mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling. Lalu, memiringkan tubuhnya dan mencoba mengangkat badannya dengan menekankan kedua telapak tangannya ke trotoar. Tapi, usaha itu gagal, tubuhnya kembali rebah. "Ya Allah, apa yang telah terjadi denganku," gumamnya. Bulan meraba tulang-tulang rusuknya. Ada rasa sangat nyeri di sana. Mungkin tulang-tulang rusuknya telah patah. Bulan meraba pinggangnya. Ada rasa sangat ngilu di situ. Mungkin tulang pinggulnya terkilir atau retak. Bulan meraba lambung kirinya. Ada rasa sangat pedih di situ, dan darah merembes menembus kaosnya. Bulan mengusap bercak-bercak darah pada hidung, pipi dan pelipisnya, lalu meraba kepalanya. Jilbabnya telah tiada, entah terlempar ke mana. "Seharusnya aku sudah mati…Tuhan menyelamatkanku," batinnya. Bulan tidak tahu berapa jam ia pingsan. Ketika kesadarannya pulih, hari sudah larut malam. Bentrok antara aparat keamanan dan demonstran telah lama reda. Suasana jalan di depan kompleks gedung MPR pun sudah lengang. Ia yakin masih hidup ketika merasakan pada hampir semua bagian tubuhnya. Ia merasa ada keajaiban, kekuatan gaib, yang melindunginya: Tuhan. Jika tidak, ia pasti sudah mati dengan tubuh remuk diinjak-injak sepatu puluhan tentara dan ratusan mahasiswa. Tapi, Bulan merasa malaikat maut belum pergi jauh darinya. Mahluk gaib itu masih mengintai dari balik kegelapan malam dan tiap saat siap mencabut nyawanya. Sebab, dalam dingin malam ia masih terkapar sendiri, tak berdaya di trotoar, tanpa ada yang menolongnya. Mungkin ia akan pingsan lagi, dan tidak akan tersadar lagi, karena langsung dijemput oleh malaikat maut dengan kereta kuda, untuk dihadapkan ke Tuhannya. Mungkin ia akan kehabisan darah dan tidak tertolong lagi. Bulan meraba lagi lambung kirinya. Rembesan darah makin membasahkan kaosnya, bahkan terus menetes ke trotoar. "Mungkin lambungku tertembus peluru nyasar," pikirnya. "Ya Allah, kuatkanlah hamba...," gumamnya. Bulan mencoba untuk bangkit lagi dengan sisa-sia tenaganya, tapi gagal lagi. Sudah tidak ada sisa tenaga lagi yang cukup hanya untuk mengangkat tubuhnya sendiri. Maka, yang dapat ia lakukan hanyalah berbaring pasrah dan menyerah pada Sang Nasib. Terlintas dalam pikiran, kenapa tidak ada yang menolongnya. Dinaikkan ke atas truk tentara dan dibawa ke rumah sakit, misalnya. Atau diangkut dengan ambulan PMI? Bukankah tadi banyak anakanak PMI dan ada dua ambulan bersama mereka untuk siaga menolong para demonstran yang terluka? "Di manakah kini mereka. Apakah aku dianggap sampah yang tidak perlu ditolong?" batinnya. "Ah, tidak. Tidak mungkin! Mungkin ambulan PMI dan truk tentara telah penuh, karena terlalu banyak demonstran yang terluka, dan aku

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

sengaja dibaringkan di sini untuk dijemput nanti… Tapi, kenapa sampai begini larut belum juga ada yang menjemputku? Apakah mereka lupa dan tidak ada yang melihatku lagi, karena aku terbaring dengan pakaian hitam-hitam di tengah kegelapan malam?" *** Ketika berangkat berdemonstari bersama kawan-kawan sekampusnya siang tadi Bulan memang sengaja memakai kaos lengan panjang dan celana hitam sebagai tanda berduka bagi bangsanya yang sedang dilanda krisis ekonomi. Ia pun ingin menyatakan duka sedalam-dalamnya karena kebebasan sudah mati di negerinya dan sudah 30 tahun rakyat ditindas oleh rezim yang otoriter, sehingga tiap ada kawan yang menyapanya "merdeka", ia selalu menjawab, "belum!" Dan, pada demo mahasiswa yang menandai gelombang reformasi itu ia ingin menyatakan rasa dukanya secara total, sehingga lipstik yang ia pakai pun cokelat kehitaman, dengan jilbab hitam dan sepatu cat yang sengaja ia olesi dengan spidol hitam. "Tapi, kalau sekarang aku mati di sini, adakah yang akan berduka? Masih adakah orang yang akan peduli padaku?" batinnya. Kenyataanya kini Bulan terkapar sendiri, sekarat, di trotoar, dan tidak ada seorang pun yang menolongnya. Ia heran, kenapa sampai selarut itu tidak ada yang melihat, menemukan, dan menolongnya. Padahal, masih ada satu dua orang pejalan kaki yang sekali-sekali melewati jalan beraspal tidak jauh dari tempatnya terbaring. Beberapa tentara juga masih tampak berjaga di pintu gerbang kompleks gedung bundar yang sedikit terbuka. Jalanan memang lengang, dan tidak ada satu pun kendaraan yang lewat, karena diblokade tentara. "Mustahil kalau tidak ada seorang pun yang melihatku terbaring di sini," pikirnya. "Jangan-jangan aku dianggap gelandangan yang sengaja tidur di sini, sehingga tidak perlu mereka usik?" Bulan khawatir jangan-jangan orang-orang Jakarta memang sudah tidak memiliki kepedulian lagi pada nasib orang lain. Mereka egois, hanya suntuk pada urusan diri sendiri, dan ia menjadi korban ketidakpedulian itu. "Apakah tentara-tentara yang siaga di pintu gerbang itu juga tidak melihatku? Apakah semua orang telah menganggapku sebagai sampah yang pantas dibiarkan teronggok begitu saja di pinggir jalan, dan cukup diserahkan kepada petugas kebersihan untuk dilemparkan ke truk sampah?" Bulan mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya. Dengan itulah dia ingin menolong dirinya sendiri. Jika orang lain sudah tidak peduli lagi padanya, maka dialah yang harus menolong dirinya sendiri. Begitu pikirnya. "Hidup ini keras, Bulan. Karena itu, kamu harus kuat, dan jangan sekali-kali hanya bergantung pada orang lain. Hanya kamulah yang dapat menolong hidupmu sendiri," kata ayahnya, dua tahun lalu, ketika ia pamit untuk berangkat kuliah di Jakarta. *** Bulan kembali melihat sekeliling dengan sedikit mengangkat kepalanya. Dua orang tentara masih tampak berjaga-jaga di gerbang masuk kompleks gedung MPR yang dibuka sedikit dan hanya cukup untuk dilalui pejalan kaki. Tampak beberapa aktivis berjaket kuning melewati penjagaan dan dibiarkan masuk. Bulan lantas melihat ke dalam melalui celah pagar besi. Tampak ratusan

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

mahasiswa masih bergerombol di teras gedung MPR. Banyak di antara mereka yang naik ke atap gedung bundar. Spanduk-spanduk berbentangan di atap gedung, tapi mata Bulan berkunang-kunang, tak dapat menangkap dengan jelas bunyi tulisan pada spanduk-spanduk itu. Tiba-tiba angin malam bertiup sangat kencang, disertai serpihan-serpihan air. Mungkin serpihan-serpihan embun yang diterbangkan dari pohonan, atau hujan rintik-rintik. Malam itu langit memang mendung, seperti ikut berduka pada negeri yang rakyatnya sedang dilanda derita akibat krisis ekonomi, dan saat itu mereka telah kehilangan kesabarannya sehingga mendesak pemimpin negeri mereka agar segera turun dari kursi kekuasaannya. Bersama para mahasiswa mereka pun melakukan aksi-aksi demonstrasi secara besar-besaran. Dan, itulah yang mereka sebut sebagai gerakan reformasi. Tapi, tidak mudah untuk menurunkan presiden mereka yang telah berkuasa selama 30 tahun lebih. Mereka harus berhadapan dengan aparat keamanan, pentungan, gas air mata, semprotan air, dan peluru-peluru karet yang kadang terselipi peluru beneran. Mungkin mereka para penyusup atau oknum-oknum yang sengaja disusupkan untuk memperkeruh keadaan. Bersama para aktivis mahasiswa sekampusnya Bulan pun ikut turun ke jalan -untuk ketiga kalinya. Pada demo pertama dan kedua ia merasa asyik-asyik saja, ikut meneriakkan yel-yel di barisan paling depan sambil membentangkan spanduk. Ketika dibubarkan oleh aparat keamanan ia sempat menyelamatkan diri meskipun matanya jadi pedih karena gas air mata. Tapi, pada demo ketiga ia bernasib sial. Setelah terjungkal karena hantaman "meriam air", ia terinjakinjak tentara dan ratusan mahasiswa. Saat itulah dia merasa benar-benar akan mati, dan hanya bisa bergumam "Allahu Akbar" sebelum berjuta kunang-kunang dan kegelapan menyergap kesadarannya. Dalam kegelapan, Bulan benar-benar kehilangan matahari. Ia terbang jauh menempuh lorong panjang yang tak sampai-sampai ke ujungnya. Di kanan kiri lorong tampak beribu-ribu, bahkan mungkin berjuta-juta tangan, dalam bayangbayang putih, berderet melambai-lambai padanya. Sempat terbersit dalam pikirannya bahwa ia telah mati dan saat itu ruhnya sedang terbang kembali menuju Tuhannya. Tapi, penerbangan itu dirasanya begitu lama, begitu jauh, dan tak sampai-sampai. Ia ingin berteriak karena kelelahan, tapi tak ada suara yang keluar dari kerongkongannya. Ia ingin menjerit karena kehausan, tapi tak ada minuman yang dapat diraihnya. "Kenapa perjalanan menuju Tuhan begitu menyengsarakan? Apakah karena aku terlalu banyak dosa dan kini sedang menuju neraka?" pikirnya. Di puncak kesengsaraan itulah tiba-tiba secercah cahaya menyongsongnya di ujung lorong. Bulan mencoba berontak dari kegelapan, mempercepat terbangnya, untuk meraih cahaya itu. Begitu tangannya berhasil menggapai cahaya, ia pun menggeliat sekuat-kuatnya untuk melepaskan diri dari tangantangan kegelapan yang terus mencengkeramnya untuk mengembalikannya ke lorong panjang yang hampa itu. Dengan sekuat tenaga akhirnya ia berhasil meloloskan diri dan masuk ke gerbang cahaya. Saat itulah ia membuka matanya, dan menyadari dirinya terkapar dalam gelap malam di luar pagar halaman kompleks gedung MPR. ***

KUMPULAN CERPEN PILIHAN

Ingat penerbangan panjang yang melelahkan itu, tubuh Bulan tiba-tiba menggigil hebat. Malam memang telah beranjak ke dini hari, dan udara Jakarta benar-benar terasa dingin sehabis gerimis. Apalagi trotoar tempat ia terbaring juga basah. Angin berkesiur cukup keras, menerpa tubuh dan menggigilkan tengkuknya. Sesekali gerimis menderas dan cepat mereda kembali. Dua tentara yang masih berjaga di gerbang gedung bundar pun sudah menutup tubuh mereka dengan mantel. Bulan merasa tangan-tangan maut kembali mendekatinya, untuk meraih ruhnya dan menerbangkannya kembali ke lorong panjang tadi, untuk benarbenar menemui Tuhannya. Bulan tahu tiap mahluk hidup pasti akan mati. Begitu juga dirinya. Jika saatnya telah tiba, dia pun akan mati juga. "Tapi, jangan secepat ini, ya Allah. Aku masih terlalu muda. Aku belum siap menghadapMu. Masih banyak yang harus aku lakukan. Masih banyak yang harus aku sempurnakan," gumamnya. Bulan ingat shalatnya yang masih bolong-bolong. Apalagi saat-saat mengikuti unjuk rasa, karena sebagian besar waktunya habis di jalan. Ia ingat harapan ayah dan ibunya yang memimpikannya menjadi pengacara untuk meneruskan karier sang ayah. Mereka tentu akan sangat kecewa, kalau ia pulang bukan bersama gelar sarjana hukum, tapi bersama peti mayat. "Ya Allah, hamba benar-benar belum siap menghadapMu. Berilah hamba kekuatan dan kesempatan untuk meraih cita-cita itu," doa Bulan dalam hati. Tapi gerimis tidak juga reda dan dingin malam makin menggigilkan tubuh Bulan. Ia ingin sekali berteriak untuk meminta tolong, tapi tak ada lagi pejalan kaki yang lewat. Sedang dua tentara yang berjaga di gerbang masuk gedung bundar terlalu jauh darinya dan ia yakin tidak akan mendengar teriakannya yang pasti sangat lirih, karena ia sudah kehabisan tenaga. Satu-satunya harapan tercepat adalah datangnya para petugas kebersihan kota yang memang mulai bekerja pada dini hari. Ia berharap mereka akan menemukannya dalam keadaan masih sadar, dan masih menganggapnya sebagai manusia sehingga tidak dilempar ke truk sampah tapi segera dilarikan ke rumah sakit. Namun, harapan itu tidak kunjung tiba juga, dan ia merasa terlalu lama menunggu. Lama sekali. Dan, sebelum "pasukan kuning" itu datang, kepala Bulan tiba-tiba terasa sangat ringan sehingga ia merasa seperti melayanglayang di udara. Sedetik kemudian berjuta kunang-kunang menyergapnya dan menyeretnya ke dalam kegelapan yang sangat dalam, kembali menerbangkannya ke lorong panjang tak berujung. Bulan tak tahu, kali ini penerbangannya akan sampai ke mana.*** Jakarta, 1999/2004

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->