P. 1
interaksi obat morbus hansen

interaksi obat morbus hansen

|Views: 2,315|Likes:
Published by TIKA PUTRIYANTI

More info:

Published by: TIKA PUTRIYANTI on Nov 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/14/2013

pdf

text

original

a. Dosis

Dosis dewasa: 100 mg/hari
Dosis anak

: 50 mg/ hari

b. Preparat

Sediaan clofazimine berupa kapsul gelatin lunak 50 mg, berwarna
coklat dan berbentuk sferis. Kemasan dalam 1 botol berisi 100 kapsul.
Selain itu didapatkan pula kemasan blister 50 mg (anak) dan 100 mg
(dewasa) MDTL (Multi Drugs Therapy for Leprosy) bersama dapsone dan
rifampicin.15

1.5 Indikasi

Clofazimine digunakan dalam regimen terapi lepra multibasiler (MB)
bersama dengan Rifampicin dan Dapsone. Terapi kombinasi tersebut
bermanfaat untuk mecegah resistensi obat lepra. Clofazimine 100-200 mg/hari
selama maksimal 3 bulan, diketahui bermanfaat dalam menurunkan
pemakaian kortikosteroid jangka panjang pada penderita reaksi kusta.

21

Pemberian dosis clofazimine lebih dari 200 mg/hari tidak
direkomendasikan.13,15

1.7 Reaksi yang tidak diinginkan

a. Efek samping

Efek samping clofazimine berkaitan erat dengan dosis. Pada
umumnya clofazimine dapat ditoleransi dengan baik pada dosis 100
mg/hari. Efek samping utama pemakaian clofazimine adalah diskolorasi
kulit, mulai dari merah kecoklatan sampai dengan kehitaman dan kulit
menjadi lebih kering. Efek samping tersebut berifat reversibel, namun
membutuhkan waktu sekitar 6 bulan agar kulit dapat kembali normal. Efek
samping lain meliputi gejala gastrointestinal berupa nyeri epigastrium,
diare, mual dan muntah serta gejala okuler berupa pigmentasi kornea dan
konjunctiva akibat deposit kristal clofazimine.13

1.8 Interaksi

Tidak ditemukan data menyebutkan interaksi clofazimine dengan obat
golongan lain, namun didapatkan data awal penelitian menyebutkan dapsone
mengahambat efek anti-inflamasi clofazimine. Data tersebut masih belum
dikonfirmasi dan pemakaian terapi kombinasi pada penderita reaksi kusta
masih direkomendasikan hingga saat ini. 15

DAPSONE

1.1 Sifat fisikokimia

Dapsone memiliki nama kimia 4,4'-diaminodiphenylsulfone (DDS) dan
tampilan fisik berupa serbuk kristal berwarna putih, tidak berbau. Dapsone
tidak larut dalam air maupun minyak nabati serta mengandung senyawa non-

22

aktif meliputi koloid silikon dioksida, magnesium stearat, selulosa dan pati
jagung.13,16

1.2 Farmakodinamik

Dapsone merupakan antagonis kompetitif dari para-aminobezoic acid
(PABA) dan menghambat penggunaan PABA untuk sintesis folat oleh bakteri.
Melalui proses ini dapsone memiliki efek bakteriostatik maupun bakterisidal.16

1.3 Farmakokinetik

Pemberian dapsone per oral mampu diabsorbsi secara lengkap oleh usus.
Konsentrasi puncak dapsone dalam plasma tercapai dalam waktu 2-8 jam
setelah pemberian. Waktu paruh diperkirakan antara 20-30 jam. Dua puluh
empat jam setelah pemberian dapsone 100 mg per oral, didapatkan konsentrasi
plasma berkisar antara 0.4 to 1.2 µg/ml. Sekitar 70% dapsone berikatan
dengan protein plasma. Dapsone terdistribusi secara sempurna ke seluruh
cairan tubuh dan dapat ditemukan pada semua jaringan tubuh. Akan tetapi
dapsone cenderung terdeposit dalam hati, ginjal, otot dan kulit. Sisa obat
didapatkan pada keempat jaringan tubuh tersebut melalui pemeriksaan yang
dilakukan 3 minggu setelah penghentian terapi dapsone.13,17

Setelah melalui proses absorbsi di traktus gastrointestinal, dapsone
dibawa menuju sirkulasi portal, dimana terjadi metabolisme melalui 2 jalur
utama yaitu N-asetilasi dan N-hidroksilasi. Sekitar 85% asupan harian
dapsone akan diekskresikan secara lambat melalui urine dalam bentuk
metabolit larut air.17

1.4 Farmasi umum 16

Gambar 5. Struktur kimia Dapsone
Dikutip sesuai kepustakaan no. 16

23

a. Dosis

Dosis dewasa: 100 mg/hari
Dosis anak

: 1 mg - 2 mg/kgBB/hari

b. Preparat

Sediaan dapsone berupa tablet berwarna putih 25 mg dan 100 mg.
Selain itu didapatkan pula sediaan tablet dapsone 50 mg yang digunakan
dalam regimen terapi lepra multibasiler (MB) anak.

1.5 Indikasi

Dapsone digunakan dalam perawatan berbagai jenis gangguan kulit seperti
dermatitis herpetiformis dan lepra. Dapsone diperkirakan memiliki efek
imunomodulator sehingga mampu menekan proses inflamasi. Selain itu
dapsone juga bersifat bakteriostatik; menghambat pertumbuhan bakteri serta
memiliki sifat anti-mikosis sehingga digunakan dalam terapi infeksi jamur
sistemik seperti aktinomikosis misetoma.17

1.6 Reaksi yang tidak diinginkan

a. Efek samping

Sebagian besar efek samping dapsone timbul terkait dosis pemberian
dan jarang terjadi pada rentang dosis sampai dengan 100 mg/hari. Efek
samping yang mungkin timbul antara lain anoreksia,mual, muntah, pusing,
takikardi dan insomnia.17

Hemolisis dan methemoglobinemia dapat timbul pada individu yang
mendapat dosis dapsone lebih dari 200 mg/hari. Sedangkan pada penderita
dengan defisiensi enzim glukosa-6-fosfat-dehidrogenase, pemberian
dapsone lebih dari 50 mg/hari akan meningkatkan resiko terjadinya
hemolisis.16,17

Sindroma Dapsone (Dapsone syndrome) merupakan efek samping
yang sangat jarang terjadi. Keadaan ini merupakan suatu reaksi
hipersensitivitas yang cenderung timbul pada 6 bulan pertama pemberian

24

dapsone. Gejala yang muncul dapat berupa demam, limfadenopati,
eosinofilia, mononukleosis, leukopenia, ikterus, erupsi eksantematous dan
dermatitis eksfoliatif. Penghentian obat diketahui memberikan perbaikan
gejala yang timbul.17

b. Toksisitas

Toksisitas dapsone berhubungan dengan pembentukan
methemoglobin; diawali dari proses N-oksidasi yang menyebabkan
terbentuknya metabolit hidroksilamin oleh sitokrom P450.17

1.7 Interaksi

Rifampicin diketahui mampu menurunkan kadar plasma dapsone sebesar
7-10 kali lipat melalui akselerasi klirens plasma. Akan tetapi pada kasus lepra,
keadaan ini tidak membutuhkan perubahan dosis dapsone. Senyawa antagonis
asam folat seperti pirimetamin memiliki kemampuan meningkatkan
probabilitas reaksi hematologi.17

Pemberian dapsone 100 mg/oral/hari bersama dengan trimethoprim 5
mg/kgBB/hari tiap 6 jam menunjukkan interaksi yang bermakna. Pada hari ke-
7 pemberian obat-obat tersebut, didapatkan rata-rata kadar dapsone sebesar
2.1 ± 1.0 μg/mL. Pada pemberian dapsone sebagai obat tunggal didapatkan
rata-rata kadar dapsone sebesar 1.5 ± 0.5 μg/mL. Sedangkan rata-rata kadar
trimethoprim sebesar 18.4 ± 5.2 μg/mL. Pada pemberian trimethoprim
sebagai agen tunggal, didapatkan rata-rata kadar trimethoprim sebesar 12.4 ±
4.5 μg/mL. Keadaan ini menunjukkan interaksi mutualisme antara dapsone
dan trimethoprim, dimana dapsone meningkatkan kadar plasma trimethoprim
sebanyak 1,5 kali; begitu pula sebaliknya.17

25

DISKUSI

Eritromisin
1.1Pemilihan Bahan Obat

Penggunaan Eritromisin pada kasus ini sudah sesuai dengan indikasi
karena Eritromisin dapat digunakan untuk berbagai penyakit infeksi termasuk
faringitis. Eritromisin memiliki spektrum luas sehingga efektif terhadap
berbagai bakteri gram positif dan gram negatif. Oleh karena itu Eritromisin
dapat digunakan sebagai pilihan terapi pada kasus di mana kultur dan tes
sensitivitas tidak atau belum dapat dilakukan seperti pada kasus ini. 1,10

Faktor ras maupun genetik dari pasien ini tidak mempengaruhi
penggunaan Eritromisin.2

Pasien ini juga menderita penyakit lain yaitu
Morbus Hansen tipe borderline, namun hal tersebut tidak mempengaruhi
penggunaan Eritromisin.

26

Tidak terdapat kontraindikasi pemakaian Eritromisin pada pasien ini.
Efek samping penggunaan Eritromisin yang patut mendapat perhatian adalah
rasa tidak enak di perut berupa mual, muntah atau diare; reaksi alergi ringan
meliputi ruam kulit dan demam serta hepatotoksisitas yang ditandai dengan
gejala hepatitis berupa demam dan perubahan warna kulit tubuh menjadi
kuning. Efek samping ototoksisitas perlu diperhatikan meskipun jarang
terjadi.10,12

Pasien perlu diedukasi untuk kembali ke dokter apabila didapatkan
gejala-gejala efek samping di atas. Pasien ini tidak memiliki riwayat alergi dan
Eritromisin pun jarang memberikan reaksi alergi. Oleh karena itu Eritromisin
cukup aman digunakan pada kasus ini.

Tidak terdapat interaksi obat antara Eritromisin dengan Rifampicin,
Dapsone maupun Lamprene yang merupakan komponen dari MDTL. 12

Eritromisin tersedia di apotek RSDS dan juga di wilayah tempat tinggal
pasien. Hingga saat ini belum banyak bakteri yang resisten terhadap
Eritromisin. Ditinjau dari segi biaya, sirup Eritromisin cukup terjangkau yaitu
sekitar Rp 20.000 per 60 mL.12

1.2. Penetapan Dosis

Berdasarkan keluhan dan temuan pemeriksaan fisik, pasien ini
menderita faringitis dengan tingkat keparahan ringan. Analisis
penetapan dosis pasien ini adalah sebagai berikut:

BB pasien = 18 kg.
Rekomendasi dosis Eritromisin pada anak = 30-50 mg/ kgBB/ hari.
Sediaan yang diberikan = Sirup Eritromisin 60 mL, konsentrasi 200 mg / 5 mL.
Dosis yang diberikan = 3x1 sendok teh/hari (1 sendok teh setara dengan 5 mL).
Berarti dosis yang diberikan per hari = 3 x 5 mL x 200 mg = 600mg/ hari
5 mL
600 mg/ hari bagi pasien ini = 600 mg per hari = 33,33 mg/ kg BB/ hari
18 kg

27

Menurut perhitungan dosis eritromisin yang diberikan sudah sesuai dengan
tingkat keparahan penyakit pasien yang ringan.

Eritromisin seharusnya diberikan selama 5 hari, maka jumlah sirup
Eritromisin yang seharusnya diberikan adalah sebagai berikut:
15 mL/ hari x 5 hari = 75 mL
Pasien ini diberi sirup Eritromisin sebanyak 60 mL yang hanya cukup
untuk 4 hari. Oleh sebab itu jumlah sirup Eritromisin yang diberikan
kurang rasional.

Umur penderita 8 tahun. Maka penetapan dosis Eritromisin pada pasien
ini harus menggunakan dosis anak yaitu 30-50 mg/ kg BB/ hari.

Berat badan penderita 18 kg merupakan determinan penting dalam penetapan
dosis Eritromisin pada kasus ini. Dosis yang sesuai untuk pasien ini adalah
30 mg x 18 kg = 540 mg / hari s/d50 mg x 18 kg = 900 mg / hari
Dosis yang diberikan kepada pasien ini berada di dalam rentang dosis di atas.

Kondisi patofisiologis berupa faringitis ringan merupakan pertimbangan untuk
memberikan Eritromisin dengan dosis kecil.
Tidak didapatkan gangguan absorbsi, distribusi, metabolisme maupun
eliminasi pada pasien ini yang dapat mempengaruhi penetapan dosis
Eritromisin.

1.3. Pemilihan Bentuk Sediaan Obat
Faktor penderita

Usia penderita adalah 8 tahun, walaupun masih tergolong usia
anak, pasien ini mampu menelan obat berupa tablet, kaplet ataupun
kapsul, terbukti dari terapi MDTL yang sudah dijalani selama 5 bulan
terakhir ini, di mana obat MDTL berupa tablet dan kaplet. Berdasarkan
hal tersebut maka bentuk sediaan obat cair (sirup) maupun padat

28

(tablet, kapsul atau kaplet) dapat diberikan pada pasien ini. Akan tetapi
bentuk sediaan padat eritromisin yang tersedia adalah kapsul 250 mg
dan kaplet 500 mg,12

sedangkan dosis Eritromisin pada pasien ini
adalah sekitar 180 mg/ kali maka sulit mengaplikasikan bentuk sediaan
padat. Oleh karena itu bentuk sediaan cair merupakan pilihan yang
tepat bagi pasien ini. Selain itu bentuk sediaan cair lebih nyaman bagi
pasien anak karena mudah ditelan dan rasanya manis.
Pasien dalam kondisi sadar dan dirawat jalan maka bentuk sediaan
sirup dapat diberikan. Pasien memiliki keluhan berupa nyeri telan,
sehingga bentuk sediaan cair lebih rasional dibandingkan bentuk
sediaan padat karena lebih dapat ditoleransi oleh penderita.
Harga Sirup Eritromisin cukup terjangkau bagi pasien ini.
Beberapa hal yang patut menjadi pertimbangan adalah sendok takar
yang digunakan dan bentuk sediaan obat berupa sirup kering. Untuk
dapat memenuhi dosis yang diinginkan maka pemberian sirup
Eritromisin harus menggunakan sendok teh yang volumenya adalah 5
mL. Tetapi, saat ini di rumah sangat sulit untuk menemukan sendok
teh dengan ukuran 5 mL, ukuran sendok teh yang ada saat ini berkisar
3-4 mL. Kenyataan ini dapat mengakibatkan tidak tepatnya dosis
Eritromisin yang diberikan setiap harinya pada pasien ini. Oleh sebab
itu orang tua pasien perlu diedukasi untuk mengusahakan sendok takar
dengan ukuran yang tepat. Selain itu orang tua juga harus dijelaskan
tentang pelarutan sirup kering eritromisin menggunakan air. Jumlah air
yang diberikan harus sesuai takaran yaitu 60 ml agar kadar eritromisin
dalam suspensi sirup dapat tercapai dengan tepat yaitu 200 mg / 5 ml.

Faktor obat

Sirup Eritromisin yang diberikan sebenarnya merupakan suatu
suspensi. Bentuk sediaan ini tepat sebab Eritromisin tidak larut dalam
air, sehingga harus dibuat dan diberikan dalam bentuk suspensi untuk
meningkatkan homogenitasnya. Akan tetapi obat ini memiliki
kekurangan berupa ketersediaan dalam bentuk sirup kering yang harus

29

dilarutkan terlebih dahulu menggunakan air yang memungkinkan
terjadi kesalahan dalam pelarutan sehingga kadar eritromisin dalam
suspensi sirup tidak tercapai dengan tepat.
Rasa obat ini manis sehingga cocok diberikan bagi pasien anak.
Zat aktif yaitu Eritromisin tetap efektif dalam BSO suspensi ini. Bahan
yang terkandung dalam suspensi Eritromisin adalah Eritromisin
etilsuksinat. Bahan ini cukup tahan terhadap asam lambung dan dapat
diabsorbsi dengan baik.10

Bentuk sediaan berupa suspensi juga
memungkinkan obat bekerja sistemik. Hal ini sesuai dengan lokasi
penyakit (target organ) yaitu faring yang dicapai secara efektif dengan
obat sistemik.

1.4. Penetapan Cara Pemberian Obat

Tujuan terapi pada kasus ini adalah mengatasi infeksi pada faring
sehingga pemberian suspensi Eritromisin secara per oral sehingga
menimbulkan efek sistemik merupakan cara yang tepat.

Munculnya kerja obat (Onset of Action) Eritromisin suspensi lebih cepat
dibandingkan Eritromisin bentuk padat karena suspensi tidak melalui
proses disintegrasi dan deagregasi. Lama kerja obat (Duration of
Action
) dari Eritromisin suspensi per kali pemberian sesuai dosis adalah
sekitar 6-8 jam.

Eritromisin etilsuksinat cukup stabil dalam cairan lambung dan cairan
usus sehingga pemberian secara per oral adalah rasional.

Walaupun penderita memiliki keluhan nyeri telan, penderita masih
dapat menelan bentuk sediaan obat berupa sirup sehingga pemberian
obat per oral masih dapat dikatakan rasional.

Pemberian Eritromisin secara per oral cukup memudahkan penderita
maupun pelaksana pelayanan kedokteran.

1.5. Penetapan Waktu Pemberian obat

30

Interval pemberian sirup Eritromisin 3x sehari sudah rasional sebab
sesuai dengan waktu paruh Eritromisin yaitu 6-8 jam. Interval ini juga
mudah dipatuhi oleh penderita.

Pengobatan dengan Eritromisin pada kasus ini merupakan pengobatan
kausatif untuk infeksi akut, oleh sebab itu Eritromisin seharusnya
diberikan selama 5 hari, tetapi pada kasus ini jumlah sirup Eritromisin
yang diberikan kurang (seharusnya diberikan sebanyak 75 mL tetapi
hanya diresepkan sebanyak 60 mL yang hanya cukup untuk 4 hari)
sehingga resep ini tidak rasional. Tidak adekuatnya masa terapi dengan
Eritromisin dapat menyebabkan resistensi.

Sirup Eritromisin dapat diminum sebelum atau sesudah makan.10,12

Rifampicin
1.1. Pemilihan Bahan Obat
Rifampicin merupakan suatu obat yang aktif secara in vitro melawan
coccus gram positif dan gram negatif, beberapa bakteri enterik,
mikobakterium serta chlamydia.13

Rifampicin biasanya digunakan bersama
dengan agen lain seperti isoniazid dan ethambutol yang berperan dalam
pengobatan tuberkulosis.14

Selain itu rifampicin dimasukkan ke dalam regimen
MDTL bersama dengan Dapsone dan Lamprene; bermanfaat dalam
pengobatan lepra.4

Pemberian Rifampicin sudah sesuai pada pasien ini, dimana selain
menderita faringitis akut juga didapatkan lepra. Rifampicin diketahui tidak
berinteraksi dengan eritromisin yang dipakai dalam terapi faringitis akut.
Selain itu pasien juga mendapatkan Rifampicin dalam bentuk regimen MDTL
secara gratis melalui program pemberantasan lepra oleh Departemen
Kesehatan.

Efek samping yang perlu diberitahukan kepada penderita dan orang
tuanya adalah timbulnya warna kemerahan pada air seni dan keringat.13,14

Hal
tersebut perlu dijelaskan agar pengobatan dapat berlangsung secara teratur dan
penderita tidak memutuskan untuk menghentikan pengobatan. Efek samping

31

lain yang perlu diwaspadai adalah ikterus dan hepatitis. Jika timbul perubahan
warna kulit tubuh menjadi kuning, penderita harus segera menemui dokter.

1.2. Penetapan Dosis

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik diketahui bahwa pasien
menderita lepra tipe borderline dan selama 5 bulan terakhir, pasien
mendapatkan regimen MDTL multibasiler (MB) anak dimana di dalamnya
didapatkan tablet rifampicin 300 mg dan 150 mg (total 450 mg) yang diminum
sekali sebulan di hadapan petugas.
Dosis Rifampicin untuk anak adalah 10-20 mg/kgBB/hari.14

Pasien ini
memiliki berat badan 18 kg, sehingga harus mendapatkan rifampicin dengan
rentang dosis antara 180 mg – 360 mg / hari.
Berdasarkan perhitungan dosis di atas maka dosis rifampicin yang
diberikan pada pasien tidak rasional, dimana melebihi rentang dosis harian
rifampicin untuk anak.

1.3. Pemilihan Bentuk Sediaan Obat
Faktor Penderita

Usia penderita 8 tahun dan masih tergolong usia anak. Bentuk sediaan
yang sesuai untuk anak biasanya adalah bentuk sediaan cair ataupun
padat berbentuk puyer. Akan tetapi penderita ini diketahui mampu
mengkonsumsi obat dalam bentuk padat, dimana selama 5 bulan
terakhir penderita mengkonsumsi MDTL tablet dan kapsul.

Faktor Obat

Selain alasan tersebut di atas, pemilihan bentuk sediaan rifampicin juga
dipengaruhi ketersediaan di pasaran. Sediaan rifampicin yang beredar
di pasaran berupa kapsul 150 mg, 300 mg, 450 mg dan 600 mg.14
Keadaan ini mengakibatkan penderita tidak memiliki pilihan dalam
pemilihan bentuk sediaan obat.

1.4. Penetapan Cara Pemberian Obat

32

Tujuan terapi pada kasus ini adalah membunuh mikobakterium
penyebab lepra. Pemberian tablet rifampicin per oral sehingga menimbulkan
efek sistemik merupakan cara yang tepat untuk mencapai tujuan terapi.
Selain itu pemberian tablet rifampicin per oral dapat diabsorbsi dengan baik
dan didistribusikan ke hampir seluruh jaringan tubuh.13,14

Pemberian tablet
rifampicin per oral pada penderita ini cukup rasional karena mudah
dilakukan oleh penderita maupun tenaga pelayanan kesehatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->