P. 1
Multi Kultural Pendidikan

Multi Kultural Pendidikan

|Views: 1,845|Likes:
Published by KAPTENBAMS

More info:

Published by: KAPTENBAMS on Nov 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

Memelihara Integrasi Sosial dan Menegakkan HAM Melalui Pendidikan Multikultural Written by Prof Dr Conny Semiawan 14 September 2003

, Pendidikan, Ditjen HAM Dalam lingkungan masyarakat Indonesia yang pluralistis di mana setiap anak yang mengalami berbagai jenis kebudayaan diharapkan belajar beradaptasi terhadap kebudayaan utama Indonesia (mainstream culture), upaya pendekatan belajar bagi setiap anak harus lebih banyak dikaji secara mendalam sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak (Developmentally Appropriate Practice, DAP) Sejak kemerdekaan bangsa ini maka telah disebutkan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 bahwa setiap anak Indonesia berhak untuk belajar. UUD ini dilandasi oleh filsafat yang serasi dengan hak asasi manusia yang menjaga kedaulatan manusia yang memiliki hak untuk belajar. Selanjutnya dalam UU No.2 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dinyatakan bahwa setiap anak diberi hak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran, bahkan, lebih jauh lagi, pasal 8 ayat 2 UU Sisdiknas 1989, menyatakan juga bahwa perhatian khusus harus diberikan kepada anak yang kecerdasannya luar biasa (unggul, berbakat) dan anak yang memiliki perkembangan yang menyimpang (exceptional, dalam arti handicapped) (UU no.2 tahun 1989 ini masih untuk acuan sebab proses UU Sisdiknas tahun 2003 belum selesai, masih perlu peraturan pelaksana- Red). Ini berarti, bahwa secara legal sistem pendidikan dilandasi oleh suatu filsafat pendidikan yang mendalam yang mengakui perbedaan unik pribadi individu. Artinya, keragaman, martabat serta perbedaan nilai dalam pertumbuhan anak Indonesia secara implisit mengandung peluang untuk mewujudkan azas eksploratif dan kecenderungan kreatif dalam seluruh tumbuh kembangnya. Sistem Pendidikan Di Masa Lalu Penyelenggaraan system pendidikan, di dalam dekade-dekade orde baru, sebagaimaan diungkapkan oleh Slamet Iman Santosa (Basis, 1998 : 6 dalam Qua Vadis Pendidikan di Indonesia), banyak “disetir” oleh political will. Artinya, seluruh sistem pendidikan mengacu pada kecenderungan politis. Para penguasa terlalu banyak mencampuri dan “mengarahkan“ sistem pendidikan ini, sehingga apa yang disebut filsafat pendidikan nyaris tidak terefleksikan dalam setiap tindakan pendidikan maupun pembelajaran. Sistem pendidikan, ataupun mungkin lebih sempit dari itu : sistem persekolahan terlalu banyak digunakan sebagai vehicle untuk transmisi sosial membangun kehidupan bersama dan menomorduakan kebhinekaan demi keekaan. Konvergensi dan kesamaan tujuan pembangunan. Dengan demikian membangun manusia Indonesia seutuhnya sebenarnya telah direduksikan dalam tindak pendidikan. Demikian pula tujuan pendidikan juga mengacu pada tujuan pembangunan bangsa dan negara yang menuntut konvergensi perilaku, bahkan hal-hal yang original, lateral dan baru dianggap mengganggu keselarasan dan kesesuaian corak kehidupan hari ini. Ini berarti, bahwa sistem pendidikan bersifat status quo karena kemungkinan mengadakan inovasi dan bertindak kreatif, menuntut divergensi berfikir dan originalitas yang kurang diperhatikan karena suasana belajar sifatnya uniform. Disamping itu lebih diprioritaskan stabilitas dan keseragaman kontinuitas (Semiawan, C, 2000, op.cit : 21). Dampak Arus Global Seiring dengan perubahan struktur sosial yang dialami oleh masyarakat Indonesia dengan berlangsungnya proses transformasi menuju ke otonomi daerah maka sistem pendidikan mengacu pada reformasi. Terjadinya reformasi berjalan bersama dengan tuntutan dan bahkan juga disebut ancaman arus global. Masalah reformasi pendidikan pada semua jenjang dan tingkat persekolahan di negeri kita yang tercinta ini dalam menghadapi era global menuju konsep masyarakat madani dan sejahtera yang kita cita-citakan memerlukan berbagai rancangan dan persiapan yang matang. Dalam arti perspektif

teoritis pemenuhan kebutuhan pembangunan pada umumnya banyak terkait dengan pemenuhan tuntutan teknologi dan tuntutan peningkatan tingkat keterampilan profesional yang pada gilirannya menuntut peningkatan pendidikan. Dengan tersebarnya inovasi Iptek yang menyebar secara cepat di belahan dunia kita, diperlukan kombinasi dengan atribut lain dalam penemuan dan penerimaan Iptek itu ke dalam kebudayaan berbangsa (Semiawan, C, dalam Semiawan, C, & Raka Joni, 1993 : 8 ). Dengan adanya kesenjangan dari kemajuan Iptek dalam kehidupan sosial rakyat kita, yang dampaknya dapat kita rasakan sampai di dalam kehidupan desapun, maka ternyata bahwa gejala globalisasi tersebut memaparkan tuntutan baru bagi kehidupan berbangsa. Penerusan ilmu pengetahuan dan pengembangan sumber daya manusia seta penyadaran masyarakat bahwa diperlukan penyesuaian sikap dan adaptasi sebagai atribut kehidupan dalam kombinasi dengan kemampuan Iptek mengisyaratkan bahwa proses globalisasi memerlukan penanganan khusus (Semiawan, C, 1997, op cit : 8). Menghadapi era global di masa yang akan datang, diharapkan kesadaran tentang reformasi pendidikan memenuhi kondisi masa depan yang dipersyaratkan (necessary condition to be fulfilled). Kurun waktu milenium ke 3 dari proses kehidupan manusia sudah berlangsung, dan abad ke-21 dan abad ke-22 ini bukan saja merupakan abad baru, melainkan juga peradaban baru. Hal ini dikarenakan betapapun mengalami krisis moneter, Indonesia akan terkena juga oleh restrukturisasi global dunia yang sedang berlangsung. Restrukturisasi dunia, yang terutama ditandai oleh berbagai perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan aspek kehidupan lain, mempengaruhi setiap insan manusia, laki, perempuan, anak di negara berkembang maupun di negara maju, tidak terkecuali negara Indonesia. Rekonseptualisasi Sistem Pendidikan Rekonseptualisasi sistem pendidikan beranjak dari rancangan pembelajaran dan implementasinya di sistem persekolahan yaitu mengacu kepada pendidikan yang lebih bersifatan agent of change, yang menumbuhkembangkan kreativitas, produktivitas dan prakarsa. Dengan demikian perlu diwujudkan nilai-nilai baru dalam pendidikan, artinya pendidikan harus lebih berwibawa mengembangkan dan mendukungkehidupan masyarakat dalam co-creating new values (Semiawan, C, 2000 : 25). Namun untuk mencapai kriteria tersebut dan dalam rangka dinamika sebagaimana digambarkan diatas maka sektor pendidikan seharusnya bergerak mengupayakan suatu reformasi. Era reformasi ini telah menuntut desentralisasi pendidikan yang selama ini diwarnai oleh ciri sentralisasi. Mindshift ini merupakan kesadaran intelektual yang adalah titik awal dari upaya reformasi. Namun begitu, ada baiknya khususnya dalam konteks pendidikan, kita juga meninjau kembali apa yang melandasi era reformasi ini sehingga jelas apa yang akan menjadi landasan kebijakan tersebut. Meskipun kita semua sadar bahwa harus terjadi perubahan, sehingga apa yang dikatakan intellectual mindshift benar terjadi, secara fair kita harus menoleh pada apa yang sudah dan apa yang tidak terjadi di masa lalu, artinya, apa yang menjadi landasan kebijakan pendidikan kita, khususnya dan terutama pada tingkat pendidikan dasar (yaitu yang mencakup sekolah dasar dan menengah). Di dalam suasana hiruk pikuk ini sektor pendidikan harus tetap berperan. Perannya adalah seperti tadi dinyatakan, co-creating new values dengan memperhatikan pola pemukiman peserta didik, pola distribusi sumber strategi, pola prasangka dalam masyarakat, kontrol efektif terhadap kekuasaan serta penerapan prinsip meritokrasi dalam pendidikan yang bersifat multikultur. Berbeda dari masa lalu, masyarakat baru yang sedang belajar menjadi masyarakat demokratis harus juga tidak terlalu “menguasai” kebijakan pendidikan itu menyimpang dari kebijakan nasional yang sudah ada secara legal. Guru harus memiliki taraf kebebasan tertentu untuk memberikan peluang pada peserta didiknya untuk belajar aktif, berbeda dari jawaban yang tersedia di pedoman kunci jawaban guru, apabila suatu persoalan memiliki kemungkinan lebih dari suatu jawaban. Ini berarti bahwa filsafat yang telah dilancarkan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani paling mendekati visi pendidikan yang kecenderungannya adalah menyulut aktualisasi potensi seseorang menuju pada the spirit to create and innovate. Seharusnya

filosofi ini menjadi pedoman serta acuan kita karena setiap anak yang berbeda bakatnya itu menghidupi berbagai budaya, yang berbeda-beda pula, artinya, manusia adalah seorang individu yang unik sekaligus juga mahluk sosial yan majemuk . inilah paradoks perkembangan manusia. Aspek Sosial Di dalam reformasi pendidikan yang berjalan bersamaan dengan proses otonomi daerah, maka beberapa aspek sosial yang terkait dengan intervensi lingkungan harus diselesaikan dalam jangka panjang maupun jangka pendek, seiring dengan landasan kebijakan nasional pendidikan. Asumsinya adalah bahwa perubahan sosial yang terjadi akan berdampak terhadap seluruh sistem pndidikan perlu difikirkan. Pada tahun 2000 sekelompok ilmuwan (kurang lebih 400 orang), yang independent, diprakarsai oleh Nurkholis Madjid, Emil Salim, Andi Malarangeng dan lain-lain berkumpul di Bali mencari solusi terhadap masalah keterpurukan total negara kita. Sekelompok ilmuwan sosial di mana penulis adalah salah seorang anggotanya, mengajukan beberapa rekomendasi, antara lain Perlu penyelesaian jangka panjang, yaitu : a. Pemetaan sosial (social mapping) untuk mencegah dan mengatasi konflik etnis. • Pola permukiman (settlement pattern). • Pola distribusi sumber-sumber strategis (strategic resources). • Pola prasangka (realitas subyektif) dalam interaksi. b. Kontrol efektif terhadap kekuasaan. Sentralisme kekuasaan birokratis terbukti telah menciptakan struktur masyarakat yang tidak adil dan berakibat suburnya tindak kekerasan sosial. c. Penerapan prinsip penghargaan pada prestasi (prinsip meritokrasi). Ikatan-ikatan primordialisme yang terintegrasi dengan sentralisme kekuasaan birokratis terbukti telah menciptakan tatanan sosial yang bertumpu pada ikatan-ikatan komunal yang menjadi lahan subur bagi munculnya tindak kekerasan komunal. d. Pendidikan multikultur. Proses perubahan sosial telah membawa masyarakat ke dalam kehidupan yang kompleks dan plural. (Forum Rembug Nasional, 2000:10). Upaya penataan pranata dan prasarana sosial di luar lingkungan sekolah sebagaimana di gambarkan di atas itu adalah terutama ikhtiar menangkal dan meninggalkan primordialisme, yang kini sempat menjadi kecendrungan yang makin meningkat di tanah air kita. Visi Pendidikan Multikultur Tanpa menutup mata akan adanya kemungkinan isu-isu kritis lain yang menyertai reformasi ini, namun tekad untuk tetap berkontribusi terhadap pembangunan kehidupan bangsa melalui pencerdasannya adalah suatu niat yang bersumber dari kehidupan bangsa melalui pencerdasannya adalah suatu niat yang bersumber dari refleksi yang mendalam dari kekuatan religius bangsa dalam kehidupan bertakwa kepada Allah SWT dan berawal dari suatu intellectual mindshift. Kalau titik awalnya (TA, Point of Depature : POD) sudah jelas, yaitu kita menyadari (mindshift) bahwa kita belum terlepas dari krisis multi dimensional, maka ke mana anak kita akan kita bawa; ke mana titik tibanya (TT) atau Point of Arrival (POA). Perspektif masa depan kita dilukiskan sebagai masyarakat madani yang beragama, ditandai oleh kebersamaan dalam kebhinekaan yang dilandasi oleh keadilan dan kesejahteraan yang berkesinambungan serta dalam keserasian dengan kecendrungan global. Inilah TT kita. Dengan memahami visi tentang perjalanan yang harus di tempuh akan mencapai TT bangsa ini, maka kemudian perlu difahami bagaimana caranya mencapai cita-cita tersebut. Dalam kaitan dengan reformasi pendidikan, maka apa yang menjadi landasan filsafat pendidikan adalah UUD 1945 pasal 31 ayat 1, yang menyebutkan bahwa setiap anak Indonesia berhak untuk belajar. Dengan demikian, maka berdasarkan landasan bahwa setiap anak itu adalah individu yang berbeda satu dengan lainnya dengan beragam bakat dan watak, pengalaman belajar harus menjadi pengaruh yang bersifat personal, bermakna dan beragam. Konsekunsinya adalah bahwa paradigma pendidikan menuju sistem desentralisasi dalam otonom daerah mengacu pada keharusan pendidikan

multikultur. Paradigma pendidikan multi kultur mengisyaratkan bahwa individu siswa individual belajar bersama dengan individulain dalam suasana saling menghormati, saling toleransi dan saling memahami. Cara pandang dan interpretasi orang dalam satu budaya etnis tertentu terhadap makna lambang budaya tertentu, demikianpun perilakunya pada umumnya kurang lebih sama dan merupakan microculture tertentu dalam keseluruhan culture yang dominan, atau yang di sebut macroculture (mainstream). Namun, sebagaimana cara orang belajar juga memiliki perbedaan, demikian juga kelompok individu tertentu berbeda perkembangan, ara pandang dan orientasinya sesuai microculture tertentu dan sedikit banyak terbentuk oleh culture tersebut karena society lives through them, harus beradaptasi terhadap mainstream culture yang ada. Mereka adalah peserta didik yang apabila kurang mampu beradaptasi, disebut field dependent atau field sensitive, yaitu mereka mengalami kesulitan menyesuaikan diri dalam lingkungan belajar mereka. Apabila anak tidak dapat menyesuaikan dirinya, maka ada kebutuhan tertentu yang tidak terpenuhi. Apabila kebutuhannya tidak terpenuhi, ia akan mengalami stres atau frustasi, dan apabila seseorang mengalami stres atau frustasi, maka berbagai prilaku yang menyimpang (seperti mudah menipu dan sikap bermusuhan (hostile attitude) akan mungkin bisa menjadi akibatnya. Semua kecenderungan itu merupakan potensi untuk korupsi, tawuran, dsb. Guru harus belajar agar mampu menerapkan strategi pembelajaran kooperatif (cooperative teaching strategies) dalam pergaulan sosial dengan para sisiwa yang memiliki berbagai sifat yang beragam itu dalam suasana belajar yang sangat menyenangkan, sehingga mereka akan saling belajar segi-segi positif dari temannya. Salah satu tujuan utama multicultural education adalah mengubah (transformasi) berbagai pendekatan belajar mengajar, mengubah kunseptualisasi dan organisasinya sehingga setiap individu dari berbagai culture memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dalam lembaga pendidikan. Yang disebut kesempatan yang sama itu bukan semata-mata memperoleh bangku sekolah, melainkan yang lebih penting adalah selain kebersamaan dalam satu kelas, perhatian dan pelayanan penuh juga harus ada terhadap kebutuhan khusus pendidikan (special education needs) setiap individu. Setiap peserta didik menjadi bagian dari kelompok tertentu, kelas sosial, bangsa,etnis,agama, gender, kekhususan tertentu, dan ia bisa menjadi bagian atau menjadi anggota dari berbagai kelompok itu. Bagi pendidik penting untuk menyadari tingkat identifikasi pesertra didik dengan kelompok mana dan sampai seberapa jauh terjadi sosialisasi, untuk bisa memahami, menjelaskan dan meramalkan perilakunya agar ia terlayani dengan baik di kelasnya. Apabila kurikulum sekolah-sekolah kita menggunakan kurikulum berbasis kompetensi yang menunjuk pada kemampuan yang terkait dengan kriteria tertentu (criterion referenced), maka mengintegrasikan pendidikan multikultur dalam mewujudkannya, memerlukan patokan minimal (threshold), dengan rentangan sampai dengan superior. Sekolah yang mengembangkan orientasi “managemen berbasis sekolah” perlu paling sedikit mencapai ambang minimal kompetensi, sedangkan sekolah yang mutunya baik yang mencapai rentangan superior dalam pengelolaan (manajemen)nya, dapat bersaing dengan sekolah-sekolah dari negara lain. Namun apabila Indonesia yang memiliki kurang lebih 210 juta penduduk serta lebih dari 300 suku bangsa dan kurang lebih 17.500 kepulauan, ingin berkompetisi dalam persaingan global, maka primodialisme yang berlatar belakang kesukuan, ras, agama, kelompok, partai, fraksi, golongan, bahkan juga asal pendidikan tidak harus menjadi stereotype dalam kehidupan bernegara, melainkan penghargaan prestasi terhadap prestasi dan integritas pribadi harus lebih dikedepankan. * * * _________________________________________________________________ 1) Sari Makalah pada Integrasi Sosial dan Penegakkan Hak-hak Asasi Manusia, Direktorat Jenderal Perlindungan Hak Asasi Manusia, Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI. ?) Guru Besar di Universitas Negeri Jakarta & Guru Besar Luar Biasa di Universitas Indonesia. Tanggung Jawab Besar Pendidikan Muftikultural

Written by (Suara Pembaruan: 09/09/04) Pendidikan multikultural mempunyai dua tanggung jawab besar, yaitu menyiapkan bangsa Indonesia untuk siap menghadapi arus budaya luar di era globalisasi dan menyatukan bangsa sendiri yang terdiri dari berbagai macam budaya. Bila kedua tanggung jawab besar itu dapat dicapai, maka kemungkinan disintegrasi bangsa dan munculnya konflik dapat dihindarkan. Masalahnya, pendidikan multikulturalisme tidak diberikan secara proporsional di sekolah, dari sekolah dasar hingga pendidikan tinggi. Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Sutjipto menyatakan hal tersebut pada seminar internasional bertema "Multicultural Education: Revitalising Nationalism and The Role of Higher Education Amid the Age of Globalisation" yang berlangsung di Jakarta, Selasa (7/9). Seminar diselenggarakan untuk memperingati 40 tahun UNJ. Pembicara dalam seminar tersebut berasal dari dalam dan luar negeri diantaranya Dirjen Dikti Satryo S Brodjonegoro, guru Besar Emeritus UNJ, H A R Tilaar, Perwakilan Badan PBB bidang pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya, UNESCO untuk kawasan Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Timor Leste Stephen Hill dan konselor pendidikan dari Australian Embassy Tony Mitchener. Dijelaskan Sutjipto, pen¬didikan multikulturalismesangat penting karena kitahidup dalam kultur yang be¬ragam. Bagaimana perbeda¬an itu menjadi tantangan bagi dunia pendidikan guna mengolah perbedaan tersebut menjadi suatu aset, dan bu¬kan sumber perpecahan. "De¬ngan kultur yang, sangat beragam, kita perlu mengem¬bangkan sikap toleransi, se¬mentara kita juga, mengha¬dapi globalisasi yang merupa¬kan penyesuaian baru. Da¬lam pendidikan multikultur¬al, anak diharapkan mem¬punyai kesadaran dalam bentuk menghargai orang lain, tidak memaksakan kehen¬daknya," katanya. Meski pendidikan kebangsaan dan ideologi telah banyak diberikan di perguruan tinggi, dia menilai pendidikan multikultural masih belum diberikan dengan proporsi yang benar. "Model pembelajaran yang berkaitan dengan kebangsaan yang sekarang diterapkan, masih kurang belum memadai sebagai sarana pendidikan untuk menghargai masing masing suku bangsa. Nyatanya, masih banyak terjadi konflik yang menunjukkan pemahaman mengenai toleransi sangat kurang," ujarnya. Sementara itu, Tony Mitchener, mengakui, pendidikan multikultural mutlak dibe¬rikan, apalagi sebagai bangsa yang mempunyai beragam bu¬daya. Australia katanya, su¬dah sejak lama memasukkanpendidikan tersebut dalamproses belajar di sana danmengintegrasikandalam ber¬bagai jenjang pendidikan. "Malahan kami mempunyai target pada tahun 2006, 25 persen anak usia 12 tahun dapat mengerti bahasa selain bahasa Inggris. Semua itu dimaksudkan agar mereka menyadari bahwa ada budaya lain selain yang mereka miliki dan jadi lebih menghargai perbedaan," katanya. Dalam kesempatan yang sama Stephen Hill menjelaskan bahwa tanggung jawab pendidikan multikultural ada di semua Iapisan masyarakat. "Pendidikan ini tidak hanya melibatkan guru atau pemerintah semata, namun seluruh masyarakat. Adanya aspek kehidupan yang multidimensi dalam pendidikan multikultural membuat semua lapisan masyarakat harus ikut bertanggung jawab,” katanya. MULTIKULTURALISME DAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Written by Muhaemin el-Ma'hady A. Pendahuluan Sedikitnya selama tiga dasawarsa, kebijakan yang sentralistis dan pengawalan yang ketat terhadap isu perbedaan telah menghilangkan kemampuan masyarakat untuk memikirkan, membicarakan dan memecahkan persoalan yang muncul dari perbedaan secara terbuka, rasional dan damai. Kekerasan antar kelompok yang meledak secara sporadis di akhir tahun 1990-an di berbagai kawasan di Indonesia menunjukkan betapa rentannya rasa kebersamaan yang dibangun dalam Negara-Bangsa, betapa

kentalnya prasangka antara kelompok dan betapa rendahnya saling pengertian antar kelompok. Konteks global setelah tragedi September 11 dan invasi Amerika Serikat ke Irak serta hiruk pikuk politis identitas di dalam era reformasi menambah kompleknya persoalan keragaman dan antar kelompok di Indonesia. Sejarah menunjukkan, pemaknaan secara negatif atas keragaman telah melahirkan penderitaan panjang umat manusia. Pada saat ini, paling tidak telah terjadi 35 pertikaian besar antar etnis di dunia. Lebih dari 38 juta jiwa terusir dari tempat yang mereka diami, paling sedikit 7 juta orang terbunuh dalam konflik etnis berdarah. Pertikaian seperti ini terjadi dari Barat sampai Timur, dari Utara hingga Selatan. Dunia menyaksikan darah mengalir dari Yugoslavia, Cekoslakia, Zaire hingga Rwanda, dari bekas Uni Soviet sampai Sudan, dari Srilangka, India hingga Indonesia. Konflik panjang tersebut melibatkan sentimen etnis, ras, golongan dan juga agama. Merupakan kenyataan yang tak bisa ditolak bahwa negara-bangsa Indonesia terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, agama dan lain-lain sehingga negara-bangsa Indonesia secara sederhana dapat disebut sebagai masyarakat "multikultural". Tetapi pada pihak lain, realitas "multikultural" tersebut berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi kembali "kebudayaan nasional Indonesia" yang dapat menjadi "integrating force" yang mengikat seluruh keragaman etnis dan budaya tersebut. Perbedaan budaya merupakan sebuah konduksi dalam hubungan interpersonal. Sebagai contoh ada yang orang yang bila diajak bicara (pendengar) dalam mengungkapkan perhatiannya cukup dengan mengangguk-anggukan kepala sambil berkata "uh. huh". Namun dalam kelompok lain untuk menyatakan persetujuan cukup dengan mengedipkan kedua matanya. Dalam beberapa budaya, individuindividu yang berstatus tinggi biasanya yang memprakarsai, sementara individu yang statusnya rendah hanya menerima saja sementra dalam budaya lain justru sebaliknya. Beberapa psikolog menyatakan bahwa budaya menunjukkan tingkat intelegensi masyarakat. Sebagai contoh, gerakan lemah gemulai merupakan ciri utama masyarakat Bali. Oleh karena kemampuannya untuk menguasai hal itu merupakan ciri dari tingkat intelligensinya. Sementara manipulasi dan rekayasa kata dan angka menjadi penting dalam masyarakat Barat. Oleh karenanya "keahlian" yang dimiliki seseorang itu menunjukkan kepada kemampuan intelligensinya. Paling tidak ada tiga kelompok sudut pandang yang biasa berkembang dalam menyikapi perbedaan identitas kaitannya dengan konflik yang sering muncul. Pertama, pandangan primordialis. Kelompok ini menganggap, perbedaan-perbedaan yang berasal dari genetika seperti suku, ras (dan juga agama) merupakan sumber utama lahirnya benturan-benturan kepentingan etnis maupun agama. Kedua, pandangan kaum instrumentalis. Menurut mereka, suku, agama dan identitas yang lain dianggap sebagai alat yang digunakan individu atau kelompok untuk mengejar tujuan yang lebih besar, baik dalam bentuk metril maupun non-materiil. Konsepsi ini lebih banyak digunakan oleh politisi dan para elit untuk mendapatkan dukungan dari kelompok identitas. Dengan meneriakkan "Islam" misalnya, diharapkan semua orang Islam merapatkan barisan untuk mem-back up kepentingan politiknya. Oleh karena itu, dalam pandangan kaum instrumentalis, selama setiap orang mau mengalah dari prefence yang dikehendaki elit, selama itu pula benturan antar kelompok identitas dapat dihindari bahkan tidak terjadi. Ketiga, kaum konstruktivis, yang beranggapan bahwa identitas kelompok tidak bersifat kaku, sebagaimana yang dibayangkan kaum primordialis. Etnisitas, bagi kelompok ini, dapat diolah hingga membentuk jaringan relasi pergaulan sosial. Karenanya, etnisitas merupakan sumber kekayaan hakiki yang dimiliki manusia untuk saling mengenal dan memperkaya budaya. Bagi mereka, persamaan adalah anugrah dan perbedaan adalah berkah. Dalam konteks pendapat yang ketiga, terdapat ruang wacana tentang multikulturalisme dan pendidikan multikultural sebagai sarana membangun toleransi atas keragaman. Wacana ini mulai ramai terdengar di kalangan akademis, praktisi budaya dan aktifis di awal tahun 2000 di Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan sebagai kajian tentang multikulturalisme dan pendidikan multikultural sebagai bahan kajian lanjutan untuk mengetahui corak, peluang dan tantangan pendidikan multikultural di

Indonesia. B. Perjalanan Multikulturalisme dan Wacana Pendidikan Multikultural Konsep pendidikan multikultural di negara-negara yang menganut konsep demokratis seperti Amerika Serikat dan Kanada, bukan hal baru lagi. Mereka telah melaksanakannya khususnya dalam dalam upaya melenyapkan diskriminasi rasial antara orang kulit pulit dan kulit hitam, yang bertujuan memajukan dan memelihara integritas nasional. Pendidikan multikultural mengakui adanya keragaman etnik dan budaya masyarakat suatu bangsa, sebagaimana dikatakan R. Stavenhagen: Religious, linguistic, and national minoritas, as well as indigenous and tribal peoples were often subordinated, sometimes forcefully and against their will, to the interest of the state and the dominant society. While many people... had to discard their own cultures, languages, religions and traditions, and adapt to the alien norms and customs that were consolidated and reproduced through national institutions, including the educational and legal system. Di Amerika, sebagai contohnya muncul serangkaian konsep tentang pluralitas yang berbeda-beda, mulai dari melting pot sampai multikulturalisme. Sejak Columbus menemukan benua Amerika, berbagai macam bangsa telah menempati benua itu. Penduduk yang sudah berada di sana sebelum bangsa-bangsa Eropa membentuk koloni-koloni mereka di Amerika Utara, terdiri dari berbagai macam suku yang berbeda-beda bahasa dan budayanya. Tetapi di mata bangsa Anglo-Sakson yang menyebarkan koloni di abad ke-17, tanah di Negara baru itu ada kawasan tak bertuan dan bangsa-bangsa yang ditemui di benua baru itu tak lebih dari makhluk primitif yang merupakan bagian dari alam yang mesti ditaklukkan. Dari perspektif kaum Puritan yang menjadi acuan utama sebagian besar pendatang dari Inggris tersebut, berbagai suku bangsa yang dilabel secara generik dengan nama "Indian" adalah bangsa kafir pemuja dewa yang membahayakan kehidupan komunitas berbasis agama tersebut. Di sini terlihat bagaimana pandangan berperspektif tunggal yang datang dari budaya tertentu membutakan mata terhadap kenyataan keragaman yang ada. Amerika Serikat ketika ingin membentuk masyarakat baru-pasca kemerdekaannya (4 Juli 1776) baru disadari bahwa masyarakatnya terdiri dari berbagai ras dan asal negara yang berbeda. Oleh karena itu, dalam hal ini Amerika mencoba mencari terobosan baru yaitu dengan menempuh strategi menjadikan sekolah sebagai pusat sosialisasi dan pembudayaan nilai-nilai baru yang dicita-citakan. Melalui pendekatan inilah, dari Sd sampai Perguruan Tinggi, Amerika Serikat berhasil membentuk bangsanya yang dalam perkembangannya melampaui masyarakt induknya yaitu Eropa. Kaitannya dengan nilainilai kebudayaan yang perlu diwariskan dan dikembangkan melalui sistem pendidikan pada suatu masyarakat, maka Amerika Serikat memakai sistem demokrasi dalam pendidikan yang dipelopori oleh John Dewey. Intinya adalah toleransi tidak hanya diperuntukkan untuk kepentingan bersama akan tetapi juga menghargai kepercayaan dan berinteraksi dengan anggota masyarakat. Multikulturalisme secara etimologis marak digunakan pada tahun 1950-an di Kanada. Menurut Longer Oxford Dictionary istilah "multiculturalism" merupakan deviasi dari kata "multicultural" Kamus ini menyitir kalimat dari surat kabar Kanada, Montreal Times yang menggambarkan masyarakat Montreal sebagai masyarakat "multicultural dan multi-lingual". Sedangkan wacana tentang pendidikan multikultural, secara sederhana pendidikan multikultural dapat didefenisikan sebagai "pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan". Hal ini sejalan dengan pendapat Paulo Freire, pendidikan bukan merupakan "menara gading" yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Pendidikan menurutnya, harus mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan, bukan sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan prestise sosial sebagi akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialaminya. Pendidikan multikultural (multicultural education) merupakan respon terhadap perkembangan

keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Dalam dimensi lain, pendidikan multikultural merupakan pengembangan kurikulum dan aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan, sejarah, prestasi dan perhatian terhadap orang-orang non Eropa (Hilliard, 1991-1992). Sedangkan secara luas pendidikan multikultural itu mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti gender, etnic, ras, budaya, strata sosial dan agama. Selanjutnya James Banks (1994) menjelaskan bahwa pendidikan multikultural memiliki lima dimensi yang saling berkaitan: - Content integration mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi dan teori dalam mata pelajaran/disiplin ilmu. -The Knowledge Construction Process Membawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran (disiplin) -An Equity Paedagogy Menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras, budaya ataupun sosial. -Prejudice Reduction Mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka - Melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, berinteraksi dengan seluruh staff dan siswa yang berbeda etnis dan ras dalam upaya menciptakan budaya akademik. Dalam aktifitas pendidikan manapun, peserta didik merupakan sasaran (obyek) dan sekaligus sebagai subyek pendidikan. Oleh sebab itu dalam memahami hakikat peserta didik, para pendidik perlu dilengkapi pemahaman tentang ciri-ciri umum peserta didik. Setidaknya secara umum peserta didik memiliki lima ciri yaitu; 1. Peserta didik dalan keadaan sedang berdaya, maksudnya ia dalam keadaan berdaya untuk menggunakan kemampuan, kemauan dan sebagainya. 2. Mempunyai keinginan untuk berkembang ke arah dewasa. 3. Peserta didik mempunyai latar belakang yang berbeda. 4. Peserta didik melakukan penjelajahan terhadap alam sekitarnya dengan potensi-potensi dasar yang dimiliki secara individu. Menurut Tilaar, pendidikan multikultural berawal dari berkembangnya gagasan dan kesadaran tentang "interkulturalisme" seusai perang dunia II. Kemunculan gagasan dan kesadaran "interkulturalisme" ini selain terkait dengan perkembangan politik internasional menyangkut HAM, kemerdekaan dari kolonialisme, dan diskriminasi rasial dan lain-lain, juga karena meningkatnya pluralitas di negaranegara Barat sendiri sebagai akibat dari peningkatan migrasi dari negara-negara baru merdeka ke Amerika dan Eropa. Mengenai fokus pendidikan multikultural, Tilaar mengungkapkan bahwa dalam program pendidikan multikultural, fokus tidak lagi diarahkan semata-mata kepada kelompok rasial, agama dan kultural domain atau mainstream. Fokus seperti ini pernah menjadi tekanan pada pendidikan interkultural yang menekankan peningkatan pemahaman dan toleransi individu-individu yang berasal dari kelompok minoritas terhadap budaya mainstream yang dominan, yang pada akhirnya menyebabkan orang-orang dari kelompok minoritas terintegrasi ke dalam masyarakat mainstream. Pendidikan multikultural sebenarnya merupakan sikap "peduli" dan mau mengerti (difference), atau "politics of recognition" politik pengakuan terhadap orang-orang dari kelompok minoritas. Dalam konteks itu, pendidikan multikultural melihat masyarakat secara lebih luas. Berdasarkan pandangan dasar bahwa sikap "indiference" dan "Non-recognition" tidak hanya berakar dari ketimpangan struktur rasial, tetapi paradigma pendidikan multikultural mencakup subjek-subjek mengenai ketidakadilan, kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan kelompok-kelompok minoritas dalam berbagai bidang: sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Paradigma seperti ini

akan mendorong tumbuhnya kajian-kajian tentang 'ethnic studies" untuk kemudian menemukan tempatnya dalam kurikulum pendidikan sejak dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Tujuan inti dari pembahasan tentang subjek ini adalah untuk mencapai pemberdayaan (empowerment) bagi kelompok-kelompok minoritas dan disadventaged. Istilah "pendidikan multikultural" dapat digunakan baik pada tingkat deskriftif dan normatif, yang menggambarkan isu-isu dan masalah-masalah pendidikan yang berkaitan dengan masyarakat multikultural. Lebih jauh ia juga mencakup pengertian tentang pertimbangan terhadap kebijakankebijakan dan strategi-strategi pendidikan dalam masyarakat multikultural. Dalam konteks deskriftif ini, maka kurikulum pendidikan multikultural mestilah mencakup subjek-subjek seperti: toleransi; tematema tentang perbedaan ethno-kultural dan agama: bahaya diskriminasi: penyelesaian konflik dan mediasi: HAM; demokratis dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan. Dalam konteks teoritis, belajar dari model-model pendidikan multikultural yang pernah ada dan sedang dikembangkan oleh negara-negara maju, dikenal lima pendekatan, yaitu: pertama, pendidikan mengenai perbedaan-perbedaan kebudayaan atau multikulturalisme. Kedua, pendidikan mengenai perbedaanperbedaan kebudayaan atau pemahaman kebudayaan. Ketiga, pendidikan bagi pluralisme kebudayaan. Keempat pendidikan dwi-budaya. Kelima, pendidikan multikultural sebagai pengalaman moral manusia. C. Wacana Multikulturalisme dan Pendidikan multikultural di Indonesia Di Indonesia, pendidikan multikultural relatif baru dikenal sebagai suatu pendekatan yang dianggap lebih sesuai bagi masyarakat Indonesia yang heterogen, terlebih pada masa otonomi dan desentralisasi yang baru dilakukan. Pendidikan multikultural yang dikembangkan di Indonesia sejalan pengembangan demokrasi yang dijalankan sebagai counter terhadap kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. Apabila hal itu dilaksanakan dengan tidak berhati-hati justru akan menjerumuskan kita ke dalam perpecahan nasional. Menurut Azyumardi Azra, pada level nasional, berakhirnya sentralisme kekuasan yang pada masa orde baru memaksakan "monokulturalisme" yang nyaris seragam, memunculkan reaksi balik, yang bukan tidak mengandung implikasi-implikasi negatif bagi rekonstruksi kebudayaan Indonesia yang multikultural. Berbarengan dengan proses otonomisasi dan dan desentralisasi kekuasaan pemerintahan, terjadi peningkatan gejala "provinsialisme" yang hampir tumpang tindih dengan "etnisitas". Kecenderungan ini, jika tidak terkendali akan dapat menimbulkan tidak hanya disintegrasi sosio-kultural yang amat parah, tetapi juga disintegrasi politik. Model pendidikan di Indonesia maupun di negara-negara lain menunjukkan keragaman tujuan yang menerapkan strategi dan sarana yang dipakai untuk mencapainya. Sejumlah kritikus melihat bahwa revisi kurikulum sekolah yang dilakukan dalam program pendidikan multikultural di Inggris dan beberapa tempat di Australia dan Kanada, terbatas pada keragaman budaya yang ada, jadi terbatas pada dimensi kognitif. Penambahan informasi tentang keragaman budaya merupakan model pendidikan multikultural yang mencakup revisi atau materi pembelajaran, termasuk revisi buku-buku teks. Terlepas dari kritik atas penerapnnya di beberapa tempat, revisi pembelajaran seperti di Amerika Serikat merupakan strategi yang dianggap paling penting dalam reformasi pendidikan dan kurikulum. Penulisan kembali sejarah Amerika dari perspektif yang lebih beragam meruapakan suatu agenda pendidikan yang diperjuangkan intelektual, aktivis dan praktisi pendidikan. Di Jepang aktivis kemanusiaan melakukan advokasi serius untuk merevisi buku sejarah, terutama yang menyangkut peran Jerpang pada perang dunia II di Asia. Walaupun belum diterima, usaha ini sudah mulai membuka mata sebagian masyarakat akan pentingnya perspektif baru tentang perang, agar tragedi kemanusiaan tidak terulang kembali. Sedangkan di Indonesia masih diperlukan usaha yang panjang dalam merevisi buku-buku teks agar mengakomodasi kontribusi dan partisipasi yang lebih inklusif bagi warga dari berbagai latarbelakang dalam pembentukan Indonesia. Indonesia juga memerlukan pula materi pembelajaran yang bisa mengatasi

"dendam sejarah" di berbagai wilayah. Model lainnya adalah pendidikan multikultural tidak sekedar merevisi materi pembelajaran tetapi melakukan reformasi dalam sistem pembelajaran itu sendiri. Affirmative action dalam seleksi siswa sampai rekrutmen pengajar di Amerika adalah salah satu strategi untuk membuat perbaikan ketimpangan struktural terhadap kelompok minoritas. Contoh yang lain adalah model "sekolah pembauran" Iskandar Muda di Medan yang memfasilitasi interaksi siswa dari berbagai latar belakang budaya dan menyusun program anak asuh lintas kelompok. Di Amerika Serikat bersamaan dengan amsuknya wacana multikulturalisme, dilakukan berbagai lokakarya di sekolah-sekolah maupun di masyarakt luas untuk meningkatkan kepekaan sosial, toleransi dan mengurangi prasangka antar kelompok. Untuk mewujudkan model-model tersebut, pendidikan multikultural di Indonesia perlu memakai kombinasi model yang ada, agar seperti yang diajukan Gorski, pendidikan multikultural dapat mencakup tiga hal jenis transformasi, yakni: (1) transformasi diri; (2) transformasi sekolah dan proses belajar mengajar, dan (3) transformasi masyarakat. Menyusun pendidikan multikultural dalam tatanan masyarakat yang penuh permasalahan anatar kelompok mengandung tantangan yang tidak ringan. Pendidikan multikultural tidak berarti sebatas "merayakan keragaman" belaka. Apalagi jika tatanan masyarakat yang ada masih penuh diskriminasi dan bersifat rasis. Dapat pula dipertanyakan apakah mungkin meminta siswa yang dalam kehidupan sehari-hari mengalami diskriminasi atau penindasan karena warna kulitnya atau perbedaannya dari budaya yang dominan tersebut? Dalam kondisi demikian pendidikan multikultural lebih tepat diarahkan sebagai advokasi untuk menciptakan masyarakat yang toleran dan bebas toleransi. Ada beberapa pendekatan dalam proses pendidikan multikultural, yaitu: Pertama, tidak lagi terbatas pada menyamakan pandangan pendidikan (education) dengan persekolahan (schooling) atan pendidikan multikultural dengan program-program sekolah formal. Pandangan yang lebih luas mengenai pendidikan sebagai transmisi kebudayaan membebaskan pendidik dari asumsi bahwa tanggung jawab primer menegmbangkan kompetensi kebudayaan di kalangan anak didik sematamata berada di tangan mereka dan justru semakin banyak pihak yang bertanggung jawab karena program-program sekolah seharusnya terkait dengan pembelajaran informal di luar sekolah. Kedua, menghindari pandangan yang menyamakan kebudayaan kebudayaan dengan kelompok etnik adalah sama. Artinya, tidak perlu lagi mengasosiasikan kebudayaan semata-mata dengan kelompokkelompok etnik sebagaimana yang terjadi selama ini. secra tradisional, para pendidik mengasosiasikan kebudayaan hanya dengan kelompok-kelompok sosial yang relatif self sufficient, ketimbang dengan sejumlah orang yang secara terus menerus dan berulang-ulang terlibat satu sama lain dalam satu atau lebih kegiatan. Dalam konteks pendidikan multikultural, pendekatan ini diharapkan dapat mengilhami para penyusun program-program pendidikan multikultural untuk melenyapkan kecenderungan memandang anak didik secara stereotip menurut identitas etnik mereka dan akan meningkatkan eksplorasi pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan di kalangan anak didik dari berbagai kelompok etnik. Ketiga, karena pengembangan kompetensi dalam suatu "kebudayaan baru" biasanya membutuhkan interaksi inisiatif dengan orang-orang yang sudah memiliki kompetensi, bahkan dapat dilihat lebih jelas bahwa uapaya-upaya untuk mendukung sekolah-sekolah yang terpisah secara etnik adalah antitesis terhadap tujuan pendidikan multikultural. Mempertahankan dan memperluas solidarits kelompok adalah menghambat sosialisasi ke dalam kebudayaan baru. Pendidikan bagi pluralisme budaya dan pendidikan multikultural tidak dapat disamakan secara logis. Keempat, pendidikan multikultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kebudayaan mana yang akan diadopsi ditentukan oleh situasi. Kelima, kemungkinan bahwa pendidikan bahwa pendidikan (baik dalam maupun luar sekolah) meningkatkan kesadaran tentang kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kesadaran seperti ini

kemudian akan menjauhkan kita dari konsep dwi budaya atau dikhotomi antara pribumi dan nonpribumi. Dikotomi semacam ini bersifat membatasi individu untuk sepenuhnya mengekspresikan diversitas kebudayaan. Pendekatan ini meningkatkan kesadaran akan multikulturalisme sebagai pengalaman normal manusia. Kesadaran ini mengandung makna bahwa pendidikan multikultural berpotensi untuk menghindari dikotomi dan mengembangkan apresiasi yang lebih baik melalui kompetensi kebudayaan yang ada pada diri anak didik. Dalam konteks keindonesiaan dan kebhinekaan, kelima pendekatan tersebut haruslah diselaraskan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Masyarakat adalah kumpulan manusia atau individu-individu yang terjewantahkan dalam kelompok sosial dengan suatu tantangan budaya atau tradisi tertentu. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Zakiah Darajat yang menyatakan, bahwa masyarakat secara sederhana diartikan sebagai kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kubudayaan dan agama. Jadi dapat dipahami inti masyarakat adalah kumpulan besar individu yang hidup dan bekerja sama dalam masa relatif lama, sehingga individu-individu dapat memenuhi kebutuhan mereka dan menyerap watak sosial. Kondisi itu selanjutnya membuat sebagian mereka menjadi komunitas terorganisir yang berpikir tentang dirinya dan membedakan ekstensinya dari ekstensi komunitas. Dari sisi lain, apabila kehidupan di dalam masyarakat berarti interaksi antara individu dan lingkungan sosialnya. Maka yang menjadikan pembentukan individu tersebut adalah pendidikan atau dengan istilah lain masyarakat pendidik. Oleh karena itu, dalam melakukan kajian dasar kependidikan terhadap masyarakat. Secara garis besar dasar-dasar yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Masyarakat tidak ada dengan sendirinya. Masyarakat adalah ekstensi yang hidup, dinamis, dan selalu berkembang. 2) Masyarakat bergantung pada upaya setiap individu untuk memenuhi kebutuhan melalui hubungan dengan individu lain yang berupaya memenuhi kebutuhan. 3) Individu-individu, di dalam berinteraksi dan berupaya bersama guna memenuhi kebutuhan, melakukan penataan terhadap upaya tersebut dengan jalan apa yang disebut tantangan sosial. 4) Setiap masyarakat bertanggung jawab atas pembentukan pola tingkah laku antara individu dan komunitas yang membentuk masyarakat. 5) Pertumbuhan individu di dalam komunitas, keterikatan dengannya, dan perkembangannya di dalam bingkai yang memnuntunya untuk bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya. Bila penjelasan di atas ditarik di dalam dunia pendidikan, maka masyarakat sangat besar peranan dan pengaruhnya terhadap perkembangan intelektual dan kepribadian individu peserta didik. Sebab keberadaan masyarakat merupakan laboratorium dan sumber makro yang penuh alternatif untuk memperkaya pelaksanaan proses pendidikan. Untuk itu, setiap anggota masyarakat memiliki peranan dan tanggung jawab moral terhadap terlaksananya proses pendidikan. Hal ini disebabkan adanya hubungan timbal balik antara masyarakat dan pendidikan. Dalam upaya memberdayakan masyarakat dalam dunia pendidikan merupakan satu hal penting untuk kemajuan pendidikan. Penutup Pendidikan multikultural adalah suatu penedekatan progresif untuk melakukan transformasi pendidikan yang secara menyeluruh membongkar kekurangan, kegagalan dan praktik-praktik diskriminatif dalam proses pendidikan. Pendidikan multikultural didasarkan pada gagasan keadilan sosial dan persamaan hak dalam pendidikan. Sedangkan dalam doktrin Islam sebenarnya tidak membeda-bedakan etnik, ras dan lain sebagainya dalam pendidikan. Manusia semuanya adalah sama, yang membedakannya adalah ketakwaan mereka kepada Allah Swt. Dalam Islam, pendidikan multikultural mencerminkan bagaimana tingginya penghargaan Islam terhadap ilmu pengetahuan dan tidak ada perbedaan di antara manusia dalam bidang

ilmu. Pendidikan multikultural seyogyanya memfasilitasi proses belajar mengajar yang mengubah perspektif monokultural yang esensial, penuh prasangka dan diskriminatif ke perspektif multikulturalis yang menghargai keragaman dan perbedaan, toleran dan sikap terbuka. Perubahan paradigma semacam ini menuntut transformasi yang tidak terbatas pada dimensi kognitif belaka. Dunia pendidikan tidak boleh terasing dari perbincangan realitas multikultural tersebut. Bila tidak disadari, jangan-jangan dunia pendidikan turut mempunyai andil dalam menciptakan keteganganketegangan sosial. Oleh karena itu, di tengah gegap gempita lagu nyaring "tentang kurikulum berbasis kompetensi", harus menyelinap dalam rasionalitas kita bahwa pendidikan bukan hanya sekedar mengajarkan "ini" dan "itu", tetapi juga mendidik anak kita menjadi manusia berkebudayaan dan berperadaban. Dengan demikian, tidak saatnya lagi pendidikan mengabaikan realitas kebudayaan yang beragam tersebut. DAFTAR PUSTAKA Al-Munawwar, Said Aqil Husin, Aktualisasi Nilai-Nilai Qur'ani dalam Sistem Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2003, Cet. I Amir, Muhammad, Konsep Masyarakat Islam, Jakarta, Fikanati, Aneska, 1992. Analisis CSIS, tahun XXX/2001, No. 3 DEPAG RI dan IRD, Majalah: Inovasi Kurikulum: Kurikulum Berbasis Multikulturalism, Edisi IV, Tahun 2003 Dewey, John, Democracy and Education, New York: The Mac Millan Company, 1964 Hery Noer Aly dkk, Watak Pendidikan Islam, Jakarta, Friska Agan Insani, 2000 Freire, Paulo, Pendidikan pembebasan, Jakarta, LP3S, 2000 IKA UIN Syarif Hidayatullah, Majalah: Tsaqafah: Mengagas Pendidikan Multikultural , Vol. I No:2, 2003 Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta, PT Raja Grafindo, 2001, cet I Nita E. Woolfolk, educational Psychology: Seventh Edition, The Ohio State Universiy, 1998 Paul Gorski, Six Critical Paradigm Shiifd For Multicultural Education and The Question We Should Be Asking, dalam www. Edchange.org/multicultural Republika, tanggal 03 September 2003. Soedijarto, Pendidikan Nasional sebagai Wahana mencerdaskan kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban Negara-Bangsa, Jakarta, CINAPS, 2000, cet. I Stavenhagen, Rudolfo, "Education for a Multikultural world", in Jasque Delors (et all), Learning: the treasure within, Paris, UNESCO, 1996 Tilaar, H. A. R, Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia, Jakarta, Grasindo, 2002 http://www.wahanakebangsaan.org/index.php?option=com_content&task=view&id=40&Itemid=33 Mencari Inspirasi Pendidikan Indonesia Written by Sumardiono

Memetakan wajah dunia pendidikan Indonesia adalah seperti memandang karut-marut negeri ini. Lebih mudah mengidentifikasi borok-borok pendidikan dibandingkan melihat inspirasi yang ada di dunia pendidikan, yang memberikan optimisme untuk kehidupan masa depan anak-anak Indonesia. Sebut saja, dunia akademik sekolah-sekolah kita jauh dari prestasi para siswanya. Walaupun ada prestasi siswa Indonesia yang menjadi juara dalam Olimpiade ilmu pengetahuan dunia, prestasi tersebut bukan produk dari pendidikan di sekolah. Dalam hal prestasi, sebagian besar siswa sekolah justru sibuk dijejali dengan solusi-solusi instan bimbingan belajar atau perpanjangan jam belajar sejak pagi hingga sore hari karena pendidikan yang normal dianggap tak memadai. Dalam dunia pendidikan kita, sudah jamak kita temui lulusan SMA yang tidak memiliki kompetensi dan ketrampilan vokasional untuk hidup. Sebab, sistem pendidikan memang disiapkan hanya sebagai jenjang untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Tak sanggup kuliah, tak mampu berkarya, anak-anak lulusan SMP dan SMA kemudian melakukan migrasi ke kota untuk menjadi buruh-buruh pabrik yang rentan terhadap eksploitasi karena rendahnya daya tawar ketrampilan yang dimilikinya. Belum lagi isu akhlak, moralitas, dan karakter yang menyertai proses dan hasil pendidikan. Kecurangan ujian, tradisi mencontek, pornografi remaja, narkoba, hingga tawuran terus menjadi masalah-masalah siswa di sekolah. Bahkan, tawuran tak lagi menjadi monopoli anak SMP-SMA. Mahasiswa yang dianggap sebagai kelompok elit masyarakat berbasis intelektual pun sibuk melakukan tawuran dan anarkisme di mana-mana. Secara struktural, kebijakan pendidikan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang menggembirakan. Orientasi pendidikan yang tak jelas, birokrasi pendidikan yang sibuk dengan politikorganisasi, komitmen dan pengelolaan dana yang kacau. Yang terakhir, perlakuan pendidikan sebagai institusi bisnis yang membuat dunia pendidikan semakin jauh dari harapan masyarakat umum. Pendidikan yang baik semakin mahal dan tak terjangkau oleh kebanyakan anggota masyarakat. Ujung-ujungnya, semua kesemrawutan dalam pendidikan itu ditanggung oleh masyarakat. Lalu, apa harapan kita sebagai anggota masyarakat? Akankah kita menjadi katak yang direbus pelanpelan hingga kemudian ketika air mendidih menjadi tak sanggup melompat lagi dan mati? Berkeluh-kesah boleh-boleh saja. Tapi berkeluh-kesah tak banyak berguna kecuali membuang sampah emosi kita ke alam semesta. Sambil mendorong terus perubahan dan pembaruan pendidikan, kita memerlukan inisiatif dan tindakan-tindakan yang dapat menjadi inspirasi dan alternatif buat masyarakat. Membangun Model Alternatif Artikel ini membahas mengenai homeschooling sebagai salah satu inisiatif dan model pendidikan alternatif bagi masyarakat. Sebagai sebuah gerakan, homeschooling menemukan signifikansinya dalam konteks inisiatif kultural yang dilakukan masyarakat sebagai respon terhadap model pendidikan yang tak memenuhi harapan. Dalam konteks gerakan masyarakat sipil (civil society), homeschooling merupakan wujud

keterlibatan/inisiatif masyarakat untuk mempengaruhi keadaan sosio politik dan mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Proposal utama dari homeschooling adalah memberikan alternatif bagi masyarakat sehingga masyarakat memiliki berbagai alternatif yang dapat dipilihnya. Dalam ekspresi yang lebih positif, homeschooling dapat menggerakkan keluarga untuk terlibat aktif dalam pendidikan, menggantikan kepasrahan pada sistem sekolah. Partisipasi keluarga dengan seluruh kecintaan dan kepentingan masa depan anak-anak dapat menjadi sumber yang kuat untuk menjadi penggerak perubahan wajah dunia pendidikan di Indonesia. Model Pendidikan Berbasis Keluarga Homeschooling bukanlah sekedar mengungkung anak di rumah, mengundang guru privat yang mahal, dan model belajar artis yang malas pergi ke sekolah. Sebagai sebuah gagasan dan praktek, homeschooling jauh lebih substantif dibandingkan persepsi yang berkembang di masyarakat itu. Homeschooling adalah gerakan “back to basic”, memasuki kembali esensi-esensi pembelajaran yang tak dipasung oleh tempat belajar, jam belajar, keharusan-keharusan administratif dan ritual-ritual (baju seragam, uang gedung, buku baru, ijazah, wisuda, dll) yang semakin menggantikan esensi proses belajar. Dengan motto “belajar di mana saja, kapan saja, bersama siapa saja”, homeschooling memberikan kesempatan proses belajar yang kontekstual dan penggunaan kehidupan keseharian sebagai sumber belajar. Sementara model sekolah bersifat massal dan mengejar standar-standar eksternal seperti pabrik, homeschooling memberikan peluang untuk melakukan kustomisasi pendidikan; mulai aspek penentuan tujuan, pemilihan materi ajar, dan metode-metode yang digunakan dalam proses belajar. Homeschooling memberikan kesempatan kepada orangtua untuk menghargai keragaman jenis kecerdasan anak (multiple intelligences) yang tak mungkin dikembangkan dalam sistem pendidikan massal. Homeschooling bukanlah mengubah orangtua menjadi guru untuk proses belajar anak-anak karena kemampuan orangtua pasti terbatas. Peran utama orangtua dalam homeschooling adalah menjadi mentor dan fasilitator. Proses utama dalam pembelajaran homeschooling adalah menumbuhkan dan menggerakkan spirit belajar anak-anak sehingga anak-anak dapat menjadi pembelajar mandiri. Berbeda dengan model sekolah, homeschooling justru semakin mudah dilaksanakan pada saat anak semakin besar karena semakin anak menjadi besar, anak semakin mandiri. Karena homeschooling dibangun dengan keluarga sebagai entitas penggerak kegiatan belajar, homeschooling meniscayakan keragaman dan sistem terdistribusi. Tak ada pusat dan model standar homeschooling karena setiap keluarga bebas merancang model pendidikan sesuai tujuan-tujuan pendidikan keluarga yang khas. Yang ada adalah entitas-entitas otonom, yang saling berinteraksi dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Gerakan Homeschooling di Dunia Homeschooling bukanlah sebuah ide asing di Indonesia dan dunia. Homeschooling adalah model awal pendidikan, sebelum pendidikan distrukturkan dan dilembagakan dalam institusi-institusi

sekolah sebagaimana yang berkembang dalam beberapa abad terakhir ini. Dalam khazanah Indonesia, ide-ide homeschooling dapat kita lihat akarnya dari proses belajar otodidak, magang bisnis di kalangan pengusaha China, belajar dari orangtua dan kolega di kalangan pesantren. Tokoh-tokoh semisal KH Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, dan Buya Hamka adalah contoh diantara anggota masyarakat yang pernah menjalani pendidikan dengan model otodidak atau homeschooling. Saat ini, di Indonesia ada sekitar 1400 orang yang melakukan homeschooling. Walaupun jumlah siswa homeschooling masih relatif kecil dibandingkan total seluruh siswa sekolah, siswa homeschooling terus bertambah dan tumbuh. Di Amerika Serikat saja, saat ini ada sekitar 3 juta siswa homeschooling dengan laju pertumbuhan 15% per tahun. Di Kanada, pada periode 2000-2001 ada sekitar 95.000 siswa homeschooling, di New Zealand sekitar 7000 (1996), Australia 55.000, dan masih banyak lagi kegiatan homeschooling yang tak terdata secara resmi di berbagai belahan dunia. Di Amerika Serikat, walaupun homeschooling banyak diawali oleh kalangan agama yang merasa terancam nilai-nilai tradisionalnya (1970-an), praktisi homeschooling semakin beragam. Pertumbuhan homeschooling yang didasarkan pada alasan akademis semakin meningkat karena, berdasarkan riset, anak-anak homeschooling tidak kalah berprestasi dibandingkan anak-anak sekolah. Kekhawatiran mengenai isu sosialisasi dan eksklusivitas pun semakin tereduksi oleh fakta bahwa anak-anak homeschooling dapat berintegrasi secara sosial di masyarakat. It works! Homeschooling dapat dipraktekkan, itulah kunci perkembangan homeschooling yang terus tumbuh di masyarakat. Homeschooling dapat diselenggarakan oleh keluarga dengan latar belakang rata-rata; baik dari segi ekonomi maupun latar belakang pendidikan. Yang dibutuhkan adalah komitmen keluarga (orangtua dan anak) serta kesediaan orangtua untuk terus belajar dan bekerja keras mengembangkan kreativitas untuk meningkatkan proses pembelajaran anak-anaknya. Peluang & Tantangan Bersama Sebagai sebuah model pendidikan alternatif di masyarakat, homeschooling memberikan peluang untuk berkontribusi pada perbaikan wajah pendidikan di Indonesia. Tentu saja harapan itu membutuhkan kerja keras agar gagasan-gagasan di homeschooling dapat dicerna masyarakat dengan baik. Dengan gagasan menjadikan keluarga sebagai sentral perubahan pendidikan, gagasan homeschooling layak untuk didorong karena memberikan kesempatan pada setiap keluarga untuk menentukan apa yang terbaik buat dirinya. Homeschooling merupakan salah satu wujud demokratisasi pendidikan. Spirit otonom ini dapat menjadi energi yang kuat untuk memelihara kelangsungan gerakan ini. Untuk dapat berkembang baik, homeschooling perlu menghadapi tantangan-tantangan yang ada di hadapannya, antara lain: a. Dukungan legalitas

Secara prinsip, eksistensi homeschooling dijamin melalui UU Sisdiknas no 20/2003 pasal 27 yang mengatur pengakuan pendidikan jalur informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan. Negara juga menjamin praktisi pendidikan informal untuk mengikuti Pendidikan Kesetaraan jika praktisi homeschooling menginginkan kesetaraan dengan pendidikan formal (sekolah). Tantangan legalitas homeschooling adalah mengembangkan aturan-aturan teknis yang lebih pasti dan tetap sederhana. Kesederhanaan menjadi kata kunci penyusunan aturan teknis yang mencerminkan keberpihakan negara untuk memfasilitasi inisiatif yang tumbuh di masyarakat. b. Pembangunan infrastruktur kelembagaan Untuk mendukung perkembangan homeschooling, diperlukan inisiatif-inisiatif untuk merekatkan kegiatan-kegiatan pembelajaran di setiap keluarga. Pembentukan komunitas belajar, interaksi antarkeluarga dan antar-komunitas diperlukan untuk menciptakan proses sinergi sekaligus pencarian modelmodel “best practises” yang beragam dalam penyelenggaraan homeschooling. Jaringan pembelajar (learners network) menjadi salah satu pelumas dan penggerak proses belajar dalam homeschooling. Di masa depan, sarana fisik yang dibutuhkan dalam pengembangan homeschooling adalah pembentukan pusat belajar (learning center), perpustakaan, laboratorium, dan bengkel belajar. Lembaga-lembaga ini tidak menempel di sekolah, tetapi menjadi institusi mandiri yang dapat dimanfaatkan oleh siswa homeschooling atau siapapun yang membutuhkannya. c. Kerangka kultural Karena kekuatan dari homeschooling terletak pada keluarga, kunci keberhasilan homeschooling terletak pada penumbuhan kultur keluarga yang sehat. Kesehatan kultur keluarga bukan hanya terletak pada komitmennya untuk mendukung anak secara akademis-intelektual, tetapi juga komitmen untuk mengembangkan nilai-nilai moral tertinggi dan penghargaan terhadap keragaman (pendidikan multikultural) agar anak-anak dapat menjadi bagian integral yang dapat menyatu sekaligus menjadi agen perubahan untuk perbaikan masyarakat. d. Pengembangan komunitas Untuk mengembangkan aspek sosial dari proses pembelajaran, tantangan homeschooling adalah mengembangkan model belajar komunitas yang memungkinkan pengembangan aspek-aspek sosial dari anak homeschooling. Berbeda dengan model sekolah yang bersifat rigid dan terstruktur ketat, komunitas bersifat longgar dan cair yang berfungsi untuk mengintegrasikan proses-proses belajar individual yang diselenggarakan di rumah menjadi sebuah kerangka pandang holistik pada anak. Demikian paparan sekilas mengenai homeschooling sebagai salah satu model alternative pendidikan. Mudah-mudahan bermanfaat dan dapat menjadi pengantar diskusi/sharing kita mengenai pendidikan di Indonesia. Jakarta, 15 September 2007

Sumardiono, praktisi homeschooling Pendidikan Multikulural, Sebuah Pengantar Written by Arif R. Tujuan pendidikan multikultural adalah agar anak-anak dapat menghormati keanekaragaman budaya yang ada dan mendorong mereka secara nyata untuk dapat mengenali dan melenyapkan kecurigaan serta diskriminasi yang telah ada. Pada intinya pendidikan multikultural mempunyai dua fokus persoalan, yaitu: 1. Proses pendidikan yang menghormati, mengakui dan merayakan perbedaan di semua bidang kehidupan manusia. Pendidikan multikultural merangsang anak terhadap kenyataan yang berkembang di masyarakat, yang berupa pandangan hidup, kebiasaan, kebudayaan, yang semuanya telah memperkaya kehidupan manusia. 2. Proses pendidikan yang menerapkan persamaan keseimbangan dan HAM, menentang ketidakadilan diskriminasi dan menyuarakan nilai-nilai yang membangun keseimbangan. Pendidikan multikultural adalah sintesa dari pendekatan pendidikan anti-rasis dan multi-budaya yang dipakai secara internasional pada tahun 60an hingga 90an. Indonesia sejak awal berdirinya telah mempunyai banyak keanekaragaman budaya, suku, bahasa dan agama. Keanekaragaman inilah yang sering diistilahkan dengan multikultural atau interkultural. Kedua istilah ini menggambarkan situasi di mana terdapat banyak kultur dalam sebuah negara. Istilah multikulturalisme kadang digunakan untuk menggambarkan sebuah masyarakat yang di dalamnya terdapat banyak kultur yang berbeda yang hidup berdampingan tanpa ada banyak interaksi. Istilah interkulturalisme mengungkapkan sebuah kepercayaan yang setiap orang merasa diperkaya secara pribadi dengan berinteraksi dengan kultur lain. Setiap orang dari suku yang berlainan dapat terlibat dan belajar dari satu sama lainnya. Pendidikan tidak hanya merefleksikan kondisi masyarakat, tapi juga mempengaruhi perkembangannya. Misalnya, sekolah sesungguhnya mempunyai peran dalam mengembangkan masyarakat interkultural. Akan tetapi sekolah sebenarnya bukan satu-satunya yang terbebani dengan tanggung jawab menentang ketidakadilan budaya ataupun menyuarakan arti penting interkulturalisme. Sekolah mempunyai kontribusi yang penting untuk memfasilitasi perkembangan anak dalam hal penyikapan, kecakapan, nilai-nilai dan pengetahuan interkultural. Pendidikan interkultural seharusnya dijadikan sebagai cara untuk mengajak anak untuk berpartisipasi dalam perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat. Bisa dikatakan, pendidikan yang hanya didasarkan pada satu kultur, akan sulit mengembangkan anak didik ke depannya. Pendidikan interkultural ditujukan untuk: Menciptakan kondisi yang kondusif bagi masyarakat majemuk Menumbuhkan kesadaran anak atas kultur mereka sendiri dan menyelaraskannya dengan kenyataan bahwa ada banyak cara hidup lain selain cara hidup mereka sendiri Menumbuhkan respek terhadap lifestyle lain selain lifestyle mereka sendiri, sehingga anak akan saling memahami dan menghormati Menumbuhkan komitmen persamaan hak dan keadilan Membuat pilihan-pilihan bagi anak tentang bagaimana bertindak berkaitan dengan isu-isu diskriminasi dan kecurigaan Menghargai dan menghormati kesamaan dan perbedaan

Menjadikan anak dapat mengungkapkan kultur dan sejarah mereka sendiri. Contoh Kasus: Berikut ini adalah pengalaman seorang yang berkulit putih berkenaan dengan interaksi sosial yang dialami anaknya dengan temannya yang berkulit hitam. Saya mendapat telepon dari TK tempat anak saya belajar, katanya ada sebuah persoalan yang sulit dipecahkan berkaitan dengan ketidaksukaan anak saya terhadap temannya yang berkulit hitam. Saya bingung dan malu, karena keluarga kami bukanlah rasis dan tidak suka membeda-bedakan orang karena warna kulitnya. Saya ingin tahu apa yang terjadi dengan anak saya, dan saya tidak ingin terlalu menilai. Saya hanya bertanya, kenapa dia tidak suka temannya yang hitam? Anak saya berkata: “Karena dia nggak pernah mandi dan selalu kelihatan kotor”. Saya terangkan bahwa temannya bukannya tidak mandi, dia sebenarnya bersih, cuma kulitnya memang hitam. Tapi keterangan saya ini tidak membuatnya mengerti. Lalu saya berpikir sejenak, dan kemudian melihat buku-buku yang biasa saya bacakan kepadanya. Saya perhatikan ternyata semua gambar dan foto manusia yang ada di buku itu semuanya bekulit putih. Lalu saya sadar bahwa anak saya ini telah tumbuh dengan kesadaran bahwa normalnya orang itu berkulit putih, konsekuensinya ia menganggap orang berkulit hitam tidak normal. Saya ingin menunjukkan padanya bahwa manusia itu memiliki warna kulit yang berbeda-beda, dan tak perlu takut atau kuatir. Saya membeli beberapa buku baru yang di dalamnya ada orang dengan warna kulit berbeda-beda. Ketika saya membacakannya, saya menunjukkan bahwa anak-anak lain ada yang berkulit coklat, hitam, merah, kuning dan lain-lain. Singkat waktu, akhirnya saya melihat ada perbedaan dalam kesadaran anak saya.

Contoh di atas hanyalah sebuah pengalaman pribadi yang dialami seseoran, akan tetapi hal ini paling tidak menunjukkan salah satu contoh dari banyak persoalan yang terjadi di masyarakat kita. Pendidikan interkultural adalah untuk semua anak tanpa memperdulikan kebudayaan mereka sendiri. Karena semua anak sekarang hidup dalam suatu tatanan dunia yang semakin beranekaragam, maka kita perlu mempersiapkan mereka. Pendidikan interkultural adalah bagian penting dari pengalaman pendidikan setiap anak, baik ketika anak belajar di sekolah yang berkarakter multikultural maupun mono-kultural, bagi anak yang berasal dari kultur dominan maupun minoritas. Pendidikan interkultural adalah untuk semua anak tanpa memperdulikan umur mereka. Mengakui bahwa perbedaan adalah normal dan wajar dalam hidup manusia, harus ditanamkan pada anak, berapa pun usia mereka. Sikap dan kemampuan anak yang mungkin akan menimbulkan persoalan kelak, sebenarnya telah berkembang ketika mereka masih kecil. Bahasa dan perbincangan adalah komponen fundamental dari pendidikan interkultural. Adalah penting untuk memberikan anak informasi yang akurat dan menentang segala stereotip dan miskonsepsi. Mengembangkan kecakapan interkultural adalah lebih efektif jika dilakukan melalui perbincangan dengan anak tentang pemikirannya, daripada memberikan penjelasan mengenai salah dan benar. Pendidikan interkultural terjadi secara natural melalui ‘kurikulum tersembunyi’ melaui apa yang dilihat dan diserap di mana anak tersebut tumbuh. Sementara itu, kelihatannya mungkin dan perlu bila ide-ide interkultural dan keadaan mayarakat yang melingkupi anak, dimasukkan dalam pengajaran kulikulum formal. Dalam mengeksplorasi kurikulum tersembunyi yang ada di masyarakat secara alami, penting juga untuk dicatat bahwa apa yang ditemukan di dalam masyarakat sama pentingnya dengan apa yang tidak ada. Pendidikan interkultural lebih berkaitan dengan kultur dan agama, daripada dengan warna kulit atau kebiasaan. Pada contoh kasus di atas, warna kulit yang menjadi persoalan diskriminasi. Pendidikan interkultural harus secara benar diposisikan dalam melawan diskriminasi karena warna kulit maupun

kultur dan agama maupun kelompok minoritas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->