P. 1
02 Inti Pokok Ajaran Islam_Dua (2/5)

02 Inti Pokok Ajaran Islam_Dua (2/5)

|Views: 9,408|Likes:
Published by Rahmat Ali
Buku ini merupakan bagian kedua dari kumpulan ekstraksi yang berjudul “Inti
Pokok Ajaran Islam” (The Essence of Islam). Jilid pertama dari The Essence
of Islam diterbitkan pada tahun 1979.
Sebagaimana juga pada jilid pertama, buku ini berisikan ucapan dan fatwa dari
Masih Maud a.s., Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian dan terdiri atas
bahasan mengenai delapanbelas topik seperti yang terdapat dalam Daftar Isi.
Jilid pertama dari The Essence of Islam telah diterima publik dengan sangat
baik dan diharapkan bahwa volume kedua ini pun akan demikian pula.
Patut diperhatikan bahwa topik-topik yang diajukan dalam jilik kedua ini
menggambarkan keanekaan subyek yang hakikat ajarannya dalam Islam belum
banyak diketahui orang. Dengan demikian buku ini diharapkan dapat
membantu para pencari kebenaran untuk mencapai pemahaman yang benar
dari akidah-akidah tersebut. Hal tersebut merupakan keniscayaan karena
sudah begitu banyaknya stimulasi perhatian terhadap Islam sekarang ini,
dimana hal itu telah menegaskan adanya disparitas di antara ajaran Islam yang
murni dengan pengamalan beberapa mazhab Muslim yang ortodoks.
Buku ini merupakan bagian kedua dari kumpulan ekstraksi yang berjudul “Inti
Pokok Ajaran Islam” (The Essence of Islam). Jilid pertama dari The Essence
of Islam diterbitkan pada tahun 1979.
Sebagaimana juga pada jilid pertama, buku ini berisikan ucapan dan fatwa dari
Masih Maud a.s., Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian dan terdiri atas
bahasan mengenai delapanbelas topik seperti yang terdapat dalam Daftar Isi.
Jilid pertama dari The Essence of Islam telah diterima publik dengan sangat
baik dan diharapkan bahwa volume kedua ini pun akan demikian pula.
Patut diperhatikan bahwa topik-topik yang diajukan dalam jilik kedua ini
menggambarkan keanekaan subyek yang hakikat ajarannya dalam Islam belum
banyak diketahui orang. Dengan demikian buku ini diharapkan dapat
membantu para pencari kebenaran untuk mencapai pemahaman yang benar
dari akidah-akidah tersebut. Hal tersebut merupakan keniscayaan karena
sudah begitu banyaknya stimulasi perhatian terhadap Islam sekarang ini,
dimana hal itu telah menegaskan adanya disparitas di antara ajaran Islam yang
murni dengan pengamalan beberapa mazhab Muslim yang ortodoks.

More info:

Published by: Rahmat Ali on Nov 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/31/2013

pdf

text

original

Orang-orang yang amat bodoh menganggap sugesti dari Syaitan sebagai firman

Tuhan karena mereka tidak mampu membedakan di antara wahyu Syaitan

dengan wahyu Ilahi. Perlu diingat bahwa persyaratan pertama dari wahyu Ilahi

ialah dimana yang menjadi penerima wahyu haruslah seorang yang sudah

menyerahkan sepenuh hidupnya kepada Tuhan dan Syaitan tidak berkuasa

atas dirinya. Dimana terdapat bangkai, disitu juga biasanya anjing berkumpul.

Karena itulah maka Tuhan menyatakan:

Maukah Aku beritahukan kepadamu kepada siapa syaitan-syaitan itu

turun? Mereka turun kepada tiap-tiap orang berdosa yang pendusta

(S.26 Asy-Syuara:222-223).

Syaitan tidak bisa mengendalikan orang yang tidak dikuasainya dan yang telah

meninggalkan kehidupan rendah serta telah menjadi hamba Allah yang

muttaqi dan saleh, sebagaimana janji Tuhan:

- 73 -

Sesungguhnya engkau tidak akan mempunyai sesuatu kekuasaan atas

hamba-hamba-Ku’ (S.15 Al-Hijr:43).

Adapun mereka yang menjadi milik Syaitan dan mengikuti jalannya maka

mereka inilah yang akan menjadi mangsanya serta selalu berada dalam

kuasanya.

Perlu selalu diingat kalau firman Tuhan itu selalu membawa berkat,

keagungan dan kegembiraan. Karena Tuhan itu Maha Mendengar, Maha

Pengasih dan Maha Mengetahui maka Dia selalu mendengar permohonan

hamba-Nya yang muttaqi dan saleh. Antara permohonan doa dengan responsi

bisa berlangsung dalam waktu beberapa jam. Ketika seorang hamba dengan

merendahkan diri mengajukan permohonannya, dalam waktu beberapa menit

ia akan merasa terlena seperti kehilangan kesadaran dimana pada saat itulah

ia akan menerima responsi dari permohonannya tersebut. Jika ia mengajukan

lagi permohonan baru, kembali ia akan mengalami peristiwa serupa. Tuhan itu

demikian Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Maha Mengetahui sehingga jika

hamba-Nya memohon seribu kali maka yang bersangkutan akan menerima

responsi sebanyak itu juga. Hanya saja karena Tuhan itu juga bersifat Dzat

yang Tegak dengan sendirinya dan memperhatikan kebijakan dan kepantasan,

maka ada beberapa permohonan yang tidak diberi-Nya jawaban langsung.

Lagi pula Syaitan itu sebenarnya dungu dan tidak fasih bicaranya. Ia

memasukkan satu atau dua kalimat dalam hati dengan cara yang busuk.

Syaitan tidak mempunyai kekuasaan untuk menyatakan dirinya dalam kata-

kata yang agung dan menyejukkan hati. Begitu juga ia tidak sanggup melayani

tanya jawab selama beberapa jam. Ia juga tuli dan tidak mampu memberikan

responsi langsung atas setiap pertanyaan. Ia adalah sosok tidak berdaya yang

tidak mempunyai kekuasaan atau mengungkapkan hal-hal penting yang

tersembunyi. Kerongkongannya parau dan ia tidak bisa berbicara dalam kata-

kata yang keras dan agung. Suaranya sebenarnya rendah nadanya seperti suara

seorang kasim (orang yang dikebiri). Kalian bisa mengenali wahyu Syaitan dari

tanda-tanda tersebut.

Adapun Tuhan bukanlah wujud yang dungu, tuli atau pun tanpa daya. Dia

mendengar dan menjawab. Firman-Nya disampaikan dalam kata-kata yang

agung, keras dan menggetarkan hati. Firman-Nya bersifat langsung kepada

- 74 -

permasalahan dan menyejukkan hati, sedangkan perkataan Syaitan selalu

disampaikan dalam nada yang rendah, seperti suara perempuan dan bunyinya

meragukan. Tidak ada nada keagungan atau keluhuran dalam perkataan

Syaitan. Begitu juga ia itu tidak sanggup lama berbicara karena cepat sekali

kelelahan, sedangkan kata-katanya itu lemah dan menggambarkan sifat

kepengecutan. Firman Tuhan tidak ada lelahnya dan selalu mengandung

berbagai hal yang bernuansa kekuasaan, hal-hal tersembunyi, janji-janji Ilahi

serta diwarnai keagungan, keluhuran, kekuasaan dan kesucian. Wahyu Tuhan

menciptakan kesucian di dalam hati dan merubah penerimanya menjadi

seorang yang amat pemberani. Sedemikian pemberaninya ia sehingga misalnya

pun ia dipotong-potong dengan pedang, digantung di atas sebuah tiang,

disakiti dengan segala macam siksaan, dipermalukan atau direndahkan sekali

pun, bahkan dimasukkan ke dalam api membara, tidak sekali pun ia akan

menyangkal bahwa kata-kata yang turun kepadanya adalah firman Tuhan.

Tuhan akan selalu mengaruniakan kemantapan hati kepadanya dan

menjadikan yang bersangkutan sebagai pencinta Wujud-Nya. Ia ini

menganggap nyawa dirinya, kehormatan dan harta bendanya tidak lebih

berharga daripada selembar jerami kering. Ia tidak akan pernah melepaskan

pegangannya pada jubah Tuhan meskipun seluruh dunia akan menginjak-injak

dirinya di bawah kaki mereka. Ia menjadi seorang yang tanpa tandingan dalam

masalah amanah kepercayaan, keberanian dan keteguhan hati. Mereka yang

biasa menerima wahyu Syaitan tidak ada memiliki kekuasaan yang serupa.

Mereka itu bersifat pengecut karena Syaitan sendiri memang bersifat pengecut

adanya. (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak

dalam Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 142-144, London, 1984).

* * *

Jika ada yang bertanya, mengingat tidak ada jaminan sempurna terhadap

intervensi Syaitan, lalu bagaimana kita meyakini bahwa ru’ya atau mimpi kita

memang benar berasal dari Tuhan? Bukankah bisa saja terjadi bahwa ru’ya

yang sebenarnya berasal dari Tuhan lalu kita anggap dari Syaitan atau pun

sebaliknya? Jawaban atas pertanyaan demikian ialah setiap ru’ya atau mimpi

dari Tuhan selalu mengandung keagungan, keberkatan, keakbaran dan Nur.

Sesuatu yang datang dari sumber mata air suci akan memiliki kemurnian dan

- 75 -

bau yang harum, sedangkan yang datang dari kekotoran dan sumber air yang

tidak bersih akan segera memaklumatkan baunya yang tidak sedap.

Ru’ya benar yang berasal dari Allah yang Maha Kuasa berupa pesan suci yang

murni tidak akan diikuti kerancuan apa pun serta memiliki kekuasaan yang

efektif dimana nurani terasa tertarik ke arahnya sebagaimana kesaksian kalbu

bahwa ru’ya itu memang berasal dari Tuhan karena keagungan dan keakbaran-

nya menembus ke dalam hati laiknya sebuah paku besi. Seringkali terjadi

ketika seseorang menerima sebuah ru’ya yang benar, lalu Tuhan memperlihat-

kan mimpi yang sama atau serupa sebagai konfirmasi kepada salah seorang

sahabat yang bersangkutan. Dengan cara itu suatu ru’ya akan mendukung

ru’ya lainnya. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893;

sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 354, London, 1984).

* * *

Beberapa orang berpandangan cupat mengajukan keberatan bahwa yang

namanya wahyu bisa saja cacat sehingga menghalangi si penerimanya untuk

mencapai pemahaman yang sempurna. Padahal pemahaman sempurna

merupakan suatu yang tidak bisa dipungkiri merupakan persyaratan dari

kehidupan dan kebahagiaan abadi. Mereka memaklumkan keberatan mereka

dengan menyatakan bahwa wahyu hanya menghalangi proses berfikir dan

memintas yang namanya penelitian atau riset. Akibatnya, kata mereka, para

penerima wahyu tersebut jadinya hanya bisa mengatakan bahwa ini bisa itu

terlarang dalam buku-buku wahyu karangan mereka, karena mereka tidak lagi

menggunakan daya fikir yang telah dikaruniakan Tuhan. Lalu karena daya fikir

itu tidak lagi digunakan maka para penerima wahyu tersebut akan kehilangan

kemampuan berfikirnya. Fitrat manusia jadinya akan berubah dan mulai

mendekati fitrat hewan dimana keluhuran jiwa manusia yang ditandai oleh

kemajuan kemampuan berfikir menjadi rusak sama sekali dan manusia tidak

lagi memiliki pemahaman yang sempurna. Dengan kata lain disimpulkan

bahwa kitab-kitab yang diwahyukan hanya merupakan rintangan dalam upaya

mencapai keabadian hidup dan kebahagiaan yang dibutuhkan manusia.

Jawaban atas pandangan seperti itu ialah kesimpulan mereka, khususnya

kalangan Brahmo, diucapkan demikian karena mereka tidak cukup memiliki

intelegensia yang juga diikuti dengan kedegilan dalam melakukan kesalahan.

Mereka menganggap bahwa dengan menganut petunjuk kitab-kitab yang

- 76 -

diwahyukan maka kemampuan berfikir yang telah dikaruniakan Tuhan akan

menjadi tidak berguna lagi, seolah-olah wahyu dan daya fikir saling

bertentangan satu dengan lainnya dan tidak mungkin eksis secara bersamaan.

Kecurigaan mereka itu pada dasarnya sebagian akibat dari fitrat kedustaan,

sebagian karena kefanatikan dan sebagian lagi karena kebodohan. Yang

dimaksud dengan kedustaan adalah dimana mereka meski tahu bahwa

kebenaran Tuhan hanya mungkin dikembangkan oleh orang-orang yang

mengikuti wahyu dimana Ketauhidan Ilahi telah disiarkan di dunia hanya

melalui orang-orang pilihan yang beriman kepada firman Tuhan, nyatanya

mereka itu telah menyangkal hal tersebut. Yang berkaitan dengan kefanatikan

terlihat dari kenyataan bahwa untuk menopang pandangannya, mereka telah

menyembunyikan kebenaran bahwa tanpa bantuan Ilahi, fikiran saja tidak

akan mungkin bisa membawa manusia kepada kepastian yang sempurna.

Kebodohan mereka dicirikan oleh pandangan bahwa wahyu dan daya fikir

tidak konsisten satu sama lain dan tidak mungkin eksis secara bersamaan.

Mereka menganggap bahwa wahyu bertentangan dengan nalar sehat dan

malah bersifat destruktif terhadapnya.

Keraguan mereka itu sama sekali tidak ada dasarnya. Jelas bahwa seorang

penganut wahyu yang benar tidak akan mengkaliskan dirinya dari upaya

mencari tahu, bahkan yang bersangkutan mendapat bantuan dari wahyu

tersebut dalam usahanya meneliti realitas suatu permasalahan dengan cara

yang logis. Bahkan berkat bantuan wahyu dan berkat dari nurnya maka yang

bersangkutan terhindar dari kerancuan berfikir yang didasarkan pada logika.

Ia tidak akan perlu mengarang segala argumentasi yang lemah karena ia telah

memperoleh pandangan logis yang akan membawanya kepada kebenaran.

Sama sekali tidak ada pertentangan di antara wahyu dan fikiran, bahkan

keduanya konsisten satu sama lain. Logika menopang wahyu dan wahyu

memelihara logika dari kesesatan jalan. Wahyu hakiki seperti Al-Quran tidak

akan menghalangi kemajuan daya berfikir manusia. Bahkan wahyu tersebut

mencerahkan fikiran dan menjadi penopang dan penolong yang agung.

Sebagaimana nilai penuh daripada matahari hanya bisa dihayati oleh mata dan

manfaat dari hari yang terang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki

daya penglihatan, begitu juga dengan wahyu Ilahi yang hanya bisa dihargai

oleh mereka yang memiliki daya nalar mengingat Tuhan telah berfirman:

- 77 -

Itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami kemukakan bagi umat

manusia, tetapi tidaklah dapat memahaminya melainkan orang-orang

yang berilmu’ (S.29 Al-Ankabut:44).

Sebagaimana manfaat pencerahan mata dikemukakan melalui sinar matahari

(karena tanpa adanya sinar maka yang buta dengan yang melek menjadi sama

saja) begitu juga dengan keluhuran wawasan fikiran yang diungkapkan melalui

wahyu. Melalui wahyu maka fikiran akan terpelihara dari upaya sia-sia dan

menuntunnya langsung ke arah proses perenungan yang benar. Setiap orang

bijak memahami manfaat daripada petunjuk yang membimbing seseorang ke

arah pemikiran yang benar, daripada harus berkutat melalui proses berfikir

rumit yang terkadang menghasilkan kesia-siaan semata. Para penganut wahyu

tidak saja menghargai nalar bahkan menyadari bahwa wahyu itulah justru

yang menyempurnakan proses berfikir mereka sehingga mereka malah

menikmati kemajuan dalam cara berfikir. Pertama adalah hasrat alamiah

seseorang untuk mencari tahu melalui daya fikir mengenai segala hal yang

berkaitan dengan realitas dan kebenaran eksistensi yang ada di sekelilingnya.

Kedua, adalah dorongan wahyu yang justru meningkatkan hasrat mereka itu.

Mereka yang mempelajari Kitab Suci Al-Quran meski pun secara selintas

pandang saja, tidak akan menyangkal kenyataan bahwa Firman Suci tersebut

selalu menekankan pentingnya perenungan dan observasi, sedemikian rupa

sehingga Kitab tersebut menyatakan bahwa ciri atau karakteristik dari para

muminin adalah karena mereka ini selalu merenungi semua keajaiban di langit

dan di bumi dan menelaah kaidah dari kebijakan Ilahi sebagaimana

diungkapkan dalam ayat-ayat:

Artinya: ‘Allah-ku, Allah-ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?’ Perjanjian Baru, Matius

8

27:46. (Penterjemah)

- 78 -

Dalam kejadian seluruh langit dan bumi, dan pertukaran malam

dan siang sesungguhnya ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang

berakal, yaitu orang-orang yang ingat kepada Allah ketika berdiri

dan duduk dan ketika berbaring miring atas rusuknya, dan mereka

bertafakur tentang kejadian seluruh langit dan bumi sambil berkata:

“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menjadikan segala ini sia-sia”

(S.3 Ali Imran:191-192).

Kitab-kitab yang diwahyukan lainnya sekarang ini sudah banyak sekali

mengalami perubahan dan isinya malah mengajak manusia kepada hal-hal

yang tidak masuk akal dan bersifat mustahil, sebagai contoh antara lain adalah

Kitab Injil. Hanya saja keadaan demikian bukanlah karena kesalahan wahyu

itu sendiri melainkan hasil pemikiran manusia yang rancu. Kalau saja mereka

yang menjadi penganutnya mau menggunakan akal sehat, pasti mereka akan

meninggalkan kitab-kitab tersebut dan tidak akan membiarkan jalan

fikirannya dipengaruhi. Apakah masuk akal bahwa Wujud yang Maha

Sempurna dan Maha Abadi lalu mengambil bentuk sebagai sebuah nutfah atau

embryo yang tak berdaya, dihidupi oleh bahan makanan yang tidak suci dari

rahim seorang perempuan, mengambil wujud berupa tubuh manusia yang

tidak sempurna, lahir melalui saluran peranakan yang tidak murni untuk

memasuki dunia yang fana, lalu setelah mengalami derita berbagai siksa

kemudian menyerahkan nyawanya dalam keadaan sangat kesakitan sambil

berteriak: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani.’

8

Adalah wahyu Ilahi yang telah mengusir dan menumpas kesalahan seperti itu.

Maha Suci Allah, betapa agung dan luhurnya samudra kasih dari firman yang

telah menarik mereka para penyembah mahluk kembali kepada Ketauhidan

Ilahi dan betapa indah dan menariknya cahaya Nur yang telah membawa

seluruh dunia keluar dari kegelapan. Di luar lingkungan mereka yang telah

menyadari hal tersebut, masih ribuan orang banyaknya yang disebut sebagai

orang-orang bijak dan filosof yang tetap saja masih tenggelam dalam

kesalahan demikian. Sebelum diturunkannya Al-Quran, tidak ada seorang pun

filosof yang menentang akidah-akidah yang melenceng seperti itu, juga tidak

ada yang berupaya memperbaiki umat manusia yang telah rusak tersebut. Para

filosof itu sendiri terjerat dalam berbagai akidah rancu. Sebagaimana

dikemukakan oleh pendeta Mr. Yut, umat Kristen ternyata menganut akidah

Filosof besar Yunani disamping Socrates dan Aristoteles, lahir 427 S.M. dan meninggal 347

9

S.M di kota Athena. Ketiganya dianggap sebagai pemberi dasar pada filosofi kebudayaan Barat.

Pandangan Plato banyak didasarkan pada logika, epistemologika dan metaphisika. Banyak

dipengaruhi oleh dugaan-dugaan, mithologi (dongeng-dongeng) dan mistik walaupun secara

fundamental ia adalah seorang rasionalis. (Penterjemah)

- 79 -

Trinitas mengikuti pola filosof Plato dan mereka membangun struktur palsu

9

berdasarkan dasar pemikiran yang keliru dari orang Yunani yang bodoh ini.

Sebagai kesimpulan, wahyu Ilahi yang hakiki dan sempurna tidak akan

bertentangan dengan penalaran, namun fitrat penalaran mereka yang tidak

sempurna justru menjadi bencana bagi mereka yang setengah matang

logikanya. Suatu obat penawar tidak akan bersifat mudharat bagi tubuh

manusia, hanya saja jika ada yang penglihatannya terbatas lalu salah

mengambil racun sebagai pengganti obat, yang jelas salah adalah logika yang

bersangkutan dan bukan kesalahan obatnya. Jika mereka beranggapan bahwa

berbahaya untuk mengandalkan kepada Kitab yang diwahyukan untuk segala

hal di dunia ini, mereka itu jelas bodoh.

Sebagaimana telah kami ungkapkan sebelumnya, yang namanya wahyu itu

merupakan cermin yang merefleksikan kebenaran bagi kemaslahatan logika

dimana kebenaran hakikinya terbebas dari segala hal yang bersifat tidak

masuk akal. Bahkan dalam hal-hal yang bersifat samawi yang tersembunyi

dalam-dalam, wahyu merupakan satu-satunya petunjuk bagi logika manusia

yang lemah. Bersandar kepada wahyu tidak menjadikan penalaran lalu

menjadi tidak berguna, bahkan wahyu menuntun manusia kepada rahasia-

rahasia tersembunyi yang sulit ditembus oleh akal itu sendiri. Penalaran

menuai manfaat yang besar sekali dari wahyu hakiki yang dikenal sebagai Al-

Quran dan jelas logika tidak akan dirugikan karenanya. Melalui wahyu maka

penalaran dipelihara dari segala bahaya yang dapat menjerumuskannya.

Setiap orang bijak mengakui dan memang nyata dengan sendirinya bahwa

suatu penelitian atau observasi yang semata-mata berdasarkan logika,

cenderung bisa saja mengandung berbagai kesalahan, sedangkan dalam firman

dari yang Maha Mengetahui akan segala hal yang tersembunyi tidak mungkin

ada kesalahan. Bukankah suatu hal yang amat baik jika logika ditemani oleh

wahyu yang bisa memeliharanya dari jatuh terjerumus dan menopangnya

ketika tergelincir? Apakah sahabat seperti itu akan menjadi hambatan ataukah

sebaliknya sebagai penolong? Hanya mereka yang berfikiran cupat yang akan

menganggap seorang penolong sebagai penghambat dan melihat suatu yang

sempurna sebagai suatu hal yang berbahaya.

- 80 -

Kalau saja kalian mau merenunginya secara mendalam, akan jelas kepada

kalian bahwa Tuhan tidak akan merugikan logika dengan cara memberikan

wahyu sebagai sahabatnya. Bahkan sebaliknya, ketika Dia melihat logika

manusia sudah kebingungan maka Dia lalu memberikan instrumen yang pasti

bagi akal untuk mengenali kebenaran sehingga dengan demikian maka akal

akan terpelihara dari kemungkinan menyimpang ke segala arah yang salah.

Bahkan dengan wahyu itu maka akal manusia menemukan tujuan hakiki

eksistensinya. Keadaannya sama seperti seseorang yang mengarahkan

pencaharian sesuatu yang hilang ke tempat dimana hal itu tersembunyi. Tidak

akan ada orang yang lalu berkeberatan atas bantuan penolong seperti itu yang

telah amat membantu dengan memberikan jalan termudah mencapai hal yang

sedang dicari tersebut, apalagi dengan mengatakan bahwa si penolong tersebut

hanya menghambat pencaharian saja. Sebaliknya, mereka yang terlibat akan

sangat berterima kasih karena telah diungkapkan bagi mereka kebodohan

mereka sendiri dan disediakan petunjuk arah ke gerbang kepastian sehingga

mereka tidak lagi hanya menduga-duga saja.

Dengan cara demikian itulah maka mereka yang dikaruniai akal yang waras

oleh Allah s.w.t. akan berterima kasih dan memuji wahyu hakiki. Mereka inilah

yang menyadari bahwa wahyu tidak akan menghambat kemajuan proses

berfikir mereka, bahkan membantunya agar tidak rancu. Wahyu memberikan

pengarahan kepada jalan yang pasti dan benar, melalui mana maka manusia

terpelihara dari segala kesulitan yang diakibatkan oleh singkatnya umur

manusia, terbatasnya pengetahuan dan ketiadaan wawasan. (Brahini

Ahmadiyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1880, sekarang dicetak dalam Ruhani

Khazain, vol. 1, hal. 292-309, London, 1984).

* * *

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->