P. 1
Operasi Militer Indonesia 1959-1965; Periode Demokrasi Terpimpin

Operasi Militer Indonesia 1959-1965; Periode Demokrasi Terpimpin

|Views: 2,827|Likes:
Published by Tangguh
Di periode 1959-1965, jumlah operasi militer yang dilakukan Indonesia meningkat secara signifikan. Dalam periode demokrasi terpimpin, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia mengadakan 77 operasi militer yang sebagian besar dikerahkan untuk menghadapi ancaman neokolonialisme Malaysia, ancaman internal DI-TII, serta ancaman disintegrasi oleh pendudukan Belanda di wilayah Irian Barat. Lingkungan strategis Indonesia pada periode ini yang dikelilingi ancaman neokolonialisme membuat Indonesia mengintegrasikan sikap antikolonialisme dan antiimperialisme dalam pertahanan negara. Dalam paper ini, penulis akan membahas dua komando operasi militer yang mengoperasionalisasikan sikap antikolonialisme tersebut dalam strategi militernya, yaitu Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dan Komando Ganyang Malaysia. Pembahasan kelompok kami dalam makalah ini akan berdasarkan pada dua pertanyaan: (a) bagaimanakah operasi militer Indonesia dilakukan di Indonesia; dan (b) apakah doktrin militer Indonesia koheren dengan aplikasi lapangan dalam bentuk operasi militer Indonesia. Dalam tulisan ini kami akan mengambil dua studi kasus, yaitu terhadap Operasi pembebasan Papua barat (Operasi Mandala) dan operasi Ganyang Malaysia. Dari kedua operasi itu kami ingin mengargumentasikan bahwa Indonesia melakukan operasi militernya secara disintegratif terhadap doktrin. Ada ruang bagi inovasi terhadap penyesuaian bentuk operasi militer Indonesia dengan kondisi keadaan dan kalkulasi lapangan, namun semuanya masih sesuai dengan idealisasi strategi pertahanan semesta yang dimiliki Indonesia.
Di periode 1959-1965, jumlah operasi militer yang dilakukan Indonesia meningkat secara signifikan. Dalam periode demokrasi terpimpin, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia mengadakan 77 operasi militer yang sebagian besar dikerahkan untuk menghadapi ancaman neokolonialisme Malaysia, ancaman internal DI-TII, serta ancaman disintegrasi oleh pendudukan Belanda di wilayah Irian Barat. Lingkungan strategis Indonesia pada periode ini yang dikelilingi ancaman neokolonialisme membuat Indonesia mengintegrasikan sikap antikolonialisme dan antiimperialisme dalam pertahanan negara. Dalam paper ini, penulis akan membahas dua komando operasi militer yang mengoperasionalisasikan sikap antikolonialisme tersebut dalam strategi militernya, yaitu Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dan Komando Ganyang Malaysia. Pembahasan kelompok kami dalam makalah ini akan berdasarkan pada dua pertanyaan: (a) bagaimanakah operasi militer Indonesia dilakukan di Indonesia; dan (b) apakah doktrin militer Indonesia koheren dengan aplikasi lapangan dalam bentuk operasi militer Indonesia. Dalam tulisan ini kami akan mengambil dua studi kasus, yaitu terhadap Operasi pembebasan Papua barat (Operasi Mandala) dan operasi Ganyang Malaysia. Dari kedua operasi itu kami ingin mengargumentasikan bahwa Indonesia melakukan operasi militernya secara disintegratif terhadap doktrin. Ada ruang bagi inovasi terhadap penyesuaian bentuk operasi militer Indonesia dengan kondisi keadaan dan kalkulasi lapangan, namun semuanya masih sesuai dengan idealisasi strategi pertahanan semesta yang dimiliki Indonesia.

More info:

Published by: Tangguh on Nov 16, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2012

pdf

text

original

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept.

Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

1

Operasi Militer Indonesia 1959-1965
Periode Demokrasi Terpimpin
Mata Kuliah Strategi Pertahanan Indonesia

Pendahuluan: Operasi Militer Indonesia 1959-1965
Di periode 1959-1965, jumlah operasi militer yang dilakukan Indonesia meningkat secara signifikan. Dalam periode demokrasi terpimpin, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia mengadakan 77 operasi militer yang sebagian besar dikerahkan untuk menghadapi ancaman neokolonialisme Malaysia, ancaman internal DI-TII, serta ancaman disintegrasi oleh pendudukan Belanda di wilayah Irian Barat. Lingkungan strategis Indonesia pada periode ini yang dikelilingi ancaman neokolonialisme membuat Indonesia mengintegrasikan sikap antikolonialisme dan antiimperialisme dalam pertahanan negara. Dalam paper ini, penulis akan membahas dua komando operasi militer yang mengoperasionalisasikan sikap antikolonialisme tersebut dalam strategi militernya, yaitu Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dan Komando Ganyang Malaysia. Pembahasan kelompok kami dalam makalah ini akan berdasarkan pada dua pertanyaan: (a) bagaimanakah operasi militer Indonesia dilakukan di Indonesia; dan (b) apakah doktrin militer Indonesia koheren dengan aplikasi lapangan dalam bentuk operasi militer Indonesia. Dalam tulisan ini kami akan mengambil dua studi kasus, yaitu terhadap Operasi pembebasan Papua barat (Operasi Mandala) dan operasi Ganyang Malaysia. Dari kedua operasi itu kami ingin mengargumentasikan bahwa Indonesia melakukan operasi militernya secara disintegratif terhadap doktrin. Ada ruang bagi inovasi terhadap penyesuaian bentuk operasi militer Indonesia dengan kondisi keadaan dan kalkulasi lapangan, namun semuanya masih sesuai dengan idealisasi strategi pertahanan semesta yang dimiliki Indonesia. Definisi dan Konsepsi Operasi Militer Operasi militer adalah tindakan militer terkordinasi dari sbeuah negara yang merupakan respon/tanggapan terhadap sebuah perkembangan situasi. Tindakan ini dirancang sebagai sebuah rencana militer untuk mengatasi situasi di lapangan sesuai dengan aspirasi

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

2

negara. 1 Operasi militer dapat berwujud kombat atau

dalam bentukan non-kombat, dan

operasi militer dapat dinamakan sesuai dengan kode istilah demi menjamin keamanan dan efektivitras operasi militer terkait. Operasi militer dalam hal ini dapat didefinisikan melalui lingkup, skala kekuatan pasukan dan format penggelaran pasukan militer terkait dengan tujuan spesifik yang ingin diraih oleh sebuah negara2:

Teater (Theatre): operasi ini merupakan sebuah upaya kontestasi pada area dan skala besar, biasanya dalam skala benua dimana terlihat sekali adanya komitmen nasional strategis, seperti operasi Barbarossa. Operasi militer tipe ini biasanya melinkupi juga konsiderasi non-militer seperti efek ekonomis dan politis dari sebuah operasi.

Kampanye (Campaign): operasi ini merupakan bagian dari sebuah operasi teater, dengan sebuah komitmen grografis dan operasional strategis yang terbatas seperti pertempuran Inggris dimana terkadang totalitas komitmen nasional sebuah negara terhadap konflik tersebut tidak terlalu dibutuhkan.Mirip dengan operasi pada lingkup teater, operasi jenis kampanye juga dapat didasari konsiderasi dominan non-militer.

Pertempuran operasional: Jenis pertempuran seperti ini memiliki tujuan militer spesifik dan merupakan sebuah bagian lebih kecil dari operasi militer berjenis kampanye (campaign), seperti dicontohkan dalam pertempuran Gallipolli,

yangmerupakan kombinasi-kombinasi operasi angkatan bersenjata yang melibatkan kurang lebih 480.000 pasukan sekutu. Konsiderasi militer menjadi faktor dominan.

Pelibatan (Engagement): operasi ini merupakan bagian terkecil yang biasanya mendeskripsikan kontestasi taktikal untuk menguasai area spesifik atau tujuan militer spesifik oleh unit-unit yang terlihat perbedaan jelasnya (distinct spesification of units). Operasi jenis ini dicontohkan dengan the Battle of Kursk, dimana konsiderasi teknikan militer menjadi corak utama operasi ini.

Doktrin dan Strategi Pertahanan Indonesia 1959-1965
Doktrin Pertahanan Indonesia 1959-1965 Di periode 1959-1965, terjadi konsistensi penggunaan doktrin pertahanan rakyat seperti yang digunakan di periode sebelumnya. Doktrin yang mengikutsertakan seluruh rakyat dalam
1 2

http://www.dtic.mil/doctrine/jel/doddict/data/f/02222.html diakses pada 13/10/09 p.k. 15.30 WIB http://www.globalsecurity.org/military/agency/navy/group.htm diakses pada 15/10/09 p.k. 00.30 WIB

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

3

pembelaan negara bermula dari konsepsi Wakil Panglima Besar Angkatan Perang A.H. Nasution pada 1948 mengenai cara-cara perlawanan menghadapi Belanda, yaitu sebagai berikut. 1. Tidak akan melakukan pertahanan yang linier. 2. Tugas memperlambat setiap majunya musuh serta pengungsian total (semua pegawai dan sebagainya), serta bumi hangus total. 3. Tugas pokok membentuk kantong-kantong di tiap onderdistrik yang mempunyai kompleks di beberapa pegunungan. Inti dari konsepsi itu adalah perang gerilya. Pokok-pokok gerilya adalah 1. Tidak bertempur di lapangan terbuka dan frontal. 2. Mengundurkan diri bila diserang musuh yang lebih kuat. 3. Menyerang dan menghancurkan pasukan-pasukan musuh yang lebih kecil. 4. Mengganggu dan menyerang garis-garis komunikasi dan konvoi-konvoi musuh. Dalam konsepsi itu, terlihat bahwa perang harus dilakukan oleh seluruh rakyat dengan mengikutsertakan seluruh potensi yang ada. Perang tidak hanya menyangkut aspek militer, tetapi juga aspek-aspek lain (ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya). 3 Konsepsi itu terus dikembangkan oleh Angkatan Darat dan kemudian dituangkan dalam Doktrin Tri Ubaya Çakti, yang dirumuskan pada 1965 dengan pokok-pokok sebagai berikut.4 1. Antipenjajahan. 2. Melaksanakan pertahanan rakyat semesta. 3. Melakukan doktrin pertahanan defensif-aktif. 4. Percaya kepada kekuatan sendiri. 5. Tidak mengenal menyerah.

Komando Mandala Pembebasan Irian Barat: Suatu Inovasi Strategi
Strategi Perang Konvensional dalam Serangan Ofensif Komando Mandala adalah suatu Komando Pelaksana Utama Tri Komando Rakyat (Trikora), yang dikumandangkan Presiden Sukarno untuk merebut Irian Barat. 5 Dalam strategi besar Pembebasan Irian Barat dalam Komando Mandala, dapat dilihat bahwa
Seri Text-Book Sedjarah ABRI: Angkatan Darat, h. 106-107. Ibid., h. 107. 5 Ibid., h. 30.
3 4

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

4

Indonesia mengembangkan perang berlarut untuk suatu serangan ofensif yang cenderung mengandalkan strategi perang konvensional. Konsepsi Trikora membutuhkan Angkatan Bersenjata yang lebih kuat daripada kekuatan Belanda di Irian Barat agar Belanda secara sukarela menyerahkan hak mutlak Indonesia atas wilayah Irian Barat serta ABRI yang telah disiapsiagakan penuh mengadakan penyerbuan militer fisik dan frontal. 6 Dapat dilihat bahwa concern Indonesia bukanlah strategi perang gerilya yang tidak bertempur di lapangan terbuka dan frontal, melainkan strategi decisive battle yang menekankan penghancuran center of gravity. Untuk Rencana Operasi Gabungan Irian Barat, Indonesia juga memilih Operasi B-1, di mana Indonesia merebut dan mempertahankan seluruh Irian Barat dalam waktu secepatcepatnya dengan tujuan memperoleh kekuasaan de facto atas seluruh wilayah tersebut, bukan alternatif course of action, yaitu Operasi B-2, operasi militer dengan sasaran terbatas di mana Indonesia merebut dan mempertahankan suatu bagian di daerah Irian Barat dengan tujuan menimbulkan suasana politik yang menguntungkan serta mendapatkan basis terdepan untuk merebut seluruh Irian Barat, serta Operasi B-3, operasi militer dengan scope infiltrasi di mana Indonesia melakukan infiltrasi militer untuk memperoleh pangkalan bagi serangan selanjutnya. Hal ini disebabkan Operasi B-2 hasilnya tidak menentukan, sementara Operasi B-3 risikonya sulit diperhitungkan, sehingga GKS menyarankan agar Operasi B-1 yang dilaksanakan.7 Hal ini juga mencerminkan operasionalisasi strategi perang konvensional, karena kalah-menangnya perang dipandang dari segi kehancuran enemy forces dan pendudukan wilayah sebagai kemenangan perang. Bukti lain dari inovasi baru militer Indonesia untuk mengandalkan strategi perang konvensional terlihat dari penahapan operasi militer dalam Komando Mandala untuk secara berangsur-angsur menduduki bagian-bagian dari wilayah Irian Barat dalam jangka waktu tiga tahun, yaitu sebagai berikut.8 1. Tahap infiltrasi: Infiltrasi dalam jangka waktu 10 bulan dimulai awal 1962 sampai akhir 1962, diharapkan 10 kompi inti Angkatan berhasil masuk dan membentuk kantong-kantong daerah bebas Republik Indonesia di Irian Barat untuk menciptakan
6 7

Pusat Sejarah dan Tradisi TNI, Sejarah TNI Jilid III (1960-1965) (Jakarta: Markas Besar TNI – Pusat Sejarah dan Tradisi TNI, 2000) h. 115-116. 8 Seri Text-Book Sedjarah HANKAM/ABRI: Perjuangan Irian, h. 40-47.

Ibid., h. 28-30.

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

5

dan mempertahankan daerah-daerah bebas tersebut dan mengikat kekuatan-kekuatan Belanda setempat sehingga kekuatan musuh tercerai berai. 2. Tahap eksploitasi: Gerakan-gerakan yang terang-terangan oleh operasi-operasi militer secara besar-besaran untuk merebut dan menduduki pulau Biak sebagai pusat pertahanan strategis Belanda di Irian Barat dimulai awal 1963 untuk melumpuhkan inti kekuatan militer musuh sedemikian rupa, sehingga seluruh wilayah Irian Barat dapat dikembalikan pada kekuasaan Republik Indonesia. Operasi terbuka yang dimaksudkan dalam tahap ini pada saatnya dinamakan Operasi Jayawijaya. 3. Tahap konsolidasi: Konsolidasi kekuasaan Republik Indonesia di seluruh wilayah Provinsi Irian Barat yang dimulai akhir 1963 setelah selesai tahap eksploitasi. Penahapan operasi militer dalam tiga tahun ini merupakan inovasi baru militer Indonesia, yang selama ini mengandalkan strategi gerilya dengan organisasi pertahanan melingkar yang digelar selama masa perang kemerdekaan atau strategi kontra-gerilya yang mengandalkan konsolidasi pertahanan wilayah yang digelar untuk menumpas pemberontakan bersenjata dalam negeri. 9 Operasionalisasi Konsep Force-to-Space Ratio Liddell Hart Dalam Operasi Jayawijaya, yang merupakan tahap eksploitasi Komando Mandala, Indonesia menerapkan strategi yang berbasis penguasaan kantong-kantong daerah bebas Republik Indonesia di Irian Barat. Indonesia menghadapi musuh dengan front line yang kuat, di mana secara teoritis, sistem pertahanan Belanda nampak kuat, ketat, dan sukar ditembus. Terdapat jumlah unsur-unsur militer Belanda yang besar yang ditempatkan di Irian Barat, namun itu baru sebagian kecil dari kekuatan militer seluruhnya yang dimiliki, sehingga apabila keadaan memaksa, Belanda akan dapat menggerakkan bala bantuannya ke Irian Barat. Belanda juga telah membagi daerah pertahanan menjadi lini pertama, lini kedua, dan lini ketiga. Pesawat-pesawat militer dipusatkan di Biak. Terdapat warning system berupa patroli pesawat terbang Neptune (P2V7) dengan pangkalan-pangkalan tolak Sorong, Kaimana, dan Biak, patroli kapal-kapal jenis fregat, perusak, dan kapal selam di Biak dan Sorong atau Kaimana, kesatuan buru-sergap pesawat-pesawat terbang jenis Hawker Hunter di Biak, serta stasiun-stasiun radar di berbagai tempat.10
9

10

Andi Widjajanto, “Evolusi Doktrin Pertahanan Indonesia”, h. 8-9. Seri Text-Book Sedjarah HANKAM/ABRI: Perjuangan Irian, h. 30-37.

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

6

Untuk menghadapi operasi-operasi tersebut, disusun komposisi pasukan Komando Mandala terdiri dari bagian pertahanan, bagian penipuan/pengikat, bagian

penghubung/penyelidik,

bagian pengangkut, bagian perawatan/logistik,

dan bagian

penyerang. Dalam hubungannya dengan kesiapan tempur di bidang pertahanan udara, AULA (Angkatan Udara Komando Mandala) membentuk Kesatuan-kesatuan Tempur yang terpencar di pangkalan-pangkalan udara. Kesatuan-kesatuan yang telah disusun untuk mempersiapkan bidang pertahanan laut meliputi Kesatuan Kapal Cepat Torpedo KKCT-16, Kesatuan Kapal Selam KKS-15, Angkatan Tugas Amfibi ATA-17, dan Pasukan Pendarat PASRAT-45. Seluruh kekuatan yang dapat dikerahkan ini diperkirakan tiga kali lebih besar dari kekuatan yang dimiliki Belanda. 11 Strategi ini sejalan dengan konsep penting Basil Liddell Hart tentang offense-defense balance dalam force-to-space ratio (strategi yang berbasis penguasaan zona pertahanan). Liddell Hart mengungkapkan bahwa apabila front line musuh kuat, berlaku rumus 3:1, yaitu ketika suatu pasukan ingin menyerang dengan force to force, pasukan tersebut harus tiga kali lipat lebih kuat daripada pasukan lawan. Dalam hal ini, Komando Mandala menjadi suatu theatre campaign, sebuah upaya kontestasi pada area dan skala besar dengan komitmen geografis dan operasional strategis yang terbatas pada wilayah Irian Barat. Sayangnya, kegiatan-kegiatan Operasi Jayawijaya dihentikan dengan semua persiapannya dengan ditandatanganinya Perjanjian New York yang secara resmi mengakhiri sengketa Indonesia dengan Belanda mengenai masalah Irian Barat. Sehingga, perang decisive battle antara Indonesia dan Belanda tidak terjadi.

Komando Operasi Ganyang Malaysia: Konfrontasi Indonesia-Malaysia
Periode sejarah pada tahun 1959-1965 juga ditandai dengan sebuah peristiwa sensasional di mana dapat dikatakan Indonesia dan Malaysia hampir terlibat konflik besar. Peristiwa Konfrontasi Indonesia-Malaysia merupakan serangkaian konflik bersenjata yang terjadi di pulau Kalkimantan (Borneo) dalam rangka memperebutkan kekuasaan total pulau Kalimantan, antara Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966. Perang ini berawal dari keinginan otoritas politik Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu yang dimerdekakan oleh Inggris pada tahun 1961. Keinginan itu ditentang habis-habisan oleh Presiden Soekarno yang menganggap pembentukan dan penguatan Malaysia sebagai ‟upaya imperialis membentuk negara boneka
11

Ibid., h. 78-81.

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

7

yang dapat mengancam Indonesia di kemudian hari‟. Konflik ini sebetulnya bermula dari ketidaksukaan Indonesia terhadap tindakan Malaysia yang dianggap melanggar perjanjian kesepakatan dengan Indonesia perihal masa depan wilayah kekuasaanya dimana Mayasia tidak menunggu hasi referendum para penduduk di daerah kalimantan sebelum memasukannya menjdai bagian dari negara federasi Malaysia. 12 Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio pada 20 Januari 1963, mendeklarasikan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia, dan bersiap memasuk fase konflik bersenjata. Pada tanggal 3 Mei 1963 di sebuah rapat raksasa yang digelar di Jakarta, Presiden Sukarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) 13 yang isinya: (a) Tingkatkan ketahanan revolusi Indonesia (b) Membantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia Pada 27 Juli, Sukarno mengumumkan bahwa dia akan meng-"ganyang Malaysia". Operasionalisasi perang yang dilakukan oleh Indonesia berdasarkan pada dua macam strategi: (a)penggunaan strategi perang gerilya dengan memanfaatkan mobilisasi masyarakat sebagai pasukan ‟tidak resmi‟; dan (b)penggunaan pasukan resmi, dalam proyeksi perang untuk merebut beberapa obyek vital-strategis, terutama untuk meraih center of gravity dari konflik antara dua negara ini. Pertama, penggunaan pasukan tidak resmi dalam konflik strategi gerilya. Sebelum dibentuknya Komando Siaga (Koga) ataupun Komando Mandala Siaga (Kolaga) yang memungkinkan dimobilisasinya prajurit utama TNI secara optimal, pemerintah Indonesia telah mengupayakan mobilisasi relawan dari masyarakat Indonesia yang simpatik dengan casus belli yang ditodongkan Indonesia kepada Malaysia; dimana tersebut dianggap proyek neo-kolonialisme lama yang akan mengancam Indonesia sebagai ’The New Emerging Force‟ di masa yang akan datang. Para relawan ini akan dibekali dengan pelatihan secukupnya untuk selanjutnya disusupkan dalam belantara hutan Kalimantan dengan misi melakukan sabotase, perlawanan gerilya dan mengganggu jalannya komunikasi dan suplai pasukan pro-Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia (bukan merupakan bagian dari ketentaraan resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan upaya sabotase. Pada 16 Agustus, pasukan dari Rejimen Askar Melayu DiRaja bentrok dengan lima puluh gerilyawan Indonesia dan menyebabkan korban jatuh
12

David Easter, Keep the Indonesian pot boiling: western covert intervention in Indonesia, October 1965– March 1966, dalam jurnal Cold War History, Vol 5, No 1, February 2005. 13 G, Poulgrain, The Genesis of Konfrontasi: Malaysia, Brunei, Indonesia 1945–1965, (London: C. Hurst & Co., 1998) hal 46 -54

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

8

secara signifikan di dua belah pihak. Pada ujungnya sepanjang perbatasan di Kalimantan menjadi ajang peperangan perbatasan dimana pasukan ‟tak resminya‟ atau amatir Indonesia dengan dukungan terbatas dari prajurit profesional kesatuan militer Indonesia terus mencoba menduduki Sarawak dan Sabah, dengan tanpa hasil yang memuaskan dimana hal ini berujung pada terciptanya ’stalemate’.14 Dalam hal ini kita dapat melihat kuatnya pengaruh doktrin perjuangan semesta, yang dalam hal ini dapat disebut juga ‟perang rakyat‟ dalam penggelaran operasi militer fase awal terhadap Malaysia. Indonesia dalam hal ini tidak membatasi penggelaran konfliknya hanya dengan menggunakan tentara resmi yang melakukan serangan langsung (direct attact) untuk merangsek masuk ke dalam wilayah Malaysia. Indonesia dalam hal ini berupaya menciptakan sebuah operasi militer yang berbasiskan perang gerilya, yang mengandalkan pasukan penyusup ini untuk melakukan kontestasi tidak langsung (indirect approach) dalam menghadapi pasukan pertahanan yang kemungkinan besar lebih kuat dari korps pasukan sukarelawan. Memang terkait dengan konsepsi Arreguin-Toft terkait dalam interaksi strategi militer, penggunaan strategi ‟indirect approach‟ dalam menghadapi peperangan yang tidak seimbang (assymetric warfare) merupakan pilihan paling logis dan membnerikan leverage point lebih tinggi bagi pasukan weak actor. Namun kenyataannya pasukan Indonesia pada fase awal yang seharusnya mampu menimbulkan kebingungan dan ketakutan pada fase awal nampaknya kurang berhasil (kalau tidak ingin disebut gagal) dalam menjalankan misinya. Korban jiwa yang jatuh dari pihak Indonesia lebih besar dimana diperkirakan 590 orang meninggal, 222 terluka dan 771 ditangkap dan dijadikan prisoner of war.15 Saya melihat salah satu dari faktor tidak berhasilnya Indonesia adalah environment of war hutan Borneo yang sejatinya menyulitkan para pasukan relawan Indonesia. Pada titik ini, kita harus mengingat kembali bahwa salah satu alasan yang dikemukakan Arreguin-Toft ketika membahas mengenai keunggulan pasukan ’weak actor’ adalah keberadaan lingkungan strategis perang yang menguntungkan bagi pasukan yang jumlahnya lebih kecil dan mampu bergeraks ecara lebih cepat dan efisien. 16 Dalam hal ini environment of war Malaysia mungkin sebetulnya menguntungkan bagi pasukan gerilya relawan dari Indonesia, namun mereka tidak dapat memanfaatkan keunggulan alam tersebut secara optimal karena kurangnya pengetahuan mereka akan kondisi alam sekitar, alam seperti dijelaskan oleh sang maestro strategi perang Cina, Sun Tzu, hanya akan memberikan keuntungan bagi mereka
14

Chris Tuck, Borneo 1963–66: Counter-insurgency Operations and War Termination, Small Wars and Insurgencies, dalam The military journal Vol 15, No 3, Winter 2004. 15 Michael Carver, Conventional Warfare in the Nuclear Age, dalam Peter Paret (ed), ‘The Makers of Modern Strategy: from Machiavelli to Nuclear Age, (Princeton: Princeton University Press, 1986) hal: 806 - 808 16 Arreguin-Toft

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

9

yang mengenal, mengerti dan mampu menafsirkan kondisi alam tempat peperangan berlansung. 17 Hal ini diperparah dengan kondisi prajurit gerilya relawan Indonesia yang tidak dibekali secara cukup dan profesional, baik dari segi logistik dan intelijensi dan juga dari segi pelatihan teknis dan cara-cara bertahan di hutan rimba. Pasukan amatir yang terdiri dari para relawan Indonesia ini harus menghadapi pasukan elit Inggris, the Gurkhas, RAF, dan beberapa elemen pasukan common wealth yang diatas kertas jauh lebih unggul, baik secara teknologi dan persenjataan juga secara kualitas per individu kesatuan tentara pasukan Inggris yang sudah mengalami banyak pengalaman berperang di Hutan akibat keterlibatannya di konflik Burma dan pemberantasan insurgen komunis Malaysia sebelumnya. Hal inilah yang menjadi kegagalan mengapa Indonesia tidak mampu menuntaskan misi operasi militer bagian satunya secara optimal. Inggris dan sekutunya berbeda dengan Belanda, mereka mampu memberikan perlawanan yang tangguh. 18 Dan poin yang juga penting untuk dicatat, adalah, keberdaan brutalisme, terlihat pada perang the long Jawi, dimana peristiwa itu merupakan pertama kalinya inkursi dilakukan oleh divisi ketiga pasukan Indonesia, terjadi aksi tidak simpatik yang dilakukan oleh pasukan Indonesia telah kehilangan rasa percaya dan simpati dari masyarakat lokal ketika melihat brutalisme yang dilakukan pasukan Indonesia terhadap 7 orang border scout (polisi perbatasan) yang disiksa guna kepentingan intelligence gathering. Hal ini sejatinya merusak imej Indonesia, dan karena itulah pasukan Indonesia tidak dapat mengaplikasikan strategi ’win heart and mind’ masyarakat lokal.19 Hilangnya dukungan dari masyarakat lokal ini berpengaruh kepada tidak didukungnya perjuangan pasukan Gerilya Indonesia yang smekain mempersulit ruang gerak pasukan tersebut. Kedua, mengenai penggunaan pasukan regular untuk merebut objek-objek vital dan strategis. Pengerahan dan mobilisasi pasukan militer Indonesia dilakukan dengan bertahap menunggu terkumpulnya kekuatan yang dianggap cukup dalam upaya merebut target-target utama di wilayah Kalimantan milik Malaysia. Dalam hal ini, pasukan reguler ikut mendampingi pasukan gerilyawan dalam proses infiltrasi dan ketika berkali-kali mencoba melakukan aksi sabotase dan mengganggu jalur komunikasi dan logistik pasukan gabungan pro-Malaysia. Namun dalam beberapa operasi lainnya pasukan reguler berada terpisah dari pasukan relawan dalam operasi-operasi khusus yang dalam hal ini merupakan proyeksi dari kontestasi strategis secara langsung (indirect approach). Pasukan utama Indonesia pun tidak suskes merebut target-target vital seperti yang telah direncanakan karena
17 18

Sun Tzu, The Art of War, Tom Pocock, Fighting General – The Public & Private Campaigns of General Sir Walter Walker, (London: Collins, 1973) hal. 233 19 „The Scourge of Sukarno‟ diambil dari http://www.historicaleye.com/sukarno.html diakses pada 14/10/09 p.k. 10.35 WIB

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

10

aplikasi strategi Dwikora yang mirip dengan aplikasi strategi Trikora tidak lagi relevan karena Indonesia tidak dapat menandingi ketangguhan pasukan aliansi yang terdiri dari gabungan empat negara common wealth baik dari segi keunggulan kuantitas maupun keunggulan keahlian. Kesiapan Indonesia dalam mengkonsolidasi dan menggelar kekuatan tentara regulernya terlihat sejak dibentuknya Komando Siaga yang bertugas untuk mengkoordinir kegiatan perang terhadap Malaysia (Operasi Dwikora) dibentuk bulan Mei 1964. Komando ini kemudian berubah nama menjadi menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Kolaga dipimpin oleh Laksamana Madya Udara Omar Dani sebagai Panglima Kolaga. Kolaga sendiri terdiri dari tiga Komando yang terhubung secqara integral, yaitu Komando Tempur Satu (Kopurtu) berkedudukan di Sumatera yang terdiri dari 12 Batalyon TNI-AD yang siap digelar, termasuk tiga Batalyon pasukan penerjun dan satu batalyon pasukan KKO yang merupakan elemen angkatan laut. Komando satu ini ditugasi untuk melaksanakan misi dengan sasaran operasinya berada di kawasan Semenanjung Malaya dipimpin oleh Brigjen Kemal Idris sebaga Pangkopur-I. Komando Tempur Dua (Kopurda) berkedudukan di Bengkayang, Kalimantan Barat dan terdiri dari 13 Batalyon yang berasal dari unsur KKO, AURI, dan RPKAD. Komando ini dipimpin Brigjen Soepardjo sebagai Pangkopur-II. Komando ketiga adalah Komando Armada Siaga yang terdiri dari unsur TNI-AL dan juga KKO. Komando ini dilengkapi dengan Brigade Pendarat dan beroperasi di perbatasan Riau dan Kalimantan Timur.20 Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya untuk melakukan serangan langsung demi merebut objek vital-strategis Malaysia. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Resimen Askar Melayu Di Raja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary. Pada 1 Juli 1965, militer Indonesia yang berkekuatan kurang lebih 5000 orang melabrak pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Sampurna. Serangan dan pengepungan terus dilakukan hingga 8 September namun gagal. Pasukan Indonesia mundur dan tidak penah menginjakkan kaki lagi di bumi Malaysia. Peristiwa ini dikenal dengan "Pengepungan 68 Hari" oleh warga Malaysia. 21 Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya sedikit
20

Gelora Konfrontasi Mengganjang Malaysia, (Djakarta: Departemen Penerangan, 1964 (Contains Joint Statements of the Manila Agreements, Indonesian presidential decrees and all transcripts of Sukarno's public speeches from July 1963 to May 1964 pertaining the Konfrontasi). 21 J.A.C Mackie, Konfrontasia: the Indonesia-Malaysia Dispute 1963-1966'. (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1974) hal: 289

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

11

saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia terutama pasukan khusus mereka yaitu Special Air Service (SAS). Pada 17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan pembantu gerakan pasukan gerilya. Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Pada 29 Oktober, sayangnya 52 tentara mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan langsung dikalahkan dan berhasil ditangkap oleh pasukan Resimen Askar Melayu DiRaja dan Selandia Baru dan sisa-sianya berhasil ditangkap oleh Pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu 20, Muar, Johor. Ada sekitar empat belas ribu pasukan Inggris dan Persemakmuran di Australia pada saat itu. Secara resmi, pasukan Inggris dan Australia tidak dapat mengikuti penyerang melalu perbatasan Indonesia. Majalah Angkasa (2006) mencatat sekitar 2000 pasukan khusus Indonesia (Kopassus) tewas dan 200 pasukan khusus Inggris/Australia (SAS) juga tewas setelah bertempur di belantara kalimantan. Dalam tingkatan strategi konvensional yang tentara Indonesia coba terapkan tidak mampu memberikan kemenangan cepat dan decisive seperti yang digambarkan para perumus strategi operasi Ganyang Malaysia. Ada dua faktor yang menyebabkan hal tersebut: (a)Indonesia menghadapi pasukan militer yang cukup tangguh, terlihat dari jumlah pasukan yang dapat diturunkan dimana gabungan pasukan Malaysia, New Zealand, Australia dan Inggris mampu membentuk pertahanan yang solid dan berlapis guna menghalau serangan pasukan Indonesia baik secara head on maupun dengan perang gerilya; (b) Indonesia melakukan salah perhitungan, karena tidak memperhitungkan faktor pengalaman dan kemampuan pasukan elit Inggris dan sekutunya yang telah berpengalaman di matra hutan.

Komparasi Operasi Militer dalam Lingkungan Strategis Serupa
Dalam bahasan pada tahun yang sama (1959-1965), Vietnam memiliki lingkungan strategis yang sama dengan Indonesia. Indonesia menolak semua hal yang berbau kolonialisme dan imperialisme, serta anti Amerika. Vietnam juga menolak kolonialisme, imperialisme dan anti Amerika.22 Indonesia berjuang untuk merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda. Belanda ingin menjadikan Irian Barat sebagai negara yang bisa dikontrol olehnya. Vietnam juga berjuang untuk pembebasan Vietnam Selatan dikuasai oleh Amerika Serikat. Oleh karena itu Vietnam Utara membentuk Front Pembebasan Nasional untuk
22

David G. Marr. History and Memory in Vietnam Today: The Journal "Xu'a & Nay". Source: Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 31, No. 1 (Mar., 2000), p: 13.

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

12

pembebasan Vietnam Selatan pada tahun 1960.23 Adapun kepentingan Amerika Serikat di Vietnam Selatan adalah untuk melindungi Vietnam Selatan dari pengaruh komunis dan untuk mengurung pengaruh tersebut agar tidak keluar dari perbatasan. Front Pembebasan Nasional (FPN) untuk pembebasan Vietnam Selatan, adalah organisasi utama pemberontak yang berjuang melawan Republik Vietnam yang didukung oleh Amerika Serikat pada masa perang Vietnam. Front Pembebasan Nasional mengklaim dirinya sebagai barisan nasional dari semua unsur yang melawan pemerintahan yang ada, baik komunis ataupun bukan. Organisasi militernya dikenal sebagai Angkatan Bersenjata Pembebasan Rakyat (ABPR). ABPR ini sepenuhnya berada dibawah staf umum di Hanoi. Tentara AS menyebut FPN sebagai Viet Cong (bahasa Vietnam untuk komunis Vietnam). 24 Dalam taktik peperangan, anggota FPN bertujuan untuk membentuk “wilayah-wilayah yang dibebaskan” di lingkungan Vietnam Selatan. Namun tanggapan AS atau Angkatan Bersenjata Vietnam Selatan dengan satuan-satuan yang besar dan taktik perang konvensional, tidak pernah mampu mengatasi infrastruktur gerilya di desa-desa. 25 Taktik perang yang dilakukan oleh FPN tersebut sama dengan yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Indonesia dalam operasi Pembebasan Irian Barat. Angkatan Bersenjata Indonesia juga membentuk “wilayahwilayah yang dibebaskan”. Pada Tahap infiltrasi, infiltrasi dalam jangka waktu 10 bulan sampai akhir 1962, diharapkan 10 kompi inti Angkatan berhasil masuk dan membentuk kantong-kantong daerah bebas Republik Indonesia di Irian Barat. Tahap ini bertujuan menciptakan dan mempertahankan daerah-daerah bebas tersebut dan mengikat kekuatankekuatan Belanda setempat sehingga kekuatan musuh tercerai berai. Perbedaan operasional tentara Viet Cong di Vietnam dengan tentara Indonesia pada operasi Ganyang Malaysia adalah tentara Viet Cong berhasil mengalahkan tentara Amerika Serikat di Vietnam karena mereka berperang di wilayahnya sendiri, sehingga mereka telah memiliki pengetahuan dan penguasaan medan. Sementara, tentara Indonesia kalah pada operasi Ganyang Malaysia karena mereka tidak mengetahui dan menguasai medan pertempuran di rimba Malaysia dikarenakan mereka bukan penduduk asli dan bukan tentara reguler. Tentara Amerika Serikat dalam kasus Vietnam juga berbeda dengan tentara Inggris
23 24

Ibid., h. 13. Lajpat Rai. Vietnam and the 'Third Communist Front'. Source: Economic and Political Weekly, Vol. 7, No. 39 (Sep. 23, 1972). pp. 1975+1977-1979+1981- 1984. 25 Truong Nhu Tang. A Viet Cong Memoir. Random House.

Ahmad Naufal Da’i 0706291174 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional Fransiscus Febrisoni 0706284282 Dept. Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

13

dan sekutunya dalam kasus Malaysia, karena pengalaman pada konflik Burma dan pembasmian kelompok insurgency komunis Malaysia telah memberikan kemampuan penguasaan medan rimba yang optimal.

Penutup: Doktrin dan Strategi Pertahanan dengan Pelaksanaan Operasi Militer 1959-1965
Dari studi kasus Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dan Komando Ganyang Malaysia, kami menemukan bahwa doktrin dan operasi militer Indonesia pada periode 19591965 bersifat disintegratif karena pada level doktrin, Indonesia menganut strategi perang gerilya serta mengikutsertakan seluruh rakyat dan potensi yang ada, namun pada level taktis, terdapat beberapa inovasi strategi, seperti penggunaan strategi perang konvensional dalam dalam serangan ofensif Komando Mandala. Sama seperti pada Komando Ganyang Malaysia, aplikasi doktrin dan strategi pertahanan semesta masih menjadi platform operasi militer Indonesia. Namun, terdapat pola inovasi dan penyesuaian terhadap lingkungan strategis dan kalkulasi lapangan. Sayangnya, tentara Indonesia tidak memperhitungkan beberapa faktor berbeda antara operasi Mandala dan operasi Ganyang Malaysia yang menyebabkan kekurangsesuaian aplikasi operasional yang menyebabkan tidak berhasilnya misi operasi Ganyang Malaysia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->