P. 1
cdk_161_Stemcell

cdk_161_Stemcell

|Views: 1,766|Likes:
Published by revliee

More info:

Published by: revliee on Nov 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

161 / vol. 35 no.

2 Maret - April 2008

ISSN: 0125-913 X http://www.kalbe.co.id/cdk

Artikel Utama :
Altered Nuclear Transfer: Pengembangan Teknik Somatic Cell Nuclear Transfer untuk Mengatasi Masalah Etika
Harry Murti , Mokhamad Fahrudin , Caroline Tan Sardjono , Boenjamin Setiawan , Ferry Sandra / hal. 61
1,2 2 1 1 1

Karakteristik Biologis dan Diferensiasi Stem cell : Fokus pada Mesenchymal Stem Cell
Nurul Aini, Boenjamin Setiawan, Ferry Sandra/ hal. 64

Ekspansi Endothelial Progenitor Cell
Frisca, Caroline T. Sardjono, Ferry Sandra/ hal. 68

-----------------------------------------------------------------------------------Berita Terkini :
Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2007 dianugerahkan pada para pionir Stem Cell
hal. 93

Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2007 dianugerahkan pada para pionir Stem Cell
hal. 94

-------------------------------------------------------------------------------Profil :
Mengenal Lebih Dekat Sosok Perintis Spesialis Bedah Digastif di Indonesia
Prof. Dr. R. Sjamsuhidajat, SpB / hal. 103

QFUVOKVL!VOUVL!QFOVMJT
CDK menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan, kedokteran dan farmasi, juga hasil penelitian di bidang-bidang tersebut. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh CDK; bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan mengenai nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris; bila menggunakan bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio, satu muka, dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya, lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 - 10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. Nama (para) pengarang ditulis lengkap, disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi, diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. Bila terpisah dalam lembar lain, hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979; 90 : 95-9). Contoh : 1. Basmajian JV, Kirby RL.Medical Rehabilitation. 1st ed. Baltimore, London: William and Wilkins, 1984; Hal 174-9. 2. Weinstein L, Swartz MN. Pathogenetic properties of invading microorganisms. Dalam: Sodeman WA Jr. Sodeman WA, eds. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. Philadelphia: WB Saunders, 1974;457-72. 3. Sri Oemijati. Masalah dalam pemberantasa filariasis di Indonesia. Cermin Dunia Kedokt. 1990; 64: 7-10. Bila pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; bila tujuh atau lebih, sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi CDK Jl. Letjen Suprapto Kav. 4 Cempaka Putih, Jakarta 10510 E-mail : cdk@kalbe.co.id Tlp. (021) 4208171. Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan, akan diberitahu secara tertulis. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup.

Ebgubs!Jtj dpoufou
58. 60. Editorial English Summary

B S U J L F M

CFSJUB!UFSLJOJ

72/! Bmufsfe! Ovdmfbs! Usbotgfs;! 93. Hadiah nobel fisiologi atau kedokQfohfncbohbo! Uflojl! Tpnbujd! teran 2007 dianugerahkan pada para Dfmm!Ovdmfbs!Usbotgfs!vouvl pioner stem cell Nfohbubtj!Nbtbmbi!Fujlb Harry Murti, Mokhamad Fahrudin, Caroline Tan 94. Aspirin dosis rendah plus statin menurunkan risiko kanker kolorektal Sardjono, Boenjamin Setiawan, Ferry Sandra 75/!Lbsblufsjtujl!Cjpmphjt!ebo!Ejgf. 95. Efek donepezil pada pasien yang sfotjbtj! Tufn! Dfmm! ;! Gplvt! qbeb! berhenti menggunakan memantine Nftfodiznbm!Tufn!Dfmm 96. Lemak perut dan risiko Diabetes Nurul Aini, Boenjamin Setiawan, Ferry Sandra Melitus 79/!Fltqbotj!Foepuifmjbm!Qsphfoj. ups!Dfmm
Frisca, Caroline Tan Sardjono, Ferry Sandra

97. Pentoksifilin untuk pemakai EPO yang resisten

98. Kadar vitamin B12 rendah berkai83/! Nfovkv! Lmpojoh! Ufsbqfvujl! tan dengan peningkatan risiko iskemi serebral efohbo!Uflojl!TDOU
Melina Setiawan, Caroline Tan Sardjono, Ferry Sandra

99. Bagaimana virus Chikungunya menyebar

88/! Ijtupgjtjpmphj! Tfm! Foepufm! ebo! 100. Kopi dan teh dapat menurunkan Tfm! Qsphfojups! Foepufm! ebmbn! risiko kanker ginjal Tjslvmbtj!Ebsbi
Ronny Karundeng

101. MRI paling kuat di dunia siap memindai otak manusia

93/! Qfnfsjltbbo! Mbcpsbupsjvn! Ebmbn!Bouj!Bhjoh!Nfejdjof 102. Informatika Kedokteran
Suzanna Immanuel

98/! Fgflujgjubt! Qfohhvobbo! Nfbm! Sfqmbdfnfou! Qbeb! Qfohbuvsbo! Ejfu!Qbtjfo!Pcftjubt!Ebmbn!Nfn. qfscbjlj!Lpnqptjtj!Uvcvi!Ebo!Gbl. ups!Sjtjlp!Tjoespnb!Nfubcpmjl
Dr. Inge Permadhi, Dr. Samuel Oetoro, Dr. Fiastuti Witjaksono

104. Profil 106. Praktis 107. English Summary Lanjutan 108. Laporan Khusus 110. Kegiatan Ilmiah 112. RPPIK

cdk 161/ vol. 35 no. 2 Mar - Apr 2008

57

Fejupsjbm

Salah satu topik kedokteran yang makin mengemuka ialah teknologi dan pengembangan stem cell; karena teknologi ini menjanjikan sesuatu yang selalu diimpikan oleh umat manusia – umur panjang dan bebas dari penyakit. Beberapa artikel edisi Cermin Dunia Kedokteran kali ini akan membahas berbagai hal sekitar teknologi tersebut, ditambah dengan beberapa artikel lain mengenai kanker; sebagian artikel tentang stem cell berasal dari para peneliti di Stem Cell and Cancer Institute - suatu lembaga yang didukung oleh Kalbe Farma untuk mengembangkan teknologi masa depan agar tetap dapat mengikuti pesatnya kemajuan penelitian di dunia; tentu dengan harapan dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi peningkatan kesehatan dan kesejahteraan kita semua. Selamat membaca, semoga informasi tambahan ini dapat memelihara dan menambah pengetahuan sejawat seiring dengan perkembangan dunia ilmu. Redaksi

58

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

DEL
Cermin Dunia Kedokteran
ISSN: 0125-913 X http://www.kalbe.co.id/cdk
BMBNBU!SFEBLTJ Gedung KALBE Jl. Letjen. Suprapto Kav. 4 Cempaka Putih, Jakarta 10510 Tlp. 021-4208171 Fax.: 021-4287 3685 E-mail : cdk.redaksi@yahoo.co.id Web: http://www.kalbe.co.id/cdk OPNPS!JKJO 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 QFOFSCJU QFODFUBL Grup PT. Kalbe Farma Tbk. PT. Temprint

susunan redaksi
LFUVB!QFOHBSBI Dr. Boenjamin Setiawan, PhD QFNJNQJO!VNVN Dr. Erik Tapan LFUVB!QFOZVOUJOH Dr. Budi Riyanto W. NBOBKFS!CJTOJT Nofa, S.Si, Apt. EFXBO!SFEBLTJ Prof. Dr. Sjahbanar Soebianto Zahir, MSc. Dr. Michael Buyung Nugroho Dr. Karta Sadana Dr. Sujitno Fadli Drs. Sie Johan, Apt. Ferry Sandra, Ph.D. Budhi H. Simon, Ph.D. UBUB!VTBIB Dodi Sumarna

SFEBLTJ!LFIPSNBUBO
Qspg/!Esh/!Tjuj!Xvszbo!B!Qsbzjuop-!TLN-!NTdE-!QiE ! ! !
Bagian Periodontologi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta

Qspg/!ES/!Esb/!Bsjoj!Tfujbxbuj
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Qspg/!Es/!Bcevm!Nvuibmjc-!TqQE!LIPN !
Divisi Hematologi Onkologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Qspg/!Es/!Gbjtbm!Zvovt-!QiE-!TqQ)L* ! !
Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ SMF Paru RS Persahabatan, Jakarta

Qspg/!Es/!Ekplp!Xjepep-!TqQE.LQUJ !
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonsia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Qspg/!ES/!Es/!Sjboup!Tfujbcvez-!TqGL !
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Es/!S/N/!Ovhspip!Bcjlvtop-!NTd/-!EsQI ! ! Qspg/!ES/!Es/!Dibsmft!Tvskbej-!NQI !
Pusat Penelitian Kesehatan Unika Atma Jaya Jakarta Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta

Qspg/!ES/!Es/!I/!B{jt!Sboj-!TqQE-!LHFI ! !
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Qspg/!ES/!Es/!Xjnqjf!Qbohlbijmb-!TqBoe-!GBBDT ! !
Fakultas KedokteranUniversitas Udayana Denpasar, Bali

Qspg/!ES/!Es/!Jhobujvt!Sjxboup-!TqC)L* !
Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/ RS Dr. Kariadi, Semarang

Qspg/!ES/!Es/!Tjebsubxbo!Tpfhpoep-!TqQE-!LFNE-!GBDF ! ! !
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Es/!Upoz!Tfujbcveij-!TqLK-!!QiE ! !Universitas Trisakti/ Pusat Kajian Nasional Masalah Lanjut Usia, Jakarta

ES/!Es/!Bcjejo!Xjekbobslp-!TqQE.LIPN !
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Kanker Dharmais, Jakarta

Qspg/!ES/!Tbntvsjekbm!Ekbv{j-!TqQE-LBJ ! !
Sub Dept. Alergi-Imunologi, Dept. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

ES/!Es/!nfe/!Bcsbibn!Tjnbuvqboh-!NLft !
Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia Jakarta

Qspg/!Es/!Tbsbi!T/!Xbsbpvx-!TqB)L* !
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado

Es/!Qsjkp!Tjej qsbupnp-!TqSbe)L* !
Departemen Radiologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Qspg/!ES/!Es/!Kpibo!T/!Nbtkivs-!TqQE.LFNE-!TqLO ! ! Qspg/!ES/!Es/!Svmmz!N/B/!Spftmj-!TqQE.LHI !
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung Departemen Kedokteran Nuklir Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Es/!Ifoesp!Tvtjmp-!TqT)L* ! Es/!Bvdlz!Ijoujoh-!QiE-!TqBoe ! !
Bagian Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya Dept. Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/ RS Dr. Soetomo, Surabaya

Qspg/!ES/!esh/!Ifoesp!Lvtopup-!TqPsu/ !
Laboratorium Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta

Qspg/!ES/!Es/!Ebsxjo!Lbszbej-!TqHL !
Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat

ES/!Es/!Zphb!Zvojbej-!TqKQ !
Sub Dept. Kardiologi, Dept. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSP Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta

Es/!Jlf!Tsj!Sfekflj-!TqBo!LJD-!N/Lft ! !
Bagian Anestesiologi & Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

59

Fohmjti!Tvnnbsz
Bmufsfe! Ovdmfbs! Usbotgfs;! Jn. Cjpmphjdbm! Dibsbdufsjtujd! boe! qspwfnfou! pg! Tpnbujd! Dfmm! Ov. Ejggfsfoujbujpo!pg!Tufn!Dfmm;!Gp. dmfbs!Usbotgfs!Ufdiojrvf!up!Sf. dvt!po!Nftfodiznbm!Tufn!Dfmm tpmwf!Fuijdbm!Qspcmfnt Ovsvm! Bjoj- Cpfokbnjo! Tfujbxbo! ! 2-3 Gfssz!Tboesb Ibssz!Nvsuj !!Nplibnbe!Gbisv. Fltqbotj!Foepuifmjbm!Qsphfojups! Dfmm Gsjtdb-!Dbspmjof!U/!Tbsekpop-!Gfs. ! ! sz!Tboesb

! ejo3!!!Dbspmjof!Ubo!Tbsekpop2!!!Cpfo. Tufn!Dfmm!Ejwjtjpo-Tufn!Dfmm!boe!Dbo. Tufn!Dfmm!Ejwjtjpo-Tufn!Dfmm!boe!Dbo. ! 2 2 dfs!Jotujuvuf-!QU!Lbmcf!Gbsnb!Ucl/!Kb. ! kbnjo!Tfujbxbo !!Gfssz!Tboesb dfs!Jotujuvuf- QU!Lbmcf!Gbsnb!Ucl/!Kb. ! Tufn!Dfmm!Ejwjtjpo-Tufn!Dfmm!boe!Dbo. ! dfs!Jotujuvuf-!QU/!Lbmcf!Gbsnb!Ucl/!Kb. ! lbsub-!Joepoftjb ! 3! Mbcpsbupsz!pg!Fncszpmphz-!Gbdvmuz!pg! ! Wfufsjobsz! Nfejdjof- ! Cphps! Bhsjdvm. ! uvsbm!Vojwfstjuz-!Cphps-!Joepoftjb/ ! !
2!

lbsub-!Joepoftjb !

lbsub-!Joepoftjb !

Cloned embryos generated by Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT) technique are good resources for Embryonic Stem Cell (ESC) with pluripotent characteristics. SCNT becomes a potential method used in therapeutic and regenerative medicine with the aim to produce cells for autologous transplantation. An advanced method recently developed to generate inner cell mass lacking intact trophectoderm function by targeting Cdx2 gene by RNAi (RNA interference) is known as Altered Nuclear Transfer (ANT). Through ANT technique ethical problems encountered in SCNT could be resolved for the reason that the cells created are not intact embryos. This review Keywords : Stem cell, adult stem covers briefly the latest methods cell, mesenchymal stem cell, cell used in SCNT including the ANT based therapy. technique.

Stem cell has been an interesting and controversial focus among researchers and public because of their potential on cell based the-rapy. Regarding ethical issues surrounding the embryonic stem cell source, adult stem cell becomes a promising alternative choice. Mesenchymal stem cell derived from umbilical cord blood has been a preference for researchers as recognized for its high plasticity and low immunogenicity. With proper treatment, mesenchymal stem cell can be grown into different kind of cells, ready to be used for cell based therapy. For that purpose, there has been many attempts in establishing culture protocol for mesenchymal stem cell in xeno-free culture condition to reduce potential animal pathogen transfer to human.

The discovery of endothelial progenitor cells (EPC) has major implications in angiogenic therapy. The limited numbers of EPC found in adult blood circulation has been the main obstacle for the usage of EPC. Various attempts have been made to expand EPC in vitro in order to get sufficient numbers of EPC required for human therapy. This review summarizes the characteristics and different methods used in the expansion of EPC. Several methods for EPC quantification and surface markers used for EPC identification will also briefly covered.

Key words : EPC, stem cell, expansion, Endothelial Progenitor Cell.
Cermin Dunia Kedokt.2008;35(2): hal 68-71 gb-dut-gt ! !

Keywords: ANT, SCNT, Trophectoderm, RNAi, Cdx2
Cermin Dunia Kedokt.2008; 35(2): hal 61-3. in-ng-dut-ct-gt ! ! ! !

Cermin Dunia Kedokt.2008;35(2): hal 64-7 ob-ct-gb ! !

60

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

Hasil Penelitian

Bmufsfe!Ovdmfbs!Usbotgfs;!Qfohfncbohbo!Uflojl! Tpnbujd!Dfmm!Ovdmfbs!Usbotgfs!vouvl Nfohbubtj!Nbtbmbi!Fujlb !
Ibssz!Nvsuj2-3!!Nplibnbe!Gbisvejo3!!Dbspmjof!Ubo!Tbsekpop2!!Cpfokbnjo!Tfujbxbo2!!Gfssz!Tboesb2 3

!Tufn!Dfmm!Ejwjtjpo-!Tufn!Dfmm!boe!Dbodfs!Jotujuvuf-!Lbmcf!Qibsnbdfvujdbm!Dpnqboz!Kblbsub-!Joepoftjb ! ! ! Mbcpsbupsz!pg!Fncszpmphz-!Gbdvmuz!pg!Wfufsjobsz!Nfejdjof-!Cphps!Bhsjdvmuvsbm!Vojwfstjuz-!Cphps-!Joepoftjb/ ! ! ! !

2

BCTUSBL Embrio hasil SCNT dapat dijadikan sebagai sumber Embryonic Stem Cell (ESC) yang bersifat pluripoten dan merupakan patient-specific stem cells. Penerapan teknik SCNT bertujuan untuk aplikasi konsep therapeutic cloning dan regenerative medicine melalui teknik transplantasi autologous, sehingga tidak menimbulkan reaksi penolakan jaringan pada tubuh pasien. Terobosan baru dalam teknik ini adalah menghambat pembentukan trofektoderm pada embrio hasil SCNT, sehingga embrio hanya akan membentuk Inner Cell Mass (ICM) dan tidak dapat berimplantasi ke dalam jaringan endometrium. Pengembangan teknik yang dikenal dengan Altered Nuclear Transfer (ANT) diharapkan mampu menjadi solusi bagi permasalahan etika penggunaan embrio sebagai sumber ESC. Metode ANT dengan menggunakan RNA interference (RN Ai) untuk mencegah ekspresi gen Cd x2 pada embrio hasil SCNT akan dibahas dalam artikel ini.

Kata Kunci: ANT, SCNT, Trofektoderm, RN Ai, Cd x2
QFOEBIVMVBO Perkembangan teknik Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT) telah menjadi alternatif baru dalam kemajuan riset biomedis1. Aplikasi teknik SCNT dapat digunakan untuk untuk memproduksi Embryonic Stem Cell (ESC)2. Secara garis besar teknik transfer inti sel somatik (SCNT) meliputi 3 langkah utama (Gambar 1), yakni: (1) enukleasi atau pembuangan inti oosit yang akan digunakan sebagai resipien sitoplasma (oosit resipien), (2) transfer inti atau pemasukan inti sel somatik ke dalam oosit resipien, (3) aktivasi atau induksi oosit hasil rekonstruksi agar dapat berkembang menjadi embrio yang kemudian dikenal sebagai embrio SCNT yang dapat dijadikan sebagai sumber sel punca 3. Sel lestari (cell line) ESC yang dihasilkan melalui teknik SCNT sering disebut dengan istilah ntESC (nuclear transfer Embryonic Stem Cell)4. Sel lestari ntESC diperoleh dari kultur sel embrio hasil aplikasi SCNT hingga mencapai tahap blastosis, lalu bagian Inner Cell Mass (ICM) diisolasi dan dikultur dengan medium spesifik5. Teknik isolasi ICM dapat dilakukan baik secara mekanik de-

ngan menggunakan mikromanipulator ataupun secara enzimatik dengan menggunakan reaksi antigen-antibodi yang secara spesifik melisis sel-sel trofoblas6.

Medium spesifik untuk kultur ICM agar dapat berproliferasi dan juga mempertahankan sifat pluripotensi serta karakter sel punca yang dimiliki7. Pada ntESC mencit, penambahan Leukemia Inhibitory Factor (LIF) berfungsi untuk mempertahankan keadaan tidak berdiferensiasi (undifferentiated stage)8. Sedangkan pada manusia, penggunaan Mouse Embryonic Fibroblast (MEF) sebagai feeder layer dapat mencegah proses differensiasi9. Hasil kultur ntESC dapat dimanfaatkan sebagai sumber ESC yang apabila diperlukan dapat diinduksi untuk berdiferensiasi menjadi tipe-tipe sel tertentu10,11. Selsel hasil diferensiasi tersebut dapat digunakan untuk tujuan terapi berbasis sel pada berbagai jenis penyakit degeneratif12. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ESC dapat diarahkan menjadi sel-sel neuron13,14, ginjal15, otot jantung16,17, pankreas18. Gambar 1. Skema teknik SCNT pada mencit. 1: enukleasi atau
pembuangan inti oosit yang akan digunakan sebagai oosit resipien; 2: transfer inti atau pemasukan inti sel somatik ke dalam oosit resipien; 3: aktivasi atau induksi oosit hasil rekonstruksi agar dapat berkembang menjadi embrio.

Secara teoritis, ntESC memiliki kelebihan dibandingkan dengan sumber ESC lainnya, 61

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

terutama karena pada ntESC sel punca yang diperoleh dan dikembangkan berasal dari tubuh pasien itu sendiri (patientspecific stem cells). Pemanfaatan ntESC diharapkan dapat mengatasi masalah penolakan sistem imunitas (immune rejection)19. Namun aplikasi terapi berbasis sel dengan menggunakan ntESC masih harus diteliti lebih lanjut untuk mencegah potensi timbulnya dampak negatif, sebelum ditransplantasikan ke tubuh pasien 20.

Pemanfaatan teknologi SCNT untuk menghasilkan ntESC sebagai alternatif terapi pada manusia Telah dilaporkan bahwa pada merupakan hal yang masih embrio mencit ekspresi gen diperdebatkan di berbagai Cdx2 dapat dihambat dengan kalangan. Salah satunya menggunakan RNAi sehingga karena masalah etika pengtidak dapat membentuk trofekgunaan oosit dan perugen oleh RNAi. sakan embrio pada tahap Gambar 3. Mekanisme penghambatan ekpresi RNAi ke dalam sitoplasma toderm (Gambar 2). Namun Virus pembawa digunakan untuk memasukkan demikian dari embrio ini mablastosis21. Permasala- sel. RNAi dan mRNA akan saling menempel dan membentuk RNA-Induced Silencing Complex (RISC). Mekanisme penghambatan ekspresi gen sih dapat diperoleh sel-sel ICM han etika lainnya adalah tergantung pada kemiripan urutan basa dari RNAi dan mRNA. Pengguyang dapat diturunkan menjadi adanya kekhawatiran di- naan RNAi sangat efektif untuk menghambat ekspresi gen. sel punca pluripoten yang mamlakukannya proses kloning pu berintegrasi pada hewan chimera27. Walaupun teknik dengan tujuan menciptakan suatu ’manusia baru’ (reANT telah berhasil diaplikasikan pada embrio mencit, naproductive cloning). Hal ini menyebabkan William B. Hurlmun masih harus dibuktikan pada embrio manusia28. but mengemukakan gagasannya untuk memodifikasi sel embrio agar tidak mampu berkembang menjadi embrio UFLOJL! EBO! NFLBOJTNF! QFOHIBNCBUBO! normal yang mampu berimplantasi, yang disebut dengan FLTQSFTJ!Dey3!QBEB!FNCSJP!IBTJM!TDOU Altered Nuclear Transfer (ANT)22 sehingga diharapkan Secara teoritis, penghambatan ekspresi Cdx2 dapat dapat mengatasi permasalahan etika tersebut. dilakukan dengan berbagai macam cara di antaranya adalah dengan menggunakan antisense DNA, Ribozymes, BQMJLBTJ!!BOU!!VOUVL!!NFOHIBTJMLBO!!ouFTD! dan RNAi. Prinsip kerja antisense DNA adalah berikatan VOUVL!NFOHBUBTJ!NBTBMBI!FUJLB dengan mRNA yang merupakan komplemennya, sehingTeknik ANT merupakan pengembangan teknik SCNT ga proses translasi tidak terjadi. Sedangkan enzim Ribountuk mengatasi permasalahan etika. Modifikasi teknik zymes dapat digunakan untuk memotong mRNA speSCNT meliputi pemanfaatan retrovirus untuk menyisifik menjadi potongan kecil-kecil sehingga mRNA tidak sipkan RNAi pada sel donor inti sebelum ditransfer ke dapat berfungsi normal29. Cara lain untuk menghambat sel oosit resipien. Keberadaan RNAi diharapkan dapat ekspresi gen adalah dengan menggunakan sistem RNA menghambat ekspresi gen yang bertanggung jawab interference (RNAi)30. RNAi merupakan potongan kecil terhadap proses pembentukan trofoblas, sehingga RNA yang dapat menginduksi penghancuran mRNA terdiharapkan embrio berkembang menjadi cacat dan tentu sebelum dapat mengkode pembentukan protein di tidak dapat berimplantasi. dalam sitoplasma31 (Gambar 3). Pada tahap blastosis, embrio akan membentuk trofekSintesis protein merupakan ekspresi gen yang metoderm dan ICM. Trofektoderm yang mengelilingi ICM liputi proses transkripsi dan translasi. Pada sel euberperan dalam proses implantasi embrio pada jaringan 62
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

endometrium23. Dilaporkan bahwa, pada embrio mencit gen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan trofektoderm adalah Cdx2, yang apabila ekspresinya dihambat akan menyebabkantrofektoderm tidak terbentuk sehingga embrio tidak dapat melakukan proses implantasi24. Informasi ini juga didukung dengan hasil penelitian bahwa gen Cdx2 secara in vitro Gambar 2. Skema ANT untuk menghasilkan blastosis tanpa trofoblas. dapat menginduksi diferensiasi ESC mencit menjadi sel-sel trofoblas25. Diferensiasi menjadi sel-sel trofoblas juga dapat dipengaruhi oleh interaksi antara Oct4 dengan Cdx226.

kariot umumnya ekspresi gen diawali dengan induksi promoter terhadap proses transkripsi DNA menjadi messenger RNA (mRNA). DNA pada tahap ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu bagian coding strand (sense strand atau nontemplate strand) dan template strand (antisense strand). Selanjutnya enzim RNA polymerase akan membuat mRNA berdasarkan DNA template strand. Setelah mRNA terbentuk, akan keluar dari inti sel dan menuju ke ribosom di sitoplasma. Urutan basa nitrogen pada mRNA merupakan kodon yang akan diterjemahkan oleh transfer RNA (tRNA) menjadi asam amino yang sesuai. Proses ini disebut dengan proses translasi32. Penghambatan ekspresi gen Cdx2 pada teknik ANT diawali dengan penempelan RNAi pada mRNA membentuk komplek RISC (RNA-Induced Silencing Complex)33. RNAi dimasukkan ke dalam sitoplasma sel dengan bantuan vektor lentivirus27. RNAi hanya dapat berikatan dengan mRNA yang memiliki urutan basa yang merupakan komplemennya. Dua mekanisme yang dapat terjadi pada proses selanjutnya adalah: (1) apabila kompleks RNAi dan mRNA (RISC) merupakan komplemen (memiliki urutan basa yang cocok) dan dapat menempel menjadi rantai RNA ganda maka enzim slicer dapat memotong mRNA hingga terdegradasi, (2) apabila kompleks RNAi dan mRNA bukan merupakan komplemen (ada sedikit basa yang tidak bisa berpasangan) maka mRNA tetap eksis tapi tRNA yang berada di ribosom tidak mampu menerjemahkan urutan kodon menjadi asam amino, sehingga proses translasi tidak dapat terjadi34. Kedua mekanisme di atas menyebabkan proses sintesis protein tidak berjalan sebagaimana mestinya karena sehingga gen tidak terekspresikan35. LFTJNQVMBO ANT merupakan alternatif pengembangan teknik SCNT untuk mengatasi permasalahan etika penggunaan embrio sebagai sumber ESC. Pembentukan trofoblas dapat dihambat dengan menggunakan RNAi melalui inhibisi ekspresi gen Cdx2. Blastosis yang tidak mengekspresikan gen Cdx2 tidak dapat implantasi, namun sel-sel ICM masih dapat dikembangkan menjadi sel punca yang bersifat pluripoten dan memiliki karakter sama dengan ntESC.
EBGUBS!QVTUBLB 1. McLaren A. Cloning: pathway to a pluripotent future. Science 2000; 288: 1775-80. 2. Colman A. Somatic cell nuclear transfer in mammals: progress and applications. Cloning 2000; 1: 185-200. 3. Wilmut I, Beaujean N, de Sousa PA, et al. Somatic cell nuclear transfer. Nature 2002; 419: 583-6. 4. Tong WF, Ng YF, Ng SC. Somatic cell nuclear transfer (cloning): Implications for the medical practitioner. Singapore Med J. 2002; 43: 369-76. 5. Wakayama S, Ohta H, Kishigami S. Establishment of male and female nuclear transfer embryonic stem cell line from different mouse and

tissues. Biol Reprod. 2005; 72: 932-6. 6. Hogan B, Costantini F, Lacy E. Manipulating the mouse embryo. A laboratory manual. New York: Cold Spring Harbor Laboratory, 1986; Hal 113-4. 7. Moon SY, Park YB, Kim DS, Oh SK, Kim DW. Generation, culture, and differentiation of human embryonic stem cells for therapeutic applications. Molecular Therapy 2006; 13: 5-14. 8. Freshney RI. Culture of animal cells. A manual of basic technique. 4th ed. New York: Wiley-Liss, 2000; hal. 393. 9. Hochedlinger K, Jaenisch R. Nuclear reprogramming and pluripotency. Nature 2006; 441: 1061-7. 10. Dinnyes A, Szmolenszky A. Animal cloning by nuclear transfer: state-of-theart and future perspectives. Acta Biochimica Polonica 2005; 52: 585-8. 11. Wobus AM, Boheler KR. Embryonic stem cells: prospects for developmental biology and cell therapy. Physiol Rev. 2005; 85: 635-78. 12. Mombaerts P. Therapeutic cloning in the mouse. Proc Natl Acad Sci USA. 2003; 100: 11924-5. 13. Wakayama T, Tabar V, Rodriguez I, Perry ACF, Studer L, Mombaerts P. Differentiation of embryonic stem cell lines generated from adult somatic cells by nuclear transfer. Science 2001; 292: 740-3. 14. Zhang P, Chebath J, Lonai P, Revel M. Enhancement of oligodendrocyte differentiation from murine embryonic stem cells by an activator of gp 130 signaling. Stem Cells 2004; 22: 344-54. 15. Hipp J, Atala A. Tissue engineering, stem cells, cloning, and parthenogenesis: new paradigms for therapy. Exp Clin Assist Reprod. 2004; I:3. 16. Lanza R, Moore MAS, Wakayama T, et al. Regeneration of the infracted heart by nuclear transplantation.. Cir Res. 2004; 94: 820-7. 17. Kodifis T, de Bruin JL, Yamane T, et al. Insulin-like growth factor promotes engraftment, differentiation, and functional improvement after transfer of embryonic stem cells for myocardial restoration. Stem Cells 2004; 22: 1239-45. 18. Paek HJ, Moise LJ, Morgan JR, Lysaght MJ. Origin of insulin secreted from islet-like cell clusters derived from murine embryonic stem cells. Cloning Stem Cells 2005; 7: 226-31. 19. Cibelli JB, Kiessling AA, Cunniff K, Richards C, Lanza RP, West MD. Somatic cell nuclear transfer in humans: pronuclear and early embryonic development. Regenerative Med. 2001; 2: 25-31. 20. Gardner RL. Stem cells and regenerative medicine: principles, prospects and problems. C R Biologies 2006; doi:10.1016/ j.crvi.2007.01.005. 21. Whittaker PA. Therapeutic cloning: The ethical limits. J Taap. 2005; 270: S689-91. 22. Hurlbut WB. Altered nuclear transfer. N Engl J Med. 2005; 352: 1153-4. 23. Red-Horse K, Zhou Y, Genbacev O, et al. Trophoblast differentiation during embryo implantation and formation of the maternal-fetal interface. J Clin Invest. 2004; 114: 744-54. 24. Strumpf D, Mao CA, Yamanaka Y et al. Cdx2 is required for correct cell fate specification and differentiation of trophectoderm in the mouse blastocyst. Development 2005; 132: 2093-102. 25. Tolkunova E, Cavaleri F, Eckardt S, et al. The caudal-related protein Cdx2 promotes trophoblast differentiation of mouse embryonic stem cells. Stem Cells 2006; 24: 139-44. 26. Niwa H, Toyooka Y, Shimosato D, et al. Interaction between Oct3/4 and Cdx2 determines trophectoderm differentiation. Cell 2005; 123: 917-29. 27. Meissner A, Jaenisch R. Generation of nuclear transfer-derived pluripotent ES cells from cloned Cdx2-deficient blastocysts. Nature 2006; 439: 212-5. 28. Findlay JK, Gear ML, Illingworth PJ, et al. Human embryo: a biological definition. Human Reproduction 2007; 22: 905-11. 29. Robinson R. RNAi therapeutics: how likely, how soon?. P Bio. 2004; 2: 0018-20. DOI:10.1371/journal.pbio.0020028. 30. Alberts B, Johnson A, Lewis J, Raff M, Roberts K, Walter P. Molecular biology of the cell. 4th ed. New York: Garland Science, 2002; Hal 451-2. 31. Kalthoff K. Analysis of biological development. 2nd ed. New York: McGraw-Hill Co. Inc., 2001; Hal 395. 32. Campbell MK, Farrell SO. Biochemistry. 4th.ed. USA: Thomson Learning Inc., 2003; hal 281-2;320-1. 33. Gong W, Ren Y, Xu Q, et al. Integrated siRNA design based on surveying of fetus features associated with high RNAi effectiveness. BMC Bioinformatics 2006; doi:10.1186/1471-2105-7-516 34. Milhavet O, Gary DS, Mattson MP. RNA interference in biology and medicine. Pharmacol Rev. 2003; 55: 629-48. 35. Yu J, Thomson JA. Embryonic Stem Cells. In Stem Cell Information [World Wide Web site]. Bethesda, MD: National Institutes of Health, U.S. Department of Health and Human Services, 2006 [cited Friday, January 26, 2007] Available at http://stemcells.nih.gov/info/scireport/2006report.

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

63

Hasil Penelitian

Karakteristik Biologis dan Diferensiasi Stem Cell : Fokus pada Mesenchymal Stem Cell
Ovsvm!Bjoj-!Cpfokbnjo!Tfujbxbo-!Gfssz!Tboesb ! !
Tufn!Dfmm!Ejwjtjpo-!Tufn!Dfmm!boe!Dbodfs!Jotujuvuf-!Lbmcf!Qibsnbdfvujdbm!Dpnqboz!Kblbsub-!Joepoftjb ! ! !

BCTUSBL Stem cell telah menjadi fokus perhatian baik bagi kalangan peneliti maupun khalayak umum karena potensinya dalam terapi berbasis sel. Mengingat isu etis yang melingkupi penggunaan embryonic stem cell, adult stem cell menjadi alternatif pilihan untuk maksud tersebut. Penggunaan mesenchymal stem cell dari darah tali pusat menjadi preferensi sebagian peneliti karena sifat plastisitasnya yang tinggi dan imunogenisitasnya yang rendah. Dengan perlakuan yang tepat, mesenchymal stem cell ini dapat berkembang menjadi berbagai sel dan selanjutnya dapat dipakai sebagai sumber transplantasi sel untuk terapi berbasis sel. Untuk bisa melangkah ke penggunaan mesenchymal stem cell sebagai terapi rutin pada manusia, berbagai usaha dilakukan untuk mengkultur mesenchymal stem cell dalam medium xeno-free sebagai upaya mencegah transfer patogen hewan ke manusia.

Kata Kunci : Stem cell, adult stem cell, mesenchymal stem cell, terapi berbasis sel.

Qfoebivmvbo Selama bertahun-tahun para peneliti mencari dan mencoba memahami mengapa sebagian sel dan organ tubuh manusia mampu memperbaiki diri sedangkan sel dan organ-organ lainnya tidak. Sekarang, pencarian itu difokuskan ke bidang stem cell. Stem cell adalah jenis sel khusus dengan kemampuan membentuk ulang di-rinya dan dalam saat yang bersamaan membentuk sel yang terspesialisasi. Meskipun kebanyakan sel dalam tubuh seperti jantung maupun hati telah terbentuk khusus untuk memenuhi fungsi tertentu, stem cell selalu berada dalam keadaan tidak terdiferensiasi sampai ada sinyal tertentu yang mengarahkannya berdiferensiasi menjadi sel jenis tertentu. Kemampuannya untuk berproliferasi bersamaan dengan kemampuannya berdiferensiasi menjadi jenis sel tertentu inilah yang membuatnya unik.1,2 Terdapat dua kelompok utama stem cell menurut sumbernya, yaitu embryonic stem cell yang diisolasi dari inner cell mass embrio, dan adult stem cell yang diisolasi dari jaringan dewasa. Seperti telah diperkirakan sebelumnya, dewasa ini makin banyak bukti mendukung dugaan kehadiran stem cell pada organ dan jaringan, dan bahwa sel-sel jenis ini memiliki kemampuan untuk berkembang jauh melebihi yang dulu dibayangkan. Sejauh mana potensi sel ini dapat dikembangkan untuk kepentingan terapi manusia masih belum jelas, namun pertanyaan-pertanyaan tersebut membuka kemungkinan bagi pemanfaatan stem cell di masa datang. 1,2,3

Bevmu!Tufn!Dfmm!wfstvt!Fncszpojd!Tufn!Dfmm Sejak berhasilnya isolasi stem cell dari embrio manusia oleh Thomson pada 1998, prospek kegunaannya dalam terapi sel telah menarik perhatian kalangan peneliti maupun khalayak umum. Stem cell jenis ini diperoleh dari inner cell mass blastocyst. Mirip seperti yang telah dibuktikan dengan penelitian pada tikus, human embryonic stem cell telah terbukti sangat primitif, dapat berproliferasi tanpa batas, dan memiliki kemampuan untuk menurunkan galur semua jenis sel dewasa.4 Namun karena proses isolasinya berarti mengganggu perkembangan embrio, minat para peneliti mendapat tentangan dari para politisi dan pemerhati masalah etika penelitian.3,5 Lebih jauh lagi, tumoriogenicity dari embryonic stem cell haruslah jelas sebelum melangkah lebih jauh ke tahap terapi.6
Sejak itu minat penelitian terhadap adult stem cell meningkat pesat. Adult stem cell sebagai sumber stem cell dewasa relatif aman dari isu etis. Di luar perdebatan mengenai seberapa plastis dan efektif adult stem cell dibandingkan dengan embryonic stem cell, adult stem cell lebih mudah dijumpai di berbagai organ dan jaringan dewasa dengan tingkat ekspansi yang juga tinggi, dan secara teknis lebih mudah diisolasi dibandingkan dengan teknik isolasi embryonic stem cell dari inner cell mass blastocyst. 6,7,8

Adult stem cell seperti semua tipe stem cell yang lain, memiliki setidaknya dua karakter khusus. Yang pertama, mereka mampu membuat salinan sel yang identik

64

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

dengan dirinya sendiri untuk periode waktu yang lama. Kedua, mampu berdiferensiasi menjadi jenis sel matur dengan karakteristik morfologis dan fungsi tertentu. Tidak diketahui asal muasal yang pasti dari adult stem cell ini; beberapa peneliti mengajukan hipotesis bahwa stem cell yang dicegah untuk berdiferensiasi ini disebar dan diletakkan dengan mekanisme tertentu yang belum diketahui selama periode perkembangan fetal. Adult stem cell haruslah clonogenic, artinya harus mampu menghasilkan sekumpulan turunan sel yang identik secara genetik, yang kemudian berkembang menjadi semua sel yang tepat sesuai dengan jaringan di tempat ia berada.1,2,7 Tidak seperti embryonic stem cell yang memiliki kemampuan tak terbatas untuk berdiferensiasi menjadi sel apapun dalam jaringan, adult stem cell meskipun masih bersifat pluripoten diperkirakan telah berkurang kemampuan diferensiasinya dan telah menjadi lebih spesifik untuk berdiferensisasi menjadi sel tertentu yang kesemuanya berkontribusi untuk regenerasi jaringan lokal. Contohnya, gastrointestinal crypt cells di sistem pencernaan, oval cells di dalam hati, dan pneumocytes tipe II di dalam paru-paru, dan berbagai subset stem cell di dalam sumsum tulang, darah tepi, otak, korda spinalis, pulpa gigi, pembuluh darah, otot rangka, epitel kulit, kornea, retina dan pankreas.1,7 Qmbtujtjubt!Bevmu!Tufn!Dfmm Perkembangan lebih lanjut menunjukkan fenomena plastisitas adult stem cell, yang berarti bahwa adult stem cell dari jaringan dewasa yang sudah terarah menjadi jaringan tertentu, masih mampu berdiferensiasi menjadi sel bagian dari suatu jaringan lain. Pada saat ini belum ada istilah baku untuk menyebut fenomena ini dalam literatur ilmiah. Maka sering disebut sebagai plastisitas, diferensiasi unorthodox, maupun transdiferensiasi.1,7,9 Bukti keberadaan fenomena transdifferensiasi pada adult stem cell datang dari penelitian yang memakai teknik transplantasi whole bone marrow. Pada pemeriksaan histologis jaringan hasil transplantasi di beberapa organ resipien,dijumpai kehadiran sel donor yang berdiferensiasi menjadi sel endotel, sel otot rangka, sel otot jantung, sel oval di hati, hepatosit, dan sel di system saraf pusat.7,9 Tampaknya, dengan sinyal microenvironment yang sesuai, adult stem cell dari sumsum tulang mampu bertransdiferensiasi menjadi berbagai macam sel dari organ yang berbeda-beda.1,7,9 Ij qpuftjt!nflbojtnf!usbotejgfsfotjbtj Semua penelitian yang menyelidiki fenomena plastisitas stem cell umumnya menggunakan model jaringan yang terjejas untuk menginduksi mekanisme “homing”

dan diferensiasi stem cell. Kerusakan jaringan tampaknya menciptakan lingkungan yang sesuai bagi perubahan orientasi diferensiasi ini. Tampaknya lingkungan jaringan extrahematopoietic yang terbentuk setelah apoptosis atau nekrosis (seperti keseimbangan sitokin maupun keadaan matriks ekstraseluler) memungkinkan engraftment yang sesuai bagi stem cell yang sedang beredar di aliran darah. Yang tidak diketahui adalah apakah stem cell melewati fase jaringan spesifik sebelum maturasi, baik melalui transdiferensiasi maupun fusi sel.1,9 Ejgfsfotjbtj!mbohtvoh!ebo!ubl!mbohtvoh Terdapat beberapa mekanisme yang masih menjadi spekulasi untuk fenomena transdiferensiasi ini. Pada penelitian menggunakan stem cell dari sumsum tulang, salah satu dugaannya adalah bahwa ketika ditransplantasikan, sebenarnya kumpulan sel ini membawa sekelompok populasi sel yang sangat pluripotent, yang belum terarah menjadi sel darah. Atau mereka adalah hematopoietic stem cell yang dapat bertransdiferensiasi. Sel yang sudah terarah telah memulai rangkaian diferensiasi terminal yang diduga disebabkan oleh perubahan konformasi DNA. Transdiferensiasi menunjukkan kemampuan dari sebuah sel yang sudah terarah untuk mengubah pola ekspresi gennya menjadi sel yang betulbetul berbeda dengan karakter asalnya, dan ini dapat terjadi langsung maupun tak langsung. Transdiferensiasi tak langsung berarti stem cell berde-diferensiasi diikuti proses maturasi ke jalur alternatif. Transdiferensiasi langsung berarti terdapat transisi langsung pada pola ekspresi gen sel tersebut.9,10 Yang harus diingat adalah bahwa transdiferensiasi in vivo tidaklah harus berlangsung dalam keadaan pato-logis. Hal ini merupakan mekanisme yang normal terjadi pada tumbuhan dan hewan, contohnya yang terjadi pada amfibi selama regenerasi tungkai. Di tahap in vitro, progenitor oligodendrosit dapat diprogram ulang menjadi stem cell saraf ketika dipelihara dalam kultur berkepadatan rendah dan dalam medium yang serum-free.11 Gvtj!tfm Mekanisme alternatif untuk plastisitas adalah terjadinya fusi sel antara hematopoietic stem cell dengan non-hematopoietic stem cell membentuk heterokarion, dengan demikian mengubah pola ekspresi gen dari pola asli sel sumsum tulang menjadi pola ekspresi pasangan fusinya. Contohnya, fusi in vitro fibroblast dengan myoblast diketahui menghasilkan ekspresi mRNA yang spesifik untuk myocyte dengan nuklei yang spesifik untuk fibroblast.7,9 Nftfodiznbm!Tufn!Dfmm!ej!Ebsbi!Ubmj!Qvtbu Mesenchymal stem cell pertama kali dikarakteristikkan
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

65

oleh Friedstein dkk lebih dari 30 tahun yang lalu, dan didefinisikan sebagai sel yang multipoten, yang mampu berdiferensiasi menjadi beberapa jalur termasuk kartilago, tulang, tendon, otot, ligamen, dan jaringan lemak.9,12,13 Meskipun merupakan sumber utama mesenchymal stem cell, sumsum tulang melibatkan prosedur isolasi yang sangat invasif. Selain itu, jumlah, potensi diferensiasi, dan umur maksimum mesenchymal stem cell dari sumsum tulang menurun dengan bertambahnya usia donor.15 Perkembangan selanjutnya mengarahkan minat isolasi mesenchymal stem cell pada sumber alternatif seperti darah tali pusat yang proses isolasinya lebih tidak invasif tanpa membahayakan ibu maupun bayinya.16,17,18 Kern dkk membandingkan mesenchymal stem cell dari sumsum tulang, darah tali pusat dan jaringan lemak. Ia menemukan bahwa meskipun ketiga sumber ini secara morfologis dan fenotip imunologis memiliki karakteristik mesenchymal stem cell yang identik, mesenchymal stem cell dari darah tali pusat memiliki kemampuan untuk dikultur dalam periode terlama, dan menunjukkan kemampuan proliferasi tertinggi sehingga dapat diekspansi dalam jumlah yang banyak.14 Nftfodiznbm!tufn!dfmm!ebsj!ebsbi!ubmj!qvtbu!nfnj. mjlj!jnvophfojtjubt!zboh!sfoebi Salah satu masalah yang timbul dari grafting sel adalah adanya reaksi penolakan dari host terhadap sel transplant allogeneic yang mismatched. Penelitian membuktikan bahwa mesenchymal stem cell dari darah tali pusat dapat mencegah penolakan allogeneic pada manusia maupun hewan coba. Penemuan ini didukung pula oleh bukti-bukti kultur in vitro. Terdapat tiga mekanisme yang berkontribusi terhadap kejadian ini. Pertama, mesenchymal stem cell dari darah tali pusat adalah sel yang hypoimmunogenic, dengan kekurangan molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas II dan ekspresi molekul yang menstimulasinya. Kedua, mesenchymal stem cell dari darah tali pusat mencegah respon sel T secara tidak langsung melalui modulasi sel dendritik dan secara langsung mengganggu fungsi sel Natural Killer (NK) dan fungsi sel T Cluster of Differentiation 4 (CD4+) dan CD8+. Ketiga, mesenchymal stem cell dari darah tali pusat menginduksi microenvironment lokal yang supresif terhadap produksi prostaglandin dan interleukin-10 seperti juga ekspresi indoleamin 2,3,-dioksigenase yang mendeplesi keseimbangan triptofan. Bradley dkk menunjukkan keuntungan lain pemakaian stem cell dari darah tali pusat adalah tidak membutuhkan ketepatan Human Leukocyte Antigen (HLA) 100%.19,20 Lbsblufs!cjpmphjt!Nftfodiznbm!tufn!dfmm Mesenchymal stem cell yang ditumbuhkan di berbagai laboratorium dengan berbagai teknik memiliki 2 kesa66
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

maan yaitu : tumbuh di kultur sebagai sel yang melekat dengan lama hidup tertentu, dan memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi osteoblast, chondroblast, dan adipocyte dalam respon terhadap stimuli yang tepat.12,13,14 Secara histologis, mesenchymal stem cell memiliki bentuk fusiform, fibroblast-like, dan pada fase pertumbuhan in vitro awal membentuk koloni.8 Dari identifikasi karakter imunologis, spektrum sitokin yang luas (contohnya fibroblast growth factor-2 [FGF2], FGF-4, platelet derived growth factor-BB [PDGF-BB], leukemia inhibitory factor) dan teknik isolasi (contoh : elektromagnetik dan secara fisik) telah digunakan untuk mengidentifikasi dan mengekspansi mesenchymal stem cells. Dengan flow cytometry, sel ini menunjukkan hasil negatif terhadap CD3, CD7, CD19, CD34, CD45, CD117, CD133, dan CD135, mengindikasikan bahwa sel kelompok ini bukanlah berasal dari sel hematopoetik. Sel jenis ini juga menunjukkan hasil negatif terhadap reseptor matriks CD31 (PECAM-1), CD62L (L-selectin), dan CD62P (P-selectin), dan negatif untuk CD33, CD90, dan HLA-DR.8,12,13,14

Mesenchymal stem cells yang diperoleh dari darah tali pusat diketahui positif untuk integrin CD29 ( 1-integrin), CD49b ( -2 integrin), CD49d ( -4 integrin), dan CD51 ( -v integrin); positif untuk reseptor matriks CD44 (reseptor hialuronat), CD58 (LFA-3), dan CD105 (endoglin); dan positif HLA-ABC.8,12,13 Selain itu untuk marker mesenchymal stem cell manusia : SH-2, SH-3, dan SH-4, sel-sel ini memberikan hasil positif kuat.12,13
Lvmuvs!kbohlb!qbokboh!nftfodiznbm!tufn!dfmm!jo!wjusp Dalam kondisi kultur yang mengandung fetal bovine serum (FBS), mesenchymal stem cell dari donor muda dapat menjalani 24-40 kali penggandaan populasi (population doublings, PD) in vitro sedangkan potensi proliferasi dari donor yang lebih tua terlihat lebih rendah. Setelah itu, mesenchymal stem cell menunjukkan penghentian pertumbuhan yang berhubungan dengan fenomena penuaan sel. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor termasuk pemendekan telomer yang progresif selama subkultur kontinu in vitro karena tidak aktifnya aktivitas telomerase. Penuaan replikatif ini dapat diatasi dengan memaksa ekspresi gen human telomerase reverse transcriptase (hTERT) sehingga mengembalikan aktivitas telomerase.12,13 Qpufotj!ebo!qfsmblvbo!zboh!ejcvuvilbo!vouvl!ejgf. sfotjbtj!nftfodiznbm!tufn!dfmm Banyak ilmuwan dari berbagai lembaga telah melakukan kultur mesenchymal stem cell, masing-masing dengan metode mereka sendiri. Umumnya media kultur yang digunakan adalah media standar dengan

suplemen fibroblast growth factor (FGF) untuk menunjang proliferasi sel, antibiotik untuk mengatasi kontaminasi, serta serum baik dari bovine (fetal bovine serum, FBS) maupun calf (fetal calf serum, FCS). Kondisi microenvironment tampaknya betul-betul berpengaruh pada potensi diferensiasi maupun transdiferensiasi mesenchymal stem cell dari darah tali pusat manusia. Implikasinya, kultur sel in vitro harus mampu meniru kondisi yang terjadi secara in vivo untuk memastikan validitas peristiwa di laboratorium semirip mungkin dengan yang terjadi dalam tubuh.12,13,18 Perlakuan dengan medium dan faktor penginduksi yang berbeda memberikan hasil diferensiasi mesenchymal stem cell menjadi berbeda pula, seperti akan diuraikan di bawah ini. a. Diferensiasi osteogenik Medium osteogenik terdiri dari Iscove Modified Dulbecco’s Medium (IMDM) disuplementasi dengan deksametason, asam askorbat, gliserol, atau gliserofosfat. b. Diferensiasi chondrogenik Medium yang umum dipakai terdiri dari Dulbecco’s Modified Eagle’s Medium (DMEM) tinggi glukosa disuplementasi dengan deksametason, sodium pirofosfat, prolin, Tumor Growth Factor (TGF)- insulin, transferin, asam seleneic, Bovine Serum Albumin (BSA), dan asam linoleat. c. Diferensiasi adipogenik Menggunakan IMDM disuplementasi FBS, deksametason, bovine insulin, 1-metil-3-isobutilamin, dan indometasin. d. Diferensiasi neurogenik Medium IMDM disuplementasi dengan basic Fibroblast Growth Factor (bFGF), asam retinoat, beta mercaptoethanol (BME), setelah dicuci dengan medium D-Hanks kemudian ditambahkan DMSO dan beta hidroxy anisole (BHA) e. Diferensasi hepatogenik Menggunakan IMDM disuplementasi dengan FBS, penisilin dan streptomisin. Selanjutnya digunakan medium IMDM disuplementasi FBS, FGF-4, dan penisilin-streptomisin.17,21 Lvmuvs! nftfodiznbm! tufn! dfmm! ebmbn! mjohlvohbo! yfop.gsff Penggunaan mesenchymal stem cell dalam terapi berbasis sel memerlukan pengembangan protokol kultur xeno-free. Meskipun bukan persyaratan formal dari badan resmi seperti FDA, terdapat peningkatan perhatian pada kemungkinan transmisi infeksi partikel seperti virus dan prion dari hewan ke manusia. Beberapa laporan telah menunjukkan bahwa mesenchymal

stem cell dapat dikultur dengan suplementasi serum manusia tanpa efek merugikan dalam proliferasi maupun potensi diferensiasinya secara in vitro.12,13,16
LFTJNQVMBO Stem cell memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu alternatif terapi berbasis sel. Mesenchymal stem cell dari darah tali pusat kini banyak dipakai sebagai alternatif sumber stem cell karena aman dari isu etis maupun kekhawatiran tentang potensi tumoriogenisitasnya. Dengan perlakuan yang tepat, sel ini dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis sel. Usaha-usaha optimalisasi kultur sel kini tengah dikembangkan untuk merespon kebutuhan terapi yang aman dari cemaran patogen.
EBGUBS!QVTUBLB 1. Kirschstein R, Skirboll LR. Stem Cells : Scientific progress and future research directions. Washington: National Institute of Health, 2001. 2. National Institute of Health. Stem Cell information : The national institute of health resource for stem cell research. Cited March 3, 2007. http://stemcells.nih.giv/info/basic/basics1.asp 3. Wikipedia. Stem Cell. Cited March 3, 2007. http://en.wikipedia.org/ wiki/Stem_cell 4. Thomson JA, Itzkovitz-Eldor J, Shapiro SS, dkk. Embryonic stem cells lines derived from human blastocyst. Science. 1998; 282: 1145-7. 5. Setiawan B. Aplikasi terapeutik embryonic stem cell pada berbagai penyakit degeneratif. Cermin Dunia Kedokt. 2006; 153: 5-8 6. Yen BL, Huang HI, Chien CC, dkk. Isolation of multipotent cells from human term placenta. Stem Cells 2005; 23: 3-9. 7. Kuehnle I, Goodel MA. The therapeutic potential of stem cell from adult. BMJ 2005; 235: 372-6. 8. Lee OK. Kuo TK, Chen WM, dkk. Isolation of multipotent mesenchymal stem cells from umbilical cord blood. Blood 2004; 103: 1669-75 9. Herzog EL, Chai L, Krause DS. Plasticity of marrow derived stem cells. Blood 2003; 102: 3483-93. 10. Song L, Webb NE, Song Y, Tuan RS. Isolation and functional analysis of candidate genes regulating mesenchymal stem cell self-renewal and multipotency. Stem Cells 2006; 24: 1707-18. 11.Stocum DL. Development:a tail of differentiation. Science 2002; 298: 1901-3. 12. Kassem M. Mesenchymal stem cells : Biological characteristics and potential clinical applications. Cloning Stem cells 2004; 6: 369-73. 13. Kassem M, Kristiansen M, Abdallah BM. Mesenchymal stem cells: cell biology and potential use in therapy. Basic Clin Pharmacol Toxicol. 2004; 95: 209-14. 14. Kern S, Eichler H, Stoeve J, dkk. Comparative analysis of mesenchymal stem cells from bone marrow, umbilical cord blood or adipose tissue. Stem Cells 2006; 24: 1294-301. 15. D’Ippolito G, Scghiller PC, Ricordi C, dkk. Age-related osteogenic potential of mesenchymal stromal stem cells from human vertebral bone marrow. J Bone Miner Res. 1999; 14: 1115-22. 16. de Wynter EA. What is the future for cord blood stem cells? Cytotechnology 2003; 41: 133-8. 17. Kang XQ, Zang WJ, Bao LJ, dkk. Differentiating characterization of human umbilical cord blood-derived mesenchymal stem cells in vitro. Cell Bio Int. 2006; 30: 569-75. 18. Prayogo R, Wijaya MT. Kultur dan potensi stem cell dari darah tali pusat. Cermin Dunia Kedokt. 2006; 153: 26-8. 19. Ryan JM, Barry FP, Murphy JM, Mahon BP. Mesenchymal stem cell avoid allogeneic rejection. J Inflamm (London). 2005; 2:8 20. Bradley MB, Cairo MS. Cord blood immunology and stem cells transplantation. Human Immunol. 2005; 66: 431-46. 21. Goodwin HS, Bicknese AR, Chien SN, dkk. Multilineage differentiation activity by cells isolated from umbilical cord blood: Expression of bone, fat and neural markers. Biol Blood Marrow Transplant. 2001; 7: 581-8.

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

67

Hasil Penelitian

Ekspansi Endothelial Progenitor Cell
Gsjtdb-!Dbspmjof!U/!Tbsekpop-!Gfssz!Tboesb ! !
Tufn!Dfmm!Ejwjtjpo-!Tufn!Dfmm!boe!Dbodfs!Jotujuvuf-!Lbmcf!Qibsnbdfvujdbm!Dpnqboz!Kblbsub-!Joepoftjb ! ! !

BCTUSBL Ditemukannya EPC membawa pengaruh yang besar dalam terapi penyakit pembuluh darah. Keterbatasan jumlah EPC dalam sirkulasi darah menjadi hambatan utama dalam pengembangan EPC sebagai produk terapi sel. Berbagai upaya telah dilakukan dalam meningkatkan jumlah EPC dengan cara mengkultur secara in vitro untuk mendapatkan jumlah EPC yang dibutuhkan. Dalam artikel ini, akan diuraikan mengenai karakteristik, berbagai upaya ekspansi EPC dan metode yang sekarang ini digunakan untuk mengidentifikasi dan menghitung EPC.

Kata kunci : EPC, sel punca, ekspansi, identifikasi, Endothelial Progenitor Cell.

QFOEBIVMVBO Kerusakan atau disfungsi sel endotel merupakan stimulus utama untuk terjadinya arterosklerosis1. Hal ini menyebabkan terjadinya gangguan aliran darah yang dapat berakibat fatal seperti ditemukan pada penyakit distrofi muskular, gagal ginjal akut (CRF), dan stroke2. Tidak hanya itu, arterosklerosis pada pembuluh darah jantung (kardiovaskular) menyebabkan infark miokard akut yang juga termasuk dalam daftar penyakit utama penyebab kematian di dunia. Ditemukannya Endothelial Progenitor Cell (EPC) membawa implikasi besar dalam dunia ilmiah dan kedokteran. EPC dapat memediasi terjadinya pembentukan pembuluh darah baru (neovaskularisasi dan angiogenesis) dan menjaga integritas pembuluh darah3. Dengan demikian transplantasi EPC menjadi suatu alternatif terapi untuk mengatasi penyakit akibat gangguan pembuluh darah4. EPC dapat diisolasi dari berbagai sumber, antara lain darah tali pusat1,5,6, darah tepi1,3,7, sumsum tulang1,8,9 dan juga pada jaringan tubuh lainnya, seperti jaringan lemak, hati, jantung, limpa, dan saluran pencernaan10,11. Namun, jumlah EPC yang sangat terbatas dari berbagai sumber tersebut membatasi penggunaan EPC sebagai terapi. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk memperbanyak EPC dengan cara mengkultur secara in vitro (ekspansi) untuk memenuhi jumlah kebutuhan dalam terapi. Lbsblufsjtujl!ebo!qfsbo!FQD EPC merupakan sel yang memiliki karakteristik seperti sel punca (stem cell), namun memiliki kemampuan prolif68
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

erasi dan diferensiasi yang lebih terbatas. Sel ini bersifat unipoten, yaitu dapat berdiferensiasi menjadi sel endotel matang. EPC memiliki peran penting dalam pembentukan pembuluh darah dan remodelisasi sel endotelial pada pembuluh darah yang mengalami kerusakan12-15.

EPC didefinisikan sebagai bagian dari sel berinti tunggal (mononucelar cell atau MNC) yang memiliki molekul penanda sel punca hematopoietik, yaitu CD34, suatu glikoprotein yang memediasi pelekatan sel punca pada matriks ekstraseluler sumsum tulang dan CD133, suatu glikoprotein yang dilaporkan merupakan molekul penanda untuk sel punca yang lebih primitif dibandingkan CD34, sampai saat ini fungsi dari molekul CD 133 masih belum diketahui dengan pasti16. EPC yang telah mengalami diferensiasi menjadi sel yang lebih matang secara berangsur-angsur akan kehilangan ekspresi CD34. EPC juga dilaporkan memiliki molekul penanda sel endotelial, yaitu KDR (Kinase Insert Domain Receptor), suatu protein yang berperan penting dalam menstimulasi proliferasi, perkembangan pembuluh darah baru (sprouting), dan angiogenesis. EPC juga berperan dalam pelekatan dan interaksi antar sel17,18. Beberapa molekul penanda sel endotelial matang lainnya yang dapat dimiliki oleh EPC antara lain sebagai berikut: CD31 (Platelet endothelial cell adhesion molecule-1), berperan dalam pelekatan sel endotel dan merupakan molekul yang berperan dalam proses migrasi leukosit melalui jaringan interseluler sel-sel endotel; CD146 (P1H12), berperan dalam memediasi pelekatan antar sel endotel19,20; Von Willebrand factor (vWF), berperan dalam proses koagulasi darah; Tie-2 berperan dalam pematangan jaringan sel endotel se-

lama vaskulogenesis atau angiogenesis; dan Endothelial nitric oxide synthase (NOS), berperan dalam pengaturan fungsi pembuluh darah7.

erti MNC, di dalamnya termasuk sel punca, progenitor, limfosit, dan monosit. Salah satu reagen yang sering digunakan dalam metode ini adalah Ficoll. Metode isolasi lainnya adalah berdasarkan molekul penanda pada permukaan sel yang bertujuan untuk mendapatkan fraksi sel yang lebih spesifik dibandingkan metode sentrifugasi. Prinsip dari metode ini antara lain melalui reaksi pemisahan berdasarkan kompleks antara antigen dan antibodi. Antigen yang digunakan dalam metode ini adalah molekul penanda permukaan sel yang akan diisolasi, dan antibodi spesifik terhadap antigen yang digunakan berada dalam keadaan terikat dengan magnetik microbeads. Pemisahan dilakukan dalam medan magnet, oleh karena itu metode ini disebut separasi imunomagnetik. Untuk metode ini, diperlukan beberapa perangkat instrumen tambahan seperti magnetik microbeads beserta perangkat untuk separasi, antara lain kolom dan separator. Kolom disisipkan di antara separator, yang merupakan medan magnet kuat, sehingga sel dengan antigen tertentu yang sudah diikat oleh antibodi pada microbeads akan tertahan di kolom dan dapat dipisahkan untuk digunakan lebih lanjut. Proses ini dapat digunakan untuk mendapatkan fraksi sel yang memiliki molekul penanda tertentu (seleksi positif) atau sebaliknya (seleksi negatif). Aplikasi penggunaan separasi imunomagnetik dalam pengisolasian kandidat sel EPC yang sudah dilakukan antara lain untuk mendapatkan fraksi sel yang memiliki molekul penanda CD14, CD34, CD133, atau CD146 untuk digunakan dalam proses selanjutnya15. Berbagai metode isolasi dan fraksi sel yang dihasilkan beserta sumber pustakanya dapat dilihat pada ubcfm!2.
Ubcfm!2!!Nfupef!jtpmbtj!ebo!gsbltj!tfm!zboh!ejibtjmlbo!vouvl!fltqbotj! FQD Metode Sentrifugasi (densitas-gradien) Separasi imunomagnetik Fraksi sel MNC Sumber pustaka 24-28

EPC dapat berperan dalam proses yang bersifat fisiologis maupun patologis. Dalam proses yang bersifat fisiologis, EPC merupakan sel progenitor yang memiliki kemampuan untuk membelah dan berdiferensiasi menjadi sel endotelial matang13. Dengan demikian EPC ikut menjaga integritas pembuluh darah melalui fungsinya dalam menggantikan sel-sel endotel yang rusak (reendotelialisasi) dan pembentukan pembuluh darah baru21,22. Dalam proses yang bersifat patologis, EPC turut berperan dalam angiogenesis pada penyakit tumor sehingga dapat menyebabkan semakin cepatnya pertumbuhan tumor11.
Vqbzb!fltqbotj!FQD Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa EPC dapat diisolasi dari berbagai sumber, dengan jumlah EPCs <1% dalam jumlah total sel mononuklear pada sumsum tulang dan < 0.01% dalam peredaran darah perifer15. Sedangkan jumlah EPC yang dibutuhkan untuk digunakan dalam terapi manusia dewasa cukup besar jumlahnya. Dilaporkan bahwa diperlukan kurang lebih 3x108 sampai 6x108 sel yang berarti dibutuhkan 8,5-120 liter darah perifer untuk memperoleh EPC dalam jumlah cukup15,23. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, maka banyak penelitian telah dilaksanakan dalam upaya mengekspansi jumlah EPC. Penelitian akhir-akhir ini mengemukakan beberapa proses penting yang menjadi komponen utama dalam metode ekspansi jumlah EPC. Proses tersebut dimulai dengan proses isolasi EPC, proses kultur dengan menggunakan beberapa jenis media, dan proses penentuan jumlah EPC yang berhasil dikumpulkan. Masing-masing proses di atas akan diuraikan secara singkat sebagai berikut. Jtpmbtj!FQD Berbagai metode isolasi sel yang akan diekspansi di antaranya yaitu metode isolasi sel berdasarkan karakteristik inti selnya dan molekul penanda yang terletak pada permukaan sel. Metode isolasi sel yang paling sederhana adalah de-ngan menggunakan metode sentrifugasi untuk memisahkan fraksi sel berinti tunggal (MNC) dari sel-sel lain di dalam darah. Sel yang disentrifugasi dalam suatu gradien dengan massa tertentu akan dapat dipisahkan berdasarkan densitasnya. Metode ini akan memisahkan sel yang densitasnya lebih tinggi seperti sel darah merah dan sel granulosit dengan sel yang densitasnya lebih rendah sep-

CD14 CD34 CD133 CD146

29 16,18,30 21,31 32

Lvmuvs0!Fltqbotj!FQD Dalam upaya ekspansi jumlah EPC secara in vitro pada umumnya digunakan media basal beserta kombinasi bahan tambahan yang ditujukan untuk meningkatkan proliferasi sel dan diferensiasinya menjadi EPC. Media basal yang umum digunakan antara lain Endocdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

69

thelial Basal Medium-2 (EBM-2), M-199, dan Iscove’s Modified Dulbecco’s Medium (IMDM)1,7,8. Komposisi campuran medium tiap studi berbeda-beda. Media basal tersebut umumnya ditambahi serum untuk mendukung pertumbuhan sel dan antibiotik untuk menghindari tumbuhnya kontaminasi1. Selain itu, media basal juga seringkali ditambah dengan berbagai suplemen, seperti bovine pituitary extract atau bovine brain extract, atau faktor-faktor pertumbuhan untuk membantu pertumbuhan dan diferensiasi menjadi sel endotelium, seperti Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), basic Fibroblast Growth Factor (b-FGF), Epidermal Growth Factor (EGF), dan Insulinlike Growth Factor -1 (IGF-1)33.
Qfofouvbo!kvnmbi!FQD Dilakukannya penentuan jumlah EPC pada peredaran darah tepi manusia dapat memberikan informasi yang penting dalam keberhasilan pengkulturan EPC. Ditambah lagi, jumlah EPC dapat digunakan sebagai penanda (marker) biologi untuk mengevaluasi fungsi pembuluh darah1. tetapi metode penghitungan EPC yang telah digunakan pada banyak studi menghasilkan variabilitas pada jumlah EPC yang telah dilaporkan, mengingat belum adanya definisi tunggal di antara para peneliti untuk EPC. Beberapa studi melaporkan beberapa variasi dalam definisi EPC yang juga dipakai sebagai acuan dalam penghitungan jumlah EPC. a. Berdasarkan morfologi Sel berbentuk spindle dan membentuk koloni bulat atau sel berbentuk cobblestone didefinisikan sebagai EPC. b. Berdasarkan fenotipe, yaitu antigen permukaan sel. Pada keba-nyakan studi, EPC diidentifikasi dan dihitung melalui flowcytometry, yaitu dengan identifikasi sel-sel yang memiliki molekul penanda sel hematopoietik dan sel endotel, yaitu CD34, CD133, dan KDR9,12,22. c. Berdasarkan karakteristik fungsional EPC dapat dikarakterisasi secara fungsional melalui beberapa metode, antara lain pengikatan dengan lektin, kemampuan endositosis senyawa lipoprotein, atau kemampuan untuk membentuk struktur

menyerupai pembuluh darah secara in vitro. Bermacam-macamnya pendefinisian EPC (Tabel 2) menyebabkan bervariasinya jumlah EPC yang diperoleh dari studi-studi yang telah dilakukan. Berdasarkan morfologinya, jumlah EPC pada 1 ml darah manusia dewasa segar adalah 1,6x105 sampai 3x105 sel31,34. Sedangkan berdasarkan fenotipenya (CD133+/KDR+), dilaporkan jumlah EPC pada peredaran darah tepi dewasa normal yaitu sekitar 0,002% dari total sel mononuklear atau rata-rata 66 sel/ml17. Oleh karena itu standarisasi dalam pendefinisian EPC sangat diperlukan.
Ubcfm!3!!Nbdbn!kfojt!qfoefgjojtjbo!vouvl!qfohijuvohbo!FQD Jenis Analisa Morfologi Keterangan Sel berbentuk spindle dengan koloni berbentuk bulat (Gambar 1 kiri) Sel berbentuk cobblestone (Gambar 1 kanan) CD146+ CD34+/CD45+ Fungsional CD34+/VEGFR-2+ atau CD133+/VEGFR-2+ Pengikatan dengan lektin dan endositosis lipoprotein 3,7 Sumber pustaka 21,27,28

Fenotipe

25,29,30

8,17,24

Gambar 1 Sel berbentuk spindle dengan koloni berbentuk bulat dalam kultur in vitro pada hari ke 5 (Kiri). Sel berbentuk cobble9 stone dalam kultur in vitro pada hari ke 19 (Kanan) . 28,30 Kedua morfologi sel tersebut diklaim sebagai EPC .

Uboubohbo!ebmbn!fltqbotj!FQD Hingga saat ini, upaya ekspansi EPC masih dipersulit dengan adanya berbagai tantangan. Tantangan tersebut di antaranya adalah mencari pengganti komponen hewan dalam komposisi media kultur untuk mengekspansi EPC. Komponen hewan dalam media kultur, dimana belum teridentifikasi dengan jelas komposisinya, berpotensi sebagai pembawa agen/mikroorganisme patogen, menimbulkan reaksi penolakan imun pada resipien, serta juga dapat menyebabkan hasil kultur bervariasi pada setiap batchnya. Oleh karena itu, upaya ekspansi EPC dengan tidak menggunakan komponen dari spesies berbeda (xeno free) sangat diperlukan. Tantangan lainnya dalam ekspansi adalah dapat menghasilkan EPC dalam jumlah besar sehingga dapat mencukupi kebutuhan dalam terapi. Sehubungan dengan hal ini, berbagai studi sudah dilakukan dan masih terus dikembangkan untuk meningkatkan upaya ekspansi EPC yang sudah ada. Di antaranya adalah dengan rekayasa genetik, yaitu transfer gen human telomerase reverse transcriptase (hTERT)35,36 atau gen penyandi faktor proangiogenesis seperti vascular endothelial growth factor (VEGF) ke dalam EPC. Tantangan lain yang tidak kalah pentingnya adalah perlu ditentukannya karakteristik, baik morfologi, fenotipe, atau batasan fungsional yang paling tepat dalam mendefinisikan EPC.

70

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

LFQVTUBLBBO 1. Hill J, Zalos G, Halcox JPJ, dkk. Circulating Endothelial Progenitor Cells, Vascular Function, and Cardiovascular Risk. N Engl J Med. 2003;348;593-600 2. Choi JH, Kim KL, Huh W, dkk. Decreased number and impaired angiogenic function of endothelial progenitor cells in patients with chronic renal failure. Arterioscler Thromb Vasc Biol. 2004;24;1246 –52. 3. Asahara T, Murohara T, Sullivan A, dkk. Isolation of Putative Progenitor Endothelial Cells for Angiogenesis. Science. 1997;275;964-7. 4. Franz WM, Zaruba M, Theiss H, dkk. Stem-cell homing and tissue regeneration in ischaemic cardiomyopathy. Lancet. 2003;362;675-6. 5. Murohara T, Ikeda H, Duan J, dkk. Transplated cord blood-derived endothelial precursor cells augment postnatal neovascularization. J Clin Invest. 2000; 105;1527-36. 6. Ingram DA, Mead LE, Tanaka H, dkk. Identification of a novel hierarchy of endothelial progenitor cells utilizing human peripheral and umbilical cord blood. Blood. 2004-04-1396. 7. Gulati R, Jevremovic D, Peterson TE, dkk. Diverse origin and function of cells with endothelial phenotype obtained from adult human blood. Circ Res. 2006; 93;1023-5. 8. Lin Y, Weisdorf DJ, Solovey A, dkk. Origin of circulating endothelial cells and endothelial outgrowth from blood. J Clin Invest. 2000;105;71-7. 9. Yoder MC, Mead LE, Prater D, dkk. Re-defining endothelial progenitor cells via clonal analysis and hematopoietic stem/progenitor cells principals. Blood. 2007;109;1801-9. 10. Urbich C, Dimmeler S. Endothelial Progenitor cells. Characterization and role in vascular biology. Circ Res. 2004;95;343-53. 11. Doyle B, Metharom P, Caplice NM. Endothelial Progenitor Cells. Endothelium. 2006;13;403–10. 12. Lutun A, Verfaillie CM. Will the real EPC please stand up? Blood. 2007;109;1795-6. 13. Khakoo AY, Finkel T. Endothelial Progenitor Cells. Annu Rev Med. 2005;56;79-101. 14. Ribatti D. The discovery of endothelial progenitor cells An historical review. Leukem Res. 2006;31:439-44. 15. Smadja DM, Cornet A, Emmerich J, dkk. Endothelial progenitor cells: Characterization, in vitro expansion, and prospects for autologous cell therapy. Cell Biol Toxicol. 2007;23: 223–39. 16. Peichev M, Naiyer AJ, Pereira D, dkk. Expression of VEGFR-2 and AC133 by circulating human CD341 cells identifies a population of functional endothelial precursors. Blood. 2000;95;952-8. 17. Sills AD, Blunden MJ, Mawdsley J, dkk. New flow cytometic technique for the evaluation of circulating endothelial progenitor cell levels in various disease groups. J Immuno Methods. 2006;316:107-15. 18. Bompais H, Chagraoui J, Canron X, dkk. Human endothelial cells derived from circulating progenitor display specific functional properties compared with mature vessel wall endothelial cells. Blood. 2004;103;2577-2584. 19. George DF, Sabatier F, Blann A. Detection of Circulating Endothelial Cells : CD146-based Magnetic Separation Enrichment or Flowcytometric Assay? J of Clin Onco. 2007;25;e1-e2. 20. Woywodt A, Kirsch T, Haubitz M. Immunomagnetic isolation and FACScompeting techniques for the enumeration of circulating endothelial cells. Thromb Haemost. 2006;96;1-2.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

Rustemeyer P, Wittkowski W, Greve B, dkk. Flow-cytometric Identification, Enumeration, Purification, and Expansion of CD133+ and VEGF-R2+ Endothelial Progenitor Cells from Pheripheral Blood. J Immunoassay & Immunochemistry. 2007;28;13-23. Fuchs S, Hermanns MI, Kirkpatrick CJ. Retention of a differentiated endothelial phenotype by outgrowth endothelial cells isolated from human peripheral blood and expanded in long-term cultures. Cell Tissue Res. 2006;326;79–92. Kawamoto A, Gwon HC, Tkebuchava T, dkk. Intramyocardial transplantation of autologous endothelial progenitor cells for therapeutic neovascularization of myocardial ischemia. Circulation. 2003;107;4618. Assmus B, Schachinger V, Teupe C, dkk. Transplantation of Progenitor Cells and Regeneration Enhancement in Acute Myocardial Infarction (TOPCARE-AMI). Circulation. 2002;106;3009–17. Hur J, Yoon CH, Kim HS, dkk. Characterization of two types of endothelial progenitor cells and their different contributions to neovasculogenesis. Arterioscler Thromb Vasc Biol. 2004;24;288-93. Aoki M, Yasutake M, Murohara T. Derivation of Functional Endothelial Progenitor Cells from Human Umbilical Cord Blood Mononuclear Cells Isolated by a Novel Cell Filtration Device. Stem Cell. 2004;22;9941002. Kalka C, Masuda H, Takahashi T, dkk. Transplantation of ex vivo expanded endothelial progenitor cells for therapeutic neovascularization. PNAS. 2000;97;3422-7. Holgado NL, Alberca M, Guijo FS, dkk. Short-term endothelial progenitor cell colonies are composed of monocytes and do not acquire endothelial markers. Cytotherapy. 2007;9;14- 22. Yoon CH, Hur J, Park KW, dkk. Synergistic Neovascularization by Mixed Transplantation of early Endothelial Progenitor Cells and Late Outgrowth Endothelial Cells: The Role of Angiogenic Cytokines and Matrix Metalloproteinases. Circulation. 2005;112;1618-27. Timmermans F, Hauwermeiren FV, Smedt MD, dkk. Endothelial Outgrowth Cells Are Not Derived From CD133+ Cells or CD45+ Hematopoietic Precursors. Arterioscler. Thromb. Vasc. Biol. 2007; 10.1161/ATVBAHA.107.144972. Gehling UM, Ergu¨n SL, Schumacher U, dkk. In vitro differentiation of endothelial cells from AC133-positive progenitor cells. Blood. 2000;95;3106-12. Delorme B, Basire A, Gentile C, dkk. Presence of endothelial progenitor cells, distinct from mature endothelial cells, within human CD146+ blood cells. Thromb Haemost. 2005;94:1270-9. Lenk K, Adams V, Lurz P, dkk. Therapeutical potential of blood-derived progenitor cells in patients with peripheral arterial occlusive disease and critical limb ischemia. European heart. 2005;26;1903-9. Sharpe EE, Teleron AA, Li B, dkk. The origin and in vivo significance of Murine and Human culture expanded endothelial progenitor cells. Am J. Path. 2006;168;1710-21. Smadja DM, Che IB, Emmerich J, dkk. PAR-1 activation has different effects on the angiogenic activity of endothelial progenitor cells derived from human adult and cord blood. J Thromb Haemost. 2006;4;2051–8. Murasawa S, Llevadot J, Silver M, dkk. Constitutive human telomerase reverse transcriptase expression enhances regenerative properties of endothelial progenitor cells. Circulation. 2002;106;1133-9.

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

71

Hasil Penelitian

Menuju Kloning Terapeutik Dengan Teknik SCNT
Nfmjob!Tfujbxbo-!Dbspmjof!Ubo!Tbsekpop-!Gfssz!Tboesb ! !
Tufn!Dfmm!Ejwjtjpo-!Tufn!Dfmm!boe!Dbodfs!Jotujuvuf-!Lbmcf!Qibsnbdfvujdbm!Dpnqboz!Kblbsub-!Joepoftjb ! ! !

BCTUSBL Penggunaan teknik Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT), baik dalam penelitian kloning reproduktif maupun kloning terapeutik telah dilakukan oleh para ilmuwan di berbagai negara. Teknologi SCNT meliputi suatu teknologi rekayasa terhadap sel telur, dengan cara mentransfer inti dari sel donor ke sel telur yang telah dikeluarkan intinya (enucleated oocyte). Kedua jenis kloning memiliki kegunaannya masing-masing. Kloning reproduktif berperan penting dalam pelestarian hewan-hewan langka yang hampir punah. Sedangkan, kloning terapeutik bertujuan untuk menghindari adanya reaksi penolakan terhadap sistem imun pasien dalam terapi sel punca (stem cell) . Keberhasilan suatu penelitian yang menghasilkan sel punca embrionik monyet dengan teknik SCNT akhir-akhir ini membawa dunia semakin dekat dengan produksi sel punca embrionik manusia dari sel somatik dewasa sehingga risiko penolakan terhadap sistem imun akan semakin berkurang. Tentu saja hal ini hanya dapat berkembang apabila permasalahan etika penggunaan sel telur donor dapat teratasi.

QFOEBIVMVBO Apabila anda mendengar kata “kloning”, mungkin yang terlintas di dalam pikiran anda adalah domba Dolly, domba yang berhasil diklon oleh Ian Wilmut pada tahun 1996. Pada umumnya, topik pembicaraan tentang kloning cenderung hanya membicarakan mengenai salah satu jenis kloning, yaitu kloning reproduktif. Domba Dolly merupakan salah satu contoh dari kloning reproduktif. Sebenarnya terdapat dua jenis kloning, yaitu kloning reproduktif dan kloning terapeutik. Kedua jenis kloning ini merupakan penerapan dari aplikasi teknologi Somatic Cell Nuclear Transfer atau SCNT. Saat ini, berbagai penelitian yang bertemakan kloning terus berjalan di tengah maraknya isu etika mengenai hal ini. Uflojl!TDOU Teknik SCNT berbeda dengan fertilisasi yang terjadi secara alami (Gambar 1). Pada fertilisasi alami, setelah

mengalami pembelahan meiosis, sel telur dan sel sperma memiliki materi genetik haploid (n). Terjadinya pembuahan sel telur oleh sel sperma atau fertilisasi akan menghasilkan embrio satu sel yang memiliki materi genetik 2n. Kemudian, embrio ini akan terus berkembang ke tahapan perkembangan selanjutnya menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel, 16 sel, dan seterusnya. Berbeda dengan fertilisasi alami, teknik SCNT merupakan suatu teknik rekayasa sel telur dengan cara mentransfer inti dari sel donor ke dalam sel telur yang telah dikeluarkan intinya (enucleated oocyte). Enucleated oocyte tidak memiliki materi genetik. Oleh karena itu, untuk mendapatkan embrio konstruksi yang diploid, sel telur harus direkonstruksi dengan cara mentransfer sel somatik (2n) ke dalam enucleated oocyte1. Proses enukleasi sel telur dapat dilakukan secara mekanik menggunakan teknik mikromanipulasi. Sedangkan, proses introduksi sel donor dapat dilakukan dengan teknik mikroinjeksi. Keberadaan cytochalasin B (CB) pada medium kultur bertujuan untuk menghambat sitokinesis atau pembelahan sel sehingga dapat dihasilkan klon embrio diploid2. Aplikasi dari teknologi SCNT adalah pada penelitian kloning reproduktif dan juga kloning terapeutik. Perbedaan tahapan antara fertilisasi alami, kloning reproduktif, dan kloning terapeutik dapat dilihat pada gambar 2. Pada perkembangan secara normal (A), zigot diploid terbentuk setelah

Gambar 1. Perbedaan antara fertilisasi alami dan SCNT.

72

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

terjadi fertilisasi. Kemudian, zigot akan membelah sampai terbentuk blastosit yang akan menempel pada dinding uterus sampai akhirnya berakhir pada proses melahirkan. Pada kloning reproduktif (B), sel donor yang berupa sel somatik (2n) diintroduksikan ke enucleated oocyte. Keberhasilan proses aktivasi embrio konstruksi secara kimiawi atau mekanik mengakibatkan terjadinya proses pembelahan sampai ke tahap blastosit. Kemudian, embrio ”dititipkan” ke surrogate mother untuk dilahirkan secara normal. Sedangkan, pada kloning terapeutik (C), setelah embrio mencapai tahapan blastosit, embrio dikultur secara in vitro untuk didiferensiasikan menjadi berbagai jenis sel untuk kegunaan terapeutik. Lmpojoh!sfqspevlujg Kloning reproduktif mengandung arti suatu teknologi yang digunakan untuk menghasilkan individu (hewan) baru. Genetika hewan klon tidak seluruhnya memiliki kesamaan dengan sang induk1. Dengan menggunakan teknik SCNT, persamaan genetika hewan klon dengan induknya hanya terletak pada inti DNA donor yang berada di kromosom. Hewan klon juga memiliki material genetik lainnya yang berasal dari DNA mitokondria di sitoplasma1. Teknologi kloning reproduktif dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kepunahan hewan-hewan langka ataupun hewan-hewan sulit dikembangbiakkan. Namun, laju keberhasilan teknologi ini sangatlah rendah. Domba Dolly merupakan satu-satunya klon yang berhasil lahir setelah dilakukan 276 kali percobaan (3)4,5. Semasa hidupnya, Dolly mengalami kanker paru-paru dan artritis, dan kemudian meninggal pada usia 6 tahun. Padahal, usia rata-rata domba pada umumnya mencapai 11-12 tahun6.
Gambar 3. Domba Dolly, hewan mamalia pertama yang berhasil diklon oleh Ian Wilmut pada tahun 1996. Dolly meninggal dengan cara disuntik mati (lethal injection) pada tanggal 14 februari 2003. Sebelum kematiannya, Dolly menderita akibat kanker paru-paru dan 6 artritis yang dialaminya

mbar 2. Perbedaan antara fertilisasi alami, 3 kloning reproduktif, dan kloning terapeutik .

tif adalah biaya dan efisiensinya. Penelitian dalam kloning reproduktif membutuhkan biaya yang sangat tinggi dan tingkat kegagalannya tinggi. Di samping tingkat keberhasilan yang rendah, hewan klon cenderung mengalami masalah defisiensi sistem imun serta sangat rentan terhadap infeksi, pertumbuhan tumor, dan kelainan-kelainan lainnya. Penyebab timbulnya berbagai masalah di atas adalah adanya kesalahan saat pemrograman material genetik (reprogramming) dari sel donor8. Kesalahan pengkopian DNA dari sel donor atau yang lebih dikenal dengan sebutan genomic imprinting akan mengakibatkan terjadinya perkembangan embrio yang abnormal. Berbagai contoh abnormalitas yang terjadi pada klon mencit adalah obesitas9, pembesaran plasenta (placentomegally)10, kematian pada usia dini11. Parameter yang dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan dalam SCNT adalah kemampuan sitoplasma pada sel telur untuk mereprogram inti dari sel donor dan juga kemampuan sitoplasma untuk mencegah terjadinya perubahan-perubahan secara epigenetik selama dalam perkembangannya12. Dari semua penelitian yang telah dipublikasikan, tercatat hanya sebagian kecil saja dari embrio hasil rekonstruksi (menggunakan sel somatik dewasa atau fetal) yang berkembang menjadi individu muda yang sehat, dan umumnya laju keberhasilannya kurang dari 4%12. Lmpojoh!ufsbqfvujl!ebo!tfm!qvodb Kloning terapeutik dengan menggunakan teknologi
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

Sampai saat ini, hewan klon yang berhasil diproduksi jumlahnya cukup banyak, di antaranya adalah domba, sapi, kambing, kelinci, kucing, dan mencit1,7. Sementara itu, tingkat keberhasilan kloning masih rendah pada hewan anjing, ayam, kuda, dan primata1,7. Masalah yang kerap kali timbul dalam kloning reproduk-

73

(dalam hal ini adalah SCNT merupakan pasien itu sendiri). bagian dari terapi Hal itu mengakibatsel punca yang berkan tidak akan adatujuan untuk mengnya reaksi penolakan hindari adanya terhadap sistem reaksi penolakan imun pasien apabila terhadap sistem dilakukan transplanimun pasien pada tasi. Secara teoritis, saat dilakukan terateknik SCNT memipi. Dalam beberapa liki potensi besar dekade terakhir, midalam dunia kesenat terhadap penelihatan karena dapat tian sel punca terus dipergunakan untuk meningkat tajam. transplantasi berbaSel punca memiliki gai organ dan jaripotensi yang sangat ngan pada manusia. menjanjikan untuk terapi berbagai peSecara singkat tahanyakit sehingga mepan untuk melakunimbulkan harapan kan kloning terapeubaru untuk mengotik pada manusia batinya. Sampai saat (Gambar 4) adalah ini, ada 3 golongan mengambil biopsi penyakit yang dapat sel somatik dari diatasi dengan peng13 16 tubuh pasien dan gunaan sel punca , Gambar 4. Kloning terapeutik pada manusia . inti dari sel sodi antaranya matik tersebut adalah: ditransfer ke 1. Penyakit audalam sel telur toimun, condonor yang telah toh penyakit dikeluarkan intilupus. nya (unfertilized 2. Penyakit enucleated oodegeneracyte)16. Sel telur tif, contoh hasil manipulasi stroke, Pardikultur sampai kinson, Al17 Gambar 5. Proses produksi sel punca embrionik . ke tahapan terzhimer. tentu dan setelah mengalami berbagai proses akan di3. Penyakit kanker, contoh leukemia. dapatkan sel punca embrionik. Sel punca embrionik ini Sel punca embrionik sangat plastis dan mudah dikemdiarahkan perkembangannya menjadi suatu jaringan bangkan menjadi berbagai macam jaringan sel, seperti atau organ tertentu yang akan dapat digunakan unneuron, kardiomiosit, osteoblast, fibroblast, dan sebagaituk transplantasi jaringan atau organ dan tidak akan nya. Oleh karena itu, sel punca embrionik dapat digumengalami rejeksi sistem imun pada pasien itu sendiri nakan untuk transplantasi jaringan yang rusak14. Selain (immunologically compatible transplant)16. itu, sel punca embrionik memiliki tingkat imunogenisitas 15 yang rendah selama belum mengalami diferensiasi . Proses produksi sel punca embrionik melalui teknik Salah satu cara untuk menghindari terjadinya graft verSCNT dapat dijelaskan secara rinci pada gambar 517. sus host disease (GVHD) adalah dengan menggunakan Dengan menggunakan bantuan mikroskop, pergesel punca embrionik dengan sel somatik yang bersumrakan sel telur ditahan dengan holding pipette. Keber dari pasien itu sendiri sehingga tidak akan ada pemudian, DNA dari sel somatik pasien (yang berada di nolakan lagi terhadap sistem imunnya15. dalam injection pipette) diintroduksikan ke dalam sel telur enucleated. Sel telur hasil manipulasi dikultur seDengan menggunakan teknologi SCNT, sel punca emcara in vitro menjadi blastosit selama 5-6 hari. Lalu, brionik yang dihasilkan akan identik dengan induknya 74
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

inner cell mass diisolasi dan dikultur di cawan petri sehingga akan berkembang menjadi sel punca embrionik yang memiliki profil imunologi yang sama dengan pasien.
Lmpojoh!ufsbqfvujl!qbeb!!nbovtjb Pada tahun 2005, Perry me-review hasil penelitian Hwang dkk yang telah berhasil menghasilkan sel punca embrionik dengan menggunakan teknik SCNT18. Pada penelitian tersebut dilaporkan bahwa Hwang dkk mentransfer inti sel somatik dari 11 donor (8 pria dan 3 wanita) yang berusia 2-56 tahun, ke dalam sel telur yang telah dibuang materi genetiknya. Donor yang dipilih memiliki kondisi-kondisi yang berpotensi dilakukannya terapi sel punca, di antaranya adalah congenital hypogammaglobulinemia, spinal cord injury, dan juvenile diabetes. Produksi sel punca embrionik hanya berhasil dicapai dengan menggunakan sel somatik yang be-rasal dari 9 donor. Akan tetapi, ketika dilakukan analisis independen terhadap data tersebut, telah diketahui bahwa ternyata sel punca embrionik yang dihasilkan bukan merupakan sebuah hasil kloning sel punca embrionik manusia melainkan dihasilkan akibat terjadinya partenogenesis19. Sejak saat itu, belum ada lagi peneliti yang melaporkan keberhasilan produksi sel punca embrionik manusia. Fujlb!ebmbn!lmpojoh Dalam penelitian sel punca, perlu diperhatikan juga masalah etika yang timbul dan juga keterkaitannya dengan hukum yang berlaku di negara bersangkutan. Menurut sumbernya, sel punca dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis, yaitu adult stem cells, sel punca yang berasal dari aborted fetus, dan sel punca dari preimplanted embryo. Pada proses assisted reproduction dengan cara in vitro fertilization (IVF), embrio dihasilkan dengan cara pembuahan yang dilakukan di dalam laboratorium (in vitro). Kemudian, 1-2 embrio yang dihasilkan akan ditransfer ke dalam uterus. Namun, seringkali embrio yang telah dihasilkan tidak ditransfer ke dalam uterus sehingga seseorang yang memiliki “kelebihan” embrio tersebut dihadapkan pada 3 pilihan, yaitu menyumbangkan embrio ke pasangan infertil, menyumbangkannya untuk kegiatan penelitian, atau mendestruksi embrio itu sendiri20. Berbagai batasan-batasan dalam penggunaan embrio untuk kegiatan penelitian

adalah bahwa wanita tidak seharusnya mengalami siklus ovulasi tambahan untuk mendapatkan embrio, juga diharuskan adanya batasan yang jelas antara wanita yang mengikuti program IVF dan wanita yang memang secara sukarela menyumbangkan sel telurnya untuk kepentingan penelitian SCNT21. Pada umumnya, sel telur yang diisolasi diperoleh melalui proses stimulasi pertumbuhan folikel-folikel dalam ovarium. Proses ini meliputi proses injeksi hormon penstimulasi secara subkutan setiap hari selama 7-10 hari21. Penentuan lokasi sel telur yang akan dikumpulkan diperoleh dengan panduan alat USG transvaginal dan sel telur akan diisolasi melalui proses aspirasi sel telur dengan menggunakan jarum (Gambar 6). Nfmbohlbi!nfovkv!lmpojoh!ufsbqfvujl Pada tahun 2007, Reuters melaporkan bahwa Alan Trouson dari Stem Cell Research Monash University berhasil memproduksi 2 grup sel punca embrionik dari embrio monyet. Sementara itu, Shoukhrat Mitalipov dari Oregon National Primate Research Centre di U.S juga berhasil memproduksi sel punca embrionik yang dilaku-

Gambar 6. Proses pengambilan sel telur donor dengan menggunakan panduan USG 21 dan jarum aspirasi secaratransvaginal .

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

75

kan dengan menggunakan teknik SCNT. Beliau menggunakan sel kulit sebagai donor sel somatik yang berasal dari monyet resus jantan yang berumur 10 tahun, lalu ditransfer ke sel telur yang telah dienukleasi. Mitalipov juga telah berhasil mendiferensiasikan sel punca embrionik tersebut menjadi sel jantung dan neuron22. Penemuan ini menunjukkan bahwa teknologi kloning terapeutik sudah sangat memungkinkan untuk dapat diaplikasikan kepada manusia. Keberhasilan Mitalipov membuat para ilmuwan semakin dekat kepada produksi sel punca embrionik manusia dengan menggunakan teknik SCNT sehingga mengurangi risiko terjadinya penolakan imun pada terapi sel punca. Para ilmuwan berharap bahwa nantinya kloning terapeutik (menggunakan sel punca embrionik manusia) akan dapat diaplikasikan ke berbagai penyakit, seperti sclerosis, cardiac illnesses, spinal damage, dan sebagainya.
Ebgubs!Qvtublb 1. U.S Department of Energy Office of Science. Cloning fact sheet. Human Genome Project Information. http://www.ornl.gov/hgmis 2. Kishigami S, Wakayama S, Thuan NV dkk. Production of cloned mice by somatic cell nuclear transfer. Nat Protoc. 2006;1(1):125-38. 3. Fischbach GD, Fischbach RL. Stem cells: science, policy, ethics. J Clin Invest. 2004;114(10):1364-70 4. Campbell KHS, McWhir J, Ritchie WA, Wilmut I. Sheep cloned by nuclear transfer from a cultured cell line. Nature.1996;380:64-6.

5. 6. 7. 8. 9. 10.

11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22.

Wilmut I. Dolly’s false legacy. Time.1999;153(1):74, 76-77. Wilmut I. Dolly ~ her life and legacy. Cloning Stem Cells. 2003;5(2):99-100 Mullins LJ, Wilmut I, Mullins JJ. Nuclear transfer in rodents. J Physiol. 2004; 554(1):4-12. Solter D. Imprinting. Int J Dev Biol. 1998;42(7):951-4. Tamashiro KLK, Wakayama T, Akutsu H dkk. Cloned mice have an obese phenotype not transmitted to their offspring. Nat Med. 2002;8:262-7. Tanaka S, Oda M, Toyoshima Y dkk. Placentomegaly in cloned mouse concepti caused by expansion of the spongiotrophoblast layer. Biol Reprod. 2001;65(6):1813-21. Ogonuki N, Inoue K, Yamamoto Y dkk. Early death of mice cloned from somatic cells. Nat Genet. 2002;30(3):253-4. Wilmut I, Beaujean N, de Sousa PA dkk Somatic cell nuclear transfer. Nature. 2002;419:583-6. Virgi S. Dasar-dasar stem cell dan potensi aplikasinya dalam ilmu kedokteran. Cermin Dunia Kedokt. 2006;153:21-25. Setiawan B. Aplikasi terapeutik sel punca embrionik pada berbagai penyakit degeneratif. Cermin Dunia Kedokt.2006;153:5-8. Hoffman LM, Carpenter MK. Characterization and culture of human embryonic stem cells. Nat Biotechnol. 2005;23(6):699-708 Lanza RP, Cibelli JB, West MD. Human therapeutic cloning. Nat Med. 1999;5(9):975-7. Mollard R. Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT) or therapeutic cloning. ISSCR. http://www.isscr.org/public/therapeutic_cloning.pdf Perry A. Progress in human somatic cell nuclear transfer. N Engl J Med. 2005; 353(1):87-8. Snyder EY, Loring JF. Beyond fraud – stem cell research continues. N Engl J Med. 2006;354(4):322-4. Byrne JA, Gurdon JB. Commentary on human cloning. Differentiation. 2002;69(4-5):154-7. Steinbrook R. Egg donation and human embryonic stem cell research. N Engl J Med. 2006;354(4):324-6. Taylor R. Scientists move closer to human therapeutic cloning. Reuters. http://www.sciam.com

76

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

Hasil Penelitian

Histofisiologi Sel Endotel dan Sel Progenitor Endotel dalam Sirkulasi Darah
Spooz!Lbsvoefoh
Bagian Anatomi-Histologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado

BCTUSBL Sel mononuklear yang tidak tergolong sel darah pada sirkulasi darah tepi ternyata berperan pada keseha-tan sistem kardiovaskuler. Peningkatan sel endotel pada sirkulasi darah tepi menunjukkan kejadian inflamasi pembuluh darah, sebaliknya peningkatan sel progenitor endotel dalam sirkulasi darah tepi menunjukkan sifat proteksi terhadap pembuluh darah dan memperbaiki jaringan iskemik dengan reendotelialisasi dan neovaskularisasi. Perlu upaya peningkatan sel progenitor endotel untuk mempertahankan kesehatan sistem kardiovaskuler.

Kata kunci. Sel endotel, sel progenitor endotel, kesehatan kardiovaskuler.
QFOEBIVMVBO Dengan mikroskop cahaya dan pulasan rutin darah tepi biasanya dapat dilakukan diferensiasi berbagai jenis sel lekosit, eritrosit dan trombosit. Dengan teknik imunohistokimia ternyata di darah tepi juga dijumpai sel-sel bukan termasuk sel-sel darah, yaitu sel endotel dan sel progenitor endotel, yang terlihat sebagai sel mononuklear biasa de-ngan mikroskop cahaya bia-sa1,2. Hal ini dapat dimengerti sebab histogenesis awal perkembangan sistem kardiovaskuler (vaskulogenesis) dan hemopoietik dimulai berupa pembuluh darah primitif di daerah mesoderm chorionic yolk sac pada hari ke dua puluh setelah fertilisasi, diikuti dengan terbentuknya sistem sirkulasi primitif pada embrio yang sedang berkembang. Jadi terdapat sumber sel induk yang sama antara komponen seluler sistem kardiovaskuler dan komponen seluler sistem hemopoietik.3,4,5 Timbul pertanyaan apakah terdapat hubungan antara sel endotel dan sel progenitor endotel dalam sirkulasi dengan keadaan sistem kardiovaskuler itu sendiri. Dalam makalah ini akan dibahas histofisiologi sel endotel dan sel progenitor endotel dalam sirkulasi. FOEPUFM Endotel yang menyusun lapisan monolayer permukaan adluminal sistem kardiovaskuler sebelum tahun 1960 dianggap hanya berfungsi sebagai lapisan sawar sederhana antara lumen pembuluh darah de-ngan jaringan sekitarnya, sesuai dengan gambaran histologis yang hanya memiliki sangat sedikit struktur organela. Penelitian-penelitian kemudian menunjukkan endotel memiliki fungsi yang sangat kompleks dalam mengendalikan keseimbangan hemostasis sistem kardiovaskuler, de-ngan menghasilkan berbagai bahan vasoaktif yang tidak disimpan dalam sel tapi langsung dilepaskan ke dalam darah atau sel/jaringan sekitarnya.3,5,6 Tjgbu.tjgbu!vnvn!tfm!foepufm Histogenesis sistem kardiovaskuler pada embrio dimulai di daerah vaskulosa, permukaan yolk sac yang berasal dari mesenkimal, dinamai sel angioblas atau hemangioblas. Sel angioblas mengawali pembentukan kapiler primitif, dinamakan vaskulogenesis.1,5,7 Sel angioblas berkemampuan berkembang menjadi sel endotel dan sel-sel hemopoietik.6 Sel angioblas yang menjadi endotel kemudian membentuk jala-jala kapiler dan jantung sejak masa-masa awal perkembangan embrio; pada hari ke 32 setelah konsepsi denyut jantung telah terdeteksi dengan ekokardiografi.8 Pada tahun 1960 endotel berhasil dibiakkan dan dengan kemajuan biomolekuler, terbukti endotel berperan sangat kompleks dalam mengatur hemodinamik sistem kardiovaskuler.6 Sel endotel berbentuk poligonal, lebar 10-15 mμ, panjang 25-50 mμ dengan sumbu panjang mengikuti aliran darah. Luas permukaan seluruh endotel manusia bila direntangkan sekitar 150 m2 pada bayi dan dapat mencapai 1000 m2 pada usia dewasa dengan jumlah sel sekitar 6 x 1013 dan berat kira-kira 1,5 kilogram atau setara dengan berat hepar.8 Tahun 1964, dengan mikroskop elektron ditemukan batang-batang kecil dalam sitoplasma sel endotel oleh Weibel dan Palade, berpenampang 0,1 mμ dan panjang sampai 3 mμ, dinamai badan Weibel Palade. Badan Weibel Palade ini mengandung faktor Von Willebrand (faktor VIII) suatu glikoprotein yang disintesis oleh sel endotel dan disimpan di badan Weibel Palade arteri (satu-satunya bahan yang disimpan dalam sel endotel). Faktor VIII ini disekresikan ke dalam darah dan berfungsi untuk agregasi trombosit. Faktor Von Willebrand ini dapat dideteksi dengan teknik imnohistokimia, sekarang digunakan sebagai marker sel endotel dewasa .2,5,9,10,11
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

77

Sel endotel normal masa hidupnya mencapai 30 tahun, dalam sediaan histologik sangat jarang terlihat sel endotel dalam keadaan berproliferasi, hanya sekitar satu dari 10.000 atau 0.01%.5,9,12 Gvohtj!tfm!foepufm Endotel normal memiliki beberapa fungsi utama: 1. Garis pertahanan (sawar) terhadap hampir semua elemen asing yang mencoba masuk ke dalam organ; 2. Tempat metabolisme, katabolisme senyawasenyawa tertentu, seperti Angiotensin Converitng Enszym (ACE), 3. Tempat sintesis berbagai senyawa vasoaktif, seperti: Endothelium Derived Relaxation Factor (EDRF), prostasiklin dan Endothelium Derived Hyperpolarising Factor (EDHF) bekerja sebagai vasodilator dan antiagregasi trombosit, dan endotelin sebagai senyawa vasokonstriktor; 4. Sebagai organ imunokompeten yang mensintesis berbagai mediator inflamasi, mediator proliferasi sel-sel subendotel dan sebagai membran tromboresisten yang menghasilkan berbagai faktor hemostatis.3,6,8,13 Penelitian selanjutnya mendapatkan EDRF adalah gas nitrik oksida (NO), berperan sentral dalam mengatur hemostatis vaskuler, seperti: menghambat agregasi trombosit, menghambat adhesi lekosit dan mempunyai efek antimitogenik.3,13 Ejtgvohtj!!foepufm Istilah disfungsi endotel kini banyak digunakan untuk menyatakan adanya gangguan pada kemampuan res-pons vasodilatasi terhadap asetilkolin, istilah ini bersifat sangat umum dan tidak spesifik menggambarkan kelainan dasar endotel itu sendiri. Disfungsi endotel disebabkan oleh menurunnya produksi NO atau penurunan aktivitas NO meskipun produksinya normal karena dipengaruhi oleh superoksida. Disfungsi endotel menyebabkan berkurangnya daya pengendalian hemostatis vaskuler dari endotel sehingga dapat menyebabkan kelainan degeneratif pembuluh darah terutama aterosklerosis.13 Roos dan Glomest (1976) pertama kali mempublikasikan bahwa ateroma akan terbentuk di daerah endotel yang dibuat cedera oleh balon kateter ; sehingga timbul teori cedera endotel.29 Ross selanjutnya menyatakan bahwa aterosklerosis adalah penyakit inflamasi yang menurunkan produksi dan aktivitas NO; keadaan ini kemudian dikenal sebagai disfungsi endotel.14,15,16 Berbagai keadaan dapat menyebabkan terjadi disfungsi endotel. Studi Framingham menyimpulkan berbagai faktor risiko yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler. Faktor-faktor risiko Framigham baik faktor kovensional (faktor risiko mayor) maupun fak78
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

tor risiko nonkonvensional dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi endotel, kemudian memicu perkembangan aterosklerosis.17,18,19 Tfm! foepufm! cfstjslvmbtj! )Djsdvmbujoh! Foepuifmjbm! Dfmmt<!dFD* Kira-kira tiga puluh tahun lalu para ahli telah mengetahui sel-sel mononuklear yang bersirkulasi bukan hanya limfosit dan monosit saja, tapi masih terdapat beberapa jenis sel lain, salah satunya adalah sel endotel.2 Sel endotel yang berdeskuamasi dari endotelium, masuk ke dalam sistem sirkulasi perifer dan dapat dideteksi melalui ekspresi faktor von Willebrand (vWf) dan CD 146.2 Normal dapat sekitar 0,5-2 buah sel/ml darah, dapat meningkat 10 kali lipat atau lebih pada penyakit kardiovaskuler, penyakit jaringan ikat, penyakit infeksi dan hematologik. Meningkatnya cEC merupa-kan suatu petanda adanya gangguan atau kerusakan vaskuler, sebab itu juga dinamakan Circulating Inflammatory Endothelial Cells (IEC).20 Peningkatan cEC akan mengekspresi molekul Vascular Adhesion Protein-1 (VAP-1), MHC class I-related chain A (MICA), inducible nitric oxide synthase (i-NOS) dan neutrophil-activating chemokin, yang biasanya akan meningkat pada penyakit vaskuler. Jumlah cEC berkorelasi positip dengan CRP pada keadaan-keadaan inflamasi. Meningkatnya cEC yang berhubungan dengan penyakit-penyakit inflamasi serta peningkatan CRP, berhubungan dengan disfungsi endotel.21 Peningkatan cEC menandai ada-nya kerusakan endotel oleh beberapa proses penyakit, seperti: sitotoksik pada transplantasi, hipertensi pulmonal, septik sjok, hemodialisis, inflamasi vaskulitis, diabetes, penyakit ginjal dan akut miokard infark.2,22,23 Masih belum jelas apakah deskuamasi endotel akan menyebabkan hipertensi dan vasospasme atau meningkatkan trombosis.2 Dari beberapa penelitian hitung cEC dapat merupakan cermin beberapa penyakit vaskuler dan disfungsi endotel. Hitung endotel ini mungkin dapat dikembangkan sebagai suatu marker baru dalam memprediksi beberapa jenis penyakit kardiovaskuler. Tfm!Qsphfojups!Foepufm Sudah menjadi perdebatan sejak beberapa waktu lalu apakah sel-sel turunan hematopoietik, sekarang dikenal sebagai sel progenitor endotel (SPE) berperan pada proses angiogenesis postnatal, terutama pada perkembangan tumor.12 Vaskulogenesis postnatal ini baru mulai terungkap pada beberapa tahun terakhir ini. TFKBSBI!QFOFNVBO!TQF Pada tahun 1977 Asahara dkk berhasil mengisolasi populasi sel mononuklear dari darah perifer yang memi-

liki antigen permukaan CD34+ dan berpotensi berkembang menjadi sel endotel.1 Tidak lama setelah Asahara, Shi dkk membuktikan bahwa sel mononuklear yang memiliki antigen permukaan CD34+ tersebut merupakan derivat dari sel hemositoblas sumsum tulang, yang in vitro akan berdiferensiasi menjadi sel endotel pada koloni aorta yang diberi implant Dacron.24 Npsgpmphj!TQF Sejak penemuan di atas, sel mononuklear darah tepi yang memiliki antigen permukaan CD34, diyakini berasal dari sumsum tulang, sebab hemangioblas juga memilki antigen permukaan CD34, CD133 dan CD45.1,25 Beberapa waktu kemudian berhasil diidentifikasi 3 marker spesifik pada permulaan perkembangan SPE, yaitu: CD133 (AC133), CD 34 dan Vascular Endothelial Growth Factor Receptor-2 (VEGFR-2), juga dinamakan kinase insert domain receptor (KDR) atau Flk-1.26 Sel ini terutama masih terdapat dalam sumsum tulang kemudian akan masuk ke dalam sirkulasi perifer; CD133 mulai akan menghilang tapi CD34 dan VEGFR-2 masih tetap ada. Perkembangan selanjutnya menjadi sel endotel CD34 sudah menghilang tinggal VEGFR-2 dan mulai terekspresi VE-cadherin dan faktor von Willebrand saja.27 CD133 sudah tidak terdeteksi pada permukaan sel endotel vena umbilikalis manusia.28 Histologis sel CD34+ asal kultur terlihat sebagai sel kecil bulat dan menjadi lebih besar dengan sitoplasma lebih banyak setelah hari ke dua. Proliferasi sudah mulai terlihat pada hari ke tiga. Sel-sel tersebut akan melekat pada media yang diberi fibronektin. Setelah melekat pada media fibronektin morfologiknya dapat dari bulat kecil, bulat besar atau berbentuk spindel.29 Sel-sel SPE berbentuk spindel ini banyak menyusun daerah neovaskularisasi tumor.30 Sejak mobilisasi sel progenitor dari sumsum tulang masuk sirkulasi, terjadi pematangan sel-sel tersebut secara bertahap. Mula-mula sel progenitor tersebut memiliki CD133, masuk sirkulasi mulai muncul CD34 dan CD133 mulai menghilang, diikuti dengan munculnya marker-marker VEGFR-2, VE-cadherin dan faktor von Willebrand.1,30,31,32 Penelitian Friedrich dkk atas ateroektomi koronaria manusia menunjukkan SPE subpopulasi CD34-/133+ lebih banyak pada plak yang stabil dibandingkan dengan subpopulasi CD34+/133+. Pada tikus percobaan dengan penyuntikan sel SPE subpopulasi CD34-/133+ ternyata lebih banyak sel endotel yang tertransplantasi pada arteri karotis dibandingkan dengan subpopulasi CD34+/133+. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SPE subpopulasi CD34-/133+ atau yang lebih muda, lebih poten terhadap regenerasi vaskuler.31

Qfsbo!TQF!qbeb!sffoepufmjbmjtbtj!ebo!ofpwbtlvmbsjtbtj Reendotelialisasi (regenerasi endotel) dan neovaskularisasi merupakan kunci pengobatan kualitas pembuluh darah dan memperbaiki keadaan iskemi jaringan. Sebaliknya pada tumor menghambat neovaskularisasi berakibat menghambat perkembangan tumor. Sffoepufmjbmjtbtj Penelitian saat ini menunjukkan reendotelialisasi bera-sal dari sel-sel SPE. Pada cedera endotel yang dibuat dengan implan Dacron pada anjing, beberapa saat kemudian permukaan daerah implan akan ditutupi oleh sel-sel CD34+.24,33 Permukaan ventrikel manusia yang dipasangi alat akan tertutupi oleh sel hemopoietik immatur CD133+, bersamaan dengan terekspresinya reseptor VEGF-2.34 Walter dkk memperlihatkan SPE dapat homing ke bagian endotel yang dicederai dengan balon kateter.50 Transplantasi sel-sel turunan sumsum tulang dapat menyebabkan reendotelialisasi pada endotel yang dibuat cedera.35,36 Regenerasi endotel dapat mengurangi restenosis dan penipisan miointimal dinding arteri secara bermakna, karena endotel tersebut telah dapat mensintesis kembali bahan antiproliferasi terutama nitrik oksida (NO).25 Hasil penelitian di atas menunjukkan SPE dapat memperbaiki integritas endotel yang monolayer dengan menempati bagian-bagian endotel yang cedera atau disfungsionil. Ofpwbtlvmbsjtbtj Neovaskularisasi merupakan langkah penting dalam menyelamatkan jaringan iskemi, sebaliknya neovaskularisasi akan mempercepat pertumbuhan tumor. Infus sel-sel yang diambil dari sumsum tulang atau sel-sel sumsum tulang yang dibiak ex vivo akan meningkatkan densitas kapiler dan neovaskularisasi di jaringan iskemik.25 Pada model miokard infark binatang percobaan, infus SPE atau stem sel sumsum tulang, memajukan vaskularisasi darah dan fungsi jantung serta mengurangi pembentukan jaringan ikat ventrikel kiri secara bermakna.37,38 Pemberian sel CD34, CD133, SPE, MAPC (mesenchymal stem cell) memberi efek neovaskularisasi sama baik, tapi bila digunakan sel-sel SPE atau sel progenitor berbentuk spindel yang lebih matur efek neovaskularisasinya lebih rendah.25 Aktivitas sel progenitor dalam meningkatkan neovaskularisasi tergantung dari jenis sel yang digunakan.25 Jumlah SPE yang bersirkulasi akan menentukan daya reendotelialisasi dan neovaskularisasi; peningkatan SPE akan menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler iskemik atau berkorelasi negatif dengan skor faktor risiko penyakit kardiovaskuler dari Framingham.39 Peningkatan
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

79

SPE dalam sirkulasi tergantung dari daya mobilisasi sel stem sumsum tulang masuk ke sirkulasi darah. Rendotelialisasi dan neovaskularisasi tergantung pada mobilisasi, homing, diferensiasi, adhesi, migrasi transendotel, kemotaksis, migrasi dan invasi SPE.25,37,40,41 Peningkatan SPE dalam sirkulasi penting karena berkorelasi positif dengan reendotelialisasi dan neovaskularisasi, yang berhubungan erat dengan kesehatan kardiovaskuler. Penelitian menunjukkan beberapa faktor pertumbuhan/sitokin, bahan farmakologis dan latihan fisik dapat meningkatkan cEPCs.25

pemberian SDF, GM-CSF atau kombinasi keduanya ternyata akan meningkatkan SPE, neovaskularisasi, memperbaiki geometri dan kontraktilitas jantung yang telah mengalami kardiomiopati iskemik.43,48,49 Penderita penyakit obstruksi arteri perifer ternyata memiliki daya angiogenik yang rendah disebabkan menurunnya ekspresi molekul spesifik SPE dalam sumsum tulang dan darah. Transplantasi sel mononuklear sumsum tulang akan meningkatkan SPE dan kemajuan gejala iskemik tungkai.50 Penelitian Werner dkk dari Maret 2003 - Januari 2004 terhadap 519 penderita penyakit jantung koroner yang semua-nya dibuktikan angiografi koroner. Mereka diobservasi selama 12 bulan untuk melihat hubungan antara SPE dengan kejadian penyakit jantung koroner. Ternyata di kalangan penderita dengan kadar SPE yang lebih tinggi, angka kematian akibat penyakit kardiovaskuler, kejadian penyakit kardiovaskuler berat, revaskularisasi dan hospitalisasi lebih rendah. Tetapi kadar SPE sendiri tidak dapat memprediksi terjadinya miokard infark atau kematian akibat penyakit kardiovaskuler.51 Penderita penyakit jantung koroner memiliki SPE lebih rendah dibandingkan dengan kontrol sehat dan akan berespon terhadap sitokin G-CSF dalam meningkatkan SPE dan ekspresi homing reseptor yang dapat meningkatkan neovaskularisasi.42 QFOVUVQ Di darah tepi terdapat sel-sel mononuklear bukan sel darah, sel endotel berasal dari endotel pembuluh darah dan sel progenitor endotel berasal dari sumsum tulang. Pada penyakit-penyakit tertentu, seperti penyakit kardiovaskuler, penyakit jaringan ikat, penyakit infeksi dan hematologik akan lebih banyak sel endotel yang terlepas. Makin tinggi sel progenitor endotel di dalam sirkulasi makin protektif terhadap pembuluh darah terutama untuk reendotelialisasi dan neovaskularisasi jaringan iskemik. Diharapkan jumlah sel endotel dan sel progenitor dapat digunakan sebagai indikator penyakit kardiovaskuler di kemudian hari.
EBGUBS!QVTUBLB 1. Asahara T, Murohara T, Sullivan A, Silver M, Zee R, Tong L, Witzenbichler B, Schatlemen G, Isner JM . Isolation of putative progenitor endothelial cells for angiogenesis. Science 1997;275:964-7. 2. Blann AD, Pretorius A. Circulating Endothelial Cells and Endothelial Progenitor Cells: Two side of the same coin, or two different coin?. www.elsevier/locate/atherosclerosis, Elsevier Ireland Ltd., 2006: Down load 25 April 2006. 3. Karundeng R. Angiologi morfofungsional sistem vaskuler. Manado. FK Unsrat 1995. p.66-116. 4. Risau W. Mechanisms of angiogenesis. Nature 1997; 386:671-4 5. Fawcett DW. Bloom, Fawcett A Textbook of Histology 12th ed, New

Granulocyte Colony-Stimulating Factor (G-CSF) dapat meningkatkan jumlah SPE dan homing receptors sel endotel penderita penyakit jantung koroner.42 Percobaan binatang menunjukkan Granulocyte-Monocyte Colony-Stimulating Factor (GM-CSF) dan Stromal cellDerived Factor (SDF) intramiokardial akan memobilisasi SPE dan neovaskularisasi daerah iskemik jantung sehingga terjadi remodelling ventrikel kiri dan kemajuan fungsi kontraksi miokardium.43
Eritropoietin (Epo) dapat merangsang proliferasi sel stem hematopoietik dan meningkatkan jumlah SPE pada penelitian-penelitian in-vivo. Pemberian Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) juga akan meningkatkan cEPCs sebanyak 2,1 kali.44 Bahan-bahan farmakologis seperti: HMG-CoA reduktase (statin), estrogen dan rosiglitasone meningkatkan SPE. Latihan fisik teratur juga dapat meningkatkan SPE dalam sirkulasi.25 LFNVOHLJOBO!BQMJLBTJ!LMJOJL!FQDt! Beberapa penelitian mulai dilakukan untuk menjajaki penggunaan SPE dalam klinik meskipun dasar biomolekuler SPE belum dipahami secara menyeluruh, beberapa penelitian menunjukkan hasil menjanjikan. Penelitian terutama dilakukan pada binatang percobaan. Pada tikus percobaan, arteri karotis dibuat cedera, kemudian ke dalam lumen arteri tersebut ditransplantasi SPE dari kultur; terjadi reendotelialisasi yang cepat disertai peningkatan fungsi endotel dan dapat mencegah perkembangan ateroma di daerah tersebut.45,46 Pada percobaan pengikatan arteri koronaria desending anterior sinistra jantung tikus, kemudian diberi SPE (CD34+) intramiokardial melalui kateter; terjadi peningkatan neovaskularisasi pada miokardial yang iskemik.47 Pada tikus-tikus yang jantungnya dibuat iskemik dengan mengikat arteri coronaria desending anterior sinistra, 80
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

York: Chapman & Hall 1994; p 133. Vane JR, Anggard EE, Botting RM. Regulatory function of the Vascular Endothelium. N Engl J Med. 1990; 233: 27-30. 7. Folkman J. Shing Y. Angiogenesis. J Biol Chem 1992; 267: 10931-4 8. Camilleri JP. The Normal Arterial Wall in Hypertension and Arterial Aging. Monograf. Les Laboratories Servier 1989. 9. Junquiere LC, Carneiro J. Basic Hstology 7th ed. New Jersey, Lange Med. Publ., Los Angeles California 1989:95 (57) 10. Leeson TS, Leeson CR, Paparo AA. The Circulatory System in Text/Atlas of Histology. Philadelphia, WB. Saunders; 1988: 309-330 (58) 11. Barber CL, Iruela-Arispe ML. The Ever-Elusive Endothelial Progenitor Cell: Identities, Function and Clinical Implication. Pediatr 2006; res 59: 26R-32R. (60) 12. Fenton RG, Longo DL. Cancer cell biology and angiogenesis. In: Kasper DI, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL (eds). Harrison Principles of Internal Medicine 16th ed. Vol I, New York McGraw-Hill 2005. p.453-64. 13. Baraas F. Stres oksidatif, disfungsi endotel dan faktor resiko aterosklerosis : dimana letak hubungannya?. Penyakit kardiovaskular dari pediatrik sampai geriatrik. Kaligis RWM, Kalim H, Yusak M, Ratnaningsih E, Soesanto A. (Eds). Balai Penerbit RS Jantung Harapan Kita 2001;167-77. 14. Roos R. The pathogenesis of atherosclerosis : an update. N Engl J Med 1986;314:488-98. 15. Roos R. Atherosclerosis-an inflammatory disease. N Engl J Med 1999;340:115-26. 16. Wijaya A. Disfungsi endotil aterosklerosis dan trombosis. Forum Diagnosticum Prodia 1988;1:1-23. 17. Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, Cushman WC, Green LA, Izzo JL, Jones DW, Materson BJ, Oparil S, Wright JT, Roccella EJ. the National High Blood Pressure Education Program Coordinating Commitee. The Seventh Report of the Joint National Committee on prevention, detection, evaluation, and treatment of high blood pressure. JAMA 2003;289:2534-2573. 18. Libby P. Prevention and Treatment of Atherosclerosis. Kasper DI, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL(eds). In Harrison Principles of Internal Medicine 16th ed. Vol II, New York McGraw-Hill 2005. p.1430-1433. 19. Wijaya A, Kurniasih R. High sensitivity c-reactive protein (hs-CRP) suatu petanda untuk menentukan resiko penyakit jantung koroner yang menjanjikan. Forum Diagnosticum Prodia 2001; 2:1-15. 20. Makin A, Chung NAY, Silverman SH. Assessment of endothelial damage in atherosclerotic vascular disease by quantification of circulating endothelial cells. Eur Heart J 2004; 25: 371-6. 21. Holmen C, Elsheikh E, Stenvivkel P, Qureshi AR, Petersson E, Jalkanen S, Sumitran-Holgersson S. Circulating inflammatory endothelial cells contribute to endothelial progenitor cell dysfunction in patients with vasculitis and kidney involvment. J Am Soc Nephrol 2005, 16: 3110-20. 22. Quilici J, Banzet N, Paule P. Circulating endothelial count as a diagnostic marker for non-ST elevation acute coronary syndrom. Circulation 2004; 110: 1586-91. 23. Mutunga M, Fulton B, Bullock R. Circulating endohelial cell in patient with septic shock. Am J Respir Crit Care Med 2001; 163: 195-200. 24. Shi Q, Rafii S, Wu MH, Wijelath ES, Yu S, Ishida A, Fujita Y, Khotari S, Mohle R, Sauvage LR, Moore MA, Strob RF, Hammond WP. Evidence for circulating bone marrow-derived endothelial cells. Blood 1998; 92:362-7. 25. Urbich C, Dimmeler S. Endothelial progenitor cells. Characterization and role in vascular biology. Circ Res. 2004;95:343-53 26. Peichev M, Naiyer AJ, Pereira D, Zhu Z, Lane WJ, William M, Hicklin DJ, Witte L, Moore MA, Rafii S. Expression of VEGFR-2 and AC133 by circulating human CD34+ cell identifies a population of functional endothelial precussor. Blood 2000; 95: 952-8. 27. Yin AH, Miraglia S, Zanjani ED, Almeida-Porada G, Ogawa M, Leary AG, Olweus J, Kearny J, Buck DW. AC 133, a novel marker for human hematopoietic stem progenitor cells. Blood 1997; 90: 5002-12. 28. Fan CL, Li Y, Gao PJ, Liu JJ. Zhang XJ, Zhu DL. Differentiation of endothelial progenitor cells from human umbilical cord blood CD34+ cell in vitro. Acta Pharmacol Sin 2003: 24 (3) 212-8. 29. Vajkoczy P, Blum S, Lamparter M, Mailhammer R, Erber R, Engelhardt B, Vestweber D, Hatzopoulos AK. Multistep nature of microvascular recuitment of ex vivo-expanded embryonic endothelial progenitor cells during tumor angiogenesis. T J Experiment Med 2003; 197: 1755-65. 30. Friedrich EB, Walenta K, Scharlau J, Nickenig G, Werner N. CD34-/ CD133+/VEGFR-2+ endothelial progenitor cell subpopulation with potent vasoregenerative capacities. Circulation Res. 2006; 98: 20. 31. Hristov M, Erl W, Weber P. Endothelial progenitor cells. Mobilization, differentiation and homing. Aterioscler Thromb Vasc Biol.2003;23:1185-9. 32. Aoki M, Yasutake M, Murohara T. Derivation of functional endothelial progenitor cells from human umbilical cord blood mononuclear cell iso6.

lated by a novel cell filtration device. Stem cell 2004; 22: 994-1002. 33. Quirici N, Soligo D, Caneva L, Servida F, Bollolasco P, Deliliers GL. Differentiation and expansion of endothelial cells from human bone marrow CD133+ cells. Br J Haematol 2001;115:186-194 34. Peichev M, Naiyer AJ, Pereira D, Zhu Z, Lane WJ, Williams M, Oz MC, Hicklin DJ, Witte L, Moore MA, Rafii S. Expression of VEGFR-2 and AC133 by circulating human CD34(+) cell identifies a population of functional endothelial precursor. Blood 2000;95: 952-958. 35. Walter DH, Ritting K, Bahlmann FH, Kirchmair R, Silver M, Murayama T, Nishimura H, Losordo DW, Asahara T, Isner JM. Statin therapy accelerates reendothelialization: a novel effect involving mobilization and incorporation of bone marrowderived endothelial progenitor cells. Circulation 2002;105:3017-3024. 36. Werner N, Junk S, Laufs U, Link A, Walenta K, Bohm M, Nickenig G. Intravenous transfusion of endothelial progenitr cells reduces neointima formation after vascular injury. Circ Res. 2003;93:e17-e24. 37. Ruel M, Suuronen EJ, Song J, Kapila V, Gunning D, Rubens FD, Mesana TG. Effect of off-pump versus on-pump coronary artery bypass grafting on function and viability of circulating endothelial progenitor cells. J Thorac Cardiovasc Surg 2005;130:633-639. 38. Kawamoto A, Gwon HC, Iwaguro H, Yamaguchi JI, Uchida S, Masuda H, Silver M. Endothelial progenitor cell for myocardial ischaemia. Circulation 2001; 103:634-637. 39. Hill JM, Zalos G, Halcox JP, Schenke WH, Waclawiw MA, Quyyumi AA, Finkel T. Circulating endothelial progenitor cell, vascular function, and cardiovascular risk. N Engl J Med 2003; 348: 593-600. 40. Vajkoczy P, Blum S, Lamparter M, Mailhammer R, Erber R, Engelhardt B, Vestweber D, Hatzopoulos AK. Multistep nature of microvascular recruitment of ex vivo-expanded embryonic endothelial progenitor cells during tumor angiogenesis. J Exp Med. 2003;197:1755-1765. 41. Carlos TM, Harlan JM. Leukocyte-endothelial adhesion molecules. Blood 1994;84:2068-2101. 42. Powell TM, Paul JD, Hill JM, Thompson M, Benjamin M, Rodrigo M, McCoy P, Read EJ, Khuu HM, Leitman TF, Finkel T, Cannon RO. Granulocyte Colony-Stimulating Factor mobilized functional endothelial progenitor cells patient with coronary artery disease. Arterioscler Tromb Vasc Biol. 2005;25:296-301. 43. Woo YJ, Grand TJ, Berry MF, Atluri P, Moise MA, Hsu VM, Cohen J, Fisher O, Burdick J, Taylor M, Zentko S, Liao G, Smith M, Kolakowski S, Jayasankar V, Gardner T, Sweeney HL. Stromal cell-derived factor and granulocyte-monoctye colony-stimulating factor form a combined neovasculogenic therapy for ischemic cardiomyopathy. J Thorac Cardiovasc Surg 2005;130:321-9. 44. Heeschen C, Aicher A, Lehmann R, Fichtlscherer S, Vasa M, Urbich C, Mildner-Rihm C, Martin H, Zeiher A, Dimmeler S. Erythropoietin is a potent physiologic stimulus for endothelial progenitor cell mobilization. Blood 2003;102:1340-6. 45. He T, Smith LA, Harrington S, Nath SH, Caplice NM, Katusic ZS. Transplantation of circulating endothelial progenitor cells restores endothelial function of denuded rabbit carotid arteries. Stroke 2004;35:2378-84. 46. Griese DP, Ehsan A, Melo LG, Kong D, Zhang L, Mann M, Pratt RE, Mulligan RC, Dzau VJ. Isolation and transplantation of autologous circulating endothelial cells into denuded vessels and prosthetic graft. Circulation 2003;108:2710-15. 47. Kawamoto A, Tkebuchava T, Yamaguchi J-I, Nishimura H, Uchida S, Masuo O, Iwaguro H, Ma H, Hanley A, Silver M, Losordo DW, Isner JM, Asahara T. Intramyocardial transplantation of autologous endothelial progenitor cells fot therapeutic neovascularization of myocardial ischemia. Circulation 2003;107:461. 48. Fazel S, Chen L, Weisel RD, Fazel A, Cheung P, Lam J, Fedak PWM, Yau TM, Li R-K. Cell transplantation preserves cardiac function after infraction by infarct stabilization: augmentation by stem cell factor. J Thorac Cardiovasc Surg 2005;130:1310-1318. 49. Kawamoto A, Murayama T, Kusano K, Ii M, Shintani S, Iwakura A, Johnson I, Samson P, Hanley A, Gavin M, Curry C, Silver M, Ma H, Losordo DW. Synergistic effect of bone marrow mobilization and vascular endothelial growth factor-2 gene therapy in myocardial ischemia. Circulation 2004;110:1398-1405. 50. Yamamoto K, Kondo T, Suzuki S, Izawa H, Kobayashi M, Emi N, Komori K, Naoe T, Takamatsu J, Murohara T. Molecular evaluation of endothelial progenitor cells in patients with ischemic limbs: therapeutic effect by stem cell transplantation. Arterioscler Thromb Vasc Biol 2004;24:192-196. 51. Werner N, Kosiol S, Schiegl T, Ahlers P, Walenta K, Link A, Bohm M, Nickening G. Circulating endothelial progenitor cells and cardiovascular outcomes. N Engl J Med 2005;353:999-1007.

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

81

Hasil Penelitian

Pemeriksaan Laboratorium Dalam Anti Aging Medicine
Tv{boob!Jnnbovfm
Efqbsufnfo!Qbupmphj!Lmjojl!Gblmvubt!Lfeplufsbo!Vojwfstjubt!Joepoftjb-!Kblbsub !

BCTUSBL Penuaan adalah proses fisiologis yang akan dialami oleh seluruh mahluk hidup bila berumur panjang, terjadinya berbeda dan kecepatan usia mulai proses juga berbeda. Dalam memasuki usia tua, seorang individu seringkali mengalami berbagai gejala, tanda dan keluhan. Kumpulan gejala, tanda dan keluhan tersebut umumnya disebut sindroma penuaan. Penelitian menunjukkan penyebab utama kerusakan fisik yang disebabkan penuaan adalah kemunduran hormon seiring dengan bertambahnya usia. Proses penuaan sangat bervariasi dan dapat dipercepat, diperlambat atau dibalik tergantung pada hormon yang mengatur dege-nerasi dan regenerasi tubuh di tingkat sel. Pada tahun 1990, Dr. Daniel Rudman menemukan proses penuaan dapat dicegah dengan mengintervensinya dan lahirlah anti aging medicine. Tujuan anti aging adalah mencegah penuaan dini, mencegah penyakit degeneratif seperti jantung, paru, stroke dan mencapai usia tua tetap produktif dan sehat. Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan status “panjang umur” bersandar pada tiga pilar yang penting yaitu evaluasi status hormon, penilaian risiko kardio vaskuler, dan penapisan keganasan. Untuk penilaian status “anti aging” yang diperlukan adalah pemeriksaan laboratorium untuk mengevaluasi status hormon agar dapat dideteksi apakah sudah terjadi penurunan hormon. Pada proses penuaan terjadi penurunan hormon tubuh seiring dengan bertambahnya usia. Oleh karena itu penting untuk mengukur kadar hormon sebelum melakukan terapi sulih hormon. Terapi sulih hormon hanya untuk mengganti hormon yang hilang akibat proses penuaan ke kadar normal fisiologis. Terapi sulih hormon dapat memberikan manfaat yang mengagumkan sebagai anti aging jika diberikan secara bijaksana dengan pengawasan laboratoris secara periodik untuk menjamin kadar hormon yang efektif dalam darah.

Kata Kunci : Pemeriksaan Laboratorium, Evaluasi Sistem Hormon, Anti Aging Medicine
QFOEBIVMVBO Menurut WHO saat ini setiap negara di dunia juga menghadapi peningkatan tajam populasi usia diatas 60 tahun. Perubahan ini berhubungan erat dengan perbaikan sanitasi dan eliminasi penyakit infeksi anak; peningkatan harapan hidup, kognitif serta meningkatnya ketergantungan pada orang lain.(1) Penuaan adalah proses fisiologis yang akan dialami oleh seluruh mahluk hidup, jika mahluk itu diberi kesempatan berumur panjang, terjadinya berbeda dan kecepatan usia mulai proses juga berbeda. Dalam memasuki usia tua, seorang individu seringkali mengalami berbagai gejala, tanda dan keluhan. Kumpulan gejala, tanda dan keluhan tersebut umumnya disebut dengan satu kata yaitu sindrom penuaan. Sindrom ini biasanya timbul akibat keengganan/penolakan dan/atau kekurangsiapan seorang/ individu dalam menyongsong penuaan dan dipresipitasi oleh penurunan hormon tubuh yang relatif cepat. Penelitian menunjukkan kemunduran hormon seiring bertambahnya usia merupakan penyebab utama kerusakan fisik yang disebabkan penuaan. Proses penuaan sangat bervariasi dan 82
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

dapat dipercepat, diperlambat atau dibalik tergantung pada hormon yang mengatur degenerasi dan regenerasi tubuh di tingkat sel.(1,2) Penelitian menunjukkan, penuaan sebagian besar disebabkan oleh penurunan Growth Hormone / Insulin-like Growth Factor-I (GH/ IGF-I) secara drastis dalam tubuh setelah dewasa. Hasil penelitian telah membuktikan bahwa, terapi GH/ IGF-I dapat mencegah, memperlambat bahkan membalikkan sebagian besar penyakit atau keadaan yang berhubungan dengan proses penuaan. Mereka yang mengalami sindroma penuaan umumnya ingin agar penuaan yang dialaminya saat ini bisa ditunda, dicegah, atau dikembalikan lagi seperti keadaan sebelumnya (diremajakan).(1,2,3,4) Pada tahun 1990, Dr. Daniel Rudman menemukan proses penuaan dapat dicegah dengan mengintervensinya dan lahirlah anti aging medicine. Tujuan anti aging adalah mencegah penuaan dini, mencegah penyakit degeneratif seperti jantung, paru, stroke dan mencapai usia tua tetap produktif dan sehat.(5)

Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan status “panjang umur” bersandar pada tiga pilar yang penting yaitu evaluasi status hormon, penilaian risiko kardio vaskuler, dan penapisan keganasan. Untuk penilaian status “anti aging” yang diperlukan adalah evaluasi status hormon agar dapat dideteksi apakah sudah terjadi penurunan hormon. Penelitian menunjukkan pada proses penuaan terjadi penurunan hormon tubuh seiring dengan bertambahnya usia. Oleh karena itu penting untuk mengukur kadar hormon sebelum melakukan terapi sulih hormon.(5) Terapi sulih hormon hanya untuk mengganti hormon yang hilang akibat proses penuaan ke kadar normal fisiologis. Terapi sulih hormon dapat memberikan manfaat yang mengagumkan sebagai anti aging jika diberikan secara bijaksana dengan pengawasan laboratoris secara periodik untuk menjamin kadar hormon yang efektif dalam darah.(1) IPSNPO!ZBOH!CFSQFSBO!QBEB!QFOVBBO Ipsnpo!Nfmbupojo Melatonin dihasilkan oleh kelenjar pineal; merupakan hormon yang produksinya peka (sensitif) terhadap siklus cahaya siang dan malam, berkaitan erat dengan ritme sirkadian; dan menurun secara alami sesuai pertambahan usia. Penurunan ini akan menyebabkan gangguan circadian clock (ritme harian). Selanjutnya, kulit dan rambut akan berkurang pigmentasinya. Selain itu, terjadi pula gangguan tidur. Kadar terapi melatonin untuk mengatur gangguan tidur mungkin berada dalam nilai rentang dewasa muda. Disebutkan pula bahwa melatonin mempunyai sifat antioksidan yang kuat. Kadar optimal untuk efek antioksidannya belum diketahui dengan pasti.(2,5,6,7) Ipsnpo!Qfsuvncvibo!)Hspxui!Ipsnpof0HI*!ebo! Jotvmjo.Mjlf!Hspxui!Gbdups!J!)JHG.J* Hormon pertumbuhan memiliki status khusus pada pemeriksaan status anti aging sehingga penilaian akurat kadar hormon pertumbuhan sangat penting. Secara umum perubahan hormonal yang akan terjadi pada penuaan adalah penurunan Growth Hormon (GH) dan Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1) atau somatomedins.(1,3,4,5) Pengukuran kadar GH dalam saliva seperti insulin-like growth factor I (IGF-1) tidak bisa dipercaya karena produksi lokal yang berlebihan dari otot-otot mandibula.(5) GH dihasilkan oleh hipofise anterior dan sekresinya dipacu oleh GH releasing hormon, Growth Hormon Releasing Hormon (GHRH) yang timbul pada saat ”tidur dalam” dan secara acak pada saat bangun (misal saat olah raga). Penurunan GH dan IGF-1 akan menyebabkan peningkatan proses apoptosis di berbagai sel tubuh dan hal ini akan menyebabkan proses penuaan berjalan lebih cepat.(2)

Sifat pelepasan GH yang pulsatif menyebabkan pengukuran kadar GH dalam darah sangat tidak praktis, yang terbaik adalah pengukuran kadar GH dalam urin 24 jam untuk monitoring pengobatan GH.(5,8,9) Kadar GH dalam urin berkorelasi dengan pelepasan sentral GH dan injeksi GH. IGF-I dapat disintesis disemua organ, tetapi produksi terbesar terjadi di hati. Sintesis IGF-I diatur oleh GH, maka kadar IGF-I merefleksikan kadar GH. Kadar IGF-I relatif stabil sepanjang hari sedangkan GH bersifat pulsatif, sehingga pengukuran IGF-I dalam darah lebih disukai untuk penentuan status anti aging.(5,9) Di sirkulasi, IGF-I berikatan dengan protein transport yaitu IGF Binding Protein (IGFBP). Terdapat 10 (sepuluh) IGFBP, tetapi yang terpenting IGFBP3 karena mengikat 95% IGF-I didalam darah. Pada saat ini, 3 jenis tes yang paling berarti untuk monitoring pada pemberian GH adalah kadar GH urin 24 jam, kadar IGF 1 serum dan kadar protein pengikat primer IGF 1, yaitu IGFBP3 (Insulin-like Growth Factor Binding Protein 3).(9) Ipsnpo!Qspmblujo Pada proses penuaan terjadi peningkatan prolaktin yang disekresi oleh kelenjar hipofise anterior. Hormon ini meningkat sejalan dengan perubahan emosi dan stres. Peningkatannya akan diikuti oleh penurunan hormon testosteron melalui mekanisme pada pusat hipotalamus, kelenjar hipofise anterior atau langsung pada testis. Peningkatan hormon prolaktin juga sering disertai dengan timbulnya berbagai penyakit psikosomatis.(2)

Gpmmjdmf! Tujnvmbujoh! Ipsnpo! )GTI*! ebo! Mvufjoj{joh! Ipsnpo!)MI* FSH dan LH dihasilkan oleh hipofise anterior. Follicle Stimulating Hormon (FSH) Luteinizing Hormon (LH). FSH berhubungan dengan spermatogenesis pada pria dan perkembangan folikel ovarium dan estrogen pada wanita. LH berhubungan dengan stimulasi produksi testosteron pada pria dan estrogen pada wanita. FSH dan LH meningkat jika terjadi kerusakan testis secara keseluruhan (pan/primer testicular failure). Penurunan kadar LH mungkin disebabkan karena testosteron pada penuaan kehilangan biopotensi sehingga tidak efektif dalam feedback mechanism, atau oleh karena stres fisik dan psikis pada orang tua (pada orang muda stres justru akan meningkatkan kadar LH) sedangkan pada wanita post menopause akan terjadi peningkatan FSH dan LH.
Ipsnpo!Besfobm Kelenjar adrenal menghasilkan hormon aldosteron, kortisol, dehydroepiandrosterone (DHEA) dan androstenedion. Defisiensi aldosteron cukup sering dijumpai. Gejala utama adalah mengantuk, poliuria dan lemah. Penurunan aldosteron berakibat langsung pada kadar
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

83

Natrium plasma karena terjadi pengeluaran Natrium melalui ginjal sehingga kadar Natrium plasma menurun dan Kalium plasma meningkat. Pengukuran kadar aldosteron serum digabung dengan pengukuran kadar natrium dan kalium dalam serum sudah cukup memadai untuk menilai defisiensi hormon aldosteron.(5) Ipsnpo!Lpsujtpm Kortisol dianggap sebagai hormon stres yang utama didalam tubuh. Hormon ini mengalami perubahan yang tajam sepanjang hari, yaitu turun hingga kira-kira 90% dari pagi hingga petang hari. Kadar kortisol tertinggi antara pukul 07.00–09.00 pagi dan terendah antara pukul 23.00 malam–04.00 pagi.(5,8) Oleh karena itu nilai normal berbeda tergantung waktu pengambilan. Karena kortisol disekresikan dengan cepat sebagai respon stres, keadaan yang menimbulkan stres menjelang pemeriksaan dapat meningkatkan kadar kortisol. Kadar kortisol yang sangat tinggi pada pengumpulan petang hari sangat spesifik untuk Cushing’s Syndrome. Pemeriksaan kortisol dapat menggunakan spesimen darah atau saliva dan spesimen yang terbaik adalah urin 24 jam, karena kortisol menunjukkan adanya variasi diurnal.(5,8) EIFB!)Efijespfqjboesptufspo*!ebo!EIFB.T!)Tvmgbu* DHEA dan DHEA-S (sulfat) di sintesa dari kolesterol, melalui pregnenolone dan sekresinya diatur oleh ACTH. (gambar 1).(5)
Kolesterol

Dehydroepiandrosterone (DHEA) dan Dehydroepiandro-sterone sulfat (DHEA-S) diproduksi oleh kelenjar supra-renal dan merupakan salah satu precusor hormon testosteron. Penurunan hormon DHEA/DHEAS akan diikuti : meningkatnya interleukin 6 (IL-6) yang merupakan mediator peningkatan osteoclast yang menyebabkan berkurangnya masa tulang (osteoporosis), perubahan rasio cluster differentiation sehingga timbul reaksi autoantibodi, kekakuan pembuluh darah koroner, kegemukan karena penurunan Resting Metabolic Rate (RMR), dan kelelahan kronis yang lain. Penurunan hormon ini biasanya akan berhubungan dengan penurunan kekebalan tubuh yang sesuai dengan teori penuaan imunologis (immunological senescence theory).(2)
Boesptufofejpo Androstenedion adalah androgen adrenal. Androstenedion sebagai prohormon untuk estron dan estradiol serta testosteron (gambar 1). Pengukuran kadar dalam serum merupakan baku emas. Pengukuran dalam urin 24 jam tidak bisa dilakukan karena jumlah yang dieksresi sangat sedikit.(5) Uftuptufspo Penting bagi pria maupun wanita. Testosteron disekresi oleh sel Leydig testikular dan dapat dikonversi menjadi dihidrotestosteron. Testosteron total terdiri dari 3 bentuk yaitu 65% terikat SHBG, 30–32% terikat albumin dan 1–4% bentuk bebas. Testosteron dalam bentuk bebas dan terikat albumin, disebut sebagai testosteron “bioavailable”. Dianjurkan untuk mengukur testosteron “bioavailable” yang dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu metode penghitungan dan metode presipitasi. Metode penghitungan yaitu membagi testosteron total dengan SHBG (Sex Hormone Binding Globulin) menghasilkan free androgen index (FAI). Pada metode presipitasi dilakukan penghilangan testosteron/SHBG kompleks sehingga menyisakan free testosterone dan albumin testosteron untuk diukur.(5,12) Testosteron mengalami variasi diurnal dan kadarnya menurun sesuai dengan pertambahan usia, baik pada pria maupun wanita. Tetapi yang pasti menurun sebenarnya adalah hormon free testosterone/bioavailable testosterone saja. Penurunan hormon testosteron umumnya disebabkan karena faktor organik lain yang mendasari, misalnya : Atrofi testis karena apoptosis yang secara langsung akibat perubahan GH dan IGF-1 ; Feedback mechanism karena adanya zeno atau pseudo-estrogen dan konsumsi jamu/obatobatan yang tidak terkontrol ; penurunan frekuensi, amplitudo denyutan dan kemampuan luteinizing hormone (LH) dalam menstimulasi produksi testosteron oleh sel leydig ; berkurangnya LH karena hormon tes-

Pregnenolon

DHEA Dehidroepiandrosteron

Progesteron

Androstenedion

Esteron

Testosteron

Estradiol

Dihydrostestosterone

Gambar 1. Biosintesa Gonadal dan Adrenal Steroid

Waktu paruh DHEA-S (10–20 jam) lebih panjang daripada DHEA (1–3 jam), sehingga kadar DHEA-S 300–500 kali lebih tinggi daripada DHEA dan lebih stabil. Oleh karena itu lebih dianjurkan memeriksa kadar DHEA-S dan untuk memeriksa DHEA-S dapat digunakan spesimen darah atau saliva.(5,11)

84

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

tosteron yang dihasilkan sendiri kehilangan biopotensi untuk memberi umpan balik (feedback mechanism), atau berkurangnya sensitivitas reseptor LH di dalam sel Leydig (sel yang memproduksi testosteron dalam testis). Kadar testosteron urin 24 jam berkorelasi baik dengan produksi harian sehingga dapat digunakan untuk evaluasi terapi.(2,10) Ejijesptuftuptufspo!)EIU* DHT berasal dari androstenedion dan testosteron (gambar 1). Pengukuran kadar DHT serum adalah baku emas. DHT sangat sedikit diekskresi dalam urin sehingga urin 24 jam tidak bisa digunakan sebagai indikator produksi DHT.(5) Metabolit utama DHT adalah androstanediol yang dapat diukur dalam serum dan urin sebagai androstanediol glukuronida yang menggambarkan hasil metabolisme DHT. Pada wanita dengan kelebihan hormon androgen, sering dijumpai kadar testosteron dan DHT normal tetapi ternyata kadar androstanediol glukuronida dalam serum sangat tinggi.(5) Ftusphfo Estrogen adalah androgen aromatik dan terutama berasal dari gonad walaupun jaringan lemak mampu menghasilkan sedikit estrogen. Kadar estrogen serum merupakan spesimen pilihan. Estrogen terdapat dalam 3 jenis yaitu estradiol, estron dan estriol. Estradiol adalah hormon yang paling berpotensi di antara ketiga jenis estrogen utama. Estron berada dalam keseimbangan dengan estradiol dan mempunyai afinitas pengikatan reseptor estrogen kira-kira 1/10 dari estradiol. Peningkatan estradiol berhubungan dengan peningkatan estron dan sebaliknya. Estriol adalah hormon yang paling lemah diantara ketiga estrogen, dengan afinitas pengikatan reseptor estrogen kirakira 1/100 dari estradiol. Beberapa klinikus menggunakan free estradiol index (FEI) yang merupakan hasil penghitungan dengan membagi estradiol / SHBG (Sex Hormone Binding Globulin). Hari 14–23 dari siklus haid adalah waktu terbaik untuk menilai estriol, estron dan estradiol.(5) Qsphftufspo Diproduksi di otak, adrenal, testis, ovarium, dan plasenta. Fungsi progesteron pada wanita sudah jelas, tetapi fungsi pada laki-laki belum jelas. Diduga, progesteron berperan pada kebotakan dan fungsi prostat. Untuk pengukuran kadar progesteron dianjurkan menggunakan serum karena pengukuran pada saliva memberi hasil yang sangat bervariasi. Kadar progesteron berfluktuasi selama siklus mens-

truasi dengan puncaknya pada fase luteal antara hari ke 20–23.(5)

Sex Hormon Binding Globulin (SHBG) SHBG mengikat testosteron, DHT dan estradiol dengan afinitas lebih besar daripada ikatannya dengan DHEA, androstenedion dan estriol. SHBG adalah glikoprotein plasma dan diproduksi oleh sel hati kemudian masuk ke sirkulasi darah. Kadar SHBG jauh lebih tinggi pada anak-anak daripada orang dewasa. Pada pubertas kadar SHBG menurun baik pada laki-laki maupun wanita. Pada anak laki-laki penurunan SHBG disebabkan meningkatnya produksi testosteron.(5)
QFNFSJLTBBO!MBCPSBUPSJVN Pada evaluasi status hormon harus diperhatikan faktorfaktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Beberapa hormon dalam tubuh menunjukkan perubahan siklik sepanjang hari, misalnya Growth Hormone, kortisol. Oleh karena itu waktu pengambilan sampel darah perlu dicatat dengan tepat. Pada wanita pola hormon seperti estradiol, LH, FSH dan progesteron menunjukkan irama siklik (siklus haid). Evaluasi status hormon dalam tubuh dapat menggunakan tiga jenis spesimen, yaitu saliva, darah dan urin. Masing-masing spesimen memiliki kelebihan dan kekurangan.(5,11) Evaluasi status hormon dengan menggunakan spesimen saliva masih belum banyak berkembang. Hal ini disebabkan kadar hormon yang rendah di dalam saliva yang berkisar antara 1–10% dari kadar hormon dalam darah dan pada pasien-pasien yang sudah tua kadar hormon dalam saliva lebih rendah lagi, sehingga dibutuhkan metode pemeriksaan dengan tingkat sensitivitas yang sangat tinggi. Selain itu, penyakit perio-dontal yang sering ditemui pada orang sehat dapat menyebabkan kontaminasi darah pada saliva sehingga spesimen tersebut tidak representatif lagi. Kadar hormon dalam saliva mencerminkan fraksi bebas dari hormon di dalam plasma. Fraksi bebas dalam darah, sebagaimana diukur dengan keseimbangan dialisis, sangat berkorelasi dengan kadar hormon dalam saliva. Hal ini disebabkan sebagian hormon fraksi bebas yang terdapat di sirkulasi darah akan masuk ke dalam saliva. Pengumpulan spesimen saliva umumnya dikumpulkan pada pagi hari sebelum sikat gigi, makan atau minum, kecuali melatonin. Sebelum pengumpulan spesimen saliva pasien disuruh berkumur-kumur. Hormon dalam saliva stabil pada suhu ruang selama paling sedikit 3 minggu.(5,11) Keuntungan menggunakan spesimen saliva adalah mudah didapat, bersifat tidak invasif, ekonomis, dapat dilakukan di rumah sehingga praktis untuk evaluasi
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

85

fluktuasi harian hormon. Waktu pengambilan spesimen sangatlah penting untuk hormon yang mempunyai variasi diurnal karena memberikan nilai normal yang berbeda untuk waktu pengambilan spesimen yang berbeda.(5,11) Serum dan plasma merupakan spesimen baku emas dalam evaluasi hormon. Metode pemeriksaan biasanya cukup sensitif. Serum dan plasma dapat digunakan untuk evaluasi Circadian homon, tetapi memiliki kekurangan yaitu pasien harus dipungsi vena berkalikali. Sehingga spesimen serum dan plasma paling baik digunakan untuk mengukur kadar puncak setelah diserap.(5) Waktu pengambilan spesimen sangat penting, tergantung dari cara pemberian hormon tersebut. Direkomendasikan pada pemberian hormon per oral spesimen darah diambil 2 jam kemudian dan 4 jam setelah pemberian trans dermal. Hormon yang diberi melalui suntikan (terutama dalam bentuk depot) sangat bervariasi dalam waktu absorpsi maksimalnya.(11) Spesimen urin terutama berguna untuk evaluasi metabolisme hormon. Dibutuhkan urin kumpulan 24 jam. Selain itu, spesimen urin 24 jam berguna untuk memeriksa hormon yang menunjukkan variasi diurnal karena dapat mengevaluasi produksi hormon selama 24 jam. Masalah yang dihadapi dengan spesimen urin 24 jam adalah gangguan fungsi ginjal dan kesulitan pasien mengumpulkan urin 24 jam. Selama pengumpulan urin 24 jam, urin disimpan di lemari es (40C).(11) Faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam evaluasi hormon adalah dalam bentuk apa hormon tersebut diukur, bisa dalam bentuk bebas atau terikat dengan protein.(5,11) Pemeriksaan hormon dapat dilakukan dengan metode radioimmunoassay, Enzyme Linked Immunoassay (ELISA) dan immunochemiluminescence.(5) LFTJNQVMBO Penuaan biologis merupakan gejala penurunan hormon, dan karena penurunan hormon dapat dihindari,

penuaan biologis dapat dicegah, diperlambat atau dibalikkan tergantung pada hormon yang mengatur degenerasi dan regenerasi tubuh pada tingkat sel. Oleh karena itu penting untuk mengukur kadar hormon sebelum melakukan terapi sulih hormon agar dapat dideteksi apakah sudah terjadi penurunan hormon. Terapi sulih hormon hanya untuk mengganti hormon yang hilang akibat proses penuaan ke kadar normal fisiologis. Terapi sulih hormon dapat memberikan manfaat yang mengagumkan sebagai anti aging jika diberikan secara bijaksana dengan pengawasan laboratoris secara periodik untuk menjamin kadar hormon yang efektif dalam darah.
LFQVTUBLBBO 1. Eulis A.D, Wibowo C. Introduction to Anti Aging Medicine. Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005; 55-59. 2. Wibowo S. Andropause: Keluhan, diagnosis dan penanganannya. Buku kumpulan Makalah The Concepts of Anti Aging, 11–12 Oktober 2003, hal. 11-35. 3. Thomson JL, Butterfield GE, Gylfadottir UK. Yesavage J, Markus R, Hintz RL, Pearman A. Effect of human growth hormone, insulin-like growth factor-1 and diet and exercise on body composition of obese postmenopausal women. J Clin Endocrinol Metab. 1998; 83: 1447-58. 4. Chapman IR, Bach MA, Cauter EV. Stimulation of the growth hormone (GH)-insulin-like growth factor-1 axis by daily administration of a GH secretagogue (MK677) in healthy elderly subjects. J Clin Endocrinol Metab 1996; 81: 4249–58. 5. Jacques B, Laboratory Medicine for the Anti Aging Practitioner. In: Anti Aging Medical Therapeutics, 1st ed. The American Academy of Anti Aging Medicine; 2003: 317-28. 6. Hertoghe T. Senescence: Theoretical bases (causes, epidemiology, longevity factors); Physiology of aging of the endocrine glands. In: AntiAging Medicine Specialization-International Committee for Education in Anti-Aging Medicine. Paris, 2003. 7. Blackman MR. Age related alterations in sleep quality and neuroendocrine function interrelationships and implications. JAMA. 2000 Aug 16; 284(7): 879-81. 8. Marshall JC. Control of pituitary Hormone secretion–Role of pulsatility. In: Besser MG, Thorner MO (eds). Comprehensive Clinical Endocrinology. Mosby. 2002: 35-46. 9. Ruiz-Torrez A, Soares De Melo Kirzner M. Ageing and longevity are related to Growth Hormone / Insulin-like Growth Factor-1 secretion. Gerontology 2002; 48(6):401-7. 10. Kula K. Wranicz K, Strzolanda M, Bolinska-Soltysiak H. Sex hormone and lutenizing hormone (LH) in a double sample venous blood lipid profile in men with coronary artery disease (CAD). The Aging Male 1998; 1(suppl 1): 044. 11. Buletin khusus ABC, edisi I / 2003. 12. Lunenfeld B Preface. The Aging Male 2001; 4: 201–202 (Abstracts of the 3rd World Congress on the Aging Male, Berlin, Germany February 7-10, 2002).

86

cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

Hasil Penelitian

Efektifitas Penggunaan Meal Replacement Pada Pengaturan Diet Pasien Obesitas Dalam Memperbaiki Komposisi Tubuh Dan Faktor Risiko Sindroma Metabolik
Johf!Qfsnbeij-!Tbnvfm!Pfupsp-!Gjbtuvuj!Xjukbltpop ! !
Efqbsufnfo!Jmnv!Hj{j!Lmjojl-!Gblvmubt!Lfeplufsbo!Vojwfstjubt!Joepoftjb-!Kblbsub!Joepoftjb ! !

BCTUSBL Mbubs!cfmblboh : Obesitas saat ini merupakan masalah yang sangat serius dan timbul sebagai suatu ancaman kesehatan di seluruh belahan dunia. Penanganan obesitas sangat penting untuk mencegah terjadinya gangguan metabolik kronik akibat kegemukan. Pemberian terapi diet pada obesitas bertujuan untuk mengurangi asupan energi dan meningkatkan pengeluaran sehingga tercapai berat badan yang ideal. Uvkvbo : Untuk mengetahui apakah penggunaan meal replacement dalam program penurunan berat badan akan memberikan hasil yang lebih baik dalam memperbaiki komposisi tubuh dan faktor risiko sindroma metabolik dibandingkan dengan makanan biasa rendah kalori. Eftbjo : Penelitian randomized controlled trial, pre-post test controlled group design dilakukan untuk mendapatkan data mengenai pengaruh pemberian meal replacement (pengganti makan) yang diberikan pada kelompok subyek obesitas terhadap komposisi tubuh, profil lipid, gula darah dan kadar antioksidan dibandingkan dengan kelompok kontrol yang memperoleh diet makanan biasa dengan kalori terkontrol. Ibtjm!ebo!qfncbibtbo : Setelah masa intervensi selama delapan minggu, terjadi perubahan yang berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Lingkar perut menurun 5,4±5,0 cm pada kontrol (n=12) dan menurun 5,8±6,1 cm pada kelompok perlakuan (n=11). Tekanan sistolik naik 2,5±18,6 mmHg pada kontrol dan turun 3,1±7,0 mmHg pada kelompok perlakuan. Tekanan diastolik turun 0,8±7,9 mmHg pada kontrol dan turun 2,5±5,3 mmHg pada kelompok perlakuan. Gula darah puasa turun 25,2±19,8 mg/dL pada kontrol dan turun 21,3±10,4 mg/dL pada kelompok perlakuan. Kadar trigliserida turun 37,6±64,1 mg/dL pada kontrol dan turun 60,2±70,0 mg/dL pada kelompok perlakuan. Kadar kolesterol HDL turun 1,4±7,1 mg/dL pada kontrol, sedangkan pada kelompok perlakuan naik 1,2±7,0 mg/dL. Tjnqvmbo : Aktivitas paling banyak dan total asupan paling sedikit terjadi pada kelompok kontrol sehingga penurunan massa lemak dan masa otot terjadi paling besar. Namun pada kelompok perlakuan, meskipun jumlah asupan kalori lebih banyak dan aktivitas lebih sedikit, tetap terjadi penurunan massa lemak tubuh dan bahkan terjadi peningkatan massa otot. Dalam hal faktor risiko sindroma metabolik, terjadi perubahan yang lebih baik pada kelompok perlakuan dibanding kontrol.

Kata kunci: Meal replacement, obesitas, pengaturan diet, sindroma metabolik.
MBUBS!CFMBLBOH Penimbunan jaringan lemak tubuh yang berlebihan, atau yang lazim disebut dengan obesitas atau kegemukan, saat ini merupakan masalah yang sangat serius dan timbul sebagai suatu ancaman kesehatan di seluruh belahan dunia. Penimbunan ini disebabkan karena ketidakseimbangan antara asupan energi dengan jumlah energi yang dikeluarkan.1 Di Indonesia meskipun prevalensinya masih relatif rendah, yaitu 2,5% pada pria dan 5,9% pada wanita, namun sudah mulai menunjukkan tanda-tanda untuk menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hal ini mengacu pada hasil penelitian di Jakarta yang menunjukkan peningkatan prevalensi obesitas pada wanita di tahun 1982 sebesar 17,1% menjadi 24,1% di tahun 1992-1993, sedangkan pada pria

4,2% (tahun 1982) menjadi 10,9% (tahun 1993).2 Usaha untuk menurunkan berat badan sebesar 510% dapat bermanfaat untuk mencegah terjadinya gangguan metabolik kronik akibat kegemukan, antara lain berupa penurunan tekanan darah, perbaikan profil lemak darah, perbaikan toleransi glukosa dan kecenderungan perbaikan trombosis.2 Pemberian terapi diet pada obesitas bertujuan untuk mengurangi asupan energi dan meningkatkan pengeluaran sehingga tercapai berat badan yang ideal. Anjuran diet bagi penderita obesitas adalah diet dengan komposisi lemak yang lebih rendah yaitu <30%
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

87

dari total kalori, karbohidrat >55% dari total kalori, pemberian protein yang cukup antara 10-15% dari total kalori, serat 25-30 gr/hari dan konsumsi alkohol yang rendah. Pada orang yang mengalami obesitas, dianjurkan untuk dapat mengurangi asupan makannya sebanyak 200-300 kkal/hari, dengan standar diet sekitar 1000-1200 kkal/hari.3 Pengaturan diet akan berhasil dengan baik jika pola makan dapat dipertahankan dan dapat dilaksanakan dalam jangka panjang. Penggunaan pengganti makan (meal replacement/MR) yang memiliki jumlah kalori dan komposisi yang pasti sebagai pengganti makan kini banyak ditawarkan sebagai alternatif pola pengaturan diet agar dapat dilakukan dalam jangka panjang dan dapat dipertahankan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan meal replacement dalam program penurunan berat badan akan memberikan hasil yang lebih efisien dibandingkan dengan makanan biasa rendah kalori. EFTBJO!QFOFMJUJBO Penelitian randomized controlled trial, pre-post test controlled group design dilakukan untuk mendapatkan data mengenai pengaruh pemberian meal replacement (pengganti makan) yang diberikan pada kelompok subyek obesitas terhadap komposisi tubuh, profil lipid, gula darah. Penelitian ini dilakukan di Surabaya dan tempat pengambilan data dilakukan di PT. Unilever IndonesiaSurabaya mulai pada bulan Juli-September 2006. Penelitian ini dilakukan pada 23 subyek obesitas yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapat MR dan kelompok kontrol. Kriteria inklusi adalah karyawan atau istri karyawan berusia 35-55 tahun dengan obesitas (indeks massa tubuh/IMT >27) di PT. Unilever Indonesia-Surabaya tahun 2006 dan tidak ada riwayat penyakit metabolik, yaitu gagal ginjal kronik, gangguan fungsi hati, diabetes mellitus dan sindroma nefrotik. Kriteria eksklusi adalah subyek-subyek yang tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian, mengkonsumsi obat yang mempengaruhi profil lipid, obat penurun berat badan, obat penambah hormon, obat diuretik, subyek adalah vegetarian dan pada subyek wanita yang berencana hamil, sedang hamil atau sedang menyusui. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode convenience sampling, yaitu bergantung pada jumlah subyek yang dilibatkan dalam penelitian ini. Masing-masing subyek menjalani program penelitian selama 8 minggu, dengan rincian: dilakukan wawancara data demografi, kuesioner data pola hidup, pemeriksaan antropometri (berat badan/BB, tinggi badan/ TB, lingkar pinggang, dan body fat analysis/ 88
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

BFA), asupan gizi (food recall, food frequency questionnaire/FFQ), pemeriksaan profil lipid dan gula darah, kuesioner pola hidup dan kuesioner aktivitas fisik pada hari pertama minggu pertama, dilanjutkan perlakuan selama 4 minggu. Pada hari pertama minggu keempat dilakukan pemeriksaan antropometri, kuesioner pola hidup, asupan gizi (food recall 2x24 jam), kemudian perlakuan yang sama dilanjutkan kembali pada masing-masing kelompok sampai minggu ke delapan. Pada akhir penelitian dilakuan pengisian kuesioner data pola hidup, pemeriksaan antropometri (BB, TB, Lingkar Pinggang, dan BFA), asupan gizi (food recall, FFQ), pemeriksaan profil lipid dan gula darah, kuesioner pola hidup serta kuesioner aktivitas fisik. Perlakuan dibedakan pada kedua kelompok, yaitu kelompok kontrol (kelompok A; n=12) mendapat program diet makanan biasa dengan kalori terkontrol 1200-1500 kkal, dengan 3 kali makan tanpa kudapan. Sedangkan kelompok yang mendapat MR diet (kelompok B; n=11) diberikan dalam bentuk kombinasi makanan biasa dan meal replacement 1200-1500 kkal, terdiri dari 3 kali makan tanpa kudapan dengan aturan makan pagi (300 kkal) berupa MR 200 kkal + apel/pir/jambu/jeruk 100 kkal (pilih salah satu); makan siang (500 kkal) berupa makan besar low fat; dan makan malam (400 kkal) berupa MR 200 kkal + sayur 100 kkal + buah 100 kkal. Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan program SPSS version 12.00, sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik parametrik Annova dan interpretasi data dan hubungan antara variabel-variabel yang telah ditentukan disimpulkan secara deskriptif. Masing-masing subyek penelitian telah menandatangani informed consent dan telah diberi penjelasan mengenai tujuan dan cara penelitian serta diberi jaminan kerahasiaan terhadap data yang diperoleh. IBTJM!EBO!QFNCBIBTBO Secara umum, tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05) pada karakteristik subyek penelitian, seperti yang terlihat pada tabel 1 dibawah ini. Rerata skor pola aktivitas subyek sebelum perlakuan adalah antara 5,9 – 6,8 dengan skor terendah sebesar 4,5 dan skor tertinggi 7,7. Skor <6,2 dikategorikan sebagai aktivitas rendah dan skor >7,1 dikategorikan sebagai aktivitas tinggi. Perubahan komposisi tubuh seseorang, baik pria maupun wanita, dipengaruhi oleh banyak faktor seperti faktor usia, penurunan aktivitas atau kondisi menopause

dan penggunaan estrogen pada wanita, sedangkan tingkat aktivitas fisik dapat mempengaruhi status massa bebas lemak seseorang.4 Dengan tidak adanya perbedaan karakteristik usia dan pola aktivitas subyek pada awal penelitian, maka dapat dikatakan komposisi tubuh subyek penelitian menjadi homogen.
Ubcfm!2/!Tfcbsbo!vnvn!lbsblufsjtujl!tvczfl!qfofmjujbo!qsb!qfofmjujbo/ Lbsblufsjtujl!Efnphsbgjl Lfmpnqpl!B Lfmpnqpl!C 11 12 Jumlah subjek 47,6 + 4,5 44,4 + 7,1 Usia (tahun)*# Jenis kelamin: 9 9 - Laki-laki 2 3 - Perempuan 6,8 + 0,9 5,9 + 1,4 Skor pola aktivitas fisik*# Tingkat aktivitas fisik: n (%) 2 (18,2%) 8 (66,7%) - Rendah 6 (54,5%) 2 (16,7%) - Cukup 3 (27,3%) 2 (16,7%) - Tinggi
*Mean ± standar deviasi (sd) # Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok A dan B (p>0,05)

Ubcfm!4/!Sfsbub!btvqbo!{bu!hj{j!nblsp!tvczfl!qfofmjujbo!qsb!qfofmjujbo/ Kfojt nblspovusjfo Karbohidrat Lemak Protein Sfsbub!btvqbo Sfsbub!btvqbo ufsfoebi!)h* ibsjbo!)h* 89 137 - 167 4 15 - 32 19 35 - 40 Sfsbub!btvqbo ufsujohhj!)h* 238 78 60

Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal replacement Secara umum, tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05) pada asupan zat gizi makro, ukuran antropometrik dan hasil pengukuran BFA antar kelompok perlakuan sebelum penelitian, seperti terlihat pada tabel 2 di bawah ini.
Ubcfm!3/!Tfcbsbo!lbsblufsjtujl!tubuvt!hj{j!tvczfl!cfsebtbslbo!btvqbo!{bu! hj{j!nblsp!!vlvsbo!bouspqpnfusj!ebo!cpez!gbu!bobmztjt!)CGB*!qsb!qfofmjujbo/ Lfmpnqpl!C Lbsblufsjtujl!tubuvt!hj{j Lfmpnqpl!B 11 Jumlah subjek 12 Asupan zat gizi makanan:*# - Kalori (kkal) 1237,1 + 250,7 873,3 + 164,1 - Karbohidrat (g) 167,2 + 40,3 148,9 + 28,2 15,3 + 7,9 - Lemak (g) 32,2 + 19,7 35,0 + 8,5 - Protein (g) 39,8 + 7,7 Ukuran antropometik:*# 160,7 + 7,3 - Tinggi badan (cm) 162,8 + 5,7 80,7 + 7,2 - Berat badan (kg) 82,7 + 8,3 31,2 + 4,5 - Indeks massa tubuh (kg/m2) 31,2 + 2,5 99,0 + 6,6 - Lingkar perut (cm) 99,7 + 9,3 Hasik BFA:*# 34,0 + 4,8 - Massa lemak tubuh 34,9 + 5,1 27,8 + 6,9 - Massa bebas lemak 28,8 + 5,1 51,0 + 5,3 - Massa otot 53,8 + 7,0 *Mean ± standar deviasi (sd) #Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok A dan B (p>0,05)

Bila dilihat dari laporan asupan dalam penelitian ini, tampak konsumsi rata-rata total asupan harian subyek penelitian sangat rendah, padahal orang dewasa yang mengkonsumsi rata-rata kalori 800-1200 kkal/ hari tidak akan mengalami berat badan lebih. Hal ini membuktikan adanya kesulitan dalam estimasi asupan kalori pada suatu penelitian obesitas akan berpengaruh pada analisis diet makronutrien subyek penelitian.5 Pada penelitian ini cenderung terdapat flat slope syndrome, yaitu subyek menyebutkan lebih banyak makanan yang sedikit dikonsumsi dan lebih sedikit makanan yang banyak dikonsumsi,6 atau memang mereka tidak mengetahui jenis makanan tinggi kalori sehingga kemungkinan total asupan hariannya jauh lebih tinggi dibandingkan yang dilaporkan. Rerata IMT subyek adalah 31 kg/m2, dengan IMT terendah adalah 28,7 kg/m2 dan tertinggi adalah 35,7 kg/m2. Berdasarkan hasil pengukuran antropometrik, maka menurut kriteria Asia Pasifik (tahun 2000), IMT subyek penelitian tergolong dalam Obesitas I dan II. Menurut Kriteria Sindroma Metabolik menurut Asia Pasifik (tahun 2000), seorang subyek tergolong memiliki risiko sindroma metabolik bila memiliki kriteria lingkar pinggang untuk pria >90 cm dan wanita >80 cm. Penelitian ini tidak dibedakan menurut gender, namun bila melihat rata-rata lingkar pinggang, tampaknya subyek penelitian berisiko menderita komorbiditas penyakit penyerta sindroma metabolik dan abdominal obesity . Dari hasil analisis BFA subyek penelitian sebelum perlakuan diperoleh rerata massa lemak tubuh total adalah 34, rerata massa bebas lemak adalah antara 27-28, dan rerata massa otot berkisar antara 51-53. Pada kasus over weight dan obesitas, terjadi komposisi tubuh yang tidak seimbang dimana massa lemak tubuh berlebihan. Katch & McArdle menyebutkan massa lemak tubuh normal pada pria dewasa 19.9% dan wanita dewasa 25.2%,7 sedangkan pada penelitian ini didapatkan massa lemak tubuh subyek >30%. Dari hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium tidak didapatkan perbedaan bermakna (p>0,05) antara tekanan sistolik, tekanan diastolik, profil lipid dan gula darah puasa subyek pra perlakuan seperti terlihat di tabel 4 berikut. Rerata kadar kolesterol total subyek penelitian sebecdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal replacement Rerata asupan zat gizi makro (kalori, karbohidrat, lemak dan protein) subyek penelitian pra perlakuan adalah 900–1200 kkal/hari dengan asupan minimal 709 kkal dan maksimal 1487 kkal, dengan rincian asupan makronutrien dalam tabel 3 berikut.

89

lum perlakuan adalah antara 224-230 mg/dL, rerata kadar kolesterol-LDL subyek penelitian adalah antara 123-128 mg/dL, sedangkan rerata kadar kolesterol-HDL-nya adalah antara 46-50 mg/dL, dan rerata kadar trigliserida darah subyek adalah antara 144,3197,4 mg/dL. Rerata kadar gula darah subyek adalah antara 126-132 mg/dL.
Ubcfm! 5/! Tfcbsbo! tvczfl! qfofmjujbo! cfsebtbslbo! ibtjm! qfnfsjltbbo! uflbobo!ebsbi!qspgjm!mj qje-ebo!hvmb!ebsbi!qvbtb!qsb!qfofmjujbo/ ! Lbsblufsjtujl!tvckfl Jumlah subjek Tekanan darak sistolik*# Tekanan darah diastolik*# Lipid darah:*# - Kolesterol total (mg/dL) - Kolesterol-LDL (mg/dL) - Kolesterol-HDL (mg/dL) - Trigliserida (mg/dL) Gula darah 2 jam post propandial (mg/dL)*# *Mean ± standar deviasi (sd) #Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok A dan B (p>0,05) Lfmpnqpl!B 12 121,7 + 13,5 81,7 + 8,3 Lfmpnqpl!C 11 117,7 + 6,8 79,1 + 8,0

menurut gender, namun tampaknya subyek penelitian berisiko menderita komorbiditas penyakit penyerta sindroma metabolik dan abdominal obesity . Pasca perlakuan, secara umum terjadi perbedaan bermakna pada perubahan asupan zat gizi makro (p<0,05) dan perubahan kadar kolesterol-LDL (p=0,039) subyek antar kelompok. Selain itu terjadi perubahan beberapa parameter antropometri pra dan pasca penelitian (tabel 5) yang tidak berbeda bermakna antar kelompok (p>0,05), antara lain terjadinya penurunan BB pada kedua kelompok penelitian sekitar 5 kg selama 8 minggu atau rata-rata 0,5 kg/minggu. Demikian juga terjadi penurunan lingkar pinggang. Penurunan BB terjadi karena penurunan jumlah asupan kalori dan juga peningkatan aktifitas fisik.
Ubcfm!6/!Qfohbsvi!joufswfotj!hj{j!zboh!cfscfeb!tfmbnb!efmbqbo!njohhv! ufsibebq!cfcfsbqb!qbsbnfufs!bouspqpnfusj/ Qbsbnfufs Jumlah subjek Perubahan BB*# Perubahan IMT (kg/m2)*# Perubahan lingkar perut (cm)*# *Uji statistik ANOVA #Uji statistik Kruskal-Wallis ¤ Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok A dan B (p>0,05) Lfmpnqpl!B Lfmpnqpl!C 12 11 -5,6 + 2,2 -5,1 + 3,8 -2,1 + 0,8 -2,1 + 1,6 -5,4 + 5,0 -5,8 + 6,1

230,7 + 55,4 224,1 + 34,1 128,3 + 39,0 123,4 + 22,5 50,0 + 7,4 46,5 + 7,5 144,3 + 77,2 197,4 + 118,2 126,1 + 22,1 132,7 + 45,1

Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal replacement Berdasarkan kriteria sindroma metabolik menurut NCEP-ATP III,8 sindroma metabolik ditegakkan bila ditemukan tiga dari lima faktor risiko sebagai berikut: • Lingkar pinggang : Pria >102 cm dan wanita >88 cm • Gula darah puasa: > 110 mg/dL • Tekanan darah: >130/85 mmHg • Trigliserida: >150 mg/dL • HDL-C: Pria <40 mg/dL dan wanita <50 mg/dL Selain itu, The International Diabetes Federation Consensus9 menambahkan adanya pengaruh etnik pada lingkar pinggang yang dijadikan kriteria sindroma metabolik. Untuk orang Indonesia yang tergolong kelompok etnik Asia Selatan, parameter lingkar pinggang untuk sindroma metabolik adalah bagi pria >90 cm dan wanita >80 cm. Pada penelitian ini didapatkan hasil penelitian sebagai berikut: • Tekanan darah subyek penelitian rata-rata berada dalam batas normal. • Rata-rata profil lipid subyek penelitian : v Trigliserida berada di atas normal v HDL dalam batas normal • Lingkar pinggang berada di atas batas normal Dikatakan bahwa parameter lingkar pinggang dan kadar trigliserida 67,5-80% sudah dapat menunjukkan adanya sindroma metabolik.10, 11 Jadi walaupun hasil penelitian ini tidak dibedakan 90
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal replacement Penelitian ini membuktikan bahwa diet biasa dalam waktu singkat ternyata dapat berefek baik terhadap penurunan BB, sedangkan diet dengan menggunakan meal replacement dalam waktu singkat juga dapat menurunkan BB namun lebih sedikit efeknya dibandingkan dengan kelompok kontrol. Mungkin pengaruh tersebut baru akan terlihat lebih jelas bila dilakukan penelitian dalam jangka waktu yang lebih lama. Diet ketat yang cukup lama membutuhkan motivasi yang tinggi dan kemauan yang keras. Kebanyakan penderita obesitas cenderung bosan setelah beberapa waktu berdiet. Pada saat tersebut, mungkin diperlukan suplementasi seperti meal replacement yang akan memudahkan subyek untuk berdiet dan menentukan menu sehari-hari. Penelitian dengan menggunakan meal replacement dalam jangka waktu satu tahun,12 dua tahun,13 empat tahun,14 dan lima tahun15 membuktikan bahwa penggunaan meal replacement jangka panjang adalah aman dan dapat mempertahankan target BB yang diharapkan dalam jangka waktu lama. Selain itu, meal replacement efektif digunakan pada subyek dewasa, selain untuk menurunkan BB juga dalam mengatasi risiko sindroma metabolik.16

Ubcfm!7/!Qfsvcbibo!uflbobo!ebsbi!qbtdb!qfofmjujbo/! Qbsbnfufs Perubahan tekanan sistolik*# Perubahan tekanan diastolik*# Lfmpnqpl!B Lfmpnqpl!C 2,5 + 18,6 -3,1 + 7,0 -0,8 + 7,9 -2,5 + 5,3

*Uji statistik ANOVA #Uji statistik Kruskal-Wallis ¤ Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok A dan B (p>0,05)

Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal replacement Tekanan darah akan membaik dengan penurunan BB. Hasil pasca penelitian (tabel 6) memperlihatkan tekanan darah rata-rata mengalami penurunan yang tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok penelitian (p>0,05), walaupun ada beberapa subyek yang mengalami peningkatan meski peningkatan tersebut masih dalam batas normal.
Ubcfm!8/!Qfsvcbibo!btvqbo!lbmpsj!ebo!nblspovusjfo!qbtdb!qfofmjujbo/ q Lfmpnqpl!B Lfmpnqpl!C Qbsbnfufs -130,9 + 246,2 156,1 + 283,6 p=0,000 Perubahan asupan kalori# -6,4 + 26,8 p=0,000 Perubahan asupan karbohidrat# -18,4 + 34,3 -5,3 + 12,7 13,7 + 14,4 p=0,000 Perubahan asupan lemak# -2,4 + 10,9 9,6 + 15,6 p=0,006 Perubahan asupan protein# *Uji statistik ANOVA #Uji statistik Kruskal-Wallis

terdapat hubungan berbanding terbalik antara abdominal obesity dengan asupan protein. Dengan mengganti sebagian dari asupan karbohidrat dengan protein, dapat menurunkan abdominal obesity pada populasi tersebut.18 Faktor usia sangat mempengaruhi pembentukan otot. Pada orang lanjut usia, kecepatan sintesis protein otot basal umumnya menurun, sedangkan degradasi protein otot cenderung meningkat. Di lain pihak, keadaan ini diperburuk dengan rendahnya efek stimulasi asupan protein pada sintesis protein otot. Hal ini mungkin disebabkan karena menurunnya kemampuan anabolik pada orang lanjut usia. Pada orang berusia muda, kondisi ini tidak ditemui dikarenakan kemampuan anabolik yang masih baik. Selain itu, aktivitas fisik juga dapat secara efektif merangsang pembentukan otot. Oleh karena itu, kombinasi antara asupan protein yang adekuat dan aktivitas fisik yang memadai akan merangsang pembentukan otot yang optimal.19
Ubcfm!9/!Qfsvcbibo!lpnqptjtj!uvcvi-btvqbo!qspufjo!ebo!blujwjubt!gjtjl! ! qbtdb!qfofmjujbo. q Lfmpnqpl!C Lfmpnqpl!B Qbsbnfufs p>0,05 -3,8 + 4,3 Perubahan massa lemak tubuh total# -2,9 + 2,1 p>0,05 -4,9 + 6,3 -4,3 + 1,9 Perubahan massa bebas lemak# p>0,05 1,1 + 5,1 -1,3 + 1,7 Perubahan massa otot# p=0,06 9,6 + 15,6 -2,4 + 10,9 Perubahan asupan protein# p>0,05 0,2 + 1,0 1,5 + 1,5 Perubahan aktifitas fisik# *Uji statistik ANOVA # Uji statistik Kruskal-Wallis

Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal replacement Pada penelitian ini, tampak terjadi penurunan total asupan, walaupun jumlahnya pada rata-rata kelompok kurang dari 150 kalori, bahkan sebaliknya pada kelompok B terjadi peningkatan asupan kalori (tabel 7). Jumlah penurunan ini memang tampak sedikit bila dibandingkan dengan total asupan awal yang sudah rendah, namun bila dilihat penurunan BB sebesar 0.5 kg/minggu, sedikitnya sudah terjadi penurunan asupan sebesar 500 kalori/hari selama satu minggu.17 Kesenjangan ini diduga terjadi karena adanya kesulitan subyek penelitian dalam mencatat jenis dan jumlah asupan hariannya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya inkonsistensi pencatatan data asupan makanan dalam penelitian ini sehingga sulit untuk diberikan penilaian atas data yang ada. Perubahan komposisi tubuh dipengaruhi oleh total asupan, jenis makanan dan peningkatan aktivitas fisik. Terlihat bahwa terjadi penurunan massa lemak tubuh pada kedua kelompok sesuai dengan penurunan jumlah total asupan (tabel 8). Asupan protein pada kelompok perlakuan tampak lebih tinggi dibandingkan kontrol dan ini diikuti dengan peningkatan massa otot yang lebih tinggi pada kelompok perlakuan dibandingkan kontrol. Pada suatu penelitian multietnis yang meliputi etnis Asia Selatan, Cina, Aborigin Kanada dan Eropa, terbukti

Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa Kelompok-B mendapat diet makanan biasa dan meal replacement Untuk perubahan kadar kolesterol-LDL, terjadi perubahan kadar kolesterol-LDL pada kelompok A yang secara statistik berbeda bermakna bila dibandingkan dengan perubahan kadar kolesterol-LDL pada kelompok B (p=0,008). Pemeriksaan profil lipid merupakan pemeriksaan yang bersifat krusial karena membutuhkan waktu puasa lebih lama, sementara kepatuhan subyek dalam melakukan puasa selama 14 jam masih diragukan karena sebagian besar subyek harus masuk bekerja pada pagi hari. Kolesterol-LDL kelompok A mengalami penurunan, sedangkan kolesterol-LDL kelompok B mengalami peningkatan. Hal ini dapat disebabkan karena total asupan lemak pada kelompok B lebih tinggi dibandingkan kelompok A. Pada penelitian ini, semua kelompok penelitian mengalami penurunan kolesterol total. Hal tersebut menggambarkan adanya penurunan asupan kalori total dibandingkan asupan kalori sebelum penelitian. Kolesterol-HDL pada kelompok B mengalami peningkatan, walaupun perubahan aktifitas fisiknya tidak lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan tersebut dapat disebabkan karena perbaikan pola asupan lemak yang didapat dari meal replacement. Terjadi penurunan kadar trigliserida pada kelompok A dan B, di
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

91

mana penurunan yang lebih banyak terjadi adalah pada kelompok B. Hal ini dapat disebabkan karena terjadinya perbaikan pola asupan lemak dan karbohidrat pada kelompok ini. Kedua kelompok mengalami penurunan kadar gula darah karena perbaikan pola makan (total kalori, asupan karbohidrat) dan pola aktivitas fisik (tabel 9).
Ubcfm!:/!Qfsvcbibo!qspgjm!mfnbl!ebo!hvmb!ebsbi!tvczfl!qfofmjujbo!qbtdb! qfofmjujbo/ Qbsbnfufs Perubahan kadar kolesterol total#(mg/dL) Perubahan kadar kolesterol-LDL# (mg/dL) Perubahan kadar kolesterol-HDL# (mg/dL) Perubahan kadar trigliserida# (mg/dL) Perubahan kadar gula darah puasa# (mg/dL) *Uji statistik ANOVA #Uji statistik Kruskal-Wallis Lfmpnqpl!B -18,2 + 51,7 -20,3 + 41,1 -1,4 + 7,1 -37,6 + 64,1 -25,5 + 19,8 Lfmpnqpl!C -7,2 + 32,9 13,0 + 16,4 1,2 + 7,0 -60,2 + 70,0 -21,3 + 10,4 q p>0,05 p=0,008 p>0,05 p>0,05 p>0,05

bermakna. Hal ini kemungkinan disebabkan karena waktu penelitian yang hanya delapan minggu, karena itu diperlukan penelitian jangka panjang untuk membuktikan apakah penggunaan meal replacement dapat berefek menguntungkan pada penderita obesitas dalam mencegah faktor risiko sindroma metabolik. VDBQBO!UFSJNB!LBTJI Terima kasih kepada PT Sanghiang Perkasa (Kalbe Nutritionals) atas kesediaannya memberikan formula meal replacement (Entrasol Diet Nutrition) untuk membantu pelaksanaan penelitian ini.
EBGUBS!QVTUBLB 1. Bray GA. Handbook of Obesity. Clinical Applications. 2nd ed. 2. Waspadji S. Diabetes Mellitus, Penyakit Kronik dan Pencegahannya. Dalam: Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Editor: Soegondo S, Subekti I. Edisi 4, 2004, hal169-179. 3. Wallace JP. Obesity. In: ACSM’s Exercise Management for Persons with Chronic Diseases and Disabilities. Human Kinetics, 1997, p 106-111. 4. Guo SS, Zeller C, Chumlea WC, Sievobel RM. Aging, body composition and lifestyle the Fels longitudinal study. 1999. Am J. Clin Nutr. Vol 70, no 3, 405-411. 5. Voss S, Kroke A, Grobusch KK, Boeing H. Is macronutrient composition of dietary intake data underreporting? Results from the EPIC-Potsdam study, EJCN 1998, vol 52, no 2, p 119-126). 6. Gibson RS. Nutritional assessment methods. Dalam: Principle of Nutrition Assessment. 2nd ed. Oxford University Press, New York, 2005, hal 5-7. 7. Katch FI, Mc Ardle WD. In: Introduction to Nutrition, Exercise, and Health, Evaluation and Management of Obesity, Lea and Febiger, Philadelphia, 1993, p 254. 8. Johnson JS, Johnson BD, Allison T, Bailey KR, Schwarz GL, Turner ST. Correspondence between the Adult Treatment Panel III Criteria for Metabolic Syndrome and Insulin Resistance, 2006, Diabetes Care 29, p 668-672. 9. The International Diabetes Federation consensus definition of the metabolic syndrome. Embargo: Thurs, 14th April 2005. 10. Depres J, Pascot A, Lemeiux A, Lemeiux S, Lamrche B, Couilard C, Bergeron J. Obesity Management: A priority in the primary and secondary prevention of cardiovascular disease. In Progress in Obesity Reseach: 9. Madeiros-Neto G, Halpern A, Bouchard C, John Libbey Eurotext Ltd. 2003, p 29-35. 11. Witjaksono F. Association between metabolic sundrom (ATP III) and hypertriglyceride mid waist in male employee. 3rd National Obesity Symposium (NOS III). 2004. 12. Rothacker DQ, Staniszewski BA, Ellis PK. Liquid meal replacement vs traditional food. Journal of the American Dietetic Association 2001, 101(3):345-347. 13. Ashley JM, St Jeor ST, Perumean-Chaney S, Schrage J, Bovee V (2001). Meal replacements in weight intervention. Obesity Research 9(Suppl 4) : S312-20. 14. Flechtner-Mors M, Ditschuneit HH, Johnson TD, Suchard MA, Adler G. Metabolic and weight loss effects of long-term dietary intervention in obese patients: four-year results. Obes Res. 2000; 8 : 399-402. 15. Rothacker DQ. Five-Year Self Management of Weight Using Meal Replacements: Comparison With Matched Controls in Rural Wisconsin. Nutrition 2000, 16, p 344-348. 16. Noakes M, Foster PR, Keogh JB, Clifton PM: Meal replacements are as effective as structured weight-loss diets for treating obesity in adults with features of metabolic syndrome. J Nutr 2004, 134(8):1894-1899. 17. Jackson D, Baltes A, Khushner R. Diets, In: Evalutaion and Management of Obesity, Bessesen DH. and Khushner R. eds, Hanley dan Belfus. Inc, Phyladelphia, 2002, p 41-46. 18. Merchant AT, Anand SS, Vuksan V, Jacobs R., Davis B, Teo K, Yusuf S. For the SHARE and SHARE-AP Investigators. Protein intake is inversely associated with abdominal obesity in a multi-ethnic population. J. Nutr. 135: 1196-1201, 2005. 19. Koopman R, Verdijk L, Manders RJF, Gijsen AP, Gorselink M, Pijpers E, Wagenmakers AJM, and van Loon LJC. Co-ingestion of protein and leucine stimulates muscle protein synthesis rates to the same extent in young and elderly lean men. Am.J.Clin.Nutr. 2006; 84:623-32.

Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal replacement Terjadi perbaikan faktor risiko sindroma metabolik setelah penelitian pada kedua kelompok. Pada kelompok perlakuan terdapat perubahan lingkar perut, tekanan darah, kadar trigliserida dan kolesterol-HDL yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol, walaupun perubahan ini tidak berbeda bermakna (p>0,05).
Ubcfm!21/!Qfohbsvi!joufswfotj!hj{j!zboh!cfscfeb!tfmbnb!efmbqbo!njoh. hv!ufsibebq!cfscbhbj!gblups!tjoespnb!nfubcpmjl!)TN*/ Lfmpnqpl!B Gblups!Sftjlp!TN 12 Jumlah subjek -5,4 + 5,0 Perubahan lingkar perut (cm)*¤ 2,5 + 18,6 Perubahan tekanan sistolik*¤ (mmHg) -0,8 + 7,9 Perubahan tekanan diastolik*¤ (mmHg) Perubahan kadar gula darah puasa*¤ (mg/dL) -25,2 + 19,8 -37,6 + 64,1 Perubahan kadar trigloserida*¤ (mg/dL) -1,4 + 7,1 Perubahan kadar kolesterol-HDL*¤ (mg/dL) Lfmpnqpl!C 11 -5,8 + 6,1 -3,1 + 7,0 -2,5 + 5,3 -21,3 + 10,4 -60,2 + 70,0 1,2 + 7,0

*Uji statistik ANOVA #Uji statistik Kruskal-Wallis ¤Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok A dan B (p>0,05)

Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal replacement LFTJNQVMBO Kelompok kontrol adalah kelompok dengan aktivitas paling banyak dan total asupan paling sedikit sehingga mengakibatkan penurunan massa lemak dan masa otot terjadi paling besar pada kelompok ini. Pada kelompok perlakuan, jumlah asupan kalori dan protein lebih banyak sedangkan aktivitas fisik lebih sedikit, namun tetap terjadi penurunan massa lemak tubuh dan bahkan terjadi peningkatan massa otot pada kelompok perlakuan. Hal ini merupakan kelemahan metode record karena kemungkinan terjadinya flat slope syndrome. Terjadi perubahan yang cenderung lebih baik pada kelompok perlakuan dibandingkan kontrol dalam hal faktor risiko sindroma metabolik, walaupun tidak berbeda 92
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008

Berita Terkini

Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2007 dianugerahkan pada para pionir Stem Cell
dari Cardiff University, Wales tahun 1981. Evans membuktikan bahwa ESC tikus bersifat pluripoten ; berarti dapat menjadi berbagai jaringan dewasa. Lyle Amstrong dari Institute of Human Genetics Universitas Newcastle, Chapel Hill. Gen-gen ‘silencing’ Awalnya Evans mengerjakan bagaimana menciptakan tikus hidup dari sel induk embrionik, Capecchi dan Smithies melakukan proses lebih lanjut tahun 1986 dengan mempelajari bagaimana memodifikasi secara genetik sel-sel melalui sebuah proses yang disebut rekombinasi homolog. Selanjutnya, terbuka kemungkinan menghasilkan tikus yang dimodifikasi secara genetik untuk mendapatkan gen-gen yang tidak bekerja atau gengen baru seluruhnya dari spesies lain, termasuk manusia. Hal ini mengarah pada pembentukan ribuan tikus ‘buatan’ dengan gen khusus ‘silenced’ untuk melihat apakah ini berhasil pada penyakit tikus. Sejak pertama dilaporkan tahun 1989, lebih dari 10.000 ‘tikus buatan’ dihasilkan, mencakup kira-kira setengah gen dalam semua genom mamalia. Evans dan peneliti lain juga telah menggunakan teknik ini untuk menghasilkan tikus yang mengidap beberapa penyakit manusia, termasuk penyakit paru bawaan sistik fibrosis. Tikus yang telah dimodifikasi oleh Smithies mempunyai tekanan darah tinggi dan penyakit arteri yang ekivalen dengan manusia. Teknologi tikus ‘buatan’ sekarang dikembangkan untuk menunjukkan adanya mutasi yang dapat diaktifkan pada waktu tertentu atau sel-sel/organ tertentu, dalam embrio maupun dalam hewan dewasa.
Sumber : www.newscientist.com

Sejak ESC manusia ditemukan, terbuka kemungkinan sangat besar untuk perbaikan dan pembaruan organ dan jaringan. Tetapi hasil ini diikuti oleh kontroversi karena semua ESC manusia sampai dengan saat ini diperoleh dengan cara merusak embrio manusia, suatu prosedur yang ditentang oleh penganut pro kehidupan.
Hadiah Nobel bidang Fisiologi atau Kedokteran 2007 diberikan kepada 2 orang Amerika yang memelopori upaya membuat gen khusus pada tikus, memperbaiki fungsi mereka dan dampaknya pada penyakit. Penghargaan tersebut untuk penemuan sel induk embrionik (embryonic stem cell, ESC) oleh Martin Evans

Tyne, Inggris mengatakan bahwa Martin Evans adalah salah satu pioner yang pertama kali menghasilkan ESC dari tikus tahun 1981. Evans mendapatkan bagian hadiah sebesar $1,54 juta bersama dengan Mario Capecchi, kelahiran Italia, peneliti dari Howard Hughes Medical di University of Utah, Salt Lake City dan Oliver Smithies, kelahiran Inggris, dari University of North Carolina,

cdk 161/ vol. 35 no. 2 Mar - Apr 2008

93

Berita Terkini

Aspirin Dosis Rendah Plus Statin Menurunkan Risiko Kanker Kolorektal
dibandingkan monoterapi keduanya setelah pa ling tidak 5 tahun terapi. Tujuan : menilai efek monoterapi dan kombinasi terapi statin dan aspirin dosis rendah terhadap risiko kanker kol-

Kelompok Pasien Penggunaan NSAIDs rutin (termasuk aspirin dosis rendah) Penggunaan rutin aspirin dosis rendah Penggunaan rutin statin 23 % 18 % 12 %

Kelompok Kontrol

Secara umum, kanker kolorektal merupakan kanker nomor 3 tersering pada pria maupun wanita. Pada tahun 2003, dipublikasikan dalam the New England Journal of Medicine, suatu penelitian yang menemukan bahwa penggunaan aspirin (325 mg) setiap hari dapat secara bermakna menurunkan insiden adenoma kolorektal pada pasien dengan riwayat kanker kolorektal.
Hasil suatu studi terkini yang dipublikasikan di the International of Cancer, September 2007 menunjukkan bahwa terapi kombinasi aspirin dosis rendah plus statin lebih baik dalam menurun kan risiko kanker kolorektal

orektal Metoda : studi popu30 % lation- based, casecontrol Hasil : sebanyak 540 21 % pa sien dengan kanker kolorektal yang 18 % telah terkonfirmasi secara histologi, dan seba nyak 614 pasien kontrol.

si hal tersebut di atas, maka hal ini dapat memberikan implikasi yang besar, sebab sebagian besar populasi usia lanjut menggunakan statin dan aspirin dosis rendah untuk mencegah penyakit kardiovaskular. Kemampuan aspirin menurunkan risiko kanker kolorektal sepertinya adalah efek dari penghambatan enzim COX-2. Pada mayoritas kanker kolorektal, terdapat ekspresi COX2 yang tidak ditemukan pada kolon yang normal. Hasil suatu studi (dipublikasikan di New England Journal of Medicine, Mei 2007) menemukan bahwa aspirin hanya mengurangi insiden kanker kolorektal yang mengalami overekspresi COX-2.
Sumber : 1. Reuters.Low-Dose Aspirin Plus Statins Protects Against Colorectal Cancer.2007. www.medscape.com 2. American Society of Clinical Oncology.LowDose Aspirin Plus Statins Protects Against Colorectal Cancer.2007.www.asco.org 3. Science Daily.Aspirin’s Colorectal Cancer Prevention Mechanism Revelaed.2007. www.sciencedaily.com 4. Sandler, Robert S, et al.A Randomized Trial of Aspirin to Prevent Colorectal Adenomas in Patients with Previous Colorectal Cancer.N Eng J Med.2003.vol 348(19). p883-90

• Terdapat sedikit penurunan risiko kanker kolorektal pada pasien yang rutin menggunakan aspirin dosis rendah (adjusted odds ratio/ OR = 0,77). • Terdapat penurunan risiko kanker kolorektal yang lebih besar pada pasien yang rutin menggunakan statin (OR = 0,65). • Penurunan risiko kanker kolorektal yang paling besar ditemukan pada pasien yang rutin mengkonsumsi terapi kombinasi aspirin dosis rendah dan statin (OR = 0,63), terutama jika kedua obat tersebut dikonsumsi selama paling tidak 5 tahun (OR = 0,38) Kesimpulan : Efek kemopreventif kombinasi aspirin dosis rendah dan statin dapat meningkatkan penurunan risiko kanker kolorektal dibandingkan monoterapi kedua obat tersebut. Jika terdapat uji klinis yang bersifat acak, terkontrol, yang mengkonfirma-

94

cdk 161/ vol. 35 no. 2 Mar - Apr 2008

Berita Terkini

Efek donepezil pada pasien yang berhenti menggunakan memantine
menggunakan MMSE (MiniMental State Examination), yang menggunakan memantine monoterapi dengan dosis 10 mg/2 kali sehari, terutama dalam 3 bulan sebelumnya. Pada baseline (awal percobaan) pasien langsung di switch untuk mendapatkan donepezil 5 mg/ hari selama 4 minggu, setelah itu dinaikkan dosisnya menjadi 10 mg.; penelitian dilakukan secara open label. Tolok ukur penilaian menggunakan MMSE pada minggu ke 12 ; selain itu juga dianalisis hasil kuesioner yang ditujukan pada pengasuh atau pendamping pasien meng enai tingkat kepuasan ; juga diamati skala CGI (the Clinical

Global Impression-Improvement) dan skala Neuropsychiatric Inventory (NPI)
Pada minggu ke 12m pengamatan didapatkan bahwa skor MMSE meningkat secara bermakna sekitar 1,55 poin dari baseline (p < 0.0001). Di akhir perhitungan poin untuk kuesioner juga menunjukkan kepuasan setelah menggunakan donepezil pada sekitar 60,2% pasien. Untuk skala CGI terjadi perubahan 44, 4 55,6%. Tidak ada efek samping yang bermakna pada penggunaan donepezil, 8,7% pasien berhenti akibat efek samping; keamanan donepezil secara konsisten sangat terlihat pada penelitian tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa donepezil efektif dan aman diberikan pada pasien demensia Alzheimer tipe sedang – berat yang berhenti menggunakan monoterapi memantine.
Referensi: Effectiveness of open-label donepezil treatment in patients with Alzheimer disease discontinuing memantine monotherapy, Curr Med Res Opin. 2007 Nov 5. Donepezil preserves cognition and global function in patients with severe Alzheimer disease. Neurology 2007;69(5):459-69. IDS

Menyusul penelitian donepezil terakhir di Kanada sekaligus disetujuinya penggunaan donepezil pada pasien dengan gangguan fungsi kognitif berat, donepezil diteliti manfaatnya pada pasien Alzheimer berat yang berhenti menggunakan obat memantine. Penelitian tersebut sekaligus untuk melihat efektivitas juga keamanan pada pasien yang berhenti mengguna kan memantine karena efek buruk atau efek samping obat tersebut.
Penelitian adalah terhadap pasien Alzheimer sedang sampai berat yang telah ditegakkan diagnosisnya

cdk 161/ vol. 35 no. 2 Mar - Apr 2008

95

Berita Terkini

Lemak perut dan risiko Diabetes Melitus
Peningkatan kadar Retinol Binding Protein (RBP4) mengindikasikan pertumbuhan lemak perut tebal yang secara kuat dikaitkan dengan diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.
Baru-baru ini, tim peneliti yang dipimpin oleh Barbara B. Kahn, MD., Kepala Divisi Diabetes di Beth Israel Deaconess Medical Center, menunjukkan bahwa peningkatan kadar RBP4 memperkirakan adanya resistensi insulin. Resistensi insulin adalah tanda awal risiko diabetes tipe 2 dan peningkatan penyakit jantung. Faktor risiko lain untuk diabetes dan penyakit jantung adalah lemak perut yang tebal. Para dokter menggunakan istilah visceral adiposity untuk lemak di sekeliling organ abdomen. Dapatkah lemak perut menjelaskan kaitan antara RBP4 dan risiko diabetes/penyakit jantung ? Untuk menjelaskannya, tim Kahn bekerjasama dengan Matthias Bluher, MD. dan koleganya di Universitas Leipzig, Jerman. Mereka memperoleh sampel lemak perut tebal dari 196 pasien yang menjalani bedah abdomen - 66 orang kurus dan 130 orang kegemukan. Hasilnya : · Ada lebih dari 60 kali aktivitas gen RBP4 di dalam lemak perut pasien kegemukan dibandingkan dalam lemak perut pasien kurus. · Kadar RBP4 dalam darah 2-3 kali lebih tinggi pada pasien kegemukan dibandingkan pasien kurus. · Tidak tergantung apa-kah pasien kurus atau kegemukan, kadar RBP4 dalam darah lebih tinggi berarti lemak perut lebih tebal dan lebih banyak resistensi insulin. Para peneliti menyimpulkan bahwa proteinnya sendiri. Dalam studi sebelumnya, Khan dkk. menunjukkan bahwa RBP4 menyebabkan resistensi insulin. Jika bekerja seperti pada manusia, hal ini merupakan target obat diabetes baru. Yang menarik, sebuah obat kanker yang dinamakan fenretinida menurunkan kadar RBP4. Obat ini memperbaiki sensitivitas insulin pada tikus kegemukan; menunjukkan perbaikan sensitivitas dan toleransi terhadap kadar gula darah.
Sumber : Cell Metabolism Juli 2007

hal ini menjelaskan peranan potensial RBP4 sebagai petanda tidak hanya untuk diabetes tipe 2, tapi juga risiko penyakit jantung. Tubuh menggunakan RBP4 untuk membawa vitamin A di dalam darah. Belum jelas apakah peranan RBP4 yang baru ditemukan ini karena vitamin A atau karena

96

cdk 161/ vol. 35 no. 2 Mar - Apr 2008

Berita Terkini

Pentoksifilin untuk pemakai EPO yang resisten
Penggunaan pentoksifilin mulai dikembangkan untuk pengobatan gagal ginjal yang mengalami anemia tetapi sudah resisten dengan penggunaan EPO.
Di mulai dari hewan coba untuk mengetahui keamanan penggunaan Pentoksifilin serta efektivitasnya terhadap berbagai kelainan yang terjadi pada organ ginjal sampai dengan penelitian pada manusia. Pada penelitian pada hewan coba tikus, digunakan model yang mengalami gagal ginjal akut akibat keracunan merkuri klorida sebanyak 4 mg/kg BB yang sengaja disuntikkan lewat arteri femoralis. Selain itu juga pada tikus yang mengalami kerusakan ginjal akibat hemoglobinuria dengan pemberian Gliserol 10 ml/kg IM. Sebagai bahan evaluasi diteliti GFR (Glomerular filtration rate), yang dibandingkan saat baseline dan saat diberikan obat, selain itu diukur juga bersihan kreatinin dan fungsi tubulus yang dinilai berdasarkan ekskresi elektrolit absolut. Insiden mortalitas menurun dengan penggunaan Pentoksifilin 45 mg/ kgbb (21.4%) secara dosis tunggal dibandingkan pada kelompok kontrol yang menunjukkan nilai 71.4% selama 48 jam dilakukan induksi. Data awal menunjukkan bahwa penggunaan Pentoksifilin jangka pendek di awal terjadinya gagal ginjal akut dapat memberikan perbaikan terutama terhadap kematian ; mekanisme perbaikan ini sepertinya akibat efek vasodilatasi pembuluh darah di ginjal karena prostaglandain yang sama baiknya dengan upaya preventif kongesti vaskularnya. Minat para ahli untuk terus meneliti penggunaan Pentoksifilin terbukti deHb sebelum terapi (mean) : 9,5 + 0,9 g/dl. Setelah terapi dengan Pentoksifilin 400 mg, peroral selama 4 bulan nilai tengah Hb meningkat menjadi 11,7 +1,0 g/dl (p=0,0001). T sel pada saat awal terapi (baseline) menurun dari 58% + 11% menjadi 31% + 23% (p=0.00007) setelah diterapi. Dari hasil penelitian ini sepertinya Pentoksifilin dapat dipakai untuk meningkatkan kadar Hb pada pasien yang sebelumnya telah resisten terhadap terapi EPO; dari penelitian itu juga terlihat telah terjadi penghambatan produksi sitokin sebagai penanda terjadinya proses inflamasi, yang ada hubungannya dengan efektivitas eritropoetin. Penelitian terhadap Pentoksifilin masih terus dilakukan di Amerika Serikat, sedang dilakukan penelitian sejak tahun 2006 dan menurut rencana akan ber-akhir pada tahun 2008, tentang pemakaian Pentoksifilin pada pasien ginjal untuk memperlambat progresifitas kerusakan ginjal.

Grafik 1. Efek Pentoksifilin pada peningkatan kadar Hb

ngan banyaknya artikel mengenai hal ini, termasuk para ahli penyakit dalam Taiwan. Disebutkan bahwa Pentoksifilin, yang merupakan penghambat fosfodiesterase non selektif potensial untuk mencegah terjadinya toksisitas akibat proses inflamasi dan akumulasi matriks ekstraselular yang berperan penting dalam progresifitas kerusakan ginjal. Selain itu Pentoksifilin dapat mengurangi proteinuria pada pasien dengan nefropati membran. Dari penelitian pada pasien diabetes Pentoksifilin juga efektif dalam menurunkan proteinuria pada pasien DM yang mendapat terapi ACE Inhibitor serta pada pasien sindrom nefrotik yang akan menjadi nefritis lupus. Uji klinik juga pernah dikerjakan di London, sengaja meneliti 16 pasien gagal ginjal terminal yang tidak responsif dengan EPO injeksi, pasien tersebut mempunyai kadar Hb < 10,7 g/dl sebelum 6 bulan diterapi, dosis EPO terus ditingkatkan hingga > 12.000 IU/minggu, hasilnya Hb dapat meningkat sekitar 10,4%. Dari pasien yang ikut serta : 1 pasien mendapatkan transfusi darah tiap bulan, 12 dari 16 pasien menjalani hemodialisa (HD) tiap minggu, 4 pasien mendapatkan CAPD serta 1 pasien telah melakukan transplantasi. Ke 16 pasien tersebut kemudian diterapi dengan Pentoksifilin 400 mg oral selama 12 minggu, dilakukan pemeriksaan secara ex vivo terhadap T sel dan IFN gamma sebelum terapi dan 6 sampai 8 bulan setelah terapi. Dari total pasien, 12 pasien ikut serta hingga akhir penelitian. Nilai tengah

Literatur: Pentoxifylline improves hemoglobin levels in patients with rhEPO resistant anemia in renal failure, Journal of the American of Neprhology 15:1877-82, tahun 2004. http://jasn.asnjournals.org/cgi/reprint/15/7/1877 Effects of pentoxifylline in experimental acute renal failure, Kidney International, Vol. 36 (1989), PP. 466—470 Pentoxifylline and Progression of Chronic Kidney Disease in Moderate-to-High Risk Patients. http://clinicaltrials.gov/ct/show/ NCT00285298?order=3 The Renoprotective Potential of Pentoxifylline in Chronic Kidney Disease, J Chin Med Assoc 2005;68(3):99–105, http://www.vghtpe.gov. tw/~jcma/68/3/99.pdf

IDS

cdk 161/ vol. 35 no. 2 Mar - Apr 2008

97

Berita Terkini

Kadar vitamin B12 rendah berkaitan dengan peningkatan risiko iskemi serebral
iskemi serebral (106 TIA dan 82 dengan stroke iskemik) dan pasien-pasien ini dibandingkan dengan 779 subyek yang bebas dari iskemi serebral. Hubungan terbalik diamati antara kadar plasma vitamin B12 dan risiko iskemi serebral. Risiko relatif hampir mirip dalam peningkatan untuk stroke iskemik dan TIA.

Menurut para peneliti Jerman, kadar plasma vitamin B12 yang rendah, khususnya dalam kombinasi de ngan kadar folat yang rendah, berkaitan dengan peningkatan risiko stroke iskemik atau serangan iskemik sementara.
Dr. Cornelia Weikert dari German Institute of Human Nutrition dan koleganya menyatakan bahwa beberapa studi prospektif dan intervensi menunjukkan bahwa peningkatan kadar folat dan vitamin B12 akan menurunkan kadar homosistein dalam plasma, yang merupakan faktor risiko untuk infark miokard dan stroke.
Para peneliti menguji
98

efek individual dan kombinasi kadar folat, vitamin B12, piridoksal 5-fosfat dalam plasma terhadap risiko stroke iskemik dan transient ischemic attack (TIA) dalam suatu studi kohort prospektif di Jerman yang melibatkan 25.770 subyek berumur 35 dan 65 tahun. Selama periode follow up 6 tahun, ada 188 kasus kejadian

Tim melaporkan bahwa ketika kombinasi berbagai kadar vitamin B dianalisis, hanya kombinasi folat dan vitamin B12 yang rendah (risiko relatif 2.24) yang secara bermakna berkaitan dengan risiko iskemi serebrovaskular. Dr. Weikert dan koleganya menjelaskan bahwa temuan mereka mendukung studi lebih lanjut peran vitamin B12 dalam pencegahan primer stroke. Namun demikian, belum jelas apakah ada subkelompok orang tertentu yang mendapat manfaat dalam suplementasi vitamin B ini.

Stroke 2007; 38:2912-2918

cdk 161/ vol. 35 no. 2 Mar - Apr 2008

Berita Terkini

Bagaimana virus Chikungunya menyebar
arbovirus dan dibawa kebanyakan oleh nyamuk Aedes aegypty. Menjadi epidemik mulai di Kenya tahun 2004 dan menyebar ke beberapa kepulauan di laut Hindia termasuk Comoros, Maurutius, Seychelles, Madagaskar, Mayotte dan Reunion. Di kepulauan kecil Reunion sendiri, lebih dari 1/3 populasi atau 266.000 orang, telah terinfeksi yang disertai sakit dan nyeri yang melemahkan. Chikungunya membunuh 260 orang. Tapi, kerena nyamuk Aedes aegypty tidak ditemukan di kepulauan Reunion, para peneliti mencurigai hal lain yang membawa virus ini. Mengetahui bahwa virus yang menyebabkan kepanikan ini telah bermutasi, para peneliti menguji untuk melihat apakah mutasi memberikan virus kemampuan menginfeksi spesies nyamuk lain. Mereka mencoba menginfeksi jenis nyamuk lain, termasuk nyamuk macan Asia, Aedes albopictus, yang secara genetik direkayasa strain virusnya dan ditemukan bahwa virus dengan mutasi sederhana berkembang pesat di dalam nyamuk tersebut. Penelitian ini memberikan cara pandang baru bagaimana suatu perubahan genetik sederhana pada patogen manusia dapat meningkatkan jangkauan inangnya dan tentu saja distribusi geografiknya. Aedes albopictus sangat banyak dan didistribusi luas di daerah kota Eropa dan Amerika. Sekarang area ini rentan Chikungunya.
Sumber : PLoS Pathog 3(12): e201 doi:10.1371/journal. ppat.0030201 http://pathogens.plosjournals.org/perlserv/ ?request=get-document&doi=10.1371%2Fjou rnal.ppat.0030201

Menurut para peneliti, virus yang dikenal dengan nama Chikungunya, yang menyebabkan nyeri dan kadang-kadang gejala-gejala kelumpuhan, menyebar di beberapa negara baru beberapa tahun terakhir karena telah ditemukan jenis nyamuk baru sebagai pembawanya.
Sebuah mutasi tunggal membuat virus menginfeksi nyamuk macan Asia, yang menyebarkan dirinya ke banyak negara di Eropa dan Amerika Utara. Menurut Stephen Higgs dan koleganya dari University of Texas Medical Branch dalam laporannya dalam the Public Library of Science Journal

PloS Pathogens, 7 Desember 2007, mutasi ini meningkatkan potensi untuk virus Chikungunya secara permanen memperluas jangkauannya di Eropa dan Amerika. Secara khusus menjadi nyata jika suhu rata-rata terus meningkat seiring pemanasan global. Virus telah menyebabkan kepanikan di India dan Italia tahun ini. Chikungunya adalah salah satu tipe

cdk 161/ vol. 35 no. 2 Mar - Apr 2008

99

Berita Terkini

Kopi dan teh dapat menurunkan risiko kanker ginjal
minum hanya satu cangkir teh setiap hari mempunyai 15% risiko lebih rendah kanker ginjal dibandingkan yang bukan peminum teh. Menurut Dr. Jung Eun Lee, pimpinan para peneliti, walaupun studi tidak menunjukkan kopi atau teh secara langsung menurunkan kanker ginjal, ada bebera pa alasan mengapa minuman ini bermanfaat. Contohnya, kopi dan teh dapat meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap hormon pengatur gula darah, insulin. Para peneliti mencurigai kadar insulin berlebih menimbulkan risiko kanker ginjal. Kopi dan teh juga mengandung antioksidan yang dapat membantu melindungi sel-sel dalam ginjal dari kerusakan yang menimbulkan kanker. Untuk studi ini, para peneliti menggabungkan hasil 13 studi jangka panjang yang mencakup 530.469 wanita dan 244.483 pria. Setiap studi mengumpulkan informasi dari diet para partisipan pada saat awal dan diikuti selama 7-20 tahun. Konsumsi kopi dan teh dihubungkan dengan risiko kanker ginjal yang lebih rendah walaupun para peneliti sudah menghitung sejumlah faktor lain yang diketahui orang mempengaruhi penyakit ini seperti obesitas, merokok dan tekanan darah tinggi. Tim peneliti mencatat bahwa konsumsi teh dan kopi dapat berkaitan dengan penurunan risiko kanker ginjal secara moderat, sementara susu, jus dan soda tidak berkaitan dengan dengan risiko ini. Diperlukan studi lebih lanjut diperlukan untuk memahami mengapa kopi dan teh dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit.
Sumber : International Journal of Cancer, 15 November 2007

Pecinta kopi dan teh, menurut para peneliti di Harvard Medical School di Boston, mempunyai risiko sedikit lebih kecil terhadap kanker ginjal. Temuan ini berdasarkan analisis 13 studi sebelumnya yang menjelaskan bahwa kopi dan teh dapat memberikan perlindungan terhadap kanker ginjal, sementara susu, soda dan jus tampaknya tidak ada efeknya. Temuan ini dipublikasikan dalam International Journal of Cancer, edisi 15 November 2007.
Berdasarkan studi tersebut, orang yang minum tiga cangkir kopi atau

lebih sehari berkurang 16% risikonya menga lami kanker ginjal dibandingkan yang rata-rata minum kurang dari 1 cangkir sehari. Untuk yang me-

100

cdk 161/ vol. 35 no. 2 Mar - Apr 2008

Berita Terkini

MRI paling kuat di dunia siap memindai otak manusia
proses-proses metabolik sesuai pesanan.
Para ahli kanker, contohnya suatu hari dapat melakukan tera pi radiasi berdasarkan respon real-time tumor otak. Saat ini, para dokter seringkali harus menunggu berminggu-minggu untuk melihat apakah tumor mengecil seba gai respon terhadap terapi. Dengan 9,4T, dimungkinkan untuk melihat apakah sel-sel individual tumor mati sebelum tumor mulai mengecil. Magnet 9,4T mempunyai kekuatan lebih dari 3 kali unit-unit klinis yang ada saat ini. Magnet 9,4T yang dimiliki UIC adalah alat pertama yang cukup besar untuk memindai kepala dan memvisualisasikan otak manusia. Dr. Keith Thulborn, Direktur Pusat Penelitian Resonansi Magentik UIC mengatakan bahwa kita dapat melihat aktivitas otak dalam berbagai dimensi dengan lengkap karena natrium yang terlibat dalam proses di dalamnya, memungkinkan para peneliti secara langsung mengikuti salah satu proses konsumsi energi paling penting di dalam sel-sel otak. Kekuatan pemindai resonansi magnetik telah meningkat dari di bawah 0,5T sampai 8T yang pertama di tahun 1998. Karena data keamanan pada manusia semakin tersedia, batasan FDA mengikuti tingkat 8T saat itu di tahun 2003. Dalam uji keamanan ini, 25 sukarelawan sehat, 12 pria dan 13 wanita, dipaparkan secara acak pada pemindai 9,4T. Mereka dipaparkan pada cdk 161/ vol. 35 no. 2 Mar - Apr 2008

Mesin magnetic resonance imaging (MRI) paling kuat di dunia, 9,4 Tesla di University of Illinois (UIC) di Chicago, telah selesai diujicoba keamanannya dengan sukses dan segera menawarkan pandangan real-time terhadap prosesproses biologis dalam otak manusia. Studi keamanannya telah dipublikasikan dalam Journal of Magnetic Resonance Imaging edisi November 2007 yang merupakan edisi fokus pada keamanan MRI. Para peneliti dan dokter berharap mesin 9,4T dapat meng antar ke era baru pencitraan otak sehingga mereka dapat menyelidiki

medan magnet statik dan pada pencitraan natrium serta pemindai kosong tanpa medan magnet. Sebuah perekam audio disimulasikan seperti suara pemindai nyata. Para peneliti menyimpulkan bahwa paparan terhadap medan magnet statik 9,4T saat ini tidak perlu dikhawatirkan keamanannya. Dengan selesainya uji keamanan yang disyaratkan FDA, para peneliti UIC mulai menyiapkan penggunaan 9,4T. Thunbolt mengatakan bahwa evaluasi awal keamanan adalah langkah pertama menuju realisasi pencitraan metabolik pada otak manusia. Saat ini kita menuju studi pencitraan natrium pada pasien dan uji keamanan pencitraan fosfor dan oksigen pada manusia. Pe nanda metabolik awal dari kesehatan sel di dalam tahaptahap paling awal ketika pengobatan menghasilkan manfaat terbesar.

Sumber : www.uic.edu/endex.html

101

Jogpsnbujlb Lfeplufsbo
Peresepan Elektronik Untuk Meningkatkan Keamanan Pengobatan di Rumah Sakit
Rizaldy Pinzon
SMF Saraf RS Bethesda Yogyakarta

Abstract Medicine and the process of health care have always put patients at risk. Medical Information technology can be designed to improve the process and outcome of clinical decision-making. The goal of patient safety is to reduce the risk of injury or harm to patients caused by the structure and process of care. Medication error is a major risk for hospitalized patients. Adverse drug events occur often in hospitals. They can be prevented to a large extent by minimizing the human errors of prescription writing. The CPOE system prevented and alerted physicians and pharmacists to dosage errors and allergies. Involvement of pharmacists in reviewing the prescription and alerting the physician has minimized prescription errors to a great degree. Previous studies showed the potential role of information technology in preventing medication errors. Key words: medication error-information technology-computerized ordering system Pendahuluan Isu patient safety merupakan salah satu isu utama dalam pelayanan kesehatan. Para pengambil kebijakan, pemberi pelayanan kesehatan, dan konsumen menempatkan keamanan sebagai prioritas pertama pelayanan. Patient safety merupakan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekedar efisiensi pelayanan. Berbagai risiko akibat tindakan medik dapat terjadi sebagai bagian dari pelayanan kepada pasien. Identifikasi dan pemecahan masalah tersebut merupakan bagian utama dari (1) pelaksanaan konsep patient safety . Patient safety didefinisikan sebagai Bebas dari cedera aksidental atau menghindari cedera pasien akibat tindakan pela(1) yanan . Salah satu bentuk risiko akibat tindakan pelayanan kesehatan di RS adalah kesalahan pengobatan (medication error), yang dapat berupa kesalahan identifikasi pasien, salah nama obat, salah dosis, salah cara pemberian, dan salah aturan (2) pakai . Di Indonesia, program keselamatan pasien dicanangkan pada tahun 2005, dan terus berkembang menjadi isu utama dalam pelayanan medis di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran teknologi informasi untuk meningkatkan keamanan pengobatan pasien di RS.

Metode Kajian kualitatif dan kuantitatif terhadap berbagai penelitian terdahulu tentang penggunaan teknologi informasi untuk keselamatan pasien. Observasi tentang penggunaan TI (terutama peresepan elektronik) di pusat pelayanan kesehatan. Pembahasan lebih mendalam akan dilakukan pada topik keamanan pengobatan. Pembahasan 3.1. Konsep dasar keselamatan pasien di RS Patient safety melibatkan sistem operasional dan proses pelayanan yang meminimalkan kemungkinan terjadinya adverse event/ error dan memaksimalkan langkah-langkah penanganan (3) bila error telah terjadi. Penelitian dari 994 RS memperlihatkan bahwa cedera akibat tindakan medik (medical injuries) menyebabkan bertambahnya hari rawat inap sampai dengan 10,89 (4) hari dan tambahan biaya perawatan sebesar $ 57.727 . Kesalahan pengobatan dan efek samping obat terjadi pada rata-rata 6,7% pasien yang masuk ke rumah sakit. Di antara kesalahan tersebut, 25-50% dapat dicegah, berasal dari kesa(5) lahan peresepan, dan 78% terjadi akibat kegagalan sistem . Berbagai upaya telah diusahakan secara terus menerus untuk mengurangi adverse event akibat tindakan medis. Upaya untuk meningkatkan patient safety adalah dengan: (1) pengembangan sistem untuk identifikasi dan pelaporan risiko, error, atau adverse event, (2) penggunaan teknologi informasi, dan (3) upaya perubahan kultur organisasi. 3.2. Penggunaan teknologi informasi untuk meningkatkan keselamatan pasien Penggunaan teknologi informasi diharapkan dapat meningkatkan patient safety. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan efektivitas penggunaan sistem komputer untuk memperbaiki praktek peresepan, mengurangi medication error, dan meningkatkan kepatuhan terhadap pelaksanaan standar pelayanan (6,7,8) (clinical practice guideline) . Kajian sistematis Kawanoto, dkk pada 70 penelitian terdahulu menunjukkan bahwa sistem pendukung keputusan klinis berbasis komputer terbukti meningkatkan pelayanan klinik pada 68% studi. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan efektivitas penggunaan sistem komputer untuk memperbaiki praktek
(9)

102

CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008

peresepan, meningkatkan kepatuhan terhadap standar pelaya(10) nan medik, dan mengurangi risiko kesalahan pengobatan . Komite Agency for Healthcare Research and Quality mengkaji bukti ilmiah berbagai intervensi untuk meningkatkan patient safety. Sebagai contoh: pengurangan risiko efek samping obat dapat dilakukan dengan strategi sbb: (1) penggunaan sistem komputerisasi dan sistem pendukung keputusan klinis, (2) melibatkan farmasis klinik, (3) protokol standar untuk obat-obat berisiko tinggi, (4) sistem distribusi obat unit-dosis, dan (5) penggunaan Automa(12) ted Medication Dispensing Devices . 3.3. Teknologi informasi untuk keselamatan pengobatan (13) Penelitian Jayawardena, dkk menemukan bahwa terjadi 7,53 kesalahan per 1000 peresepan. Kesalahan dosis umum dijumpai. Kesalahan lain yang umum dijumpai adalah kesalahan pemberian obat akibat tulisan tidak terbaca. Penelitian menemukan bahwa teknologi informasi dengan sistem peresepan berbasis komputer secara signifikan menurunkan kesalahan pengobatan. menunjukkan bahwa kesalahan pengoKajian Waliser, dkk batan yang umum dijumpai adalah salah nama obat, salah dosis, dan salah interval pemberian. Penelitian memperlihatkan bahwa kesalahan pengobatan umum dijumpai pada pasien di ICU, pasien tua, dan pasien dengan penurunan kesadaran di (15) RS . Kesalahan pengobatan umum terjadi karena tulisan yang tidak jelas, salah menginterpretasikan resep, obat yang namanya mirip, kesalahan dosis, kesalahan aturan pakai, dan kesalahan (15) identifikasi pasien . Teknologi informasi memiliki peran besar untuk bisa mengatasi hal tersebut.
(14) (11)

Perbaikan sistem merupakan solusi untuk mencegah kesalahan pengobatan di masa datang, dan bukan menyalahkan individu. Teknologi informasi di bidang obat berpotensi besar untuk men(16) gurangi risiko kesalahan pengobatan . Kajian Subramanian, (17) memperlihatkan bahwa Computerized Physician Order dkk Entry (CPOE) dapat sangat bermanfaat untuk menurunkan risiko medication error. Biaya yang cukup besar merupakan penghalang utama pengembangan CPOE secara luas. 3.4. Hambatan penggunaan teknologi informasi dalam praktek klinik (6) Bates dan Gawande mengidentifikasi 3 faktor penghambat utama dalam penerapan teknologi informasi pada praktek klinik sehari-hari, yaitu: (1) hambatan finansial - pengembangan sistem pendukung keputusan klinis memerlukan biaya tersendiri, (2) belum adanya standar - sistem yang ada masih sangat bervariasi, (3) hambatan kultural - penggunaan teknologi informasi belum dipandang penting bagi para dokter dan manajer kesehatan. Pada situasi di negara berkembang seperti Indonesia, menurut pandangan penulis hambatan lain adalah tingkat penguasaan teknologi informasi oleh para praktisi pelayan kesehatan. Resep sukses suatu teknologi informasi untuk dapat meningkatkan mutu layanan kesehatan adalah dukungan kultural dan kesiapan semua pihak dalam organisasi pelayanan kesehatan (6) untuk berubah Simpulan Pelayanan klinik akan selalu menempatkan pasien-pasien dalam risiko akibat tindakan medik. Teknologi informasi berperan untuk meningkatkan kewaspadaan, mengelola kompleksitas masalah klinis, dan meningkatkan kepatuhan dalam program pengobatan.
Kepustakaan 1. Zorab JSM. Patient Safety is More Important than Efficiency. BMJ 2002; 324:365 2. Bates DW, Cullen DC et al. Incidence of Adverse Drug Events and Potential Adverse Drug Events. JAMA 1995; 274: 29-34 3. Batles JB, Lilford RJ. Organizing Patient Safety Research to Identify Risks and Hazards. Qual Saf Health Care 2003;12 4. Zhan C, Miller MR. Excess Length of Stay, Charges, and Mortality Attributable to Medical Injuries during Hospitalization. JAMA 2003;290:1868-1874 5. Aiken LH, Clarke SP dkk. Hospital Nurse Staffing and Patient Mortality, Nurse Burnout, and Job Dissatisfaction. JAMA 2002;228(16): 1987-1993 6. Bates DW, Gawande AA. Improving Patient Safety with Information Technology, N Engl J Med. 2003;348: 2536-44 7. Kaushal R, Shojania KG, Bates DW. Effects of computerized physician order entry and clinical decision support systems on medication safety: a systematic review. Arch Intern Med. 2003;163: 1409-16. 8. Walton RT, Harvey E, Dovey S, Freemantle N. Computerised advice on drug dosage to improve prescribing practice. Cochrane Database Syst Rev 2001, 1 9. Kawamoto K, Haullian CA, dkk. Improving clinical practice using clinical decision support systems: a systematic review of trials to identify features critical to success. BMJ 2005; 330:765 10. Wilson T, Pringle M. Promoting Patient Safety in Primary Care. BMJ 2001; 323:583-584 11. AHRQ. Making Health Care Safer: A Critical Analysis of Patient Safety Practices, Evidence Report/Technology Assessment. 2001, Number 43 12. Bates DW, Teich JM, Lee J, Seger D, Kuperman GJ, Ma’Luf N, et al. The impact of computerized physician order entry on medication error prevention. J Am Med Inform Assoc. 1999; 6: 313-21 13. Jayawardena S, Eisdorfer J, Pal AA, Indulkar J. Prescription Errors and the Impact of Computerized Prescription Order Entry System in a Communitybased Hospital. Am J Ther. 14(4): 336-40 14. Walliser G, Grossberg R, Read MD, Look-alike medications: a formula for possible morbidity and mortality in the long-term care facility. J Am Med Dir Assoc. 2007;8(8):541-2 15. Hurstey FM, Wallis N, Miller J, Inappropriate Prescribing in Older ED Population. Am J Emerg Med. 2007; 25(7); 804-7 16. Burker PJ. Preventing Medication Errors. N Engl J Med. 2007;357: 624-625 17. Subramanian S, Hoover S, Gilman B, Computerized Physician Order Entry with Clinical Decision Support in Long-Term Care Facilities: Costs and Benefits to Stakeholders. J Am Geriatr Soc 2007; 55(9); 1451-7

Gambar 1. Contoh tulisan resep. Peresepan demikian memiliki risiko besar untuk salah baca (termasuk salah obat, salah dosis, dan salah aturan pakai).

Gambar 1 memperlihatkan bagaimana sebuah tulisan resep dapat disalahtafsirkan. Pada gambar di atas, tulisan resep dapat disalahartikan sebagai Coumadin (obat antikoagulan) atau Avandia (obat anti diabetes). Pada gambar di bawah Tequin (antibiotika) dapat diartikan sebagai Tegretol (obat anti epilepsi).

Gambar 2. Bila terintegrasi dengan rekam medik elektronik, dapat berfungsi sebagai “alert system”

CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008

103

sudah duduk di bangku kelas tiga SMP. Hingga pensiun tahun 1953 ayahnya bertugas di wilayah sekitar Solo saja yakni di Boyolali, Sragen dan Karanganyar.

Qspgjm

Ketika Clash II pecah bulan Desember tahun 1948 ia mengungsi dari Boyolali ke daerah pedalaman dan sebagai siswa kelas dua SMA Sjamsuhidajat ikut bergabung dalam organisasi Tentara Pelajar (Mas TP). Pendidikan sekolah menengah atas ditempuhnya di HBS Semarang hingga lulus tahun 1951. Bulan Agustus 1951, Sjamsuhidajat hijrah ke Jakarta untuk meneruskan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran pada Perguruan Tinggi Republik Indonesia (PTRI) yang kemudian berubah namanya menjadi Universitas Indonesia tahun itu juga. Di zaman Jepang perguruan tinggi itu disebut Sekolah Tinggi Ketabiban atau Ika Daigaku. Di zaman Hindia Belanda kompleks PTRI itu merupakan pabrik candu yang terkenal. Dulu dari arah Pasar Cikini ada kereta api yang masuk ke kompleks pabrik itu untuk mengangkut candu ke Stasiun Gambir dan selanjutnya membawanya ke pelabuhan untuk diekspor ke luar negeri. Ketika Perang Dunia II usai, perdagangan candu dilarang dan pabrik itu pun tutup. Pada tahun 1949 kompleks itu diserahkan kepada PTRI. Sjamsuhidajat masuk FKUI pada Agustus 1951 dan lulus Agustus 1959. Meski begitu sejak tahun 1958 ia sudah diminta untuk menjadi asisten berstatus mahasiswa pada Bagian Bedah FKUI- RSUP. Pada waktu itu di FKUI masih menganut studi bebas. Artinya mahasiswa bebas menentukan kapan waktu untuk menempuh ujian. Dengan cara itu dimungkinkan seorang menjadi mahasiswa abadi dan belajar dalan jangka waktu 10-20 tahun. Tetapi ketika FKUI menjalin kerjasama dengan Universitas California di AS pada tahun 1955 terjadi perubahan menjadi pendidikan terpimpin yang menuntut mahasiswa untuk naik tingkat setiap tahun ajaran. Pada waktu itu pendidikan bedah dan anestesi masih merupakan pendidikan gabungan ilmu bedah. Bahkan dulu dokter bedah harus menguasai anestesi. Tidak mengherankan pada sekitar tahun 1954 perhimpunan profesi yang mewadahinya masih bernama Ikatan Ahli Bedah dan Anestesi Indonesia. Sjamsuhidajat akhirnya lulus sebagai dokter spesialis bedah tahun 1963. Ia kemudian mengabdi sebagai dokter Spesialis Bedah pada Rumah Sakit Lapangan Angkatan Darat, Trikora, 1962-1963. Selama empat bulan pada tahun 1963, ia menjadi dokter spesialis bedah di Rumah Sakit Umum Jayapura dan Rumah Sakit Umum Biak. Tahun 1967 pendidikan bedah dan anestesi sudah resmi berpisah. Tahun itu pula diselenggarakan kongres pertama Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) di Semarang. Sementara dokter ahli anestesi memiliki perhimpunan sendiri bernama Ikatan Ahli Anestesi Indonesia (IAAI). Pendidikan bedah yang resmi dalam arti sudah diakui universitas terjadi tahun 1978. Sebelumnya pendidikan bedah dilakukan di rumah sakit sebagai salah satu kebutuhan pelayanan. Pada 1978/1979 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI mengeluarkan ketentuan yang mewajibkan pendidikan dokter spesialis itu dilakukan atas nama universitas atau fakultas kedokteran. Dalam hal itu Fakultas Kedokteran di tiap universitas harus menjadi penanggung jawab utama pendidikan kedokteran.

Prof. Dr. R. Sjamsuhidajat, SpB :

Mengenal Lebih Dekat Sosok Perintis Spesialis Bedah Digestif di Indonesia
Oleh Ari Satriyo Wibowo

Tak banyak yang tahu bahwa Prof. Dr. R Sjamsuhidajat, SpB yang termasuk angkatan keempat pendidikan dokter bedah negeri ini merupakan perintis spesialis bedah digestif di Indonesia. Pria kelahiran Tanjung Pinang, Bintan, Kepulauan Riau, 7 November 1931 itu masih tampak sehat dan segar ketika memaparkan kisah perjalanan hidupnya. Sejak kecil Sjamsuhidajat sering berpindah-pindah mengikuti tugas ayahnya yang bekerja sebagai seorang insinyur di Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda. Dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau ayahnya kemudian ditugaskan ke Lubuk Linggau untuk membangun jembatan dan saluran air di wilayah kolonisasi (sekarang lazim disebut transmigrasi) di daerah Tugu Mulyo. Selanjutnya, pada 1936 ayahnya ditugaskan ke Belitang di Sumatera Selatan yang berbatasan dengan Lampung. Wilayah itu di masa tersebut masuk dalam wilayah Karesidenan Palembang. Ketika mulai duduk di bangku sekolah dasar tahun 1937, Sjamsuhidajat tinggal bersama kakeknya di kota Solo di Jawa. Namun, ketika Jepang datang menyerbu Indonesia tahun 1942, Sjamsuhidajat diminta pulang kembali ke Sumatera Selatan oleh ayahnya. Baru pada tahun 1946 ayahnya ditempatkan ke Pulau Jawa, tepatnya di Boyolali, Jawa Tengah. Waktu itu, Sjamsuhidajat

104

CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008

Pada tahun 1979 atas prakarsa Menteri P&K Daoed Jusuf telah menetapkan strata pendidikan di Indonesia tiga strata yakni S1 (sarjana), S2 (magister) dan S3 (doktor). Sebelumnya, seseorang yang lulus Sarjana Kedokteran (Drs Med atau Sked) dan belum menjadi dokter umum diperbolehkan langsung menempuh ujian doktor. Menurut Sjamsuhidajat, sesungguhnya perubahan S1, S2, S3 merupakan suatu strategi bukan suatu tujuan. Demikian pesatnya ilmu pengetahuan untuk bisa menguasai seluruh ilmu apabila hanya dibagi dua strata terlalu berat dan waktu pendidikannya menjadi lama sehingga kemudian diputuskan dibagi menjadi tiga. ”Jadi keputusan itu diambil bukan sebagai tujuan akhir. Jika seseorang ingin menguasai satu bidang secara keseluruhan maka dia harus mengambil dalam tiga strata,” Sjamsuhidajat menambahkan. Saat ini jenjang setelah S3 sudah dikembangkan di beberapa negara. Misalnya, di Inggris dan Australia setelah PhD seorang yang bergelar PhD dan mampu terus mengembangkan ilmu yang dikuasainya melalui penelitian-penelitian lanjutan, maka ia dapat mengajukan permintaan untuk dinilai mendapatkan ”gelar” yang lebih tinggi, yaitu gelar Doctor of Science (DSc). Namun, karena tidak semua negara mampu menyelenggarakannya maka itu diserahkan pada masing-masing negara. Perkembangan Pendidikan Bedah di Indonesia Sejarah bagian bedah di FKUI dimulai pada 1958 dengan guru besar bernama Prof. Margono Soekarjo. Saat itu hanya dikenal Bedah Umum, Bedah Urologi (saluran kencing) dengan guru besar Prof. Utama, Bedah Orthopaedi (tulang) yang dirintis dr. Soebiakto Wirjokusumo dan Bedah Plastik dengan guru besar Prof. Moenadjat Wiratmadja. Belakangan muncul spesialisasi baru yakni Bedah Anak yang dirintis Dr. Adang Zainal Kosim sepulang dari menempuh pendidikan di Kanada. Keempat spesialisasi bedah tersebut lazim disebut sebagai spesialisasi bidang bedah (spesialis 1). “Dulu pendidikan bedah dilakukan di rumah sakit bukan di fakultas,” ujar pria yang dikaruniai dua anak itu. Kondisi itu berubah tahun 1978 ketika bagian bedah menjadi tanggung jawab penuh fakultas kedokteran dan bukan lagi rumah sakit. Dalam perkembangan ilmu kedokteran selanjutnya dikenal spesialisasi yang lebih kompleks yakni meliputi Head & Neck (kepala dan leher), thoraks (rongga dada dan paru-paru) serta jantung. Ketiga spesialisasi tersebut lazim disebut spesialis 2 karena mensyaratkan peserta untuk menempuh spesialis bedah umum (spesialis 1 ) terlebih dahulu. Spesialisasi Bedah Digastif baru terbentuk pada tahun 1979. Pada waktu itu dr. R. Sjamsuhidajat mengikuti sebuah kongres bedah internasional yang diselenggarakan di Bali. Di acara itu banyak pembicara yang membahas masalah perut, limpa, usus besar, empedu dan alat pencernaan lainnya. Dengan jeli dr. Sjamsuhidajat melihat peluang baru di dunia bedah. Maka dikumpulkannya para sejawat pada tahun itu juga. Mereka kemudian mendeklarasikan wadah baru berupa spesialis bedah digastif dengan nama Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Digestif Indonesia (1979). Spesialis Bedah Digestif selanjutnya digolongkan sebagai bagian dari Spesialis 2 yang mensyaratkan peserta harus menguasai bedah umum terlebih dahulu. Dengan berkembangnya ilmu kedokteran khususnya dalam riset sel punca (stem cell) maka layanannya sudah termasuk dalam layanan tersier. Artinya, layanan itu tidak bisa dilayani

oleh satu displin ilmu kedokteran saja melainkan multidisiplin. “Disana harus ada ahli imunologi, ahli darah. Lalu bila ke myokard harus ada ahli jantung, kalau ke pankreas harus ada ahli penyakit endokrin. Jadi tidak bisa ditangani hanya seorang ahli penyakit dalam saja,” papar Sjamsuhidajat. Rumah sakit yang melayaninya juga harus Rumah Sakit tipe A atau tipe B lanjut dengan nama pelayanan seperti pelayanan luka bakar, pelayanan tumbuh kembang dan pelayanan regeneratif. Sedangkan pelayanan primer merupakan pelayanan di Puskesmas seperti vaksinasi, batuk pilek, muntah berak dan sebagainya. Pelayanan primer umumnya menangani penyakit ringan yang ada di masyarakat. ”Vaknisasi itu tujuannya memberikan kekebalan tubuh kepada semua anak,” tutur Sjamsuhidajat. Sementara itu, pelayanan sekunder adalah pelayanan yang didasarkan disiplin ilmu kedokteran tertentu. Misalnya, pelayanan sekunder di Rumah Sakit Tipe C yang ada di tingkat Kabupaten bisa dilakukan oleh satu disiplin ilmu saja. Misalnya, radang akut usus buntu bisa dilakukan oleh dokter bedah. “Partus atau operasi caesar bisa dilakukan dokter spesialis obgin secara monodisiplin,” katanya. Pada tiap rumah Sakit tipe C diperlukan paling tidak 4 orang dokter spesialis yakni spesialis anak, spesialis bedah, spesialis penyakit dalam dan spesialis obstetri dan ginekologi. Adapun pelayanan yang lebih tinggi disebut pelayanan kwarterner. Misalnya, operasi jarak jauh antarnegara dengan memanfaatkan teknologi robot dan teknologi satelit. Namun, apabila terjadi kesalahan operasi maka permasalahan menjadi semakin pelik dan rumit karena menyangkut masalah etika dan hukum antar negara. Prof. Dr. Sjamsuhidajat SpB diangkat menjadi Guru Besar Ilmu Bedah FKUI pada tahun 1987. Sejak 12 tahun lalu ia menjadi anggota Majelis Kehormatan Etik Kedokteran, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. Ketua Komite Medik RS Kanker ‘Dharmais’ mulai tahun 1993 sampai tahun 2001. Anggota Komite Medik RS MMC, RS Medistra, RS Setia Mitra sejak 5-7 tahun sampai sekarang. Ketua Sub-Komite Etik, Komite Medik RS MMC selama 7 tahun sampai sekarang. Sejak tahun 1992, menjadi Ketua Komisi Etik Penelitian FKUIRSCM. Sebelumnya, sudah menjadi anggota Komisi ini beberapa tahun lamanya. Anggota Kelompok Kerja Uji Klinik (CTWG) dan turut menerjemahkan buku kecil ICH-GCP menjadi Buku Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB), yang diprakarsai oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. Beberapa kali memberikan ceramah pada kursus CUKB di Jakarta dan kota lain. Beberapa jabatan dan keanggotaan yang pernah diembannya antara lain Ketua Kolegium Ilmu Bedah Indonesia (1975-1992), Ketua Kolegium Ilmu Bedah Digestif Indonesia (1992 sampai sekarang), anggota Pendiri Asian Surgical Association (1976), Presiden Asian Surgical Association (1979-1981) serta Anggota Collegium Intemationale Chirurgiae Digestivae, Societe lnternationale de Chirurgie, International College of Surgeons. Prof. Dr. Samsjuhidajat, SpB memasuki masa pensiun tahun 2001. Pada tahun 2006 ia diminta oleh Dekan FKUI untuk menjadi Ketua Departemen Pendidikan Kedokteran FKUI. ***

CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008

105

Qsblujt

STATUS EPILEPTIKUS
Tabel 3. Pedoman Penatalaksanaan Status Epileptikus (Perdossi) STAGE OF STATUS PREMONITORY (0-10 minutes) GENERAL MEASURES AED TREATMENT
(1)

Status epileptikus merupakan keadaan darurat; yang didefinisikan sebagai: suatu keadaan bangkitan epilepsi yang berlangsung terus menerus, atau bangkitan berulang tanpa pemulihan kesadaran, selama periode 30 menit atau lebih (1)
Tabel 1. Gambaran Klinis Status Epileptikus Menurut Jenis Eepilepsinya(2) Tipe Gambaran klinis Keterangan

Umum Tonik klonik umum Fase tonik disusul fase klonik Lena (absence) Kebingungan,mata berkedip- EEG: paku-ombak kedip,gerak motorik canggung 3/detik Gerak mioklonik persisten Prognosis sangat Kesadaran baik pada jenis buruk jika disebabprimer; menurun jika akibat kan anoksi gangguan metabolik Kaku otot ekstensor Terutama pada anak (Sindrom Lennox-Gastaut) Sering pada bayi baru lahir Epilepsi partialis continua

• Assess cardiorespira- • Diazepam tory function (i.v. bolus , p.r.) • Secure airways • Midazolam • Give oxygen (i.m.,i.v. bolus, p.r) • Paraldehyde (i.m.,p.r) • Institute monitoring • i.v access • Emergency investigations • Give 50% Glucose (50 ml) • Give Thiamine where appropriate • Treat acidosis • Lorazepam (i.v. bolus), • Diazepam (i.v.bolus) SECOND LINE: • Lignocaine (i.v.bolus &infusion) • Clonazepam (i.v.bolus) • Paraldehyde (i.m.) • Phenytoin (i.v.bolus)

EARLY (0-30 minutes)

Mioklonik

Tonik

Klonik Parsiil Parsiil sederhana Motorik Somatosensorik Visual Auditorik Afasik Parsial kompleks

Gerak ritmik (kelojotan) Gerak ritmik ekstremitas, terutama atas

ESTABLISHED (30-60/90 minutes)

• Establish aetiology • Identify and treat medical complication • Pressor therapy if needed

Gejala sensorik fokal Mungkin tanpa Buta kortikal atau skotoma gejala klinis Tuli kortikal Motorik, sensorik, global ‘bengong’, automatisme, tingkah laku aneh Tidak ditemukan pada status epileptikus Afasik saat serangan Sering dianggap gejala psikiatrik

Tabel 2. Presentasi SE Nonkonvulsif Yang Mirip Dengan Keadaan (3) Klinis Lain PRESENTASI KLINIS • • • • • • • • Letargi dan kebingungan (confusion) Kebingungan, agitasi Tidak ada respons, katapleksi Agitasi, kebingungan,konfabulasi Halusinasi/agitasi Letargi/obtundasi Mutisme Tertawa,menangis tidak pada tempatnya • • • • • • • • ANGGAPAN DIAGNOSIS Keadaan pascakejang Ensefalopati metabolik Psikogenik/konversi Intoksikasi alkohol/zat Psikosis Hiperglikemi/ketoasidosis DM Psikogenik/depresi/stroke Labilitas emosi/psikosis

• Phenobarbitone (i.v loading & infusion) • Phenytoin (i.v.loading & infusion) • Chlormethiazole (i.v.loading & infusion) SECOND LINE: • Clonazepam (i.v.bolus OR infusion) • Paraldehyde (infusion) • Diazepam (short infusion) • Midazolam (short infusion) • Thiopentone (i.v.bolus & infusion) • Propofol (i.v.bolus & infusion) SECOND LINE: • Pentobarbitone (i.v.bolus & infusion) • Isoflurane (inhalation) • Etomidate (iv.bolus & infusion)

REFRACTORY ( > 60 minutes)

• EEG monitoring • Monitor seizure EEG AND cerebral function • Intracranial pressure monitoring IF appropriate

106

CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008

Tabel 4. Pedoman Penatalaksanaan Status Eepileptikus (WHO(4) Searo)

KEPUSTAKAAN 1. Kelompok Studi Epilepsi. Pedoman Tatalaksana Epilepsi. Epilepsi 2004; 9(1):29-44 2. DeLorenzo RJ, Pellock JM, Towne AR et al. A prospective, population-based epidemiologic study of status epilepticus in Richmond,Virginia. Neurology 1996;46:1029-35 3. Bleck TP. Convulsive disorders: status epilepticus. Clin. Neurophysiol.1991;14:191-198 4. Epilepsy: a manual for physicians. WHO-SEARO, 2004

Fohmjti!Tvnnbsz!Mbokvubo
SBMBU

Nfovkv! Lmpojoh! Ufsbqfvujl! ef. the preservation of nearly extinct ohbo!Uflojl!TDOU animals while therapeutic cloning may overcomes immune rejecNfmjob! Tfujbxbo- ! Dbspmjof! Ubo! tion in stem cell transplantation ! Tbsekpop!!Gfssz!Tboesb therapy. The success of the embryonic stem cell creation from Tufn!Dfmm!Ejwjtjpo-!Tufn!Dfmm!boe!Dbo. monkey’s embryo with SCNT ! dfs!Jotujuvuf-!QU!Lbmcf!Gbsnb!Ucl/!!Kb. technique recently has directed ! lbsub-!!Joepoftjb ! researchers worldwide to move a step closer to create human embryonic stem cell from adult soThe usage of Somatic Cell Numatic cell which may reduce risk clear Transfer (SCNT) technique of immune rejection. Indeed, the has lead scientists over the world advancement of embryonic stem to be able to carry out reprocell research depends on the resductive and therapeutic cloning olution of ethic issues regarding research. SCNT technique is a the usage of donor oocytes. cloning technique used to transfer nucleus from donor cell into Cermin Dunia Kedokt.2008;35(2): hal 72-6 enucleated oocyte. Reproductive nt-dut-gt ! ! cloning plays important role in

CDK-160, vol. 35 no. 1, halaman 47; edisi Januari-Februari 2008. Kolom rubrik ‘Informatika Kedokteran’, no. 22 pengelolanya tertulis Ilyas, dr., SpA Seharusnya M. Rizal Altway, dr., SpA. Penulis mohon maaf adanya. Ufsjnb!lbtji/

CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008

107

Laporan Khusus

Mini Seminar “Active Aging” , Rektorat UI Salemba, 26 Januari 2008

Mengangkat subtema “Menjadi Tua secara Aktif untuk Kesehatan Anda sendiri, Keluarga, Masyarakat dan Sumbangsih Anda kepada Negara” diskusi yang dihadiri oleh , sekitar 75 orang pengusaha, akademisi dan wakil pemerintahan berjalan sangat semarak. Gedung Rektorat UI di Salemba Jakarta, terasa begitu sempit dengan antusiasme peserta. Para pembicara adalah: Dr Boenyamin Setiawan, PhD., DR Martha Tilaar, Dr Ch. Heriawan Soejono, DR Evi Arifin, DR Aris Ananta dan Prof Tri Budi Rahardjo. Acara ini terselenggara berkat kerjasama Rektorat UI dengan Stem Cell and Cancer Institute, suatu lembaga yang mengkhususkan diri pada Stem Cell (sel punca) dan kanker. Turut mendukung acara divisi Anti Aging PT Kalbe Farma. Setelah ucapan selamat datang dari Rektor UI, tampil Dr Boenyamin yang pada awal presentasi menjelaskan mengenai pentingnya ABG. Menurut person yang akrab dipanggil dr Boen tersebut, Akademik adalah sumber SDM terdidik dan sumber IPTEK. Selama dana pemerintah untuk R&D kecil maka sebaiknya fokus pada IPTEK teraplikasi. Dilain pihak, Bisnis adalah tempat untuk mengkonversi IPTEK menjadi produk praktis yang bermanfaat untuk masyarakat. Aspek terakhir dari ABG adalah G untuk Goverment atau pemerintah yang merupakan katalisator untuk menciptakan peraturan yang kondusif untuk Inovasi melalui R&D. StemCell to Slowdown the Aging Process Selanjut dr Boen mempresentasikan pengetahuan terbaru mengenai Sel Punca dengan judul “Stem Cell to Slowdown the Aging Process” Seperti diketahui ada 5 teori . yang terkenal mengapa manusia menjadi tua, yaitu: 1. Teori Genetik atau Kerusakan DNA 2. Teori ROS (Reactive Oxygen Species): antioksidan vs radikal bebas 3. Teori Apoptosis 4. Teori Hormonal 5. Teori Stem Cell senescene

Tips Active Aging Menurut Presiden Komisaris Stemcell and Cancer Institute (SCI) Indonesia tersebut, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar kita hidup berkualitas di usia tua, seperti: 1. Menjalankan program CRAN (Calorie Restriction and Adequate Nutrition) dan puasa teratur. Hal ini dipercaya bisa menambah usia kita hingga 30 - 40 tahun. 2. Konsumsi obat-obatan anti aging seperti Anti Oksidan, DHA, Growth Hormon, dll. Hal ini bisa memperpanjang usia kita hingga 20 - 30 tahun. 3. Gerak badan dan olahraga teratur (bisa memperpanjang 20 - 30 tahun) 4. Sifat optimistis, banyak ketawa, bergembira dan berlibur teratur (bisa memperpanjang usia 15 - 20 tahun) 5. Periksa kesehatan secara teratur (plus 15 - 20 tahun). Traditional & Natural Values to Improve the Beauty of Older Person Pembicara kedua adalah DR Martha Tilaar, founder Martha Tilaar Group yang menjelaskan produk-produk alami bangsa Indonesia (herbal) guna menjaga kesehatan para orang tua (senior citizens). DR Martha memaparkan bagaimana pengaruh gaya hidup manusia saat ini yang mempunyai efek negatif terhadap kesehatan seseorang. Hal ini bisa terlihat jelas pada kondisi kulit yang tidak sehat lagi. Indonesia yang terdiri dari pel-bagai suku bangsa kaya akan jawaban dari masalah penuaan ini yang dirangkum dalam konsep yang dinamakan The cycles of life concept Rupasampat Wahyabiantara. Setelah coffe break dilanjutkan oleh Dr Ch Heriawan Soejono yang menjelaskan mengenai Healthy and Successful Ageing. Mengakhir sesi terakhir tampil berturut-turut DR Evi Arifin, DR Aris Ananta dari Insitute of Southeast Asian Studies (Singapore) dan juga Prof DR Tri Budi Rahardjo. International Center for Aging and Development Studies University of Indonesia (ICADS@UI) Pada akhir acara, para peserta menyambut baik dengan usulan pembentukan suatu badan yang melakukan penelitian mengenai usia lanjut yang disebut dengan International Center for Aging and Development Studies University of Indonesia (ICADS@UI). ICADS adalah suatu alat untuk menjadikan UI sebagai Universitas Riset, juga merupakan suatu model untuk “marketisasi” pelayanan umum dan reformasi birokrasi di Indonesia. Diharapkan dengan hadirnya ICADS tersebut, akan tercipta pemahaman yang lebih baik mengenai salah satu isu pembangunan yang makin penting di Indonesia, yaitu masalah Penuaan Penduduk.

108

CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008

Seminar Sel Punca “The new Era of Biotechnology” & Pendirian ASPI, Gedung LIPI Jakarta, 2 Februari 2008

Menurut Kusmayanto, Ketua ASPI, terdapat 3 misi yang akan dijalankan ASPI yaitu dalam hal (1) etika, (2) hukum dan (3) sosial. Dalam waktu dekat ASPI akan membuat media informasi seperti website di mana masyarakat luas bisa bertanya apa saja mengenai Sel Punca ini. Dengan demikian masyarakat bisa memperoleh informasi langsung dari pakarnya. Dengan demikian akan terbentuk kepedulian masyarakat terhadap Sel Punca. Apabila ditemui isu mengenai etika maka ASPI tidak segan-segan untuk bekerjasama dengan bagian lain, misalnya, dengan Komite Bioetika Nasional. Menjawab ‘sentilan/provakasi’ dr Boen, Kusmayanto memuji Chairman Stem Cell and Cancer Institute (SCI) tersebut, sebab dr Boen tidak hanya sekadar mengeluh mengenai perkembangan penelitian di Indonesia tetapi juga turut berperan mengaktifkannya di Indonesia dengan hadirnya Stem Cell and Cancer Institute. Temu Pers Pada Temu Pers yang diadakan setelah acara seremoni di atas (lihat foto), salah satu Dewan Penasihat ASPI, Prof DR Dr Arry Harryanto Reksodiputro, SpPD, KHOM, yang juga Ketua Tim Stem cell Nasional menjelaskan bahwa saat ini sedang digodok peraturan mengenai pedoman penelitian dan pelayanan terapi Sel Punca. Dengan demikian siapapun yang ingin berkecimpung pada area ini bisa mengetahui aturan mainnya. Susunan Pendiri ASPI Dari panitia diperoleh daftar susunan pendiri ASPI: 1. Prof. Dr. dr Akmal Taher, SpU 2. Prof. Dr. dr Amin Soebandrio, SpMK 3. Dr Boenjamin Setiawan, Ph.D 4. Ferry Sandra, Ph.D 5. Ir. Ferry Soetikno, MBA, MSc 6. Prof. dr. Menaldi Rasmin, SpP(K), FCCP 7. Prof. Dr. dr Suhartono Taat Putra 8. Prof. dr. Sultana MH Faradz, Ph.D 9. Prof. Umar Anggara Jenie, Ph.D Para Ketua 1. Dewan Penasehat: Dr. Ir. Kusmayanto Kadiman 2. Dewan Ilmiah: Dr. dr Amin Soebandrio Sp.MK 3. Dewan Pelaksana: (masih kosong) Masing-masing Dewan diisi oleh dari 10 - 30 anggota.

Pembentukan Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) merupakan tindak lanjut dari salah rumusan hasil Workshop yang diselenggarakan Dewan Riset Nasional (DRN) Komisi Teknis Kesehatan dan Obat bulan November 2007. Demikian dijelaskan DR Ir Tusy A. Adibroto, MSI, Ketua Panitia Persiapan Pembentukan ASPI di depan sekitar 200 peserta Seminar Sel Punca, “The new Era of Biotechnology” di Gedung Widya Graha LIPI, Jl Gatot Soebroto Jakarta, Sabtu 2 Januari 2008. Melengkapi Tim Stem Cell Nasional yang telah dibentuk sebelumnya, ASPI lebih berorientasi kepada bidang riset. Hal ini (riset) dianggap penting karena meskipun kita tahu negara-ne-gara besar seperti: Amerika Serikat (AS), Cina, Jepang, Jerman, Perancis, India dan Inggris bahkan beberapa negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia sudah demikian tekun melakukan riset Sel Punca (padanan kata Stem Cell), namun Indonesia sendiri belum semaju itu,lontar Dr Boenyamin Setiawan, Ph. D, salah satu pendiri ASPI. Sebagai perbandingan biaya penelitian, menurut dr Boen (tanpa teks), AS mengeluarkan dana sekitar US$ 250 miliar, RRC sebesar US$ 160 miliar dan India US$ 40 miliar. Sayangnya di Indonesia budgetnya masih kecil sekali, sesal dr Boen. Dari APBN tahun 2006 sebesar Rp 700 triliun yang dikeluarkan untuk penelitian kira-kira Rp 1,5 triliun (atau US$ 150 juta). Suatu jumlah yang amat kecil sekali karena kira-kira hanya 0,04 per-sen dari APBN. Dr Boen mengharapkan dana penelitian bisa ditingkatkan menjadi sekurang-kurangnya 0,5% dari APBN. Kemudian secara bertahap pada tahun 2015 menjadi 1 persen dan 2020 menjadi 2,5 persen.

CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008

109

Kegiatan Ilmiah
Expert Meeting Lodopin, Hotel karta, 17 - 18 November 2007 Intercontinental Ja-

Dr Sjamsu Hidajat. Selesai keliling pabrik dan diskusi, acara dilanjutkan dengan meeting persiapan pembentukan Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) atau Indonesian Stem Cell Association (ISCA). Seminar IKCC Januari 2008: Kesuburan pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK), RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Kalbe.co.id - Dalam pernikahan, isu tentang kesuburan adalah hal yang penting. Banyak pertanyaan yang ada di benak wanita menanyakan mengapa mereka belum hamil juga. Hati-hati, terkadang pertanyaan itu tidak hanya didominasi oleh wanita saja, para pria juga banyak yang bertanya tentang hal serupa. Hanya saja sikap dan kegelisahannya mungkin berbeda dengan yang dirasakan oleh wanita. Hal serupa mungkin juga menjadi pertanyaan para pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK). Untuk menjawab pertanyaan tersebut IKCC bekerjasama dengan RS. Mitra Keluarga Kelapa Gading pada hari Sabtu, 19 Januari 2008 mengadakan seminar awam mengenai kesuburan pada penderita PGK. Round table discussion tentang Apnea (OSA), Jakarta, 19 Januari 2008 Obstructive Sleep

Kalbe.co.id - Baru-baru ini telah terselenggara sebuah acara Expert Meeting Lodopin yang diselenggarakan selama 2 hari yaitu tanggal 17 dan 18 November yang ditujukan bagi para dokter Ahli Jiwa yang bertugas di seluruh Indonesia. Pertemuan ilmiah ini bertujuan untuk mempertemukan para dokter yang mempunyai pengalaman dalam memakai produk antipsikotik atipik Zotepine (Lodopin), baik untuk pengobatan skizofrenia maupun untuk pengobatan penyakit kejiwaan lainnya. Transforming Innovation into Bussiness ties, Puspitek Serpong, 14 Desember 2007 Opportuni-

Kalbe.co.id - Tidak mudah untuk mewujudkan inovasi menjadi sesuatu produk yang laku dijual di pasaran. Banyak kendala yang akan ditemui. Demikian diungkapkan Hon. Dato’ Sri Dr Jamaludin Jarjis, Minister of Science Technology and Innovation Malaysia, pada acara pertemuan 2 negara serumpun Indonesia dan Malaysia di Gedung DRN, Puspitek Serpong, 14 Desember 2007. Acara yang dihadiri oleh para bisnisman, anggota DPR dan Kementerian Riset dan Teknologi berlangsung dengan suasana sangat cair. Dato JJ (demikian panggilan untuk ‘menristek’ Malaysia) terlihat sangat kompak berduet dengan Mr KK (Kusmayanto Kadiman), Menristek RI, selaku moderator acara ini. Sekilas juga dibahas mengenai isu-isu copyright yang saat ini sedang hangat-hangatnya mengemuka di Indonesia. Kunjungan Menristek Kusumayanto Kadiman pabrik Kalbe Farma Cikarang, 8 Januari 2008 ke

Kalbe.co.id - Bertempat di SpringHill Resturant, Jakarta, pada tanggal 19 Januari 2008, diadakan round table discussion mengenai OSA. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Divisi Medical Instrument & Diagnostics PT Enseval Putera Megatrading tbk. bekerja sama dengan mitra kerjanya PT Resindo Medika (RESMED). Dari MIDI hadir dr. Silvi Pusparini sebagai General Manager dan dr. Sujitno Fadli. Pihak RESMED diwakili oleh Alexander Ecker (CEO) dan Brett McLaren. Acara ini dihadiri oleh sekitar 15 dokter umum dan spesialis saraf dari rumah sakit.

Antisipasi Gagal Ginjal pada Penderita Diabetes, Sentosa MC, 19 Januari 2008 Kalbe.co.id - Tanda awal gangguan ginjal pada penderita Kencing Manis (Diabetes Melitus) adalah terdapatnya protein pada urine (micro albuminuria). Demikian dijelaskan Dr Lidya Simatupang SpPD di depan peserta acara Bincang Sehat, Sentosa Peduli Sehat di Auditorium Sentosa Medical Center Jakarta. Tema yang dibawakan kali ini adalah mengenai “Antisipasi Gagal Ginjal pada Penderita Diabetes” Acara . ini terselenggara berkat kerjasama dengan Indonesia Kidney Care Club (IKCC) dan salah sponsornya adalah Diabetasol dari Kalbe Nutritional.

Kalbe.co.id - Bersama rombongan, Menristek RI Dr Ir. Kusmayanto Kadiman, Selasa siang 8 Januari 2008 mengunjungi pabrik Kalbe Farma di Kawasan Industri Delta Silikon, Cikarang Jawa Barat. Selain rombongan Menteri, tampak hadir pada acara ini: Ketua LIPI, Prof Umar Anggara Djenie, mantan menteri KLH Prof. Dr. Emil Salim, Asisten Menristek Dr. Amien Subandrio dan Prof.

110

CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008

?
5. Kematian sel alami disebut nekrosis

Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran
Dapatkah sejawat menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini?

Jawablah B jika benar, S jika salah

Karakteristik Biologis dan Diferensiasi Stem Cell: Fokus pada Mesenchymal Stem Cell Nurul Aini dkk.

Histofisiologi Sel Endotel dan Sel Progenitor Endotel dalam Sirkulasi Darah Ronny Karundeng

1. Stem cell adalah jenis sel khusus dengan kemampuan membentuk ulang dirinya dan dalam saat bersamaan membentuk sel yang terspesialisasi. 2. Stem cell selalu dalam keadaan tak terdiferensiasi 3. Stem cell bisa diisolasi dari jaringan dewasa. 4. Penggunaan embryonic stem cell kurang bermasalah etis dibandingkan penggunaan adult stem cell.

1. Disfungsi endotel berkaitan dengan penurunan fungsi NO 2. Sel mononuklear yang memiliki antigen permukaan CD34+ berpotensi menjadi sel endotel 3. Neovaskularisasi dapat merugikan pada penatalaksanaan tumor 4. Sel progenitor endotel berkurang jika exercise 5. Sel progenitor endotel cenderung merangsang pembentukan ateroma 6. G CSF akan mengurangi jumlah sel progenitor endotel 7. Makin matur sel progenitor endotel, makin berkurang daya neovaskularisasinya 8. Cedera endotel merangsang proliferasi sel CD34+ 9. Transplantasi sel sumsum tulang dapat merangsang reendotelialisasi 10. Regenerasi endotel memperbesar risiko restenosis

6. Heterokarion merupakan fusi antar hematopoetic stem cells 7. Sumsum tulang merupakan sumber utama mesenchymal stem cells 8. Mesenchymal stem cells dapat juga diperoleh dari darah tali pusat 9. Perlakuan medium yang berbeda tidak mempengaruhi proses diferensiasi sel 10.Pengembangan stem cell di laboratorium aman dari masalah etika

JAWABAN:
1.B 2.B 3.B 4.S 5.S 6.S 7.B 8.B 9.S 10.S

JAWABAN:
1.B 2.B 3.B 4.S 5.S 6.S 7.B 8.B 9.B 10.S

112

cdk 161/vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008

Konferensi Kerja Nasional VII IRA, Makasar, 15-17 November 2007 Kalbe.co.id - Konferensi Kerja Nasional VII (Perhimpunan Reumatologi Indonesia) yang diselenggarakan baru-baru ini di RS Wahidin dan Hotel Clarion, Makassar, 15-17 November 2007. Konkernas ini dihadiri oleh sekitar 500 dokter reumatologi, dokter penyakit dalam dan dokter umum yang sebagian besar berasal dari daerah Sulawesi dan Kalimantan. Pada kesempatan kali ini dibahas segala hal mengenai diagnosis, patofisiologi, maupun penatalaksanaan terapi yang terkait dalam bidang reumatologi. Simposium 5th Combined Asian Breast Diseases Association (ABDA) – 4th Breast Screen Singapore (BSS) – Breast Cancer Conference, Singapore, 15-18 November 2007 Kalbe.co.id - Pada tanggal 1518 November 2007 yang lalu di Orchard Hotel, Singapura, telah diadakan sebuah simposium tingkat Asia, yaitu 5th Combined Asian Breast Diseases Association (ABDA) – 4th Breast Screen Singapore (BSS) – Breast Cancer Conference mengenai penyakit pada payudara, khususnya kanker payudara. ABDA, yang merupakan pihak penyelenggara, merupakan sebuah perkumpulan medis multidisplin yang dibentuk pada tahun 2002 dengan tujuan meningkatkan deteksi, diagnosis, dan tatalaksana bagi pasien dengan penyakit pada payudara. Panjang pendek usia seseorang Hotel Santika 18 Desember 2007 tidak ditakdirkan,

11th Bangkok Symposium on HIV Medicine, Thailand, 16-18 Januari 2008 Kalbe.co.id - Simposium HIV Medicine yang berlangsung di Bangkok selama 3 hari merupakan pertemuan kolaborasi peneliti dan pemerhati HIV dari 3 negara yaitu Netherland, Australia dan Thailand. Kolaborasi tersebut dinamai HIV-NAT (HIV-Netherland, Australia, Thailand). Simposium dihadiri oleh dokter, tenaga kese-hatan dan pemerhati HIV berjumlah sekitar 600 partisipan dari 11 negara (Thailand, Laos, Myanmar, Vietnam, Cambodia, Indonesia, India, Singapore, Taiwan, China and Korea). Seminar Sel Punca - PERKAPI, The Ritz-Carlton Hotel, Jakarta, 2 Februari 2008 Kalbe.co.id - Bertempat di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, pada tanggal 2 Februari 2008, dilaksanakan seminar Sel Punca (Stem Cell) yang di adakan oleh PERKAPI (Perhimpunan Kedokteran Anti Penuaan Indonesia) bekerjasama dengan Bio-Cellular Research Organization (BCRO). Kegiatan ini didedikasikan untuk pengajaran mengenai teori dan potensi klinik transplantasi sel punca yang dipresentasikan oleh salah satu peneliti dunia dalam bidang sel punca sejak tahun 1977 yaitu Dr. E. Michael Molnar dan DR. Salvador Zepeda Vargas, seorang ahli onkologi dengan pengalaman luas dalam konsep baru untuk pengananan kanker selain metode konvensional. Seminar PERKAPI, Hidup Lebih Lama, Menjadi Tua Tetap Sehat & Bahagia, Jakarta 19 Februari 2008 Kalbe.co.id - Satu di antara 12 orang Singapura berusia di atas 65 tahun. Pada tahun 2030 nanti, persentase warga lansia mencapai 1 di antara 5 penduduk Singapura. Demikian dijelaskan Dr Caroline Low dari Raffles Hospital Singapura. Acara yang diberi tajuk “Hidup Lebih Lama, Menjadi Tua Tetap Sehat & Bahagia” diselenggarakan oleh Perhimpunan Kedokteran Anti Penuaan Indonesia (PERKAPI), Raffles Singapura, Magnolia Wellness Clinic dan mendapat dukungan dari Kalbe Farma.
Laporan lengkap dari pelbagai simposium di atas (dalam Bahasa Indonesia/English), bisa diakses pada http://www.kalbe. co.id/seminar.

Kalbe.co.id - Panjang pendek usia manusia - tidak seperti yang diyakini banyak orang - ternyata tidak ditakdirkan. Demikian catatan presentasi Prof Dr dr Wimpie Pangkihala SpAnd. FAACS saat meluncurkan buku teranyarnya “Anti Aging Medicine: memperlambat penuaan, meningkatkan kualitas hidup” di Hotel Santika - Jakarta, 18 Desember 2007. Guru , Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini, menanyakan ‘keadilan’ Sang Pencipta jikalau orangorang di Indonesia diberi takdir usia pendek dibandingkan orang-orang di negera maju. Bayangkan, rata-rata penduduk negara Swiss bisa mencapai 80,5 tahun, sedangkan di Indonesia hanya 66,8 tahun saja.

CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008

111

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->