P. 1
Bahan Pelajaran Ekonomi

Bahan Pelajaran Ekonomi

|Views: 2,397|Likes:
Published by Aserani Kurdi, S.Pd

More info:

Published by: Aserani Kurdi, S.Pd on Nov 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

Aserani Kurdi, S.

Pd
Bahan Pelajaran

Judul : Bahan Pelajaran EKONOMI Tingkat II Semester 3 SMK Bisnis Manajemen Penyusun : Aserani Kurdi, S.Pd (Guru Bidang Studi SMKN 1 Tanjung) Desain/Pengetikan/Setting/Lay Out : ROLISA Computer Jln.Mabuun Indah II No.34 RT.04 Mabuun Tanjung Pencetak : Rafi Abadi Offset Tanjung

SMKNEGERI 1 TANJUNG
BISNIS DAN MANAJEMEN Cetakan 1, Jili 2002

Cetakan : I, Juli 2002
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
ii

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, atas izin Allah SWT. dapatlah buku ini disusun walau dalam bentuk yang sangat sederhana. Buku ini kami maksudkan sebagai bahan/materi pelajaran untuk menunjang proses pembelajaran Ekonomi semester 3 di tingkat II pada SMK Negeri 1 Tanjung. Harapan kami, kiranya buku ini dapat dipergunakan oleh para siswa tingkat II sebagai buku teks pokok dalam mempelajari ekonomi. Atas segala partisipasi semua pihak demi tergarapnya tulisan ini dan upaya penggandaannya, terutama pihak orangtua siswa dan para siswa sendiri, kami haturkan banyak terimakasih. Semua ini kita lakukan demi masa depan pendidikan kita dan masa depan putera-puteri kita. Semoga Allah meridhai usaha dan ikhtiar kita semua. Amin.

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

HAL:
i iii iv 1 1 2 2 2 3 4 4 6 19 28 33 42 43 44 47 48 49 51 52 55

BAB I MANAJEMEN DAN ORGANISASI A. MANAJEMEN 1. Pengertian Manajemen a. Pengertian Secara Etimologi b. Pengertian Secara Sempit c. Pengertian Secara Luas d. Pengertian Menurut Para Ahli 2. Fungsi Manajemen a. Perencanaan (Planning) b. Pengorganisasian (Organizing, Coordinating) c. Penggerakan (Actuating, Commanding, Motivating) d. Pengawasan (Controlling, Evaluating) 3. Teknis Pemberian Pengarahan a. Pemotivasian b. Kepemimpinan c. Komunikasi B. ORGANISASI 1. Unsur-unsur Organisasi 2. Organisasi Formal dan Informal 3. Bentuk-bentuk Organisasi 4. Prinsip-prinsip Organisasi iv

Tanjung, 29 Juli 2002

Penyusun, Aserani Kurdi, S.Pd NIP.132091026 iii

BAB II MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA 1. Perencanaan Ketenagakerjaan 2. Rekrutmen Tenaga Kerja 3. Seleksi Tenaga Kerja 4. Penempatan Tenaga Kerja 5. Pembinaan Karier Tenaga Kerja 6. Pemindahan Tenaga Kerja 7. Pemensiunan/Pemutusan Hubungan Kerja BAHAN RUJUKAN

59 61 65 66 70 71 74 75 77

A. MANAJEMEN Bila kita mendengar kata manajemen, maka pikiran kita tertuju kepada pengelolaan suatu pekerjaan. Pekerjaan akan mendatangkan hasil yang baik, apabila pengelolaannya ditangani secara baik pula. Seorang pedagang yang selalu berhasil memperoleh banyak laba, memperoleh pelanggan yang semakin sehari semakin banyak, maka orang sering bilang bahwa seorang pedagang ini mengelola usahanya sangat baik, atau manajemennya sangat baik. Seorang pelajar yang berprestasi kendatipun tiap hari ia sibuk sambil bekerja mencari nafkah untuk biaya hidup dan sekolahnya, disamping ia juga ikut berbagai kegiatan organisasi dan kemasyarakatan, berarti ia pandai membagi waktu dan memamnfaatkannya dengan baik, ia pandai memanajemen waktu. Seorang karyawan yang dapat menyelesaikan pekerjaan kantornya dengan baik dan tepat waktu, berarti ia mampu memanajemen pekerjaannya dengan baik.

v

1

Seorang pemimpin yang dapat memimpin dan mengendalikan bawahannya sehingga mereka dapat bekerja dengan baik dan patuh serta menuruti segala perintah atasannya, seorang pemimpin ini dapat memanajemen karyawannya dengan baik. Demikianlah gambaran selintas tentang manajemen yang akan kita pelajari lebih lanjut nanti.

Manajemen dalam pengertian sempit diambil dari istilah Inggeris yaitu management yang berasal dari kata manage yang berarti : 1) House keeping, ( rumah tangga); 2) To train a horse,(melatih kuda dengan menghentak hentakkan kakinya); 3) To direct and control, ( memimpin dan mengawasi). Jadi manajemen dalam pengertian sempit merupakan suatu tindakan/seni dalam mengatur rumah tangga, baik rumah tangga produsen/perusahaan maupun rumah tangga konsumen/pemakai, melakukan kegiatan pelatihan, pembimbingan, pengurusan, penataan, pengelolaan, pengarahan dan sebagainya, juga melakukan kegiatan memimpin dan mengawasi.

1. Pengertian Manajemen a. Pengertian Secara Etimologi (asal katanya) Kata manajemen berasal dari bahasa Latin (Yunani) yaitu maneggiare yang diambil dari kata manus yang berarti tangan. Tangan adalah lambang ketrampilan. Sehingga segala bentuk ketrampilan dalam berkreasi, misalnya remaja puteri yang melakukan kegiatan sulam-menyulam, rajut-merajut, jahit-menjahit dan sebagainya dikatakan sebagai pekerjaan tangan yang tentunya memerlukan kemampuan ketrampilan (skill). Karena manajemen merupakan suatu ketrampilan dalam mengelola suatu pekerjaan, maka wajarlah apabila tangan dijadikan sebagai lambang ketrampilan.

c. Pengertian Secara Luas Manajemen dalam pengertian luas adalah semua kegiatan yang dilakukan oleh seseorang/beberapa orang, dalam melakukan tindakan pengaturan, pengurusan, pengelolaan, penataan suatu pekerjaan yang akan atau sedang dilakukannya, agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Manajemen dapat pula diartikan sebagai tindakan/seni yang dilakukan oleh seorang pemimpin dalam memimpin perusahaannya, memimpin para karyawannya 3

b. Pengertian Secara Sempit 2

serta melakukan pengawasan dan pengendalian, agar kegiatan usaha yang dilaksanakan perusahannya dapat berlangsung dengan baik.

inilah yang menjadikan sebuah kantor/perusahaan terkelola dengan baik. Betapapun kecil atau besarnya sebuah perusahaan, tak mungkin mencapai hasil yang maksimal tanpa diiringi oleh manajemen yang baik dan rapi. Manajemen yang baik dan rapi mensyaratkan penerapan fungsi manajemen yang baik dan rapi pula. Demikianlah, fungsi manajemen merupakan sejumlah komponen yang harus ada dan diterapkan didalam melakukan berbagai kegiatan kantor/perusahaan dan ia merupakan langkahlangkah operasional guna mencapai tujuan yang diinginkan. Beberapa para ahli berbeda pendapat didalam merumuskan sejumlah komponen yang terdapat dalam fungsi manajemen. Diantara pendapat mereka tentang fungsi manajemen ini seperti yang dikemukakan oleh : a. George R. Terry dalam bukunya Principle of manajement dirumuskan bahwa komponen fungsi manajemen terdiri dari : Planning, Organizing, Actuating dan Controlling (POAC); b. Henry Fayol dalam bukunya General and Industrial Management dirumuskan bahwa komponen fungsi manajemen itu terdiri dari : Planning, Organizing, Commanding, Coordinating dan Controlling (POCCC); c. Prof.Dr.Sondang P.Siagian, MPA dalam bukunya Filsafat Administrasi dirumuskan bahwa komponen fungsi manajemen terdiri dari Planning, Organizing, Motivating, Controlling dan Evaluating (POMCE). 5

d. Pengertian Menurut Para Ahli Pengertian manajemen menurut George R. Terry, Ph.D yang tercantum dalam buku Azas-azas Manajemen (terjemahan) oleh DR.Winardi,S. dituliskan : Manajemen merupakan suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber-sumber lain. Pengertian manajemen menurut Prof.DR.Mr.S. Prajudi Atmosudirdjo dalam bukunya Dasar-dasar Ilmu Administrasi adalah : Manajemen merupakan pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya yang menurut suatu perencanaan (planning) diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta (objective) atau tujuan kerja yang tertentu.

2. Fungsi Manajemen Dalam proses pelaksanaannya, manajemen diterapkan berdasarkan fungsinya. Penerapan fungsi manajemen 4

Dari tiga pendapat para ahli tentang rumusan komponen fungsi manajemen di atas dapat kita simpulkan bahwa komponen yang harus ada dan diterapkan dalam fungsi manajemen terdiri dari : a. b. c. d. Perencanaan (Planning); Pengorganisasian (Organizing, Coordinating); Penggerakan(Actuating, Commanding, Motivating dan; Pengawasan (Controlling dan Evaluating).

1) Pengertian Perencanaan (Planning) Perencanaan berasal dari kata Inggeris yaitu Plan yang artinya rencana, rancangan, langkah-langkah kerja yang kemudian menjadi Planning (Perencanaan). Di dalam kegiatan organisasi, perencanaan (rencana) lebih dikenal dengan istilah program dalam hal ini program kerja. Namun perlu digarisbawahi bahwa planning (perencanaan) ruang lingkupnya tentu lebih luas daripada program kerja. Dengan kata lain, program kerja merupakan bagian atau salah satu wujud/hasil/produk dari planning (perencanaan). Artinya, program kerja identik dengan rencana kerja. Kalau kita cermati secara seksama, antara kata perencanaan dengan rencana, merupakan dua kata yang berkaitan erat. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk katanya. Yang satu merupakan kata dasar (rencana), sedang yang satunya lagi kata dasar plus imbuhan (perencanaan). Kendati demikian, kata rencana dengan perencanaan merupakan dua kata yang berbeda makna. Kalau rencana lebih ditekankan pada hasil, rumusan atau konsep. Sedangkan perencanaan lebih ditekankan pada aktivitas perbuatan atau usaha. Dengan demikian perencanaan merupakan proses kegiatannya, yaitu proses kegiatan di dalam menyusun rencana, sedangkan rencana itu sendiri merupakan hasilnya, rumusannya atau konsepnya secara tertulis yang dituangkan dalam sebuah naskah, surat keputusan, 7

a. Perencanaan (Planning) Barangkali kita semua pernah bahkan sering mendengar kata perencanaan. Baik di lingkungan perusahaan, kantor, organisasi, bahkan di lingkungan terkecil sekalipun seperti di lingkungan keluarga atau di lingkungan diri kita sendiri, kata perencanaan ini merupakan sesuatu yang kita butuhkan dan dibutuhkan oleh semua orang. Betapa tidak, sebab berawal dari perencanaan inilah setiap kegiatan apapun yang kita laksanakan, apabila kita menginginkan agar pelaksanaannya nanti berjalan dengan baik dan mencapai hasil yang maksimal. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa perencanaan itu penting, agar dalam pelaksanaannya nanti dapat sistematis dan terasa mudah, yang pada gilirannya nanti tujuan yang kita inginkan/tetapkan sebelumnya, dapat tercapai dengan baik. 6

rumusan bersama, ketetapan dan sebagainya yang secara umum kita kenal dengan program kerja. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa untuk menyusun sebuah rencana, diperlukan proses perencanaan terlebih dahulu. Berkualitas tidaknya sebuah rencana, tergantung bagaimana proses perencanannya. Oleh karena itu yang perlu kita bahas/kita pelajari adalah perencanaan (bagaimana proses menyusun rencana), bukan rencana itu sendiri. Menurut Prof. Dr. Sondang P. Siagian, MPA : “Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang daripada hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan”. Menurut K.M Parikesit Tjokroprawiro : “Perencanaan adalah suatu pengambilan keputusan yang mencakup pemilihan salah satu dari sekian kemungkinan, dengan mempertimbangkan segi-segi positif dan negatifnya yang diperoleh melalui penelitian”. Menurut Gart N Jone :“Perencanaan adalah proses pemilihan dan pengembangan daripada tindakan yang paling baik/menguntungkan untuk mencapai tujuan”.

Dalam menyusun sebuah rencana yang baik diperlukan langkah-langkah yang tepat dan sistematis dengan berpedoman pada 5 W 1 H yang merupakan kata tanya dalam bahasa Inggeris yang selanjutnya dipikirkan apa jawabannya yang kemudian diaplikasikan ke dalam perencanaan.

a) WHAT ? (APA?) Pertanyaan inilah yang mula-mula muncul dalam pikiran kita manakala kita ingin berencana. What? (Apa?), maksudnya rencana apa yang ingin kita lakukan?. Kalau berhubungan dengan usaha, pertanyaannya adalah : - Jenis usaha apa yang ingin kita lakukan. Apakah dibidang industri, perdagangan atau jasa. Bentuk perusahaan yang akan kita buka, apakah berbentuk perseroan (PT), perusahaan komanditer (CV), Firma (Fa), Koperasi, maupun perusahaan perorangan, misalnya berupa UD (usaha Dagang), Industri Rumah Tangga, kerajinan dsb. Apa nama perusahaan yang kita dirikan tersebut, misalnya CV. Karunia, UD. Maju dan sebagainya; - Apa maksud, sasaran dan tujuan yang ingin/akan kita capai dari usaha yang akan kita lakukantersebut.

b) WHERE ? (DI MANA ?) 2) Langkah-langkah Dalam Menyusun Rencana 8 Setelah pertanyaan what? (apa?), sudah terjawab, dalam artian kita sudah dapat menentukan jenis usaha yang 9

akan dibuka, bentuk perusahaan yang dipilih, bidang usaha yang akan dikerjakan, nama perusahaan yang kita tentukan, maksud, sasaran serta tujuan usaha yang ingin kita capai, maka pertanyaan ke dua biasanya muncul adalah di mana lokasi usaha tersebut kita dirikan. Pertanyaan ini menunjukkan tempat/lokasi/areal usaha yang akan dikerjakan. Pertanyaannya adalah : - Di mana tempat/lokasi usaha yang akan kita dirikan. Apakah di desa A, desa B, kota C, kota D, di daerah pantai/pesisir, di lokasi wisata, di dekat terminal, stasion, lapangan terbang, pelabuhan dan sebagainya. - Lokasi usaha yang akan kita pilih, apakah hanya terfokus satu tempat, dua tempat atau beberapa tempat.

Pertanyaan ini berhubungan dengan personalia/para pelaksana atau orang-orang yang terlibat di dalam usaha yang akan kita garap. Pertanyaannya : - Berapa jumlah personil yang kita butuhkan dalam kegiatan usaha kita nanti; - Dari mana dan bagaimana penjaringan (merekrut) personil-personil tersebut. Apakah kita pasang iklan di media masa, kita sebarkan selebaran/pengumuman dan kita tempel di tempat-tempat strategis, atau kita cari sendiri (mungkin kita ajak beberapa orang keluarga, beberapa orang teman/sahabat) dan sebagainya; - Siapa-siapa orangnya yang menurut kita cocok dan pantas serta dapat diajak kerja sama dalam menjalankan usaha kita nanti; - Ketrampilan apa yang kita perlukan dari personilpersonil tersebut. Misalnya kita membutuhkan tenaga pemasaran. Kita memerlukan personil yang terampil dalam kegiatan pembukuan/akuntansi, dan sebagainya;

c) WHEN ? (PABILA/KAPAN ?) Setelah kita menentukan jenis, macam/bidang usaha, nama usaha dan maksud, sasaran dan tujuan yang akan dicapai, juga penentuan lokasi/tempat beroperasinya perusahaan kita nanti, maka pertanyaan berikutnya adalah : - Kapan / pabila operasional usaha tersebut mulai dikerjakan dan sampai kapan berakhirnya;

e) WHY ? (MENGAPA ?) Pertanyaan ini berhubungan dengan analisa usaha. Bisa juga merupakan pertanyaan koreksi dari empat pertanyaan di atas. Pertanyaan yang berhubungan dengan why (mengapa) ini, seperti : 11

d) WHO ? (SIAPA ?) 10

- Mengapa jenis usaha yang akan dikerjakan dibidang industri? yaitu industri kerajinan rumah tangga. Mengapa bidang usaha ini yang di pilih, apa alasannya, bagaimana prospek masa depan usaha ini; - Mengapa perusahaan yang akan didirikan berbentuk CV. dengan nama CV. Mekar Sari? Apakah nama ini sudah cocok, atau mungkin bisa dicari nama lain; - Mengapa maksud, sasaran dan tujuan usaha ini sedemikian rupa, apa sudah cocok; - Mengapa lokasi usaha di daerah pasar/pusat perbelanjaan? Mengapa hanya satu tempat?; - Mengapa operasional usaha ini baru bisa dimulai tahun depan? Kenapa tidak segera saja dimulai?;

Dari enam pertanyaan yang terhimpun dalam rumus 5 W 1 H tersebut dapat kita terapkan ke dalam Rencana Membuka Usaha seperti bagan berikut ini : What? (Apa?) Jenis, bentuk dan nama usaha Maksud, sasaran dan tujuan usaha Where?(Di mana) Lokasi usaha When? (Kapan?) Waktu Usaha CV. BATA INDAH JAYA Usaha Industri Batu Bata Untuk Keperluan Bahan Bangunan Di desa Pembataan Tanjung

Mulai Januari 2003 - dst.

f) HOW ? (BAGAIMANA ?) Pertanyaan ini menunjukkan cara, metode, teknik, dan prosedur kerja yang akan dikerjakan. Yaitu, bagaimana cara, teknik dan prosedur kerja yang sebaik-baiknya dalam melaksanakan usaha nanti. Pertanyaannya : - Usaha yang akan kita kerjakan apakah menggunakan teknik tradisional, modern, atau campuran (semi modern); - Usaha yang akan kita kerjakan apakah bersifat padat modal atau padat karya; 12

Who? (Siapa?) Pelaksana

Unit Produksi SMKN 1 Bata Sangat Diperlukan Dan Mudah Dikerjakan

Why? (Mengapa?) Analisa Usaha

How? (Bagaimana?) Cara Pengerjaan

Secara Tradisional

Di dalam menyusun rencana membuka usaha, hendaknya diperhatikan beberapa hal sebagai berikut : 13

Jenis usaha yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan tersedianya sumber-sumber bahan yang cukup, tenaga kerja yang mudah di dapat, pemasaran yang lumayan serta prospek masa depannya (kelangsungan usaha); Sebelum usaha dijalankan, hendaknya secara tegas kita sudah menentukan sasaran/target yang akan dicapai dari usaha kita tersebut dalam jangka waktu tertentu, baik secara kuantitas maupun secara kualitas; Rencana usaha yang kita susun, hendaknya sudah terprogram secara sistematis (punya tahapan-tahapan operasional), dari tahap awal hingga tahap penyelesaian; Rencana usaha yang akan digarap hendaknya disesuaikan dengan pendanaan yang ada. Jangan sekalikali memaksakan diri dengan berbuat spekulasi.

di atas tanah. Lain halnya kalau bangunan tersebut didirikan di atas awan, seperti bangunan yang didirikan makhluk-makhluk khayangan, ini khayalan dan tak ada faktanya. b). Rasional (logis, susuai/dapat diterima oleh akal sehat) Maksudnya, rencana yang dibuat hendaknya logis/masuk akal atau berdasarkan pemikiran secara ilmiah. Kalau rencana yang dibuat berkaitan dengan usaha, maka rencana usaha tersebut hendaknya sudah dipikirkan secara matang dan sudah dipertimbangkan untung ruginya dengan memperhatikan prinsip ekonomi. c). Fleksibel (luwes, lentur, elastis) Maksudnya, rencana yang dibuat hendaknya dapat menyesuaikan situasi dan kondisi, manakala suatu waktu terjadi perubahan keadaan. Oleh karena itu buatlah rencana yang bersifat elastis/tidak kaku, atau setidaktidaknya kita sudah menyusun rencana dengan beberapa alternatif pilihan berdasarkan slaka prioritas, sehingga pada saat realisasinya nanti tidak menemukan jalan buntu. Misalnya seseorang yang punya rencana mau kuliah di Perguruan Tinggi setelah lulus di SLTA. Ia sudah mendata beberapa perguruan tinggi yang bakal ia masuki dengan berbagai Fakultas yang ia pilih dan ia susun berdasarkan skala prioritas (urutan pilihan), sehingga pada saatnya nanti, ia tidak kebingungan lagi. Kalau perguruan tinggi ini gagal, masuki perguruan tinggi yang lain, dan seterusnya. Contoh lain, misalnya kita berencana ingin membangun sebuah toko. Kita 15

3) Sifat-sifat Rencana Rencana yang baik, paling tidak mempunyai empat sifat sebagai berikut : a). Faktual (sesuai dengan kenyataan/bukan khayalan) Maksudnya, rencana yang dibuat harus berdasarkan fakta-fakta yang logis atau sesuai dengan data obyektif. Misalnya seseorang punya rencana membangun hotel di atas sebidang tanah. Rencana ini faktual, sebab fakta membuktikan bahwa bangunan hotel bisa didirikan 14

sudah membuat denah/sketsa bangunannya berikut bahan-bahan/material yang diperlukan dengan harga/biaya yang sudah diperkirakan untuk setahun yang akan datang (karena toko tersebut baru kita mulai mengerjakannya tahun depan), yang tentu kalkulasi biayanya tidak sama dengan tahun ini/sekarang, ada kemungkinan lebih mahal/besar. Sehingga pada saat memulai membangun nanti, kita tidak dipersulit oleh adanya perbedaan anggaran biaya yang berbeda menyolok. d). Kontinue (berkesinambungan) Maksudnya, rencana yang dibuat tidak hanya digunakan/diterapkan dalam sekali kegiatan saja atau hanya dalam waktu tertentu saja, tetapi selalu berkesinambungan, terus menerus dan sambung menyambung. Dari usaha kecil-kecilan, agak besar, sampai usahanya menjadi besar. Makanya itu dalam rencana kita mengenal ada rencana jangka pendek, jangka menengah hingga jangka panjang.

Ini adalah rencana/kebijakan direktur yang masih bersifat umum. Yang penting bahwa gaji bakal naik. Belum ditentukan berapa persen kenaikannya, bagaimana teknis penerapan kenaikan gaji tersebut, dsb. Nah, dari policy planning ini kemudian dijabarkan lagi ke jenis rencana berikutnya, sehingga lebih bersifat operasional. b) Program Planning (Perencanaan Program) Adalah rencana yang dibuat oleh Pimpinan Tingkat Menengah (Midle Leader, Midle Management, Kepala Bagian, Wakil Direktur, Wakil Manajer), yang rencana ini disusun berdasarkan dan dalam rangka menjabarkan rencana/kebijakan pimpinan tingkat atas, namun tetap saja belum bisa diterapkan/dioperasionalkan. Misalnya, seperti contoh di atas, kebijakan Direktur untuk menaikkan gaji karyawan mulai Januari 2003, disambut oleh Kepala Bagian Keuangan, yang kemudian melakukan perhitungan-perhitungan anggaran dan keadaan keuangan perusahaan, untuk memperkirakan prosentasi kenaikkannya, yang sebelumnya tentu sudah dikonfirmasikan dengan Kepala Bagian Personalia. Sehingga dari hasil telaahan keuangan, dapatlah ditentukan berapa persen kenaikkan gaji tersebut. c) Operational Planning (Perencanaan Operasional) Adalah rencana yang dibuat oleh Pimpinan Tingkat Bawah (Lower Leader, Lower Management, Kepala Sub Bagian, Supervisor, Mandor dsb.) Pada perencanaan operasional inilah sebuah rencana sudah bersifat spesifik/khusus dan praktis, sehingga siap 17

4) Jenis-jenis Rencana a) Policy Planning (Perencanaan Kebijaksanaan) Adalah rencana yang dibuat oleh Pimpinan Tingkat Atas (Top Leader, Top Management, Kepala, Direktur, Manajer), yang rencana ini bersifat umum/kebijakankebijakan umum. Misalnya Direktur sebuah perusahaan merencanakan (memprogramkan) akan menaikkan gaji karyawannya mulai Januari 2003 yang akan datang. 16

untuk diterapkan, karena rencana sudah terwujud dalam bentuk proyek. Berhubungan dengan contoh sebelumnya tentang rencana kenaikan gaji karyawan. Maka sampai pada perencanaan operasional ini adalah terwujud dalam bentuk Daftar Kenaikan Gaji Karyawan yang dibuat oleh Bendaharawan Gaji.

yang ingin dicapai, yakni mendapatkan 3 ekor kijang bisa terpenuhi. Contoh lain, misalnya seorang ibu bermaksud ingin mengunjungi/ketemu anaknya yang lagi kuliah di salah satu perguruan tinggi di Banjarmasin. Sasarannya adalah kota Banjarmasin dan anaknya. Tidak mungkin ia akan ketemu anaknya kalau sasarannya keliru. Misalnya mau ke Banjarmasin tapi arahnya justeru ke Balikpapan. Kalau arahnya sudah tepat, dan begitu tiba di Banjarmasin, ia langsung ke kampus atau ke rumah kost anaknya, maka kemungkinan besar tujuan sang ibu ingin ketemu anaknya bisa tercapai. Dari ilustrasi di atas dapat kita simpulkan bahwa sasaran dan tujuan merupakan dua hal yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Tidak mungkin tujuan suatu rencana akan tercapai jika sasarannya tidak tepat. Namun demikian bukan berarti bahwa apabila sasarannya tepat, maka tujuan akan bisa dicapai. Artinya, walaupun sasarannya sudah tepat, namun tujuan belum tentu bisa dicapai, kendati demikian, prasyarat ketercapaian tujuan adalah ketepatan sasaran.

5) Sasaran dan Tujuan Suatu Rencana a) Sasaran Perencanaan Adalah suatu arah sekaligus obyek suatu rencana yang apabila tepat/kena/berhasil, akan menentukan berhasilnya tujuan yang akan dicapai; b) Tujuan Perencanaan Adalah hasil akhir yang ingin/akan dicapai oleh suatu rencana; Sebagai ilustrasi dapat kita ambil contoh. Misalnya suatu hari seorang pemburu merencanakan akan masuk hutan untuk berburu binatang. Tujuan perburuannya kali ini adalah ingin mendapatkan 3 ekor kijang untuk ia persembahkan kepada keluarganya yang akan merayakan walimah perkawinan. Sampai di sini kita sudah dapat menentukan sasaran dan tujuannya. Sasarannya adalah hutan dan kijang. Artinya, arah yang akan dituju adalah hutan dan obyeknya adalah kijang, dengan target 3 ekor. Apabila arahnya sesuai dan obyek (kijang) yang dituju tepat (tembakkannya kena), maka ada kemungkinan besar tujuan 18

b. Pengorganisasian (Organizing, Coordinating) Fungsi manajemen terpenting kedua setelah perencanaan adalah Pengorganisasian. Pengorganisasian merupakan fungsi yang dalam 19

penerapannya dapat dilakukan oleh seluruh anggota organisasi, baik di tingkat pimpinan maupun di tingkat staf. Pada prinsipnya, pengorganisasian merupakan tindak lanjut dari perencanaan. Dengan kata lain, bagaimana upaya/cara yang dilakukan di dalam melaksanakan suatu rencana, semua ini memerlukan pengorganisasian yang baik dan rapi. Dengan demikian, pengorganisasian merupakan suatu proses untuk : a. Menentukan, mengelompokkan dan mengatur berbagai aktivitas yang dilakukan, agar dapat dilaksanakan dengan baik dan sesuai rencana; b. Menempatkan sejumlah personil (tenaga kerja) sesuai dengan jenis/bidang pekerjaan yang sudah ditentukan, berdasarkan keahlian/profesionalitas atau ketrampilan seseorang, kemudian melakukan pembagian tugas, mengatur tata hubungan (mekanisme) kerja, menyediakan alat atau sarana kelengkapan kerja, menetapkan batas wewenang dan tanggung jawab serta menetapkan hak dan kewajiban masing-masing personil kerja;

Maksudnya, konsep rencana yang telah disusun dan ditetapkan, sebaiknya dipelajari kembali dengan seksama, terutama yang berkaitan dengan sasaran dan tujuan, visi dan missi, apa yang akan dikerjakan, cara/ teknik yang akan dilakukan, siapa saja yang terlibat dalam pelaksanaannya nanti, kapan dan di mana tempat pelaksanaan rencana tersebut dan sebagainya. Kalau sudah jelas dan dapat dipahami dengan baik dan benar, maka tahapan berikutnya adalah; b) Membuat Bagan Struktur Organisasi Maksudnya, merancang dan menetapkan semacam bagan struktur organisasi, dengan jalan mengelompokkan setiap pekerjaan ke dalam satu kesatuan unit yang homogen/sejenis dan saling berhubungan. Pada tahap ini yang dibuat hanya bagannya saja, belum diisi personil yang menempati/menjabat sesuai bagan struktur organisasi tersebut. Jadi, yang ditentukan adalah bentuk strukturnya dan jenis pekerjaannya. Contoh : DIREKTUR | WAKIL DIREKTUR

1) Tahapan-tahapan Pengorganisasian Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam kegiatan pengorganisasian adalah sebagai berikut : a) Mempelajari kembali rencana yang telah disusun 20

KABAG PRODUKSI

KABAG TAUS 21

KABAG PEMASARAN

c) Menempatkan Personil/Tenaga kerja/Karyawan Maksudnya, menempatkan personil/tenaga kerja/karyawan sesuai dengan klasifikasi jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan secara proforsional (penempatan yang tepat) sesuai dengan komposisi (bagan) struktur organisasi yang telah dibuat. Pada tahap ini juga ditentukan siapa yang bertanggung jawab untuk setiap unit pekerjaan (dengan menetapkan kepala-kepala bagian, kepala sub bagian dan seterusnya) sebagai perwujudan dari pendelegasian wewenang dan tanggung jawab pimpinan; d) Menetapkan Tata Kerja Maksudnya, menentukan dan menetapkan tata pembagian kerja tiap-tiap bagian, yaitu mengatur dan menentukan secara jelas tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian, yang biasanya diwujudkan dalam bentuk job description (uraian tugas) secara tertulis. Dengan pengaturan ini setiap bagian mendapat kejelasan tentang apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya, sehingga dapat dihindari kesimpang-siuran dalam melaksanaan tugas pekerjaan.

Dari berbagai lembaga organisasi yang ada di negara kita, nampaknya pengelompokan pekerjaan ini didasarkan atas lima macam, yaitu : a) Pengelompokan Pekerjaan Atas Dasar Fungsi Maksudnya, pengelompokan pekerjaan yang dilakukan berdasarkan apa yang menjadi fungsi, peranan dan tugas dari lembaga organisasi. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan adalah lembaga organisasi yang bertugas mengurusi bidang pendidikan dan kebudayaan. Oleh karenanya maka pengelompokan pekerjaan pada organisasi ini disesuaikan dengan tugas atau fungsinya, yakni mengurusi masalah pendidikan, dari Sekolah dasar hingga Perguruan Tinggi. Pengelompokan pekerjaan atas dasar fungsi ini pada umumnya dilakukan oleh lembaga organisasi pemerintahan dan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan. b) Pengelompokan Pekerjaan Atas Dasar Proses Maksudnya, pengelompokan pekerjaan yang dilakukan berdasarkan proses produksi pada suatu perusahaan. Pertamina sebagai perusahaan tambang minyak milik negara, melakukan pengelompokan pekerjaan bagi karyawannya berdasarkan proses kegiatan penambangan yang dilakukan, sehingga di dalam struktur organisasi Pertamina terdapat beberapa kelompok kerja, seperti bagian eksplorasi, yaitu kelompok kerja yang tugasnya melakukan survei atau pencarian sumber-sumber minyak. Bagian eksploitasi, yaitu kelompok kerja yang tugasnya melakukan penggalian / pemborran sumber23

2) Pengelompokan Pekerjaan Dalam sebuah lembaga organisasi, baik lembaga organisasi perusahaan maupun non perusahaan (sosial), diperlukan adanya pengelompokan pekerjaan yang disesuaikan dengan bidang usaha/kerja yang dilakukan oleh lembaga organisasi tersebut. 22

sumber minyak. Bagian refinarasi, yaitu kelompok kerja yang bertugas melakukan pembersihan minyak mentah. Bagian transportasi, yaitu kelompok kerja yang bertugas melakukan kegiatan pemindahan minyak mentah yang sudah dibersihkan ke tempat tertentu dengan menggunakan kapal tankir (kapal pengangkut minyak). Dan bagian marketing, yaitu kelompok kerja yang bertugas melakukan kegiatan pemasaran/penjualan/pengiriman minyak mentah untuk keperluan dalam negeri maupun luar negeri, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pengolahan minyak mentah menjadi berbagai jenis minyak/bahan bakar seperti bensin, minyak tanah, bensol, oli dan sebagainya. Pengelompokan pekerjaan atas dasar proses ini pada umumnya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang industri. c) Pengelompokan Pekerjaan Atas Dasar Langganan Maksudnya, pengelompokan pekerjaan yang dilakukan berdasarkan keperluan/kepentingan para langgaran/nasabah perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan Listerik Negara (PLN), melakukan pengelompokan pekerjaan terhadap para karyawannya berdasarkan keperluan pelanggan yang lebih diarahkan pada pelayanan/service. Sehingga di dalam organisasi PLN terdapat beberapa kelompok kerja, seperti ada bagian pemasangan sambungan listerik, ada bagian pelayanan dan pengaduan gangguan aliran listerik bagi pelanggan, ada bagian penerimaan pembayaran rekening, ada bagian pencatatan meter/jumlah pemakaian listerik ke rumah 24

rumah para pelanggan, dan sebagainya. Pengelompokan pekerjaan atas dasar langganan ini, biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang jasa. d) Pengelompokan Pekerjaan Atas Dasar Produk Maksudnya, pengelompokan pekerjaan yang dilakukan berdasarkan atas jenis produk yang dihasilkan oleh perusahaan / badan usaha. Perusahaan Indofood yang menghasilkan berbagai produk makanan untuk keperluan rumah tangga, tentu melakukan pengelompokan pekerjaan bagi karyawannya didasarkan atas jenis atau macam produk yang dihasilkan. Ada sekelompok karyawan yang khusus melakukan kegiatan produksi kecap, ada yang bekerja di bagian produksi mie, ada yang mengurusi kegiatan produksi bumbu penyedap dan sebagainya. Pengelompokan pekerjaan atas dasar produk ini pada umumnya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang menghasilkan berbagai jenis/macam produk. e) Pengelompokan Pekerjaan Atas dasar Daerah/Teritorial Maksudnya, pengelompokan pekerjaan yang dilakukan berdasarkan atas wilayah/daerah/teritorial di mana lembaga oragnisasi tersebut berada. Organisasi besar seperti Muhammadiyah melakukan pengelompokan pekerjaan/tugas bagi para pengurusnya berdasarkan wilayah/daerah/teritorial. Kalau di tingkat pusat disebut Pimpinan Pusat, di tingkat wilayah (propinsi) disebut Pimpinan Wilayah, di tingkat daerah 25

(Kabupaten/Kodya) disebut Pimpinan Daerah, di tingkat kecamatan disebut Pimpinan Cabang dan di tingkat lurah/desa/lingkungan disebut Pimpinan Ranting. Pengelompokan pekerjaan atas dasar daerah/teritorial ini biasanya dilakukan oleh organisasi-organisasi yang berskala nasional. Juga terdapat pada organisasi ABRI, Kepolisian, organisasi kepanduan seperti Pramuka, organisasi pemerintahan (PEMDA) dan organisasi perusahaan yang bertarap nasional atau internasional, yang pada umumnya banyak mempunyai jaringan-jaringan usaha dari tingkat pusat hingga ke daerah-daerah.

Koordinasi kerja dapat dilakukan oleh atasan kepada bawahan/staf atau sebaliknya. Bisa juga dilakukan antar pimpinan dan antar bawahan/staf.

4) Fungsi, Sasaran dan Tujuan Pengorganisasian a) Fungsi Pengorganisasian • Memberi arah pelaksanaan kegiatan agar dicapai efektifitas dan efesiensi kerja; • Mempermudah pelaksanaan kegiatan bagi bawahan dan mempermudah pelaksanaan pengawasan bagi atasan; • Mempermudah pertanggungjawaban terhadap pekerjaan yang telah dilimpahkan kepada para anggota/staf/bawahan; • Mencegah adanya kegiatan rangkap dan bertumpuk; • Memberikan kepastian tugas dan wewenang bagi pelaksana organisasi; b) Sasaran Pengorganisasian • Terciptanya kerjasama secara efektif dan efesien, agar proses manajemen dapat berlangsung dengan baik. c) Tujuan Pengorganisasian • Agar pelaksanaan kegiatan/tugas dan pengawasan setiap unit organisasi dapat dikerjakan dengan mudah dan memperoleh hasil yang maksimal. 27

3) Koordinasi Kerja Melakukan koordinasi kerja merupakan hal yang penting dalam rangka menciptakan keserasian, kesesuaian dan keseimbangan kerja, sehingga segala macam permasalahan yang muncul dalam sebuah organisasi dapat segera di atasi. • • • Koordinasi kerja diperlukan, karena diharapkan : Dapat menghindari kemungkinan adanya konflik/ benturan atau kesalahpahaman antar unit/bagian; Dapat mencegah terjadinya perangkapan jabatan atau kerja, juga mencegah kemungkinan terjadinya penumpukan pekerjaan pada unit tertentu; Dapat mencegah terjadinya pemborosan dalam melakukan pekerjaan; 26

c. Penggerakan (Actuating, Commanding, Motivating) Setelah perencanaan disusun dan pengorganisasian difungsikan sedemikian rupa dalam gerak langkah kegiatannya, baru fungsi penggerakan dilakukan dalam rangka lebih memperlancar proses manajemen. Dalam proses manajemen, penggerakan merupakan suatu bagian yang sangat menunjang, sebagai tindak lanjut dari fungsi perencanaan dan pengorganisasian.

simpulkan: “Penggerakan merupakan upaya yang dilakukan oleh pimpinan agar seluruh karyawan dapat bekerja dengan baik, suka, ikhlas, aktif, efektif dan efesien, sesuai dengan tugasnya masing-masing dan berdasarkan rencana yang telah ditetapkan, demi tercapainya tujuan organisasi” Bagaimanakah upaya yang dilakukan oleh pimpinan agar seluruh karyawan dapat bekerja dengan baik, suka, ikhlas, aktif, efektif dan efesien, sesuai dengan tugasnya masing-masing? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka hendaknya seorang pemimpin memperhatikan dan menerapkan beberapa prinsip penggerakan berikut ini.

1) Pengertian Penggerakan Menurut Prof.Dr.Mr.S.Prajudi Atmosudirdjo, Penggerakan adalah pengaktifan daripada orang-orang sesuai dengan rencana dan pola/struktur organisasi yang telah ditetapkan. Menurut Prof.Dr. H. Arifin Abdurrachman, Penggerakan adalah kegiatan manajemen untuk membuat orang lain suka dan dapat bekerja dengan baik. Menurut Prof.Dr.Sondang P.Siagian, MPA, Penggerakan adalah keseluruhan proses pemberian motivasi kerja kepada para bawahan, sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi untuk mencapai efesiensi kerja. Dari tiga pengertian penggerakan di atas, dapat kita 28 2) Prinsip-prinsip Penggerakan a) Prinsip Pelayanan Seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan pelayanan yang sama atau perlakuan yang wajar, adil dan sebaik mungkin kepada seluruh karyawannya. Jangan sampai ada kesan pilih kasih, memandang dengan sebelah mata, menganaktirikan atau menganakemaskan sebagian karyawannya; b) Prinsip Dorongan/Motivasi Seorang pemimpin hendaknya selalu memberikan dorongan positif kepada seluruh karyawannya, baik terhadap karyawan yang berprestasi maupun yang kurang berprestasi, dengan cara memberikan motivasi kerja agar yang berprestasi semakin meningkat prestasinya, dan 29

yang kurang berprestasi dilakukan pembinaan sedemikian rupa agar prestasinya semakin baik. Gunakanlah setiap kesempatan, seperti pada saat apel pagi dan siang, pada saat pertemuan, rapat, pada saat istirahat/releks, untuk selalu memberikan motivasi kerja kepada karyawan, baik secara individu maupun kelompok guna menumbuhkan, memelihara dan meningkatkan etos kerja untuk mencapai produktifitas kerja yang tinggi. Doronglah terus semangat kerja karyawan dan bantu mereka untuk menumbuhkan dan mengembangkan bakat, ketrampilan (skill) dan kreatifitas demi pertumbuhan dan pengembangan karirnya ke depan. c. Prinsip Penghargaan dan Hukuman Seorang pemimpin hendaknya jeli melihat aktivitas yang dilakukan para karyawannya. Dapat membedakan, mana karyawan yang berprestasi, mana yang kurang berprestasi. Mana karyawan yang bekerja sesuai aturan dan prosedur, mana yang menyimpang aturan dan prosedur. Bagi karyawan yang berprestasi, berilah acungan jempol terhadapnya, ucapkanlah kata-kata pujian terhadapnya dan kalau perlu berikanlah penghargaan dan hadiah. Sebaliknya, bagi karyawan yang nakal, sering melanggar aturan, prosedur dan tidak memperdulikan kebijakan pimpinan, padahal sudah beberapa kali diberikan nasehat, bimbingan dan pembinaan bahkan peringatan, masih tidak ada perubahan, maka tidak ada jalan lagi, kecuali yang bersangkutan diberikan sangsi atau hukuman sesuai dengan aturan dan prosedur yang baik. Berikanlah hukuman yang seadil-adilnya, jangan ada kesan 30

pimpinan bertindak sepihak dan berbuat semena-mena. d) Prinsip Keadilan dan Bijaksana Seorang pemimpin hendaknya selalu berupaya agar berbuat dan bertindak yang adil dan bijaksana terhadap para karyawannya, baik dalam hal pelayanan, penghargaan dan hukuman, dalam hal memberikan tugas, kewajiban dan wewenang, terlebih-lebih menyangkut soal keuangan (imbalan/upah/gaji) dan kesejahteraan karyawan. Berikanlah penghargaan dan hukuman seobyektif mungkin, tidak memandang siapa orangnya, tapi bagaimana aktivitas kerjanya. Berikanlah tugas, kewajiban dan wewenang, sesuai dengan keahlian dan kemampuan karyawan. Hargailah karyawan senior dan sayangilah karyawan junior. Tempatkanlah karyawan senior pada kelompok/bagian kerja yang tidak banyak memerlukan gerak pisik, sesuai dengan kondisi tubuh dan usianya yang menginjak lanjut. Sebaliknya, tempatkanlah karyawan junior pada kelompok/bagian kerja yang banyak memerlukan gerak pisik, sesuai dengan kondisi tubuh dan usianya yang masih muda. Jika menemukan ada diantara karyawan yang bermasalah, maka bantulah ia mengatasi masalahnya, jangan malah masalahnya justeru dijadikan masalah oleh pimpinan. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Selidikilah terlebih dahulu apa yang menjadi latar belakang permasalahannya, kemudian cermati apa pokok masalahnya, lalu carilah alternatif pemecahanannya. e) Prinsip Kesempatan Pertumbuhan 31

Seorang pemimpin hendaknya secara terbuka dan lapang dada siap dan bersedia memberikan peluang/kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh karyawan untuk mengembangkan karirnya melalui pendidikan formal maupun non formal. Janganlah ada terlintas dihati prasangka yang kurang baik, seperti misalnya : “Kalau aku izinkan ia mengikuti tugas belajar dan berhasil studinya, maka karirnya pasti meningkat. Jangan-jangan kedudukan dan jabatanku sekarang ini diambil alihnya nanti” Kekhawatiran seperti ini memang wajar-wajar saja, tapi tak usah cemas, kendati kenyataannya persis seperti itu, namun harga diri dan wibawa kita tidak akan luntur. Kita tetap dihormati dan disegani, kendati mungkin kedudukan kita lebih rendah nantinya. f) Prinsip Musyawarah Mufakat Seorang pemimpin hendaknya menjadikan musyawarah mufakat sebagai alat dan sarana untuk menyelesaikan berbagai masalah, kesalahpahaman dan konflik yang terjadi di dalam tubuh perusahaannya. Jangan sekali-kali segala permasalahan ditangani sendiri. Musyawarahkanlah dengan staf pimpinan yang lain. Demikian juga dalam merencanakan sesuatu, dalam memutuskan sesuatu, seorang pemimpin yang baik hendaknya melibatkan staf pimpinan yang lain untuk memusyawarahkannya.

• •

Memberikan semangat dan motivasi kerja yang tinggi ke arah etos kerja yang mantap; Menumbuhkembangkan kreatifitas kerja ke arah penciptaan wawasan kerja yang luas dan dinamis;

b) Sasaran Penggerakan • Ingin mengetahui dan menilai sejauhmana keikhlasan, semangat dan disiplin kerja serta tingkat kreatifitas karyawan dalam melaksanakan suatu pekerjaan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing; c) Tujuan Penggerakan • Agar proses manajemen dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana dan pengorganisasian yang tepat;

d. Pengawasan (Controlling dan Evaluating) Pengawasan (Controlling, Evaluating) merupakan fungsi manajeman yang keempat setelah perencanaan, pengorganisasian dan penggerakan. Apabila rencana sudah disusun dan ditetapkan, kemudian dilaksanakan dengan pengorganisasian yang rapi dan digerakan dengan baik dan tepat, maka sudah barang tentu proses manajemen sudah hampir mendekati finish dengan membuahkan hasil yang gemilang. Namun, sejauh mana hasil yang dicapai, berapa banyak kendala-kendala yang ditemui, adakah kesalahan 33

3) Fungsi, Sasaran dan Tujuan Penggerakan a) Fungsi Penggerakan 32

adakah penyelewengan dan sebagainya, untuk mengetahui semua ini maka diperlukan tindakan pengawasan.

1) Pengertian Pengawasan Menurut Prof. Dr. H. Arifin Abdurrachman disebutkan bahwa “Pengawasan adalah kegiatan atau proses untuk mengetahui hasil pelaksanaan, kesalahan, kegagalan untuk diperbaiki kemudian dan mencegah terulangnya kembali kesalahan-kesalahan itu, begitu pula mencegah sehingga pelaksanaan tidak berbeda dengan cencana yang telah ditetapkan”. Menurut Prof. Dr. Sondang P. Siagian, M.P.A disebutkan bahwa “Pengawasan adalah proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya”. Dari dua pengertian pengawasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa, “Pengawasan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pimpinan atau yang berwenang untuk mengetahui hasil pelaksanaan kerja, kemudian memperbaikinya apabila terjadi kesalahan-kesalahan atau penyimpanganpenyimpangan dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terulang kembali, sehingga hasil yang dicapai sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan”. Tindakan pengawasan adalah tindakan pencegahan 34

(preventif) untuk mengetahui lebih dini segala kekeliruan, kesalahan, ketidaksesuaian, penyimpangan atau penyelewengan yang mungkin saja terjadi dalam pelaksanaan kegiatan/kerja, agar dapat diatasi sesegera mungkin sebelum kondisinya semakin parah. Disamping itu, tindakan pengawasan juga bermaksud ingin memperbaiki (kuratif) segala kekeliruan, kesalahan, ketidaksesuaian, penyimpangan atau penyelewengan yang sudah terlanjur terjadi, agar di masamasa yang akan datang tidak terulang lagi. Dengan adanya pengawasan maka dapat diketahui sejauhmana kesesuaian rencana dengan pelaksanaan kerja. Dengan adanya pengawasan dapat mempertebal rasa tanggung jawab para karyawan terhadap tugas dan kewajiban yang diembannya. Dan dengan adanya pengawasan dapat mendidik kedisiplinan dan bekerja sesuai prosedur bagi para karyawannya.

2) Macam-macam Pengawasan a) Dilihat dari segi pelaksanaannya, pengawasan dibagi menjadi dua, yaitu : • Pengawasan Langsung (Direct Control). Adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan atau pihak yang berwenang (pengawas/supervisor) secara langsung (tatap muka) terhadap subyek dan obyek yang diawasi. Pengawasan langsung ini bisa bersifat : Inspektif, yaitu mengecek kebenaran dari adanya 35

berita, informasi, issu atau gossip; Verifikatif, yaitu melakukan observasi untuk mempelajari sekaligus melakukan penilaian terhadap keadaan subyek atau obyek yang diawasi; Vestigatif, yaitu melakukan pengamatan atau penelitian terhadap subyek atau obyek yang diawasi untuk mengetahui gambaran umum atau detil mengenai subyek atau obyek yang diteliti; Komparatif, yaitu melakukan pengamatan dan penilaian, untuk membandingkan satu obyek yang diamati dengan obyek lainnya. Pengawasan langsung ini disebut juga built in control. Pengawasan Tidak Langsung (Indirect Control) Adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan atau pihak yang berwenang (pengawas/supervisor) terhadap subyek dan obyek yang diawasi, yang dilakukan secara tidak langsung (tanpa tatap muka), tapi hanya mempelajari dari laporan tertulis yang masuk, apakah itu laporan tahunan, semester, triwulan maupun laporan bulanan. Jadi, pihak pengawas tidak datang langsung ke tempat pengawasan, tapi ia hanya menerima dan mempelajari berkas laporan yang masuk dari pihak yang diawasi.

Adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan atau pihak yang berwenang (pengawas/supervisor) terhadap intern organisasi itu sendiri. Misalnya : Pengawasan yang dilakukan oleh kepala kantor kepada staf/karyawannya. Pengawasan Ekstern (Eskternal Control) Adalah pengawasan yang dilakukan oleh pihak yang berwenang, misalnya pihak akuntan public, tim pengawas dari lembaga organisasi kepengawasan, seperti Badan Pengawas Daerah (BPD) terhadap lembaga organisasi/perusahaan. Misalnya : Pemeriksaan yang dilakukan oleh Akuntan Public terhadap keadaan keuangan perusahaan.

b) Dilihat dari segi luasnya (ruang lingkup) pengawasan, maka pengawasan dapat dibagi menjadi dua, yaitu : • Pengawasan Intern (Internal Control). 36

c) Dilihat dari segi waktunya (kapan dilakukannya pengawasan), maka pengawasan dibagi menjadi dua, yaitu : • Pengawasan Preventif (Preventif Control Adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan atau pihak yang berwenang (pengawas/supervisor) sebelum timbulnya permasalahan, penyimpangan, kesalahan dan sebagainya. Pengawasan yang seperti ini sifatnya pencegahan. Pengawasan atau pemeriksaan preventif ini disebut juga preaudit. • Pengawasan Repressif (Repressif Control) Adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan atau pihak yang berwenang (pengawas/supervisor) sesudah timbulnya permasalahan, penyimpangan, kesalahan dan sebagainya. Pengawasan repressif ini sifatnya perbaikan. 37

d) Dilihat dari segi ruang lingkupnya, maka pengawasan dapat dibagi menjadi dua, yaitu : • Pengawasan Administrasi (Administrative Control) Adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan atau pihak yang berwenang (pengawas/supervisor) terhadap berkas-berkas administrasi kantor/perusahaan. Jadi yang diperiksa hanyalah pencatatan pembukuannya, tidak terhadap keadaan pisiknya. • Pengawasan Teknis (Technical Control) Adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan atau pihak yang berwenang (pengawas/supervisor) terhadap keadaan pisik obyek yang diperiksa. Jadi pemeriksaannya langsung ke lapangan, misalnya pemeriksaan terhadap keadaan pisik bangunan toko, kantor, pabrik. Pemeriksaan terhadap keadaan para karyawan yang sedang bekerja di bagian produksi, dan sebagainya. e) Dilihat dari segi sifat pengawasannya, maka pengawasan dibagi menjadi dua, yaitu : • Pengawasan Formal (Formal Control) Adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan atau pihak yang berwenang (pengawas/supervisor) yang bersifat resmi/formal, yakni pengawasan yang sudah terprogram, punya tata cara dan prosedur yang resmi/tertentu. Misalnya pemeriksaan yang dilakukan oleh Pengawas Koperasi terhadap keadaan organisasi, usaha dan 38

keuangan koperasi; Pengawasan yang dilakukan oleh kantor pusat kepada kantor cabang, dan sebagainya. Pengawasan Informal (Informal Control) Adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan atau pihak yang berwenang (pengawas/supervisor) secara tidak resmi/informal. Pengawasan yang seperti ini biasanya dilakukan secara mendadak/tidak memberi tahu terlebih dahulu, atau dilakukan secara tiba-tiba/tidak direncanakan sebelumnya, atau bisa juga sambil lalu/ secara tidak sengaja. Pengawasan informal cenderung dilakukan berupa kunjungan pribadi atau kekeluargaan. Pengawasan yang seperti ini dimaksudkan untuk menghindari kekakuan dalam hubungan antara atasan dengan bawahan. Dengan cara seperti ini biasanya pimpinan menghendaki adanya keterbukaan dalam memperoleh informasi sekaligus usul/saran/pendapat perbaikan dan penyempurnaan dari bawahannya.

3) Prinsip-prinsip Pengawasan Agar pelaksanaan kegiatan pengawasan dapat berlangsung dengan lancar dan memperoleh hasil yang optimal, maka seorang pimpinan atau pihak yang berwenang melakukan pengawasan, hendaknya memperhatikan dan menerapkan beberapa prinsip pengawasan seperti berikut ini : 39

a) Prinsip Tujuan Maksudnya, pelaksanaan pengawasan harus berorientasi pada tujuan organisasi. Pengawasan dilakukan dalam rangka mencapai tujuan melalui pelurusan pekerjaan menghindari dan memperbaiki segala kesalahan dan penyimpangan; b) Prinsip Obyektifitas (apa adanya) Maksudnya, pelaksanaan pengawasan dilakukan secara jujur, apa adanya, obyektif, tidak memihak dan mendahulukan kepentingan umum/organisasi daripada kepentingan pribadi/kelompok. Kalau keliru katakan keliru, kalau benar katakan benar, tidak memutarbalikan fakta; c) Prinsip Mencari Kebenaran Maksudnya, pelaksanaan pengawasan harus berorientasi pada upaya mencari kebenaran berdasarkan ketentuan dan peraturan yang berlaku serta prosedur yang telah ditetapkan dan tata cara yang benar. Melakukan pengawasan bukan berarti mengorek-ngorek kelemahan orang lain (subyek yang diawasi), tetapi membantu mereka untuk memperbaiki kelemahannya. Oleh karena itu tidak benar kalau ada pengawas yang hanya pandai menunjukkan kesalahan, tetapi tidak mampu memberikan saran/alternatif perbaikannya; d) Prinsip Manfaat Maksudnya, pelaksanaan pengawasan harus berorientasi pada hasil dan daya guna pekerjaan. Dengan dilakukan pengawasan apakah berpengaruh positif terhadap produktifitas kerja karyawan, atau bagaimana. Dengan adanya pengawasan, apakah efektifitas dan efesiensi kerja semakin meningkat. 40

e) Prinsip Ketelitian Maksudnya, pelaksanaan pengawasan hendaknya dilakukan seteliti dan secermat mungkin guna menghasilkan kesimpulan yang akurat dan selanjutnya diupayakan untuk mencari jalan pemecahannya; f) Prinsip Kontinueitas (berkesinambungan) Maksudnya, pelaksanaan pengawasan hendaknya dilakukan secara terus menerus, rutin atau berkala. Lakukanlah pengawasan pada saat ada masalah maupun tidak ada masalah. Sebab sering terjadi, karena menganggap keadaan aman-aman saja, sepertinya tidak mungkin terjadi masalah, sehingga pengawasan dihentikan/tidak dilakukan. Namun, tanpa diduga-duga tiba-tiba muncul permasalahan, diluar perhitungan. Oleh karena itu kesinambungan kegiatan pengawasan perlu menjadi pertimbangan kita, sebab pepatah mengatakan, “air yang tenang belum tentu tidak berbuaya, tenang-tenang menghanyutkan, ambak-ambak bakut, sakali maloncat limpua hampang”; g) Prinsip Umpan Balik Maksudnya, pelaksanaan pengawasan harus dapat memberikan umpan balik (feed back) terhadap perbaikan dan penyempurnaan di masa-masa yang akan datang.

4) Sasaran dan Tujuan Pengawasan a) Sasaran Pengawasan • Untuk mengetahui apakah suatu kegiatan/aktivitas berjalan sesuai dengan rencana semula; 41

• • • •

Untuk mengetahui apakah segala sesuatu telah dilaksanakan sesuai dengan perintah/instruksi; Untuk mengetahui kesulitan-kesulitan, kelemahan-kelemahan dalam bekerja; Untuk mengetahui segala sesuatu apakah berjalan efektif dan efesien; Untuk mengetahui jalan keluar bila ternyata dijumpai kesulitan-kesulitan/kelemahan-kelemahan atau penyimpangan-penyimpangan ke arah perbaikan;

Tiga hal yang berhubungan dengan pengarahan, yaitu : Pemotivasian, Kepemimpinan dan Komunikasi.

a. Pemotivasian Pemotivasian adalah upaya yang dilakukan oleh pimpinan dalam rangka mengarahkan segala sumber daya dan potensi manusia (tenaga kerja/karyawan) agar dapat bekerja secara produktif, sehingga dapat mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Pemberian motivasi dapat dilakukan melalui beberapa hal : 1) Memberikan imbalan jasa (upah dan gaji) yang layak, dan tepat waktu kepada karyawan; 2) Memberikan tugas pekerjaan yang jelas, adil dan sesuai dengan bidang, keahlian/ketrampilan dan kemampuan karyawan; 3) Memberikan insentif (penghasilan tambahan) berupa honor, tunjangan, hadiah dan sebagainya kepada karyawan berdasarkan prestasi dan hasil kerjanya; 4) Membuka selebar-lebarnya kepada karyawan untuk berpartisipasi dalam memajukan perusahaan. Kemudian, sekecil apapun partisipasi yang disumbangkan karyawan, tetap diperhatikan dan dihargai selayaknya; 5) Mendorong dan membantu setiap karyawan dalam pengembangan karir, melalui tugas belajar, 43

b) Tujuan Pengawasan • Agar hasil pelaksanaan pekerjaan diperoleh secara berdaya guna (efesien) dan berhasil guna (efektif) sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya, sehingga proses manajemen secara keseluruhan dapat berlangsung dengan baik.

3. Teknis Pemberian Pengarahan Salah satu upaya pemimpin untuk menggerakan para staf agar dapat bekerja sesuai dengan rencana dan kebijakan pimpinan, adalah dengan memberikan pengarahan. Dalam memberikan pengarahan agar dapat efektif, diperlukan teknik-teknik yang tepat, sehingga dapat mengenai sasaran dan mencapai tujuan yang diinginkan. 42

diklat, penataran, magang dan sebagainya, yang selanjutnya dilakukan promosi jabatan; 6) Memberikan pengakuan dan penghargaan berupa pujian langsung, surat penghargaan, bintang jasa, kenaikan gaji, memberikan uang/tunjangan pembinaan, hadiah dan sebagainya kepada karyawan yang menunjukan prestasinya; 7) Menciptakan suasana yang nyaman, aman dan sehat dalam bekerja, sehingga para karyawan merasa betah berada di tempat kerja. Upaya ini dilakukan antara lain menyediakan sarana dan peralatan kerja yang cukup/memadai, menciptakan lingkungan kerja yang bersih, nyaman, aman dan indah;

sama dijinjing. Seorang pemimpin yang baik, ia senantiasa membela karyawannya, ketika dipojokkan orang, ketika diperlakukan orang secara tidak adil dan sebagainya. Kendatipun misalnya ia memang terbukti berbuat salah, seorang pemimpin yang baik, ia tetap akan membela dan memperjuangkan sebisa-bisanya, yang tentunya melalui tindakan yang wajar dan sesuai peratuan dan prosedur yang berlaku; 2) Tenggang rasa dan tepo selero Maksudnya, seorang pemimpin hendaknya mempunyai sikap menghormati perasaan para karyawannya. Janganlah memarahi apalagi mencemooh seorang karyawan di hadapan karyawan lainnya. Jangan memberikan sangsi hukuman yang sekiranya memberatkan karyawannya, apalagi sampai-sampai menjatuhkan harga dirinya; 3) Hemat dan sederhana Maksudnya, seorang pemimpin hendaknya memiliki pola hidup yang hemat dan sederhana, tidak boros, tidak sok pamer dan tidak bergaya mewah; 4) Bekerja keras dan berkemauan keras Maksudnya, seorang pemimpin hendaknya selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya. Jadilah contoh terbaik bagi karyawannya dalam hal melaksanakan tugas. Jangan sampai ada kesan, seorang pemimpin hanya pandai menyuruh, tapi dia sendiri tidak mengerjakan. Seluruh karyawannya dituntut untuk bekerja keras, sementara ia sendiri 45

b. Kepemimpinan Kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas yang dilakukan oleh pemimpin untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang lain (karyawan) dalam melakukan usaha kerja sama untuk mencapai tujuan. Untuk ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatian oleh seorang pemimpin, antara lain : 1) Kesetiakawanan dan solidaritas sosial Maksudnya, seorang pemimpin hendaknya selalu menyatu dengan seluruh karyawannya dalam berbagai kegiatan yang mereka lakukan. Berat sama dipikul ringan 44

bersantai ria; 5) Cermat dan Teliti Maksudnya, seorang pemimpin hendaknya tidak gegabah dalam bertindak dan memutuskan sesuatu. Segala persoalan diselidiki secermat-cermatnya dan diteliti kebenarannya; 6) Tertib dan teratur Maksudnya, seorang pemimpin hendaknya membiasakan diri agar selalu tertib dan teratur, baik dalam hal mengurus diri sendiri maupun mengurus perusahaannya; 7) Penuh rasa pengabdian dan pelayanan Maksudnya, seorang pemimpin hendaknya mendahulukan kepentingan karyawannya dan perusahaannya di atas kepentingan pribadinya; 8) Jujur dan terbuka Maksudnya, seorang pemimpin hendaknya berprilaku jujur dan terbuka terhadap karyawannya. Tidak ada yang di tutup-tutupi, tidak ada kepura-puraan dan rekayasa, semuanya transparan dan apa adanya; 9) Kesatria dan patriot Maksudnya, seorang pemimpin hendaknya selalu berjiwa besar dalam menghadapi berbagai persoalan. Ia akan selalu membela yang benar, kendatipun harus berhadapan dengan berbagai risiko. Apapun yang terjadi ia dan perusahaannya harus maju dan maju terus; 46

c. Komunikasi Komunikasi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam melakukan interaksi dengan sesamanya. Di dalam dunia usaha komunikasi memiliki peranan yang sangat penting. Suatu perusahaan hanya akan dapat melaksanakan kegiatannya dengan baik dan mencapai hasil yang gemilang, apabila setiap karyawan yang bekerja pada perusahaan tersebut selalu terjalin hubungan yang baik antara sesama karyawan, dan antara karyawan dengan pimpinannya. Agar terjalin komunikasi yang baik dan lancar, setiap pimpinan dan karyawan hendaknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut : 1) Pesan yang akan disampaikan dalam berkomunikasi haruslah benar, aktual dan tepat sasaran; 2) Dalam menyampaikan pesan hendaknya jangan berbelit-belit, tapi sampaikanlah dengan ringkas, jelas dan tegas; 3) Sesuaikanlah informasi yang disampaikan dengan kenyataan dalam praktek; 4) Sesuaikanlah banyak sedikitnya pesan yang akan disampaikan, sebab ada kemungkinan pesan yang panjang (terlalu detil) dapat membingungkan si penerima pesan; 5) Perhatikanlah faktor waktu dalam berkomunikasi. 47

Pililihlah waktu yang tepat dalam berkomunikasi, misalnya disaat pimpinan lagi releks, santai. Jangan sekali-kali berkomunikasi pada saat pimpinan lagi sibuk, lagi marah, lagi kesal dan sebagainya; 6) Sesuaikan isi informasi yang akan dikomunikasikan dengan si penerima informasi (siapa yang akan kita ajak berkomunikasi);

merupakan tempat/wadah berkumpulnya orang-orang yang tergabung dalam suatu kelompok/ikatan tertentu untuk melakukan suatu kegiatan kerja sama dalam rangka mencapai tujuan. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa “Organisasi adalah tempat/wadah berkumpulnya orangorang yang melakukan kerjasama, untuk mencapai tujuan” Hubungannya dengan manajemen, maka organisasi sebagai tempat/wadah daripada manajemen dalam melakukan proses kerja, yang keduanya saling mempengaruhi. Kalau organisasinya baik, namun manajemennya tidak baik, maka organisasinya tidak jalan. Berapa banyak organisasi yang terbentuk, namun tidak dikelola dengan baik (manajemennya kurang baik), akhirnya organisasi ini hanya tinggal namanya saja, tanpa ada gerak aktivitas di dalamnya. Demikian sebaliknya, kalau organisasinya kurang baik, tetapi manajemennya baik, tentu akan mengganggu proses kegiatan manajemen. Sebuah perusahaan besar yang tidak didukung oleh sarana tempat yang memadai, tentu akan mengganggu kelancaran kegiatan perusahaan tersebut. Hubungan antara manajemen dengan organisasi, ibarat hubungan antara badan jasmani dengan rohani. Kalau badan tidak sehat, rohani juga merasakan akibatnya. Demikian sebaliknya.

B. ORGANISASI Kata Organisasi berasal dari bahasa Latin (Yunani), yaitu Organizare yang berarti membentuk sebagai, menjadi keseluruhan. Beberapa orang yang punya ketrampilan dibidang olah raga sepak bola, mereka sepakat bersatu membentuk tim sepak bola, maka terbentuklah sebuah kesebelasan/Clup Sepak Bola. Lima orang yang sepakat bekerja sama dalam usaha bisnis, maka lahirlah sebuah perusahaan yang berbentuk CV. Dari yang asalnya orang ke orang secara pribadi, kemudian akhirnya membentuk sebuah perkumpulan, sebuah clup dan sebagainya, berarti membentuk sebagai atau menjadi keseluruhan. Organisasi, merupakan kata benda yang terdiri dari Organ + Sasi. Organ berarti alat, sedangkan Sasi dapat diartikan pemungsian. Jadi, Organisasi berarti pemungsian suatu alat. Yang dimaksud pemungsian suatu alat disini adalah pemungsian suatu tempat atau wadah yang 48

1. Unsur-unsur Organisasi 49

Terbentuknya sebuah organisasi, paling tidak harus mempunyai tiga unsur sebagai berikut : a. Unsur kumpulan orang orang Sebuah organisasi berarti sebuah pekumpulan, perhimpunan atau persyarikatan sejumlah orang-orang, dua orang atau lebih. Orang-orang ini berfungsi sebagai pelaksana/pemeran kegiatan. Mereka inilah yang menjalankan roda organisasi, sehingga organisasi dapat bergerak dinamis dan dapat mencapai tujuannya. b. Unsur kerja sama Ciri sebuah organisasi yang baik adalah terjalinnya kerja sama yang harmonis diantara anggota-anggotanya. Dengan terjalinnya kerja sama inilah maka organisasi akan terlihat kuat dan kokoh. Dan kerja sama merupakan fungsinya organisasi. Artinya, jika di dalam sebuah organisasi tidak tercipta kerja sama yang harmonis, berarti organisasi tersebut sudah kehilangan fungsinya. Dengan penerapan kerja sama inilah, maka segala pekerjaan, aktivitas dapat dikerjakan dengan baik, mudah dan efesien; c. Unsur tujuan bersama Tujuan di dalam sebuah organisasi merupakan titik kulminasi dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan, disamping juga merupakan harapan, cita-cita, sekaligus pendorong semangat kerja menuju etos kerja yang tinggi. 50

2. Organisasi Formal dan Informal Karena organisasi merupakan tempat/wadah berkumpulnya orang-orang (dua orang atau lebih) yang bekerja sama untuk mencapai tujuan, maka segala bentuk kerja sama apapun yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, untuk mencapai suatu tujuan, boleh dikatagorikan sebagai organisasi. Misalnya, dua orang yang bekerja sama memindahkan sebuah batu besar yang menghalangi jalan, ke tempat yang aman, dengan tujuan demi kelancaran orang yang lalu lalang, maka hal ini sudah bisa dikatakan organisasi. Oleh karenannya, maka dalam praktek sehari-hari, kita melihat ada organisasi yang bersifat formal dan ada organisasi yang bersifat informal. Organisasi yang bersifat formal adalah organisasi yang tersusun rapi dan resmi sifatnya, yang di dalamnya terdapat/sudah ditentukan : a. Jenis, bentuk dan nama organisasinya; b. Struktur organisasi dan uraian tugasnya; c. Tempat dan kedudukan organisasinya; d. Program kerja, sasaran dan tujuan organisasinya; e. Peraturan, tata tertib atau AD ART-nya; dan sebagainya. Organisasi yang bersifat informal adalah bentuk kerjasama biasa, kerja sama yang bersifat pribadi atau kerja sama dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat, 51

seperti misalnya, sekelompok siswa yang melakukan kegiatan belajar bersama, kerja sama antara sopir dengan kondektur, kegiatan kerja bakti, gotong royong dan sebagainya.

Bentuk organisasi lini/garis ini juga dipergunakan oleh perusahaan perseorangan dalam bentuk industri rumah tangga.

3. Bentuk-bentuk Organisasi Berdasarkan strukturnya, bentuk organisasi terdiri dari empat macam, yaitu : a. Organisasi Lini/Garis Adalah bentuk organisasi yang mana pucuk pimpinan dipandang sebagai sumber wewenang tunggal, sehingga bawahan hanya mengenal satu pimpinan yang berhak memerintah atau memberikan instruksi. Bawahan hanya bertindak sebagai pelaksana. Bentuk organisasi yang semacam ini terdapat misalnya pada organisasi pemerintahan, organisasi ABRI dan sebagainya. Contoh strukturnya :
DANYON

b) Organisasi Staf Adalah bentuk organisasi yang mana hubungan pimpinan dengan bawahan atau sebaliknya, dimaksudkan untuk saling memberikan bantuan (kerja sama) baik berupa pemikiran maupun perbuatan yang semata-mata ditujukan demi kelancaran tugas dalam organisasi. Para staf bekerja untuk membantu kelancaran tugas pimpinan, dan pimpinan memberikan bimbingan dalam melaksanakan tugas para staf, sehingga diharapkan tujuan secara umum dapat dicapai dengan baik. Bentuk organisasi staf ini tidak ada garis komando. Contoh strukturnya :
KETUA PIMPINAN

AGT DANKI DANKI DANKI

AGT

STAF

STAF

DANTON

DANTON

52

Bentuk organisasi staf ini biasanya dipergunakan oleh organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan dan organisasi-organisasi kecil, seperti LSM (Lembaga Sosial Masyarakat), Organisasi Keagamaan, Organisasi Kepemudaan seperti KNPI, BKPRMI, Karang Taruna, organisasi Kelompok Pecinta Alam dan sebagainya. 53

c) Organisasi Fungsi Adalah bentuk organisasi yang disusun berdasarkan fungsi organisasi yang bersangkutan. Tiap-tiap fungsi dikerjakan oleh bagian-bagian tertentu, yang satu sama lainnya saling berhubungan. Keberhasilan organisasi fungsi ini tergantung koordinasi dan kerja sama yang baik. Sekalipun dalam organisasi fungsi ini terdapat staf ahli dalam bidang masing-masing, namun tanggung jawab dan garis komando tetap berada pada para pimpinan. Pada organisasi fungsi ini terdapat garis komando dan garis koordinasi. Bentuk organisasi semacam ini banyak dipergunakan oleh organisasi perusahaan yang berbentuk CV, Fa, dan PT. Contoh strukturnya :
DIREKTUR

d) Organisasi Panitia Adalah bentuk organisasi yang ditujukan dalam rangka melaksanakan suatu kegiatan yang bersifat insidentil dan untuk kepentingan kegiatan tententu dan dalam waktu yang tertentu pula. Misalnya Panitia Walimah Perkawinan, Panitia Seminar dan sebagainya. Contoh strukturnya :
KETUA

WAKIL KETUA

SEKRETARIS

BENDAHARA

WAKIL DIREKTUR

SEKSI-SEKSI

KA PROD

KA PERSON

KA PEMAS

PERLENGKAPAN

KONSUMSI

KEGIATAN

STAF

STAF

STAF

Keterangan : ____________ = Garis Komando = Garis Koordinasi

4. Prinsip-Prinsip Organisasi a. Prinsip Tujuan yang Jelas 55

54

Setiap organisasi yang dibentuk hendaknya mempunyai tujuan yang jelas. Organisasi negara seperti : PEMDA, instansi-instansi dan perusahaan daerah, dibentuk untuk mencapai tujuan negara/nasional sebagaimana yang digariskan oleh GBHN; Organisasi perusahaan dibentuk untuk mencari laba; KONI dibentuk untuk melakukan diklat bagi para atlet dalam rangka meningkatkan prestasi olah raga. b. Prinsip Pembagian Tugas Setiap organisasi yang dibentuk hendaknya sudah ditentukan pembagian tugas dan garis kewenangan yang jelas. Prinsip ini tercermin di dalam struktur organisasi dan uraian tugasnya; c. Prinsip Pelimpahan Wewenang Setiap organisasi yang dibentuk hendaknya menerapkan prinsip pelimpahan wewenang. Segala pekerjaan yang tidak mampu dikerjakan oleh pimpinan, hendaknya dilimpahkan kepada staf yang memang mampu mengerjakannya. Demikian juga misalnya suatu waktu pimpinan berhalangan, tidak bisa masuk kerja karena tugas luar, maka tugas-tugas pimpinan sementara dilimpahkan kepada wakil atau staf yang dipercaya dan diperkirakan mampu menggantikan tugas-tigas pimpinan; d. Prinsip Rentang Pengendalian Setiap organisasi yang dibentuk hendaknya mengacu kepada rentang pengendalian. Hal ini berkaitan dengan jumlah karyawan yang akan dikendalikan berikut bidang 56

tugas dan skill yang dimiliki. Rentang pengendalian dalam organisasi terdiri dari : 1) Rentang pengendalian yang sempit, yaitu jumlah bawahan berkisar 4 – 8 personil; 2) Rentang pengendalian yang luas, yaitu jumlah bawahan berkisar 8 – 15 personil; e. Prinsip Kesatuan Perintah / Komando Setiap organisasi yang dibentuk hendaknya menganut prinsip kesatuan perintah, dimana perintah pucuk pimpinan dipatuhi oleh pimpinan setingkat di bawahnya, dan seterusnya sampai pada pimpinan tingkat bawah. Dalam organisasi Islam sering disebut Prinsip Kesatuan Imamah; f. Prinsip Pertanggungjawaban Setiap organisasi yang dibentuk hendaknya memperhatikan prinsip pertanggungjawaban, dimana setiap karyawan bertanggungjawab terhadap tugas yang ia kerjakan. Dan pemimpin bertanggung jawab terhadap tugas-tugas kepemimpinannya. Janganlah melemparkan tanggung jawab kepada orang lain yang justeru bukan tanggung jawabnya; g. Prinsip Pemisahan Setiap organisasi yang dibentuk hendaknya secara tegas dan jelas sudah memberikan pemisahan tugas dan tanggung jawab masing-masing karyawan. Beban tugas yang diemban seorang karyawan, juga merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya, tidak bisa dibebankan kepada 57

orang lain; h. Prinsip Keseimbangan Setiap organisasi yang dibentuk hendaknya berdasarkan prinsip keseimbangan, dimana beban pekerjaan yang diemban seseorang senantiasa disesuaikan dengan pangkat jabatannya dan kemampuan skill yang dimilikinya serta keadaan usia/pisik seseorang. Jangan memberikan tugas yang berlebihan, juga jangan memberikan tugas yang terlalu sedikit/ringan; i. Prinsip Fleksibelitas / Keluwesan Setiap organisasi yang dibentuk hendaknya berdasarkan prinsip fleksibelitas atau keluwesan. Struktur organisasi dan uraian tugas yang telah disusun dan ditetapkan, hendaknya tidak bersifat mutlak 100 %. Artinya dalam keadaan dan situasi tertentu bisa saja mengalami perubahan atau penyesuaian. Disinilah arti pentingnya kebijakan seorang pemimpin untuk menyikapi setiap perubahan situasi dan kondisi, agar praktek kepemimpinannya tidak terlalu kaku; j. Prinsip Koordinasi Setiap organisasi yang dibentuk hendaknya berdasarkan prinsip koordinasi, dimana setiap pekerjaan dan tugas yang akan dikerjakan senantiasa dikoordinasikan terlebih dahulu agar terjalin keterpaduan dan kesamaan penafsiran / persepsi /pandangan diantara para karyawan atau anggota organisasi. 58

Manusia adalah unsur terpenting dalam seluruh proses manajemen. Ia bertindak sebagai generator (faktor penggerak) yang menggerakan seluruh fungsi manajemen sehingga dapat berfungsi secara efektif dan efesien. Tidak bisa dibayangkan apa jadinya jika proses manajemen tanpa melibatkan peranan manusia. Betapapun besarnya sebuah perusahaan, yang di dalamnya dipergunakan peralatan-peralatan yang serba modern dan canggih, tentu tidak akan bekerja maksimal tanpa keterlibatan tenaga manusia. Sebab, mesin yang canggih sekalipun, tidak akan bisa berbuat banyak bagi perusahaan, tanpa tangan-tangan terampil manusia. Modal, mesin, peralatan dan bahan baku, hanyalah sekumpulan benda mati yang tidak akan berguna apa-apa tanpa digerakan oleh manusia. Modal yang besar tidak dengan sendirinya menjadikan sebuah perusahaan menjadi bonafit. Modal yang dimiliki oleh perusahaan hanya akan semakin besar dan berkembang apabila dikelola secara tepat. Pengelolaan yang tepat hanya mungkin dilakukan oleh manusia, yang tidak saja punya skill (ketrampilan), juga pada diri manusia memenuhi persyaratan non teknikal lainnya, seperti loyalitas, disiplin, dedikasi, solidaritas dan sebagainya. 59

Mengingat dan memperhatikan betapa pentingnya kehadiran dan keterlibatan manusia dalam proses manajemen, terutama dalam kegiatan usaha inilah, maka manusia, dalam hal ini kemampuan skillnya, perlu dikelola sedemikian rupa agar tercipta produktifitas kerja yang dinamis, tepat guna dan berhasil guna. Untuk itulah maka diperlukan Manajemen Sumber Daya Manusia. “Manajemen Sumber Daya Manusia adalah segala upaya yang dilakukan oleh pimpinan di dalam memberdayakan tenaga kerja untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perusahaan ke arah tercapainya tujuan”. Dalam rangka memberdayakan tenaga kerja, diperlukan langkah-langkah dan prosedur yang rapi dan tepat. Langkah-langkah dan prosedur tersebut dalam kaitannya dengan pengelolaan SDM terdiri dari : 1. Perencanaan Ketenagakerjaan; 2. Rekrutmen Tenaga Kerja; 3. Seleksi Tenaga Kerja; 4. Penempatan Tenaga Kerja; 5. Pembinaan Karier Tenaga Kerja; 6. Pemindahan Tenaga Kerja dan; 7. Pemensiunan/ Pemutusan Hubungan Kerja; Mari kita bahas secara sederhana tujuh langkah dan prosedur pengelolaan SDM ini satu persatu. 60

1. Perencanaan Ketenagakerjaan Berbicara tentang perencanaan ketenagakerjaan, yang menjadi fokus perhatian kita adalah bagaimana langkah-langkah yang diambil oleh pimpinan di dalam menganalisis kebutuhan tenaga kerja bagi perusahaannya agar diperoleh tenaga kerja yang tepat untuk berbagai kedudukan, jabatan dan pekerjaan. Untuk itu maka di dalam perencanaan ketenagakerjaan, biasanya diawali dengan melakukan inventarisasi tenaga kerja yang sudah ada. Inventarisasi tersebut antara lain menyangkut : a. Jumlah tenaga kerja yang ada; b. Kualifikasi/pembidangan tenaga kerja; c. Masa kerja tenaga kerja; d. Pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tenaga kerja; e. Potensi dan bakat tenaga kerja yang masih perlu dikembangkan; f. Minat tenaga kerja terhadap pekerjaan lainnya (selain tugasnya sekarang); Inventarisasi di atas, selain berguna bagi penentuan kebutuhan akan tenaga kerja di masa yang akan datang, juga berguna untuk : a. Melakukan promosi jabatan terhadap orang-orang (tenaga kerja) tertentu untuk mengisi lowongan jabatan yang lebih tinggi, jika suatu waktu terjadi kekosongan jabatan; 61

b. Meningkatkan kemampuan tenaga kerja dalam melaksanakan tugas; Dari hasil inventarisasi tenaga kerja, akan diperoleh gambaran, bagaimana keadaan tenaga kerja sekarang (yang sudah ada), apakah perlu ditambah jumlahnya, atau mungkin hanya ditingkatkan kualitasnya, tanpa harus melakukan penambahan jumlah tenaga kerja. Hasil inventarisasi tenaga kerja juga sangat membantu bagi penyusunan program kerja, khususnya program ketenagakerjaan. Dalam melakukan perencanaan ketenagakerjaan, dapat digunakan salah satu dari beberapa teknik berikut ini: a. Teknik Ekstrapolasi Merupakan suatu teknik perencanaan ketenagakerjaan dengan memproyeksikan kecenderungan-kecenderungan masa lalu ke masa depan. Artinya tingkat dan jenis perubahan yang terjadi di masa lalu digunakan sebagai bahan untuk menentukan perubahan-perubahan yang diperkirakan akan terjadi di masa yang akan datang. Jadi, teknik ini menggunakan suatu asumsi bahwa masa kini merupakan produk dari masa lalu, dan masa depan tidak bisa dilepaskan keterkaitannya dengan masa sekarang. Manfaat ekstrapolasi sebagai suatu teknik di dalam perencanaan ketenagakerjaan, berangkat dari suatu pemikiran bahwa kehidupan suatu organisasi perusahaan merupakan sesuatu yang berlangsung secara kontinue. 62

Teknik ekstrapolasi diterapkan, misalnya jika kenyataan menunjukan bahwa suatu organisasi perusahaan yang mempekerjakan sejumlah tertentu tenaga kerja baru setiap bulan selama dua tahun yang baru saja dilewati, ekstrapolasi berarti bahwa untuk kurun waktu yang sama di masa yang akan datang, akan dipekerjakan sejumlah tenaga kerja baru yang sama. b. Teknik Indeksasi Merupakan suatu teknik perencanaan ketenagakerjaan yang memperkirakan kebutuhan tenaga kerja di masa depan dengan menyesuaikannya pada suatu indeks tertentu. Misalnya, suatu indeks menunjukan bahwa setiap penambahan omzet penjualan yang bernilai sepuluh juta rupiah, maka di bagian produksi harus ditambah tenaga kerja sebanyak sepuluh orang. c. Teknik Analisis Statistikal Merupakan suatu teknik perencanaan ketenagakerjaan yang memperkirakan kebutuhan tenaga kerja di masa depan berdasarkan perhitungan statistik. Teknik ini diterapkan dengan mempelajari dan menganalisa perkembangan ketenagakerjaan, volume usaha dan hasil usaha yang diperoleh selama beberapa kurun waktu yang lewat untuk dijadikan studi banding dalam menentukan kebutuhan tenaga kerja di masa yang akan datang. d. Teknik Analisis Anggaran Merupakan suatu teknik perencanaan ketenagakerjaan yang di lihat dari kemampuan anggaran yang ada. Jadi 63

penambahan jumlah tenaga kerja baru di masa yang akan datang tergantung keadaan anggaran yang tersedia. e. Teknik Analisis Usaha Baru Merupakan suatu teknik perencanaan ketenagakerjaan terhadap perusahaan yang bermaksud akan membuka usaha baru. Penggunaan teknik ini dilakukan dengan memperhitungkan kebutuhan tenaga kerja baru, melalui perbandingan yang ditunjukan perusahaan lain yang berpengalaman dalam menyelenggarakan usaha sejenis. Misalnya, Jika suatu perusahaan penerbangan ingin membuka usaha baru di bidang perhotelan dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para penumpang dan pelanggannya, perusahaan tersebut dapat memperhitungkan kebutuhan akan tenaga kerja berdasarkan tingkat dan jenis ketenagakerjaan yang terdapat di hotel-hotel lain yang sejenis, dengan mempertimbangkan dari segi lokasinya, klasifikasi hotelnya dan sebagainya. f. Teknik Penciptaan Model dengan bantuan Komputer Merupakan suatu teknik perencanaan ketenagakerjaan yang dianggap paling canggih, karena model-model yang diciptakan biasanya berupa serangkaian rumusrumus matematika yang secara simultan menggunakan berbagai teknik perencanaan untuk menghitung kebutuhan akan tenaga kerja di masa yang akan datang. Salah satu keuntungan yang dapat dipetik dari pemanfaatan teknologi komputer dalam perencanaan ketenagakerjaan ini adalah bahwa jika suatu waktu terjadi perubahan 64

dalam penawaran dan permintaan ketenagakerjaan, perubahan tersebut dengan segera dapat dimasukan ke dalam komputer untuk menyempurnakan rumus perencanaan sehingga aktualitasnya tetap terjamin.

2. Rekrutmen Tenaga Kerja Apapun alasannya, bahwa setiap adanya lowongan kerja dalam perusahaan, harus segera diisi. Salah satu teknik pengisiannya adalah melalui proses rekrutmen. Dengan demikian, “Rekrutmen Tenaga Kerja adalah suatu proses di dalam mencari, menemukan dan menarik para calon tenaga kerja yang diperlukan untuk dipekerjakan dalam suatu perusahaan”. Jadi, proses rekrutmen dimulai dengan mencari pelamar dan berakhir ketika pelamar mengajukan lamarannya. Dalam melakukan rekrutmen tenaga kerja, perlu diketahui sumber-sumber tenaga kerja, agar proses rekrutmen dapat berlangsung secara cepat. Adapun sumber-sumber tenaga kerja tersebut adalah sebagai berikut : a. Dari dalam perusahaan itu sendiri (misalnya sebagian keluarga pihak perusahaan yang belum bekerja); b. Teman-teman karyawan perusahaan yang bersangkutan; c. Lembaga yang mengurusi ketenagakerjaan, seperti 65

Departemen Tenaga Kerja; d. Lembaga-lembaga pendidikan; e. Memasang pengumuman, iklan dan selebaran; f. Sumber-sumber lainnya.

3. Seleksi Tenaga Kerja Proses seleksi tenaga kerja merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam keseluruhan proses manajemen sumber daya manusia. Dikatakan demikian karena melalui proses seleksi inilah ditentukan apakah tenaga kerja yang dipilih nanti sesuai dengan tuntutan dan harapan perusahaan, atau tidak, ini tentu tergantung pada cermat tidaknya proses seleksi itu dilakukan. Dalam melakukan seleksi tenaga kerja, paling tidak ada delapan langkah yang harus ditempuh, yaitu : a. Penerimaan Surat Lamaran Langkah ini merupakan langkah yang penting, guna memperoleh kesan pertama tentang pelamar melalui penelitian kelengkapan berkas lamaran dan isinya, pengamatan penampilan, sikap dan faktor-faktor lain yang dipandang relevan. Dari kesan pertama inilah perekrut mengambil keputusan apakah akan melanjutkan langkah berikutnya atau tidak. b. Penyelenggaraan Testing Penyelenggaraan testing dilakukan dalam rangka ingin 66

memperoleh informasi yang obyektif tentang cocok tidaknya pelamar dengan jabatan atau pekerjaan yang akan dipercayakan kepadanya. Pada dasarnya terdapat tiga jenis tes yang dipergunakan dalam kegiatan seleksi tenaga kerja, yaitu : 1) Tes tertulis (menguji pengetahuan pelamar); 2) Tes psikologi; 3) Tes bakat dan praktek pelaksanaan pekerjaan; c. Wawancara Wawancara sebagai alat seleksi, dipandang sebagai hal yang penting sehingga hampir di dalam proses seleksi yang diselenggarakan oleh perusahaan, selalu ada wawancara. Melalui wawancara, dapat dipetik manfaat, antara lain : 1) Adanya kesan yang kuat tentang akseptabilitas pelamar untuk bekerja dalam perusahaan; 3) Adanya perolehan jawaban yang agak pasti atas pertanyaan apakah pelamar mampu melaksanakan pekerjaan yang akan dipercayakan kepadanya; 4) Adanya perolehan bahan perbandingan antara pelamar yang diwawancarai dengan para pelamar lain untuk pekerjaan yang sama; 5) Dapat mengenal pelamar lebih dekat oleh pewawancara; 6) Kesempatan bagi pelamar yang diwawancarai untuk lebih mengenal perusahaan yang akan mempekerjakannya melalui informasi yang diperoleh dari pewawancara. Teknik dan cara wawancara, bisa dilakukan dengan 67

teknik bebas, yaitu wawancara tidak terstruktur; teknik sistematis, yaitu wawancara yang terstruktur; gabungan keduanya; dan teknik kasus/pemecahan masalah. d. Pengecekan Latar Belakang Pelamar dan Surat-surat Referensinya Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui tentang latar belakang diri si pelamar, seperti latar belakang keluarga, latar belakang pekerjaan, kemampuan intelektual, sikap, prilaku dan lain-lain yang dipandang relevan. Karena itu yang memberikan referensi biasanya diminta dari pihak keluarganya, teman dekat, sahabat, guru/dosen dan pihak-pihak lain yang mengenal diri si pelamar. e. Evaluasi Kesehatan Evaluasi kesehatan dimaksudkan untuk menjamin bahwa pelamar berada dalam kondisi fisik yang sehat. Tujuan yang ingin dicapai dengan evaluasi kesehatan ini antara lain : 1) Dapat menjamin bahwa pelamar tidak menderita suatu penyakit yang kronis, apalagi menular; 2) Dapat memperoleh informasi apakah secara fisik pelamar mampu menghadapi tantangan dan tekanan tugas pekerjaannya; f. Wawancara Langsung dengan Atasan (Pimpinan Perusahaan) Dewasa ini semakin dirasakan pentingnya keterlibatan para pemimpin perusahaan dalam proses seleksi, untuk menentukan keputusan akhir siapa diantara pelamar yang 68

diterima dan siapa yang ditolak. Hal ini dilakukan karena memang para pemimpinlah yang tahu persis apa dan bagaimana sosok tenaga kerja yang diperlukan oleh perusahaan. Seleksi akhir yang dilakukan oleh para pemimpin perusahaan ini biasanya dalam bentuk wawancara. g. Keputusan Seleksi Langkah berikutnya dalam proses seleksi adalah pengambilan keputusan tentang lamaran yang masuk, diterima, atau ditolak. Hasil seleksi ini hendaknya diberitahukan kepada si pelamar, baik secara langsung, melalui surat menyurat, maupun melalui pengumuman yang di tempel di papan pengumuman, dibacakan atau dimuat dibeberapa mas media. Semua dokumen yang masuk dari para pelamar yang diterima (lulus seleksi), hendaknya disimpan dengan baik, karena suatu saat dokumen ini diperlukan oleh perusahaan, terutama dalam rangka pembinaan karir pelamar yang bersangkutan. h. Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Pra Tugas Kegiatan ini bagi sebagian perusahaan ada yang dilaksanakan sebelum hasil seleksi diumumkan, ada juga yang dilaksanakan setelah hasil seleksi diumumkan. Pendidikan dan Pelatihan Pra Tugas ini dilakukan dalam rangka lebih mengenalkan perusahaan dan memberikan pembekalan pengetahuan dan ketrampilan kepada tenaga kerja baru tentang tugas-tugas dan tata aturan pelaksanaan pekerjaan yang akan dikerjakan. Pelaksanaan 69

pelatihan ini ada kalanya berlangsung satu minggu, satu bulan, bahkan ada yang beberapa bulan, tergantung kebutuhan perusahaan.

4. Penempatan Tenaga Kerja Hari-hari pertama bekerja bagi seorang karyawan baru sangat menentukan perjalanan selanjutnya dalam meniti kaier. Pada hari-hari pertama itu, biasanya berbagai pertanyaan muncul dalam dirinya, diantaranya : a. Apakah perusahaan yang baru menerimanya bekerja ini benar-benar cocok sebagai tempat berkarya dan meniti kariernya; b. Apakah ia mampu melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya; c. Apakah ia mampu beradaptasi dengan para karyawan lainnya, sehingga ia disenangi karyawan lain; Munculnya pertanyaan-pertanyaan ini wajar bagi karyawan baru, dan dapat dipastikan bahwa berbagai pertanyaan tersebut tidak akan terjawab dalam waktu relatif singkat, namun ia memerlukan proses waktu yang cukup panjang. Setelah calon tenaga kerja diterima sebagai tenaga kerja baru, selanjutnya ia akan diperkenalkan dengan perincian tugas dan hubungan kerja. 70

Untuk itu, perlu diberikan gambaran umum kepada karyawan baru tentang beberapa hal, antara lain : a. Sejarah perusahaan; b. Produk yang dihasilkan perusahaan; c. Struktur organisasi perusahaan; d. Tata kerja, peraturan kerja dan mekanisme kerja perusahaan; e. Jam kerja; f. Fasilitas yang disediakan; g. Hak cuti; h. Pedoman tentang kesejahteraan karyawan; i. Promosi jabatan dan; j. Mutasi kerja dan pemensiunan.

5. Pembinaan Karier Tenaga Kerja Pembinaan karier tenaga kerja dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada para karyawan untuk mengembangkan kariernya melalui berbagai pendidikan dan pelatihan, yang selanjutnya mempromosikan mereka untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi. Banyak jenis pendidikan dan pelatihan yang dapat menggiring seseorang menaiki jenjang kariernya, diantaranya : a. Pelatihan dalam jabatan Adalah jenis pelatihan yang diselenggarakan di tempat kerja bersangkutan. Sasarannya adalah meningkatkan 71

kemampuan para karyawan dalam melaksanakan tugasnya. b. Pelatihan Vestibul Adalah jenis pelatihan dalam rangka meningkatkan ketrampilan karyawan, terutama yang bersifat teknikal. c. Pelatihan Laboratorium Adalah jenis pelatihan yang menggunakan sarana laboratorium sebagai pusat pelatihannya. d. Pelatihan Individual (Belajar Sendiri) Adalah jenis pelatihan yang dilakukan secara pribadi (belajar sendiri). Pada pelatihan ini, pihak perusahaan biasanya menyediakan bahan pelajaran dan beberapa peralatan praktek. Bahan pelajaran dikaji atau ditelaah oleh para karyawan sendiri dan peralatan praktek dipakai untuk melakukan praktek sendiri. Dalam pembinaan dan pengembangan karier, hendaknya diperhatikan beberapa hal, sebagai berikut : a. Prestasi kerja Pangkal tolak pengembangan karier seseorang adalah prestasi kerja. Tanpa prestasi kerja, sukar bagi seorang karyawan untuk diusulkan menaiki suatu jabatan tertentu. b. Pengenalan oleh pihak lain Maksudnya, ada pihak lain yang memberikan keterangan 72

terhadap karyawan yang bersangkutan tentang layak tidaknya dipromosikan menduduki jabatan tertentu. Pihak lain yang memberikan keterangan ini tentunya adalah pihak yang berwenang, seperti pihak pimpinan, pimpinan instansi terkait, dan sebagainya. c. Kesetiaan pada organisasi perusahaan Pihak perusahaan tentu akan memperjuangkan habis-habisan kepada karyawan yang menunjukan kesetiaannya kepada perusahaan. Karena dengan meningkatkan karier karyawan tersebut, berarti peningkatan bagi produktifitas perusahaan. d. Pemanfaatan mentor dan sponsor Pengalaman menunjukan bahwa pengembangan karier seseorang sering berlangsung lebih mulus apabila ada orang lain dalam perusahaan, yang dengan berbagai cara bersedia memberikan bimbingan karier kepadanya. Pemberi bimbingan ini disebut mentor. Sedangkan sponsor adalah seseorang yang bersedia mencalonkan seorang karyawan untuk mengikuti program pengembangan karier. e. Dukungan para bawahan Bagi mereka yang sudah menduduki posisi manajerial tertentu dan mempunyai rencana untuk meningkatkan kariernya, dukungan para bawahan pun sangat membantu. Dukungan ini terwujud minimal dalam bentuk menunjukan kesetiaannya terhadap pimpinan. Dalam upaya memperoleh dukungan bawahannya, seorang pimpinan 73

yang menjadi atasannya, perlu memperhatikan dua hal yaitu : 1) Loyalitas bawahan kepada atasan yang bersangkutan mungkin diperoleh apabila atasan tersebut juga loyal kepada para bawahannya; 2) Pengembangan karier atasan harus juga berakibat pada pengembangan karier para bawahannya. f. Pemanfaatan kesempatan untuk bertumbuh Maksudnya, upaya pengembangan karier akan terpulang kepada karyawan yang bersangkutan. Para pimpinan, orang-orang yang berwenang dan sebagainya, mereka hanyalah bertindak sebagai pendorong, pembantu dan pemberi dukungan. Karyawan yang bersangkutanlah yang punya peranan di dalam menangkap setiap kesempatan untuk mengembangkan kariernya. g. Berhenti atas permintaan dan kemauan sendiri Mungkin ini salah satu cara seseorang untuk meningkatkan kariernya. Karena dirasa tempat ia bekerja sekarang justeru menghambat perkembangan kariernya, maka ia minta berhenti dan mencoba meniti kariernya di tempat yang baru.

sesuatu hal yang mengharuskan ia pindah kerja. Pemindahan karyawan dilakukan dalam rangka : Meminimalkan turunnya beban pekerjaan dalam suatu bagian; Membetulkan penempatan yang kurang tepat; Memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan karyawan; Meringankan beban pekerjaan bagi karyawan senior atau karyawan yang lanjut usia; Memberikan kesempatan kepada karyawan yang dipindahkan untuk mengembangkan kariernya; Memberikan kesempatan dan pengalaman dalam berbagai tugas pekerjaan; Menghukum karyawan yang bermasalah.

a. b. c. d. e. f. g.

Pemindahan karyawan ada kalanya karena keinginan dan permintaan yang bersangkutan, ada kalanya pula atas permintaan atasan, yang kesemuanya pada dasarnya demi meningkatkan karier, kemajuan karyawan yang bersangkutan.

7. Pemensiunan/Pemutusan Hubungan Kerja 6. Pemindahan Tenaga Kerja Hampir semua karyawan tidak ada yang mau bekerja selamanya di satu tempat. Suatu waktu ia ingin pindah atau mutasi ke tempat kerja yang lain. Atau mungkin karena 74 Pemensiunan/pemutusan hubungan kerja terjadi karena keinginan dan permintaan karyawan bersangkutan, keinginan pimpinan perusahaan, meninggalnya karyawan bersangkutan, atau karena berakhirnya masa kontrak kerja/ tibanya masa pensiun. 75

Pemutusan hubungan kerja dapat pula terjadi, karena : a. b. c. d. e. Pergantian tenaga kerja dengan mesin; Adanya pengaruh resisi ekonomi; Adanya rasionalisasi tenaga kerja; Tidak cakap dalam melaksanakan tugas; Berbuat kriminal.

BAHAN RUJUKAN
Adelina, BBR dkk, Dasar-dasar Manajemen, Angkasa Bandung, 1994; Aserani, S.Pd, Dasar-dasar Manajemen (diktat), SMK Negeri 1 Tanjung, 1995; A.W.Widjaja, Drs. Pola Kepemimpinan dan Kepemimpinan Pancasila, Armico Bandung, 1985; Dedi Sudirman, Dasar-dasar Manajemen, Armico Bandung, 1996; Dann Sugandha, Organisasi, Komunikasi dan Teknik Memberi Perintah, CV. Sinar Baru Bandung, 1981; Nurjaka, Drs. Pelajaran Ekonomi SMK Tingkat 2, Armico Bandung, 2001; Nunung Chozanah, Dra. dkk. Dasar-dasar Manajemen, Armico Bandung, 1994; S. Yuwono, Ikhtisar Komunikasi Administrasi, Liberty Yogyakarta, 1985; Sunarjo, Drs. dkk. Komunikasi, Persuasi dan Retorika, Liberty Yogyakarta, 1983;

Karyawan yang dapat dipensiunkan adalah : a. Usia sudah tua; b. Invalid/cacat; c. Tidak dapat bekerja dalam jabatan apapun karena sakit; d. Adanya peremajaan karyawan; e. Diretuling (dikembalikan/dirumahkan) karena sesuatu hal, misalnya terlibat dalam kegiatan demo; f. Sampainya batas waktu pensiun.

76

77

Sriyono, Drs. Dasar-dasar Manajemen, PT.Pabelan Surakarta, 1995; Sondang P.Siagian, Prof.Dr.MPA. Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara Jakarta, 1998; Slamet Saksono, Drs. Administrasi Kepegawaian, Kanisius Yogyakarta, 1997; Soekarno K, Drs. Dasar-dasar Manajemen, Miswar Jakarta, 1983; Tarsis Tarmudji, Drs. Komunikasi Dunia Usaha, Liberty Yogyakarta, 1988;

78

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->