P. 1
Konsep Menahan Diri Dalam Puasa Ramadhan

Konsep Menahan Diri Dalam Puasa Ramadhan

|Views: 1,488|Likes:
Published by Aserani Kurdi, S.Pd

More info:

Published by: Aserani Kurdi, S.Pd on Nov 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

KONSEP MENAHAN DIRI

DALAM PUASA RAMADHAN

Dengan bepuasa di bulan Ramadhan, melalui konsepnya
menahan diri, kita semua diajak dan diajar untuk senantiasa
ingat bahwa hidup di dunia ini perlu upaya-upaya
pengendalian diri. Sebab, tanpa pengendalian diri, maka
hidup kita akan lepas kontrol dan berantakan. Tidak sedikit
manusia yang sengsara hidupnya, bukan karena kekurangan
harta, bukan karena tidak berpendidikan, bukan pula tidak
mempunyai kedudukan dan jabatan. Lalu kenapa? Jawabnya
sederhana saja, karena mereka tidak mampu menahan diri.
Kalau kaya, ia tidak mampu menahan diri dari hidup
berlebihan, glamor dan berpoya-poya. Kalau pandai/berilmu,
ia tidak mampu menahan diri untuk melontarkan konsep atau
kata-kata yang dapat meracuni masyarakat dan mencelakakan
orang lain. Kalau berpangkat dan berkedudukan, ia tidak
mampu menahan diri dari penggunaan pangkat dan
jabatannya sehingga dengan seenaknya saja melakukan
rekayasa kekuasaan demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Dengan adanya pengendalian diri inilah, dimaksudkan agar
manusia dapat mencapai derajat taqwa yang merupakan
tujuan utama disyari’atkannya puasa.

A As se er ra an ni i K Ku ur rd di i, ,S S. .P Pd d
Ûa@áØîÜÇ@kn×aìäßa@åí‰Ûabèífí âbî—

S Se eb bu ua ah h U Up pa ay ya a P Pe em ma ah ha am ma an n
K Ke e a ar ra ah h P Pe en ni in ng gk ka at ta an n K Ku ua al li it ta as s
I Ib ba ad da ah h P Pu ua as sa a
ROLISA KOMPUTER
Tanjung Tabalong
Kalimantan Selatan
RC
Cet.1 Oktober 2004 M / Ramadhan 1425 H

















Kupersembahkan buat :
Alm ayah tercinta Haji Kurdi
Ibu Tersayang Hajjah Djariah
Isteri dan anak tercinta :
Rabiatul Adawiyah, Robby Cahyadi,
Lika Amalia Asrini dan Risa Mutia Asrini
Para Pendidik dan Generasi Muslim dan
Ummat Islam





i

Aserani Kurdi, S.Pd










Cetakan Ke 1
Ramadhan 1425 H / Oktober 2004 M

ii



Judul :
KONSEP MENAHAN DIRI DALAM PUASA RAMADHAN
Sebuah Upaya Pemahaman Kearah Peningkatan
Kualitas Ibadah Puasa

Penyusun :
Aserani Kurdi, S.Pd

Desain Sampul/Setting/Lay out :
Rolisa Komputer
Jln. Mabuun Indah II No.34 RT.04 Mabuun Tanjung

Pencetak dan Penerbit :
Percetakan dan Sablon CASANOVA
Jalan Sarigading Bulau dalam Barabai HST.

Cetakan :
I, Ramadhan 1425 H / Oktober 2005 M






i ii ii i



K KA AT TA A P PE EN NG GA AN NT TA AR R


lhamdulillah, atas izin dan pertolong-
an Allah SWT. dapatlah kiranya tulisan
yang sangat sederhana ini diwujudkan
dalam bentuk buku yang kami beri judul “Konsep
Menahan Diri dalam Puasa Ramadhan”, merupakan
sebuah upaya pemahaman ke arah peningkatan ku-
alitas ibadah puasa.

Harapan kami, kiranya tulisan ini mendapat
sambutan yang baik dari semua pihak dalam rangka
bersama-sama bersatu-padu untuk menta’mirkan
bulan Ramadhan yang pernuh berkah ini ke arah
pendalaman materi ke Islaman untuk meningkatkan
iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Kepada semua pihak yang banyak memban-
tu dalam mewujudkan tulisan ini menjadi sebuah bu-
ku, sebelum dan sesudahnya tidak lupa kami hatur-
kan banyak terimakasih. InsyaAllah semua bantuan
yang diberikan akan dicatat oleh Allah sebagai amal
shaleh yang pahala dan kebaikannya akan selalu
iv
A
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
All Righ Reserved
mengalir tak pernah henti.

Akhirnya, tegur sapa dari para pembaca ke
arah perbaikan tulisan ini, kami ucapkan banyak te-
rimakasih. Semoga karya sederhana ini dapat ber-
manfaat bagi kita semua. Amin.



Tanjung, 25 Rajab 1425 H
10 September 2004 H


Penyusun,







TTTTT




v





D DA AF FT TA AR R I IS SI I H HA AL L : :




KATA PENGANTAR ........................................ iv
DAFTAR ISI ..................................................... vi
1. Pendahuluan ................................................ 1
2. Menahan Diri dari Makan dan Minum .......... 7
3. Menahan Diri dari Nafsu Syahwat ............... 21
4. Menahan Diri dari Nafsu Amarah ................. 38
5. Menahan Diri dari Ucapan/Lisan .................. 60
6. Menahan Diri dari Pandangan Mata ............ 91
7. Menahan Diri dari Pendengaran .................. 101
8. Menahan Diri dari Kecenderungan Hati
Yang Merusak .............................................. 120
9. Penutup ........................................................ 130
BAHAN RUJUKAN ........................................... 133
RIWAYAT SINGKAT PENYUSUN ................... 138




vi







P
P
E
E
N
N
D
D
A
A
H
H
U
U
L
L
U
U
A
A
N
N


enurut loghat, kata puasa berasal
dari bahasa Arab yaitu Ash-Shiyam
yang diambil dari kata Shama, yang
berarti menahan, tidak berpindah dari suatu kea-
daan ke keadaan yang lain. Udara yang tenang
(tidak bergerak) disebut Shama ar-Riih karena ia
tertahan, tidak berpindah, tidak bergerak atau tidak
berhembus.

Dalam catatan sejarah yang tertulis di dalam
Al-Qur’an disebutkan bahwa, Maryam pernah ber-
nadzar untuk tidak berbicara kepada siapapun tat-
kala ia mengandung puteranya Isa Al-Masih. Ini ia
lakukan untuk menghindari tuduhan yang bukan
bukan terhadap dirinya, karena janin yang ia


1
kandung tersebut proses pembuahannya tidak se-
perti biasanya (bukan karena proses percampuran
antara sperma laki-laki dengan sperma perempuan)
atau ia mengandung tanpa suami, tanpa campur
tangan se-orang laki-laki, tetapi semuanya karena
kodrat dan iradat dan kekuasaan Allah atas dirinya
yang Maha Berkehendak. Menahan diri untuk tidak
berbicara dalam jangka waktu tertentu, dalam
bahasa Arab di-istilahkan dengan kata Shauma
(puasa).

Firman Allah dalam Al-Qur’an :

’Τ) N¯‘‹Ρ ⎯≈´Ηq¯=9 $´Β¯θ¹ ⎯=ù ´Ν=Ÿ2& ´Θ¯θ´‹9#
$‹¡Σ)
“Sesungguhnya aku telah bernadzar untuk mena-
han diri (berpuasa) untuk Tuhan yang Maha Pemu-
rah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang
manusia pun pada hari ini” (QS. Maryam ayat 26).

Kemudian pada surah Al-Baqarah ayat 35
dan 36 diceritakan bahwa ketika Nabi Adam a.s dan
isteri beliau Hawwa diberikan kesempatan oleh Al-
lah SWT. untuk tinggal beberapa lama di dalam Sor-
ga, dan oleh Allah kepada keduanya telah diberikan
berbagai fasilitas dan sarana prasarana yang amat
lengkap, dan semuanya dipersilahkan kepada Adam
dan isterinya untuk menggunakan fasilitas, sarana
2
M
1
dan prasarana tersebut sepuas hati, hanya satu hal
yang dilarang oleh Allah SWT. yaitu mendekati se-
batang pohon, yang sebagian ahli tafsir menama-
kannya pohon khuldi, maka ketika Adam a.s dan is-
terinya Hawwa berupaya untuk tidak mendekati po-
hon terlarang tersebut, maka mereka sebenarnya
telah melakukan puasa (menahan diri), kendati pa-
da akhirnya mereka terkena bujuk rayu Syetan dan
mendekati pohon terlarang itu serta memakan buah-
nya. Firman Allah SW. :

$´Ζ=%´ρ `ΠŠ$ ↔≈ƒ ⎯3`™# MΡ& 7`_ρ—´ ρ πΨg:# Ÿξ.´ρ
$γΖΒ #‰î´‘ ]‹m $ϑF⁄© Ÿω´ρ $/)? ν‹≈δ
οf±9# $ Ρθ3Fù ´⎯Β ⎦⎫Η>≈à9# . $ϑγ9—'ù
⎯≈Ü‹±9# $κ]ã $ϑγ _z'ù $´ϑΒ $Ρ%. µŠù
“Dan Kami berfirman : “Hai Adam, diamilah oleh ka-
mu dan isterimu Sorga ini, dan makanlah makanan-
makanannya yang banyak lagi baik di mana saja
yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon
ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang
yang dhalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh Sye-
tan dari Sorga itu dan dikeluarkan dari keadaan se-
mula”.
3
Pengertian puasa di atas adalah pengertian
puasa menurut bahasa (loghat), yaitu menahan diri,
baik menahan diri dari berbicara, menahan diri dari
berjalan, menahan diri dari sesuatu yang mencela-
kakan, menahan diri dari dorongan nafsu amarah,
nafsu birahi, nafsu serakah dan sebagainya. Pen-
deknya segala sesuatu yang bersifat menahan diri
atau dalam istilah yang lain mengendalikan, itulah
dia pengertian puasa menurut loghat atau bahasa.

Sedangkan pengertian puasa menurut Syar-
‘iyyah (menurut syari’at), dapat kita temukan dari
berbagai sumber, diantaranya :

1. Menurut mufassir Ibnu Katsir dalam kitab
Tafsir Ibnu Katsir jilid pertama disebutkan
bahwa, “Puasa adalah menahan diri dari ma-
kan, minum dan yang membatalkan puasa
dengan niat ikhlas kepada Allah”;
2. Menurut mufassir Ar-Razi dalam kitab At-Taf-
sir al-Kabir jilid kedua disebutkan bahwa,
“Puasa adalah menahan diri sejak terbit fajar
hingga terbenam matahari dari apa saja yang
membukakan puasa, padahal ia tahu dalam
keadaan berpuasa (tidak terlupa) disertai ni-
at”;
3. Menurut Syeikh Muhammad Ali As-Shabuny
dalam kitab Rowai’ul Bayaan disebutkan bah-
wa, “Puasa adalah menahan diri dari makan,
minum dan jima’ disertai dengan niat, sejak
4
dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Dan kesempurnaannya adalah dengan men-
jauhi hal-hal yang kotor dan tidak melakukan
perkara yang diharamkan”;
4. Menurut Syeikh Muhammad bin Qasim Al-
Ghazy dalam kitab Tausikhu ‘alaa Ibnu Qa-
sim disebutkan bahwa, “Puasa adalah mena-
han diri dari hal-hal yang membatalkan, de-
ngan niat yang ditentukan sepanjang hari pu-
asa (yaitu hari-hari yang boleh dilakukan pu-
asa) yang dikerjakan oleh orang Islam yang
berakal dan suci dari haid dan nifas bagi wa-
nita”;
5. Menurut Al-Imam Taqiyuddin Al-Husaini da-
lam kitab Kifayatul Akhyar disebutkan bahwa,
“Puasa adalah menahan diri dalam hal ter-
tentu dari orang tertentu dan di dalam waktu
tertentu pula dengan beberapa syarat”;
6. Menurut Al-Ustadz Muhammad Ali As-Sayis
dalam kitab Tafsir Ayatul Ahkam disebutkan
bahwa, “Puasa adalah menahan diri dari dua
kedaulatan syahwat, yaitu syahwat perut dan
farj, dengan niat oleh ahli (orang yang diwa-
jibkan) puasa, sejak terbit fajar sampai terbe-
nam matahari”.

Dari beberapa pengertian puasa di atas, baik
pengertian menurut bahasa/loghat maupun penger-
tian menurut syari’at, maka inti pokok dari penger-
tian puasa tersebut adalah “menahan diri”, yang
5
selanjutnya konsep ini dapat kita kembangkan lebih
luas dan lebih dalam lagi, sebagai upaya kita untuk
memaknai puasa agar lebih berkesan dan membe-
kas ke dalam relung jiwa kita yang paling dalam,
yang akan melahirkan insan-insan kamil dengan
taqwallah sebagai tujuan utama.

Dengan bepuasa di bulan Ramadhan, mela-
lui konsepnya menahan diri, kita semua diajak dan
diajar untuk senantiasa ingat bahwa hidup di dunia
ini perlu upaya-upaya pengendalian diri. Sebab, tan-
pa pengendalian diri, maka hidup kita akan lepas
kontrol dan berantakan. Tidak sedikit manusia yang
sengsara hidupnya, bukan karena kekurangan har-
ta, bukan karena tidak berpendidikan, bukan pula ti-
dak mempunyai kedudukan dan jabatan. Lalu kena-
pa? Jawabnya sederhana saja, karena mereka tidak
mampu menahan diri. Kalau kaya, ia tidak mampu
menahan diri dari hidup berlebihan, glamor dan ber-
poya-poya. Kalau pandai/berilmu, ia tidak mampu
menahan diri untuk melontarkan konsep atau kata-
kata yang dapat meracuni masyarakat dan mence-
lakakan orang lain. Kalau berpangkat dan berkedu-
dukan, ia tidak mampu menahan diri dari penggu-
naan pangkat dan jabatannya sehingga dengan
seenaknya saja melakukan rekayasa kekuasaan de-
mi kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan ada-
nya pengendalian diri inilah, dimaksudkan agar ma-
nusia dapat mencapai derajat taqwa yang merupa-
kan tujuan utama disyari’atkannya puasa.
6

M ME EN NA AH HA AN N D DI IR RI I D DA AR RI I
M MA AK KA AN N D DA AN N M MI IN NU UM M



anusia memerlukan makan dan
minum untuk mempertahankan hi-
dupnya. Bahkan tidak saja manusia,
juga seluruh makhluk hidup yang ada di bumi ini
memerlukan makan dan minum. Menurut ilmu eko-
nomi, makan dan minum merupakan kebutuhan
primer/utama yang mau tidak mau mesti dipenuhi,
karena ini menyangkut kelangsungan hidup manu-
sia. Ilmu kesehatan juga mengharuskan manusia
untuk makan dan minum, sebab kalau manusia ti-
dak mau makan dan minum atau tidak bisa makan
dan minum, maka kesehatannya terancam. Dengan
7
kata lain, agar hidup sehat perlu makan dan minum.

Fungsi makan dan minum adalah untuk
menghasilkan tenaga (energi), pertumbuhan organ
tubuh, perlindungan dari berbagai serangan penya-
kit dan penggantian sel-sel tubuh yang sudah usang
dan aus. Kekurangan makanan dan minuman me-
nyebabkan tubuh tidak tumbuh dan berkembang de-
ngan semestinya. Tidak makan dan minum bebera-
pa hari tentu akan terasa lapar, haus dan dahaga
yang mengakibatkan badan lesu, tidak bersema-
ngat, kurang tenaga/lemah, denyut nadi dan ber-
nafas semakin cepat, rasa gelisah, mudah tersing-
gung, mudah diserang penyakit dan seterusnya
hingga mengantarkannya ke pintu kematian.

Mengingat betapa pentingnya makan dan mi-
num bagi hidup dan kehidupan manusia ini, maka
wajarlah kiranya jika setiap mengawali makan dan
minum sekurang-kurangnya kita sebut nama Allah
dengan membaca “Bismillaahir rahmaanir rahiim”
dan mengakhirinya dengan mengucapkan “Alham-
dulillaahi rabbil álamiin” atau membaca doa mau
makan dan minum dan sesudahnya sebagaimana
yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. sebagai
ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT. yang
telah melimpahkan ni’mat dan karunia-Nya berupa
rezeki makan dan minum kepada kita.

Ingatlah firman Allah SWT. :
8
M
2
#ρ‰6è´‹=ù ´>´‘ #‹≈δ M79# ”%!# ΟγϑèÛ&
⎯Β íθ`_ ΝγΨΒ#´™´ρ ⎯Β ∃¯θz

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemi-
lik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makan-
an kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan
mengamankan mereka dari ketakutan” (QS. Al-Qu-
raisy ayat 3 dan 4).

#θ=. ⎯Β −—¯‘ ¯Ν3/´‘ #ρ`3©#´ ρ …µ9
“Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan)
Tuhan-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya”
(QS. Saba’ ayat 15).


Islam adalah agama universal yang kehadir-
annya menjadi rahmat bagi seluruh ummat manu-
sia. Disamping itu, Islam juga merupakan agama
fithrah dengan konsep ajarannya yang sesuai de-
ngan kebutuhan dasar manusia dan mengaturnya
agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dalam soal makan dan minum, Islam telah
menggariskan bahwa didalam mencari dan meng-
konsumsi makanan dan minuman hendaknya
9
yang halal dan baik (halalan thayyibah), baik cara
memperolehnya maupun bentuk dan jenis bahan-
nya. Oleh karena itu, makanan dan minuman yang
haram menurut Islam, tidak saja lantaran sifat dan
jenis barangnya yang memang haram menurut
syariát Islam, seperti daging babi dan berbagai jenis
minuman keras, juga lantaran cara memperolehnya
yang tidak dibenarkan oleh syariát Islam, seperti
barang hasil curian, hasil rampasan, hasil korupsi
dan sebagainya.

Dengan konsep halalan thayyibah, Islam te-
lah menawarkan pola makan dan minum yang halal
dan baik. Halal dalam arti bahwa makanan dan mi-
numan yang dikonsumsi tersebut halal dari cara
memperolehnya dan halal dalam bentuk dan jenis
barangnya, juga baik dalam arti barang tersebut ha-
rus bersih, sehat dan memenuhi keseimbangan gizi.

Disamping halal dan baik, didalam mengkon-
sumsi makanan dan minuman, Islam juga telah
mengatur sedemikian rupa agar tidak berlebihan,
karena Allah SWT. sangat benci terhadap hal-hal
yang sifatnya berlebihan.

#θ=2´ρ #θ/´°#´ρ Ÿω´ρ #θù£@ …µΡ) Ÿω ´=t†
⎦⎫ù£ϑ9#
10
“Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan. Se-
sungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan” (QS. Al-‘Araaf ayat 31).


Orang yang berpuasa adalah orang yang me-
nahan diri dari makan dan minum selama kurang
lebih 12 jam setiap hari pada bulan Ramadhan. De-
ngan berpuasa berarti mengendalikan nafsu makan
dan minum. Ini dikerjakan oleh orang-orang yang
beriman secara ikhlas dalam arti motivasinya hanya
semata-mata karena menunaikan perintah Allah
SWT.

Makanan dan minuman yang halal dan baik
tidak terlepas dari unsur keseimbangan gizi. Hal ini
sangat menuntut kemampuan seseorang dalam me-
ngendalikan diri. Sebab pada saat berbuka puasa,
pada umumnya seseorang akan cenderung me-
manjakan dirinya dengan makan dan minum secara
berlebihan, baik dari segi kualitas maupun kuanti-
tasnya. Acara buka puasa seringkali dijadikan ajang
untuk balas dendam setelah sekian lama menahan
lapar dan dahaga di siang hari, sehingga makan
dan minum sepuas-puasnya. Tindakan yang seper-
ti ini tidak saja sangat merugikan kesehatan, karena
alat cerna kita dipaksa melakukan kerja ekstra di lu-
ar batas, juga sangat berpengaruh negatif terhadap
aspek-aspek lainnya, baik secara fisik mapun psikis.
Untuk itulah maka Rasulullah SAW. memperingat-
kan kepada kita.
11
™#ρŠ≅.`¨&‘πŠϑs9#ρ™#´‰9#`MŠ/ο‰èϑ9#
“Lambung (perut) itu pangkal segala penyakit, dan
memeliharanya (tidak makan dan minum berlebih-
an) adalah pengobatannya”.

Peringatan Rasulullah ini sejalan dengan
pendapat sebagian besar ahli kesehatan yang me-
nyatakan bahwa perut merupakan sumber segala
penyakit dan berpantang (mengurangi/mengendali-
kan makan dan minum) merupakan pencegahnya.
Oleh karenanya kebiasaan buruk dengan mengkon-
sumsi makanan dan minuman secara berlebihan
pada saat berbuka puasa adalah tindakan yang per-
lu segera dihentikan, karena pada hakikatnya ber-
puasa itu tidak saja mengendalikan makan dan mi-
num di siang hari, tetapi juga dengan berpuasa kita
hendaknya mampu mengendalikan makan dan mi-
num di malam hari.

Apakah karena tidak adanya pemasukan ma-
kanan dan minuman di siang hari lantas kita im-
bangi dengan makan dan minum sebanyak-banyak-
nya pada saat berbuka? Tidak, sama sekali tidak
perlu. Karena makan dan minum secara berlebihan
pada saat berbuka tidak akan membantu tubuh kita
menjadi kuat bertenaga, tapi malah tubuh kita akan
menjadi lemas, lesu kurang bertenaga sehingga
muncullah penyakit malas untuk beribadah, malas
12
pergi ke masjid atau mushalla untuk shalat Tarawih
berjamaah, malas membaca Al-Qurán dan malas ke
majelis ta’lim. Disamping itu, orang yang terlalu ber-
lebihan dalam soal makan dan minum cenderung
kurang spirit, daya pikirnya lemah, jiwa dan hatinya
mati. Hal ini seiring dengan peringatan Rasulullah
SAW. :

ِ″↓َΡﱠς⇔↓َ™ ِ⇒°َ∈ﱠχ⇔↓ ِ≥َΡْΗَλ±ِ َ″ْυُνُϕْ⇔↓↓υُΦِ™ّϖَπُ×َ⎨
ُ⁄°َπْ⇔↓ ِτْϖَνَ⊂َΡُΗَ∧↓َ↵ِ↓ ُ∝ْυُπَ⎜ ِ⊆ْℵﱠΣ⇔°َ∧ ِ∆ْνَϕ⇔ْ↓ ﱠ◊ِ°َ∏

“Janganlah kamu matikan hatimu dengan makan
dan minum secara berlebihan. Sesungguhnya hati
itu tak obahnya laksana tanaman, dia akan mati jika
terlalu banyak disiram dengan air”.

Kemudian, seorang ahli hikmat yang terkenal
dan namanya diabadikan di dalam Al-Qurán, Luk-
manul Hakim, beliau pernah memberi nasehat kepa-
da putera-puterinya, sebagai berikut :

“Wahai putera-puteriku, apabila perut kalian terlalu
kenyang, maka otak kalian akan tidur, pikiran kalian
akan buntu dan badan kalian akan lemah dan malas
untuk beribadah kepada Allah”.

Dr. Alexis Correl, pemenang hadiah Nobel
dalam ilmu pengobatan dan pembedahan, pernah
13
mengatakan bahwa, banyaknya makanan yang di-
konsumsi manusia secara rutin setiap hari lama ke-
lamaan dapat mengganggu kestabilan kerja organ-
organ tubuh. Itulah barangkali sebabnya sehingga
orang-orang tua kita dulu suka berpuasa pada wak-
tu-waktu tertentu, dan ternyata sangat berpengaruh
pada usia mereka, yang mana usia mereka relatif
panjang dan banyak diantara mereka yang berusia
hingga mencapai 125 tahun.

Apabila perut kita selalu dipenuhi oleh ma-
kanan dan minuman yang berlebihan, maka sel-sel
tubuh kita akan kebanjiran zat makanan, akibatnya
urat syaraf menjadi lembab dan kerja otak akan ter-
hambat. Jika keadaan ini terjadi terus menerus bisa
mengakibatkan menurunnya daya ingat dan mele-
mahnya intelektual yang ditandai dengan sering lu-
pa, cepat lelah dan tidak bisa berpikir keras.

Sewaktu perut kenyang, banyak darah yang
tersalur untuk melakukan proses pencernaan, dan
selagi seseorang berpuasa atau ketika perut kosong
maka volume darah di bagian pencernaan dapat di-
kurangi dan dipakai untuk keperluan lain terutama
untuk melayani otak, sehingga otak menjadi terang
cemerlang. Sehubungan dengan ini tepat sekali apa
yang dikatakan oleh Rasulullah SAW. :

ُτُΧْνَ⋅ َσَχَ∏َ™ ُτُ×َΡْλِ∏ ْΓَπُφَ⊂ ُτَρْχَ± َ⊆°َ÷َ↓ ْσَ⇑
14
“Barangsiapa melaparkan perutnya, maka pikiran-
nya menjadi cerdas dan hatinya menjadi cemerlang”

Oleh karena itu, sederhanakanlah dalam ber-
buka puasa dan makan sahur. Makan dan minum-
lah secara wajar dan mari kita ikuti kebiasaan Ra-
sulullah dalam makan dan minum, dimana beliau
tidak akan makan kecuali lapar dan tidak akan mi-
num kecuali haus. Beliau makan ketika lapar dan
berhenti makan sebelum kenyang. Sabda Rasulul-
ah SAW. :
َΓْϖَπْ×َ↓°َ⇑ ْ⊆َ⎯َ™ َΓْϖَπْ∅َ↓°َ⇑ ْοُ∧

“Makanlah kamu ketika lapar dan berhentilah makan
sebelum kenyang”.

Rasulullah SAW. menganjurkan agar meng-
konsumsi makanan yang manis-manis, seperti kur-
ma misalnya, ketika berbuka puasa. Kalau tidak ada
makanan, maka cukup dengan air saja. Anjuran ini
sangat tepat, karena buah kurma mengandung ka-
dar gula yang cukup tinggi. Demikian juga dengan
makanan lainnya yang mengandung gula, selain e-
nak rasanya, makanan ini juga cepat dicerna dan
diserap dalam mulut dan lambung, sehingga dapat
meningkatkan kadar gula dalam darah, akibatnya
rasa lapar yang dirasakan dapat segera berkurang.

Demikian juga air. Semua organ tubuh
15
manusia memerlukan air. Tanpa air, fungsi organ tu-
buh tidak bisa dijalankan.

Air sangat diperlukan untuk membersihkan
racun atau toksin dalam tubuh. Asam urat dan u-
rine misalnya, yang merupakan limbah dalam tubuh
yang harus segera dilarutkan terlebih dahulu de-
ngan air sebelum dibuang oleh ginjal dalam bentuk
air kencing. Selain itu, air juga sangat dibutuhkan
untuk melindungi kulit dari retak-retak dan keke-
ringan. Terlalu sedikit air yang dikonsumsi, dapat
mengurangi volume darah yang beredar. Kekurang-
an air dalam tubuh dapat mempersulit pembakaran
lemak. Oleh karena itu, usahakanlah untuk meng-
konsumsi air secukupnya, yakni sekurang-kurang-
nya 10 gelas atau sekitar 2 sampai 2,5 liter air seha-
ri. Tapi ingat, 10 gelas air ini tentu tidak diminum se-
kaligus, tapi secara bertahap/beberapa kali sehari.
Usahakan air yang diminum juga adalah air hangat,
tidak terlalu panas, tidak pula terlalu dingin.

Dalam kegiatan makan sahur, Rasulullah me-
nekankan betapa pentingnya bersahur. Upayakan
jangan sampai kita ketinggalan sahur karena kesi-
angan. Bersahurlah kendati hanya seteguk air, ka-
rena yang membedakan puasa orang Islam dengan
puasa orang Nasrani adalah makan sahur. Disam-
ping itu, di dalam sahur juga terdapat berkat yang
dapat menguatkan badan dan menahan lapar. Sab-
da Rasulullah SAW. :
16
ِ″°َΦِλْ⇔↓ ِοْ〈َ↓ ِ⇒°َϖِ∅َ™ °َ⇓⇑ِ°َϖ∅ِ َσْϖَ±°َ⇑ َοْΞَ∏ ﱠ◊ِ↓
ِΡْΛﱠΤ⇔↓ ُΕَνْ∧َ↓

“Sesungguhnya yang membedakan antara puasa
kita (orang Islam) dengan puasa ahli kitab (kaum
Nasrani) adalah makan sahur”.


ًΕَ∧َΡَ± ℵِْυُΛﱠΤ⇔↓ ِ ﱠ◊ِ°َ∏ ْ™ُΡﱠΛَΤَ×

“Hendaklah kamu makan sahur, karena sesungguh-
nya makan sahur itu berkat (dapat menguatkan ba-
dan dan menahan haus dan lapar)”.

Waktu makan sahur sebaiknya dilakukan pa-
da sesudah tengah malam, dan lebih afdhal pada
saat menjelang imsak. Ini dimaksudkan agar tubuh
kita tetap kuat (tidak cepat lesu/lemah) dalam ber-
puasa di siang harinya. Disamping itu, mentakhirkan
(menunda hingga menjelang imsak) makan sahur,
akan memberikan peluang yang besar bagi kita un-
tuk melakukan ibadah shalat subuh berjamaah di
masjid/mushalla. Sebaliknya, kalau waktu makan
sahurnya terlalu cepat (misalnya jam 02.00 atau jam
03.00), dikhawatirkan shalat subuh kesiangan, kare-
na ketiduran.

17
Anjuran mentakhirkan makan sahur disam-
ping untuk menjaga stamina tubuh agar tetap prima
selama menjalankan ibadah puasa, lebih dari itu ju-
ga mengandung makna yang dalam bahwasanya
berpuasa itu perlu persiapan yang matang agar pro-
duktifitas kerja sehari-hari tidak terganggu oleh lapar
dan dahaga. Demikian pentingnya makan sahur se-
bagai persiapan untuk menjalankan ibadah puasa,
ini merupakan sebuah refleksi dari cerminan bahwa
berpuasa itu bukan sekedar pamer tahan lapar dan
haus, tanpa melakukan aktivitas kerja sehari-hari,
sehingga ada sementara orang yang merasa bang-
ga dapat menjalankan ibadah puasa walapun tidak
bersahur tanpa alasan yang dibenarkan oleh syara’.
Lebih dari sekedar itu, berpuasa sesungguhnya a-
dalah kegiatan ibadah yang tidak menghambat atau
menguras porsi aktivitas keseharian kita. Makanya
itu Rasulullah SAW. menganjurkan untuk menyege-
rakan berbuka puasa dan mentakhirkan makan sa-
hur. Ini dimaksudkan agar ibadah puasa kita tetap
jalan, aktivitas sehari-hari juga tetap jalan, tidak ter-
ganggu oleh puasa kita. Oleh karena itu tidak cukup
beralasan kalau seseorang mengurangi volume ak-
tivitas sehari-harinya lantaran menjalankan ibadah
puasa.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat kita
simpulkan, bahwa menahan diri dari makan dan mi-
num adalah melakukan pengendalian diri terhadap
makan dan minum agar tidak berlebihan, terutama
18
pada saat berbuka puasa dan makan sahur. Kita
berharap latihan mengendalikan diri dari makan dan
minum selama berpuasa di bulan Ramadhan ini
menjadi bahan bandingan, syukur-syukur kalau ke-
biasaan baik ini terus berlangsung di luar Rama-
dhan, sehingga kita mampu menahan diri dari per-
soalan makan dan minum, mulai dari memperoleh
makanan dan minuman yang halal dan baik, hingga
mengkonsumsinya tidak terlalu banyak, tidak pula
terlalu sedikit (tetap dalam batas-batas kewajaran).

Dalam mengkonsumsi makanan dan minum-
an perlu diperhatikan kadar gizi dan proteinnya. Ja-
ngan hanya mementingkan enaknya saja, lezatnya
saja. Sebab dalam pola kehidupan masa kini orang
cenderung memilih makanan dan minuman yang e-
nak, yang lezat, walapun kadar gizi dan proteinnya
kurang. Jika makanan dan minuman ini dikonsumsi
sewajarnya (tidak berlebihan dan tidak terus mene-
rus), biasanya tidak akan terjadi persoalan pada
kesehatan tubuh kita. Namun ironisnya, mungkin
karena keenakan, banyak diantara kita yang tidak
mampu menguasai diri sehingga mengkonsumsi
makanan dan minuman serba lezat itu secara
berlebih-lebihan (dijadikan konsumsi rutin), maka
sudah barang tentu cara makan dan minum seperti
ini dapat menimbulkan berbagai penyakit dalam tu-
buh kita.

Satu hal yang perlu diperhatikan juga adalah
19
mengenai keteraturan dalam hal makan dan minum.
Sebagian besar kita, terutama yang selalu sibuk, ku-
rang memperhatikan atau sering meremehkan kese-
hatan perutnya, sehingga makan kurang teratur, su-
ka menunda waktu makan, dan sering makan terge-
sak-gesak. Selain itu, sebagian kita terkadang mem-
biarkan begitu saja perut dalam keadaan kosong,
karena saking sibuknya bekerja, dan menggantinya
dengan merokok dan minum kopi berlama-lama.
Kebiasaan buruk ini sangat merugikan kesehatan
kita.

Oleh karena itu, menahan diri dari makan
dan minum tentunya tidak hanya sebatas pengen-
daliannya, tetapi juga pengaturannya. Semoga de-
ngan hikmah menahan diri dalam puasa Ramadhan,
kita mampu menahan diri dari makan dan minum
dalam arti yang seluas-luasnya.





GGGGGG




20

M ME EN NA AH HA AN N D DI IR RI I D DA AR RI I
N NA AF FS SU U S SY YA AH HW WA AT T



etika perang Badar usai yang meli-
batkan kurang lebih 300 tentara mus-
lim melawan 1000 tentara kafir qu-
raisy yang berakhir dengan kemenangan di pihak
kaum muslimin, hal ini membawa kegembiraan ter-
sendiri bagi para sahabat. Namun kegembiraan ini
terhenti seketika, tatkala Rasulullah SAW. Meng-
ucapkan selamat datang kepada para pejuang Islam
dan menyatakan bahwa perang badar yang telah
usai tersebut hanyalah sebuah perang kecil, se-
dangkan perang yang lebih besar sedang menanti
dan berada di depan mata. Sabda Rasulullah SAW :
21
ِΡَΧْ∧َ⎨ْ↓ ِ⎯°َ©ِϑْ⇔↓⎛َ⇔ِ↓ِΡَ®ْ∅َ⎨ْ↓ ِ⎯°َ©ِϑْ⇔↓ َσِ⇑°َρْ∈َ÷َℵ

“Kita ini telah kembali dari peperangan yang kecil
menuju ke peperangan yang besar”.

Apa gerangan peperangan yang besar itu? Tidak la-
in dan tidak bukan adalah peperangan melawan ha-
wa nafsu.

Di dalam diri kita ini terdapat dua bentuk naf-
su yang bertolak belakang, yakni Nafsu Rububiyah
(nafsu yang baik dan membangun/konstruktif) yang
apabila dimanfaatkan akan melahirkan tindakan-tin-
dakan dinamis dan berkemajuan. Sebaliknya, terda-
pat pula nafsu yangmerusak, destruktif, yang apabi-
la diperturutkan akan mendatangkan kemudharatan
dan kerugian yang besar, baik terhadap diri sendiri,
bahkan dapat pula merugikan orang lain. Nafsu
yang merusak ini adalah seperti Nafsu Syaithaniyah
(nafsu syetan), Nafsu Bahimiyah (nafsu kebinatang-
an), Nafsu Subu’iyyah (nafsu kebuasan, kebiadab-
an, keserakahan dsb.) dan banyak lagi yang lain-
nya, merupakan sekumpulan nafsu yang selalu
mengajak kepada kejahatan dan kemungkaran yang
tentunya perlu selalu kita waspadai setiap saat.

Nafsu yang merusak hendaklah selalu kita
kendalikan dengan baik. Dan memang mengendali-
kan nafsu merupakan perjuangan yang amat besar,
22
K
3
melebihi perjuangan dalam memenangkan perang
badar. Ingatlah, kemenangan dan kebahagiaan ha-
nya mungkin dapat diraih oleh orang-orang yang
mampu mengendalikan nafsunya, sebaliknya, ke-
sengsaraan hanya akan menimpa kepada orang-
orang yang tidak mampu mengendalikan nafsunya
dengan kata lain, ia selalu dikendalikan oleh nafsu-
nya.

Nampaknya memang perkara terbesar yang
sering mencelakakan manusia adalah nafsunya
sendiri. Gara-gara nafsu inilah yang telah mengelu-
arkan Adam dan Hawa dari sorga turun ke dunia
(bumi), dari tempat keabadian dan kemuliaan ber-
pindah ke tempat yang fana dan hina, lantaran me-
reka berdua tidak mampu mengendalikan nafsunya
untuk mendekati dan memakan buah terlarang.

Begitulah nafsu, ia laksana pedang bermata
dua. Di satu sisi, ia sangat diperlukan oleh kita un-
tuk menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Se-
bab tanpa adanya nafsu, hidup dan kehidupan kita
akan terasa hambar, tidak bergairah. Tanpa ada-
nya nafsu, tidak akan berkembang keturunan, bah-
kan tanpa adanya nafsu, tidak akan ada kehidupan.
Di sisi lain, bahaya nafsu sungguh sangat dahsyat,
ia dapat memusnahkan manusia hingga tak bersisa,
bahkan ia dapat memusnahlan apa saja yang ada di
bumi ini. Dengan demikian keberadaan nafsu harus
kita akui sebagai anugerah yang besar dari
23
Allah SWT. yang perlu kita manfaatkan sedemikian
rupa. Menghilangkan atau melenyapkan nafsu yang
ada dalam diri kita adalah sesuatu yang tidak mung-
kin, disamping tindakan ini merupakan suatu keing-
karan, dan boleh jadi Allah akan mencap kita men-
jadi hamba-Nya yang tidak tahu bersyukur. Sebalik-
nya, membiarkan nafsu bebas berkembang dan ber-
gerak lesuasa, juga merupakan tindakan yang ko-
nyol dan dapat membinasakan kita. Lalu bagaimana
kita menyikapinya? Yang penting bagi kita menge-
nai persoalan nafsu ini adalah, pengendaliannya.
Kita selalu berupaya mengendalikan nafsu kita. Ma-
na kala nafsu kita berada pada jalur yang diridhai
Allah, maka tidak ada salahnya kita salurkan, kare-
na pasti akan mendatangkan manfaat dan kemas-
lahatan. Namun, manakala nafsu kita mulai me-
nyimpang dan menjerumuskan, kita harus waspada
dan perlu mengendalikannya dengan pengendalian
ekstra ketat.

Diantara sekian banyak jenis dan macam
nafsu, terdapat satu nafsu yang sangat penting dan
perlu kita kendalikan, adalah Nafsu Syahwat.

Nafsu syahwat dikaruniakan oleh Allah SWT.
kepada manusia untuk tujuan utama yaitu untuk me-
lestarikan keturunan dan menjaga eksistensinya. Di-
samping itu, nafsu syahwat merupakan suatu kenik-
matan yang diberikan Allah dan merupakan kenik-
matan terbesar bagi jasmani. Akan tetapi dibalik
24
kenikmatan terbesar itu, tersimpan pula bahaya
yang sangat besar dan mengancam manusia apabi-
la tidak dikendalikan atau tidak disalurkan sebagai-
mana mestinya.

Ketahuilah, nafsu syahwat itu merupakan
nafsu yang sangat berbahaya. Jika sedang bergejo-
lak, ia dapat mempengarungi akal pikiran sehingga
akal pikiran seolah tak berfungsi lagi. Jika tidak ter-
kendali, ia dapat menjatuhkan derajat manusia ke
derajat yang serendah-rendahnya.

Sepanjang sejarah manusia, nafsu syahwat
yang tidak terkendali telah banyak menjadi penye-
bab terjadinya kebobrokan dan pertumpahan darah.
Al-Qur’a n sendiri telah mencatat bahwa pertumpah-
an darah pertama yang jatuh ke bumi adalah dise-
babkan persoalan nafsu syahwat. Simak bagaimana
cerita Qabil dan Habil yang berseteru hingga ber-
akhir dengan pertumpahan darah disebabkan nafsu
syahwat terhadap kecantikan seorang wanita sau-
daranya sendiri. Firman Allah SWT. :

َσِ⇑ َΜَΧَ∅َ°َ∏ τَνَΦَϕَ∏ ِτْϖِ…َ↓ َοْΦَ⋅ τُΤْηَ⇓ τَ⇔ ْΓَ⊂ﱠυَχَ∏
َσْ⎜ِΡِΤΝْ⇔↓

“Maka disebabkan oleh hawa nafsu, Qabil meng-
anggap mudah membunuh saudaranya (Habil),
25
sebab itu maka dibunuhnyalah, sehingga menjadi-
lah ia seorang diantara orang-orang yang merugi”
(QS. Al-Ma’idah ayat 30).

Fitnah yang menimpa Nabi Yusuf a.s juga
berkaitan dengan nafsu syahwat seorang wanita
yang bernama Zulaikha. Firman Allah SWT. :

ِΓَϕﱠνَ∠َ™ τ™ِ̝Τْηَ⇓ ْσَ⊂°َ©ِΦْϖَ± َِυُ〈 ْ⎡ِΦﱠ⇔↓ ُτْ×َ⎯َ™↓َℵَ™
ِã↓َ↵°َ∈َ⇑ َ⇐°َ⋅ َµَ⇔ َΓْϖَ〈 ْΓَ⇔°َ⋅َ™ َ″↓َυْ±َ⎨ْ↓
َ◊ْυُπِνّφ⇔↓ ُΜِνْηُ⎜َ⎨ τﱠ⇓ِ↓ َ⎝↓َυْΗَ⇑ َσَΤْ≡َ↓ ْ⎡ِّ™±َℵ τﱠ⇓ِ↓

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumah-
nya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya
(kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu seraya
berkata, “Marilah ke sini”, Yusuf berkata, “Aku ber-
lindung kepada Allah, sungguh tuanku telah mem-
perlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-
orang yang dzalim tidak akan beruntung” (QS. Yu-
suf ayat 23).

Demikian juga bagaimana kisah dramatis
yang dialami oleh seorang ahli ibadah bernama
Barshisha di zaman Bani Israil, yang akhirnya men-
dapat hukuman mati lantaran menghamili dan mem-
bunuh seorang purteri raja, karena tipu daya syetan.
26
Setidaknya ada tiga sikap yang ditunjukkan
manusia dalam menghadapi nafsu syahwat ini. Ada
diantara mereka yang agak berlebihan menyikapi-
nya, sehingga nafsu syahwat dijadikan subyek se-
kaligus obyek yang dinomorsatukan atau diutama-
kan. Hampir seluruh hidupnya tercurah untuk me-
menuhi kepentingan syahwatnya, sehingga nyaris
melupakannya untuk mengingat Allah. Jika keada-
an ini dibiarkan begitu saja tanpa adanya upaya-
upaya pengendalian, pada gilirannya nanti dapat
membuat seseorang terjerumus ke dalam perbuatan
keji dan nista dan ia tidak memperdulikan lagi ram-
bu-rambu larangan yang ditetapkan Allah dan Ra-
sul-Nya. Disamping itu, sikap berlebihan yang se-
perti ini juga dapat menyeretnya ke perbuatan keji
dan nista lainnya sebagai akibat dari dorongan naf-
su syahwatnya, seperti mengkonsumsi minuman ke-
ras, narkoba dan obat-obat terlarang lainnya dan
berjudi.

Sikap dan perbuatan manusia yang terlalu
berlebihan terhadap nafsu syahwat tentu tidak akan
pernah merasa puas dalam melakukan hubungan
seksual. Ia akan selalu ganti-ganti pasangan, bah-
kan mungkin tidak hanya dengan lawan jenis, tetapi
juga dengan sesama jenis. Keadaan ini tentu sudah
sangat jauh melampaui batas. Binatang saja dalam
melakukan hubungan seksual selalu dengan lawan
jenis, tidak pernah dengan sesama jenis. Berarti tin-
dakan manusia yang terlalu berlebihan melayani
27
nafsu syahwatnya, tindakan dan prilakunya sudah
melebihi prilaku binatang.

Sementara itu, ada lagi sebagian manusia
yang tidak memperdulikan nafsu syahwatnya. Ia ti-
dak mempunyai gairah sedikitpun terhadap seksual.
Keadaan ini bisa jadi lantaran faktor keturunan atau
faktor pembawaan sejak lahir, bisa juga lantaran
adanya penyakit yang menyerang fisik dan atau psi-
kisnya sehingga mengganggu syaraf-syaraf seksu-
alnya, atau mungkin juga karena disengaja/memang
diupayakan untuk menghilangkan nafsu syahwat-
nya. Jika ketidakbergairahan terhadap seksual ini
karena disengaja, maka tentu sikap dan tindakan
yang seperti ini tidak dibenarkan, karena dapat me-
mutuskan garis keturunan.

Sikap dan keadaan ketiga, adalah keadaan
yang wajar, dimana nafsu syahwatnya terkendali.
Nafsu syahwatnya tunduk terhadap akal dan hukum
syara’. Sikap dan keadaan inilah yang ideal, yang
dikehendaki oleh Islam, yang selaras dengan ke-
hendak dan tujuan syari’at.

Setiap manusia yang normal selalu dianuge-
rahi Allah nafsu syahwat. Hanya kita sajalah lagi ba-
gaimana menyikapinya dan ke arah mana kita per-
gunakan. Jika nafsu syahwat kita sikapi dengan wa-
jar dan kita pergunakan sesuai dengan tuntunan
syari’at, maka nafsu syahwat kita akan mendapat
28
rahmat dari Allah SWT. yang pada gilirannya dapat
membawa manusia kepada kebahagiaan hidup, ba-
ik di dunia kini mapun di akhirat nanti. Namun seba-
liknya, jika nafsu syahwat kita sikapi dengan tidak
sewajarnya dan kita pergunakan sebebas-bebasnya
tanpa kendali, maka nafsu syahwat kita akan men-
dapat laknat dari Allah SWT. dan nafsu syahwat
yang dilaknat oleh Allah SWT. sifatnya liar, buas
dan ganas yang pada gilirannya akan menggiring
manusia ke lembah hina dan nista dengan mena-
warkan kesengsaraan yang berkepanjangan.

Ingatlah peringatan Allah SWT. :

ِ⁄υﱡΤ⇔ِ°± ٌ≥َ َℵ°ﱠ⇑َ⎨َ ⎡َΤْηﱠρ⇔↓ ﱠ◊ِ↓ ْ⎡ِΤْηَ⇓ ُ→ِّΡَ±ُ↓°َ⇑َ™
ٌθْϖِ≡ﱠℵٌℵْυُηَ∠ ⎡ِّ™±َℵ ﱠ◊ِ↓ ْ⎡ِّ™±َℵ َθِ≡َℵ°َ⇑ﱠ⎨ِ↓

“Dan aku tidak akan membebaskan diriku dari kesa-
lahan, karena sesungguhnya nafsu syahwat itu
mendorong manusia kepada kenistaan, kecuali naf-
su syahwat yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Se-
sungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang” (QS. Yusuf ayat 53).

Tak bisa kita mungkiri, belakangan ini sangat
banyak jenis dan corak lagu dan syair yang dapat
menumbuhsuburkan nafsu syahwat. Terlebih-lebih
bagi generasi muda. Lagu dan syair penumbuh
29
suasana syahwati tersebut kerapkali dapat melam-
bungkan lamunan generasi muslim, yang untuk ke-
mudian mengkristal menjadi ruh dari bagian gaya hi-
dupnya. Hingga karenanya, telinga bagaikan tuli
dan lidah terasa pahit bila sehari saja tak menye-
nandungkan lagu dan syair tersebut.

Bercerita tentang cinta, binar di dua bola ma-
tamu, rona memerah di pipimu, senyum kecil di bi-
birmu dan ratusan pujian serupa yang dilontarkan
oleh sang kekasih yang lagi dilanda asmara, dapat
membangkitkan birahi, apalagi jika ditunjang oleh
penampilan sang kekasih yang aduhai, maka tidak
mustahil akan dapat menyeret muda-mudi yang di-
landa kasmaran ke onggokan cinta terlarang yang
membuahkan kesengsaraan dan kehinaan.

Lebih kronis lagi, sulutan api asmara bela-
kangan ini semakin besar, ini terlukis dalam dunia
layar perak/kaca dan media cetak maupun elektro-
nik, di mana sajian-sajian adegan seks yang vulgar,
jorok dan menjijikkan sudah mulai merebak dan me-
masuki ke pelosok-pelosok tanah air. Nafsu syah-
wat yang merupakan karunia Allah yang begitu in-
dah berubah fungsi menjadi ajang komoditi mencari
keuntungan besar. Norma-norma yang berlaku da-
lam tatanan kehidupan, tidak lagi menjadi pegang-
an. Sekian banyak wanita-wanita muda yang antrian
panjang berebut kursi popularitas, hingga siap mele-
paskan seluruh auratnya. Tubuh wanita dijadikan
30
tontonan menarik pengobar nafsu syahwat. Bahkan
sekujur tubuhnya yang merupakan asset berharga
didayagunakan sedemikian rupa menjadi alat yang
ampuh untuk menjerat dan menjebak pria, karena
memang secara seksiologis dan fisiologis telah di-
maklumi dan menjadi hukum alam bahwa wanita
yang berpenampilan seksi merupakan faktor utama
yang dapat menumbuhkan daya tarik kaum pria. Itu-
lah sebabnya, peristiwa tentang seorang pria yang
bertekuk lutut di bawah kerlingan wanita, bukan
sekedar menggejala, tapi sudah memasyarakat
bahkan mungkin sudah membudaya.

Fakta sejarah telah membuktikan, seperti so-
sok Julius Caesar yang gagah perkasa, terpedaya
di bawah kerlingan Cleo Patra. Demikian juga Napo-
leon Bonaparte yang dijuluki Singa Daratan Eropah,
ternyata tunduk di bawah goyang domretnya Marga-
ret Yosepin. Tak kalah dahsyatnya, seorang senator
dari Partai Demokrat Gary Hart sempat terpental ja-
uh dari pencalonannya menjadi Presiden Amerika
Serikat lantaran kuatnya keris asmara yang di tan-
capkan Dona Rice terhadapnya, sehingga membu-
atnya tak berdaya dan menggagalkan karirnya. Ju-
ga yang dialami Perdana Menteri Uno, dia ambruk
dari kursi emasnya, dikarenakan kuatnya pesona
Geisha kekasihnya. Sebagian cerita negarawan dan
pemimpin yang jatuh runtuh di pelukan wanita terse-
but di atas merupakan bukti kongkrit dari betapa be-
sarnya pengaruh wanita di dalam menumbuhkan
31
dan membangkitkan nafsu syahwat.

Sebuah pendapat filosofi mengungkapkan,
“Apabila nafsu birahi seorang pria terhadap seorang
wanita telah bangkit, maka hilanglah dua pertiga
akalnya”.

Rasulullah SAW. bersabda, yang artinya :
“Tidak ada satu cobaan yang terjadi sepeninggalku
yang lebih berbahaya bagi kaum pria yang melebihi
berbahayanya berbagai cobaan, kecuali cobaan
yang berhubungan dengan soal wanita” (HR.Mus-
lim).

Kemudian dalam hadits lain disebutkan :

⎛⇔°َ∈َ× َã↓ ﱠ◊ِ↓َ™ ٌ≥َΡِΖَ… ٌ≥َυْνُ≡°َϖْ⇓ﱡΠ⇔↓ ﱠ◊ِ↓
↓υُϕﱠ×°َ∏ َ◊ْυُνَπْ∈َ× َιْϖَ∧ُΡُφْρَϖَ∏°َ©ْϖِ∏ ْθُλُηِνْΝَΦْΤُ⇑
ْ⎛ِρَ± ِΕَρْΦِ∏ َ⇐ﱠ™َ↓ ﱠ◊ِ°َ∏ َ⁄ƒَΤِّρ⇔↓↓υُϕﱠ×↓َ™ °َϖْ⇓ﱡΠ⇔↓
ِ⁄ƒَΤِّρ⇔↓ ِ ْΓَ⇓°َ ∧َοْϖِ←↓َΡْℜِ↓

“Sesungguhnya dunia ini diciptakan sangat indah
dan menarik hati. Dan Allah mempersilahkan kepa-
damu untuk menikmatinya dan bagaimana memper-
lakukannya. Namun, berhati-hatilah terhadap dunia.
32
Dan berhati-hatilah pula terhadap wanita. Karena
sesungguhnya pertama kali terjadi fitnah di kalang-
an Bani Israil, disebabkan oleh wanita” (HR. Mus-
lim).

Begitulah keberadaan wanita, ia ternyata
mampu menggoncang dunia tanpa harus mengang-
kat senjata. Cukup dengan senyum, kerlingan mata
dan kemulusan tubuhnya, mereka mampu membu-
mihanguskan dunia. Oleh karena itu, dalam menyi-
kapi keberadaan wanita, Islam dengan bijaksana te-
lah mengatur sedemikian rupa tentang kehidupan
wanita. Dalam hal berpakaian misalnya, wanita
muslimah dibolehkan mengenakan pakaian apapun
yang disenanginya di hadapan anggota keluarganya
atau diantara teman-teman wanitanya. Namun, apa-
bila ia ke luar rumah atau apabila ada pria selain
anggota keluarganya (bukan mukhrim), ia wajib
menutupi seluruh auratnya.

Rasulullah SAW. bersabda :

ُã↓ َ¬َΡَ…°َ©ِΦْϖَ± ِΡْϖَ∠ ِ°َ©َ±°َϖِ∂ ْΓَ⊂َΣَ⇓ ٍ≥َ↓َΡْ⇑↓°َπﱡ⎜َ↓
®َΡْΦِℜ°َ©ْρَ⊂

“Siapa saja dari seorang wanita yang membuka
pakaian (auratnya) di ruar rumah, maka Allah pasti
akan merobek tirai kehormatannya” (HR. Ahmad,
33
Thabrani dan Bazaar dari Aisyah).

Kemudian beliau bersabda pula :

°َ©َ∏َΡْςَΦْℜِ↓°َ©ِΦَϖَ± ْσِ⇑ ْΓَ÷َΡَ…↓َ↵ِ°َ∏ ٌ≥َℵْυَ⊂ ُ≥َ↓ْΡَπْ⇔َ↓
ُ◊°َχْϖﱠς⇔↓

“Wanita itu aurat, maka apabila ia keluar rumah,
berdiri tegaklah syetan padanya” (HR. Turmidzi dari
Ibnu Mas’ud).

Bila kedua hadits ini dianggap belenggu yang
merantai kebebasan kaum wanita, maka dapatlah
dipastikan hujan birahipun tak dapat dihindari lagi
hingga dengan mudahnya wanita-wanita bergenta-
yangan di jalan-jalan raya, di tempat diskotek, di bar
dan resturan, di hotel-hotel dan ditempat-tempat hi-
buran lainnya, dengan mempertontonkan kemolek-
an tubuhnya untuk membangkitkan nafsu syahwat
kaum pria.

Apa upaya yang dilakukan Islam untuk mem-
bentengi ummatnya dari pengaruh nafsu syahwat
ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan perni-
kahan dan atau puasa.

Berkenaan dengan hal ini, Rasulullah SAW.
bersabda :
34
َ≥ َ⁄°َΧْ⇔↓ ُθُλْρِ⇑ َ⊆°َχَΦْℜ↓ ِσَ⇑ َ″°َΧﱠς⇔↓َΡَςْ∈َ⇑°َ⎜
ِ≠َΡَηْνِ⇔ ُσَΞْ≡َ↓َ™ ِΡَΞَΧْνِ⇔ﱡαَ∠َ↓ τّَ⇓ِ°َ∏ ْ≠ﱠ™َΣَΦَϖْνَ∏
ٌ⁄°َ÷َ™ τَ⇔ τﱠ⇓ِ°َ∏ ِ⇒ْυﱠΞ⇔ِ°± ِτْϖَνَ∈َ∏ ْ∉ِχَΦْΤَ⎜ ْθﱠ⇔ْσَ⇑َ™

“Wahai para pemuda, siapa yang mampu diantara
kamu serta berkeinginan hendak kawin, hendaklah
dia kawin, karena sesungguhnya perkawinan itu
akan memejamkan mata (terhadap orang-orang
yang tidak halal dilihat), dan akan memeliharanya
(dari godaan syahwat). Siapa yang tidak mampu ka-
win, hendaklah dia berpuasa, karena dengan berpu-
asa nafsu syahwatnya terhadap wanita akan berku-
rang” (HR. Bukhari).

Dengan adanya pernikahan, insyaAllah ma-
syarakat akan terhindar dari dekadensi moral dan
kerusakan sosial. Karena bagaimanapun juga naluri
kecenderungan seksual hanya akan dapat dipuas-
kan melalui pernikahan yang sah.

Disamping itu, dengan adanya pernikahan,
insyaAllah masyarakat akan terhindar dari penyakit-
penyakit kelamin yang tersebar akibat pergaulan
bebas dan perzinahan, seperti penyakit Gonorhoe
(radang pada rahim bagi wanita dan kedua buah biji
kelamin pada pria), penyakit bernanah pada alat ke-
lamin, penyakit cacar lunak, penyakit syphilis,
35

penyakit kematangan seksual dini, aids/HIV dan
sebagainya.

Naluri seksual itu sesungguhnya dapat pula
dibimbing dan dididik serta dikendalikan melalui iba-
dah puasa. Dengan berpuasa di bulan Ramadhan,
kita dilatih untuk menahan diri dari apapun yang da-
pat membatalkan dan merusak nilai puasa, terma-
suk menahan diri dari pengaruh nafsu syahwat, yak-
ni tidak melakukan hubungan seksual suami isteri
pada siang hari.

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, akan
membuka kesadaran bagi kita bahwa segala aktivi-
tas keseharian (rutinitas) yang kita lakukan tidak
mesti dilakukan terus menerus, namun diperlukan
istirahat agar tidak cepat jenuh, supaya sehat dan
tidak merasa ketergantungan, yang pada gilirannya
nanti dapat berpengaruh terhadap ketahanan men-
tal dan fisik kita.

Meskipun melakukan hubungan suami isteri
itu halal, namun dengan berpuasa kita dilatih untuk
melakukan pengendalian di siang hari. Hal ini tentu
akan berdampak positif terhadap upaya-upaya pe-
ngendalian nafsu syahwat agar kita tidak mudah ter-
perangkap oleh penjaja seks murahan. Kita tidak a-
kan tergiur oleh PIL (Pria Idaman Lain) atau WIL
(Wanita Idaman Lain) atau yang lebih populer
36
dengan istilah perselingkuhan, kendati nikmat tapi
membawa laknat.








ddddd










37







M ME EN NA AH HA AN N D DI IR RI I D DA AR RI I
N NA AF FS SU U A AM MA AR RA AH H



marah adalah salah satu dari gerakan
nafsu yang seketika meluap karena
adanya rangsangan terhadap emosi,
cenderung menjadi semacam senjata yang dapat
mempengarungi kestabilan diri sendiri dan orang la-
in. Sebenarnya sikap dan tindakan marah merupa-
kan sebuah upaya untuk mempertahankan diri dan
untuk melepaskan kejengkelan, rasa dendam dan
sebagainya. Bila marah datang tanpa ditahan de-
ngan hati dan akal sehat sebelum menjalar, ia tak
obahnya laksana nyala api yang membakar kayu
kering, apabila tidak segera disiram dengan air,
38
A
4
maka apinya akan semakin besar dan dapat meng-
hanguskan apa saja yang ada di sekitarnya. Pada
saat orang marah maka darah yang ada di tubuhnya
naik, bagaikan uap memenuhi ruangan yang ada di
otak, sehingga pandangannya gelap, kalap, seakan
tak sanggup lagi berpikir jernih. Ketika itu pertim-
bangan hilang, akal tertutup, pikiran tersentak, kare-
na emosi telah menyelimuti hati dan urat syaraf. Se-
hubungan dengan ini, tepatlah apa yang dimisalkan
oleh seorang hukama terkenal : “Orang yang se-
dang marah adalah laksana gua batu yang terbakar.
Api terkurung di dalamnya dan angin yang masuk
mengipasnya sehingga menambah nyalanya. Gua
semakin panas dan siap membakar apa saja, bah-
kan batu sekalipun, semuanya jadi bara yang hitam
memerah. Meski ada orang berupaya untuk menyi-
ramnya, maka air penyiram itu berubah menjadi
minyak yang justeru akan menambah nyala apinya”.

Begitulah, kalau kemarahan dibiarkan tanpa
ditahan, ia dapat mematikan hati dan akal, ia dapat
menulikan telinga dan membutakan mata, sehingga
tepatlah apa kata orang bijak : “Anda tak akan me-
nemukan sesuatu dengan marah. Akan tetapi, anda
akan kehilangan sesuatu karena marah”.

Kalau kita sedang marah, seperti yang dapat
kita lihat pada orang lain yang sedang marah, wajah
kita menjadi merah menakutkan. Disebabkan ciri ini,
maka orang yang sedang marah bisa disebut
39
sedang naik darah, karena pada saat kita marah,
darah kita naik ke kepala, mata kita terbelalak dan
biji mata kita sekan-akan mau keluar dari kelopak-
nya. Jari-jari tangan bergetar, gigi kita terkatup rapat
seolah-olah mau mengigit orang yang kita marahi,
gerakan badan kita menjadi tidak beraturan dan be-
berapa perubahan pada fisik lainnya. Seandainya
seseorang yang sedang marah melihat dirinya di
muka cermin, niscaya akan meredalah kemarahan-
nya, karena malu melihat keadaan fisiknya seperti
itu.

Disamping itu, orang yang sedang marah,
ucapannya menjadi tidak terkontrol lagi. Keluarlah
kata-kata yang tidak enak di dengar. Meluncurlah
berbagai makian, celaan, hinaan dan kata-kata
yang menyakitkan yang apabila di dengar oleh
orang yang berakal sehat, dia akan merasa risih
dan bahkan orang yang sedang marah itu sendiri
merasa risih dan malu terhadap apa yang ia ucap-
kan tersebut ketika kemarahannya reda.

Pengaruh orang yang sedang marah, sung-
guh sangat berbahaya, karena orang yang lagi ma-
rah ada keinginan untuk memukul, melukai, mero-
bek pakaian bahkan membunuh orang lain yang se-
dang dimarahinya. Jika amarah itu tidak tersalurkan
pada obyek yang dimarahinya, kekesalannya akan
berbalik kepada dirinya sendiri. Ia akan merobek-ro-
bek pakaianya sendiri, memukuli tubuhnya, kadang
40
kala memukulkan tangannya ke dinding, ke meja
atau ke tanah. Melemparkan piring, memukul bina-
tang yang ada di dekatnya, bahkan saking kesalnya
ia bisa pingsan tak sadarkan diri.

Amarah timbul bisa disebabkan oleh faktor
jasmani dan bisa pula disebabkan oleh faktor roha-
ni.

Penyebab amarah yang dipengaruhi oleh fak-
tor jasmani, antara lain :

1. Kelelahan yang berlebihan. Misalnya orang yang
terlalu lelah karena kerja seharian seringkali mu-
dah tersinggung dan mudah marah;
2. Karena kelebihan atau kekurangan zat-zat terten-
tu dalam tubuh yang dapat menyebabkan marah.
Misalnya jika otak kurang mendapat zat asam,
maka seseorang akan cenderung marah;
3. Ketidakstabilan hormon kelamin juga dapat me-
nyebabkan marah. Misalnya ketika sang ibu se-
dang haid, biasanya suka marah-marah;

Adapun faktor rohani yang mempengaruhi
amarah, erat sekali kaitannya dengan kepribadian
seseorang, terutama yang menyangkut self concept
yang salah atau anggapan yang salah terhadap diri
sendiri, seperti :

1. Rasa rendah diri ( MC =Minderwaardigheid Com-
41
plex). Yaitu menilai diri sendiri lebih rendah dari
yang semestinya. Orang ini akan mudah sekali
tersinggung dan marah, karena setiap orang
yang memcoba memberi masukan atau saran
atau memberikan pujian dan penghargaan, selalu
dianggapnya merendahkan dirinya;
2. Rasa Sombong (Superiority Complex), yaitu me-
nilai diri sendiri melebihi kenyataan yang semes-
tinya. Orang yang sombong seringkali menem-
patkan dirinya sendiri lebih dari orang lain, se-
hingga sedikit saja kalau ada orang lain yang
mencoba memojokkannya atau merendahkannya
ia akan tersinggung sekali dan marah;
3. Terlalu egois (egoistis), yaitu terlalu mementing-
kan diri sendiri atau menilai dirinya lebih penting
dari orang lain. Orang yang egois biasanya suka
memaksakan kehendak, seakan-akan dia sajalah
yang benar, dia sajalah yang mampu, sehingga
jika ada orang lain yang mecoba menentang ke-
hendaknya, dia akan tersinggung dan marah;

Setidaknya ada tiga tingkatan marah yang bi-
sa terjadi dan dialami oleh seseorang, yaitu :

1. Marah yang berlebih-lebihan. Ini terjadi ketika se-
seorang telah didominasi oleh nafsu amarahnya,
sehingga akal sehatnya tidak berfungsi lagi,
imannya seakan lumpuh dan tak mampu lagi
membentenginya. Keadaan ini jika tidak diantisi-
pasi segera, dapat mengakibatkan sesuatu yang
42
yang fatal;
2. Relatif tidak pernah marah. Sikap dan tindakan
seperti ini tentu saja tidak dikehendaki. Imam
Syafi’i pernah berkata, “Siapa yang dituntut oleh
suatu kondisi yang seharusnya ia marah, ternyata
tidak marah, ia tak lebih dari seekor keledai”;
3. Kondisi marah yang seimbang. Inilah yang dike-
hendaki, dimana seseorang hanya akan marah
setelah mendapat isyarat dari akal dan agama.
Ketika nafsu amarah terpancing pada kondisi
yang mengharuskan ia marah, maka iapun ma-
rah, tetapi akan segera reda ketika kondisi meng-
haruskannya santun dan memaafkan;

Kaitannya dengan tiga hal di atas, Imam Al-
Ghazali mensitir, menurut beliau ada tiga sikap dan
tindakan marah yang ditunjukkan oleh seseorang.
Ada seseorang yang cepat sekali marah dan lama
berhentinya. Ada juga yang cepat marah, tetapi ce-
pat pula berhentinya. Dan yang terakhir, ada seseo-
rang yang lambat marahnya, namun cepat berhen-
tinya. Yang ketiga inilah yang ideal.

Menurut Islam, marah itu ada yang terpuji,
ada pula yang tercela. Marah yang terpuji adalah
marah karena mempertahankan kehormatan dan
marah karena mempertahankan agama.

Jika misalnya nama baik kita dan anggota
keluarga kita dicemarkan orang, seperti dihina,
43
direndahkan, dilecehkan, difitnah dan sebagainya,
maka wajar kalau kita marah. Jika anggota keluarga
kita ada yang tidak mau shalat padahal kewajiban
shalat telah mensyaratkannya, maka wajar juga
kalau kita marah.

Rasulullah SAW. bersabda, yang artinya :
“Sebaik-baik ummatku adalah yang keras sikapnya
didalam menjalankan hukum-hukum agama”.

Seorang muslim wajib marah dan segera
melakukan tindakan pencegahan, jika ia melihat dan
menyaksikan kemungkaran terjadi di sekitarnya.

Rasulullah SAW. bersabda :

ْθﱠ⇔ ْ◊ِ°َ∏ ِ®ِΠَϖ±ِ ُ®ُΡِّ™ϖَ®ُϖْνَ∏ ↓ًΡَλْρُ⇑ ْθُλْρِ⇑ ∑َ↓ﱠℵ ْσَ⇑
ِτΧِْνَϕΧَِ∏ ْ∉ِχَΦْΤَ⎜ ْθﱠ⇔ ْ◊ِ°َ∏ ِτِ⇓°َΤِνΧَِ∏ ْ∉ِχَΦْΤَ⎜
◊ِ°َπْ⎜ِ⎨ْ↓ ُιَ∈ْ∪َ↓ َµِ⇔↓َ↵َ™

“Siapa saja diantara kamu yang melihat kemung-
karan, maka cegahlah dengan tanganmu. Jika kamu
tidak mampu, maka cegahlah dengan lisanmu. Dan
jika kamu tetap tidak mampu, maka cegahlah de-
ngan hatimu (sekurang-kurangnya tidak suka/marah
dengan kemungkaran tersebut), namun yang ter-
akhir ini merupakan pertanda lemahnya iman” (HR.
44
Muslim).

Orang yang tidak menampakkan kemarahan-
nya terhadap kemungkaran, oleh Islam dianggap
dosa. Apalagi jika ia bersikap dingin dan apatis se-
hingga seolah-olah ia setuju dengan kemungkaran
tersebut, maka orang ini lebih berdosa lagi. Dalam
sebuah dialog, Rasulullah SAW. pernah ditanya
oleh para sahabatnya :

ْθَ∈َ⇓ :َ⇐°َ⋅ : َ◊ْυُΛ⇔ِ°ﱠΞ⇔↓°َ©ْϖِ∏َ™ ُ⊃ْℵَ⎨ْ↓ ُιَΤْΝُ×َ↓
⎛ِ∅°َ∈ْ⇔↓ ِοْ〈َ↓ ⎛َνَ⊂ ْθُ©َ∧َΡَ×َ™ ْθِ™©ِΦَ⇑َ™↓َΠُπِ⇔

“(Ya Rasulullah), apakah mungkin bumi akan digon-
cang gempa, padahal di tempat ini banyak orang
yang shaleh? Rasulullah menjawab : Ya, karena ke-
shalehannya ia gunakan untuk memberikan loyali-
tas dan membiarkan para pelaku melakukan maksi-
at”.

Adapun marah yang tercela adalah marah
yang bukan pada tempatnya, marah karena kesom-
bongan dan marah karena iri dengki. Misalnya cepat
marah karena hanya tersinggung terhadap persoal-
an yang ringan, marah karena tidak diperhatikan
orang lain atau mempermasalahkan dan meributkan
sesuatu yang tidak bermanfaat sehingga timbullah
amarah.
45


Seorang muslim bukan tidak boleh marah,
boleh-boleh saja marah, namun tatkala kita marah
maka segeralah kendalikan. Begitu kita marah kare-
na kesalahan orang lain, maka segeralah memberi-
kan maaf kepadanya.

Allah SWT. Berfirman :

∑υْϕﱠΦνِ⇔ ُ″َΡْ⋅َ↓∞ْυُηْ∈َΦْ⇓َ↓َ™

“Dan jika kamu mau memaafkan, cara itulah yang
lebih mendekati ketaqwaan” (QS. Al-Baqarah ayat
237).

Barangkali kita semua sepakat, bagaimana-
pun juga, sikap dan tindakan marah, terutama ma-
rah yang tercela, tidak akan menguntungkan sedikit
juapun. Malah sebaliknya, marah yang berlebihan,
marah yang meluap-luap dapat membawa akibat fa-
tal si pelakunya. Orang yang menderita penyakit
TBC, asma, hypertensi dan penyakit jantung sangat
riskan dengan tindakan marah, maka itu jauhi dan
hindari sikap dan tindakan marah, karena dapat
memperberat penyakitnya. Disamping itu, hasil dari
kemarahan sangat buruk buat kita, diantaranya da-
pat memperbanyak musuh dan mengurangi teman.
Orang yang suka marah tidak akan mendapat
46
simpati orang lain.

Boleh jadi orang yang marah merasa bangga
dan menang karena dapat memarahi orang lain. Te-
tapi sebenarnya kemenangannya itu tak lebih ha-
nyalah sebuah tipuan yang suatu saat dapat menye-
retnya kepada kekalahan yang berkepanjangan. Se-
bab, dengan menyakiti orang lain karena kemarah-
annya, dapat menghancurkan hubungan baik dan
akan menjatuhkan harkat dan martabatnya di mata
orang lain. Coba saja buktikan sendiri. Misalnya an-
da menjabat seorang atasan pada sebuah kantor.
Karena anda dikenal sebagai seorang atasan yang
pemarah, diktator, maka tentu bawahan akan takut
mendekati anda. Anda seorang pedagang, tetapi
pemarah, pembeli akan takut berbelanja. Anda seo-
rang majikan, tapi pemarah, para pembantu akan
ketakutan dan akhirnya tak ada yang mau bekerja
membantu anda. Guru yang pemarah akan dibenci
muridnya, suami yang pemarah tidak akan dicintai
oleh anak-anak dan isterinya, demikian sebaliknya.

Demikianlah keburukan dan tercelanya si-
kap dan tindakan marah. Karenanya dalam berba-
gai hadits, Rasulullah mengingatkan, “Janganlah
marah, janganlah marah !!!”.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW. bersabda : “Wa-
hai Rasulullah, suruhlah aku mengerjakan suatu
47
perbuatan dan aku sedikit mengerjakannya”. Rasu-
lullah SAW. menjawab, “Janganlah engkau marah”.
Kemudian orang itu mengulangi pertanyaannya
sampai dua kali, dan jawaban Rasulullah tetap sa-
ma, “Janganlah engkau marah” (HR. Bukhari dan
Ahmad).

Ibnu Umar ra. Berkata kepada Rasulullah
SAW : “Katakanlah kepadaku satu ucapan dan aku
sedikit mengerjakannya dengan harapan aku selalu
mengingatnya”. Rasulullah SAW. menjawab : “Ja-
ngan marah”. Aku mengulangi pertanyaan serupa
sampai dua kali, tapi beliau tetap berkata : “Jangan
marah” (HR. Abu Ya’la dan Ahmad).

Dari Abdullah bin Umar ra. mengatakan bah-
wa ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW :
“Ya Rasulullah, apa yang dapat menjauhkan aku
dari murka Allah SWT?”. Rasulullah SAW. menja-
wab: “Jangan engkau marah”.

Dari Ibnu Mas’ud ra. disebutkan bahwa Ra-
sulullah SAW. bersabda : “Bagaimana pandangan
kalian tentang siapa orang yang perkasa itu?”. Kami
menjawab : “Orang yang kuat dan tak terkalahkan
oleh orang lain”. Beliau menyanggah : “Bukan itu”.
Kami lalu bertanya : “Kalau begitu, siapa ya Rasulul-
lah?”. Rasulullah menjawab : “Orang yang mampu
mengendalikan diri tatkala marah” (HR. Muslim).

48
Memang mengendalikan nafsu amarah bu-
kanlah sesuatu yang mudah, apalagi jika hal itu ter-
jadi pada seseorang yang punya peluang (kebera-
nian) secara mental dan fisik untuk meluapkan ama-
rahnya.

Mengendalikan nafsu amarah memerlukan
latihan-latihan yang rutin dan efektif. Puasa di bulan
Ramadhan merupakan salah satu cara sekaligus
upaya yang strategis didalam pengendalian nafsu
amarah.

Betapa Rasulullah SAW. berkeinginan agar
puasa di bulan Ramadhan ini menjadi sarana latih-
an untuk menahan amarah dan mempertebal kesa-
baran. Sampai-sampai beliau menyatakan :

°ًπِ←°َ∅ ْθُ∧ُΠَ≡♣َ َ◊°َ∧↓َ↵↔َِ∏ ٌΕﱠρُ÷ ُ⇒°َϖِّΞ⇔َ↓
ُτَπَ×°َ⊗ْ™♣َ ُτَνَ َ×°َ⋅ ٌ♥ُΡْ⇑↓ ِ◊↔َِ∏ ْοَ©ْϑَ⎜َ⎨َ™ َΙَ∏ْΡَ⎜َζَ∏
(ِσْϖَ×ﱠΡَ⇑) ٌθِ←°َ∅ ⎛ِّ⇓♠ِ : ْοُϕَϖْνَ∏

“Puasa itu merupakan benteng. Maka jika salah se-
orang diantara akamu berpuasa, maka janganlah ia
berkata keji dan mencaci maki sesama. Seandainya
ada orang yang mengajak berkelahi atau memarahi/
mencaci maki, hendaklah dikatakan kepadanya :
“Saya ini sedang berpuasa” (tiga kali)” (HR. Bukhari
49
dan Abu Daud).

Maksud pernyataan Rasulullah SAW. ini ada-
ah agar kita selama menjalankan ibadah puasa ja-
ngan memperdulikan orang yang sedang mengejek
kita, orang yang sedang mencaci maki kita, orang
yang sedang menggunjing kita dan sebagainya. Ja-
ngan kita layani orang yang sedang memarahi kita,
orang yang sedang memancing kemarahan kita.
Hadapilah semuanya dengan sabar dan lapang da-
da. Konsentrasikanlah hati dan pikiran kita bahwa
kita saat ini sedang beribadah puasa karena Allah.

Ingatlah, berpuasa itu pada hakikatnya ada-
lah latihan menahan kesabaran. Rasulullah SAW.
bersabda :

ِΡْΧﱠΞ⇔↓ ُιْΞِ⇓ ُ⇒ْυﱠΞ⇔َ↓

“Puasa adalah separuh dari sabar”.

Dengan latihan kesabaran terutama sabar
menahan amarah selama berpuasa di bulan Rama-
dhan ini, mudah-mudahan mampu menetralisir naf-
su amarah yang bersarang di diri kita.

Selanjutnya,agar kepribadian kita menjadi re-
latif matang, sehingga dengan kematangannya da-
pat menciptakan pribadi yang relatif kebal,
50
dan tidak sensitif terhadap pengaruh amarah, maka
tidak diragukan lagi bahwa dengan berpuasa di
bulan Ramadhan yang tujuan utamanya mengantar-
kan pribadi muslim menjadi pribadi yang taqwa,
pribadi yang matang dan seimbang, maka peluang
yang baik di bulan Ramadhan ini dapat dijadikan sa-
rana yang efektif untuk membangun benteng yang
ampuh dalam rangka memperkuat pertahanan ter-
hadap pengaruh nafsu amarah yang sering datang
bertubi-tubi yang apabila diperturutkan dapat me-
nimbulkan tindakan negatif yang sangat merugikan.

Menurut Al-Qur’an disebutkan bahwa salah
satu ciri orang yang bertaqwa adalah orang yang
suka memaafkan orang lain diwaktu lapang maupun
diwaktu sempit serta dapat menahan nafsu amarah
yang ada dalam dirinya.

Terkait dengan taqwa ini, maka bila kita ingin
beribadah untuk mencapai sasaran yang diinginkan,
maka tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali harus
bisa menjadi orang yang suka memaafkan orang la-
in dan menjadi orang yang mampu mengendalikan
amarah, sebab hanya dengan cara itulah, semua
persoalan yang kita hadapi bisa diselesaikan de-
ngan baik.

Ketahuilah, kebiasaan menahan nafsu ama-
rah merupakan kebiasaan para Nabi dan Rasul.

51
Pada suatu hari Rasulullah SAW. pernah di-
ludahi oleh seseorang, karena dia sangat benci ke-
pada beliau. Rasulullah tenang saja, tidak marah.
Minggu berikutnya, beliau diludahi lagi oleh dia. La-
gi-lagi beliau tenang, tidak menunjukkan kemarah-
annya. Minggu ketiga, beliau lewat lagi di depan ru-
mah orang itu, ternyata dia tidak ada. Rasulullah
kemudian bertanya kepada orang yang tinggal di
dekatnya: “Kemana si pulan?”. Dia menjawab :
“Orang tersebut sedang sakit, ya Rasulullah”. Men-
dengar jawaban demikian, kemudian Rasulullah se-
gera menjengok orang itu. Tentu saja kedatangan
Rasulullah ini membuat dia kaget dan malu. “Maaf-
kan atas perlakuanku yang kurang baik terhadap-
mu, ya Rasul Allah”. Rasul memaafkan orang itu,
dan membimbingnya untuk bertobat kepada Allah.

Ada tujuh keutamaan yang diberikan Allah
SWT. kepada orang yang mampu menahan ama-
rahnya.

1. Memperoleh ampunan dan pahala Sorga
Allah SWT. berfirman :

°َ©ُ∪ْΡَ⊂ ٍΕﱠρَ÷َ™ ْθُλِّ™±ﱠℵ ْσِّ⇑ ٍ≥َΡِηْ®َ⇑ ⎛⇔ِ↓∞ْυُ⊂ℵِ°َℜَ™
َσْ⎜ِΘﱠ⇔َ↓ َσْϖِϕﱠΦُπْνِ⇔ ْ∝ﱠΠِ⊂ُ↓ ُ⊃ْℵَ⎨ْ↓َ™ ِ∝υπﱠΤ⇔↓
َσْϖِπِε°َλْ⇔↓َ™ ِ⁄∞ﱠΡﱠΖ⇔↓َ™ ِ⁄∞ﱠΡﱠΤ⇔↓ ِ َ◊ْυُϕِηْρُ⎜
52
ﱡ∆ِΛُ⎜ ُã↓َ™ ِ℘°ﱠρ⇔↓ ِσَ⊂ َσْϖِ∏°َ∈ْ⇔↓َ™ َγْϖَ®ْ⇔↓
َσْϖِρِΤْΛُπْ⇔↓

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Tuhanmu dan kepada Sorga yang luasnya seluas
langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-
orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang
menafkahkan hartanya, baik diwaktu lapang ma-
upun diwaktu sempit, dan orang-orang yang
mampu menahan amarahnya dan memaafkan
kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-
orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran
ayat 133 dan 134).

2. Disetarakan dengan derajat para Nabi dan Rasul
dan mendapat pelayanan yang istimewa dari pa-
ra Bidadari di Sorga.
Rasulullah SAW. bersabda :

ُ®°َ⊂َ⎯ ُ®َΘُηْρَ⎜ ْ◊َ↓ ُ∉ْϖِχَΦْΤَ⎜ َυُ〈َ™ °ًφْϖَ∠ َθَφَ∧ْσَ⇑
ِκِ←َζَΝْ⇔↓ِ℘ْ™ُ⁄ُℵ ⎛َνَ⊂ ِΕَ⇑°َϖِϕْ⇔↓َ⇒ْυَ⎜⎛َ⇔°َ∈َ× ُã↓
ِ⁄ƒَ⊗ℵِْυُΛْ⇔↓ ّ⎝ِ♣َ ِ

“Barangsiapa mampu menahan amarah padahal
53
dia mempunyai keberanian untuk meluapkannya,
maka pada hari kiamat Allah akan memanggilnya
dengan derajat para pembesar makhluk (Nabi
dan Rasul), sehingga Allah memberikan pilihan
kepadanya untuk mendapatkan bidadari yang
mana yang ia suka”.

3. Menyelamatkan dari azab Allah
Rasulullah SAW. bersabda :

ُτَΧَΖَ∠⎛َ⇔°َ∈َ× ُã↓ َ∉َ∏ َ⎯ ُτَΧَΖَ∠ َ∉َ∏ َ⎯ ْσَ⇑

“Barangsiapa dapat menahan nafsu amarah (pa-
da waktu ia mampu meluapkannya), Allah akan
menolak azab darinya” (HR. Thabrani).

4. Mendapatkan pahala yang sangat besar
Rasulullah SAW. bersabda :
ِΕَ⊂ْΡُ÷ ْσِ⇑ ِã↓َΠْρِ⊂↓ًΡْ÷♣َ ُθَφْ⊂♣َ ٍΕَ⊂ْΡُ÷ْσِ⇑°َ⇑
⎛َ⇔°َ∈َ× ِã↓ ِτْ÷َ™ َ⁄°َ®ِΦْ±ِ↓ ٌΠْΧَ⊂°َ©َπَφَ∧ٍγْϖَ∠

“Tidak ada satu perbuatan yang akan membe-
rikan pahala yang lebih besar di sisi Allah, kecuali
perbuatan menahan amarah ketika seseorang
hamba mampu menahannya semata-mata ha-
nya mencari keridhaan Allah SWT” (HR.Ibnu
54
Majah).

5. Terpelihara dari segala musibah dan kesulitan hi-
dup di dunia dan akhirat

6. Mendapat rahmat Allah SWT.

7. Mendapat kecintaan Allah SWT.
Rasulullah SAW. bersabda :

ِτِηَρَ∧ِ ⎛َ⇔°َ∈َ× ُã↓ ُ®↓َ™∞ ِτْϖِ∏ ﱠσُ∧ْσَ⇑ ٌ•َζَ∂
ْσَ⇑ : ِτِΦﱠΧَΛَ⇑ ِ ُτَνَ…ْ⎯َ°َ∏ ِτِΦَπْ≡َΡ±ِ ِτْϖَνَ⊂ّ ﱠΡَℜَ™
َΡَΦَ∏ َ∆َΖَ∠↓َ↵ِ↓َ™ َΡَηَ∠َℵَΠَ⋅↓َ↵ِ↓َ™ َΡَλَ⊗ ⎛َχْ⊂َ↓

“Ada tiga hal yang jika dimiliki oleh seseorang, ia
akan mendapatkan pemeliharaan Allah, akan di-
penuhi dengan rahmat-Nya dan Allah akan se-
nantiasa memasukkannya dalam lingkungan
hamba yang mendapatnya kecintaan-Nya, yaitu :
Seseorang yang selalu bersyukur ketika Allah
memberinya ni’mat; Seseorang yang mampu me-
luapkan amarahnya tetapi ditahannya dan ia
memberi maaf terhadap kesalahan orang lain;
Seseorang yang apabila sedang marah, segera
dia hentikan amarahnya tersebut” (HR. Hakim).

55
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan da-
lam rangka mencegah dan mengatasi nafsu amarah
yaitu :

1. Jika suatu waktu nafsu amarah kita muncul dan
sulit dikendalikan, Rasulullah SAW. memberikan
empat tuntunan, yaitu :
a. Melakukan perubahan sikap dan posisi badani-
yah sebagaimana sabda beliau :
ْ◊ِ°َ∏ْΥِνْϑَϖْνَ∏ ٌθِ←°َ⋅َυُ〈َ™ ْθُ∧ُΠَ≡♣َ َ∆َΖَ∠↓َ↵♠ِ
ْ∉ِϑَχْΖَϖْνَ∏ﱠ⎨ِ↓َ™ ُ∆َΖَ®ْ⇔↓ ُτْρَ⊂ َ∆َ〈 َ↵

“Jika ada salah seorang diantaramu sedang
marah, jika dia berdiri maka duduklah. Jika
amarahnya mulai hilang (dengan cara duduk),
cukuplah. Namun jika tidak, maka berbaring-
lah” (HR. Abu Daud).

Secara alami cara dan sikap seperti ini me-
mang dapat membantu menurunkan tensi da-
rah, sehingga secara berangsur-angsur dapat
pula menurunkan luapan marahnya.

b. Mengambil air wudlu
Rasulullah SAW. bersabda :
َ◊°َχْϖﱠς⇔↓ ﱠ◊ِ↓َ™ ِ◊°َχْϖﱠς⇔↓ َσِ⇑ َ∆َΖَ®ْ⇔↓ ﱠ◊♠ِ
56

ُℵ°ﱠρ⇔↓ ُ→َηْχُ×°َπﱠ⇓ِ↓َ™ ℵِ°ﱠρ⇔↓ َσِ⇑ َκِνُ…
♦ﱠ∪َυَΦَϖْνَ∏ ْθُ∧ُΠَ≡♣َ َ∆َΖَ∠↓َ↵↔َِ∏ ِ⁄°َπْ⇔°±ِ

“Sesungguhnya amarah itu dari syetan, se-
sungguhnya syetan itu dibuat dari api, dan
sesungguhnya padamnya api itu karena air.
Maka jika ada seseorang diantara kamu yang
sedang marah, maka hendaklah ia berwu-
dlu)” (HR. Abu Daud).

c. Tundukkan kepala, khusyu’kan hati dan ber-
tawakkallah kepada Allah, meminta perlin-
dungan kepada-Nya dari semua kejahatan
syetan yang sedang menyulut api kemarahan
di dalam dada;

d. Berdoa kepada Allah seperti yang diajarkan
oleh Rasulullah SAW. kepada Siti Aisyah se-
waktu dia sedang dilanda amarah.
َγْϖَ∠ ْ∆ِ〈 ْ↵↓َ™ ْ⎡Χِْ⇓ َ↵ ْ⎛ِ⇔ْΡِηْ∠↓ ﱠθُ©ّν⇔َ↓
◊ِ°َχْϖﱠς⇔↓ َσِ⇑ ْ⎛ِ⇓ْΡِ÷َ↓َ™ ْ⎡Χِْνَ⋅

“Ya Allah ampunilah dosaku, hilangkanlah
amarah di hatiku, dan selamatkanlah diriku
dari kejahatan syetan” (HR. Ibnu Sina).
57
2. Menghindari semua perbuatan yang dapat me-
nimbulkan rasa amarah, baik kepada diri sendiri
maupun kepada orang lain;

3. Memahami tentang betapa pentingnya menahan
amarah dan manfaat sabar dalam kehidupan;

4. Mempererat hubungan kekeluargaan, persauda-
raan dan persahabatan serta menjunjung tinggi
hak dan kewajiban antar sesama;

5. Melaksanakan semua kewajiban sebagai muslim,
baik yang berhubungan dengan perintah Allah
maupun dengan sesama manusia, dengan penuh
tanggung jawab dan berdiri di atas aqidah yang
benar, syari’ah yang tepat dan akhlak yang mulia;

6. Berusaha berbicara dengan tutur kata yang so-
pan dan menghindari perkataan yang akan
mengundang kemarahan;

7. Jika sedang mendengarkan perkataan orang lain
hendaklah benar-benar memahami apa yang diu-
tarakannya. Sebab kesalahpahaman dapat memi-
cu munculnya kemarahan;

8. Jika seseorang membawa kabar yang bisa mem-
buat marah orang lain, maka berhati-hatilah serta
lengkapilah berbagai bukti fisik yang mendukung
berita yang kita sampaikan tersebut;
58
9. Hindarilah perasaan buruk sangka kepada sesa-
ma muslim dan manusia pada umumnya;

10. Sibukkanlah diri kita dengan berbagai kegiatan
namun jangan lupa istirahat yang cukup.

Semoga dengan berpuasa di bulan Rama-
dhan tahun ini dapat memberikan kesan dan pesan
yang mendalam bagi diri kita, sehingga dengan tem-
paan diklat Ramadhan ini diri kita menjadi terlatih
dan akhirnya terbiasa untuk hidup terkendali dalam
segala hal, terutama dalam mengendalikan nafsu
amarah.






((((







59











M ME EN NA AH HA AN N D DI IR RI I D DA AR RI I
U UC CA AP PA AN N / / L LI IS SA AN N



alah satu kelebihan manusia dibanding
dengan makhluk lainnya adalah ada-
nya kemampuan manusia dalam ber-
komunikasi untuk menyampaikan pikiran dan pera-
saannya melalui ucapan atau perkataan.

Kata adalah kumpulan huruf yang memben-
tuk makna, konsep atau simbol. Sedangkan kalimat
adalah kumpulan kata dalam susunan terdiri dari
subyek, predikat dan obyek.

60
S
5
Di lapangan sering kita saksikan, terkadang
antara apa yang dikatakan oleh lisan dengan apa
yang dikatakan oleh hati terdapat ketidaksesuaian
bahkan mungkin bertolak belakang. Apatah lagi jika
dikaitkan dengan amal perbuatan, mungkin jauh se-
kali. Inilah dua keretakan yang dikenal dalam Islam,
yaitu keretakan antara lisan dan hati dan keretakan
antara lisan dan tindakan.

Diakui memang tidak mudah menyelaraskan
lisan dengan hati dan lisan dengan perbuatan. Ini
terbukti dalam praktek kehidupan sehari-hari, mulai
ditingkat yang paling bawah sampai pada kalangan
menengah dan atas, kita sering mendengar misal-
nya ada anjuran, “Mari kita junjung tinggi sikap dan
tindakan demokrasi. Mari kita terapkan dan kita wu-
judkan kehidupan yang demokratis”, sementara
penganjurnya sendiri sering bersikap dan bertindak
otoriter. Contoh lain, misalnya ada perintah dari
atasan, “Kencangkan ikat pinggangmu dan buda-
yakan hidup sederhana”, sementara si pemberi pe-
rintah hidup dalam pola yang sangat mewah.

Begitulah eksistensi lidah, ia diberikan otori-
tas penuh dalam penggunaannya sehingga tidak
harus tergantung oleh bisikan hati dan pertimbang-
an akal, tidak mesti sesuai dengan realitasnya, bah-
kan saking bebasnya lidah, ia dapat berkata apa
saja, tidak perduli apakah dapat membahayakan di-
rinya dan orang lain, ataupun tidak. Apakah dapat
61
membawa kepada kebahagiaan maupun kesengsa-
raan.

Begitulah lidah/mulut, keberadaannya ibarat
pisau bermata dua. Gara-gara lidah bisa membawa
kita bahagia, namun bisa pula membawa kita seng-
sara. Gara-gara pulut santan binasa, gara-gara mu-
lut badan binasa, demikian kata pantun pepatah.
Kenapa demikian? Karena lidah tak bertulang. Dan
justeru karena lidah tak bertulang inilah, sehingga
lidah bebas ceplas-ceplos bicara. Kadang-kadang
baru sebatas gossip, beritanya sudah menyebar lu-
as ke mana-mana. Belum tentu lagi benar faktanya,
namun lidah sudah panjang lebar bicara yang terka-
dang dilebihkan dan terkadang pula dikurangi.

Bila lidah kita gunakan kepada hal-hal yang
membawa manfaat, maka insyaAllah kita akan se-
lamat. Namun sebaliknya, bila lidah kita gunakan
kepada hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan da-
pat merugikan orang lain, maka celakalah kita. Ti-
dak sedikit kita saksikan terjadinya perpecahan, per-
selisihan, pertengkaran bahkan pembunuhan, dise-
babkan oleh lidah yang tak terkendali, oleh lisan
yang kurang terkontrol, yang kalau ia bicara se-
ringkali menyinggung perasaan orang lain, menusuk
dan menyakitkan hati seseorang dan sebagainya.

Untuk mengendalikan sekaligus mengantisi-
pasi terhadap bahaya lidah/lisan ini, sebenarnya
62

Allah SWT. sudah memberikan isyarat melalui pen-
ciptaan mata, telinga dan mulut.

Diciptakannya dua mata, dua telinga dan sa-
tu mulut, sesungguhnya mengandung makna sim-
bolik yang apabila kita renungkan dan mencoba me-
ngambil pelajaran padanya, sungguh merupakan
sesuatu yang sangat berharga bagi kemajuan dan
ketinggian akal budi seseorang.

Apa sesungguhnya maksud Allah mencipta-
kan dua mata dan dua telinga, sementara mulut cu-
ma satu. Padahal kalau kita pikir-pikir, fungsi dan
manfaat mulut justeru lebih penting dan lebih berpe-
ran dalam kehidupan kita, dibanding dua mata dan
dua telinga.

Allah menciptakan dua telinga, dua mata
dan satu mulut. Maksudnya, penggunaan telinga
dan mata porsinya harus dua kali lebih banyak
daripada penggunaan mulut. Artinya, sebelum mulut
berkata ya atau tidak, hendaknya lihat dulu sebaik-
baiknya, apa memang benar keadaannya atau
mungkin tidak benar. Dengar dulu penjelasan orang
lain secermat-cermatnya. Setelah itu, baru mulut
bicara. Jika kita mempedomani konsep simbolik ini,
insyaAllah mulut atau lidah kita akan selalu terkon-
trol, terkendali dan terpelihara dari berbagai perka-
taan dan pembicaraan yang tidak pantas dan keliru.

Ingatlah, mulut/lidah, meskipun bentuknya
63
kecil, namun peranannya sangat besar dalam mem-
pengaruhi baik buruknya aktivitas kita sehari-hari.

Rasulullah SAW. bersabda :
َ◊°َΤِّν⇔↓ْ⎛ِηْλَΦْΤَ× َ⁄°َΖْ⊂َ⎨ْ↓ﱠ◊ِ°َ∏ َ⇒َ⎯∞ُσْ±↓َΜَΧْ∅َ↓↓َ↵ِ↓
َΓْπَϕَΦْℜ↓ِ◊ِ↓ َµ±ِ ُσْΛَ⇓°َπﱠ⇓ِ°َ∏°َρْϖِ∏ َã↓ُκﱠ×ِ↓ :ُ⇐ْυُϕَΦَ∏
°َρْϑَ÷َυْ⊂ِ↓ َΓْϑَ÷َυْ⊂ِ↓ ْ◊ِ↓َ™ °َρْπَϕَΦْℜِ↓

“Apabila anak Adam mulai beramal di pagi hari,
maka seluruh anggota tubuh akan mempercayakan
kepada lisan (agar berhati-hati). Mereka berpesan :
“Wahai lisan, bertaqwalah kepada Allah dalam
membawa kami. Kami bergantung kepadamu. Jika
kamu lurus, kami pun ikut lurus. Jika kamu bengkok,
kamipun juga bengkok” (HR. Turmudzi dari Abi Saíd
al-Khudri).

Memperhatikan betapa strategisnya peran
dan pengaruh lidah/mulut dalam kehidupan kita ini,
maka Rasulullah SAW. menganjurkan agar setiap
kita menjaga lidah/mulutnya, karena menjaga lidah/
mulut merupakan amal yang paling disenangi Allah
SWT.

Dalam sebuah dialog Rasulullah SAW. de-
ngan para sahabat disebutkan :
64
≤ِã↓⎛َ⇔ِ↓ﱡ∆َ≡↓⇐ِ°َπْ⊂َ⎨ْ↓ﱡ⎝َ↓Bِã↓ ُ⇐ْυُℜَℵ َ⇐°َ⋅
◊ِ°َΤّνِ⇔↓ُγْηِ≡َυُ〈 : َ⇐°َ⋅ٌΠَ≡َ↓ ُτْΧ™ِϑُ⎜ ْθَνَ∏↓ْυُΦَλَΤَ∏

“Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Amal
apakah yang paling disenangi Allah? Para sahabat
terdiam, tidak menjawab. Kemudian Rasulullah ber-
sabda, “Amal tersebut adalah menjaga lisan/mulut”
(HR. Imam Baihaqi dari Abi Juhfah).

Tentu tidak diragukan lagi, jika seseorang ge-
mar melakukan amal perbuatan yang disenangi
Allah dan Rasul-Nya, maka ganjarannya adalah
Sorga. Dalam hubungan ini, pernah diriwayatkan
bahwa ketika Rasulullah SAW. sedang duduk-duduk
bersama beberapa sahabat, dengan serta merta be-
liau berkata : “Sebentar lagi akan lewat di hadapan
kita seseorang yang telah ditetapkan Allah sebagai
ahli Sorga kelak”. Informasi ini membuat semua pa-
ra sahabat yang hadir ketika itu, tercengang, kaget
dan penasaran, siapa gerangan orang itu.

Diantara para sahabat yang sangat antusias
dan paling penasaran ingin tahu dan mengenal lebih
jauh terhadap orang tersebut, adalah Abu Dzar Al-
Ghifari. Sehingga ketika orang itu benar-benar lewat
di hadapan mereka, Abu Dzar Al-Ghifari langsung
mengikutinya hingga sampai ke rumah orang terse-
but. Setibanya di rumah orang itu, Abu Dzar
65
memohon kepada penghuni rumah itu agar diper-
kenankan menginap/tinggal beberapa hari, dan ia-
pun kemudian diperkenankan.

Selama menginap di rumah orang tersebut,
Abu Dzar Al-Ghifari tidak melihat adanya kelebihan
yang luar biasa atau istimewa terhadap orang ter-
sebut. Bahkan yang nampak terlihat terkesan biasa-
biasa saja. Waktu shalat dilakukannya seperti biasa,
puasa sunatnya juga dia lakukan hanya kadang-
kadang saja (tidak rutin), sedekahpun demikian, ia
bersedekah sesuai dengan kemampuannya, bahkan
shalat tahajjud ia lakukan jarang sekali. “Lalu, apa
yang menyebabkan sehingga Rasulullah menyata-
kan dia itu penghuni Sorga?” Abu Dzar Al-Ghifari
semakin bingung dan semakin penasaran. “Jangan-
jangan Rasulullah keliru menilai orang ini” , ia mulai
menyangsikan. “Ah, tidak, tidak mungkin Rasulullah
keliru, Rasulullah Al-Amin, beliau sangat dipercaya”.

Untuk menyingkap rahasia ini dan menghi-
langkan rasa penasarannya, maka ketika menjelang
berpamitan pulang, Abu Dzar Al-Ghifari membera-
nikan diri untuk bertanya kepada orang tersebut
tentang amalan apa yang dilakukan sehingga Ra-
sulullah menyatakan, dia menjadi salah seorang
penghuni Sorga kelak. Orang tersebut tidak banyak
komentar dan dia mengatakan, “Satu hal yang sa-
ngat disukai oleh Rasulullah selalu saya pelihara,
yaitu menjaga lidah dan mengendalikannya”.
66
Nah, inilah rupanya yang menyebabkan se-
seorang dapat menjadi penghuni Sorga. Sederhana
sekali, sungguh sangat sederhana. Namun, sese-
derhana itukah menjaga lidah dan mengendalikan-
nya? Entahlah?, yang pasti bahaya lisan senanti-
asa mengancam kita seiring dengan aktivitas hidup
dan kehidupan yang kita lakukan.

Menurut Uwes al-Qurni ada 60 bahaya lisan
yang perlu kita waspadai setiap saat, diantaranya
yaitu :


1. Ucapan Kufur

Yaitu ucapan yang keluar dari mulut seseorang
dengan sengaja dan sadar, seperti misalnya, “Sa-
ya siap pindah dari agama yang saya anut ke
agama yang Bapak anut, asal saya diterima kerja
atau diberi pinjaman untuk usaha”. Jika ternyata
kemudian ia diterima bekerja atau diberikan pin-
jaman usaha, maka secara otomatis ia sudah ke-
luar dari agama Islam. Namun, jika ucapan kufur
ini terucap tanpa disengaja atau di luar kesadar-
annya, atau karena diancam akan dibunuh, tanpa
ada niatan sedikitpun mau keluar dari agama Is-
lam, maka ucapannya itu bisa dimaafkan.
Firman Allah SWT. :
◊ِ°َπْ⎜ِ⎨ْ°±ِ ﱞσِΒَπْχُ⇑ ُτُΧْνَ⋅َ™ َ®ِΡْ∧ُ↓ ْσَ⇑ﱠ⎨ِ↓
67
“Kecuali orang yang dipaksa (mengucapkan kali-
mat kufur) padahal hatinya tetap tenteram dalam
imannya” (QS. An-Nahl ayat 106)


2. Ucapan Yang Mendekati Kekufuran

Yaitu mengeluarkan kata-kata keji dan tidak pan-
tas kepada sesama Muslim. Seperti misalnya,
“Dasar syetan lho!”, “Babi lho!”, “Anjing lho!”, pa-
dahal kita tahu bahwa syetan adalah makhluk
yang dikutuk dan dilaknat oleh Allah SWT. Anjing
dan babi adalah binatang yang najis dan diha-
ramkan oleh Allah SWT. Mengeluarkan kata-kata
yang seperti tersebut diatas tentu tidak pantas
dan dapat membuat seseorang mendekati keku-
furan. Sebagian ulama mengatakan bahwa jika
seseorang melontarkan kata-kata kafir, syetan,
anjing dan babi kepada seseorang padahal orang
itu adalah seorang muslim yang baik, maka kata-
katanya itu akan berbalik kepada dirinya. Demi-
kian juga seseorang yang mengolok-olok orang
lain yang sedang menjalankan perintah dan atur-
an Allah. Misalnya, menghina manita yang menu-
tup auratnya dengan perkataan, “Wanita ninja”.
Atau mengatakan kepada seseorang yang taat
beribadah dengan kata-kata, “Bah, pa-a-alimnya
haja”, sama halnya ia memperolokkan Allah dan
Rasul-Nya. Perkataan ini juga bisa mendekatkan
seseorang kepada kekufuran.
68
3. Salah Ucap

Semua kita mungkin merasa sulit untuk melaku-
kan antisipasi agar lisan kita tidak terpeleset atau
salah bicara. Dalam kasus-kasus yang sifatnya
spontan, salah ucap mungkin bisa terjadi. Apa-
lagi jika situasi dan kondisinya cukup dominan
dalam memancing emosi kita, ucapan dan pem-
bicaraan kita sering kurang terkontrol. Dalam ka-
sus debat, diskusi, sebuah forum rapat sampai
kepada omongan-omongan canda, gurauan dan
ngobrol di warung kopi, salah ucap bisa saja ter-
jadi. Terkadang dalam suatu pembicaraan, mung-
kin kita sudah cukup berhati-hati dalam berbicara,
namun orang lain ternyata menyalahkan pembi-
caraan kita tersebut. Maksud kita baik, namun
terkadang kita kurang pas, kurang tepat meng-
ungkapkannya sehingga membuat orang lain ter-
singgung, sakit hati dan sebagainya. Salah ucap
dapat berakibat macam-macam, dari yang beraki-
bat kecil sampai akibatnya besar dan fatal. Yang
jelas, salah ucap cenderung menambah dosa si
pelakunya. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam
berbicara agar kemungkinan salah ucap dapat
kita kurangi dan syukur kalau tidak terjadi.


4. Berbohong

Yaitu berkata atau menyampaikan sesuatu, tetapi
69
tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Pada da-
sarnya berbohong itu dilarang dan haram hukum-
nya. Namun, ada kata bohong yang bisa dimaaf-
kan jika dilakukan tidak sengaja dan tidak sempat
merugikan banyak orang, serta ia segera meralat
atau memperbaiki kebohongannya tersebut. Ada
pula kata bohong yang diperbolehkan, seperti
yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW. :

َ″َΘَ∧ٌοُ÷َℵ : ِ•َζَ∂ ْﱠِ⎨ِ↓ ُ″ِΘَλْ⇔↓ ﱡοِΛُ⎜َ⎨
َ″ْΡَΛْ⇔↓ ْِ َ″َΘَ∧ٌοُ÷َℵَ™ °َ©َϖِ∪ْΡُϖِ⇔ ُτَ×َ↓َΡْ⇑↓
َσْϖَ± َ″َΘَ∧ٌοُ÷َℵَ™ ٌΕَ⊂ْΠُ… َ″ْΡَΛْ⇔↓ ﱠ◊ِ°َ∏
°َπُ©َρْϖَ± َΜِνْΞُϖِ⇔ ِσْϖَ πِνْΤُπْ⇔↓

“Tidak diperbolehkan (tidak halal) perbuatan bo-
hong itu, kecuali dalam tiga hal : Seorang suami
yang berbohong kepada isterinya (atau sebalik-
nya) agar isterinya (suaminya) merasa senang
(puas); seseorang yang berbohong diwaktu pe-
rang, karena memang didalam peperangan ber-
laku tipu muslihat; seseorang yang berbohong di-
antara dua orang muslim yang sedang bertengkar
dengan tujuan untuk mendamaikan keduanya”
(HR. Turmudzi dari Asma binti Yazib).

70
5. Menyindir Tanpa Tujuan

Dalam pergaulan sehari-hari, setiap kita mungkin
pernah ditugaskan atau diminta untuk menyam-
paikan sesuatu kepada orang lain dengan cara
tidak terus terang atau tidak blak-blakan, namun
kita sampaikan dengan menggunakan sindiran
atau dengan istilah populernya diplomasi. Cara
seperti ini dalam kaidah ilmu sastra Arab (bala-
ghah) disebut Bade Tauriyah. Apabila tujuannya
baik, cara seperti ini dibolehkan oleh syara’,
bahkan konon dalam sebuah riwayat disebutkan
bahwa, Rasulullah pernah menunjukkan hal se-
perti ini kepada seorang nenek. Beliau berkata :

ٌℑْυُϑَ⊂ َΕﱠρَϑْ⇔↓ ُοُ…ْΠَ×َ⎨

“Nenek-nenek tidak akan masuk Sorga”.

Sang nenek cukup kaget mendengar perkataan
Rasulullah ini, namun setelah mengetahui mak-
sud dari perkataan tersebut, sang nenekpun
akhirnya lega hatinya. Maksud Rasulullah menga-
takan bahwa nenek-nenek tidak akan masuk Sor-
ga adalah karena di dalam Sorga itu tidak ada
nenek-nenek, semuanya orang-orang muda. Wa-
laupun pada waktu meninggal dunia dulu nenek-
nenek, tapi di akhirat (di dalam Sorga) nanti ber-
ubah menjadi muda belia.
71

Al-Qur’an juga membolehkan digunakannya kata
sindiran dalam suatu pergaulan. Sebagai contoh
dapat kita lihat firman Allah yang berkaitan de-
ngan meminang wanita, dimana Allah SWT ber-
firman :
ِΕَΧْδِ…ْσِ⇑ τ̝±ِ ْθُΦْ∪ﱠΡَ⊂°َπْϖِ∏ ْθُλْϖَνَ⊂ َ≈°َρُ÷َ⎨َ™
ِ⁄ƒَΤِّρ⇔↓

“Dan tidak ada dosa bagimu meminang wanita
itu dengan cara sindiran” (QS. Al-Baqarah ayat
235).

Sebagai contoh misalnya, seseorang yang ingin
meminang anak gadis, kemudian ia berkata ke-
pada orangtuanya, “Nampaknya bunga yang ibu
pelihara sudah merekah dengan indahnya dan
menebarkan harumnya yang semerbak, sehing-
ga mengundang selera kumbang peliharaan ka-
mi untuk datang dan menghisap madunya. Bo-
lehkah kami minta bunga tersebut untuk kami
jadikan hiasan di rumah kami?”.
Contoh lain, “Ayo, anak-anak bangun!, hari su-
dah pagi. Tuh, dengarin ayam sudah berkokok
mengajak kalian bangun. Masa duluan ayam ba-
ngunnya. Kalian kan lebih pinter daripada ayam”.
Seseorang yang sudah terlanjur mencicipi suatu
makanan, padahal makanan tersebut kurang
72
enak, maka tatkala ia ditanya, “Ayu ditambah
makanannya. Kurang enak ya?”. Dengan sege-
ra ia menjawab, “Ngga?, makanannya enak kok
bu. Waah! seandainya perut saya ini masih ko-
song, sudah pasti deh semua makanan ini ludes
saya makan. Tapi sayang, saya masih kenyang
bu”.
Alhasil, ucapan diplomatis atau sindiran, asal di-
ucapkan dengan sopan dan tujuannya baik tentu
diperbolehkan oleh syara. Akan tetapi jika diplo-
masi atau sindiran itu diucapkan semata-mata
untuk membohongi orang, untuk memutarbalik-
kan fakta, untuk menghina, mencemooh dan
menjelekkan orang lain, maka ucapan itu terma-
suk dosa lisan. Contoh sindiran yang tidak di-
perbolehkan adalah : “Duuh! si raja benalu itu
datang lagi”. “Dasar si tukang ngibul kamu !”.
“Dasar tak tahu diri kamu ini, sudah diberi daging
mau tulang lagi”.


6. Mengumpat dan Menggunjing

Perbuatan mengumpat dan menggunjing adalah
perbuatan yang diharamkan oleh Islam.

Allah SWT. berfirman :

ْθُ∧ُΠَ≡َ↓ ﱡ∆ِΛُ⎜َ↓ °ًΖْ∈َ± ْθُλُΖْ∈َ± ْ∆َΦْ®َ⎜َ⎨َ™
73
↓ْυُϕﱠ×↓َ™ ُ®ْυُπُΦْ〈Ρَِλَ∏°ًΦْϖَ⇑ ِτْϖِ…َ↓ َθْΛَ⇔َοُ∧ْ°ﱠ⎜ْ◊َ↓
ٌθْϖِ≡ﱠℵ ٌ″↓ﱠυَ× َã↓ﱠ◊↓ِ َã↓

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing se-
bagian yang lain. Sukakah salah seorang dian-
tara kamu memakan daging saudaranya yang
sudah mati? Maka tentunya kamu merasa jijik
kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Se-
sungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Ma-
ha Penyayang” (QS. Al-Hujurat ayat 12).

Sangat ironis memang orang yang suka meng-
umpat dan menggunjing itu. Kenapa? Karena
suatu keburukan atau aib saudaranya, yang se-
harusnya ditutupi, tapi bagi dia malah dibuka ha-
bis-habisan, dibeberkan ke sana kemari, sehing-
ga hampir semua orang mengetahuinya.
Ingatlah,orang yang suka mengumpat dan meng
gunjing orang lain, nanti di akhirat dia akan rugi
besar, kenapa?, karena sebagian amal kebaik-
annya akan dialihkan / dipindah kepada orang
yang ia umpat atau ia gunjing tersebut. Semakin
sering ia mengumpat dan mengunjing orang lain,
maka semakin banyak amal kebajikannya ter-
sedot buat orang lain. Sabda Rasulullah SAW. :
: ُ⇐ْυُϕَϖَ∏↓ًℵْυُςْρَ⇑ ُτُ±°َΦِ∧⎛َ×ْΑُϖَ⇔ َοُ÷ﱠΡ⇔↓ ﱠ◊ِ↓
74
ْΓَΤْϖَ⇔°َ©ُΦْνِπَ⊂↓َΘَ∧َ™↓َΘَ∧ْ⎛ِ×°َρَΤَ≡َσْ⎜َ°َ∏ ِّ″َℵ°َ⎜
َµ±ِ°َϖِΦْ∠ِ°±ِ ْΓَϖِΛُ⇑ : ُτَ⇔ُ⇐ْυُϕَϖَ∏ ْ⎛ِΦَηْϖِΛَ∅ ْِ
ُτَΦْΧَΦْ∠ِ↓ ْσَ⇑ ِ″°َΦِ∧ْِ ْΓَΧِΦُ∧َ™ ِ℘°ﱠρ⇔↓

“Sesungguhnya nanti (di hari kiamat) tatkala tu-
lisan amal seseorang telah dibukakan, akan ada
seseorang yang berkata (yaitu si pengumpat dan
si penggunjing) : Ya Allah, ya Tuhanku, kemana
amal kebajikan yang pernah aku perbuat itu?
Rasanya, aku pernah melakukannya sewaktu di
dunia dulu. Kenapa dalam daftar ini malah tidak
ada?. Maka Allah berfirman kepadanya : Amal
kebajikanmu telah terhapus darimu, gara-gara
kamu mengumpat dan menggunjing seseorang,
hingga amal kebajikanmu dipindahkan kepada-
nya” (HR. Ibnu Hibban dari Abi Amamah).

Bahaya ghibah dapat kita lihat dari dua sisi :
a. Ghibah merupakan salah satu penyakit sosial
yang sangat berbahaya karena dapat menye-
babkan terputusnya persaudaraan, munculnya
penyakit iri dan dengki, terjadinya konflik sosi-
al dan maraknya berbagai gossip dan fitnah;
b. Perbuatan ghibah termasuk dosa besar mele-
bihi dosa perbuatan zina.

Rasulullah SAW. bersabda :
75
: َ⇐°َ⋅ َιْϖَ∧َ™ َοْϖ⋅ِ ⎛َ⇓ِّΣ⇔↓ َσِ⇑ ﱡΠَ⊗َ↓ ُΕَΧْϖِ®ْ⇔َ↓
ُã↓ ُ″ْυُΦَϖَ∏ ُτْρَ⊂ ُ″ْυُΦَ⎜ ﱠθُ∂ ْ⎛ِ⇓ْΣَ⎜ ُοُ÷ﱠΡ⇔↓
ُτَ⇔ُΡَηْ®ُ⎜َ⎨ ِΕَΧْϖِ®ْ⇔↓ َ∆ِ≡°َ∅ ﱠ◊ِ↓َ™ ِτْϖَνَ⊂
ُτُΧِ≡°َ∅ ُτَ⇔َΡِηْ ®َ⎜ ⎛ﱠΦَ≡

“Ghibah itu lebih berat (tobatnya) daripada zina.
Sahabat bertanya: Mengapa demikian?. Rasul
menjawab : Jika seseorang berzina, lalu ia berto-
bat, maka Allah menerima tobatnya. Tetapi si
pengumpat/penggunjing (walaupun sudah berto-
bat), dia tidak akan mendapatkan ampunan Al-
lah, sebelum orang yang dia umpat/gunjing ter-
sebut memaafkannya” (HR. Thabrani).

Menurut sebagian ulama disebutkan bahwa me-
minta maaf kepada seseorang yang telah dium-
pat/digunjing berdasarkan hadits di atas hanya
berlaku jika yang bersangkutan mendengar atau
mengetahui materi gunjingan yang ditujukan ke-
padanya. Jika materi gunjingannya tidak sampai
diketahui oleh yang bersangkutan, maka cara
bertobatnya cukup dengan beristighfar kepada
Allah dan menghentikan perbuatan tersebut. Se-
lain itu, dianjurkan agar kita mendoakan orang
yang bersangkutan agar dia juga diampuni oleh
76
Allah segala dosa-dosanya.

Sabda Rasulullah SAW. :

ُτَ⇔َΡِηْ®َΦْΤَ× ْ◊َ↓ ُτَΦْΧَΦْ∠ِ↓ ْσَ⇑ ُ≥َℵ°َηِ∧

“Untuk menebus dosamu kepada orang yang
telah kamu gunjing adalah dengan cara memo-
honkan ampunan kepada Allah, untuknya” (HR.
Ibnu Abi Dunya dari Anas).


7. Adu Domba

Adu domba merupakan ucapan fitnah yang lahir
dari sosok kepribadian buruk yang disebarkan ke
tengah-tengah masyarakat untuk mengeruhkan
suasana yang tenang dan damai menjadi sua-
sana yang kacau dan berantakan.
Adu domba secara sederhana dapat kita ung-
kapkan, misalnya jika anda tidak senang melihat
akrabnya dua orang yang bersahabat dan se-
nantiasa rukun, damai dan sejahtera hidup me-
reka, lalu anda berkeinginan agar kedamaian
mereka terganggu, kesejahteraan mereka teru-
sik, sehingga antara keduanya saling bermusuh-
an, kemudian anda mencari cara dengan meng-
ungkit-ungkit kelemahan masing-masing mereka
dengan membesar - besarkannya sehingga
77
keduanya menjadi bimbang, menjadi resah, geli-
sah dan sebagainya, sampai akhirnya mereka
menjadi bermusuhan.
Ingatlah, perbuatan adu domba adalah perbu-
atan yang sangat dilaknat oleh Allah dan sangat
dibenci oleh banyak orang. Siapapun kita, tentu
tidak akan senang terhadap si pengadu domba.
Setidaknya ada tiga kerugian yang akan diderita
pada hari kiamat nanti bagi si pengadu domba,
sebagaimana yang dinyatakan oleh beberapa
hadits Rasulullah berikut ini :

ٌ∝°ﱠΦَ⋅ َΕﱠρَϑْ⇔↓ ُοُ…ْΠَ⎜َ⎨

“Tidak akan masuk Sorga, bagi si pengadu dom-
ba”.

↓ًℵ°َ⇓ ِτْϖَνَ⊂ ُã↓ َδﱠνَℜ ُِσْϖَρْ∂ِ↓ َσْϖَ± ⎛َςَ⇑ ْσَ⇑
ِΕَ⇑°َϖِϕْ⇔↓ َ⇒ْυَ⎜ ⎛َ⇔ِ↓ ِ®ِΡْΧَ⋅ ْِ ُτُ⋅ِΡْΛُ×

“Barangsiapa yang mengadu domba diantara
dua orang, Allah akan mengirimkan api yang
akan membakar kuburannya hingga hari kiamat”.

⎛َνَ⊂ ِΕَ⇑°َϖِϕ⇔ْ↓ َ⇒ْυَ⎜ َ◊ْ™ُΡَςْΛُ⎜ َσْϖِ⇑°ﱠπﱠρ⇔↓ ﱠ◊ِ↓
78
ِ≥ َ⎯َΡِϕْ⇔↓ ِ≥َℵْυُℜ

“Orang yang suka mengadu domba, nanti akan
dibangkitkan dan digiring di padang mahsyar de-
ngan wajah seperti kera”.

َ◊ْ™ُ⁄°ﱠςَπْ⇔↓َ™ َ◊ْ™ُℑ°ﱠπﱠν⇔↓َ™ َ◊ْ™ُℑ°ﱠπَ©ْ⇔َ↓
ْθُ〈ُΡُςْΛَ⎜َ∆ْϖَ∈ْ⇔↓ ُ⁄↓ﱠΡَΧْ⇔↓ َ◊ْυُ∠°َΧْ⇔َ↓ ِΕَπْϖِπﱠρ⇔°±ِ
ِ″َζِλ⇔ْ↓ ِ®ْυُ÷ُ™ ْِ ُã↓

“Orang-orang yang suka mengumpat, mencela,
mengadu domba dan mencari aib orang lain,
nanti ia akan digiring di padang mahsyar dengan
wajah seperti anjing”.


8. Menghina atau Mencemooh

Menghina atau mencemooh orang lain dengan
menganggapnya kecil dan enteng, baik yang di-
tunjukkan dengan ucapan maupun melalui tin-
dakan isyarat, adalah tindakan yang sangat di-
benci dan dimurkai Allah SWT.

Firman Allah SWT. :
79
ٍ⇒ْυَ⋅ ْσِ⇑ ٌ⇒ْυَ⋅ْΡَΝْΤَ⎜َ⎨↓ْυُρَ⇑↓َσْ⎜ِΘﱠ⇔↓°َ©ﱡ⎜َ ƒَ⎜
ْθُ©ْρِّ⇑↓ًΡْϖَ…↓υُ⇓ ْυُλﱠ⎜ ْ◊َ↓ ⎛Τَ⊂

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu
kaum menghina/mencemooh kaum yang lain.
(Karena) boleh jadi mereka (yang dihina/dicemo-
oh) itu lebih baik daripada mereka (yang meng-
hina/mencemooh)” (QS. Al-Hujurat ayat 11).

Ingatlah, seseorang yang suka menghina atau
mencemooh orang lain, suatu saat dia juga akan
dihina dan dicemooh oleh orang lain, bahkan
nanti di akhirat dia akan dihinakan dan diperma-
lukan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW. bersabda :

ْθِ〈ِΠَ≡َ⎨ِ ُΜَΦْηُ⎜ ℘ِ°ﱠρ⇔°±ِ َσْϖِ←ِΣْ©َΦْΤُπْ⇔↓ ﱠ◊ِ↓
,ﱠθُνَ〈 : ْθُ©َ⇔ ُ⇐°َϕُϖَ∏ ِΕﱠρَϑْ⇔↓ َσِ⇑ ٌ″°َ±
َκِνْ∠ُ↓ َ⁄°َ÷↓َ↵ِ°َ∏ ِτِّπَ∠َ™ ِτ±ِْ Ρُλ±ِ ُ→ِϑَϖَ∏ ﱠθُνَ〈
َµ⇔ِ↓َΘَ∧ُ⇐↓َℑَ⎜°َπَ∏ ُτَ⇓ْ™ُ⎯ ُ″°َΧْ⇔↓

80

“Sesungguhnya orang yang suka menghina atau
mencemooh orang lain, akan dibukakan pintu
surga baginya. Maka dipanggillah ia (oleh peng-
huni surga itu), “kemari!”. Lalu dia datang de-
ngan suka cita namun penuh kebingungan. Tat-
kala sudah dekat, pintu sorgapun ditutup. Orang
lain bisa masuk, sedangkan dia tidak. Demikian
seterusnya” (HR. Abu Dunya dari Hasan Basri).


9. Berkata Kotor, Jorok atau Jijik

Meskipun tidak sampai ke batas haram, ucapan
kotor, jorok atau jijik tentu saja membuat risih
orang lain yang mendengarnya. Bagi yang me-
ngerti sopan santun, ia akan selalu menjaga di-
rinya dari perkataan yang kotor, jorok dan jijik
tersebut. Kalaupun misalnya, ia harus mengata-
kan juga, tentu ia ungkapkan dengan kata kias-
an, agar orang lain yang mendengarnya tidak
merasa risih. Misalnya, “Maaf, permisi saya mau
ke kamar kecil / WC”. “Saya mau buang hajat”.
”Kemaluan laki-laki”, “Percampuran suami isteri”
dan sebagainya.
Allah SWT. sendiri dalam beberapa ayat Al-Qur-
án memberikan ungkapan yang sopan terhadap
sesuatu yang dianggap kotor, jorok dan jijik.

Firman Allah SWT. :

81
ْθُλَ∂ْΡَ≡↓ْυُ×ْ ♦َ∏ ْθُλﱠ⇔ ٌ•ْΡَ≡ ْθُ∧ُ♥ƒَΤِ⇓
ْθُΦْΒِ⊗ ⎛ﱠ™⇓َ↓

“Isterimu adalah (ibarat) tanah tempat kamu
bercocok tanam. Maka garaplah tanah tempat
kamu bercocok tanam tersebut dengan cara apa
saja yang kamu sukai dan kamu kehendaki”
(QS. Al-Baqarah ayat 223).

ِΠِϑْΤَπْ⇔↓ ِ َ◊ْυُηِ∧°َ⊂ ْθُΦْ⇓َ↓َ™ ﱠσُ〈ْ™ُΡِ⊗°َΧُ×َ⎨َ™

“Janganlah kamu mencampurinya (isteri-isteri
kamu) sewaktu kamu ber i’tikaf dalam masjid”
(QS. Al-Baqarah ayat 187).

Perkataan kotor, jorok dan jijik apabila diucapkan
secara logas atau apa adanya bisa memalukan
diri sendiri dan orang lain yang mendengarnya.
Karena dari perkataan tersebut orang dapat me-
nilai sejauh mana tingkat sopan santun dan ke-
pribadian seseorang.


10. Menyela Pembicaraan Orang Lain

Menyela atau memotong pembicaraan orang lain
yang sedang berbicara dengan menunjukkan
82
secara langsung cacat cela pembicaraan terse-
but, baik yang berkaitan dengan redaksi pembi-
caraan atau penggunaan bahasa, cara penyam-
paiannya maupun isi pembicaraan tersebut, de-
ngan tujuan untuk merendahkan, menghina atau
mencemooh si pembicara agar tidak mendapat
perhatian dan simpati pendengarnya, kemudian
perhatian dan simpati tersebut dia berharap
akan beralih kepadanya, karena dia merasa ke-
mampuannya melebihi daripada si pembicara
tersebut, merupakan perbuatan yang tidak terpu-
ji dan dilarang oleh agama. Lain halnya kalau
menyela atau memotong pembicaraan orang lain
tersebut dimaksudkan untuk saran perbaikan,
untuk melengkapi atau untuk mendukung, maka
hal ini tentu diperbolehkan, dengan catatan se-
belum berbicara terlebih dahulu kita meminta izin
kepada yang bersangkutan dan usahakan kali-
mat-kalimat yang diungkapkan sebaik dan se-
halus mungkin, agar tidak menimbulkan salah
paham atau salah persepsi.


11. Bergabung Dalam Majelis Maksiat

Jika kita ikut bergabung dalam majelis maksiat,
terlepas apakah kita ikut bicara memberikan ma-
sukan maupun tidak, kita juga ikut berdosa.
Rasulullah SAW. bersabda :

83
ْθُ〈ُΡَΗْ∧َ↓ ِΕَ⇑°َϖِϕْ⇔↓ َ⇒ْυَ⎜°َ⎜°َχَ…℘ِ°ﱠρ⇔↓ ُθَφْ⊂َ↓
ِοِβ°َΧْ⇔↓ ِ °ً∪ْυَ≡

“Orang yang paling besar kesalahannya pada
hari kiamat adalah orang yang paling sering ber-
gabung dalam majelis/pembicaraan yang batal
(maksiat)” (HR. Thabrani dari Ibnu Mas’ud).

Jika tergabungkan anda ke dalam majelis mak-
siat dengan maksud amar ma’ruf nahi munkar
dengan cara berda’wah bil hikmah, maka pola,
cara atau strategi apapun yang anda pasang
dan lakukan, semuanya itu bukanlah dosa, tapi
malah menjadi pahala, asal anda tidak larut atau
terpengaruh oleh perbuatan yang mereka laku-
kan.


12. Dua Lisan

Dua lisan, adalah kebiasaan perkataan yang di-
lakukan oleh seseorang terhadap dua orang
yang berselisih dengan perkataan yang berbeda
atau bertolak belakang antara satu dengan yang
lainnya. Kepada si A dia berkata ini, sedangkan
kepada si B dia berkata itu. Dalam istilah Banjar,
orang yang berlisan dua ini disebut “anjur atar”
84

atau “Di sana lain, di sini lain”. Kepada si A dia
berkata ya, tapi kepada si B ia berkata tidak.
Kepada si A dia kemukakan ucapan-ucapan
yang menyenangkan dengan menjelek-jelekkan
si B, seakan-akan dia memihak si A, demikian
juga dengan si B, dia ungkapkan kejelekan si A,
seolah-olah ia mendukung si B. Tindakan ini dia
lakukan biasanya adalah untuk mengadu dom-
ba.
Ingatlah peringatan Rasulullah SAW. :

ِΕَ⇑°َϖِϕْ⇔↓ َ⇒ْυَ⎜ ِã↓ ِ⎯°َΧِ⊂ِّΡَ⊗ ْσِ⇑ َ◊ْ™ُΠِϑَ×
ٍΙْ⎜ِΠَΛ±ِ ِ⁄َ⎨ُΑ〈 ْ⎛ِ×ْ♦َ⎜ ْ∑ِΘﱠ⇔↓ ِσْϖَ©ْ÷َυْ⇔↓↓َ↵
ٍΙْ⎜ِΠَΛ±ِ ِ⁄َ⎨ُΑ〈َ™

“Kamu akan menemukan di hari kiamat nanti
hamba Allah yang paling buruk, yaitu orang yang
bermuka dua, yakni orang yang suka menda-
tangi satu golongan dengan suatu cerita dan
mendatangi golongan lainnya dengan cerita lain”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Orang yang berlisan dua ini, jika suatu saat nan-
ti diketahui orang, maka dia tidak akan dihirau-
kan lagi, perkataannya tidak akan didengar dan
dipercaya lagi. Bahkan kemungkinan besar dia
85
akan dimusuhi banyak orang.


13. Berbicara Kasar

Berbicara kasar jika dilakukan bukan pada tem-
patnya, maka hukumnya haram, karena etika
Islam mengajarkan kepada kita agar dapat me-
ngatur lisan dengan memilih kata-kata dan ba-
hasa yang halus dan menunjukkan gaya baha-
sa dan mimik muka yang simpatik dan dapat
membangun rasa senang orang lain.
Berkata kasar boleh-boleh saja, jika misalnya
kita berhadapan dengan berbagai kekufuran,
kedzaliman dan pelecehan agama, sepanjang
hal itu sangat prinsip dan dapat membahayakan
ummat. Itupun kita lakukan sesekali saja, tidak
terus menerus, karena bagaimanapun juga
konteks da’wah tetap mengharuskan adanya bil
hikmah wal mauidzatun hasanah.
Firman Allah SWT. :

َσْϖِϕِηρُπْ⇔↓َ™ َℵ°ﱠηُλْ⇔↓ِΠِ〈°َ÷ ﱡ⎡Χﱠِρ⇔↓°َ©ﱡ⎜ƒَ™َ⎜
ْθِ©ْϖَνَ⊂ ْγُνْ∠↓َ™

“Hai Nabi, berjihadlah (untuk melawan) orang-
orang kafir dan munafik, bersikap keras (kasar)
lah kepada mereka” (QS. Al-Fath ayat 29).
86
ُ⁄∞ﱠΠِ⊗َ↓ τَ∈َ⇑ َσْ⎜ِΘﱠ⇔↓َ™ ِã↓ ُ⇐ْυُℜﱠℵ ٌΠﱠπَΛُ⇑
ْθُ©َρْϖَ± ُ⁄°َπَ≡ُℵ ℵِ°ﱠηُλْ⇔↓ ⎛َνَ⊂

“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-
orang (mu’min) yang bersama dengan dia ada-
lah keras kepada orang-orang kafir, tetapi ber-
kasih sayang kepada sesama orang mu’min”
(QS. Al-Fath ayat 29).


14. Sumpah Palsu

Sumpah palsu selain hukumnya haram, perbu-
atan ini juga termasuk dosa besar.
Rasulullah bersabda :

ِσْ⎜َΠ⇔ِ↓َυْ⇔↓ ُ¬ْυُϕُ⊂َ™ ِã°±ِ ُ∨↓َΡْ⊗ِ⎨ْ↓َ : ُΡِ←°َΧَλْ⇔َ↓
ُ℘ْυُπَηْ⇔↓ ُσْϖِπَϖْ⇔↓َ™ Υِ™ْηﱠρ⇔↓ ُοْΦَ⋅َ™

“Yang termasuk dosa besar adalah musyrik ke-
pada Allah, menyakiti kedua orangtua, membu-
nuh jiwa (bukan haknya) dan sumpah palsu”
(HR. Bukhari dari Abdullah bin Umar).


87
15. Berbisik-bisik

Berbisik-bisik adalah perbuatan yang haram di-
lakukan, terutama jika ada orang ketiga, karena
perbuatan ini dapat menimbulkan perasaan su’
udzan (buruk sangka) yang bisa berkembang
menjadi suatu permusuhan.
Rasulullah SAW. bersabda :

ِΡِ…⎨ْ↓َ ◊ْ™ُ⎯ ◊ِ°َρْ∂ِ↓ ُ≠°َρَΦَ⎜َζَ∏ ًΕَ∂َζَ∂ْθُΦْρُ∧↓َ↵ِ↓

“Jika kamu sedang bertiga, maka janganlah
kamu berbisik-bisik (dengan yang satu) dan
membiarkan yang lainnya” (HR. Bukhari-Mus-
lim).


Demikianlah beberapa bahaya lisan yang
perlu kita waspadai agar kehidupan kita tidak terje-
bak oleh tajamnya lisan kita yang pada gilirannya
dapat menggiring kita ke penghidupan yang penuh
sengsara dan nista.

Marilah kita jaga, kita pelihara dan kita ken-
dalikan lisan kita agar berfungsi positif dan menda-
pat ridha dari Allah SWT.

Mudah-mudahan ibadah puasa yang kita ja-
lankan selama bulan Ramadhan ini akan dapat
88
melatih diri kita masing-masing untuk selalu men-
jaga lisan dan mengendalikannya. Sebab, orang
yang berpuasa itu tidak saja mampu menahan diri
dari makan dan minum, tetapi berpuasa itu juga
hendaknya mampu menahan diri dari perkataan
yang sia-sia dan tidak sopan.

Sabda Rasulullah SAW. :

ُ⇒°َϖِّΞ⇔↓°َπّ ّ ﱠ⇓ِ↓ ِ″ْΡﱡς⇔↓َ™ ِοْ∧َ⎨ْ↓ َσِ⇑ ُ⇒°َϖِّΞ⇔↓ َΥْϖَ⇔
ِΙَ∏ﱠΡ⇔↓َ™ ِυْ®ﱠν⇔↓ َσِ⇑

“Puasa itu bukan saja menahan diri dari makan dan
minum, tetapi sesungguhnya puasa juga menahan
diri dari perkataan sia-sia dan perkataan tidak so-
pan”.

ْθُ∧ِΠَ≡َ↓ ِ⇒ْυَ∅ ُ⇒ْυَ⎜ َ◊°َ∧↓َ↵ِ°َ∏ ٌΕﱠρُ÷ ُ⇒°َϖِّΞ⇔َ↓
ٌΠَ≡َ↓ ُτﱠ±°َℜ ْ◊ِ°َ∏ ْ∆َΝْΤَ⎜َ⎨ﱠ™ٍΘِΒَ⇑ْυَ⎜ ْΙَ∏ْΡَ⎜َζَ∏
ٌθِ←°َ∅ْ⎡ِّ⇓ِ↓ ْοُϕَϖْνَ∏ ُτَνَ×°َ⋅ْ™َ↓

“Puasa itu perisai. Maka apabila salah seorang ka-
mu berpuasa, maka janganlah ia menuturkan kata-
kata keji, janganlah pula menyebarluaskan kata-
89
kata keji tersebut. Dan apabila seseorang sedang
memaki-makinya atau melakukan pukulan padanya,
maka (janganlah kamu balas), tapi katakanlah, saya
sedang berpuasa” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Sungguh suatu kerugian yang besar dan sa-
ngat disayangkan, apabila ibadah puasa yang kita
kerjakan, dengan menahan segala penderitaan la-
par dan dahaga serta menahan diri dari hal-hal lain-
nya yang dapat membatalkan atau mengurangi nilai
puasa, tetapi malah ternoda nilainya, bahkan mung-
kin akan menjadi sia-sia, dikarenakan lantaran u-
capan kita yang kotor, lantaran lidah kita yang ku-
rang terkontrol. Oleh karena itu, marilah kita jaga li-
dah kita dari perkataan-perkataan yang tidak dibe-
narkan oleh syara’ selama kita menjalankan ibadah
puasa di bulan Ramadhan ini, dan kita berharap ke-
pada Allah SWT, semoga ibadah puasa kita tahun
ini benar-benar menjadi ibadah yang berbeda dari
tahun-tahun sebelumnya, karena kita jalankan de-
ngan penuh kesungguhan dan semata-mata hanya
mengharapkan ridha dan maghfirah dari Allah SWT.



sskss


90











M ME EN NA AH HA AN N D DI IR RI I D DA AR RI I
P PA AN ND DA AN NG GA AN N M MA AT TA A



ata merupakan jendela hati yang
dapat mengirimkan kesan seca-
ra langsung ke otak, kemudian
diteruskan ke seluruh anggota tubuh.

Nabi Musa a.s ketika diperintahkan oleh Al-
lah untuk melihat dan memperhatikan sebuah gu-
nung yang dijadikan-Nya obyek untuk menampak-
kan diri, maka seketika gunung itu hancur lebur ka-
rena tidak sanggup melihat sosok Allah, Nabi Musa-
pun langsung pingsan tak sadarkan diri, karena

91
tidak kuat mengendalikan emosi seketika menyaksi-
kan betapa kebesaran Allah SWT.

Demikian juga, ketika Nabiullah Muhammad
SAW. melihat malaikat Jibril di goa Hira’ dalam ben-
tuknya yang asli pada saat wahyu pertama turun,
sekujur tubuh beliau menggigil seperti orang kedi-
nginan, karena apa yang beliau lihat langsung me-
nembus hatinya dengan tikamannya yang begitu
dahsyat dan begitu dalam, sehingga membuat raga
beliau seolah tak mampu menahannya.

Begitulah, kesan yang ditimbulkan oleh pan-
dangan mata dapat langsung bereaksi ke hati se-
hingga hati menjadi semakin terang dari cahaya Ila-
hi. Sebaliknya, dari pandangan mata pula, dapat
menyebabkan hati semakin gelap dari nur Ilahi. Hal
ini tergantung obyek yang dipandangi dan sejauh-
mana sikap yang ditunjukkan oleh orang yang me-
mandangi serta tingkat kualitas iman yang ia miliki.

Jika obyek yang dipandangi adalah obyek
yang dibenarkan atau diperbolehkan oleh syara’,
sementara yang memandangi benar-benar memiliki
tingkat keimanan yang kuat, maka tentu hasil pan-
dangnya akan membuahkan manfaat yang besar,
baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.
Misalnya seseorang yang sedang memandangi se-
buah obyek keindahan, maka ketika pandangannya
berpadu dengan perasaan hatinya yang diliputi oleh
92

M
6
iman yang mendalam, maka seketika itu ia akan
memuji Allah dengan mengagungkan kebesaran-
Nya. Ia sadar bahwa Allah telah menciptakan sega-
la keindahan yang ada. Ia tahu bahwa segala kein-
dahan itu adalah kepunyaan Allah dan merupakan
perwujudan dari sifat-Nya yang Maha Indah (al-
jamaal). Dari kesadaran yang mendalam inilah akan
lahir tindakan-tindakan yang santun, penuh cinta
dan kasih yang tulus kepada sesama.

Sebaliknya, jika yang dipandangi adalah ob-
yek yang tidak dibenarkan oleh syara’ atau yang di-
larang oleh agama, sementara yang memandangi
tidak memiliki pondasi iman yang kuat, maka hasil
pandangnya cenderung akan mendatangkan mu-
dharat, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.
Misalnya ketika seseorang memandang gadis rema-
ja yang cantik jelita yang bukan muhrimnya, hatinya
tiba-tiba bergetar menyentuh naluri laki-lakinya hing-
ga membangkitkan nafsu syahwatnya, yang pada
gilirannya nanti tidak menutup kemungkinan terjadi-
nya tindakan perzinahan.

Menurut hukum Islam, memandang itu ada ti-
ga macam, yaitu :

1. Memandang sesuatu yang bernilai ibadah;
2. Memandang sesuatu yang dibolehkan dan ;
3. Memandang sesuatu yang diharamkan.

93
Memandang sesuatu yang bernilai ibadah
adalah memandang suatu obyek yang dapat meng-
gerakkan hati kepada ketaatan terhadap Allah dan
Rasul-Nya, sebagai contoh antara lain memandang
Baitul Haram di Mekkah, sebagaimana sabda Ra-
sulullah SAW. :

ِ⇒↓َΡَΛْ⇔↓ ِτِΦْϖَ± ِ≠°ﱠϑُ≡ ⎛νَ⊂ ٍ⇒ُυَ⎜ ﱠοُ∧ ُã↓ ُ⇐ِّΣَρُ⎜
َσْϖِ∈َ±ْℵَ↓َ™ َσْϖِηِ←°ﱠχνِ⇔ َσْϖِّΦِℜ ٍΕَπْ≡َℵ َΕَ←°ِ⇑َ™ َσْ⎜ِΡْςِ⊂
َσْ⎜ِΡِε°ﱠρνِ⇔ َσْ⎜ِΡْςِ⊂َ™ َσْϖِّνَΞُπْνِ⇔

“Setiap hari Allah menurunkan seratus dua puluh
rahmat kepada para pengunjung rumah suci-Nya.
Enam puluh untuk yang thawaf, empat puluh untuk
yang shalat dan dua puluh untuk yang melihat” (HR.
Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas).

Pandangan lainnya yang bernilai ibadah ada-
lah memandang dengan kecintaan dan kasih sa-
yang dari suami terhadap isterinya atau sebaliknya,
sebagaimana sabda Rasulullah SAW. :

ِτِ×َ↓َΡْ⇑↓⎛َ⇔♠ِ َΡَφَ⇓↓َ↵♠ِ َοُ÷ﱠΡ⇔↓ ﱠ◊ِ↓ :bﱡ⎡Χَِّρ⇔↓ َ⇐°َ⋅


94
↓َ↵ِ ↔َ∏ ٍΕَπْ≡َℵ َ≥َΡْφَ⇓°َπِ©ْϖَ⇔♠ِ ُã↓َΡَφَ⇓ ِτْϖَ⇔♠ِ ْ∝َΡَφَ⇓َ™
ِ⇐َζَ…ْσِ⇑°َπُ©ُ± ْυُ⇓ ُ↵ ْΓَχَ⋅°َΤَ×°َ©ّ ِّηَλ±ِ َΘَ…♣َ
°َπِ©±ِ°َ∅♣َ

“Nabi SAW. bersabda : Sesungguhnya seorang su-
ami melihat isterinya (dengan penuh kasih sayang)
dan isterinya pun melihat suaminya (dengan penuh
kasih sayang pula), maka Allah melihat keduanya
dengan pandangan kasih sayang. Dan bila si suami
memegang telapak tangan isterinya, maka dosa-
dosa mereka keluar dari celah jari-jari tangan mere-
ka” (HR. Rafi’i dari Abu Sa’id).


Demikian juga pandangan cinta dan kasih sa-
yang yang ditunjukkan orangtua terhadap anaknya,
dapat bernilai ibadah, karena anak merupakan ba-
gian dari jiwa dan kehidupan kita, juga merupakan
karunia Allah yang tiada taranya, disamping sebagai
amanah yang diberikan Allah kepada kita, maka tat-
kala seseorang memandang anaknya, timbul rasa
syukur yang mendalam ke khadirat Allah SWT. Bi-
bir kita terucap dan hati kita berkata betapa kebe-
saran dan rahman rahimnya Allah SWT.

Cobalah kita lihat bagaimana contoh yang
95
diberikan Rasulullah ketika mengasuh dan mendi-
dik anak-anak beliau. “Suatu ketika Siti Fatimah da-
tang menemui ayahnya, Rasulullah SAW. Tatkala
Siti Fatimah tiba di rumah beliau, Rasulullah lang-
sung berdiri, memandang, memberikan senyuman,
menyambut dan mencium puterinya ini dengan pe-
nuh rasa kasih sayang, lalu beliau persilakan duduk
bersebelahan dengan beliau. Demikian juga yang
dilakukan oleh Siti Fatimah tatkala ayahnya, Rasul-
ullah mengunjunginya”.

Pandangan lainnya yang termasuk ibadah
adalah memandang anak yatim dengan penuh kasih
sayang dan rasa belas kasihan, karena anak yatim
mempunyai kedudukan istimewa di sisi Allah dan
Rasul-nya. Memandang fakir miskin dengan penuh
rasa prihatin. Memandang penuh persaudaraan dan
kekeluargaan kepada para tetangga, teman seja-
wat, ibnu sabil dan para hamba sahaya (para pem-
bantu/pekerja kelas buruh).

Firman Allah SWT. :

⎛πΦَϖْ⇔↓َ™ ⎛±ْΡُϕْ⇔↓ ∑ِΘ±ِ ﱠ™ °ً⇓°َΤْ≡ِ↓ ِσْ⎜َΠِ⇔↓َυْ⇔ِ°±َ™
ِ∆ُρُϑْ⇔↓ℵِ°َϑْ⇔↓َ™ ⎛±ْΡُϕْ⇔↓∑ ِ↵ℵِ°َϑْ⇔↓َ™ ِσْϖِλΤَπْ⇔↓َ™
ْΓَλَνَ⇑°َ⇑َ™ ِοْϖΧَِّΤ⇔↓ ِσْ±↓َ™ ِ∆ْρَϑْ⇔°±ِ ِ∆ِ≡°ﱠΞ⇔↓َ™
96
ْθُλُ⇓°َπْ⎜َ↓

“Dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, karib
kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, te-
tangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman
sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu” (QS. An-
Nisa ayat 36).

Pandangan yang dibolehkan (mubah) adalah
memandang apa saja yang dibolehkan oleh syara’
atau memandang sesuatu yang tidak diharamkan.
Misalnya : memandang alam sekitar, memandang
sesama jenis yang menutup aurat dan tidak menim-
bulkan syahwat, memandang sesama muhrim atau
bukan muhrim yang menutup aurat dan tidak me-
nimbulkan syahwat.

Adapun pandangan yang diharamkan oleh
syara’ antara lain memandang wanita atau pria de-
ngan syahwat atau yang dapat menimbulkan syah-
wat, baik wanita atau pria muhrim maupun wanita
atau pria yang bukan muhrim.

Jadi, pada intinya pandangan yang diboleh-
kan atau yang diharamkan oleh syara’ dalam per-
gaulan antara pria dan wanita, baik antar sesama
jenis (wanita dengan wanita atau pria dengan pria)
maupun dengan lawan jenis (pria dengan wanita),
terletak pada menimbulkan syahwat atau tidak. Jika
97
pandangan tersebut dapat menimbulkan syahwat,
maka haram hukumnya. Tetapi jika pandangan ter-
sebut tidak menimbulkan syahwat, maka mubah hu-
kumnya, atau masih dalam batas kewajaran (diper-
bolehkan).

Dalam hubungan ini, kenapa Rasulullah da-
lam sebuah hadits, beliau mengatakan :

⎛⇔ْ™ُ⎨ْ↓ َµَ⇔°َπﱠ⇓ِ°َ∏ َ≥َΡْφﱠρ⇔↓ َ≥َΡْφﱠρ⇔↓ ِ∉ΧِْΦُ×َ⎨ ﱡ⎡ِνَ⊂°َ⎜
ُ≥َΡِ…⎨ْ↓ َµَ⇔ْΓَΤْϖَ⇔َ™

“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti satu pan-
dangan dengan pandangan (lainnya), sebab yang
pertama itu bagimu, tapi yang lainnya bukan bagi-
mu” (HR. At-Turmudzi dari Ali ra.).

Maksud hadits ini adalah, bahwa apabila kita
sudah terlanjur memandang wanita satu kali, maka
janganlah diikuti dengan yang kedua, ketiga dan se-
terusnya, sebab memandang wanita berlama-lama
dapat menimbulkan nafsu birahi. Apabila nafsu bira-
hi muncul dan menguasai syahwat seseorang, ma-
ka bahaya perzinahan akan terjadi. Dan apabila per-
zinahan sudah ada dan terjadi di mana-mana, maka
bobroklah akhlak dan moral manusia. Hal inilah se-
benarnya yang dikhawatirkan oleh Rasulullah, se-
hingga dengan sedikit keras beliau memerintahkan :
98
َ∨َΡَΞَ± ْ√ِΡْ∅ِ↓

“Palingkanlah pandanganmu”.


Kemudian, Allah SWT. berfirman :

.... ْθِ〈ℵِ°َΞْ±♣َ ْσِ⇑↓ْυﱡΖُ®َ⎜ َσْϖِρِ⇑ْΑُπْνِ⇔ ْοُ⋅
.... ْθِ〈ℵِ°َΞْ±♣َ ْσِ⇑ َσْΖُΖْ®َ⎜ ِ∝°َρِ⇑ْΑُπْνِ⇔ ْοُ⋅َ™

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendak-
lah mereka menahan pandangannya .... Dan kata-
kanlah kepada perermpuan yang beriman, hendak-
lah mereka menahan pandangannya ...” (QS. An-
Nuur ayat 30 dan 31).


Ingatlah sabda Rasulullah SAW. :

ُãُτَρَ∈َ⇔ َΥْϖِνْ±ِ↓ ِ⇒°َ©ِℜ ْσِّ⇑ ٌ⇒ْυُπْΤﱠ⇑ ٌθْ©َℜ ُ≥َΡْφﱠρ⇔َ↓
ﱠοَ÷َ™ ﱠΣَ⊂ ُã↓ ُ®°َ×∞ ِã↓ َσِّ⇑°ً∏ْυَ…°َ©َ∧َΡَ× ْσَπَ∏
ِτِ™Χْνَ⋅ ْِ ُτَ×َ™َζَ≡ُΠِϑﱠ⎜°ً⇓°َπْ⎜♠ِ
99
“Sekilas pandangan mata, adakalanya merupakan
sebuah anak panah yang berbisa diantara panah-
panah iblis yang terkutuk. Maka barangsiapa yang
dapat menahan dirinya dari pandangan seperti itu,
karena rasa takutnya kepada Allah, maka Allah
SWT. akan melimpahkan kepadanya keimanan
yang terasa amat manis dalam hatinya” (HR. Al-
Hakim).

Melalui puasa di bulan Ramadhan, dengan
konsepnya menahan diri, terutama menahan diri
dari pandangan mata yang diharamkan oleh Allah
SWT. insyaAllah dapat membimbing kita agar selalu
berada pada jalan-Nya yang benar. Karena dengan
menahan pandangan dari yang diharamkan Allah,
akan dapat membersihkan hati, sehingga kita dapat
merasakan betapa manisnya iman dan betapa le-
zatnya beribadah kepada Allah SWT.





KKKKK



100










M ME EN NA AH HA AN N D DI IR RI I D DA AR RI I
P PE EN ND DE EN NG GA AR RA AN N



alah satu indera yang sangat penting
yang diberikan Allah SWT. kepada kita
manusia adalah alat pendengaran
atau telinga/kuping.

Sedemikian indah, lengkap dan serasi Allah
menciptakan telinga buat kita. Dia buat telinga kita
berpasangan dan masing-masing mempunyai daun
telinga, sehingga memudahkan kita untuk me-
nangkap dan mendengarkan berbagai berita dan
informasi. Dia lengkapi di dalam telinga kita berupa

101
kelenjar minyak yang kalau dicicipi rasanya pahit.
Kelenjar minyak ini berfungsi sebagai penangkal se-
kaligus pengusir berbagai serangga dan sejenisnya
yang mencoba masuk ke telinga kita. Dengan rasa-
nya yang pahit, semua serangga dan sejenisnya
tentu tidak akan ada yang suka, sehingga kalau toh
terlanjur masuk, maka ia akan segera keluar.

Kemudian, di dalam telinga kita terdapat pula
alat perasa, sehingga jika ada benda-benda asing
yang masuk, telinga kita akan mudah mende-
teksinya.

Dalam proses kejadian manusia, alat dengar
yang bernama telinga ini ternyata lebih duluan
difungsikan oleh Allah SWT.

Berdasarkan hasil penyelidikan yang dila-
kukan oleh Fels Research Institute for The Study of
Human Development, Ohio Amerika Serikat disebut-
kan bahwa dengan mempergunakan alat khusus
yang dapat mencatat gerakan-gerakan bayi di da-
lam kandungan, membuktikan bahwa ternyata bayi
yang ada di dalam kandungan seorang ibu dapat
menerima kesan-kesan dari lingkungan hidupnya.
Di dalam kandungan, sang bayi ternyata memerlu-
kan waktu istirahat, waktu tidur dan berjaga (ba-
ngun). Ia dapat terkejut bila si ibu yang mengan-
dungnya mengalami goncangan fisik maupun men-
tal. Ia bisa bersedih bila ibunya bersedih. Ia merasa
102

S
7
senang dan bahagia, jika kondisi ibunya dalam kea-
daan senang dan bahagia. Berdasarkan penyeli-
dikan Badan tersebut, dari hasil eksperimen yang
telah dilakukan, dimana seorang ibu yang sedang
hamil enam bulan didekatkan pada bel pintu, kemu-
dian bel pintu dibunyikan, ternyata beberapa detik
setelah bel pintu tersebut berdering, bayi yang ada
di dalam kandungan sang ibu mulai bergerak-ge-
rak, dan ketika denyut jantung sang bayi dihubung-
kan dengan bunyi suara yang diatur dan diteliti
secara cermat dengan menggunakan alat khusus
yang disebut oscillator dan sebuah mikropon super
peka yang tentunya juga sudah dipersiapkan secara
khusus, hasilnya memperlihatkan ternyata ketika se-
buah suara diperdengarkan, dari suara yang pelan
hingga suara yang nyaring, dari nada yang rendah
sampai nada yang paling tinggi, detak jantung sang
bayi ikut berubah-ubah frekuensinya, menyesuaikan
frekuensi suara tersebut, dari angka 38 hingga men-
capai 144 denyutan per detik.

Prof. Drs. Brajanagara dalam bukunya Teori
Pendidikan dan Dr. Paryana Suryadipura dalam
bukunya Alam Pikiran, membenarkan adanya pe-
ngaruh emosi ibu yang sedang hamil dengan janin
yang sedang dikandungnya dan pengaruh suara
atau bunyi-bunyian terhadap janin yang ada dalam
kandungan. Suara-suara yang keras yang terdengar
tiba-tiba bisa mempengaruhi sang bayi yang ada
dalam kandungan, karena bayi itu amat peka
103
terhadap suara, dan jantung si bayi bisa berdetak
cepat, bahkan terhadap suara-suara tertentu bisa
merangsang dia untuk melakukan gerakan pada
anggota tubuhnya. Selanjutnya, menurut kedua pa-
kar tersebut dikatakan bahwa, boleh jadi karena pe-
ngaruh gangguan emosi yang bertubi-tubi dan su-
ara-suara keras yang terus menerus selama masa
kehamilan, dapat mengakibatkan adanya kelainan
mental dan fisik terhadap anak tersebut ketika
dilahirkan.

Dalam hubungan ini maka tepat sekali apa
yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. dimana be-
berapa saat setelah lahirnya seorang bayi (biasanya
setelah dibersihkan oleh Ibu Bidan) Rasulullah
menganjurkan agar mengadzankannya ke telinga
sebelah kanan dan mengiqamahkan ke telinga se-
belah kiri. Hal ini dimaksudkan agar yang mula per-
tama di dengar oleh sang bayi ketika ia memulai
hidup di dunia ini adalah Kalimatan Thayyibah
(kalimat-kalimat yang baik) yakni asma Allah dan
keMahabesaran-Nya.

Walaupun hadits tentang mengadzankan ba-
yi yang baru lahir tersebut tidak terdapat keterangan
dari imam yang empat, namun para ulama ahli fiqih
memandang perlu mengamalkan kebiasaan yang
baik tersebut, dengan bersandar pada hadits Rasul-
ullah (walaupun sebagian ulama menilai hadits ini
lemah) sebagai berikut :
104
ْ‘ِ َ◊ ﱠ⇓َ↓ ِ B ِã↓ ُ⇐ْυُℜَℵ ُΓْ⎜َ↓َℵ :َ⇐°َ⋅ ٍ∉ِ∏↓َℵ ْσَ⊂
ِ≥َζﱠΞ⇔°±ُِΕَπِβ°َ∏ ُτْ×َΠَ⇔َ™ َσْϖِ≡ِσْϖَΤُΛْ⇔↓ ◊ُِ⇓ُ↓

“Dari Abu Rafi’ ia berkata : Saya pernah melihat
Rasulullah SAW. membaca adzan (seperti adzan
shalat) pada telinganya Husain tatkala dilahirkan
oleh Fatimah” (HR.Ahmad).

: َ⇐°َ⋅ ٍ∆ِ⇔°َβْ⎡±َِ↓ ِσْ± ِّ⎛ِνَ⊂ ِσْ± ِσْϖَΤُΛْ⇔↓ σَِ⊂
ْِ َ◊ﱠ ⇓ َ°َ∏ ٌ⎯ْυُ⇔ْυَ⇑ ُτَ⇔َΠِ⇔ُ™ ْσَ⇑ B ﱡ⎡Χِﱠρ⇔↓ َ⇐°َ⋅
ُ®ﱡΡُΖَ× ْθَ⇔ ∑َΡْΤُϖْ⇔↓ ِ َ⇒°َ⋅َ↓ َ™ ⎛َρْπُϖْ⇔↓ ِτِ⇓ ُ⇓ُ↓
◊ِ°َϖْΧِّΞ⇔↓ ﱡ⇒ُ↓

“Dari Husain bin Ali bin Abi Thalib, ia berkata : Nabi
SAW. pernah bersabda : Barangsiapa mempunyai
anak yang baru dilahirkan, kemudian ia bacakan
adzan pada telinganya yang kanan, dan iqamah pa-
da yang kiri, niscaya tidak bisa diganggu oleh Um-
mus Shibyan (nama Jin isteri)” (HR. Abu Ya’la).
D ِσْϖَΤُΛْ⇔↓َ™ ِσَΤَΛ⇔ْ↓ ◊ِ ُ⇓ُ↓ ْِ َ◊↓ ﱠ⇓َ↓
105
“Beliau (Nabi SAW.) itu, membaca adzan pada teli-
nga Hasan dan Husain ra.” (HR. Abu Nu’aim dan
Thabaranie).

Disamping yang pertama difungsikan, telinga
juga ternyata yang lebih akhir (yang belakangan)
dicabut oleh Allah SWT.

Tatkala menjelang ajal, dimana seluruh pan-
caindera manusia sudah tidak berfungsi lagi, maka
pada detik-detik terakhir kehidupannya, Rasulullah
menganjurkan agar segera didengungkan ke teli-
nganya kalimat “Laa Ilaaha Illa Allah”. Hal ini di-
maksudkan agar kalimat terakhir yang di dengarnya
dan kalau mungkin yang diucapkannya, adalah ka-
limat keEsaan Allah SWT.

Sabda Rasulullah SAW. :

ُã↓ﱠ⎨ِ↓ َτ™⇔ِ↓⎢َ ْθُ∧°َ×ْυَ⇑↓ْυُρِّϕَ⇔

“Talqinkanlah (kawan-kawanmu) yang menjelang
maut, dengan kalimat : “Laa ilaaha illa Allah” (HR.
Muslim dan empat imam).

Hadits ini dikuatkan oleh suatu riwayat tatkala
paman Nabi yang bernama Abu Thalib sedang
menghadapi sakaratul maut, Rasulullah SAW. ber-
sabda :
106
°َ©±ِ َµَ⇔ﱡ≠°َ≡ُ↓ٌΕَπِνَ∧ ُã↓ﱠ⎨ِ↓َτ™⇔↓ِ⎢َ ْοُ⋅ ِّθَ⊂°َ⎜
ُã↓ﱠ⎨ِ↓َτ⇔↓ِ⎢َ َ⇐ْυُϕﱠ⎜ ْ◊♣َ⎛َ±َ↓َ™ ِã↓َΠْρِ⊂

“Wahai paman (kata Rasulullah), ucapkanlah kali-
mat LAA ILAAHA ILLA ALLAH. Kalimat ini nantinya
akan aku jadikan argumentasi terhadapmu di ha-
dapan Allah. Tetapi Abi Thalib menolak untuk meng-
ucapkan kalimat LAA ILAAHA ILLA ALLAH tersebut”
(HR.Bukhari dan Muslim).

Dua hadits di atas membuktikan bahwa ter-
nyata pada saat detik-detik terakhir kehidupan ma-
nusia, ia masih diberi kesempatan oleh Allah untuk
mendengar. Begitulah kelebihan pancaindera manu-
sia yang bernama telinga ini.

Dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, seba-
gian besar manusia nampaknya lebih suka memilih
mendengar daripada berbicara, sehingga di dalam
forum-forum rapat, diskusi, seminar, bahkan dalam
forum silaturrahmi dan da’wah, orang lebih suka
mendengar daripada berbicara, ini terlihat dimana
ketika dibuka kesempatan dialog atau tanya jawab,
hanya sebagian kecil yang angkat bicara, selebih-
nya hanya menjadi pendengar yang setia.

Ribuan jamaah mengikuti ceramah yang di-
sampaikan oleh seorang Muballigh. Para jamaah
107
tersebut ada yang berasal dari daerah setempat,
ada pula yang datang dari daerah lain. Ada yang
datang dengan berjalan kaki, menaiki kendaraan
roda dua, roda empat dan ada pula yang naik kereta
api, kapal laut bahkan pesawat terbang. Mereka
datang, duduk, mendengar, terkadang diselingi de-
ngan gelak tawa, terkadang menangis mencucurkan
air mata, dan sebagainya. Sekembalinya ke rumah,
pesan-pesan da’wah tersebut terkadang banyak
yang terlupakan, hanya sebagian yang diingat. Be-
gitulah, hanya sekedar mendengarkan tabligh aga-
ma, orang tidak segan-segan mengeluarkan biaya
yang relatif besar.

Mungkin kita masih ingat pada sekitar tahun
70 sampai 80-an, dimana masyarakat kita ketika itu
terbuai oleh budaya dongeng dan sandiwara yang
disajikan lewat radio. Di mana-mana orang pada su-
ka mendengarkan dongeng dan sandiwara radio.
Mulai kalangan anak-anak, remaja hingga orang de-
wasa. Bahkan, dikalangan anak-anak, mereka tidak
akan mau tidur sebelum didongengkan terlebih da-
hulu. Dulu, menurut cerita orang-orang tua, radio
sangat dibutuhkan untuk mendengarkan berita dan
mendengarkan cerita wayang. Sekarang, dongeng
dan sandiwara di radio itu telah berubah menjadi
tayangan sinetron yang disajikan oleh berbagai sta-
sion televisi. Masyarakat sekarang sudah banyak
yang demam sinetron. Baik dongeng atau sandi-
wara di radio maupun cerita sinetron di televisi,
108
substansinya sama, yakni sama-sama mengajak
penikmatnya untuk mendengar.

Inilah budaya yang telah lama menjerat ma-
syarakat kita. Dampaknya memang ada, terutama
terhadap budaya baca dan budaya tulis.

Ibu-ibu kelihatannya lebih suka memperde-
ngarkan musik atau lagu-lagu untuk mengantarkan
anaknya ke pembaringan untuk bobo, ketimbang
membacakan cerita-cerita yang ada di buku atau
menunjukkan gambar-gambar cerita dalam buku ke-
pada anak-anaknya. Bahkan ketika menginjak re-
maja, di sekolahpun mereka masih disuguhi cerita-
cerita para pahlawan yang terkenal oleh Ibu dan Ba-
pak Guru. Mereka lebih banyak dituntut untuk men-
dengar, jarang sekali mereka diarahkan untuk mem-
baca sejarah dan mengambil intisari dan nilai-nilai
moral di dalamnya.

Dikalangan para muballigh, kiyai, ulama dan
guru-guru agama, terutama di Kalimantan Selatan,
dalam kegiatan da’wah mereka, sejak dulu sampai
hari ini, nampaknya sebagian besar masih menggu-
nakan budaya lisan dan budaya dengar. Padahal
Kalimantan Selatan cukup banyak memiliki ulama-
ulama berkualitas dan bertarap nasional bahkan in-
ternasional, tetapi karya tulis mereka tergolong ma-
sih langka. Hanya ada beberapa ulama besar yang
sempat menulis dan punya kitab karangan sendiri,
109
seperti Syekh Muhammad Nafis, pengarang kitab
“Durun Nafis”, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
dengan karya terbesar beliau “Sabilal Muhtadin”
yang menjadi rujukan fiqih bagi masyarakat Islam,
tidak saja di Kalimantan Selatan, tetapi juga di
daerah-daerah lain di Indonesia, bahkan juga di
Asia Tenggara seperti di Malaysia, Berunei, Singa-
pura dan Thailan Selatan, juga beberapa ulama la-
innya yang sebenarnya mereka pernah menulis, na-
mun kebanyakannya masih bersifat lokal dan peng-
gunaannyapun hanya terbatas untuk kalangan sen-
diri, terutama diperuntukkan kepada para pengikut
pengajian dan murid-murid atau para santri dari ula-
ma tersebut, sehingga belum sempat dipublikasikan
secara luas.

Mendengar memang perbuatan yang paling
mudah dan relatif tidak berresiko sepanjang hanya
untuk kepentingan sendiri dan apa yang kita dengar
relatif benar, dalam artian kita tidak salah dengar
dan informasi yang kita dengar juga dapat diper-
tanggungjawabkan, baik secara keilmuan maupun
secara hukum.

Dari segi ekonomi, kalau hanya sekedar
mendengar, relatif tidak memerlukan biaya. Kalau
toh harus mengeluarkan biaya juga, maka jumlah bi-
aya yang dikeluarkan relatif lebih murah dibanding-
kan dengan biaya melihat dan biaya berbicara. Hal
ini tentu tergantung apa yang menjadi subyek dan
110
obyeknya. Misalnya, kita ingin nonton pertunjukkan
musik yang dimainkan group Bimbo di alun-alun.
Kalau kita masuk ke dalam arena pertunjukkan, ma-
ka kita harus bayar dengan membeli tiket masuk
dan kita bisa melihat pertunjukkannya. Tetapi kalau
kita hanya ingin mendengar saja, maka kita tidak
perlu masuk, di luarpun kita sudah bisa mendengar
dan menikmati musiknya secara gratis.

Kesempatan mendengar bagi kita begitu ba-
nyak, begitu luas dan begitu beragam. Dari yang
berskala kecil hingga berskala besar. Dari yang se-
derhana sampai yang sangat penting dan serius.

Selama kita hidup di dunia ini, selama itu pu-
la begitu banyak dan begitu beragam yang sempat
kita dengar. Terkadang kita dengar suara-suara ke-
baikan, terkadang terdengar pula suara-suara ke-
mungkaran dan kejahatan. Telinga kita cukup sulit
memang memilih dan memilah, mana yang harus
kita dengar, mana yang harus kita hindari atau kita
tutup rapat-rapat pendengaran kita. Apalagi kita
hidup di era yang serba modern sekarang ini, de-
ngan teknologi informasi dan komunikasi yang be-
gitu canggih dan relatif bebas lepas ini, maka mem-
filter semua yang kita dengar nampaknya rada-rada
sulit.

Berbagai media audio dan visual semakin
berkembang sekarang ini, sehingga tidak berlebihan
111
kalau kita bilang, jaman sekarang ini adalah jaman
media.

Kemajuan teknologi dewasa ini semakin me-
macu terhadap dampak media itu sendiri menjadi
berjuta-juta kali. Kalau dulu dampak media tidak be-
gitu seberapa, namun sekarang karena ditunjang
oleh kemajuan teknologi, maka sarana media tum-
buh dan berkembang semakin banyak dan beragam
serta semakin mendominasi terhadap aktivitas hi-
dup dan kehidupan manusia. Media sekarang ini su-
dah menjadi senjata ampuh perang urat syaraf da-
lam pergolakan pikiran, politik dan ekonomi, teruta-
ma jika dikelola oleh para ahli media, para propa-
gandis, para spesialis yang memang mahir dan me-
miliki skill yang tinggi dalam pendayagunaan media,
sehingga pada gilirannya nanti, manusia akan men-
jadi sasaran media. Artinya, tidak lagi manusia yang
mengendalikan media, tetapi media yang mengen-
dalikan manusia. Pengaruh ini nampaknya sedikit
demi sedikit sudah dapat kita rasakan.

Jika sarana media dapat menguasai dan me-
ngarahkan perasaan serta pikiran manusia sesuai
dengan kehendaknya, maka tentu sarana media sa-
ngat berpotensi untuk mengarahkan masyarakat ke-
jalan yang baik, yang di ridhai Allah SWT. Jika kon-
disi ini benar-benar terjadi, maka pengaruh media
sangat besar artinya bagi kemajuan ummat dan ke-
majuan suatu bangsa. Tapi sebaliknya, jika sarana
112
media digunakan untuk kemungkaran, kejahatan
dan kesesatan, pengaruhnyapun tidak terbayang-
kan betapa tragisnya.

Di negara yang berpemerintahan sosialisme,
media dianggap efektif dan memiliki peranan pen-
ting dalam mempropagandakan dan mengasah pe-
mahaman masyarakat terhadap paham sosialisme,
sekaligus berusaha mematahkan pikiran dan politik
yang berlawanan dengan prinsip tersebut.

Teori komunisme memandang media tidak
lain hanya digunakan untuk kepentingan politik, ide-
ologi negara dan untuk mengarahkan pendapat
umum sekaligus menyalurkannya melalui metode
dan pengarahan negara.

Suatu ketika, Lenin, seorang tokoh komunis-
me bertanya kepada beberapa orang pengikutnya :
“Menurut kalian, siapa orang yang patut disebut se-
bagai seorang komunis istimewa?”. Ketika para pe-
ngikutnya sedang berdebat adu argumentasi untuk
mencari sosok yang ideal seorang komunis istime-
wa, Lenin kembali menyambung ucapannya : “Keta-
huilah saudara-saudara, seorang komunis istimewa
adalah seseorang yang mahir dan piyawai didalam
memerankan sebuah adegan film berlibel komunis.
Dialah orang yang mengabdikan dirinya untuk par-
tai dan negara, yang pengaruhnya melebihi barisan
seribu orang komunis sejati”.
113
Ternyata ungkapan Lenin ini mereka terje-
mahkan dalam kehidupan sehari-hari dengan men-
dayagunakan peran media didalam mempropagan-
dakan paham komunis terhadap masyarakat.

Di Mesir, ada organisasi seniman yang terdi-
ri dari bintang film yang berpaham komunis. Mereka
memproduksi beberapa buah film yang secara halus
mampu membangkitkan simpati orang terhadap ko-
munisme. Sebagai contoh seperti film “Al-Ushfur”
yang banyak disukai dan ditonton oleh masyarakat
Mesir dan pengaruhnya begitu besar didalam me-
nyebarluaskan paham yang menyesatkan ini.

Di negara Barat, baik di Eropah maupun
Amerika, ditemukan hal yang serupa dalam mengo-
perasikan media. Mereka gunakan media untuk ke-
pentingan pemerintahan bebas, menyanjung seting-
gi tingginya paham demokrasi dan kapitalisme, se-
kaligus menyerang habis-habisan paham Marxisme
baik dari segi ideologinya maupun politiknya.

Media barat melandaskan pikirannya untuk
mengejar kebahagiaan materi dengan segala ra-
gamnya, baik berupa harta, tahta, wanita, wisata
dan sebagainya. Pendeknya, hiburan dan pemuas-
an material merupakan landasan utama strategi me-
dia mereka, sehingga dari hari kehari, tahun ke ta-
hun, mereka semakin terlepas dari berbagai sistem
nilai dan akhlak.
114
Di negara-negara Islam dan di negara-ne-
gara mayoritas Islam, termasuk di Indonesia, seba-
gian besar sarana media lahir pada saat masa pen-
jajahan negara-negara barat, sehingga perkem-
bangan dunia media tersebut sedikit banyaknya di-
pengaruhi oleh paham, pikiran, watak, gaya dan ca-
ra yang pernah dilakukan pada masa penjajahan
tersebut. Hal ini dapat kita lihat dan rasakan bagai-
mana bentuk sajian sebuah radio, bagaimana pe-
nampilan yang ditunjukkan oleh sebuah koran, tab-
loid dan majalah, bagaimana program tayangan
yang kita lihat dan saksikan setiap hari di televisi.
Kalau boleh kita menyimpulkan bahwa media kita
dewasa ini, terutama di televisi sebagian besar ta-
yangannya masih bernuansa ke barat-baratan, wa-
laupun terdapat sebagian tayangan yang bernuansa
Islam, namun prosentasinya relatif kecil.

Kita sadari maupun tidak, sekarang ini semua
lapisan masyarakat beserta kegiatannya ada dalam
genggaman media. Segala apa yang telah dibangun
oleh organisasi masyarakat, organisasi keagamaan,
organisasi politik dan lembaga-lembaga kemasyara-
katan lainnya selama bertahun-tahun untuk membe-
nahi masyarakat dan negara ke arah perbaikan ma-
terial, moral dan akhlak, boleh jadi dapat dihancur-
kan oleh media yang sesat, hanya dalam tempo be-
berapa jam saja. Seorang ulama di masjid, guru/us-
tadz di sekolah, atau seorang da’i di majelis ta’lim,
yang telah bersusah payah membina jamaahnya,
115
membina murid-muridnya, tidak menutup kemung-
kinan akan menjadi kacau balau dan berantakan ka-
rena pengaruh media yang sesat dan menyesatkan
yang ia dengar dan ia tonton setiap hari. Kenapa?,
karena kekuatan politik sesat yang berada di bela-
kang layar sebuah media tersebut sangat besar
pengaruhnya terhadap pembentukan sikap dan mo-
ral masyarakat, terutama generasi mudanya.

Dalam hubungan ini, maka tepat sekali apa
yang diungkapkan oleh seorang penyair berikut ini :
“Hingga kapan bangunan itu bisa diselesaikan, bila
engkau membangun dan yang lain menghancurkan.
Seribu pembangun diikuti seorang perusak sudah
cukup, apalagi seorang pembangun diikuti seribu
perusak”.

Keberadaan media ibarat pedang bermata
dua. Disatu sisi dia merupakan alat yang ampuh da-
lam memberikan manfaat yang semaksimal mung-
kin kepada masyarakat dan dapat memainkan pera-
nan penting dalam membina masyarakat dan gene-
rasi mudanya untuk menaiki jenjang kemajuan. Na-
mun di sisi lain, keberadaan media dapat pula dija-
dikan alat dan sarana didalam merusak, menghan-
curkan dan menyesatkan masyarakat, sehingga ja-
uh dari agamanya, jauh dari tuntunan moral dan
akhlak yang baik dan terpuji.

Didalam menyikapi keberadaan sarana
116
media ini, kita harus pandai memilih dan memilah,
mana yang mesti kita dengar, mana yang harus kita
jauhkan dari pendengaran kita. Pilihlah acara-acara
di radio yang seyogyanya dapat menambah ilmu pe-
ngetahuan dan meningkatkan keimanan kita kepada
Allah. Tontonlah tayangan-tayangan di televisi yang
sekiranya mampu menambah wawasan keilmuan ki-
ta, meningkatkan kemampuan beragama dan yang
dapat memberikan nuansa sejuk, damai dan penuh
keindahan. Jauhi dan hindari tayangan-tayangan
yang glamor, merusak aqidah dan moral serta ta-
yangan yang menyuguhkan kekerasan, kekejaman
dan semacamnya. Atur dan bimbinglah putera-pute-
ri kita didalam memanfaatkan media audio dan au-
dio visual ini. Jangan biarkan mereka bebas memilih
suguhan acara dan tayangan apa saja, tanpa keter-
libatan kita untuk memilih dan mengarahkan mana-
mana yang sekiranya patut di dengar dan pantas di
tonton oleh anak-anak seusia mereka.

Apalagi di bulan Ramadhan ini, segala ben-
tuk suguhan acara di radio dan program tayangan di
televisi, biasanya cukup sarat dengan nuansa Is-
lami. Karenanya, manfaatkanlah kesempatan baik
ini untuk menggunakan alat dengar kita, sehingga
melalui alat dengar yang dianugerahkan Allah kepa-
da kita, dapat membimbing jiwa kita lebih dekat ke-
pada-Nya.

Di bulan Ramadhan ini juga, kegiatan-
117
kegiatan da’wah terutama di masjid-masjid, langgar
dan mushalla cenderung meningkat, terutama ke-
giatan-kegiatan Tadarrus Al-Qur’an dan pengajian
Islam, baik berupa kultum ramadhan maupun kuliah
subuh. Disamping itu majelis-majelis ta’lim dan ma-
jelis-majelis peribadatan dan dzikir juga semakin di-
giatkan pada bulan Ramadhan ini. Demikian juga
kegiatan-kegiatan silaturrahmi, seperti buka puasa
bersama yang diisi dengan ceramah agama dan
bacaan-bacaan dzikir, safari ramadhan dan kegiat-
an-kegiatan pesantren kilat, semakin menyemaraki
keberkahan di bulan Ramadhan ini, yang kesemua-
nya tentunya harus kita manfaatkan sedemikian ru-
pa dalam rangka mengoptimalkan fungsi pende-
ngaran yang diberikan Allah kepada kita.

Marilah kita kendalikan fungsi pendengaran
kita agar mengarah kepada hal-hal yang positif dan
yang dapat menambah nilai ibadah puasa kita. Hin-
dari dan jauhi perbuatan-perbuatan yang dapat me-
ngurangi bahkan merusak keutuhan nilai puasa kita.

Usahakan selama di bulan Ramadhan ini, ti-
dak bergabung dengan orang-orang yang suka ber-
buat maksiat, orang-orang yang suka menggunjing,
dan orang-orang yang suka berkata keji dan kotor.
Ingatlah peringatan Rasulullah SAW. :

ِθْ∂ِ⎧ْ↓ ِ ◊ِ°َλْ⎜ِΡَ⊗ ُ∉ِπَΦْΤُπْ⇔↓َ™ ُ″°َΦْ®ُπْ⇔َ↓
118
“Orang yang menggunjing dan yang suka mende-
ngarkan gunjingan adalah serupa dalam dosa” (HR.
Ath-Thabrani).

Mudah-mudahan dengan latihan menahan di-
ri dari pendengaran selama bulan Ramadhan ini,
dapat memberikan kesan dan pesan yang sangat
berarti bagi kita, sehingga pada bulan-bulan berikut-
nya, kebiasaan baik ini akan terus terulang dan
terus terulang sepanjang hayat dikandung badan.













119













M ME EN NA AH HA AN N D DI IR RI I D DA AR RI I
K KE EC CE EN ND DE ER RU UN NG GA AN N
H HA AT TI I Y YA AN NG G M ME ER RU US SA AK K



ati adalah raja pengatur stabilitas (the
central emotion) bagi seluruh anggota
tubuh manusia.

Hati, tidak saja berupa segumpal daging
yang berbentuk bulat memanjang, yang berisikan
rongga-rongga dan mengandung darah hitam, lebih
dari itu, hati sesungguhnya adalah sesuatu yang sa-
ngat abstak dan merupakan sebuah ikhwal rohaniah
120

H
8
yang sulit ditembus oleh kekuatan indrawi, yang
keberadaannya sebagai penentu baik buruknya ak-
tivitas jasmani.

Rasulullah SAW. bersabda :

ِΓَΛَνَ∅ ْΓَΛَνَ∅↓َ⇓ِ↓ ًΕَ®ْΖُ⇑ِΠَΤَϑْ⇔↓ ِ ﱠ◊ِ↓ﱠ⎨َ↓
َ⎨َ↓ ُτﱡνُ∧ُΠَΤَϑْ⇔↓ ِ∝َΠَΤَ∏ ْ∝َΠَΤَ∏↓َ⇓ِ↓َ™ ُτﱡνُ∧ُΠَΤَϑْ⇔↓
ُ∆ْνَϕْ⇔↓ َ⎡ِ〈َ™

“Ketahuilah, di dalam jasad manusia ada suatu
mudghah (segumpal daging). Apabila kondisinya
baik, akan baik pula jasad (manusia). Apabila kondi-
sinya buruk, akan buruk pula jasad (manusia). Keta-
huilah mudghah (segumpal daging) itu adalah hati”
(HR. Muslim).

Tak seorangpun yang tahu apa sesungguh-
nya substansi hati, ia merupakan rahasia Rabbani
yang kita sebagai makhluk-Nya hanya mampu ber-
kata subhanallah, Maha Suci Allah, begitu sempur-
na ciptaan-Nya.

Hati merupakan anugerah Allah yang sangat
besar dan patut kita syukuri. Dengan adanya hati,
kita dapat menikmati kehidupan ini lebih dari seke-
dar kehidupan binatang yang hanya bersandar pada
121
kenikmatan material.

Hati adalah bagian dari komponen kehidupan
manusia yang sangat berperan dan ia merupakan
harta yang sangat mahal yang dianugerahkan Allah
kepada manusia dengan bobot nilai yang tak ter-
hingga dan kepada setiap kita dituntut untuk meme-
liharanya dengan baik agar keberadaan hati tetap
dalam keadaan suci bersih. Sebab apabila hati ber-
sih, maka kebersihannya itu akan memancar dan
membekas pada sikap prilaku lahiriyah. Sebaliknya,
apabila hati kotor, maka kotorannya ini akan mele-
kat dan membekas pada setiap sikap dan tingkah
laku.

Pada dasarnya ajaran Islam ditujukan untuk
membangun hati manusia melalui sarana Tazkiyah
yaitu suatu proses penyucian hati yang harus dilak-
sanakan secara terus-menerus oleh setiap individu
dan masyarakat Islam melalui penghayatan dan
pengamalan rukun Islam.

Tatkala seseorang berikrar Asyhadu an laa
ilaa-ha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan
Rasulullah dengan menyatakan diri memeluk aga-
ma Islam, maka ikrar ini dapat membebaskan di-
rinya dari segala macam bentuk penghambaan se-
lain Allah. Bahkan dengan ikrar ini pula, dapat me-
nimbulkan kesadaran yang tajam dan dalam bahwa
Allah adalah lebih besar dari segala bentuk apapun.
122
Allah lebih berkuasa dan berhak disembah oleh se-
genap makhluk yang ada. Oleh karenanya, ia tidak
akan dapat diperbudak oleh suatu sistem duniawi
yang bukan bersumber dari Allah. Ia tidak akan ta-
kut kepada siapapun, kecuali hanya takut kepada
Allah. Ia akan secara konsekuensi siap menerima
segala apa yang disyari’atkan Allah melalui Rasul-
Nya Muhammad SAW.

Demikian juga dalam ajaran shalat. Shalat-
pun juga merupakan proses penyucian hati yang
membebaskan manusia dari ikatan ruang dan wak-
tu. Dengan mengangkat takbir Allahu Akbar di per-
mulaan shalat dapat mengantarkan jiwa manusia
naik dan terus naik melayang ke alam yang maha
tinggi menghadap Ilahi Rabbi. Disinilah letak awal-
nya proses Mi’rajul Mu’minin (awal proses perte-
muan dan dialog dengan Allah Tuhan Yang Maha
Tinggi). Hati yang kotor memang tidak akan mampu
menghayati shalat dengan sesungguhnya. Hanya
dengan hati yang bersihlah seseorang baru mampu
menghayati shalat sebagai sarana yang intens un-
tuk berdialog dengan Allah Zat Yang Maha Suci.

Demikian juga zakat. Melalui zakat, dapat
membersihkan hati si kaya dari rasa egois dan me-
mentingkan diri sendiri, dan dapat pula membersih-
kan hati si miskin dari rasa iri dan dengki. Begitu ju-
ga haji. Dengan memakai kain ihram, mengandung
makna simbolik dari kesucian hati orang yang
123
memakainya. Dan pakaian inilah pula yang mendo-
rong seseorang untuk pergi haji, dengan mening-
galkan sanak saudara, anak cucu, kampung ha-
laman, harta benda, pangkat jabatan dan segala
yang dicintainya. Ia datang ke tanah suci dengan
penuh keikhlasan semata-mata memenuhi panggil-
an Allah untuk memperoleh berkat dan ridha-Nya.

Ayat 183 surah Al-Baqarah yang berisi perin-
tah puasa Ramadhan untuk mengantarkan orang-
orang yang beriman menuju jenjang taqwallah yang
merupakan inti pokok tujuan puasa, hal ini juga tidak
lepas dari konsep penyucian hati. Imam Ibnu Katsir
menggarisbawahi, bahwa puasa adalah pembersih-
an hati, menyucikannya dan memeliharanya dari
campuran yang kotor dan dari akhlak yang tercela.

Dengan berpuasa, menahan lapar dan daha-
ga, menahan diri dari nafsu syahwat dan beberapa
kesenangan yang halal lainnya, mengingatkan kita
kepada orang-orang yang selalu menderita sepan-
jang tahun, bahkan sepanjang hidupnya. Dengan
berpuasa dapat menggugah diri seseorang yang hi-
dup bergelimpangan harta dan kemewahan agar
dapat merasakan penderitaan saudara-saudaranya
sehingga dari pengalaman ini diharapkan dapat
membangkitkan perasaan lembut dan santun serta
rasa kesatuan, persaudaraan dan kesetiakawanan
sosial yang tinggi.

124
Dengan berpuasa, hati akan menjadi sehat.
Dan hati yang sehat selalu mempunyai rasa soli-
daritas sosial yang tinggi khususnya penghayatan
terhadap orang-orang yang lemah, fakir miskin dan
anak yatim. Perasaan tersebut tidak akan berhenti
sampai disitu, tetapi akan ia realisasikan dalam
perbuatan nyata untuk meringankan beban pende-
ritaan sesamanya.

Hati yang sehat akan selalu ingat dan sadar
bahwa rezeki yang ia peroleh selama ini merupakan
amanat Allah yang di dalamnya ada hak-hak orang
lain yang wajib dikeluarkan. Sehingga orang yang
berpuasa dan benar-benar menghayati puasanya,
tidak akan segan-segan untuk berbuat kebajikan.
Jika keadaan ini telah merasuk ke dalam jiwa se-
seorang dan kemudian terrealisasi dalam perbuatan
amal kebajikan, maka boleh dikatakan bahwa pro-
ses penyucian hati melalui ibadah puasa benar-
benar membuahkan hasil yang baik.

Kalau kita tengok sejarah orang-orang terda-
hulu dalam melakukan puasa, nampaknya puasa
yang mereka lakukan juga berorientasi pada pe-
nyucian hati. Sebagai contoh dapat kita baca seja-
rah agama Hindu, dimana para pengikut Brahma
dan Wisnu, apabila mereka ingin memperoleh ber-
kah dari para Dewa, mereka terlebih dahulu melaku-
kan penyucian hati dengan berpuasa. Demikian ju-
ga Nabi Musa a.s ketika beliau ingin beraudensi
125
dengan Tuhan di Bukit Sinai, terlebih dahulu beliau
melakukan puasa selama 40 hari. Karena untuk ber-
komunikasi dengan Tuhan diperlukan penyucian
jiwa. Banyaklah lagi contoh lainnya yang menggam-
barkan bahwa puasa pada dasarnya merupakan
upaya-upaya dalam penyucian hati.

Salah satu tugas pokok Rasulullah SAW. di-
samping menyampaikan ayat-ayat Allah dan meng-
ajarkan kitab suci serta hikmah (ilmu pengetahuan)
beliau juga ditugasi untuk membersihkan atau me-
nyucikan ummat manusia, baik yang menyangkut
soal-soal jasmaniah terlebih-lebih soal rohaniah de-
ngan cara mengarbol bersih-bersih dari segala si-
fat-sifat kemusyrikan dan penyakit-penyakit hati lain-
nya.

Sangat banyak nash-nash Al-Qur’an dan As-
sunnah Rasulullah yang menunjukan betapa perju-
angan Rasulullah didalam usaha membersihkan hati
manusia. Karena kebersihan hati merupakan syarat
mutlak bagi seorang hamba yang kepingin memper-
oleh ridha Allah SWT.

Firman Allah dalam Al-Qur’an :

ِµِّ™±َℵ ⎛⇔ِ↓ ْ⎡ِ∈ِ÷ْℵِ↓ ُΕﱠρِΒَπْχُπْ⇔↓ ُΥْηﱠρ⇔↓°َ©ُΦﱠ⎜َƒَ™َ⎜

126

ْ⎡ِνُ…ْ⎯↓َ™ ْ⎝ ِ⎯°َΧِ⊂ ْِ ْ⎡ِνُ…ْΠَ∏ ًΕﱠϖِ∪ْΡﱠ⇑ ًΕَϖِ∪↓َℵ
ْ⎡ِΦﱠρَ÷

“Wahai nafsu yang tenang, kembalilah kepada Tu-
hanMu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-
Ku, dan masuklah ke dalam Sorga-Ku” (QS. Al-Fajr
ayat, 27-30).

Membersihkan hati tidaklah gampang. Ia me-
merlukan latihan-latihan yang serius dan terus me-
nerus. Salah satunya adalah dengan melakukan pu-
asa di bulan Ramadhan ini. Sebab, dengan berpu-
asa, kita tidak saja dituntut untuk mampu menahan
diri dari makan dan minum, dari hubungan suami
isteri, dari perbuatan panca indera yang merusak,
juga berpuasa dituntut agar kita mampu menahan
diri dari kecenderungan hati yang merusak, yang
dapat mengurangi keutuhan nilai puasa kita.

Kecenderungan hati yang merusak ini antara
lain :
1. Takut mendapat celaan orang lain;
2. Terlalu cinta terhadap dunia;
3. Meminta pujian orang lain;
4. Riya’ dalam beribadah dan beramal;
5. Tamak;
6. Sombong danTakabbur;
127
7. Suka menghasud;
8. Dendam;
9. Mudah marah;
10. Buruk sangka;
11. Kikir dan serakah;
12. Keras hati;
13. Berkeluh kesah;
14. Rasa gengsi berlebihan;
15. Putus asa dari rahmat Allah;
16. Merasa sedih dan khawatir yang berlebihan ka-
rena urusan dunia;
17. Suka menipu;
18. Suka memfitnah dan ado domba;
19. Ketidakstabilan mental;
20. Dan sebagainya.

Seseorang yang mampu menahan diri dari
kecenderungan hati yang merusak selama menja-
lankan puasa, ia termasuk golongan orang-orang
yang berada pada peringkat puasa khususil khusus
(yang terkhusus/yang istimewa).

Peringkat puasa khususil khusus, atau puasa
yang terkhusus dari yang khusus, atau puasa yang
paling istimewa/paling utama, adalah pelaksanaan
puasa disamping menahan diri dari makan dan
minum, dari hubungan seksual di siang hari, dari
perbuatan panca indera yang merusak, puasa khu-
susil khusus merupakan puasa hati, puasa jiwa,
dengan mengendalikannya dari niatan-niatan yang
128
jahat, niatan-niatan yang merusak, niatan-niatan
yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi.

Seseorang yang berada pada tingkatan pu-
asa khususil khusus ini, disamping mampu mena-
han diri dari makan dan minum, tidak melakukan
hubungan seksual dan dari perbuatan panca indera
yang merusak, ia juga mampu menahan diri dari
niatan-niatan, pikiran-pikiran yang buruk atau jahat,
seperti perasaan iri dan dengki, perasaan riya,
takabbur, mau menipu, memfitnah, mengadu domba
dan sebagainya. Puasa pada tingkat ini adalah
puasanya para Nabi, Shiddiqien dan Muqarrabiin.

Walaupun mencapai peringkat puasa khu-
susil khusus ini dirasa sangat berat dan sulit, namun
setidaknya kita tetap selalu berupaya menuju ke
arah itu dengan cara memperbanyak dzikir, mem-
perbanyak ibadah dan amal shaleh serta melakukan
upaya-upaya penekanan terhadap kecenderungan
hati yang merusak.

Semoga puasa yang kita jalankan di bulan
Ramadhan ini dapat berfungsi sebagai pembersih
hati kita masing-masing untuk mencapai jiwa yang
tenang, yaitu jiwa yang selalu stabil, konstan dan
istiqamah, baik dalam suka maupun di dalam duka.



129











P PE EN NU UT TU UP P



elakukan ibadah puasa tidaklah
ringan, apalagi menghayatinya.
Karena berpuasa dituntut tidak
saja mengamalkannya secara lahiriyah, melainkan
diharapkan juga dapat menjadikan ajaran puasa itu
melekat dan memancar dalam kehidupan sehari-
hari.

Secara harfiyah puasa berarti menahan diri.
Menahan diri dalam artian tidak saja dari perbuatan-
perbuatan yang haram, yang tidak dibenarkan oleh
syara’, melainkan juga dari perbuatan-perbuatan
yang halal, dalam waktu-waktu tertentu. Makan dan
130
M
9
minum barang-barang milik sendiri adalah halal.
Melakukan hubungan suami isteri adalah halal. Te-
tapi itu semua tidak boleh dilakukan pada waktu-
waktu tertentu, yakni sejak terbit fajar hingga terbe-
nam matahari.

Kenapa di dalam berpuasa, yang halal dan
yang haram sama-sama dilarang? Disinilah letak
kunci rahasia yang terkandung didalam ajaran pua-
sa. Allah memerintahkan kita berpuasa pada intinya
adalah memberikan pelajaran yang berharga ten-
tang betapa pentingnya konsep menahan diri dalam
puasa itu. Bahkan kesabaran didalam menahan diri
mempunyai nilai yang amat berharga bagi pemben-
tukan keteguhan jiwa kita. Sebab, manusia akan ja-
tuh derajatnya bahkan bertukar menjadi derajat he-
wan kalau tidak mampu menahan dirinya.

Orang-orang yang mampu menahan diri ha-
nyalah orang-orang yang beriman. Oleh karenanya
di dalam perintah berpuasa hanya ditujukan kepada
orang-orang yang beriman, kenapa? karena Allah
Maha Tahu dan sudah memperhitungkan sebelum-
nya, bahwa yang bakal bersedia dan sanggup me-
mikul tugas berat ini, yakni puasa, hanyalah orang-
orang yang beriman, lain tidak. Karena orang yang
benar-benar beriman, ia sangat cinta kepada Allah,
sehingga dengan kecintaanya ini, apapun yang di-
perintahkan Allah, akan ia laksanakan dengan baik
dan senang hati, demi menjaga kelanggengan
131
hubungan cintanya kepada Allah tersebut.. Disam-
ping itu, orang yang beriman, dia sadar dan mema-
hami bahwa apapun yang diperintahkan Allah pasti
terkandung manfaat yang besar di dalamnya. Dan
manfaat dari puasa adalah latihan pengendalian diri.

Dengan berpuasa, kita semua dididik oleh Al-
lah SWT. agar mampu menahan dan mengenda-
likan nafsu makan dan minum, nafsu syahwat, nafsu
amarah dan kecenderungan panca indera dan hati
dari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Semoga dengan latihan menahan diri dalam
puasa ramadhan pada tahun ini dapat memberikan
kesan dan pesan yang berharga bagi kita, sehingga
pada bulan-bulan lain setelah ramadhan, diharap-
kan kita juga mampu menahan diri dari perbuatan-
perbuatan yang dilarang oleh agama. Semoga Allah
menerima ibadah puasa kita dengan berjuta hikmah
dan keridhaan-Nya. Amin.




bbbb



132





B BA AH HA AN N R RU UJ JU UK KA AN N


Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama
Republik Indonesia, Jakarta, 1989;

Abdullah bin Jarullah; Ed. Fenomena Syukur (Ber-
dzikir dan Berpikir), Risalah Gusti, Surabaya,
1996;

Abdullah Nashih Ulwan, Etika Memilih Jodoh, Caha-
ya Press, Jakarta, 2002;

Abdullah Gymnastiar, KH, Menjemput Rezeki De-
ngan Berkah, Republika, Jakarta, 2003;

Abdurrahman Arroisi, KH, Keberadaan Manusia Di
muka Bumi, Remaja Rosdakarya, Bandung,
1997;

Abdurrahman Al-Mukaffi, Pacaran Dalam Kacamata
Islam, Media Da’wah, jakarta, 2001;

Abdurrahman Masykur, Menundukkan Rayuan Se-
tan, Putera Pelajar, Surabaya, 2001;
133
Abdul Malik Al-Qasim, Bagaimana Menjaga Hati,
Darul Haq, Jakarta, 2002;

Abu Zaid, Citra Diri Remaja Muslim, Wahyu Press,
Jakarta Selatan, 2003;

Abubakar bin Salim, Syeikh, Menyingkap Rahasia
Hati, Putera Riyadi, Solo, 2000;

Aep Kusnawan, Berdakwah Lewat Tulisan, Mujahid
Press, Bandung, 2004;

Ahmad Shiddiq, Drs. 10 Sifat Muslim Sejati, Putra
Pelajar, Surabaya, 2001;

Al-Gazali, Imam, Tafakkur Dibalik Penciptaan Makh-
luk, Risalah Gusti, Surabaya, 1999;

----------------------, Syukur Menambah Nikmat, Dua
Putra Press, Surabaya, 2001;

----------------------, Bahaya Lisan dan Cara Menga-
tasinya, Tiga Dua, Surabaya, 2004;

Anwar Harjono, Dr. Da’wah dan Masalah Sosial Ke-
masyarakatan, Media Da’wah, Jakarta, 1987;

Anis Matta, Menikmati Demokrasi, Strategi Da’wah
Meraih Kemenangan, Pustaka Saksi, jakarta,
2002;
134
Arman Arroisi, Refleksi Ajaran Tuhan, Remaja Ros-
dakarya, Bandung, 1995;

Asma’ Umar Hasan Fad’aq, Mengungkap Makna
dan Hikmah Sabar, Lentera Basritama, Ja-
karta, 1999;

As’ad Muhammad Sa’id Ash-Shaghirji, Syaikh, Me-
melihara Mata dan Nafsu Seks, Media Da’-
wah Jakarta, 2000;

Aserani Kurdi, S.Pd, Marhaban ya Ramadhan, Kum-
pulan Bahan Kultum Sekitar Ramadhan, Al-
Fath Offset, Yogyakarta, 2001;

Bey Arifin, H. Samudera Al-Fatihah, Bina Ilmu, Su-
rabaya, 1993;

Fathi Yakan, DR. Manusia Antara Hidayah Allah
dan Tipu Daya Setan, Gema Insani Press,
Jakarta, 2001;

Hamid Fulailah, H. Bila Sang Lidah Berbicara, Putra
Pelajar, Surabaya, 2001;

Harun Yahya, Bagaimana Seorang Muslim Berfikir,
Robbani Press, Jakarta, 2001;

Husin Naparin, KH.Lc.MA, Fikrah, Refleksi Nilai-nilai
Islam Dalam Kehidupan Jilid 1 & 2, El-Kahfi,
135
Jakarta, 2003;

Kariman Hamzah, Islam Berbicara Soal Anak, Ge-
ma Insani Press, Jakarta, 1991;

Muhammad Qutb, Salah Paham Terhadap Islam,
Pustaka Salman ITB, Bandung, 1982;

Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, Pelembut Hati, Rob-
bani Press, Jakarta, 1999;

Muna Haddad Yakan, Hati-hati Terhadap Media
Yang Merusak Anak, Gema Insani Press, Ja-
karta, 1991;

Musthofa Masyhur, Syekh, Berjumpa Allah Lewat
Shalat, Gema Insani Press, Jakarta, 1999;

Nabih Abdurrahman Usman, DR. Kecenderungan
Jiwa Manusia, Bursa Ilmu, Surabaya, 2003;

Nurcholish Madjid dkk, Puasa Titian Menuju Ray-
yan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000;

Rahman Sani, Hikmah Puasa Tinjauan Ilmu Kese-
hatan, Al-Mawardi Prima, Jakarta, 2000;

Salman bin Fahd Al-Audah, Dr. Agar Bahtera Tak
Tenggelam, Risalah Gusti, Surabaya, 1995;

136
Syahrin Harahab, MA, Prof.Dr. Hikmah Puasa, Sri-
gunting, Jakarta, 2001;

Tita Masithah, SP.M.Si, Muslimah? Dimana Identi-
tasmu, Wahyu Press, Jakarta, 2003;

Umar Hasyim, Cara Mendidik Anak Dalam Islam,
Bina Ilmu, Surabaya, 1991;

Usep Romli, HM, Percikan Hikmah, Berdialog De-
ngan Hati Nurani, Remaja Rosdakarya, Ban-
dung, 2000;

Uwes al-Qorni, 60 Bahaya Lisan, Remaja Rosda-
karya, Bandung, 1999;

--------------------, 60 Penyakit Hati, Remaja Rosda-
karya, Bandung, 2000;

Yahya Ibn Hamzah, Imam, Kiat Mengendalikan Naf-
su, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001;

Yusuf al-Qardhawi, Dr. Fiqh Puasa, Srigunting, Ja-
karta, 1997;

-------------------------, Titik Lemah Umat Islam, Pene-
bar Salam, Jakarta, 2001;



137
R RI IW WA AY YA AT T S SI IN NG GK KA AT T
P PE EN NY YU US SU UN N


Aserani Kurdi, S.Pd dilahirkan di Ba-
rabai-HST. Kal.-Sel. tanggal 03 Febru-
ari 1963. Pendidikan formal yang ia
tempuh : SDN Seroja Barabai (1977);
SMEPN Ganesya Barabai (1981);
SMEAN Barabai (1984) dan FKIP Un-
lam Banjarmasin (1993).
Selain pendidikan formal, ia juga gemar mengikuti
pendidikan nonformal berupa penataran, kursus dan
diklat. Ilmu-ilmu ke-Islaman ia peroleh melalui ber-
bagai pengajian, belajar ke rumah guru, literatur Is-
lam dan berbagai organisasi Islam diantaranya PII
(Pelajar Islam Indonesia), IRM (Ikatan Remaja Mu-
hammadiyah), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)
dan Muhammadiyah. Organisasi yang aktif ia ikuti
sekarang adalah Muhammadiyah pada Majelis Tar-
jih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan
Daerah Muhammadiyah Tabalong. Disamping ge-
mar menulis, ia juga aktif dalam da’wah Islamiyah di
daerahnya. Karya Tulis yang sudah dan sedang
digarapnya antara lain : Apresiasi Juz ‘Amma; Pe-
tunjuk Jalan Lurus (Kumpulan Bahan Kultum Prak-
tis); Menyingkap Misteri Lailatul Qadar (Sebuah
Upaya Pemahaman); Marhaban Ya Ramadhan,
138

Kumpulan Bahan Kultum Sekitar Ramadhan; Kum-
pulan Khuthbah Jum’at Pilihan; Kumpulan Khuthbah
Jum’at Tanjung Bersinar yang digarap bersama de-
ngan Drs.H.Birhasani (Kabag Sosial PEMDA Taba-
long); 6 M Sebuah Konsep Dalam Menyikapi Islam;
dan sejumlah diktat pelajaran untuk siswa SMK Ne-
geri 1 Tanjung. Tugasnya kini adalah sebagai Guru
pada SMK Negeri 1 Tanjung, sejak Maret 1994.









t








139














You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->