P. 1
Laporan Pengamatan Korosi (Dhimazt)

Laporan Pengamatan Korosi (Dhimazt)

5.0

|Views: 13,171|Likes:
Published by Dimas Dewa K

More info:

Published by: Dimas Dewa K on Nov 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/25/2013

pdf

text

original

Laporan

Hasil Pengamatan Korosi Pada Besi

Disusun Oleh :
Dimas Dewa Kristianto
Kelas XII IPA 3

SMA Muhammadiyah 2, Sidoarjo Tahun Pelajaran 2009-2010

Kata Pengantar

Assalamualaikum Wr. Wb. Saya panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya, sehingga laporan pengamatan ini dapat terselesaikan dalam jangka waktu yang ditentukan. Dan saya sangat ingin mengucapakan terima kasih kepada Ibu Siti Zuhroh sebagai guru pembimbing mata pelajaran kimia atas bimbingan dari beliau. Dalam penyusunan laporan pengamatan ini yang berisi tentang mengamati korosi (perkaratan) pada besi, saya bertujuan agar semua pihak dapat mengetahui bagaimana proses terjadinya sebuah korosi dan bagaimana cara pencegahan terjadinya korosi. Maka dari itu saya membuat laporan ini, selain itu saya mengharapkan agar adik – adik kelas dapat menambah wawasan ilmunya dalam bidang kimia setelah membaca laporan yang berdasarkan data – data yang nyata ini. Saya menyadari bahwa laporan ini masih memiliki kekurangan dan masih perlu ditingkatkan lagi. Oleh karna itu saran dan keritik dari anda sangat saya harapkan, agar laporan ini menjadi sebuah laporan yang benar-benar terjamin kebenarannya. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Sidoarjo, 14 September 2009

2

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

Dimas Dewa Kristianto NIS: 8341

Daftar Isi
Cover………………………………………………………………………………. 1 Kata Pengantar…………………………………………………………………….... 2 Daftar Isi………………………………………………………………………........ 3 Bab 1 Pendahuluan…………………………………………………………………... 4 • • • Judul pengamatan Tujuan Pengamatan Dasar Teori

Bab 2 Metode Percobaan…………………………………………………………….. 9 • • • Alat-alat Percobaan Bahan-bahan Percobaan Langkah-langkah Kerja

3

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

• •

Tabel hasil pengamatan sebelum terjadinya korosi Tabel hasil pengamatan sesudah tejadinya korosi

Bab 3 Penutup……………………………………………………………………... 12 • • • Kesimpulan Pertanyaan Jawaban

Daftar Pustaka…………………………………………………………………….. 14

Bab 1 Pendahuluan
Judul pengamatan

Mengamati terjadinjya korosi

Tujuan
• Mengetahui factor – factor penyebab terjadinya korosi (karat) pada besi

Dasar Teori 4
Laporan Pengamatan Korosi Oleh: Diamas Dewa Kristianto

Korosi
Adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari material. Contohnya, LIHAT pagar besi di halaman rumah kamu, atau di sekolah kamu, atau paku-paku yang tertancap di kayu, besi rongsokan, apa yang menarik perhatian kamu? Apakah kamu melihat ada noda coklat yang menempel pada besi tersebut? semacam kerak coklat, apakah itu? Kerak itu tidak hanya sekedar menutupi permukaan besi tadi, tapi juga menghancurkan besi tersebut solah “memakan” nya. Itulah Karat, atau disebut juga Korosi. Yaitu persenyawaan yang terjadi karena unsur besi berreaksi dengan udara dan air. Mungkin kamu juga sudah sedikit mempelajarinya di sekolah, bahwa beberapa unsur kimia dapat dengan mudah berreaksi dengan okigen (yang ada di udara) membentuk senyawa oksida, peristiwa ini disebut oksidasi. Jadi syarat terjadinya karat adalah adanya besi, udara dan air. Besi dan udara saja tidak bisa menimbulkan karat, atau besi dan air saja. Namun di udara, kita akan menemukan uap air dan di dalam air juga kita dapat menemukan udara terlarut. Maka proses korosif tetap bisa berlanjut.Korosi dapat semakin cepat terjadi dengan kehadiran garam. Misal air laut, kamu tentu bisa melihat bagaimana kapal-kapal laut lebih mudan berkarat, dan juga tiang-tiang pancang pelabuhan yang juga mudah berkarat. Dan logam besi di alam bebas dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida). Deret volta dan hukum Nernst akan membantu untuk dapat melihat terjadinya korosi. Kecepatan korosi sangat tergantung pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida.

Penyebab Korosi 5
Laporan Pengamatan Korosi Oleh: Diamas Dewa Kristianto

Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur bahan, bentuk kristal, unsurunsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik pencampuran bahan dan sebagainya. Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya. Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam, baik dalam bentuk senyawa an-organik maupun organik. Penguapan dan pelepasan bahan-bahan korosif ke udara dapat mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau basa dapat memeprcepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam ruangan tersebut. Flour, hidrogen fluorida beserta persenyawaan-persenyawaannya dikenal sebagai bahan korosif. Dalam industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahan-bahan organik. Ammoniak (NH3) merupakan bahan kimia yang cukup banyak digunakan dalam kegiatan industri. Pada suhu dan tekanan normal, bahan ini berada dalam bentuk gas dan sangat mudah terlepas ke udara. Ammoniak dalam kegiatan industri umumnya digunakan untuk sintesa bahan organik, sebagai bahan anti beku di dalam alat pendingin, juga sebagai bahan untuk pembuatan pupuk. Bejana-bejana penyimpan ammoniak harus selalu diperiksa untuk mencegah terjadinya kebocoran dan pelepasan bahan ini ke udara. Embun pagi saat ini umumnya mengandung aneka partikel aerosol, debu serta gas gas asam seperti NOx dan SOx. Dalam batubara terdapat belerang atau sulfur (S) yang apabila dibakar berubah menjadi oksida belerang. Masalah utama berkaitan dengan peningkatan penggunaan batubara adalah dilepaskannya gas-gas polutan seperti oksida nitrogen (NOx) dan oksida belerang (SOx). Walaupun sebagian besar pusat tenaga listrik batubara telah menggunakan alat pembersih endapan (presipitator) untuk membersihkan partikel-partikel kecil dari asap batubara, namun NOx dan SOx yang merupakan senyawa gas dengan bebasnya naik melewati cerobong dan terlepas ke udara bebas. Di dalam udara, kedua gas tersebut dapat berubah menjadi asam nitrat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4). Oleh sebab itu, udara menjadi terlalu asam dan bersifat korosif dengan terlarutnya gas-gas asam tersebut di dalam udara. Udara yang asam ini tentu dapat ! berinteraksi dengan apa saja, termasuk komponen-komponen renik di dalam peralatan elektronik. Jika hal itu terjadi, maka proses korosi tidak dapat dihindari lagi.

Proses Terjadinya Korosi
Korosi atau pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan – bahan logam yang pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan berair dan oksigen. Contoh yang paling umum, yaitu kerusakan logam besi dengan terbentuknya karat oksida. Dengan demikian, korosi menimbulkan banyak kerugian. Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam menjadi ion dengan melepaskan elektron ke dalam (permukaan) logam

6

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

dan proses katodik yang mengkonsumsi electron tersebut dengan laju yang sama : proses katodik biasanya merupakan reduksi ion hidrogen atau oksigen dari lingkungan sekitarnya. Untuk contoh korosi logam besi dalam udara lembab, misalnya proses reaksinya dapat dinyatakan sebagai berikut : Anoda {Fe(s)→ Fe2+(aq) + 2e} x2 + Katoda O2(g)+ 4H (aq) + 4 e → 2 H2O(l) Redoks 2 Fe(s) + O2 (g)+ 4 H+(aq)→ 2 Fe2++ 2 H2O(l)

+

Dari data potensial elektrode dapat dihitung bahwa emf standar untuk proses korosi ini, yaitu E0 sel = +1,67 V ; reaksi ini terjadi pada lingkungan asam dimana ion H+ sebagian dapat diperoleh dari reaksi karbon dioksida atmosfer dengan air membentuk H2CO3. Ion Fe2+ yang terbentuk, di anode kemudian teroksidasi lebih lanjut oleh oksigen membentuk besi (III) oksida : 4 Fe2+(aq) + O2 (g) + (4 + 2x) H2O(l) → 2 Fe2O3x H2O + 8 H+(aq) Hidrat besi (III) oksida inilah yang dikenal sebagai karat besi. Sirkuit listrik dipacu oleh migrasi elektron dan ion, itulah sebabnya korosi cepat terjadi dalam air garam. Jika proses korosi terjadi dalam lingkungan basa, maka reaksi katodik yang terjadi, yaitu : O2 (g) + 2 H2O(l)+ 4e → 4 OH-(aq) Oksidasi lanjut ion Fe2+ tidak berlangsung karena lambatnya gerak ion ini sehingga sulit berhubungan dengan oksigen udara luar, tambahan pula ion ini segera ditangkap oleh garam kompleks hexasianoferat (II) membentuk senyawa kompleks stabil biru. Lingkungan basa tersedia karena kompleks kalium heksasianoferat (III). Korosi besi realatif cepat terjadi dan berlangsung terus, sebab lapisan senyawa besi (III) oksida yang terjadi bersifat porous sehingga mudah ditembus oleh udara maupun air. Tetapi meskipun alumunium mempunyai potensial reduksi jauh lebih negatif ketimbang besi, namun proses korosi lanjut menjadi terhambatkarena hasil oksidasi Al2O3, yang melapisinya tidak bersifat porous sehingga melindungi logam yang dilapisi dari kontak dengan udara luar.

Dampak Dari Korosi

Karatan adalah istilah yang diberikan masyarakat terhadap logam yang mengalami kerusakan berbentuk keropos. Sedangkan bagian logam yang rusak dan berwarna hitam kecoklatan pada baja disebut Karat. Secara teoritis karat adalah istilah yang diberikan terhadap satu jenis logam saja yaitu baja, sedangkan

7

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

secara umum istilah karat lebih tepat disebut korosi. Korosi didefenisikan sebagai degradasi material (khususnya logam dan paduannya) atau sifatnya akibat berinteraksi dengan lingkungannya. Korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang bersifat alamiah dan berlangsung dengan sendirinya, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan sama sekali. Korosi hanya bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga memperlambat proses perusakannya. Dilihat dari aspek elektrokimia, korosi merupakan proses terjadinya transfer elektron dari logam ke lingkungannya. Logam berlaku sebagai sel yang memberikan elektron (anoda) dan lingkungannya sebagai penerima electron (katoda). Reaksi yang terjadi pada logam yang mengalami korosi adalah reaksi oksidasi, dimana atom-atom logam larut kelingkungannya menjadi ion-ion dengan melepaskan elektron pada logam tersebut. Sedangkan dari katoda terjadi reaksi, dimana ion-ion dari lingkungan mendekati logam dan menangkap elektronelektron yang tertinggal pada logam. Dampak yang ditimbulkan korosi sungguh luar biasa. Berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, Amerika Serikat mengalokasikan biaya pengendalian korosi sebesar 80 hingga 126 milyar dollar per tahun. Di Indonesia, dua puluh tahun lalu saja biaya yang ditimbulkan akibat korosi dalam bidang indusri mencapai 5 trilyun rupiah. Nilai tersebut memberi gambaran kepada kita betapa besarnya dampak yang ditimbulkan korosi dan nilai ini semakin meningkat setiap tahunnya karena belum terlaksananya pengendalian korosi secara baik bidang indusri. Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian langsung dan kerugian tidak langsung. Kerugian langsung adalah berupa terjadinya kerusakan pada peralatan, permesinan atau stuktur bangunan. Sedangkan kerugian tidak langsung berupa terhentinya aktifitas produksi karena terjadinya penggantian peralatan yang rusak akibat korosi, terjadinya kehilangan produk akibat adanya kerusakan pada kontainer, tanki bahan bakar atau jaringan pemipaan air bersih atau minyak mentah, terakumulasinya produk korosi pada alat penukar panas dan jaringan pemipaannya akan menurunkan efisiensi perpindahan panasnya, dan lain sebagainya. Berdasarkan kondisi lingkungannya, korosi dapat diklasifikasikan sebagai korosi basah yaitu korosi yang terjadi dilingkungan air, korosi atmosferik yang terjadi di udara terbuka dan korosi temperatur tinggi yaitu korosi yang terjadi dilingkungan bertemperatur diatas 500 oC.

Bentuk-Bentuk Korosi
Bentuk-bentuk korosi dapat berupa; korosi merata, korosi galvanik, korosi sumuran, korosi celah, korosi retak tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik (corrosion fatique cracking) dan korosi akibat pengaruh hidogen (corrosion induced hydrogen), korosi intergranular, selective leaching, dan korosi erosi.

8

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

Korosi merata adalah korosi yang terjadi secara serentak diseluruh permukaan logam, oleh karena itu pada logam yang mengalami korosi merata akan terjadi pengurangan dimensi yang relatif besar per satuan waktu. Kerugian langsung akibat korosi merata berupa kehilangan material konstruksi, keselamatan kerja dan pencemaran lingkungan akibat produk korosi dalam bentuk senyawa yang mencemarkan lingkungan. Sedangkan kerugian tidak langsung, antara lain berupa penurunan kapasitas dan peningkatan biaya perawatan (preventive maintenance). Korosi galvanik terjadi apabila dua logam yang tidak sama dihubungkan dan berada di lingkungan korosif. Salah satu dari logam tersebut akan mengalami korosi, sementara logam lainnya akan terlindung dari serangan korosi. Logam yang mengalami korosi adalah logam yang memiliki potensial yang lebih rendah dan logam yang tidak mengalami korosi adalah logam yang memiliki potensial lebih tinggi. Korosi sumuran adalah korosi lokal yang terjadi pada permukaan yang terbuka akibat pecahnya lapisan pasif. Terjadinya korosi sumuran ini diawali dengan pembentukan lapisan pasif dipermukaannya, pada antarmuka lapisan pasif dan elektrolit terjadi penurunan pH, sehingga terjadi pelarutan lapisan pasif secara perlahan-lahan dan menyebabkan lapisan pasif pecah sehingga terjadi korosi sumuran. Korosi sumuran ini sangat berbahaya karena lokasi terjadinya sangat kecil tetapi dalam, sehingga dapat menyebabkan peralatan atau struktur patah mendadak. Korosi celah adalah korosi lokal yang terjadi pada celah diantara dua komponen. Mekanisme terjadinya korosi celah ini diawali dengan terjadi korosi merata diluar dan didalam celah, sehingga terjadi oksidasi logam dan reduksi oksigen. Pada suatu saat oksigen (O2) di dalam celah habis, sedangkan oksigen (O2) diluar celah masih banyak, akibatnya permukaan logam yang berhubungan dengan bagian luar menjadi katoda dan permukaan logam yang didalam celah menjadi anoda sehingga terbentuk celah yang terkorosi. Korosi retak tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik (corrosion fatique cracking) dan korosi akibat pengaruh hidogen (corrosion induced hydrogen) adalah bentuk korosi dimana material mengalami keretakan akibat pengaruh lingkungannya. Korosi retak tegang terjadi pada paduan logam yang mengalami tegangan tarik statis dilingkungan tertentu, seperti : baja tahan karat sangat rentan terhadap lingkungan klorida panas, tembaga rentan dilarutan ammonia dan baja karbon rentan terhadap nitrat. Korosi retak fatik terjadi akibat tegangan berulang dilingkungan korosif. Sedangkan korosi akibat pengaruh hidogen terjadi karena berlangsungnya difusi hidrogen kedalam kisi paduan. Korosi intergranular adalah bentuk korosi yang terjadi pada paduan logam akibat terjadinya reaksi antar unsur logam tersebut di batas butirnya. Seperti yang terjadi pada baja tahan karat austenitik
Oleh: Diamas Dewa Kristianto

9

Laporan Pengamatan Korosi

apabila diberi perlakuan panas. Pada temperatur 425 – 815 oC karbida krom (Cr23C6) akan mengendap di batas butir. Dengan kandungan krom dibawah 10 %, didaerah pengendapan tersebut akan mengalami korosi dan menurunkan kekuatan baja tahan karat tersebut. Selective leaching adalah korosi yang terjadi pada paduan logam karena pelarutan salah satu unsur paduan yang lebih aktif, seperti yang biasa terjadi pada paduan tembaga-seng. Mekanisme terjadinya korosi selective leaching diawali dengan terjadi pelarutan total terhadap semua unsur. Salah satu unsur pemadu yang potensialnya lebih tinggi akan terdeposisi, sedangkan unsur yang potensialnya lebih rendah akan larut ke elektrolit. Akibatnya terjadi keropos pada logam paduan tersebut. Contoh lain selective leaching terjadi pada besi tuang kelabu yang digunakan sebagai pipa pembakaran. Berkurangnya besi dalam paduan besi tuang akan menyebabkan paduan tersebut menjadi porous dan lemah, sehingga dapat menyebabkan terjadinya pecah pada pipa. Korosi erosi adalah korosi yang terjadi adanya kombinasi antara fluida yang korosif dan kecepatan aliran yang tingg, seperti yang terjadi pada pipa baja yang digunakan untuk mengalirkan uap yang mengandung air.Pengukuran laju korosi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pengukuran yang paling sederhana biasanya dilakukan dengan cara mengukur kehilangan logam (berdasarkan perbedaan beratnya). Meskipun demikian beberapa metoda pegukuran laju korosi yang dapat diterapkan antara lain adalah dengan mengukur ion logam yang terdapat dilingkungan, mengukur konduktivitas lingkungan, mengukur berat jenis lingkungan atau berdasarkan reaksi dengan metoda elektrokimia.

Begitu banyaknya bentuk bentuk korosi yang dapat terjadi, sehingga seyogianya korosi tersebut dikenali dengan baik untuk dikendalikan, terutama bagi mereka yang menangani bidang perencanaan dan perawatan peralatan pabrik, sarana transportasi dan fasilitas umum lainnya. Sehingga kedepan diharapkan dapat meningkatkan umur (life time) peralatan yang digunakan dan yang lebih penting lagi dapat menghindari terjadinya kecelakaan akibat kegagalan material yang menimbulkan korban jiwa.

Mencegah Terjadinya Korosi
Bagaimana cara kamu mencegah karat? Prinsip sederhananya adalah ”menutup” jalan masuk dan kontak antara permukaan besi dengan air dan udara. Caranya bisa bermacam-macam, misal dengan cara pengecatan, dan melapisi besi dengan bahan lain misal chrom, nekel (misal pada pelg roda sepeda kamu), penyepuhan atau galvanisasi. Ada juga logam yang dibentuk dari campuran besi sedemikian rupa namun tetap kuat yang disebut dengan STAINLESS STELL atau baja tahan karat, biasanya

10

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

digunakan untuk pisau, alat dapur dan atau alat-alat kedokteran/kesehatan. Cara lainnya adalah dengan apa yang diesbut dengan PROTEKSI KATODIK, yaitu melindungi benda besi dari karat dengan menjadikannya benda ditu sebagai KATODA, secara sederhana bisa dijelaskan bahwa sebatang besi akan lebih mudah terkena karat dibandingkan tembaga, maka dengan "menempelkan" besi pada sebuah tembaga, maka karat yang muncul akan "terserap" menuju besi, bukannya tembaga. Cara ini biasanya digunakan untuk jalur pipa yang panjang, menara tinggi, dan juga mulai dikembangkan dalam teknologi pencegah karat di kendaraan mobil. Coba deh lihat menara menara antena, terbuat dari besi kan? Lalu kenapa mereka tidak bisa berkarat? Betul, setiap beberapa waktu selalu di cat ulang, tidak menyisakan tempat bagi udara dan air bertemu dengan permukaan besi membentuk karat.

Bab 2 metoda percobaan
Alat
• • • •
• •

Gelas plastik bening Paku kecil (sudah diamplas) Paku besar (sudah diamplas) Tembaga (Sudah diamplas) Plastik bening
Karet gelang

@ 9 Gelas @ 7 Paku @ 2 Paku @ 1 Buah @ 5 Buah
@ 5 Buah

11

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

Bahan
• • Larutan Hcl 0,1 M Air

Langkah kerja
1. Berikan tanda label , contoh; A,B,C,…..,I pada masing – masing gelas
2.

Masukan 9 buah paku, diantaranya 1 paku yang sudah dililit tembaga dan 2 paku yang lebih besar ukurannya kedalam gelas yang telah diberikan label

3.

Pada gelas berlabel D,H,I diisi dengan Hcl 0,1 M, gelas berlabel B,C,F,G diisi dengan air, dan gelas berlabel A dan E hanya berisi paku saja

4.

5 gelas berlabel (E,F,G,H,I) ditutup dengan plastik bening, dan 4 gelas berlabel (A,B,C,D) dibiarkan terbuka

5.

Amatilah perubahan yang terjadi pada keesokan harinya atau
±24

jam.

12

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

Hasil Percobaan

1.0 Tabel Pengamatan Sebelum terjadinya korosi Warna Lab el Jenis Larutan Larutan Sebelum Terjadinya Korosi Warna Paku Sebelum Terjadinya Korosi Tidak A B Abu – abu, bersih Abu – abu, Air Bening bersih Abu – abu, Air Bening bersih Abu – abu, Hcl 0,1 M Bening bersih Miring Tidak Miring Tidak Miring Tidak Miring Tercelup Air Tercelup Air Tercelup Air Tercelup Hcl 0,1 M Tidak E F Abu – abu, bersih Abu – abu, Air Bening bersih Tidak Miring Tidak Miring Tercelup Air Tercelup Air Gelas Tertutup Gelas Tertutup Gelas Terbuka Gelas Terbuka Posisi Paku Keadaan Paku Keterangan

C

Gelas Terbuka

D

Gelas Terbuka

13

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

G

Abu – abu, Air Bening bersih Abu – abu, Hcl 0,1 M Bening bersih Abu – abu, Hcl 0,1 M Bening bersih Miring Tidak Miring Tidak Miring

Tercelup Air Tercelup Hcl 0,1 M Tercelup Hcl 0,1 M

Gelas Tertutup

H

Gelas Tertutup

I

Gelas Tertutup

1.1Tabel pengamatan sesudah terjadinya korosi Warna Lab el Jenis Larutan Larutan Sesudah Terjadinya Korosi Warna Paku Sesudah Terjadinya Korosi Tidak Tercelup Air Tercelup Air Gelas Terbuka Gelas Terbuka Posisi Paku Keadaan Paku Keterangan

A

-

-

Abu – abu, bersih Kuning Kecoklatan

Tidak Miring Tidak Miring

B

Air

Kuning Gelap

14

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

C

Air

Kuning Gelap

Kuning Kecoklatan

Tercelup Miring Air Sebagian Tidak Miring Tidak Miring Tidak Miring Tercelup Hcl 0,1 M Tidak Tercelup Air Tercelup Air Tercelup Gelas Tertutup Gelas Tertutup Gelas Terbuka Gelas Terbuka

D

Hcl 0,1 M

Bening

Hitam

E

-

-

Abu – abu, bersih

F

Air

Kuning Cerah

Kuning

G

Air

Kuning Cerah

Kuning

Miring

Air Sebagian

Gelas Tertutup

H

Hcl 0,1 M

Bening

Hitam

Tidak Miring Tidak Miring

Tercelup Hcl 0,1 M Tercelup Hcl 0,1 M

Gelas Tertutup

I

Hcl 0,1 M

Bening

Hitam

Gelas Tertutup

15

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

Bab 3 penutup

Kesimpulan

Jadi Besi yang cepat berkarat adalah besi yang di dalam air yang terbuka artinya pengaruh oksigen dan air sangat kuat. Faktor penyebab besi berkarat adalah O2 dan H2O Agar tidak terjadi perkaratan yang tidak kita kehendaki, maka kita harus melapisi logam besi dengan cat atau logam yang tahan korosi agar tidak di pengaruhi oleh O2 dan H2O

16

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

Pertanyaan

1. Paku pada gelas manakah yang menjadi berkarat ? 2. Samakah kecepatan terjadinya karat pada setiap paku? Jika bebeda, urutkan paku berdasarkan kecepatan terjadinya karat! 3. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan besi berkarat ?

17

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

4. Jika besi diganti dengan logam lain, misalnya alumunium, apa yang terjadi? Jelaskan

Jawaban

1. Semua paku dalam gelas yang di isi air atau Hcl.

2. Tidak sama, 1. Paku dalam gelas berisi Hcl 0,1 M tanpa di tutup
2. Paku dalam gelas yang berisi Hcl 0,1 M dan di tutup 3. Paku yang dililit tembaga dalam gelas yang berisi Hcl 0,1 M dan

di tutup 4. Paku dalam gelas yang di isi air tanpa di tutup
5. Paku kondisi miring dalam gelas yang di isi air tanpa di tutup

6. Paku dalam gelas yang di isi air dan di tutup
7. Paku kondisi miring dalam gelas yang di isi air dan di tutup

8. Paku dalam gelas kosong yang terbuka
9. Paku dalam gelas kosong dan ditututup

3. Faktor penyebab terjadinya korosi : • Direct corosion : pengrusakan kimiawi • Electrochemical corocion : disebabkan karena pengaruh lingkungan dari bahan baku, misal plat kapal dengan uap air laut • Oxidation : diakibatkan oleh reaksi oksigen pada temperatur yang tinggi • Evolusi hidrogen • Penyerapan oxygen • Kelembaban udara • Zat terlarut pembentuk asam (CO2, SO2) • Lapisan pada permukaan logam • Letak logam dalam deret potensial reduksi

18

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

4. Alumunium tersebut tidak akan berkarat, karena logam alumunium

memiliki pori-pori yang sangat kecil pada permukaannya dan Eo dalam alumunium tinggi.

Daftar Pustaka

Akhadi, Muklis. 2002. Ahli Peneliti Muda Bidang Fisika di Bidang Tenaga Nuklir Indonesia. Jakarta: Migas Indonesia

Aris, Tri S. dan Antonio Gomes. 2009. Bahan Konstruksi Alat Proses dan Korosi. Malang: Institut Teknologi Malang

Sumber Internet: http:// http:// id.answer.yahoo.com migas-indonesia.com
Oleh: Diamas Dewa Kristianto

19

Laporan Pengamatan Korosi

http:// http:// http:// http:// http:// http:// http:// http:// http://

onkynefra.blogspot.com wikipedia.org/wiki/karat www.google.com www.google.com/books www.gordonengland.co.uk www.korananakindonesia.com www.lenntech.com www.scribd.com facebook.com

20

Laporan Pengamatan Korosi

Oleh: Diamas Dewa Kristianto

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->