P. 1
KEBUDAYAAN MINAHASA

KEBUDAYAAN MINAHASA

|Views: 18,395|Likes:
Published by re_kim

More info:

Published by: re_kim on Nov 19, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2013

pdf

text

original

BAB I
KEBUDAYAAN MINAHASA

A.IDENTIFIKASI

Minahasa adalah kawasan didalam propinsi di semenanjung Sulawesi Utara di
Indonesia, sesuatu daerah yang indah, terletak di bagian utara timur pulau
Sulawesi, yang mencakup 27.515 km persegi, terdiri dari empat daerah -
Bolaang Mongondow, Gorontalo, Minahasa dan kepulauan Sangihe dan Talaud.
Minahasa juga terkenal oleh sebab tanahnya yang subur yang menjadi rumah
tinggal untuk berbagai variasi tanaman dan binatang, didarat maupun dilaut.
Tertutup dengan daunan hijau pepohonan kelapa dan kebun-kebun cengkeh,
tanah itu juga menyumbang variasi buah-buahan dan sayuran yang lengkap.
Fauna Sulawesi Utara mencakup antara lain binatang langkah seperti burung
Maleo, Cuscus, Babirusa, Anoa dan Tangkasii (Tarsius Spectrum).
Kebanyakan penduduk Minahasa adalah orang yang beragama Kristen, yang
ramah dan salah satu suku-bangsa yang paling dekat dengan negara barat.
Hubungan pertama dengan orang Europa terjadi saat pedagang Espanyol dan
Portugal tiba disana. Saat orang Belanda tiba, agama Kristen tersebar
terseluruhnya. Tradisi lama jadi terpengaruh oleh keberadaan orang Belanda.
Kata Minahasa berasal dari confederasi masing-masing suku-bangsa dan patung-
patung yang ada jadi bukti sistem suku-suku lama.
Orang Minahasa adalah suatu suku bangsa yang mendiami suatu daerah
pada bagian timur laut
jazirah sulawesi utara. Luas daerah ini, termasuk kota Manado dan Bitung. Luas
daerah ini termasuk kota-kota Manado dan Bitung, kurang dari 6.000 km2
.
Dalam ucapan umum orang Minahasa menyebut diri mereka orang
Manado
atau Touwenang (orang Wenang), orang Minahasa, atau pula
Kawanua. Tetangga-tetangganya di sebelah utara adalah orang Sangir
dan orang Talaud, serta orang Bolaang Mongondow di sebelah selatan.
Penduduk Minahasa dapat dibagi ke dalam delapan kelompok subetnik,
yaitu :

1

a.

Tounséa

b.

Toumbulu

c.

Tountemboan

d.

Toulour

e.

Tounsawang

f.

Pasan

g.

Panosakan

h.

Bantik

Setiap kelompok subetnik ini memiliki bahasa sendiri yang disebut
dengan nama subetnik itu sendiri.
Malayu Manado adalah bahasa umum yang dipergunakan dalam
komunikasi antara orang-orang dari sub-sub etnik Minahasa maupun
antara mereka denga penduduk dari suku-suku bangsa lainnya, baik
dalam lingkungan pergaulan kota maupun dalam lingkungan pergaulan
desa. Bahkan lebih dari itu, terutama di kota-kota, secara umum terlihat
orang-orang menggunakan Malayu Manado sebagai bahasa ibu,
menggantikan bahasa pribumi Minahasa atau bahasa suku bangsa yang
bersangkutan. Peranan Malayu Manado seperti di kota-kota ini sudah
terlihat pula secara jelas di desa-desa yang penduduknya merupakan
campuran dari berbagai subetnik tersebut di atas. Generasi terakhir dari
orang MInahasa di kota-kota dan di desa-desa yang dimaksud tidak dapat
lagi menggunakan bahasa pribumi subetnik yang bersangkutan. Proses
indigenisasi Malayu Manado sedang berlangsung dengan pesat,
membentuk suatu cirri identitas etnik dan bagian dari sistem budaya
Minahasa.

2

B.ASAL USUL SUKU MINAHASA ANAK SUKU TONSEA
Di tanah Minahasa sendiri kaum pendatang mempunyai ciri seperti:
Kaum Kuritis yang berambut keriting, Kaum Lawangirung (berhidung
pesek) Kaum Malesung/ Minahasa yang menurunkan suku-suku : Tonsea,
Tombulu,

Tompakewa,

Tolour,

Suku

Bantenan
(Pasan,Ratahan),Tonsawang, Suku Bantik masuk tanah minahasa sekitar
tahun 1590 . Suku Minahasa atau Malesung mempunyai pertalian dengan
suku bangsa Filipina dan Jepang, yang berakar pada bangsa Mongol
didataran dekat Cina. Hal ini nyata tampak dalam bentuk fisik seperti
mata, rambut, tulang paras, bentuk mata, dan lain-lain.
Dalam bahasa, Bahasa Minahasa termasuk rumpun bahasa Filipina
Tetua- tetua Minahasa menurunkan sejarah kepada turunannya melalui
cerita turun temurun biasanya dilafalkan oleh Tonaas saat kegiatan
upacara membersihkan daerah dari hal- hal yang tidak baik bagi
masyarakat setempat saat memulai tahun yang baru dan dari hal
kegiatan tersebut diketahui bahwa Opo Toar dan Opo Lumimuut adalah
nenek moyang masyarakat Minahasa, meskipun banyak versi tentang
riwayat kedua orang tersebut.
Keluarga Toar Lumimuut sampai ketanah Minahasa dan berdiam
disekitar gunung Wulur Mahatus, dan berpindah ke Watuniutakan Sampai
pada suatu saat keluarga bertambah jumlahnya maka perlu diatur
mengenai interaksi sosial didalam komunitas tersebut, yang melalui
kebiasaan peraturan dalam keturunannya nantinya menjadi kebudayaan
minahasa. Demikian juga dengan isme atau kepercayaan akan sesuatu
yang lebih berkuasa atas manusia sudah dijalankan diMinahasa sejak
awal.

3

C.DATA KEPENDUDUKAN DAN DESA
Sekarang ini wilayah yang dianggap wilayah etnik orang MInahasa
yang terdiri dari delapan kelompok tersebut di atas, terbagi pada tiga
wilayah administrasi pemerintahan, yaitu Kabupaten Minahasa, Kota
Madya Manado, dan Kota Bitung. Mayoritas dari penduduk di ketiga
wilayah ini ialah suku bangsa Minahasa. Selain tiga wilayah tersebut, di
Provinsi Sulawesi Utara juga terdapat Kab. Gorontalo, Kab. Bolaang
Mongondow, Kab.Sangihe Talaud, Kodya Gorontalo, dan Kodya Bitung.
Kabupaten MInahasa mampunyai 468 desa (kampung), senagai
kesatuan-kesatuan administrasi yang dipimpin oleh kepala desa, secara
adat disebut Hukum Tua (Kuntua). Dewasa ini, kesatuan administrasi
desa telah dirubah menjadi kelurahan dan dipimpin oleh seorang Lurah.
Apa yang sekarang dikenal sebagai aparatur pemerintah desa terdiri dari
Kepala Desa / Lurah, Orang-orang Tua Desa, dan Pamong Desa yang
mengepalai sub-sub wilayah di dalam desa dan yang bertugas sebagai
juru tulis, pengukur tanah, pengurus perkebunan, pengurus pengairan,
dan pejabat urusan agama. Di seluruh Minahasa terdapat 27 kecamatan.
Kecuali desa sebagai kesatuan administrasi tersebut ada juga
perkampungan yang berupa kompleks perumahan bersama dengan
kebun-kebun dan sawah-sawah yang secara administratif merupakan
bagian dari suatu desa. Ada kalanya suatu bagian desa ditingkatkan
menjadi desa dengan kepala desa sendiri.
Suatu masyarakat pedesaan dapat pula merupakan kelompok dari
beberapa desa. Masyarakat seperti itu memperlihatkan ciri-ciri kesatuan
adat tertentu dan sering kali memiliki suatu bahasa atau dialek tersendiri.
Suatu kelompok desa yang sudah demikian besarnya itu, biasanya juga
merupakan tempat kedudukan Kepala Kecamatan (Camat). Baik desa
anak, desa, maupun kelompok desa-desa seperti itu, disebut wanua.
Pola perkampungan di Minahasa bersifat menetap, dalam arti bahwa
suatu desa cenderung tidak berkurang penduduknya atau lenyap karena
ditinggalkan akibat ladang-ladang yang makin jauh. Desa itu sendiri

4

memang merupakan pusat aktifitas social dari para petani. Kecuali itu,
setiap desa dalam perkembangannya bersifat mengelompok menjadi
padat dan luas.

Aspek lain dari pola desa di Minahasa ialah bahwa kelompok rumah-
rumah itu mempunyai bentuk memanjang mengikuti jalan raya.desa yang
mulai menjadi besar, pada sebelah menyebelah jalan raya dihubungkan
dengan jalan-jalan samping untuk masuk lebih dalam. Namun demikian,
jalan raya tetap sebagai urat nadi desa dan sepanjang itu terletak pusat-
pusat aktivitas desa seperti kantor Kepala Desa, pasar, gereja, kantor
polisi, pertokoan, warung, dan sebagainya. Walaupun demikian ada pula
contoh-contoh dari desa yang berbentuk meluas dimana pusat-pusat
aktivitas desa tidak terletak pada satu deretan memanjang pada jalan
raya tetapi tersebar.
Kelancaran komunikasi antar desa terutama untuk jarak-jarak yang
agak jauh banyak ditentukan oleh kendaraan-kendaraan seperti bis kecil
dan kendaraan bermotor lainnya, namun demikian ini hanya terbatas
pada jalan-jalan yang baik. Di desa-desa yang tidak dapat dilalui oleh
kendaraan-kendaraan bermotor, maka gerobak yang ditarik oleh sapi
(roda sapi) atau gerobak yang ditarik oleh kuda (roda kuda) menjadi alat
pengangkutan yang pokok. Roda sapi juga penting sebagai alat
pengangkutan yang menghubungkan desa dengan lokasi pertanian.
Jaringan jalan-jalan desa seperti itu, yang disebut jalan roda,
menghubungkan tempat-tempat pertanian dengan desa, atau beberapa
desa yang berdekatan. Kebanyakan dari jalan-jalan tersebut tidak dapat
dilalui oleh kendaraan bermotor.
Bentuk rumah orang MInahasa sekarang telah banyak berbeda dari
bentuk-bentuk rumah kuno, walaupun masih juga terlihat adanya unsur-
unsur yang khas. Unsur-unsur khas yang dimaksud antara lain lantai
rumah yang berada diatas tiang-tiang yang tingginya sampai 21

/2 meter.
Tiang-tiang tersebut dapat dibuat dari kayu (balak) maupun dari batu
kapur. Ruangan depan yang biasanya selebar rumah dimana terdapat

5

sebuah atau dua buah tangga tidak berdinding tetapi dikelilingi dengan
regel setinggi kurang lebih 1 meter dengan terali-terali dari kayu yang
berukir secara sederhana. Biasanya di atas regel diletakkan gerabah-
gerabah bertanah yang ditanami berbagai tanaman kembang atau
tanaman hias lainnya. Dapat juga ditemukan tiang-tiang dalam ruangan
itu yang dihiasi dengan ukiran-ukiran seerhana.
Sebuah rumah biasanya dibagi dua oleh gang pada bagian tengah.
Sepanjang gang itu terletak kamar-kamar di kedua sisinya. Bagian bawah
rumah atau kolong rumah, biasanya dipakai sebagai gudang kalau diberi
dinding, atau pula sebagai kamar, atau tempat gerobak dan alat-alat
pertanian. Rumah yang biasanya berbentuk persegi panjang itu,
beratapkan daun rumbia atau seng. Genteng tidak dikenal di Minahasa.
Selain dari bangunan induk itu, suatu rumah juga mempunyai bangunan-
bangunan tambahan pada bagian belakang atau samping, yang dipakai
unuk dapur dan lain-lain. Tidak setiap rumah mempunyai sumur. Mereka
yang tidak mempunyai sumur mengambil air dari mata air dengan bambu
atau dari sumur tetangga. Umumnya, setiap rumah tangga memiliki
jamban; namun demikian, apa yang terlihat pada penduduk pedesaan
pada umumnya belum sesuai dengan persyaratan sanitasi lingkungan.
Adapun bentuk rumah seseorang di dalam desa dapat menentukan
pula apakah ia tergolong pada orang yang kaya atau tidak. Biasanya
orang yang lebih kaya membuat rumah dari bahan-bahan yang lebih
mahal, misalnya seng untuk atap, kaca untuk isi jendela, sedangkan jenis-
jenis kayu yang dipakai adalah dari jenis kayu yang baik seperti cempaka,
wasian,
bahkan lingua yang terkenal sebagai kayu terbaik. Rumah seperti
itu di kalangan penduduk desa disebut rumah seng atau rumah kaca.
Dahulu rumah-rumah tradisional selalu dicat putih, dengan menggunakan
tanah kapur sebagai bahan catnya.

6

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->