P. 1
Makalah Ushul Fiqh

Makalah Ushul Fiqh

|Views: 3,329|Likes:
Published by Muhammad Akhi Yusuf
hopefully this is useful for us
hopefully this is useful for us

More info:

Published by: Muhammad Akhi Yusuf on Nov 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Pengertian Dalil Dalam bahasa arab, dalil bararti “penunjuk bagi segala sesuatu yang bersifat konkrit maupun abstrak, yang baik maupun yang buruk”. Menurut istilah Ahli Ushul, pengertian dalil adalah “sesuatu yang dipakai sebagai hujjah berdasarkan perundang-undangan yang benar atas hukum syara’ tentang tindakan manusia, baik secara qath’i maupun zhanni”. Yang dimaksud dengan dalil-dallil hukum, pokok-pokok hukum dan sumber-sumber hukum Islam ialah lafazh-lafazh yang sinonim (sama artinya) antara yang satu dan lainnya. 1.2. Mengenal Dalil-dalil Syar’iyyah Berdasarkan penyelidikan yang handal, hukum-hukum amaliyah yang diambil dari dalil-dalil syar’iyyah berdasarkan kepada empat dasar pokok, yaitu al-Qur’an, as- Sunnah, al-Ijma’ dan al-Qiyas. Oleh sebagian besar ulama keempat landasan tersebut disepakati sebagai dalil, disamping kesepakatan mengenai cara penggunaan dalil tersebut, secara kronologis dengan susunan : (1) al-Qur’an, (2) as- Sunnah, (3) al-Ijma’ dan (4) al-Qiyas. Dengan kata lain, jika terdapat permasalahan, maka upaya yang dilakukan pertama adalah mencari dalil atau hukum di dalam al-Qur’an. Jika di dalam alQur’an terdapat hukum maka hukum tersebut harus dilaksanakan. Jika di dalam al-Qur’an tidak terdapat hukumnya, maka harus melihat kepada as-Sunnah. Jika di dalam as-Sunnah terdapat ketetuan hukumnya, maka hukum itu harus dilaksanakan. Jika di dalam as-Sunnah tidak terdapat ketentuan hukumnya, maka harus melihat ijma’, jika di dalam ijma’ terdapat hukumnya itu juga harus dilaksanakan. Atau jika tidak melaksanakan ijma’ tersebut, harus melakukan ijtihad sendiri dalam rangka menemukan hukum atas suatu permasalahan dengan jalan qiyas kepada hukum yang terdapat nashnya. Alasan mengenai penggunaan empat dalil tersebut, adalah firman Allah :

1

    

    

      

                    



    
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.S. anNisaa’ : 59) Sumber hukum Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Dua sumber tersebut disebut juga dalil-dalil pokok hukum Islam karena keduanya merupakan petunjuk (dalil) utama kepada hukum Allah. Ada juga dalil-dalil lain selain al-Qur’an dan Sunnah seperti qiyas, istihsan dan istishlah,, tetapi tiga dalil disebut terakhir ini hanya sebagai dalil pendukung yang hanya merupakan alat bantu untuk sampai kepada hukum-hukum yang dikandung oleh al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Karena hanya sebagai alat bantu untuk memahami al-Qur’an dan Sunnah, sebagian ulama menyebutnya sebagai metode istinbat. Imam alGhozali misalnya, menyebut qiyas sebagai metode istinbat. Dalam tulisan ini, isthilah sumber sekaligus dalil kita gunakan untuk al-Qur’an dan Sunnah, sedangkan untuk selain al-Qur’an dan Sunnah seperti ijma’, qiyas, istihsan, 2

maslahah mursalah, istishab, ‘urf dan sadd az-zari’ah “dalil-dalil pendukung” di atas pada sisi lain disebut juga sebagai metode istinbat, maka ketika menjelaskan pembahasan mengenai metode istinbat melalui maqasid syari’ah, akan dijelaskan sepintas kaitan dalil-dalil tersebut dengan metode istinbat.

BAB II PERMASALAHAN
2.1. Obyek Kajian Ushul fiqh Banyak obyek yang dikaji dalam ilmu ushul fiqh, namun kali ini kita akan membahas tentang sumber dan dalil-dalil hukum tentang al-Qur’an dan asSunnah, secara terperinci dapat disimpulkan mengenai hal tersebut, yakni : 1. 2. 3. . 2.2 Kegunaan Obyek Kajian Dalam mengkaji obyek ini, maka terdapat beberapa kegunaan yang dapat dikemukakan, diantaranya sebagai beriklut : 1. Dengan mempelajari ini, maka kita dapat mengetahui tentang sumber dan dalil-dalil tentang al-Qur’an dan as-Sunnah. 2. Setelah mengetahui sumber dan dalil-dalil tersebut, kita juga dapat menggunakannya sebagai dasar-dasar ilmu untuk suatu ketentuan atau permasalahan. 2.3. Perumusan Pokok Permasalahan Dari keterangan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwasanya terdapat beberapa permasalahan diantaranya sebagai beruikut : 1. Apa pengertian tentang dalil? Pembahasan tentang pengertian dalil-dalil syara’ Pembahasan tentang dari mana asal-usul sumber dalil tersebut. Meresume mengenai penjelasan dalil-dalil hukum al-Qur’an dan as-Sunnah

3

2. Mengapa al-Qur’an dan as-Sunnah dijadikan dalil yang pertama dan utama? 3. Apa yang menjadikan hujjah bahwasanya al-Qur’an dan Sunnah dianggap menjadi dalil yang pokok? 4. Apa saja masalah yang dibahas dalam al-Qur’an?

BAB III METODE PENULISAN
3.1. Metode Pemahaman Dalam pemahaman penulisan ini, penulis merangkum beberapa kaidahkaidah yang terdapat dalam beberapa karangan Ushul Fiqh dari para ulama’, dimasudkan agar mudah dibaca dan dipelajari oleh kita semua, sehingga kita dapat memahami dan mengaplikasikan dalil-dalil hukum yang terdapat dalam alQur’an dan as-Sunnah. 3.2. Hasil Observasi Seluruh hukum syar’iyyah yang berkaitan dengan berbagai tindakan manusia, ucapan atau perbuatan, diambil dari nash-nash yang telah ada. Di samping itu istinbat dalil-dalil syari’ah Islam yang tidak terdapat nashnya disusun dalam sebuah ilmu fiqh. Dengan demikian, pengetahuan tentang hukum-hukum Islam mengenai perbuatan manusia yang diambil berdasarkan dalil-dalil secara detail. berdasarkan hasil observasi, penulis memaparkan bahwa ulama telah menetapkan tentang dalil-dalil itu sebagai dasar acuan hukum syari’ah tentang perbuatan manusia dikembalikan kepada empat sumber, al-Qur’an, as-Sunnah, alIjma’ dan al-Qiyas. Kemudian yang dijadikan sebagai dalil pokok atau sumber hukum syari’ah, pertama adalah al-Qur’an, kemudian as-Sunnah, sekaligus sebagai penjelas serta pelengkap bagi keglobalan al-Qur’an.

4

Untuk pembahasan tentang dalil-dalil ini digunakan sebagai hujjah bagi kita umat manusia dan juga sebagai sumber hukum syari’at Islam yang setiap ketetapannya harus diikuti dan dilaksanakan.

BAB IV PEMBAHASAN
4.1. a. Dalil Pertama : al-Qur’an Pengertian al-Qur’an Al-Qur’an dalam kajian Ushul Fiqh merupakam objek pertama dan utama pada kegiatan penelitian dalam memecahkan suatu hukum. alQur’an menurut bahasa berarti “bacaan” dan menurut istilah Ushul Fiqh al-Qur’an berarti “kalam” (perkataan) Allah yang diturunkan-Nya dengan perantaraan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. dengan bahasa Arab serta dianggap beribadah membacanya. b. Keistimewaan al-Qur’an Al-Qur’an itu dikompilasikan di antara dua ujung yang dimulai dari surat al-Fatihah, dan ditutup dengan surat an-Naas, yang sampai kepada kita secara tertib dalam bentuk tulisan maupun lisan dalam keadaan utuh atau terpelihara dari perubahan dan pergantian, sekaligus dibenarkan oleh Allah di dalam firman-Nya :

         

5

Artinya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan alQur’an, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Q.S. al-Hijr : 9) Beberapa kekhususan al-Qur’an, ialah dari segi lafazh dan maknanya yang datang dari Allah swt. dan sesungguhnya lafazh yang berbahasa Arab itu diturunkan Allah kepada kalbu Rasulullah saw. sedangkan Rasulullah hanya membacakan al-Qur’an dan menyampaikan kepada umat manusia. Kekhususan lainnya adalah : a. Bahwa al-Qur’an itu diturunkan secara mutawatir. b. Keindahan uslub atau gaya bahasanya, makna, hukum, dan pandangan-pandangannya. c. Keselarasan ayat-ayat al-Qur’an dengan teori-teori ilmiyah yang diungkapkan dalam ilmu pengetahuan. d. Pemberitaan peristiwa-peristiwa yang tidak diketahui, melainkan Allah yang mengetahui hal-hal yang gaib itu. Serta masih banyak lagi keistimewaan yang terkandung di dalamnya. c. Kehujjahan al-Qur’an Argumentasi bahwa al-Qur’an adalah hujjah bagi umat manusia, dan hukum-hukumnya merupakan undang-undang yang wajib dipatuhi, ialah karena al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt. secara qath’i yang kebenarannya tidak diragukan. d. Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah Al-Qur’an diturunkan dalam dua periode, yaitu pertama periode Mekkah sebelum Rasululullah hijrah ke Madinah dan ayat yang diturunkan pada periode ini dikenal ayat Makkiyah, dan periode kedua setelah Rasulullah hijrah ke Madinah yang dikenal dengan ayat-ayat 6

Madaniyah, ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah pada umumnya yang menjadi inti pembicaraannya adalah masalah-masalah keyakinan (akidah), dalam rangka meluruskan keyakinan umat dimasa jahiliyah dan menanamkan ajaran tauhid. Kenapa masalah akidah yang harus lebih dulu ditanamkan, karena tanpa itu syariat Islam belum diterima oleh umat. Misalnya firman Allah :

             
Artinya : “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (Q.S. alAnbiya’ : 25) Disamping itu ayat-ayat Makkiyah juga berbicara tentang kisah umat-umat masa lampau sebagai pelajaran bagi umat Nabi Muhammad saw. Peristiwa hijrah Rasulullah ke Madinah adalah garis pemisah antara dua periode tersebut di mana pada saat hijrah ini masalah iman telah tertanam ke dalam hati segenap pribadi yang ikut hijrah bersama Rasulullah. Dari kelompok kecil inilah kemudian menjadi komunitas yang besar menjadi masyarakat Islam. Maka mulailah turun ayat-ayat Madaniyah yang banyak terkait dengan hukum dari berbagai aspeknya. Misal tentang perintah untuk membayar zakat, Allah berfirman :

7

    

  

    
Artinya : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'”. (Q.S. al-Baqarah : 43). Dan banyak lagi masalah-masalah hukum yang turun yang disebut dengan ayat-ayat Madaniyah, diantaranya mengenai perintah berpuasa, menunaikan ibadah haji, larangan memakan harta orang lain, masalah pernikahan, dan lain sebagainya. e. Hukum-hukum yang Terkandung dalam al-Qur’an Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup secara umum mengandung tiga ajaran pokok : 1. Ajaran-ajaran yang berhubungan dengan akidah (keimanan) membicarakan tentang hal-hal yang wajib diyakini, seperti masalah tauhid, masalah kenabian, kitab-kitab-Nya, Malaikat, dan sebagainya. 2. Ajaran-ajaran yang berhubungan dengan akhlak, yaitu hal-hal yang harus dijadikan perhiasan oleh setiap mukalaf berupa sifat-sifat keutamaan dan menghindarkan diri dari hal-hal yang membawa kepada kehinaan. 3. Hukum-hukum amaliyah, yaitu ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan amal perbuatan mukalaf. Dari hukum-hukum amaliyah inilah timbul dan berkembangnya ilmu fiqh.

8

Dengan demikian di dalam istilah syara’ hukum-hukum selain ibadah disebut hukum mu’amalah. Abdul Wahhab Khallaf memerinci macam hukum-hukum bidang mu’amalat dan jumlah ayatnya sebagai berikut : 1. Hukum keluarga, mulai dari terbentuknya pernikahan, sampai masalah talak, rujuk, ‘iddah, warisan dan lain-lain. Ayat-ayat yang mengatur masalah ini tercatat sekitar 70 ayat. 2. Hukum perdata, yakni yang berhubungan mu’amalh antar individu, masyarakat dan kelompok, misalnya masalah jual-beli, sewamenyewa, penggadaian, utang-piutang, dan lain sebagainya. Ayat-ayat yang mengatur masalah ini tercatat sekitar 70 ayat. 3. Hukum jinayat (pidana), yaitu hukum-hukum yang menyangkut dengan tindakan kejahatan dan sanksi pidananya. Terdapat sekitar 30 ayat yang membicarakan hal ini. 4. Hukum al-murafa’at (acara), yakni berhubungan dengan masalah peradilan, kesaksian dan sumpah. Hukum-hukum seperti ini dimaksudkan agar keputusan hakim dapat seobjektif mungkin. Ayatayat yang mengatur masalah ini tercatat sekitar 13 ayat. 5. Hukum ketatanegaraan, yaitu kretentuan-ketentuan yang berhubungan dengan pemerintahan. Hukum-hukum seperti ini dimaksudkan untuk mengatur hubungan pemerintah dengan rakyatnya. Ayat-ayat yang mengatur masalah ini tercatat sekitar 10 ayat. 6. Hukum antar bangsa (internasional), yaitu hukum-hukum yang mengatur hubungan antara Negara Islam dengan non-Islam, dan juga tata cara pergaulan di dalamnya. Ayat-ayat yang mengatur masalah ini tercatat sekitar 25 ayat. 7. Hukum ekonomi dan keuangan, yaitu hukum yang mengatur kewajiban-kewajiban dan hak-hak antara si kaya dan si miskin, juga mengatur sumber-sumber pendapatannya dan pembelanjaannya. Ayatayat yang mengatur masalah ini tercatat sekitar 10 ayat.

9

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ketentuan-ketentuan hukum dalam al-Qur’an sebagian besarnya disampaikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar, umum, dan bersifat global, kecuali dalam beberapa hal, seperti dalam masalah kaffarat dan hukum keluarga serta beberapa hal yang lainnya. 4.2. a. Dalil Kedua : as-Sunnah Pengertian as-Sunnah Kata sunnah secara bahasa berarti “perilaku seseorang tertentu, baik perilaku yang baik atau perilaku yang buruk”. Menurut istilah Ushul Fiqh, Sunnah Rasulullah, seperti dikemukakan oleh Muhammad ‘Ajjaj alKhatib (guru besar hadits Universitas Damaskus), berarti segala perilaku Rasulullah yang berhubungan dengan hukum, baik berupa ucapan (Sunnah qauliyyah), perbuatan (Sunnah Fi’liyyah), atau pengakuan (sunnah Taqririyah)”. b. Kehujjahan as-Sunnah Umat Islam sepakat bahwa apa saja yang datang dari Rasulullah saw. baik ucapan, perbuatan dan taqrir membentuk suatu hukum, dengan kata lain hukum-hukum yang ada pada as-sunnah adalah hukum yang ada dalam al-Qur’an sebagai peraturan perundangan yang harus ditaati. Kehujjahan as-Sunnah ini dapat dibuktikan sebagai berikut : a. Adanya nash-nash al-Qur’an, yang dalam hal ini Allah memerintahkan melalui ayat-ayat-Nya untuk taat kepada Rasulullah saw. yang taat kepada Rasullullah ini berarti mentaati kepada Allah swt. Alllah swt. berfirman :









    ………   

10

Artinya : Nisaa’ : 80) b.

“Barang siapa yang mentaati Rasul itu,

sesungguhnya ia telah mentaati Allah”. (Q.S. anIjma’ para sahabat ketika Rasul masih hidup dan sepeninggal beliau tentang keharusan taat kepada Rasulullah saw. atau sunnah Rasul. c. Di dalam al-Qur’an, Allah swt. telah mewajibkan kepada umat manusia untuk melakukan sesuatu dengan lafazh yang ‘am, dan yang menjelaskan keumuman tersebut adalah Rasuluyllah saw. dengan sunnah qauliyah maupun amaliyah. Seperti ibadah shalat, firman Allah :

 

..… 

 …..  
Artinya : “......Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.....”. (Q.S. an-Nisaa’ : 77) c. Pembagian Sunnah atau Hadits Sunnah atau hadits dari segi sanadnya atau periwayatnya dalam kajian Ushul Fiqh dibagi kepada dua macam, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad. Hadits Mutawatir ialah hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah oleh sekelompok perawi yang menurut kebiasaan individu-individunya jauh dari kemungkinan berbuat bohong, karena banyak jumlah mereka dan diketahui sifat masing-masing mereka yang jujur serta berjauhan tempat antara yang satu dengan yang lain. Hadits Ahad ialah hadits yang diriwayatkan oleh seseorang atau lebih tetapi tidak sampai kebatas hadits mutawatir. Hadits Ahad terbagi kepada tida macam, pertama hadits masyhur, yaitu hadits yang pada masa sahabat diriwayatkan oleh tiga orang perawi, tetapi kemudian pada masa

11

tabi’in dan seterusnya hadits itu menjadi hadits mutawatir dilihat dari segi jumah perawinya. Kedua, hadits ‘aziz, yaitu hadits yang pada satu periode diriwayatkan oleh dua orang meskipun pada periode-periode yang lain diriwayatkan oleh banyak orang. Contoh :

‫) طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة ) رو اه البيهقى‬
Artinya : “Menuntut ilmu itu adalah merupakan kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam baik laki-laki atau perempuan”. (HR. al-Baihaqi) Ketiga, hadits gharib yaitu hadits yang diriwayatkan orang perorangan pada setiap periode sampai hadits itu dibukukan. d. Fungsi Sunnah Terhadap Ayat-ayat Hukum Secara umum fungsi sunnah adalah sebagai bayan (penjelasan) atau tabyin (menjelaskan ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an) seperti ditunjukkan oleh 44 Surat an-Nahl :

               



   
Artinya : “Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitabkitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan diturunkan pada umat manusia dan apa yang telah kepada mereka, supaya mereka

memikirkan”. (Q.S. an-Nahl : 44) Ada beberapa fungsi as-sunnah terhadap al-Qur’an,

diantaranya :

12

1.

Menjelaskan isi al-Qur’an, antara lain dengan merinci ayat-ayat global. Misalnya hadits fi’liyah (dalam bentuk perbuatan) Rasulullah yang menjelaskan cara melakukan shalat yang diwajibkan dalam al-Qur’an, demikian pula tentang masalah haji. Di samping itu juga sunnah Rasulullah berfungsi utuk mentakhsis ayat-ayat umum dalam al-Qur’an yaitu menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh Allah adalah sebagian dari cakupan lafal umum itu, bukan seluruhnya.

2.

Membuat aturan tambahan yang bersifat teknis atas suatu kewajiban yang disebutkan pokok-pokoknya di dalam al-Qur’an. Misalnya masalah li’an, bilamana seseorang menuduh istrinya berzina tetapi tidak mampu mengajukan empat orang saksi padahal istrinya itu tidak mengakuinya, maka jalan keluarnya adalah dengan cara li’an. Li’an adalah sumpah empat kali dari pihak suami bahwa tuduhannya benar dan pada kali yang kelima ia berkata : “laknat (kutukan) Allah atasku jika aku termasuk ke dalam orang-orang yang berdusta”. Setelah itu istri pula mengadakan lima kali sumpah membantah tuduhan tersebut Allah : sebagaimana dijelaskan dalam firman

     

    

13

  

         

       

 

            

    

 



 
Artuinya : “6. Dan orang-orang yang menuduh isterinya maka (berzina), padahal orang itu mereka ialah tidak empat ada kali mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, persaksian bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. 7. dan (sumpah) yang kelima: bahwa la'nat Allah atasnya, berdusta. 8. Istrinya itu dihindarkan kali dari atas hukuman nama oleh Allah sumpahnya empat jika dia termasuk orang-orang yang

14

Sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. 9. dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar”. (Q.S. an-Nur : 6-9) Sehingga dengan li’an yang dilakukannya, suami lepas dari hukuman qazaf (depalan puluh kali dera atas orang yang menuduh lain berzina tanpa saksi) dan istripiun bebas dari tuduhan berzina itu. Namun dalam ayat tersebut tidak dijelaskan apakah hubungan suami istri antara keduanya masih lanjut atau terputus. Sunnah Rasulullah menjelaskan hal itu yaitu bahwa diantara keduanya dipisahkan buat selamanya. (HR. Ahmad dan Abu Daud) 3. Menetapkan hukum yang belum disinggung dalam al-Qur’an. Contohnya : hadits riwayat al-Nasa’i dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda mengenai keharaman mempunyai hadits : memakan taring binatang buruan yang yang dan burung-burung

mempunyai cakar sebagaimana disebutkan dalam

‫عن أبى هريرة عن النبى ص م قال : كل ذى ناب من السباع فأكله‬
‫) حرام ) رو اه النسا ئى‬
Artinya : Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. bersabda : “Semua jenis binatang buruan yang mempunyai taring dan burung yang mempunyai cakar, maka hukum memakannya adalah haram”. (HR. an-Nasa’i)

15

BAB V KESIMPULAN
Dari penjelasan-penjelasan sebelumnya maka kami penulis dapat meresume dan menyimpulkan beberapa kesimpulan, diantara kesimpulan-kesimpulan tersebut adalah : 1. Dalil adalah merupakan sesuatu yang dapat dijadikan bukti dengan sudut pandang yang benar atas hukum syara’ mengenai perbuatan manusia, baik secara qath’i maupun zhanni.

16

2.

Sumber hukum Islam adalah al-Qur’an dan as-Sunnah, dua dalil ini juga disebut dalil-dalil pokok hukum Islam karena keduanya merupakan petunjuk (dalil) utama kepada hukum Allah.

3.

al-Qur’an dan as-Sunnah disebut dalil yang paling pokok juga karena ada kehujjahannya, yaitu : a. al-Qur’an, yang menjadi hujjah bagi umat manusia, dan hukum-hukumnya merupakan undang-undang yang wajib dipatuhi ialah karena al-Qur’an diturunkan dari Allah secara qath’i dan kebenarannya tidak diragukan lagi, dan tidak ada satupun makhluk yang mampu menirunya. b. Dalam as-Sunnahpun demikian terdapat hujjah yang dibuktikan dengan beberapa alasan : • Adanya nash-nash al-Qur’an yang memerintahkan kepada umat Islam untuk mentaati Rasulullah saw. karena dengan mentaati Rasulullah, maka ini berarti mentaati Allah swt. • • Ijma’ para sahabat Sunnah juga berfungsi sebagai penjelas dan perinci tentang ayat-ayat dalam al-Qur’an yang mujmal (umum)

4.

Beberapa masalah yang terdapat di dalam al-Qur’an adalah secara garis besar yang disampaikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar, umum, dan bersifat global, kecuali dalam beberapa hal tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Depertemen Agama RI (al-Jumanatul ‘Ali), Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung : CV. Penertbit J-Art, 2005 Effendi, Satria, Ushul Fiqh, Jakarta : Kencana, 2008, Cet. II

17

Effendi, Satria, Pengantar Ushul Fiqh dan Ushul Fiqh Perbandingan, Jakarta : Pustaka Hidayah, 1993, Cet. I Khallaf, Abdul Wahhab, Ilmu Ushul Fiqh, Bandung : Gema Risalah Press, 1996, Cet. II

CURRICULUM VITAE
Nama Alamat : M. Akhi Yusuf : Jl. Asrama Zeni AD No. 62 Lubang Buaya, Jakarta Timur Tempat dan Tanggal Lahir : Lampung, 04 Maret 1990

18

Semester Jurusan

: III (Tiga) : PAI (Pendidikan Agama Islam)

19

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->