P. 1
Buku Belajar Dan Pembelajaran

Buku Belajar Dan Pembelajaran

|Views: 11,696|Likes:
Published by ahmadkhoirulanam
isinya tentang materi kuliah belajar dan pembelajaran
isinya tentang materi kuliah belajar dan pembelajaran

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: ahmadkhoirulanam on Nov 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

10/05/2015

original

Belajar tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Tidak belajar, berarti
tidak akan memperoleh kemampuan. Belajar dalam arti proses mental dan
emosional terjadi secara individual. Jika kita mengajar disuatu kelas sudah
barang tentu kadar aktivitas belajar para siswa beragam.
Disamping itu, siswa yang belajar sebagai pribadi tersendiri, yang
memiliki perbedaan dari siswa lain. Perbedaan itu mungkin dalam hal
pengalaman, minat, bakat, kebiasaan belajar, kecerdasan, tipe belajar dan
sebagainya..

Guru yang menyamaratakan siswa menganggap semua siswa sama.
sehingga memperlakukan mereka sama kepada semua. pada prinsipnya
bertentangan dengan hakikat manusia, khususnya siswa.
Guru yang bijaksana akan menghargai dan memperlakukan siswa sesuai
dengan hakikat mereka masingmasing. Suatu tindakan guru yang dipandang
tepat terhadap seorang siswa, belum tentu tepat untuk siswa yang lain. Akan
tetapi ada perlakuan yang memang harus sama terhadap semua.

87

Demikian pula yang menyangkut pelajaran. Pelajaran mana yang harus
dipelajari oleh semua siswa dan peIajaran mana yang boleh dipilih oleh siswa
sesuai dengan bakat mereka.

Perlakuan guru terhadap siswa yang cepat harus berbeda dii i perlakuaii
terhadap siswa yang termasuk lamban. Siswa yang lamban perlu banyak dibantu
sedangkan siswa yang cepat dapa diberi kesempatan lebih dulu maju atau
melakukan pengayaan.

Didalam menggunakan metode mengajar, guru perlu menggunakan
metode mengajar yang bervariasi, sebab mungkin siswa yang kita ajar memiliki
tipe belajar yang berbeda. Siswa yang memiliki tipe belajar yang auditif akan
lebih mudah belajar melalui pendengaran. Siswa yang memiliki tipe belajar yang
motorik akan memiliki tipe belajar visual akan lebih mudah belajar melalui
penglihatan. sedangkan siswa yang memiliki tipe belajar motorik akan lebih
mudah belajar melalui perbuatan.
Untuk keperluan itu semua guru perlu memahami pribadi masing-masing

yang menjadi bimbingannya.

Oleh karena itu catatan pribadi siswa sangat bermanfaat. Setiap siswa
perlu dikatat tentang kecerdasannya, bakatnya, tipe belajarnya, latar belakang
kehidupan orang tuanya, kemampuan panca indranya, penyakit yang
dideritanya, bahkan kejadian sehari-hari yang dianggap penting. Semua itu harus
dkatat pada catatan pribadi siswa. Buku catatan pribadi siswa itu harus diisi
secara rutin dan terus mengikuti pribadi siswa tersebut ke kelas dan ke jenjang
pendidikan berikutnya.

Buku catatan pribadi tiap siswa kelas 1 setelah mereka naik kelas II harus
diserahkan pada guru kelas II untuk digunakan dan diisi dengan data baru,
begitulah seterusnya sampai kejenjang pendidikan berikumya.
Adakah buku catatan pribadi tiap siswa dikelas tempat anda mengajar?

Bila ada coba pelajari:
1.Data apa saja yang dicatat
2.Kapan buku tersebut diisi
3.Pernahkah buku catatan pribadi tersebut digunakan, dan untak apa

88

4.Bagaimana saran anda untuk pemanfaatan buku catatan pribadi tersebut :
data dan pengisiannya serta penggunaanya.
Jika ternyata belum ada, coba buat sebuah model buku catatan pribadi
siswa yang menurut anda cukup lengkap untuk keperluan pembimbingan belajar
terhadap siswa, Itulah lima prinsip belajar telah kita diskusikan. Silahkan anda
pelajari berbagai sumber tentang belajar. Akan tetapi paling tidak kelima prinsip
diatas hendaknya menjadi pegangan kita didalam membelajarkan siswa-siswa
kita.

Belajar terjadi pada suatu system lingkungan belajar yang terdiri dari
komponen atau unsur tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa dan guru.
Sebagai suatu system, unsur-unsur penabelajaran tersebut saling berkaitan,
saling mempengaruhi. Oleh karena itu pemilihan dan penggunaan strategi
belajar mengajar tidak dapat dilepaskan dari pertimbangan unsur-unsur lain
didalam system pembelajaran. Yang menjadi unsur utama ialah tujuan
pembelajaran. Semua unsur didalam pembelajaran harus sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Oleh karena itu tujuan pembelajaran harus ditetapkan lebih dulu.
Bagaimana implikasi tujuan, bahan pelajaran, alat dan siswa terhadap
penggunaan strategi belajar mengajar akan kita diskusikan pada kegiatan belajar
berikutnya. Untuk memantapkan pemahaman anda terhadap materi yang anda
pelajari kerjakanlah latihan dibawah ini.
1.Identifikasikanlah kegiatan pembelajaran yang anda rancang.
Apakah kegiatan pembelajarannya termasuk belajar meialui pengalaman
ataukah melalui pengamatan?
2.Kegiatan apa yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan motifasi
belajar siswa?
3.Kegiatan apa yang dapat dilakukan guru untuk menarik perhatian siswa?
Untuk memudahkan anda dalam mengerjakan latihan diatas bacalah
rambu-rambu pengerjaan latihan berikut ini. Rambu-rambu pengerjaan latihan.

89

1.Ambillah salah satu rencana pembelajaran yang akan anda laksanakan.
Identifikasi setiap langkah kegiatan pembelajaran yang akan anda tempuh.
Dari hasil identifikasi ini anda akan mengetahui apakah kegiatan
pembelajaran yang anda rancang lebih menekankan pada belajar melalui
pengalaman (langsung dan tak langsung) ataukah melalui pengamatan.
2.Untuk menjawab pertanyaan ini anda hendaknya mengingat kembali materi
yang membahas teknik-teknik membangkitkan motivasi belajar siswa. Untuk
lebih meyakinkan anda observasilah teman anda yang sedang mengajar.
Catatlah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan teman anda yang dapat
membangkitkan motivasi belajar siswa.
3.Selain anda harus mengingat kembali materi tentang teknik-teknik menarik
perhatian siswa, anda juga dapat melakukan observasi atau meminta teman
anda mengobservasi anda yang sedang mengajar. Catatlah kegiatan-kegiatan
yang dapat menarik perhatian siswa selama kegiatan pembelajaran.
Sekarang tiba saamya anda membaca rangkuman dibawah ini unuk lebih
memantapkan ingatan anda terhadap materi yang telah dipelajari.
Belajar memiliki tiga atribu pokok ialah:
1.Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan
perasaan.
2.Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik menyangkut kognitif
psikomotorik maupun afektif.
Siswa merupakan imdividual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa
yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaim satu dengan lain. Perbedaan itu
terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya.
Perbedaan individual ini pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya
perbedaan individu perlu diperhaikan pleh guru dalam upaya pembelajaran.
Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan disekolah kita kurang
memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan
pembelajaran dikelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan
rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan
pengetahuannya.

90

Pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan
individual dapa diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan
metode atau straegi belajar mengajar yang ervariasi sehingga perbedaan
perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media
instruksional akan membantu melayani perbedaan siswa dalam cara belajar.
Usaha lain untuk memperbaiki pembelajaran klasikal adalah dengan
memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa yang
pandai, dan memberikan bimbingan belajar bagi anak yang kurang. Disamping
in dalam memberikan tugas hendaknya disesuikan dengan minat dan
kemampuan siswa sehingga bagi siswa yang pandai, sedang, maupun kurang
akan merasakan berhasil didalam belajar. Sebagai unsur primer dan sekunder
dalam pembelajaran, maka dengan sendirinya dan guru teimplikasi adanya
prinsip-prinsip belajar.

Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tampak dalam
setiap kegiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung.
Namun demikian, perlu disadari bahaya implementasi prinsip-prinsip belajar
sebagai implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru tidak semuanya
terwujud dalam setiap proses pembelajaran.

91

BAB III
DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM

Kurikulum dan pendidikan adalah dua hal yang erat berkaitan, tak dapat
dipisahkan sama dengan yang lain. Sistem pendidikan yang dijalankan pada
zaman modern ini tak mungkin tanpa melibatkan keikutsertaan kurikulum. Tak
mungkin ada Kegiatan pendidikan tanpa kurikulum. Kebutuhan akan adanya
aktivitas pendidikan selalu berarti kebutuhan adanya kurikulum. Dalam
kurikulum itulah tersimpul segala sesuatu yang harus lijadikan pedoman bagi
pelaksanaan pendidikan. Pemikiran tentang adanya kurikulum adalah setua
dengan adanya sistem pendidikan itu sendiri.
Hubungan antara pendidikan dan kurikulum adalah hubungan antara
tujuan dan isi pendidikan. Suatu tujuan, tegasnya tujuan pendidikan yang ingin
dicapai, akan dapat terlaksana jika alat sarana, isi, atau tegasnya kurikulum yang
dijadikan dasar acuan ini relevan. Artinya sesuai dengan tujuan pendidikan
tersebut. Hal itu dapat diartikan bahwa kurikulum dapat membawa kita ke arah
tercapainya tujuan pendidikan. karena kurikulum merupakan isi dan sarana
untuk mencapai tujuan pendidikan, maka kurikulum berisi nilai-nilai atau cita-
cita yang sesuai dengan pandangan hidup bangsa. Pada hakekatnya, proses
pendidikan yang dijalankan adalah usaha untuk merealisasikan nilai-nilai dan
ide-ide tersebut.

Pada dasamya tujuan pendidikan yang pokok (atau hakiki, esensial,
prinsipil ini tetap karena ia berhubungan dengan sistem nilai atau pandangan
hidup suatu bangsa. Akan tetapi. hal itu tidak berarti kurikulum pun harus statis,
tak pernah mengalami perubahan. Kurikulum pun harus selalu dikembangkan
sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.. masyarakat yang dinamis
akan selalu mengalami perkembangan, selalu menuntut adanya perubahan sesuai
dengan perubahan zaman. Pada hakekamya, hal itupun dapat dipandang sebagai
akibat sistem pendidikan yang dijalankan yang sudah diperhitungkan. Dengan

92

kata lain adanya keadaan masyarakat yang dinamis dan terbukti terhadap adanya
usaha-usaha pembaharuan sesuai dengan perkembangan zaman tersebut,
merupakan keberhasilan sistem pendidikan, tanpa mengakibatkan berbagai
faktor lain yang juga berperan.
Dalam banyak hal, kurikulum dapat dijadikan ukuran kualitas proses dan
keluaran pendidikan yang dijalankan. Dalam suatu kurikulum sekolah telah
tergambar tentang berbaga pengetahuan, keterampilan, sikap serta nilai-nilai
yang diharapkan dimiliki oleh setiap lulusan suatu sekolah. Akan tetapi
kurikulum bukanlah merupakan satu-satunya faktor penentu "kualitas seperti
yang disarankan didalamnya. Masih terdapat berbagai faktor lain yang turut
menunjang kualitas atau keberhasilan kegiatan pendidikan yang dijalankan.
Misalnya saja masalah sarana dan prasarana, situasi dan kondisi lingkungan,
kualitas guru sebagai pelaksana pendidikan dan sebagainya. Penting bagi guru
adalah ia harus benar-benar menyadari peranannya sebag pelaksana pendidikan
yang amat menentukan. Hal itu menunt kepadanya untuk memahami dan
menguasai berbagai masalah pendidikan, antara lain masalah kurikulum.

3.1. Pengertian Kurikulum
3.1.1 Kurikulum Sebagai Jembatan Meraih Ijazah

Istilah "kurikulum" memiliki berbagai tafsiran yan dirumuskan oleh
pakar-pakar dalam bidang pengembang kurikulum sejak dulu sampai dengan
dewasa. ini. Tafsiran-tafsi tersebut berbeda-beda satu sama lainnya, sesuai
dengan titik berat inti dan pandangan dari pakar bersangkutan. Istilah kurikulum
berasal dari bahasa latin yakni "currculae", artinya jarak yang harus ditempuh
oleh seorang pelari. Pada waktu itu, pengerti kurikulum ialah jangka waktu
pendidikan yang harus ditemp oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh
Ijazah.

Dengan menempuh suatu kurikulum, siswa dapat memperoleh ijazah.
Dalam hal ini, ijazah pada hakekatnya merupakan suatu bukti, bahwa siswa telah
menempuh suatu Kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana halnya
seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat lainnya

93

dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap
sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu
perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.

Pengertian Kurikulum
(Oleh Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya Dasar-Dasar Pengembangan
Karikalum Sekolah)

Istilah kurikulum semula berasal dari istilah yang dipergunakan dalam
dunia taktik curere yang berarti "berlari' . Istilah tersebut erat hubungannya
dengan kata curier atau kurir yang berarti penghubung atau seseorang yang
bertugas menyampaikan sesuatu kepada orang atau tempat lain. Seseorang kurir
harus menempuh suatu perjalanan untuk mencapai tujuan, maka istilah
kurikulum kemudian diartikan sebagai orang sebagai suatu jarak yang harus
ditempuh (S. Nasution, 1980 : 5).
Dari istilah atletik kurikulum mengalami perpindahan arti kedunia
pendidikan. Sebagai misal pengertian kurikulum seperti yang tercantum dalam
Webster's Intemational Dktionary " .
Currculum ; Course ; a specified fixed course of study, is in a school or
collage. as one leading to degree.
Kurikulum kemudian diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran atau
ilmu pengetalman yang ditempult atau dikuasai untuk mencapai suatu tingkat
tertentu atau ijazah. Disamping itu, kurikulum juga diartikan sebagai suatu
rencana yang disengaja dirancang untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan.
Itulah sebabnya orang pada waktu lalu juga menyebut kurikulum dengan istilah
“Rencana Pelajaran" yang merupakan terjemahan istilah Leerplan. Rencana
pelajaran merupakan salah satu komponen dalam asas-asas didaktik yang harus
dikuasai (atau paling tidak diketahui) oleh seorang guru atau calon guru.
Pengertian kurikulum sebagai yang tercantum dalam kamus Webster
yang dikutip diatas, kiranya ada kesesuaiannya dengan perumusan yang
dikemukakan oleh Stenhouse berikut : Currkulum is the planned conipesite

94

effort of any school to guide pupil leaming to ward prederennined learning
outcome
(Larence Stenhouse, 1976 : 4).
Defenisi-defenisi kurikulum yang bersifat tradisional biasanya masih
menampakkan adanya kecenderungan penekanan pada rencana pelajaran untuk
menyampaikan mata-mata peiajaran (subject matter) kepada anak didik yang
biasanya berisi kebudayaan. (hasil budidaya) masa lampau atau sejumlah ilmu
pengetahuan. Anak yang berhasil melewati tahap ini akan atau herhak
memperoleh ijazah. Kabudayaan atau sejumlah ilmu pengetahuan yang akan
disampaikan tersebut bersumber pada buku-buku yang baik atau dianggap
bermutu, sehingga kurikulum terutama dalam hal tujuan instruksional dan
pemilihan bahan pengajaran lebih banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh
buku- buku tersebut.

Dihubungkan dengan kebutuhan pengalaman anak yang diharapkan
terpenuhi melalui kegiatan belajar-mengajar sekolah, ternyata hal tersebut
kurang menguntungkan karena ia membatasi pengalaman anak dalam proses
belajar-mengajar kelas saja dan kurang inemperhatikan pengalaman-pengalaman
lain yang diperoleh di luar kelas. Kurikulum yang bersi demikian. hanya
menekankan aspek intelektual saja yang harus dikuasai siswa dan mengabaikan
aspek-aspek yang lain yang juga sangat berpengaruh dalam perkembangan
kejiwaan siswa. Kurikulum macam ini biasanya disebut Subject Centere
Curiculum
, yaitu kurikulum yang berpusat pada materi pelajaran Sejalan dengan
perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, pendirian tradisional
mengenai kurikulum tersebut ditinggalkan orang karena dianggap terlalu sempit
dan atau paling tidak orang berusaha mencari kemungkinan-kemungkinan baru,
sebab pada kenyataanya pula seperti halnya dengan masalah-masalah lain,
belum dapat meninggalkan (atau mungkin meninggalkan) sama sekali pendirian
tradisonal. dasarkan pendirian diatas, yakni pendirian tradisional, kurikulum
dijalankan (mau tak mau) berpusat pada guru atau but Teacher Centered
Curiculum
. Pandangan yang lebih kemudian ingin mengubah pandangan
tersebut dengan memperhatikan minat dan kebutuhan anak, karena anaklah

95

sebenamya yang menjadi subjek didik. Anak tak boleh hanya dipeerlakukan
sebagai objek yang statis, melainkan harus diperhatikan kebutuhannya sesuai
dengan perkembangan jiwanya karena itu, terjadilah pergeseran dalam dunia
pendidikan dari suject atau teacher centered ke student centered. Kurikulum
yang sesuai dengan pandangan terakhir itu disebut Child Centered curiculum.
Hal itu terutama disebabkan oleh pengaruh penemuan-penemuan dibidang
psikologi. khususnya psikologi kembangan.
Adanya pergeseran tentang kurikulum tersebut juga terlibat pada
defenisi-defenisi kurikulum yang dikemukakan orang. misalnya menurut George
A. Beauchamp (1964 : 4) kurikulum adalahah "It as all activities of children
under the jurisdktion of
the school”Dalam pengertian ini kurikulum mencakup
segala kegiatan, yang disediakan dan direncanakan sekolah. Konsep lain
misalnya mengatakan bahwa kurikulum tidak terbatas pada kegiatan saja,
melainkan meneakup seluruh pengalaman yang diperoleh siswa, baik intelektual,
emosional, sosial maupun pengalaman galaman yang lain.
Sebagai bahan perbandingan mengenai pengertian kriikulum menurut
konsep batu, barikut dikemukakan lagi denisi-defenisi yang lain.
A sequence of potensial experiences it set up in the school for the
purpose of disciplining children and yuouth in group ways of thingking
and acting (Smith dalam Beauchamp : 5).
atau
Curriculum is all of the planned experiences providedby the school to
assist the pupils in attaining children the designated learning outcomes to
the best their abilitie (Neagly dalam Lawrence : 4).
David Pratt dalam Curriculum Design and Development (1980 : 4)
mendefenisikan kurikulum secara sederhana, yaitu sebagai seperangkat
organisasi pendidikan formal atau pusat-pusal latihan. Selanjumya ia membuat
implikasi secara lebih ekplisit tentang defenisi yang dikemukakannya tersebut
menjadi enam hal. yaitu :

96

1.Kurikulum adalah suatu rencana atau intentions, ia mungkin hanya berupa
perencanaan (mental) saja. tapi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk
tulisan.

2.Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan perencanaan atau rancangan
kegiatan;
3.Kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah apa yang harus
dikembangkan pada diri siswa, evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar,
bahan dan peralatan yang dipergunakan, kualitas guru yang dituntut dan
sebagainya.
4.Kurikulum melibatkan maksud atau pendidikan formal, maka ia sengaja
mempromosikan belajar dan menolak sifat rambang tanpa rencana, atau
kegiatan tanpa belajar.
5.Sebagai perangkat organisasi pendidikan, kurikulum menyatukan berbagai
komponen seperti tujuan, isi. sistem penilaian dalam satu kesatuan yang tak
terpisahkan. Atau dengan kata lain, kurikulum adalah sebuah sistem
6.Pendidikan dan latihan dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman
yang terjadi jika suatu hal dilalaikan.
Defenisi diatas yang kemudian disertai dengan berbagai implikasinya,
dapat memberikan gambaran yang lebih nyata tentang kurikulum, walau
mungkin tidak sepenuhnya kita terima atau pahami. Misalnya saja dikatakan
bahwa kurikulum mungkin hanya berupa perencanaan secara mental, dalam arti
tidak diwujudkan dalam bentuk tertulis. Bagaimana jadinya jika ada (mungkin
hanya sebagian) kurikulum yang tidak ditutis, tentunya akan mengundang
berbagai permasalahan.

Kurikulum merupakan suatu yang dijadikan pedoman dalam segala
kegiatan pendidikan yang dilakukan, termasuk kegiatan belajar mengajar di
kelas. Dalam hal ini kita dapat memandang bahwa kurikulum merupakan suatu
program yang didesain, direncanakan, dikembangkan dan akan dilaksanakan
dalam situasi belajar mengajar yang sengaja diciptakan di sekolah. Atas dasar

97

hal tersebut, kurikulum kemudian dapat didefenisikan sebagai suatu program
pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah
tujuan pendidikan tertentu (Winamo Surahmad, 1977 : 5).
Kiranya defenisi tersebut lebih sederhana dan jelas rumusannya.
Pendidikan merupakan suatu pendidikan yang mempunyai tujuan-tujuan
tertentu, merupakan program yang direncanakan, disusun dan diatur untuk
kemudian dilaksanakan di sekolah melalui cara-cara yang telah ditentukan pula.
Jika defenisi diatas diperbandingkan dengan defenisi-defenisi yang
dikemukakan lebih dahulu, sebenamya tidak ada perbedaan yang prinsipil.
Sentua defenisi yang ditunjuk sama-sama menyebut kurikulum sebagai rencana-
rencana kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan belajar yang dilakukan
siswa yang tentunya dimaksudkan untuk memperoleh sejumlah pengalaman
(baca tujuan) tertentu.

Dalam pembkaraan selanjurnya, jika disebut-sebut kurikulum
pengertiannya menunjuk pada defenisi yang terakhir diatas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->