P. 1
Buku Belajar Dan Pembelajaran

Buku Belajar Dan Pembelajaran

|Views: 11,714|Likes:
Published by ahmadkhoirulanam
isinya tentang materi kuliah belajar dan pembelajaran
isinya tentang materi kuliah belajar dan pembelajaran

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: ahmadkhoirulanam on Nov 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

10/05/2015

original

Sections

Pengembangan kurikulum yang meliputi tujuan, isi dan sistem
penyampaiannya harus relevant dengan kebutuhan dan sesuai dengan kebutuhan
dan keadaan masyarakat, tingkat perkembangan dan kebutuhan sisiwa. serta
serasi dengan perkembangan iptek.

4.2 Prinsip Kontinuitas (berkesinambungan)

Kurikulum disusun secara berkesinambungan, artinya baglan, aspek,
materi, bahan kajian, disusun secara berurutan. tidak terlepas-lepas, melainkan
satu sama lain memiliki hubungan fungsional yang bermakna, sesuai dengan
jenjang pendidikan, struktur dan tingkat perkembangan siswa. Dengan prinsip
mi tampak jelas alur dan keterkaitan di dalam kurikulum tersebut sehingga
mempermudah guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.

4.3 Prinsip Fleksibelitas (keluwesan)

Kurikulum yang luwes mudah disesuaikan, diubah dilengkapi atau
dikurangi berdasarkan tuntutan dan keadaan ekosistem dan kemampuan setempat,
jadi tidak statis atau kaku Misalnya dalam suatu kurikulum disediakan program

107

pendidikan keterampilan industri dan pertanian. Pelaksanaannya di kota, tapi
karena ketidaktersediaan lahan, maka yang dilaksanakan adalah program
pendidikan keterampilan industri. Sebaliknya pelaksanaannya di desa ditekankan
pada program pendidikan keterampilan pertanian. Dalam hal im lingkungan
sekitar, keadaan masyarakat dan ketersediaan tenaga dan peralatan menjadi faktor
pertimbangan dalam rangka pelaksanaan kurikulum.

FUNGSI KURIKULUM

Setiap lembaga pendidikan formal maupun nonfomal dalam
penyelenggaraan kegiatan sehari-harinya berlandaskan kurikulum-kurikulum itu
sendiri dalam hal ini dapat berupa : (1). Rancangan kurikulum, yaitu buku
kurikulum suatu lembaga pendidikan; (2) Pelaksanann kurikulum, yaitu proses
pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan ; dan (3). Evaluasi kurikulum,
yaitu penilaian atau penelitian basil-hasil pendidikan.
Dengan lingkup pendidikan formal. kegiatan merancang melaksanakan
dan menitai kurikulum tersebut, yaitu yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan
pendidikan, dilaksanakan sebagai program pengajaran.
Berbicara masalah fungsi kurikulum kita dapat meninjaunya dari tiga
segi, yaitu fungsi bagi sekolah yang bersangkutan, bagi sekolah pada tingkat
diatasnya dan fungsi bagi masyarakat (Winamo Surahmad ; 6).

1.Fungsi bagi sekolah yang berungkutan

Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan ini paling tidak dapat
disebutkan dua macam. Pertama, sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan
pendidikan yang diinginkan. Manifestasi kurikulum dalam kegiatan belajar
mengajar di sekolah adalah berupa program pengajaran. Program pengajaran itu
sendiri merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang
kesemuanya dimaksudkan sebagai uapaya untuk mencapai tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan yang akan dicapai tersebut disusun secara berjenjang mulai

108

dart tujuan pendidikan yang bersifat nasional sampai tujuan instruksional. Jika
tujuan instruksional tercapai (hasilnya langsung dapat diukur melalui kegiatan
belajar mengajar di kelas) pada gilirannya akan tercapai pula tujuan-tujuan pada
jenjang diatasnya. Setiap kurikulum sekolah pasti didalamnya tereantum tujuan-
tujuan pendidikan yang akan atau harus dicapai melalui kegiatan pengajaran.
Kedua, kurikulum dijadikan pedoman untuk mengatur kegiatn-kegiatan
pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Dalam pelaksanaan pengajaran
misalnya, telah ditentukan macam-macam bidang studi, alokasi waktu, pokok
bahasan atau materi pengajamn untuk tiap semester, sumber bahan, metode atau
cara pengajaran, alat dan media pengajaran yang diperlukan. Disamping itu.
kurikulum juga mengatur hal-hal yang berhubungan dengan jenis program cara
penyelenggaraan, strategi pelaksanaan, penanggung jawab, sua dan prasarana
dan sebagainya.

2.Fungsi bagi sekolah tingkat diatasnya

Dalam hal ini kurikulum dapat untuk mengontrol atau memelihara
keseimbangan proses pendidikan. Dengan mengetahui kurikulum sekolah pada
tingkat tertentu, maka kurikulum pada tingkat diatasnya dapat mengadakan
penyesuaian Misalnya saja, jika suatu bidang studi telah diberikan pada
kurikulum sekolah ditingkat bawahnya, harus dipertimbangkan lagi
pemilihannya pada kurikulum, sekolah tingkatan diatasnya terutama dalam hal
pemulihan bahan pengajaran. Penyesuaian bahan tersebut dimaksudkan untuk
menghindari keterulangan penyampaian yang bisa berakibat pemborosan waktu
dan yang lebih penting lagi adalah untuk menjaga kesinambungan bahan
pengajaran itu.

Disamping itu, terdapat juga kurikulum yang berfungsi untuk
menyiapkan tenaga pengajar. Bila satu sekolah atau lembaga pendidikan
bertujuan menghasilkan tenaga guru (LPTK),. Maka lembaga tersebut harus
mengetahui kurikulum sekolah pada tingkat dibawahnya tempat calon guru yang

109

dipersiapkan itu akan mengaju. Misalnya murid SPG harus mengetabui
kurikulum SD, mahasiswa IKIP/FKG harus menguasai kurikulum kurikulum
SMTP dan SMTA. Jika di SD, SMP dan SMA kegiatw pengajaran disampaikan
dengan sistem PPSI, maka sekolah-sekolah yang bertugas mengadakan guru
untuk sekolah-sekolah tersebut harus membekali calon-calonnya dengan
kemampuan memtruat PPSI.

3.Fungsi bagi Masyarakat

Padatamatan sekolah memang dipersiapkan untuk terjun dimasyarakat
atau tugasnya untuk bekerja sesuai dengan keterampilan profesi yang
dimilikinya. Oleh karena itu, kurikulum sekolah haruslah mengetahui atau
mencerminkan hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat atau para pemakai
keluaran sekolah. Untuk keperluan itu perlu ada kerja sama antara piliak sekolah
dengan pihak luar dalam hal pemberrahan kurikulum yang diharapkan. Dengan
demikian, masyarakat atau para pemakai lulusan sekolah dapat memberikan
bantuan, kritik atau saran-saran yang berguna bagi penyempumaan program
pendidikan di sekolah.

Dewasa ini kesesuaian antara program kurikulum dengan kebutuhan
masyarakat harus benar-benar diusahakan. Hal itu mengingat seringnya terjadi
kenyataan balwa lulusan selsolah halum siap pakai atau tidak sesuai dengan
tenaga yang dibutuhkan dalm lapangan pekerjaan. Akibatnya, walau semakin
menumpuk tenaga kerja yang ada, kita tak dapat mengisi lapangan pekerjaan
yang tersedia karena tidak memiliki keterampilan atau keterampilan yang
dimilikinya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan pada lapangan pekerjaan.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, ada seorang tokoh pendidikan yang
mengemukakan agar sekolah tingluat SD sudah dibuat menjadi dua jalur, yaitu
jalur akademis (dipersiapkan untuk melanjutkan sekolah) dan jalur vokasional
(dipersiapkan untuk segera bekerja). Hal itu berdasarkan kenyataan penelitian
bahwa masih sebagian besar anak tamatan SD yang tidak meneruskan
pendidikan ke tingkat di atasnya.

110

Sering terjadi karena suatu tingkat keterampilan yang dibutuhkan dalam
suatu tingkat pekerjaan, maka hal itu segera diajarkan di sekolah. Sebagai
contoh hal yang berhubungan dengan keguruan misalnya dapat disebutkan
perabekalan keterampilan menibuat satuan pelajaran. Pada waktu itu, yaitu
permulann diterapkannya PPSI dalam sistem pengajaran di Indonesia sesuai
dengan tuntutan kurikulum '75, calon guru segera diberi keterampilan
membuatnya (sekarang Model Perencanaan Pengajaran). Boleh dikatakan bahwa
pembekalan atau pengajaran keterampilan tersebut semata-mata disebabkan
tuntutan pekerjaan kelak.

Penyiapan keterampilan para tamatan sekolah untuk bakal terjun di
masyarakat kerja, juga ditentukan oleh suatu misi sekolah, apakah ia sekolah
umum atau kejuruan. Misi suatu sekolah apakah ia bertugas mempersiapkan
tamatannya untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (jalur
akademis), atau untuk bekerja (jaIur vokasional), atau untuk kedua-duanya, akan
mewamai pendidikan keterampilan yang diajarkan oleh pibak sekolah yang
bersangkutan. Dengan adanya hal itu, para pemakai lulusan sekolah tentunya
sudah tanggap, Julusan dengan keterampilan mana (atau apa) yang mereka
butuhkan dan itu harus dialamatkan pada sekolah yang sesui dengan misinya.

KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM

Seperti dikemukakan oleh Pratt diatas, kurikulum adalah sebuah sistem,
sebagai suatu sistem, ia pasti mempunyai komponen-komponen atau bagian-
bagian yang saling mendukung dan membentuk satu kesatuan yang terpisahkan.
Komponen-komponen dalam sebuah sistem bersifat harmonis, tidak saling
bertentangan. Kurikulum sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan
dan akan direncanakan mempunyai loomponen-komponen pokok tujuan, isi,
organisasi dan stratei (Winarno Surahmad: 9).

111

1.Tujuan

Kurikulum adalah suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai
sejumlah tujuan pendidikan. Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala
kegiatan pendidikan yang dijalankan. Berhasil atau tidaknya program pengajaran
di sekolah dapat diukur dari seberapa jauh dan banyaknya tujuan-tujuan tersebut.
Dalam setiap kurikulum sekolah pasti dcantumkan tujuan-tujuan pendidikan
yang akan atau harus dicapai oleh sekolah yang bersangkutan. Ada dua tujuan
yang terdapat dalam sebuah kurikulum sekolah yaitu sebagai berikut :
a.Tujuan Pendidikan yang harus dicapai secara keseluruhan
Tujuan ini biasanya meliputi aspek-aspek pengetalman. keterampilan, sikap
dan nilai-nilai yang diharapkan oleh para lulusan sekolah yang bersangkutan.
Itulah sebabnya tujuan ini disebut tujuan institusional atau kelembagaan.
Didalam sebuah kurikulum sekolah, terdapat dua macam Tujuan institusional
umum dan khusus yang keduanya selalu menunjukkan keinstitusionalannya.
(kedua tujuan ini biasanya dkantumkan dalam Buku 1 suatu kurikulum
sekolah).
b.Tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi
Tujuan ini adalah penjabaran tujuan institusional diatas yang meliputi tujuan
kurikulum dan instuksional yang terdapat dalam setiap GBYP (Garis-garis
Besar Program Pengajaran) tiap bidang studi. Baik tujuan kurikulum maupun
instruksional juga meneakup aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, sikap
dan nilai-nilai yang dihuapkan dimiliki anak setelah mempelajari tiap bidang
studi atan pokok bahasan dalam proses pengajaran.

2.Isi

Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yarag diberikan kepada
anak dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi
kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program
masing-masing bidang studi tersebut. Jenis-jenis bidang studi ditentukan atas

112

dasar tujuan institusional sekolah yang bersangkutan. Jadi, ia berdasarkan
kriteria apa suatu bidang studi menopang tujuan int atau tidak. Berdasarkan
kriteria itu, maka jenis bidang studi yang diberikan pada suatu sekolah, misalnya
SMA, akan berbeda dengan sekolah yang lain, misalnya SPG.
Isi program suatu bidang studi yang diajarkan sebenamya adalah isi
kurikulum itu sendiri, atau ada juga yang menyebutnya sebagai silabus. Silabus
biasanya dijabarkan ke dalam bentuk pokok-pokok bahasan dan sub-sub pokok
bahasan, serta uraian bahan pelajaran. Uraian bahan pelajaran inilah yang
dijadikan dasar pengambilan bahan dalam setiap kegiatan belajar mengajar di
kelas oleh pihak guru, Penentuan pokok-pokok dan sub-sub pokes bahasan
didasarkan pada tujuan instruksional.

3.Organisasi

Organisasi kurikulum adalah struktur program kurikulum yang berupa
kerangka program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada siswa.
Organisasi kurikulum dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu struktur
horizontal dan struktur vertikal. Struktur horizontal berhubungan dengan
masalah pengorganisasian kurikulum dalam bentuk penyusunan bahan-bahan
pengajaran yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk penyusunan mata-mata
pelajaran itu dapat secara terpisah (sparate subject), kelompok-kelompok mata
pelajaran (correlated), atau penyatuan seluruh pelajaran dikembangkan di
sekolah, yaitu misalnya program pendidikan moupun, akademis, keguruan
keterampilan dan lain-lain.

Struktur vertikal berhubungan dengan masalah pelaksanaan kurikulum di
sekolah. MisaInya apakah kurikulum dilaksanakan dengan sistem kelas, tanpa
kelas atau gabungan antara keduanya dengan sistem unit waktu semester atau
catur wulan. Termasuk dalam hal ini adalah Juga masalah pembagian waktu
untuk masing-masing bidang studi untuk setiap tingkatan. Misalnya bidang studi
Bahasa Indonesia, diberikan selama berapa jam tiap minggu pada SMP/SMA
kelas I, II dan Ill. Demikian pula halnya dengan bidang-bidang studi yang lain.

113

4.Stretegi

Dengan komponen strategi dimaksudkan strategi pelaksanaam kurikulum
di sekolah. Masalah strategi pelaksana itu dapat dilihat dalam cara yang
ditempuh dalam melaksanakan pengajaran, penilaian, bimbingan dan konseling,
pengaturan kegiatan sekolah sceara keseluruhan, pemilihan metode pengajaran,
alat atau media pengajaran dan sebagainya. Dalam pelaksanaan pengajaran
misalnya, dilakukan dengan pendekatan PPSI (berlaku untuk setiap bidang
studi) atau dengan cara lain seperti sistem pengajaran modul, paket pelajaran
dan sebagainya

KOMPONEN KURIKULUM

(Drs. Hendyat Soetopo, MYd dan Drs. Wasty Soemanto, MYd dalam bukunya
Pembinaan don Pengembangan Kurikulum Sekolah)
1.Komponen Tujuan

Tentang komponen tujuan ini kita akan mengenal tingkat-tingkat Tujuan
yang satu dengan yang lain merupakan satu kesatuan dalam mewujudkan cita-
cita pendidikan dalam konteks pembangunan manusia Indonesia.
Seperti telah dikemukakan dalam bagian yang Ialu, kurikulum
merupakan suatu program untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu.
Oleh karena itu, dalam kurikulum suatu sekolah telah terkandung tujuan-tujuan
pendidikan yang ingin dicapai melalm sekolah yang bersangkutan.
Ada dua jenis tujuan yang terkandung di dalam kurikulum suatu

sekolah :
1.Tujuan yang ingin dicapai sekolah secara keseluruhan.
Selaku lembaga pendidikan setiap, setiap sekolah mempunyai sejumlah
tujuan yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan tersebut biasanya digambarkan
dalam bentuk pengetahuan, ketarampilan dan sikap yang kita harapkan
dimiliki murid setelah mereka menyelesaikan seluruh program pendidikan
dari sekolah tersebut.

114

Tujuan dari sekolah tersebut kita namakan tujuan institusional atau tujuan
lembaga, misainya tujuan SD, tujuan SMP, tujuan SPG dart seterusnya. Atas
dasar tujuan-tujuan institusional itulah kemudian ditetapkan bidangbidang
studi atau bidnag pengajuan yang akan diajukan pada sekolah yang
bersangkutan.
2.Tujuan yang ingin dicapai dalam setiap bidang studi
Disamping tujuan institusional yang ingin dicapai oleh sekolah secara
keseluruhan, setiap bidang studi dalam kurikulum suatu sekolah juga
mempunyai sejumlah tujuan yang ingin dicapainya. Tujuan-tujuan inipun
digambarkan dalam berruk pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang
kita harapkan dinliliki oleh murid setelah mempelajari suatu bidang studi
pada suatu sekolah tertentu. Oleh karena itu ada tujuan IPA dan SD tujuan
matematika di SMP, tujuan ilmu kegurun di SPG dan sebagainya.
Tujuan-tujuan setiap bidang studi dalam kurikulum suatu sekolah tentunya
ada yang kita sebut tujuan kurikuler dan ada pula yang kita sebut tujuan
instruksional, dimna tujuan instruksional merupakan penjabaran lebih lanjut
dari tujuan kurikuler. Atas dasar tujuan kurikuler dan tujuan instruksional
inilah kemudian ditetapkan bahan pengajaran yang diajarkan dalam setiap
bidang studi pada suatu sekolah tertentu.
Dalam hubungannya dengan pembahasan tujuan pendidikan ini berikut
diulas tentang tujuan pendidikan secara hirarkis sesuai dengan urutan tujuan
yang ada di Indonesia.
Urutan tujuan pendidikan tersebut diawali dari tujuan Pendidikan
Nasional, kemudia Tujuan Institusional, Tujuan Kurikuler sampai pada tujuan
Instruksional.

1.Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan Pendidikan Nasional adalah merupakan tujuan pendidikan yang
tertinggi dalam kegiatan di negara kita. Tujuan ini sangat umum dan sangat

115

ideal, yang penggambarannya disesuaikan dengan falsafah negara yaitu
Pancasila.
Selanjutnya dalam GBHN telah digariskan tujuan Pendidikan Nasional
adalah :

Tujuan Pendidikan Nasional adalah membentuk manusia
pembangunan sehat jasmani dan rohaninya, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan
kreativitas dan tanggung jawab dalam menyuburkan sikap
demokrasi dan penuh tanggung rasa, dapat mengembangkan
kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur,
mencintai bangsanya dan sesama manusia dongan ketentuan
yang temaktub dalam IJUD 1945”

Secara ekspilisit maka tujuan pendidikan nasional itu dapat dijabarkan
sebagai membentuk manusia yang Pancasilais;
-Scehat jasmani dan rohani ;
-Berpengetahuan dan berketerampilan
-Bertanggung jawab
-Demokrasi;
-Tanggung rasa
-Cerdas ;
-Berbudi pekerti yang luhur ; dan
-Mencintai bangsa dan sesamanya.

2.Tujuan Institusional

Sistem persekolahan di negara kita adalah berjenjang yang melembaga
pada suatu tingkatan. Untuk itu maka pada tiap lembaga hendaknya juga
digariskan adanya suatu tujuan pendidikan yang kita sebut tujuan institusional.

116

Selanjutnya kita akan mengenal tujuan institusional SD, SMP, SMA, SKKA,
STM, SPG dan sebagainya.

Tentu saja tujuan institusional itu hendaknya menceminkan dan
menggambarkan tujuan pendidikan nasional yang akan dicapai melalui lembaga
pendidikan itu. Agar tidak tercapai penyimpangan maka tiap tujuan institusional
harus didahului dengan pengertian pendidikan, dasar pendidikan dan tujuan
pendidikan nasional. Hal ini disamping untuk menghindari penyimpangan juga
untuk menghindari salah penafsiran yang emungkinkan tidak tercapainya Tujuan
pembangunan dan pendidikan nasional.
Sebagai gambaran maka dapat kita kemukakan kerangka tujuan
pendidikan di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) sebagai lembaga Pendidikan
Guru yaitu
I.Pengetian Pendidikan
II.Dasar Pendidikan
III.Tujuan Pendidikan Nasional
IV.Tujuan Umum Pendidikan Sekolah Pendidikan Guru.
Tujuan Khusus Sekolah Pendidikan Guru. Dalam hubungan ini kita akan
mencoba memberikan gambaran tentang tujuan umum dan khusus pendidikan di
Sekolah Pendidikan Guru :
(1)Tujuan Unrum Pendidikan Sekolah Pendidikan Guru; ialah agar lulusannya:
a.Sehat jasmani dan rohani,
b.Menjadi warga negara Indonesia yang bemoral Pancasila yang memiliki
sifat-sifat yang bark dan konstruktif sebagai warga masyarakat, serta
menerima dan percaya kepada kaidah-kaidah dan cara-cara pengalaman
agama masing-masing baik dalam peribadatan maupun kehidupan
lainnya.
c.Memiliki pengetahun, keterampilan dan nilai serta sikap yang diperlukan

untuk:

117

1.Melaksanakan tugasnya secara efektif sebagai guru di
Lembaga Pendidikan Dasar yaitu SD atau TK.
2.Mengembangkan dan mengamalkan ilmu dan profesinya.
3.Menggunakan pronsip pendidikan seumur hidup di sekolah
maupun di luar sekolah sebagai alat utama bagi kemajuan
pribadi dan masyarakat.
4.Mengembangkan dan membina kepemimpinan yang
demokratis yang bertanggung jawab dalam interaksi sosial
dengan murid-murid daur anak-anak.
5.Menggunakan prinsip kemanusiaan, demokrasi dan keadilan
sosial dalam kehidupan, pergaulan sekolah dan keluarga
secara bertanggung jawab.
(2)Tujuan Khusus Pendidikan Sekolah Pendidikan Guru ialah agar lulusannya :
a.Memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk kepentingan dirinya dan
atau untuk melaksanakan program pengajaran di SI), dalam bidang :
1.Agama/Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Malia Esa yang dianutnya.
2.Dasar pembinaan Moral Pancasila sesuai dengan ketentuan yang
termaktub dalam UUD 1945.
3.Perkembangan dan perjuangan bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa
di dunia pada umumnya.
4.Bahasa Indonesia yang tepat dan baik.
5.O1ah raga, kesehatan dan rekreasi.
6.Bahasa Inggris yang cukup untuk memahami uraian yang sederhana.
7.Matematika
8.Ilmar Pengetahun Alam
9.Ilmu Pengetahuan Sosial
10.Kesenian yang meliputi seni rupa, seni musik dan atau seni drama
dan tari.

118

11.Pendidikan keterampilan yang meliputi jasa, kerajinan dan teknik,
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), pertaman, peternakan
dan atau perikanan.
12.Ilmu Keguruan dan meliputi pedagogik, dasar dan tujuan pendidikan
nasional Indonesia, dasar psikologis dan interaksi belajar mengajar,
psikologis pendidikan, psikologis perkembangan, teknik penilaian
pendidikan, bimbingan dan penyuluhan, metodik dan didaktik
umum, alat bantu dan komunikasi pendidikan, metodik khusus untuk
tiap bidang studi yang diajukan pendidikan dasar dan pendidikan dan
pengembangan.
b.Memiliki keterampilan yang diperlukan untuk
1.Menjalankan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.Berpartisipasi dalam masyarakat sebagai warga negara Indonesia
yang bermoral Pancasila dan sehat.
3.Merencanakan dan melaksanakan interaksi edukatif dengan murid
dalam mengerjakan bidang pengajaran yang diberikan di pendidikan
dasar yang meliputi kemampuan menyusun program pengajaran.
kemampuan melaksanakan program yang telah disusun dengan
menggunakan metode teknik, dan alat yang sesuai kemampuan
mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan dan memberikan bimbingan
kepada murid yang menghadapi kesulitun.
4.Memimpin dan melaksanakan tugas administrasi sekolah.
5.Berinteraksi dengan murid, masyarakat dan kalangan dunia
pendidikan.
6.Mengarang dan menulis.
7.Melaksanakan kegiatan dalam memanfaatkan sumber lingkungan.
8.Melaksanakan penelitin sederhana.
c.Memiliki nilai dan sikap yang meliputi
1.Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

119

2.Cinta kasih kepada anak, bersedia untuk menyesuaikan diri kepada
berbagai kepada keadaan anak dan memperlakukan anak secara
obyektif.
3.Menghargai seni budaya bangsa sendiri, dan selektif terhadap
pengaruh kebudayaan asing.
4.Bersedia untuk saling mengoreksi cara-cara mengajar yang bisa
dilakukan.
5.Rendah hati, terbuka, peka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, terruama dalam hubungannya dengan profesi keguruan
dan pendidikan, bercita-cita untuk maju, bersedia untuk bertindak
sebagai perintis, percaya kepada diri sendiri.
6.Disiplin, berdedikasi, loyal dan bertanggung jawab kepada tugas dan
mengutamakan prestasi.
7.Makarya dan efisien.
8.Hidup sehat.
9.Mempunyai kebiasaan membaca dan belajar dengan baik.

3.Tujuan Kurikuler

Suatu lembaga pendidikan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan
akan memberikan sejumlah isi pengajaran yang disusun sedemikian rupa
sehingga merupakan sejumlah pengalaman belajar yang menunjang tercapainya
tujuan Pendidikan. Dalam hal ini dapatlah dirumuskan babwa yang dimaksud
dengan tujuan yang akan dicapai setelah si anak mengikuti sejumiah program
pengajaran yang diberikan dalam lembaga pendidikan itu. Dalam hal ini maka
menurut SPG ditetapkan sejumlah 11 (sebelas) tujuan kurikuler yang barus
dicaapai oleh seseorang anak/siswa setelah menamatkan pendidikan di SPG.
Tentu saja karena ini merupakan hirarki dari tujuan institusional dan tujuan
pendidikan nasional maka tujuan kurikuler ini harus mencerminkan dan
mengambarkan tujuan ilistitusional dan tujuan pendidikan nasional itu. Atau
dengan kata lain maka penjabaran dari tujuan institusional dan tujuan
pendidikan harus nampak pada tujuan kurikuler ini.

120

4.Tujuan Instruksional

Tujuan instruksional ini merupakan penjabaran yang terakhir dari tujuan-
tujuan yang terdahulu dan lebih atas. Tujuan ini diharapkan dapat tercapai pada
saat terjadinya proses belajar mengajar secara langsung yang terjadi pada setiap
hari. Dalam pelaksanaannya tujuan ini harus dirumuskan pada saat penyusunan
atuan pelajaran.

Untuk tujuan instruksional im kita bedakan 2 (dua) jenis tujuan yaitu :
a.Tujuan instruksional umum yang sudah dirumuskan didalam kurikuler.
b.Tujuan Instruksional Khusus (TIK) untuk Tujuan ini perumusannya
dilakukan oleh guru sendiri pada saat menyusun satuan pelajaran. Dalam
tujuan ini diharapkan setelah anak menerima pelajaran terjadi perubahan
tingkah laku yang nyata dan dapat diukur.
Guru dalam merumuskan tujuan ini hendaknya memperhatikan hal-hal
ini yang merupakan syarat TIK :
a.TIK hendaknya mengunakan istilah -istilah yang operasional misainya
menuliskan, menyebutkan, menunjukan. menghitung, dan sebagainya, serta
menghindari istilah-istilah yang non operasional misalnya mengetahui,
memahami. menghargai, meyakini dan sebagainya.
b.TIK hendaknya mempakan hasil belajar siswa.
c.TIK hendaknya terwujud dalam tingkah laku yang spesifik. TIK hendaknya
megandung hanya satu jenis tingkah laku.

2.Komponen Materi (Isi dan Struktur Program)

1.Isi Kurikulum

Sebagai mana kurikulum 1975 maka untuk kurikulum SPG yang berlaku

saat berisi :
(1)Pokok-pokok bahasan adalah merupakan perincian bidang pengajaran untuk
dijadikab bahan pelajaran bagi para. siswa agar mencapai tujuan yang telah
ditetapkan

121

(2)Bahan pengajaran adalah mutan penyampaian pokok bahasan tersebut dari
yang satu ke tahun pelajaran yang berikutnya, dari semester yang satu ke
semester yang berikutnya
(3)Sumber bahan yaitu bempa resources dimana proses belajar mengajar
memperoleh sejumlah pengalaman belajar. Sumber ini dapat berupa tempat
(museum, kantor, stasiun dan sebagainya), orang ( camat, kep. Desa, petani,
sopir dan sebagainya), atau barang cetakan (buku, majalah, surat kabar,
brosur dan sebagainya.)
(4)Garis-garis besar program pengajaran (GBPP), adalah merupakan
penjelasan terperinci dari setiap bidang pengajaran yang telah ditentukan
pembagian dan penyebaran waktunya dalam seminggu, catur wulan,
semester seperti yang diatur dalam struktur program kurikulum, dalam
GBPP berisi:
(a)Tujuan kurikululer
(b)Tujuan instruksional
(c)Pokok babasan/sub pokok bahasan
(d)Bahan pengajaran
(e)Sumber bahan.

2.Sruktur Program

Untuk struktur program ini jelasnya dapat dilihat pada lampiran. Program

pendidikan (di SPG)
Program Pendidikan di SPG terdiri dari :
1.Pendidikan untum meliputi pendidikan Agama, Pendidikan Moral Pancasila,
Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, o1ah Raga dan Kesehatan.
2.Pendidikan Keguruan meliputi ilmu keguruan dan praktek keguruan.
3.Pergajaran di SD/pendidikan spesialisasi/pembangunan meliputi IPS,
Matematika, Pendidikan Kesenian, Pendidikan Keterampilan.

3.Koomponen Organisasi don Strategi

122

Disamping tujuan dan isi, setiap kurikulum mengandung unsur organisasi

dan strategi.

1.Organisasi

Struktur (susunan) program suatu kurikulum mengenai apa yang disebut
struktur horizontal dan struktur vertikal.
a.Struktur Horizontal
Struktur horizontal suatut kurikulum berkenaan dengan apakah
kurikulum im diorganisasikan dalam bentuk :
1.Mata-mata pelajaran secara terpisah (subjec centered) misalnya :
Biologi, Fisika, Sejarah, Ilmu bumi dan sebagainya.
2.Kelompok-kelompok mata pelajaran yang kita sebut bidang studi
(broadfield) misalnya IPS, IPA. Kesenian, Matematika dan
sebagainya.
3.Kesatuan program tanpa mengenai mata pelajam maupun bidang
studi (integrated program).
Selanjutnya, dalam struktur horizontal tercakup pula jenis-jenis
program yang dikembangkan dalam kurikulum tersebut, misalnya
program pendidikan unnum, program pendidikan keguruan, program
spesialisasi dan sebagainya.

b.Struktur Vertikal

Struktur vertikal suatu kurikulum berkenaan dengan apakah kurikulum
tersebut dilaksanakan melalui :
3.Sistem kelas misalnya kelas l, II, III dan seterusnya dimana kenaikan kelas
diadakan disetiap tahun secara serempak.
4.Program tanpa kelas, dimana perpindahan dui suatu tingkat program ke
tingkat program berikutnya dapat dilakukan setiap waktu tampa harus
menunggu teman-teman yang lain.
5.Kombinasi antara sistem A dan B.
Selanjumya, dalam struktur vertikal ini tercakup pula sistom unit waktu yang
digunakan, misalnya apakah sistem semester atau catur wulan.

123

Akhirnya struktur program ini menyangkut pula masalah penjadwalan dan
pembagian waktu untuk masing-masing bidang studi, isi kurikulum pada
setiap tingkat atau kelas.

2.Strategi

Strategi pelaksanaan suatu kurikulum tergambar dari cara yang ditempuh
didalam melaksanakan pengajaran, dan didalam mengadakan penilaian, cara
didalam melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara dalam mengatur
kegiatan sekolah secara keseluruhan.
Cara dalam melaksanakan pengajaran mencakup baik cara yang berlaku
secara umum maupun cata dalam menyajikan setiap bidang studi, termasuk
cara (metode) mengajar dan pelajaran yang digunakan.
Komponen metode ini menyangkut komponen metode atau upaya apa
saja yang dipakai agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Dalam hal ini tentu
saja metode yang dipergunakan hendaknya relevan terhadap tujuan yang
ditetapkan sebelumnnya, dengan mempertimbangkan kemampuan guru,
lingkungan anak serta sarana pendidikan yang ada. Dalam pelaksanaannya
tidak ada satu metode yang baik untuk segala tujuan, atau dengan kata lain
kita harus memperhatikan tujuan dan situasi, karena suatu metode cocok
untuk mencapai suam tujuan akan tetapi belum tentu cocok untuk mencapai
suatu tujuan yang lain. Untuk itu guru harus mengetahm kapan ia harus
menggunakan metode mengingat sifat-sifat polivalent dan polipragmatis dari
suatu metode.

Dengan polipragmatis dimaksud adalah penggunaan satu metode untuk
mencapai tujuan lebih dari satu tujuan; sedang polivalent adalah penggunaan
lebih dari satu metode untuk mencapai satu tujuan. Dalam penympaian
seperti kurikulum yang berIalw niisalnya (kurikulum 1975) kurikulum SPH
juga menggunakan pendekatan PPSI yang dikembangkan melalui satuan
pelajaran dan modul. Dengan metode ini proses pengajaran (belajar-
mengajar) dipandang sebagai suaw sistem. Adapun macam-macam metode
dapatlah kita kemukakan sebagai contoh metode ceramah, tanya jawab,
demonstrasi, eksperimen, pemberian tugas, karyawisata, sosiodrama,

124

bermain peranan, kerja kelompok diskusi, simposium, seminar dan
sebagainya.

4.Komponen Sarana dalam Kurikulum Lembaga Pendidikan Guru (SPG)

meliputi

a.Sarana personal yang terdin dan
a.Guru
b.Tenaga edukatif yang tidak mengajw seperti konselon
c.Tenaga teknis non edukatif misaInya tenaga tata usaha.
b.Sarana material yang terdiri dari
1)

Bahan instruksional dalam bentuk bahan instruksional, teksbook,
alat atau media pendidikan, sumber yang menyediakan bahan
instruksional atau pengalaman belajar dan sebagainya.
2)

Sarana fisik yang terdin dari gedung sekolah, kantor,
laboratorium, lapangan batsman sekolah dan sebagainya.
3)

Biaya operasional yaitu tersedianya biaya dan dana untuk
penyelengguaan pendidikan.
c.Sarana Kepemimpinan
Sarana kepemimpinam ini akan memberi dukungan dan pengamanan
pelaksanaan, serta member! bimbingan. penggunaan dan menyempurnakan
program pendidikan.
d.Sarana Administrasi
Pendidikan administratif disini dapat disebutKan sebagai
-Pedoman Khusus Bidang Pengajaran
-Pedoman Penyusunan Sawn Pelajaran
-Pedoman Praktek Keguruan
-Pedoman Bimbingan Siswa
-Pedoman Administrasi Dan Supervisi

125

e.Komponen Evalusasi
Pendidikan adalah sebagian dari keperluan manusia. Sekolahpun mempalari
keperluan dari masyarakat. Untuk itu maka sekolah termasuk juga
didalamnya termasuk juga harus peka terhadap perubahan-pembahan yang
terjadi di masyuakat. Oleh karena itu kurikulum sebagai bahan konsumsi dari
anal didik dm sekaligus juga konsumsi bagi masywakat juga harus dinilai
terus menems serta menyclums terhadap bahan atau program pengajuan.
Disamping itu penilaian terhadap kurikulum dimaksudkan juga sebagai
feedback terhadap tujuan, materi metode dan sarana dalam rangka membina
dan memperkembangkan kurikulum lebih lanjut. Sedangkan penilaian dapat
dilakukan oleh semua pihak baik dari kalangan masyarakat luas maupun dari
kalangan petugas-petugas pendidik.

1.1. LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

Landasan Pengembangan Kurikulum dapat meniadi titik tolak sekaligus
titik sampai. Titik tolak berarti pengembangan kurikulum dapat didorong oleh
pembahaman tertentu seperti penemu.an teori belajar yang baru dan perubahan
tuntutan masyarakat terhadap fungsi sekolah. Titik sampai berarti kuirikulum
harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat merealisasikan
perkembangan tertentu, seperti dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi tuntutan-tuntutan sejarah masa lalu, perbedaan latar belakang murid,
nilai-nilai filsafat suatu masyarakat dan tuntutan-tuntutan kultur tertentu.
Disini hanya dipaparkan landasan secara umum dan sepintas, sedangkan
uraian secara detail dapat dibaca pada kurikulum man dapat dijabarkan sendiri
sesuai dengan kondisi Indonesia. Tentang landasan ini para ahli mengemukakan
berbagai pendapat, sebagai gambaran ummin kami paparkan pandangan tiga ahli
kurikulum.
Landastur Pengembangan Kurikulum

1.2. KURIKULUM DAN LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

126

1.Pengembangan Kurikulum

No

Aspek

Saylor &
Alexander

Ausbrey Haan

Hilda Taba

1.SosiologiContenporary

The variety
background of
children

-The

analysis

society
-The analysis of
culture
-Current conception
of the funtions of
the school

No

Aspek

Saylor &
Alexander

Ausbrey Haan

Hilda Taba

2.Filosofis

An Expression
of values

Methods &
values of e free
society

-

3.Psikologis Child as a
learner

-Dynamic of
children’s
learning
-Theory of
individual
growth
-Complex
factor that

Psycology of learning
-Learning theories
-The concept of
development
-The transfers of
learning

4.

Contribute to
children’s
personality
growth.

-Social and culture
learning
-The extension of
learning

5.“Scientific”

-

-The nature of
knowledge
-The content of the
disciplines

127

Apabila diajukan pertanyaan : apakah kurikulum, itu ? setiap orang yang
ditanya akan menjawab sama atau berbeda satu sama yang lain. Adanya jawaban
yang bervariasi terhadap pertanyaan tersebut sesuai dengan pendapat para ahli
yang juga bervariasi mengenai pengertian kurikulum im.
Kata "kurikulum" berasal dari satu kata bahasa asing yang berarti "jalur
pacu", dari secara tradisional kurikulum sekolah disajikan seperti itut (ibarat
jalan) bagi kebanyakan orang jais, (1976 : 6). Labih lanjut Zais (1976)
mengemukakan berbagai pengertian kurikulum, yakni : (i). Kurikulum sebagai
program pelajaran, (ii). Kurikulum sebagai isi pelajaran, (iii). Kurikulum
sebagai pengalaman belajar yang direncanakan, (vi). Kurikulum, sebagai
pengalaman dibawah tanggung jawab sekolah, dan (v). kurikulum sebagai suatu
rencama (tertulis) untuk dilaksanakan. Sedangkan Tanner dan Tanner (1980)
mengungkapkan konsep-konsep : (i). Kurikulam sebagai pengetahuan yang
diorganisasikan, (ii). Kurikulum sebagai modus mengajar, (iii). Kurikulum
sebagai arena pengajaran, (iv). Kurikulum sebagai pengalaman, (v). kurikulum
sebagai pengalaman belajar terbimbing, (vi). Kurikulum sebagai kehidupan
terbimbing, (vii). Kurikulum sebagai suam rencana pembelajaran, (viii).
Kurikulum sebaga sistem produksi sceara teknologis, dan (ix). Kurikulum
sebagai tujuan. Untuk memudahkan dan menyederhanakan pembahasan, berikut
merupakan penyimpulan dari konsep-konsep kurikulum yang terdiri dari (i).
Kurikulum sebagai jalan meraih ijazah, (ii). Kurikulum sebagai mata dan isi
pelajaran, (iii). Kurikulum sebagai rencana kegiatan pembelajaran, (vi
Kurikulum sebagai basil belajar, dan (v). kurikulum sebag pengelaman belajar.
a.Kurikulum sebagai jalan meraih ijazah. Seperti kita ketahai bersama,
kurikulum merupakan syarat mutlak dalam pendidikan formal. Boleh dikata,
tidak ada pendidikan formal tanpa ada kurikulum. Pada pendidikan formal
terdapat jenjang jenjang pendidikan yang selalu berakhir dengan ijazah atau
Surat Tanda Tamat Behijar (STTB). Seseorang yang telah menyelesaikan
satu jenjang pendidikan, dalum kenyataannya telah melalui suatu jalur

128

pacuan yang terdiri dari berbagai mata pelajaran/bidang studi beserta isi
pelajarannya dan berakhir pada ijazah. Para pendidik profesional juga
memandang curriculum as the relatively standardize grown coveret by
students in their rece toward the finish line
(diploma)" (Zais, 1976 : 6 ).
Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya dapat kiranya disimpulkan bahwa
kurikulum mempakan jalan yang berisi sejumlah mata pelajaran/bidang studi
dan isi pelajaran yang barus dilalui untuk meraih ijazah.
b.Kurikulum sebagai mata don isi pelajaran. Kurikulum sebagai jalan meraih
ijazah mengisyaratkan adanya sejumlah mata pelajaran/bidang studi dan isi
pelajaran yang barus diselesaikan oleh siswa. Selain itu, jika ada orang yang
bertanya : apa kurikulumnya ? seringkali dijawab bahwa kurikulum adalah
PMP, Babasa Indonesia dan yang lain. Jawaban bahwa kurikulum terdiri dari
berbagai mata pelajaran sudah sejak lama ada, bahkan sampai sekarang
masili sering terbaca ataupun terdengar. Schubert (1986) mengemukakan
bahwa penyebutan kurikulum yang demikian sama halnya menyamakan
kurikulum dengan mata pelajaran (Sumantri, 1988 : 2). Lebih jauh, orang
sering menyebut bahwa isi dari pelajaran tertentu dalam program dikatakan
sebagai kurikulum (Zais, 1976 : 7). Dengan demikian, tidaklah mengejutkan
apabila ada orang mengemukakan kurikulum sebagai mata dan isi pelajaran.
c.Kurikulum sebagai rencana kegiatan pembelajaran. Winecoff (1988 : 1),
mengemukakan : "The curriculum is generally difined as a plan the
developed Ii facilitate the teachingfleaming process under the direction and
guidance of a school, college or university and its members
. "Defenisi
kurikulum seperti dikemukakan oleh Winecoff (1988) tersebut, secara jelas
menunjukkan kepada kita bahwa kurikulum didefenisikan sebagai suatu
rencana yang dikembangkan untuk mendukung proses mengajar/belajar di
dalam arahan dan bimbingan sekolah, akademi atau universitas dan para
anggota stafnya. Alexander dan Saylor (1974 dalam Bondi dan Wiles, 1989 :
7) mengungkapkan pula bahwa kurikulum sebagai suatu rancangan untuk

129

menyediakan seperangkat kesempatan belajar agar mencapai tujuan.
Kurikulum sebagai sam rencana kegiatan pembelajaran sudah selayaknya
mencakup komponen-komponen kegiatan pembelajaran, namun demikian
komponen-komponen kegiatan pembelajaran yang dirancang dalam
kurikulum masih bersifat umum dan luwes untuk lanjut oleh guru.
d.Kurikulum sebagai hasil Belajar. Popham dan Baker mendefiniskan
kurikulum sebagai 'All planner leaming out comes for whkh the scholl is
responsible
" Tanner & Tanner, 1980 : 24). Secara jelas diutarakan oleh
Popham dan Baker bahwa semua rencana hasit belajar (Kamig out comes)
yang merupakan tanggung jawab sekolah adalah kurikulum. Adanya defenisi
ini mengubah pandangan penanggung jawals sekolah dari kurikulum sebagai
alat menjadi kurikulum sebagai tujuan. Bahkan Tanner & Tanner (1980 :43)
memandang kurikulum sebagai rekonstruksi pengetahuan dan pengalaman,
yang secara sistematis dikembangkan dengan bantuan sekolah (atau
universitas) agar memungkinkan siswa menambah penguasaan pengetahuan
dan pengalamannya. Dengan demikian, kurikulum sebagai hasil belajar
mempakan serangkaian hasil belajar yang diharapkan. Namun demikian
bukan berarti dalam kurikulum tidak diorganisasikan cara-cara sistematis
untuk mewujudkan hasil-hasil belajar yang diharapkan.
e.Kurikulum sebagai pengalaman belajar. Dari empat konsep kurikulum yang
diuraikan sebelumnya, dapatlah kita menandai bahwa setiap orang yang
terlibat dalam pengimplementasian kurikulum tersebut akan memperoleh
pengalam belajar. Foshay mengamati bahwa sebelum tahun 1930-an istilah
kurikulum dideferusikan sebagai "semua pengalaman seorang siswa yang
diberikan dibawah bimtbingan sekolah" (Tanner & Tanner, 1980: 14)
sedangkan Krug (1956 dalam Zais, 1976 : 8) menunjukkan kurikulum
sebagai "All the means employed by the school to provide students with
opportunities for desirable leaming experiences
". Jelas defenisi Krug ini
menunjukkan kepada kita bahwa semua yang bemaksud dipakai oleh sekolah

130

untuk menyediakan kesempatan-kesempatan bagi siswa memperoleh
pengalaman-pengalaman belajar yang diperlukan sekali adalah kurikulum.
Berdasarkan defenisi kurikulum, belajar tersebut dapat diperoleh di dalam
sekolah maupun di luar sekolah sepanjang direncanakan atau dibimbing
pihak sekolah. Dengan demikian, kurikulum sebagai pengalaman belajar
mencakup pula tugas-tugas belajar yang diberikan oleh guru untuk
dikerjakan sesuatu.

Kelima konsep tentang kurikulum, yakni : (I). Kurikulum sehagai jalan
meraih ijazah, (ii). Kunkulum sebagai mata dan isi pelajaran, (iii). Kurikulum
sebagi rencana kegiatan belajar, (iv).Kurikulum sebagai hasil belajar, dan (v).
kurikulum sebagai penglaman belajar, semua benar tergantung dari cara
memandangnya. Guru dapat memilih satu atau lebih konsep kurikulum yang
dijadikan acuannya. Dalam UU RI No. 2 tahun 1989 pasal 1 (9) menyebutkan
bahwa : " kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi
dan bahan" serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan belajar mengajar " (Depdikbud, 1989: 3), sedangkan dalam pasal 37
menyebutkan: " kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan
kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasioanal,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan
jenis dan jenjang masingmasing satuan pendidikan " (Depdikbud, 1989 : 15).
Rumusan penjabaran kurikulum seperti termaktub dalam UU Sistem Pendidikan
Nasional, bila dikaji merupakan konsep kurikulum yang cukup lengkap dn
menyeluruh. Dalam rumusan tersebut tampak dengan jelas bahwa kurikulum
perlu dan harus dikembangkan.

2.Landasan Pengembangan Karikalum

Kurikulum merupakan wahana belajar mengajar yang dinamis sehingga
perlu dinilai dan dikembangkan secara terus menerus dan berkelanjutan sesuai
dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat (Depdikbud, 1986: 1).

131

Adapun yang dimaksud dengan pengembangan kurikulum adalah suatu proses
yang menentukan bagaimna pembuatan kurikulum akan berjalan. Hal tersebut
meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut : Siapa akan dilibatkan dalam
pembuatan kurikulum, guru, administrator, orang tua, atau siswa ? Apa prosedur
yang akan digunakan dalam pembuatan kurikulum, petunjuk administratif,
konlisi fakultas (staf pengajar) atau konsultasi universitas ? jika komisi yang
digunakan, bagaimana mereka akan diatur ? (Zais, 1976 : 17) sedangkan Bondi
dan Wiles (1989 : 87) mengemukakan babwa pengembangan kurikulum yang
terbaik adalah proses yang meliputi banyak hal yakni : (1) kemudahan-
kemudahan suatu analisis tujuan, (2) rancangan suatu program, (3) penerapan
serangkaian pengalaman yang berhubungan, dan (4) peralatan dalam evaluasi
proses ini. Secara singkat, pengembangan kurikulum adalah suatu perbuatan
kompleks yang mencakup berbagai jenis keputusan (Taba, 1962 : 6).
Agar pengembangan kurikulum dapat berhasil sesuai dengan yang
diinginkan, maka dalam pengembangan kurikulum diperlakan landasan-landasan
pengembangan kurikulum. Seperti yang tercantum dalam kurikulum SP, dalam
landasan program dan pengembangan dikemukakan bahwa pengembangan
kurikulum mengacu pada tiga unsur, yaitu : (1). Nilai dasar yang mempakan
falsafah dalam penyelidikan manusia seutuhnya, (2). Fakta empirik yang
tercermin dari pelaksanaan kurikulum, baik berdasarkan penilaian kurikulum
studi, maupun surve lainnya. (3). Landasan teori yang menjadi arahan
pengembangan dan kerangka penyorotannya (Depdikbud, 1986 : 1). Hal yang
dikemukakan dalam "Landasan Program dan Pengembangan Kurikulum"
merupakan contoh adanya landasan-landasan pengembangan kurikulum, yang
acapkali disebut sebagai determinan (faktor-faktor penentu) pengembangan
kurikulum.
a.Landasan Filosofis. Pendidikan ada dan berada dalam kehidupan
masyarakat sehingga apa yang dikehendaki oleh masyarakat untuk
dilestarikan diselenggarakan melalui pendidikan (dalam arti seluas-luasnya)
(Raka, Joni, 1983 : 6). Segala kehendak yang dimiliki oleh masyarakat
merupakan sumber nilai yang memberikan arah pada pendidikan. Dengan

132

demikian pandangan dan wawasan yang ada dalam masyarakat merupakan
pandangan dan wawasan dalam pendidikan, atau dapat dikatakan bahwa
filsafat yang hidup dalam masyarakat merupakan landasan filosofis
pertyelenggaraan pendidikan. Filsafat boleh jadi didefinisikan sebagai suatu
studi tentang : hakikat realitas, hakikat ilmu pengetalman, hakikat sistem
nilai, hakikat nilai kebaikan, hakikat keindahan dan hakikat pikiran
(Winecoff, 1988: 13). Oleh karena itu landasan filosofis pengembangan
kurikulum adalah hakikat realitas, ilmu pengetahuan, sistem nilai, nilai
kebaikan, keindahan, dan hakikat pikiran yang ada dalam masysarakat.
Secara logis dan realistis, landasan filosofis pengembangan kurikulum dari
satu sistem berbeda dengan pendidikan yang lain. Juga landasan filosofis
pengembangan kurikulum dan suatu lembaga berbeda dengan lembaga yang
lain. Perbedam tersebut sangat terasa dalam masyarakat yang majemuk.
Untuk landasan filosofis pengembangan kurikulum secara cepat dan tepat
kita pastikan, yakni nilai dasar yang merupakan falsafah dalam pendidikan
manusia seutuhnya yakni pancasila.
b.landsaan Sosial- Budaya - Agama. Realitas sosial-budaya - agama yang ada
dalam masyarakat merupakan bahan kajian pengembangan kurikulum untuk
digunakan sebagai landasan pengembangan kurikulum. Masyarakat adalah
suatu kelompok individu-individu yang diorganisasikan mereka sendiri ke
dalam kelompok-kelompok berbeda ( Zais, 1976 : 157; Raka Joni, 1983 : 5 ).
Masyarakat sebagai kelompok individu-individu mempunyai pengaruh
terhadap individu-individu dan sebaliknya, individu-individu itu pada taaf-
taraf tertentu juga mempunyai pengaruh terhadap masyarakat (Raka Joni,
1983 :5) kebersaman individu-individu dalam masyarakat diikat dan terikat
oleh nilai-nilai individu yang menjadi pegangan Mdup dalam interaksi di
antana mereka. Nilai-nilai yang perlu dipertahankan dan dihomati oleh
individu-individu dalam masyarakat tersebut, mencakup nilai-nilai
keagamaan dan nilai-nilai sosial budaya. Nilai-nilai keagamaam
berhubungan erat dengan kepercayaan masyarakat terhadap ajaran dan nilai-
nilai agama yang mereka anut. Oleh kreena nilai agama berhubungan dengan

133

kepereayaan, maka pada umumnya bersifat langgeng sampai masyarakat
pemeluknya melepaskan kepereayaannya (Rika Joni, 1983 : 5). Nilai-nilai
sosial- budaya masyarakat bersumber pada basil karya akal budi manusia,
sehingga dalam mencrima, menyebarluaskan, melestrikan dan atau
melepaskannya manusia menggunakan akalnya. Dengan demikian, apabila
terhadap nilai-nilai sosial budaya yang tidak berterima atau bersesuaian
dengan akaInya akan dilepaskan. Oleh karena itu, nilai-nilai sosial budaya
lebih bersifat sementara bila dibanding nilai-nilai keagamaan. Untuk
menerima melaksanakan, menyebarluaskan. pelestarian, atau penolakan dan
pelepasan nilai-nilai sosial budaya-agama, maka masyarakat memanfaatkan
pendidikan yang dirancang melalui kurikulum. Jelas kiranya bagi kita.
mengapa salah satu landasan pengembangan kurikulum adalah nilai-nilai
sosial-budaya-agama.
c.Landasan ilmu pengetahuan teknologi dan seni. Pendidikan merupakan
usaha penyiapan subjek didik ( siswa) meng hadapi lingkungan hidup yang
mengalami perubahan yang semakin pesat ( Raka Joni, 1983: 25 ).
Perubahan masarakat mencakup nilai yang disepakati oleh masyarakat
tersebut. Sedangkan seluruh nilal yang telah disepakati oleh msyarakat dapat
pula tersebut, sedangkan seluruh nilai yang disepakati oleh masyarakat dapat
pula disebut sebagai kebudayaan. Oleh karena itu, kebudayaan dapat
dikatakan sebagai suatu konsep yang memiliki kompleksitas tinggi (Zais,
1987: 157). Namun dengan demikian menurut Damd Joesoep (1982 dalam
Raka Joni, 1983 : 40) bahwa sumber ratusan ribu nilai yang ada dalam
masyarakat ntuk perkembangan melalui proses pendidikan ada tiga yaitu :
pikiran ( logika), perasaan (estetika), dan kemuan (etika). Ilmu pengetahuan
dan tehnologi adalah nilai-nilai yang bersumber pada pikiran atau logika,
sedangkan seni bersumber pada perasaaan atau estetika. Mengingat
pendidikan merupakan upaya penyiapan siswa menghadapi perubaban yang
makin pesat, temasuk didalamya perubahan ilmu pengetahuan, tehnologi,
dan seni.

134

d.Landasan perkembangan masyarakat. Salah satu ciri masyarakat adalah
selalu berkembang. Mungkin pada msyarakat tertentu perkembangannya
tersebut sangat lambat tetapi masyarakat lainnya cepat baik sanggat cepat
(Nana Sy Sukmadinata, 1988:66). Perkembangan masyarakat juga
dipengaruhi oleh falsafah hidup, nilai-nilai, ipteks, dan kebutuhan yang ada
dalam masyarakat. Falsafah hidup akan mengarahkan perkembangan
masyarakat. Nilai-nilai sosial budaya agama akan merupakan penyaringan
nilai-nilai lain yang menghambat perkembangan masyarakat. lpteks
mendukung kegiatan msyarakat, dan kebutuhan msyarakat akan membantu
menetapkan perkembangan yang dilaksanakan. Perkembangan masyarakat
akan menuntut tersedianya proses pendidikan yang sesuai dengan
perkembangan masyarakat maka, diperlukan rancangannya berupa
kurikulum yang landasan pengembangannya berupa perkembangan
masyarakat itu sendiri.
Pengertian kurikulum dan Iandasan-landasan pengembangan kurikulum yang
telah diuraikan sebelumnya, akan merupakan dasar untuk mengkaji
pembelajaran dan pengembangan kurikulum lebili lanjut. Tugas-tugas
berikut ini akan membantu memantapkan perasaan anda mengenai
pengertian kurikulum dan landasan - landasan pengembangan kurikulum.

1.3. Komponen dan Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum.
1.Komponen kurikulum

Sebelum melaksanakan kegiatan pengembangan kurikulum, seorang
pengembang terlebih dahulu mengenal konaponen atau elemen atau unsur
kurikulum. Seperti yang dikemukakan Tyler (1950 dalam Tabs, 1962 : 422)
bahwa "it is important as a part of a compherensive theory or organization to
indkate just what kinds of elements. An in a given currkulum it is important to
identify the partkular elements that shall be used
" Dari pemyataan Tyler
tersebut, tampak pentingnya mengenal komponen atau elemen atau unsur
kurikulum. Herrck (1950 dalam Taba, 1962: 425) mengemukakan 4 (empat)
elemen, yakni : tujuan (obejetives), mata pelajaran (subject matter), metode dan

135

organisasi (method and organization), dan evaluasi (evolution). Sedangkan ahli
yang lain mengemukakan bahwa kurikulum terdiri dari 4 komponen dasur: (1)
aim, goals, and objektive, (2) content, (3) leaming activities, don (4)evaluations
(Zais, 1976: 295). Nana Sy. Sukmadinata (1988 : 110) menemukan empat
konaporten dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau
materi, proses atau isi penyampaian, serta evaluasi. Berdasarkan uraian tentang
komponen-komponen kurikulum sebelumnya, yakni komponen kurikulum yang
terdiri dari : tujuan, materil pengalaman belajar, organisasi, dan evaluasi.
a.Tujuan. Tujuan sebagai sebuah komponen kurikulum mempakan kekuatan-
kekuatan fundamental yang peka sekali, karena hasil yang diinginkan tidak
hanya sangat mempengaruhi bentuk kurikulum, tetapi memberikan arah dan
fokus untuk selmh program pendidikan (Zais, 1976 : 297). Apa yang
diutarakan oleh Zais mengenai pentingnya tujuan adalah benar adanya,
karena tidak ada satupun aspekaspek pendidikan yang lain bertentangan
dengan tujuan. Dalam kenyataannya aspek-aspek pendidikan selalu
mempertanyakan tentang tujuan. Lebili lanjut Zais (1976 : 307)
mengklasifikasik" tujuan menjadi tiga yakni aims, goal, dan objetives, yang
ketiganya mempakan suatu hirarki vertikal. Adanya klasifikasi tujuan
kurikulum seperti yang disampaikan oleh Zais juga tersurat dalam tujum
kurikulum indonesia. Hirearki vertikal tujuan kurikulum di Indonesia, paling
tinggi adalah tujuan pendidikan nasional, kemudian tujuan kelembagaan,
diikuti tujuan kurikuler, dan tujuan pengajaran. Tujuan pendidikan nasional
merupukan tujuan kurikulum tertinggi yang bersumber pada falsafah bangsa
(pancasila) dan kebutuhan masyarakat tertuang dalam GBHN dan UU-SPN.
Tujuan kelembagaan (tujuan institusional) mempakan tujuan yang
menjabarkan tujun pendidikan nasional, bersumber pada tujuan tiap jenjang
pendidikan dalam UU-SPN, karekteristik mata pelajaran bidang studi,
karakteristik lembaga, dan kebutuhan masyarakat. Tujuan yang terbawah
dari hirarki tuju" kurikulum Indonesia adalah tujuan pengajaran., yakni suatu
tujuan yang, menjabarkan tujuan kurikuler dan bersumber pada karakteristik
mata pelajaran/bidang studi dan karakteristik siswa. Tujuan pengajuan

136

terbagi menjadi dua macam, yakni Tujuan Umum Pengajoran (TUP) dan
Tujuan Kbusus Pengajaran (TKP). Apabila dikaji lebih lanjut akan kita
temukan bahwa dalam perumusannya, tujuan tersusun hirarki vertikal dari
yang tertinggi ke yang terendah dan sebaliknya, untuk pencapaiannya secara
hirarki vertikal daii tujuan yang terendah ke tujuan yang lebib tinggi. Untuk
memperjelas uraian, berikut mempakan hirarki nujuan kurikulum Indonesia.
Hirarki tujun kurikulum secara vertikal di Indonesia seperti terurai
sebelumnya, tersurat seperti terurai sebelumnya,
Jenjang Tujuan

Dokumen

Penanggung Jawab

Tujuan Pendidikan UU SPN & GBHN

Menteri Dikbud

Tujuan
Kelembagaan

Kurikulum

Tiap

Lembaga

Kepala Sekolah

Tujuan Kurikuler

GBBP

Guru Mata Pelajaran /
Bidang Studi / Kelas

Tujuan Pengajaran

GBPP & Rancangan
Pembelajaran

Guru Mata Pelajaran

tersurat sampai dengan Kurikulum Yang Disempumakan (KYD)
SD/SLTP/SLTA tahun 1984/1985 atau 1985/1986. Hierarki tujuan
kurikulum secara vertikal tersebut dapat saja berkembang atau
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan atau perkembangan zaman.
Pengembangan hierarki kurikulum secara. vertikal di Indonesia tertampak
dalam draft kurikulum tahun 1994/1995. Hirarki tujuan kurikulum vertikal
yang tersurat dalam draft kurikulum 1994/1995 tersebut diawali dari tujuan
pendidikan nasional, kemudian tujuan kelembagaan, tujuan kurikuler, tujuan
bidang studi, tujuan kelas dan tujuan catur wulan serta Tujuan pengajaran.
Secara garis besar hierarki tujuan kurikulum dalam draft kurikulum
1994/1995 tersebut, ditujukan untuk lebili tajam diharapkan dapat
memudahkan guru menjabarkan.
b.Materi pengalaman belajar. Hal yang mempakan fungsi khusus dari
kurikulum pendidikan fonnal adalah memilih dan menyusun isi (komponen
kedua dari kurikulum) supaya keinginan tujuan kurikulum dapat dicapai

137

dengan dan paling efektif dan supaya pengetahuan paling penting yang
diinginkan pada jalumya dapat disajikan secara efektif (Zais, 1976: 322).
Selain itu untuk mencapai tiap tujuan mengajar yang telah ditentukan
diperlukan bahan ajaran (Nana Sy. Sukmadinata, 1988 : 114). Namun
demikian sebenarnya tidak

cukup hanya isil bahan ajaran saja yang
dipikirkan dalam kegiatan kurikulum, lebih dari itu adalah pengalaman
belajar yang mampu mendukung pencapaian tujuan secara lebili efektif. Hal
ini berarti kita memandang kurikulum sebagai suatu rencana untuk belajar,
dan tujuan menentukan belajar apa yang penting, maka kurikulum secara
pasti mencakup seleksi, dan organisasilmateri dan pengalaman belajar (Taba,
1962 : 266). Isi atau materi kurikulum adalah semua pengetalman,
keterampilan, nilai-nilai, dan sikap yang terorganisasi dalam mata
pelajaran/bidang studi. Sedangkan pengalaman belajar dapat diartikan
sebagai kegiatan belajar tentang atau Belajar bagaimana disiplin berpikir dan
strata disiplin thou. Dengan demikian jelaslah bahwa baik materi/isi
kurikulum dan pengalaman belajar barus dipikirkan dan dikaji serta
diorganisasikan dalam pengembangan kurikulum. Pentingnya materi/isi
kurikulum dan pengalaman belajar dapat kita lihat pada pernyataan Taba
(1962 : 263) berikut ini : Selecting the content, with accompanying leaming
experiences, in one of the two central derision in currkulum making, and
there fore rational method of going about it is a matter of great concert
"
c.Organisasi. Perbedaan antara behijar di sekolah dan belajar dalam
kehidupan adalah dalam hal pengorganisasian secara formal di sekolah. Jika
kurikulum merupakan suatu rencana untuk belajar maka isi dan pengalaman
belajar membutuhkan pengorganisasian sedemikian rupa sehingga berguna
bagi tujuan-tujuan pendidikan (Taba, 1962 : 290). Berdasarkan pendapat
Taba tersebut, jelas babwa materi dan pengalaman Belajar dalam kurikulum
diorganisasikan untuk mengefektifkan pencapaian tujuan. Namam demikian,
perlu kita sadari bahwa pengorganisasian kurikulum merupakan kegiatan
yang sulit dan kompleks. Sukar dan kompleknya pengorganisasian
kurikulum dikareakan kegiatan tersebut bertalian dengan aplikasi serta

138

pengetahuan yang ada tentang pertumbuhan dan perkembangan peserta
didik, dan masalah proses pembelajaran (Sumantri, 1988 : 23).Masalah-
masalah utama organisasi kurikulum berkisar pada ruang lingkup (scope),
sekuensi kontinuitas, dan integrasi.
Evaluasi. Evaluasi merupakan komponen ke empat kurikulum, mungkin
merupakan aspek kegiatan pendidikan yang dipandang paling kecil (Zais, 1976 :
369). Evaluasi ditujukan untuk melakukan evaluasi terhadap belajar sisiwa (basil
dan proses) mampun keefektifan kurikulum dan pembelajaran, Lebih lanjut Zais
(1976 : 378) mengemukakan evaluasi kurikulum secara luas merupakan suatu
usaha sangat besar yang kompleks yang mencoba menantang untuk
mengkondifikasi proses salah satu dari istilah sekuensi atau komponen-
komponen. Evaluasi kurikulum secara luas tidak hanya menilai dokumen
tertulis, tempat yang lebih penting adalah kurikulum yang diterapkan sebagai
bahan-bahan fungsional dari kejadian-kejadian yang meliputi interaksi siswa,
guru, material, dan lingkungan. Adapun peran evaluasi dalam kurikulum secara
keseluruhan baik evaluasi belajar sisiwa maupun keefektifan kurikulum dan
pembelajaran, dapat digunakan sebagai dasan pengembangan kurikulum. Dari
uraian tentang evaluasi jelaslah bahwa evaluasi bukanlah komponen atau
kegiatan pendidikan yang kecil. Sebagai konponen kurikulum, evaluasi
merupakan bagian integral dari kurikulum. Kegiatan evaluasi akan memberikan
informasi dan data tentang perkembangan belajar siswa maupun keefektifan
kurikulum dan pembelajaran, hingga dapat dilihat keputusan-keputusan
pembelajaran dan pendidikan secara tepat.

139

BAB IV
MOTIVASI BELAJAR

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->