P. 1
Buku Belajar Dan Pembelajaran

Buku Belajar Dan Pembelajaran

|Views: 11,722|Likes:
Published by ahmadkhoirulanam
isinya tentang materi kuliah belajar dan pembelajaran
isinya tentang materi kuliah belajar dan pembelajaran

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: ahmadkhoirulanam on Nov 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

10/05/2015

original

Sections

Motivasi sangat krusial dalam belajar dan pembelajaran. pada hal, motivasi
belajar tersebut juga dipengaruhi oleh banyak unsur antara lain: cita-cita aspirasi
penubelajar, kemampuan pembelajar, kondisi pembelajar, kondisi lingkungan
belajar, unsur-unsur dinamis belajar. Pembelajaran dan upaya-upaya guru dalam
membelajarkan pembelajar. Oleh karena itu, unsur-unsur yang mempengaruhi
tersebut, perlu diketahui dan diperhatikan oleh guru yang membelajarkan
pembelajar. Agar dapat mendukung lebih optimal terhadap motivasi belajar. Jika
unsur-unsur yang mempenguuhi tersebut tidak diketahui dan tidak diperhatikan,
bisa menjadi penyebab rendahnya motivasi belajar para pembelajar.
Sebagai konsekuensi atas perhatian guru terhadap unsurunsur yang
mempengaruhi motivasi belajar dan unsur-unsur yang mempengamhi tersebut,
guru hendaknya senantiasa berupaya meningkatkan motivasi belajar. Upaya
meningkatkan motivasi belajar tersebut dilakukan dengan cara mengoptimalkan
penerapan prinsip-prinsip belajar, mengoptimalkan unsur-unsur belajr /
pembalajaran, mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman kemampuan yang di
miliki oleh pembelajar dan mengembangkan cita-cita dan aspirasi pembelajar.
Ausubel mengatakan adanya hubungan antara motivasi dan belajar.
Motivasi bukan mempakan syarat mutlak untuk belajar tak perlu lebih dahulu
ditunggu adanya motivasi sebelum kita mengajarkan sesuatu. Bahkan kita dapat
mengabaikan motivasi dan memusatkan perhatian kepada pengajaran itu sendiri.
Bila belajar itu berhasil, maka akan timbul motivasi itu dengn sendirinya dan
keinginan untuk lebih banyak belajar. Sukses dalam belajar akan
membangkitkan motivasi untuk belaiar.

146

Menurut Skinner(1968) masalah motivasi bukan soal memberikan
motivasi, akan tetapi mengatur kondisi belai sehingga memberikan
reinforcement.

Motivasi yang dianggap lebih tinggi tarafnya daripada penguasaan tugas
ialah "achievement motivation" yakni motivasi untuk mencapai atau
menghasilkan sesuatu. Motivasi ini lebib mantap dan memberikan dorongan
kepada sejumlah besar kegiatan, termasuk yang berkaitan dengan pelajari, di
sekolah. McClelland (1965) yang menyelidiki berbagai hal yang dapat
mempertinggi motivasi ini, misalnya dengan merumuskan tujum dengan jelas,
mengetahui kemajuan yang dicapai, merasa turut benanggungjawab, dan
lingkungan sosial yang menyokong.
Peneliti lain, White (1959) mengemukakan konsep kompetensi. Motivasi
kompetensi mempunyai dasar biologis, jadi juga terdapat pada binatang, antara
lain motivasi menyalidiki aktivitas manipulasi. Ada pula peneliti yang mencari
motiyasj positif yang dinyatakan dengan istilah "mastery”, "egoinvolvement"
(keterlibatan diri), dan lain-lain. White berpendapat bahwa kegiatan anak tak
dapat dijelaskan dengan dorongan untuk memuaskan kebutuhan makan, minum,
dan sebagainya. Akan tetapi karena kegiatan untuk berinteraksi secara efektif
dengan lingkungannya yang memberikan rasa mampu. Setiap orang ingin
menguasai lingkungannya.

Walaupun teori-teori motivasi berbeda-beda, nanum dalam praktek
pendidikan penerapannya bersamaan. Pelajar harus diberikan ganjaran (reward)
berupa pujian, angka ang baik, rasa keberhasilan atas hasil belajarnya, sehingga
ia lebih tertarik oleh pelajaran. Keberhasilan dalam interaksi dengan lingkungan
belajar, penguasaan tujuan program pendidikan memberikan rasa kepuasan dan
karena ini merupakan sumber motivasi yang terus menerus bagi pelajar,
sehingga ia sanggup belajar sendiri sepanjang bidupnya, yang dapat dianggap
sebagai salah samtu hasil pendidikan yang paling penting.

147

Unsur-Unsur Yang Mempengaruhi Motivasi

Ada beberapa unsur yang mempengaruhi motivasi belajar. Unsur-unsur

tersebut adalah :
1.Cita-cita / aspirasi pembelajar
2.Kemampuan pembelajar
3.Kondisi pembelajar
4.Kondisi lingkungan belajar
5.Unur-unsur dinamis belajar Ipembelajaran
6.Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar
Unsur-unsur tersebut dijelaskan sebagaimana pada uraian berikut :

a.Cita-cita / aspirasi pembelajaran

Setiap manusia senantiasa mempunyai cita-cita atau aspirasi tertentu
didalam hidupnya temasuk pembelajar. Cita-cita atau aspirasi ini senantiasa ia
kejar dan ia perjuangkan. Bahkan tidak juang, meskipun rintagan yang ditemui
sangat banyak dalam mengejar cita-cita dan aspirasi tersebut seseorang tetap
berusaha semaksimal mungkin karena hal tersebut berkaitan dengan cita-cita dan
aspirasinya. Oleh karena itu, cita-cita dan aspirasi sangat mempengaruhi
terhadap motivasi belajar seseorang.
Seseorang yang bercita-cita menjadi dokter, pada saat masih sedang
belajar dijenjang pendidikan dasar, tentu menggemari terhadap mata pelajaran-
mata pelajaran dan bacaan-bacaan yang berkaitan erat dengan ilmu kesehatan.
Meskipun mata pelajaran tersebut masih terintegrasi dengan mata pelajaran IPA,
ia akan lebih bergairah dengan mata pelajaran tersebut. Oleh karena itu. ia akan
lebih temotivasi mempelajari mata pelajaran tersebut dibandingkan dengan mata
pelajaran yang lainnya.

Sebaliknya seseorang yang kebetulan berstatus mahasisma dan
dahulunya bercita-cita menjadi ahli hukum tetapi ia dipaksa oleh orang tuanya
mengambil jurusan teknik elektro. Dapat dipastikan kesungguhan belajarnya
akan berkurang karena apa yang ia pelajari tidak sesuai dengan cita-cita dan

148

aspirasinya. Ketidaksungguhan dalam belajar demikian ini tentu lantaran jurusan
yang dipaksakan oleh orang tuanya tidak cocok dengan cita-cita dan aspirasinya.
Ia kendor motivasinya, bisa jadi, pada saat-saat masih disekolah menengah ia
tinggi motivasi belajarnya sebaliknya pada saat sudah menjadi mahasiswa
motivasi yang tinggi tersebut berubah menjadi rendah. Itulah sebabnya, maka
cita-cita dan aspirasi pembelajaran ini perlu diperhitungkan dalam rangka
meningkatkan motivasi belajar seseorang, karena cita-cita atau aspirasi ini
mempengaruhi motivasi belaiar.
Jika kaitan antara cita-cita atau aspirasi pembelajar dengan motivasi dan
perolehan belajar ini diskemakan seperti tampak dibawah ini:

b.Kemampuan PeMbelajar

Kemampuan manusia satu dengan yang lain tidaklah sama. Menuntut
seseorang sebagaimana orang lain dari bingkai penglihatan demikian tentulah
tidak diberikan. Sebab, orang yang mempunyai kemampuan rendah akan sangat
susah menyerupai orang yang mempunyai kemampuan tinggi; dan sebaliknya
orang yang berkemampun tinggi, akan menjadi malas jika dituntut sebagaimana
mereka yang berkemampuan rendah.
Oleh karena itu, kemampuan pembelajar ini haruslah diperhatikan dalam
proses belajar pembelajaran. Kemampuan pembelajar erat hubungannya dan
bahkan mempengaruhi motivasi belajar pembelajar. Bisa terjadi, seseorang
menjadi rendah motivasi belajarnya terhadap bidang tertentu oleh karena yang
bersangkutan rendah kemampuannya dibidang tersebut.
Jika kaitan antara kemampunn pembelajar dengan motivasi dan
perolehan belajar ini diskemakan sebagai berikut:

149

CITA-CITA /
ASPIRASI
PEMBELAJAR

MOTIVASI
BELAJAR
PEMBELAJAR

PEROLEHAN
BELAJAR
PEMBELAJAR

c.Kondisi pembelajar

Kondisi pembelajar dapsat dibedakan atas kondisi fisiknya dan kondisi
psikologisnya. Dua macam kondisi ini, fisik dan psikologis, umumnya saling
mempengamhi satu sama lain. Jiwa yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat.
Dalam realitasnya juga berlaku kebalikannya. Bila seseorang kondisi
psikologisnya tidak sehat, bisa berpengaruh juga terhadap ketahanan dan
kesehatan fisiknya.

Sangatlah jelas dan sering dirasakan oleh siapapun jika kondisi fisik
dalam keadaan lelah, umumnya motivasi belajar seseorang akan menurun.
Sebaliknya jika kondisi fisik berada dalam keadaan bugar dan segar, motivasi
belajar bisa meningkat. Berarti, kondisi fisik seseorang mempengaruhi motivasi
belajarnya. Orang yang sudah sangat lelah tidak baik kalau belajar. Demikian
juga kalau sedang sakit, tidak bails untuk dipaksa belajar.
Dalam kondisi psikologis terganggu, sebutlah misalnya stress, juga tidak
bisa mengkonsentrasikan diri terhadap hal-hal yang dipelajari. Kmena tidak bisa
konsentrasi, mka gairah belajarnya menurun. Keadaan demikian ini, bisa
menjadikan seseorang belajar merasa terpaksa dan tidak banyak bemotivasi.
Jelaslah bahwa kondisi pembelajar, baik yang bersifat fisik maupun
psikis, sama-sama berpengaruh terhadap motivasi belajarnya. Ada kalanya
seseorang yang pada masa-masa sebelumnya bemotivasi belajar tinggi, tiba-tiba
menjadi rendah hanya karena kondisi fisik dan psikologisnya terganggu atau
sakit. Tidak jarang, seseorang yang motivasi belajarnya biasa-biasa saja, tiba-
tiba berubah karena kondisi fisik dan psikologisnya dalam keadaan prima.
Jika diskemakan, kondisi pembelajar dalam kaitannya dengan motivasi
dan perolehan belajar adalah sebagai berikut:

150

Kemampuan
Pembelajaran

Motivasi Belajar
Pembelajaran

Perolehan Belajar
Pembelajaran

d.Kondisi lingkungan belajar

Sudah umum diketahui bahwa yang menentukan motivasi belajar
seseorang, selain faktor individu juga faktor lingkungan. lebih-lebih lingkungan
belajar. Sebab, individu secara sadar ataukah tidak, senantiasa tersosialisasi oleb
lingkungannya. Lingkungan belajar ini meliputi : lingkungan fisik dan
lingkungan sosial.

Yang dimaksud dengan lingkurigan fisik adalah tempat dimana
pembelajar tersebut belajar. Apakah tempat belajarnya nyaman ataukah tidak,
apakah tempatnya segar atau pengap. Hal-hal demikian ini berpengaruh terhadap
motivasi belajar. Demikian juga yang amburadul, tidak memberikan gairah bagi
belajar seseorang. Sebaiknya tempat yang teratur, yang tertata rapi, mendorong
seseorang bergairah belajar. Tempat belajar yang berisik oleh suara bisa
menganggu belajar, yang tenang, bisa menimbulkan gairah belajar. Jadi
lingkungan fisik berpengaruh terhadap motivasi belajar.
Lingkungan sosial adalah suatu lingkungan seseorang dalm kaitannya
dengan orang lain. Contohnya berupa lingkungan sepermainan, lingkungan
sebaya, kelompok belajar. Sungphpun faktor pribadi pribadi seseorang lebih
menentukan terhadap diri sendiri tetapi harus diakui bahwa lingkungan sosial
juga menentukan motivasi belajar seseorang. Contohnya jika dalam lingkungan
sosial seseorang tidak terbiasa dengan aktivitas belajar maka bukan budaya
belajar itu yang dikembangkan oleh seseorang.
Dalam lingkungan yang kompetitif untuk belajar, seseorang yang berada
dilingkungan tersebut akan terbawa serta untuk belajar seperti orang lain. Baik
secara sadar atau tidak. Kaitan antara kondisi lingkungan belajar dengan
motivasi dan perolehan belajar adalah sebagai berikut :

151

Kemampuan
Pembelajaran

Motivasi Belajar
Pembelajaran

Perolehan Belajar
Pembelajaran

e.Unsur-Unsur Dinamis belajar pembelajar

Unsur dinmis belajar pembelajar meliputi hal-hal sebagai berikut :
a.Motivasi dan upaya memotivasi siswa untuk belaiar
b.Bahan belajar dan upaya penyediannya
c.Alat bantu belajar dan upaya penyediaannya
d.Suasana belajar dan upaya pengembangannya
e.Kondisi subjek belajar dan upaya penyiapan dan peneguhannya
Oleh karena itu, unsur- unsur dinamis dennkian ini patut diperhatikan
agar motivasi belajar pembelajar menjadi tinggi. tingginya motivasi belajar
berimplikasi bagi maksimainya perolehan belajar pembelajar.
Unsur dinamis belajar dan pembalajar Motivasi belajar pembelajar
Perolehan belajar pembelajar jika kaitan antara unsur-unsur dinamis dalam
belajar dengan motivasi dan perolehan belajar adalah sebagai berikut :

f.Upaya Guru dalam Membelajarkan pembelajar

Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar juga berpengaruh terhadap
motivasi belajar. Guru yang tinggi gairahnya dalam membelajarkan pembelajar,
menjadikan pembelajar juga bergairah belajar, guru yang sungguh-sunggub
dalam membelajukan pembelajar, menjadikan tingginya motivasi belajar
pembelajar. Pada guru yang demikian umumnya mempersiapkan diri dengan
matang dan senantiasa memberikan yang terbaru dan terbaik kepada pembelajar.

152

Kemampuan
Pembelajaran

Motivasi Belajar
Pembelajaran

Perolehan Belajar
Pembelajaran

Unsur dinamis
belajar dan
pembelajar

Motivasi Belajar
Pembelajaran

Perolehan Belajar
Pembelajaran

Oleh karena yang di berikan tersebut menarik. Terbaik dan mungkin terbaru.
Maka tingkat aktualitasnya sangat tinggi dimata pembelajar. Sebagai akibatnya,
hal-hal yang disajikan oleh guru menjadi menarik dimata pembelajar.
Menariknya hal-hal yang diberikan ini hisa menjadikan tingginya motivasi
pembelajar.

Sebaliknya pada guru yang tidak bergairah dalar membelajarkan
pembelajar, umumnya mengulang saja pelajaran yang di berikan dari tahun
ketahun. Proses belajar pembelajar terasa kering dan kehilangan nuansa. Akibat
dari proses belajar pembelajaran demikian ini, pembelajar tidak bergairah dan
babkan mungkin kehilangan motivasi. Hal demikian bisa lebib parah lagi.
manakala guru yang membelajarkan tersebut sudah puas dengan keadaan yang
demikian ini.

Oleh karena itu, upaya guru untuk membelajarkan pembelajar sangat
krusial dalam meningkatkan motivasi pembelajar. Jika di skemakan antara upaya
guru untuk membelajarkan pembelajar dengan motivasi dan perolehan belajar
pembelajar adalah sebagai berikut :

Upaya Meningkatkan motivasi belajar

Upaya belajar senantiasa bergelombang. Adakalanya bergerak naik dan
adakalanya bergerak turun. Tidak jarang motivasi belajar hanya mendatar saja.
Oleh karena demikian " watak" motivasi tersebut, maka diperlukan upaya untuk
meningkatkannya. Dengan demikian, motivasi belajar yang di punyai oleh
pembelajar bisa cenderung naik dan atau minimal Menetap.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru guna meningkatkan

motivasi pembelajar, yaitu :

153

Upaya guru
membelajarkan
Pembelajaran

Motivasi Belajar
Pembelajaran

Perolehan Belajar
Pembelajaran

1.Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar
2.Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis belajar / pembelajaran
3.Mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman / kemampuan yang telah dimiliki
dalam belajar
4.Mengembangkan cita-cita / aspirasi dalam belajar
Secara berturut-turut, ketiga cara tersebut di kemukakan sebagai berikut :
1.Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar
Ada beberapa prinsip yang harus dipedomani dalam belajar. Prinsip

tersebut adalah :
a.Prinsip perhatian dan motivasi belajar
b.Prinsip keaktifan belajar
c.Prinsip keterlibatan langsung pembelajar
d.Prinsip pengulangan belajar
e.Prinsip sifat perangsang dan menantang dari materi yang dipelajari
f.Prinsip pemberian balikan dan penguruan dalam belajar
g.Prinsip perbedaan individual antar belajar
Ketujuh prinsip ini diterapkan secara optimal agar pembelajar
mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar.
Ada dua cara dalam mengoptimalkan penerapan prinsip belajar tersebut.
Pertama, menyusun strategi-strategi sehingga prinsip-prinsip tersebut dapat
terterapkan secara optimal. Strategi disini, dari pandangan-pandangan dan
temuan-temuan teoritik dan dapat pula digali dari kiat guru sendiri. Temuan-
temuan ahli psikologi pendidikan dan temuan-temuan ahli pengajaran
part[ digali hingga dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan penerapan
prinsip-prinsip belajar.

Kedua, menjauhkan konstrain-konstrain (kendala-kendala) yang ditemui
dalam mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar. Kendala demikian ini
patut dijauhkan, agar tidak mengganggu bagi penerapan prinsip-prinsip belajar.

154

2.Mengoptimalkan Unsur-Unsur Dinamis Belajar / Pembelajaran
Mengingat unsur-unsur belajar / pembelajaran dapat mempengaruhi
motivasi, maka ia perlu di optimalkan penerapannya. Pengoptimalan demikian
mi perlu dilakukan agar motivasi belajar siswa juga optimal.
Cara mengoptimalkan unsur-unsur dinamis dalam belajar / pembelajaran
dalah : pertama, menyediakan secara kreatif berbagai unsur belajar pembelajaran
tersebut dalm setting belajar pembelajaran. Penyediaan secara kreatif ini perlu
dilakukan, katena umumnya ketika tidak ada guru dan menerima kondisi
tersebut apa adanya. Contohnya peralatan pengajaran yang tidak tersedia dapat
disediakan dengan merancang sendiri bersama-sama dengan pembelajar.
Kedua, memanfaatkan sumber-sumber diluar sekolah sehingga
keterbatasan yang dimiliki oleh sekolah dapat ditanggulangi. Hal demikian dapat
dilakukan dengan banyak mengadakan kerjasama dengan sejumlah lembaga
diluar sekolah bahkan diluar dunia pendidikan.

3.Mengoptimalkan Pemanfaatan Pengalaman / Kemampuan Yang Telah
Dimiliki Dalam belajar

Setiap pembelajar mempunyai kemampuan dan pengalamn-pengalaman
tertentu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Kemampuan dan
pengalaman yang berbeda demikian ini hendaknya tidak justru menjadi
konstrain dalam aktivitas belajarnya. Kemampuan atau pengalaman masa Ialu
ini bisa didapatkan oleh pembelajw melalui aktivitas belajar, dan bisa juga
didapatkan oleh pembelajar melalui aktivitas lain atau aktivitas non belajar.
Pengalaman dan kemampuan masa Ialu ini bisa menjadi konstrain untuk
belajar berikutnya, tetapi tidak jarang bisa mendukung aktivitas belajar.
Pengalaman dan kemampuan masa lain bisa menjadi konstrain belajar, manakala
dipandang bertentangan dengan pengalaman belajar berikutnya oleh pembelajar.
Pengalaman dan kemampuan masa Ialu bisa mendukung terhadap aktivitas
belajar manakala sesuai dengan pengalaman belajar berikutnya. Tidak itu saja
pengalamana atau kemampuan masa lalu malahan bisa menjadi prasyarat bagi
pengalaman berikutnya. dan jika kasus yang trakhir ini terjadi, maka pembelajar

155

tidak dapat mempelajari mata pelajaran berikutnya, tanpa yang bersangkutan
telah mempunyai kemampuan dan pengalaman yang diprasyaratkan. Dkk dan
Cany (1981) menyebut pengalamn dan kemampuan demikian dengan entry
behavior.

Yang harus diupayakan guru agar kemampuan atau pengalaman masa
lalu justru mendukung terhadap aktivitas belajar adalah :
a.Biarkan pembelajar dapat menangkap apa yang dipelajari sekarang ini dari
perspektif kemmpuan dan pengalaman masa lalunya. Jangan dipaksa
menggunakan perspektif gurunya.
b.Kaitkan aktivitas belajar pada masa sekarang ini dengan kemampuan dan
pengalaman yang sudah dipunyai oleh pembelajar.
c.Gali dulu pengalaman dari kemampuan yang sudah dimiliki oleh pembelajar
melalui tes lisan atau tertulis sebelum menyampaikan materi berikutnya.
d.Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membandingkan apa yang
sekarang dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimiliki.

4.Mengembangkan Cita-Cita / Aspirasi Dalam Belajar

Cita-cita adalah sesuatu yang dikejar oleh seseorang. Kegiatan-kegiatan
seseorang, utamanya kegiatan belajar. Lebih banyak teraksentuasi pada
pengejaran dan atau pencapaian cita-cita atau aspirasi tersebut. Maka dari itu
cita-cita atau sapirasi tersebut harus senantiasa dikembangkan dalam
pembelajaran.

Penjurusan yang ada disekolah-sekolah kita, tidak lain adalah demi
penampungan aspirasi dan cita-cita yang berbeda dari masing-masing
pembelajar. Demikian juga dengan adanya kurikulum muatan tokal, yang antara
daerah yang satu dengan yang lain berbeda, adalah dalam rangka menampung
aspirasi dan cita-cita yang berbeda antara, pembelajar didaerah satu dengan
daerah lainnya. Persoalannya adalah, apakah memang benar bahwa dalam
pemilihan jurusan tersebut memang benar-benar sesuai dengan cita-cita dan

156

aspirasi pembelajar ? mengingat yang menjadi pertimbangan dalam penjurusan
tersebut tidak semata-mata cita-cita dan aspirasi melainkan banyak hal lain
seperti daya tampung masing-masing jurusan, tersedia tidaknya prasarana dan
sarana.

Aspirasi / cita-cita dapat dikembangkan dalam belajar pembelajaran,
dengan beberapa langkah sebagai berikut :
a.Kenalilah aspirasi dan cita-cita pembelajar. Pengenalan ini dapat dilakukan
dengan melalm penyebaran daftar isian yang dapat memuat sejumlah cita-
cita atau aspirasi pembelajar. Dari sejumlah aspirasi atau cita-cita tersebut,
pembelajar masih diliarapkan anak merangking dari yang paling diminaati
sampai dengan yang paling tidak diminati. Pengenalan aspirasi ini dapat
dilakukan dengan mengadakan tes minat kepada pembelajar. Dengan tes
minat, akan diketabui jenis-jenis pekerjaan apa dimasa depan yang paling
diminati dan menjadi cita-cita pembelajar.
b.Hasil pengenalan atas cita-cita aspirasi tersebut dapat dikomunikasikan
kepada siswa dan orangmanya. Orang tua ini patut juga diberi tahu, agar
tidak memaksakan kehendaknya kepada putra-putrinya, karena mungkin
pembelajar tersebut mempunyai cita-cita atau aspirasi yang berbeda dengan
orangtuanya.
c.Sediakan program-program yang dapat mengembanglum aspirasi dan cita
cita tersebut. Setelah program-program tersebut disediakan, barulah para
pembelajar diberi kesempatan untuk mengambil program yang sesuai dengan
aspirasi dan cita-citanya. Persoalannya hanyalah, apakah mungkin hat
demikian dilakukan disekolah-sekolah kita mengingat kurikulum yang
tersentralkan dari pusat ?
Jenis Motivasi Yang Didasarkan Motif Primer Dan Sekunder Motivasi
dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

157

1.Motivasi Primer

Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar.
Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani
manusia. Manusia adalah makluk berjasmani, sehingga perilakunya terpengaruh
oleh tasting atau kebutuhan jasmaninya.
Ahli lain, Freud berpendapat bahwa insting memiliki empat ciri, yaitu
tekanan, sasaran, objek dan sumber.tekanan adalah kekuatan yang memotivasi
individu amok bertingkah laku. Semakin besar energi dalana insting, maka
tekanan terhadap individu semakin besar. Sasaran insting adalah kepuasan atau
kesenangan. Kepuasan tercapai, bila tekanan energi dalam insting berkurang.
Sebagai ilustrasi, keinginan makan berkurang bila individu masih kenyang.
Objek insting adalah hal-hal yang mermaskan insting. Hal-hal yang memutuskan
insting tersebut dapat berasal dari luar individu atau dari dalam individu.
Adapun sumber insting adalah keadaan kejasmaniah individu. Segenap insting
manusia dapat di bedakan menjadi dua jenis, yaitu insting kehidupan (life
instinest ) dan insting kematian (death instinest ). Insting kehidupan terdiri dari
insting yang bertujuan memelihara kelangsungan hidup. lnsting kehidupan
tersebut berupa makan. minum, istirahat dan memelihara keturunan. Insting
kematian tertuju pada penghancuran seperti, merusak, menganiaya, atau
membunuh orang lain atau diri sendiri. Menurut Freud energi bekerja
memelihara keseimbangan fisik. Insting bekerja seumur hidup. Yang mengalami
perubahan adalah cara pemuasan atau objek pemuasan.

2.Motivasi Sekunder

Motivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Hal ini berbeda
dengan motivasi primer. Sebagai ilusirasi, orang yang lapar akan tertarik pada
makanan tanpa berpikir. Untuk memperoleh makanan tersebut orang harus
bekerja terlebih dahulu. Agar dapat bekerja dengan baik, orang harus belajar
bekerja. Bekerja dengan haik merupakan motivasi sekunder, bila orang bekerja

158

dengan baik, maka ia memperoleh gaji berupa uang. Uang tersebut berupa
penguat motivasi sekunder, Uang merupakan penguat unnum. Setelah in bekerja
dengan baik maka ia dapat membeli makanan untuk menghilangkan rasa lapar.
Menurut beberapa ahli, manusia adalah makluk sosial. Perilakunya tidak
hanya terpengaruh oleh faktor biologis saja. Tetapi juga faktor-faktor sosial.
Perilaku manusia terpengaruh oleh tiga komponen penting seperti afektif,
koqnitif, dan konatif. Komponen afektif adalah aspek emosional. komponen ini
terdiri dari motif sosial, sikap dan emosi. Komponen koqnitif adalah aspek
intelektual yang terkait dengan pengetahuan. Komponan konatif adalah terkait
dengan kemauan dan kebiasaan bertindak.
Perilaku motivasi sekunder juga terpengaruh oleh adanya sikap. Sikap
adalah suatu motif yang dipelajari. Ciri-ciri sikap, yakni :
-merupakan kecenderungan berpikir, merasa, kemudian bertindak
-memiliki daya dorong bertindak
-relatif bersikap tetap
-kecenderungan melakukan penilaian
-dapat timbul dari dari pengalaman, dapat dipelajari atau berubah.
Perilaku juga terpengaruh oleh emosi. Emosi menunjukkan adanya
sejenis kegoncangan seseorang. Kegoncangan tersebut disertai proses jasmani,
perilaku dan kesadaran. Emosi memiliki fungsi sebagai pembangkit tenaga,
pemberi informasi pada oranglain, pembawa pesan dalam hubungan dengan
orang lain, sumber informasi tentang diri seseorang.
Perilaku juga terpengaruh oleh adanya pengetahuan yang dipercaya.
Pengetahuan yang dipercaya tersebut adakalanya berdasarkan akal, ataupun tak
berdasar akal sehat pengetahuan tersebut dapat mendorong terjadinya perilaku.

159

BAB V
PENDEKATAN CBSA DALAM PEMBELAJARAN

5.1. KONSEP CBSA DALAM PEMBELAJARAN

Cara belajar siswa aktif merupakan suatu upaya dalam pembaruan
pendidikan dan pembelajaran. Kendatipun cara ini tergolong baru, namun
sesungguhnya konsep ini telah lama dikembangkan, hanya perwujudannya yang
masih baru dalam sistem pembelajaran di sekolah-sekolah kita. Karena itu, ada
baiknya guru-guru mengenal dan memahaminya lebih seksama agar mampu
menerapkan secara efektif.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->