P. 1
Buku Belajar Dan Pembelajaran

Buku Belajar Dan Pembelajaran

|Views: 11,714|Likes:
Published by ahmadkhoirulanam
isinya tentang materi kuliah belajar dan pembelajaran
isinya tentang materi kuliah belajar dan pembelajaran

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: ahmadkhoirulanam on Nov 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

10/05/2015

original

Sections

31

Dalam aliran ini ada beberapa istilah yang artinya sama ialah: field,
pattera, organisme, closure, integration, wholistk, configuration, dan gestalt.
Karena itu psikologi gestalt sering disebut psikologi organisme atau field theory.
Menurut aliran ini, jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang
berstruktur. Suatu keseluruhan bukan terdiri dari bagian-bagian atau unsur-
unsur. Unsur-unsur itu berada dalam keseluruhan menurut struktur yang telah
tertentu dan saling berinteralisi satu sama lain, Contoh: kepala manusia bukan
merupakan penjumlahan daripada batok kepala, telinga, bidung, mata, mulut,
rambut, dagu, dan sebagainya, melainkan kepala itu adalah suatu keseluruhan
yang bermakna, di mana unsur-unsur tadi teletak pada struktumya masing-
masing. Mata tidak mungkin terletak di ibu jari, hidung tidak mungkin terletak
di tengah-tengah dada dan seterusnya. Pada struktumya masing-masing itulah
bagian-bagian dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bagian-bagian itu hanya
bermakna dalam hubungan keseluruhan itu. Lagi pula sesuatu hal, perbuatan,
benda lain-lain hanya bermakna dalam hubungan dengan situasi tertentu.
Misalnya: emas (perhiasan) hanya bermakna dalam situasi di mana ada pesta.
para tamu umumnya memakai perhiasan yang indah-indah, akan tetapi akan
tidak bermakna dalam situasi padang pasir di mana seseorang sedang mengalami
rasa haus dan dahaga.

Pandangan ini sangat berpengaruh terhadap tafsiran tentang belajar.
Beberapa pokok yang perlu mendapat perhatian antara lain ialah :
(1)Timbulnya kelakuan adalah berkat interaksi, antara individu dan lingkungan
dimana faktor apa yang telah dimiliki (natural endowment) lebih menonjol.
(2)Bahwa individu berada dalam keadaan keseimbangan dinamis, adanya
gangguan terhadap keseimbangan itu akan mendorong timbulnya kelakuan.
(3)Mengutamakan segi pemahaman (insight)
(4)Menekankan kepada adanya situasi sekarang, dimana individu menemukan

dirinya

32

(5)Yang utama dan pertama adalah keseluruhan, dan bagian-bagian hanya
bermakna jika berada dalam keseluruhan itu.

Prinsip-prinsip Belajar gestalt (field theory )

1)Belajar dimulai dari suatu keseluruhan. Keseluruhan yang menjadi
permulaan, baru menuju ke bagian-bagian. Dari keseluruhan organisasi mata
pelajaran menuju tugas-tugas harian yang beruntun. Belajar dimulai dari
satu unit yang kompleks menuju ke hal-hal yang mudah dimengerti,
deferensiasi pengetahuan dan kecakapan.
2)Keseluruhan memberikan makna kepada bagian-bagian. Bagian-bagian
terjadi dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam
rangka keseluruhan tadi. Dengan demikian keseluruhan yang memberikan
makna terhadap suatu bagian, misal : sebuah ban mobil hanya bemakna
kalau menjadi bagian dari mobil, sebagai roda. Sebuah papan tulis hanya
bermakna sebagai papan tulis kalau ia berada dalam kelas, sebuah tiang
kayu hanya bermakna sebagai tiang kalau menjadi satu dari rumah dan
sebagainya.
3)Individuasi bagian-bagian dari keseluruhan. Mula-mula anak melihat
sesuatu sebagai keseluruhan. Bagian-bagian dilihat dalam hubungan
fungsional dengan keseluruhan. Tetapi lambat laun ia mengadakan
deferensiasi bagian-bagian itu dari keseluruhan menjadi bagian-bagian yang
lebih kecil atau kesatuan yang lebih kecil contoh: mula-mula anak melihat
mengenal wajah ibunya sebagai keseluruhan kesatuan. Lambat laun dia
dapat memisahkan mana mata ibu, mana hidung ibu, mana telinga ibu,
kemudian ia melihat bahwa wajah ibunya itu cantik atau jelek, atau menarik
dan sebagainya.
4)Anak belajar dengan menggunakan pemahaman atau insight. Pemahaman
adalah kemampuan melihat hubungan-hubungan antara berbagai faktor atau
unsur dalam situasi yang problematis, seperti simpanse dapat melihat

33

hubungan antara beberapa buah kotak menjadi sebuah tangan untuk
mengambil buah pisang karena ia sedang lapar.
Tokoh psikologi gestalt ini antara lain adalah Kohler, Koffka dan
Wertheimer. Menurut pandangan psikologi gestalt, belajar terdiri atas hubungan
stimulus respon yang sederhana tanpa adanya pengulangan ide atau proses
berfikir.

Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahimya teori belajar
Gestalt ini. Peletak dasar psikologi gestalt adalah Mex Wertheimer (1880-1943)
yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya ini
diikuti oleh Kurt koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci
tentang hukum-hukum pengamatan, kemudian Wollgang Kohler (1887-1959)
yang meneliti tentang insight pada simpanse. Penelitian-penelitian mereka
menumbuhkan psikologi gestalt yang menekankan bahasan pada masalah
konfigurasi, struktur dan pemetaan dalam pengalaman. Kaum gestalt
berpendapat, bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu
keseluruhan. Orang yang belajar, mengamati stimuli dalam keseluruhan yang
terorganisasi, bukan dalam bagian-bagian yang terpisah.
Suatu konsep yang penting dalam teori gestalt adalah tentang "insight",
yaitu pengamatan/pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar
bagian-bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Insight itu sering
dihubungkan dengan pemyataan spontan "aha" atau "oh", “sec-now".
Kohler (1927) menemukan tumbuhnya insight pada seekor simpanse
dengan menghadapkan simpanse pada masalah bagaimana memperoleh pisang
yang terletak di luar kurungan atau tergantung di atas kurungan. Dalam
eksperimen itu Kohler mengamati, bahwa kadangkala simpanse dapat
memecahkan masalah secara mendadak, kadangkala gagal meraih pisang,
kadang kala duduk merenungkan masalah, dan kemudian secara tiba-tiba
menemukan pemecahan masalah.

34

Wertheimer (1945) menjadi orang gestalt yang mula-mula
menghubungkan pekerjaannya dengan proses belajar di kelas. Dari
pengamatannya itu. ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah
dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian bukan hafalan akademis.
Menurut pandangan gestaltis, semua kegiatan belajar (baik pada
simpanse maupun pada manusia) menggunakan insight atau pemahaman
terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan-hubungan antara bagian
dengan keseluruhan. Menurut psikologi gestalt, tingkat kejelasan atau
keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih
meningkatkan belajar seseorang daripada dengan hukuman dan ganjaran.
Menurut psikologi gestalt setiap pengalaman itu senantiasa struktur.
Setiap respon yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulan, sebenamya tidak
tertuju kepada suatu bagian melainkan teriuju kepada sesuatu yang bersifat
kompleks.

Adapun hukum-hukum belajar menurut psikologi adalah sebagai

berikut :
a.Hukum kesamaan (law of similarity). Menurut hukum ini, sesuatu yang sama
cenderung membentuk satu kesatuan. Perhatikan gambar berikut ini:
$ Y @ h
$ Y @ h
$ Y @ h
b.Hukum penuh makna (law of pragnanz). Menurut hukum ini, pengamatan
terhadap sesuatu objek cenderung dikaitkan dengan makna objek tersebut
bagi seseorang. Makna objek tersebut bagi seseorang, bisa berupa
bentuknya, ukurannya, warnanya dan sebagainya.
c.Hukum kedekatan ( law of proximity ). Menurut hukum ini, sesuatu yang
berdekatan cenderung membentuk satu kesatuan, periksa gambar berikut ini

| | | | | | | |

| | | | | | | |

35

ab

cd

ef

gh
d.Hukum ketutupan (law of closure ). Menurut hukum ini, hal-hal yang
tertutup membentuk suatu kesatuan. Perhatikan gambar berikut

a

b c

d e

f

e.Hukum-hukum kontinyutas ( law of goof continuation )
Menurut hukum ini, hal-hal yang merupakan kontinyuitas membentuk suatu
kesatuan.

Menurut psikologi gestalt, wawasan atau yang lazim disebut sebagai
insight dipandang sebagai inti belajar. Oleh karena itu, dalam belajar yang
mestinya ditanamkan adalah pengertian siswa mengenai sesuatu yang harus
dipelajari.

2. CIRI - CIRI BELAJAR

Sebagaimana disebutkan diatas, bahwa belajar adalah perubahan tingkah
laku sebagai akibat dari adanya pengalaman. Oleh karena itu, ada sejumlah ciri
belajar yang dapat dibedakan dengan kegiatan-kegiatan lain selain belajar.
Pertama, belajar dibedakan dengan kematangan. Kedua, belajar dibedakan
dengan perubahan kondisi fisik dan mental. Ketiga hasil belajar bersifat relatif
menetap.

Berdasarkan pengertian belajar diatas. maka pada hakikatnya "belajar
menunjuk ke perubahan dalam tingkah laku si subjek dalam situasi tertentu
berkat pengalamannya yang berulang-ulang, dan perubahan tingkah taku
tersebut tak dapat dijelaskan atas dasar kecendrungan-kecendrungan respon
bawaan, kematangan atau keadaan temporer dari subjek (misalnya keletihan,
dsb)".

36

1)Belajar berbeda dari kematangan.

Kematangan adalah sesuatu yang dialami oleh manusia karena
perkembangan-perkembangan bawaan. Tanpa melalui aktivitas belajarpun,
pada saat tertentu, orang akan mengalami kematangan. Oleh karena itu,
kematangan akan dialami oleh seseorang, meskipun ia sendiri tidak
mensengaja. Kematangan yang ada pada diri seseorang juga bukan karena
satu upaya yang dilakukan oleh orang lain (misalnya saja guru).
Kematangan umumnya ditandai oleh adanya perubahan-perubahan pada diri
seseorang, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Adanya perubahan pada
diri seseorang semisal dari belum bisa berjalan pada umur tertentu menjadi
bisa berjalan pada umur selanjutnya, tidaklah akibat dari aktivitas belajar.
Demikian juga, dari seseorang belum bisa berbkara kemudian menjadi bisa
berbkara, juga bukan karena aktivitas belajar melainkan karena adanya
proses kematangan.
Berbeda dengan belajar, ia adalah suatu proses yang disengaja dan secara
sadar. Belajar adalah suatu aktivitas yang dirancang, atau sebagai akibat
interaksi antara individu dengan lingkungannya.

2)Belajar dibedakan dari perubahan kondisi fisik dan mental.

Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang disengaja. Perubahan
tersebut bisa berupa dari tidak talm menjadi tahu, dari tidak mengerti
menjadi mengerti, dari tidak dapat mengerjakan sesuatu menjadi dapat
mengedakan sesuatu, dari memberikan respon yang salah atas stimulus-
stimulus ke arah memberikan respon yang benar. Berarti perubahan fisik dari
kecil menjadi besar, dari kurus menjadi gemuk, dan pendek menjadi semakin
tinggi bukanlah karena proses belajar, dan oleh karena itu tidak dapat disebut
sebagai proses belajar.

3)Hasil belajar relatif menetap

Hasil belajar relatif menetap, dan tidak berubah-ubah. Perubahan tingkah
laku yang sifatnya relatif tidak menetap, bukanlah karena proses belajar.
Orang setiap kali dapat berubah. Perubahan-perubahan demikian, tidak sama

37

dengan perubahan-perubahan dalam belajar. Oleh karena itu, tidak semua
perubahan yang ada pada diri seseorang dianggap sebagai hasil belajar.
Hanya perubahan-perubahan tertentu saja yang memenuhi syarat untuk
disebut sebagai belajar.

3. TUJUAN DAN UNSUR-UNSUR DINAMIS DALAM BELAJAR

Tujuan dan unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah dua hal yang
sangat penting dalam belajar. Tujuan umumnya mengarahkan seseorang yang
sedang belajar ke arah kegiatan tertentu. Sementara unsur-unsur dinamis dalam
belajar adalah suatu perangkat yang turut menghantarkan sesemang yang sedang
mencapai tujuan belajar.

Tujuan Belajar

Setiap manusia kreativitas, sepanjang aktivitas tersebut disadari,
senantiasa dimaksudkan bagi pencapaian tujuan tertentu. Demikian juga
seseorang yang sedang berkreativitas belajar. tentulah dimaksudkan bagi
pencapaian tujuan.

Paling tidak ada empat alasan mengapa tujuan belajar ini perlu
dirumuskan oleh pembelajar. Pertama, agar ia mempunyai arah dalam
berkreativitas belajar. Kedua, agar ia dapat menilai seberapa target belajar telah
ia capai atau belum. Ketiga agar waktu dan tenaganya tidak tersita untuk
kegiatan selain belajar.

3.1. Tujuan belajar dalam hubungannya dengan perubahan tingkah laku.

Salah satu ciri belajar pada diri seseorang adalah terdapatnya perubahan
tingkah laku pada dirinya. Adanya perubahan tingkah laku ini menjadikan
seorang pembelajar berubah dari suatu kondisi ke kondisi tertentu. Perubahan
tingkah laku dalam diri pembelajar umumnya dapat diamati (obsevable). Oleh
karena itu, ketika pembelajar mau mengadakan aktivitas belajarnya, perlu
merumuskan tujuan belajar buat dirinya sendiri.

38

Dalam merumuskan tujuan belajar yang terkait dengan perubahan
tingkah laku ini, seseorang pembelajar pertama kali haruslah mengenali
mengenai dirinya sendiri. Pengenalan terhadap dirinya sendiri ini sangat penting
guna merumuskan kebutuhan kebutuhan belajarnya. Pengenalan mengenai diri
sendiri ini juga bisa terhindar dari mempelajari sesuatu yang sudah dikuasai,
disamping dapat terhindar juga dari mempelajari sesuatu yang tidak
dimaksudkan untuk dipelajari.
Tujuan belajar yang dikaitkan dengan perubahan tingkah laku ini
mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
a.Jelas siapa yang berubah (dalam hal ini adalah pembelajar sendiri, dan bukan
pengajar).
b.Jelas perubahannya, dari tidak bisa sesuatu menjadi bisa sesuatu.
c.Jelas waktunya, yaitu kapan perubahan tingkah laku tersebut berlangsung
dan tercapai.
d.Jelas ukuran perubahannya, yang lazim ditunjukkan secara kuantitatif.
e.Jelas cara menghukumya, yaitu perubahan tersebut dapat diukur dengan cara
bagaimana.
f.Dirumuskan dengan kata-kata yang kongkrit (observable).
Sebagai contoh, setelah menelaah Bab I, pembelajar dapat menjelaskan 4
ciri-ciri tingkah laku menyimpang secara lisan. Kata pertama, pembelajar,
menunjukkan dengan jelas siapa yang berubah tingkah lakunya setelah
melakukan aktivitas, dalam hal ini adalah pembelajar bukan pengajar (unsur
pertama). Kata-kata dapat menjelaskan menunjukkan terdapatnya perubahan
tingkah laku pada diri pembelajar: dari tidak bisa menjelaskan menjadi bisa
menjelaskan (unsur kedua). Kata-kata setelah menelaah bab I menunjukkan
waktu perubahan (unsur ketiga). Kata-kata 4 ciri-ciri tingkah laku menyimpang
menunjukkan ukuran perubahan. Bandingkan misalnya dengan kata-kata: ciri-
ciri tingkah laku menyimpang. Kata-kata ini tidak menunjukkan berapa jumlah
ciri tingkah laku menyimpang (unsur keempat). Kata secara lisan menunjukkan
bagaimana perubahan tingkah laku tersebut diukur. Sebab, pengukuran terhadap
bisa tidaknya seseorang menjelaskan secara lisan dan secara tertulis.

39

membutuhkan cara pengukuran tersendiri. Oleh karena itu, bentuk perubahan
tingkah laku tesebut haruslah jelas (unsur kelima). Kata menjelaskan pada
rumusan tujuan menunjukkan bahwa ia dapat diamati secara konkrit.
Bandingkan misaInya dengan kata memahami, mengerti. merasakan, menikmati.
Kata-kata disebutkan terakhir ini tidak dapat diamati (tidak observable).
Bloom dan kawan-kawan (1956) membuat taksonomi tujuan belajar yang
terkait dengan perubahan tingkah laku ini. Ia mengkategorisasikan tujuan (bukan
memisahkan, karena semestinya tidak untuk dipisah-dipisahkan) menjadi tiga
kawasan, ialah kawasan tersebut, masing-masing mempunyai sub kawasan
masing-masing yang disusun mulai dari yang sederhana sampai dengan yang
kompleks.

Kawasan pertama, cognitive terdiri dari knowledge, comprehension,
applkation, analysis, syntihesis don evaluation. secara berturut-turut akan
dijelaskan sebagai berikut :
a.Knowledge, dapat diartikan dengan pengetahuan. Sub kawasan ini
mementingkan aspek ingatan. Oleh karena itu, sub kawasan ini lebih tepat
untuk diartikan mengingat terhadap materi-materi yang pernah dipelajari.
Mengingat kembali terhadap fakta-fakta yang pernah dipelajari, teori-teori
yang pernah ditelaah. dalam kawasan kognitive ini dipandang berada pada
tingkat terendah.
b.Comprehension dapat diartikan dengan kemampuan untuk menangkap
pengertian mengenai sesuatu. Pada sub kawasan ini, seseorang dapat
menterjemahkan sesuatu, mengambil kata lain dari suatu kata atau
pengertian, mengambil inti dari suatu bacaaan dan membuat prakiraan-
prakiraan.
c.Applkation lazim diberi makna sebagai suatu kemampuan untuk menerapkan
apa-apa yang pernah dipelajari ke dalam situasi yang senyatanya. Pada sub
kawasan ini, seseorang yang sedang belajar mampu menerapkan,
mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori dalam situasi praktis.

40

d.Analysis adalah suatu kentamptian untuk merinci, menghubungkan,
menguraikan rincian dan saling hubungan antara bagian satu dengan bagian
lainnya.

e.Synthesis adalah suatu kemamptian untuk menyatukan hal-hal yang tak
menyatu menjadi sebuah kesatuan yang utuh. Dengan kemampuan synthesis
ini sesuatu yang sebelumnya terbelah-belah terkristal dan kemudian dapat
diformulasikan ke dalam forinula yang tak terbelah.
f.Evaluation adalah suatu kemampuan unluk menentukan baik-buruk,
berharga-tidak berharga, bernilai-tidak bernilai
mengenai suatu hal. Penentuan tersebut didasarkan atas patokan-patokan
yang dilmat pada masa sebelumnya. Kemampuan mengadakan evaluasi ini
termasuk jenis kemampuan yang tertinggi dalam kawasan kognitive ini.
Kawasan kedua, affective ineliputi empat sub kawasan berikut:

receiving, responding, valuing, organization, characteristization by a value or
value complex
. Secara berturut-turut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.Receiving atau penerimaan, adalah kemampuan seseorang untuk
menghadirkan kediriannya pada sebuah even atau stimulus-stimulus yang ia
terima. Menghadirkan diri demikian ini, meskipun dalam tataran rendah.
telah dapat meliput kesadaran seseorang. Hasil belajar pada sub kawasan ini
telah memunculkan sebuah kesadaran yang paling simpel sampai dengan
hadimya perhatian yang terpilih.
b.Responding atau pemberian tanggapan. Kemampuan ini relatif febih tinggi
tingkatannya dibandingkan dengan sub kawasan receiving. Jika pada sub
kawasan receiving seseorang menghadirkan kediriannya pada sebuah even,
maka dalam sub kawasan responding ini seseorang memberikan tanggapan/
respon/jawaban atas even-even yang ia terima.
c.Valuing atau pemberian nilai. Yang dimaksud dengan pemberian nilai di sini
adalah memberikan harga terhadap suatu fenomena, benda, kejadian atau
even, Sub kawasan ini menjadikan seseorang bisa menerima nilai tertentu
dan menunjukkan komitmennya pada nilai tertentu. Oleh karena itu, pada

41

sub kawasan ini seseoarang tampak tingkatan integritasnya: keajegan,
integritas.
d.Organization atau pengorganisasian adalah upaya untuk memadukan
berbagai jenis nilai yang berbeda-beda. Dari nilai-nilai yang berbeda
tersebut, kemudian dibangun menjadi suatu sistem nilai. Ada semacam
sintesa nilai-nilai yang beragam, hingga menjadi suatu kesatuan nilai. Antara
nilai satu dengan yang lain dicoba hubungkan. Bila terdapat konflik di antara
nilai-nilai tersebut dicoba pecahkan.
e.Characterization of value or value complex atau karakterisasi dengan suatu
nilai. Pada sub kawasan ini seseorang mempunyai sistem nilai yang dapat
mengendalikan tingkah lakunya dalam kehidupan hingga dapat membentuk
gaya hidup yang khas, berbeda dengan orang lain. Hasil belajar pada sub
kawasan ini bisa menjadikan seseorang menyesuaikan diri secara personal,
sosial dan emosional.

Kawasan ketiga psycomotor, mencakup tujuh sub kawasan dari yang
tingkatan terendah hingga tingleatan tertinggi. Ke tujuh sub kawasan ini adalah

perception, set, guided respon, mechanism, complex overt respon, adaptation
dan origination
. Sub-sub kawasan ini dapat d1Jelaskan sebagai berikut:
a.Perception atau persepsi. Yang dimaksud dengan persepsi di sini adalah
penggunaan indera untuk memperoleh petunjuk ke arah motorik. Pada sub
kawasan ini, seseorang mengindera stimulus-stimulus yang berasal dari
lingkungannya guna persiapan untu membimbing aktivitas-aktivitas
motoriknya.
b.Set atau kesiapan. Sub kawasan ini meliputi mental set, physkal set dan
emotional set. Pada subleawasan ini, seseorang bersedia mengambil tindakan-
tindakan berdasarkan persepsinya terhadap stimulus atau fenomena-fenomena
yang berasal dari agkungannya.
c.Guided respon atau respon terpimpin. Pada sub kawasan ini seseorang mulai
berada pada proses belajar keterampilan yang lebib komplek. Pada sub

42

kawasan ini seseorang terlibat dalam proses peniruan yang
diperformansikan, selanjumya mencoba menggunakan tanggapan dalam
menangkap suatu motorik.
d.Mechanism atau mekanisme. Pada sub kawasan ini responrespon yang telah
dipelajari oleh seseorang telah berubah menjadi kebiasaan dan gerakan-
gerakan yang ditampilkan, dilakukan dengan penuh kepercayaan dan
kemahiran.
e.Complex over respons atau respon nyata yang kompleks. Pada sub kawasan
ini seseorang yang lagi belajar, melakukan gerakan dengan mudah
disamping mempunyai kontrol yang baik. Kadar motorik pada sub kawasan
ini relatif cukup tinggi. Sebab, gerakan-gerakan pada sub kawasan ini relatif
cepat, cermat termasuk pada hal-hal yang rumit dan tepat meskipun disertai
dengan energi yang minimal.
f.Adaptation atau penyesuaian. Yang dimaksud dengan penyesuaian adalah
sebuah keterampilan dimana seseorang dapat mengolah gerakan hingga
sesuai dengan tuntutan kondisional dan situational, termasuk yang
problematis sekalipun.
g.Origination atu penciptaan. Sub kawasan ini termasuk paling tinggi
tingkatannya dibandingkan dengan sub kawasan sebelumnya, oleh karena
unsur kreativitas sudah masuk di sini. Performansi seseorang yang belajar
pada sub kawasan ini umumnya ditandai dengan hal-hal yang serba baru,
misaInya membuat pola-pola baru, merancang hal-hal baru.

3.2. Tujuan belajar sebagai pembentukan pemahaman nilai dan sikap.

a.Tujuan belajar sebagai sasaran pembentukan pemahaman

Tujuan belajar memang merupakan sasaran bagi pembentukan
pemahaman seseorang terhadap hal-hal yang dipelajari. Pemahaman seseorang
terhadap hal-hal yang dipelajari, sebutlah saja dunia dengan segala isinya,
sangatlah penting artinya bagi pembelajar.

43

Pemahaman pembelajar tehadap dunia dengan segala isinya tidak saja
mendatangkan kepuasan bagi pembelajar, melainkan dapat menempatkan diri
pembelajar pada posisi strategik. la akan mempunyai peta dimana ia harus
menempatkan diri, ia akan mengetalmi apa yang harus ia pertuat dan apa yang
tidak ia perbuat.

Terjadinya bentrokan-bentrokan di dunia, sebenamya disebabkan kurang
adanya saling pemahaman di antara mereka. MimbuInya saling curiga, juga
dapat disebabkan kurang adanva saling pemahaman. Oleh karena itu
terbentuknya pemahaman pembelajaran terhadap sesuatu yang dipelajari, tidak
saja bermanfaat bagi dirinya sendiri, melainkan bermanfaat juga bagi
linkungannya

Pemahaman seseorang terhadap orang lain, malahan dapat menjadikan
seseorang melihat orang lain tidak semata dengan menggunakan perspektif
sendiri. la mencoba menangkap seseorang dengan menggunakan perspektif
orang yang dipandang. Dengan cara pandangan demikian, ia akan mengenal
orang yang dipandang tersebut dalam keadaan yang senyatanya, dan tidak
terbatas pada persepsinya sendiri.
Pemahaman terhadap orang lain, juga menjadikan seseorang tidak risau,
jika melihat orang lain berbeda dengan dirinya. la. juga sekaligus tidak membuat
dirinya agar seperti orang lain, dan sebaliknya tidak menuntut orang lain agar
seperti dirinya. la akan menjadi dirinya sendiri, dan memahami jika orang lain
juga seperti dirinya.

Singkat kata, pemahaman adalah suatu dasar bagi segala akan seseorang.
Ia memberikan kontribusi yang besar bagi sukses tidaknya seseorang. Lebih jauh
pemahaman menjadikan seseorang saling mengerti, dan lehih lanjut lagi saling
menghargai. Pemahaman sekaligus mencegah timbuInya saling curiga, dan lebih
jauh lagi mencegah timbuInya saling bentrokan.

b.Tujuan belajar sebagai sasaran pembentukan nilai dan sikap.

44

Setiap masyarakat, masyarakat manapun, pasti menganut sebuah nilai,
Nilai dinlaksud, adakalanya merupakan produk masyarakat pada kurun waktu
yang sejaman dengan mereka. Malahan, pada masa sekarang ini, nilai-nilai yang
dianut oleh sebuah masyarakat, dapat merupakan kristalisasi dari hasil dialog
antara nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya dengan yang
sejaman dengan mereka.

Di era globalisasi seperti saat sekarang, sebagai akibat dari melesatnya
perkembangan teknologi komunikasi, nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat,
dapat merupakan kristalisasi hasil dialog antara nilai-nilai yang selama ini dianut
dengan nilai-nilai baru yang datang dari dunia luar. Oleh karenanya, nilai-nilai
yang dianut oleh masyarakat dewasa ini semakin beragam.
Dalam belajar, ada nilai-nilai tertentu yang harus diupayakan terbentuk
pada diri pembelajar. Nilai-nilai yang dibentukkan pada diri pembelajar tersebut,
tentu nilai-nilai luhur yang secara universal dianut oleh hampir setiap
masyarakat, disamping nilai-nilai luhur yang spesifik dianut oleh masyarakat
dimana pembelajar tersebut berada.
Nilai-nilai luhur yang hampir dianut oleh setiap masyarakat secara
universal misaInya adalah: kebenaran, kejujuran, keindaban, kemerdekaan,
saling membantu dan memberi manfaat. Sementara nilai-nilai luhur yang dianut
oleh masyarakat secara spesifik khususnya di lingkungan pembelajar banyak
ragamnya, seberagam jumlah pembelajar.
Disamping tujuan belajar terkait dengan pembentukan nilai, sekaligus
juga terkait dengan pembentukan sikap. Terbentuknya sebuah sikap, lazim juga
didasarkan atas sehuah nilai. Meskipun nilai bukanlah satu-satunya yang
menentukan sikap. Berbedanya nilai-nilai yang dianut oleb seseorang lazim
menjadikan penyebab berbedanya seseorang dalam menyikapi sesuatu. Sebab,
nilai-nilai yang dianut seseorang turut menentukan persepsi seseorang tentang
sesuatu. Pada hal persepsi seseorang terhadap sesuatu lazimnya juga turut
menentukan sikap seseorang terhadap sesuatu.

45

c.Tujuan belajar sebagai sasaran pembentukan, keterampilan-keterampilan
personil-sosial, kognitif dan instrumental.

Setiap pembelajar, tentu memiliki kekhasan tertentu yang berbeda
dengan pembelajar lain. Oleb karena itu, dalam belaiar seorang pembelajar
haruslah mengembangkan kekhasan-kekhasan yang dimiliki. Keterampilan
personal yang dimiliki. Keterampilan p.ersonal yang dimiliki oleh pembelajar,
haruslah dibentuk dan dikembangkan secara terus menerus. Dengan cara
demikian, maka pembelajar akan berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan
ciri khas atau karakteristik yang ada pada dirinya.
Selain keterampilan-keterampilan personal dibentuk, keterampilan sosial
pembelajar juga perlu dibentuk. Pembentukan keterampilan sosial demikian
tampak urgensinya manakala dilihat kedudukan pembelajar yang tidak saja
sebagai makhluk individu melainkan juga sebagai makhluk sosial. Sebagai
makhluk sosial, pembelajar haruslah dapat berinteraksi secara baik dengan
lingkungan sosiaInya, sesama manusia. Maka dari itu, pembentukan
keterampilan-keterampilan sosial pada diri pembelajar dimaksudkan untuk
menyiapkan pembelajar agar dapat hergabung dan berinteraksi secara baik
dengan lingkungan sosialnya.
Dengan perkataan lain, jika pembentukan keterampilan personal
dimaksud untuk mengembangkan potensi-potensi bawaan yang ada pada diri
pembelajar, maka keterampilan sosial antara lain dimaksudkan
mengkomunikasikan keterampilan personal yang telah terbentuk dalam
lingkungan sosiaInya.

Pembentukan keterampilan kognitif dimaksudkan agar pembelajar secara
terus-menerus menimba ilmu pengetahuan, tanpa batas. Keterampilan kognitif
pada diri pembelajar menjadikan pembelajar haus secara terus menerus terhadap
ilmu pengetahuan. Dengan pengembangan yang terus menerus pembelajar tidak
akan ketinggalan dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan yang demikian

46

pesat. Dengan pembentukan keterampilan kognitif ini maka pembelajar
memandang belajar bukan sebagai beban melainkan menjadi sebuah kebutuhan.
Pembentukan keterampilan instrumental pada diri pembelajar,
mengarahkan pembelajar sadar pada pembangunan yang sedang digalakkan. Jika
keterampilan instrumental ini telah terbentuk pada diri pembelajar, maka
pembelajar punya kesadaran yang sedemikian dalam terhadap pembangunan
yang sedang dilaksanakan. Dengan demikian ia mengambil bagian secara aktif
di dalamnya, dan tidak sekedar sebagai penonton saja. Kesadaran untuk secara
terus menerus membangun dirinya sendiri dan membangun masyarakat,
lingkungan dan bangsanya adalah sasaran bagi pembentukan keterampilan
instrumental ini.

Keterampilan instrumental ini adalah tindak lanjut konkrit dari
keterampilan-keterampilan yang ingin dibentuk sebelumnya: keterampilan
personal, sosial dan kognitif

3.3. Unsur - unsur dinamis yang terkait di dalam proses belajar

Yang dimaksud dengan unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-
unsur yang dapat berubah dalam proses belajar. Perubahan unsur-unsur tersebut
dapat berupa: dan tidak ada menjadi ada atau sebaliknya, dari lemah menjadi
kuat dan sebaliknya, dari sedikit menjadi banyak dan sebaliknya. Unsur-unsur
dinamis tersebut meliputi: motivasi, bahan belajar, alat bantu belajar, suasana
belajar dan kondisi subjek pembelajar. Berikut ini akan dijelaskan tentang :
1)Motivasi dan upaya memotivasi siswa untuk belajar.
2)Bahan belajar dan upaya penyediaannya.
3)Alat bantu belajar dan upaya penyediaanya.
4)Suasana belajar dan upaya pengembangannya.
5)Kondisi subjek belajar dan upaya penyiapan dan peneguhannya.
1.Motivasi dan Upaya Memotivasi Siswa Untuk Belajar
Motivasi berasal dari kata Inggris motivation yang berarti dorongan,
pengalasan dan motivasi. Kata kerjanya adalah to motivate yang berarti
mendorong, menyebabkan merangsang. Slotive sendiri berarti alasan, sebab, dan

47

daya penggerak (echols, 1984). Motif adalah keadaan dalam diri seseorang yang
mendorong individu tersebut untuk melakukan aktivitas-aktivitas rertentu guna
mencapai tujuan yang diinginkan (suryabrata, 1984). Secara serupa Winkels
(1987) mengemukakan bahwa motif adalah adanya penggerak dalam diri
seseorang untuk melakukan alstivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan
tertentu pula.

Dalam kegiatan belajar mengajar, dikenal adanya motivasi belajar, yaitu
motivasi yang diterapkan dalam kegiatan belajar. Motivasi belajar adalah
keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan
belajar mengajar. kelangsungan belajar itu demi mencapai suatu tujuan
(Winkels, 1987).

Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah,
semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga yang mempunyai motivasi
tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar.
Siswa yang mempunyai motivasi tinggi sangat sedikit yang tertinggal belajarnya
dan sangat sedikit pula kesalahan dalam belajarnya (Palardi, 1975).
Secara garis besar motivasi dapat dibedakan menjadi dua ialah intrinsik
dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari
dalam tanpa ada rangsangan dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah
motivasi yang berasal dari luar.
Ada beberapa ciri siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi.
Ini dapat dikenali melalui proses belajar mengajar di kelas, sebagaimana
dikemukakan Brown (1981) sebagai berikut: menarik kepada guru, artinya tidak
membenci atau bersikap acuh tak acuh, tertarik pada mata pelajaran yang
diajarkan. mempunyai antusias yang tinggi seta mengendalikan perhatiannya
terutama kepada guru, ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas, ingin
identitas dirinya diakui oleh orang lain, tindakan, kebiasaan, dan moraInya
selalu dalanu kontrol diri, selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya
kembali, dan selalu terkontrol oleh lingkungammya.
Sardiman (1986) mengemukakan bahwa ciri-ciri motivasi yang ada pada
diri seseorang adalah: tekun dalam menghadapi tugas atau dapat bekerja secara

48

terus menerus dalam waktu lama, ulet, menghadapi kesulitan, dan tidak mudah
putus asa, tidak cepat puas atas prestasi yang diperoleh, menunjukkan minat
yang besar terhadap bermacam-macam masalah belajar, lebih suka bekerja
sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain, tidak cepat bosan dengan tugas-
tugas yang rutin, dapat mempertahankan pendapatnya, tidak mudah melepaskan
apa yang diyakini: senang mencari dan memecahkan masalah.
Beberapa upaya yang dapat ditempuh untuk memotivasi siswa agar

belajar ialah :
a.Kenalkan siswa pada kemampuan yang ada pada dirinya sendiri. Dengan
mengenal kemampuan dirinya, siswa akan tahu kelebihan dan
kekurangannya. Dengan mengetahui kelebihan dirmya, ia mengukuhkan dan
memperkuat kelebihan tersebut. Dengan mengetabui kekurangan yang ada
pada dirinya, siswa akan berusaha menyempurnakan melalui aktivitas
belajar. Di sini siswa akan timbul motivasi belajarnya.
b.Bantulah siswa untuk merumuskan tujuan belajarnya. Sebab, dengan
merumuskan tujuan belajar ini, siswa akan mendapatkan jalan yang jelas
dalam melaksanakan aktivitas belajar. Siswa juga akan mempunyai target-
target belajar, dan ia berusaha untuk mencapainya.
c.Tunjukkan kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas yang dapat
mengarahkan bagi pencapaian tujuan belajar. Dengan ditunjukkannya
aktivitas-aktvitas yang dapat mencapai tujuan, siswa tersebut tidak
melakukan aktivitas lain yang tidak ada kaitannya dengan pencapaian tujuan
dan target belajar. Dengan cara demikian waktu dan tenaga siswa dapat
secara efektif dan efisien dipergunakan mencapai target belajarnya.
d.Kenalkanlah siswa dengan hal-hal yang baru. Sebab hal-hal baru ini dapat
"menghidupkan kembali" hastat ingin tahu siswa. Adanya rasa ingin tahu
yang demikian besar, menimbulkan gairah bagi siswa untu beraktifitas
belajar.

49

e.Buatlah variasi-variasi dalam kegiatan belajar mengajar, supaya siswa tidak
bosan. Sebab, kebosanan pada diri siswa, termasuk dalam aktivitas belajar,
hanya akan memperlemah motivasi saja.
f.Adakan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa.
Sebab, evaluasi yang dilakukan terhadap keberhasilan belajar siswa ini, akan
mendorong siswa untuk belajar. karena ingin dikatakan berhasil belajarnya.
g.Berikan umpan balik terhadap tugas-tugas yang diberikan dan evaluasi yang
telah dilakukan. Dengan adanya umpan balik, siswa akan mengetahui mana
aktivitas belajarnya yang benar dan mana yang kurang benar, mana
pekerjaannya yang sesuai dan mana pekerjaannya yang tidak sesuai.

2. Bahan belajar dan upaya penyediaannya

Bahan belajar sangat penting bagi siswa yang melakukan aktivitas
belajar. Tanpa ada yang dipelajari, kemungkinan siswa bisa belajar dengan baik.
Oleh karena itu, supaya siswa dapat belajar dengan baik, maka bahan belajar ini
harus tersedia.

Yang dimaksud bahan belajar adalah sesuatu yang harus dipelajari oleh
pembelajar dalam melaksanakan aktivitas belajarnya. Bahan ini, bisa berasal
dari guru, bisa berasal dari buku-buku teks, paper, makalah, artikel, disamping
dapat berasal dari lapangan objek tertentu.
Penyediaan bahan belajar ini sangat bergantung kepada tujuan belajar,
karakteristik siswa, siasat belajar yang harus ditempuh oleh siswa dan faktor
ketersediaaan tidaknya bahan belajar. Jika tujuan belajar yang ingin ditempuh
diaksentuasikan pada penguasaan pengetahuan, mungkin bahan belajarnya akan
lain dengan tujuan belajar yang diaksentuasikan pada penguasaan konsep-
konsep, maka pertyediaan bahan belajarnya lain sekali dengan tujuan belajar
yang dimaksudkan untuk memperoleh pengalaman langsung.

50

Karakteristik siswa juga mempengaruhi penyediaan bahan belajar. Pada
siswa yang bertipe auditif, mungkin membutuhkan bahan belajar yang berlainan
dengan siswa yang bertipe visual.
Siasat belajar yang harus ditempuh oleh siswa juga menentukan bahan
belajarnya. Siasat belajar dimana guru menjadi tokoh sentralnya, umumnya
gurulah yang menjadi penyedia bahan belajar. Bahkan dalam siasat belajar
semacam ini siswa menggantungkan bahan belajar yang dipelajari dari ceramah
atau penyampaian yang dilakukan oleh gurunya. Sementara siasat belajar di
mana siswa diharapkan bisa belajar secara mandiri, bahan belajar tersebut telah
disediakan secara utuh sekaligus beserta petunjuk atau cara mempelajarinya.
Pengajaran dengan bahan belajar modul dan balian belajar buku teks, adalah
sekian dari banyak contoh dan siasat belajar mandiri oleh siswa.
Apapun faktor yang menentukan bahan belajar ini, akhirnya juga
bergantung kepada faktor ketersediaan tidaknya. Mudah didapatkan tidaknya
bahan belajar ini, sangat menentukan penyediaan baban belajar. Apalagi kalau
sulit atau tidak mudah didapatkan, maka penyediaan bahan belajar ini sangat
repot.

Sungguhpun demikian bahan belajar bagi siswa haruslah diupayakan
penyediaannya. Dalam penyediaan bahan belajar ini, faktor-faktor yang harus
menjadi pertimbangan adalah :
a.Cukup menarik. Ini patut menjadi peninibangan, agar bahan belajar tersebut
menggugah rasa ingin tahu siswa dan menimbulkan hasrat belajar. Eka
bahannya sendiri tidak menarik, maka cara penyajiannya yang menaiik. Jadi
kalau bahan belajar tersebut terpaksa tidak menarik, haruslah dikemas
dengan menggunakan kemasan yang menarik.
b.Isinya relefan. Relevan isi ini, lazimnnya dikaitkan dengan tujuan belajar. Isi
bahan belajar haruslah mendukung dan memberi kontribusi bagi pencapain
tujuan belajar. Relevan isi ini, juga berkaitan dengan faktor kondisional dan
situasional siswa.

51

c.Mempunyai sekuensi yang tepat. Sekuensi atau urutan penyajian ini sangat
penting diperhatikan dalanu penyediaan bahan belajar. Seharusuya sekuensi
bahan ini dari yang sederhana menuju ke yang kompleks.
d.Informasi yang dibutuhkan ada. Ini sangat penting, agar bahan belajar yang
akan dipelajari tersebut tidak kering,
e.Ada soal latihan. Ini sangat penting, agar siswa dapat menguji diri sendiri,
seberapa banyak !a telah menguasai bahan yang dipelajari.
f.Ada jawaban kunci untuk soal latihan. Kegunaan kunci jawaban bagi soal
latihan ini adalah siswa dapat mencocokkan hasil-hasil latihannya dengan
kunci.

g.Ada tes yang sesuai. Tes yang sesuai ini, tentu bergantung kepada bahan
belajarnya.
h.Terdapat petunjuk untuk mengadakan perbaikan. Baban belajar harus
dilengkapi dengan petunjuk bagaimana siswa harus memperbaiki belajarnya,
jika ada diantara bahan belajar yang belum terkuasai.
i.Ada petunjuk lanjutan untuk mempelajari bahan selanjumya. Setelah
berhasil menguasai bahan belajar tertentu siswa tidak akan menungggu
petunjuk guru untuk mempelajari bahan selanjutnya.

3.Alat bantu belajar dan upaya penyediaannya.

Alat bantu belajar termasuk salah satu unsur dinamis dalam belajar,
kesusukannya juga penting, oleh karena dapat membantu terhadap belajar siswa.
Dengan sebuah alat bania bahan belajar yang abstrak bisa konkrit. Dengan alat
bantu bahan belajar yang tidak menarik bisa menjadi menarik. Dengan alat
bantu bahan belajar yang meragukan dapat diyakinkan karena dapat dibuktikan
secara empirik

Alat bantu belajar lazim juga disebut media belajar dan piranti Belajar,
meskipun tidak semua median belajar dapat berfungsi sebagai alat bantu. Alat
bantu belajar ada kalanya dibeli di toko-toko buku. atau stationary, tetapi

52

adakalanya dibuat sendiri oleh pembelajar bersama-sama dengan gurunya. Pada
kasus vang pertama pembelajar mendapatkan secara given.
Hal-hal yang dapat dijadikan sebagai patokan dalam upaya menyediakan

alat bantu belajar adalah :
a.Jenis kemampuan apa yang ditargetkan untuk dikuasai oleh pembelajar.
b.Faktor ketersediaan alat bantu tersebut
c.Faktor keterjangkauannya
d.Kepraktisan dan daya tahan alat bantu.
e.Keefektifan dan keefisienan alat bantu
Contoh alat bantu sederhana adalah pena. pensil, papan tulis, kapur tulis,
penggaris, penghapus. Contoh alat bantu yang penggunaannya membutuhkan
keterampilan tertentu adalah skala, rubrik, jangka, 0HP, video, tape recorder,
dan media audiovisual lainnya. Beherapa upaya penyediaan bahan antara lain
adalab:
a.Pembelian, jika mampu
b.Pengajuan kepada pemerintah
c.Permobonan bantuan melalui sponsor
d.Membuat sendiri, jika bisa
e.Menggerakkan dan mengajak para pembelajar untuk menciptakan dengan
memanfaatkan alam sekitar

4.Suasana belajar dan upaya pengembangannya

Dalam pandangan tradisional suasana belajar yang kondusif adalahh jika
di dalam sebuah kelas terasa tenang sementara para siswa bisa mendengarkan
apa yang diceramahkan gurunya. Oleh karena itu, pandangan tradisional tsb,
maka kelas yang baik dalam belajar mengajar adalah kelas yang siswanya duduk
dengan tenang, berdiam diri sambil mendengarkan pengajaran yang dilakukan
guru. Umumnya, siswa tidak berani mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal
yang deceermahkan guru, terkecuali guru telah memberikan kesempatan.
Dalam pandangan sekarang suasana belajar yang kondusif adalah
suasana yang mendukung bagi terciptanya kegiatan belajar. Yaitu suasana yang

53

interaktif dimana para siswa giat belajar. suasana yang interaktif belajar di
dalamnya, tentu tidak dibatasi ketika ditunggui oleh gurunya. Pada saat guru
sedang menunggui misalkan saja, siswa tetap aktif dan giat belajar.
Suasana belajar yang kondusif demikian tidak terjadi dengan sendirinya.
la harus dirancang oleh guru melalui sebuah rancangan pengajaran sebuah
suasana belajar dikatakan kondusif manakala :
a.Siswa tekun mengerjakan sesuatu yang semestinya dikerjakan.
b.Siswa aktif berinteraksi tidak saja hanya dengan gurunya melainkan aktif
berinteraksi dengan siswa-siswa yang lain.
c.Siswa secara bebas mengerjakan segala hal yang dapat mencapai tujuan
belajarnya.
d.Kreativitas siswa mendapatkan penghargaan yang sepantasnya, dan bakan
sebaliknya.

Agar suasana belajar tersebut kondusif, maka upaya-upaya yang dapat

dilakukan adalah :
a.Buatlah kontak pengajaran dengan para siswa
b.Rancanglah aktivitas belajar siswa
c.Berikan kebebasan kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya.
d.Buatlah suasana yang demokratis. agar tidak menakutkan bagi para siswa
dalana beraktivitas.
e.Rancanglah ruangan belajar sefleksibel mungkin hingga mudah dirubah-

ubah.

f.Jangan gampang memberikan penghukumn terhadap siswa, lebih-lebibh jika
kepada siswa yang belum tentu bersalah.
g.Hargailah siswa-siswa mencoba cara-cara dan metede-metode baru

5.Kondisi Subjek Belajar dan Upaya Penyiapan dan Peneguhannya.

Kondisi subjek belajar sebenamya berbeda-beda. Kondisi subjek belajar
yang kelihatannya samapun, manakala diteliti lebib dalam, akan kelibatan

54

perbedaannya. Oleh karena stu, dalam kclompok siswa yang homogen pun,
sebenamya kalau dilihat lebih dalam akan tampak heterogenitasnya.
Kondis subjek belajar dapat dibedakan atas hal-hal yang bersifat lahiriah,
dan hal-hal yang bersifat batiniah atau hal-hal yang bersifat fisik dan hal-hal
yang hersifat psikologis. Dari segi lahiriah atau fisik, subjek belajar bisa
berbeda: ukuran tubuhnya, kekuatan tubuhnya, kesehatan fisiknya, daya tahan
fisiknya, kesegaran dan kebugam jasmaninya. Mereka yang berada pada kondisi
lebih, misalnya lebih besar/tingai. khib kuat lebih sehat lebih tinggi daya
tahannya dan khib segarIbLigar, umumnya tehih mendukung bagi aktivitas
belajarnya dibandingkan dengan mereka yang berada pada posisi kurang.
Dari segi psikis, kondisi subjek belajar juga berbeda dari segi:
intelegensinya, bakatnya, militansi kerjanya, motivasi instrinsik atau motivasi
berprestasinya, kematangannya aspirasi dan punya, ambisi-ambisinya.
Mereka yang mempunyai inteligensi tinggi umumnya lebih gampang
berhasilnya dibandingkan yang berintelegensi rendah. Demikian juga yang
mempunyai bakat khusus, yang tinggi militansi kerjanya, yang tinggi motivasi
intrinsiknya, yang besar ambisinya, dan yang lebih stabil emosinya.
Oleh karena beragamnya kondisi subjek belajar tersebut, dan tidak
senuttiasa menetapnya kondisi belajar tersebut, maka hs ada upaya-upaya unruk
menyiapkan mereka dan sekaligus meneguhkannya. Dengan penyiapan yang
terancang dan dengan upaya-upaya peneguhan diharapkan mendukung aktivitas
belajar.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan kondisi objek belajar
khususnya dari segi fisiknya adalah:
a.Memenuhi subjek belajar dengan gizi dan nutrisi-nutrisi yang diperlukan.
b.Penyegaran fisik subjek belajar dengan olahraga atau latihan-latihan fisik
seperti senam.

55

c.Memeriksakan tubuh subjek belajar secara teratax kepada dokter agar dapat
dicegah timbulnya penyakit yang memungkinkan terganggunya belajar
mengajar.

Sementara itu, upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan

psikis subjek belajar adalah :
a.Memperkenalkan dengan lingkungan belajar yang mangkin baru bagi

mereka.

b.Memelihara keseimbangan emosi mereka, agar secara psikologis mereka
merasa aman.
c.Mengasah kondisi psikis mereka dengan latihan-latihan.
d.Menerima mereka apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya
sehingga subjek belajar tidak merasa tertolak oleh lingkungunya.

4. PENGERTIAN DAN CIRI - CIRI PEMBELAJARAN.
4.1. Pengertian pembelajaran yang ditarik dari pengertian populer

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur
manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling
mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam sistim
pengajaran terdiri dari: siswa, guru dan tenaga lainnya, misalnya tenaga
laboratorium. Material meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografl,
slide, dan film audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari
ruang kelas, perlengkapan audio visual juga komputer. Prosedur meliputi jadwal
dan metode penyampaian informasi, praktek, belajar, ujian dan sebagainya.
Rumusan tersebut tidak terbatas dalam ruang saja. Sistim pembelajaran
dapat dilaksanakan dengan cara membaca buku, belajar di kelas, atau di sekolah,
karena diwamai dengan organisasi dan interaksi antara berbagai komponen yang
saling berkaitan untuk pembelajaran peserta didik.

56

4.2. Pengertian pembelajaran yang ditarik dari pengertian belajar menurut
abli psikologi.

Istilah belajar dan mengajar adalah dua peristiwa yang berbeda tetapi
terdapat hubungan yang erat, bahkan terjadi kaitan dan interaksi saling
mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain.
Banyak ahli yang telah merumuskan pengertian mengajar berdasarkan
pandangannya masing-masing. Perumusan dan tinjauan itu masing-masing
memiliki kebaikan dan kelemahan. berbagai rumusan yang ada pada dasarnya
berlandaskan pada teori tertentu.

a.Mengajar adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peseta
didik/siswa di sekolah.

Rumusan ini sesuai dengan pendapat dalam teori pendidikan yang
mementingkan mata ajaran yang harus dipelajari oleh peserta didik. Dalam
rumusan ini terkandung konsep-konsep sebagai berikut:

1.Pembelajaran merupakan persiapan di masa depan

Masa depan kehidupan anak ditentukan oleb orang tua. Mereka dianggap
paling mengetahui apa dan bagaimana kehidupan itu. Itu sebabnya, orang tua
berkewajiban menentukan akan dijadikan apa peserta didik. Sekolah
berfungsi mempersiapkan mereka agar mampu hidup dalam masyarakat yang
akan datang.

2.Pembelajaran merupakan proses penyampaian pengetahuan

Penyampaian pengetahuan dilaksanakan dengan menggunakan metode
imposisi, dengan cara menuangkan pengetahuan kepada siswa. Umumnya
guru menggunakan metode "formal step" dari J. Herbart berdasarkan asas
asosiasi dan reproduksi atas tanggapan/kesan. Cara penyampaian
pengetahuan tersebut berdasarkan ajaran dalann psikologi asosiasi.

3.Tinjauan utama pembelajaran ialah penguasaan pengetahuan.

57

Pengetahuan sangat penting bagi manusia. Barang siapa menguasai
pengetahuan, maka dia dapat berkuasa.: “knowledge is power". Pengetalman
bersumber dari perangkat mata ajaran yang disampaikan di sekolah. Para
pakar yang mendukung teori ini berpendapat bahwa mata ajaran berasal dari
pengalaman-pengalaman orang tua, masa lampau yang berlangsung
sepanjang kehidupan manusia. Pengalaman-pengalaman itu diselidiki,
disusun secara sistematis dan logis, sehingga tercipta yang kita sebut mata
ajaran (H. Alberty 1953). Mata ajaran itu diuraikan, disusun dan dimuat
dalam buku pelajaran dan berbagai referensi lainnya.

4.Guru dipandang sebagai orang yang sangat berkuasa.

Peranan guru sangat dominan. Dia menentukan segala hal yang dianggap
tepat untuk disajikan kepada para siswanva. Guru dipandang sebagai orang
yang serba mengetahui, berarti guru adalah yang paling pandai. Dia
mempersiapkim tugas-tugas memberikan latihan-latihan dan menentukan
peraturan kemajuan tiap siswa.

5.Siswa selalu bersikap dan betindak pasif

Siswa dianggap sebagai tong kosong, belum mengetahui apa-apa. Dia hanya
menerima apa yang diberikan okh gurunya. Siswa bersikap sebagai
pendengar, pengikut, pelaksana tugas. Kebutuhan, minat. tujuan, abilitas dan
lain-lain yang dimiliki oleh siswa diabaikan dan tidak mendapat perhatian
guru.

6.Kegiatan pembelajaran hanya berlangsung dalam kelas.

Pembelajaran dilaksanakan dalam batas-batas ruang kelas saja, sedangkan
pembelajaran di luar kelas tak pernah dilakukan. Tembok sekolah menjadi
benteng yang kuat yang membatasi hubungan-hubungan dengan kehidupan
masyarakat. Para siswa duduk pada bangku yang berdiri kokoh, tak bisa
dipindah-pindahkan. Mereka duduk dengan rapi dan kaku secara rutin setiap

58

hari. Ruangan kelas dipandang sebagai ruang penyelamat, ruang memberi
kehidupan. Belajar dalam batas-batas ruangan itu adalah yang paling baik.

Wrighstone, berkata sebagai berikut :
...........the immediate implications of the older principles when they are applied
to the classroom:
1)The classroom is a restrkted from of social life, and Aildren's experiences
are limited there in to academk lessons.
2)The qukkest an most through method of leaming lessons is to allot a certain
portion of the school day it instruction in separate subjects.
3)Children's interests whkh do not confrom to the set currkulum should be the
regarded.
4)The real objectives of classroom instruction, consist to a belajar degree in the
aguisition of the content matter of each subject.
5)Teaching the conventional subjects is the wisest method of achieving social
progress (J. Wayner Wrighstone, 1935).

b.Mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui
lembaga pendidikan sekolah.

Rumusan ini bersifat lebih umum bila dibandinglean dengan rumusan
pertama, namun antara keduanya memiliki pola pikiran yang seirama. Implikasi
dari rumusan ini adalah sebagai berikut:
1.Pembelajaran bertujuan membentuk manusia berbudaya.
Peserta didik hidup dalam pola kebudayaan masyarakatnya. Manusia
berbudaya adalah manusia yang mampu hidup dalam pola tersebut. Peserta
didik diajar agar memiliki kemainpuan dan kepribadian sesuai dengan
kehidupan budaya masyarakat itu.
2.Pembelajaran berarti suatu proses pewarisan.

59

Para siswa dipandang sebagai keturunan orang tua dan orang tua adalah
keturunan neneknya dan seterusnya, demikian terus terjadi proses turun
temurun. Dengan sendirmya apa yang dimiliki oleh nenek moyang pada
masa lampau itu harus diwariskan kepada keturunan berikumya. Upaya
pewarisan itu dilakukan metalui berbagai prosedur: pengajaran, media
hubungan pribadi dan sebagainya. Bila dilakukan melalui pengajaran, maka
proses yang telah dikemukakan dalam proses perumusan pertama berlaku
dan dilaksanakan dengan teknik yang sama.

3.Bahan pembelajaran bersumber dari kebudayaan.
Yang termasuk kebudayaan adalah kebiasaan orang berpikir dan berbuat
seperti: kehidupan keluarga, cara menyediakan makanan, bahasa,
pemerintahan, ukuran moral, kepereayaan agama, dan bentuk-bentuk
ekspresi seni. Kebudayaan merupakan kumpulan daripada warisan sosial
dalam masyarakat. Berdasarkan pada pengertian mi, kebudayaan itu bersifat
non material., dan bersifat abstrak, ada dalam jiwa dan kepribadian manusia.
Benda-benda bersifat material sesungguhnya adalah hasil dari keterampilan
manusia (Worcester, 1969).
Kebudayaan dan hasil kebudayaan diwariskan kepada siswa yang umumnya
berupa benda-benda dan non benda, tertulis dan lisan, dan berbagai bentuk
tingkah laku norma dan lain-lain.
4.Siswa sebagai generasi muda ahli waris kebudayaan
Generasi muda berfungsi sebagai generasi penerus. Mereka perlu
dipersiapkan sedemikian rupa agar benar-benar siap melanjutkan hasil yang
telah dicapai oleh generasi yang ada sekarang. Kebudayaan yang diwariskan
kepada mereka harus dikuasai dan dikembangkan, sehingga mereka menjadi
warga masyarakat yang lebih berbudaya. Dalam hal ini, diakui bahwa anak
sedang berada dalam tahap perkembangan dan menuju ketingkatan yang
lebih dewasa, dalam arti, menjadi manusia yang berbudaya. Mereka harus

60

mampu memanfaatkan teknologi, sebagai aspek dari kebudayaan, untuk
kehidupannya. serta mampu mengadakan penemuan-penemuan baru,
mengembangkan kebudayaan yang telah ada.

c.Pembelajaran adalah upaya mengorganisasi lingkungan untuk
menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.

Rumusan ini dianggap lebih maju dibandingkan dengan rumusan
terdahulu, sehab lebih menitik beratkan pada unsur peserta didik, lingkungan,
dan proses belajar. Perumusan ini sejalan dengan pendapat dari Me. Donald,
yang mengemukakan sebagai berikut:
“educational, in the sense used here, is a process or an activity whkh is
directed at producing desirable changes in the behavior of human beings
(Me. Donal, 1959)
artinya :
Pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang bertujuan
menghasilkan perubahan tingkah laku manusia.

Implikasi dari pengertian tersebut adalah sebagai berikut:

1.Pendidikan bertujuan mengembangkan atau mengubah tingkah aku peserta

didik

Pribadi adalah suatu sistem yang bersifat unik, terintegrasi dan terorganisasi
yang meliputi semua jenis tingkah laku individu. Pada hakikatnya pribadi
tidak lain daripada tingkah laku itu sendiri. Kepribadian mempunyai ciri-ciri:
(1). Berkembang secara berkelanjutan sepanjang hidup manusia, (2). Pola
organisasi kepribadian berbeda-beda untuk setiap orang dan bersifat unik,
(3). Kepribadian hersifat dinamis, terus berubah meialui cara-cara tertentu.
Tingkah laku manusia memiliki dua aspek, yakni: (1). Aspek objektif, yang
bersifat struktural, yakni aspek jasmaniah, (2). Aspek subjektif, yang besifat
fungsional, yakni aspek rohaniah.

61

2.Kegiatan pembelajaran berupa pengorganisasian lingkungan

Perkembangan tingkah laku seseorang adalah berkat pengaruh dari
lingkungan. Lingkungan kita artikan secara luas, yang terdiri dari lingkungna
alam dan lingkungan sosial. Lingkungan sosial sering lebih berpengaruh
terhadap tingkah laku seseorang. Melalui interaksi antara individu dan
lingkunganya, maka siswa memperoleh pengalaman, yang pada gilirannya
berpengaruh terhadap perkembangan tingkah lakunya. Hal ini sesuai dengan
pendapat bahwa pendidikan adalah suatu proses sosialisasi di mana anak
didik disiapkan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat
sekitamya.

Sekolah berfungsi menyediakan lingkungan yang dibutuhkan bagi
perkembangan tingkah laku siswa, antara lain menyiapkan program belajar,
bahan belajar, metode mengajar, alat mengajar dan lain-lain. Selain dari itu,
pribadi guru sendiri, suasana kelas, kelompok siswa, lingkungan di luar
sekolah, semua menjadi lingkungan belajar yang bermakna bagi
perkembangan siswa.

3.Peserta didik sebagai suatu organisme yang hidup.

Peserta didik memiliki berbagai potensi yang siap untuk berkembang,
misalnya, kebutuhan, minat, tujuan, abilitas, intelegensi, emosi dan lain-lain.
Tiap individu peserta didik mampu berkembang menurut pola dan caranya
sendiri. Mereka dapat melakukan berbagai aktivitas dan mengadakan
interaksi dengan lingkungannya.
Aktivitas belajar sesungguhnya bersumber dari dalam diri peserta didik.
Guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang serasi agar aktivitas itu
menuju ke arah tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini guru bertindak sebagai
organisator belajar bagi siswa yang potensial itu, sehingga tercapai tujuan
pembelajaran secara optimal.

62

d.Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi
warga masyarakat yang baik.

Rumusan ini didukung oleh para pakar yang menganut pandangan bahwa
pendidikan itu berorientasi kepada kebutuhan tuntutan masyarakat. Implikasi
dari rumusan/pengertian ini,adalah sebagai berikut:

1.Tujuan pembelajaran

Pembentukan warga negara yang baik adalah warga negara yang dapat
bekerja di masyarakat. Seorang warga negara yang baik bukan menjadi
konsumen, tetapi yang lebih penting ialah menjadi seorang produsen. Untuk
menjadi seorang produsen, maka dia barus memiliki keterampilan berbuat
dan bekerja, menghasilkan barang-barang dan benda kebutuhan masyarakat.
Motto yang dikemukakan: "benign habitat for good living", artinya seorang
warga negara yang baik bila dapat menyumbangkan dirinya kepada
kebidupan yang baik.

2.Pembelajaran berlangsung dalam suasanan kerja.

Program pembelajaran diselenggarakan dalam suasana kerja. dimana
para siswa mendapat latihan dan pengalaman praktis. Karena itu, suasana
yang diperlukan adalah suasana yang aktual, seperti dalam keadaan
sesungguhnya. Para siswa mengerjakan hal-hal menarik minatnya dan sesuai
dengan kebutuhan masyarakat.

3.Peserta didik/siswa sebagai calon warga negara yang memiliki potensi
untuk bekerja.

Siswa memiliki bermacam kemampuan, minat, dan Kebutuhan, antara
lain kebutuhan ingin berdiri sendiri, ingin punya pekerjaan. Siswa tidak
menginginkan berdiam dengan pasif, semua ingin melakukan kegiatan,

63

bermain, atau bekerja. Energi mereka miliki perlu mendapat penyaluran
sebagaimana mestinya. Jikalau energi itu tidak disalurkan, maka dapat
menyebabkan tingkah laku yang tidak diharapkan, Perumusan atas
kebutuhan itu, pengembangan minat dan sikap, penyaluran energi yang
berlebihan sebaiknya dilakukan dengan cara menyediakan kesempatan
bekerja, mencari pengalaman yang praktis, dan memupuk keterampilan
jasmaniah-rohaniah. Dengan berkembang kemampuan kerja, maka tuntutan
dan harapan masyarakat dapat dipenuhi. Pada dasamya tidak ada masyarakat
yang menginginkan anak-anaknya menjadi barisan penganggur.

4.Guru sebagai pimpinan don pembimbing bengkel kerja.

Sesuai dengan tujuan tersebut, sekolah merupakan suatu ruang workshop
dan oleh karenanya guru harus mampu memimpin dan membimbing siswa
belajar bekerja dalam bengkel sekolah. Guru-guru harus menguasai program
keterampilan khusus dan menguasai strategi pembelajaran keterampilan,
serta menyediakan proyek-proyek kerja yang menciptakan berbagai
kesibukan yang bermakna. Dalam hal mi, peranan guru dalam sekolah
komprehensif adalah sangat penting.

e.Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi
kehidupan masyarakat sehari-hari.

Pandangan ini didukung oleh para pakar yang berorientasi pada
kehidupan masyarakat. Sekolah dari masyarakat adalah suatu integrasi.
Pendidikan adalah di sini dan sekarang ini (G.E. Olson, 1945). Implikasi dari
pengertian ini adalah sebagai berikut:

1.Tujuan pembelajaran ialah mempersiapkan siswa untuk hidup dalam
masyarakat.

Sekolah berfungsi menyiapkan siswa untuk menghadapi berbagai
masalah dalam kehidupan, mereka bukan dipersiapkan untuk menghadapi
masa depan yang masih jauh, 10 atau 20 tahun ke depan, melainkan untuk

64

memecahkan masalah seharihari dalam lingkungannya, di rumah dan di
masyarakat.

2.Kegiatan pembelajaran berlangsung dalam hubungan sekolah don
masyarakat.

Masyarakat diartikan sebagai laboratorium belajar yang paling besar.
Sumber-sumber masyarakat tak pernah habis sebagai sumber belajar.
Prosedur penyelenggaraan ialah dengan membawa siswa ke dalam
masyarakat dengan karyawisata, survei, berkemah dan lain-lain, atau dengan
cara membawa masyarakat ke dalam sekolah sebagai nara sumber. Dengan
demikian, masyarakat akan memberikan sumbangan yang besar terhadap
pendidikan anak, dan sebaliknya, sekolah akan memberikan bantuan dalam
memecahkan masalah-masalah dalam masyarakat. Sekolah juga berfungsi
turut memperbaiki kehidupan masyarakat sekitamya.

3.Siswa belajar secara aktif.

Siswa bukan saja aktif belajar di laboratorium sekolah, mencari
pengalaman kerja dalam berbagai lapangan kehidupan, -tapi juga aktif
bekerja langsung di masyarakat. Dengan cara ini. semua potensi yang
mereka miliki menjadi hidup dan berkembang. Siswa turut merencanakan,
berdiskusi, meninjau. membuat laporan, dan lain-lain, sehingga
perkembangan pribadinya selaras dengan kondisi lingkungan masyarakatnya.

4.Guru bertugas sebagai komunikator

Guru juga bertugas sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat.
Guru mempersiapkan rencana awal pembelajaran, kemudian menyusun
rencana lengkap bersama para siswa sebagai persiapan melaksanakan di
lapangan. Guru harus mengenal dengan baik keadaan masyarakat sekitamya,
supaya dapat menyusun proyek kerja bagi para siswa. Kelas -ialu melakukan
inventarisasi masalah-masalah yang muncul jalam masyarakat, kemudian
diupayakan pemecahannya. Pranan sebagai komunikator, bukan saja
memerlukan pengetahuan dalam bidang pendidikan dan apresiasi, namun

65

diperlukan pula keterampilan berintegrasi dan bekeda sama dengan
masyarakat.

Berdasarkan teori-teori tersebut semakin jelaslah bahwa kegiatan dan
proses pembelajaran itu sangat kompleks. Pandangan-pandangan yang telah
dibahas itu, akan menjadi lebih jelas setelah mempelajari uraian-uraian
berikumya.

4.3 CIRI-CIRI PEMBELAJARAN

Ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran, antara

lain adalah:
1.Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur, yang
merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran, dalam suatu rencana khusus.
2.Kesaling tergantungan (interdependence), antara unsur-unsur sistem
pembelajaran yang serasi dalam suatu kescluruhan. Tiap unsur bersifat
essensial, dan memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
3.Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak
dicapai. Ciri ini menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh
manusia dan sistem yang alami (natural). Sistem yang dibual oleh manusia,
seperti: sistem transportasi, sistem komunikasi, sistem pemerintahan,
semuanya memiliki tujuan. Sistim alami (natural) seperti sistem ekologi,
sistem kehidupan hewan, memiliki unsur-unsur yang saling ketergantungan
satu sama lain, disusun sesuai dengan rencana tertentu, tetapi tidak
mempunyai tujuan tertentu. Tujuan sistem menuntun proses merancang
sistem. Tujuan sistem pembelajaran agar siswa belajar. Tugas seorang
perancang sistem ialah mengorganisasi tenaga. material, dan prosedur, agar
siswa belajar secara efisien dan efektif. Dengan proses mendisain sistem
pembelajaran si perancang membuat rancangan untuk memberikan
kemudahan dalam upaya mencapai tujuan sistem pembelajaran tersebut.

66

5.TUJUAN DAN UNSUR-UNSUR DINAMIS PEMBELMARAN.
5.1. Tujuan pembelajaran yang menunjang tercapainya tujuan belajar.

Pembelajaran dimaksudkan terciptanya suasana sehingga siswaa belajar.
Tujuan pembelajaran haruslah menunjang dan dalam tercapainya tujuan belajar.
Dahulu, ketika pembelajaran dimaksudkan sebagai kadar penyampaian
ilmu pengetahuan, pembelajaran tak terkait dengan blajar. termasuk tujuannya.
Sebab, jika guru telah menyampaikan ilmu pengetahuan. tercapailah maksud
atau tujuan pembelajaran tersebut.
Pembelajaran model dahulu itu, memang tidak dicoba terkaitkan dengan
belajar itu sendiri. Pembelajaran lebih onsentrasi pada kegiatan guru dan tidak
terkonsentrasi pada kegiatan siswa.
Jika pada masa sekarang ini pembelajaran dicoba terkaitkan dengan
belajar, maka dalam merancang aktivitas pembelajaran, guru harus belajar dari
aktivitas belajar siswa. Aktivitas belajar siswa harus dijadikan titik tolak dalam
merancang pembelajaran.

Implikasi dari adanya keterkaitan antara kegiatan pembelajaran dan
kegiatan belajar siswa tersebut adalah usunnya tujuan pembelajaran yang dapat
menunjang apainya tujuan belajar. Muatan-muatan yang termaktub dalam tujuan
belajar, haruslah termaktub juga dalam tujuan pembelajaran.
Contoh kongkiit tujuan pembelajaran yang kongruen dengan tujuan
belajar adalah sebagai berikut :

Tujuan Belajar

Tujuan Pembelajaran

Setelah menelaah teks butir-butir
pertama pancasila siswa dapat
menjelaskan kaitan antara butir
pertama dengan butir kedua secara
benar dengan menggunakan kata-kata

Setelah siswa dibelajarkan dengan cara
menelaah teks butir pertama pancasila
siswa dapat menjelaskan kaitan antara
butir pertama dengan butir kedua
secara benar dengan menggunakan

67

sendiri.

kata-kata sendiri.

Setelah mengamati berbagai tumbuh-
tunibuhan di kebun percobaan sekolah,
siswa dapat membedakan antara
tumbuhtumbuhan yang berkeping satu
dan yang berkeping dua. Setelah
dibelajarkan dengan cara mengamati
tumbuh-tumbuhan di kebun percobaan
sekolah, siswa dapat menibedakan
tumbuh-tumbuhan yang berkeping satu
dengan tumbuhan berkeping dua.

Setelah siswa dibelajarkan dengan cara
menclaah teks butir pertama pancasila,
siswa dapat menjelaskan kaitan antara
butir portama dengan butir kedua
secara benar dengan menggunakan
kata-kata yang ada pada teks Setelah
mengamati berbagai tumbuh-tumbuhan
di kebun percobaan sekolah, siswa
dapat membedakan antara tumbuh-
tumbuhan yang berkeping satu dengan
yang berkeping dua.

Setelah dibelajarkan dengan cara
membaca buku teks dan berdiskusi
dengan teman-temannya siswa dapat
membedakan tumbuh-tumbuhan yang
berkeping satu dengan yang berkeping
dua.

Setelah menelaah teks butir-butir
pertama pancasila siswa dapat
menjelaskan kaitan antara butir
pertama dengan butir kedua secara
benar dengan menggunakan kata-kata
sendiri

Setelah menelaah teks butir-butir
pertama pancasila, siswa dapat
menjelaskan kaitan antara butir
pertama dengan butir kedua secara
benar dengan menggunakan kata-kata
sendiri.

Setelah siswa dibelajarkan dengan cara
menelaah teks butir pertama pancasila,
siswa dapat menjelaskan kaitan antara
butir pertama dengan butir kedua
secara benar dengan menggunakan
kata-kata yang ada pada teks

Dari contoh yang disebutkan tersebut sangatlah jelas, bahwa tujuan
pembelajaran yang kongruen dengan tujuan belajar siswa adalah :
1.Punya kesamaan tercapainya tujuan dari segi waktu, yaitu setelah siswa
belajar dan atau dibelajarkan.
2.Punya kesamaan tercapainya tujuan dari segi substansinya, aitu siswa bisa
"apa" setelah belajar dan atau dibelajarkan.

68

3.Punya kesamaan tercapainya tujuan dari segi cara mencapainya.
4.Punya kesamaan takaran dalam pencapaian tujuan.
5.Punya kesamaan dari segi pusat kegiatan, yaitu sama-sama berada pada diri

siswa.

Agar tujuan pembelajaran yang kongruen dengan tujuan belajar tersebut
jelas, berikut disajikan contoh tujuan pembelajaran yang tidak kongruen dengan
tujuan belajar :

Contoh yang disebutkan tersebut, jelas menunjukkan tidak kongruen
antara tujuan pembelajaran dengan tujuan belajar. Oleh karena itu tujuan
pembelajaran demikian ini tidak menunjang pencapaian tujuan belajar. Ada
perbedaan titik tekan antara tujuan belajar dengan tujuan pembelajaran. Pada
contoh pertama dan kedua. substansi tujuan belajar telah dikacaukan oleh
substansi tujuan pembelajaran. Sedangkan pada contoh ketiga dan keempat.
tujuan belajar telah dikacaukan oleh tujuan pembelajaran dari segi cara
penyampaiannya.

5.2. Unsur-unsur dinamis pembelajaran kongruen dalam proses belajar
siswa/mahasiswa

a.Motivasi belajar menuntut sikap tanggap dari pihak guru serta kemampuan
untuk mendorong motivasi dengan berbagai upaya pembelajaran. Ada
beberapa prinsip yang dapat digunakan oleh guru dalam rangka memotivasi
siswa agar belajar, ialah:
1.Prinsip kebermaknaan, siswa termotivasi untuk mempelajari hal-hal yang
bermakna bagi dirinya,
2.Prasyarat, siswa lebih suka mempelajari sesuatu yang baru jika dia
memiliki pengalaman prasyarat (prerckuisit).
3.Model, siswa lebih suka memperoleh tingkah laku baru bila disajikan
dengan suatu model perilaku yang dapat diamati dan ditim.

69

4.Komunikasi terbuka, siswa lebih suka belajar bila penyajian ditata agar
supaya pesan-pesan guru terbuka terhadap pendapat siswa.
5.Daya tarik, siswa lebih suka belajar bila perhatiannya tertarik oleh
penyajian yang menyenangkan/menarik.
6.Aktif dan latihan, siswa lebih senang belajar bila dia dapat berperan aktif
dalam latihan/praktik dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran
7.Latihan yang terbagi, siswa lebih suka belajar bila latihan-latihan
dilaksanakan dalamjangka waktu yang pendek.
8.Tekanan instruksional, siswa lebih suka belajar terus bila kondisi
pembelajaran menyenangkan baginya.
9.Keadaan yang menyenangkan, siswa lebih suka belajar terus bila
kondisi-kondisi pembelajaran menyenangkan bagmya.
b.Sumber-sumber yang digunakan sebagai bahan belajar terdapat pada:
1.Buku pelajaran yang sengaja disiapkan dan berkenan dengan mata ajaran
tertentu. Bahan-bahan tersebut dapat berupa sumber pokok dan sumber
pelengkap. Pemilihim buku-buku sumber telah ditetapkan dalam
pedoman kurikulum dan berdasarkan pilihan guru berdasarkan
pertimbangan tertentu. Buku-buku tersebut mungkin telah tersedia di
perpustakaan sekolah, atau harus dibeli di pasaran buku.
2.Pribadi guru sendiri pada dasamya merupakan sumber tak tertulis dan
sangat penting serta sangat kaya dan luas, yang perlu dimanfaatkan
secara maksimal. Itu sebabnya, guru senantiasa diminta agar terus belajar
untuk memperkaya dan memperluas serta mendalami ilmu pengetalman,
sehingga pada waktunya dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan
belajar yang berdaya guna bagi kepentingan proses belajar siswa.
3.Sumber masyarakat, juga merupakan sumber yang paling kaya bagi
bahan belajar siswa. Hal-hal yang tidak tertulis dalam buku dan belum
terkuasai oleh guru, ternyata ada dalam, masyarakat berupa objek,
kejadian dan peninggalan sejarah. Hal-hal tersebut dapat digunakan
sebagai bahan belajar. Untuk itu, guru perlu menyiapkan program

70

pembelajaran dalam upaya memanfaatkan masyarakat sebagai sumber
bahan belajar bagi siswanya.
c.Pengadaan alat-alat bantu belajar dilakukan oleh guru, siswa sendiri dan
bantuan orang ma. Namun, harus dipertimbangkan kesesuaian alat bantu
belajar itu dengan tujuan belajar, kemampuan siswa sendiri, bahan yang
dipelajari, dan ketersediaannya di sekolah. Prinsip kesesuaian ini perlu
diperhatikan karena sering terjadi pemilihan dan penggunaan suatu alat
bantu belajar ternyata tidak cocok untuk pengajaran dan ternyata tidak
banyak pengaruhya terhadap keberhasilan belajar siswa. Prosedur yang harus
ditempuh adalah:
1.Memilih dan menggunakan alat bantuan yang tersedia di sekolah sesuai
dengan rencana pembelajaran.
2.Siswa memilih dan membuat sendiri alat bantu yang diperlukan,
berdasarkan petunjuk dan bantuan guru.
3.Membeli di pasaran bebas scandamya alat yang diperlukan itu ada di
pasaran dan cocok dengan kegiatan belajar yang akan ditakukan.
d.Untuk menjamin dan membina suasana belajar yang efektif. guru dan siswa
dapat melakukan beberapa upaya sebapi berikut:
1.Sikap guru sendiri terhadap pembelajaran di kelas. Guru diharapkan
bersikap menunjang, membantu, adil, dan terbuka dalam kelas. Sikap-
sikap tersebut pada gilirannya akan menciptakan suasana yang
menyenangkan dan menggairahkan serta menciptakan antusiasme
terhadap pelajaran yang sedang diberikan.
2.Perlu adanya kesadaran yang tinggi di kalangan siswa untuk membina
disiplin dan tata tertib yang baik di dalam kelas. Suasana yang disiplin
ini juga ditentukan oleh perilaku guru, kemampuan guru memberikan
pengajaran. serta suasana dalam diri siswa sendiri.
3.Guru dan siswa berupaya menciptakan hubungan dan kerjasama yang
serasi, selaras dan seimbang dalam kela. yang dijiwai oleh rasa
kekeluargaan dan kebersamaan rasa tenggang rasa dan tanggung jawab

71

untuk kepentingan bersama ternyata lebih efektif dibandingkan dengan
suasana dengan persaingan, berusaha untuk kopentingan sendiri, dan
pergaulan guru siswa yang renggang dan kaku.
e.Subjek belajar yang berada dalam kondisi kurang mantap perlu diberikan
binaan. Pembinaan kesehatan, penyesuaian bahan belajar dengan tingkat
kecerdasan siswa, memperhatikan kesiapan belajar yang tepat waktunya,
penyesuaian bahan, belajar dengan kemampuan dan bakatnya, dan
memberikan pengalaman-pengalaman perekuisit, semua kondisi itu perlu
terus dikontrol oleh guru. Sediakan waktu yang khusus untuk mengenal dan
mengetahui dengan seksama semua kondisi subjek belajar. Bila diketahui
terdapat ketidak seimbangan dan gangguan pada kondisi mereka, maka guru
perlu segera melakukan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkannya.

5.3. Unsur-unsur dinamis pembelajaran pada diri guru.

a.Motivasi untuk membelajarkan siswa.

Guru harus memiliki motivasi untuk membelajarkan siswa. Motivasi itu
sebaiknya timbul dari kesadaran yang tinggi untuk mendidik peserta didik
menjadi warga negara yang bak. Jadi guru memiliki hasrat untuk
menyiapkan siswa menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan dan
kemampuan tertentu. Namun, diakui bahwa motivasi pembelajaran itu sering
timbul karena insentif yang diberikan, sehingga guru melaksanakan tugasnya
sebaik mungkin. Kedua jenis motivasi itu diperlukan untuk membelajarkan
siswa.

b.Kondisi guru siap membelajarkan siswa.
Guru perlu memiliki kemampuan dan proses pembelajaran, disamping
kemampuan kepribadian dan kemampuan kemasyarakatan. Kemampuan
dalam proses pembelajaran sering disebut kemampuan profesional. Guru

72

perlu berupaya meningkatkan kemampuan-kemampuan tersebut agar
senantiasa berada dalam kondisi siap untuk membelajarkan siswa.

73

BAB II
PRINSIP BELAJAR DAN APLIKASINYA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->