P. 1
Buku Belajar Dan Pembelajaran

Buku Belajar Dan Pembelajaran

|Views: 11,713|Likes:
Published by ahmadkhoirulanam
isinya tentang materi kuliah belajar dan pembelajaran
isinya tentang materi kuliah belajar dan pembelajaran

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: ahmadkhoirulanam on Nov 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

10/05/2015

original

BAB I
HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

PENDAHULUAN

Istilah belajar sebenamya telah lama dan banyak dikenal. Bahkan pada
era sekarang ini, hampir semua orang mengenal istilah belajar. Namun apa
sebenamya belajar itu, rasanya masing-masing orang mempunyai tangkapan
yang tidak sama.

Sejak manusia ada, sebenamya ia telah melaksanan aktivitas belajar.
Oleh sebab itu, kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa aktivitas itu telah
ada sejak adanya manusia.

Mengapa manusia melaksanakan aktivitas belajar ? Jawabannya adalah
karena belajar itu salah satu kebutuhan manusia. Bahkan ada ahli yang
mengatakan bahwa manusia adalah makhluk belajar. Oleh karena manusia
adalah makhluk belajar, maka sebenamya di dalam dirinya terdapat potensi
untuk diajar.
Pada masa sekarang ini, belajar menjadi sesuatu yang tak dapat terpisahkan dari
kehidupan manusia. Hampir di sepanjang waktunya, manusia banyak
melaksanakan “ritual-ritual” belajar.
Apa sebenamya belajar itu, banyak ahli yang memberikan batasan.
Belajar mempunyai sejumlah ciri yang tak dapat dibedakan dengan kegiatan-
kegiatan lain yang bukan belajar. Oleh karena itu, tidak semua kegiatan yang
meskipun mirip belajar dapat disebut dengan belajar.
Dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang
penting / vital. Mengajar adalah proses membimbing kegiatan belajar, dan
kegiatan mengajar hanya bermaksan bila terjadi kegiatan belajar siswa. Oleh
karena itu, adalah penting sekali bagi setiap guru memahami sebaik-baiknya
tentang proses belajar siswa, agar ia dapat memberikan bimbingan dan
menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi siswa.

1

1.PENGERTIAN BELAJAR
1.1.Pengertian belajar yang dipergunakan sehari – hari

Dalam pengertian yang umum atau populer, belajar adalah
mengurupulkan sejumlah pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari
seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang ini dikenal dengan guru. Dalam
belajar, pengetahuan tersebut dikumpulkan sedikit demi sedikit hingga akhirnya
menjadi banyak. Orang yang banyak pengetahuannya diidentifikasi sebagai
orang yang banyak belajar, sementara orang yang sedikit pengetahuannya
diidentifikasi sebagai orang yang sedikit belajar, dan orang yang tidak
berpengetahuan dipandang sebagai orang yang tidak belajar.
Belajar dalam pengertian mengurupulkan sejumlah pengetahuan
demikian, tampaknya masih diikuti juga sampai sekarang. Orang baru dikatakan
belajar manakala sedang membaca bacaan, membaca sejumlah tugas mata kuliah
atau mata pelajaran, membaca buku pelajaran. Seorang murid yang sedang
mengerjakan tugas-tugas matematika biasa disebut sedang belajar. Orang yang
sedang menimba pengetahuan pada bangku sekolah lazim juga dikenal sebagai
pelajar. Bahkan orang yang banyak menguasai ilmu pengetahuan lazim dikenal
dengan kaum terpelajar. Singkat perkataan, belajar dalam pengertian umum atua
populer adalah suatu upaya yang dimaksudkan untuk menguasai sejumlah
pengetahuan.

Pengetahuan belajar demikian, secara konseptual tampakanya sudah
mulai ditinggalkan orang, meskipun secara praktikal masih banyak yang
menganut. Ini karena berkembang pesatnya teknologi informasi seperti sekarang
ini. Guru tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya sumber informasi yang dapat
memberikan informasi apa saja kepada para pembelajar.
Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya
tentang “belajar”. Sering kai pula perumusan dan tafsiran itu berbeda satu sama
lain. Dalam uraian ini kita akan berkenalan dengan beberapa perumusan saja,
guna melengkapi dna memperluas pandangan kita tentang mengajar.

2

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakukan melalui
pengalaman. (leaming is defined as the modifkation or strengthening of
behavior through experincing).

Menurut pengertian ini, belajar adalah merupakan suatu proses, suatu
kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat,
akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu
penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan.
Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian lain tentang belajar,
yang mengatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, belajar adalah
latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis, dan seterusnya.
Sejalan dengan perumusan diatas, ada pula tafsisan lain tentang belajar,
yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku
individu melalui interaksi dengan lingkungan.
Dibandingkan dengan pengertian pertama, maka jelas, tujuan belajar itu
prinsipnya sama, yakni perubahan tingkah laku, hanya berbeda cara atau usaha
pencapaiannya. Pengeritan ini menitik beratkan pada interaksi antara individu
dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman
belajar. William Burton mengemukakan bahwa : A good leaming situation
consist of a rkh and baried series of leaming experiences unified around a
vigorous purpose, and carried on in interaction with a rkh, varried and
provocative environment.

Dari pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa :
a.Situasi belajar harus bertujuan dan tujuan-tujuan itu diterima baik oleh
masyarakat. Tujuan merupakan salah satu aspek dari belajar.
b.Tujuan dan maksud belajar timbul dari kehidupan anak sendiri.
c.Di dalam mencapai tujuan itu, siswa senantiasa akan menemui kesulitan,
rintangan-rintangan dan situasi-situasi yang tidak menyenangkan.
d.Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat.

3

e.Proses belajar terutama mengerjakan hal-hal yang sebenamya. Belajar apa
yang diperbuat dan mengerjakan apa yang dipelajari.
f.Kegiatan-kegiatan dan hasil-hasil belar dipersatukan dan dihubungkan
dengan tujuan dalam situasi belajar.
g.Siswa memberikan reaksi secara keseluruhan.
h.Siswa mereaksi sesuatu aspek dari lingkungan yang bermakna baginya.
i.Siswa diarahkan dan dibantu oleh orang-orang yang berada dalam
lingkungan itu.
j.Siswa diarahkan ke tujuan-tujuan lain, baik yang berkaitan maupun yang
tidak berkaitan dengan tujuan utama dalam situasi belajar.
Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandangan psikologi belajar
tertentu. Dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan, maka
berbarengan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tentang belajar. Justru
dapat dikatakan, bahwa dengan tumbuhnya pengetahuan tentang belajar, maka
psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang secara pesat. Di dalam masa
perkembangan psikologi pendidikan di jaman mutakhir ini muncullah secara
beruntun aliran psikologi pendidikan masing-masing yaitu :
-Psikologi behavioristik
-Psikologi kognitif
-Psikologi humanistik
Ketiga aliran psikologi pendidikan di atas tumbuh dan berkembang
secara beruntun, dari periode ke periode berikutnya. Dalam setiap periode
perkembangan aliran psikologi tersebut bermunculan teori-teori tentang belajar.
Bertolak dari kenyataan itu, maka berbagai teori belajar yang ada dapat
dikelompokkan menjadi tiga kelompok teori belajar, masing-masing yaitu :
-Teori-teori belajar dari psikologi behavioristik.
-Teori-teori belajar dari psikologi kognitif
-Teori-teori belajar dari psikologi humanistik.

4

Para penulis buku psikologi belajar, umumnya mendefinisikan belajar
sbagai suatu perubahan tingkah laku dalam diri seseorang yang relatif menetap
sebagai hasil dari sebuah pengalaman. Selain itu, ahli-ahli psikologi mempunyai
pandangan yang berada mengenai apa belajar itu.
Dalam pandangan psikologis, setidak-tidaknya ada empat pandangan

mengenai belajar.

Pertama, pandangan yang berasal dari aliran psikologi behavioristik.
Menurut pandangan ini, belajar dilaksanakan dengan kontrol instrumental dari
lingkungan. Guru mengkondisikan sedemikian sehingga pembelajar atau siswa
mau belajar. Mengajar dengan demikian dilaksanakan dengan kondisioning,
pembiasaan, peniruan. Hadian dan hukuman sering ditawarkan dalam mengajar
dan belajar demikian. Kedaulatan guru dalam belajar demikian relatif tinggi,
sementara kedaulatan siswa sebalikya, relatif rendah.
Kedua, pandangan yang berasal dari psikologi humanistik. Pandangan
humanistik ini merupakan anti tesa pandangan behavioristik. Dalam pandangan
demikian, belajar dapat dilakukan sendiri oleh siswa. Dalam belajar demikian
siswa senantiasa menemukan sendiri mengenai sesuatu tanpa banyak campur
tangan dari guru. Peranan guru dalam mengajar dan belajar demikian relatif
rendah, sementara kedaulatan guru relatif rendah.
Ketiga, pandangan yang berasal dari psikologi kognitif. Pandangan ini
merupakan konvergensi dari pandangan behavioristik dan humanistik. Menurut
pandangan demikian belajar merupakan perpaduan dari usaha pribadi dengan
kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Oleh karena itu, metode
belajar yang cocok dalam pandangan ini adalah eksperimentasi.
Berdasarkan diagram sebagaimana pada diagram 1.1. diketahui, bahwa
dalam pandangan psikologi behavioristik, tanggung jawab siswa dalam belajar
rendah, sedangkan tanggung jawab guru dalam mengajar tinggi. Sebaliknya,
dalam pandangan psikologi humanisti, tanggung jawab guru rendah sedangkan
tanggung jawab siswa tinggi. Sementara itu, dalam pandangan psikologi
kognitif, tanggung jawab guru dan siswa sama-sama sedang.

5

Selain ketiga pandangan tersebut, ada pandangan keempat dari psikologi
gestalt. Menurut pandangan psikologi gestalt, belajar adalah usaha yang bersifat
totalitas dari individu, oleh karena totalitas lebih bermakna dibandingkan dengan
sebagian-sebagian.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->