P. 1
JIka Aku Lemah Maka Aku Kuat (When I Am WeaK Then I Am StroNg)

JIka Aku Lemah Maka Aku Kuat (When I Am WeaK Then I Am StroNg)

|Views: 2,402|Likes:

More info:

Published by: Agustina Ga - Koamesah on Nov 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

132 Artinya terbalik, Paulus senang bermegah dalam penganiayaan penderitaan, dan kelemahan (2
Kor.12: 10). Apa yang dahulu merupakan keuntungan sekarang ku anggap rugi karena Kristus, oleh
karena Dialah aku melepaskan semua itu, dan menganggap sampah (Flp. 3: 8) dan karena bagiku hidup
adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp. 1: 21).

78

Musa sebelum menjadi pemimpin besar Israel, ia adalah orang yang tidak

percaya diri dan merasa tidak layak (Keluaran 4:10). Juga Simon Petrus yang

merupakan juru bicara di antara murid-murid yang lain. Yesus katakan bahwa

sifatnya mudah terbawa perasaan dan mudah menimbang. Ia suka menurutkan kata

hati, muda bimbang, mementingkan diri sendiri, cepat bertindak dan cepat surut.

Demikian Yeremia pun merasa ia adalah seorang yang masih muda, belum matang

dan belum sanggup dalam memikul jabatan sebagai seorang nabi.

Gambaran para tokoh di atas menunjukan bahwa realitas kelemahan yang

dialami benar-benar manusiawi dan tidak disengajakan. Sebab pada hakekatnya

bahwa kelemahan adalah suatu keterbatasan yang kita warisi atau kita dapatkan

karena adanya suatu peristiwa yang terjadi di mana kita tidak punya kuasa untuk

menolaknya. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, baik itu secara fisik,

emosi, atau intelektual. Karena itulah tidak seharusnya seseorang bermegah atau

membanggakan diri sendiri.

Berpaling dari pikiran-pikiran konkrit di atas, tersirat unsur mengandalkan

kekuatan-kekuatan lahiriah saja. Tentunya unsur ini dengan sendirinya telah

membuka pintu keangkuhan untuk membangun kebenaran sendiri secara

fundamentalis dan berbalik arah melawan kebenaran Allah. Saat Paulus bersandar

pada pengetahuannya yang radikal tentang hukum taurat, ia lupa keberadaannya

sebagai seorang ciptaan. Fokus perhatiannya terarah hanya pada pengetahuan itu, dan

bukan lagi kepada Allah Sang Kebenaran itu, sehingga timbul adanya sikap pemujaan

terhadap ilmu pengetahuan.

79

Namun ia sadar akan sikapnya yang bersandar pada kekuatannya sendiri. Dan

perjumpaannya dengan Yesus di Damsyik mengubah pola pikirnya dan terjadi

pertobatan total sehingga lahir ungkapannya familiar: “Sebab aku telah mati oleh

hukum taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;

namun aku hidup tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang

hidup di dalam aku... (Galatia 2: 19-20)”.

Dengan kata lain, mengandalkan kekuatan sendiri itu seperti uap yang sebentar

saja kelihatan lalu lenyap. Kekuatan seperti tidak menjamin kualitasnya. Ketika

terancam dalam realitas tantangan hidup yang menghimpitnya, andalan kekuatan itu

sirna, gampang lari dan jatuh dari tantangan tersebut. Seperti fakta yang terjadi di

NTT yakni;

Ibu membunuh anak lalu bunuh diri, siswa bunuh diri gara-gara tidak
lulus. Menurut dokumentasi Pos Kupang , sejak tahun 2008 sudah ada
sembilan kasus bunuh diri. Memilih jalan tragis bunuh diri semacam
tren. Apa yang ganjil dengan masyarakat kita? Mengapa mereka
mudah putus asa, suka jalan pintas mengakhiri hidup dan tidak tegar
menghadapi masalah.
Fenomena sekarang: harga sembako mencekik leher, ongkos
pendidikan dan kesehatan mahal, utang melilit, gagal ujian dan
lapangan kerja minim, plus gagal bercinta.133

Potret peristiwa di atas menyaksikan bahwa kelemahan sangat merasuk setiap

elemen dalam kehidupan manusia. Setiap pribadi yang berada pada posisi itu, merasa

tak berdaya dan terhanyut dalam kondisi yang mengkuatirkan. Karena itu, contoh

potret di atas memberi pesan keras bahwa semuanya sia-sia apabila hanya berdiam

133 Pos Kupang, Kupang, 7 Juli 2008, 1,11

80

diri dan bersikap ego akhirnya diri sendiri yang menjadi korban. Hanya kenikmatan

sesaat yang dicari untuk bersandar sebagai dasar kekuatan lahiriah.

Gaya pelayanan ini pula yang ditonjolkan oleh para seteru Paulus. Mereka

memimpin berdasarkan kekuatan. Sikap mereka menonjolkan diri, membanggakan

pengalaman yang spektakuler dan sombong karena jabatan sebagai rasul. Secara tidak

langsung sikap ini merupakan penonjolan kuasa manusiawi dan penolakan terhadap

kuasa ilahi.

Sementara Paulus memimpin melalui kelemahannya. Hidup Paulus

diidentifikasikan dengan penderitaan Kristus, sehingga logis apabila ia bangga dan

senang dalam kelemahannya untuk merasakan kasih karunia Allah. Sebab kelemahan

dan penderitaannya adalah wujud tanda kehormatan kepada Kristus. Paulus sungguh-

sungguh memberikan hidupnya hanya bagi Kristus, meskipun harus dalam

penderitaan sebab itulah modal dasar dari gaya pelayanannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->