P. 1
Tata Kalimat

Tata Kalimat

|Views: 4,812|Likes:
Published by Kpait

More info:

Published by: Kpait on Nov 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

TATA KALIMAT

A. Frase Frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Misalnya: akan datang, kemarin pagi, yang sedang menulis. Dari batasan di atas dapatlah dikemukakan bahwa frase mempunyai dua sifat, yaitu 1. Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih. 2. Frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya prase itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa yaitu: S, P, O, atau K. Macam-macam frase: a. Frase Endosentrik Frase endosentrik adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Frase endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu: 1. Frase endosentrik yang koordinatif, yaitu frase yang terdiri dari unsur-unsur yang setara, ini dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung. Misalnya: kakek-nenek pembinaan dan pengembangan laki bini belajar atau bekerja 2. Frase endosentrik yang atributif, yaitu frase yang terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu, unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan. Misalnya: perjalanan panjang hari libur Perjalanan, hari merupakan unsur pusat, yaitu: unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atributif. 3. Frase endosentrik yang apositif, yaitu frase yang atributnya berupa aposisi/ keterangan tambahan. Misalnya: Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai. Dalam frase Susi, anak Pak Saleh secara sematik unsur yang satu, dalam hal ini unsur anak Pak Saleh, sama dengan unsur lainnya, yaitu Susi. Karena, unsur anak Pak Saleh dapat menggantikan unsur Susi. Perhatikan jajaran berikut: Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai Susi, …., sangat pandai. …., anak Pak Saleh sangat pandai. Unsur Susi merupakan unsur pusat, sedangkan unsur anak Pak Saleh merupakan aposisi (Ap). b. Frase Eksosentrik Frase eksosentrik ialah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Misalnya: Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di dalam kelas. Frase di dalam kelas tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Ketidaksamaan itu dapat dilihat dari jajaran berikut: Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di …. Siswa kelas 1A sedang bergotong royong …. kelas c. Frase Nominal, Frase Verbal, Frase Bilangan, Frase Keterangan. 1. Frase Nominal: frase yang memiliki distributif yang sama dengan kata nominal. Misalnya: baju baru, rumah sakit 2. Frase Verbal: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan golongan kata verbal. Misalnya: akan berlayar 3. Frase Bilangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan. Misalnya: dua butir telur, sepuluh keping 4. Frase Keterangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan. Misalnya: tadi pagi, besok sore 5. Frase Depan: frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksinya. Misalnya: di halaman sekolah, dari desa 1

d. Frase Ambigu Frase ambigu artinya kegandaan makna yang menimbulkan keraguan atau mengaburkan maksud kalimat. Makna ganda seperti itu disebut ambigu. Misalnya: Perusahaan pakaian milik perancang busana wanita terkenal, tempat mamaku bekerja, berbaik hati mau melunaskan semua tunggakan sekolahku. Frase perancang busana wanita dapat menimbulkan pengertian ganda: 1. Perancang busana yang berjenis kelamin wanita. 2. Perancang yang menciptakan model busana untuk wanita. B. Klausa Klausa adalah satuan gramatika yang terdiri dari subjek (S) dan predikat (P) baik disertai objek (O), dan keterangan (K), serta memilki potensi untuk menjadi kalimat. Misalnya: banyak orang mengatakan. Unsur inti klausa ialah subjek (S) dan predikat (P). Penggolongan klausa: 1. Berdasarkan unsur intinya 2. Berdasarkan ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik menegatifkan predikat 3. Berdasarkan kategori kata atau frase yang menduduki fungsi predikat C. Kalimat a. Pengertian Kalimat adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang mengandung pikiran yang lengkap dan punya pola intonasi akhir. Contoh: Ayah membaca koran di teras belakang. b. Pola-pola kalimat Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu. · Pola kalimat I = kata benda-kata kerja Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul. Pola kalimat I disebut kalimat ”verbal” · Pola kalimat II = kata benda-kata sifat Contoh: Anak malas. Gunung tinggi. Pola kalimat II disebut pola kalimat ”atributif” · Pola kalimat III = kata benda-kata benda Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional. Kalimat ini mengandung kata kerja bantu, seperti: adalah, menjadi, merupakan. · Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor. Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial

D. Jenis Kalimat 1. Kalimat Tunggal Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti pembentukan kalimat (subjek dan predikat) dan boleh diperluas dengan salah satu atau lebih unsur-unsur tambahan (objek dan keterangan), asalkan unsur-unsur tambahan itu tidak membentuk pola kalimat baru. Kalimat Tunggal Ayah merokok. Adik minum susu. Ibu menyimpan uang di dalam laci. Susunan Pola Kalimat S-P S-P-O S-P-O-K

2

2. Kalimat Majemuk Kalimat majemuk adalah kalimat-kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk dapat terjadi dari: a. Sebuah kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sedemikian rupa sehingga perluasan itu membentuk satu atau lebih pola kalimat baru, di samping pola yang sudah ada. Misalnya: Anak itu membaca puisi. (kalimat tunggal) Anak yang menyapu di perpustakaan itu sedang membaca puisi. (subjek pada kalimat pertama diperluas) b. Penggabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal sehingga kalimat yang baru mengandung dua atau lebih pola kalimat. Misalnya: Susi menulis surat (kalimat tunggal I) Bapak membaca koran (kalimat tunggal II) Susi menulis surat dan Bapak membaca koran. Berdasarkan sifat hubungannya, kalimat majemuk dapat dibedakan atas kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran. 1) Kalimat majemuk setara Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang hubungan antara pola-pola kalimatnya sederajat. Kalimat majemuk setara terdiri atas: a. Kalimat majemuk setara menggabungkan. Biasanya menggunakan kata-kata tugas: dan, serta, lagipula, dan sebagainya. Misalnya: Sisca anak yang baik lagi pula sangat pandai. b. Kalimat majemuk serta memilih. Biasanya memakai kata tugas: atau, baik, maupun. Misalnya: Bapak minum teh atau Bapak makan nasi. c. Kalimat majemuk setara perlawanan. Biasanya memakai kata tugas: tetapi, melainkan. Misalnya: Dia sangat rajin, tetapi adiknya sangat pemalas. 2) Kalimat majemuk bertingkat Kalimat majemuk yang terdiri dari perluasan kalimat tunggal, bagian kalimat yang diperluas sehingga membentuk kalimat baru yang disebut anak kalimat. Sedangkan kalimat asal (bagian tetap) disebut induk kalimat. Ditinjau dari unsur kalimat yang mengalami perluasan dikenal adanya: a. Misalnya: Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat penggati subjek. Diakuinya hal itu P S Diakuinya bahwa ia yang memukul anak itu. anak kalimat pengganti subjek Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti predikat. Katanya begitu S P Katanya bahwa ia tidak sengaja menjatuhkan gelas itu. anak kalimat pengganti predikat Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti objek. Mereka sudah mengetahui hal itu. S P O Mereka sudah mengetahui bahwa saya yang mengambilnya. anak kalimat pengganti objek Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti Ayah pulang malam hari S P K Ayah pulang ketika kami makan malam anak kalimat pengganti keterangan

b. Misalnya:

c. Misalnya:

d. keterangan. Misalnya:

3

3) Kalimat majemuk campuran Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk hasil perluasan atau hasil gabungan beberapa kalimat tunggal yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga pola kalimat. Misalnya: Ketika ia duduk minum-minum, datang seorang pemuda berpakaian bagus, dan menggunakan kendaraan roda empat. Ketika ia duduk minum-minum pola atasan datang seorang pemuda berpakaian bagus pola bawahan I datang menggunakan kendaraan roda empat pola bawahan II 3. Kalimat Inti, Luas, dan Transformasi a. Kalimat inti Kalimat inti adalah kalimat mayor yang hanya terdiri atas dua kata dan sekaligus menjadi inti kalimat. Ciri-ciri kalimat inti: a. Hanya terdiri atas dua kata b. Kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat c. Tata urutannya adalah subjek mendahului predikat d. Intonasinya adalah intonasi ”berita yang netral”. Artinya: tidak boleh menyebabkan perubahan atau pergeseran makna laksikalnya.. b. Kalimat luas Kalimat luas adalah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata, tetapi lebih. c. Kalimat transformasi Kalimat transformasi merupakan kalimat inti yang sudah mengalami perubahan atas keempat syarat di atas yang berarti mencakup juga kalimat luas. Namun, kalimat transformasi belum tentu kalimat luas. Contoh kalimat Inti, Luas, dan Transformasi a. Kalimat Inti. Contoh: Adik menangis. b. Kalimat Luas. Contoh: Radha, Arief, Shinta, Mamas, dan Mila sedang belajar dengan serius, sewaktu pelajaran matematika. c. Kalimat transformasi. Contoh: • Dengan penambahan jumlah kata tanpa menambah jumlah inti, sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis tersedu-sedu kemarin pagi. • Dengan penambahan jumlah inti sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis dan merengek kepada ayah untuk dibelikan komputer. • Dengan perubahan kata urut kata. Contoh: Menangis adik. • Dengan perubahan intonasi. Contoh: Adik menangis? 4. Kalimat Mayor dan Minor a. Kalimat mayor Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti. Contoh: Amir mengambil buku itu. Arif ada di laboratorium. Kiki pergi ke Bandung. Ibu segera pergi ke rumah sakit menengok paman, tetapi ayah menunggu kami di rumah Rati karena kami masih berada di sekolah. b. Kalimat Minor Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur pusat. Contoh: Diam! Sudah siap? Pergi! Yang baru!

4

Kalimat-kalimat di atas mengandung satu unsur inti atau unsur pusat. Contoh: Amir mengambil. Arif ada. Kiki pergi Ibu berangkat-ayah menunggu. Karena terdapat dua inti, kalimat tersebut disebut kalimat mayor. 5. Kalimat Efektif Kalimat efektif adalah kalimat berisikan gagasan pembicara atau penulis secara singka, jelas, dan tepat. Jelas : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca. Singkat : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata. Tepat : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. 6. Kalimat Tidak Efektif Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif. Sebab-Sebab Ketidakefektifan Kalimat 1. Kontaminasi= merancukan 2 struktur benar 1 struktur salah Contoh: o Diperlebar, dilebarkan diperlebarkan (salah) o Memperkuat, menguatkan memperkuatkan (salah) o Sangat baik, baik sekali sangat baik sekali (salah) o Saling memukul, pukul-memukul saling pukul-memukul (salah) o Di sekolah diadakan pentas seni. Sekolah mengadakan pentas seni Sekolah mengadakan pentas seni (salah) 2. Pleonasme= berlebihan, tumpang tindih contoh : o Para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para) o Para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak) o Banyak siswa-siswa (banyak siswa) o Saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’) o Agar supaya (agar bersinonim dengan supaya) o Disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena) 3. Tidak memiliki subjek contoh: o Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar) o Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar) ?? o Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah) 4. Adanya kata depan yang tidak perlu o Perkembangan daripada teknologi informasi sangat pesat. o Kepada siswa kelas I berkumpul di aula. o Selain daripada bekerja, ia juga kuliah. 5. Salah nalar o Waktu dan tempat dipersilahkan. (siapa yang dipersilahkan) o Mobil pak dapit mau dijual. (apakah bisa menolak?) o Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan) o Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas) o Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang) o Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi) o Bola gagal masuk gawang. (ia gagal meraih prestasi) (kata gagal lebih untuk subjek bernyawa) 6. Kesalahan pembentukan kata o Mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan o Menyetop seharusnya menstop o Mensoal seharusnya menyoal 5

o o

Ilmiawan seharusnya ilmuwan Sejarawan seharusnya ahli sejarah

7. Pengaruh bahasa asing o Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (seharusnya tempat) o Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan) o Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan) 8. Pengaruh bahasa daerah o … sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir) o … oleh saya. (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona) o Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin) . E. Konjungsi Konjungsi antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf. Konjungsi atau kata sambung adalah kata-kata yang menghubungkan bagian-bagian kalimat, menghubungkan antarkalimat, antarklausa, antarkata, dan antarparagraf. 1. Konjungsi antarklausa a. Yang sederajat: dan, atau, tetapi, lalu, kemudian. b. Yang tidak sederajat: ketika, bahwa, karena, meskipun, jika, apabila. 2. Konjungsi antarkalimat: akan tetapi, oleh karena itu, jadi, dengan demikian. 3. Konjungsi antarparagraf: selain itu, adapun, namun.

6

TATA KATA
A. Kata Kata berdasarkan bentuknya dapat dibagi atas: a. Kata dasar yang biasanya terdiri dari morfem dasar. Seperti: kebun, lihat, anak. b. Kata berimbuhan dapat dibagi atas: - Awalan : berjalan, menulis - Bersisipan : gemetar, gerigi - Berakhiran : timbangan, langganan - awalan dan akhiran : persatuan, kebenaran c. Kata ulang: main-main, berjalan-jalan d. Kata majemuk: matahari, sapu tangan Catatan: Kata adalah satuan bahasa terkecil yang diperoleh sesudah kalimat dibagi atas bagianbagiannya dan mengandung sebuah ide. Jenis Kata: 1. Kata Benda Kata yang menyatakan nama-nama benda atau segala sesuatu yang dibendakan. Misalnya: Pohon itu roboh diterjang badai. Kata benda berimbuhan a. pe: petani, pedagang, penyanyi b. peng: pengawas, pengirim, pemilih c. -an : anjuran, bacaan, kiriman d. peng—an : pemberontakan, pendaftaran, pengakuan, e. per—an : pertanian, perjuangan (hal), perkelahian, percakapan (perbuatan), perikanan, persuratkabaran (yang berkaitan), perapian, perkotaan (tempat) f. ke—an : kepergian, kedatangan (hal yang berhubungan), kekosongan, keberanian (keadaan), kebangsaan, kemanusiaan (hal mengenai), kedutaan, kelurahan (kantor/wilayah) g. -el-, -er-, -em-, -in: telunjuk (tunjuk), gerigi (gigi), gemetar (getar), kemuning (kuning) h. -wan/-wati : ilmuwan, karyawati i. -at/-in, -a/-i : muslimin/muslimat, dewa/dewi j. -isme, -(is)asi, -logi, -tas : komunisme, kolonialisasi, biologi, kualitas 2. Kata Kerja Kata yang menyatakan perbuatan atau pekerjaan. Misalnya kakak belajar di kamar. Kata kerja berimbuhan: meng- : mengambil , mengikat, mengolah a. per: peringan, perlebar, perluas b. ber: berunding, berantai, bekerja, berkarya c. ter: terasa, terpercaya, tepercik d. di- : dibeli, diambil, didalami e. –kan : letakkan, buatkan, kumpulkan f. -i : pukuli, tangisi 3. Kata Sifat Kata yang menyatakan sifat khusus, watak, keadaan benda, atau yang dibendakan. Misalnya: Kami kedinginan malam ini. Kata sifat berimbuhan: 7

a. -i, -iah, -wi : abadi, ilmiah, duniawi, b. -if, -er, -al, -is : aktif (aksi), komplementer (komplemen), normal (norma), teknis (teknik) 4. Kata Keterangan Kata yang memberi keterangan pada kata kerja atau pada kata sifat. Misalnya: Karena malu, ia segera berlari pulang. Kata keterangan berimbuhan: a. se—nya b. -nya : sebaiknya, sebenarnya, secepatnya : rasanya, agaknya, rupanya, biasanya

5. Kata Ganti Kata ganti adalah kata yang menggantikan kata benda atau sesuatu yang dibendakan. Kata ganti, antara lain terdiri atas: a. Kata ganti orang, yang meliputi: 1. Kata ganti orang pertama tunggal. Misalnya: Saya sedang belajar Bahasa Indonesia. 2. Kata ganti orang pertama jamak. Misalnya: Kami tidak akan membuat keributan lagi. 3. Kata ganti orang kedua tunggal. Misalnya: Silakan Anda temui anak itu. 4. Kata ganti orang kedua jamak. Misalnya: Kalian harus memperbaiki diri sebaikbaiknya. 5. Kata ganti orang ketiga tunggal. Misalnya: Sejak sakit, ia menjadi anak pendiam. 6. Kata ganti orang ketiga jamak. Misalnya: Apakah mereka menyadari kesalahannya? 7. Kata ganti orang pertama dan kedua. Misalnya: Jika demikian, ya kita tinggal berdo’a. b. Kata ganti empunya Misalnya: ku, mu, nya. c. Kata ganti penunjuk Misalnya: ini, itu, sana, sini. d. Kata ganti penghubung Misalnya: yang e. Kata ganti penanya Misalnya: bagaimana, siapa 6. Kata bilangan Kata yang menunjukkan bilangan atau jumlah suatu benda. Misalnya: delapan, seekor, sepucuk. 7. Kata depan Kata yang menghubungkan benda dengan kata-kata yang lain. Kata depan biasanya terletak di depan kata benda. Misalnya: di, dari, untuk. 8. Kata sambung Kata yang menghubungkan dua kalimat menjadi satu yang utuh. Misalnya: dan, meskipun, melainkan. 9. Kata sandang Kata yang menentukan atau membatasi kata benda. Kata sandang biasanya terletak di depan kata benda. Misalnya: si, sang, para, hang. 10. Kata seru Kata yang menyatakan luapan emosi atau perasaan. Misalnya: ah, amboi, astaga. Pembagian Jenis Kata Baru 1. Kata benda adalah segala macam kata yang dapat diterangkan atau diperluas dengan yang+kata sifat. Misalnya: perumahan yang baru, pohon yang besar. 2. Kata kerja atau verba. Kata kerja adalah segala macam kata yang dapat diperluas dengan kelompok kata dengan+kata sifat. Misalnya: Adik tidur dengan nyenyak, Andi berlari dengan kencang. 3. Kata sifat. Segala kata yang mengambil bentuk se+reduplikasi+nya, serta dapat diperluas dengan paling, lebih, sekali. 8

Misalnya: se-tingi-tinggi-nya, paling sakit, sakit sekali. 4. Kata tugas. a. Bentuk Dari segi bentuk umumnya kata-kata tugas sukar sekali mengalami perubahan bentuk, seperti: dengan, telah, dan tetapi tidak bisa mengalami perubahan. Tetapi di samping itu ada segolongan kata yang jumlahnya sangat terbatas, walaupun termasuk kata tugas yang dapat mengalami perubahan bentuk, misalnya: tidak, sudah, dapat berubah menjadi: meniadakan, menyudahkan. b. Kelompok kata Dari segi kelompok kata, kata-kata tugas hanya memiliki tugas untuk memperluas atau mengadakan transformasi kalimat. Kata tugas dapat dibagi atas dua macam, yaitu: • Kata tugas yang monovalen (bernilai satu), yaitu semata-mata bertugas memperluas kalimat. Misalnya: dan, tetapi, sesudah, di, ke, dari. • Kata-kata tugas yang ambivalen (bernilai dua), yaitu di samping berfungsi sebagai kata tugas yang monovalen dapat juga bertindak sebagai jenis kata lain, baik dalam membentuk kalimat minim maupun dalam merubah bentuknya. Misalnya: sudah, tidak. c. Partikel kah, tah, lah, pun. Partikel adalah semacam kata tugas yang mempunyai bentuk yang khusus yaitu sangat ringkas atau kecil, dengan mempunyai fungsi tertentu. Bentuk-bentuk kah, tah, lah, pun, adalah partikel penentu atau pengeras. Fungsi dan makna partikel-partikel tersebut di atas dapat dirinci sebagai berikut: 1. Partikel kah Fungsi partikel kah. a. Memberikan tekanan pada pertanyaan, kata yang dihubungkan dengan kah itu dipentingkan. Misalnya: Belajar atau tidurkah dia? b. Dapat dipakai pula untuk menyatakan hal yang tidak tentu. Misalnya: Datanglah atau tidakah saya tidak tahu. 2. Partikel tah Fungsi partikel tah. Fungsi partikel tah ini sama dengan kah, tetapi lebih terbatas pemakaiannya hanya pada kata tanya saja. Misalnya: apatah, manatah, siapatah. Bentuk-bentuk ini lebih sering dijumpai dalam bahasa Melayu lama. Maka pertanyaan dengan memepergunakan partikel tah adalah meragukan atau kurang tentu. 3. Partikel lah Fungsi partikel lah adalah: a. Menegaskan sastra perbuatan baik dalam kalimat berita, kalimat perintah, maupun dalam permintaan atau harapan. Misalnya: Bukalah dengan rapi! b. Mengeraskan satu satra keterangan. Misalnya: Tiadalah aku mau diperlakukan seperti itu. c. Menekankan satra pangkal. Dalam hal ini biasanya ditambah dengan partikel yang. Misalnya: Engkaulah yang bertanggung jawab atas kejadian ini. 4. Partikel pun Fungsi dari partikel pun adalah: a. Mengeraskan atau memberi tekanan pada kata yang bersangkutan. Misalnya: Tak seorang pun keluarganya menghadiri pesta itu. b. Dalam penguatan atau pengerasan dapat terkandung arti atau pengertian berlawanan. Misalnya: mengorbankan nyawa sekalipun aku rela. c. Gabungan antara pun+lah dapat mengandung aspek inkoaktif. Misalnya: Setelah mereka pergi, ayah pun tibalah. B. Kata Ulang 9

Kata-kata ulang disebut juga reduplikasi. Pada dasarnya kupu-kupu bukanlah termasuk kata ulang, tetapi ada sebagian ahli bahasa tetap kokoh dengan pendapatnya dengan mengatakan kupu-kupu, kura-kura, termasuk ke dalam kata ulang.  Pada prinsipnya pengulangan mempunyai syarat di antaranya: 1. Selalu mempunyai dasar yang diulang 2. Proses pengulangan tidak mengubah jenis (kelas) kata. 3. Bentuk dasarnya adalah kata yang lazim (umum) dipakai dalam tindak berbahasa.  Macam-macam kata ulang: a. Kata ulang dwipurwa. Ulangan atas suku kata awal. Contoh: leluasa, tetangga. b. Kata ulang utuh/ asli. Yaitu ulang atas bentuk dasar yang berupa kata dasar. Seperti: pencuri-pencuri, anak-anak. c. Kata ulang dwilingga salin suara atau berubah bunyi. Kata ulang yang terjadi perubahan bunyi pada bagian berulangnya. Seperti: bolak-balik, gerak-garik. d. Kata ulang berimbuhan. Kata ulang yang pengulangannya mendapat imbuhan, baik pada lingga pertama maupun pada lingga kedua. Seperti: pukul-memukul, berpukulpukulan. Fungsi kata ulang Menentukan fungsi kata ulang di sini sangat sulit, sebab fungsi dan arti terjalin erat. Bila hanya dilihat dari proses terjadinya kata ulang tersebut maka akan ditemukan adanya fungsi morfologis. Hal tersebut disebabkan oleh konsep bahwa prinsip perulangan tidak mengubah jenis kata. Artinya, bila kata dasar dari jenis kata benda maka tetap akan kita dapatkan kata benda dari kata ulangannya, demikian pula untuk jenis kata yang lain. Adapun arti yang didukung oleh perulangan adalah: 1. Banyak yang tidak tentu  Buku-buku itu telah kusimpan dalam lemari  Kuda-kuda itu berkejar-kejaran. 2. Bermacam-macam  Pohon-pohonan: banyak dan bermacam-macam pohon  Buah-buahan: banyak dan bermacam-macam buah. 3. Menyerupai  Kuda-kuda  Langit-langit 4. Agak  Kemalu-maluan  Kebarat-baratan 5. Menyatakan intensitas a. Intensitas kualitatif. Contoh: belajar segiat-giatnya. Gunung itu yang setinggitingginya di Pulau Jawa. b. Intensitas kuantitatif. Contoh: kuda-kuda, buah-buah. c. Intensitas frekuentatif. Contoh: Bapak menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mondar-mandir saja sejak tadi. d. Menyatakan saling/ berbalas-balasan/ resiprok o Mereka bersalam-salaman. o Kedua saudara itu hidup tolong menolong. 6. Menyatakan kolektif/ kumpulan o Anak itu berbasis dua-dua. o Pertandingan itu diikuti tiga-tiga regu. C. Contoh Benar aktif aktivitas analisis atlet Kata Serapan Asal active activity analysis athlete Benar indeks karier karisma kolera Asal index carier charisma cholera Benar praktik rasional sistem teknik Asal practice rational system technique 10

ekspor hierarki

export hierarchy

konkret kualitas

concret quality

teknologi varietas

technology

TATA MAKNA
A. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal Makna leksikal ialah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lainnya dalam sebuah struktur (frase klausa atau kalimat). Makna leksikal kata-kata tersebut dimuat dalam kamus. Contoh: rumah : bangunan untuk tempat tinggal manusia makan : mengunyah dan menelan sesuatu makanan : segala sesuatu yang boleh dimakan Makna gramatikal (struktur) ialah makna baru yang timbul akibat terjadinya proses gramatikal (pengimbuhan, pengulangan, pemajemukan). Contoh: berumah : mempunyai rumah rumah-rumah : banyak rumah rumah makan : rumah tempat makan rumah ayah : rumah milik ayah B. Makna Denotasi dan Konotasi Makna denotatif (referensial) ialah makna yang menunjukkan langsung pada acuan atau makna dasarnya. Contoh: merah : warna seperti warna darah. ular : binatang menjalar, tidak berkaki, kulitnya bersisik. Makna konotatif (evaluasi) ialah makna tambahan terhadap makna dasarnya yang berupa nilai rasa atau gambar tertentu. Contoh: Makna dasar Makna tambahan (denotasi) (konotasi) merah : warna berani; dilarang ular : binatang menakutkan/ berbahaya Makna dasar beberapa kata misalnya: buruh, pekerjaan, pegawai, dan karyawan, memang sama, yaitu orang yang bekerja, tetapi nilai rasanya berbeda. Kata buruh dan pekerja bernilai rasa rendah/ kasar, sedangkan pegawai dan karyawan bernilai rasa tinggi. Konotasi dapat dibedakan atas dua macam, yaitu konotasi positif dan konotasi negatif. Contoh: Konotasi positif Konotasi negatif suami istri laki bini tunanetra buta pria laki-laki Kata-kata yang bermakna denotatif tepat digunakan dalam karya ilmiah, sedangkan kata-kata yang bermakna konotatif wajar digunakan dalam karya sastra. 11

C.

Hubungan Makna 1. Sinonim Sinonim ialah dua kata atau lebih yang memiliki makna yang sama atau hampir sama. Contoh: a. yang sama maknanya ∼ sudah - telah ∼ sebab - karena ∼ amat - sangat b. yang hampir sama maknanya ∼ untuk – bagi – buat – guna ∼ cinta – kasih – sayang ∼ melihat – mengerling – menatap – menengok 2. Antonim Antonim ialah kata-kata yang berlawanan maknanya/ oposisi. Contoh: ∼ besar >< kecil ∼ ibu >< bapak ∼ bertanya >< menjawab 3. Homonim Homonim ialah dua kata atau lebih yang ejaannya sama, lafalnya sama, tetapi maknanya berbeda. Contoh: ∼ bisa I : racun ∼ bisa II : dapat ∼ kopi I : minuman ∼ kopi II : salinan

4. Homograf Homograf adalah dua kata atau lebih yang tulisannya sama, ucapannya berbeda, dan maknanya berbeda. Contoh: ∼ tahu : makanan ∼ tahu : paham ∼ teras : inti kayu ∼ teras : bagian rumah 5. Homofon Homofon ialah dua kata atau lebih yang tulisannya berbeda, ucapannya sama, dan maknanya berbeda. Contoh: ∼ bang dengan bank ∼ masa dengan massa 6. Polisemi Polisemi ialah suatu kata yang memilki makna banyak. Contoh: ∼ Didik jatuh dari sepeda. ∼ Harga tembakau jatuh. ∼ Peringatan HUT RI ke-55 jatuh hari Minggu. ∼ Setiba di rumah dia jatuh sakit. ∼ Dia jatuh dalam ujiannya. 7. Hiponim Hiponim ialah kata-kata yang tingkatnya ada di bawah kata yang menjadi superordinatnya/ hipernim (kelas atas). 12

Contoh:

Kata bunga merupakan superordinat, sedangkan mawar, melati, anggrek, flamboyan, dan sebagainya merupakan hiponimnya. Hubungan mawar, melati, anggrek, dan flamboyan disebut kohiponim.

D. Makna Idiomatis Idiom ialah ungkapan bahasa berupa gabungan kata (frase) yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat ditafsirkan dengan unsur makna yang membentuknya. Contoh: (1) selaras dengan (2) membanting tulang insaf akan bertekuk lutut berbicara tentang mengadu domba Pada contoh (1) terlihat bahwa kata tugas dengan, akan, tentang, dengan kata-kata yang digabungkannya merupakan ungkapan tetap. Jadi, tidak tepat jika diubah atau digantikan, misalnya menjadi: selaras tentang insaf dengan berbicara akan Demikian pula contoh (2), idiom-idiom tersebut tidak dapat diubah misalnya menjadi: membanting kulit bertekuk paha mengadu kambing E. Perubahan Makna 1. Perluasan Makna (Generalisasi) Perluasan makna ialah perubahan makna dari yang lebih khusus atau sempit ke yang lebih umum atau luas. Cakupan makna baru tersebut lebih luas daripada makna lama. Contoh: Makna lama Makna baru Bapak : orang tua laki-laki  semua orang laki-laki yang lebih tua atau berkedudukan lebih tinggi. Saudara : anak yang sekandung  semua orang yang sama umur/ derajat. 2. Penyempitan Makna (Spesialisasi) Penyempitan makna ialah perubahan makna dari yang lebih umum/ luas ke yang lebih khusus/ sempit. Cakupan baru/ sekarang lebih sempit daripada makna lama (semula). Contoh: Makan lama: Makna baru: Sarjana : cendikiawan  lulusan perguruan tinggi Pendeta : orang yang berilmu  guru Kristen Madrasah : sekolah  sekolah agama Islam 3. Peninggian Makna (Ameliorasi) Peninggian makna ialah perubahan makna yang mengakibatkan makna yang baru dirasakan lebih tingg/ hormat/ halus/ baik nilainya daripada makna lama. Contoh: Makna lama: Makna baru: Bung : panggilan kepada orang laki-laki panggilan kepada pemimpin Putra : anak laki-laki lebih tinggi daripada anak 4. Penurunan Makna (Peyorasi) Penurunan makna ialah perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasakan lebih rendah/ kurang baik/ kurang menyenangkan nilainya daripada makna lama. Contoh: Makna Lama: Makna Baru: Bini : perempuan yang sudah dinikahi lebih rendah daripada istri/ nyonya Bunting : mengandung lebih rendah dari kata hamil 13

5. Persamaan (Asosiasi) Asosiasi ialah perubahan makna yang terjadi akibat persamaan sifat antara makna lama dan makna baru. Contoh: Makna Lama: Makna Baru: Amplop : sampul surat Uang sogok Bunga : kembang gadis cantik Mencatut : mencabut dengan catut menarik keuntungan 6. Pertukaran (sinestesia) Sinestesia ialah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan dua indera yang berbeda dari indera penglihatan ke indera pendengar, dari indera perasa ke indera pendengar, dan sebagainya. Contoh: suaranya terang sekali (pendengaran penglihatan) rupanya manis (penglihat perasa) namanya harum (pendengar pencium) F. Kata Umum dan Kata Khusus Kata umum ialah kata yang luas ruang lingkupnya dan dapat mencakup banyak hal, sedangkan kata khusus ialah kata yang sempit/ terbatas ruang lingkupnya. Contoh: Umum : Darta menggendong adiknya sambil membawa buku dan sepatu. Khusus : Darta menggendong adiknya sambil mengapit buku dan sepatu. Umum : Bel berbunyi panjang tanda pelajaran habis. Khusus : Bel berdering panjang tanda pelajaran habis.

14

TATA TULIS
A. 1. Penulisan Huruf Huruf kapital atau huruf besar A. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. Misalnya: Kami menggunakan barang produksi dalam negeri. Siapa yang datang tadi malam? Ayo, angkat tanganmu tinggi-tinggi! B. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. Misalnya: Adik bertanya, ”Kapan kita ke Taman Safari?” Bapak menasihatkan, ”Jaga dirimu baik-baik, Nak!” C. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan nama kitab suci, termasuk ganti untuk Tuhan. Misalnya: Allah, Yang Mahakuasa, Islam, Kristen, Alkitab, Quran, Weda, Injil. Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hambanya. Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat. D. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. Misalnya: Haji Agus Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim, Raden Wijaya. E. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya: Presiden Yudhoyono, Mentri Pertanian, Gubernur Bali. Profesor Supomo, Sekretaris Jendral Deplu. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya: Siapakah gubernur yang baru dilantik itu? Kapten Amir telah naik pangkat menjadi mayor. Keponakan saya bercita-cita menjadi presiden. F. orang. Misalnya: Albar Maulana Kemal Hayati Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama

15

Muhammad Rahyan Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran. Misalnya: mesin diesel 10 watt 2 ampere 5 volt G. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa-bangsa dan bahasa. Perlu diingat, posisi tengah kalimat, yang dituliskan dengan huruf kapital hanya huruf pertama nama bangsa, nama suku, dan nama bahasa; sedangkan huruf pertama kata bangsa, suku, dan bahasa ditulis dengan huruf kecil. Penulisan yang salah: Dalam hal ini Bangsa Indonesia yang …. …. tempat bermukim Suku Melayu sejak …. …. memakai Bahasa Spanyol sebagai …. Penulisan yang benar: Dalam hal ini bangsa Indonesia yang …. …. tempat bermukim suku Melayu sejak …. …. memakai bahasa Spanyol sebagai …. Huruf kapital tidak dipakai sebagi huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan. Misalnya: keinggris-inggrisan menjawakan bahasa Indonesia H. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya: tahun Saka bulan November hari Jumat hari Natal perang Dipenogoro Huruf kapital tidak dipakai sebagi huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama. Misalnya: Ir. Soekarno dan Drs. Moehammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Perlombaan persenjataan nuklir membawa risiko pecahnya perang dunia. I. geografi. Misalnya: Salah teluk Jakarta gunung Semeru danau Toba selat Sunda Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam

Benar Teluk Jakarta Gunung Semeru Danau Toba Selat Sunda

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri. Misalnya: Jangan membuang sampah ke sungai. Mereka mendaki gunung yang tinggi. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis. Misalnya: 16

garam inggris gula jawa soto madura J. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, nama resmi badan/ lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi. Misalnya: Departemen Pendidikan Nasional RI Majelis Permusyawaratan Rakyat Undang-Undang Dasar 1945 Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi lembaga pemerintah, ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi. Perhatikan penulisan berikut. Dia menjadi pegawai di salah satu departemen. Menurut undang-undang, perbuatan itu melanggar hukum. K. Huruf kapital dipakai sebagai huruf kapital setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan/ lembaga. Misalnya: Perserikatan Bangsa-Bangsa. Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial. L. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) dalam penulisan nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, dalam, yang, untuK yang tidak terletak pada posisi awal. Misalnya: Idrus menulis buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Bacalah majalah Bahasa dan Sastra. Dia agen surat kabar Suara Pembaharuan. Ia menulis makalah ”Fungsi Persuasif dalam Bahasa Iklan Media Elektronik”. M. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti Bapak, Ibu, Saudara, Kakak, Adik, Paman, yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. Misalnya: ”Kapan Bapak berangkat?” tanya Nining kepada Ibu. Para ibu mengunjungi Ibu Febiola. Surat Saudara sudah saya terima. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai dalam penyapaan. Misalnya: Kita semua harus menghormati bapak dan ibu kita. Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga. N. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Misalnya: Dr. : doktor M.M. : magister manajemen Jend. : jendral Sdr. : saudara O. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda. Misalnya: Apakah kegemaran Anda? Usulan Anda telah kami terima. 2. Huruf Miring 17

A. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan. Misalnya: majalah Prisma tabloid Nova Surat kabar Kompas B. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata. Misalnya: Huruf pertama kata Allah ialah a Dia bukan menipu, melainkan ditipu Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital. C. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang sudah disesuaikan ejaannya. Misalnya: Nama ilmiah padi ialah Oriza sativa. Politik devide et impera pernah merajalela di benua hitam itu. Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut. Negara itu telah mengalami beberapa kudeta (dari coup d’etat) B. Penulisan Kata

1. Kata Dasar Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Misalnya: Kantor pos sangat ramai. Buku itu sudah saya baca. Adik naik sepeda baru (ketiga kalimat ini dibangun dengan gabungan kata dasar) 2. Kata Turunan a. dengan kata dasarnya. Misalnya: berbagai gemetar Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai ketetapan mempertanyakan sentuhan terhapus

b. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan, atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Misalnya: diberi tahu, beri tahukan bertanda tangan, tanda tangani berlipat ganda, lipat gandakan c. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya: memberitahukan ditandatangani melipatgandakan 3. Bentuk Ulang Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Misalnya: anak-anak, buku-buku, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, porak-poranda, biri-biri, kupu-kupu, laba-laba. 4. Gabungan Kata 18

a. Gabungan kata yang lazim disebutkan kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Misalnya: duta besar, kerja sama, kereta api cepat luar biasa, meja tulis, orang tua, rumah sakit, terima kasih, mata kuliah. b. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan salah pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang berkaitan. Misalnya: alat pandang-dengar (audio-visual), anak-istri saya (keluarga), buku sejarah-baru (sejarahnya yang baru), ibu-bapak (orang tua), orang-tua muda (ayat ibu muda) kaki-tangan penguasa (alat penguasa) c. Gabungan kata berikut ditulis serangkai karena hubungannya sudah sangat padu sehingga tidak dirasakan lagi sebagai dua kata. Misalnya: acapkali, apabila, bagaimana, barangkali, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, halal-bihalal, kacamata, kilometer, manakala, matahari, olahraga, radioaktif, saputangan. d. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya: adibusana, antarkota, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, inkonvensional, kosponsor, mahasiswa, mancanegara, multilateral, narapidana, nonkolesterol, neokolonialisme, paripurna, prasangka, purna-wirawan, swadaya, telepon, transmigrasi. Jika bentuk terikan diikuti oleh kata yang huruf awalnya kapital, di antara kedua unsur kata itu ditulisakan tanda hubung (-). Misalnya: non-Asia, neo-Nazi 5. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya Kata ganti ku dan kau sebagai bentuk singkat kata aku dan engkau, ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. aku bawa, aku ambil menjadi kubawa, kuambil engkau bawa, engkau ambil menjadi kaubawa, kauambil Misalnya: Bolehkan aku ambil jeruk ini satu? Kalau mau, boleh engkau baca buku itu. Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut ini. Bolehkah kuambil jeruk ini satu? Kalau mau, boleh kaubaca buku itu. 6. Kata Depan di, ke, dan dari Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. Misalnya: Tinggalah bersama saya di sini. Di mana orang tuamu? Saya sudah makan di rumah teman. Ibuku sedang ke luar kota. Ia pantas tampil ke depan. Duduklah dulu, saya mau ke dalam sebentar. Bram berasal dari keluarga terpelajar. Akan tetapi, perhatikan penulisan yang berikut. Kinerja Lely lebih baik daripada Tuti. Kami percaya kepada Ada. 19

Akhir-akhir ini beliau jarang kemari. 7. Kata Sandang si dan sang Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya: Salah Benar Sikecil si kecil Sipemalu si pemalu Sangdiktator sang diktator Sangkancil sang kancil 8. Partikel a. Partikel –lah dan –kah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya: Bacalah peraturan ini sampai tuntas. Siapakah tokoh yang menemukan radium? b. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya: Apa pun yang dikatakannya, aku tetap tak percaya. Satu kali pun Dedy belum pernah datang ke rumahku. Bukan hanya saya, melainkan dia pun turut serta. Catatan: Kelompok berikut ini ditulis serangkaian, misalnya adapun, andaipun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun. Misalnya: Adapun sebab-musababnya sampai sekarang belum diketahui. Bagaimanapun juga akan dicobanya mengajukan permohonan itu. Baik para dosen maupun mahasiswa ikut menjadi anggota koperasi. Walaupun hari hujan, ia datang juga. c. Partikel per yang berarti (demi), dan (tiap) ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya. Misalnya: Mereka masuk ruang satu per satu (satu demi satu). Harga kain itu Rp 2.000,00 per meter (tiap meter). C. 1. Pemakaian Tanda baca Tanda titik (.) a. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Misalnya: Ayahku tinggal di Aceh. Anak kecil itu menangis. Mereka sedang minum kopi. Adik bungsunya bekerja di Samarinda. b. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf pengkodean suatu judul bab dan subbab. Misalnya: III. Departemen Dalam Negeri A. Direktorat Jendral PMD B. Direktorat Jendral Agraria 1. Subdit …. 2. Subdit …. I. Isi Karangan 1. Isi Karangan A. Uraian Umum 1.1 Uraian Umum 20

B. Ilustrasi 1.2 Ilustrasi 1. Gambar 1.2.1 Gambar 2. Tabel 1.2.2 Tabel 3. Grafik 1.2.3 Grafik Catatan: Tanda titik tidak dipakai di belakang angka pada pengkodean sistem digit jika angka itu merupakan yang terakhir dalam deret angka sebelum judul bab atau subbab. c. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu dan jangka waktu. Misalnya: pukul 12.10.20 (pukul 12 lewat 10 menit 20 detik) 12.10.20 (12 jam, 10 menit, dan 20 detik) d. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Misalnya: Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung. Lihat halaman 2345 dan seterusnya. Nomor gironya 5645678.

e. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka. Misalnya: Lawrence, Marry S, Writting as a Thingking Process. Ann Arbor: University of Michigan Press, 1974. f. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. Misalnya: Calon mahasiswa yang mendaftar mencapai 20.590 orang. Koleksi buku di perpustakaanku sebanyak 2.799. g. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul, misalnya judul buku, karangan lain, kepala ilustrasi, atau tabel. Misalnya: Catur Untuk Semua Umur (tanpa titk) Gambar 1: Bentuk Surat Resmi Indonesia Baru (tanpa titik) h. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim atau tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat. Misalnya: Jakarta, 11 Januari 2005 (tanpa titik) Yth. Bapak. Tarmizi Hakim (tanpa titik) Jalan Arif Rahman Hakim No. 26 (tanpa titik) Palembang 12241 (tanpa titik) Sumatera Selatan (tanpa titik) Kantor Pengadilan Negeri (tanpa titik) Jalan Teratai II/ 61 (tanpa titik) Semarang 17350 (tanpa titik) 2. Tanda koma (,) a. perincian atau pembilangan. Misalnya: Tanda koma dipaki di antara unsur-unsur dalam suatu

21

Reny membeli permen, roti, dan air mineral. Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus, memerlukan prangko. Menteri, pengusaha, serta tukang becak, perlu makan. b. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan. Misalnya: Saya ingin datang, tetapi hari hujan. Didik bukan anak saya, melainkan anak Pak Daud. c. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Misalnya: Anak Kalimat Kalau hujan tidak reda Karena sakit, Induk Kalimat saya tidak akan pergi kakek tidak bisa hadir

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak itu mengiringi induk kalimatnya. Misalnya: Induk Kalimat Saya tidak akan pergi Kakek tidak bisa hadir Anak Kalimat kalau hujan tidak reda. karena sakit.

d. Tanda koma harus dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi. Misalnya: Meskipun begitu, kita harus tetap jaga-jaga. Jadi, masalahnya tidak semudah itu. e. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat. Misalnya: O, begitu? Wah, bagus, ya? Aduh, sakitnya bukan main. f. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Misalnya: Kata ibu, ”Saya berbahagia sekali”. ”Saya berbahagia sekali,” kata ibu. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan. Misalnya: Surat ini agar dikirim kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta Pusat. Sdr. Zulkifli Amsyah, Jalan Cempaka Wangi VII/11, Jakarta Utara 10640 Jakarta, 11 November 2004 Bangkok, Thailand g. catatan kaki. Misalnya: Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam

22

Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia, (Jakarta: Diskusi Insan Mulia, 2001), hlm. 27. h. Tanda koma dipakai di antara orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Misalnya: A. Yasser Samad, S.S. Zukri Karyadi, M.A. i. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. Misalnya: Guru saya, Pak Malik, Pandai sekali. Di daerah Aceh, misalnya, masih banyak orang laki-laki makan sirih. Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti praktik komputer. Bandingkan dengan keterangan pembatas yang tidak diapit oleh tanda koma. Semua siswa yang berminat mengikuti lomba penulisan resensi segera mendaftarkan namanya kepada panitia. j. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. Misalnya: Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersunguhsungguh. Atas pertolongan Dewi, Kartika mengucapkan terima kasih.

k. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. Misalnya: ”Di mana pameran itu diadakan?” tanya Sinta. ”Baca dengan teliti!” ujar Bu Guru. 3. Tanda Titik Koma (;) a. Tanda titik koma untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. Misalnya: Hari makin siang; dagangannya belum juga terjual. b. Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk. Misalnya: Ayah mencuci mobil; ibu sibuk mengetik makalah; adik menghapal nama-nama menteri; saya sendiri asyik menonton siaran langsung pertandingan sepak bola. c. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan unsur-unsur dalam kalimat kompleks yang tidak cukup dipisahkan dengan tanda koma demi memperjelas arti kalimat secara keseluruhan. Misalnya: Masalah kenakalan remaja bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab para orang tua, guru, polisi, atau pamong praja; sebab sebagian besar penduduk negeri ini terdiri atas anak-anak, remaja, dan pemuda di bawah umur 21 tahun.

23

Pembelajaran Bahasa Indonesia
Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang strategi pembelajaran Bahasa Indonesia dan efektivitasnya terhadap pencapaian tujuan belajar, kajian pustaka penelitian ini akan difokuskan pada (1) pembelajaran bahasa, (2) strategi pembelajaran Bahasa Indonesia, meliputi metode dan teknik pembelajaran Bahasa Indonesia, dan (3) hasil pembelajaran 2.1 Pembelajaran Bahasa Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa Degeng (1989). Kegiatan pengupayaan ini akan mengakibatkan siswa dapat mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Upaya-upaya yang dilakukan dapat berupa analisis tujuan dan karakteristik studi dan siswa, analisis sumber belajar, menetapkan strategi pengorganisasian, isi pembelajaran, menetapkan strategi penyampaian pembelajaran, menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan menetapkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran. Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat dalam setiap jenis kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi. Gilstrap dan Martin (1975) juga menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan pebelajar, terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan strategi pembelajaran. 24

Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan. Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Sementara itu, dalam kurikulum 2004 untuk SMA dan MA, disebutkan bahwa tujuan pemelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia secara umum meliputi (1) siswa menghargai dan membanggakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara, (2) siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi,serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan, (3) siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional,dan kematangan sosial, (4) siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis), (5) siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (6) siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Untuk mencapai tujuan di atas, pembelajaran bahasa harus mengetahui prinsip-prinsip belajar bahasa yang kemudian diwujudkan dalam kegiatan pembelajarannya, serta menjadikan aspek-aspek tersebut sebagai petunjuk dalam kegiatan pembelajarannya. Prinsip-prinsip belajar bahasa dapat disarikan sebagai berikut. Pebelajar akan belajar bahasa dengan baik bila (1) diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat, (2) diberi kesempatan berapstisipasi dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas, (3) bila ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa, (4) ia disebarkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya menjadi bagian dari bahasa sasaran, (5) jika menyadari akan peran dan hakikat bahasa dan budaya, (6) jika diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka, dan (7) jika diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri (Aminuddin, 1994). 2.2 Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia Pembicaraaan mengenai strategi pembelajaran bahasa tidak terlepas dari pembicaraan mengenai pendekatan, metode, dan teknik mengajar. Machfudz (2002) mengutip penjelasan Edward M. Anthony (dalam H. Allen and Robert, 1972) menjelaskan sebagai berikut. 2.2.1 Pendekatan Pembelajaran Istilah pendekatan dalam pembelajaran bahasa mengacu pada teori-teori tentang hakekat bahasa dan pembelajaran bahasa yang berfungsi sebagai sumber landasan/prinsip pengajaran bahasa. Teori tentang hakikat bahasa mengemukakan asumsi-asumsi dan tesisi-tesis tentang hakikat bahasa, karakteristik bahasa, unsur-unsur bahasa, serta fungsi dan pemakaiannya sebagai media komunikasi 25

dalam suatu masyarakat bahasa. Teori belajar bahasa mengemukakan proses psikologis dalam belajar bahasa sebagaimana dikemukakan dalam psikolinguistil. Pendekatan pembelajaran lebih bersifat aksiomatis dalam definisi bahwa kebenaran teori-teori linguistik dan teori belajar bahasa yang digunakan tidak dipersoalkan lagi. Dari pendekatan ini diturunkan metode pembelajaran bahasa. Misalnya dari pendekatan berdasarkan teori ilmu bahasa struktural yang mengemukakan tesis-tesis linguistik menurut pandangan kaum strukturalis dan pendekatan teori belajar bahasa menganut aliran behavioerisme diturunkan metode pembelajaran bahasa yang disebut Metode Tata Bahasa (Grammar Method). 2.2.2 Metode Pembelajaran Istilah metode berarti perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran bahasa secara teratur. Istilah ini bersifat prosedural dalam arti penerapan suatu metode dalam pembelajaran bahasa dikerjakan dengan melalui langkah-langkah yang teratur dan secara bertahap, dimulai dari penyusunan perencanaan pengajaran, penyajian pengajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar. Dalam strategi pembelajaran, terdapat variabel metode pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu strategi pengorganisasian isi pembelajaran, (b) strategi penyampaian pembelajaran, dan (c) startegi pengelolaan pembelajaran (Degeng, 1989). Hal ini akan dijelaskan sebagai berikut.

(a) Strategi Pengorganisasian Isi Pembelajaran Adalah metode untuk mengorganisasikan isi bidang studi yang telah dipilih untuk pembelajaran. “Mengorganisasi” mengacu pada tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format, dan lain-lain yang setingkat dengan itu. Strategi penyampaian pembelajaran adalah metode untuk menyampaikan pembelajaran kepada pebelajar untuk menerima serta merespon masukan yang berasal dari pebelajar. Adapun startegi pengelolaan pembelajaran adalah metode untuk menata interaksi antara pebelajar dengan variabel pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran. Strategi pengorganisasian isi pembelajaran dibedakan menjadi dua jenis, yaitu strategi pengorganisasian pada tingkat mikro dan makro. Strategi mikro mengacu pada metode untuk mengorganisasian isi pembelajaran yang berkisar pada satu konsep atau prosedur atau prinsip. Sedangkan strategi makro mengacu pada metode untuk mengorganisasi isis pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu konsep atau prosedur atau prinsip. Strategi makro lebih banyak berurusan dengan bagaimana memilih, menata ururtan, membuat sintesis, dan rangkuman isi pembelajaran yang paling berkaitan. Penataan ururtan isi mengacku pada keputusan tentang bagaimana cara menata atau menentukan ururtan konsep, prosedur atau prinsip-prinsip hingga tampak keterkaitannya dan menjadi mudah dipahami. (b) Strategi Penyampaian Pembelajaran 26

Strategi penyampaian pembelajaran merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Strategi ini memiliki dua fungsi, yaitu (1) menyampaikan isi pembelajaran kepada pebelajar, dan (2) menyediakan informasi atau bahan-bahan yang diperlukan pebelajar untuk menampilkan unjuk kerja (seperti latihan tes). Secara lengkap ada tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam mendeskripsikan strategi penyampaian, yaitu (1) media pembelajaran, (2) interaksi pebelajar dengan media, dan (3) bentuk belajar mengajar. (1) Media Pembelajaran Media pembelajaran adalah komponen strategi penyampaian yang dapat dimuat pesan yang akan disampaikan kepada pebelajar baik berupa orang, alat, maupun bahan. Interkasi pebelajar dengan emdia adalah komponen strategi penyampaian pembelajaran yang mengacu kepada kegiatan belajar. Adapun bentuk belajar mengajar adalah komponen strategi penyampaian pembelajaran yang mengacu pada apakah pembelajaran dalam kelompok besar, kelompok kecil, perseorangan atau mandiri (Degeng, 1989). Martin dan Brigss (1986) mengemukakan bahwa media pembelajaran mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan pembelajaran. Essef dan Essef (dalam Salamun, 2002) menyebutkan tiga kriteria dasar yang dapat digunakan untuk menyeleksi media, yaitu (1) kemampuan interaksi media di dalam menyajikan informasi kepada pebelajar, menyajikan respon pebelajar, dan mengevaluasi respon pebelajar, (2) implikasi biaya atau biaya awal melipui biaya peralatan, biaya material (tape, film, dan lain-lain) jumlah jam yang diperlukan, jumlah siswa yang menerima pembelajaran, jumlah jam yang diperlukan untuk pelatihan, dan (3) persyaratan yang mendukungh atau biaya operasional. (2) Interaksi Pebelajar Dengan Media Bentuk interaksi antara pembelajaran dengan media merupakan komponen penting yang kedua untuk mendeskripsikan strategi penyampaian. Komponen ini penting karena strategi penyampaian tidaklah lengkap tanpa memebri gambaran tentang pengaruh apa yang dapat ditimbulkan oleh suatu media pada kegiatan belajar siswa. Oleh sebab itu, komponen ini lebih menaruh perhatian pada kajian mengenai kegiatan belajar apa yang dilakukan oleh siswa dan bagaimana peranan media untuk merangsang kegiatan pembelajaran. (3) Bentuk Belajar Mengajar Gagne (1968) mengemukakan bahwa “instruction designed for effective learning may be delivered in a number of ways and may use a variety of media”. Cara-cara untuk menyampaikan pembelajaran lebih mengacu pada jumlah pebelajar dan kreativitas penggunaan media. Bagaimanapun juga penyampaian pembelajaran dalam kelas besar menuntu penggunaan jenis media yang berbeda dari kelas kecil. Demikian pula untuk pembelajaran perseorangan dan belajar mandiri. (c) Strategi Pengelolaan Pembelajaran Strategi pengelolaan pembelajaran merupakan komponen variabel metode yang berurusan dengan bagaimana interaksi antara pebelajar dengan variabel-variabel metode pembelajaran lainnya. Strategi 27

ini berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian tertentu yang digunakan selama proses pembelajaran. Paling sedikit ada empat klasifikasi variabel strategi pengelolaan pembelajaran yang meliputi (1) penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran, (2) pembuatan catatan kemajuan belajar siswa, dan (3) pengelolaan motivasional, dan (4) kontrol belajar. Penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran atau komponen suatu strategi baik untuk strategi pengorganissian pembelajaran maupun strategi penyampaian pembelajaran merupakan bagian yang penting dalam pengelolaan pembelajaran. Penjadwalan penggunaan strategi pengorganisasian pembelajaran biasanya mencakup pertanyaan “kapan dan berapa lama siswa menggunakan setiap komponen strategi pengorganisasian”. Sedangkan penjadwalan penggunaan strategi penyampaian melibatkan keputusan, misalnya “kapan dan untuk berapa lama seorang siswa menggunakan suatu jenis media”. Pembuatan catatan kemajuan belajar siswa penting sekali bagi keperluan pengambilan keputusankeputusan yang terkait dengan strategi pengelolaan. Hal ini berarti keputusan apapun yang dimabil haruslah didasarkan pad ainformasi yang lengkap mengenai kemajuan belajar siswa tentang suatu konsep, prosedur atau prinsip? Bila menggunakan pengorganisasian dengan hierarki belajar, keputusna yang tepat mengenai unsur-unsur mana saja yang ada dalam hierarki yang diajarkan perlu diambil. Semua ini dilakukan hanya apabila ada catatan yang lengkap mengenai kemajuan belajar siswa. Pengelolaan motivasional merupakan bagian yang amat penting dari pengelolaan inetraksi siswa dengan pembelajaran. Gunanya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Sebagian besar bidang kajian studi sebenarnya memiliki daya tarik untuk dipelajari, namun pembelajaran gagal menggunakannya sebagai alat motivasional. Akibatnya, bidang studi kehilangan daya tariknya dan yang tinggal hanya kumpulan fakta dan konsep, prosedur atau prinsip yang tidak bermakna. Jack C. Richards dan Theodore S. Rodgers (dalam Machfudz, 2002) menyatakan dalam bukunya “Approaches and Methods in Language Teaching” bahwa metode pembelajaran bahasa terdiri dari (1) the oral approach and stiuasional language teaching, (2) the audio lingual method, (3) communicative language teaching, (4) total phsyical response, (5) silent way, (6) community language learning, (7) the natural approach, dan (8) suggestopedia. Saksomo (1984) menjelaskan bahwa metode dalam pembelajaran Bahasa Indonesia antara lain (1) metode gramatika-alih bahasa, (2) metode mimikri-memorisasi, (3) metode langsung, metode oral, dan metode alami, (4) metode TPR dalam pengajaran menyimak dan berbicara, (5) metode diagnostik dalam pembelajaran membaca, (6) metode SQ3R dalam pembelajaran membaca pemahaman, (7) metode APS dan metode WP2S dalam pembelajaran membaca permulaan, (8) metode eklektik dalam pembelajaran membaca, dan (9) metode SAS dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan. Menurut Reigeluth dan Merril (dalam Salamun, 2002) menyatakan bahwa klasifikasi variabel pembelajaran meliputi (1) kondisi pembelajaran, (2) metode pembelajaran, dan (3) hasil pembelajaran. (1) Kondisi Pembelajaran Kondisi pembelajaran adalah faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran (Salamun, 2002). Kondisi ini tentunya berinteraksi dengan metode pembelajaran dan hakikatnya tidak dapat dimanipulasi. Berbeda dengan halnya metode pembelajaran yang didefinisikan 28

sebagai cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi pembelajaran yang berbeda. Semua cara tersebut dapat dimanipulasi oleh perancang-perancang pembelajaran. Sebaliknya, jika suatu kondisi pembelajaran dalam suatu situasi dapat dimanipulasi, maka ia berubah menjadi metode pembelajaran. Artinya klasifikasi variabel-variabel yang termasuk ke dalam kondisi pembelajaran, yaitu variabel-variabelmempengaruhi penggunaan metode karena ia berinteraksi dengan metode danm sekaligus di luar kontrol perancang pembelajaran. Variabel dalam pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu (a) tujuan dan karakteristik bidang stuydi, (bahasa) kendala dan karakteristik bidang studi, dan (c) karakteristik pebelajar. (2) Metode Pembelajaran Machfudz (2000) mengutip penjelasan Edward M. Anthony (dalam H. Allen and Robert, 1972) menjelaskan bahwa istilah metode dalam pembelajaran Bahasa Indonesia berarti perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran bahasa secara teratur. Istilah ini lebih bersifat prosedural dalam arti penerapan suatu metode dalam pembelajaran bahasa dikerjakan dengan melalui langkah-langkah yang teratur dan secara bertahap, dimulai dari penyusunan perencanaan pengajaran, penyajian pengajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar. Sedangkan menurut Salamun (2002), metode pembelajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. Jadi dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah sebuah cara untuk perencanaan secara utuh dalam menyajikan materi pelajaran secara teratur dengan cara yang berbeda-beda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. (3) Hasil Pembelajaran Hasil pembelajaran adalah semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator tentang nilai dari penggunaan metode pembelajaran (Salamun, 2002). Variabel hasil pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu kefektifav, (2) efisiensi, dan (3) daya tarik. Hasil pembelajaran dapat berupa hasil nyata (actual outcomes), yaitu hasil nyata yang dicapai dari penggunaan suatu metode di bawah kondisi tertentu, dan hasil yang diinginkan (desired outcomes), yaitu tujuan yang ingin dicapai yang sering mempengaruhi keputusan perancang pembelajaran dalam melakukan pilihan metode sebaiknya digunakan klasifikasi variabel-variabel pembelajaran tersebut secara keseluruhan ditunjukkan dalam diagram berikut.
Kondisi Tujuan dan karakteristik bidangKendala dan karakteristik bidangKarakteristik siswa studi studi Strategi pengorganisasianStrategi pembelajaran: strategi makro danpembelajaran strategi mikro penyampaianStrategi pengelolaan pembelajaran

Metode

Hasil

Keefektifan, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran

Diagram 1: Taksonomi variabel pembelajaran (diadaptasi dari Reigeluth dan Stein: 1983)

29

Keefektifan pembelajaran dapat diukur dengan tingkat pencapaian pebelajar. Efisiensi pembelajaran biasanya diukur rasio antara jefektifan dan jumlah waktu yang dipakai pebelajar dan atau jumlah biaya pembelajaran yang digunakan. Daya tatik pembelajaran biasanya juga dapat diukur dengan mengamati kecenderungan siswa untun tetap terus belajar. Adapaun daya tarik pembelajaran erat sekali dengan daya tarik bidang studi. Keduanya dipengaruhi kualitas belajar. 2.2.3 Teknik Pembelajaran Istilah teknik dalam pembelajaran bahasa mengacu pada pengertian implementasi perencanaan pengajaran di depan kelas, yaitu penyajian pelajaran dalam kelas tertentu dalam jam dan materi tertentu pula. Teknik mengajar berupa berbagai macam cara, kegiatan, dan kiat (trik) untuk menyajikan pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Teknik pembelajaran bersifat implementasi, individual, dan situasional. Saksomo (1983) menyebutkan teknik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia antara lain (1) ceramah, (2) tanya—jawab , (3) diskusi, (4) pemebrian tugas dan resitasi, (5) demonstrasi dan eksperimen, (6) meramu pendapat (brainstorming), (7) mengajar di laboratorium, (8) induktif, inkuiri, dan diskoveri, (9) peragaan, dramatisasi, dan ostensif, (10) simulasi, main peran, dan sosio-drama, (11) karya wisata dan bermain-main, dan (12) eklektik, campuran, dan serta—merta.

DAFTAR PUSTAKA Basiran, Mokh. 1999. Apakah yang Dituntut GBPP Bahasa Indonesia Kurikulum 1994?. Yogyakarta: Depdikbud Darjowidjojo, Soenjono. 1994. Butir-butir Renungan Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Makalah disajikan dalam Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Salatiga: Univeristas Kristen Satya Wacana Degeng, I.N.S. 1997. Strategi Pembelajaran Mengorganisasi Isi dengan Model Elaborasi. Malang: IKIP dan IPTDI Depdikbud. 1995. Pedoman Proses Belajar Mengajar di SD. Jakarta: Proyek Pembinaan Sekolah Dasar Machfudz, Imam. 2000. Metode Pengajaran Bahasa Indonesia Komunikatif. Jurnal Bahasa dan Sastra UM Moeleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosyda Karya. Saksomo, Dwi. 1983. Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang Salamun, M. 2002. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren. Tesis.. Tidak diterbitkan Sholhah, Anik. 2000. Pertanyaan Tutor dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing di UM. Skripsi. Tidak diterbitkan. Subyakto, Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud Sugiono, S. 1993. Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Makalah disajikan dalam Konferensi Bahasa Indonesia; VI. Jakarta: 28 Oktober—2 Nopember 1993 Suharyanto. 1999. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD. Yogyakarta: Depdikbud

30

31

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->