P. 1
Penanggulangan Cyber Crime

Penanggulangan Cyber Crime

5.0

|Views: 4,119|Likes:
Published by HANDIK ZUSEN
Analisa Kritis UU ITE dalam kaitannya dengan penanggulangan cyber crime di Indonesia
Analisa Kritis UU ITE dalam kaitannya dengan penanggulangan cyber crime di Indonesia

More info:

Published by: HANDIK ZUSEN on Nov 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

OPTIMALISASI UPAYA PENANGANAN CYBER CRIME DI INDONESIA

(Analisis Kritis UU ITE dalam Perspektif Pembuktian Tindak Pidana)
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar belakang Perkembangan teknologi saat ini secara global di seluruh dunia sudah sangat pesat, khususnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Perubahan ini tentunya membawa dampak yang signifikan terhadap kondisi kehidupan manusia dari berbagai bidang, antara lain politik, ekonomi, sosial, pendidikan dan bidang-bidang lainnya. Di bidang politik, saat ini pemerintahan di berbagai negara telah menerapkan egovernment1 dalam berbagai bidang yang ditujukan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Di bidang ekonomi, sudah bukan hal yang langka lagi, penggunaan internet untuk melakukan berbagai aktifitas, yang dikenal dengan teknologi e-commerce2. Di bidang sosial, publik telah mengimplementasikan Internet pada bidang sosial untuk memberikan informasi mengenai berbagai macam kegiatan sosial yang telah, sedang atau akan dilaksanakan dan juga dapat digunakan untuk membantu penggalangan dana untuk kegiatan sosial tersebut. Di bidang pendidikan, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini manfaatnya sangat dirasakan dalam membantu meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan belajar dan mengajar melalui e-learning3. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat hidup manusia seolah-olah tidak dapat lepas darinya, seperti dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari, saat ini digital devices seperti hand phone, komputer, televisi, radio dan fasilitas lainnya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Seseorang yang tidak “melek teknologi” saat ini akan disebut sebagai orang yang “gaptek (baca : gagap teknologi)”. Semua kenyataan yang terlihat tersebut, esensinya berawal dari kebutuhan manusia dalam meningkatkan kualitas hidupnya dan dalam meningkatkan kualitas hidup tersebut, manusia membutuhkan informasi yang cepat dan tepat. Kebutuhan tersebutlah yang saat ini telah terjawab melalui eksistensi teknologi informasi dan komunikasi yang senantiasa berkembang setiap saat. Namun, di satu sisi, selalu saja muncul dampak-dampak negatif atas manfaat-manfaat positif, termasuk dalam hal penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet. Internet telah menciptakan dunia tersendiri yang disebut dengan cyber space4, yang merupakan sebuah dunia virtual tanpa batas teritorial (borderless), penuh keanoniman5 (anonymous). Sisi positif internet begitu banyak untuk mendukung berbagai bidang kehidupan manusia sebagaimana diuraikan diatas. Sedangkan sisi negatifnya pun juga tidak sedikit6. Hal ini selaras dengan teori yang mengatakan bahwa “crime is a product of society it self”. Berbagai tindak pidana, antara lain penipuan, pornografi, terorisme dan pencurian yang dahulu-sebelum adanya internet-dilakukan secara konvensional, namun saat ini dengan adanya internet, modus operansi para pelaku kejahatan dalam melakukan kejahatan tersebut telah berubah yaitu dengan menggunakan sarana internet atau yang lebih familiar dengan istilah cyber crime7. Cyber crime memiliki karakteristik yang berbeda dengan tindak pidana umum, baik dari segi pelaku,
1

2 3
2 3

Prof. Dr. Robertus Eko Indrajit memberikan karakteristik yang sama dari berbagai definis e-government, antara lain oleh World Bank, UNDP, Pemerintah AS, Pemerintah Italy dan beberapa ahli IT lainnya seperti Janet Caldow, Direktur dari Institute for Electronic Government (IBM Corporation), dll, adalah sebagai berikut : 1) merupakan suatu mekanisme interaksi baru (moderen) antara pemerintah dengan masyarakat dan kalangan lain yang berkepentingan (stakeholder); 2) dimana melibatkan penggunaan teknologi informasi (terutama internet); 3) dengan tujuan memperbaiki mutu (kualitas) pelayanan yang selama berjalan. Hari Soetanto, Universitas Budi Luhur : e-government is the electronic tranmission of buyer/seller transactions and other related information between individuals and businesses or between two or more businesses who are trading partners. (Managing Information Technology 2002) E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain (Hartley, 2001)

4

5 6

7

Istilah ini yang pertama kali digunakan oleh William Gibson (1994) dalam novel fiksi ilmiahnya “Neuromancer” ini menampilkan realitas virtual (virtual reality), dunia maya, dunia yang tanpa batas (Howard Rheingold, 1991), di mana penghuninya dapat berhubungan dengan siapa saja dan di mana saja (Bruce Sterling, 1990). http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php : anonim berarti 1) tanpa nama; tidak beridentitas; awanama; 2 ) tidak ada penandatangannya. Dikutip dari Makalah tentang “Cyberporn”, oleh Agus Raharjo, S.H., M.Hum dan Sunaryo, S.H., M.Hum, yang Dimuat di Jurnal Kosmik Hukum FH UMP Purwokerto, Vol. 2 No. 2 Tahun 2002, hal. 94-105, dikatakan bahwa internet pada dasarnya diciptakan untuk kebaikan, seiring berjalannya waktu internet juga menjadi alat yang mempermudah kejahatan. Setidak-tidaknya hal itu tercermin dari apa yang dikatakan Jonathan Blumen (1996) bahwa “The Internet is “dangerous” because it is a medium for the instantaneous and uncontrolled transmission of ideas.” Dikutip dari Makalah “Perkembangan Cyber Crime dan Upaya Penanganannya di Indonesia Oleh Polri” oleh Kombes Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose, M.M., bahwa dalam beberapa literatur, cyber crime sering diidentikkan dengan computer crime. The U.S. Department of Justice

2
korban, modus operandi dan tempat kejadian perkara, sehingga memerlukan penanganan dan pengaturan hukum secara khusus. Hal tersebutlah yang mendasari pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). UU ITE ini dapat dikatakan sebagai representasi cyber law di Indonesia. Tanpa menyebutkan jumlah tertentu, Staf Ahli Kapolri, Brigjen Pol. Drs. Anton Taba, pada salah satu kesempatan bersamaan dengan peluncuran buku Panduan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) mengatakan bahwa pada tahun 2009, angka kejahatan cyber crime di Indonesia menempati urutan tertinggi di dunia8. Namun dapat dilihat ke belakang, misalnya berdasarkan data yang dimiliki Unit V IT/Cyber Crime Direktorat II/Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, bahwa sepanjang tahun 2002 hingga 2006 tercatat 71 kasus, 35 kasus diantaranya dinyatakan P-21 (baca : hasil penyidikan dinyatakan lengkap) oleh Jaksa/Penuntut Umum9. Sedangkan untuk tahun 2006 hingga 2008 telah masuk 55 laporan kejahatan cyber dari 17 negara10. Data tersebut akan nampak sebagai fenomena gunung es apabila dibandingkan dengan data yang dimiliki pihak eksternal selain kepolisian, sebagai contoh Botnet Task Force Microsoft, yang menyatakan bahwa dari Januari hingga Februari 2007, kejahatan Botnet11 atau Robot Network yang memiliki 4 target Distributed Denial of Service (DDoS) dengan 644 komputer klien yang terinfeksi, tak satupun laporan kejadian tersebut masuk ke Polri Fenomena gunung es tersebut, yaitu banyaknya kasus cyber crime yang terjadi sebenarnya ternyata jauh lebih besar dari jumlah yang dilaporkan pada pihak kepolisian tentunya dapat terjadi karena berbagai hal, antara lain karakteristik cyber crime yang borderless-memungkinkan seorang pelaku cyber crime melakukan kejahatannya dari mana saja, kapan saja dan terhadap siapa pun yang dijadikan sasaran, anonymousmemungkinkan seorang pelaku cyber crime sulit terlacak keberadaannya dan non violance-mengakibatkan kejahatan tersebut nyaris tidak meninggalkan jejak secara fisik, sehingga seolah-olah menjadikan para pelaku cyber crime tidak tersentuh oleh hukum (untouchable by law). Disamping itu, faktor-faktor lain yang mempengaruhi tidak optimalnya pengungkapan dan penindakan kasus cyber crime adalah masih minimnya kemampuan dan pengetahuan para penegak hukum tentang teknologi informasi dan komunikasi serta kualitas dan kuantitas cyber law di Indonesia yang masih terbatas. Berangkat dari fenomena dimaksud, penulis hendak menganalisis tentang eksistensi UU ITE dalam rangka penanganan tindak pidana cyber crime di Indonesia beserta konsepsi upaya-upaya yang perlu ditempuh ke depan, baik oleh pemerintah pada umumnya dan penegak hukum pada khususnya. 2. 3 Pokok Permasalahan Bagaimana optimalisasi upaya penanganan tindak pidana cyber crime di Indonesia ? Pokok-pokok Persoalan Secara garis besar, beberapa pokok-pokok persoalan yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah : a. b. e. Bagaimana kondisi penanganan tindak pidana cyber crime di Indonesia ? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dalam penanganan tindak pidana cyber crime di Indonesia ? Bagaimana upaya-upaya yang harus dilakukan dalam penanganan tindak pidana cyber crime di Indonesia ?

BAB II PEMBAHASAN
1. Perspektif Penegakan Hukum Cyber Crime Berdasarkan UU ITE
memberikan pengertian computer crime sebagai : “any illegal act requiring knowledge of computer technology for its perpetration, investigation, or prosecution. Pengertian Lain diberikan oleh Organization of European Community Development, yaitu : “any illegal, unethical or auauthorized behaviour relating to the automatic processing and/or the transmission of data. Andi Hamzah dalam bukunya “Aspek-aspek Pidana di Bidang Komputer”, 1989, mengartikan cyber crime sebagai kejahatan di bidang komputer secara umum dapat diartikan sebagai penggunaan komputer secara ilegal. http://www.antaranews.com/berita/1237977093/cyber-crime-indonesia-tertinggi-di-dunia, diakses tanggal 12 September 2009. http://rahmathardiansya.blogspot.com/2009/06/cyber-crime-gunung-es.html, diakses tanggal 12 September 2009. http://www.bebe17.info/showthread.php?t=17102, diakses tanggal 12 September 2009. Lihat Petrus Reinhard Golose dalam Seputar Kejahatan Hacking : Teori dan Studi Kasus, 2008, hal. 113-118, ada tiga konsep penting yang perlu dipahami mengenai Botnets yaitu : 1) Botnets adalah istilah untuk kumpulan komputer yang terinfeksi dengan kode-kode kejahatan yang dapat dikendalikan dari jarak jauh melalui infrastruktur perintah dan kendali (collections of computers infected with malicious code that can be controlled remotely through a command and control infrastructure); 2) Bots adalah komputer yang terinfeksi dengan kode kejahatan yang berpartisipasi dalam suatu botnet dan menjalankan perintah dari pengendali botnet (individual computer infected with malicious code that participates in a botnet and carries out the commands of the botnet controller); 3) Bot Herder adalah seseorang yang memberi perintah dan mengendalikan beberapa kelompok bots, biasanya untuk suatu keuntungan (A person that commands and controls groups of bots, often for profit).

8 9 10

11

3
Menurut penulis, ada dua hal penting yang perlu disoroti dalam UU ITE terkait dengan kepentingan penegakan hukum terhadap tindak pidana cyber crime, yaitu asas teritorial dan klasifikasi alat bukti yang sah. Keduanya hal tersebut dianggap penting karena terkait dengan upaya pembuktian tindak pidana cyber crime yang memiliki karakteristik khusus sebagaimana diuraikan diatas. Berdasarkan karakteristik khusus yang terdapat dalam cyber space maka dapat dikemukakan beberapa teori sebagai berikut: a. The Theory of the Uploader and the Downloader12 Berdasarkan teori ini, dikatakan bahwa suatu negara dapat melarang dalam wilayahnya, kegiatan uploading dan downloading yang diperkirakan dapat bertentangan dengan kepentingannya. Misalnya, suatu negara dapat melarang setiap orang untuk uploading kegiatan perjudian atau kegiatan perusakan lainnya dalam wilayah negara, dan melarang setiap orang dalam wilayahnya untuk downloading kegiatan perjudian tersebut. Minnesota adalah salah satu negara bagian pertama yang menggunakan jurisdiksi ini13.

b.

Teori The Law of the Server14 Pendekatan ini memperlakukan server di mana webpages secara fisik berlokasi, yaitu yang dicatat sebagai data elektronik. Menurut teori ini sebuah webpages yang berlokasi di server pada Stanford University tunduk pada hukum California. Namun teori ini akan sulit digunakan apabila uploader berada dalam jurisdiksi asing15.

c. The Theory of International Spaces16 Cyber space dianggap sebagai the fourth space, yang menjadi analogi adalah tidak terletak pada kesamaan fisik, melainkan pada sifat internasional, yakni sovereignless quality17. Ketiga teori tersebutlah yang digunakan pemerintah RI dalam penyusunan RUU ITE, khusunya terkait dengan penentuan locus delictie dan tempus delictie. Pertimbangan inilah yang selanjutnya diwudkan melalui pasal 2 UU ITE yang berbunyi “Undang-undang ini berlaku untuk setiap Orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.”, sehingga dalam hal ini prinsip yang dianut adalah universal interest jurisdiction18. Sedangkan dalam hal pembuktian terhadap tindak pidana, UU ITE telah memberikan terobosan baru dengan adanya pengakuan terhadap digital evidence19 sebagai alat bukti yang sah dengan beberapa persyaratan tertentu, sebagaimana diatur pada Bab III UU ITE. Hal ini sangat penting dalam penanganan kasus cyber crime mengingat kejahatan tersebut dilakukan dengan menggunakan teknologi, khususnya internet. Sehingga keberadaan bukti-bukti sebagaimana dalam kejahatan konvensional seperti surat-surat atau dokumen-dokumen lainnya akan sangat sulit didapat (paperless). 2. Analisis Kritis UU ITE

UU ITE sebenarnya telah dirancang sedemikian rupa oleh pemerintah RI agar dapat secara optimal menjerat tindak pidana cyber crime dengan berbagai modus operandinya 20. Namun, dalam realitanya, menurut pengamatan dan pengalaman penulis sebagai penyidik pada fungsi Reskrim Polri, tetap saja terdapat faktor-faktor tertentu yang menjadi hambatan bagi penegak hukum secara umum (Criminal Justice Cystem), dan penyidik Polri
12 13 14 15 16 17

Darrel Menthe, “Jurisdiction in Cyberspace: A Theory of International Sraces”, http://www.mttlr.org/volfour/menthe.html, hlm. 2. Naskah Akademik RUU ITE, hal. 15. Ibid, hal. 5. Naskah Akademik RUU ITE, hal. 16. Ibid, hal. 7-8. Naskah Akademik RUU ITE, hal. 16. Dalam Naskah Akademik RUU ITE, hal 13, dijelaskan bahwa pada mulanya asas ini menentukan bahwa setiap negara berhak untuk menangkap dan menghukum para pelaku pembajakan. Asas ini kemudian diperluas sehingga mencakup pula kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity), misalnya penyiksaan, genosida, pembajakan udara, dan lain-lain. Meskipun di masa mendatang asas jurisdiksi universal ini mungkin dikembangkan untuk internet piracy, seperti computer, cracking, carding, hacking, viruses dan lain-lain. Namun perlu dipertimbangkan bahwa penggunaan asas ini hanya diberlakukan untuk kejahatan sangat serius berdasarkan perkembangan dalam hukum internasional. “Digital evidence is information of probative value that is stored or transmitted in a binary form”, (SWGDE, 1998). This field includes not only computers in the traditional sense but also includes digital audio and video. It includes all facets of crime where evidence may be found in a digital or binary form. Perhaps the most common computer crime in the news is child pornography, but computers are also instrumental in crimes ranging from check fraud to conspiracy to commit murder. Penjelasan terdapat dalam http://www.ncfs.org/digital_evd.html, diakses pada tanggal 13 September 2009. Dikutip dari Makalah “Perkembangan Cyber Crime dan Upaya Penanganannya di Indonesia Oleh Polri” oleh Kombes Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose, M.M. Modus operandi kejahatan yang berhubungan erat dengan penggunaan teknologi yang berbasis komputer dan jaringan, menurut Hinca IP Panjaitan dkk dalam bukunya “Membangun Cyber Law Indonesia yang Demokratis”, Jakarta, IMPLC, 2005, dikelompokkan ke dalam beberapa bentuk, antara lain : Unauthorized Access to Computer System and Service, Illegal Contents, Data Forgery, Cyber Espionage, Cyber Sabotage and Extortion, Offence Against Intellectual Property dan Infringerments of Privacy.

18

19

20

4
secara khusus sebagai penegak hukum terdepan dalam penanganan tindak pidana cyber crime. Faktor-faktor penghambat dimaksud saling berkaitan erat satu sama lainnya, dan merupakan esensi serta tolak ukur dari efektivitas penegakan hukum. Faktor-faktor tersebut adalah21 : a. Hukum (Undang-undang). b. Penegak Hukum, yakni fihak-fihak yang membentuk maupun menerapkan hukum. c. Sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. d. Masyarakat , yakni dimana hukum tersebut diterapkan; dan e. Kebudayaan, yakni sebagai hasil karya cipta dan ras yang didasarkan pada karsa manusia didalam pergaulan hidup. Berdasarkan faktor-faktor dimaksud, dapat dianalisis hambatan-hambatan dalam implementasi UU ITE secara global menurut penulis sebagai berikut : a. Faktor Hukum 1) Asas Universal Interest Jurisdiction tidak dapat dengan serta merta diterapkan dimana saja dan kapan saja mengingat pemerintah RI saat ini hanya memiliki perjanjian ekstradisi dengan beberapa negara lainnya. Berdasarkan data Depkumham, sampai dengan tahun 2007, tercatat bahwa pemerintah RI telah memiliki perjanjian dengan tujuh negara 22. Perjanjian ekstradisi yang terakhir ditandatangani pemerintah RI adalah dengan pemerintah RRC, yaitu pada tanggal 1 Juli 200923. Oleh karena itu perlu dipikirkan tentang aturan teknis yuridis terkait dengan penentuan yurisdiksi dalam kasus cyber crime secara internasional. (Vide Pasal 2 UU ITE) Berdasarkan konsep perjanjian ekstradisi menurut hukum internasional terdapat ketentuan bahwa dalam perjanjian ekstradisi yang dijerat hanya orang, bukan aset tindak pidana. Hal ini berarti bahwa penyidik akan mengalami kesulitan manakala melakukan penyitaan terhadap aset-aset hasil tindak pidana cyber crime manakala aset-aset dimaksud berada di luar negeri, apalagi di negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia24. Suatu penyitaan senantiasa didahului dan/atau diiringi dengan proses penggeledahan, sehingga adanya hambatan dalam hal penyitaan juga berimplikasi hambatan terhadap proses penggeledahan. Oleh karena itu diperlukan terobosan khusus terkait dengan proses penggeledahan dan penyitaan tersebut yang diimplementasikan dalam hukum acara pidana cyber crime. (Vide Pasal 20 UU ITE dan UU No. 1 tahun 1979 tentang Ekstradisi) Ketentuan materiil dan hukum acara pidana dalam UU ITE belum secara optimal mengakomodir proses penegakan hukum, antara lain : a) Sehubungan dengan dimasukkannya digital evidence sebagai salah satu alat bukti yang sah dalam pembuktian tindak pidana cyber crime, belum ada hukum acara yang mengatur lebih lanjut tentang standarisasi digital evidence dimaksud, karena KUHAP yang ada sekarang belum mengakomodirnya. Sehingga sudah seyogyanya digital evidence diterbitkan ketentuan khusus oleh pemerintah yang mengatur hal tersebut. (Vide Bab II UU ITE dan pasal 184 KUHAP) Adanya mekanisme penyelesaian sengketa secara perdata tanpa sinkronisasi dengan mekanisme penegakan hukum pidana dalam UU ITE akan menjadikan proses penegakan hukum cyber crime tumpang tindih karena tidak dijelaskan secara eksplisit tentang dianutnya asas subsidiaritas sebagaimana dalam UU No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, sehingga jelas kapan (dalam kondisi bagaimana) proses pidana maupun perdata seyogyanya dijalankan.(Vide Pasal 18 ayat (4), ayat (5) dan Bab VII UU ITE) Dalam hal pelaksanaan upaya paksa berupa penangkapan dan penahanan, penyidik wajib penyidik melalui penuntut umum wajib meminta penetapan ketua pengadilan negeri setempat dalam waktu satu kali dua puluh empat jam (1x24 jam). Hal ini sesuai dengan prinsip HAM yang sebenarnya mengacu pada sistem peradilan pidana di Amerika Serikat25, namun pembatasan waktu dalam satu kali dua puluh empat jam tersebut akan menghambat penyidik dalam meyakinkan bahwa seseorang benar-benar melakukan atau terlibat dalam tindak pidana cyber crime, sebab ketika penangkapan dan penahanan telah dilakukan maka proses mulai saat itu ditetapkanlah seorang pelaku sebagai tersangka. Berbeda halnya UU No. 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-undang, batas waktu penangkapan maksimal adalah tujuh kali dua puluh empat jam (7x24 jam). Oleh karena itu, menurut penulis, minimal batasan waktu penagkapan

2)

3)

b)

c)

21 22 23 24

Soerjono Soekanto, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1983, hal 5. http://www.kapanlagi.com/h/0000172718.html, diakses pada tanggal 12 September 2009. http://www.endonesia.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=44&artid=3763, diakses pada tanggal 12 September 2009. http://med4pri.blog.friendster.com/2007/07/perjanjian-ekstradisi-indonesia-singapura-akankah-manjur/, diakses pada tanggal 12 September 2009. Penjelasan Kombes Pol. Dr. Petrus Reinhard Golese dalam Pelatihan Peningkatan Kemampuan Penyidikan Cyber Crime yang diselenggarakan Bareskrim Polri di Pusdik Reskrim Megamendung, tanggal 16 - 21 Juni 2008.

25

5
beserta penetapannya perlu diperpanjang melebihi satu kali dua puluh empat jam. (Vide Pasal 20 ayat (6) UU ITE) d) Sistem pembuktian menurut KUHAP yang menganut sistem pembuktian menurut undangundang secara negatif (Negatief Wettelijk Stelsel) akan mengalami hambatan mengingat keterangan saksi yang mengetahui langsung terjadinya tindak pidana akan sulit diperoleh karena pelaku cyber crime seringkali melakukan kejahatan seorang diri dengan hanya menggunakan komputer sebagai sarananya. Sedangkan terhadap saksi-saksi lainnya, seperti pihak provider ataupun korban yang kemungkinan besar berada dalam beberapa negara yang berlainan akan menyulitkan penyidik dalam mengumpulkan alat bukti keterangan saksi ini. Seharusnya diatur mekanisme yang menyatakan keabsahan pemeriksaan melalui media internet, misalnya dengan menggunakan video conference sehingga terjadi efektivitas dan efisiensi dalam proses dimaksud. Sehingga dalam pembuktian tindak pidana cyber crime akan cenderung menyandarkan kekuatan pembuktian dari keterangan ahli berdasarkan hasil analisis dan pengolahan digital evidence. Untuk melengkapi jumlah minimum alat bukti yang sah, yaitu minimal dua alat bukti yang sah, maka keterangan ahli ini harus didukung minimal satu alat bukti lagi, dalam hal ini alat bukti yang vital adalah digital evidence. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan atas digital evidence tersebut, Polri saat ini baru memiliki satu Laboratorium Forensik Komputer yang ditangani oleh Unit V IT/Cyber Crime Dit II/Eksus Bareskrim Polri. (Vide Pasal 183 jo 184 KUHAP) Masih terdapat ambiguitas dalam beberapa delik pidana pada UU ITE, antara lain : (1) Pada pasal 27 ayat (3), batasan tentang unsur-unsur penghinaan dan pencemaran nama baik tidak terlalu jelas sehingga menimbulkan ambiguitas sehingga interpretasinya akan sangat tergantung pada subyektifitas dari pelapor/korban, penegak hukum sendiri dan ahli bahasa. Oleh karena itu materi dalam pasal tersebut banyak mendapatkan prokontra dari masyarakat terutama dikaitkan dengan isu kebebasan pers yang terancam dengan adanya pasal tersebut, sebagimana dinyatakan dalam pasal 1 ayat (11) UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers26. Berdasarkan pasal 43 ayat (5), penyidik pegawai negeri sipil berwenang menerima “laporan atau pengaduan”. SeharusnyaUU ITE membedakan antara laporan dan pengaduan karena kedua hal tersebut memiliki muatan hukum yang berbeda. Laporan atas tindak pidana tidak dapat dicabut oleh pelapor sehingga walaupun kedua belah pihak sudah berdamai kasus itu akan terus diproses secara hukum sedangkan terhadap pengaduan seseorang yang mengadukan dapat dicabut oleh orang yang mengadukan manakala dikehendaki semisal karena telah terjadi perdamaian. Hal ini sangat vital, karena dilihat dari sisi materi UU ITE khususnya delik-delik pidananya, tidak ditentukan mana yang merupakan delik aduan, kecuali untuk delik pidana biasa (bukan delik aduan) terdapat ketentuan umum jika tidak ada ketentuan sebagai delik aduan maka delik pidana tersebut adalah termasuk delik biasa.

e)

(2)

b. Faktor Penegak Hukum Pengetahuan dan kemampuan penegak hukum dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi sangat berpengaruh terhadap penanganan kasus cyber crime. Criminal Justice System (CJS) yang terdiri dari Polisi, Jaksa dan Hakim yang menangani tindak pidana cyber crime harus memiliki kompetensi khusus di bidang tersebut, tidak dapat disamakan dengan penegak hukum yang menangani tindak pidana konvensional. Disamping itu kesepahaman tentang interpretasi delik-delik pidana dalam UU ITE oleh elemen CJS dimaksud juga sangat vital dalam proses proses peradilan tindak pidana cyber crime. Apabila pada tingkat penyidikan, penyidik tidak sepaham dengan jaksa, maka akan mengakibatkan berkas perkara terhambat P-21. Demikian juga apabila tidak ada persepsi yang sama antara jaksa dengan hakim, dapat saja mengakibatkan seorang terdakwa yang seharusnya terbukti justru mendapat vonis bebas. Penegak hukum tidak dapat berdiri sendiri dalam penanganan cyber crime dikarenakan keterbatasan dalam beberapa hal seperti halnya kemampuan teknis tentang teknologi informasi dan komunikasi serta perlengkapan yang dibutuhkan dalam melakukan pelacakan (tracing) terhadap pelaku cyber crime. Oleh karena itu perlu dijalin kerjasama dengan berbagai pihak terkait, baik dari dalam negeri seperti ID-SIRTII (Indonesia Security Incident Response Team of Internet Infrastructure), Depkominfo, APJII (Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia) dan lain-lain, maupun dari luar negeri, antara lain dinas terkait (FBI, CIA, AFP, dll), Komunitas Bisnis (Microsoft Corp., IBM Corp., dll), lembaga pengawas keamanan internet di tiap negara maupun regional (Computer Emergency Response Team/CERT : Japan CERT/JCERT, U.S. CERT, Hong Kong CERT/HKCERT, Asia Pacific CERT/APCERT, dll) serta pihak-pihak lain yang berkompeten.
26

http://politikana.com/baca/2009/06/11/pro-kontra-pasal-penghinaan-di-uu-ite-dan-kuhp.html, diakses pada tanggal 13 September 2009.

6
Disamping itu, sampai dengan saat ini, penyidik pegawai negeri sipil yang diberi amanat oleh UU ITE untuk turut serta menangani tindak pidana yang terdapat dalam UU ITE juga belum beroperasi, sehingga nampak bahwa pada level penyidikan, penyidik Polri bekerja sendiri. Seharusnya Depkominfo segera membentuk tim penyidik khusus dan segera bahu membahu dalam menangani tindak pidana cyber crime. b. Faktor Sarana/Fasilitas Faktor sarana/fasilitas khusus untuk kepentingan penyidikan tindak pidana cyber crime mutlak diperlukan, khususnya oleh penyidik Polri karena pada tahap penyelidikan dan/atau penyidikan sebenarnya pondasi kekuatan pembuktian tindak pidana cyber crime mulai dibangun. Hal ini terkait terutama dalam rangka analisis dan pengolahan digital evidence, meliputi software dan hardware (computer forensic tools kit). Disamping itu, sudah saatnya, Polri membentuk unit-unit cyber crime dengan kualitas seperti UNIT V IT/Cyber Crime Dit II Eksus Bareskrim Polri dikarenakan saat ini, eksistensi satuan / unit yang menangani kasus cyber crime ini belum terorganisir dan belum dioptimalkan oleh Polri. Sebagai contoh, di Polda Metro Jaya, kasus cyber crime sudah ditanggulangi dengan satuan kerja setingkat satuan, yaitu Sat Cyber Crime Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya, sedangkan di Polda Jatim masih ditanggulangi oleh satuan kerja setingkat unit, yaitu Unit Cyber Crime Sat II/TP Ekonomi Dit Reskrim Polda Jatim. Seharusnya, saat ini, minimal di tiap Polda di Indonesia telah memiliki minimal unit-unit cyber crime dengan perlengkapan dan kualitas personil yang sama dengan UNIT V IT/Cyber Crime Dit II Eksus Bareskrim Polri sehingga kasuskasus cyber crime pun dapat dioptimalkan penanganannya oleh Polri.

b.

Faktor Masyarakat Dukungan masyarakat terhadap aparat penegak hukum sangat diperlukan dalam penanganan tindak pidana cyber crime, baik secara individu maupun oleh komunitas-komunitas tertentu, khususnya di bidang teknologi dan informasi, yang formal (APJII, AWARI dll) maupun undergroud (Jasakom, Yogya Carder, dll). Masyarakat dapat berperan serta aktif dalam memberikan informasi kepada penyidik Polri tentang suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana cyber crime. Oleh karena itu, perlu ditambahkan ketentuan dalam UU ITE tentang peran masyarakat dalam hal ini beserta prosedur/jaminan keamanan dan keselamatannya dikarenakan peran masyarakat yang diatur dalam UU ITE saat ini terbatas dalam hal peningkatan pemanfaatan teknologi dan informasi.

b.

Faktor Budaya Saat ini, muncul rumor UU ITE “dianggap” sebagai “Macan Ompong”27, karena masyarakat menganggap bahwa “UU ITE sebenarnya sudah cukup akomodatif namun penegak hukum belum maksimal”. Hal tersebut didasarkan kepada fakta-fakta, antara lain, peredaran materi-materi pornografi yang masih bebas dimana-mana, melalui warnet-warnet maupun counter-counter handphone28. Materi pornografi dalam file digital tersebut tidak lagi hanya “dinikmati” oleh masyarakat dewasa, tetapi juga anaka-anak. Namun, para oknum pengusaha warnet maupun counter handphone yang tidak bertanggungjawab tetap saja melakukan perdagangan materi pornografi hanya untuk mengejar keuntungan pribadi tanpa mempedulikan kerusakan moral yang masyarakat yang ditimbulkan akibat perbuatannya seperti itu. Contoh lain, maraknya orang tertipu melalui undian berhadiah via telepon maupun email, karena dijanjikan akan mendapat suatu hadiah tertentu (uang, mobil, dll), maka dengan mudah orang mengikuti instruksi pelaku untuk melakukan transfer sejumlah uang ke rekening bank milik pelaku hingga akhirnya orang tersebut baru sadar setelah saldo uangnya berkurang bahwa ia tertipu. Contoh pertama menunjukan pengaruh faktor budaya, dimana tingkat kepedulian masyarakat terhadap sesuatu yang melanggar norma telah luntur, sehingga diperlukan upaya komprehensif dari berbagai pihak terkait untuk membangun kesadaran masyarakat agar tidak bersikap “permissive” bahkan “masa bodoh” terhadap hal-hal yang berbau pelanggaran terhadap norma-norma yang ada. Contoh kedua menunjukan rendahnya kewaspadaan masyarakat karena kelemahan dasar manusia telah terbaca oleh pelaku, yaitu dengan motivasi mendapatkan hadiah berharga dalam waktu yang singkat dan cara yang mudah, maka orang akan mudah tertipu. Oleh karena itu faktor pola pikir masyarakatpun dalam wujud kewaspadaan individu akan turut mencegah niat dan kesempatan pelaku berhasil melakukan kejahatannya. Jika hal-hal tersebut terwujud, maka penanganan kasus-kasus cyber crime oleh aparat penegak hukum akan turut terbantu.

27 28

http://forum.detikinet.com/showthread.php?t=18409; http://albahar.wordpress.com/2008/03/27/undang-undang-informasi-dan-transaksielektronik-uu-ite/; http://www.kenreidy.com/akhirnya-undang-undang-itu-disahkan-juga/, diakses pada tanggal 13 September 2009. http://www.mail-archive.com/asosiasi-warnet@yahoogroups.com/msg29694.html; http://www.kapanlagi.com/h/0000272545.html; http://sobatmuda.multiply.com/journal/item/91/Pornografi_dalam_Genggaman, diakses pada tanggal 13 September 2009.

7 BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan a. Kondisi riil penanganan tindak pidana cyber crime belum optimal. Hal tersebut dapat terlihat dari tingginya kesenjangan antara jumlah kasus cyber crime yang sebenarnya terjadi di masyarakat masih sangat tinggi dengan jumlah kasus cyber crime yang dilaporkan kepada Polri serta yang berhasil ditangani sampai tahap persidangan masih sangat rendah. Penegakan hukum dalam UU ITE, khususnya terkait dengan penanganan tindak pidana cyber crime di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor hukum, faktor penegak hukum, faktor sarana/fasilitas penegakan hukum, faktor masyarakat dan faktor budaya.

b.

2.

Rekomendasi a. Perlunya pembentukan unit/satuan dengan spesialisasi khusus dalam penanganan tindak pidana cyber crime di tiap Polda di seluruh Indonesia dengan diawaki sumber daya manusia yang berkualitas, memiliki kemampuan dan kemauan tinggi dalam mengungkap kasus-kasus cyber crime. b. Perlunya dibentuk lembaga koordinasi khusus bagi elemen CJS yang berkompeten dalam penanganan tindak pidana cyber crime karena teknis dan taktis penanganan tindak pidana tersebut tidak dapat disamakan begitu saja dengan penanganan tindak pidana konvensional, khususnya dalam hal pembuktian. c. Perlunya meningkatkan motivasi masyarakat agar berperan serta aktif turut mencegah dan menanggulangi tindak pidana cyber crime melalui kepedulian terhadap situasi dan kondisi di sekitarnya masing-masing manakala terdapat indikasi terjadinya tindak pidana tersebut segera memberikan informasi kepada satuan kerja Polri setempat (Polsek, Polres, Polwil, Polda). d. Aparat penegak hukum, khususnya Polri perlu meningkatkan kerjasama dengan pihak-pihak terkait, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, khususnya aparat penegak hukum di bidang teknologi dan informasi dalam rangka optimalisasi penanganan tindak pidana cyber crime. e. Pemerintah perlu membentuk kelompok kerja (Pokja) khusus guna mengevaluasi kelemahan-kelemahan dalam UU ITE, baik terkait dengan delik-delik pidana yang ada maupun hukum acara pidananya untuk selanjutnya dilakukan revisi.

f. Masih diperlukan sosialisasi lebih lanjut terhadap masyarakat tentang materi-materi dalam UU ITE sehingga masyarakat pun mengetahui dan memahami daya jangkau UU ITE tersebut terhadap tindak pidana di bidang teknologi dan informasi (cyber crime).

Jakarta, 13 September 2009 Penulis HANDIK ZUSEN NO. MHS. 6877

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->