P. 1
Peranan Kultur Budaya Dan Sosial Dalam Membentuk Manusia Indonesia

Peranan Kultur Budaya Dan Sosial Dalam Membentuk Manusia Indonesia

|Views: 2,907|Likes:
Published by hendrik_caem
Indonesia adl negara besar dan memiliki budaya yg tinggi..., namun kenapa Indonesiaku berjalan terseok-seok saat ini....??!! berbuatlah positif untuk negerimu kawan....!!!
Indonesia adl negara besar dan memiliki budaya yg tinggi..., namun kenapa Indonesiaku berjalan terseok-seok saat ini....??!! berbuatlah positif untuk negerimu kawan....!!!

More info:

Published by: hendrik_caem on Nov 26, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2014

PERANAN KULTUR BUDAYA DAN PRANATA SOSIAL DALAM MEMBENTUK HUMAN CAPITAL PADA ERA KAPITALISME GLOBAL DI INDONESIA

MAKALAH PERJUANGAN

Oleh: Hendri Prasojo

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadapan Tuhan YME, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini disusun dalam bentuk konsepsi dan menyeluruh agar para pembaca da pat memahami aspek-aspek jati diri bangsa yang kemudian menjadi harmoni indah dalam menghadapi tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, khususnya dalam kehidupan atau ketahanan ekonomi yang selanjutnya dapat menyebar ke aspek yang lain, seperti IPOLSOSBUDHANKAM. Di dalam makalah ini penulis lebih menekankan pada aspek budaya dan sosial masyarakat secara historis dan yang terjadi di Indonesia saat ini. Sehingga dapat mempengaruhi sumbangan ke Human Capital, selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan

ekonomi Indonesia tentunya. Penulis meyakini bahwa pembangunan ekonomi ditentukan berdasarkan pertimbangan yang lebih luas daripada sekedar hitung-hitungan ekonomi dan masalah ekonomi bangsa tidak dapat dilepaskan dari ikatan ideologi dan budaya bangsa. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan memuaskan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran para pembaca untuk penyempurnaan dan pengembangan khasanah pemahaman pada tema makalah ini. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasi h kepada semua pihak yang telah memberikan sumbangsih makalah ini.

Jember , 23 Agustus 2008

Penulis

I. Latar Belakang Masalah Keadaan wilayah (geografis) dan penduduk (demografi) Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara merupakan negara kepulauan, terdiri atas 13.667 pulau maupun gugusan pulau besar dan kecil, dengan 6.044 di antaranya memakai nama. Panjang wilayah mencakup 1/8 khatulistiwa. Jumlah luas keseluruhan daratan dan pulau -pulau terpenting 1.849.731 km per segi dan luas lautan 2/3 dari seluruh wilayah Indonesia. Di sini dapat digambarkan bahwa negara Indonesia ialah negara besar dan memiliki kekayaan alam yang efektif dan potensial, terutama bahan-bahan vital dan strategis, seperti: minyak bumi, timah, mangan, batubara, emas dan sebagainya. Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi jumlah penduduk yang besar menimbulkan berbagai masalah karena daya dukung ekonomi yang dimiliki sangat terbatas, berkisar pada; kurangnya penyediaan lapangan kerja yang berakibat pengangguran, tingkat pendapatan penduduk perkapita yang rendah dan tidak meratanya pendapatan tersebut, jaringan pengangkutan yang belum sempurna, kurangnya tenaga terdidik dan us ahawan, serta terbatasnya penanam modal (Sukirno, 1995:203). Laju pertumbuhan penduduk yang dialami Indonesia saat ini berpengaruh besar terhadap angkatan kerja dan kesempatan kerja baik di pedesaan maupun perkotaan. Masalah kependudukan merupakan salah s atu diantara masalah-masalah yang serius untuk ditangani. Hal ini karena pertumbuhan penduduk yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat. Jumlah penduduk yang sangat besar menimbulkan beberapa pandangan dari berbagai pihak, terutama pada pakar kependudukan. Pendapat pertama menyatakan bahwa dengan jumlah penduduk yang besar akan menimbulkan beberapa masalah dalam pembangunan, dengan alasan semakin besar penduduk maka pendapatan perkapita semakin menurun. Pendapat kedua menyatakan bah wa apabila terdapat penduduk yang besar maka dapat dipakai sebagai modal manusia dalam jangka waktu yang relatif pendek. Pendapat ini cukup beralasan, karena apabila penduduk mempunyai kualitas yang tinggi maka hal tersebut dapat mempercepat laju pertumbuh an sosial ekonomi. Namun pada kenyataannya jumlah penduduk yang besar seringkali sebagai beban dari pada modal pembangunan (Kuncoro, 2000:169). Hal tersebut berarti harus ada perluasan penyediaan lapangan kerja. Perluasan lapangan kerja selain dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah penduduk, juga dipengaruhi oleh

laju pertumbuhan ekonomi dan perkembangan ekonomi internasional (Esmara, 1996:123). Definisi pertumbuhan ekonomi suatu negara (menurut Simon Kuznets) ialah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dar i negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian teknologi, kelembagaan dan ideologis terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada. Ciri proses pertumbuhan ekonomi Kuznets: (I). tingkat pertumbuhan output per kapita dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, (II).tingkat kenaikan total produktivitas factor yang tinggi, (III). tingkat transformasi struktural ekonomi yang tinggi, (IV). tingkat transformasi sosial dan ideologi yang tinggi, (V). adanya kecenderungan negara-negara yang mulai atau yang sudah maju perekonomiannya untuk berusaha merambah bagian-bagian dunia lainnya sebagai daerah pemasaran dan sumber bahan baku yang baru, (VI). terbatasnya penyebaran pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai sekitar sepertiga bagian penduduk dunia. Hipotesis tentang tahap perkembangan sejarah pertumbuhan ekonomi masyarakat yang dirumuskan dan dirinci W.W Rostow sempat memukau dan mencengan gkan berbagai pihak, termasuk para ahli ekonomi dan para praktisi politik. Hipotesis itu begitu berpengaruh karena di dalam dirinya menawarkan alternative terhadap “dagangan” hipotesis perkembangan ekonomi masyarakat yang ditawarkan oleh Karl Marx. Marx be ranggapan bahwa masyarakat itu bergerak dari masyarakat tradisional ke feodal, kemudian menjadi kapitalis, terus ke sosialis, dan akhirnya menjadi masyarakat komunis. Baru kemudian pada tahun 1950 -an Rostow menawarkan “barang” alternatif, yaitu masyarakat akan melalui fase-fase tradisional, prasyarat untuk tinggal landas, tinggal landas, menuju kematangan, dan akhirnya konsumsi massa tinggi. Kedua hipotesis itu terdiri dari 5 tahap perkembangan. Yang pertama adalah hipotesis Marx dan kaum Marxis dan yang kedua ialah hipotesis kaum kapitalis. Bagi kita di Indonesia, hipotesis nol (Marx) tidak mungkin lagi dipilih dan diharamkan (Tap.MPRS No.25, tahun 1966) sehingga kita harus memilih hipotesis alternatif. Pembangunan ekonomi adalah proses multidimensi, yang m encakup dimensi ekonomi maupun perubahan kelembagaan, struktur sosial dan perilaku. Pembangunan ekonomi di berbagai sektor akan memberikan dampak langsung dan tidak langsung terhadap penciptaan

lapangan kerja. Tanggung jawab ideal dari dunia kerja adalah b agaimana dapat menyerap tambahan angkatan kerja yang terjadi setiap tahun, dengan memperhatikan peningkatan produktivitas tenaga kerja secara keseluruhan. Dengan meningkatnya produktivitas diharapkan upah meningkat sekaligus kesejahteraan mereka dapat dipe rbaiki. Kenyataan yang dihadapi adalah kapasitas dan skala kegiatan ekonomi nasional terbatas, sehingga tenaga kerja yang terserap dengan produktivitas yang memadai masih terbatas. Dampak dari desakan akan kebutuhan kerja yang tidak tertampung akan memasuk i sektor informal (Ananta, 1993:52). Menurut Sethurrahman (1991:28) berdasarkan survei yang dilakukan di kota -kota negara sedang berkembang termasuk Indonesia, didapatkan kira -kira 20-70% kesempatan kerja terdapat dalam kegiatan kecil-kecilan yang disebut sektor informal. Sektor ini merupakan unit -unit usaha berskala kecil yang menghasilkan dan mendistribusikan barang dan jasa dengan tujuan pokok untuk menciptakan kesempatan kerja atau kesempatan berusaha bagi dirinya se ndiri. Dalam usahanya itu dihadapkan pada berbagai kendala seperti faktor modal baik fisik maupun pengetahuan manusia dan faktor keterampilan. Terdapat banyak perbedaan antara permasalahan kesempatan kerja di Negara Sedang berkembang (NSB) dan negara maju, maka diperlukan suatu konsep pembang unan baru. Banyak konsep pembangunan yang telah berhasil diterapkan di negara -negara Eropa, tetapi gagal diterapkan di negara-negara Asia atau Negara Sedang Berkembang. Adapula perihal “East Asia Miracle” di negara-negara Asia Timur, seperti Taiwan, Hongko ng dan sebagainya dianggap sebagai Buble Economic, yaitu pertumbuhan ekonomi besar namun lemah dan tidak ditopang oleh fundamental ekonomi yang kuat. Menyusun konsep pembangunan ekonomi lebih perlu lagi untuk tidak dilakukan secara gegabah karena teori-teori ekonomi yang ada, yang berasal dari Barat, pada umumnya tidak realistis, karena banyak menggunakan asumsi -asumsi yang sulit dipenuhi. Salah satu contoh kekeliruan fatal dari teori ekonomi Neoklasik atau Neoliberalisme dari Barat sudah terjadi yaitu ketika krisis moneter pada 1997 -1998 yang “diramalkan” tidak mungkin bi sa terjadi di Indonesia. Dewasa ini pakar-pakar ekonomi bersilang pendapat tentang bisa tidaknya krisis ekonomi ala Argentina (NSB yang menganut kapitalisme) menyerang Indonesia. Dalam hal seperti ini kami selalu menolak untuk membuat ramalan. Yang kiranya cukup jelas adalah bahwa para pemimpin ekonomi Indonesia baik dari kalangan pemerintah, dunia bisnis, atau dari

kalangan pakar, dihimbau untuk berpikir keras menyusun aturan main atau sis tem ekonomi baru yang mengacu pada sistem sosial dan budaya Indonesia sendiri. Jika Pancasila kita terima sebagai ideologi bangsa, maka kita tidak perlu merasa ragu -ragu mengacu pada Pancasila lengkap dengan lima silanya dalam menyusun fundamental sistem e konomi yang dimaksud. Sistem Ekonomi Pancasila mencakup kesepakatan atau ”aturan main etik” sebagai berikut: 1. Ke-Tuhanan Yang Maha Esa: Perilaku setiap warga Negara digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial, dan moral; 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab: Ad a tekad seluruh bangsa untuk mewujudkan kemerataan nasional; 3. Persatuan Indonesia: Nasionalisme ekonomi; 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebij aksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan: Demokrasi Ekonomi; dan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indo nesia: Desentralisasi dan Otonomi Daerah .

Demikian konsep pembangunan masa depan ekonomi Indonesia. Paradigma ini sangat tergantung pada kesediaan untuk menerima dan melaksanakan ”aturan main etik”, (ada yang menyebutnya sebagai ”kontrak sosial”). Apapun namanya, sebaiknya kita tinggalkan aturan main, atau sistem ekonomi kapitalis liberal atau Neoliberalisme yang sejauh ini dianggap bisa. Kita harus berani mengelak nasehat-nasehat dari luar, atau dari pak ar-pakar yang terlalu yakin akan kebenaran teori-teori ekonomi dari luar. Indonesia harus percaya diri menyusun at uran main yang paling cocok dengan kepribadian Indonesia. Karena alasan itulah muncul suatu konsep pembangunan baru yang menekankan dan berorientasi pada pembangunan manusia untuk membentuk mod al manusia. Modal manusia merupakan unsur penting dalam melaksanakan pembangunan. Untuk mengisi lapangan kerja yang tersedia diperlukan tenaga kerja yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Perluasan lapangan kerja dan kualitas tenaga kerja digunakan untuk menentukan proses pembangunan. Konsepsi pembentukan modal manusia adalah suatu proses memperoleh dan menghasilkan jumlah orang yang mempunyai keahlian, pendidikan, dan pengalaman yang menentukan bagi pembangunan e konomi dan politik suatu negara.

I.I. Mempertanyakan Jati Diri Indonesia Seutuhnya Negara Indonesia adalah bangsa yang besar. Keanekaragaman budaya beserta kehidupan sosial masyarakatnya yang kaya identitas namun satu jua karena terdapat rasa gotong -royong yang kuat. Salah satu petikan amanat Bung Karno dalam pidato kenegaraan bahwa “D jiwa Indonesia adalah djiwa gotong-royong, djiwa persaudaraan dan djiwa kekeluargaan”. Keanekaragaman sosial-kultural Indonesia membentuk suatu kesatuan jati diri Indonesia. Bermacam-macam budaya lokal dari kehidupan berbagai suku menyatukan diri menjadi kebudayaan nasional. Selanjutnya yang disebut budaya nasional ialah ikatan perasaan menjadi satu yang dimiliki oleh berbagai elemen masyarakat dengan latar belakang yang berb eda untuk mencapai tujuan bersama atau cita -cita bangsa Indonesia. Salah satu contoh riilnya ialah pergerakan pemuda-pemuda Indonesia dengan perbedaan budaya, seperti Jong Java, Jong Minangkabau, Jong Ambon dan sebagainya pada masa perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia dahulu. Realitanya dikumandangkannya sumpah pemuda pada tahun 1928. Bentuk nyatanya ialah Pancasila, wujud ideologi bangsa Indonesia yang dirumuskan dan disusun oleh para cendekiawan cerdas dan negarawan Indonesia pada saat itu, seperti: Bung Karno, Moch.Yamin, Moch.Hatta, A.A Maramis dan sebagainya. Pancasila adalah pandangan hidup bangsa yang berakar dari kebudayaan nasional yang berisi nilai -nilai luhur yang terkandung sejak Zaman Indonesia kun o, Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit (red.P enulis). Jati diri Indonesia pada era sekarang atau globalisasi telah mengalami kepudaran dan jauh dari cita-cita bangsa yang diharapkan. Transformasi perilaku manusia -manusia Indonesia saat ini jauh dari konsep jati diri Indonesia sesungguhnya . Keadaan mentalitas, intelektual, kepribadian dan semangat manusia Indonesia telah jauh dari harapan para founding fathers (pendiri-pendiri bangsa). I.2. Keadaan Budaya dan Sosial Masyarakat Indonesia Berperan dalam Perekonomian Adalah bentuk atau sistem sosial -budaya berdasar atas kesatuan system kemasyarakatan dan sistem budaya lokal sebagai unsur dasarnya. Kebudayaan merupakan keseluruhan cara hidup masyarakat yang perwujudannya berupa tingkah laku para anggota masyarakat itu sendiri. Kebudayaan tercipta oleh banyak faktor: organ biologis manusia, lingkungan alam, lingkungan psikologis dan lingkungan sejarahnya. Masyarakat budaya membentuk pola budaya sekitar satu

atau beberapa fokus budaya. Sedangkan pemahaman dari sosial masyarakat ialah kerjasama dalam hidup bersama atau masyarakat sebagai satu -kesatuan. Setiap masyarakat mempunyai empat unsur penting yang menentukan eksistensinya, yaitu: struktur sosial, pengawasan sosial, media sosial, dan standar sosial. Masyarakat Indonesia dapat dibagi secara vertikal dan horizontal. Pembagian kelas secara vertikal (diferensial sosial) menghasilkan golongan sosial tingkatan (tani, pedagang, pengusaha), sedangkan pembag ian secara horizontal (stratifikasi sosial) bersifat setara, misal: lapisan masyarakat pedesaan, lapisa n menengah, dan lapisan tinggi. Dimensi manusia dan kebudayaan adalah penjelmaan manusia dalam sikapnya berhadapan dengan lingkungan alam dan sosialnya. Dengan pemikiran holistik tersebut, dan kerja keras dari segenap elemen bangsa, Burhanuddin Abdullah me yakini bahwa terwujudnya kemakmuran negeri bukanlah sebuah utopia (red.Gubernur Bank Indonesia saat ini) . I.3. Ketahanan Nasional Bidang Sosial Budaya : Mencetak Human Capital Konsepsi ketahanan nasional ialah kondisi dinamik suatu bangsa, berisi keuletan dan ketangguhan, yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, di dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, tantangan, hambatan , serta gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung yang membah ayakan identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan menuju tujuan nasional (Menhan/Pangab dengan surat keputusan No.SKEP 1382/XII/1974 tanggal 20 desember 1974). Dari segi ketahanan nasional di bidang sosial budaya pengaruh dari luar perlu lebih diperhatikan karena dapat membahayakan kelangsungan hidup kebudayaan nasional. Bangsa Indonesia selalu waspada akan kemungkinan adanya kesengajaan dari pihak luar yang menyebarkan pengaruhnya dengan tujuan melemahkan bahkan merusak ke hidupan masyarakat itu sendiri. Banyak faktor yang dapat menimbulkan perubahan sosial yang tidak diinginkan, di antaranya yang memegang peranan penting ialah faktor kebudayaan. Faktor-faktor itu dapat berasal dari dalam dan dari luar. Biasanya, faktor yan g berasal dari luar lebih banyak

menimbulkan perubahan sosial sehingga perlu mendapat perhatian khusus, misalnya cara penempatan diri (sopan dan santun) dan cara berpakaian yang tidak sesuai adat ketimuran sehingga dapat merusak norma kesusilaan yang ada. Bahkan pada era Perang Dingin pun pihak blok kapitalisme menyerang pada kehidupan budaya Indonesia dengan film -film tak bermoral, sehingga dibentuk Departemen Penerangan pada tahun 1972. Dalam mempertahankan kelangsungan hidup, manusia harus mengadakan ker jasama dengan sesama manusia. Jadi, manusia harus hidup bermasyarakat tanpa terkecuali. Hal ini dapat berjalan lancar di dalam keadaan tertib sosial, berda sarkan pengaturan sosial budaya. Kehidupan sosial budaya menunjukkan hubungan yang erat antara masyar akat dan kebudayaannya. Suatu masyarakat tidak mungkin ada tanpa kebudayaan, sedangkan kebudayaan hanya ada di dalam masyarakat. II. Rumusan Masalah Selama ini pendekatan ekonomi dan pendidikan yang dianggap mampu mengkaji permasalah Human Capital atau modal manusia. Padahal obyek ini bersifat multi dimensional, artinya bahwa manusia itu sendiri lebih bersifat humanis intinya manusia sebagai makhluk Tuhan Y.M.E yang dibekali cipta, rasa, dan karsa bukannya “Robot Bernyawa” (lagu ciptaan Iwan Fals) serta cenderung memiliki sifat dinamis atau mudah dibentuk oleh suatu keadaan yang menyinggungnya, seperti keadaan keluarga, motivasi , cita-cita dan sebagainya. Masalah ini perlu dikaji sebagai bahan pertimbangan bahwa kondisi budaya dan sosial berpengaruh dalam pembentukan Human Capital di Indonesia. Kondisi manusia Indonesia seutuhnya atau generasi muda saat ini pada umumnya telah mengalami kepudaran identitas, integritas, mentalitas dan tanggung jawab sebagai akibat dari dampak negatif dari orientasi pembangunan sem ata atau kapitalisme global. Sehingga bangsa Indonesia sulit mencapai tujuan nasional dan cita-cita bangsa. Dikarenakan pada era globalisasi bangsa Indonesia merupakan obyek atau sapi perahan dari kaum -kaum borjuis atau negara kapitalisme maju, seperti Ing gris , Amerika Serikat dan Sekutunya bukan sebagai subyek atau pelaku/pemain ekonomi yang ikut memutar lalu -lintas perdagangan dunia (globalisasi). Begitupun pula mengenai keputusan program ekonomi pemerintah, apakah

mengikutsertakan masyarakat, apakah uns ur lokalitas diberikan prioritas, apakah suatu program dapat berjalan efektif di suatu daerah, semuanya itu merupakan keputusan yang erat dengan

kehidupan sosial masyarakat dan kebudayaannya. Selanjutnya akan memberikan kontribusi kepada Human Capital itu sendiri. Menurut teori Myrdall bahwa pembangunan ekonomi menghasilkan suatu proses sebab menyebab sirkuler yang membuat si kaya semakin kaya dan mereka yang tertinggal semakin terhambat. III.Tujuan Pembahasan Tujuan yang hendak dicapai dalam pembahasan judul m akalah ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengetahui peranan budaya dan keadaan sosial dalam membentuk Human Capital pada era kapitalisme global di Indonesia baik pada kondisi yang telah diharapkan atau dicita-citakan pada awal kemerdekaan republik Indo nesia dan kondisi nyata saat ini yang sedang terjadi pada era globalisasi, abad ke -20. IV. Manfaat Pembahasan Hasil pembahasan ini dapat digunakan untuk menambah sumbangan pemikiran baru kepada para pembaca dan kepada pihak lain yang ingin mengadakan penelitia n pada tema makalah ini. V. Pembahasan Umum: Mendalami Sejarah Kehidupan Manusia Indonesia ---Asal Usul yang Menghambat Pembangunan Manusia Sejak masa Indonesia kuno khususnya pada era kerajaan besar , seperti Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit (berakhir pada abad ke-14) Indonesia telah mengenal dan menjunjung sistem feodalisme. Pada masa ini Indonesia masih berbentuk kerajaan yang terdiri dari kerajaan kecil ataupun kerajaan skala besar. Tingkat pendidikan sangat rendah dan tertutup terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sehingga hampir tidak mengalami perkembangan teknologi yang berarti dan diperparah lagi oleh sistem feodalisme yang ada. Kemasya rakatan sangat kaku dan masih terdapat kasta atau pembedaan kaum, seperti kaum bangsawan, pendeta, prajurit, d an budak. Bentuk pemerintahan pun masih mengadopsi monarchy absolute yang kuno dan bersifat korup semata sehingga azas kebersamaan dan nasionalisme masih jauh untuk dicapai. Sehingga benih-benih kapitalisme kuno (feodalis) telah tertanam kuat pada sejarah Indonesia, maka tidak mengherankan apabila masyarakat Indonesia saat ini sangat menyambut baik kapitalis, misal Keraton Jawa dan Bali masih bersifat feodal.

Beberapa peristiwa penting yang membawa perubahan pada kehidupan bangsa Indonesia terutama di bidang politik, sosial, dan budaya, sejak dari era Indonesia Kuno sampai sekarang ini, antara lain: 1. Pada abad ke-11 ajaran dan pengaruh islam telah masuk di Indonesia ditunjukkan dengan adanya kerajaan Samudra Pasai yang merupakan kerajaan besar islam pertama d i Indonesia, tepatnya di Aceh dengan bukti makam Fatimah binti Maemun selaku istri raja. 2. Bangsa Portugis yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque datang ke Indonesia sebagai bangsa penjajah pertama pada tahun 1511. Mengeksploitasi hasil rempah -rempah 3. Penjajah kerajaan Belanda datang pada abad ke -16, tepatnya pada tahun 1596 dengan bentuk sekutu dagang yang bernama V.O.C dipimpin oleh J.P.Coen. 4. Gubernur Jendral Belanda Herman William Daendels menindas rakyat Indonesia dengan perintah kerja paksa untuk pemba ngunan jalur pos Anjer-Penaroekan di tahun 18081810. 5. Pada tahun 1830 sampai dengan 1870, Gubernur Jendral Belanda Van Den Bosch menerapkan kulturstelsel atau sistem tanam paksa yang sangat menyengsarakan rakyat. Kekayaan alam Indonesia benar -benar dikuras habis oleh penjajah Belanda. 6. Penggagas pertama bentuk pemersatuan antar kelompok ke dalam organisasi massa pertama adalah berdirinya organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Sejak ini masyarakat Indonesia telah mengenal pentingnya akan persatuan ( rasa integrasi) dan disebut awal kebangkitan nasional. 7. Sumpah Pemuda diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Rasa nasionalisme telah tumbuh dan dipelihara oleh segenap masyarakat Indonesia, khususnya para pemuda yang terdiri dari beberapa suku, agama, bud aya yang berbeda tapi tetap satu jua. 8. Imperialisme Jepang masuk ke Indonesia dengan menundukkan penjajah Belanda terlebih dahulu. Penjajah Belanda menyerah pada Penjajah Jepang pada tanggal 15 Maret 1942. 9. Pada tanggal 10 Agustus 1945 Imperialis Jepang menyerah kepada Sekutu secara de yure, karena bom atom yang dijatuhkan oleh Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki. Keadaan ini telah disebut dengan masa vacuum of power. 10. Segenap Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 dan di waktu ini Indonesia merumuskan jati diri yang sesungguhnya.

11. Pada tanggal 30 September 1965 telah terjadi peristiwa besar, penting dan sulit dilupakan karena telah mengubah sendi -sendi pemerintahan secara struk tural—revolusi. Awal masa suram di Indonesia. Kematian beberapa perwira tinggi ditebus oleh pemusnahan kaum komunis yang tak berdosa kurang lebih 900.000 orang dibantai tanpa proses pengadilan yang jelas. Awal kehancuran perekonomian Indonesia, terjadinya inflasi rocket hampir 350%, kemudian munculnya TRI TURA. 12. Dikeluarkannya Supersemar pada tanggal 11 Maret 1966 yang sebenarnya masih sebagai sebuah misteri sampai saat ini telah mengubah era orde lama menuju era orde baru. Sebuah era baru, era dari sebuah awal penjajahan gaya baru —neoliberalisme atau kapitalisme yang bercokol di Indonesia. 13. Pada tanggal 21 Mei 1998, zaman Orde Baru telah dilengserkan oleh mahasiswa dan rakyat Indonesia dan berganti dengan zaman era reformasi. Di sini telah terjadi angin segar perubahan kebebasan berpendapat ke arah yang lebi h baik. V.1. Benturan Budaya Sebagai Konsukwensi Keterbukaan: Benteng Indonesia Terlalu Lemah—Kita Diserang dan Kita Hampir Kalah Salah satu bentuk nyata dari tradisi atau budaya adalah benteng budaya Jepang yang berakar kuat semenjak tahun 1192 hingga t ahun 1864, mampu membawa Jepang kearah percepatan pembangunan yang mengagumkan . Dikenal dengan Bushido ialah budaya yang menanamkan kerja keras, harga diri, keberanian, jiwa kesatria, budaya malu, hemat, kejujuran, dan disiplin yang tinggi. Budaya Bushido yang kental sekali dengan masyarakat kerajaan Jepang mampu membawa ke arah modernisasi nasional hingga Jepang menjadi salah satu kekuatan utama Asia Timur Raya yang disegani pada era Perang Dunia II. Pihak sekutu lawan kesulitan melawan serdadu Jepang dan armada perangnya waktu itu. Hingga pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, dijatuhkan bom atom yang membinasakan kota Hiroshima dan Nagasak i. Salah satu bentuk perang pengecut di pihak sekutu. Jepang menyerah dan kalah. Akan tetapi semangat Bushido yang membudidaya sangat kuat sekali, Jepang mampu merangkak dan berdiri kembali dari kekalahan Perang Dunia II menjadi negara maju. Hanya dalam waktu empat dekade. Pada tahun 1980-an Jepang menjadi negara industri maju. Benturan peradaban antara Timur dan Barat adalah sebuah fenomena tersendiri saat ini . Fenomena budaya Timur yang mulai terkikis dan luntur begitu mengerikan. Identitas kita

sebagai bangsa timur yang kaya akan kebudayaan dan memiliki kekhasan lama -kelamaan mulai hilang satu-persatu. Perkembangan media s osial adalah salah satu faktor yang paling besar dalam mempengaruhi hal ini. Bahkan dulu nilai -nilai luhur yang kita junjung secara turun -temurun lama-kelamaan kita jauhi. Tak dapat dipungkiri bahwa kita adalah obyek dari Barat. Memang dalam hal ini manus ia, khususnya generasi muda di zaman sekarang cederung memiliki kejenuhan dan berusaha mencari sesuatu yang baru . Tetapi dalam konteks ini Pemerintah sebagai “Orang Tua” harus mengarahkan generasi muda selaku “A naknya” ke arah yang benar. Untuk mencegah ge nerasi muda terjerumus ke lembah masalah. V.2. Kontribusi Media Sosial Terhadap Modal Manusia Indonesia Lihat apa yang terjadi pada generasi Indonesia saat ini. Telah terjadi Missing of Personality, sebagai akibat dari wacana tentang proses pencapaian yang begitu mudah atau serba instan. Hampir tiap hari mulai pagi hingga larut malam tayangan televisi Indonesia dan Barat selaku media sosial yang paling sering digunakan masyarakat selalu mencekoki manusia Indonesia selaku Human Capital yang dimiliki Indonesia dengan tayangan-tayangan yang tidak mendidik sama sekali, seperti: sinetron, telenovela, tayangan kekerasan dan sejenisnya. Tayangan yang tidak mendidik karena tidak memberikan sumber ilmu pengetahuan dan mencekoki mental kita menjadi manja dan ingin s erba instan. Perhatian pula alur cerita suatu film atau sinetron, kebanyakan diperumpamakan berlatar belakang antara si kaya dan si miskin, tipu muslihat, kelicikan, pemerkosaan atas nama cinta dan sebagainya. Media sosial berupa surat kabar, radio dan internet juga memiliki peran tapi lebih bersifat mendidik daripada media televisi. Media televisi adalah media paling dominan yang digunakan masyarakat kita. Dari hasil penelitian didapat 58% responden memilih televisi sebagai media yang sering digunakan.

Sedangkan penggunaan radio sebanyak 31% dan surat kabar atau majalah sebesar 11% dari 165 responden yang notabene mahasiswa Universitas Jember dari berbagai fakultas (hasil survey polling Majalah Mahasiswa Tegalboto edisi X). V.3. Transformasi Manusia Indon esia Sekarang Telah terjadi tumpang-tindih identitas pada masyarakat Indonesia saat ini. Ini adalah salah satu bentuk akibat dari benturan budaya tersebut. Banyak pencitraan diri yang menyalahi kodratnya, misal pemuda laki -laki banyak yang berambut panjan g, memakai anting, feminis, dan

bahkan menyalahi kodrat dengan menjadi gay. Sedangkan kaum wanita pun demikian, banyak diantara mereka yang bergaya macho atau bahkan bersifat agresif khalayak kaum pria. Tentunya ini tidak bermasalah bagi lingkungan sekitar nya dan secara luas tetapi ini menunjukkan parameter kebobrokan generasi Indonesia, khususnya golongan muda sekarang ini. Bahkan generasi muda saat ini yang ditunjuk sebagai generasi penerus atau calon pemimpin bangsa Indonesia masa depan telah mengalami d egradasi mentalitas, identitas, nasionalisme, intelektual dari tahun ke tahun. Bahkan dulu Indonesia pada tahun 1945 sampai dengan tahun 1965 mempunyai ikon kebanggan negeri, bahkan dunia khususnya negara Asia. Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno. Ikon perlawanan penjajahan terhadap negara lain. Diplomasi kita sangat kuat, bahkan negara kita sebagai pencetus penggalang anti penjajahan dengan Konfrensi Asia Afrika yang notabene dipelopori Indonesia untuk menggalang dukungan menentang bentuk penjajahan, sehingga Birma, India, dan negara Afrika lainnya mendapat kemerdekaannya. Dan bentuk lain adalah KTT Non blok sebagai salah satu bentuk penggalangan dari Indonesia yang tidak mengikuti Blok Barat (kapitalisme) dan Blok Timur (komunisme). Memang betul dan tak dapat dipungkiri lagi bahwa Indonesia telah memiliki banyak orang pintar, bahkan ada yang menjadi Guru Besar di perguruan tinggi luar negeri atau mempunyai ilmuwan berotak brilian, seperti B.J.Habibie yang merancang pesawat CN 250 dan laku di pasaran dunia Internasional dan sebagainya, akan tetapi mereka kebanyakan enggan hidup di Indonesia dan berbuat jasa kepada Ibu Pertiwi Indonesia. Siapa yang patut disalahkan?! Mau tidak mau merekalah yang patut disalahkan. Seharusnya mereka merasa memiliki dan tidak melupakan Ibu Pertiwi -nya. Begitupun generasi muda sekarang, banyak anak di bangku sekolah yang terjerumus ke dunia hitam, narkoba, mencari kesenangan sesaat di diskotik atau tempat pelacuran, dan sebagainya. Anak sekolahan sekarang identik dengan tawuran, pengeroyokan, menusuk dari belakang, dan tidak memiliki jiwa ksatria sama sekali apalagi rasa tanggung jawab , terutama terhadap orang tua mereka. Semakin mencengangkan lagi kaum intelektualitas atau mahasiswa yang berperan terhadap perubahan untuk negeri jauh dari kriteria golongan cendekiawan. Mahasiswa kebanyakan di Indonesia memiliki etos kerja yang rendah, malas, menganut paham “kalau bisa dikerjakan besok, ngapain mesti sekarang” menunda -nunda kewajiban, statis; ditunjukkan dengan hanya belaja r di dunia kampus tanpa melihat roda kehidupan sosial yang ada, dan sebagainya. Kebobrokan ini dapat dilihat dari banyaknya angka pengangguran terdidik atau pengangguran kaum intelektual. Dari tahun ke tahun jumlah pengangguran terdidik

meningkat. Kriteria yang dibutuhkan oleh perusahaan tidak terpenuhi oleh kemampuan mereka. Mentalitas yang lemah dan tidak “tahan banting” membuat mereka kalah dalam menghadapi persaingan yang ketat, padahal banyak dari mereka memiliki nilai Indeks Prestasi yang baik. Dapat ditekankan di sini bahwa, nilai tidak bisa dijadikan acuan penting dalam pengembangan Human Capital, akan tetapi etos kerja dan mentalitas yang tinggi dapat membentuk mereka dan tentunya ini terkait oleh kehidupan budaya dan sosial yang melatar belakangi kehidupan seorang modal manusia. Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM) di bangku sekolah atau kuliah dapat ditangkap dengan baik, karena adanya kecerdasan, sikap, dan motivasi yang kuat. Keterlambatan masyarakat kita menyerap teknologi baru, bukan karena kecerd asan kita yang kurang atau lebih rendah dari daripada kecerdasan bangsa -bangsa lain. Tidak ada satu pun hasil penelitian yang menunjukkan tingkat Intellegence Question (IQ) kita, bangsa Indonesia lebih rendah dari negara lain. Dua hal yang paling menentuka n dalam penyadapan teknologi atau ilmu pengetahuan adalah sikap dan motivasi (ESQ). Lemahnya motivasi belajar di kalangan mahasiswa dan pelajar kita maupun tenaga pengajar dan dosen sudah sering disorot berbagai pihak. Akan tetapi, keadaan tampaknya tidak menjadi baik. Di kebanyakan ruang -ruang kuliah di Amerika atau Benua Eropa, mahasiswa Indonesia tidak masuk hitungan oleh “kompetitor” utamanya, yaitu mahasiswa Amerika sendiri . Kalau di dalam kelas itu ada mahasiswa dari Afrika Selatan, Timur Tengah, dan Indonesia, umumnya mahasiswa Amerika akan lebih senang karena daya saing mereka di atas angin. Lain halnya kalau di dalam kelas tersebut ada mahasiswa Jepang, Korea, dan Taiwan, mahasiswa Amerika mulai ancang -ancang harus bekerja lebih keras. Kompetitor mahasiswa dari tiga negara Asia yang disebut terakhir ini adalah lawan -lawan tangguh dan sering menjadi unggulan pertama di dalam kelas. Masalahnya bukan karena mereka lebih pintar, tetapi motivasi belajar mereka lebih menggelora sehingga belajar serius samp ai pagi pun hampir menjadi pekerjaan yang rutin untuk mereka, bukan hanya di waktu ujian. Bagaimana dengan mahasiswa Indonesia ??!!.. V.4. Transformasi Yang Seharusnya Dimiliki Manusia Indonesia Menurut Kuntjaraningrat bangsa Indonesia belum memiliki ciri mental yang cocok untuk pembangunan. Ini berarti bahwa agar pembangunan berhasil diperlukan perombakan mentalitas dengan meninggalkan mentalitas yang tidak cocok dengan pembangunan, dan yang cocok untuk

pembangunan harus dikembangkan. Perombakan mental ba ngsa tidak dapat dilaksanakan dalam waktu yang pendek. Dalam hal ini pendidikan memegang peranan yang sangat penting . Menurut Y.Tinbergen bangsa yang ingin maju harus memiliki cirri -ciri sebagai berikut: 1. Menaruh perhatian besar terhadap nilai atau peluang 2. Menilai tinggi teknologi 3. Berorientasi ke masa depan 4. Berani mengambil resiko 5. Mempunyai jiwa yang tabah dalam usahanya 6. Berdisiplin dan kerjasama serta bertanggung jawab Sebuah pandangan yang menegaskan bahwa kebudayaan dalam arti sikap dan orientasi nilai sangat berperan dalam membangun kemajuan bangsa dan negara yang bernama Cultur Matters. Di antaranya sikap dan orientasi nilai yang: 1. Berorientasi ke masa depan 2. Kerja keras, kreativitas, prestasi penting untuk menghasilkan, dan harga diri 3. Hidup hemat pangkal kaya 4. Prestasi patut dihargai 5. Saling percaya atau Positive Thinking 6. Keadilan dan bersifat terbuka Keadaan sosial yang rumit juga memiliki andil yang besar. Bentuk kebiasaan dan pola pikir yang membelenggu perkembangan harus segera dirubah. Salah satu bentuk nyata di masyarakat Jawa dan Bali, masih banyak terdapat pembatasan gender dan aturan pembauran (perkawinan) antar suku, ras, bahkan warna kulit. Masyarakat Jawa dan Bali pada umumnya melarang anak perempuan mereka untuk mengeyam pendidikan lebih tinggi daripada anak laki-lakinya dan masalah pembauran masih banyak terdapat hitung-hitungan kuno, misal: primbon, neptu, dan sebagainya. Ada pula kebiasaan masyarakat Jawa yang tidak patut ditiru, seperti mangan ora mangan asal ngumpul bareng , banyak anak laki-laki mereka yang disarankan oleh orang tuanya untuk tidak jauh-jauh dari kampung halamannya padahal itu untuk urusan mengeyam pendidikan (anak rantau). Ini berbeda dengan kebiasaan suku Padang atau Minangkabau, bagi mereka yang punya anak laki-laki pada saat umur dewasa. Anak laki-lakinya diharuskan oleh orang tuanya

untuk pergi merantau di luar daerah bahkan luar negeri, karena pada masyarakat ini masih terdapat anggapan bahwa anak laki -laki yang sudah dewasa jika tidak merantau dan sukses dianggap sebagai benalu. Kebiasaan tradisi ini harus dirubah karena tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pembangunan manusia sebenarnya. V.5. Missing of Human Capital Telah terjadi suatu kebocoran modal manusia untuk pembangunan ekonomi itu sendiri . Kebocoran secara daerah, propinsi, dan nasional. Kebocoran di sini mempunyai arti bahwa telah terjadi kehilangan kesempatan dalam memenuhi kebutuhan lowongan pekerjaan secara luas di dalam pembangunan, baik daerah, regional, dan nasional. Kebocoran ini disebabkan oleh tidak adanya kriteria atau syarat-syarat yang dibutuhkan di dalam modal manusia itu sendiri. Misal: di daerah Jember terdapat lowongan pekerjaan di suatu perusahaan, akan tetapi penduduk asli Jember atau tenaga kerja dari Jember tidak memenuhi persyaratan untuk mengisi lowongan tersebut sehingga banyak tenaga kerja dari luar daerah Jember, seperti dari daerah yang lebih maju Surabaya, Malang, dan sebagainya yang mampu mengisi lowongan pekerjaan tersebut. Telah terjadi kebocoran daerah di sini, begitupun ke bocoran secara regional dan nasional. Pendidikan pada masalah kebocoran ini sangat memegang peranan penting di dalamnya. V.6. Pengaruh Iklim di Indonesia Manusia di daerah tropis secara intrinsik tidak berbeda dengan manusia di bagian/belahan lain dunia. Semuanya memiliki kesamaan kodrat. Mereka adalah makhluk yang dititipi hidup, kesadaran, dan penyadaran terhadap dirinya ( Schumacher, 1977). Akan tetapi, lingkungan tropis diduga mampu membuat manusia tropis kurang tangguh karena banyaknya penyakit -penyakit tropis. Apalagi di Indonesia yang notabene “ZAMRUD KATHULISTIWA”, yang diberkahi oleh Tuhan YME dengan tanah yang subur hingga Tongkat Kayu pun Jadi Tanaman dan mampu membuat manusia Indonesia menjadi malas. Di samping itu, ada dugaan pula bahwa suhu dan kelembaban udara mempengaruhi proses fisiologis dalam diri manusia. Pengaruh-pengaruh iklim tropis tersebut memberikan dampak yang kurang

menguntungkan terhadap efisiensi kerja, kreativitas, dan inisiatif untuk melakukan sesuatu. Penurunan produktivitas ini terutama terlihat pada stamina kerja sehingga orang yang bekerja di tempat panas seringkali beristirahat, duduk -duduk, karena tidak tahan bekerja pada interval

waktu yang relatif panjang. Kemerosotan stamina kerja ini sangat berpengaruh terhadap produ ktivitas kerja. Usaha modern untuk mengatasi masalah ini adalah menggunakan alat pendingin ruangan (AC). Dan menurut beberapa penelitian tentang hal ini membuktikan bahwa penggunaan AC dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Akan tetapi, karena st ruktur perekonomian di negara berkembang, termasuk Indonesia, masih berat ke sektor primer, yaitu pertanian dan eksploitasi sumber-sumber alam lainnya, maka hikmah teknologi AC ini belum dapat dimanfaatkan. Keadaan ini diperburuk lagi dengan banyaknya jen is penyakit yang mengurangi ketangguhan bekerja seseorang. Bank Dunia telah meneliti hal ini di tiga tempat di Jakarta pada tahun 1974. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pekerja -pekerja bangunan menderita berbagai penyakit cacingan yang berkisar 44 persen hingga 87 persen. Lebih parah lagi, hal ini terjadi pada pekerja di kawasan industri. Kita mengetahui penyakit cacingan akan menyebabkan kekurangan zat besi (iron deficiency anemia) yang menurunkan gairah bekerja. Menurut penelitian tersebut, sekitar 45 persen pekerja mengidap penyakit iron deficiency anemia, yang menurut pengukuran mereka, penyakit tersebut dapat menurunkan keluaran (output) sebanyak 20 persen. Belum lagi dengan penyakit -penyakit tropis lainnya yang sering menyerang kita, seperti malaria, kolera, dan lepra. Meskipun demikian, hal tersebut tidak berarti pengaruh -pengaruh lainnya, seperti pengaruh pendidikan, lingkungan, dan sejarah bangsa, tidak menjadi faktor yang dominan. Masalahnya, kita sering lupa bahwa kita hidup di daerah t ropis yang menguras tenaga dan kejernihan inisiatif. Dan masalah iklim inilah yang sering dilupakan oleh ahli -ahli ekonomi kita dalam menyusun model jalan keluarnya. VI. Kesimpulan dan Saran Masalah pembangunan juga bukan hanya masalah ekonomi semata tetapi me nyangkut banyak aspek sosial lainnya. Sebab itu masalah pembangunan harus ditangani secara multidispliner dan tidak bisa dipecahkan dari aspek ekonominya saja. Rendahnya tingkat pendidikan di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Indonesia golongan “menengah-bawah” dengan jumlah 80 persen dari jumlah total populasi

Indonesia merupakan faktor utama yang menyebabkan tingkat produktivitas tidak mengalami perkembangan yang cukup berarti. Struktur sosial dan pandangan masyarakat Indonesia kebanyaka n masih sangat tradisional, dan terdapatnya institusi -institusi ekonomi ataupun sosial yang sifatnya sangat tidak mendukung untuk melaksanakan inovasi. Hubungan sosial dan ikatan kekeluargaan ( terlalu fanatik) masih sangat erat dan membatasi kemerdekaan seseorang dalam berfikir dan bertindak maju. Saran 1. Kurikulum pendidikan yang mengajarkan kemandirian harus dimulai dari sejak dini, sehingga para generasi muda lebih mudah mengembangkan bakat yang terpendam selain ilmu akademik, misal: kegiatan Pramuka, Peci nta Alam dan sebagainya. 2. Selama ini Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dianggap kurang prospek terhadap penyerapan tenaga kerja, akan tetapi anggapan ini salah besar. Karena di SMK ini para siswa diberi pendidikan yang aplikatif lebih banyak daripada SMU. 3. Kurikulum pada SMU dan Perguruan Tinggi memiliki banyak kekakuan dan monoton. Memiliki Indoktrinasi penekanan kepada para murid atau mahasiswa sebagai pecundang atau secara khususnya menjadi pencari kerja bukan pencipta kerja (wirausaha). Sehingga lapangan kerja di Indonesia dari tahun ke tahun tidak mengalami perkembangan secara kontinue signifikan. 4. Pemerintah sebagai ujung tombak keberhasilan seharusnya mampu merubah paradigma yang telah mengakar dan melakukan tindakan yang progresif revolusioner dengan dasa r hukum yang jelas di Indonesia, Pancasila di segala aspek, khususnya yang sesuai dengan sejarah bangsa dan cita-cita luhur. Memang sekarang sudah tidak zaman lagi membicarakan Perang Dingin di era ini. Akan tetapi, pada kenyataannya telah terjadi perang Jati Diri sesungguhnya. Siapa yang tidak kuat pendirian prinsip tentunya akan mudah dibodohi walaupun negara itu secerdas Albert Einstein dan siapa yang tidak mempunyai keimanan yang kuat dalam mengendalikan nafsu, tentunya ia akan jatuh walaupun negara itu sekuat Julius Caesar akibat kecantikan Cleopatra.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Burhanuddin.. 2006. Menanti Kemakmuran Negeri. Jakarta: Erlangga. Bakry, Noor. 1996. Ikhtisar Pendidikan Kewiraan . Cetakan Pertama. Jogyakarta: Liberty. Chang, Ha-Joon dan Ilene Grabel. 2008. Membongkar Mitos Neolib. Upaya Merebut Kembali Makna Pembangunan (hasil terjemahan). Yogyakarta: Insist Press Giddens, Anthony. 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern. Jakarta: Lembaga Penerbit Universitas Indonesia. Hadi, Shaummil. 2004. Media dan Pengaruhnya Terhadap Kita . Tegalboto: Majalah Mahasiswa Universitas Jember. Edisi X. Halaman 73 -79. Lemhanas. 1992. Kewiraan Untuk Mahasiswa . Cetakan ke-13. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Mubyarto. 2001. Ekonomi Rakyat Indonesia. Jogyakarta: Yayasan Agro Ekonomika Universitas Gadjah Mada Oetoyo, Usman dan Alvian. 1992. Pancasila Sebagai Ideologi . Jakarta: Diterbitkan oleh BP -7 Pusat. Sukirno, Sadono. 1981. Ekonomi Pembangunan. Proses, Masalah, dan Dasar Kebijaksanaan. Medan: Borta Gorat Sutardjo, Wiro. 1996. Pengembangan Sumberdaya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta Todaro, Michael dan Stephen C.Smith. 2006. Pembangunan Ekonomi. Jilid 1. Jakarta: Erlangga. SURAT KABAR Harian Kompas, Edisi Jumat 22 Agustus 2008

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->