P. 1
Thesis Good Corporate Governance

Thesis Good Corporate Governance

|Views: 3,762|Likes:
Published by rajabonar
Tesis mengenai Good Corporate Governance, dilarang memperbanyak isi baik sebagian maupun seluruhnya tanpa izin tertulis dari saya dan apabila ingin filenya dapat menghubungi saya via email di rajabonar@gmail.com dengan memberikan donasi yang akan mendorong diri saya untuk lebih berkarya lagi.
Tesis mengenai Good Corporate Governance, dilarang memperbanyak isi baik sebagian maupun seluruhnya tanpa izin tertulis dari saya dan apabila ingin filenya dapat menghubungi saya via email di rajabonar@gmail.com dengan memberikan donasi yang akan mendorong diri saya untuk lebih berkarya lagi.

More info:

Published by: rajabonar on Nov 26, 2009
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

01/27/2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang.

Berkaitan dengan Letter Of Intent (LOI) yang ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia dan International Monetary Fund (IMF), yang mencantumkan jadwal perbaikan pengelolaan perusahaan-perusahaan di Indonesia, Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (KNKCG) berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia mempunyai tanggung jawab untuk menerapkan standar good corporate governance yang telah diterapkan ditingkat internasional.1 Menurut Paul Krugman runtuhnya perekonomian Indonesia juga disebabkan oleh karena tidak adanya good corporate governance didalam pengelolaan Perusahaan, kajian Booz-Allen & Hamilton pada tahun 1998 menunjukkan bahwa indeks good corporate governance Indonesia adalah yang paling rendah di Asia Timur yaitu 2,88 dibandingkan Malaysia (7,72), Thailand (4,89), Singapura (8,93) dan Jepang (9,17). Perhitungan indeks adalah 0 untuk kondisi paling buruk dan indeks 10 untuk kondisi paling baik.2 Tidak adanya good corporate governance diperparah oleh inefisiensi hukum dan peradilan di Indonesia yang hanya 2,5 jauh apabila dibandingkan dengan Malaysia

1

Good Corporate Governance: Bisakah Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat?, http://artikel.us/sulistyanto1.html 2 Good Corporate Governance, Djalil A Sofyan, disampaikan pada Seminar Corporate Governance di Universitas Sumatera Utara pada tanggal 26 Juni 2000, hal. 3.

2

(9,00), Thailand (3,25), Singapura (10,00) dan Jepang (10,00) dengan perhitungan indeks 0 untuk kondisi yang paling buruk dan indeks 10 untuk kondisi paling baik.3 Corporate Governance merupakan proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan urusan-urusan perusahaan dalam rangka meningkatkan kemakmuran bisnis dan akuntabilitas perusahaan dengan tujuan utama mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders yang lain. Good corporate governance merupakan konsep yang menekankan pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar, akurat, dan tepat waktu serta kewajiban perusahaan untuk mengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat waktu, dan transparan mengenai semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder. Pada dasarnya prinsip corporate governance meliputi empat komponen utama yang diperlukan untuk meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan pemegang saham tanpa mengabaikan kepentingan stakeholders, yaitu :4 1. Prinsip keadilan (fairness). 2. Prinsip transparansi (transparancy). 3. Akuntabilitas (accountability). 4. Responsibilitas (responsibility).

3 4

Ibid, FCGI, “Seri Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) Jilid II : Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit dalam pelaksanaan Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan)”, Hal. 1.

3

Prinsip corporate governance diharapkan dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan pemakai laporan keuangan, termasuk investor yang merupakan pemegang saham minoritas sehingga para investor khususnya investor asing dapat menanamkan modalnya di Indonesia melalui Pasar Modal. Dalam kondisi sosial ekonomi Indonesia saat ini, BAPEPAM sebagai regulator Pasar Modal, mempunyai peranan penting dalam mengupayakan penerapan good corporate governance oleh perusahaan terbuka. Salah satu upaya yang dilakukan BAPEPAM adalah memperbaiki dan menerbitkan peraturan-peraturan baru yang berkaitan dengan aspek corporate governance. Pada bulan Maret 2000, BAPEPAM merevisi peraturan VIII. G. 7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan. Selain dalam rangka meningkatkan kualitas keterbukaan laporan keuangan, latar belakang direvisinya peraturan tersebut adalah dalam rangka harmonisasi dengan PSAK-PSAK baru dan International Accounting Standards (IAS). Kemudian sejalan dengan komitmen untuk meningkatkan keandalan informasi dalam laporan keuangan, BAPEPAM juga telah menerbitkan Surat Edaran SE-O3/ PM/ 2000 tanggal 5 Mei 2000 yang merekomendasikan perusahaan terbuka untuk membentuk komite audit. Komite audit berfungsi membantu dewan komisiaris meningkatkan kualitas laporan keuangan, menciptakan iklim disiplin dan pengendalian yang dapat mengurangi kesempatan terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan perusahaan, meningkatkan

4

efektivitas fungsi internal audit maupun eksternal audit, dan mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian dewan komisaris.5 BAPEPAM juga merevisi dan menerbitkan beberapa peraturan lainnya seperti peraturan IX. H. 1 tentang pengambilalihan perusahaan terbuka, peraturan IX. F. 1 tentang Penawaran Tender, dan peraturan IX. E. 2 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha. Pada saat yang bersamaan, BAPEPAM mencabut peraturan VIII. G. 10 yang mengatur tentang penangguhan rugi selisih kurs, agar ketentuan BAPEPAM sesuai dengan standar internasional. Saat ini BAPEPAM dalam proses merevisi beberapa peraturan lainnya antara lain peraturan IX. E. 1 tentang Transaksi yang Mengandung Benturan Kepentingan Tertentu. Kesemuanya ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas keterbukaan di Pasar Modal. BAPEPAM juga berupaya meningkatkan fungsi corporate secretary agar lebih aktif menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan dan operasional perusahaan kepada publik dan memastikan bahwa manajemen selalu menyediakan informasi tersebut secara memadai dan tepat waktu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, diharapkan BAPEPAM akan menerapkan sistem pelaporan elektronik karena diseminasi informasi yang tepat waktu dan akurat akan dapat berjalan secara lebih efektif dan efisien. Disamping itu, BAPEPAM akan melakukan koordinasi dengan Self Regulatory Organisations (SROs) seperi bursa efek

5

Peranan BAPEPAM dalam penegakkan indonesia.org/lokakarya/yogyaherwit.html,

Corporate

Governance,

http://www.nccg-

5

untuk menentukan hal-hal apa saja yang menjadi kewajiban perusahaan terbuka dalam penerapan corporate governance. Tidak kalah pentingnya adalah upaya BAPEPAM melakukan law enforcement secara efektif. BAPEPAM merasakan pentingnya ketersediaan penyidik yang handal dengan menyelenggarakan pendidikan penyidik, baik di tingkat eksekutif maupun staff. Kegiatan penegakan hukum semakin ditingkatkan dan pada semester pertama tahun 2000. BAPEPAM telah menjatuhkan sanksi kepada sembilan Emiten sehubungan dengan pelanggaran atas ketentuan transaksi yang benturan kepentingan dan keterbukaan informasi. Dengan ditingkatkannya kapasitas penegakan hukum,

diharapkan tidak hanya mendorong perubahan dalam kultur corporate governance, tetapi juga akan menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan Pasar Modal. Walaupun perangkat hukum sehubungan dengan keterbukaan dan perlindungan hak-hak pemegang saham dalam rangka pelaksanaan RUPS telah komprehensif dan memadai, namun terdapat beberapa faktor yang menyebabkan perusahaan terbuka dapat melaksanakan kehendak bisnis mereka dengan sedikit mempertimbangkan kepentingan pemegang saham minoritas. Pertama, mayoritas perusahaan terbuka di Indonesia dikendalikan oleh keluarga, kelompok atau konglomerasi yang memegang lebih dari 50% saham yang beredar. Kondisi ini menyebabkan pihak pengendali dapat dengan mudah memperoleh

6

persetujuan atas proposal yang mereka ajukan, karena mereka memegang mayoritas hak suara. Peranan BAPEPAM dalam Penegakan Corporate Governance. Kedua, walaupun dalam hal transaksi yang mengandung benturan kepentingan memerlukan persetujuan pemegang saham minoritas (independen), dalam prakteknya adalah sulit bagi BAPEPAM untuk mengontrol dan memonitor. Biasanya pemegang saham minoritas tidak menggunakan kesempatan untuk hadir dalam RUPS pertama, mengharuskan dilaksanakannya RUPS yang kedua, dengan kewajiban kuorum yang lebih rendah. Hal ini memungkinkan pengambilan suara dapat dengan mudah dimenangkan oleh pihak pengendali yang berkepentingan. Ketiga, walaupun keterbukaan yang dilakukan perusahaan kurang memadai atau menyesatkan dapat dijadikan dasar untuk mengajukan tuntutan terhadap direksi perusahaan ke pengadilan dan, dalam beberapa hal, merupakan kasus pidana, namun belum ada pihak yang melakukan hal tersebut sejak Undang-undang Pasar Modal diberlakukan mulai tanggal 1 Januari 1996. Dengan demikian, belum ada yurisprudensi atau preseden bagi perlindungan hukum hak-hak pemegang saham minoritas. Keempat, karakteristik pasar keuangan Indonesia didasari oleh hubungan yang dimotori perbankan, dimana pemegang saham utama suatu perusahaan sering kali juga memiliki usaha di bidang perbankan. Pemberian kredit yang tidak didasari oleh keputusan yang wajar (arm length) telah mengakibatkan berkurangnya good will dari pemegang saham di pasar modal. Dengan demikian, pemegang saham pengendali

7

perusahaan terbuka tidak termotivasi menjalankan bisnis secara wajar dan adil dengan pemegang saham minoritas. Pengalaman yang terjadi di Indonesia mengindikasikan bahwa peraturan perundangan yang memadai telah tersedia untuk memastikan keterbukaan dan perlakuan yang wajar bagi pemegang saham minoritas. Namun, ada dua elemen utama yang terkait dengan good governance. Pertama, mayoritas perusahaan terbuka dan pemegang saham pengendali harus dengan tulus mempercayai bahwa adalah demi kepentingan ekonomis mereka jugalah untuk memperlakukan pemegang. saham minoritas secara wajar. Dengan demikian, harus ada good will untuk merubah kultur dan memasukkan konsep kewajiban fidusiari dalam menjalankan kegiatan usaha mereka. Kedua, harus ada penegakan hukum yang berarti dari pengadilan yang memperkenankan tuntutan baik dari regulator dan publik untuk memperoleh ganti rugi baik perdata maupun pidana. Walau di lingkungan yang menerapkan standar etika yang tertinggipun, masih selalu akan ada pihak yang melakukan penyimpangan. Dengan demikian, publik harus memiliki persepsi bahwa dalam hal-hal sebagaimana disebutkan sebelumnya, mereka dapat menggunakan jalur hukum melalui pengadilan. Di Indonesia, BAPEPAM telah memulai menciptakan kondisi yang kondusif bagi penerapan good corporate governance dengan mengeluarkan perangkat peraturan yang memenuhi standar internasional, namun masih banyak hal yang harus dilakukan

8

untuk mengubah persepsi dan motivasi perusahaan terbuka dan meningkatkan sistem peradilan kita guna mendukung penegakan peraturan-peraturan tersebut. Secara umum dirasakan bahwa kerangka peraturan perundangan di Indonesia sudah memadai untuk menjamin aspek keterbukaan dan pelaksanaan sebagai bagian dari perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham di Pasar Modal, namun guna meningkatkan penerapan good corporate governance, tidaklah cukup bagi kita untuk menitikberatkan dari segi peraturan dan perundangan saja, dimana peraturan tersebut berasal dari pemerintah. Oleh karena itu BAPEPAM juga menghargai upaya-upaya dari setiap asosiasi atau organisasi profesi untuk menyusun kesepakatan-kesepakatan, norma-norma, kode etik, best practices, atau perangkat aturan sebagai pedoman dalam menjalankan kegiatannya atas inisiatif internal masing-masing asosiasi atau organisasi. Hal ini dikarenakan pada umumnya aturan yang diciptakan dan disepakati para pihak yang menjadi objek dari ketentuan tersebut akan menghasilkan implementasi yang lebih baik dibandingkan apabila aturan atau regulasi tersebut disusun oleh pihak lain seperti Pemerintah. BAPEPAM juga sangat mendukung setiap lembaga atau pihak yang mensosialisasikan pentingnya penerapan good corporate governance. BAPEPAM juga sekaligus mendukung didirikannya lembaga yang turut aktif mendorong penerapan corporate governance di Indonesia seperti Forum of Corporate Governance Indonesia (FCGI) yang disponsori oleh Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) dan Indonesian

9

Financial Executive Association (IFEA) serta rencana pendirian Asosiasi Komisaris atau Non Executive Directors Institute yang akan dikembangkan oleh beberapa pihak. Tentu kita juga harus memberikan perhatian yang sama besarnya untuk meningkatkan hal-hal penting lain yang terkait seperti penegakan hukum, pemahaman para praktisi hukum tentang pelaporan keuangan, sistem peradilan yang efektif, dan itikad baik serta motivasi setiap pihak untuk menerapkan corporate governance. B. Perumusan Masalah. Dari uraian pendahuluan, terdapat beberapa hal yang dijadikan perumusan masalah dalam penulisan tesis ini, yaitu : 1. Bagaimana aspek hukum Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal ? 2. Bagaimana peranan BAPEPAM dalam penerapan Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal ? 3. Bagaimana penyelesaian pelanggaran penerapan Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal yang dilakukan oleh BAPEPAM ? C. Tujuan Penulisan. Adapun yang menjadi tujuan penulisan tesis ini adalah : 1. Mengetahui tentang aspek hukum aspek hukum Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal. 2. Mengetahui peranan BAPEPAM dalam penerapan Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal.

10

3. Mengetahui cara menyelesaikan pelanggaran penerapan Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal yang dilakukan oleh BAPEPAM. D. Kerangka Teori dan Konsepsi Untuk menganalisis data mengenai prinsip pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) yang dilaksanakan oleh Perusahaan Publik dengan memasukkan peranan BAPEPAM dan BEJ penulis menggunakan dua teori yaitu teori tentang sistem hukum dan teori hukum adalah kontrol sosial dari Pemerintah. Alasan menggunakan teori–teori tersebut, karena penulis berpendapat bahwa prinsip Good Corporate Governance merupakan elemen substansi dalam sistem hukum yang merupakan hasil dari perubahan hukum dan memiliki karakteristik hukum tertentu. Mengenai sistem hukum (legal system). Friedman menyatakan bahwa sistem hukum terdiri atas tiga elemen, yaitu elemen struktur (structure), substansi (substance), budaya hukum (legal culture), elemen Struktur dirumuskan oleh Friedman sebagai berikut : “The structure of a legal system consists of elements of this kind : the number and size of courts; their yurisdiction (that is, what kind of cases they hear, and how and why), and modes of appeal from one court to another. Structure also means how the legislature is organized, how many members sit on the Federal Trade Commission, what a president can (legally) do or not do, what procedures the police department follows, and so on.6 Friedman mengatakan bahwa struktur dari sistem hukum terdiri dari unsur berikut ini : jumlah dan ukuran pengadilan, yurisdiksinya (yaitu jenis kasus yang mereka

6

Lawrence M. Friedman, American Law, Penguin Books Canada Ltd, 1984, hal. 5.

11

periksa, dan bagaimana serta mengapa), dan cara naik banding dari satu pengadilan ke pengadilan lainnya. Struktur juga berarti bagaimana badan legislatif ditata, berapa banyak anggota yang duduk di Komisi Dagang Federal, apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh seorang Presiden, prosedur apa yang diikuti oleh departemen kepolisian, dan sebagainya. Mengacu kepada rumusan Friedman maka Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) merupakan elemen struktur dari sistem hukum dikarenakan Bapepam mempunyai kewenangan melakukan pembinaan, pengaturan dan pengawasan sehari-hari kegiatan Pasar Modal kinerja Pasar Modal. Bapepam mempunyai kewenangan untuk membuat peraturan mengenai penerapan Good Corporate Governance di Pasar Modal dan dapat melakukan penyelidikan pelanggaran sekaligus memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang melakukan kegiatan di Bursa Saham apabila melakukan pelanggaran. Elemen kedua dari sistem hukum adalah substansi hukum, yaitu : “By this is meant the actual rules, norms, and behavior patterns of people inside the system. This is, first of all, “the law” in the popular sense of the term the fact that the speed limit is fifty-five miles an hour, that burglars can be sent to prison, that “by law” a pickle maker has to list his ingredients on the label of the jar.7 Friedman mengatakan bahwa yang dimaksud dengan substansi hukum adalah peraturan perundang-undangan yang ada, norma-norma dan aturan tentang perilaku manusia atau yang biasa dikenal orang sebagai hukum adalah substansi hukum, berdasarkan teori ini maka Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
7

Ibid, Hal. 6

12

yang dilengkapi Keputusan Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan, Keputusan Ketua Bapepam maupun Surat Edaran (SE) Bapepam. Undang-Undang Pasar Modal memberikan kewenangan Bapepam untuk membuat aturan yang mengatur pelaksanaan Good Corporate Governance di Pasar Modal dan berhak melakukan pemeriksaan bagi pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-Undang Pasar Modal dan/atau peraturan pelaksanaannya. Apabila Bapepam berpendapat bahwa pelanggaran tersebut mengakibatkan kerugian bagi kepentingan Pasar Modal maka Bapepam dapat melakukan tindakan lanjutan berupa penyidikan dan dapat memberikan sanksi administratif bagi para pihak yang memperoleh izin, persetujuan atau pendaftaran dari Bapepam. Bursa Efek baik Jakarta maupun Surabaya beserta Lembaga Kliring dan Penjaminan dan Lembaga Penyimpanan Dan Penyelesaian merupakan Special Regulatory Organization (SRO) yang mempunyai kewenangan membuat peraturan mengenai pelaksanaan Pasar Modal khususnya peraturan pelaksanaan Good Corporate Governance. Mengenai budaya hukum, Friedman mengartikannya sebagai sikap dari masyarakat terhadap hukum dan sistem hukum, tentang keyakinan, nilai, gagasan serta harapan masyarakat tentang hukum yang dirumuskan sebagai berikut : “By this we mean the actual rules, norms, and behavior patterns of people inside the system. This is, firs of all, “the law” in the popular sense of the term the fact that the

13

speed limit is fifty-five miles and hour, that burglars can be sent to prison, that “by law” a pickle maker has to list his ingredients on the label of the jar.8 Undang-Undang Pasar Modal memberikan kewenangan kepada Bapepam untuk membuat aturan yang mengatur Pasar Modal dan berhak melakukan pemeriksaan bagi pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran di Pasar Modal. Dalam rangka kewenangan berkaitan dengan pengenaan sanksi, Bapepam tetap mengedepankan unsur pembinaan dengan tetap berdasarkan kepada ketentuan peraturan perundangundangan di bidang Pasar Modal yang berlaku. Bapepam dalam mengenakan sanksi administratif tetap memperhatikan aspek pembinaan terhadap Pihak-pihak yang diduga melakukan pelanggaran sesuai dengan penjelasan Pasal 102 ayat (1) UUPM. Penjelasan Pasal 102 ayat (1) UUPM, yaitu :

“Dalam menerapkan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 ayat
(1), Bapepam perlu memperhatikan aspek pembinaan terhadap Pihak dimaksud.” Aspek pembinaan dilakukan untuk merubah budaya hukum (legal culture) masyarakat pasar modal agar menjalankan Good Corporate Governance sebaik mungkin untuk menciptakan suasana pasar modal yang teratur, wajar dan efisien sehingga tidak merugikan masyarakat sebagai investor yang merupakan pemegang saham minoritas. Menurut Black, semua hukum adalah kontrol sosial, namun tidak semua kontrol sosial adalah hukum karena masih ada jenis kontrol sosial lainnya seperti Guru menggunakan aturan agar anak-anak didiknya berprilaku baik atau orang tua membuat

8

Ibid, Hal. 6

14

aturan bagi anaknya di rumah, hal ini dilakukan dengan harapan membentuk perilaku untuk masa depan.9 Bentuk kontrol sosial ini bukan berasal dari Pemerintah sehingga bentuk ini tidak resmi (unofficial) dan bukan bagian dari alat negara. Menurut definisi Black bentuk ini bukan hukum karena hukum adalah kontrol sosial dari Pemerintah. Peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal terdiri dari UndangUndang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang dilengkapi Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan dan Keputusan Ketua Bapepam merupakan bentuk kontrol sosial untuk menciptakan Pasar Modal yang teratur, wajar dan efisien. Perubahan hukum sebagaimana yang digambarkan oleh Friedman pada dasarnya akan melahirkan beberapa karakteristik hukum dipandang dari posisi dan hubungannya dengan masyarakat, yaitu substansi hukum yang bersifat represif, otonom dan responsif. Hukum yang represif bersifat pasif dan oportunis terhadap sosial dan politik. Artinya hukum berorientasi pada kepentingan politik dan kekuasaan. Dalam konteks hukum perusahaan, maka hukum yang represif adalah hukum yang dibangun hanya mengutamakan kebijaksanaan atau kepentingan pemerintah dan perusahaan karena perusahaan dianggap memiliki andil yang kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan perekonomian negara. Sedangkan hukum yang otonom adalah hukum yang dibentuk tidak memiliki dampak atau pengaruh terhadap stakeholders dan pemegang saham minoritas, ada perubahan tetapi manfaat bagi stakeholders tidak tidak dirasakan atau terpenuhi.
9

Ibid, Hal. 4.

15

Selanjutnya hukum yang responsif adalah hukum yang mengakomodasi dan kondusif bagi pembangunan, termasuk melindungi kepentingan stakeholders dan pemegang saham minoritas. Dengan mengacu kepda kerangka teori diatas, maka secara teoritis pemelitian ini merupakan suatu studi terhadap hukum perusahaan agar tercipta suatu hukum yang respionsif sehingga dalam mengelola perusahaan haruslah memperhatikan kepentingan stakeholders dan pemegang saham minoritas dengan menerapkan prinsip-prionsip Good Corporate governance, Transparansi, Akuntabilitas, fairness dan responsibilitas agar terciptanya pengelolaan perusahaan yang baik dan dapat menarik investor. E. Metode Penelitian. Penelitian mengenai Penerapan Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) bagi Perusahaan Publik merupakan suatu penelitian yuridis normatif, maka penelitian ini berbasis pada analisis terhadap norma hukum yaitu dalam peraturan perundang-undangan (law as it is written in the books). Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah pengumpulan data yang sudah ada dilapangan, baik berupa data primer maupun data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara pengamatan di lapangan serta wawancara dengan pihak-pihak yang terkait, terutama dari BAPEPAM. Data sekunder yang ada digolongkan dalam dua bahan hukum yaitu bahan primer (primary sources) dan bahan sekunder (secondary sources), bahan primer meliputi produk lembaga legislatif, dalam konteks penelitian ini bahan yang dimaksud

16

adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal beserta Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan dan Keputusan Ketua Bapepam. Bahan-bahan Hukum primer yang sama dengan Undang-Undang adalah putusanputusan Bapepam, hal ini dikarenakan Undang-Undang Pasar Modal memberikan kewenangan kepada Bapepam untuk melakukan pemeriksaan bagi pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-Undang Pasar Modal dan/atau peraturan pelaksanaannya. Bursa Efek baik Jakarta maupun Surabaya beserta Lembaga Kliring dan Penjaminan dan Lembaga Penyimpanan Dan Penyelesaian merupakan Special Regulatory Organization (SRO) yang mempunyai kewenangan membuat peraturan mengenai pelaksanaan Pasar Modal sehingga juga dimasukkan sebagai bahan hukum primer. Bahan-bahan sekunder berupa tulisan-tulisan, makalah dalam buku, jurnal, majalah ilmiah tentang Hukum Pasar Modal serta buku-buku lainnya yang berkaitan dengan topik ini. Sedangkan penelitian kepustakaan antara lain dilakukan di beberapa perpustakaan di Universitas Indonesia, Bapepam dan BEJ. Pengumpulan data melalui wawancara dilakukan terhadap beberapa narasumber (informan) yang dinilai memahami Good Corporate Governance di Pasar Modal. Data hasil penelitian ini dianalisis secara kualitatif, artinya data kepustakaan dan hasil wawancara dianalisis secara mendalam, menyeluruh dan merupakan satu kesatuan yang bulat dengan mendeskripsikan keadaan dilapangan serta membandingkannya dengan peraturan yang telah disediakan.

17

F. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan, dalam bab ini menjelaskan tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian dan sistematika penulisan. Bab II Aspek hukum Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal. Bab III Peranan BAPEPAM dan Bursa Efek dalam penerapan Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal Bab IV Penyelesaian pelanggaran penerapan Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal. Bab V Penutup, bab ini menjelaskan tentang kesimpulan dan saran.

18

BAB II ASPEK HUKUM PENGELOLAAN PERUSAHAAN YANG BAIK (GOOD CORPORATE GOVERNANCE) DI PASAR MODAL A. Konsep Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Salah satu penyebab timbulnya krisis ekonomi disejumlah negara-negara di Asia yang disebabkan oleh karena lemahnya penegakan dan kepastian hukum didalam bidang ekonomi. Penegakan hukum didalam bidang ekonomi tidak berlangsung secara seimbang yang dikarenakan kebijakan untuk memacu pertumbuhan ekonomi tidak diikuti dengan langkah untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi hukum sebagai desain yang dapat mengontrol sekaligus mendorong timbulnya praktek-praktek yang jujur dan transparan dikalangan dunia usaha. Kondisi ini telah meracuni setiap bagian yang melekat dengan aktifitas perekonomian kita, dimana perilaku-perilaku yang tidak jujur dari perusahaanperusahaan di Indonesia menimbulkan berbagai kesulitan khususnya dalam aspek yuridis untuk meminta pertanggungjawaban dari perbuatan-perbuatan hukum yang dibuat perseroan. Krisis moneter yang melanda Indonesia telah menimbulkan kesadaran baru bahwa satu-satunya jalan agar penyelesaian krisis ini dapat segera teratasi maka tidak ada pilihan selain mendesain ulang seluruh komponen supra struktur dan infra struktur sistem dan mekanisme finansial. Didalam era ekonomi baru maka perkembangan atas kajian tentang prinsip prinsip good corporate governance telah bergerak sangat pesat karena adanya tuntutan

19

terhadap perilaku usaha (business behavior) agar mereka dapat membenahi anatomi korporasi mereka dengan cara menerapkan sistem yang saling mengontrol antara pengurus dan pemegang saham.10 Realitas menunjukkan prilaku emiten atau perusahaan publik yang memiliki komisaris atau direktur yang berhubungan langsung dengan pemegang saham utama, telah menimbulkan benturan kepentingan (conflict of interest). Sering kepentingan pemegang saham lainnya terabaikan, perkembangan usaha perseroan ditentukan oleh keinginan pemegang saham utama tanpa melibatkan minoritas. Kondisi ini mempegaruhi substansi independensi pengurus perseroan dalam hal menyampaikan informasi material kepada pemegang saham lainnya. Perseroan yang ingin terus berkembang harus mendisain kerangka hukum perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance yang implikasinya positif dari partisipasi pemodal lainnya. Konsep Good Corporate Governance adalah konsep pengimplementasikan perusahaan-perusahaan di Indonesia karena melalui konsep yang menyangkut struktur perseroan yang terdiri dari unsur-unsur RUPS, Direksi dan komisaris dapat terjalin hubungan dan mekanisme kerja, pembagian tugas, kewenangan dan tanggung jawab yang harmonis baik secara intern maupun ekstern dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan demi kepentingan shareholders dan stakeholders.

10

http://216.239.57.104/search? q=cache:94hc_1VFofsJ:www.safitri.com/lawoffice/indo/aspek_good_corporate_governance.htm+makalah +good+corporate+governance&hl=en&ie=UTF-8

20

Keberhasilan Good Corporate Governance tergantung kepada berfungsinya organ-organ perseroan secara efektif, berfungsinya sistem yang mengatur hubungan struktural antar ketiga organ perseroan, shareholders dan stakeholders yang dalam pelaksanaannya harus didukung oleh ketiga organ Perseroan Terbatas itu. Pengaturan hubungan yang harus seimbang dan harmonis antar pihak-pihak yang berperan dalam perseroan merupakan salah satu usaha sistem Good Corporate Governance untuk melindungi kepentingan seluruh pemegang saham termasuk pemegang saham minoritas. Good Corporate Governance terkait erat dengan usaha mengurangi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam transaksi atau perundingan bisnis, Good Corporate Governance berusaha mencegah malpraktik dan kecurangan, Good Corporate Governance menjadikan tindak pidana Korupsi, Kolusi dan Nepotisme menjadi sulit berkembang dan Good Corporate Governance mencegah dan mengeliminasi penyimpangan yang menghambat pengembangan perusahaan. Untuk memulihkan krisis ekonomi yang berkepanjangan ini implementasi Good Corporate Governance merupakan suatu metode yang tidak dapat ditawar lagi untuk memulihkan krisis ekonomi yang terjadi selama ini, pelaku usaha Indonesia harus menerapkan Good Corporate Governance karena Good Corporate Governance tidak membiarkan adanya korupsi dan praktik KKN lainnya dalam dunia usaha yang sehat. Implementasi Good Corporate Governance adalah langkah nyata untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja dunia usaha.

21

Good Corporate Governance diharapkan mampu mengusahakan keseimbangan antara berbagai kepentingan yang dapat memberi keuntungan antara berbagai kepentingan yang dapat memberi keuntungan bagi perusahaan secara menyeluruh, dengan demikian implementasi Good Corporate Governance menjadi penting karena kemampuan pengelolaan perusahaan berakibat pada efisiensi yang digunakan oleh suatu perusahaan untuk menarik modal berisiko kecil, kemampuan perusahaan untuk memenuhi harapan masyarakat dan kinerja secara keseluruhan. B. Aspek Hukum Pengelolaan Perusahaan yang baik di Pasar Modal. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang diimplementasikan pada perusahaan-perusahaan di Indonesia berasal dari Organization for Economy Cooperation and Development (OECD) yang mengatur empat prinsip dasar Good Corporate Governance yaitu diperlukannya sebuah sistem yang mampu menjamin berlangsungnya praktek-praktek usaha yang berdasarkan kepada keterbukaan dan (transparency), akuntabilitas

pertanggungjawaban (accountability).

(responsibility),

keadilan

(fairness)

Prinsip Fairness atau keadilan yang berlaku di Pasar Modal mengutamakan pada persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham dan adanya perlindungan hukum terhadap pemegang saham minoritas, karena investor baik asing maupun lokal dalam pasar modal berkedudukan sebagai pemegang saham minoritas sehingga perlu lebih diperhatikan perlindungan hukumnya.11

11

Anis Baridwan, Corporate Governance dari sudut pandang pasar modal, disusun oleh Sofyan Djalil

22

Prinsip Transparency atau transparansi yang ada di Pasar Modal adalah Perusahaan wajib mendisclose material yang akurat, memadai serta tepat waktu sehingga pemegang saham maupun investor dapat menggunakan informasi tersebut dalam mengambil keputusan investasinya. Prinsip Accountability atau akuntabilitas pada pasar modal dimana pengurus perusahaan wajib melakukan pengelolaan perusahaan dengan sungguh-sungguh serta melakukan hal terbaik untuk kepentingan perusahaan (fiduciary duties). Berdasarkan hal diatas dapat dikatakan bahwa Corporate Governance pada Perusahaan yang mendaftarkan sahamnya di Pasar Modal (Emiten) berupa : 1. Perlindungan hak-hak pemegang saham. 2. Persamaan perlakuan terhadap pemegang saham. 3. Peranan pengurus perusahaan. 4. Peranan stakeholder. 5. Aspek keterbukaan. Perlindungan hak-hak pemegang saham terdiri atas hak atas keamanan pencatatan kepemilikan saham, hak untuk mendapatkan informasi tentang perusahaan, hak untuk hadir dan bersuara dalam Rapat Umum Pemegang Saham, hak untuk memperoleh bagian dari keuntungan perusahaan. Perseroan Terbatas (PT) merupakan badan hukum (legal entity) yang mandiri (persona standi in judicio) yang memiliki sifat dan ciri kualitas yang berbeda dari bentuk usaha yang lain sebagai karakteristik suatu PT antara lain adanya : 1. Pemisahan fungsi antara pemegang saham dan pengurus atau direksi.

23

2. Memiliki komisaris yang berfungsi sebagai pengawas. 3. Kekuasaan tertinggi berada pada Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS.12 Dengan demikian Perseroan Terbatas mempunyai tiga organ Perseroan agar masingmasing organ independen (tidak dipengaruhi oleh organ lainnya) namun diharapkan juga tercipta adanya check and balance antara tiga organ Perseroan tersebut. Pengelolaan Perseroan Terbatas diberikan kepada Direksi yang dianggap sebagai tenaga profesional dan bertugas untuk kepentingan Perseroan dan menjalankan manajemen Perseroan agar diharapkan Perseroan berkembang dengan pesat dan mendapat untung yang besar sehingga diharapkan Perseroan dan para pemegang saham memperoleh keuntungan yang maksimal dengan biaya seefisien mungkin. Hal ini mencerminkan prinsip akuntabilitas dimana Direksi dapat dipercaya untuk mewakili perusahaan baik didalam maupun diluar pengadilan karena perusahaan merupakan suatu yang abstrak dan segala hal yang dilakukan oleh perusahaan tersebut dilakukan oleh Direksi beserta jajarannya. Didalam mengelola Perseroan Terbatas Direksi harus memperhatikan hak-hak para pemegang saham melalui prosedur yang memadai yang ditetapkan oleh Perseroan yang pada dasarnya terdiri atas : 1. Hak untuk menghadiri dan memberikan suara pada RUPS berdasarkan prinsip satu saham satu suara.

12

Widjaya, I.G. Rai, Hukum Perusahaan, (Jakarta : Mega Poin, 2000), Hal. 143.

24

Hal ini mencerminkan prinsip keadilan (fairness) karena saham menunjukkan partisipasi investor di perusahaan tersebut, dengan demikian semakin banyak saham yang dipunyai semakin besarlah peranannya di perusahaan tersebut. 2. Hak untuk mendapatkan informasi mengenai Perseroan secara tepat waktu dan teratur yang memungkinkan seorang pemegang saham membuat keputusan yang baik mengenai investasi yang berkaitan dengan sahamnya dalam Perseroan. Hal ini mencerminkan prinsip transparansi (transparency) karena Perseroan melakukan keterbukaan (disclosure), memberikan informasi sebenarnya tentang Perseroan tersebut saat ini (up to date) dan tidak menyembunyikan apapun sehingga pemegang saham dapat memperhitungkan tindakannya dan tidak terjebak akan informasi yang menyesatkan. 3. Hak untuk ikut serta dalam pembagian keuntungan dengan menerima pembagian keuntungan.13 Hal ini mencerminkan prinsip keadilan (fairness) dimana pembagian keuntungan didasarkan atas banyaknya saham yang dimiliki, hal ini dikarenakan saham merupakan wujud partisipasi individu didalam Perseroan. Definisi mengenai Pemegang Saham Mayoritas menurut sistem hukum Common Law adalah sebagai berikut : “Majority stockholder : One who owns or controls more than 50% (percent) of the stock of a corporation, through effective control may be maintained with far less than 50 (fifty) percent if most of the stock is widelyheld. In close corporation, majority shareholders may owe fiduciary, partner like duties to minority shareholders.

13

A. Djalil Sofyan, Hukum Perusahaan Dan Kepailitan, (Jakarta : FHUI, 2002), Hal. 12.

25

Majority Shareholder : A shareholder who owns or controls more than half the corporation’s stock”. Menurut Rudhi Prasetya, pemegang saham minoritas adalah satu atau sejumlah pemegang saham yang relatif menguasai lebih banyak saham yang dikeluarkan oleh perseroan. Definisi pemegang saham minoritas menurut sistem hukum Common Law adalah sebagai berikut : “Minority stockholder : Those stockholders of a corporation who hold so few shares in relation to the total outstanding that they are unable to control the management of the corporations or to elect directors. Minority shareholders : A shareholder who own less than half the total shares outstanding and thus cannot control the corporation’s management or singlehandedly elect directors”. Menurut Rudhi Prasetya, pemegang saham minoritas adalah satu atau sejumlah pemegang saham yang relatif hanya menguasai sejumlah saham, yang kalah banyaknya terhadap satu atau sekelompok pemegang saham lainnya. Dalam suatu Perseroan Terbatas apabila terdapat perbedaan pemilikkan saham Perseroan dengan selisih jumlah yang begitu besar maka akan dijumpai adanya pemegang saham mayoritas dipihak yang satu dan dipihak lain adalah pemegang saham minoritas, juga dengan perbedaan jumlah suara yang mencolok. Prinsip mayoritas sering menyebabkan pemegang saham minoritas berada pada posisi yang tidak berdaya dan kurang menguntungkan dalam menegakkan

kepentingannya karena kedudukan Hukum para pemegang saham minoritas ini jauh lebih lemah dan tidak mampu menghadapi tindakan Direksi atau Komisaris yang

26

merugikan Perseroan disebabkan oleh kedudukan pemegang saham mayoritas yang identik dengan kedua organ Perseroan tersebut, baik secara fisik maupun kepentingan.14 Para pemegang saham harus diperlakukan secara adil berdasarkan prinsip kesetaraan maka para pemegang saham harus mempunyai hak penuh yang tidak dilanggar untuk memberikan satu suara untuk setiap saham dan Perseroan harus memberikan informasi kepada pemegang saham sehingga memungkinkan pemberian suara yang bermanfaat dan dalam hal ini Perseroan dan Direksi sebagai pengelola Perseroan tidak boleh berpihak.15 Prinsip one share, one vote didasarkan pada suatu pemikiran bahwa pemegang saham mayoritas sebagai penyandang dana utama selalu dihadapkan pada dua sisi yang kontradiktif, disatu sisi berharap mendapatkan deviden yang besar tetapi disisi lain kuatir akan menanggung resiko kerugian yang besar juga sesuai jumlah saham yang dimilikinya. Prinsip one share, one vote merupakan prinsip dasar dan hakikat dari maksud berdirinya suatu PT. Manning Gilbert Warren III dalam bukunya A Perception of Legitimacy menyatakan : “One vote one share rule is based on the principle of apportioning voting power commensurate with the investment risk taken by common stockholders as residual owners”.

14 15

Widjaya, I.G. Rai, loc. Cit., Hal. 203. A. Djalil Sofyan, loc. Cit., Hal. 12-13.

27

Para pemegang saham minoritas juga mempunyai hak-hak yang telah diatur secara jelas didalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 mengenai Perseroan Terbatas yaitu : 1. Hak untuk mengawasi atau menerima informasi dari Perseroan berdasarkan Pasal 63 Ayat 2 Undang-Undang PT. 2. Hak untuk meminta diadakannya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) berdasarkan Pasal 66 Ayat 2 dan Pasal 67 (1) UUPT. 3. 4. Hak untuk memeriksa Perseroan berdasarkan Pasal 110 UUPT. Hak mendapat ganti rugi dalam bentuk pembelian kembali saham yang telah ditempatkan oleh Perseroan dengan dana yang bukan berasal dari laba, diatur dalam Pasal 30 Ayat 3 UUPT. 5. Hak menuntut karena tindakan yang tidak adil atau tidak perlu berdasarkan Pasal 52 (2) UUPT. 6. Hak menuntut karena kelalaian atau kesalahan manajemen (Pasal 85 (3) dan 98 (2) UUPT. 7. Hak mayoritas khusus yang berupa pembelian kembali saham yang telah ditempatkan berdasarkan Pasal 31 (2) UUPT. 8. 9. Hak melakukan perubahan Anggaran Dasar berdasarkan Pasal 75 UUPT. Konsolidasi, penggabungan, pengambilalihan, pailit atau pembubaran

berdasarkan Pasal 76 UUPT. 10. Penjualan atau pemberian jaminan atas kekayaan Perseroan berdasarkan Pasal 88 UUPT.

28

11.

Hak untuk keluar dari Perseroan karena likuidasi berdasarkan Pasal 117 (1) b UUPT.

12. 13.

Pembelian kembali saham yang telah ditempatkan (Pasal 55 UUPT). Peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) juga memberikan perlindungan terhadap para pemegang saham minoritas dalam hubungannya dengan transaksi yang mengandung pertentangan kepentingan dan pengambilalihan tertentu.16 Hak untuk mengawasi atau menerima informasi Perseroan dari Direksi atau

Komisaris dapat dilakukan oleh pemegang saham didalam Rapat Umum Pemegang Saham berdasarkan Pasal 63 Ayat 2 Undang-Undang Perseroan Terbatas. Hak meminta diadakannya Rapat Umum Pemegang Saham (Pasal 66 Ayat 2 dan Pasal 67 (1) UUPT) dimintakan kepada Direksi atau Komisaris oleh pemegang saham minoritas. Apabila lewat tiga puluh hari terhitung sejak permintaan tidak melakukan pemanggilan RUPS maka pemegang saham minoritas dapat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan Perseroan untuk dapat memberikan izin kepada Pemohon melakukan sendiri pemanggilan RUPS tahunan atau melakukan sendiri pemanggilan RUPS lainnya atas permohonan pemegang saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (2), apabila Direksi atau Komisaris setelah lewat waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak permintaan tidak melakukan pemanggilan RUPS lainnya.17

16 17

Ibid., Hal. 14 http://www.theceli.com/dokumen/produk/1995/uu1-1995.htm.

29

Penetapan Ketua Pengadilan Negeri ini merupakan penetapan instansi pertama dan terakhir (Pasal 67 (4)), yang karena itu tidak dapat dimintakan banding seperti putusan Pengadilan Negeri lainnya karena hal ini merupakan suatu kekhususan yang diberikan Undang-Undang dalam rangka penegakan kepentingan pemegang saham minoritas agar pelaksanaan RUPS tidak tertunda. Pemegang saham minoritas pemegang saham minoritas dapat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan Perseroan untuk melakukan pemeriksaan terhadap Perseroan apabila permintaan kepada Perseroan untuk memperoleh data-data atau keterangan yang diperlukan ditolak atau tidak diperhatikan oleh Perseroan dan apabila ada dugaan : a. Perseroan melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan pemegang saham atau pihak ketiga; atau b. Anggota Direksi atau Komisaris melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan perseroan atau pemegang saham atau pihak ketiga. Pemeriksaan tersebut diatas hanya dapat dilakukan oleh pemegang saham atas nama diri sendiri atau atas nama Perseroan apabila mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara yang sah, pihak lain yang dalam Anggaran Dasar Perseroan atau perjanjian dengan Perseroan diberi wewenang untuk mengajukan permohonan pemeriksaan dan Kejaksaan dalam hal mewakili kepentingan umum. Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas semua kerugian yang diderita pemegang saham termasuk pemegang saham minoritas yang beritikad baik, yang timbul akibat batal demi hukum dikarenakan perolehan saham, baik secara

30

langsung maupun tidak langsung bertentangan dengan pembelian kembali saham yang telah dikeluarkan Perseroan dengan ketentuan dibayar dari laba bersih sepanjang tidak menyebabkan kekayaan bersih Perseroan menjadi lebih kecil dari jumlah modal yang ditempatkan ditambah cadangan yang diwajibkan sesuai dengan ketentuan Undangundang ini dan jumlah nilai nominal seluruh saham yang dimiliki perseroan bersama dengan yang dimiliki oleh anak perusahaan dan gadai saham yang dipegang, tidak melebihi 10 % (sepuluh persen) dari jumlah modal yang ditempatkan. Pemegang saham selaku subjek Hukum mempunyai hak perseorangan atau (personal right) yang dapat dipertahankan serta dapat menuntut pelaksanaan haknya termasuk dengan mengajukan gugatan terhadap Perseroan melalui Pengadilan Negeri yang daerah Hukumnya meliputi tempat kedudukan Perseroan apabila Perseroan merugikan pemegang saham minoritas dikarenakan tindakan Perseroan yang tidak adil (unfair) dan tanpa alasan yang wajar sebagai akibat keputusan RUPS, Direksi atau Komisaris.18 Hak perseorangan dimaksudkan agar dapat memberikan perlindungan yang baik terhadap pemegang saham namun yang lebih memanfaatkan ketentuan tersebut adalah pemegang saham minoritas karena pemegang saham ini bisa menolak suatu tindakan yang hendak dilakukan oleh Perseroan meskipun hal tersebut telah diputuskan oleh RUPS.19

18 19

Widjaya, I.G. Rai, loc. Cit., Hal. 203. Ibid., Hal. 204.

31

Gugatan yang berdasarkan atas hak utama dari Perseroan tetapi dilaksanakan oleh pemegang saham atas nama Perseroan dinamakan gugatan derivative (derivative suit), jadi gugatan diajukan bukan untuk kepentingan pribadi pemegang saham melainkan untuk Perseroan sehingga segala hasil dari gugatan tersebut menjadi milik Perseroan.20 Gugatan Derivatif merupakan gugatan pengecualian (abnormal) sebab dalam kasus-kasus normal yang bertindak sebagai pihak yang mewakili Perseroan bukan pemegang saham melainkan pihak Direksi atau yang dikuasakan/didelegasikan oleh Direksi, seperti yang biasanya ditentukan dalam anggaran dasarnya. Undang-Undang Perseroan Terbatas memberikan hak suara khusus kepada pemegang saham minoritas untuk dapat bertindak selaku wakil perseroan dalam memperjuangkan kepentingan Perseroan terhadap tindakan Perseroan yang merugikan sebagai akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan baik oleh anggota direksi dan/atau komisaris (Pasal 85 Ayat 3 jo. Pasal 98 ayat 2). Dalam hal tindakan Direksi merugikan Perseroan maka pemegang saham yang memenuhi persyaratan mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara yang sah dapat mewakili Perseroan untuk melakukan tuntutan atau gugatan terhadap Direksi dan atau Komisaris melalui Pengadilan. Tidak semua gugatan yang diajukan oleh pemegang saham dari suatu Perseroan dapat digolongkan sebagai guatan derivative karena banyak model gugatan lain yang

20

Fuady, Munir, Doktrin-Doktrin Modern Dalam Corporate Law, (Bandung : PT. CITRA ADITYA BAKTI, 2002), Hal. 74-75

32

dilakukan oleh pemegang saham yang tidak tergolong ke dalam gugatan derivative, yaitu gugatan langsung (Direct Action), gugatan kelompok (Class Action) dan gugatan representatif (Representative Action). Perbedaan antara gugatan langsung dengan gugatan derivatif adalah jika pada gugatan derivatif gugatan diajukan kepada pihak yang telah merugikan Perseroan, diajukan oleh pemegang saham yang bertindak untuk dan atas nama Perseroan sedangkan pada gugatan langsung pihak pemegang saham mengajukan gugatan juga kepada pihak yang merugikan Perseroan tetapi pemegang saham tersebut bertindak untuk dan atas namanya sendiri karenanya sering disebut juga gugatan individu (individual action).21 Gugatan Derivatif pemegang saham jangan disamakan dengan gugatan class action karena gugatan class action atau gugatan kelompok adalah gugatan yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang dalam suatu kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama, gugatan mana dilakukan secara hukum, tidak membutuhkan surat kuasa yang dianggap dilakukan untuk dan atas nama seluruh anggota kelompok tersebut, bila diajukan oleh pemegang saham maka pemegang saham tersebut secara hukum dianggap mewakili seluruh kelompok pemegang saham yang mempunyai kepentingan yang sama.22

21

D. Cox James, Hazeen Thomas Lee dan O’Neal R. Hodge, Corporations, Aspen Law & Business, (USA : A Division of Aspen Publishers, Inc, 1997), Hal. 400. 22 Ibid., Hal. 398.

33

Pengadilan Negeri dapat membubarkan Perseroan atas permohonan satu orang pemegang saham atau lebih yang mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara yang sah berdasarkan Pasal 117 Ayat 1 b UUPT. Apabila Perseroan melakukan perbuatan hukum penggabungan, peleburan dan pengambilalihan Perseroan harus memperhatikan kepentingan Perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan Perseroan, kepentingan masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha. Penggabungan, peleburan dan pengambilalihan Perseroan tidak mengurangi hak pemegang saham minoritas untuk menjual sahamnya dengan harga yang wajar sebagaimana diatur dalam Pasal 55 Ayat 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1995, yaitu : Setiap pemegang saham berhak meminta kepada Perseroan agar sahamnya dibeli dengan harga yang wajar apabila yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan Perseroan yang merugikan pemegang saham atau Perseroan, berupa : 1. Perubahan Anggaran Dasar. 2. Penjualan, penjaminan, pertukaran sebagian besar atau seluruh kekayaan Perseroan. 3. Penggabungan, peleburan atau pengambilalihan Perseroan. Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 mengenai Perseroan Terbatas telah cukup untuk melindungi kepentingan pemegang saham minoritas namun dalam menghadapi globalisasi ekonomi Perseroan harus mengupayakan keseimbangan dengan

memperhatikan tidak hanya kepentingan shareholder saja melainkan juga stakeholder untuk mempertahankan eksistensinya dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat.

34

Berkaitan dengan hal tersebut Perseroan harus melaksanakan Pengelolaan Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) yang mengatur mengenai aspek-aspek yang terkait dengan : 1. Keseimbangan hubungan antara organ-organ Perusahaan yaitu RUPS, Direksi dan Komisaris yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan struktur kelembagaan dan mekanisme operasional ketiga organ Perusahaan tersebut (keseimbangan internal). 2. Pemenuhan tanggung jawab Perusahaan sebagai entitas bisnis dalam masyarakat kepada seluruh stakeholder yang mencakup hal-hal yang terkait dengan pengaturan hubungan antara Perusahaan dengan seluruh stakeholder (keseimbangan eksternal) untuk mewujudkan Perusahaan sebagai good Corporate Citizen.23 Corporate Governance merupakan proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan urusan-urusan Perusahaan dalam rangka meningkatkan kemakmuran bisnis dan akuntabilitas Perusahaan dengan tujuan utama mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders yang lain. Stakeholders terdiri atas karyawan, pemasok, pelanggan, distributor, pesaing, pemerintah serta masyarakat yang ikut memberikan kontribusi terhadap keberhasilan perusahaan dan yang ikut pula menanggung dampak dari kegiatan operasional perusahaan.

23

A. Djalil Sofyan, loc. Cit., Hal. 18.

35

Mereka adalah Stakeholders yang mempunyai kepentingan dalam kemakmuran perusahaan tesebut, oleh karena itu perusahaan harus mengupayakan keseimbangan dengan memperhatikan tidak hanya kepentingan shareholder saja tetapi juga stakeholder untuk mepertahankan eksistensinya dan bermanfaat bagi seluruh entitas masyarakat.24 Pemenuhan tanggung jawab perusahaan sebagai entitas bisnis dalam masyarakat kepada seluruh stakeholder, yang mencakup hal-hal yang terkait dengan pengaturan hubungan antara perusahaan dengan seluruh stakeholder (keseimbangan eksternal) untuk mewujudkan perusahaan sebagai good corporate citizen. Hak atas keamanan pencatatan kepemilikan saham yang terdiri atas adanya perlindungan hukum terhadap pemegang saham dari kemungkinan saham rusak, hilang, palsu, dicuri merupakan bagian dari Good Corporate Governance yang dilaksanakan di Pasar Modal. Pencatatan kepemilikan saham dilakukan oleh Biro Administrasi Efek (BAE) yang merupakan pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka.25 Pengertian emiten adalah pihak yang melakukan penawaran umum sedangkan efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek dan setiap derivatif dari efek.
24 25

ibid, hal 5 Wijatno, H. R, Djokomartono, R, Suhendar Wahyu, Samad Usman, Anwar Mohamad dan Chanif Abu, Reformasi Pasar Modal dan Strategi bermain saham, kerukunan pensiun Departemen Keuangan RI, Jakarta 2002, hal. 431.

36

Hak atas keamanan pencatatan kepemilikan saham juga diatur dalam pasal 56 sampai dengan Pasal 61 Undang-Undang Pasar Modal yang mengatur bahwa penitipan kolektif pada Kustodian : 1. Lembaga Penyimpan dan Penyelesaian/Kustodian wajib mencatat efek dalam buku daftar pemegang efek Emiten. 2. Emiten wajib menerbitkan sertifikat atau konfirmasi sebagai bukti pencatatan efek. 3. Pemegang rekening yang efeknya tercatat dalam penitipan kolektif berhak mengeluarkan suara dalam RUPS. Kustodian hanya dapat mengeluarkan efek atau dana yang tercatat pada rekening efek atas perintah tertulis dari pemegang rekening atau pihak yang diberi wewenang untuk bertindak atas namanya. Kustodian wajib memberikan ganti rugi kepada pemegang rekening atas setiap kerugian yang timbul akibat kesalahannya. Ketentuan ini menganut prinsip asas akuntabilitas dimana Kustodian diharuskan untuk bekerja secara professional dan tanpa kesalahan dan setiap kesalahan dapat langsung diketahui merupakan kesalahannya dan tidak dapat mengelak untuk membayar ganti rugi atas kerugian yang ditimbulkannya. Kustodian atau pihak terafiliasinya dilarang memberikan keterangan mengenai rekening efek nasabah kepada pihak manapun, kecuali kepada : 1. Pihak yang ditunjuk secara tertulis oleh pemegang rekening atau ahli waris pemegang rekening. 2. Polisi, jaksa atau hakim untuk kepentingan peradilan perkara pidana.

37

3. Pengadilan untuk kepentingan peradilan perkara perda atas permintaan pihakpihak yang berperkara. 4. Pejabat pajak untuk kepentingan perpajakan. 5. BAPEPAM, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Emiten, Biro Administrasi Efek atau kustodian lain dalam melaksanakan fungsinya masingmasing. 6. Pihak yang memberikan jasa kepada kustodian termasuk konsultan, konsultan hukum dan akuntan. Dengan demikian dapat disimpulkan kustodian melaksanakan prinsip

akuntabilitas yaitu tanggung jawabnya untuk merahasiakan keterangan mengenai efek nasabah kepada pihak manapun sehingga apabila terjadi kebocoran maka pihak kustodianlah yang harus bertanggung jawab. Kustodian bagaimanapun tidak terlepas dari tugasnya melaksanakan transparansi kepada masyarakat khususnya apabila terjadi penyalahgunaan fasilitas dimana digunakan untuk tindak pidana misalnya tindak pidana pencucian uang, apabila terjadi maka kustodian harus mengungkapkan keterangan mengenai rekening efek nasabah kepada aparat Pemerintah yang berwenang. Hak untuk mendapatkan informasi tentang perusahaan : 1. Tersedianya informasi yang lengkap bagi investor sebagai dasar keputusan investor. 2. Kewajiban untuk menyampaikan keterbukaan informasi sejak suatu perusahaan berstatus emiten atau perusahaan publik.

38

3. Pasal 85 mengatur bahwa kewajiban pihak-pihak yang memperoleh izin, persetujuan atau pendaftaran dari BAPEPAM untuk menyampaikan laporan kepada BAPEPAM. Hak untuk mendapatkan informasi juga diatur dalam Pasal 86 Undang-Undang Pasar Modal yang mengatur bahwa kewajiban emiten atau perusahaan publik untuk menyampaikan laporan kepada BAPEPAM. 1. Berkala. 2. Peristiwa atau fakta material. Pasal 87 Undang-Undang Pasar Modal juga mengatur bahwa kewajiban direksi, komisaris serta pemegang saham yang kepemilikannya melampaui batas tertentu untuk mengungkapkan kepemilikan serta perubahan kepemilikannya. Pasal 89 Undang-Undang Pasar Modal mengatur bahwa semua informasi yang disampaikan kepada BAPEPAM tersedia untuk umum, peraturan BAPEPAM No. IX.C.2.IX.D3 secara lebih mendalam mengatur keterbukaan informasi yang harus diungkapkan dalam prospektus penawaran umum atau right issue. Peraturan BAPEPAM No. X.K.I mengatur bahwa informasi material yaitu akhir hari kerja kedua sejak terjadinya harus disampaikan kepada BAPEPAM dan masyarakat, Peraturan BAPEPAM No. X.K.2 mengatur mengenai laporan keuangan berkala yang terdiri atas laporan keuangan tahunan dan laporan keuangan tengah tahunan dan peraturan BAPEPAM No. X.K.5 mengatur mengenai keterbukaan informasi dalam hal kepailitan.

39

Hak untuk hadir dan bersuara dalam Rapat Umum Pemegang Saham diatur dalam Pasal 60 Undang-Undang Pasar Modal dimana pemegang rekening yang efek (saham)nya tercatat dalam penitipan kolektif berhak mengeluarkan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Peraturan No. IX.D.1 mengatur mengenai penambahan modal melalui right issue harus memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (pada prinsipnya korum rapat sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas). Hak untuk hadir dan bersuara dalam Rapat Umum Pemegang Saham juga diatur didalam peraturan No. IX.E.1 yang mengatakan bahwa jika suatu Transaksi dimana seorang komisaris, direktur atau pemegang saham utama mempunyai benturan kepentingan maka transaksi dimaksud harus disetujui oleh para pemegang saham independen. Peraturan No. IX.E.2 juga mengatur mengenai semua transaksi material dan perubahan kegiatan utama perusahaan harus disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham. Peraturan No. IX.G.1 mengatur mengenai penggabungan dan peleburan Perusahaan Publik harus disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham. Peraturan No. IX.J.1 mengatur bahwa setiap penambahan modal melalui pengeluaran efek bersifat ekuitas disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham. Masalah-masalah Good Corporate Governance yang perlu diatur lebih tegas dalam peraturan perundang-undangan, yaitu :

40

1. Pasal 71 Undang-Undang Perseroan Terbatas yang mengatur bahwa pemegang saham dengan hak suara yang sah, baik sendiri maupun dengan kuasa tertulis berhak mengadiri Rapat Umum Pemegang Saham dan menggunakan hak suaranya. Namun demikian, prosedur atau tata cara pemberian hak suara belum diatur secara tegas dalam peraturan perundang-undangan. 2. Peranan Stakeholder, ketentuan yang berkaitan dengan stakeholder diatur dalam perundang-undangan lain seperti perundang-undangan dibidang ketenagakerjaan, kepailitan, lingkungan hidup, perbankan, perasuransian dan lain-lain. 3. Keterbukaan atas gaji dewan direksi, pada dasarnya Undang-Undang Perseroan Terbatas dan peraturan perundang-undangan dibidang pasar modal sudah mengatur secara cukup mengenai keterbukaan dan transparansi namun demikian pada umumnya perusahaan belum secara rinci mengungkapkan besarnya gaji anggota dewan komisaris dan direksi dan dalam rangka Good Corporate Governance perlu diatur agar perusahaan mengungkapkan rincian gaji setiap anggaran dewan komisaris dan direksi. Pembentukan komite audit ditentukan oleh BAPEPAM dengan menerbitkan Surat Edaran (SE-03/PM/2000) yang menghimbau agar Emiten dan Perusahaan Publik mempunyai Komite Audit yang mempunyai tugas membantu komisaris dalam rangka peningkatan kualitas laporan keuangan dan peningkatan efektivitas internal audit dan eksternal audit. Salah satu langkah kongkret yang sudah diambil oleh otoritas pasar modal adalah keharusan bagi perusahaan publik untuk membentuk Komite Audit. Sebagai komite

41

yang membantu fungsi pengawasan Komisaris, Komite Audit memiliki fungsi dalam hal-hal yang terkait dengan proses dan peran audit bagi perusahaan terutama dalam pelaporan hasil audit keuangan perusahaan yang dipaparkan untuk publik. Membangun komite audit yang efektif tidak boleh terlepas dari kacamata penerapan prinsip Corporate Governance secara keseluruhan disuatu perusahaan dimana Independency, Transparency and Disclosure, Accountability and Responsibility, serta Fairness menjadi landasan utama tata kelola perusahaan. Komite Audit harus independen, dimulai dengan dipersyaratkannya Komisaris Independen sebagai ketua Komite Audit, seorang Komisaris Independen sebagai wakil dari pemegang saham minoritas dapat diharapkan untuk bersikap independen terhadap kepentingan pemegang saham mayoritas.26 Anggota Komite Audit lainnya pun harus benar-benar independen terhadap perusahaan, dalam arti mereka tidak memiliki hubungan bisnis apapun dengan perusahaan, dan tidak memiliki hubungan kekeluargaan apapun dengan Direksi dan Komisaris perusahaan. Nama anggota Komite Audit harus diumumkan ke publik sehingga terjadi kontrol sosial terhadap independensinya. Komite Audit harus transparan, dimulai dengan keharusan adanya audit charter dan agenda program kerja tahunan tertulis dari Komite Audit yang kemudian didukung dengan adanya rapat Komite Audit yang teratur dan selalu menghasilkan risalah rapat tertulis.

26

Alijoyo F Antonius, Komite Audit yang efektif : Belajar dari kasus Enron, Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI).

42

Komite Audit harus menyiapkan laporan tertulis kepada Komisaris tentang pencapaian tugas-tugas mereka selama periode penugasan, dan disarankan laporan tersebut tertuang di laporan tahunan perusahaan untuk konsumsi publik, terutama hal-hal yang menyangkut identifikasi dan penanganan resiko yang penting bagi perusahaan. Komite Audit harus memiliki akuntabilitas tinggi, dimulai dengan pemenuhan persyaratan generik dari anggota komite audit, yang secara team setidaknya memiliki kompetensi dan pengalaman sangat cukup antara lain dalam hal, yaitu : 1. Audit, Akuntansi dan Keuangan Pemahaman mendalam konsep dan praktek mengenai Financial Engineering, Corporate Finance, Auditing (Audit keuangan, Audit Operasional, dan Khusus), dan Fraud Examination. 2. Peraturan dan Perundangan Pemahaman mendalam konsep dan praktek peraturan dan perundangan mengenai Pasar Modal, Pasar Uang, Pasar Komoditi berjangka, Bursa Saham, Undang-undang PT, dan GCG. 3. Proses Bisnis Industri terkait Pemahaman konsep dan praktek bisnis industri terkait, misal: Industri Perbankan, Industri Tambang, dan Industri Produk Konsumen. Dengan keberadaan tiga kompetensi generik di atas, diharapkan Komite Audit mampu baik secara pro-aktif maupun evaluatif menelaah semua hal-hal penting pelaporan keuangan perusahaan dalam waktu yang sangat singkat yaitu dalam rapat kerja yang berkisar 2-3 jam setiap rapat dan berjumlah 4-6 rapat setiap tahunnya. Audit

43

Penting pula untuk dicatat apabila ada masukan-masukan dari komite lain terutama Komite Risk Management mengenai identifikasi dan penanganan resiko penting di perusahaan. Dalam hal ini, Komite Audit harus dapat meyakini bahwa perusahaan sudah memiliki mekanisme dan cakupan yang cukup dalam penanganan resiko penting perusahaan, sehingga pelaporan audit yang terkait juga diselaraskan dengan cakupan dan prioritas resiko perusahaan tersebut. Masyarakat diharapkan waspada terhadap kemungkinan adanya komite audit yang seakan-akan independen tetapi belum tentu independen misalnya seseorang yang berasal dari suatu organisasi yang menerima sumbangan (baik sumbangan

kemasyarakatan maupun pendidikan), atau bisnis tidak langsung dari perusahaan (misalnya supplier dari distributor perusahaan yang masih memiliki hubungan keluarga). Komite Audit harus transparan yang dimulai dengan keharusan adanya audit charter dan agenda program kerja tahunan tertulis dari komite audit yang kemudian didukung dengan keteraturan rapat komite audit yang selalu menghasilkan risalah rapat tertulis. Komite Audit harus menyiapkan laporan tertulis kepada dewan komisaris tentang pencapaian tugas-tugas mereka selama periode penugasan, dan disarankan laporan tersebut tertuang di laporan tahunan perusahaan untuk konsumsi publik, terutama hal-hal yang menyangkut identifikasi dan penanganan resiko yang penting bagi perusahaan. Dengan disclosure atau keterbukaan tersebut maka masyarakat akan mengetahui seberapa komprehensif komite audit perusahaan tersebut telah menyusun dan mentaati agenda kerja mereka untuk setahun periode penugasan, informasi-informasi apa saja

44

yang telah ditelaah dan didiskusikan dalam rapat komite audit sehingga masyarakat dapat meyakini bahwa hal-hal prioritas dan penanganan resiko penting perusahaan telah dijalani dengan cukup baik. Dengan keberadaan kompetensi generik di atas, dapat diharapkan bahwa komite audit mampu baik secara pro-aktif maupun evaluatif menelaah semua hal-hal penting pelaporan keuangan perusahaan dalam waktu yang sangat singkat yaitu dalam rapat kerja yang berkisar 3-4 jam setiap rapat dan berjumlah 4-6 rapat setiap tahun. Untuk lebih efektif, komite audit juga harus memperoleh masukan dari subkomite lain terutama komite Risk Management mengenai identifikasi dan penanganan resiko penting perusahaan. Dalam hal ini, komite audit harus dapat meyakini bahwa perusahaan sudah memiliki mekanisme dan cakupan yang cukup dalam penanganan resiko penting perusahaan, sehingga pelaporan audit yang terkait juga diselaraskan dengan cakupan dan prioritas resiko perusahaan tersebut. Di perusahaan yang berukuran sedang atau kecil, umumnya anggota komite audit juga merangkap anggota komite risk management yang bertanggung jawab memformulasikan Risk Policy perusahaan, serta menjaga ketaatannya di tingkat kepatuhan operasional terhadap kebijakan yang telah ditetapkan tersebut. Selain hal yang disebutkan diatas, komite audit harus komunikatif terutama dengan pihak Auditor Eksternal dan pihak internal audit, sehingga mereka memiliki jalur cepat dalam mengkomunikasikan hal-hal yang signifikan perlu diketahui oleh komite audit, terutama dalam hal-hal terjadinya penyimpangan yang kritis di perusahaan.

45

Komite Audit harus selalu bersikap adil dalam pengambilan keputusan, Komite Audit harus benar-benar melandaskannya pada sikap adil kepada semua pihak, terutama dalam hal penelaahan terhadap kesalahan asumsi maupun pelanggaran terhadap resolusi Dewan Direksi. Untuk itu, semua keputusan harus didasarkan pada fakta dan dokumen penunjang yang cukup. Bila diperlukan, Komite Audit dapat meminta bantuan pihak eksternal terhadap penyidikan hal-hal tertentu misalnya meminta bantuan pihak luar untuk mengadakan Audit Forensik terhadap terjadinya suatu fraud yang signifikan di perusahaan. Komite Audit harus memiliki Charter Komite Audit untuk digunakan sebagai rujukan internal tentang bagaimana sebaiknya mereka mengatur diri sendiri sehingga tujuan terbentuknya Komite Audit di perusahaan tersebut untuk meningkatkan keterbukaan dan akuntabilitas perusahaan tercapai seperti yang diharapkan. Walaupun bentuk, isi dan fokus dalam Charter Komite Audit dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya dapat berlainan, tetapi ada beberapa elemen umum atau generik yang harus tercakup dalam Charter tersebut. Untuk itu, FCGI atau Forum for Corporate Governance memberikan saran bahwa Komite Audit harus memiliki suatu Charter atau terms of reference yang secara jelas mendefinisikan peran dan tanggung jawab Komite Audit serta kerangka kerja fungsional mereka. Tanpa adanya charter akan sulit atau bahkan mustahil Komite Audit dapat berperan dengan baik. Merujuk pada beberapa praktek-praktek terbaik di dunia (best practices), ada enam elemen umum dan dasar dari Charter Komite Audit, yaitu :

46

1. Tujuan dibentuknya Komite Audit (Purpose of the Audit Committee). 2. Kekuasaan atau hak yang diberikan kepada Komite Audit (Powers of the Audit Committee). 3. Fungsi dari pihak-pihak yang terkait dengan Komite Audit (Function of Respective Parties). 4. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit (Duties of the Audit Committee). 5. Keanggotaan dan Chairmanship Komite Audit (Eligibility). 6. Rapat-rapat Komite Audit (Meetings) FCGI membagi dan mengelompokkan elemen-elemen umum dan dasar yang harus ada dalam Charter Komite Audit menjadi tujuh elemen sebagai berikut : 1. Tujuan Umum dan Otoritas Komite Audit (Overall objectives and authority), 2. Peran dan Tanggung Jawab Komite Audit (Roles and responsibilities), 3. Struktur Komite Audit (Structure), 4. Syarat-syarat Keanggotaan (Membership requirements), 5. Rapat rapat Komite Audit (Meetings), 6. Pelaporan Komite Audit (Reporting), dan 7. Kinerja Komite Audit (Performance). Baik best practices maupun FCGI pada dasarnya memberikan rujukan yang sama namun ada sedikit perbedaan kecil dimana FCGI menyarankan ada elemen tentang Kinerja Komite Audit, sedangkan best practices menyarankan adanya pengaturan bagaimana hubungan fungsional antara Komite Audit dengan pihak-pihak lain yang terkait.

47

Untuk pembahasan lebih lanjut, akan dipakai kedua rujukan tersebut sekaligus, yang berarti ada delapan komponen Charter Komite Audit yang dapat dipakai sebagai masukan pembuatan Charter Komite Audit di BUMN dan Perusahaan Publik di Indonesia. Menurut Kep. Men 117/2002 tujuan dibentuknya Komite Audit adalah membantu Komisaris atau Dewan Pengawas dalam memastikan efektivitas sistem pengendalian internal dan efektivitas pelaksanaan tugas auditor eksternal dan internal auditor. Bapepam berdasarkan Surat Edaran 03 mengatakan bahwa tujuan Komite Audit adalah membantu Dewan Komisaris untuk : 1. 2. Meningkatkan kualitas Laporan Keuangan. Menciptakan iklim disiplin dan pengendalian yang dapat

mengurangi kesempatan terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan perusahaan. 3. audit; dan 4. Komisaris. Beberapa rujukan perusahaan Amerika yang mengacu pada SEC (Securities and Exchange Commission), pada umumnya mencantumkan dalam Charter Komite Audit mereka bahwa tujuan Komite Audit adalah membantu Dewan Komisaris untuk mengawasi : 1. Integritas dari Laporan Keuangan perusahaan. Mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Dewan Meningkatkan efektivitas fungsi internal audit maupun eksternal

48

2. Eksternal. 3. 4. berlaku.

Kualifikasi dan Kemandirian Auditor independen atau Auditor

Kinerja dari Auditor Internal perusahaan dan Eksternal Auditor Kepatuhan Perusahaan terhadap undang-undang dan peraturan yang

Beberapa variasi dapat dikemukakan tetapi pada prinsipnya memiliki prinsip dan isi yang sama. Beberapa perusahaan yang sangat besar atau dalam suatu kondisi spesifik, dapat mencantumkan beberapa tujuan lain secara eksplisit, misalnya : 1. Membantu Dewan Komisaris dalam mereview efektivitas Komite

Audit anak-anak perusahaan. 2. Membantu Dewan Komisaris dalam mereview setiap adanya due

diligence dan/atau tindakan pengawasan dari badan atau otoritas tertentu. Yang harus digarisbawahi adalah tujuan dari Komite Audit di manapun di dunia adalah untuk membantu fungsi pengawasan Dewan Komisaris (atau yang sejenis fungsinya misal Dewan Pengawas untuk tipe tertentu BUMN, dan Board of Directors di Amerika Serikat). Komite Audit tidak pernah memiliki tujuan tersendiri yang terpisah dari peran, kepentingan, dan akuntabilitas Dewan Komisaris. Seiring dengan karakterisktik tersebut, otoritas Komite Audit juga terkait dengan batasan mereka sebagai alat bantu Dewan Komisaris. Mereka tidak memiliki otoritas eksekusi apapun dan hanya memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris kecuali untuk hal spesifik yang telah

49

memperoleh hak kuasa eksplisit dari Dewan Komisaris misalnya mengevaluasi dan menentukan kompensasi Auditor Eksternal, dan memimpin suatu investigasi khusus. Dalam menjalankan perannya, Komite Audit harus memiliki hak terhadap akses tidak terbatas kepada Direksi, Auditor Internal, Auditor Eksternal, dan semua informasi yang ada di perusahaan. Tanpa otoritas atau hak atas akses tersebut, akan tidak mungkin Komite Audit dapat menjalankan perannya dengan efektif. Peran dan tanggung jawab Komite Audit secara spesifik akan tergantung pada situasi dan kondisi perusahaan dimana mereka berada, setiap perusahaan dapat memiliki variasi spesifik yang berbeda satu dengan yang lain, namun secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian besar, yaitu : 1. mencakup : a. Melakukan pengawasan proses pembuatan laporan keuangan, dengan Pelaporan Laporan Keuangan (Financial reporting) yang

penekanan pada kepatuhan terhadap standard dan policy akuntansi yang berlaku. b. Melakukan review atas laporan-laporan keuangan terhadap standard dan

policy di atas, dan konsistensi terhadap informasi yang diketahui oleh anggota Komite Audit. c. Melakukan pengawasan Audit Eksternal, dan melakukan assessment

mengenai kualitas jasa Audit yang dilakukan, dan mengenai kepantasan fees yang dibebankan oleh Auditor eksternal. 2. Manajemen Pengendalian dan Resiko (Risk and control

management) yang mencakup:

50

a.

Melakukan pengawasan proses manajemen resiko dan pengendalian,

termasuk pengidentifikasian dari resiko-resiko dan evaluasi dari pengendalian yang dapat memperkecil baik kemungkinan terjadinya maupun dampak dari resiko-resiko tersebut. b. Melakukan pengawasan terhadap cakupan Audit Internal dan Audit

Eksternal dalam rangka memastikan bahwa semua resiko utama dan bentuk pengendaliannya telah dipertimbangkan oleh para auditor. c. Meyakini bahwa Manajemen telah melaksanakan pengendalian resiko-

resiko sesuai dengan rekomendasi dari para auditor, internal dan eksternal. 3. a. b. Corporate Governance yang mencakup : Pengawasan terhadap proses corporate governance di perusahaan. Memastikan bahwa manajemen puncak mempromosikan budaya yang

kondusif bagi tercapainya good corporate governance. c. d. Memonitor kepatuhan terhadap code of conduct perusahaan. Memahami semua permasalahan yang dapat mempengaruhi baik kinerja

keuangan maupun non keuangan perusahaan. e. Memonitor kepatuhan terhadap segala undang-undang maupun peraturan-

peraturan lain yang berlaku untuk perusahaan. f. Meminta agar Auditor Internal melaporkan secara tertulis setiap enam

bulan sekali mengenai cakupan review terhadap praktek corporate governance di perusahaan, dan memberikan laporan bila terdapat penyimpangan yang serius.

51

Walaupun hubungan kerja (working relationships) antara Komite Audit dengan beberapa pihak terkait sudah secara tidak langsung tersirat dalam komponen peran dan tanggung jawab Komite Audit di atas, di dalam Charter Komite Audit perlu dimasukkan secara eksplisit bagaimana hubungan kerja dan atau fungsi dari pihak-pihak yang terkait dengan Komite Audit. Umumnya ada tiga pihak utama yang terkait, yaitu Auditor Internal, Auditor Eksternal, dan Manajemen. Rincian hubungan kerja mereka sebagai berikut : 1. Auditor eksternal melapor kepada direktur yang bertanggung jawab

dalam hal aktivitas keuangan perusahaan, namun, dalam keterkaitan dengan fungsi melakukan pengawasan. 2. Komite Audit harus memberikan rekomendasi akan penunjukkan

dan atau pemberhentian Auditor Eksternal, melakukan review atas engagement letter antara perusahaan dengan Auditor Eksternal. 3. Melakukan review atas cakupan dan perencanaan Audit Eksternal

serta atas fee yang dibebankan oleh mereka, melakukan review atas laporan Audit Eksternal serta management letter, dan 4. Memonitor kinerja Auditor Eksternal dan memastikan bahwa

mereka patuh terhadap standard-standard profesional, terutama yang berkaitan dengan independensi mereka sebagai Auditor Eksternal Institute of Internal Auditors (IIA) menyadari bahwa Komite Audit dan Auditor internal memiliki tujuan yang sama dan suatu hubungan kerja yang baik dengan auditor

52

internal akan membantu Komite Audit dalam menjalankan tanggung jawabnya kepada Dewan Komisaris. Beberapa hal spesifik yang dapat dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam Charter adalah walaupun Kepala Internal Audit adalah bagian dari manajemen dan melapor kepada Presiden Direktur, kepala Internal Audit sebaiknya memiliki jalur atau akses ke Komite Audit. Oleh karena itu, dalam hubungan dengan perannya untuk melakukan pengawasan terhadap fungsi internal audit, Komite Audit harus : 1. Memberikan persetujuan atas penunjukkan dan atau pemberhentian

ketua Internal Audit perusahaan yang diajukan oleh Presiden Direktur. 2. 3. 4. 5. Melakukan review atas charter dari Internal Audit. Melakukan review atas struktur fungsi internal audit. Melakukan review atas rencana audit tahunan, Memastikan bahwa fungsi internal audit memiliki metodologi, alat

bantu, dan sumber daya yang tepat dan cukup sehingga dapat memenuhi charter mereka, dan menyelesaikan rencana tahunan internal audit. 6. 7. 8. Melakukan review atas semua laporan internal audit. Memonitor kinerja fungsi internal audit, dan Memastikan bahwa fungsi internal audit patuh terhadap standard-

standard profesional yang berlaku. Manajemen, sebagai tambahan dari area spesifik atas laporan keuangan, resiko dan pengendalian, dan corporate governance, Komite Audit dapat mempertimbangkan

53

beberapa isue yang lebih lebar yang dapat secara spesifik didelegasikan oleh Dewan Komisaris. Untuk pendalaman hal ini, dan seiring dalam menjalankan fungsi

pengawasannya, Komite Audit harus bertemu secara teratur dengan pihak manajemen untuk mendiskusikan secara terbuka segala isue yang dapat mempengaruhi perusahaan secara serius baik dalam bidang keuangan maupun non-keuangan. Struktur Komite Audit di tiap negara mungkin tidak sama, karena tergantung pada rujukan resmi yang harus dipatuhi, misal peraturan bursa saham dimana mereka terdaftar. Untuk perusahaan di Indonesia, rujukan resmi bagi Perusahaan BUMN adalah Kep. Men. No. 117 Tahun 2002, sedangkan bagi Perusahaan Publik adalah keputusan Bursa Efek Jakarta dan Peraturan Bapepam yang relevan. Ditambah dengan beberapa best practice, dapat disusun hal-hal utama yang harus mendapat perhatian dari Struktur Komite Audit, yaitu : 1. Pembentukan Komite Audit harus berdasarkan penetapan dan

pengesahan Dewan Komisaris. 2. Ketua dan Anggota Komite Audit harus ditunjuk dan diangkat oleh

Dewan Komisaris. 3. Komite Audit harus terdiri dari Komisaris yang tidak memiliki

tanggung jawab manajemen sehari-hari, atau terdiri dari pihak luar dan independen. 4. Jumlah anggota Komite Audit sedikitnya tiga orang, berdasarkan

pengalaman di banyak perusahaan Internasional, Komite Audit memiliki jumlah anggota antara 3 sampai dengan 5 orang.

54

5.

Setiap anggota baru Komite Audit harus menerima induksi atau

orientasi ke dalam organisasi perusahaan, peran dan tanggung jawabnya, serta kerangka kerja fungsional mereka. 6. Ketua Komite Audit harus seorang Komisaris Independen,

sedangkan anggotanya boleh komisaris independen lainnya yang memenuhi persyaratan dan atau pihak luar yang independen dan memenuhi persyaratan. 7. Anggota Komite Audit termasuk ketuanya, harus ditunjuk untuk

periode paling sedikit satu tahun penugasan (sebagai catatan, pengalaman di banyak perusahaan internasional, masa penugasan anggota Komite Audit yang efektif adalah antara 1 sampai dengan 3 tahun. 8. Karena sifat jangka panjang dari aktivitas Komite Audit, menjaga

keseimbangan antara kesinambungan keanggotaan adalah hal yang penting. Di sisi lain, ada kebutuhan untuk menjaga kesegaran dan independensi anggota. 9. Untuk menjaga keseimbangan antara kedua hal tersebut, banyak

perusahaan internasional menerapkan best practice dengan cara melakukan rotasi anggotanya. Penunjukkan dan masa akhir tugas yang berlainan akan membantu untuk mencapai keseimbangan tersebut, sehingga dapat mencegah terjadinya peristiwa penggantian semua anggota yang berpengalaman pada saat bersamaan. Sejalan dengan Struktur Komite Audit, persyaratan keanggotaan Komite Audit dapat tidak seratus persen sama di tiap negara, karena tergantung pada rujukan resmi yang harus dipatuhi, misalnya peraturan bursa saham dimana mereka terdaftar.

55

Untuk perusahaan di Indonesia, rujukan resmi bagi Perusahaan BUMN adalah Kep Men No. 117 Tahun 2002 sedangkan bagi Perusahaan Publik adalah keputusan Bursa Efek Jakarta dan Peraturan Bapepam yang relevan. Ditambah dengan beberapa best practices, dapat disusun syarat-syarat keanggotaan agar Komite Audit dapat berperan efektif sebagai berikut, yaitu : 1. Para anggota secara bersama-sama memiliki keseimbangan antara

skill dan pengalaman dengan latar belakang pemahaman yang luas mengenai bisnis secara umum 2. profesional. 3. Anggota dari Komite Audit harus memiliki integritas, dedikasi, Anggota dari Komite Audit harus independen, obyektif, dan

pemahaman yang baik tentang organisasi, pemahaman yang baik tentang lingkungan bisnis, dan pemahaman yang baik tentang resiko dan pengendalian. 4. Sedikitnya satu anggota Komite Audit memiliki pemahaman yang

baik mengenai laporan keuangan perusahaan. 5. Di atas semua persyaratan di atas, Ketua Komite Audit harus

memiliki kemampuan komunikasi dan kepemimpinan yang sangat bagus dan efektif. Jumlah rapat dan bagaimana rapat harus dilaksanakan, misalnya ada agenda dan risalah tertulis cukup baku hampir di semua negara. Beberapa variasi yang ada umumnya sangat kecil. Secara umum, dapat disusun pengaturan rapat-rapat Komite Audit sebagai berikut : 1. Komite Audit harus rapat sedikitnya satu kali setiap kuartal.

56

2.

Para anggota Komite Audit harus hadir di rapat-rapat tersebut,

dengan kemungkinan mengundang beberapa pihak lain bilamana diperlukan. Mereka yang diundang mungkin komisaris, direktur, manajemen senior, Ketua Internal Audit, dan atau pihak Auditor Eksternal perusahaan. 3. Rapat harus diselenggarakan berdasarkan undangan dan agenda

yang sudah disepakati sebelum rapat dilakukan. Hasil-hasil dari rapat-rapat tersebut harus tercatat dalam risalah resmi dan terinci, dan dibagikan kepada semua yang hadir di dalam rapat. Pada umumnya, proses pelaporan Komite Audit cukup standard, yaitu : 1. 2. Komite Audit melapor langsung kepada Komisaris Utama. Komite Audit harus memberikan laporan sedikitnya satu kali dalam

setahun, dengan memberikan rincian apakah mereka berhasil menjalankan peran dan tanggung jawabnya sebagaimana yang tertulis di dalam charter. 3. Komisaris Utama harus menerima salinan-salinan dari semua

risalah rapat dan laporan-laporan yang ada. 4. Kinerja Komite Audit sebaiknya dievaluasi paling sedikit satu tahun

sekali baik secara self assessment or evaluation maupun oleh pihak independen di luar Komite Audit, misalnya anggota komite lain dari Dewan Komisaris, atau semua anggota Dewan Komisaris di luar eksekutif yang menjadi anggota Komite Audit. Evaluasi tersebut membandingkan kinerja aktual Komite Audit terhadap peran dan tanggung jawab mereka yang tercakup dalam rencana kerja tahunan Komite Audit ada.

57

Kewenangan Komite Audit dibatasi oleh fungsi mereka sebagai alat bantu DK, sehingga tidak memiliki otoritas eksekusi apapun (hanya sebatas rekomendasi kepada DK), kecuali untuk hal spesifik yang telah memperoleh hak kuasa eksplisit dari DK, misalmya mengevaluasi dan menentukan komposisi auditor eksternal, dan memimpin suatu investigasi khusus. Pada akhirnya, suatu Dewan Komisaris yang aktif, canggih, ahli, beragam dan yang terpenting independen yang menjalankan fungsinya secara efektif dan dibantu oleh Komite Audit adalah yang paling baik untuk ditempatkan dalam memastikan implementasi Good Corporate Governance berjalan dengan baik sehingga kecurangan (fraud) maupun keterpurukan bisnis dapat dihindari. Pembentukan komisaris independen, emiten dan perusahaan publik harus memiliki sekurang-kurangnya satu komisaris independen, komisaris independen berasal dari luar perusahaan serta tidak mempunyai hubungan bisnis dengan perusahaan atau afiliasinya. Dewan Komisaris (DK) memegang peranan penting dalam implementasi Good Corporate Governance (GCG), karena DK merupakan inti dari corporate governance yang bertugas untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas. Dalam prakteknya, di Indonesia sering terjadi anggota DK sama sekali tidak menjalankan peran pengawasannya yang sangat mendasar terhadap Dewan Direksi (DD). DK seringkali dianggap tidak memiliki manfaat, hal ini dapat dilihat dalam fakta,

58

bahwa banyak anggota DK tidak memiliki kemampuan dan tidak dapat menunjukkan independensinya.27 Dalam banyak kasus, DK juga gagal untuk mewakili kepentingan stakeholders lainnya selain daripada kepentingan pemegang saham mayoritas. Untuk menjamin pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) diperlukan anggota DK yang memiliki integritas, kemampuan, tidak cacat hukum dan independen; serta yang tidak memiliki hubungan bisnis (kontraktual) ataupun hubungan lainnya dengan pemegang saham mayoritas (pemegang saham pengendali) dan Dewan Direksi (manajemen) baik secara langsung maupun tidak langsung. Komisaris independen diusulkan dan dipilih oleh pemegang saham minoritas yang bukan merupakan pemegang saham pengendali dalam RUPS. Beberapa usulan penyempurnaan Undang-Undang Pasar Modal, yaitu

demutualisasi bursa efek, transaksi yang mengandung benturan kepentingan, saham tanpa nilai nominal perluasan pengertian efek. Demutualisasi bursa efek adalah yang dapat menjadi pemegang saham Bursa Efek adalah Perusahaan Efek. Demutualisasi Bursa Efek memungkinkan pihak lain selain perusahaan efek dapat menjadi anggota atau pemegang saham bursa efek dan akan dibedakan antara pemegang saham bursa dengan anggota bursa sehingga ada kemungkinan bursa berubah dari Non Profit Oriented menjadi Profit Oriented.28

27

Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit Dalam rangka Implementasi GCG, http://www.reindo.co.id/reinfokus/edisi24/peranan.htm 28 Bapepam, Annual Report 2002, http://www.bapepam.go.id/profil/annual/PE_2002.htm

59

Untuk melakukan restrukturisasi Industri Efek Pasar Modal Indonesia, Ketua Bapepam telah membentuk dua Tim yang bertugas melakukan kajian atas rencana Demutualisasi Bursa Efek dan rencana Pengembangan Perusahaan Efek. Kedua Tim tersebut telah menyelesaikan laporan hasil studinya pada semester pertama tahun 2002. Hasil studi telah disosialisasikan kepada segenap pimpinan Bapepam, direksi SRO, dan pengurus Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI). Bapepam dan SRO terus melakukan pertemuan dengan semua Perusahaan Efek dan Asosiasi-asosiasi pasar modal guna memberikan gambaran tentang rencana demutualisasi Bursa Efek dan pengembangan Perusahaan Efek, termasuk persiapan dan langkah-langkah yang harus dilakukan kedepan. Berikut adalah gambaran singkat rencana demutualisasi Bursa Efek dan pengembangan Perusahaan Efek yang dikutip dari Laporan Hasil Studi Demutualisasi Bursa Efek dan Pengkajian Pengembangan Perusahaan Efek. Demutualisasi Lembaga Bursa Efek Indonesia perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dana Lembaga Bursa Efek, peningkatan penerapan good corporate governance, pengembangan produk, pengembangan infrastruktur, peningkatan nilai saham Lembaga Bursa Efek dan saham Anggota Bursa, pengembangan pasar yang berkelanjutan, dan sarana pelepasan kepemilikan saham tanpa kehilangan hak keanggotaan. Berdasarkan hasil kajian Tim, maka model demutualisasi lembaga Bursa Efek yang diusulkan adalah Model Operating Holding Company SRO. Pada model ini, pemegang saham lembaga Bursa Efek (PT BEJ, PT BES, PT KPEI dan PT KSEI) secara

60

bersama-sama mendirikan Perusahaan Induk sebagai pemegang saham mayoritas Lembaga Bursa Efek. Perusahaan Induk akan melakukan kegiatan yang mendukung kegiatan Perusahaan Anak yaitu kegiatan investasi dan kegiatan supporting services bagi Perusahaan Anak, tetapi tidak melakukan kegiatan sebagai SRO. Implementasi demutualisasi Lembaga Bursa Efek Indonesia dilakukan dalam empat tahapan, yaitu : 1. Tahap sosialisasi hasil studi kepada pemegang saham SRO, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Departemen Kehakiman dan Hak Azasi Manusia dan masyarakat umum. 2. Tahap Pembentukan komite restrukturisasi SRO, komite pendirian Perusahaan Induk. 3. Tahap Pendirian Perusahaan Induk dan 4. Tahap pengembangan usaha dan penyebaran kepemilikan saham Perusahaan Induk. Khusus tahap ketiga dan keempat baru bisa dilaksanakan apabila usulan perubahan UUPM tentang demutualisasi efektif berlaku. Sedangkan tahap pertama dan kedua dapat dilaksanakan pada tahun 2002 dan 2003. Di samping itu dalam rangka implementasi demutualisasi lembaga Bursa Efek, terdapat beberapa rekomendasi yang perlu diperhatikan terkait dengan aspek kepemilikan, tata kelola, operasional dan bisnis, dan regulasi. Pengertian mengenai transaksi yang mengandung benturan kepentingan adalah perbedaan antara kepentingan ekonomis perusahaan dengan kepentingan ekonomis

61

pribadi direktur, komisaris atau pemegang saham utama perusahaan. Hal ini ditujukan untuk lebih melindungi hak-hak pemegang saham minoritas dari transaksi yang mengandung benturan kepentingan. Yang dimaksud dengan transaksi yang mempunyai benturan kepentingan yaitu apabila suatu Transaksi dimana seorang direktur, komisaris, pemegang saham utama atau Pihak terafiliasi dari direktur, komisaris atau pemegang saham utama mempunyai Benturan Kepentingan maka transaksi dimaksud terlebih dahulu harus disetujui oleh para Pemegang Saham Independen atau wakil mereka yang diberi wewenang untuk itu dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Persetujuan mengenai hal tersebut harus ditegaskan dalam bentuk akta notariil. BAPEPAM Perlu mempertimbangkan perluasan subyek transaksi di masa mendatang dengan menambahkan setiap pihak yang terafiliasi dengan direksi, komisaris serta pemegang saham utama. Pada umumnya negara-negara yang pasar modalnya telah maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia memperbolehkan perusahaan untuk menerbitkan saham tanpa nilai nominal, dalam praktek di pasar modal dapat dikatakan bahwa nilai nominal suatu saham tidak lagi merefleksikan nilai ekonomis perusahaan apabila saham tersebut telah diperdagangkan. Saham emiten dan Perusahaan pada umumnya merupakan saham yang telah diperdagangkan secara luar sehingga terhadap perusahaan tersebut perlu diperbolehkan menerbitkan saham tanpa nilai nominal.

62

Perluasan pengertian efek dimana efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek dan setiap derivatif dari efek. Saat ini banyak pelaku usaha lain seperti koperasi yang bermaksud menghimpun dana melalui pasar modal namun masih mengalami hambatan dari aspek hukum mengenai instrumen yang dimilikinya. Pengertian efek perlu diperluas antara lain dengan menambahkan Modal penyertaan koperasi. Corporate Secretary memiliki peranan kunci dalam pelaksanaan Corporate Governance, khususnya pada perusahaan publik dan emiten di bursa. Ini tidak dapat dipungkiri karena posisi dan tugas yang dipikul Corporate Secretary sangat strategis dan menentukan. Namun, di Indonesia banyak masyarakat sebagai stakeholders perusahaan, termasuk perusahaan itu sendiri, belum menyadari strategisnya peranan dan fungsi Corporate Secretary. Contoh yang banyak terjadi adalah masyarakat belum bisa membedakan profesi Corporate Secretary (yang kemudian diterjemahkan menjadi “Sekretaris Perusahaan”) dengan profesi sekretaris eksekutif yang menjadi sekretarisnya direktur, komisaris, atau eksekutif lainnya di perusahaan. Dilain pihak, banyak juga perusahaan menempatkan pejabat pada posisi yang strategis tersebut terkesan “asal-asalan” tanpa kompetensi dan kualifikasi yang memenuhi persyaratan formal sebagai Corporate Secretary yang profesional.

63

Keberadaan Corporate Secretary di Indonesia tidak dikenal dalam UndangUndang Perseroan Terbatas (UUPT) maupun Undang-Undang Pasar Modal (UUPM) yang saat ini berlaku. Namun, Keberadaan Corporate Secretary diatur dalam Keputusan Ketua BAPEPAM No. 63 tahun 1996. Dalam keputusan itu disebutkan, bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanannya terhadap investor, emiten dan perusahaan publik diwajibkan membentuk Corporate Secretary paling lambat 1 Januari 1997. Apabila diteliti, keputusan Ketua BAPEPAM tersebut diberlakukan jauh sebelum isu Corporate Governance populer di Indonesia. Prinsip Corporate Governance sudah terkandung di dalamnya meskipun dalam pengertian yang sangat terbatas yaitu dalam hal meningkatkan pelayanan terhadap investor. Dalam keputusan Ketua BAPEPAM tersebut diatur empat peranan dan fungsi pokok Corporate Secretary, yaitu : 1. Mengikuti perkembangan Pasar Modal khususnya peraturan-peraturan yang berlaku di Pasar Modal. 2. Memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat yang berkaitan dengan kondisi emiten atau perusahaan publik. 3. Memberikan masukan kepada Direksi dalam rangka mematuhi ketentuan Undang-Undang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya. 4. Menjadi penghubung antara perusahaan dengan BAPEPAM dan perusahaan dengan masyarakat.

64

Keputusan Ketua BAPEPAM tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan keputusan direksi BEJ yang terakhir diberlakukan melalui Keputusan Direksi BEJ No. 339 tahun 2001. Dalam keputusan direksi BEJ ini kewajiban membentuk Corporate Secretary (selain Komite Audit dan Komisaris Independen) semakin dikukuhkan dengan fungsi yang semakin diperluas, yaitu termasuk didalamnya : 1. Menyiapkan Daftar Khusus yang berkaitan dengan direksi, komisaris, dan keluarganya dalam perusahaan tersebut yang mencakup kepemilikan saham, hubungan bisnis, dan peranan lainnya yang dapat menimbulkan benturan kepentingan. 2. 3. 4. Membuat daftar pemegang saham termasuk kepemilikan 5 % saham atau lebih. Menghadiri rapat direksi dan membuat berita acara rapat. Bertanggung jawab dalam penyelenggaraan RUPS perusahaan. Dari uraian kedua keputusan otoritas pasar modal tersebut dapat kita tarik kesimpulan Corporate Secretary setidaknya memiliki fungsi investor relations, compliance officer, dan liason officer. Dengan ketiga kategori fungsi tersebut, berdasarkan international best practices seorang Corporate Secretary diharapkan memiliki kemampuan dan kualitas pemahaman di bidang manajerial, komunikasi dan interpersonal skills, pengelolaan keuangan perusahaan, dan legal. Mengingat kompleksnya fungsi Corporate Secretary ini, keputusan direksi BEJ memberikan semacam “kelonggaran” jabatan Corporate Secretary dapat dirangkap oleh salah satu direktur perusahaan (disamping bisa juga dijabat oleh eksekutif perusahaan yang khusus ditunjuk menjadi Corporate Secretary).

65

Hal ini dikarenakan Corporate Secretary juga harus memiliki akses terhadap informasi material yang relevan dengan masalah disclosure perusahaan, namun “kelonggaran” yang diberikan tersebut seharusnya bersifat temporer saja karena jangan sampai posisi Corporate Secretary menjadi semacam “side job” semata. Profesi Corporate Secretary harus benar-benar menjadi karir yang pantas untuk dirintis sehingga suatu saat nanti sebagai profesi Corporate Secretary memiliki akreditasi profesional yang menjadikannya sejajar dengan profesi dokter, akuntan, pengacara dan profesi lainnya yang memiliki kode etik profesi. Ini tentunya agar Corporate Secretary menjadi independen dalam memastikan perusahaan dijalankan berdasarkan kaidahkaidah Corporate Governance.

C. Good Corporate Governance pada Rancangan Perubahan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal. Sesuai dengan amanat rakyat Indonesia yang tertuang dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004 telah menyebutkan bahwa untuk menciptakan industri pasar modal yang efektif dan efisien maka perlu dibentuk suatu lembaga independen yang mengawasi kegiatan perekonomian di bidang pasar modal. Berdasarkan Pasal 34 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, disebutkan pula bahwa pengawasan industri pasar modal dilakukan oleh Lembaga Pengawas Sektor Jasa Keuangan. Oleh karena itu, dalam draft RUU Perubahan Undang-undang Pasar Modal ini, telah disepakati bersama oleh Pemerintah bahwa pengawasan pasar modal (Bapepam) nantinya akan digabungkan dengan Lembaga

66

Pengawas Sektor Jasa Keuangan, yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama-sama dengan pengawasan sektor jasa keuangan lainnya, yaitu pengawasan bank, asuransi, dan dana pensiun. Namun, dalam draft RUU Perubahan UUPM ini, tidak secara langsung ketentuan pasal-pasal yang terkait dengan struktur Bapepam akan diubah, akan tetapi diatur beberapa ketentuan peralihan yang akan menjembatani peleburan Bapepam ke dalam Otoritas Jasa Keuangan, yaitu Pasal 114A RUUPM. Sesuai visi dan misi Pasar Modal Indonesia yang difokuskan pada pengembangan infrastruktur Pasar Modal, maka sasaran pengembangan dalam perubahan pasar yang dinamis dilakukan melalui restrukturisasi Bursa Efek (Bursa), Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP), dan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP) di Indonesia. Kegiatan restrukturisasi ini akan diikuti dengan demutualisasi yang pada dasarnya memisahkan kepemilikan saham dengan keanggotaan. Demutualisasi ini sangat diperlukan mengingat lembaga Bursa yang memiliki kualitas produk yang baik dan variasi produk yang lengkap, infrastruktur serta tata kelola yang baik akan dapat meningkatkan daya saing globalnya secara konsisten. Adapun kajian mengenai demutualisasi Lembaga Bursa Efek di Indonesia telah merekomendasikan model demutualisasi “Operating Holding Company Non SRO”. Untuk itu diperlukan suatu ketentuan yang mengakomodir konsep Demutualisasi Lembaga Bursa Efek. Untuk memberikan dasar hukum bagi demutualisasi Bursa Efek dimaksud, maka

67

ketentuan Pasal 8 Undang-undang Pasar Modal diusulkan untuk direvisi sehingga berbunyi: “Yang dapat menjadi pemegang saham Bursa Efek adalah orang perseorangan dan atau badan hukum. Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), pengeluaran saham harus dengan nilai nominal dan wajib disetor secara tunai. Ketentuan tersebut menjadi kendala bagi Emiten yang akan melakukan restrukturisasi permodalan perusahaan dan penyehatan dunia usaha. Hal ini disebabkan karena nilai saham perusahaan yang diperdagangkan di Bursa Efek telah mengalami penurunan harga hingga di bawah nilai nominal, sehingga penerbitan saham baru oleh perusahaan menjadi tidak dapat membantu upaya restrukturisasi dimaksud. Untuk mengantisipasi hal tersebut, diperlukan adanya suatu ketentuan yang memungkinkan Emiten dapat mengeluarkan saham tanpa nilai nominal dan dengan demikian besarnya penyetoran saham tersebut ditentukan berdasarkan nilai pasar. Hal ini akan dimasukkan dalam ketentuan Pasal 84 A RUUPM. Terhadap permasalahan penerbitan saham tanpa nilai nominal yang bertentangan dengan konsep Undang-Undang Perseroan Terbatas telah dikoordinasikan dengan Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, yang saat ini juga tengah melakukan perubahan UUPT, dan telah disepakati untuk dimungkinkannya penerbitan saham tanpa nilai nominal. Oleh karena itu, ketentuan dalam UUPM yang berkaitan dengan penerbitan saham tanpa nilai nominal nantinya tidak akan bertentangan dengan ketentuan dalam UUPT.

68

Dewasa ini banyak Emiten yang mengalami krisis keuangan yang sangat berat yang antara lain disebabkan oleh anggota direksi dan komisaris yang saling terafiliasi sehingga dalam mengambil keputusan cenderung untuk mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompok daripada kepentingan pemegang saham. Hal tersebut tentunya bertentangan dengan prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang baik (good corporate governance). Oleh karena itu, dalam rangka pelaksanaan prinsip-prinsip good corporate governance bagi Emiten atau Perusahaan Publik sehingga kepentingan pemegang saham akan lebih terlindungi, maka dalam ketentuan Pasal 84 B Rancangan Perubahan UUPM akan ditegaskan bahwa Bapepam dapat mewajibkan Emiten atau Perusahaan Publik untuk memiliki komisaris independen, direktur independen, komite audit dan/atau sekretaris perusahaan. Dalam rangka menciptakan Pasar Modal yang teratur, wajar dan efisien, serta untuk melindungi kepentingan investor, maka salah satu faktor yang sangat penting adalah penegakan peraturan-peraturan yang berlaku di pasar modal. Untuk dapat meningkatkan efektivitas penegakan peraturan tersebut, maka dalam Rancangan Perubahan UUPM akan ditegaskan beberapa ketentuan sebagai berikut : a. Penambahan kewenangan Bapepam seperti mewajibkan Pihak tertentu

mengungkapkan kepemilikan Efeknya, melarang Pihak tertentu melakukan kegiatan secara langsung maupun tidak langsung di bidang Pasar Modal, mewajibkan Pihak tertentu melakukan tindakan tertentu dan melakukan kerjasama dengan otoritas pasar modal di negara lain dan/atau Pihak lain. (Pasal 5na, Pasal5nb, Pasal 5nc dan Pasal 5pa RUUPM).

69

b.

Perumusan Sanksi Secara Lebih Tegas. Pasar Modal Indonesia selain menitikberatkan pada prinsip efektif dan efisien,

juga harus mengutamakan keamanan dari Pasar Modal itu sendiri. Di dalam praktek masih sering dijumpai adanya pelanggaran-pelanggaran terhadap Undang-Undang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya. Untuk mengantisipasi kejadian-kejadian tersebut di atas, maka dalam Rancangan Perubahan UUPM diperlukan ketentuan baru antara lain : 1. Kewenangan bagi PPNS Bapepam untuk melakukan cegah dan

tangkal (Pasal 101 huruf j RUUPM). 2. administratif. 3. Penambahan jenis sanksi administratif berupa Pembekuan atau Penyempurnaan ketentuan Pasal 102 ayat (1) tentang sanksi

pembatalan hak dan manfaat atas Efek serta Pembatasan melaksanakan kegiatan tertentu (Pasal 102 ayat (2) RUUPM). 4. Sanksi pidana berupa denda atas tindak pidana yang dilakukan oleh

korporasi (Pasal 108A RUUPM). 5. Sanksi Pidana bagi Perusahaan Efek, Penasihat Investasi atau Pihak

terafiliasinya yang memberikan keterangan mengenai nama dan kegiatan nasabah tanpa hak (Pasal 107A RUUPM). 6. Sanksi Pidana bagi Kustodian atau Pihak terafiliasinya yang

memberikan keterangan mengenai rekening Efek tanpa hak (Pasal 107B RUUPM).

70

7.

Sanksi Pidana bagi Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bapepam, yang

memanfaatkan untuk diri sendiri atau mengungkapkan informasi yang diperoleh tanpa hak (Pasal 107C RUUPM). Sejak diberlakukannya UUPM muncul masalah yang berkaitan dengan karakteristik Perusahaan Publik di Indonesia, yaitu penyebaran pemilikan yang belum merata atau sebagian besar Perusahan Publik di Indonesia masih dimiliki oleh perorangan atau institusi yang terafiliasi. Dalam rangka melindungi kepentingan pemegang saham dari adanya transaksi yang berbenturan kepentingan, maka dalam ketentuan Pasal 82 ayat (2) Rancangan Perubahan UUPM akan diatur bahwa Pihak yang mempunyai benturan kepentingan termasuk pula Pihak yang terafiliasi dengan direktur, komisaris, atau pemegang saham utama Emiten atau Perusahaan Publik. Selain itu, untuk menghilangkan benturan kepentingan dan meningkatkan internal kontrol Perusahan Efek yang melakukan usahanya di bidang Pasar Modal, maka dalam Pasal 30 ayat (2) Rancangan Perubahan UUPM diatur ketentuan yang melarang Perusahaan Efek yang melakukan kegiatan usaha sebagai Penjamin Emisi Efek dan atau Perantara Pedagang Efek, untuk merangkap sebagai Manajer Investasi. Pasal 55 ayat (4) UUPM mengatur bahwa untuk menjamin penyelesaian Transaksi Bursa, Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP) dapat menetapkan Dana Jaminan. Mengingat Dana Jaminan diperlukan untuk mewujudkan terjaminnya penyelesaian Transaksi Bursa secara pasti dan aman sehingga tercipta perdagangan Efek yang teratur, wajar dan efisien, maka Dana Jaminan dibentuk dari sumbangan wajib

71

pemodal yang melakukan kegiatan perdagangan Efek dan tidak dapat ditarik kembali, serta bukan merupakan milik LKP. Mengingat status hukum Dana Jaminan selama ini belum jelas diatur dalam Undang-undang, maka dalam ketentuan Pasal 55 ayat (6) Rancangan Perubahan UUPM ini Dana Jaminan diusulkan sebagai suatu bentuk hukum baru seperti perlakuan atas dana pensiun. Dalam rangka memberikan perlindungan hukum terhadap investor, maka dalam ketentuan Pasal 82 ayat (2a) Rancangan Perubahan UUPM akan ditentukan bahwa Emiten atau Perusahaan Publik yang melakukan transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama wajib memperoleh persetujuan mayoritas pemegang saham. Dalam ketentuan Pasal 68A Rancangan Perubahan Undang-Undang Pasar Modal ditentukan Profesi Penunjang Pasar Modal yaitu Konsultan Hukum untuk melaporkan kepada Bapepam setiap indikasi adanya pelanggaran yang ditemukan berkaitan dengan pelaksanaan tugas profesionalnya. Salah satu bentuk perlindungan kepada investor adalah berkaitan dengan legalitas data elektronik dalam hukum pembuktian di pasar modal. Oleh karena itu dengan adanya ketentuan Pasal 112A Rancangan Perubahan UUPM ini, diharapkan tidak lagi timbul keraguan mengenai kekuatan hukum dari alat elektronik sebagai alat bukti untuk hukum beracara di pengadilan. Disamping Bursa saat ini ada kecenderungan Pihak lain selain Bursa Efek menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana perdagangan Efek yaitu Penyedia Sistem Perdagangan Alternatif Atas Efek (PSPA). Untuk menampung Pihak-

72

pihak yang karena kemajuan teknologi informasi dapat menyediakan sarana perdagangan Efek selain Bursa Efek yang saat ini kita kenal, maka dalam ketentuan Pasal 30 ayat (3a) dan Pasal 41A Rancangan Perubahan UUPM diatur mengenai PSPA tersebut. Dalam Rancangan Perubahan UUPM ini yaitu dalam ketentuan Pasal 112B nantinya akan diusulkan satu ketentuan yang mengatur bahwa tagihan negara berdasarkan Undang-undang ini yaitu tagihan yang berasal dari sanksi-sanksi administratif berupa denda yang dikenakan oleh Bapepam kepada para pelaku pasar mempunyai hak yang mendahului atas segala tagihan terhadap harta yang berutang. Hal ini terjadi dalam hal Pihak-pihak yang belum membayar sanksi administratif berupa denda oleh Bapepam tersebut dalam keadaan pailit dan dilikuidasi. Dalam Rancangan Perubahan UUPM ini yaitu dalam ketentuan Pasal 112C nantinya akan diusulkan satu ketentuan yang mengatur bahwa setiap Pihak dapat melakukan kegiatan di bidang Pasar Modal dengan menggunakan prinsip-prinsip Syariah.

73

BAB III PERANAN BAPEPAM DAN BURSA EFEK DALAM PENERAPAN PENGELOLAAN PERUSAHAAN YANG BAIK (GOOD CORPORATE GOVERNANCE) DI PASAR MODAL A. Pengertian Pasar Modal. Peranan pemerintah, otoritas pasar modal dan Self Regulatory Organization (SRO) disebuah negara berfungsi sebagai external kontrol, dengan menciptakan hukum yang mensyaratkan implementasi terhadap kaedah-kaedah good corporate qovernance bagi perusahaan yang tunduk dalam wilayah hukum tertentu. Corporate Govenance yang telah diformulasikan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) dalam bentuk pedoman prinsip corporate governance (OECD Principles of Corporate Governance) yang menjadi pedoman praktis

74

secara universal bagi negara dan perusahaan dalam mengimplementasikan prinsip prinsip tersebut. Untuk kepentingan kegiatan usaha acuan tentang prinsip-prinsip pengelolaan usaha yang baik telah dirumuskan oleh Komite Nasional Kebijakan Good Corporate Governance dan ditindaklanjuti dengan dibuatnya ketentuan mengenai persyaratan yang berhubungan dengan kewajiban bagi setiap emiten untuk memiliki adanya komisaris independen, komite audit dan sekretaris perusahaan diatur didalam peraturan yang dikeluarkan oleh otoritas pasar modal dan bursa efek. Perkembangan dari pada aspek hukum ini akan banyak memberikan pengaruh kepada tatanan yuridis yang mengikat struktur organisasi perseroan terbatas, kewajiban dalam menjalankan prinsip keterbukaan dan informasi laporan keuangan, kepatuhan atas ketentuan hukum yang berhubungan dengan transaksi emiten dan pengawasan atas praktek kejahatan korporasi dan pasar modal. Pada dasarnya, pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri. Kalau pasar modal merupakan pasar untuk surat berharga jangka panjang, maka pasar uang (money market) pada sisi yang lain merupakan pasar surat berharga jangka pendek. Baik pasar modal maupun pasar uang merupakan bagian dari pasar keuangan (financial market). Jika di pasar modal diperjualbelikan instrumen keuangan seperti saham, obligasi, waran, right, obligasi konvertibel, dan berbagai produk turunan (derivatif) seperti opsi (put atau call), maka di pasar uang diperjualbelikan antara lain Sertifikat Bank Indonesia

75

(SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU), Commercial Paper, Promissory Notes, Call Money, Repurchase Agreement, Banker’s Acceptence, Treasury Bills dan lain-lain. Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 memberikan pengertian Pasar Modal yang lebih spesifik yaitu “kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”. Pasar Modal memiliki peran besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus, fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer). Dengan adanya pasar modal maka pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dana tersebut dengan harapan memperoleh imbalan (return) sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan) dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena pasar modal memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih. Dengan adanya pasar modal diharapkan aktivitas perekonomian menjadi meningkat karena pasar modal merupakan alternatif pendanaan bagi perusahaan-perusahaan sehingga perusahaan dapat beroperasi

76

dengan skala yang lebih besar dan pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan perusahaan dan kemakmuran masyarakat luas. Adapun manfaat dari keberadaan pasar modal, yaitu :29 1. Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha sekaligus memungkinkan alokasi sumber dana secara optimal. 2. Memberikan wahana investasi bagi investor sekaligus memungkinkan upaya diversifikasi. 3. Menyediakan leading indicator bagi trend ekonomi negara. 4. Penyebaran kepemilikan perusahaan sampai lapisan masyarakat menengah. 5. Penyebaran kepemilikan, keterbukaan dan profesionalisme, menciptakan iklim berusaha yang sehat. 6. Menciptakan lapangan kerja atau profesi yang menarik. 7. Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dan mempunyai prospek. 8. Alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan risiko yang bisa diperhitungkan melalui keterbukaan, likuiditas, dan diversifikasi investasi. 9. Membina iklim keterbukaan bagi dunia usaha, memberikan akses kontrol sosial. 10. Pengelolaan perusahaan dengan iklim keterbukaan, mendorong pemanfaatan manajemen profesional. 11. Sumber pembiayaan dana jangka panjang bagi emiten. B. Sejarah BAPEPAM.
29

Mengenal Pasar Modal http://www.jsx.co.id/education.asp?cmd=menu1

77

Pasar Modal dihidupkan kembali pada tahun 1976 dan dibentuklah Bapepam yang merupakan singkatan dari Badan Pelaksana Pasar Modal. Menurut Keppres No. 52 Tahun 1976, Bapepam mempunyai tugas : 1. Mengadakan penilaian terhadap perusahaan-perusahaan yang akan menjual saham-sahamnya melalui Pasar Modal apakah telah memenuhi persyaratan yang ditentukan dan sehat serta baik; 2. Menyelenggarakan Bursa Pasar Modal yang efektif dan efisien. 3. Terus-menerus mengikuti perkembangan perusahaan-perusahaan yang menjual saham-sahamnya melalui pasar modal. Bapepam dipimpin oleh seorang ketua yang diangkat oleh Presiden dan dalam melaksanakan tugasnya ia bertanggung-jawab kepada Menteri Keuangan. Pada mulanya, selain bertindak sebagai penyelenggara, Bapepam sekaligus merupakan pembina dan pengawas. Pada tahun 1990 dualisme pada diri Bapepam ditiadakan pada tahun 1990 dengan keluarnya Keppres No. 53/1990 dan SK Menkeu No. 1548/1990. Keluarnya Keppres 53 tentang Pasar Modal dan SK Menkeu No. 1548 tahun 1990 itu menandai era baru bagi perkembangan pasar modal dimana dualisme fungsi Bapepam dihapus sehingga lembaga ini dapat memfokuskan diri pada pengawasan pembinaan pasar modal. Dengan fungsi ini, Bapepam dapat mewujudkan tujuan penciptaan kegiatan pasar modal yang teratur wajar, efisien, serta melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat. Tugas ini mempunyai persamaan dengan tugas pokok Securities Exchange

78

Commission (SEC) di Amerika Serikat dimana SEC bertugas menjaga keterbukaan pasar modal secara penuh kepada masyarakat investor dan melindungi kepentingan masyarakat investor dari malpraktik di pasar modal.30 C. Peranan BAPEPAM dan Bursa Efek dalam penerapan Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal. Berdasarkan Undang-undang No. 8 Tahun 1995, kebijakan umum di bidang pasar modal ditetapkan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia sedangkan pembinaan, pengaturan dan pengawasan sehari-hari dilakukan oleh Bapepam yang berada dibawah kewenangan dan bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan Republik Indonesia. Selain tugas tersebut, dalam rangka menciptakan pasar modal yang tepat, teratur dan efisien Bapepam memiliki wewenang sebagai berikut :31 1. Menyusun peraturan dibidang pasar modal. 2. Menegakkan peraturan dibidang Pasar Modal. 3. Memberi ijin usaha kepada bursa efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, reksa dana, perusahaan efek, penasehat investasi, Biro Administrasi Efek dan pihak lain yang bergerak di Pasar Modal; 4. Menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan perusahaan bagi Emiten dan Perusahaan Publik.

30 31

http://www.bapepam.go.id/profil/sejarah/sejarah_bapepam.htm Industri Pasar Modal di Indonesia http://www.asiasecurities-online.com/prospektus/struktur_pmi.htm

79

5. Memberi ijin orang perseorangan bagi Wakil Penjamin Emisi Efek, Wakil Perantara Pedagang Efek dan Wakil Manajer Investasi; 6. Memberi persetujuan bagi bank kustodian; 7. Mewajibkan pendaftaran Profesi Penunjang Pasar Modal dan Wali Amanat; 8. Menetapkan persyaratan dan tata cara, menunda atau membatalkan pernyataan pendaftaran; 9. Mengadakan pemeriksaan dan penyidikan terhadap para pihak; 10. Melakukan pemeriksaan terhadap setiap emiten atau perusahaan publik; dan 11. Membekukan atau membatalkan pencatatan suatu efek pada bursa efek atau menghentikan transaksi bursa atas efek tertentu untuk jangka waktu tertentu guna melindungi kepentingan pemodal. 12. Menyelesaikan keberatan yang diajukan oleh pihak yang dikenakan sanksi oleh Bursa Efek, Lembaga Kliring dan penjaminan dan Lembaga penyimpanan dan Penyelesaian.32 Struktur pasar modal Indonesia dapat digambarkan dalam skema berikut ini :

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LEMBAGA KLIRING DAN BURSA EFEK PENJAMINAN PERUSAHAAN EFEK - Penjamin Emisi Efek - Perantara Pedagang Efek
32

LEMBAGA PENYIMPANAN DAN PENYELESAIAN PERUSAHAAN PUBLIK - Emiten - Perusahaan Publik Reksa Dana

LEMBAGA PENUNJANG - BAE

PROFESI PENUNJANG - Akuntan Publik - Konsultan Hukum

Badan Pengawas Pasar Modal, Departemen Keuangan RI, Sekilas Pasar Modal Indonesia, Hal. 16.

80

- Manajer Investasi

- Bank Kustodian - Penasehat Investasi - Pemeringkat Efek

- Penilai - Notaris

Dalam rangka menuju era globalisasi dan perkembangan Pasar Modal yang pesat, BAPEPAM selalu berusaha untuk mengikuti dan mengakomodasi, serta melindungi kepentingan investor, pelaku pasar modal dan masyarakat umum dengan membuat peraturan-peraturan baru dan merevisi peraturan yang telah ada. Hal diatas dilakukan dengan pertimbangan bahwa Pasar Modal merupakan sumber dana jangka menengah dan jangka panjang yang sangat penting bagi pembangunan Nasional, pasar modal memungkinkan bagi dunia usaha yang membutuhkan dana atau modal untuk menggerakkan roda usaha dengan memperoleh langsung dari masyarakat melalui penerbitan saham atau berbagai jenis efek lainnya. Dengan demikian Pasar Modal mempunyai peran penting dalam

mengembangkan dan menjaga stabilitas sistem ekonomi secara keseluruhan. Dengan pertimbangan pentingnya Pasar Modal bagi perekonomian Nasional maka independensi BAPEPAM sebagai regulatory organization sangat diperlukan. Independensi tersebut dimaksudkan untk menegakkan persatuan, konsistensi dan efisiensi dalam pengawasan dan pengembangan Pasar Modal. Saat ini BAPEPAM sedang diarahkan untuk menjadi suatu lembaga independen dan keinginan pemerintah untuk mewujudkan hal tersebut secara jelas tertuang dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Sebagai implementasinya saat ini BAPEPAM sedang merevisi

81

Undang-Undang Pasar Modal, dimana salah satu masalah yang akan ditegaskan adalah masalah independensi BAPEPAM. Kebijakan umum adalah kebijakan dibidang Pasar Modal yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kebijakan fiskal, moneter dan kebijakan ekonomi makro pada umumnya. Menteri Keuangan menetapkan kebijakan umum dibidang Pasar Modal. Selaras dengan dikeluarkannya Undang-Undang Pasar Modal yaitu UndangUndang No. 8 Tahun 1995 maka Pemerintah juga telah mengeluarkan peraturan pelaksanaannya yaitu Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1995 tentang

penyelenggaraan kegiatan di Pasar Modal dan PP No. 46 Tahun 1995 Tentang Pemeriksaan di Bidang Pasar Modal. Sejalan dengan perkembangan ekonomi nasional dibidang Pasar Modal telah banyak dilakukan penyempurnaan dan pembaharuan dalam upaya mendorong masyarakat termasuk pihak asing untuk memiliki saham perusahaan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 90/KMK/010/2001 tanggal 20 Februari 2001 tentang Pemilikan Saham perusahaan efek oleh pemodal asing. Pasar modal yang fair, teratur dan efisien adalah pasar modal yang memberi pelindungan kepada investor publik terhadap praktik bisnis yang tidak sehat dan tidak jujur sehingga setiap badan yang ada di Pasar Modal semuanya harus mendapat izin dari BAPEPAM. Hal ini menunjukkan prinsip akuntabilitas, pihak yang menjalankan kegiatan memang yang ahli dibidangnya dan telah mendapat ijin untuk bekerja di pasar modal

82

sehingga apabila terjadi kerugian akibat kelalaiannya maka dengan jelas pihak tersebut harus mendapatkan sanksi, kerugian yang dimaksud disini adalah diluar normal business risk. Resiko diluar normal business risk yang mengharuskan pemerintah untuk mengatur dan mengawasi pasar menyangkut : 1. Integritas finansial para perantara (intermediaries) dimana aset investor yang dititipkan uang maupun efek kepada broker-dealer tidak hilang karena broker-dealer mengalami bangkrut, mismanagement atau kelalaian, karenanya Undang-Undang Pasar Modal mengharuskan seluruh financial intermediaries diaudit oleh akuntan publik yang terdaftar di BAPEPAM. 2. Penipuan efek (securities fraud), penipuan didefinisikan dalam Undang-Undang Hukum Pidana akan tetapi dalam rangka menjalankan fungsinya untuk melindungi investor, BAPEPAM perlu diberi wewenang untuk investigasi dan menyeret pelaku penipuan ke pengadilan. Alasan kewenangan tersebut karena securities fraud menyangkut tehnik tinggi dan memerlukan keahlian khusus untuk dapat menyeret pelaku ke pengadilan, penipuan yang paling umum adalah menggunakan pernyataan yang salah atau menyesatkan yang mengakibatkan suatu pihak membeli atau menjual efek. Mengingat efek merupakan intangible legal rights maka investor harus mengandalkan statement yang dibuat intermediary tersebut. Dalam rangka membatasi kemungkinan securities fraud pasar modal menerapkan sanksi yang berat bagi siapa saja yang tanpa izin bertindak sebagai financial intermediaries di pasar modal dan bagi siapa saja yang terlibat aktivitas penipuan tersebut.

83

3. Manipulasi pasar (market manipulation). Investor di pasar modal berhak mengetahui bahwa harga yang dibentuk di bursa merupakan hasil proses permintaan dan penawaran yang fair dan bukan harga yang terbentuk dari hasil kolusi karena harga tersebut bukan merupakan parameter investasi yang tepat. Undang-Undang Pasar Modal mengatur bahwa barang siapa yang memberikan gambaran yang salah mengenai transaksi yang ada di bursa merupakan perbuatan melawan hukum. 4. Jenis manipulasi lainnya adalah menciptakan gambaran yang salah mengenai harga saham sehingga mendorong terjadinya jual beli saham pada harga yang sebenarnya merupakan harga rekayasa (artificial). BAPEPAM mempunyai wewenang untuk memonitor pasar agar dapat dideteksi kemungkinan adanya aktivitas manipulasi. 5. Ketentuan emiten, keterbukaan dipasar modal terutama ditujukan kepada keterbukaan perusahaan yang menawarkan efeknya dipasar modal atau emiten. Emiten dituntut untuk mengungkapkan informasi mengenai keadaan bisnisnya masyarakat, informasi tersebut haruslah dijamin kebenarannya dan emiten harus bertanggung jawab atas kerugian yang diderita masyarakat investor. Peraturan BAPEPAM yang disempurnakan diantaranya adalah Peraturan Nomor IX.A.2 mengenai Tata Cara Pendaftaran Dalam Rangka Penawaran Umum yang dimaksudkan untuk menyederhanakan proses dan mempersingkat jangka waktu penawaran umum dari 90 hari kerja menjadi maksimum 15 hari kerja.

84

Sementara itu penyempurnaan Peraturan IX.A.8 mengenai Prospektus Awal dan Info Memo dimaksudkan untuk mengatur ketentuan tentang Penawaran Awal (book building) sehingga Emiten dan Penjamin Emisi dapat melakukan Penawaran Awal setelah pengumuman Prospektus Ringkas. Penawaran Awal (book building) adalah ajakan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan Prospektus Awal yang bertujuan untuk mengetahui minat calon pembeli atas efek yang akan ditawarkan dan atau perkiraan harga penawaran efek. Peraturan ini menganut asas transparansi (keterbukaan) kepada masyarakat agar masyarakat tertarik untuk membeli perusahaan tersebut namun informasi yang diberikan haruslah benar, bukan penipuan dan tidak ada yang disembunyikan karena investor berhak akan informasi yang sebenar-benarnya. Selanjutnya untuk memfasilitasi percepatan pemulihan ekonomi, Bapepam telah menyempurnakan Peraturan Nomor IX.E.1 mengenai Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu. Penyempurnaan peraturan ini dimaksudkan untuk memperluas pengertian benturan kepentingan dan pengertian Pemegang Saham Independen sehingga mempermudah penentuan Pihak yang berhak hadir dan memberikan hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham Independen apabila terdapat suatu transaksi yang mempunyai benturan kepentingan. Dengan penyempurnaan peraturan ini maka perlindungan kepada pemegang saham, khususnya Pemegang Saham Independen meningkat.

85

Dibidang penegakan hukum, seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap perlindungan hukum di bidang pasar modal, Bapepam bersikap lebih proaktif terhadap dugaan pelanggaran peraturan perundang-undangan pasar modal. Upaya tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah pemeriksaan dan penyidikan serta meningkatnya keterbukaan dalam pelaporan hasil-hasil pemeriksaan kepada para pelaku pasar dan masyarakat pada umumnya.33 Selain memberikan sanksi administratif, Bapepam juga mewajibkan kepada pihak yang melanggar ketentuan pasar modal untuk melakukan tindakan tertentu antara lain meminta Emiten untuk melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Independen, melakukan pemaparan publik, menanggung biaya registrasi saham dalam rangka scripless trading dan mengenakan denda kepada pengurus Emiten dengan membayar sejumlah uang kepada kas negara. Sejalan dengan perkembangan keadaan pasar, saat ini Bapepam juga lebih aktif dalam mencermati kecenderungan (trend) pelanggaran yang terjadi seperti adanya Perusahaan yang melakukan kegiatan yang menyerupai Perusahaan Efek tanpa terlebih dahulu memperoleh izin dari Bapepam. Pemeriksaan terhadap kasus yang menyangkut pelanggaran keterbukaan informasi merupakan kasus terbanyak, kemudian diikuti dengan pemeriksaan terhadap pelanggaran benturan kepentingan dan manipulasi pasar. Di bidang penegakan hukum, pada tahun 2000 ini Bapepam lebih proaktif dan dinamis dalam menangani sekaligus menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran. Dari 39 kasus yang ditangani, 28 di antaranya dapat diselesaikan di tahun 2000. Jenis sanksi juga
33

Annual Report Bapepam 2000, http://www.bapepam.go.id/profil/annual/hukum_2000.htm

86

lebih variatif, dengan lebih menekankan pada upaya penanaman kesadaran kepada manajemen Emiten dan Perusahaan Publik serta Perusahaan Efek agar menjunjung tinggi sekaligus menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance.34 Disamping itu, perlu kiranya disadari oleh semua pihak bahwa penerapan prinsip-prinsip corporate governance tidak hanya memerlukan perangkat regulasi dan penegakan atas peraturan tersebut saja. Namun jauh lebih penting adalah upaya penanaman pemahaman atas pentingnya penerapan prinsip tersebut oleh semua pihak. Berdasarkan hal tersebut, Bapepam senantiasa mendukung upaya berbagai pihak seperti Komite Nasional Corporate Governance, Indonesian Institute on Corporate Governance (IICG) dan Forum on Corporate Governance in Indonesia (FCGI) untuk lebih memasyarakatkan penerapan prinsip-prinsip good corporate governance. Ringkasan hasil pemeriksaan suatu kasus berikut sanksi yang dijatuhkan kepada pelanggar juga diumumkan secara luas kepada masyarakat pada saat yang bersamaan dengan diputuskannya suatu sanksi. Hal ini selain sebagai perwujudan dari pertanggungjawaban Bapepam kepada masyarakat (public accountability) juga dimaksudkan agar masyarakat dapat memberikan penilaian, kritik, saran dan komentarnya guna lebih meningkatkan lagi kinerja Bapepam di masa mendatang. Dari sisi regulasi, selain penerbitan beberapa aturan yang berkaitan dengan kemajuan dan kegiatan yang telah diutarakan sebelumnya, telah diterbitkan pula aturan

34

http://www.bapepam.go.id/old/profil/annual/pembaca2000.htm

87

lain dengan standar dan kualifikasi internasional baik baru maupun yang bersifat penyempurnaan. Aturan dibidang penawaran efek selain semakin menyederhanakan proses emisi juga memungkinkan penerapan book building system yang di negara lain terbukti mampu meningkatkan animo masyarakat terhadap penawaran efek dari suatu emiten. Dapat dicatat pula bahwa beberapa aturan yang dikeluarkan di tahun 2000 seperti aturan mengenai benturan kepentingan, penawaran tender, transaksi material maupun perubahan kegiatan usaha, serta pengambilalihan perusahaan terbuka, langsung tidak langsung turut memberikan kontribusi dalam proses percepatan pemulihan

perekonomian nasional. Akhirnya, yang juga sangat penting untuk dicatat di tahun 2000 adalah penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Perubahan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, yang selain dimaksudkan guna meningkatkan independensi Bapepam selaku lembaga pengawas sebagaimana diamanatkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), juga sebagai respon untuk menyesuaikan Pasar Modal Indonesia dengan perkembangan dan perubahan paradigma yang terjadi di pasar modal dunia, seperti kecenderungan untuk mengizinkan Bursa Efek dimiliki pihak lain di luar Anggota Bursa atau demutualisasi bursa. Momentum penyusunan RUU tersebut juga merupakan kesempatan berharga bagi pelaku Pasar Modal Indonesia sebagai salah satu warga industri sekuritas dunia, untuk menunjukkan kepada masyarakat pasar modal internasional mengenai komitmennya dalam memenuhi resolusi yang dikeluarkan oleh IOSCO, khususnya yang

88

berkaitan dengan pemenuhan terhadap Objectives and Principles of Securities Regulation. Dengan semakin majunya infrastruktur, semakin berdayanya pelaku pasar, semakin efektifnya penegakan hukum, dan semakin sempurnanya regulasi yang dipayungi pula oleh keberadaan Undang-Undang Pasar Modal dengan standar dan kualifikasi internasional. Standar dan kualifikasi internasional selain akan meningkatkan daya saing Pasar Modal Indonesia di tingkat internasional, juga akan semakin mendekatkan Bapepam pada pencapaian visinya, yakni "Menjadi otoritas pasar modal yang berkualitas internasional, yang mampu mendorong, mengawasi, dan memelihara pasar sehingga berdaya saing global, dan mampu mendukung perkembangan ekonomi nasional". Memang diakui bahwa Disclosure merupakan terminologi yang teramat sering dikumandangkan dalam dunia hukum pasar modal dan hukum pasar modal sendiri seakan belum sah jika belum mengatur tentang disclosure ini, karenanya banyak peraturan perundang-undangan mengaturnya secara cukup rinci. Ada suatu dilema dalam hukum pasar modal itu sendiri apabila satu pihak hukum terus mengejar dengan memperinci sedetil-detilnya tentang hal-hal apa saja yang mesti didisclose oleh pihak-pihak penyandang kewajiban disclosure akan tetapi di lain pihak hukum juga harus memproteksi kepentingan-kepentingan tertentu dari pihak yang diwajibkan membuka informasi tersebut. Kepentingan tersebut seringkali bertentangan dengan kewajiban disclosure. Misalnya kepentingan suatu emiten untuk tidak mendisclose tentang informasi

89

yang.tergolong rahasia perusahaan. Dalam hal ini, sektor hukum harus jeli menimbangnimbang dan menyelaraskan kepentingan investor dan pasar terhadap suatu disclosure, dengan kepentingan emiten atau pihak-pihak lain pemilik informasi. Keselarasan diantara dua kepentingan yang kontradiktif tersebut tercermin dalam prinsip yuridis yang menyatakan bahwa suatu disclosure di pasar modal tidaklah sematamata "full" tetapi juga mestilah "fair," seperti yang tersinipul dalam istilah full and fair disclosure. Selain daripada itu, sebagaimana diketahui bahwa dalam sistem hukum Perdata kita, secara hukum dalam suatu jual beli, si penjual antara lain drwajibkan untuk "menanggung" atas seluruh cacat yang tersembunyi dari barang yang dijualnya tersebut, tetapi didalam jual beli saham di pasar modal, kewajiban menanggung cacat yang tersembunyi saja masih belum cukup. Untuk itu berkembanglah suatu teori hukum tentang kewajiban bagi suatu perusahaan terbuka, yaitu yang dikenal dengan kewajiban "buka-bukaan" yang dalam bahasa lnggrisnya disebut full and fair disclosure. Doktrin hukum tentang kewajiban buka-bukaan bagi suatu perusahaan terbuka ini mempunyai karakteristik yuridis sebagai berikut : 1. 2. 3. Prinsip ketinggian derajat akurasi informasi. Prinsip ketinggian derajat kelengkapan informasi. Prinsip equilibrium antara efek negatif kepada emiten di satu pihak,

dengan dipihak lain efek positif kepada publik jika dibukanya informasi tersebut.

90

Di samping itu, beberapa hal yang seringkali dilarang dalam hal keterbukaan informasi adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Memberikan informasi yang salah sama sekali. Memberikan informasi yang setengah benar. Memberikan informasi yang tidak lengkap. Sama sekali diam terhadap fakta atau informasi material. Keempat model pelanggaran ini dilarang karena oleh hukum dianggap dapat menimbulkan "misleading" bagi investor dalam memberikan judgementnya untuk membeli atau tidak membeli suatu efek. Alasan utama mengapa suatu disclosure diperlukan adalah agar pihak investor dapat melakukan suatu informed decision untuk membeli atau tidak membeli suatu efek. Harga pasar dari suatu efek dipengaruhi oleh informasi yang diberikan kepada publik, jadi informasi publik tersebutlah yang menentukan apakah seseorang akan melakukan tindakan jual-beli atau hold suatu efek. Karena itu, kedudukan suatu prospektus tentunya sangat penting. Hal ini melahirkan teori Market Hypothesis dan teori ini sangat mengecam tindakan insider trading karena dengan informasi yang tidak kesampaian kepada publik tersebut, berarti publik sangat dirugikan, dan seorang insider dapat mengail di air keruh. Selain teori tersebut diatas ada juga teori Capital Asset Pricing yang membedakan antara risk yang sistematis dan risk yang tidak sisteniatis, dan mengajarkan pula bahwa risiko dalam melakukan investasi di pasar modal dapat dieliminir dengan melakukan diversifikasi. Karena itu, informasi tentang suatu perusahaan tertentu tidak

91

begitu penting. Yang terpenting justru apa yang disebut sebagai Beta dari suatu efek. Yang dimaksud dengan "beta" dari suatu efek adalah semacam pengukuran terhadap suatu efek dalam hubungan dengan pasar secara keseluruhan. Dari teori-teori tersebut diatas terlihat bahwa informasi tentang sesuatu perusahaan, antara lain seperti yang terdapat dalam prospektus, ditempatkan pada posisi yang berbeda-beda. Tentu saja semua teori tersebut masih menganggap bahwa informasi tersebut perlu, tetapi tingkat keperluannya yang berbeda-beda. Bahkan ada yang meyakini bahwa keadaan dan data industri dan ekonomi secara makro justru lebih penting dan mempengaruhi harga pasar ketimbang informasi tertertu dari suatu perusahaan. Peraturan perundang-undangan dan praktek di pasar modal Indonesia meniperkenalkan 3 macam prospektus sebagai berikut : 1. Prospektus biasa. 2. Prospektus ringkas (wajib dimuat dalam dua surat kabar). 3. Prospektus dalam rangka penawaran umum oleh perusahaan menengah atau kecil. Undang-undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 memberikan rambu-rambu yuridis bagi suatu prospektus, yaitu sebagai berikut : 1. Dilarang memuat hal-hal : a. b. Keterangan yang tidak benar tentang fakta material. Tidak memuat keterangan yang benar tentang fakta material.

92

2. Memuat semua rincian tentang fakta material yang dapat mempengaruhi keputusan pemodal. 3. Fakta dan pertimbangan yang paling penting ditempatkan pada tempat yang paling awal. 4. Extra hati-hati dalam menggunakan foto, diagram atau tabel karena sangat potensial untuk terjadinya misleading. 5. Diungkapkan dalam bahasa yang jelas dan komunikatif. 6. Pengungkapan fakta material harus ditekankan sesuai bidang usaha atau sektor industrinya. 7. Mestilah terdapat pernyataan bahwa semua lembaga dan profesi penunjang pasar modal yang disebut dalam prospektus tersebut bertanggung jawab sepenuhnya atas data yang disajikan sesuai dengan fungsi mereka, sesuai dengan peraturan yang berlaku diwilayah Republik Indonesia dan kode etik, norma serta standar profesi masing-masing. Selanjutnya harus ada pula pernyataan bahwa sehubungan dengan penawaran umum setiap pihak terafiliasi dilarang memberikan keterangan atau pernyataan mengenai data yang tidak dimasukkan dalam prospektus tanpa persetujuan tertulis dari emiten dan penjamin pelaksana emisi. Menurut penjelasan atas Pasal 78 ayat (3) dan Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, maka suatu prospektus sekurang-kurangnya harus memuat : 1. Uraian tentang penawaran umum. 2. Tujuan dan Penggunaan Dana Penawaran umum.

93

3. Analisis dan pembahasan mengenai.kegiatan dan keuangan. 4. Risiko usaha. 5. Data keuangan. 6. Keterangan dari segi hukum. 7. Informasi mengenai pemesanan pembelian efek, dan 8. Keterangan tentang Anggaran dasar. 9. Harus ada "klausula Huruf Besar" (yakni klausula yang dicetak dengan huruf besar), yaitu terhadap hal-hal sebagai berikut : “ BAPEPAM TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK MENYETUJUI ATAU EFEK INI. TIDAK ISI JUGA MENYATAKAN INI. SETIAP

KEBENARAN

KECUKUPAN

PROSPEKTUS

PERNYATAAN YANG BERTENTANGAN DENGAN HAL-HAL TERSEBUT ADALAH PERBUATAN MELANGGAR HUKUM “ “ EMITEN DAN PENJAMIN EMISI EFEK (Jika ada) BERTANGGUNG JAWAB SEPENUHNYA ATAS KEBENARAN SEMUA INFORMASI ATAU FAKTA MATERIAL SERTA KEJUJURAN PENDAPAT YANG TERCANTUM DALAM PROSPEKTUS INI.” Apabila direncanakan untuk menstabilisasi harga efek tertentu, maka mesti ada klausula huruf besar sebagai berikut : “ DALAM RANGKA MEMPERTAHANKAN HARGA PASAR EFEK YANG SAMA, BAIK JENIS MAUPUN KELASNYA, DENGAN YANG DITAWARKAN PADA PENAWARAN UMUM INI, PENJAMIN EMISI DAPAT MELAKUKAN

94

STABILISASI HARGA PADA TINGKAT HARGA YANG LEBIH TINGGI DARI YANG MUNGKIN TERJADI DI BURSA EFEK SEKIRANYA TIDAK DILAKUKAN STABILISASI HARGA. JIKA PENJAMIN EMISI MELAKUKAN STABILISASI HARGA, MAKA BAIK STABILISASI HARGA MAUPUN PENAWARAN UMUM TERSEBUT DAPAT DIHENTIKAN SEWAKTU-WAKTU.” Pada kenyataannya, isi dari suatu prospektus mempunyai ciri-ciri, yaitu : 1. Informasi banyak bersifat kualitatif. Umumnya informasi yang disajikan mernang banyak yang bersifat kualitatif, yang diduga banyak berpengaruh terhadap jalannya suatu perusahaan. 2. Taksiran-taksiran. Kalaupun ada informasi yang kuantitatif, umumnya dibuat atas dasar taksirantaksiran atau dengan menggunakan metode-metode penilaian. 3. Belum Siap Pakai Banyak informasi dalam prospektus yang belum siap pakai, sehingga agar dapat dipakai untuk pengambilan keputusan perlu interpretasi dan analisis lebih lanjut. Membahas prinsip full dislosure didalam kacamata yuridis, berarti kita membicarakan sesuatu yang bersifat filosofis tentang sistem dan mekanisme yang berlaku di industri sekuritas tersebut. Prinsip keterbukaan itu sendiri memiliki implikasi dan pengertian yang sangat luas, sehingga untuk membahasnya kita harus dapat mengerti terlebih dahulu hubungan dan prinsip dasar yang saling terkait.35

35

Prinsip Full Disclosure Di Pasar Modal, Analisa Yuridis oleh Indra Safitri, http://business.fortunecity.com/buffett/842/art220299_prinsipfulldisc.htm

95

Aspek keterbukaan adalah aspek yang mengukur sejauh mana integritas pelaku pasar menjalankan kewajiban transparansi dan good corporate governance didalam penyelenggaraan usaha perseroan. IOSCO didalam guidelines yang disampaikan kepada anggotanya, menekankan penerapan ketentuan pasar modal yang mengandung kewajiban dan kepatuhan dalam menjalankan prinsip-prinsip keterbukaan. Dalam impelementasinya yang tertuang didalam peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh regulator maupun SRO, kewajiban transparansi diwajibkan kepada setiap pihak yang termasuk didalam komponen utama industri sekuritas dalam bentuk kepetahuan untuk memberikan dan menetapkan informasi yang segera untuk disampaikan kepada publik, dimana informasi tersebut tidak dimanfaatkan untuk tujuan yang dapat menyesatkan pasar. Kepatuhan inilah yang menjadi wewenang dari regulator dan SRO untuk setiap saat menetapkan kewajiban dan sanksi-sanksi bila timbulnya pelanggaran. Prinsip keterbukaan dapat dirumuskan didalam setiap keputusan tanpa harus menegaskan adanya keberlukaan dari prinsip transparansi itu sendiri. Namun didalam

pelaksanaannya secara praktis pihak-pihak yang menjadi objek dari peraturan itu sendiri memiliki kewajiban untuk menyampaikan dan membuat laporan ataupun pernyataan yang dapat digolongkan sebagai informasi dengan cara dan waktu yang ditentukan. Tingkat kepatuhan untuk menjalankan kewajiban itu sendiri harus dapat diawasi dan diberikan reaksi yang cepat dari pihak yang mengawasi, sehingga pelanggaran atas kewajiban itu sendiri tidak dijadikan sebagai sarana atau kesempatan untuk

96

memanfaatkan atau menyimpan informasi tersebut untuk tujuan dan kepentingan mereka dan bukan untuk publik. Secara yuridis prinsip keterbukaan tersebut, yang secara tegas dapat dilihat didalam peraturan-peraturan di pasar modal, adalah meyangkut kewajiban-kewajiban untuk menyampaikan informasi material, kewajiban pelaporan keuangan, dan kewajiban-kewajiban lainnya yang dirasakan perlu dan dapat mempengaruhi jalan usaha perseroan. Prinsip keterbukaan tersebut secara yuridis memiliki derajat hukum dengan sanksi yang sangat berat karena prinsip keterbukaan tersebut memang bersifat fundamental. Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal memberikan kewenangan penyidikan kepada Bapepam untuk melakukan penyidikan sehubungan dengan pelanggaran atas ketentuan hukum yang berlaku di pasar modal. Kewenangan untuk melakukan penyidikan merupakan kewenangan yang dilakukan oleh para penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) yang bila terbukti adanya pelanggaran maka proses pemeriksaan akan dapat dilanjutkan ketingkat penyidikan yang untuk selanjutnya akan diserahkan kepada pihak kejaksaan untuk selanjutnya diajukan kepengadilan. Ketentuan yang berhubungan dengan tata cara pemeriksaan dan penyidikan oleh Bapepam diatur didalam Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 1995 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Pasar Modal. Ketentuan yang mengatur tentang pemeriksaan di pasar modal oleh Bapepam secara jelas menekankan perlunya integritas yang tinggi bagi para penyidik dalam menjalankan pemeriksaan. Tidak hanya integritas namun diperlukan

97

kemandirian serta kejujuran agar proses pemeriksaan dapat berlangsung tanpa merugikan pihak yang diperiksa. Begitu pula bursa efek memiliki mekanisme yang berkaitan dengan pemeriksaan yang dilakukan terhadap anggota bursa, dimana tim pemeriksa tersebut dibentuk dengan tujuan agar anggota bursa dapat mematuhi segala sesuatu yang telah diatur dan ditentukan oleh bursa efek, terutama yang berhubungan dengan ketentuan yang berkaitan dengan standar operasional yang wajib dijalankan oleh setiap anggota bursa. Didalam menjalankan tugas-tugas tersebut maka tim pemeriksa bursa wajib menjalankan tugas serta kewenangan yang diberikan sesuai dengan tujuan dari pemeriksaan itu sendiri. Para pemeriksa ataupun penyidik yang menjalankan tugas dituntut memiliki sikap dan perbuatan yang menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah, serta dilarang menggunakan kewenangan tersebut demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Arogansi didalam menjalankan tugas adalah sikap yang sangat bertentangan dengan tujuan dari pemeriksaan itu sendiri. Oleh sebab itu bila ditemukan perilaku pemeriksa yang bertujuan untuk menekan ataupun bersifat ancaman dalam menjalankan tugasnya, maka pihak ataupun anggota bursa dapat menolak atau setidak-tidaknya melakukan klarifikasi atas pemeriksaan tersebut. Pihak yang diperiksa berhak untuk menolak suatu pemeriksaan yang tidak berlandaskan kepada ketentuan yang berlaku ataupun yang ditentukan oleh bursa efek. Penolakan untuk diperiksa tentunya harus berlandaskan kepada hal-hal yang secara jelas

98

memang tidak berhubungan dengan tujuan pemeriksaan. Langkah lainnya dapat juga meminta kepada Bapepam ataupun pimpinan bursa efek agar dibentuk tim pemeriksa yang baru sehingga kekhawatiran tindakan yang merugikan pihak yang diperiksa dapat dicegah. Bagaimanapun juga ketentuan tentang tata cara pemeriksaan dipasar modal senantiasa berlandaskan kepada hal-hal yang berhubungan dengan integritas, kejujuran dan kemandirian dari pihak yang melakukan pemeriksaan. Oleh sebab itu arogansi yang diwujudkan dengan cara-cara yang mengintimidasi pihak yang diperiksa bukan merupakan pola yang diperkenankan didalam ketentuan hukum tentang pemeriksaan dipasar modal. Untuk itu diperlukan keberanian dari pihak ataupun anggota bursa untuk menolak atau tidak melayani tata cara pemeriksaan yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.36

36

Siapa-siapa pemeriksa dan penyidik yang “Galak” di Bursa, http://business.fortunecity.com/buffett/842/art000026_siapapemeriksa.htm

99

BAB IV PENYELESAIAN PELANGGARAN PENERAPAN PENGELOLAAN PERUSAHAAN YANG BAIK (GOOD CORPORATE GOVERNANCE) DI PASAR MODAL A. Kasus Pelanggaran Good Corporate Governance di Pasar Modal. 1. Kasus Divestasi Saham PT. INDONESIAN SATELLITE

CORPORATION Tbk. Oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara. Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) pada tanggal 23 Mei 2002, telah mengeluarkan Surat Perintah Pemeriksaan No. SPRIN-22/PM/2002. terhadap

pelaksanaan divestasi saham PT. Indonesian Satellite Corporation Tbk., (Selanjutnya disingkat “ISAT”) yang dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini

100

melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (Selanjutnya disingkat “Kementerian BUMN”). Pemeriksaan BAPEPAM dilaksanakan dengan menggunakan metode

pemeriksaan setempat, pemeriksaan melalui pemanggilan dan pemeriksaan dokumendokumen dan untuk memperoleh fakta yang akurat berkaitan dengan adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh para Pihak, Bapepam telah melakukan pemeriksaan dengan metode dan kepada pihak-pihak sebagai berikut : 1. Pemeriksaan setempat dilakukan kepada PT. Danareksa Sekuritas,

Credit Suisse First Boston, PT. Merril Lynch Indonesia, PT. Nusantara Capital dan PT. ABN AMRO Asia Securities Indonesia. 2. Pemeriksaan melalui pemanggilan kepada PT. Danareksa Sekuritas,

Credit Suisse First Boston, PT. Merril Lynch, PT. Nusantara Capital, PT. ABN AMRO Asia Securities Indonesia, PT. Indonesian Satellite Corporation Tbk, Kementerian BUMN, Direksi PT. Bursa Efek Jakarta, PT. Trimegah Securities Tbk, PT. Trimegah Asset Management, PT. Jamsostek, PT. Net Securities, PT. Namalatu Ronesina, PT. Semesta Indovest, Kantor Konsultan Hukum Makes & Partner, Milbank, Tweed, Hadley & Mc Cloy LLP, Hong Kong, Merril Lynch Singapura; dan Reuters. 3. Pemeriksaan Konfrontasi antara Sdr. Agus Prodjosasmito dengan

Sdr. Helman Sitohang, Sdr. Jimmy Ganda, Sdr. James dan Sdri. Atty A. Abidin, Sdr. Jimmy Ganda dengan Sdri. Atty A. Abidin, Pemeriksaan Dokumen kepada 68

101

Perusahaan Efek yang melakukan transaksi saham ISAT pada tanggal 15 Mei 2002 dengan lawan transaksi PT. Danpac Securities untuk kepentingan PT. Jamsostek. 4. Pemeriksaan dokumen dilakukan pula atas dokumen-dokumen

lainnya yang dianggap perlu. Guna memberikan arah yang jelas dalam proses pemeriksaan, Bapepam telah membatasi ruang lingkup pemeriksaan, dengan pengertian sebagai berikut : Pemeriksaan dilakukan secara independen guna menemukan kemungkinan telah dilakukannya pelanggaran atas peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal dalam proses divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia. Pemeriksaan secara independen yang dilakukan oleh Bapepam dilandaskan pada kewenangan Bapepam sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 100 ayat (1) UUPM, yaitu : “Bapepam dapat mengadakan pemeriksaan terhadap setiap Pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal.” Kesimpulan beserta jenis pelanggaran yang dipersangkakan sebagaimana dimaksudkan dalam hasil pemeriksaan ini adalah diambil semata-mata berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim Pemeriksa Bapepam, hal ini sesuai dengan apa yang dimaksud dalam penjelasan Pasal 100 ayat (2) UUPM, penjelasan dari Pasal 100 ayat (2) UUPM mengatur, yaitu : ”…dengan kewenangannya, Bapepam dapat mengumpulkan data, informasi, dan atau keterangan lain yang diperlukan sebagai bukti atas pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal”. Dalam rangka kewenangan berkaitan dengan pengenaan sanksi, Bapepam tetap mengedepankan unsur pembinaan dengan tetap berdasarkan kepada ketentuan peraturan

102

perundang-undangan di bidang Pasar Modal yang berlaku. Kecuali terhadap keputusan Bapepam untuk melakukan penyidikan, maka Bapepam dalam mengenakan sanksi administratif tetap memperhatikan aspek pembinaan terhadap Pihak-pihak yang diduga melakukan pelanggaran atas ketentuan peraturan perundang-undangan yang

dipersangkakan dalam kasus ini. Hal ini sejalan dengan apa yang dimaksud pada penjelasan Pasal 102 ayat (1) UUPM. Penjelasan Pasal 102 ayat (1) UUPM mengatur : “Dalam menerapkan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 ayat (1), Bapepam perlu memperhatikan aspek pembinaan terhadap Pihak dimaksud.” Atas dasar hasil pemeriksaan yang dilakukan, Bapepam memperoleh temuan dan fakta yang secara kronologis dapat disampaikan sebagai berikut : 1. Bahwa pada tanggal 14 Desember 1998, ISAT telah

menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang telah menyetujui dilakukannya pengeluaran saham dalam portepel dan/atau menerbitkan obligasi konversi dan/atau waran dan/atau Efek lainnya tanpa melakukan Penawaran Umum Terbatas kepada para pemegang saham. 2. Bahwa hingga saat ini persetujuan RUPSLB sebagaimana tersebut

pada angka 1 belum direalisasikan oleh pihak manajemen ISAT. 3. Bahwa divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia telah

dilakukan pada tanggal 16 Mei 2002, dimana Kementerian BUMN berhasil melakukan penjualan saham ISAT sebanyak 83,5 juta saham ISAT pada harga Rp.

103

12.000 per saham dari target yang direncanakan semula yaitu sebanyak 117,2 juta saham. 4. Bahwa dalam proses divestasi yang dilaksanakan oleh Kementerian

BUMN, PT. Danareksa Sekuritas (Selanjutnya disebut “OD”) bertindak sebagai penasihat keuangan. Surat penunjukkan dikeluarkan oleh Menteri Keuangan pada tanggal 17 Mei 2001 melalui suratnya Nomor S-297/MK.05/2001 perihal Penunjukkan PT. Danareksa Sekuritas dan PT. Bahana Securities. Credit Suisse First Boston International (Selanjutnya disebut “CSFB”) ditunjuk sebagai International Financial Advisor setelah melalui tahapan beauty contest yang dilakukan oleh OD. 5. Bahwa sebelum dilakukannya penjualan saham ISAT oleh

Pemerintah Indonesia (16 Mei 2002), terjadi ketidakpastian informasi yang dimiliki oleh masyarakat sehingga mengakibatkan pergerakan harga yang sangat signifikan atas saham ISAT di PT. Bursa Efek Jakarta (Selanjutnya disebut “BEJ”). Terdapat upaya untuk mencegah jatuhnya harga saham ISAT di BEJ melalui suspensi oleh BEJ. Kementerian BUMN serta OD mengajukan permohonan kepada Bapepam, BEJ dan PT. Bursa Efek Surabaya (BES) untuk hal tersebut. 6. Bahwa selain berencana untuk melakukan corporate action berupa

penambahan modal sebagaimana telah disetujui oleh RUPSLB, ISAT telah dan berencana pula untuk melakukan beberapa corporate action sebagai berikut : a. Melakukan pembelian 25% saham PT. Satelindo milik De Te Asia

Holding GMBH (Selanjutnya disebut “DT”). b. Menerbitkan Obligasi;

104

c. d. 7.

Transaksi silang antara ISAT dan PT. Telkom; dan Corporate Action PT. Satelindo, yang merupakan anak perusahaan ISAT. Bahwa berkaitan dengan pembelian saham PT Satelindo yang

dimiliki oleh DT, Tim Pemeriksa Bapepam telah menemukan fakta bahwa telah terjadi upaya penyampaian informasi yang menyesatkan berkaitan dengan sumber dana pembelian. Analisa fakta atas upaya tersebut, adalah sebagai berikut : a. Pengumuman ISAT pada media massa/konferensi pers pada tanggal 15

Mei 2002 sore, disebutkan bahwa pembayaran atas pembelian saham PT Satelindo yang dimiliki oleh DT, bersumber dari kombinasi antara : 1. 2. 3. b. Pengeluaran saham baru. Penerbitan instrumen hutang; dan Dana internal perusahaan/kas perusahaan. Berdasarkan hasil rapat yang dilakukan oleh Pihak ISAT, diketahui

bahwa pembayaran atas pembelian saham PT Satelindo yang dimiliki oleh DT, bersumber dari pola pendanaan melalui beberapa alternatif, yaitu : 1. 2. 3. c. Pengeluaran saham baru; Penerbitan instrumen hutang; dan Dana internal perusahaan/kas perusahaan. Berdasarkan pernyataan yang disampaikan oleh manajemen ISAT kepada

Tim pemeriksa Bapepam, pengumuman yang disampaikan oleh ISAT kepada masyarakat, melalui media massa, dilakukan mengingat bahwa berdasarkan hasil rapat pada tanggal 15 Mei 2002 pagi bersama dengan Kementerian BUMN,

105

diperoleh kepastian bahwa Pemerintah Indonesia menyetujui dilaksanakannya pengeluaran saham baru namun diminta untuk dilaksanakan setelah divestasi saham ISAT oleh pemerintah; d. Berdasarkan keterangan Sdr. Habimono Koesoebjono (Direktur

Keuangan dan Administrasi ISAT) diperoleh fakta bahwa sebenarnya untuk pembayaran tahap pertama (28 Juni 2002) pembelian saham PT Satelindo yang dimiliki oleh DT sebesar 65 juta US Dollar cukup diambil dari dana internal ISAT atau tidak perlu dilakukan pengeluaran saham baru; e. Berkaitan dengan keterangan kepada Bapepam, Sdr. Hari Kartana, dalam

kapasitasnya sebagai Direktur Utama ISAT, menyatakan bahwa kalimat “kombinasi” seharusnya adalah “alternatif” karena adanya ketidakpastian pelaksanaan corporate action ISAT, sedangkan pembelian saham PT Satelindo adalah merupakan sesuatu yang harus dilakukan; f. 1. Terhadap fakta-fakta tersebut di atas, dapat dianalisa bahwa : Antara pengumuman yang dikeluarkan oleh ISAT yang

menyatakan bahwa pendanaan berasal dari “kombinasi” beberapa corporate action, serta fakta hasil rapat pihak manajemen ISAT yang menyepakati pendanaan diperoleh dari “alternatif” atas beberapa corporate action, kedua fakta tersebut apabila dianalisa akan memiliki pengertian yang sangat berbeda bagi kepentingan keputusan investasi investor; 2. Pengumuman ISAT pada tanggal 15 Mei 2002 mengisyaratkan bahwa ISAT akan segera melakukan pengeluaran saham baru sebanyak 54,5

106

juta saham untuk pembiayaan pembelian saham PT Satelindo milik DT, hal ini mengingat bahwa berdasarkan keterangan Pihak manajemen ISAT, pemerintah Indonesia telah meminta kepada ISAT untuk melaksanakan pembelian saham PT Satelindo yang dimiliki oleh DT beserta seluruh prosesnya selesai dilakukan sebelum akhir bulan Juni 2002; 3. Akibat pengumuman ISAT, yang mempunyai perbedaan waktu yang hampir bersamaan dengan pengumuman pemerintah tentang divestasi pemerintah atas saham ISAT, maka terdapat fakta kurangnya minat investor dalam dan luar negeri untuk membeli saham ISAT dalam proses divestasi oleh Pemerintah, sementara investor lebih memilih untuk menunggu kegiatan pengeluaran saham baru sebanyak 54,5 juta saham oleh ISAT, fakta ini didukung oleh fakta-fakta lain sebagai berikut : 1. Menurunnya harga saham ISAT pada periode pelaksanaan divestasi

oleh Pemerintah, 2. Tidak tercapainya target penjualan sebanyak 11,32% saham ISAT

milik Pemerintah Indonesia sebagaimana yang direncanakan semua. 3. Minimnya minat investor dalam negeri, diluar PT. Jamsostek dan

OD, untuk melakukan pembelian saham ISAT dalam proses divestasi oleh Pemerintah Indonesia. 4. Hingga saat dibuatnya release ini ternyata manajemen ISAT belum

melakukan kegiatan pengeluaran saham baru sebanyak 54,5 juta saham, sebagaimana telah diumumkan pada 15 Mei 2002;

107

5.

Selain hal tersebut pada huruf (c) diatas, pengumuman yang telah

dikeluarkan oleh ISAT telah terbukti pula memberikan pengaruh terhadap keputusan investasi masyarakat atas saham ISAT. Pengaruh tersebut secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Pada tanggal 15 Mei 2002, Kementerian BUMN mengumumkan rencana penjualan 11,32% atau sebanyak 117,2 juta saham ISAT; b. Pada tanggal 15 Mei 2002, ISAT mengeluarkan pengumuman berkaitan dengan pendanaan pembelian saham PT Satelindo yang dimiliki oleh DT; c. Pada tanggal 16 Mei 2002, Reuters memberitakan target penjualan saham ISAT oleh Kementerian BUMN sebesar Rp.1, 4 triliun; d. Pengumuman yang mengatakan bahwa pendanaan berasal dari kombinasi corporate action memiliki pengertian bahwa pembelian saham PT Satelindo yang dimiliki oleh DT akan dilakukan ISAT dengan terlebih dahulu melakukan beberapa corporate action diantaranya pengeluaran saham baru ISAT; e. Bahwa pengumuman pembelian saham PT Satelindo yang dimiliki oleh DT memberikan isyarat akan segera dilakukannya pengeluaran saham baru ISAT; f. Bahwa adanya hubungan antara direleasenya berita oleh Reuters mengenai target pendapatan atas penjualan 11,32% saham ISAT

108

sebesar Rp. 1,4 triliun, analisa atas berita ini dapat diprediksikan bahwa harga saham ISAT untuk setiap saham yaitu Rp. 11.950,-, sementara pada hari yang sama, harga saham ISAT di BEJ berkisar antara Rp. 12.600,- s/d Rp. 13.200,-; g. Pengumuman ISAT berkaitan dengan pembelian saham PT Satelindo yang dimiliki oleh DT, analisa atas pengumuman ini adalah bahwa akan dilakukannya pengeluaran saham baru oleh ISAT, hal ini berarti kepemilikan atas saham ISAT periode sebelum dilakukannya pengeluaran saham baru oleh ISAT akan mengakibatkan terdilusinya saham yang dimiliki oleh publik/masyarakat; h. Baik pengumuman ataupun release mengenai target pendapatan yang dikeluarkan oleh Kementerian BUMN dan Reuters berkaitan dengan pelaksanaan divestasi saham ISAT dan pengumuman yang dikeluarkan oleh ISAT berkaitan dengan pembelian saham PT Satelindo yang dimiliki oleh DT saling memiliki hubungan dan pengaruh secara signifikan. Analisa atas pengaruh tersebut adalah sebagai berikut : 1. Pengumuman Kementerian BUMN serta release Reuters

berdampak terhadap analisa investor mengenai harga saham ISAT; 2. Pengumuman ISAT berkaitan dengan pembelian saham

PT. Satelindo yang dimiliki oleh DT berdampak terhadap prediksi

109

masyarakat bahwa akan dilakukannya pengeluaran saham baru oleh ISAT; 3. Bahwa pengumuman Kementrian BUMN dan release

Reuters serta diumumkannya pembelian saham PT. Satelindo yang dimiliki oleh DT kemudian mengakibatkan dilakukannya penjualan saham ISAT oleh investor; 4. Terdapat fakta terjadinya penurunan harga dilakukannya

stabilisasi harga oleh OD serta suspensi oleh BEJ; dan 5. Kemudian masyarakat lebih memilih untuk menunggu

pelaksanaan pengeluaran saham baru oleh ISAT yang telah diperediksikan akan dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah dilakukannya divestasi saham ISAT milik

Pemerintah. Bahwa berkaitan dengan pelaksanaan beberapa corporate action oleh ISAT sebagaimana tersebut diatas, terdapat kesimpangsiuran sehubungan dengan penunjukkan penasihat keuangan ISAT. Kesimpangsiuran dimaksud tercermin dari : a. Adanya pernyataan dari manajemen ISAT kepada Bapepam bahwa PT

Mandiri Sekuritas (Selanjutnya disebut “CC”) tidak pernah ditunjuk sebagai penasihat keuangan atas beberapa corporate action ISAT; b. Adanya pernyataan dari Pihak CC kepada Bapepam bahwa pihaknya

adalah merupakan penasihat keuangan yang sah dari ISAT;

110

c.

Keabsahan dokumen surat perjanjian yang meragukan dari segi hukum,

berkaitan dengan tanda tangan para Pihak, lingkup mandat yang diberikan, penanggalan dan perbedaan dokumentasi yang dimiliki oleh masing-masing Pihak. d. Diserahkannya dokumen surat perjanjian penunjukkan CC sebagai

penasihat keuangan ISAT oleh pihak ISAT, tanpa terlebih dahulu melakukan penelitian terhadap keabsahan dokumen dimaksud; e. Terdapatnya perbedaan pernyataan diantara direksi ISAT berkaitan

dengan prosedur dan kewenangan penunjukkan penasihat keuangan ISAT; f. Terdapatnya indikasi yang kuat atas penyalahgunaan wewenang oleh

beberapa pihak direksi ISAT berkaitan dengan pelaksanaan corporate action, khususnya pembelian saham PT Satelindo milik DT; g. Tidak terdapatnya koordinasi yang baik diantara manajemen ISAT

berkaitan dengan corporate action, khususnya pembelian saham PT Satelindo milik DT. h. Keikutsertaan PT Merril Lynch Indonesia (Selanjutnya disebut “ML”)

dalam beberapa pembicaraan antara ISAT, dan CC. ML menyatakan bahwa pihaknya diminta oleh CC untuk membantu pelaksanaan corporate action ISAT. Antara CC dan ML tidak ada perjanjian tertentu yang menyatakan bahwa ML adalah Pihak yang terlibat dalam proses corporate action ISAT. Bahwa berkaitan dengan proses corporate action yang dilakukan oleh ISAT, telah terjadi beberapa pertemuan diantara para Pihak, termasuk pertemuan di Singapura pada tanggal 8 Mei 2002. Berkaitan dengan pernyataan Pihak ML sehubungan dengan

111

pertemuan pada tanggal 7 dan 8 Mei di Hotel Ritz Carlton Singapura, diperoleh fakta bahwa Merril Lynch Singapura (Selanjutnya disebut “MLS”), yang berada dalam satu group dengan ML, memiliki pendapat dan telah pernah mengusulkan bahwa proses divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia serta penjualan saham baru oleh ISAT untuk dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Analisa pihak MLS adalah : 1. akan buruk; dan 2. Apabila tidak dilakukan dalam waktu yang bersamaan akan dapat Apabila tidak dilakukan dalam waktu yang bersamaan, hasilnya

mempengaruhi harga saham ISAT. Terdapat perbedaan analisa antara pihak Merril Lynch dan pihak penasihat keuangan pemerintah dalam proses divestasi, khususnya mengenai apakah divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia dan pengeluaran saham baru oleh ISAT dapat dilakukan dalam waktu yang bersamaan atau harus dilakukan secara terpisah; Usulan pihak Merril Lynch tersebut diatas dinyatakan tidak disetujui pada saat rapat tanggal 15 Mei 2002 dan pihak Merril Lynch telah menyampaikan hal tersebut kepada Merril Lynch Hong Kong dan Singapura. Bahwa berkaitan dengan proses divestasi saham ISAT yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia, adalah benar terdapat Pihak dari CSFB (Sdr.Helman Sitohang/HS) dan Pihak dari PT Nusantara Capital (Sdr. Agus Prodjosasmito/AP) yang telah melakukan pembicaraan berkaitan dengan program divestasi saham ISAT yang dilakukan oleh Kementerian BUMN. AP adalah Penasihat dari PT Nusantara Capital (Selanjutnya disebut “NC”);

112

Berdasarkan perjanjian diantara para Pihak berkaitan dengan proses divestasi saham ISAT yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia, OD dan CSFB masing-masing bertindak sebagai Pihak yang menawarkan saham ISAT kepada lokal investor dan internasional investor. Terdapat fakta bahwa AP dan HS pernah melakukan pertemuan membahas permasalahan divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia, AP dan HS beberapa kali melakukan pembicaraan melalui telepon membahas permasalahan divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia dan AP dan HS telah secara sadar mengetahui kapasitas masing-masing Pihak dengan pengertian bahwa NC dan CSFB bukan merupakan Pihak yang telah memiliki izin dari Bapepam untuk melakukan aktifitas di Pasar Modal Indonesia; dan berdasarkan perjanjian antara OD, CSFB dan Kementerian BUMN, CSFB berkedudukan sebagai international financial advisor yang melakukan penjualan saham ISAT kepada investor luar negeri. Sdr. Robby Christian Winarta (RCW) dari CSFB yang merupakan staff HS, pada tanggal 16 Mei 2002 telah secara sengaja mengirimkan jadual tentative timetable pelaksanaan divestasi saham ISAT kepada Sdri. Atty A. Abidin (AA) yang merupakan staff dari NC, dokumen tersebut dikirimkan setelah terlebih dahulu AA dan RCW melakukan pembicaraan melalui telepon; Dokumen sebagaimana disebutkan diatas, yang dikirimkan melalui fax adalah merupakan dokumen rahasia yang dikirimkan kepada Pihak ketiga yaitu NC, karena (berdasarkan pengakuan RCW) dia telah diberitahu oleh AA bahwa AP telah meminta langsung kepada HS berkaitan dengan hal tersebut (telah ada kerjasama);

113

Atas dasar beberapa kali pembicaraan dan dikirimkannya copy timetable, Pihak NC beranggapan bahwa CSFB telah memberikan kewenangan kepada NC untuk melakukan penawaran guna mencari data minat investor atas penjualan saham ISAT oleh Kementerian BUMN, hal tersebut ditindaklanjuti dengan terlebih dahulu membuat formulir pemesanan. Formulir pemesanan mencantumkan NC dan kontak person AA dan Sdr. Jimmy Ganda, Sdr. Jimmy Ganda (JG) adalah merupakan pegawai/sales dari PT. Namalatu Ronesina (Selanjutnya disebut “LH”), surat pengangkatan JG sebagai pegawai ditandatangani oleh Direksi LH pada tanggal 3 Juni 2002. NC adalah tercatat sebagai nasabah institusi dari LH. Berdasarkan hasil pemeriksaan konfrontasi, baik JG maupun AA terbukti mengetahui dan secara sengaja mencantumkan nama mereka pada formulir pemesanan. Pada tanggal 15 Mei 2002 telah dilakukan rapat dikantor Kementerian BUMN yang melakukan pembahasan mengenai divestasi saham ISAT dan program pengeluaran saham baru oleh ISAT, rapat dihadiri oleh penasihat keuangan Kementerian BUMN, CC dan ML. Rapat dilaksanakan sebanyak 3 (tiga) kali, pagi, siang dan malam. Rapat yang dilaksanakan malam hari dihadiri oleh Pihak ISAT serta CC dan ML. Pihak ML diperkenalkan oleh CC selaku Pihak yang akan membantu CC sebagai penasihat keuangan. Terdapat pernyataan dari pihak manajemen ISAT bahwa ISAT tidak berkenan atas kehadiran pihak ML dalam rapat dimaksud. Pada tanggal 16 Mei 2002, ML

114

melakukan penjualan saham ISAT sebanyak 4.135.500 lembar dari 2 (dua) nasabahnya yaitu Merril Lynch Pierce, Fenner and Smith Inc., (MLPFNS) sebanyak 3.535.500 lembar dan Merril Lynch International (MLI) sebanyak 600.000 lembar dengan total volume perdagangan sebesar 39,48% dari seluruh volume transaksi saham ISAT pada tanggal 16 Mei 2002. Berkaitan dengan kemungkinan terjadinya perdagangan orang dalam pada perdagangan saham ISAT, Tim Pemeriksaan Bapepam telah menemukan beberapa fakta yang relevan, sebagai berikut : 1. Keikutsertaan pihak ML dalam beberapa pertemuan dan

pembicaraan berkaitan dengan corporate action ISAT. 2. Adanya hubungan antara CC dengan pihak ML dimana CC

merupakan pihak yang menyatakan diri sebagai penasihat keuangan ISAT dan memiliki informasi berkaitan dengan corporate action ISAT; 3. CC menyatakan bahwa memang benar CC meminta bantuan ML

secara lisan bagi kepentingan kedudukannya sebagai penasihat keuangan ISAT dalam corporate action ISAT; 4. Adanya analisa pihak ML berkaitan dengan waktu pelaksanaan

divestasi dan corporate action ISAT yang dapat dilakukan secara bersamaan atau terpisah tersebut dapat berpengaruh terhadap harga saham ISAT; 5. Adanya keputusan untuk memisahkan waktu pelaksanaan divestasi

dan corporate action ISAT yang diketahui oleh pihak ML pada tanggal 15 Mei 2002; dan

115

6.

Adanya penjualan saham ISAT yang dilakukan oleh ML pada

tanggal 16 Mei 2002. Bahwa hingga saat ini Bapepam masih melakukan pemeriksaan berkaitan dengan beneficial owners atas transaksi yang dilakukan oleh ML pada tanggal 16 Mei 2002. Hal ini perlu dilakukan mengingat bahwa berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku, dalam membuktikan unsur pelanggaran perdagangan orang dalam, wajib dipenuhinya secara kumulatif unsur-unsur sebagai berikut : a. Adanya orang dalam; b. Adanya informasi orang dalam; dan c. Adanya transaksi yang dilakukan berdasarkan informasi orang dalam. Berkaitan dengan kemungkinan terjadinya informasi yang menyesatkan (misleading information) dalam proses divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia serta corporate action ISAT, Tim Pemeriksaan Bapepam telah menemukan beberapa fakta yang relevan, sebagai berikut : 1. Terdapat Pihak pada Kementerian BUMN yang telah membuat

pernyataan atau memberikan keterangan secara tidak cukup berhati-hati dalam hal mana terdapat kemungkinan bahwa keterangan yang diberikan secara material adalah tidak benar atau menyesatkan. 2. a. b. Pernyataan ataupun keterangan dimaksud berkaitan dengan: Pencapaian target pendapat dari divestasi yang akan dilakukan; Adanya dugaan atau tuduhan telah terjadinya Insider Trading yang

dilakukan oleh Pihak tertentu.

116

c.

Direlease-nya berita oleh Reuters berkaitan dengan target privatisasi

pemerintah atas saham ISAT sebesar Rp. 1.4 Trilliun dari penjualan sebanyak 11.32 persen saham ISAT yang dimiliki oleh Pemerintah; d. Tidak terdapat upaya memberikan kepastian berkaitan dengan rencana

pengeluaran saham baru ISAT, yang seharusnya dilakukan oleh Pihak management ISAT, hal ini dibuktikan dengan munculnya ketidakpastian di tengah masyarakat berkaitan dengan corporate action ISAT, serta proses divestasi saham ISAT oleh Kementerian BUMN sehingga mengakibatkan dilakukannya suspensi saham ISAT di BEJ pada tanggal 16 Mei 2002 (Sekitar jam 15.32 waktu JATS) pada harga Rp. 12.600,-. Berdasarkan fakta-fakta serta analisa hukum sebagaimana telah disampaikan diatas serta berdasarkan ketentuan Pasal 100, Pasal 101 serta pasal 102 UUPM, maka Bapepam memutuskan untuk melakukan tindakan hukum kepada Pihak-pihak, sebagai berikut : 1. Kepada ISAT, atas pelanggaran ketentuan Pasal 93 UUPM,

serta dengan mempertimbangkan bahwa berdasarkan fakta-fakta yang telah ditemukan berkaitan dengan pelanggaran yang telah dilakukan oleh ISAT sebagaimana telah disebutkan diatas, akan ditingkatkan ketahap penyidikan; 2. disebutkan bahwa : “Apabila Bapepam berpendapat bahwa suatu kegiatan yang dilakukan itu merupakan pelanggaran terhadap UUPM dan atau peraturan pelaksanaannya dan mengakibatkan Berdasarkan penjelasan atas ketentuan Pasal 100 ayat (2),

117

kerugian terhadap kepentingan Pasar Modal dan atau membahayakan kepentingan pemodal dan masyarakat, maka tindakan penyidikan dapat mulai dilakukan” 3. Mempertimbangkan bahwa berdasarkan fakta-fakta yang telah

ditemukan berkaitan dengan NC, dan CSFB sebagaimana telah disebutkan diatas, walaupun tidak terdapat fakta berkaitan dengan adanya kepentingan Pasar Modal yang dirugikan dan atau kepentingan pemodal dan masyarakat yang berada dalam bahaya akibat tindakan yang dilakukan oleh beberapa Pihak yang bekerja pada NC dan CSFB tersebut, Bapepam, berdasarkan kewenangan yang dimilikinya, memutuskan untuk tetap mengenakan sanksi kepada para Pihak, dengan keterangan sebagai berikut : a. Sanksi yang dikenakan adalah sebagai sanksi administratif

sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 102 ayat (1) dan ayat (2) UUPM; b. Kepada CSFB, Bapepam berpendapat bahwa tindakan

yang telah dilakukan oleh CSFB adalah semata-mata berkaitan dengan permasalahan perdata (diluar yurisdiksi Pasar Modal) diantara para Pihak yang mengikatkan diri dalam perjanjian sebagai penasihat keuangan berkaitan dengan pelaksanaan divestasi saham ISAT yang dimiliki oleh Kementerian BUMN, maka Bapepam tidak memiliki kewenangan untuk mengenakan sanksi kepada pihak CSFB. c. Namun demikian, kepada CSFB, apabila Bapepam

dikemudian hari menemukan adanya indikasi pelanggaran atas peraturan

118

perundang-undangan di bidang Pasar Modal, maka Bapepam akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap CSFB; d. Bahwa, berdasarkan fakta-fakta yuridis atas keterlibatan

beberapa Pihak yang bekerja pada NC dalam kasus yang berawal sejak dilakukannya divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia ini, yang dinyatakan telah berhasil melakukan penjualan namun tidak tercapainya target, maka kepada pihak NC kiranya perlu dipertimbangkan unsur-unsur meringankan dan memberatkan sebagai berikut : 1. Terdapat indikasi sangat kuat bahwa beberapa

Pihak yang bekerja pada NC melakukan tindakan menawarkan saham ISAT dalam proses divestasi saham ISAT oleh pemerintah Indonesia karena adanya dorongan kuat dari CSFB yang tidak memiliki kemampuan cukup untuk melakukan penjualan kepada investor luar negeri dalam jumlah yang diharapkan. 2. Tindakan yang telah dilakukan oleh beberapa

Pihak yang bekerja pada NC tidak terbukti telah memberikan dampak terhadap pelaksanaan divestasi saham ISAT milik pemerintah; 3. Tindakan yang telah dilakukan oleh beberapa

Pihak yang bekerja pada NC tidak terbukti telah mempengaruhi harga perdagangan saham ISAT di Bursa Efek maupun harga penawaran atas saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia;

119

4.

Tindakan yang dilakukan oleh beberapa Pihak

yang bekerja pada NC berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dalam proses pemeriksaan adalah lebih disebabkan karena kurang professionalnya beberapa Pihak pada NC (yang telah mendapatkan izin dari Bapepam) dalam melakukan aktifitas usahanya; 5. 6. NC tidak memiliki izin dari Bapepam; dan Para Pihak adalah mereka yang telah memiliki izin

di pasar Modal Indonesia, sepatutnya mengetahui bahwa aktifitas yang mereka lakukan hanya dapat dilakukan oleh Perusahaan Efek yang telah mendapatkan izin dari Bapepam. Dengan mempertimbangkan pula penjelasan atas ketentuan Pasal 102 ayat (1) UUPM, maka kepada AP, AA, RR dan RS. Bapepam memutuskan untuk mengenakan sanksi administratif berupa : a. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). b. Denda kepada AA, RR, dan RS masingDenda kepada AP sebesar Rp.

masing sebesar Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah); dan c. Menetapkan bahwa kepada para Pihak,

apabila dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari kerja sejak ditetapkannya sanksi Bapepam tidak melaksanakan kewajibannya untuk membayar denda, maka Bapepam akan memberikan tambahan sanksi, dengan ketentuan sebagai berikut :

120

Larangan melakukan kegiatan di Pasar Modal Indonesia dan Melakukan hubungan usaha dalam bentuk apapun dengan Pihak sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 102 ayat (1) UUPM untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan Pasar Modal Indonesia, larangan tambahan dimaksud berlaku kepada AP selama 2 (dua) tahun dan kepada AA, RR, dan RS selama 1 (satu) tahun sejak Bapepam menetapkan bahwa para Pihak tidak melaksanakan kewajibannya Berdasarkan keputusan Bapepam berkaitan dengan pengenaan sanksi ini Bapepam memberikan larangan melakukan kegiatan di Pasar Modal selama 5 (lima) hari kerja kepada JG yang terbukti telah turut serta berpartisipasi dalam upaya menawarkan saham ISAT dalam proses divestasi saham ISAT milik Pemerintah. Berdasarkan ketentuan Pasal 31, maka kepada LH diberikan peringatan keras sebagai bentuk pertanggungjawaban Perusahaan Efek atas perilaku pegawainya. Kepada Pihak-pihak lainnya, berdasarkan hasil temuan yang diperoleh Bapepam dalam proses pemeriksaan, mengingat terdapat beberapa permasalahan yang merupakan permasalahan perdata diantara para Pihak dan bukan merupakan suatu tindakan hukum yang berada dibawah yurisdiksi Pasar Modal Indonesia, maka Bapepam membuka seluas-luasnya kemungkinan dilakukannya tindakan hukum oleh para pihak atas permasalahan perdata diantara mereka berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk itu. Bahwa berkaitan dengan dugaan adanya perdagangan orang dalam, hingga saat ini Bapepam masih perlu melakukan pemeriksaan berkaitan dengan adanya kemungkinan dilakukan transaksi saham ISAT atas informasi orang dalam. Hingga saat

121

ini Bapepam masih mengupayakan diperolehnya data-data transaksi secara lengkap khususnya kepada pihak-pihak atau badan-badan hukum luar negeri yang terbukti melakukan transaksi atas saham ISAT. Berkaitan dengan hal tersebut, saat ini Bapepam mengupayakan melakukan kerjasama dengan otoritas Pasar Modal lainnya berdasarkan kesepakatan yang telah ditetapkan oleh IOSCO (Organisasi Pengawas Pasar Modal Internasional). Bahwa dengan diumumkannya hasil pemeriksaan ini kepada masyarakat, diharapkan kepada seluruh Pihak untuk kiranya dapat memberikan informasi, fakta dan bukti-bukti kepada Bapepam berkaitan dengan pelanggaran maupun kejahatan dalam perdagangan saham ISAT.

122

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan. 1. Aspek hukum Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Indonesia mengambil dari Organization for Economy Cooperation and Development (OECD) yang mengatur empat prinsip dasar Good Corporate Governance yaitu diperlukannya sebuah sistem yang mampu menjamin

berlangsungnya praktek-praktek usaha yang berdasarkan kepada keterbukaan (transparency), pertanggungjawaban (responsibility), keadilan (fairness) dan akuntabilitas (accountability). Prinsip Fairness atau keadilan yang berlaku di Pasar Modal mengutamakan pada persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham dan adanya perlindungan hukum terhadap pemegang saham minoritas, karena investor baik asing maupun lokal dalam pasar modal berkedudukan sebagai pemegang saham minoritas sehingga perlu lebih diperhatikan perlindungan hukumnya. Prinsip Transparency atau transparansi yang ada di Pasar Modal adalah Perusahaan wajib mendisclose material yang akurat, memadai serta tepat waktu sehingga pemegang saham maupun investor dapat menggunakan informasi tersebut dalam mengambil keputusan investasinya. Prinsip Accountability atau akuntabilitas pada pasar modal dimana pengurus perusahaan wajib melakukan pengelolaan perusahaan dengan sungguh-sungguh serta melakukan hal terbaik untuk kepentingan perusahaan (fiduciary duties).

123

Berdasarkan hal diatas dapat dikatakan bahwa Corporate Governance pada Perusahaan yang mendaftarkan sahamnya di Pasar Modal (Emiten) berupa : 1. 2. 3. 4. 5. Perlindungan hak-hak pemegang saham. Persamaan perlakuan terhadap pemegang saham. Peranan pengurus perusahaan. Peranan stakeholder. Aspek keterbukaan.

2. Good Corporate Governance telah cukup baik dilaksanakan di Pasar Modal oleh BAPEPAM yang berkedudukan sebagai pembina dan pengawas Pasar Modal yang membuat peraturan pasar modal dengan mendasarkan pada Komite Nasional Bagi Pengelolaan Perusahaan dan OECD’S GCG. Dalam rangka menuju era globalisasi dan perkembangan Pasar Modal yang pesat, BAPEPAM selalu berusaha untuk mengikuti dan mengakomodasi, serta melindungi kepentingan investor yang merupakan pemegang saham minoritas, pelaku pasar modal dan masyarakat umum dengan membuat peraturan-peraturan baru dan merevisi peraturan yang telah ada. Hal diatas dilakukan dengan pertimbangan bahwa Pasar Modal merupakan sumber dana jangka menengah dan jangka panjang yang sangat penting bagi pembangunan Nasional, pasar modal memungkinkan bagi dunia usaha yang membutuhkan dana atau modal untuk menggerakkan roda usaha dengan memperoleh langsung dari masyarakat melalui penerbitan saham atau berbagai jenis efek lainnya.

124

Dengan demikian Pasar Modal mempunyai peran penting dalam mengembangkan dan menjaga stabilitas sistem ekonomi secara keseluruhan. Dengan pertimbangan pentingnya Pasar Modal bagi perekonomian Nasional maka independensi BAPEPAM sebagai regulatory organization sangat diperlukan. 3. Penyelesaian pelanggaran penerapan Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal yang dilakukan oleh BAPEPAM dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan keterbukaan agar investor tidak dirugikan dengan informasi yang menyesatkan. B. Saran. 1. Peraturan perundang-undangan yang ada saat ini yaitu Undang-

Undang Perseroan Terbatas dan Undang-Undang Pasar Modal sebaiknya diamandemen dengan memasukkan unsur-unsur Good Corporate Governance. 2. Rancangan Undang-Undang Pasar Modal sebaiknya mengatur

independensi BAPEPAM dan sebaiknya berfungsi seperti pengadilan yang khusus menangani pengawasan di Pasar Modal. 3. BAPEPAM sebaiknya mempunyai divisi atau bagian yang khusus

menangani Good Corporate Governance.

125

DAFTAR KEPUSTAKAAN Good Corporate Governance: Bisakah Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat?, http://artikel.us/sulistyanto1.html. Sofyan A Djalil, Good Corporate Governance, disampaikan pada Seminar Corporate Governance di Universitas Sumatera Utara pada tanggal 26 Juni 2000. FCGI, “Seri Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) Jilid II : Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit dalam pelaksanaan Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan)” Peranan BAPEPAM dalam penegakan Corporate Governance, http://www.nccgindonesia.org/lokakarya/yogyaherwit.html http://216.239.57.104/search? q=cache:94hc_1VFofsJ:www.safitri.com/lawoffice/indo/aspek_good_corporate_governa nce.htm+makalah+good+corporate+governance&hl=en&ie=UTF-8 Anis Baridwan, Corporate Governance dari sudut pandang pasar modal, disusun oleh Sofyan A. Djalil, Hukum Perusahaan dan Kepailitan, Fakultas Hukum Universitas Indonesia Program PascaSarjana, Jakarta, 2002. Widjaya, I.G. Rai, Hukum Perusahaan, (Jakarta : Mega Poin, 2000). Sofyan Djalil A, Hukum Perusahaan Dan Kepailitan, (Jakarta : FHUI, 2002). http://www.theceli.com/dokumen/produk/1995/uu1-1995.htm Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern Dalam Corporate Law, (Bandung : PT. CITRA ADITYA BAKTI, 2002), Hal. 74-75

126

Industri

Pasar

Modal

di

Indonesia

http://www.asiasecurities-

online.com/prospektus/struktur_pmi.htm D. Cox James, Hazeen Thomas Lee dan O’Neal R. Hodge, Corporations, Aspen Law & Business, (USA : A Division of Aspen Publishers, Inc, 1997), Hal. 400. Wijatno, H. R, Djokomartono, R, Suhendar Wahyu, Samad Usman, Anwar Mohamad dan Chanif Abu, Reformasi Pasar Modal dan Strategi bermain saham, kerukunan pensiun Departemen Keuangan RI, Jakarta 2002, hal. 431. Alijoyo F Antonius, Komite Audit yang efektif : Belajar dari kasus Enron, Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI). Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit Dalam rangka Implementasi GCG, http://www.reindo.co.id/reinfokus/edisi24/peranan.htm Bapepam, Annual Report 2002, http://www.bapepam.go.id/profil/annual/PE_2002.htm Mengenal Pasar Modal http://www.jsx.co.id/education.asp?cmd=menu1 http://www.bapepam.go.id/profil/sejarah/sejarah_bapepam.htm Industri Pasar Modal di Indonesia http://www.asiasecurities-

online.com/prospektus/struktur_pmi.htm Badan Pengawas Pasar Modal, Departemen Keuangan RI, Sekilas Pasar Modal Indonesia, Annual Report Bapepam 2000,

http://www.bapepam.go.id/profil/annual/hukum_2000.htm http://www.bapepam.go.id/old/profil/annual/pembaca2000.htm

127

Prinsip Full Disclosure Di Pasar Modal, Analisa Yuridis oleh Indra Safitri, http://business.fortunecity.com/buffett/842/art220299_prinsipfulldisc.htm. Siapa-siapa pemeriksa dan penyidik yang “Galak” di Bursa, http://business.fortunecity.com/buffett/842/art000026_siapapemeriksa.htm

128

LAMPIRAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->