P. 1
Kesekretarisan untuk SMK

Kesekretarisan untuk SMK

3.0

|Views: 93,708|Likes:
Published by royhan_benasetya

More info:

Published by: royhan_benasetya on Nov 26, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2015

pdf

text

original

Notula atau risalah rapat adalah catatan singkat tentang hasil
suatu pembicaraan di dalam rapat.
Notula rapat ditulis oleh anggota rapat yang ditunjuk dan disahkan
oleh ketua rapat, kemudian hasilnya diarsipkan untuk bahan
pertimbangan lebih lanjut.

Laporan adalah suatu bentuk penyampaian informasi atau hasil
pemikiran atau hasil kerja secara tertulis (ada juga yang secara lisan tapi
tidak dipermasalahkan di sini) dari seorang bawahan kepada seorang
atasan sesuai dengan hubungan wewenang dan tanggung jawab di
antara keduanya;atau merupakan suatu cara pelaksanaan komunikasi
dari pihak yang satu kepada pihak yang lain.

Penulisan Notula

1. Notula harus ditulis secara ringkas tetapi jelas dan tegas.
2. Isi notula hanya memuat pokok-pokok isi pembicaraan.

Penulisan Laporan

Membaca detail

Rancang Jawaban

Membaca lengkap

Membaca cepat

SMS masuk

Memakai kata singkatan yang ada
Memakai kata singkatan umum
Memakai pendek yang sehat

SMS Jawaban

SMS Keluar

280

1. Laporan harus ditulis secara benar sesuai dengan kenyataan
yang ada. Tidak boleh ada kebohongan atau karangan diri sendiri
yang tidak ada dasarnya.
2. Laporan harus ditulis secara jelas, tegas, dan cermat mengenai
permasalahan yang dilaporkan. Di dalam laporan tidak
diperbolehkan terdapat hal-hal yang tidak jelas.
3. Laporan harus ditulis secara lengkap mengenai obyek
permasalahan yang ada, dan tidak diperbolehkan ditulis hanya
sebagian saja.

Oleh karena itu, kemahiran menulis yang diperlukan pada penulisan
notulan dan laporan adalah sebagai berikut.
1. Pemakaian kata-kata yang umum dipahami banyak orang.
Penggunaan kata-kata khusus,apa.Iagi bersifat perorangan,dan
kata-kata asing, serta kata-kata bahasa daerah sebaiknya
dihindari dan dikurangi.
2. Pemakaian tata bahasa yang baku.
Tata bahasa yang digunakan adalah tata bahasa baku bahasa
Indonesia sebagai bahasa Nasional seluruh Nusantara.
3. Pemakaian gaya bahasa yang umum.
Gaya bahasa atau ragam bahasa atau ekspresi bahasa(cara
penuturan yang dapat dipahami orang) yang digunakan mestinya
yang bersifat umum.

Menulis notula
dan laporan

Memakai kata-kata umum
Memakai tata bahasa baku
Memakai gaya bahasa umum

Notula

Ringkas, jelas, tegas
Pokok-pokok pikiran di rapat
Kesimpulan di rapat

Laporan

Benar dan obyektif
Sesuai kenyataan
Jelas, tegas, cermat
Tidak mengandung kebohongan
Tidak ada palsu
Lengkap

281

10.6 Kemahiran Dengar dan Tulis Dalam Mencatat Dikte Dengan
Steno

Steno adalah sistem mencatat secara cepat dan dikte adalah
satu cara penyampaian informasi secara lisan.
Maka dari itu, kemahiran bahasa yang berfungsi pada Steno
adalah kemahiran menulis dan pada dikte adalah kemahiran
mendengarkan.

Kemahiran bahasa yang berfungsi pada dikte adalah kemahiran
mendengarkan aktif. Mendengarkan aktif adalah kemahiran
mendengarkan sesuatu suara yang mengandung informasi secara aktif
dari dalam diri sendiri sehingga ada usaha dari pendengar untuk
memahami apa yang diucapkan lawan. Mendengarkan aktif seperti ini,
sangat dibutuhkan untuk mendengarkan dikte.
Pada pelaksanaan mendengarkan aktif, pendengar harus
berkonsentrasi sungguhsungguh mendengarkan dan menangkap apa
yang diucapkan lawan di dalam dikte. Sesudah menangkap secara tepat,
hasil penyimakan (pemahaman) inilah yang dicatat. Seandainya
mendengarkan aktif tidak membuahkan hasil yang tepat,maka pada gi-
lirannya pencatatan steno pun akan ikut membawa hasil yang tidak tepat.
Agar hasil dari mendengarkan aktif dapat sesuai dengan
harapan,ada beberapa butir perhatian yang harus ikut dilakukan untuk
mencapai target itu.

Lima butir perhatian yang ikut dipraktikkan pada saat melaksanakan
mendengarkan aktif, adalah sebagai berikut.
1. Berhenti berbicara.
Waktu mendengarkan, dilarang berbicara kepada siapapun.
2. Menunjukkan adanya perhatian untuk mendengarkan. Untuk itu
tampilkan sikap yang sungguh-sungguh.
3. Jauhkan diri dari gangguan.
Kalau diajak bicara, harus menolak dengan memberi tanda.
4. Bersabar mendengarkan.
Ini pun suatu sikap yang harus dipertahankan sampai dikte
selesai.
5. Ajukan pertanyaan pada saat yang tepat.
Saat yang tepat adalah sesudah selesai dikte atau di tengah-
tengah dikte jika ada interval (saat berhenti sebentar)-nya.

.

Lima butir perhatian
1. Berhenti berbicara.
2. Ada perhatian
3. Jauhkan gangguan
4. Bersabar
5. Bertanya pada saat tepat.

282

Waktu pelaksanaan mendengarkan aktif, kemampuan indera
telinga pun harus ditingkatkan, antara lain, mampu menangkap
pengucapan yang mirip tapi berbeda makna.
Misalnya : ’labu’ dan ’Rabu’
’telor’, ’tolol’ dan ’teror’;
’memerah’ (memeras susu) dan ’memerah’ (menjadi

merah);

’sunter’ dan ’sentul’ dll

Jika kemahiran mendengarkan aktif dapat membuahkan hasil
baik, kini giliran kemahiran menulis yang harus membuahkan hasil
baik pula. Kemahiran menulis ini dilakukan bersamaan dengan
keterampilan stenografi (mencatat cepat-tepat). Pada saat melaksanakan
pencatatan dikte,kemahiran menulis yang sungguh-sungguh tidak dapat
difungsikan sebagaimana mestinya.Yang dapat difungsikan adalah kema-
hiran menulis: ”Mencatat dengan mengikuti apa yang diucapkan
pendikte”.Kemahiran menulis ini, bercirikan kosa kata, tata bahasa
akanpun gaya bahasa semuanya mengikuti yang diucapkan pendikte.

Stenografi adalah keterampilan lain yang tidak termasuk di dalam
kemahiran menulis bahasa. Jadi, stenografi harus dikuasai tersendiri.

Kemahiran menulis
Waktu dikte

Kosa kata mengikuti pendikte
Tata bahasa mengikuti pendikte
Gaya bahasa mengikuti pendikte
Semuamengikutipendikte.

Stenografi

283

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->