P. 1
PENGARUH AKTIVITAS FISIK SUBMAKSIMAL SELAMA 30 MENIT TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA ORANG SEHAT

PENGARUH AKTIVITAS FISIK SUBMAKSIMAL SELAMA 30 MENIT TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA ORANG SEHAT

1.0

|Views: 9,875|Likes:
Published by DITA ANGGARA KUSUMA

More info:

Published by: DITA ANGGARA KUSUMA on Nov 29, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah
Olahraga kini sudah menjadi kebutuhan masyarakat secara luas, terbukti dari bertumbuhnya pusat-pusat olahraga serta dipenuhinya ruang-ruang publik pada hari libur oleh masyarakat yang berolahraga. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga bukan hanya sekedar kebutuhan, namun sudah menjadi gaya hidup. Mereka melakukan olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh serta menjaga kesehatan, akan tetapi tidak sedikit juga mereka yang melakukannya karena hobi atau mengejar prestasi. Rasulullah saw. bersabda, ”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah” (HR Muslim). Hadits ini memperlihatkan bahwa selain mementingkan kekuatan iman, Islam juga peduli terhadap kekuatan jasmani umatnya karena dari kekuatan jasmani itulah ibadah dapat ditegakkan. Nabi Muhammad saw. Dalam haditsnya yang lain bersabda, “Segala sesuatu di luar zikir kepada Allah Swt. Adalah permainan atau senda gurau, kecuali empat hal: perjalanan seseorang diantara dua tujuan, melatih kuda, mencumbu istri, dan belajar berenang” (HR al-Bazzar dan al-Thabrani). Beliau menganjurkan kita untuk belajar berenang, salah satu olahraga yang sangat bermanfaat. Sebagian besar masyarakat melakukan olahraga yang bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. Olahraga semacam ini dapat kita sebut sebagai olahraga kesehatan. Olahraga kesehatan memiliki sifat mudah dikerjakan, murah, serta bermanfaat dan aman. Olahraga kesehatan memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi agar tercapai tujuannya, yaitu intensitas serta bebannya homogen, submaximal, serta tidak boleh ada unsur kompetisi didalamnya (Giriwijoyo,2005). Beban homogen disini memiliki pengertian bahwa intensitas serta porsi dari latihan selalu sama. Olahraga yang baik adalah olahraga yang secara intensitas dilakukan secara teratur dan berkesinambungan, sedangkan yang dimaksud sebagai submaximal disini adalah tidak ada pemaksaan yang melebihi kemampuan individu tersebut baik dalam beban maupun intensitasnya. Olahraga untuk kesehatan juga berpengaruh positif pada kesehatan rohani serta sosial

1

individu tersebut karena selain mudah dan murah, olahraga ini dapat dilakukan secara massal. Canadian Society for Exercise Physiology (1998) dalam “physical activity guide” menyebutkan bahwa untuk menjaga tubuh tetap sehat diperlukan aktifitas fisik seperti berjalan kaki selama 60 menit per hari, Sedangkan untuk aktifitas fisik yang lebih berat,seperti bersepeda atau berenang diperlukan waktu 30-60 menit 4 kali seminggu. Seseorang yang melakukan olahraga aerobic atau jogging memerlukan waktu 20-30 menit. Aktifitas ini harus dilakukan secara bertahap dan teratur untuk mencapai hasil yang optimal. Manfaat melakukan olahraga yang cukup dan teratur telah diinformasikan secara luas dalam berbagai artikel kesehatan maupun artikel populer serta jurnaljurnal kesehatan. Manfaat yang dapat diperoleh adalah olahraga dapat mencegah obesitas, diabetes mellitus, hyperlipidemia, stroke, dan hipertensi. Veronique dan Robert (2005) dalam penelitiannya di Belgia menyimpulkan bahwa latihan aerobic dapat diterapkan sebagai manajemen hipertensi bukan hanya untuk pencegahan. Penelitian yang sama menyebutkan bahwa lemak dalam darah dapat diturunkan kadarnya dengan olahraga terutama aerobik. Lemak dalam darah inilah yang nanti akan menimbulkan arterosklerosis apabila kadarnya tinggi. Sebuah studi di jepang (Akira et al,1983) menyimpulkan bahwa latihan aerobik yang dilakukan pada 50% VO2max efektif terhadap terapi hipertensi ringan. Kaitan olahraga dengan jantung dan pembuluh darah dapat dipahami karena jantung merupakan organ vital yang memasok kebutuhan darah di seluruh tubuh. Meningkatnya aktivitas fisik seseorang akan mengakibatkan kebutuhan darah yang mengandung oksigen akan semakin besar. Kebutuhan ini dipenuhi oleh jantung dengan meningkatkan aliran darahnya. respon pembuluh darah terhadap aktivitas ini adalah dengan melebarkan diameter pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga akan berdampak pada tekanan darah individu tersebut. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas, timbul pemikiran untuk mengetahui lebih lanjut tentang dampak olahraga terhadap tubuh terutama efeknya terhadap tekanan darah.

2

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana dinamika perubahan tekanan darah pada orang sehat dengan aktifitas submaksimal selama 30 menit ?

1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui perubahan tekanan darah pada orang sehat selama melakukan aktifitas fisik submaksimal selama 30 menit.

1.4 Manfaat
Dengan penelitian ini, akan diketahui efek dari kegiatan fisik submaksimal selama 30 menit terhadap tekanan darah serta regulasi pembuluh darah dalam merespon aktivitas fisik yang dibebankan.

1.5 Keaslian Penelitian
Banyak para ahli yang melakukan penelitian tentang fisiologi olahraga. Penelitian yang dilakukan oleh Akira kiyonaga, dkk (1985) “blood pressure and hormonal responses to aerobic exercise” meneliti tentang pengaruh latihan aerobic terhadap tekanan darah terutama yang berkaitan dengan respon hormonalnya pada orang yang mengalami hipertensi.

3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Aktivitas fisik submaksimal
2.1.1 Definisi Aktivitas fisik submaksimal merupakan suatu kegiatan fisik dengan menghasilkan tingkatan denyut jantung submaksimal yaitu antara 60-80% dari denyut jantung maksimal. Kapasitas jantung maksimal setiap orang berbeda-beda, untuk menghitungnya digunakan rumus: Kapasitas jantung maksimal = 220 umur 2.1.2 Olahraga sebagai aktivitas fisik submaksimal Aktifitas fisik ternyata berpengaruh terhadap kesegaran jasmani seseorang dan merupakan bagian komplek dari kebiasaan sehari-hari manusia. Aktivitas fisik yang sangat mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang adalah olah raga (Manurung, 1994). Menurut Giam cit Salma (1994), olahraga yang benar harus memperhatikan intensitas berupa denyutjantung yang merupakan cerminan dari beban yang diterima. Beban yang dapat diterima oleh jantung berkisar antara 6080% dari kekuatan maksimal jantung. Latihan yang dilakukan sampai denyut jantung maksimal akan menyebabkan kelelahan dan membahayakan, Sebaliknya jika beban latihan di bawah 70%, maka efek sangat sedikit atau kurang bermanfaat. 2.1.3 Pengertian Olahraga Olahraga secara harfiah berarti sesuatu yang berhubungan dengan mengolah raga atau dapat dikatakan mengolah fisik. Ilmu faal olahraga menyebutkan bahwa olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana yang dilakukan orang dengan sadar untuk meningkatan kemampuan fungsionalnya, sesuai dengan tujuannnya melakukan olahraga. Olahraga merupakan serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana yang dilakukan orang dengan sadar untuk mencapai suatu maksud atau tujuan tertentu (Giriwijoyo, 2005). Namun apabila diartikan seluas-luasnya olahraga meliputi segala kegiatan atau usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan, dan membina kekuatan jasmani dan rohani pada setiap manusia.

4

2.1.4 Tujuan Olahraga Olahraga dapat dibagi berdasarkan sifat dan tujuannya dapat dibagi menjadi, olahraga prestasi, olahraga rekreasi, olahraga rehabilitasi dan olahraga kesehatan. • Olahraga prestasi, untuk mencapai tujuan ini diperlukan usaha pembinaan yang serius ketekunan dan keuletan serta frekuensi dan intensitas latihan yang tinggi. • Olahraga rekreasi, olahraga yang hanya bertujuan untuk mengisi kekosongan waktu untuk mendapatkan kepuasan dan kesenangan secara langsung dan dapat diperolehnya kepuasan dalam melakukan aktivitas tersebut. • Olahraga rehabilitasi, olahraga yang bertujuan membantu proses rehabilitasi dari seorang penderita, misalnya pada penderita cacat fisik dan penderita-penderita penyakit jantung. • Olahraga kesehatan, aktivitas gerak raga dengan intensitas yang setingkat di atas intensitas gerak raga yang biasa dilakukan untuk keperluan pelaksanaan tugas kehidupan sehari-hari. Olahraga kesehatan mempunyai manfaat dan juga tingkat keamanan tertentu, dengan intensitasnya sub maksimal dan homogen, bukan gerak-gerakkan maksimal atau gerakan eksplosif (Giriwijoyo, 2005). 2.1.5 Manfaat Olahraga Manfaat olahraga yang cukup dan teratur, yaitu: 1. Meningkatkan kerja dan fungsi jantung, paru dan pembuluh darah. 2. Meningkatkan kekuatan otot dan kepadatan tulang. 3. Meningkatkan fleksibilitas tubuh sehingga dapat mengurangi cedera. 4. Meningkatkan metabolisme tubuh untuk mencegah kegemukan dan mempertahankan berat badan ideal. 5. Mengurangi resiko terjadinya penyakit. 6. . Meningkatkan sistem hormonal melalui peningkatan sensitifitas hormon terhadap jaringan tubuh.

5

2.1.6 Jenis-jenis Olahraga Menurut tim penyusun “ Panduan Kesehatan Olahraga Bagi Petugas Kesehatan “ (2002), olahraga menurut jenisnya dibagi dua, yaitu : 1. Olahraga aerobik, merupakan olahraga yang dilakukan secara terus menerus dimana kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh. Misalnya : jogging, renang, bersepeda senam. 2. Olahraga anaerobik, merupakan olahraga dimana kebutuhan oksigen tidak dapat dipenuhi seluruhnya oleh tubuh. Misalnya: angkat besi, lari sprint 100 meter, tenis lapangan, dan bulu tangkis. 2.1.7 Takaran Olahraga Menurut Sumosardjuno (1998), olahraga akan bermanfaat jika memenuhi ketiga takaran, yaitu : 1. Intensitas latihan Intensitas latihan adalah kerasnya latihan yang dilakukan, khususnya latihan yang bersifat aerobik. Takaran intensitas latihan adalah yang paling penting harus dipenuhi. Intensitas latihan dapat dilakukan dengan menghitung denyut nadi. Saat melakukan latihan olahraga, denyut nadi sedikit demi sedikit naik. Jumlah denyut permenit dapat dipakai sebagai ukuran, apakah intensitas latihan yang dilakukan cukup atau belum, atau melampaui batas kemampuan. Denyut nadi maksimal (DNM) yang boleh dicapai pada waktu melakukan olahraga adalah 220- umur (dalam tahun). Intensitas latihan pada olahraga kesehatan harus dapat mencapai denyut denyut nadi antara 60-80% dari DNM. Latihan dilakukan sampai berkeringat dan bernapas dalam, tanpa timbul sesak napas atau timbul keluhan seperti nyeri dada, pusing (Giam,Teh, 1992). 2. Lamanya latihan Lamanya latihan merupakan hal yang perlu diperhatikan, Jika intensitas latihan lebih tinggi maka waktu latihan dapat lebih pendek, Sebaliknya jika intensitas latihan lebih kecil maka waktu latihan harus lebih lama. Takaran lamanya latihan untuk olahraga kesehatan antara 20-30 menit dalam zone latihan, lebih lama lebih baik. Latihan-latihan tidak akan

6

efisien, atau kurang membuahkan hasil, jika kurang dari takaran tersebut. Menurut Giam, Teh (1992) lama latihan yang dianjurkan adalah selama 15-60 menit. 3. Frekuensi latihan Frekuensi latihan berhubungan erat dengan intensitas latihan dan lama latihan. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa latihan paling sedikit tiga hari perminggu, baik untuk olahraga kesehatan maupun olahraga prestasi. Hal ini disebabkan ketahanan seseorang akan menurun setelah 48 jam tidak melakukan latihan. Jadi, diusahakan sebelum ketahanan menurun harus sudah berlatih lagi. Bagi atlit-atlit yang tidak berkompetensi, olahraga melebihi takaran yang dianjurkan tidak akan banyak bermanfaat, bahkan memungkinkan terjadinya halhal yang tidak diinginkan seperti cedera (Giam,Teh, 1992).

2.2. Tekanan Darah
2.2.1 Definisi Tekanan Darah Tekanan darah dapat diartikan sebagai tekanan yang diberikan oleh darah pada dinding dalam pembuluh darah. Guyton (1996) mengartikan tekanan darah sebagai kekuatan yang dihasilkan darah terhadap setiap satuan luas dinding pembuluh darah. Walaupun pengertian tekanan darah ini berlaku pada seluruh sistem vaskuler, namun yang sering kita sebut sebagai tekanan darah merupakan tekanan darah arteri yang merupakan cabang dari aorta. Pengukuran tekanan darah arteri selama siklus jantung dapat diukur secara langsung dengan menghubungkan alat pengukur tekanan ke sebuah jarum yang dimasukkan ke dalam arteri. Pengukuran dapat dilakukan secara lebih nyaman dan akurat, yaitu secara tidak langsung dengan menggunakan sphygmomanometer ,suatu manset yang dapat dikembungkan dan dipakai secara eksternal lalu dihubungkan dengan pengukur tekanan. Apabila manset dilingkarkan mengelilingi lengan atas dan kemudian dikembungkan dengan udara, tekanan manset disalurkan melalui jaringan ke arteri brachialis di bawahnya, yaitu pembuluh utama yang mengangkut darah ke lengan bawah. Selama pengukuran

7

tekanan darah, sebuah stetoskop diletakkan di atas arteri brachialis di lipat siku tepat di bawah manset. Bunyi tidak terdengar apabila tidak ada darah yg mengalir atau jika darah mengair secara normal, sedangkan aliran darah yang turbulen akan menimbulkan getaran yang dapat didengar. Pada permulaan pengukuran, manset dikembungkan hingga melebihi tekanan sistolik sehingga arteri kolaps. Tekanan manset yang besar menyebabkan arteri akan terjepit sehingga darah tidak akan mengalir pada arteri tersebut maka tidak terdengar bunyi. Tekanan manset secara perlahan diturunkan dan pada saat berada tepat di bawah tekanan sistolik puncak maka arteri akan terbuka sedikit dan akan menyebabkan darah mengalir secara turbulen sehingga dapat didengar melalui stetoskop sebagai bunyi. Bunyi yang pertama kali terdengar inilah yang menandakan tekanan darah sistolik. Sewaktu tekanan manset terus turun, darah secara intermiten akan mengalir kembali secara turbulen setiap tekanan arteri melebihi tekanan manset. Sewaktu tekanan manset pertama kali berada di bawah tekanan arteri, maka arteri brachialis tidak terjepit lagi sehingga darah dengan leluasa akan melewati arteri ini, karena aliran darah tidak lagi turbulen maka bunyi tidak akan terdengar. Tekanan tertinggi manset pada saat bunyi terakhir inilah yang kemudian kita sebut sebagai tekanan darah diastolik. (Sherwood,1996) Tekanan darah seseorang selalu dinyatakan dalam dua ukuran, misal 120/80 mmHg. Ukuran awal disebut sebagai tekanan sistolik sedangkan ukuran yang terakhir disebut sebagi tekanan diastolik. Tekanan sistolik merupakan tekanan arteri yang diperoleh pada saat jantung sedang melakukan kontraksi maksimal, pada saat jantung mengalami relaksasi tekanan arteri turun sampai ke titik terendah dan pada saat inilah tekanan diastolik dapat diukur. Tekanan darah dapat diukur dengan menggunakan alat yang disebut sebagai sphygmomanometer. Arteri yang memiliki denyutan paling besar dan terletak superficial antara lain arteri temporalis, carotis, facialis, brachialis, radialis, femoralis, poplitea, tibialis posterior dan dorsalis pedis (shier,2007). Arteri yang lazim digunakan adalah arteri brachialis yang terletak di fossa cubiti.

8

2.2.2 Regulasi Tekanan Darah Tekanan darah arteri rata-rata adalah gaya utama yang mendorong darah dari jantung menuju ke jaringan. Tekanan ini harus diatur secara ketat melalui regulasi yang kompleks karena dua alasan. Alasan pertama, tekanan ini harus cukup tinggi agar dapat menghasilkan tekanan yang cukup untuk mendorong darah menuju ke jaringan perifer. Kedua, tekanan darah tidak boleh terlalu tinggi yang akan mengakibatkan beban kerja jantung bertambah serta meningkatkan resiko rusaknya pembuluh darah dan rupturnya pembuluh-pembuluh perifer yang halus. (sherwood,1996) Tekanan arteri tidak diatur oleh satu sistem pengatur saja, tetapi oleh beberapa sistem yang saling berhubungan. Secara garis besar sistem-sistem ini terbagi menjadi dua sistem utama yaitu, (1) sistem mekanisme pengatur tekanan arteri yang bekerja secara cepat, dan (2) sistem pengatur tekanan arteri untuk jangka panjang. (Guyton,1996) 2.2.2.1 Mekanisme Pengatur Tekanan Arteri Secara Cepat Mekanisme pengatur tekanan arteri yang bekerja cepat terdiri dari 3 komponen yaitu (1) mekanisme umpan balik saraf, (2) mekanisme hormonal, serta (3) pergeseran cairan melalui kapiler dari jaringan ke dalam atau keluar dari sirkulasi untuk mengatur kembali volume darah sesuai keperluan. Sistem umpan balik saraf merupakan mekanisme yang paling cepat bereaksi, termasuk ke dalam mekanisme ini adalah sistem baroreseptor dan mekanisme iskemia susunan saraf pusat. Sistem ini bereaksi hanya beberapa detik setelah tekanan yang abnormal. Kedua mekanisme yang lain akan menjadi aktif penuh setelah 30 sampai beberapa jam. 2.2.2.1.1 Mekanisme umpan balik saraf. Mekanisme baroreseptor merupakan salah satu mekanisme umpan balik saraf. Baroreseptor merupakan ujung-ujung saraf yang terdapat di dalam dinding arteri yang akan tersensitasi apabila diregangkan. Baroreseptor dalam jumlah banyak terdapat di dalam: (1) dinding arteri karotis interna, dan (2) dinding arkus aorta. Impuls yang ditimbulkan dari reseptor ini akan dihantarkan melalui nervus vagus menuju ke medula oblongata. Efek yang ditimbulkan oleh impuls baroreseptor

9

berupa naiknya tekanan darah terhadap medula oblongata adalah terhambatnya pusat vasokonstriktor dan merangsang pusat nervus vagus, sehingga terjadi vasodilatasi di seluruh sistem sirkulasi perifer serta penurunan frekuensi dan kekuatan kontraksi. Mekanisme ini akan berjalan berlawanan apabila impulsnya berupa penurunan tekanan darah. Baroreseptor juga bereaksi terhadap perubahan sikap tubuh, terutama yang bersifat mendadak. Orang yang setelah duduk langsung berdiri akan mengalami penurunan tekanan darah yang tiba-tiba sehingga dapat mengakibatkan hilangnya kesadaran. Baroreseptor akan merangsang suatu reflek yang menimbulkan rangsang simpatis yang akan meminimalkan penurunan tekanan darah terutama bagian kepala. 2.2.2.1.2 Mekanisme hormonal Mekanisme hormonal dibagi menjadi dua, yaitu mekanisme vasokonstriktor epinefrin-norepinefrin serta mekanisme vasokonstriktor renin-angiostensin. Mekanisme epinefrin-noreepinefrin berakibat langsung terhadap jantung dan pembuluh darah. Kedua hormon ini beredar di dalam tubuh sebagai perangsangan simpatis secara langsung. Hormon-hormon ini akan merangsang jantung untuk bekerja, menyempitkan pembuluh darah serta vena-vena. Mekanisme renin angiostensin merupakan suatu mekanisme pengaturan tekanan darah terutama arteri yang melibatkan enzim renin dari ginjal apabila tekanan darah menjadi rendah. Aliran darah melalui ginjal berkurang maka sel-sel jukstaglomerolus akan melepaskan enzim renin ke dalam darah. Renin ini akan menyebabkan terbentuknya angiostensin I, dalam beberapa detik angiostensin I akan pecah dan menjadi angiostensin II dengan bantuan suatu converting enzyme. Angiostensin memiliki beberapa efek yang dapat meningkatkan tekanan darah, yaitu vasokonstriksi pembuluh darah terutama arteri, penurunan ekskresi garam dan air oleh ginjal serta merangsang sekresi aldosteron yang nantinya juga akan menyebabkan penurunan ekskresi garam dan air.

10

2.2.2.1.3 Mekanisme pergeseran cairan kapiler Mekanisme ini bekerja dengan sistem keseimbangan cairan antara ruang interstisial dengan kapiler. Apabila tekanan arteri naik, maka cairan akan berpindah dari kapiler menuju ke dalam ruang interstisial sehingga volume darah turun dan mengakibatkan tekanan darah ikut turun, begitu pula sebaliknya. 2.2.2.2 Sistem Pengaturan Tekanan Arteri Jangka Panjang Pengaturan tekanan arteri jangka panjang dilakukan oleh suatu sistem pengatur ginjal-volume cairan-tekanan. Mekanisme ini melibatkan pengaturan volume darah dengan efek akibatnya pada tekanan darah dan sebagian mekanisme ini melibatkan pengaturan fungsi ginjal oleh beberapa sistem hormon berbeda, termasuk sistem renin- angiostensin dan hormon aldosteron yang disekresikan oleh korteks adrenal.

2.3 Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Tekanan Darah
Olahraga sangat bermanfaat bagi tubuh. Diantara banyak manfaat olahraga, salah satunya adalah bahwa olahraga dapat meningkatkan kerja jantung dan pembuluh darah. Respon fisiologis terhadap olahraga adalah meningkatnya curah jantung yang akan disertai meningkatnya distribusi oksigen ke bagian tubuh yang membutuhkan, sedangkan pada bagian-bagian yang kurang memerlukan oksigen akan terjadi vasokonstriksi, misal traktus digestivus. Meningkatnya curah jantung pasti akan berpengaruh terhadap tekanan darah.

2.4 Hipotesis
Meningkatnya curah jantung karena olahraga akan mengakibatkan tekanan darah naik pada menit-menit awal. Selanjutnya sistem regulasi tubuh akan berusaha untuk mengkompensasi kenaikan ini, sehingga tekanan darah akan cenderung tetap atau justru turun.

11

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni untuk mengetahui hubungan antara kegiatan fisik submaksimal selama 30 menit terhadap perubahan tekanan darah orang sehat.

3. 2 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat laboratorium subjek. penelitian direncanakan di Laboratorium fisiologi gedung terpadu UII Yogyakarta,waktu penelitian disesuaikan dengan

3.3 Subjek Penelitian
3.3.1 Populasi Penelitian Subjek penelitian berupa relawan berjumlah sekitar 50 orang dengan rentang usia 15-35 tahun yang sehat berdasar pada pemeriksaan fisik dan isian kuisioner kesiapan aktikfitas fisik berdasarkan kriteria Physical Avtivity Readiness Questionnaire (PAR-Q) dari Canadian Society for Exercise Physiology. Setelah terpilih subjek penelitiannya, selanjutnya akan dijelaskan dan dimintakan pada mereka persetujuan untuk mengikuti prosedur dalam penelitian ini dengan dibuktikan telah mengisi lembar persetujuan.

3.4 Identifikasi Variabel
3.4.1 Variabel Bebas Aktifitas fisik submaksimal 30 menit 3.4.2 Variabel Tergantung Perubahan tekanan darah.

12

3.5 Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian eksperimental, dengan penelitian dilakukan di laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran UII. Subjek yang telah memenuhi kriteria dalam PAR-Q ditentukan umurnya untuk mengetahui denyut jantung maksimal dengan rumus , Denyut jantung maksimal = 220 – umur. Denyut jantung submaksimal adalah 60-80% dari denyut jantung maksimal. Subjek diminta mengayuh sepeda ergometer dengan frekuensi kayuhan 50 kali putaran permenit yang mengikuti irama dari metronom. Subjek diberi beban awal sebesar 1,5 kg dan dilakukan pemeriksaan EKG untuk mengetahui frekuensi denyut jantungnya. Apabila belum mencapai denyut jantung submaksimal maka beban akan dinaikkan sebesar 1 kg setiap 3 menit dan tiap menit dilakukan pemeriksaan elektrokardiografi untuk menentukan frekuensi denyut jantung. Peningkatan pembebanan terus dilakukan hingga mencapai denyut jantung submaksimal. Jika sudah tercapai denyut jantung submaksimal maka beban akan dipertahankan dan selanjutnya dilakukan pemantauan denyut jantung dengan menggunakan elektrokardiografi yang dilakukan setiap menit. Pada menit pertama tercapainya denyut jantung submaksimal,dilakukan pemeriksaan tekanan darah dengan menggunakan sphygnomanometer dan stetoskop pada lengan kiri subjek. Pemeriksaan tekanan darah dilakukan tiap 3 menit selama tiga puluh menit. Jika denyut jantung melebihi rentang submaksimal maka beban akan diturunkan bertahap 0,5 kg hingga beberapa kali sambil terus memantau denyut jantung tiap menit dengan EKG untuk menjaga denyut jantung stabil pada rentang submaksimal. Sebaliknya jika denyut jantung dibawah rentang submaksimal maka beban akan ditingkatkan secara bertahap 1 kg. Setelah menit ke-30, maka subjek diminta menghentikan kayuhan setelah dihitung tekanan darahnya terlebih dahulu.

13

3.6 Pelaksanaan Penelitian
3.6.1 Alat dan Bahan 3.6.1.1. Alat-alat yang digunakan 1. Ergometer 2. Elektrokardiografi 3. Kertas Elektrokardiografi 4. Jelly Elektrokardiografi 5. Stetoskop 6. sphygmomanometer 7. Metronom 8. Stopwatch 3.6.2 Perlakuan Subjek Dalam penelitian ini, semua subjek diperlakukan sama, yaitu: 1. Subjek melakukan aktivitas fisik berupa mengayuh sepeda ergometer dengan frekuensi kayuhan 50 kali putaran permenit mengikuti irama dari metronom. Aktivitas fisik yang dilakukan dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap pemanasan dan tahap submaksimal. 2. Pada tahap pemanasan ditandai dari denyut jantung subjek pada saat pertama mengayuh hingga mencapai denyut jantung submaksimal yang pada masing-masing subjek lamanya bervariasi. Sedangkan tahap submaksimal semua subjek melakukan dalam waktu yang sama yaitu 30 menit diluar waktu tahap pemanasan dengan pembebanan bervariasi. Pada saat pertama duduk di sadel sepeda ergometer dilakukan perekaman dengan elektrokardografi (EKG) untuk dianalisis gelombang EKG dan penghitungan frekuensi denyut jantungnya. Perekaman EKG selanjutnya dilakukan tiap menit. Pengukuran tekanan darah dilakukan saat pertama duduk disandel sepeda ergometer dan selanjutnya dilakukan setiap 3 menit. 3. Beban awal pada tahap pemanasan sebesar 1,5 Kilopounds (KP), dan akan dinaikkan sebesar 0,5 KP setelah mengayuh setiap 3 menit. : Ergomedic Monark 828 E : Fukuda Cardisuny 501B-III : Fukuda Cardiography Recording Paper : One- Med Ultrasonic : Litmann brand classicII S.E. : Riester nova-presameter : Metronom Beyer : Diamond

9. Pengukur berat badan dan tinggi

14

Peningkatanpembebanan terus dilakukan hingga denyut jantung mencapai 60%-80% dari denyut jantung maksimal prediksi berdasar usia atau biasa disebut denyut jantung submaksimal. 4. Denyut jantung maksimal prediksi diperoleh dari 220-usia subjek dalam tahun. Sedangkan dalam denyut jantung submaksimal yang menjadi target penelitian ini pada rentang 60-80% dari denyut jantung maksimal prediksi. 5. Jika sudah tercapai denyut jantung submaksimal maka beban akan dipertahankan, dan selanjutnya mulai dilakukan penghitungan waktu hingga selama 30 menit. Jika denyut jantung meningkat melebihi rentang submaksimal maka beban akan diturunkan bertahap 0,5 KP hingga beberapa kali untuk menjaga denyut jantung stabil pada rentang submaksimal. Sebaliknya jika denyut jantung di bawah rentang submaksimal maka beban akan ditingkatkan 0,5 KP dan kelipatannya. 6. Perlakuan pada subjek akan dihentikan pada saat setelah menit ke 30 tahap submaksimal atau jika didapatkan tanda dan gejala berikut: nyeri dada yang diduga dari ischemia jantung dengan atau tanpa perubahan EKG , sesak nafas yang berat, kelelahan yang amat sangat, gejala klinis hipiotensi, penurunan dan perubahan kesadaran, peningkatan tekanan darah dengan tekanan darah sistolik lebih dari 250mmHg ,perubahan EKG venterikular takikardi atau fibrilasi, atau terdapat Ventrikel Ekstra Sistole(VES) lebih dari 6kali (Bassey dan fentem,1981) 3.6.3 Pengukuran Hasil Penelitian Pengukuran tekanan darah dilakukan dengan menggunakan stetoskop dan sphygmomanometer tiap 3 menit selama 30 menit denyut jantung submaksimal. 3.6.4 Analisa Hasil Penelitian Metode analisa data yang digunakan adalah SPSS. 3.6.5 Validitas dan Reliabilitas Validitas dan reliabilitas penelitian ini diusahakan dengan cara semua alat yang digunakan dipersiapkan sebaik-baiknya. Sepeda ergometer digunakan merk Monark yang telah di kalibrasi sehingga beban yang tertera sama dengan beban yang diberikan pada subjek.

15

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni yang dilakukan di Yogyakarta. Subjek penelitian ini adalah 50 laki-laki yang berumur antara 1535 tahun. Sebelum melakukan penelitian,subjek diminta untuk mengisi PAR-Q (Physical Avtivity Readiness – Questionnaire) yang dikeluarkan oleh Canadian Society for Exercise Physiology. Setelah data diperoleh, maka data tersebut kemudian diuji dengan metode Q-Q plot untuk memastikan apakah sebarannya normal atau tidak. Setelah diuji dengan Q-Q plot, dapat disimpulkan baik sistolik maupun diastoliknya memiliki sebaran data yang normal sehingga dapat dilakukan metode statistik parametrik. Berikut ringkasan statistik ke-50 sampel. Tabel 4.1. ringkasan statistik sampel. Sistolik Diastolik Mean 138.1727 77.2654 N (jumlah) 550 550 Std. Deviasi 16.2510 11.6852

Dari tabel diatas kita dapat melihat bahwa jumlah sampel adalah 550. jumlah ini didapatkan dari data sistolik dan diastolik tiap 3 menit sekali selama 30 menit ditambahkan dengan tekanan darah pada saat sebelum dilakukan pembebanan. Uji statistik penelitian ini dilakukan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) dengan metode one-way ANOVA. Karena itu,setelah didapatkan statistik deskriptif dari seluruh sampel maka dilakukan uji homogenisitas varians untuk menguji berlaku tidaknya asumsi untuk uji ANOVA, yaitu keseluruhan sampel mempunyai varians yang sama. Hipotesis yang berlaku adalah Ho = varians Populasi adalah identik, sedangkan Hi = varians Populasi adalah tidak identik. Jika probabilitas > 0.05 maka Ho diterima, sebaliknya jika probabilitasnya < 0.05 maka Ho ditolak. Hasil Levene test hitung untuk sistolik adalah 0.431 dengan probabilitas 0.931 sedangkan Levene test hitung untuk diastolik adalah 1.118 dengan

16

probabilitas 0.346. Oleh karena probabilitas varians baik itu varians sistolik maupun diastoliknya > 0.05 maka Ho diterima, atau semua varians adalah identik. Setelah keseluruhan varians terbukti sama, maka dapat dilakukan uji ANOVA (Analysis of Variance) untuk menguji apakah sampel memiliki rata-rata (mean) yang sama. Hipotesis: Ho = rata-rata Populasi adalah identik Hi = rata-rata Populasi adalah tidak identik Dari analisa nilai probabilitas, F hitung sistolik adalah 1.040 dengan probabilitas 0.408. Oleh karena probabilitas > 0.05 maka Hο diterima atau ratarata sistoliknya tidak berbeda secara nyata. Sedangkan pada F hitung diastolic,nilainya 1.318 dengan probabilitas 0.217. Dengan demikian karena probabilitasnya > 0.05 maka Hο diterima atau rata-rata diastolik tidak berbeda secara nyata. Setelah diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara ratarata tekanan darah menit satu dengan yang lain pada kedua kelompok sampel, selanjutnya diuji tekanan sistolik dan diastolik mana yang berbeda dan mana yang tidak berbeda. Untuk menguji masalah ini, dilakukan uji Bonferroni dan Tukey. Dari hasil Post Hoc test dengan Tukey dan Bonferroni, berdasarkan nilai probabilitasnya, baik sistolik maupun diastolik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata karena semua nilai probabilitasnya > 0.05. (lampiran 4). Selain itu juga dilakukan homogeneous subsets untuk mencari subset mana saja yang mempunyai perbedaan rata-rata yang tidak berbeda secara signifikan. Hasil pemeriksaan homogenous dapat disimpulkan baik sistolik maupun diastolic dari menit ke 1 sampai menit ke-30 tidak memiliki perbedaan yang signifikan antara satu dengan yang lain (lampiran 4).

4.2 Pembahasan

17

Pada penelitian ini, subjek yang berusia 15-35 tahun dan dinyatakan cukup sehat untuk aktivitas fisik berdasarkan PAR-Q menerima perlakuan yang sama yaitu diminta untuk mengayuh sepeda ergometric Monark selama 30 menit dan diukur tekanan darahnya tiap 3 menit selama melakukan aktivitas tersebut. Kemudian data yang telah didapatkan lalu dianalisa adanya kenaikan atau penurunan tekanan darahnya. Hipotesis dari penelitian ini adalah pada saat-saat awal melakukan aktivitas fisik, tekanan darah subjek akan meningkat. Tubuh akan mengkompensasi kenaikan tersebut sehingga tekanan darahnya akan cenderung tetap atau justru turun. Berdasarkan hasil analisa statistik dengan menggunakan metode one-way ANOVA didapatkan bahwa tekanan darah pada subjek tidak berbeda secara signifikan. Hal ini didapat dari nilai probabilitas rata-rata (mean) sampel baik ratarata sistolik maupun diastolik diperoleh nilai lebih dari 0,05. (p>0,05). Kesimpulan dari hasil tersebut adalah bahwa kenaikan yang terjadi dapat dikompensasi oleh tubuh sehingga pada saat di rata-rata, perbedaan tekanan darah selama aktivitas fisik tidak berbeda secara signifikan. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah, yaitu : 1. Volume darah Semakin tinggi volume darah,maka semakin tinggi pula tekanan darahnya. 2. Kekuatan kontraksi jantung Meningkatnya kekuatan kontraksi jantung akan meningkatkan tekanan darah. 3. Frekuensi denyut jantung Dalam batas tertentu, peningkatan frekuensi denyut jantung akan meningkatkan cardiac output sehingga akan meningkatkan volume darah dalam sirkulasi sistemik sehingga akan meningkatkan tekanan darah. 4. Tingkat resistensi pembuluh darah. Tahanan pembuluh darah cenderung memberikan hambatan terhadap jalannya aliran darah (syaifuddin,2001). Tingkat resistensi dapat diakibatkan karena peningkatan viskositas darah. Semakin tinggi

18

viskositas darah akan menyebabkan peningkatan resistensinya sehingga tekanan darah akan meningkat. 5. Elastisitas pembuluh darah. Semakin elastis pembuluh darah,maka akan semakin rendah tekanan darah yang dihasilkan. (Chandra, 2006) Pada saat melakukan aktivitas fisik/olahraga,faktor yang paling mempengaruhi peningkatan tekanan darah pada orang tersebut terutama adalah peningkatan frekuensi denyut jantung yang akhirnya akan meningkatkan cardiac output/curah jantung. Salah satu mekanisme utama jantung untuk meningkatkan curahnya selama olah raga adalah mekanisme Frank-sterling. Dengan mekanisme ini, bila jumlah darah yang mengalir dari vena ke jantung meningkat, memperbesar ruang-ruangnya dan membuat otot jantung lebih meregang , maka otot jantung akan berkontraksi dengan kekuatan yang bertambah. Dengan demikian volume darah yang dipompakan tiap denyutan jantung menjadi lebih banyak. Meningkatnya curah jantung pada saat olahraga ini dimaksudkan untuk mempertahankan aktivitas otot-otot rangka yang sedang bekerja, sehingga peningkatan aliran darah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan zat gizi sel-sel otot serta membawa kembali karbon monoksida dan ampas-ampas metabolisme ke tempat-tempat pembuangannya. Selain mekanisme Frank-Sterling yang telah disebutkan diatas, olahraga dapat mengakibatkan kenaikan curah jantung dengan beberapa mekanisme lain,yaitu (1) rangsangan simpatis yang meningkat dapat meningkatkan denyut jantung dan kekuatan kontraksi otot jantung, sementara di lain pihak olahraga juga menurunkan rangsangan parasimpatis ke jantung, (2) timbulnya vasodilatasi vaskuler di dalam otot-otot rangka dan meningkatnya pompa otot akan memungkinkan percepatan aliran darah kembali ke jantung, (3) aktivitas pernapasan yang meningkat menyebabkan peningkatan aliran balik vena dan di lain pihak adanya vasodilatasi perifer akan menurunkan tahanan vaskuler sebagai akibat rangsangan simpatis pada pembuluh darah kapiler dan keadaan ini akan meningkatkan curah jantung (Masud,1989).

19

Faktor lain yang sangat mempengaruhi kenaikan tekanan darah adalah tahanan perifer total. Pengaruh tahanan perifer total pada tekanan darah terutama melalui perubahan diameter pembuluh darah tepi seperti arteriola. Sebagai faktor penyebab terjadinya perubahan tersebut adalah bahan neurohormonal dan bahan lokal di sekitar pembuluh darah seperti karbon dioksida, adenosin, histamin, asam laktat, kalium, ion hidrogen, magnesium, dan natrium yang memiliki kemampuan memperbesar diameter pembuluh darah tepi dan hal sebaliknya dapat terjadi karena pengaruh kalsium (Masud,1989). Aliran darah otot rangka pada keadaaan istirahat cukup rendah yaitu sekitar 24 mL/100gr/menit. Pada saat otot berkontraksi secara ritmik, aliran darah yang terjadi pada saat jeda antara kontraksi satu dengan yang lain akan sangat meningkat hampir 30 kali lipat (Ganong,1995). Sangat besarnya peningkatan aliran darah otot pada saat otot rangka berkontraksi terutama disebabkan adanya beberapa mekanisme-mekanisme vasodilator lokal yang bekerja pada saat yang sama. Salah satu faktor yang terpenting adalah berkurangnya oksigen di dalam jaringan otot. Selama otot berkontraksi, otot menggunakan oksigen dengan sangat cepat, sehingga menurunkan konsentrasinya di dalam cairan jaringan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan vasodilatasi baik karena dinding pembuluh darah tidak dapat mempertahankan kontraksinya apabila tidak ada oksigen maupun karena defisiensi oksigen menyebabkan pelepasan beberapa zat vasodilator. Zat vasodilator setempat yang dilepaskan selama kontraksi otot meliputi ion kalium, asetilkolin, ATP, asam laktat, dan karbon dioksida (Guyton,1982). Untuk menjaga homeostatis, tubuh memiliki mekanisme yang merupakan regulator penurunan dan peningkatan tekanan darah. Dan jika sirkulasi darah sudah tidak memadai lagi, maka akan terjadi gangguan pada sistem transpor oksigen, karbon dioksida serta produk-produk metabolisme lainnya. Pengendalian secara reflek terhadap tekanan darah dilakukan oleh sistem neural, yaitu baroreseptor dan kemoreseptor yang merupakan sistem yang penting untuk mempertahankan tekanan darah pada keadaan yang mendadak seperti reaksi terhadap perdarahan, dehidrasi cairan tubuh yang mendadak, saat olahraga dan perubahan posisi yang mendadak (Masud,1989). Kedua sistem ini memiliki

20

mekanisme kerja yang berbeda. Rangsang yang dikirim oleh baroreseptor akan menyebabkan penekanan pada aktivitas vasokontriksi atau dengan kata lain merupakan penyebab vasodilatasi, sedangkan rangsang yang dikirim oleh kemoreseptor menyebabkan peningkatan aktivitas vasokontriktor. Baroreseptor adalah reseptor regang dalam dinding jantung dan pembuluh darah. Reseptor yang memantau sirkulasi arteri ada pada reseptor sinus karotikus dan arkus aorta. Selain itu, reseptornya juga terdapat di dalam dinding atrium kanan dan kiri pada tempat masuk vena cava superior dan inferior serta vena-vena pulmonalis,juga dalam sirkulasi pulmonal (Ganong,1995). Mekanisme ini mulai berlangsung apabila terjadi regangan pada struktur ditempat reseptor itu berada, yang salah satunya dapat disebabkan karena adanya kenaikan tekanan darah. Dari perangsangan reseptor tersebut, maka impuls saraf yang dihasilkan akan disalurkan melalui nervus vagus dan Hering’s nerve menuju pusat vasodilatator di bagian medial dan distal medula oblongata (Masud,1989). Impuls yang berasal dari sinus karotikus akan dikirim melalui Hering’s nerve yang yang sangat kecil lalu menuju ke nervus glossofaringeus dan kemudian ke traktus solitarius di daerah medula batang otak. Sedangkan impuls dari arkus aorta dikirimkan melalui nervus vagus ke medula oblongata pada area yang sama. (Guyton,1996) Setelah sinyal baroreseptor memasuki traktus soitarius medula, sinyal sekunder akhirnya menghambat pusat vasokonstriktor di medula dan merangsang pusat vagus. Efek akhir yang dihasilkan adalah vasodilatasi vena dan arteriol di seluruh sistem sirkulasi perifer dan berkurangnya frekuensi denyut jantung dan kekuatan kontraksi jantung. Oleh karena itu, perangsangan baroreseptor akibat tekanan di dalam arteri secara refleks menyebabkan penurunan tekanan arteri akibat tahanan perifer dan penurunan curah jantung. Sebaliknya, tekanan yang rendah mempunyai pengaruh yang berlawanan,yang secara refleks menyebabkan tekanan meningkat kembali menjadi normal. (Guyton,1996) Manabe et al (2007) dalam penelitiannya mengenai kaitan baroreflex dengan tekanan darah pada latihan aerobik menyebutkan bahwa pada tahap submaksimal, mekanisme baroreflek akan berperan penting dalam meningkatkan aktivitas simpatis yang akan meningkatkan tekanan darah. Namun hal ini hanya berlaku

21

pada saat awal latihan, karena pada latihan yang lebih lanjut, mekanisme ini akan semakin lemah dan baroreseptor akan mengubah set point dari tekanan darah menjadi lebih tinggi. Hal ini dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan selama otot melakukan kontraksi. Menurut Bronwyn A. Kingwell et al.,1997 dalam penelitiannya yang berjudul “Arterial compliance increases after moderate-intensity cycling”, aktivitas fisik tidak merubah rata-rata atau mean tekanan darah, akan tetapi tekanan darah sistolik sentral turun setelah bersepeda selama 30 menit dengan kapasitas 65 persen. Resistensi perifer total juga turun dan akan ikut menyebabkan peningkatan elastisitas pembuluh darah. Penelitian yang dilakukan di australia ini juga menyimpulkan bahwa melakukan kegiatan fisik bersepeda akan meningkatkan compliance arteri seluruh tubuh melalui mekanisme vasodilatasi. Hasil dari penelitian ini adalah rata-rata kenaikan tekanan darah yang terjadi selama melakukan aktivitas fisik tidak signifikan. Seperti yang telah dijelaskan diatas, pada saat awal melakukan latihan, tekanan darah akan naik karena peningkatan curah jantung dan tahanan perifer yang menurun karena kontraksi otot. Lalu untuk mengkompensasi aktivitas yang intens, mekanisme baroreseptor akan mempertahankan set point pada titik tertentu. Hal ini menjelaskan kenapa pada latihan selama 30 menit, tekanan darah tidak naik terus menerus akan tetapi cenderung naik pada awal lalu menetap atau turun selama latihan berlangsung.

22

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan bahwa rata-rata perubahan tekanan darah yang terjadi selama melakukan aktivitas fisik submaksimal selama 30 menit tidak signifikan.

5.2 Saran
1. perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh aktivitas fisik terhadap perubahan tekanan darah,terutama yang bersifat jangka panjang. 2. Penelitian lain yang dapat dilakukan adalah mengenai bagaimana aktifitas fisik yang dilakukan secra rutin dapat menurunkan tekanan darah terutama sebagai terapi hipertensi.

DAFTAR PUSTAKA

23

Despopoulus, A., Silbernagl, S., 1998. Atlas Berwarna dan Teks Fisiologi. Yunita Handoyo. 1998 (alih bahasa), Hipokrates,Jakarta Ganong, William. F., 1995. Review of Medical Physiology (17th ed). Widjajakusumah, Djauhari. 1995 (alih bahasa). EGC,Jakarta Giam, C.K., 1993, Ilmu Kedokteran Olahraga. Salma, 1994. (citase). Bina Rupa Aksara, Jakarta Giriwijoyo,S., Ali, M. 2005, Ilmu Faal Olahraga: fungsi tubuh manusia pada olahraga untuk kesehatan dan untuk prestasi. Fak. Pendidikan olahraga & kesehatan UPI, Bandung Gledhill, N., 2002. Canada’s physical activity guide to healthy active living, Health Canada. http://www.hc-sc.gc.ca/hppb/paguide/pdf/guideEng.pdf Guyton, C.A., Hall, E.J., 1996. Textbook of Medical Physiology (9th ed). Setiawan,I. 1997 (alih bahasa). EGC, Jakarta Guyton, C.A., 1982. Human Physiology and Mechanism of Disease (3rd ed). Andrianto,P. 1987 (alih bahasa). EGC,Jakarta. Kingwell, B.A., Berry, K.L., Cameron, J.D., Jennings, G.L., Dart, A.M., Arterial compliance increases after moderate-intensity cycling, Am. J. Physiol. 273 (Heart Circ. Physiol. 42): H2186–H2191, 1997. Kiyonaga,A., Arakawa,K., Tanaka,H., Shindo,M. , Blood pressure and hormonal responses to aerobic exercise, Hypertension by AHA 1985;7;125-131 Kurniawan, C., 2006. Sinopsis Fisiologi. PiDi Publisher,Yogyakarta. Kusmana, D., 2002. Olahraga Bagi Kesehatan Jantung. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Makhabah, D.N., 2008, Pengaruh naik turun tangga terhadap tekanan darah pada mahasiswa FK UII semester VIII & II (2007/2008). FK UII, Yogyakarta Manabe,H., Fukuma,N., Tuchida,T., Kato,Y., Mabuchi,K., Takano,T., Analysis of Alteration of Blood Pressure Response to Exercise through Baroreflex, J Nippon Med Sch 2007:74: 123-130 Melly, 2008, Hubungan antara aktivitas olahraga dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa FK UII tahun ajaran 2007/2008. FK UII, Yogyakarta

24

Sherwood, Lauralee., 1996, Human physiology from cells to systems (2nd ed). Brahm,U. 2001 (alih bahasa). EGC , Jakarta Shier, D., Butler, J., Lewis, Ricki., 2002. Hole’s Human Anatomy & physiology, 10th edition, Mc Graw Hill, New York Syaifuddin, 2001. Fungsi Sistem Tubuh Manusia. Widya Medika, Jakarta. Veronique A. C., Robert H. F., Effects of endurance training on blood pressure, Blood pressure-regulating mechanisms, and cardiovascular risk factors. Hypertension by AHA 2005;46;667-675

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->