P. 1
makalah

makalah

|Views: 1,091|Likes:
Published by ali shoim
m@501-M
m@501-M

More info:

Published by: ali shoim on Nov 29, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/06/2013

pdf

text

original

MELAWAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA

“Mengenal Narkoba dan Penyalahgunaannya Dikalangan Masyarakat” Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Seminar Biologi

Disusun oleh : Yuni Eliana Heri Susanto (06320133) (06320137)

Murtaqi Ali Shoim (06320141)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM IKIP PGRI SEMARANG 2009

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia telah menjadi salah satu tujuan pengembangan bisnis bagi para pengedar narkoba. Hal ini dikarenakan kondisi masyarakat yang lebih memandang kekayaan daripada kesehatan di masa yang akan datang. Dalam berita di Liputan6, di Medan warga Indonesia bernama Hadi Prabowo alias Nadin ditangkap polisi setelah terbukti membawa shabu seberat 33 gram dan uang tunai Rp 5,6 juta. Dalam keterangan tersangka, semua ini dilakukan karena membutuhkan uang untuk mengobati kakinya yang cacat akibat kecelakaan. Kondisi bangsa ini diperparah lagi dengan potensi para pemuda yang memiliki peran sebagai golongan yang akan membawa perubahan bangsa menuju lebih baik, akan tetapi lebih memilih bersenang-senang dengan narkoba. Banyak sekali hal yang menjadi alasan mengapa para pecandu dapat menjadi kecanduan. Mulai dari karena rasa ingin mencoba hingga tekanan batin yang membuat hati terasa gundah. Narkoba pada hakekatnya tidak berbahaya, jika digunakan sesuai dengan fungsinya. Dibidang kesehatan narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif atau yang lebih dikenal dengan narkoba sangat besar manfaatnya untuk kesembuhan dan keselamatan manusia. Untuk menyelesaikan masalah, yang dapat dikatakan sudah sangat komplek ini, perlu campur tangan dari semua elemen yang ada termasuk juga individu tersebut dan pemerintah. Individu yang menjadi objek dan subjek dari penggunaan narkoba, harus memiliki keyakinan dan keteguhan hati bahwa narkoba jika disalahgunakan dalam penggunaanya akan berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Pemerintah dengan segenap institusinya harus memberi perlindungan kepada warganya yang kongkrit, baik itu dalam bentuk kebijakan, tindakan, atau undang-undang yang membatasi penyalahgunaan narkoba. Penyuluhan-

peyuluhan, optimalisasi peran bidang kesehatan dapat menjadi alternatif untuk mengurangi dampak negatif narkoba bagi masyarakat. B. Permasalahan Suatu wawasan ilmiah harus memiliki bahan yang menjadi titik tekan pembahasan. Dari hasil analisis yang telah diungkap dalam latar belakang, maka diperoleh permasalahan : 1. Bagaimana penyalahgunaan narkoba yang terjadi di kalangan masyarakat? 2. Mengapa narkoba sangat berbahaya ? 3. Bagaimana upaya penangulangan pengguna narkoba ? 4. Bagaimana UU melindungi warga dari bahaya narkoba ? C. Tujuan Segala tindakan ilmiah memiliki tujuan jelas agar nantinya dapat mencapai hal yang menjadi landasan kegiatan. Adapun tujuan dari hal ini adalah : 1. Mengetahui bentuk-bentuk penyalahgunaan narkoba yang terjadi di kalangan masyarakat. 2. Mengetahui bahaya dari penyalahgunaan narkoba. 3. Mencari solusi upaya penangulangan pengguna narkoba. 4. Mengetahui landasan uu yang melindungi warga dari bahaya narkoba.

BAB II PEMBAHASAN A. Narkoba Di Jaman Sekarang Indonesia sebagai negara yang berkembang, tidak bisa lepas dari permasalahan penyalahgunaan narkoba. Meski kampanye antinarkoba sudah dapat dikatakan telah sukses. Akan tetapi jumlah pemakai narkoba di Indonesia meningkat. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kasus narkoba yang diberitakan oleh media maupun dinas nersangkutan. Hampir semua orang di Indonesia telah mengetahui bahwa narkoba itu bersifat merusak mental generasi. Jika kita mengajak seseorang untuk memakai narkoba, mereka pasti menolak bahkan akan marah. Akan tetapi tanpa kita sadari, ternyata sudah banyak generasi muda yang telah ikut mengkonsumsi narkoba sebagai bahan konsumsi wajib setiap harinya. Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa dalam hal publikasi kita telah menang. Dengan gentar kita katakan “say no to drugs.” Tetapi eksistensi kata “no” perlu mendapat garis bawah. Banyak warga yang belum mengetahui tentang narkoba. Sekarang ini jenis dan kualitas narkoba sudah meningkat, daerah penyebaran semakin meluas hingga ke daerah pedesaan, kelompok yang mengkonsumsi semakin bervariasi. Kondisi ini menjadi lebih parah setelah diketahui Indonesia memiliki sindikat narkoba yang kreatif dan telah piawai dalam mengelabuhi petugas dan para pemakainya. Pemerintah dengan segenap institusinya, LSM, Ormas, dan masyarakat luas harus bersama-sama dalam menanggulangi penyalahgunaan narkoba sampai tuntas. Banyak orang membeci dan ikut memberantas penyalahgunaan narkoba, tetapi justru memakai narkoba. Hal ini terjadi karna ia tidak mengetahui bahwa ia minum setiap hari adalah narkoba. Ia di tipu oleh pengedar, yang menawarkan foo suplement, obat penyakit manjur, atau yang lainnya.

B. Pengertian dan Jenis Narkoba Partodiharjo, subagyo mengatakan di dalam bukunya bahwa “kepanjangan narkoba yang populer namun keliru adalah narkotika dan obat berbahaya.” Hal ini tentunya jika dibenarkan, akan menajadi hal yang majemuk pemahamannya. Dalam ilmu kedokteran, obat berbahaya merupakan obat yang dijual bebas di pasar dan pemakaiannya tidak mendapatkan ijin dari tim medis atau dinas kesehatan. Padahal belum tentu semua obat tersebut adalah narkoba. Kepanjangan narkoba yang tepat adalah narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya.(Partodiharjo, subagyo) Hal ini menjadikan kita tahu, bahwa penggunaan narkoba tidak selama buruk. Persepsi yang salah adalah penyalahgunaan pemakaiannya. Pada ilmu kedokteran, narkoba menjadi hal yang biasa dipakai untuk penyembuhan pasien. Narkoba dibagi menjadi tiga jenis, yaitu narkotika, psikotropika, dan bahanbahan adiktif lainnya. Tiap jenis dibagi-bagi ke dalam beberapa kelompok. 1. Narkotika Partodiharjo menjelaskan narkotika adalah zat atau bahan yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis maupun bukan sintesis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran dan hilangnya rasa. Narkotika jika dikonsumsi akan dapat menimbulkan daya adiksi, toleran, dan habitual yang sangat tinggi. Berdasarkan UU no.22 tahun 1997, jenis narkotika dibagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama digunakan untuk penelitian atau ilmu pengetahuan, misal ganja, heroin, kokain, morfin, opium. Golongan kedua, digunakan untuk pengobatan dan penilitian, misal benzetidin dan betamedol. Kemudian golongan ketiga memiliki daya adiktif paling rendah, misal kodein. 2. Psikotripika Psikotropika adalah obat yang digunakan oleh dokter untuk mengobati gangguan jiwa (psyche). Berdasarkan UU no.5 tahun 1997, psikotropika dapat dikelompokkan ke dalam empat golongan, yang dibedakan

berdasarkan dari daya adiktif obatnya. Sedangkan berdasarkan ilmu farmologi, psikotrpika dikelompokkan ke dalam tiga golongan, meliputi depresan (penekan saraf pusat), stimulan (perangsang saraf pusat) dan halusinogen (menimbulkan khayalan). 3. Bahan adiktif lainnya. Golongan adiktif lainnya adalah yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan. Contohnya : a) Rokok b) Kelompok alkohol dan minuman lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan. c) Thinner dan zat-zat lain, seperti lem kayu, bensin yang bila dihisap, dihirup, dan dicium dapat memabukkan. C. Penyalahgunaan Narkoba Banyak jenis narkotika dan psikotropika memberi manfaat dalam ilmu kedokteran jika digunakan dengan benar. Narkotika dan psikotroppika dapat menyebuhkan banyak penyakit. Tindakan operasi (pembedahan) yang dilakukan oleh dokter harus didahului dengan pembiusan. Padahal obat bius tergolong narkotika. Orang yang mengalami stres dan gangguan jiwa diberi obat-obatan yang tergolong psikotropika oleh dokter agar dapat sembuh. Pemerintah dan rakyat sudah terlanjur memberikan opini negatif kepada kata narkoba, seolah-olah narkoba tidak berguna. Padahal sebagian besar narkoba tersebut berguna untuk kesehatan. Yang menjadi titik permasalahan adalah kondisi masyarakat yang mencari solusi dari permasalahan sosial mereka dengan cara yang menyalahgunakan obat-obatan tersebut. Penyalahgunaan narkoba dapat mengakibatkan penggunanya menjadi ketagihan dan nantinya akan berdampak pada fisik, mental, dan kehidupan sosial pengguna. Hal ini dikarenakan narkoba memiliki sifat habitual, yang mengakibatkan pemakainya selalu teringat, terkenang dan terbayang sehingga cenderung untuk selalu mencari dan rindu (seeking). Selain itu narkoba memiliki daya adiktif yang membuat pemakainya terpaksa memakai terus dan

tidak dapat menghentikannya. Beberapa alasan orang memakai narkoba adalah: • • • • • • • • Ingin kenikmatan cepat Ketidaktahuan Alasan internal Alasan keluarga Alasan orang lain Jaringan peredaran luas Strategi pemasaran jitu Jumlah pemakai narkoba semakin banyak.

D. Upaya Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba 1. Promotif Program ini disebut juga program pembinaan, dimana yang menjadi sasaran adalah masyarakat yag belum memakai atau belum mengenal narkoba. Pelaku program ini biasa dilakukan oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan yang diawasi oleh pemerintah. 2. Preventif Program pencegahan ini ditujukan kepada masyarakat sehat yang belum mengenal narkoba agar mengetahui seluk beluk narkoba sehingga tidak tertarik untuk menylahgunakannya. Selain dilakukan oleh pemerintah, program pencegahan ini dapat berjalan maksimal jika dbantu oleh lembaga profesional terkait, lembaga swadaya masyarakt, perkumpulan, ormas, dan lain-lain. 3. Kuratif Program pengobatan ini ditujukan kepada para pemakai narkoba, tujuannya adalah mengobati ketergantungan dan menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh narkoba, sekaligus menghentikan pemakaian narkoba. Program ini menuntut kerjasama dari semua pihak antara yang mengbati (dokter), keluarga, dan penderita.

4. Reabilitatif Rehabilitatif adalah upaya pemulihan kesehatan jiwa dan raga yang ditujukan kepada pemakai narkoba yang sudah menjalani program kuratif. Tujuannya agar korban tidak memakai lagi dan bebas dari penyaki yang disebabkan oleh bekas pemakaian narkoba. 5. Represif Program ini merupakan program instansi pemerintah yang berkewajiban mengawasi dan mengendalikan produksi maupun distribusi semua zat yang tergolong narkoba. Program represif adalah program penindakan terhadap produsen, bandar, pengedar, dan pemakai berdasrkan hukum. E. Narkoba dan Hukum Dalam kondisinya, narkoba memiliki dua peran yaitu peran positif dan peran negatif. Narkoba dapat memiliki kegunaan yang positif jika digunakan sesuai dengan prosedur kesehatan, sehingga dapat membantu untuk menyembuhkan penyakit. Akan tetapi narkoba akan menajdi sumber masalah jika penggunaannya tidak sesuai dengan prosedur. Narkoba akan menimbulkan penderitaan, kemiskinan, kejahatan, dan kekacauan. Oleh karena itu, keberadaan narkoba yang meliputi ptoduksi, distribusi, penyimpangan dan pemakaian perlu diatur oleh undang-undang. Selain itu undang-undang tersebut juga dapat menambah wawasan dalam setiap pihak untuk memerangi penyalahgunaan narkoba. Undang-undang tentang narkoba belum ada. Akan tetapi undang-undang yang sudah ada tentang narkotika adalah UU no.22 tahun 1997. undang-undang yang mengatur berbagai hal tentang psikotropika adalah UU no.5 tahun 1997. Hukum yang ada di Indonesia sudah cukup tegas melarang segala bentuk penyalahgunaan narkoba, mulai dari pembuatan hingga pemakaian. Akan tetapi hukum ini hanya dapat berfungsi secara maksimal jika pihak pelaksana hukum, masyarakat dan elemen masyarakat (ormas dan LSM) dapat menempatkan sesuai dengan fungsinya. Pelaksana hukum, dalam hal ini meliputi POLRI, kejaksaan, dan instansi

pemerintah yang menangani khusus penyalahgunaan narkoba melaksanakan tugasnya tanpa tendensi dan tekanan dari siapa dan apa yang melatarbelakangi pelaksanaan penegakan hukum. Jika pelaksana hukum sudah bertindak aktif, akan tetapi tidak mendapat respon sambutan dari elemen masyarakat maka bentuk penylaha gunaan ini dapat tersembunyikan dan meluas. Semoga dengan kerjasama yang baik dan pemahaman tentang yang benar tentang narkoba, dapat mengurangi masalah yang disebabkan oleh penyalahgunaan narkoba.

BAB III PENUTUP A. Simpulan Narkoba memiliki peranan yang positif pada ilmu kesehatan, obat-obatan ini dapat membantu tim dokter dalam melaksanakan tugas paramedisnya. Akan tetapi narkoba dapat menjadi masalah di lingkungan masyarakat jika disalahgunakan dalam produksi, distribusi hingga pemakaiannya. Penyalahgunaan narkoba dapat membawa dampak negatif bagi masyarakat dan bangsa terutama bagi individu itu sendiri. Selain menyerang sistem imun yang akan membawa penyakit lain dalam tubuh, narkoba akan membuat kecanduan yang sulit untuk disembuhkan. Ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani penyalahgunaan narkoba, meliputi tindakan promotif , preventif, kuratif represif, dan reabilitatif. Tindakan tegas perlu dilaksanakan oleh semua elemen pemerintah dan masyarakat mulai dari pencegahan hingga tingkat penyembuhan. Dalam melawan penyalahgunaan perlu diketahui undang-undang yang terkait dengan narkoba. Sebagai negara hukum maka bentuk solusi dari penyalahgunaan narkoba adalah tindakan sosial dan hukum, melalui undangundang. B. Saran Sebagai wujud warga negara yang peduli dengan kesehatan masyarakat, maka dalam kesempatan kali ini penulis mengajak seluruh pembaca pada khussnya dan seluruh masyarakai pada umumnya untuk memahami fungsi narkoba, sehingga jenis obat-obatan ini bermanfaat keberadaannya bagi manusia. Tidak menimbulkan masalah.. Penulis memberikan saran agar semua elemen masyarakat dan pemerintah mampu menempatkan diri dalam melawan penyalahgunaan narkoba. Dan terus dukung dan tingkatkan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif.

DAFTAR PUSTAKA

Lampiran UNDANG-UNDANG TENTANG NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA Ada dua undang-undang yang diberlakukan yakni undang-undang No.22 tahun 1997 tentang Narkotika dan undang-undang no.5 tahun 1997 tentang Psikotropika. Ketentuan pidana atau ancaman hukuman terhadap penyalahgunaan dan pengedar gelap narkotika, berikut ini kutipan undang-undang no.22 tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 78 ayat 1(a) dan 1 (b) Menanam, memelihara, mempunyai dalam persediaan, memiliki, menyimpan, atau menguasai narkotika golongan I dalam bentuk tanaman atau bukan tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp.500.000.000,-(lima ratus juta rupiah). Pasal 80 ayat 1(a) Memproduksi, mengolah, mengekstraksi, mengkonversi, merakit, atau menyediakan narkotika golongan I, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp.1.000.000.000,-(satu milyar rupiah). Pasal 81 ayat 1 (a) Membawa,mengirim,mengangkut,atau mentransito narkotika golongan I dipidana dengan pidana penjara paling lama15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.750.000.000,- (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). Pasal 82 ayat 1 (a) Mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual, menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima, menjadi perantara dalam jual beli. atau menukar narkotika golongan I, dipidana dengan pidana mati atau pidana seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 1,000.000.000,- (satu milyar rupiah). Pasal 84 ayat 1 (a)

Memberikan narkotika golongan I untuk digunakan orang lain.dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 750.000.000,- (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). Pasal 85 ayat 1 (a) Menggunakan narkotika golongan I bagi dirinya sendiri,dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun . Pasal 86 ayat 1 (a) Orang tua atau wali pencandu yang belum cukup umur, yang sengaja tidak melapor, dipidana dengan pidana penjara kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah). Pasal 88 ayat 1 (a) Pecandu narkotika yang telah cukup umur dan dengan sengaja melaporkan diri sebagai mana dimaksud dalam pasal 42 ayat (2), dipidana denga pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah). Pasal 88 ayat 2 Keluarga pecandu narkoba sebagai mana dimaksud dalam pasal 88 ayat 1 yang dengan sengaja tidak melaporkan pecandu narkotoka tersebut, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau dengan denda paling banyak Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah). Pasal 92 Barang siapa tanpa hak dan melawan hokum menghalang-halangi atau mempersulit penyidikan , penuntutan, atau pemeriksaan perkara tindak pidana narkotika dimuka siding pengadilan, dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah).sedangkan ancaman hukuman bagi penyalahgunaan dan pengedar gelap Psikotropika, seperti dikutip dari undang-undang nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, sbb: Pasal 60 ayat 1 (a) Memproduksi atau mengedarkan psikotropika dalam bentuk obat yang tidak terdaftar pada department yang bertanggung jawab dibidang kesehatan, dipidana

dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah). Pasal 60 ayat 2 Menyalurkan psikotropika, dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). Pasal 60 ayat 3 Menerima penyaluran psikotropika, dipidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah). Pasal 6 ayat 4 dan 5 Menyerahkan dan menerima penyerahan psikotropika, dipidana paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah). Pasal 62 Barang siapa tanpa hak memiliki, menyimpan dan membawa psikotropika, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dengan pidana denda paling vbnayk Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah). Pasal 63 Melakukan pengangkutan psikotropika tanpa dilengkapi dokumen pengangkutan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dengan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah). Pasal 64 ayat (a dan b) Menghalang-halangi penderita syndrome ketergantungan untuk mengalami pengobatan dan atau perawatan pada fasilitas rehabilitasi atau menyelenggarakan fasilitas rehabilitasi tanpa memiliki izin, dipidana denga penjara paling lama 1a (satu) tahun denga pidana denda paling bvanyak Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah). Pasal 65 Tidak melaporkan penyalahgunaaan dan atau pemilikan psikotropika secara tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahu dengan pidana denda paling banyak Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->