P. 1
Penyakit Serta Kelainan Plasenta Dan Selaput Janin

Penyakit Serta Kelainan Plasenta Dan Selaput Janin

|Views: 7,247|Likes:
Published by lookman_kisha
biologi smp author andanet
biologi smp author andanet

More info:

Published by: lookman_kisha on Nov 30, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2013

pdf

text

original

PENYAKIT SERTA KELAINAN PLASENTA DAN SELAPUT JANIN

PENYAKIT SERTA KELAINAN PLASENTA DAN SELAPUT JANIN PENYAKIT TROFOBLAS Yaitu penyakit yang mengenai sel-sel trofoblas. Ditemukan pada wanita hamil dan teratoma dari ovarium. Terbagi menjadi : - Gestational Trophoblastic Disease - Non Gestational Trophoblastic Disease Pada hakekatnya merupakan kegagalan fungsi reproduksi. Disini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan, berupa degenerasi hidropik dari jonjot korion, sehingga menyerupai gelembung yang disebut MOLA HIDATIDOSA Etiologi Teori infeksi, defisisensi makanan, terutama protein tinggi, teori kebangsaan, dan teori consanguinity. Teori yang paling cocok adalah teori dari Acosta Sison, yaitu defisiensi protein. Patogenesis 1. Teori missed abortion. Mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu (missed abortion). Karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dan villi dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung. Menurut Reynolds, kematian disebabkan kekurangan gizi berupa asam folik dan histidine pada kehamilan hari ke 13 dan 21, menyebabkan gangguan angiogenesis. 2. Teori Neoplasma, dari Park Sel-sel trophoblas yang abnormal mempunyai fungsi yang abnormal pula, dimana resorpsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehingga timbul gelembung, menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematian mudigah. Klasifikasi 1. Penyakit trofoblas jinak : a. mola hidatidosa. b. mola hidatidosa parsial. 2. Penyakit trofoblas ganas : a. koriokarsinoma villosum b. koriokarsinoma non villosum c. koriokarsinoma klinis. Diagnosis mola hidatidosa dan koriokarsinoma villosum/non villosum dibuat berdasarkan pemeriksaan histopatologi, sedangkan koriokarsinoma klinis berdasarkan kenaikan kadar HCG dan adanya metastasis. Menuru Soetomo Tjokronegoro 1961, klasifikasi yang dianjurkan :

1. Histopathological entities : a. complete hydatidiform mole b. partial hydatidiform mole c. invasive mole d. gestational chorio carcinoma e. placental site trophoblastic tumour. 2. Clinical terms : a. gestational trophoblastic disease : mola hidatidosa, invasive mole, chorio carcinoma dan placental site trophoblastic tumour. b. gestational trophoblastic tumour adanya keganasan dibuktikan secara klinik, peninggian kadar HCG, tanpa gambaran PA. Epidemiologi Banyak ditemukan di negara Asia dan Mexico. Insiden di Indonesia, Mola hidatidosa 1 : 50 sampai 1 : 141 Koriokarsinoma 1 : 297 sampai 1 : 1035 Mola parsialis 1 : 10000 sampai 1 : 100000. Faktor resiko Golongan sosio ekonomi rendah, umur dibawah 20 tahun dan diatas 34 tahun serta paritas yang tinggi. Mola hidatidosa. Suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar, dimana tidak ditemukan janin dan hampir seluruh viili korialis mengalami perubahan hidropik. Secara makroskopik yaitu berupa gelembung-gelembung putih, tembus pandang, berisi cairan jernih, dengan ukuran bervariasi dari beberapa milimeter sampai satu atau dua sentimeter. Gambaran histopatologik yang khas : edema stroma villi, tidak ada pembuluh darah pada villi dan proliferasi sel-sel trofoblas. Gambaran sitogenetik berupa xx 46. Mola parsial Secara makroskopik, tampak gelembung mola yang disertai janin atau bagian dari janin. Umumnya janin mati pada bulan pertama, tetapi ada juga yang hidup sampai cukup besar atau bahkan aterm. Histopatologik tampak villi yang edema dengan sel trofoblas yang tidak begitu berproliferasi, sedangkan di tempat lain masih tampak villi yang normal. Umumnya mempunyai kariotipe triploid. Jarang menjadi ganas. Gejala-gejala Mual, enek , pusing dan lain-lain yang lebih hebat. Uterus lebih besar dari umur kehamilan. Perdarahan pervaginam, terjadi antara bulan pertama sampai ketujuh, rata-rata 12-14 minggu,

bersifat intermitten, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak. Anemia. Bisa disertai preeklampsia (eklampsia), terjadi lebih muda dari kehamilan biasa. Bisa terjadi tirotoksikosis, emboli sel trofoblas ke paru-paru. Diagnosis Amenorea, perdarahan pervaginam, uterus lebih besar dari tuanya kehamilan, tidak ditemukan tanda kehamilan dan tidak ditemukan tanda kehamilan pasti. Peninggian HCG terutama setelah hari ke 100. Pemeriksaan foto abdomen, biopsi transplasental. Pemeriksaan sonde uterus yang diputar, anjuran Wiknjosastro. USG : gambaran berupa badai salju (snow flake pattern) Diagnosis yang paling tepat : terlihatnya gelembung mola. Terapi 1. Perbaikan keadaan umum Transfusi darah untuk mengatasi anemia, obati preeklampsia dan tirotoksikosis. 2. Pengeluaran jaringan mola a. Vakum kuretase b. Histerektomi : pada wanita cukup umur dan cukup anak. 3. Terapi profilaksis dengan sitostatika. 4. Pemeriksaan tindak lanjut. Lama pengawasa berkisar antara satu atau dua tahun Penderita dinyatakan sehat bila HCG dua kali berturut-turut normal, atau bila sudah melahirkan anak yang normal. Selama pengawasan, secara berkala dilakukan pemeriksaan ginekologik, kadar HCG dan radiologik. Prognosis Kematian karena perdarahan, infeksi, eklampsia, payah jantung atau tirotoksikosis. Angka kematian 2,2 – 5,7%. Persentase keganasan 5,56 %. Terjadinya proses keganasan bias berlangsung antara 7 hari sampai 3 tahun pasca mola, tetapi paling banyak pada 6 bulan pertama. Kemampuan reproduksi pasca mola, tidak banyak berbeda dari kehamilan lainnya. Anak-anak yang dilahirkan setelah mola hidatidosa ternyata umumnya normal.

Koriokarsinoma villosum = invasive mole Penyakit ini termasuk ganas, tetapi derajat keganasannya lebih rendah. Sifatnya seperti mola, tetapi dengan daya penetrasi yang lebih besar. Sel-sel trofoblas dengan villi korialis akan menyusup ke dalam miometrium, kemudian mengadakan perforasi pada dinding uterus dan menyebabkan perdarahan intra abdominal. Jarang disertai metastasis.

Invasive mole selalu berasal dari mola hidatidosa. Nama lain adalah mola destruens. Diagnosis Tidak selalu mudah. Pada sediaan histerektomi tampak gelembung mola di dalam lapisan otot miometrium. Diagnosis pasti secara histopatologik. Terapi Pengobatan dengan sitostatika : methotrexate, dapat menyebabkan kesembuhan total. Bila ada tanda perdarahan abdomen, angkat uterus dengan kedua adneksa ditinggalkan. Dianjurkan histerektomi bersifat selektif, terutama pada wanita muda. Bila mungkin, lakukan reseksi parsial, dan dilanjutkan sitostatika. Koriokarsinoma non villosum = koriokarsinoma Merupakan jenis yang terganas, dapat menyebabkan metastase ke organ-organ lain seperti paruparu, vulva, vagina , hepar dan otak. Bila tidak diobati, biasanya pasien meninggal dalam satu tahun. Sifat-sifat kanker ini : 1. mempunyai periode laten yang dapat diukur. 2. sering menyerang wanita muda. 3. dapat sembuh secara tuntas , dengan sitostastik. 4. dapat sembuh tanpa pengobatan melalui proses regresi spontan. Diagnosis Bila setelah akhir suatu kehamilan, terjadi perdarahan-perdarahan yang tidak teratur, disertai tanda-tanda subinvolusi. Menurut Acosta Sison : HBEs H : Having expelled a product of conception B : Bleeding Es: Enlargement and softeness of the uterus. Disertai kenaikan HCG dan adanya metastasis Diagnosis pasti : histopatologik.

Koriokarsinoma klinik Ditegakkan berdasarkan tingginya kadar HCG dan adanya metastasis. Ada yang menganggap ganas, bila dua mingu setelah mola hidatidosa, kadar HCG tetap tinggi, atau 6 minggu setelah mola hidatidosa, rekasi Galli Manini tanpa pengenceran masih positif. HCG dikatakan normal bila sudah dibawah 10 mIU/ml. Nama lain : Persistent Trophoblastic Disease Malignant Trophoblastic Disease with or without metastasis.

Berdasarkan jauhnya metastase, terbagi : Stadium I : terbatas pada uterus. Stadium II : metastasis ke parametrium, serviks dan vagina. Stadium III : metastasis ke paru-paru. Stadium IV : metastasis ke organ lain, seperti usus, hepar dan otak. Metastasis umumnya hematogen, limfogen dan perkontinuatum. Terapi Menggunakan sitostatik : methotrexate, actinomycin D, adriamycin, chlorambucil, vincristin,ectoposide. Pengobatan terbagi dua : 1. Good prognosis bila periode laten kurang dari 4 bulan, kadar HCG waktu masuk kurang dari 100.000 mIU/ml dan metastasis hanya sampai paru-paru. Terapi tunggal dengan methotrexate, 20 mg/hari selama 5 hari berturut-turut, Berhenti satu minggu, kemudian diulangi lagi sampai kadar HCG mencapai Normal 3 kali berturut-turut. 2. Poor prognosis kriteris selebihnya, selain yang termasuk di good prognosis. Terapi kombinasi, gunakan leucovorin untuk atasi efek samping. Digunakan methotrexate, actinomycin D dan chorambucil. Interval paling sedikit 2 minggu. Dapat dilakukan histerektomi, dengan dilanjutkan sitostatika pad kasus dengan pendarahan yang hebat atau uterus yang besar. Prognosis. Dengan pengawasan yang ketat dan pengobatan yang adekuat, derajat kesembuhan 100%, kecuali stadium IV ( di Negara maju). Angka kematian di negara berkembang tahun 1985 : 18,5% Bila seorang telah sembuh dari koriokarsinoma, kemudian hamil, maka hasil kehamilannya tidak akan terpengaruh oleh pemberian sitostatik sebelumnya. PENYAKIT SERTA KELAINAN PADA PLASENTA. Kelainan bentuk dan bobot plasenta. Bentuk plasenta normal : ceper dan bulat, dengan diameter 15-20 cm dan tebal 1,5-3 cm, berat kurang lebih 500 gram. Plasenta yang besar dan berat ditemukan pada erythroblastosis foetalis dan sifilis. Variasi bentuk plasenta : plasenta bipartita, bilobata atau plasenta dupleks. Bila disamping plasenta besar ditemukan pula plasenta kecil disebut plasenta suksenturiata.

Bila terdapat lubang pada selaput janin dekat plasenta dan pada pinggir lubang tersebut ditemukan pembuluh-pembuluh darah yang terkoyak, kita harus curiga akan adanya plasenta tambahan. Bila antara kedua plasenta tidak ditemukan pembuluh darah disebut plasenta spuria. Plasenta membranasea, dimana plasenta tipis dan lebar, kadang-kadang menutupi seluruh ruangan kavum uteri. Plasenta sirkumvalata adalah plasenta yang pada permukaan fetalis dekat pinggir terdapat cincin putih. Cincin ini menandakan pinggir plasenta, sedangkan jaringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh ke samping di bawah desidua. Bila cincin putih ini letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta, disebut plasenta marginata. Keduanya disebut plasenta ekstrakorial. Kelainan implantasi. Plasenta biasanya melekat pada dinding belakang atau depan rahim dekat fundus. Jonjot-jonjot menyerbu ke dalam dinding rahim hanya sampai lapisan atas dari stratum spongiosum. Kalau implantasinya rendah, yaitu di segmen bawah rahim, disebut plasenta previa. Plasenta akreta, kalau jonjot-jonjot menyerbu ke dalam rahim lebih dari batas. Plasenta akreta, jonjot menembus desidua sampai berhubungan dengan miometrium. Plasenta inkreta, jonjot sampai ke dalam lapisan endometrium. Plasenta perkreta, jonjot menembus miometrium sehingga mencapai perimetrium. Penyakit-penyakit pada plasenta. Infark plasenta, adalah bagian-bagian yang berwarna keputihan, noduler dank eras yang terletak baik pada permukaan fetal, maternal atau kedua-duanya. Terjadi karena periarteritis atau endarteritis pembuluh-pembuluh darah villi, kemudian terjadi nekrosis pada stroma dan dinding villi serta pembukuan darah dalam ruang interviller. Jenisnya : infark subkorial, pada plasenta marginata atau sirkumvalata. infark noduler pada permukaan fetal, tidak ada arti klinis. infark yang luas dan tebal dari kotelidon, bias terjadi gangguan nutrisi. Kalsifikasi pada plasenta Manifestasi proses penuaan dari plasenta, terjadi penimbunan garam-garam kalsium seperti kalsium karbonat, kalsium fosfat bercampur dengan magnesium fosfat pada permukaan basal dari plasenta. Kalsifikasi terletak pada bagian atas desidua basalis. Tidak mempunyai arti klinik, hanya dapat digunakan sebagai penentuan lokasi plasenta secara radiologik. Tumor plasenta Miksoma fibrosum, hemangioma, korioangioma, mola hidatidosa dan koriokarsinoma. Disfungsi plasenta Keadaan dimana plasenta, baik secara anatomik, maupun fisiologik tidak mampu untuk memberi makan dan oksigen kepada fetus, juga untuk mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan secara normal.

Disebut juga insufisiensi plasenta. Dapat menyebabkan fetal dismaturity atau intra uterine growth retardation. Terjadi biasanya pada kehamilan dengan resiko tinggi, seperti diabetes, hipertensi pada kehamilan, penyakit jantung, dan serotinus. Pada kelompok ini perlu diadakan pemantauan janin dalam uterus dengan pemeriksaan estriol, HCG, HPL, USG, stress test, NST , kardiotokografi dan lain-lain. PENYAKIT SERTA KELAINAN TALI PUSAT. Kelainan insersi tali pusat. Normal plasenta berinsersi di bagian sentral atau parasentral. Bila insersi di bagian marginal : plasenta battledore. Insersi velamentosa, bila tali pusat tidak berinsersi pada jaringan plasenta, tetapi pada selaput amnion, sehingga pembuluh darah umbilicus berjalan diantara amnion dan korion menuju plasenta. Kalau pembuluh darah tersebut berjalan melalui pembukaan serviks, disebut vasa previa. Kelainan-kelainan lain tali pusat. Panjang rata-rata tali pusat 55 cm. Terdapat 2 arteri dan 1 vena. Untuk kelahiran anak, panjang tali pusat harus lebih dari 32 cm, bilaletak plasenta di fundus. Pendeknya tali pusat bias bersifat mutlak atau nisbi. Tali pusat yang pendek dapat menyebabkan kelambatan kala II, hernia umbilikalis, ruptura tali pusat, inversion uteri dan solusio plasenta. Tali pusat yang terlalu panjang juga dapat berbahaya, karena dapat menyebebkan lilitan tali pusat, tali pusat menumbung atau simpul benar. Simpul tali pusat ada 2 jenis : 1. Simpul benar yang terjadi karena gerak anak yang aktif. 2. Simpul palsu yang terjadi karena pembuluh darah umbilicus, terutama vena, lebih panjang dari tali pusatnya sendiri, sehingga terpaksa berkelok-kelok. KELAINAN PADA AMNION Normal banyaknya air ketuban sekitar 1000 cc, untuk kemudian menurun lagi setelah minggu ke 38 sehingga akhirnya tinggal beberapa ratus cc saja. Hidramnion Keadaan dimana banyaknya air ketuban melebihi 2000 cc. Bisa terjadi akut atau kronis. Insiden 1 : 62 dan 1 : 754. Terjadi bila produksi air ketuban bertambah, bila pengaliran air ketuban terganggu atau keduaduanya. Diduga air ketuban dibentuk oleh sel-sel amnion, disamping itu ditambah oleh air kencing janin dan cairan otak pada anensefalus. Air ketuban yang dibentuk, secara rutin dikeluarkan dan diganti dengan yang baru. Cara pengeluaran dengan ditela oleh janin, diabsorpsi oleh usus, kemudaian dialirkan ke plasenta untuk akhirnya masuk peredaran darah ibu. Gangguan ekskresi terjadi pada atresia esophagus atau tumor-tumor plasenta.

Disangka bahwa prolaktin mempunyai peran dalam pengontrolan volume air ketuban. Gejala hidramnion terjadi semata-mata karena factor mekanik sebagai akibat penekanan uterus yang besar pada organ sekitarnya. Hidramnion akut biasanya terjadi pada trimester kedua dan kehamilan sering berakhir pada kehamilan 28 minggu. Hidramnion kronis terjadi perlahan-lahan dan pada kehamilan yang lebih tua. Diagnosis ditegakkan bila ditemukan uterus yang lebih besar dari tua kehamilan, bagian dan detak jantung janin sukar ditentukan. Lakukan pemeriksaan radiologik dan ultrasonografi. Hidramnion harus dianggap sebagai kehamilan dengan resiko tinggi karena dapat membahayakan ibu dan anak. Pada ibu dapat menyebabkan solusio plasenta, inertia uteri, dan perdarahan post partum. Prognosis anak kurang baik karena adanya kelainan congenital, prematuritas, prolaps funikuli dan lain-lain. Hidramnion yang ringan tidak perlu dapat pengobatan khusus, cukup dengan sedative dan diet pantang garam. Bila keluhan terlalu hebat dapat dlakukan amniosentesis.. Oligohidramnion. Bila banyaknya air ketuban kurang dari 500 cc. Biasanya cairan kental, keruh, berwarna kuning kehijau-hijauan. Diduga ada kaitannya dengan renal agenesis janin. Kalau terjadi pada kehamilan muda akan menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, seperti deformitas dan amputasi ekstremitas. Uterus tampak lebih kecil, dan detak jantung sudah terdengar lebih dini dan jelas. Karena kurangnya cairan maka pergerakan anak akan menyulitkan si ibu. Prognosis untuk janin tidak begitu baik.

Hormon
Senin, 3 Desember, 2001 oleh: Gsianturi

Hormon Gizi.net - Somatotropin Hormon, Hormon Pertumbuhan (STH) Oleh Ali Baziad Penggunaan hormon estrogen untuk wanita menopause telah lama dikenal. Estrogen dapat meningkatkan kualitas hidup karena kulit menjadi halus dan hubungan seksual tidak menjadi masalah lagi. Telah terbukti, estrogen dapat mencegah patah tulang, mencegah penyakit jantung koroner. Bahkan terbukti, pada wanita yang menggunakan estrogen jangka panjang angka kejadian kanker usus besar menurun tajam. Namun demikian, fungsi estrogen yang begitu banyak untungnya itu tetap saja ditakuti dan tak banyak wanita yang menggunakannya. Kini para ahli di dunia memperkenalkan pemberian jenis hormon lain untuk wanita menopause, yang tidak memiliki pengaruh terhadap payudara. Hormon tersebut adalah jenis hormon pertumbuhan (STH). Meskipun mulai banyak diperkenalkan penggunaannya, masih banyak para ahli yang belum setuju penggunaannya pada wanita menopause. Padahal, pada anak-anak dengan gangguan pertumbuhan, STH telah lama digunakan dan tidak banyak menimbulkan silang pendapat lagi.

STH dapat digunakan pada wanita menopause maupun pada pria andropause. Apa sebenarnya STH ini? Hormon pertumbuhan manusia pertama kali ditemukan oleh Lid an Papkoff pada tahun 1956, yang diambil dari kelenjar hipofisis mayat. Pada tahun 1957, Raben berhasil menggunakan hormon pertumbuhan dari mayat ini pada anak-anak dengan gangguan pertumbuhan. Sekitar tahun 1960-an sampai 1970-an, makin banyak negara di dunia mengumpulkan kelenjar hipofisis yang diambil dari mayat-mayat, mengekstraksi dan menggunakannya untuk pengobatan pada anak-anak dengan gangguan pertumbuhan. Sayangnya, untuk mendapatkan jumlah STH dalam jumlah besar diperlukan banyak sekali mayat, sehingga banyak negara kewalahan untuk menyediakannya. Selain itu, penggunaan STH dari mayat-mayat ternyata banyak menimbulkan efek samping. Maka, para ahli mulai mencari sumber lain dari STH, yaitu dengan menggunakan teknik rekayasa genetika atau yang lebih dikenal dengan istilah rekombinan. Dengan cara ini dapat dihasilkan STH dalam jumlah besar dan aman untuk digunakan. Pada saat kita puasa, jarang makan, saat tidur, atau saat berolah raga, terjadi pengeluaran STH. STH ini meningkatkan pengambilan asam amino oleh sel-sel tubuh. STH menyebabkan penggunaan gula oleh tubuh berkurang. Kadar gula yang meningkat akan memicu pengeluaran insulin, dan insulin memicu perubahan karbohidrat menjadi lemak. Padahal, STH justru menghancurkan lemak. STH disebut juga sebagai “hormon penghemat”. Hal ini dapat dilihat pada orang yang sedang puasa, lapar, atau sedang berolah raga. Dalam keadaan seperti ini, terjadi peningkatan pengeluaran STH. Mobilisasi lemak dari sel-sel lemak pun meningkat dalam jumlah besar, sehingga tersedia energi dalam jumlah besar pula. Penggunaan gula oleh tubuh juga berkurang dengan sendirinya, dan terjadi penghematan energi. Karena itu untuk mengurangi berat badan, maka olah raga yang teratur, atau berpuasa, ataupun mengurangi makan merupakan cara terbaik, daripada menggunakan obat-obat diet yang banyak efek sampingnya. Orang yang terlalu banyak makan, justru pengeluaran STH terhambat, sehingga tidak heran kalau berat badan terus bertambah. Sebelum penggunaan STH pada orang dewasa, maka harus dibuktikan terlebih dahulu, apakah pada orang tersebut benar-benar terjadi kekurangan hormon STH. Dengan meningkatnya usia, biasanya produksi STH berkurang. Estrogen pada wanita dan testosteron pada pria merangsang produksi hormon STH. Begitu wanita memasuki usia menopause, atau pria memasuki usia andropause, produksi STH pun menurun. Tanda-tanda rendahnya STH dapat dilihat berupa : ¨ Merasa kurang sehat, mudah lelah, perasaan tertekan, kurang bergairah, kurang tenaga, emosi yang berlebihan, kurang bergaul (mengisolasi diri). ¨ Badan gemuk, di mana terjadi penumpukan lemak di perut, masa otot berkurang ¨ Kulit kering, atau keriput akibat berkurangnya cairan. Tulang menjadi rapuh, dan mudah patah. Kadar HDL kolesterol rendah, sehingga risiko terkena penyakit jantung koroner. ¨ Kaki dan tangan dingin/basah, keinginan tidur yang berlebihan. Tentu dengan sendirinya untuk mengatasi masalah yang diakibatkan oleh kekurangan hormon STH adalah dengan pemberian hormon STH dari luar. Pada wanita menopause, atau andropause memang terjadi penurunan produksi STH, namun dengan pemberian estrogen, ataupun testosteron terjadi peningkatan produksi STH, sehingga STH sangat jarang digunakan. Tidak dibenarkan menggunakan STH tanpa diketahui terlebih dahulu, apakah orang tersebut benar-benar telah terjadi kekurangan STH. Di kalangan wanita dewasa ini timbul kesan, seolah-olah STH ini merupakan hormon segala-galanya. Banyak yang menggunakan untuk mengurangi berat badan, untuk kecantikan, dan untuk hal-hal lainnya lagi, yang tidak rasional. (Dr med Ali Baziad SpOG-KFER, bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta)

Sumber : Kompas, Minggu, 2 Desember 2001

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->