P. 1
Laporan Zemi_Teori Kegiatan Polmas

Laporan Zemi_Teori Kegiatan Polmas

|Views: 1,306|Likes:
Published by HANDIK ZUSEN
Uraian Kegiatan Petugas Polmas dalam tataran teoritis
Uraian Kegiatan Petugas Polmas dalam tataran teoritis

More info:

Published by: HANDIK ZUSEN on Dec 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/10/2012

pdf

text

original

LAPORAN ZEMI

TEORI KEGIATAN PETUGAS POLMAS
I. PENDAHULAN 1. Latar Belakang Polri sebagai ujung tombak dalam menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat di era globalisasi ini telah menyadari betapa perlunya suatu strategi yang efektif dan efisien guna mendukung pelaksanaan tugas-tugas pokoknya sebagaimana yang tercantum dalam pasal 13 UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dalam atmosfer masyarakat yang kia berkembang saat ini, Polri tidak dapat hanya dengan mengandalkan metode mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat dengan menggunakan crime control model yang hanya mengandalkan upaya-upaya yang bersifat represif dalam rangka menekan berbagai gangguan keamanan ancaman dan ketertiban yang gangguan di dalam dan masyarakat Dengan ketertiban tanpa semakin dalam memperhatikan meningkatnya efek-efek ditimbulkannya. keamanan

masyarakat sementara penggunaan crime control model dianggap tidak efektif lagi, mengingat berbagai keterbatasan yang dimiliki Polri, baik dalam hal ketersediaan personel (men), anggaran (money), sarana dan prasarana (materials) serta teknik dan taktik kepolisian (methodes), maka Polri pun mencari bentuk baru upaya pengendalian kemananan dan ketertiban masyarakat yang lebih dapat menyesuaikan dengan tuntutan situasi dan kondisi masyarakat saat ini. Salah satunya yang telah ditempuh Polri adalah dengan meluncurkan Polmas sebagai paradigma baru upaya Polri dalam rangka pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, yang dituangkan secara formil dalam Surat Keputusan Kapolri Nomor Polisi : SKEP/737/VII/2005, tanggal 13 Oktober 2005, tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Perpolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. Berdasarkan Surat Keputusan Kapolri Nomor Polisi : SKEP/737/VII/2005, tanggal 13 Oktober 2005, tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Model

2 Perpolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri tersebut, setiap satuan wilayah Polri khususnya pada level KOD (Komando Operasional Dasar) yaitu Polres/Polresta/Polrestro telah berupaya semaksimal mungkin menjabarkan Polmas dalam tataran operasional kepolisian bahkan hingga terjadi salah kaprah dalam mengimplementasikan Polmas dengan memandangnya sebagai ”proyek” dengan ukuran-ukuran keberhasilan yang bersifat kantitatif. Padahal seharusnya, Polmas diimplementasikan sebagai falsafah yang melandasi kebijakan operasional Polri di lapangan. Sebagai contohnya, jika di suatu daerah tertentu terdapat institusi tradisonal yang telah berfungsi sebagai lembaga keamanan lingkungan setempat, maka secara struktural lembaga seperti FKPM/BKPM tidak perlu dibentuk lagi. Satuan kewilayahan Polri setempat cukup mendorong pemberdayaan (empowering) lembaga-lembaga yang sudah ada di dalam masyarakat tersebut tanpa perlu menggunakan nama FKPM. Tidak dapat dipungkiri bahwa operasionalisasi Polmas saat ini, khususnya di tingkat KOD masih banyak mengalami kerancuan dengan tidak adanya keseragaman model Polmas yang diterapkan oleh masing-masing kesatuan kewilayahan tersebut. Terkait dengan anggota Polri yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan Polmas pun, hingga saat ini belum ada kesatuan operasionalisasi, baik pada level praktik maupun secara teoritis. Oleh karena itu, melalui laporan ini akan disajikan hasil diskusi yang membahas tentang ”Kegiatan Petugas Polmas” dari sisi teori terkait dengan permasalahan-permasalahan yang ada hingga saat ini sampai dengan konsepsi pemecahan permasalahan-permasalahan dimaksud oleh para Mahasiswa PTIK Angkatan 55 yang termasuk dalam kelas Zemi Polmas Angkatan kelima, yang telah dilaksanakan pada pertemuan ketiga, tanggal 20 Oktober 2009. 2. Permasalahan Permasalahan teoritis yang telah dibahas pada pertemuan ketiga dimaksud yaitu sebagai berikut : ”Babinkamtibmas, Petugas Polmas, Petugas BKPM di Bekasi dan Petugas Polpos di Jakarta tugasnya bekerja di dalam masyarakat dan melayani masyarakat secara langsung. Mahasiswa diharapkan menganalisa dan menjelaskan beberapa kegiatan mereka misalnya patroli, kunjungan ke rumah-rumah, konsultan, menyelesaikan masalah. Bagaimana kegiatan ini

3 harus dilaksanakan ? Untuk apa kegiatan ini dilaksanakan ? Melalui kegiatan ini apa sebenarnya yang dapat diperoleh ? Mahasiswa juga diharapkan dapat menjelaskan pengalaman pribadi sendiri di lapangan mengenai kerja masingmasing.” II. PRESENTASI 1. Langkah-Langkah Manajerial Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Polmas oleh para petugas Polmas diperlukan mekanisme yang tepat sehingga kegiatan dimaksud dapat berjalan dengan efektif dan efisien serta tercapai tujuan maupun hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, diperlukan suatu langkah-langkah manajerial tertentu sebagai kerangka utama bagi berjalannya kegiatan Polmas tersebut oleh para petugasnya. Langkah-langkah manajerial tersebut, adalah sebagai berikut : a. Kegiatan Perencanaan Pertama, 1) perencanaan menitikberatkan pada penataan, pemutakhiran dan pengolahan data secara berlanjut, yang meliputi : Data internal tentang kondisi kesatuan diperoleh dari fungsi-fungsi operasional dan pembinaan sesuai tugas pokok masing-masing fungsi yang berkaitan dengan program kegiatan Polmas. 2) Data eksternal tentang kondisi situasi masyarakat/komunitas (profil komunitas) pemerintah, swasta dan masyarakat setempat yang berpotensi mendukung Polmas. Kedua, pemetaan kondisi internal, meliputi : 1) 2) 3) 4) e) Pemetaan kualitas dan kuantitas kondisi personel pelaksana Polmas. Penyiapan dukungan materiil, logistik dan dukungan anggaran pelaksanaan Polmas. Pembinaan dan pelatihan kepada anggota yang ditempatkan pada lini terdepan pelayanan masyarakat dan personil pelaksana Polmas. Pembinaan karir bagi pelaksana Polmas dalam rangka penempatan, perawatan maupun promosi pagkat/jabatan. Pengembangan sistem informasi dengan pemanfaatan jalur komunikasi dan transportasi yang ada.

4 Ketiga, pemetaan situasi dan kondisi eksternal, meliputi : geografi, demografi, sumberdaya alam dan/atau buatan, bidang politik, sosial ekonomi, sosial budaya, keamanan, kalender kamtibmas. Setelah pemetaan dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah penilaian situasi, melalui identifikasi dan analisa hal-hal sebagai berikut : 1) Struktur sosial masyarakat (suku, agama, adat istiadat/kebiasaan, pekerjaan/profesi). 2) Sistem nilai dan infrastruktur penanggulangan kriminalitas (IPK) dan mekanisme penyelesaian konflik yang ada di dalam masyarakat setempat. 3) Tokoh-tokoh yang berpengaruh dan dihormati masyarakat. 4) Lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada, berkembang dan dihormati masyarakat. 5) Potensi gangguan kamtibmas. 6) Sikap penerimaan masyarakat terhadap Polri termasuk pemerintah. Pemutakhiran dan penilaian situasi harus dilakukan secara berlanjut agar penentuan prioritas sasaran pencegahan dan penangkalan gangguan kamtibmas dan masalah sosial ditangani oleh Polri dan masyarakat. b. Penyusunan Rencana Kegiatan Berdasarkan penilaian situasi, perkembangan dan tuntutan/harapan masyarakat, penyusunan rencana kegiatan meliputi : 1) Rencana kegiatan tahunan disusun oleh tim manajemen dan Kapolsek untuk memadukan rencana kerja tahunan dalam DIPA KOD. 2) Rencana kegiatan bulanan disususn oleh tim manajemen, selanjutnya dijabarkan dalam rencana kegiatan mingguan pada tingkat Polsek. 3) c. Rencana kegiatan harian dibuat oleh pelaksana terdepan Polmas. Pola kegiatan Polmas dirumuskan berdasarkan pola yang pernah dan sedang dilaksanakan di satuan kewilayahan Polri, antara lain sebagai berikut : 1) Pola Umum, yaitu Polmas yang melekat pada setiap kegiatan anggota Polri dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Pola Penerapan

5 2) Pola Babinkamtibmas, yaitu setiap anggota Polri, yang karena penugasannya, bertempat tinggal menetap atau tidak menetap di rumah dinas/rumah yang pribadi, rumah hibah/pinjaman atau masyarakat/rumah disewa/balai desa/kelurahan

bangunan/kantor pada komunitas tertentu, Balai-balai Polmas yang dibangun oleh dinas atau tempat/bangunan lainnya atas persetujuan masyarakat pada wilayah desa/kelurahan/komunitas yang menjadi tempat penugasannya dalam melaksanakan kegiatan Polmas. Babinkamtibmas yang tinggal di wilayah tersebut di atas dapat mengembangkan dan menerapkan bentuk-bentuk kegiatan Polmas pada Desa/Kelurahan/Komunitas tertentu : a) Binaan, yaitu apabila upaya pencegahan kejahatan dan pemecahan masalah sosial yang dilakukan oleh masyaraka/komunitas tertentu secara mandiri belum terbentuk, maka wilayah tersebut menjadi prioritas kegiatan Polmas. Kehadiran petugas Polmas harus selalu menetap di wilayah tersebut. b) Sentuhan, yaitu apabila upaya pencegahan kejahatan dan pemecahan kegiatan masalah sosial yang dilakukan oleh masyarakat/komunitas secara mandiri telah terbentuk, maka Polmas dilakukan melalui kunjungan/sambang. Kehadiran petugas Polmas pada daerah tersebut dilakukan secara menetap disesuaikan dengan perkembangan situasi. c) Pantauan, yaitu apabila upaya pencegahan dan penangkalan kejahatan serta pemecahan masalah sosial yang dilakukan oleh masyarakat/komunitas secara mandiri telah berjalan dengan baik dan menjadi nilai-nilai yang dipatuhi oleh masyarakat, maka kegiatan bersifat Polmas dilakukan dan melalui tidak kunjungan/sambang sewaktu-waktu

menetap. Kehadiran petugas Polmas dalam rangka upaya memelihara dan meningkatkan mekanisme penanggulangan kejahatan yang telah ada di masyarakat tersebut. 3) Pola Pos Pol/Pol Pos; secara struktur berfungsi sebagai pelayanan kepolisian terdepan dan dalam rangka Polmas dapat berfungsi sebagai BKPM.

6 4) Pola Balai Kemitraan Polisi dan Masyarakat (BKPM) yaitu Babinkamtibmas atau anggota Polri karena penugasannya sebagai pelaksana terdepan Polmas menjadi anggota dari BKPM, bertempat tinggal menetap/tidak menetap pada balai tersebut yang dibangun oleh Polri atau swadaya masyarakat/komunitas sebagai tempat kegiatan forum kemitraan polisi dan masyarakat yang ada di wilayah tersebut. 5) Pola Bimmas Lingkungan; yaitu setiap anggota Polri yang bertempat tinggal di masyarakat/komunitas tertentu untuk melaksanakan kegiatan Polmas. 6) Pola Forum Kemitraan Polri dan Masyarakat (FKPM); yaitu kegiatan yang dilakukan oleh anggota Polri/Babinkamtibmas dan masyarakat dengan membudayakan institusi masyarakat/pranata sosial yang telah ada dan dibentuk oleh masyarakat setempat, dalam rangka pencegahan dan penangkalan kejahatan, maupun pemecahan masalah sosial. d. Pelaksanaan Pelaksanaan Polmas melekat pada tampilan sikap dan perilaku setiap anggota Polri yang dapat memberikan teladan. Pelaksana Polmas berperan sebagai tokoh masyarakat, guru, sahabat, seorang yang bijak dan pemimpin dan Polri yang mampu kepada memberikan masyarakat, perlindungan, serta praktek pengayoman pelayanan

penegakan hukum non diskriminatif yang mampu memancing rasa kepercayaan masyarakat untuk mematuhi hukum sesuai amanah rakyat dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 1) Pola penerapan umum, merupakan kegiatan pokok Polmas yang melekat pada setiap anggota Polri dalam menjalankan tugas dan fungsinya untuk memberikan pelayanan kepolisian sesuai standar bidang tugasnya, di kantor, di lapangan maupun di luar kedinasan. Kegiatan pokok tersebut : a) Patroli diikuti dengan kegiatan kunjungan, sambang dan tatap muka dengan warga masyarakat, serta dengan segera mendatangi dan melakukan tindakan pertama di tempat kejadian.

7 b) Ikut serta secara aktif dalam kegiatan masyarakat untuk Harkamtibmas serta untuk menampung dan menindaklanjuti keluhan dan aduan masyarakat yang berkaitan dengan masalah-masalah kamtibmas serta pelayanan kepolisian. c) d) Membina kemitraan dengan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan ketaatan warga terhadap hukum. Membangun partisipasi aktif masyarakat dalam rangka pemecahan masalah-masalah sosial di lingkungannya yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial sebelum ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwajib. e) Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingannya yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi kepolisian. 2) Pola penerapan Polmas, yaitu bentuk-bentuk kegiatan dalam rangka percepatan dan pemantapan implementasi Polmas KOD yang disesuaikan a) dan/atau dapat dikembangkan sesuai situasi masyarakat setempat, dengan kegiatan antara lain : Bimmas Lingkungan. Pertama, memperkenalkan diri dan melakukan silaturrahmi dengan warga masyarakat setempat. Kedua, mengenal secara individu warga masyarakat yang bertempat tinggal di sekitarnya, minimal radius 200 meter dan/atau disesuaikan dengan kondisi pemukiman warga masyarakat serta menyerap segala informasi yang berkenaan dengan kamtibmas. Ketiga, secara aktif ikut serta dalam kegiatan masyarakat dalam rangka pencegahan kejahatan, pemeliharaan kamtibmas maupun pemecahan masalahmasalah sosial budaya lainnya, seperti : kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), musibah bencana alam, wabah penyakit dan lain-lain serta melaporkan pada Baninkamtibmas atau satuan Polri terdekat. Keempat, membantu masyarakat secara langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan pelayanan kepolisian, seperti : memberikan informasi pengurusan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), STNK, SIM, laporan polisi, perijinan keramaian, dll. b) Babinkamtibmas

8 (1) (2) Memperkenalkan diri dan melakukan silaturrahmi dengan masyarakat setempat. Membantu pelayanan penanganan masyarakat kepolisian dalam dalam kepada bentuk pemberian informasi yang dan maupun bantuan pengurusan yang berkaitan dengan masyarakat penerimaan dan membutuhkan,

laporan/pengaduan

permintaan

bantuan/pertolongan, pengaduan atas tindakan anggota Polri dan pelayanan surat-surat ijin/keterangan sesuai ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku dalm organisasi Polri. (3) Bekerja sama dan koordinasi dengan Kades, Lurah, Badan Permusayawaratan Desa (BPD) dalam rangka Harkamtibmas dan peningkatan kepatuhan hukum warga masyarakat. (4) Tatap muka dengan tokoh masyarakat adat, tokoh agama dan (5) komponen masyarakat lainnya dalam rangka Harkamtibmas. Sambang dan kunjungan ke RT/RW, proyek-proyek pembangunan, obyek wisata, tempat ibadah, kawasan industri, sentra ekonomi dan lain-lain. (6) (7) (8) Mendatangi dan membantu warga masyarakat yang menjadi korban kejahatan dan terkena musibah. Memfasilitasi pertemuan dengan warga, untuk identifikasi dan pemecahan masalah sosial secara bersama-sama. Menerima kamtibmas. c) Pos Pol/ Pol Pos (1) Tempat pelayanan kepolisian terbatas untuk membantu masyarakat dalam pemberian informasi maupun pengurusan yang berkaitan dengan pelayanan kepolisian kepada masyarakat yang membutuhkan, dalam bentuk penerimaan dan penanganan laporan/pengaduan dan permintaan bantuan/pertolongan, pengaduan atas dan menindaklanjuti masyarakat terkait informasi, masalah laporan/pengaduan

9 tindakan anggota Polri dan pelayanan surat-surat

ijin/keterangan sesuai ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku dalam organisasi Polri. (2) Menjadikan Pospol/Polpos sebagai tempat pertemuan bersama warga untuk menyampaikan pesan kamtibmas, koordinasi (3) dan pemecahan masalah di lingkungan masyarakat/komunitas setempat. Bekerja sama dengan pemerintahan desa dan warga masyarakat/komunitas, membuat dan mensosialisasikan pamflet, leaflet, brosur atau spanduk pesan dan himbauan kamtibmas. (4) Bersama masyarakat setempat menjaga ketertiban setiap kegiatan pemerintahan maupun kegiatan masyarakat tersebut sendiri. (5) (6) Merespon secara cepat setiap keluhan/pengaduan/laporan masyarakat. Anggota Pospol/Polpos juga melaksanakan kegiatan dengan pola Babinkamtibmas, baik karena pengawasan maupun kegiatan-kegiatan lain di bidang operasional. d) Balai Kemitraan Polisi dan Masyarakat (1) Menyediakan informasi. (2) Melakukan pesan (3) dan patroli sambang, berdialog sesuai dengan dengan masyarakat, menyerap informasi, memberikan informasi himbauan Kamtibmas kerawanan lingkungan. Melakukan kunjungan ke pemukiman warga, kawasan bisnis, sekolah dan instansi pemerintahan untuk mengidentifikasi dan mendokumentasi data sosial yang berkaitan dengan kamtibmas. (4) Bekerja sama dengan warga, media massa, pemerintah daerah setempat dan kelompok-kelompok masyarakat dalam kegiatan pencegahan kejahatan, Harkamtibmas maupun pemecahan-pemecahan masalah sosial. pelayanan kepada masyarakat yang memerlukan pertolongan, bantuan, konsultasi dan/atau tentang pesan-

10 e) Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) (1) Mendorong dan meningkatkan berlakunya adat istiadat, norma, nilai-nilai serta secara efektif mengikuti pertemuan-pertemuan yang dilakukan oleh lembaga adat dalam proses pemecahan masalah secara adat agar proses dan keputusan yang ditetapkan tidak bertentangan dengan hukum dan hak sasi manusia. (2) Memfasilitasi pertemuan warga untuk mengidentifikasi masalah, membahas dan mencari alternatifpenyelesaian bersama. (3) Mendorong warga masyarakat untuk lebih aktif menyelenggarakan pertemuan dalam rangka musyawarah dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat/komunitas dalam rangka pencegahan dan penangkalan kejahatan. (4) Secara rutin mengunjungi warga dalam rangka pemutakhiran data dan informasi yang berkembang di masyarakat yang berkaitan dengan masalah-masalah kamtibmas dan masalah-masalah sosial budaya lainnya. (5) Mendorong masyarakat untuk membangun dan meningkatkan sistem keamanan swakarsa yang berbasis komunitas masyarakat. (6) Memberikan suri tauladan kepada masyarakat untuk berperilaku tertib dan tidak menyimpang dari aturan hukum, adat istiadat, norma dan nilai-nilai lokal yang berlaku dalam komunitas setempat. (7) Melibatkan tokoh masyarakat, adat, agama, pemuda, perempuan, anak, manula, orang dengan kebutuhan khusus (cacat) dan kelompok masyarakat lainnya dalam proses identifikasi dan pemecahan masalah. (8) Menampung keluhan/pengaduan masyarakat yang berkaitan dengan masalah kejahatan/pelanggaran dan masalah sosial lainnya untuk membahas, mencari jalan keluarnya dan berkoordinasi dengan instansi terkait. e. Sosialisasi dan Koordinasi

11 1) Koordinasi, bekerja sama dengan dengan pemerintah tokoh-tokoh sosial

daerah/instansi-instansi masyarakat/komunitas/lembaga

pemerintah,

pendidikan/lembaga

kemasyarakatan dalam rangka membuat kesepakatan (MoU) antara elemen Polri dan pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan Polmas. 2) Mensosialisasikan ke seluruh masyarakat tentang kegiatan-kegiatan Polmas, termasuk di dalamnya yaitu percepatan dan implemantasi Polmas. 3) f. Membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat dalam berpartisipasi terhadap kegiatan-kegiatan Polmas. Dukungan Personel dan Materiil Logistik 1) Personel : yang disiapkan/ditunjuk a) b) Personel Polri sebagai petugas Polmas didasari pada ketentuan/petunjuk yang berlaku di internal Polri. Penunjukan personel Polri sebagai petugas Polmas pada wilayah/kawasan 2) tertentu terlebih dahulu mendapat rekomendasi dari pimpinan satuan kewilayahan Polri setempat. Materiil dan Logistik menggunakan dukungan : a) Material dan logistik, sarana alat komunikasi, fasilitas perkantoran/perumahan yang menjadi milik KOD dan yang bersumber dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat. b) c) g. 1) materiil/alat-alat khusus yang diperuntukkan khusus pada personel pelaksana Polmas. Pengadaan baru sesuai dengan anggaran KOD. Dukungan Anggaran Sumber dukungan anggaran : a) b) c) 2) a) Dari anggaran operasional masing-masing KOD. Dari pemerintah daerah setempat. Dari masyarakat yang bersifat tidak mengikat. Mempedomani ketentuan perundang-undangan yang berlaku dalam penggunaan anggaran Polmas.

Sumber dukungan anggaran :

12 b) Mensinkronkan dukungan anggaran kegiatan Polmas sesuai daftar penggunaan anggaran KOD dengan anggaran yang bersumber dari non Polri (dari Pemda atau masyarakat). c) h. 1) Prioritas dukungan anggaran pada kegiatan nyata Polmas. Monitoring dan Evaluasi Aspek Manajerial a) b) c) d) 2) Situasi internal dan situasi eksternal berkaitan dengan dinamika kehidupan masyarakat setempat. Penyusunan Rencana Kegiatan dan pelaksanaannya.. Penyusunan penggelaran kekuatan pelaksanaan Polmas. Penyusunan alokasi dukungan anggaran dan material serta logistik. Aspek Pelaksanaan : a) b) c) Perilaku personel pelaksanaan kegiatan Polmas. Dukungan Polmas. Permasalahan yang menonjol berkaitan dengan situasi kamtibmas dan masalah sosial yang menonjol dan memerlukan penanganan segera termasuk perilaku personel pelaksanan Polmas. d) Menerima masukan berkaitan dengan kendala atau masalah yang menjadi hambatan bagi unsur pelaksana Polmas dan memerlukan penanganan segera. 3) Sistem pelaporan pelaksanaan memedomani petunjuk yang ada dan dapat dikembangkan sesuai dengan sistem pelaporan dan komunikasi yang ada di KOD. a) Tingkat Polsek : Laporan dihimpun oleh Perwira / Bintara tata urusan dalam (bagian administrasi) selanjutnya dilaporkan kepada Kapolsek. b) Tingkat KOD : (1) Laporan pelaksanaan kegiatan Polmas setiap bulan dievaluasi dan dilaporkan kepada pimpinan KOD dengan disertai pemberitahuan (tembusan) kepada Bupati/Walikota setempat; (2) Laporan kegiatan Polmas KOD ke Polda dilaksanakan minimal tiga bulan sekali, disertai dan kesiapan masyarakat terhadap kegiatan

13 evaluasi dan rencana tindak lanjut tiga bulan yang akan datang. 4) Evaluasi percepatan dan pemantapan implementasi Polmas. Evaluasi percepatan dan pemantapan implementasi Polmas dilakukan dalam rangka untuk mengukur tingkat keberhasilan kegiatan a) nyata maupun tanggapan masyarakat terhadap pelaksanaan Polmas, dengan kegiatan yaitu : Analisa dan evaluasi dilaksanakan pada setiap 6 (enam) bulan sekali berdasarkan laporan hasil kegiatan dan persepsi berdasarkan laporan hasil kegiatan dan persepsi masyarakat, diikuti oleh unsur pimpinan KOD, perwakilan Polda serta perwakilan pemerintah daerah setempat. b) Pelaksanaan gelar operasional dalam rangka memecahkan permasalahan-permasalahan c) tertentu yang memerlukan penanaganan melalui kegiatan Polmas. Melakukan penelitian dan pengembangan sekurang-kurangnya satu tahun sekali untuk meningkatkan efektifitas Polmas untuk menyesuaikan perkembangan tantangan yang dihadapi. 2. Penguatan Kapasitas Pelayanan Kepada Masyarakat Esensi dari pelaksanaan kegiatan Polmas sebenarnya yaitu mendekatkan pelayanan Polri kepada masyarakat. Dengan kehadiran petugas Polmas sepanjang waktu secara langsung di tengah masyarakat, misalnya pada komunitas industri, komunitas pekerja, komunitas adat, instansi pemerintah daerah maupun warga masyarakat pada umumnya, akan semakin mendorong terjalin hubungan dan komunikasi yang baik antara petugas Polmas dan masyarakat setempat sehingga melalui kedekatan antara petugas Polmas dengan masyarakat tersebut akan dapat memacu partisipasi masyarakat dalam hal pencegaham kejahatan, pemeliharaan kamtibmas serta penyelesaian permasalahan-permasalahan sosial. 3. Hasil Pelaksanaan Polmas Pelaksanaan kegiatan-kegiatan Polmas yang dilakukan dengan dukungan aspek manajerial yang tepat akan dapat mendorong keberhasilan implementasi Polmas. Keberhasilan itu dapat diketahui dengan indikatorindikator tertentu, khususnya perubahan budaya pelayanan Polri, yang selama ini bercorak militeristik yang dikarenakan pengaruh dari masa lalu sewaktu

14 Polri masih bergabung dengan TNI dalam wadah ABRI menuju budaya pelayanan Polri yang baru dengan paradigma civillian police. Perubahan positif atas budaya pelayanan Polri melalui implementasi Polmas tersebut akan merubah juga pola upaya Polri dalam menanggulangi kejahatan maupun permasalahan lainnya dari upaya-upaya yang cenderung represif semakin berkurang dan lebih menekankan pada penggunaan soft power melalui implementasi upaya-upaya preventif maupun pre-emtif. Perubahan pola upaya penanggulangan kejahatan memberikan keuntungan dan efektivitas kegiatan kepolisian secara umum dan Polmas pada khususnya, yaitu : a. Keuntungan 1) 2) 3) 4) a. Polri mudah mendapatkan berbagai informasi dalam masyarakat. Polri memperoleh kepercayaan dari masyarakat Terjadi kerja sama antara Polri dan masyarakat dalam menciptakan Kamtibmas. Masyarakat secara sukarela memberikan bantuan moril maupun materiil dalam pelaksanaan tugas polisi. Efektivitas 1) Pelaksanaan identifikasi dan pembuatan skala prioritas penanganan masalah-masalah yang sering terjadi di masyarakat dapaqt dilaksanakan dengan baik. 2) Pengembangan dan pemberian tanggapan yang inovatif dan efektif terhadap masalah-masalah tersebut, baik oleh petugas Polmas maupun pihak-pihak lain yang terkait.. 3) 4) Pengalokasian sumberdaya secara tepat. Evaluasi dan modifikasi respon, sesuai keperluan, untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan. III. DISKUSI 1. Diskusi I a. Pertanyaan Mahasiswa AGUNG NUGROHO Sebagai seorang Kepala Satuan Wilayah (Kapolres/Kapolsek dll) dengan rasio polisi dan masyarakat yang belum ideal, apa strategi untuk menjalankan program Polmas agar terjadi kedekatan antara polisi dengan masyarakat selama 1 x 24 jam ?

15 b. Jawaban Mahasiswa HANDIK ZUSEN Agar tercapai kondisi dimana polisi, khususnya petugas Polmas dekat dengan masyarakat selama 1 x 24 jam, walaupun rasio polisi dan masyarakat belum ideal, maka dapat ditempuh upaya dengan melakukan pemetaan wilayah berdasarkan karakteristik kerawanan daerah (Kakerda) tersebut, agar kehadiran petugas Polmas dapat diprioritaskan pada daerah-daerah tertentu yang tingkat kerawanannya lebih tinggi daripada daerah-daerah lainnya yang dinilai stabil tingkat keamanannya. Strategi yang dapat ditempuh, antara lain adalah sebagaimana yang ditentukan oleh Tim Perumus Polmas Mabes Polri, yang membagi kategori daerah operasional Polmas ke dalam 3 (tiga) kategori, sebagai berikut : d) Daerah Binaan, yaitu apabila upaya pencegahan kejahatan dan pemecahan masalah sosial yang dilakukan oleh masyaraka/komunitas tertentu secara mandiri belum terbentuk, maka wilayah tersebut menjadi prioritas kegiatan Polmas. Kehadiran petugas Polmas harus selalu menetap di wilayah tersebut. e) Daerah Sentuhan, yaitu apabila upaya pencegahan kejahatan dan pemecahan masalah sosial yang dilakukan oleh masyarakat/komunitas secara mandiri telah terbentuk, maka kegiatan Polmas dilakukan melalui kunjungan/sambang. Kehadiran petugas Polmas pada daerah tersebut dilakukan secara menetap disesuaikan dengan perkembangan situasi. f) Daerah Pantauan, yaitu apabila upaya pencegahan dan penangkalan kejahatan serta pemecahan masalah sosial yang dilakukan oleh masyarakat/komunitas secara mandiri telah berjalan dengan baik dan menjadi nilai-nilai yang dipatuhi oleh masyarakat, maka kegiatan Polmas dilakukan melalui kunjungan/sambang bersifat sewaktu-waktu dan tidak menetap. Kehadiran petugas Polmas dalam rangka upaya memelihara c. Tanggapan Mahasiswa Ronaldo MTPPS dan meningkatkan mekanisme penanggulangan kejahatan yang telah ada di masyarakat tersebut.

16 Sebenarnya Polmas merupakan strategi yang digunakan oleh berbagai organisasi kepolisian di dunia saat ini untuk mengatasi adanya keterbatasan jumlah personil polisi, sehingga dengan strategi Polmas tersebut tidak dibutuhkan jumlah personil yang besar tetapi cukup dengan personil yang tersedia namun memiliki kemampuan yang handal tentang pelaksanaan tugas-tugas Polmas maupun tugas-tugas kepolisian lainnya secara umum. 2. Diskusi II a. Pertanyaan Mahasiswa ANDI CHANDRA Bagaimana menanggulangi kekurangan/keterbatasan dukungan logistik dalam rangka pelaksanaan kegiatan Polmas oleh petugas Polmas ? b. Jawaban Mahasiswa HANDIK ZUSEN Realita dalam organisasi Polri saat ini memang belum memungkinkan terlaksananya dukungan logistik secara maksimal bagi petugas Polmas dalam rangka pelaksanaan kegiatan Polmas sehingga perlu ditempuh upaya-upaya alternatif, antara lain dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Misalnya, dengan melalui mekanisme hibah, yaitu masyarakat memberikan sumbangsih berupa dukungan logistik bagi satuan kewilayahan Polri setempat dalam rangka mendukung kegiatan Polmas. Mekanisme hibah ini dilakukan agar dalam tidak terjadi penyimpangan hukum karena mekanisme tersebut sah sacara hukum. 3. Diskusi III a. Pertanyaan Mahasiswa YULIAN PERDANA Bagaimana hubungan tata cara kerja (HTCK) yang berlaku bagi petugas Polmas beserta parameter keberhasilan pelaksanaan tugasnya ? b. Jawaban Mahasiswa HANDIK ZUSEN Sampai dengan saat ini belum terdapat HTCK maupun parameter keberhasilan yang jelas dan seragam dalam rangka pelaksanaan kegiatan Polmas di dalam organisasi Polri. HTCK kegiatan Polmas masih rancu dengan HTCK dalam fungsi Binamitra, termasuk parameter

17 keberhasilannya pun tidak menjangkau sampai dengan tataran

kuantitatif. Hal-hal tersebut menyebabkan pelaksanaan kegiatan Polmas menjadi tidak maksimal. Oleh karena itu, diharapkan, melalui kegiatankegiatan akademis, antara lain seperti kelas Zemi Polmas ini diaharapkan dapat membuahkan konsep-konsep baru dan riil tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan Polmas, termasuk di dalamnya terkait dengan HTCK dan parameter keberhasilan kegiatan Polmas. 4. Diskusi IV a. Pertanyaan Mahasiswa RICKO A. A. TARUNA Bagaimana kategori kasus yang dapat diselesaikan oleh petugas Polmas secara langsung di lapangan ? b. Jawaban Mahasiswa HANDIK ZUSEN Di dalam organisasi Polri, hingga saat ini belum terdapat petunjuk pelaksanaan khusus untuk hal tersebut. Yang terjadi di Indonesia, kegiatan Polmas dilakukan dengan tidak adanya kesamaan persepsi di antara berbagai kesatuan kewilayahan Polri di seluruh Indonesia, mulai Polda sampai Polsek. Sehingga banyak terjadi kesalahan persepsi juga di dalam masyarakat, bahwa perkara-perkara yang merupakan tindak pidana (kejahatan) dapat diselesaikan oleh petugas Polmas, padahal sebenarnya tidak demikian. Yang ada saat ini, hanya ketentuanketentuan general terkait penangnan suatu perkara, misalnya terhadap perkara-perkara pidana tetap harus diteruskan penangannnya oleh petugas Polmas kepada petugas Polri yang berwenang di bidang penegakan hukum, yaitu petugas pada fungsi Reskrim-jika terkait dengan berbagai tindak pidana umum maupun khusus; fungsi Lantas-jika terkait dengan kecelakaan lalu lintas; dan/atau fungsi Samapta-jika terkait dengan tindak pidana ringan. Oleh karena itu, seharusnya Mabes Polri merumuskan lebih detail tentang kewenangan-kewenangan administratif kepolisian bagi petugas Polmas, seperti misalnya di organisasi kepolisian Jepang, seorang pertugas Polmas memiliki wewenang multi fungsi, yaitu dapat melakukan berbagai kewenangan kepolisian, baik yang termasuk

18 dalam ruang lingkup wewenang fungsi Reskrim, fungsi Lantas, fungsi Samapta, dll. 3. Diskusi V Pembulatan dari Bapak SUZUKI Motoyuki Di dalam organisasi kepolisian Jepang, sekitar 60% dari jumlah personil polisi adalah anggota Polmas sedangkan di Indonesia, petugas Polmas masih terbatas jumlahnya, sehingga kemungkinan dapat diatasi dengan mengoptimalkan fungsi dari anggota Polri yang bertugas pada fungsi Samapta dan/atau petugas SPK. Para petugas tersebut dapat melaksanakan patroli rutin sambil menjalankan kegiatan-kegiatan Polmas, antara lain dengan memberikan bantuan/pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan kehadiran petugas Polri untuk mengatasi permasalahan yang sedang terjadi. IV. KESIMPULAN Agar kegiatan Polmas dapat terlaksana secara maksimal, maka diperlukan suatu langkah-langkah manajerial tertentu dengan pendekatan fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian yang baik. Dengan langkah-langkah manajerial tersebut, kegiatan Polmas akan dapat terlaksana secara transparan dan akuntabel sehingga legitimasinya pun dapat dipertanggungjawabkan di hadapan publik. Dengan tingkat transparansi dan akuntabilitas yang tinggi, maka melalui kegiatan Polmas tesebut akan didapatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri dikarenakan masyarakat puas dengan pelayanan yang diberikan Polri melalui kegiatan-kegiatan Polmas sehingga partisipasi masyarakat pun akan dapat timbul dalam rangka mengatasi permasalahan-permasalahan di lingkungannya masingmasing, termasuk dalam hal pencegahan kriminalitas bahkan turut serta dalam penanggulangan kriminalitas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->