P. 1
seputar wanita

seputar wanita

|Views: 2,634|Likes:
Published by nonnynonny

More info:

Published by: nonnynonny on Dec 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

SISTEM REPRODUKSI WANITA

Hormon & Reproduksi
DEFINISI Reproduksi manusia yang normal melibatkan interaksi antara berbagai hormon dan organ, yang diatur oleh hipotalamus (suatu daerah di otak). Pada pria dan wanita, hipotalamus menghasilkan hormon yang disebut releasing factors (RH). RH berjalan ke hipofisa (sebuah kelenjar yang terletak di bawah hipotalamus) dan merangsang hipofisa untuk melepaskan hormon lainnya. Misalnya gonadotropinreleasing hormones (dihasilkan oleh hipotalamus) merangsang hipofisa untuk menghasilkan luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH). LH dan FSH merangsang pematangan kelenjar reproduktif dan pelepasan hormon seksual:  Ovarium pada wanita melepaskan estrogen  Testis pada pria melepaskan androgen (misalnya testosteron). Hormon seksual juga dilepaskan oleh kelenjar adrenal, yang terletak di atas ginjal. Pola pelepasan hormon dan kadar hormon di dalam darah merupakan petunjuk dari adanya perangsangan maupun penghambatan dalam pelepasan LH dan FSH oleh hipofisa. Misalnya, penurunan kadar hormon seksual merangsang hipofisa untuk melepaskan lebih banyak LH dan FSH. Hormon dilepaskan setiap 1-3 jam, karena itu kadar hormon di dalam darah biasanya turun naik. PUBERTAS Pubertas adalah masa awal pematangan seksual, yaitu suatu periode dimana seorang anak mengalami perubahan fisik, hormonal dan seksual serta mampu mengadakan proses reproduksi. Pubertas berhubungan dengan pertumbuhan yang pesat dan timbulnya ciri-ciri seksual sekunder. Pada saat lahir, kadar LH dan FSH adalah tinggi, tetapi beberapa bulan kemudian menurun dan tetap rendah sampai masa pubertas. Pada awal masa pubertas, kadar kedua hormon tersebut meningkat, sehingga merangsang pembentukan hormon seksual. Peningkatan kadar hormon menyebabkan:  Pematangan payudara, ovarium, rahim dan vagina  Dimulainya siklus menstruasi  Timbulnya ciri-ciri seksual sekunder (misalnya rambut kemaluan dan rambut ketiak). Perubahan tersebut terjadi secara berurutan selama masa pubertas sampai terjadi kematangan seksual.

Pada anak perempuan, perubahan yang pertama kali terjadi pada masa pubertas biasanya adalah penonjolan payudara, yang segera diikuti dengan tumbuhnya rambut kemaluan dan rambut ketiak. Jarak antara penonjolan payudara dengan siklus menstruasi yang pertama biasanya sekitar 2 tahun. Bentuk tubuh berubah dan persentase lemak tubuh bertambah. Pertumbuhan badan yang pesat (terutama penambahan tinggi badan) biasanya dimulai sebelum payudara membesar. Selain itu dari vagina keluar cairan yang jernih atau keputihan dan terjadi penambahan lebar tulang panggul. Pertumbuhan badan relatif paling cepat terjadi pada masa awal pubertas (sebelum siklus menstruasi mulai). Lalu pertumbuhan menjadi lambat dan biasanya berhenti pada usia 14-16 tahun. Pada anak laki-laki adalah sebaliknya, pertumbuhan badan yang paling pesat terjadi pada usia 13-17 tahun dan terus berlangsung sampai awal 20 tahun. Pada anak perempuan, pubertas biasanya terjadi pada usia 9-16 tahun. Anak perempuan rata-rata mengalami masa pubertas 2 tahun lebih awal daripada anak laki-laki. Usia pubertas tampaknya dipengaruhi oleh kesehatan dan gizi anak, juga faktor sosialekonomi dan keturunan. Anak perempuan yang agak gemuk cenderung mengalami siklusnya yang pertama lebih awal, sedangkan anak perempuan yang kurus dan kekurangan gizi cenderung mengalami siklusnya yang pertama lebih lambat. Siklus yang pertama juga terjadi lebih awal pada anak perempuan yang tinggal di kota. SIKLUS MENSTRUASI Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan perdarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang pertama kali (disebut menarke) paling sering terjadi pada usia 11 tahun, tetapi bisa juga terjadi pada usia 8 tahun atau 16 tahun. Menstruasi merupakan pertanda masa reproduktif pada kehidupan seorang wanita, yang dimulai dari menarke sampai terjadinya menopause. Hari pertama terjadinya perdarahan dihitung sebagai awal setiap siklus menstruasi (hari ke-1). Siklus berakhir tepat sebelum siklus menstruasi berikutnya. Siklus menstruasi berkisar antara 21-40 hari. Hanya 10-15% wanita yang memiliki siklus 28 hari. Jarak antara siklus yang paling panjang biasanya terjadi sesaat setelah menarke dan sesaat sebelum menopause. Pada awalnya, siklus mungkin tidak teratur. Jarak antar 2 siklus bisa berlangsung selama 2 bulan atau dalam 1 bulan mungkin terjadi 2 siklus. Hal ini adalah normal, setelah beberapa lama siklus akan menjadi lebih teratur. Siklus dan lamanya menstruasi bisa diketahui dengan membuat catatan pada kalender.Dengan menggunakan kalender tersebut, tandailah siklus anda setiap bulannya.

Setelah beberapa bulan, anda bisa mengetahui pola siklus anda dan hal ini akan membantu anda dalam memperkirakan siklus yang akan datang. Tandai setiap hari ke-1 dengan tanda silang, lalu hitung sampai tanda silang berikutnya. Dengan demikian anda dapat mengetahui siklus anda. Setiap bulan, setelah hari ke-5 dari siklus menstruasi, endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai persiapan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Sekitar hari ke-14, terjadi pelepasan telur dari ovarium (ovulasi). Sel telulr ini masuk ke dalam salah satu tuba falopii. Di dalam tuba bisa terjadi pembuahan oleh sperma. Jika terjadi pembuahan, sel telur akan masuk ke dalam rahim dan mulai tumbuh menjadi janin. Pada sekitar hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan, maka endometrium akan dilepaskan dan terjadi perdarahan (siklus menstruasi). Siklus bisa berlangsung selama 3-5 hari, kadang sampai 7 hari. Proses pertumbuhan dan penebalan endometrium kemudian dimulai lagi pada siklus berikutnya.

Siklus menstruasi terbagi menjadi 3 fase: 1. Fase Folikuler Dimulai dari hari 1 sampai sesaat sebelum kadar LH meningkat dan terjadi pelepasan sel telur (ovulasi). Dinamakan fase folikuler karena pada saat ini terjadi pertumbuhan folikel di dalam ovarium. Pada pertengahan fase folikuler, kadar FSH sedikit meningkat sehingga merangsang pertumbuhan sekitar 3-30 folikel yang masing-masing mengandung 1 sel telur. Tetapi hanya 1 folikel yang terus tumbuh, yang lainnya hancur. Pada suatu siklus, sebagian endometrium dilepaskan sebagai respon terhadap penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Endometrium terdiri dari 3 lapisan. Lapisan paling atas dan lapisan tengah dilepaskan, sedangkan lapisan dasarnya tetap dipertahankan dan menghasilkan sel-sel baru untuk kembali membentuk kedua lapisan yang telah dilepaskan. Perdarahan menstruasi berlangsung selama 3-7 hari, rata-rata selama 5 hari. Darah yang hilang sebanyak 28-283 gram. Darah menstruasi biasanya tidak membeku kecuali jika perdarahannya sangat hebat. 2. Fase Ovulatoir Fase ini dimulai ketika kadar LH meningkat dan pada fase ini dilepaskan sel telur. Sel telur biasanya dilepaskan dalam waktu 16-32 jam setelah terjadi peningkatan kadar LH. Folikel yang matang akan menonjol dari permukaan ovarium, akhirnya pecah dan melepaskan sel telur. Pada saat ovulasi ini beberapa wanita merasakan nyeri tumpul pada perut bagian bawahnya; nyeri ini dikenal sebagai mittelschmerz, yang berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam. 3. Fase Luteal Fase ini terjadi setelah ovulasi dan berlangsung selama sekitar 14 hari. Setelah melepaskan telurnya, folikel yang pecah kembali menutup dan membentuk korpus luteum yang menghasilkan sejumlah besar progesteron. Progesteron menyebabkan suhu tubuh sedikit meningkat selama fase luteal dan tetap tinggi sampai siklus yang baru dimulai. Peningkatan suhu ini bisa digunakan untuk memperkirakan terjadinya ovulasi. Setelah 14 hari, korpus luteum akan hancur dan siklus yang baru akan dimulai, kecuali jika terjadi pembuahan. Jika telur dibuahi, korpus luteum mulai menghasilkan HCG (human chorionic gonadotropin). Hormon ini memelihara korpus luteum yang menghasilkan progesteron sampai janin bisa menghasilkan hormonnya sendiri. Tes kehamilan didasarkan kepada adanya peningkatan kadar HCG.

Sistem Reproduksi Wanita
DEFINISI Organ kelamin luar wanita memiliki 2 fungsi, yaitu sebagai jalan masuk sperma ke dalam tubuh wanita dan sebagai pelindung organ kelamin dalam dari organisme penyebab infeksi. Saluran kelamin wanita memiliki lubang yang berhubungan dengan dunia luar, sehingga mikroorganisme penyebab penyakit bisa masuk dan menyebabkan infeksi kandungan. Mikroorganisme ini biasanya ditularkan melalui hubungan seksual. Organ kelamin dalam membentuk sebuah jalur (saluran kelamin), yang terdiri dari:  Ovarium (indung telur), menghasilkan sel telur  Tuba falopii (ovidak), tempat berlangsungnya pembuahan  Rahim (uterus), tempat berkembangnya embrio menjadi janin  Vagina, merupakan jalan lahir.

ORGAN KELAMIN LUAR Organ kelamin luar (vulva) dibatasi oleh labium mayor (sama dengan skrotum pada pria). Labium mayor terdiri dari kelenjar keringat dan kelenjar sebasea (penghasil minyak); setelah puber, labium mayor akan ditumbuhi rambut. Labium minor terletak tepat di sebelah dalam dari labium mayor dan mengelilingi lubang vagina dan uretra. Lubang pada vagina disebut introitus dan daerah berbentuk separuh bulan di belakang introitus disebut forset. Jika ada rangsangan, dari saluran kecil di samping introitus akan keluar cairan (lendir)

yang dihasilkan oleh kelenjar Bartolin. Uretra terletak di depan vagina dan merupakan lubang tempat keluarnya air kemih dari kandung kemih. Labium minora kiri dan kanan bertemu di depan dan membentuk klitoris, yang merupakan penonjolan kecil yang sangat peka (sama dengan penis pada pria). Klitoris dibungkus oleh sebuah lipatan kulit yang disebut preputium (sama dengan kulit depat pada ujung penis pria). Klitoris sangat sensitif terhadap rangsangan dan bisa mengalami ereksi. Labium mayor kiri dan kanan bertemu di bagian belakang membentuk perineum, yang merupakan suatu jaringan fibromuskuler diantara vagina dan anus. Kulit yang membungkus perineum dan labium mayo sama dengan kulit di bagian tubuh lainnya, yaitu tebal dan kering dan bisa membentuk sisik. Sedangkan selaput pada labium minor dan vagina merupakan selaput lendir, lapisan dalamnya memiliki struktur yang sama dengan kulit, tetapi permukaannya tetap lembab karena adanya cairan yang berasal dari pembuluh darah pada lapisan yang lebih dalam. Karena kaya akan pembuluh darah, maka labium minora dan vagina tampak berwarna pink. Lubang vagina dikeliling oleh himen (selaput dara). Kekuatan himen pada setiap wanita bervariasi, karena itu pada saat pertama kali melakukan hubungan seksual, himen bisa robek atau bisa juga tidak. ORGAN KELAMIN DALAM Dalam keadaan normal, dinding vagina bagian depan dan belakang saling bersentuhan sehingga tidak ada ruang di dalam vagina kecuali jika vagina terbuka (misalnya selama pemeriksaan atau selama melakukan hubungan seksual). Pada wanita dewasa, rongga vagina memiliki panjang sekitar 7,6-10 cm. Sepertiga bagian bawah vagina merupakan otot yang mengontrol garis tengah vagina. Dua pertiga bagian atas vagina terletak diatas otot tersebut dan mudah teregang. Serviks (leher rahim) terletak di puncak vagina. Selama masa reproduktif, lapisan lendir vagina memiliki permukaan yang berkerut-kerut. Sebelum pubertas dan sesudah menopause, lapisan lendir menjadi licin. Rahim merupakan suatu organ yang berbentuk seperti buah pir dan terletak di puncak vagina. Rahim terletak di belakang kandung kemih dan di depan rektum, dan diikat oleh 6 ligamen. Rahim terbagi menjadi 2 bagian, yaitu serviks dan korpus (badan rahim). Serviks merupakan uterus bagian bawah yang membuka ke arah vagina. Korpus biasanya bengkok ke arah depan. Selama masa reproduktif, panjang korpus adalah 2 kali dari panjang serviks. Korpus

merupakan jaringan kaya otot yang bisa melebar untuk menyimpan janin. Selama proses persalinan, dinding ototnya mengkerut sehingga bayi terdorong keluar melalui serviks dan vagina. Sebuah saluran yang melalui serviks memungkinkan sperma masuk ke dalam rahim dan darah menstruasi keluar. Serviks biasanya merupakan penghalang yang baik bagi bakteri, kecuali selama masa menstruasi dan selama masa ovulasi (pelepasan sel telur). Saluran di dalam serviks adalah sempit, bahkan terlalu sempit sehingga selama kehamilan janin tidak dapat melewatinya. Tetapi pada proses persalinan saluran ini akan meregang sehingga bayi bisa melewatinya. Saluran serviks dilapisi oleh kelenjar penghasil lendir. Lendir ini tebal dan tidak dapat ditembus oleh sperma kecuali sesaat sebelum terjadinya ovulasi. Pada saat ovulasi, konsistensi lendir berubah sehingga sperma bisa menembusnya dan terjadilah pembuahan (fertilisasi). Selain itu, pada saat ovulasi, kelenjar penghasil lendir di serviks juga mampu menyimpan sperma yang hidup selama 2-3 hari. Sperma ini kemudian dapat bergerak ke atas melalui korpus dan masuk ke tuba falopii untuk membuahi sel telur. Karena itu, hubungan seksual yang dilakukan dalam waktu 1-2 hari sebelum ovulasi bisa menyebabkan kehamilan. Lapisan dalam dari korpus disebut endometrium. Setiap bulan setelah siklus menstruasi, endometrium akan menebal. Jika tidak terjadi kehamilan, maka endometrium akan dilepaskan dan terjadilah perdarahan. Ini yang disebut dengan siklus menstruasi. Tuba falopii membentang sepanjang 5-7,6 cm dari tepi atas rahim ke arah ovarium. Ujung dari tuba kiri dan kanan membentuk corong sehingga memiliki lubang yang lebih besar agar sel telur jatuh ke dalamnye ketika dilepaskan dari ovarium. Ovarium tidak menempel pada tuba falopii tetapi menggantung dengan bantuan sebuah ligamen. Sel telur bergerak di sepanjang tuba falopii dengan bantuan silia (rambut getar) dan otot pada dinding tuba. Jika di dalam tuba sel telur bertemu dengan sperma dan dibuahi, maka sel telur yang telah dibuahi ini mulai membelah. Selama 4 hari, embrio yang kecil terus membelah sambil bergerak secara perlahan menuruni tuba dan masuk ke dalam rahim. Embrio lalu menempel ke dinding rahim dan proses ini disebut implantasi. Setiap janin wanita pada usia kehamilan 20 minggu memiliki 6-7 juta oosit (sel telur yang sedang tumbuh) dan ketika lahir akan memiliki 2 juta oosit. Pada masa puber, tersisa sebanyak 300.000-400.000 oosit yang mulai mengalami pematangan menjadi sel telur. Tetapi hanya sekitar 400 sel telur yang dilepaskan selama masa reproduktif wanita, biasanya setiap siklus menstruasi dilepaskan 1 telur. Ribuan oosit yang tidak mengalami proses pematangan secara bertahap akan hancur dan akhirnya seluruh sel telur akan hilang pada masa menopause.

Sebelum dilepaskan, sel telur tertidur di dalam folikelnya. Sel telur yang tidur tidak dapat melakukan proses perbaikan seluler seperti biasanya, sehingga peluang terjadinya kerusakan pada sel telur semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya usia wanita. Karena itu kelainan kromosom maupun kelainan genetik lebih mungkin terjadi pada wanita yang hamil pada usianya yang telah lanjut.

Efek Penuaan pada Wanita
DEFINISI Pada waktu menopause, perubahan pada organ kelamin cepat terjadi. Siklus menstruasi berhenti, dan indung telur berhenti menghasilkan estrogen. Setelah menopause, jaringan labia minora, clitoris, vagina, dan urethra menipis (atrophy). Penipisan bisa terjadi pada iritasi kronis, kekeringan, dan berhenti dari vagina. Infeksi vagina lebih mungkin terjadi. Begitu juga setelah menopause, rahim, tuba palopi, dan ovarium menjadi lebih kecil. Dengan penuaan, terdapat penurunan jumlah otot dan jaringan pengikat, termasuk otot,

ligamen, dan jaringan lain yang menopang kandung kemih, rahim, vagina dan anus. Sebagai akibatnya, organ yang dipengaruhi bisa longgar atau turun (prolapse), kadangkala menyebabkan rasa tertekan atau penuh pada panggul, kesulitan buang air kecil, kehilangan kendali untuk kencing atau buang air besar (incontinence), atau rasa sakit selama berhubungan seksual. Wanita yang memiliki banyak anak lebih mungkin mengalami beberapa masalah. GEJALA Karena terdapat sedikit estrogen untuk menstimulasi saluran susu, payudara berkurang ukurannya dan bisa kendor. Jaringan penghubung yang menopang payudara juga berkurang, menimbulkan kekendoran. Jaringan serat pada payudara digantikan dengan lemak, membuat payudara kurang kuat. Di samping perubahan ini, banyak wanita lebih menikmati aktifitas seks setelah menopause, kemungkinannya karena mereka tidak lagi bisa menjadi hamil. Untuk tambahan, setelah menopause, rahim, dan kelenjar adrenal melanjutkan memproduksi hormon seks pria. Hormon seks pria membantu menjaga gairah seks, memperlambat hilangnya jaringan otot, dan menimbulkan rasa sehat.

Pubertas
DEFINISI Pubertas adalah urutan peristiwa dimana perubahan fisik terjadi, menghasilkan sifat fisik orang dewasa dan kemampuan untuk bereproduksi. Perubahan fisik ini diatur dengan kadar hormon yang berubah yang menghasilkan kelenjar pituitary-hormon luteinizing dan hormon perangsang-folikel. Ketika lahir, kadar hormon-hormon ini tinggi, tetapi menurun dalam beberapa bulan dan tetap rendah sampai pubertas. Di awal pubertas, kadar hormon luteinizing dan hormon perangsang-folikel meningkat, merangsang produksi hormon seks. Peningkatan kadar hormon seks (khususnya estrogen) diakibatkan perubahan fisik, termasuk pematangan payudara, ovarium, rahim dan vagina. Secara normal, perubahanperubahan ini terjadi secara berurutan selama puber, menghasilkan kematangan seksual. Perubahan pertama pada pubertas biasanya dimulai pada pertumbuhan payudara (payudara membesar). Pada anak perempuan yang tinggal di Amerika Serikat, perubahan ini biasanya terjadi sekitar usia 8 sampai 13 tahun. Segera setelah itu, pubis, dan rambut di ketiak mulai tumbuh. Jarak antara payudara membesar ke periode menstruasi biasanya sekitar 2 ½ tahun. Di Amerika Serikat, anak gadis, rata-rata, memiliki periode pertama ketika mereka hampir 13 tahun. Bentuk Tubuh perempuan berubah, dan persentase lemak

tubuh meningkat. Dorongan pertumbuhan menyertai pubertas dimulai kira-kira ketika pubis dan rambut di ketiak mulai tumbuh. Pertumbuhan relatif cepat di awal pubertas (sebelum periode menstruasi dimulai) dan puncaknya sekitar usia 12 tahun. Kemudian perkembangan sangat lambat, biasanya berhenti antara usia 14 dan 16 tahun.

PUBERTAS PADA REMAJA

Meskipun pernah mengalami, terkadang orang tua merasa bingung dengan perubahan yang dialami anaknya pada masa puber. Banyak perubahan yang terjadi pada anak yang beranjak dewasa, baik perubahan fisik, maupun perubahan tingkah laku dan emosi. Berikut artikel mengenai pubertas dan remaja yang medicastore himpun dari berbagai sumber sebagai tambahan informasi bagi orang tua dalam menemani anak-anaknya melalui masa puber.

Pubertas yaitu masa ketika seorang anak mulai mengalami kematangan secara seksual dan organ-organ reproduksi siap untuk menjalankan fungsi reproduksinya. Masa puber seorang anak dengan anak yang lain sangat bervariasi. Pada anak perempuan, pubertas dimulai lebih awal, yaitu sekitar umur 10 sampai 14 tahun (ada literatur yang menyebutkan 8 sampai 14 tahun) dan pada anak lelaki sekitar umur 12 sampai 16 tahun (sumber lain menyebutkan 9 sampai 15 tahun). Pubertas dimulai ketika hipotalamus, yang merupakan bagian otak, melepaskan hormon GnRH (gonadotropin releasing hormone). Hormon pelepas gonadotropin ini (GnRH ) akan memberikan sinyal pada kelenjar pituitari untuk melepaskan luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH) untuk memulai perkembangan seksual, baik pada anak laki-laki maupun perempuan.

Tanda pubertas seorang anak yang mudah sekali dilihat adalah perubahan fisik. Umumnya pubertas memiliki pola. Pada anak perempuan, pubertas ditandai dengan pertumbuhan payudara, kemudian rambut di sekitar kemaluan. Pola selanjutnya yaitu mulai tumbuh rambut di sekitar ketiak dan tahap terakhir yaitu munculnya menstruasi pertama (menarche). Pada anak lelaki, pubertas ditandai dengan bertambahnya ukuran testis dan penis, kemudian tumbuhnya rambut di sekitar kemaluan dan ketiak. Sejumlah kecil jaringan otot tumbuh di sekitar dada. Suara berat dan dalam, tumbuhnya otot-otot tubuh, dan tahap terakhir yaitu munculnya rambut di daerah wajah.

Pada banyak remaja dalam masa puber, baik laki-laki maupun perempuan, perubahan yang cukup mengganggu yaitu jerawat. Selama pubertas, kulit anak menjadi lebih berminyak dan keringat menjadi lebih banyak. Hal ini disebabkan kelenjar minyak juga tumbuh selama masa puber. Menjaga kulit tetap bersih merupakan hal penting yang perlu diingatkan orang tua bagi anaknya yang sedang tumbuh dewasa. Deodoran dan antiperspiran juga dapat digunakan untuk mengontrol keringat dan bau badan. Tidak perlu heran bila jerawat masih “menghiasi“ wajah remaja puber yang teratur membersihkan wajah. Hal ini normal karena kadar hormon yang melonjak tinggi. Hampir semua remaja memiliki jerawat pada pubertas. Salah satu tanda pubertas adalah terjadinya lonjakan pertambahan tinggi badan. Lengan, tangan, dan kaki biasanya tumbuh lebih cepat dibandingkan keseluruhan pertumbuhan badan. Anak dalam masa puber tumbuh dengan sangat cepat. Tubuhnya bisa bertambah tinggi beberapa centimeter yang diikuti dengan periode pertumbuhan yang lebih lambat.

Masa puber bagi tiap-tiap anak berbeda, meskipun anak dalam kondisi sehat. Beberapa anak memulai pubertasnya lebih awal dibandingkan anak yang lain. Kondisi ini disebut pubertas prekosius (precocious puberty). Jika tanda-tanda pubertas muncul pada anak sebelum berusia 7 atau 8 tahun pada anak perempuan dan sebelum usia 9 tahun pada laki-laki, orang tua dan pengasuh harus berkonsultasi pada tenaga kesehatan untuk melihat apakah diperlukan tindakan khusus. Di sisi lain, ada juga anak yang mengalami tertundanya masa puber. Biasanya anak perempuan yang pubertasnya tertunda adalah yang sangat menyukai dan sering melakukan olah raga keras. Stress emosi dengan atau tanpa penurunan berat badan bisa juga menjadi penyebab tertundanya pubertas. Namun pada banyak kasus, tidak diketahui secara pasti mengenai penyebab tertundanya pubertas. Pada banyak anak yang pubertasnya tertunda, umumnya tidak membutuhkan perlakuan khusus dan

pubertasnya memulai sendiri pada waktunya. Jika pertumbuhan anak lebih lambat dibandngkan anak normal, orang tua dan pengasuh perlu melakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan yang dapat memastikan tidak adanya kelainan medis yang menyebabkan tertundanya pubertas.

• • • • •

Anak yang mulai beranjak remaja terkadang merasa malu dengan perubahan tubuh mereka dan memiliki kekhawatiran pertumbuhan mereka tidak sama dengan teman-temannya. Bicarakan dengan putra-putri anda yang beranjak dewasa bahwa seseorang tumbuh dan berkembang dengan kecepatannya masing-masing dan perubahan itu adalah normal. Jelaskan mengenai pentingnya kebersihan diri. Kelenjar keringat yang aktif membutuhkan mandi yang teratur dan deodoran. Untuk gigi yang sehat, setiap orang harus menggosok giginya dua kali sehari dengan pasta gigi berfloride dan benang gigi. Berikan batasan/aturan yang jelas dan beralasan. Anak yang memasuki usia puber dan remaja memerlukan peraturan. Ketika terdapat perselisihan maupun perbedaan antara orang tua dan anak, dengarkan penjelasan dari anak dan cobalah untuk mengerti dari sudut pandangnya. Biarkan anak atau remaja membuat keputusannya dan ia akan membuktikan kemampuannya. Jika anak memiliki masalah, bicaralah dengannya dari hati ke hati. Selalu dampingi anak agar mengisi waktunya dengan hal yang bermanfaat

Sebagai orang tua, cobalah untuk tidak membandingkan antara anak satu dengan yang lain (adik dan kakak). Misalnya mengenai fisik (tinggi badan, berat badan) karena akan membuat seorang anak menjadi terlalu memperhatikan bentuk tubuh. Berilah pengertian pada anak untuk menerima pertumbuhan dan perkembangan dirinya dan setiap orang memiliki kecepatan pertumbuhan yang juga berbeda-beda.

Alat Kelamin Luar
DEFINISI Alat kelamin luar termasuk bukit pubis, labia mayor, labia minor, kelenjar bartholin, dan klitoris. Daerah yang mengandung alat-alat ini disebut vulva. Alat kelamin luar memiliki 3 fungsi utama :
• • •

Memungkinkan sperma untuk masuk ke dalam tubuh. Melindungi alat kelamin dalam dari infeksi organisme. Menyediakan kenikmatan seks.

Bukit pubis adalah gundukan bulat pada jaringan lemak yang menutupi tulang pubis. Selama pubertas, bukit pubis menjadi tertutup oleh rambut. Bukit pubic mengandung kelenjar oil-secreting (sebaceous) yang mengeluarkan zat yang berhubungan dengan

atraksi seks (pheromones). Labia mayor (secara harafiah, bibir besar) secara relatif besar, lipatan daging pada jaringan yang memasukkan dan melindungi organ kelamin luar lainnya. Mereka dapat dibandingkan dengan skrotum pada pria. Labia mayor tersebut mengadung keringat dan kelenjar sebaceous, yang menghasilkan pengeluaran pelicin. Setelah pubertas, rambut tampak pada labia mayor. Labia minor (secara harafiah, bibir kecil) bisa menjadi sangat kecil atau hingga 2 inci lebarnya. Labia minora tersebut berada hanya di dalam labia majora dan mengelilingi pembukaan menuju vagina dan uretra. Banyaknya suplai pembuluh darah memberi labia minor warna merah jambu. Selama rangsangan seks, pembuluh darah ini menjadi dipenuhi dengan darah, menyebabkan labia minora menjadi bengkak dan menjadi lebih peka terhadap rangsangan. Daerah di antara pembukaan vagina dan anus, di bawah labia mayor, disebut perineum. Hal ini bervariasi panjangnya dari hampir 1 sampai lebih dari 2 inci (2 sampai 5 cm). Labia mayor dan perineum dilindungi oleh kulit yang mirip dengan kulit tubuh. Kulit tersebut adalah tebal, kering, dan Organ kelamin Luar wanita kadangkala bersisik. Sebaliknya, labia minor tersebut dilapisi dengan selaput lendir, yang permukaannya tetap lembab oleh cairan yang dikeluarkan oleh sel khusus. Pembukaan pada vagina disebut introitus. Pembukaan vagina adalah jalan masuk untuk penis selama hubungan seks dan jalan keluar untuk darah menstruasi dan melahirkan bayi. Ketika dirangsang, kelenjar bartholin (terletak di samping pembukaan vagina) mengeluarkan cairan tebal yang mensuplai pelumas untuk hubungan seks. Pembukaan menuju urethra, yang membawa urin dari kandung kemih menuju luar, terletak di atas dan di depan pembukaan vagina. Klitoris, terletak di antara labia minor pada ujung bagian atas mereka, adalah tonjolan kecil yang sesuai dengan penis pada laki-laki. Klitoris, seperti penis, sangat peka terhadap rangsangan seks dan bisa ereksi. Perangsangan klitoris bisa menghasilkan orgasme.

GANGGUAN PADA SISTEM REPRODUKSI
Vaginitis & Vulvitis
DEFINISI Vaginitis adalah suatu peradangan pada lapisan vagina. Vulvitis adalah suatu peradangan pada vulva (organ kelamin luar wanita). Vulvovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina. PENYEBAB Penyebabnya bisa berupa: 1. Infeksi - Bakteri (misalnya klamidia, gonokokus) - Jamur (misalnya kandida), terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai antibiotik - Protozoa (misalnya Trichomonas vaginalis) - Virus (misalnya virus papiloma manusia dan virus herpes). 2. Zat atau benda yang bersifat iritatif - Spermisida, pelumas, kondom, diafragma, penutup serviks dan spons - Sabun cuci dan pelembut pakaian - Deodoran - Zat di dalam air mandi - Pembilas vagina - Pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berpori-pori dan tidak menyerap keringat 3. 4. 5. 6. - Tinja Tumor ataupun jaringan abnormal lainnya Terapi penyinaran Obat-obatan Perubahan hormonal.

GEJALA Gejala yang paling sering ditemukan adalah keluarnya cairan abnormal dari vagina.

Dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak, baunya menyengat atau disertai gatalgatal dan nyeri. Cairan yang abnormal sering tampak lebih kental dibandingkan cairan yang normal dan warnanya bermacam-macam. Misalnya bisa seperti keju, atau kuning kehijauan atau kemerahan. Infeksi vagina karena bakteri cenderung mengeluarkan cairan berwarna putih, abu-abu atau keruh kekuningan dan berbau amis. Setelah melakukan hubungan seksual atau mencuci vagina dengan sabun, bau cairannya semakin menyengat karena terjadi penurunan keasaman vagina sehingga bakteri semakin banyak yang tumbuh. Vulva terasa agak gatal dan mengalami iritasi. Infeksi jamur menyebabkan gatal-gatal sedang sampai hebat dan rasa terbakar pada vulva dan vagina. Kulit tampak merah dan terasa kasar. Dari vagina keluar cairan kental seperti keju. Infeksi ini cenderung berulang pada wanita penderita diabetes dan wanita yang mengkonsumsi antibiotik. Infeksi karena Trichomonas vaginalis menghasilkan cairan berbusa yang berwarna putih, hijau keabuan atau kekuningan dengan bau yang tidak sedap. Gatal-gatalnya sangat hebat. Cairan yang encer dan terutama jika mengandung darah, bisa disebakan oleh kanker vagina, serviks (leher rahim) atau endometrium. Polip pada serviks bisa menyebabkan perdarahan vagina setelah melakukan hubungan seksual. Rasa gatal atau rasa tidak enak pada vulva bisa disebabkan oleh infeksi virus papiloma manusia maupun karsinoma in situ (kanker stadium awal yang belum menyebar ke daerah lain). Luka terbuka yang menimbulkan nyeri di vulva bisa disebabkan oleh infeksi herpes atau abses. Luka terbuka tanpa rasa nyeri bisa disebabkan ole kanker atau sifilis. Kutu kemaluan (pedikulosis pubis) bisa menyebabkan gatal-gatal di daerah vulva. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan karakteristik cairan yang keluar dari vagina. Contoh cairan juga diperiksa dengan mikroskop dan dibiakkan untuk mengetahui organisme penyebabnya. Untuk mengetahui adanya keganasan, dilakukan pemeriksaan Pap smear. Pada vulvitis menahun yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan biasanya dilakukan pemeriksaan biopsi jaringan.

PENGOBATAN Jika cairan yang keluar dari vagina normal, kadang pembilasan dengan air bisa membantu mengurangi jumlah cairan. Cairan vagina akibat vaginitis perlu diobati secara khusus sesuai dengan penyebabnya. Jika penyebabnya adalah infeksi, diberikan antibiotik, anti-jamur atau anti-virus, tergantung kepada organisme penyebabnya. Untuk mengendalikan gejalanya bisa dilakukan pembilasan vagina dengan campuran cuka dan air. Tetapi pembilasan ini tidak boleh dilakukan terlalu lama dan terlalu sering karena bisa meningkatkan resiko terjadinya peradangan panggul. Jika akibat infeksi labia (lipatan kulit di sekitar vagina dan uretra) menjadi menempel satu sama lain, bisa dioleskan krim estrogen selama 7-10 hari. Selain antibiotik, untuk infeksi bakteri juga diberikan jeli asam propionat agar cairan vagina lebih asam sehingga mengurangi pertumbuhan bakteri. Pada infeksi menular seksual, untuk mencegah berulangnya infeksi, kedua pasangan seksual diobati pada saat yang sama. Penipisan lapisan vagina pasca menopause diatasi dengan terapi sulih estrogen. Estrogen bisa diberikan dalam bentuk tablet, plester kulit maupun krim yang dioleskan langsung ke vulva dan vagina. Pengobatan Umum Untuk Vaginitis & Vulvitis Jenis infeksi Jamur Pengobatan  Miconazole, clotrimazole, butoconazole atau terconazole (krim, tablet vagina atau supositoria)  Fluconazole atau ketoconazole< (tablet) Biasanya metronidazole atau clindamycin (tablet vagina) atau metronidazole (tablet). Jika penyebabnya gonokokus biasanya diberikan suntikan ceftriaxon & tablet doxicyclin Doxicyclin atau azithromycin (tablet) Metronidazole (tablet) Asam triklorasetat (dioleskan ke kutil), untuk infeksi yg berat digunakan larutan nitrogen atau fluorouracil (dioleskan ke kutil) Acyclovir (tablet atau salep)

Bakteri

Klamidia Trikomonas Virus papiloma manusia (kutil genitalis) Virus herpes

Selain obat-obatan, penderita juga sebaiknya memakai pakaian dalam yang tidak terlalu ketat dan menyerap keringat sehingga sirkulasi udara tetap terjaga (misalnya terbuat dari katun) serta menjaga kebersihan vulva (sebaiknya gunakan sabun gliserin). Untuk mengurangi nyeri dan gatal-gatal bisa dibantu dengan kompres dingin pada vulva atau berendam dalam air dingin. Untuk mengurangi gatal-gatal yang bukan disebabkan oleh infeksi bisa dioleskan krim atau salep corticosteroid dan antihistamin per-oral (tablet). Krim atau tablet acyclovir diberikan untuk mengurangi gejala dan memperpendek lamanya infeksi herpes. Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan obat pereda nyeri.

Penyakit Radang Panggul
DEFINISI Penyakit Radang Panggul (Salpingitis, PID, Pelvic Inflammatory Disease) adalah suatu peradangan pada tuba falopii (saluran menghubungkan indung telur dengan rahim). Peradangan tuba falopii terutama terjadi pada wanita yang secara seksual aktif. Resiko terutama ditemukan pada wanita yang memakai IUD. Bisasanya peradangan menyerang kedua tuba. Infeksi bisa menyebar ke rongga perut dan menyebabkan peritonitis. PENYEBAB Peradangan biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, dimana bakteri masuk melalui vagina dan bergerak ke rahim lalu ke tuba falopii. 90-95% kasus PID disebabkan oleh bakteri yang juga menyebabkan terjadinya penyakit menular seksual (misalnya klamidia, gonore, mikoplasma, stafilokokus, streptokokus). Infeksi ini jarang terjadi sebelum siklus menstruasi pertama, setelah menopause maupun selama kehamilan. Penularan yang utama terjadi melalui hubungan seksual, tetapi bakteri juga bisa masuk ke dalam tubuh setelah prosedur kebidanan/kandungan (misalnya pemasangan IUD, persalinan, keguguran, aborsi dan biopsi endometrium). Penyebab lainnya yang lebih jarang terjadi adalah:  Aktinomikosis (infeksi bakteri)  Skistosomiasis (infeksi parasit)  Tuberkulosis.

 Penyuntikan zat warna pada pemeriksaan rontgen khusus. Faktor resiko terjadinya PID:  Aktivitas seksual pada masa remaja  Berganti-ganti pasangan seksual  Pernah menderita PID  Pernah menderita penyakit menular seksual  Pemakaian alat kontrasepsi yang bukan penghalang. GEJALA Gejala biasanya muncul segera setelah siklus menstruasi. Penderita merasakan nyeri pada perut bagian bawah yang semakin memburuk dan disertai oleh mual atau muntah. Biasanya infeksi akan menyumbat tuba falopii. Tuba yang tersumbat bisa membengkak dan terisi cairan. Sebagai akibatnya bisa terjadi nyeri menahun, perdarahan menstruasi yang tidak teratur dan kemandulan. Infeksi bisa menyebar ke struktur di sekitarnya, menyebabkan terbentuknya jaringan parut dan perlengketan fibrosa yang abnormal diantara organ-organ perut serta menyebabkan nyeri menahun. Di dalam tuba, ovarium maupun panggul bisa terbentuk abses (penimbunan nanah). Jika abses pecah dan nanah masuk ke rongga panggul, gejalanya segera memburuk dan penderita bisa mengalami syok. Lebih jauh lagi bisa terjadi penyebaran infeksi ke dalam darah sehingga terjadi sepsis. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada PID:  Keluar cairan dari vagina dengan warna, konsistensi dan bau yang abnormal  Demam  Perdarahan menstruasi yang tidak teratur atau spotting (bercak-bercak kemerahan di celana dalam  Kram karena menstruasi  Nyeri ketika melakukan hubungan seksual  Perdarahan setelah melakukan hubungan seksual  Nyeri punggung bagian bawah  Kelelahan  Nafsu makan berkurang  Sering berkemih  Nyeri ketika berkemih. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Dilakukan pemeriksaan panggul dan perabaan perut. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:  Pemeriksaan darah lengkap

   

Pemeriksan cairan dari serviks Kuldosentesis Laparoskopi USG panggul.

PENGOBATAN PID tanpa komplikasi bisa diobati dengan antibiotik dan penderita tidak perlu dirawat. Jika terjadi komplikasi atau penyebaran infeksi, maka penderita harus dirawat di rumah sakit. Antibiotik diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah) lalu diberikan per-oral (melalui mulut). Jika tidak ada respon terhadap pemberian antibiotik, mungkin perlu dilakukan pembedahan. Pasangan seksual penderita sebaiknya juga menjalani pengobatan secara bersamaan dan selama menjalani pengobatan jika melakukan hubungan seksual, pasangan penderita sebaiknya menggunakan kondom.

Endometriosis
DEFINISI Endometriosis adalah suatu penyakit dimana bercak-bercak jaringan endometrium tumbuh di luar rahim, padahal dalam keadaan normal endometrium hanya ditemukan di dalam lapisan rahim. Biasanya endometriosis terbatas pada lapisan rongga perut atau permukaan organ perut. Endometrium yang salah tempat ini biasanya melekat pada ovarium (indung telur) dan ligamen penyokong rahim. Endometrium juga bisa melekat pada lapisan luar usus halus dan usus besar, ureter (saluran yang menghubungan ginjal dengan kandung kemih), kandung kemih, vagina, jaringan parut di dalam perut atau lapisan rongga dada. Kadang jaringan endometrium tumbuh di dalam paru-paru. Endometriosis bisa diturunkan dan lebih sering ditemukan pada keturunan pertama (ibu, anak perempuan, saudara perempuan). Faktor lain yang meningkatkan resiko terjadinya endometriosis adalah memiliki rahim yang abnormal, melahirkan pertama kali pada usia diatas 30 tahun dan kulit putih. Endometriosis diperkirakan terjadi pada 10-15% wanita subur yang berusia 25-44 tahun, 25-50% wanita mandul dan bisa juga terjadi pada usia remaja. Endometriosis yang berat bisa menyebabkan kemandulan karena menghalangi jalannya sel telur dari ovarium ke rahim. PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui, tetapi beberapa ahli mengemukakan teori berikut:

1. Teori menstruasi retrograd (menstruasi yang bergerak mundur) Sel-sel endometrium yang dilepaskan pada saat menstruasi bergerak mundur ke tuba falopii lalu masuk ke dalam panggul atau perut dan tumbuh di dalam rongga panggul/perut. 2. Teori sistem kekebalan Kelainan sistem kekebalan menyebabkan jaringan menstruasi tumbuh di daerah selain rahim. 3. Teori genetik Keluarga tertentu memiliki faktor tertentu yang menyebabkan kepekaan yang tinggi terhadap endometriosis. Setiap bulan ovarium menghasilkan hormon yang merangsang sel-sel pada lapisan rahim untuk membengkak dan menebal (sebagai persiapan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan). Endometriosis juga memberikan respon yang sama terhadap sinyal ini, tetapi mereka tidak mampu memisahkan dirinya dari jaringan dan terlepas selama menstruasi. Kadang terjadi perdarahan ringan tetapi akan segera membaik dan kembali dirangsang pada siklus menstruasi berikutnya. Proses yang berlangsung terus menerus ini menyebabkan pembentukan jaringan parut dan perlengketan di dalam tuba dan ovarium, serta di sekitar fimbrie tuba. Perlengketan ini bisa menyebabkan pelepasan sel telur dari ovarium ke dalam tuba falopii terganggu atau tidak terlaksana. Selain itu, perlengketan juga bisa menyebabkan terhalangnya perjalanan sel telur yang telah dibuahi menuju ke rahim. Resiko tinggi terjadinya endometriosis ditemukan pada:  Wanita yang ibu atau saudara perempuannya menderita endometriosis  Siklus menstuasi 27 hari atau kurang  Menarke (menstruasi yang pertama) terjadi lebih awal  Menstruasi berlangsung selama 7 hari atau lebih  Orgasme ketika menstruasi. GEJALA Endometriosis bisa menyebabkan:  Nyeri di perut bagian bawah dan di daerah panggul  Menstruasi yang tidak teratur (misalnya spotting sebelum menstruasi)  Kemandulan  Dispareunia (nyeri ketika melakukan hubungan seksual). Jaringan endometrium yang melekat pada usus besar atau kandung kemih bisa menyebabkan pembengkakan perut, nyeri ketika buang air besar, perdarahan melalui rektum selama menstruasi atau nyeri perut bagian bawah ketika berkemih. Jaringan endometrium yang melekat pada ovarium atau struktur di sekitar ovarium bisa membentuk massa yang terisi darah (endometrioma). Kadang endometrioma pecah dan menyebabkan nyeri perut tajam yang timbul secara tiba-tiba. Kadang tidak ditemukan gejala sama sekali.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan panggul akan teraba adanya benjolan lunak yang seringkali ditemukan di dinding belakang vagina atau di daerah ovarium. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:  Laparoskopi  Biopsi endometrium  USG rahim  Barium enema  CT scan atau MRI perut. PENGOBATAN Pengobatan tergantung kepada gejala, rencana kehamilan, usia penderita dan beratnya penyakit. Obat-obatan yang dapat menekan aktivitas ovarium dan memperlambat pertumbuhan jaringan endometrium adalah pil KB kombinasi, progestin, danazole dan agonis GnRH. Agonis GnRH adalah zat yang pada mulanya merangsang pelepasan hormon gonadotropin dari kelenjar hipofisa, tetapis elelah diberikan lebih dari beberapa minggu akan menekan pelepasan gonadotropin. . Pada endometriosis sedang atau berat mungkin perlu dilakukan pembedahan. Endometriosis diangkat sebanyak mungkin, yang seringkali dilakukan pada prosedur laparoskopi. Pembedahan biasanya dilakukan pada kasus berikut: - bercak jaringan endometrium memiliki garis tengah yang lebih besar dari 3,8-5 cm - perlengketan yang berarti di perut bagian bawah atau panggul - jaringan endometrium menyumbat salah satu atau kedua tuba - jaringan endometrium menyebabkan nyeri perut atau panggul yang sangat hebat, yang

tidak dapat diatasi dengan obat-obatan. Untuk membuang jaringan endometrium kadang digunakan elektrokauter atau sinar laser. Tetapi pembedahan hanya merupakan tindakan sementara, karena endometriosis sering berulang. Ovarektomi (pengangkatan ovarium) dan histerektomi (pengangkatan rahim) hanya dilakukan jika nyeri perut atau panggul tidak dapat dihilangkan dengan obat-obatan dan penderita tidak ada rencana untuk hamil lagi. Setelah pembedahan, diberikan terapi sulih estrogen. Terapi bisa dimulai segera setelah pembedahan atau jika jaringan endometrium yang tersisa masih banyak, maka terapi baru dilakukan 4-6 bulan setelah pembedahan. Pilihan pengobatan untuk endometriosis: 1. Obat-obatan yang menekan aktivitas ovarium dan memperlambat pertumbuhan jaringan endometrium 2. Pembedahan untuk membuang sebanyak mungkin endometriosis 3. Kombinasi obat-obatan dan pembedahan 4. Histerektomi, seringkali disertai dengan pengangkatan tuba falopii dan ovarium. Obat-obatan yang biasa digunakan untuk mengobati endometriosis Obat Pil KB kombinasi estrogenprogestin Progestin Efek samping Pembengkakan perut, nyeri payudara, peningkatan nafsu makan, pembengkakan pergelangan kaki, mual, perdarahan diantara 2 siklus menstruasi, trombosis vena dalam Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi, perubahan suasana hati, depresi, vaginitis atrofika Penambahan berat badan, suara lebih berat, pertumbuhan rambut, hot flashes, vagina kering, pembengkakan pergelangan kaki, kram otot, perdarahan diantara 2 siklus, payudara mengecil, perubahan suasana hati, kelainan fungsi hati, sindroma terowongan karpal Hot flashes, vagina kering, pengeroposan tulang, perubahan suasana hati

Danazole

Agonis GnRH

DISMENOROE

Nyeri haid merupakan keadaan yang normal terjadi pada pasien yang mengalami menstruasi. Namun tak jarang nyeri haid menjadi suatu tanda adanya gangguan pada organ reproduksi wanita, endometriosis salah satunya.

Endometriosis merupakan kondisi medis pada wanita yang ditandai dengan tumbuhnya sel endometrium di luar kandung rahim. Kandung rahim dilapisi oleh sel endometrium yang sangat berpengaruh terhadap hormon wanita. Normalnya, sel endometrium rahim akan menebal selama siklus kewanitaan berlangsung agar nantinya siap untuk menerima hasil pembuahan antara sel telur dan sperma. Bila sel telur tidak mengalami pembuahan, maka sel endometrium yang menebal akan meluruh dan keluar sebagai darah menstruasi. Pada endometriosis, sel endometrium yang semula berada dalam rahim akan berpindah dan tumbuh di luar kandung rahim. Sel ini bisa saja tumbuh dan berpindah ke ovarium, saluran telur (tuba fallopi), belakang rahim, ligamentum uterus bahkan dapat sampai ke usus dan kandung kencing. Sel endometrium ini memiliki respon yang sama seperti sel endometrium pada rahim dan sangat berpengaruh terhadap hormon kewanitaan. Pada saat menstruasi berlangsung, selsel endometrium yang berpindah ini akan mengelupas dan menimbulkan perasaan nyeri di sekitar panggul.

Umumnya, penyakit endometriosis muncul pada usia reproduktif. Angka kejadian endometriosis mencapai 5-10% pada wanita umumnya dan lebih dari 50% terjadi pada wanita perimenopause. Gejala endometriosis sangat tergantung pada letak sel endometrium ini berpindah. Yang paling menonjol adalah adanya nyeri pada panggul, sehingga hampir 71-87% kasus didiagnosa akibat keluhan nyeri kronis hebat pada saat haid, dan hanya 38% yang muncul akibat keluhan infertile (mandul). Tetapi ada juga yang melaporkan pernah terjadi pada masa menopause dan bahkan ada yang melaporkan terjadi pada 40% pasien histerektomi (pengangkatan rahim). Beberapa studi juga mengatakan bahwa wanita jepang mempunyai prevalensi yang lebih besar diantara wanita kauskasia. Selain itu juga 10% endometriosis ini dapat muncul pada mereka yang mempunyai riwayat endometriosis di keluarganya.

Gejala dari endometriosis ini bervariasi dan tidak bisa diprediksi. Nyeri haid (dismenorea), nyeri pinggang yang kronis, nyeri pada saat berhubungan (dispareunea), kemandulan (infertile) merupakan gejala yang umum terjadi. Banyak spekulasi dari berbagai peneliti mengenai nyeri yang timbul. Pada dasarnya, nyeri pada endometriosis muncul sebagai akibat materi peradangan yang dihasilkan oleh endometriosis yang aktif. Sel endometrium yang berpindah tadi akan terkelupas dan terlokalisir di suatu tempat dan merangsang respon inflamasi dengan melepaskan materi citokin sehingga muncul perasaan nyeri. Selain itu, nyeri juga dapat ditimbulkan akibat sel endemetrium yang berpindah tersebut menyebabkan jaringan parut di tempat perlekatannya dan menimbulkan perlengkatan organ, seperti ovarium, ligamentum ovarium, saluran telur (tuba fallopi), usus, kandung kencing dll. Perlengketan ini akan merusak organ tersebut dan menimbulkan nyeri yang hebat di sekitar panggul. Endometriosis ditemukan pada 25% wanita infertil (mandul) dan diperkirakan 50% – 60% dari kasus endometriosis akan menjadi infertil (mandul). Endometriosis yang invasiv akan menimbulkan kemandulan akibat berkurangnya fungsi rahim dan adanya pelengketan pada tuba dan ovarium. Namun beberapa teori mengatakan bahwa endometriosis akan menghasilkan prostaglandin dan materi peradangan yang lain yang dapat mengganggu fungsi dari organ reproduksi seperti kontraksi atau spasme. Disebutkan juga pada endometriosis fungsi tuba fallopi dalam melakukan pengambilan sel telur dari ovarium menjadi terganggu. Bahkan dapat merusak epitel dinding rahim dan menyebabkan kegagalan dalam implantasi hasil pembuahan (sehingga pasien dengan endometriosis memiliki riwayat abortus 3 kali lebih besar dari orang normal).

Secara garis besar endometriosis ini dibagi menjadi empat tingkatan berdasarkan beratnya penyakit, • • Stage 1 Lesi besrsifat superficial, ada perlengketan di permukaan saja Stage 2 Adanya pelengketan sampai di daerah cul-de-sac

• •

Stage 3 Sama seperti stage 2, namun disertai endometrioma yang kecil pada ovarium dan ada perlengketan juga yang lebih banyak. Stage 4 Sama seperti stage 3, namun disertai endometrioma yang besar dan perlengketan yang sangat luas.

Anda perlu berkunjung ke dokter untuk mengetahui adanya penyakit endometriosis ini. Biasanya, dengan wawancara (anamnesis) dan pemeriksaan fisik, endometriosis dapat diketahui. Pada pasien dengan endometriosis, saat dilakukan pemeriksaan fisik, akan ditemukan nodul pada ligamen uterus. Selain itu, nodul juga ditemukan pada uterosacral. Rasa nyeri dialami pasien saat pemeriksaan berlangsung. Pemeriksaan penunjang laindibutuhkan untuk memastikan diagnosa endometriosis, seperti USG (ultrasonografi) dan MRI (magnetic resonance imaging). Pada beberapa kasus endometriosis, pasien mendapatkan hasil negatif dari pemeriksaan penunjang sehingga dibutuhkan pemeriksaan yang lebih akurat. Pemeriksaan yang lebih akurat tersebut yaitu laparoskopi dengan biopsy serta pemeriksaan tumor marker CA-125.

Harus disadari bahwa endometriosis bersifat progresif dan berulang, sehingga pengankatan rahim (histerektomi) dan kedua saluran telur menjadi pilihan yang paling mungkin untuk menghilangkan endemetriosisnya. Namun tindakan ini tidak mungkin dilakukan pada mereka yang masih ingin mempunyai keturunan atau belum menikah. Sehingga pilihan tepat yang dapat dilakukan yaitu menggunakan obatobatan. Terapi dapat dilakukan menggunakan: • • Nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAID/obat antiinflamasi nonsteroid). NSAID tidak hanya mengurangi nyeri, namun dapat mengurangi perdarahan yang terjadi. Pada kasus yang berat, diperkenankan penggunaan morfin. Progesterone atau progestin Progesterone dapat “melawan” aktivitas estrogen dan mencegah terjadinya penebalan pada endometrium. Progestin merupakan zat kimia turunan progesterone. Menghindari segala bentuk bahan yang bersifat estrogenik. Kontrasepsi oral Terapi kontrasepsi oral dapat mengurangi nyeri yang berhubungan dengan endometriosis. Kontrasepsi oral akan menekan LH dan FSH untuk mencegah terjadinya ovulasi sehingga endometrium tidak menebal. Kontrasepsi oral (Pil KB) dapat menekan keluhan nyeri hingga 75% pada penderita endometriosis. o Pil KB ini dapat diminum secara kontinyu atau sesuai siklus menstruasi dan dapat dihentikan setelah 6 sampai 12 siklus. o Efek samping yang mungkin muncul adalah nyeri kepala, mual dan hipertensi. o Pil ini diminum sesuai dengan aturan, dengan tidak meminum pil placebonya.

• •

Danazole (steroid) yang bekerja dengan menciptakan suasana androgenik, dapat menekan pertumbuhan endometriosis. Namun ada efek samping yang muncul seperti hirsutisme (pertumbuhan rambut berlebih pada wanita dengan distribusi seperti laki-laki), acne, dll. Lupron (GnRH agonis) bekerja dengan meningkatkan kadar GnRH di darah, seingga kadar LH dan FSH turun, namun efek samping yang mungkin muncul adalah munculnya osteoporosis. Dapat digunakan hanya 6 bulan saja. Dosis yang diberikan 11,25 mg untuk 3 bulan, kemudian dilanjutkan sebukan sekali selama 6 bulan 3,75 mg. Aromatase inhibitor merupakan pengobatan yang memblok peroduksi dari estrogen.

Pengobatan dengan pembedahan dibagi menjadi 3 kelompok • Pembedahan konservatif, dilakukan jika organ reproduksi masih diperlukan, tindakan ini dilakukan dengan jalan mengeksisi, mengangkat jaringan endometriosisnya saja, dan menjaga organ panggul tetap dalam keadaan baik. Semi konservatif , jika fungsi ovarium masih dibutuhkan. Pembedahan radikal, jika rahim indung telur dan ovarium diangkat total, ini dilakukan pada pasien yang mengalami nyeri hebat dan sudah resisten dengan medikamentosa (obat-obatan), serta sudah tidak menginginkan keturunan lagi. Tetapi tindakan radikal ini juga tidak menjamin pasien akan terbebas dari masalah nyeri.

• •

Faktor yang menentukan kesembuhan penyakit ini sangat bergantung dari pasien. Hal ini dikarenakan belum ada penanganan yang benar-benar dapat membebaskan pasien endometriosis dari nyeri yang hebat. Perlu diingat, penanganan dengan melakukan operasi awal laparoskopi sangat diperlukan untuk menentukan tingkat keparahan endometriosis sehingga dapat dijadikan acuan dalam pemberian terapi. Adanya keinginan pasien untuk terbebas dari nyeri dan keinginannya memiliki keturunan memerlukan pertimbangan bagi dokter dalam memilih terapi pada pasien. Angka kekambuhan endometriosis ini sangat besar yaitu 5-20%, bahkan mencapai 40%, kecuali dilakukan histerektomi pada pasien atau pasien sudah memasuki masa menopause. Endometriosis ini jarang menjadi ganas dan tidak ada hubungannya dengan kanker endometrial. Kurang dari 50 kasus keganasan ovarium muncul dari kasus endometriosis dan kebanyakan dari kasus ini telah menjadi adenoakantomas. So, jangan sepelekan nyeri haid bila tanda endometriosis telah anda rasakan. (rsm) Tentang Dr. Ryan Saktika Mulyana , S Ked

Penulis merupakan dokter muda kelahiran Bali lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali. Penulis merupakan praktisi di Rumah Sakit Prima Medika.

Selain itu penulis juga merupakan dokter on call di beberapa hotel di Bali di antaranya Grand-Hyatt hotel dan Intercontinental-Bali Resort.

Nyeri Panggul
DEFINISI Nyeri Panggul adalah nyeri yang dirasakan di batang tubuh paling bawah, yaitu di bawah perut dan diantara tulang pinggul. Di dalam panggul terdapat rahim, tuba falopii, ovarium, vagina, kandung kemih dan rektum. Wanita seringkali mengalami nyeri di daerh panggul, yang jenis dan beratnya bervariasi. PENYEBAB Penyebab yang berhubungan dengan sistem reproduksi:  Kehamilan diluar kandungan (kehamilan ektopik)  Endometriosis  Fibroid  Kista ovarium yang besar atau kista ovarium yang pecah  Mittleschmerz (nyeri pada pertengahan siklus menstruasi akibat terjadinya ovulasi)  Kongesti panggul  Penyakit peradangan panggul  Robekan pada tuba falopii  Ovarium yang terpuntir. Penyebab yang tidak berhubungan dengan sistem reproduksi:  Apendisitis  Sistitis (peradangan kandung kemih)  Divertikulitis (peradangan atau infeksi pada satu atau beberapa divertikula/kantong abnormal pada usus besar)  Gastroenteritis (peradangan lambung dan usus)  Ileitis (peradangan usus halus)  Penyakit peradangan saluran cerna  Limfadenitis mesenterika (peradangan kelenjar getah bening pada selaput yang menghubungkan organ dengan dinding perut)  Kolik renalis (nyrei di punggung, biasanya akibat penyumbatan saluran kemih). GEJALA Nyeri dirasakan di bawah perut, diantara tulang pinggul. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik (selalu dilakukan pemeriksaan panggul).

Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:  Pemeriksan darah lengkap  Analisa air kemih  Tes kehamilan  USG, CT scan maupun MRI organ dalam panggul  Laparoskopi. PENGOBATAN Pengobatan tergantung kepada penyebabnya.

Fibroid
DEFINISI Fibroid (Leiomioma, Fibromioma, Mioma) adalah tumor jinak pada dinding rahim yang terdiri dari otot dan jaringan fibrosa. Fibroid terjadi pada 20% wanita berusia 35 tahun dan lebih sering ditemukan pada wanita berkulit hitam. Ukurannya bervariasi, mulai dari yang tak terlihat sampai sebesar buah semangka. PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui, tapi tampaknya dipengaruhi oleh kadar estrogen. Fibroid seringkali bertambah besar selama kehamilan dan mengecil setelah menopause. Selama penderita masih mengalami siklus menstruasi, kemungkinan fibroid akan terus tumbuh meskipun pertumbuhannya sangat lambat. Bisa hanya ditemukan 1 fibroid, tetapi bisa juga tumbuh beberapa buah fibroid. GEJALA Meskipun ukurannya besar, fibroid mungkin tidak menimbulkan gejala. Gejalanya tergantung kepada jumlah fibroid, ukuran dan lokasinya di rahim. Gejala bisa berupa:  Perdarahan menstruasi yang banyak atau lama  Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi  Nyeri, tekanan atau perasaan berat di daerah panggul selama atau diantara 2 siklus menstruasi  Sering berkemih  Perut membengkak  Kemandulan akibat penyumbatan tuba falopii atau distorsi rongga rahim.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan panggul, rahim teraba membesar atau teraba adanya massa padat dengan bentuk yang tidak beraturan. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan adalah:  Biopsi jaringan endometrium  Histeroskopi  USG transvagina atau USG panggul  Laparoskopi panggul. PENGOBATAN Kebanyakan kasus fibroid tidak memerlukan pengobatan, tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan rutin setiap 6-12 bulan. Pengobatan yang dilakukan tergantung kepada beratnya gejala, usia penderita, status kehamilan, rencana kehamilan pada masa yang akan datang, kesehatan menyeluruh dan karakteristik fibroid. Obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen atau naproxen) diberikan untuk mengatasi kram perut bagian bawah atau nyeri selama menstruasi. Pada penderita yang mengalami perdarahan menstruasi yang hebat bisa diberikan zat besi untuk membantu mencegah terjadinya anemia. Cara tersebut biasanya diterapkan pada wanita yang belum masuk masa menopause. Miomektomi (pengangkatan mioma) biasanya merupakan pilihan bagi penderita yang belum mengalami menopause dan memiliki rencana untuk hamil lagi karena biasanya kesuburan tetap terjaga. Miomektomi dilakukan jika ukurannya terus membesar atau menyebabkan gejala yang tidak dapat ditolerir oleh penderita. Keuntungan lain dari miomektomi adalah bisa mengurangi nyeri atau perdarahan hebat. Beberapa bulan sebelum menjalani pembedahan, diberikan hormon untuk memperkecil ukuran fibroid. Pembedahan tidak boleh dilakukan selama kehamilan karena bisa menyebabkan

keguguran dan kehilangan darah yang banyak. Histerektomi (pengangkatan seluruh rahim) dilakukan jika: - perdarahan menstruasi sangat berat - nyeri hebat - pertumbuhan fibroid sangat cepat - fibroid yang besar mengalami infeksi atau terpuntir. Embolisasi arteri rahim merupakan prosedur baru, dimana sebuah selang kecil dimasukkan melalui vena di selangkangan lalu ke dalam arteri yang menuju ke rahim. Melalui selang ini disuntikkan zat untuk menyumbat arteri secara permanen. Berkurangnya aliran darah ke rahim diharapkan bisa mencegah pertumbuhan tumor lebih lanjut dan akhirnya tumor mengecil. Efek jangka panjang dan keamanan kehamilan setelah prosedur ini masih belum diketahui.

Kanker Leher Rahim (serviks)
DEFINISI Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim. PENYEBAB Kanker serviks terjadi jika sel-sel serviks menjadi abnormal dan membelah secara tak terkendali. Jika sel serviks terus membelah maka akan terbentuk suatu massa jaringan yang disebut tumor yang bisa bersifat jinak atau ganas. Jika tumor tersebut ganas, maka keadaannya disebut kanker serviks. Penyebab terjadinya kelainan pada sel-sel serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks: 1. HPV (human papillomavirus) HPV adalah virus penyebab kutil genitalis (kondiloma akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16, 18, 45 dan 56.

2. Merokok Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks. 3. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini 4. Berganti-ganti pasangan seksual 5. Suami/pasangan seksualnya melakukan hubungan seksual pertama pada usia di bawah 18 tahun, berganti-ganti pasangan dan pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks 6. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran (banyak digunakan pada tahun 1940-1970) 7. Gangguan sistem kekebalan 8. Pemakaian pil KB 9. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun 10. Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan Pap smear secara rutin) Keadaan Prekanker Pada Serviks Sel-sel pada permukaan serviks kadang tampak abnormal tetapi tidak ganas. Para ilmuwan yakin bahwa beberapa perubahan abnormal pada sel-sel serviks merupakan langkah awal dari serangkaian perubahan yang berjalan lambat, yang beberapa tahun kemudian bisa menyebabkan kanker. Karena itu beberapa perubahan abnormal merupakan keadaan prekanker, yang bisa berubah menjadi kanker. Saat ini telah digunakan istilah yang berbeda untuk perubahan abnormal pada sel-sel di permukaan serviks, salah satu diantaranya adalah lesi skuamosa intraepitel (lesi artinya kelainan jaringan, intraepitel artinya sel-sel yang abnormal hanya ditemukan di lapisan permukaan). Perubahan pada sel-sel ini bisa dibagi ke dalam 2 kelompok: 1. Lesi tingkat rendah : merupakan perubahan dini pada ukuran, bentuk dan jumlah sel yang membentuk permukaan serviks. Beberapa lesi tingkat rendah menghilang dengan sendirinya. Tetapi yang lainnya tumbuh menjadi lebih besar dan lebih abnormal, membentuk lesi tingkat tinggi. Lesi tingkat rendah juga disebut displasia ringan atau neoplasia intraepitel servikal 1 (NIS 1). Lesi tingkat rendah paling sering ditemukan pada wanita yang berusia 25-35 tahun, tetapi juga bisa terjadi pada semua kelompok umur. 2. Lesi tingkat tinggi : ditemukan sejumlah besar sel prekanker yang tampak sangat berbeda dari sel yang normal. Perubahan prekanker ini hanya terjadi pada sel di permukaan serviks. Selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sel-sel tersebut tidak akan menjadi ganas dan tidak akan menyusup ke lapisan serviks yang lebih dalam.

Lesi tingkat tinggi juga disebut displasia menengah atau displasia berat, NIS 2 atau 3, atau karsinoma in situ. Lesi tingkat tinggi paling sering ditemukan pada wanita yang berusia 30-40 tahun. Jika sel-sel abnormal menyebar lebih dalam ke dalam serviks atau ke jaringan maupun organ lainnya, mada keadaannya disebut kanker serviks atau kanker serviks invasif. Kanker serviks paling sering ditemukan pada usia diatas 40 tahun. GEJALA Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak menimbulkan gejala dan perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear. Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala berikut: - Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah melakukan hubungan seksual dan setelah menopause - Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak) - Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink, coklat, mengandung darah atau hitam serta berbau busuk. Gejala dari kanker serviks stadium lanjut: - Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan - Nyeri panggul, punggung atau tungkai - Dari vagina keluar air kemih atau tinja - Patah tulang (fraktur).

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan berikut: 1. Pap smear Pap smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus kanker serviks secara akurat dan dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Akibatnya angka kematian akibat kanker servikspun menurun sampai lebih dari 50%. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual atau usianya telah mencapai 18 tahun, sebaiknya menjalani Pap smear secara teratur yaitu 1 kali/tahun. Jika selama 3 kali berturut-turut menunjukkan hasil yang normal, Pap smear bisa dilakukan 1 kali/2-3tahun.

Hasil pemeriksaan Pap smear menunjukkan stadium dari kanker serviks: - Normal - Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas) - Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas) - Karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar) - Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih dalam atau ke organ tubuh lainnya).

2. Biopsi Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka pada serviks, atau jika Pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker. 3. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)

4. Tes Schiller Serviks diolesi dengan lauran yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat, sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning. Untuk membantu menentukan stadium kanker, dilakukan beberapa pemeriksan berikut: - Sistoskopi - Rontgen dada - Urografi intravena - Sigmoidoskopi - Skening tulang dan hati - Barium enema. PENGOBATAN Pengobatan lesi prekanker Pengobatan lesi prekanker pada serviks tergantung kepada beberapa faktor berikut: - tingkatan lesi (apakah tingkat rendah atau tingkat tinggi) - rencana penderita untuk hamil lagi - usia dan keadaan umum penderita. Lesi tingkat rendah biasanya tidak memerlukan pengobatan lebih lanjut, terutama jika daerah yang abnormal seluruhnya telah diangkat pada waktu pemeriksaan biopsi. Tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan Pap smear dan pemeriksaan panggul secara rutin. Pengobatan pada lesi prekanker bisa berupa:  Kriosurgeri (pembekuan)  Kauterisasi (pembakaran, juga disebut diatermi)  Pembedahan laser untuk menghancurkan sel-sel yang abnormal tanpa melukai jaringan yang sehat di sekitarnya  LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi. Setelah menjalani pengobatan, penderita mungkin akan merasakan kram atau nyeri lainnya, perdarahan maupun keluarnya cairan encer dari vagina. Pada beberapa kasus, mungkin perlu dilakukan histerektomi (pengangkatan rahim), terutama jika sel-sel abnormal ditemukan di dalam lubang serviks. Histerektomi dilakukan jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi. Pengobatan untuk kanker serviks Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepada lokasi dan ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan rencana penderita untuk hamil lagi. 1. Pembedahan

Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar), seluruh kanker seringkali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun melalui LEEP. Dengan pengobatan tersebut, penderita masih bisa memiliki anak. Karena kanker bisa kembali kambuh, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani histerektomi. Pada kanker invasif, dilakukan histerektomi dan pengangkatan struktur di sekitarnya (prosedur ini disebut histerektomi radikal) serta kelenjar getah bening. Pada wanita muda, ovarium (indung telur) yang normal dan masih berfungsi tidak diangkat. 2. Terapi penyinaran Terapi penyinaran (radioterapi) efektif untuk mengobati kanker invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya. Ada 2 macam radioterapi: - Radiasi eksternal : sinar berasar dari sebuah mesin besar Penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu. - Radiasi internal : zat radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul dimasukkan langsung ke dalam serviks. Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2 minggu. Efek samping dari terapi penyinaran adalah: - iritasi rektum dan vagina - kerusakan kandung kemih dan rektum - ovarium berhenti berfungsi. 3. Kemoterapi Jika kanker telah menyebar ke luar panggul, kadang dianjurkan untuk menjalani kemoterapi. Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Obat anti-kanker bisa diberikan melalui suntikan intravena atau melalui mulut. Kemoterapi diberikan dalam suatu siklus, artinya suatu periode pengobatan diselingi dengan periode pemulihan, lalu dilakukan pengobatan, diselingi denga pemulihan, begitu seterusnya. 4. Terapi biologis

Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh dalam melawan penyakit. Terapi biologis dilakukan pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Yang paling sering digunakan adalah interferon, yang bisa dikombinasikan dengan kemoterapi. Efek samping pengobatan Selain membunuh sel-sel kanker, pengobatan juga menyebabkan kerusakan pada sel-sel yang sehat sehingga seringkali menimbulkan efek samping yang tidak menyenangkan. Efek samping dari pengobatankanker sangat tergantung kepada jenis dan luasnya pengobatan. Selain itu, reaksi dari setiap penderita juga berbeda-beda. Metoda untuk membuang atau menghancurkan sel-sel kanker pada permukaan serviks sama dengan metode yang digunakan untuk mengobati lesi prekanker. Efek samping yang timbul berupa kram atau nyeri lainnya, perdarahan atau keluar cairan encer dari vagina. Beberapa hari setelah menjalani histerektomi, penderita bisa mengalami nyeri di perut bagian bawah. Untuk mengatasinya bisa diberikan obat pereda nyeri. Penderita juga mungkin akan mengalami kesulitan dalam berkemih dan buang air besar. Untuk membantu pembuangan air kemih bisa dipasang kateter. Beberapa saat setealh pembedahan, aktivitas penderita harus dibatasi agar penyembuhan berjalan lancar. Aktivitas normal (termasuk hubungan seksual) biasanya bisa kembali dilakukan dalam waktu 4-8 minggu. Setelah menjalani histerektomi, penderita tidak akan mengalami menstruasi lagi. Histerektomi biasanya tidak mempengaruhi gairah seksual dan kemampuan untuk melakukan hubungan seksual. Tetapi banyak penderita yang mengalami gangguan emosional setelah histerektomi. Pandangan penderita terhadap seksualitasnya bisa berubah dan penderita merasakan kehilangan karena dia tidak dapat hamil lagi. Selama menjalani radioterap, penderita mudah mengalami kelelahan yang luar biasa, terutama seminggu sesudahnya. Istirahat yang cukup merupakan hal yang penting, tetapi dokter biasanya menganjurkan agar penderita sebisa mungkin tetap aktif. Pada radiasi eksternal, sering terjadi kerontokan rambut di daerah yang disinari dan kulit menjadi merah, kering serta gatal-gatal. Mungkin kulit akan menjadi lebih gelap. Daerah yang disinari sebaiknya mendapatkan udara yang cukup, tetapi harus terlindung dari sinar matahari dan penderita sebaiknya tidak menggunakan pakaian yang bisa mengiritasi daerah yang disinari. Biasanya, selama menjalani radioterapi penderita tidak boleh melakukan hubungan

seksual. Kadang setelah radiasi internal, vagina menjadi lebh sempit dan kurang lentur, sehingga bisa menyebabkan nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Untuk mengatasi hal ini, penderita diajari untuk menggunakan dilator dan pelumas dengan bahan dasar air. Pada radioterapi juga bisa timbul diare dan sering berkemih. Efek samping dari kemoterapi sangat tergantung kepada jenis dan dosis obat yang digunakan. Selain itu, efek sampingnya pada setiap penderita berlainan. Biasanya obat anti-kanker akan mempengaruhi sel-sel yang membelah dengan cepat, termasuk sel darah (yang berfungsi melawan infeksi, membantu pembekuan darah atau mengangkut oksigen ke seluruh tubuh). Jika sel darah terkena pengaruh obat anti-kanker, penderita akan lebih mudah mengalami infeksi, mudah memar dan mengalami perdarahan serta kekurangan tenaga. Sel-sel pada akar rambut dan sel-sel yang melapisi saluran pencernaan juga membelah dengan cepat. Jika sel-sel tersebut terpengaruh oleh kemoterapi, penderita akan mengalami kerontokan rambut, nafsu makannya berkurang, mual, muntah atau luka terbuka di mulut. Terapi biologis bisa menyebabkan gejala yang menyerupai flu, yaitu menggigil, demam, nyeri otot, lemah, nafsu makan berkurang, mual, muntah dan diare. Kadang timbul ruam, selain itu penderita juga bisa mudah memar dan mengalami perdarahan. PENCEGAHAN Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks: 1. Mencegah terjadinya infeksi HPV 2. Melakukan pemeriksaan Pap smear secara teratur . Pap smear (tes Papanicolau) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang diperoleh dari apusan serviks. Pada pemeriksaan Pap smear, contoh sel serviks diperoleh dengan bantuan sebuah spatula yang terbuat dari kayu atau plastik (yang dioleskan bagian luar serviks) dan sebuah sikat kecil (yang dimasukkan ke dalam saluran servikal). Sel-sel serviks lalu dioleskan pada kaca obyek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa. 24 jam sebelum menjalani Pap smear, sebaiknya tidak melakukan pencucian atau pembilasan vagina, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berendam dan tidak menggunakan tampon. Pap smear sangat efektif dalam mendeteksi perubahan prekanker pada serviks. Jika hasil Pap smear menunjukkan displasia atau serviks tampak abnormal, biasanya dilakukan kolposkopi dan biopsi Anjuran untuk melakukan Pap smear secara teratur:  Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun

 Setiap tahun untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau kutil kelamin  Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB  Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun jika 3 kali Pap smear berturut-turut menunjukkan hasil negatif atau untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena kanker  Sesering mungkin jika hasil Pap smear menunjukkan abnormal  Sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan prekanker maupun kanker serviks. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks sebaiknya: - Anak perempuan yang berusia dibawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual. - Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kutil kelamin atau gunakan kondom untuk mencegah penularan kutil kelamin - Jangan berganti-ganti pasangan seksual - Berhenti merokok. Pemeriksaan panggul setiap tahun (termasuk Pap smear) harus dimulai ketika seorang wanita mulai aktif melakukan hubungan seksual atau pada usia 20 tahun. Setiap hasil yang abnormal harus diikuti dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi. Beberapa peneliti telah membuktikan bahwa vitamin A berpertan dalam menghentikan atau mencegah perubahan keganasan pada sel-sel, seperti yang terjadi pada permukaan serviks.

Kanker Rahim
DEFINISI Kanker Rahim adalah tumor ganas pada endometrium (lapisan rahim). Kanker rahim biasanya terjadi setelah masa menopause, paling sering menyerang wanita berusia 50-60 taun. Kanker bisa menyebar (metastase) secara lokal maupun ke berbagai bagian tubuh (misalnya kanalis servikalis, tuba falopii, ovarium, daerah di sekitar rahim, sistem getah bening atau ke bagian tubuh lainnya melalui pembuluh darah). PENYEBAB Penyebabnya yang pasti tidak diketahui, tetapi tampaknya penyakit ini melibatkan peningkatan kadar estrogen. Salah satu fungsi estrogen yang normal adalah merangsang pembentukan lapisan epitel pada rahim. Sejumlah besar estrogen yang disuntikkan kepada hewan percobaan di laboratorium menyebabkan hiperplasia endometrium dan kanker.

Wanita yang menderita kanker rahim tampaknya memiliki faktor resiko tertentu. (faktor resiko adalah sesuatu yang menyebabkan bertambahnya kemungkinan seseorang untuk menderita suatu penyakit). Wanita yang memiliki faktor resiko tidak selalu menderita kanker rahim, sebaliknya banyak penderita kanker rahim yang tidak memiliki faktor resiko. Kadang tidak dapat dijelaskan mengapa seorang wanita menderita kanker rahim sedangkan wanita yang lainnya tidak. Penelitian telah menemukan beberapa faktor resiko pada kanker rahim: 1. Usia Kanker uterus terutama menyeranga wanita berusia 50 tahun keatas. 2. Hiperplasia endometrium 3. Terapi Sulih Hormon (TSH) TSH digunakan untuk mengatasi gejala-gejala menopause, mencegah osteoporosis dan mengurangi resiko penyakit jantung atau stroke. Wanita yang mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron memiliki resiko yang lebih tinggi. Pemakaian estrogen dosis tinggi dan jangka panjang tampaknya mempertinggi resiko ini. Wanita yang mengkonsumsi estrogen dan progesteron memiliki resiko yang lebih rendah karena progesteron melindungi rahim. 4. Obesitas Tubuh membuat sebagian estrogen di dalam jaringan lemak sehingga wanita yang gemuk memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi. Tingginya kadar estrogen merupakan penyebab meningkatnya resiko kanker rahim pada wanita obes. 5. Diabetes (kencing manis) 6. Hipertensi (tekanan darah tinggi) 7. Tamoksifen Wanita yang mengkonsumsi tamoksifen untuk mencegah atau mengobati kanker payudara memiliki resiko yang lebih tinggi. Resiko ini tampaknya berhubungan dengan efek tamoksifen yang menyerupai estrogen terhadap rahim. Keuntungan yang diperoleh dari tamoksifen lebih besar daripada resiko terjadinya kanker lain, tetapi setiap wanita memberikan reaksi yang berlainan. 8. Ras Kanker rahim lebih sering ditemukan pada wanita kulit putih. 9. Kanker kolorektal 10. Menarke (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun 11. Menopause setelah usia 52 tahun 12. Tidak memiliki anak 13. Kemandulan 14. Penyakit ovarium polikista 15. Polip endometrium. GEJALA Gejalanya bisa berupa:  Perdarahan rahim yang abnormal

 Siklus menstruasi yang abnormal  Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi (pada wanita yang masih mengalami menstruasi)  Perdarahan vagina atau spotting pada wanita pasca menopause  Perdarahan yang sangat lama, berat dan sering (pada wanita yang berusia diatas 40 tahun)  Nyeri perut bagian bawah atau kram panggul  Keluar cairan putih yang encer atau jernih (pada wanita pasca menopause)  Nyeri atau kesulitan dalam berkemih  Nyeri ketika melakukan hubungan seksual.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan berikut:  Pemeriksaan panggul  Pap smear  USG transvagina  Biopsi endometrium. Untuk membantu menentukan stadium atau penyebaran kanker, dilakukan pemeriksaan berikut: - Pemeriksaan darah lengkap - Pemeriksaan air kemih - Rontgen dada - CT scan tulang dan hati - Sigmoidoskopi - Limfangiografi - Kolonoskopi - Sistoskopi.

Staging (Menentukan stadium kanker)  Stadium I : kanker hanya tumbuh di badan rahim  Stadium II : kanker telah menyebar ke leher rahim (serviks  Stadium III : kanker telah menyebar ke luar rahim, tetapi masih di dalam rongga panggul dan belum menyerang kandung kemih maupun rektum. Kelenjar getah bening panggul mungkin mengandung sel-sel kanker.  Stadium IV : kanker telah menyebar ke dalam kandung kemih atau rektum atau kanker telah menyebar ke luar rongga panggul. PENGOBATAN Pemilihan pengobatan tergantung kepada ukuran tumor, stadium, pengaruh hormon terhadap pertumbuhan tumor dan kecepatan pertumbuhan tumor serta usia dan keadaan umum penderita. Metode pengobatan: 1. Pembedahan Kebanyakan penderita akan menjalani histerektomi (pengangkatan rahim). Kedua tuba falopii dan ovarium juga diangkat (salpingo-ooforektomi bilateral) karena sel-sel tumor bisa menyebar ke ovarium dan sel-sel kanker dorman (tidak aktif) yang mungkin tertinggal kemungkinan akan terangsang oleh estrogen yang dihasilkan oleh ovarium. . Jika ditemukan sel-sel kanker di dalam kelenjar getah bening di sekitar tumor, maka kelenjar getah bening tersebut juga diangkat. Jika sel kanker telah ditemukan di dalam kelenjar getah bening, maka kemungkinan kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Jika sel kanker belum menyebar ke luar endometrium (lapisan rahim), maka penderita tidak perlu menjalani pengobatan lainnya. 2. Terapi penyinaran (radiasi) Digunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker. Terapi penyinaran merupakan terapi lokal, hanya menyerang sel-sel kanker di daerah yang disinari. Pada stadium I, II atau III dilakukan terapi penyinaran dan pembedahan. Penyinaran bisa dilakukan sebelum pembedahan (untuk memperkecil ukuran tumor) atau setelah pembedahan (untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa). Ada 2 jenis terjapi penyinaran yang digunakan untuk mengobati kanker rahim: - Radiasi eksternal : digunakan sebuah mesin radiasi yang besar untuk mengarahkan sinar ke daerah tumor. Penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 kali/minggu selama beberapa minggu dan penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit. Pada radiasi eksternal tidak ada zat radioaktif yang dimasukkan ke dalam tubuh. - Radiasi internal : digunakan sebuah selang kecil yang mengandung suatu zat radioaktif, yang dimasukkan melalui vagina dan dibiarkan selama beberapa hari. Selama menjalani radiasi internal, penderita dirawat di rumah sakit.

3. Kemoterapi Pada terapi hormonal digunakan zat yang mampu mencegah sampainya hormon ke sel kanker dan mencegah pemakaian hormon oleh sel kanker. Hormon bisa menempel pada reseptor hormon dan menyebabkan perubahan di dalam jaringan rahim. Sebelum dilakukan terapi hormon, penderita menjalani tes reseptor hormon. Jika jaringan memiliki reseptor, maka kemungkinan besar penderita akan memberikan respon terhadap terapi hormonal. Terapi hormonal merupakan terapi sistemik karena bisa mempengaruhi sel-sel di seluruh tubuh. Pada terapi hormonal biasanya digunakan pil progesteron. Terapi hormonal dilakukan pada: - penderita kanker rahim yang tidak mungkin menjalani pembedahan ataupun terapi penyinaran - penderita yang kankernya telah menyebar ke paru-paru atau organ tubuh lainnya - penderita yang kanker rahimnya kembali kambuh. Jika kanker telah menyebar atau tidak memberikan respon terhadap terapi hormonal, maka diberikan obat kemoterapi lain, yaitu siklofosfamid, doksorubisin dan sisplastin. Efek samping pengobatan kanker Pengobatan kanker bisa menyebabkan kerusakan pada sel dan jaringan yang sehat, karena itu bisa menimbulkan beberapa efek samping yang tidak diharapkan. Efek samping tersebut tergantung kepada berbagai faktor, diantaranya jenis dan luasnya pengobatan. Setelah menjalani histerektomi, penderita biasanya mengalami nyeri dan merasa sangat lelah. Kebanyakan penderita akan kembali menjalani aktivitasnya yang normal dalam waktu 4-8 minggu setelah pembedahan. Beberapa penderita mengalami mual dan muntah serta gangguan berkemih dan buang air besar. Wanita yang telah menjalani histerektomi tidak akan mengalami menstruasi dan tidak dapat hamil lagi. Jika ovarium juga diangkat, maka penderita juga mengalami menopause. Hot flashes dan gejala menopause lainnya akibat histerektomi biasanya lebih berat dibandingkan dengan gejala yang timbul karena menopause alami. Pada beberapa penderita, histerektomi bisa mempengaruhi hubungan seksual. Penderita merasakan kehilangan sehingga mengalami kesulitan dalam melakukan hubungan seksual.

Efek samping dari terapi penyinaran sangat tergantung kepada dosis dan bagian tubuh yang disinari. Biasanya kulit menjadi kering dan merah, rambut di daerah yang disinari mengalami kerontokan, nafsu makan berkurang dan kelelahan yang luar biasa. Beberapa penderita merasakan gatal-gatal, kekeringan dan perih pada vaginanya. Penyinaran juga menyebabkan diare atau sering berkemih. Radiasi juga bisa menyebabkan terjadinya penurunan jumlah sel darah putih. Wanita yang mengkonsumsi progesteron bisa mengalami peningkatan nafsu makan, penimbunan cairan dan penambahan berat badan. Jika masih mengalami menstruasi, maka siklusnya bisa mengalami perubahan. PENCEGAHAN Setiap wanita sebaiknya menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear secara rutin, untuk menemukan tanda-tanda pertumbuhan yang abnormal. Wanita yang memiliki faktor resiko kanker rahim sebaiknya lebih sering menjalani pemeriksaan panggul, Pap smear dan tes penyaringan (termasuk biopsi endometrium).

Kanker Indung Telur
DEFINISI Kanker Indung Telur (Kanker Ovarium) adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur). Kanker ovarium paling sering ditemukan pada wanita yang berusia 50-70 tahun dan 1 dari 70 wanita menderita kanker ovarium. Kanker ovarium bisa menyebar secara langsung ke daerah di sekitarnya dan melalui sistem getah bening bisa menyebar ke bagian lain dari panggul dan perut; sedangkan melalui pembuluh darah, kanker bisa menyebar ke hati dan paru-paru. PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui. Efek perlindungan terhadap kanker ovarium ditemukan pada wanita yang memiliki banyak anak, wanita yang kehamilan pertamanya terjadi di usia dini dan wanita yang memakai pil KB. Sedangkan faktor resiko tejadinya kanker ovarium adalah:  Obat kesuburan  Pernah menderita kanker payudara  Riwayat keluarga yang menderita kanker payudara dan/atau kanker ovarium  Riwayat keluarga yang menderita kanker kolon, paru-paru, prostat dan rahim (menunjukkan adanya sindroma Lynch II). GEJALA Gejala awalnya berupa rasa tidak enak yang samar-samar di perut bagian bawah. Ovarium yang membesar pada wanita pasca menopause bisa merupakan pertanda awal dari kanker ovarium. Di dalam perut terkumpul cairan dan perut membesar akibat ovarium yang membesar ataupun karena penimbunan cairan. Pada saat ini penderita mungkin akan merasakan nyeri panggul, anemia dan berat badannya menurun. Kadang kanker ovarium melepaskan hormon yang menyebabkan pertumbuhan berlebih pada lapisan rahim, pembesaran payudara atau peningkatan pertumbuhan rambut. Gejala lainnya yang mungkin terjadi: - Panggul terasa berat - Perdarahan pervaginam - Siklus menstruasi abnormal - Gejala saluran pencernaan (perut kembung, nafsu makan berkurang, mual, munatah, tidak mampu mencerna makanan dalam jumlah seperti biasanya) - Sering berkemih.

DIAGNOSA Diagnosis pada stadium dini sulit ditegakkan karena kanker baru menimbulkan gejala setelah mencapai stadium lanjut dan gejalanyapun menyerupai beberapa penyakit lainnya. Pada pemeriksaan fisik, lingkar perut bertambah atau ditemukan asites (penimbunan ciaran di dalam rongga abdomen). Pada pemeriksaan panggul diberukan massa ovarium atau massa perut. Pemeriksaan yang biasa dilakukan: - Pemeriksan darah lengkap - Pemeriksaan kimia darah - CA125 - Serum HCG - Alfa fetoprotein - Analisa air kemih - Pemeriksaan saluran pencernaan - Laparatomi - USG - CT scan atau MRI perut. PENGOBATAN Jika kanker belum menyebar ke luar ovarium, hanya dilakukan pengangkatan ovarium yang terkena dan mungkin dengan tuba falopiinya (saluran indung telur). Jika kanker telah menyebar ke luar ovarium, maka dilakukan pengangkatan kedua ovarium dan rahim, serta kelenjar getah bening dan struktur di sekitarnya. Setelah pembedahan bisa dilakukan terapi penyinaran dan kemoterapi untuk menghancurkan sisa-sisa sel kanker.

Kanker Vulva
DEFINISI Kanker Vulva adalah tumor ganas di dalam vulva. Vulva merupakan bagian luar dari sistem reproduksi wanita, yang meliputi labia, lubang vagina, lubang uretra dan klitoris. 3-4% kanker pada sistem reproduksi wanita merupakan kanker vulva dan biasanya terjadi setelah menopause. Beberapa jenis kanker vulva: 1. Karsinoma sel skuamosa (85%) Karsinoma sel skuamosa berasal dari sel-sel skuamosa yang merupakan jenis sel kulit yang utama. Kanker jenis ini biasanya terbentuk secara perlahan selama bertahun-tahun dan biasanya didahului oleh suatu perubahan prekanker yang mungkin berlangsung selama beberapa tahun. Istilah kedokteran yang sering digunakan untuk keadaan prekanker ini adalah Neoplasma intraepitel vulva (NIV, intraepitel artinya sel-sel prekanker terbatas pada epitel yang merupakan lapisan permukaan pada kulit vulva. NIV terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu NIV1, NIV2, and NIV3. Istilah lainnya untuk NIV adalah displasia. Tingkat keparahan perubahan prekanker mulai dari yang terendah sampai yang terberat: - NIV1 atau displasia ringan - NIV2 atau displasia menengah - NIV3 atau displasia berat - Karsinoma in situ - Karsinoma invasif. 2. Melanoma (5%) Melanoma berasal dari sel penghasil pigmen yang memberikan warna pada kulit. 3. Sarkoma (2%) Ssarkoma adalah tumor jaringan ikat di bawah kulit yang cenderung tumbuh dengan cepat. Sarkoma vulva bisa menyerang semua golongan usia, termasuk anak-anak. 4. Karsinoma sel basal (1%) Karsinoma sel basal sangat jarang terjadi pada vulva, karena biasanya menyerang kulit yang terpapar oleh sinar matahari.

5. Adenokarsinoma (1%) Sejumlah kecil kanker vulva berasal dari kelenjar dan disebut adenokarsinoma. Beberapa diantaranya berasal dari kelenjar Bartholin yang ditemukan pada lubang vagina dan menghasilkan cairan pelumas yang menyerupai lendir. Kebanyakan kanker kelenjar Bartholin adalah adenokarsinoma, tetapi beberapa diantaranya (terutama yang tumbuh dari saluran kelenjar) merupakan karsinoma sel transisional atau karsinoma sel skuamosa. Meskipun agak jarang, adenokarsinoma juga bisa berasal dari kelenajr keringat pada kulit vulva. PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui. Faktor resiko terjadinya kanker vulva: 1. Infeksi HPV atau kutil kelamin (kutil genitalis) HPV merupakan virus penyebab kutil kelamin dan ditularkan melalui hubungan seksual. 2. Pernah menderita kanker leher rahim atau kanker vagina 3. Infeksi sifilis 4. Diabetes 5. Obesitas 6. Tekanan darah tinggi. 7. Usia Tigaperempat penderita kanker vulva berusia diatas 50 tahun dan dua pertiganya berusia diatas 70 tahun ketika kanker pertama kali terdiagnosis. Usia rata-rata penderita kanker invasif adalah 65-70 tahun. 8. Hubungan seksual pada usia dini 9. Berganti-ganti pasangan seksual 10. Merokok 11. Infeksi HIV HIV adalah virus penyebab AIDS. Virus ini menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh sehingga wanita lebih mudah mengalami infeksi HPV menahun. 12. Golongan sosial-ekonimi rendah Hal ini berhubungan dengan pelayanan kesehatan yang adekuat, termasuk pemeriksaan kandungan yang rutin. 13. Neoplasia intraepitel vulva (NIV) 14. Liken sklerosus Penyakit ini menyebabkan kulit vulva menjadi tipis dan gatal. 15. Peradangan vulva menahun 16. Melanoma atau tahi lalat atipik pada kulit selain vulva. GEJALA Kanker vulva mudah dilihat dan teraba sebagai benjolan, penebalan ataupun luka terbuka pada atau di sekitar lubang vagina. Kadang terbentuk bercak bersisik atau perubahan warna. Jaringan di sekitarnya

mengkerut disertai gatal-gatal. Pada akhirnya akan terjadi perdarahan dan keluar cairan yang encer. Gejala lainnya adalah: - nyeri ketika berkemih - nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Hampir 20% penderita yang tidak menunjukkan gejala. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil biopsi jaringan. Staging (Menentukan stadium kanker) Staging merupakan suatu peroses yang menggunakan hasil-hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostik tertentu untuk menentukan ukuran tumor, kedalaman tumor, penyebaran ke organ di sekitarnya dan penyebaran ke kelenjar getah bening atau organ yang jauh. Dengan mengetahui stadium penyakitnya maka dapat ditentukan rencana pengobatan yang akan dijalani oleh penderita. Jika hasil biopsi menunjukkan bahwa telah terjadi kanker vulva, maka dilakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui penyebaran kanker ke daerah lain:  Sistoskopi (pemeriksaan kandung kemih)  Proktoskopi (pemeriksaan rektum)  Pemeriksaan panggula dibawah pengaruh obat bius  Rontgen dada  CT scan dan MRI. Stadium kanker vulva dari sistem FIGO: - Stadium 0 (karsinoma in situ, penyakit Bowen) : kanker hanya ditemukan di permukaan kulit vulva - Stadium I : kanker ditemukan di vulva dan/atau perineum (daerah antara rektum dan vagina). Ukuran tumor sebesar 2 cm atau kurang dan belum menyebar ke kelenjar getah bening - Stadium IA : kanker stadium I yang telah menyusup sampai kedalaman kurang dari 1 mm - Stadium IB: kanker stadium I yang telah menyusup lebih dalam dari 1 mm - Stadium II : kanker ditemukan di vulva dan/atau perineu, dengan ukuran lebih besar dari 2 cm tetapi belum menyebar ke kelenjar getah bening - Stadium III : kanker ditemukan di vulva dan/atau perineum serta telah menyebar ke jaringan terdekat (misalnya uretra, vagina, anus) dan/atau telah menyebar ke kelenjar getah bening selangkangan terdekat. - Stadium IVA : kanker telah menyebar keluar jaringan terdekat, yaitu ke uretra bagian

atas, kandung kemih, rektum atau tulang panggul, atau telah menyebar ke kelenjar getah bening kiri dan kanan - Stadium IVB : kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di dalam panggul dan/atau ke organ tubuh yang jauh. PENGOBATAN Terdapat 3 jenis pengobatan untuk penderita kanker vulva: 1. Pembedahan - Eksisi lokal luas : dilakukan pengangkatan kanker dan sejumlah jaringan normal di sekitar kanker - Eksisi lokal radikal : dilakukan pengangkatan kanker dan sejumlah besar jaringan normal di sekitar kanker, mungkin juga disertai dengan pengangkatan kelenjar getah bening - Bedah laser : menggunakan sinar laser untuk mengangkat sel-sel kanker - Vulvektomi skinning : dilakukan pengangkatan kulit vulva yang mengandung kanker - Vulvektomi simplek : dilakukan pengangkatan seluruh vulva - Vulvektomi parsial : dilakukan pengangkatan sebagian vulva - Vulvektomi radikal : dilakukan pengangkatan seluruh vulva dan kelenjar getah bening di sekitarnya. - Eksenterasi panggul : jika kanker telah menyebar keluar vulva dan organ wanita lainnya, maka dilakukan pengangkatan organ yang terkena (misalnya kolon, rektum atau kandung kemih) bersamaan dengan pengangkatan leher rahim, rahim dan vagina. Untuk membuat vulva atau vagina buatan setelah pembedahan, dilakukan pencangkokan kulit dari bagian tubuh lainnya dan bedah plastik. 2. Terapi penyinaran Pada terapi penyinaran digunakan sinar X atau sinar berenergi tinggi lainnya utnuk membunuh sel-sel kanker dan memperkecil ukuran tumor. Pada radiasi eksternal digunakan suatu mesin sebagai sumber penyinaran; sedangkan pada radiasi internal, ke dalam tubuh penderita dimasukkan suatu kapsul atau tabung plastik yang mengandung bahan radioaktif. 3. Kemoterapi Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Obat tersedia dalam bentuk tablet/kapsul atau suntikan (melalui pembuluh darah atau otot). Kemoterapi merupakan pengobatan sistemik karena obat masuk ke dalam aliran darah sehingga sampai ke seluruh tubuh dan bisa membunuh sel-sel kanker di seluruh tubuh. Pengobatan berdasarkan stadium Pengobatan kanker vulva tergantung kepada stadium dan jenis penyakit serta usia dan keadaan umum penderita. - Kanker vulva stadium 0

1. Eksisi lokal luas atau bedah laser, atau kombinasi keduanya 2. Vulvektomi skinning 3. Salep yang mengandung obat kemoterapi - Kanker vulva stadium I 1. Eksisi lokal luas 2. Eksisi lokal radikal ditambah pengangkatan seluruh kelenjar getah bening selangkangan dan paha bagian atas terdekat pada sisi yang sama dengan kanker 3. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan pada salah satu atau kedua sisi tubuh 4. Terapi penyinaran saja. - Kanker vulva stadium II 1. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan kiri dan kanan. Jika sel kanker ditemukan di dalam kelenjar getah bening, maka dilakukan setelah pembedahan dilakukan penyinaran yang diarahkan ke panggul 2. Terapi penyinaran saja (pada penderita tertentu). - Kanker vulva stadium III 1. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan dan kelenjar getah bening paha bagian atas kiri dan kanan. Jika di dalam kelenjar getah bening ditemukan sel-sel kanker atau jika sel-sel kanker hanya ditemukan di dalam vulva dan tumornya besar tetapi belum menyebar, setelah pembedahan dilakukan terapi penyinaran pada panggul dan selangkangan 2. Terapi radiasi dan kemoterapi diikuti oleh vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening kiri dan kanan 3. Terapi penyinaran (pada penderita tertentu) dengan atau tanpa kemoterapi. - Kanker vulva stadium IV 1. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kolon bagian bawah, rektum atau kandung kemih ( tergantung kepada lokasi penyebaran kanker) disertai pengangkatan rahim, leher rahim dan vagina (eksenterasi panggul) 2. Vulvektomi radikal diikuti dengan terapi penyinaran 3. Terapi penyinaran diikuti dengan vulvektomi radikal 4. Terapi penyinaran (pada penderita tertentu) dengan atau tanpa kemoterapi dan mungkin juga diikuti oleh pembedahan.

- Kanker vulva yang berulang (kambuh kembali) 1. Eksisi lokal luas dengan atau tanpa terapi penyinaran 2. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kolon, rektum atau kandung kemih (tergantung kepada lokasi penyebaran kanker) disertai dengan pengangkatan rahim, leher rahim dan vagina (eksenterasi panggul) 3. Terapi penyinaran ditambah dengan kemoterapi dengan atau tanpa pembedahn 4. Terapi penyinaran untuk kekambuhan lokal atau untuk mengurangi gejala nyeri, mual atau kelainan fungsi tubuh. PENCEGAHAN Ada 2 cara untuk mencegah kanker vulva: 1. Menghindari faktor resiko yang bisa dikendalikan 2. Mengobati keadaan prekanker sebelum terjadinya kanker invasif. Keadaan prekanker bisa ditemukan dengan menjalani pemeriksaan sistem reproduksi secara teratur dan memeriksakan setiap ruam, tahi lalat, benjolan atau kelainan vulva lainnya yang sifatnya menetap. Pengobatan NIV bisa mencegah sejumlah kasus kanker invasif. Melanoma bisa dicegah dengan mengangkat tahi lalat atipik. Setiap wanita hendaknya mewaspadai setiap perubahan yang terjadi pada kulit vulva dengan melakukan pemeriksaan sendiri (dengan bantuan sebuah cermin) setiap bulan.

Kanker Vagina
DEFINISI Kanker Vagina adalah tumor ganas pada vagina. Vagina adalah saluran sepanjang 7,5-10 cm; ujung atasnya berhubungan dengan serviks (leher rahim/bagian terendah dari rahim), sedangkan ujung bawahnya berhubungan dengan vulva. Dinding vagina dilapisi oleh epitelium yang terbentuk dari sel-sel skuamosa. Di bawah epitelium terdapat jaringan ikat, otot involunter, kelenjar getah bening dan persarafan. Dinding vagina memiliki banyak lipatan yang membantu agar vagina tetap terbuka selama hubungan seksual atau proses persalinan berlangsung. Ada beberapa jenis kanker vagina: 1. Karsinoma sel skuamosa (85-90%)

Berasal dari lapisan epitelium vagina. Lebih banyak ditemukan di vagina bagian atas. Karsinoma skuamosa biasanya ditemukan pada wanita berusia 60-80 tahun. Karsinoma verukosa adalah sejenis karsinoma sel skuamosa yang tumbuhnya lambat. Karsinoma ini tumbuh ke arah rongga vagina dan tampak seperti kutil atau bunga kol. 2. Adenokarsinoma (5-10%) Adenokarsinoma paling sering terjadi pada wanita berusia 12-30 tahun. 3. Melanoma maligna (2-3%) Berasal dari sel-sel penghasil pigmen, lebih banyak ditemukan di vagina bagian bawah. 4. Sarkoma (2-3%) Kanker ini tumbuh jauh di dalam dinding vagina, bukan pada epitelium. Ada beberapa jenis sarkoma, yang paling sering ditemukan adalah leiomiosarkoma, yang menyerang wanita berusia 50 tahun ke atas. Rabdomiosarkoma adalah kanker pada masa kanak-kanak, biasanya terjadi sebelum usia 3 tahun. Sel-selnya mirip dengan sel otot volunter, yang merupakan suatu jaringan yang dalam keadaan normal tidak ditemukan pada dinding vagina. Karsinoma sel skuamosa tidak tumbuh secara tiba-tiba, kanker ini berkembang selama bertahun-tahun dari suatu perubahan prekanker pada vagina yang disebut neoplasi intraepitel vagina (NIVA). PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui. Faktor resiko terjadinya kanker vagina: 1. Usia Sekitar 50% penderita karsinoma skuamosa adalah wanita berusia 60 tahun keatas. Sebagian besar kasus kanker vagina ditemukan pada wanita yang berusia 50-70 tahun. 2. DES (dietilstilbestrol) DES adalah suatu obat hormonal yang banyak digunakan pada tahun 1940-1970 untuk mencegah keguguran pada wanita hamil. Sebanyak 1 diantar 1000 wanita yang ibunya mengkonsumsi DES, menderita adenokarsinoma sel bersih pada vagina maupun serviks. Resiko tertinggi terjadi jika ibu mengkonsumsi DES pada usia kehamilan 16 minggu. 3. Adenosis vagina Dalam keadaan normal vagina dilapisi oleh sel gepeng yang disebut sel skuamosa. Pada sekitar 40% wanita yang telah mengalami menstruasi, pada vagina bisa ditemukan daerah-daerah tertentu yang dilapisi oleh sel-sel yang serupa dengan sel-sel yang ditemukan di dalam kelenjar rahim bagian bawah dan lapisan rahim.

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Keadaan ini disebut adenosis. Hal tersebut terjadi pada hampir semua wanita yang terpapar oleh DES selama perkembangan janin. Infeksi HPV (human papiloma virus) HPV adalah virus penyebab kutil kelamin yang ditularkan melalui hubungan seksual. Hubungan seksual pertama pada usia dini Berganti-ganti pasangan Melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan Kanker serviks Iritsi vagina

10. Merokok. GEJALA Kanker vagina menyebabkan kerusakan pada lapisan vagina dan menyebabkan terbentuknya luka terbuka yang bisa mengalami perdarahan dan terinfeksi. Penderita mungkin juga mengalami perdarahan melalui vagina (seringkali setelah melakukan hubungan seksual) atau dari vaginanya keluar cairan encer. Jika kanker berukuran besar bisa mempengaruhi fungsi kandung kemih dan rektum sehingga penderita mengalami urgensi untuk berkemih dan mengalami nyeri ketika berkemih. Gejala lainnya adalah: - keluar cairan abnormal dari vagina - terasa ada benjolan - nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Pada kanker stadium lanjut akan timbuli nyeri ketika berkemih, sembelit dan nyeri panggul yang menetap. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan panggul akan teraba adanya benjolan. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:  Kolposkopi (pemeriksaan dinding vagina dengan bantuan kaca pembesar)  Biopsi (pemeriksaan mikroskopik terhadap contoh jaringan vagina). Staging Staging merupakan proses penentuan penyebaran kanker, yang penting dilakukan untuk menentukan jenis pengobatan dan prognosis penyakit.

Penilaian penyebaran kanker vagina melibatkan beberapa pemeriksaan berikut: - Pemeriksaan fisik menyeluruh - Pielogram intravena - Barium enema - Rontgen dada - Sistoskopi - Proktoskopi - CT scan - Skening tulang. Stadium kanker vagina berdasarkan sistem FIGO:  Stadium 0 (karsinoma in situ, NIVA 3) : sel-sel kanker terbatas pada epitelium vagina dan belum menyebar ke lapisan vagina lainnya. Pada stadium ini kanker tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.  Stadium I : kanker telah menyebar ke bawah epitelium tetapi masih terbatas pada mukosa vagina (mukosa terdiri dari 2 lapisan, yaitu epitelium dan lamina propria atau stroma subepitel).  Stadium IA : tumor berukuran kurang dari 2 cm dan telah tumbuh ke dalam dinding sedalam kurang dari 1 milimeter.  Stadium IB : tumor lebih besar dari 2 cm dan telah menembus ke dalam dinding sedalam lebih dari 1 milimeter.  Stadium II : kanker telah menyebar ke jaringan ikat vagina tetapi belum menyebar ke dinding panggul maupun organ lain.  Stadium III : kanker telah menyebar ke dinding panggul dan/atau telah menyebar ke kelenjar getah bening pada sisi yang sama dengan tumor.  Stadium IVA : kanker telah menyebar ke organ di dekat vagina (misalnya kandung kemih) dan/atau taelah menyebar keluar panggul dan/atau telah menyebar ke kelenjar getah bening pada kedua sisi panggul.  Stadium IVB : kanker telah menyebar ke organ tubuh yang jauh (misalnya paru-paru). PENGOBATAN Pengobatan untuk keadaan prekanker (NIVA) Untuk menentukan lokasi NIVA yang pasti, dilakukan pemeriksaan kolposkopi. Untuk memperkuat diagnosis dilakukan biopsi. Pilihan pengobatan untuk NIVA: 1. Bedah laser untuk menguapkan jaringan yang abnormal. 2. LEEP (loop electroexcision procedure) : digunakan kauter panas untuk membuang lesi pada vagina. Efektif untuk lesi yang kecil. 3. Kemoterapi topikal : digunakan kemoterapi (5FU/fluorouracil) yang dioleskan langsung ke vagina setiap malam selama 1-2 minggu atau setiap minggu selama 10 minggu. Obat ini bisa menyebabkan iritasi vagina dan vulva.

NIVA tingkat rendah seringkali menghilang dengan sendirinya, karena itu pengobatan biasanya hanya dilakukan pada NIVA tingkat menengah atau tinggi. Pengobatan untuk kanker vagina Terdapat 3 macam pengobatan untuk kanker vagina: 1. Pembedahan - Bedah laser - Eksisi lokal luas : dilakukan pengangkatan kanker dan sebagian jaringan di sekitarnya. Untuk memperbaiki vagina bisa dilkukan pencangkokan kulit yang diambil dari bagian tubuh lainnya. - Vaginektomi (pengangkatan vagina). Jika kanker telah menyebar keluar vagina, dilakukan vaginektomi dan histerektomi radikal (pengangkatan rahim, ovarium/indung telur dan tuba falopii/saluran indung telur). Pembedahan tersebut bisa disertai dengan pengangkatan kelenjar getah bening. - Eksenterasi dilakukan jika kanker telah menyebar keluar vagina dan organ wanita lainnya. Pada pembedahan ini dilakukan engangkatan kolon bawah, rektum atau kandung kemih (tergantung lokasi penyebaran tumor) disertai pengangkatan serviks/leher rahim, rahim dan vagina. Setelah pembedahan ini mungkin perlu dilakukan pencangkokan kulit dan bedah plastik untuk membuat vagina buatan. 2. Terapi penyinaran Pada terapi penyinaran digunakan sinar X dosis tinggi atau sinar berenergi tinggi lainnya untuk membunuh sel-sel kanker dan memperkecil ukuran tumor. Penyinaran yang berasal dari sebuah mesin disebut radiasi eksterna, sedangkan penyinaran yang berasal dari sebuah kapsul/tabung yang mengandung zat radioaktif dan dimasukkan ke dalam vagina radiasi interna. Radiasi bisa digunakan secara terpisah atau sesudah pembedahan. 3. Kemoterapi Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi tersedia dalam bentuk pil atau suntikan intravena (melalui pembuluh darah). Kemoterapi merupakan pengobatan sistemik karena obat masuk ke dalam aliran darah dan bergerak ke seluruh tubuh serta membunuh sel-sel kanker yang berada diluar vagina. Pada kemoterapi intravagina, obat kemoterapi dimasukkan langsung ke dalam vagina. Pengobatan berdasarkan stadium Pengobatan kanker vagina tergantung kepada stadium dan jenis penyakit, serta usia dan

keadaan umum penderita. 1. Kanker vagina stadium 0 - Vaginektomi. Setelah vaginektomi mungkin harus dilakukan pencangkokan kulit untuk memperbaiki kerusakan pada vagina. - Terapi radiasi interna - Bedah laser - Kemoterapi intravagina. 2. Kanker vagina stadium I Kanker skuamosa - Radiasi interna dengan atau tanpa radiasi eksterna - Eksisi lokal luas, bisa diikuti dengan perbaikan vagina. Pada beberapa kasus, bisa diikuti dengan terapi penyinaran. - Vaginektomi dan diseksi kelenjar getah bening Adenokarsinoma - Vaginektomi dan pengangkatan rahim, ovarium serta tuba falopii, disertai diseksi kelenjar getah bening panggul. Prosedur ini diikuti dengan perbaikan vagina. Pada beberapa kasus bisa dilanjutkan dengan terapi penyinaran. - Radiasi interna dengan atau tanpa radiasi eksterna. - Pada kasus tertentu dilakukan eksisi lokal luas dan diseksi beberapa kelenjar getah bening panggul yang diikuti dengan radiasi interna. 3. Kanker vagina stadium II - Kombinasi radiasi interna dan eksterna - Pembedahan, yang bisa dilanjutkan dengan terapi penyinaran 4. Kanker vagina stadium III - Kombinasi radiasi interna dan eksterna - Pembedahan, kadang dikombinasikan dengan terapi penyinaran 5. Kanker vagina stadium IVA - Kombinasi radiasi interna dan eksterna - Pembedahan kadang dikombinasikan dengan terapi penyinaran 6. Kanker vagina stadium IVB - Penyinaran untuk meringankan gejala nyeri, mual, muntah maupun gangguan fungsi pencernaan - Kemoterapi. Jika kanker berulang (kambuh kembali) dan menyebar ke organ wanita lainnya, maka dilakukan eksenterasi, tergantung kepada lokasi penyebaran kanker. Bisa juga dilakukan terapi penyinaran dan kemoterapi. PENCEGAHAN Cara terbaik untuk mengurangi resiko kanker vagina adalah menghindari faktor resikonya.

Kanker Saluran Telur
DEFINISI Kanker Saluran Telur adalah tumor ganas pada saluran telur (tuba falopii). Kanker tuba falopii sangat jarang terjadi, di seluruh dunia dilaporkan kasus sebanyak kurang dari 1500-2000. Kanker biasanya merupakan penyebaran dari organ lain (misalnya ovarium/indung telur). Kanker saluran telur paling banyak ditemukan pada wanita pasca menopause, tetapi bisa juga ditemukan pada wanita yang lebih muda. Kebanyakan kanker saluran telur memiliki gambaran mikroskopik yang sama dengan kanker ovarium. Yang paling sering ditemukan adalah adenokarsinoma. PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui. GEJALA Kanker Saluran Telur adalah tumor ganas pada saluran telur (tuba falopii). Kanker tuba falopii sangat jarang terjadi, di seluruh dunia dilaporkan kasus sebanyak kurang dari 1500-2000. Kanker biasanya merupakan penyebaran dari organ lain (misalnya ovarium/indung telur). Kanker saluran telur paling banyak ditemukan pada wanita pasca menopause, tetapi bisa juga ditemukan pada wanita yang lebih muda. Kebanyakan kanker saluran telur memiliki gambaran mikroskopik yang sama dengan kanker ovarium. Yang paling sering ditemukan adalah adenokarsinoma.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada panggul ditemukan suatu massa yang membesar. Staging (Menentukan stadium kanker)  Stadium I : kanker terbatas pada saluran telur  Stadium II : kanker menyerang salah satu atau kedua saluran telur dan telah menyebar ke panggul  Stadium III : kanker pada salah satu atau kedua saluarn telur dan telah menyebar ke luar panggul  Stadium IV : kanker pada salah satu atau kedua saluran telura dan telah menyebar ke organ tubuh lainnya yang jauh. PENGOBATAN Pengobatan yang utama untuk kanker saluran telur adalah pembedahan untuk mengangkat kedua saluran telur, kedua indung telur dan rahim disertai pengangkatan kelenjar getah bening perut dan panggul. Pada kanker stadium lanjut, setelah pembedahan mungkin perlu dilakukan kemoterapi atau terapi penyinaran.

Mola Hidatidosa (Hamil Anggur) DEFINISI Mola Hidatidosa (Hamil Anggur) adalah suatu massa atau pertumbuhan di dalam rahim yang terjadi pada awal kehamilan. PENYEBAB

Mola hidatifosa berasal dari plasenta dan/atau jaringan janin sehingga hanya mungkin terjadi pada awal kehamilan. Massa biasanya terdiri dari bahan-bahan plasenta yang tumbuh tak terkendali. Sering tidak ditemukan janin sama sekali. Penyebab terjadinya mola belum sepenuhnya dimengerti. Penyebab yang paling mungkin adalah kelainan pada sel telur, rahim dan/atau kekurangan gizi. Resiko yang lebih tinggi ditemukan pada wanita yang berusia di bawah 20 tahun atau diatas 40 tahun. Faktor resiko terjadinya mola adalah:  Status sosial-ekonomi yang rendah  Diet rendah protein, asam folat dan karotin. GEJALA Gejalanya bisa berupa:  Perdarahan dari vagina pada wanita hamil (trimester I)  Mual dan muntah berat  Pembesaran perut melebihi usia kehamilan  Gejala-gejala hipertiroidisme ditemukan pada 10% kasus (denyut jantung yang cepat, gelisah, cemas, tidak tahan panas, penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya, tinja encer, tangan gemetar, kulit lebih hangat dan basah)  Gejala-gejala pre-eklamsi yang terjadi pada trimester I atau awal trimester II (tekanan darah tinggi, pembengkakan kaki-pergelangan kaki-tungkai, proteinuria).

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan panggul akan ditemukan tanda-tanda yang menyerupai kehamilan normal tetapi ukuran rahim abnormal dan terjadi perdarahan. Tinggi fundus rahim tidak sesuai dengan umur kehamilan dan tidak terdengar denyut jantung bayi. Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah:  Serum HCG untuk memastikan kehamilan, lalu HCG serial (diulang pada interval waktu tertentu)  USG panggul

 Rontgen dada dan CT scan/MRI perut. PENGOBATAN Mola harus dibuang seluruhnya, biasanya jika tidak terjadi aborsi spontan dan diagnosisnya sudah pasti, dilakukan aborsi terapeutik melalui prosedur dilatasi & kuretase. Setelah prosedur tersebut, dilakukan pengukuran kadar HCG untuk mengetahui apakah seluruh mola telah terbuang. Jika seluruh mola telah terbuang, maka dalam waktu 8 minggu kadar HCG akan kembali normal. Wanita yang pernah menjalani pengobatan untuk mola sebaiknya tidak hamil dulu dalam waktu 1 tahun. 2-3% kasus mola bisa berkembang menjadi keganasan (koriokarsinoma). Pada koriokarsinoma diberikan kemoterapi yaitu metotreksat, daktinomisin atau kombinasi kedua obat tersebut.

Kista Indung Telur
DEFINISI Kista indung telur biasanya berupa kantong yang tidak bersifat kanker yang berisi material cairan atau setengah cair. Meskipun kista tersebut biasanya kecil dan tidak menghasilkan gejala, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk meyakinkan bahwa hal ini bukan kanker. Tipe umum dari kista indung telur adalah kista folikel, kista lutein, dan yang berkaitan dengan penyakit polisistik indung telur. Kista indung telur dapat terbentuk kapan saja antara masa pubertas sampai menopause, termasuk selama kehamilan. Beberapa kista lutein malah sering terjadi saat kehamilan. Prognosisnya sangat baik apabila tidak berupa kanker. PENYEBAB Kista Folikuler secara tipikal kecil dan timbul dari folikel yang tidak sampai saat menopause, sekresinya akan terlalu banyak mengandung estrogen sebagai respon terhadap hipersekresi folikel stimulation hormon (FSH) dan luteinizing hormon (LH) normalnya ditemui saat menopause.

Kista granulosa lutein yang terjadi di dalam korpus luteum indung telur yang fungsional dan membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh penimbunan darah yang berlebihan saat fase pendarahan dari siklus menstruasi. Kista theka-lutein biasanya bersifat bilateral dan berisi cairan bening, berwarna seperti jerami; biasanya berhubungan dengan tipe lain dari tumor indung telur, serta terapi hormon. Penyakit polisistik indung telur, merupakan bagian dari sindrom Stein-Leventhal dan merupakan induk dari abnormalitas endokrin. GEJALA Kista indung telur kecil (seperti kista folikel) biasanya tidak menghasilkan gejala, kecuali terjadi pecah atau terpuntir sehingga menyebabkan sakit perut, distensi, dan kaku. Kista yang besar atau kista jumlah banyak dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada panggul, sakit pinggang, rasa sakit saat berhubungan seksual, pendarahan uterus yang abnormal tidak sepenting pola gangguan ovulasi. Kista indung telur yang mengalami pemuntiran menyebabkan sakit perut yang akut seperti serangan apendisitis. Kista granulo_lutein, timbul pada permulaan kehamilan dan dapat diameternya menjadi sebesar 5-6 cm dan menghasilkan rasa tidak enak di daerah panggul, apabila pecah, terjadi pendarahan masif pada satu sisi rongga perut. Pada wanita yang tidak hamil, kista ini akan membuat menstruasi terlambat diikuti dengan perpanjangan dan pendarahan ireguler. Kista indung telur polisistik juga menghasilkan tidak adanya menstruasi sekunder, penurunan siklus menstruasi dan terjadi infertilitas. DIAGNOSA Biasanya dokter akan mendiagnosis kista indung telur berdasarkan gejala dan tandatandanya. Pemeriksaaan fisik dan beberapa jenis pemeriksaan laboratorium akan membantu diagnosis dari beberapa tipe kista. Penglihatan indung telur melalui ultrasound, laparoskopi, atau operasi (selalu untuk kondisi yang berbeda) akan mengkonfirmasikan kista indung telur. PENGOBATAN Kista folikel tidak perlu diobati akan sembuh sendiri dalam waktu 60 hari. Walaupun demikian, apabila mengganggu aktivitas sehari-hari, berikan Clomiphene Citrate secara oral atau Progesteron intramuskular (juga selama 5 hari) akan memperbaiki siklus hormonal dan menginduksi ovulasi. Kontrasepsi oral juga akan mempercepat ovulasi fungsi kista (termasuk kedua tipe dari kista lutein dan kista folikel). Pengobatan pada kista granulosa lutein yang dijumpai pada saat kehamilan karena kista ini akan mengalami kemunduran pada kehamilan semester ketiga dan jarang memerlukan operasi. Kista theka-lutein akan menghilang secara spontan sesudah menyingkirkan

mola hidatidosa atau koriokarsinoma, atau memutuskan pemberian human chorio gonadotropin atau terapi c. Pengobatan kista polisistik indung telur dengan pemberian Clomiphene Citrate untuk mendorong ovulasi, Medroxyprogesterone acetate selama 10 hari dari setiap bulan bagi wanita yang tidak ingin hamil, atau dosis rendah kontrasepsi oral bagi wanita yang menginginkan pemakaian kontrasepsi. Operasi berguna untuk mengangkat kista yang persisten atau yang dicurigai. Apa yang dapat dilakukan oleh wanita yang menjalani operasi kista indung telur? Anda dianjurkan meningkatkan aktivitas di rumah secara bertahap sebaiknya selama lebih dari 4-6 minggu. Tidak melakukan hubungan seksual dan mempergunakan pembalut pada saat menstruasi.

GANGGUAN PADA PAYUDARA
Kanker Payudara
DEFINISI Kanker Payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. Terdapat beberapa jenis kanker payudara: 1. Karsinoma in situ Karsinoma in situ artinya adalah kanker yang masih berada pada tempatnya, merupakan kanker dini yang belum menyebar atau menyusup keluar dari tempat asalnya. 2. Karsinoma duktal Karsinoma duktal berasal dari sel-sel yang melapisi saluran yang menuju ke puting susu. Sekitar 90% kanker payudara merupakan karsinoma duktal. Kanker ini bisa terjadi sebelum maupun sesudah masa menopause. Kadang kanker ini dapat diraba dan pada pemeriksaan mammogram, kanker ini tampak sebagai bintik-bintik kecil dari endapan kalsium (mikrokalsifikasi). Kanker ini biasanya terbatas pada daerah tertentu di payudara dan bisa diangkat secara keseluruhan melalui pembedahan.

3.

4.

5. 6.

Sekitar 25-35% penderita karsinoma duktal akan menderita kanker invasif (biasanya pada payudara yang sama). Karsinoma lobuler Karsinoma lobuler mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, biasanya terjadi setelah menopause. Kanker ini tidak dapat diraba dan tidak terlihat pada mammogram, tetapi biasanya ditemukan secara tidak sengaja pada mammografi yang dilakukan untuk keperluan lain. Sekitar 25-30% penderita karsinoma lobuler pada akhirnya akan menderita kanker invasif (pada payudara yang sama atau payudara lainnya atau pada kedua payudara). Kanker invasif Kanker invasif adalah kanker yang telah menyebar dan merusak jaringan lainnya, bisa terlokalisir (terbatas pada payudara) maupun metastatik (menyebar ke bagian tubuh lainnya). Sekitar 80% kanker payudara invasif adalah kanker duktal dan 10% adalah kanker lobuler. Karsinoma meduler Kanker ini berasal dari kelenjar susu. Karsinoma tubuler Kanker ini berasal dari kelenjar susu.

PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor resiko yang menyebabkan seorang wanita menjadi lebih mungkin menderita kanker payudara. Beberapa faktor resiko tersebut adalah: 1. Usia. Sekitar 60% kanker payudara terjadi pada usia diatas 60 tahun. Resiko terbesar ditemukan pada wanita berusia diatas 75 tahun. 2. Pernah menderita kanker payudara. Wanita yang pernah menderita kanker in situ atau kanker invasif memiliki resiko tertinggi untuk menderita kanker payudara. Setelah payudara yang terkena diangkat, maka resiko terjadinya kanker pada payudara yang sehat meningkat sebesar 0,5-1%/tahun. 3. Riwayat keluarga yang menderita kanker payudara. Wanita yang ibu, saudara perempuan atau anaknya menderita kanker, memiliki resiko 3 kali lebih besar untuk menderita kanker payudara. 4. Faktor genetik dan hormonal. Telah ditemukan 2 varian gen yang tampaknya berperan dalam terjadinya kanker

payudara, yaitu BRCA1 dan BRCA2. Jika seorang mwanita memiliki salah satu dari gen tersebut, maka kemungkinan menderita kanker payudara sangat besar. Gen lainnya yang juga diduga berperan dalam terjadinya kanker payudara adalah p53, BARD1, BRCA3 dan Noey2. Kenyataan ini menimbulkan dugaan bahwa kanker payudara disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel yang secara genetik mengalami kerusakan. Faktor hormonal juga penting karena hormon memicu pertumbuhan sel. Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif wanita, terutama jika tidak diselingi oleh perubahan hormonal karena kehamilan, tampaknya meningkatkan peluang tumbuhnya sel-sel yang secara genetik telah mengalami kerusakan dan menyebabkan kanker. 5. Pernah menderita penyakit payudara non-kanker. Resiko menderita kanker payudara agak lebih tinggi pada wanita yang pernah menderita penyakit payudara non-kanker yang menyebabkan bertambahnya jumlah saluarn air susu dan terjadinya kelainan struktur jaringan payudara (hiperplasia atipik). 6. Menarke (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun, menopause setelah usia 55 tahun, kehamilan pertama setelah usia 30 tahun atau belum pernah hamil. Semakin dini menarke, semakin besar resiko menderita kanker payudara. Resiko menderita kanker payudara adalah 2-4 kali lebih besar pada wanita yang mengalami menarke sebelum usia 12 tahun. Demikian pula halnya dengan menopause ataupun kehamilan pertama. Semakin lambat menopause dan kehamilan pertama, semakin besar resiko menderita kanker payudara 7. Pemakaian pil KB atau terapi sulih estrogen. Pil KB bisa sedikit meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara, yang tergantung kepada usia, lamanya pemakaian dan faktor lainnya. Belum diketahui berapa lama efek pil akan tetap ada setelah pemakaian pil dihentikan. Terapi sulih estrogen yang dijalani selama lebih dari 5 tahun tampaknya juga sedikit meningkatkan resiko kanker payudara dan resikonya meningkat jika pemakaiannya lebih lama. 8. Obesitas pasca menopause. Obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara masih diperdebatkan. Beberapa penelitian menyebutkan obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara kemungkinan karena tingginya kadar estrogen pada wanita yang obes. 9. Pemakaian alkohol. Pemakaian alkoloh lebih dari 1-2 gelas/hari bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. 10. Bahan kimia. Beberapa penelitian telah menyebutkan pemaparan bahan kimia yang menyerupai estrogen (yang terdapat di dalam pestisida dan produk industri lainnya) mungkin meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. 11. DES (dietilstilbestrol). Wanita yang mengkonsumsi DES untuk mencegah keguguran memiliki resiko tinggi menderita kanker payudara.

12. Penyinaran. Pemaparan terhadap penyinaran (terutama penyinaran pada dada), pada masa kanak-kanak bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. 13. Faktor resiko lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kanker rahim, ovarium dan kanker usus besar serta adanya riwayat kanker dalam keluarga bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. GEJALA Gejala awal berupa sebuah benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari jaringan payudara di sekitarnya, tidak menimbulkan nyeri dan biasanya memiliki pinggiran yang tidak teratur. Pada stadium awal, jika didorong oleh jari tangan, benjolan bisa digerakkan dengan mudah di bawah kulit. Pada stadium lanjut, benjolan biasanya melekat pada dinding dada atau kulit di sekitarnya. Pada kanker stadium lanjut, bisa terbentuk benjolan yang membengkak atau borok di kulit payudara. Kadang kulit diatas benjolan mengkerut dan tampak seperti kulit jeruk. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: - Benjolan atau massa di ketiak - Perubahan ukuran atau bentuk payudara - Keluar cairan yang abnormal dari puting susu (biasanya berdarah atau berwarna kuning sampai hijau, mungkin juga bernanah) - Perubahan pada warna atau tekstur kulit pada payudara, puting susu maupun areola (daerah berwana coklat tua di sekeliling puting susu) - Payudara tampak kemerahan - Kulit di sekitar puting susu bersisik - Puting susu tertarik ke dalam atau terasa gatal - Nyeri payudara atau pembengkakan salah satu payudara . Pada stadium lanjut bisa timbul nyeri tulang, penurunan berat badan, pembengkakan lengan atau ulserasi kulit. Penyaringan Kanker pada stadium awal jarang menimbulkan gejala, karena itu sangat penting untuk melakukan penyaringan. Beberapa prosedur yang digunakan untuk penyaringan kanker payudara: 1. SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri). Jika SADARI dilakukan secara rutin, seorang wanita akan dapat menemukan benjolan pada stadium dini.

Sebaiknya SADARI dilakukan pada waktu yang sama setiap bulan. Bagi wanita yang masih mengalami menstruasi, waktu yang paling tepat untuk melakukan SADARI adalah 7-10 hari sesudah hari 1 menstruasi. Bagi wanita pasca menopause, SADARI bisa dilakukan kapan saja, tetapi secara rutin dilakuka setiap bulan (misalnya setiap awal bulan). 2. Mammografi. Pada mammografi digunakan sinar X dosis rendah untuk menemukan daerah yang abnormal pada payudara. Para ahli menganjurkan kepada setiap wanita yang berusia diatas 40 tahun untuk melakukan mammogram secara rutin setiap 1-2 tahun dan pada usia 50 tahun keatas mammogarm dilakukan sekali/tahun. 3. USG payudara. USG digunakan untuk membedakan kista (kantung berisi cairan) dengan benjolan padat. 4. Termografi. Pada termografi digunakan suhu untuk menemukan kelainan pada payudara. SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) 1. Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan normal, ukuran payudara kiri dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan perubahan perbedaan ukuran antara payudara kiri dan kanan dan perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau keluarnya cairan dari puting susu. Perhatikan apakah kulit pada puting susu berkerut. 2. Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di belakang kepala dan kedua tangan ditarik ke belakang. Dengan posisi seperti ini maka akan lebih mudah untuk menemukan perubahan kecil akibat kanker. Perhatikan perubahan bentuk dan kontur payudara, terutama pada payudara bagian bawah. 3. Kedua tangan di letakkan di pinggang dan badan agak condong ke arah cermin, tekan bahu dan sikut ke arah depan. Perhatikan perubahan ukuran dan kontur payudara. 4. Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan kanan, telusuri payudara kiri. Gerakkan jari-jari tangan secara memutar (membentuk lingkaran kecil) di sekeliling payudara, mulai dari tepi luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke puting susu. Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di bawah kulit. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan cara mengangkat lengan kanan dan memeriksanya dengan tangan kiri. Perhatikan juga daerah antara kedua payudara dan ketiak. 5. Tekan puting susu secara perlahan dan perhatikan apakah keluar cairan dari puting susu. Lakukan hal ini secara bergantian pada payudara kiri dan kanan. 6. Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu kiri dan lengan kiri ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan menggunakan jari-jari tangan kanan. Dengan posisi seperti ini, payudara akan mendatar dan memudahkan pemeriksaan.

Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan meletakkan bantal di bawah bahu kanan dan mengangkat lengan kanan, dan penelusuran payudara dilakukan oleh jari-jari tangan kiri. Pemeriksaan no. 4 dan 5 akan lebih mudah dilakukan ketika mandi karena dalam keadaan basah tangan lebih mudah digerakkan dan kulit lebih licin.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan berikut:  Biopsi (pengambilan contoh jaringan payudara untuk diperiksa dengan mikroskop)  Rontgen dada  Pemeriksaan darah untuk menilai fungsi hati dan penyebaran kanker  Skening tulang (dilakukan jika tumornya besar atau ditemukan pembesaran kelenjar getah bening)  Mammografi  USG payudara. Staging (Penentuan Stadium Kanker) Penentuan stadium kanker penting sebagai panduan pengobatan, follow-up dan menentukan prognosis. Staging kanker payudara (American Joint Committee on Cancer): - Stadium 0 : Kanker in situ dimana sel-sel kanker berada pada tempatnya di dalam jaringan payudara yang normal - Stadium I : Tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm dan belum menyebar keluar payudara - Stadium IIA : Tumor dengan garis tengah 2-5 cm dan belum menyebar ke kelenjar getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm tetapi sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak - Stadium IIB : Tumor dengan garis tengah lebih besar dari 5 cm dan belum menyebar ke kelenjar getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah 2-5 cm tetapi sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak - Stadium IIIA : Tumor dengan garis tengah kurang dari 5 cm dan sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak disertai perlengketan satu sama lain atau perlengketah ke

struktur lainnya; atau tumor dengan garis tengah lebih dari 5 cm dan sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak - Stadium IIIB : Tumor telah menyusup keluar payudara, yaitu ke dalam kulit payudara atau ke dinding dada atau telah menyebar ke kelenjar getah bening di dalam dinding dada dan tulang dada - Stadium IV : Tumor telah menyebar keluar daerah payudara dan dinding dada, misalnya ke hati, tulang atau paru-paru. Selain stadium kanker, terdapat faktor lain yang mempengaruhi jenis pengobatan dan prognosis:  Jenis sel kanker  Gambaran kanker  Respon kanker terhadap hormon Kanker yang memiliki reseptor estrogen tumbuh secara lebih lambat dan lebih sering ditemukan pada wanita pasca menopause.  Ada atau tidaknya gen penyebab kanker payudara. PENGOBATAN Biasanya pengobatan dimulai setelah dilakukan penilaian secara menyeluruh terhadap kondisi penderita, yaitu sekitar 1 minggu atau lebih setelah biopsi. Pengobatannya terdiri dari pembedahan, terapi penyinaran, kemoterapi dan obat penghambat hormon. Terapi penyinaran digunakan membunuh sel-sel kanker di tempat pengangkatan tumor dan daerah sekitarnya, termasuk kelenjar getah bening. Kemoterapi (kombinasi obat-obatan untuk membunuh sel-sel yang berkembanganbiak dengan cepat atau menekan perkembangbiakannya) dan obat-obat penghambat hormon (obat yang mempengaruhi kerja hormon yang menyokong pertumbuhan sel kanker) digunakan untuk menekan pertumbuhan sel kanker di seluruh tubuh. Pengobatan untuk kanker payudara yang terlokalisir Untuk kanker yang terbatas pada payudara, pengobatannya hampir selalu meliputi pembedahan (yang dilakukan segera setelah diagnosis ditegakkan) untuk mengangkat sebanyak mungkin tumor. Terdapat sejumlah pilihan pembedahan, pilihan utama adalah mastektomi (pengangkatan seluruh payudara) atau pembedahan breast-conserving (hanya mengangkat tumor dan jaringan normal di sekitarnya). Pembedahan breast-conserving 1. Lumpektomi : pengangkatan tumor dan sejumlah kecil jaringan normal di sekitarnya 2. Eksisi luas atau mastektomi parsial : pengangkatan tumor dan jaringan normal di sekitarnya yang lebih banyak

3. Kuadrantektomi : pengangkatan seperempat bagian payudara. Pengangkatan tumor dan beberapa jaringan normal di sekitarnya memberikan peluang terbaik untuk mencegah kambuhnya kanker. Keuntungan utama dari pembedahan breast-conserving ditambah terapi penyinaran adalah kosmetik. Biasanya efek samping dari penyinaran tidak menimbulkan nyeri dan berlangsung tidak lama. Kulit tampak merah atau melepuh. Mastektomi 1. Mastektomi simplek : seluruh jaringan payudara diangkat tetapi otot dibawah payudara dibiarkan utuh dan disisakan kulit yang cukup untuk menutup luka bekas operasi. Rekonstruksi payudara lebih mudah dilakukan jika otot dada dan jaringan lain dibawah payudara dibiarkan utuh. Prosedur ini biasanya digunakan untuk mengobati kanker invasif yang telah menyebar luar ke dalam saluran air susu, karena jika dilakukan pembedahan breast-conserving, kanker sering kambuh. 2. Mastektomi simplek ditambah diseksi kelenjar getah bening atau modifikasi mastektomi radikal : seluruh jaringan payudara diangkat dengan menyisakan otot dan kulit, disertai pengangkatan kelenjar getah bening ketiak. 3. Mastektomi radikal : seluruh payudara, otot dada dan jaringan lainnya diangkat. Terapi penyinaran yang dilakukan setelah pembedahan, akan sangat mengurangi resiko kambuhnya kanker pada dinding dada atau pada kelenjar getah bening di sekitarnya. Ukuran tumor dan adanya sel-sel tumor di dalam kelenjar getah bening mempengaruhi pemakaian kemoterapi dan obat penghambat hormon. Beberapa ahli percaya bahwa tumor yang garis tengahnya lebih kecil dari 1,3 cm bisa diatasi dengan pembedahan saja. Jika garis tengah tumor lebih besar dari 5 cm, setelah pembedahan biasanya diberikan kemoterapi. Jika garis tengah tumor lebih besar dari 7,6 cm, kemoterapi biasanya diberikan sebelum pembedahan. Penderita karsinoma lobuler in situ bisa tetap berada dalam pengawasan ketat dan tidak menjalani pengobatan atau segera menjalani mastektomi bilateral (pengangkatan kedua payudara). Hanya 25% karsinoma lobuler yang berkembang menjadi kanker invasif sehingga banyak penderita yang memilih untuk tidak menjalani pengobatan. Jika penderita memilih untuk menjalani pengobatan, maka dilakukan mastektomi bilateral karena kanker tidak selalu tumbuh pada payudara yang sama dengan karsinoma lobuler. Jika penderita menginginkan pengobatan selain mastektomi, maka diberikan obat penghambat hormon yaitu tamoxifen. Setelah menjalani mastektomi simplek, kebanyakan penderita karsinoma duktal in situ tidak pernah mengalami kekambuhan.

Banyak juga penderita yang menjalani lumpektomi, kadang dikombinasi dengan terapi penyinaran. Kanker payudara inflamatoir adalah kanker yang sangat serius meskipun jarang terjadi. Payudara tampak seperti terinfeksi, teraba hangat, merah dan membengkak. Pengobatannya terdiri dari kemoterapi dan terapi penyinaran. Rekonstrusi payudara Untuk rekonstruksi payudara bisa digunakan implan silikon atau salin maupun jaringan yang diambil dari bagian tubuh lainnya. Rekonstruksi bisa dilakukan bersamaan dengan mastektomi atau bisa juga dilakukan di kemudian hari. Akhir-akhir ini keamanan pemakaian silikon telah dipertanyakan. Silikon kadang merembes dari kantongnya sehingga implan menjadi keras, menimbulkan nyeri dan bentuknya berubah. Selain itu, silikon kadang masuk ke dalam laliran darah. Kemoterapi & Obat Penghambat Hormon Kemoterapi dan obat penghambat hormon seringkali diberikan segera setelah pembedahan dan dilanjutkan selama beberapa bulan atau tahun. Pengobatan ini menunda kembalinya kanker dan memperpanjang angka harapan hidup penderita. Pemberian beberapa jenis kemoterapi lebih efektif dibandingkan dengan kemoterapi tunggal. Tetapi tanpa pembedahan maupun penyinara, obat-obat tersebut tidak dapat menyembuhkan kanker payudara. Efek samping dari kemoterapi bisa berupa mual, lelah, muntah, luka terbuka di mulut yang menimbulkan nyeri atau kerontokan rambut yang sifatnya sementara. Pada saat ini muntah relatif jarang terjadi karena adanya obat ondansetron. Tanpa ondansetron, penderita akan muntah sebanyak 1-6 kali selama 1-3 hari setelah kemoterapi. Berat dan lamanya muntah bervariasi, tergantung kepada jenis kemoterapi yang digunakan dan penderita. Selama beberapa bulan, penderita juga menjadi lebih peka terhadap infeksi dan perdarahan. Tetapi pada akhirnya efek samping tersebut akan menghilang. Tamoxifen adalah obat penghambat hormon yang bisa diberikan sebagai terapi lanjutan setelah pembedahan. Tamoxifen secara kimia berhubungan dengan esrogen dan memiliki beberapa efek yang sama dengan terapisulih hormon (misalnya mengurangi resiko terjadinya osteoporosis dan penyakit jantung serta meningkatkan resiko terjadinya kanker rahim). Tetapi tamoxifen tidak mengurangi hot flashes ataupun merubah kekeringan vagina akibat menopause.

Pengobatan kanker payudara yang telah menyebar Kanker payudara bisa menyebar ke berbagai bagian tubuh. Bagian tubuh yang paling sering diserang adalah paru-paru, hati, tulang, kelenjar getah bening, otak dan kulit. Kanker muncul pada bagian tubuh tersebut dalam waktu bertahun-tahun atau bahkan berpuluh-puluh tahun setelah kanker terdiagnosis dan diobati. Penderita kanker payudara yang telah menyebar tetapi tidak menunjukkan gejala biasanya tidak akan memperoleh keuntungan dari pengobatan. Akibatnya pengobatan seringkali ditunda sampai timbul gejala (misalnya nyeri) atau kanker mulai memburuk. Jika penderita merasakan nyeri, diberikan obat penghambat hormon atau kemoterapi untuk menekan pertumbuhan sel kanker di seluruh tubuh. Tetapi jika kanker hanya ditemukan di tulang, maka dilakukan terapi penyinaran. Terapi penyinaran merupakan pengobatan yang paling efektif untuk kanker tulang dan kanker yang telah menyebar ke otak. Obat penghambat hormon lebih sering diberikan kepada: - kanker yang didukung oleh estrogen - penderita yang tidak menunjukkan tanda-tanda kanker selama lebih dari 2 tahun setelah terdiagnosis - kanker yang tidak terlalu mengancam jiwa penderita. Obat tersebut sangat efektif jika diberikan kepada penderita yang berusia 40 tahun dan masih mengalami menstruasi serta menghasilkan estrogen dalam jumlah besar atau kepada penderita yang 5 tahun lalu mengalami menopause. Tamoxifen memiliki sedikit efek samping sehngga merupakan obat pilihan pertama. Selain itu, untuk menghentikan pembentukan estrogen bisa dilakukan pembedahan untuk mengangkat ovarium (indung telur) atau terapi penyinaran untuk menghancurkan ovarium. Jika kanker mulai menyebar kembali berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah pemberian obat penghambat hormon, maka digunakan obat penghambat hormon yang lain. Aminoglutetimid adalah obat penghambat hormon yang banyak digunakan untuk mengatasi rasa nyeri akibat kanker di dalam tulang. Hydrocortisone (suatu hormon steroid) biasanya diberikan pada saat yang bersamaan, karena aminoglutetimid menekan pembentukan hydrocortisone alami oleh tubuh. Kemoterapi yang paling efektif adalah cyclophosphamide, doxorubicin, paclitaxel, dosetaxel, vinorelbin dan mitomycin C. Obat-obat ini seringkali digunakan sebagai tambahan pada pemberian obat penghambat hormon. PROGNOSIS Stadium klinis dari kanker payudara merupakan indikator terbaik untuk menentukan

prognosis penyakit ini. Angka kelangsungan hidup 5 tahun pada penderita kanker payudara yang telah menjalani pengobatan yang sesuai mendekati: - 95% untuk stadium 0 - 88% untuk stadium I - 66% untuk stadium II - 36% untuk stadium III - 7% untuk stadium IV. PENCEGAHAN Banyak faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan. Beberapa ahli diet dan ahli kanker percaya bahwa perubahan diet dan gaya hidup secara umum bisa mengurangi angka kejadian kanker. Diusahakan untuk melakukan diagnosis dini karena kanker payudara lebih mudah diobati dan bisa disembhan jika masih pada stadium dini. SADARI, pemeriksan payudara secara klinis dan mammografi sebagai prosedur penyaringan merupakan 3 alat untuk mendeteksi kanker secara dini. Penelitian terakhir telah menyebutkan 2 macam obat yang terbukti bisa mengurangi resiko kanker payudara, yaitu tamoxifen dan raloksifen. Keduanya adalah anti estrogen di dalam jaringan payudara. tamoxifen telah banyak digunakan untuk mencegah kekambuhan pada penderita yang telah menjalani pengobatan untuk kanker payudara. Obat ini bisa digunakan pada wanita yang memiliki resiko sangat tinggi. Mastektomi pencegahan adalah pembedahan untuk mengangkat salah satu atau kedua payudara dan merupakan pilihan untuk mencegah kanker payudara pada wanita yang memiliki resiko sangat tinggi (misalnya wanita yang salah satu payudaranya telah diangkat karena kanker, wanita yang memiliki riwayat keluarga yang menderita kanker payudara dan wanita yang memiliki gen p53, BRCA1 atau BRCA 2).

Mastalgia (Nyeri Payudara)
DEFINISI Mastalgia adalah nyeri payudara. Nyeri payudara dibagi ke dalam 2 kelompok: 1. Mastalgia siklik : berhubungan dengan menstruasi 2. Mastalgia non-siklik : tidak berhubungan dengan menstruasi dan bisa berasal dari

payudara maupun struktur di sekitar payudara (misalnya otot atau persendian). PENYEBAB Jenis mastalgia yang paling sering ditemukan adalah mastalgia siklik yang terjadi akibat perubahan hormonal. Beberapa wanita merasakan nyeri payudara di sekitar masa ovulasi (pelepasan sel telur) yang terus berlanjut sampai masa menstruasi tiba. Nyeri bisa hanya dirasakan di salah satu payudara atau bisa juga menjalar ke ketiak. Nyeri pada mastalgia non-siklik biasanya terus menerus ada dan hanya pada lokasi tertentu di payudara. Penyebabnya bisa berupa:  Cedera atau benturan pada payudara  Nyeri artritik di dalam rongga dada dan leher yang menjalar ke payudara  Kehamilan  Menyusui  Menjelang menopause  Terapi estrogen  Infeksi payudara  Menjelang pubertas  Obat-obatan (misalnya digitalis, aldomet, aldakton, anadrol dan klorpromazin)  Alkoholik disertai kerusakan hati  Zat tertentu di dalam makanan atau minuman (misalnya metilsantin yang terkandung di dalam kopi)  Kanker payudara (tetapi tidak setiap nyeri pada payudara merupakan pertanda dari kanker payudara). GEJALA Payudara terasa nyeri atau nyeri timbul bila payudara ditekan. Nyeri bisa dirasakan pada salah satu ataupun kedua payudara, nyerinya bisa menyebar atau terlokalisir. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Jika pada pemeriksaan payudara ditemukan adanya benjolan, maka dilakukan pemeriksaan berikut:  Mammogram  USG payudara  Biopsi jaringan payudara. PENGOBATAN Mastalgia siklik  Diuretik  EPO (evening primrose oil, dosis 3 gram/hari) EPO mengandung asam lemak tak jenuh ganda dan bisa menormalkan kandungan asam

lemak pada penderita mastalgia siklik.  Pil KB  Progesteron/u>  Tamoxifen Tamoxifen adalah suatu anti estrogen yang digunakan untuk mengobati atau mencegah kanker payudara. Obat ini efektif dalam mengurangi mastalgia.  Viteks (Vitex agnus-castus, dosis 40 mg/hari) Viteks dapat menyeimbangkan kadar hormon pada penderita mastalgia siklik dan sindroma premenstruasi. Obat lainnya yang juga digunakan adalah danazol dan bromocriptine. Pengobatan untuk mastitis non-siklik tergantung kepada penyebabnya. Cedera pada permukaan payudara yang menunjukkan adanya infeksi diobati dengan antibiotik. Untuk kedua jenis mastitis bisa dilakukan pengobatan berikut:  Gunakan BH yang nyaman dan pas. Hal ini sangat penting jika penderita melakukan olah raga berat. BH yang pas bisa mengurangi nyeri secara drastis.  Kurangi asupan lemak jenuh dan garam  Vitamin E (400-800 unit/hari)  Kurangi asupan kopi, teh dan coklat  Obat pereda nyeri yang dijual bebas. Kebanyakan nyeri bersifat ringan dan menghilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa bulan atau tahun.

Kista Payudara
DEFINISI Kista Payudara adalah kantung berisi cairan yang ditemukan di dalam payudara. PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui, kemungkinan melibatkan cedera payudara yang ringan. Kista paling banyak ditemukan pada wanita menjelang masa menopause. Tetapi kista dapat terjadi pada wanita pasca menopause, terutama jika mereka menjalni terapi sulih hormon. GEJALA Kista kadang menyebabkan nyeri payudara.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Kista teraba licin, bisa digerakkan, berbatas tegas dan kadang nyeri bila ditekan. Pemeriksaan yang biasa dilakukan untuk memastikan adanya kista payudara adalah:  Mammografi  USG payudara. PENGOBATAN Untuk mengurangi nyeri, cairan dari dalam kista bisa diambil dengan menggunakan jarum. Jika cairan tersebut mengandung darah, berwarna coklat atau keruh, atau kembali terkumpul dalam waktu 12 minggu setelah cairan diambil, maka seluruh kista harus dibuang melalui pembedahan karena kemungkinan bisa terjadi keganasan pada dinding kista.

Penyakit Payudara Fibrokista
DEFINISI Penyakit Payudara Fibrokista adalah suatu keadaan yang terdiri dari nyeri, kista dan benjolan jinak pada payudara. Sebetulnya pemakaian istilah penyakit disini kurang tepat karena keadaan ini bukan merupakan suatu penyakit. Keadaan tersebut sangat sering ditemukan pada payudara yang normal dan merupakan variasi normal. Perubahan fibrokista merupakan penyebab tersering dari benjolan payudara pada wanita yang berusia 30-50 tahun. Perubahan fibrokista bukan merupakan keganasan. Minimal 60% wanita selama masa reproduktifnya memiliki benjolan payudara sebagai akibat dari perubahan fibrokista. PENYEBAB Penyebabnya berhubungan dengan respon jaringan payudara terhadap perubahan kadar estrogen dan progesteron yang terjadi setiap bulan selama masa reproduktif wanita. Setiap bulan selama 1 siklus menstruasi, jaringan payudara membengkak dan kembali normal. Rangsangan hormon terhadap jaringan payudara menyebabkan payudara menahan air serta kelenjar susu dan salurannya melebar. Pada saat ini payudara terasa membengkak, nyeri dan memiliki benjolan Setelah menstruasi, biasanya pembengkakan payudara berkurang adan payudara tidak terlalu nyeri dan tidak memiliki benjolan. Karena itu saat terbaik untuk untuk memeriksa

payudara adalah pada 7-10 hari setelah menstruasi (ketika jaringan payudara dalam keadaan normal). Biasanya perubahan fibrokista terjadi pada kedua payudara dan lebih jarang ditemukan pada wanita yang menggunakan pil KB> Faktor resiko terjadinya perubahan fibrokista adalah riwayat keluarga dengan keadaan serupa dan diet (misalnya asupan lemak dan kafein yang berlebihan). GEJALA Gejalanya bisa berupa:  benjolan padat dengan bentuk yang tidak teratur.  nyeri payudara yang sifatnya menetap atau hilang-timbul  payudara terasa penuh  nyeri tumpul dan berat  pembengkakan dan nyeri tekan sebelum menstruasi  nyeri payudara berkurang setiap selesai menstruasi. Gejalanya bisa ringan atau berat dan mencapai puncaknya sesaat sebelum menstruasi serta menghilang segera setelah menstruasi.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan payudara akan teraba massa yang bisa digerakkan, bentuknya baisanya bundar dengan permukaan yang licin . Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah;  Mammografi  USG payudara. PENGOBATAN Jika benjolan tetap ada, mungkin perlu dilakukan biopsi (pengangkatan jaringan untuk diperiksa dengan mikroskop). Untuk mengurangi nyeri, sebaiknya penderita tidak mengkonsumsi kopi, teh, coklat dan minuman ringan. Selain itu bisa digunakan obat pereda nyeri. Rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan kompres hangat dan pemakaian BH yang tepat. Kadang diberikan vitamin E. Untuk mengurangi gejala bisa diberikan pil KB. Pada kasus yang berat kadang diberikan danazol. Kadang benjolan harus diangkat melalui pembedahan.

Fibroadenoma
DEFINISI Fibroadenoma adalah benjolan padat yang kecil dan jinak pada payudara yang teridiri dari jaringan kelenjar dan fibrosa. Benjolan ini biasanya ditemukan pada wanita muda, seringkali ditemukan pada remaja putri. PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui. GEJALA Benjolan mudah digerakkan, batasnya jelas dan bisa dirasakan pada SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri). Teraba kenyal karena mengandung kolagen (serat protein yan gkuat yang ditemukan di dalam tulang rawan, urat daging dan kulit).

SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) 1. Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan normal, ukuran payudara kiri dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan perubahan perbedaan ukuran antara payudara kiri dan kanan dan perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau keluarnya cairan dari puting susu. Perhatikan apakah kulit pada puting susu berkerut. 2. Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di belakang kepala dan kedua tangan ditarik ke belakang. Dengan posisi seperti ini maka akan lebih mudah untuk menemukan perubahan kecil akibat kanker. Perhatikan perubahan bentuk dan kontur payudara, terutama pada payudara bagian bawah. 3. Kedua tangan di letakkan di pinggang dan badan agak condong ke arah cermin, tekan bahu dan sikut ke arah depan. Perhatikan perubahan ukuran dan kontur payudara. 4. Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan kanan, telusuri payudara kiri. Gerakkan jari-jari tangan secara memutar (membentuk lingkaran kecil) di sekeliling payudara, mulai dari tepi luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke puting susu. Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di bawah kulit. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan cara mengangkat lengan kanan dan memeriksanya dengan tangan kiri. Perhatikan juga daerah antara kedua payudara dan ketiak.

5. Tekan puting susu secara perlahan dan perhatikan apakah keluar cairan dari puting susu. Lakukan hal ini secara bergantian pada payudara kiri dan kanan. 6. Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu kiri dan lengan kiri ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan menggunakan jari-jari tangan kanan. Dengan posisi seperti ini, payudara akan mendatar dan memudahkan pemeriksaan. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan meletakkan bantal di bawah bahu kanan dan mengangkat lengan kanan, dan penelusuran payudara dilakukan oleh jari-jari tangan kiri. Pemeriksaan no. 4 dan 5 akan lebih mudah dilakukan ketika mandi karena dalam keadaan basah tangan lebih mudah digerakkan dan kulit lebih licin.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaa fisik. Benjolan cenderung berbentuk bundar dan memiliki pinggiran yang dapat dibedakan dengan jaringan payudara di sekitarnya, sehingga seringkali teraba seperti ada kelereng di dalam jaringan payudara. Untuk membantu menegakkan diagnosa biasanya dilakukan aspirasi jarum atau biopsi. PENGOBATAN Fibroadenoma seringkali berhenti tumbuh atau bahkan mengecil dengan sendirinya. Pada kasus seperti ini, tumor biasanya tidak diangkat.

Jika fibroadenoma terus membesar, maka harus dibuang melalui pembedahan.

Infeksi & Abses Payudara
DEFINISI Infeksi Payudara (Mastitis) adalah suatu infeksi pada jaringan payudara. Pada infeksi yang berat atau tidak diobati, bisa terbentuk abses payudara (penimbunan nanah di dalam payudara). PENYEBAB Infeksi payudara biasanya disebabkan oleh bakteri yang banyak ditemukan pada kulit yang normal (Staphylococcus aureus). Bakteri seringkali berasal dari mulut bayi dan masuk ke dalam saluran air susu melalui sobekan atau retakan di kulit (biasanya pada puting susu). Mastitis biasanya terjadi pada wanita yang menyusui dan paling sering terjadi dalam waktu 1-3 bulan setelah melahirkan. Sekitar 1-3% wanita menyusui mengalami mastitis pada beberapa minggu pertama setelah melahirkan. Pada wanita pasca menopause, infeksi payudara berhubungan dengan peradangan menahun dari saluran air susu yang terletak di bawah puting susu. Perubahan hormonal di dalam tubuh wanita menyebabkan penyumbatan saluran air susu oleh sel-sel kulit yang mati. Saluran yang tersumbat ini menyebabkan payudara lebih mudah mengalami infeksi. GEJALA Gejalanya berupa: - nyeri payudara - benjolan pada payudara - pembengkakan salah satu payudara - jaringan payudara membengkak, nyeri bila ditekan, kemerahan dan teraba hangat - nipple discharge (keluar cairan dari puting susu, bisa mengandung nanah) - gatal-gatal - pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang sama dengan payudara yang terkena - demam.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Jika tidak sedang menyusui, bisa dilakukan mammografi atau biopsi payudara. PENGOBATAN Dilakukan pengompresan hangat pada payudara selama 15-20 menit, 4 kali/hari. Diberikan antibiotik dan untuk mencegah pembengkakan, sebaiknya dilakukan pemijatan dan pemompaan air susu pada payudara yang terkena. Jika terjadi abses, biasanya dilakukan penyayatan dan pembuangan nanah, serta dianjurkan untuk berhenti menyusui. Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan obat pereda nyeri (misalnya acetaminophen atau ibuprofen). Kedua obat tersebut aman untuk ibu menyusui dan bayinya. PENCEGAHAN Untuk mencegah terjadinya mastitis bisa dilakukan beberapa tindakan berikut:  Menyusui secara bergantian payudara kiri dan kanan  Untuk mencegah pembengkakan dan penyumbatan saluran, kosongkan payudara dengan cara memompanya  Gunakan teknik menyusui yang baik dan benar untuk mencegah robekan/luka pada puting susu  Minum banyak cairan  Menjaga kebersihan puting susu  Mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.

Penyakit Paget Pada Puting Susu
DEFINISI Penyakit Paget Pada Puting Susu adalah sejenis kanker payudara yang pertama kali muncul sebagai luka terbuka pada puting susu yang berkeropeng dan bersisik atau sebagai cairan yang keluar dari puting susu. Penyakit Paget jarang terjadi dan hanya meliputi 1% dari semua kanker payudara. Biasanya terjadi pada wantia yang berusia 50 tahun. PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui. Pada penyakit Paget, tumor mulai tumbuh di dalam saluran air susu pada puting susu. GEJALA Kulit pada puting susu dan areola (daerah berwarna coklat di sekelilling puting susu) tampak merah dan meradang serta membentuk keropeng dan borok, juga mengalami perdarahan. Luka terbuka pada puting susu ini tidak sembuh-sembuh dan disertai gatal-gatal dan perih, biasanya unilateral (hanya satu puting susu yang terkena). Puting susu tertarik ke dalam dan mungkin akan keluar cairan dari puting susu. Pada payudara bisa ditemukan benjolan atau mungkin juga tidak ada benjolan.

DIAGNOSA Gambarannya menyerupai eksim, dermatitis atau psoriasis, karena itu untuk membedakan penyakit Paget dari beberapa penyakit tersebut dilakukan pemeriksaan berikut:  Biopsi kulit dan jaringan payudara di bawahnya  Sitologi kerokan kulit  Mammogram. PENGOBATAN Jika kanker hanya ditemukan pada puting susu dan tidak ditemukan pada payudara, maka dilakukan pengangkatan puting susu dan jaringan di sekitarnya atau dilakukan terapi penyinaran. Jika ditemukan suatu massa jauh di dalam payudara, maka dipertimbangkan untuk menjalani terapi pembedahan, penyinaran dan kemoterapi. Pembedahan merupakan pengobatan yang utama pada penyakit Paget. Mastektomi (pengangkatan payudara) dilakukan jika kankernya luas atau telah menyebar keluar dari puting susu. Jika kankernya terletak di dekat puting susu dan hanya melibatkan sejumlah kecil daerah

dibawahnya, maka dilakukan pembedahan breast-conserving (menyisakan jaringan payudara sebanyak mungkin). Jadi yang diangkat hanya puting susu, areola dan jaringan dibawahnya serta sebagian kecil jaringan normal di sekitarnya. Pada beberapa penderita, perlu dilakukan pengobatan lanjutan yang bisa berupa kemoterapi, obat penghambat hormon (tamoxifen) maupun terapi penyinaran. Setelah menjalani pembedahan breast-conserving biasanya dianjurkan untuk menjalani terapi penyinaran terhadap jaringan payudara yang tersisa. Pada kemoterapi digunakan obat anti-kanker untuk menghancurkan sel-sel kanker.

Sistosarkoma Filodes
DEFINISI Sistosarkoma Filodes adalah sejenis tumor jinak payudara yang relatif jarang terjadi dan bisa berkembang menjadi keganasan. Tumor ini jarang menyebar ke daerah lainnya, tetapi setelah pembedahan cenderung kembali tumbuh di tempat yang sama. 1% dari tumor pada payudara merupakan tumor filodes. Biasanya tumor ini menyerang wanita yang berusia 50 tahun. PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui. GEJALA Tumor ini memiliki batas yang tegas, licin dan mudah digerakkan. Ukurannya relatif besar, rata-rata memiliki garis tengah 5 cm. Kulit diatasnya tampak mengkilat dan agak transparan sehingga pembuluh darah dibawahnya terlihat. Penyebaran tumor (metastase) paling sering terjadi ke paru-paru, tulang, jantung dan hari. Jika tumor telah menyebar, penderita akan merasakan sesak nafas, lelah dan nyeri tulang. Gejala-gejala dari penyebaran tumor biasanya muncul dalam beberapa bulan, tetapi bisa juga baru terjadi dalam waktu 12 tahun setelah pengobatan. Kebanyakan penderita yang mengalami metastase akan meninggal dalam waktu 3 tahun setelah pengobatan. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan biopsi payudara.

PENGOBATAN Biasanya dilakukan pengangkatan tumor dan jaringan normal di sekitarnya dalam jumlah yang cukup besar (eksisi luas). Jika tumornya besar atau menunjukkan keganasan, maka dilakukan mastektomi simplek (pengangkatan seluruh payudara dengan meninggalkan otot di bawahnya dan kulit yang cukup untuk menutup luka operasi).

Nipple Discharge
DEFINISI Nipple Discharge adalah cairan yang keluar dari puting susu. Sekitar 20% wanita mengeluarkan cairan yang menyerupai susu atau cairan jernih secara spontan. Ketika melakukan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri), akan keluar cairan dari payudara pada 50-60% wanita kulit putih dan wanita kulit hitam, serta 40% wanita AsiaAmerika. PENYEBAB Penyebabnya bisa berupa:  Abses payudara (paling sering ditemukan pada wanita menyusui)  Cedera pada payudara  Obat-obatan (misalnya simetidin, metildopa, metoklopramid, pil KB, fenotiazin, reserpin, antidepresi trisiklik atau verapamil)  Prolaktioma (tumor di dalam otak yang menghasilkan prolaktin). Prolaktin adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa, yang memicu pertumbuhan kelenjar susu dan pembentukan air susu.  Papiloma intraduktal (tumor jinak yang tumbuh di dalam saluran payudara)  Ektasia duktus (pelebaran dan pengerasan saluran payudara akibat penuaan dan kerusakan). Nipple discharge yang bukan karena keganasan, hampir separuhnya disebabkan oleh papiloma dan sisanya disebabkan oleh perubahan fibrokista atau ektasia duktus. Nipple discharge yang merupakan keganasan hanya sekitar 10% dan hampir selalu unilateral. GEJALA Cairan yang seperti susu (keruh, berwarna keputihan, encer dan tidak lengket) adalah jenis cairan yang paling sering ditemukan dan kebanyakan disebabkan oleh laktasi (pembentukan air susu) atau menigkatnya mekanisme perangsangan puting susu akibat sentuhan, pengisapan atau iritasi pakaian selama melakukan olah raga atau aktivitas lainnya.

Jika cairannya mengandung darah atau encer (serosa) penyebabnya adalah papiloma atau infeksi. Biasanya cairan yang jernih, seperti susu, kuning atau hijau, dan keluar dari kedua puting susu, bukan merupakan pertanda dari kanker payudara. Cairan yang mengandung darah atau encer, terutama jika hanya keluar dari salah satu puting susu, merupakan cairan yang abnormal; tetapi hanya sekitar 10% cairan abnormal yang bersifat ganas. Cairan dari puting susu perlu mendapat perhatian khusus jika:  Berwarna kemerahan atau encer disertai warna merah, pink atau coklat  Lengket dan warnanya bening atau berwarna coklat sampai hitam (mengkilat)  Keluar secara spontan tanpa harus memijat puting susu  Sifatnya menetap  Hanya keluar dari salah satu puting susu (unilateral)  Cairan selain air susu.

DIAGNOSA Pemeriksaan diagnostik untuk nipple discharge meliputi:  Biopsi payudara (jika ditemukan benjolan)  Sitologi cairan  CT scan kepala (untuk mencari tumor hipofisa)  Mammografi  Kadar prolaktin serum  Transillumination  USG payudara  Galaktogram atau duktogram (untuk membantu menemukan papiloma intraduktal).

PENGOBATAN Pengobatan standar untuk nipple discharge yang tidak dipengaruhi oleh hormon adalah pemotongan saluran. Pemotongan saluran biasanya dilakukan dengan pembiusan lokal dan prosedurnya dilakukan melalui sayatan kecil di daerah areola (daerah berwarna kecoklatan yang mengelilingi puting susu).

GANGGUAN MENSTRUASI Sindroma Premenstruasi (PMS)
DEFINISI Sindroma Premenstruasi /PMS=Pre Menstruasi Syndrome (Kelainan Disforik Premenstruasi) merupakan suatu keadaan dimana sejumlah gejala terjadi secara rutin dan berhubungan dengan siklus menstruasi; gejala biasanya timbul 7-10 hari sebelum menstruasi dan menghilang ketika menstruasi dimulai. PENYEBAB Sindroma premenstruasi mungkin berhubungan dengan naik-turunnya kadar estrogen dan progesteron yang terjadi selama siklus menstruasi. Estrogen menyebabkan penahanan cairan, yang kemungkinan menyebabkan bertambahnya berat badan, pembengkakan jaringan, nyeri payudara dan perut kembung. Penyebab yang pasti dari sindroma premenstruasi tidak diketahui; tetapi mungkin berhubungan dengan faktor-faktor sosial, budaya, biologi dan psikis. Sindroma premenstruasi terjadi pada sekitar 70-90% wanita pada usia subur. Lebih sering ditemukan pada wanita berusia 20-40 tahun. GEJALA Jenis dan beratnya gejala bervariasi pada setiap wanita dan bervariasi pada setiap bulan. Wanita yang menderita epilepsi mungkin akan lebih sering mengalami kejang. Wanita yang menderita penyakit jaringan ikat (misalnya lupus atau artritis rematoid) bisa mengalami kekambuhan. Gejala-gejala yang mungkin ditemukan adalah: 1. Perubahan fisik - Sakit punggung - Perut kembung - Payudara terasa penuh dan nyeri

- Perubahan nafsu makan - Sembelit - Pusing - Pingsan - Sakit kepala - Daerah panggul terasa berat atau tertekan - Hot flashes (kulit wajah, leher, dada tampak merah dan teraba hangat) - Susah tidur - Tidak bertenaga - Mual dan muntah - Kelelahan yang luar biasa - Kelainan kulit (misalnya jerawat dan neurodermatitis) - Pembengkakan jaringan atau nyeri persendian - Penambahan berat badan 2. Perubahan suasana hati - Mudah marah - Cemas - Depresi - Mudah tersinggung - Gelisah - Sebentar sedih, sebentar gembira 3. Perubahan mental - Kalut - Sulit berkonsentrasi - Pelupa. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya yang timbul beberapa hari menjelang menstruasi. PENGOBATAN Pil KB kombinasi yang mengandung estrogen dan progesteron bisa membantu mengurangi naik-turunnya kadar estrogen dan progesteron. Untuk mengurangi penahanan cairan dan perut kembung, sebaiknya penderita mengurangi asupan garam dan mengkonsumsi diuretik ringan (misalnya spironolactone). Penderita juga bisa mengurangi asupan gula, cafein dan alkohol; menambah asupan karbohidrat dan lebih sering makan. Untuk mengurangi sakit kepala, nyeri karena kram rahim dan nyeri persendian, bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid. Rasa cemas dan gelisah bisa dibantu dengan menjalani latihan relaksasi dan meditasi. Fluoxetine bisa mengurangi depresi dan gejala lainnya. Biasanya diberikan vitamin B6, kalsium dan magnesium.

Dismenore
DEFINISI Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi. PENYEBAB Disebut dismenore primer jika tidak ditemukan penyebab yang mendasarinya dan dismenore sekunder jika penyebabnya adalah kelainan kandungan. Dismenore primer sering terjadi, kemungkinan lebih dari 50% wanita mengalaminya dan 15% diantaranya mengalami nyeri yang hebat. Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama. Nyeri pada dismenore primer diduga berasal dari kontraksi rahim yang dirangsang oleh prostaglandin. Nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati serviks (leher rahim), terutama jika saluran serviksnya sempit. Faktor lainnya yang bisa memperburuk dismenore adalah: - rahim yang menghadap ke belakang (retroversi) - kurang berolah raga - stres psikis atau stres sosial. Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya dismenore primer. Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya sebagian saraf pada akhir kehamilan. Perbedaan beratnya nyeri tergantung kepada kadar prostaglandin. Wanita yang mengalami dismenore memiliki kadar prostaglandin yang 5-13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami dismenore. Dismenore sangat mirip dengan nyeri yang dirasakan oleh wanita hamil yang mendapatkan suntikan prostaglandin untuk merangsang persalinan. Dismenore sekunder lebih jarang ditemukan dan terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore. Penyebab dari dismenore sekunder adalah:  Endometriosis  Fibroid  Adenomiosis  Peradangan tuba falopii  Perlengketan abnormal antara organ di dalam perut.  Pemakaian IUD.

Dismenore sekunder seringkali mulai timbul pada usia 20 tahun. GEJALA Dismenore menyebabkan nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang-timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada. Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang. Dismenore juga sering disertai oleh sakit kepala, mual, sembelit atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. PENGOBATAN Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen, naproxen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi. Selain dengan obat-obatan, rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan: - istirahat yang cukup - olah raga yang teratur (terutama berjalan) - pemijatan - yoga - orgasme pada aktivitas seksual - kompres hangat di daerah perut. Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan muntah biasanya menghilang jika kramnya telah teratasi. Gejala juga bisa dikurangi dengan istirahat yang cukup serta olah raga secara teratur. Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberikan pil KB dosis rendah yang mengandung estrogen dan progesteron atau diberikan medroxiprogesteron. Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan mengurangi pembentukan prostaglandin, yang selanjutnya akan mengurangi beratnya dismenore. Jika obat ini juga tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan tambahan (misalnya laparoskopi). Jika dismenore sangat berat bisa dilakukan ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur dimana lapisan rahim dibakar atau diuapkan dengan alat pemanas. Pengobatan untuk dismenore sekunder tergantung kepada penyebabnya.

Amenore (tidak menstruasi)
DEFINISI Amenore adalah tidak terjadinya menstruasi. Jika menstruasi tidak pernah terjadi maka disebut amenore primer, jika menstruasi pernah terjadi tetapi kemudian berhenti selama 6 bulan atau lebih maka disebut amenore sekunder. Amenore yang normal hanya terjadi sebelum masa pubertas, selama kehamilan, selama menyusui dan setelah menopause.

PENYEBAB Amenore bisa terjadi akibat kelainan di otak, kelenjar hipofisa, kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, ovarium (indung telur) maupun bagian dari sistem reproduksi lainnya. Dalam keadaan normal, hipotalamus (bagian dari otak yang terletak diatas kelenjar hipofisa) mengirimkan sinyal kepada kelenjar hipofisa untuk melepaskan hormonhormon yang merangsang dilepaskannya sel telur oleh ovarium. Pada penyekit tertentu, pembentukan hormon hipofisa yang abnormal bisa menyebabkan terhambatnya pelepasan sel telur dan terganggunya serangkaian proses hormonal yang terlibat dalam terjadinya menstruasi. Penyebab amenore primer: 1. Tertundanya menarke (menstruasi pertama) 2. Kelainan bawaan pada sistem kelamin (misalnya tidak memiliki rahim atau vagina, adanya sekat pada vagina, serviks yang sempit, lubang pada selaput yang menutupi vagina terlalu sempit/himen imperforata)

3. Penurunan berat badan yang drastis (akibat kemiskinan, diet berlebihan, anoreksia nervosa, bulimia, dan lain lain) 4. Kelainan bawaan pada sistem kelamin 5. Kelainan kromosom (misalnya sindroma Turner atau sindroma Swyer) dimana sel hanya mengandung 1 kromosom X) 6. Obesitas yang ekstrim 7. Hipoglikemia 8. Disgenesis gonad 9. Hipogonadisme hipogonadotropik 10. Sindroma feminisasi testis 11. Hermafrodit sejati 12. Penyakit menahun 13. Kekurangan gizi 14. Penyakit Cushing 15. Fibrosis kistik 16. Penyakit jantung bawaan (sianotik) 17. Kraniofaringioma, tumor ovarium, tumor adrenal 18. Hipotiroidisme 19. Sindroma adrenogenital 20. Sindroma Prader-Willi 21. Penyakit ovarium polikista 22. Hiperplasia adrenal kongenital Penyebab amenore sekunder: 1. Kehamilan 2. Kecemasan akan kehamilan 3. Penurunan berat badan yang drastis 4. Olah raga yang berlebihan 5. Lemak tubuh kurang dari 15-17%extreme 6. Mengkonsumsi hormon tambahan 7. Obesitas 8. Stres emosional 9. Menopause 10. Kelainan endokrin (misalnya sindroma Cushing yang menghasilkan sejumlah besar hormon kortisol oleh kelenjar adrenal) 11. Obat-obatan (misalnya busulfan, klorambusil, siklofosfamid, pil KB, fenotiazid) 12. Prosedur dilatasi dan kuretase 13. Kelainan pada rahim, seperti mola hidatidosa (tumor plasenta) dan sindrom Asherman (pembentukan jaringan parut pada lapisan rahim akibat infeksi atau pembedahan).

GEJALA Gejalanya bervariasi, tergantung kepada penyebabnya. Jika penyebabnya adalah kegagalan mengalami pubertas, maka tidak akan ditemukan tanda-tanda pubertas seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut kemaluan dan rambut ketiak sert perubahan bentuk tubuh. Jika penyebabnya adalah kehamilan, akan ditemukan morning sickness dan pembesaran perut. Jika penyebabnya adalah kadar hormon tiroid yang tinggi maka gejalanya adalah denyut jantung yang cepat, kecemasan, kulit yang hangat dan lembab.

Sindroma Cushing menyebabkan wajah bulat (moon face), perut buncit dan lengan serta tungkai yang kurus. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada amenore:  Sakit kepala  Galaktore (pembentukan air susu pada wanita yang tidak hamil dan tidak sedang menyusui)  Gangguan penglihatan (pada tumor hipofisa)  Penurunan atau penambahan berat badan yang berarti  Vagina yang kering  Hirsutisme (pertumbuhan rambut yang berlebihan, yang mengikuti pola pria), perubahan suara dan perubahan ukuran payudara DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan usia penderita. Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah:  Biopsi endometrium  Progestin withdrawal  Kadar prolaktin  Kadar hormon (misalnya testosteron)  Tes fungsi tiroid  Tes kehamilan  Kadar FSH (follicle stimulating hormone)< LH (luteinizing hormone), TSH (thyroid stimulating hormone)  Kariotipe untuk mengetahui adanya kelainan kromosom  CT scan kepala (jika diduga ada tumor hipofisa). PENGOBATAN Pengobatan tergantung kepada penyebabnya. Jika penyebabnya adalah penurunan berat badan yang drastis atau obesitas, penderita dianjurkan untuk menjalani diet yang tepat. Jika penyebabnya adalah olah raga yang berlebihan, penderita dianjurkan untuk menguranginya. Jika seorang anak perempuan belum pernah mengalami menstruasi dan semua hasil pemeriksaan normal, maka dilakukan pemeriksaan setiap 3-6 bulan untuk memantau perkembangan pubertasnya. Untuk merangsang menstruasi bisa diberikan progesteron. Untuk merangsang perubahan pubertas pada anak perempuan yang payudaranya belum membesar atau rambut kemaluan dan ketiaknya belum tumbuh, bisa diberikan estrogen. Jika penyebabnya adalah tumor, maka dilakukan pembedahan untuk mengangkat tumor tesebut. Tumor hipofisa yang terletak di dalam otak biasanya diobati dengan bromokriptin untuk

mencegah pelepasan prolaktin yang berlebihan oleh tumor ini. Bila perlu bisa dilakukan pengangkatan tumor. Terapi penyinaran biasanya baru dilakukan jika pemberian obat ataupun pembedahan tidak berhasil.

Perdarahan Rahim Akibat Kelainan Fisik
DEFINISI Perdarahan Rahim Akibat Kelainan Fisik terhitung sebanyak 25% dari seluruh perdarahan abnormal pada wanita. PENYEBAB Perdarahan bisa disebabkan oleh:  Cedera pada vulva atau vagina  Penganiayaan seksual  Peradangan vagina  Infeksi rahim  Kelainan darah yang menyebabkan pembekuan abnormal (misalnya leukemia atau trombositopenia)  Tumor jinak maupun tumor ganas (misalnya fibroid, kista, adenomiosis). Umur merupakan faktor yang penting dalam menentukan kemungkinan penyebab dari perdarahan rahim: 1. Bercak perdarahan pada bayi perempuan yang baru lahir bisa terjadi karena estrogen yang diserap dari ibunya 2. Perdarahan pada masa kanak-kanak mungkin disebabkan oleh: - Pubertas yang terlalu dini (pubertas prekoks). Pubertas prekoks bisa terjadi akibat obat-obatan, kelainan otak, kadar hormon tiroid yang rendah atau tumor pada kelenjar adrenal maupun tumor ovarium. - Adenosis vaginalis (pertumbuhan jaringan kelenjar vagina yang berlebihan), yang seringkali terjadi akibat pemakaian dietilstilbestrol oleh ibunya sebelum anak dilahirkan. Anak perempuan yang menderit adenosis vaginalis memiliki resiko menderita kanker vagina dan kanker serviks (leher rahim). 3. Perdarahan abnormal pada masa reproduktif bisa disebabkan oleh: - Alat kontrasepsi (misalnya pil KB, progesteron, IUD) - Komplikasi dari kehamilan (misalnya plasenta previa, kehamilan ektopik) - Mola hidatidosa - Endometriosis. 4. Penyebab perdarahan abnormal setelah menopause yang paling serius adalah kanker (misalnya kanker lapisan rahim, serviks maupun vagina). Sedangkan penyebab lainnya adalah penipisan dinding vagina (vaginitis atrofika), penipisan atau penebalan lapisan rahim dan polip rahim.

GEJALA Gejalanya berupa perdarahan yang abnormal (misalnya lebih banyak, lebih encer, lebih sering atau tidak teratur), yang terjadi diluar atau selama siklus menstruasi. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Untuk mengetahui adanya keganasan, bisa dilakukan pemeriksaan biopsi. PENGOBATAN Pengobatan tergantung kepada penyebabnya. Adenosis vaginalis tidak memerlukan pengobatan khusus, tetapi penderita sebaiknya menjalani pemeriksaan secara teratur untuk mengetahui perkembangan penyakitnya. Polip rahim, fibroid dan kanker bisa diangkat melalui pembedahan. Histerektomi (pengangkatan rahim) dilakukan pada wanita pasca menopause yang mengalami perdarahan akibat penebalan lapisan rahim dan adanya sel-sel yang abnormal (yang mungkin merupakan sel-sel prekanker).

Perdarahan Rahim Disfungsional
DEFINISI Perdarahan Rahim Disfungsional adalah perdarahan abnormal akibat perubahan hormonal. Perdarahan rahim disfungsional paling sering terjadi pada awal dan akhir masa reproduktif; 20% kasus terjadi ada gadis remaja dan lebih dari 50% terjadi pada wanita yang berusia diatas 45 tahun. 75% dari perdarahan rahim yang abnormal merupakan perdarahan rahim disfungsional. PENYEBAB Perdarahan rahim disfungsional disebabkan oleh adanya kelainan hormon yang mempengaruhi pengendalian sistem reproduksi oleh hipotalamus dan kelenjar hipofisa. Pada perdarahan rahim disfungsional biasanya kadar estrogen tetap, sehingga terjadi penebalan lapisan rahim. Selanjutnya lapisan rahim dilepaskan secara tidak lengkap dan tidak teratur, menyebabkan perdarahan. GEJALA Perdarahan terjadi secara tidak teratur, lama dan kadang sangat banyak. terjadi secara tidak teratur, lama dan kadang-kadang sangat banyak. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik (pemeriksaan panggul).

Pemeriksaan yang biasa dilakukan:  Pemeriksaan darah lengkap  Pemeriksaan serum HCG (tes kehamilan)  Tes fungsi tiroid  Pemeriksaan kadar prolaktin, androgen, FSH, LH  Biopsi endometrium  Prosedur dilatasi dan kuretase  USG panggul  Histeroskopi> PENGOBATAN Pengobatan tergantung kepada usia penderita, keadaan lapisan rahim dan rencana penderita untuk hamil lagi. Jika lapisan rahim menebal dan mengandung sel-sel abnormal (terutama jika usia penderita lebih dari 35 tahun dan tidak memiliki rencana untuk hamil lagi), seringkali dilakukan histerektomi (pengangkatan rahim), karena sel-sel yang abnormal tersebut bisa berubah menjadi keganasan. Jika lapisan rahim menebal tetapi sel-selnya normal dan perdarahannya hebat, diberikan pil KB dosis tinggi yang mengandung estrogen dan progestin atau diberikan estrogen intravena (melalui pembuluh darah) yang diikuti dengan pemberian progestin per-oral (melalui mulut). Jika perdarahannya lebih ringan, diberkan pil KB dosis rendah. Jika pengobatan dengan pil KB atau estrogen tidak berhasil, diberikan progestin per-oral selama 10-14 hari/bulan. Jika pemberian hormon tidak efektif, maka dilakukan prosedur dilatasi dan kuretase, dimana jaringan dari lapisan rahim dibuang melalui kureetase. Jika penderita masih ingin hamil, untuk merangsang pelepasan sel telur bisa diberikan clomifene

. Sindroma Ovarium Polikista (Sindroma Stein-Leventhal)
DEFINISI Sindroma Ovarium Polikista (Sindroma Stein-Leventhal) adalah suatu penyakit dimana ovarium (indung telur) membesar dan mengandung banyak kantong yang berisi cairan (kista); kadar hormon pria (androgen) bisa tinggi sehingga kadang menyebabkan maskulinisasi.

Pada sindroma ini kelenjar hipofisa biasanya melepaskan sejumlah besar LH (luteinizing hormone). LH yang berlebihan menyebabkan peningkatan pembentukan androgen dan kadar androgen yang tinggi ini kadang menyebabkan timbulnya jerawat dan rambut yang kasar. Jika tidak diobati, sebagian androgen bisa diubah menjadi estrogen dan kadar estrogen yang tinggi bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker lapisan rahim (kanker endometrium). PENYEBAB Penyebabnya belum sepenuhnya dimengerti, tetapi beberapa teori menyebutkan adanya gangguan dalam pembentukan estrogen dan dalam mekanisme umpan baik ovariumhipotalamus. Fungsi ovarium yang normal tergantung kepada sejumlah hormon dan kegagalan pembentukan salah satu hormon tersebut bisa mempengaruhi fungsi ovarium. Ovarium tidak akan berfungsi secara normal jika tubuh wanita tidak menghasilkan hormon hipofisa dalam jumlah yang tepat. Fungsi ovarium yang abnormal kadang menyebabkan penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium. Folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur, karena itu terbentuk kista di dalam ovarium dan menyebabkan kemandulan pada wanita. Ovaium polikista memiliki ukuran 2-5 kali lebih besar daripada ovarium yang normal serta memiliki lapisan luar yang putih, tebal dan sangat kuat. Sindroma ini biasanya muncul segera setelah pubertas. Penderita seringkali memiliki ibu atau saudara perempuan yang juga menderita sindroma ovarium polikista. GEJALA Gejala biasanya muncul pada masa pubertas, yaitu berupa:  Obesitas  Hirsutisme (pertumbuhan rambut berlebih yang mengikuti pola pria, misalnya rambut tumbuh di dada dan wajah)  Oligomenore (menstruasi abnormal, tidak teratur dan sedikit)  Amenore  Kemandulan  Payudara mengecilecreased breast size  Jerawat  Virilisasi (maskulinisasi, tanda-tanda kejantanan).

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik (pemeriksaan panggul). Pemeriksaan yang biasa dilakukan:  Kadar LH dan FSH (rasio LH dan FSH biasanya meningkat)  USG vagina  Laparoskopi  Biopsi ovarium  Kadar androgen, estrogen. PENGOBATAN Pengobatan tergantung kepada jenis dan beratnya gejala, usia penderita dan rencana kehamilan. Jika tidak terjadi hirsutisme, bisa diberikan progentin sintetis atau pil KB. Tetapi kedua obat tersebut tidak diberikan jika penderita ingin hamil, telah memasuki masa menopause atau memiliki resiko tinggi terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah. Progestin sintetis juga diberikan untuk mengurangi resiko kanker endometrium akibat tingginya kadar estrogen. Untuk mengurangi pertumbuhan rambut yang berlebihan bisa dilakukan pencukuran dengan elektrolisis, pencabutan, pemakaian lilin atau cairan maupun krim perontok rambut (depilatori). Pertumbuhan rambut berlebih juga bisa diatasi dengan spironolakton (obat yang menghambat pembentukan dan aksi hormon pria). Efek samping dari spironolakton adalah peningkatan pembentukan air kemih, tekanan

darah rendah, nyeri dada dan perdarahan vagina yang tidak teratur. Spironolactone juga bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, karena itu penderita yang mendapatkan spironolakton sebaiknya menggunakan alat kontrasepsi. Jika penderita masih ingin hamil, bisa diberikan clomifene (obat yang merangsang pelepasan sel telur oleh ovarium). Jika clomifene tidak efektif, bisa diberikan sejumlah hormon (misalnya FSH atau GnRH). Jika pemberian obat-obatan tidak efektif, penderita bisa menjalani pembedahan untuk mengangkat sebagian ovarium (reseksi baji) atau kauterisasi kista (menghancurkan kista dengan arus listrik). Pembedahan bisa merangsang pelepasan sel telur tetapi biasanya merupakan pilihan terakhir karena bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut dan mengurangi kemampuan penderita untuk hamil.

DISFUNGSI SEKSUAL WANITA
Vaginismus
DEFINISI Vaginismus adalah suatu kontraksi yang tidak disadari dari otot vagina bagian bawah yang menghalangi masuknya penis ke dalam vagina. PENYEBAB Vaginismus merupakan akibat dari keinginan bawah sadar seorang wanita untuk mencegah penetrasi (masuknya penis ke dalam vagina). Seorang wanita bisa menderita vaginismus jika merasakan sakit pada hubungan seksual yang terdahulu. Seorang wanita tidak ingin terlibat dalam hubungan seksual karena: - takut hamil - takut berada dibawah kendali mitra seksualnya - takut kehilangan kendali - takut mengalami sakit pada saat melakukan hubungan seksual. DIAGNOSA Riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik seringkali membantu menemukan adanya masalah fisik atau masalah psikis. Jika ditemukan masalah fisik, biasanya segera diperbaiki. PENGOBATAN

Jika vaginismus menetap, kepada penderita diajarkan teknik untuk mengurangi kejang otot. Pada tehnik pelebaran yang bertahap, seorang wanita memasukan alat yang telah diberi pelumas ke dalam vaginanya. Pada awalnya digunakan alat pelebar dengan ukuran kecil, lalu secara bertahap digunakan alat yang lebih besar. Latihan untuk memperkuat otot panggul (latihan Kegel) bisa dilakukan pada saat alat pelebar berada di dalam vagina. Otot di sekitar vagina dikerutkan kuat-kuat dan kemudian dikendorkan, sehingga memungkinkan terbentuknya suatu perasaan bahwa penderita bisa mengendalikan otototot tersebut. Teknik pelebaran ini juga bisa dilatih secara teratur di rumah dengan menggunakan jarijari tangan. Jika penderita sudah dapat menerima masuknya alat pelebar berukuran besar dengan rasa nyaman, maka dia dan mitra seksualnya bisa mencoba untuk melakukan hubungan seksual lagi. Penyuluhan terhadap penderita dan mitra seksualnya bisa mempermudah proses ini dan menghilangkan kecemasan.

Keengganan Untuk Melakukan Hubungan Seks
DEFINISI Keengganan Untuk Melakukan Hubungan Seks merupakan keengganan yang luar biasa dan bersifat menetap, terhadap seluruh aktivitas seksual, yang ditandai dengan ketakutan dan kadang disertai dengan serangan panik. Kelainan ini kadang terjadi pada pria, tetapi lebih sering ditemukan pada wanita. PENYEBAB Penyebabnya bisa berupa: - trauma seksual, seperti inses (hubungan seksual dengan seseorang yang memiliki pertalian darah), kekerasan seksual atau pemerkosaan - keadaan keluarga yang bersifat menekan, mungkin berhubungan dengan pendidikan agma yang kaku - rasa sakit pada saat pertama kali berhubungan seksual. Aktivitas seksual bisa mengingatkan penderita akan rasa sakit, bahkan setelah hubungan seksual tidak lagi menyakitkan secara fisik.

PENGOBATAN Penyuluhan terhadap pasangan dapat membantu mengatasi perselisihan diantara mereka. Psikoterapi mungkin dibutuhkan untuk penderita yang pernah mengalami trauma seksual. Terapi perilaku juga bisa efektif, yaitu dengan cara melibatkan penderta dalam suatu aktivitas seksual, yang dimulai dengan aktivitas yang tidak menimbulkan perasaan terancam dan secara bertahap berkembang menjadi aktivitas seksual yang penuh dengan ekspresi. Obat-obatan bisa diberikan untuk membantu mengurangi serangan panik yang berhubungan dengan aktivitas seksual.

Kelainan Gairah Seksual Pada Wanita
DEFINISI Kelainan Gairah Seksual Pada Wanita adalah kegagalan menetap untuk mencapai atau mempertahankan kepuasan seksual, walaupun dengan rangsangan seksual yang cukup. Kelainan ini mirip dengan impotensi pada pria. Kelainan ini bisa terjadi seumur hidup atau bisa terjadi setelah suatu masa dimana fungsinya normal. PENYEBAB Kelainan gairah seksual pada wanita memiliki penyebab fisik maupun psikis. Kelainan ini bisa terjadi seumur hidup atau terjadi setelah suatu fungsi yang normal. Penyebab yang utama adalah faktor psikis, yang bisa berupa perselisihan pernikahan, depresi dan keadaan yang menimbulkan stres. Seorang wanita bisa menghubungkan seksual dengan perbuatan dosa dan kesenangan seksual dengan perasaan bersalah. Rasa takut akan keintiman juga dapat memegang peranan. Beberapa wanita atau pasangannya tidak menyadari bagaimana fungsi organ kelamin wanita, terutama klitoris, dan mereka mungkin tidak mengetahui tehnik dari perangsangan seksual. Sedangkan faktor fisik yang bisa menyebabkan kelainan gairah seksual pada wanita diantaranya adalah: - Rasa nyeri karena endometriosis atau infeksi kandung kemih (sistitis), infeksi vagina (vaginitis)

- Kekurangan hormon estrogen yang menyertai masa menopause atau pengangkatan indung telur biasanya menyebabkan kekeringan dan penipisan dinding vagina - Histerektomi (pengangkatan rahim) atau mastektomi (pengangkatan payudara) - Kelenjar tiroid yang kurang aktif - Anatomi vagina yang abnormal, yang disebabkan oleh kanker, pembedahan atau terapi penyinaran - Hilang rasa karena alkolik, diabetes atau kelainan sistem saraf tertentu (misalnya sklerosis multipel) - Penggunaan obat-obatan untuk mengatasi kecemasan, dperesi atau tekanan darah tinggi. DIAGNOSA Riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik membantu dalam menentukan apakah penyebab utamanya adalah faktor psikis atau faktor fisik. PENGOBATAN Berbagai keadaan fisik bisa diobati. Misalnya diberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi kandung kemih atau infeksi vagina dan diberikan hormon untuk menggantikan kekurangan hormon. Bisa dilakukan penyuluhan untuk mengajarkan teknik pemusatan perasaan (terapi seksual). Latihan Kegel dapat memperkuat otot-otot panggul dan bisa membantu wanita untuk mencapai kepuasan. Pada latihan ini wantia mengerutkan otot-otot vaginanya kuat-kuat (seperti menahan berkemih) selama 10-15 menit, minimal sebanyak 3 kali/hari selama 2-3 bulan.

Orgasme Yang Terhambat
DEFINISI Orgasme Yang Terhambat adalah suatu kelainan dimana seorang wanita tidak pernah mengalami orgasme, atau orgasmenya tertunda lebih lama daripada yang diinginkan olehnya dan oleh mitra seksualnya, atau sulit mencapai orgasme meskipun rangsangannya sudah memadai. Kelainan ini bisa berlangsung seumur hidup, atau bisa terjadi sesudah suatu masa dimana fungsinya normal atau bisa terjadi hanya pada keadaan tertentu atau dengan mitra seksual tertentu. Sekitar 10 % wanita tidak pernah mengalami orgasme dengan berbagai rangsangan atau pada berbagai situasi. Sebagian besar wanita dapat mengalami orgasme dengan perangsangan pada klitoris,

tetapi mungkin lebih dari setengahnya yang seringkali tidak mampu mencapai orgasme selama melakukan hubungan seksual kecuali jika klitorisnya dirangsang sebelumnya, yaitu ketika melakukan penetrasi vagina. PENYEBAB Penyebab dari kelainan ini mirip dengan penyebab dari kelainan gairah seksual pada wanita. Suatu hubungan seksual bisa secara teratur diakhiri oleh mitra seksualnya sebelum wanita mencapai orgasme. Beberapa wanita mungkin tidak memiliki masalah dalam tahap perangsangan, tetapi takut kehilangan gairah, terutama selama melakukan hubungan seksual. Alasannya bisa berupa perasaan bersalah karena kepuasan yang nantinya akan terjadi atau merasa takut tergantung kepada mitra seksualnya atau merasa takut kehilangan kendali. PENGOBATAN Bila ditemukan penyebab fisik, maka diobati sebagaimana mestinya. Jika penyebab utamanya adalah masalah psikis, mungkin diperlukan penyuluhan, baik untuk penderita maupun mitra seksualnya. Pengetahuan seorang wanita akan fungsi organ seksual dan responnya sangat penting. Wanita harus mengetahui cara terbaik untuk merangsang klitorisnya. Perasaan vagina bisa ditingkatkan dengan memperkuat otot-otot di sekitar vagina melalui latihan Kegel. Wanita mengkerutkan otot vaginanya kuat-kuat (seperti menahan berkemih) selama 1015 menit, minimal 3 kali/hari. Biasanya setelah 2-3 bulan, kepekaan dan ketegangan otot vagina akan bertambah dan rasa pengendalian wanita akan meningkat.

Penurunan Libido pada Wanita
DEFINISI Penurunan libido adalah menurunnya gairah seks. Menurunnya gairah seks adalah hal yang umum, sering disebabkan oleh kondisi yang sifatnya sementara, seperti kelelahan. Gairah seks yang terus menerus menurun dapat membuat stress wanita ataupun pasangannya. PENYEBAB

Gairah seks dipengaruhi oleh hormon seks, yaitu estrogen dan progresteron. Naik turunnya tingkat hormon ini, dapat terjadi setiap bulan dan selama masa kehamilan, yang mana mempengaruhi gairah seks. Wanita yang menopause, gairah seksnya dapat menurun dikarenakan menurunnya tingkat estrogen. Gairah seks juga dapat menurun pada wanita yang kedua indung telurnya telah diangkat. Penurunan gairah seks bisa dikarenakan depresi, kekhawatiran, stress atau masalahmasalah dalam berhubungan. Pemakaian obat-obatan, termasuk antikonvulsan, obat kemoterapi (seperti tamoxifen), beta-bloker, dan kontrasepsi oral, juga dapat menurunkan gairah seks, sama seperti minum alkohol dalam jumlah yang banyak. DIAGNOSA Diagnosa tersebut berdasarkan gambaran masalah pada wanita. Seorang dokter bertanya kepada wanita mengenai stress, masalah gaya hidup, seks dan riwayat kesehatannya, termasuk pemakaian obat-obatan. Tingkat hormon seks dapat diukur dari contoh darah. PENGOBATAN Pengobatan bergantung pada penyebabnya. Obat-obatan yang dapat mempengaruhi sebisa mungkin dihentikan. Jika faktor psikologi yang berpengaruh, konseling dapat dianjurkan. Bila penyebab adalah rendahnya tingkat hormon seks, testosteron dikombinasikan dengan estrogen dalam dosis rendah dapat diberikan secara oral. Selain untuk meningkatkan gairah seks, hormon testosteron juga dapat meningkatkan kekuatan otot, mencegah hilangnya kepadatan tulang, dan meningkatkan energi.

Gangguan Orgasme DEFINISI Gangguan orgasme adalah lambatnya atau tidak tercapainya klimaks seks (orgasme) walaupun rangsangan seksual cukup lama dan kuat. Jumlah dan jenis rangsangan yang dibutuhkan untuk orgasme sangat bervariasi dari perempuan ke perempuan. Kebanyakan para wanita bisa mencapai orgasme pada saat klitoris terangsang, namun hanya sekitar separuh dari wanita secara teratur mencapai orgasme selama hubungan seksual. Sekitar 1 dari 10 wanita tidak pernah mencapai orgasme. Gangguan orgasme terjadi ketika masalah dengan orgasme sering dan terus menerus, mengganggu fungsi seksual dan menyebabkan stress. PENYEBAB Umumnya, para wanita yang sudah belajar bagaimana mencapai orgasme tidak kehilangan kemampuan kecuali komunikasi seksual yang kurang, masalah dalam hubungan, pengalaman yang membuat trauma, atau gangguan fisik atau psikologi yang menghalangi. Fisik dan psikologi menyebabkan gangguan hasrat seksual yang sama.

Depresi adalah penyebab umum. Gangguan orgasme bisa terjadi karena permainan cinta yang secara konsisten berakhir sebelum si wanita mencapai orgasme. Wanita bisa tidak mencapai orgasme karena pemanasan yang tidak cukup, karena baik si wanita maupun pasangannya tidak memahami bagaimana fungsi alat kelamin, atau karena ejakulasi dini. Beberapa permainan cinta menimbulkan frustasi dan bisa menghasilkan kemarahan dan kadangkala rasa sebal untuk untuk melakukan seks apapun. Beberapa wanita yang tidak bisa mencapai orgasme karena mereka takut “dibiarkan pergi” khususnya selama hubungan seks. Ketakutan ini bisa berhubungan dengan perasaan bersalah setelah menikmati kesenangan, takut ditinggal sendirian untuk menikmati yang tergantung pada pasangan, atau takut kehilangan kendali. Obat-obatan tertentu, terutama sekali serotonin selektip penghambat reuptake seperti fluoxetine, bisa menghambat orgasme. Gangguan orgasme kemungkinan bersifat sementara, bisa terjadi setelah tahun-tahun pada fungsi seksual normal, atau kemungkinan tahan lama. Hal itu bisa terjadi sepanjang waktu atau hanya pada keadaan tertentu. Kebanyakan wanita yang memiliki masalah mencapai orgasme juga memiliki masalah pad membangkitkan hasrat. DIAGNOSA Diagnosa didasari pada penjelasan si wanita tentang masalahnya. Untuk mengenali penyebab, seorang dokter menanyakan si wanita mengenai pengalaman seksnya dan riwayat kesehatan, termasuk penggunaan obat-obatan, dan melakukan pemeriksaan badan. Jika penyebabnya masalah psikologi, konseling untuk si wanita, biasanya dengan pasangannya, sering membantu. Psikoterapi untuk wanita atau pasangan bisa dianjurkan. Gangguan fisik, jika ada, diobati. Tindakan lain yang bermanfaat termasuk latihan focus pada sensasi pasangan, informasi mengenai bagaimana fungsi alat kelamin, dan latihan kegel.

Dispareunia (Dyspareunia)
DEFINISI Dispareunia adalah nyeri pada alat kelamin atau nyeri di dalam panggul yang terjadi selama melakukan hubungan seksual. PENYEBAB Dispareunia bisa terjadi pada pria, meskipun jarang. Prostatitis (peradangan kelenjar prostat) atau penggunaan obat anti-depresi tertentu (misalanya amoksapin, imipramin dan klomipramin) bisa menyebabkan nyeri pada pria

ketika mencapai orgasme. Dispareunia lebih sering terjadi pada wantia. Nyeri bisa timbul pada saat pertama kali melakukan hubungan seksual atau setahun kemudian. Penyebabnya bisa berupa faktor fisik maupun faktor psikis. Yang termasuk ke dalam faktor fisik adalah: 1. Pada seorang wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual, suatu lipatan selaput (hymen, selaput dara) bisa menutup jalan masuk ke vagina, sebagian atau seluruhnya. Penembusan oleh penis hubungan seksual yang pertama bisa merobek selaput dara ini dan menyebabkan nyeri. 2. Luka lecet di daerah kemaluan dan pelumasan vagina yang kurang (biasanya karena foreplay yang kurang) . 3. Infeksi atau peradangan pada kelenjar di daerah kemaluan (kelanjar Bartholin atau kelenjar Skene). 4. Kondom atau diafragma yang tidak terpasang dengan benar atau reaksi alergi terhadap busa atau jeli kontrasepsi. 5. Kelainan bawaan, misalnya selaput dara yang kaku atau pembentukan dinding vagina yang abnormal. 6. Kekurangan estrogen, yang biasanya terjadi setelah menopause, menyebabkan kekeringan dan penipisan dinding vagina. 7. Pembedahan untuk memperbaiki jaringan yang robek setelah melahirkan atau pembedahan lainnya yang menyebabkan penyempitan vagina. 8. Peradangan dan infeksi vagina (vaginitis). 9. Infeksi leher rahim, rahim atau saluran telur. 10. Endometriosis. 11. Tumor-tumor panggul. 12. Perlekatan (jaringan fibrosa) yang terbentuk setelah penyakit panggul atau pembedahan. 13. Terapi radiasai untuk kanker bisa menyebabkan perubahan dalam jaringan. Sedangkan faktor psikis yang bisa menjadi penyebab dari kelainan ini adalah: - Kecemasan dan ketakutan terhadap hubungan seksual - Kemarahan atau perasaan jijik terhadap mitra seksualnya. GEJALA Nyeri pada alat kelamin atau nyeri di dalam panggul yang terjadi selama melakukan hubungan seksual. DIAGNOSA Riwayat yang lengkap dan pemeriksaan panggul bisa membantu menentukan apakah penyebabnya adalah masalah fisik atau masalah psikis.

Penting untuk tidak melakukan hubungan seksual selama masalah ini masih belum teratasi. Tetapi aktivitas seksual yang tidak melibatkan penetrasi vagina bisa terus dilanjutkan. PENGOBATAN Menggunakan salep anestetik bisa mengurangi nyeri. Nyeri dan kejang otot bisa dicegah dengan mengoleskan pelumas sebanyak mungkin sebelum melakukan hubungan seksual. Lebih baik digunakan pelumas dengan pelarut air, karena pelumas dengan pelarut minyak cenderung akan membuat vagian kering dan juga bisa merusak kondom dan diafragma. Lebih lama melakukan foreplay (pemanasan sebelum melakukan hubungan seksual) bisa meningkatkan sekresi vagina. Wanita yang telah memasuki masa menopause bisa menggunakan krim estrogen atau pil estrogen untuk meningkatkan pelumasan vagina dan mengatasi efek penipisan dinding vagina. Infeksi dan peradangan vagina diatasi dengan obat yang sesuai. Jika vulva bengkak dan nyeri, bisa dikompres dengan verban yang telah dibasahi dengan larutan alumunium asetat. Mungkin diperlukan pembedahan untuk: - mengangkat kista atau abses, - membuka selaput dara yang kaku - memperbaiki kelainan anatomi. Diafragma yang sudah tidak sesuai lagi mungkin perlu diganti jenis, merek atau ukurannya; atau perlu dicoba metode kontrasepsi lainnya. Kadang diberikan obat pereda nyeri atau obat penenang.

KEHAMILAN NORMAL

Kehamilan
DEFINISI Kehamilan adalah suatu keadaan dimana janin dikandung di dalam tubuh wanita, yang sebelumnya diawali dengan proses pembuahan dan kemudian akan diakhiri dengan proses persalinan, PEMBUAHAN Pembuahan (Konsepsi) adalah merupakan awal dari kehamilan, dimana satu sel telur dibuahi oleh satu sperma. Ovulasi (pelepasan sel telur) adalah merupakan bagian dari siklus menstruasi normal, yang terjadi sekitar 14 hari sebelum menstruasi. Sel telur yang dilepaskan bergerak ke ujung tuba falopii (saluran telur) yang berbentuk corong , yang merupakan tempat terjadinya pembuahan. Jika tidak terjadi pembuahan, sel telur akan mengalami kemunduran (degenerasi) dan dibuang melalui vagina bersamaan dengan darah menstruasi. Jika terjadi pembuahan, maka sel telur yang telah dibuahi oleh sperma ini akan mengalami serangkaian pembelahan dan tumbuh menjadi embrio (bakal janin). Jika pada ovulasi dilepaskan lebih dari 1 sel telur dan kemudian diikuti dengan pembuahan, maka akan terjadi kehamilan ganda, biasanya kembar 2. Kasus seperti ini merupakan kembar fraternal. Kembar identik terjadi jika pada awal pembelahan, sel telur yang telah dibuahi membelah menjadi 2 sel yang terpisah atau dengan kata lain, kembar identik berasal dari 1 sel telur. Pada saat ovulasi, lapisan lendir di dalam serviks (leher rahim) menjadi lebih cair, sehingga sperma mudah menembus ke dalam rahim. Sperma bergerak dari vagina sampai ke ujung tuba falopii yang berbentuk corong dalam waktu 5 menit. Sel yang melapisi tuba falopii mempermudah terjadinya pembuahan dan pembentukan zigot (sel telur yang telah dibuahi). IMPLANTASI & PERKEMBANGAN PLASENTA Implantasi adalah penempelan blastosis ke dinding rahim, yaitu pada tempatnya tertanam. Blastosis biasanya tertanam di dekat puncak rahim, pada bagian depan maupun dinding belakang. Dinding blastosis memiliki ketebalan 1 lapis sel, kecuali pada daerah tertentu terdiri dari 3-4 sel.

Sel-sel di bagian dalam pada dinding blastosis yang tebal akan berkembang menjadi embrio, sedangkan sel-sel di bagian luar tertanam pada dinding rahim dan membentuk plasenta (ari-ari). Plasenta menghasilkan hormon untuk membantu memelihara kehamilan dan memungkin perputaran oksigen, zat gizi serta limbah antara ibu dan janin. Implantasi mulai terjadi pada hari ke 5-8 setelah pembuahan dan selesai pada hari ke 910. Dinding blastosis merupakan lapisan luar dari selaput yang membungkus embrio (korion). Lapisan dalam (amnion) mulai dibuat pada hari ke 10-12 dan membentuk kantung amnion. Kantung amnion berisi cairan jernih (cairan amnion) dan akan mengembang untuk membungkus embrio yang sedang tumbuh, yang mengapung di dalamnya. Tonjolan kecil (vili) dari plasenta yang sedang tumbuh, memanjang ke dalam dinding rahim dan membentuk percabangan seperti susunan pohon. Susunan ini menyebabkan penambahan luas daerah kontak antara ibu dan plasenta, sehingga zat gizi dari ibu lebih banyak yang sampai ke janin dan limbah lebih banyak dibuang dari janin ke ibu. Pembentukan plasenta yang sempurna biasanya selesai pada minggu ke 18-20, tetapi plasenta akan terus tumbuh selama kehamilan dan pada saat persalinan beratnya mencapai 500 gram. PERKEMBANGAN EMBRIO Embrio pertama kali dapat dikenali di dalam blastosis sekitar 10 hari setelah pembuahan. Kemudian mulai terjadi pembentukan daerah yang akan menjadi otak dan medulla spinalis, sedangkan jantung dan pembuluh darah mulai dibentuk pada hari ke 16-17. Jantung mulai memompa cairan melalui pembuluh darah pada hari ke 20 dan hari berikutnya muncul sel darah merah yang pertama. Selanjutnya, pembuluh darah terus berkembang di seluruh embrio dan plasenta. Organ-organ terbentuk sempurna pada usia kehamilan 12 minggu (10 minggu setelah permbuahan), kecuali otak dan medulla spinalis, yang terus mengalami pematangan selama kehamilan. Kelainan pembentukan organ (malformasi) paling banyak terjadi pada trimester pertama (12 minggu pertama) kehamilan, yang merupakan masa-masa pembentukan organ dimana embrio sangat rentan terhadap efek obat-obatan atau virus. Karena itu seorang wanita hamil sebaiknya tidak menjalani immunisasi atau mengkonsumsi obat-obatan pada trimester pertama kecuali sangat penting untuk melindungi kesehatannya. Pemberian obat-obatan yang diketahui dapat menyebabkan malformasi harus dihindari. Pada awalnya, perkembangan embrio terjadi dibawah lapisan rahim pada salah satu sisi rongga rahim, tetapi pada minggu ke 12, janin (istilah yang digunakan setelah usia

kehamilan mencapai 8 minggu) telah mengalami pertumbuhan yang pesat sehingga lapisan pada kedua sisi rahim bertemu (karena janin telah memenuhi seluruh rahim). MENENTUKAN USIA KEHAMILAN Secara konvensional, kehamilan dihitung dalam minggu, dimulai dari hari pertama menstruasi terakhir. Ovulasi biasanya terjadi 2 minggu sesudah menstruasi dan pembuahan biasanya terjadi segera setelah ovulasi, karena itu secara kasar usia embrio adalah 2 minggu lebih muda daripada jumlah minggu yang secara tradisional dipakai untuk menyatakan usia kehamilan. Dengan kata lain, seorang wanita yang hamil 4 minggu sedang mengandung embrio yang berumur 2 minggu. Jika menstruasinya tidak teratur, maka perbedaan yang pasti bisa lebih atau kurang dari 2 minggu. Untuk praktisnya, jika seorang wanita menstruasinya terlambat 2 minggu, dikatakan telah hamil 6 minggu. Kehamilan berlangsung rata-rata selama 266 hari (38 minggu) dari masa pembuahan atau 280 hari (40 minggu) dari hari pertama menstruasi. Untuk menentukan tanggal perkiraan persalinan bisa dilakukan perhitungan berikut: - tanggal menstruasi terakhir ditambah 7 - bulan menstruasi terakhir dikurangi 3 - tahun menstruasi terakhir ditambah 1. Hanya 10% wanita hamil yang melahirkan tepat pada tanggal perkiraan persalinan, 50% melahirkan dalam waktu 1 minggu dan hampir 90% yang melahirkan dalam waktu 2 minggu sebelum atau setelah tanggal perkiraan persalinan. Persalinan dalam waktu 2 minggu sebelum maupun sesudah perkiraan persalinan masih dianggap normal. Kehamilan terbagi menjadi periode 3 bulanan, yang disebut sebagai: - Trimester pertama (minggu 1-12) - Trimester kedua (minggu 13-24) - Trimester ketiga (minggu 25-persalinan).

MENDETEKSI KEHAMILAN Jika seorang wanita yang biasanya mengalami menstruasi yang teratur mengalami keterlambatan 1 minggu atau lebih, mungkin dia hamil. Pada awal kehamilan, wanita hamil bisa mengalami pembengkakan payudara dan mual, kadang disertai muntah.

Pembengkakan payudara terjadi akibat bertambahnya kadar hormon wanita (terutama estrogen, juga progesteron). Mual dan muntah terjadi akibat estrogen dan HCG (human chorionic gonadotropin). Kedua hormon ini membantu memelihara kehamilan dan mulai dihasilkan oleh plasenta pada sekitar 10 hari setelah pembuahan. Pada awal kehamilan, banyak wanita yang merasa sangat lelah dan beberapa wanita mengalami perut kembung. Jika seorang wanita hamil, serviksnya lebih lunak dan rahim juga lebih lunak dan membesar. Biasanya vagina dan serviks menjadi kebiruan sampai ungu, karena pembuluhnya penuh terisi darah. Perubahan ini bisa terlihat pada pemeriksaan panggul. Biasanya untuk menentukan kehamilan dilakukan tes kehamilan pada darah maupun air kemih. Tes kehamilan ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) bisa dengan segera dan mudah mendeteksi kadar HCG yang rendah di dalam air kemih. Selama 60 hari pertama kehamilan yang normal dengan 1 janin, kadar HCG berlipatganda setiap 2 hari. Selama kehamilan, rahim terus membesar. Pada kehamilan 12 minggu, rahim membesar keluar panggu, yaitu ke arah perut dan biasanya dapat dirasakan jika dokter memeriksa perut bagian bawah. Rahim terus membesar sampai setinggi pusar pada kehamilan 20 minggu dan sampai ke tulang iga bagian bawah pada usia kehamilan 36 minggu. Cara lain untuk mendeteksi kehamilan: 1. Mendengarkan denyut jantung janin. Denyut jantung janin bisa terdengar melalui stetoskop khusus atau USG Doppler. Dengan bantuan steteoskop khusus, denyut jantung janin bisa terdengar pada usia kehamilan 18-20 minggu; sedangkan jika menggunakan USG Doppler, denyut jantung janin bisa terdengar pada usia kehamilan 12-14 minggu. 2. Merasakan pergerakan janin. Ibu bisa merasakan gerakan janin pada kehamilan 16-20 minggu. Wanita yang sebelumnya pernah hamil akan meraskan gerakan janin ini lebih awal. 3. Memeriksa rahim dengan USG. Rahim yang membesar bisa dilihat dengan USG pada kehamilan 6 minggu, demikian juga halnya dengan denyut jantung janin. PERUBAHAN FISIK SELAMA KEHAMILAN

Kehamilan menyebabkan banyak perubahan pada tubuh, kebanyakan perubahan ini akan menghilang setelah persalinan.  Jantung dan pembuluh darah. Selama kehamilan, jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiap menitnya (cardiac output, curah jantung) meningkat sampai 30-50%. Peningkatan ini mulai terjadi pada kehamilan 6 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan 16-28 minggu. Karena curah jantung meningkat, maka denyut jantung pada saat istirahat juga meningka (dalam keadaan normal 70 kali/menit menjadi 80-90 kali/menit). Setelah mencapai kehamilan 30 minggu, curah jantung agak menurun karena rahim yang membesar menekan vena yang membawa darh dari tungkai ke jantung. Selama persalinan, curah jantung meningkat sebesar 30%, Setelah persalinan curah jantung menurun sampai 15-25% diatas batas kehamilan, lalu secara perlahan kembali ke batas kehamilan. Peningkatan curah jantung selama kehamilan kemungkinan terjadi karena adanya perubahan dalam aliran darah ke rahim. Karena janin terus tumbuh, maka darah lebih banyak dikirim ke rahim ibu. Pada akhir kehamilan, rahim menerima seperlima dari seluruh darah ibu. Ketika melakukan aktivitas/olah raga, maka curah jantung, denyut jantung dan laju pernafasan pada wanita hamil lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak sedang hamil. Rontgen dada dan EKG menunjukkan sejumlah perubahan dalam jantung, dan kadang terdengar murmur jantung tertentu serta ketidakteraturan irama jantung. Semua perubahan tersebut adalah normal terjadi pada masa hamil, tetapi beberapa kelainan irama jantung mungkin akan memerlukan pengobatan khusus. Selama trimester kedua biasanya tekanan darah menurun tetapi akan kembali normal pada trimester ketiga. Selama kehamilan, volume darah dalam peredaran meningkat sampai 50%, tetapi jumlah sel darah merah yang mengangkut oksigen hanya meningkat sebesar 25-30%. Untuk alasan yang belum jelas, jumlah sel darah putih (yang berfungsi melindungi tubuh terhadap infeksi) selama kehamilan, pada saat persalinan dan beberapa hari setelah persalinan, agak meningkat.  Ginjal Selama kehamilan, ginjal bekerja lebih berat. Ginjal menyaring darah yang volumenya meningkat (sampai 30-50% atau lebih), yang puncaknya terjadi pada kehamilan 16-24 minggu sampai sesaat sebelum persalinan (pada saat ini aliran darah ke ginjal berkurang akibat penekanan rahim yang membesar). Dalam keadaan normal, aktivitas ginjal meningkat ketika berbaring dan menurun ketika berdiri. Keadaan ini semakin menguat pada saat kehamilan, karena itu wanita hamil sering merasa ingin berkemih ketika mereka mencoba untuk berbaring/tidur. Pada akhir kehamilan, peningkatan aktivitas ginjal yang lebih besar terjadi pada wanita

hamil yang tidur miring. Tidur miring mengurangi tekanan dari rahim pada vena yang membawa darah dari tungkai sehingga terjadi perbaikan aliran darah yang selanjutnya akan meningkatkan aktivitas ginjal dan curah jantung.  Paru-paru Ruang yang diperlukan oleh rahim yang membesar dan meningkatnya pembentukan hormon progesteron menyebabkan paru-paru berfungsi lain dari biasanya. Wanita hamil bernafas lebih cepat dan lebih dalam karena memerlukan lebih banyak oksigen untuk dirinya dan untuk janin. Lingkar dada wanita hamil agak membesar. Lapisan saluran pernafasan menerima lebih banyak darah dan menjadi agak tersumbat oleh penumpukan darah (kongesti). Kadang hidung dan tenggorokan mengalami penyumbatan parsial akibat kongesti ini. Tekanan dan kualitas suara wanita hamil agak berubah.  Sistem pencernaan Rahim yang semakin membesar akan menekan rektum dan usus bagian bawah sehingga terjadi sembelit (konstipasi). Sembelit semakin berat karena gerakan otot di dalam usus diperlambat oleh tingginya kadar progesteron. Wanita hamil sering mengalami heartburn (rasa panas di dada) dan sendawa, yang kemungkinan terjadi karena makanan lebih lama berada di dalam lambung dan karena relaksasi sfingter di kerongkongan bagian bawah yang memungkinkan isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan. Ulkus gastrikum jarang ditemukan pada wanita hamil dan jika sebelumnya menderita ulkus gastrikum biasanya akan membaik karena asam lambung yang dihasilkan lebih sedikit.  Kulit Topeng kehamilan (melasma) adalah bintik-bintik pigmen kecoklatan yang tampak di kulit kening dan pipi. Peningkatan pigmentasi juga terjadi di sekeliling puting susu. Sedangkan di perut bawah bagian tengah biasanya tampak garis gelap. Spider angioma (pembuluh darah kecil yang memberi gambaran seperti laba-laba) bisa muncul di kulit, biasanya di atas pinggang. Sedangkan pelebaran pembuluh darah kecil yang berdinding tipis seringkali tampak di tungkai bawah.  Hormon Kehamilan mempengaruhi hampir semua hormon di dalam tubuh. Plasenta menghasilkan sejumlah hormon untuk membantu tubuh dalam mempertahankan kehamilan. Hormon utama yang dihasilkan oleh plasenta adalah HCG, yang berperan mencegah ovulasi dan merangsang pembentukan estrogen serta progesteron oleh ovarium untuk mempertahankan kehamilan.

Plasenta juga menghasilkan hormon yan gmenyebabkan kelenjar tiroid menjadi lebih aktif. Kelenjar tiroid yang lebih aktif menyebabkan denyut jantung yang cepat, jantung berdebar-debar (palpitasi), keringat berlebihan dan perubahan suasana hati; selain itu juga bisa terjadi pembesaran kelenjar tiroid. Tetapi hipertiroidisme (overaktivitas kelenjar tiroid) hanya terjadi pada kurang dari 1% kehamilan. Plasenta juga menghasilkan melanocyte-stimulating hormone yang menyebabkan kulit berwarna lebih gelap dan hormon yang menyebabkan peningkatan kadar hormon adrenal di dalam darah. Peningkatan kadar hormon in kemungkinan menyebabkan tanda peregangan berwarna pingk pada kulit perut. Selama kehamilan diperlukan lebih banyak insulin yang dihasilkan oleh pankreas. Karena itu penderita diabetes yang sedang hamil bisa mengalami gejala diabetes yang lebih buruk. PERAWATAN SELAMA KEHAMILAN Pemeriksaan pada usia kehamilan mencapai 6 dan 8 minggu sangat penting untuk memperkirakan umur kehamilan dan tanggal perkiraan persalinan. Pemeriksaan fisik yang pertama kali dilakukan biasanya meliputi berat badan, tinggi badan dan tekanan darah. Kemudian dilakukan pemeriksaan leher, kelenjar tiroid, payudara, perut, lengan dan tungkai. Dengan bantuan stetoskop, dilakukan pemeriksaan terhadap jantung dan paru-paru; sedangkan pemeriksaan bagian belakang mata dilakukan dengan bantuan oftalmoskop. Juga dilakukan pemeriksaan panggul dan rektum guna mengetahui ukuran danposisi rahim dan kelaian pada panggul. Dilakukan pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan darah untuk sifilis, hepatitis, gonore, infeksi klamidia dan penyakit menular seksual lainnya. Pemeriksaan darah juga dilakukan untuk menentukan golongan darah dan antibodi Rh. Rontgen dada hanya dilakukan jika diketahui wanita hamil tersebut menderita penyakit paru-paru atau jantung. Jika tidak mendesak, sebaiknya pemeriksaan rontgen dihindari, terutama pada 12 minggu pertama karena janin sangat sensitif terhadap efek radiasi. Jika mendesak, janin harus dilindungi dengan cara menutupi perut bagian bawah dengan bahan yang mengandung timah hitam sehingga rahim terlindungi. Pemeriksaan penyaringan untuk diabetes harus segera dilakukan setelah kehamilan 12 minggu pada: - Wanita yang pernah melahirkan bayi yang sangat besar - Wanita yang pernah mengalami keguguran yang penyebabnya tidak jelas - Wanita yang memiliki keluarga yang menderita diabetes. Pada minggu ke 28, semua wanita hamil harus menjalani pemeriksaan penyaringan untuk diabetes.

Pada minggu ke 16-18, dilakukan pemeriksaan kadar alfa-fetoprotein (suatu protein yang dihasilkan oleh janin) di dalam darah ibu. Jika kadarnya tinggi, kemungkinan janin yang dikandung menderita spina bifida atau terdapat lebih dari 1 janin. Jika kadarnya rendah, kemungkinan terdapat kelainan kromosom pada janin. Dengan USG, kehamilan bisa diketahui mulai dari 4-5 minggu setelah ovulasi. USG juga digunakan untuk: - Mengikuti perkembangan kehamilan - Menentukan tanggal perkiraan persalinan - Menentukan laju pertumbuhan janin - Merekam denyut jantung atau pernafasan janin - Mengetahui kehamilan ganda - Mengetahui sejumlah kelainan (misalnya plasenta previa) - Mengetahui kelainan posisi janin - Memandu jarum pada pengambilan contoh cairan ketuban untuk keperluan pemeriksaan genetik atau kematangan paru-paru (amniosentesis). Pada kehamilan muda, sebelum menjalani pemeriksaan USG, sebaiknya ibu meminum banyak air karena kandung kemih yang penuh akan mendorong rahim keluar rongga panggul sehingga bisa diperoleh gambaran janin yang lebih jelas. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap 4 minggu (1 kali/bulan) sampai usia kehamilan mencapai 32 minggu. Kemudian setiap 2 minggu sampai usia kehamilan mencapai 36 minggu dan sesudah 36 minggu, pemeriksaan dilakukan 1 kali/minggu. Pada setiap pemeriskaan, dilakukan pengukuran berat badan dan tekanan darah, serta ukuran dan bentuk rahim untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan janin. Air kemih diperiksa untuk mengetahui adanya gula dan protein. Adanya gula menunjukkan diabetes dan protein menunjukkan pre-eklamsi (tekanan darah tinggi, protein dalam air kemih dan penimbunan cairan selama kehamilan). Jika ibu memiliki darah Rh-negatif, maka dilakukan pemeriksaan antibodi Rh. Jika darah ibu memiliki Rh-negatif dan darah ayah memiliki Rh-positif, maka janin bisa memiliki Rh-positif. Jika darah janin yang memiliki Rh-positif memasuki peredaran darah ibu yang memiliki Rh-negatif, maka tubuh ibu akan membentuk antibodi Rh yang bisa masuk ke aliran darah janin dan merusak sel darah merah sehingga terjadi jaundice (kuning), yang bisa menyebabkan kerusakan otak atau kematian janin. Kenaikan berat badan pada saat hamil, pada wanita yang memiliki ukuran rata-rata biasanya berkisar antara 12,5-15 kg (sekitar 1-1,5 kg/bulan). Kenaikan berat badan yang melebihi 15-17,5 kg menyebabkan penumpukan lemak pada janin dan ibu. Berat badan yang tidak bertambah merupakan pertanda buruk (terutama jika kenaikan berat badan total kurang dari 5 kg) dan hal ini bisa menunjukkan adanya pertumbuhan janin yang lambat.

Kadang kenaikan berat badan disebabkan oleh penimbunan cairan akibat jeleknya aliran darah tungkai pada saat wanita hamil berdiri. Hal ini bisa diatasi dengan cara berbaring miring ke kiri selama 30-45 menit sebanyak 23 kali/hari. Selama kehamilan, kebutuhan kalori harus ditambah sekitar 250 kalori agar tersedia zat gizi yang cukup untuk pertumbuhan janin. Wanita hamil sebaiknya mengkonsumsi makanan yang gizinya seimbang, termasuk buahbuahan dan sayur-sayuran. Hindari makanan yang terlalu asin atau makanan yang mengandung bahan pengawet. Seorang wanita hamil tidak boleh minum obat sembarangan. Selama kehamilan, kebutuhan tubuh akan zat besi meningkat guna memenuhi kebutuhan ibu dan janin. Biasanya diberikan tambahan zat besi. Pemberian zat besi bisa menyebabkan gangguan lambung yang ringan dan sembelit. Mual dan muntah bisa dikurangi dengan merubah pola makan, yaitu: - Minum dan makan dalam porsi kecil tetapi sering - Makan sebelum lapar - Makanan lunak. Untuk mengatasi morning sickness (mual di pagi hari) sebaiknya memakan 1-2 keping biskuit sebelum beranjak dari tempat tidur. Jika mual dan muntahnya sangat berat dan menetap sehingga terjadi dehidrasi, penurunan berat badan atau gangguan lainnya, maka biasanya wanita hamil harus menjalani perawatan di rumah sakit untuk semantara waktu dan mendapatkan cairan melalui infus. Edema (pembengkakan) sering terjadi, terutama pada tungkai. Demikian juga halnya dengan varises pada tungkai dan di daerah sekitar lubang vagina. Untuk mengurangi pembengkakan tungkai, bisa digunakan penyangga elastis atau berbaring dengan posisi tungkai lebih tinggi. Wasir bisa diatasi dengan mengkonsumsi obat pelunak tinja atau berendam di air hangat. Pada saat hamil biasanya jumlah cairan yang keluar dari vagina bertambah, hal ini adalah normal. Trikomoniasis dan kandidiasis merupakan infeksi vagina yang sering ditemukan selama kehamilan dan mudah diobati. Vaginosis bakterialis (infeksi bakteri pada vagina) bisa menyebabkan kelahiran prematur dan harus diobati secara tuntas. Wanita hamil bisa tetap melakukan kegiatan sehari-harinya dan berolahraga. Hubungan seksual selama kehamilan tetap boleh dilakukan, kecuali jika terjadi perdarahan, nyeri atau kebocoran air ketuban. Setiap wanita hamil sebaiknya mengetahui tanda-tanda awal persalinan. Tanda yang utama adalah kontraksi perut bagian bawah dengan selang waktu tertentu dan nyeri punggung.

Menjelang akhir kehamilan (setelah 36 minggu), dokter akan melakukan pemeriksaan panggul untuk mencoba memperkirakan saat persalinan.

Perubahan Fisik Wanita Hamil
DEFINISI Kehamilan menyebabkan banyak perubahan pada tubuh seorang wanita, kebanyakan hilang setelah melahirkan. Perubahan ini menyebabkan beberapa gejala, yang normal. Meskipun begitu, gangguan tertentu, seperti diabetes gestational, terjadi selama kehamilan, dan beberapa gejala bisa mengindikasikan adanya sebuah gangguan. Beberapa gejala yang harus segera dilaporkan kepada dokter jika terjadi selama kehamilan termasuk dibawah ini :
• • • • • • • • • • • • • •

Sakit kepala yang menetap atau tidak biasa Terus menerus mual dan muntah Pusing Gangguan pada penglihatan Nyeri atau kejang di bagian bawah perut Kontraksi Bocornya cairan amniotic (digambarkan sebagai “ketuban pecah”) Pembengkakan pada tangan dan kaki Produksi air seni yang berkurang Berbagai penyakit dan infeksi Gemetar (getar pada tangan, kaki, atau keduanya) kejang Detak jantung cepat Pengurangan gerak pada janin

Kesehatan umum : lelah adalah hal biasa, khususnya pada 12 minggu pertama dan berulang pada kehamilan akhir. Wanita tersebut bisa memerlukan istirahat lebih dari biasanya. Saluran reproduksi : menjelang 12 minggu kehamilan, rahim membesar bisa menyebabkan perut wanita sedikit menonjol. Rahim tersebut terus membesar sepanjang kehamilan. Rahim yang membesar meluas sampai ke pusar menjelang 20 minggu dan sampai ke bagian bawah rusuk menjelang 36 minggu. Jumlah kotoran pada vagina normal, yang bening atau keputih-putihan, biasanya meningkat. Peningkatan ini umumnya biasa. Meskipun begitu, jika kotoran memiliki warna yang tidak biasa atau berbau atau disertai dengan rasa gatal dan terbakar pada vagina, seorang wanita harus menemui dokter. Beberapa gejala bisa mengindikasikan

infeksi vagina. Beberapa infeksi vagina, seperti trichomoniasis (infeksi protozoa) dan candidiasis (infeksi jamur), adalah sering terjadi selama kehamilan dan bisa diobati. Payudara : payudara cenderung membesar karena hormon (terutama estrogen) sedang mempersiapkan produksi susu. Kelenjar yang menghasilkan susu berangsur-angsur meningkat jumlahnya dan bisa menghasilkan susu. Payudara bisa terasa keras dan lembut. Menggunakan sebuah bra yang sesuai dan menyediakan penyangga bisa membantu. Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, payudara bisa menghasilkan cairan encer, kekuningan atau kotoran susu (colostrum). Colostrum juga dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah melahirkan, sebelum air susu ibu diproduksi. Cairan ini, yang kaya dengan mineral dan anti bodi, adalah makanan bayi pertama. Jantung dan aliran darah : selama kehamilan, jantung si wanita harus bekerja lebih keras disebabkan perkembangan janin, jantung harus lebih memompa darah ke rahim. Menjelang akhir kehamilan, rahim menerima seperlima persediaan darah pada prakehamilan wanita. Selama kehamilan, jumlah darah yang dipompa oleh jantung (cardiac output) meningkat 30 sampai 50%. Dengan meningkatnya cardiac output, detak jantung pada saat istirahat meningkat dari detak prakehamilan normal dari sekitar 70 detak permenit sampai 80 atau 90 detak per menit. Selama olah raga, output cardiac dan detak jantung lebih meningkat pada wanita hamil dibandingkan dengan yang tidak hamil. Selama persalinan, cardiac output meningkat dengan peningkatan 10%. Setelah melahirkan, cardiac output menurun dengan sangat cepat pertama kali, kemudian melambat. Normal kembali pada tingkat prakehamilan sekitar 6 minggu setelah melahirkan. Bunyi jantung tertentu dan ketidakteraturan ritme jantung bisa muncul karena jantung bekerja lebih keras. Kadangkala seorang wanita hamil bisa merasakan ketidakteraturan ini. Beberapa perubahan adalah normal selama kehamilan. Meskipun begitu, suara dan irama jantung tidak normal lainnya (misalnya, suara diastolik, dan takiaritmia), yang terjadi lebih sering pada wanita hamil, bisa memerlukan pengobatan. Tekanan darah biasanya berkurang selama trisemester kedua tetapi bisa kembali ke tingkat kehamilan normal pada trisemester ketiga. Peningkatan volume darah 50 % selama kehamilan. Jumlah cairan dalam darah lebih meningkat dibandingkan jumlah sel darah merah (yang membawa oksigen). Oleh karena itu, meskipun terdapat lebih sel darah merah, tes darah menunjukkan anemia ringan, hal itu normal. Untuk alasan yang tidak dimengerti dengan jelas, jumlah sel darah putih (yang melawan infeksi) sedikit meningkat selama kehamilan dan nyata sekali selama persalinan dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Rahim yang membesar mengganggu kembalinya darah dari kaki dan daerah pelvis ke jantung. Akibatnya, pembengkakan sering terjadi (edema), khususnya pada kaki. Pembuluh varicose (varises) biasanya terbentuk pada kaki dan di daerah sekitar vagina

yang terbuka (vulva). Hal itu kadangkala membuat tidak nyaman. Pakaian yang longgar sekitar pinggang dan kaki membuat lebih nyaman dan tidak menekan aliran darah. Beberapa tindakan tidak hanya mengurangi ketidaknyamanan tetapi juga mengurangi pembengkakan kaki dan membuat pembuluh varicose lebih mungkin hilang setelah melahirkan :
• • •

Menggunakan support hose yang elastis Sering beristirahat dengan mengangkat kaki Berbaring pada sebelah kiri tubuh

Saluran urin : seperti jantung, ginjal bekerja lebih keras selama kehamilan. Ginjal menyaring volume darah yang meningkat. Volume pada darah disaring oleh ginjal semaksimal mungkin antara 16 dan 24 minggu kehamilan dan tetap maksimum sesegera mungkin sebelum melahirkan. Sehingga, tekanan dari rahim yang membesar bisa sedikit mengurangi suplai darah ke ginjal. Aktifitas ginjal secara normal bertambah ketika seseorang berbaring dan berkurang ketika seseorang berdiri. Perbedaan ini diperbesar selama kehamilan-salah satu sebab seorang wanita hamil perlu sering-sering buang air kecil saat berusaha tidur. Pada usia kehamilan tua, berbaring menyamping, terutama sekali bagian kiri, meningkatkan aktivitas ginjal lebih dari tidur terlentang. Berbaring pada sisi sebelah kiri menghilangkan tekanan dimana rahim yang membesar berada di pembuluh utama yang mengalirkan darah dari kaki. Akibatnya, aliran darah meningkat dan aktivitas ginjal bertambah. Rahim menekan kandung kemih, mengurangi ukurannya sehingga terisi dengan air seni lebih cepat dari biasanya. Tekanan ini juga membuat seorang wanita hamil perlu untuk buang air kecil lebih sering dan lebih cepat. Saluran pernafasan : progesteron tingkat tinggi, hormon yang secara terus menerus diproduksi selama kehamilan, memberi tanda otak untuk merendahkan tingkat karbon dioksida pada darah. Akibatnya, seorang wanita hamil sedikit lebih cepat bernafas dan lebih dalam menghirup lebih banyak karbon dioksida dan menjaga tingkat karbon dioksida rendah. Wanita tersebut bisa bernafas dalam dan juga cepat disebabkan rahim yang membesar membatasi seberapa banyak paru-paru bisa meluas ketika dia mengambil nafas. Sekitar dada wanita tersebut sedikit membesar. Hampir setiap wanita hamil kadang-kadang menjadi lebih banyak mengeluarkan nafas ketika menekan dirinya, khususnya pada akhir kehamilan. Selama olah raga, tingkat pernafasan lebih meningkat ketika seorang wanita hamil dibandingkan ketika dia tidak hamil. Karena lebih banyak darah yang dipompa, lapisan pada saluran pernafasan menerima lebih banyak darah dan sedikit membengkak, mempersempit saluran pernafasan. Akibatnya, hidung kadangkala terasa kaku, dan pipa pembuluh (yang menghubungkan telinga bagian tengah dan bagian belakang pada hidung) bisa menjadi tersumbat. Akibatnya bisa sedikit merubah suara dan kualitas suara wanita tersebut.

Saluran pencernaan : mual dan muntah, terutama di pagi hari (morning sickness), sering terjadi. Hal tersebut bisa disebabkan estrogen tingkat tinggi dan human chorionic gonadotropin (HCG), dua hormon yang membantu menjaga kehamilan. Mual dan muntah kemungkinan hilang dengan merubah makanan atau pola makan. Misalnya, sering minum dan makan dalam porsi kecil, makan sebelum lapar, dan makan makanan lunak (seperti sereal, nasi, dan mie) bisa membantu. Makan keripik, soda tawar dan minum minuman bersoda bisa menghilangkan mual. Menyimpan keripik di samping tempat tidur dan makan satu atau dua kali sebelum bangun bisa menghilangkan morning sickness. Tidak ada obat-obatan khusus dibuat untuk mengobati morning sickness yang tersedia sekarang. Jika mual dan muntah membandel atau secara terus menerus membuat dehidrasi, kehilangan berat badan, atau muncul masalah yang lainnya, seorang wanita bisa memerlukan untuk diobati dengan obat-obatan yang menghilangkan mual (obatobatan antiemetik) atau dirawat di rumah sakit untuk sementara waktu dan diberikan cairan infus. Panas dalam dan sendawa sering terjadi, kemungkinan karena makanan menetap di perut lebih lama dan karena otot seperti gelang (sphincter) pada ujung bawah kerongkongan cenderung rileks, membuat isi perut berbalik ke dalam kerongkongan. Beberapa alat yang bisa membantu menghilangkan panas dalam:
• • • •

Makan makanan kecil Tidak menekuk atau berbaring lurus untuk beberapa jam setelah makan Menghindari kafein, tembakau, alkohol, dan aspirin dan obat-obatan yang terkait (salisilat) Minum antasida cair, tetapi bukan antasida yang mengandung sodium bikarbonat karena mengandung terlalu banyak garam (sodium)

Panas dalam sepanjang malam bisa dihilangkan dengan hal berikut di bawah ini :
• •

Tidak makan untuk beberapa jam sebelum tidur Menaikkan kepala pada tempat tidur atau menggunakan bantal untuk menaikkan kepala dan bahu.

Perut menghasilkan lebih sedikit asam selama kehamilan. Sehingga, borok perut jarang muncul selama kehamilan, dan yang sudah ada seringkali mulai sembuh. Sewaktu proses kehamilan, tekanan dari rahim yang melebar pada dubur dan bagian bawah pada usus bisa menyebabkan sembelit. Sembelit kemungkinan tambah parah karena kadar progesteron tinggi selama kehamilan memperlambat gerakan otomatis pada kontraksi otot di usus, yang secara normal terus menggerakkan makanan. Makan makanan berserat tinggi, minum cukup cairan, dan berolah raga secara teratur bisa membantu mencegah sembelit. Wasir, sering terjadi, diakibatkan tekanan pada rahim yang membesar atau sembelit. Pelembut tinja, gel anestesi, atau peredam panas bisa digunakan jika wasir luka.

Ruam Kulit Selama Kehamilan Dua jenis gatal yang sering terjadi selama kehamilan. Pruritic urticarial papules dan plaques pada kehamilan (urticaris pada Ngidam, keinginan untuk makanan aneh kehamilan) : ruam ini sering terjadi. atau non-makanan (seperti zat tepung atau Penyebabnya tidak diketahui. tanah liat), bisa terjadi. Kadangkala, wanita hamil, biasanya yang mengalami Merah, berbentuk tidak teratur, rata atau morning sickness, mempunyai ludah lapisan yang sedikit timbul muncul pada berebihan. Gejala ini kemungkinan perut. lapisan tersebut kadangkala memiliki mengganggu tetapi tidak berbahaya sama lepuhan kecil berisi cairan di bagian tengah. sekali. Seringkali, kulit di sekitarnya pucat. Ruam menyebar ke paha, pantat, dan kadangkala lengan. Ratusan ruam gatal bisa terbentuk. Rasa gatal cukup mengganggu membuat wanita tersebut terjaga di malam hari.< Biasanya, ruam timbul selama 2 sampai 3 minggu terakhir kehamilan dan kadangkala selama beberapa hari terakhir. Meskipun begitu, bisa terjadi setiap saat setelah 24 minggu. Biasanya, ruam hilang segera setelah melahirkan dan tidak kambuh selama kehamilan berikutnya. Dokter mungkin mempunyai kesukaran membuat diagnosa pasti. Herpes gestationis: penyebabnya adalah antibodi yang tidak normal yang menyerang jaringan tubuh itu sendiri-reaksi autoimun. Ruam bisa berawal rata atau bercak berwarna merah yang timbul seringkali terbentuk pada perut pertama kali. Kemudian lepuhan yang kecil atau besar, bentuk yang berubah-ubah, dan berisi cairan.

Kulit : topeng kehamilan (melasma) adalah sebuah jerawat, pigmen kecoklatan yang muncul pada kulit dahi dan leher. Kulit sekitar puting (areolae) bisa juga lebih gelap. Garis hitam biasanya muncul di tengah perut. perubahan ini bisa terjadi karena plasenta menghasilkan sebuah hormon yang merangsang melanocytes, sel yang menghasilkan pigmen kulit hitam kecoklatan (melanin). Tanda kerutan merah muda kadangkala muncul di perut. perubahan ini kemungkinan diakibatkan rahim berkembang cepat dan meningkatkan kadar hormon adrenalin. Pembuluh darah kecil bisa membentuk pola seperti jaring laba-laba berwarna merah pada kulit, biasanya di atas pinggang. Bentuk ini disebut angiomas laba-laba. Kapiler berdinding tipis yang melebar bisa terlihat, khususnya pada bagian bawah kaki.

Ruam bisa timbul setiap saat setelah 12 minggu kehamilan atau segera setelah Hormon : kehamilan mempengaruhi melahirkan. Ciri khasnya, ruam bertambah hampir seluruh hormon di dalam tubuh, parah segera setelah melahirkan dan hilang kebanyakan disebabkan pengaruh pada dalam beberapa minggu atau bulan. Hal ini produksi hormon dengan plasenta. seringkali muncul kembali selama kehamilan Misalnya, plasenta menghasilkan hormon berikutnya. yang merangsang kelenjar tiroid wanita tersebut menjadi lebih aktif dan Ruam ini didiagnosa dengan mengambil menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah potongan kecil pada kulit yang terinfeksi dan besar. Ketika kelenjar tiroid menjadi lebih menelitinya untuk antibodi abnormal. aktif, jantung bisa berdetak lebih cepat, Pengobatan : untuk kedua jenis ruam di atas, mengoleskan krim kortikosteroid (seperti triamcinolone acetonide) secara langsung pada kulit seringkalai membantu. Untuk ruam yang lebih melebar luas, kortikosteroid

menyebabkan wanita tersebut menjadi menyadari detak jantungnya (mengalami palpitasi). Keringat meningkat, mood swings bisa terjadi, dan kelenjar tiroid bisa membesar. Meskipun begitu, gangguan hipertiroid, dimana kelenjar tiroid benar-benar rusak dan aktif sekali, terjadi kurang dari 0.1% kehamilan. Kadar estrogen dan progesterone meningkat terlalu cepat selama kehamilan karena human chorionic gonadotropin, hormon utama yang dihasilkan plasenta, merangsang ovarium untuk melanjutkan memproduksinya. Setelah 9 sampai 10 minggu kehamilan, plasenta itu sendiri menghasilkan estrogen dan progesteron dalam jumlah besar. Estrogen dan progesteron membantu menjaga kehamilan. Plasenta merangsang kelenjar adrenalin untuk menghasilkan aldosteron dan kortisol lebih banyak (yang membantu mengatur seberapa banyak cairan pada cairan ginjal). Akibatnya, lebih banyak cairan yang tersimpan. Selama kehamilan, perubahan tingkat hormon mempengaruhi bagaimana tubuh mengendalikan gula. Awal kehamilan, kadar gula (glukosa) dalam darah bisa sedikit menurun. Tapi pada akhir pertengahan kehamilan, kadarnya bisa meningkat. Lebih banyak insulin dibutuhkan (yang mengontrol kadar gula di dalam darah) dibutuhkan dan dihasilkan oleh pankreas. Konsekwensinya, diabetes, jika telah ada, bisa tambah buruk selama kehamilan. Diabetes bisa juga muncul selama kehamilan. Gangguan ini disebut diabetes gestational. Sendi dan Otot: sendi dan ligamen (tali dan tulang rawan berserat yang menyambung tulang) pada panggul wanita melonggar dan menjadi lebih fleksibel. perubahan ini membantu membuat ruang untuk pembesaran rahim dan menyiapkan wanita untuk melahirkan bayi. Akibatnya, postur wanita agak berubah. Sakit punggung dalam tingkat yang berubah-ubah sering terjadi karena tulang belakang melengkung lebih banyak untuk mengimbangkan berat dari pembesaran rahim. Hindari mengangkat beban berat, menekuk lutut (bukan pinggang) untuk mengangkat barang, dan mempertahankan postur tubuh bisa membantu. Memakai sepatu datar dengan penyangga yang baik atau korset mungkin mengurangi beban di punggung. Tahap-tahap pada kehamilan Meskipun kehamilan berkaitan dengan proses yang kontinyu, kehamilan dibagi menjadi periode 3 bulanan yang disebut trisemester (minggu 0 hingga 12, 13 hingga 24 dan 25 hingga melahirkan) Peristiwa Minggu kehamilan Image Trismester pertama Tahapan terakhir sebelum pembuahan terjadi 0 Pembuahan terjadi 2 Sel telur yang dibuahi (zigot) mulai terbentuk ke dalam bola berongga pada sel yang disebut blastosit.

Penanaman blastosit di dalam dinding uterus. Kantung amniotic mulai terbentuk. Daerah yang akan menjadi otak dan tulang belakang (pembuluh neural) mulai terbentuk. Daerah dan pembuluh darah besar terbentuk. Detak jantung bisa dilihat selama ultrasonograpi. Tangan dan kaki mulai terlihat. Tulang dan otot terbentuk. Wajah dan leher terbentuk. Gelombang otak bisa terdeteksi. Tengkorak terbentuk. Jari tangan dan kaki jelas sekali. Ginjal mulai berfungsi. Hampir semua organ terbentuk sempurna. Janin bisa bergerak dan merespon sentuhan (ketika mendorong perut wanita). Wanita tersebut bertambah berat badannya, dan perutnya sedikit membesar. Trisemester kedua Kelamin bayi bisa diketahui. Janin bisa mendengar. Jari janin bisa mengepal. Janin bergerak lebih giat, sehingga si ibu bisa merasakannya. Badan janin mulai bertambah gemuk sewaktu lemak ditumpuk di bawah kulit. Rambut muncul di kepala dan kulit. Alis mata dan bulu mata muncul. Plasenta sepenuhnya terbentuk. Janin memiliki kesempatan bertahan hidup di luar uterus. Wanita tersebut mulai bertambah berat badan dengan cepat. Trisemester ketiga Janin aktif, sering berganti posisi. Paru-paru berkembang menjadi matang. Kepala bayi berpindah ke posisi untuk melahirkan. Rata-rata, ukuran janin sekitar 20 inci panjangnya dan sekitar 7 pon beratnya. Pembesaran perut wanita membuat pusar menjadi menonjol. Melahirkan

3 5 6 7

9

10

14

16

20 24

25

37-42

Mengurus Diri Sendiri Sewaktu Hamil
DEFINISI Ada banyak wanita hamil dapat mengurus dirinya sendiri selama hamil. Bila mereka memiliki pertanyaan apa saja mengenai makanan, penggunaan obat-obatan atau gizi tambahan, aktifitas fisik, dan hubungan seksual selama kehamilan, mereka dapat berkonsultasi dengan dokter. 1. Makanan dan berat badan Selama kehamilan, makanan wanita hamil harus tercukupi dan bergizi Jika wanita hamil tidak makan dengan gizi yang cukup untuk dirinya dan janin, pertama nutrisi bergerak untuk memberi nutrisi kepada janin. Namun demikian, menambahkan sekitar 250 kalori pada makanan setiap harinya biasanya mencukupi tuntuk ersedianya nutrisi bagi keduanya. Kebanyakan Kalori tambahan harus berprotein. Makanan harus benar-benar seimbang, termasuk buah-buahan segar, padi-padian, dan sayur-sayuran. Sereal yang kaya akan serat dan rendah gula merupakan pilihan yang baik.< Kebanyakan wanita di Indonesia cukup garam pada makanannya, tanpa menambah garam pada makanannya pada saat makan. Makanan siap saji seringkali mengandung garam dengan jumlah yang berlebihan dan harus dimakan sedikit mungkin. Diet untuk mengurangi berat badan semasa kehamilan tidak dianjurkan, bahkan untuk wanita yang kelebihan berat badan, karena sebagian berat yang dihasilkan berguna bagi janin untuk berkembang secara normal. Diet mengurangi asupan gizi pada janin.

Berat rata-rata wanita seharusnya bertambah sekitar 25 sampai 30 pon selama kehamilan. Bertambah lebih dari 30 sampai 35 pon memberikan lemak pada wanita dan janinnya. Karena sulitnya mengontrol kelebihan berat badan setelah kehamilan, seorang wanita harus berusaha untuk menghindari kelebihan berat badan selama bulan-bulan pertama sebaliknya, tidak bertambahnya berat badan bisa menghalangi perkembangan dan pertumbuhan janin. Seorang wanita harus berusaha untuk menambah berat badan antara 2 dan 3 pon setiap bulan selama masa kehamilan dimulai.< Kadangkala seorang wanita hamil bertambah berat badan karena cairan yang tertahan. Cairan dapat tertahan karena, ketika dia berbaring, rahim yang membesar bercampur dengan aliran darah dari kaki menuju ke jantung. Berbaring dengan satu sisi, terutama sisi kiri, untuk 30 sampai 45 menit 2 atau 3 kali sehari bisa membebaskan masalah ini. Menggunakan kaus kaki penyangga dari karet juga bisa membantu. 2. Obat-obatan dan makanan tambahan Umumnya menghindari obat-obatan selama masa kehamilan adalah sangat baik. Bagaimanapun, obat-obatan kadangkala harus digunakan. Seorang wanita hamil harus memeriksakan diri kepada dokter sebelum menggunakan obat apapuntermasuk obat-obatan tanpa resep dokter (melalui toko obat), seperti aspirin, atau pengobatan herbal-umumnya selama 3 bulan pertama. Kehamilan melipatgandakan jumlah zat besi yang dibutuhkan. Kebanyakan wanita hamil membutuhkan zat besi tambahan dikarenakan rata-rata wanita tidak cukup menyerap zat besi dari makanan untuk memenuhi syarat kehamilan. Bila seorang wanita menderita anemia atau terjadi anemia selama kehamilan, dia kemungkinan butuh dosis lebih banyak dari zat besi dibandingkan dengan wanita hamil lainnya. Zat besi tambahan dapat menyebabkan perut sedikit melilit dan sembelit. Semua wanita hamil harus mengkonsumsi folat (folic acid) tambahan (biasanya termasuk vitamin sebelum melahirkan) setiap hari. Idealnya, suplemen folat dimulai sebelum kehamilan. Tahukah anda .... Kekurangan folat meningkatkan o Umumnya, olahraga dan resiko memiliki seorang bayi yang hubungan seksual tidak lahir dengan cacat otak atau urat membahayakan kehamilan. syaraf tulang belakang, seperti spina bifida. Wanita yang o Pada saat bepergian, wanita mempunyai bayi dengan spina hamil harus selalu menggunakan bifida harus mulai memberi dosis sabuk pengaman. tinggi folat sebelum hamil. Untuk beberapa wanita lainnya yang mungkin menderita kekurangan folat, jumlah folat dalam vitamin prenatal standar mencukupi, bahkan jika resiko menjadi bertambah. Misalnya, wanita yang terus-menerus terkena sinar matahari langsung

(UV), umumnya wanita dengan kulit normal, bisa kekurangan kadar folat. Juga, wanita yang menggunakan kontrasepsi oral dalam beberapa bulan sebelum pembuahan sama juga membentuk kekurangan asam folat, namun tidak ada bukti bahwa mereka lebih mungkin memiliki bayi yang menderita spina bifida. Jika makanan tercukupi, vitamin tambahan lainnya tidak diperlukan, meskipun kebanyakan dokter menganjurkan wanita hamil untuk mengkonsumsi multivitamin yang mengandung zat besi dan folat sebelum melahirkan setiap harinya. 3. Aktifitas fisik Banyak wanita hamil memperhatikan kelayakan aktifitas mereka. Bagaimanapun, kebanyakan wanita dapat melanjutkan aktifitas dan olahraga seperti biasa selama hamil. Olahraga yang ringan, seperti berenang dan jalan santai, adalah pilihan yang baik. Aktifitas berat, seperti lari dan berkuda, juga mungkin dilakukan dengan hati-hati, untuk menghindari cedera, umumnya pada perut. Olahraga fisik harus dihindari. 4. Hubungan seksual Hasrat seks bisa meningkat atau menurun semasa kehamilan. Hubungan seksual aman pada saat hamil kecuali seorang wanita mengalami pendarahan vagina, rasa sakit, kebocoran cairan amniotic, atau kontraksi rahim. Dalam beberapa kasus hubungan seks harus dihindari. 5. Persiapan menyusui Wanita yang merencanakan untuk menyusui tidak perlu mempersiapkan puting susunya untuk menyusui selama kehamilan. Mempercepat keluarnya cairan dari payudara secara manual sebelum melahirkan dapat menyebabkan infeksi pada payudara (mastitis) atau bahkan tindakan lebih awal. Tubuh mempersiapkan aerola dan putting untuk menyusui dengan mengeluarkan pelicin untuk melindungi permukaan payudara. Pelicin ini harus tidak dilap. Mengamati dan berbicara dengan wanita yang sudah berhasil menyusui dengan baik dapat memberi pelajaran dan memberi harapan. 6. Berpergian selama masa kehamilan Saat yang paling aman untuk bepergia selama masa kehamilan adalah antara 14 dan 28 minggu kehamilan. Lama perjalanan harus tidak melebihi 6 jam per hari. Wanita hamil harus dapat memiliki tips dan informasi yang bermanfaat mengenai perjalanan dari dokter, jadi membicarakan rencana perjalanan mereka dengan dokter adalah ide yang baik. Pada saat bepergian dengan mobil, pesawat terbang, atau kendaraan lainnya. Wanita hamil harus selalu menggunakan sabuk pengaman. Menempatkan bagian

sabuk melintangi pinggul dan di bawah bagian perut dan menempatkan punggung sabuk di antara payudara dapat menolong pemakaian sabuk pengaman lebih nyaman. Sabuk harus benar tetapi tidak terlalu ketat. Perjalanan dengan pesawat terbang aman sampai sekitar 36 minggu kehamilan. Alasan utama dibatasi pada 36 minggu adalah resiko kontraksi dan melahirkan pada lingkungan tidak biasa. Selama perjalanan udara, wanita hamil harus melakukan pencegahan yang serupa dengan bila berkendara, termasuk peregangan dan meluruskan kaki dan pergelangan kaki secara bertahap.

Tahap Perkembangan Bayi
DEFINISI Seorang bayi melalui beberapa tahap perkembangan, diawali dengan pembuahan sel telur. Sel telur berkembang menjadi blastosit, sebuah embrio, kemudian janin. Pembuahan Selama setiap siklus menstruasi normal, satu sel telur (ovum) biasanya dilepaskan dari salah satu indung telur, sekitar 14 hari sebelum periode menstruasi berikutnya. Lepasnya sel telur disebut ovulasi. Sel telur tersapu ke dalam ujung yang berbentuk corong pada salah satu tuba falopii. Pada ovulasi, lendir di dalam servik menjadi lebih cair dan lebih elastis, membiarkan sperma untuk masuk ke dalam rahim dengan cepat. Dalam 5 menit, sperma bisa bergerak dari vagina, melalui servik ke dalam rahim, dan menuju ujung yang berbentuk corong pada tuba falopii-tempat biasa pembuahan. Lapisan sel tuba falopii memudahkan pembuahan. Jika sperma menembus sel telur, pembuahan terjadi. Silia seperti rambut yang kecil melapisi tuba falopii mendorong sel yang telah dibuahi (zigot) melalui pipa ke arah rahim. Sel pada zigot membelah berulangkali bersamaan dengan zigot bergerak menuju tuba falopi. Zigot tersebut memasuki rahim dalam 3 sampai 5 hari. Di dalam rahim, sel terus membelah, menjadi bola berongga yang disebut blastosit. Jika pembuahan tidak terjadi, sel telur luruh dan terus melewati rahim dengan periode menstruasi berikutnya. Jika lebih dari satu sel telur yang dilepaskan dan dibuahi, kehamilan meliputi lebih dari satu janin, biasanya dua (kembar). Beberapa kembar adalah fraternal. Mengidentifikasikan kembar ketika satu sel telur memisah ke dalam dua embrio setelah membelah. Perkembangan Blastosit

Di antara 5 dan 8 hari setelah pembuahan, blastosit menempel pada lapisan rahim, biasanya dekat puncak. Proses ini disebut implantasi, yang selesai dengan 9 atau 10 hari. Dinding blastosit adalah satu sel tebal kecuali di satu area, dimana 3 sampai 4 sel tebal. Bagian dalam sel pada area yang menebal berkembang menjadi embrio, dan bagian luar sel bersembunyi di dalam dinding rahim dan berkembang menjadi plasenta. Plasenta tersebut menghasilkan beberapa hormon yang membantu memelihara kehamilan. Sebagai contoh, plasenta menghasilkan human chorionic gonadotropin, yang mencegah indung telur dari pelepasan sel telur dan merangsang indung telur untuk menghasilkan estrogen dan progesterone secara kontinyu. Plasenta juga membawa oksigen dan nutrisi dari ibu untuk janin dan bahan-bahan beracun dari janin ke ibu. Beberapa sel dari plasenta berkembang menjadi lapisan bagian luar pada selaput (chorion) yang mengelilingi embrio. Bagian dalam lapisan pada selaput (amnion) terbentuk sekitar hari ke 10 sampai hari ke 12, membentuk kantung amniotic. Kantung amniotic berisi cairan bening (cairan amniotic) dan menyebar untuk melindungi embrio yang berkembang, yang mengambang di dalamnya. Perkembangan Embrio Tahap berikutnya pada perkembangan embrio, dimana perkembangan di bawah lapisan rahim pada salah satu sisi. Tahap ini ditandai dengan pembentukan organ yang paling dalam dan struktur luar tubuh. Pembentukan organ-organ diawali sekitar 3 minggu setelah pembuahan, ketika embrio memanjang, pertama kali terbentuk manusia. Tidak lama setelah itu, daerah tersebut akan menjadi otak dan syaraf tulang belakang (neural tube) mulai terbentuk. Jantung dan pembuluh darah besar mulai terbentuk sekitar hari ke 16 atau 17. Jantung mulai memompa cairan melalui pembuluh darah pada hari ke-20, dan sel darah merah pertama muncul hari berikutnya. Pembuluh darah terus berkembang di dalam embrio dan plasenta. Dari Telur Menjadi Embrio

Satu kali sebulan, sel telur dilepaskan dari ovarium ke dalam tuba falopii. Setelah berhubungan seks, sperma bergerak dari vagina melalui servik dan rahim menuju tuba falopii, dimana satu sperma membuahi sel telur. Sel telur yang dibuahi (zigot) membelah terus sebagaimana bergerak turun ke tuba falopii menuju rahim. Pertama, zigot menjadi bola keras pada sel. Kemudian menjadi bola berongga pada sel yang disebut blastosit. Di dalam rahim, blastosit tertanam di dinding rahim, yang mana berkembang menjadi embrio menempel pada plasenta dan mengelilingi selaput yang berisi cairan.

Hampir semua organ terbentuk sempurna sekitar 8 minggu setelah pembuahan (yang sama dengan 10 minggu pada kehamilan). Kecuali otak dan tulang belakang, yang terus matang sepanjang kehamilan. Kebanyakan kerusakan bentuk (kerusakan lahir) terjadi selama periode ketika organ dibentuk. Selama periode ini, embrio lebih peka terhadap efek obat-obatan, radiasi, dan virus. Oleh karena itu, seorang wanita hamil seharusnya tidak diberikan vaksin virus hidup apapun atau menggunakan obat-obatan apapun selama periode ini sampai mereka menganggap penting untuk menjaga kesehatan mereka. Perkembangan Pada Janin dan Plasenta Pada akhir minggu ke-8 setelah pembuahan (10 minggu pada kehamilan), embrio disebut janin. Selama tahap ini. Struktur yang telah terbentuk bertumbuh dan terbentuk. Berikut adalah tanda-tanda selama kehamilan : 1. 12 minggu kehamilan : Janin memenuhi seluruh rahim. 2. Sekitar 14 minggu : Jenis kelamin bisa dikeali.

3. Sekitar 16 sampai 20 minggu : bisanya, wanita hamil bisa merasakan pergerakan janin. Wanita yang pernah melahirkan sebelumnya biasanya merasakan pergerakan sekitar 2 minggu pertama dibandingkan wanita yang hamil untuk pertama kali. 4. Sekitar 24 minggu : janin mempunyai kesempatan bertahan hidup di luar rahim. Paru-paru terus matang sampai mendekati waktu melahirkan. Otak menyimpan sel melalui kehamilan dan tahun pertama kehidupan setelah lahir. Selama plasenta terbentuk, hal itu memperluas proyeksi seperti rambut yang kecil (villi) di dalam dinding rahim. Proyeksi tersebut bercabang dan bercabang kembali di dalam susunan seperti pohon yang rumit. Susunan ini sangat memperluas daerah kontak di antara dinding rahim dan plasenta, sehingga lebih banyak nutrisi dan bahan-bahan beracun yang bisa dirubah. Plasenta terbentuk sempurna dalam 18 sampai 20 minggu tetapi terus bertumbuh melalui kehamilan. Ketika melahirkan, beratnya sekitar 1 pon. Plasenta dan Embrio pada Usia 8 Minggu Pada 8 minggu kehamilan, plasenta dan janin telah terbentuk untuk 6 minggu. Plasenta membentuk proyeksi seperti rambut kecil (villi) yang meluas ke dalam dinding rahim. Pembuluh darah dari embrio, yang melalui tali pusat ke plasenta, terbentuk di dalam villi. Selaput tipis memisahkan darah embrio di dalam villi dari darah si ibu yang mengalir melalui ruang yang mengelilingi villi (ruang intervillous). Susunan ini membuat bahan-bahan dirubah antara darah ibu dan embrio tersebut. Hal ini juga menjaga sistem kekebalan tubuh ibu menyerang embrio karena antibodi ibu terlalu besar untuk melewati selaput tersebut. < Embrio mengapung di dalam cairan (cairan amniotic), yang berisi cairan di dalam kantung (kantung amniotic). Cairan amniotic menyediakan ruang di mana embrio bisa bertumbuh dengan bebas. Cairan tersebut juga membantu melindungi embrio dari luka. Kantung amniotic kuat dan berpegas.

Obat-obatan Yg Dilarang Digunakan Selama Kehamilan
DEFINISI WHO memperkirakan sebanyak lebih dari 90% wanita hamil yang mengkonsumsi obat yang diresepkan maupun obat bebas, obat sosialisasi (misalnya alkohol atau tembakau) atau obat terlarang. 2-3% dari seluruh cacat bawaan disebabkan oleh obat-obatan. Obat berpindah dari ibu ke janin terutama melalui plasenta (ari-ari), yaitu melalui jalan

yang sama yang dilalui oleh zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Di dalam plasenta, obat dan zat gizi di dalam darah ibu melewati selaput tipis yang memisahkan darah ibu dengan darah janin. Obat yang diminum oleh wanita hamil bisa mempengaruhi janin melalui beberapa cara:  Secara langsung bekerja pada janin, menyebabkan kerusakan, kelainan perkembangan atau kematian  Mempengaruhi fungsi plasenta, biasanya dengan cara mengkerutkan pembuluh darah dan mengurangi pertukaran oksigen dan zat gizi diantara janin dan ibu  Menyebabkan otot rahim berkontraksi sekuat tenaga, yang secara tidak langsung mencederai janin dengan mengurangi aliran darah ke janin. Pengaruh obat terhadap janin tergantung kepada tingkat perkembangan janin dan dosis serta kekuatan obat. Obat tertentu yang diminum pada awal kehamilan (sebelum hari ke 17 setelah pembuahan), bisa menyebabkan kematian janin atau tidak mempengaruhi janin sama sekali. Pada saat ini janin sangat kebal terhadap cacat bawaan. Pada hari ke 17-57 setelah pembuahan (dimana organ tubuh mulai terbentuk), janin sangat rentan terhadap terjadinya cacat bawaan. Obat yang sampai ke janin bisa menyebabkan keguguran, cacat bawaan yang terlihat jelas atau cacat yang baru tampak di kemudian hari. Obat yang diminum setelah organ tubuh janin terbentuk sempurna, memiliki peluang yang kecil untuk menyebabkan cacat bawaan yang nyata, tetapi bisa menyebabkan perubahan dalam pertumbuhan dan fungsi organ dan jaringan yang telah terbentuk secara normal. OBAT ANTI-KANKER Jaringan janin tumbuh dengan kecepatan tinggi, karena itu sel-selnya yang membelah dengan cepat sangat rentan terhadap obat anti-kanker. Banyak obat anti-kanker yang bersifat teratogen, yaitu dapat menyebabkan cacat bawaan seperti: - IUGR (intra uterine growth retardation, hambatan pertumbuhan di dalam rahim) - Rahang bawah yang kurang berkembang - Celah langi-langit mulut - Kelainan tulang tengkorak - Kelainan tulang belakang - Kelainan telinga - Clubfoot (kelainan bentuk kaki) - Keterbelakangan mental.

TALIDOMID Obat ini sudah tidak diberikan lagi kepada wanita hamil karena bisa menyebabkan cacat bawaan. Talidomid pertama kali diperkenalkan pada tahun 1956 di Eropa sebagai obat influenza dan obat penenang. Pada tahun 1962, talidomid yang diminum oleh wanita hamil pada saat organ tubuh janinnya sedang terbentuk, ternyata menyebabkan cacat bawaan berupa lengan dan tungkai yang terbentuk secara tidak sempurna, kelainan usus, jantung dan pembuluh darah. PENGOBATAN KULIT Isotretinoin yang digunakan untuk mengobati jerawat yang berat, psoriasis dan kelainan kulit lainnya bisa menyebabkan cacat bawaan. Yang paling sering terjadi adalah kelainan jantung, telinga yang kecil dan hidrosefalus (kepala yang besar). Resiko terjadinya cacat bawaan adalah sebesar 25%. Etretinat juga bisa menyebabkan cacat bawaan. Obat ini disimpan di dalam lemak dibawah kulit dan dilepaskan secara perlahan, sehingga efeknya masih bertahan sampai 6 bulan atau lebih setelah pemakaian obat dihentikan. Karena itu seorang wanita yang memakai obat ini dan merencanakan untuk hamil, sebaiknya menunggu paling tidak selama 1 tahun setelah pemakaian obat dihentikan. HORMON SEKSUAL Hormon androgenik yang digunakan untuk mengobati berbagai kelainan darah dan progestin sintetis yang diminum pada 12 minggu pertama setelah pembuahan, bisa menyebabkan terjadinya maskulinisasi pada kelamin janin perempuan.  Klitoris bisa membesar dan labia minora menutup. Efek tersebut tidak ditemukan pada pemakaian pil KB karena kandungan progestinnya hanya sedikit. Dietilstilbestrol (DES, suatu estrogen sintetis) bisa menyebabkan kanker pada anak perempuan yang ibunya memakai obat ini selama hamil. Anak perempuan ini di kemudian hari akan: - memiliki kelainan dalam rongga rahim - mengalami gangguan menstruasi - memiliki serviks (leher rahim) yang lemah sehingga bisa mengalami keguguran - memiliki resiko menderita kehamilan ektopik - memiliki bayi yang meninggal sesaat sebelum atau sesaat sesudah dilahirkan.

Jika ibu hamil yang memakai DES melahirkan anak laki-laki, maka kelak dia akan memiliki kelainan pada penisnya. MECLIZIN Meclizin yang sering digunakan untuk mengatasi mabok perjalanan, mual dan muntah, bisa menyebabkan cacat bawaan pada hewan percobaan. Tetapi efek seperti ini belum ditemukan pada manusia. OBAT ANTI-KEJANG Beberapa obat anti-kejang yang diminum oleh penderita epilepsi yang sedang hamil, bisa menyebabkan terjadinya celah langit-langit mulut, kelainan jantung, wajah, tengkorak, tangan dan organ perut pada bayinya. Bayi yang dilahirkan juga bisa mengalami keterbelakangan mental. 2 obat anti-kejang yang bisa menyebabkan cacat bawaan adalah trimetadion (resiko sebesar 70%) dan asam valproat (resiko sebesar 1%). Carbamazepine diduga menyebabkan sejumlah cacat bawaan yang sifatnya ringan. Bayi baru lahir yang selam dalam kandungan terpapar oleh phenitoin dan phenobarbital, bisa mudah mengalami perdarahan karena obat ini menyebabkan kekurangan vitamin K yang diperlukan dalam proses pembekuan darah. Efek ini bisa dicegah bila selama 1 bulan sebelum persalinan, setiap hari ibunya mengkonsumsi vitamin K atau jika segera setelah lahir diberikan suntikan vitamin K kepada bayinya. Selama hamil, kepada penderita epilepsi diberikan obat anti-kejang dengan dosis yang paling kecil tetapi efektif dan dipantau secara ketat. Wanita yang menderita epilepsi, meskipun tidak memakai obat anti-kejang selam hamil, memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan cacat bawaan. Resikonya semakin tinggi jika selama hamil sering terjadi kejang yang berat atau jika terjadi komplikasi kehamilan atau jka berasal dari golongan sosial-ekonomi yang rendah (karena perawatan kesehatannya tidak memadai). VAKSIN Vaksin yang terbuat dari virus yang hidup tidak diberikan kepada wanita hamil, kecuali jika sangat mendesak. Vaksin rubella (suatu vaksin dengan virus hidup) bisa menyebabkan infeksi pada plasenta dan janin. Vaksin virus hidup (misalnya campak, gondongan, polio, cacar air dan demam kuning)

dan vaksin lainnya (misalnya kolera, hepatitis A dan B, influensa, plag, rabies, tetanus, difteri dan tifoid) diberikan kepada wanita hamil hanya jika dia memiliki resiko tinggi terinfeksi oleh salah satu mikroorganismenya. OBAT TIROID Yodium radioaktif yang diberikan kepada wanita hamil untuk mengobati hipertiroidisme (kelenjar tiroid yang terlalu aktif) bisa melewati plasenta dan menghancurkan kelenjar tiroid janin atau menyebabkan hipotiroidisme (kelenjar tiroid yang kurang aktif) yang berat. Propiltiourasil dan metimazol, yang juga digunakan untuk mengatasi hipertiroidisme, bisa melewati plasenta dan menyebabkan kelenjar tiroid janin sangat membesar. OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL Obat hipoglikemik oral digunakan untuk menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes, tetapi seringkali gagal mengatasi diabetes pada wanita hamil dan bisa menyebabkan bayi yang baru lahir memiliki kadar gula darah yang sangat rendah (hipoglikemia). Karena itu untuk mengobati diabetes pada wanita hamil lebih baik digunakan insulin. NARKOTIKA & OBAT ANTI PERADANGAN NON-STEROID Narkotika dan obat anti peradangan non-steroid (misalnya aspirin), jika diminum oleh wanita hamil bisa sampai ke janin dalam jumlah yang cukup signifikan. Bayi yang lahir dari ibu pecandu narkotika bisa mengalami kecanduan sebelum dilahirkan dan menunjukkan gejala putus obat dalam waktu 6 jam - 8 hari setelah dilahirkan. Mengkonsumsi aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya dalam dosis tinggi selama hamil, bisa memperlambat saat persalinan dan juga bisa menyebabkan tertutupnya hubungan antara aorta dan arteri pulmoner sebelum lahir. Dalam keadaan normal, hubungan tersebut menutup sesaat setelah bayi lahir. Penutupan yang terjadi sebelum bayi lahir akan mendorong darah ke paru-paru yang belum berkembang sehingga memberikan beban yang berlebihan pada sistem peredaran darah janin. Jika digunakan pada akhir kehamilan, obat anti peradangan non-steroid bisa menyebabkan berkurangnya jumlah cairan ketuban. Aspirin dosis tinggi bisa menyebabkan perdarahan pada ibu maupun bayinya. Aspirin atau asam salisilat lainnya bisa menyebabkan peningkatan kadar bilirubin dalam darah janin sehingga terjadi jaundice (sakit kuning) dan kadang kerusakan otak.

OBAT ANTI-CEMAS & ANTI-DEPRESI Jika diminum pada trimester pertama, obat anti-cemas bisa menyebabkan cacat bawaan, meskipun efeknya belum terbukti. Jika digunakan selama hamil, obat anti-depresi kebanyakan relatif aman, tetapi litium bisa menyebabkan cacat bawaan (terutama pada jantung). Barbiturat (misalnya phenobarbital) yang diminum oleh wanita hamil cenderung menyebabkan berkurangnya jaundice yang biasa ditemukan pada bayi baru lahir. ANTIBIOTIK Tetracyclin bisa melewati plasenta dan disimpan di dalam tulang serta gigi janin, bercampur dengan kalsium. Akibatnya pertumbuhan tulang menjadi lambat, gigi bayi berwarna kuning dan emailnya lunak serta menjadi rentan terhadap karies. Resiko terbesar terjadinya kelainan gigi terjadi jika tetrasiklin diminum pada pertengahan sampai akhir kehamilan. Streptomycin atau Canamycin bisa menyebabkan kerusakan pada telinga bagian tengah janin dan kemungkinan menyebabkan ketulian. Chloramphenicol tidak berbahaya bagi janin tetapi bisa menyebabkan penyakit yang serius pada bayi baru lahir, yaitu sindroma bayi abu-abu. Ciprofloxacin tidak boleh diberikan kepada ibu hamil karena bisa menyebabkan kelainan sendi pada hewan percobaan. Penicillin aman diberikan kepada wanita hamil. Kebanyakan antibiotik golongan sulfa yang diminum di akhir kehamilan bisa menyebabkan jaundice pada bayi baru lahir, yang bisa menyebabkan kerusakan otak. OBAT ANTIKOAGULAN Janin sangat rentan terhadap antikoagulan (obat anti pembekuan) warfarin. Cacat bawaan terjadi pada 25% bayi yang terpapar oleh obah ini selama trimester pertama. Selain itu, bisa terjadi perdarahan abnormal pada ibu maupun janin. Jika seorang wanita hamil memiliki resiko membentuk bekuan darah, lebih baik diberikan heparin. Tetapi pemakaian jangka panjang selama kehamilan bisa menyebabkan penurunan jumlah trombosit atau pengeroposan tulang (osteoporosis) pada ibu. OBAT-OBAT UNTUK PENYAKIT JANTUNG & PEMBULUH DARAH

Beberapa wanita hamil memerlukan obat untuk penyakit jantung dan pembuluh darah yang sifatnya menahun atau yang baru timbul selama kehamilan (misalnya pre-eklamsi dan eklamsi). Obat untuk menurunkan tekanan darah seringkali diberikan kepada wanita hamil yang menderita pre-eklamsi atau eklamsi. Obat in bisa mempengaruhi fungsi plasenta dan digunakan secara sangat hati-hati untuk mencegah kelainan pada janin. Biasanya, kelainan timbul karena penurunan tekanan darah ibu berlangsung terlalu cepat dan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke plasenta. ACE inhibitor dan thiazide biasanya tidak digunakan selama kehamilan karena bisa menyebabkan masalah yang serius pada janin. Digoxin (digunakan untuk mengatasi gagal jantung dan kelainan irama jantung) bisa melewati plasenta tetapi efeknya terhadap bayi sebelum maupun setelah lahir sangat kecil. Nitrofurantoin, vitamin K, sulfonamid dan Chloramphenicol bisa menyebabkan pemecahan sel darah merah pada wanita hamil dan janin yang menderita kekurangan G6PD. Karena itu, obat-obatan tersebut tidak diberikan kepada wanita yang menderita kekurangan G6PD. OBAT-OBAT YANG DIGUNAKAN SELAMA PERSALINAN Obat bius lokal, narkotika dan obat pereda nyeri lainnya biasanya melewati plasenta dan bisa mempengaruhi bayi baru lahir. Karena itu, jika selama proses persalinan diperlukan obat-obatan, maka diberikan efek terkecil yang masih efektif dan diberikan selambat-lambatnya agar tidak sempat sampai ke janin yang masih berada dalam rahim. OBAT SOSIALISASI & OBAT TERLARANG Merokok selama hamil bisa berbahaya. Berat badan lahir rata-rata dari bayi yang ibunya perokok adalah 170 gram lebih rendah dari bayi yang ibunya tidak merokok. Keguguran, kelahiran mati, lahir prematur dan sindroma kematian bayi mendadak lebih sering ditemukan pada bayi yang ibunya merokok selama hamil. Meminum alkohol selama hamil bisa menyebabkan cacat bawaan. Bayi yang lahir dari ibu yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar bisa mengalami sindroma alkohol. Bayi ini kecil, seringkali memiliki kepala yang kecil (mikrosefalus), kelainan wajah dan kelainan mental. Kadang terjadi kelainan sendi dan kelainan jantung. Bayi ini tidak berkembang dan kemungkinan akan meninggal sesaat setelah dilahirkan. Aspartam adalah pemanis buatan yang tampaknya aman digunakan selama hamil asalkan

jumlahnya tidak berlebihan. Cocain yang digunakan selama hamil bisa meningkatkan resiko terjadinya keguguran, abrupsio plasenta, cacat bawaan pada otak, ginjal dan alat kelamin serta perilaku yang kurang interaktif pada bayi baru lahir. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemakaian marijuana dosis tinggi selama hamil bisa menyebabkan perilaku yang abnormal pada bayi baru lahir.

PENYULIT KEHAMILAN
Penyakit-penyakit Yg Bisa Mempersulit Kehamilan
DEFINISI GAGAL JANTUNG Gagal Jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa sejumlah darah guna mencukupi kebutuhan tubuh. Sejalan dengan bertambahnya usia kehamilan, seorang wanita penderita gagal jantung akan semakin merasa cepat lelah meskipun dia cukup istirahat, menghindari stres, mengkonsumsi makanan yang bergizi, mengkonsumsi zat besi untuk mencegah anemia dan membatasi kenaikan berat badannya. Saat-saat yang memerlukan perhatian khusus dimana tuntutan terhadap jantung sangat besar adalah pada kehamilan 28-34 minggu, selama persalinan dan segera setelah persalinan. Penyakit jantung yang diderita ibu bisa mempengaruhi janin. Janin bisa meninggal ketika ibu mengalami serangan gagal jantung atau lahir prematur. Persalinan dan bertambahnya jumlah darah dari rahim yang kembali ke jantung menyebabkan meningkatnya kerja jantung. Pada setiap kontraksi rahim, jantung memompa darah 20% lebih banyak. Pada penderita gagal jantung yang berat, bisa diberikan obat bius epidural untuk mematikan rasa pada korda spinalis bagian bawah dan agar penderita tidak perlu mengedan selama proses persalinan berlangsung. Mengedan menyebabkan terganggunya penyerapan oksigen melalui paru-paru ibu sehingga jumlah oksigen yang sampai ke janin berkurang. Bayi dilahirkan dengan bantuan forseps atau melalui operasi sesar.

PENYAKIT JANTUNG REMATIK Penyakit Jantung Rematik adalah suatu komplikasi yang biasa ditemukan pada demam rematik, dimana satu atau beberapa katup jantung mengalami penyempitan, terutama katup mitral (stenosis katup mitral). Kelainan yang timbul akibat penyempitan katup jantung akan semakin memburuk selama hamil. Suatu katup yang menyempit menyebabkan meningkatnya denyut jantung, bertambahnya volume darah dan meningkatnya beban kerja jantung. Akibatnya cairan bisa mengalir balik ke paru-paru dan menyebabkan edema paru. Seorang wanita yang menderita penyakit jantung rematik, sebelum hamil sebaiknya menjalani pembedahan untuk memperbaiki katup mitral. Jika perlu, pembedahan bisa dilakukan ketika hamil, tetapi hal ini akan meingkatkan resiko kehilangan janin atau persalinan prematur. Selama hamil, sebaiknya penderita membatasi aktivitas fisiknya sertaidak boleh terlalu lelah dan cemas. Katup yang mengalami kerusakan lebih rentan terhadap infeksi, karena itu sebagai tindakan pencegahan diberikan antibiotik pada saat persalinan, 8 jam setelah persalinan dan setelah setiap tindakan yang menyebabkan meningkatnya resiko infeksi (misalnya pencabutan gigi atau ketuban pecah sebelum waktunya). KELAINAN JANTUNG BAWAAN Jika sebelum hamil kelainan jantung bawaan ini tidak menimbulkan gejala, maka resiko terjadinya komplikasi selama hamil tidak meningkat. Jika kelainan ini mengenai sisi kanan jantung dan paru-paru (misalnya sindroma Eisenmenger dan hipertensi pulmoner primer), maka besar kemungkinannya penderita mengalami kolaps dan meninggal selama persalinan atau segera sesudahnya. Penyebab terjadinya kematian tidak diketahiu, tetapi resikonya cukup besar sehingga penderita tidak dianjurkan untuk hamil. Untuk mencegah terjadinya infeksi akibat kelainan katup jantung diberikan antibiotik. PROLAPS KATUP MITRAL Pada prolaps katup mitral, daun katup menonjol ke dalam atrium kiri selama kontraksi ventrikel, kadang menyebabkan kebocoran (regurgitasi) sejumlah kecil darah ke dalam atrium. Prolaps katup mitral lebih sering ditemukan pada wanita muda dan cenderung diturunkan.

Gejalanya adalah murmur, palpitasi (jantung berdebar) dan kadang ketidakteraturan irama jantung. Selama hamil, kebanyakan wanita penderita penyakit ini tidak mengalami komplikasi. Tetapi selama proses persalinan biasanya diberikan antibiotik intravena (melalui pembuluh darah) untuk mencegah infeksi pada katup jantung. TEKANAN DARAH TINGGI Jika seorang wanita yang memiliki tekanan darah agak tinggi (140/90 - 150/100 mm Hg) hamil, biasanya dokter menghentikan pemakaian obat-obatan untuk menurunkan tekanan darahnya. Kerugian yang ditimbulkan oleh obat terhadap janin lebih tinggi dibandingkan keuntungan yang diperoleh ibu. Untuk membantu mengontrol tekanan darahnya, penderita dianjurkan untuk membatasi asupan garam dan mengurangi aktivitas fisik. Wanita hamil yang menderita hipertensi sedang (tekanan darah tinggi sedang, yaitu 150/90 - 180/110 mm Hg), seringkali harus terus mengkonsumsi obat anti-hipertensi. Obat anti-hipertensi yang biasanya diberikan kepada wanita hamil adalah metildopa dan hidralazin. Diuretik (obat yang bisa membuang kelebihan cairan dalam tubuh) tidak digunakan karena bisa menghambat pertumbuhan janin. Setiap bulan dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal dan pemantauan pertumbuhan janin dengan USG. Persalinan biasanya dimulai (diinduksi) pada kehamilan 38 minggu. Wanita hamil yang menderita hipertensi berat (diatas 180/110 mm Hg) memerlukan perawatan khusus. Kehamilan bisa semakin memperburuk hipertensi dan mungkin akan menyebabkan pembengkakan otak (stroke). Pada wanita penderita hipertensi berat lebih sering terjadi abrupsio plasenta (pelepasan plasenta sebelum waktunya), yang menyebabkan terputusnya pasokan oksigen dan zat gizi ke janin sehingga janin bisa meninggal. Bahkan meskipun tidak terjadi abrupsio plasenta, hipertensi bisa menyebabkan berkurangnya pasokan darah ke janin sehingga pertumbuhan janin menjadi lambat. Jika kehamilan ingin dilanjutkan, biasanya harus diberikan obat anti-hipertensi yang lebih kuat. Untuk melindungi janin dan ibu, biasanya penderita harus dirawat di rumah sakit. Jika kondisinya semakin memburuk, disarankan untuk mengakhiri kehamilan guna menyelamatkan ibu. ANEMIA Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin

(protein pengangkut oksigen) di bawah normal. Sebagian besar wanita hamil mengalami anemia yang tidak membahayakan. Tetapi anemia akibat kelainan bawaan pada hemoglobin bisa mempersulit kehamilan. Kelainan tersebut meningkatkan resiko penyakit dan kematian pada bayi baru lahir dan meningkatkan penyakit pada ibu. Wanita penderita penyakit sel sabit memiliki resiko mengalami infeksi selama hamil. Yang paling sering ditemukan adalah pneumonia, infeksi saluran kemih dan infeksi rahim. Sekitar sepertiga wanita hamil yang menderita penyakit sel sabit, selama hamil mengalami hipertensi. Selain itu, sering terjadi krisis sel sabit. Juga bisa terjadi gagal jantung dan emboli paru. Semakin berat keadaan penyakit ini sebelum hamil, maka semakin tinggi resiko terjadinya komplikasi dan kematian selama hamil. Untuk mengurangi resiko terjadinya komplikasi, diberikan transfusi darah guna mempertahankan kadar hemoglobin. PENYAKIT GINJAL Seorang wanita yang sebelum hamil menderita penyakit ginjal berat tidak mungkin bisa mengandung bayinya sampai cukup matang untuk dilahirkan. Tetapi beberapa wanita yang secara rutin menjalani dialisa akibat gagal ginjal dan banyak wanita yang telah menjalani pencangkokan ginjal bisa melahirkan bayi yang sehat. Wanita hamil yang menderita penyakit ginjal biasanya memerlukan perawatan dari ahli ginjal dan ahli kandungan. Secara rutin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, tekanan darah dan berat badan. Asupan garam dibatasi. Pemberian diuretik membantu mengendalikan tekanan darah dan edema. Penderita seringkali harus dirawat di rumah sakit setelah kehamilan mencapai 28 minggu. Persalinan dini harus dilakukan untuk menyelamatkan bayi dan biasanya dilakukan melalui operasi sesar. PENYAKIT INFEKSI Infeksi saluran kemih sering terjadi selama hamil, kemungkinan karena uterus yang membesar memperlambat aliran air kemih (menekan ureter). Jika aliran air kemih lambat, bakteri tidak bisa dibuang dari saluran kemih sehingga menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya infeksi. Infeksi yang terjadi meningkatkan resiko terjadinya persalinan dini dan pecahnya ketuban sebelum waktunya.

Kadang infeksi pada kandung kemih atau ureter menyebar ke saluran kemih dan sampai ke ginjal, menyebabkan infeksi ginjal. Untuk mengatasinya diberikan antibiotik. Beberapa infeksi yang berbahaya bagi janin:  Campak Jerman (rubella) : infeksi virus yang merupakan penyebab utama dari cacat bawaan, terutama pada jantung dan telinga bagian dalam.  Infeksi sitomegalovirus: bisa melewati plasenta dan merusak hati janin.  Toksoplasmosis : bisa menginfeksi dan merusak otak janin. Wanita hamil sebaiknya menghindari kucing dan kotoran kucing karena bisa menularkan toksoplasmosis.  Hepatitis infeksiosa. Infeksi klamidia bisa menyebabkan ketuban pecah sebelum waktunya dan persalinan dini. Pada persalinan melalui vagina, herpes genitalis bisa ditularkan pada bayi. Jika seorang wanita hamil memiliki luka herpes, biasanya dianjurkan untuk menjalani operasi sesar untuk mencegah penularan penyakit pada bayinya. Infeksi HIV (human immunodeficiency virus, virus penyebab AIDS) merupakan masalah utama dalam kehamilan. Sekitar 25% wanita hamil yang menderita infeksi ini menularkannya kepada janinnya. Sedini mungkin diberikan AZT (zidovudin) yang bisa menurunkan angka penularan kepada janin. Jika terinfeksi, maka bayi segera menjadi sakit berat dan biasanya meninggal akibat komplikasi AIDS sebelum usianya mencapai 2 tahun. DIABETES Diabetes adalah suatu penyakit dimana kadar gula darah (glukosa) sangat tinggi. Berbagai perubahan yang terjadi selama kehamilan menyebabkan semakin sulit untuk mengendalikan gula darah pada wanita penderita diabetes. Perubahan kadar dan jenis hormon yang dihasilkan selama kehamilan bisa menyebabkan resistensi terhadap insulin sehingga kebutuhan tubuh akan insulin meningkat. Diabetes yang bermula atau pertama kali muncul selama kehamilan (diabetes gestasional) terjadi pada 1-3% kehamilan. Wanita hamil secara rutin menjalani penyaringan untuk diabetes gestasional. Setelah persalinan biasanya diabetes ini akan menghilang. Diabetes yang tidak terkontrol bisa membahayakan janin dan ibunya. Selama hamil, diberikan suntikan insulin karena obat anti-diabetes yang diminum bisa membahayakan janin. Diabetes menyebabkan meningkatnya resiko infeksi, persalinan dini dan tekanan darah

tinggi akibat kehamilan. Jika hipertensi terkendali, maka kehamilan tidak akan memperburuk penyakit ginjal akibat diabetes dan jarang terjadi komplikasi ginjal. Bayi yang dilahirkan oleh penderita diabetes biasanya sangat besar meskipun selama hamil kadar gula darah ibunya normal atau mendekati normal. Kelainan bawaan kemungkinan besar terjadi jika diabetes selama kehamilan 6-7 minggu tidak terkontrol dengan baik. Pada kehamilan 16-18 minggu dilakukan pengukuran kadar alfa fetoprotein (protein yang dihasilkan oleh janin) dalam contoh darah ibu. Kadar alfa fetoprotein yang tinggi menunjukkan adanya spina bifida (perkembangan tulang belakang dan korda spinalis yang tidak sempurna), sedangkan kadar yang rendah menunjukkan sindroma Down. Untuk mengetahui cacat bawaan lainnya, dilakukan pemeriksaan USG pada kehamilan 20-22 minggu. Sebagian besar penderita diabetes bisa melahirkan bayinya secara normal. Tetapi jika keadaan kesehatannya tidak memungkinkan atau diabetesnya selama hamil tidak terkontrol, tidak disarankan untuk melahirkan secara normal. Pada kasus seperti ini dilakukan amniosentesis untuk menilai kematangan paru-paru janin, sehingga bayi bisa dilahirkan secara dini melalui operasi sesar. Operasi sesar juga dilakukan jika bayinya terlalu besar sehingga tidak dapat melewati jalan lahir atau mempersulit persalinan. Kehamilan yang terlalu lama bisa membahayakan janin dari penderita diabetes. Biasanya persalinan terjadi pada atau sebelum 40 minggu. Jika sampai 40 minggu belum juga lahir, dilakukan induksi dengan cara memecahkan ketuban dan memberikan oksitosin intravena atau dilakukan operasi sesar. Jika kehamilan terus dibiarkan sampai lebih dari 42 minggu, bayi bisa meninggal dalam kandungan. Segera setelah persalinan, banyak penderita yang tidak memerlukan insulin. Wanita yang sebelum hamil menderita diabetes, setelah persalinan kebutuhannya akan insulin menurun drastis, lalu secara bertahap meningkat lagi setelah sekitar 72 jam. Bayi yang lahir dari penderita diabetes memiliki resiko menderita gangguan pernafasan, kadar gula darah dan kalsium yang rendah, sakit kuning dan jumlah sel darah merah yang meningkat. Kelainan ini bersifat sementara dan bisa diobati. PENYAKIT TIROID Kadar hormon tiroid yang tinggi selama hamil paling sering disebabkanoleh penyakit Grave atau tiroiditis. Penyakit Grave terjadi akibat adanya antibodi yang merangsang kelenjar tiroid untuk

menghasilkan sejumlah besar hormon tiroid. Antibodi ini bisa melewati plasenta dan menyebabkan meningkatnya aktivitas tiroid pada janin, sehingga denyut jantung janin menjadi cepat (lebih dari 160 kali/menit) dan pertumbuhannya terhambat. Kadang penyakit Grave menghasilkan antibodi yang dapat menghambat pembentukan hormon tiroid. Antibodi ini bisa melewati plasenta dan menghalangi pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid janin sehingga jumlah hormon tiroid tidak memadai (hipotiroidisme). Hipotiroidisme bisa menyebakban suatu bentuk keterbelakangan mental yang disebut kretinisme. Untuk mengobati penyakit Grave biasanya diberikan propiltiourasil dosis rendah. Pemberian obat ini disertai dengan pemantauan ketat, karena propiltiourasil bisa melewati plasenta dan menghalangi pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid janin. Penyakit Grave seringkali membaik pada trimester ketiga sehingga dosisnya bisa dikurangi atau pemakaiannya dihentikan. Kadang dilakukan tiroidektomi (pengangkatan kelenjar tiroid) pada trimester kedua. 24 jam setelah pembedahan, penderita harus mulai mengkonsumsi hormon tiroid dan terus mengkonsumsi hormon tiroid seumur hidupnya. Hormon ini hanya menggantikan hormon yang seharusnya dihasilkan oleh kelenjar tiroid dan tidak menimbulkan gangguan pada janin. Tiroiditis adalah peradangan pada kelenjar tiroid yang menyebabkan pembengkakan di leher. Selama hamil, peningkatan kadar hormon tiroid menyebabkan timbulnya gejala yang bersifat sementara dan biasanya tidak memerlukan pengobatan khusus. 2 penyebab utama dari rendahnya kadar hormon tiroid adalah tiroiditis Hashimoto (yang disebabkan oleh antibodi yang menghambat pembentukan hormon tiroid) dan pengobatan terhadap penyakit Grave. Untuk mengatasinya diberikan tablet hormon tiroid. PENYAKIT HATI Wanita penderita hepatitis aktif kronis dan terutama yang telah membentuk sirosis seringkali sulit hamil. Jika bisa hamil, kemungkinan akan keguguran atau persalinan prematur. Kehamilan bisa memperburuk penyumbatan aliran empedu pada sirosis bilier primer, kadang menyebakan sakit kuning atau air kemih yang berwarna gelap, tetapi hal ini akan menghilang setelah persalinan. Pada penderita sirosis, kehamilan menyebabkan meningkatnya resiko perdarahan hebat pada varises di sekitar kerongkongan, terutama pada trimester ketiga.

ASMA Kehamilan bisa mempengaruhi penderita asma, sebaliknya asma juga bisa mempengaruhi kehamilan, yaitu bisa menghambat pertumbuhan janin atau memicu terjadinya persalinan prematur. Serangan asma yang ringan diatasi dengan pemberian bronkodilator hirup (misalnya isoproterenol), yang akan memperlebar penyempitan saluran udara pada paru-paru. Tetapi obat ini tidak boleh terlalu sering digunakan. Serangan asma yang lebih berat biasanya diatasi dengan infus aminofilin. Serangan asma yang sangat berat (status asmatikus) diatasi dengan pemberian infus kortikosteroid. Jika terdapat infeksi, diberikan antibiotik. Setelah suatu serangan, bisa diberikan tablet yang mengandung teofilin untuk mencegah serangan lanjutan. Bronkodilator dan kortikosteroid banyak digunakan oleh ibu hamil dan tidak menimbulkan masalah yang berat. LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK Lupus adalah suatu penyakit autoimun yang bisa muncul pertama kali pada saat hamil, atau semakin memburuk pada saat hamil atau semakin membaik pada saat hamil. Pengaruh kehamilan terhadap lupus tidak dapat diramalkan, tetapi kekambuhan paling mungkin terjadi segera setelah persalinan. Penderita lupus seringkali memiliki riwayat keguguran berulang, kematian lahir pada pertengahan kehamilan, pertumbuhan janin yang terhambat (IUGR, intrauterine growth retardation) dan persalinan prematur. Antibodi yang menyebabkan terjadinya lupus bisa melewati plasenta dan menyebabkan denyut jantung yang sangat lambat, anemia, penurunan jumlah trombosit atau sel darah merah pada janin. Antibodi ini secara perlahan akan menghilang dalam beberapa minggu setelah bayi lahir. ARTRITIS REMATOID Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun yang seringkali membaik selama kehamilan. Hal ini terjadi mungkin karena selama hamil, kadar hidrokortison di dalam darah meningkat. Penyakit ini tidak mempengaruhi janin, tetapi mungkin akan timbul kesulitan dalam persalinan jika artritis menyerang persendian pinggul atau tulang belakang bagian bawah.

MIASTENIA GRAVIS Miastenia Gravis adalah suatu penyakit autoimun yang menyebabkan kelemahan otot. Pada saat persalinan, penderita mungkin memerlukan ventilator untuk membantu pernafasannya. Antibodi penyebab miastenia gravis bisa melewati plasenta, sehingga 20% bayi yang dilahirkan oleh ibu penderita penyakit ini juga menderita miastenia gravis. Tetapi karena antibodi ibu secara perlahan akan menghilang dan bayi tidak membentuk antibodi sejenis ini, maka kelemahan otot pada bayi biasanya bersifat sementara. PURPURA TROMBOSITOPENIK IDIOPATIK Purpura Trombositopenik Idiopatik merupakan suatu penyakit autoimun, dimana jumlah trombosit dalam darah sangat menurun, kemungkinan karena adanya antibodi yang menghancurkan mereka. Akibatnya penderita mudah mengalami perdarahan. Jika selama hamil tidak diobati, penyakit ini cenderung akan memburuk. Antibodi bisa melewati plasenta dan menyebabkan berkurangnya trombosit pada janin sebelum atau segera setelah dilahirkan. Bayi bisa mengalami perdarahan selama persalinan, yang mungkin akan menyebabkan cedera atau kematian, terutama jika perdarahan terjadi di dalam otak. Dengan melakukan analisa terhadap sejumlah contoh darah dari korda umbilikalis, bisa diketahui adanya antibodi dan kadar trombosit yang rendah pada janin. Jika pada janin ditemukan antibodi, maka dilakukan operasi sesar untuk mencegah terjadinya trauma kelahiran yang bisa menyebabkan perdarahan pada otak bayi. Antibodi akan menghilang dalam waktu 21 hari dan darah bayi akan kembali membeku secara normal. Kortikosteroid bisa memperbaiki pembekuan darah pada wanita hamil tetapi efeknya tidak berlangsung lama. Untuk memperbaiki pembekuan darah bisa diberikan infus gamma globulin dosis tinggi, sehingga persalinan bisa dimulai dan persalinan bisa dilakukan secara normal tanpa perdarahan yang berat. Transfusi trombosit dilakukan hanya jika dilakukan operasi sesar uantuk melindungi bayi dan jika jumlah trombosit ibu sangat sedikit sehingga bisa menyebabkan perdarahan hebat. Jika setelah dilakukan pengobatan kadar trombosit tetap rendah, kadang dilakukan splenektomi (pengangkatan limpa). Saat yang paling tepat untuk melakukan splenektomi adalah pada pertengahan kehamilan.

PEMBEDAHAN PADA SAAT HAMIL Apendisitis (peradangan usus buntu) bisa menyebabkan nyeri kram yang menyerupai kontraksi rahim. Jika apendisitis menimbulkan masalah, maka segera dilakukan apendektomi (pengangkatan usus buntu) karena apendisitis yang pecah bisa berakibat fatal. Apendektomi tidak membahayakan janin dan tidak menyebabkan keguguran. Kista ovarium bisa terjadi selama hamil dan bisa menyebabkan nyeri kram. Jika kista ini jinak, pembedahan biasanya ditunda sampai usia kehamilan mencapai 12 minggu. Jika kista terus membesar atau nyeri bila ditekan, maka pembedahan bisa dilakukan sebelum usia kehamilan mencapai 12 minggu karena kemungkinan penyebabnya adalah kanker atau abses. Kelainan kandung empedu kadang terjadi selama hamil. Jika keadaannya tidak membaik, maka dilakukan pembedahan. Penyumbatan usus bisa terjadi selama kehamilan. Jika terbentuk gangren (kematian jaringan usus) dan peritonitis (peradangan selaput rongga perut), maka nyawa ibu terancam dan bisa terjadi keguguran. Biasanya dilakukan pembedahan eksplorasi jika timbul gejala penyumbatan usus, terutama jika penderita pernah menjalani pembedahan perut atau infeksi perut.

KEHAMILAN RESIKO TINGGI
Kehamilan Resiko Tinggi
DEFINISI Kehamilan Resiko Tinggi adalah suatu kehamilan yang memiliki resiko lebih besar dari biasanya (baik bagi ibu maupun bayinya), akan terjadinya penyakit atau kematian sebelum maupun sesudah persalinan. Untuk menentukan suatu kehamilan resiko tinggi, dilakukan penilaian terhadap wanita hamil untuk menentukan apakah dia memiliki keadaan atau ciri-ciri yang menyebabkan dia ataupun janinnya lebih rentan terhadap penyakit atau kematian (keadaan atau ciri tersebut disebut faktor resiko). Faktor resiko bisa memberikan suatu angka yang sesuai dengan beratnya resiko.

FAKTOR RESIKO SEBELUM KEHAMILAN Sebelum hamil, seorang wanita bisa memiliki suatu keadaan yang menyebabkan meningkatnya resiko selama kehamilan. Selain itu, jika seorang wanita mengalami masalah pada kehamilan yang lalu, maka resikonya untuk mengalami hal yang sama pada kehamilan yang akan datang adalah lebih besar. Karakteristik ibu Usia wanita mempengaruhi resiko kehamilan. Anak perempuan berusia 15 tahun atau kurang lebih rentan terhadap terjadinya preeklamsi (suatu keadaan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, protein dalam air kemih dan penimbunan cairan selama kehamilan) dan eklamsi (kejang akibat preeklamsi). Mereka juga lebih mungkin melahirkan bayi dengan berat badan rendah atau bayi kurang gizi. Wanita yang berusia 35 tahun atau lebih, lebih rentan terhadap tekanan darah tinggi, diabetes atau fibroid di dalam rahim serta lebih rentan terhadap gangguan persalinan. Diatas usia 35 tahun, resiko memiliki bayi dengan kelainan kromosom (misalnya sindroma Down) semakin meningkat. Pada wanita hamil yang berusia diatas 35 tahun bisa dilakukan pemeriksaan cairan ketuban (amniosentesis) untuk menilai kromosom janin. Seorang wanita yang pada saat tidak hamil memiliki berat badan kurang dari 50 kg, lebih mungkin melahirkan bayi yang lebih kecil dari usia kehamilan (KMK, kecil untuk masa kehamilan). Jika kenaikan berat badan selama kehamilan kurang dari 7,5 kg, maka resikonya meningkat sampai 30%. Sebaliknya, seorang wanita gemuk lebih mungkin melahirkan bayi besar. Obesitas juga menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diabetes dan tekanan darah tinggi selama kehamilan. Seorang wanita yang memiliki tinggi badan kurang dari 1,5 meter, lebih mungkin memiliki panggul yang sempit. Selain itu, wanita tersebut juga memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami persalinan prematur dan melahirkan bayi yang sangat kecil. Peristiwa pada kehamilan yang lalu Seorang wanita yang 3 kali berturut-turut mengalami keguguran pada trimester pertama, memiliki resiko sebesar 35% unuk mengalami keguguran lagi. Keguguran juga lebih mungkin terjadi pada wanita yang pernah melahirkan bayi yang sudah meninggal pada usia kehamilan 4-8 minggu atau pernah melahirkan bayi prematur. Sebelum mencoba hamil lagi, sebaiknya seorang wanita yang pernah mengalami keguguran menjalani pemeriksaan untuk:

- kelainan kromosom atau hormon - kelainan struktur rahim atau leher rahim - penyakit jaringan ikat (misalnya lupus) - reksi kekebalan pada janin (biasanya ketidaksesuaian Rh). Jika penyebab terjadinya keguguran diketahui, maka dilakukan tindakan pengobatan. Kematian di dalam kandungan atau kematian bayi baru lahir bisa terjadi akibat: - Kelainan kromosom pada bayi - Diabetes - Penyakit ginjal atau pembuluh darah menahun - Tekanan darah tinggi - Penyalahgunaan obat - Penyakit jaringan ikat pada ibu (misalnya lupus). Seorang wanita yang pernah melahirkan bayi prematur, memiliki resiko yang lebih tinggi untuk melahirkan bayi prematur pada kehamilan berikutnya. Seorang wanita yang pernah melahirkan bayi dengan berat badan kurang dari 1,5 kg, memiliki resiko sebesar 50% untuk melahirkan bayi prematur pada kehamilan berikutnya. Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 5 kg, mungkin dia menderita diabetes. Jika selama kehamilan seorang wanita menderita diabetes, maka resiko terjadinya keguguran atau resiko kematian ibu maupun bayinya meningkat. Pemeriksaan kadar gula darah dilakuka pada wanita hamil ketika memasuki usia kehamilan 20-28 minggu. Seorang wanita yang telah mengalami kehamilan sebanyak 6 kali atau lebih, lebih mungkin mengalami: - kontraksi yang lemah pada saat persalinan (karena otot rahimnya lemah) - perdarahan setelah persalinan (karena otot rahimnya lemah) - persalinan yang cepat, yang bisa menyebabkan meningkatnya resiko perdarahan vagina yang berat - plasenta previa (plasenta letak rendah). Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi yang menderita penyakit hemolitik, maka bayi berikutnya memiliki resiko menderita penyakit yang sama. Penyakit ini terjadi jika darah ibu memiliki Rh-negatif, darah janin memiliki Rh-positif dan ibu membentuk antibodi untuk menyerang darah janin; antibodi ini menyebabkan kerusakan pada sel darah merah janin. Pada kasus seperti ini, dilakukan pemeriksaan darah pada ibu dan ayah. Jika ayah memiliki 2 gen untuk Rh-positif, maka semua anaknya akan memiliki Rh-positif; jika ayah hanya memiliki 1 gen untuk Rh-positif, maka peluang anak-anaknya untuk memiliki Rh-positif adalah sebesar 50%. Biasanya pada kehamilan pertama, perbedaan Rh antara ibu dengan bayinya tidak menimbulkan masalah, tetapi kontak antara darah ibu dan bayi pada persalinan

menyebabkan tubuh ibu membentuk antibodi. Akibatnya, resiko penyakit hemolitik akan ditemukan pada kehamilan berikutnya. Tetapi setelah melahirkan bayi dengan Rh-positif, biasanya pada ibu yang memiliki Rhnegatif diberikan immunoglobulin Rh-nol-D, yang akan menghancurkan antibodi Rh. Karena itu, penyakit hemolitik pada bayi jarang terjadi. Seorang wanita yang pernah mengalami pre-eklamsi atau eklamsi, kemungkinan akan mengalaminya lagi pada kehamilan berikutnya, terutama jika diluar kehamilan dia menderita tekanan darah tinggi menahun. Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi dengan kelainan genetik atau cacat bawaan, biasanya sebelum merencanakan kehamilan berikutnya, dilakukan analisa genetik pada bayi dan kedua orangtuanya. Kelainan struktur Kelainan struktur pada organ reproduksi wanita (misalnya rahim ganda atau leher rahim yang lemah) bisa meningkatkan resiko terjadinya keguguran. Untuk mengetahui adanya kelainan struktur, bisa dilakukan pembedahan diagnostik, USG atau rontgen. Fibroid (tumor jinak) di dalam rahim bisa meningkatkan resiko terjadinya: - kelahiran prematur - gangguan selama persalinan - kelainan letak janin - kelainan letak plasenta - keguguran berulang. Keadaan kesehatan Keadaan kesehatan tertentu pada wanita hamil bisa membahayakan ibu dan bayi yang dikandungnya. Keadaan kesehatan yang sangat penting adalah: - Tekanan darah tinggi menahun - Penyakit ginjal - Diabetes - Penyakit jantung yang berat - Penyakit sel sabit - Penyakit tiroid - Lupus - Kelainan pembekuan darah. Riwayat keluarga Riwayat adanya keterbelakangan mental atau penyakit keturunan lainnya di keluarga ibu atau ayah menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya kelainan tersebut pada

bayi yang dikandung. Kecenderungan memiliki anak kembar juga sifatnya diturunkan. FAKTOR RESIKO SELAMA KEHAMILAN Seorang wanita hamil dengan resiko rendah bisa mengalami suatu perubahan yang menyebabkan bertambahnya resiko yang dimilikinya. Dia mungkin terpapar oleh teratogen (bahan yang bisa menyebabkan cacat bawaan), seperti radiasi, bahan kimia tertentu, obat-obatan dan infeksi; atau dia bias mengalami kelainan medis atau komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan. Obat-obatan atau infeksi Obat-obatan yang diketahui bisa menyebabkan cacat bawaan jika diminum selama hamil adalah: - Alkohol - Phenitoin - Obat-obat yang kerjanya melawan asam folat (misalnya triamteren atau trimethoprim) - Lithium - Streptomycin - Tetracyclin - Talidomide - Warfarin. Infeksi yang bisa menyebabkan cacat bawaan adalah: - Herpes simpleks - Hepatitis virus - Influenza - Gondongan - Campak Jerman (rubella) - Cacar air (varisela) - Sifilis - Listeriosis - Toksoplasmosis - Infeksi oleh virus coxsackie atau sitomegalovirus. Merokok berbahaya bagi ibu dan janin yang dikandungnya, tetapi hanya sekitar 20% wanita yang berhenti merokok selama hamil. Efek yang paling sering terjadi akibat merokok selama hamil adalah berat badan bayi yang rendah. Selain itu, wanita hamil yang merokok juga lebih rentan mengalami: - komplikasi plasenta - ketubah pecah sebelum waktunya - persalinan prematur - infeksi rahim. Seorang wanita hamil yang tidak merokok sebaiknya menghindari asap rokok dari orang lain karena bisa memberikan efek yang sama terhadap janinnya.

Cacat bawaan pada jantung, otak dan wajah lebih sering ditemikan pada bayi yang ibunya merokok. Merokok selama hamil juga bisa menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya sindroma kematian bayi mendadak. Selain itu, anak-anak yang dilahirkan oleh ibu perokok bisa mengalami kekurangan yang sifatnya ringan dalam hal pertumbuhan fisik, perkembangan intelektual dan perilaku. Efek ini diduga disebabkan oleh karbon monoksida (yang menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke jaringan tubuh) dan nikotin (yang merangsang pelepasan hormon yang menyebabkan pengkerutan pembuluh darah yang menuju ke plasenta dan rahim). Mengkonsumsi alkohol selama hamil bisa menyebabkan cacat bawaan. Sindroma alkohol pada janin merupakan salah satu akibat utama dari pemakaian alkohol selama hamil. Sindroma ini ditandai dengan: - keterbelakangan pertumbuhan sebelum atau sesudah lahir - kelainan wajah - mikrosefalus (ukuran kepala lebih kecil), yang kemungkinan disebabkan oleh pertumbuhan otak yang dibawah normal - kelainan perkembangan perilaku. Sindroma alkohol pada janin seringkali menyebabkan keterbelakangan mental. Selain itu, alkohol juga bisa menyebabkan keguguran dan gangguan perilaku yang berat pada bayi maupun anak yang sedang tumbuh (misalnya perilaku antisosial dan kurang memperhatikan). Resiko terjadinya keguguran pada wanita hamil yang mengkonsumsi alkohol adalah 2 kali lipat, terutama jika wanita tersebut adalah peminum berat. Berat badan bayi yang dilahirkan berada di bawah normal, yaitu rata-rata 2 kg. Suatu pemeriksaan laboratorium yang sensitif dan tidak memerlukan biaya besar, yaitu kromatografi, bisa digunakan untuk mengetahui pemakaian heroin, morfin, amfetamin, barbiturat, kodein, kokain, marijuana, metadon atau fenotiazin pada wanita hamil. Wanita yang menggunakan obat suntik memiliki resiko tinggi terhadap: - Anemia - Bakteremia - Endokarditis - Abses kulit - Hepatitis - Flebitis - Pneumonia - Tetanus - Penyakit menular seksual (termasuk AIDS). Sekitar 75% bayi yang menderita AIDS, ibunya adalah pemakai obat suntik atau pramuria. Bayi-bayi tersebut juga memiliki resiko menderita penyakit menular seksual lainnya, hepatitis dan infeksi. Pertumbuhan mereka di dalam rahim kemungkinan mengalami kemunduran dan mereka bisa lahir prematur.

Kokain merangsang sistem saraf pusat, bertindak sebagai obat bius lokal dan menyebabkan pengkerutan pembuluh darah. Pembuluh darah yang mengkerut bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah sehingga kadang janin tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Berkurangnya aliran darah dan oksigen bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan berbagai organ dan biasanya menyebabkan cacat kerangka serta penyempitan sebagian usus. Pemeriksaan air kemih untuk mengatahui adanya kokain biasanya dilakukan jika: - seorang wanita hamil tiba-tiba menderita tekanan darah tinggi yang berat - terjadi perdarahan akibat pelepasan plasenta sebelum waktunya - terjadi kematian dalam kandungan yang sebabnya tidak diketahui. 31% dari wanita pemakai kokain mengalami persalinan prematur, 19% melahirkan bayi yang pertumbuhannya terhambat dan 15% mengalami pelepasan plasenta sebelum waktunya. Jika pemakaian kokain dihentikan setelah trimester pertama, maka resiko persalinan prematur dan pelepasan plasenta sebelum waktunya tetap meningkat, tetapi pertumbuhan janinnya normal. Keadaan kesehatan Tekanan darah tinggi pada wanita hamil bisa disebabkan oleh kehamilan atau keadaan lain. Tekanan darah tinggi di akhir kehamilan bisa merupakan ancaman serius terhadap ibu dan bayinya dan harus segera diobati. Jika seorang wanita hamil pernah menderita infeksi kandung kemih, maka dilakukan pemeriksaan air kemih pada awal kehamilan. Jika ditemukan bakteri, segera diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi ginjal yang bisa menyebabkan persalinan prematur dan ketuban pecah sebelum waktunya. Infeksi vagina oleh bakteri selama hamil juga bisa menyebabkan persalinan prematur dan ketuban pecah sebelum waktunya. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, diberikan antibiotik. Penyakit yang menyebabkan demam (suhu lebih tinggi dari 39,4? Celsius) pada trimester pertama menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya keguguran dan kelainan sistem saraf pada bayi. Demam pada trimester terakhir menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya persalinan prematur. Komplikasi kehamilan 1. Inkompatibilitas Rh Ibu dan janin yang dikandungnya bisa memiliki jenis darah yang tidak sesuai.

Yang paling sering terjadi adalah inkompatibilitas Rh, yang bisa menyebabkan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir. Penyakit hemolitik bisa terjadi jika ibu memiliki Rh-negatif, ayah memiliki Rhpositif, janin memiliki Rh-positif dan tubuh ibu membuat antibodi untuk melawan darah janin. Jika seorang ibu hamil memiliki Rh-negatif, maka dilakukan pemeriksaan antibodi terhadap janin setiap 2 bulan. Resiko pembentukan antibodi ini meningkat pada keadaan berikut: - setelah terjadinya perdarahan dimana darah ibu dan darah janin bercampur - setelah pemeriksaan amniosentesis - dalam waktu 72 jam setelah melahirkan bayi dengan Rh-positif. Pada saat ini dan pada kehamilan 28 minggu, diberikan imunoglobulin Rh-nol-D kepada ibu, yang akan menghancurkan antibodi Rh. 2. Perdarahan Penyebab perdarahan paling sering pada trimester ketiga adalah: - Kelainan letak plasenta - Pelepasan plasenta sebelum waktunya - Penyakit pada vagina atau leher rahim (misalnya infeksi). Perdarahan pada trimester ketiga memiliki resiko terjadinya kematian bayi, perdarahan hebat dan kematian ibu pada saat persalinan. Untuk menentukan penyebab terjadinya perdarahan bisa dilakukan pemeriksaan USG, pengamatan leher rahim dan Pap smear. 3. Kelainan pada cairan ketuban Air ketuban yang terlalu banyak akan menyebabkan peregangan rahim dan menekan diafragma ibu. Hal ini bisa menyebabkan gangguan pernafasan yang berat pada ibu atau terjadinya persalinan prematur. Air ketuban yang terlalu banyak cenerung terjadi pada: - ibu yang menderita diabetes yang tidak terkontrol - kehamilan ganda - inkompatibilitas Rh - bayi dengan cacat bawaan (misalnya penyumbatan kerongkongan atau kelainan sistem saraf). Air ketuban yang terlalu sedikit ditemukan pada: - bayi yang memiliki cacat bawaan pada saluran kemih - bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan - bayi yang meninggal di dalam kandungan. 4. Persalinan prematur Persalinan prematur lebih mungkin terjadi pada keadaan berikut: - ibu memiliki kelainan struktur pada rahim atau leher rahim

- perdarahan - stress fisik atau mental - kehamilan ganda - ibu pernah menjalani pembedahan rahim. Persalinan prematur seringkali terjadi jika: - bayi berada dalam posisi sungsang - plasenta terlepas dari rahim sebelum waktunya - ibu menderita tekanan darah tinggi - air ketuban terlalu banyak - ibu menderita pneumonia, infeksi ginjal atau apendisitis. 5. Kehamilan ganda Kehamilan lebih dari 1 janin juga bisa menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya cacat bawaan dan kelainan pada saat persalinan. 6. Kehamilan lewat waktu Pada kehamilan yang terus berlanjut sampai lebih dari 42 minggu, kemungkinan terjadinya kematian bayi adalah 3 kali lebih besar. Penilaian kehamilan resiko tinggi Nilai 10 atau lebih menunjukkan resiko tinggi. Faktor Resiko SEBELUM KEHAMILAN Karakteristik ibu Usia 35 tahun atau lebih atau 15 tahun atau kurang Berat badan kurang dari 50 kg atau lebih dari 100 kg Peristiwa pada kehamilan yg lalu Kematian dalam kandungan Kematian bayi baru lahir Bayi prematur Kecil untuk masa kehamilan Transfusi darah janin untuk penyakit hemolitik Persalinan terlambat (lebih dari 42 minggu) 10 10 10 10 10 10 5 5 Skor

Keguguran berulang Bayi besar (lebih dari 5 kg) Hamil sebanyak 6 kali atau lebih Riwayat eklamsi Operasi sesar Epilepsi atau kelumpuhan serebral pada ibu Riwayat pre-eklamsi Cacat bawaan pada bayi sebelumnya Kelainan struktur Rahim ganda Kelemahan pada leher rahim Panggul sempit Keadaan medis Tekanan darah tinggi menahun Penyakit ginjal sedang sampai berat Penyakit jantung berat Diabetes yg tergantung kepada insulin Penyakit sel sabit Hasil Pap smear yg abnormal Penyakit jantung sedang Penyakit tiroid Riwayat tuberkulosis Penyakit paru-paru (misalnya asma) Hasil pemeriksaan darah yg positif untuk sifilis atau HIV Riwayat infeksi kandung kemih Riwayat keluarga yg menderita diabetes SELAMA KEHAMILAN

5 5 5 5 5 5 1 1

10 10 5

10 10 10 10 10 10 5 5 5 5 5 1 1

Obat-obatan & infeksi Pemakaian obat atau alkohol Penyakit virus (misalnya campak Jerman) Influenza berat Merokok Komplikasi medis Pre-eklamsi sedang sampai berat Pre-eklamsi ringan Infeksi ginjal Diabetes gestsional Anemia berat Infeksi kandung kemih Anemia ringan Komplikasi kehamilan pada ibu Plasenta previa Pelepasan plasenta prematur Cairan ketuban terlalu sedikit atau terlalu banyak Infeksi plasenta Robekan pada rahim Persalinan terlambat (lebih dari 42 minggu atau terlambat lebih dari 2 minggu) Sensitisasi Rh pada darah janin Bercak perdarahan Persalinan prematur Ketuban pecah lebih dari 12 jam sebelum persalinan Leher rahim berhenti melebar Persalinan berlangsung lebih dari 20 jam 10 10 10 10 10 10 5 5 5 5 5 5 10 5 5 5 10 1 1 5 5 5 1

Mengedan lebih dari 2 jam Persalinan cepat (kurang dari 3 jam) Operasi sesar Induksi persalinan karena alasan medis Induksi persalinan Komplikasi kehamilan pada bayi Mekonium dalam cairan ketuban (hijau tua) Letak bayi abnormal (misalnya letak bokong) Persalinan letak bokong, dibantu seluruhnya Kehamilan ganda (terutama 3 atau lebih) Denyut jantung lambat atau sangat cepat Prolapsus tali pusat Berat badan kurang dari 2,75 kg Mekonium dalam cairan ketuban (hijau muda) Persalinan dengan bantuan forseps atau ekstraksi vakum Persalinan letak bokong, tidak dibantu atau dibantu sebagian Pembiusan total pada ibu selama persalinan

5 5 5 5 1

10 10 10 10 10 10 10 5 5 5 5

Bayi kecil  Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu  Bayi lahir dengan berat badan rendah adalah bayi yang pada saat dilahirkan memiliki berat badan 2,75 kg atau kurang  Kecil untuk masa kehamilan adalah bayi yang berat badannya lebih kecil jika dibandingkan dengan usia kehamilan  Bayi yang pertumbuhannya terhambat adalah bayi yang pertumbuhannya (berat dan tinggi badan) di dalam rahim terhambat.

Komplikasi Kehamilan
DEFINISI KEGUGURAN & KELAHIRAN MATI

Keguguran (Aborsi Spontan) adalah kehilangan janin karena penyebab alami sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu. Kelahiran Mati (Stillbirth) adalah kehilangan janin karena penyebab alami pada saat usia kehamilan mencapai lebih dari 20 minggu. Seorang bayi yang lahir pada usia kehamilan berapapun dan langsung bernafas atau jantungnya berdenyut spontan, dikatakan lahir hidup. Jika kemudian bayi tersebut meninggal, maka dikatakan sebagai kematian bayi baru lahir (kematian neonatus). Sekitar 20-30% wanita hamil mengalami perdarahan atau kram minimal 1 kali selama 20 minggu pertama kehamilan. Sekitar separuhnya menyebabkan keguguran. Sekitar 85% keguguran terjadi pada trimester pertama dan biasanya disebabkan oleh kelainan pada janin. 15% sisanya, terjadi pada minggu ke 13-20; duapertiganya terjadi akibat kelainan pada ibu dan sepertiganya penyebabnya tidak diketahui. Sebelum terjadinya keguguran, wanita hamil biasanya mengalami spotting (bercak perdarahan) atau perdarahan dan keputihan dari vagina. Rahimnya berkontraksi, menyebabkan kram. Jika terjadi keguguran, maka perdarahan, keputihan dan kram menjadi lebih berat. Pada akhirnya, sebagian atau seluruh isi rahim akan keluar. Pada keguguran stadium awal, dengan USG bisa diketahui apakah bayi masih hidup. Setelah keguguran, USG dan pemeriksaan lainnya digunakan untuk melihat apakah semua isi rahim telah keluar. Jika seluruh isi rahim telah keluar, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Jika hanya sebagian isi rahim yang keluar, maka dilakukan kuretase untuk membersihkan rahim. Jika janin telah mati tetapi tetap berada dalam rahim (missed abortion), maka janin dan plasenta harus dikeluarkan melalui kuretase. Untuk missed abortion stadium lanjut, bisa digunakan obat yang menyebabkan kontraksi rahim sehingga rahim mengeluarkan isinya (misalnya oksitosin). Jika perdarahan dan kram terjadi pada kehamilan 20 minggu (ancaman aborsi), maka dianjurkan untuk menjalani tirah baring. Wanita tersebut tidak boleh bekerja dan tidak boleh melakukan hubungan seksual. Tidak diberikan hormon karena hampir selalu tidak efektif dan bisa menyebabkan cacat bawaan, terutama pada jantung atau organ reproduksi. Ancaman aborsi bisa terjadi jika leher rahim (serviks) membuka terlalu dini akibat kelemahan pada jaringan fibrosa. Kadang pembukaan servikal ini bisa ditutup melalui pembedahan dengan menjahitnya, yang nanti akan dibukan sesaat sebelum persalinan. Aborsi septik adalah infeksi yang sangat serius. Isi rahim harus segera dikeluarkan dan

infeksi harus diatasi dengan antibiotik dosis tinggi. KEHAMILAN EKTOPIK Kehamilan Ektopik (Kehamilan Diluar Kandungan) adalah suatu kehamilan dimana janin berkembang diluar rahim, yaitu di dalam tuba falopii (saluran telur), kanalis servikalis (saluran leher rahim), rongga panggul maupun rongga perut. Dalam keadaan normal, sebuah sel telur dilepaskan dari salah satu ovarium (indung telur) dan masuk ke dalam tuba falopii. Di dalam tuba, dengan dorongan dari rambut getar yang melapisi tuba, dalam waktu beberapa hari, sel telur akan mencapai rahim. Biasanya sel telur dibuahi di dalam tuba falopii tetapi tertanam di dalam rahim. Jika tuba tersumbat (misalnya karena infeksi), maka sel telur akan bergerak secara lambat atau tertahan. Sel telur yang telah dibuahi tidak pernah sampai ke rahim dan terjadilah kehamilan ektopik. Resiko terjadinya kehamilan ektopik meningkat pada: - Kelainan tuba falopii - Sebelumnya pernah mengalami kehamilan ektopik - Pemakaian DES (dietilstilbestrol) - Kegagalan ligasi tuba (prosedur sterilisasi, dimana dilakukan pengikatan atau pemotongan tuba). Kehamilan ektopik biasanya terjadi pada salah satu tuba falopii (kehamilan tuba). Kehamilan ektopik bisa berakibat fatal dan harus segera diatasi. Gejala dari kehamilan ektopik adalah spotting dan kram. Gejala ini timbul karena ketika janin mati, lapisan rahim dilepaskan seperti yang terjadi pada menstruasi yang normal. Jika janin mati pada stadium awal, maka tidak terjadi kerusakan tuba falopii. Jika janin terus tumbuh, bisa menyebabkan robekan pada dinding tuba sehingga terjadi perdarahan. Jika perdarahan terjadi secara bertahap, bisa menimbulkan nyeri dan kadang menimbulkan penekanan pada perut bagian bawah akibat penimbunan darah. Biasanya setelah sekitar 6-8 minggu, penderita tiba-tiba merasakan nyeri yang hebat di perut bagian bawah, lalu pingsan. Gejala ini biasanya menunjukkan bahwa tuba telah robek dan menyebabkan perdarahan hebat ke dalam perut. Kadang kehamilan ektopik sebagian terjadi di dalam tubah dan sebagian di dalam rahim. Keadaan ini menyebabkan kram dan spotting. Janin memiliki ruang untuk tumbuh, sehingga kehamilan ektopik biasanya baru pecah di kemudian hari, biasanya pada minggu ke 12-16. Jika hasil pemeriksaan darah dan air kemih menunjukkan positif hamil tetapi rahim tidak membesar, maka diduga telah terjadi kehamilan ektopik. Pada USG rahim tampak kosong dan di dalam rongga panggul atau rongga perut terlihat darah. Laparoskopi digunakan untuk melihat kehamilan ektopik secara langsung.

Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan kuldosentesis, yaitu pengambilan contoh darah yang tertimbun akibat kehamilan ektopik melalui sebuah jarum yang dimasukkan lewat dinding vagina ke dalam rongga panggul. Berbeda dengan darah vena atau arteri, darah ini tidak membeku. Biasanya harus dilakukan pembedahan untuk mengeluarkan kehamilan ektopik. Pada kehamilan tuba, biasanya dibuat sayatan ke dalam tuba dan janin serta plasenta diangkat. Tuba dibiarkan terbuka agar penyembuhan terjadi tanpa pembentukan jaringan parut karena jaringan parut bisa menyebabkan penderita sulit untuk hamil lagi. Prosedur ini kadang dilakukan melalui suatu laparoskopi. Jika terjadi kerusakan berat pada tuba dan tidak dapat diperbaiki, maka tuba harus diangkat. Jika tidak terdengar denyut jantung janin, pada kehamilan tuba stadium awal bisa diberikan obat metotreksat. ANEMIA Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pengangkut oksigen) kurang dari normal. Selama hamil, volume darah bertambah sehingga penurunan konsentrasi sel darah merah dan hemoglobin yang sifatnya menengah adalah normal. Selama hamil, diperlukan lebih banyak zat besi (yang diperlukan untuk menghasilkan sel darah merah) karena ibu harus memenuhi kebuhan janin dan dirinya sendiri. Jenis anemia yang paling sering terjadi pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi, yang biasanya disebabkan oleh tidak adekuatnya jumlah zat besi di dalam makanan. Anemia juga bisa terjadi akibat kekurangan asam folat (sejenis vitamin B yang diperlukan untuk pembuatan sel darah merah). Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan darah yang menentukan jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin dan kadar zat besi dalam darah. Anemia karena kekurangan zat besi diobati dengan tablet besi. Pemberian tablet besi tidak berbahaya bagi janin tetapi biasa menyebabkan gangguan lambung dan sembelit pada ibu, terutama jika dosisnya tingggi. Wanita hamil dianjurkan untuk minum tablet besi meskipun jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobinnya normal, agar yakin bahwa mereka memiliki zat besi yang cukup untuk janin dan dirinya sendiri. Anemia karena kekurangan asam folat diobati dengan tablet folat. Untuk wanita hamil yang menderita anemia sel sabit, pengobatannya masih bersifat kontroversial; kadang perlu dilakukan transfusi darah.

INKOMPATIBILITAS Rh Inkompatibilitas Rh adalah suatu ketidaksesuaian Rh di dalam darah ibu hamil dan darah bayinya. Sebagai akibat dari inkompatibilitas Rh, tubuh ibu akan membentuk antibodi terhadap sel-sel darah merah bayi. Antibodi menyebabkan beberapa sel darah merah pecah dan kadang menyebabkan penyakit hemolitik (sejenis anemia) pada bayi. Golongan darah ditentukan berdasarkan kepada adanya molekul-molekul pada permukaan sel darah merah. Golongan darah Rh terdiri dari beberapa molekul tersebut. Salah satu dari molekul tersebut adalah Rh-nol-D, yang biasanya menyebabkan inkompatibilitas Rh. Jika sel darah merah memiliki molekul Rh-nol-D, maka dikatakan Rh-positif; jika tidak memiliki molekul Rh-nol-D, dikatakan Rh-negatif. Inkompatibilitas Rh terjadi jika ibu memiliki darah dengan Rh-negatif dan janin memiliki Rh-positif yang berasal dari ayahnya. Darah janin bisa bercampur dengan darah ibu melalui plasenta (ari-ari), terutama pada akhir kehamilan dan selama persalinan. Sel darah janin dianggap sebagai benda asing oleh tubuh ibunya, sehingga ibu menghasilkan antibodi untuk menghancurkannya. Kadar antibodi pada tubuh ibu terus bertambah selama kehamilan dan antibodi ini bisa melewati plasenta lalu masuk ke tubuh janin dan menghancurkan sebagian sel darah merah janin. Akibatnya bisa terjadi penyakit hemolitik pada janin (eritroblastosis fetalis) atau pada bayi baru lahir (eritroblastosis neonatorum). Tetap pada kehamilan pertama, anak yang dilahirkan jarang mengalami kelainan ini karena biasanya tidak terjadi kontak yang berarti antara darah janin dan darah ibu. Pada setiap kehamilan berikutnya, ibu menjadi lebih sensitif terhadap darah Rh-positif dan menghasilkan antibodi lebih dini. Penghancuran sel darah merah pada tubuh janin bisa menyebabkan anemia dan peningkatan kadar bilirubin (limbah hasil penghancuran sel darah merah). Jika kadar bilirubin ini sangat tinggi, bisa terjadi kerusakan otak. Pada pemeriksaan kehamilan biasanya dilakukan penyaringan untuk menentukan golongan darah ibu. Jika ibu memiliki Rh-negatif, dilakukan pemeriksaan golongan darah ayah. Jika ayah memiliki Rh-positif, dilakukan pengukuran kadar antibodi Rh pada ibu. Darah ibu dan darah bayi bisa mengadakan kontak selama persalinan sehingga tubuh ibu membentuk antibodi. Karena itu sebagai tindakan pencegahan, diberikan suntikan immunoglobulin Rh-nol-D kepada ibu yang darahnya memiliki Rh-negatif dalam waktu 72 jam setelah melahirkan bayi dengan Rh-positif (bahkan juga setelah mengalami keguguran atau aborsi). Pemberian suntikan ini menyebabkan hancurnya sel-sel dari bayi yang mungkin mensensitisasi ibu, sehingga biasanya kehamilan berikutnya tidak berbahaya.

Tetapi sekitar 1-2% ibu yang mendapatkan suntikan ini tetap mengalami sensitisasi, kemungkinan karena sensitisasi terjadi lebih dini. Untuk mencegah terjadinya sensitisasi dini, suntikan bisa diberikan pada kehamilan 28 minggu dan setelah persalinan. Dengan mengukur kadar antibodi Rh pada ibu secara periodik, bisa diambil tindakan untuk mengantisipasi gangguan pada janin. Jika kadar antibodi Rh terlalu tinggi, dilakukan amniosentesis (pengambilan contoh cairan ketuban untuk dianalisa). Kadar bilirubin pada contoh cairan ketuban diukur. Jika kadarnya terlalu tinggi, dilakukan transfusi darah pada janin. Transfusi tambahan biasanya diberikan setiap 10-14 hari sampai kehamilan 32-34 minggu. Setelah lahir, biasanya diberikan 1 atau beberapa kali transfusi. Pada kasus yang tidak terlalu berat, transfusi biasanya baru dilakukan setelah bayi lahir. ABRUPSIO PLASENTA Abrupsio Plasenta adalah pelepasan plasenta yang berada dalam posisi normal pada dinding rahim sebelum waktunya, yang terjadi pada saat kehamilan bukan pada saat persalinan. Plasenta mungkin tidak menempel seluruhnya (kadang hanya 10-20%) atau menempel seluruhnya. Penyebabnya tidak diketahui. Abrupsio lebih sering ditemukan pada wanita yang menderita tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes atau penyakit rematik dan wanita pemakai kokain. Terjadi perdarahan rahim yang berasal dari sisi tempat menempelnya plasenta. Perdarahan eksternal terjadi jika darah keluar melalui vagina, tetapi jika darah terperangkap di belakang plasenta, akan terjadi perdarahan tersembunyi. Gejala yang timbul tergantung kepada luasnya pelepasan plasenta dan banyaknya darah yang hilang. Gejalanya berupa: - perdarahan vagina - nyeri perut yang timbul secara tiba-tiba - nyeri kram perut - nyeri jika perut ditekan. Untuk memperkuat diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan USG. Abrupsio plasenta menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen dan zat gizi untuk janin dan bisa menyebabkan kematian janin. Sedangkan ibu bisa mengalami perdarahan yang serus, DIC (disseminated intravascular coagulation, bekuan darah di dalam pembuluh darah), gagal ginjal dan perdarahan ke dalam dinding rahim. Keadaan ini lebih sering terjadi pada wanita hamil yang mengalami pre-eklamsi) dan bisa merupakan petunjuk bahwa janin berada dalam keadaan gawat atau telah meninggal. Penderita segera dirawat dan menjalani tirah baring.

Jika gejalanya berkurang, penderita mulai latihan berjalan dan mungkin boleh pulang. Jika gejalanya semakin memburuk, dilakukan persalinan dini untuk menyelamatkan ibu dan bayi. PLASENTA PREVIA Plasenta Previa adalah plasenta yang tertanam di atas atau di dekat serviks (leher rahim), pada rahim bagian bawah. Di dalam rahim, plasenta bisa menutupi lubang serviks secara keseluruhan atau hanya sebagian. Plasenta previa biasanya terajdi pada wanita yang telah hamil lebih dari 1 kali atau wanita yang memiliki kelainan rahim (misalnya fibroid). Pada akhir kehamilan, tiba-tiba terjadi perdarahan yang jumlahnya bisa semakin banyak. Darah yang keluar biasanya berwarna merah terang. Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan USG. Jika perdarahannya hebat, dilakukan transfusi darah berulang. Jika perdarahannya ringan dan persailinan masih lama, bisanya dianjurkan untuk menjalani tirah baring. Hampir selalu dilakukan operasi sesar karena cenderung terjadi pelepasan plasenta sebelum waktunya, bayi bisa mengalami kekurangan oksigen dan ibu bisa mengalami perdarahan hebat. HIPEREMESIS GRAVIDARUM Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan selama masa hamil, tidak seperti morning sickness yang biasa dan bisa menyebabkan dehidrasi dan kelaparan. Penyebabnya tidak diketahui. Faktor psikis bisa memicu atau memperburuk muntah. Berat badann pendertia menurun dan terjadi dehidrasi. Dehidrasi bisa menyebabkan perubahan kadar elektrolit di dalam darah sehingga darah menjadi terlalu asam. Jika muntah terus terjadi, bisa terjadi kerusakan hati. Komplikasi lainnya adalah perdarahan pada retina yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan darah ketika penderita muntah. Penderita dirawat dan mendapatkan cairan, glukosa, elektrolit serta vitamin melalui infus. Penderita berpuasa selama 24 jam. Jika perlu, bisa diberikan obat anti-mual dan obat

penenang. Jika dehidrasi telah berhasil diatasi, penderita boleh mulai makan makanan lunak dalam porsi kecil. Biasanya muntah berhenti dalam beberapa hari. Jika gejala kembali kambuh, maka pengobatan diulang kembali. PRE-EKLAMSI & EKLAMSI Pre-eklamsi (Toksemia Gravidarum) adalah tekanan darah tinggi yang disertai dengan proteinuria (protein dalam air kemih) atau edema (penimbunan cairan), yang terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan. Eklamsi adalah bentuk pre-eklamsi yang lebih berat, yang menyebabkan terjadinya kejang atau koma. Pre-eklamsi terjadi pada 5% kehamilan dan lebih sering ditemukan pada kehamilan petama dan pada wanita yang sebelumnya menderita tekanan darah tinggi atau penyakit pembuluh darah. Eklamsi terjadi pada 1 dari 200 wanita yang menderita pre-eklamsi dan jika tidak diobati secara tepat biasanya bisa berakibat fatal. Penyebab dari pre-eklamsi dan eklamsi tidak diketahui. Resiko utama terjadinya pre-eklamsi adalah abrupsio plasenta. Gejala-gejala dari pre-eklamsi adalah: - tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mm Hg - wajah atau tangan membengkak - kadar protein yang tinggi dalam air kemih. Seorang wanita yang pada saat hamil tekanan darahnya meningkat secara berarti tetapi tetap dibawah 140/90 mm Hg, juga dikatakan menderita pre-eklamsi. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita pre-eklamsi, 4-5 kali lebih rentan terhadap kelainan yang timbul segera setelah lahir. Bayi yang dilahirkan juga mungkin kecil karena adanya kelainan fungsi plasenta atau karena lahir prematur. Pre-eklamsi dan eklamsi tidak memberikan respon terhadap diuretik (obat untuk membuang kelebihan cairan) dan diet rendah garam. Penderita dianjurkan untuk mengkonsumsi garam dalam jumlah normal dan minum air lebih banyak. Sangat penting untuk menjalani tirah baring. Penderita juga dianjurkan untuk berbaring miring ke kiri sehingga tekanan terhadap vena besar di dalam perut yang membawa darah ke jantung berkurang dan aliran darah menjadi lebih lancar. Untuk menurunkan tekanan darah dan mencegah kejang, bisa diberikan magnesium sulfat intravena (melalui pembuluh darah).

Jika pre-eklamsinya bersifat ringan, penderita cukup menjalani tirah baring di rumah, tetapi harus memeriksakan diri ke dokter setiap 2 hari. Jika perbaikan tidak segera terjadi, biasanya penderita harus dirawat dan jika kelainan ini terus berlanjut, maka persalinan dilakukan sesegera mungkin. Penderita pre-eklamsi berat dirawat di rumah sakit dan menjalani tirah baring. Cairan dan magnesium sulfat diberikan melalui infus. Dalam waktu 4-6 jam, biasanya tekanan darah kembali normal dan bayi dapat dilahirkan dengan selamat. Jika tekanan darah tetap tinggi, sebelum persalinan dimulai, diberikan obat tambahan. Komplikasi utama dari pre-eklamsi dan eklamsi adalah sindroma HELLP, yang terdiri dari:  Hemolisis (penghancuran sel darah merah)  Peningkatan enzim hati (yang menunjukkan adanya kerusakan hati)  Penurunan jumlah trombosit (yang menunjukkan adanya gangguan kemampuan pembekuan darah). Sindroma HELLP cenderung terjadi jika pengobatan pre-eklamsi tertunda. Jika terjadi sindroma HELLP, bayi segera dilahirkan melalui operasi sesar. Setelah persalinan, dilakukan pemantauan ketat untuk melihat tanda-tanda terjadinya eklamsi. 25% kasus eklamsi terjadi setelah persalinan, biasanya dalam waktu 2-4 hari pertama setelah persalinan. Tekanan darah biasanya tetap tinggi selama 6-8 minggu. Jika lebih dari 8 minggu tekanan darahnya tetap tinggi, kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan pre-eklamsi.

HERPES GESTASIONAL Herpes Gestasional adalah lepuhan berisi cairan yang sangat gatal, yang terjadi selama kehamilan. Penggunaan istilah herpes sebenarnya tidak tepat karena ruam yang terjadi tidak disebabkan oleh virus herpes maupun virus lainnya. Herpes gestasional diduga disebabkan oleh antibodi abnormal yang beraksi terhadap jaringan tubuh sendiri (reaksi autoimun). Ruam ini bisa timbul kapanpun setelah kehamilan 12 minggu atau segera setelah persalinan. Ruam biasanya terdiri dari vesikel (lepuhan kecil/besar yang berisi cairan) atau bula (pembengkakan yang bentuknya tidak beraturan dan berisi carian). Ruam ini seringkali berawal di perut lalu menyebar. Segera setelah persalinan, ruam akan semakin memburuk dan menghilang dalam beberapa minggu atau bulan kemudaian.

Ruam seringkali muncul lagi pada kehamilan berikutnya atau jika penderita menggunakan pil KB. Bayi yang dilahirkan mungkin memiliki ruam yang serupa, tetapi biasanya akan menghilang dalam beberapa minggu, tanpa pengobatan. Untuk memperkuat diagnosis, diambil kerokan kulit yang terkena dan diperiksa di laboratorium untuk mengetahui adanya antibodi. Tujuan pengobatan adalah untuk meringankan gatal-gatal dan mencegah terbentuknya lepuhan yang baru. Untuk ruam yang ringan, diberikan krim kortikosteroid yang dioleskan langsung ke kulit yang terkena sesering mungkin. Untuk ruam yang lebih luas, diberikan kortikosteroid per-oral (melalui mulut). Mengkonsumsi kortikosteroid pada akhir kehamilan tidak akan membahayakan bayi. Jika setelah persalinan gatal-gatal semakin hebat atau ruam semakin menyebar, mungkin perlu diberikan kortikosteroid dengan dosis yang lebih tinggi. URTIKARIA GESTASIONAL Urtikaria Gestasional adalah kaligat yang terjadi pada saat hamil. Penyebabnya tidak diketahui. Kaligata biasanya timbul di perut, dan bisa menyebar ke paha, bokong, kadang sampai ke lengan. Ruam kaligata biasanya muncul pada 2-3 minggu menjelang persalinan. Tetapi mungkin saja timbul setelah kehamilan mencapai 24 minggu. Rasa gatal sering menyebabkan penderita tidak dapat tidur di malam hari. Setelah persalinan, kaligata biasanya menghilang dan tidak kambuh pada kehamilan berikutnya. Untuk mengatasi gatal-gatal dan meredakan ruam kaligata, diberikan krim kortikosteroid yang dioleskan sesering mungkin. Jika ruamnya lebih berat, diberikan kortikosteroid per-oral.

KEGUGURAN
Keguguran DEFINISI Keguguran (aborsi spontan) adalah kehilangan pada janin yang berhubungan dengan kasus alami pada kehamilan sebelum 24 minggu.

PENYEBAB Keguguran sering terjadi pada kehamilan beresiko tinggi. Keguguran terjadi sekitar 15% pada kehamilan yang diketahui. Lebih banyak keguguran tidak diketahui karena terjadi sebelum wanita tahu bahwa mereka hamil. Sekitar 85% keguguran terjadi selama 12 minggu pertama kehamilan. Kebanyakan kehamilan yang terjadi selama waktu ini dipikirkan untuk terjadi karena sesuatu hal salah pada janin seperti kelahiran cacat atau gangguan genetik. Sisanya 15% pada keguguran terjadi selama minggu 13 sampai 24. Untuk sekitar sepertiga keguguran ini, penyebabnya tidak dikenali. Dua pertiga lainnya dihasilkan dari masalah wanita. Keguguran bisa terjadi karena wanita memiliki kelainan struktur pada organ reproduksi, seperti rahim ganda atau servik yang tidak mampu, yang cenderung terbuka (membesar) seperti pembesaran rahim. Keguguran bisa juga terjadi jika wanita menggunakan kokain. Atau terluka, atau mengalami gangguan tertentu. Gangguan ini termasuk kelenjar tiroid yang tidak aktif (hyperthyroidism), diabetes, infeksi (seperti infeksi cytomegalovirus atau rubella), dan gangguan jaringan penghubung (seperti lupus). Ketidakmampuan Rh (ketika wanita hamil memiliki darah Rh negatif dan janin memiliki darah Rh positif) juga meningkatkan resiko. Gangguan emosi pada wanita tidak berhubungan dengan keguguran. Keguguran lebih mungkin terjadi untuk wanita yang mengalami keguguran atau persalinan preterm pada kehamilan sebelumnya. Untuk wanita yang mengalami keguguran tiga kali berturut-turut selama trismester pertama, kemungkinan untuk mengalami keguguran lain sekitar 1 banding 4. Sebelum mencoba untuk menjadi hamil kembali, wanita yang telah mengalami keguguran berulang sebaiknya diperiksa untuk kelainan genetik atau struktur dan untuk gangguan lain yang meningkatkan resiko keguguran. Prosedur imaging (seperti hysterescopy, hysterosalpingography, atau ultrasonografi) kemungkinan dilakukan untuk melihat kelainan struktur. Jika penyebabnya pada kehamilan sebelumnya dikenali, pengobatan bisa memperbaiki masalah tersebut. GEJALA Keguguran biasanya didahului oleh bercak atau pendarahan yang lebih jelas dan pengeluaran dari vagina. Kontraksi rahim, menyebabkan kram. Sekitar 20 sampai 30% wanita hamil mengalami beberapa pendarahan atau kram setidaknya selama pada kehamilan20 minggu pertama. Sekitar separuh pada masa ini mengalami keguguran. Di awal kehamilan, satu-satunya tanda keguguran kemungkinan sedikit pendarahan vagina. Pada kehamilan lanjut, keguguran bisa menyebabkan pendarahan yang banyak, dan darah berisi cairan atau lendir atau gumpalan. Kram menjadi lebih parah sampai kadang-kadang, kontraksi rahim cukup untuk mengeluarkan janin dan plasenta. Kadangkala janin meninggal tetapi tidak terjadi keguguran. Pada beberapa kasus, rahim tidak membesar. Jarang, jarimgan mati pada rahim menjadi terinfeksi sebeluma, selama, atau setelah keguguran. Beberapa infeksi kemungkinan serius, menyebabkan demam,

menggigil, dan detak jantung yang cepat. Wanita yang terkena bisa menjadi mengigau, dan tekanan darah bisa turun. DIAGNOSA Jika wanita hamil mengalami pendarahan dan kram selama 20 minggu pertama pada kehamilan, seorang dokter meneliti dia untuk memastikan apakah keguguran terjadi. Dokter meneliti servik untuk memastikan apakah melebar. Jika tidak, kehamilan kemungkinan dilanjutkan. Jika melebar, keguguran lebih mungkin terjadi. Ultrasonografi biasanya juga dilakukan. Ini kemungkinan digunakan untuk memastikan apakah keguguran telah siap terjadi atau, jika tidak, apakah janin masih hidup. Jika keguguran telah terjadi, ultrasonografi bisa menunjukkan apakah janin dan plasenta telah dikeluarkan. Jika janin hidup dan keguguran kemungkinan terjadi, istirahat total dianjurkan untuk menolong mengurangi pendarahan dan kram. Jika mungkin, wanita tersebut harus tidak bekerja tetapi harus tetap di rumah. Menahan diri dari hubungan seksual dianjurkan, meskipun hubungan tidak pasti berhubungan dengan keguguran. Jika keguguran telah terjadi dan janin dan plasenta telah keluar, tidak memerlukan pengobatan. Jika beberapa jaringan ini tinggal di dalam rahim, kuret dengan diisap dilakukan untuk mengangkatnya. Jika janin meninggal tetapi tetap tinggal di rahim, kuret dengan cara penghisapan biasanya digunakan untuk mengangkat janin dan plasenta. Jika janin meninggal di akhir kehamilan , obat yang bisa menginduksi persalinan (seperti oxytocin) kemungkinan diberikan melalui infus. Oxytocin merangsang rahim untuk kontraksi dan mengeluarkan rahim. Setelah itu, kuret kemungkinan diperlukan untuk mengangkat potongan plasenta. Setelah keguguran, wanita mungkin merasakan dukacita, kesedihan, kemarahan, perasaan bersalah, atau kegelisahan mengenai kehamilan berikutnya. Dukacita untuk kehilangan adalah reaksi alami dan sebaiknya tidak menekan atau disangkal. Berbicara tentang perasaan mereka dengan orang lain mungkin menolong wanita menangani perasaan merasa dan memperoleh perspektif. Wanita yang sudah mengalami keguguran bisa memerlukan untuk berbicara dengan dokter mereka tentang kemungkinan keguguran di kehamilan berikut. Walaupun mengalami keguguran meningkatkan risiko mengalaminya lagi, kebanyakan wanita yang mengalami keguguran tidak mempunyai masalah di kehamilan berikutnya. Pemahaman bahasa aborsi Dokter bisa menggunakan masa aborsi yang merujuk pada keguguran (aborsi spontan) yang terjadi sebelum 24 minggu kehamilan seperti penghentian medis pada kehamilan (aborsi induksi). Setelah 24 minggu kehamilan, melahirkan janin yang telah meninggal disebut masih lahir. Masa lain termasuk berikut dibawah ini :

• • • • • • • •

Therapeutic (induksi) aborsi: aborsi yang dihasilkan oleh alat kedokteran (obat atau pembedahan) Aborsi mengancam : pendarahan atau kram selama 24 minggu pertama pada kehamilan, mengindikasi bahwa janin kemungkinan hilang. Aborsi Inevitable: Rasa Sakit atau pendarahan dengan membuka (dilation) tengkuk, menunjukkan bahwa janin akan hilang. Aborsi lengkap: Pengusiran seluruh janin dan plasenta di uterus. Aborsi yang tak benar-benar: Pengusiran hanya sebagian isi uterus. Aborsi biasa: Tiga atau lebih aborsi spontan yang berurutan (keguguran). Aborsi kehilangan : Memiliki janin meninggal di rahim selama 4 minggu atau lebih lama. Aborsi terinfeksi: Infeksi isi rahim terlebih dahulu, selama, atau setelah aborsi.

FAKTOR RESIKO YANG ADA SEBELUM KEHAMILAN
DEFINISI Beberapa faktor resiko ada sebelum wanita menjadi hamil. Faktor resiko ini termasuk karakter fisik dan sosial tertentu pada wanita, masalah yang terjadi pada kehamilan sebelumnya, dan gangguan tertentu yang telah dimiliki. Karakter Fisik Usia, berat badan, dan tinggi pada wanita mempengaruhi resiko selama kehamilan. Anak gadis berusia 15 dan lebih muda beresiko tinggi mengalami preeclampsia (sebuah jenis tekanan darah yang terjadi selama kehamilan). Perempuan muda juga beresiko tinggi mengalami kekurangan berat badan (terlalu kecil untuk usia hamil) atau bayi kekurangan gizi. Wanita berusia 35 dan lebih tua beresiko tinggi mengalami masalah seperti tekanan darah tinggi, diabetes selama hamil (diabetes yang terjadi selama kehamilan), dan komplikasi selama persalinan. Wanita yang berat badan kurang dari 100 pon sebelum menjadi hamil lebih mungkin memiliki bayi kecil, berat badan kurang. Wanita obesitas lebih mungkin memiliki bayi yang sangat besar, yang kemungkinan sulit untuk dilahirkan. Juga, wanita obesitas lebih mungkin mengalami diabetes gestational dan preeklampsia. Wanita yang lebih pendek dari 5 kaki lebih mungkin mengalami panggul kecil, yang bisa membuat gerakan janin melalui panggul dan vagina (saluran lahir) kesulitan selama persalinan. Misal, bahu janin lebih mungkin menetap berlawanan dengan tulang pubis. Komplikasi ini disebut bahu dystocia. Juga, wanita yang pendek lebih mungkin mengalami persalinan preterm dan bayi tidak cukup berkembang seperti yang diharapkan.

Kelainan struktur pada organ reproduksi meningkatkan resiko keguguran. Misal rahim ganda atau servik lemah (incompetent) yang cenderung untuk membuka (melebar) sebagaimana pertumbuhan janin. Karakter Sosial Menjadi tidak menikah atau dalam kelompok sosial ekonomi yang rendah meningkatkan masalah selama kehamilan. Alasannya sifat ini meningkatkan resiko tidak jelas tetapi kemungkinan berhubungan dengan sifat lain yang lebih umum pada wanita ini. Misal, wanita ini lebih mungkin untuk merokok dan sedikit untuk mengkonsumsi makanan kesehatan untuk memperoleh perawatan medis yang tepat. Masalah Pada Kehamilan Sebelumnya Ketika wanita mengalami masalah pada kehamilan pertama, mereka lebih mungkin mengalami masalah, seringkali hal yang sama, pada kehamilan berikutnya. Beberapa masalah termasuk memiliki bayi prematur, bayi yang berat badannya kurang, bayi yang beratnya lebih dari 10 pon, bayi dengan kelahiran cacat, keguguran sebelumnya, melahirkan terlambat (postterm)(setelah 42 minggu pada kehamilan), ketidakcocokan Rh yang membutuhkan transfusi darah ke janin, atau melahirkan yang membutuhkan operasi sessar. Jika wanita memiliki bayi yang meninggal segera setelah dilahirkan, mereka juga lebih mungkin mengalami masalah pada kehamilan berikutnya. Wanita bisa mengalami kondisi yang cenderung untuk membuat masalah berulang yang sama. Misal, wanita dengan diabetes lebih mungkin untuk memiliki bayi yang berat badannya lebih dari 10 pon ketika lahir. Wanita yang memiliki anak dengan gangguan genetik atau cacat lahir lebih mungkin memiliki bayi lain dengan masalah serupa. Tes genetik pada bayi, bahkan jika baru dilahirkan, dan kedua orangtua kemungkinan tepat sebelum kehamilan lain diupayakan. Jika wanita ini menjadi hamil kembali. Beberapa tes seperti ultrasonografi, chorionic villus sampling, dan amniocentesis bisa membantu memastikan apakah janin memiliki gangguan genetik atau cacat lahir. Telah mengalami 6 atau lebih kehamilan meningkatkan resiko pada persalinan yang sangat cepat dan pendarahan berlebihan setelah melahirkan. Hal itu juga meningkatkan resiko pada plasenta yang salah letak (placenta previa). Gangguan Yang Hadir Sebelum Kehamilan. Sebelum menjadi hamil, wanita bisa mengalami gangguan yang meningkatkan resiko pada masalah selama kehamilan. Wanita ini harus berbicara dengan dokter dan berusaha mendapatkan kondisi fisik terbaik mungkin sebelum menjadi hamil. Setelah mereka menjadi hamil, mereka bisa memerlukan perawatan khusus, seringkali yang berasal dari tim interdisciplinary. Tim tersebut bisa termasuk dokter kandungan (yang bisa juga

menjadi spesialis pada gangguan), spesialis gangguan, dan praktisi kesehatan lainnya (seperti ahli gizi) 1. Penyakit jantung : kebanyakan wanita yang menderita penyakit jantungtermasuk gangguan klep jantung (seperti mitral valve prolapse) dan beberapa cacat lahir pada jantung-bisa melahirkan anak sehat dengan selamat, tanpa sakit permanen apapun yang berakibat pada fungsi jantung atau jangka hidup. Meskipun begitu, wanita yang mengalami gagal jantung sebelum hamil sangat beresiko pada masalah. Kehamilan memerlukan kerja jantung yang lebih berat. Konsekwensinya, kehamilan bisa memperburuk penyakit jantung atau menyebabkan penyakit jantung untuk menghasilkan gejala-gejala untuk pertama kali. Biasanya, masalahmasalah serius, termasuk kematian pada wanita atau janin tersebut, terjadi hanya ketika penyakit jantung adalah berat sebelum wanita tersebut menjadi hamil. Sekitar 1% wanita yang mengalami penyakit jantung berat sebelum hamil menjadi meninggal sebagai akibat dari kehamilan, biasanya karena gagal jantung. Resiko pada masalah meningkat sepanjang kehamilan sebanding dengan perkembangan masalah jantung. Wanita hamil dengan penyakit jantung bisa menjadi lelah yang tak biasa dan bisa membatasi kegiatan mereka. Jarang, wanita dengan penyakit jantung berat dianjurkan untuk melakukan aborsi dini pada kehamilan. Resiko juga meningkat selama persalinan dan melahirkan. Setelah melahirkan, wanita dengan penyakit jantung berat tidak bisa keluar dari bahaya setidaknya 6 bulan, tergantung pada jenis penyakit jantung. Penyakit jantung pada wanita hamil bisa mempengaruhi janin. Janin kemungkinan dilahirkan prematur. Wanita dengan cacat lahir pada jantung lebih mungkin memiliki anak dengan cacat lahir serupa. Ultrasonografi bisa mendeteksi beberapa kerusakan ini sebelum janin dilahirkan. Jika penyakit jantung berat pada wanita hamil tiba-tiba memburuk, janin bisa mati. Selama persalinan, wanita yang mengalami penyakit jantung berat kemungkinan diberikan obat bius epidural, yang menghambat sensasi pada tulang belakang bagian bawah dan mencegah wanita dari mendorong. Mendorong selama persalinan menegangkan jantung, karena meningkatkan jumlah darah yang kembali menuju jantung. Karena mendorong tidak mungkin, bayi harus dilahirkan dengan forcep. Untuk wanita dengan beberapa jenis penyakit jantung, kehamilan tidak dianjurkan karena meningkatkan resiko mereka pada kematian. Hipertensi paru-paru primer dan sindron eisenmenger adalah contohnya. Jika wanita mengalami salah satu gangguan ini bisa hamil, dokter menganjurkan mereka untuk mengakhiri kehamilan sedini mungkin. 2. Tekanan darah tinggi : wanita yang mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi kronis) sebelum hamil lebih mungkin mengalami masalah serius yang berpotensi

selama kehamilan. Masalah-masalah ini termasuk preeklampsia (sebuah jenis tekanan darah tinggi yang terjadi selama kehamilan), tekanan darah tinggi yang memburuk, janin yang tidak berkembang sebanyak yang diharapkan, pelepasan plasenta yang premature dari rahim (placental abruption), dan kematian waktu lahir. Untuk kebanyakan wanita dengan tekanan darah ringan (140/90 sampai 150/100 mm per merkuri (mm Hg)), pengobatan dengan obat-obatan antihipertensi tidak dianjurkan. Beberapa pengobatan tidak tampak untuk mengurangi resiko pada preeklampsia, pelepasan prematur pada plasenta, atau kematian waktu lahir maupun untuk memperbaiki pertumbuhan janin. Meskipun begitu, beberapa wanita diobati untuk mencegah kehamilan karena epidode tekanan darah yang lebih tinggi (yang memerlukan perawatan di rumah sakit). Untuk wanita yang tekanan darahnya lebih tinggi dari 150/100 mm Hg, pengobatan dengan obat-obatan antihipertensi dianjurkan. Pengobatan bisa mengurangi resiko stroke dan komplikasi lain yang disebabkan tekanan darah yang sangat tinggi. Pengobatan juga dianjurkan untuk wanita yang mengalami tekanan darah tinggi dan gangguan ginjal karena jika tekanan darah tidak dikendalikan dengan baik, ginjal tersebut kemungkinan lebih lanjut rusak. Kebanyakan obat-obatan antihipertensi digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi bisa digunakan dengan aman selama kehamilan. Meskipun begitu, penghambat enzim angiotensin-converting (ACE) dihentikan selama kehamilan, terutama selama dua semester terakhir. Obat-obatan ini bisa menyebabkan kerusakan ginjal pada janin. Akibatnya, bayi tersebut bisa mati setelah dilahirkan. Selama kehamilan, wanita dengan tekanan darah tinggi dipantau ketat untuk memastikan tekanan darah dikendalikan dengan baik, ginjal berfungsi dengan normal, dan janin berkembang dengan normal. Meskipun begitu, pelepasan plasenta yang prematur tidak dapat dicegah atau diantisipasi. Seringkali, bayi harus segera dilahirkan untuk dicegah atau diantisipasi. Seringkali, bayi harus segera dilahirkan untuk mencegah kematian waktu lahir atau komplikasi yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi (seperti stroke) pada wanita. 3. Anemia : mengalami anemia menurun, seperti penyakit sel arit, penyakit hemoglobin S-C, dan beberapa talasemia, peningkatan resiko pada masalah selama kehamilan. Sebelum dilahirkan, tes darah dilakukan secara rutin untuk memeriksa kelainan hemoglobin pada wanita yang mengalami peningkatan resiko mengalami kelainan ini karena ras, latar belakang etnis, atau riwayat keluarga. Contoh chorionic villus atau amniocentesis kemungkinan dilakukan untuk memeriksa kelainan hemoglobin pada janin. Wanita yang mengalami penyakit sel arit terutama sekali beresiko mengalami infeksi selama kehamilan. Pneumonia, infeksi saluran kemih, dan infeksi pada rahim adalah yang paling umum. Sekitar sepertiga wanita hamil mengalami penyakit sel arit mengalami tekanan darah tinggi selama kehamilan. Serangan

nyeri berat mendadak, disebut siklus krisis sel arit, bisa terjadi selama kehamilan sebagaimana setiap waktu yang lain. Gagal jantung dan penyumbatan pada arteri paru-paru bisa menggumpalkan darah (emboli paru-paru), yang kemungkinan mengancam nyawa, bisa juga terjadi. Pendarahan selama persalinan atau setelah melahirkan kemungkinan lebih berat. Janin bisa lambat bertumbuh atau tidak bertumbuh sebanyak yang diharapkan. Janin bahkan bisa meninggal. Penyakit sel arit yang lebih berat sebelum kehamilan, resiko yang lebih berat pada masalah kesehatan untuk wanita hamil dan janin dan resiko kematian pada janin yang lebih tinggi selama kehamilan. Dengan transfusi darah teratur, wanita sedikit mungkin mengalami siklus krisis sel arit tetapi lebih mungkin mengalami penolakan darah yang ditransfusi. Keadaan ini, disebut alloimmunization, bisa mengancam nyawa. Juga, transfusi untuk wanita hamil tidak mengurangi resiko untuk janin. 4. Gangguan ginjal : wanita dengan gangguan ginjal berat sebelum hamil lebih mungkin mengalami masalah selama kehamilan. Fungsi ginjal bisa cepat memburuk selama kehamilan. Tekanan darah tinggi, yang seringkali disertai gangguan ginjal, bisa juga memburuk, dan preeklampsia (jenis tekanan darah tinggi selama kehamilan) bisa terbentuk. Janin tidak bisa bertumbuh seperti yang diharapkan, fungsi ginjal dan tekanan darah dipantau dengan ketat sebagaimana perkembangan janin. Seringkali, bayi harus segera dilahirkan. Wanita yang mengalami cangkok ginjal yang telah diletakkan untuk 2 tahun lebih biasanya bisa melahirkan anak dengan aman jika ginjal mereka berfungsi secara normal, jika mereka tidak mengalami peristiwa penolakan, dan jika tekanan darah mereka adalah normal. Kebanyakan wanita yang mengalami gangguan ginjal dan yang mengalami hemodialisa teratur bisa juga melahirkan bayi yang sehat. 5. Seizure Disorder (kejang) : untuk kebanyakan wanita yang menggunakan antikonsulvan untuk mengobati seizure disorder, frekwensi kejang tidak berubah selama kehamilan. Meskipun begitu, kadangkala dosis antikonsulvan harus ditingkatkan. Penggunaan antikonsulvan meningkatkan resiko cacat lahir. Wanita yang menggunakan antikonsulvan harus mendiskusikan resiko cacat lahir dengan ahli di bidangnya, lebih baik sebelum mereka hamil. Beberapa wanita kemungkinan menghentikan antikonsulvan selama kehamilan dengan aman, tetapi kebanyakan wanita harus melanjutkan penggunaan obat-obatan tersebut. Resiko dihasilkan dari tidak menggunakan obat-obatan tersebut (menghasilkan frekwensi serangan yang lebih, yang bisa membahayakan janin dan wanita tersebut) biasanya lebih banyak resiko dihasilkan dari panggunaan obat-obatan selama kehamilan. 6. Penyakit kelamin menular : wanita yang mengalami penyakit kelamin menular bisa mengalami masalah selama kehamilan. Infeksi chlamydial bisa menyebabkan persalinan preterm dan selaput yang mengandung janin pecah secara prematur. Hal itu bisa juga menyebabkan conjunctivitis pada bayi yang baru lahir, sama seperti gonorhoe. Sifilis pada wanita hamil kemungkinan ditularkan kepada janin melalui plasenta. Sifilis bisa menyebabkan beberapa kerusakan lahir.

Sekitar seperempat wanita hamil yang memiliki infeksi virus immunodeficiency manusia (HIV) yang tidak diobati, yang menyebabkan AIDS, menularkannya kepada bayi mereka. Para ahli menganjurkan bahwa wanita dengan infeksi HIV menggunakan obat-obatan antiretroviral selama kehamilan. Ketika wanita hamil menggunakan obat-obatan ini, resiko penularan HIV kepada bayi mereka berkurang lebih sedikit dibandingkan 2%. Untuk beberapa wanita dengan infeksi HIV, melahirkan dengan operasi sessar, direncanakan kemudian, bisa mengurangi resiko penularan HIV kepada bayi lebih lanjut. Kehamilan tidak tampak mempercepat kemajuan infeksi HIV pada wanita. Herpes kelamin bisa ditularkan kepada bayi selama melahirkan normal. Bayi yang tidak terinfeksi dengan herpes bisa mengalami infeksi otak yang mengancam nyawa disebut herpes encephalitis. Jika herpes menghasilkan luka pada daerah kelamin di akhir kehamilan, wanita biasanya dianjurkan untuk melahirkan dengan operasi sessar, sehingga virus tersebut tidak ditularkan kepada bayi. Jika luka hadir, resiko penularan sangat rendah. 7. Diabetes : untuk wanita yang mengalami diabetes sebelum mereka hamil, resiko komplikasi selama kehamilan bergantung pada seberapa diabetes telah hadir dan apakah ada komplikasi pada diabetes, seperti tekanan darah tinggi dan kerusakan ginjal, telah ada. (Pada beberapa wanita, diabetes terjadi selama kehamilan, gangguan ini disebut gestational diabetes). Resiko komplikasi selama kehamilan bisa dikurangi dengan mengendalikan kadar gula (glukosa) di dalam darah. Kadar tersebut harus dijaga senormal mungkin sepanjang kehamilan. Cara untuk mengukur kadar gula darah (seperti makanan, olahraga, dan insulin) harus dimulai sebelum kehamilan. Kebanyakan wanita hamil diminta untuk mengukur kadar gula mereka beberapa kali sehari di rumah. Mengendalikan diabetes terutama sekali diakhir kehamilan sangat penting. Kemudian, kadar gula darah cenderung meningkat karena tubuh menjadi sedikit responsif terhadap insulin. Dosis yang lebih tinggi pada insulin biasanya diperlukan. Jika diabetes kurang dikontrol awal sekali pada kehamilan, resiko keguguran dini dan kerusakan lahir bertambah secara signifikan. Ketika diabetes kurang dikontrol dan telat pada kehamilan, janin besar dan resiko kamatian ketika melahirkan meningkat. Janin besar mengurangi janin untuk lewat dengan mudah melalui vagina dan lebih mungkin untuk terluka selama melahirkan normal. Konsekwensinya, melahirkan dengan operasi sessar seringkali diperlukan. Resiko preeklampsia (jenis tekanan darah tinggi yang terjadi selama kehamilan) juga meningkat untuk wanita dengan diabetes. Paru-paru janin cenderung matang dengan lambat. Jika melahirkan dini dipertimbangkan (misalnya, karena janin besar), dokter bisa mengangkat dan meneliti contoh cairan yang mengelilingi janin (cairan ketuban). Prosedur ini, disebut amniocentesis, membantu dokter untuk memastikan apakah paru-paru

janin cukup matang untuk dilahirkan untuk bernafas. Bayi yang baru lahir pada wanita yang mengalami diabetes meningkatkan resiko mengalami kadar gula yang rendah, kalsium rendah, dan kadar bilirubin yang rendah di dalam darah. Staff rumah sakit mengukur kadar zat-zat ini dan meneliti bayi yang baru lahir untuk gejala-gejala kelainan ini. Untuk wanita dengan diabetes, kebutuhan untuk insulin segara turun secara dramatis setelah melahirkan. Tetapi kebutuhan tersebut biasanya kembali seperti semula sebelum kehamilan dalam waktu sekitar 1 minggu. 8. Gangguan Hati dan kantung empedu : wanita yang mengalami hepatitis karena virus yang kronis atau sirosis (luka parut pada hati) lebih meungkin untuk gugur atau melahirkan secara prematur. Sirosis bisa menyebabkan pembuluh varicose untuk terbentuk di sekitar kerongkongan (varises kerongkongan). Kehamilan sedikit meningkatkan resiko pendarahan besar-besaran dari pembuluh ini, khususnya selama 3 bulan terakhir pada kehamilan. Wanita hamil yang mempunyai batu empedu dipantau secara ketat. Jika batu empedu menghambat kantung empedu atau menyebabkan infeksi, operasi kemungkinan diperlukan. Operasi ini biasanya aman untuk wanita dan janin. 9. Asma : pada sekitar separuh wanita yang mengalami asma dan hamil, frekwensi atau tingkat keparahan serangan asma tidak berubah selama kehamilan. Kira-kira seperempat wanita bertambah baik selama kehamilan, dan sekitar seperempat menjadi buruk. Jika wanita hamil dengan asma berat diobati dengan prednison, resiko dimana janin tidak berkembang seperti yang diharapkan atau akan dilahirkan secara prematur menjadi meningkat. Karena asma bisa berubah sepanjang kehamilan, dokter bisa meminta wanita dengan asma untuk menggunakan peak flow meter untuk memantau pernafasan mereka lebih sering. Wanita hamil dengan asma harus mengunjungi dokter secara teratur sehingga pengobatan bisa disesuaikan sesuai kebutuhan. Mengontrol dengan baik asma adalah penting. Pengobatan yang tidak cukup bisa mengakibatkan masalah serius. Cromolyn, bronkodilator (seperti albuterol), dan kortikosteroid (seperti beclometason) bisa digunakan selama kehamilan. Inhalasi adalah cara yang lebih disukai untuk menggunakan obat-obatan ini. Ketika dihirup, obat tersebut mempengaruhi sebagian besar paru-paru dan mempengaruhi seluruh tubuh dan sedikit janin. Aminophylline (digunakan dengan mulut atau infus) dan teofilin (digunakan dengan mulut) kadangkala digunakan selama kehamilan. Kortikosteroid digunakan dengan mulut hanya ketika pengobatan lain tidak efektif. Divaksinasi untuk melawan virus influenza (flu) selama musim influenza sangat penting untuk wanita hamil dengan asma. 10. Gangguan autoimmune : kelainan antibodi dihasilkan pada gangguan autoimmune bisa menyeberang ke plasenta dan menyebabkan masalah pada janin. Kehamilan mempengaruhi gangguan autoimmune pada cara yang berbeda

11. Systemic lupus erythematosus (lupus) bisa muncul untuk pertama kali, memburuk, atau agak berat selama kehamilan. Bagaimana kehamilan mempengaruhi jalan lupus tidak dapat diduga, tetapi waktu yang paling sering untuk tercetus segera setelah melahirkan. Wanita yang mengalami lupus seringkali mengalami riwayat keguguran berulang, janin yang tidak berkembang seperti yang diharapkan, dan persalinan preterm. Jika wanita mengalami komplikasi disebabkan lupus (seperti kerusakan ginjal atau tekanan darah tinggi), resiko kematian untuk janin atau bayi yang baru lahir meningkat. Pada wanita hamil, antibodi lupus bisa menyeberangi plasenta menuju janin. Akibatnya, janin bisa mengalami detak jantung yang sangat lambat, anemia, jumlah platelet yang rendah, atau jumlah sel darah putih yang rendah. Meskipun begitu, antibodi ini hilang secara bertahap lebih dari beberapa minggu setelah bayi dilahirkan, dan masalah yang mereka sebabkan terselesaikan kecuali untuk detak jantung yang lambat. 12. Pada penyakit Grave, antibodi merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan. Antibodi ini bisa menyeberangi palsenta dan merangsang kelenjar tiroid pada janin. Akibatnya, janin bisa mengalami detak jantung yang cepat dan tidak bisa bertumbuh seperti yang diharapkan. Kelenjar tiroid bayi bisa membesar, membentuk gondok. Sangat jarang, gondok kemungkinan membesar yang berhubungan dengan melahirkan melalui vagina. Biasanya, wanita dengan penyakit grave menggunakan dosis efektif serendah mungkin propylthiouracil, yang memperlambat aktifitas kelenjar tiroid. Penelitian fisik dan pengukuran kadar hormon tiroid dilakukan secara teratur karena propylthiouracil melintasi plasenta dan mencegah janin untuk menghasilkan hormon tiroid yang cukup. Seringkali, penyakit grave menjadi sedikit berat selama trisemester ketiga, sehingga dosis propylthiouracil bisa dikurangi atau dihentikan. Jika diperlukan, kelenjar tiroid pada wanita hamil kemungkinan diangkat pada trisemester kedua. Wanita ini harus mulai menggunakan hormon tiroid 24 jam setelah operasi. Menggunakan hormon ini tidak menyebabkan masalah pada janin. 13. Myasthenia gravis, yang menyebabkan kelemahan otot, biasanya tidak menyebabkan komplikasi serius dan permanen selama kehamilan. Meskipun begitu, sangat jarang terjadi selama persalinan, wanita yang mengalami myasthenia gravis bisa memerlukan pertolongan ketika bernafas (assisted ventilation). Antibodi yang menyebabkan gangguan ini bisa melalui plasenta. Sehingga kira-kira satu dari lima bayi dilahirkan untuk wanita dengan myasthenia gravis dilahirkan dengan gangguan tersebut. Meskipun begitu, mengakibatkan kelemahan otot pada bayi biasanya sementara, karena antibodi dari ibu hilang secara bertahap dan bayi tidak menghasilkan antibodi pada jenis ini.

14. Idiopathic thrombocytopenic purpura bisa menyebabkan masalah pendarahan pada wanita hamil dan bayi mereka. Jika tidak diobati selama kehamilan, gangguan tersebut cenderung lebih berat. Kortikosteroid, biasanya diberikan prednison melalui mulut, bisa meningkatkan jumlah platelet dan memperbaiki penggumpalan darah pada wanita hamil dengan gangguan ini. Meskipun begitu, prednison meningkatkan resiko dimana janin tidak akan berkembang seperti yang diharapkan atau akan dilahirkan dengan prematur. Gamma globulin dosis tinggi kemungkinan diberikan secara infus segera setelah melahirkan. Akibatnya, persalinan bisa diproses dengan aman, dan wanita bisa menjalani melahirkan normal tanpa pendarahan yang tak terkendali. Wanita hamil diberikan transfusi platelet hanya ketika melahirkan dengan operasi sessar diperlukan atau ketika jumlah platelet sangat rendah dimana pendarahan berat bisa terjadi. Jarang terjadi, ketika jumlah platelet tetap rendah membahayakan meskipun diobati, limpa, yang normalnya menjebak dan menghancurkan sel darah tua dan platelet, diangkat. Waktu yang terbaik untuk operasi ini adalah selama trisemester kedua. Antibodi yang menyebabkan gangguan ini bisa menyeberangi plasenta menuju janin, jarang terjadi mengakibatkan jumlah platelet rendah yang berbahaya sebelum dan segera setelah lahir. Bayi kemudian kemungkinan berdarah selama persalinan dan melahirkan dan bisa mengakibatkan terluka atau mati, khususnya jika pendarahan terjadi di dalam otak. Antibodi hilang dalam beberapa minggu, dan darah bayi kemudian menggumpal secara normal. 15. Rheumatoid arthritis tidak mempengaruhi janin, tetapi melahirkan kemungkinan sulit untuk wanita jika arthritis telah merusak persendian paha mereka atau bagian bawah tulang belakang (lumbar). Gejala rheumatoid arthritis bisa berkurang selama kehamilan, tetapi biasanya kembali ke kadar awal mereka setelah kehamilan. 16. Fibroid : fibroid di dalam rahim, relatif sering terjadi tumor yang bukan kanker, bisa meningkatkan resiko persalinan preterm, melahirkan janin abnormal, plasenta yang tidak pada tempatnya (placenta previa), dan keguguran berulang. Jarang, fibroid berhubungan dengan gerakan janin melalui persalinan normal. 17. Kanker : karena kanker cenderung mengancam nyawa dan karena menunda pengobatan bisa mengurangi kemungkinan pengobatan yang berhasil, kanker biasanya diobati dengan cara yang sama apakah wanita hamil atau tidak. Beberapa pengobatan yang umum (operasi, obat-obatan kemoterapi, dan terapi radiasi) bisa membahayakan janin. Dengan demikian, beberapa wanita bisa mempertimbangkan aborsi. Meskipun begitu, pengobatan bisa kadangkala diatur waktunya sehingga resiko terhadap janin berkurang.

FAKTOR RESIKO YANG BERKEMBANG SELAMA KEHAMILAN
DEFINISI Selama kehamilan, sebuah masalah bisa terjadi atau sebuah kondisi bisa terbentuk membuat kehamilan beresiko tinggi. Contohnya, wanita hamil bisa terkena sesuatu yang bisa menghasilkan kerusakan kelahiran (teratogens), seperti radiasi, kimia-kimia tertentu, obat-obatan, atau infeksi. Atau sebuah gangguan bisa terjadi. Beberapa gangguan berhubungan dengan (adalah komplikasi dari) kehamilan Obat-obatan Beberapa obat-obatan yang digunakan selama kehamilan menyebabkan kerusakan kelahiran. Misalnya alkohol, isotretinoin (digunakan untuk mengobati jerawat akut), beberapa antikonsulvan, litium, beberapa antibiotik (seperti streptomisin, kanamisin, dan tetrasiklin), thalidomide, warfarin, dan penghambat enzim angiotensin-converting (ACE) (digunakan selama akhir trismester kedua). Menggunakan obat-obatan yang menghambat kerja folic acid (seperti methotrexate immunosuppressant atau antibiotik trimethoprim) juga bisa menyebabkan cacat sejak lahir (kekurangan asam folat meningkatkan resiko memiliki bayi cacat sejak lahir). Menggunakan kokain bisa menyebabkan cacat sejak lahir, pelepasan plasenta yang prematur (placental abruption), dan kelahiran prematur. Merokok meningkatkan resiko memiliki seorang bayi dengan berat lahir rendah. Awal kehamilan, wanita ditanyakan apakah mereka menggunakan obat-obatan tersebut. Terutama sekali yang perlu diperhatikan adalah alkohol, kokain, dan merokok. Gangguan Yang Terjadi Selama Kehamilan Selama kehamilan, wanita bisa mengalami gangguan yang tidak berhubungan langsung dengan kehamilan. Beberapa gangguan meningkatkan masalah beresiko pada wanita hamil atau janin. Hal tersebut termasuk gangguan yang menyebabkan demam tinggi, infeksi, dan gangguan yang membutuhkan operasi perut. Gangguan-gangguan tertentu lebih mungkin terjadi selama kehamilan karena banyak perubahan kehamilan terjadi di dalam tubuh wanita. Misalnya penyakit thromboembolic, anemia, dan infeksi saluran kemih. 1. Demam : sebuah gangguan yang menyebabkan suhu lebih besar dari 103º F (39.5ºC) selama trimester pertama meningkatkan resiko dari keguguran dan kerusakan otak atau spinal cord pada bayi. Demam pada akhir kehamilan meningkatkan resiko persalinan sebelum waktunya. 2. Infeksi : beberap infeksi yang terjadi secara kebetulan selama kehamilan dapat menyebabkan cacat sejak lahir. Campak jerman (rubella) bisa menyebabkan cacat sejak lahir, terutama sekali pada jantung dan bagian dalam mata. Infeksi

cytomegalovirus bisa melewati plasenta dan merusak hati dan otak janin. Infeksi virus lainnya yang bisa membahayakan janin atau menyebabkan kerusakan kelahiran termasuk herpes simplex, dan cacar air (varicella). Toksoplasma, infeksi protozoa, bisa menyebabkan keguguran, kematian janin, dan cacat sejak lahir serius. Listeriosis, infeksi bakteri, juga bisa membahayakan janin. Infeksi bakteri pada vagina (seperti bakteri vaginosis) selama kehamilan bisa menyebabkan persalinan sebelum waktunya atau membran yang berisi janin gugur sebelum waktunya. Pengobatan pada infeksi dengan antibiotik bisa mengurangi kemungkinan masalah-masalah ini. 3. Gangguan yang membutuhkan operasi : selama kehamilan, gangguan yang membutuhkan operasi emergensi meliputi perut mungkin dijalankan. Jenis operasi ini meningkatkan resiko persalinan sebelum waktunya dan menyebabkan keguguran, khususnya pada awal kehamilan. Juga, operasi biasanya ditunda selama mungkin kecuali jika kesehatan jangka panjang si wanita kemungkinan terpengaruhi. Jika radang usus buntu terjadi selama kehamilan, operasi untuk mengangkat usus buntu (appendectomy) dilakukan dengan segera karena pecahnya usus buntu bisa menjadi fatal. Appendectomy tidak mungkin membahayakan janin atau menyebabkan keguguran. Meskipun begitu, radang usus buntu kemungkinan sulit untuk dikenali selama kehamilan. Rasa kram menyakitkan pada radang usus buntu menyerupai kontraksi rahim, yang mana biasa selama kehamilan. Usus buntu ditekan ke bagian atas perut sebagai proses kehamilan, sehingga letak rasa sakit pada radang usus buntu kemungkinan tidak seperti yang diharapkan. Jika kista ovarium terjadi selama kehamilan, operasi biasanya ditunda hingga 12 minggu kehamilan. Kista kemungkinan menghasilkan hormon yang membantu kehamilan dan seringkali hilang tanpa pengobatan. Meskipun begitu, jika kista atau massa lain membesar, operasi kemungkinan diperlukan sebelum 12 minggu. Beberapa massa kemungkinan bersifat kanker. Kerusakan pada usus selama kehamilan bisa jadi sangat serius. Jika kerusakan mengarah ke ganggren usus dan radang selaput perut (peradangan pada membran yang melintasi rongga perut), seorang wanita bisa keguguran dan nyawanya dalam bahaya. Operasi exploratory biasanya dilakukan dengan segera ketika wanita hamil mengalami gejala-gejala kerusakan usus, terutama jika mereka pernah menjalani operasi perut atau infeksi perut. 4. Penyakit thromboembolic : di Amerika Serikat, penyakit thromboembolic merupakan penyebab utama kematian pada wanita hamil. Pada penyakit thromboembolic, gumpalan darah terbentuk di dalam pembuluh darah. Mengalir melalui aliran darah dan menghalangi arteri. Resiko pada pembentukan penyakit thromboembolic meningkat sekitar 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan. Kebanyakan komplikasi menyebabkan penggumpalam darah akibat dari penyakit yang terjadi selama melahirkan. Resiko bertambah banyak setelah operasi sessar dibandingkan setelah melahirkan normal.

Penggumpalan darah biasanya terbentuk di pembuluh luar pada kaki seperti thrombophlebitis atau di dalam darah seperti pembuluh dalam thrombosis. Gejalagejala termasuk pembengkakan, rasa sakit di betis, dan urat. Akutnya gejala tersebut tidak ada hubungannya dengan penyakit parah. Gumpalan bisa pindah dari kaki menuju paru-paru, dimana bisa menghalangi satu atau lebih arteri pada paru-paru. Penyumbatan ini, disebut emboli paru-paru, bisa mengancam nyawa, jika gumpalan menghambat arteri yang mensuplai otak, menghasilkan stroke. Penggumpalan darah bisa juga terjadi pada pelvis. Wanita yang mengalami pembekuan darah pada kehamilan sebelumnya bisa diberikan heparin (sebuah antikoagulan) selama kehamilan berikutnya untuk mencegah pembentukan gumpalan darah. Jika wanita memiliki gejala yang diduga pembekuan darah, ultrasonografi Doppler kemungkinan dilakukan untuk memeriksa pembekuan. Jika pembekuan darah diketahui, heparin mulai diberikan tanpa menunda. Heparin kemungkinan disuntikkan ke dalam pembuluh (secara infus) atau di bawah kulit (subkutan). Heparin tidak melalui plasenta dan tidak membahayakan janin. Pengobatan dilanjutkan untuk 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan, ketika resiko pembekuan darah tinggi. Setelah melahirkan, warfarin kemungkinan digunakan sebagai pengganti heparin. Warfarin bisa digunakan dengan mulut, memiliki resiko komplikasi rendah dibandingkan heparin., dan bisa digunakan oleh wanita yang menyusui. Jika emboli paru-paru diduga, ventilasi paru-paru dan perfusion scan kemungkinan dilakukan untuk memastikan diagnosa. Prosedur ini meliputi menyuntikkan bahan radio aktif dalam jumlah sedikit ke dalam pembuluh. Prosedur ini aman selama kehamilan karena dosis bahan radio aktif kecil. Jika diagnosa pada emboli paru-paru tetap tidak pasti, angiography paru-paru dibutuhkan. 5. Anemia : kebanyakan wanita hamil mengalami beberapa tingkat anemia karena zat besi dibutuhkan untuk menghasilkan sel darah merah pada janin. Anemia bisa muncul selama kehamilan karena kekurangan asam folat. Anemia biasanya dapat dicegah atau diobati dengan menggunakan zat besi dan suplemen asam folat selama kehamilan. Meskipun begitu, jika anemia menjadi parah dan berlangsung lama, kapasitas darah untuk membawa oksigen menurun. Akibatnya, janin tidak bisa mendapatkan cukup oksigen, yang dibutuhkan untuk pertumbuhan normal, khususnya pada otak. Wanita hamil yang mengalami anemia berat bisa menjadi lelah berlebihan, nafas tersengal-sengal, sakit kepala berkunang-kunang. Resiko persalinan preterm meningkat. Jumlah pendarahan normal selama persalinan dan melahirkan bisa menyebabkan anemia yang sangat membahayakan pada wanita ini. Wanita dengan anemia lebih mungkin mengalami infeksi setelah melahirkan. Juga, jika asam folat berkurang, resiko memiliki bayi dengan cacat lahir pada otak dan tulang belakang, seperti spina bifida, meningkat. 6. Infeksi saluran kemih : infeksi saluran kemih biasa selama kehamilan, kemungkinan disebabkan melebarnya rahim memperlambat aliran air seni dengan

menekan pipa yang menghubungkan ginjal dengan kantung kemih (ureters). Ketika air seni mengalir lambat, bakteri tidak bisa membilas pada saluran air seni. meningkatkan resiko sebuah infeksi. Infeksi ini meningkatkan resiko persalinan preterm dan cepat luruh pada selaput yang mengandung janin. Kadangkala infeksi pada kantung kemih atau ureter menyebar ke saluran air seni dan menuju ginjal, menyebabkan. Pengobatan terdiri dari terapi antibiotik. Komplikasi Kehamilan Komplikasi kehamilan adalah masalah yang terjadi hanya selama kehamilan. Hal itu bisa mempengaruhi wanita tersebut, janin, atau keduanya dan bisa terjadi pada waktu berlainan selama kehamilan. Misalnya, komplikasi seperti plasenta salah tempat (plasenta previa) atau pelepasan prematur pada plasenta dari uterus (placental abruption) bisa menyebabkan pendarahan dari vagina selama 3 bulan terakhir pada kehamilan. Wanita yang berdarah pada waktunya berisiko kehilangan bayi atau pendarahan berlebihan (hemorrhaging) atau sekarat selama persalinan dan melahirkan. Meskipun begitu, kebanyakan komplikasi kehamilan bisa di obati secara efektif. Kehamilan ectopic : kehamilan salah tempat Secara normal, sel telur dibuahi di tuba falopi dan tertanam di rahim. Meskipun begitu, jika pipa menyempit atau tersumbat, sel telur bisa bergerak lambat atau tersangkut. Sel telur yang dibuahi bisa tidak pernah sampai ke rahim, mengakibatkan kehamilan ectopic. Kehamilan ectopic biasanya terjadi di salah satu tuba falopi (sebagai kehamilan tubal) tetapi bisa terjadi di tempat lain. Janin dalam kehamilan ectopic tidak bisa bertahan hidup. Satu dari 100 sampai 200 kehamilan adalah kehamilan ectopic. Faktor resiko untuk kehamilan ectopic termasuk mengalami gangguan pada tuba falopi, penyakit pelvic imflammatory, kehamilan ectopic sebelumnya, janin terpapar diethylstilbestrol, atau tubal ligation (prosedur pembuahan) yang tidak berhasil atau telah dioperasi secara terbalik. Gejala-gejalanya termasuk pendarahan vagina yang tidak diharapkan dan kejang. Janin bisa cukup bertumbuh untuk meruntuhkan struktur yang mengandung hal itu/ jika tuba falopi runtuh (biasanya setelah sekitar 6 sampai 8 minggu), seorang wanita biasanya merasakan rasa sakit hebat di bagian bawah perut dan bisa pingsan. Jika tuba kemudian runtuh (setelah sekitar 12 sampai 16 minggu), resiko kematian pada wanita meningkat, karena janin dan plasenta membesar dan kehilangan lebih banyak darah. Jika seorang wanita tidak yakin bahwa dia hamil, tes kehamilan dilakukan. Jika dia hamil, ultrasonografi dilakukan untuk memastikan letak janin. Jika rahim kosong, dokter bisa menduga kehamilan ectopic. Jika ultrasonografi menunjukkan janin terletak di luar rahim, diagnosa dipastikan. Dokter bisa menggunakan pembuluh elastis yang disebut laparoscope, dimasukkan melalui sayatan kecil persis di bawah pusar, untuk melihat kehamilan ectopic secara langsung.

Kehamilan ectopic harus diselesaikan secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawa si wanita. Pada kebanyakan wanita, janin dan plasenta pada kehamilan ectopic harus diangkat dengan operasi, biasanya dengan laparoscope tetapi kadangkala melalui operasi di perut (prosedur yang disebut laparotomy). Jarang, rahim rusak yang membutuhkan hysterectomy Kadangkala, obat methotrexate biasanya diberikan dalam satu kali suntikan, bisa digunakan sebagai pengganti operasi. Obat tersebut menyebabkan kehamilan ectopic menyusut dan hilang. Kadangkala, operasi dibutuhkan sebagai tambahan methotrexate.

Beberapa masalah yang terjadi dari kelainan hormon selama kehamilan hanya kejadian minor, gejala sementara pada wanita hamil. Misalnya, pengaruh hormon normal pada kehamilan bisa memperlambat pergerakan pada empedu melalui pembuluh empedu, cholestasis pada kehamilan bisa terjadi. Gejala paling jelas adalah rasa gatal di seluruh tubuh (biasanya pada beberapa bulan terakhir kehamilan). Tidak terdapat ruam. Jika rasa gatal hebat, cholestyramine bisa diberikan. Gangguan ini biasanya dipecahkan setelah melahirkan tetapi cenderung sembuh pada kehamilan berikutnya. 1. Hyperemesis gravidarum : hyperemesis gravidarum adalah rasa mual yang luar biasa keras dan muntah berlebihan selama kehamilan. Hyperemesis gravidarum berbeda dari morning sickness biasa. Jika wanita seringkali muntah dan menderita mual berkelanjutan mereka kehilangan berat badan dan menjadi dehidrasi, mereka menderita hyperemesis gravidarum. Jika wanita kadangkala muntah tetapi bertambah berat badan dan tidak dehidrasi, mereka tidak mengalami hyperemesis gravidarum. Penyebab hyperemesis gravidarum tidak diketahui. Karena hyperemesis gravidarum bisa mengancam nyawa wanita hamil dan janin, wanita yang menderita harus dirawat di rumah sakit. Cairan infus dimasukkan ke dalam pembuluh untuk memberikan cairan, gula (glukosa), elektrolit, dan kadangkala vitamin. Wanita yang mengalami komplikasi tidak diijinkan untuk makan atau minum apapun untuk paling tidak 24 jam. Obat penenang, antiemetik, dan obat-obatan lain diberikan sesuai kebutuhan. Setelah wanita rehidrasi dan muntahnya reda, mereka bisa mulai makan yang sering, makanan yang dihaluskan dengan porsi sedikit. Ukuran porsi tersebut meningkat jika mereka bisa menerima banyak makanan. Biasanya, muntah berhenti dalam beberapa hari. Jika gejala kambuh, pengobatan diulangi. Jarang, jika terus kehilangan berat badan dan gejala berlangsung lama meskipun diobati, wanita diberikan makan melalui pipa lurus melalui hidung dan turun ke kerongkongan menuju usus kecil selama diperlukan.

2. Preeclampsia : sekitar 5 % wanita hamil mengalami preeclampsia (toxemia pada kehamilan). Pada komplikasi ini, peningkatan pada tekanan darah disertai dengan protein pada air kencing (proteinuria). Preeclampsia biasanya terjadi antara minggu ke 20 pada kehamilan dan akhir minggu pertama setelah melahirkan. Penyebab preeclampsia tidak diketahui. namun lebih sering pada wanita yang hamil untuk pertama kali, yang membawa dua atau lebih janin, yang memiliki preeclampsia pada kehamilan berikutnya, yang telah memiliki tekanan darah tinggi atau gangguan pembuluh darah, atau yang menderita penyakit sel sickle. Hal ini juga lebih sering terjadi pada anak gadis berusia 15 tahun atau lebih muda dan wanita berumur 35 tahun atau lebih tua. Berbagai macam preeclampsia akut, disebut sindrom HELLP, terjadi pada beberapa wanita. Terdiri dari hal-hal berikut di bawah ini : o Hemolysis (kerusakan sel darah merah) o Kenaikkan kadar enzim hati, mengindikasikan kerusakan hati o Jumlah platelet rendah, membuat darah tidak bisa menggumpal dan meningkatkan resiko pendarahan selama dan sesudah persalinan. 1 dari 200 wanita yang menderita preeclampsia, tekanan darah menjadi cukup tinggi untuk menyebabkan kejang; kondisi ini disebut eclampsia. Seperempat kasus pada preeclampsia terjadi setelah melahirkan, biasanya pada 2 sampai 4 hari pertama. Jika tidak diobati segera, eclampsia kemungkinan fatal. Preeclampsia bisa menyebabkan pelepasan prematur pada plasenta dari rahim (placental abruption). Bayi pada wanita yang menderita preeclampsia 4 atau 5 kali lebih mungkin cepat mengalami masalah setelah melahirkan dibandingkan dengan bayi pada wanita yang tidak mengalami komplikasi. Bayi kemungkinan kecil disebabkan kerusakan plasenta atau disebabkan lahir secara prematur. Jika preeclampsia ringan terjadi pada kehamilan dini, istirahat di rumah kemungkinan tercukupi, tetapi beberapa wanita harus menemui dokter sesering mungkin. Jika preeclampsia bertambah parah, wanita biasanya dirawat di rumah sakit. Di sana, mereka dirawat di tempat tidur dan diawasi ketat sampai janin cukup matang untuk dilahirkan dengan selamat. Antihipertensis kemungkinan diperlukan. Beberapa jam sebelum melahirkan, magnesium sulfate kemungkinan diberikan secara infus untuk mengurangi resiko kejang. Jika preeclampsia terjadi dekat tanggal kelahiran, persalinan biasanya diinduksi dan bayi dilahirkan. Jika preeclampsia parah, bayi tersebut kemungkinan dilahirkan dengan operasi sessar, yang merupakan jalan pintas, kecuali servik cukup terbuka (dilated) untuk segera melahirkan normal. Cepat melahirkan mengurangi resiko komplikasi pada wanita dan janin. Jika tekanan darah tinggi, obat-obatan untuk merendahkan tekanan darah, seperti hydralazine atau labelatol, kemungkinan diberikan secara infus sebelum melahirkan dilakukan. Pengobatan pada sindrom HELLP biasanya sama pada preeclampsia berat.

Setelah melahirkan, wanita yang sudah menderita preeclampsia atau eclampsia dipantau dengan ketat untuk 2 sampai 4 hari karena mereka meningkatkan resiko serangan. Sebagaimana kondisi mereka terus menerus diperbaiki, mereka dianjurkan untuk berjalan. Mereka bisa menetap di rumah sakit untuk beberapa hari, tergantung pada keakutan preeclampsia tersebut dan komplikasinya. Setelah kembali ke rumah, wanita ini bisa memerlukan obat-obatan untuk merendahkan tekanan darah, secara khusus, mereka harus checkup setidaknya setiap 2 minggu untuk beberapa bulan pertama setelah melahirkan. Tekanan darah mereka bisa tetap tinggi untuk 6 sampai 8 minggu. Jika tetap tinggi, penyebabnya kemungkinan tidak berhubungan dengan preeclampsia. 3. Diabetes selama kehamilan : sekitar 1 sampai 3% wanita hamil mengalami diabetes selama kehamilan. Gangguan ini dikenal dengan diabetes gestational. Tidak terdeteksi dan tidak terobati, diabetes gestational bisa meningkatkan resiko pada masalah kesehatan wanita hamil dan janin dan resiko kematian pada janin. Diabetes gestational paling sering terjadi pada wanita obesitas dan kelompok etnis tertentu, terutama orang asli amerika, pulau pasifik, dan wanita meksiko, Indian, dan keturunan asia. Kebanyakan wanita dengan diabetes gestational mengalami hal itu dikarenakan mereka tidak menghasilkan cukup insulin sebagaimana kebutuhan insulin meningkat dalam kehamilan tua. Lebih banyak insulin dibutuhkan untuk mengendalikan peningkatan kadar gula (glukosa) di dalam darah. Beberapa wanita bisa memiliki diabetes sebelum hamil, tetapi tidak diketahui sampai mereka hamil. Beberapa dokter secara rutin memeriksa setiap wanita hamil untuk diabetes gestational. Dokter lain memeriksa hanya wanita yang memiliki faktor resiko untuk diabetes, seperti obesitas dan latar belakang etnis tertentu. Tes darah digunakan untuk mengukur kadar gula garah dengan alat pantau gula darah rumahan. Pengobatan terdiri dari menghilangkan makanan bergula tinggi dari makanan, makan untuk menghindari kelebihan berat badan selama kehamilan, dan, jika kadar gula darah tinggi, diberikan insulin. Setelah melahirkan, diabetes gestational biasanya hilang. Meskipun begitu, banyak wanita menderita diabetes gestational mengalami diabetes jenis 2 sewaktu mereka menjadi tua. 4. Ketidakcocokan Rh : ketidakcocokan Rh terjadi ketika seorang wanita hamil memiliki darah Rh-negatif dan janin memiliki darah Rh-positif, menurun dari ayah yang memiliki darah Rh-positif. Sekitar 13% pernikahan di amerika serikat, laki-laki yang memiliki darah Rh-positif dan wanita memiliki darah Rh-negatif. Faktor Rh adalah molekul yang terjadi pada permukaan sel darah merah pada beberapa orang. Darah ber Rh-positif jika sel darah merah memiliki faktor Rh dan Rh-negatif jika tidak memiliki. Masalah dapat terjadi jika janin memiliki darah Rh-positif memasuki aliran darah wanita tersebut. Sistem kekebalan tubuh wanita

tersebut bisa mengenali sel darah janin sebagai benda asing dan menghasilkan antibodi, disebut antibody Rh, untuk menghancurkan sel darah merah janin. produksi pada antibodi ini disebut sensitization Rh. Selama kehamilan pertama, sensitization Rh adalah tidak mungkin, karena tidak ada jumlah signifikan pada darah janin mungkin untuk memasuki aliran darah wanita tersebut sampai melahirkan. Sehingga janin atau bayi yang baru lahir jarang mengalami masalah. Meskipun begitu, sekali wanita menjadi sensitif, masalah lebih mungkin terjadi dengan setiap kehamilan berikutnya dimana darah janin adalah Rh positif. Pada setiap kehamilan, wanita tersebut menghasilkan antibodi Rh lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak. Jika antibodi Rh melintasi plasenta menuju janin, mereka bisa menghancurkan beberapa sel darah merah janin. Jika sel darah merah cepat dihancurkan dibandingkan janin menghasilkan yang baru. Janin bisa mengalami anemia. beberapa kerusakan disebut penyakit hemolytic pada janin (erythroblastosis fetalis) atau bayi yang baru lahir (erythroblastosis neonatorum ). Pada kasus berat, janin bisa mati. Pada kunjungan pertama ke dokter selama kehamilan, wanita diskrining untuk menentukan apakah mereka memiliki darah dengan Rh-positif atau Rh-negatif. Jika mereka memiliki darah Rh-negatif, darah mereka diperiksa untuk antibodi Rh dan jenis darah ayah dipastikan. Jika sang ayah memiliki darah Rh-positif, sensitivitas Rh sebagai suatu resiko. Pada beberapa kasus, darah pada wanita hamil diperiksa untuk antibodi Rh secara bertahap selama kehamilan. Kehamilan bisa diproses sebagimana biasa selama tidak ada antibodi terdeteksi. Jika antibodi terdeteksi, langkah-langkah kemungkinan diambil untuk melindungi janin, bergantung pada seberapa tinggi kadar antibodi. Jika kadar menjadi terlalu tinggi, amniocentesis kemungkinan dilakukan. Pada prosedur ini, jarum dimasukkan melalui kulit untuk menarik cairan dari kantung ketuban. Kadar bilirubin (pigmen kuning dihasilkan dari penguraian sel darah merah yang normal) diukur pada contoh cairan. Jika kadar ini terlalu tinggi, janin diberikan transfusi darah. biasanya transfusi diberikan sampai janin cukup matang untuk dilahirkan dengan selamat. Kemudian persalinan diinduksi. Bayi tersebut bisa memerlukan tambahan transfusi setelah lahir. Kadangkala tidak ada transfusi yang diperlukan sampai setelah lahir. Sebagai tindakan pencegahan, wanita yang memiliki darah Rh-negatif diberikan suntikan antibodi Rh pada 28 minggu kehamilan dan dalam 72 jam setelah melahirkan bayi yang memiliki darah Rh-positif, bahkan setelah keguguran atau aborsi. Antibodi yang diberikan disebut Rh0, D) immune globulin. Pengobatan ini menghancurkan setiap sel darah merah dari bayi yang telah memasuki aliran darah wanita tersebut. dengan demikian, tidak terdapat sel darah merah dari bayi untuk memicu produksi antibodiy oleh wanita ini, dan kehamilan berikutnya biasanya tidak membahayakan.

5. Lemak hati pada kehamilan : gangguan langka ini terjadi ke arah kehamilan tua. Penyebab tersebut tidak diketahui. gejala-gejala termasuk mual, muntah, perut tidak nyaman, dan penyakit kuning. Gangguan tersebut bisa segera memburuk, dan gagal hati bisa terbentuk. Diagnosa didasarkan pada tes fungsi hati dan kemungkinan dipastikan dengan biopsi hati. Dokter bisa menyarankan untuk segera menghentikan kehamilan. Resiko kematian untuk wanita dan janin adalah tinggi, tetapi mereka yang bertahan sepenuhnya sembuh. Biasanya, gangguan tersebut tidak berulang pada kehamilan berikutnya. 6. Peripartum cardiomyopathy : dinding jantung kemungkinan rusak pada kehamilan tua atau setelah melahirkan, menyebabkan peripartum cardiomyopathy. Penyebab tersebut tidak diketahui. peripartum cardiomyopathy cenderung terjadi pada wanita yang telah beberapa kali hamil, yang lebih tua, yang kandungannya kembar, atau yang mengalami preeklamsia. Pada beberapa wanita, fungsi jantung tidak kembali normal setelah kehamilan. Mereka bisa mengalami peripartum cardiomyopathy pada kehamilan berikut. Wanita ini harusnya tidak hamil kembali. Peripartum cardiomyopathy bisa terjadi pada gagal jantung yang diobati. Masalah-masalah dengan cairan ketuban : terlalu banyak cairan ketuban (polyhydramnios) pada selaput yang mengandung janin (kantung ketuban) meregangkan rahim dan memberi tekanan pada diafragma wanita hamil. Komplikasi ini bisa menyebabkan masalah-masalah pernafasan berat untuk wanita atau persalinan sebelum waktunya. Terlalu banyak cairan cenderung menumpuk ketika wanita hamil mengalami diabetes, mengandung lebih dari satu janin (kehamilan ganda), atau menghasilkan antibodi Rh menuju darah janin. Penyebab lain adalah kerusakan lahir pada janin, khususnya penyumbatan kerongkongan atau kerusakan pada otak dan tulang belakang (seperti spina bifida). Sekitar separuh waktu, penyebab tersebut tidak diketahui. Cairan ketuban yang terlalu sedikit (oligohydramnios) bisa juga menyebabkan masalah-masalah. Jika jumlah cairan sangat berkurang, paru-paru janin kemungkinan tidak matang dan janin kemungkinan tertekan, mengakibatkan kelainan bentuk; kombinasi pada kondisi ini disebut sindrom Potter. Cairan ketuban yang terlalu sedikit cenderung terbentuk ketika janin mengalami kerusakan pada saluran kemih, tidak berkembang seperti yang diharapkan, atau meninggal. Penyebab lain termasuk penggunaan penghambat enzim angiotensinconverting (ACE), seperti enalapril atau captopril, pada trisemester ke-2 dan ke-3. Obat-obatan ini diberikan selama kehamilan hanya ketika mereka harus digunakan untuk mengobati gagal jantung berat atau tekanan darah tinggi. Menggunakan obat-obatan nonsteroidal antiimflammatory (NSAIDs) di akhir kehamilan bisa juga mengurangi jumlah cairan ketuban.

7. Plasenta previa : plasenta previa adalah penanaman pada plasenta sepanjang atau di dekat servik, lebih rendah pada bagian atas rahim. Plasenta bisa seluruhnya atau sebagian menutupi pembukaan servik. Plasenta previa terjadi dalam 1 dari 200 kelahiran, biasanya pada wanita yang mengalami lebih dari sekali kehamilan atau yang mengalami kelainan struktur pada rahim, seperti fibroid. Plasenta previa dapat menyebabkan pendarahan tanpa nyeri dari vagina yang secara tiba-tiba terjadi pada kehamilan tua. Darah kemungkinan merah menyala. Pendarahan bisa menjadi besar, membahayakan nyawa pada wanita dan janin. Ultasonografi membantu dokter mengindentifikasi plasenta previa dan membedakannya dari suatu pelepasan plasenta secara prematur (placenta abruption) Ketika mengalami pendarahan parah, wanita dirumah sakitkan sampai melahirkan, khususnya jika plasenta terletek di sepanjang servik. Wanita yang mengalami pendarahan parah memerlukan transfusi darah berulang. Ketika pendarahan ringan dan melahirkan tidak segera terjadi, dokter biasanya menganjurkan istirahat total di rumah sakit. Jika pendarahan berhenti, wanita biasanya dianjurkan untuk berjalan. Jika pendarahan tidak terjadi, mereka biasanya dipulangkan ke rumah, disiapkan dimana mereka bisa kembali dengan mudah ke rumah sakit. Operasi sessar hampir selalu dilakukan sebelum persalinan dimulai. Jika wanita dengan plasenta previa akan bersalin, plasenta cenderung menjadi lepas sangat cepat, menghentikan suplai oksigen bayi. Kebocoran oksigen bisa mengakibatkan kerusakan otak atau masalah-masalah lain pada bayi. 8. Placental abruption (abruptio placentae) : placental abruption adalah pelepasan prematur dari plasenta dengan posisi normal dari dinding rahim. Plasenta bisa lepas tidak lengkap (kadangkala hanya 10 sampai 20%) atau secara utuh. Penyebabnya tidak diketahui. pelepasan plasenta terjadi dalam 0.4 sampai 3.5% pada seluruh kelahiran. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada wanita yang mengalami tekanan darah tinggi (termasuk preeklampsia) dan pada wanita yang menggunakan kokain. Rahim berdarah dari tempat dimana plasenta menempel. Darah bisa melewati servik dan keluar dari vagina sebagai pendarahan luar, atau kemungkinan terjebak di belakang plasenta sebagai pendarahan concealed. Gejala-gejala tergantung pada tingkat pelepasan dan jumlah darah yang hilang (yang kemungkinan banyak). Gejalanya bisa termasuk nyeri perut tiba-tiba berlanjut atau kram, lunak ketika perut ditekan, dan membal. Pelepasan prematur pada plasenta bisa menyebabkan penyebarluasan penggumpalan di samping pembuluh darah (disseminated intravascular coagulation), gagal ginjal, dan pendarahan ke dalam dinding rahim, khususnya pada wanita hamil yang juga mengalami preeklampsia. Ketika plasenta lepas, suplai oksigen dan nutrisi untuk janin kemungkinan berkurang.

Para dokter menduga pelepasan plasenta prematur pada gejala-gejala dasar. Ultrasonografi bisa memastikan diagnosa. Masalah-masalah dengan plasenta

Secara normal, plasenta terletak di bagian bawah rahim, dengan kuat menempel pada dinding uterin sampai setelah melahirkan bayi. Pada placental abruption (abruptio placentae), plasenta lepas dari dinding uterin secara prematur, menyebabkan rahim berdarah dan mengurangi suplai oksigen dan nutrisi janin. Wanita yang mengalami komplikasi ini dirumahsakitkan, dan bayi kemungkinan segera dilahirkan. Pada placenta previa, plasenta terletak di sepanjang atau di dekat servik, di bagian bawah rahim. Itu bisa menyebabkan pendarahan tanpa rasa sakit yang secara tiba-tiba dimulai pada kehamilan tua. Pendarahan bisa menjadi parah, bayi biasanya dilahirkan dengan operasi sessar.

Wanita dengan pelepasan plasenta prematur dirawat di rumah sakit. Pengobatan yang umum adalah istirahat total. Jika gejala-gejala berkurang, wanita dianjurkan untuk berjalan dan kemungkinan dikeluarkan dari rumah sakit. Jika pendarahan berlanjut atau memburuk (diduga janin tersebut tidak mendapat cukup oksigen) atau jika kehamilan mendekati masanya, melahirkan dini seringkali terbaik untuk wanita dan bayi tersebut. Jika tidak mungkin melahirkan dengan normal, operasi sessar dilakukan.

MENENTUKAN KEHAMILAN DAN PERSALINAN
DEFINISI

Selama kehamilan, sebuah masalah bisa terjadi atau sebuah kondisi bisa terbentuk membuat kehamilan beresiko tinggi. Contohnya, wanita hamil bisa terkena sesuatu yang bisa menghasilkan kerusakan kelahiran (teratogens), seperti radiasi, kimia-kimia tertentu, obat-obatan, atau infeksi. Atau sebuah gangguan bisa terjadi. Beberapa gangguan berhubungan dengan (adalah komplikasi dari) kehamilan Obat-obatan Beberapa obat-obatan yang digunakan selama kehamilan menyebabkan kerusakan kelahiran. Misalnya alkohol, isotretinoin (digunakan untuk mengobati jerawat akut), beberapa antikonsulvan, litium, beberapa antibiotik (seperti streptomisin, kanamisin, dan tetrasiklin), thalidomide, warfarin, dan penghambat enzim angiotensin-converting (ACE) (digunakan selama akhir trismester kedua). Menggunakan obat-obatan yang menghambat kerja folic acid (seperti methotrexate immunosuppressant atau antibiotik trimethoprim) juga bisa menyebabkan cacat sejak lahir (kekurangan asam folat meningkatkan resiko memiliki bayi cacat sejak lahir). Menggunakan kokain bisa menyebabkan cacat sejak lahir, pelepasan plasenta yang prematur (placental abruption), dan kelahiran prematur. Merokok meningkatkan resiko memiliki seorang bayi dengan berat lahir rendah. Awal kehamilan, wanita ditanyakan apakah mereka menggunakan obat-obatan tersebut. Terutama sekali yang perlu diperhatikan adalah alkohol, kokain, dan merokok. Gangguan Yang Terjadi Selama Kehamilan Selama kehamilan, wanita bisa mengalami gangguan yang tidak berhubungan langsung dengan kehamilan. Beberapa gangguan meningkatkan masalah beresiko pada wanita hamil atau janin. Hal tersebut termasuk gangguan yang menyebabkan demam tinggi, infeksi, dan gangguan yang membutuhkan operasi perut. Gangguan-gangguan tertentu lebih mungkin terjadi selama kehamilan karena banyak perubahan kehamilan terjadi di dalam tubuh wanita. Misalnya penyakit thromboembolic, anemia, dan infeksi saluran kemih. 1. Demam : sebuah gangguan yang menyebabkan suhu lebih besar dari 103º F (39.5ºC) selama trimester pertama meningkatkan resiko dari keguguran dan kerusakan otak atau spinal cord pada bayi. Demam pada akhir kehamilan meningkatkan resiko persalinan sebelum waktunya. 2. Infeksi : beberap infeksi yang terjadi secara kebetulan selama kehamilan dapat menyebabkan cacat sejak lahir. Campak jerman (rubella) bisa menyebabkan cacat sejak lahir, terutama sekali pada jantung dan bagian dalam mata. Infeksi cytomegalovirus bisa melewati plasenta dan merusak hati dan otak janin. Infeksi virus lainnya yang bisa membahayakan janin atau menyebabkan kerusakan kelahiran termasuk herpes simplex, dan cacar air (varicella). Toksoplasma, infeksi protozoa, bisa menyebabkan keguguran, kematian janin, dan cacat sejak lahir serius. Listeriosis, infeksi bakteri, juga bisa membahayakan janin. Infeksi bakteri pada vagina (seperti bakteri vaginosis) selama kehamilan bisa menyebabkan persalinan sebelum waktunya atau membran yang berisi janin gugur sebelum

waktunya. Pengobatan pada infeksi dengan antibiotik bisa mengurangi kemungkinan masalah-masalah ini. 3. Gangguan yang membutuhkan operasi : selama kehamilan, gangguan yang membutuhkan operasi emergensi meliputi perut mungkin dijalankan. Jenis operasi ini meningkatkan resiko persalinan sebelum waktunya dan menyebabkan keguguran, khususnya pada awal kehamilan. Juga, operasi biasanya ditunda selama mungkin kecuali jika kesehatan jangka panjang si wanita kemungkinan terpengaruhi. Jika radang usus buntu terjadi selama kehamilan, operasi untuk mengangkat usus buntu (appendectomy) dilakukan dengan segera karena pecahnya usus buntu bisa menjadi fatal. Appendectomy tidak mungkin membahayakan janin atau menyebabkan keguguran. Meskipun begitu, radang usus buntu kemungkinan sulit untuk dikenali selama kehamilan. Rasa kram menyakitkan pada radang usus buntu menyerupai kontraksi rahim, yang mana biasa selama kehamilan. Usus buntu ditekan ke bagian atas perut sebagai proses kehamilan, sehingga letak rasa sakit pada radang usus buntu kemungkinan tidak seperti yang diharapkan. Jika kista ovarium terjadi selama kehamilan, operasi biasanya ditunda hingga 12 minggu kehamilan. Kista kemungkinan menghasilkan hormon yang membantu kehamilan dan seringkali hilang tanpa pengobatan. Meskipun begitu, jika kista atau massa lain membesar, operasi kemungkinan diperlukan sebelum 12 minggu. Beberapa massa kemungkinan bersifat kanker. Kerusakan pada usus selama kehamilan bisa jadi sangat serius. Jika kerusakan mengarah ke ganggren usus dan radang selaput perut (peradangan pada membran yang melintasi rongga perut), seorang wanita bisa keguguran dan nyawanya dalam bahaya. Operasi exploratory biasanya dilakukan dengan segera ketika wanita hamil mengalami gejala-gejala kerusakan usus, terutama jika mereka pernah menjalani operasi perut atau infeksi perut. 4. Penyakit thromboembolic : di Amerika Serikat, penyakit thromboembolic merupakan penyebab utama kematian pada wanita hamil. Pada penyakit thromboembolic, gumpalan darah terbentuk di dalam pembuluh darah. Mengalir melalui aliran darah dan menghalangi arteri. Resiko pada pembentukan penyakit thromboembolic meningkat sekitar 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan. Kebanyakan komplikasi menyebabkan penggumpalam darah akibat dari penyakit yang terjadi selama melahirkan. Resiko bertambah banyak setelah operasi sessar dibandingkan setelah melahirkan normal. Penggumpalan darah biasanya terbentuk di pembuluh luar pada kaki seperti thrombophlebitis atau di dalam darah seperti pembuluh dalam thrombosis. Gejalagejala termasuk pembengkakan, rasa sakit di betis, dan urat. Akutnya gejala tersebut tidak ada hubungannya dengan penyakit parah. Gumpalan bisa pindah dari kaki menuju paru-paru, dimana bisa menghalangi satu atau lebih arteri pada paru-paru. Penyumbatan ini, disebut emboli paru-paru, bisa mengancam nyawa,

jika gumpalan menghambat arteri yang mensuplai otak, menghasilkan stroke. Penggumpalan darah bisa juga terjadi pada pelvis. Wanita yang mengalami pembekuan darah pada kehamilan sebelumnya bisa diberikan heparin (sebuah antikoagulan) selama kehamilan berikutnya untuk mencegah pembentukan gumpalan darah. Jika wanita memiliki gejala yang diduga pembekuan darah, ultrasonografi Doppler kemungkinan dilakukan untuk memeriksa pembekuan. Jika pembekuan darah diketahui, heparin mulai diberikan tanpa menunda. Heparin kemungkinan disuntikkan ke dalam pembuluh (secara infus) atau di bawah kulit (subkutan). Heparin tidak melalui plasenta dan tidak membahayakan janin. Pengobatan dilanjutkan untuk 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan, ketika resiko pembekuan darah tinggi. Setelah melahirkan, warfarin kemungkinan digunakan sebagai pengganti heparin. Warfarin bisa digunakan dengan mulut, memiliki resiko komplikasi rendah dibandingkan heparin., dan bisa digunakan oleh wanita yang menyusui. Jika emboli paru-paru diduga, ventilasi paru-paru dan perfusion scan kemungkinan dilakukan untuk memastikan diagnosa. Prosedur ini meliputi menyuntikkan bahan radio aktif dalam jumlah sedikit ke dalam pembuluh. Prosedur ini aman selama kehamilan karena dosis bahan radio aktif kecil. Jika diagnosa pada emboli paru-paru tetap tidak pasti, angiography paru-paru dibutuhkan. 5. Anemia : kebanyakan wanita hamil mengalami beberapa tingkat anemia karena zat besi dibutuhkan untuk menghasilkan sel darah merah pada janin. Anemia bisa muncul selama kehamilan karena kekurangan asam folat. Anemia biasanya dapat dicegah atau diobati dengan menggunakan zat besi dan suplemen asam folat selama kehamilan. Meskipun begitu, jika anemia menjadi parah dan berlangsung lama, kapasitas darah untuk membawa oksigen menurun. Akibatnya, janin tidak bisa mendapatkan cukup oksigen, yang dibutuhkan untuk pertumbuhan normal, khususnya pada otak. Wanita hamil yang mengalami anemia berat bisa menjadi lelah berlebihan, nafas tersengal-sengal, sakit kepala berkunang-kunang. Resiko persalinan preterm meningkat. Jumlah pendarahan normal selama persalinan dan melahirkan bisa menyebabkan anemia yang sangat membahayakan pada wanita ini. Wanita dengan anemia lebih mungkin mengalami infeksi setelah melahirkan. Juga, jika asam folat berkurang, resiko memiliki bayi dengan cacat lahir pada otak dan tulang belakang, seperti spina bifida, meningkat. 6. Infeksi saluran kemih : infeksi saluran kemih biasa selama kehamilan, kemungkinan disebabkan melebarnya rahim memperlambat aliran air seni dengan menekan pipa yang menghubungkan ginjal dengan kantung kemih (ureters). Ketika air seni mengalir lambat, bakteri tidak bisa membilas pada saluran air seni. meningkatkan resiko sebuah infeksi. Infeksi ini meningkatkan resiko persalinan preterm dan cepat luruh pada selaput yang mengandung janin. Kadangkala infeksi pada kantung kemih atau ureter menyebar ke saluran air seni dan menuju ginjal, menyebabkan. Pengobatan terdiri dari terapi antibiotik.

Komplikasi Kehamilan Komplikasi kehamilan adalah masalah yang terjadi hanya selama kehamilan. Hal itu bisa mempengaruhi wanita tersebut, janin, atau keduanya dan bisa terjadi pada waktu berlainan selama kehamilan. Misalnya, komplikasi seperti plasenta salah tempat (plasenta previa) atau pelepasan prematur pada plasenta dari uterus (placental abruption) bisa menyebabkan pendarahan dari vagina selama 3 bulan terakhir pada kehamilan. Wanita yang berdarah pada waktunya berisiko kehilangan bayi atau pendarahan berlebihan (hemorrhaging) atau sekarat selama persalinan dan melahirkan. Meskipun begitu, kebanyakan komplikasi kehamilan bisa di obati secara efektif. Kehamilan ectopic : kehamilan salah tempat Secara normal, sel telur dibuahi di tuba falopi dan tertanam di rahim. Meskipun begitu, jika pipa menyempit atau tersumbat, sel telur bisa bergerak lambat atau tersangkut. Sel telur yang dibuahi bisa tidak pernah sampai ke rahim, mengakibatkan kehamilan ectopic. Kehamilan ectopic biasanya terjadi di salah satu tuba falopi (sebagai kehamilan tubal) tetapi bisa terjadi di tempat lain. Janin dalam kehamilan ectopic tidak bisa bertahan hidup. Satu dari 100 sampai 200 kehamilan adalah kehamilan ectopic. Faktor resiko untuk kehamilan ectopic termasuk mengalami gangguan pada tuba falopi, penyakit pelvic imflammatory, kehamilan ectopic sebelumnya, janin terpapar diethylstilbestrol, atau tubal ligation (prosedur pembuahan) yang tidak berhasil atau telah dioperasi secara terbalik. Gejala-gejalanya termasuk pendarahan vagina yang tidak diharapkan dan kejang. Janin bisa cukup bertumbuh untuk meruntuhkan struktur yang mengandung hal itu/ jika tuba falopi runtuh (biasanya setelah sekitar 6 sampai 8 minggu), seorang wanita biasanya merasakan rasa sakit hebat di bagian bawah perut dan bisa pingsan. Jika tuba kemudian runtuh (setelah sekitar 12 sampai 16 minggu), resiko kematian pada wanita meningkat, karena janin dan plasenta membesar dan kehilangan lebih banyak darah. Jika seorang wanita tidak yakin bahwa dia hamil, tes kehamilan dilakukan. Jika dia hamil, ultrasonografi dilakukan untuk memastikan letak janin. Jika rahim kosong, dokter bisa menduga kehamilan ectopic. Jika ultrasonografi menunjukkan janin terletak di luar rahim, diagnosa dipastikan. Dokter bisa menggunakan pembuluh elastis yang disebut laparoscope, dimasukkan melalui sayatan kecil persis di bawah pusar, untuk melihat kehamilan ectopic secara langsung.

Kehamilan ectopic harus diselesaikan secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawa si wanita. Pada kebanyakan wanita, janin dan plasenta pada kehamilan ectopic harus diangkat dengan operasi, biasanya dengan laparoscope tetapi kadangkala melalui operasi di perut (prosedur yang disebut laparotomy). Jarang, rahim rusak yang membutuhkan hysterectomy Kadangkala, obat methotrexate biasanya diberikan dalam satu kali suntikan, bisa digunakan sebagai pengganti operasi. Obat tersebut menyebabkan kehamilan ectopic menyusut dan hilang. Kadangkala, operasi dibutuhkan sebagai tambahan methotrexate.

Beberapa masalah yang terjadi dari kelainan hormon selama kehamilan hanya kejadian minor, gejala sementara pada wanita hamil. Misalnya, pengaruh hormon normal pada kehamilan bisa memperlambat pergerakan pada empedu melalui pembuluh empedu, cholestasis pada kehamilan bisa terjadi. Gejala paling jelas adalah rasa gatal di seluruh tubuh (biasanya pada beberapa bulan terakhir kehamilan). Tidak terdapat ruam. Jika rasa gatal hebat, cholestyramine bisa diberikan. Gangguan ini biasanya dipecahkan setelah melahirkan tetapi cenderung sembuh pada kehamilan berikutnya. 1. Hyperemesis gravidarum : hyperemesis gravidarum adalah rasa mual yang luar biasa keras dan muntah berlebihan selama kehamilan. Hyperemesis gravidarum berbeda dari morning sickness biasa. Jika wanita seringkali muntah dan menderita mual berkelanjutan mereka kehilangan berat badan dan menjadi dehidrasi, mereka menderita hyperemesis gravidarum. Jika wanita kadangkala muntah tetapi bertambah berat badan dan tidak dehidrasi, mereka tidak mengalami hyperemesis gravidarum. Penyebab hyperemesis gravidarum tidak diketahui. Karena hyperemesis gravidarum bisa mengancam nyawa wanita hamil dan janin, wanita yang menderita harus dirawat di rumah sakit. Cairan infus dimasukkan ke dalam pembuluh untuk memberikan cairan, gula (glukosa), elektrolit, dan kadangkala vitamin. Wanita yang mengalami komplikasi tidak diijinkan untuk makan atau minum apapun untuk paling tidak 24 jam. Obat penenang, antiemetik, dan obat-obatan lain diberikan sesuai kebutuhan. Setelah wanita rehidrasi dan

muntahnya reda, mereka bisa mulai makan yang sering, makanan yang dihaluskan dengan porsi sedikit. Ukuran porsi tersebut meningkat jika mereka bisa menerima banyak makanan. Biasanya, muntah berhenti dalam beberapa hari. Jika gejala kambuh, pengobatan diulangi. Jarang, jika terus kehilangan berat badan dan gejala berlangsung lama meskipun diobati, wanita diberikan makan melalui pipa lurus melalui hidung dan turun ke kerongkongan menuju usus kecil selama diperlukan. 2. Preeclampsia : sekitar 5 % wanita hamil mengalami preeclampsia (toxemia pada kehamilan). Pada komplikasi ini, peningkatan pada tekanan darah disertai dengan protein pada air kencing (proteinuria). Preeclampsia biasanya terjadi antara minggu ke 20 pada kehamilan dan akhir minggu pertama setelah melahirkan. Penyebab preeclampsia tidak diketahui. namun lebih sering pada wanita yang hamil untuk pertama kali, yang membawa dua atau lebih janin, yang memiliki preeclampsia pada kehamilan berikutnya, yang telah memiliki tekanan darah tinggi atau gangguan pembuluh darah, atau yang menderita penyakit sel sickle. Hal ini juga lebih sering terjadi pada anak gadis berusia 15 tahun atau lebih muda dan wanita berumur 35 tahun atau lebih tua. Berbagai macam preeclampsia akut, disebut sindrom HELLP, terjadi pada beberapa wanita. Terdiri dari hal-hal berikut di bawah ini : o Hemolysis (kerusakan sel darah merah) o Kenaikkan kadar enzim hati, mengindikasikan kerusakan hati o Jumlah platelet rendah, membuat darah tidak bisa menggumpal dan meningkatkan resiko pendarahan selama dan sesudah persalinan. 1 dari 200 wanita yang menderita preeclampsia, tekanan darah menjadi cukup tinggi untuk menyebabkan kejang; kondisi ini disebut eclampsia. Seperempat kasus pada preeclampsia terjadi setelah melahirkan, biasanya pada 2 sampai 4 hari pertama. Jika tidak diobati segera, eclampsia kemungkinan fatal. Preeclampsia bisa menyebabkan pelepasan prematur pada plasenta dari rahim (placental abruption). Bayi pada wanita yang menderita preeclampsia 4 atau 5 kali lebih mungkin cepat mengalami masalah setelah melahirkan dibandingkan dengan bayi pada wanita yang tidak mengalami komplikasi. Bayi kemungkinan kecil disebabkan kerusakan plasenta atau disebabkan lahir secara prematur. Jika preeclampsia ringan terjadi pada kehamilan dini, istirahat di rumah kemungkinan tercukupi, tetapi beberapa wanita harus menemui dokter sesering mungkin. Jika preeclampsia bertambah parah, wanita biasanya dirawat di rumah sakit. Di sana, mereka dirawat di tempat tidur dan diawasi ketat sampai janin cukup matang untuk dilahirkan dengan selamat. Antihipertensis kemungkinan diperlukan. Beberapa jam sebelum melahirkan, magnesium sulfate kemungkinan diberikan secara infus untuk mengurangi resiko kejang. Jika preeclampsia terjadi dekat tanggal kelahiran, persalinan biasanya diinduksi dan bayi dilahirkan.

Jika preeclampsia parah, bayi tersebut kemungkinan dilahirkan dengan operasi sessar, yang merupakan jalan pintas, kecuali servik cukup terbuka (dilated) untuk segera melahirkan normal. Cepat melahirkan mengurangi resiko komplikasi pada wanita dan janin. Jika tekanan darah tinggi, obat-obatan untuk merendahkan tekanan darah, seperti hydralazine atau labelatol, kemungkinan diberikan secara infus sebelum melahirkan dilakukan. Pengobatan pada sindrom HELLP biasanya sama pada preeclampsia berat. Setelah melahirkan, wanita yang sudah menderita preeclampsia atau eclampsia dipantau dengan ketat untuk 2 sampai 4 hari karena mereka meningkatkan resiko serangan. Sebagaimana kondisi mereka terus menerus diperbaiki, mereka dianjurkan untuk berjalan. Mereka bisa menetap di rumah sakit untuk beberapa hari, tergantung pada keakutan preeclampsia tersebut dan komplikasinya. Setelah kembali ke rumah, wanita ini bisa memerlukan obat-obatan untuk merendahkan tekanan darah, secara khusus, mereka harus checkup setidaknya setiap 2 minggu untuk beberapa bulan pertama setelah melahirkan. Tekanan darah mereka bisa tetap tinggi untuk 6 sampai 8 minggu. Jika tetap tinggi, penyebabnya kemungkinan tidak berhubungan dengan preeclampsia. 3. Diabetes selama kehamilan : sekitar 1 sampai 3% wanita hamil mengalami diabetes selama kehamilan. Gangguan ini dikenal dengan diabetes gestational. Tidak terdeteksi dan tidak terobati, diabetes gestational bisa meningkatkan resiko pada masalah kesehatan wanita hamil dan janin dan resiko kematian pada janin. Diabetes gestational paling sering terjadi pada wanita obesitas dan kelompok etnis tertentu, terutama orang asli amerika, pulau pasifik, dan wanita meksiko, Indian, dan keturunan asia. Kebanyakan wanita dengan diabetes gestational mengalami hal itu dikarenakan mereka tidak menghasilkan cukup insulin sebagaimana kebutuhan insulin meningkat dalam kehamilan tua. Lebih banyak insulin dibutuhkan untuk mengendalikan peningkatan kadar gula (glukosa) di dalam darah. Beberapa wanita bisa memiliki diabetes sebelum hamil, tetapi tidak diketahui sampai mereka hamil. Beberapa dokter secara rutin memeriksa setiap wanita hamil untuk diabetes gestational. Dokter lain memeriksa hanya wanita yang memiliki faktor resiko untuk diabetes, seperti obesitas dan latar belakang etnis tertentu. Tes darah digunakan untuk mengukur kadar gula garah dengan alat pantau gula darah rumahan. Pengobatan terdiri dari menghilangkan makanan bergula tinggi dari makanan, makan untuk menghindari kelebihan berat badan selama kehamilan, dan, jika kadar gula darah tinggi, diberikan insulin. Setelah melahirkan, diabetes gestational biasanya hilang. Meskipun begitu, banyak wanita menderita diabetes gestational mengalami diabetes jenis 2 sewaktu mereka menjadi tua.

4. Ketidakcocokan Rh : ketidakcocokan Rh terjadi ketika seorang wanita hamil memiliki darah Rh-negatif dan janin memiliki darah Rh-positif, menurun dari ayah yang memiliki darah Rh-positif. Sekitar 13% pernikahan di amerika serikat, laki-laki yang memiliki darah Rh-positif dan wanita memiliki darah Rh-negatif. Faktor Rh adalah molekul yang terjadi pada permukaan sel darah merah pada beberapa orang. Darah ber Rh-positif jika sel darah merah memiliki faktor Rh dan Rh-negatif jika tidak memiliki. Masalah dapat terjadi jika janin memiliki darah Rh-positif memasuki aliran darah wanita tersebut. Sistem kekebalan tubuh wanita tersebut bisa mengenali sel darah janin sebagai benda asing dan menghasilkan antibodi, disebut antibody Rh, untuk menghancurkan sel darah merah janin. produksi pada antibodi ini disebut sensitization Rh. Selama kehamilan pertama, sensitization Rh adalah tidak mungkin, karena tidak ada jumlah signifikan pada darah janin mungkin untuk memasuki aliran darah wanita tersebut sampai melahirkan. Sehingga janin atau bayi yang baru lahir jarang mengalami masalah. Meskipun begitu, sekali wanita menjadi sensitif, masalah lebih mungkin terjadi dengan setiap kehamilan berikutnya dimana darah janin adalah Rh positif. Pada setiap kehamilan, wanita tersebut menghasilkan antibodi Rh lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak. Jika antibodi Rh melintasi plasenta menuju janin, mereka bisa menghancurkan beberapa sel darah merah janin. Jika sel darah merah cepat dihancurkan dibandingkan janin menghasilkan yang baru. Janin bisa mengalami anemia. beberapa kerusakan disebut penyakit hemolytic pada janin (erythroblastosis fetalis) atau bayi yang baru lahir (erythroblastosis neonatorum ). Pada kasus berat, janin bisa mati. Pada kunjungan pertama ke dokter selama kehamilan, wanita diskrining untuk menentukan apakah mereka memiliki darah dengan Rh-positif atau Rh-negatif. Jika mereka memiliki darah Rh-negatif, darah mereka diperiksa untuk antibodi Rh dan jenis darah ayah dipastikan. Jika sang ayah memiliki darah Rh-positif, sensitivitas Rh sebagai suatu resiko. Pada beberapa kasus, darah pada wanita hamil diperiksa untuk antibodi Rh secara bertahap selama kehamilan. Kehamilan bisa diproses sebagimana biasa selama tidak ada antibodi terdeteksi. Jika antibodi terdeteksi, langkah-langkah kemungkinan diambil untuk melindungi janin, bergantung pada seberapa tinggi kadar antibodi. Jika kadar menjadi terlalu tinggi, amniocentesis kemungkinan dilakukan. Pada prosedur ini, jarum dimasukkan melalui kulit untuk menarik cairan dari kantung ketuban. Kadar bilirubin (pigmen kuning dihasilkan dari penguraian sel darah merah yang normal) diukur pada contoh cairan. Jika kadar ini terlalu tinggi, janin diberikan transfusi darah. biasanya transfusi diberikan sampai janin cukup matang untuk dilahirkan dengan selamat. Kemudian persalinan diinduksi. Bayi tersebut bisa memerlukan tambahan transfusi setelah lahir. Kadangkala tidak ada transfusi yang diperlukan sampai setelah lahir.

Sebagai tindakan pencegahan, wanita yang memiliki darah Rh-negatif diberikan suntikan antibodi Rh pada 28 minggu kehamilan dan dalam 72 jam setelah melahirkan bayi yang memiliki darah Rh-positif, bahkan setelah keguguran atau aborsi. Antibodi yang diberikan disebut Rh0, D) immune globulin. Pengobatan ini menghancurkan setiap sel darah merah dari bayi yang telah memasuki aliran darah wanita tersebut. dengan demikian, tidak terdapat sel darah merah dari bayi untuk memicu produksi antibodiy oleh wanita ini, dan kehamilan berikutnya biasanya tidak membahayakan. 5. Lemak hati pada kehamilan : gangguan langka ini terjadi ke arah kehamilan tua. Penyebab tersebut tidak diketahui. gejala-gejala termasuk mual, muntah, perut tidak nyaman, dan penyakit kuning. Gangguan tersebut bisa segera memburuk, dan gagal hati bisa terbentuk. Diagnosa didasarkan pada tes fungsi hati dan kemungkinan dipastikan dengan biopsi hati. Dokter bisa menyarankan untuk segera menghentikan kehamilan. Resiko kematian untuk wanita dan janin adalah tinggi, tetapi mereka yang bertahan sepenuhnya sembuh. Biasanya, gangguan tersebut tidak berulang pada kehamilan berikutnya. 6. Peripartum cardiomyopathy : dinding jantung kemungkinan rusak pada kehamilan tua atau setelah melahirkan, menyebabkan peripartum cardiomyopathy. Penyebab tersebut tidak diketahui. peripartum cardiomyopathy cenderung terjadi pada wanita yang telah beberapa kali hamil, yang lebih tua, yang kandungannya kembar, atau yang mengalami preeklamsia. Pada beberapa wanita, fungsi jantung tidak kembali normal setelah kehamilan. Mereka bisa mengalami peripartum cardiomyopathy pada kehamilan berikut. Wanita ini harusnya tidak hamil kembali. Peripartum cardiomyopathy bisa terjadi pada gagal jantung yang diobati. Masalah-masalah dengan cairan ketuban : terlalu banyak cairan ketuban (polyhydramnios) pada selaput yang mengandung janin (kantung ketuban) meregangkan rahim dan memberi tekanan pada diafragma wanita hamil. Komplikasi ini bisa menyebabkan masalah-masalah pernafasan berat untuk wanita atau persalinan sebelum waktunya. Terlalu banyak cairan cenderung menumpuk ketika wanita hamil mengalami diabetes, mengandung lebih dari satu janin (kehamilan ganda), atau menghasilkan antibodi Rh menuju darah janin. Penyebab lain adalah kerusakan lahir pada janin, khususnya penyumbatan kerongkongan atau kerusakan pada otak dan tulang belakang (seperti spina bifida). Sekitar separuh waktu, penyebab tersebut tidak diketahui. Cairan ketuban yang terlalu sedikit (oligohydramnios) bisa juga menyebabkan masalah-masalah. Jika jumlah cairan sangat berkurang, paru-paru janin kemungkinan tidak matang dan janin kemungkinan tertekan, mengakibatkan kelainan bentuk; kombinasi pada kondisi ini disebut sindrom Potter.

Cairan ketuban yang terlalu sedikit cenderung terbentuk ketika janin mengalami kerusakan pada saluran kemih, tidak berkembang seperti yang diharapkan, atau meninggal. Penyebab lain termasuk penggunaan penghambat enzim angiotensinconverting (ACE), seperti enalapril atau captopril, pada trisemester ke-2 dan ke-3. Obat-obatan ini diberikan selama kehamilan hanya ketika mereka harus digunakan untuk mengobati gagal jantung berat atau tekanan darah tinggi. Menggunakan obat-obatan nonsteroidal antiimflammatory (NSAIDs) di akhir kehamilan bisa juga mengurangi jumlah cairan ketuban. 7. Plasenta previa : plasenta previa adalah penanaman pada plasenta sepanjang atau di dekat servik, lebih rendah pada bagian atas rahim. Plasenta bisa seluruhnya atau sebagian menutupi pembukaan servik. Plasenta previa terjadi dalam 1 dari 200 kelahiran, biasanya pada wanita yang mengalami lebih dari sekali kehamilan atau yang mengalami kelainan struktur pada rahim, seperti fibroid. Plasenta previa dapat menyebabkan pendarahan tanpa nyeri dari vagina yang secara tiba-tiba terjadi pada kehamilan tua. Darah kemungkinan merah menyala. Pendarahan bisa menjadi besar, membahayakan nyawa pada wanita dan janin. Ultasonografi membantu dokter mengindentifikasi plasenta previa dan membedakannya dari suatu pelepasan plasenta secara prematur (placenta abruption) Ketika mengalami pendarahan parah, wanita dirumah sakitkan sampai melahirkan, khususnya jika plasenta terletek di sepanjang servik. Wanita yang mengalami pendarahan parah memerlukan transfusi darah berulang. Ketika pendarahan ringan dan melahirkan tidak segera terjadi, dokter biasanya menganjurkan istirahat total di rumah sakit. Jika pendarahan berhenti, wanita biasanya dianjurkan untuk berjalan. Jika pendarahan tidak terjadi, mereka biasanya dipulangkan ke rumah, disiapkan dimana mereka bisa kembali dengan mudah ke rumah sakit. Operasi sessar hampir selalu dilakukan sebelum persalinan dimulai. Jika wanita dengan plasenta previa akan bersalin, plasenta cenderung menjadi lepas sangat cepat, menghentikan suplai oksigen bayi. Kebocoran oksigen bisa mengakibatkan kerusakan otak atau masalah-masalah lain pada bayi. 8. Placental abruption (abruptio placentae) : placental abruption adalah pelepasan prematur dari plasenta dengan posisi normal dari dinding rahim. Plasenta bisa lepas tidak lengkap (kadangkala hanya 10 sampai 20%) atau secara utuh. Penyebabnya tidak diketahui. pelepasan plasenta terjadi dalam 0.4 sampai 3.5% pada seluruh kelahiran. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada wanita yang mengalami tekanan darah tinggi (termasuk preeklampsia) dan pada wanita yang menggunakan kokain. Rahim berdarah dari tempat dimana plasenta menempel. Darah bisa melewati servik dan keluar dari vagina sebagai pendarahan luar, atau kemungkinan terjebak di belakang plasenta sebagai pendarahan concealed. Gejala-gejala tergantung pada tingkat pelepasan dan jumlah darah yang hilang (yang kemungkinan

banyak). Gejalanya bisa termasuk nyeri perut tiba-tiba berlanjut atau kram, lunak ketika perut ditekan, dan membal. Pelepasan prematur pada plasenta bisa menyebabkan penyebarluasan penggumpalan di samping pembuluh darah (disseminated intravascular coagulation), gagal ginjal, dan pendarahan ke dalam dinding rahim, khususnya pada wanita hamil yang juga mengalami preeklampsia. Ketika plasenta lepas, suplai oksigen dan nutrisi untuk janin kemungkinan berkurang. Para dokter menduga pelepasan plasenta prematur pada gejala-gejala dasar. Ultrasonografi bisa memastikan diagnosa. Masalah-masalah dengan plasenta

Secara normal, plasenta terletak di bagian bawah rahim, dengan kuat menempel pada dinding uterin sampai setelah melahirkan bayi. Pada placental abruption (abruptio placentae), plasenta lepas dari dinding uterin secara prematur, menyebabkan rahim berdarah dan mengurangi suplai oksigen dan nutrisi janin. Wanita yang mengalami komplikasi ini dirumahsakitkan, dan bayi kemungkinan segera dilahirkan. Pada placenta previa, plasenta terletak di sepanjang atau di dekat servik, di bagian bawah rahim. Itu bisa menyebabkan pendarahan tanpa rasa sakit yang secara tiba-tiba dimulai pada kehamilan tua. Pendarahan bisa menjadi parah, bayi biasanya dilahirkan dengan operasi sessar.

Wanita dengan pelepasan plasenta prematur dirawat di rumah sakit. Pengobatan yang umum adalah istirahat total. Jika gejala-gejala berkurang, wanita dianjurkan untuk berjalan dan kemungkinan dikeluarkan dari rumah sakit. Jika pendarahan berlanjut atau memburuk (diduga janin tersebut tidak mendapat cukup oksigen) atau jika kehamilan mendekati masanya, melahirkan dini seringkali terbaik untuk wanita dan bayi tersebut. Jika tidak mungkin melahirkan dengan normal, operasi sessar dilakukan.

KONTRAKSI DAN PERSALINAN
DEFINISI HIS His (Kontraksi) adalah serangkaian kontraksi rahim yang teratur, yang secara bertahap akan mendorong janin melalui serviks (rahim bagian bawah) dan vagina (jalan lahir), sehingga janin keluar dari rahim ibu. Kontraksi menyebabkan serviks membuka secara bertahap (mengalami dilatasi), menipis dan tertarik sampai hampir menyatu dengan rahim. Perubahan ini memungkinkan janin bisa melewati jalan lahir.

His biasanya mulai dirasakan dalam waktu 2 minggu (sebelum atau sesudah) tanggal perkiraan persalinan. Penyebab yang pasti dari mulai timbulnya his tidak diketahui. Mungkin karena pengaruh dari oksitosin (hormon yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisa dan menyebabkan kontraksi rahim selama persalinan). Persalinan biasanya berlangsung selama tidak lebih dari 12-14 jam (pada kehamilan pertama) dan pada kehamilan berikutnya cenderung lebih singkat (6-8 jam). Show (sejumlah kecil darah yang bercampur dengan lendir dari serviks) biasanya merupakan petunjuk bahwa persalinan segera dimulai; tetapi show bisa keluar 72 jam sebelum kontraksi dimulai. Kadang selaput ketuban pecah sebelum persalinan dimulai dan cairan ketuban mengalir melalui serviks dan vagina. Jika selaput ketuban pecah, segera hubungi dokter atau bidan. Sekitar 80-90% wanita yang selaput ketubannya pecah berlanjut menjadi persalinan spontan dalam waktu 24 jam. Jika setelah lewat 24 jam persalinan belum juga dimulai

dan keadaan bayinya baik, biasanya dilakukan induksi persalinan untuk mengurangi resiko infeksi akibat masuknya bakteri dari vagina ke dalam rahim. Infeksi bisa menyerang ibu maupun bayinya. Untuk menginduksi persalinan biasanya digunakan oksitosin atau obat yang serupa. Tanda-tanda yang menunjukkan bahwa saat persalinan semakin mendekat Tanda Artinya Kapan terjadi Mulai dari beberapa minggu sampai beberapajam sebelum persalinan dimulai Beberapahri sebelum persalinan dimulai atau pada awal persalinan Mulai dari beberapa jam sebelum persalinan dimulai sampai setiap saat selama persalinan

Perasaan seolah-olah Lightening, yaitu turunnya bayi. bayi telah turun ke Kepala bayi telah masuk ke dalam bawah panggul ibu Keluar cairan dari vagina (jernih, berwarna pink atau sedikit mengandung darah) Keluar cairan encer yang memancar atau mengucur dari vagina Show, yaitu lendir kental yang tertimbun di serviks selama kehamilan. Ketika serviks mulai berdilatasi, lendir ini terdorong ke dalam vagina Selaput ketuban pecah, yaitu pecahnya kantung berisi cairan yg mengelilingi bayi selama dalam kandungan

Kontraksi, yaitu mengkerut & Pola kram yg teratur, mengendurnya rahim. Semakin yg mungkin dekat saat persalinan, kontraksi ini dirasakan sebagai semakin kuat & bisa menyebabkan Pada awal persalinan nyeri punggung atau nyeri karena serviks membuka & kram menstruasi bayi bergerak di sepanjang jalan lahir

Perbedaan antara his sejati dan his palsu Sebelum terjadinya his sejati, seorang calon ibu bisa merasakan his palsu atau kontrksi rahim yang tidak teratur. His ini disebut kontraksi Braxton Hicks. Ini merupakan hal yang normal dan mungkin lebih sering muncul pada sore hari. Mungkin sulit untuk membedakan his sejati dari his palsu. Biasanya his palsu tidak sesering dan tidak sekuat his asli. Kadang satu-satunya cara untuk mengetahui perbedaan antara his sejati dan his palsu adalah melakukan pemeriksaan dalam. Pada pemeriksaan dalam bisa diketahui adanya perubahan pada serviks yang menandakan dimulainya proses persalinan. Perbedaan antara his palsu dan his sejati

Jenis perubahan Karakteristik kontraksi

His palsu Tidak teratur & tidak semakin sering (disebut kontraksi Braxton Hicks) Jika ibu berjalan atau beristirahat atau jika posisi tubuh ibu berubah, kontraksi akan menghilang/berhenti Biasanya lemah & tidak semakin kuat (mungkin menjadi kuat lalu melemah)

His sejati Timbul secara teratur dan semakin sering, berlangsung selama 3070 detik Meskipun posisi/gerakan ibu berubah, kontraksi tetap dirasakan Kontraksinya semakin kuat

Pengaruh gerakan tubuh

Kekuatan kontraksi Nyeri karena kontraksi

Biasanya berawal di Biasanya hanya dirasakan di tubuh punggung dan menjalar bagian depan ke depan

Pemeriksaan yang secara rutin dilakukan terhadap wanita hamil yang sedang memasuki proses persalinan adalah: - Berat badan - Tekanan darah - Denyut nadi dan laju pernafasan - Analisa air kemih dan darah - Pemeriksaan perut untuk memperkirakan besar, posisi dan letak janin - Denyut jantung bayi - Pemeriksaan dalam untuk mengetahui besarnya pembukaan atau keutuhan selaput ketuban. Cairan ketuban yang berwarna kehijauan, penyebabnya adalah tinja janin yang pertama (mekonium) dan merupakan pertanda bahwa janin dalam keadaan gawat. Pengeluaran mekonium oleh janin biasanya terjadi hanya jika janin berada dalam keadaan gawat atau janin berada dalam letak bokong. Letak dan posisi janin akan mempengaruhi proses persalinan. Letak kepala merupakan letak yang terbaik untuk persalinan yang aman. Selama 1-2 minggu terakhir, sebagian besar janin akan berputar sehingga kepalanya terletak di bawah. Letak bokong dan letak bahu merupakan penyulit dalam persalinan. Persalinan akan berlangsung lebih mudah jika bayi berada dalam letak kepala dengan wajah yang menghadap ke punggung ibu. Selama proses persalinan, untuk mencegah dehidrasi biasanya cairan diberikan melalui infus. Selain itu, infus juga bisa digunakan untuk memberikan obat.

Pemberian cairan melalui infus memungkinkan ibu untuk tidak makan dan minum selama persalinan sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya muntah dan terhirupnya muntahan. Menghirup muntahan bisa menyebabkan sindroma Mendelson (peradangan paru-paru). Untuk menetralisir asam lambung, antasid biasanya diberikan pada saat masuk rumah sakit dan selanjutnya setiap 3 jam. Antasid bisa mengurangi resiko kerusakan paru-paru akibat terhirupnya muntahan. Tahapan persalinan: A. Tahap I : mulai dari awal his sampai pembukaan lengkap (sekitar 10 cm)  Fase awal (fase laten) - Kontraksi semakin kuat dan teratur - Rasa nyeri masih bersifat minimal - Serviks menipis dan membuka sampai sekitar 4 cm - Fase ini berlangsung selama 8,5 jam (pada kehamilan pertama) dan 5 jam (pada kehamilan selanjutnya)  Fase aktif - Serviks membukan sampai 10 cm - Bagian terendah bayi (biasanya kepala) mulai turun ke dalam panggul ibu - Ibu mulai merasakan desakan untuk mengedan - Fase ini berlangsung sekitar 5 jam (pada kehamilan pertama) dan 2 jam (pada kehamilan berikutnya) B. Tahap II : mulai dari pembukaan lengkap sampai bayi keluar dari rahim ibu. Berlangsung selama 60 menit (pada kehamilan pertama) dan 15-30 menit (pada kehamilan berikutnya). C. Tahap III : mulai dari kelahiran bayi sampai pengeluaran plasenta (ari-ari). Biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit. Selama tahap I, ibu dilarang mengedan karena mengedan sebelum pembukaan lengkap akan menghabiskan tenaga dan bisa menyebabkan robekan pada serviks. Denyut jantung ibu dan bayi diperiksa setiap 15 menit. Jika denyut jantung bayi terlalu cepat atau terlalu lambat, maka dipertimbangkan untuk melahirkan bayi melalui operasi sesar atau dengan bantuan forseps atau tindakan korektif lainnya (misalnya ibu disuruh berbaring miring ke kiri, menambah jumlah cairan infus atau memberikan oksigen melalui selang hidung). Selama tahap II, ibu diharuskan mengedan setiap merasakan kontraksi agar bayi terdorong ke vagina. Pemantauan denyut jantung bayi dilakukan setiap 3 menit. Persalinan spontan

Teknik persalinan spontan yang paling terkenal adalah metoda Lamaze. Teknik lainnya adalah metoda Leboyer, yang terdiri dari melahirkan di ruang gelap dan merendam bayi dalam air hangat segera setelah dilahirkan. Pada persalinan spontan, untuk mengontrol nyeri selama persalinan digunakan teknik relaksasi dan pernafasan. Untuk mempelajari teknik ini, calon ibu dan suaminya bisa mengikuti latihan di rumah sakit maupun klinik bersalin. Pada teknik relaksasi, ibu secara sadar menegangkan sebagian tubuhnya kemudian mengendurkannya. Teknik ini membantu ibu mengendurkan seluruh tubuhnya ketika rahim berkontraksi dan ketika rahim tidak berkontraksi. Beberapa jenis pernafasan bisa membantu ibu dalam menghadapi persalinan tahap I (sebelum diperbolehkan mengedan):  Menarik nafas dalam (untuk membantu ibu relaks), dilakukan pada awal dan akhir kontraksi  Menarik nafas dangkal dan cepat di dada bagian atas, dilakukan pada saat kontraksi mencapai puncaknya  Menarik nafas pendek dan cepat diikuti dengan menghembuskan nafas melalui mulut, dilakukan untuk menahan keinginan untuk mengedan (sebelum terjadi pembukaan lengkap). Pada stadium II, ibu mulai boleh mengedan dan diselingi dengan menarik nafas cepat dan pendek. Selama hamil, calon ibu dan pasangannya sebaiknya melakukan latihan teknik relaksasi dan pernafasan secara rutin. Selama persalinan berlangsung, sang suami bisa membantu calon ibu dengan mengingatkan apa yang seharusnya dilakukan pada setiap tahapan persalinan dan menenangkannya jika terlihat tegang. Pemijatan bisa membantu mengurangi ketegangan pada calon ibu. Menghilangkan nyeri selama persalinan Obat untuk menghilangkan nyeri terbagi ke dalam 2 kelompok, yaitu anlgetik dan anestesi. Analgetik adalah obat pereda nyeri tanpa disertai hilangnya perasaan secara total. Seseorang yang mengkonsumsi analgetik tetap berada dalam keadaan sadar. Analgetik tidak selalu menghilangkan seluruh rasa nyeri, tetapi selalu meringankan rasa nyeri. Anestesi adalah hilangnya rasa. Beberapa jenis anestesi menyebabkan hilangnya kesadaran, sedangkan jenis yang lainnya hanya menghilangkan nyeri dari bagian tubuh tertentu dan pemakainya tetap sadar.

Tidak semua wanita yang akan menjalani memerlukan obat pereda nyeri dan tidak semua rumah sakit menawarkan semua jenis obat pereda nyeri. 1. Analgetik sistemik Analgetik sistemik seringkali diberikan dalam bentuk obat suntik yang disuntikkan melalui otot (intramuskuler maupun pembuluh darah (intravena). Obat ini meredakan nyeri tanpa menyebabkan hilangnya kesadaran. Analgetik sistemik bekerja pada seluruh sistem saraf. Kadang obat lainnya diberikan bersamaan dengan analgetik sistemik untuk mengurangi ketegangan atau rasa mual. Efek sampingnya ringan, yaitu berupa perasaan berputar atau sulit berkonsentrasi. Obat ini tidak diberikan sesaat sebelum persalinan karena bisa menyebabkan refleks dan pernafasan bayi ketika lahir menjadi lambat. 2. Anestesi lokal Anestesi lokal biasanya hanya memberikan pengaruh kepada bagian tubuh tertentu. Untuk menghindari robekan pada perineum (daerah antara vagina dan rektum) ibu, sebelum bayi lahir dilakukan episiotomi, yaitu pemotongan jaringan vagina. Anestesi lokal bisa diberikan setelah episiotomi dilakukan atau ketika dilakukan penjahitan luka episiotomi. Anestesi lokal jarang berpengaruh terhadap bayi. 3. Blok pudenda Blok pudenda disuntikkan sesaat sebelum persalinan untuk menghilangkan nyeri di daerah perineum. Blok pudenda mengurangi nyeri yang mungkin akan dirasakan ibu di sekitar vagina dan rektum ketika bayi bergerak di sepanjang jalan lahir. Blok pudenda merupakan jenis anestesi yang paling aman dan jarang terjadi efek samping yang serius. 4. Blok epidural Blok epidural (suatu anestesi regional) akan mempengaruhi bagian tubuh yang lebih luas. Cara ini menyebabkan hilangnya rasa pada tubuh bagian bawah. Luasnya pembiusan tergantung kepada jenis dan dosis obat yang digunakan. Blok epidural disuntikkan ke dalam punggung bagian bawah. Obat disuntikkan melalui rongga epidural yang berada diluar korda spinalis. Tempat ini dilalui oleh saraf yang membawa rasa nyeri dari tubuh bagian bawah. Blok epidural membantu mengurangi nyeri akibat kontraksi dan nyeri pada vagina ketika bayi lahir. Blok epidural dalam dosis yang lebih tinggi digunakan untuk menghilangkan nyeri pada operasi sesar. Efek samping dari blok epidural adalah penurunan tekanan darah ibu yang bersifat sementara, yang bisa menyebabkan denyut jantung bayi menjadi lambat. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, biasanya kepada ibu diberikan cairan

melalui infus atau ibu diminta untuk berbaring miring guna memperbaiki peredaran darahnya. Efek samping yang serius dari blok epidural adalah: - Sakit kepala hebat yang jika tidak diobati bisa berlangsung selama beberapa hari atau minggu. Ini terjadi jika selaput yang membungkus korda spinalis mengalami robekan. - Kesulitan bernafas terjadi jika obat masuk ke dalam cairan spinal. - Pusing atau kadang kejang, jika obat masuk ke dalam vena. 5. Blok spinalis Blok spinalis menyerupai blok epidural, yaitu suntikan obat bius pada punggung bagian bawah. Blok spinalis biasanya hanya diberikan sekali selama persalinan berlangsung. Blok spinalis bisa digunakan untuk operasi sesar dan persalinan dengan bantuan forseps atau ekstraksi vakum. Kadang blok spinalis menyebabkan terjadinya efek samping yang serupa dengan blok epidural. 6. Pembiusan total Pembiusan total menyebabkan wanita yang akan melahirkan tidak sadarkan diri dan tidak merasakan nyeri. Pembiusan total tidak digunakan untuk mengurangi nyeri akibat kontraksi karena bisa menyebabkan bayi tertidur dan memperlambat refleks dan pernafasan bayi. Pembiusan total digunakan untuk operasi sesar. Efek samping yang serius (tetapi jarang terjadi) pada pembiusan total terjadi jika makanan atau asam dari lambung masuk ke trakea (saluran udara) dan paru-paru dan menyebabkan cedera. Untuk menghindari hal ini, biasanya sebelum menjalani pembiusan total, ibu tidak boleh makan dan agar asam lambung tidak sampai masuk ke paru-paru, biasanya diberikan antasid. Persalinan adalah keluarnya janin dan plasenta dari rahim. PERSALINAN Persalinan adalah keluarnya/lahirnya janin dan plasenta dari rahim. Di ruang bersalin, ibu dibaringkan pada posisi setengah duduk agar gaya gravitasi bisa digunakan semaksimal mungkin. Tekanan janin membantu peregangan jalan lahir dan perineum secara bertahap sehingga resiko robekan semakin kecil. Posisi ini juga menyebabkan berkurangnya tegangan pada punggung dan panggul ibu. Sebagian ibu lebih menyukai posisi berbaring terlentang meskipuni posisi ini bisa menyebabkan persalinan berlangsung lebih lama dan memerlukan bantuan. Setiap rahim berkontraksi, ibu harus mengedan untuk membantu turunnya janin ke jalan lahir dan untuk memperlebar lubang vagina sehingga bagian kepala janin yang tampak

semakin besar. Forseps adalah sebuah alat yang bentuknya menyerupai tang dan terbuat dari logam, yang digunakan untuk menarik bayi keluar dari jalan lahir. Forseps digunakan jika ibu tidak kuat mengedan karena telah menerima suntikan epidural atau jika bayi berada dalam keadaan gawat. Jika lubang vagina tidak cukup teregang sehingga bayi tidak dapat melewatinya dan jika kemungkinan akan terjadi robekan, maka dilakukan episiotomi (pemotongan dinding vagina danperineum). Episiotomi dilakukan untuk mempermudah proses persalinan dan untuk mencegah robekan yang lebih tidak beraturan dan lebih sulit diperbaiki. Setelah kepala bayi lahir, tubuh bayi akan berputar miring sehingga bahu bisa dilahirkan dengan mudah. Selanjutnya, bagian tubuh bayi yang lainnya biasanya akan segera lahir. Lendir dan cairan dari hidung, mulut dan tenggorokan bayi dihisap melalui selang kecil. Tali ari-ari dijepit dan dipotong untuk mencegah perdarahan. Bayi lalu dibungkus dengan selimut dan diberikan kepada ibu. Setelah bayi lahir, perut ibu ditekan dengan lembut untuk merangsang kontraksi rahim. Pada kontraksi pertama atau kedua setelah persalinan, biasanya plasenta akan lepas dari rahim dan dikeluarkan. Setelah seluruh plasenta keluar, diberikan suntikan oksitosin dan perut ibu dipijat secara periodik untuk merangsang kontraksi rahim. Kontraksi ini penting untuk mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut. Luka robekan karena episiotomi lalu dijahit. Kemudian ibu dipindahkan ke ruang pemulihan. Jika tidak memerlukan perawatan khusus, bayi bisa dibiarkan bersama ibu (rooming in). Dengan metoda rooming in, ibu bisa menyusui bayinya sesuai dengan kebutuhan bayi dan ibu juga belajar merawat bayinya sendiri. Komplikasi (terutama perdarahan) sering terjadi dalam 4 jam pertama setelah persalinan. Karena itu pada saat ini dilakukan pemantauan ketat terhadap ibu-ibu yang baru melahirkan anaknya. Nilai Apgar Nilai Apgar adalah suatu cara praktis untuk menilai keadaan bayi baru lahir. Nilai Apgar merupakan alat penyaring untuk menentukan pertolongan yang perlu segera diberikan kepada bayi baru lahir. Nilai Apgar ditentukan dengan menilai denyut jantung, pernafasan, ketegangan otot, warna kulit dan respon terhadap rangsangan (refleks); masing-masing diberi nilai 0, 1 atau 2:

1. Denyut jantung : dinilai dengan menggunakan stetoskop dan merupakan penilaian yang paling penting. - Jika tidak terdengar denyut jantung : 0 - Jika jantung berdenyut kurang dari 100 kali/menit :1 - Jika jantung berdenyut lebih dari 100 kali/menit : 2 2. Usaha untuk bernafas - Jika tidak bernafas : 0 - Jika pernafasan lambat atau tidak teratur : 1 - Jika bayi menangis : 2 3. Ketegangan otot - Jika otot lembek : 0 - Jika lengan atau tungkainya terlipat : 1 - Jika bayi bergerak aktif : 2 4. Refleks : dinilai dengan cara mencubit secara lembut dan perlahan - Jika tidak timbul refleks : 0 - Jika wajahnya menyeringai : 1 - Jika bayi menyeringai dan terbatuk, bersin atau menangis keras : 2 5. Warna kulit - Jika kulit bayi berwarna biru pucat : 0 - Jika kulit bayi berawarna pink dan lengan/tungkainya berwarna biru : 1 - Jika seluruh kulit bayi berwarna pink: 2. Nilai Apgar 8-10 adalah normal, menunjukkan bahwa bayi berada dalam keadaan yang baik. Nilai 10 sangat jarang ditemui, hampir semua bayi baru lahir kehilangan 1 nilai karena kaki dan tangannya yang berwarna kebiruan. Nilai Apgar yang kurang dari 8 menunjukkan bahwa bayi memerlukan bantuan untuk menstabilkan dirinya di lingkungan yang baru. Nilai Apgar 0-3 menunjukkan bahwa perlu segera dilakukan resusitasi. Penilaian Apgar secara rutin dilakukan dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir dan kemudian biasanya diulang 5 menit kemudian. Nilai Apgar 1 menit menunjukkan toleransi bayi terhadap proses kelahirannya. Nilai Apgar 5 menit menujukkan adaptasi bayi terhadap lingkungan barunya. Pada keadaan tertentu, penilaian Apgar bisa kembali dilakukan pada menit ke 10, 15 dan 20. Jika pada menit ke 20 nilai Apgar masih tetap rendah, hal ini merupakan resiko tinggi terjadinya kematian atau penyakit. Nama Apgar berasal dari seorang ahli anestesi Amerika, yaitu Virginia Apgar yang menemukan metoda ini pada tahun 1952. Dokter Apgar telah membantu ribuan persalinan dan melihat bahwa bayi baru lahir langsung dikirim ke ruang perawatan tanpa menjalani pemeriksaan secara seksama. Dokter Apgar menginginkan bayi dinilai dengan suatu cara yang bermakna oleh petugas di ruang persalinan. Apa yang terjadi jika tanggal perkiraan persalinan telah lewat

Kehamilan biasanya berlangsung selama 38-42 minggu. Kehamilan postmatur terjadi jika kehamilan berlangsung lebih dari 42 minggu. Sekitar 5% kehamilan adalah kehamilan post-matur. Tanggal perkiraan persalinan dihitung berdasarkan hari pertama menstruasi terakhir dan besarnya rahim atau berdasarkan hasil pemeriksaan USG. Jika tanggal perkiraan persalinan telah melewati 1 minggu atau lebih, biasanya dilakukan pemeriksaan terhadap bayi. Denyut jantung bayi diperiksa dengan menggunakan alat pemantau janin elektronik sebanyak 1-2 kali/minggu. Selain itu, dilakukan pemeriksaan USG untuk melihat cairan ketuban dan gerakan bayi. Bila ibu merasakan bahwa pergerakan bayi berkurang, harus segera menghubungi dokter. Dokter juga melakukan pemeriksaan dalam untuk melihat perubahan pada serviks. Jika tanggal perkiraan persalinan telah lewat 2 minggu biasanya dilakukan induksi persalinan. Hal ini dilakukan untuk menghindari komplikasi, seperti gawat janin atau bayi yang terlalu besar. Gawat janin terjadi jika bayi kekurangan oksigen, lalu denyut jantungnya menurun dan tidak dapat mentoleransi stres pada persalinan. Jika serviks menutup dan tidak memungkinkan untuk dilakukan induksi persalinan, serta hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa keadaan bayi baik, beberapa dokter ada yang menunda persalinan sampai 1 minggu. Induksi persalinan bisa dilakukan dengan menggunakan obat yang disebut oxytocin, yang menyebabkan kontraksi rahim. Oxytocin diberikan melalui infus dan mulai bekerja dalam waktu 1-2 jam. Induksi persalinan juga bisa dilakukan dengan memecahkan selaput ketuban.

MELAHIRKAN
DEFINISI Melahirkan adalah keluarnya janin dan plasenta (setelah kelahiran) dari rahim ke dunia luar. Untuk melahirkan di rumah sakit, seorang wanita harus dipindahkan dari ruang tindakan untuk bersalin atau ruang melahirkan, ruangan yang hanya digunakan untuk melahirkan. Pada umumnya, si ayah dan keluarga yang mengantar diajak untuk mendampingi. Jika si ibu telah siap di ruang bersalin (untuk bersalin, melahirkan, pemulihan, dan pasca bersalin), si ibu diminta menginap.

Ketika seorang wanita kira-kira akan melahirkan, dia diletakkan pada posisi semi-tegak, antar berbaring dan duduk. Punggungnya bisa diganjal dengan bantal atau sebuah sandaran. Posisi semi-tegak lurus menggunakan gravitasi : tekanan yang menurun pada janin membantu vagina dan daerah sekitarnya secara berangsur-angsur, mengurangi resiko sobek. Posisi ini juga meberikan sedikit tekanan pada punggung dan panggul wanita tersebut. Beberapa wanita lebih senang melahirkan berbaring. Namun demikian, dengan posisi ini, melahirkan membutuhkan waktu yang lama. Sebagaimana proses melahirkan, dokter atau bidan memeriksa vagina untuk memastikan letak kepala bayi. Wanita tersebut diminta untuk berusaha keras dan menekan tiap kali kontraksi untuk membantu memindahkan kepala janin ke arah bawah melalui pelvisnya dan untuk melebarkan pembukaan vagina sehingga kepala bayi semakin terlihat. Ketika sekitar 1 ½ sampai 2 inci kepala tersebut terlihat, dokter atau bidan meletakkan tangan di kepala janin selama kontraksi untuk mengendalikan perkembangan janin. Sewaktu mahkota kepala (ketika lingkaran terbesar kepala melewati pembukaan vagina), kepala dan dagu mudah keluar dari vagina yang membuka untuk mencegah jaringan ibu sobek. Forceps adalah alat metal, serupa dengan penjepit, dengan tepi bulat yang dipaskan dengan besar kepala bayi. Forceps digunakan ketika kepala bayi dalam kesulitan, ketika wanita tersebut mengalami kesulitan mendorong, atau ketika persalinan tidak berjalan dengan baik. Episiotomy bukan lagi prosedur rutin yang dipertimbangkan. Hal ini digunakan hanya ketika diperlukan untuk melahirkan segera. Untuk prosedur ini, dokter menyuntikkan anestesi lokal untuk mematirasakan area dan membuat sayatan di area antara pembukaan vagina dan anus. Jika otot disekitar pembukaan anus (rectal cphincter) rusak karena episiotomy atau robek selama melahirkan, biasanya sembuh dengan baik jika dokter memperbaiki dengan segera. Setelah kepala bayi muncul, tubuh diputar menyamping sehingga bahu bisa keluar dengan mudah, satu demi satu. Sisa bayi biasanya keluar dengan cepat. Lendir dan cairan disedot keluar dari hidung bayi, mulut, dan tenggorokan. Tali pusat dijepit dan dipotong. Bayi tersebut dibungkus di dalam selimut yang ringan dan diletakkan di perut wanita atau di tempat tidur hangat. Setelah melahirkan bayi, dokter atau bidan meletakkan tangan dengan lembut pada perut wanita untuk memastikan kontraksi. Setelah melahirkan, plasenta biasanya dilepaskan dari rahim dalam 3 sampai 10 menit, dan pancaran darah segera menyertai. Biasanya, wanita tersebut bisa mendorong plasenta keluar dari dirinya, jika dia tidak bisa dan terutama sekali jika dia mengalami pendarahan berlebihan, dokter atau bidan memijat ke bawah perut wanita tersebut, menyebabkan plasenta luruh dari rahim dan keluar. Jika plasenta tersebut tidak dikeluarkan dalam waktu 30 menit dari kelahiran, dokter atau bidan bisa memasukkan tangan ke dalam rahim, memisahkan plsenta dari rahim dan mengangkatnya.

Setelah plasenta diangkat, diperiksa untuk kelengkapan. Bagian sebelah kiri pada rahim mencegah rahim dari kontraksi. Kontraksi penting untuk mencegah pendarahan lebih lama dari daerah dimana plasenta dekat dengan rahim menempel pada rahim. Sehingga jika bagian-bagiannya tertinggal, pendarahan bisa terjadi setelah melahirkan dan bisa berbahaya. Infeksi bisa juga terjadi. Jika plasenta tidak sempurna, dokter dan bidan bisa mengangkat bagian yang tertinggal dengan tangan. Kadangkala bagian-bagian itu harus diangkat dengan operasi. Di banyak rumah sakit, setelah plasenta dikeluarkan atau diangkat, si ibu diberikan oxytocin (secara intravenous atau secara muscular), dan perut secara bertahap di urut untuk membantu kontraksi rahim. Karena kebanyakan komplikasi, terutama sekali pendarahan, terjadi dalam 24 jam pertama setelah melahirkan, para perawat dan dokter dengan hati-hati memeriksa wanita dan bayinya selama waktu itu.

PERSALINAN
DEFINISI Persalinan adalah rangkaian dari ritme, kontraksi progresif pada rahim yang biasanya memindahkan janin melalui bagian bawah rahim (servik) dan saluran lahir (vagina) menuju dunia luar. Tahapan Pada Persalinan TAHAP PERTAMA Dari awal persalinan menuju pembukaan penuh (dilation) pada servik- sekitar 4 inci (10 cm). Fase inisial (latent)
• • •

Kontraksi menjadi semakin kuat dan semakin berirama. Sedikit rasa tidak nyaman . Servik menipis dan membuka sekitar 1 ½ inci (4 cm). Fase ini berlangsung rata-rata pada 12 jam pada kehamilan pertama dan 5 jam pada kehamilan

berikutnya. Fase aktif
• • •

Servik membuka dari sekitar 1 ½ inci (4 cm) menjadi penuh 4 inci (10 cm). Kehadiran bayi, biasanya kepala terlebih dahulu, mulai turun menuju panggul wanita. Wanita tersebut mulai merasa mendorong bayi untuk turun.

Tahap ini kira-kira sekitar 3 jam pada l kehamilan pertama dan 2 jam pada kehamilan berikutnya. TAHAP KEDUA

Dari pembukaan penuh pada servik sampai melahirkan bayi. Tahap ini kira-kira sekitar 45 sampai 60 menit pada kehamilan pertama dan 15 sampai 30 menit pada kehamilan berikutnya.

TAHAP KETIGA Dari melahirkn bayi sampai mengeluarkan plasenta. Tahap ini biasanya berlangsung hanya beberapa menit tetapi bisa sampai 30 menit.

Persalinan terjadi dalam 3 tahap utama. Tahap pertama (dimana memiliki 2 fase : inisial dan aktif) adalah persalinan umumnya. Dalam hal ini, kontraksi menyebabkan servik membuka secara terus-menerus (membesar) dan menipis dan terbuka (efface) sampai menyatu dengan rahim. Perubahan ini memudahkan janin untuk melalui vagina. Tahap

kedua dan ketiga membuat kelahiran pada bayi dan plasenta. Persalinan biasanya terjadi dalam 2 minggu (sebelum atau sesudah) tanggal yang diperkirakan melahirkan. Secara persis apa penyebab persalinan mulai belum diketahui. Menuju akhir kehamilan (sesudah 36 minggu), seorang dokter mungkin melakukan pemeriksaan panggul untuk mencoba meramalkan kapan waktu persalinan akan mulai. Rata-rata, persalinan berlangsung 15 sampai 16 jam pada kehamilan pertama seorang wanita dan cenderung menjadi lebih pendek, rata-rata 6 sampai 8 jam, pada kehamilan berikutnya. Seorang wanita yang sudah mempunyai persalinan kilat pada kehamilan sebelumnya sebaiknya memberitahu dokternya begitu dia berpikir dia merasa mau malahirkan. Setiap wanita hamil harus mengetahui apa tanda utama awal persalinan yaitu : kontraksi pada bagian bawah perut dengan jarak waktu teratur dan rasa sakit pada punggung. Meskipun begitu, petunjuk lain bisa mendahului atau menyertai tanda-tanda ini. Keluarnya sedikit darah yang bercampur dengan lendir yang berasal dari vagina (bercak darah) biasanya petunjuk bahwa persalinan akan dimulai. keluarnya pendarahan bisa tampak dini pada waktu 72 jam sebelum kontraksi dimulai. Kadangkala, selaput yang berisi cairan yang mengandung janin (kantung amniotic) pecah sebelum persalinan dimulai, dan cairan amniotic keluar melalui vagina. Peristiwa ini umumnya dijelaskan sebagai “the water break”. Ketika selaput seorang wanita pecah, dia harus menghubungi dokter atau bidan sesegera mungkin. Sekitar 80 sampai 90 % wanita yang selaputnya pecah sebelum mendekati tanggal yang ditentukan persalinan spontan terjadi dalam waktu 24 jam. Jika persalinan tidak dimulai setelah 24 jam, wanita biasanya dibawa ke rumah sakit, ketika persalinan dibuta mulai (di induksi) untuk mengurangi resiko terhadap infeksi. Setelah selaput pecah, bakteri dari vagina bisa masuk ke rahim lebih mudah dan menyebabkan infeksi pada wanita tersebut, janin, atau keduanya. Oxytocin (yang menyebabkan rahim kontraksi) atau obat-obatan sejenisnya, seperti prostaglandin, digunakan untuk menginduksi persalinan. Jika selaput pecah secara prematur, dokter tidak menginduksi persalinan sampai janin lebih matang. Ketika kontraksi di bagian bawah perut dimulai, mereka bisa menjadi lemah, tidak teratur dan terpisah jauh. Mereka bisa merasa seperti kram menstruasi. Seiring berjalannya waktu kontraksi perut menjadi lebih longgar, lebih kuat, dan berdekatan bersamaan. Ketika kontraksi hebat terjadi selama 5 menit atau kurang dan servik melebar lebih dari 1 ½ inci (4 cm), wanita tersebut di bawa ke rumah sakit atau pusat melahirkan. Kekuatan, durasi, dan frekwensi kontraksi dicatat. Berat badan mereka, tekanan darah, jantung dan tingkat pernafasan, dan suhu diukur, dan contoh air kencing dan darah diambil untuk dianalisa. Perut mereka di teliti untuk memastikan seberapa besar janinnya, apakah janin menghadap ke belakang atau ke depan (posisi), dan apakah kepala, wajah, pantat, atau bahu menuju jalan lahir (cara keluar). Cara keluar dan letak janin mempengaruhi bagaimana janin melalui vagina. Kombinasi yang paling umum dan aman adalah menghadap kebelakang (ke arah belakang wanita),

dengan wajah dan lekuk tubuh menghadap ke sebelah kanan atau kiri, dan kepala terlebih dahulu, dengan leher menekuk ke depan, dagu masuk ke dalam, dan lengan dilipat melintangi dada. Kepala duluan disebut vertex atau kehadiran cephalic. Selama minggu terakhir atau dua minggu sebelum melahirkan, kebanyakan janin turun sehingga bagian belakang kepala keluar terlebih dahulu. jika cara keluar adalah pantat terlebih dahulu (breech) atau bahu terlebih dahulu atau janin menghadap kedepan, proses melahirkan sangat menyulitkan untuk wanita tersebut, janin dan dokter. Melahirkan sessar dianjurkan. Biasanya, vagina diperiksa untuk memastikan jika selaput telah pecah dan bagaimana pelebaran dan penghapusan servik, tetapi pemeriksaan ini kemungkinan ditiadakan jika wanita tersebut mengalami pendarahan atau jika selaput telah pecah secara spontan. Warna cairan amniotic dicatat. Cairan harus bening dan tidak memiliki bau yang menyengat. Jika selaput pecah dan cairan amniotic berwarna hijau, pewarnaan tersebut diakibatkan dari kotoran pertama janin (meconium). Segera setelah wanita tersebut dirawat dirumah sakit, dokter atau praktisi kesehatan lainnya mendengarkan detak jantung janin secara langsung menggunakan stetoskop janin (fetoscope) atau menggunakan alat ultrasonic untuk memantau detak jantung (sebuah prosedur yang disebut pemantau jantung janin elektronik). Selama tahap pertama persalinan, perkembangan wanita dan janin dipantau secara bertahap atau secara terus-menerus. Memantau detak jantung janin, dengan stetoskop janin atau pemantau jantung janin elektrik, adalah cara yang paling mudah untuk memastikan apakah janin menerima cukup oksigen. Detak jantung yang tidak normal (terlalu cepat atau terlalu lambat) bisa mengindikasi bahwa janin dalam keadaan gagal (selama tahap kedua persalinan, detak jantung wanita dan tekanan darah dipantau secara teratur). Detak jantung janin dipantau setelah setiap kontraksi, jika pemantau elektrik digunakan, secara terus-menerus. Selama persalinan di rumah sakit, selang infus biasanya dimasukkan kedalam lengan wanita. Selang ini digunakan untuk memberi wanita tersebut cairan untuk mencegah dehidrasi dan, jika diperlukan, untuk memberikan obat-obatan segera mungkin. Ketika cairan diberikan secara infus, wanita tersebut tidak boleh makan atau minum selama persalinan, meskipun dia bisa memilih untuk minum beberapa cairan dan makan beberapa makanan ringan sebelum persalinan. Perut yang kosong selama melahirkan membuat wanita tersebut dapat mengurangi muntah dan tersedak muntahan. Tersedak muntahan, meskipun sangat jarang, bisa menyebabkan gangguan pernafasan, berpotensi gangguan yang mengancam nyawa di mana paru-paru meradang. Biasanya, seorang wanita diberikan antasida melalui mulut untuk menetralkan asam perut ketika dia berada di rumah sakit dan setiap 3 jam sekali. Antasida mengurangi resiko kerusakan pada paruparu jika muntahan terhisap. Meringankan rasa sakit : dengan saran dokter atau bidan, seorang wanita biasanya merencanakan pendekatan untuk meringankan rasa sakit sebelum persalinan dimulai. Dia

bisa memilih melahirkan anak dengan cara normal, yang didasarkan pada relaksasi dan cara pernafasan untuk menghadapi rasa sakit, atau dia bisa merencanakan untuk menggunakan analgesik atau anestesi jenis tertentu (local, regional, atau general) bila diperlukan. Setelah persalinan dimulai, rencana ini kemungkinan dimodifikasi, bergantung pada bagaimana kemajuan persalinan, bagaimana perasaan si wanita, dan apa yang dianjurkan oleh dokter atau bidan. Keinginan seorang wanita untuk menghilangkan rasa sakit selama persalinan sangat bervariasi, bergantung beberapa luas dan tingkat keinginannya. Menghadiri kelas persiapan melahirkan anak membantu mempersiapkan wanita tersebut untuk bersalin dan melahirkan. Beberapa persiapan dan dukungan emosi dari orang yang menghadiri persalinan cenderung mengurangi kegelisahan dan seringkali nyata sekali mengurangi kebutuhannya untuk obat-obatan penghilang rasa sakit. Jika seorang wanita membutuhkan analgesik selama persalinan, mereka biasanya memberikan kepada mereka. Meskipun begitu, karena beberapa obat-obatan ini bisa memperlambat (depress) pernafasan dan fungsi lainnya pada bayi yang baru lahir, jumlah yang diberikan sedikit mungkin. Sangat umum, meperidine atau morphine diberikan secara infus untuk menghilangkan rasa sakit. Obat-obatan ini bisa memperlambat tahap inisial pada tahap awal persalinan, sehingga mereka biasanya diberikan selama fase aktif pada tahap pertama. Sebagai tambahan, karena obat-obatan ini memiliki efek besar sekali selama 30 menit pertama setelah diberikan, obat-obatan ini seringkali tidak diberikan ketika melahirkan segera terjadi. Untuk menghilangkan efek sedative pada obat-obatan ini pada bayi yang baru lahir, seorang dokter bisa memberikan bayi yang baru lahir tersebut obat naloxone sesegera mungkin setelah melahirkan. Anestesi lokal membuat mati rasa vagina dan jaringan yang terbuka disekitarnya. Biasanya, daerah ini mati rasa dengan anestesi lokal yang disuntikkan melalui dinding vagina dan syaraf pudendal yang mengelilinginya (yang mensuplai rasa pada daerah bagian bawah vagina). Prosedur ini, disebut penyumbatan pudendal, digunakan hanya fase terakhir pada persalinan, ketika kepala bayi kira-kira akan keluar dari vagina. Yang umum lainnya tetapi prosedur yang sedikit efektif meliputi penyuntikan anestesi lokal pada pembukaan vagina. Dengan kedua prosedur, wanita tersebut bisa tetap sadar dan menekan, dan fungsi janin tidak terpengaruh. Prosedur ini sangat berguna untuk melahirkan yang tidak memiliki komplikasi.

dokter bisa memberikan bayi yang baru lahir tersebut obat naloxone sesegera mungkin setelah melahirkan.

Anestesi lokal membuat mati rasa vagina dan jaringan yang terbuka disekitarnya. Biasanya, daerah ini mati rasa dengan anestesi lokal yang disuntikkan melalui dinding vagina dan syaraf pudendal yang mengelilinginya (yang mensuplai rasa pada daerah bagian bawah vagina). Prosedur ini, disebut penyumbatan pudendal, digunakan hanya fase terakhir pada persalinan, ketika kepala bayi kira-kira akan keluar dari vagina. Yang umum lainnya tetapi prosedur yang sedikit efektif meliputi penyuntikan anestesi lokal pada pembukaan vagina. Dengan kedua prosedur, wanita tersebut bisa tetap sadar dan menekan, dan fungsi janin tidak terpengaruh. Prosedur ini sangat Pada kehamilan beresiko tinggi, pemantau elektrik kadangkala digunakan sebagai berguna untuk melahirkan yang tidak bagian dari pemeriksaan nonstress, dimana memiliki komplikasi. detak jantung janin dipantau sebagaimana janin masih berbaring atau bergerak. Jika Melahirkan anak secara alami detak jantung tidak meningkat dengan bergerak, tes kontraksi stress bisa dilakukan. Melahirkan anak secara alami menggunakan Untuk memulai kontraksi kandungan, teknik relaksasi dan pernafasan untuk oxytocin (sebuah hormon yang mengendalikan rasa sakit selama menyebabkan rahim berkontraksi selama melahirkan anak. Melahirkan anak secara persalinan) biasanya diberikan secara infus. alami seringkali membantu mengurangi atau Detak jantung janin dipantau selama menghilangkan keperluan akan analgesik kontraksi ini untuk memastikan apakah janin atau anestesi selama persalinan atau akan bisa menahan persalinan. melahirkan. Ketika masalah terdeteksi, contoh darah Untuk persiapan melahirkan secara alami, kepala janin kemungkinan diambil. Selama seorang wanita hamil dan pasangannya persalinan, darah dalam jumlah kecil diambil mengikuti kelas persiapan melahirkan anak, dari kepala janin untuk mengukur acidicity biasanya 6 sampai 8 sesi selama beberapa pada darah (pH). Pengukuran ini membantu minggu, untuk mempelajari bagaimana dokter untuk memastikan apakah janin menggunakan teknik relaksasi dan menerima cukup oksigen. pernafasan. Mereka juga mempelajari berbagai tahapan pada persalinan dan Berdasarkan beberapa tes, seorang dokter melahirkan . bisa mengijinkan persalinan untuk dilanjutkan atau bisa melakukan operasi Teknik relaksasi tersebut meliputi bagian sessar sesegera mungkin.

Memonitor Janin Pemantau elektrik digunakan secara teratur untuk memantau detak jantung janin dan kontraksi pada rahim. Perubahan tertentu pada detak jantung janin selama kontraksi bisa mengindikasikan bahwa janin tidak mendapatkan cukup oksigen. Detak jantung janin bisa jadi dipantau dari luar dengan menempelkan alat ultranonic (yang mengirim dan menerima gelombang ultrasonic) ke perut wanita tersebut atau secara internal dengan memasukkan elektroda melalui vagina wanita dan memasangnya pada kepala janin. Pendekatan internal biasanya digunakan hanya ketika masalah selama persalinan mungkin terlihat atau ketika sinyal terdeteksi oleh alat eksternal tidak bisa direkam.

tubuh yang tegang dan kemudian dirilekskan. Teknik ini membantu seorang wanita untuk rileks mengistirahatkan tubuhnya ketika rahim berkontraksi selama persalinan dan merilekskan seluruh badan di antara kontraksi. Teknik pernafasan meliputi beberapa jenis pernafasan, yang digunakan pada waktu yang berlainan selama persalinan. Selama tahap pertama persalinan, sebelum wanita tersebut nulai menekan, jenis-jenis pernafasan berikut bisa membantu :
• • •

Bernafas dalam-dalam untuk membantu wanita tersebut rileks pada permulaan dan akhir kontraksi. Cepat, pernafasan dangkal (terengah-engah) pada bagian atas dada pada puncak kontraksi. Pola nafas pendek dan dangkal membantu wanita tersebut mengulang dari mendorong ketika dia memiliki keinginan untuk mendorong sebelum servik terbuka penuh.

Pada tahap kedua persalinan, wanita tersebut secara bergantian antara mendorong dan bernafas terengah-engah. Wanita dan pasangannya harus berlatih relaksasi dan teknik pernafasan secara teratur selama kehamilan. Selama persalinan, pasangan si wanita bisa membantu mengingatkan dia apa yang harus dilakukan pada tahap tertentu dan mencatat ketika dia tegang, sebagai tambahan untuk memberikan dukungan emosi. Pasangannya bisa memijat wania tersebut untuk membantunya lebih rileks. Metode yang sangat baik pada melahirkan anak secara alami mungkin metode Lamaze. Metode lain, metode leboyer, termasuk melahirkan di dalam ruang gelap dan merendam bayi ke dalam air suam-suam kuku sesegera mungkin setelah Anestesi regional membuat mati rasa banyak daerah. Hal itu kemungkinan digunakan untuk wanita yang ingin secara penuh menghilangkan rasa sakit. Suntikan lumbar epidural hampir selalu digunakan. Prosedur ini meliputi suntikan anestesi pada bagian bawah belakang-ke dalam ruang antara tulang belakang dan lapisan luar jaringan yang melindungi urat syaraf tulang belakang (ruang epidural), sebagai alternatif, sebuah kateter diletakkan pada ruang epidural, dan opoids, seperti fentanil dan sufentanil, secara terus-menerus dan perlahan diberikan melalui kateter. Prosedur lain (anestesi tulang belakang) meliputi menyuntikkan anestesi ke dalam ruang antara tengah dan dalam lapisan pada jaringan yang melindungi urat syaraf tulang belakang (ruang subarachnoid). Suntikan injeksi biasanya digunakan untuk operasi sessar ketika tidak terdapat komplikasi. Baik epidural maupun suntikan tulang belakang mencegah wanita tersebut cukup mendorong. Kadangkala, menggunakan prosedur manapun menyebabkan turunnya tekanan darah. konsekwensinya, jika salah satu dari prosedur ini digunakan, tekanan darah wanita tersebut diukur sesering mungkin. Anestesi umum membuat seorang wanita untuk sementara waktu tidak sadar. Cara ini jarang diperlukan dan tidak sering digunakan karena bisa memperlambat fungsi pada jantung janin, paru-paru, dan otak. Meskipun efek ini biasanya sementara, hal ini bisa

berhubungan dengan penyesuaian bayi yang baru lahir untuk hidup diluar rahim. Anestesi umum biasanya digunakan untuk operasi sessar darurat karena hal ini jalan tercepat untuk membius wanita tersebut.

PERAWATAN DI RUMAH SETELAH MELAHIRKAN
DEFINISI Rahim, masih membesar, masih kontraksi untuk beberapa waktu, menjadi semakin kecil selama 2 minggu kemudian. Kontraksi ini tidak terus menerus dan seringkali terasa sakit. Kontraksi semakin diperkuat dengan menyusui. Menyusui menimbulkan produksi hormon oxytocin. Oxytocin merangsang aliran susu (disebut refleks let-down) dan kontraksi kandungan. biasanya, setelah 5 sampai 7 hari, rahim kuat dan tidak lagi lembut tetapi masih sedikit membesar, memanjang ke separuh saluran antara tulang pubis dan pusar. Selama 2 minggu setelah melahirkan, rahim kembali ke ukuran normal. Meskipun begitu, perut ibu baru tersebut tidak manjadi rata seperti sebelum kehamilan untuk beberapa bulan, bahkan jika dia berolahraga. Tanda kerut bisa tidak terlihat untuk setahun. Seorang ibu baru bisa mandi pancuran atau berendam, tetapi dia harus menahan diri dari pembasuhan vagina setidaknya 2 minggu setelah melahirkan. Mencuci daerah sekitar vagina dengan air hangat 2 atau 3 kali sehari membantu mengurangi perih. Mandi air hangat sambil duduk bisa meringankan rasa sakit yang diakibatkan episiotomi atau wasir. Mandi duduk adalah mengambil posisi duduk dengan air hanya sampai ke pinggang dan pantat. Ibu yang tidak menyusui bisa menggunakan obat-obatan untuk membantu mereka tidur atau untuk meringankan rasa sakit. Untuk rasa sakit, mereka biasanya diberikan asetaminophen atau obat anti-inflammatory nonsteroidal (NSAID). Ibu yang menyusui diberikan beberapa obat-obatan dengan jumlah tertentu karena kebanyakan obat-obatan masuk di air susu ibu. Ibu yang menyusui perlu belajar bagaimana meletakkan bayi selama menyusui. Jika letak bayi tidak baik, puting ibu bisa menjadi luka. Kadangkala bayi menarik puting dengan bibir bagian bawah dan menghisapnya, melukai putting. Pada beberapa kasus, ibu bisa menyelipkan ibu jari ke dalam bibir pada mulut bayi tersebut. setelah menyusui, dia harus membiarkan air susu kering secara alami pada putting dibandingkan menyeka atau mencucinya. Jika dia mau, dia bisa mengeringkan putingnya dengan pengering rambut yang disetel rendah. Pada udara yang sangat kering, hypoallergenic lanolin atau salep bisa dioleskan pada putting. Pinggiran kutang dari plastik harus dihindari. Selama ibu menyusui, dia membutuhkan tambahan gizi, khususnya kalsium. Produk yang

mengandung susu adalah sumber kalsium yang paling baik. Kacang-kacangan dan sayuran berhijau daun kemungkinan sebagai pengganti jika ibu tersebut tidak cocok dengan produk yang mengandung susu. Atau dia bisa menggunakan suplemen kalsium. Suplemen vitamin tidak diperlukan jika diet ibu tersebut telah sangat seimbang, terutama jika terpenuhinya jumlah Vitamin B6, B12, dan C. Seorang ibu yang baru melahirkan bisa mulai beraktifitas secara normal setiap hari ketika dia merasa telah siap. Dia bisa memulai berhubungan seks secepatnya sebagaimana dia inginkan dan merasa nyaman. Penggunaan kontrasepsi dianjurkan karena kehamilan kemungkinan segera sebagaimana ibu tersebut mulai kembali melepaskan sel telur dari indung telur (ovulasi). Ibu yang tidak menyusui biasanya mulai berovulasi kembali sekitar 4 minggu setelah melahirkan, sebelum jangka waktu pertama mereka. Meskipun begitu, ovulasi dapat terjadi lebih awal. Ibu yang menyusui cenderung mulai berovulasi dan masih menstruasi setelah itu, biasanya 10 sampai 12 minggu setelah melahirkan. Jangka waktunya tergantung pada seberapa banyak makanan dibandingkan air susu yang dikonsumsi oleh bayi. Jika lebih dari seperlima makanan bayi adalah air susu, ovulasi tidak mungkin terjadi. Kadangkala, seorang ibu yang menyusui berovulasi, menstruasi dan menjadi hamil secepat ibu yang tidak menyusui. Kesembuhan penuh setelah kehamilan memerlukan waktu sekitar 1 sampai 2 tahun. Sehingga dokter biasanya menyarankan ibu baru untuk menunggu sebelum hamil kembali (meskipun dia sudah memilih untuk tidak mengikuti anjuran tersebut). Pada saat perjanjian mengunjungi dokter pertama kali setelah melahirkan, seorang ibu baru bisa membicarakan pilihan kontrasepsi dengan dokter dan memilih salah satu yang sesuai dengan kondisinya. Seorang ibu baru yang baru saja divaksinasi untuk mencegah campak jerman (rubella) harus menunggu setidaknya 1 bulan sebelum mulai hamil lagi untuk menghindari bahaya pada janin.

GANGGUAN TIROID
DEFINISI Dalam 4 sampai 7% wanita, kerusakan kelenjar tiroid selama 6 bulan pertama setelah melahirkan. Tingkat hormon tiroid kemungkinan tinggi atau rendah, biasanya bersifat sementara. Orang yang memiliki sejarah keluarga dengan gangguan tiroid atau diabetes sangat mudah terkena. Pada wanita yang mulai menderita gangguan tiroid, seperti goiter atau hashimoto’s thyroiditis, gangguan tersebut bisa menjadi parah. Pengobatan kemungkinan diperlukan.

IBU MELAHIRKAN MENGINAP DI RS/RB
DEFINISI

Segera setelah melahirkan seorang bayi, sang ibu dipantau. Anggota staff rumah sakit melakukan semua upaya untuk memperkecil rasa sakit dan resiko pendarahan dan infeksi. Setelah mengeluarkan plasenta (setelah melahirkan), seorang perawat bisa memijat secara periodik perut ibu untuk membantu kontraksi rahim. Bila diperlukan, oxytocin diberikan untuk merangsang kontraksi pada rahim. Obat tersebut diberikan secara intravena dengan infus yang terus-menerus untuk 1 sampai 2 jam setelah melahirkan. Langkah ini membantu memastikan kontraksi rahim dan tetap berkontraksi untuk mencegah pendarahan berlebihan. Ketika bius total(jarang digunakan) digunakan selama melahirkan, ibu dapat dipantau untuk 2 sampai 3 jam setelah melahirkan, biasanya di dalam ruang pemulihan dengan peralatan lengkap dengan akses ke oksigen, darah yang sesuai dengan ibu tersebut, dan cairan infus. Dalam 24 jam pertama, denyut ibu drop, suhu tubuh bisa sedikit naik, dan jumlah sel darah untuk sementara bertambah. Keluarnya pendarahan vagina, terjadi selama 3 atau 4 hari. Selama 10 sampai 12 hari berikutnya, pengeluaran menjadi kecoklatan, kemudian putih kekuningan. Pengeluaran bisa berlanjut sampai sekitar 6 minggu setelah melahirkan. Pembalut bersih, sering diganti, dapat digunakan untuk menyerap kotoran. Produksi urin seringkali bertambah banyak setelah melahirkan, tetapi sementara. Karena keinginan berkemih kemungkinan menurun setelah melahirkan, seorang ibu baru harus berusaha untuk berkemih secara teratur, setidaknya setiap 4 jam. Dilakukan hal tersebut sehingga menghindari terlalu penuh kandung kencing dan membantu mencegah infeksi kandung kemih. Ibu baru juga dianjurkan untuk buang air besar sebelum meninggalkan rumah sakit. Dia bisa menggunakan pencahar, bila diperlukan, untuk menghindari sembelit, yang bisa menyebabkan atau memperparah wasir. Mengoleskan kompres air hangat dan gel mengandung anestesi lokal untuk wasir, jika ada, bisa menghilangkan rasa sakit. Selama produksi air susu tahap awal (laktasi), payudara menjadi penuh dengan susu. Kadangkala menjadi keras dan sakit. Jika seorang ibu tidak mulai menyusui, gunakan BH yang ketat, kompres dengan ice pack, dan minum analgesik seperti aspirin atau asetaminofen bisa membantu menghilangkan rasa tidak nyaman. Bagi ibu yang menyusui, memberi makan bayi secara teratur membantu mengurangi kepenuhan susu. Menggunakan BH menyusui yang nyaman selama 24 jam setiap hari bisa membantu menghilangkan rasa tidak nyaman. Jika payudara sangat bengkak, ibu bisa memeras susunya secara manual hanya sebelum menyusui untuk memudahkan mulut bayi tepat mengelilingi aerola (daerah berpigmen pada kulit sekitar putting). Jika ibu tersebut merasa tidak nyaman sewaktu menyusui, dia bisa memeras susu dengan tangan di dalam shower air hangat untuk menghilangkan tekanan. Meskipun begitu, memeras susu di antara waktu menyusui cenderung mengakibatkan berlanjutnya kepenuhan dan harus dilakukan hanya ketika diperlukan untuk melegakan. Sesudah 24 jam pertama, pemulihan sangat cepat. Ibu tersebut menjalankan diet teratur secepat yang dia inginkan, kadangkala setelah melahirkan. Dia harus berdiri dan berjalan

secepat mungkin. Jika melahirkan secara normal, seorang ibu baru bisa mulai olahraga untuk menguatkan otot perut, seringkali setelah 1 hari. Sit-up dengan lutut dibengkokkan, dilakukan di tempat tidur, adalah efektif. Meskipun begitu, kebanyakan ibu baru terlalu lelah untuk mulai berolahraga segera setelah melahirkan. Sebelum ibu tersebut meninggalkan rumah sakit, dia diperiksa. Jika dia pernah menderita campak jerman (rubella) atau vaksin campak jerman, dia divaksinasi. Jika dia memiliki Rh darah negatif dan bayi Rh darah positif, dia diberikan Rh0 (D) immune globulin dalam 3 hari setelah melahirkan. Obat ini menghancurkan semua sel darah merah bayi yang bisa lolos ke ibu dan bisa mencetuskan produksi antibodi oleh si ibu/ beberapa antibodi bisa membahayakan kehamilan berikutnya. Ibu yang baru diteliti kembali 6 minggu kemudian. Juga sebelum meninggalkan rumah sakit, dia diberikan informasi mengenai perubahan untuk dilakukan di dalam tubuhnya dan jenis kontrasepsi yang bisa digunakan sewaktu tubuhnya telah pulih setelah melahirkan seorang bayi. Jika ibu dan bayi dalam keadaan sehat, mereka biasanya meninggalkan rumah sakit dalam waktu 48 jam setelah melahirkan secara normal dan dalam 96 jam setelah operasi sessar.

INFEKSI PADA IBU BERSALIN
DEFINISI Segera setelah melahirkan, suhu tubuh wanita tersebut biasanya meningkat. Suhu pada 101 º F (38.3 º C) atau lebih tinggi selama 12 jam pertama setelah melahirkan bisa mengindikasi sebuah infeksi tetapi biasanya tidak. Meskipun begitu, pada beberapa kasus, wanita tersebut harus diperiksa oleh dokternya atau bidan. Infeksi postpartum biasanya didiagnosa setelah 24 jam telah berlalu sejak melahirkan dan wanita tersebut telah memiliki suhu 100.4 º F (38 º C) atau lebih tinggi pada dua kesempatan setidaknya 6 jam terpisah. Infeksi postpartum adalah jarang, karena dokter berusaha untuk mencegah atau mengobati keadaan yang bisa menyebabkan infeksi. Meskipun begitu, infeksi kemungkinan serius. Dengan demikian, jika seorang wanita memiliki suhu lebih dari 100.4 ºF setiap saat selama minggu pertama setelah melahirkan, dia harus menelepon dokter. Infeksi postpartum kemungkinan langsung berhubungan dengan melahirkan (terjadi pada rahim atau daerah sekitar rahim) atau tidak berhubungan langsung (terjadi pada ginjal, kandung kemih, payudara, atau paru-paru). Infeksi Uterus>

Infeksi postpartum biasanya dimulai di dalam rahim. Jika infeksi pada selaput mengandung janin (kantung amniotic) menyebabkan demam selama persalinan, infeksi pada lapisan uterin (endometritis), otot uterin (myometritis), atau daerah sekitar rahim (parametritis) bisa terjadi. PENYEBAB Bakteri yang bisanya hidup di dalam vagina yang sehat bisa menyebabkan infeksi setelah melahirkan. Keadaan yang membuat seorang wanita lebih mungkin mengalami infeksi termasuk anemia, preeklampsia, pemeriksaan vagina diulang, penundaan lebih lama dari 18 jam antara pecah pada selaput dan melahirkan, persalinan yang lama, operasi sessar, potongan plasenta yang tertinggal di dalam rahim setelah melahirkan, dan pendarahan berlebihan setelah melahirkan (pendarahan postpartum). GEJALA Gejala-gejala biasanya termasuk pucat, menggigil, sakit kepala, perasaan sakit biasa atau tidak nyaman, dan kehilangan nafsu makan. Detak jantung cepat, dan jumlah sel darah putih tinggi secara tidak normal. rahim bengkak, lunak, dam lembut. Biasanya, terdapat pengeluaran malodorous dari vagina, yang bervariasi dalam jumlah. Ketika jaringan di sekitar rahim terinfeksi, mereka bengkak, terus bertambah bengkak, rahim lunak tetap. Wanita tersebut mengalami rasa sakit berat dan demam tinggi. Lapisan perut bisa menjadi meradang, menyebabkan peritonitis. Gumpalan darah bisa terbentuk di dalam pembuluh panggul, menyebabkan thrombophlebitis panggul. Gumpalan darah bisa berjalan menuju paru-paru dan menyumbat arteri, menyebabkan emboli paru-paru. Zat-zat beracun (racun) dihasilkan oleh bakteri yang menginfeksi bisa mencapai kadar tinggi di dalam aliran darah, menyebabkan kejutan racun. Pada kejutan racun, tekanan darah jatuh secara dramatik dan detak jantung sangat cepat. Kejutan racun terjadi pada kerusakan ginjal berat dan bahkan kematian. DIAGNOSA Infeksi biasanya didiagnosa berdasarkan hasil pemeriksaan badan. Sampel air kencing, darah, dan penyelesaian pada vagina tertanam untuk bakteri. PENGOBATAN Jika rahim terinfeksi, wanita tersebut biasanya diberikan infus antibiotik sampai dia tidak mengalami demam untuk 48 jam. Untuk beberapa hari setelah itu, dia kemungkinan diberikan antibiotik melalui mulut. Infeksi Kandung Kemih dan Ginjal> Infeksi kandung kemih (cystitis) kadangkala terjadi ketika kateter diletakkan di dalam kandung kemih untuk menghilangkan terbentuknya urin selama dan setelah persalinan.

Atau bakteri kemungkinan hadir di dalam kandung kemih selama hamil tetapi tidak menimbulkan gejala sampai setelah melahirkan. Infeksi ginjal (pyelonephritis) disebabkan oleh penyebaran bakteri yang berasal dari kandung kemih menuju ginjal setelah melahirkan. Gejala bisa termasuk demam dan rasa sakit sekali atau sering berkemih. Infeksi yang mencapai ginjal bisa menyebabkan rasa sakit di bagian bawah punggung atau samping, perasaan sakit biasa atau tidak nyaman, dan sembelit. Biasanya, seorang wanita diberikan antibiotik. jika tidak terbukti bahwa infeksi kandung kemih telah menyebar ke ginjal, antibiotik kemungkinan diberikan hanya untuk beberapa hari. Jika infeksi ginjal diduga, antibiotik diberikan sampai wanita tersebut tidak mengalami demam untuk 48 jam. Contoh urin dikultur untuk mengidentifikasi bakteri. Setelah kultur tersedia, antibiotik kemungkinan dirubah ke salah satu yang lebih efektif melawan keberadaan bakteri. Minum cairan yang banyak membantu menjaga ginjal berfungsi dengan baik dan menyiram bakteri keluar dari saluran kemih. Contoh kemih lainnya dikultur 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan untuk memverifikasi bahwa infeksi telah sembuh. Infeksi Pyudara Infeksi payudara (mastitis) bisa terjadi setelah melahirkan, biasanya selama 6 minggu pertama dan hampir selalu pada wanita yang menyusui. Jika kulit pada atau di sekitar putting menjadi pecah, bakteri dari kulit bisa masuk ke kantung susu dan menyebabkan infeksi. Payudara yang terinfeksi biasanya terlihat merah dan bengkak dan terasa hangat dan lembut. Wanita tersebut bisa mengalami demam. Demam yang terjadi kemudian lebih dari 10 hari setelah melahirkan seringkali disebabkan oleh infeksi payudara, meskipun hal ini kemungkinan disebabkan oleh infeksi kandung kemih. Infeksi payudara diobati dengan antibiotik. wanita yang mengalami infeksi payudara dan menyusui harus terus menyusui. Menyusui mengurangi resiko abscess payudara (penumpukan nanah), yang langka. Abscesses payudara diobati dengan antibiotik dan biasanya dikeringkan dengan operasi.

GUMPALAN DARAH
DEFINISI Risiko pembentukan gumpalan darah (penyakit thromboembolic) meningkat sesudah melahirkan. Biasanya, gumpalan darah terjadi di kaki atau panggul (gangguan disebut thrombophlebitis).Demam yang timbul antara 4 dan 10 hari sesudah melahirkan mungkin disebabkan oleh gumpalan darah. PENGOBATAN

Pengobatan terdiri atas kompres hangat (untuk mengurangi ketidaknyamanan), pembalut pengompres dipasang oleh dokter atau jururawat, dan tidur dengan kaki diangkat (dengan mengangkat kaki tempat tidur 6 inci). Obat pencegah penggumpalan mungkin diperlukan.

KOMPLIKASI PERSALINAN
DEFINISI KETUBAN PECAH SEBELUM WAKTUNYA Ketuban Pecah Sebelum Waktunya (KPSW) adalah pecahnya selaput berisi cairan ketuban yang terjadi 1 jam atau lebih sebelum terjadinya kontraksi. Dulu, jika terjadi KPSW selalu dilakukan tindakan untuk segera melahirkan bayi guna mencegah infeksi yang bisa terjadi pada bayi maupun ibunya. Tetapi pendekatan ini sudah tidak perlu dilakukan lagi karena resiko terjadinya infeksi bisa dikurangi dengan mengurangi frekuensi pemeriksaan dalam. 1 kali pemeriksaan dengan bantuan spekulum bisa membantu dokter dalam memastikan pecahnya selaput ketuban, memperkirakan pembukaan serviks (leher rahim) dan mengambil contoh cairan ketubah dari vagina. Jika hasil analisa cairan ketuban menunjukkan bahwa paru-paru bayi sudah cukup matang, maka dilakukan induksi persalinan (tindakan untuk memulai proses persalinan) dan bayi dilahirkan. Jika paru-paru bayi belum matang, persalinan ditunda sampai paruparu bayi matang. Pada 50% kasus, persalinan bisa ditunda hanya dengan melakukan tirah baring dan mendapatkan cairan infus; beberapa kasus lainnya memerlukan obat yang bisa mencegah kontraksi rahim (misalnya magnesium sulfat yang diberikan melalui infus, suntikan atau tablet terbutalin dan kadang diberikan ritodrin melalui infus). Ibu dirawat di rumah sakit dan menjalani tirah baring, tetapi masih diperbolehkan ke kamar mandi. Suhu tubuh dan denyut nadinya diukur 2 kali/hari. Peningkatan suhu tubuh bisa merupakan pertanda terjadinya infeksi. Jika terjadi infeksi, dilakukan induksi persalinan dan bayi dilahirkan. Jika cakran ketuban tidak keluar lagi dan kontraksi berhenti, ibu diperbolehkan pulang ke rumah, tetapi tetap menjalani tirah baring dan memeriksakan dirinya 1 kali/minggu. PERSALINAN PREMATUR Persalinan Prematur adalah persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Biasanya persalinan terjadi pada saat usia kehamilan mencapai 37-42 minggu. Persalinan prematur bisa merupakan suatu proses normal yang dimulai terlalu dini atau dipicu oleh keadaan tertentu, seperti infeksi rahim atau infeksi cairan ketuban,

Sebagian besar kasus persalinan prematur penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Faktor resiko terjadinya persalinan prematur: - Pernah mengalami persalinan prematur pada kehamilan terdahulu - Kehamilan ganda (kembar 2 atau 3) - Pernah mengalami aborsi - Memiliki serviks yang abnormal - Memiliki rahim yang abnormal - Menjalani pembedahan perut pada saat hamil - Menderita infeksi berat pada saat hamil - Pernah mengalami perdarahan pada trimester kedua atau ketiga - Berat badan kurang dari 50 kg - Pernah memakai DES (dietilstilbestrol) - Merokok sigaret atau makakai kokain - Tidak memeriksakan kehamilan. Persalinan prematur bisa menyebabkan kelahiran prematur. Jika dilahirkan terlalu dini, serorang bayi bisa mengalami kelainan. Bisa terjadi penyakit yang serius atau kematian karena bayi belum siap untuk hidup mandiri. Oleh karena itu, dokter akan mencoba menghentikan persalinan prematur. Pada beberapa kasus, jika diketahui akan terjadi persalinan prematur, kelahiran bayi bisa dicegah atau ditunda. Penundaan ini akan memberikan tambahan waktu bagi bayi untuk tumbuh dan berkembang. Bahkan beberapa haripun bisa menghasilkan bayi yang lebih sehat. Jika perdarahan sulit dihentikan atau jika selaput ketuban telah pecah, maka sulit untuk menghentikan persalinan prematur. Jika tidak terjadi perdarahan dan selaput ketuban masih ututh, biasanya dianjurkan untuk menjalani tirah baring dan cairan diberikan melalui infus. Tetapi jikapembukaan telah mencapai lebih dari 5 cm, biasanya kontraksi terus terjadi sampai bayi akhirnya lahir. Magnesium sulfat melalui infus bisa menghentikan kontraksi pada 80% kasus, tetapi memiliki efek samping seperti denyut jantung yang cepat pada ibu, bayi atau keduanya. Bisa juga diberikan suntikan terbutalin. Setelah persalinan prematur berhasil dihentikan, diberikan kortikosteroid (misalnya betametason) untuk membantu membukan paru-paru bayi dan mengurangi resiko gangguan pernafasan pada bayi setelah dia dilahirkan nanti (sindroma gawat pernafasan pada bayi baru lahir). KEHAMILAN POST-MATUR & POSTMATURITAS Kehamilan Post-matur adalah persalinan yang berlangsung sampai lebih dari 42 minggu. Postmaturitas adalah suatu sindroma dimana plasenta mulai berhenti berfungsi secara normal pada kehamilan post-matur dan hal ini membahayakan janin.

Menentukan apakah kehamilan telah lewat dari 42 minggu tidak selalu mudah, karena saat terjadinya pembuhan tidak selalu dapat ditentukan secara pasti. Kadang saat pembuahan tidak dapat ditentukan karena siklus menstruasi yang tidak teratur. Pada awal kehamilan bisa dilakukan pemeriksaan USG untuk membantu menentukan usia kehamilan. Pemeriksaan USG berikutnya dilakukan sebelum usia kehamilan mencapai 32 minggu (antara 18-22 minggu) untuk mengukur diameter kepala janin; hal ini bisa membantu memastikan usia kehamilan. Jika kehamilan berlangsung sampai lebih dari 42 minggu dari hari pertama menstruasi terakhir, dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui tanda-tanda postmaturitas pada ibu dan janin, yaitu penciutan rahim dan berkurangnya gerakan janin. Pemeriksaan bisa dimulai pada usia kehamilan 41 minggu, untuk menilai gerakan dan denyut jangung janin serta jumlah cairan ketuban (yang menurun secara drastis pada kehamilan post-matur). Untuk memperkuat diagnosis postmaturitas, bisa dilakukan amniosentesis (pengambilan dan analisa cairan ketuban). Salah satu tanda dari postmaturitas adalah air ketuban yang berwarna kehijauan yang berasal dari mekonium (tinja fetus yang pertama); hal ini menunjukkan keadaan gawat janin. Selama hasil pemeriksaan tidak menunjukkan tanda-tanda postmaturitas, maka kehamilan post-matur masih mungkin dilanjutkan. Tetapi jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tanda-tanda postmaturitas, maka segera dilakukan induksi persalinan dan bayi dilahirkan. Jika serviks belum dapat dilalui oleh janin, maka dilakukan operasi sesar. TIDAK ADANYA KEMAJUAN DALAM PERSALINAN Setiap jam seharusnya serviks membukan minimal selebar 1 cm dan kepala janin seharusnya turun ke dalam rongga panggul minimal sebanyak 1 cm. Jika hal tersebut tidak terjadi, mungkin janin terlalu besar untuk melewati jalan lahir dan perlu dilakukan persalinan dengan bantuan forseps atau operasi sesar. Jika jalan lahir cukup lebar tetapi persalinan tidak maju, maka diberikan oksitosin melalui infus untuk merangsang kontraksi rahim yang lebih kuat. Jika setelah pemberian oksitosin persalinan tidak juga maju, maka dilakukan operasi sesar. DENYUT JANTUNG YG ABNORMAL Selama persalinan, denyut jantung janin dimonitor setiap 15 menit dengan stetoskop janin (fetoskop) atau dimonitor terus dengan pemantau denyut jantung elektronik. Pemantauan denyut jantung janin merupakan cara yang paling mudah untuk mengetahui adanya gawat janin.

Jika terdengar denyut jantung yang abnormal, dilakukan tindakan korektif, seperti memberikan oksigen kepada ibu, menambah jumlah cairan infus dan meminta ibu untuk berbaring miring ke kiri. Jika tindakan tersebut tidak berhasil memperbaiki denyut jantung yang abnormal, maka dilakukan persalinan forseps atau operasi sesar. KELAINAN POSISI JANIN Yang dimaksud dengan posisi janin di dalam rahim adalah arah yang dihadapi oleh janin, sedangkan letak janin adalah bagian tubuh janin yang terendah. Kombinasi yang paling sering ditemukan dan paling aman adalah menghadap ke punggung ibu dengan letak kepala, dimana leher tertekuk ke depan, dagu menempel di dada dan kedua lengan melipat di dada. Jika janin tidak berada dalam posisi atau letak tersebut, maka persalinan bisa menjadi sulit dan mungkin persalinan tidak dapat dilakukan melalui vagina. KEMBAR Kehamilan kembar bisa diketahui pada pemeriksaan USG atau dengan pemantau elektronik (dimana akan terdengar 2 denyut jantung yang berbeda). Kembar menyebabkan rahim sangat teregang dan rahim yang sangat teregang cenderung unuk mulai mengalami kontraksi sebelum kehamilan mencapai usia yang matang. Akibatnya bayi kembar sering dilahirkan secara prematur dan kecil. Posisi dan letak janin di dalam rahim bisa berlainan, sehingga persalinan bisa menjadi sulit. Kontraksi rahim setelah lahirnya bayi pertama cenderung menyebabkan terlepasnya plasenta dari bayi kedua. Akibatnya, bayi kedua cenderung mengalami masalah selama persalinan dan memiliki resiko mengalami kelainan dan kematian yang lebih tinggi. Kadang setelah persalinan, rahim yang terlalu teregang tidak dapat berkontraksi dengan baik sehingga ibu bisa mengalami perdarahan. DISTOSIA BAHU Distosia Bahu adalah suatu komplikasi yang jarang terjadi, dimana pada letak kepala, salah satu bahu bayi tersangkut pada tulang kemaluan dan tertahan di dalam jalan lahir. Segera dilakukan berbagai tindakan untuk membebaskan bahu sehingga bayi bisa dilahirkan melalui vagina. Jika tindakan tersebut gagal, kadang bayi dapat didorong kembali ke dalam vagina dan dilahirkan melalui operasi sesar.

PROLAPSUS KORDA UMBILIKALIS Prolapsus Korda Umbilikalis adalah suatu keadaan dimana korda umbilikal (tali pusar) mendahului bayi, yaitu keluar dari jalan lahir. Pada keadaan ini, jika bayi mulai memasuki jalan lahir, tali pusar akan tertekan sehingga aliran darah ke bayi terhenti. Prolapsus korda umbilikalis bisa terjadi secara nyata atau tersembunyi. Pada prolapsus yang nyata, selaput ketuban telah pecah dan tali pusar menonjol ke dalam vagina sebelum bayi turun ke jalan lahir. Prolapsus yang nyata biasanya terjadi jika bayi berada dalam letak bokong (tetapi bisa juga terjadi pada letak kepala), terutama jika selaput telah pecah sebelum waktunya atau jika janin belum turun ke panggul ibu. Untuk mencegah terjadinya cedera pada janin akibat terhentinya aliran darah ke janin, maka segera dilakukan persalinan, biasanya melalui operasi sesar. Pada prolapsus tersembunyi, selaput ketuban tetap ututh dan tali pusar berada di depan janin atau terperangkap di depan bahu janin. Biasanya keadaan ini diketahui melalui denyut jantung janin yang abnormal. Prolapsus tersembunyi bisa diatasi dengan cara merubah posisi ibu atau mengangkat kepala janin untuk menghilangkan tekanan pada tali pusar. Kadang perlu dilakukan operasi sesar. EMBOLI CAIRAN KETUBAN Emboli Cairan Ketuban adalah penyumbatan arteri pulmoner (arteri paru-paru) ibu oleh cairan ketuban. Suatu emboli adalah suatu massa dari bahan asing yang terdapat di dalam pembuluh darah. Meskipun sangat jarang terjadi, emboli bisa terbentuk dari cairan ketuban. Emboli ini sampai ke paru-paru ibu dan menyumbat arteri, penyumbatan ini disebut emboli pulmoner. Emboli pulmoner bisa menyebabkan denyut jantung yang cepat, irama jantung yang tidak teratur, kolaps, syok atau bahkan henti jantung dan kematian. PERDARAHAN RAHIM Perdarahan hebat dari rahim setelah persalinan merupakan masalah yang serius. Biasanya selama persalinan ibu kehilangan darah sebanyak 0,5 liter. Ketika plasenta lepas dari rahim, pembuluh darah rahim terbuka. Kontraksi rahim

membantu menutupnya pembuluh darah ini sampai mereka mengalami pemulihan lengkap. Jika setelah proses persalinan rahim tidak berkontraksi atau jika sejumlah kecil plasenta tertinggal di dalam rahim sehingg rahim tidak dapat berkontraksi, maka darah yang hilang akan lebih banyak. Robekan pada vagina atau serviks juga bisa menyebabkan perdarahan hebat. PROSEDUR Jika selama proses persalinan berlangsung terjadi komplikasi, maka diambil beberapa tindkan sepserti induksi persalinan, persalinan dengan bantuan forseps atau ekstraktor vakum atau operasi sesar. Induksi Persalinan Induksi Persalinan adalah pencetusan persalinan buatan. Augmentasi persalinan menggunakan teknik dan obat yang sama dengan induksi persalinan, tetapi dilakukan setelah kontraksi dimulai secara spontan. Biasanya induksi persalinan hanya dilakukan jika ibu memiliki masalah kebidanan atau jika ibu maupun bayinya memiliki masalah medis. Untuk menentukan kematangan janin secara akurat, sebelum dilakukan induksi, bisa dilakukan amniosentesis. Pada induksi persalinan biasanya digunakan oksitosin, yaitu suatu hormon yang menyebabkan kontraksi rahim menjadi lebih kuat. Hormon ini diberikan melalui infus sehingga jumlah obat yang diberikan dapat diketahui secara pasti. Selama induksi berlangsung, denyut jantung janin dipantau secara ketat dengan menggunakan alat pemantau elektronik. Jika induksi tidak menyebabkan kemajuan dalam persalinan, maka dilakukan operasi sesar. Pada augmentasi persalinan diberikan oksitosin sehingga kontraksi rahim bisa secara efektif mendorong janin melewati jalan lahir. Tetapi jika persalinan masih dalam fase inisial (dimana serviks belum terlalu membuka dan kontraksi masih tidak teratur), lebih baik augmentasi ditunda dengan membiarkan ibu beristirahat dan berjalan-jalan. Kadang terjadikontraksi yang terlalu kuat, terlalu sering atau terlalu kuat dan terlalu sering. Keadaan ini disebut kontraksi disfungsional hipertonik dan sulit untuk dikendalikan. Jika hal ini terjadi akibat pemakaian oksitosin, maka pemberian oksitosin segera dihentikan. Diberikan obat pereda nyeri atau terbutalin maupun ritodrin untuk membantu menghentikan maupun memperlambat kontraksi.

Forseps & Ekstraktor Vakum Forseps adalah alat bedah yang terbuat dari logam, bentuknya menyerupai tang, ujungnya bundar sesuai denga bentuk kepala janin. Ekstraktor Vakum adalah suatu mangkuk kecil yang terbuat dari bahan yang menyerupai karet dan dihubungkan dengan sebuah vakum (ruang hampa udara), yang dimasukkan ke dalam vagina dan ditempelkan pada kepala janin. Forseps kadang digunakan untuk membantu persalinan atau memandu kepala janin. Forseps perlu digunakan jika janin berada dalam keadaan gawat atau posisinya abnormal atau jika persalinan berlangsung lama (persalinan yang berlangsung lama kadang terjadi jika digunakan anestesi yang menyebabkan ibu tidak dapat mengedan secara adekuat). Ekstraktor vakum adalah suatu alat yang menerapkan pemompaan pada kepala janin. Dengan alat ini, bayi ditarik keluar secara perlahan. Pemakaian forseps bisa menyebabkan memar pada wajah bayi atau menyebabkan robekan pada vagina ibu; sedangkan ekstraktor vakum bisa menyebabkan robekan pada kulit kepala janian. Tetapi cedera tersebut jarang terjadi. Operasi Sesar Operasi Sesar adalah operasi untuk melahirkan/mengeluarkan bayi dari rahim ibu dengan cara membuat sayatan pada perut dan rahim ibu. Operasi sesar biasanya dihadiri oleh dokter ahli kebidanan, ahli anestesi, perawat dan ahli neonatologi atau seseorang yang ahli dalam melakukan resusitasi. Segera setelah menjalani operasi sesar, ibu dianjurkan untuk berjalan guna mencegah terjadinya emboli paru (penyumbatan arteri paru oleh bekuan darah yang berasal dari tungkai atau panggul). Rasa nyeri yang timbul setelah operasi sesar lebih hebat dibandingkan dengan nyeri akibat persalinan melalui vagina. Sayatan bisa dibuat di rahim bagian atas (insisi klasik) atau di rahim bagian bawah (insisi segmen bawah). Insisi klasik digunakan hanya jika plasenta berada dalam posisi yang abnormal (plasenta previa) atau jika janin berada dalam posisi horisontal. Perdarahan yang terjadi lebih banyak karena rahim bagian atas lebih banyak mengandung pembuluh darah dan jaringan yang terbentuk lebih lemah sehingga kemungkinan akan terbuka pada kehamilan berikutnya. Insisi segmen bawah bisa dibuat secara horisontal maupun vertikal, kebanyakan dibuat secara horisontal. Insisi vertikal biasanya dibuat jika janin berada dalam posisi yang abnormal.

MASALAH JANIN DAN BAYI BARU LAHIR
DEFINISI Jika persalinan tidak berjalan dengan normal, janin atau bayi yang baru lahir akan mengalami masalah. Janin dalam bahaya (fetal distress): fetal disstress adalah komplikasi yang jarang terjadi pada persalinan. Biasanya terjadi ketika janin tidak mendapatkan cukup oksigen. Indikator yang lebih sensitiv pada fetal disstress adalah kelainan pola detak jantung pada janin. Melalui persalinan, detak jantung janin dipantau dengan stetoskop janin-setiap 15 menit selama awal persalinan dan setelah setiap kontraksi selama akhir persalinan. Atau detak jantung janin dipantau secara terus menerus dengan alat pantau detak jantung elektronik. Jika kelainan signifikan pada detak jantung diketahui, hal tersebut biasanya bisa diperbaiki dengan beberapa cara seperti memberikan oksigen kepada ibunya, meningkatkan jumlah cairan yang diberikan secara infus pada ibunya, dan mengembalikan ibunya ke posisi sebelah kirinya. Jika cara ini tidak efektif, bayi tersebut dilahirkan secepatnya dengan forceps, vacuum extractor, atau operasi sessar. Jika cairan ketuban berwarna hijau setelah selaput runtuh, janin tersebut kemungkinan dalam bahaya (namun biasanya tidak). Pelunturan ini disebabkan kotoran pertama bayi (fetal meconium). Gagal janin kemungkinan berhubungan dengan postmaturity (ketika plasenta rusak pada kehamilan postterm) atau dengan komplikasi pada kehamilan atau persalinan yang mempengaruhi ibunya dan oleh karena itu mempengaruhi bayi juga. Gangguan pernafasan : jarang terjadi, seorang bayi tidak mulai bernafas ketika lahir, meskipun tidak terdapat masalah sebelum melahirkan. Sehingga bayi tersebut membutuhkan tindakan penyadaran. Seorang ahli dalam menyadarkan bayi dihadirkan sewaktu melahirkan untuk alasan ini. Posisi dan cara lahir tidak normal bayi : posisi merujuk pada apakah bayi menghadap ke belakang (ke arah punggung wanita, atau telungkup) atau maju (menghadap ke atas). Cara lahir merujuk pada bagian tubuh bayi yang membuat jalan keluar melalui jalan lahir. Kombinasi yang sering terjadi dan teraman adalah kepala terlebih dahulu (disebut vertex atau cara lahir cephalic) dan menghadap ke bawah, dengan wajah dan badan menyudut ke arah kanan atau kiri dan dengan leher bengkok ke depan, dagu masuk, dan lengan dilipat melintasi dada. Jika janin berada pada posisi atau cara keluar yang berbeda, persalinan kemungkinan lebih sulit dan melahirkan secara normal tidak mungkin terjadi. Posisi dan Cara Keluar Janin

Menjelang akhir kehamilan, janin bergerak ke posisi untuk melahirkan. Normalnya, posisi janin menghadap ke belakang (menghadap bagian belakang wanita) dengan wajah dan tubuh menyudut ke salah satu sisi dan leher dilenturkan, dan cara keluar adalah kepala terlebih dahulu. Posisi yang tidak normal adalah menghadap ke depan, dan cara keluar yang tidak normal termasuk face, brow, breech, dan shoulder

Ketika janin menghadap ke atas (posisi tidak normal), leher seringkali menegang daripada bengkok, dan kepala membutuhkan lebih banyak ruang untuk melalui jalan lahir. Melahirkan dengan forceps, vacuum extractor, atau operasi sessar kemungkinan diperlukan. Terdapat beberapa cara keluar tidak normal. Cara keluar face, leher melengkung ke belakang sehingga wajah keluar terlebih dahulu, pada cara keluar brow, leher agak melengkung sehingga alis keluar pertama kali. Biasanya, janin tidak tetap pada cara keluar ini, mereka bisa berubah dengan sendirinya. Cara keluar breech, dimana pantat keluar terlebih dahulu, terjadi dalam 2 sampai 3% pada melahirkan matang. Ketika melahirkan melalui vagina, bayi yang pantatnya keluar terlebih dahulu lebih mungkin terluka dibandingkan mereka yang kepalanya keluar terlebih dahulu. Beberapa luka bisa terjadi sebelum, selama, atau setelah lahir dan termasuk kematian. Komplikasi sedikit mungkin ketika cara keluar breech terdeteksi sebelum persalinan atau melahirkan. Kadangkala dokter bisa memutar janin ke cara keluar kepala terlebih dahulu dengan menekan perut wanita tersebut sebelum persalinan dimulai, biasanya pada 37 atau 38 minggu kehamilan. Meskipun begitu, jika persalinan dimulai dan janin pada cara keluar breech, masalah bisa terjadi. Jalan keluar dibuat oleh pantat di jalan lahir bisa tidak cukup lebar untuk kepala (yang melebar) untuk keluar. Sebagai tambahan, ketika kepala mengikuti pantat, hal ini tidak dapat dibentuk untuk menyesuaikan jalan lahir, seperti normalnya.

Oleh karena itu, tubuh bayi tersebut kemungkinan dilahirkan dan kepala bisa dipegang disamping wanita tersebut. akibatnya, tulang belakang atau syaraf lainnya kemungkinan meregang, menyebabkan kerusakan syaraf. Ketika pusar bayi pertama kali terlihat di luar wanita tersebut, tali pusar tertekan antara kepala bayi dan jalan lahir, sehingga sangat sedikit oksigen yang diperoleh bayi. Kerusakan otak membuat kekurangan oksigen adalah lebih sering terjadi pada bayi dengan cara keluar pantat terlebih dahulu dibandingkan mereka yang kepalanya keluar terlebih dahulu. Pada kelahiran pertama, masalah ini bertambah buruk karena jaringan wanita tidak meregang karena melahirkan sebelumnya. Karena bayi bisa saja terluka atau meninggal, melahirkan dengan operasi sessar dianjurkan ketika janin dalam kondisi cara keluar breech. Kadang kala, janin berbaring horizontal melintangi jalan lahir dengan bahu terlebih dahulu keluar. Operasi sessar dilakukan, setidaknya janin kedua atau kembar. Dalam beberapa kasus, janin bisa diputar untuk dilahirkan secara normal. Kelahiran ganda : jumlah kembar, kembar tiga, dan kelahiran ganda lainnya telah meningkat selama dua dekade terakhir. Selama kehamilan, jumlah janin bisa dipastikan dengan ultrasonografi. Membawa lebih dari satu janin terlampau meregangkan rahim, dan rahim yang terlampau meregang cenderung mulai kontraksi sebelum kehamilan mencapai jangka waktu penuh. Akibatnya, bayi biasanya dilahirkan secara prematur dan kecil. Pada kasus yang sama, rahim yang terlampau meregang tidak dapat berkontraksi dengan baik setelah melahirkan, menyebabkan pendarahan pada wanita setelah melahirkan. Karena janin bisa jadi dalam berbagai posisi dan cara keluarnya, melahirkan secara normal bisa jadi rumit. Juga, kontraksi pada rahim setelah melahirkan pada bayi pertama bisa memotong plasenta pada sisa bayi. Akibatnya, bayi tersebut yang keluar setelah bayi pertama lebih mengalami masalah selama melahirkan dan setelahnya. Untuk alasan ini, dokter bisa memutuskan selanjutnya bagaimana untuk melahirkan bayi kembar : secara normal atau dengan operasi sessar. Kadang kala, bayi kembar yang pertama dilahirkan secara normal, tetapi operasi sessar lebih aman untuk bayi kembar kedua. Untuk kembar tiga atau kelahiran ganda lainnya, dokter biasanya melakukan operasi sessar. Shoulder dystocia : shoulder dystocia terjadi ketika salah satu bahu janin pada posisi berlawanan dengan tulang pubis wanita tersebut, dan bayi tersebut oleh karenanya tertahan di jalan lahir. Kepala keluar, tetapi tertarik kembali dengan kuat berlawanan dengan pembukaan vagina. Bayi tidak bisa bernafas karena dada tertekan oleh jalan lahir. Akibatnya, kadar oksigen pada darah bayi menurun. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada janin yang lebih besar, terutama sekali ketika persalinan sudah sulit atau ketika forceps atau sebuah vacuum extractor telah digunakan karena kepala janin tersebut tidak sepenuhnya turun di panggul. Ketika komplikasi terjadi, dokter segera mencoba berbagai cara untuk membebaskan bahu sehingga bayi tersebut bisa dilahirkan dengan normal. Pada keadaan ekstrem, jika

cara ini tidak berhasil, bayi tersebut bisa didorong kembali ke dalam vagina dan dilahirkan dengan operasi sessar. Prolapsed umbilical cord : tali pusat mendahului bayi melalui vagina (prolapses) pada sekitar 1 dari 1000 kelahiran. Ketika prolapses umbilical cord terjadi, bisa mengerut sehingga suplai darah janin terpotong. Komplikasi ini kemungkinan nyata (overt) atau tidak (occult). Prolapse nyata ketika selaput telah runtuh dan tali pusat menonjol ke dalam atau keluar vagina sebelum bayi muncul. Prolapse nyata biasanya terjadi ketika seorang bayi muncul dengan pantat terlebih dahulu (cara keluar breech). Tetapi hal ini bisa terjadi ketika bayi tersebut muncul dengan kepala terlebih dahulu, terutama sekali jika selaput runtuh secara prematur atau janin tersebut tidak turun ke dalam panggul wanita tersebut. Jika janin tersebut tidak turun, aliran cairan sewaktu selaput runtuh bisa membawa tali pusat tersebut keluar di depan bayi. Jika tali turun, segera akan melahirkan, hampir selalu dengan operasi sessar, diperlukan untuk mencegah suplai darah ke janin terpotong. Hingga operasi dimulai, seorang perawat atau dokter menahan tubuh janin tersebut pada tali pusat sehingga suplai darah tersebut melalui tali yang turun tidak terpotong. Pada prolapse occult, selaput tetap utuh dan tali berada di depan janin atau terperangkap di depan bahu janin. Biasanya, prolapse occult bisa diidentifikasikan dengan pola tidak normal pada detak jantung bayi. Perubahan posisi wanita tersebut atau menaikkan kepala bayi bisa meringankan tekanan pada tali pusat biasanya memperbaiki masalah. Kadang kala, operasi sessar diperlukan. Nuchal Cord: tali pusat membungkus sekitar leher janin pada sekitar seperempat kelahiran. Biasanya, bayi tidak dalam bahaya. Sebelum lahir, Nuchal Cord: kadang kala bisa dideteksi dengan ultrasonografi, tetapi tidak diperlukan tindakan. Dokter secara rutrin memeriksa hal itu sampai mereka melahirkan bayinya. Jika mereka merasa hal tersebut, mereka bisa memasukkan tali pusat melewati kepala bayi.

MASALAH YANG MEMPENGARUHI
DEFINISI Preeclampsia : preeclampsia adalah komplikasi pada kehamilan. Yang meliputi tekanan darah tinggi yang terjadi di dalam kehamilan akhir atau segera setelah melahirkan. Preeclampsia bisa membuat pelepasan prematur pada plasenta dari rahim (abruption plasenta) dan masalah-masalah pada bayi yang baru lahir. Emboli cairan amniotic : sangat jarang, sejumlah cairan amniotic-cairan yang mengelilingi janin di dalam rahim-masuk ke aliran darah wanita tersebut, biasanya terutama sekali selama persalinan yang sulit. Cairan tersebut mengalir menuju paru-paru wanita tersebut dan bisa menyebabkan penyempitan arteri pada paru-paru. Penyempitan ini bisa mengakibatkan detak jantung yang cepat, irama jantung yang tidak teratur, kolaps, shock, atau bahkan serangan jantung dan kematian. Gumpalan darah yang

menyebar luas (pembekuan intravascular tersebar) adalah komplikasi umum, membutuhkan perawatan segera. Pendarahan kandungan: Setelah bayi dilahirkan, pendarahan berlebihan (wasir postpartum) dari rahim adalah perlu diperhatikan. Biasanya, wanita kehilangan sekitar 0.568 liter darah setelah melahirkan. Darah hilang karena beberapa pembuluh darah terbuka ketika pelepasan plasenta dari rahim. Kontraksi pada rahim membantu menutup pembuluh darah ini sampai pembuluh tersebut bisa disembuhkan. Kehilangan lebih dari 0.568 liter darah selama atau setelah tahap ketiga pada persalinan (ketika plasenta dilahirkan) dipertimbangkan sebagai hal yang berlebihan. Kehilangan darah yang hebat biasanya terjadi segera setelah melahirkan tetapi bisa terjadi bahkan paling lambat 1 bulan setelah itu. Pendarahan berlebihan bisa terjadi ketika kontraksi pada rahim setelah melahirkan lemah. Kemudian, pembuluh darah yang terbuka ketika plasenta dilepas terus berdarah. Kontraksi bisa lemah jika rahim telah terlalu meregang-misalnya, oleh cairan amniotic yang terlalu banyak di dalam rahim, oleh beberapa janin, atau oleh janin yang sangat besar. Kontraksi bisa juga lemah ketika potongan plasenta menetap di dalam rahim setelah melahirkan, ketika persalinan terlalu lama atau tidak normal, ketika seorang wanita telah hamil beberapa kali, atau ketika anestesi perileks-otot digunakan selama persalinan dan melahirkan. Pendarahan yang berlebihan bisa terjadi jika vagina atau servik robek atau terpotong selama melahirkan atau kadar darah pada fibrinogen (yang membantu penggumpalan darah) rendah. Pendarahan berlebihan setelah satu kali melahirkan bisa meningkatkan resiko pendarahan berlebihan setelah melahirkan berikutnya. Sebelum seorang wanita bersalin, dokter mengambil langkah untuk mencegah atau bersiap untuk pendarahan yang berlebihan setelah melahirkan. Misalnya, mereka memastikan apakah wanita tersebut memiliki keadaan yang meningkatkan resiko pendarahan, seperti terlalu banyak cairan amniotic. Jika wanita tersebut memiliki jenis darah yang tidak umum, dokter memastikan persediaan jenis darahnya. Setelah melahirkan plasenta, wanita tersebut dipantau setidaknya 1 jam untuk memastikan bahwa rahim berkontraksi dan untuk memperkirakan pendarahan vagina. Jika pendarahan hebat terjadi, bagian perut wanita tersebut diurut untuk membantu kontraksi rahim, dan dia diberikan oxytocin secara kontinyu melalui selang infus untuk membantu kontraksi rahim. Jika pendarahan berlanjut, prostaglandin bisa disuntikkan ke dalam otot kandungan untuk membantu kontraksi rahim. Wanita tersebut bisa memerlukan tranfusi darah. Dokter mencari penyebab pendarahan berlebihan. Rahim kemungkinan diteliti untuk menyimpan bagian-bagian pada plasenta. Pembesaran dan kuret bisa dilakukan untuk mengangkat bagian-bagian ini. Pada prosedur ini, alat yang kecil, tajam (curet) dimasukkan melalui servik (yang biasanya masih terbuka dari melahirkan). Kuret digunakan untuk mengangkat bagian-bagian yang masih tertinggal. Prosedur ini

membutuhkan anestesi. Servik dan vagina diteliti untuk segala robekan. Jika rahim tidak bisa dirangsang untuk kontraksi dan pendarahan berlanjut, arteri yang mensuplai darah ke rahim bisa tertutup. Prosedur tersebut digunakan biasanya tidak memiliki efek sakit, seperti kemandulan atau menstruasi yang tidak normal. Pengangkatan pada rahim (hysterectomy) jarang diperlukan untuk menghentikan pendarahan. Rahim membalik: Sangat jarang, rahim terbalik, sehingga menonjol lewat servik, ke dalam atau melalui vagina. Rahim terbalik adalah keadaan darurat medis yang harus diobati tepat pada waktunya. Dokter mengembalikan rahim ke posisi normal (membalikkan kembali) dengan tangan. Biasanya, wanita tersebut sembuh sepenuhnya setelah prosedur ini.

PROSEDUR PERSALINAN
DEFINISI Induksi pada persalinan adalah awalan buatan pada persalinan. biasanya persalinan diinduksi dengan memberikan wanita tersebut oxytocin, hormon yang membuat rahim berkontraksi lebih sering dan lebih kuat. Oxytocin yang diberikan sama dengan oxytocin yang dihasilkan oleh kelenjar pituitary. Hal ini diberikan melalui infus dengan pompa infus, sehingga jumlah pemberian obat dapat dikendalikan dengan tepat. Kadangkala prostaglandin, yang membantu pembesaran servik, juga diberikan untuk membantu memulai persalinan. Sepanjang induksi dan persalinan, jantung janin dipantau secara elektronik. Mulanya, monitor diletakkan di perut wanita tersebut. setelah selaput pecah, monitor dalam dapat dimasukkan melalui vagina dan ditempelkan ke kepala janin. Jika induksi tidak berhasil, bayi tersebut dilahirkan dengan operasi sessar. Percepatan persalinan adalah percepatan buatan pada persalinan yang prosesnya tidak efektif atau terlalu lambat. Oxytocin digunakan untuk percepatan persalinan. Persalinan dipercepat ketika seorang wanita mengalami kontraksi yang tidak efektif menggerakkan janin melalui saluran lahir. Memperlambat persalinan adalah penundaan buatan pada persalinan yang prosesnya terlalu kuat. Sangat jarang, seorang wanita mengalami kontraksi yang terlalu kuat, terlalu dekat bersamaan, atau keduanya. Jika kontraksi disebabkan oleh penggunaan oxytocin, obat tersebut dihentikan segera. Wanita tersebut kemungkinan ditempatkan kembali dan diberikan analgesik. Jika kontraksi terjadi secara spontan, obat yang dapat memperlambat persalinan (seperti terbutaline atau) kemungkinan diberikan untuk menghentikan atau memperlambat kontraksi. Forceps adalah alat operasi dari metal, seperti penjepit, dengan keliling bulat yang pas mengelilingi kepala bayi. Forceps kadangkala digunakan pada persalinan normal untuk

memudahkan melahirkan. Forceps kemungkinan diperlukan ketika janin terganggu atau posisinya tidak normal, ketika wanita tersebut mengalami kesulitan untuk mengejan, atau ketika persalinan lama. (kadangkala dokter lebih suka melakukan operasi sessar). Jika forceps melahirkan dicoba dan tidak berhasil, operasi sessar dilakukan. Jarang terjadi, menggunakan forceps membuat memar wajah bayi atau merobek vagina wanita tersebut. Menggunakan Forceps dan Vacuum Extractor

Forceps atau vacuum extractor kemungkinan digunakan untuk membantu melahirkan. Forceps ditempatkan di sekeliling kepala bayi. Vacuum extractor menggunakan penghisap untuk ditempelkan ke kepala bayi. Dengan alat manapun, bayi ditarik keluar dengan lembut sebagaimana wanita tersebut mengejan. Vacuum extractor bisa digunakan sebagai pengganti forceps untuk membantu melahirkan. Vacuum extractor terdiri dari mangkuk kecil yang dibuat dari bahan seperti karet yang dihubungkan ke vacuum. Hal ini dimasukkan ke dalam vagina dan menggunakan hisapan untuk ditempelkan ke kepala bayi. Jarang, vacuum extractor merusak kepala bayi. Operasi sessar adalah operasi melahirkan bayi dengan sayatan sepanjang perut dan rahim wanita. Dokter melakukan prosedur ini ketika mereka berpikir hal ini lebih aman dibandingkan melahirkan normal untuk wanita tersebut, bayi, atau keduanya. Di Amerika Serikat, sekitar seperempat pada persaalinan dengan operasi sessar. Seorang ahli kandungan, ahli anestesi, perawat, dan kadangkala ahli anak terlibat di dalam prosedur ini. Penggunaan anestesi, obat-obatan infus, antibiotik, dan transfusi darah membantu membuat operasi sessar aman. Dengan berjalan-jalan berkeliling membuat wanita tersebut segera setelah operasi mengurangi resiko emboli paru-paru, dimana gumpalan darah yang terbentuk pada kaki atau panggul mengalir menuju paru-paru dan menghambat arteri di sana. Dibandingkan dengan melahirkan normal, melahirkan dengan operasi sessar menghasilkan lebih banyak nyeri setelahnya, tinggal lebih lama di rumah sakit, dan waktu penyembuhan yang lebih lama. Untuk operasi sessar, sebuah sayatan dibuat di bagian atas atau bagian bawah rahim. Sayatan di bagian bawah lebih umum dilakukan. Bagian bawah rahim mempunyai lebih sedikit pembuluh darah, sehingga darah yang hilang biasanya sedikit. Juga, penyembuhan

luka parut lebih kuat, sehingga jarang untuk membuka lebih lebar sewaktu melahirkan berikutnya. Sayatan bagian bawah kemungkinan horizontal atau vertical. Biasanya, sayatan bagian atas digunakan ketika plasenta menghalangi servik (komplikasi ini disebut placenta previa), ketika janin melintangi saluran lahir secara horizontal, atau ketika janin sangat premature. Pilihan melahirkan normal atau operasi sessar berulang biasanya ditawarkan untuk wanita yang telah mengalami sayatan di bagian bawah perut. Melahirkan normal berhasil pada sekitar tiga perempat wanita. Meskipun begitu, beberapa wanita harus merencanakan memiliki bayi mereka dalam fasilitas yang dilengkapi untuk melakukan operasi sessar dengan cepat, karena terdapat kemungkian sangat kecil bahwa sayatan dari operasi sessar sebelumnya akan membuka selama persalinan.

MASALAH WAKTU PERSALINAN
DEFINISI Persalinan bisa mulai lebih cepat (sebelum minggu ke-37 pada kehamilan) atau bisa mulai terlambat (setelah minggu ke-41 sampai ke-42 pada kehamilan). Akibatnya, janin yang sehat dan hidup kemungkinan dalam bahaya. Persalinan yang dimulai terlalu awal atau terlambat ketika wanita atau janin tersebut mengalami masalah kesehatan atau janin di dalam posisi yang tidak normal. Tidak lebih dari 10 % wanita melahirkan pada tanggal yang telah ditetapkan (biasanya diperkirakan sekitar 40 minggu pada kehamilan). Sekitar 50% wanita melahirkan dalam waktu 1 minggu (sebelum dan sesudah), dan hampir 90% melahirkan dalam waktu 2 minggu pada tanggal yang telah ditetapkan. Memastikan lamanya kehamilan bisa jadi sulit, karena tanggal yang tepat pada pembuahan seringkali tidak dapat dipastikan. Awal kehamilan, pemeriksaan ultrasonik, yang aman dan tidak menyakitkan, bisa membantu memastikan lamanya kehamilan. Pada pertengahan dan akhir kehamilan, pemeriksaan ultrasonik sedikit dapat dipercaya dalam memastikan lamanya kehamilan. Pecahnya selaput secara premature : pada sekitar 10% kehamilan normal, selaput berisi cairan mengandung janin pecah sebelum persalinan dimulai. Kontraksi biasanya dimulai dalam waktu 12 sampai 48 jam. Pecahnya selaput umumnya dijelaskan sebagai ‘air ketuban’. Cairan di dalam selaput (cairan ketuban) kemudian mengalir keluar dari vagina. Aliran tersebut bervariasi dari menetes sampai menyembur. Segera sebagimana selaput telah pecah, seorang wanita harus menghubungi dokter atau bidan. Jika persalinan tidak mulai terjadi dalam waktu 24 sampai 48 jam, resiko infeksi pada rahim dan janin meningkat. Oleh karena itu, seorang dokter atau bidan berijazah biasanya memulai persalinan buatan (induksi), tergantung apakah cukup matang atau tidak janin tersebut untuk dilahirkan. Dokter bisa menganalisa cairan ketuban untuk memastikan jika paru-paru janin cukup matang. Jika tidak, persalinan diinduksi dan bayi dilahirkan. Jika

tidak, dokter biasanya tidak menginduksi persalinan. Suhu tubuh wanita tersebut dan denyut nadi biasanya direkam setidaknya dua kali sehari. Peningkatan pada suhu atau denyut kemungkinan tanda awal infeksi. Jika infeksi terjadi, persalinan diinduksi dengan segera dan bayi dilahirkan. Sangat jarang, jika cairan ketuban berhenti merembes dan kontraksi berhenti, wanita tersebut kemungkinan bisa pulang. Pada beberapa kasus, wanita tersebut harus menemui dokternya setidaknya sekali seminggu. Persalinan preterm : karena bayi dilahirkan secara premature bisa mengalami masalah kesehatan yang signifikan, dokter berupaya untuk mencegah atau menghentikan persalinan yang dimulai sebelum minggu ke-34 kehamilan. Apa yang menyebabkan persalinan preterm tidak dimengerti dengan baik. Meskipun begitu, gaya hidup sehat dan kunjungan rutin ke dokter atau bidan selama persalinan sangat membantu. Persalinan preterm sulit untuk dihentikan. Jika pendarahan vagina tidak terjadi dan selaput tidak membocorkan cairan ketuban, wanita tersebut dianjurkan untuk beristirahat dan mengurangi kegiatan mereka sebanyak mungkin, terhadap orang-orang yang menetap. Wanita tersebut diberikan cairan dan kemungkinan diberikan obat-obatan yang memperlambat persalinan. Cara-cara ini bisa seringkali menunda persalinan untuk waktu yang singkat. Obat-obatan yang bisa memperlambat persalinan termasuk magnesium sulfate dan terbutaline. Magnesium sulfate diberikan secara infus menghentikan persalinan pada banyak wanita. Meskipun begitu, jika dosis terlalu tinggi, bisa memperlambat denyut jantung dan pernafasan wanita tersebut. Terbutaline diberikan dengan suntikan di bawah kulit juga bisa digunakan untuk menghentikan persalinan preterm. Meskipun begitu, sebagai efek samping, ini meningkatkan denyut jantung pada wanita, janin, atau keduanya. Kadangkala ritodrine digunakan sebagai pengganti terbutaline. Jika servik membuka (membesar) melebihi 2 inci (5 cm), persalinan biasanya dilanjutkan sampai bayi dilahirkan. Jika dokter berpikir bahwa melahirkan premature tidak dapat dihindari, seorang wanita kemungkinan diberikan kortikosteroid seperti betametason. Kortikosteroid membantu paru-paru janin dan organ lain matang lebih cepat dan mengurangi resiko setelah lahir, bayi akan mengalami kesulitan pernafasan (sindrom pernafasan bayi baru lahir yang mengganggu). Kehamilan postterm dan postmaturity : pada kebanyakan kehamilan yang berjalan sedikitnya melebihi 41 sampai 42 minggu, tidak mengalami masalah. Meskipun begitu, masalah-masalah bisa terjadi jika plasenta tidak dapat melanjutkan untuk mengatur lingkungan yang sehat untuk janin. Keadaan ini disebut postmaturity. Biasanya, tes dimulai pada minggu ke-41 untuk meneliti gerakan janin dan denyut jantung dan jumlah cairan ketuban, yang nyata berkurang pada kehamilan postmature. Denyut pernafasan dan detak jantung bisa dipantau. Dokter bisa memeriksa kesehatan janin dengan pemantau jantung janin elektronik. Biasanya, pada minggu ke-42, persalinan diinduksi, atau bayi dilahirkan dengan operasi sessar.

Persalinan yang kemajuannya terlalu lambat : jika persalinan kemajuannya terlalu lambat, janin kemungkinan terlalu besar untuk bergerak melalui saluran lahir (panggul dan vagina). Melahirkan dengan forceps, vacuum extractor, atau operasi sessar kemungkinan diperlukan. Jika saluran lahir cukup besar untuk janin tetapi persalinan tidak ada kemajuan, wanita tersebut diberikan infus oxytocin untu merangsang rahim untuk berkontraksi lebih kuat. Jika oxytocin tidak berhasil, operasi sessar dilakukan. Jika bayi tersebut siap pada posisi untuk dilahirkan, forceps atau vacuum extractor kemungkinan digunakan sebagai pengganti.

KELUARGA BERENCANA
DEFINISI Keluarga Berendana adalah usaha untuk mengontrol jumlah dan jarak antara kelahiran anak. Untuk menghindari kehamilan yang bersifat sementara digunakan kontrasepsi sedangkan untuk menghindari kehamilan yang sifatnya menetap bisa dilakukan sterilisasi. Aborsi bisa digunakan untuk mengakhiri kehamilan jika terjadi kegagalan kontrasepsi.

KONTRASEPSI Metode kontrasepsi terdiri dari: 1. Kontrasepsi oral (pil KB) Pil KB mengandung hormon, baik dalam bentuk kombinasi progestin dengan estrogen atau progestin saja. Pil KB mencegah kehamilan dengan cara menghentikan ovulasi (pelepasan sel

telur oleh ovarium) dan menjaga kekentalan lendir servikal sehingga tidak dapat dilalui oleh sperma. Tablet yang hanya mengandung progestin sering menyebabkan perdarahan tidak teratur. Tablet ini hanya diberikan jika pemberian estrogen bisa membahayakan, misalnya pada wanita yang sedang menyusui. Pil kombinasi ada yang memiliki estrogen dosis rendah dan ada yang mengandung estrogen dosis tinggi. Estrogen dosis tinggi biasanya diberikan kepada wanita yang mengkonsumsi obat tertentu (terutama obat epilepsi). Keuntungan pemakaian pil KB adalah mengurangi: - Resiko kanker jenis tertentu - Angka kekambuhan kram pada saat menstruasi - Ketegangan premenstruasi - Perdarahan tidak teratur - Anemia - Kista payudara - Kista ovarium - Kehamilan ektopik (kehamilan di luar kandungan) - Infeksi tuba falopii. Sebelum mulai menggunakan pil KB, dilakukan pemeriksaan fisik untuk meyakinkan bahwa tidak ada masalah kesehatan yang bisa menimbulkan resiko. Jika wanita tersebut atau keluarga dekatnya ada yang menderita diabetes atau penyakit jantung, biasanya dilakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar kolesterol dan gula darah. Jika kadar kolesterol atau gula darahnya tinggi, maka diberikan pil KB dosis rendah. 3 bulan setelah pemakaian pil KB, dilakukan pemeriksaan ulang untuk mengetahui adanya perubahan tekanan darah. Selanjutnya pemeriksaan dilakukan 1 kali/tahun. Pil KB sebaiknya tidak digunakan oleh: a. Wanita yang merokok dan berusia diatas 35 tahun b. Wanita penderita penyakit hati aktif atau tumor c. Wanita yang memiliki kadar trigliserida tinggi d. Wanita penderita tekanan darah tinggi yang tidak diobati e. Wanita penderita diabetes yang disertai penyumbatan arteri f. Wanita yang memiliki bekuan darah g. Wanita yang tungkainya sedang digips h. Wanita penderita penyakit jantung I. Wanita yang pernah menderita stroke j. Wanita yang pernah menderita penyakit kuning pada saat kehamilan k. Wanita penderita kanker payudara atau kanker rahim.

Pengawasan harus dilakukan jika pil KB digunakan oleh: a. Wanita yang mengalami depresi b. Wanita yang sering mengalami sakit kepala migren c. Wanita yang merokok tetapi berusia dibawah 35 tahun d. Wanita yang pernah menderita hepatitis atau penyakit hari lainnya tetapi telah sembuh total. Pemakaian pil KB setelah kehamilan Resiko terbentuknya bekuan darah di tungkai meningkat setelah kehamilan dan akan semakin meningkat jika wanita tersebut memakai pil KB. Jika menstruasi terakhir terjadi dalam waktu kurang dari 12 minggu setelah persalinan, maka pil KB bisa langsung digunakan. Jika menstruasi terakhir terjadi dalam waktu 12-28 minggu, maka harus menunggu 1 minggu sebelum pil KB mulai digunakan, sedangkan jika menstruasi terakhir terjadi dalam waktu lebih dari 28 minggu, harus menunggu 2 minggu sebelum pil KB mulai digunakan. Wanita yang menyusui biasanya tidak mengalami ovulasi sampai 10-12 minggu setelah persalinan, tetapi mereka bisa mengalami ovulasi dan hamil sebelum terjadinya menstruasi pertama. Karena itu, ibu yang menyusui sebaiknya menggunakan pil KB jika tidak ingin hamil. Pil kombinasi yang diminum oleh ibu menyusui bisa mengurangi jumlah air susu dan kandungan zat lemak serta protein dalam air susu. Hormon dari pil terdapat dalam air susu sehingga bisa sampai ke bayi. Karena itu untuk ibu menyusui sebaiknya diberikan tablet yang hanya mengandung progestin, yang tidak mempengaruhi pembentukan air susu. Pil KB yang diminum segera setelah terjadinya pembuahan atau pada awal kehamilan (sebelum wanita tersebut mengetahui bahwa dia hamil) tidak akan membahayakan janin. Efek samping pil KB a. Perdarahan tidak teratur. Sering terjadi pada beberapa bulan pertama pemakaian pil KB, jika tubuh telah menyesuaikan diri dengan hormon biasanya perdarahan abnormal akan berhenti. b. Beberapa bulan setelah berhenti menggunakan pil KB, mungkin tidak akan terjadi menstruasi, tetapi obat ini tidak menyebabkan berkurangnya kesuburan secara permanen. c. Efek samping yang berhubungan dengan estrogen adalah mual, nyeri tekan pada payudara, perut kembung, penahanan cairan, peningkatan tekanan darah dan depresi. d. Efek samping yang berhubungan dengan progestin adalah penambahan berat

badan, jerawat dan kecemasan. Penambahan berat badan sebanyak 1,5-2,5 kg biasanya terjadi akibat penahanan cairan dan mungkin karena meningkatnya nafsu makan. e. Bekuan darah diperkirakan 3-4 kali lebih sering terjadi pada pemakaian pil KB dosis tinggi. Jika secara tiba-tiba timbul nyeri dada atau nyeri tungkai, pemakaian pil KB harus segera dihentikan dan segera memeriksakan diri karena gejala tersebut mungkin menunjukkan adanya bekuan darah di dalam vena tungkai dan kemungkinan sedang menuju ke paru-paru. Pil KB dan pembedahan menyebabkan meningkatnya resiko pembentukan bekuan darah, sehingga 1 bulan sebelum menjalani pembedahan pemakaian pil harus dihentikan dan baru mulai dipakai lagi 1 bulah setelah pembedahan. f. Mual dan sakit kepala. g. 1-2% wanita pemakai pil KB mengalami depresi dan kesulitan tidur. h. Melasma (bercak-bercak berwarna gelap di wajah). Jika terkena sinar matahari, bercak semakin gelap. Melasma akan menghilang secara perlahan setelah pemakaian pil KB dihentikan. I. Resiko terjadinya kanker leher rahim tampaknya meningkat, terutama jika pil KB telah dipakai selama lebih dari 5 tahun. Karena itu wanita pemakai pil KB harus rutin menjalani pemeriksaan Pap smear (minimal 1 kali/tahun). Di lain fihak, wanita pemakai pil KB memiliki resiko kanker ovarium ataupun kanker rahim yang lebih rendah. Interaksi pil KB dengan obat lain Pil KB tidak berpengaruh terhadap obat lain, tetapi obat lain (terutama obat tidur dan antibiotik) bisa menyebabkan berkurangnya efektivitas dari pil KB. Wanita pemakai pil KB bisa hamil jika secara terus menerus mengkonsumsi antibiotik (misalnya rifampin, penisilin, ampisilin, tetrasiklin atau golongan sulfa). Ketika mengkonsumsi antibiotik tersebut, selain pil KB sebaiknya ditambah dengan menggunaka kontrasepsi penghalang (misalnya kondom atau diafragma). Oba anti-kejang (fenitoin dan phenobarbital) bisa menyebabkan meningkatkan perdarahan abnormal pada wanita pemakai pil KB. Untuk mengatasi hal ini, kepada wanita penderita epilepsi yang mengkonsumsi anti-kejang perlu diberikan pil KB dosis tinggi.

2. Kontrasepsi penghalang Kontrasepsi penghalang secara fisik menghalangi jalan masuk sperma ke dalam rahim wanita. Yang termasuk ke dalam kontrasepsi penghalang adalah: A. Kondom. Kondom bisa melindungi pemakainya dari penyakit menular seksual (misalnya AIDS) dan dapat mencegah perubahan prekanker tertentu pada sel-sel leher rahim. Ada kondom yang ujungnya memiliki penampung semen; jika tidak ada penampung semen, sebaiknya kondom disisakan sekitar 1cm di depan penis. Kondom harus dilepaskan secara perlahan karena jika semen tumpah maka sperma bisa masuk ke vagina sehingga terjadi kehamilan. Untuk menambah efektivitas pemakaian kondom bisa ditambahkan spermisida (biasanya terkandung di dalam pelumas kondom atau dimasukkan secara terpisah ke dalam vagina). Kondom wanita merupakan alat kontrasepsi penghalang baru yang dipasang di vagina dengan bantuan sebuah cincin. Kondom wanita menyerupai kondom pria, tetapi lebih lebar dan memiliki angka kegagalan yang tinggi.

B. Diafragma. Diafragma merupakan plastik berbentuk kubah dengan sabuk yang lentur, dipasang pada serviks dan menjaga agar sperma tidak masuk ke dalam rahim. Ukurannya bervariasi dan harus dicocokkan oleh dokter atau perawat. Pemakaiannya harus selalu bersamaan dengan krim atau jeli. Diafragma dipasang sebelum melakukan hubungan seksual dan tetap terpasang sampai minimal 8 jam tetapi tidak boleh lebih dari 24 jam. Ukuran diafragma harus diganti jika: - terjadi penambahan atau penurunan berat badan sebanyak lebih dari 5 kg - diafragma telah dipakai selama lebih dari 1 tahun - baru melahirkan anak atau mengalami aborsi, karena ukuran dan bentuk vagina mungkin mengalami perubahan.

C. Penutup serviks (leher rahim). Penutup serviks (cervical cap) hampir menyerupai diafragma tetapi ukurannya lebih kecil dan lebih kaku, dipasang pada serviks. Ukurannya bervariasi dan harus dicocokkan oleh dokter atau perawat. Pemakaian penutup serviks harus selalu bersamaan dengan krim atau jeli. Penutup serviks dipasang sebelum melakukan hubungan seksual dan tetap terpasang sampai minimal 8 jam dan maksimal 48 jam sesudah melakukan hubungan seksual. D. Sediaan untuk menghentikan atau membunuh sperma atau disebut juga spermisida (dalam bentuk busa, krim, jel dan suppositoria yang dimasukkan ke dalam vagina) Busa, krim, jeli dan suppositoria vagina dimasukkan sebelum melakukan hubungan seksual. Selain mengandung spermisida, bahan tersebut juga merupakan penghalang fisik untuk sperma. 3. Penarikan penis sebelum terjadinya ejakulasi Disebut juga coitus interruptus. Pada metode ini, pria mengeluarkan/menarik penisnya dari vagina sebelum terjadinya ejakulasi (pelepasan sperma ketika mengalami orgasme). Metode ini kurang dapat diandalkan karena sperma bisa keluar sebelum orgasme juga memerlukan pengendalian diri yang tinggi serta penentuan waktu yang tepat. 4. Metoda ritmik Pada metoda ritmik, pasangan suami istri tidak melakukan hubungan seksual selama masa subur wanita. Ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) terjadi 14 hari sebelum menstruasi. Sel telur yang telah dilepaskan hanya bertahan hidup selama 24 jam, tetapi sperma bisa bertahan selama 3-4 hari setelah melakukan hubungan seksual. Karena itu pembuahan bisa terjadi akibat hubungan seksual yang dilakukan 4 hari sebelum ovulasi. A. Metode ritmik kalender merupakan metode yang paling tidak efektif, bahkan untuk wanita yang memiliki siklus menstruasi yang teratur. Wanita sebaiknya mencatat siklusnya dalam 12 bulan terakhir. Untuk mengetahui saat tidak boleh melakukan hubungan seksual, dilakukan perhitungan berikut: (siklus terpendek - 18) dan (siklus terpanjang - 11). Contohnya, jika siklus seorang wanita dalam waktu 12 bulan terakhir berkisar antara 26-29 hari, maka 26-18=8 dan 29-11=18, artinya hubungan seksual tidak

boleh dilakukan pada hari ke-8 sampai hari ke-18 setelah menstruasi. B. Pada metode temperatur, dilakukan pengukuran suhu basal (suhu ketika bangun tidur sebelum beranjak dari tempat tidur). Suhu basal akan menurun sebelum ovulasi dan agak meningkat (kurang dari 1? Celsius) setelah ovulasi. Hubungan seksual sebaiknya tidak dilakukan mulai dari menstruasi hari pertama sampai suhu basalnya meningkat. C. Pada metode lendir, masa subur wanita diketahui dengan mengamati lendir servikal, yang biasanya dikeluarkan dalam jumlah yang lebih banyak dan lebih encer sesaat sebelum ovulasi. Hubungan seksual tidak boleh pada saat terjadinya peningkatan jumlah lendir servikal sampai 4 hari sesudahnya. C. Metoda simptotermal terdiri dari pengamatan perubahan lendir servikal dan suhu basal tubuh, juga gejala lainnya yang berhubungan dengan ovulasi (misalnya nyeri kram ringan pada perut bagian bawah). Metoda ini merupakan metoda yang paling dapat diandalkan. 5. Kontrasepsi implan Kontrasepsi implan adalah kapsul plastik yang mengandung progestin, yang bekerja dengan cara mencegah ovulasi dan menghalangi masuknya sperma melalui lendir serviks yang kental. 6 kapsul dimasukkan ke bawah kulit lengan atas. Setelah diberi obat bius, dibuat sayatan dan dengan bantuan jarum dimasukkan kapsul implan. Tidak perlu dilakukan penjahitan. Kapsul ini melepaskan progestin ke dalam aliran darah secara perlahan dan biasanya dipasang selama 5 tahun. Interaksi dengan obat lain jarang terjadi karena implan tidak mengandung estroggen. Efek samping yang utama adalah perdarahan tidak teratur atau sama sekali tidak terajdi menstruasi. Efek samping lainnya adalah sakit kepala dan penambahan berat badan. Kapsul implan tidak larut dalam tubuh sehingga setelah 5 tahun harus dilepaskan. Segera setelah implan dilepas, fungsi ovarium akan kembali normal dan wanita pemakai implan kembali menjadi subur. 6. Kontrasepsi suntikan Medroksiprogesteron (sejenis progestin) disuntikkan 1 kali/3 bulan ke dalam otot bokong atau lengan atas. Suntikan ini sangat efektif tetapi bisa mengganggu siklus menstruasi. Sepertiga

pemakai KB suntik tidak mengalami menstruasi pada 3 bulan setelah suntikan pertama dan sepertiga lainnya mengalami perdarahan tidak teratur dan spotting (bercak perdarahan) selama lebih dari 11 hari setiap bulannya. Semakin lama suntikan KB dipakai, maka lebih banyak wanita yang tidak mengalami menstruasi tetapi lebih sedikit wanita yang mengalami perdarahan tidak teratur. Setelah 2 tahun memakai suntikan KB, sekitar 70% wanita sama sekali tidak mengalami perdarahan. Jika pemakaian suntikan KB dihentikan, siklus menstruasi yang teratur akan kembali terjadi dalam waktu 6 bulan-1 tahun. Efeknya berlangsung lama, sehingga kesuburan mungkin baru kembali 1 tahun setelah suntikan dihentikan, tetapi Medroksiprogesteron tidak menyebabkan kemandulan permanen. Suntikan KB bisa menyebabkan penambahan berat badan yang sifatnya ringan. Setelah pemakaian dihentikan, bisa terjadi osteoporosis yang bersifat sementara. Medroksiprogesteron tidak menyebabkan meningkatnya resiko terhadap berbagai kanker (termasuk kanker payudara), tetapi mengurangi resiko terjadinya kanker rahim. Keuntungan memakai KB suntik: o Cocok untuk mencegah kehamilan atau menjarangkan kehamilan dalam jangka panjang dan kesuburan dapat pulih kembali o Tidak terpengaruh "faktor lupa" dari pemakai (tidak seperti memakai PIL KB) o Tidak mengganggu hubungan suami istri o Dapat dipakai segala umur pada masa reproduktif o Tidak mengganggu laktasi (menyusui), baik dari segi kuantitas maupun kualitas o Dapat dipakai segera setelah masa nifas o Meningkatkan kenyamanan hubungan suami-istri karena rasa aman terhadap risiko kehamilan o Dapat dipakai segera setelah keguguran o Membantu mencegah terjadinya kehamilan di luar kandungan o Membantu mencegah kanker endometrium (rahim) o Membantu mencegah kejadian mioma uteri (tumor jinak rahim) o Mungkin dapat mencegah kanker indung telur (ovarium) o Mengurangi kejadian anemi kekurangan zat besi o Khusus untuk penderita epilepsi mengurangi kejadian kejang. Kekurangan KB suntikan: Kekurangan KB Suntikan: Efek sampingya terhadap siklus haid (menstruasi) sering "tidak menyenangkan" , namun tidak berbahaya dan bukan tanda kelainan/penyakit ; perubahan pola haid biasanya pada tahun pertama pemakaian yakni :  Perdarahan bercak , dapat lama  Jarang terjadi perdarahan yang banyak  Tidak dapat haid (sering setelah pemakaian berulang)  Sering menaikkan Berat Badan

 Dapat menyebabkan (tidak pada semua akseptor) sakit kepala, nyeri payudara, "moodiness", jerawat, kurangnya libido seksual, rambut rontok.  Perlu suntikan ulangan teratur  Perlu follow up (kontrol/kunjungan berkala) untuk evaluasi Secara UMUM, kebanyakan wanita BOLEH memakai KB suntik, meskipun: 1. perokok berat 2. menyusui 3. gemuk atau kurus 4. remaja 5. baru keguguran 6. Berpenyakit Tiroid 7. Epilepsi 8. TBC (bukan TBC kandungan) 9. Varises ringan 10. Hipertensi ringan 11. Siklus haid tidak teratur 12. Anemi kekurangan zat besi Interaksi dengan obat lain jarang terjadi.  IUD (intra uterine device, spiral). Keuntungan dari IUD adalah efek sampingnya terbatas di dalam rahim. Terdapat 2 macam IUD: - melepaskan progesteron (harus diganti setiap tahun) - melepaskan tembaga (efektif selama 10 tahun). Biasanya IUD dipasang pada saat menstruasi. Jika kemungkinan terjadi infeksi serviks, masa pemasangan IUD sebaiknya ditunda sampai infeksi mereda. Cara kerja IUD adalah dengan menyebabkan reaksi peradangan di dalam rahim yang akan menarik datangnya sel-sel darah putih. Zat yang dihasilkan oleh sel darah putih ini merupakan racun bagi sperma sehingga tidak terjadi pembuahan sel telur. Melepaskan IUD akan menyebabkan terhentinya proses peradangan. Efek samping dari IUD: - Perdarahan dan nyeri - Kadang IUD terlepas dengan sendirinya (sekitar 20% IUD yang lepas tidak disadari/diketahui oleh pemakainya dan bisa menyebabkan kehamilan) - Perforasi rahim - Ketika baru dipasang akan terjadi infeksi singkat pada rahim, tetapi infeksi ini akan mereda setelah 24 jam - Resiko terjadinya keguguran pada wanita hamil dengan IUD yang masih terpasang adalah sekitar 55%.

STERILISASI Sterilisasi merupakan cara berkeluarga berencana yang sifatnya permanen. Sterilisasi pada pria dilakukan melalui vasektomi, sedangkan pada wanita dilakukan prosedur ligasi tuba. Vasektomi adalah pemotongan vas deferens (saluran yang membawa sperma dari testis). Vasektomi dilakukan oleh ahli bedah urolog dan memerlukan waktu sekitar 20 menit. Pria yang menjalani vasektomi sebaiknya tidak segera menghentikan pemakaian kontrasepsi, karena biasanya kesuburan masih tetap ada sampai sekitar 15-20 kali ejakulasi. Setelah pemeriksaan laboratorium terhadap 2 kali ejakulasi menunjukkan tidak ada sperma, maka dikatakan bahwa pria tersebut telah mandul. Komplikasi dari vasektomi adalah: - Perdarahan - Respon peradangan terhadap sperma yang merembes - Pembukaan spontan. Ligasi tuba adalah pemotongan dan pengikatan atau penyumbatan tuba falopii (saluran telur dari ovarium ke rahim). Pada ligasi tuba dibuat sayatan pada perut dan dilakukan pembiusan total. Ligasi tuba bisa dilakukan segera setelah melahirkan atau dijadwalkan di kemudian hari.

Sterilisasi pada wanita seringkali dilakukan melalui laparoskopi. Selain pemotongan dan pengikatan, bisa juga dilakukan kauterisasi (pemakaian arus listrik) untuk menutup saluran tuba. Untuk menyumbat tuba bisa digunakan pita plastik dan klip berpegas.

Pada penyumbatan tuba, kesuburan akan lebih mudah kembali karena lebih sedikit terjadi kerusakan jaringan.

Teknik sterilisasi lainnya yang kadang digunakan pada wanita adalah histerektomi (pengangkatan rahim) dan ooforektomi (pengangkatan ovarium/indung telur). ABORSI Aborsi adalah pengguguran kandungan. Secara umum, kontrasepsi dan sterilisasi memiliki komplikasi yang lebih rendah dibandingkan dengan aborsi, terutama pada wanita muda. Karena itu kontrasepsi dan sterilisasi merupakan pilihan yang lebih baik untuk mencegah kehamilan dan aborsi sebaiknya dijadikan pilihan terakhir jika teknik lainnya yang lebih aman telah gagal dilakukan.

Metoda aborsi terdiri dari: 1. Evakuasi pembedahan : mengeluarkan isi rahim melalui vagina. Evakuasi pembedahan merupakan 97% dari aborsi dan hampir selalu dilakukan pada kehamilan yang berumur kurang dari 12 minggu. Digunakan teknik kuretase aspirasi. Untuk kehamilan yang berusia 7-12 minggu, serviks biasanya harus dilebarkan terlebih dahulu (dilatasi) karena selang penghisapnya lebih besar. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya cedera pada serviks, bisa digunakan laminaria (akar rumput laut yang dikeringkan) atau dilator lainnya yang menyerap air. Laminaria dimasukkan ke dalam saluran servikal dan dibiarkan selama 4-5 jam, biasanya semalaman. Karena laminaria menyerap sejumlah air dari tubuh, maka laminaria akan mengembang dan menyebabkan peregangan lubang serviks. Untuk kehamilan yang berusia lebih dari 12 minggu teknik yang paling sering digunakan adalah D&E (dilatasi dan evakuasi). Alat penghisap dan forseps digunakan untuk mengeluarkan hasil pembuahan lalu dilakukan pengerokan rahim secara perlahan untuk memastikan bahwa seluruh jaringan telah dikeluarkan. Dilatasi dan evakuasi semakin banyak digunakan pada kehamilan lanjut untuk merangsang aborsi karena komplikasinya lebih ringan dibandingkan dengan pamekaian obat. 2. Obat-obatan untuk merangsang kontraksi rahim sehingga isi rahim keluar. Obat-obatan (misalnya mifepriston/RU 486 dan prostaglandin) kadang digunakan untuk merangsang aborsi, terutama pada kehamilan diatas 16 minggu, karena pada saat ini D&E bisa menyebabkan komplikasi yang serius (seperti kerusakan rahim atau usus). RU 486 bisa digunakan segera setelah pembuahan. Prostaglandin adalah obat yang merangsang kontraksi usu, bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau suppositoria vagina. Efek sampingnya adalah mual, muntah, diare, kemerahan pada wajah dan pingsan. Pada beberapa wanita, prostaglandin bisa memicu suatu serangan asma. Mifepriston dikombinasikan dengan prostaglandin sangat efektif untuk mengakhiri kehamilan yang berusia kurang dari 7 minggu. Obat ini menghalangi kerja progesteron di dalam lapisan rahim sehingga prostaglandin lebih efektif. Pil KB dosis tinggi kadang digunakan untuk mencegah kehamilan setelah melakukan 1 kali hubungan seksual tanpa alat kontrasepsi, tetapi tidak selalu efektif. Pil KB harus diminum dalam waktu 72 jam. Efek sampingnya adalah mual dan muntah.

Komplikasi aborsi secara langsung berhubungan dengan umur kehamilan dan metoda yang digunakan. Semakin tua umur kehamilan, semakin besar resiko terjadinya komplikasi: - Perforasi rahim oleh alat bedah - Perforasi usus atau organ lainnya - Perdarahan selama atau segera setelah aborsi - Perdarahan tertunda karena adanya sisa plasenta di dalam rahim - Infeksi rahim - Pembentukan jaringan parut di dalam rahim.

STERILISASI
DEFINISI Sterilisasi termasuk membuat seseorang tidak mampu bereproduksi.
• • •

Menghalangi saluran yang membawa sperma atau sel telur mengakhiri kemampuan untuk reproduksi. Vasektomi adalah prosedur cepat untuk pria, dilakukan di ruang dokter. Tubal ligation. Prosedur untuk wanita, lebih rumit, memerlukan sayatan perut dan bius.

Di Amerika Serikat, sekitar sepertiga pasangan menikah yang menggunakan metode perencanaan keluarga memilih sterilisasi (vasektomi atau tubal ligation). Sterilisasi harus selalu dipertimbangkan permanen. Meskipun begitu, jika pasangan merubah pikiran mereka, operasi yang menghubungkan kembali pipa yang tepat (reanastomosis) bisa dilakukan untuk berusaha mengembalikan kesuburan, atau konsepsi menjadi mungkin dengan pembuahan vitro. Reanastomosis tidak mungkin efektif pada pria dibandingkan wanita. Untuk pasangan, tingkat kehamilan adalah 45 sampai 60% setelah reanastomosis pada pria dan 50% sampai 80% setelah reanastomosis pada wanita. 1. Vasektomi Vasektomi digunakan untuk sterilisasi pria. Hal ini meliputi pemotongan dan menyegel vasa deferentia (pipa yang membawa sperma dari testis). Vasektomi, yang dilakukan oleh ahli penyakit saluran kemih di kantor, memerlukan sekitar 20 menit dan hanya memerlukan bius lokal. Melalui sayatan kecil di setiap sisi skrotum, setiap potongan vas deferen diangkat dan ujung terbuka pada pipa tersebut disegel. Setelah vasektomi, kontrasepsi harus dilanjutkan untuk sementara. Biasanya, pria tidak menjadi steril sampai mereka telah mengalami ejakulasi sekitar 15 sampai 20 setelah operasi karena kebanyakan sperma disimpan di seminal vesicle. Sterilisasi dipastikan ketika tes laboratorium menunjukkan bahwa semen dari kedua ejakulasi adalah sperma yang bebas. Komplikasi pada vasektomi meliputi penggumpalan darah pada skrotum (dalam sebagian kecil dari 5% pria), reaksi pembengkakan terhadap sperma yang bocor, dan reanastomosis spontan (kurang dari 1 %). Reanastomosis, yang menyimpan

kesuburan, biasanya terjadi setelah prosedur. Aktivitas seks, dengan kontrasepsi sampai sterilisasi dipastikan, bisa kembali normal dengan segera setelah prosedur yang dilakukan pada pria. Kurang dari 1 % wanita menjadi hamil setelah pasangannya disteril. 2. Tubal ligation Tahukah anda o Sterilisasi meskipun dianggap permanen, bisa seringkali membalik. Kontrasepsi harus dilanjutkan untuk sementara setelah vasektomi, sampai sperma yang disimpan di dalam tubuh dikeluarkan.
o

Tubal ligation digunakan untuk mensterilisasi wanita. Yang meliputi pemotongan dan pengikatan atau penyumbatan tuba falopii, yang membawa sel telur dari ovarium menuju rahim. Lebih rumit dari vasektomi, tubal ligation biasanya memerlukan sayatan perut dan bius umum atau setempat. Wanita yang baru saja melahirkan seorang anak bisa disterilisasi segera setelah anak lahir atau pada hari berikutnya, tanpa menginap di rumah sakit lebih lama seperti biasa. Sterilisasi bisa juga direncanakan kemudian dan dilakukan sebagai operasi pilihan. Tubal ligation seringkali dilakukan menggunakan laparoscopy. Bekerja melalui pipa tipis yang dimasukkan melalui sayatan kecil pada perut wanita tersebut, seorang dokter bisa memotong tuba falopii dan mengikat ujung potongan. Atau seorang dokter bisa menggunakan electrocautery (sebuah alat yang menghasilkan arus listrik untuk memotong sepanjang jaringan) untuk menutup sekitar 1 inci setiap pembuluh. Wanita tersebut biasanya pulang kerumah di hari yang sama. Setelah laparoscopy, sampai 6% wanita mengalami komplikasi kecil, seperti infeksi kulit pada daerah sayatan atau sembelit. Kurang dari 1% mengalami komplikasi berat, seperti pendarahan atau kebocoran pada kandung kemih atau usus. Penutupan saluran : Sterilisasi pada wanita

Kedua tuba falopii (yang membawa sel telur dari ovarium ke rahim) dipotong, ditutup, atau disumbat sehingga sperma itu tidak bisa mencapai sel telur untuk dibuahi. Berbagai alat mekanik, seperti pita plastik dan penjepit spring-loaded, bisa digunakan untuk menghambat tuba falopii sebagai pengganti potongan atau penutupan mereka. Sterilisasi lebih mudah untuk dibalik ketika alat-alat ini digunakan karena mereka menyebabkan lebih sedikit kerusakan jaringan. Meskipun begitu, pembalikkan sangat berhasil hanya sekitar tiga perempat wanita. Sebagai pengganti laparoscopy, seorang dokter bisa menggunakan hysteroscopy, yang meliputi memasukkan pipa pelihat elastis melalui vagina dan rahim dan ke dalam tuba falopii. Gulungan (microinsert) bisa dimasukkan ke dalam tuba falopii untuk menutup mereka. Tidak diperlukan sayatan. Bius ‘okal digunakan, dengan atau tanpa obat-obatan untuk membuat wanita tersebut mengantuk (obat penenang). Sekitar 3 bulan kemudian, steril dipastikan dengan sinar-X setelah radiopaque dye dimasukkan melalui vagina ke dalam rahim dan tuba falopii (hysterosalpingography). Sebagai pengganti laparoscopy, seorang dokter bisa menggunakan hysteroscopy, yang meliputi memasukkan pipa pelihat elastis melalui vagina dan rahim dan ke dalam tuba falopii. Gulungan (microinsert) bisa dimasukkan ke dalam tuba falopii untuk menutup mereka. Tidak diperlukan sayatan. Bius ‘okal digunakan, dengan atau tanpa obat-obatan untuk membuat wanita tersebut mengantuk (obat penenang). Sekitar 3 bulan kemudian, steril dipastikan dengan sinar-X setelah radiopaque dye dimasukkan melalui vagina ke dalam rahim dan tuba falopii (hysterosalpingography). Sangat langka, tubal ligation menyebabkan komplikasi, seperti pendarahan dan luka pada usus. 3. Hysterectomy Operasi pengangkatan pada rahim (hysterectomy) juga menghasilkan steril. Prosedur ini biasanya dilakukan untuk mengobati sebuah gangguan dibandingkan sebagai teknik sterilisasi.

KONTRASEPSI
DEFINISI

Pengertian kontrasepsi yaitu pencegahan terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi) atau pencegahan menempelnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim. Terdapat beberapa metode yang digunakan dalam kontrasepsi. Metode dalam kontrasepsi tidak ada satupun yang efektif secara menyeluruh. Meskipun begitu, beberapa metode dapat lebih efektif dibandingkan metode lainnya. Efektivitas metode kontrasepsi yang digunakan bergantung pada kesesuaian pengguna dengan instruksi. Perbedaan keberhasilan metode juga tergantung pada tipikal penggunaan (yang terkadang tidak konsisten) dan penggunaan sempurna (mengikuti semua instruksi dengan benar dan tepat). Perbedaan efektivitas antara penggunaan tipikal dan penggunaan sempurna menjadi sangat bervariasi antara suatu metode kontrasepsi dengan metode kontrasepsi yang lain. Sebagai contoh: kontrasepsi oral sangat efektif bila digunakan secara tepat, tetapi banyak wanita yang sering kali lupa untuk meminum pilnya secara teratur. Sehingga penggunaan kontrasepsi oral secara tipikal kurang efektif dibandingkan penggunaan sempurna. Pada kontrasepsi implan, saat implan dimasukkan ke dalam tubuh, tidak diperlukan perlakuan apapun lagi (sehingga penggunaan implan Tahukah anda.... menjadi penggunaan sempurna) sampai tiba waktunya Efektivitas perhitungan pada untuk diganti. Dalam hal ini maka penggunaan tipikal metode kontrasepsi seperti pil sama saja dengan penggunaan sempurna, sampai saat atau metode ritmik penggantian implan. bergantung pada sebaik apa petunjuknya dipatuhi/ diikuti. Seseorang cenderung menggunakan suatu metode kontrasepsi secara tepat ketika semakin terbiasa dengan metode kontrasepsi tersebut. Hasilnya, perbedaan efektivitas antara penggunaan yang tipikal dengan penggunaan sempurna semakin berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Efektivitas Kontrasepsi Kehamilan pada penggunaan tahun pertama (%) Penggunaan sempurna Penggunaan tipikal 0,3 8 0,05 0,05 0,3 0,3 2 6 18 (pada wanita yang telah memiliki anak) 9 (pada wanita yang belum memiliki anak) 26 (pada wanita yang telah memiliki anak) 9 (pada wanita yang belum 8 3 15 16 40 (pada wanita yang telah memiliki anak) 18 (pada wanita yang telah memiliki anak) 32 (pada wanita yang telah memiliki anak) 16 (pada wanita yang belum

Metode Kontrasepsi oral Implan Koyo kontrasepsi dan cincin vagina Injeksi medroxyprogesteron Kondom Diafragma dengan spermisida Penutup serviks dengan spermisida

Spons kontrasepsi

Intrauterine device (IUD)/ Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) KB alami metode ritmik 1–9 25 Senggama terputus 4 27 Sekitar 85% wanita dapat menjadi hamil pada hubungan seksual tanpa kontrasepsi selama satu tahun

memilii anak) 0,1–0,8

memilii anak) 0,1–0,8

Selain efektivitasnya, masing-masing metode kontrasepsi memiliki kelebihan dan kekurangan. Misalnya saja, metode hormonal memiliki efek samping berupa peningkatan maupun penurunan risiko terhadap beberapa penyakit. Pilihan metode bergantung pada gaya hidup, pilihan, dan keperluan pengguna. Perbandingan Metode Kontrasepsi Keuntungan Efek samping

No. 1

Metode Metode Hormonal a Kontrasepsi Oral

Pertimbangan Lain

Harus diminum setiap Menstruasi hari. (perdarahan) tidak teratur selama beberapa bulan pertama.

Wanita yang berusia di atas 35 tahun dan perokok tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi oral. Untuk kontrasepsi oral Mual, perut Beberapa kombinasi kembung, retensi gangguan juga (mengandung estrogen cairan, dapat mengurangi dan progestin), peningkatan penggunaannya. seorang wanita tekanan darah, mengkonsumsi pil nyeri payudara, aktif setiap hari selama migrain, sakit 3 pekan, kemudian kepala, diikuti dengan minum pertambahan berat tablet inaktif selama 1 badan, jerawat, pekan. dan gelisah. Untuk kontrasepsi oral Meningkatkan Wanita yang yang hanya resiko terjadinya menggunakan mengandung progestin penyumbatan kontrasepsi oral, saja maka pil diminum pembuluh darah & lebih jarang setiap hari. kemungkinan mendapat kram kanker leher perut saat haid, rahim Jerawat,

Kunjungan ke dokter dilakukan secara periodik untuk mengulangi resep

b Implan

c Koyo kontrasepsi/ koyo KB

d Cincin vagina

Peningkatan risiko perdarahan tak bekuan darah dan teratur, kemungkinan kemungkinan kanker serviks terkena osteoporosis, serta resiko mendapat beberapa jenis kanker tertentu. Kontrasepsi implan Menstruasi tidak Larangan sama hanya perlu dipasang 1 teratur selama seperti kali untuk pemakaian tahun pertama penggunaan selama 3 tahun. pemakaian. kontrasepsi oral. Implan dipasang oleh Sakit kepala dan Diperlukan seorang dokter. penambahan berat torehan untuk badan. mengeluarkan implan Wanita menggunakan Efek samping Larangan sama patch kontrasepsi sama dengan seperti (berbentuk seperti kontrasepsi oral, penggunaan koyo) untuk namun jarang kontrasepsi oral. penggunaan selama 3 ditemukan adanya minggu. 1 minggu perdarahan tidak berikutnya tidak perlu teratur. menggunakan koyo KB. Kunjungan ke dokter dilakukan secara periodik untuk memperbarui resep. Wanita memasukkan Efek samping Larangan sama cincin setiap 3 minggu mirip dengan seperti pada sekali. Kemudian kontrasepsi oral, penggunaan selama 1 minggu namun jarang kontrasepsi oral. cincin vagina ditemukan Pada minggudilepaskan. Cincin perdarahan tidak minggu awal yang baru digunakan teratur. pemakaian, perlu untuk pemakaian 1 digunakan metode bulan kontrasepsi lain sebagai cadangan. Cincin vagina dapat Keluar dengan sendirinya. Apabila cincin

2

dimasukkan kembali dalam waktu kurang dari 3 jam (setelah keluar dengan tidak sengaja) maka metode kontrasepsi cadangan tidak perlu digunakan. e Injeksi Injeksi diberikan oleh Terjadi Metode ini Medroxyprogesterone dokter setiap 3 bulan. perdarahan tidak mengurangi risiko teratur (seiring terjadinya kanker waktu, perdarahan rahim makin jarang (endometrial), terjadi) atau tidak penyakit radang menstruasi sama panggul, dan sekali saat anemia karena kontrasepsi injeksi kekurangan zat digunakan. besi. Sedikit kenaikan berat badan, sakit kepala, dan kehilangan kepadatan tulang secara sementara Metode barrier (penghalang) a Kondom Pria menggunakan Reaksi alergi dan Kondom lateks kondom segera iritasi memberi sebelum melakukan perlindungan hubungan seksual dan terhadap penyakit membuangnya setiap yang ditularkan habis digunakan. lewat hubungan seksual. Kondom banyak Kondom harus di tersedia di toko obat gunakan secara bebas. benar. Agar efektif, metode ini memerlukan kerjasama dari pasangan. b Diafragma dengan Diafragma dapat Reaksi alergi, Setelah diafragma krim atau gel digunakan oleh wanita iritasi & infeksi dipasang, krim kontrasepsi sebelum melakukan saluran kemih atau gel tambahan

c Spons kontrasepsi

hubungan seksual. Kemudian didiamkan (dibiarkan) selama 24 jam. Penentuan ukuran diafragma yang sesuai dilakukan oleh dokter (setidaknya setahun sekali). Diafragma yang menggunakan krim atau gel kontrasepsi dapat menyebabkan penempatan diafragma menjadi berantakan. Spons kontrasepsi Reaksi alergi dan dapat dimasukkan kekeringan pada sebelum melakukan vagina atau iritasi hubungan seksual. Spons dapat dimasukkan kemudian dan dapat efektif selama 24 jam. Spons dibuang setiap habis digunakan. Spons kontrasepsi tersedia di toko obat bebas IUD/ AKDR hanya perlu dipasang setiap 5-10 tahun sekali, tergantung dari tipe alat yang digunakan. Alat tersebut harus dipasang atau dilepas oleh dokter. Wanita memeriksa suhu tubuh, lendir vagina dan gejala lain atau kombinasi dari ketiganya hampir setiap hari. Perdarahan dan rasa nyeri. Perforasi rahim (jarang sekali).

perlu dimasukkan sebelum melakukan hubungan seksual.

Spons dapat sulit untuk dikeluarkan. Spons harus dikeluarkan dalam setelah 30 jam.

3

Metode lain a Intrauterine device (IUD)/ Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)

Kadangkala IUD / AKDR dapat terlepas.

b KB alami metode ritmik

Tidak ada.

Metode ini memerlukan ketekunan wanita dan hubungan seksual tidak dilakukan selama beberapa hari

c Sanggama terputus

Pria menarik keluar tidak ada penisnya dari vagina sebelum terjadi ejakulasi. Sangat diperlukan pengendalian diri dan pengaturan waktu yang tepat.

dalam sebulan. Metode ini kurang efektif bagi wanita yang mempunyai siklus mentruasi tidak teratur Metode ini tidak dapat diandalkan karena sperma bisa saja keluar sebelum terjadi ejakulasi

Metode hormonal Terdapat beragam metode dalam kontrasepsi hormonal. Metode ini dapat dilakukan melalui mulut (kontrasepsi oral), melalui vagina, ditempelkan pada kulit, ditanam di bawah kulit, maupun disuntikkan ke dalam otot. Hormon yang digunakan untuk mencegah konsepsi meliputi estrogen dan progestin (suatu senyawa yang mirip dengan hormon progesteron). Metode hormonal mencegah kehamilan dengan cara menghambat pelepasan sel telur dari ovarium, atau mengentalkan mukus/ lendir serviks (leher rahim) sehingga sperma tidak bisa dapat melewati serviks ke rahim. Selain itu, metode hormonal juga mencegah sel telur dibuahi oleh sperma. Dalam penggunaannya, metode-metode hormonal memiliki efek samping dan batasan/larangan yang hampir sama.

Kontrasepsi Oral Kontrasepsi oral, yang biasa dikenal dengan pil KB (terkadang ’pil’ saja) mengandung homon, baik kombinasi hormon progestin dan estrogen maupun hormon progestin saja. Pil KB kombinasi biasanya diminum sehari sekali selama 3 minggu kemudian istirahat 1 minggu tidak minum pil (supaya menstruasi dapat terjadi) dan mulai minum pil KB lagi seperti semula. Tablet yang berisi bahan inaktif biasanya disertakan dalam kemasan untuk diminum saat masa istirahat. Hal ini bertujuan agar rutinitas minum pil terjaga setiap hari. Ada produk pil KB yang diminum secara rutin selama 12 minggu diikuti masa istirahat selama 1 minggu. Sehingga menstruasi hanya terjadi 4 kali dalam setahun. Ada juga produk yang harus meminum pil KB aktif setiap hari. Apabila menggunakan produk ini maka tidak ada masa menstruasi, walaupun kadang-kadang perdarahan menstruasi bisa saja terjadi. Sekitar 0,3% wanita yang menggunakan pil KB kombinasi sesuai instruksi bisa

hamil pada tahun pertama penggunaan. Peluang terjadinya kehamilan akan semakin besar bila wanita terlewat atau lupa untuk minum pil, terutama di harihari awal pada siklus menstruasi. Dosis estrogen pada pil KB kombinasi bervariasi. Biasanya pil KB kombinasi dengan dosis estrogen yang rendah (20-35 mikrogram) banyak digunakan karena memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan yang berdosis tinggi (50 mikrogram). Wanita sehat yang tidak merokok dapat menggunakan pil KB kombinasi dosis rendah tanpa henti sampai menjelang menopause. Pil KB yang hanya mengandung progestin diminum setiap hari tanpa henti. Terkadang pil KB ini menyebabkan perdarahan menstruasi tidak teratur. Angka terjadinya kehamilan dengan pil yang hanya mengandung progestin sama dengan pil KB kombinasi. Pil KB yang hanya mengandung progestin biasanya diresepkan bila pemberian estrogen merugikan wanita. Misalnya pil ini diresepkan pada wanita menyusui karena estrogen berefek mengurangi jumlah dan kualitas ASI. Tablet yang hanya mengandung progestin tidak mempengaruhi produksi ASI. Sebelum mulai menggunakan kontrasepsi oral, wanita harus menjalankan pemeriksaan fisik yang meliputi pengukuran tekanan darah untuk memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah kesehatan ketika menggunakan kontrasepsi oral. Tiga bulan setelah penggunaan kontrasepsi oral, wanita tersebut harus menjalani pemeriksaan kembali untuk melihat ada/tidaknya perubahan tekanan darah. Jika tidak ada perubahan, pemeriksaan kesehatan dilakukan setidaknya sekali setahun. Jika seorang wanita memiliki penyakit arteri koroner atau diabetes, atau memiliki risiko kedua penyakit tersebut (ada kerabat dekat yang memiliki penyakit tersebut) biasanya dilakukan pemeriksaan darah untuk memeriksa kadar kolesterol, lipid dan juga gula darah. Jika hasil pemeriksaan diketahui level darahnya tidak normal, dokter mungkin meresepkan kombinasi estrogen dosis rendah, namun secara berkala dilakukan monitor pada kadar lipid dan gula darah. Sebelum memulai penggunaan kontrasepsi oral, seorang wanita harus berkonsultasi pada dokter mengenai keuntungan dan kerugian kontrasepsi oral bagi dirinya. Keuntungan kontrasepsi oral Keuntungan utama kontrasepsi oral yaitu dapat diandalkan bila digunakan secara terus-menerus. Selain itu, penggunaan kontrasepsi oral mengurangi kejang otot pada saat menstruasi, PMS, jerawat, perdarahan tidak teratur, anemia, kista pada payudara ataupun rahim, kehamilan di luar rahim, dan infeksi saluran telur. Selain itu, wanita yang menggunakan kontrasepsi oral, lebih sedikit terkena risiko osteoporosis.

Penggunaan kontrasepsi oral dapat mengurangi risiko beberapa tipe kanker, termasuk kanker uterin (endometrial) dan kanker rahim. Risiko berkurang untuk beberapa tahun setelah kontrasepsi dihentikan. Kontrasepsi oral yang diminum pada awal kehamilan tidak membahayakan janin. Namun, wanita tersebut harus menghentikan penggunaan kontrasepsi oral segera setelah ia menyadari bahwa ia hamil. Kontrasepsi oral tidak memiliki pengaruh jangka panjang pada kesuburan wanita, meskipun wanita bisa saja tidak melepaskan telur (ovulasi) untuk beberapa bulan setelah penghentian obat. Dokter merekomendasikan wanita pasca melahirkan menunggu sekitar 2 minggu untuk memulai kontrasepsi oral. Kekurangan kontrasepsi hormonal Kekurangan penggunaan kontrasepsi hormonal mencakup efek samping yang merugikan. Perdarahan yang tidak teratur paling banyak ditemui pada bulan-bulan pertama penggunaan kontrasepsi oral, namun Tahukah anda.... biasanya akan berhenti dengan sendirinya bila tubuh telah beradaptasi dengan kandungan hormon o Dengan dalam kontrasepsi oral tersebut. Jika perdarahan metode kontrasepsi tidak teratur terus berlangsung, dokter bisa saja oral tertentu, periode menyarankan meminum kontrasepsi oral setiap menstruasi hanya hari, tanpa istirahat (jeda) selama beberapa bulan muncul selama 4 kali untuk mengurangi terjadinya perdarahan. dalam satu tahun. Beberapa efek samping yang muncul berkaitan o Kontrasepsi dengan kandungan estrogen dalam tablet. Efek hormonal dapat samping dapat berupa mual, kembung, retensi mempunyai beberapa cairan, peningkatan tekanan darah, nyeri payudara, keuntungan dan migrain. Beberapa efek samping berhubungan dengan tipe atau dosis progestin. Efek samping dapat berupa pertambahan berat badan, jerawat, dan gelisah. Beberapa wanita yang mengkonsumsi kontrasepsi oral berat badannya naik sekitar 3-5 pon (1,4-2,3 kg) dikarenakan retensi cairan. Terkadang berat badan bisa bertambah lagi karena nafsu makan yang meningkat. Banyak efek samping tersebut jarang muncul dengan penggunaan tablet dosis rendah. Pada beberapa wanita, kontrasepsi oral menimbulkan bercak-bercak hitam (melasma) di wajah, serupa dengan bercak yang dapat muncul selama kehamilan. Paparan sinar matahari dapat membuat bercak tersebut lebih gelap. Jika bercak gelap bertambah, wanita tersebut harus berkonsultasi pada dokter mengenai penghentian penggunaan kontrasepsi oral. Bercak hitam akan memucat secara bertahap setelah penggunaan kontrasepsi oral dihentikan. Menggunakan kontrasepsi oral dapat meningkatkan risiko beberapa penyakit. Risiko terjadinya pembekuan darah di vena meningkat pada wanita yang

menggunakan pil KB kombinasi dibandingkan yang tidak menggunakan. Risikonya meningkat 7 kali lebih tinggi dengan tablet yang mengandung estrogen dosis tinggi. Risiko meningkat sekitar 3 sampai 4 kali untuk estrogen dosis rendah. Akan tetapi, risiko yang muncul tersebut hanya setengah saja dari resiko terjadinya pembekuan darah saat hamil. Wanita yang memiliki anggota keluarga menderita pembekuan darah harus memberitahukan kepada dokter sebelum menggunakan kontrasepsi oral. Dikarenakan pembedahan/ operasi meningkatkan risiko terjadinya pembekuan darah, seorang wanita harus menghentikan penggunaan kontrasepsi oral sebulan sebelum dilakukan prosedur operasi dan tidak menggunakan kontrasepsi oral tersebut sampai sebulan setelahnya. Untuk wanita sehat yang tidak merokok, penggunaan pil kombinasi dengan estrogen dosis rendah tidak meningkatkan risiko terjadinya stroke maupun serangan jantung. Penggunaan kontrasepsi oral lebih dari 5 tahun, dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker leher rahim (serviks). Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral harus melakukan Papanicolaou test atau tes pap smear setidaknya sekali dalam setahun. Tes ini dapat mendeteksi adanya perubahan pada leher rahim yang dapat berkembang menjadi kanker sebelum berubah menjadi kanker. Penggunaan kontrasepsi oral tidak meningkatkan risiko kanker payudara, tidak juga pada wanita dengan usia 35 – 65 tahun. Selain itu, penggunaan kontrasepsi oral juga tidak meningkatkan risiko kanker payudara pada kelompok berisiko tinggi (misalnya wanita dengan kelainan payudara ringan atau keluarga dengan riwayat kanker payudara). Menggunakan kontrasepsi oral dapat menyebabkan batu empedu tumbuh lebih besar, namun tidak menyebabkan pembentukan batu empedu yang baru. Sehingga adanya batu empedu lebih sering terdiagnosa pada tahun-tahun pertama penggunaan kontrasepsi oral. Untuk wanita yang berusia lebih dari 35 tahun dan perokok, penggunaan kontrasepsi oral dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung. Secara tipikal, wanita tersebut tidak boleh menggunakan kontrasepsi oral. Namun jika wanita tersebut dimonitor secara ketat oleh praktisi kesehatan, ia dapat menggunakan kontrasepsi oral. Menggunakan cyclophosphamide (CYTOXAN), antibiotik tertentu, atau obat antifungi tertentu dapat membuat kontrasepsi oral menjadi kurang efektif. Jika seorang wanita yang menggunakan kontrasepsi oral menggunakan salah satu obat tersebut, maka ia harus menggunakan juga metode kontrasepsi lain sampai periode awal setelah penggunaan obat-obat tersebut selesai. Seorang wanita tidak boleh menggunakan kontrasepsi oral pada situasi berikut:
1.

Perokok dan usianya di atas 35 tahun 2. Memiliki gangguan hati maupun tumor pada hati

Memiliki kadar trigliserida yang sangat tinggi (250 mg/dL atau lebih tinggi) 4. Memiliki tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol 5. Memiliki penyakit diabetes mellitus yang tidak terkontrol 6. Memiliki gangguan ginjal 7. Memiliki penyumbatan darah di betis akibat adanya bekuan darah (trombosis vena) 8. Kondisi kaki yang tidak bergerak (seperti pada penggunaan gips) 9. Memiliki penyakit arteri koroner 10. Pernah mengalami stroke 11. Menjalankan operasi dalam bulan sebelumnya atau akan menjalankan operasi pada bulan berikutnya 12. Memiliki penyakit kolestasis (aliran empedu berkurang) selama kehamilan atau memiliki sakit kuning (jaundice) selama penggunaan kontrasepsi oral sebelumnya 13. Memiliki kanker payudara atau kanker endometrial yang dapat berkembang dengan stimulasi estrogen 14. Pernah terkena serangan jantung 15. Mengalami perdarahan vagina dengan sebab yang tidak diketahui 16. Memiliki penyakit lupus/systemic lupus erythematosus (SLE)
3.

Wanita dapat menggunakan kontrasepsi oral hanya dengan pengawasan dari dokter pada situasi berikut:
17.

Wanita yang mengalami depresi 18. Memiliki diabetes yang dikontrol dengan baik dan tidak mempengaruhi sirkulasinya 19. Memiliki sindroma pra haid/premenstrual syndrome (PMS) 20. Tidak memiliki periode menstruasi (amenorrhea) untuk alasan yang tidak diketahui 21. Sering mengalami migrain (tapi tidak dengan gejala gangguan sistem saraf pusat, seperti rasa kebas atau lemah pada lengan atau wajah) 22. Perokok berusia di bawah 35 tahun 23. Memiliki hepatitis atau penyakit hati lainnya dan telah sembuh total 24. Memiliki tekanan darah tinggi yang dikontrol dengan pengobatan 25. Memiliki varises 26. Memiliki gangguan kejang yang telah diobati dengan obat 27. Memiliki fibroid di rahim 28. Memiliki prekanker, abnormalitas pada rahim dan kanker rahim yang telah diobati 29. Obesitas 30. Memiliki hubungan dekat dengan keluarga yang menderita penyumbatan darah

* pantangan ini hanya untuk kontrasepsi oral yang mengandung estrogen dan progestin. mg/dL = milligram per desiliter darah

Kontrasepsi koyo (koyo KB) dan cincin vagina Koyo KB dan cincin vagina mengandung estrogen dan progestin dan digunakan selama 3 sampai 4 minggu, kemudian dilepas. Pada minggu keempat, kontrasepsi tersebut tidak digunakan supaya menstruasi dapat terjadi. Koyo KB ditempelkan seminggu sekali selama 3 minggu berturut-turut. Koyo ditempelkan dikulit kemudian didiamkan selama 1 minggu, kemudian dilepas. Koyo yang baru ditempelkan di area kulit yang berbeda. Pada minggu ke 4 Koyo KB tidak digunakan. Olahraga dan sauna maupun penggunaan bak mandi air panas tidak akan menggeser posisi koyo KB ini. Cincin vagina merupakan alat plastik kecil yang ditempatkan dalam vagina selama 3 minggu. Kemudian, cincin dilepas selama 1 minggu. Seorang wanita dapat memasang dan melepas cincin vagina sendiri. Cincin vagina terdiri dari satu ukuran dan dapat ditempatkan di mana saja di dalam vagina. Biasanya cincin tidak dirasakan pasangan sewaktu berhubungan. Cincin vagina yang baru diganti setiap bulannya. Masing-masing metode efektif bila digunakan secara benar dan sempurna. Efektivitasnya sama dengan kontrasepsi oral. Terkadang, koyo kontrasepsi kurang efektif pada wanita yang kelebihan berat badan (overweight). Dengan metode koyo KB dan cincin vagina, wanita memiliki periode menstruasi yang teratur. Bercak maupun perdarahan jarang terjadi. Efek samping, risiko, dan batasan/larangan sama dengan kontrasepsi oral kombinasi.

Kontrasepsi implan Kontrasepsi implan merupakan kontrasepsi yang berbentuk batang kecil yang mengandung hormon progestin. Setelah dokter mematikan rasa di kulit dengan menggunakan anastetik, kemudian alat seperti jarum (trocar) digunakan untuk menempatkan implan di bawah kulit pada lengan bagian atas. Pemasangan implan tidak memerlukan jahitan pada kulit. Secara perlahan, implan akan melepaskan progestin ke dalam aliran darah. Implan efektif digunakan selama 3 tahun. Efek samping yang paling banyak ditemukan adalah periode menstruasi yang tidak teratur atau tidak mendapatkan menstruasi selama tahun pertama penggunaan. Setelah itu, periode menstruasi menjadi teratur. Sakit kepala dan pertambahan berat badan juga bisa terjadi. Efek samping ini terkadang membuat wanita ingin melepaskan implan. Karena implan tidak diserap tubuh, dokter harus

melakukan sayatan pada kulit untuk melepaskannya. Melepaskan implan lebih sulit daripada penyisipannya dikarenakan jaringan di bawah kulit menjadi lebih tebal di sekitar implan. Segera setelah implan dilepaskan, ovarium kembali ke fungsi normalnya, dan wanita subur kembali.

Kontrasepsi injeksi/suntikan Progestin atau medroxyprogesterone diinjeksikan oleh tenaga kesehatan setiap tiga bulan sekali. Tersedia 2 tipe injeksi. Tipe yang pertama adalah yang disuntikkan ke jaringan otot di lengan maupun bokong, dan tipe kedua yaitu disuntikkan di bawah kulit. Masing-masing tipe sangat efektif. Progestin mengganggu siklus menstruasi. Sekitar sepertiga wanita yang menggunakan kontrasepsi ini tidak mengalami menstruasi selama 3 bulan setelah injeksi pertama. Sedangkan sepertiga lainnya mengalami perdarahan tidak teratur dan bercak selama lebih dari 11 hari setiap bulannya. Setelah kontrasepsi ini digunakan selama beberapa waktu, perdarahan yang tidak teratur semakin jarang terjadi. Setelah 2 tahun, sebanyak 70% wanita tidak akan mengalami perdarahan sama sekali. Ketika injeksi dihentikan, menstruasi kembali teratur dalam waktu 6 bulan pada separuh wanita dan dalam waktu 1 tahun bagi tiga perempat wanita lainnya. Kesuburan mungkin saja belum kembali seperti semula sampai satu tahun setelah injeksi dihentikan. Efek samping yang bisa muncul meliputi sedikit penambahan berat badan, sakit kepala, menstruasi tidak teratur atau tidak menstruasi, dan menurunnya kepadatan tulang untuk sementara waktu. Biasanya, kepadatan tulang akan kembali seperti semula setelah injeksi dihentikan. Orang yang mendapatkan suntikan kontrasepsi hormonal, terutama remaja dan wanita muda harus mengkonsumsi suplemen kalsium dan vitamin D setiap hari untuk membantu memelihara kepadatan tulang. Medroxyprogesterone tidak meningkatkan risiko penyakit kanker, termasuk kanker payudara. Medroxyprogesteron mengurangi risiko munculnya kanker endometrial, penyakit radang pelvis (infeksi pada organ reproduksi wanita bagian atas), dan anemia karena kekurangan zat besi. Interaksi dengan beberapa obat jarang ditemukan.

Kontrasepsi darurat Kontrasepsi darurat, yang biasa disebut morning after pill mengandung hormon atau obat yang dapat mempengaruhi hormon. Pil ini digunakan paling lama 72 jam setelah terjadi hubungan seksual tanpa kontrasepsi atau metode kontrasepsi yang digunakan gagal, misalnya terjadi kebocoran kondom. Kontrasepsi darurat dapat mengurangi kemungkinan hamil setelah terjadi satu kali hubungan seksual tanpa pelindung, termasuk ketika hubungan seksual tersebut

dilakukan mendekati saat ovulasi. Mendekati waktu ovulasi, peluang terjadinya kehamilan sekitar 8% tanpa kontrasepsi. Semakin cepat kontrasepsi darurat digunakan, semakin efektif kerjanya. Tersedia 2 pilihan dalam kontrasepsi darurat
1.

Levonorgestrel Hormon ini paling banyak digunakan dalam kontrasepsi darurat. Levonorgestrel atau progestin dalam dosis yang lebih rendah lebih banyak digunakan. Umumnya, satu dosis diminum, kemudian diikuti dengan dosis lain 12 jam kemudian. Jika dosis pertama dikonsumsi 72 jam setelah berhubungan, kemungkinan terjadinya kehamilan berkurang sampai hampir 90%. Jika dosis pertama dikonsumsi dalam waktu 24 jam setelah berhubungan, peluang kehamilan berkurang sampai sekitar 95%. Beberapa dokter merekomendasikan kedua tablet levonorgestrel dikonsumsi pada waktu yang sama. Metode ini cukup efektif. Untuk tiap penggunaan dapat diminum 1 tablet dosis biasa atau 20 tablet dosis rendah.

2.

Kontrasepsi kombinasi Kontrasepsi darurat menggunakan pil kontrasepsi oral kombinasi. 2 tablet (pil) KB kombinasi diminum sekaligus dalam jangka waktu 72 jam setelah terjadi hubungan seksual tanpa pengaman. Selanjutnya 2 tablet pil kb kombinasi berikutnya dikonsumsi 12 jam kemudian. Pilihan ini kurang efektif dalam mencegah kehamilan daripada metode lainnya. Sebanyak 50% wanita mengalami mual, dan 20% mengalami muntah. Obat antiemetik dapat digunakan untuk mencegah mual dan muntah.

Kontrasepsi penghalang/barrier Kontrasepsi penghalang/barrier secara fisik menghalangi sperma memasuki rahim wanita. Kontrasepsi penghalang/barrier mencakup kondom, diafragma, penutup serviks, dan spons kontrasepsi. Memblok akses: kontrasepsi penghalang

Alat kontrasepsi penghalang/barrier mencegah sperma memasuki rahim wanita. Mencakup kondom, diafragma, penutup serviks, dan spons kontrasepsi. Beberapa kondom dapat mengandung spermisida. Kondom dan metode penghalang lain yang tidak mengandung spermisida harus digunakan bersama bahan spermisida.
1.

Kondom Kondom merupakan pelindung tipis yang menutupi penis. Kondom terbuat dari karet/ lateks yang merupakan satu-satunya kontrasepsi yang melindungi penyakit menular seksual, termasuk yang disebabkan oleh bakteri (seperti gonorrhea dan syphilis) dan disebabkan karena virus (seperti HPV—human papillomavirus— dan HIV—human immunodeficiency virus). Namun bagaimanapun, perlindungan ini (dengan berbagai pertimbangan) tidaklah sempurna. Kondom yang terbuat dari poliuretan juga menyediakan perlindungan, namun kondom jenis ini lebih tipis dan lebih mudah sobek. Kondom yang terbuat dari kulit lembu tidak melindungi dari serangan infeksi virus seperti infeksi HIV.

Kondom pria

Difragma

Penutup serviks

Busa vagina

Intrauterine Device (alat kontrasepri dalam rahim)

Kondom harus digunakan secara benar agar penggunaannya efektif. Untuk beberapa jenis kondom tertentu, bagian ujung kondom perlu diberi jarak saat dipasang, sekitar ½ inchi (kurang lebih 1 ¼ cm) dari ujung penis. Gunanya sebagai tempat untuk menampung sperma. Ada juga jenis kondom lain yang telah mempunyai ruang khusus pada bagian ujungnya untuk menampung sperma. Segera setelah terjadi ejakulasi, penis harus ditarik dari vagina dengan cara memegang Tahukah anda.... bagian lingkaran/pinggir kondom dengan Kondom yang terbuat dari erat pada pangkal penis untuk mencegah lateks merupakan satusupaya kondom tidak terlepas dan menumpahkan sperma. Kemudian kondom satunya metode kontrasepsi yang dapat melindungi dapat dilepaskan secara perlahan. Jika terhadap penyakit infeksi sperma tumpah saat penis ditarik, maka sperma dapat masuk ke dalam vagina dan seksual, termasuk infeksi HIV. menyebabkan kehamilan. Kondom yang baru harus digunakan setiap seseorang akan melakukan hubungan seksual dan kondom yang tidak layak/meragukan sebaiknya tidak digunakan/dibuang. Selama tahun pertama penggunaan kondom, peluang kehamilan sekitar 6% dengan pemakaian sempurna dan sekitar 16% dengan pemakaian tipikal. Pembunuh sperma/ spermisida yang kadang terdapat dalam pelumas (lubrikan) kondom atau dimasukkan secara terpisah ke dalam vagina, meningkatkan efektivitas kondom.

2.

Diafragma Diafragma, karet yang berbentuk setengah bola (kubah) dilengkapi dengan penutup yang fleksibel, dimasukkan ke dalam vagina, dan ditempatkan dalam leher rahim. Diafragma menghalangi sperma memasuki rahim. Diafragma tersedia dalam berbagai ukuran dan dokter/tenaga kesehatan dapat membantu untuk menentukan ukuran yang sesuai. Dokter/tenaga kesehatan tersebut juga akan mengajarkan mengenai cara memasukkannya. Jika seorang wanita mengalami peubahan berat badan (naik maupun turun) sekitar 10 pon (4,5 kg), telah menggunakan diafragma lebih dari 1 tahun, atau telah memiliki bayi atau telah diaborsi, maka ukuran diafragmanya harus disesuaikan kembali karena ada kemungkinan bentuk dan ukuran vagina mengalami perubahan. Diafragma harus menutupi leher rahim tanpa menyebabkan ketidaknyamanan. Baik wanita maupun pasangannya sebaiknya tidak merasakan keberadaan diafragma tersebut. Krim kontrasepsi maupun gel kontrasepsi (yang dapat membunuh sperma) harus selalu digunakan sewaktu menggunakan diafragma, karena dikhawatirkan diafragma dapat bergeser selama hubungan seksual dilakukan. Diafragma dimasukkan sebelum berhubungan dan tidak boleh dipindah dari tempatnya (vagina) setidaknya 8 jam setelah berhubungan, namun tidak lebih dari 24 jam. Jika hubungan seksual berulang ketika diafragma masih di tempatnya, diperlukan penambahan krim atau gel kontrasepsi untuk melanjutkan perlindungan. Wanita harus memeriksa diafragmanya secara teratur apakah rusak/sobek. Selama tahun pertama penggunaan diafragma, persentasi kehamilan sekitar 6% dengan penggunaan sempurna dan 16% dengan penggunaan tipikal.

3.

Penutup serviks Penutup serviks mirip dengan diafragma, namun lebih kecil dan lebih keras. Penutup serviks menempati ruangan di serviks (leher rahim) dengan pas. Alat kontrasepsi ini belum tersedia di Indonesia. Penutup serviks harus disesuaikan ukurannya oleh dokter/tenaga kesehatan. Krim kontrasepsi atau gel harus selalu digunakan bila menggunakan penutup serviks. Penutup harus dimasukkan sebelum berhubungan dan didiamkan setidaknya 8 jam setelah berhubungan, namun tidak lebih dari 48 jam. Selama tahun pertama penggunaan penutup serviks pada wanita yang

belum memiliki anak, kehamilan dapat terjadi sekitar 9% dengan penggunaan sempurna dan 18% dengan penggunaan tipikal. Untuk wanita yang telah memiliki anak kemungkinan terjadinya kehamilan menjadi 2x lipat. Melahirkan mengubah leher rahim sehingga membuat penutup serviks lebih sulit untuk melindungi dengan pas.
4.

Spons kontrasepsi Sebagai tambahan dalam menghalangi sperma memasuki rahim, spons kontrasepsi mengandung spermisida. Tersedia secara bebas dan tidak memerlukan bantuan tenaga ahli. Spons dapat dimasukkan ke dalam vagina sampai sekitar 24 jam sebelum berhubungan seksual dan spons menyediakan perlindungan dalam waktu tersebut, tanpa mempengaruhi berapa banyak hubungan seksual diulang. Spons harus didiamkan setidaknya 6 jam setelah hubungan terakhir. Namun spons tidak boleh didiamkan lebih dari 30 jam. Biasanya pasangan tidak menyadari keberadaan spons. Spons kontrasepsi kurang efektif dibandingkan diafragma. Masalah yang berhubungan dengan penggunaan spons sebagai kontrasepsi jarang terjadi. Namun masalah yang ditemui meliputi reaksi alergi, vagina menjadi kering atau iritasi vagina dan kesulitan melepas spons.

5.

Spermisida Spermisida merupakan sediaan yang dapat membunuh sperma. Tersedia dalam bentuk busa vagina, krim, gel, dan suppositoria. Spermisida ditempatkan di vagina sebelum berhubungan seksual. Kontrasepsi ini juga menyediakan barrier fisik ke sperma. Tidak ada sediaan yang lebih efektif dibanding yang lain. Spermisida paling baik digunakan dengan kontrasepsi barrier seperti kondom dan diafragma.

6.

Intrauterine Devices (IUD)/ Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Alat kontrasepsi dalam rahim merupakan alat yang berukuran kecil, terbuat dari plastik elastis yang dimasukkan dalam rahim. IUD atau AKDR ditempatkan selama 5 sampai 10 tahun, tergantung pada tipe atau sampai wanita tersebut ingin agar alat tersebut dilepas. IUD harus dimasukkan dan dilepaskan oleh dokter atau praktisi kesehatan lainnya. Pemasukan IUD hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Pelepasannya juga cepat dan biasanya hanya sedikit menimbulkan ketidaknyamanan. IUD mencegah kehamilan dengan berbagai cara: 1. Membunuh maupun meng-imobilisasi sperma 2. Mencegah sperma membuahi telur

3. Mencegah telur yang terbuahi menempel di rahim Mengenali Intrauterine Devices (IUD)

Intrauterine devices (IUD) merupakan alat kontrasepsi kecil yang terbuat dari sejenis plastik yang dimasukkan oleh tenaga ahli (dokter, perawat, maupun bidan) ke dalam rahim melalui vagina. Terdapat beberapa tipe IUD. Tipe pelepas tembaga, yaitu tipe IUD yang pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga. Sedangkan tipe lainnya yaitu tipe pelepas progestin. Benang plastik tetap menempel pada IUD sehingga wanita dapat memastikan alat IUD masih pada tempatnya. Di Indonesia terdapat dua tipe IUD. Tipe pertama yaitu IUD pelepas progestin (levonorgestrel), memiliki masa efektif selama 5 tahun. Selama periode 5 tahun tersebut, hanya sekitar 0,5 % wanita yang mengalami kehamilan. Tipe yang kedua adalah IUD yang melepaskan tembaga, yang memiliki efektivitas sekitar 10 tahun. Selama waktu tersebut, kurang dari 2% wanita hamil. Satu tahun setelah IUD dilepas, 80 sampai 90% yang ingin hamil, bisa hamil. IUD yang dimasukkan 1 minggu setelah terjadi 1 kali hubungan seksual tanpa pengaman, efektivitasnya mendekati 100% seperti pada metode kontrasepsi darurat. IUD tidak mempunyai efek sistemik (tidak mempengaruhi seluruh tubuh). Rahim bisa saja terkontaminasi bakteri pada saat pemasukan IUD, namun infeksi jarang ditemukan. Benang pada IUD tidak menyebabkan masuknya bakteri. IUD meningkatkan risiko infeksi panggul hanya pada bulan pertama penggunaan.

Permasalahan yang mungkin muncul: Perdarahan dan nyeri merupakan alasan utama yang menyebabkan wanita melepas IUD-nya (lebih dari separuh wanita melepaskan IUD sebelum waktunya). IUD yang melepas tembaga meningkatkan perdarahan menstruasi. Sebaliknya, IUD pelepas progestin mengurangi terjadinya perdarahan menstruasi. Setelah 1 tahun, perdarahan menstruasi akan berhenti pada sekitar 20 % wanita. Sekitar 5% IUD terlepas/keluar pada tahun pertama pemasangan, bahkan pada beberapa minggu pertama. Terkadang wanita tidak menyadari lepasnya IUD. Benang plastik ditempelkan ke IUD sehingga wanita dapat memeriksa sesering mungkin dan memastikan bahwa IUD masih pada tempatnya, terlebih lagi setelah masa menstruasi. Jika ia tidak menemukan benangnya, ia harus menggunakan metode kontrasepsi lain sampai tenaga kesehatannya memutuskan apakah IUD nya masih terpasang atau tidak. Jika IUD lainnya dimasukkan setelah IUD sebelumnya terlepas, biasanya IUD tersebut tetap terpasang di tempatnya. Jarang ditemukan kejadian perforasi rahim pada saat pemasangan IUD. Biasanya, perforasi tidak menimbulkan gejala. Perforasi diketahui ketika wanita tidak dapat merasakan benang plastik IUD, kemudian dari hasil USG atau sinar x menunjukkan bahwa IUD ternyata berada di luar rahim. IUD yang menyebabkan perforasi rahim dan masuk ke rongga perut harus di ambil dengan cara operasi, terkadang menggunakan laparoskopi untuk mencegah usus menjadi terluka atau tergores. Risiko keguguran terjadi pada sekitar 55% wanita yang hamil dengan IUD masih di tempatnya. Jika wanita ingin kehamilannya dilanjutkan, dan benang IUD masih terlihat, dokter akan melepas IUD untuk mengurangi risiko keguguran (sekitar 20%). Pada kehamilan dengan IUD yang masih berada di dalam rahim tidak meningkatkan risiko cacat pada janin, kematian janin, maupun infeksi panggul selama kehamilan. Untuk wanita hamil yang masih terdapat IUD, kemungkinan memiliki kehamilan ektopik (di luar rahim) sekitar 5%. Meskipun demikian, risiko secara keseluruhan dari kehamilan ektopik lebih rendah dibandingkan yang tidak menggunakan metode kontrasepsi karena IUD mencegah kehamilan secara efektif. Manfaat: Selain mengontrol kehamilan, IUD dapat mengurangi risiko kanker endometrial dan kanker leher rahim.

Metode berdasarkan waktu

Selain penggunaan alat maupun obat, beberapa metode kontrasepsi bergantung pada waktu dilakukannya hubungan seksual.

Metode KB Alami Metode KB alami yaitu metode kontrasepsi dengan cara tidak dilakukannya hubungan seksual ketika wanita dalam masa subur. Umumnya, ovarium melepaskan sel telur sekitar 14 hari sebelum dimulainya periode menstruasi. Meskipun sel telur yang tidak dibuahi hanya dapat bertahan sekitar 12 jam, tetapi sperma sendiri dapat bertahan sampai 5 hari setelah hubungan seksual dilakukan. Oleh karena itu, pembuahan dapat terjadi mulai 5 hari sebelum sampai 12 jam setelah terjadi ovulasi. Berikut adalah beberapa metode KB alami. Masing-masing metode KB alami memperkirakan waktu ketika telur dikeluarkan (ovulasi). Metode kalender merupakan metode yang efektivitasnya paling kecil. Metode temperatur, mukus/ lendir, dan simptotermal merupakan metode yang lebih akurat dalam memperkirakan waktu ovulasi.

1.

Metode Kalender (pantang berkala) Metode ini tidak efektif untuk wanita yang mempunyai siklus menstruasi tidak teratur. Untuk menghitung kapan waktu hubungan suami istri tidak boleh dilakukan (pantang), seorang wanita menambahkan 18 hari dari siklus terpendek dan 11 hari dari siklus terpanjang dari 12 siklus menstruasi ke depan. Contohnya: jika siklus terakhir dari 26 sampai 29 hari, dia harus tidak berhubungan dimulai hari ke 8 (26-18) sampai hari ke 18 (29-11) setiap siklusnya. Semakin panjang siklusnya, semakin lama juga seorang wanita tidak boleh melakukan hubungan seksual. Hari pertama pada periode menstruasi dihitung sebagai hari pertama perhitungan.

2.

Metode Temperatur Suhu tubuh wanita pada saat istirahat (suhu tubuh basal) meningkat sedikit demi sedikit sekitar 0.9° F (0.5° C), setelah sel telur dilepaskan. Untuk mengetahui suhu tubuh basal, seorang wanita harus mengukur suhu tubuhnya setiap pagi sebelum bangun dari tempat tidur. Jika memungkinkan, gunakan termometer pengukur suhu basal tubuh (yang lebih akurat dibandingkan termometer biasa) atau jika tidak tersedia, gunakan termometer merkuri. Termometer elekronik sedikit kurang akurat. Suhu tubuh harus diukur dan dicatat setiap harinya. Seorang wanita pantang melakukan hubungan seksual mulai dari awal periode menstruasi sampai setidaknya 72 jam setelah suhu basal tubuhnya meningkat.

3.

Metode pemeriksaan lendir vagina/ Metode Mukus

Seorang wanita dapat menentukan masa suburnya dengan cara mengamati pengeluaran lendir dari vagina, jika memungkinkan pemeriksaan dilakukan beberapa kali setiap hari, dimulai dari hari setelah menstruasi berakhir. Bisa jadi tidak ada lendir yang keluar selama beberapa hari setelah menstruasi berakhir, tetapi kemudian akan muncul lendir yang kental dan keruh. Sesaat sebelum terjadi ovulasi, lendir yang dikeluarkan akan semakin banyak, menjadi lebih encer, elastis (dapat diregangkan jika menempel di jari), dan lebih jernih menyerupai air (seperti putih telur mentah). Hasil pengamatan harus dicatat. Hubungan seksual harus dihindari pada saat menstruasi karena lendir vagina tidak dapat diperiksa saat itu dan perdarahan vagina yang ringan dapat disalahartikan sebagai menstruasi. Hubungan seksual dapat dilakukan ketika tidak ada lendir vagina yang muncul tetapi hubungan seksual tidak boleh dilakukan selain hari tersebut karena air mani yang keluar setelah berhubungan dapat disalahartikan sebagai lendir vagina. Ketika lendir vagina muncul, hubungan seksual harus dihindari selama 3-4 hari setelah perubahan pada lendir vagina mengindikasikan terjadinya ovulasi. Hubungan seksual diperbolehkan tanpa ada larangan untuk frekuensinya sampai periode menstruasi berikutnya datang. Wanita yang menggunakan metode ini sebaiknya jangan menggunakan produk pembersih kewanitaan baik yang berbentuk douche, semprotan ataupun cream karena produk-produk tersebut dapat menyebabkan perubahan pada lendir vagina.
4. 5.

Metode simptotermal

Metode ini merupakan kombinasi antara metode pengecekan suhu tubuh, pemeriksaan lendir vagina dan juga sistem kalender. Wanita harus memperhatikan saat lendir vagina meningkat, menjadi lebih kental, elastis Tahukah anda.... serta lebih jernih menyerupai air (seperti pada Sperma dapat bertahan hidup pemeriksaan lendir vagina) dan suhu tubuh meningkat. (dan membuahi sel telur) Saat itu wanita sebaiknya tidak melakukan hubungan sampai lima hari setelah seksual mulai dari hari pertama berhenti melakukan terjadi hubungan seksual. hubungan seksual sesuai sistem kalender sampai setidaknya 72 jam setelah temperatur tubuhnya naik (sistem pengecekan suhu tubuh) dan lendir vagina berubah (sistem pemeriksaan lendir vagina). Pada metode KB alami, metode ini paling dapat diandalkan. Dengan pengamatan yang tepat maka kemungkinan menjadi hamil sekitar 2 % setahun.

6. 7.

KB Alami

Perencanaan keluarga secara alami (KB alami) meliputi perencanaan mengenai tidak dilakukannya hubungan seksual selama wanita dalam masa subur. Untuk mengetahui waktu di mana wanita dalam masa subur dapat dilakukan dengan menggunakan metode kalender, pengukuran temperatur tubuh, maupun menggunakan karakteristik mukus/lendir vagina (yang selalu berubah sepanjang bulan), atau dengan menggunakan kombinasi dari ketiga metode tersebut (metode simptotermal). Masa subur pada masing-masing wanita berbeda dikarenakan perbedaan

dari lamanya siklus haid seorang wanita, hari di saat temperatur tubuhnya meningkat, perubahan lendir vagina, dan gejala-gejala lain yang bervariasi. Grafik tersebut memberikan gambaran mengenai perencanaan KB alami. Bagi wanita yang siklusnya menstruasinya tidak teratur akan sulit dalam menggunakan metode ini. Untuk metode kalender pada contoh di atas, 18 hari diambil dari siklus terpendek (26 – 18 = 8) dan 11 hari merupakan siklus terpanjang (29 – 11 = 18). Sehingga seorang wanita harus menghindari hubungan seksual pada hari ke-8 sampai hari ke-18. Untuk metode pengukuran suhu, seorang wanita tidak boleh melakukan hubungan seksual mulai dari periode menstruasi sampai setidaknya 72 jam dihitung pada hari setelah suhu tubuh basalnya meningkat. Untuk metode mukus, seorang wanita tidak boleh melakukan hubungan seksual pada saat periode menstruasi dan dari waktu lendir vagina muncul sampai saat di mana lendir vagina yang muncul menjadi lebih cair, elastis, jernih dan menyerupai air. Hubungan seksual dapat dilakukan di antara akhir periode menstruasinya dan saat lendir vaginanya muncul. Namun selama waktu tersebut, ia harus membatasi hubungan seksual pada tiap harinya sehingga ia tidak bingung antara air mani dengan lendir dari leher rahim. Pada metode simtotermal, seorang wanita menggunakan metode temperatur, lendir vagina, dan kalender sekaligus. Wanita mencatat kapan lendir vagina meningkat, dan berubah bentuknya dan kapan suhu basal tubuh meningkat. Wanita tersebut tidak boleh melakukan hubungan seksual mulai dari hari yang telah ditentukan oleh metode kalender sampai setidaknya 72 jam pada hari ketika temperatur tubuhnya meningkat dan lendir vagina berubah yang mengindikasikan terjadi ovulasi.
8.

Senggama Terputus (coitus interuptus) Untuk mencegah sperma masuk ke vagina, pria dapat menarik penisnya dari vagina sebelum terjadi ejakulasi, ketika sperma keluar pada saat orgasme. Metode yang disebut senggama terputus ini kurang efektif karena sel sperma dapat keluar sebelum terjadi orgasme. Selain itu, metode ini juga membutuhkan kontrol diri yang tinggi dari pria dan ketepatan waktu.

ABORSI
DEFINISI Aborsi buatan adalah penghentian kehamilan dengan pembedha atau obat.

• •

Kehamilan mungkin dihentikan dengan pembedahan membuang isis dari uterus atau minum obat tertentu.. Komplikasi jarang terjadi bila aborsi dilakukan oleh tenaga kesehata yang terlatih di rumah sakit atau klinik.

Di seluruh dunia, status aborsi bervariasi mulai dicap legal hingga boleh dilakukan sesuai permintaan. Sekitar dua pertiga dari wanita di dunia mempunyai akses untuk aborsi yang legal. Di Amerika Serikat, aborsi elektif (aborsi yang diinisiasi oleh pilihan pribadi) adalah legal selama trisemester pertama (hingga 12 minggu). Setelah 12 minggu, apakah aborsi elektif adalah legal bervariasi di tiap negaranya.di Amerika Serikat, sekitar 25 persen dari kehamilan dihentikan oleh aborsi elektif, membuat hal ini salah satu pembedahan yang paling umum dilakukan. Metode Metode aborsi termasuk pembedahan (evakuasi operasi) dan obat untuk merangsang kontraksi rahim. Metode digunakan bergantung antara lain berapa lama seorang wanita sudah hamil. Biasanya dilakukan Ultrasonography untuk menaksir umur kehamilan. Evakuasi operasi bisa dipakai untuk kebanyakan kehamilan. Obat bisa dipakai untuk beberapa kehamilan yang sangat awal atau tua (lebih dari 15 minggu). Untuk aborsi dilakukan pada awal kehamilan, hanya anestetik lokal yang diperlukan. Untuk aborsi kehamilan tua, anestetik umum mungkin diperlukan. Evakuasi operasi: isi rahim dikeluarkan lewat vagina. Evakuasi operasi dipakai untuk lebih dari 95% dari aborsi. Teknik berbeda dipakai bergantung pada usia kehamilan. Untuk kehamilan kurang dari 12 minggu, sedotan kuretisasi selalu digunakan. Biasanya, dokter memakai tabung fleksibel yang kecil yang disambungkan pada sumber vakum, biasanya pompa isapan mesin atau pompa tangan tetapi kadang-kadang jarum suntik vakum. Tabung dimasukkan melalui leher rahim yang terbuka ke dalam bagian dalam rahim, kemudian dengan lembut dan seksama mengosongkan semuanya. Kadang-kadang prosedur ini tidak menggugurkan kandungan, khususnya kalau prosedur dilakukan pada minggu pertama sesudah periode menstruasi yang hilang/berhenti. Kadang-kadang dokter harus memperlebar (membesar) leher rahim agar tabung sedotan dapat lewat dari leher rahim ke dalam rahim. Misalnya, untuk kehamilan usiaampai 12 minggu, leher rahim dibesarkan karena tabung yang digunakan lebih besar. Untuk kehamilan usia 4 sampai 6 minggu, tabung yang lebih kecil digunakan, sangat jarang atau tidak diperlukan tindakan perlebaran.. Untuk mengurangi kemungkinan melukai leher rahim selama memperbesar, dokter mungkin memakai bahan alami yang menyerap cairan, seperti tangkai rumput laut kering (laminaria), daripada alat mesin. Laminaria dimasukkan ke dalam leher rahim yang terbuka dan ditinggalkan di dalam selama sedikitnya 4 sampai 5 jam, biasanya semalam. Sewaktu laminaria menyerap banyak cairan dari badan, mereka berkembang dan merentangkan pembukaan leher rahim. Obat seperti prostaglandins juga bisa gunakan untuk membesarkan leher rahim.

Untuk kehamilan lebih dari 12 minggu, pelebaran dan evakuasi biasanya dipakai. Sesudah leher rahim dibesarkan, sedotan dan tang dipergunakan untuk mengeluarrkan janin dan plasenta. Lalu rahim dengan lembut digores untuk meyakinkan segalanya sudah dikeluarkan. Teknik ini menghasilkan lebih sedikit komplikasi kecil daripada melakukan dengan obat yang dapat menyebabkan aborsi. Tetapi, untuk kehamilan lebih dari 18 minggu, pelebaran dan evakuasi bisa menyebabkan komplikasi serius, seperti kerusakan pada rahim atau usus. Obat: obat untuk aborsi mungkin dipakai untuk kehamilan kurang dari 9 minggu atau lebih dari 15 minggu. Obat biasanya dipakai untuk aborsi yang sangat awal, sebelum rahim berisi embrio dan plasenta benar-benar tampak pada scan ultrasound. Pilihan obatnya termasuk mifepristone (RU–486) dan prostaglandins, seperti misoprostol. Mifepristone, yang diminum, menghentikan tindakan hormon progesteron, yang menyiapkan sepanjang uterus untuk menyangga janin. Mifepristone dipakai hanya untuk kehamilan kurang dari 9 minggu. Prostaglandin ialah senyawa seperti hormon yang merangsang rahim untuk berkontraksi. Obat ini mungkin dipakai dengan mifepristone untuk kehamilan kurang dari 9 minggu atau dipakai sendiri untuk kehamilan lebih dari 15 minggu. Prostaglandin dapat ditelan, bertahan di mulut (di samping pipi atau di bawah lidah) sampai mereka larut, disuntikkan, atau ditempatkan di vagina. Prostaglandin diberikan sesudah mifepristone kalau keduanya dipakai. Regimen biasanya 1 sampai 3 tablet mifepristone dan, sesudah 2 hari, menggunakan prostaglandin (misoprostol) diminum atau dimasukkan ke vagina. Regimen ini menyebabkan aborsi pada sekitar 95% dari wanita. Jika aborsi tidak terjadi, dilakukan evakuasi operasi. Untuk kehamilan lebih dari 15 minggu, dua tablet yang ditempatkan di vagina tiap 6 jam adalah hampir 100% efektif dalam 48 jam. Komplikasi

Risiko komplikasi berhubungan dengan usia kehamilan: semakin tua usia kehamilan seorang wanita, semakin besar risikonya. Risiko juga berhubungan dengan metode yang digunakan.

Evakuasi operasi: rahim dilubangi dengan alat operasi pada 1 di antara 1.000 aborsi. Lebih jarang terjadi, usus atau organ lain terluka. Pendarahan hebat terjadi selama atau segera setelah operasi pada 6 di antara 10.000 aborsi. Alat yang digunakan bisa menyobek leher rahim, khususnya pada kehamilan lebih dari 12 minggu. Kemudian, infeksi mungkin timbul. Sangat jarang, prosedur atau infeksi berikut menyebabkan parut jaringan yang terbentuk sepanjang rahim, yang menyebabkan kemandulan. Komplikasi ini disebut sindrom Asherman. Obat: Mifepristone dan prostaglandin misoprostol mempunyai efek samping. Yang paling sering terjadi adalah kram rasa sakit panggul, pendarahan pada vagina, dan masalah gastrointestinal seperti mual, muntah, dan diare. Infeksi lebih

jarang terjadi kalau obat dipakai digunakan lebih dahulu sebelum tindakan pembedahan. Metode lain: Pendarahan dan infeksi bisa terjadi jika sebagian plasenta ditinggalkan di rahim. Kemudian, khususnya jika wanita tidak aktif, gumpalan darah mungkin berkembang di kaki. Jika janin memiliki darah Rh posistif, seorang wanita yang memiliki darah Rh negative dapat memproduksi antibody Rh sewaktu hamil, keguguran atau melahirkan. Antibody seperti itu membahayakan kehamilan berikutnya. Pemberian injeksi Rh0(D) imuno globulin pada wanita mencegah pembentukan antibody

Aborsi elektif mungkin tidak menambah risiko bagi janin atau wanita selama kehamilan berikutnya. Kebanyakan wanita tidak mempunyai masalah psiklogis setelah aborsi. Tetapi, masalah lebih mungkin terjadi pada wanita yang mempunyai gejala psiklogis sebelum kehamilan, yang mengakhiri kehamilan karena alas an kesehatan, yang sangat ambivalen tentang aborsi, remaja, yang menglami aborsi pada usia kehamilan tua, atau yang mendapatkan aborsi secara ilegal.

KEMANDULAN
DEFINISI Kemandulan adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk mencapai kehamilan setelah selama 1 tahun melaksanakan hubungan seksual secara teratur dan tidak menggunakan alat kontrasepsi. Kemandulan primer adalah istilah yang digunakan jika pasangan suami istri sama sekali belum pernah memiliki anak. Jika sebelumnya pasangan suami istri pernah memiliki anak (minimal 1 kali kehamilan), tetapi kehamilan berikutnya belum berhasil dicapai, maka digunakan istilah kemandulan sekunder.

PENYEBAB Sekitar 30-40% kasus disebabkan oleh faktor pria, seperti: 1. Masalah pada sperma Pada pria dewasa, sperma dibuat terus menerus di dalam testis (buah zakar). Proses pembuatan sperma disebut spermatogenesis. Sel yang belum terspesialisasi memerlukan waktu sekitar 72-74 hari untuk berkembang menjadi sel sperma yang matang. Dari testis kiri dan kanan, sperma bergerak ke dalam epididimis (suatu saluran berbentuk gulungan yang terletak di puncak testis menuju ke testis belakang bagian bawah) dan disimpan di dalam epididimis sampai saat terjadinya ejakulasi. Dari epididimis, sperma bergerak ke vas deferens dan duktus ejakulatorius. Di dalam duktus ejakulatorius, cairan yang dihasilkan oleh vesikula seminalis ditambahkan pada sperma dan membentuk semen, yang kemudian mengalir menuju ke uretra dan dikeluarkan ketika ejakulasi.

Kesuburan seorang pria ditentukan oleh kemampuannya untuk mengantarkan sejumlah sperma yang normal ke dalam vagina wanita. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses tersebut sehingga bisa terjadi kemandulan: a. Peningkatan suhu di dalam testis akibat demam berkepanjangan atau akibat panas yang berlebihan bisa menyebabkan berkurangnya jumlah sperma, berkurangnya pergerakan sperma dan meningkatkan jumlah sperma yang abnormal di dalam semen. Pembentukan sperma yang paling efsisien adalah pada suhu 33,5? (lebih rendah dari suhu tubuh). Testis bisa tetap berada pada suhu tersebut karena terletak di dalam skrotum (kantung zakar) yang berada diluar rongga tubuh. Faktor lain yang mempengaruhi jumlah sperma adalah pemakaian marijuana atau obat-obatan (misalnya simetidin, spironolakton dan nitrofurantoin). b. Penyakit serius pada testis atau penyumbatan atau tidak adanya vas deferens (kiri dan kanan) bisa menyebabkan azospermia (tidak terbentuk sperma sama sekali. Jika di dalam semen tidak terdapat fruktosa (gula yang dihasilkan oleh vesikula seminalis) berarti tidak terdapat vas deferens atau tidak terdapat vesikula seminalis atau terdapat penyumbatan pada duktus ejakulatorius. c. Varikokel merupakan kelainan anatomis yang paling sering ditemukan pada kemandulan pria. Varikokel adalah varises (pelebaran vena) di dalam skrotum. Varikokel bisa menghalangi pengaliran darah dari testis dan mengurangi laju pembentukan sperma. d. Ejakulasi retrograd terjadi jika semen mengalir melawan arusnya, yaitu semen mengalir ke dalam kandung kemih dan bukan ke penis. Kelainan ini lebih sering ditemukan pada pria yang telah menjalani pembedahan panggul (terutama pengangkatan prostat) dan pria yang menderita diabetes. Ejakulasi retrograd juga bisa terjadi akibat kelainan fungsi saraf.

2. Impotensi 3. Kekurangan hormon 4. Polusi lingkungan. 5. Pembentukan jaringan parut akibat penyakit menular seksual. 40-50% kemandulan disebabkan oleh faktor wanita: 1. Jaringan parut akibat penyakit menular seksual atau endometriosis. 2. Disfungsi ovulasi (kelainan pada proses pelepasan sel telur oleh ovarium/sel telur). Ovulasi adalah pelepasan sel telur dari ovarium (indung telur). Ovulasi biasanya terjadi 14 hari sebelum menstruasi hari pertama. Sel telur yang dilepaskan ini siap dibuahi oleh sperma yang berasal dari pria. Jika seorang wanita memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur atau tidak mengalami menstruasi (amenore), maka dicari terlebih dahulu penyebabnya lalu dilakukan pengobatan untuk merangsang terjadinya ovulasi. Kadang ovulasi tidak terjadi akibat tidak dilepaskannya GnRH (donadotropinreleasing hormone) oleh hipotalamus. 3. Kelainan hormon. 4. Kekurangan gizi. 5. Kista ovarium. 6. Infeksi panggul. 7. Tumor. 8. Kelainan lendir servikal (lendir reher rahim). Lendir pada serviks bertindak sebagai penyaring yang menghalangi masuknya bakteri dari vagina ke dalam rahim. Lendir ini juga berfungsi memperpanjang kelangsungan hidup sperma. Lendir pada serviks adalah kental dan tidak dapat ditembus oleh sperma kecuali pada fase folikuler dari siklus menstruasi. Selama fase folikuler, terjadi peningkatan hormon estradiol sehingga lendir lebih jernih dan elastis dan bisa ditembus oleh sperma. Selanjutnya sperma menuju ke rahim lalu ke tuba falopii dan terjadilah pembuahan di tuba falopii. 9. Kelainan sistem pengangkutan dari leher rahim ke tuba falopii (saluran telur).

10. Kelainan pada tuba falopii. Bisa terjadi kelainan struktur maupun fungsi tuba falopii. Penyebab yang utama adalah: - Infeksi - Endometriosis - Pengikatan tuba pada tindakan sterilisasi. Diperkirakan sebanyak 10-20% pasangan mengalami kemandulan. Merupakan hal yang penting untuk tidak menunda kehamilan lebih dari 1 tahun; kemungkinan hamil pada pasangan yang sehat dan keduanya berusia dibawah 30 tahun serta melakukan hubungan seksual secara teratur adalah hanya sebesar 25-30%/bulan. Puncak kesuburan seorang wanita adalah pada usia 20 tahunan; jika usia wanita diatas 30 tahun (terutama diatas 35 tahun), maka kemungkinan hamil adalah sebesar kurang dari 10%/bulan. Selain faktor yang berhubungan dengan usia, resiko kemandulan juga meningkat pada:  Berganti-ganti pasangan seksual (karena meningkatkan resiko terjadi penyakit menular seksual)  Penyakit menular seksual  Pernah menderita penyakit peradangan panggul (setelah menderita penyakit ini, 1015% wanita menjadi mandul)  Pernah menderita orkitis atau epididimitis (pria)  Gondongan (pria)  Varikokel (pria)  Pemaparan DES (dietil stilbestrol) (pria maupun wanita)  Siklus menstruasi anovulatoir  Endometriosis  Kelainan pada rahim (mioma) atau penyumbatan leher rahim  Penyakit menahun (misalnya diabetes). GEJALA Gejalanya berupa:  Tidak kunjung hamil  Reaksi emosional (baik pada istri, suami maupun keduanya) karena tidak memiliki anak. Kemandulan sendiri tidak menyebabkan penyakit fisik, tetapi dampak psikisnya pada suami, istri maupun keduanya bisa sangat berat. Pasangan tersebut mungkin akan menghadapi masalah pernikahan (termasuk perceraian), depresi dan kecemasan. DIAGNOSA Dilakukan pemeriksaan fisik dan pengumpulan riwayat kesehatan dari suami dan istri. Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah:

 Analisa semen untuk menilai volume dan kekentalan semen serta menilai jumlah, pergerakan, kecepatan pergerakan dan bentuk sperma. 2-3 hari sebelum menjalani pemeriksaan ini, suami tidak boleh melakukan ejakulasi.  Pengukuran suhu tubuh basal. Setiap pagi, sebelum beranjak dari tempat tidur, dilakukan pengukuran suhu tubuh wanita, jika terjadi peningkatan sebesar 0,5-1? Celsius berarti sedang terjadi ovulasi.  Memperhatikan perubhan pada lendir servikal. Pada fase ovulatoir, lendir menjadi basah, elastis dan licin.  Postcoital test (PCT). PCT dilakukan untuk menilai interaksi antara sperma dan lendir servikal dengan cara menganalisa lendir servikal yang dikumpulkan dalam waktu 2-8 jam setelah melakukan hubungan seksual. Tes ini dilakukan pada pertengahan siklus menstruasi yaitu pada saat estradiol mencapai kadar tertinggi dan pada saat terjadi ovulasi. Dalam keadaan normal, lendir servikal adalah jernih dan bisa diregangkan sepanjang 7,610 cm tanpa terputus. Bila dilihat dengan mikroskop, lendir tampak seperti pohon pakis.  Kadar progesteron serum.  Biopsi endometrium  Biopsi testis (jarang dilakukan)  Kadar LH (luteinizing hormon) untuk memperkirakan saat ovulasi dan membantu menentukan waktu untuk melakukan hubungan seksual.  Progestin challenge  Kadar hormon pada suami dan istri.  Histerosalpingografi (HSG) untuk menilai sistem transport dari serviks melalui rahim sampai ke tuba falopii.  Histeroskopi.  Laparoskopi untuk melihat rongga panggul.  Pemeriksaan panggul (pada wanita) untuk menentukan adanya kista atau tidak. PENGOBATAN Pengobatan tergantung kepada penyebabnya. bisa diberikan untuk mencoba menambah pembentukan sperma pada pria. Tetapi Clomifene tampaknya tidak dapat meningkatkan kemampuan gerak sperma maupun mengurangi jumlah sperma yang abnormal dan belum terbukti mampu menambah kesuburan. Pada pria yang hanya memiliki sedikit sperma yang normal, bisa dilakukan inseminasi buatan, baik melalui prosedur pembuahan in vitro maupun GIFT (gamete intrafallopian tube transfer). Pada azospermia, bisa dipertimbangkan pembuahan dengan sperma dari donor. Varikokel bisa diatasi dengan pembedahan. Bagi wanita yang tidak mengalami ovulasi dalam waktu lama (anovulasi kronis) bisa

diberikan Clomifene. Pada awalnya menstruasi dirangsang dengan obat lain, yaitu medroksiprogesteron acetat. Kemudian diberikan Clomifene selama 5 hari. Biasanya ovulasi akan terjadi 5-10 hari (rata-rata 7 hari) setelah pemberian Clomifene dihentikan dan 14-16 hari setelah ovulasi akan terjadi menstruasi. Jika setelah pemberian Clomifene tidak terjadi menstruasi, maka dilakukan tes kehamilan. Jika hasilnya negatif, siklus pengobatan diulangi dengan menambah dosis Clomifene sampai terjadi ovulasi atau sampai tercapai dosis maksimum. Jika telah ditentukan dosis Clomifene yang bisa merangsang terjadinya ovulasi, maka dosis ini diberikan minimal selama 6 siklus pengobatan lagi. Kebanyakan wanita akan bisa hamil pada siklus keenam, dimana terjadi ovulasi. Sekitar 75-80% wanita yang mendapatkan Clomifene akan mengalami ovulasi, tetapi hanya 40-50% yang berhasil hamil. Sekitar 5% kehamilan adalah kehamilan ganda (terutama kembar 2). Efek samping dari klomifen adalah hot flashes, pembengkakan perut, nyeri tekan pada payudara, mual, gangguan penglihatan dan sakit kepala. Sekitar 5% dari wanita yang diobati dengan Clomifene mengalami sindroma hiperstimulasi ovarium, dimana ovarium menjadi sangat besar dan sejumlah besar cairan berpindah dari aliran darah ke rongga perut. Untuk mencegah terjadinya sindroma ini, maka diberikan dosis Clomifene terendah yang masih efektif. Jika pemberian Clomifene tidak berhasil merangsang ovulasi, maka dicoba diberikan terapi hormonal dengan human menopausal gonadotropin (HMG). Hormon ini diekstrak dari air kemih wanita pasca menopause. HMG memerlukan biaya besar dan memiliki efek samping yang berat, karena itu pemakaiannya dibatasi hanya jika penyebab kemandulan sudah pasti merupakan kelainan ovulasi. HMG disuntikkan ke dalam otot dan dosisnya disesuaikan dengan respon penderita terhadap hormon tersebut. HMG berfungsi merangsang pematangan folikel di ovarium. Untuk memantau pematangan ini, dilakukan pengukuran kadar hormon estradiol dan pemeriksaan USG panggul. Setelah folikel matang diberikan suntikan hormon lain, yaitu human chorionic gonadotropins (HCG) untuk merangsang ovulasi. Lebih dari 95% wanita yang diberi hormon ini mengalami ovulasi, tetapi kehamilan hanya terjadi pada 50-75% penderita. 10-30% kehamilan adalah kehamilan ganda (terutama kembar 2). Efek samping dari HMG adalah sindroma hiperstimulasi ovarium, yang terjadi pada 1020% penderita. Kemandulan akibat tidak dilepaskannya hormon GnRH oleh hipotalamus bisa diatasi dengan memberikan GnRH buatan untuk merangsang ovulasi.

Jika penyebabnya adalah kelainan pada lendir servikal, maka bisa dilakukan inseminasi intrauterin, yaitu memasukkan semen langsung ke dalam rahim sehingga tidak perlu melewati lendir. Atau diberikan obat untuk mengencerkan lendir (misalnya guaifenesin). Teknik Pembuahan Setelah semua pengobatan lain gagal menghasilkan kehamilan, maka lebih banyak pasangan mandul yang beralih ke fertilisasi in vitro (bayi tabung). Prosedur ini terdiri dari perangsangan ovarium, pemulihan pelepasan sel telur, pembuahan sel telur, penumbuhan embrio di laboratorium kemudian penanaman embrio pada rahim wanita. Untuk merangsang ovarium sehingga banyak sel telur yang matang, diberikan kombinasi klomifen, HMG dan agonis GnRH (obat yang merangsang pelepasan gonadotropin oleh kelenjar hipofisa). Dengan panduan USG, dimasukkan sebuah jarum melalui vagina atau perut ke dalam ovarium dan diambil beberapa sel telur dari folikelnya. Di laboratorium, sel telur ditempatkan di dalam cawan pembiakan dan dibuahi oleh sperma pilihan (sperma yang paling aktif). Setelah sekitar 40 jam, 3-4 embrio dipindahkan dari cawan biakan ke dalam rahim itu melalui vagina. Embrio lainnya bisa dibekukan dalam larutan nitrogen untuk cadangan bila tidak terjadi kehamilan. Setiap kali sel telur yang telah dibuahi dimasukkan ke dalam rahim, peluang berkembangnya seorang bayi cukup bulan hanya sekitar 18-25%. Jika penyebab kemandulan pada wanita tidak diketahui atau jika penyebabnya adalah endometriosis tetapi fungsi tuba falopiinya normal, maka dilakukan GIFT (gammete intrafallopian tube transfer). Sel telur dan sperma pilihan diperoleh melalui prosedur yang sama dengan pada fertilisasi in vitro, tetapi sel telur tidak dibuahi di laboratorium. Sel telur dan sperma dimasukkan ke dalam ujung tuba falopii melalui dinding perut (pada proses laparoskopi) atau melalui vagina (dipandu oleh USG), sehingga pembuahan terjadi di dalam tuba falopii. Angka keberhasilan pada GIFT adalah sekitar 20-30%. Variasi dari fertilisasi in vitro dan GIFT adalah pemindahan embrio yang lebih matang (zygote intrafallopian tube transfer), pemakaian sel telur dari donor dan pemindahan embrio yang telah dibekukan ke dalam rahim wanita lain. PROGNOSIS

Sekitar 85-90% kasus, kemungkinan penyebabnya bisa diketahui. Pengobatan yang tepat (tidak termasuk teknik modern seperti fertilisasi in vitro) memungkinkan terjadinya kehamilan pada 50-60% pasangan yang sebelumnya didiagnosis mengalami kemandulan. Tanpa pengobatan, 15-20% kasus pada akhirnya akan mengalami kehamilan. PENCEGAHAN Kemandulan seringkali disebabkan oleh penyakit menular seksual, karena itu dianjurkan untuk menjalani perilaku seksual yang aman guna meminimalkan resiko kemandulan di masa yang akan datang. Penyakit menular seksual yang paling sering menyebabkan kemandulan adalah gonore dan klamidia. Kedua penyakit ini pada awalnya mungkin tidak menunjukkan gejala dan gejala baru timbul setelah terjadinya penyakit peradangan panggul atau salpingitis. Peradangan menyebabkan pembentukan jaringan parut pada tuba falopii lalu terjadi penurunan kesuburan, kemandulan absolut atau kehamilan di luar kandungan. Immunisasi gondongan telah terbukti mampu mencegah gondongan dan komplikasinya pada pria (orkitis). Kemandulan akibat gondongan bisa dicegah dengan menjalani immunisasi gondongan. Beberapa jenis alat kontrasepsi memiliki resiko kemandulan yang lebih tinggi (misalnya IUD). IUD tidak dianjurkan untuk dipakai pada wanita yang belum pernah memiliki anak.

MASALAH LENDIR SERVIKS
DEFINISI Biasanya, lendir pada servik (bagian bawah pada rahim yang terbuka ke dalam vagina) menebal dan tidak dapat ditembus sampai hanya sebelum melepaskan sel telur (ovulasi). Kemudian, hanya sebelum ovulasi, lendir menjadi bening dan elastis (karena kadar hormon estrogen meningkat). Akibatnya, sperma bisa bergerak melalui lendir ke dalam rahim menuju tuba falopi, dimana pembuahan bisa terjadi. Jika lendir tidak berubah pada ovulasi (biasanya karena sebuah infeksi), kehamilan tidak mungkin, kehamilan juga tidak mungkin jika lendir mengandung antibodi sperma, yang membunuh sperma sebelum mereka dapat mencapai sel telur.

DIAGNOSA Tes postcoital, dilakukan diantara 2 dan 8 jam setelah hubungan seksual, meliputi penelitian lendir servik dan memastikan apakah sperma bisa bertahan di dalam lendir. Tes tersebut dijadwalkan pada tengah-tengah siklus menstruasi, ketika kadar estrogen sangat tinggi dan wanita tersebut sedang ovulasi. Contoh lendir diambil dengan forcep atau syringe.

Penebalan dan keelastisan lendir dan jumlah sperma pada lendir dipastikan. Hasil yang tidak normal termasuk lendir yang terlalu tebal, tidak terdapat sperma, dan sperma dan gumpalan bercampur karena lendir mengandung antibodi sperma. Meskipun begitu, hasil yang tidak normal tidak selalu mengindikasi bahwa terdapat masalah pada lendir atau bahwa kehamilan bisa terjadi, sperma bisa tidak hadir hanya karena mereka tidak tersimpan di dalam vagina selama hubungan seks, dan lendir kemungkinan terlalu tebal hanya karena tes tidak menunjukkan waktu yang sesuai pada siklus menstruasi. PENGOBATAN Pengobatan bisa termasuk inseminasi intrauterine, dimana semen diletakkan langsung di dalam rahim untuk memotong lendir. Obat-obatan untuk menipiskan lendir, seperti guaifenesin, kemungkinan digunakan. Meskipun begitu, tidak terdapat bukti bahwa pengobatan apapun meningkatkan kesempatan pada kehamilan.

MASALAH OVULASI
DEFINISI Pada wanita, penyebab umum pada kemandulan adalah masalah ovulasi-dimana, ovarium tidak dapat melepaskan sel telur setiap bulan. Masalah ovulasi terjadi ketika salah satu bagian pada sistem yang mengendalikan fungsi reproduksi yang tidak berfungsi. Sistem ini termasuk hypothalamus (daerah pada otak), kelenjar pituitary, kelenjar adrenalin, kelenjar tiroid, dan organ kelamin. Misalnya, ovarium tidak bisa menghasilkan cukup progesterone, hormon pria yang menyebabkan lapisan rahim menebal untuk mempersiapkan janin yang berpotensi. Ovulasi bisa tidak terjadi karena hypothalamus tidak mengeluarkan gonadotropin - pelepasan hormon, yang merangsang kelenjar pituitary untuk menghasilkan hormon yang bisa memicu ovulasi (hormon luteinizing dan hormon perangsang-folikel). Prolactin dengan kadar tinggi (hyperprolactinemia), yang hampir selalu bersifat bukan kanker. Masalah ovulasi kemungkinan berhubungan dengan polycystic ovary syndrome, gangguan kelenjar tiroid, gangguan kelenjar adrenalin, olahraga berlebihan, diabetes, kehilangan berat badan, atau stress psikologi. Kadangkala penyebabnya adalah menopause dini- ketika suplai sel telur telah lebih dulu habis. Ovulasi seringkali menjadi masalah pada wanita yang memiliki periode haid yang tidak teratur atau tidak memiliki periode (amenorrhea). Hal ini kadangkala menjadi masalah wanita yang memiliki periode menstruasi yang teratur tetapi tidak memiliki gejala premenstruasi, seperti payudara yang lembut sekali, bagian perut bawah yang bengkak, dan perubahan mood. DIAGNOSA

Untuk memastikan jika atau ketika ovulasi terjadi, dokter bisa meminta seorang wanita untuk mengukur suhu ketika tidur (suhu badan basal) setiap hari. Biasanya, waktu yang paling tepat adalah segera setelah bangun. Titik rendah suhu tubuh basal memperkirakan bahwa ovulasi kira-kira terjadi. Kenaikan lebih dari 0.9 º F (0.5 ºC) pada suhu biasanya mengindikasikan bahwa ovulasi telah terjadi. Meskipun begitu, suhu tubuh basal tidak jelas atau tepat terindikasi ketika ovulasi terjadi. Yang paling baik, memprediksi ovulasi hanya dalam waktu 2 hari. Cara yang paling tepat termasuk alat prediksi ultrasonografi (yang mendeteksi peningkatan hormon luteinizing di dalam urin 24 sampai 36 jam sebelum ovulasi). Alat ini digunakan di rumah untuk menguji urin dalam beberapa hari berturut-turut. Juga, kadar progesterone di dalam darah atau kelenjar ludah atau kadar hasil sampingan salah satunya di dalam urin kemungkinan diukur. Tanda peningkatan dalam tingkat ini mengindikasi bahwa ovulasi telah terjadi. Untuk memastikan apakah ovulasi terjadi secara normal, dokter bisa melakukan biopsi endometrial. Contoh kecil jaringan diambil dari lapisan rahim 10 sampai 12 hari setelah ovulasi dianggap telah terjadi. Contoh tersebut diteliti di bawah mikroskop. Jika perubahan yang terjadi secara normal setelah ovulasi terlihat, ovulasi terjadi secara normal. Jika perubahan normal tampak tertunda, masalahnya kemungkinan produksi yang tidak mencukupi atau ketidakaktifan pada progesterone. PENGOBATAN Obat untuk memicu ovulasi kemungkinan digunakan. Obat utama dipilih berdasarkan masalah yang spesifik. Jika ovulasi tidak terjadi dalam jangka waktu lama, clomiphene dengan medroxyprogesteron biasanya diberikan. Pertama, wanita tersebut menggunakan medroxyprogesteron, biasanya diminum, untuk memicu periode menstruasi. Kemudian dia minum clomiphene. Biasanya, dia berovulasi 5 sampai 10 hari setelah clomiphene dihentikan dan memiliki periode 14 sampai 16 hari setelah ovulasi. Clomiphene tidak efektif untuk semua penyebab pada masalah ovulasi. Hal ini lebih efektif ketika penyebabnya adalah polycystic ovary syndrome. Jika seorang wanita tidak memiliki periode setelah pengobatan dengan clomiphene, dia menggunakan tes kehamilan. Jika dia tidak hamil, siklus pengobatan diulang. Dosis tinggi pada clomiphene digunakan dalam setiap siklus sampai ovulasi terjadi atau dosis maksimum tercapai. Ketika dosis yang memicu ovulasi dipastikan, wanita tersebut menggunakan dosis tersebut untuk setidaknya 3 sampai 4 lebih siklus pengobatan. Kebanyakan wanita menjadi hamil melakukan dengan siklus keempat dimana ovulasi terjadi. Sekitar 75 sampai 80 % wanita diobati dengan clomiphene ovulate, tetapi hanya sekitar 40 sampai 50% menjadi hamil. Sekitar 5% pada kehamilan wanita diobati dengan clomiphene melnghasilkan lebih dari satu janin, terutama kembar dua. Efek samping pada clomiphene termasuk panas di wajah, perut kembung, payudara yang lembut, mual, penglihatan bermasalah, dan sakit kepala. Sekitar 5% wanita diobati dengan clomiphene mengalami ovarian hyperstimulation syndrome. Dalam sindrom ini, ovarium sangat membesar dan cairan dalam jumlah besar memindahkan aliran darah ke dalam perut. Sindrom imi kemungkinan mengancam nyawa. Untuk mencoba mencegah hal itu, dokter meresepkan dosis yang efektif sangat rendah pada clomiphene, dan jika

ovarium melebar, mereka menghentikan obat tersebut. Jika seorang wanita tidak ovulasi atau menjadi hamil selama pengobatan dengan clomiphene, terapi hormon dengan gonadotropin manusia, disuntikkan ke dalam otot atau di bawah kulit, bisa dicoba. Human gonadotropin merangsang folikel pada ovarium untuk matang. Folikel adalah rongga berisi cairan, yang mana setiapnya mengandung telur. Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar estrogen dan ultrasonografi bisa mendeteksi ketika folikel matang. Kemudian, wanita tersebut diberikan suntikan hormon yang berbeda, human chorionic gonadotropin, untuk memicu ovulasi. Ketika human gonadotropin digunakan secara tepat, lebih dari 95% wanita terobati pada ovulasi mereka, tetapi hanya 50 sampai 75% menjadi hamil. Sekitar 10 sampai 30% pada kehamilan wanita terobati dengan human gonadotropin meliputi lebih dari satu janin, terutama kembar dua. Human gonadotropin bisa memiliki efek samping yang kuat, sehingga dokter memantau terus wanita terus selama pengobatan. Sekitar 10 sampai 20 % wanita diobati dengan human gonadotropin mengalami ovarian hyperstimulation syndrome (yang bisa terjadi dengan clomiphene), jika rangsangan berlebihan terjadi (jika ovarium jelas melebar atau jika kadar estrogen meningkat terlalu banyak), dokter tidak memberikan wanita tersebut human chorionic gonadotropin untuk memicu ovulasi. Selin itu Human gonadotropin juga mahal. Jika hypothalamus tidak mengeluarkan hormon pelepasan-gonadotropin, versi sintetis pada hormon ini, disebut gonadorelin, kemungkinan sangat berguna sekali. Obat ini, seperti hormon alami, merangsang kelenjar pituitary untuk menghasilkan hormon yang memicu ovulasi. Resiko pada ovarian hyperstimulation rendah dengan pengobatan ini, sehingga pemantauan secara dekat tidak diperlukan. ketika penyebab kemandulam adalah hormon prolactin tingkat tinggi, obat yang paling baik adalah salah satu yang beraksi seperti dopamine, disebut dopamine agonis, seperti bromocriptine atau cabergoline (dopamine adalah pengantar kimia yang umumnya menghalangi produksi prolactin).

MASALAH TUBA FALOPII
DEFINISI Tuba falopi kemungkinan tidak normal pada struktur atau fungsi. Jika mereka tersumbat, sel telur tidak dapat bergerak dari ovarium menuju rahim. Penyebab masalah tuba falopi termasuk infeksi sebelumnya (seperti penyakit peradangan panggul), endometriosis, usus pecah, dan operasi pada panggul. Kehamilan tidak pada tempatnya (ectopic) di tuba falopi bisa juga menyebabkan kerusakan. Gangguan struktur bisa menyumbat tuba falopi. Gangguan ini termasuk cacat lahir pada rahim dan tuba falopi, fibroid dalam rahim, dan ikatan pada jaringan luka diantara struktur yang tidak berhubungan secara normal (adhesions) di dalam rahim atau panggul.

DIAGNOSA Untuk memastikan apakah tuba falopi tersumbat, dokter bisa menggunakan hysterosalpingography. Pada prosedur ini, sinar X dilakukan setelah radiopaque dye disuntikkan melalui servik. Pewarna tersebut menyebar secara cepat ke dalam rongga rahim dan tuba falopi. Prosedur ini dilakukan dengan singkat setelah periode menstruasi seorang wanita berakhir. Prosedur ini bisa mendeteksi gangguan struktur yang bisa menyumbat tuba falopi. Meskipun begitu, sekitar 15% kasus, hysterosalpingography mengindikasi bahwa tuba falopi tersumbat padahal tidak- disebut hasil positif palsu. Setelah hysterosalpingography dengan hasil normal, kesuburan tampak sedikit meningkat, kemungkinan karena prosedur tersebut sementara waktu memperlebar pembuluh (dilate) atau menjernihkan pembuluh pada lendir. Oleh karena itu, dokter bisa menunggu jika seorang wanita menjadi hamil setelah prosedur ini sebelum tes tambahan pada fungsi tuba falopi dilakukan. Prosedur lain (disebut sonohysterography) kadangkala digunakan untuk memastikan apakah tuba falopi tersumbat. Cairan garam (saline) disuntikkan ke dalam interior rahim melalui servik selama ultrasonografi sehingga ruang dalam tersebut digelembungkan dan kelainan bisa terlihat. Jika cairan mengalir ke dalam tuba falopi, pembuluh tersebut tidak tersumbat. Prosedur ini cepat dan tidak memerlukan anestesi. Hal ini dipertimbangkan lebih aman dibandingkan hysterosalpingography karena hal ini tidak membutuhkan radiasi atau suntikan pewarna. Meskipun begitu, hal ini tidak akurat. Jika kelainan di dalam rahim terdeteksi, dokter meneliti rahim dengan pipa pelihat disebut hyteroscope, yang dimasukkan ke dalam servik ke dalam rahim. Jika adhesion, polip, atau fibroid kecil terdeteksi, hyteroscope kemungkinan digunakan untuk mengeluarkan atau mengangkat jaringan tidak normal, meningkatkan kesempatan bahwa wanita tersebut menjadi hamil. Jika bukti menduga bahwa tuba falopi tersumbat atau bahwa seorang wanita bisa mengalami endometriosis, pipa pelihat kecil disebut laparoscope dimasukkan ke rongga panggul melalui sayatan kecil persis di bawah pusar. Biasanya, anestesi umum dilakukan. Prosedur ini memudahkan dokter untuk melihat rahim secara langsung, tuba falopi, dan ovarium. Laparoscope bisa juga digunakan untuk mengeluarkan atau mengangkat jaringan tidak normal di dalam panggul. PENGOBATAN Pengobatan tergantung pada penyebab. Operasi bisa dilakukan untuk memperbaiki kerusakan tuba falopi dengan kehamilan ectopic atau infeksi. Meskipun begitu, setelah beberapa operasi, kesempatan kehamilan normal adalah kecil, dan kehamilan ectopic adalah besar. Konsekwensinya, operasi tidak sering dianjurkan. Bayi tabung dianjurkan untuk beberapa pasangan.

MENOPAUSE
DEFINISI Menopause (Klimakterium) adalah suatu masa peralihan dalam kehidupan wanita, dimana: - ovarium (indung telur) berhenti menghasilkan sel telur - aktivitas menstruasi berkurang dan akhirnya berhenti - pembentukan hormon wanita (estrogen dan progesteron) berkurang. Menopause sebenarnya terjadi pada akhir siklus menstruasi yang terakhir. Tetapi kepastiannya baru diperoleh jika seorang wanita sudah tidak mengalami siklusnya selama minimal 12 bulan. Menopause rata-rata terjadi pada usia 50 tahun, tetapi bisa terjadi secara normal pada wanita yang berusia 40 tahun. Biasanya ketika mendekati masa menopause, lama dan banyaknya darah yang keluar pada siklus menstruasi cenderung bervariasi, tidak seperti biasanya. Pada beberapa wanita, aktivitas menstruasi berhenti secara tiba-tiba, tetapi biasanya terjadi secara bertahap (baik jumlah maupun lamanya) dan jarak antara 2 siklus menjadi lebih dekat atau lebih jarang. Ketidakteraturan ini bisa berlangsung selama 2-3 tahun sebelum akhirnya siklus berhenti. PENYEBAB Sejalan dengan pertambahan usia, ovarium menjadi kurang tanggap terhadap rangsangan oleh LH dan FSH, yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa. Akibatnya ovarium melepaskan lebih sedikit estrogen dan progesteron dan pada akhirnya proses ovulasi (pelepasan sel telur) berhenti. Menopause dini adalah menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun. Kemungkinan penyebabnya adalah faktor keturunan, penyakit autoimun dan rokok. Menopause buatan terjadi akibat campur tangan medis yang menyebabkan berkurangnya atau berhentinya pelepasan hormon oleh ovarium. Campur tangan ini bisa berupa pembedahan untuk mengangkat ovarium atau untuk mengurangi aliran darah ke ovarium serta kemoterapi atau terapi penyinaran pada panggul untuk mengobati kanker. Histerektomi (pengangkatan rahim) menyebabkan berakhirnya siklus menstruasi, tetapi selama ovarium tetap ada hal tersebut tidak akan mempengaruhi kadar hormon dan tidak menyebabkan menopause. GEJALA Gejala-gejala dari menopause disebabkan oleh perubahan kadar estrogen dan progesteron. Karena fungsi ovarium berkurang, maka ovarium menghasilkan lebih sedikit estrogen/progesteron dan tubuh memberikan reaksi.

Beberapa wanita hanya mengalami sedikit gejala, sedangkan wanita yang lain mengalami berbagai gejala yang sifatnya ringan sampai berat. Hal ini adalah normal. Berkurangnya kadar estrogen secara bertahap menyebabkan tubuh secara perlahan menyesuaikan diri terhadap perubahan hormon, tetapi pada beberapa wanita penurunan kadar estrogen ini terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan gejala-gejala yang hebat. Hal ini sering terjadi jika menopause disebabkan oleh pengangkatan ovarium. Gejala-gejala yang mungkin ditemukan pada wanita menopause adalah: 1. Hot flashes terjadi akibat peningkatan aliran darah di dalam pembuluh darah wajah, leher, dada dan punggung. Kulit menjadi merah dan hangat disertai keringat yang berlebihan. Hot flashes dialami oleh sekitar 75% wanita menopause. Kebanyakan hot flashes dialami selama lebih dari 1 tahun dan 25-50% wanita mengalaminya sampai lebih dari 5 tahun. Hot flashes berlangsung selama 30 detik sampai 5 menit. 2. Vagina menjadi kering karena penipisan jaringan pada dinding vagina sehingga ketika melakukan hubungan seksual bisa timbul nyeri. 3. Gejala psikis dan emosional (kelelahan, mudah tersinggung, susah tidur dan gelisah) bisa disebabkan oleh berkurangnya kadar estrogen. Berkeringat pada malam hari menyebabkan gangguan tidur sehingga kelelahan semakin memburuk dan semakin mudah tersinggung. 4. Pusing, kesemutan dan palpitasi (jantung berdebar). 5. Hilangnya kendali terhadap kandung kemih (beser). 6. Peradangan kandung kemih atau vagina. 7. Osteoporosis (pengeroposan tulang). Resiko tinggi terjadinya osteoporosis ditemukan pada wanita yang: - kurus - merokok - mengkonsumsi alkohol secara berlebihan - mengkonsumsi kortikosteroid - memiliki asupan kalsium yang rendah - jarang berolah raga. Cedera ringan bisa menyebabkan fraktur (patah tulang). Fraktur paling sering terjadi pada tulang belakang, pinggul dan pergelangan tangan. 8. Penyakit jantung dan pembuluh darah. Penurunan kadar estrogen menyebabkan meningkatnya kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan menurunnya kadar kolesterol HDL (kolesterol baik). Estrogen bertanggungjawab terhadap pembentukan lapisan epitel pada rongga rahim. Selama masa reproduktif, pembentukan lapisan rahim diikuti dengan pelepasan dinding rahim pada setiap siklus menstruasi. Berkurangnya kadar estrogen pada menopause menyebabkan tidak terjadinya pembentukan lapisan epitel pada rongga rahim. Tetapi hormon androgenik yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal diubah menjadi estrogen dan kadang hal ini menyebabkan perdarahan pasca menopause.

Hal ini tidak perlu dirisaukan, tetapi karena perdarahan pasca menopause bisa merupakan petunjuk adanya suatu kelainan (termasuk kanker), maka dokter selalu memeriksa setiap perdarahan yang terjadi setelah menopause.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan Pap smear bisa diketahui adanya perubahan pada lapisan vagina akibat perubahan kadar estrogen. Pemeriksaan darah dan air kemih bisa digunakan untuk mengukur kadar estrogen, progestero serta estron dan estradiol plasma. PENGOBATAN Tidak semua wanita pasca menopause perlu menjalani Terapi Sulih Hormon (TSH). Setiap wanita sebaiknya mendiskusikan resiko dan keuntungan yang diperoleh dari TSH dengan dokter pribadinya. Banyak ahli yang menganjurkan TSH dengan tujuan untuk:  Mengurangi gejala menopause yang tidak diinginkan  Membantu mengurangi kekeringan pada vagina  Mencegah terjadinya osteoporosis. Beberapa efek samping dari TSH: - perdarahan vagina - nyeri payudara - mual - muntah - perut kembung

- kram rahim. Untuk mengurangi resiko dari TSH dan tetap mendapatkan keuntungan dari TSH, para ahli menganjurkan:  Menambahkan progesteron terhadap estrogen  Menambahkan testosteron terhadap estrogen  Menggunakan dosis estrogen yang paling rendah.  Melakukan pemeriksaan secara teratur, termasuk pemeriksan panggul, dan Pap smear sehingga kelainan bisa ditemukan sedini mungkin. Estrogen tersedia dalam bentuk alami dan sintetis (dibuat di laboratorium). Estrogen sintetis ratusan kali lebih kuat dibandingkan estrogen alami sehingga tidak secara rutin diberikan kepada wanita menopause. Untuk mencegah hot flashes dan osteoporosis hanya diperlukan estrogen alami dalam dosis yang sangat rendah. Dosis tinggi cenderung menimbulkan masalah, diantaranya sakit kepala migren. Estrogen bisa diberikan dalam bentuk tablet atau tempelan kulit (estrogen transdermal). Krim estrogen bisa dioleskan pada vagina untuk mencegah penipisan lapisan vagina (sehingga mengurangi resiko terjadinya infeksi saluran kemih dan beser) dan untuk mencegah timbulnya nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Wanita pasca menopause yang mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron memiliki resiko menderita kanker endometrium. Resiko ini berhubungan dengan dosis dan lamanya pemakaian estrogen. Jika terjadai perdarahan abnormal dari vagina, dilakukan biopsi lapisan rahim. Mengkonsumsi progesteron bersamaan dengan estrogen dapat mengurangi resiko terjadinya kanker endometrium. Biasanya terapi sulih hormon estrogen tidak dilakukan pada wanita yang menderita: - atau pernah menderita kanker payudara atau kanker endometrium stadium lanjut - perdarahan kelamin dengan penyebab yang tidak pasti - penyakit hati akut - penyakit pembekuan darah - porfiria intermiten akut. Kepada wanita tersebut biasanya diberikan obat anti-cemas, progesteron atau klonidin untuk mengurangi hot flashes. Untuk mengurangi depersi, kecemasan, mudah tersinggung dan susah tidur bisa diberikan anti-depresi. Pemberian progesteron dengan estrogen Progesteron diberikan bersamaan dengan estrogen untuk mengurangi resiko terjadinya kanker endometrium. Biasanya estrogen dan progesteron diberikan setiap hari. Jadwal pemberian ini biasanya akan menyebabkan perdarahan vagina yang tidak teratur pada 2-3 bulan pertama dari terapi, akan tetapi sesudahnya perdarahan biasanya akan berhenti. Atau pemberian estrogen dan progesteron bisa dilakukan secara bergantian; selama 2

minggu setiap hari minum estrogen lalu selama beberapa hari minum progesteron dan estrogen, kemudian beberapa hari di akhir bulan sama sekali tidak minum estrogen maupun progesteron. Dengan jadwal ini, perdarahan vagina terjadi pada hari dimana hormon tidak diminum. Progesteron tersedia dalam bentuk tablet atau suntikan melalui otot. Efek samping dari progesteron adalah perut kembung, sakit payudara, sakit kepala, perubahan suasana hati dan jerawat. MENOPAUSE DINI DEFINISI Menopause Dini adalah suatu keadaan dimana fungsi ovarium (indung telur) dan menstruasi berhenti sebelum usia 40 tahun. PENYEBAB Pada menopause dini, kadar estrogen rendah tetapi kadar hormon hipofisa yang merangsang ovarium (terutama FSH) tinggi sebagai usaha untuk merangsang ovarium. Menopause dini bisa disebabkan oleh:  Kelainan bawaan (biasanya kelainan kromosom)  Penyakit autoimun (tubuh membentuk antibodi yang menyerang ovarium)  Pengangkatan ovarium. Merokok bisa menyebabkan menopause dini yang terjadi beberapa bulan lebih awal. GEJALA Selain tidak lagi mengalami menstruasi, penderita juga mengalami gejala menopause lainnya seperti hot flashes dan emosi yang tidak stabil. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Jika diduga penyebabnya adalah penyakit autoimun, dilakukan pemeriksaan darah untuk mencari adanya antibodi. Pada penderita yang berusia dibawah 30 tahun biasanya dilakukan analisa kromosom. Jika ditemukan kromosom Y, maka dilakukan pembedahan untuk mengangkat setiap jaringan testis dari perut karena jaringan ini memiliki resiko kanker sebesar 25%. Analisa kromosom tidak perlu dilakukan pada wanita yang berusia diatas 35 tahun. PENGOBATAN Terapi sulih estrogen (TSE) bisa mencegah atau mengatasi gejala-gejala menopause. Penderita menopause dini memiliki peluang kurang dari 10% untuk bisa hamil lagi. Peluang tersebut bisa meningkat sampai 50% jika penderita mengandung sel telur yang berasal dari wanita lain. Setelah dibuahi, sel telur dari donor tersebut lalu ditanamkan pada rahim penderita. Sebelum hasil pembuahan ditanamkan pada rahim penderita, penderita mendapatkan

terapi hormon estrogen dan progesteron sehingga terjadi menstruasi buatan dan lapisan rahim kembali aktif serta siap untuk menjalani kehamilan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->