P. 1
Oriental Is Dan Ilmu Hadis; Studi Kritik Hadis Antara Ign

Oriental Is Dan Ilmu Hadis; Studi Kritik Hadis Antara Ign

|Views: 890|Likes:
Published by suleee keren

More info:

Published by: suleee keren on Dec 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/28/2013

pdf

text

original

Orientalis dan Ilmu Hadis; Studi Kritik Hadis antara Ignaz Goldziher (1850 – 1921 M) dan Musthafā al-Sibā’ī

(1915 – 1964 M)1 Oleh: Zuhdi Amin Saekan2 Orientalis dan Gelombang Pemikiran Hadis Bagi sarjana Barat, otentisitas hadis dalam Khazanah Islam sedikit-banyak mengalami persoalan. Ketika mempelajari sejarah perjalanan hadis, mereka mendapatkan jarak yang begitu lama antara kodifikasi kitab-kitab hadis dengan era Rasulullah (produksi hadis). Kitab hadis tertua yang kita dapati adalah “al-Muwattha‘” karya Imam Malik (w. 179 H). Diperkirakan kitab ini ditulis pada pertengahan abad ke-2 H. Kitab-kitab hadis yang lain ditulis sesudah masuk abad ke-3 H. Jarak antara produksi hadis dengan kitab-kitab koleksi terbentang antara satu setengah atau dua abad lebih. Hal ini menjadi lahan empuk untuk mempersoalkan otentisitas hadis. Terlebih-lebih diakui oleh para sarjana muslim bahwa pada pertengahan abad pertama hijriah terjadi konflik politik dalam tubuh umat Islam. Untuk memperkuat dukungan politik, sebagian kelompok ada yang mencipta hadis-hadis, seolah-olah Rasulullah dulu pernah berkata seperti yang disebut dalam hadis ciptaan tersebut. Hal ini mempertebal keyakinan para sarjana Barat untuk menyatakan betapa sulit mempercayai otentisitas hadis yang dimuat dalam kitab-kitab ensiklopedia hadis. Mereka mencoba menginterogasi beberapa perawi hadis yang oleh kalangan ulama hadis tidak diragukan lagi kredibilitasnya3. Gugatan Orientalis terhadap hadis bermula pada pertengahan abad ke-19 Masehi, tatkala hampir seluruh bagian dunia Islam telah masuk dalam cengkeraman kolonialisme bangsabangsa Eropa. Adalah Alois Sprenger (1813-1893 M), yang pertama kali mempersoalkan status hadis dalam Islam. Dalam pendahuluan bukunya mengenai riwayat hidup dan ajaran Nabi Muhammad saw, misionaris asal Jerman yang pernah tinggal lama di India ini mengklaim bahwa hadis merupakan anekdot (cerita-cerita bohong tapi menarik). Klaim ini diamini oleh rekan satu misinya William Muir (1819-1905 M), Orientalis asal Inggris yang juga mengkaji biografi Nabi Muhammad saw dan sejarah perkembangan Islam. Menurut Muir, dalam literatur hadis, nama Nabi Muhammad sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan dan keganjilan. Oleh sebab itu, katanya lebih lanjut, dari 4.000 hadis yang dianggap shahih oleh Imam Bukhari, paling tidak separuhnya harus ditolak4. Itu dari sumber isnadnya, sedangkan dari sudut matannya, maka hadis: “Must stand of fall upon its own merit”. Tulisan ini kemudian dijawab oleh Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M), dalam esei-eseinya. Selang beberapa lama setelah itu, muncul Ignaz Goldziher (1850-1921 M). Yahudi kelahiran Hungaria ini sempat nyantri di universitas al-Azhar Kairo-Mesir, selama kurang lebih setahun (1873-1874).
1 Makalah ini depresentasikan dalam acara Training Kader Tarjih yang di selenggarakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Cabang Istimewa (PCIM) Kairo-Mesir, bertempat di sekretariat PCIM KairoMesir, Selasa, 09 Ramadhan 1429 H/09 September 2008 M. 2 Penulis adalah pengurus Majelis Hubungan Luar Negeri PCIM Kairo-Mesir, mantan koordinator kajian sejarah dan peradaban Islam al-Muarikh, dan aktivis kajian pemikiran al-Hikmah PCIM Kairo-Mesir. 3 Prof. Dr. Muhammad Zuhri, Autentisitas dan Otoritas Hadis dalam Keilmuan Ulama Muslim dan Sarjana Barat, dalam Jurnal TARJIH, edisi ke-7 Januari 2004 M, Majelis Tarjih dan Pengembangn Pemikiran Islam PP Muhammadiyah, Yogyakarta-Indonesia, 2004 M, hal. 5. 4 Dr. Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Gema Insani Press, Jakarta-Indonesia, cet. I, 1429 H/2008 M, hal. 28.

1

Setelah kembali ke Eropa, oleh rekan-rekannya ia dinobatkan sebagai orientalis yang yang konon paling mengerti tentang Islam, meskipun dan justru karena tulisan-tulisannya mengenai Islam sangat negatif dan distortif, mengelirukan, dan menyesatkan. Dibandingkan pendahulunya, pendapat Ignaz Goldziher mengenai hadis jauh lebih negatif. Menurut dia, dari sekian banyak hadis yang ada, sebagian besarnya―untuk tidak mengatakan seluruhnya―tidak dapat dijamin keasliannya alias palsu, dan karena itu, tidak dapat dijadikan sumber informasi mengenai sejarah awal Islam. Menurut Goldziher, hadis lebih merupakan refleksi interaksi dan konflik pelbagai aliran dan kecenderungan yang muncul kemudian dikalangan masyarakat muslim pada periode kematangannya, ketimbang sebagai dokumen sejarah perkembangan awal Islam: “Das hadith wird uns nicht als document fur die kindheitsgeschichte des Islam, sondern als abdruck der in der gemeinde hervortretenden bestrebungen aus der zeit seiner reifen entwicklungsstadien dienen”5. Ini berarti, menurut dia hadis adalah produk bikinan masyarakat Islam beberapa abad setelah Nabi Muhammad saw wafat, bukan berasal dan tidak asli dari beliau. Pendapat menyesatkan ini telah disanggah oleh sejumlah ilmuan seperti Musthafā al-Sibā’ī, Muhammad Abu Suhbah, dan Abdul Ghani Abdul Khaliq. Namun, oleh para koleganya sesama misionaris, pendapat Goldziher tersebut disetujui seratus persen. David Samuel Margoliouth (18581940 M) misalnya, turut meragukan otentisitas hadis. Alasannya pertama, karena tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa hadis telah dicatat semenjak zaman Rasulullah. Dan kedua, karena alasan lemahnya ingatan para perawinya. Masalah ini telah dijawab dan dijelaskan oleh Muhammad ‘Ajjaj al-Khātib. Jika Henri Lammens (1862-1937 M) misionaris Belgia dan Leone Caetani (1869-1935 M) misionaris Italia mendakwa isnad muncul jauh setelah matan hadis ada dan merupakan fenomena internal dalam perkembangan sejarah Islam, maka Josef Horovitz (1813-1893 M) bersepekulasi bahwa setiap periwayatan hadis secara berantai (isnad) baru diperkenalkan dan diterapkan pada akhir abad pertama hijriah. Selanjutnya Orientalis Jerman berdarah Yahudi ini mengatakan bahwa besar kemungkinan praktik isnad berasal dari dan dipengaruhi oleh trdisi lisan sebagaiman dikenal dalam literatur Yahudi. Sepekulasi Horovitz ini kemudian diikuti oleh Gregor Schoeler. Di antara yang turut mengamini pendapat Ignaz Goldziher adalah Orientalis Inggris bernama Alfred Guillaume (w. 1965 M), dalam bukunya mengenai sejarah hadis. Mantan guru besar Oxford ini mengklaim bahwa sangat sulit untuk mempercayai literatur hadis secara keseluruhan sebagai rekaman otentik dari semua perkataan dan perbuatan Nabi Saw: “it is difficult to regard the hadith literature as a whole as an accurate and trustworthy record of the saying and doing of muhammad”.6 Karena gugatan sarjana orientalis terhadap hadis pada awalnya mepersoalkan ketiadaan data historis dan bukti tercatat (Documentary Evidence) yang dapat memastikan otentisitas hadis, maka sejumlah pakar pun melakukan penilitian intensif perihal sejarah literatur hadis guna mematahkan argumen orientalis yang mengatakan bahwa hadis baru dicatat pada abad kedua dan ketiga hijriah. Professor Muhammad Hamidullah (19092002 M), Fuad Sezgin, Nabia Abbot, dan Muhammad Musthafā al-A‘zāmī, dalam karya masing-masing berhasil mengemukakan bahwa terdapat bukti-bukti konkrit yang
5 Ibid., hal. 29. 6 Ibid., hal. 31.

2

menunjukkan pencatatan dan penulisan hadis sudah dimuali semenjak kurun pertama hijriah sejak Nabi saw masih hidup. Namun demikian oleh orientalis bukti-bukti ini diabaikan begitu saja bahkan ada yang menolaknya mentah-mentah. Pengaruh Orientalis di Balik Gerakan Anti-Hadis Gugatan para orientalis dan misionaris Yahudi dan Kristen itu telah menimbulkan dampak yang cukup besar. Melalui tulisan-tulisan yang diterbitkan dan dibaca oleh luar, mereka telah berhasil mempengaruhi dan meracuni pemikiran sebagian kalangan umat Islam. Maka muncullah gerakan anti-hadis di India, Pakistan, Mesir, dan Asia Tenggara. Pada tahun 1906 M sebuah gerakan yang menamakan dirinya ahli Qur’an muncul di bagian Punjab, Lahore, dan Amritsar. Pimpinannya, Abdullah Chakrawali dan Khwaja Ahmad Din, menolak hadis secara keseluruhan7. Dalam propagandanya, gerakan in mengklaim bahwa al-Qur’an saja sudah cukup untuk menjelaskan semua perkara agama. Akibatnya, mereka menyimpulkan shalat hanya empat kali sehari, tanpa azan dan iqamah, tanpa takbīratu’l ikram, tidak ada shalat ‘id dan shalat jenazah. Chakrawali bahkan membuat aliran shalat sendiri, mengurangi jumlah rakaat-rakaat-nya dan membuang apa-apa yang menurut dia tidak ada dalilnya dalam alQur’an8. Wabah anti-hadis juga sempat merebak di Timur-Tengah. Pemicunya adalah Muhammad Tawfīq Shidqi yang dimuat dalam majalah “al-Manār” pimpinan Rasyid Ridha di Kairo-Mesir. Menurut Shidqi, perilaku Nabi Muhammad saw tidak dimaksudkan untuk ditiru seratus persen, umat Islam semestinya berpegang pada dan cukup mengikuti al-Qur’an saja. Namun setelah mendapat kritrik dan sanggahan dari para tokoh ulama Mesir dan India, di antaranya Syaikh Ahmad Mansur al-Baz, Syaikh Thaha Bisyrī, dan Syaikh Shālih al-Yāfi’ī. Dan atas saran Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935 M)9, Shidqi akhirnya sadar dan mencabut pendapatpendapatnya. Selain Shidqi, cendekiawan liberal Mesir yang juga mempersoalkan status hadis adalah Ahamd Amin (1886-1954 M), Muhammad Husain Haikal (1888-1956 M), dan Thaha Husain (1889-1973 M). Heboh berikutnya menyusul terbitnya karya-karya Mahmud Abu Rayyah (1889-1970 M) yang tidak hanya menolak otentisitas sekaligus otoritas hadis maupun sunnah, tetapi juga mempersoalkan integritas (‘Adālah) para sahabat umummnya dan Abū Hurairah r.a. (603-681 M) khususnya. Tulisantulisan Abu Rayyah kontan dihujani kritik tajam dan dibantah keras oleh para ulama seperti Muhammad abū Shuhbah, Muhammad al-Samahī, Musthafā alSibā’ī, Sulaiman al-Nadwi (1884-1953 M), Muhibbudin al-Khathīb, ‘Abu alRazzaq Hamzah, ‘Abdurrahman bin Yahyā al-Yamani, Muhammad Abu Zahrah (1898-1974 M) dan Muhammad ‘Ajjaaj al-Khathīb. Meskipun dia menyangkal terpengaruh oleh orientalis, pandangan Abu Rayyah menggaungkan kritik mereka. Gerakan anti-hadis di Amerika dipelopori oleh Rashad Khalifa (1935-1990 M), insinyur kimia lulusan Universitas Arizona. Gerakan yang ia namakan “The Qur’anic
7 Ibid., hal. 37. 8 Ibid., hal. 37. 9 Muhammad Rasyid Ridha adalah seorang pemikir reformis muslim yang berasal dari Syiria, dia menerbitkan majalah al-Manār di Mesir yang merupakan corong pembaharuan di dunia Islam, dia adalah salah satu murid kesayangan Muhammad Abduh.

3

Society” ini secara resmi didrikan pada Juni 1983 M, menyusul seminar misionaris Kristen dan Yahudi Amerika, dimana dia menyampaikan makalahnya yang bejudul; “Islam, Past, Present and Future”. Dalam tulisan-tulisannya Rashad Khalifa banyak mengeluarkan pernyataan sesat, seperti hadis-hadis adalah ciptaan iblis, mempercayai hadis berarti mempercayai iblis. Rashad Khalifa tewas dibunuh oleh seorang tak dikenal, tidak lama setelah Syaikh Abdul Aziz bin Baz (1910-1999 M), mufti besar Arab Saudi, dalam fatwanya (no. 903, Syawwal 1403 H/ Agustus 1983) menyatakan bahwa gerakan seperti yang diajarkan Rashad Khalifa adalah sesat10. Gaung inkarus-sunnah juga sampai ke nusantara. Di Indonesia gerakan ini telah dilarang secara resmi oleh ulama dan pemerintah sebagaimana tertera dalam fatwa hasil keputusan komisi fatwa majlis ulama Indonesia pusat tahun 1983 M dan keputusan jaksa agung Republik Indonesia, nomor 169/9/1983. Adapun di Malaysia gerakan anti-hadis dipelopori oleh Kassim Ahmad (lhr. 1933 M). Orang ini menulis buku kecil yang intinya meragukan otentisitas hadis dan sekaligus menolak otoritasnya. Tidak hanya isinya yang membeo dan memproduksi argumen orientalis, bahkan judul bukunya pun “Hadis–Suatu Penilaian Semula”, mengingatkan kita pada judul artikel Joseph Schacht (1902-1969 M): “A Revaluation of Islamic Tradition”. Pada 8 Juli 1986 M, buku tersebut dilarang peredarannya oleh kementrian dalam negeri Malaysia. Meskipun agak terlambat, pusat Islam Malaysia pun akhirnya mengeluarkan fatwa yang melarang masyarakat mengikuti gerakan sesat ini (fatwa kebangsaan tentang anti-hadis, 1993 M).11 Kritik Metodologi dan Epistemologi Orientalis Sebagaimana telah disinggung di atas, gugatan Orientalis dan para pengikutnya terhadap hadis telah ditolak dan dijawab oleh sejumlah ulama pakar. Berikut ini akan diungkap kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahan metodologis maupun epistemologis yang terdapat dalam tulisan-tuliasn Orentalis dan para pengikutnya. Ambil contoh karya Joseph Schacth (1902-1969 M). Menurut professor Muhammad Musthafā Al-A‘zamī (lhr. 1930 M), kekeliruan dan kesesatan Schacht dalam karyanya itu disebabkan oleh lima perkara; (i) sikapnya yang tidak konsisten dalam berteori dan menggunakan sumber rujukan, (ii) bertolak dari asumsi-asumsi yang keliru dan metodologi yang tidak ilmiah, (iii) salah dalam menangkap dan memahami fakta, (iv) ketidaktahuannya akan kondisi politik dan geografis yang dikaji, dan (v) salah faham mengenai istilah-istilah yang dipakai oleh para ulama Islam. Ada satu kelemahan yang paling menonjol dalam metodologi Schacht, yaitu seringnya dia menarik suatu kesimpulan berdasarkan argumentum e silentio, yakni alasan ketiadaan bukti. Terkait dengan kerancuan metodologi tersebut adalah sikap paradoks (berpendirian ganda dan saling bertentangan) dan ambivelen (menganut nilai kebenaran ganda) yang tak terelakakan. Di satu sisi mereka meraguakan dan bahkan mengingkari kebenaran sumber-sumber yang berasal dari orang Islam sementara di sisi lain mereka menggunakan sumber-sumber Islam tersebut sebagai bahan referensi, yang berarti tanpa disadari mereka akui kebenarannya. Sikap paradoks ini merupakan kosekwensi yang tak terelakkan dari dilema metodologis antara merujuk dan tidak merujuk, antara
10 Dr. Syamsuddin Arif, op. cit.,, hal. 39. 11 Ibid., hal. 40.

4

mempercayai atau tidak mempercayai sumber-sumber Islam. Adapun secara epistemologis, secara umum dapat dikatakan bahwa sikap orientalis dari awal hingga akhir penelitiannya adalah skeptis. Mereka mulai dari keraguan dan berakhir dengan keraguan pula. Meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Akibatnaya, meskipun bukti-bukti yang ditemukan menegasikan hipotesanya, tetap saja mereka menolaknya, karena sesungguhnya yang mereka cari bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Apa yang membenarkan praduga yang dikehendaki itulah yang dicari, jika perlu diada-adakan. Sebaliknya apa-apa yang tidak sesuai dengan presuposisi dan misi yang ingin dicapaianya akan dimentahkan dan dimuntahkan.12 Ignaz Goldziher; Muhammedanische Studien Dalam pandangan Prof. Dr. Muhammad Mustafa al-A‘zamī, Ignaz Goldziher (18501921 M) adalah salah satu Orientalis pertama yang mencoba menseriusi diskursus kajian ilmu Hadis13. Ignaz Goldziher dilahirkan di Hungaria pada bulan Juni tahun 1850 M. Dia dilahirkan dari kultur keluarga yang beragama Yahudi14. Keseriusan Ignaz Goldziher dalam mempelajari Islamic Studies dimulai ketika dia berumur belum genap dua puluh tahun. Pada tahun 1890 M, ia mempiblikasikan hasil penelitiannya tentang hadis dalam sebuah buku berbahasa Jerman yang berjudul “Muhammadanische Studien” (Islamic Studies/Studi Islam). Dan sejak itu sampai sekarang karya monumental tersebut menjadi kitab suci bagi kalangan orientalis. Kurang lebih enam puluh tahun kemudian, Joseph Schacht (1902-1969 M.) yang juga orientalis Yahudi menerbitkan hasil penelitiannya yang konon menghabiskan waktu sepuluh tahun, tentang hadis, dalam sebuah buku yang berjudul “The Origins of Muhammadan Jurisprudence”. Buku ini kemudian menjadi kitab suci kedua bagi orientalis.15 Dalam pendapat Ignaz Goldziher, sunah adalah inti dari adat-istiadat yang sudah menjadi kebiasaan dan hasil karya pikiran umat Islam masa lampau dan praktek amali yang ada perintahnya dalam al-Qur’an yang kemudian menjadi kebiasaan16. Joseph Schacht dalam bukunya “The Origins of Muhammadan Jurisprudence” berpendapat bahwa sunah adalah praktek adat-istiadat yang biasa dikerjaan atau pekerjaan yang sudah menjadi lumrah dikerjakan (The customary or generally agreed practice)17.
12 Ibid., hal. 44. 13 Dr. Muhammad Musthafā al-A‘zāmī, Dirāsah fī al-Hadīts al-Nabawī wa Tārīkh Tadwīnuhu, vol. I, al- Maktabah al-Islāmī, Beirut-Libanon, 1413 H/1992 M, hal. x. 14 Ignaz Goldziher, al-Aqīdah wa al-Syarī’ah fī al-Islām, Dār al-Rā’id al-‘Arabī, diarabkan oleh Muhammad Yusuf Musa dkk dari buku asli VORLESUNGEN UBER DEN ISLAM, Beirut-Libanon, t.t. hal. ii. 15 Prof. Dr. Muhammad Zuhri, op. cit., hal. Ali Mustafa Yaqub, Lc. MA., Autentisitas dan Otoritas Hadis dalam Khazanah Keilmuan Ulama Muslim dan Sarjana Barat, dalam Jurnal TARJIH, edisi Ke-7 Januari 2004 M, Majelis Tarjih dan Pengembangn Pemikiran Islam PP Muhammadiyah, Yogyakarta-Indonesia, 2004 M, hal. 38. 16 Ignaz Goldziher, op. cit., hal. 41. 17 Dr. Muhammad Musthafā al-A‘zamī, Dirāsah fī al-Hadīts al-Nabawī wa Tārīkh Tadwīnuhu, op. cit., hal. 6.

5

Beberapa pandangan David Samuwel Margoliouth (1858-1940 M) yang berkenaan dengan sunah, dia berkata bahwa istilah kata sunah itu mencakup berbagai makna, di antaranya: (i); Sunah adalah perbuatan yang biasa dikerjakan dan lawan kata dari bid’ah (Know practice opposed to innovation), dalilnya adalah perkataan Ali bin Abi Thalib dengan Ustman bin Affan pada tahun 34 H: (‫)فأقام سنة معلومة وأمات بدعة متروكة‬ (ii); Sunah adalah perbuatan yang terdahulu (Past Practice). (iii); Sunah adalah perbuatan yang baik, lawan kata dari perbuatan yang jelek (Good Practice Opposed to Bad Practice), dalilnya adalah ucapan Utsman bin Affan kepada penduduk Makah tahun 35 H. (‫والسنة الحسنة التى إستن بها رسول ال صلى ال عليه وسلم والخليفتان من‬ ‫).بعد‬ (iv); Sunah adalah perbuatan yang mencakup al-َ ur’an (Practices are said to be Q َ contained in the Qur’an) dalilnya adalah; "‫إن ال تعالى نزل عليه كتابه أحل فيه حلله وحرم فيه حرامه‬ ‫".وشرع فيه شرائعه وسن فيه سننه‬ (v); Sunah adalah perbuatan Nabi Muhammad saw dan Khalifah setelahnya (Practice of the Prophet and the first two Caliphs) pada tahun 35 H. dalilnya adalah; (‫السنة الحسنة التى‬ ‫)أستن بها رسول ال صلي ال عليه وسلم والخليفتان من بعده‬ Setelah Margoliouth memaparkan makna sunah di atas, dia bekesimpulan bahwa sumber kedua syariat Islam pada masa itu bukan dari perkataan atau perilaku Nabi (hadis/sunah) melainkan adat yang biasa dipakai atau yang umum berlaku (Merely what was customary)18. Untuk menjustifikasi pendapatnya, Ignaz Goldziher dan Dr. Joseph Scacht membuat membuat kiat atau premis serampangan. Di antara lain kiat-kiatnya sebagai berikut: i; Mendistorsi Teks-Teks Sejarah Di antara tokoh-tokoh ulama hadis yang menjadi incaran pelecehan Ignaz Goldziher adalah Imam Ibnu Syihāb al-Zuhrī (w. 123 H). Di samping tuduhannya sebagai pemalsu hadis, Goldziher juga mengubah teks-teks sejarah yang berkaitan dengan Ibnu Syihāb al-Zuhrī, sehingga timbul kesan bahwa Imam al-Zuhrī memang mengakui sebagai pemalsu hadis. Menurut Goldziher, al-Zuhrī mengatakan: 19 ‫إن هؤلء المراء أكرهونا على كتابة أحاديث‬ Kata ahādīts dalam kutipan Ignaz Goldziher itu tidak memakai al-(alif lam) yang dalam bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang sudah definitif (ma‘rifah). Sementara dalam teks asli seperti yang terdapat dalam kitab Ibnu Sa’ad dan Ibn ‘Asākir adalah al-ahādīts yang berarti hadis-hadis yang sudah dimaklumi ada secara definitif, yaitu hadis-hadis yang berasal dari Rasulullah. Jadi pengertian ucapan al-Zuhrī yang asli adalah para pejabat atau penguasa itu telah memaksanya untuk menuliskan hadis-hadis yang pada saat itu sudah ada, tetapi belum terhimpun dalam suatu buku. Sementara pengertian ucapannya dalam kutipan Goldziher adalah para pejabat itu telah memaksanya untuk
18 Ibid., hal. 19 Dr. Musthafā al-Sibā’ī, al-Sunnah wa Makānatuhā fī al-Tasyrī‘ al-Islāmī, Dār alSalām, Kairo–Mesir, cet. III, 1427 H/2006 M, hal.

6

menulis hadis-hadis yang pada saat itu belum ada20. ii; Membuat Teori-Teori Rekayasa Untuk memperkuat tuduhannya bahwa apa yang disebut hadis adalah bukan berasal dari Nabi saw tetapi bikinan para ulama pada abad ke-1 dan ke-2 H Prof. Dr. Joseph Schacht membuat teori tentang rekonstruksi terjadinya sanad hadis. Teori ini kemudian dikenal dengan teori Projecting Back (proyeksi ke belakang). Menurut Schacht, hukum Islam belum eksis pada masa al-Sya’bī (w. 110 H). Ini berarti bahwa apabila terdapat hadishadis yang berkaitan dengan hukum Islam, maka hadis-hadis itu buatan orang-orang hidup setelah masa al-Sya’bī. Schacht berpendapat bahwa hukum Islam baru dikenal semenjak masa pengangkatan para qādhī (hakim agama). Para khalifah dulu tidak pernah mengangkat qādhī, pengangkatan qādhī baru dilakukan pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Kira-kira pada akhir abad ke-1 hijriah, pengangkatan qādhī itu di tunjukan kepada orang-orang spesialis yang berasal dari kalangan taat beragama. Karena jumlah orang-orang ini bertambah banyak, maka akhirnya mereka berkembang menjadi kelompok aliran fikih klasik. Hal ini terjadi pada dekade-dekade pertama abad ke-2 hijriah. Keputusan-keputusan hukum yang diberikan oleh para qādhī ini memerlukan legimitasi dari orang-orang yang memiliki otoritas tinggi. Karenanya mereka tidak menisbahkan keputusan-keputusan itu kepada dirinya sendiri, melainkan menisbahkannya kepada tokoh-tokoh sebelumnya. Misalnya orang-orang Irak menisbahkan pendapat-pendapat mereka kepada Ibrahim Nakha’i (w. 95 H). Perkembangan berikutnya, pendapat-pendapat para qādhī itu tidak hanya dinisbahkan kepada tokoh-tokoh terdahulu yang jaraknya masih dekat, melainkan dinisbahkan kepada tokoh yang lebih terdahulu. Langkah berikutnya untuk memperoleh legimitasi yang lebih kuat, pendapat-pendapat mereka itu dinisbahkan kepada tokoh yang memiliki otoritas lebih tinggi, misalnya Abdullah bin Mas’ud (w. 652 M). Dan pada ronde terakhir pendapat-pendapat itu dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw. Inilah rekonstruksi terbentuknya sanad menurut Prof. Dr. Joseph Schacht, yaitu dengan memproyeksikan pendapat-pendapat itu kepada tokoh-tokoh dibelakang (projecting back). Menurut Schacht, munculnya aliran fikih klasik ini membawa konsekwensi logis, yaitu munculnya kelompok oposisi yang terdiri dari ahli-ahli hadis. Pemikiran dasar kelompok ini adalah bahwa hadis-hadis yang berasal dari Nabi saw harus dapat mengalahkan aturan-aturan yang dibuat oleh kelompok aliran fikih. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan tersebut, kelompok ahli-ahli hadis membuat penjelasan-penjelasan dan hadis-hadis seraya mengatakan bahwa hal itu pernah dikerjakan atau pernah diucapkan Nabi saw. Mereka juga mengatakan bahwa hal itu mereka terima secara lisan dengan sanad yang bersambung dari para rawi hadis yang dapat dipercaya. Itulah teori rekayasa Joseph Schacht, yang tujuannya hanyalah ingin memperkuat tuduhannya bahwa apa yang disebut sanad hadis itu adalah palsu, begitu pula matan atau materi hadisnya. Karena ia ciptaaan orang-orang belakangan21. iii; Melecehkan Ulama Hadis
20 Prof. Dr. Muhammad Zuhri, op. cit., hal. 38. 21 Ali Mustafa Yaqub, Lc. MA., Autentisitas dan Otoritas Hadis dalam Khazanah Keilmuan Ulama Muslim dan Sarjana Barat, dalam Jurnal TARJIH, edisi Ke-7 Januari 2004 M, Majelis Tarjih dan Pengembangn Pemikiran Islam PP Muhammadiyah, Yogyakarta-Indonesia, 2004 M, hal. 40.

7

Kiat orentalis selanjutnya adalah melecehkan kredibilitas ulama hadis, sembari menuduh mereka sebagai pemalsu hadis. Ulama yang menjadi sasaran pelecehan orientalis ini antara lain adalah Abu Hurairah (w. 57 H), Ibn Syihāb al-Zuhrī (w. 123 H), dan Muhammad bin Ismail al-Bukhari (w. 256 H). Tiga ulama ini menjadi sasaran pokok pembantaian orientalis karena mereka menduduki posisi-posisi yang strategis dalam kajian ilmu hadis. Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi saw sedangkan Imam al-Zuhrī disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali “menulis” hadis, meskipun sebutannya ini kemudian siluruskan oleh Imam al-Suyūti (w. 911 H), Prof. Dr. Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, dan prof. Dr. Muhammad Mustafa Al-A‘zamī, bahwa yang dimaksud dengan menulis di situ adalah mengumpulkan tulisan-tulisan hadis. Sementara al-Bukhari adalah orang yang menulis kitab yang sering disebut sebagai kitab paling otentik sesudah al-Qur’an yaitu kitab “Shahīh al-Bukhārī”. Oleh sebab itu, ketiga ulama ini perlu digebuki lebih dahulu, agar hasil karya mereka tidak lagi dipercaya oleh kaum muslimin sehingga tidak dijadikan rujukan dalam agama Islam22. Musthafā al-Sibā’ī; al-Sunnah wa Makānatuhā fī Tasyrī‘ al-Islāmī Musthafā Sibā’ī dilahirkan di kota Hims-Syiria tahun 1334 H/1915 M. Musthafā Sibā’ī hidup dalam keluarga yang kental akan suasana ilmu. Ayah beliau al-Sibā’ī, adalah seorang tokoh agamawan yang cukup terpandang di kota Hims. Ayahnya adalah seorang guru yang mempunyai majelis-majelis ilmi, yang mana banyak para fuqahā ataupun ahli ilmu lainnya berkumpul dalam majelis ini, mereka mempelajari al-Qur’an, hadis, fiqih serta berbagai macam madzhab-madzhabnya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Musthafā al-sibā’ī sendiri. Dia bercerita: “Ayahandaku selalu menghadiri majelis-majelis ilmi bersamaku, sehingga aku menjadi lebih berazam untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, lebih khusus mempelajari fikih perbandingan dan metode istimbath hukum oleh ulama fikih disetiap ijtihad mereka”.23 Dalam bukunya “al-Sunnah wa Makānatuhā fī Tasyrī‘ al-Islāmī” beliau memaparkan tentang makna sunah: Al-Sunah secara bahasa adalah Tharīqah yang berarti jalan, baik jalan itu terpuji maupun tercela24. Seperi yang ada dalam ucapan Rasuluallah saw: (‫من سن سنة حسنة فله أجرها‬ ‫وأجر مع‬ ‫.52)من عمل بها إلى يوم القيامة, ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة‬ (‫.62)لتتبعن سنن من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع‬ Dan adapun sunah secara istilah menurut ulama hadis adalah: (i) segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad saw baik berupa perkataan atau perbuatan atau ketetapan atau sifat bawaan (tabiat) atau karakter Rasulullah saw baik setalah beliau diutus menjadi
22 Ibid., hal. 40. 23 Dr. Musthafā al-Sibā’ī, op. cit., hal. 101. 24 Dr. Musthafā al-Sibā’ī, al-Sunnah wa Makānatuhā fī al-Tasyrī‘ al-Islāmī, Dār alSalām, Kairo–Mesir, cet. III, 1427 H/2006 M, hal. 57. 25 Hadis riwayat Muslim dari Jarir bin ‘Abdullah. 26 Hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abi Sa’īd al-Khudriyī.

8

Nabi dan Rasul maupun belum.27 Sunah menurut ulama ushul fikih adalah: (ii) segala sesuatu yang berasal dari Rasul baik berupa perkataan atau perbuatan atau ketetapan.28 Contoh sunah Rasul yang berupa perkataan; ( ‫.03)إنما العمال بالنيات(92, ) البيعان بالخيار مالم يتفرقا‬ Contoh sunah Rasulullah saw yang berupa perbuatan adalah peraktek Rasulullah saw dalam mengerjakan shalat manasik haji, adab puasa, persaksian dan sumpah. Pendapat Prof. Dr. Muhammad Mustafa al-A‘zamī tentang sunah sebagai berikut: Sunah secara etimologi adalah Tharīqah yang artinya jalan, sebagaiman yang tertulis dalam kamus “al-Mukhīt” dan “Lisān al-‘Arab”. Di dalam kitab “Mukhtār al-Shohah”, sunah secara bahasa adalah; al-Tharīqah (jalan), al-Sīrah (perjalanan), baik yang terpuji maupun tercela. Al-Tahānawi berkata bahwa sunah secara bahasa adalah jalan, baik yang terpuji maupun yang tercela. Sunah menurut ulama hadis adalah: (i) segala sesuatu yang berasal dari Nabi saw baik berupa perkataan atau perbuatan atau ketetapan atau sifat bawaan baik sebelum diutus menjadi Nabi dan Rasul maupun sesudahnya. Sunah menurut ulama ushul fikih adalah: (ii) segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad saw selain al-Qur’an baik berupa perkataan―yang kemudian dikenal dengan istilah hadis―atau perbuatan atau ketetapan. Sunah menurut ulama fikih adalah: (iii) segala sesuatu yang ditetapkan Nabi saw yang sampai tidak menjadi kewajiban.31 Dilihat dari penjelasan di atas, para ulama baik dari kalanagan ulama hadis, ushul fikih, fikih, maupun nahwu sama-sama sepakat bahwa sunah adalah segala sesuatu yang berasal dari Rasul baik berupa perkataan, atau perbuatan, atau ketetapan32. Kata sunah dalam dīwān-syair Arab; Dalam syair Khalid: ‫وأول راض سنة من يسيرها‬ .33‫وفيك ولكني أراك تجورها‬ Dalam dīwān Labīd: .34‫ولكن قوم سنة وأمامها‬ ‫من معشر سنت لهم أباؤهم‬ ‫فل تجز عن من سنة أنت سرتها‬ ‫فإن التى فينا زعمت ومثلها‬

27 Dr. Musthafā al-Sibā’ī, op. cit., hal. 57. 28 Ibid., hal. 57. 29 Hadis riwayat Bukhari Muslim dari Ibn Umar. 30 Hadis riwayat Bukhari Muslim dari Ibn umar. 31 Dr. Muhammad Musthafā al-A‘zamī, Dirāsah fī al-Hadīts al-Nabawī wa Tārīkh Tadwīnuhu, op. cit., hal. 1. 32 Ibid., hal. 1. 33 Ibid., hal. 2. 34 Ibid., hal. 2.

9

‫:‪Dalam syair Hasan bin Tsābit‬‬ ‫قد بينوا سنة للناس تتبع53.‬ ‫:‪Dalam qashīdah Farasdaq‬‬ ‫شفاء للصدور من السقام63.‬ ‫فجاء بسنة الععمرين فيها‬ ‫‪Dari bait syair-syair atau dīwān-dīwān di atas, maka nampak jelas bahwa penggunaan‬‬ ‫‪kata sunah oleh para penyair, baik masa jahiliyah maupun Islam adalah bermakna jalan‬‬ ‫.‪atau perilaku yang kudu diikuti, baik itu jalan yang terpuji maupun yang tercela‬‬ ‫;‪Penggunaan kata sunah dalam al-Qur’an‬‬ ‫73)يريد ال ليبين لكم ويهديكم سنن الذين منقلكم ويتوب عليكم وال عليم حكيم( :‪Firman Allah Ta’āla‬‬ ‫قل للذين كفروا إن ينتهوا يغفر لهم ذنوبهم ما قد سلف وإن يعودوا فقد مضت( :‪Firman Allah Ta’āla‬‬ ‫.83)سنة الولين‬ ‫.93)سنة من قد أرسلنا قبلك من رسلنا ول تجد لسنتنا تحويل( :‪Firman Allah Ta’āla‬‬ ‫.04)سنة ال التى قد خلت من قبل ولن تجد لسنة ال تبديل( :‪Firman Allah Ta’āla‬‬ ‫‪Setelah kita paparkan ayat-ayat al-Qur’an di atas, maka tampak lebih jelas bahwa yang‬‬ ‫‪dimaksud dengan kata sunah yang tertera dalam nash-nash di atas adalah jalan, perbuatan‬‬ ‫.‪atau perilaku‬‬ ‫:‪Lafadz sunah dalam ucapan Rasulullah saw‬‬ ‫روى )عطاء بن يسار عن أبى سعيد رضي ال عنه أن النبي صلى ال عليه وسلم قالك لتتبعن سنن من كان قبلكككم‬ ‫شبرا بشبر وذراعا بذراع(14.‬ ‫قال حميد بن أبى حميد الطويل: )أنه سمع أنس بن مالك يقول: فجاء رسول ال صككلى الك عليككه وسككلم فقككال: أنتككم‬ ‫الذين قلتم كذا وكذا؟ أما وال إنى لخشاكم ل وأتقاكم له لكني أصوم وأفطكر وأصكلى وأرقككد وأتككزوج النسكاء‬ ‫فمن رغب عن سنتى فليس منى(24.‬ ‫قال إبن بريدة: )حدثنى عبد ال المزنى عن النبى صلى ال عليه وسككلم قكال: صكلوا قبككل صكلة المغككرب قكال فككى‬ ‫الثالثة لمن شاء كراهية ان يتخذها الناس سنة(34.‬ ‫قال جرير بن عبد ال: )جاء ناس من العراب إلى رسول ال صلى ال عليه وسلم وعليهككم الصككوف فككرأى سككوء‬ ‫حالهم قد أصابتهم حاجة فحث الناس على الصدقة فأبطؤوا عنه حتى رؤي ذلككك فككى وجهككه قككال ثككم إن رجل‬ ‫من النصار جا بصرة من ورق ثم جاء أخر ثم تتابعوا حتى عرف السرور فى وجهه. فقال رسول ال صلى‬ ‫ال عليه وسلم: من سن فى السلم سنة حسنة فعل بها بعده كتب له مثل أجككر مككن عمككل بهككا ول ينقككص مككن‬ ‫أجورهم شيء, ومن سن سنة سيئة فعل بها بعده كتب عليه مثل وزر من عمل بهككا ول ينقككص مككن أوزارهككم‬
‫‪35 Dr. Sayyed Hanafi, Dīwān Hasān bin Tsābit, dalam Silsilah al-Dakhā’ir, Hai’ah Āmah lī‬‬ ‫.‪Qushūr al-Tsaqāfah, Kairo-Mesir, 2008 M, hal‬‬ ‫‪36 Dr. Muhammad Musthafā al-A‘zamī, Dirāsah fī al-Hadīts al-Nabawī wa Tārīkh‬‬ ‫,.‪Tadwīnuhu, op. cit‬‬ ‫.2 .‪hal‬‬ ‫.62 :‪37 Surat al-Nisā’ ayat‬‬ ‫.83 :‪38 Surat al-Anfāl ayat‬‬ ‫.77 :‪39 Surat al-Isrā’ ayat‬‬ ‫.32 :‪40 Surat al-Fath ayat‬‬ ‫‪41 Dr. Muhammad Musthafā Al-A‘zamī, Dirāsah fī al-Hadīts al-Nabawī wa Tārīkh‬‬ ‫.4 .‪Tadwīnuhu, op. cit., hal‬‬ ‫.4 .‪42 Ibid., hal‬‬ ‫.4 .‪43 Ibid., hal‬‬

‫إن الدوائب من فهر وإخواتهم‬

‫01‬

.44(‫شيء‬ ‫روى إبن عباس أن النبي صلى ال عليه وسلم قال: )أبغض الناس إلى ال ثلثة ملحد فى الحرم ومبتغ فى السلم‬ .45(‫سنة الجاهلية ومطلب دم إمرئ بغير حق ليهريق دمه‬ ‫قال سالم )كان عبد ال بن عمر يفتى بالذى أنزل ال عز وجل من الرخصككة بككالتمتع وسككن رسككول الك صككلى الك‬ ‫عليه وسلم فيه فيقول ناس لبن عمر: كيف تخالف أباك؟ وقد نهى عن ذلك فيقول لهم عبد ال ويلكم أل تتقون‬ ‫ال إن كان عمر نهى عن ذلك فيبتغى فيه الخير يلتمس به تمام العمرة فلم تحرمون ذلك؟ وقد أحله ال وعمككل‬ .46(‫به رسول ال صلى ال عليه وسلم أفرسول ال صلى ال عليه وسلم أحق أن تتبعوا سنته أم سنة عمر‬ Dalam nash-nash perkataan Rasul saw di atas, tampak jelas bahwa yang dimaksud dengan sunah adalah Tharīqah yang berarti jalan. Mustafa al-Sibā’i dan al-Azhar University Saya akan mengajari kalian tentang sejarah syariat Islam, dengan metodelogi yang sangat ilmiah yang berbeda dengan metode al-Azhar, dan saya berterus terang kepada kalian, bahwa saya telah belajar di al-Azhar selama kurang lebih 14 tahun tetapi saya tidak faham Islam, akan tetapi saya mengerti tentang Islam ketika saya belajar di Jerman.―Ali Hasan Abdul Qadir47. Adalah kalimat di atas yang membuat Dr. Musthafā sibā’ī trauma sekaligus takjub dan geram, yang kemudian dia menulis tesisnya dengan judul “al-Sunnah wa makānatuhā fī Tasyrī‘ al-Islāmī dan menjadi buku master-piece-nya. Kalimat di atas adalah ungkapan gurunya yaitu Dr. Ali Hasan Abdul Qadir ketika mengisi Muhādharah hari pertama para mahasiswa pasca sarjana post-doktoral pada Fakultas Syariah Islamiyah Universitas al-Azhar Kairo. Pandangan Abdul Qadir tentang sunah:
“Pada dasarnya makna sunah itu sudah ada ditengah-tengah masyarakat Arab sejak lampau, dan yang dimaksud dengan sunah adalah jalan yang baik yang ada dalam kehidupan pribadi maupun kelompok (masyarakat) dan orang-orang muslim tidak menciptakan makna sunah ini akan tetapi makna sunah ini sudah menjadi masyhur pada masa jahiliyah, dan orang-orang Arab pada masa jahiliyah menggunakan istilah sunah untuk menunjukkan perilaku adat-adat orang terdahulu, dan penggunaan kata sunah pada masa islam sering dipakai di madrasah-madrasah yang ada di Hijaz dan Irak, maka dengan dasar makna umum ini, sunah adalah perilaku yang senantiasa dikerjakan, dan suatu perkara yang telah menjadi kesepakatan komunitas muslim dan menjadi simbol yang paling agung bagi akhlak yang terpuji, tanpa mengkhususkan sunah itu apa yang berasal dari Nabi Muhammad saw, dan pada masa-masa terakhir penggunaan istilah sunah ini makin menyempit, kemudian istilah penggunaan sunah itu hanya terbatas pada apa atau segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad, dan pergeseran makna itu terjadi pada akhir-akhir abad ke-2 hijriah disebabkan adanya metodologi Imam Syafi’i yang berbeda dengan masa dahulu.”48

Untuk membantah pendapat Ignaz Goldziher, Joseph Scacht, David Margoliouth, dan Ali Hasan ‘Abdul Qadir, Musthafā al-Sibā‘ī dalam bukunya mengatakaan bahwa bagaimana mungkin dan dari mana Goldziher sampai membuat kesimpulan
44 Ibid., hal. 4. 45 Ibid., hal. 4. 46 Ibid., hal. 5. 47 Dr. Musthafā al-Sibā’ī, op. cit., hal. 32. 48 Dr. Muhammad Musthafā Al-A‘zamī, Dirāsah fī al-Hadīts al-Nabawī wa Tārīkh Tadwīnuhu, op. cit., hal. 6.

11

bahwa hadis adalah hasil dari Tathawur perkembangan agama, politik, masyarakat muslim pada abad pertama dan kedua hijriah. Padahal sebelum Rasulallah saw mangkat keharibaan yang Maha Tinggi, dia telah meletakkan pondasi dasar atau asas yang kuat untuk bangunan agama Islam yang kokoh. Sampai Rasulullah sebelum wafat berwasiat kepada para sahabat: “Saya tinggalkan dua pusaka yang kalian tidak akan sesat selamalamanya selama kalian berpegan pada dua pusaka ini, yaitu kitab al-Quran dan sunahku”. Dan kesempurnaan agama Islam ini telah diperkuat dengan ayat yang terakhir turun (‫اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت‬ ‫.94)عليكم نعمتى ورضيت لكم السلم دينا‬ Dengan ayat ini, maka agama Islam adalah agama yang sempurna (kāmil), komprehensif dan paripurna. Al-Sibā‘ī juga mengungkapkan bahwa tidak masuk akal jika Goldziher menyimpulkan bahwa sunah itu adalah produk komunitas masyarakat muslim abad pertama dan kedua hijriah, padahal ketika itu agama Islam sudah menyebar luas ke berbagai belahan dunia, dan umat muslim berada di benua yang berbeda-beda. Akan tetapi mereka sama dalam praktek ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, dan hukumhukum Islam yang lainya. Praktek mereka semua hampir sama baik kaum muslimin yang ada di Afrika Utara, Timur-Tengah, Asia Tengah, Cina Selatan dan yang lainnya. Sedangkan masalah munculnya berbagai madzhab fikih klasik tidak lain berdasarkan pijakan dari pemahaman al-Qur’an, sunah, dan madrasah-madrasah sahabat dalam memahami al-Qur’an dan sunah. Dan al-Qur’an pada masa itu selalu terjaga di sisi mereka, dan adapun hadis, sebelumnya itu belum ada pendapat-pendapat para imam madzhab pada abad kedua dan ketiga melainkan sebelumnya ada pendapat para sahabat dan tabi’in. Sistem Isnad Jikalau tidak ada ilmu isnad ini, orang akan mengada-ada tentang Islam se-enaknya sendiri.―‘Abdullah bin Mubārak50. Tidak ada dalam agama lain, suatu sistem pengajaran yang sangat akurat seperti yang ada dalam Islam. Kitab suci agama Yahudi dan Kristen nyaris terlantar oleh tangan orangorang yang seharusnya menjadi pembela setia. Sangat susah sekali, kita bisa melacak sember-sumber ajaran yang ada pada agama Yahudi dan Kristen. Dan mungkin inilah yang menjadi perbedaan mendasar antara agama Yahudi-Kristen dengan Islam. Islam mempunyai suatu sistem yang unggul yang tidak dimiliki oleh agama lain seperti Yahudi, Kristen apalagi Hindu, Budha, dan Konghuchu. Suatu sistem yang kemudian kita kenal dengan Isnad. Yaitu sistem pengajaran umat Islam yang beruntun sampai pada Nabi Muhammad saw. Metode atau sitem sanad ini sebenarnya bermula sejak zaman Rasulullah yang kemudian merebak menjadi ilmu tersendiri pada akhir abad pertama hijriah. Dasar tatanan ilmu ini berpijak pada kebiasaan para sahabat dalam transmisi hadis di kalangan mereka. Sebagian mereka membuat kesepakatan menghadiri majelis Rasulullah secara bergiliran, kemudian mereka saling memberi tahu apa yang mereka dengar dan saksikan. Dalam memberitakan tentunya mereka harus menyebut:
49 Surat al-Māidah Ayat; 3. 50 Dr. ‘Abdul Mahdi bin ‘Abdul Qādir bin ‘Abdul Hādī (Professor hadis pada universitas al-Azhar), ‘Ilm al-Jarh wa al-Ta‘dīl; Qawā‘iduh wa A’immatuh, al-Azhar Press, Kairo–Mesir, cet. II, 1419 H/1998 M, hal. 1.

12

“Rasulullah melakukan ini dan itu” atau “Rasulullah mengatakan ini dan itu.”. Bukti adanya pengalihan ilmu melalui cara seperti ini datang dari ribuan hadis yang memiliki ungkapan-ungkapan yang sama, tetapi bersumber dari belahan dunia Islam yang berlainan, yang masing-masing melacak kembali asal-usulnya yang bermuara pada sumber yang sama, yaitu Rasulullah saw, sahabat dan tabi’īn. Kesamaan isi kandungan yang menyebar melintasi jarak jauh, di suatu zaman yang minus alat komunikasi canggih, memberi kesaksian kebenaran akan kuatnya sistem isnad.51 Dan pada permulaan abad pertama hijriah sistem isnad ini menjadi disipilin ilmu tersendiri dalam pengajaran umat Islam. Penggagas utama ilmu isnad ini adalah Ibnu Sirīn (w. 110 H). Dia mengatakan “Para ilmuan pada mulanya tidak mempersoalkan isnad, tetapi saat fitnah mulai meluas mereka menuntut: ‘Sebutkan nama orang-orang kalian (para pembawa riwayat hadis) pada kami!’ bagi yang termasuk ahli sunnah, hadis mereka diterima, sedangkan yang tergolong tukang mengada-ada, hadis mereka dicampakkan kepinggiran”.52 Sebab atau alasan mendasar Ibnu Sirīn membuat ilmu isnad ini antara lain adalah munculnya fitnah al-kubrā dalam tubuh umat Islam, yaitu terjadinya pemberontakan terhadap khalifah Utsman bin Affan yang terbunuh pada tahun 35 hijriah.53 Nihāyah; Orientalis dan Diabolisme Pemikiran Mereka tidak dapat mewakili diri sendiri melainkan harus di wakili.―Karl Marx54. Dalam dunia intelektual, belajar atau menimba ilmu kepada siapa pun yang memang ahlinya tidak begitu menjadi persoalan. Dalam hal teknologi–sains umat Islam harus belajar ke Amerika, Rusia, Jepang, Cina, dll. karena negara-negara tersebut memang sarangnya para ahli sains. Bahkan ada ungkapan yang sudah menjadi masyhur: “ Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”. Bagi setiap muslim menimba ilmu adalah suatu kewajiban, lebih-lebih tentang ilmu agama. Di era modern sekarang–lebih-lebih masa mendatang–umat Islam menghadapi pelbagai tantangan intelektual yang sangat serius. Tantangan intelektual tersebut adalah sebagaimana telah diramalkan oleh Samuel P. Huntington55 yaitu teori “Benturan Peradaban” (The Clash of Civilizations). Benturan beradaban yang di maksud Samuel Huntington dalam tesisnya menurut kesimpulan penulis adalah benturan ideologi atau keyakinan agama: (Benturan Kristen-Barat dengan Islam-Timur). Proyek utama Barat untuk menghadapi benturan ini adalah, di samping menyiapkan kekuatan militer, juga menyiapkan sarjana-sarjana yang konsen tehadap
51 Dr. Muhammad Musthafā al-A‘zāmī, The History of The Qur’ānic Text from Revelation to Compilation; A Comparative Study with the Old and New Testaments (Sejarah Teks Al-Qur‘ān dari Wahyu Sampai Kompilasi; Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), Gema Insani Press, Jakarta-Indonesia, cet. II, 1427H/2006 M, hal. 186. 52 Ibid., hal. 186. 53 Ibid. hal. 186. 54 Kalimat ini adalah ungkapan karl Marx (1818-1883 M) dalam mengutarakan pikirannya pada kaum tani Prancis. Kemudian kalimat ini dikutip oleh Edward Said (1935-2003 M) dalam karya ilmiahnya yang berjudul Orientalism. 55 Samuel Huntington adalah guru besar sekaligus ketua jurusan ilmu politik di Universitas Harvard dan ketua Harvard Academy untuk kajian internasional dan regional di Weatherhead Center for International Affairs. Dia juga pernah menjadi penasehat politik luar negeri presiden USA George W. Bush. The Clash of Civilization adalah karya monumentalnya yang menjadi kontroversi dan memicu polemik di pelbagai belahan dunia selama lebih dari tiga tahun.

13

literatur dasar umat Islam, Yang kemudian kita kenal dengan istilah orientalisme. Dengan mempelajari rujukan-rujukan primer umat Islam, orientalis akan menemukan kelemahankelemahan yang ada pada umat Islam. Orientalis mengkaji islam di pelbagai bidang, ada Spirenger, William Muir, Ignaz Goldziher, Joseph Schacht dll yang menseriusi bidang hadis.56 Schacht, Schőller, Motzki dll dalam bidang hukum Islam atau fikih.57 Alphonse Mingana, Gustaf Flűgel, Theodor Nőldeke, Arthur Jeffry yang konsen dalam Qur’anic Studies.58 Theodore Haarbrűcker, Miguel Asin Palacious, Heinrich Steiner, Hellmut Ritter, Wilferd Madelung dalam bidang Teologi Islam, dan lain sebagainya.59 Maraknya orientalis dalam mempelajari Islam, menjadikan Islamic Studies di universitas-universitas Barat sering disebut lebih unggul dibandingakan dengan universitas-universitas Islam. Sehingga para orientalis merasa lebih mampu mewakili untuk mengajari orang Islam tentang agama mereka. Sebenarnya tidak ada persoalan jika sarjana Barat mengembangkan Islamic Studies dan menjadi guru bagi orang muslim, kemudian ada kontribusi yang sangat membangun untuk agama Islam. Tetapi permasalahannya kenapa literatur-literatur karya orientalis itu ketika disandarkan dengan karya-karya ulama muslim cenderung berbenturan. Menurut Prof. Dr. Muhammad Naguib al-Attas, salah satu sebab mendasar terjadinya benturan pemikiran antara sarjana Barat dengan sarjana muslim adalah karena mereka barangkat dari frame-work atau worldview yang berbeda60, yaitu sebuah pandang hidup yang mencakup agama, kenabian, tujuan hidup, kematian dan alam setelah kematian. Berangkat dari persepektif yang berbeda ini, sehingga para orientalis memikirkan Islam selalu dengan pandangan diabolis ala iblis.61 Diảbolos adalah Iblis dalam bahasa Yunani kuno, menurut Arthur Jeffery (1892-1959 M) dalam bukunya “The Foreign Vocabulary of The Qur’an”, cetakan Baroda 1938 M, hal. 48. Maka istilah Diabolisme berarti pemikiran, watak, karakter, dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian kepadanya. Dalam kitab suci al-Qur’an dinyatakan bahwa Iblis termasuk bangsa Jin (QS. al-Kahfi: 50), yang diciptakan dari api (QS. al-Hijr: 27). Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam as. Apakah Iblis atheis? tidak!. Apakah ia Agnostik? Tidak!. Iblis tidak mngingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud dan ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut kafir? disinilah letak persoalnnya.62 Kenal, dan tahu saja tidak cukup. Percaya dan mengikuti saja tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan ahli kitab pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpecayanya Rasulullah saw, sebagaimana mereka mengenal Nabi Muhammad seperti mereka megenal anak kandungnya sendiri (Ya‘rifūnahā Kamā Ya‘rifūna
56 Dr. Syamsuddin Arif, op. cit., hal. 44. 57 Ibid, hal. 44. 58 Ibid, hal. 44. 59 Ibid, hal. 44. 60 Adian Husaini, M.A., Wajah Peradaban Barat; Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekular-Liberal, Gema Insani Press, Jakarta-Indonesia, cet. I, 1426 H/2005 M, hal. 21. 61 Istilah diabolisme ini dimunculkan oleh Dr. Syamsuddin Arif dalam tesis doktoralnya yang kedua di Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Universität Frankfurt, Jerman. 62 Dr. Syamsuddin Arif, op. cit., hal. 143

14

Abnā’ahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam. Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan perintah. Knowledge and Recognition Should be Followed by Acknowledgement and Submission, tegas Professor Naguib al-Attas. Kesalahan iblis bukan karena ia tidak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang (Abā, QS. 2:34, 15:31, 20:116), menganggap dirinya hebat (Istakbara, QS. 2:34, 38:73, 38:75), dan melawan perintah tuhan (fasaqa ‘an Amri Rabbihi, QS. 18:50). Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang direkrut sebagian staf dan kroninya, berpikiran dan berperilaku seperti yang dicontohkannya. Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam al-Qur’an sebagai berikut: pertama, selalu membangkang dan membantah (QS. al-An’am:121). Meskipun ia kenal, tahu, dan paham, namun tidak pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut hulu-balangnya, Zhulman wa ‘Uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (Wa Istayqanat-ha Anfusuhum). Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tidak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang meskipun notabene muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini pikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya.63 Kedua, menyembunyikan dan mengkaburkan kebenaran. Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan fakta. Yang bāthil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga tampak seolah-olah haq. Sebaliknya, yang haq digunting dan dipreteli sehingga kelihatan bāthil. Ataupun dicampur aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah.64 Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al-Qur’an (al-Baqarah: 62 dan al-Maidah: 69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama. Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al-Qur’an dan hadis. Mereka membesarkan dan mempersoalkan perkara-perkara kecil, mengutak atik perkara yang sudah jelas tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi sumber-sumber yang ada. Hal itu tidak terlalu mengejutkan, mengingat mereka adalah orang Yahudi dan Nasrani yang karakternya sudah dijelaskan dalam alQur’an surat Ali Imrān: 71”Ya Ahla’l Kitābi Lima Talbisūna’l Haqq bi’l Bāthil wa Taktumu’l Haqq wa Antum Ta‘lamūn”. Yang sangat mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya muslim. Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, iblis disebut setan (Syaithan), kemungkinan berasal dari bahasa Ibrani “Syatan” yang artinya lawan atau musuh. Demikian menurut W. Gesenius dalam “Lexion Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Verteris Testamenti Libros, s.v. ‘s-t-n’”.65
63 Ibid., hal. 144. 64 Ibid., hal. 146. 65 Ibid., hal. 146.

15

Dalam al-Qur’an memang ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata bagi manusia (QS. 12:5, 17:53 dan 35:6). Selain pembangkang (‘ashiyy) setan juga berwatak jahat, liar dan kurang ajar (marīd). Untuk menggelincirkan (istazalla), menjerumuskan (yughwī), dan menyesatkan (yudhillu) orang, setan juga memakai setrategi. Caranya dengan menyusup, memengaruhi (yatakhabbath), merasuk dan merusak (yanzaghu), menghalnghalangi (yashuddu), menjebak (yaftinu), menciptakan imej positif untuk kebatilan (zayyana lahum a‘māluhum), membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan pikiran seseorang (yuwaswisu), menjanjikan, memberi iming-iming (ya’iduhum wa yumannīhim), memperdaya dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurūr), membuat orang lupa dan lalai (yunsī), menyulut konflik dan kebencian (yūqi’mal-‘adāwah wa albaghdhā), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya’muru bi al-fahsyā wa al-munkar), serta menyuruh orang supaya kafir (qāla li’l insān ukfur).66 Dan hampir semua sifat setan ini ada pada diri para orientalis. Ketiga, intelektual diabolik bersikap takabur (sombong, angkuh, congkak, arogan). Pengertian takabur ini dijelaskan dalam hadis Nabi saw yang diriwaaytkan oleh Imam Muslim (no. 147): (al-Kibru Bathrul al-Haqq wa Ghamtu al-Nās). Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an atau hadis Nabi saw dianggap dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya. Sebaliknya orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat al-Qur’an maupun hadis, meragukan dan menolak kebenaran justru disanjung sebagi intelektual kritis, reformis, dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental iblis. Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (al-Baqarah: 14). Mereka mengangagap orang beriman itu bodoh, padahal mereklah yang bodoh dan dungu (sufahā). Intelektual ssemacam inilah yang di-ancam Allah swt dalam al-Qur’an; “Akan aku palingkan mereka yang arogan di muka bumi tanpa kebenaran itu dari ayatayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak mau menempuhnya, namun jika melihat kesesatan, mereka justru menelusurinya”(al-A’rāf: 146).67 Wa’l Lāhu a‘lam bi al-shawab.

66 Ibid., hal. 147. 67 Ibid., hal. 145.

16

Bibliografi ‘Abdul Hādī, Dr. ‘Abdul Mahdi bin ‘Abdul Qādir, ‘Ilm al-Jarh wa al-Ta‘dīl; Qawā‘iduh wa A’immatuh, al-Azhar Press, Kairo–Mesir, cet. II, 1419 H/1998 M. Adian Husaini, MA., Wajah Peradaban Barat; Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekular-Liberal, Gema Insani Press, Jakarta-Indonesia, cet. I, 1426 H/2005 M. Al-A‘zamī, Dr. Muhammad Musthafā, Dirāsah fī al-Hadīts al-Nabawī wa Tārīkh Tadwīnuhu, vol. I, al-Maktabah al-Islāmī, Beirut-Libanon, 1413 H/1992 M. ________, Prof. Dr. Muhammad Musthafā, Sejarah Teks AL-Qur’ān dari Wahyu Sampai Kompilasi; Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, diterjemahkan oleh Dr. Sohirin Solihin dkk dari buku asli: The History of The Qur’ānic Text from Revelation to Compilation; A Comparative Study with the Old and New Testaments, Gema Insani Press, Jakarta-Indonesia, cet. II, 1427 H/2005 M. Ali Mustafa Yaqub, Lc. MA., Autentisitas dan Otoritas Hadis dalam Khazanah Keilmuan Ulama Muslim dan Sarjana Barat, dalam Jurnal TARJIH, edisi Ke-7 Januari 2004 M, Majelis Tarjih dan Pengembangn Pemikiran Islam PP Muhammadiyah, Yogyakarta-Indonesia, 2004 M. Al-Sibā’ī, Dr. Musthafā, al-Sunnah wa Makānatuhā fī al-Tasyrī‘ al-Islāmī, Dār al-Salām, Kairo–Mesir, cet. III, 1427 H/2006 M. Dr. Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Gema Insani Press, Jakarta-Indonesia, cet. I, 1429 H/2008 M. Dr. Sayyid Hanafī, Dīwān Hasān bin Tsābit, dalam Silsilah al-Dakhā’ir, alHai’ah al-‘Āmah lī Qusūr al-Tsaqāfah, Kairo-Mesir, 2008 M. Goldziher, Ignaz, al-‘Aqīdah wa al-Syarī’ah fī al-Islām, Dāar al-Rā’id al-‘Arabī, diterjemahkan oleh Muhammad Yusuf Musa dkk dari buku asli VORLESUNGEN UBER DEN ISLAM, Beirut-Libanon, t.t. Prof. Dr. Muhammad Zuhri, Autentisitas dan Otoritas Hadis dalam Keilmuan Ulama Muslim dan Sarjana Barat, dalam Jurnal TARJIH, edisi Ke-7 Januari 2004 M, Majelis Tarjih dan Pengembangn Pemikiran Islam PP Muhammadiyah, Yogyakarta-Indonesia, 2004 M. Zarzūr, Dr.‘Adnān Muhammad, Musthafā al-Sibā‘ī; al-Dā‘iyah alMujāhid wa al-Faqīh al-Mujaddid, Dār al-Qalam, Damaskus, cet. I, 1424 H/2003 M.

17

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->