P. 1
jenis-jenis perjanjian khusus

jenis-jenis perjanjian khusus

3.0

|Views: 24,619|Likes:
Published by trisumarto337481
almost done..hehehe
almost done..hehehe

More info:

Published by: trisumarto337481 on Dec 06, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/07/2015

pdf

text

original

Sewa-menyewa adalah suatu persetujuan, dengan mana pihak yang satu mengikatkan

diri untuk memberikan kenikmatan suatu barang kepada pihak yang lain selama waktu

tertentu, dengan pembayaran suatu harga yang disanggupi oleh pihak tersebut terakhir itu.

Orang dapat menyewakan pelbagai jenis barang, baik yang tetap maupun yang bergerak.

Dalam perjanjian sewa-menyewa, pemilik barang hanya menyerahkan pemakaian dan

pemungutan hasil dari barang yang disewakan, sedangkan hak milik masih sepenuhnya

menjadi hak pemilik barang (yang menyewakan). Subjek dari perjanjian sewa-menyewa ialah

penyewa dan orang yamg menyewakan (pemilik). Objeknya ialah sesuatu barang atau hak

yang disewakan tersebut.

Kewajiban-kewajiban dari pihak yang menyewakan ialah:

1. barang yang disewakan itu harus diserahkan dalam keadaan baik.

2. Barang yang disewakan tersebut haru terus dijaga baik-baik dan yang rusak wajib

diperbaiki.

Perjanjian-Perjanjian Khusus yang ada Dalam Buku III KUH Perdata

12

3. Menjamin terhadap penyewa untuk dapat memakai dan menggunakan barang yang

disewa itu dengan aman selama berlaku perjanjian sewa-menyewa tersebut.

4. Menanggung segala kekurangan pada benda yang disewakan, yaitu kekurangan-

kekurangan yang dapat menghalangi pemakaian benda itu, walaupun sejak

berlakunya perjanjian itu tidak mengetahui adanya kekurangan ata cacat tersebut.

Kewajiban-kewajiban penyewa ialah:

1. Memakai barang sewaan secara berhati-hati dan menurut tujuan dan maksud dari

persetujuan sewa-menyewa yang telah dibuat.

2. Membayar uang sewa pada waktu yang ditentukan dalam persetujuan sewa-

menyewa.

3. Mengganti kerugian, apabila terjadi kerusakan yang disebabkan oleh penyewa

sendiri, atau oleh orang-orang yang diam di dalam rumah yang disewa misalnya.

4. Mengembalikan barang yang disewa dlam keadaan semula jika perjanjian sewa-

menyewa tersebut telah habis waktunya.

5. Tidak boleh menyewakan lagi barang sewaannya kepada orang lain. Apabila telah

ditentukan demikian dan ketentuan ini dilanggar, maka perjanjian dapat

dibubarkan dan penyewa dapat dituntut mengganti onkos-ongkos, kerugian, serta

bunga uang.

Resiko atas musnahnya barang sewaan. Jika barang yang disewakan selama

berjalannya perjanjian sewa-menyewa musnah akibat sesuatu keadaan yang tidak dapat

dipertanggungjawabkan pada salah satu pihak, maka perjanjian sewa-menyewa batal dengan

sendirinya. Jika barang yang disewa hanya sebagian saja musnah, maka si penyewa dapat

memilih antara pembatalan penyewaan atau pengurangan harga sewa. Tetapi tidak dapat

menuntut ganti kerugian.

Pada umumnya, berakhirnya suatu perjanjian sewa-menyewa dapat terjadi karena dua

hal, yaitu:

1. Berakhir dengan sendirinya pada waktu tertentu. Cara ini terjadi jika perjanjian

sewa-menyewa dibentuk secara tertulis dan disebutkan bahwa suatu waktu tertentu

untuk mengakhiri perjanjian tersebut.

2. Setelah dihentikan dengan memperhatikan suatu tenggang tertentu. Cara ini terjadi

jika perjanjian dibuat secara lisan atau dengan tulisan yang tidak menetapkan

waktu tertentu tentang berakhirnya sewa-menyewa, maka perjanjian tersebut

hanya dapat diberhentikan secara pemberitahuan oleh salah satu pihak kepada

Perjanjian-Perjanjian Khusus yang ada Dalam Buku III KUH Perdata

13

pihak lain, bahwa sewa-menyewa dihentikan dengan memperhatikan suatu

tenggang yang lamanya tergantung dari kebiasaan

Terhadap perjanjian sewa-menyewa tanah yang dibuat secara tidak tertulis, maka

jangka waktu yang dipakainya ialah satu masa panen. Jika jangka waktu yang telah ditetapkan

dalam perjanjian sewa-menyewa yang dibuat secara tertulis itu habis, sedang penyewa tetap

mempergunakan barang yang disewa itu dan dibiarkan pula oleh pemiliknya, maka dianggap

ada perjanjian baru yang dibuat secara tidak tertulis, dan akibatnya diatur oleh peraturan-

peraturan yang berhubungan dengan perjanjian sewa-menyewa yang dibuat secara lisan.

Tetapi jika salah satu pihak telah memberitahukan pemutusan perjanjian kepada pihak lain,

tidaklah dianggap ada perjanjian baru. Demikian pula halnya jika perjanjian sew-menyewa

atas tanah yaang dibuat secara tertulis telah habis wktunya, sedang penyewa tetap

mempergunakan tanah tersebut dan dibiarkan saja oleh pemilik tanah, maka akibatnya diatur

dengan perjanjian sewa-menyewa baru yang dibuat dengan lisan.

Ketentuan dari pasal 1575 KUH Perdata bahwa perjanjian sewa-menyewa tidak

terhenti jika salah satu pihak meninggal dunia. Karena pada umumnya hak-hak da kewajiban-

kewajiban dari suatu perjanjian menurut hukum waris dengan sendirinya beralih kepada para

ahli waris jika yang berkepentingan meninggal dunia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->