P. 1
jenis-jenis perjanjian khusus

jenis-jenis perjanjian khusus

3.0

|Views: 24,656|Likes:
Published by trisumarto337481
almost done..hehehe
almost done..hehehe

More info:

Published by: trisumarto337481 on Dec 06, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/07/2015

pdf

text

original

Perjanjian-Perjanjian Khusus yang ada Dalam Buku III KUH Perdata

1

HUKUM PERIKATAN

BENTUK-BENTUK PERJANJIAN KHUSUS YANG ADA
DALAM BUKU III KUH PERDATA

DOSEN: DR. OKY DEVIANY BURHAMZAH, S.H.,M.H.

DISUSUN OLEH:

TRI SUMARTO
B111 08 388

TUGAS

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2009

Perjanjian-Perjanjian Khusus yang ada Dalam Buku III KUH Perdata

2

Perjanjian-Perjanjian Khusus (Benoemde Overeenkomsten)
yang ada Dalam Buku III KUH Perdata

A. Pendahuluan

Perikatan adalah hubungan hukum yang terletak dalam lapangan harta kekayaan

antara satu orang/lebih dengan satu orang lain/lebih, dimana pihak yang satu adanya prestasi

diikuti kontra prestasi dari pihak lain. Perikatan seperti dimaksud di atas paling banyak

dilahirkan dari suatu peristiwa dimana dua orang atau pihak saling menjanjikan sesuatu.

Peristiwa demikian aling tepat dinamakan perjanjian yaitu suatu peristiwa yang berupa suatu

rangkaian janji-janji. Hubungan antara perikatan dengan perjanjian sangat erat sekali.

Perikatan itu dilahirkan dari suatu perjanjian, dengan kata lain perjanjian adalah sumber dari

perikatan disamping sumber lain yang juga bisa melahirkan perikatan. sumber lain tersebut

yaitu undang-undang. Perikatan dan perjanjian memiliki persamaan dan perbedaan.

Perbedaannya yaitu :

- Hukum Perikatan hanya ada dalam Ilmu Pengetahuan khususnya dalam hukum hukum

perjanjian.

- Perjanjian, batasannya ada dalam pasal 1313 KUH Perdata.

- Karena merupakan suatu hubungan hukum maka perikatan sifatnya abstrak.

- Karena merupakanperbuatan hukum maka perjanjian sifatnya konkret.

Sebagaimana tertera di atas, suatu perikatan adalah suatu pengertian abstrak (dalam

arti tidak dapat dilihat dengan mata), maka suatu perjanjian adalah suatu peristiwa atau

kejadian yang konkret. Misalnya : Perjanjian jual beli, merupakan konkretisasi dari perikatan

yang berwujud dari perjanjian.

Sedangkan persamaa antara perikatan dengan perjanjian adalah :

- Keberadaan antara pihak-pihak, baik perikatan maupun perjanjian minimal 2

pihak.

- Baik perikatan maupun perjanjian berada dalam lingkup harta kekayaan.

B. Pengertian Perjanjian

Pasal 1313 KUH Perdata memberikan definisi mengenai perjanjian. Perjanjian adalah

suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih engikatkan dirinya terhadap satu orang atau

Perjanjian-Perjanjian Khusus yang ada Dalam Buku III KUH Perdata

3

lebih. Mengenai definisi tersebut di atas banyak mengandung kelemahan-kelemahan. Adapun

kelemahan-kelemahan tersebut adalah :

- Hanya menyangkut perjanjian sepihak saja.

Di sini dapat diketahui dari rumusan ”satu orang atau lebih mengikatkan dirinya
terhadap satu orang atau lebih lainnya”, kata ”mengikatkan” merupakan kata kerja

yang sifatnya hanya datang dari satu pihak saja tidak dari kedua belah pihak.

Sedangkan maksud dari perjanjian itu mengikatkan diri dari kedua belah pihak,

sehingga nampak adanya konsensus/kesepakatan antara kedua belah pihak yang

membuat perjanjian.

- Kata perbuatan mencakup juga tanpa konsensus/kesepakatan.

Dalam pengertian perbuatan termasuk juga tindakan melaksanakan tugas tanpa kuasa

dan perbuatan melawan hukum. Dari kedua hal tersebut merupakan

tindakan/perbuatan yang tidak mengandung adanya konsensus. Perbuatan itu sendiri

pengertiannya sangat luas, karena sebetulnya maksud perbuatan yang ada dalam

rumusan tersebut adalah perbuatan hukum.

- Pengertian perjanjian terlalu luas.

Untuk pengertian perjanjian disini dapat diartikan juga pengertian perjnajian yang

mencakup melangusngkan perkawinan, janji kawin. Padahal perkawinan sendiri sudah

diatur tersendiri dalam hukum keluarga, yang menyangkut hubungan lahir batin.

Sedang yang dimaksudkan perjanjian dalam pasal 1313 KUH Perdata adalah

hubungan antara debitur dan kreditur. Hubungan antara debitur dan kreditur terletak

dalam lapangan harta kekayaan saja.

- Tanpa menyebut tujuan.

Dalam rumusan pasal itu tidak disebutkan apa tujuan untuk mengadakan perjanjian

sehingga pihak-pihak mengikatkan dirinya itu tidaklah jelas maksudnya untuk apa.

Atas dasar alasan-alasan tersebut di atas maka rumusannya menjadi, perjanjian adalah

suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk

melaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaan.

Selanjutnya untuk adanya suatu perjanjian dapat diwujudkan dalam dua bentuk yaitu

perjanjian yang dilakukan dengan tertulis dan perjanjian

yang dilakukan cukup secara lisan. Untuk kedua bentuk tersebut memiliki kekuatan yang

sama kedudukannya untuk dapat dilaksanakan oleh para pihak. Hanya saja bila perjanjian

dibuat dengan tertulis dapat dengan mudah dipakai sebagai alat bukti bila sampai terjadi

perselisihan. Bila bentuk perjanjian dengan lisan dan terjadi perselisihan maka akan sulit

Perjanjian-Perjanjian Khusus yang ada Dalam Buku III KUH Perdata

4

pembuktiannya. Disamping harus dapat menunjukkan saksi-saksi, juga itikad baik pihak-

pihak diharapkan.

Dilihat dari syarat sahnya perjanjian seperti yang tertera dalam Pasal 1320 KUH

Perdata, maka Asser memisahkan dalam dua bagian yaitu bagian inti/pokok dan bagian yang

bukan pokok. Bagian pokok disebut essensialia dan bagian yang tidak pokok dinamakan

naturalia serta aksidentalia. Essensialia merupakan bagian dari perjanjian dimana tanpa bagian

tersebut perjanjian tidak memenuhi syarat atau dengan kata lain bagian tersebut harus/mutlak

ada. Dalam jual beli bagian essentialia adalah harga. Tanpa adanya harga, perjanjian tidak

mungkin ada. Naturalia merupakan bagian yang oleh undang-undang ditentukan sebagai

peraturan yang bersifat mengatur. Misalnya dalam jual beli unsur naturalianya terletak pada

kewajiban penjual untuk menjamin adanya cacad tersembunyi. Aksidentalia merupakan

bagian yang oleh para pihak dalam membuat perjanjian ditambahkan sebagai undang-undang

bagi para pihak, karena tidak ada aturannya dalam undang-undang. Misalnya dalam perjanjian

jual beli mobil beserta dengan perlengkapan yang ditambahkan, seperti tape, AC, dan

sebagainya.

Mengenai subyek perjanjian dengan sendirinya sama dengan subyekb perikatan yaitu

kreditur dan debitur yang merupakan subyek aktif dan subyek pasif. Adapun kreditur maupun

debitur tersebut dapat orang perseorangan maupun dalam bentuk badan hukum. KUH Perdata

membedakan dalam tiga golongan untuk berlakunya perjanjian : (1) perjanjian berlaku bagi

para pihak yang membuat perjanjian, (2) perjanjian berlaku bagi ahli waris dan mereka yang

mendapat hak, (3) perjanjian berlaku bagi pihak ketiga.

Membicarakan akibat dari persetujuan/perjanjian kita tidak bisa lepas dari ketentuan

Pasal 1338 dan Pasal 1339 KUH Perdata yang membawa arti penting tentang itikad baik dan

keputusan serta kebiasaan. Dalam pasal 1338 KUH Perdata dipakai istilah ”semua”

menunjukkan bahwa perjanjian dimaksudkan secara umum baik itu perjanjian bernama

maupun tidak bernama. Di situ terkandung asas kebebasan berkontrak yang pelaksanaannya

dibatasi oleh hukum yaang sifatnya memaksa. di dalam hukum perjanjian terdapat sepuluh

asas yaitu :

1) Asas kebebasan mengadakan perjanjian (kebebasan berkontrak).

2) Asas konsensualime.

3) Asas kepercayaan.

4) Asas kekuatan mengikat.

5) Asas persamaan hukum.

6) Asas keseimbangan.

Perjanjian-Perjanjian Khusus yang ada Dalam Buku III KUH Perdata

5

7) Asas kepastian hukum.

8) Asas moral.

9) Asas kepatutan.

10) Asas kebiasaan.

Bila dalam perjanjian tidak sesuai dengan maksud para pihak maka kita harus

berpaling pada ketentuan Pasal 1338 KUH Perdata dan Pasal 1339 KUH Perdata (itikad baik)

agar perjanjian yang patut dan pantas sesuai asas kepatutan yang membawa pada keadilan.

Oleh karena itu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik dan kepatutan karena antara

itikad baik dan kepatutan tujuannya sama untuk mencapai keadilan yang diharapkan jadi

Pasal 1338 dan Pasal 1339 KUH Perdata merupakan Pasal yang artinya senafas atau senada.

C. Perjanjian-Perjanjian Khusus yang ada Dalam Buku III KUH Perdata

Perjanjian-perjanjian khusus yang ada dalam KUH Perdata disebutkan dalam buku ke-

III, dimulai pada Bab ke-V sampai pada Bab ke-XVIII . Adapun penjelasan-penjelasan lebih

rinci mengenai bentuk-bentuk perjanjian khusus tersebut adalah sebagai berikut:

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->