P. 1
pencemaran logam

pencemaran logam

|Views: 1,953|Likes:
Published by Suwahono, M.Pd

More info:

Published by: Suwahono, M.Pd on Dec 10, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2013

pdf

text

original

STUDI KASUS PENCEMARAN LOGAM BERAT (BESI (Fe))PT CERAH SEMPURNA Oleh Suwahono nim 4001507032

Abstract
Hasil penelitian dari sampel limbah PT Cerah Sempurna diuji menggunakan spectronic 20 (spectrometer UV-Vis) didapatkan besi terlarut dari cemaran limbah PT Cerah sempurna 0,9286 ppm, yang berarti kadar logamnya tidak melewati atau masih dibawah batas kadar maksimum (5 ppm) yang diperbolehkan untuk dibuang dalam limbah industri sesuai regulasi atau aturan dari pemerintah. Key word limbah, Spectronic 20, Besi

Pendahuluan
Dua versi definisi pencemaran, pertama adalah “mengubah menjadi kotor atau tidak murni baik secara seremonial maupun secara moral”, sedangkan definisi kedua, adalah “secara fisik membuat jadi tidak murni, busuk dan kotor”). Namun berdasarkan hasil survey dari beberapa definisi pencemaran, Hellawell (1986) menyimpulkan bahwa pencemaran adalah sebagai “sesuatu (zat atau benda) yang berada dalam tempat yang salah, pada waktu yang salah, dan jumlah yang salah”. Pencemaran lingkungan memiliki hubungan yang erat dengan kegiatan manusia, karena itu selama dua abad terakhir ini telah terjadi momentum peningkatan kerusakan lingkungan secara keseluruhan di permukaan bumi ini sebagai hasil dari kegiatan manusia. Hal ini diperparah lagi oleh kondisi jumlah populasi manusia dari masa ke masa selalu bertambah dengan pesat, sedangkan hasil teknologi pengolahan limbah tidak menentu sehingga terjadi korelasi positif antara kecepatan peningkatan populasi manusia dengan kenaikan kuantitas limbah di bumi ini. ( Hellawell, 1986)

Gb. 1. Pencemaran Limbah Pabrik Pencemaran lingkungan terbagi berdasarkan:

1) intesitasnya, dengan mengabaikan besarnya efek pencemaran, 2) persistensi, terutama bila pemurnian hanya dilakukan di bagian hilir saja 3) keberlanjutan atau tidak sporadik dan kronis. Karat adalah lapisan yang terbentuk setelah senyawa besi bereaksi dengan air dan oksigen. Ini merupakan campuran antara oksida besi dan oksida air. (McNeely, J.A. 1992). Proses kimia, fisika, dan biologi selama ini telah memegang peranan penting dalam mekanisme penguraian limbah domestik sepanjang kuantitas dan intensitas pembuangan limbah masih dalam batas yang normal. Namun sayangnya peningkatan populasi manusia telah menyebabkan peningkatan kuantitas dan intensitas pembuangan limbah domestik sehingga membuat proses penguraian limbah secara alami menjadi tidak seimbang. Bila hal ini terjadi secara terus menerus, akan terjadi: peningkatan kadar BOD, COD, N dan K di sungai-sungai; banyak sumur dan sumber air penduduk lainnya mengandung bakteri colie yang menunjukkan telah terjadinya pencemaran oleh tinja dan pada akhirnya dapat memacu pertumbuhan gulma air. Limbah yang dihasilkan dari pencemaran industri pada umumnya bersifat limbah anorganik yang memiliki keragaman yang luas dengan kemiripin yang kecil. Limbah industri dapat berbentuk gas, cair maupun padat sebagai hasil sampingan dari kegiatan: pabrik, petanian, peternakan, kehutanan dan lain-lain. Seringkali limbah industri yang bercampur dengan limbah domestik yang dibuang ke dalam suatu sistem perairan justru lebih meningkatkan dampak kerusakan yang lebih total pada sumber daya perairan tersebut. Peningkatan pemakaian obat-obat pertanian (pestisida dan pupuk) secara signifikan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pencemaran lingkungan. (Yetty. 2006) PT CERAH SEMPURNA PT. Cerah Sempurna yang berada di Semarang merupakan industri pelapisan logam yang bergerak di bidang galvanize, structure tower, garden furniture dan powder coating. Industri ini melibatkan karat besi dalam proses produksinya. Senyawa ini merupakan senyawa yang dianggap mengganggu dalam proses industri di PT. Cerah Sempurna Semarang dan dapat dihilangkan dengan menggunakan asam kuat. Asam kuat yang digunakan untuk menghilangkan karat besi adalah asam klorida (HCl) karena selain harganya murah, hasil reaksinya berupa FeCl3 yang dapat dipisahkan dengan mudah. Reaksi yang terjadi dalam proses penghilangan karat besi tersebut adalah sebagai berikut.

Fe2O Karat 3 + besi

6 HCl

2 FeCl3 + 3 H2O

Proses yang telah dikemukakan di atas dinamakan proses pickling yaitu upaya untuk menghilangkan karat yang melapisi material (besi/baja) menggunakan asam kuat. Kadar besi (Fe) dalam limbah akan meningkat dalam proses ini karena banyaknya FeCl3 dan FeCl2 yang terbentuk dari hasil reaksi. Reaksi besi dengan asam klorida atau asam sulfat membentuk kompleks ion heksa aquo besi (II). Fe(s) + 2 H+(aq) + 6 H2O(l) → [Fe(H2O)6]2+ (aq) + H2(g) Senyawa ini juga dapat terbentuk dari reduksi besi (III) oleh seng. 2Fe3+(aq) + Zn(s) + 12 H2O(l) → 2[Fe(H2O)6]2+(aq) + Zn2+(aq) Dalam larutan asam, ion kompleks heksa aquo besi (II) teroksidasi secara perlahan oleh udara menjadi ion besi (III). Penambahan larutan NaOH akan membentuk kompleks ion dihidrokso tetraaquo besi (II) yang tidak larut dalam basa berlebih. OH[Fe(H2O) ]
2+ 6 (aq)

+ 2 OH

(aq)

H+

[Fe(OH)2(H2O)4](s) + 2H2O(l)

Dalam kondisi basa, oksidasi besi (II) menjadi besi (III) bertambah cepat dan dengan adanya udara, kompleks ion dihidrokso tetraaquo besi (II) secara perlahan berubah menjadi kompleks ion trihidrokso triaquo besi (III). 4[Fe(OH)2(H2O)4](s) + O2(g) → 4 [Fe(OH)3(H2O)3](s) + 2 H2O(l) Senyawa-senyawa kompleks besi (II) kebanyakan mudah teroksidasi menjadi senyawa besi (III) kecuali kompleks ion heksa siano ferat (II). (Tim Dose Kimia Anorganik, 2008). PT. Cerah Sempurna Semarang merupakan perusahaan industri, namun pada tahap awal masih menitikberatkan pada penyediaan jasa galvanis kepada pihak-pihak yang membutuhkan yang ternyata secara implisit kebutuhan terhadap jasa galvanis memang cukup besar, sehingga dengan kapasitas per hari 1,6 ton yang disediakan oleh promotor masih merupakan bagian yang sangat kecil, apabila dibandingkan keseluruhan kebutuhan yang ada. Perencanaan lokasi pada perusahaan ini mempunyai posisi yang strategis baik secara ekonomis maupun sosiologis. Ekonomi akan memberikan kemungkinan baru kepada masyarakat sekitar untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan tetap, memberi pendapatan kepada negara lewat

pajak yang harus dibayar dan perusahaan juga mampu memberi kontribusi positif terhadap laju pertumbuhan pembangunan regional. Secara sosiologis perusahaan akan membantu pemerintah mengurangi pengangguran yang saat ini masih merupakan problem yang cukup pelik. Pertumbuhan pemakaian baja dan besi pada dekade tahun 1980an tidak hanya dipakai dalam sektor konstruksi bangunan lainnya, dimana semakin membutuhkan baja atau besi yang sudah digalvanis, misalnya industri karoseri mobil yang secara riil diketahui semakin pesat pertumbuhannya dewasa ini. Pada keadaan awal produksi perusahaan ini didirikan di kelurahan Randugarut kecamatan Tugu, termasuk di wilayah Kotamadya Semarang. Keadaan geografisnya terletak diantara 5,30 dan 7,10 LS dan 110,35 BT dengan suhu udara antara 23-32˚C dan berada pada ketinggian 4 meter diatas permukaan air laut. PT. Cerah Sempurna Semarang melakukan 3 macam proses pelapisan logam, yaitu proses elektrolisis, pencelupan dan quenching.
1. Proses Elektrolisis

Proses ini memakai elektroda positif/anoda zink dan elektroda negatif/katoda dari bahan yang akan digalvanis dengan menggunakan larutan elektrolit zink klorida. Zink kemudian akan melapisi objek atau bahan yang berupa pipa, plat besi dan sebagainya. Proses ini memakan waktu lama, dengan demikian proses elektrolisa memakan waktu yang cukup lama, juga kurang ekonomis meskipun kualitas dari galvanis cukup baik.
2. Proses Pencelupan

Proses ini menggunakan mekanisme dimana bahan-bahan yang akan digalvanis dimasukkan ke dalam bak yang berisi zink yang telah dilebur pada suhu 480˚C. Proses ini berjalan lebih cepat dibanding proses elektrolisa, akan tetapi memerlukan bahan baku yang zink yang cukup besar, karena selama ini zink dirasa lebih mahal, sehingga kurang ekonomis. Produk yang dihasilkan dari proses ini mempunyai kualitas rendah, sebab hanya dicelup dan panas yang tinggi bisa menyebabkan objek kehilangan bentuk yang sebenarnya.
3. Proses Quenching

Objek galvanis dimasukkan ke dalam tungku peleburan seng. Panas dari seng yang telah melebur akan membentuk penetrasi pada objek galvanis yang sebelumnya mengalami pretreatmen dalam beberapa tahap.. PT Cerah Sempurna Semarang memilih proses ini karena alasan kualitas dan ekonomis.

(http://indonesia.yoolk.com/construction/galvanizing/cerah-sempurna-pt-91188.html)

Pencemaran Logam Berat
Logam berat merupakan senyawa kimia yang sangat berpotensi menimbulkan masalah pencemaran lingkungan terutama yang berkaitan erat terhadap dampak kesehatan manusia. Menurut Vouk (1986) terdapat sebanyak 80 jenis dari sejumlah 109 unsur kimia yang telah teridentifikasi di muka bumi ini termasuk ke dalam jenis logam berat, Dengan demikian sifat kimiawi logam berat dapat dikatakan mewakili sebagian besar golongan kimia anorganik. Logam berat biasanya didefinisikan berdasarkan sifat-sifat fisiknya dalam keadaan padat dengan menggunakan metode teknologi yang telah maju. Sifat-sifat fisik tersebut antara lain memiliki: 1) Daya pantul cahaya yang tinggi. 2) Daya hantar listrik yang tinggi. 3) Daya hantar panas, 4) kekuatan dan ketahanan. Logam berat dalam keadaan padat juga dapat dibedakan berdasarkan: struktur kristalnya, sifat pengikat kimianya, serta sifat-sifat magnitnya. Kelarutan logam berat dalam air dan lemak merupakan suatu proses toksikologi yang amat penting, karena proses ini adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi adanya proses biologi dan penyerapan logam berat itu sendiri. Metode analisis untuk penentuan konsentrasi logam berat yang hingga kini paling populer digunakan adalah Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Adapun prinsip kerja SSA ini pada dasarnya adalah suatu proses pengatoman dari tingkat dasar ke tingkat tinggi, dimana dalam proses pengatoman ini setiap logam berat memiliki penyinaran dengan panjang gelombang yang spesifik. Kneip dan Friberg (1986) berpendapat bahwa dalam penentuan kandungan logam berat, ada tiga hal utama yang harus diperhatikan yaitu; ketepatan, ketelitian dan batas deteksi. Jenis pelarut kimia yang digunakan dalam analisis logam dapat memengaruhi hasil analisis tersebut., melaporkan bahwa ekstraksi sampel dengan menggunakan pelarut HNO3 menghasilkan konsentrasi logam berat hampir 10 kali lebih tinggi daripada pelarut HCl. (Kneip dan Friberg (1986) Berdasarkan sudut pandang toksikologi, logam berat terbagi ke dalam dua jenis yaitu: pertama logam berat esensial dimana keberadaanya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh setiap organisme hidup, seperti antara lain, seng (Zn), tembaga (Cu), besi (Fe), kobalt (Co), mangaan

(Mn) dan lain-lain. Kedua logam berat tidak esensial atau beracun, dimana keberadaan dalam tubuh organisme hidup hingga saat ini masih belum diketahui manfaatnya bahkan justru dapat bersifat racun, seperti misalnya; merkuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), kromium (Cr) dan lain-lain. Logam berat esensial biasanya tebentuk sebagai bagian integral dari sekurangkurangnya dengan satu jenis enzim. Walupun logam berat esensial dibutuhkan oleh setiap organisme hidup, namun dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan efek racun. Penelitian tentang asupan tembaga (Cu) sebagai logam berat esensial yang telah dilakukan di Desa Pasir Parahu, Cianjur, Jawa Barat menunjukkan bahwa batas yang direkomendasikan telah tercapai, namun tidak melampaui batas maksimum yang diperbolehkan. (Siaran Pers WALHI, 11 Mei 2005). Selama ini dalam pengelolaan lingkungan hidup pandangan kita bersifat antroposentris, yaitu melihat permasalahannya hanya dari sudut kepentingan manusia saja. Manusia berinteraksi dengan lingkungan hidupnya karena ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan harus bersifat holistik, yaitu memandang keseluruhannya sebagai suatu kesatuan. Peranan manusia dalam masalah lingkungan adalah setiap kerusakan lingkungan yang terjadi sebagai akibat dari hasil kegiatan manusia, Pencemaran logam berat turut memberikan kontribusi yang nyata terhadap isu perubahan lingkungan global khususnya dalam hal masuknya senyawa beracun ke dalam lingkungan sebagai akibat kegiatan industri, pertanian, perternakan, kehutanan dan lain-lain. Selama ini dengan pertimbangan bahwa masalah yang terjadi dalam isu lingkungan global semata-mata mekanismenya hanya dapat jelas terungkap melalui ilmu pengetahuan alam saja, maka manusia melakukan pendekatan secara ekslusif terhadap isu perubahan lingkungan global hanya melalui ilmu pengetahuan alam. ( Putra, Johan Angga. 2005)

Metode dan alat bahan
ALAT-ALAT : 1. Labu takar 10 mL, 100 mL 2. Pipet ukur 5 mL, 10 mL 3. Tabung reaksi besar 4. Pipet volum ukuran 1, 2, 3, 10 mL

5. Bekerglass ukuran 250 mL 6. Pipet tetes 7. Kertas Saring 8. Spektofotometer UV-Vis BAHAN-BAHAN : 1. Larutan baku Fe 100 ppm 2. Larutan NaOH 3 M
3. Larutan H2O2 30 %

4. Larutan HNO3 4 M 5. Larutan KCNS 0,01 M 6. Akuades CARA KERJA
1. Limbah cair pelapisan logam yang mengandung ion logam berat Fe3+ buangan PT.Cerah

Sempurna Semarang
2. Cuplikan sampel limbah industri pelapisan logam yang sudah dikarakterisasi dan

diketahui konsentrasinya disiapkan masing-masing 25 mL kedalam 1 buah labu Erlenmeyer 100 mL cuplikan sampel limbah industri pelapisan logam yang sudah dikarakterisasi dan diketahui konsentrasinya 3. Cuplikan sampel yang sudah disiapkan ditambah dengan larutan NaOH secara diteteskan masing-masing 3 M sebanyak 50 mL.
4. Larutan 5 mL H2O2 30 % ditambahkan sebagai oksidator.

5. Larutan diaduk selama 5 menit dan didiamkan sebentar sampai terjadi pengendapan sempurna. 6. Larutan disaring menggunakan corong untuk memisahkan filtrat dari endapan.
7. Menguji filtrat dengan Spektrofotometri UV-Vis. Panjang gelombang 400-900 nm dan

lebar celah 0 , 2 - 5 , 0 n m , sampel dibuat kompleks, Sampel didapatkan dari limbah cair PT Cerah Sempurna. Sebanyak 20 ml. (Tim Dosen Kimia Anorganik, 2008)

Gb. Sampel air limbah PT. Cerah sempurna PENENTUAN KADAR Fe3+ DALAM SAMPEL LIMBAH CAIR PELAPISAN LOGAM PT.CERAH SEMPURNA SEMARANG DENGAN METODE KURVA KALIBRASI
1. Disiapkan 5 buah labu takar 10 mL dan masing-masing diisi dengan larutan Fe3+ 10 ppm

sebanyak 0,1,2,3, dan 4 mL.
2. Kedalam semua labu takar, ditambah 1 mL HNO3 4 M, dan 1 mL KCNS 0,01 M,

kemudian diencerkan dengan akuades sampai tanda batas. 3. Dikocok hingga homogen, kemudian diukur absorbansinya dengan spektrofotometer Visibel. 4. Diukur pula absorbansi dari sampel yang sebelumnya telah disaring dan diberi perlakuan sama dengan standar. 5. Membuat kurva kalibrasi dan diplotkan absorbansi dari sampel. Menghitung kadar Fe yang terlarut dalam sampel. (Tim Dosen Kimia Anorganik, 2008)

Hasil Penelitian
Analisis kadar Fe 2+ PT cerah sempurna Data Pengamatan No 1 2 3 4 5 6 Jenis larutan Blangko Blangko Blangko Blangko Blangko Sampel Cerah Sempurna Konsentrasi NaOH 0M 1M 2M 3M 4M 3M Asorbansi 0,00 0,03 0,07 0,09 0,11 0,03

Pembahasan

Penggunaan Spektrofotometer UV-Vis bertujuan untuk menentukan kadar besi dari limbah cair pelapisan logam dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, dengan metode kurva kalibrasi. Limbah cair pelapisan logam didapat dari PT. Cerah Sempurna Semarang. Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode pengendapan dan metode pemisahan. Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari larutan. Endapan mungkin berupa kristal atau koloid, dan dapat dikelurkan dari larutan dengan penyaringan atau pemusingan. Endapan terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan adalah sama dengan konsentrasi molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi seperti suhu, tekanan, konsentrasi bahanbahan lain dalam larutan itu, dan pada komposisi pelarutnya. Kelarutan endapan bertambah besar dengan kenaikan suhu, meskipun dalam beberapa hal seperti kalium sulfat terjadi sebaliknya. Laju kenaikan kelarutan dengan suhu berbeda-beda (Vogel, 1985). Metode Spektroskopi Absorbsi adalah metode analisis kimia yang didasarkan atas pengukuran banyaknya radiasi elektromagnetik yang diserap oleh materi. Bila suatu berkas sinar berinteraksi dengan materi maka sinar tersebut akan mengalami beberapa kemungkinan, yaitu sebagian sinar diteruskan, diserap, dipendarkan atau dihamburkan. Senyawa-senyawa kompleks organometriks pada umumnya menunjukkan serapan selektif dalam spektrofotometer pada daerah sinar tampak dan ultraungu. Karena itulah maka sifat ini dapat digunakan untuk menentukan baik susunan maupun tetapan stabilitasnya. Ion Ferri dalam suasana asam kuat, dengan larutan garam KCNS dapat bereaksi membentuk ion kompleks berwarna merah yang kekal dalam larutan, sesuai dengan persamaan reaksi ion sebagai berikut : Fe3+ + nCNS- → [Fe(CNS)n]3-n (Tim Dosen Kimia Anorganik, 2008) Limbah buangan industri yang berwujud cair biasanya mengandung logam-logam berat yang dapat membahayakan kehidupan disekitarnya. Logam-logam berat tersebut antara lain Pb, Fe, Zn, Cu, Cr, Sn, Sb, Hg, Cd, apabila terserap tanah kemungkinan akan masuk kedalam tubuh manusia serta makhluk hidup lainnya. Logam-logam berat tersebut bersifat racun dan mempengaruhi metabolisme dalam organ yang penting dalam makhluk hidup yaitu ginjal dan hati. Logam Pb dan Hg dapat menyebabkan kerusakan hati, jantung, dan testis, sedangkan logam Cd dapat menyebabkan gangguan sistem enzim dan kerusakan sel hati. PT Cerah Sempurna Semarang merupakan industri pelapisan logam yang bergerak di bibidang galvanize, structure tower, garden furniture dan powder coating. Industri ini melibatkan karat besi dalam proses

produksinya. Senyawa ini merupakan senyawa yang dianggap mengganggu dalam proses industri di PT Cerah Sempurna Semarang dan dapat dihilangkan dengan menggunakan asam kuat. Asam kuat yang digunakan untuk menghilangkan karat besi adalah asam klorida (HCl) karena selain harganya murah, hasil reaksinya berupa FeCl3 yang dapat dipisahkan dengan mudah. Reaksi yang terjadi dalam proses penghilangan karat besi tersebut adalah sebagai berikut. Fe2O Karat 3 + besi 6 HCl 2 FeCl3 + 3 H2O

Proses yang telah dikemukakan di atas dinamakan proses pickling yaitu upaya untuk menghilangkan karat yang melapisi material (besi/baja) menggunakan asam kuat. Kadar besi (Fe) dalam limbah akan meningkat dalam proses ini karena banyaknya FeCl3 dan FeCl2 yang terbentuk dari hasil reaksi. Reaksi besi dengan asam klorida atau asam sulfat membentuk kompleks ion heksa aquo besi (II). Fe(s) + 2 H+(aq) + 6 H2O(l) → [Fe(H2O)6]2+ (aq) + H2(g) Senyawa ini juga dapat terbentuk dari reduksi besi (III) oleh seng. 2Fe3+(aq) + Zn(s) + 12 H2O(l) → 2[Fe(H2O)6]2+(aq) + Zn2+(aq) Dalam larutan asam, ion kompleks heksa aquo besi (II) teroksidasi secara perlahan oleh udara menjadi ion besi (III). Penambahan larutan NaOH akan membentuk kompleks ion dihidrokso tetraaquo besi (II) yang tidak larut dalam basa berlebih. OH[Fe(H2O)6]2+(aq) + 2 OH-(aq) H+ ↔ [Fe(OH)2(H2O)4](s) + 2H2O(l)

Dalam kondisi basa, oksidasi besi (II) menjadi besi (III) bertambah cepat dan dengan adanya udara, kompleks ion dihidrokso tetraaquo besi (II) secara perlahan berubah menjadi kompleks ion trihidrokso triaquo besi (III). 4[Fe(OH)2(H2O)4](s) + O2(g) → 4 [Fe(OH)3(H2O)3](s) + 2 H2O(l) Senyawa-senyawa kompleks besi (II) kebanyakan mudah teroksidasi menjadi senyawa besi (III) kecuali kompleks ion heksa siano ferat (II). (Tim Dosen Kimia Anorganik, 2008) Analisis data absorbansi besi kompleks secara grafis

Gb.2. Grafik antara absorbansi dan konsentarsi NaOH Dari persamaan yang diperoleh Y = 0,028 X + 0,004, harga Y = 0,03 (hasil pembacaan dengan menggunakan spektrofotometri UV-VIS pada limbah pelapisan logam PT.Cerah Sempurna Semarang), dengan memasukkan harga Y Dari persamaan grafik didapat 0,03 = 0,028 X + 0,004 0,028 X = 0,04-0,03 X= 0,9286 ppm pada persamaan diperoleh harga X = 0,9286 ppm. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup, limbah yang akan dibuang kadar logamnya tidak boleh melewati batas kadar maksimum yang diperbolehkan oleh regulasi pemerintah (KEP-51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Industri). Kadar maksimum Fe, dalam limbah industri yang diperbolehkan adalah, 5 ppm,(Siaran Pers WALHI)

Dari hasil analisis dihasilkan kadar logam Fe dalam limbah cair pelapisan logam PT.Cerah Sempurna Semarang adalah 0,9286 ppm, yang berarti kadar logamnya tidak melewati atau masih dibawah batas kadar maksimum (5 ppm) yang diperbolehkan untuk dibuang dalam limbah industri oleh regulasi Pemerintah. Dari perhitungan data larutan besi yang terkandung yang terdeteksi dari sampel adalah ini menunjukan betapa besar kandungan besi yang terlarut. Reaksi ion Fe yang terlarut secara kimiawi jika ter lepas dalam air akan terjadi reaksi dengan rumus persamaannya adalah sebagai berikut: Fe -> Fe2+ + 2eBesi yang terlarut mengurangi oksigen dan air sampai ion hidroksida: Elektron melepaskan perjalanan ke pinggir tetesan air, di mana ada banyak sekali oksigen yang dilarutkan. Mereka mereduksi oksigen dan air menjadi ion hidroksida: 2e- + 1/2O2 + H2O -> OHIon hidroksida memberi reaksi dengan ion besi (II) dan lebih banyak oksigen yang dilarutkan untuk membentuk oksida terbuat dari besi. Hidrasi ini bersifat variabel (dengan jumlah 'x' molekul air yang melapisi masing-masing molekul oksida besi): reaksi redoks ini dapat diprediksikan satu-satunya yang akan berlangsung spontan. Ion besi(II) yang terbentuk di air akan berkontak dengan ion hidroksida yang berdifusi dengan cepat dan bereaksi membentuk besi(II) hidroksida yang tak larut. Endapan ini lebih lanjut akan teroksidasi oleh udara menjadi besi(III) oksida.

Kesimpulan dan saran
Hasl penelitian besi terlarut dari cemaran limbah PT Cerah sempurna 0,9286 ppm, yang berarti kadar logamnya tidak melewati atau masih dibawah batas kadar maksimum (5 ppm) yang diperbolehkan untuk dibuang dalam limbah industri sesuai regulasi atau aturan dari pemerintah.

Daftar pustaka

Hellawell,1986., Biosorption of Copper from Contaminated Water by Hydrilla verticillata Casp. and Salvinia sp.. Karnataka Regional Engineering College), 575 025 Surathkal. India, diunduh dari www. Wikipedia, 23 Januari 2009. http://indonesia.yoolk.com/construction/galvanizing/cerah-sempurna-pt-91188.html Kneip and fried berg, 1986., Removal of Heavy Metals from the Environment by Biosorption. Technical Engineering in Life Sciences. Univ. of Iasi, Romania, Vol 4 No 3, p 219232, 2004. Di unduh dari (www. Technologi dan pencemaran.co.id/blogpress/5612 html) Putra, Johan Angga. 2005. Penanggulangan Pencemaran Logam Berat pada Perairan dengan Pendekatan Konsep Bioremoval. Karya Tulis Ilmiah. Universitas Lampung McNeely, J.A. 1992. Ekonomi dan lingkungan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta .Terjemahan Pane, F. Tim Dosen Kimia Anorganik. 2008. Petunjuk Praktikum Kimia Anorganik Untuk S2. Semarang : Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang. Vouk 1986 Biosorption of Cu From Ferruginous Wastewater by Algal Biomass. Water Research journal. Mc Gill University, Canada Vogel, Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, (terjemahan) Media Pustaka, Jakarta, edisi kelima, 1985, p. 350 Yetty. 2006. Dilema Pertambangan Freeport dalam Dimensi Hukum. Jurnal Hukum RESPUBLIKA. Vol 6.No1. www.WALHI.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->