P. 1
kimia bab1 kelas XI

kimia bab1 kelas XI

5.0

|Views: 3,863|Likes:
Published by alvoti

More info:

Published by: alvoti on Dec 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2013

pdf

text

original

www.nuklir.co.

nr

www.qmia.co.nr

BAB I STRUKTUR ATOM, SISTEM PERIODIK DAN IKATAN KIMIA
A. Teori Atom Bohr dan Mekanika Kuantum 1). Radiasi Elektromagnetik

• Adalah suatu pancaran energi yang merambatnya digambarkan sebagai gelombang. • Radiasi ini mempunyai cepat rambat ( c ) yang sama, tetapi berbeda dalam hal panjang
gelombang ( λ ) dan frekuensinya ( f ). • Dirumuskan : c=fxλ dengan : c adalah cepat rambat cahaya ( 3 x 108 m/dtk ) λ adalah jarak antara 2 puncak berturutan atau jarak antara 2 lembah berturutan ( meter ) f adalah frekuensi atau jumlah gelombang tiap detik ( Hertz = Hz atau detik-1 ) Jenis-jenis radiasi elektromagnetik : No 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Radiasi Sinar Gama Sinar X ( Rontgen ) Ultra Violet Cahaya Tampak (me-ji-ku-hi-biu) Infra Merah Gelombang Mikro Gelombang Radio Frekuensi ( Hz ) 1020 1018 1016 1014 < f < 1015 1014 – 1011 1010 – 107 106 - 102 Panjang Gelombang ( nm ) 10-3 10-1 10 103 > λ > 102 103 – 106 107 – 1010 1011 - 1015 atau

f= c λ

2).

Spektrum Atom

o Spektrum atom atau radiasi yang dihasilkan oleh unsur gas yang berpijar hanya
mengandung beberapa λ diskontinu ( spektrum garis ). Contoh = spektrum lampu H ( ungu, biru dan merah ). ( warna ) secara terputus-putus, sehingga disebut spektrum

1

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

Natriu m

Merkur i

Litiu m

Hidrog en

Frekuensi semakin kecil ; panjang

o Spektrum dari sinar matahari merupakan spektrum kontinu ( sinambung ) karena
merupakan gabungan dari berbagai λ ( warna ) secara berkesinambungan.

o Spektrum garis membentuk suatu deretan warna cahaya dengan panjang gelombang
berbeda. Untuk gas hidrogen yang merupakan atom yang paling sederhana, deret panjang gelombang ini ternyata mempunyai pola tertentu yang dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan matematis. Seorang guru matematika Swiss bernama Balmer menyatakan deret untuk gas hidrogen sebagai persamaan berikut ini. Selanjutnya, deret ini disebut deret Balmer.

. Dimana panjang gelombang dinyatakan dalam satuan nanometer (nm).

o Beberapa orang yang lain kemudian menemukan deret-deret yang lain selain deret Balmer
sehingga dikenal adanya deret Lyman, deret Paschen, Bracket, dan Pfund. Pola deret-deret ini ternyata serupa dan dapat dirangkum dalam satu persamaan. Persamaan ini disebut deret spektrum hidrogen.

Dimana R adalah konstanta Rydberg yang nilainya 1,097 × 107 m−1.

o Deret Lyman (m = 1) terletak pada daerah ultra violet

dengan n = 2, 3, 4, ….

o Deret Balmer (m = 2) terletak pada daerah cahaya tampak

dengan n = 3, 4, 5 ….

o Deret Paschen (m = 3) terletak pada daerah infra merah 1

dengan n = 4, 5, 6 …. 2

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

o Deret Bracket (m = 4) terletak pada daerah infra merah 2

dengan n = 5, 6, 7, ….

o Deret Pfund (m = 5) terletak pada daerah infra merah 3

dengan n = 6, 7, 8 …. o Dalam model atom Rutherford, elektron berputar mengelilingi inti atom dalam lintasan atau orbit. Elektron yang berputar dalam lintasan seolah-olah bergerak melingkar sehingga mengalami percepatan dalam geraknya. Menurut teori elektromagnetik, elektron yang mengalami percepatan akan memancarkan gelombang elektromagnetik secara kontinu. Ini berarti elektron lama kelamaan akan kehabisan energi dan jatuh ke dalam tarikan inti atom. Ini berarti elektron tidak stabil. Di pihak lain elektron memancarkan energi secara kontinu dalam spektrum kontinu. Ini bertentangan dengan kenyataan bahwa atom memancarkan spektrum garis. o Ketidakstabilan elektron dan spektrum kontinu sebagai konsekuensi dari model atom Rutherford tidak sesuai dengan fakta bahwa atom haruslah stabil dan memancarkan spektrum garis. Diperlukan penjelasan lain yang dapat menjelaskan kestabilan atom dan spektrum garis atom hidrogen. 3). Teori Kuantum Max Planck  Awalnya, radiasi elektromagnetik dianggap bersifat kontinu, artinya suatu benda Namun teori ini tidak dapat menjelaskan pola radiasi yang dipancarkan oleh benda Max Planck mengemukakan teori baru yang dapat menjelaskan pola radiasi benda dapat menerima atau memancarkan energi radiasi dalam berbagai ukuran.  panas ( = radiasi benda hitam, karena benda itu berwarna hitam sebelum dipanaskan ).  panas tersebut.

Menurutnya, radiasi elektromagnetik bersifat diskontinu, artinya suatu benda hanya

dapat memancarkan atau menyerap radiasi elektromagnetik dalam ukuran / paket-paket kecil dengan nilai tertentu ( = disebut kuantum / kuanta ).  Suatu benda hanya dapat menerima atau memancarkan energi radiasi sebesar 1, 2 atau 3 kuanta dan bukan ½ atau ¼ kuanta ( = artinya suatu benda hanya dapat berada pada tingkat energi tertentu ).  partikel ). Teori ini tidak menghilangkan sifat radiasi elektromagnetik sebagai gelombang ( = sifat dualisme dari radiasi elektromagnetik, yaitu sebagai gelombang sekaligus sebagai

 

Radiasi

elektromagnetik

sebagai

gelombang

=

misalnya

sifat

difraksi

dan

interferensi. Radiasi elektromagnetik sebagai partikel ( foton )= contohnya radiasi benda panas

dan efek fotolistrik. 3

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

 E=hx f dengan :

Besarnya energi dalam 1 paket ( 1 kuantum atau 1 foton ) dirumuskan : atau

E = hx c λ

E = energi radiasi ( joule = J ) h = tetapan Planck ( = 6,63 x 10-34 J.dtk ) 4). Efek Fotolistrik

 Fotolistrik adalah listrik yang diinduksi oleh cahaya ( foton ).
 Hal terpenting dalam efek fotolistrik :

a. Fotolistrik hanya terjadi jika radiasi yang digunakan mempunyai energi ( frekuensi )
minimum tertentu ( = disebut energi / frekuensi ambang ), tidak bergantung pada waktu dan intensitasnya. Setiap logam mempunyai frekuensi ambang tertentu. b. Kuat arus fotolistrik akan meningkat, jika intensitas radiasinya juga ditingkatkan. c. Kuat arus fotolistrik juga akan meningkat, jika digunakan radiasi dengan frekuensi yang lebih besar meskipun intensitasnya sama. Contoh : Sebatang logam mempunyai frekuensi ambang yaitu sinar hijau, artinya : a. Logam tersebut hanya akan menghasilkan fotolistrik jika disinari dengan sinar hijau atau sinar lain yang frekuensinya lebih besar. b. Logam tersebut tidak akan menghasilkan fotolistrik jika disinari dengan sinar merah, jingga atau kuning ( = sinar yang frekuensinya < frekuensi sinar hijau ), tidak terpengaruh oleh berapapun intensitas atau berapapun waktu penyinarannya. c. Kuat arus akan meningkat, jika sinar hijau yang digunakan juga ditingkatkan. d. Jika digunakan sinar dengan frekuensi > frekuensi sinar hijau, ( misalnya = sinar biru atau ungu ) dengan intensitas yang sama, maka kuat arus fotolistrik akan meningkat.

Efek fotolistrik menurut Einstein : Dasar pemahaman :  Einstein menggunakan teori kuantum Max Planck ( = radiasi elektromagnetik bersifat diskontinu ).

 Radiasi elektromagnetik bersifat sebagai partikel ( = foton ), yang mempunyai energi
tertentu dan bergantung pada frekuensinya. Menurutnya : 1) 2) Fotolistrik terjadi ketika foton dengan energi yang cukup, menabrak elektron di Setiap foton akan mentransfer energinya kepada 1 elektron ketika terjadi tabrakan. permukaan logam.

4

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

3)

Jika intensitas radiasi meningkat, berarti jumlah foton bertambah, sehingga jumlah

elektron yang terlemparpun akan meningkat.

4)
5)

Jika digunakan radiasi dengan frekuensi > frekuensi ambang, maka kelebihan energi Semakin besar kelebihan energi, semakin besar pula energi kinetik foto elektronnya,

akan muncul sebagai energi kinetik elektron. sehingga semakin banyak elektron yang dapat mencapai anode ( kutub positif ). Akibatnya kuat arus fotolistrik akan meningkat. 5). Model Atom Niels Bohr

o

Postulat Niels Bohr tentang spektrum atom gas hidrogen :

1) Elektron dalam atom hanya dapat beredar pada lintasan dengan tingkat energi tertentu. 2) Pada lintasan yang diijinkan, elektron tidak memancarkan atau menyerap energi.
Lintasan-lintasan stasioner yang diijinkan untuk ditempati elektron memiliki momentum

sudut yang merupakan kelipatan bulat dari nilai

.

3) Perpindahan elektron dari 1 tingkat energi ke tingkat energi lainnya disertai dengan
penyerapan atau pelepasan sejumlah tertentu energi. Energi dalam bentuk foton cahaya akan dilepaskan jika elektron berpindah ke lintasan yang lebih dalam, sedangkan energi dalam bentuk foton cahaya akan diserapkan supaya elektron berpindah ke lintasan yang lebih luar. Energi yang dilepas atau diserap dalam paket sebesar hf sesuai dengan persamaan Planck ( E = h.f )

o

Niels Bohr merumuskan tingkat-tingkat energi ( En ) dari atom hidrogen sebagai berikut :

En= − RH . 1 atau En = − 13,6 eV 2 n n2

dengan :
RH

= 2,18 x 10

-18

J

n

= bilangan bulat ( = bilangan kuantum dengan nilai 1, 2, 3 dst ) = 1,602 x 10-19

1 elektronvolt ( eV )

J
5

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

o Energi elektron bertanda ( - ) pada setiap nilai n. Jika elektron berada pada lintasan n = 1
( lintasan yang paling dekat dengan inti atom ), maka elektron mempunyai energi paling negatif ( = artinya paling stabil ), disebut berada pada keadaan dasar ( ground state ).

o Energi elektron akan semakin tinggi untuk n yang semakin besar, jika n = ∞ maka energi
elektron = nol, artinya = bahwa elektron sudah terlepas dari pengaruh gaya tarik inti.

o Elektron dapat berpindah dari 1 lintasan ke lintasan lainnya dengan cara menyerap atau
memancarkan sejumlah tertentu energi ( o

Eakhir – Eawal ).
dirumuskan :

∆ E = Ef - Ei dengan : Ei = tingkat energi awal Ef = tingkat energi akhir Keterangan :

Jika Ef > Ei yaitu perpindahan dari tingkat energi lebih rendah ke tingkat energi lebih

tinggi, maka ∆ E akan bertanda positif ( = artinya energi diserap ).

 

Jika Ef < Ei maka ∆ E akan bertanda negatif ( = artinya energi dibebaskan /

dipancarkan ). Perpindahan elektron dari tingkat dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi disebut Faktor-faktor penyebab terjadinya eksitasi misalnya :

eksitasi. a. Pengaruh suhu tinggi ( pemanasan ) b. Pengaruh medan listrik c. Pengaruh radiasi ( foton )

Keadaan tereksitasi merupakan keadaan yang tidak stabil dan bersifat sangat

sementara. Elektron akan segera mengalami relaksasi yaitu kembali ke tingkat energi yang lebih rendah dengan cara memancarkan energi sebesar ∆ E ( = berupa radiasi elektromagnetik ). Kelemahan teori atom Niels Bohr : o o o 6). Hanya bisa dipakai untuk menjelaskan spektrum gas hidrogen dan spektrum dari spesi lain Tidak dapat menjelaskan spektrum dari atom yang lebih kompleks. Tidak dapat menjelaskan mengapa elektron hanya boleh berada pada tingkat energi tertentu. Hipotesis Louis de Broglie yang berelektron tunggal.

Louis de Broglie mengemukakan gagasan tentang gelombang materi = gerakan partikel

mempunyai ciri-ciri gelombang. 6

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

 

Jika cahaya memiliki sifat partikel, maka partikel juga memiliki sifat gelombang. Dirumuskan :

h λ = m .v
dengan : λ = panjang gelombang ( meter ) m = massa partikel ( kg ) v = kecepatan partikel ( 3 x 108 m/dtk ) h = tetapan Planck ( 6,63 x 10-34 J.dtk )

Hipotesis ini terbukti kebenarannya ketika ditemukan bahwa elektron menunjukkan sifat Sifat gelombang dari elektron digunakan dalam mikroskop elektron. Hipotesis ini sebenarnya berlaku untuk setiap benda yang bergerak namun lebih khusus

difraksi seperti halnya sinar X.  

berlaku untuk benda bergerak yang massanya relatif kecil.

Jika diterapkan untuk benda-benda biasa ( seperti bola golf atau peluru = yang

bermassa relatif besar ) maka persamaan de Broglie akan menghasilkan panjang gelombang yang sangat kecil sehingga tidak teramati. 7). Asas Ketidakpastian Werner Heisenberg o Menurut Heisenberg, tidaklah mungkin menentukan posisi dan momentum elektron secara bersamaan, dengan ketelitian tinggi ( = karena sifat dualisme elektron, yaitu sebagai partikel dan gelombang ). o Jika suatu percobaan dirancang untuk memastikan posisinya, maka ketidakpastian momentumnya akan semakin besar sebaliknya jika percobaan dirancang untuk memastikan momentum atau kecepatannya, maka ketidakpastian posisinya akan semakin besar. o Dirumuskan :

Δ xxΔ 〉 p h x 1 4Π Δ m v
dengan : ∆ p = ketidakpastian momentum ( = ∆ m v ) ∆ x = ketidakpastian posisi 8). Model Atom Mekanika Kuantum


Dipelopori

oleh

Schrodinger;

mengajukan

suatu

persamaan

gelombang

yang

memperhitungkan dualisme sifat elektron yaitu sebagai partikel sekaligus sebagai gelombang. Istilah mekanika kuantum merujuk kepada sifat elektron yang mempunyai energi tertentu, sedangkan mekanika gelombang merujuk ke sifat elektron yang bergerak bagaikan gelombang. 7

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

Dalam teori mekanika kuantum, posisi elektron tidak dapat dipastikan, namun hanya dapat

dinyatakan sebagai peluang menemukan elektron pada setiap titik dalam ruang di sekitar inti atom.


Daerah dengan peluang terbesar menemukan elektron disebut orbital ( dipaparkan dengan Densitas / kerapatan titik-titik menyatakan besar-kecilnya peluang menemukan elektron. Daerah dengan kerapatan titik-titik yang lebih tinggi menunjukkan peluang yang lebih besar

pola titik-titik ).

• •

untuk menemukan elektron, dan sebaliknya. Istilah lain untuk menyatakan peluang menemukan elektron adalah densitas elektron /

awan elektron.

Bilangan Kuantum o o o o Orbit adalah lintasan berbentuk lingkaran dengan jari-jari tertentu ( = digunakan dalam teori atom Niels Bohr ). Orbital adalah daerah 3 dimensi dengan peluang terbesar menemukan elektron ( = digunakan dalam teori atom mekanika kuantum ). Setiap orbital mempunyai ukuran, bentuk dan orientasi tertentu dalam ruangan yang dinyatakan dengan bilangan kuantum. Ada 4 jenis bilangan kuantum yaitu :

1) Bilangan Kuantum Utama ( n ).
 Menyatakan ukuran dan tingkat energi orbital. Nilai bilangan kuantum utama = 1, 2, 3 dst. Semakin besar nilai n, semakin besar ukuran orbital dan semakin tinggi tingkat


energinya.  Kelompok orbital dengan dengan harga n yang sama, akan membentuk kulit atom. Harga n Lambang Kulit 1 K 2 L 3 M dst dst

8

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

2) Bilangan Kuantum Azimut ( l ).
 Menyatakan bentuk orbital. Nilai bilangan kuantum azimut = 0 sampai ( n - 1 ). 1 0 K 2 0, 1 L 3 0, 1, 2 M 4 0, 1, 2, 3 N dst dst dst

Harga n Harga l Lambang Kulit

Bentuk orbital dinyatakan dengan lambang s, p, d, f ( didasarkan pada garis-garis

spektrum yang tampak pada spektroskop ). Harga l Lambang Orbital Nama orbital Keterangan : Sharp Principal Diffuse = berhubungan dengan garis spektrum yang paling terang. = berhubungan dengan garis spektrum yang terang ke-2. = berhubungan dengan garis kabur. 0 s sharp 1 p princi pal 2 d diffus e 3 f fundame ntal

Fundamental = berhubungan dengan spektrum dari warna yang bersangkutan.  Dengan adanya bilangan kuantum azimut yang berbeda, memungkinkan untuk

membagi setiap “ kulit ” menjadi “ subkulit ” atau “ orbital ”.

Setiap subkulit dinyatakan dengan harga bilangan dari n dan huruf yang

menyatakan l .

Kulit K L M N

Nilai n 1 2 3 4

Nilai l yang diijinkan 0 0, 1 0, 1, 2 0, 1, 2, 3

Subkulit 1s 2s, 2p 3s, 3p, 3d 4s, 4p, 4d, 4f

Catatan : sampai saat ini, konfigurasi elektron unsur dengan nomor atom tertinggi hanya sampai subkulit f.

3) Bilangan Kuantum Magnetik ( m ). 
Menyatakan orientasi ruang orbital sehingga disebut juga bilangan kuantum orientasi orbital. 9

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

 
Nilai

Untuk setiap harga l , akan mempunyai harga m sebanyak = ( 2 l + 1 ). Rentang nilai m = - l hingga + l termasuk nol ( - l , ..., 0, ..., + l ). Subk ulit s p d f Nilai m 0 -1, 0, + 1 -2, -1, 0, + 1, + 2 -3, -2, -1, 0, + 1, + 2, + 3 Jumlah orbital 1 3 5 7

l
0 1 2 3

Beberapa hal penting :

1. Jumlah subkulit pada setiap kulit = bilangan kuantum utamanya ( n ).
Contoh : Kulit K ( n = 1) mempunyai 1 subkulit. Kulit L ( n = 2 ) mempunyai 2 subkulit dst

2. Jumlah orbital dalam setiap subkulit = 2 l + 1 ( l = bilangan kuantum azimut )
Contoh : Subkulit s ( l = 0) mempunyai 1 orbital Subkulit p ( l = 1) mempunyai 3 orbital dst

3. Jumlah orbital dalam 1 kulit = n2 ( n = bilangan kuantum utama ).
Contoh : Jumlah orbital pada kulit K (n = 1) = 12 = 1 Jumlah orbital pada kulit L (n = 2) = 22 = 4 dst Nilai n 1 2 3 Kulit K L M Jumlah orbital 1 4 9 Jenis orbital 1s 2s, 2px, 2py, 2pz 3s, 3px, 3py, 3pz, 3dx2 - y2, 3dz2, 3dxy, 3dxz, 3dyz

4) Bilangan Kuantum Spin ( s ).
 Menyatakan arah putar elektron terhadap sumbunya ketika elektron berputar Jadi, elektron berotasi terhadap sumbunya dan berevolusi terhadap inti atom. Terdapat 2 kemungkinan rotasi elektron yaitu searah jarum jam ( mengelilingi inti atom. 

1 2 ) dan

berlawanan arah jarum jam (

+

1 ). 2
10

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

Bilangan kuantum spin mempunyai 2 harga yaitu =

+

1 2 ( dinyatakan dengan

tanda panah 

dan

1 2 dinyatakan dengan tanda panah

)

Setiap orbital hanya dapat diisi paling banyak 2 elektron dengan arah spin yang

berlawanan.

Bentuk Orbital

o Setiap orbital dicirikan oleh 3 bilangan kuantum yaitu n, l dan m.
o Orbital mempunyai ukuran, bentuk dan orientasi tertentu dalam ruang.

o Kumpulan orbital dengan bilangan kuantum utama ( n ) yang sama disebut kulit.
Pembahasan : 1) Orbital s Bentuknya berupa bola simetris dan hanya memiliki 1 macam orbital. Semakin besar nilai n , maka ukurannya juga semakin besar.

Orbital 1s

Orbital 2s

Orbital 3s

2)

Orbital p

Orbital ini berjumlah 3 buah yang terletak di subkulit p. Ketiganya mempunyai tingkat energi yang sama, namun arah ruang / orientasinya berbeda ( meliputi = px, py dan pz ). Setiap orbital berbentuk seperti balon terpilin yang digambarkan menggunakan koordinat Cartesius dengan sumbu x, y dan z.
Z
Z
Z

X
Orbital px

Y

X Orbital py

Y

X Orbital pz

Y

11

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

3)

Orbital d
2 2

Orbital ini terletak di subkulit d dan terdiri dari 5 macam ( meliputi = dxy, dxz, dyz, dx – y , dz ) Bentuk orbital ini dapat digambarkan sebagai 4 buah balon terpilin pada koordinat Cartesius.
Z
2

Z

Z

X
Orbital dxy

Y

X Orbital dxz

Y X Orbital dyz

Y

Z

Z

X

Y

X Orbital dz2

Y

Orbital dx2 - y2

Keterangan : Orbital dxy Orbital dxz Orbital dyz
2

= cuping-cupingnya terletak di antara sumbu x dan y = cuping-cupingnya terletak di antara sumbu x dan z = cuping-cupingnya terletak di antara sumbu y dan z
2

Orbital dx – y Orbital dz
2

= cuping-cupingnya terletak pada sumbu x dan y

= terdiri dari 1 balon terpilin yang terletak pada sumbu z dan 1 daerah berbentuk donat yang terletak pada bidang xy

B. Diagram Orbital dan Konfigurasi Elektron   Satu orbital biasanya digambarkan dengan sebuah kotak. Susunan orbital-orbital dalam 1 subkulit dapat dinyatakan sebagai berikut :

12

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

Subkulit Nilai m

= =

s
0 -1

p
0 +1 -2 -1

d
0 +1 +2 -3 -2 -1

f
0 +1 +2 +3

Diagram orbital =

Konfigurasi Elektron • • Adalah suatu cara penulisan yang menunjukkan distribusi elektron dalam orbital-orbital pada kulit utama. Penulisan konfigurasi elektron mengikuti beberapa aturan yaitu :

1) Aturan Aufbau.  
Istilah “ Aufbau “ berasal dari bahasa Jerman yang artinya = “ membangun ” atau “ meningkat “. Aturan ini menyatakan bahwa : “ pengisian elektron ke dalam orbital selalu

dimulai dari orbital yang mempunyai tingkat energi rendah ke orbital yang mempunyai tingkat energi lebih tinggi. “  Aturan ini dilakukan agar atom berada pada tingkat energi minimumnya sehingga dapat mencapai kondisi yang stabil.


1s 2s 3s 4s 5s 6s 7s

Diagram tingkat energi menurut aturan Aufbau : 2p 3p 4p 5p 6p 7p Tinggi rendahnya tingkat energi suatu orbital ditentukan oleh jumlah dari ( n + l 3d 4d 5d 6d 4f 5f

  

) ( n = bilangan kuantum utama; l = bilangan kuantum azimut ). Semakin besar nilai ( n + l ), semakin tinggi tingkat energinya. Jika harga ( n + l ) sama, maka orbital / subkulit yang harga n -nya lebih besar

mempunyai tingkat energi lebih tinggi. Contoh : Urutan penulisan orbital 3p, 3d dan 4s Orbital / Subkulit 3p 3d 4s Harga n 3 3 4 Harga Harga n + l 4 5 4

l
1 2 0

Orbital 3p dan 4s mempunyai harga ( n + l ) yang sama, maka orbital yang mempunyai harga n lebih besar ( yaitu 4s ) akan mempunyai tingkat energi yang lebih tinggi. Jadi urutan penulisannya = 3p, 4s, 3d

13

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

2) Aturan Hund.
“ Jika terdapat orbital-orbital dengan tingkat energi yang sama, maka elektron akan mengisi orbital sedemikian rupa sehingga masing-masing orbital tersebut terisi oleh sebuah elektron dengan spin yang sama ( ½ penuh ), baru kemudian berpasangan ( penuh ). “ Contoh : Konfigurasi elektron Diagram orbitalnya :
8

O = 1s2 2s2 2p4
bukan

3) Asas Larangan Pauli. o
“ Dalam sebuah atom, tidak boleh ada 2 elektron yang mempunyai ke-4 bilangan kuantum yang sama. “ artinya = “ tidak ada 2 elektron dalam orbital yang sama memiliki arah spin yang sama. “

o

Jika 3 bilangan kuantum sudah sama, maka bilangan kuantum yang ke-4 harus

berbeda. Contoh : Orbital 1s ditempati oleh 2 elektron. Elektron pertama Elektron ke-2 : n = 1; l = 0; m = 0; s = + ½ : n = 1; l = 0; m = 0; s = - ½

o Jumlah maksimum elektron pada setiap subkulit = 2 x jumlah orbitalnya.
Subku lit s p d f Jumlah Orbital 1 3 5 7 Jumlah Maksimal Elektron 2 elektron 6 elektron 10 elektron 14 elektron

o o
o n

Jumlah maksimum elektron pada kulit ke-n : 2 n2 ( n = nomor kulit / bilangan

kuantum utama ). Berdasarkan asas larangan Pauli, maka setiap elektron dalam 1 atom mempunyai

1 set bilangan kuantum ( n, l , m, s ) yang spesifik. Ke-4 bilangan kuantum tersebut menentukan daerah dalam ruang tempat suatu = menunjukkan kulit atomnya. elektron paling mungkin berada.

l = menunjukkan subkulitnya.
m = menunjukkan orbitalnya. s = menunjukkan spinnya.

Beberapa hal penting : 1) Dua cara menuliskan urutan subkulit. 14

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

Contoh :
21Sc,

konfigurasi elektronnya : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d1 atau 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d1 4s2

a. b.

Cara ( a ), subkulit-subkulit ditulis sesuai dengan urutan tingkat energinya. Cara ( b), subkulit-subkulit dari kulit yang sama dikumpulkan, kemudian diikuti subkulit dari kulit berikutnya. 2) Menyingkat penulisan konfigurasi elektron. Dapat disingkat menggunakan konfigurasi elektron gas mulia. Contoh :
10Ne 11Na

= 1s2 2s2 2p6 = 1s2 2s2 2p6 3s1 atau [ Ne ] 3s1

3) Kestabilan subkulit d yang terisi penuh atau setengah penuh. Terdapat beberapa penyimpangan pengisian elektron berdasarkan aturan Aufbau dengan hasil percobaan. Contoh : ( berdasarkan aturan Aufbau )
24Cr 29Cu

= [ Ar ] 3d4 4s2 = [ Ar ] 3d9 4s2 = [ Ar ] 3d5 4s1 = [ Ar ] 3d10 4s1

Berdasarkan hasil percobaan :
24Cr 29Cu

Subkulit d yang terisi penuh ( d10 ) atau setengah penuh ( d5 ) lebih stabil. 4) Konfigurasi elektron ion. Contoh : o Kation bermuatan y+ terbentuk jika atom netralnya melepaskan y elektron. = [ Ar ] 3d1 4s2 Elektron yang dilepas merupakan elektron dari kulit terluar.
21Sc

Sc3+ = [ Ne ] 2s2 2p6 ( = [ Ar ] )
26Fe

= [ Ar ] 3d6 4s2

Fe2+ = [ Ar ] 3d6 Fe3+ = [ Ar ] 3d5

o
17Cl

Anion bermuatan y- terbentuk dari atom netralnya dengan menyerap y elektron. = [ Ne ] 3s2 3p5 15

Elektron yang diserap itu mengisi orbital dengan tingkat energi terendah yang belum penuh.

www.nuklir.co.nr
17Cl -

www.qmia.co.nr

= [ Ne ] 3s2 3p6

5) Elektron valensi dan elektron terakhir. • •
Elektron valensi adalah elektron yang dapat digunakan untuk pembentukan ikatan kimia. Unsur-unsur golongan utama hanya menggunakan elektron kulit terluar untuk berikatan

kimia, yaitu elektron pada subkulit ns dan np ( n = kulit terluar ), sedangkan unsur transisi dapat menggunakan elektron ( n – 1)d, disamping elektron kulit terluarnya.

Jadi, elektron valensi unsur transisi adalah elektron pada subkulit ( n – 1 )d dan ns. = ns dan np = ( n – 1 )d dan ns

Kulit valensi : Golongan utama Golongan transisi Contoh :
26Fe

= [ Ar ] 3d6 4s2 = 3d dan 4s

Kulit valensinya

Jumlah elektron valensinya = 6 + 2 = 8

Elektron terakhir adalah elektron yang terletak pada subkulit yang mempunyai energi

terbesar, yaitu elektron yang terletak pada subkulit terakhir menurut aturan Hund. Contoh :
17Cl

= [ Ne ] 3s2 3p5

Elektron terakhirnya terletak pada subkulit 3p5 Jadi elektron terakhir dari
17Cl

-1

0

+1

( tanda panah biru )

mempunyai n = 3, l = 1, m = 0, s =

C. Sistem Periodik Unsur Sifat-sifat unsur ditentukan oleh konfigurasi elektron, terutama oleh elektron valensinya. Golong an Utama IA IIA IIIA IVA VA VIA VIIA Elektro n Valensi ns ns
1

Golongan Transisi IIIB IVB VB VIB VIIB VIIIB IB

Elektron Valensi ( n – 1 )d ns ( n – 1 )d ns
2 1 2

Golongan Transisi Dalam Lantanida Aktinida

Elektron Valensi 4f1 6s2 sampai 4f14 6s2 5f1 7s2 sampai 5f14 7s2

2

2

ns2 np1 ns2 np2 ns2 np3 ns2 np4 ns2 np5

( n – 1 )d3 ns2 ( n – 1 )d5 ns1 ( n – 1 )d5 ns2 ( n – 1 )d6,7,8 ns2 ( n – 1 )d10 ns1 16

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

VIIIA 1) o o o o

ns np

2

6

IIB

( n – 1 )d10 ns2

Golongan Unsur-Unsur. Terdapat 2 golongan dalam TPU yaitu golongan utama ( A ) dan golongan transisi ( B ). Penomoran golongan dilakukan berdasarkan elektron valensi yang dimiliki suatu unsur. Setiap unsur yang memiliki elektron valensi sama, akan menempati golongan yang Berdasarkan letak elektron terakhir pada suatu orbital dalam konfigurasi elektron, unsur-

sama. unsur dalam TPU dibagi menjadi 4 blok yaitu blok s, blok p, blok d dan blok f. Blok s = terdiri dari golongan IA dan IIA. Blok p= terdiri dari golongan IIIA sampai VIIIA Blok d= terdiri dari golongan IIIB sampai IIB Blok f = terdiri dari kelompok Lantanida dan Aktinida. o Blok s dan blok p digolongkan sebagai golongan utama, blok d sebagai golongan transisi dan blok f sebagai golongan transisi dalam.

 Tata cara penentuan nomor golongan untuk unsur golongan A / golongan utama ( blok s
dan p ) : a. Tuliskan konfigurasi elektronnya. b. Nomor golongan = jumlah elektron valensi.

 Tata cara penentuan nomor golongan untuk unsur golongan B / transisi ( blok d ) :
a. Tuliskan konfigurasi elektronnya. b. Susun ulang konfigurasi elektron berdasarkan urutan nomor kulit. c. Nomor golongan = jumlah elektron valensi.

 Cara lain untuk menentukan nomor golongan untuk unsur golongan B :
Tuliskan Konfigurasi Elektronnya Konfigurasi elektronnya Konfigurasi elektronnya diakhiri

IIIB x + y = 4; maka gol IVB x + y = 5; maka gol VB x + y = 6; maka gol VIB x + y = 7; maka gol VIIB x + y = 8,9,10; maka gol VIIIB x + y = 11; maka gol IB x + y = 12; maka gol IIB

nsx( n – x + y = 3;d y 1 ) maka gol
diakhiri

nsx( n – 2 )f y n= 7

n= 6

Golongan Lantanida

Golongan Aktinida

17

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

 Tata cara penentuan nomor golongan untuk unsur-unsur blok f ( unsur transisi dalam ) :
a. Tuliskan konfigurasi elektronnya.

b. Jika elektron terakhir terletak pada orbital 4f, unsur tersebut termasuk golongan
Lantanida.

c. Jika elektron terakhir terletak pada orbital 5f, unsur tersebut termasuk golongan
Aktinida. 2) Periode Unsur-Unsur. a. Tuliskan konfigurasi elektronnya. b. Susun ulang konfigurasi elektron berdasarkan urutan kulit atom. c. Nomor periode = nomor kulit terbesar.

Cara menentukan nomor periode suatu unsur :

d. Nomor periode juga dapat ditentukan dari nilai bilangan kuantum utama elektron
terakhir pada atom tersebut atau nomor periode = nilai n.

D. Bentuk / Struktur Ruang Molekul dan Teori Hibridisasi
 Struktur ruang suatu molekul dapat ditentukan berdasarkan adanya Pasangan Elektron Ikatan ( PEI ) dan Pasangan Elektron Bebas ( PEB ) pada kulit terluar atom pusat molekul tersebut.


Oleh karena antar elektron tersebut memiliki muatan yang sejenis, maka akan terjadi Pasangan elektron tersebut akan cenderung meminimumkan gaya tolak tersebut dengan

gaya tolak-menolak. cara membentuk suatu susunan tertentu ( berupaya untuk saling menjauh ).

Teori yang dipakai untuk menjelaskan struktur ruang molekul adalah Teori Tolakan

Pasangan Elektron Kulit Valensi ( VSEPR = Valence Shell Electron Pair Repulsion ) yang disempurnakan dengan Teori Domain Elektron.


Hibridisasi adalah penyetaraan tingkat energi melalui penggabungan antar orbital senyawa kovalen atau kovalen koordinasi. Bentuk molekul suatu senyawa dipengaruhi oleh bentuk orbital hibridanya. Berdasarkan jumlah PEB dan PEI, maka bentuk dasar molekul dapat dikelompokkan menjadi :

1) Linear ( PEI + PEB = 2 )

2) Trigonal planar ( PEI + PEB = 3 )

18

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

3) Tetrahedral ( PEI + PEB = 4 )

4) Bipiramida trigonal ( PEI + PEB = 5 )

5) Oktahedral ( PEI + PEB = 6 )

Berdasarkan bentuk dasar molekul tersebut, dapat diturunkan menjadi bentuk molekul lainnya bergantung pada komposisi jumlah PEI dan PEB dengan rumus umum sebagai berikut :

dengan :

A

= atom pusat 19

A In Bm

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

I B n

= pasangan elektron ikatan = pasangan elektron bebas = jumlah PEI

m = jumlah PEB
Jumlah PEI 2 Jumlah PEB 0 1 2 3 0 1 2 0 1 2 5 0 1 6 Keterangan : 1. Bentuk molekul linier. Dalam bentuk ini, atom-atom tertata pada 1 garis lurus. Sudut ikatannya adalah 1800. 2. Bentuk molekul segitiga datar / planar. Atom-atom dalam molekul, berbentuk segitiga yang tertata dalam bidang datar, 3 atom berada pada titik sudut segitiga sama sisi dan terdapat atom di pusat segitiga. Sudut ikatan antar atom yang mengelilingi atom pusat sebesar 1200. 3. Bentuk molekul tetrahedron. Atom-atom berada dalam suatu ruang piramida segitiga dengan ke-4 bidang permukaan segitiga sama sisi. Sudut ikatannya 109,50. 4. Bentuk molekul trigonal bipiramida. Atom pusat terdapat pada bidang sekutu dari 2 buah limas segitiga yang saling berhimpit, sedangkan ke-5 atom yang mengelilinginya akan berada pada sudut-sudut limas segitiga yang dibentuk. Sudut ikatan masing-masing atom pada bidang segitiga = 1200 sedangkan sudut bidang datar dengan 2 ikatan yang vertikal = 900. 5. Bentuk molekul oktahedron. Adalah suatu bentuk yang terjadi dari 2 buah limas alas segiempat, dengan bidang alasnya berhimpit, sehingga membentuk 8 bidang segitiga. Atom pusatnya terletak pada pusat bidang segiempat dari 2 limas yang berhimpit. Sudut ikatannya = 900. 20 0 Rumus Umum AI2B0 AI2B1 AI2B2 AI2B3 AI3B0 AI3B1 AI3B2 AI4B0 AI4B1 AI4B2 AI5B0 AI5B1 AI6B0 Bentuk Molekul Linear Planar bentuk V Bengkok Linear Trigonal planar Piramida trigonal Planar bentuk T Tetrahedral Tetrahedron terdistorsi Segiempat planar Bipiramida trigonal Piramida segiempat Oktahedral Contoh BeCl2 ; HgCl2 SO2 ; O3 H2O XeF2 BF3 NH3 ClF3 ; BrF3 CH4 SF4 XeF4 PCl5 BrF5 ; IF5 SF6

3

4

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

Nomo r 1 2 3 4 5 6

Bentuk Molekul Linear Planar bentuk V Bengkok Trigonal planar Piramida trigonal Planar bentuk T

Gambar Molekul

7 8 9 10

Tetrahedral Tetrahedron terdistorsi Segiempat planar Bipiramida trigonal Piramida segiempat Oktahedral

11 12

Teori Domain Elektron.  Adalah suatu cara untuk meramalkan bentuk molekul berdasarkan gaya tolak-menolak elektron pada kulit luar atom pusat.

 Teori ini merupakan penyempurnaan dari teori VSEPR. Domain elektron berarti kedudukan
elektron atau daerah keberadaan elektron.  Jumlah domain elektron ditentukan sebagai berikut : 21

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

a. b.  a.

Setiap PEI ( baik itu ikatan tunggal, rangkap 2 maupun rangkap 3 ) berarti 1 domain. Setiap PEB berarti 1 domain. Prinsip dasar dari TDE : Antar domain elektron pada kulit luar atom pusat, saling tolak-menolak

sehingga domain elektron akan mengatur diri sedemikian rupa sehingga gaya tolaknya menjadi minimum.

b. c. d.
e. sepasang elektron. f.

Urutan kekuatan gaya tolaknya : PEB – PEB > PEB – PEI > PEI – PEI Perbedaan gaya tolak ini terjadi karena PEB hanya terikat pada 1 atom

saja, sehingga bergerak lebih leluasa dan menempati ruang lebih besar daripada PEI. Akibat dari perbedaan gaya tolak ini, maka sudut ikatan akan mengecil Domain yang terdiri dari 2 atau 3 pasang elektron ( ikatan rangkap 2 atau

karena desakan dari PEB. 3 ) akan mempunyai gaya tolak yang lebih besar daripada domain yang hanya terdiri dari Bentuk molekul hanya ditentukan oleh PEI.

Tipe molekul dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut : 1) Dirumuskan : Senyawa biner berikatan tunggal.

B=

[ EV − I ] 2

EV = jumlah elektron valensi atom pusat B = jumlah PEB I
= jumlah PEI ( jumlah atom yang terikat pada atom pusat )

Dengan demikian, tipe molekul dapat ditentukan dengan urutan sebagai berikut :

a. Tentukan jumlah EV atom pusat. b. Tentukan jumlah domain elektron ikatan atau PEI ( I ).

c. Tentukan jumlah domain elektron bebas atau PEB ( B ).
Contoh : H2O Jumlah EV atom pusat ( O ) = 6 Jumlah PEI ( I ) Jumlah PEB ( B ) = =2

( 6− 2 ) =2 2

Tipe molekulnya = A I2 B2 ( bengkok ).

22

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

2) koordinat. Dirumuskan :

Senyawa biner berikatan rangkap atau ikatan kovalen

B=

[ EV − I' ] 2

EV = jumlah elektron valensi atom pusat B = jumlah PEB I ’ = jumlah elektron yang digunakan atom pusat
Contoh : POCl3 Jumlah EV atom pusat (P ) = 5 Jumlah PEI ( I ) = 4; tetapi jumlah elektron yang digunakan atom pusat = 3 x 1 ( untuk Cl ) + 1 x 2 ( untuk O ) = 5 Jumlah PEB ( B ) =

( 5− 5 ) =0 2

Tipe molekulnya = A I4 ( Tetrahedral ).

Teori Hibridisasi ( Teori Ikatan Valensi ).

o Hibridisasi adalah peristiwa pembentukan orbital hibrida ( orbital gabungan ) yang dilakukan
oleh suatu atom pusat.

o Orbital hibrida adalah beberapa orbital ( dalam suatu atom ) yang tingkat energinya berbeda
bergabung membentuk orbital baru dengan tingkat energi yang sama guna membentuk ikatan kovalen. o Jenis-jenis orbital hibrida / hibridisasi :

1) Hibridisasi sp ( bentuk molekulnya = linier )
Contoh : Pada molekul BeF2
4Be 9F

= 1s2 2s2 2p0 = 1s2 2s2 2p5

Diagram orbital untuk atom Be dalam keadaan dasar :

1s

2s

2p

Oleh karena tidak ada elektron yang tidak berpasangan, maka dalam keadaan dasar atom Be tidak dapat berikatan dengan atom-atom F. Elektron pada orbital 2s akan mengalami “promosi” ke orbital 2p supaya dapat membentuk ikatan, sehingga menjadi :

1s

2s

2p

23

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

Atau bisa digambarkan :
promosi hibridisasi

1s

2s

2p

1s

2s

2p

1s

sp

2p

Sekarang terdapat 2 elektron Be yang tidak berpasangan, yang dapat digunakan untuk membentuk ikatan kovalen dengan 2 atom F. Kedua orbital 2s dan 2p dari atom Be akan “bergabung” membentuk 2 orbital baru yang disebut orbital hibrida. Kedua orbital hibrida ini mempunyai bentuk yang identik, tetapi memiliki arah yang berlawanan. Penulisan sp berasal dari penggabungan 1 orbital s dan 1 orbital p. Menurut teori Ikatan Valensi, molekul linier akan memiliki hibridisasi sp.

2) Hibridisasi sp2 ( bentuk molekulnya = trigonal planar atau segitiga datar )
Hibridisasi ini terbentuk apabila sebuah orbital s membentuk orbital campuran / gabungan dengan 2 buah orbital p. Contoh : Pada molekul BF3
5B 9F

= 1s2 2s2 2p1 = 1s2 2s2 2p5

Diagram orbital untuk atom B dalam keadaan dasar :

1s

2s

2p

Agar dapat berikatan dengan 3 atom F, maka atom B harus menyediakan 3 orbital dengan cara hibridisasi. Oleh karena elektron pada orbital 2s sudah berpasangan, maka agar dapat berikatan dengan atom F; sebuah elektron dari orbital 2s tersebut harus promosi ke orbital 2p yang masih kosong sehingga menjadi :

1s

2s

2p

Setelah orbital hibrida dengan elektron-elektron yang belum berpasangan terbentuk, elektronelektron dari ke-3 atom F akan berpasangan dengan elektron yang berada di orbital hibrida sp2.

Orbital hibrida sp2 (

warna biru = elektron dari atom F ).

1s

2s

2p

Atau bisa digambarkan :

1s

2s

2p

promosi

1s

2s

2p

hibridisasi

1s

sp2

2p

24

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

3) Hibridisasi sp3 ( bentuk molekulnya = tetrahedral / tetrahedron )
Contoh : Pada molekul CH4
6C 1H

= 1s2 2s2 2p2 = 1s1

Diagram orbital untuk atom C dalam keadaan dasar :

1s

2s

2p

Dapat digambarkan sebagai berikut :
promosi hibridisasi

1s

2s

2p

1s

2s

2p

1s

sp3

4) Hibridisasi sp3 d ( bentuk molekulnya = bipiramida trigonal )
Contoh : Pada molekul PCl5
15P

= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p3

Diagram orbital untuk atom P dalam keadaan dasar :

1s

2s

2p

3s

3p

Dapat digambarkan sebagai berikut :
3s 3p
promosi

3s

3p

3d

hibridisasi

sp3d

3d

5) Hibridisasi sp3 d2 ( bentuk molekulnya = oktahedral / oktahedron )
Contoh : Pada molekul SF6
16S

= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p4

Diagram orbital untuk atom S dalam keadaan dasar :

1s

2s

2p

3s

3p

Dapat digambarkan sebagai berikut :
promosi hibridisasi

3s

3p

3s

3p

3d

sp3d2

3d

Kesimpulan : Bentuk molekul dapat ditentukan dengan 2 cara :

1) Teori Domain Elektron

= ditentukan oleh susunan PEI dan PEB atom pusat. 25

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

2) Teori Hibridisasi = ditentukan oleh hibridisasi ( penggabungan ) orbital atom-atom yang saling
berikatan.

Kepolaran Senyawa. o o o o Kepolaran suatu senyawa kovalen dipengaruhi oleh perbedaan harga keelektronegatifan Semakin besar harga keelektronegatifan suatu unsur, maka unsur tersebut mempunyai Jika perbedaan harga keelektronegatifan atom-atom yang saling berikatan semakin Kepolaran juga dipengaruhi oleh bentuk molekulnya. Jika bentuk molekulnya atom-atom yang membentuk senyawa tersebut. gaya tarik yang lebih besar terhadap pasangan elektron ikatan. besar, maka molekul yang dibentuk akan semakin polar. menyebabkan atom-atom mempunyai posisi sedemikian rupa, sehingga menyebabkan dipol-dipol dalam ikatan atomnya saling meniadakan, maka momen dipolnya menjadi nol ( non polar ).

o

Senyawa yang distribusi muatannya simetris, akan bersifat non polar sebab dipol-dipol

ikatan yang ada akan saling meniadakan ( contoh = CO2, CCl4 dan CH4 ). Gaya Antar Molekul.  Adalah gaya yang dihasilkan dari interaksi antar senyawa, baik senyawa molekul maupun senyawa ion.


molekul H2O ).

Sedangkan gaya intra molekul adalah gaya tarik yang terjadi pada atom-

atom yang menyusun suatu senyawa molekul ( contoh = gaya tarik antara atom H dengan O dalam


molekul. 

Gaya antar molekul sifatnya lebih lemah jika dibandingkan dengan gaya intra Gaya antar molekul dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :

1) Gaya Van der Waals. Van der Waals mengetahui adanya gaya tarik dan gaya tolak yang lemah di antara molekulmolekul gas. Gaya ini bersifat sangat lemah jika dibandingkan dengan gaya ikatan antar atom ( ikatan ion dan ikatan kovalen ). Gaya ini akan bekerja / berlaku jika jarak antar molekulnya sudah sangat dekat, tetapi tidak melibatkan terjadinya pembentukan ikatan antar atom. 26

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

Gaya ini terdiri dari : a. Gaya dipol – dipol. Gaya ini akan terjadi jika sesama senyawa kovalen polar saling berinteraksi. Senyawa kovalen polar memiliki 2 dipol yaitu dipol positif ( δ+ ) dan dipol negatif ( δ- ). Antar aksi antara dipol ( + ) dari 1 molekul dengan dipol ( – ) dari molekul yang lain akan menimbulkan gaya tarik yang relatif lemah. Kekuatan gaya tarik dipol-dipol ini akan semakin besar jika molekul-molekul tersebut mengalami penataan dengan ujung ( + ) suatu molekul mengarah ke ujung ( - ) dari molekul yang lain. Contoh : pada molekul-molekul HCl.
δ+ δ+

δδ+ δ+

δδδ+

δ-

δ-

b.

Gaya dipol sesaat – dipol terinduksi / terimbas ( Gaya London / gaya

dispersi ). Jenis gaya ini umumnya dimiliki oleh senyawa kovalen non polar. Berbeda dengan senyawa kovalen polar, senyawa kovalen non polar tidak memiliki dipol. Menurut Fritz London, terjadinya gaya dispersi pada molekul non polar diakibatkan oleh adanya pergerakan elektron mengelilingi inti atom secara acak, sehingga pada suatu saat elektronelektron tersebut akan mengumpul pada salah 1 sisi atom dari molekul. Pengumpulan elektron pada salah 1 sisi atom ini akan mengakibatkan terjadinya dipol sesaat. Pada sisi yang banyak elektron akan menjadi bermuatan ( - ), sedangkan pada sisi yang lain menjadi bermuatan ( + ). Dipol yang terjadi ini akan segera menghilang atau berpindah tempat ( sisi ) seiring dengan terus berputarnya elektron. Jika di dekat molekul non polar tersebut ada molekul non polar lainnya, maka molekul non polar dengan dipol sesaat ini akan menginduksi / mengimbas molekul non polar lainnya sehingga terjadi dipol terinduksi / terimbas. Akibatnya, kedua molekul tersebut akan saling berinteraksi melalui gaya tarik-menarik antara dipol sesaat dengan dipol terinduksi / terimbas. Kemudahan suatu molekul untuk menghasilkan dipol sesaat yang dapat mengimbas ke molekul di sekitarnya disebut polarisabilitas. Semakin banyak jumlah elektron dalam atom maka semakin besar pula polarisabilitasnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar Mr-nya maka gaya London yang bekerja dalam molekul tersebut akan semakin kuat. Contoh :

27

www.nuklir.co.nr
Gaya London

www.qmia.co.nr

-

+

-

+

-

+

He

He

He

c.

Gaya dipol – dipol terinduksi ( gaya imbas ).

Jika suatu molekul polar berdekatan dengan molekul non polar maka molekul polar dapat menginduksi molekul non polar. Akibatnya, molekul non polar tersebut akan memiliki dipol terinduksi / dipol sesaat karena elektron-elektronnya akan mengumpul pada salah 1 sisi molekul ( terdorong atau tertarik ). Dipol dari molekul polar akan saling tarik-menarik dengan dipol terinduksi dari molekul non polar. Gaya tarik inilah yang disebut dengan gaya dipol-dipol terinduksi ( gaya imbas ). Contoh : antara molekul HCl dengan gas klorin ( Cl2 )
δ+ H Cl Molekul polar menjadi δ+ H δ+ Cl

δ-

Cl

Cl

Awan elektron

δ-

Cl
2

δ-

Dipol δ+ H

Dipol terinduksi δ+ Gaya Imbas

δ-

Cl

Cl
2

δ-

d.

Gaya ion – dipol.

Gaya jenis ini terjadi antara senyawa ion dan senyawa kovalen polar. Ketika dilarutkan dalam senyawa kovalen polar, senyawa ion akan terionisasi menjadi kation dan anion. Kation akan tarik-menarik dengan dipol negatif, sedangkan anion dengan dipol positif. δ+ δδ+ δδδ+ δδ+ δδ+
Molekul polar

+
Kation

Anion

δ+ δδ+ δMolekul polar

e.

δδ+ Molekul Gaya ion – dipol Molekul sesaat.
polar polar

Mekanisme terjadinya gaya ini dapat dikatakan kombinasi dari proses terjadinya gaya dipoldipol terinduksi dan gaya ion-dipol. Jika ion dari senyawa ion berdekatan dengan molekul non polar, ion tersebut dapat menginduksi dipol molekul non polar. Dipol terinduksi molekul non polar yang dihasilkan akan berikatan dengan ion.

28

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

Jenis gaya seperti ini memegang peranan penting dalam sirkulasi darah dalam tubuh. Ion Fe2+ dalam hemoglobin akan mengalami gaya ion-dipol sesaat dengan molekul O2. kation Fe2+ akan menginduksi molekul O2 yang bersifat non polar, kemudian dipol terinduksi yang dihasilkan akan berikatan dengan kation Fe2+

+
Kation Menjad i

O O
Awan elektron

+
Kation

δδ+
Dipol terinduksi

Kekuatan gaya Van der Waals dipengaruhi oleh : 1) Kerumitan bentuk molekul. Gaya antar molekul bekerja pada jarak yang sangat dekat. Semakin dekat jarak antar molekul semakin kuat gaya antar molekul tersebut. Oleh karena itu, molekul-molekul yang bentuknya sederhana akan mempunyai gaya antar molekul yang lebih kuat daripada yang bentuknya rumit. 2) Ukuran molekul. sangat jauh dari inti sehingga pergerakan elektronnya bisa lebih leluasa Molekul-molekul yang berukuran besar akan mudah mengalami dipol sesaat, sebab elektronelektronnya dibandingkan pada molekul yang berukuran kecil.

2) Ikatan hidrogen. Adalah ikatan antar molekul yang sangat polar. Ikatan ini terbentuk antara atom H dari molekul yang 1 dengan atom lain yang sangat elektronegatif ( dari molekul lainnya ) yaitu atom N, O dan F. Ikatan ini relatif lebih kuat daripada ikatan Van der Waals dan mempunyai arah yang jelas. Ikatan-ikatan F - H, O - H dan N - H bersifat sangat polar dan gaya antar dipol yang bekerja di antara molekul-molekul senyawa NH3, H2O dan HF cukup kuat.

O

O

H

H O

H

H
ikatan hidrogen ikatan kovalen
ik n k a n ata ov le

H
O

H
O

H

F

H

F

H

F

H

H

H

H

ik an h ro e at id g n ik an y g t rja i p a m k l H at an e d ad ole u F

ikatan yang terjadi pada m olekul air

Pengaruh gaya antar molekul terhadap sifat fisika. 29

www.nuklir.co.nr

www.qmia.co.nr

a.

Pengaruh ikatan hidrogen terhadap titik didih dan titik leleh.

Ikatan hidrogen akan menyebabkan tingginya titik didih dan titik leleh suatu molekul. Selain dipengaruhi oleh kekuatan ikatan hidrogen (keelektronegatifan), titik didih dan titik leleh juga dipengaruhi oleh jumlah / banyaknya ikatan hidrogen yang terdapat pada suatu molekul. Contoh : titik didih air, lebih tinggi dibandingkan titik didih HF meskipun kekuatan ikatan hidrogen H – F > H – O. Hal ini disebabkan karena jumlah ikatan hidrogen pada molekul air > dibanding jumlah ikatan hidrogen pada molekul HF. b. Pengaruh gaya London terhadap titik didih dan titik leleh.

Kekuatan gaya London berbanding lurus dengan titik didih dan titik leleh. Demikian juga semakin besar harga Ar atatu Mr, semakin tinggi titik didih dan titik lelehnya. Kesimpulannya : semakin besar harga Ar atau Mr, maka kekuatan gaya London akan semakin besar. c. Pengaruh gaya antar molekul terhadap wujud gas nitrogen.

Antar molekul N2 berinteraksi 1 sama lain pada suhu rendah melalui gaya antar molekul yang sangat lemah. Hal ini menyebabkan gas nitrogen berwujud cair pada suhu rendah, sedangkan pada suhu tinggi gaya antar molekul tidak mampu mempertahankan jarak antar molekul N2 agar tetap berdekatan. Akibatnya, gas N2 berubah wujud menjadi gas. d. Pengaruh gaya antar molekul terhadap kekentalan cairan.

Semakin kuat gaya antar molekul, maka zat akan semakin sulit mengalir sehingga kekentalannya semakin tinggi. Kekentalan suatu zat akan berkurang jika dipanaskan. Kenaikan suhu akan memperbesar jarak antar molekul sehingga kekuatan gaya antar molekul dan kekentalan akan berkurang.

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->