PENGARUH NEGATIF PEMANASAN GLOBAL BAGI KELANGSUNGAN

HIDUP EKOSISTEM TERUMBU KARANG

Diajukan sebagai tugas mata kuliah Bahasa Indonesia

Oleh:
Muhammad Bakhtiar

230210070048

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2007

ABSTRAK
Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat bermanfaat bagi
kehidupan berbagai organisme laut lainnya. Banyak ikan maupun biota laut lainnya
yang mencari makan dan hidup pada ekosistem ini. Tidak hanya itu, terumbu karang
pun mampu memberikan manfaat bagi manusia, di antaranya sebagai sumber mata
pencaharaian para nelayan dan juga sebagai objek wisata.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa terumbu karang dan beberapa biota
laut lainnya, seperti plankton, rumput laut, padang lamun, dan sebagainya, mampu
mengurangi emisi gas rumah kaca, dikarenakan biota laut tersebut memiliki
kemampuan untuk menyerap karbon yang sebagian besar digunakan untuk proses
fotosintesis.
Namun di tengah-tengah ancaman pemanasan global yang kian meningkat,
banyak pakar yang menyatakan bahwa proses ini akan memberikan pengaruh yang
sangat buruk bagi kelangsungan hidup ekosistem terumbu karang. Dan secara tidak
langsung hal ini akan memengaruhi kehidupan organisme laut lainnya yang
menggantungkan hidupnya pada terumbu karang.
Pemanasan global bisa mendorong proses bleaching (pemutihan) pada
terumbu karang. Selain itu, efek dari pemanasan global pun dapat merusak dan
menghancurkan fisik dari terumbu karang itu sendiri. Walau demikian, belum
terlambat bagi kita dan seluruh negara yang ada di dunia ini untuk menyelamatkan
ekosistem terumbu karang dan biota laut lainnya, bahkan bumi ini sekali pun, dari
dampak negatif yang dapat terjadi ekibat pemanasan global. Masih banyak upaya
yang bisa kita lakukan bersama untuk mengurangi emisi karbon penyebab pemanasan
global.

KATA PENGANTAR
Segala puji serta syukur kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala
atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengaruh Negatif Pemanasan Global Bagi
Kelangsungan Hidup Ekosistem Terumbu Karang”.
Terumbu karang yang seyogyanya dapat mengurangi efek pemanasan global
ternyata tak akan berarti lagi apabila pemanasan global telah mencapai tingkat yang
tinggi. Bahkan sebaliknya, pemanasan global tersebut bisa merusak dan mematikan
terumbu karang.
Melalui makalah ini penulis berharap untuk memberikan informasi kepada
pembaca mengenai dampak buruk yang dapat diakibatkan oleh pemanasan global
bagi kehidupan terumbu karang beserta solusi untuk pencegahannya.
Penulis sadar bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu
penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam penulisan makalah ini
terdapat berbagai kekurangan dan kekhilafan.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis
khususnya dan para pembaca pada umumnya.

Jatinangor, Desember 2007

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Judul....................................................................................................... i
Abstrak................................................................................................................... ii
Kata Pengantar...................................................................................................... iii
Daftar Isi................................................................................................................. iv
Daftar Gambar....................................................................................................... v
Daftar Grafik.......................................................................................................... vi
Bab I

Pendahuluan............................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 1
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................. 1
1.4 Manfaat Penulisan............................................................................... 1
1.5 Metode Penulisan................................................................................ 2

Bab II Tinjauan Pustaka..................................................................................... 3
2.1 Klasifikasi Karang............................................................................... 3
2.2 Biologi Karang.................................................................................... 3
2.3 Reproduksi Karang.............................................................................. 4
2.4 Fungsi Terumbu Karang...................................................................... 6
2.5 Faktor-Faktor Pembatas Hidup Terumbu Karang............................... 6
2.6 Penyebab Pemanasan Global............................................................... 8
Bab III Hasil dan Pembahasan............................................................................ 13
3.1 Dampak Pemanasan Global................................................................. 13
3.2 Pengaruh Negatif Pemanasan Global Bagi Kehidupan Terumbu
Karang..................................................................................................
...............................................................................................................
16
3.3 Upaya Mengurangi Kerusakan Terumbu Karang Akibat Pemanasan
Global...................................................................................................
...............................................................................................................
20

Bab IV Penutup.....................................................................................................
...................................................................................................................
24
3.1 Kesimpulan..........................................................................................
...................................................................................................................
24
3.2 Saran....................................................................................................
...................................................................................................................
24
Daftar Pustaka.......................................................................................................
...................................................................................................................
25

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Terumbu karang sebagai tempat hidup organisme laut lainnya........... 6

Gambar 2. Terumbu karang yang mengalami pemutihan...................................... 20

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Variasi karbon dioksida selama 500 tahun terakhir................................ 9

Grafik 2. Variasi matahari selama 30 tahun........................................................... 12

Grafik 3. Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan
lingkungan yang stabil secara geologi..................................................................... 15

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut perkiraan yang didasarkan oleh berbagai hasil penelitian dari para
ilmuwan dan peneliti di seluruh belahan dunia, saat ini bumi kita berada dalam
bayang-bayang sebuah bencana alam yang sangat dahsyat, yaitu suatu proses yang
dinamakan pemanasan global.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang akan dibahas
dalam makalah ini adalah:
1. Apa saja dampak yang dapat ditimbulkan oleh pemanasan global (secara

umum)?
2. Apa pengaruh negatif pemanasan global bagi kehidupan ekosistem terumbu
karang?
3. Bagaimana cara mengurangi dampak negatif pemanasan global bagi
kehidupan ekosistem terumbu karang?
1.1 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui sejauh mana
pengaruh (negatif) yang ditimbulkan oleh pemanasan global bagi kelangsungan hidup
ekosistem terumbu karang sekaligus solusi pencegahannya.
1.2 Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada
masyarakat mengenai apa saja pengaruh negatif dari pemanasan global terhadap
kehidupan ekosistem terumbu karang serta cara pencegahan yang harus segera
dilakukan.
1.3 Metode Penulisan
1

Metode penulisan makalah ini menggunakan metode penelitian yang
dilakukan melalui penelusuran dan pengumpulan telaah pustaka yang sesuai dengan
masalah yang dikaji. Bahan kajian tersebut adalah data-data sekunder berupa hasil
penelitian dan informasi yang diperoleh dari berbagai media cetak maupun media
elektronik (internet).

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Karang
Karang keras merupakan istilah untuk kelompok karang yang memiliki
kerangka luar (eksoskeleton). Karang keras berdasarkan skeleton(kerangka karang)
menurut Veron (1986) diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum: Cnidaria
Kelas : Anthozoa
Subkelas: Hexacorallia
Ordo: Sclerectinia
Coenothecalia
Kelas : Hydrozoa
Ordo : Milleoporina
Styllasterina
Karang lunak atau Alcyonaria merupakan jenis coelenterata yang tidak kalah
penting peranannya dalam pembentukan terumbu karang. Jika ditinjau dari jumlah
jenis dan ukuran koloninya menempati urutan kedua setelah karang keras.
2.2 Biologi Karang
Menurut Suharsono (1996) karang termasuk binatang yang mempunyai sengat
atau lebih dikenal sebagai cnida (cnida=jelata) yang dapat menghasilkan kerangka
kapur didalam jaringan tubuhnya. Karang hidup berkoloni atau sendiri, tetapi hampir
semua karang hermatipik hidup berkoloni dengan berbagai individu hewan karang
atau polip (Nybakken, 1992).
Terbentuknya terumbu karang merupakan proses yang lama dan kompleks.
Proses diawali dengan terbentuknya endapan masif kalsium karbonat yang terutama
dihasilkan oleh oleh hewan karang dari filum Cnidaria, kelas anthozoa, ordo
Sclerectinia dengan sedikit tambahan alga berkapur dan organisme lain yang juga
1

menghasilkan kalsium karbonat yang disebut terumbu (Nybakken, 1992). Binatang
karang memperoleh nutrien utama dari alga yang bersimbiosis di dalamnya
(endosimbiotic algae) yaitu algae dari genus Gymnodium yang dikenal dengan
sebutan zooxanthellae. Algae ini hidup di dalam polip karang dan membutuhkan
cahaya matahari untuk berfotosintesis (Suharsono,1996).
Zooxanthellae memegang peranan penting dalam menjaga dan mendaur ulang
nutrien yang dihasilkan sebagai sisa metabolisme karang. Selama proses fotosintesis
oleh zooxanthellae, karang hermatipik mensekresikan dan mendepositkan karang dua
sampai tiga kali lebih cepat pada daerah terang dari pada daerah gelap (Veron,1986).
Karang lunak dalam ekosistem terumbu karang menempai urutan kedua
setelah karang keras. Peranannya selain sebagai salah satu hewan penyusun ekosistem
terumbu karang, juga sebagai pemasok senyawa karbonat yang berguna bagi
pembentukan terumbu. (Konishi in Manuputty,1990). Tubuh Alcyonaria lunak, tetapi
disokong oleh sejumlah besar duri-duri berukuran kecil, kokoh, dan tersusun
sedemikian rupa hingga tubuh Alcyonaria lentur dan tidak mudah putus. Duri-duri ini
mengandung kalsium karbonat dan disebut spikula. Sepintas hewan ini tampak seperti
tumbuhan karena bentuk koloninya yang bercabang-cabangseperti pohon dan melekat
pada substrat yang lunak.
Karang lunak dapat melumpuhkan hewan-hewan di sekitarnya yang terutama
karang keras dalam berkompetisi mempertahankan ruang lingkupnya. Mekanisme
mematikan dilakukan dengan cara mengeluarkan zat beracun yang terdiri dari
senyawa terpen. Belakangan senyawa ini dapat digunakan dalam bidang farmasi
sebagai antibiotik, anti jamur, dan senyawa anti tumor, sedang bagi karang lunak itu
sendiri sebagi penangkal serangan predator, dan berperan dalam proses reproduksi
(Coll dan Sammarco in Mannuputty,1986).
2.3 Reproduksi Karang
Reproduksi hewan karang dapat terjadi secara seksual maupun nonseksual.
Proses reproduksi seksual dimulai dengan pembentukan klon gamet sampai
terbentuknya gamet masak, proses ini disebut sebagai gametogenesis. Gamet yang
2

masak kemudian akan dilepaskan dalam bentuk planula. Planula yang telah lepas
akan berenang bebas dalam perairan. Dan bila mendapati tempat yang cocok, ia akan
menetap di dasar/substrat dan berkembang menjadi koloni baru. Karang dalam
melakukan pembuahan ada yang di luar tubuh induknya (pembuahan eksternal) dan
ada yang di dalam tubuh induknya (pembuahan internal) (Nybakken, 1992).
Reproduksi aseksual karang dilakukan dengan cara membentuk tunas. Tunas
ini biasanya akan tumbuh di permukaan bagian bawah atau pada bagian pinggir
koloni karang. Tunas baru akan tetap melekat hingga ukuran tertentu sampai dapat
melepaskan diri dan menjadi individu baru. Pembentukan tunas ini dapat terjadi dapat
dilakukan dengan cara pertunasan intratentakular, yaitu pembentukan individu baru
dalam didalam individu lama, sedangkan pertunasan ekstratentakuler merupakan
pembentukan individu baru di luar individu lama (Suharsono, 1987).
Reproduksi karang lunak dapat secara seksual maupun aseksual. Reproduksi
seksual karang lunak dilakukan dengan cara kawin. Seabagian besar karang lunak
bersifat dioceous (kelamin jantan dan betina letaknya terpisah). Sel-sel kelamin
berasal dari lapisan endodermis, terdapat di rongga gastrovaskulaer berupa
gelembung-gelembung kecil bertangkai dan melekat pada septa. Alat kelamin
terdapat pada septa sulkal yang berjumlah 6 buah, sedang dua septa lainnya steril.
Telur yang telah matang melekat pada septa dan dilapisi gastrodermis yang tipis.
Fertilisasi dapat terjadi secara internal ataupun eksternal. (Manuputty,1986)
Reproduksi aseksual pada karang lunak dapat dilakukan dengan dengan
membentuk tunas. Polip karang lunak berhubungan satu sama lainnya melalui saluran
yang disebut jarring-jaring solenia yang terdapat di bagian basal tubuhnya. Polip baru
muncul dalam jaringan solenia ini sebagi polip sekunder yang bentuk dan ukurannya
berbeda dengan polip primer.

2.4 Fungsi Terumbu Karang

2

Ekosistem terumbu karang mempunyai nilai penting bukan hanya dari sisi
biologi, kimia, dan fungsi fisik saja, namun juga dari sisi sosial dan ekonomi.

Fungsi biologis terumbu karang adalah sebagai tempat bersarang, mencari
makan, memijah, dan tempat pembesaran bagi berbagai biota laut.

Fungsi kimia terumbu adalah sebagai pendaur ulang unsur hara yang paling
efektif dan efisien. Terumbu karang juga potensial sebagai sumber nutfah
bahan obat-obatan.

Fungsi fisik terumbu adalah sebagai pelindung daerah pantai, utamanya dari
proses abrasi akibat adanya hantaman gelombang.

Berdasarkan fungsi sosialnya terumbu merupakan sumber mata pencaharian
bagi nelayan dan juga memberikan kesenangan sebagai objek ekotourism.

Gambar 1. Terumbu karang sebagai tempat hidup organisme laut lainnya

2.5 Faktor-Faktor Pembatas Hidup Terumbu Karang
Pertumbuhan terumbu karang dibatasi oleh beberapa faktor, di antaranya
adalah suhu, salinitas, cahaya, arus, dan gelombang.

➢ Suhu

3

Sacara geografis, suhu membatasi sebaran karang. Suhu optimum untuk
terumbu adalah 25°C – 30°C (Soekarno et al, 1983). Suhu memengaruhi
tingkah laku makan karang. Kebanyakan karang akan kehilangan kemampuan
untuk menangkap makanan pada suhu diatas 33,5°C dan dibawah 16°C
(Mayor, 1918 in Supriyono,2000). Pengaruh suhu terhadap karang tidak saja
yang ekstrim maksimum dan minimum saja, namun perubahan mendadak dari
suhu alami sekitar 4°C – 6°C di bawah atau di atas ambient dapat mengurangi
pertumbuhan karang bahkan mematikannya.

➢ Salinitas
Salinitas merupakan faktor pembatas kehidupan karang. Daya setiap jenis
karang berbeda-beda tergantung pada kondisi laut setempat. Karang
hermatipik adalah organisme laut sejati yang sangat sensitif terhadap
perubahan salinitas yang jelas menyimpang terhadap salinitas air laut, yaitu
320/oo - 350/oo. Binatang karang hidup subur pada salinitas air laut 340/oo 360/oo. Karang yang hidup di laut dalam jarang atau hampir tidak pernah
mengalami perubahan salinitas yang cukup besar sedang yang hidup di
tempat-tempat dangkal sering dipengaruhi oleh masukan air tawar dari pantai
maupun hujan sehingga terjadi penurunan salinitas perairan.

➢ Cahaya
Cahaya diperlukan oleh alga simbiotik zooxanthellae dalam proses
fotosintesis guna memenuhi kebutuhan oksigen biota terumbu karang
(Nybakken, 1992). Tanpa cahaya yang cukup, laju fotosintesis akan berkurang
dan kemampuan karang menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu
akan berkurang pula. Kedalaman penetrasi cahaya matahari memengaruhi
pertumbuhan karang hermatipik, sehingga dapat memengaruhi penyebarannya
(Sukarno,1977 in Jimmi, 1991). Jumlah spesies berkurang secara nyata pada
kedalaman penetrasi cahaya sebesar 15-20% dari penetrasi cahaya permukaan
yang secara cepat menurun mulai dari kedalaman 10m (Stoddart in Endean,
1976 in D’elia et al.,1991).

➢ Sedimentasi
3

Pengaruh sedimentasi terhadap hewan karang dapat terjadi secara langsung
maupun tidak langsung. Sedimen akan mematikan langsung karang bila
ukuran sedimen cukup besar atau banyak sehingga menutup polip karang.
Pengaruh tidak langsung adalah menurunnya penetrasi cahaya matahri yang
penting untuk proses fotosintesis zooxanthellae. Selain itu banyaknya energi
yang dikeluarkan oleh binatang karang tersebut untuk menghalau sedimen
mengakibatkan turunnya laju pertumbuhan karang.

Arus dan Gelombang.
Pertumbuhan karang di daerah berarus lebih baik bila dibandingkan dengan
perairan yang tenang (Nontji, 1987). Umumnya terumbu karang lebih
berkembang pada daerah yang bergelombang besar. Selain memberikan
pasokan oksigen bagi karang, gelombang juga memberi plankton yang baru
untuk koloni karang. Selain itu gelombang sangat membantu dalam
menghalangi pengendapan pada koloni karang. Sebaliknya, gelombang yang
sangat kuat, seperti halnya gelombang tsunami, dapat menghancurkan karang
secara fisik.

2.6 Penyebab Pemanasan Global
1. Efek Rumah Kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian
besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya
tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi
panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas
dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra
merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap
di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air,
karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas
ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi
dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi
berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
3

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan
semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas
yang terperangkap di bawahnya.
Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk
hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin
(mencapai -180 C) sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi,
akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi
akibatnya.

Grafik 1. Variasi karbon dioksida selama 500 tahun terakhir

2. Efek Umpan Balik
Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh
berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada
penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca
seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang
menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan
akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu
kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar
bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini
meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir
konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik

3

ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang
panjang di atmosfer.
Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek
penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra
merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya
bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi
infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek
netto-nya pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu
seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan
dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan
jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500
km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat).
Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan
dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam
semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan
cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat
kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya
es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air
memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan
es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan
menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi
suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah
beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap
pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga
menimbulkan umpan balik positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia
menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona

2

mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang
merupakan penyerap karbon yang rendah.
3. Variasi Matahari
Terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa variasi dari matahari, dengan
kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam
pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek
rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas matahari akan memanaskan stratosfer
sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer
bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila
aktivitas matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan
ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut
terjadi mulai akhir tahun 1970-an). Fenomena variasi matahari dikombinasikan
dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari
masa praindustri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi matahari
mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University
mengestimasikan bahwa matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50%
peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 2535% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model
iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek
gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh matahari, mereka juga
mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga
telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan
dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh matahari sekalipun,
sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan
oleh gas-gas rumah kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss
menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat
"keterangan" dari matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus matahari hanya
3

memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama 32
tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemanasan global.
Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada
hubungan antara pemanasan global dengan variasi matahari sejak tahun 1985, baik
melalui variasi dari output matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.

Grafik 2. Variasi matahari selama 30 tahun

2

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Dampak Pemanasan Global
Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi,
dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model
tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak
pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian,
kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.
1. Cuaca
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian
Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari
daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan
akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut.
Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan
mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju
akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih
panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan
cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang
menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut
malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini
disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan
meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak
juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya
matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses
pemanasan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara ratarata, sekitar 1% untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh

1

dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan
menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya
beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup
lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang
memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan
dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan
terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
2. Tinggi Muka Laut
Ketika atmosfer menghangat,

lapisan permukaan lautan juga akan

menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan
laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar
Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh
dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan
IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah
pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda,
17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai,
dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir
akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan
dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara
miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi
ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari
rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi
tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini
akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.

2

Grafik 3. Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah
dengan lingkungan yang stabil secara geologi.

3. Pertanian
Orang mungkin beranggapan bahwa bumi yang hangat akan menghasilkan
lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di
beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat
keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain
pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak
dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gununggunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin,
yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan
masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan
penyakit yang lebih hebat.
4. Hewan dan Tumbuhan
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek
pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan
global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan.
Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat
lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan
menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan
yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati.
Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub
mungkin juga akan musnah.

2

5. Kesehatan Manusia
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek
pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan
global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan.
Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat
lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan
menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan
yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati.
Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub
mungkin juga akan musnah.
3.2 Pengaruh Negatif Pemanasan Global Bagi Kehidupan Terumbu Karang
Seperti telah kita ketahui bersama dari penjelasan pada bab sebelumnya
bahwa kelangsungan hidup ekosistem terumbu karang dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu sebagai berikut:

Suhu

Salinitas

Cahaya

Sedimentasi

Arus dan Gelombang
Sedangkan apabila pemanasan global ini terus berlangsung, maka akan

menimbulkan berbagai dampak, salah satunya adalah perubahan tinggi permukaan
lautan sebagaimana telah disebutkan di atas.
Hal ini berarti akan mengubah formasi lautan beserta seluruh biota laut yang
hidup di dalamnya. Dengan demikian, secara tidak langsung pemanasan global akan
memengaruhi proses kehidupan terumbu karang. Dan dapat dipastikan bahwa hal
tersebut menimbulkan akibat yang buruk bagi kelangsungan hidup terumbu karang.
Pemanasan global yang mengubah tinggi permukaan laut (menjadi semakin
naik/tinggi) akan memengaruhi segala faktor yang merupakan pembatas kehidupan
3

ekosistem terumbu karang. Adapaun penjelasan mengenai pengaruh-pengaruh
tersebut adalah sebagai berikut.
1. Suhu
Ketika atmosfer menghangat,

lapisan permukaan lautan juga akan

menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan
laut. Sementara itu, suhu yang optimum bagi terumbu karang untuk dapat
melangsungkan hidupnya berkisar antara 25°C-30°C. Dengan naiknya suhu air maka
akan mengurangi bahkan menghilangkan kemampuan sebagian besar terumbu karang
untuk memeroleh makanan.
Di sisi lain, pemanasan global diperkirakan akan mengakibatkan mencairnya
es yang berada di kutub, terutama di daerah Greenland. Bila hal ini terjadi, maka
volume laut pun akan bertambah dan bisa mendinginkan air laut di daerah sekitarnya.
Peristiwa ini pun akan memengaruhi kehidupan ekosistem terumbu karang di daerah
tersebut. Ini disebabkan terumbu karang akan kehilangan kemampuan menangkap
makanan bila suhu lautan berada pada angka kurang dari 16°C.
Perkiraan di atas didasarkan pada suatu penelitian yang menyebutkan bahwa
perubahan suhu alami, baik yang ekstrim (maksimum dan minimum) maupun secara
mendadak, di bawah atau di atas suhu optimumnya dapat mengurangi pertumbuhan
karang bahkan mematikannya.
2. Salinitas
Dengan adanya pemanasan global, lapisan permukaan lautan akan menjadi
hangat, sealin itu es yang berada di kutub, terutama bagian utara (Greenland) akan
mencair, sehingga volume air di lautan akan meningkat (bertambah).
Dengan bertambahnya volume air laut, maka tentunya akan terjadi perubahan
salinitas (kadar garam) di laut tersebut. Perubahan yang terjadi yaitu menurunnya
salinitas lautan karena volume airnya yang besar sedangkan volume senyawa
penyususn garam yang terlarut dalam air laut tersebut tidak mengalami penambahan,
khususnya di daerah perairan dangkal yang merupakan habitat bagi sebagian besar
2

ekosistem terumbu karang. Adanya penurunan salinitas tersebut akan mengakibatkan
terumbu karang (yang hidup subur pada salinitas 340/oo-360/oo) mengalami kesulitan
dalam proses pertumbuhannya sehingga dalam jangka waktu tertentu terumbu karang
tersebut akan mati.
3. Cahaya
Bertambahnya volume dan meningkatnya tinggi permukaan air laut akan
memengaruhi kedalaman penetrasi cahaya matahari menjadi semakin berkurang.
Cahaya diperlukan oelh alga simbiotik zooxanthallae dalam proses fotosintesis guna
memenuhi kebutuhan oksigen terumbu karang.
Dengan berkurangnya kedalaman penetrasi cahaya, maka laju fotosintesis
akan menurun dan kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat
pembentuk terumbu akan menurun pula. Sehingga ekosistem terumbu karang (pada
kedalaman 10 meter atau lebih) akan mengalami penurunan produktifitas dengan
cepat dan dapat menyebabkan kematian.
4. Arus dan Gelombang
Pada dasarnya pertumbuhan terumbu karang yang berada di daerah berarus
akan lebih baik apabila dibandingkan dengan pertumbuhan terumbu karang yang
hidup di perairan tenang. Ini disebabkan selain gelombang air laut dapat memberikan
pasokan oksigen yang banyak, gelombang juga membawa plankton yang baru untuk
koloni karang, serta dapat menghalangi pengendapan pada koloni karang.
Namun

apabila

pemanasan

global

terus

berlanjut,

keadaan

yang

menguntungkan tersebut akan berbalik 180 derajat menjadi kerugian yang sangat
besar bagi ekosistem terumbu karang. Sebab dengan bertambahnya volume lautan,
akan mengakibatkan air laut meluap sehingga terjadilah gelombang pasang yang
sangat dahsyat.
Selain itu potensi untuk terjadinya badai akan semakin meningkat. Badai
berkekuatan tinggi ditambah dengan faktor lainnya yang dapat timbul akibat

2

pemanasan global (semisal pergeseran lempeng bumi) akan mengakibatkan terjadinya
tsunami dengan kekuatan penghancur yang tak dapat dibayangkan.
Munculnya gelombang pasang maupun tsunami akan merusak kondisi fisik
terumbu karang, bahkan bukan tidak mungkin terumbu karang tersebut akan hancur
dan ikut terseret gelombang. Dengan adanya peristiwa tersebut, sudah tentu
ekosistem terumbu karang akan semakin berkurang bahkan musnah.
5. Sedimentasi
Gelombang pasang ataupun tsunami yang diakibatkan oleh pemanasan global
tentu akan mengakibatkan terangkutnya sedimen dari lautan ke daratan. Peristiwa ini
nampaknya membawa sedikit keuntungan bagi terumbu karang yang masih mampu
bertahan hidup setelah diterpa oleh gelombang dahsyat tersebut.
Namun hal terssebut tak akan berlangsung lama sebab gelombang gelombang
pasang tersebut dalam beberapa waktu kemudian akan kembali ditarik ke laut. Dan
kekuatan gelombang yang dahsyat tersebut akan membawa berbagai macam materi
dari daratan bersamanya. Sehingga pada saat kembali ke laut, sebagian materi-materi
dari daratan tersebut ada yang terhenti di daerah pesisir dan lautan dangkal, yang
kemudian meningkatkan jumlah sedimen di daerah tersebut.
Jumlah sedimen yang sangat banyak tersebut akan mengakibatkan tertutupnya
polip karang yang masih hidup sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis ataupun
menghasilkan kalsium karbonat sebagai pembentuk terumbu. Dalam jangka waktu
tertentu, ekosistem terumbu karang di daerah tersebut pun akan segera musnah.
Dari kelima penjelasan mengenai pengaruh pemanasan global terhadap
ekosistem terumbu karang di atas, kita dapat melihat adanya hubungan antara setiap
kemungkinan yang bisa terjadi. Dengan demikian, apabila terumbu karang tersebut
dapat terhindar dari bahaya yang pertama, masih ada bahaya-bahaya atau
kemungkinan-kemungkinan buruk lain yang mengancam kelangsungan hidupnya.
Dan secara umum, pemanasan global dapat mengakibatkan bleaching
(pemutihan) pada terumbu karang, yang berarti karang tersebut kehilangan
2

kemampuan untuk menangkap makanan dan melakukan fotosintesis. Dengan kata
lain terumbu karang tersebut telah mati.

Terumbu karang yang mengalami pemutihan

3.1 Upaya Mengurangi Kerusakan Terumbu Karang Akibat Pemanasan Global
Saat ini upaya yang paling tepat untuk mengurangi dampak negatif dari
pemanasan global terhadap kelangsungan hidup terumbu karang ialah dengan
melakukan tindakan-tendakan preventif guna memperkecil intensitas terjadinya
pemanasan global itu sendiri.
Banyak upaya yang tengah dilakukan untuk memperkecil dampak terjadinya
pemanasan global bagi segala aspek kehidupan di bumi. Bahkan PBB telah
membentuk suatu tim khusus yaitu UNFCCC yang bertugas untuk merundingkan dan
melaksanakan upaya pencegahan pemanasan global berkelanjutan bersama-sama
negara-negara yang ada di dunia ini.
Ada berbagai macam cara yang saat ini tengah diupayakan oleh berbagai
negara di dunia untuk mengurangi emisi karbon yang merupakan penyebab terjadinya
pemanasan global. Upaya-upaya tersebut di antaranya sebagai berikut.
1. Penghijauan Hutan
Hutan merupakan habitat bagi berbagai jenis tumbuhan. Tumbuhan
merupakan salah satu organisme yang mampu menyerap karbondioksida guna

2

memenuhi kebutuhannya untuk melakukan fotosintesis. Dengan kemampuannya itu,
tumbuhan dapat mengurangi emisi karbon yang bebas di udara.
Namun, saat ini banyak hutan di berbagai belahan dunia yang mengalami
kerusakan bahkan menjadi gundul, baik akibat ulah manusia maupun bencana alam.
Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan penghijauan sesegera mungkin terhadap
ekosistem hutan yang telah mengalami kerusakan, karena betapa besarnya manfaat
hutan untuk mengurangi dampak pemanasan global.
2. Perawatan dan Pemanfaatan Biota Laut
Beberapa biota laut seperti ganggang (algae), terumbu karang, padang lamun,
spora, rumput laut, hutan bakau (mangrove), dan plankton dapat membantu
menurunkan gas rumah kaca.
Berdasarkan hasil penelitian, ganggang memiliki kelebihan menyerap karbon,
begitu pula dengan terumbu karang maupun plankton. Ini berarri negara-negara yang
memiliki lautan luas, misalnya Indonesia, berpotensi besar dalam upaya mengurangi
emisi karbon. Namun kondisi ekosistem hutan bakau maupun terumbu karang di
Indonesia saat ini dalam kondisi yang kurang baik. Oleh karena itu, Indonesia dan
negara-negara lainnya harus mengupayakan perawatan terhadap ekosistem-ekosistem
tersebut sedini mungkin.
3. Mekanisme Penjualan Karbon
Secara sederhana, pengertian dari mekanisme penjualan karbon ialah kegiatan
menjual kemampuan pohon untuk menyerap sejumlah karbon yang dikandung di
atmosfer agar disimpan dalam biomassa pohon, dalam waktu yang ditentukan (Media
Indonesia, 8 Desember 2007). Ini merupakan upaya lanjutan dari penghijauan hutan.
Bahkan dari aspek kelautan pun diusulkan agar biota laut ikut dimasukkan dalam
mekanisme penjualan karbon ini.
Namun mekanisme penjualan karbon ini sangatlah rumit. Aturan jual beli
karbon harus dirundingkan dalam konferensi internasional dengan melibatkan banyak
pihak.
2

4. Pengolahan Limbah
Penumpukan sampah yang tidak diolah akan mengakibatkan gas metana yang
ada di dalam sampah bisa berpotensi menyumbang gas rumah kaca. Metana
merupakan salah satu zat kimia yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca.
Selain metana, ada beberapa zat kimia lainnya yang bisa menambah emisi karbon,
yakni karbondioksida, nitrogen oksida, hidrogen flour, nitrogen flour, dan SF6.
Dari kajian penelitian, metana dapat diolah menjadi energi biomassa yang bisa
dimanfaatkan untuk energi listrik. Dengan pengolahan gas metana menjadi energi
biomassa, maka akan sangat membantu dalam upaya mengurangi emisi gas rumah
kaca.
5. Carbon Capture and Storage (CCS)
Carbon Capture and Storage (CCS) adalah suatu metode pengurangan emisi
karbon yang dilakukan dengan cara menyuntikkan karbondioksida (CO2) ke perut
bumi (Media Indonesia, 10 Desember 2007). Teknologi CCS ini telah dipraktikkan
oleh beberapa negara maju seperti Inggris, Australia, dan Amerika Serikat. Namun
teknologi CCS tergolong mahal dan tidak semua negara bisa melakukan transfer
teknologi tersebut.
Kelima cara yang tengah diupayakan oleh sejumlah negara di dunia tersebut
hanyalah sebagian kecil dari berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan
emisi gas rumah kaca guna mengurangi dampak dari pemanasan global. Hingga saat
ini UNFCCC bersama puluhan negara maju dan berkembang masih terus mencari
solusi terbaik guna menurunkan emisi gas rumah kaca tersebut.
Upaya untuk mengurangi emisi karbon tidak harus dilakukan dengan metodemetode yang rumit dan luas seperti di atas. Masyarakat pun bisa turut andil dalam hal
ini, di antarany dengan menghemat pemakaian listrik maupun sarana dan prasarana
lainnya yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca.

2

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari berbagai uraian di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan, di
antaranya adalah sebagai berikut.
1. Pemanasan global dapat menimbulkan kerusakan dan kematian bagi
ekosistem terumbu karang.
2. Kerusakan tersebut dapat terjadi dari berbagai aspek yang menjadi faktor
pembatas hidup terumbu karang.
3. Dampak negatif pemanasan global bagi terumbu karang dapat dicegah dengan
menurunkan intensitas pemanasan global itu sendiri.
4. Upaya mengurangi dampak pemanasan global dapat dilakukan dengan
menurunkan emisi karbon melalui berbagai cara.
4.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan oleh penulis berkaitan dengan masalah ini
adalah:
1. Setiap

negara

hendaknya

memerhatikan

segala

aspek

yang

dapat

dimanfaatkan untuk mengurangi dampak pemanasan global.
2. Biota laut yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hendaklah dirawat
dan dipelihara sebaik-baiknya.
3. Pemerintah (setiap negara) harus memerhatikan upaya yang dilakukan untuk
mengurangi emisi karbon agar tidak merugikan masyarakat.
4. Masyarakat sebaiknya ikut andil dalam upaya mengurangi dampak pemanasan
global ini, salah satunya dengan melakukan penghematan energi.

3

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. http://www.google.images.com.
Anonim. http://id.wikipedia.org.
IPCC. (2007) Climate change 2007: the physical science basis (summary for policy
makers), IPCC.
Jones, C. Climate Change: Facts and Impacts [online]. Available from: What effects
are we seeing now and what is still to come?
Manuputty, a.e.n. 1986. Marine Biologiy, Environment, Diversity and Ecology.
Benjamin/Cumings Publishing Co.
Miller, C. and Edwards, P. N. (ed.)(2001) Changing the Atmosphere: Expert
Knowledge and Environmental Governance, MIT Press.
Nontji,A. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Nybakken,J,W. 1992. Biologi Laut satu Pendekatan Ekologis. (Terjemahan. Alih
bahasa oleh H.M Eidman). PT. Gramedia. Jakarta.
Ruddiman, W. F. (2003) The anthropogenic greenhouse era began thousands of
years ago, Climate Change 61 (3): 261-293.
Ruddiman, W. F. (2005) Plows, Plagues and Petroleum: How Humans Took Control
of Climate, Princeton University Press.
Ruddiman, W. F., Vavrus, S. J. and Kutzbach, J. E. (2005) A test of the overdueglaciation hypothesis, Quaternary Science Review, 24:11.

3

Schmidt, G. A., Shindel, D. T. and Harder, S. (2004) A note of the relationship
between ice core methane concentrations and insolation GRL v31 L23206.
Soekarno, Aziz, Darsono, Moosa, Hutomo, Martosewojo dan Romimohtarto. 1983.
Terumbu

karang

di

Indonesia:

Sumberdaya,

Permasalahan,

dan

Pengelolaannya. Proyek Studi Potensi Sumberdaya Alam Indonesia. Studi
Potensi sumberdaya hayati Ikan. LON-LIPI. Jakarta.
Suharsono, 1987, Jenis-jenis karang yang umum dijumpai di Perairan Indonesia.
LIPI. Jakarta.
Supriyono. 2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Penerbit Djambatan.
Jakarta.
Tim Redaksi. “Jual Beli Karbon Harus Perhatikan Lingkungan”. Media Indonesia, 8
Desember 2007, hal. 6.
Tim Redaksi. “Biota Laut Masuk Penjualan Karbon”. Media Indonesia, 9 Desember
2007, hal. 8.
Tim Redaksi. “Menyuntikkan CO2 Terhadang Biaya”. Media Indonesia, 10 Desember
2007, hal. 7.
Welbergen, J. A., Klose, S. M., Markus, N. & Eby, P. 2007 Climate change and the
effects of temperature extremes on Australian flying-foxes. Proceedings of the
Royal Society B, (in press) doi: 10/1098/rspb.2007/1385.

3

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful