P. 1
a Catatan Singkat Tentang Cara Merumuskan

a Catatan Singkat Tentang Cara Merumuskan

|Views: 79|Likes:

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Dec 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/04/2010

pdf

text

original

BEBEBERAPA CATATAN SINGKAT TENTANG CARA MERUMUSKAN KOMPILASI HUKUM ABS SBK1 Dr. Saafroedin BAHAR2 1.

Pengantar Sudah cukup lama dikumandangkan dan diyakini bahwa rumusan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah -- yang biasa disingkat sebagai ABS SBK – adalah jati diri Minangkabau. Walaupun demikian, ada kesulitan untuk menindaklanjutinya secara sungguh-sungguh, terencana, melembaga, dan berkelanjutan di dalam masyarakat, antara lain disebabkan oleh karena belum terdapatnya suatu rumusan yang jelas, terpadu, rinci, dan harmonis antara kedua sistem nilai sosial ini, yang beberapa bagiannya ditengarai ada yang belum sepenuhnya serasi satu sama lain3. Oleh karena itu telah terasa adanya kebutuhan untuk merumuskannya secara lebih persis. Dalam upaya merumuskan ABS SBK tersebut secara lebih konsisten dan koheren, ada sedikit kesulitan dengan komponen hukum adat Minangkabau. Sesuai dengan latar belakang filsafat dan sejarahnya, adat dan hukum adat Minangkabau sebagai unsur pertama dari ABS SBK ini selain tidak tertulis juga dirumuskan dalam bentuk pepatah petitih, yang untuk memahaminya diperlukan kearifan tersendiri4. Sebagai akibatnya, teramat sering sengketa adat, yang jumlahnya lumayan banyak5, tidak dapat diselesaikan pada tingkat kerapatan adat nagari, tetapi harus berujung di pengadilan negeri, bahkan sampai ke Mahkamah Agung6. Sementara itu, sejak tahun 1991, atas prakarsa Pemerintah Republik Indonesia telah selesai disusun Kompilasi Hukum Islam,yang memuat hukum syar’i yang telah dijadikan rujukan dalam mengadili perkara-perkara di Pengadilan Agama di seluruh Indonesia7. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa oleh karena sampai saat ini tidak – atau belum -- terbentuk hubungan yang bersifat sistemik dan institusional antara sistem hukum adat Minangkabau dan sistem hukum Islam, hampir tidak mungkin untuk mengharapkan akan tersusun dengan sendirinya suatu hukum ABS SBK yang terpadu di dalam masyarakat. Sudah barang tentu keadaan yang mendua tersebut banyak sedkitnya
1

2

3

4

5

6

7

Catatan sumbangan untuk Diskusi Panel Sejarah Perang Paderi 1803-1838 tanggal 22 Januari 2008 di Arsip Nasional, Jakarta. Ketua Dewan Penasehat Gebu Minang; Ketua Dewan Pakar Sekretariat Nasional Masyarakat Hukum Adat. Dalam wacana yang berkembang selama ini, masalah yang belum sepenuhnya serasi tersebut terdapat dalam hukum kekerabatan dan hukum waris. Oleh karena sosialisasi adat dan hukum adat Minangkabau ini belum dilakukan secara terencana dan berkelanjuta,, bisa terjadi bahwa tidak sama pemahaman antara penghulu yang satu dengan penghulu yang lain, khususnya yang baru saja diangkat menjadi penghulu di dalam kaumnya. Menurut catatan fihak pengadilan negeri, sebagian besar sengketa adat ini berkenaan dengan masalah warisan, terutama mengenai tanah pusako. Padahal Mahkamah Agung sendiri menginginkan agar sebelum beperkara, sengketa-sengketa agar dapat diselesaikan dahulu melahui mediasi. Uraian lengkap mengenai masalah sengketa adat ini dapat dibaca dalam disertasi Dr Keebet von Benda-Beckmann, Terjemahan Dr Indira Simbolon, 2000, Goyahnya Tangga Menuju Mufakat. Grasindo PT Gramedia Widiasarana Indonesia bekerjasama dengan KITLV, Jakarta. Sesuai dengan ajaran Islam, pasal-pasal yang terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam ini bersumber dari Al Quran, Hadist, Ijma’ dan Qiyas, tetapi dirumuskan dalam kalimat-kalimat yuridis yang akurat.

mempunyai pengaruh yang merugikan bagi keutuhan dan dinamika masyarakat Minangkabau. Suatu kenyataan dewasa ini, yang merisaukan [sebagian] pemuka masyarakat Minangkabau adalah tidak tertariknya lagi kaum muda Minangkabau untuk mendalami – apalagi untuk menghayati dan mengamalkan – ABS SBK ini. Seluruhnya itu berlangsung dalam derasnya pengaruh arus budaya global yang masuk sampai ke nagarinagari melalui bermacam media massa. Setelah mendalami kompleksitas masalah yang dihadapi oleh masyarakat hukum adat Minangkabau ini dalam Semiloka Hak Masyarakat Hukum Adat Minangkabau di Kampus Limau Manih, Padang, pada tanggal 18-21 Juni 2007, yang diselenggarakan bersama antara Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Mahkamah Konstitusi, dan Fakultas Hukum Universitas Andalas, pada saat ini telah ada kesediaan dari civitas academica Universitas Andalas untuk ikut membantu penyelesaian Kompilasi Hukum ABS SBK tersebut.8 2. Akar Masalah Sudah barang tentu dapat timbul pertanyaan apa sebabnya mengapa walaupun secara formal diinginkan, namun walaupun telah berlalu waktu demikian lama ternyata belum dapat disusun secara tertulis komponen adat dari ABS SBK ini. Menurut pendapat penulis, ada dua kemungkinan faktor penyebabnya, yaitu: a. Adat dan hukum adat Minangkabau secara normatif memang dirancang hanya berlaku untuk selingkar nagari, sehingga sebagai konsekuensinya tidak ada yang dapat disebut sebagai suatu ‘adat dan hukum adat Minangkabau’ sebagai suatu konsep yang menyeluruh. b. Sebagai konsekuensi dari akar masalah ad a tersebut di atas, masyarakat hukum adat Minangkabau tidak dapat mengembangkan struktur adat yang bersifat supra-nagari, sebagai forum atau wadah bersama untuk membahas dan mengambil keputusan mengenai masalah-masalah bersama, khususnya terhadap masalah-masalah yang timbul sebagai akibat perubahan zaman.9 3. Kebutuhan untuk Adanya Kompilasi Hukum ABS SBK. Proses globalisasi sudah merupakan kenyataan yang tidak dapat dibendung lagi, dan telah mempunyai dampak yang besar terhadap masyarakat Minangkabau, baik terhadap
8

9

Di antara pakar-pakar Unand yang telah besedia membantu penyusunan Kompilasi Hukum ABS SBK ini di bawah pimpinan Rektor Unand Prof Dr Ir Musliar Kasim antara lain adalah : Ilhamdi Taufik SH MH, Kurnia Warman SH MH, Bachtiar Abna SH MH, Dra Adriyetti Amir, SU, Dr Gusti Asnan.. Makalah lengkap dari Semiloka ini dapat dibaca dalam Republik Indonesia, 2008, Membangun Masa Depan Minangkabau dari Perspektif Hak Asasi Manusia, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, Komnas HA, dan Sekretariat Nasional Masyarakat Hukum Adat, Jakarta. Sejak abad ke 13 sampai abad ke 21 ini masyarakat hukum adat Minangkabau ini telah berjali-kali mengalami goncangan dari luar, seperti Operasi Pamalayu (1275), masuknya agama Islam (abad ke 16), Perang Paderi ( 1803-1838), gerakan Kaum Muda dan Tanam Paksa (abad ke 19), perlawanan terhadap kolonialisme, Perang Dunia Kedua, Perang Kemerdekaan Pertama dan Kedua, kemerosotan ekonomi pasba kemerdekaan, Pemberontakan PRRI, tekanan kaum komunis terhadap masyarakat di nagari-nagari pasca pemberontakan PRRI, goncangan akibat Pemberontakan G30S/PKI, dan krisis ekonomi tahun 1997, seluruhnya dalam abad ke 20. Terhadap goncangan dari luar ini, masyarakat Minangkabau tidak mempunyai lembaga bersama untuk membahas serta mengambil sikap, sehingga setiap warga masyarakat Minangkabau ini harus mencari memecahannya secara sendiri-sendiri saja.

sistem nilai maupun terhadap lembaga-lembaga sosial. Secara umum dapat dikatakan bahwa pimpinan masyarakat hukum adat Minangkabau tidak berhasil memberikan arahan, petunjuk, bahkan pimpinan terhadap demikian banyak masalah yang timbul dalam masyarakat, dan banyak bergantung kepada Pemerintah, baik Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat. Sementara itu, di tingkat Nasional sendiri, sejak tahun 1998 telah terjadi gerakan Reformasi. Bagi masyarakat hukum adat Minangkabau, ada dua makna penting dari gerakan Reformasi yaitu: 1) adanya jaminan konstitusional terhadak hak masyarakat hukum adat10, dan 2) semakin luasnya otonomi yang diserahkan oleh Pemerintah Pusat ke daerah-daerah. Dapat diperkirakan bahwa jika tidak mengadakan konsolidasi ke dalam, masyarakat hukum adat Minangkabau tidak akan siap, baik untuk memanfaatkan peluang yang terbuka oleh gerakan Reformasi nasional ini maupun untuk menangkal efek negative dari proses globalisasi. Suatu indikasi yang teramat jelas dalam hubungan ini adalah kenyataan bahwa sebagian besar warga masyarakat Minangkabau, khususnya yang berdiam di nagari-nagari, hidup dalam keadaan miskin dan terbelakang, dan juga sarat dengan sengketa adat. Salah satu langkah awal yang perlu dilakukan masyarakat hukum adat Minangkabau untuk mengadakan konsolidasi ke dalam ini adalah dengan merapikan norma yang melatar belakangi jati dirinya itu, yaitu ABS SBK. Pada saat ini ada dua aliran besar mengenai kandungan ABS SBK, yang dapat dinamakan sebagai aliran historis yang dianut oleh para pemangku adat11, dan aliran theologis, yang dianut oleh para pemuka agama12. Sampai sedemikian jauh, pada umumnya terlihat bahwa warga biasa masyarakat hukum adat Minangkabau menjaga jarak dengan posisi kedua belah fihak yang berseberangan ini. Upaya untuk mencari jalan keluar dari gejala jalan buntu ini diprakarsai oleh [sebagian] kaum Perantau, baik dalam Gebu Minang maupun melalui milis RantauNet. Momen untuk memulai langkah ke arah penyusunan Kompilasi Hukum ABS SBK ini terbuka dalam rangka diskusi panel Perang Paderi, khususnya oleh karena ABS SBK ini merupakan salah satu produk Perang Paderi ini. . Dua Pilihan Cara a. Cara Deduktif, yaitu berusaha menggali prinsip-prinsip umum tentang ABS ~SBK dari demikian banyak pepatah petitih serta dari demikian banyak ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi, untuk kemudian merumuskan fasal-fasal ABS secara akurat untuk Kompilasi Hukum ABS SBK.

4.

10

Jaminan konstitusional terhadap masyarakat hukum adat ini terdapat pada Pasal 18 B ayat (2) dan Pasal 28 I ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 serta Pasal 6 Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia. 11 Menurut aliran historis, oleh karena adat telah terlebih dahulu ada daripada agama Islam, maka norma dan tatanannya harus lebih utama dari norma agama Islam. Faham ini disampaikan secara amat lugas oleh H Bachtiar Abna SH MH Dt Rajo Suleman dari LKAAM Sumbar. 12 Menurut aliran theologi, oleh karena hukum syarak didasarkan kepada Al Quran dan Hadis, maka jika hukum adat bertentangan dengan hukum syarak maka hukum adat harus dikalahkan. Faham ini disampaikan secara lugas pula oleh Dra Rahimah Rahim, M.A, yang bemukim di Cairo, Mesir.

b. Cara Induktif, yaitu dengan menghimpun terlebih dahulu semacam Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) menganai masalah-masalah yang telah muncul atau diperkirakan akan muncul dalam kehidupan beradat dan beragama dari masyarakat hukum adat Minangkabau ini, untuk kemudian dirumuskan aturan hukumnya secara akurat satu demi satu. 5. Pertimbangan a. Terhadap Cara Deduktif. Dapat diperkirakan bahwa cara ini akan membuka peluang untuk perdebatan filsafati, perdebatan ideologi, serta perdebatan historis yang berkepanjangan, sehingga sebaiknya dihindari. b. Terhadap Cara Induktif. Dapat diperkirakan bahwa cara ini selain akan lebih mudah juga lebih dinamis, bukan saja oleh karena sudah ada Kompilasi Hukum Islam sejak tahun 1991, yang segera dapat diadopsi sebagai komponen pertama dari Kompilasi Hukum ABS SBK, tetapi juga oleh karena tidak akan terlalu sukar untuk mencari rumusan terhadap komponen hukum adatnya, baik dengan menghimpun keputusan-keputusan pengadilan terhadap rangkaian sengketa adat yang sudah ada, maupun dengan mengadakan musyawarah khusus untuk itu, berturur-turut pada tingkat nagari dan pada tingkat di atas nagari.

6.

Kesimpulan. Cara yang paling baik dalam menyusun Kompilasi Hukum ABS SBK adalah dengan cara induktif, yang terdiri dari tiga langkah besar, yaitu : pertama, secara formal mengadopsi Kompilasi Hukum Islam tahun 1991 sebagai bagian dari hukum ABS SBK, kedua: secara komprehensif dan dinamis menghimpun masalah-masalah hukum perdata yang sudah timbul dalam masyarakat hukum adat Minangkabau dan menyusunnya dalam satu Daftar Inventarisasi Masalah (DIM), dan ketiga, mencarikan rumusan yang akurat dari norma yang akan dianut dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada di dalam DIM tersebut.

Jakarta, 21 Januari 2008. SB:sb.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->