P. 1
Makalah MSI

Makalah MSI

|Views: 815|Likes:
Published by M. Sukma Rohim
ini adalah tugas dari mata kuliah kami
ini adalah tugas dari mata kuliah kami

More info:

Published by: M. Sukma Rohim on Dec 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2013

pdf

text

original

BAB II Pembahasan

1. Islam dan dunia kontemporer Sesunguhnya islam pun tak luput memperhatikan masalah modernisasi dan perkembangan. Disisi lain islam mencapai ketinggian derajad, karena senantiasa konsisten pada kemurnian ajaran atau penjagaan terhadap kemurnian peningalanpeningalan sejarahnya. Islam sangat menghargai kemodernan karena membuka lebarlebar untuk ilmu pengetahuan melalui ajakan untuk berpikir, merenung, berusaha serta berperadaban. Keterbukaan yang dimaksud islam adalah keterbukaan yang diatur dan terprogram berdasarkan nilai-nilai islami sehinga mampu membendung peleburan nilainilai islam kedalam nilai-nilai lain, Sehinga tidak berdampak pada penafsiran identitas islam sendiri. Peradaban barat atas prinsip metode experimen. Namun, Pada penerapanya Barat telah melampui hakikat peradaban yang syarat dengan pilar-pilar rahmat, persaudaraan yang manusiawi, keadilan yang distribusional, perhatian terhadap perbedaan unsur lahir, serta pendayagunaan kekayaan yang di anugerahkan Allah untuk kepentingan pembangunan, perbaikan, dan perdamaian. Kebudayaan barat telah menutup mata dari anugerah yang hakiki, bahkan mengingkari hubunganya dengan tuhan. Mereka tak perduli persoalaan ma’nawiyah dan hanya berkonsentrasi pada penguasaan alam dengan cara merusak, menciptakan peperangan dan mengadakan perlombabaan senjata. Pada kondisi kebudayaan dan masyarakat barat yang mengalami berbagai kegagalan, sebenarnya merupakan kesempatan islam untuk memacu kekuatan atau potensi islam dalam rangka memperkokoh penampilanya cepat atau lambat, islam akan berkembang dan meluas dalam peningkatan jumlah pemeluk, kekayaan, dan potensi masnyarakatnya. Dari sini, islam akan mampu membuktikan ketinggian peradaban dunianya. Dan dari sisi ini pula produk kebudayaan dan peradaban barat akan tumbuh dalam frame, manhaj, dan tangung jawab islam. Mereka akan mampu memahami siapa tuhanNya dan sadar atas anugerah-Nya. Mereka akan bersedia membangun mansyarakat. By Muhammad sukma rohim 26-11-2009 1

Berdasarkan nilai-nilai ketuhanan serta membentuk suatu peradaban yang manusiawi, mulia, dan toleran atas dasar persaudaraan, saling memberi dan penuh rahmat. a) Islam dan hak asasi Dalam artikel majalah al-Jazirah al-Arabiyah, edisi November 1985, Fathi Utsman mengatakan bahwa pemikiran Islam kontemporer tampak kabur dalam hal konsep hak asasi manusia (HAM). Jika setiap kali umat Islam dihadapkan pada pertanyaan tentang prestasi-prestasi spektakuler Revolusi Amerika dan Prancis pada abad ke-18, reaksi mereka sungguh kontradiktif dalam bentuk yang tidak jelas. Pada satu sisi, kita temukan di antara umat Islam terdapat para pemikir cemerlang, seperti Muhammad Asad dan Fathi Usman, walaupun mereka bukan mujaddid kontemporer-- mengemukakan masalah apa pun dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling, selama Islam dan logika masih sesuai dengan roh kontemporer. Di sisi lain, kita dapati penulis semacam Ogozan Symsik, dalam majalah Hicret edisi awal November 1985, menolak demokrasi dengan mengatakan, "Apa itu demokrasi? Lebih dari itu, negeri-negeri Islam tidak satu suara dalam melegalisasi HAM, baik yang berhubungan dengan Deklarasi Internasional HAM yang dikeluarkan oleh Badan Umum PBB (10 Desember 1948) atau dokumen-dokumen internasional. Hal itu khususnya yang menyangkut hak-hak pidana, politik, ekonomi, sosial, dan budaya (19 Desember 1966). Mesir, Irak, Yordania, Libanon, Mali, Maroko, Syria, dan Tunisia segera menjustifikasi secara semu terhadap dokumen-dokumen ini, sementara yang lainnya ragu-ragu. Di antara kelompok kedua, Arab Saudi dan Pakistan, sejak 1980 memainkan peranan penting dalam mengembangkan rancangan HAM yang Islami. Hal itu berpulang pada kenyataan bahwa konsep HAM Barat tidak sesuai dengan syariat Islam. Di antaranya hukuman terhadap orang-orang murtad, masalah persamaan hak antara wanita dan pria serta masalah non-muslim yang tidak boleh memegang kekuasaan tertinggi di negara Islam. Sebenarnya fikih Islam tidak dapat menutup mata terhadap adanya sistem perbudakan yang kini dilegalkan di berbagai tempat. Fikih juga hendaknya menyadari kenyataan, bahwa Al-Qur'an, dalam banyak ayat, mengelaborasi topik perbudakan.

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

2

Secara implisit, Al-Qur'an ingin membatasi praktiknya jika tidak menghapusnya sama sekali. Pada saat yang sama, kasus murtad adalah lebih sederhana dari yang dibayangkan, walaupun orang-orang murtad diperangi pada abad pertengahan. Sungguh, bila kita menengok surat al-Maa'idah:33, hal itu semestinya tidak ditakwil sebagai perubahan damai terhadap akidah agama. Akan tetapi, kita berkeyakinan bahwa sanksi yang disebutkan dalam Al-Qur'an, hanya ditegakkan karena pengkhianatan dan konspirasi jahat terhadap negara Islam. Ini adalah bentuk subversif, yaitu mayoritas negara-negara modern menjatuhkan hukuman mati. Mudah juga membela dengan logika akan pelarangan bagi non-muslim untuk memerintah di negara Islam, khususnya dalam kerangka perlindungan penuh yang dijamin oleh syariat Islam terhadap minoritas non-muslim, dan sebagainya. Sesuai dengan Undang-undang Amerika, maka anakku Alexander yang dilahirkan sebagai warga Amerika tidak bisa menjadi presiden Amerika Serikat karena ia dilahirkan di luar AS. Jika kaidah ini tidak dikatakan pelanggaran HAM, maka kita harus menerima dengan format yang sepadan perlindungan posisi-posisi strategis tertentu bagi umat Islam di negeri yang mayoritasnya muslim. Hal ini menuntutku kepada kontradiksi antara konsep Barat dan syariat Islam dalam bidang emansipasi wanita, karena tidak ada alasan mengingkari bahwa syariat Islam menawarkan antitesis (terhadap alternatif Barat) yang bertolak dari pembagian secara alamiah terhadap peran dan tugas masing-masing. Bertolak dari sini, syariat Islam memegang prinsip: persamaan dalam pergaulan tidak diterapkan, kecuali dalam situasi dan kondisi yang relevan, bukan dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Dalam segala kondisi, syariat Islam berusaha memelihara kehormatan wanita dan mencegah eksploitasi laki-laki atas kelemahan wanita dalam perbedaan biologis. Begitulah konsep Islam: persamaan dalam kemuliaan dengan perbedaan beban; persamaan dalam kedudukan dengan perbedaan peran; dan persamaan dalam nilai dengan perbedaan kemampuan. Tidaklah tepat jika memperbandingkan bahwa wanita karir di Barat, sebagai konsekuensi logis kebebasan yang mereka nikmati, telah berhasil mewujudkan keinginan dan kebahagian mereka, lebih dari yang bisa dicapai oleh saudari mereka yang di Timur. Banyak yang berpendapat selain itu. Walhasil, keraguan menggelayuti diriku terhadap

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

3

sistem hidup yang tidak bisa menjamin kehidupan yang mulia bagi wanita. Karena persoalan ini bergantung sepenuhnya pada interaksi seseorang dengan orang lain dan dirinya sendiri. Sesungguhnya, tolok ukur kebahagian adalah hati. Namun, ada satu hal yang seyogianya dihormati oleh para pengkritik dari Barat, yaitu umat Islam menjadikan Allah SWT sebagai Pemegang kata putusan terhadap apa yang berhubungan dengan HAM dan hal ini termaktub dalam Al-Qur'an. b) Islam dan teroris Terorisme : Adalah Penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, dalam usaha mencapai suatu tujuan (terutama tujuan politik). Teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut (biasanya untuk tujuan politik). Teror adalah perbuatan sewenang-wenang, kejam, bengis, dalam usaha menciptakan ketakutan, kengerian oleh seseorang atau golongan. Selanjutnya mari kita cermati dan kita tela’ah kembali ajaran Islam, agama yang diridlai Allah SWT, sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia yang sedang kita jalani sekarang ini, maupun kebahagiaan hidup yang haqiqi di akhirat kelak. Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW dengan membawa agama Islam di tengah-tengah manusia ini sebagai rahmat, dan merupakan suatu kenikmatan yang besar bagi manusia bukan suatu mushibah yang membawa malapetaka. Allah SWT berfirman :

Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS. Al-Anbiyaa' : 107]

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

4

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [QS. Saba' : 28]

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridlaan-Nya ke jalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seidzin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. [QS. Al-Maaidah : 15-16]

Sungguh Allah telah memberi kenikmatan kepada orang-orang mukmin ketika Allah mengutus di kalangan mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

5

(kedatangan Nabi) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [QS. Ali Imran : 164] Dari ayat-ayat tersebut dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain, menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW dan Islam yang diserukannya, benar-benar membawa rahmat di alam semesta ini, dan mengeluarkan manusia dari gelap-gulita (tanpa mengetahui tujuan hidup), ke alam yang terang-benderang, sehingga mengetahui jalan yang lurus yang membebaskan dirinya dari kesesatan menuju jalan yang menyelamatkan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak. Bahkan sebelum Nabi menyerukan Islam, manusia selalu dalam kekacauan dan permusuhan, sebagaimana peringatan Allah dalam surat Ali Imran : 103

Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara … [QS. Ali Imran 103] Oleh karena itu seharusnyalah manusia bersyukur kepada Allah atas diutusnya Nabi Muhammad SAW membawa dinul Islam ini. Karena hanya dengan Islamlah manusia di dunia ini dapat hidup rukun, damai dan saling menebarkan kasih sayang. Dengan mengabaikan Islam, maka dunia akan kacau-balau, terorisme timbul di manamana seperti sekarang ini. Agama Islam yang suci ini dibawa oleh Rasulullah yang mempunyai kepribadian yang suci pula, serta memiliki akhlaqul karimah dan sifat-sifat yang terpuji, sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi, antara lain :

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

6

Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. [QS. Ali Imran : 159]

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. [QS. At-Taubah : 128] Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki sifat lemah-lembut serta hati beliau terasa amat berat atas penderitaan yang menimpa pada manusia, maka beliau berusaha keras untuk membebaskan dan mengangkat penderitaan yang dirasakan oleh manusia tersebut. Rasulullah SAW bersabda :

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

7

Dari ‘Aisyah istri Nabi SAW, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Hai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Kasih Sayang dan senang kepada kasih sayang, dan Dia memberi (kebaikan) pada kasih sayang itu apa-apa yang Dia tidak berikan kepada kekerasan, dan tidak pula Dia berikan kepada apapun selainnya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2003

Kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama sekali bukan ajaran Islam. Dan orang yang paling baik Islamnya ialah yang paling baik akhlaqnya. [HR. Ahmad juz 7, hal. 410, no. 20874]

Dan apabila Allah mencintai kepada seorang hamba, Allah memberinya kasih sayang (kelemah-lembutan). Dan tidaklah suatu keluarga yang terhalang dari kasih sayang, melainkan mereka terhalang pula dari kebaikan. [HR. Thabrani dalam Al-Kabiir juz 2, hal. 306, no. 2274] Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa ada seorang ‘Arab gunung kencing di masjid, lalu orang-orang marah, dan akan memukul sebagai hukuman. Kemudian melihat kemarahan para shahabat tersebut, beliau bersabda :

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

8

Biarkanlah dia, dan siramlah pada bekas kencingnya itu seember atau setimba air, karena sesungguhnya kamu sekalian diutus untuk memberi kemudahan bukan diutus untuk membuat kesukaran/kesusahan. [HR. Bukhari juz 1, hal. 61] Dalam sabdanya yang lain :

Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Permudahlah dan jangan mempersulit. Dan gembirakanlah dan jangan kalian membuat manusia lari”. [HR. Bukhari, juz 1, hal. 25 ] Setelah kita cermati kembali tentang dinul Islam sekaligus peribadi Rasulullah SAW yang diamanati oleh Allah SWT untuk menyebarkan dinul Islam ke seluruh ummat manusia, maka jelas sekali bahwa terorisme sama sekali tidak dikenal, bahkan bertolak belakang dengan ajaran Islam. Terorisme dengan menggunakan kekerasan, kekejaman serta kebengisan dan cara-cara lain untuk menimbulkan rasa takut dan ngeri pada manusia untuk mencapai tujuan. Sedangkan Islam dengan lemah-lembut, santun, membawa khabar gembira tidak menjadikan manusia takut dan lari, serta membawa kepada kemudahan, tidak menimbulkan kesusahan, dan tidak ada paksaan. Bahkan dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa dalam peperangan pun Nabi SAW berpesan kepada para shahabat, sabda beliau :

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

9

Hai manusia, janganlah kamu menginginkan bertemu dengan musuh, dan mohonlah kepada Allah agar kalian terlepas dari marabahaya. Apabila kalian bertemu dengan musuh, maka bershabarlah dalam menghadapi mereka, dan ketahuilah bahwasanya surga itu dibawah bayangan pedang”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1372 Pesan Nabi SAW tersebut menunjukkan betapa kasih sayang beliau terhadap jiwa manusia, sekalipun dalam peperangan sedapat mungkin menghindari bertemu musuh agar tidak terjadi marabahaya. Namun kalau terpaksa bertemu dengan musuh, jangan takut dan jangan dihadapi dengan hawa nafsu yang melampaui batas, tetapi hendaklah dihadapi dengan shabar dan tabah, karena surga di bawah bayangan pedang. Memang kedua hal tersebut mempunyai tujuan yang berbeda. Terorisme biasanya digunakan untuk tujuan politik, kekuasaan, sedangkan Islam bertujuan untuk menuntun manusia dalam mencapai kebahagiaan hidupnya dengan dilandasi rasa kasih sayang hanya semata-mata mengharap ridla Allah SWT. Oleh karena itu rasanya tidak berlebihan kalau ada orang yang mengatakan bahwa "politik itu kotor", karena dalam mencapai tujuannya dengan menghalalkan segala cara, sekalipun dengan terorisme. Dengan demikian bagi seorang muslim haram hukumnya mendukung, mengikuti alur politik yang menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan politiknya. Yang demikian itu bukan berarti orang Islam tidak boleh berpolitik, tidak boleh meraih kekuasaan. Boleh berpolitik, tetapi tidak boleh keluar dari bingkai Islam, dengan tujuan untuk kejayaan Islam dengan mengharap ridla Allah semata-mata. Dalam mencapai kesuksesan cita-cita harokahnya, Rasulullah melalui caracara yang ditunjukkan oleh Allah serta berusaha memenuhi persyaratan untuk memperoleh janji Allah, karena janji Allah pasti tepat dan tidak perlu diragukan. Rasulullah SAW membina kekuatan dari bawah, sebagaimana firman Allah :

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

10

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan idzin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat-kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. [QS. Ibrahim : 24-26] Rasulullah membina dasar tauhid pada ummat manusia + 10 tahun di Makkah dengan penuh tantangan, tindak kekejaman dan terorisme dilakukan oleh orang-orang musyrikin dan kafirin Makkah terhadap Nabi dan para pengikutnya. Namun teror-teror yang dilakukan oleh mereka tidak menjadikan kaum muslimin takut, malah makin bertambah kuat dan mendorong lebih dekat dan berserah diri (tawakkal) kepada Allah SWT. Dalam suatu peristiwa, orang kafir melakukan teror dengan ucapan :

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

11

Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka. Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”. [QS. Ali Imran : 173] Itulah buah tauhid yang kuat, bagaikan pohon yang baik, tidak akan tumbang walaupun dihempas badai topan yang dahsyat. Untuk menumbuhkan pohon-pohon yang baik seperti itu perlu menanam dan memelihara dengan sungguh-sungguh, bekerja keras dan ikhlash, semata-mata karena Allah, tidak mudah tergiur dengan tipudaya dunia yang dapat membelokkan cita-cita yang mulia. Oleh karena itu ketika Rasulullah mendapat tawaran materi, bahkan akan diangkat menjadi raja (penguasa) di negeri itu asalkan beliau mau berhenti dari dakwahnya, dengan tegas beliau menjawab, “Andaikata kamu dapat menaruh bulan dan matahari di kedua tanganku, aku tidak akan berhenti berdakwah, sehingga agama Allah ini menjadi terang (menjadi kehidupan manusia) atau aku mati karena membelanya”. Dengan kuat beliau menanamkan kepada ummatnya akan janji Allah.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

12

berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridlaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq. [QS. An-Nuur : 55] Penekanan pada akhir ayat tersebut perlu mendapat perhatian bagi kita semua, terutama para politikus muslim, “Barangsiapa tetap kafir sesudah janji itu”, maksudnya : Dengan memilih cara lain dalam mencapai tujuannya dan meninggalkan jalan yang dijanjikan oleh Allah, yakni dengan memperkokoh iman serta memperbanyak amal shaleh, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.

Dan Allah tidak menunjuki orang-orang yang fasiq. [QS. At-Taubah : 24] Kaum politisi yang ada sekarang sekalipun muslim, pada umumnya tidak mengikuti petunjuk-petunjuk Allah dan praktek yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Mereka berjuang hanya untuk memperoleh kursi (kedudukan). Maka tidak ada kegiatan dakwah untuk membina ummat secara serius agar mempunyai landasan dasar tauhid yang kuat seperti pohon yang baik sebagaimana yang digambarkan oleh Allah SWT. Da’i kaum politisi aktif berdakwah menyelenggarakan pengajian-pengajian dan kegiatan-kegiatan keagamaan hanya ketika menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) untuk meraih simpati dari masyarakat, dan setelah selesai Pemilu selesai pulalah kegiatan-kegiatan tersebut. Sudah tidak lagi ada pengajian-pengajian, aktifitas-aktifitas sebagaimana sebelum terselenggaranya Pemilu.

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

13

Maka hasilnya seperti pohon yang jelek, akarnya rapuh, tidak memiliki daya tahan. Jangankan dengan hempasan badai topan yang besar, dengan angin sepoi-sepoi saja cukup dapat menumbangkan pohon tersebut, dan terangkat seakar-akarnya sehingga tidak lagi dapat tegak berdiri. Keadaan yang demikian itu, maka tidak perlu tawaran kursi raja sebagaimana yang ditawarkan kepada Nabi, melainkan dengan kursi RT pun sudah cukup dapat merontokkan tujuan dakwah yang sangat mulia. Dengan alasan kesibukan tugasnya sebagai RT sudah tidak ada waktu lagi (tidak ada tempat) untuk membina ummat, berdakwah, menyelenggarakan pengajian dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang lain guna memperbaiki aqidah dan pengamalan agamanya dalam kehidupan sehari-hari,

(Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian) Kalau demikian keadaannya, apa yang kita harapkan dari kaum politisi untuk Islam ini ? Politikus Islam pun kadang lepas dari kendali agama, dengan entengnya menghina, merendahkan, bahkan memfitnah untuk menjatuhkan sesama muslim, hanya karena berbeda aspirasi politiknya, bahkan sampai menghalalkan darahnya. Keadaan yang demikian, akibatnya ukhuwah Islamiyah rusak, timbul saling dengki-mendengki, benci-membenci sehingga ummat Islam menjadi lumpuh tidak berdaya, sekalipun jumlahnya besar. Padahal Allah SWT telah memperingatkan :

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

14

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum (golongan) memperolok-olok kaum (golongan) yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olok). [QS. Al-Hujuraat : 11] Nabi SAW telah memperingatkan juga bahwa sesama muslim adalah saudara dan haram darahnya, haram kehormatannya dan haram hartanya. Namun itu semua tidak diindahkan. Memperhatikan praktek-praktek yang ada, rasanya tidak tampak partai yang memperjuangkan Islam di negeri ini, bahkan terjebak dalam pertikaian, terorisme, saling menjatuhkan untuk mencapai tujuan, baik partai yang beridentitas Islam maupun yang tidak beridentitas Islam, hampir tidak ada bedanya. Oleh karena itu melalui kesempatan ini semoga dapat menjadi jembatan, menyadarkan para politikus muslim, hendaklah mempererat persaudaraan sesama muslim, walaupun berbeda partai, tetapi tetap membawa misi yang sama :

(kejayaan Islam dan muslimin) dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk Allah dan praktek Rasulullah dalam menggalang ummat, serta menghindari terorisme dalam mencapai tujuan. Dengan demikian, jelas dan teranglah bahwa Terorisme dalam pandangan agama Islam tidak dibenarkan, dan jauh dari tuntunan Islam. Dalam kaitannya dengan terorisme, muncul pertanyaan yang tidak pernah terjawab, adakah korelasi fungsional antara Islam dan Terorisme? Bisakah gerakan keagamaan yang diduga dalang terorisme sebagai representasi Islam, baik dalam ranah ajaran maupun pengikutnya? Tidak ada istilah yang serumit “terorisme”. Istilah tersebut bukan sekadar istilah biasa, melainkan wacana baru yang ramai diperbincangkan khalayak dunia dan

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

15

mempunyai impilikasi besar bagi tatanan politik global. Terorisme bukan sekadar diskursus, akan tetapi sebuah gerakan global yang hinggap di mana pun dan kapan pun. Terorisme kian mencuat ke permukaan, tatkala gedung pencakar langit, World Trade Center (WTC) dan gedung Pentagon, New York, hancur-lebur diserang sebuah kelompok, yang sampai detik ini masih misterius. Jaringan internasional al-Qaedah sering disebut-disebut sebagai aktor di balik aksi penyerangan tersebut. Pada titik ini, terorisme kian dipertanyakan dan dipersoalkan. Apa sih sebenarnya terorisme itu? Benarkah terorisme teridentifikasi sebagai penyebab utama di balik pennyerangan tersebut? Terorisme sebagai sebuah paham memang berbeda dengan kebanyakan paham yang tumbuh dan berkembang di dunia, baik dulu maupun yang mutakhir. Terorisme selalu identik dengan teror, kekerasan, ekstrimitas dan intimidasi. Para pelakunya biasa disebut sebagai teroris. Karena itu, terorisme sebagai paham yang identik dengan teror seringkali menimbulkan konsekuensi negatif bagi kemanusiaan. Terorisme kerap menjatuhkan korban kemanusiaan dalam jumlah yang tak terhitung. Pengeboman bus turis asing di Kairo, penembakan para turis di Luxor, Mesir, pengeboman kedubes AS di Kenya dan insiden yang serupa merupakan salah satu bentuk aksi-aksi terorisme. Dalam insiden tersebut membuktikan, bahwa ribuan nyawa manusia yang tidak berdosa raib akibat ulah para teroris. Orang tua-renta, dewasa, anak muda, dan bayi turut menanggung akibat dari pertarungan ideologi. Pada titik ini, terorisme mendapatkan sorotan serius dari masyarakat dunia, bahwa cara-cara yang ditempuh para teroris dapat mewujudkan instabilitas, kekacauan dan kegelisahan yang berkepanjangan. Masyarakat senantiasa dihantui perasaan was-was dan tidak aman. Namun pertanyaan yang muncul kemudian, “siapa sebenarnya yang melakukan aksi-aksi terorisme?” Pada tahap ini, kita akan memasuki kerumitan tersendiri, sebab identifikasi terorisme tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Apalagi jikalau menyangkut sebuah kelompok atau negara tertentu, dibutuhkan data-data yang akurat dan tepat.

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

16

c) Pandangan Islam terhadap musik
Bagaimanakah Islam memandang musik? Ada dua pandangan di dalam Islam terhadap musik. Rata PenuhAda ulama yang membolehkan dan ada pula yang melarangnya. Perbedaan ini muncul lantaran Alquran tak membolehkan dan melarangnya. Ulama terkemuka Dr Yusuf Al-Qardawi dalam bukunya, Al-Halaal wal Haraam fil Islam, memperbolehkan musik dengan sejumlah syarat. Sebenarnya, sejumlah ritual keagamaan yang dijalankan umat Islam mengandung musikalitas. Salah satu contohnya adalah alunan adzan. Selain itu, ilmu membaca Alquran atau ilmu al-qiraah juga mengandung musik. Meski begitu, Al-Albani melarang umat Islam untuk bermusik. Ia mendasarkannya pada salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari. “Akan ada dari ummatku kaum yang menghalalkan zina, memakai sutra, minuman keras, dan alat-alat musik.” Secara umum, umat Islam memperbolehkan musik. Bahkan, di era kejayaannya, umat Islam mampu mencapai kemajuan dalam bidang seni musik. Terlebih lagi, musik dan puisi menjadi salah satu tradisi yang berkembang di Semenanjung Arab sebelum kedatangan Islam. Pencapaian peradaban Islam dalam bidang musik tercatat dalam Kitab AlAghani yang ditulis oleh Al-Isfahani (897 M-967 M). Dalam kitab itu, tertulis sederet musisi di zaman kekhalifan, seperti Sa’ib Khathir (wafat 683 M), Tuwais (wafat 710 M), dan Ibnu Mijjah (wafat 714 M). Penyebaran Islam ke seluruh penjuru jazirah Arab, Persia, Turki, hingga India, semuanya memilik tradisi musik. Seni musik berkembang pesat di era kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Para ilmuwan Muslim banyak menerjemahkan risalah musik dari Yunani, terutama ketika Khalifah Al-Ma’mun berkuasa. Para Khalifah Abbasiyah pun turut mensponsori para penyair dan musisi. Salah satu musisi yang karyanya diakui dan disegani adalah Ishaq Al-Mausili (767 M-850 M).

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

17

Pada awal berkembangnya Islam, musik diyakini sebagai cabang dari matematika dan filsafat. Tak heran, jika matematikus dan filosof Muslim terkemuka, AlKindi (800 M-877 M), adalah ahli teori musik yang tersohor. Al-Kindi juga tercatat sebagai ilmuwan yang menjadikan musik untuk pengobatan dan penyembuhan penyakit. Ia menulis tak kurang dari 15 kitab tentang musik, namun yang masih ada tinggal lima. Al-Kindi adalah orang pertama yang menyebut kata ‘musiqi’. Tokoh Muslim lainnya yang juga banyak menyumbangkan pemikirannya bagi musik adalah Al-Farabi (870 M-950 M). Ia tinggal di Istana Saif al-Dawla AlHamdan¡ di kota Aleppo. Matematikus dan filosof ini juga sangat menggemari musik serta puisi. Selama tinggal di istana itu, Al-Farabi mengembangkan kemampuan musik serta teori tentang musik. Al-Farabi juga diyakini sebagai penemu dua alat musik, yakni rabab dan qanun. Ia menulis tak kurang dari lima judul kitab tentang musik. Salah satu buku musiknya yang populer bertajuk, Kitabu al-Musiqa to al-Kabir, atau The Great Book of Music. Berisi teori-teori musik dalam Islam. Pemikiran Al-Farabi dalam bidang musik masih kuat pengaruhnya hingga abad ke-16 M. Kitab musik yang ditulisnya itu sempat diterjemahkan oleh Ibnu Aqnin (1160 M-1226 M) ke dalam bahasa Ibrani. Selain itu, karyanya itu juga dialihbahasakan ke dalam bahasa latin berjudul De Scientiis dan De Ortu Scientiarum. Salah satu ahli teori musik Muslim lainnya adalah Ibnu Sina. Kontroversi tentang musik seakan tak pernah berakhir. Baik yang pro maupun kontra masing-masing menggunakan dalil. Namun bagaimana para sahabat, tabi’in, dan ulama salaf memandang serta mendudukkan perkara ini? Sudah saatnya kita mengakhiri kontroversi ini dengan merujuk kepada mereka. Musik dan nyanyian, merupakan suatu media yang dijadikan sebagai alat penghibur oleh hampir setiap kalangan di zaman kita sekarang ini. Hampir tidak kita

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

18

dapati satu ruang pun yang kosong dari musik dan nyanyian. Baik di rumah, di kantor, di warung dan toko-toko, di bus, angkutan kota ataupun mobil pribadi, di tempat-tempat umum, serta rumah sakit. Bahkan di sebagian tempat yang dikenal sebagai sebaik-baik tempat di muka bumi, yaitu masjid, juga tak luput dari pengaruh musik.

Hukum Musik Dalam Islam
 YANG MENGHARAMKAN Hukum bernyanyi dan bermain musik diperselisihkan oleh para ulama Islam. Pada kesempatan yang lalu kita sudah sampaikan beberapa ulama yang mengharamkannya, diantaranya mereka berdalil dengan firman Allah dalam Surat Luqman berikut:



    





        





“Dan diantara mereka (ada) orang yang mempergunakan LAHWAL HADIST (kata- kata tak berguna) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu sebagai bahan olok- olokan. Mereka itu memperoleh Adzab yang menghinakan” (Surat Luqman: 6). Menurut sebagian ulama’, LAHWAL HADIST disini yang dimaksud adalah “Nyanyian,”. Jadi nyanyian itu haram hukumnya. Menurut Ibnu Hazm, argument itu tidak benar, karena ada kalimat lanjutannya yaitu:…. “Untuk Menyesatkan Manusia dari Jalan ALLAH Tanpa Pengetahuan dan Menjadikan Jalan Allah Itu Sebagai Olok- olokan”. Menurut Ibnu Hazm ini menunjukkan bahwa perkataan apa saja, termasuk ucapan, berita, informasi, nyanyian yang bersifat menyesatkan dan memperolok- olokkan agama Islam/atau Allah adalah haram, bahkan kufur, Naudzubillaahi min dzaalik. Sedang yang tidak bersifat mengolok- olok dan tidak untuk menyesatkan manusia adalah mubah, sejauh- jauhnya makruh, Sesuai hadist Nabi:

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

19

“Min Husnil Islaamil Mar’i tarkuhuu maa laa ya’niih = Kebaikan Islam seseorang diukur dari kemampuannya meninggalkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya”. Al- Hadist. (Lihat selengkapnya: Ibn Hazm: Al- Muhalla 9/60, penerbit Al- Muniriyah).  YANG MEMBOLEHKAN Yang membolehkan mereka berhujjah (ber- argument) dengan hadist- hadist berikut: 1. Hadist riwayat Bukhori dan Imam Ahmad menceriterakan dari A’isyah, bahwa dia suatu saat membawa penganten wanita kerumah mempelai pria dari sahabat Anshor. Maka Nabi pun bersabda pada A’isyah: ” Ya A’isyah. Mengapa tak membawa musik/ hiburan Sesungguhnya orang Anshor itu suka musik/ hiburan.” 2. Imam Ibnu Majah menceriterakan dari Ibnu Abbas, bahwa suatu saat A’isyah menikahkan salah satu kerabat wanitanya dengan lelaki Anshor. Rasulpun bertanya: “Apakah engkau mengirim bersamanya seseorang yang dapat bernyanyi?” A’isyah menjawab: “Tidak”. Maka Rasul pun bersabda: “Sesungguhnya kaum Anshor itu suatu kaum yang menyukai hiburan. Alangkah baiknya jika kau kirimkan bersama mempelai wanita itu, seorang penyanyi yang berdendang: Kami datang…kami datang pada kalian. Sejahteralah kami,,,sejahteralah kalian… 3. Imam Nasa’I dan Hakim meriwayatkan dari jalan Amr bin Sa’d, dia berkata:” suatu saat saya datang kerumah Qordhoh bin Ka’ab dan Abu Manshur Al- Anshori ketika tengah ada walimatul Ursy. Tiba- tiba ada budak- budak perempuan menyanyi. Saya pun bertanya: Wahai dua sahabat Rasulullah, Ahlul badar melakukan ini dirumah kalian?” Mereka menjawab: ” Jika kamu suka duduklah kamu, jika tak suka silahkan tinggalkan tempat ini. Di Walimatul Ursy kita dapat keringanan untuk mengadakan hiburan”. Imam Nasa’I dan Hakim mensahihkan hadist ini. Sebagian Ulama mensyaratkan bahwa rukhsoh dan kemudahan itu diberikan saat walimatul ursy seperti pada riwayat - riwayat tersebut diatas. 4. Imam Asy- Syaukani dalam kitabnya Nailul Author mengatakan: “Penduduk Madinah dan orang- orang yang sependapat dengan mereka dari kalangan AdDhohiriyah dan dari kalangan ahli sufi berpendapat bahwa nyanyian itu ada untuk mereka?

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

20

keringanan hukumnya walaupun disertai “Uud” (Lute- English: Suatu alat musik bersenar dan berdawai yang berbentuk seperti labu dibelah). 5. Syaikh Abu Manshur Al- Baghdady asy- Syafi’I menceriterakan dalam kitabnya As- Sima’ bahwa Abdullah bin Ja’far (Sohabat Nabi) tidak memandang nyanyian itu haram. Bahkan ia sering menggubah lagu untuk dinyanyikan oleh para budak wanitanya, lalu ia mendengarkan mereka menyanyikannya dan mengiringinya dengan petikan ‘Uud. Itu semua terjadi dizaman Khalifah Ali. 6. Abdul Fadl bin Thohir meriwayatkan dalam karyanya yang juga berjudul AsSima’ menyatakan: bahwa tidak ada perselisihan pendapat dikalangan penduduk Madinah tentang bolehnya nyanyian dengan menggunakan ‘Uud. 7. Abu Umar Al- Andalusy dalam kitabnya Al- Aqd meriwayatkan bahwa sahabat Abdullah bin Umar berkunjung kerumah Ibnu Ja’far. Ia mendapati didalam rumah tersebut ada seorang budak perempuan berada dikamarnya sambil memegang ‘Uud. Lalu Ibnu Ja’far bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud: ” Adakah kau lihat ada sesuatu (larangan) pada semua ini?” Ibnu Umar menjawab: “Tidak ada”. Baiklah sebagai kesimpulan kita lihat bagaimana pendapat seorang filsuf Islam ahli Sufi terkenal Imam Al- Ghozali tentang musik ini. Tulisannya kita nukil dari Maha karyanya: Ihya’u Ulumuddin, Kitabus Sima’ pada halaman 1152- 1153: ” Memang hal ini (mencari hiburan dengan bermusik) menunjukkan adanya kekurang sempurnaan seorang muslim, karena orang yang sempurna adalah orang yang tidak perlu menghibur dirinya selain dengan kebenaran (mendekatkan diri ke Allah dengan tilawah, dzikir, ibadah). Namun kebaikan bagi seseorang adakalanya masih dinilai buruk bagi MUQORROBIN (orang yang sudah sangat mendekatkan diri pada Allah). Adapun orang- orang yang menguasai ilmu pengobatan hati, rangsangan- rangsangan lembut yang dibutuhkan dalam pengobatan jiwa dan bagaimana mengarahkannya menuju kebenaran, niscaya mereka akan tahu pasti bahwa usaha menghiburnya dengan hal- hal seperti ini (mendengarkan music yang baik) merupakan obat yang bermanfaat yang pasti dibutuhkan”.  Pendapat Yang Memakruhkan

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

21

Namun perlu kita ketahui bersama, meski banyak ulama yang telah mengharamkan musik secara total, nyatanya kita tidak bisa menampik adanya sementara kalangan, bahkan termasuk ulama juga, yang tidak mengharamkan secara total. Mereka lebih memilih untuk menyebut bahwa musik itu makruh, namun tidak sampai ke tingkat haram. Menurut Al-Imam Malik rahimahullah, mendengar nyanyian itu berdampak merusak muru`ah. Muruah ini mungkin bisa kita terjemahkan secara bebas dengan arti wibawa, atitiudeatau kehormatan. Adapun menurut Al-Imam Asy-Syafi`i, musik dan lagu dimakruhkan karena mengandung lahwu (sesuatu yang tidak bermanfaat dan sia-sia serta buang waktu). Dan Al-Imam Ahmad mengomentari dengan ungkapannya, "Saya tidak menyukai nyanyian karena melahirkan kemunafikan dalam hati." Mereka adalah para fuqaha papan atas, di mana kebanyakan ulama salah berguru dan menjadi murid mereka. Namun ketika menyebut tentang nyanyian atau musik, mereka tidak sampai menyebut kata haram, melainkan makruh atau tidak disukai.  Pendapat yang Lebih Moderat Di luar dari kalangan yang agak berhati-hati, ternyata kita pun mendapati adanya kalangan ulama yang lebih agak moderat. Di mana mereka tidak mengharamkan secara mutlak, melainkan masih memilah dan memberikan beberapa persyaratan tertentu. Bila syaratnya terpenuhi, mendengarkan lagu atau musik itu masih bisa ditolelir. Sebaliknya, bila beberapa syarat kebolehan itu sampai terlanggar, maka hukumnya pun menjadi haram. Di antara syarat-syarat yang harus diperhatikan dalam masalah musik dan mendengarkannya adalah:  Tidak boleh disertai kemungkaran, seperti sambil minum khomr, berjudi, zina dan campur baur laki dan wanita.  Tidak ada kekhawatiran timbulnya fitnah seperti menyebabkan timbul cinta birahi pada wanita atau sebaliknya.  Tidak menyebabkan lalai dan meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan shalat atau menunda-nundanya dan lain-lain.

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

22

 Kesimpulannya bahwa pada dasarnya mereka menghalalkan mendengar nyanyian, tetapi hukumnya berubah menjadi haram bila syarat-syaratnya tidak terpenuhi.  Adapun latar belakang mereka tidak mengharamkannya secara total, adalah karena mereka punya pendapat sendiri atas dalil-dalil yang mengharamkan di atas. Hadits pertama diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, dari Abi Malik Al-Asy`ari ra. Hadits ini walaupun terdapat dalam hadits Shahih Bukhari, tetapi para ulama memperselisihkannya. Banyak di antara mereka yang mengatakan bahwa hadits ini adalah mualaq (sanadnya terputus), di antaranya dikatakan oleh Ibnu Hazm. Di samping itu di antara para ulama menyatakan bahwa matan dan sanad hadits ini tidak selamat dari kegoncangan (idhtirab).. Katakanlah, bahwa hadits ini shahih, karena terdapat dalam hadits shahih Bukhari, tetapi nash dalam hadits ini masih bersifat umum, tidak menunjuk alat-alat tertentu dengan namanya. Batasan yang ada adalah bila ia melalaikan. Hadits kedua dikatakan oleh Abu Dawud sebagai hadits mungkar. Bahkan meski hadits ini shahih, maka sebenarnya dari teks hadits itu tidak bisa dikatakan bahwa Rasulullah saw secara jelas telah mengharamkannya. Bahkan Rasulullah saw mendengarkannya sebagaimana juga yang dilakukan oleh Ibnu Umar. Sedangkan hadits ketiga menurut mereka adalah hadits gharib. Dan haditshadits lain yang terkait dengan hukum musik, jika diteliti ternyata tidak ada yang shahih. Imam Al-Haramain dalam kitabnya, An-Nihayah dan Ibnu Abi Ad-Dunya yang menukil dari Al-Itsbaat Al-Muarikhiin menyatakan bahwa Abdullah bin Zubair memiliki budakbudak wanita dan gitar. Dan Ibnu Umar pernah ke rumahnya ternyata di sampingnya ada gitar, Ibnu Umar berkata, "Apa ini wahai sahabat Rasulullah saw?" Kemudian Ibnu Zubair mengambilkan untuknya, Ibnu Umar merenungi kemudian berkata, "Ini mizan syami (nama alat musik) dari Syam?` Berkata Ibnu Zubair, "Dengan ini akal seseorang bisa seimbang." Adapun ulama yang menghalalkan musik sebagaimana di antaranya diungkapkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya, Nailul Authar adalah:

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

23

Ulama Madinah dan ulama Dzahiri dan jama`ah ahlu Sufi yang memberikan kemudahan (kebolehan) pada nyanyian walaupun dengan gitar dan biola`. Juga diriwayatkan oleh Abu Manshur Al-Bagdadi As-Syafi`i dalam kitabnya bahwa Abdullah bin Ja`far menganggap bahwa nyanyi tidak apa-apa, bahkan membolehkan budak-budak wanita untuk menyanyi dan beliau sendiri mendengarkan alunan suaranya. Dan hal itu terjadi di masa khilafah Amirul Mukminin Ali ra. Begitu juga Abu Manshur meriwayatkan hal serupa pada Qodhi Syuraikh, Said bin AlMusayyib, Atho bin abi Ribah, Az-Zuhri dan Asy-Sya`bi. Demikianlah pendapat ulama tentang mendengarkan alat musik. Dan jika diteliti dengan cermat, maka ulama muta`akhirin yang mengharamkan alat musik karena mereka mengambil sikap wara` (hati-hati). Mereka melihat kerusakan yang timbul di masanya. Sedangkan ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi`in menghalalkan alat musik karena mereka melihat memang tidak ada dalil baik dari Al-Qur`an maupun hadits yang jelas mengharamkannya. Sehingga dikembalikan pada hukum asalnya yaitu mubah. Demikian sekelumit gambaran tentang khilaf ulama tentang hukum nyanyian dan musik dalam Islam. Anda harus bijak ketika bertemu dengan saudara-saudara yang cenderung berpandangan bahwa musik itu tidak haram. Mereka bukan mengada-ada, tetapi memang punya dalil tersendiri. Meski pun anda pun tidak perlu berkecil hati, karena masih banyak ulama yang mengharamkannya.  Hukum Mendengarkan Musik dan Lagu Serta Mengikuti Sinetron Menurut Syaikh Muhamamad bin Shalih Al-Utsaimin, Pertanyaan Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin ketika ditanya : Apa hukum mendengarkan musik dan lagu? Apa hukum menyaksikan sinetron yang di dalamnya terdapat para wanita pesolek ? Jawaban Mendengarkan musik dan nyanyian haram dan tidak disangsikan keharamannya. Telah diriwayatkan oleh para sahabat dan salaf shalih bahwa lagu bisa menumbuhkan sifat kemunafikan di dalam hati. Lagu termasuk perkataan yang tidak berguna. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. "Artinya : Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

24

itu akan memperoleh azab yang menghinakan".(Luqman : 6) . Ibnu Mas'ud dalam menafsirkan ayat ini berkata : "Demi Allah yang tiada tuhan selainNya, yang dimaksudkan adalah lagu". Penafsiran seorang sahabat merupakan hujjah dan penafsirannya berada di tingkat tiga dalam tafsir, karena pada dasarnya tafsir itu ada tiga. Penafsiran Al-Qur'an dengan ayat Al-Qur'an, Penafsiran Al-Qur'an dengan hadits dan ketiga Penafsiran Al-Qur'an dengan penjelasan sahabat. Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa penafsiran sahabat mempunyai hukum rafa' (dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam). Namun yang benar adalah bahwa penafsiran sahabat tidak mempunyai hukum rafa', tetapi memang merupakan pendapat yang paling dekat dengan kebenaran. Mendengarkan musik dan lagu akan menjerumuskan kepada suatu yang diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam haditsnya. "Artinya : Akan ada suatu kaum dari umatku menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik". Maksudnya, menghalalkan zina, khamr, sutera padahal ia adalah lelaki yang tidak boleh menggunakan sutera, dan menghalalkan alat-alat musik. [Hadits Riwayat Bukhari dari hadits Abu Malik Al-Asy'ari atau Abu Amir Al-Asy'ari] Berdasarkan hal ini saya menyampaikan nasehat kepada para saudaraku sesama muslim agar menghindari mendengarkan musik dan janganlah sampai tertipu oleh beberapa pendapat yang menyatakan halalnya lagu dan alat-alat musik, karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang haramnya musik sangat jelas dan pasti. Sedangkan menyaksikan sinetron yang ada wanitanya adalah haram karena bisa menyebabkan fitnah dan terpikat kepada perempuan. Rata-rata setiap sinetron membahayakan, meski tidak ada wanitanya atau wanita tidak melihat kepada pria, karena pada umumnya sinetron adalah membahayakan masyarakat, baik dari sisi perilakunya dan akhlaknya. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar menjaga kaum muslimin dari keburukannya dan agar memperbaiki pemerintah kaum muslimin, karena kebaikan mereka akan memperbaiki kaum muslimin. d. Pandangan Islam Tentang Poligami Poligami dalam Islam merupakan praktik yang diperbolehkan (mubah, tidak dilarang namun tidak dianjurkan), Islam memperbolehkan seorang pria beristri hingga

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

25

empat orang istri dengan syarat sang suami harus dapat berbuat adil terhadap seluruh istrinya.

                 



                 
Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. [266]. Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh Para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja. ( Q.S. an-Nisa aya t: 3 ) Beberapa ulama kontemporer seperti Syekh Muhammad Abduh , Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan (ketiganya ulama terkemuka Al Azhar Mesir) lebih memilih memperketat penafsirannya. Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu (tahun 1899), memilih mengharamkan poligami. Syekh Muhammad Abduh mengatakan: Haram berpoligami bagi seseorang yang merasa khawatir akan berlaku tidak adil..Saat ini negara Islam yang mengharamkan poligami hanya Maroko. Namun sebagian besar negara-negara Islam di dunia hingga kini tetap membolehkan poligami, termasuk Undang-Undang Mesir dengan syarat sang pria harus menyertakan slip gajinya.

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

26

 Praktik Poligami oleh Nabi Muhammad Nabi Muhammad, nabi utama agama Islam melakukan praktik poligami pada delapan tahun sisa hidupnya, sebelumnya ia beristri hanya satu orang selama 28 tahun. Setelah istrinya saat itu meninggal (Khadijah) barulah ia menikah dengan beberapa wanita. Kebanyakan dari mereka yang diperistri Muhammad adalah janda mati, kecuali Aisyah (putri sahabatnya Abu Bakar). Dalam kitab Ibn al-Atsir, sikap beristeri lebih dari satu wanita yang dilakukannya adalah upaya transformasi sosial. Mekanisme beristeri lebih dari satu wanita yang diterapkan Nabi adalah strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka. Sebaliknya, Nabi membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenangwenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam beristeri lebih dari satu wanita. Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.

SYARAT-SYARAT POLIGAMI DALAM ISLAM Bahwa beberapa ulama, setelah meninjau ayat-ayat tentang poligami, mereka telah menetapkan bahwa menurut asalnya, Islam sebenamya ialah monogami. Terdapat ayat yang mengandungi ugutan serta peringatan agar tidak disalah gunakan poligami itu di tempat-tempat yang tidak wajar. Ini semua bertujuan supaya tidak terjadinya kezaliman. Tetapi, poligami diperbolehkan dengan syarat ia dilakukan pada masa-masa terdesak untuk mengatasi perkara yang tidak dapat diatasi dengan jalan lain. Atau dengan kata lain bahwa poligami itu diperbolehkan oleh Islam dan tidak dilarang kecuali jikalau dikhuatirkan bahwa kebaikannya akan dikalahkan oleh keburukannya.

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

27

Jadi, sebagaimana talaq, begitu jugalah halnya dengan poligami yang diperbolehkan karena hendak mencari jalan keluar dari kesulitan. Islam memperbolehkan umatnya berpoligami berdasarkan nas-nas syariat serta realiti keadaan masyarakat. Ini bererti ia tidak boleh dilakukan dengan sewenang-wenangnya demi untuk mencapai kesejahteraan masyarakat Islam, demi untuk menjaga ketinggian budi pekerti dan nilai kaum Muslimin. Oleh yang demikian, apabila seorang lelaki akan berpoligami, hendaklah dia memenuhi syarat-syarat sebagai berikut; 1. Membatasi jumlah isteri yang akan dikawininya. Syarat ini telah disebutkan oleh Allah (SWT) dengan firman-Nya;

 











............    "Maka berkawinlah dengan siapa yang kamu berkenan dari perempuan-perempuan (lain): dua, tiga atau empat." (Al-Qur'an, Surah an-Nisak ayat 3) Ayat di atas menerangkan dengan jelas bahwa Allah telah menetapkan seseorang itu berkawin tidak boleh lebih dari empat orang isteri. Jadi, Islam membatasi kalau tidak beristeri satu, boleh dua, tiga atau empat sahaja. Pembatasan ini juga bertujuan membatasi kaum lelaki yang suka dengan perempuan agar tidak berbuat sesuka hatinya. Di samping itu, dengan pembatasan empat orang isteri, diharapkan jangan sampai ada lelaki yang tidak menemukan isteri atau ada pula wanita yang tidak menemukan suami. Mungkin, kalau Islam membolehkan dua orang isteri saja, maka akan banyak wanita yang tidak menikah. Kalau pula dibolehkan lebih dari empat, mungkin terjadi banyak lelaki tidak memperolehi isteri.

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

28

2. Diharamkan bagi suami mengumpulkan wanita-wanita yang masih ada tali persaudaraan menjadi isterinya. Misalnya, berkawin dengan kakak dan adik, ibu dan anaknya, anak saudara dengan emak saudara baik sebelah ayah maupun ibu. Tujuan pengharaman ini ialah untuk menjaga silaturrahim antara anggotaanggota keluarga. Rasulullah (s.a.w.) bersabda, maksudnya;"Sesungguhnya kalau kamu berbuat yang demikian itu, akibatnya kamu akan memutuskan silaturrahim di antara sesama kamu." (Hadis riwayat Bukhari & Muslim) Kemudian dalam hadis berikut, Rasulullah (s.a.w.) juga memperkuatkan larangan ini, maksudnya; Bahwa Urnmu Habibah (isteri Rasulullah) mengusulkan agar baginda menikahi adiknya. Maka beliau menjawab; "Sesungguhnya dia tidak halal untukku." (Hadis riwayat Bukhari dan Nasa'i) Seorang sahabat bernama Fairuz Ad-Dailamy setelah memeluk agama Islam, beliau memberitahu kepada Rasulullah bahwa beliau mempunyai isteri yang kakak beradik. Maka Rasulullah menyuruhnya memilih salah seorang di antara mereka dan menceraikan yang satunya lagi. Jadi telah disepakati tentang haramnya mengumpulkan kakak beradik ini di dalam Islam. 3. Disyaratkan pula berlaku adil, sebagaimana yang difirmankan Allah (SWT); "Kemudian jika kamu bimbang tidak dapat berlaku adil (di antara isteri-isteri kamu), maka (kawinlah dengan) seorang sahaja, atau (pakailah) hamba-hamba perempuan yang kaumiliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat (untuk mencegah) supaya kamu tidak melakukan kezaliman." (Al-Qur'an, Surah an-Nisak ayat 3) Dengan tegas diterangkan serta dituntut agar para suami bersikap adil jika akan berpoligami. Andaikan takut tidak dapat berlaku adil kalau sampai empat orang isteri, cukuplah tiga orang sahaja. Tetapi kalau itupun masih juga tidak dapat adil, cukuplah dua sahaja. Dan kalau dua itu pun masih khuatir tidak boleh berlaku adil, maka hendaklah menikah dengan seorang sahaja.

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

29

Para mufassirin berpendapat bahwa berlaku adil itu wajib. Adil di sini bukanlah bererti hanya adil terhadap para isteri sahaja, tetapi mengandungi erti berlaku adil secara mutlak. Oleh karena itu seorang suami hendaklah berlaku adil sebagai berikut: a. Berlaku adil terhadap dirinya sendiri. Seorang suami yang selalu sakit-sakitan dan mengalami kesukaran untuk bekerja mencari rezeki, sudah tentu tidak akan dapat memelihara beberapa orang isteri. Apabila dia tetap berpoligami, ini bererti dia telah menganiayai dirinya sendiri. Sikap yang demikian adalah tidak adil. b. Adil di antara para isteri. Setiap isteri berhak mendapatkan hak masing-masing dari suaminya, berupa kemesraan hubungan jiwa, nafkah berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain perkara yang diwajibkan Allah kepada setiap suami.Adil di antara isteriisteri ini hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah dalam Surah an-Nisak ayat 3 dan juga sunnah Rasul. Rasulullah (s.a.w.) bersabda, maksudnya; "Barangsiapa yang mempunyai dua isteri, lalu dia cenderung kepada salah seorang di antaranya dan tidak berlaku adil antara mereka berdua, maka kelak di hari kiamat dia akan datang dengan keadaan pinggangnya miring hampir jatuh sebelah." (Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal)  Adil memberikan nafkah. Dalam soal adil memberikan nafkah ini, hendaklah si suami tidak mengurangi nafkah dari salah seorang isterinya dengan alasan bahwa si isteri itu kaya atau ada sumber kewangannya, kecuali kalau si isteri itu rela. Suami memang boleh menganjurkan isterinya untuk membantu dalam soal nafkah tetapi tanpa paksaan. Memberi nafkah yang lebih kepada seorang isteri dari yang lain-lainnya diperbolehkan dengan sebabsebab tertentu. Misalnya, si isteri tersebut sakit dan memerlukan biaya rawatan sebagai tambahan. Prinsip adil ini tidak ada perbedaannya antara gadis dan janda, isteri lama atau isteri baru, isteri yang masih muda atau yang sudah tua, yang cantik atau yang tidak cantik, yang berpendidikan tinggi atau yang buta huruf, kaya atau miskin, yang sakit atau

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

30

yang sehat, yang mandul atau yang dapat melahirkan. Kesemuanya mempunyai hak yang sama sebagai isteri.  Adil dalam menyediakan tempat tinggal. Selanjutnya, para ulama telah sepakat mengatakan bahwa suami bertanggungjawab menyediakan tempat tinggal yang tersendiri untuk tiap-tiap isteri berserta anakanaknya sesuai dengan kemampuan suami. Ini dilakukan semata-mata untuk menjaga kesejahteraan isteri-isteri, jangan sampai timbul rasa cemburu atau pertengkaran yang tidak diingini.  Adil dalam giliran.

 Anak-anak juga mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan, pemeliharaan serta kasih sayang yang adil dari seorang ayah. Oleh itu, disyaratkan agar setiap suami yang berpoligami tidak membeza-bezakan antara anak si anu dengan anak si anu. Berlaku adil dalam soal nafkah anak-anak mestilah diperhatikan bahwa nafkah anak yang masih kecil berbeza dengan anak yang sudah besar. Anak-anak perempuan berbeza pula dengan anak-anak lelaki. Tidak kira dari ibu yang mana, kesemuanya mereka berhak memiliki kasih sayang serta perhatian yang seksama dari bapa mereka. Jangan sampai mereka diterlantarkan karena kecenderungan si bapa pada salah seorang isteri serta anak-anaknya sahaja. Keadilan juga sangat dituntut oleh Islam agar dengan demikian si suami terpelihara dari sikap curang yang dapat merosakkan rumahtangganya. Seterusnya, diharapkan pula dapat memelihara dari terjadinya cerai-berai di antara anak-anak serta menghindarkan rasa dendam di antara sesama isteri. Sesungguhnya kalau diperhatikan tuntutan syarak dalam hal menegakkan keadilan antara para isteri, nyatalah bahwa sukar sekali didapati orang yang sanggup menegakkan keadilan itu dengan sewajarnya. Bersikap adil dalam hal-hal menzahirkan cinta dan kasih sayang terhadapisteri-isteri, adalah satu tanggungjawab yang sangat berat. Walau bagaimanapun, ia termasuk perkara yang berada dalam kemampuan manusia. Lain halnya dengan

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

31

berlaku adil dalam soal kasih sayang, kecenderungan hati dan perkara-perkara yang manusia tidak berkesanggupan melakukannya, mengikut tabiat semulajadi manusia. Hal ini sesuai dengan apa yang telah difirmankan Allah dalam Surah an-Nisa ayat 129 yang berbunyi;







       

  



        



"Dan kamu tidak sekali-kali akan sanggup berlaku adil di antara isteri-isteri kamu sekalipun kamu bersungguh-sungguh (hendak melakukannya); oleh itu janganlah kamu cenderung dengan melampau-lampau (berat sebelah kepada isteri yang kamu sayangi) sehingga kamu biarkan isteri yang lain seperti benda yang tergantung (di awang-awang)." Selanjutnya Siti 'Aisyah (r.a.) menerangkan, maksudnya; Bahwa Rasulullah (s.a.w.) selalu berlaku adil dalam mengadakan

pembahagian antara isteri-isterinya. Dan beliau berkata dalam doanya: "Ya Allah, inilah kemampuanku membahagi apa yang ada dalam milikku. Ya Allah, janganlah aku dimarahi dalam membahagi apa yang menjadi milikku dan apa yang bukan milikku." Menurut Prof. Dr. Syeikh Mahmoud Syaltout; "Keadilan yang dijadikan syarat diperbolehkan poligami berdasarkan ayat 3 Surah an-Nisak. Kemudian pada ayat 129 Surah an-Nisak pula menyatakan bahwa keadilan itu tidak mungkin dapat dipenuhi atau dilakukan. Sebenamya yang dimaksudkan oleh kedua ayat di atas ialah keadilan By Muhammad sukma rohim 26-11-2009 32

yang dikehendaki itu bukanlah keadilan yang menyempitkan dada kamu sehingga kamu merasakan keberatan yang sangat terhadap poligami yang dihalalkan oleh Allah. Hanya saja yang dikehendaki ialah jangan sampai kamu cenderung sepenuh-penuhnya kepada salah seorang sahaja di antara para isteri kamu itu, lalu kamu tinggalkan yang lain seperti tergantung-gantung." Kemudian Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shidieqy pula menerangkan; "Orang yang boleh beristeri dua ialah yang percaya benar akan dirinya dapat berlaku adil, yang sedikit pun tidak akan ada keraguannya. Jika dia ragu, cukuplah seorang sahaja." "Adil yang dimaksudkan di sini ialah 'kecondongan hati'. Dan ini tentu amat sulit untuk dilakukan, sehingga poligami adalah suatu hal yang sukar untuk dicapai. Jelasnya, poligami itu diperbolehkan secara darurat bagi orang yang benar-benar percaya dapat berlaku adil." Afif Ab. Fattah Tabbarah dalam bukunya Ruhuddinil Islami mengatakan; "Makna adil di dalam ayat tersebut ialah persamaan; yang dikehendaki ialah persamaan dalam hal pergaulan yang bersifat lahir seperti memberi nafkah, tempat tinggal, tempat tidur, dan layanan yang baik, juga dalam hal menunaikan tanggungjawab sebagai suami isteri." 4. Tidak menimbulkan huru-hara di kalangan isteri maupun anak-anak. Jadi, suami mesti yakin bahwa perkawinannya yang baru ini tidak akan menjejaskan serta merasakan kehidupan isteri serta anak-anaknya. Karena, diperbolehkan poligami dalam Islam adalah untuk menjaga kepentingan semua pihak. Jika kepentingan ini tidak dapat dijaga dengan baik, maka seseorang yang berpoligami pada saat itu adalah berdosa. 5. Berkuasa menanggung nafkah. Yang dimaksudkan dengan nafkah di sini ialah nafkah zahir, sebagaimana Rasulullah (s.a.w.) bersabda yang bermaksud;

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

33

Bab III Penutup
a) Kesimpulan

Dari makalah tersebut dapat disimpulkan bahwa:  Pandangan Islam mengenai hak asasi manusia adalah dilindungi secara penuh atau keseluruhan hak asasi manusia perlu dijaga dan dihormati.kecuali kalu sudah melampaui batas.  Pandangan islam mengenai teroris. Dalam islam tidak dibolehkan untuk melakukan aksi aksi terror atau menakutnakuti. Bahkan dalam firman allah yang berbunyi :

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. [QS. At-Taubah : 128] By Muhammad sukma rohim 26-11-2009 34

Begitu juga pula firman Allah yang lain berbunyi:

Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS. Al-Anbiyaa' : 107] Dari ayat diatas jelas bahwa kita sebagai orang yang mukmin dilarang untuk melakukan pembunuhan dan begitu pula menakut-nakuti. Pandangan Islam meengenai musik Mengenai musik ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak memperbolehkan  o Yang memperbolehkan memiliki alasan sebagai berikut: Hadist riwayat Bukhori dan Imam Ahmad menceriterakan dari A’isyah, bahwa

dia suatu saat membawa penganten wanita kerumah mempelai pria dari sahabat Anshor. Maka Nabi pun bersabda pada A’isyah: o o ” Ya A’isyah. Mengapa tak membawa musik/ hiburan untuk mereka? Imam Ibnu Majah menceriterakan dari Ibnu Abbas, bahwa suatu saat A’isyah Sesungguhnya orang Anshor itu suka musik/ hiburan.” menikahkan salah satu kerabat wanitanya dengan lelaki Anshor. Rasulpun bertanya: “Apakah engkau mengirim bersamanya seseorang yang dapat bernyanyi?” A’isyah menjawab: “Tidak”. Maka Rasul pun bersabda: o “Sesungguhnya kaum Anshor itu suatu kaum yang menyukai hiburan. Alangkah baiknya jika kau kirimkan bersama mempelai wanita itu, seorang penyanyi yang berdendang: Kami datang…kami datang pada kalian. Sejahteralah kami,,,sejahteralah kalian… o Imam Nasa’I dan Hakim meriwayatkan dari jalan Amr bin Sa’d, dia berkata:” suatu saat saya datang kerumah Qordhoh bin Ka’ab dan Abu Manshur Al- Anshori ketika tengah ada walimatul Ursy. Tiba- tiba ada budak- budak perempuan menyanyi. Saya pun bertanya: Wahai dua sahabat Rasulullah, Ahlul badar melakukan ini By Muhammad sukma rohim 26-11-2009 35

dirumah kalian?” Mereka menjawab: ” Jika kamu suka duduklah kamu, jika tak suka silahkan tinggalkan tempat ini. Di Walimatul Ursy kita dapat keringanan untuk mengadakan hiburan”. Imam Nasa’I dan Hakim mensahihkan hadist ini. o o Sebagian Ulama mensyaratkan bahwa rukhsoh dan kemudahan itu diberikan Imam Asy- Syaukani dalam kitabnya Nailul Author mengatakan: “Penduduk saat walimatul ursy seperti pada riwayat - riwayat tersebut diatas. Madinah dan orang- orang yang sependapat dengan mereka dari kalangan AdDhohiriyah dan dari kalangan ahli sufi berpendapat bahwa nyanyian itu ada keringanan hukumnya walaupun disertai “Uud” (Lute- English: Suatu alat musik bersenar dan berdawai yang berbentuk seperti labu dibelah). o Syaikh Abu Manshur Al- Baghdady asy- Syafi’I menceriterakan dalam kitabnya As- Sima’ bahwa Abdullah bin Ja’far (Sohabat Nabi) tidak memandang nyanyian itu haram. Bahkan ia sering menggubah lagu untuk dinyanyikan oleh para budak wanitanya, lalu ia mendengarkan mereka menyanyikannya dan mengiringinya dengan petikan ‘Uud. Itu semua terjadi dizaman Khalifah Ali. o Abdul Fadl bin Thohir meriwayatkan dalam karyanya yang juga berjudul AsSima’ menyatakan: bahwa tidak ada perselisihan pendapat dikalangan penduduk Madinah tentang bolehnya nyanyian dengan menggunakan ‘Uud. o Abu Umar Al- Andalusy dalam kitabnya Al- Aqd meriwayatkan bahwa sahabat Abdullah bin Umar berkunjung kerumah Ibnu Ja’far. Ia mendapati didalam rumah tersebut ada seorang budak perempuan berada dikamarnya sambil memegang ‘Uud. Lalu Ibnu Ja’far bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud: ” Adakah kau lihat ada sesuatu (larangan) pada semua ini?” Ibnu Umar menjawab: “Tidak ada”. o Baiklah sebagai kesimpulan kita lihat bagaimana pendapat seorang filsuf Islam ahli Sufi terkenal Imam Al- Ghozali tentang musik ini. Tulisannya kita nukil dari Maha karyanya: Ihya’u Ulumuddin, Kitabus Sima’ pada halaman 1152- 1153: o ” Memang hal ini (mencari hiburan dengan bermusik) menunjukkan adanya kekurang sempurnaan seorang muslim, karena orang yang sempurna adalah orang yang tidak perlu menghibur dirinya selain dengan kebenaran (mendekatkan diri ke Allah dengan tilawah, dzikir, ibadah). Namun kebaikan bagi seseorang adakalanya masih dinilai buruk bagi MUQORROBIN (orang yang sudah sangat mendekatkan diri By Muhammad sukma rohim 26-11-2009 36

pada Allah). Adapun orang- orang yang menguasai ilmu pengobatan hati, rangsangan- rangsangan lembut yang dibutuhkan dalam pengobatan jiwa dan bagaimana mengarahkannya menuju kebenaran, niscaya mereka akan tahu pasti bahwa usaha menghiburnya dengan hal- hal seperti ini (mendengarkan music yang baik) merupakan obat yang bermanfaat yang pasti dibutuhkan”. Yang Mengharamkan beralasan sebagai berikut: Luqman berikut:









        

 

 



  
“Dan diantara mereka (ada) orang yang mempergunakan LAHWAL HADIST (kata- kata tak berguna) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu sebagai bahan olok- olokan. Mereka itu memperoleh Adzab yang menghinakan” (Surat Luqman: 6). Menurut sebagian ulama’, LAHWAL HADIST disini yang dimaksud adalah “Nyanyian,”. Jadi nyanyian itu haram hukumnya.  Pandangan Islam mengenai Poligami

Dengan catatan harus berperilaku adil sebagaimana yang tercantum dalam firman ALLAh SWT yang berbunyi:



     

      
By Muhammad sukma rohim 26-11-2009

  
37

  

 



  

"Dan kamu tidak sekali-kali akan sanggup berlaku adil di antara isteri-isteri kamu sekalipun kamu bersungguh-sungguh (hendak melakukannya); oleh itu janganlah kamu cenderung dengan melampau-lampau (berat sebelah kepada isteri yang kamu sayangi) sehingga kamu biarkan isteri yang lain seperti benda yang tergantung (di awang-awang)."

b)

Saran Dari saudara atau saudari pembaca makalah ini kami mohon untuk kritik dan

saranya,apabila ada penulisan yang salah dan kurang tepat saya mmohon ma’af sedalam dalamya. Dan mungkin kritik-kritikan yang saudara atau saudari berikan akan menambah masukan yang lebih bermanfaat

By Muhammad sukma rohim

26-11-2009

38

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->