P. 1
Neonatus Resiko

Neonatus Resiko

5.0

|Views: 5,683|Likes:
Published by avievah-afra-2531

More info:

Published by: avievah-afra-2531 on Dec 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2013

pdf

text

original

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 – 28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Peralihan dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan faali. Dengan terpisahnya bayi dari ibu, maka terjadilah awal proses fisiologik. Banyak masalah pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan atau kegagalan penyesuaian biokimia dan faali yang disebabkan oleh prematuritas, kelainan anatomik, dan lingkungan yang kurang baik dalam kandungan, pada persalinan maupun sesudah lahir. Masalah pada neonatus biasanya timbul sebagai akibat yang spesifik terjadi pada masa perinatal. Tidak hanya merupakan penyebab kematian tetapi juga kecacatan. Masalah ini timbul sebagai akibat buruknya kesehatan ibu, perawatan kehamilan yang kurang memadai, manajemen persalinan yang tidak tepat dan tidak bersih, kurangnya perawatan bayi baru lahir. Kalau ibu meninggal pada waktu melahirkan, si bayi akan mempunyai kesempatan hidup yang kecil. B. Perumusan Masalah Untuk memudahkan penulis dalam menyusun makalah ini, maka kami rumuskan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan sindrom gangguan pernapasan

2. Apa yang diaksud dengan kejang 3. Apa yang dimaksud dengan hipotermi 4. Apa yang dimaksud dengan hipertermi 5. Apa yang dimaksud dengan hipoglikemi 6. Apa yang dimaksud dengan tetanus neonatorum

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

7. Apa yang dimaksud penyakit yang diderita ibu selama kehamilan

A. Tujuan Penulisan Selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Asuhan Neonatus Bayi dan Balita, juga untuk: 1. Mengetahui sindrom gangguan pernapasan 2. Mengetahui kejang 3. Mengetahui hipotermi 4. Mengetahui hipertermi 5. Mengetahui hipoglikemi 6. Mengetahui tetanus neonatorum 7. Mengetahui penyakit yang diderita ibu selama kehamilan A. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN : Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, sistematika penyusunan. BAB II PEMBAHASAN : Berisi tentang pengertian kebidanan, pelayanan kesehatan, fungsi etika dan moralitas pelayanan kebidanan, hak dan kewajiban dan tangungjawab bidan, aspek legal dalam pelayanan kebidanan. BAB III PENUTUP : Berisi tentang kesimpulan dan saran

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

BAB II PEMBAHASAN

A. Sindrom Gangguan Pernapasan 1. Tinjauan Sindrom ganguan pernapasan adalah kondisi yang berkaitan dengan keadaan preterm dan setiap faktor yang merupakan akibat dari defisiensi fungsi surfaktan, seperti pada ibu diabetes dan hipoksia. Manifestasi klinis mungkin ada saat kelahiran atau dalam beberapa jam setelah kelahiran. Manifestasi klinisnya berupa takipnea, pernafasan mendengkur, pernapasan cuping hidung pada inspirasi, retraksi subkosal atau interkosal, pucat dan sianosis, apnea, kesulitan bernpas, peningkatan kebutuhan oksigen, dan hipotonus. Foto rontgen dada menunjukan densitas retikuloglanular difus bilateral, dengan bagian cabang trakeobrobkial yang terisi udara (bronkogram udara) yang ditandai dengan paru-paru yang tidak tembus cahaya. Sindrom gangguan pernapasan biasanya dapat pulih dalam 4 hingga 7 hari, jika terapi pengganti surfaktan telah diberikan. Komplikasi yang kerap kali terjadi adalah patent ductus arteriosus (PDA). 2. Terapi klinis Penatalaksanaan suportif mencakup pemberian oksigen, terapi dan ventilasi, uji gas darah untuk memantau kadar oksigen

karbondioksida, metode transkutaneus atau oksimetri nadi, dan koreksi ketidakseimbangan asam basa. Terapi ventikulor bertujuan untuk mencegah hipoventilasi dan hipoksia. Tingkat kebutuhan dukungan ventilator berkisar dari kontraksi oksigen yang meningkat sampai penggunaan tekanan jalan napas positif kontinu (continous positive airway pressure, CPAP) dan ventilasi mekanik penuh serta penggunaan intubasi. Terapi pengganti surfaktan telah menunjukan perbaikan kecepatan oksigenasi dan penurunan kebutuhan dukungan

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

ventilator. Terapi pengganti surfaktan harus diberikan oleh tenaga yang telah terlatih khusus. 3. Pengkajian Keperawatan Penting
1. Kaji bayi baru lahir untuk setiap faktor resiko. Waspada terhadap

bayi prematur dan setiap bayi yang diduga hipoksia, saat berada dalam uterus atau segera setelah kelahiran.
2. Kaji usaha pernapasan bayi baru lahir. Catat pergerakkan dinding

dada, usaha pernapasan (mendengkur, prnapasan cuping hidung, retraksi), dan warna (sianosis, pucat, kehitam-hitaman) kulit dan membran mukosa; aulkultrasi paru bilateral bila ada pemasukan udara.
3. Kaji

kebutuhan

peningkatan

oksigen

dan

lakukan

ventilasi

bantuan. Catatan: PaO2 normal: 50-70 mm Hg, PaCO2: 35-45 mm Hg, dan pH 7,35-7,45. Pantau tekanan darah (rata-rata bagi bayi cukup usia, 80/45-40; bayi preterm 64/39). 4. Kaji asupan dan keluaran cairan yang tidak tampak. 5. Kaji tanda-tanda infeksi ketidakstabilan suhu, letargi, asupan ASI yang kurang, den hipotonia. 1. Contoh Diagnosis Keperawatan

Gangguan

pertukaran

gas

yang

berhubungan

dengan

ketidakcukupan surfaktan paru.
• •

Risiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan prosedut invasif. Ketidakefektifan pernapasan. termoregulasi yang berhubungan dengan peningkatan usaha nafas, sekunder akibat sindrom gangguan

1. Intervensi Keperawatan Penting
1. Berikan oksigen yang telah dilembabkan, dihangatkan dengan

berbagai rancangan rute: kepala oksigen, tekanan jalan napas positif kontinu (continuous positive airway pressure, CPAP), dan intubasi.
2. Ubah

konsentrasi oksigen dengan peningkatan sebesar 5%

hingga 10%, atau sesuai permintaan untuk mempertahankan kecukupan kadar PaO2. Periksa kadar gas darah setelah setiap perubahan yang signifikan pada konsentrasi oksigen.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

3. Lakukan uji gas darah arteri sesuai permintaan. Pertahankan kestabilan lingkungan sebelum pemeriksaan gas darah (jangan lakukan pengisapan, merubah kadar oksigen atau penataan ventilatoratau menggangu bayi). 4. Melakukan pengisapan jika perlu. Sekresi didapati jarang hingga hari kedua atau ketiga, saat ini paru-paru mulai terbuka. Perhatikan pemantauan oksigen transkutaneus atau oksimetri nadi untuk menilai desaturasi, selama prosedur. 5. Periksa dan kalibrasi seluruh alat pemantauan dan alat pengukur yang dipergunakan setiap 8 jam. 6. Pertahankan kepatenan IV. 7. Pertahankan
8. Pemberian

suhu

lingkungan sesuai

netral.

Ketidaksatabilan antibiotic,

suhu

meningkatkan konsumsi oksigen dan asidosis metabolik. obat-obatan efek intruksi: diuretic, sedative dan analgesic. Fentenil dan morfin yang digunakan untuk mendapatkan sedative dan analgesiknya. Penggunaan pankuronium (pavulon) ditujukan untuk relaksasi otot, masih menjadi kontrofersial. 9. Cuci tangan dengan hati-hati, gunakan sarung tangan selama prosedur dan perhatikan pengendalian infeksi, merupakan hal yang penting. 10.Sediakan waktu untuk menjawab pertanyaan orang tua tentang keadaan bayi dan peralatan yang digunakan, serta berikan motivasi emosional. Jelaskan perawatan pendukung ke orang tua. 11.Catat dan laporkan seluruh hasil pemantauan klinis. 1. Evaluasi • Risiko sindrom gangguan pernapasan yang diidenfikasi dengan tepat dan interfensi awal segera dimulai. • Bayi baru lahir tidak menampakkan gejala gangguan pernapasan dan gangguan metabolic. • Orang tua mengungkapkan serta keprihatinan alasan mereka rasional terhadap dibalik masalah kesehatan masalah bayi mereka, dan kemampuan bertahan, memahami penatalaksanaan terhadap bayi mereka.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

A. Kejang

1. Tinjauan Kejang pada neonatus didefinisikan sebagai suatu gangguan terhadap fungsi neurologis seperti tingkah laku, motorik, atau fungsi otonom. Periode bayi baru lahir (BBL) dibatasi sampai hari ke 28 kehidupan pada bayi cukup bulan, dan untuk bayi premature, batasan ini digunakan sampai usia gestasi 42 minggu. Kebanyakan kejang pada BBL timbul selama beberapa hari. Sebagian kecil dari bayi tersebut akan mengalami kejang lanjutan dalam kehidupannya kelak. Kejang pada neonatus relative sering dijumpai dengan manipestasi klinis yang berfariasi. Timbulnya sering merupakan gejala awal dari gangguan neurologi dan dapat terjadi gangguan pada kognitip dan pekembangan jangka panjang. 2. Penyebab Neuron dalam susunan saraf pusat (SSP) mengalami depolarisasi sebagai akibat dari masuknya kalium dan repolarisasi timbul akibat keluarnya kalium. Kejang timbul bila terjadi depolarisasi berlebihan akibat arus listrik yang terus menerus dan berlebihan. Volpe mengemukakan 4 kemungkinan alasan terjadi depolarisasi yang berlebihan, yaitu: • • • gagalnya pompa natrium kalium karena gangguan produksi energi selisih relative antara neurotransmitter eksitasi dan inhibisi perubahan membran neuron menyebabkan hambatan gerakan natrium. Penyebab kejang pada neonatus: 1. Bayi tidak menangis pada waktu lahir adalah penyebab yang paling sering timbul dalam 24 jam kehidupan pada kebanyakan kasus. 2. Perdarahan otak, dapat timbul sebagai akibat drai kekurangan oksigen atau trauma pada kepala. Perdarahan subdural yang biasanya diakibatkan oleh trauma dapat menimbulkan kejang.
3. Gangguan metabolic

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

a.

Kekurangan kadar gula darah (hipoglikemi), sering timbul dengan gangguan pertumbuhan dalam kandungan dan pada bayi dengan ibu penderita diabetes mellitus (DM). Jangka waktu antara hipoglikemia dan waktu sebelum pemberian awal pengobatan merupakan waktu timbulnya kejang lebih jarang timbul pada ibu penderita DM, kemungkinan karena waktu hipoglikemia yang pendek.

b. Kekurangan kalsium (hipokalsemia), sering ditemukan pada

bayi berat badan lahir rendah, bayi dengan ibu penderita DM, bayi asfiksia, bayi dengan ibu penderita hiperparatiroidisme. c. Kekurangan natrium (hiponatremia) d. Kelebihan berlebihan. 1. Penatalaksanaan Pertahankan homeostasis sistemik (pertahankan jalan nafas, usaha nafas dan sirkulasi) � o o Terapi etiologi spesifik : Dekstrose 10% 2 ml/kg BB intravena bolus pelan dalam 5 menit Kalsium glukonas 10 % 200 mg/kg BB intravena (2 ml/kg BB) natrium (hipernatremia), biasanya timbul bersamaan dengan dehidrasi atau pemakaian bikarbonat

diencerkan aquades sama banyak diberikan secara intra vena dalam 5 menit (bila diduga hipokalsemia) o o Antibiotika bila dicurigai sepsis atau meningitis Piridoksin 50 mg IV sebagai terapeutik trial pada defisiensi

piridoksin, kejang akan berhenti dalam beberapa menit � o Terapi anti kejang : Fenobarbital : Loading dose 10-20 mg/kg BB intramuskuler� dalam

5 menit, jika tidak berhenti dapat diulang dengan dosis 10 mg/kgBB sebanyak 2 kali dengan selang waktu 30 menit. o Bila kejang berlanjut diberikan fenitoin: loading dose 15-20 mg/kg

BB intra vena dalam� 30 menit.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

o

Rumatan fenobarbital dosis 3-5 mg/kgBB/hari dapat diberikan

secara intramuskuler atau peroral dalam dosis terbagi tiap 12 jam, dimulai 12 jam setelah loading dose. o Rumatan fenitoin dosis 4-8 mg/kgBB/hari intravena atau peroral

dalam dosis terbagi tiap 12 jam. Penghentian obat anti kejang dapat dilakukan 2 minggu setelah bebas kejang dan penghentian obat anti kejang sebaiknya dilakukan sebelum pulang kecuali didapatkan lesi otak bermakna pada USG atau CT Scan kepala atau adanya tanda neurologi abnormal saat akan pulang. � Diazepam

A. Hipotermi 1. Definisi Hipotermia adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh berada dibawah 35°Celsius. 2. Penyebab Luas permukaan tubuh pada bayi baru lahir (terutama jika berat badannya rendah), relatif lebih besar dibandingkan dengan berat badannya sehingga panas tubuhnya cepat hilang. Pada cuaca dingin, suhu tubuhnya cenderung menurun. Panas tubuh juga bisa hilang melalui penguapan, yang bisa terjadi jika seorang bayi yang baru lahir dibanjiri oleh cairan ketuban. 3. Gejala Gejalanya bisa berupa: - bayi tampak mengantuk - kulitnya pucat dan dingin - lemah, lesu - menggigil. Hipotermia bisa menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah yang rendah), asidosis metabolik (keasaman darah yang tinggi) dan kematian. Tubuh dengan cepat menggunakan energi agar tetap hangat, sehingga pada saat kedinginan bayi memerlukan lebih banyak oksigen.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

Karena itu, hipotermia bisa menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke jaringan. 4. Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil pengukuran suhu tubuh. 5. Pengobatan Bayi dibungkus dengan selimut dan kepalanya ditutup dengan topi. Jika bayi harus dibiarkan telanjang untuk keperluan observasi maupun pengobatan, maka bayi ditempatkan dibawah cahaya penghangat. 6. Pencegahan Untuk mencegah hipotermia, semua bayi yang baru lahir harus tetap berada dalam keadaan hangat. Di kamar bersalin, bayi segera dibersihkan untuk menghindari hilangnya panas tubuh akibat penguapan lalu dibungkus dengan selimut dan diberi penutup kepala. A. Hipertermi 1. Defenisi Hipertertmia adalah suhu tubuh yang tinggi dan bukan disebabkan oleh mekanisme pengaturan panas hipotalamus. 2. Etiologi Disebabkan oleh meningkatnya produksi panas andogen (olahraga berat, hipertermia maligna,sindrom neuroleptik maligna,hipertiroidisme), pengurangan kehilangan panas, atau terpajan lama pada lingkungan bersuhu tinggi (sengatan panas). 3. Gejala - Suhu badannya tinggi - Terasa kehausan - Mulut kering-kering

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

- Kedinginan, lemas - Anoreksia (tidak selera makan) - Nadi cepat dan - Pernafasan tidak teratur. 4. Tindakan / Pengobatan - Bila suhu diduga karena paparan panas yang berlebihan : · Letakkan bayi di ruangan dengan suhu lingkungan normal (25ºC – 28ºC). · Lepaskan sebagian atau seluruh pakaiannya bila perlu · Periksa suhu aksiler setiap jam sampai tercapai suhu dalam batas normal. · Bila suhu sangat tinggi (<39ºC), bayi dikompres atau dimandikan selama 10-15 menit dalam air yg suhunya 4ºC lebih rendah dari suhu tubuh bayi. - Bila bayi pernah diletakkan di bawah pemancar panas atau inkubator · Turunkan suhu alat penghangat, bila bayi di dalam inkubator, buka inkubator sampai suhu dalam batas normal. · Lepas sebagian atau seluruh pakaian bayi selama 10 menit kemudian. · Beri pakaian lagi sesuai dengan alat penghangat yang digunakan · Periksa suhu bayi setiap jam sampai tercapai suhu dalam batas normal. · Periksa suhu inkubator atau pemancar panas setiap jam dan sesuaikan pengatur suhu. - Manajemen lanjutan suhu lebih 37,5ºC

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

· Yakinkan bayi mendapatkan masukan cukup cairan Ø Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya. Bila bayi tidak dapat menyusui, beri ASI peras dengan salah satu alternatif cara pemberian minum. Ø Bila terdapat tanda dehidrasi, tangani dehidrasinya. · Periksa kadar glukosa darah,bila kurang 45 mg/dl (2,6 mmol/l), tangani hipoglikemia. · Cari tanda sepsis sekarang dan ulangi leagi bila suhu tubuh mendapai batas normal. · Setelah suhu bayi normal : Ø Lakukan perawatan lanjutan Ø Pantau bayi selama 12 jam berikutnya, periksa suhu badannya setiap 3 jam. · Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat diberi minum dengan baik serta tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan, nasehati ibu cara menghangatkan bayi di rumah dan melindungi dari pancaran panas yang berlebihan. B. Hipoglikemi 1. Batasan Hipoglikemi adalah keadaan hasil pengukuran kadar glukose darah kurang dari 45 mg/dL (2.6 mmol/L). 2. Patofisiologi Hipoglikemi sering terjadi pada BBLR, karena cadangan glukosa rendah. Pada ibu DM terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga respon insulin juga meningkat pada janin. Saat lahir di mana jalur plasenta terputus maka transfer glukosa berhenti sedangkan

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

respon insulin masih tinggi (transient hiperinsulinism) sehingga terjadi hipoglikemi. Hipoglikemi adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat menimbulkan kejang yang berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan kerusakan pada susunan saraf pusat bahkan sampai kematian. Kejadian hipoglikemi lebih sering didapat pada bayi dari ibu dengan diabetes melitus. Glukosa merupakan sumber kalori yang penting untuk ketahanan hidup selama proses persalinan dan hari-hari pertama pasca lahir. Setiap stress yang terjadi mengurangi cadangan glukosa yang ada karena meningkatkan penggunaan cadangan glukosa, misalnya pada asfiksia, hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasan. 3. Diagnosis Anamnesis � Riwayat bayi menderita asfiksia, hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasan � Riwayat bayi prematur � Riwayat bayi Besar untuk Masa Kehamilan (BMK) � Riwayat bayi Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK) � Riwayat bayi dengan ibu Diabetes Mellitus � Riwayat bayi dengan Penyakit Jantung Bawaan � Bayi yang beresiko terkena hipoglikemia - Bayi dari ibu diabetes (IDM) - Bayi yang besar untuk masa kehamilan (LGA) - Bayi yang kecil untuk masa kehamilan (SGA) - Bayi prematur dan lewat bulan - Bayi sakit atau stress (RDS, hipotermia) - Bayi puasa - Bayi dengan polisitemia - Bayi dengan eritroblastosis

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

- Obat-obat yang dikonsumsi ibu, misalnya sterorid, betasimpatomimetik dan beta blocker

4. Gejala Klinis/Pemeriksaan fisik

Gejala Hipoglikemi : tremor, jittery, keringat dingin, letargi, kejang, distress nafas Ÿ Jitteriness Ÿ Sianosis Ÿ Kejang atau tremor Ÿ Letargi dan menyusui yang buruk Ÿ Apnea Ÿ Tangisan yang lemah atau bernada tinggi Ÿ Hipotermia Ÿ RDS 5. Diagnosis Banding insufisiensi adrenal, kelainan jantung, gagal ginjal, penyakit SSP, sepsis, asfiksia, abnormalitas metabolik (hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia, hipomagnesemia, defisiensi piridoksin). Penyulit ��� - �Hipoksia otak ��� - �Kerusakan sistem saraf pusat 6. Tatalaksana a. Monitor Pada bayi yang beresiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu DM) perlu dimonitor dalam 3 hari pertama : o o Periksa kadar glukosa saat bayi datang/umur 3 jam Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan

glukosa normal dalam 2 kali pemeriksaan Kadar glukosa ≤� 45 mg/dl atau gejala positif tangani hipoglikemia o o Pemeriksaan kadar glukosa baik, pulangkan setelah 3 hari penanganan hipoglikemia selesai

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

b. Penanganan hipoglikemia dengan gejala : � � Bolus glukosa 10% 2 ml/kg pelan-pelan dengan kecepatan 1 Pasang jalur iv D10 sesuai kebutuhan (kebutuhan infus glukosa 6ml/menit 8 mg/kg/menit). Contoh : BB 3 kg, kebutuhan glukosa 3 kg x 6 mg/kg/mnt = 18 mg/mnt = 25920 mg/hari. Bila dipakai D 10% artinya 10 g/100cc, bila perlu 25920 mg/hari atau 25,9 g/hari berarti perlu 25,9 g/ 10 g x 100 cc= 259 cc D 10% /hari. Atau cara lain dengan GIR Konsentrasi glukosa tertinggi untuk infus perifer adalah 12,5%, bila lebih dari 12,5% digunakan vena sentral. � Untuk mencari kecepatan Infus glukosa pada neonatus dinyatakan dengan GIR. Kecepatan Infus (GIR) = glucosa Infusion Rate GIR (mg/kg/min) = Kecepatan cairan (cc/jam) x konsentrasi Dextrose (%) 6 x berat (Kg) Contoh : Berat bayi 3 kg umur 1 hari Kebutuhan 80 cc/jam/hari = 80 x 3 = 240 cc/hari = 10 cc/jam GIR = 10 x 10 (Dextrose 10%) = 100 = 6 mg/kg/min 6 x 3=18 � Periksa glukosa darah pada : 1 jam setelah bolus dan tiap 3 jam � Bila kadar glukosa masih < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala, ulangi seperti diatas � Bila kadar 25-45 mg/dl, tanpa gejala klinis : - Infus D10 diteruskan - Periksa kadar glukosa tiap 3 jam - ASI diberikan bila bayi dapat minum Bila kadar glukosa ≥ 45 mg/dl dalam 2 kali pemeriksaan - Ikuti petunjuk bila kadar glukosa sudah normal (lihat ad d) - ASI diberikan bila bayi dapat minum dan jumlah infus diturunkan pelan-pelan - Jangan menghentikan infus secara tiba-tiba c. Kadar� glukosa darah < 45 mg/dl tanpa GEJALA : � ASI teruskan

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

� Pantau, bila ada gejala manajemen seperti diatas � Periksa kadar glukosa tiap 3 jam atau sebelum minum, bila : � Kadar < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala tangani hipoglikemi (lihat ad b) � Kadar 25-45 mg/dl naikkan frekwensi minum � Kadar ≥ 45 mg/dl manajemen sebagai kadar glukosa normal d. Kadar glukosa normal IV teruskan � IV teruskan � Periksa kadar glukosa tiap 12 jam Bila kadar glukosa turun, atasi seperti diatas � Bila bayi sudah tidak mendapat IV, periksa kadar glukosa tiap 12 jam, bila 2 kali pemeriksaan dalam batas normal, pengukuran dihentikan. e. Persisten hipoglikemia (hipoglikemia lebih dari 7 hari) � konsultasi endokrin � terapi : kortikosteroid� hidrokortison 5 mg/kg/hari 2 x/hari iv atau prednison 2 mg/kg/hari per oral, mencari kausa hipoglikemia lebih dalam. � bila masih hipoglikemia dapat ditambahkan obat lain : somatostatin, glukagon, diazoxide, human growth hormon, pembedahan. (jarang dilakukan)
A. Tetanus Noenatorum

1. Penyebab Penyebab tetanus neonatorum adalah Clostridiun tetani, yang masuk melalui tali pusat sewaktu proses pertolongan persalinan. Spora yang masuk disebabkan oleh proses pertolongan persalinan yang tidak steril, baik oleh penggunaan alat yang telah terkontaminasi dengan spora Clostridium tetani, maupun penggunaan obat-obatan untuk tali pusat yang juga telah terkontaminasi. Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan dan obat tradisionil yang tidak steril, merupakan faktor yang utama dalam terjadinya Tetanus neonatorum. 2. Masa Inkubasi Masainkubasi berkisarantara 3-14 hari, tapi bias lebih pendek ataupun lebih panjang. Berat ringannya penyakit juga tergantung pada lamany

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

masa inkubasi, makin pendek masa inkubasi biasanya prognosa makin jelek. 3. Diagnosa Diagnosa tetanus neonatorum biasanya dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis. Gejalaklinikyangkarakteristikberupa: Malas minum, mudah terangsang dan anak menangis terus menerus. Tidak sanggup mengisap dan belakangan bayi berhenti menangis karena rahang sukar dibuka disebabkan terjadinya kekakuan. Kemudian diikuti kekakuan pada seluruh tubuh disertai kejang yang tersentak (intermittent jerking spasm), teruta mahal Individu yang imun tetapi sensitive terhadap bahan toxinakan menimbulkan reaksi terhadap keduanya, toxin dan toxoid. Reaksi kulit yang terjadi umumnya maksimal pacta 48-72 jam, dan kemudian mulai menyusut dan menghilang. Ini berbeda bila hasil Schick test positif, dimana reaksi ini akan menetap sampai beberapa hari. Bila individu tidak mempunyai antitoxin didalam serumnya, tetapi ia alergi terhadap toxoid, reaksi akan dijumpai pacta kedua belah tangan, tetapi reaksi pada sebelah tangan yang mendapat suntikan toxin akan mencapai puncaknya pada hari ke-5 dan menetap, sedang reaksi terhadap toxoid akan berkurang pada hari ke 5-7. Schicktest dikatakan positif bilad ijumpai indurasi yang diameternya sebesar 10 mm atau lebih. Bila test dilakukan tanpa menggunakan kontrol, pembacaan dilakukan setelah 5X 24jam setelah suntikan dilakukan. Ini dilakukan untuk menghindari pseudoreaksi yang timbul, yang biasanya akan sudah menghilang pada hari ke-3 atau ke-4. 4. Kriteria penilaian Reaksi positif, bila dijumpai indurasi berwarna merah kecoklatan yang kadang disertai nekrosis jaringan dengan diameter lebih besar atau sama dengan 10 mm. Reaksi negatif, bila tidak dijumpai keadaan di atas, berarti anak mempunyai daya lindung terhadap difteri. Initerjadi bila ada rangsangan dari luar seperti suara yang keras, cahaya dan tactil stimuli antara lain bila dipegang, pada pemberian injeksi untuk pengobatan dan pada waktu melakukan pengisapan lendir.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

Mulut mencucur, dan bila bayi menangis suaranya tangisan tidak jelas, terdengar seperti mendesis. Diagnostik test yang sering digunakan adalah reflex spasm dari dinding perut yang dapat dilakukan engan melakukan palpasi abdomen dan sebagai akibatnya akan timbul kejang dan kekakuan dinding perut. Prognosa tetanus neonatorum adalah jelek bila: 1. Umur bayi kurang dari 7 hari 2. Masa inkubasi 7 hari atau kurang 3. periode timbulnya gejala kurang dari 48 jam 4. Dijumpai muscular spasm 1. Penanggulangan I. Perawatan Umum A. Tindakan pertama pada saat penderita masuk ke rumah sakit Atasi kejang dengan pemberian anti-convulsan, seperti diazepam dengan dosis 2 -10 mg I.V. ataupun secara I.M. Bila kejang sudah teratasi pasang nasa-gastric tube dan beri cairan intra-vena Dextrose-NaCl untuk mengatasi kebutuhan cairan dan elektrolit, dan juga untuk jalan pemberian obat. Kalau memungkinkan hindari pemberian obat secara I.M. karena ini akan merangsang terjadinya muscular spasm. B. Perawatan 1. Tempatkan bayi dalam incubator untuk menghindari rangsangan dari luar. 2. Usahakan agar temperature ruangan tetap. 3. Observasi dilakukan dengan mengurangi sekecil mungkin terjadinya rangsangan. 4. Catat dan awasi denyut jantung, pols, pernafasan ,temperature bayi dan temperature inkubator, frekwensi dan beratnya muscular spasm. 5. Bersihkan mulut, nasofaring dari sekresi cairan yang menumpuk dengan cara melakukan pengisapan lender secara berulang, teratur dan hati-hati.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

6. Catat pengeluaran kencing dan tinja, bila dijumpai gumpalan tinja, lakukan pengosongan dengan penggunaan salineonema. 7. Buat daftar cairan yang masuk dan keluar.
8. Lakukan perobahan posisi bayi setiap 2 jam. 9. Lakukan fisioterapi pada daerah dada secara hati-hati setiap 4

jam. 10.Gerakkan tangan dan kaki secara pasif. 11.Jangan lupa memberi zalf anti biotika pada mata. Catatan Pada setiap tindakan yang dilakukan terhadap bayi yang dirawat dengan tetanus neonatorum harus dilakukan dengan seksama dan hati-hati, oleh karena semua tindakan ini dapat merangsang terjadinya spasme dan kejang. C. Perawatantalipusat Bila tali pusat masih ada bersihkan dengan hydrogen peroxide dan bila perlu dilakukan tindakan bedah. II. Antibiotika, Tetanus anti-toxin dan Toxoid A. Antibiotika Crystal line penicillin diberikan dengan dosis 100.000 unit/kg BB hari dibagi dalam 4 dosis dan diberikan secara intravena untuk selama 7 hari, atau bila ini tidak ada dapat digunakan Penicllin procaine 100.000 unit/kgBB/hari, diberikan secara I.M. Bila dijumpai adanya komplikasi, broad spectrum anti biotika dapat ditambahkan pemakaian broad spectrum anti biotika ini harus segera dipikirkan, mengingat bahwa Tetanus neonatorum ini adalah termasuk penyakit yangb erat [tetanus yang berat]. B.Pemberian Anti-toxin Pemberian anti-toxin bertujuan hanya untuk mengikat toxin yang masih beredar dalam darah, atau pun toxin yang belum terikat dengan kuat. A.T.S dengan dosis 10.000 units dapat diberikan secara I.V., ataupun dengan pemberian tetanus immuneglobulin 500 units secara I.M. berupa dosis tunggal. C. Tetanus toxoid Tetanus toxoid harus diberikan, karena penderita yang sembuh dari tetanus neonatorum tidak membentuk daya kebal terhadap tetanus

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

[noconvertofimmunity], tetanus neonatorum

sehingga pemberian

kemungkinan tetanus

untuk ini

mendapat sebaiknya

infeksi dengan tetanus pada waktu mendatang akan tetap ada. Pada toxoid diberikan setelah penderita sembuh dan diberikan pada saat bayi berumur 2 bulan atau lebih, bersamaan dengan pemberian imunisasi yang lain. Berbeda dengan pemberian BCG, Polio dan hepatitis, dimana pemberian vaksin ini dapat diberikan sesudah bayi lahir, sedang untuk pemberian tetanus toxoid hal ini tidak dianjurkan sebelum bayi berusia diatas 6 mgg.
A. Penyakit Yang Diderita Ibu Selama Kehamilan

Sebagian besar Bayi Baru Lahir yang terlahir dari Ibu yang bermasalah dalam arti menderita suatu penyakit, tidak menunjukkan gejala sakit pada saat dilahirkan atau beberapa waktu setelah lahir. Bukan berarti bayi baru lahir tersebut aman dari gangguan akibat dari penyakit yang diderita ibu. Hal tersebut dapat menimbulkan akibat yang merugikan bagi Bayi Baru Lahir (BBL), dan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas bayi. Ibu bermasalah disini diartikan sebagai Ibu yang menderita sakit, sebelum, selama hamil, atau pada saat menghadapi proses persalinan. Dari State of the World’s Newborn, Save The Children 2001, terdapat Rumus dua per tiga yaitu, Lebih dari 7 juta bayi meninggal setiap tahun antara lahir hingga umur 12 bulan., hampir dua pertiga bayi yang meninggal, terjadi pada bulan pertama, dari yang meninggal tersebut, dua pertiga meninggal pada umur satu minggu, dan dua pertiga diantaranya meninggal pada dua puluh empat jam pertama kehidupannya. Disini sangat jelas bahwa masalah kesehatan Neonatal tidak dapat dilepaskan dari masalah kesehatan perinatal dimana proses kehamilan, dan persalinan memegang faktor yang amat penting Sasaran kesehatan anak tahun 2010 diantaranya adalah angka kematian bayi turun dari 45,7 per seribu kelahiran, menjadi 36 per seribu kelahiran (SKN), BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah atau kurang 2500 gram) menurun setinggi-tingginya 7% (SKN), di mana secara nasional th 19951999 diperkirakan BBLR 8% (Save The Children 2001) akan tetapi kalau dilihat dari tahun ke tahun, angka kematian Neonatus penurunannya sangat lambat, dan menempati 47% dari angka kematian bayi, bahkan

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

pada 2003 AKN 20 per seribu kelahiran. Dari angka tersebut, 79,4% kematian pada bayi baru lahir berumur kurang dari tujuh hari. Bila dikaji lebih mendalam, ternyata dari kematian tersebut, 87% dapat dicegah apabila deteksi dini bayi resiko cepat diketahui, dan dapat segera dirujuk agar mendapat pertolongan yang akurat, dan cepat. Diperkirakan tiap jam terdapat 12 neonatus meninggal. Dari sumber SKRT 2001, ternyata dari bayi yang mendapat masalah, yang mencari pertolongan pada tenaga kesehatan hanyalah 36%. Oleh karena itu, tenaga kesehatan di lini terdepan baik di pelayanan perifer ataupun di pusat, sangat diharapkan mempunyai ketrampilan baik deteksi dini bayi resiko ataupun penanganan kegawatan, dan menentukan waktu yang tepat kapan bayi akan dirujuk, dan persiapan apa yang harus dilakukan. Bayi yang berumur kurang dari tujuh hari, kelainan yang di derita lebih banyak terkait dengan kehamilan dan persalinan, sedangkan bayi berumur lebih dari tujuh hari sampai dua bulan banyak terkait dengan pola penyakit anak. Karena kebanyakan bayi baru lahir yang sakit jarang dibawa oleh orang tua ke pusat pelayanan karena kultur masyarakat, maka kunjungan rumah bagi tenaga kesehatan sangat diperlukan, dengan ASUH yaitu awal sehat untuk hidup sehat. Karena kelainan BBL sangat erat hubungannya dengan saat berada di dalam kandungan, maka komunikasi yang erat diantara dokter Anak, dokter Obstetri dan Dokter Anaestesi serta bidan setempat sangatlah penting. Upaya pemerintah untuk menurunkan angka kematian bayi, telah banyak dilakukan, diantaranya adalah Asuhan Persalinan Normal, Safe Mother Hood, Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial Dasar dan Komprehensip, awal Sehat untuk hidup sehat, Manajemen Terpadu Balita Sakit, dan Manajemen Bayi Muda Sakit karena kelainan BBL sangat erat hubungannya dengan saat berada di dalam kandungan, maka komunikasi yang erat diantara dokter Anak, dokter Obstetri dan dokter Anaestesi serta bidan setempat sangatlah penting. Sebenarnya banyak sekali macam penyakit yang dapat diderita ibu selama periode tersebut. Dalam makalah ini akan di bahas manajemen Bayi Baru Lahir (BBL) dari ibu yang mengalami penyakit yang relatif sering, seperti kecurigaan infeksi intra uterin, Hepatitis B, Tuberkulosis, Diabetes Mellitus, Sifilis, dan HIV

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

yang tampaknya jumlah penderita semakin meningkat serta Ibu dengan kecanduan Obat. 1.Ibu Dengan Kecurigaan Infeksi Intra Uterin Tanda-tanda ibu yang diduga mengalami infeksi dalam kandungan yang dapat berakibat infeksi atau bakteriemi pada bayinya adalah bila : • Ibu mengalami panas tubuh lebih atau sama dengan 380 C selama proses persalinan sampai 3 hari pasca persalinan, • Cairan ketuban hijau keruh apalagi berbau busuk, • Cairan ketuban pecah 18 sampai 24 jam sebelum bayi lahir, • Atau pecah pada saat umur kehamilan baru menginjak 37 minggu. Pada keadaan tersebut, BBL sangat rawan terhadap terjadinya infeksi yang dapat mengancam jiwanya, karena BBL tersebut dapat menderita sepsis. Perubahan Neonatus ke arah kondisi yang buruk berlangsung sangat cepat. Apabila suatu sebab, keluarga meminta pulang sebelum waktunya, pengawasan yang perlu dilakukan oleh keluarga terhadap bayi adalah : • apakah pernapasan bayi menjadi cepat • bayi lethargi • hipotermi atau panas • muntah setiap minum • kembung, merintih MANAJEMEN Bayi umur lebih dari 3 hari tanpa melihat umur kehamilan, tidak perlu antibiotika. Nasehati ibu agar segera membawa bayinya kembali bila ada tanda sepsis dan nasehati ibu kembali jika ada salah satu tanda sepsis. Bayi berumur 3 hari atau kurang, ambil sampel darah bayi, dan kirim ke Laboratorium untuk kultur/kultur kuman dan uji sensitivitas Obati sesuai umur kehamilan seperti di bawah ini : BAYI DENGAN UMUR KEHAMILAN 35 MINGGU ATAU LEBIH, ATAU BERAT LAHIR 2000 gram ATAU LEBIH Infeksi Intra uterin yang telah jelas, atau demam dugaan infeksi, DENGAN ATAU TANPA KPD :

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

• • • •

Ambil sampel darah, beri antibiotika seperti pemberian untuk kemungkinan besar sepsis. Bila hasil kultur negatif, dan bayi tidak menunjukkan tanda sepsis hentikan antibiotika. Bila hasil kultur positif, dan bayi menunjukkan tanda sepsis kapan saja; obati untuk kemungkinan besar sepsis. Bila kultur kuman tidak dapat dilakukan, dan bayi tidak menunjukkan tanda sepsis, hentikan antibiotika setelah 5 hari.

Amati bayi selama 24 jam setelah antibiotika dihentikan : • • Bila bayi keadaan baik, dan tidak ada tanda yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan. Nasehati ibu untuk membawa kembali bayinya bila ada gejala sepsis atau infeksi. ADA KPD TANPA Infeksi Intra Utertin atau demam dugaan infeksi : • • • Tidak perlu antibiotika. Amati tanda sepsis setiap 4 jam dalam waktu 48 jam. Bila setelah 48 jam kultur darah negatif, bayi tampak sehat, dan tidak ada gejala yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bisa dipulangkan, beri nasehat pada orang tua atau petugas, apabila ada tanda infeksi, segera dibawa kembali ke Rumah Sakit. • • Bila kapan saja ada tanda sepsis atau kultur positif, diobati seperti kemungkinan besar sepsis. Bila kultur darah tidak diperiksa, amati 3 hari dan pulangkan bila keadaan bayi baik. BAYI DENGAN UMUR KEHAMILAN KURANG DARI 35 MINGGU, ATAU BERAT LAHIR KURANG 2000 gram Ada KPD , Infeksi Intra Utertin atau demam dugaan infeksi Ambil sampel darah, beri antibiotika untuk sepsis Bila kultur darah negatif, bayi tidak ada tanda sepsis : Ada KPD tanpa Infeksi Intra Uterin atau demam dugaan infeksi, hentikan antibiotika setelah 3 hari. Ada Infeksi Intra Utertin atau demam dugaan infeksi berat, hentikan antibiotika setelah 5 hari.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

Bila

kultur darah positif, bayi menunjukkan gejala sepsis atau menunjukkan gejala seosis, obati sebagai

kapan saja bayi/ kemungkinan besar sepsis. Bila

kultur darah tidak dapat dilakukan, bayi tidak menunjukkan antibiotika dihentikan setelah pemberian 5 hari. bayi keadaan baik, dan tidak ada tanda yang

gejala sepsis • • Bila

Amati bayi selama 24 jam setelah antibiotika dihentikan : memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan. Nasehati ibu untuk membawa kembali bayinya bila ada gejala sepsis atau infeksi. TABEL 1 : RINGKASAN TATALAKSANA BAYI DARI IBU DENGAN KECURIGAAN INFEKSI INTRA UTERIN Bayi ≥ 35 minggu / 2000 gram Infeksi Ibu ⊕ KPD ⊕/⊝ • • • Berikan Kultur ⊝ → Kultur ⊕  antibiotika Stop antibiotika teruskan antibiotika • Kultur tidak dilakukan, Infeksi bayi ⊝ → antibiotika stop 5 hari, amati 24 jam KPD ⊕ • • • bayi • Kultur ⊝ Infeksi Ibu Kultur ⊝ Infeksi Ibu Kultur ⊕ → ⊕ Infeksi ⊕ → antibiotika 5 hari ⊝→ antibiotika 3 hari antibiotika tidak Bayi < 35 minggu / < 2000 gram

manajemen sepsis Kultur dilakukan, Infeksi bayi ⊝  antibiotika stop setelah 5 hari

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

KPD ⊕Infeksi Ibu ⊝ • • jam : ✔ Bila infeksi bayi ⊝ → pulang ✔ Bia infeksi ⊕ antibiotika ✔ Bila kultur tidak dilakukan, bayi pulang setelah umur 3 hari 1.Ibu Dengan Hepatitis B Indonesia masih merupakan negara endemis tinggi untuk Hepatitis B, di dalam populasi, angka prevalensi berkisar 7-10%. Pada ibu hamil yang menderita Hepatitis B, transmisi vertikal dari ibu ke bayinya sangat mungkin terjadi, apalagi dengan hasil pemeriksaan darah HbsAg positif untuk jangka waktu 6 bulan, atau tetap positif selama kehamilan dan pada saat proses persalinan, maka resiko mendapat infeksi hepatitis kronis pada bayinya sebesar 80 sampai 95%. Perlu adanya komunikasi aktip antara ibu, dengan dokter kandungan, dokter anak, atau dengan bidan penolong agar memanajemen terhadap BBL dapat segera dimulai. Definisi / Batasan Operasional Kriteria ibu mengidap atau menderita hepatitis B kronik : baik, bayi  Tidak perlu Amati tiap antibiotika 4 jam sampai 48

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

1.

Bila ibu mengidap HBsAg positif untuk jangka waktu lebih Bila status HbsAg positif tidak disertai dengan peningkatan Bila disertai dengan peningkatan SGOT/PT pada lebih dari kali

dari 6 bulan dan tetap positif selama masa kehamilan dan melahirkan.
2.

SGOT/PT maka, status ibu adalah pengidap hepatitis B.
3.

pemeriksaan dengan interval pemeriksaan @ 2-3 bulan, maka status ibu adalah penderita hepatitis B kronik. 4. Status HbsAg positif tersebut dapat disertai dengan atau tanpa HBeAg positif. PENGELOLAAN BAYI BARU LAHIR DENGAN IBU HEPATITIS B Penanganan secara multidisipliner antara dokter spesialis penyakit dalam, spesialis kebidanan & kandungan dan spesialis anak. Satu minggu sebelum taksiran partus, dokter spesialis anak mengusahakan vaksin hepatitis B rekombinan dan imunoglobulin hepatitis B. Pada saat partus, dokter spesialis anak ikut mendampingi, apabila ibu hamil ingin persalinan diltolong bidan, hendaknya bidan diberitahukan masalah ibu tersebut, agar bidan dapat juga memberikan imunisasi yang diperlukan. Ibu yang menderita hepatitis akut atau test serologis HBsAg positif, dapat menularkan hepatitis B pada bayinya : • Berikan dosis awal Vaksin Hepatitis B (VHB) 0,5 ml segera setelah lahir, seyogyanya dalam 12 jam sesudah lahir disusul dosis ke-2, dan ke-3 sesuai dengan jadwal imunisasi hepatitis. • Bila tersedia pada saat yang sama beri Imunoglobulin Hepatitis (0,5 ml) disuntikkan pada paha yang lainnya, dalam B 200 IU IM lahir). Mengingat mahalnya harga immunoglobulin hepatitis B, maka bila orang tua tidak mempunyai biaya, dilandaskan pada beberapa penelitian, pembelian HBIg tersebut tidak dipaksakan. Dengan catatan, imunisai aktif hepatitis B tetap diberikan secepatnya. • Yakinkan ibu untuk tetap menyusui dengan ASI, apabila vaksin diatas sudah diberikan (Rekomendasi CDC), tapi apabila ada luka pada puting susu dan ibu mengalami Hepatitis Akut, sebaiknya tidak diberikan ASI.

waktu 24 jam sesudah lahir (sebaiknya dalam waktu 12 jam setelah bayi

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

Tatalaksana khusus sesudah periode perinatal : a. Dilakukan pemeriksaan anti HBs dan HbaAg berkala pada usia 7 bulan (satu bulan setelah penyuntikan vaksin hepatitis B ketiga) 1, 3, 5 tahun dan selanjutnya setiap 1 tahun. 1) Bila pada usia 7 bulan tersebut anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan ulang anti HBs dan HBsAg pada usia 1, 3, 5 dan 10 tahun.
2) Bila anti HBs dan HBsAg negatif, diberikan satu kali tambahan

dosis vaksinasi dan satu bulan kemudian diulang pemeriksaan anti HBs. Bila anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan yang sama pada usia 1, 3, dan 5 tahun seperti pada butir a.
3) Bila pasca vaksinasi tambahan tersebut anti HBs dan HBsAg tetap

negatif, bayi dinyatakan sebagai non responders dan memerlukan pemeriksaan lanjutan yang tidak akan dibahas pada makalah ini karena terlalu teknis.
(10)

4) Bila pada usia 7 bulan anti HBs negatif dan HBsAg positif, dilakukan pemeriksaan HBsAg ulangan 6 bulan kemudian. Bila masih positif, dianggap sebagai hepatitis kronis dan dilakukan pemeriksaan SGOT/PT, USG hati, alfa feto protein, dan HBsAg, idealnya disertai dengan pemeriksaan HBV-DNA setiap 1-2 tahun. b. Bila HBsAg positif selama 6 bulan, dilakukan pemeriksaan SGOT/PT setiap 2-3 bulan. Bila SGOT/PT meningkat pada lebih dari 2 kali pemeriksaan dengan interval waktu 2-3 bulan, pertimbangkan terapi anti virus. Tatalaksana umum Pemantauan tumbuh-kembang, gizi, serta pemberian imunisasi, dilakukan sebagaimana halnya dengan pemantauan terhadap bayi normal lainnya. Pada HCV sebaiknya tidak memberikan ASI karena 20 % ibu dengan Hepatitis C ditemukan Virus dalam kolostrumnya. Pada penelitian Kumal dan Shahul, ditemukan infeksi HCV pada bayi yang tidak mengandung HCV RNA padahal eksklusif dari Ibu dengan HCV. bayi-bayi tersebut mendapat ASI

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

1.Bayi Baru Lahir Dengan Ibu Tuberkulosis Pada ibu yang menderita Tuberkulosis aktif, penularan dapat terjadi sebelum bayi lahir melalui plasenta, atau menghirup amnion yang tercemar, atau melalui pernapasan setelah bayi lahir. Ibu perlu berterus terang pada dokter atau bidan dalam hal ini, karena sehubungan dengan pemberian vaksin BCG dan peningkatan morbiditas dan mortalitas, dapat menimbulkan abortus dan kematian bayi. Tuberkulosis kongenital amat sangat jarang, dapat terjadi apabila terjadi infeksi aktif pada placenta. Yang sangat tinggi resiko terjadi TB bayi adalah pada saat proses persalinan dan segera sesudah lahir. Kematian TBC kongenital yang tidak diobati adalah 38% dan yang diobati 22%, dengan gejala distres nafas, lethargi, panas, pembesaran kelenjar getah bening, hepatosplenomegali. Bila selama hamil ibu mendapat terapi Streptomycin atau Kanamycin, waspada terjadinya gangguan pendengaran pada bayi. Bila menderita Tuberkulosis paru aktif dan mendapat pengobatan kurang dari 2 bulan sebelum melahirkan, atau didiagnosis TBC setelah melahirkan : • • • Jangan diberi vaksin BCG saat setelah lahir; Beri profilaksis Isoniazid (INH) 5 mg/kg sekali sehari secara oral; Pada umur 8 minggu lakukan evaluasi kembali, catat berat badan dan lakukan pemeriksaan tes Mantoux dan radiologi bila memungkinkan :  bila ditemukan kecurigaan TBC aktif, mulai berikan pengobatan anti TBC lengkap (sesuaikan dengan program pengobatan TBC pada bayi dan anak dan kirim ke pusat pelayanan kesehatan setempat);  bila bayi baik dan dan hasil tes negatif, lanjutkan pencegahan dengan isoniazid selama waktu 6 bulan. • Tunda pemberian vaksin BCG sampai 2 minggu setelah pengobatan selesai. Bila vaksin BCG sudah terlanjur diberikan, ulang pengobatan INH selesai. pemberiannya 2 minggu setelah

• Yakinkan ibu bahwa ASI tetap boleh diberikan. Lakukan tindak lanjut terhadap bayinya tiap 2 minggu untuk menilai kenaikan berat bayi.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

• Obat yang diminum ibunya seperti INH, Rifampisin, Ethambutol, aman untuk Breast Feeding. Tapi pemberian PAS pada ibu, hati hati karena efek pada bayinya. 1.Ibu Dengan Diabetes Mellitus Bayi lahir dari ibu dengan Diabetes Melitus, berisiko untuk terjadi hipoglikemia pada 3 hari pertama setelah lahir, walaupun bayi sudah dapat minum dengan baik. Ibu dengan DM mempunyai resiko kematian bayi lima kali dibanding ibu tidak dengan DM., dan sering mengalami abortus ataupun kematian dalam kandungan. Bayi dengan ibu DM mengalami Transient Hiperinsulinism yang dapat mengakibatkan Hipoglikemia, Macrosomia pada bayi yang dilahirkan, dan dapat berakibat kesulitan lahir. Tanda bayi hipoglikemia adalah Distres nafas, malas minum, jitteriness, mudah terangsang, sampai kejang. KADAR GLUKOSE DARAH RENDAH (HIPOGLIKEMIA) Adalah bila kadar glukosa darah kurang dari 45 mg/dL (2,6 mmol/L) MASALAH
a. Glukose darah kurang 25 mg/dL (1,1 mmol/L) atau terdapat

tanda Hipoglikemi.

b.Glukose darah 25 mg/dL (1,1 mmol/L) _
tanpa tanda Hipoglikemia. PENGELOLAAN HIPOGLIKEMIA

45 mg/dL (2,6 mmol/L)

a. Glukose darah kurang 25 mg/dL (1,1 mmol/L) atau terdapat tanda hipoglikemi • • menit.
Jika jalur IV tidak dapat dipasang dengan cepat, berikan larutan glukose melalui pipa lambungdengan dosis yang sama

Pasang jalur IV jika belum terpasang. Berikan glukose 10% 2 mL/kg secara IV bolus pelan dalam lima

Infus glukose 10% sesuai kebutuhan rumatan.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

Periksa kadar glukose darah satu jam setelah bolus glukose dan kemudian tiap tiga jam :
– Jika kadar glukose darah masih kurang 25 mg/dL (1,1 mmol/L),

ulangi pemberian bolus glukose seperti tersebut di atas dan lanjutkan pemberian infus
– Jika kadar glukose darah 25-45 mg/dL (1,1-2,6 mmol/L), lanjutkan

infus dan ulangi pemeriksaan kadar glukose setiap tiga jam sampai kadar glukose 45 mg/dL (2,6 mmol/L) atau lebih ;
– Bila kadar glukose darah 45 mg/dL (2,6 mmol/L) atau lebih dalam

dua

kali

pemeriksaan

berturut-turut,

ikuti

petunjuk

tentang

frekuensi pemeriksaan kadar glukose darah setelah kadar glukose darah kembali normal. – Anjurkan ibu menyusui. Bila bayi tidak dapat menyusu, berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.
– Bila kemampuan minum bayi meningkat turunkan pemberian

cairan infus setiap hari secara bertahap. Jangan menghentikan infus glukose dengan tiba-tiba. b. Glukose darah 25 mg/dL (1,1 mmol/L)-45 mg/dL (2,6 mmol/L) tanpa tanda Hipoglikemia • Anjurkan ibu menyusui. Bila bayi tidak dapat menyusu, berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum. • Pantau tanda hipoglikemia dan bila dijumpai tanda tersebut, tangani seperti tersebut di atas. • Periksa kadar glukose darah dalam tiga jam atau sebelum pemberian minum berikutnya : – Jika kadar glukose darah kurang 25 mg/dL (1,1 mmol/L), atau terdapat tanda hipoglikemia, tangani seperti tersebut di atas; – Jika kadar glukose darah masih antara 25-45 mg/dL (1,1-2,6 mmol/L), naikkan frekuensi pemberian minum ASI atau naikkan volume pemberian minum dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum;

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

– Jika kadar glukose darah 45 mg/dL (2,6 mmol/L) atau lebih, lihat tentang frekuensi pemeriksaan kadar glukose darah di bawah ini. FREKUENSI PEMERIKSAAN GLUKOSE DARAH SETELAH KADAR

GLUKOSE DARAH NORMAL • Jika bayi mendapatkan cairan IV, untuk alasan apapun, lanjutkan pemeriksaan kadar glukose darah setiap 12 jam selama bayi masih memerlukan infus. Jika kapan saja kadar glukose darah turun, tangani seperti tersebut di atas. • Jika bayi sudah tidak lagi mendapat infus cairan IV, periksa kadar glukose darah setiap 12 jam sebanyak dua kali pemeriksaan: – Jika kapan saja kadar glukose darah turun, tangani seperti tersebut di atas; – Jika kadar glukose darah tetap normal selama waktu tersebut, maka pengukuran dihentikan. Anjurkan ibu untuk menyusui secara dini dan lebih sering, paling tidak 8 kali sehari, siang dan malam. Bila bayi berumur kurang 3 hari, amati sampai umur 3 hari, periksa kadar glukose pada :
 saat bayi datang atau pada umur 3 jam;

 tiga jam setelah pemeriksaan pertama, kemudian tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai kadar glukose dalam batas normal dalam 2 kali pemeriksaan berturut–turut. Bila kadar glukose  45 mg/dL atau bayi menunjukkan tanda hipoglikemi (tremor atau Hipoglikemi); Bila dalam pengamatan tidak ada tanda hipoglikemi atau masalah lain, bayi dapat minum dengan baik, pulangkan bayi pada hari ke 3. tidak perlu pengamatan. Bila bayi dapat minum baik dan memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi Bila bayi berumur 3 hari atau lebih dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit, bayi tidak ada masalah lain yang dapat dipulangkan. letargi), tangani untuk hipoglikemi (lihat

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

1.Ibu Dengan Sifilis Pada tahun 1987 Sifilis kongenital dilaporkan 10 kasus setiap 100.000 kelahiran hidup. Terjadi kenaikan menjadi 107 kasus setiap 100.000 kelahiran pada 1991. Sehingga direkomendasikan oleh CDC pada semua ibu hamil harus diperiksa VDRL pada kunjungan pertama antenatal care,
(7,8)

dan pada trimester ketiga. Apabila hasil positip, pemeriksaan Serologi

untuk Treponema harus diperiksa, sehingga tidak ada satupun Bayi yang pulang dari Rumah Sakit tanpa diketahui status sereologi Ibu untuk Sipilis. • Bila hasil tes pada ibu positif dan sudah diobati dengan Penisillin 2,4 juta unit dimulai sejak 30 hari sebelum melahirkan, bayi tidak perlu diobati. • Bila ibu tidak diobati atau diobati secara tidak adekuat atau tidak diketahui status pengobatannya, maka : – Beri bayi Benzathine Benzylpenicillin IM dosis tunggal (lihat Dosis Pemberian Antibiotika) ; – Beri Ibu dan Bapaknya Benzathine penicillin 2,4 juta unit I.M dibagi dalam dua suntikan pada tempat yang berbeda ;
– Rujuk Ibu dan Bapaknya ke rumah sakit yang melayani penyakit

menular seksual untuk tindak lanjut. 1. Lakukan pada bayi; 2. Cari tanda-tanda sifilis kongenital pada bayi (edema, ruam kulit, lepuh di telapak tangan/kaki, kondiloma di anus, rinitis, hidrops fetalis/hepato-splenomegali); 3. Bila ada tanda-tanda di atas, berikan terapi untuk sifilis kongenital (lihat bab Masalah kulit dan selaput lendir); 4. Laporkan kasusnya ke Dinas Kesehatan setempat. 1.Ibu Dengan Hiv Kasus AIDS pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1987 pada seorang WNA di Bali. Sejak itu HIV/AIDS di Indonesia telah dilaporkan hampir di semua provinsi kecuali Sulawesi Tenggara. Setelah selama 13 tahun sejak dilaporkannya kasus pertama Indonesia masih tercatat sebagai negara dengan prevalensi infeksi HIV rendah akan tetapi dalam 4 tindak lanjut dalam 4 minggu untuk memeriksa pertumbuhan bayi dan memeriksa tanda-tanda sifilis kongenital

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

tahun terakhir ini Indonesia dinyatakan berada dalam keadaan epidemi terkonsentrasi (Concentrated level epidemic) karena HIV/AIDS telah terjadi pada lapisan masyarakat tertentu dalam tingkat prevalensi yang cukup tinggi terutama di provinsi Papua, DKI Jaya, Riau, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali. Arti penting pencegahan infeksi HIV di Indonesia Dalam sudut pandang epidemi HIV/AIDS, Indonesia saat ini berada dalam concentrated level epidemic artinya prevalensi pada masyarakat tertentu sudah cukup tinggi terutama di Provinsi Riau, DKI Jaya, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Papua. Potensi penularan HIV terutama masih berada pada pola penularan melalui jalur hubungan seksual, yang harus diatasi melalui kampanye peningkatan kewaspadaan publik (public awareness campaign) seperti pendidikan seks, kampanye seks sehat dan kampanye penggunaan kondom. Meskipun angka kejadiannya kecil akan tetapi pencegahan penularan melalui jalur suntikan dan transfusi darah harus pula dilakukan secara intensif. Hal itu dimaksudkan agar kewaspadaan petugas kesehatan terhadap penyebaran infeksi HIV melalui jalur ini terutama yang terkait dengan kesehatan kerja dapat ditingkatkan. MASALAH Ibu dengan HIV positifLA KLINIK Tidak ada tanda-tanda spesifik HIV yang dapat ditemukan pada saat lahir. Bila terinfeksi pada saat peripartum,tanda klinis dapat ditemukan pada umur 2-6 minggu setelah lahir. Tetapi tes antibodi baru dapat dideteksi pada umur 18 bulan untuk menentukan status HIV bayi.

GEJALA KLINIK Gejala klinik tidak spesifik,menyerupai gejala infeksi virus pada umumnya. Bila keadaan berlanjut dan terdapat defisiensi imun yang berat, maka yang terlihat adalah gejala penyakit sekunder, sesuai dengan mikroba penyebabnya. Tampak pada umur 1 tahun 23 % 4 tahun 40 %

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

Gejala klinik : BBLR, Infeksi saluran nafas berulang, PCP (Pneumocystis carinii Pneumonia), sinusitis, febris yang terjadi sepsis, tidak sebelum moniliasis diketahui obat anti berulang, penyebabnya Retrovirus hepatosplenomegali Encephalopati dipergunakan). DIAGNOSIS berdasarkan :
1. HIV Persangkaan infeksi, gejala klinik, resiko penularan di daerah yang

(50%-90%

banyak ditemukan.
2. Tes serologi. 3. Pembuktian Virus HIV dalam darah, karena pada bayi masih terdapat

antibodi ibu yang menetap sampai 18 bulan.

TES DIAGNOSTIK UTK INFEKSI HIV PADA BAYI

• HIV Antibodi pada anak umur > 18 bulan. Dengan ELISA HIV. IgG anti HIV ab, melalui plasenta pada Trimester III Bila hasil pos sebelum umur 18 bulan, mungkin antibodi dari ibunya • VIRUS : HIV PCR DNA dari darah perifer pada waktu lahir, dan umur 3-4 bulan bila umur 4 bulan hasil negatip bayi bebas HIV • CD4 count rendah (normal 2500-3500/ml pada anak, Dewasa 7001000/ml) P24 Antigen test sudah tidak dipakai lagi untuk diagnostik, karena dipandang kurang sensitip terutama untuk bayi (Richard Polin dan Cloherty) MANAJEMEN MANAJEMEN UMUM • Bayi yang dilahirkan ibu dengan HIV positif maka : –Hormati kerahasiaan ibu dan keluarganya, dan lakukan konseling pada keluarga; –Rawat bayi seperti bayi yang lain, dan perhatian khususnya pada pencegahan infeksi;
– Bayi tetap diberi imunisasi rutin, kecuali terdapat tanda klinis

defisiensi imun yang berat, jangan diberi vaksin hidup (BCG, OPV, Campak, MMR);

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

–Pada waktu pulang, periksa DL, hitung Lymphosit T, serologi anti HIV, PCR DNA/RNA HIV. • • Beri dukungan mental pada orang tuanya Anjurkan suaminya memakai kondom, untuk pencegahan penularan infeksi. TERAPI ANTI RETROVIRUS Tanpa pemberian Antiretrovirus, 25% bayi dengan ibu HIV positif akan tertular sebelum dilahirkan atau pada waktu lahir, dan 15% tertular melalui ASI : • Tentukan apakah ibu sedang mendapat pengobatan Antiretrovirus untuk HIV, atau mendapatkan pengobatan antiretroviral untuk mencegah transmisi dari ibu ke bayinya.Tujuan pemberian Antiretro Viral terapi adalah untuk menekan HIV viral load sampai tidak terdeteksi dan mempertahankan jumlah CD4 + sel sampai mencapai lebih dari 25% ( Cloherty).
• Kelola bayi dan ibu sesuai dengan protokol dan kebijakan yang ada,

tujuannya untuk Profilaksis
– Bila ibu sudah mendapat Zidovudine

(AZT) 4 minggu sebelum

melahirkan, maka setelah lahir bayi diberi AZT 2 mg/kg berat badan per oral tiap 6 jam selama 6 minggu, dimulai sejak bayi umur 12 jam.
– Bila ibu sudah mendapat Nevirapine dosis tunggal selama proses

persalinan dan bayi masih berumur kurang dari 3 hari, segera beri bayi Nevirapine dalam suspensi 2 mg/kg berat badan secara oral pada umur 12 jam.
– Untuk mencegah

PCP, berikan TMP 2,5 mg/kgBB 2 x sehari,

pemberian

3 kali seminggu, diberikan sejak bayi umur 6 minggu

sampai diagnosis HIV dapat disangkal (Polin), karena peak onset PCP adalah pada umur 3-9 bulan. – Jadwalkan pemeriksaan tindak lanjut dalam 2 minggu untuk menilai masalah pemberian minum dan pertumbuhan bayi (lihat Pemeriksaan Tindak Lanjut). BILA BAYI SUDAH TERKENA HIV
– AZT untuk bayi cukup bulan sampai bayi berumur 90 hari oral

2mg/kg BB tiap 6 jam atau IV

1,5 mg/kgBB tiap 6 jam

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

Untuk bayi kurang bulan 1,5 mg/kg BB tiap 12 jam sampai 2 minggu kemudian 22mg/kgBB tiap 8 jam – NEVIRAPIN Neonatus sampai umur 2 bulan 14 hari pertama 5 mg/kg atau 120 mg/m2 2 kali sehari 14 hari kedua 120 mg/m2 2 kali sehari berikutnya 200 mg/m2 2 kali sehari sampai usia 2 bulan PEMBERIAN MINUM • Lakukan konseling pada ibu tentang pilihan pemberian minum kepada bayinya. Hargai dan dukunglah apapun pilihan ibu. Ijinkan ibu untuk membuat pernyataan sendiri tentang pilihan yang terbaik untuk bayinya. • Terangkan kepada ibu bahwa menyusui dapat berisiko menularkan infeksi HIV. Meskipun demikian, pemberian susu formula dapat meningkatkan risiko kesakitan dan kematian, khususnya bila pemberian susu formula tidak diberikan secara aman karena keterbatasan fasilitas air untuk mempersiapkan atau karena tidak terjamin ketersediaannya oleh keluarga. • Terangkan pada Ibu tentang untung dan rugi pilihan cara pemberian minum : – Susu formula dapat diberikan bila mudah didapat, dapat dijaga kebersihannya dan selalu dapat tersedia;
– ASI Eksklusif dapat segera dihentikan bila susu formula sudah dapat

disediakan. Hentikan ASI pada saat memberikan susu formula; – Rekomendasi yang biasa diberikan adalah memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, kemudian dilanjutkan ASI ditambah makanan padat setelah umur 6 bulan. • Dalam beberapa situasi, kemungkinan lain adalah : – Memeras ASI dan menghangatkannya waktu akan diberikan; – Pemberian ASI oleh Ibu susuan (”Wet Nursing”) yang jelas HIV negatif; – Memberi ASI peras dari Ibu dengan HIV negatif. • Bantu ibu menilai kondisinya dan putuskan mana pilihan yang terbaik, dan dukunglah pilihannya.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

• Bila ibu memilih untuk memberikan susu formula atau menyusui, berikan petunjuk khusus (lihat bawah). • Apapun pilihan ibu, berilah petunjuk khusus (seperti dibawah ini) : – Apabila memberikan susu formula, jelaskan bahwa selama 2 tahun ibu harus menyediakannya termasuk makanan pendamping ASI; – Bila tidak dapat menyediakan susu formula, sebagai alternatif diberikan ASI secara eklusif dan segera dihentikan setelah tersedia susu formula; – Semua bayi yang mendapatkan susu formula, perlu dilakukan tindak lanjut dan beri dukungan kepada ibu cara menyediakan susu formula dengan benar. – Jangan memberikan minuman kombinasi (misal selang-seling antara susu hewani, bubur buatan, susu formula, disamping pemberian ASI), karena risiko terjadinya infeksi lebih tinggi dari pada bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Pemberian susu formula : • • • • Ajari ibu cara mempersiapkan dan memberikan susu formula dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum. Anjurkan ibu untuk memberi susu formula 8 kali sehari, dan beri lagi apabila bayi menginginkan. Beri ibu petunjuk secara tertulis cara mempersiapkan susu formula. Jelaskan mengenai risiko memberi susu formula dan cara menghindarinya. Bayi akan diare apabila tangan Ibu, air atau alat-alat yang digunakan tidak bersih dan steril, atau bila susu yang disediakan terlalu lama tidak diminumkan; Bayi tidak akan tumbuh baik apabila :  jumlah tiap kali minum terlalu sedikit;  frekuensi pemberiannya terlalu sedikit;  susu formula terlalu encer;  bayi mengalami diare. • Nasihati Ibu untuk mengamati apakah terdapat tanda bahaya pada bayinya, seperti : –Minum kurang dari 6 kali dalam sehari atau minum hanya sedikit;

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

–Diare; –Berat badan sulit naik. • Nasihati Ibu untuk melakukan kunjungan tindak lanjut : –Kunjungan rutin untuk memonitor pertumbuhan; –Meberi dukungan cara-cara menyiapkan formula yang aman; –Nasihati ibu untuk membawa bayinya bila sewaktu-waktu ditemukan tanda bahaya (lihat atas). Pemberian ASI • Bila ibu memilih menyusui, dukung dan hargai keputusannya. • Pastikan bayi melekat dan mengisap dengan baik untuk mencegah terjadinya Mastitis dan gangguan pada puting susu. • Nasihati Ibu segera kembali apabila ada masalah pada payudara atau putingnya, atau bayi mengalami kesulitan minum. • Pada minggu pertama, nasihati Ibu melakukan kunjungan ke rumah sakit untuk menilai perlekatan dan posisi bayi waktu menyusu sudah baik, serta keadaan payudara ibu. • Atur konseling selanjutnya untuk mempersiapkan kemungkinan ibu menghentikan menyusui lebih awal. PEMERIKSAAN TINDAK LANJUT SETELAH PULANG Pemeriksaan darah PCR DNA/RNA dilakukan pada umur 1, 2, 4, 6 dan 18 bulan. Diagnosis HIV ditegakkan apabila pemeriksaan PCR DNA/RNA HIV POSITIP dua kali berturut selang satu minggu, bila keadaan demikian ditemukan, mulai diberikan pengobatan Antiretro Virus. 1.Ibu Dengan Kecanduan Obat Obat-obatan yang kita bahas hanya terbatas obat Narcotic misalnya Heroin dan Methadone, atau obat stimulant (non narcotic) misalnya Cocain karena disamping macam obat yang sangat banyak tapi tempat terbatas, juga karena obat tersebut sering digunakan oleh Ibu-ibu pengguna.
(9,11,12)

Kita harus waspada terhadap ibu-ibu pengguna obat apabila kita temui Ibu yang habis melahirkan tanpa prenatal care yang disertai tanda-tanda pengguna diantaranya adalah ada bekas jaringan-jaringan parut disertai hepatitis, yang sangat tergesa-gesa ingin meninggalkan Rumah Sakit, atau meminum obat dengan dosis besar dan berulang selama di Rumah Sakit.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

Bayi Baru Lahir dapat mengalami Withdrawel karena obat-obat tersebut dapat melalui plasenta.

TANDA WITHDRAWEL Terjadinya Onset Gejala Withdrawel Narcotic yang akut bervariasi waktunya, dapat sejak lahir sampai umur 2 minggu, sedangkan simtom dapat dilihat pada 24 sampai 48 jam tergantung kapan pengguna memakai obatnya.yang terakhir kali, dan dicampur dengan obat lain atau tidak. Ibu dengan Heroin, withdrawel dapat terjadi pada 50-75 % bayi, biasanya mulai pada 48 jam pertama, tergantung dosis. Tanda-tanda withdrawel dapat dilihat pada tabel 2. Withdrawel tergantung beberapa fakror, yaitu Dosis Obat yang dikonsumsi, Durasi kecanduan, dan dosis terakhir yang dikonsumsi. • Bila dosis 6mg/hari, Bayi mengalami gejala ringan, atau tanpa gejala. • Bila kecanduan telah lebih dari satu tahun, withdrawel pada bayi dapat terjadi lebih dari 70%. • Bila obat dikonsumsi terutama dalam 24 jam sebelum melahirkan,maka kejadian withdrawel akan tinggi. Diagnosis Banding adalah Hipoglikemia dan Hipocalcemia. Ibu pengguna Heroin atau Methadone, dapat mempunyai bayi dengan Abstinence Syndrome dengan ciri khas iritable, jitteriness, kejang, hipertoni, bersin-bersin, takikardi, diare, dan gangguan minum. Gangguan ini dapat lama terutama pada Ibu pengguna Methadone. Bila Ibu kecanduan Methadone, simtom Withdrawel pada Bayinya dapat terjadi 75% walaupun obat yang dikonsumsi ibu rendah (20 mg/hari). Bila dosis yang dikonsumsi besar, bayi dapat terjadi :
• Timbul gejala segera sesudah lahir, hilang, kemudian timbul lagi pada

umur 2 sampai 4 minggu. • Tanpa gejala, tapi baru timbul withdrawel pada 2 sampai 3 minggu setelah lahir. • Beberapa bayi dapat mengalami BBLR, Lingkar Kepala kecil dari bayi normal, defisit motoric, gangguan pendengaran, kejang, dan moro reflex yang menetap, dan peningkatan resiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

Ibu dengan kecanduan Cocain, dapat mengalami meningkatnya kontraksi Uterus, Vasokonstruksi pembuluh darah plasenta, sehingga uterine aliran darah uterin menurun, bayi dapat mengalami Asfiksi, Prematur, Kecil Masa Kehamilan, Perdarahan Otak, SIDS, kelainan pada saluran pencernaan, dan ginjal, gangguan syaraf dengan adanya pertumbuhan yang terlambat, kekakuan, gangguan belajar, Prune Belly Syndrome. Pada akhirnya anak mengalami kekerasan keluarga (Child Abuse). PENATALAKSANAAN OBAT NARCOTIC Tujuan penatalaksanaan adalah agar supaya bayi Tidak mudah terangsang (irritable), tidak muntah, tidak diare, dapat tidur diantara waktu minumnya, dan tidak mengalami Withdrawel. Jangan sekali-kali memberi Narcan (Naloxon) pada bayi dengan Ibu yang kecanduan Methadone, karena dapat merangsang terjadinya reaksi withdrawel atau kejang. Dalam hal pemberian Narcotic pada Ibu yang akan dioperasi karena kesakitan, bila pemberian dalam 4 jam sebelum melahirkan, bayi boleh diberi narcan bila ada depresi napas, asal Ibu bukan Pecandu Narcotic, bila simtom timbul setelah 4 jam, mungkin bukan akibat dari efek narcotic obat tersebut. ASI dari Ibu pengguna Cocain dapat menyebabkan Bayi dengan Hipertensi, kejang Pengelolaan meliputi Terapi Simtomatik dan Obat. Terapi Simtomatik Sebanyak 40% hanya membutuhkan terapi simtomatik tanpa obat. Meliputi penempatan di Ruang yang temeraman, dan tenang, dibedong, diayun perlahan agar tidur tenang, diberi P-ASI formula 24 calori per onz. Terapi dengan Obat Untuk mengetahui apakah Bayi perlu Obat atau tidak, sebaiknya menggunakan Skoring Sistim seperti pada tabel 4. Bila skore 8 atau lebih, pertanda Bayi perlu pengobatan Neonatal Morphine Solution ( NMS), lihat tabel 3. Apabila dosis sudah dicapai yang sesuai, bila sudah 72 jam, dosis diturunkan pelan-pelan sebanyak 10 %dari dosis total, setiap harinya.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

Bila sudah mencapai 0,3 Ml/kg BB/hari, obat dapat diberhentikan. Bila pada waktu penyapihan obat terjadi timbul gejala lagi, dosis terakhir sebelum diturunkan diulang lagi. Tambahkan Phenobarbital loading dose 10mg/kg BB kemudian dosis rumatan yang dibagi tiap 8 jam., apabila dosis NMS mencapai 2,0 Ml/kg BB/hari. TERAPI KECANDUAN OBAT STIMULAN( COCAIN) Beri terapi Phenobarbital loading dose 10 mg/kg BB, kemudian dosis rumatan. SIDS mempunyai resiko 3 sampai 7 kali pada Ibu pecandu Cocain. TINDAK LANJUT Koordinasi petugas Kesehatan Rumah Sakit dengan petugas setempat, karena bayi-bayi tersebut rawan untuk terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Bayi-bayi tersebut termasuk bayi yang sulit untuk perawatan selanjutnya, apalagi bayi yang menderita Withdrawel, karena bayi sering mudah terangsang, mengalami gangguan tidur, sehingga membutuhkan orang yang sabar dalam merawatmya. BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 – 28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaikbaiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Peralihan dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan faali. Dengan terpisahnya bayi dari ibu, maka terjadilah awal proses fisiologik sebagai berikut : 1. Peredaran darah melalui plasenta digantikan oleh aktifnya fungsi paru untuk bernafas (pertukaran oksigen dengan karbondioksida) 2. Saluran cerna berfungsi untuk menyerap makanan

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

3. Ginjal berfungsi untuk mengeluarkan bahan yang tidak terpakai lagi oleh tubuh untuk mempertahankan homeostasis kimia darah 4. Hati berfungsi untuk menetralisasi dan mengekresi bahan racun yang tidak diperlukan badan 5. Sistem imunologik berfungsi untuk mencegah infeksi 6. Sistem kardiovaskular serta endokrin bayi menyesuaikan diri dengan perubahan fungsi organ tersebut diatas Banyak masalah pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan atau kegagalan penyesuaian biokimia dan faali yang disebabkan oleh prematuritas, kelainan anatomik, dan lingkungan yang kurang baik dalam kandungan, pada persalinan maupun sesudah lahir. Masalah pada neonatus biasanya timbul sebagai akibat yang spesifik terjadi pada masa perinatal. Tidak hanya merupakan penyebab kematian tetapi juga kecacatan. Masalah ini timbul sebagai akibat buruknya kesehatan ibu, perawatan kehamilan yang kurang memadai, manajemen persalinan yang tidak tepat dan tidak bersih, kurangnya perawatan bayi baru lahir. Kalau ibu meninggal pada waktu melahirkan, si bayi akan mempunyai kesempatan hidup yang kecil.

A. Saran Untuk mampu mewujudkan koordinasi dan standar pelayanan yang berkualitas maka petugas kesehatan dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk dapat melaksanakan pelayanan essensial neonatal yang dikategorikan dalam dua kelompok yaitu : A. Pelayanan Dasar 1. 2. 3. 4. 5. Persalinan aman dan bersih Mempertahankan suhu tubuh dan mencegah hiportermia Mempertahankan pernafasan spontan ASI Ekslusif Perawatan mata

B. Pelayanan Khusus 1. Tatalaksana Bayi Neonatus sakit

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

2. 3.

Perawatan bayi kurang bulan dan BBLR Imunisasi

Makalah ini akan membahas asuhan keperawatan bayi baru lahir yang sakit. Mengingat luasnya bahasan maka pembahasan akan difokuskan kepada masalah ikterus & hiperbilirubinemia, neonatus dengan ibu DM, neonatus prematur, hipertermia dan hipotermia. Selain itu juga dikaji respon keluarga terhadap neonatus yang sakit serta hubungan tumbuh kembang neonatus terhadap penyakit secara umum.

DAFTAR PUSTAKA

1. Charman WF, Zanetti AR, Karayiannis P, dan kawan-kawan. Vaccine-Induced Escape Mutant of Hepatitis B Virus. Lancet 1990 ; 336 : 325-9. 2. Jacyna MR, Thomas HC. Hepatitis B. Pathogenesis and Treatment of Chronic Infection. Dalam; Suchy FJ, penyunting. Liver Disease in Children, edisi ke-1, St. Louis : Mosby, 1994 : 185-207. 3. Buku Panduan Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir untuk Dokter, Perawat, Bidan di Rumah Sakit, edisi Pertama, Kerjasama MNH-JHPIEGO-IDAI UKK Perinatologi dan Departemen Kesehatan RI, 2004.
4. Arwin AP Akip. Infeksi HIV pada Bayi dan Anak. Sari Pediatri Vol. 6 No. 1

(Suplemen), Juni 2004.
5. Khosim S, Indarso F, Irawan G, Hendrarto TW. Buku acuan pelatihan

pelayanan obstetri Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta : Depkes RI, 2006; 567.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

6. Khosim MS, Surjono A, Setyowireni D, et al. Buku panduan manajemen masalah bayi baru lahir untuk dokter, bidan dan perawat di rumah sakit. Jakarta : IDAI, MNH-JHPIEGO, Depkes RI, 2004; 35-6.

NEONATUS RESIKO DAN PENATALAKSANAANYA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->