P. 1
Widya Proposal Keperawatan

Widya Proposal Keperawatan

|Views: 10,838|Likes:
Published by Blue_Ones

More info:

Published by: Blue_Ones on Dec 14, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/22/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Masalah kesehatan jiwa di masyarakat semakin luas dan kompleks, saling berhubungan dengan segala aspek kehidupan manusia. Mengacu pada UU No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan dan ilmu kedokteran jiwa yang berkembang dengan pesat, secara garis besar masalah kesehatan jiwa digolongkan menjadi: masalah kualitas hidup, masalah gangguan jiwa, serta masalah psikososial (Kuntjoro, 2002). Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan dalam rangka tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan upaya pengelolaan berbagai sumber daya pemerintah maupun masyarakat sehingga dapat disediakan pelayanan kesehatan yang efisien, bermutu, dan terjangkau. Hal ini perlu dukungan dnegan komitmen yang tinggi terhadap kemauan, etika, dan dilaksanakan dengan semangat pemberdayaan yang tinggi, dengan prioritas kepada upaya kesehatan dan pengendalian penyakit di samping penyembuhan dan pemulihan (Febri, 2006). Penduduk lanjut usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup. Pada tahun 1980 penduduk lanjut usia baru

2

berjumlah 7,7 juta jiwa atau 5,2 persen dari seluruh jumlah penduduk pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia meningkat menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen. Jumlah ini meningkat di seluruh Indonesia menjadi 15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2 persen dari seluruh penduduk. Dan diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 29 juta orang atau 11,4 persen. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu. Angka harapan hidup penduduk Indonesia berdasarkan data biro pusat statistik pada tahun 1968 adalah 45,7 tahun, pada tahun 1980: 55,30 tahun, pada tahun 1985: 58,19 tahun, pada tahun 1990 : 16,12 tahun, dan tahun 1995: 60,05 tahun serta tahun 2000: 64,05 tahu (Biro Pusat Statistik, 2000). Propinsi Jawa Tengah sebagai salah satu Propinsi besar dengan jumlah penduduk lanjut usia pada tahun 2000 mencapai 9,6 persen. Angka tersebut jauh di atas jumlah lansia Nasional yang hanya 7,6 persen pada tahun 2000. Usia harapan hidup mencapai 64,9 tahun, dimana penduduk lansia wanita ratarata 67,2 tahun dan pria 63,8 tahun. Secara kuantitatif kedua parameter tersebut berdampak pada berbagai persoalan yang akan dihadapi seperti masalah sandang, pangan, papan, kesehatan, ekonomi dan lainnya (Depkes, 2002). Meningkatnya jumlah lanjut usia maka membutuhkan penanganan yang serius karena secara alamiah lanjut usia itu mengalami penurunan baik dari segi fisik, biologi, maupun mentalnya dan hal ini tidak terlepas dari masalah ekonomi, sosial, dan budaya sehingga perlu adanya peran serta

3

keluarga dan adanya peran sosial dalam penanganannya. Menurunnya fungsi berbagai organ lansia menjadi rentan terhadap penyakit yang bersifat akut atau kronis. Ada kecenderungan terjadi penyakit degeneratif, penyakit metabolik, gangguan psikososial, dan penyakit infeksi meningkat (Nugroho, 2004). Kelompok rentan yang mempunyai kemungkinan terbesar untuk menjadi korban peruabahan sosial adalah kelompok usia lanjut. Mereka yang memiliki konsep hidup tradisional, seperti harapan akan dihormati dan dirawat di masa tua, atau hubungan erat dengan anak yang telah dewasa. Pada kenyataannya harus hidup dalam sistem nilai yang berbeda dengan yang dianut misalnya kurang perasaan dihormati, karena anak tidak lagi tergantung secara ekonomi pada orang tua, serata kurangnya waktu bagi menantu perempuan untuk menjaga orang tua, karena bekerja. Keadaan ini dapat mempengaruhi psikologis dan kesejahteraan lanjut usia (Isfandari, 1999). Pada umumnya masalah kesepian adalah masalah psikologis yang paling banyak dialami lanjut usia. Beberapa penyebab kesepian antara lain (1) Longgarnya kegiatan dalam mengasuh anak-anak karena anak-anak sudah dewasa dan bersekolah tinggi sehingga tidak memerlukan penanganan yang terlampau rumit (2) Berkurangnya teman atau relasi akibat kurangnya aktivitas sehingga waktu yang bertambah banyak (3) Meninggalnya pasangan hidup (4) Anak-anak yang meninggalkan rumah karena menempu pendidikan yang lebih tinggi, anak-anak yang meninggalkan rumah untuk bekerja, (5) Anak-anak telah dewasa dan membentuk rumah tangga sendiri. Beberapa masalah tersebut akan menimbulkan rasa kesepian lebih cepat bagi orang lanjut usia.

4

Dari segi inilah lanjut usia mengalami masalah psikologis yang banyak mempengaruhi kesehatan psikis, sehingga menyebabkan orang lanjut usia kurang mandiri (Suhartini, 2004). Pada orang lanjut usia sering mengalami depresi pada orang berumur 60-an, mereka mengatakan kekhawatiran tentang rasa takutnya terhadap kematian, kehilangan keluarga atau teman karib, kedudukan sosial, pekerjaan, uang, atau mungkin rumah tinggi, semua ini dapat menimbulkan reaksi yang merugikan. Bagi kebanyakan orang lanjut usia, kehilangan sumber daya ditambahkan pada sumber daya yang memang sudah terbatas. Yang menarik perhatian ialah kekurangan kemampuan adaptasi berdasarkan hambatan psikologik, yaitu rasa khawatir dan takut yang diperoleh dari rasa lebih muda dan yang dimodifikasi, diperkuat dan diuraikan sepanjang masa hidup individu (Maramis, 2004). Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta merupakan salah satua tempat untuk merawat lansia di Karisidenan Surakarta, dengan jumlah tempat hunian 85 tempat tidur. Rata-rata Panti Wredha Dharma Bhakti merawat dan menampung sekitar 89 lansia. Kegiatan-kegiatan setiap harinya untuk lansia diatur sesuai jadwal kegiatan dan dilakukan secara rutinitas setiap harinya. Hasil survey pendahuluan yang peneliti laksanakan di panti Sosial Wredha Dharma Bhakti Kota Surakarta, kepala panti menjelaskan jumlah lansia terdiri dari laki-laki 33 orang dan perempuan 56 orang yang tinggal di panti tersebut, beberapa disebabkan karena tidak mempunyai keluarga atau sengaja dititipkan oleh anggota keluarganya, namun demikian perhatian

5

keluarga dapat dikatakan cukup baik, hal ini dapat diketahui bahwa minimal setiap minggu sekali keluarganya mengunjungi mereka, namun ada beberapa minggu baru dikunjungi oleh keluarga mereka. Hasil wawancara dengan beberapa lansia mengatakan bahwa mereka sebenarnya lebih senang bersama-sama dengan anggota keluarga, tapi kaerna tidak ingin membebani anggota keluarganya mereka akhirnya bersedia tinggal di panti tersebut. Walaupun setiap harinya mereka berada di panti dan dapat mengikuti setiap kegiatan yang dijadwalkan tapi mereka masih selalu memikirkan anak cucu mereka yang berada di rumah. Sehingga membuat mereka merasa cemas, kurang tidur, dan kadang bermimpi buruk tentang keadaan keluarga yang dirumah. Hal-hal tersebut merupakan beberapa gejala awal kecemasan lansia. Menurut Stuart and Sundeen (1998) kecemasan adalah suatu keadaan perasaan kepribadian, rasa gelisah, ketidaktentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui atau dikenal. Faktor yang mempengaruhi kecemasan antara lain frustasi, konflik, ancaman, harga diri, lingkungan yang berupa dukungan sosial, lingkungan, pendidikan, usia dan jenis kelamin. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Widiatmoko (2001), tentang dukungan sosial dengan derajat depresi pada lansia di poliklinik Geriatri RSUD Dr. Sarjito Yogyakarta, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan perawatan kesehatan termasuk cukup baik (51,5%), dukungan sosial berupa dukungan emosional (64,10%) dan dukungan keluarga sangat baik (68,50%), dan

6

ternyata dengan dukungan sosial merupakan derajat depresi pada pasien lansia. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk mengetahui tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kecemasan pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti dapat merumuskan suatu masalah sebagai berikut: ”Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan terjadinya kecemasan pada lanjut usia di Panti Wredha Dharma Bhakti Kota Surakarta”.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kecemasan pada usia lanjut (lansia) di Panti Wredha Dharma Bhakti Kota Surakarta. 2. a. Tujuan Khusus Mengetahui hubungan motivasi dengan terjadinya

kecemasan pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. b. Mengetahui hubungan dukungan sosial dengan terjadinya

kecemasan pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.

7

c.

Mengetahui

hubungan

umur

dengan

terjadinya

kecemasan pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. d. Mengetahui hubungan jenis kelamin dengan terjadinya

kecemasan pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.

D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara praktik dan teoritis sebagai berikut: 1. Manfaat Istalasi Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta Untuk sebagai bahan masukan bagi Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta untuk dapat memberikan pelayanan yang tepat pada lanjut usia. 2. Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Untuk penyediaan data dasar yang dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut, khususnya dalam penatalaksanaan lanjut usia. Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan terjadinya kecemasan pada lansia, sehingga membantu dalam pembelajaran terhadap kecemasan lansia. 3. Manfaat Bagi Peneliti Untuk menambah pemahaman dan pendalaman peneliti tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kecemasan pada lanjut usia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.

8

E. Keaslian Penelitian 1. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Berlina H (1998), memilih

tentang kecemasan pada usia lanjut pensiunan pegawai Departemen P dan K di Kabupaten Wonogiri. Perbedaannya dengan penelitian ini adalah subjek penelitian yang berbeda, rancangan penelitian terutama

pendekatannya berbeda, dan lokasi yang berbeda. Penelitian penulis dilakukan di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. 2. Penelitian lain yang sebelumnya pernah dilakukan oleh Suhartini

(2004) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian orang lanjut usia di Kelurahan Jambangan. Perbedaannya dengan penelitian ini adalah pokok permasalahannya, dalam hal ini peneliti mengangkat masalah faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kecemasan pada lansia. Perbedaan lainnya adalah tempat peneliti yang dilakukan di panti. 3. Penelitian lain oleh Muhammad NK (2008) tentang Faktor-faktor

yang Berhubungan Dengan Terjadinya Stres pada Lansia di panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Perbedaannya dengan penelitian ini adalah subjek penelitian, jumlah lanjut usia yang berbeda sehingga masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini bersifat kebaruan. 4. Kemudian penelitian oleh Widiatmoko (2001) tentang Korelasi

Dukungan Sosial dengan Derajat Depresi Pada Lansia di Poliklinik Geriatri RSUP Dr. Sarjito Yogyakarta. Perbedaannya dengan penelitian ini adalah pada pokok permasalahannya, dalam hal ini peneliti meneliti tentang faktor yang berhubungan dengan kecemasan. Perbedaan lain

9

adalah tempat penelitian yaitu penulis melakukan penelitian di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. 5. Penelitian sebelumnya pernah dilakukan oleh Mulyani (2004)

tentang tingkat kecemasan usia lanjut di Panti Tresna Wreda Unit Budhi Luhur Yogyakarta. Perbedaannya dengan penelitian ini adalah subjek penelitian, lokasi penelitian serta jumlah lanjut usia yang berbeda sehingga masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini bersifat kebaruan.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. a. Lanjut Usia Definisi lanjut usia Lanjut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa, terdiri dari fase prasenium yaitu lanjut usia yang berusia antara 55-65 tahun, dan fase senium yaitu lanjut usia yang berusia lebih dari 65 tahun (Nugroho, 2000). Menua adalah suatu proses menghilangkan secara perlahanlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan

mempertahankan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat berlahan terhadap infeksi dan kerusakan yang diderita (Nugroho, 2000). b. Batasan-batasan lanjut usia Menurut Nugroho (2000) mengenai kapankah orang tersebut disebut lanjut usia, sulit dijawab secara memuaskan. Batasan usia lanjut usia yang tercantum dalam Undang-undang No. 13/1998 tentang kesejahteraan lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas pembagian lanjut usia adalah Usia prasenius atau vinilitas yaitu seseorang berusia antara 45-49 tahun. Usia lanjut yaitu seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih, usia lanjut resiko tinggi yaitu seseorang yang berusia 70 tahun atau

11

lebih. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menggolongkan lansia menjadi 4 yaitu: usia pertengahan (middle age) 45-59 tahun, lanjut usia (elderly) 60-74 t ahun, lanjut usia tua (old) 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun. Birren dan Jenner mengusulkan untuk membedakan antara usia biologis, usia psikologis dan usia sosial meliputi (1) Usia biologis yaitu yang menunjukkan kepada jangka waktu seseorang sejak lahirnya berada dalam keadaan hidup tidak mati. (2) Usia psikologis yaitu yang menunjukkan kepada kemampuan seseorang untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian kepada situasi yang dihadapinya dan (3) Usia sosial yaitu yang menunjukkan kepada pesan-pesan yang diharapkan atau diberikan masyarakat kepada seseorang sehubungan dengan usianya. Ketiga jenis usia yang dibedakan oleh Birren dan Jenner itu saling mempengaruhi dan proses-prosesnya saling berkaitan (Nugroho, 2000). c. Perubahan-perubahan pada lanjut usia Perubahan-perubahan yang terjadi pada lanjut usia adalah faktor kesehatan meliputi keadaan fisik dan keadaan psikososial lanjut usia. Faktor keadaan fisik meliputi kondisi fisik lanjut usia, faktor kesehatan psikososial meliputi penyesuaian terhadap kondisi lanjut usia.

12

1)

Kesehatan fisik Faktor kesehatan meliputi keadaan fisik dan keadaan psikis

lanjut usia. Keadaan fisik merupakan faktor utama dari kegelisahan manusia. Menurut Nugroho (2000) perubahan secara fisik meliputi sistem pernapasan, sistem pendengaran, sistem pengeliatan, sistem kardiovaskuler, dan sistem integumentar mulai menurun pada tahap-tahap tertentu. Dengan demikian orang lanjut usia harus menyesuaikan diri kembali dengan ketidakberdayaannya. 2) Kesehatan psikososial Dengan menurunnya berbagai kondisi dalam diri orang lanjut usia secara otomatis akan timbul kemunduran kemampuan psikis. Salah satu penyebab menurunnya pendengaran, dengan menurunnya fungsi dan kemampuan pendengaran bagi orang lanjut usia banyak dari mereka yang gagal dalam menangkap isi pembicaraan orang lain sehingga mudah menimbulkan perasaan tersinggung, tidak dihargai dan kurang percaya diri. Menurunnya kondisi psikis ditandai dengan menurunnya fungsi kognitif. Nugroho (2000), menurunnya kondisi psikososial ditandai sebagai berikut: (1) merasakan atau sadar akan kematian (sense of awareness of mortality) (2) perubahan dalam cara hidup yaitu memasuki rumah perawatan bergerak lebih sempit (3) penyakit kronis dan ketidakmampuan (4) hilangnya kekuatan dan

ketegangan fisik yaitu perubahan terhadap gambaran diri,

13

perubahan

konsep diri.

Rangkaian

dari kehilangan,

yaitu

kehilangan hubungan dengan teman-teman dan keluarga dan (5) gangguan sosial panca indra yaitu timbul kebutuhan dan ketulian. d. Kebutuhan hidup orang lanjut usia Setiap orang memiliki kebutuhan hidup. Orang lanjut usia juga memiliki kebutuhan hidup yang sama agar dapat hidup sejahtera. Kebutuhan hidup orang lanjut usia antara lain kebutuhan akan makanan bergizi seimbang, pemeriksaan kesehatan secara rutin, perumahan yang sehat dan kondisi rumah yang tentram dan aman, kebutuhan-kebutuhan sosial seperti bersosialisasi dengan semua orang dalam segala usia, sehingga mereka mempunyai banyak teman yang dapat diajak berkomunikasi, membagi pengalaman, memberikan pengarahan untuk kehidupan yang baik. Kebutuhan tersebut diperlukan oleh lanjut usia agar dapat mandiri (Suhartini, 2004). Kebutuhan tersebut sejalan dengan pendapat Moslow dalam Koswara (1991) yang menyatakan bahwa kebutuhan manusia meliputi (1) Kebutuahan fisik (physiological needs) adalah kebutuhan fisik atau biologis seperti pangan, sandang, papan, seks dan sebagainya. (2) Kebutuhan ketentraman, baik lahiriah maupun batiniah seperti kebutuhan akan jaminan hari tua, kebebasan, kemandirian dan sebagainya (3) Kebutuhan sosial (social needs) adalah kebutuhan untuk bermasyarakat atau berkomunikasi dengan manusia lain melalui paguyuban, organisasi profesi, kesenian, olah raga, kesamaan hoby dan

14

sebagainya (4) Kebutuhan harga diri (esteem needs) adalah kebutuhan akan harga diri untuk diakui akan keberadaannya, dan (5) kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs) adalah kebutuhan untuk mengungkapkan kemampuan fisik, rohani maupun daya pikir berdasar pengalamannya masing-masing, bersemangat untuk hidup, dan berperan dalam kehidupan (Suhartini, 2004). Sejak awal kehidupan sampai berusia lanjut setiap orang memiliki kebutuhan psikologi dasar (Setiati, 2000). Kebutuhan tersebut diantaranya orang lanjut usia membutuhkan rasa nyaman bagi dirinya sendiri, serta rasa nyaman terhadap lingkungan yang ada. Tingkat pemenuhan kebutuhan tersebut tergantung pada diri orang lanjut usia, keluarga dan lingkungannya. Jika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi akan timbul masalah-masalah dalam kehidupan orang lanjut usia yang akan menurunkan kemandiriannya. e. Kemandirian Ketergantungan lanjut usia terjadi ketika mereka mengalami menurunnya fungsi luhur (pikun) atau mengidap berbagai penyakit. Ketergantungan lanjut usia yang tinggal di perkotaan akan dibebankan kepada anak, terutama anak wanita (Herwanto, 2002). Dari aspek sosial ekonomi dapat dikatakan jika cukup memadai dalam memenuhi segala macam kebutuhan hidup, baik lanjut usia yang memiliki anak maupun yang tidak memiliki anak. Tingginya tingkat kemandirian mereka diantaranya karena orang lanjut usia telah terbiasa

15

menyelesaikan pekerjaan di rumah tangga yang berkaitan dengan pemenuhan hayat hidupnya (Suhartini, 2008). Kemandirian orang lanjut usia dapat dilihat dari kualitas kesehatan mental. Ditinjau dari kualitas kesehatan mental, dapat dikemukakan hasil kelompok ahli dari WHO pada tahun 1959 yang menyatakan bahwa mental yang sehat atau mental health mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) Dapat menyesuaikan diri dengan secara konstruktif dengan kenyataan atau realitas, walau realitas tadi buruk (2) Memperoleh kepuasan dari perjuangannya (3) Merasa lebih puas untuk memberi dari pada penerima (4) Secara relatif bebas dari rasa tegang dan cemas (5) Berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan saling memuaskan (6) Menerima kekecewaan untuk dipakai sebagai pelajaran untuk hari depan (7) Menjuruskan rasa permusuhan pada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif dan (8) Mempunyai daya kasih sayang yang besar. Selain itu kemandirian bagi orang lanjut usia dapat dilihat dari kualitas hidup (Hardywinoto, 1999). Poerwadi (2001) mengartikan mandiri adalah dimana seseorang dapat mengurusi dirinya sendiri. Ini berarti bahwa jika seseorang sudah menyatakan dirinya siap mandiri berarti dirinya ingin sesedikit mungkin minta pertolongan atau tergantung kepada orang lain. Mandiri bagi orang lanjut usia berarti jika mereka menyatakan hidupnya nyaman-nyaman saja walaupun jauh dari anak cucu.

16

2. a.

Kecemasan Definisi kecemasan Kecemasan adalah ketegangan rasa tidak aman dan khawatir yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi sumber sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam (Depkes RI, 2002). Kecemasan dapat didefinisikan suatu keadaan perasaan, kepribadian, rasa gelisah, ketidaktentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui atau dikenal (Stuart dan Sundeen, 1998). Kecemasan adalah suatu keadaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan disertai dengan tanda somantik yang menyatakan terjadinya hiperaktivitas sistem syaraf otonom. Kiecemasan adalah gejala yang tidak spesifik yang sering ditemukan dan sering kali suatu emosi yang normal. Menurut Yustinus (2006), istilah stress dan depresi sering kali tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Oleh karena dalam diri manusia itu antara fisik dan psikis (kejiwaan) itu tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Mana istilah stress dan depresi ini dianggap sebagai satu kesatuan reaksi kejiwaan lainnya yang erat hubungannya dengan stress adalah kecemasan. Kecemasan dan depresi merupakan dua jenis gangguan kejiwaan satu dengan lainnya saling berkaitan. Seseorang yang mengalami depresi sering kali ada komponen antesiosnya

(kecemasan), demikian pula sebaliknya. Manifestasinya depresi tidak

17

selalu dalam bentuk keluhan-keluhan kejiwaan, tetapi juga bisa dalam bentuk keluhan-keluhan fisik. Menurut Stuart (2007), kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang tidak memiliki objek yang spesifik. Kecemasan itu sendiri merupakan respons emosional terhadap penilaian tersebut. Kapasitas untuk menjadi cemas diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi tingkat kecemasan yang berat tidak sejalan dengan kehidupan. b. Faktor presdiposisi kecemasan Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping yang dikembangkan untuk menjelaskan asal kecemasan menurut Stuart dan Sundeen (1998), yaitu: 1) Faktor psikoanalitik, kecemasan adalah konflik

emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian yaitu Id dan Super Ego. Ego atau aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua element yang bertentangan dan fungsi ansietas adalah

mengingatkan ego bahwa ada bahaya. 2) Faktor interpersonal, kecemasan timbul dari

perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal ansietas juga berhubungan dengan perkembangan trauma, perpisahan, kehilangan dan hal-hal menimbulkan

kelemahan fisik.

18

3)

Faktor pandangan perialaku, kecemasan merupakan

produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. 4) Faktor keluarga, keluarga menunjukkan bahwa

gangguan kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan kecemasan dengan depresi. 5) Faktor biologis, biologis menunjukkan bahwa otak

mengganggu reseptor khusus untuk Benzodiazepines. Reseptor ini mungkin memantau mengatur anxietas. Penghambat asam Amino Butric Gamma Neuroregulator (GABA) juga mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan anxietas. Pendapat lain menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah: 1) Faktor individu, adnaya rasa kurang percaya diri pada individu, masa depan tanpa tujuan dan adanya perasaan ketidakmampuan bekerja. 2) Faktor lingkungan, hubungan individu dengan orang lain. Perasaan cemas muncul karena individu merasa tidak dicintai orang lain, tidak memiliki kasih sayang, tidak memiliki dukungan dan motivasi, jauh dengan orang yang paling dekat (Stuart, 2006).

19

c.

Faktor pencetus kecemasan Stresor pencetus ansietas mungkin berasal dari sumber internal

maupun eksternal. Stressor pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori, menurut Stuart, Gail W (2006), yaitu: 1) Integritas seseorang meliputi ketidakmampuan

fisiologis yang akan datang dan menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas ancaman terhadap hidup sehari-hari. Ancaman ini sangat mungkin atau dapat terjadi pada lansia. 2) Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat

membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi sosial yang terinterograsi dalam diri seseorang. d. Tanda dan gejala kecemasan Kecemasan ditandai oleh rasa ketakutan yang difus, tidak menyenangkan dan samar-samar. Seringkali disertai oleh gejala otonomik seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, kekakuan pada dada, hipertensi, gelisah, tremor, gangguan lambung, diare, tremoe, dan frekuensi urin. Seseorang yang cemas mungkin juga merasa gelisah seperti yang dinyatakan oleh ketidakmampuan untuk duduk atau berdiri lama. Kumpulan gejala tertentu yang ditemukan selama kecemasan cenderung bervariasi dari orang ke orang (Kaplan dan Sadock, 1997). Analisis kognitif munculnya kecemasan disebabkan oleh bagaimana individu memikirkan situasi dan kemungkinan-

20

kemungkinan bahaya yang mungkin dapat muncul. Setiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap stress tergantung pada kondisi masing-masing, gejala umum pada kecemasan secara umum adalah (1) Berdebar diiringi dengan detak jantung yang cepat, kecemasan memicu otak untuk memproduksi adrenalin secara berlebihan pada pembuluh darah yang menyebabkan detak jantung semakin cepat dan memunculkan rasa berdebar (2) Rasa sakit atau nyeri pada dada, kecemasan meningkatkan tekanan otot pada rongga dada (3) Rasa sesak napas, ketika rasa cemas muncul syaraf-syaraf impuls bereaksi berlebihan yang menimbulkan sensasi dan sesak pernafasan (4) Berkeringat secara berlebihan selama kecemasan muncul terjadi kenaikan suhu tubuh yang tinggi (5) Kehilangan gairah seksual (6) Tubuh gemetar (7) Tangan atau anggota tubuh menjadi dingin (8) Kecemasan depresi memunculkan ide dan keinginan untuk bunuh diri (9) Gangguan kesehatan seperti sering merasa sakit kepala atau migrain (10) Gangguan tidur (Nugroho, 1995). e. Tingkat kecemasan Berdasarkan definisi menurut Sundeen (1998) yang

mengatakan kecemasan dapat diartikan suatu keadaan perasaan, kepribadian, rasa gelisah, ketidaktentuan, atau takut dari kenyataan atau presepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui atau dikenal. Dengan pengertian di atas Stuart dapat menggolongkan kecemasan menjadi 4 kecemasan yaitu: (1) Kecemasan ringan,

21

berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari, kecemasan ini menyebabkan individu menjadi waspada dan

meningkatkan lapang persepsinya (2) Kecemasan sedang, berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Kecemasan ini mempersempit lapang presepsi individu (3) Kecemasan berat, sangat mengurangi lapang persepsi individu, cenderung ebrfokus pada suatu yang rinci dan spesifik serta tidak berfikir tentang ahal lain. Semua perilaku ditunjukkan untuk mengurangi ketegangan dan (4) Tingkat panik dari kecemasan, berhubungan dengan terperangah, ketakutan, dan teror. Individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. f. Pengukuran kecemasan Untuk mengetahui tingkat kecemasan dapat digunakan Hamilton Anxiety Scala (HAS), yaitu nilai skala yang dikembangkan untuk mengukur kerasnya dari kegelisahan symptomatology, sering digunakan dalam evaluasi obat psikotropika. Terdiri dari 14 item, masing-masing ditetapkan oleh sejumlah gejala. Setiap item adalah nilai pada skala 5-titik, mulai dari 0 (tidak ada) sampai 4 (parah) (Nitafitria, 2009).

3. a.

Faktor yang mempengaruhi kecemasan pada Lansia Faktor internal

22

Menurut Noorkasiani (2009) pada setiap stresor, seseorang akan mengalami kecemasan, baik kecemasan ringan, sedang, maupun berat. Usia lanjut dalam pengalaman hidupnya tentu diwarnai oleh masalah psikologi berupa kehilangan dan kecemasan. Adapun mekanisme koping pada usia lanjut dipengaruhi faktor-faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, motivasi, kondisi fisik, diuraikan berikut ini. 1) Umur Semakin bertambah usia atau umur seseorang semakin siap pula dalam menerima cobaan, hal ini didukung oleh teori aktivita yang menyatakan bahwa hubungan antara sistem sosial dengan individu bertahan stabil pada saat individu bergerak dari usia pertengahan menuju usia tua. Teori ini menekankan bahwa kesetabilan sistem kepribadian sebagai individu, bergerak ke arah usia tua oleh sebab itu tidak dibutuhkan suatu kompensasi terhadap kehilangan. Seperti pensiun dan peran sosial karena menua. Keterkaitannya dengan jenis pekerjaan juga membawa dampak yang berarti.

Menurut organisasi kesehatan dunia,lanjut usia dibagi menjadi empat kelompok yaitu:

23

a. Untuk pertengahan (Middle age) yakni kelompok usia 45-59 tahun. b. Lansia (Elderly) yakni kelompok 60-70 tahun. c. Lansia tua (old) yakni kelompok 71-90 tahun d. Usia sangat tua (very old) yakni kelompok 90 tahun ke atas. Mereka yang berusia 40-45 tahun (menjelang usia lanjut) mulai melaksanakan kecemasan menghadapi masa tua, sehingga lanjut usia berfikirnya akan menurun pula pendapatan secara materi. Sehingga mereka merasakan kegelisahan dalam

menghadapi masa tua dan dapat memicu terjadinya kecemasan yang lebih berat dan berkepanjangan (Nugroho, 2000). 2) Jenis kelamin Perbedaan gender juga dapat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi psikologis lansia, sehingga akan berdampak pada bentuk adaptasi yang digunakan. Menurut Salim cit. Handywinoto (2005), jumlah penduduk lansia wanita berstatus menikah hanya 25% di bandingkan dengan penduduk lansia pria yang besarnya 84%. 3) Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan juga merupakan hal terpenting dalam menghadapi masalah. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin banyak pengalaman hidup yang dilaluinya, sehingga akan lebih siap dalam menghadapi masalah yang terjadi. Umumnya,

24

lansia yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi masih dapat produktif, mereka justru banyak memberikan kontribusinya sebagai pengisi waktu luang dengan menulis buku-buku ilmiah maupun biografinya sendiri. 4) Motivasi Adanya motivasi akan sangat membantu individu dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Individu yang tidak mempunyai motivasi untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah akan membentuk koping yang destruktif. Menurut Noorkasiani (2009), jika tiap-tiap kebutuhan dapat dicapai. Maka individu termotivasi untuk mencari kebutuhan pada tahap yang lebih tinggi berikutnya. Sehingga individu akan mempunyai kemampuan dalam meremehkan masalah. 5) Kondisi fisik Menurut Kuntjoro (2002), setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersikap patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang ayang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun

25

sosial, yang selanjutnaya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Menurut Nugroho (2000), di kemukakan adanya empat proses penyakit yang sangat erat hubungannaya dengan proses menua, yakni: a. Gangguan sirkulasi darah. Seperti: hipertensi, kelainan pembuluh darah, gangguan pembuluh darah di otak (koroner), dan ginjal. b. Gangguan metabolik hormonal seperti: diabetes, minitus, klimakterium, dan ketidakseimbangan tiroid. c. Gangguan pada persendian, seperti osteoporosis, goutartritis, ataupun penyakit kolagen lainnya. d. Berbagai neoplasma. 6) 1) Faktor eksternal Dukungan sosial Dukungan sosial bagi lansia sangat diperlukan selama lansia sendiri masih mampu memahami makna dukungan sosial tersebut sebagai penyekong atau penopang kehidupannya. Namun dalam kehidupan lansia seringkali ditemui bahwa tidak, semua lansia mampu memahami adanya dukungan sosial dari orang lain, sehingga walaupun ia telah menerima dukungan sosial tetapi masih saja menunjukkan adanya ketidakpuasan,

26

yang ditampilkan dengan cara menggerutu, kecewa, kesal dan sebagainya. Weiss (Cutrona dkk, 1994) dalam Kuntjoro (2002) mengemukakan adanya 6 (enam) komponen dapat berdiri sendiri-sendiri, namun satu sama lain sering berhubungan yaitu: a) Kerekatan emosional Jenis dukungan sosial semacam ini memungkinkan seseorang memperoleh kerekatan (kedekatan) emosional sehingga menimbulkan rasa aman bagi yang menerima. Orang yang menerima dukungan sosial semacam ini merasa tenteram, aman dan damai yang ditunjukkan dengan sikap tenang dan bahagia. Sumber dukungan sosial semacam ini yang paling sering dan umum adalah diperoleh dari pasangan hidup, atau anggota keluarga atau teman dekat atau sanak keluarga yang akrab dan memiliki hubungan yang harmonis. b) Integrasi sosial Jenis dukungan sosial semacam ini memungkinkan lansia untuk memperoleh perasaan memiliki suatu

kelompok yang memungkinkannya untuk membagi minat, perhatian serta melakukan kegiatan yang sifatnya rekreatif secara bersama-sama. Sumber dukungan semacam ini

27

memungkinkan lansia mendapatkan rasa aman, nyaman serta merasa memiliki dan dimiliki dalam kelompok. Adanya kepedulian oleh masyarakat untuk

mengorganisasikan lansia dan melakukan kegiatan bersama tanpa ada pamrih akan banyak memberikan dukungan sosial. c) Pengakuan Pada dukungan sosial ini lansia mendapat

pengakuan atas kemampuan dan keahlian serta mendapat penghargaan dari orang lain atau lembaga. Sumber dukungan sosial ini dapat berasal dari keluarga atau lembaga / instansi atau perusahaan / organisasi dimana sang lansia pernah beklerja. Karena jasa, kemampuan dan keahliannya maka ia tetap mendapat perhatian dan santunan dalam berbagai bentuk penghargaan. d) Ketergantungan yang dapat diandalkan Dalam dukungan sosial ini, lansia mendapat dukungan sosial berupa jaminan bahwa ada orang yang dapat diandalkan bantuannya ketiaka lansia membutuhkan bantuan tersebut. Jenis dukungan sosial ini pada umum berasal dari keluarga. Untuk lansia yang tinggal di lembaga, misalnya pada sasana wredha dan petugas yang selalu siap untuk membantu para lansia yang tinggal di lembaga

28

tersebut, sehingga para lansia mendapat pelayanan yang memuaskan. e) Bimbingan Dukungan ini adalah berupa adalah hubungan kerja ataupun hubungan sosial yang memungkinkan lansia mendapatkan informasi, saran, atau nasehat yang dihadapi. Jenis dukungan sosial jenis ini bersumber dari guru, alim ulama, pamong, dalam masyarakat, figur yang dituakan dan juga orang tua. f) Kesempatan untuk mengasuh Suatu aspek penting dalam hubungan interpersonal akan perasaan dibutuhkan oleh orang lain. Jenis dukungan sosial ini memungkinkan lansia untuk memperoleh perasaan bahwa orang lain tergantung padanya untuk memperoleh kesejahteraan. Menurut Kuntjoro (2002), sumber dukungan sosial ini adalah keturunan (anak-anak) dan pasangan hidup. Itulah sebabnya sangat banyak lansia yang merasakan sedih dan kurang bahagia jika berada jauh dari cucu-cucu pun anak-anak. Dengana memahami pentingnya dukungan sosial bagi lansia, kita semua diharapkan mampu untuk memberikan partisipasi dalam pemberian dukungan sosial sesuai dengan kebutuhan lansia. Dengan pemberian dukungan yang bermakna

29

maka para lansia akan dapat menikmati hari tua. Mereka dengan tenteram dan damai yang pada akhirnya tentu akan memberikan banyak manfaat bagi semua anggota keluarga yang lain (Kuntjoro, 2002). 2) Dukungan keluarga Dukungan keluarga menurut Departemen Kesehatan RI cit Amalia (2005) adalah unit terkecil dari masyarakat ayang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Sedang menurut Khairudin (2002) keluarga merupakan kesatuan dari orangorang yang berinteraksia dan berkomunikasi yang menciptakan peran-peran sosial bagi suami dan istri, ayah dan ibu, putra dan putri, saudara laki-laki dan saudara perempuan. Menurut Friedman (1998) bahwa keluarga berfungsi sebagai sistem pendukung bagi anggotanya. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung, selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan. Smet (1994) Friedman (1998) menjelaskan bahwa keluarga memiliki beberapa fungsi dukungan, yaitu: a) Dukungan informasional Keluarga berfungsi sebagai pemberi informasi tentang pengetahuan proses belajar, diantaranya mengenai

30

cara belajar yang efektif, motivasi belajar, pelajaran sekolah. Manfaat dari dukungan ini adalah dapat menahan munculnya suatu stressor karena informasi yang diberikan dapat menyumbangkan aksi sugesti yang khusus pada individu. Aspek-aspek dukungan ini berupa nasehat, usulan saran, petunjuk dan pemberi informasi. b) Dukungan penilaian Dapat berwujud pemberian penghargaan atau pemberian penilaian yang mendukung perilaku atau gagasan individu dalam bekerja maupun peran sosial yang meliputi pemberian umpan balik, informasi atau penguatan. c) Dukungan instrumental Keluarga merupakan sumber pertolongan praktis dan kongkrit, diantaranya dapat berwujud barang,

pelayanan dukungan, keuangan dan menyediakan peralatan yang dibutuhkan. Memberi bantuan dan melaksanakan aktivitas, memberi peluang waktu, serta modifikasi lingkungan. d) Dukungan emosional Merupakan dukungan yang diwujudkan dalam bentuk kelekatan, kepedulian, dan ungkapan simpati sehingga timbul keyakinan bahwa individu yang

bersangkutan diperhatikan.

31

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek dukungan keluarga terdiri dari dukungan

informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan emosional.

B. Kerangka Teori B. Faktor Eksternal Dukungan Sosial Kecepatan emosional Integrasi social Pengakuan Ketergantungan yang dapat diandalkan Bimbingan Kesempatan untuk mengasuh Dukungan Keluarga Informasional Penilaian Instrumental Emosional

Faktor Internal Usia atau Umur Jenis Kelamin Tingkat Pendidikan Motivasi Kondisi Fisik

Kecemasan Pada Lanjut Usia

Tanda dan gejala kecemasan sesuai dengan tingkat kecemasan menurut Sudeen (1998): Ringan Sedang Berat Panik

Gambar 1: Kerangka Teori Sumber: Nugroho (2000); Friedman (1998); Kaplan and Sadock (1997); Stuart and Sudeen (1998); Kuntjoro (2002)

32

C. Kerangka Konsep Variable independen Kecemasan Pada Lansia Faktor-faktor kecemasan: Dukungan social Motivasi Dukungan keluarga Jenis kelamin Usia atau umur Kondisi fisik Pendidikan Dukungan Keluarga Variable dependen Kecemasan Pada Lansia

Kecemasan Pada Lanjut Usia

Keterangan:

Variabel yang tidak diteliti Variabel yang diteliti

D. Hipotesis Hipotesis penelitian ini ada faktor yang mempengaruhi kecemasan pada lanjut usia di Panti Sosial Wredha Dharma Bhakti Kota Surakarta.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Rencana Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode deskriptif analitik dengan apendekatan ”Cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika kolerasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan apengamatan data sekaligus pada saat, auntuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinaya kecemasan pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta (Arikunto, 2002).

B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di Panti Wredha Dharma Bhakti Kota Surakarta dan akan dilaksanakan pada bulan Desember 2009 sampai bulan Maret 2010.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Sedangkan sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ini disebut sampel penelitian. Dalam mengambil sampel penelitian ini digunakan cara atau

34

teknik-teknik tertentu, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasinaya (Notoatmodjo, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah semua lanjut usia yang tinggal di Panti Wredha Dharma Bhakti Kota Surakarta yang berjumlah 89 orang lansia. 2. Sampel dan kriteria Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap amewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2002). Teknik pengambil sampel adalah menggunakan teknik purposive sampling, yaitu lansia yang memenuhi kriteria untuk dijadikan responden penelitian kriteira inklusi: a. Lansia laki-laki atau perempuan yang tinggal di panti

Wredha Dharma Bhakti. b. c. responden. d. terakhir. Masih ada komunikasi dengan keluarga dalam 1 tahun Dapat berkomunikasi dengan abaik. Bersedia dan mau dijadikan sampel penelitian atau

Kriteria eksklusi a. b. Lansia yang sudah berusia di atas 90 tahun. Tidak bersedia menjadi responden.

35

c.

Lansia yang sedang menderita sakit yang

harus opname atau tirah baring.

3.

Teknik sampling Teknik sampling adalah dalam mengambil sampel penelitian ini

digunakan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga sample tersebut sedapat mungkin mewakili populasinya (Notoatmodjo, 2005). Teknik yag digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu pengambilan data secara purposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan diri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. 4. Penentuan jumlah sampel Jumlah sampel suatu penelitian tergantung kepada dua hal yaitu pertama, adanya sumber-sumber yang dapat digunakan untuk menentukan batas maksimal dari besarnya sampel. Kedua, kebutuhan dari rencana analisis yang menentukan batas minimal dari besarnya sampel. Jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan formula dalam penentuan besar sampel menggunakan rumus: n=
N 1 + N (d 2 ) 89 1 + 89 (0,05 ) 2
89 1 +89 (0,0025 )

n=

n=

36

n = 1 + 0,2225 n = 1,2225 n = 1,22 3 n = 72,77 n = 72 Keterangan: N = besarnya populasi n = besar sampel d = tingkat signifikan (p f (d = 0,05) Jadi jumlah sampel yang akurat lebih kurang 72 orang lansia dari 89 daftar nama penghuni Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta dan memenuhi kriteira untuk menjadi responden penelitian. (Notoatmodjo, 2005)
8 9 8 9

89

D. Variabel Penelitian Variabel yang diteliti pada penelitian ini adalah variabel dependen (variabel terikat) dan variabel independent (variabel bebas atau bergantung). 1. Variabel independen adalah faktor yang diduga sebagai faktor yang

berhubungan dengan variabel terikat (Arikunto, 2006). Variabel independennya adalah: usia lansia, jenis kelamin lansia, motivasi, dan dukungan sosial.

37

2.

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel

bebas (Arikunto, 2006) Variabel dependennya adalah kecemasan lansia.

E. Definisi Operasional Variabel Tabel 3.1 Rangkuman Variabel Operasional No. Variabel 1. Usia lansia Pengertian Usia lanjut usia sampel dengan dilakukan 2. Jenis kelamin penelitian Perbedaan gender juga dapat menjadi faktor yang mempengaruhi psikologis lansia, ganda lansia saat dilakukan 3. Dukungan keluarga penelitian Bantuan yang berupa perhatian, emosi, informasi, nasehat, materi maupun penilaian Kuesioner Ordinal 40-53 = buruk 54-67 = sedang 68-80 = baik Kuesioner Ordinal Alat Ukur Kuesioner Skala Interval Skoring 45-89 tahun 60-70 tahun 71-90 tahun > 90 tahun Laki-laki Perempuan

38

yang diberikan oleh sekelompok 4. Dukungan sosial anggota keluarga Merupakan dukungan dan semangat yang diaberikan oleh orang lain dalam kehidupan 5. seseorang Kecemasan Penderita yang lansia normal dan suatu perasaan, ketidaktentuan, rasa gelisah, takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber yang tidak diketahui F. Instrumen Penelitian Instrumen dari varaibel independen berbentuk angket atau kuesioner tertutup artinya jawabannya atau isialn telah dibatasi atau ditentuakan sehingga responden tidak memberikan respon menurut kebebasan seluasKuesioner HRS – A Ordinal < 17 = ringan 18-24 = sedang 25-30 = berat Kuesioner Ordinal 7–14=Buruk 15-27=Sedang >27=Baik

39

luasnya. Subjek hanya memberi tanda (√) pada kolom jawbaan yang telah ditentukan sesuai yang dirasakan responden. Untuk mengetahui penilaian pada kecemasan dilakukan dengan menggunakan alat ukur HAS (Hamilton Anxiety Scala), yaitu nilai skala yang dikembangkan untuk mengukur kerasnya dari kegelisahan symptomatology, sering digunakan dalam evaluasi obat psikotropika. Terdiri dari 14 item, masing-masing ditetapkan oleh sejumlah gejala. Setiap item adalah nilai pada skala 5 titik, mulai dari 0 (tidak ada) sampai 4 (parah). (Nitafitria, 2009)

G. Uji Validitas dan Reliabilitas 1. Uji validitas instrumen Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo, 2005). Instrumen adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2006). Teknik korelasi yang digunakan untuk mencari hubungan membuktikan hipotesis hubungan dua variabel bila data kedua variabel berbentuk interval atau radio dan sumber data dari dua variabel atau lebih tersebut adalah sama. (Sugiyono, 2007) Teknik korelasi yang dipakai adalah teknik product moment yang rumusnya sebagai berikut:

40

rxy =

{N∑ x

N ∑ xy - ( ∑ x )( ∑ y )
2

− (∑ x)

2

}{N∑ y

2

− (∑ y)

2

}

41

Keterangan: rxy N x y Σ xy = koefisien validitas = jumlah responden = skor pernyataan tiap nomor = skor total = jumlah hasil dari x dan y (Arikunto, 2006)

2.

Uji reliabilitas instrumen Reliabilitas adalah suatu instrumen yang cukup dapat dipercaya

untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah aik. Uji reliabilitas dengan menggunakan rumus Alpha yang dapat digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya 1 dan nol (nol). Jika dihubungkan dengan pengertian variabel, hanya untuk skor dengan variabel diskrit. Rumus Alpha digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0. Misalnya angket atau soal berbentuk uraian (Arikunto, 2006). Rumus Alpha:
 k  ∑σb 2  1−  r11 =   σ 2t  ( k −1)   

Keterangan: r11 k = reliabilitas instrumen = banyaknya butir pertanyaan atau abanyaknya soal

42

Σ σ b2 = jumlah varians σ
1 2

= varians total

H. Analisis Data dan Pengolahan Data 1. Pengumpulan data Data yang telah terkumpul dari hasil pengumpulan data segera dialakukan pengolahan data dengan tahap sebagai berikut (Notoadmodjo, 2005): a. Editing Dilakukan dengan cara mengoreksi data yang telah diperoleh sehingga dapat dilakukan perbaikan data yang kurang. b. Coding Pemberian kode dimaksudkan untuk mempermudah dalam pengelolaan data dan proses selanjutnya melalui tindakan

pengklarifikasian data. c. Tabulating Data distribusi data yang telah diberikan skor kemudian disusun dan dibagikan dalam bentuk tabel. Selanjutnya pengolahan data atau analisis. d. Entry Data Memasukkan data ke komputer dengan menggunakan aplikasi program SPSS 10.

43

2.

Analisis data Menurut Notoadmodjo (2005) analisis data dibedakan menjadi tiga

macam yaitu: (1) analisis univariate, dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian; (2) Analisis bevariate, dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Dalam analisis ini dapat dilakukan pengujian statistik dengan Chai Square (x), t test, z test, dsb; (3) Analisis ultivariate, dilakukan terhadap lebih dari dua variabel. Biasnaya hubungan antara satu variabel terikat (dependent variabel) dengan beberapa variabel bebas (independent variabel), uji statistik yang digunakan biasanya regresi berganda (multiple regression). Dalam penelitian ini menggunakan analisis ultivariate dengan menggunakan uji statistik regresi berganda (multiple regression). Sebagai variabel terikat atau dependent adalah kecemasan lansia. Sedangkan sebagai variabel bebas atau independent adalah suai lansia, jenis kelamin, dukungan keluarga, dan dukungan sosial. Sehingga model persamaan regresi berganda sebagai berikut: Y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + e Keterangan: Y a b = kecemasan pada lansia = konstanta = koefisien variabel

44

x

= usia lansia (x1), jenis kelamin (x2), dukungan keluarga (x3), dukungan sosial (x4)

e

= standard error Pada analisa yang memakai regresi berganda untuk mendapatkan

hasil yang baik diperlukan pengujian koefisien determinasi (R2) dilakukan untuk mendeteksi ketepatan yang paling baik dalam analisis regresi. Uji ini dengan membandingkan besarnya nilai koefisien determinen R2 jika nilai R2 semakin besar atau mendekati 1 (satu) maka modal semakin tepat.

I. Etika Penelitian Etika dalam penelitian keperawatan meruapakan masalah yang sangat penting karena keperawatan akan berhubungan dengan manusia dan manusia mempunyai hak asasi dalam kegiatan penelitian. Etika dalam penelitian dapat meliputi: 1. Informed consent Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria inklusi disertai judul dan manfaat penelitian, bila subjek menolak maka penelitian tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak subjek. 2. Anonimity (tanpa nama) Untuk menjaga kerahasiaan penelitian tidak akan mencantumkan nama responden, tetapi lembar tersebut di beri kode.

45

3.

Confidentiality (kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti hanya kelompok

data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

J. Rencana Penulisan Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu: 1. Tahap persiapan Pada tahap ini penelitian melakukan penelusuran pustaka dan penyusunan proposal penelitian. Selain itu dilanjutkan dengan seminar proposal dan revisi proposal. 2. Tahap pelaksanaan Sebelum dilakukan wawancara peneliti terlebih dahulu melakukan pengecekan ciri-ciri responden, menjelaskan maksud dan tujuan penelitian serta meminta kesediaan responden untuk menjadi subyek penelitian. Selanjutnya dilakukan wawancara dengan responden yang tidak bisa tulis baca dibantu oleh penerjemah bahasa bagi responden yang tidak mengerti bahasa Indonesia, bagi responden yang bisa tulis baca langsung dijawab oleh responden yang sebelumnya diberi penjelasan tetnang bagaimana pengisian kuesioner yang seharusnya. Setelah data terkumpul maka dilakukan tabulasi data dan pengolahan data. Pelaksanaan penelitian akan dimulai dengan uji validitas dan reliabilitas yang dilakukan dengan menyebar kuesioner kepada lansia yang sesuai dengan kriteria inklusi pada sampel penelitian. Setelah instrumen

46

dinyatakan valid dan reliable. Maka langkah selanjutnya peneliti akan mulai melakukan pengumpulan data. Penelitian akan dilakukan di panti Wredha Dharma Bhakti dengan sampel sesuai kriteria inklusi. Sebelum responden mengisi kuesioner, peneliti akan memberikan penjelasan tentang tujuan dari penelitian, cara mengisi kuesioner dan diminta untuk menandatangani lembar informed consent. Lansia yang selalu setuju kemudian diberi lebih kuesioner oleh peneliti. 3. Tahap pelaporan

Tahap pelaporan meliputi: a. b. c. Penyusunan laporan hasil penelitian Seminar laporan hasil penelitian Revisi laporan hasil penelitian

K. Anggaran Penelitian Anggaran disusun berdasarkan perkiraan kebutuhan pada masingmasing kegiatan dan item alat bahan dan bahan yang diperlukan, pada tabel di bawah ini:

47

Tabel 2 Anggaran Penelitian No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Rincian Penelusuran literature Pembelian peralatan tulis Transportasi Biaya ujian proposal Pembuatan, pengetikan Penyajian proposal Revisi proposal Pelaksanaan penelitian Pengolahan dan pengetikan laporan Ujian skripsi, revisi dan penggandaan Biaya tak terduga Total Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Jumlah 150.000 100.000 250.000 750.000 250.000 100.000 100.000 300.000 250.000 300.000 150.000 2.700.000

L. Jadwal Penelitian Jadwal penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini Tabel 3.6 Jadwal Kegiatan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Keterangan Penyusunan proposal Ujian proposal Perbaikan proposal Ujian reliabilitas validitas Pengumpulan data Pengolahan analisa data Pembahasan Ujian skripsi Perbaikan Agust 2009 Sept 2009 Waktu Penelitian Okt Nop Des Jan 2009 2009 2009 2010 Feb 2010 Mart 2010

DAFTAR PUSTAKA

Amalia,P.H. 2005. Peran Dukungan Keluarga Dalam Meningkatkan Motivasi Menjalani Pengobatan dan Mempertahankan Prestasi Belajar Anak Penderita ISPA di RS. Tri Harsi Surakarta. Skripsi (tidak diterbitkan) Surakarta. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Arikunto, S. 2006. Prosedur Peneltian Suatu Pendekatan Praktik Jakarta: PT Asdi Mahasatya. Badan Pusat Statistik. 2000. Karakteristik Penduduk Jawa Timur BPS Prop. Jatim. Mitra Guna Bahagia. Berlina, H.P, 1998. Kecemasan Pada Usia Lanjut Periunan Pegawai Departemen P Dan K di Kabupaten Jogjakarta Budi Nugroho, SKM. 2000. Buku Keperawatan Gerantik Edisi 2 Jakarta: Egc. Departemen Kesehatan. 2002. Standar Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta: Direktorat Pelayanan Keperawatan Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan. Febri. 2006. Sistem Pengembangan Manajemen Kinerja Klinis Untuk Perawat dan Bidan di RS dan Puskesmas Indonesia. http://www.kinerjaklinikperawatbidan.net diakses 09 feb 2009. Freidmajn, M.M. 1998. Keperawatan Keluarga, Teori dan Praktik Edisi 36 Jakarta: Egc. Hardywinoto. 1999. Menjaga Keseimbangan Kualitas Hidup Para Lanjut Usia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Herwanto. 2002. Problematika Kehidupan Lanjut Usia Pada Masyarakat Perkotaan. Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Tahun XV, Nomor 1, Januari 2002, 7-20. Matthew N and David L. 1959. Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM - A). http://www.neurotransmitter.net/anxietyscales.html, diaskes 09 juli 2009. Isfandari S. 1999. Gejala Psikologis pada Lansia di Depok dan Senin. Buletin Penelitian Kesehatan Vol. 26 No. 1.

48

Kaplan, A Sodack. 1998. Ilmu Keperawatan. Jakarta: Widya Medika. Kaplan K.I & Sodock, B.J. 1997. Sinopsis Psikiatri Edisi 7, Jilid II, Alih Bahasa Widya Kusuma. Jakarta: Bina Rupa Aksara. Kartinah. 2007. konstribusi Dukungan Sosisal Terhadap Tingkat Depresi Pada Pensiunan PNS Dikecamatan Sukoharjo. Skripsi (tidak diterbitkan) Surakarta. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammdiyah Surakarta. Khairudin. 2002. Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: liberty Koswara, 1991, Teori-Teori Kepribadian. Bandung: Eresco. Kuntjoro S Z. 2002. Kesehatan Jiwa dan Permasalahannaya. http://www.epsikologi.com/epsi/lanjutusia.asp.diakses29Maret2009. Kuntjoro S Z. 2002. Dukungan Sosial Pada Lansia. psikologi.com/epsi/artikel di Akses 29 Maret 2009. http://www.e-

Maramis, W.F. 2004. Catatan Ilmu Keperawatan Jiwa. Surabaya: Air Langga University Press. Matthew N and David L. 1959. Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM - A). http://www.neurotransmitter.net/anxietyscales.html, diaskes 09 juli 2009. Muhammad N. K. 2008. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Terjadinya Stress pada Lanjut Usia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.skripsi (tidak diterbitkan Surakarta). FIK Unervesitas Muhammadiyah Surakarta Nitafitria. 2009. Penelitian psikospiritual sebuah hasil penelitian. Http://Nitafitria.wordpress.com/2009/02/09/terapi-psikospiritual-sebuahhasil-penelitian diakses 9-02-2009. Noorkasiani, Tamher S. 2009. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Notoatmmodjo. 2005. Metadologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Nugroho, W. 1995. Perawatan Lanjut Usia. Edisi 3. Jakarta: Egc. Poewardi S H. 2001. Kita Sukses Dalam Pergaulan. Jakarta: UPN Veteran.

49

Sahara.

2009. Anxietas Disorder (Gangguan Kecemasan). Http://Pembaharuankeluaga.wordpress.com/2009/03/28/anxiety-disorsdergangguan-kecemasan, diaskes 12 april 2009.

Setiati S. 2000. Pedoman Praktis Perawatan Kesehatan Untuk Mengasuh Orang Usia Lanjut. Jakarta: PKUI. Stuart, G.W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5. Jakarta: egc. Stuart, G.W dan Sundeen, S.J. 1998. Buku Keperawatan Jiwa Edisi 3. Jakarta: egc.
Sugiyono. 2008. Statistika untuk Penelitian Jakarta : Alfabeta.

Suhartini. Bab 1 Pdf. Dasar Teori Kecemasan Pada Lansia, http://www.domandiri.or.id/file/ratnasuhartiniurair diakses 18 Februari 2008. Suhartini. Bab 2 Pdf. Dasar Teori Kecemasan Pada Lansia, Http://www.domandiri.or.id/file/ratnasuhartiniunair diakses 04 Maret 2008. Widiatmoko. 2001. Korelasi Dukungan Sosial dengan Derajat Depresi Pada Lansia Di Poliklinik Geriatri Rumah Sakit Umum Daerak Dr. Sarjito Yogjakarta.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA KECEMASAN PADA LANJUT USIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI KOTA SURAKARTA

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1 Keperawatan

Disusun oleh : NURI WIDIYANINGSIH J 210 050 021

FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2009

Lampiran 1 Kepada Yth: Calon responden penelitian Di tempat

Dengan Hormat, Saya yng bertanda tangan di bawah ini : Nama NIM : Nuri Widiyaningsih : J210050021

Adalah mahasiswa S- 1 Fakultas Ilmu Kesehatan Unifersitas Muhammadiyah Surakarta Yang akan melakukan penelitian dengan judul ”Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Terjadinya Kecemasan Pada Lanjut Usia di Panti Wredha Dharma Bhakti Kota Surakarta Tahun 2009”. Penelitian ini tidak akan memberikan pengaruh dan dampak apapun terhadap responden, namun demikian saya sebagai peneliti akan merahasiakan identitas dan jawaban bapak atau ibu yang bapak atau ibu berikan dalam pertanyaan peneliti kepada bapak atau ibu sebagai responden, atas kesediaannya peneliti ucapkan terima kasih.

Hormat Saya,

Peneliti

Lampiran 2 LEMBAR PERSETUJUAN Yang bertanda tangan dibawah ini : NAMA :

Jenis Kelamin : Pendidikan Alamat : :

Dengan ini menyatakan sesungguhnya bahwa saya telah mandapat penjelasan mengenai maksud pengumpulan data untuk penelitian ”FaktorFaktor Yang Berhubungan Dengan Terjadinya Kecemasan Pada Lanjut Usia di Panti Wredha Dharma Bhakti Kota Surakarta”. Untuk itu secara sukarela saya menyatakan bersedia menjadi responden atau subyek penelitian tersebut. Dengan pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dengan penuh kesadaran tanpa pksaan.

Surakarta,... ... ... ... ... 2009 Responden

( … … … … … … …)

Lampiran 3 KUESIONER 1 LEMBAR DATA DEMOGRAFI Hari / Tanggal : Isilah kolom di bawah ini Nama Umur : : • • • • Jenis Kelamin : • • Tingkat Pendidikan : • • • • • Petunjuk: Bapak atau ibu adiminta uantuk menjawab dengan jujur pada setiap nomor di bawah ini dengan memberi tanda check list (√) yang dianggap BENAR. 45-89 tahun 60-70 tahun 71-90 tahu > 90 tahun Laki-laki Perempuan SD SMP SMA Diploma Sarjana No. Urut :

Lampiran 4 KUESIONER 2 DUKUNGAN SOSIAL Nama Klien Jenis Kelamin Umur A. 5 4 3 2 1 : : :

Penilaian : Sangat Setuju : Setuju : Ragu-ragu : Tidak Setuju : Sangat Tidak Setuju

B. Penilaian Dukungan Sosial 7 – 14 : Buruk 15 – 27 : Sedang > 27 : Baik No. 1 2 3 4 5 Pertanyaan/ Pernyataan Kondisi panti ini menyenangakan, terutama pengaturan ruang dan lokasinya Sebagain besar perawat/ pengasuh memahami kondisi lansia yang tinggal disini Pengajaran keterampilan yang diberikan telah sesuai dengan minat dan ketertarikan saya Selain keterampilan kebersamaan dengan sesama penghui snagat membantu Keluarga dekat sangat menghargai semua keterampilan yang saya peroleh selama di 6 7 panti Keluarga dekat terutama istri/ suami SSS S S R TS STS

merupakan teman terbaik dalam berbagai Hingga saat ini suami/ istri masih memberikan perhatian sama seperti beberapa tahun yang lalu Selain suami/ istri, keluarga juga memberikan

8

perhatian yang sama besar seperti yang 9 dirasakan beberaka tahun lalu Hingga saat ini komunikasi dengan anggota keluarga lain baik langsung/ tidak langsung 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 masih terjalin dengan baik Keluarga terdekat masih sering berkunjung/ memberi barang-barang kebutuhan pribadi Pada usia ini yang keluarga adalah kekayaan yang tak ternilai Kedatangan anak-anak dan cucu merupakan hal yang paling saya tunggu Hubungan dengan teman-teman lama baik yang satu pekerjaan atau tidak tetap terjalin Saya merasa cemas karena tidak memiliki penghasilan tetap seperti dulu Kecemasan saya terutama karena perasaan sepi dan ditinggal sendiri Rasa pusing, marah sering saya rasakan jika saya sendiri Kecemasan terbesar yang saya rasakan adalah berpisah dengan keluarga dan teman lam Selain rasa cemas dan takut tersebut diatas banyak hal lain yang menyenagkan pada usia saya saat ini • Berilah tanda (√) pada yang menurut bapak atau ibu benar atau sesuai dengan keadaan sekarang. 1. Apakah bapak aau ibu mempunyai suami atau istri? Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat Tidak Setuju 2. Apakah Bapak atau ibu tinggal bersama pasangan? Sangat Setuju Setuju

3.

4.

5.

6.

7.

Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Apakah dalam seminggu ini bapak atau ibu menelpon kerabat atau teman? Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Apakah bapak atau ibu senang dikunjungi kerabat atau teman? Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Apakah bapak atau ibu menginginkan bergabung dengan kelompok lansia atau dalam kegiatan? Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Apakah ada yang bersedia merawat bapak atau ibu bila sakit? Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Apakah ada yang dapat dihubungi jika bapak atau ibu mengalami keadaan emergensi? Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju : Dukungan sosial buruk Dukungan sosial sedang Dukungan sosial baik (Noorkasiani, 2009)

Jumlah Score: Kesimpulan

Lampiran 5 KUESIONER 3 DUKUNGAN KELUARGA Nama Klien Jenis Kelamin Umur A. 4 3 2 1 : : :

Penilaian : Sangat Sering : Sering : Kadang-kadang : Tidak Pernah

B. Penilaian Dukungan Keluarga 40 – 53 : Rendah 54 – 60 : Sedang 60 – 80 : Tinggi Berilah tanda (√) pada yang menurut bapak atau ibu benar atau sesuai dengan keadaan sekarang. 1. Apakah keluarga bapak / ibu tidak pernah memberikan berbagai informasi tentang keterampilan baru yang dapat bapak / ibu di kerjakan di Panti Wredha? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 2. Apakah keluarga bapak /ibu pernah mengerti tentang keadaan bapak atau ibu? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 3. Apakah keluarga bapak / ibu sering memberikan bantuan berupa kebutuhan sehari-hari selama bapak atau ibu di Panti Wredha? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah

4. Apakah bapak / ibu tidak pernah mendapatkan kiriman uang dari keluarga untuk kebutuhan sehari-hari bapak / ibu selama di panti? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 5. Apakah keluarga bapak / ibu tidak pernah memberikan bantuan berupa kebutuhan sehari-hari bapak / ibu selama di panti? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 6. Apakah keluarga bapak / ibu selalu mendorong untuk selalu aktif dalam berbagai kegiatan yang ada di panti? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 7. Apakah bapak / ibu sering mendapat kiriman uang dari keluarga untuk memenuhi kebutuahan bapak / ibu selama di panti? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 8. Apakah keluarga bapak / ibu sering memberi dukungan terhadap segala kegiatan yang diikuti bapak / ibu selama di panti? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 9. Apakah keluarga bapak / ibu tidak mau peduli dengan berbagai kegiatan yang bapak / ibu lakukan di panti? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 10. Apakah keluarga bapak / ibu sering memberikan pakaian selama bapak atau ibu di panti? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 11. Apakah bapak / ibu merasa telah ditinggalkan oleh keluarga bapak / ibu? Sangat Sering

Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 12. Apakah keluarga bapak / ibu tidak pernah memberikan dukungan kepada bapak atau ibu untuk selalu berbuat baik selama di panti? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 13. Apakah keluarga bapak / ibu tidak pernah memberikan semangat ketiaka bapak / ibu mengalami kesulitan? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 14. Apakah keluarga bapak / ibu sangat memahami keadaan bapak / ibu saat ini? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 15. Walaupun bapak / ibu di panti, apakah bapak / ibu merasa tetap dekat dengan keluarga? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 16. Apakah setiap keluarga bapak / ibu berkunjung, mereka selalu menanyakan jika bapak / ibu terlihat berbeda? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 17. Walau bapak / ibu sedang mengalami masalah di panti, apakah keluarga bapak / ibu tidak pernah mau memahami? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 18. Apakah selama bapak / ibu di panti, keluarga bapak / ibu jarang memberi bapak / ibu nasehat? Sangat Sering Sering Kadang-kadang

Tidak Pernah 19. Apakah bapak / ibu tidak pernah tahu atau mengetahui berbagai kejadian yang terjadi dalam keluarga bapak / ibu selama bapak / ibu di panti? Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah 20. Apakah bapak / ibu pernah merasa apapun yang bapak / ibu hasilkan dari kegiatan di lingkungan panti tidak mendapat tanggapan dari keluarga Sangat Sering Sering Kadang-kadang Tidak Pernah Jumlah Score: Kesimpulan : Dukungan keluarga rendah Dukungan keluarga sedang Dukungan keluarga tinggi

Lampiran 6 KUESIONER 4 HAMILTON SKALA PENELITIAN KECAMASAN (HAM-A) Nama Pasien : Umur : Ruang : Dx Perlakuan A. 0 1 2 3 4 : sebelum / sesudah perlakuan tidak ada gejala sama sekali satu gejala dari pilihan yang ada separuh dari gejala yang ada lebih dari separuh gejala yang ada semua gejala ada

Penilaian : tidak ada : ringan : sedang : berat : sangat berat

B. Penilaian Derajat Kecemasan < 17 kecemasan ringan 18 – 24 kecemasan sedang 25 – 30 kecemasan berat Berilah tanda (√) jika terdapat gejala yang terjadi selama 1. Perasaan cemas Merasa cemas Firasat buruk Takut akan pikiran sendiri Mudah tersinggung 2. Ketegangan Merasa tegang Lesu Mudah terkejut Tidak dapat istirahat dengan nyenyak Mudah menangis Gemetar Gelisah 3. Ketakutan Pada gelap Ditinggal sendiri Pada orang asing Pada kerumunan banyak orang

4. Gangguan tidur Sukar memulai tidur Terbangun tengah malam Tidak pulas Mimpi buruk Mimpi yang menakutkan 5. Gangguan kecerdasan Daya ingat buruk Sulit konsentrasi Sering bingung 6. Perasaan depresi Kehilangan mainat Sedih Bangun dini hari Perasaan berubah-ubah sepanjang hari 7. Gejala somatic (otot-otot0 Nyeri otot Kaku Kedutan otot Gigi gemeretak Suara tak stabil 8. Gejala sensori Telinga berdengung Penglihatan kabur Muka merah dan pucat Merasa lemah Perasaan ditusuk-tusuk 9. Gejala kardofaskuler Denyut nadi cepat Berdebar-debar Nyeri dada Denyut nadi mengeras Rasa lemah seperti mau pingsan Detak jantung hilang sekejap 10. Gejala pernafasan Rasa sesak di dada Perasaan tercekik Merasa nafas pendek atau sesak Sering menarik napas panjang 11. Gejala gastrointerstinal Sulit menelan Mual muntah Berat badan menurun

Kontipasi Perut melilit Gangguan pencernaan Nyeri lambung sebelum atau sesudah makan Rasa panas di perut Perut terasa penuh 12. Gejala urogenital Sering kencing Tidak dapat menahan kencing Mens tidak teratur Frigitditas 13. Gejala vegetatif Mulut kering Muka kering Mudah berkeringat Pusing atau sakit kelapa Bulu roma berdiri 14. Apakah merasa Gelisah Tidak tenang Mengerutkan dahi muka tegang Tonus atau ketegangan otot meningkat Napas pendek atau cepat Muka merah Jumlah Score: Kesimpulan : Kecemasan rendah Kecemasan sedang Kecemasan berat (Metthew, 2009)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->