P. 1
Makalah Ushul Fiqh

Makalah Ushul Fiqh

5.0

|Views: 5,217|Likes:
Published by muhajir hajir

More info:

Published by: muhajir hajir on Dec 14, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/11/2014

pdf

text

original

KEHUJJAHAN ISTISHHAB DALAM PANDANGAN ULAMA USHUL FIQH Pendahuluan Para ahli ushul fiqh sepakat bahwa sumber

hukum syariat terdiri atas al-Qur’an, Hadits, ijma’, dan Qiyas. Di samping ketiga sumber hukum tersebut ada juga istishan, istishhab, masalah mursalah. Islam memberikan kemudahan bagi umatnya untuk melakukan suatu amal ibadah, berdasarkan sumber-sumber hukum yang telah ada, diharapkan dapat melaksankan suatu ibadah tanpa kesukaran dan kesulitan. Oleh karenanya umat Islam diberi ilmu dan akal fikiran untuk menggali hukum-hukum dan berijtihad berdasarkan kemampuanya dan kapasitas keilmuannya. Sebagai mana disebutkan dalam hadits nabi. Dalam hadits Rasulullah menanyakan pada sahabat Mu’adz: "Bagaimana (cara) kamu menetapkan hukum apabila dikemukakan suatu peristiwa kepadamu? Mu'adz menjawab: Akan aku tetapkan berdasar al-Qur'an. Jika engkau tidak memperolehnya dalam al-Qur'an? Mu'adz berkata: Akan aku tetapkan dengan sunnah Rasulullah. Jika engkau tidak memperoleh dalam sunnah Rasulullah? Mu'adz menjawab: Aku akan berijtihad dengan menggunakan akalku dengan berusaha sungguh-sungguh. (Mu'adz berkata): Lalu Rasulullah menepuk dadanya dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk petugas yang diangkat Rasulullah, karena ia berbuat sesuai dengan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya." (HR. Ahmad Abu Daud dan at-Tirmidzi) Dari hadits ini dapat dipahami bahwa seorang boleh melakukan ijtihad dalam menetapkan hukum suatu peristiwa jika tidak menemukan ayat-ayat al-Qur'an dan alHadits yang dapat dijadikan sebagai dasarnya. Makalah ini akan membahas masalah istishhab, sejauh mana kehujjahannya menurut pandangan ulama ushul fiqh. Pengertian Arti Istishhab (‫ )الستصحاب‬pada loghot ialah menuntut bersahabat atau menuntut beserta.1 Atau Menurut bahasa adalah mencari pertemanan.2
1 Muhammad ibn Hasan ibn Hasan al-Jizani, Mu’alimu Ushul Fiqh ‘inda Ahlu Sunnah wal Jama’ah, (Riyad: Dar ibnul Jauzi, 1419 H), hal. 216. 2 Wahbah al- Zuhaily, Ushul Fiqh al-Islam, (Bairut: Dar al-Fiqr, 1998) hal. 859.

1

Dan munurut arti istilah ulama ushul ialah menetapakan hukum pekerjaan pada masa yang lalu karena dianggap tidak ada pada masa sekarang. 3 Menurut ulama ahlu ushul fiqh yaitu menetapkan hukum suatu perkara pada zaman sekarang atau zaman yang akan datang sesuai dengan hukum yang ada pada pada masa lampau karena tidak ada dalil yang merubahnya.4 Sebagian lain menjelaskan, istishhab ialah melestarikan suatu ketentuan hukum yang telah ada pada waktu lalu, hingga ada dalil yang mengubahnya.5 Menurut Imam as-Syaukany:

‫الستصحاب هو بقاء المر ما لم يوجد ما يغيره‬ ّ
Istishhab adalah dali yang mengandung tetapnya suatu perkara selama tidak ada suatu yang mengubahnya.6 Tetapnya sesuatu perkara selama tidak ada dalil yang merubahnya. Istilah ini bisa dipahami dengan makna : apa yang sudah ditetapkan pada masa lalu pada dasarnya merupakan sebagai sebuah ketetapan pula pada masa yang akan datang. ” Menurut Abdul Karim Zaidan (ahli Ushul Fiqh Berkebangsaan Mesir), istishhab yaitu menganggap tetapnya sesuatu seperti keadaannya semula selama belum terbukti ada sesuatu yang mengubahnya.7 Menurut Ibnu Hazm, istishhab adalah tetapnya hukum asal yang ditetapkan dengan nas sampai adanya dalil yang merubahnya, beliau membatasi istishhab dengan hukum asal yang didasarkan pada nas, bukan hanya hukum asal yang ditetapkan dari kebolehkan semata.8 Menurut Ibnu al-Qayyim al-Jawziyah tokoh ushul fiqh Hanbali, yaitu:

‫استدامة اثبات ما كان ثابتا او نفي ما كان منفيا‬ ّ
Yaitu tetapnya sebuah ketentuan yang sebelumnya sudah menjadi suatu ketentuan atau tetapnya sebuah larangan yang sebelumnya sudah menjadi larangan. Menempatkan berlakunya suatu hukum yang telah ada atau meniadakan sesuatu yang memang tiada samapai ada bukti yang mengubah kedudukannya. Misalnya, seseorang
3 Abdul Karim Amrullah, Pengantar Ushul Fiqh, (Jakarta: PT. Pustaka Panjimas, 1984), hal.119 4 Wabah Zuhaiy, hal. 8 Ushul Fiqh..., 859. 5 Muhammad ibn ‘Ali al-Syaukani, Irsyad al-Fuhul ila Tahqiq al_Haqq min ‘Ilm al-Ushul, Bairut: Dar al-Fiqr, t.th. hal. 237. 6 Muhamada Abu Zahrah, Ushul Fiqih, (Jakarta: PT. Pustka Firdaus dengan P3M, 1994), hal. 451. 7 Satrio Effendi, Ushul Fiqh, (Jakarta : Prenada Media, 2005), hal. 159. 8 Ibid. hal, 856.

yang diketahui

masih hidup pada masa tertentu, tetapi dianggap telah wafat.

Demikian pula halnya, seseoranga yang sudah memastikan bahwa ia telah berwudhu, dianggap tetap wudhunya selama belum terjadi hal yang membuktikan batal wudhunya. Dalam hal ini adanya keraguan batalnya wudhu tanpa bukti yang nyata, tidak bias mengubah kedudukan hukum wudhu tersebut.9 Istishhab ialah menjadikan lestari keadaan sesuatu yang sudah ditetapkan pada masa lalu sebelum ada dalil yang merubahnya.10 Jadi, apabila sudah ditetapkan suatu perkara pada suatu waktu, maka ketentuan hukumnya seperti itu, sebelum ada dalil baru yang mengubahnya. Sebaliknya apabila seuatu perkara telah ditolak pada suatu waktu, maka penolakan tersebut tetap berlaku sampai akhir masa, sebelum terdapat dalil yang menerima (mentsabitkan) perkara itu. Macam-macam Istishhab Menurut Abu Zahrah menyebutkan empat macam istishhab sebagai berikut: 1. Istishhab al-ibahah al-ashliyah Yaitu istishhab yang didasarkan atas hukum asal dari sesuatu yang mubah (boleh). Istishhab semacam ini banyak berperan dalam menetapkan hukum di bidang muamalah. Landasannya adalah setiap prinsip yang mengatakan, bahwa dasar dari sesuatu yang bermanfaat boleh dilakukan dalam kehidupan umat manusia selama tidak ada dalil yang melarangnya, misalnya makanan, minuman, hewan, tumbuhtumbuhan dan lain-lain selama tidak ada dalil yang melarangnya, adalah halal dimakan atau boleh dikerjakan. Prinsip tersebut berdasarkan ayat 29 Surat al-Baqarah:

uuuqèd “Ï%©!$# “Yn=y{ Nä3s9 $¨B “Îû ÇÚö“F{$# $Yè“ÏJy_ §NèO #“uqtGó“$# “n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# £`ßg1§q|¡sù yìö7y“ ;Nºuq»yJy“ 4 uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ ÇËÒÈ
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.(QS. Al-Baqarah 2: 29) Ayat tersebut menegakan bahwa segala apa yang ada di bumi dijadikan untuk umat manusia dalam pengertian boleh dimakan makananya atau boleh dilakukan halhal yang membawa manfaat bagi kehidupan manusia. Dalam konteks ini, jika ada larangan berarti pada makanan atau dalam perbuatan itu terdapat bahaya bagi kehidupan manusia. Maka berdasarkan hal tersebut di atas, sesuatu makanan atau
9 Ibid. 10 Sulaiman Abdullah, Sumber Hukum Islam Permasalahan dan Fleksibilitasnya, (Jakarta: Sinar Grafika, 1995), hal. 158.

3

sesuatu tindakan tetap dianggap halal atau boleh dilakukan seperti hukum aslinya, selama tidak ada dalil yang melarang. 2. Istishhab al-baraah al-ashliyah Istishhab al-baraah al-ashliyah (kebebasan asli) seperti kebebasan tanggung jawab beben syara’ senbelum ada dalil yang menunjukan nadanya beban tersebut, semisal: • • Jika ia masih kecil, maka ia bebas sebelum sampai baligh. Jika ia tidak mengetahui dan ia tinggal di negeri harby, maka ia bebas menjelang ia tahu dan ia atau menjelang ia sampai ke negeri Islam.

Tidak tsabit-nya hak antara suami isteri, sebelum terjadi akad nikah yang men-tsabit-kan hak tersebut.11

Istishhab yang didasarkan atas prinsip bahwa pada dasarnya setiap orang bebas dari tuntutan beban ta’lif sampai ada dalil yan mengubah statusnya itu dan bebas dari utang atau kesalahan sampai ada bukti yang mengubah statusnya itu. Seorang yang menuntut bahwa haknya terdapat pada diri seseoarang, ia harus mampu membuktikannya karena pihak tertuduh pada dasarnya bebas dari segala tuntutan, dan status bebasnya itu tidak bias diganggu gugat kecuali dengan bukti yang jelas. Jadi seseorang dengan prinsip istishhab akan selalu dianggap berada pada status tidak bersalahnya sampai ada bukti yang mengubahnya statusnya itu. 3. Istishhab al hukm Yaitu tetapnya hukum sesuatu mubah sebelum ada dalil yang menunjukan ia diharamkan dan tetapnya hukum sesuatu haram sebelum ada alil yang menunjukan kebolehannya.12 Sebagaimana yang telah disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 29. Istishhab yang didasarkan atas tetapnya suatu hukum yang sudah ada selama tidak ada bukti yang mengubahnya. Misalnya, seseorang yang memiliki sebidang tanah atau harta bergerak seperti mobil, maka harta miliknya itu tetap dianggap ada selama tidak terbukti dengan peristiwa yang mengubah status hukum itu, seperti dijual atau dihibahkannya pada pihak lain. Seseorang yang sudah jelas berhutang pada si fulan, akan selalu dianggap berhutang sampai ada yang mengubahnya, seperti membayarnya sendiri atau pihak yang berpiutang membebaskannya dari utang itu.
11 Ibid, hal. 160. 12 Ibid, hal. 161.

Seorang yang jelas telah mengakadkan nikah terhadap seorang wanita, maka wanita akan dianggap sebagai istirinya sampai terbukti telah diceraikannya. 4. Istishhab al-wasf Yaitu istishhab yang didasarkan pada anggapan masih tetapnya sifat yang diketahui ada sebelumnya sampai ada bukti yang mengubahnya. Misalnya sifat hidup yang dimiliki seseorang yang hilang tetap dianggap masih ada sampai ada bukti sampai ia telah wafat. Demikian pula air yang diketahui bersih, tetap dianggap bersih selama tidak ada bukti yang mengubah statusnya itu. Inilah istishhab yang jadi pertikaian antara Syafi’i dan Hanafi serta Zaidiyah dan Zahiriyah disatu pihak dengan Hanafiyah dan Malikiyah dipihak lain. Menurut Syafi’iyah, Hanabilah serta Zaidiyah dan Zahiriyah berpendapat bahwa hak-hak yang baru timbul tetap menjadi hak seseorang yang berhak terhadap hakhaknya terdahulu. Dalam masalah seorang yang hilang tak tahu rimbanya Dalam masalah orang yang hilang tak tahu rimbanya dan tak diketahui hidup matinya, tetap dihukumkan hidup berdasarkan istishhab, sebelum ada keterangan kematiannya. Oleh karena itu, sama dengan orang yang masih hidup, sehingga ia tetap mewarisi, menerima wasiat menerima hak-hak lain semasa hilangnya, yang merupaka hak-hak baru. Dia pun belum boleh diwarisi dan istrinya tetap sebagai istrinya.13 Hanafiyah dan Malikiyah membatasi istishhab terdapat aspek yang menolak saja dan tidak terhadap aspek yang menarik (ijaby), menjadi hujjah untuk menolak tetapi tidak untuk men-tsabit-kan. Ini berarti bahwa orang yang hilang tadi hanya mempunyai hak terhadap hak-haknya yang tealah ada, dengan arti tidak boleh dihilangkan dari dia, tetapi ia tidak mempunyai hak baru yang belum ada sejak hilang.14 Ini berarti pula bahwa istishhab bukan merupakan dalil baru yang mentsabit-kan, tetapi berpegang pada asal yang sudah tsabit dan tidak ada dalil yang mengubahnya. Maka pengaruhnya hanya terbatas pada hak-hak yang sudah ada dan tidak melebar kepada hal-hak baru yang belum ada sebelumnya. Maka orang yang hilang tadi tetap dihukumi hidup berdasar istishhab dan hak-haknya yang sudah tetap menjadi miliknya, tidak boleh diwarisi, tidak boleh dikawini istrinya sebelum ada petujuk tentang kematiannya atau sebelum diputuskan oleh Qadi. Akan tetapi ia tidak boleh lagi mewarisi pewarisnya, tetapi baginya ditahan dulu menjelang diketahui perihalnya.
13 Sulaiman Abdullah, Sumber Hukum Islam ….., hal. 159. 14 Ibid.

5

Berdasarkan al-Istishhab ini lah para ahlu fiqh mengeluarkan beberapa qaidah fiqiyyah, antara lain: Qaidah Pertama :
15

‫الصل بقاء ما كان حتى يثبت ما يغيره‬

Artinya: Menurut hukum asal adalah kekal apa yang terdahulu sebagaimana adanya sehingga sabit ada sesuatu yang mengubahnya. Oleh itu orang yang hilang umpamanya adalah dihukumkan masih hidup sehingga ada bukti atau dalil yang menunjukkan kepada kematiannya. Dengan itu, harta orang hilang itu tidak di-fara'idh-kan dan haknya di dalam harta waris dibekukan sehingga di-tsabit-kan orang itu masih ada atau hidup atau mati menurut jumhur ulama. Qaidah kedua:
16

‫الصل في الشياء الباحة‬

Artinya: Hukum asal terhadap sesuatu itu adalah boleh. Berdasarkan kaedah ini adalah dihukumkan sah setiap akad atau tindakantindakan yang tidak ada dalil syara' yang menunjukkan dilarangnya atau batalnya akad atau tindakan-tindakan itu. Qaidah ketiga:
17

‫الصل في الذمة البراءة من التكاليف والحقوق‬

Artinya: Hukum asal pada tanggungan itu ialah bebas dari pada segala beban tanggungan dan kewajiban menunaikan hak. Oleh itu tidak harus men-sabit-kan sesuatu tanggungan ke atas seseorang atau menisbahkan sesuatu kepada seseorang kecuali dengan ada dalil. Qaidah keempat:
18

‫اليقين ل يزول بالشك أي ل يرفع حكمه بالتردد‬

Artinya: Keyakinan tidak hilang dengan keraguan yaitu terangkat hukum sesuatu yang diyakini dengan keraguan. Contoh dari qaidah itu antara lain, barangsiapa yang ragu-ragu dalam hitungan raka’at shalat, apakah 3 atau 4 raka’at maka dia wajib menetapkan 3 raka’at.
15 Abdul Hamid Hakim, Mabadi Awaliyah fi Ushulil Fiqh wa Qowa’idul Fiqhiyah, (Jakarta : Maktabah Sa’adiyah Putra, 1345 H), hal. 26. 16 Ibid, hal. 48 17 Ibid, hal. 27. 18 Ibid, hal. 26.

Barangsiapa yang ragu-ragu apakah masih suci atau sudah batal, maka dia wajib yakin bahwa dia masih suci dan barangsiapa yang yakin kalau dia telah berhadas dan raguragu apakah sudah berwudlu maka dia wajib yakin bahwa dia masih hadas. Oleh itu barang siapa yakin bahawa dia telah berwudhu dan merasa ragu-ragu berhadas, dihukumkan kekal wudhunya itu. Kehujahan Istishhab Istishhab itu lain dari dalil syar’i yang menjadi dasar dari mujtahid untuk mengetahui hukum, tentang apa yang dikemukakan kepadanya. Ahli Ushul mengatakan, selain dari lingkungan fatwa dan hukum terhadap sesuatu itu, maka tetap demikian adanya, sebelum ada dalil yang mengubahnya. Seorang itu tetap dianggap hidup di mana dia berada, sebelum ada keterangan yang jelas yang mengatakan bahwa atas kematiannya itu. Orang tahu bahwa si fulan adalah istri si fulan, hal ini dibuktikan dengan perkawinannya itu, sebelum ada perceraian atas perkawinannya itu. Setiap orang tahu perbuatan hukum, sebelum ada bukti atas tidak adanya itu. Sebaliknya, orang tidak dianggap tahu tidak adanya perbuatan _hukum, sebelum dikemukakan bukti atas adanya itu.19 Pengunaan istishhab sebagai hujah ketika tidak ada dalil itu para ulama terbagi menjadi tiga mazhab:20 1. Pendapat mayoritas ahli ilmu kalam: Menurut mereka istishhab itu sama sekali tidak dapat dijadikan hujjah karena ketetapkan hukum di zaman awal itu membutuhkan dalil sebagaimana pada zaman berikutnya. Sesungguhnya pada suatu zaman itu boleh ada dalil dan boleh tidak. Menurut mereka ketentuan ini khusus terkait dengan hukumhukum syara’. Sedangkan yang terkait dengan hal-hal yang bersifat fisik itu Allah swt memberlakukan adat kebiasaan dengan istishhab. 2. Pendapat jumhur ulama Hanafiyah kontemporer (masa sekarang), menurut mereka istishhab itu dapat dijadikan hujjah untuk meniadakan suatu hukum bukan untuk menetapkan, maksudnya meniadakan suatu hukum yang belum ditetapkan, sehingga dikatakan bahwasanya istishhab itu menjadi hujjah untuk menetapkan sesuatu hukum sesuaai hukum asal yang telah ada, bukan untuk menetapkan hukum yang telah ada.
19 Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, Alih Bahasa Halimuddin, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), hal. 109. 20 Wabah Zuhaiy, Ushul Fiqh..., hal, 867.

7

3. Pendapat jumhur ulama Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah dan Zahiriyah menurut mereka istishhab itu dapat dijadikan hujjah secara mutlak untuk menetapkan hukum yang sudah tetap samapai ada dalil yang merubahnya, sehingga mencakup penetapkan hukum yang sudah ada dan menetapkan hukum yang belum ada. Ulama syafi’iyah mendukung kehujjahan istishhab dengan dua dalil21 1. Bahwasanya sesuatu yang di zaman awal telah ditetrapkan ada dan tidak adanya, tidak jelas secara pasti maupun dhani bahwa sesuatu tersebut telah hilang, maka secara pasti harus hukumya harus ditetapkan sesuai hukum yang telah ada. 2. Bahwasanya tetapnya hukum pada sesuatu yang ada kemudian itu lebih utama dari pada ketiadaan hukum. 3. Menurut ijma’ istishhab itu terjadi pada banyak persoalan-persoalan fiqh yang bersifat furu’iyah, seperti tetapnya wudlu, hadas, hubungan suami isteri, dan kepemilikan walaupun ada keraguan bahwa hal-hal tersebut telah hilang. Istishhab suatu hukum yang telah ditetapkan dengan ijma’ yang memungkinkan terjadi khilaf di antara para ulama, misalnya para mujtahid telah sepakat suatu hukum pada kondisi tertentu, namun karena sifat dari sesuatu yang hukumnya disepakati itu berubah sehingga para ulama berselisih pendapat,22 seperti ijma’ para fuqaha atas sahnya shalat ketika tidak ada air, ketika orang yang bertayamum selesai melaksanakan shalat sebelum melihat air maka shalatnya sah. Namun apabila ia melihat air ditengah-tengah shalat, apakah shalatnya menjadi batal sehingga harus mengulangi lagi dengan wudlu ataukah tidak? Menurut imam Syafi’i dan imam Malik shalatnya tidak sah, ia cukup menyempurnakannya sampai selesai karena menurut ijma’ shalat tersebut sah sebelum melihat air, sehingga ijma’ tersbut dijadikan istishhab samapi ada dalil yang menunjukan melihat air itu dapat membatalkan shalat., dikarena dalil yang menunjukan atas sahnya masuk dalam ritual shalat itu menunjukkan atas tetapnya hukum tersebut sampai ada dalil yang memutusnya. Dilain pihak para ulama yang melarang istishhab seperti imam Abu Hanifah dan imam Ahmad itu berpendapat
21 Ibid, hal. 869. 22 Ibid, hal. 864.

bahwa shalatnya orang tersebut batal tanpa melihat adanya ijma’ tentang sahnya shalat sebelum melihat air., karena ijma’ tersebut terjadi ketika air tidak ada bukan ketika air itu ada sehingga orang yang mau menyamakan sesuatu yang tidak ada dengan sesuatu yang ada itu harus menunjukan dalil.23 Berdasar di sekitar inilah hukum itu ada. Hak milik itu tetap dianggap tetap bagi siapa saja dengan salah satu sebab yang dapat dipertahankan sebelum ditetapkan apa yang menghilangkan hak milik tersebut. Persetubuhan dianggap halal bagi suami istri dengan adanya akad nikah, sebelum ada keterangan untuk membubarkan perkawinan itu. Perjanjian yang bersangkut dengan utang piutang dianggap pasti sebelum ada bukti atas hapusnya utang piutang tersebut. Tanggungan utang dari orang yang menanggung itu tetap diakui sah sebelum ada bukti lepasnya tanggungan itu. Asalnya tetap sedemikian rupa sebelum ditetapkan apa yang mengubahnya.24 Atas dasar istishhab inilah dibina prinsip-prinsip syariah sebagai berikut, asalnya adalah tetap adanya. Sebelum ditetapkan apa yang mengubahnya. Asal sesuatu itu dibolehkan. Yang tidak ditetapkan dengan yakin itu selalu diragukan. Asal seseorang itu bebas berbuat. Jika istishhab itu menyediakan dirinya menjadi dalil terhadap hukum, dalam hal ini dibolehkan. Karena dalil itu pada hakekatnya ialah dalil yang ditetapakan oleh hukum yang berlaku istishhab itu tidak lain selain dari pengekalan dalil atas hukunya itu. Yang mereka maksud dengan ini ialah hujjah untuk mengekalkan apa yang sudah ada. Dan menolak apa yang berkaitan denganya, sampai ada dalil yang menetapkan yang berbeda dengannya itu. Bukan merupakan hujjah untuk menetapkan hal yang tidak tetap. Ini jelas dari apa yang telah mereka tetapkan dalam hal kehilangan. Yaitu hilangnya seseorang itu dan tidak diketahui di mana tempatnya, dan tidak diketahui hidup dan matinya. Maka orang yang hilang menurut hukum, dianggap masih hidup sebelum adanya keterangan jelas atas meninggalnya orang tersebut. Istishhab inilah yang menunjukan atas hidupnya, dan menjadi hujjah menolakanya tuduhan orang atas meninggalnya. Begitu juga dalam warisan. Dan membatalkan sewa menyewa yang dilakukannya. Orang yang menceraikan istrinya tapi bukan merupakan hujjah untuk menerapkan warisanya itu tanpa dia. Karena itu hidupnya masih dianggap tetap dengan istishhab. Hidup menurut anggapan bukan hidup yang sebenarnya.25
23 Ibid. 24 Ibid. 108. 25 Ibid. hal 109.

9

Perbedaan Pendapat Ulama tentang Istishhab Para ulam ushul fiqh seperti yang diungkan Muhammad Abu Zahrah, sepakat bahwa tiga macam yang disebut di atas adalah sah dijadikan landasan hukum. Mereka berbeda pendapat pada macam yang keempat, yaitu istishhab al-wasf. Inilah Istishhab yang menjadi perdebatan antara Syafi’iyah dan Hanabilah serta Zaidiyah dan Zahiriyah disatu pihak dengan Hanafiyah dan Malikiyah dipihak lain. Dalam hal ini ada beberapa pendapat : a. Kalangan Hanabilah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa istishhab al-wasf dapat dijadikan landasan secara penuh baik dalam menimbulkan hak yang baru maupun dalam mempertahankan haknya yang sudah ada. Misalnya, seseorang yang hilang tidak tahu tempatnya, tetap dianggap hidup sampai terbukti bahwa ia telah wafat. Oleh karena masih dianggap hidup, maka berlaku baginya segala hal bagi orang hidup, seperti bahwa harta dan istrinya masih dianggap kepunyaannya, dan jika ada ahli warisnya yang wafat, maka dia turut mewarisi harta peninggalannya dan kadar pembagianya langsung dinyatakan sebagai hak miliknya.26 b. Kalangan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat, bahwa istishhab al-wasf hanya berlaku untuk mempertahankan haknya yang sudah ada bukan untuk menimbulkan hak baru. Dalam contoh di atas, orang yang hilang itu, meskipun ia masih dianggap hidup, yang dengan itu istrinya tetap dianggap sebagai istrinya dan hartanya juga masih berstatus sebagai hak miliknya sebagai orang yang masih hidup. Jika terbukti ia telah wafat dan ternyata lebih dulu wafatnya dibanding dengan waktu wafat ahli warisnya, maka kadar pembagiannnya yang disimpan tersebut dibagai di antara ahli waris yang ada. Alasan mereka karena keadaanya masih hidup sematamata didasarkan atas dalil istishhab yang berupa dugaan, bukan hidup secara fakta.27 c. Ulama-ulama Hanafiyah menetapkan bahwa istishhab itu adalah hujah untuk menolak, bukan untuk menetapkan.28
26 Satria Effendi, Ushul Fiqh,hal. 162. 27 Ibid. 28 Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul....., hal.109.

Berbeda dengan itu jumhur ulama Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanbaliah, Zhahiriyyah, dan Syi’ah memandang istishhab dapat dijadikan dalil hukum secara mutlak. Maka bagi jumhur ulama, orang hilang dapat menerima hak-haknya yang ada pada masa lalu yang muncul setelah hilangnya. 29 Mayoritas ulama kalam menolak istishhab sebagai hujjah syariat, karena suatu yang diterapkan pada masa lalu harus dengan dalil sebagai mana hukum yang diterapkan pada masa sekarang dan akan datang. Sementara itu, ulama muta’akhirin, Hanafiyyah berpendapat, istishhab hanya dapat diterapkan untuk melestarikan hukum yang telah ada pada masa lalu, tidak dapat diberlakukan pada hukum baru yang belum ada sebelumnya, misalnya orang hilang hanya dapat menerima haknya pada masa lalu, tetapi tidak dapat menerimanya setelah ia hilang. Telah masyhur bahwa istishhab itu adalah hujjah pada posisi Syafi’i dan tidak hujjah, pada sisi Hanafi. Jadi pada madzab Hanafi, orang yang syak tentang wudlunya itu, wajiblah dia berwudlu.30 Kesimpulan Dari uraian yang telah penulis di atas, maka dapat kami simpulkan bahwa dari empat macam istishhab merupakan hujjah yang masih menjadi perdebatan di kalangan ahli ushul fiqih yaitu istishhab al-wasf . Perdebatan antara Syafi’iyah dan Hanabilah serta Zaidiyah dan Zahiriyah disatu pihak dengan Hanafiyah dan Malikiyah dipihak lain. Dalam hal ini ada beberapa pendapat : Hanabilah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa istishhab al-wasf dapat dijadikan landasan secara penuh baik dalam menimbulkan hak yang baru maupun dalam mempertahankan haknya yang sudah ada. Jumhur ulama Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanbaliah, Zhahiriyyah, dan Syi’ah memandang istishhab dapat dijadikan dalil hukum secara mutlak. Maka bagi jumhur ulama, orang hilang dapat menerima hakhaknya yang ada pada masa lalu yang muncul setelah hilangnya Kalangan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat, bahwa istishhab al-wasf hanya berlaku untuk mempertahankan haknya yang sudah ada bukan untuk menimbulkan hak baru. Ulama-ulama Hanafiyah menetapkan bahwa istishhab itu adalah hujah untuk menolak, bukan untuk menetapkan. Mayoritas ulama kalam menolak istishhab sebagai hujjah syariat, karena suatu yang diterapkan pada masa lalu harus dengan dalil sebagai mana hukum yang
29 Wahbah al- Zuhaili, Ushul Fiqh, hal. 867 30 Ibid.

11

diterapkan pada masa sekarang dan akan datang.

DAPTAR PUSTAKA

Abu Zahrah, Muhammad, 1994. Ushul Fiqih, Jakarta: PT. Pustka Firdaus dengan P3M. ‘Ali al-Syaukani, Muhammad ibn, t.th. Irsyad al-Fuhul ila Tahqiq al_Haqq min ‘Ilm al-Ushul, Bairut: Dar al-Fiqr. Amrullah, Abdul Karim, 1984. Pengantar Ushul Fiqh, Jakarta: PT. Pustaka Panjimas. Abdullah, Sulaiman, 1995. Sumber Hukum Islam Permasalahan dan Fleksibilitasnya, Jakarta: Sinar Grafika. Departemen Agama RI, 1971. Al Qur’an dan Terjemahan. Jakarta : Yayasan Penerjemah Al Qur’an Depag RI. Effendi, Satrio, 2005. Ushul Fiqh, Jakarta : Prenada Media. Hasan al-Jizani, Muhammad ibn Hasan ibn, 1419 H. Mu’alimu Ushul Fiqh ‘inda Ahlu Sunnah wal Jama’ah, Riyad: Dar ibnul Jauzi. Hamid Hakim, Abdul, 1345 H. Mabadi Awaliyah fi Ushulil Fiqh wa Qowa’idul Fiqhiyah, Jakarta : Maktabah Sa’adiyah Putra. Wahab Khallaf, Abdul, 2005. Ilmu Ushul Fiqh, Alih Bahasa Halimuddin, Jakarta: PT. Rineka Cipta. Zuhaily, Wahbah, 1998. Ushul Fiqh al-Islam, Bairut: Dar al-Fiqr.

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->