P. 1
PERKAWINAN

PERKAWINAN

|Views: 2,212|Likes:
Published by muhammad ibrahim
just read key
just read key

More info:

Published by: muhammad ibrahim on Dec 14, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/05/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Al-Qur'an merupakan sumber paling utama dari segala sumber hukum yang ada, yang sudah tidak diragukan lagi kebeneran isi kandungannya. Karena ia adalah kalam ilahi yang telah difirmankan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui perantaraan malaikat jibril untuk kepentingan ummat Nabi Muhammad SAW. Ia merupakan petunjuk/ hidayah bagi orang-orang yang taqwa (QS. 2 : 2). Artinya: "Kitab (Al-Qur'an) ini tiada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka yang taqwa". (QS. 2, Al-Baqarah : 2) (Depag RI, 1989, hal. 8). Artinya: "….Membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (QS. 2, Al-Baqarah : 97). "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan ramadlan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)….." (QS. 2, Al-Baqarah : 185). "(Al-Qur'an)" ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang taqwa". (QS. 3, Ali Imron : 138) (Depag RI, 1989, hal. 27, 45 dan 98) Sebagai aturan hukum (QS. 13 : 37) Artinya: "Dan demikianlah, kami telah menurunkan al-qur'an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa arab……" (QS. 13, ar-Rod : 37). (Depag RI, 1989, hal. 367)

1

Dan sebagai pedoman hidup (QS. 45 : 20) Artinya: "Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini." (QS. 45, Al-Jatsiah : 20). (Depag RI, 1989, hal. 817) Hal ini mengandung pengertian, bagi setiap hamba Allah SWT. Yang setia kepada agamanya harus merasa terikat terhadap seluruh hukum (Islam) yang terkandung di dalamnya. Demikian pula tuntunan yang datangnya dari Rasulullah SAW. Sebab, hadits nabi yang telah banyak diriwayatkan itu merupakan wahyu Allah juga yang harus dijadikan landasan oleh ummat manusia. Di samping itu juga, manusia harus taat dan patuh kepada pemerintah (ulil-amri) sepanjang tidak bertentangan dengan aturan agama Islam. Sebab, hal ini juga perintah Allah yang harus dilaksanakan keberadaannya oleh hamba-Nya. (QS. 2 : 59): Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. 4, An-Nisa' : 59). (Depag RI, 1989, hal. 128) Di antara peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah adalah undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang hukum perkawinan di Indonesia yang berlaku bagi semua warga nergara. Dalam pasal 7 ayat (1) UU No. 1 tahun 1974 dinyatakan, bahwasanya perkawinan yang belum mencapai usia 19 (sembilan belas) tahun bagi pria dan 16 (enam belas) tahun bagi wanita belum diizinkan. Sedangkan agama Islam tidak menetapkan secara jelas (sorih) batas umur melaksanakan perkawinan. Jadi, baik di dalam Al-Qur'an maupun Al-Hadits tidak ditetapkan secara jelas adanya batasan tertentu untuk usia minimal dalam perkawinan. Dua hal inilah yang menjadi permasalahan bagi penulis, satu sisi memberi batasan usia minimal dalam perkawinan sedangkan di sisi lain tidak.

2

Berdasar praktek di masyarakat, banyak yang melaksanakan kawin sebelum batas usia perkawinan sebagaimana ditetapkan dalam UU Nomor 1 tahun 1974 seperti di Desa Wonosari Kec. Tutur-Nongkojajar Kab. Pasuruan, akan tetapi ditolak oleh pihak pegawai pencatat nikah (PPN) setempat alasannya masih berusia muda. Dari kenyataan di atas penulis tertarik untuk menulis dan meneliti perkawinan pada usia muda itu yang dikaitkan dengan UU Nomor 1 tahun 1974 dengan berdasarkan ajaran agama Islam (hukum Islam). B. Identifikasi Masalah Dari paparan di atas dapat diketahui, bahwa masalah pokok yang ingin penulis pelajari adalah mengenai perkawinan usia muda yang berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1974 di Desa Wonosari Kec. Tutur-Nongkojajar Kab. Pasuruan dalam tinjauannya dengan hukum Islam. Dengan demikian, maka masalahnya menjadi jelas dan mudah dikenali. C. Pembatasan Masalah Masalah yang bertitik tolak pada identifikasi masalah di atas dirasa masih cukup luas cakupannya/ ruang lingkupnya. Untuk itu, masalah tersebut perlu dibatasi dari segi : 1. masih berusia muda dan ber-Agama Islam dengan melalui dispensasi kawin; - Instansi terkait (Kepala Desa dan KUA). 2. Tempat : Desa Wonosari Kec. Tutur-Nongkojajar Kab. Pasuruan. Subyek : Para pihak yang melangsungkan perkawinan yang

D. Perumusan Masalah Agar lebih praktis dan operasional dalam penulisan skripsi ini, maka di sini dibuat rumusan masalah sebagai berikut :

3

1.

Motifasi apakah yang mendorong terjadinya perkawinan di bawah

umur yang terjadi di Desa Wonosari Kec. Tutur-Nongkojajar Kab. Pasuruan ? 2. 3. Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap perkawinan usia muda/ Bagaimana perkawinana usia muda menurut hukum positif, adakah di bawah umur tersebut ? suatu penyimpangan ? E. Tujuan Studi Sejalan dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, maka tujuan studi ini dapat diketahui dengan rumusan sebagai berikut: 1. 2. 3. Untuk mengetahui hal yang mendorong terjadinya perkawinan di Untuk mengetahui, apakah perkawinan usia muda itu sesuai Untuk mengetahui, apakah perkawinan usia muda tersebut ada bawah umur yang terjadi di desa wonosari. dengan syari'at Islam atau tidak. penyimpangan dengan hukum positif atau tidak. F. Kegunaan Studi Signifikansi studi ini kiranya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sebagai berikut : 1. Dapat dijadikan bahan untuk menyusun hipotesa bagi penelitian berikutnya tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perkawinan usia muda, sehingga dapat diperkecil pelaksanaannya kalau memang tidak ada penyimpangan. 2. Dapat dipergunakan untuk program binaan dan pemantapan kehidupan beragama, khususnya yang berkenaan dengan perkara munakahat untuk kalangan yang beragama Islam. G. Pelaksanaan Penelitian

4

Penelitian untuk karya ini akan dilaksanakan disebuah desa terpencil dan berbukit-bukit, karena memang terletak di suatu daerah pegunungan yang tinggi dan berhawa dingin. Dari desa tersebut menuju Gunung Bromo kearah timur sekitar + 7 km. jadi, di lokasi itulah akan dilaksanakan penelitian. Adapun alasan pemilihan lokasi ini didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut : 1. 2. Obyek Penelitian : Masyarakat Islam yang masih berusia muda sangat dominan Daerah tersebut merupakan daerah pedesaan semi kota Juga merupakan daerah teladan di antara desa-desa lainnya. Subyek Penelitian yang melangsungkan perkawinan; (kecamatan);

Pada pelaksanaan penelitian nanti dibutuhkan subyek penelitian, di antaranya adalah para pihak yang akan melaksanakan perkawinan, akan tetapi ditolah oleh pihak PPN dan KUA dimana para pihak yang akan melaksanakan perkawinan di tempat itu. 3. Data yang akan digai Berdasarkan perumusan masalah, seperti telah dikemukakan dahulu, data-data yang akan dihimpun meliputi : 4. Data tentang frekuensi perkawinan usia muda ; Data tentang faktor-faktor yang mendorong terjadinya Data tentang perekonomian, pendidikan, keagamaan, dan Data-data lainnya. (jika dibutuhkan) Sumber data Sumber data untuk seluruh data di atas terdiri dari : Sumber utama (pokok) yakni, pesponden yang memberikan pernyataan tentang hal atau yang berkenaan dengan dirinya sendiri ;

perkawinan usia muda ; keadaan sosial (penduduk) ;

5

-

Sumber tambahan (pelengkap) yakni, informan yang

memberikan pernyataan tentag hal atau yang berkenaan dengan orang/ pihak lain ; seperti pegawai KUA, kepala desa, masyarakat dan lainlain. 5. Tehnik penggalian data Data-data di atas akan digali dari sumber datanya masing-masing, sebagai berikut : Penggalian dari sumber data utama akan menggunakan tehnik pengamatan terlibat, yakni penulis akan berwawancara langsung dengan responden/ informan. Penggalian data dari sumber tambahan akan menggunakan pengamatan (observasi) secara langsung terhadap peristiwa, keadaan atau hal lain yang menjadi keperluan dalam penggalian data ini.

6

BAB II BEBERAPA HAL TENTANG PERKAWINAN A. Pengartian Perkawinan Pengertian perkawianan dapat ditinjau dari dua unsur yaitu pengertian menurut bahasa dan pengertian menurut istilah. Menurut bahasa, perkwianan adalah 'bersetubuh' dan 'berkumpul' ( ). (Taqiyuddin, tt., II, hal. 36). Hal ini senada dengan pendapat Imam Muhammad Bin Isma'il Kahlani As-Shon'ani. Beliau mendefinisikan perkawinan sebagai berikut:

Artinya: Bersetubuh/berkumpul dan memasukkan dipakai dalam pengertian bersetubuh. (As-Shon'ani, tt., III : 109) Sedangkan menurut seorang ahli bahasa Indonesia dalam kamusnya menyebutkan pengertian perkawinan sama dengan pengertian pernikahan, karena kata perkawinana berasala dari kata 'kawin' yang berarti 'nikah'. Beliau mengatakan dalam bukunya, bahwa arti nikah adalah : "Perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri (dengan resmi)." (W.J.S. Poerwadarminta, 1985, hal. 676) Pengertian perkawinan menurut istilah, dalam hal ini para ahli fiqih memberikan batasan sesuai dengan tujuan peninjauan mereka, atnara lain : 1. Menurut syekh Muhammad As-Syarbini Al-Khotib dalam kitabnya Al-Iqna', menyebutkan : Artinya: (Aqad (perjanjian) yang dapat membolehkan bersetubuh sebab mengucapkan lafadz 'inkah' atau 'tazwij' atau terjemahnya). (As-Syarbini, tt., II : 115)

7

2.

Menurut Al-Imam Taqiyuddin Abu Bakar dalam kitabnya

Kifayatul-Ahyar, menyebutkan :

Artinya: (…….adalah suatu ungkapan dari aqad yang masyhur yang mempergunakan syarat dan rukun). (Taqiyuddin, tt., II hal. 36) 3. Menurut abu thoyyib Muhammad Syamsul Haq dalam kitabnya

'Awanul-Ma'bud', Syarah Sunan Abu Dawud, telah dinyatakan : (Aqad antara suami istri yang menghalalkan wathi' (bersetubuh), dan pada hakikatnya aqad itu merupakan majaz dalam persetubuhan). (Abu Thuyyib, tt., II : 39) Dari beberapa definisi di atas, baik menurut bahasa maupun istilah (syara') terdapat sedikit perbedaan di antara mereka, namun satu sama lainnya saling melengkapi dan menyempurnakan jika kita ambil kesimpulan sementara di antar definisi-definisi di atas. Dan dari beberapa pendapat tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa perkawinan adalah aqad (perjanjian suci) yang menghalalkan hubungan kelamin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bukan mahromnya, dimana hal ini merupakan kebutuhan biologis manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani manusia yang bertujuan membentuk keluraga bahagia dan sejahtera serta melanjutkan keturunan sebagai perwjudan melaksanakan dan mencontoh sunnah Nabi SAW. Pernyataan di atas sesuai dengan pengertian perkawinan pada UU Nomor 1 tahun pasal 1 yang berbunyi : "Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa." (UU. No. 1/ 1974. 1978 : 6) Pasal 1 Undang-Undang perkawinan di atas merupakan rumusan 'arti' dan 'tujuan' perkawinana.

8

Yang dimaksud dengan arti perkawinana ialah "ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri". Sedangkan tujuan perkawinan adalah "membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa". Artinya, tuntunan agama harus menceraikan dan menjiwai keseluruhan peraturan dan perundang-undangan yang berkenaan dengan perkawinan, bahkan norma agama menentukan sah tidaknya suatu aqad perkawinan, sebagaimana termaktub dalam pasal 2 ayat (1) UU perkawinan. B. Tujuan Perkawianan Sementara ini, menurut kebanyakan orang (orang awam) tujuan perkawinana ialah menghalalkan hubungan kelamin antara pria dengan wanita. Anggapan itu bukanlah merupakan tujuan perkawinan yang sempurna menurut Islam, sebab masih ada tujuan perkawinan yang utama yang terkandung dalam ajaran Islam, diantaranya. 1. Untuk melanjutan keturunan yang merupakan sambungan hidup dan penerus cita-cita, juga membentuk keluarga dan dari keluargakeluarga itu membentuk umat, yaitu umat Nabi Muhammad SAW. Pernyataan di atas sesuai dengan firman Allah :

                      
Artinya : "Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu, dan memberimu rizki dari yang baik-baik". (QS. 16, An-Nahl : 72). (Depag RI, 1989 : 412)

9

Juga nabi sendiri telah menjelaskan tentang tujuan nikah ini, di antaranya :

Artinya : "Kawinlah dengan perempuan pencinta lagi bisa banyak anak, agar nanti aku dapat membanggakan jumlahmu yang banyak di hadapan para Nabi pada hari qiamat nanati". (Sayyid Sabiq, 1983, jilid II : 11) Banyaknya jumlah keturunan mempunyai dampak positif, secara umum dan khusus. Sehingga beberapa bangsa ada yang berkeinginan keras untuk memperbanyak jumlah rakyatnya dengan memberikan imingiming melalui pemberian upah bagi orang yang beranak banyak. 2. Untuk memelihara naluri keibuan dan kebapakan, sehingga tumbuh saling melengkapi dalam suasana hidup dengan anak-anak dan akan tumbuh pula perasaan-perasaan ramah, cinta dan kasih sayang. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :

                     
Artinya : "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antar kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir". (QS. 30, Ar-Rum : 21). (Depag RI, 1989 : 644) 3. Untuk menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah

SWT. Mengerjakannya, sebagaimana sabda Nabi SAW :

10

Artinya : "Hai, golongan pemuda ! bila di antara kamu ada yang mampu kawin hendaklah kawin, karna nanti matanya akan lebih terjaga dan kemaluannya akan lebih terpelihara. Dan bilamana ia belum mampu kawin hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menurunkan syahwat". (HR. Jama'ah) (Sayyid Sabiq, 1983, jilid II: 13) 4. Untuk melaksanakan sunnah rasul, maksudnya adalah :

"Rasulullah SAW. Sebagai panutan orang-orang Islam hendaknya menjadi uswatun hasanah dalam segala gerak-geriknya. Oleh karena itu, Rasulullah juga melaksanakan perintah kawain maka hal ini juga berlaku untuk seluruh umatnya". (Drs. Irfan Sidqon, 1978, I : 3) 5. Sebagai bentang untuk dirinya sendiri demi memelihara moral dan

kesucian. Sebab : perkawinana menyediakan untuk diri seseorang satu benteng pertahanan yang dibangun bagi kepuasan seksual sekligus sebagai kubu perlindungan moral bagi dirinya. (Achmad Rais, 1990 : 14) Dalam hal ini Allah telah menyatakan :

                                        

11

             
Artinya : "Dan (diharamakan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki, (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapannya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina". (QS. 4, an-nisa' : 24) (Depag RI, 1989 : 121) Jika kita teliti secara cermat ayat di atas, maka menjadi jelas. Bahwasanya menurut pandangan Islam, yang paling penting di antara suami istri adalah perlindungan moral dan kesucian yang hakiki. Ini merupaka tujuan utama yang harus dicapai, bahkan kalau boleh dikatakan, inilah semua tujuan perkawinan. Tidak ada tujuan lain yang harus dicapai dalam hal ini. Berdasarkan tujuan-tujuan perkawinan di atas, maka dengan perkawinan seseorang dapat memenuhi hajat hawa nafsunya yang bersifat tahji'I dengan aman dan tenang dalam suasana cinta mesra. Sehingga dengan demeikian dapat memperoleh keputusan dengan sangat sempurna dan ketenangan lahir bathin. Semua itu merupakan sendi-sendi kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa dalam pandangan Islam bukanlah halalnya hubunga kelamin saja yang menjadi tujuan dalam perkawinan. Tetapi juga bertujuan untuk meendapatkan keturunan yang sah dalam rangka melanjutkan generasi, disamping supaya suami istri dapat membina kehiudpan keluraga yang tentram lahir dan bathin atas dasar saling mencintai dalam suatu ruamh tangga bahagia. Muhammad Abu Zahroh mencoba mengemukakan pengertian nikah yang juga dapat menggabarkan tujuan perkawinan. Menurutnya, perkawinana adalah "suatau akad (perjanjian) yang menghalalkan hubungan kelamin antara seorang pria dengan wanita, saling membantu

12

dan masing-masing mempunyai hak dan kewajiban yang harus dipenuhi". (Muhammad Abu Zahroh, 1957 : 19) Sedangkan yang menentukan hak dan kewajiban suami istri adalah agama dan norma hukum lainnya. Sejalan dengan pendapat Abu Zahroh, terdapat pula dalam UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974, yakni perkawinan bertujuan membina rumah tangga bahagia, dan dicantumkan pula tentang hak dan kewajiban suami istri dengan rinci. C. Hak dan Kewajiban Suami Istri Hubungan antara suami dan istri berpijak pada hubungan timbul balik. Hubungan saling menerima dan memberi. Karena itu, sering kali digunakan istilah 'hak istri adalah kewajiban suami, begitu juga sebaliknya, hak suami adalah kewajiban istri'. Seorang laki-laki yang kemudian memperoleh sebutan suami, merupakan pemimpin puncak dari struktur rumah tangga atau keluarga baru. Suami mempunyai wewenang atau otoritas dalam membina dan mengatur rumah tangga. Dia adalah manajer umum dari organisasi itu. Selanjutnya, seorang istri/ perempuan yang kemudian memperoleh status sebagai istri, akan memperoleh peran sebagai manajer pelaksana dalam struktur organisasi tersebut. Kekuatan struktur bangunan keluarga baru itu amat tergantung pada pondasinya. Agama adalah sebaik-baik pondasi suatu struktur bangunan keluarga. Secara normatif dan tidak langsung, seorang lelaki yang menikah juga telah berjanji kepada Allah SWT. Untuk memperlakukan istrinya dengan baik, menjaga kemuliaannya serta tidak menganiaya. Jika dirinci, kewajiban suami atas istrinya terdiri dari: 1. Nafkah: setiap suami wajib memenuhi nafkah bagi keluarganya sesuai dengan kesanggupannya. Namun, seorang suami dilarang

13

memberikan nafkah secara berlebihan, karena hal ini akan berdampak negatif. Dalam Al-Qur'an telah dinyatakan:

………. 

                       
Artinya: "…..Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dan cara yang ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian…." (QS. 2, Al-Baqarah : 233) (Depag RI, 1989, hal. 57 dan 225) 2. Tempat tinggal: struktur keluarga baru yang masih menumpang di

kerluarga induk, apakah itu berada di pihak laki-laki atau perempuan, menimbulkan banyak dampak psikologis. Lahirnya problem-problem psikologis membuat kekuatan struktur bangunan keluarga baru menjadi mudah goyah. Sejumlah ulama' menafsirkan, seorang suami berkwajiban memberikan papan (tempat tinggal) bagi istrinya secara layak dan sesuai dengan kemampuannya. Di dalam rumah itulah seorang istri mampu dengan sepenuhnya menempatkan diri sebagai pemimpin rumah tangga. Bahkan sejumlah ulama' menafsirkan, tidak ada seorang sauamipun boleh mengizinkan salah satu keluarganya sendiri ikut menumpang di dalam rumahnya tanpa seizin istri. 3. Mahar: salah satu usaha Islam memperhatikan dan menghargai kedudukan wanita. Yaitu memberi hak mahar. Dan kepada suami

14

diwajibkan memberikan maharnya kepada istri. Bukan kepada ayahnya, dan kepada orang yang paling dekat kepadanya, karena tidak dibenarkan ikut campur atau menjamah harta bendanya, kecuali ada izin dan kerelaannya. Pernyataan di atas sesuai dengan firman Allah:

             
Artinya: "Berikan mas kawin (mahar)" kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. 4, An-Nisa' : 4) (Depag RI, 1989, hal. 115) 4. Rohaniah: seorang suami wajib memberikan hak-hak istrinya

secara adil, lebih-lebih jika seorang suami berpoligami, semua istrinya harus dipenuhi hak-haknya secara merata; dan tidak boleh membahayakannya. Jadi, bagi suami wajib memperlakukan istrinya secara baik, sehingga dapat mewujudkan kemesraan dan kedamain. Hal ini senada dengan firman Allah SWT:

………

   .……………  

Artinya: "……Dan pergauilah mereka (istri) dengan baik……." (QS. 4, An-Nisa' : 19). (Depag RI, 1989, hal. 119) 5. Memelihara istrinya yang sakit: perikatan agama mempunyai nilai Seringkali timbul persoalan dalam masalah kewajiban memelihara istri yang sakit. Seseorang yang berpijak pada kaidah hukum formal akan berpendapat: seorang suami tidak wajib lagi melaksanakan kewajibannya

yang utuh. Tidak semata-mata berpijak pada cara-cara berpikir fomalistik.

15

secara penuh jika istrinya sakit-sakitan dan tidak mampu lagi melaksanakan kewajibannya sebagai istri secara penuh. Pandangan formalistik semacam itu tidaklah patut dilaksanakan dalam pernikahan. Akan tetapi, selayaknya kita berpijak pada asas 'istihsan' (prinsip moral baik). Sebab pernikahan bukan hanya mempunyai implikasi dari sebuah kontrak seorang laki-laki dan perempuan menurut hukum. Tapi juga menyatunya mereka dalam sebuah struktur keluarga. Oleh karena itu, struktur keluarga yang dibangun dengan prinsip moral agama itu tidak dapat dibatasi dengan hak dan kewajiban secara formalitas semata. Mereka telah menyatu, baik dalam keadaaan suka maupun duka. 6. Bersikap, berkata dan berpenampilan menyenangkan: hubungan yang berpijak pada rasa kasih dan sayang, dibangun berdasarkan saling memberi dan melengkapi satu sama lain. Suami tidak hanya memberi nafkah berupa kebutuhan lahiriah, tetapi juga kebutuhan bathiniah. Kebuuthan bathiniah yang dimaksud, bukan hanya kewajiban memberikan kepuasan seksual semata. Melainkan juga sikap, perkataan dan penampilan sedap dalam pandangan mata istri.

Rasulullah SAW. Bersabda: Artinya: "Dari Abu Hurairah ra., berkata: Rasulullah SAW. Bersabda: orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaqnya. Dan orang yang paling baik diantara kamu yaitu orang yang sangat baik kepada istrinya". (HR. At-Turmudzi dia berkata, hadits ini hasan, shohih) (Muhyiddin, tt., hal. 151) Kemudian untuk hak dan kewajiban istri atas suaminya teridir dari: 1. Seorang istri tidak boleh menerima laki-laki lain di rumahnya, atau menerima pemberian laki-laki lain tanpa seijin suaminya. Ia juga tidak

16

boleh meminjamkan atau membelanjakan harta milik suaminya tanpa kerelaan suami. Dalam sebuah hadits, Nabi telah menyatakan:

Artinya: "Sebaik-baik perempuan ialah bila engkau pandang menyengakan engkau, bila engkau perintah ia taat kepadamu dan jika engkau tinggal di belakang, ia menjagamu dalam hal dirinya dan hartanya". (Al-Hadits). (Sayyid Sabiq, 1983, jilid II : 172) 2. Seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa seijin suaminya dan

wajib membatasi dirinya dari segala kegiatan. Meskipun kegitan itu dilakukan demi keuntungan rumah tangga, misalnya. Tapi jika pekerjaan yang dilakukannya tidak mengurangi hak suaminya dan tidak merugikannya, maka suami tak ada alasan untuk melarangnya. Begitu juga, seyogyanya suami tidak melarang istrinya keluar rumah untuk melakukan kewajiban kifayat tertentu yang berkenaan dengan urusan kewanitaan (hak istri), seperti: 3. Menuntut ilmu: jika ilmu yang dituntut oleh istrinya itu menjadi kewajibannya, maka suami wajib mengajarnya. Jika ia tidak mampu mengajar sendiri, maka istri wajib pergi keluar mencari guru atau ke majlis ta'lim untuk belajar agama, sekalipun tanpa ijin suaminya. 4. Seorang istri wajib berhias dan tampil menarik serta lemah lembut di hadapan suaminya. Adalah dipandang baik dan terpuji jika istri berhias denga celak, pacar, wangi-wangian dan bersolek untuk suami. Namun, di masa sekarang nyaris terbalik. Seorang perempuan yang sudah bersuami pun cenderung berhias dan bersolek saat akan keluar rumah. Dia mengenakan pakaian yang bagus, perhiasan, bersolek dan memakai wangi-wangian. Tetapi, saat berada di dekat suaminya justru malah tampil apa adanya.

17

Ahmad meriwayatkan dari Karimahbinti Hamam ia berkata kepada Siti Aisyah ra.:

Artinya: "Bagaimana pendapat anda, wahai Ummul-Mu'minin tentang pemakain pacar?" jawabnya: "adalah kekasihku Nabi SAW. Menyukai warnanya tapi membenci baunya. Dan beliau tidak mengharamkan kamu pakai antara dua masa haid atau setiap waktu haid". (HR. Ahmad). (Sayyid Sabiq, 1983, jilid II : 180) 5. Seorang istri wajib mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. Rasulullah menegaskan, …seorang istri itu pemimpin dari rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Berarti, dalam melaksanakan kewajiban ini, seorang istri bertanggung jawab kepada suami berikut kepada Allah SWT. Bukan saja mengatur rumah tangga sebaik-baiknya, berarti juga mengatur dan menjaga harta kekayaan suaminya. Selanjutnya untuk berikutnya adalah "hak dan kewajiban suami istri bersama-sama", terdiri atas: 1. Halal saling bergaul dan mengadakan hubungan kenikmatan seksual. Perbuatan ini dihalalkan bagi suami istri secara timbale balik. Hal ini merupakan hak suami-istri dan tidak boleh dilakukan jika tidak bersamaan, juga tidak dapat dilakukan secara sepihak saja. 2. Haram melakukan perkawinan: bahwasanya istri haram dinikahi ayah suaminya, datuknya, anmaknya dan cucu-cucunya. Begitu juga ibu istrinya, anaknya dan seluruh cucunya tidak boleh dinikahi oleh suaminya. 3. hak saling mendapat waris akibat dariikataan perkawinan yang sah. Bilamana salah seorang meninggal dunia setelah sempurnanya ikatan

18

perkawinan, maka yang lain dapat mewarisi hartanya. Meskipun belum pernah bersetubuh. 4. Sahnya menasabkan anak kepada suami yang telah menjadi teman tidur. 5. Berlaku baik: wajib bagi suami-istri memeperlakukan pasangannya dengan baik sehinga daapt melahirkan kemesraan dan kedamaian bersama. Prof. Subekti, SH dalam bukunya pokok-pokok hokum perdata, juga telah menyatakan hak dan kewajiban suami iistri secara bersamasama sebagai berikut : "Suami istri harus setia satu sama lain, Bantu membantu, berdiam bersama-sama, saling memberikan nafkah dan bersama-sama mendidik anak-anak." (Subekti, 1989, cet. XXII, : 28) Bahkan dalam UU. Nomor 1 tahun 1974 yang mengatur tentang oerkawinan juga menerangkan tentang hak dan kewajiban suami istri yang disebutkan secara rinci pada bab VI dari pasal 30 sampai pasal 34, dan masing-masing pasal mempunyai ayat di dalamnya. (Lihat UU. Perkawinan, 1987, cet. X: 14) Dari beberapa uraian menenai hak dan kewajiban suamii istri di atas, dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa hak dan kewajiaban suami istri kedudukan masing-msing seimbang. Sebagai kepada keluarga, suami wajib memberi nafkah lahir bathin kpada istri dan keluarga. Begitu pula sebaliknya, ….karena tanggung jwab suami sudah begitu berat….maka istri juga wajib bertanggung jawab terhadap urusan rumah tangga serta harus patuh. D. 1. Batas Kedewasan dalam Perkawinan Menurut Hukum Islam Salah satu faktor terpenting dalam persiapan perkawinan adalah factor usia. Karena seseorang akan dapat ditentukan, apakah ia cukup dewasa dalam bersikap dan berbuat atau belum.

19

Dalam perkawinan dituntut adanya sikap dewasa dan matang dari masing-masing calon. Sebagaimana diungkapkan oleh Drs. Irfan Sidqon dalam bukunya "Fiqh Munakahat":

"Apabila ditinjau perkawinan dan tugas-tugas yang dibebankan kepada istri, ujpama ibu sebagai pendidik, teman jelalah mengurus rumah tangga dan sebagainya, maka jelaslah bahwa tugas tersebut beraneka ragam dan sangat berat. Maka penderitaan sewaktu hamil sampai melahirkan kandungan bagi calon istri, tentu membutuhkan tenaga dan kekuatan jasmani dan rohaninya yang lebih baik lagi." (Drs. Irfan Sidqon, 1987, II: hal. 33) Di dalam islam mengenai batas usia seseorang untuk melangsungkan perkawinan tidak disebutkan secara jelas, akan tetapi hanya menyebutkan dengan lafadz : "balaghunnikahi", sebagaimana difirmankan Allah pada surat an-Nisa' ayat 6 :

               
Artinya : "Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memellihara harata), maka serahkanlah kepada mereka hartahartanya…….." (QS. 4, an-Nisa' : 6) (Depag RI, 1989: 1154) Terhadap lafadz balaghun-nikahi itu Syekh Muhammad Rasyid Ridlo memberikan tafsiran sebagai berikut:

Artinya :

20

"Meraka mencapai umur dewasa yaitu bnilaman sudah mencapai umur yang menyebabkan seseorang sanggup jelaksnakan perkawinan, yaitu sudah mengalami ihtilam (bermimpi keluar mani)." (Rosyid Ridlo, IV: 387) Dengan demikian seseorang dianggap dewasa (akil baligh) apabila pernah bermimpi yang menyebabkan keluar mani (bagi pria), dan pernah mengalami haid bagi waniata. Sedangkan mengenai umur kedewasan bagi masing-masing pria/wanita tidaklah masa, ada yang telah cepat ada yang lambat. Keadaan tersebut tergantung pada keadaan kesehatan fisik seseorang, pengaruh biologis, iklim lingkungn, keadaan kehidupan sosial ekonomi dan adat kebiasaan. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diketahui batas usia seorang untuk kawin bagi pria jika sudah mengalami keluar mani dan bagi wanita jika sudah mengalami menstrusi (haid). Namun demikian, karena pada umumnya datangnya masa ihtilam dan haid bagi pria dan wanita berkisar pada usia 12 (dua belas) atau 13 (tiga belas) tahun. Sedangkan anak pada usia tersebut masih belum bisa atau belum mampu menanggung beban dan tanggung jawab berat dalam melaksanakan perkawinan. Maka dalam perkawinan kiranya perlu dipertimbangkan adanya kemampuan dan kematangan, baik fisik mapun mental serta mampu berpenghasilan. Oleh sebab itu, dalam menentukan masa perkawianan, Islam tidak menitik beatkan pada usia, tetapi lebih manekankan pada faktor kemampuan seseorang. Pernyatan tersebut sesuai sebagaimana dijelaskan dalam hadits :

Artinya : "Wahai sekalian pemuda. Barang siapa diantara kamu sudah berkemamuan untuk kawin maka hendaklah kamu kawin, karena akan

21

lebih memelihara pandangan mata dan lebih membentangi kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, hendaklah berpuasa. Karena sesungguhnya puasa dapat menahan nafsunya." (HR. Al-Bukhori) (AlBukhori, tt., III: 238) Hadits di atas memberi petunjuk bahwa uantuk melaksanakan perkawinan disyaratkan adanya "kemampuan". Dan yang belum untuk itu dianjurkan supaya menunda dengan puasa, sampai mempunyai kemampuan. Sejalan dengan hal ini adalah firman Allah SWT :

              
Artinya "Dan orang-orang yang tidak mapu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga alah memampukan dengan karuniaNya…." (QS. 24,. An-Nur: 33) Pengertian 'mampu' dalam ayat dan hadits di atas tidak ditegaskan secara jelas mengenai batasan umur dalam perkawinan, namun demikianbila di lihat dari segi adaanya hak dan kewajiban suami istri, sebagaimana telah dijelaskan pada uraian di atas, maka dapat di ambio pengertian bahwa yang harus di miliki oleh seseorang yang akan melaksanakan perkawinan adalah meliputi pengertian mamapu psikis, biologis dan mampu dalam bidang ekonomi (penghasilan). Dengan demikian, islam tidak menghendaki adanya perkawinan ketika usia masih muda. Sebab anak yang berusia muda pada dasarnya masih belum matang dan mampu, baik fisik dan mental, untuk melaksanakan perkawinan. Adapun mengenai perkawinan Nabi Saw.dengan Siti Aisyah sebagaimana hadits di bawah :

22

Artinya : "Dari Aisyah ra. Bahwasanya nabi Saw. Mengawininya (Aisyah) sejak umur 6 tahun. Dan ia di kumpuli serta tinggal bersama Rasul Saw. Semasa ia berumur 9 tahun." (HR.Al-bukhori). (al-bukhori, tt., III : 249) Memang berlangsung ketika siti aisyah berumur 6 (enam) tahun, akan tetapi ia tinggal dan dikumpuli nabi setalah berumur 9 (sembilan) tahun. Hal ini berarti, nabi mengadakan hubungan kelamin dengan siti aisyah masih menunggu saat fisik aisyah mencapai pertumbuhan yang sempurna, sehingga memungkinkan untuk dikumpuli, yaitu ketika aisyah telah mencapai usia 9 (sembilan) tahun. Umur 9 tahun semasa nabi bisa diartikan atau dikategorikan dewasa. Karena pertumbuhan biologis orang arab lebuh subur dari pada orang asia tenggara, termasuk Negara Indonesia. Namun demikian, umur 9 tahun ini tidak dipakai sebagaiukuran yang pasti untuk menentukan kedewasaan pada masa sekarang. Karena perbedaan lingkungan, iklim, menjadikan kondisi setiap orang berbedabeda. Oleh karena itulah islam sangat bijaksana sekali, tidak membatasi tanda-tanda dewasa itu dengan ukuran umur. Juga hadits diatas tidak bisa dijadikan landasan hokum, karena perkawinan nabi saw. Dengan siti aisyah ini termasuk khususiah bagi beliau, sebagaimana kekhususan nabi boleh beristri lebih dari empat orang. (Lihat: Fiqh Munakahat, Drs. Irfan Sidqon, 1987, II 52) Jadi hadits tersebut pada dasarnya tidak dapat dijadikan hujjah atau dasar hukum untuk memperolehkan kawin pada usia dini. Dari uraian di atas, jika ditinjau dari segi sosiologois, psiologis dan media, perkawinan pada usia dini/di bawah umur akan jelas sekali membawa kemudaratan. Sedangkan setiap kemudaratan tidak diperbolehkan (bisa jadi diharamkan) oleh syara'. Sebagaimana hadits Rasul SAW :

23

Artinya : Dari ibn abbas bin as-shomit ra. Berkata, rasulullah SAW bersabda: tidak boleh mebahayakan diri sendiri dan tidak oleh membahayakan orang lain. (HR. Malik, Ibn Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Daru Qutni) Hadits di atas juga sesuai dengan kaidah fiqhiah :

Artinya : Menolak kemafsadatan (kerusakan) lebih utama dari pada menarik (mengambil) kemaslahatan. (As-Suyuti, tt hal. 62)

2.

Menurut UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Pemerintah dalam usahanya untuk menghindari pelaksanaan

perkawinan usia muda/bawah umur telah menentukan batas minimal daslam usia perkawinan bagi seseorang yang akan melaksanakan perkawinan. Pernyataan di atas sebagaimana telah ditegaskan dalam undangundang perkawinan nomor1 tahun 1974 pasal 7 ayat (1) yang berbunyi : "Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun." (pradnya paramita, 1987: 8) Jadi pada prinsipnya UU. Nomor 1 tahun 1974 menentukan bahwa untuk dapat melangsungkan perkawinan, maka pihak pria harus berumur 19 (sembilan belas) tahun, sebab pada usia sekian pada umumnya seseorang sudah bias dianggap dewasa, baik secara fisik maupun mental. Begitu juga bagi pihak wanita harus berumur 16 (enam belas) tahun. Adanya batas minimal untuk dapat melaksanakan perkawinan itu adalah diharapkan dapat menghilangkan atau menghapuskan pelaksanan perkawinan di bawah umur. Sehingga dengan demikian akan lebih terjamin keturunan yang semakin baik, dapat mengendalikan pertumbuhan

24

penduduk yang pesat serta keabadian keluarga dan kebahagiaan keluarga lebih terjamin juga. Undang-undang perkainan nomor 1 tahun 1974 menganut prinsip, bahwa calon suami istri harus telah matang jiwa dan raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan. Agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan yang baik. Tanpa berakhir dengan perceraian dan mempunyai keturunan yang baik dan sehat. Untuk itu perkawinan di bawah umur harus sedapat mungkin dicegah. Sebab dapat dibayangkan, apabila seseorang anak muda yang masih belum cukup umur, belum mengerti seluk-beluk kehidupan rumah tangga, tidak akan dapat melaksanakan serta mewujudkan rumah tangga yang bahagia dan sejahtera sesuai dengan tujuan perkawinan yang hakiki. Dari uraian di atas dapat dimengerti, bahwa adanya batas minimal dalam usia perkawinan pada UU perkawinan ersebut adalah untuk membnerikan kemaslahatan bagi masyarakat. Dalam hal ini, mengingat kondisi anak yang masih di bawah umur belum mampu dan matang, baik mental maupun fisik untuk menjalani akibat perkawinan. Sperti hamil dan kelahirkan, dan membiayai rumah tangga bagi pria. Elum lagi dihapkan masa depan dan pendidikan anak-anaknya. Serta bagaimana membina keluarga dengan baik dan bahagia tanpa berakhir dengan perceraian. Anak yang masih mentah mental dan fisiknya sulit menciptakan perkwinan yang sukses., padahal perkawinan menuntut tanggung jawab dan kedewasaan alam membina rumah tangga. Di mana hal ini sulit diemban oleh anak usia muda. Karena sifat-sifatnya yang mudah tersinggung, mau menang sendiri dan selalu tidak puas. Keadaan semacam ini amat sulit diharapkan dapat memikul tanggung jawab rumah tangga yang memerlukan tenggang rasa, kesabaran dan lapang dada. Melihat tanggung jawab yang dipikul dalam rumah tangga tersebut, maka sudah sewajarnya jika pihak-pihak yang akan melaksanakan perkawinan harus mencapai umur dewasa, di mana keadaan fisik dan mentalnya sudah mencapai taraf kematangan, berikut jiwa dan atau

25

rohaninya jugfa sudah mencapai titik pertumbuhan yang mayang dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, sudah sepatutnya undang-undang perkawinan, yaitu bagi pria sudah mencapai 19 tahun dan bagi perempuan harus sudah mencapai umur 16 tahun. Namun demikian, meskipun undang-undang nomor 1 tahun 1974 menentukan batas usia minimal perkawina, sebgaimana tersebnut pada pasal 7 ayat (1), akan tetapi pasal tersebut dapat dilakukan adanya penyimpangan denan meminta dispensasi kawin ke pengadilan agama. Hal ini sesuai sebagaiman tersebut dalam pasal 7 ayat (2), yaitu: Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita. Berdasarkan pasal di atas, bukan berarti UU nomor 1 tahun 1974 terjadinya perkawinan yang belum mencapai umur sebgaimana yang ditetapkan dalam pasal 7 ayat (1) secara mutlak. Namun bagi para pihak yang belum mencapai batas usia tersebut masih bisa dimungkinkan adanya perkawinan dengan meminta dispensasi ke pengadilan agama. Berpihak pada uraian tentang batas kedewasan dalam perkawinan, baik menurut hukum islam maupun UU nomor 1 tahun 1974, maka dapat disimpulkan bahwa batas minimal usia perkawinan sebgaimana ditentukan UU perkawinan itu adalah tidak bertentangan dengan hukum islam. Sebab, meskipun didalam hukum islam tidak ditegaskan secara kongkirt namun memberikan batasan, bahwasanya untuk dapat melangsungkan disyaratkan adanya kemampuan bagi calon suami dan istri dalam hal fisik, mental dan ekonomi. Sedangkan batas usia minimal dalam perkawinan yang ditentukan UU. Perkawinan, yakni 19 (sembilan belas) tahun bagi pria dan 16 (enam belas) tahun bagi wanita, secara layak dianggap sudah cukup dewasa dan mampu untuk memikul tanggung jawab dalam rumah tangga. Di samping itu, adanya batas usia minimal dalam perkawinan tersebut adalah bertujuan untuk memberikan kemaslahatan bagi masyarakat. Sebagaimana yang ditegaskan dalam penjelasan Undang-

26

Undang Nomor 1 Tahun 1974, yaitu untuk menjaga kesehatan suami istri dan akan keturunannya. Padahal islam menghendaki kemaslahatan bagi umatnya. Oleh karena itulah, kiranya patut sekali jika UU. Perkawinan itu memberikan batas usia minimal dalam perkawinan sebagaimana disebutkan dalam pasal 7 ayat (1). Adapun adanya penyimpangan terhadap pasal 7 ayat (1), karena dimungkinkan adanya perkawinan yang belum mencapai batas usia tersebut. Sebab, dalam hal ini pengadilan agama tidak sewenang-sewenang mengabulkan setiap dispensasi kawin yang diajukan kepadanya. Akan tetapi pihak pengadilan agama dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya antara keuntungan yang akan mereka peroleh dengan kerugian yang akan menimpa dirinya. Jika anak tersebut seandainya tidak dikawinkan akan lebih besar mafsadatnya, maka dalam hal pengadilan agama mengabulkan permohonan dispensasi. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqh yang berbunyi:

Artinya: "Menolak kerusakan (mafsadah) lebih utama dari pada menarik (mengambil) kemaslahatan". (As-Suyuti, tt. : hal. 62). E. Penentuan umur dalam perkawinan Memang, dalam Al-Qur'an maupun Al-Hadits tidak dijumpai secara jelas penentuan batas usia minimal dalam pelaksanaan perkawinan. Hal ini dimaksudkan antara lain untuk menjaga kestabilan kondisi biologis setiap orang, psikis, kedewasaan pribadinya, dan sebagainya. Bila ditinjau kelanjutan dari setelah melaksanakan perkawinan (akad) dan tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh suami istri, --misalnya si ibu sebagai teman hidup, pengurus rumah tangga, mendidik anak, dan sebagainya; sedang suami sebagai kepala keluarga, pencari nafkah dan sebagainya--maka jelaslah beban yang harus dipikulnya beraneka ragam dan amat berat. Selain beban dan tugas yang banyak itu, penderitaan si ibu di kala hamil hingga

27

melahirkan kandungannya, tentu membutuhkan tenaga dan kekuatan jasmani dan rohani yang lebih mumpuni. Jadi, soal fisik dan psikis sangat besar artinya untuk menentukan kesanggupan dan menetapkan kematangan calon suami dan istri yang akan melangsungkan perkawinana. Dari san menjadi jelaslah, bahwa hal ini berkaitan sekali dengan masalah usia/ umur. Berkenaan dengan itu, penetapan umur yang baik dan ideal untuk memulai jenjang perkawinan bagi calon suami istri, minmal harus dipertimbangkan dari empat segi: a. Segi Biologis Bagi wanita dikatakan sudah siap kawin bilamana sudah mengalami haid dan rahimnya sudah siap menumbuhkan anak. Rata-rata wanita Indonesia sudah mulai haid pada usia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun. Sedangkan bagi pria, bila sudah bermimpi dan pernah mengeluarkan mani. Seorang pria yang mengalami seperti itu diperkirakan berumur 17 (tujuh belas) tahun. b. Segi Ekonomi Dalam rumah tangga membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit dan harus rutin. Pada umumnya, suami yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan kehiudpan rumah tangga sehari-hari. Demikian juga istri, harus bisa mengatur perputaran ekonomi rumah tangga secara keseluruhan dan efektif. c. Segi Pendidikan Pria diciptakan Allah sebagai pemimpin wanita (istri) berdasar akal dan pikiran yang tidak mudah panic dan emosi. Bagi wanita diciptakan Allah sebagai manusia yang halus dan lembut penuh perasaan, mudah tersinggung sehingga tidak mudah menahan emosi. Sebenarnya, masing-masing keduanya itu saling mengisi antara satu dengan lainnya. Akl pikiran dapat mempertimbangkan perasaan, dan perasaan sapat dikenalikan oleh akal. Maka di sinilah peran pendidikan sangat dibutuhkan.

28

Dengan mendapatkan pendidikan yang cukup, perasaan seorang istri akan dipergunakan sebaik-baiknya untuk mencintai suaminya, dan dengan akal pikirannya seorang suami bertanggung jawab terhadap istri dan anakanaknya. d. Segi Kemasyarakatan Kehidupan manusia saling membuthkan satu sama lainnya. Suami istri hidup dalam suatu rumah tangga yang merupakan masyarakat terkecil. Mereka saling menbutuhkan untuk berfgaul, saling berkunjung dari keluarga atu ke keluarga lain, dan sebagainya. Hal ini tidak dapat dihindari oleh salah satu keluarga manapun. Melihat beban yang harus dipikul dalam suatu rumah tanggapun uraian dari masing-masing segi di atas, maka seyogyanya bagi calon suami dan istri yang akan menglangsungkan perkawinan haruslah sampai umur. Di mana keadaan fisik dan mental dari masing-masing pihak harus mencapai kematangan serta kemampuan berumah tangga. Para fuqaha' ada yang berpendapat, bahwa soal umur itu termasuk al yang boleh diatar manusia sendiri, dengan hrus memperhatikan segi manfaat dan kemaslahatannya kepada masyarakat. Seagaimana sabda Rasulullah SAW yang menerangkan, bahwa kamu lebih tahu urusan duniamu (masyarakat). Lagi pula sudah banyak buktinya, ibu-ibu muda yang belum cukup umur untuk melaksanakan perkawinan, amat menderita dan bekeluh kesah dalam menjalankan tugasnya dalam rumah tangga, belum lagi ditambah dengan urusan di luar rumah. Berdasar peristiwa di atas maka jelaslah, bahwa para orang tua tidak boleh menjerumuskan anaknya ke dalam kesengsaraan dan bahaya. Larangan ini telah jelah sekali dinyatakan dalam surat Al-Baqarah ayat 286:

          

29

    
Artinya; "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". (QS. 2, Al-Baqarah : 226). Dalam ayat yang sama juga disebutkan:

              

 
Artinya: "….Ya tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya…." (QS. 2, Al-Baqarah : 286).

Juga firman Allah dalam surat Al-Baqarah:

           
Artinya: "…,dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan,….." (QS. 2, Al-Baqarah : 195). (Depag RI, 1989 : 72, 74 dan 47) Dari pembahasan di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa masalah penetapan umur dalam perkawinan itu dapat diserahkan kepada masyarkat, ulama' dan pemerintah di Negara masing-masing. Berkenaan dengan ini maka pemerintah RI melalui UU. Perkawinannya Nomor 1 Tahun 1974 menetapkan batas umur dalam perkawinan, sebagaimana termaktub pada pasal 7 (1):

30

"Perkawinana hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun".

31

BAB II PERKAWINAN USIA MUDA DI DESA WONOSARI KEC.TUTURNONGKOJAJAR KABUPATEN PASURUAN A. Keadaan Perkawinan Usia Muda Sebelum diuraikan mengenai keadaan perkawinan usia muda di desa wonosari, terlebih dahulu akan dijelaskan tentang 'perkawinan usia muda'. Terlebih dahulu perlu diketahui, bahwa perkawinan usia muda maksudnya identik dengan perkawinan di bawah umur. Mengenai usia yang masih muda (di bawah umur) adalah sangat relatiff. Namun yang dimaksud dengan pengertian perkawinan usia muda di sini adalah di bawah usia sebagai mana yang telah ditentukan dalam pasal 7 ayat (1) UU. Nomor 1 Tahun 1974 yang berbunyi: "Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun". (Pradnya Paramita, 1987. Cet. X : 8). Dengan adanya ketentuan pada pasal 7 ayat (1) di atas maka jelas dapat dimengerti bahwa yang dimaksud dengan 'perkawinan usia muda' adalah perkawinan yang akan dilakukan oleh calon pria yang belum mencapai umur 19 tahun atau calon wanita yang belum mencapai umur 16 tahun. Berdasarkan adanya batasan umur minimal dalam perkawinan, maka pada asasnya pelaksanaan perkawinan hanya diperbolehkan bagi calon yang sudah berumur di atas 19 tahun bagi pria dan 16 tahun bagi wanita. Akan tetapi, meskipun demikian, pelaksanaan perkawinan bagi calon yang belum mencapai umur yang telah ditetapkan masih dimungkinkan dapat dilangsungkan, setelah mendapat dispensasi dari pengadilan agama setempat. Pelaksanaan perkawinan yang masih berusia muda memang masih banyak terjadi pada masyarakat desa, termasuk Desa WonoSari Kec. TuturNongkojajar. Perkawinan semacam ini termasuk yang dominan di desa

32

tersebut. Karena banyak faktor dan alasan yang mendorong mereka untuk melaksanakan hal itu, terutama faktor ekonomi. Desa Wonosari Kec. Tutur-Nongkojajar Kab. Pasuruan terletak di daerah pegunungan yang tinggi dan suhu udara sangat dingin sekitar 30o C ke bawah. Untuk menunju ke sana bisa melalui purwodadi (pasar) pasuruan, terus menanjak ke arah timur, satu jurusan dengan arah ke Gunung Bromo. Dari Desa Wonosari ke Gunung Bromo sekitar 15 km ke arah timur. Perkawinan di kala berusia muda di desa tersebut memang selalu ada/ terjadi dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun hingga tahun 1991 (terhitung dari 1987 hingga 1991). Akan tetapi calon yang belum sampai umur, baik salah satu calon atau kedua-duanya, tidak akan diterima pelaksanaan perkawinannya oleh pihak PPN atau pembantunya. Jika calon yang belum sampai umur tersebut memaksa untuk melaksanakannya dengan alasan-alasan yang dapat diterima –misalnya sudah terlanjur hamil --maka pihak PPN akan menyerahkan hal ini sepenuhnya kepada pihak PA (Pengadilan Agama). Jika ada dispensasi dari pengadilan agama, pihak PPN akan mengoreksi ulang surat-surat keputusan hamil dari persidangan di pengadilan agama setempat, kemudian akan melangsungkan pelaksanaan perkawinannya. (wawancara dengan Ketua KUA tutur, Bpk. Arbai Anwar; Rabu, 17 Pebruari 1993). Selanjutnya Bapak Arbai Anwar memberikan saran-saran sebagaimana yang telah diprogramkan K.B, yang bunyinya sebagai berikut: "Seyogyanaya bagi calon suami yang akan melaksanakan perkawinan sudah mencapai umur 25 (dua puluh lima) tahun dan calon istri sudah mencapai umur 20 (dua puluh) tahun". Namun demikian, hingga sekarang keadaan perkawinan yang berusia muda di wonosari sudah mengalami penurunan. Perubahan yang telah berangsur ini disebabkan adanya faktor sebagai berikut: 1. Adanya kesadaran masyarakat, dikarenakan adanya penyuluhanpenyuluhan dan pengarahan-pengarahan dari berbagai lembaga, baik dari

33

Departemen Agama maupun BKKBN, serta lembaga lainnya. Dan biasanya, kegiatan seperti ini dikoordinasi oleh Mudin (Kesra). Kesadaran masyarakat seperti inilah yang sangat penting. 2. Faktor tata cara/ proses pelaksanaan perkawinan di kala usia muda lebih sulit, jika dibandingkan dengan pelaksanaan perkawinan sebelum berlakunya UU. Nomor 1 Tahun 1974. kesulitan proses ini dapat dilihat, bahwa perkawinan di kala usia muda harus ada dispensasi dari Pengadilan Agama (di Bangil). 3. Fator biaya. Pada umunya, seseorang yang belum dewasa belum mampu mencari atau menciptakan pekerjaan sebagai lahan untuk mendapatkan bekal guna persiapan berumah tangga nanti, oleh karena biaya ini, mereka yang akan melaksanakan perkawinan harus berpikir dua kali, karena persiapan fisik maupun mental dalam menghadapi kehidupan rumah tangga mendatang harus lebih matang. (wawancara dengan Bpk. Fadillah, staf bag. Administrasi; Jum'at, 19 Pebruari 1993). B. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya perkawinan Mengenai perkawinan yang tergolong masih di bawah batas usia minimal di Indonesia bukan merupakan hal yang baru. Dan pada umumnya, hal ini banyak terjadi di pelosok-pelosok desa, masyarakat yang belum maju yang pendidikannya tergolong rendah. Dari sana dapat disaksikan banyak pria dan wanita yang masih berusia muda telah melangsungkan perkawinan. Alasan mereka yang ingin melaksanakan perkawinan akan tetapi tidak diterima oleh pihak PPN adalah: 1. 2. 3. sendiri; Kehendak orang tua, karena ingin cepat-cepat ingin punya menantu Karena malu/ gengsi kepada tetangga sebelah yang sudah punya Kurangnya pendidikan, baik bagi orang tua maupun anaknya dan cucu; menantu dan cucu;

34

4. 5. 6. 7. 8.

Karena unsur materi, sehingga anak/ menantunya nanti akan hidup Dari mereka sendiri yang ingin kawin, karena ingin seger bebas Karena malu, teman sebaya sudah menikah; Orang tua khawatir anak perempuannya menjadi perawan tua atau Karena ekonomi; orang tua mereka mengharap anaknya yang

bahagia jika sudah kawin; dari orang tua dan mengira akan lebih tenang dan nikmat;

bujang tak laku; sudah kawin nanti akan dapat membantu pekerjaan sehari-hari dan akan lebih meringankan beban. Faktor inilah yang paling dominan. (Wawancara dengan Bpk. Bambang Hermanto; kamis, 18 Pebruari 1993 dan dengan responden). Sedangkan alasan mereka yang memaksa dan ada dispensasi dari pengadilan agama untuk melaksanakan perkawinan adalah: 1. 2. Karena sudah terlanjur hamil akibat pergaulan yang bebas; Karena sudah kadung terlalu cintanya, sehingga harus segera. Jika

tidak, khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. (Wawancara dengan Bpk. Bambang Hermanto; waka KUA; kamis, 18 Pebruari 1993). Selanjutnya, komentar Bapak Bambang lagi, untuk kasus seperti di atas pihak PPN harus lebih teliti dan berhati-hati dalam memproses langkahlangkah pelaksanaan perkawinan mereka, apakah mereka itu benar-benar begitu keadaannya, atau cuma sekedar menutup-nutupi saja agar terlaksana keinginannya. Jika pihak PPN tidak bertindak seperti ini, perkawinan mereka yang sudah dilangsungkannya bisa jadi akan lebih menyalahi peraturan atau ketentuan yang ada, malah menyalahi dua kali. Hal ini yang tidak kami inginkan, katanya. Sedangkan alasan mereka yang mendorong terjadinya perkawinan di kala masih berusia muda --berdasarkan wawancaara langsung dengan para responden-- adalah sebagai berikut: 1. Faktor moral atau biologis

35

Pada faktor ini, antara pria dan wanita sebelumnya sudah saling kenal dan bergaul dengan akrab, sehingga dikhawatirkan akan terjadi pelanggaran yang lebih besar lagi terhadap norma-norma agama dan asusila. Maka sebagai tindaka preventif mereka adalah segera kawin. 2. Faktor hamil sebelum nikah/ malu Karena ini diakibatkan dari pergaulan bebas dari masing-masing calon sebelum pelaksanaan perkawinan. Karena keterlanjutan ini, maka orang tua masing-masing dan yang bersangkutan menanggung malu. Untuk menutupi rasa malu ini, kedua pasang tersebut terpaksa harus segera kawin. 3. Faktor ekonomi Karena orang tua sudah tidak mampu dan agar lebih meringankan beban, anaknya segera dikawinkan. Alasan mereka, jika anaknya sudah berkeluarga yang bertanggung jawab dalam hal biaya adalah anak laki-laki (suami). Jika anak laki-laki (suami) nya sudah dapat membiayai rumah tangga sendiri, beban orang tua akan terkurangi. 4. Faktor lingkungan/ adat masyarakat Kebanyakan masyarakat desa beranggapan jika anak gadisnya tidak segera dikawinkan akan tidak laku yang pada akhirnya jadi perawan tua. Begitu juga kepada anak laki-lakinya. Jika hal ini tidak dilaksanakan akan menimbulkan beban bathin bagi orang tua. Berdasarkan beberapa uraian/ alasan di atas maka dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa fackor yang menyebabkan terjadinya perkawinan masih berusia muda di desa wonosari adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Kurangnya pendidikan/ kesadaran, baik dari pihak orang tua dari Kurangnya ekonomi. Karena beban sosial atau malu. Karena pergaulan yang terlalu bebas (fair) yang tidak terarah dan Karena lingkungan atau adat. masing-masing calon maupun dari pihak calon itu sendiri.

terkendalikan.

36

Namun demikian --hasil dari wawancara dengan bapak Fadilla-- faktor yang sangat dominan di antara lima kesimpulan di atas adalah faktor ekonomi. Mengingat desa wonosari merupakan daerah pengunungan yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai tani dan berpenghasilan tidak tetap. C. Pertimbangan hukum PPN di KUA Kecamat Tutur-Nongkojajar dalam menolak perkawinan usia muda Sebagaimana dijelaskan pada sub judul pada bab ini, bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, maka pada prinsipnya perkawinan yang hanya boleh dilakukannya jika telah mencapai umur 16 (enam belas) tahun bagi wanita dan 19 (sembilan belas) tahun bagi pria. Dengan demikian, jika ada salah satu atau kedua calon yang akan melaksanakan perkawianan masih di bawah usia minimal tidak akan diperkenankan pelaksanaannya. Di Desa Wonosari banyak yang ingin melaksankan perkawinan dan setelah diadakan pemeriksaan nikah, ternyata ada yang belum terpenuhi syarat-syaratnya sebagaiman yang telah ditentukan. Maka pihak PPN atau PPPN tidak menerima pelaksanaan perkawinannya. (wawancar dengan Bapak Fadillah, staf bag. administrasi). Persyaratan-persyaratan mereka yang belum terpenuhi di antaranya adalah: 1. 2. 3. Belum sampai umur 19 (sembilan belas) tahun bagi pria. Belum sampai umur 16 (enambelas) tahun bagi wanita. Surat-surat dari desa kurang lengkap. Sedangkan persyaratan belum sampai umur ini, baik bagi si pria maupun wanitanya, sangat banyak di desa tersebut. Sehingga mereka yang ingin melaksanakan perkawinan banyak juga yang tidak diterima/ ditolak. Ada juga yang diterima pelaksanaan perkawinannya, tetapi dengan alasan-alasan tertentu yang dapat diterima dan melalui pengadilan agama untuk meminta dispensai. Tetapi pelaksanaan yang seperti ini sedikit.

37

Kebijasanaan PPN atau PPPN di KUA tersebut ternyata sama dan sesui dengan apa yang telah ditulis dalam buku 'pedoman pegawai pencatat nikah' yang berbunyi: "Apabila setelah diadakan pemerikasaan nikah, ternyata tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan --baik persyaratan menurut hukum munakahat maupun persyaratan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku--, maka PPN atau P3NTR harus menolak pelaksanaan pernikahan itu,…. " (Depag, 19832, Cet. III : 25) Kemudian untuk mereka yang merasa keberatan terhadap penolakan pernikahan itu, maka pertimbangan PPN selanjutnya adalah menyuruh dan menyerahkan mereka sepenuhnya ke pengadilan agama (di Bangil). Setelah perkara penolakan itu diperikasa sedangkan pihak pengadilan agama memberikan ketetapan menguatkan penolakannya, maka pihak PPN atau pembantunya harus menolak pelaksanaan perkawinan mereka. Dan jika pihak pengadilan agama memberikan ketetapan memerintahkan melangsungkannya maka pihak PPN atau pembantunya harus melangsungkan pelaksanaan perkawinannya. Pernyataan yang telah dikemukakan oleh Bapak Fadilla di atass ternyata sesuai denga apa yang dikemukakan oleh Bapak Arbai Anwar, kepala KUA. Juga identik dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam buku pedoman pegawai pencatat nikah yang termaktub sebagai berikut: "Setelah memerikasa perkara penolakan itu dengan acara singkat (sumir), pengadilan agama memberikan ketetapan menguatkan penolakan atau memerintahkan agar pernikahan itu dalangsungkan". "Apabila pengadilan agama memerintahkan agar pernikahan itu dilangsungkan, maka PPN/ P3NTR harus melangsungkan pernikahan itu". (Depag , 1982, Cet. III : 26)

38

BAB IV PENUTUP A. 1. Simpulan Terjadinya perkawinan berusia muda di Desa Wonosari Kecamatan Tutur-Nongkojajar Kab. Pasuruan adalah karena faktor pendidikan --terutama pendidikan agama islam-- yang rendah, pergaulan bebas yang tidak terarah, menaggung rasa malu, pengaruh lingkuangan dan ekonomi. Adanya faktor-faktor tersebut adakalanya dari pihak orang tua mereka. 2. Perkawinan berusia muda ditinjau dari segi hukum islam adalah tidak boleh, kecuali telah mendapat dispensasi dari pengadilan agama (PA) atas dasar pertimbangan-pertimbangan yang obyektif. 3. (PA). B. 1. Saran-saran Hendaknya para orang tua lebih sadar akan pentingnya pendidikan --lebih-lebih pendidikan agama islam--, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk anak-anaknya. Dengan pendidikan, orang tua akan anak akan lebih memahami akibat yang baik dan buruk dari pergaulan dengan lain jenis. Memang pada biasanya, pergaulan anak dengan lain jenisnya cenderung berakibat buruk. Akan tetapi tidak selamnaya demikian, asal saja tahu aturan dan wajar-wajar saja. Di sinilah pendidikan berperan paling utama. Juga, dengan pendidikan, orang tua dan anak tidak akan mudah terpengaruh lingkungan/ masyarkat yang kurang baik; seperti mengawinkan ankanya yang belum cukup dewasa, misalnya. Bahkan orang tua dan anak yang berpendidikan akan dapat meluruskannya dan mengarahkannnya. Selanjutnya, juga dengan pendidikan dan ditambah pula dengan keterampiilan yang memadai, kehidupan mereka akan lebih Jika ditinjau dari pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tidak ada penyimpangan, karena sudah ada dispensasi dari pengadilan agama

39

layak dan sejahtera dari pada mereka yang tidak punya pendidikan sama sekali. 2. Bagi lembaga-lembaga departemen agama maupun BKKBN hendaknya lebih meningkatkan kegiatannya dalam memberikan penyuluhan-penyuluhan dan pengarahan-pengerahan kepada masyarakat mengenai dampak negatif dari pada perkawinan usia muda dan dampak positif dari pada perkawinan usia dewasa. 3. Bagi lembaga-lembaga yang menangi masalah perkawinan, khusunya pegawai pencatat nikah (PPN) atau pembantu pegawai pencatat nikah (P3N), hendaknya tetap lebih teliti dan lebih selektif dalam memberikan pelayanan kepada calon suami/ istri yang akan melaksanakan perkawinan, agar tidak terjadi perkawinan yang tidak kita inginkan.

40

DAFTAR PUSTAKA Anshari Thoyib, Struktur Rumah Tangga Muslim, Surabaya Risalah Gusti, 1992, cet. I Abul A' La Al Maududi, Maulana, The Laws Of Marriage And Divorce In Islam. Achmad Rais, Jakarta, Gema Insani Press, 1990, cet. I Abdullah Nasikh "Ulwan, Dr. Aqabatuz Zawwaj Wa Thuruqu Mu'ajalatiha 'Ala Dloil Islam. Drs. Moh Nur Hakim, Jakarta, Gema Insani Press Aisyah Dahlan, Hj. Nasehat Perkawinan dan Keluarga, Majalah BP4. No. 129, 1968

41

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->