P. 1
Teori Himpunan dan Logika

Teori Himpunan dan Logika

|Views: 4,620|Likes:
Published by uzi.fauzi
Teori himpunan dan logika, pembahasan seputar HIMPUNAN LENGKAP
Teori himpunan dan logika, pembahasan seputar HIMPUNAN LENGKAP

More info:

Published by: uzi.fauzi on Dec 14, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

HIMPUNAN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
TEORI HIMPUNAN DAN LOGIKA
NAMA : AHMAD FAUZI
NIM : 0901125009
DOSEN : Andi Sessu, Mpd / Lala Isum, Spd
Prodi : Matematika
Fakultas : FKIP
UHAMKA
2009
2 | U H A M K A
PENEMU TEORI HIMPUNAN
Georg Cantor (1845-1918) ialah seorang matematikawan asal Jerman keturunan
Yahudi. Ia adalah orang pertama yang menemukan teori himpunan. Ketika teori
himpunan diperkenalkan pertama kalinya oleh Georg Cantor, tidak banyak
matematikawan yang melihat seberapa penting teori itu. Akan tetapi, sekarang teori
himpunan digunakan sebagai dasar untuk mempelajari matematika modern.
PENGERTIAN
Himpunan adalah kumpulan benda atau objek yang dapat didefinisikan dengan jelas, sehingga
dengan tepat dapat diketahui objek yang termasuk himpunan dan yang tidak termasuk dalam
himpunan tersebut. (Cara pengumpulan objek – objek itu biasanya berdasarkan sifat/keadaan
mereka yang sama, ataupun berdasarkan suatu aturan tertentu yang ditentukan)
Contoh :
Misalnya himpunan yang terdiri dari mahasiswa – mahasiswa Jakarta atau himpunan dari semua
bilangan asli yang lebih besar dari 9, ataupun himpunan yang terdiri dari ayam, bebek dan sapi.
Catatan :
i. Objek – objek diatas disebut elemen (unsure anggota) himpunan dan biasanya dinyatakan
dengan huruf kecil, misalnnya a, b, p, x dan lain – lain.
ii. Suatu himpunan biasanya dinyatakan dengan huruf besar, misalnya himpunan A, B, P, Y dan
lain – lain.
iii. Bila a merupakan elemen dari himpunan A, sedangkan b bukan elemen dari himpunan A,
maka kita dapat menuliskan sebagai
Kita mengenal 2 bentuk dalam penulisan suatu himpunan sebagai berikut :
1. Bentuk pendaftaran (Tabular form) yaitu dengan menuliskan semua element himpunan
tersebut didalam kurung kurawal.
Sebagai contoh :
Himpunan A = {Jakarta, Medan, Surabaya}
Himpunan N = {1, 2, 3, …}
2. Bentuk perincian (Set Builder Form) yaitu dengan menuliskan sifat/ketentuan mengenai
element himpunan tersebut. Sebagai Contoh :
Himpunan S = {x|x adalah bilangan genap}
Himpunan T = {x|x adalah pelajar yang pandai}
*kita dapat mengubah penulisan himpunan dari tabular form ke set builder atau sebaliknya.
3 | U H A M K A
MACAM – MACAM HIMPUNAN
1. Himpunan Berhingga
Himpunan yang memilika banyak anggota berhingga ,
Contoh :
Jika A adalah himpunan bilangan prima kurang dari 13 maka dengan .
2. Himpunan Tak Berhingga
Himpunan yang memiliki banyak anggota takberhingga,
Contoh :
Jika B = {bilangan asli yang habis dibagi 2}, maka B = { 2, 4, 6, . . .}
3. Himpunan Kosong
Himpunan yang tidak mempunyai anggota, dan di notasikan dengan atau
Contoh :
Jika P adalah himpunan persegi yang mempunyai tiga buah sisi, maka himpunan P tidak ada atau
kosong
4. Himpunan Semesta
Himpunan yang memuat semua anggota atau objek himpunan yang dibicarakan. Himpunan Semesta
(Semesta Pembicaraan) biasanya dilambangkan dengan S.
Contoh:
Jika P = {pisang, jeruk, apel, anggur} maka semesta pembicaraan dari himpunan P adalah himpunan S
= {buah – buahan}. Dengan kata lain, S adalah himpunan semesta dari P. Himpunan S memuat
semua anggota himpunan P.
5. Himpunan Bagian
Contoh :
A = {a, b, c}
B = {a, b, c, d, e}
Himpunan A merupakan himpunan bagian dari B, bila setiap anggota A menjadi anggota B, ditulis
dengan notasi .
4 | U H A M K A
Bila digambarkan dalam bentuk diagram Venn adalah sebagai berikut :
Gambar 1
Dari diagram Venn pada gambar 1, dapat juga dikatakan bahwa himpunan B memuat A, ditulis
dengan Notasi
dibaca “A himpunan bagian dari B”
dibaca “B memuat A”
6. Himpunan Terbilang
Himpunan A dikatakan himpunan terbilang bila anggota himpuna n A tersebut dapat ditunjukkan
atau dihitung satu persatu.
Contoh :
a. A = { ; 3 , 2 , 1
Himpunan A di atas merupakan contoh himpunan terbilang sebab dapat dihitung satu persatu,
sekaligus contoh himpunan terhingga sebab n(A) = 3.
b. B = { ; ... 3 , 2 , 1
Himpunan B di atas merupakan contoh himpunan terbilang, tetapi juga merupakan contoh
himpunan tak hingga sebab n(B) = ~.
7. Himpunan Tak Terbilang
Himpunan A dikatakan tak terbilang bila anggota himpunan A tersebut tidak dapat dihitung satu
persatu.
Contoh :
R = { ; real bilangan x x x e < < , 3 2
Himpunan R merupakan contoh himpunan tak terbilang, karena anggotanya tak dapat dihitung satu
persatu. Himpunan R juga merupakan himpunan tak berhingga, karena n(R) = ~.
5 | U H A M K A
8. Himpunan Terbatas
Himpunan A dikatakan himpunan t erbatas bila himpunan A mempunyai batas di sebelah kiri saja
disebut himpunan terbatas kiri. Dan jika himpunan tersebut hanya mempunyai batas sebelah kanan
disebut himpunan terbatas kanan. Batas sebelah kiri juga disebut batas bawah sedangkan batas
sebelah kanan disebut batas atas.
Contoh :
a. P = { ; 3 , 2 , 1 , 0 , mempunyai batas bawah 0 dan batas atas 4.
b. Q = { ; R x x x e < < , 3 0 , mempunyai batas bawah 0 dan batas atas 3.
Tetapi 0 e R dan 3 e Q.
Khusus untuk himpunan tak terbatas yang semesta pembicaraanya bilangan real penulisan
himpunanya dapat menggunakan notasi interval.
Contoh :
a. A = { ; 5 0 s s x x dapat ditulis | ¦ 5 , 0
b. B = { ; 5 0 s s x x dapat ditulis | ¦ 5 , 0
c. C = { ; 5 0 < s x x dapat ditulis | ) 5 , 0
d. D = { ; 5 0 < < x x dapat ditulis (0,5)
9. Himpunan Tak Terbatas
Himpunan A dikatakan himpunan tak terbatas bila himpunan tersebut tidak memiliki batas.
Contoh :
R = { ; R x x x e + < < ÷ ~, ~
10. Himpunan Kuasa
Himpunan kuasa dari himpunan A adalah suatu himpunan yang elemennya merupakan semua
himpunan bagiian dari A, termasuk himpunan kosong dari A itu sendiri. Notasinya P(A) atau 2
A
.
Contoh :
Jika A = { 1, 2, }, maka P(A) = { { 1 },{ 2 }, { 1, 2 , }, }
11. Himpunan Saling lepas
Dua buah himpunan A dan B dikatakan saling lepas jika keduanya tidak memiliki elemen yang sama.
Notasi A // B.
Contoh :
A = {1, 2, 3} dan B = {a, b, c} maka A //B.
6 | U H A M K A
OPERASI PADA HIMPUNAN
1. Gabungan (Union), dinotasikan dengan
Dalam diagram Venn :
A = {Fridus, Bambang, Tukimin}
B = {Tukimin, Fauzi}
Dari himpunan A dan B, dapat dibentuk himpunan {Fridus, Bambang, Tukimin, Fauzi}.
Himpunan tersebut merupakan himpunan yang anggota anggotanya terdiri atas anggota A saja,
anggota B saja, dan anggota persekutuan A dan B. Himpunan itu merupakan gabungan himpunan A
dan B. Gabungan himpunan A dan B ditulis .
Gambar 4
Gabungan himpunan A dan B adalah suatu himpunan yang anggota – anggotanya merupakan
anggota A saja, Anggota B saja, dan anggota persekutuan A dan B . Dengan notasi pembentukan
himpunan, gabungan A dan B, didefinisikan sebagai :
CATATAN : (Berlaku)
i.
ii.
iii.
iv.
Gambar 2
Gambar 3
7 | U H A M K A
2. Irisan (Interseksi), dinotasikan dengan
Suatu himpunan yang anggotanya merupakan anggota persekutuan dari dua himpunan tersebut
Didalam diagram Venn :
Bila A dan B saling lepas (gambar 6) maka
Catatan :
i.
ii.
iii.
iv.
Contoh 1 :
A = {Malih, Bolot, Nasir, Sule}
B = {Aziz, Sule, Malih}
Sule dan Malih menjadi anggota himpunan A dan sekaligus menjadi anggota himpunan B.
{Sule, Malih} yang anggotanya merupakan anggota pers ekutuan himpunan A dan B disebut irisan
himpunan A dan B, ditulis :
Gambar 7
Dengan notasi pembentukan himpunan, irisan A dan B didefinisikan sebagai :
Gambar 5 Gambar 6
8 | U H A M K A
Contoh 2 : (Kedua Himpunan Sama)
A = {Bilangan Asli kurang dari 6}
B = {1, 2, 3, 4, 5}
Tentukan anggota ?
Penyelesaian :
A = {1, 2, 3, 4, 5}
B = {1, 2, 3, 4, 5}
Karena A = B, maka
Contoh 3 : (Kedua himpunan tidak saling lepas)
Himpunan A dan B tidak saling lepas (berpotongan) jika A dan B mempu nyai sekutu, tetapi masih ada
anggota A yang bukan anggota B dan ada anggota B yang bukan anggota A.
Misalkan : P = {bilangan asli kurang dari 11} dan Q = {2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16}, tentukan anggoa
?
Penyelesaian :
P = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10},
Q = {2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16},
3. Selisih (Difference), dinotasikan dengan
Dalam diagram Venn :
Selisih (difference) himpunan A dan B adalah himpunan yang anggotanya semua anggota dari A
tetapi bukan anggota dari B.
A – B = A\B dibaca : Selisih A dan B,
Gambar 8
Gambar 9
9 | U H A M K A
Contoh 1 :
Diketahui A = {a, b, c, d} dan B = {a, c, f, g}.
Selisih A dan B adalah A – B = {a, b, c,d} – {a, c, f, g} = {b, d}
sedangkan selisih B dan A adalah B – A = {a, c, f, g} – {a, b, c, d} = {f, g}
Contoh 2:
Diketahui A = dan B =
Selisih A dan B adalah A – B = {2, 3, 5, 7, 11} – {0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10} = {11}
Selisih B dab A adalah B – A = {0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10} - {2, 3, 5, 7, 11} = {0, 1, 4, 6, 8, 9, 10}
Catatan:
i.
ii.
iii.
4. Komplemen Suatu Himpunan, dinotasikan
Dalam diagram Venn :
Komplemen Himpunan A adalah suatu himpunan yang anggota – anggotanya merupakan anggota
S tetapi bukan anggota A.
Contoh 1 :
Misalkan ,
maka = {a, e, i, o, u}
Gambar 10 Gambar 11
10 | U H A M K A
Contoh 2 :
Diketahui S = {1, 2, 3, …, 10} adalah himpunan semesta, dan A = {1, 2, 3, 4} dan B = {2, 3, 5, 7},
tentukan :
a.
b.
c.
Penyelesaian :
Diketahui :
S = {1, 2, 3, 4,, 5, 6, 7, 8, 9, 10}
A = {1, 2, 3, 4}
B = {2, 3, 5, 7}
a.
b. 1, 4, 6, 8, 9, 10}
c.
Catatan :
i. ;
ii.
iii. S’ = ,
iv.
v.
vi.
11 | U H A M K A
Sifat – Sifat Operasi Himpunan
a. Sifat Irisan dan Gabungan Himpunan
A = {1, 2, 3, 4}
B = {3, 4, 5}
C = {4, 5, 6}
1. Sifat Komutatif Irisan
2. Sifat Asosiatif Irisan
3. Sifat Idempotent Irisan
Untuk setiap himpunan A dengan semesta pembicaraan S, berlaku
a. Sifat Identitas Irisan
b. Sifat Komplement Irisan
4. Sifat distributive Irisan terhadap gabungan
b. Sifat – sifat selisih himpunan
A = {factor dari 6}
B = {bilangan cacah kurang dari 6}
C = {2, 4, 6}
1. Identitas Pada selisih Himpunan
A = {1, 2, 3, 6}
B = {0, 1, 2, 3, 4, 5}
C = {2, 4, 6}
A – A = {1, 2, 3, 6} – {1, 2, 3, 6} =
A - = {1, 2, 3, 6} – = {1, 2, 3, 6} = A
2. Sifat distribuif selisih terhadap himpunan
A – (B C) = {1, 2, 3, 6} – {2, 4} = {1, 3 6}
12 | U H A M K A
3. Sifat distributive selisih terhadap gabungan
PENEMU DIAGRAM VENN
John Venn (1834-1923) ialah seorang matematikawan asal Inggris yang menemukan
diagram Venn. Dengan menggunakan diagram Venn, relasi antar himpunan lebih mudah
dipahami.
PENGERTIAN
Untuk menggambarkan hubungan antar himpunan – himpunan dapat kita gunakan diagram venn.
Himpunan kita gambarkan sebagai daerah lingkaran sedangka n Semesta sebagai daerah empat
persegi panjang. Perhatikan contoh – contoh berikut :
Contoh :
Misalkan dapat kita gambarkan sebagai berikut :
Misalkan pula A dan B tidak dapat diperbandingkan, gambar 13, A dan B tidak saling lepas dan
gambar 14, A dan B saling lepas.
Gambar 13
Gambar 12
Gambar 14
13 | U H A M K A
Catatan :
Ketentuan membuat diagram Venn adalah sebagai berikut :
a. Himpunan semesta digambarkan dengan sebuah persegi panjang dan pojok kiri atas diberi
symbol S
b. Setiap anggota himpunan semesta ditunjukan dengan sebuah noktah didalam persegi
panjang itu, dan nama anggotanya ditulis berdekatan dengan noktahnya.
Missal : S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8}
Diagram Venn dari himpunan S ditunjukan pada gambar 15
c. Setiap himpunan yang termuat didalam himpunan semesta ditunjukan oleh kurva tertutup
sederhana
Missal : S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8}
A = {2, 4, 6, 8}
Karena semua anggota himpunan A termuat di dalam himpunan S, maka himpunan A berada
didalam himpunan S.
d. Dalam menggambarkan himpunan – himpunan yang mempunyai anggota sangat banyak,
pada diagram Venn-nya tidak menggunakan noktah.
Missal : S = {siswa di sekolahmu}
D = {siswa dikelasmu}
Gambar 15
Gambar 16 Gambar 17
14 | U H A M K A
MENYAJIKAN OPERASI HIMPUNAN DALAM DIAGRAM VENN
Misalkan :
S = {1, 2, 3, …, 10}
P = {1, 3, 5, 7, 9}
Q = {2, 3, 5, 7}
Himpunan , sehingga dapat dikatakan P dan Q saling berpotongan. Diagram Venn
yang menyatakan hubungan S, P, dan Q seperti gambar 18.
Daerah yang diarsir pada diagram venn ( gambar18) menunjukan .
Himpunan , berdasarkan himpunan tersebut dapat digambarkan dengan
diagram venn :
Gambar 19
Gambar 18
15 | U H A M K A
DAFTAR PUSTAKA
Yahya, Yusuf dan Suryadi, D HS : Matematika Dasar Untuk Perguruan Tinggi . Ghalia Indonesia.
Jakarta, 1992.
Adinawan, Cholik M dan Suginjo : Matematika 1 untuk MTS/SMP Kelas VII . Erlangga, 2002.
Nuharini, Dewi dan Wahyuni, Tri : Matematika Konsep dan aplikasi . Pusat pembukuan Departemen
Pendidikan Nasional, 2008.
Georg Cantor, http://id.wikipedia.org/wiki/Georg_Cantor
John Venn, http://id.wikipedia.org/wiki/John_Venn
Media Pembelajaran Matematika, http://nahlia-
matematika.blogspot.com/2009/01/himpunan_8214.html
Berita Cuaca : Matimatika, http://www.blog-sharing.co.cc/2009/12/matematika.html
Macam Himpunan, http://kuliah.ung.ac.id/courses/TH/document/topik_2.doc?cidReq=TH
Dan dari berbagai Sumber.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->