P. 1
Konservasi Tanah Dan Air Di Lahan Kering

Konservasi Tanah Dan Air Di Lahan Kering

4.0

|Views: 2,011|Likes:
Published by indra

More info:

Published by: indra on Dec 16, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/25/2013

pdf

text

original

Konservasi Tanah dan Air di Lahan Kering

Juli 3, 2007 — La An Berdasarkan data yang dibuat oleh puslitbangtanak pada tahun 2002, potensi lahan kering di Indonesia sekitar 75.133.840 ha. Suatu keadaan lahan yang sangat luas. Akan tetapi lahan2 kering tersebut tidak begitu menghasilkan dan berguna bagi masyarakat yang tinggal di sekitar area lahan kering. Hal ini disebabkan oleh masih kurangnya teknologi pengelolaan lahan kering sehingga sering mengakibatkan makin kritisnya lahan2 kering. Erosi, kekurangan air dan kahat unsur hara adalah masalah yg paling serius di daerah lahan kering. Paket2 teknologi untuk mananggulangi masalah2 tersebut juga dah banyak, akan tetapi kurang optimal di manfaatkan karena tidak begitu signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan petani daerah lahan kering. Memang perlu kesabaran dalam pengelolaan daerah lahan kering, karena meningkatkan produktivitas lahan di daerah lahan kering yang kondisi lahannya sebagian besar kritis dan potensial kritis tidaklah mudah. Konservasi tanah dan air merupakan cara konvensional yang cukup mampu menanggulangi masalah diatas. Dengan menerapkan sisitem konservasi tanah dan air diharapkan bisa menanggulangi erosi, menyediakan air dan meningkatkan kandungan hara dalam tanah serta menjadikan lahan tidak kritis lagi. Ada 3 metode dalam dalam melakukan konservasi tanah dan air yaitu metode fisik dengan pegolahan tanahnya, metode vegetatif dengan memanfaatkan vegetasi dan tanaman untuk mengurangi erosi dan penyediaan air serta metode kimia yaitu memanfaatkan bahan2 kimia untuk mengaawetkan tanah. Menurut Sitanala Arsyad (1989), Konservasi Tanah adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukkannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sedangkan konservasi Air menurut Deptan (2006) adalah upaya penyimpanan air secara maksimal pada musim penghujan dan pemanfaatannya secara efisien pada musim kemarau. Konservasi tanah dan konservasi air selalu berjalan beriringan dimana saat melakukan tindakan konservasi tanah juga di lakukan tindakan konservasi air. Dengan dilakukan konservasi tanah dan air di lahan kering diharapkan mampu mengurangi laju erosi dan menyediakan air sepanjang tahun yang akhirnya mampu meningkatkan produktivitasnya. Tanah2 di daerah lahan kering sangat rentan terhadap erosi. Daerah lahan kering biasanya mempunyai curah hujan yg rendah dan intensitas yg rendah pula, dengan kondisi seperti itu menyebabkan susahnya tanaman2 tumbuh dan berkembang, padahal tanaman merupakan media penghambat agar butiran hujan tidak berbentur langsung dengan tanah. Benturan seperti inilah yg menyebabkan tanah mudah terurai sehingga gampang di bawa oleh aliran air permukaan dan akhirnya terjadi erosi. Pemanfaatan vegetasi pada system konservasi tanah dan air selain sebagai penghambat benturan juga berguna sebagai penghambat aliran permukaan, memperbaiki tekstur tanah dan meningkatkan kadar air tanah

Penggabungan metode vegetatif dan fisik dalam satu teknologi diharapkan mampu mengefisienkan waktu dan biaya yg dibutuhkan. Misalkan penanaman tanaman pada sebuah guludan ato penanaman tanaman di sekitar rorak. Dan langkah terakhir yg di harapkan adalah penanaman tanaman yg bernilai ekonomis tinggi seperti jambu mete.

Ciri2 Tanah RUSAK CIRI-CIRI LAHAN POTENSIAL DAN LAHAN KRITIS Anda telah memahami pengertian lahan potensial dan lahan kritis. Dapatkah sekarang Anda menyebutkan ciri-ciri lahan potensial dan lahan kritis? 1. Ciri-ciri Lahan Potensial dan Lahan Kritis dilihat dari sudut Pertanian a. Ciri-ciri Lahan Potensial Untuk Pertanian 1. Tingkat Kesuburan Tinggi Lahan yang subur adalah lahan dengan tanah yang banyak mengandung mineral untuk kebutuhan hidup tanaman. Hal ini sangat tergantung pada jenis tanaman yang diusahakan. Untuk tanaman biji-bijian banyak membutuhkan mineral posfor, untuk tanaman sayuran membutuhkan mineral zat lemas (N2), dan tanaman umbi-umbian membutuhkan mineral alkali. Jadi agar lahan dapat berproduksi secara optimal harus disesuaikan, antara jenis mineral yang dikandung lahan dengan jenis tanaman yang akan diusahakan.

Gambar 1.3 Daerah wilayah subur di daerah pegunungan dengan sawah dan sayuran

2. Memiliki Sifat Fisis yang Baik Lahan yang memiliki sifat fisis baik adalah lahan yang daya serap air dan sirkulasi udara di dalam tanahnya cukup baik. Sifat fisis ini ditunjukkan oleh tekstur dan struktur tanahnya. Tekstur tanah adalah sifat fisis tanah yang berkaitan dengan ukuran partikel pembentuk tanah. Partikel utama pembentuk tanah adalah pasir, lanau (debu), dan lempung (tanah liat). Berasarkan ukuran partikel batuan, perhatikan tabel 2.
Tabel 2. Butir batuan dan diameternya.

Tekstur tanah berpengaruh terhadap daya serap dan daya tampung air.

Tanah lempung teksturnya sangat halus, mudah menampung air tetapi daya serapnya kecil. Sebaliknya tanah pasir mudah menyerap air, tetapi sukar menampungnya. Tekstur tanah yang ideal untuk pertanian adalah geluh, yaitu tanah yang lekat. Tekstur tanah geluh terdiri dari dua macam tanah, yaitu tanah lanau (20% lempung, 30 - 50% lanau dan 30 - 50% pasir) dan tanah lanau berpasir (20 - 50% lanau/lempung, 50 - 80% pasir). Struktur tanah adalah sifat fisis tanah yang dikaitkan dengan cara partikelpartikel tanah berkelompok. Struktur tanah ini berpengaruh terhadap pengaliran air dan sirkulasi udara di dalam tanah. 3. Belum Terjadi Erosi Terjadinya erosi pada suatu lahan akan menyebabkan berubahnya lahan potensial menjadi lahan kritis. Lahan yang telah mengalami erosi, tingkat kesuburannya berkurang, sehingga kurang baik untuk pertumbuhan tanaman. Erosi mengakibatkan lahan tanah yang paling atas terkelupas. Sisanya tinggal tanah yang tandus, bahkan sering merupakan batuan yang keras (padas). Proses erosi yang kuat sering dijumpai di daerah pantai, akibat abrasi (pengikisan oleh gelombang laut) dan di daerah pegunungan dengan lereng terjal serta miskin tumbuhan. Erosi di pegunungan akibat adanya longsor dan soil creep (tanah merayap). b. Ciri-ciri Lahan Kritis Untuk Pertanian 1. Tidak Subur Lahan tidak subur adalah lahan yang sedikit mengandung mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Umumnya lahan tidak subur terdapat di daerah yang resiko ancamannya besar (ancaman erosi dan banjir). 2. Miskin Humus Lahan yang miskin humus umumnya kurang baik untuk dijadikan lahan pertanian, karena tanahnya kurang subur. Anda pernah mendengar istilah tanah humus? Tanah Humus adalah tanah yang telah bercampur dengan daun dan ranting pohon yang telah membusuk. Tanah humus dapat dijumpai di daerah yang tumbuhannya lebat, contohnya hutan primer. Sedangkan lahan yang miskin humus adalah lahan yang terdapat di daerah yang miskin atau jarang tumbuhan, contohnya kawasan pegunungan yang hutannya rusak.

Gambar 1.4 Lahan Kritis di daerah pegunungan yang gundul / hutan yang rusak

Anda sudah mengetahui ciri-ciri lahan potensial dan lahan kritis. Cobalah sekarang Anda jawab latihan di bawah ini.

Untuk mengetahui suatu lahan potensial untuk pertanian dapat dilihat dari ciri-cirinya: yaitu tanahnya subur, memiliki sifat jenis yang baik dan belum mengalami erosi. Begitu juga suatu lahan kritis untuk pertanian bila memiliki ciri-ciri: tidak subur dan miskin humus. Silahkan cocokkan jawaban latihan 3 Anda dengan uraian di atas, sudah cocokkah? Bila Anda telah memahami ciri-ciri lahan potensial dan lahan kritis untuk pertanian dan menjawab latihannya dengan tepat. Silahkan Anda lanjutkan mempelajari materi selanjutnya. 2. Ciri-ciri Lahan Potensial dan Lahan Kritis dilihat dari Sudut Permukiman Anda telah mengetahui ciri-ciri lahan potensial dan lahan kritis dilihat dari sudut pertanian. Sekarang silahkan Anda mempelajari tentang ciri-ciri lahan potensial dan lahan kritis dilihat dari sudut permukiman. a. Ciri-ciri Lahan Potensial untuk Permukiman Anda masih ingat dengan pengertian lahan potensial dalam arti luas? Dalam arti luas, lahan potensial tidak hanya dilihat dari sudut pertanian, tetapi juga dari sudut permukiman. Untuk lebih jelasnya, silahkan pelajari uraian di bawah ini. Ciri-ciri lahan potensial untuk permukiman antara lain: 1. Daya Dukung Tanah Besar Artinya memiliki kemampuan untuk menahan beban dalam ton tiap satu meter kubik. Jadi bila didirikan bangunan di atasnya tidak amblas. 2. Fluktuasi Air Baik Artinya memiliki kedalaman air tanah yang sedang. Fluktuasi air berpengaruh terhadap kondisi lingkungan, jika air tanahnya dangkal maka keadaan di atasnya lembab dan jika air tanahnya dalam maka keadaan di atasnya gersang (kering/tandus). 3. Kandungan Lempung cukup Kandungan lempung berpengaruh terhadap kembang kerutnya tanah. Hal ini erat kaitannya dengan pembuatan pondasi,pembangunan jalan, saluran air, dan sebagainya. 4. Topografi Topografi yang ideal untuk permukiman adalah yang kemiringan lahannya antara 0% sampai 3%. Kemiringan merupakan perbandingan antara jarak

vertikal dan jarak horisontal dikali 100%. Kemiringan lereng gambar di sebelah kiri adalah:

Gambar 1.5 Kemiringan Lereng

Kemiringan lereng 0% berarti tanahnya rata, dan kemiringan lereng 100% berarti sudut kemiringannya 45% (sangat curam). Topografi erat kaitannya dengan kenyamanan hunian (tempat tinggal) dan keamanan dari ancaman bencana alam seperti tanah longsor, banjir, dan sebagainya. b. Ciri-ciri Lahan Kritis untuk Permukiman Anda telah mengetahui ciri-ciri lahan potensial untuk permukiman. Lalu bagaimana dengan ciri-ciri lahan kritis untuk permukiman? Ciri-ciri lahan kritis untuk permukiman adalah kebalikan dari ciri-ciri lahan potensial untuk pertanian, yaitu: 1) Daya dukung tanah rendah, artinya tidak mampu menahan beban dalam ton tiap satu meter kubik. Sehingga bila didirikan bangunan di atasnya, bangunan tersebut akan roboh (amblas). 2) Fluktuasi air tidak baik, artinya air tanahnya terlalu dangkal atau terlalu dalam. Hal ini dapat mempengaruhi bangunan dan kesehatan penduduk yang tinggal di atas lahan tersebut. 3) Topografi Topografi yang tidak cocok untuk permukiman adalah yang kemiringannya lebih dari 3%. Karena topografi dengan kemiringan lebih dari 3% resiko ancaman bencana alam seperti tanah longsor dan banjir besar. Hal ini dapat mengganggu kenyamanan hunian dan keamanan dari bencana alam tersebut. Kemiringan lereng pada gambar di bawah ini adalah ....

Untuk mengetahui suatu lahan potensial atau kritis untuk pemukiman dapat dilihat dari kemiringan lerengnya yaitu perbandingan antara jarak vertikal (y) dan jarak horisontal (x) dikalikan 100% atau Coba periksa kembali jawaban latihan Anda, apakah cara menghitung kemiringan lerengnya sudah sesuai dengan uraian di atas? Setelah Anda mengetahui ciri-ciri lahan potensial dan lahan kritis untuk permukiman serta berhasil menjawab latihannya dengan tepat. Silahkan Anda pelajari materi selanjutnya.

Degradasi Lahan Akibat Alih Fungsi Lahan menjadi Lahan pertanian Monokultur

Pendahuluan Perubahan lingkungan daerah tropika berkaitan erat dengan pembukaan hutan, terjadinya pergeseran lahan pertanian ke daerah tengah dan hulu dengan kemiringan lahan lebih curam dan beresiko tinggi terhadap erosi. Degradasi lahan dan perluasan lahan kritis. Sejak diberlakukannya ijin pengelolaan hutan, kondisi hutan di Indonesia semakin menurun. Berdasarkan hasil citra landsat tahun 1999-2000 yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan, kondisi penutupan vegetasi pada kawasan hutan seluas 93,5 juta ha di Indonesia selain Papua adalah: Hutan primer 20,4 juta ha (21,8%), hutan tanaman 2,4 juta ha (2,6%), hutan sekunder 29,7 juta ha (31,8%), nonhutan (semak-belukar, padang alang-alang, lahan kosong) 27,6 juta ha (29,5%), tidak dapat diidentifikasi (tertutup awan, dsb) 13,4 juta ha (14,3%) (Dephut, 2002). Kondisi hutan terus mengalami kerusakan dengan laju degradasi sekarang mencapai 2 juta/tahun meningkat dari hanya 0,9 ha/tahun pada 1980-1990. Lahan yang mengalami kerusakan mencapai 56,9 juta ha, yang terdiri dari: lahan kritis di luar kawasan hutan 15,1 juta ha, lahan kritis di dalam kawasan hutan lindung dan konservasi 8,1 juta ha, hutan rusak di dalam kawasan hutan produksi 27,8 juta ha, hutan mangrove di dalam dan luar kawasan hutan 5,9 juta ha (Dephut, 2000).

Lahan hutan memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan kondisi tanah, air dan udara. Fungsi hutan sangat penting dalam menunjang fungsi kehidupan ekologi lainnya. Keberadaan hutan yang paling penting adalah menjaga daur air yang ada dalam tanah. Tanah hutan mempunyai laju infiltrasi permukaan yang tinggi dan makroporositas yang relatif banyak, sejalan dengan tingginya aktivitas biologi tanah dan pergerakan perakaran. Kondisi ini mendukung air hujan yang jatuh dapat mengalir ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam dan juga mengalir secara lateral (Susswein et al.,2001). Perkembangan perakaran tanaman hutan mampu menekan dan

memperenggang agregat tanah yang berdekatan, sehingga memicu terbentuknya pori baru yang leih besar. Aktivitas penyerapan air oleh akar tanaman hutan juga berpengaruh terhadap kondisi tanah yang ada sehingga, menyebabkan dehidrasi tanah, pengkerutan, dan terbukanya rekahan-rekahan kecil. Kedua proses tersebut dapat memicu terbentuknya pori yang lebih besar (makroporositas). Dengan kata lain pembentukan makroporositas ini selain disebabkan oleh adanya celah atau ruang yang terbentuk dari pemadatan matrik tanah juga adanya gangguanaktivitas perakaran, hewan tanah, pembengkaan, perekahan dan pengkerutan tanah (Marshall et al.,1999). Aktivitas dalam ekologi tanah hutan tidak berhenti pada taraf ini saja. Lebih jauh, exudant akar dan akar yang mati khususnya akar rambut akan memicu aktivitas mikroorganisme yang akan menghasilkan bahan humik yang berfungsi sebagai semen. Bahan humik tanah mempunyai peranan yang besar terhadap agregasi liat tanah yang berukuran relatif kecil, sedang peranannya terhadap agregasi agregat kecil atau partikel debu dan pasir relatif kecil (Marshall et al., 1999). Dengan adanya fungsi perakaran yang disati sisi dapat merugikan di sisi lain perakaran yang telah mati dapat mencptakan kondisi yang seimbang pada tanah hutan Kondisi tanah hutan umumnya berfungsi sebagai filter. Tanah hutan memiliki kondisi yang remah dengan kapasitas infiltrasi air yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya masukan bahan organik ke dalam tanah yang terus menerus dari daun-daun, cabang dan ranting yang berguguran sebagai seresah, dan dari akar tanaman serta hewan tanah yang telah mati. Dengan meningkatnya infiltrasi air tanah, dan adanya penyerapan air dan hara oleh tumbuhan hutan, maka adanya limpasan permukaan, bahaya banjir, dan pencemaran air tanah dapat dikurangi. Jadi hutan

berperan sebagai filter, dan fungsi daerah aliran sungai (DAS) sangat ditentukan oleh adanya filter tersebut. Hutan dapat menjadi tempat penyimpan air sehingga dapat memperkecil erosi yang terjadi. Dengan adanya hutan di suatu wilayah maka pada wilayah tersebut memiliki tutupan lahan yang dapat menahan tanah tetap pada tempatnya dengan adanya ikatan antara misel tanah dengan akar. (Cooper et al, 1996) Peran hutan yang sangat penting bagi alam, dapat sebagai faktor pembatas keseimbangan keadaan alam yang ada di daerah tersebut. Peran hutan tersebut juga merupakan salah satu penyeimbang kelangsungan hidup biota dalam hutan dan menjaga diversitas tanaman. Hutan juga memiliki peran tersendiri bagi masyarakat, sebagai tempat ekosistem hasil sumber daya yang dapat terbaharukan dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pembukaan lahan hutan menjadi lahan tanaman monokultur dapat diduga sebagai penyebab rusaknya struktur tanah baik di lapisan atas maupun lapisan bawah. Kerusakan struktur tanah lapisan atas serta lapisan bawah di akibatkan karena berubahnya lingkungan atau kondisi tanah hutan yang semula habitat akar dan terjadi interaksi antara tanah dengan akar. Perubahan ini menghasilkan kondisi tanah yang berbeda, sehingga pada awalnya tanah hutan mampu menjaga fungsi tanah menjadi menurun akibat tidak rusaknya keseimbangan kondisi tanah karena perakaran hutan yang hilang. Perubahan kondisi tanah ini, disebabkan karena adanya perubahan karakteristik jenis perakan pada tanah hutan yang lebih bervariasi dari pada pada lahan pertanian monokultur. Jenis perakan yang monokultur cenderung memiliki kapasitas yang sama dalam menjalankan aktivitasnya dalam tanah. Perbedaan jenis perakan juga mempengaruhi keberadaan biota dalam tanah. Selain perbedaan perakaran dalam tanah, perubahan lahan hutan menjadi lahan pertanian monokultur menyebabkan berubahnya tutpan lahan yang semula adalah multistrata mendaji strata tunggal dimana tajuk tanaman menjadi seragam. Tajuk yang berstrata akan membantu dalam mengurangi lebih besar kontak tanah terhadap air hujan dari pada kondisi tanaman monokultur. Dengan rusaknya sifat fisika tanah hutan yang berawal dari perubahan kondisi struktur talah lapisan atas dengan lapisan bawah maka dapat dikatakan bahwa

perubahan fungsi lahan hutan menjadi lahan tanaman monokltur dapat menyebebkan degradasi sifat-sifat tanah. Dalam hal ini degradasi sifat tanah akan mempengaruhi sifat satu dengan yang lainnya. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh eksploitasi lahan yang berlebihan, perluasan tanaman, penggundulan hutan, telah berdampak pada keberlangsungan hidup biota yang berada di bumi ini. Bila kondisi tersebut diatas terus berlangsung dengan cara tidak terkendali, maka dikhawatirkan akan bertambahnya jumlah lahan kritis dan kerusakan dalam suatu wilayah daerah aliran sungai (DAS). Kerusakan ini dapat berupa degradasi lapisan tanah (erosi), kesuburan tanah, longsor dan sedimentasi yang tinggi dalam sungai, bencana banjir, disribusi dan jumlah atau kualitas aliran air sungai akan menurun.

ISI Kerusakan struktur tanah akan berdampak terhadap penurunan jumlah makroporositas tanah dan lebih lanjut akan diikuti penurunan laju infiltrasi permukaan tanah dan peningkatan limpasan permukaan. Kerusakan struktur tanah yang demikian akan menyebabkan berubahnya pola aliran air di dalam sistem tata guna lahan. Dengan adanya kerusakan struktur tanah tersebut juga akan menyebabkan menurunkan potensi tanah dalam menyimpan air. Kerusakan struktur tanah diawali dengan penurunan kestabilan agregat tanah sebagai akibat dari pukulan air hujan dan kekuatan limpasan permukaan. Penurunan kestabilan agregat tanah berkaitan dengan penurunan kandungan bahan organik tanah, aktivitas perakaran tanaman dan mikroorganisme tanah. Penurunan ketiga agen pengikat agregat tanah tersebut selain menyebabkan agregat tanah relatif mudah pecah sehingga menjadi agregat atau partikel yang lebih kecil juga menyebabkan terbentuknya kerak di permukaantanah (soil crusting) yang mempunyai sifat padat dan keras bila kering. Agregat atau partikel-partikel yang halus akan terbawa aliran air ke dalam tanah sehinggamenyebabkan penyumbatan pori tanah. Pada saa thujan turun kerak yang terbentuk di permukaan tanahjuga menyebabkan penyumbatan pori tanah. Akibat proses penyumbatan pori tanah ini porositas tanah,

distribusi pori tanah, dan kemampuan tanah untukmengalirkan air mengalami penurunan dan limpasan permukaan akan meningkat. Sehingga peluang terjadinya erosi permukaan akan terjadi. Perubahan sifat fisika yang terjadi dapat dilihat secara langsung dan ada yang mengalami perubahan sejalan dengan waktu. Tekstur tanah pada kondisi alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian monokultur juga ikut berubah jumlah fraksi yang membentuk suatu tanah. Menurut penelitian Didik Suprayogo dkk 2001 pada kasus perubahan lahan hutan menjadi lahan pertanian kopi monokultur, terjadi perubahan kandungan fraksi tanah. Semula pada tanah hutan diketahui fraksi tanag berkisar dari lempung liat berpasir hingga lempung berpasir. Setelah mengalami perubahan fungsi lahan tekstur tanah berubah menjadi tekstur liat. Perubahan tekstur tanah ini juga mempengaruhi terhadap fungsi kimia tanah , yaitu reaksi yang terjadi dalam tanah potensilal H+ . Perubahan yang terjadi selain tekstur tanah adalah kandungan bahan organic menurut penelitian didik Suprayogo tahun 2001 pada kasus perubahan lahan hutan menjadi lahan pertanian kopi monokultur terjadi degradasi bahan organic secara bertahap. Degradasi bahan organic akan berpengaruh terhadap laju infiltrasi dan kapasitas memegang air. Alih guna lahan hutan menjadi kebun kopi monokultur menurunkan makroporositas tanah. Perubahan makroporositas tanah secara nyata dipengaruhi oleh sebaran partikel tanah, kandungan bahan organik tanah terutama di lapisan atas, pembentukan kerak di lapisan atas dan distribusiperakaran tanaman, dan kemantapan agregat. Meningkatnya kandungan liat dan debu dan menurunnya kandungan pasir akan berdampak terhadap penurunan makroporositas tanah. Kandungan bahan organik tanah hingga kedalaman 60 cm masih berperan dalam memperbaiki makroporositas tanah. Perkembangan perakaran yang menyebar kedalam lapisan tanah baik secara vertikal maupun horisontalberdampak terhadap peningkatan makroporositastanah. Hancuran agregat tanah yang masuk kedalam lapisan tanah bersamaan dengan aliran air menyebabkan penyumbatan pori tanahsehinggaketahanan penetrasi tanah meningkat danmakroporositas menurun.

Yang perlu diketahui bahwa tanah hutan mempunyai makro pori relatif lebih banyak dan laju infiltrasi permukaan yang lebih tinggi dibanding lahan pertanian monokultur. Hutan telah terbukti mampu menurunkan limpasan permukaan dan erosi (Widianto et al., 2004). Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: pertama, (a) hutanmemiliki lapisan seresah yang tebal, (b) penutupan permukaan tanah oleh kanopi tanaman dan (c) cacing tanah yang hidup pada tanah hutan ukuran tubuhnyalebih besar dibandingkan dengan lahan pertanian monokultur (Hairiah et al., 2004). Kondisi ini menyebabkan tingginya kandungan bahan organic tanah dan rendahnya tingkat pembentukan kerak di permukaan tanah, sehingga makroporositas tanah di lahan hutan lebih terjaga dibanding di lahan pertanian monokulutur . Kedua, hutan dapat menurunkan ketersediaan air bawah tanah sehingga limpasan permukaan akan berkurang. Hal ini karena hutan memiliki sistem perakaran yang panjang dan berkembang dengan sangat baik dalam sistem tanah . Kondisi ini memicu tingginya aktivitas biologi tanah dan turnover perakaran, sehingga mendukung air hujan yang jatuh dapat mengalir ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam dan juga mengalir secara lateral. Lebih lanjut, pada musim kemarau akar pohon cenderung tumbuh lebih dalamdi lapisan tanah untuk menyerap air. Ketiga,dibandingkan dengan lahan monokultur, evapotranspirasi hutan cenderung lebih tinggi. Hal ini berkaitan dengan tajuk tanaman di hutan yang relatif lebih tinggi dan beraneka ragam dibandingkan pertanian monoklutur monokultur. Selain itu, pohon dihutan berperakaran lebih dalam sehingga mampu menyerap air lebih banyak dan hilang melalui prosestranspirasi. Kondisi ini mampu mengurangi limpasan permukaan di DAS (Bosch dan Hewlett, 1982 dalam Calder, 1999). Hasil penelitian Dariah et al. (2004) menunjukkan bahwa limpasan permukaan dan erosi relatif rendah di lahan pertanian monokultur dan mendekati dengan kondisi hutan. Pengelolaan lahan sistem pertanian monokultur sangat diperlukan guna mempercepat pemulihan fungsi hidrologi DAS. Strategi dasar yang dapat dilakukan berdasarkan penelitian ini adalah: (1) eliminasipengkerakan tanah atas melalui “pengolahan dalam” secara berkala, (2) peningkatan kandunganbahan organik melalui peningkatan jumlah masukan seresah yang bervariasi kualitasnya. Upaya ini dapat dilakukan melalui penanaman tanamanpenutup tanah dan atau peningkatan diversivitas tanaman pohon seperti yang dijumpai dalam agroforestri multistrata, (3) Peningkatan diversivitas pola sebaran perakaran. Sistem agroforestri multistrata

memperbaiki keragaman kondisi perakaran di lahankopi monokultur yang relatif sangat rendah Ketiga strategi dasar tersebut merupakan upayayang dapat ditawarkan untuk engembalikan fungsitanah dalam pengendalian fungsi hidrologi DAS. Pengelolaan kebun kopi monokultur melalui pengelolaan vegetasi perlu dikombinasikan dengan pengelolaan pada skala bentang lahan. Pengelolaan vegetasi dapat dilakukan melalui pengaturan jaraktanam pohon dan macam pohon yang ditanam untuk mengoptimalkan peranan pohon dalam meningkatkanintersepsi air hujan dan transpirasi oleh tajuk daun. Pengelolaan bentang lahan dapat dilakukan melalui peningkatan kekasaran permukaan lahan, membuat cekungan-cekungan setempat untuk enyediakanpenyimpanan air sementara selain berfungsi sebagai filter sedimen dan memperpanjang “saluran” aliran limpasan permukaan. Dengan demikian jalur untuk terjadinya limpasan permukaan yang cepat dapat dikurangi. Penutup Hutan telah terbukti mampu menurunkan limpasan permukaan dan erosi. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: pertama, (a) hutan memiliki lapisan seresah yang tebal, (b) penutupan permukaan tanah oleh kanopi tanaman dan (c) cacing tanah yang hidup pada tanah hutan ukuran tubuhnyalebih besar dibandingkan dengan lahan pertanian monokultur. Kedua, hutan dapat menurunkan ketersediaan air bawah tanah sehingga limpasan permukaan akan berkurang. Hal ini karena hutan memiliki sistem perakaran yang panjang dan berkembang dengan sangat baik dalam sistem tanah. Ketiga,dibandingkan dengan lahan monokultur, evapotranspirasi hutan cenderung lebih tinggi. Hal ini berkaitan dengan tajuk tanaman di hutan yang relatif lebih tinggi dan beraneka ragam dibandingkan pertanian monoklutur monokultur. Untuk pengelolaan tanah,tiga strategi dasar yang dapat disarankan yaitu(1) eliminasi pengkerakan tanah atas melalui“pengolahan dalam” secara berkala, (2) peningkatankandungan bahan organik tanah melalui peningkatanjumlah masukan seresah yang bervariasi kualitasnya,dengan cara menanam tanaman penutup tanah ataudengan menanam berbabagai jenis pohon seperti yangdijumpai dalam sistem agroforestri multistrata.Peningkatan diversivitas tanaman pohon dalam system

agroforestri multistrata juga merupakan strategi ke (3)dalam rangka meningkatkan jumlah dan penyebaran sistem perakaran di lahan pertanian monokultur.

DAFTAR PUSTAKA
Calder, I.R. 1999. The Blue Revolution: Land Use and Integrated Water Resources Management. Earthscan Publications, London. 192 pp.

Cooper, P.J.M., Leakey, R.R.B., Rao, M.R and Reynolds, L. 1996. Agroforestri and Mitigation of Land Degradation in the Humid and Sub Humid Trofical of Africa, Experimental Agriculture 32, 249-261.
Dariah, A.; Agus, F.; Arsyad, S.; Sudarsono danMaswar. 2004. Erosi dan aliran permukaan pada lahan pertanian berbasis tanaman kopi diSumberjaya, Lampung Barat. Agrivita 26 (1):52-60.

Departemen Kehutanan. http://www.dephut.org.id/ diakses tanggal 25 Februari 2008
Hairiah, K.; Suprayogo, D.; Widianto; Berlian; Suhara,E.; Mardiastuning, A.; Prayogo, C.; Widodo, R.H.dan S. Rahayu. 2004. Alih guna lahan hutan menjadi lahan agroforestri berbasis kopi:Ketebalan seresah, populasi cacing tanah dan makroporositas tanah. Agrivita 26 (1): 75-88 Marshall, T.J.; Holmes, J.W. and C.W. Rose. 1999.Soil Physics. Cambridge University Press. Pp 453.Syam,T.H.; Mshide; Salam, A.K.; Utomo, M.; Mahi,A.K.; Lumbanraja, J.; Nugroho, S.G. and M.Kimura. 1977. Land Use and Cover Changes ina Hilly Area of South Sumatra, Indonesia (from1970 to 1990). Soil Sci. Plant Nutr. 43 (3): 587-599. Susswein, P.M.; Van Noordwijk, M. dan B. Verbist.2001. Forest Watershed Functions and Tropical Land Use Change. Dalam van Noordwijk, M.;Williams, S. dan B. Verbist (Eds.), Towards integrated natural resource management in forest margins of the humid tropics: local action andglobal concerns. International Centre for Research in Agroforestry. Bogor. 28 pp Widianto; Noveras, H.; Suprayogo, D.; Widodo, R.H.;Purnomosidhi, P. dan M. van Noordwijk. 2004.Konversi Hutan Menjadi Lahan Pertanian :Apakah fungsi hidrologis hutan dapat digantikan sistem kopi monokultur? Agrivita 26 (1): 4752.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->