P. 1
Teori Konvergensi Dan Pertumbuhan Ekonomi - Farlian s. Nugroho

Teori Konvergensi Dan Pertumbuhan Ekonomi - Farlian s. Nugroho

3.0

|Views: 5,635|Likes:
Published by Farlian S. Nugroho

More info:

Published by: Farlian S. Nugroho on Dec 17, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2013

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kemiskinan merupakan permasalahan utama yang dihadapi hampir seluruh negara berkembang di dunia.

Kemiskinan merupakan fenomena yang kompleks dan bersifat multidimensi. Menurut Ahmadi (2006) Kemiskinan dapat dipengaruhi oleh luasnya wilayah suatu negara sehingga menciptakan karateristik kemiskinan yang berbeda. Oleh karena itu dibutuhkan strategi pengentasan kemiskinan yang berbeda pula pada tiap-tiap region. Kantong-kantong kemiskinan pada umumnya berada pada wilayah perdesaan dan daerah-daerah terisolir yang memiliki keterbatasan aksesbilitas, tinggal secara terpencar-pencar, pada umumnya memiliki keterbatasan modal, produksi dan pemasaran, kelompok usia produktif didominasi dengan rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat kesehatan, dengan produktifitas dan enterpreunership yang rendah pula, serta memiliki daya saing yang lemah terutama dalam merebut peluang usaha, mengisi peluang kerja dan memasarkan hasil produksi (Kompas, Maret 2009). Upaya pengentasan kemiskinan yang selama ini dilakukan lebih bersifat spasial atau pendekatan sektoral tidak memberikan hasil yang optimal, sedangkan tindakan di lapangan cenderung tidak konsisten, kurang berpihak dan tidak sesuai dengan kemampuan rill masyarakat. Masalah kemiskinan merupakan masalah yang bersifat multisektoral yang harus menjadi tanggung jawab semua pihak baik mulai dari tingkat pusat sampai pada individu masyarakat. Usaha dalam upaya penanggulangan kemiskinan telah banyak dilakukan oleh pemerintah. Perhatian serius kepada keluarga miskin terlihat dengan kebijakan-kebijakan aktifitas yang dilakukan oleh pemerintah yang sasarannya adalah keluarga miskin. Masalah kemiskinan hanya dapat dituntaskan apabila pemerintah melakukan kebijakan yang serius dan memihak kepada keluarga miskin. Namun seringkali kebijakan yang dibuat justru kurang memihak keluarga miskin, akibatnya kebijakan yang ada semakin memperburuk kondisi keluarga miskin bahkan menyebabkan seseorang yang tidak miskin menjadi miskin (Tempo, Agustus 2009),. Oleh karena itu, usaha penanggulangan kemiskinan haruslah memiliki perencanaan, penetapan kebijakan dan strategi serta arah yang jelas dalam penanganannya dan didukung dengan program dan kegiatan yang tepat sasaran yaitu keluarga miskin. Amartya Sen (1998) dalam Bloom dan Canning (2001) mengatakan bahwa seseorang dikatakan miskin bila mengalami "capability deprivation" dimana seseorang tersebut mengalami kekurangan kebebasan yang substantif. Menurut Bloom dan Canning, kebebasan substantif ini memiliki dua sisi: kesempatan dan rasa aman. Kesempatan membutuhkan pendidikan dan keamanan membutuhkan kesehatan. Menurut Sharp et al. (2000), Kemiskinan bersumber dari hal di bawah ini, yaitu: 1. Rendahnya kualitas angkatan kerja. Salah satu penyebab terjadinya kemiskinan adalah karena rendahnya kualitas angkatan kerja. Kualitas angkatan kerja ini bisa dilihat dari angka buta huruf. Sebagai contoh Amerika Serikat hanya mempunyai angka buta huruf sebesar 1%, dibandingkan dengan Ethiopia yang mempunyai angka diatas 50%. 2. Akses yang sulit terhadap kepemilikan modal. Kepemilikan modal yang sedikit serta rasio antara modal dan tenaga kerja (capital-to-labor ratios) menghasilkan produktivitas yang rendah yang pada akhirnya menjadi faktor penyebab kemiskinan. 3. Rendahnya tingkat penguasaan teknologi. Negara-negara dengan penguasaan teknologi yang rendah mempunyai tingkat produktivitas yang rendah pula. Tingkat produktivitas yang rendah menyebabkan terjadinya pengangguran. Hal ini disebabkan oleh kegagalan dalam mengadaptasi teknik produksi yang lebih modern. Ukuran tingkat penguasaan teknologi yang rendah salah satunya bisa dilihat dari penggunaaan alat-alat produksi yang masih bersifat tradisional. 4. Penggunaan sumber daya yang tidak efisien. Negara miskin sumber daya yang tersedia tidak dipergunakan secara penuh dan efisien. Pada tingkat rumah tangga penggunaan sumber daya biasanya masih bersifat tradisional yang menyebabkan terjadinya inefisiensi. 5. Pertumbuhan penduduk yang tinggi. Menurut teori Malthus jumlah penduduk berkembang sesuai deret ukur sedangkan produksi bahan pangan berkembang sesuai deret hitung. Hal ini mengakibatkan kelebihan penduduk dan kekurangan bahan pangan. Kekurangan bahan pangan merupakan salah satu indikasi terjadinya kemiskinan.

2.1. Definisi Kemiskinan Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan yaitu kondisi terjadinya kekurangan pada taraf hidup manusia yang bisa berupa fisik dan sosial. Kekurangan fisik adalah ketidakcukupan kebutuhan dasar materi dan biologis (basic material and biological needs), termasuk kekurangan nutrisi, kesehatan, pendidikan, dan perumahan. Ketidakcukupan sosial adalah adanya resiko kehidupan, kondisi ketergantungan, ketidakberdayaan, dan kepercayaan diri yang kurang. Peraih Nobel Ekonomi 1998 Amartya Sen mengatakan kemiskinan adalah kegagalan memenuhi kapabilitas minimum tertentu (poverty is the failure to have certain minimum capabilities). Kapabilitas melekat pada kemampuan yang ada pada diri si miskin sendiri, dan dapat ditingkatkan dengan upaya yang sistematik. Makanya penanggulangan kemiskinan tidak semata-mata memenuhi kebutuhan dasar material, tetapi bagaimana mengatasi ketidakcukupan pelayanan pendidikan, kesehatan, hingga kepuasan psikologis dan keberdayaan untuk menopang hidup diri sendiri, lepas dari ketergantungan terus menerus pada pihak lain. Kemiskinan menurut Todaro (2003) dapat dikategorikan ke dalam kemiskinan alamiah dan kemiskinan struktural. Kemiskinan alamiah adalah kondisi di mana kemiskinan terjadi akibat faktor-faktor biologis, psikologis dan sosial (malas, kurang trampil, kurang kemampuan intelektual, lemah fisik, dll). Lingkungan fisik membuat orang sulit melakukan usaha atau bekerja. Sedangkan, kemiskinan struktural terkait dengan ketidakadilan dalam perbandingan nilai pertukaran (terms of trade) antara nilai barang dan jasa yang dihasilkan dan dijual oleh penduduk miskin dibandingkan dengan nilai barang dan jasa yang harus dibelinya; ketidakadilan dalam pembayaran jasa-jasa pekerja (upah yang rendah dan eskploitasi pekerja); dan, pengenaan pungutan yang memberatkan dan relatif memeras penduduk miskin. “The poorest of the poor . . . will remain . . . outside the reach of normal trade and communication. The combination of malnutrition, illiteracy, disease, high birth rates, underemployment and low income closes off the avenues of escape.” (Brandt Commission: 1980 p. 49)1) "Poverty is defined relative to the standards of living in a society at a specific time. People live in poverty when they are denied an income sufficient for their material needs and when these circumstances exclude them from taking part in activities which are an accepted part of daily life in that society." (Scottish Poverty Information Unit: 2008).2) Barker (1995) mengatakan bahwa tidak ada definisi pasti dan bersama tentang kemiskinan yang digunakan oleh semua negara. Kemiskinan dapat dikategorikan sebagai kerugian materi dalam sebuah perekonomian suatu negara. Secara umum, kemiskinan didefinisikan sebagai keadaan tempat tinggal yang buruk atau kekurangan uang, atau berarti hanya cukup untuk menyambung hidup (subsistence) (Barker: 1995). Menurut Bank Dunia, ukuran yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan adalah berdasarkan tingkat pendapatan. Seseorang dapat dikatakan miskin apabila pendapatannya berada dibawah tingkat minimum untuk memenuhi kebutuhan dasar. Tingkat upah minimum ini yang biasa disebut dengan “garis kemiskinan”. Sedangkan ukuran kepuasan kebutuhan dasar berbeda-beda sesuai dengan waktu dan kondisi masyarakat. Sehingga, batas yang disebut garis kemiskinan juga berbeda-beda sesuai waktu dan tempat, dan setiap negara menggunakan batas yang disesuaikan dengan tingkat pembangunan, norma-norma sosial dan nilai. (World Bank Organisation) Terdapat tiga ukuran dasar untuk mendefinisikan kemiskinan: yang pertama adalah absolute poverty, yang kedua yakni relative poverty, dan yang ketiga yaitu social exclusion. Kemiskinan absolut didefinisikan sebagai keadaan tidak cukup sumber daya untuk menjaga keberlangsungan hidup. Kemiskinan relatif mendefinisikan pendapatan atau sumber daya yang dimiliki dibandingkan dengan rata-rata pendapatan. Sedangkan social exclusion adalah ukuran baru yang diperkenalkan pemerintah Scotlandia yakni menggambarkan keadaan dimana ketika individu atau daerah menderita permasalahan yang saling terkait seperti pengangguran, kekurangan tenaga terampil, pendapatan yang rendah, tempat tinggal yang buruk, kriminalitas yang cukup tinggi, kesehatan yang buruk dan gangguan rumah tangga. (The House of Commons Scottish Affairs Committee)

1) Brand Commission adalah sebuah komite internasional yang mempelajari isu-isu pembangunan dunia dari tahun 1977-1983. Komite ini bersifat independent sehingga tidak terikat kepentingan dari manapun. Didirikan oleh Kanselor Jerman Willy Brandt pada 28 September 1977.

2) Scottish Poverty Information Unit (2008) dalam British Broadcasting Company (BBC) Info “Definition of
Poverty” 13 Oktober 2009. www.bbc.co.uk 3) Teori Radikal berkembang di kalangan pemerintahan sosialis-komunis dimana pemegang kekuasaan tertinggi adalah kepala negara.

2.2. Teori Kemiskinan Menurut Teori Radikal3), orang miskin tetap miskin karena memang dipelihara untuk miskin. Sistem ekonomi dan politik memaksa mereka berada dalam kondisi miskin. Orang menjadi miskin karena dieksploitasi. Negara-negara atau daerah-daerah menjadi miskin karena direncanakan dan dibuat miskin. Kemiskinan lalu dianggap hanya sebagai ketidakmampuan secara ekonomi dan karenanya sering penguasa hanya bagi-bagi duit dan barang (bantuan langsung tunai, pinjaman lunak, beras untuk orang miskin, operasi pasar murah, dan sejenisnya), padahal kemiskinan adalah permasalahan yang sangat kompleks, tidak sebatas kurang makan dan kurang duit. Teori lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty) Ragnar Nurkse (1953) mengajarkan bahwa adanya keterbelakangan, ketidaksempurnaan pasar, dan kurangnya modal menyebabkan rendahnya produktifitas. Rendahnya produktifitas mengakibatkan rendahnya pendapatan yang mereka terima. Rendahnya pendapatan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi. Rendahnya investasi berakibat pada keterbelakangan, dan seterusnya seperti lingkaran yang tidak berujung. Fenomena kemiskinan struktural dan kultural semacam ini menggambarkan bagaimana penduduk miskin tetap menjadi miskin karena keadaan awal miskin, dan demikian terus berlaku secara terus-menerus. Penduduk miskin akan semakin terjerat dalam “kubangan kemiskinan” karena mereka mendapatkan pinjaman uang dari pelepas uang (lintah darat), mindring, atau perantara, yang menagih cicilan dan bunga tinggi.

Sumber: Achmadi (2007)

Gambar 2.1. Vicious Circle dari Sisi Penawaran Modal

Sumber: Achmadi (2007)

Gambar 2.2. Vicious Circle dari Sisi Permintaan Modal Paul Rosenstein-Rodan (1943, 1957), Ragnar Nurkse (1953), and Gunnar Myrdal (1957) sangat terkenal dengan teorinya menentang model neo-klasik dalam perekonomian. Mereka beranggapan bahwa mekanisme pasar tidak dapat menanggulangi berbagai masalah dalam perekonomian, misalnya koordinasi atau distribusi pendapatan, sehingga menciptakan keterbelakangan ekonomi (underdevelopment). Intervensi negara, baik itu secara domestic maupun internasional, diperlukan untuk melakukan proses pembangunan. Dua argument yang secara jelas menggambarkan teorinya, yakni mengenai ‘vicious cycle of poverty’ dan keuntungan investasi. Pertama, lingkaran belenggu kemiskinan hanya terjadi di negara berkembang (Nurkse: 1953, p.34). Keinginan sesorang untuk menabung merupakan bagian dari funsi pendapatan, apabila pendapatan yang diterima sangat rendah maka tingkat tabungan juga rendah. Ketika seseorang tidak memiliki cukup tabungan dari pendapatan mereka, maka investasi dan pertumbuhan ekonomi akan terhambat. Pembangunan hanya dapat terjadi ketika pendanaan investasi datang dari luar negeri ke dalam perekonomian domestik. Kedua, bahwa keuntungan dari investasi tidak tinggal di negara penerima (recipients) tetapi kembali ke negara asal sehingga tidak mampu menciptakan efek pengganda dalam perekonomian. Suatu investasi pada suatu sektor tentu saja dipengaruhi oleh investasi di sektor lain, sehingga apabila suatu sektor tidak mampu berkembang maka akan menyebabkan sektor lain yang bersifat complementary tidak mampu berkembang pula. Menurut Teori Konservatif 4), kemiskinan tidak bermula dari struktur sosial, melainkan berasal dari karakteristik orang-orang miskin itu sendiri (misalnya malas, boros, tidak merencanakan kehidupannya, fatalis dan pasrah pada keadaan). Penduduk miskin mempunyai budaya miskin (culture of poverty). “Penyebab mereka miskin, karena mereka miskin. Penyebab orang menjadi miskin adalah karena ia terjebak dalam perangkap kemiskinan (kemiskinan materil, kelemahan jasmani, isolasi, kerentanan, dan ketidakberdayaan)” (Nazamuddin: 2009). Kemiskinan merupakan masalah sosial dan kultural, sehingga penanggulangan kemiskinan harus melibatkan transformasi sosial dan kultural pula, termasuk perubahan nilai-nilai (misal etos kerja). Teori Liberal menyatakan bahwa manusia sebenarnya adalah makhluk yang baik, tetapi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan penuh diskriminasi dan peluang yang sempit. Bila kondisi sosial ekonomi diperbaiki dengan menghilangkan diskriminasi dan memberikan peluang yang sama, maka budaya kemiskinan akan segera ditinggalkan.
4) Teori Konservatif diambil dari Nazamuddin, “Atas Nama Kemiskinan” , adalah dosen FE Unsyiah, salah satu
pendiri The Aceh Institute, dan Direktur Perencanaan BRR NAD-Nias.

2.3. Poverty Gap Kemiskinan yang meluas merupakan tantangan besar terhadap upaya-upaya pembangunan. Kemiskinan merupakan faktor penghambat pembangunan, karena dengan adanya kemiskinan berarti terdapat ketergantungan. Ketergantungan tersebut yang kemudian menjadi beban pemerintah melalui alokasi anggaran pengentasan kemiskinan. Salah satu indikator umum yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan di suatu negara adalah tingkat kesenjangan kemiskinan (poverty gap). Total Poverty Gap dapat diukur dengan cara membandingkan pendapatan minimal atau garis kemiskinan dengan pendapatan yang diperoleh penduduk miskin. Total poverty gap menunjukkan nilai total pendapatan suatu negara yang dibutuhkan untuk meningkatkan pendapatan penduduk dibawah garis kemiskinan menjadi diatas garis kemiskinan.

…..………………………………………………………………………… (2.1) Average Poverty Gap menggambarkan kesenjangan kemiskinan per kapita, dapat diukur dengan, …………………………………………………………………………………….. (2.2) Normalized Poverty Gap menunjukkan gambaran ukuran relatif poverty gap dengan garis kemiskinan absolute, nilainya antara 0 sampai 1. ……………………………………………………………………………………. (2.3)
Keterangan: TPG APG NPG Yp Yi H = Total Poverty Gap = Average Poverty Gap = Normalized Poverty Gap = Garis kemiskinan absolut (Rupiah) = Pendapatan penduduk i (Rupiah) = Jumlah Penduduk Miskin

Sumber: Todaro (2008)

Gambar 2.3. Mengukur Kesenjangan Kemiskinan 2.4. Studi Konvergensi Pertumbuhan Studi kondisi makro ekonomi terhadap tingkat kemiskinan dapat dilihat dari konvergensi pertumbuhan ekonominya. Studi konvergensi pertumbuhan ekonomi menyatakan bahwa suatu wilayah/daerah/negara tertinggal dapat mengejar ketertinggalannya apabila pertumbuhan ekonominya konvergen, jika tidak maka wilayah/daerah/negara tersebut tidak bisa mengejar ketertinggalannya. Adanya perbedaaan pendapatan per kapita pada masing-masing daerah akan menimbulkan suatu permasalahan yang menarik. Apakah ekonomi daerah miskin dapat tumbuh lebih cepat dari pada ekonomi daerah kaya. Apabila bisa, daerah miskin tersebut mempunyai kecenderungan untuk mengejar (catch-up) ketertinggalan dari daerah kaya, atau bisa diartikan dengan konvergensi. Perekonomian yang konvergen merupakan perekonomian daerah miskin dapat mengurangi gap pendapatan dengan wilayah atau daerah kaya tiap tahunnya. Dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi yang konvergen dari suatu daerah akan mencapai pertumbuhan ekonomi yang mantap atau steady state (Barro dan Sala-i-Martin, 1995). Hasil studi konvergensi pertumbuhan ekonomi di tingkat negara dan provinsi di Indonesia. Wulan Sari (2006) telah melakukan studi konvergensi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hasil studi menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang menunjukkan konvergensi. Artinya bahwa wilayah-wilayah yang tertinggal di Indonesia akan dapat mengejar ketertinggalannya. Sebaliknya, studi konvergensi di Jawa Timur mennujukkan hasil yang berbeda (Wulan Sari, 2007). Artinya bahwa wilayahwilayah miskin yang ada di Jawa Timur tidak bisa mengejar ketertinggalannya dengan wilayah-wilayah

kaya. Untuk itu, dengan melihat tingkat konvergensi di masing-masing provinsi bisa menentukan provinsi mana yang harus mendapat prioritas dalam mengejar ketertinggalannya. Selain dengan melihat konvergensi pertumbuhan ekonomi, studi ekonomi makro terhadap tingkat kemiskinan dapat dilihat melalui hubungan ketimpangan pendapatan dengan pertumbuhan ekonomi. Seperti pendapat Ravallion dan Chen (2003) dalam Heshmati (2004), keuntungan potensial pertumbuhan ekonomi di negara miskin ternyata diimbangi dengan kebijakan redistribusi yang tidak seimbang dan juga peningkatan ketimpangan yang mengiringi pertumbuhan ekonomi. Ravallion dan Datt (2000) dalam Heshmati (2004) juga bependapat meski peningkatan ketimpangan yang terjadi pada sistem ekonomi liberal dan pasar ekonomi terbuka meningkatkan pendapatan masyarakat dan secara proporsional dapat mengurangi kemiskinan, penduduk miskin di negara sedang berkembang selalu masuk dalam daftar paling bawah distribusi pendapatan. Selain itu, hubungan antara pertumbuhan ekonomi, ketimpangan dan pengaruhnya terhadap kemiskinan juga dilakukan. Adams (2002) dengan data dari World Bank Report 2000/01 dengan objek 55 negara . Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi mengurangi kemiskinan. Saat distribusi pendapatan relatif stabil sepanjang tahun, maka pertumbuhan ekonomi yang mengindikasikan kenaikan pendapatan, memiliki pengaruh umum untuk meningkatkan pendapatan seluruh penduduk termasuk penduduk miskin. Dalam penelitian tesebut penduduk miskin di negara sedang berkembang yang didefinisikan memiliki pendapatan minimal $1 per harinya, cenderung dikelompokkan di atas garis kemiskinan. Penduduk miskin memilki kemampuan untuk meningkatkan pendapatannya dengan bekerja pada sektor-sektor padat karya, sehingga mereka dapat keluar dari kemiskinan mereka. Beberapa studi kemiskinan yang sudah dilakukan menyatakan bahwa banyak program-program pengentasan kemiskinan kurang efektif. Menurut Suyanto dkk (2008), upaya penanggulangan kemiskinan yang dilakukan hingga kini masih belum membuahkan hasil yang memuaskan. Masih banyak penduduk Indonesia baik di desa maupun di kota yang hidup dibelit kemiskinan. Di sisi lain, tak bisa diingkari, fakta bahwa kendati jumlah orang miskin menurun, namun kesenjangan dalam banyak hal justru semakin lebar. Di samping itu, faktor lain yang menyebabkan berbagai program pengentasan kemiskinan menjadi kurang efektif tampaknya adalah berkaitan dengan kurangnya dibangun ruang gerak yang memadai bagi masyarakat miskin itu sendiri untuk memberdayakan dirinya. Acap terjadi, kegiatan pembangunan yang bertujuan untuk mensejahterakan penduduk miskin justru terjebak menjadi program yang melahirkan ketergantungan baru, dan bahkan mematikan potensi swakarsa lokal. Selama ini pendekatan pemerintah dalam mengatasi kemiskinan —baik di tingkat nasional, regional maupun lokal— umumnya adalah dengan menerapkan pendekatan ekonomi semata, yang seringkali kurang mengabaikan peran kebudayaan dan konteks lokal masyarakat. Kendati secara harafiah nama berbagai program pengentasan kemiskinan berbedabeda, tetapi substansinya sesungguhnya hampir sama, yakni memberikan aliran modal kepada masyarakat miskin dan meminta mereka bekerja lebih keras untuk memberdayakan dirinya sendiri. Memang, untuk jangka pendek pemberian bantuan ekonomi itu bermanfaat. Tetapi, untuk jangka panjang sesungguhnya pemberian bantuan ekonomi itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah kemiskinan secara tuntas. Banyak bukti memperlihatkan bahwa pemberian bantuan ekonomi saja ternyata justru melahirkan problem-problem baru yang tidak kalah ruwetnya. Bahkan, tidak mustahil terjadi diperolehnya bantuan modal pinjaman kredit justru merupakan titik awal dari macam-macam masalah lain dan kehancuran usaha masyarakat miskin. Implementasi program penanggulangan di lapangan ternyata tidak selalu seperti yang diharapkan. Bahkan, dalam beberapa hal, pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan yang semula diharapkan dapat memberdayakan penduduk miskin, ternyata dalam kenyataan justru melahirkan bentuk ketergantungan baru dan berbagai penyimpangan yang menyebabkan pada akhirnya pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan menjadi tidak efektif. Studi lain tentang pengentasan kemsikinan di Indonesia juga dilakukan oleh World Bank (2007). Dalam laporannya, World Bank menyatakan bahwa ada tiga perubahan sedang berlangsung di Indonesia yang berpotensi membantu masyarakat miskin. World Bank menyarankan kebijakan yang bisa membuat perubahan-perubahan tersebut dapat efektif mengurangi kemiskinan. Adapun perubahan tersebut adalah pertama, seiring dengan pertumbuhan, perekonomian Indonesia sedang berubah dari perekonomian yang mengandalkan sektor pertanian menjadi perekonomian yang akan lebih banyak mengandalkan sektor jasa dan industri. Kedua, seiring menguatnya demokrasi, pemerintah sedang berubah dari penyedia sebagian

besar layanan oleh pusat menjadi pemerintah yang akan lebih banyak mengandalkan pemerintah daerah. Ketiga, seiring dengan integrasi Indonesia kedalam dunia internasional, sistem perlindungan sosialnya sedang dimodernisir sehingga secara sosial Indonesia menjadi setara dan kompetitif di bidang ekonomi. Berbagai tindakan diperlukan di beberapa bidang untuk menangani empat butir penting dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia yaitu (i) mengurangi kemiskinan dari segi pendapatan melalui pertumbuhan, (ii) memperkuat kemampuan sumber daya manusia, dan (iii) mengurangi tingkat kerentanan dan risiko di antara rumah tangga miskin, dan juga (iv) memperkuat kerangka kelembagaan untuk melakukannya dan membuat kebijakan publik lebih memihak masyarakat miskin. Strategi Dobrakan Besar (Big Push Strategy) Penanggulangan kemiskinan merupakan kebijakan yang harus konsisten dilakukan oleh pemerintah. Penanggulangan kemiskinan sebagai bentuk kebijakan pembangunan merupakan tanggung jawab semua elemen bangsa. Hal ini disadari oleh kenyataan bahwa kemampuan pemerintah dalam mendanai pelaksanaan kebijakan penanggulangan kemiskinan sangat terbatas. Oleh karena itu diperlukan pemahaman tentang peran strategis yang harus dilakukan oleh pemerintah. Peran strategis yang dilaksanakan pemerintah harus dilakukan dalam batas-batas dimana kebijakan pemerintah yang sedang dan yang akan dijalankan benarbenar dapat bermanfaat secara luas bagi penduduk miskin dan lebih khusus lagi manfaatnya bagi masyarakat dan keluarga miskin. Jeffrey Sachs’s (2005) mengatakan bahwa untuk mengakhiri kemiskinan pada suatu waktu dapat diketahui dari poverty trap models dan resep kebijakan yang tepat sasaran. Peningkatan bantuan luar negeri sangat diperlukan untuk mengurangi tingkat kemiskinan yang ekstrem (pendapatan dibawah US$ 1 per hari). Dia juga beranggapan bahwa ketika kemiskinan sudah mencapai tingkat ekstrem, penduduk miskin tidak memiliki kemampuan –oleh dirinya sendiri- untuk keluar dari kekacauan tersebut. “When people are poor, but not entirely destitute, they may be able to save. When they are utterly destitute, they need their entire income, or more, just to survive.” (Sachs: 2005, p.56). Badan Pusat Statistik (BPS) masih sering menerbitkan angka-angka kemiskian berdasarkan pendekatan kemiskinan absolut, lebih kurang mengacu pada definisi kemiskinan oleh Prof. Sayogyo (1977). Kemiskinan absolut diukur dengan menghitung jumlah penduduk yang memiliki pendapatan perkapita yang tidak mencukupi untuk mengkonsumsi barang dan jasa yang nilainya ekuivalen dengan 20 kg beras per kapita per bulan untuk perdesaan dan 30 kg untuk perkotaan, tidak lain adalah ketidakcukupan kebutuhan dasar. Standar kecukupan pangan dihitung setara 2100 kilo kalori per kapita per hari ditambah dengan kebutuhan minimum bukan makanan. Komponen kebutuhan nonmakanan menurut Nazamuddin (2009) antara lain kebutuhan perumahan (sewa rumah, pemeliharaan rumah,bahan bakar, penerangan, air, fasilitas jamban, perlengkapan mandi), kebutuhan sandang (pakaian dan alas kaki), kebutuhan pendidikan (iuran SPP, buku pelajaran, alat tulis), kebutuhan kesehatan (berobat sendiri, berobat ke Puskesmas, berobat ke dokter/mantri kesehatan), kebutuhan transportasi (ongkos angkutan), dan kebutuhan dasar nonmakanan lainnya (rekreasi, kasur, bantal, sapu, pisau, kompor, periuk, PBB,dll.). Garis kemiskinan (Poverty Line), yakni standar minimum yang diperlukan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhan standarnya, atau nilai pengeluaran untuk kebutuhan makan dan bukan makanan per kapita per bulan. Oleh karena itu, persentase penduduk miskin yang hidup di bawah garis kemiskinan menjadi patokan keberhasilan sebuah kebijakan penganggulangan kemiskinan. Angka kemiskinan dalam bentuk persentase bernilai semu (Nazamuddin: 2009). Jumlah penduduk miskin dapat bertambah seketika bila terjadi kemerosotan ekonomi dan naiknya harga-harga. Dan dapat berkurang seketika bila sedikit saja ekonomi membaik. Yang harus menjadi tolok ukur seharusnya yakni standar kehidupan nyata penduduk miskin. Program pemerintah yang bersifat segera, ibarat obat penghilang rasa nyeri (pain killer), tapi tidak dapat menyembuhkan secara permanen. Sehingga diperlukan suatu dobrakan besar (big push). Growth with equity atau pertumbuhan dengan kemerataan sangat diperlukan untuk mengurangi ketimpangan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi diperlukan untuk mengatasi kemiskinan, yakni pertumbuhan yang bukan menguntungkan pihak kapitalis, melainkan pertumbuhan yang memberikan lapangan kerja dan kesempatan usaha bagi penduduk miskin. Penanggulangan kemiskinan harus dimulai dari akar masalah penyebab kemiskinan. Sebagai contoh, orang miskin yang sekarang mungkin sudah berusia lanjut barangkali tidak mungkin lagi diberdayakan atau orang yang cacat dan rentan mungkin sulit

diberdayakan maksimal. Tetapi hal yang penting dan sangat diperlukan yakni siklus kemiskinan harus diputus. Oleh karena itu diperlukan pertumbuhan yang cukup tinggi untuk menciptakan kesempatan kerja yang besar. Kesempatan yang sangat luas untuk bekerja dan meningkatkan produktivitas. Menurut Nazamuddin (2009) langkah yang harus ditempuh pemerintah untuk mengurangi kemsikinan diantaranya yaitu: Pertama, yang utama adalah memberikan pengakuan kepada rumah tangga miskin atas hak. Pada hakekatnya, merubah aset mati atau menganggur menjadi modal yang hidup (turn dead assets into living capital) dan dengan demikian dapat menjadi peluang kepada rumah tangga miskin untuk meningkatkan produktifitasnya. Kedua, ciptakan peluang-peluang usaha bisnis. Ketiga, menciptakan peluang lebih baik untuk generasi kedua dari keluarga miskin. seperti Beasiswa, biaya kesehatan (imunisasi, vaksinasi, dll.). Keempat, infrastruktur, baik dalam skala besar maupun skala kecil. Pembangunan infrastruktur skala besar akan mengundang investor besar dan secara langsung menciptakan lapangan kerja yang memberi pendapatan. Infrastruktur dalam skala kecil di perdesaan akan menghubungkan desa-desa dan desa dengan pusat-pusat bisnis. Infrastruktur fasilitas umum dan sosial juga menjadi asset sosial yang melayani semua penduduk, termasuk keluarga miskin. 2.5. Teori Pertumbuhan dan Pembangunan 2.5.1. Teori Pertumbuhan Ekonomi 2.5.1.1 Teori Pertumbuhan Linier Rostow (Stages of Growth Models) Dalam pembangunan ekonomi di suatu negara terdapat tahap-tahap pembangunan yang dilalui. Pembangunan ekonomi suatu negara tidak langsung dihadapkan pada modernisasi ekonomi secara langsung atau kemajuan ekonomi yang pesat secara tiba-tiba. Pembangunan ekonomi suatu negara pasti mengikuti tahap-tahap pembangunan yang runtut. Pembangunan pertumbuhan ekonomi menurut Rostow terjadi secara bertahap dan terjadi secara linier, yang artinya suatu proses pertumbuhan tersebut akan terjadi secara berurutan dan tidak rancu. Rostow dalam stages- of growth- models of development, mengemukakan bahwa dalam proses pembangunannya, suatu negara akan melalui beberapa tahapan yang utama sebagai berikut: 1. Tahapan tradisional, dengan pendapatan per kapita yang rendah dan kegiatan ekonomi yang stagnan; hal ini dikarenakan sektor perekonomian didominasi oleh pertanian dengan cara tradisional sehingga produktifitasnya sangat rendah. 2. Tahapan transisional, di mana tahap prakondisi bagi pertumbuhan dipersiapkan; pada tahap ini investasi mulai meningkat dan perekonomian tumbuh secara dinamis dimana sektor industri sudah mulai muncul untuk mendorong perekonomian. 3. Tahapan lepas landas (ini merupakan permulaan bagi adanya proses pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan); pertumbuhan ekonomi mulai tumbuh secara dinamis dan berkelanjutan, dimana terdapat leading industry dalam perekonomian. 4. Tahapan awal menuju ke kematangan ekonomi; ditunjukkan dengan nilai investasi yang besar dalam pembentukan PDB, dan kenyamanan hidup serta transformasi social menjadi lebih baik, serta 5. Tahapan produksi dan konsumsi massal yang bersifat industri (inilah tahapan pembangunan atau development stage), dimana kehidupan masyarakat diberi penawaran pada banyak pilihan untuk dikonsumsi. Tahapan teori pertumbuhan pembangunan Rostow dapat digambarkan melalui grafik 2.1 berikut ini:

Sumber: Potter, Bins, Eliott & Smiith (1999)

Gambar 2.3. Teori Pertumbuhan Rostow Tabel 2.1. Teori Pembangunan Industri Rostow

Sumber: Teacherweb (2008)

Berdasarkan Tabel 2.1 tersebut, dapat dilihat tahapan-tahapan yang dilalui suatu negara dalam proses pembangunan sektor industri. Tabel tersebut menunjukkan arah pembangunan sektor industri dimulai dari tahap pertama yakni traditional society, tahap kedua precondition for take off, kemudian tahap ketiga take off, dan keempat drive to maturity, terakhir mass consumption, kemudian dari tahapan tersebut digolongkan berdasarkan karakteristik bidang pembangunan, yakni ekonomi, kemasyarakatan, kekuatan politik dan nilai yang ditanamkan. 2.5.1.2 Teori Pertumbuhan Harrod-Domar Teori pertumbuhan Harrod-Domar mengembangkan analisis Keynes dengan memasukkan masalah-masalah ekonomi jangka panjang, serta berusaha menunjukkan syarat yang dibutuhkan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang dengan mantap (steady growth). Pembangunan ekonomi menurut Harrod-Domar terjadi karena adanya tabungan baik oleh private sector maupun government sector pada perekonomian. Model Harrod-Domar menggambarkan sebuah persamaan yang menunjukkan hubungan fungsional secara ekonomis antara berbagai variabel pokok ekonomi. Model ini menyatakan bahwa tingkat pertumbuhan GDP (g) secara langsung tergantung pada tingkat tabungan nasional (s) dan sebaliknya akan menentukan rasio modal-output (v), sehingga persamaannya adalah

g = s / v ………………………………………………………………………………….………………. (2.4) Harrod-Domar menjelaskan bagaimana aggregate supply meningkat. Investasi mempunyai dua dampak utama, yakni pada sisi aggregate demand, dimana sektor industri berkembang cepat dan pada sisi aggregate supply, dimana tingkat investasi yang meningkat mendorong peningkatan stok modal dan memungkinkan industri memproduksi lebih banyak pada periode berikutnya. Pada fungsi produksi dapat dilihat besar capital yang diperlukan untuk membentuk output, dimana: Y = a . K ………………………………………………………………………………………………….. (2.5) dimana, a adalah produktifitas modal: DY/DK, dan nilainya konstan Sekarang kita dapat menentukan bagaimana perubahan modal mempengaruhi perubahan pendapatan. DY = a . DK ……………………………………………………………………………………………… (2.6) Perubahan modal dipengaruhi oleh industri dan investasi pemerintah, DK = Ia ………………………………………………………………………………………………….. (2.7) Sekarang kita mengasumsikan bahwa tidak akan terjadi modal keluar, dengan kata lain tidak terjadi depresiasi mata uang domestik. Kembali pada kondisi ekuilibrium (S=I), kita membuat model baru untuk kasus pada jangka panjang. s . Y = Ia = DK, tapi kita ketahui bahwa DK = DY / a ………………………………………………….. (2.8) s . Y = DY/a ………………………………………………………………………………………………. (2.9) s . a = DY/Y …………………………………………………………………………………………...… (2.10) dimana DY/Y = g, menunjukkan tingkat pertumbuhan GNP sehingga, g = s . a …………………………………………………………..……………………………………....(2.11) apabila terjadi depresiasi mata uang, maka, g = s . a – d ……………………………………………………..……………………………………… (2.12) karena K = v . Y, dan v = 1/a, maka, g = s/v dan apabila memasukkan depresiasi mata uang maka, g = s/v – d ………………………………………………………………………………………………. (2.13)
SDepreciation Rate v Capital/Output = K/Y Saving Rate GDP or g a =or Productivity Ratio Y/K

Id S DCapital

C

In

Sumber : Carlos A. Benito (2008)

Gambar 2.4. Model Pertumbuhan Harrod-Domar Gambar diatas menjelaskan mengenai siklus pertumbuhan ekonomi suatu negara, dimana Harrod-Domar menekankan pada produktifitas dan tingkat tabungan suatu negara sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembentukan investasi. Harrod-Domar juga memasukkan depresiasi sebagai salah satu faktor yang turut mempengaruhi pembentukan kapital dalam perekonomian. Hal tersebut diperjelas pada gambar 2.3 berikut ini.
Sumber : Carlos A. Benito (2008)

Gambar 2.5. Faktor-faktor yang menjelaskan Teori Pertumbuhan Harrod-Domar 2.5.2. Teori Struktural Teori Modernisasi –yakni teori yang mengatakan bahwa kemiskinan suatu negara berpangkal pada persoalan internal negara bersangkutan, sehingga solusinya adalah memodernkan negara tersebut– menjadi pilihan utama untuk menjelaskan dan menyelenggarakan pembangunan negara. Sebagian besar kaum terdidik yang berperan dalam wacana pembangunan di Indonesia adalah para lulusan Barat yang berkiblat pada paradigma modernisasi. Menurut Arief (2009), upaya pemberantasan kemiskinan dan pembangunan negara di Negara Sedang Berkembang tidak akan berhasil jika struktur hubungan antara negara-negara maju dan negara-negara miskin tidak diubah. Karena struktur hubungan antara negara maju dan negara sedang berkembang tidak sejajar. Hal tersebut ditunjukkan melalui karakteristik negara-negara maju yang cenderung bersifat hegemonik dan eksploitatif terhadap mitra-mitranya yang lebih lemah. Teori Struktural merupakan dasar dari Teori Dependensi pembangunan ekonomi di negara sedang berkembang. Kemiskinan yg terdapat di negara-negara dunia ketiga yang mengkhususkan pada produksi pertanian adalah akibat dari struktur perekonomian dunia yg eksploitatif sehingga surplus yang dihasilkan perekonomian negara sedang berkembang beralih ke negara industri maju. Teori Struktural berpendapat bahwa kemiskinan yang terjadi di negara sedang berkembang, yang mengkhusukan diri pada produksi pertanian adalah akibat dari struktur pertanian, adalah akibat dari struktur perekonomian dunia yang eksploitatif dimana yang kuat mengeksploitasi yang lemah. Teori ini berpangkal pada filsafat materialisme yang dikembangkan Karl Marx. Salah satu kelompok teori yang tergolong teori struktural ini adalah teori ketergantungan yang lahir dari 2 induk pemikiran, yakni seorang ahli pemikiran liberal Raul Prebiesch dan teori-teori Marx tentang imperialisme dan kolonialisme serta seorang pemikir marxis yang merevisi pandangan marxis tentang cara produksi Asia yaitu, Paul Baran. Raul Prebisch5) (1978) mengatakan bahwa langkah yang harus dilakukan oleh negara sedang berkembang yakni dengan melakukan industri substitusi import. Menurutnya negara-negara terbelakang harus melakukan industrialisasi yang dimulai dari industri substitusi impor. Perdebatan tentang imperialisme dan kolonialisme. Hal ini muncul untuk menjawab pertanyaan tentang alasan bangsa-bangsa Eropa melakukan ekspansi dan menguasai negara-negara lain secara politisi dan ekonomis. Ada tiga teori: a.Teori God : adanya misi menyebarkan agama. b.Teori Glory : kehausan akan kekuasaan dan kebesaran.

c.Teori Gospel: motivasi demi keuntungan ekonomi. Paul Baran (1967) mengatakan bahwa tidak akan tercapai kemajuan pembangunan di negara sedang berkembang karena sentuhan yang mematikan dan kretinisme dari negara-negara maju. Perkembangan kapitalisme di negara-negara pinggiran (negara sedang berkembang) berbeda dengan kapitalisme di negaranegara pusat (negara maju). Di negara sedang berkembang sistem kapitalisme seperti terkena penyakit kretinisme yang membuat pembangunan di negara tersebut tidak akan berkembang atau tetap kerdil.
5) Raul Prebisch adalah Direktur Economic Commision for Latin America (ECLA), pemikirannya cenderung
condong pada mahzab liberal. Dia membagi negara-negara di dunia menjadi dua kelompok yaitu pusat (core) yakni negara maju dan pinggiran (periphery) yakni negara sedang berkembang.

2.5.3. Teori Dependensi Teori Dependensi berendapat bahwa pembangunan yang terjadi di negara sedang berkembang sangat tergantung dari pembangunan di negara maju. Andre Gunder Frank (1967) dalam Nugroho (2006) beranggapan bahwa pembangunan yang terjadi di negara sedang berkembang tidak akan mampu memakmurkan masyarakat di negara tersebut. Karena dengan istilahnya “pembangunan keterbelakangan”, pembangunan di negara sedang berkembang hanya terjadi antara kaum kapitalis negara maju dengan pemerintah karena tujuan politik. Menurutnya keterbelakangan hanya dapat diatasi dengan revolusi, yakni revolusi yang melahirkan sistem sosialis. Sedangkan menurut Theotonio De Santos (1960) dalam Nugroho (2006) membantah pernyataan yang diungkapkan oleh AG Frank. Menurutnya ada 3 bentuk ketergantungan, yakni : a. Ketergantungan Kolonial: hubungan antar penjajah dan penduduk setempat bersifat eksploitatif. b. Ketergantungan Finansial-Industri: pengendalian dilakukan melalui kekuasaan ekonomi dalam bentuk kekuasaan financial-industri. c. Ketergantungan Teknologis-Industrial: penguasaan terhadap surplus industri dilakukan melalui monopoli teknologi industri. Ada 6 inti pembahasan teori ketergantungan: 1. Pendekatan keseluruhan melalui pendekatan kasus. Gejala ketergantungan dianalisis dengan pendekatan keseluruhan yang memberi tekanan pada sisitem dunia. Ketergantungan adalah akibat proses kapitalisme global, dimana negara pinggiran hanya sebagai pelengkap. Keseluruhan dinamika dan mekanisme kapitalis dunia menjadi perhatian pendekatan ini. 2. Pakar eksternal melawan internal. Para pengikut teori ketergantungan tidak sependapat dalam penekanan terhadap dua faktor ini, ada yang beranggapan bahwa faktor eksternal lebih ditekankan, seperti Frank Des Santos. Sebaliknya ada yang menekan factor internal yang mempengaruhi/ menyebabkan ketergantungan, seperti Cordosa dan Faletto. 3. Analisis ekonomi melawan analisi sosiopolitik Raul Plebiech memulainya dengan memakai analisis ekonomi dan penyelesaian yang ditawarkanya juga bersifat ekonomi. AG Frank seorang ekonom, dalam analisisnya memakai disiplin ilmu sosial lainya, terutama sosiologi dan politik. Dengan demikian teori ketergantungan dimulai sebagai masalah ekonomi kemudian berkembang menjadi analisis sosial politik dimana analisis ekonomi hanya merupakan bagian dan pendekatan yang multi dan interdisipliner analisis sosiopolitik menekankan analisa kelas, kelompok sosial dan peran pemerintah di negara pinggiran. 4. Kontradiksi sektoral/regional melawan kontradiksi kelas. Salah satu kelompok penganut ketergantungan sangat menekankan analisis tentang hubungan negaranegara pusat dengan pinggiran ini merupakan analisis yang memakai kontradiksi regional. Tokohnya adalah AG Frank. Sedangkan kelompok lainya menekankan analisis klas, seperti Cardoso. 5. Keterbelakangan melawan pembangunan. Teori ketergantungan sering disamakan dengan teori tentang keterbelakangan dunia ketiga. Seperti dinyatakan oleh Frank. Para pemikir teori ketergantungan yang lain seperti Dos Santos, Cardoso, Evans menyatakan bahwa ketergantungan dan pembangunan bisa berjalan seiring. Yang perlu dijelaskan adalah sebab, sifat dan keterbatasan dari pembangunan yang terjadi dalam konteks ketergantungan. 6. Voluntarisme melawan determinisme

Penganut marxis klasik melihat perkembangan sejarah sebagai suatu yang deterministic. Masyarakat akan berkembang sesuai tahapan dari feodalisme ke kapitalisme dan akan kepada sosialisme. Penganut Neo Marxis seperti Frank kemudian mengubahnya melalui teori ketergantungan. Menurutnya kapitalisme negara-negara pusat berbeda dengan kapitalisme negara pinggiran. Kapitalisme negara pinggiran adalah keterbelakangan karena itu perlu di ubah menjadi negara sosialis melalui sebuah revolusi. Dalam hal ini Frank adalah penganut teori voluntaristik.

Referensi : Achmadi. 2006. Pengerahan Modal Untuk Pembangunan. Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga: Surabaya. Achmadi. 2006. Poverty, Inequality And Development. Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga: Surabaya. Baran, Paul A. 1967. The Political Economy of Growth (4th prtg. 1967). Bloom dan Canning. 2001. The Health and Poverty of Nations: From Theory to Practice. School of Public Health, Harvard University: Boston and Dept. of Economics, Queens University: Belfast. Budiman, Arief. 2000. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Gramedia: Jakarta. Chen, Shaohua dan Martin Ravallion. 2007. How Have the World's Poorest Fared Since the Early 1980s? Kerbo, Harold. 2006. Social Stratification and Inequality: Class Conflict in Historical, Comparative, and Global Perspective, 6th edition New York: McGraw-Hill. Mayer, Susan. 2009. Breaking the Cycle of Poverty. Chicago Chronicle 16 (1997). University of Chicago. 4 March. http://chronicle.uchicago.edu/970417/mayer.shtml. Moore, Wilbert. 1974. Social Change. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hill. Nazamuddin. 2009. Atas Nama Kemiskinan. FE-Universitas Syiah-Kuala: Aceh. Nugroho, Rino A. 2006. Teori Dependensi: Awal, Inti, Perkembangan dan Kritik. Nurske, Ragnar .1952. Problems of Capital Formation in Underdeveloped Countries Oxford : Basil Blackwell. Parsons, Talcott. 1966. Societies: Evolutionary and Comparative Perspectives. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall. Payne, R. 2005. A Framework For Understanding Poverty (4th Edition). Highland, TX: aha! Process, Inc. Prebisch Raul. 1978. Socioeconomic Structure and Crisis of Peripheral Capitalism. CEPAL Review. Sagrim, Hamah. 2009. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. International Institute Research Culture Society And Natural Protection (IRCSNP) – UNHCR. Sharp, A.M., Register, C.A., Grimes , P.W. 2000. Economics of Social Issues 14th edition. New York: Irwin/McGraw-Hill. Spicker, Paul. 2002. Poverty and the Welfare State : Dispelling the Myths. A Catalyst Working Paper, London: Catalyst. Valentine, C. A. 1968. Culture and Poverty. University of Chicago: London. World Bank dan International Monetary Fund. 2001. Financial Impact of the Heavily Indebted Poor Countries: First 22 Country Cases. Retrieved from http://www.worldbank.org. World Bank dan International Monetary Fund. 2001. Heavily Indebted Poor Countries, Progress Report. Retrieved from http://worldbank.org.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->