P. 1
Makalah Jean Piaget

Makalah Jean Piaget

4.5

|Views: 4,054|Likes:
Published by Eka Dharma
putu eka dharma putra
putu eka dharma putra

More info:

Published by: Eka Dharma on Dec 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar belakang Perkembangan itu memang menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi. Namun dalam prosesnya tentulah mesti berkesinambungan, kontinyu, dan bertahap sesuai kemapuan atau level kemampuan itu. Inilah yang kemudian berkembangan menjadi fase-fase, atau tahapan-tahapan perkembangan. Pemahaman fase-fase perkembangan anak bagi seorang pendidik adalah penting dan wajib hukumnya. Sebab, lewat pemahaman mengenai fase-fase perkembangan anak, kita sebagai pendidik akan memperoleh sebuah acuan penting dalam mengajar, mendidik ataupun pemilihan bahan ajar yang kemudian bisa dikomunikasikan kepada anak ataupun peserta didik agar kemudian tau, paham dan mampu merepresentasikan oleh sang anak saat bersosialisasi pada level yang lebih tinggi atau turun kelapangan. Memahami fase-fase perkembangan adalah sama artinya memahami dunia anak. Dalam memahami dunia mereka secara aktif, anak-anak menggunakan skema (kerangka kognitif atau kerangka referensi). Sebuah skema (schema) adalah konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Skema bisa merentang mulai dari skema sederhana (seperti skema sebuah mobil) sampai skema kompleks (seperti skema tentang apa yang membentuk alam semesta). Anak usia enam tahun yang mengetahui bahwa lima mainan kecil dapat disimpan di dalam kotak kecil berukuran sama berarti ia sudah memanfaatkan skema angka atau jumlah. Minat Piaget terhadap skema difokuskan pada bagaimana anak mengorganisasikan dan memahami pengalaman mereka.
( perkembangan dan pendidikan, jamri dafrizal,S.Ag.S.S,M.Hum, scribd.com, 27 nov, 12:28 2009). 1 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

Lewat skema-skema anak dapat diambil sebuah acuan untuk kemudian dievaluasi. Dengan kata lain memahami perkembang anak ialah melibatkan skema ini. Pemahaman yang benar terhadap fase-fase perkembangan itu, tentu memberikan sebuah acuan. Dan semuanya itu, sudah pasti melewati sebuah evaluasi atau pengkajian. Ini mengartikan betapa pentingnya pemahaman terhadap fase-fase perkembangan dari anak untuk mendapat sebuah acuan dalam implementasi pengajaran terhadap anak. Pentingnya pemahaman terhadap fase-fase perkembangan anak menurut jean piaget ini tak serta merta sebagai acuan dalam evaluasi untuk pengajaran terhadap peserta didik. Tapi hal ini juga penting mengingat sebagai calon pendidik atau sudah merupakan pendidik yang ideal dan professional, teori ini dianggap ideal dan lebih mudah dipahami untuk implementasi ilmu ajar ataupun kependidikan bagi para calon peserta didik ataupun peserta didik. Sehingga dirasa perlu adanya pemahaman agar ada realisasi nyata ke lapangan.

1.2.

Rumusan Masalah Sebagai seorang pendidik yang ideal sudah sewajarnya memahami fase-fase perkembangan sebelum memberikan suatu rangsang atau pemberian bahan ajar atau materi dari pserta didiknya. Evaluasi atau pengkajian atas fase-fase itu adalah solusinya. Namun, sebagai seorang pendidik yang ideal, yang mampu mengertikan keadaan peserta didik, mestilah memahami beberapa hal, seperti apakah pengertian perkembangan dari seorang individu…..? dan bagaimanakah tahapan-tahapan atau fase-fase dari perkembangan individu itu sendiri…? Disinilah perlu ada evaluasi awal atau pengkajian.

1.3.

Tujuan Adapun tujuan dari pengkajian terhadap fase-fase perkembangan individu ini adalah : a. Mencari gambaran umum untuk pendidik agar bisa menyesuaikan diri dalam mengajar atau mendidik peserta didik.
2 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

b.

Mengetahui karakteristik peserta didik agar nantinya ada kesesuaian antara gaya mengajar atau mendidik dengan gaya belajar dari pserta didik.

1.4.

Manfaat Adapun manfaat yang bisa diambil dari hasil evaluasi terhadap fase-fase perkembangan adalah : a. Mendapatkan gambaran umum mengenai peserta didik agar bisa menyesuaikan diri dalam mengajar atau mendidik sehingga apa yang diberikan bisa diterima dengan baik. b. Memperoleh pengetahuan mengenai karakteristik peserta didik agar nantinya ada kesesuaian antara gaya mengajar atau mendidik dengan gaya belajar dari peserta didik sehingga peserta didik bisa tau, paham dan mampu merepresentasikan apa yang ia dapat dari pendidik.

3 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Perkembangan
Perkembangan adalah perubahan secara kualitatif dari fungsi-fungsi pribadi manusia. Perkembangan seorang individu takkan berlangsung begitu saja. Perubahan itu kekal. Semuanya melalui sebuah tahap atau fase-fase perkembangan yang berjalan maju dan takkan pernah berjalan mundur. Perkembangan pada individu melibatkan berbagai factor yang saling bertautan satu sama lain. Selama menjalani perkembangan, seorang individu akan melewati suatu fase-fase menuju kesebuah perubahan. Menurut beberapa ahli seperti Seifert dan Hoffnung mendefinisikan

perkembangan sebagai “long term change in a persons growth, feeling, patterns of thinking, social relationships,and motor skills”. Yaitu perkembangan itu merupakan perubahan panjang pada pertumbuhan manusia, perasaan, pola piker, hubungan social, dan kemampuan motorik. Sementara itu Chaplin mengartikan perkembangan sebagai perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, mulai dari lahir sampai mati. Artinya perubahan atau perkembangan itu terjadi secara berkelanjutan. Bukan dalam artian perkembangan itu berhenti sejenak, lalalu kemudian berlanjut, tapi terjadi secara berangsur-angsur sesuai dengan levelnya, tahapnya yang disesuaikan dengan mental dan keadaan diri tentunya. Menurut Reni Akbar Hawadi, perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Artinya, perkembangan itu merupakan proses perubahan yang mulai dari tidak ada menjadi ada, dari kurang menjadi bisa atau lebih dalam konteks kemampuan, sifat dan cirri-ciri.
4 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

Menurut F.J. Monks, pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Dengan kata lain, perkembangan itu berubah dari hal yang kurang menuju yang hal yang lebih, atau yang kita sebut sebagai keunikan. Tidak dapat diulang dalam hal ini diartikan bahwa perkembangan itu terjadi secara kontinyu, berkelanjutan, berkesinambungan dan tentunya terorganisir. Pernyataan ini cukup mirip dengan pernyataan yang dinyatakan oleh Reni Akbar Hawadi di atas. Perkembangan menunjuk kepada sifat yang tetap,kekal dan memang tidak dapat diputar kembali, sebab perkembangan itu identik dengan yang kita sebut sebagai perubahan. Dan hanya perubahan yang bersifat kekal. Tapi bukan berarti perkembangan it terus dan terus terjadi, tapi ada saat-saat mereka cepat dan ada pula saat perkembangan itu mulai melambat atau dapat kita sebut mendekati puncak perkembangan, karena dasar kita berpikir seperti ini adalah manusia itu tidak ada yang sempurna. Dan lewat perubahan itu, manusia atau individu membenahi diri.

2.2.

Fase-fase perkembangan menurut Jean Piaget

Teori-teori Tokoh Psikologi, scribd.com

Jean Piaget (9 Agustus 1896 – 16 September 1980), seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan berkebangsaan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya. Jean Piaget adalah perintis besar dalam teori konstruktivis tentang pengetahuan, khususnya pada perkembangan kognitif individu.

5 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

Teori dari jean piaget ini menjelasakan menganai bagaimana anak itu beradaptasi dengan lingkungan, menginterpretasikan objek serta kejadian-kejadian sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek seperti mainan, perabot, dan makanan (masih dalam symbol-simbol) serta objek-objek sosial seperti diri, orang tua dan teman. Lebih jauh lagi teorinya ini juga menrangkan cara anak mengelompokan objek-objek untuk mengetahui dan menganalisis persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek dan perisiwa-peristiwa serta kemampuan membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut. Menurut piaget Perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan. Pengetahuan datang dari tindakan. Piaget juga meyakini bahwa pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan. Sementara itu bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat pemikiran itu menjadi lebih logis (Nur, 1998). Inilah yang kemudian kita kenal sebagai perkembangan kognitif. Piaget mengidentifikasi empat faktor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak, yaitu : 1. kematangan 2. pengalaman fisik / lingkungan 3. transmisi social 4. equilibrium (_____22496250-Pia-Get/wikipedia/pdf, scribd.com; 27 nov 2009 13:28) Semantara dari scribd.com artikel bebas yang di poskan May 25, 2008 mengenai Perkembangan ekuilibrasi saja. Anak Menurut Jean Piaget dan Vigotsky menyatakan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial, kematangan dan

6 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

Dalam memahami teori fase-fase perkembangan menurut jean piaget, ada beberapa konsep yang perlu diperhatikan : 1. Intelegensi Intelegensi adalah suatu bentuk ekuilibrium kearah mana semua struktur yang menghasilkan persepsi, kebiasaan, dan mekanisme sensorimotor diarahkan….(piaget, 1981, hlm. 6) dan secara progesif dapat dikatakan bahwa intelegensi membentuk keadaan yang ekuilibrium, kearah mana semua adaptasi sifat-sifat sensori motor dan kognitif dan juga interaksi-interaksi asimilasi dan akomodasi antara organism dan lingkungan mengacu (piaget, 1981,hlm.11). 2. Organisasi Organisasi menunjuk pada tendensi semua species untuk mengadakan sistematisasi dan mengorganisasi proses-proses mereka dalam suatu system yang koheren, baik secara fisis maupun psikologis. 3. Skema Sebuah skema (schema) adalah konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. ( perkembangan dan pendidikan, jamri dafrizal,S.Ag.S.S,M.Hum, scribd.com, 27 nov, 12:28 2009). 4. Asimilasi 5. Akomodasi 6. Ekuilibrasi Proses kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. (Ekuilibrasi (equilibration) adalah suatu mekanisme yang dikemukakan Piaget untuk menjelaskan bagaimana anak bergerak dari satu tahap pemikiran ke tahap pemikiran selanjutnya) 7. Adaptasi Adaptasi adalah cara penyesuaian diri individu dengan lingkungannya. Bagi Piaget proses akomodasi tersebut dapat disamakan dengan belajar. Konsep ini mejelaskan tentang perlunya menyesuaikan materi berpijak dari ide dasar yang
7 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

diketahui anak, untuk kemudian dikembangkan dengan stimulasi lebih luas misalnya dalam bentuk pertanyaan sehingga kemampuan anak meningkat dalam menghadapi pengalaman yang lebih kompleks. 8. Pengetahuan figurative dan operatif Pengetahuan figurative didapatkan dari gambaran langsung seseorang terhadap objek yang dipelajari(pengetahuan terhadap objek yang dipelajari. Menurut jean piaget perkembangan seorang individu dilihat dari keadaan psikologisnya dapat digambarkan melewati 4 fase yaitu : v Sensorimotor v Pra-operasional v Operasi konkret v Operasi formal tentang nama-nama barang). Sementara pengetahuan operatif didapat karena orang itu mengadakan operasi

2.2.1. Sensorimotor stage (umur 0-2 tahun )
“knows”, through active interaction with environment becomens aware of cause effect relationships learns that objects exist even when not in view crudely imitates the actions of others.( Psychiatric Nursing, Claudine J. Turla dkk, dalam PPT; 27 nov 2009; 12:28, scribd.com). Pada tahap ini, anak berinteraksi aktif dengan lingkungannya. Masa ini, masa untuk kemapuannya mulai mengartikan dunia yang mereka lihat. Bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra). Pada mulanya pengalaman itu bersatu dengan diri anak, ini berarti bahwa suatu objek itu dianggap ada bila berada pada penglihatannya. Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek yang mulanya terlihat kemudian menghilang dari pandangannya, asal perpindahanya terlihat. Akhir dari tahap ini ia mulai mencari objek yang hilang bila benda tersebut
8 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

tidak terlihat perpindahannya. Objek mulai terpisah dari diri sang anak dan bersamaan dengan itu, konsep objek dalam struktur kognitifnya pun mulai dikatakan matang. Dalam arti Ia mulai mampu untuk melambungkan objek fisik ke dalam symbol-simbol, misalnya mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan, suara binatang, dll. Intinya, pada masa kanak-kanak ini, anak belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya saja. Piaget (1952) mengatakan, bahwa ada dua proses yang bertanggungjawab atas cara anak menggunakan dan mengadaptasi skema mereka pada sensorimotor ini : 1. Asimilasi Asimilasi adalah pemasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Yakni, dalam asimilasi, anak mengasimilasikan lingkungan ke dalam suatu skema. 2. Akomodasi Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri atau beradaptasi pada informasi baru. Yakni, anak menyesuaikan skema mereka dengan lingkungannya. (Teori perkembangan kognitif jean piaget, Dr. paul suparno, Yogyakarta, kanisius 2001) Contoh, seorang anak berumur 2 tahun diberi sebuah pulpen untuk menuliskan sesuatu. Dia belum pernah menggunakan pulpen sebelumnya. Ia hanya memperhatikan orang lain sebagaimana mestinya menggunakan sebuah pulpen. Maka ia pun tau menggunakannya dengan memegang batangnya secara vertical dan mengoyang-goyangkan membentuk suatu pola (Asimilasi). Namun, karena baru pertama kali ia menulis maka yang terbentuk hanyalah coretancoretan biasa. Disinilah perlu penyesuaian gerakan pulpen yang tepat mebentuk suatu pola yang berarti. (Akomodasi).
9 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

Tahap Sensorimotor stage ini masih terbagai menjadi 6 sub-stages, yaitu: a. Reflex schema stage, occurs from birth to six weeks and is associated primarily with the development of reflexes. Pada tahap ini anak mulai mengembangkan kemampuan refleksnya (terjadi secara spontan, tidak sengaja dan tidak terbedakan). Anak belum dapat membedakan jenis-jenis rangsangan, ia akan menggenggam dan mengisap apapun yang dekat dengannya. Dalam teori perkembangan kognitif jean piaget, Dr. paul suparno; pada tahap ini anak melakukan gerakan menyusu, berarti telah melakukan asimilasi fungsional (melatih diri agar fungsi mengisapnya berjalan dengan baik.), melakukan asimilasi yang reproduktif, general assimilation (skema “mengisap “ diperluas tidak han ya sebat s menghisap susu ibu, tapi bendabendalain didekatnya) dan asimilasi rekognitif dimana anak atau bayi mulai membedakan dan menganal benda-benda yang diisap. Ciri sub-tahap ini, belum mempunyai konsep benda, konsep ruang masih bersifat fragmentaris, dan konsep kausalitas anak juga masih egosentris. b. Primary circular reaction phase, occurs from six weeks to four months and is associated primarily with the development of habits. Pada tahap ini umumnya, anak mulai muncul kebiasaan yang ia interpretasikan dari apa yang ia perhatikan dari lingkungannya (lewat pendengaran atau pengelihatan ). Cirri sub-tahap ini adalah : · · · · anak mulai meniru (imitasi,”suatu ungkapan bayiuntuk mengnal realitas dan berinteraksi dengan dunia secara aktif”), konsep benda sudah mulai berkembang, konsep ruang ada, yaitu mengikuti benda-benda yan bergerak atau yang bersuara. Konsep kausalitas belum bnyak berkembang

10 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

c. The secondary circular reactions phase, occurs from four to nine months and is associated primarily with the development of coordination between vision and prehension.

Tahap ini muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan. Ciri pada sub tahap ini : · · Konsep benda ada, anak dapat mengantisipasi secara visual letak sebuah benda. Konsep ruang berkembang, missal dalam kegiatan menyusu eorang bayi telah mengkoordinasikan ruang gerak mulut dan jamahan tangannya pada putting susu ibu. · Konsep kausalitas ada tapi masih egosentris.

d. The co-ordination of secondary circular reactions stage, which occurs from nine to twelve months, is when Piaget (1954) thought that object permanence developed. Tahap ini muncul dari usia Sembilan sampai dua belas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek). Cirri sub tahap ini : · · · Konsep benda ada, anak dapat mencari suatu benda yang disembunyikan sepanjang masih dalam pengelihatannya. Konsep ruang berkembang Konsep kausalitas ada, disini anak sadar untu pertama kalinya bahwa objek lainya dapat menyebabkan aktivitas tertentu.(wadsworth) (anak digelitik, maka ia akan tertawa)

11 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

e. The fifth sub-stage; the tertiary circular reactions phase, occurs from twelve to eighteen months and is associated primarily with the discovery of new means to meet goals. Tahap ini muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan. Cirri pada sub tahap ini : · · · Konsep benda mulai maju dan lengkap. Missal anak dapat memperhitungkan perpindahan berurutan suatu objek. Konsep ruang ada. Missal pada sub tahap ini anak mulai mengerti ada hubungannya anatara benda-benda dalam suatu ruangan. Konsep kausalitas semakin berkembang. Anak semakin sadar bahwa orang lain dan juga benda lain dapat menjadi penyebab suatu tindakan.

f. The sixth sub-stage, considered "beginnings of symbolic representation", is associated primarily with the beginnings of insight, or true creativity. Pada sub tahap ini dimulai sebuah representasi simbolik terutama tentang wawasan dan kreativitas. Ciri pada sub tahap ini : · Konsep benda sudah maju. Reprenstasi ini mebiarkan anak untuk mencari dan menemukan objek-objek yang disembunyikan. · Konsep ruang ada. Disini anak sadar akan gerakan suatu benda sehiungga dapat mencarinay secara masuk akal bila bnenda itu tidak kelihatan lagi. · Konsep kausalitas. Anak sadar akan apa yang dialihat tak mampu ia lakukan sehingga mencari jalan lain untuk menyelsaikannya secara sangat sederhaana. 2.2.2. Pre-operational period (umur 2–7)
12 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

sunguh-sungguh

Preoperational stage adalah tahap kedua dari empat tahap perkembangan intelektual atau kognitif seorang anak. Berdasarkan dari rangkaian observasi dari piaget, ia mendemonstrasikan bahwa diakhir tahun kedua anak terdapat perkembangan fungsi psikologinya. Pemikiran pra-operasional bisa dibagi lagi menjadi dua subtahap: 1. Fungsi simbolis (2-4 tahun) Sub tahap fungsi simbolis terjadi kira-kira antara usia dua sampai empat tahun. Dalam subtahap ini, anak kecil secara mental mulai bisa merepresentasikan objek yang tak hadir. Ini memperluas dunia mental anak hingga mencakup dimensi-dimensi baru. Penggunaan bahasa yang mulai berkembang dan kemunculan sikap bermain adalah contoh lain dari peningkatan pemikiran simbolis dalam subtahap ini. Contoh, anak kecil mulai mencoret-coret gambar orang, rumah, mobil, awan, dan banyak benda lain dari dunia ini. Anak melihat kapal ataukah heli. Dan karena penasaran dan keingintahuannya ia pun meniru kapal itu dengan merentangkan tangannya. Mungkin karena anak kecil tidak begitu peduli pada realitas, gambar mereka tampak aneh dan tampak khayal. Fungsi semiotic atau simbolis ini nampak jelas dalam lima gejala : a. Imitasi tak langsung Kemampuan anak untuk menirukan suatu objek atau kejadian dari apa yang telah ia alami sebelumnya secara tak langsung. Misal, anak diajak pergi kepasar. Ia melihat banyak barang dagangan. Hasil interpretasinya ini ialaha ia dapat beramaian pasar-pasaran, berdagang-dagangan dengan baranga-barang hasil tiruan dari apa yang telah ia perhatikan sebelumnya. b. Permainan simbolis Permainan yang berupa symbol-simbol saja dan masih bersifat imitative, yaitu meniru objek atau kejadian yan pernah dialami. c. Menggambar Mengambar dalam tahap ini berarti merupakan jembatan anatara permainan simbolis dan gamabaran mental. Unsusr permainan
13 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

simbolis terletak apada segi kesenangannya, sementara unsure gamabaran mental terletak pada usaha anak untuk mulai meniru sesuatu yanga real. d. Gambaran mental Gambaran mental adalah penggambaran secara pikiran suatu objek atau pengelaman yang lampau yang sifatnya masih statis. e. Bahasa ucapan Disini anak menggunakan suara atau bahasa untuk merepresentasi sebuah benda atau kejadian. Perkembangan bahasa ini sangat memperlancar perkembangan konseptual anak dan juga kognitif anak tentunya. 2. Pemikiran intuitif (4-7) Pemikiran intuitif adalah subtahap kedua dalam pemikiran

praoperasional, mulai sekitar usia empat tahun dan berlangsung sampai usia tujuh tahun. Pada subtahap ini, anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan. Piaget menyebut tahap ini sebagai "intuitif' karena anak-anak tampaknya merasa yakin terhadap pengetahuan dan pemahaman mereka, tetapi tidak menyadari bagaimana mereka bisa mengetahui apa-apa yang ingin mereka ketahui. Artinya, mereka mengatakan bahwa mereka tahu sesuatu tetapi mereka mengetahuinya tanpa menggunakan pemikiran rasional. Ada beberapa cirri pemikiran yang lain : · Pemikiran egosentris Pemikiran ini menyatakan bahwa anak percaya setiap orang itu berpikir sama denganya, dan ialah yang paling benar. Ketika bertemu dengan pandangan yang berlawanan maka ia akan berpikir bahwa orang lain itu salah dan ialah yang benar.
14 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

· Adaptasi yang tidak disertai gambaran yang akurat kemampuan anak untuk menyajikan dan mengingat pengalaman belum terstruktur secara menyeluruh. Misalanya anak disuruh mengambarakan suatu jalan menuju sekolah, ia hanya akan menggambarkan beberapa tempat yang kebetulan dingat dan diminatinya dan itu pun urutannya dapat terbalikbalik. · Reversibilitas belum terbentuk Kemampuan berpikir anak belum mampu mengulangi lagi gambarannya dari belakang kemuka. · Pengertian kekelaan belum lengkap Kekekalan berarti konsep yang menyatakan bahwa jumlah atau kuantitas suatu benda tetap sama meskipun ada perubahan unsure-unsurnya. · Klasifikasi figurative Disini anak mulai mampu menyusun atau mengklasifiaksikan benda berdasarkan pengtahuan figurative. Namun masih belum mampu dalam mengklasifikasikan kesamaan dan perbedaan. · Relasi ordinal /serial Disini anak masih bingung dalam membandinghkan suatu hal. Sehingga dalam penyusunan missal menyususn tongkat sesuai ketinggian sering keliru. · Kausalitas Anak mulai menyadari adanya konsep sebab-akibat, mulai mempertanyakan dirinya beserta lingkungannya, mekipun belum menangkap keseluruhannya.

15 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

Menurut Piaget, anak pada tahap pra-operasional juga tidak bisa melakukan apa yang disebutnya sebagai "operasi" (operation). Dalam teori Piaget, operasi adalah representasi mental yang dapat dibalik (reversible). Seperti dalam percobaan gelas kimia tersebut di atas, anak-anak prasekolah biasanya kesulitan untuk memahami bahwa membalikkan suatu tindakan akan menghasilkan kondisi awal dan tindakan tersebut. Dua contoh berikut ini akan membantu Anda memahami konsep operasi menurut Piaget. Seorang anak kecil mungkin tahu bahwa 4 + 2 = 6, tetapi ia tidak tahu bahwa kebalikannya, yakni 6 - 2 = 4 adalah benar. Tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun,mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan. 2.2.3. Operasional Konkret (6-12) Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah: a. Pengurutan Pengurutan adalah kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya.

16 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

Contohnya,

bila

diberi

benda

berbeda

ukuran,

mereka

dapat

mengurutkannya dari benda yangpaling besar ke yang paling kecil. b. Klasifikasi Klasifikasi adalah kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian bendamenurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaianbenda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan). c. Decentering Disini anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untukbisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapipendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi. d. Reversibility Pada tahapa ini anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudiankembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya. e. Konservasi Anak memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagaicontoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyakdengan isi cangkir lain.

17 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

f. Penghilangan sifat Egosentrisme Dalam hal ini ialah kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan “Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan”. Anak dalam tahap operasi konkrit ini akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang. (artikel bebas, teori perkembangan kognitif dari Wikipedia.com; 27 nov 2009 12:28) Note : Dari wikipedia menyatakan, tahapan ini terjadi pada usia 6-12 namun dalam teori perkembangan kognitif jean piaget oleh Dr. suparno, tahapan ini ada pada rentang 7-11 tahun. Menurut, Dr. paul suparno dalam Teori perkembangan kognitif jean piaget, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam perkembangan anak pada tahap operasi konkret : Ø Transformasi reversible Tahap Transformasi Reversibel merupakan suatu tahapan pada masa oparasi konkrit, dimana pada tahap ini anak sudah mulai mengerti proses transformasi atau perubahan, jadi si anak akan mengerti setiap langkah proses transformasi. Anak tidak melihat setiap langkah perubahan sebagai yang berdiri sendiri, tetapi sebagai satu kesatuan, misalkan, anak diberkan benda yang berputar. Ia sudah dapat melihat seluruh proses berputarnya, bukan hanya kedudukan akhir dan kedudukan awalnya. Ada dua macam transformasi reversibel pada tahap ini, yaitu inversi (kebalikan) dan resiprok (pencerminan). Menurut Piaget, suatu transformasi operasional selalu menunjukkan beberapa bentuk yang tetap dari suatu sistem.
18 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

Inversi merupakan suatu transformasi kebalikan. Contohnya dapat dilihat dari ilustrasi berikut, misalnya kita menyiapkan 2 buah koin berbeda warna. Warna kuning dan putih. Kita tutup pada sebuah gelas gelap. Balik gelas dan tanyakan pada anak bagaimana keadaan koin. jika si anak mengatakan buah-buah tersebut dalam keadaan terbalik, maka si anak sudah memasuki tahap konkrit-operasional dan memahami proses transformasi inversi atau kebalikan. Resiprok merupakan suatu transformasi pencerminan. Contohnya sebagai berikut, misalnya seorang ibu ingin menanam tanaman tomat dan membawa ember kecil yang berisi tanah, si ibu memindahkan tanah tersebut ke ember yang ukurannya lebih kecil tetapi lebih panjang dari ember sebelumnya, kemudian si ibu bertanya pada anaknya yang dari tadi sudah memandangi ibunya dengan seksama, si ibu menanyakan tentang keadaan dan banyaknya tanah tersebut. Jika si anak mengatakan tanah yang di ember panjang tersebut sama dengan tanah yang ada di ember lebih pendek, maka si anak sudah memasuki tahap konkrit-operasional, karena si anak sudah mengerti kalau tanah yang ada di ember panjang merupakan pencerminan dari tanah yang ada di ember pendek.

Ø System kekekalan Pada tahap ini, seorang anak sudah dapat mengerti adanya konsep kekekalan objek. Piaget meneliti adanya macam-macam tahap perkembangan pengertian kekekalan. v Kekekalan Bilangan. Pengertian kekekalan bilangan muncul pada sekitar umur 5 atau 6 tahun. Anak pada umur ini mulai dapat mengadakan transformasi korespondensi satu persatu. Misalnya, bila diberikan 8 dadu dan disuruh menghitung, anak tahu bahwa jumlahnya tetap 8. Bila dadu-dadu itu

19 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

diletakan didalam kotak, jumlahnya tetap sama. Jadi jumlah dadu akan tetap sama walaupun dipindahkan pada tempat yang berlainan. v Kekekalan Substansi. Pengertian kekekalan substansi muncul pada sekitar umur 7 atau 8 tahun. Pada umur ini, seorang anak sudah dapat mengerti dan menangkap bahwa substansi (banyaknya) suatu benda itu tetap. Masa suatu bungkalan lilin atau lumpur tetap sama meskipun bentuknya diubah menjadi bermacammacam. v Konservasi Panjang. Ini terjadi pada umur 7 atau 8 tahun. seorang anak dihadapkan pada sebuah tongkat lurus , lalu tongkat dipotong-potong atau dibengkokan apakah panjang dari tongkat itu sama atau berubah ? anak pada tahap ini sudah mengerti bahwa panjangnya tetap sama (Piaget & Inhelder, 1969; Piaget, 1981). v Kekekalan Luas. Untuk meneliti kekekalan luas, Piaget menggunakan gambar lembu dengan daerah rumput yang menjadi makanannya (Wadsworth, 1989). Misalkan dalam gambar A, tempat rumput yang sama besarnya diletakkan terpisah, sedangkan dalam gambar B, tempat rumput tersebut disatukan sehingga luasnya lebih lebar. Pertanyaan yang diajukan Piaget adalah lembu mana yang memakan rumput lebih banyak, lembu A atau lembu B. anak yang belum mempunyai konsep kekekalan luas akan mengatakan bahwa lembu B makan rumput lebih banyak, karena daerah B mempunyai rumput yang lebih banyak dari pada daerah A yang terpisah tempatnya. Anak yang sudah mempunyai konsep kekekalan luas akan mengatakan bahwa kedua lembu memakan rumput yang sama. Daerah rumput A dan B tetap sama, meskipun yang satu diletakan terpisah dan yang lain disatukan. v Kekekalan Berat.
20 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

Kekekalan ini terjadi pada umur 9 atau 10 tahun. kekekalan berat juga didapat dari contoh tanah liat yang dibentuk bermacam-macam. Anak dapat mengerti bahwa substansi bendanya tetap, tetapi anak berumur dibawah 9 tahun masih sering tidak mengerti bahwa beratnya juga tetap. v Kekekalan Volume. Ini terjadi pada umur 11 atau 12 tahun. volume zat cair tetap meskipun dimasuki benda padat yang mengakibatkan tinggi permukaan air naik. Misalnya, suatu gelas diisi air selanjutnya dimasukan logam sehingga air naik. Anak pada tahap operasi kongkret dapat mengetahui bahwa volume air tetap sama. Pada tahap sebelumnya anak masih mengira bahwa volume air setelah dimasukan logam menjadi bertambah.

Ciri pemikiran operasi konkret yang lain : Ø Adaptasi dengan gambaran yang menyeluruh Pada tahap ini, seorang anak mulai dapat menggambarkan secara menyeluruh ingatan, pengalaman, dan objek yang dialami. Adaptasi dengan lingkungan disatukan dengan gambaran akan lingkungan itu.

Ø Melihat dari berbagai macam segi Anak pada tahap ini mulai dapat melihat suatu objek atau persoalan secara sedikit menyeluruh dengan melihat aspek-aspeknya. Ia tidak hanya memusatkan pada titik tertentu, tetapi dapat bersama-sama mengamati titik yang lain. Ø Seriasi Proses seriasi adalah proses mengatur unsur-unsur menurut semakin besar atau kecilnya unsur-unsur tersebut. Urutan dapat dibuat dari kecil ke
21 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

besar atau dari besar ke kecil. Kemampuan ini berkembang sekitar umur 7 tahun dan mengikuti transformasi korespondensi satu-satu. Seriasi untuk dua dimensi juga sudah mulai muncul pada umur 7 sampai 8 tahun. Ø Klasifikasi Menurut Piaget, bila anak yang berumur 3 tahun dan 12 tahun diberi bermacam-macam objek dan disuruh membuat klasifikasi yang serupa menjadi satu, ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Anak yang paling muda akan menyusun objek-objek tidak hanya berdasarkan pada kesamaan dan perbedaan, tetapi juga menjajarkannya dalam ruang dengan baris, bentuk, warna dan lain-lain, sedangkan anak yang lebih dewasa akan mengelompokkan objek-objek itu secara berstruktur. Disini juga berarti pada masa pra-operasional anak juga mampu mengklasifikasikan onjek atau karakter tertentu. Ø Ruang waktu dan kecepatan Dalam hal ini, Piaget lebih tertarik pada soal korespondensi satu-satu dan sifat kekekalan. Korespondensi satu-satu adalah pemetaan atau pemasangan satu persatu antara unsur-unsur dalam himpunan benda (A) dengan unsur-unsur himpunan yang lain (B), sedangkan sifat kekekalan menghilangkan perbedaan yang ada pada setiap objek dan melihat segi yang tumbuh. Ø Kausalitas Jika dihadapkan pada suatu benda yang bergerak lebih cepat daripada benda lain, seorang anak pada tahap operasi konkret akan dapat memperhatikan laju benda tersebut dan relasi antara waktu dengan jarak.

Ø Probalitas

22 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

Pada tahap ini, anak dapat mengerti bahwa meskipun ia tidak dapat meramalkan hasil dari kejadian-kejadian individual, ia dapat mengantisipasi hasil dari jumlah banyak. Ø Penalaran Sampai pada umur 8 atau 9 tahun, penalaran anak masih sinkretis, yaitu kecenderungan menghubungkan suatu rangkaian gagasan-gagasan yang terpisah dalam suatu keseluruhan yang tidak jelas (membingungkan).

Ø Egosntris dan sosialisme Pada tahap ini anak sudah tidak begitu egosentris dalam pemikirannya. Ia mulai mencari validitas dengan teman-temannya. Bahasa yang digunakan juga lebih komunikatif dan monolog dengan diri sendiri sudah mulai berkurang.

2.2.4. Tahapan Operasional Formal Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget.Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampaidewasa. Karakteristik yang jelas pada tahap operasional formal adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari berbagai informasi yang tersedia baik itu apa, kapan, dan dimanapun mereka berinteraksi. Anak atau remaja pada tahap operasi formal ini mulai menyadari keterbatasan-keterbatasan pemikiran mereka. Mereka juga mulai bergelut dengan konsep-konsep yang berada diluar pengalaman mereka sendiri. Adanya perubahan
23 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

otak pada pubertas sangat memungkinkan untuk kemajuan perkembangan kognitif remaja. Dalam tahapan ini,seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, persahabatan, dan nila-nilai. Anak atau yang kita sebut remaja apda tahap ini tidaklah melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, tetapi makna isi di antaranya. Secara biologis, tahapan ini muncul saat pubertas, menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral,perkembangan psikoseksual, dan perkembangan social. Anak atau remaja ini misal tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit dapat kita sebut sebagai keterlambatan dalam proses berkembang atau keterbelakangan dalam konteks kurang mampunya memahami keberadaan diri dalam lingkungan sekitar baik terpaut penalaran interaksi atau sosialisasi. Ciri pokok pemikiran operasi formal : a. Pemikiran deduktif hipotesis Pada tahap ini, operasi berkaitan langsung dengan objek, kumpulan objek, hubungan antara objek, dan perhitungan objek yang kongkret. Di sini anak dapat beragumentasi secara benar tentang proposisi yang tidak ia percayai sebelumnya. Dapat mengambil sebuah kesimpulan dari kebenaran yang masih berupa kemungkinan (hipotesis). Pemikiran kongkret disini artinya pemikiran yang menarik kesimpulan spesifik dari sesuatu yang umum. Artinya hasil analisis pemikiran berangkat dari sesuatu yang bersifat umum ke sesuatu yang bersifat khusus. b. Pemikiran induktif saintifik Pemikiran induktif disini berarti pengambilam kesimpulan yang lebih umum berdasarkan kejadian-kejadian yang khusus. Disini anak

24 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

sudah mulai mampu menbentuk sebuah hipotesis, eksperimen, dan menarik suatu kesimpulan. c. Pemikiran abstraksi reflektif Menurut Wadsworth, abstraksi ini adalah abstraksi yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan matematis-logis yaitu suatu abstraksi tidak langsung terhadap objek itu sendiri. Pemikiran ini adalah suatu proses untuk mengembangkan secara konstruktif sebuah konsep melalui generalisasi, pemisahan dan idealisasi di mana objek-objek nyata atau relasinya dikelompokkan dalam sebuah pola klasifikasi berdasarkan ciri-ciri umum dari objek dan tindakan tersebut (Piaget, 1988). Pemikiran abstraktif dibedakan menjadi abstraksi empiris (bertitik tolak dari objek dan ciri-ciri khas yang umum dari suatu objek melalui proses generalisasi) dan abstraksi reflektif (menurut Piaget, 1988, bertitik tolak dari kegiatan si subjek dan memperoleh ciri-ciri khas yang umum dari suatu tindakan melalui proses rekonstruksi serta reintegrasi pada tingkat yang lebih tinggi). Kemampuan berpikir abstrak tidak sama setiap individu, karena dipengaruhi oleh faktor intelegensi, lingkungan dan budaya remaja itu sendiri.

Skema operasi formal : a. Proporsi Proporsi adalah pemikiran untuk membandingkan dua hal atau membagikan antar dua hal. Dalam arti ada keterkaitan didalamnya. Misal pada timbangan lengan. Lengal-lengan gaya yang bekerja pada lengan timbangan ada kesesuian untuk membentuk suatu kesetimbangan. b. System referensi ganda Anak pada tahap ini dapat mengerti dan menyatukan pemikiran antara proses-prses yang saling bertautan. Misal, benda A,B ditumpuk pada
25 |f a s e - f a s e
p er k e m ba n g a n

lantai C. jika A digerakkan kekiri terhadap B, dan B digerakkan kekanan terhadap lantai C, maka anak pada tahap ini, telah mampu menggabungkan persoalan tersebut bahwa A diam terhadap C. c. Kesetimbangan hidrostatis Pada tahap ini anak menyadari bahwa adanya aspek sebab dan akibat yang diteruskan. Ketika anak pada tahap ini dihadapkan dengan sebuah bejana, dan salah satu sisi bejana diberi tekanan P, maka zat cair yang ada disebelahnya akan naik, sebab disini anak menyadari adanya tekanan yang diberikan diteruskan kesegala arah. d. Pengertian probalitas Menurut Piaget, untuk mengerti proses probalitas seorang anak harus mengatahui 2 operasi pokok, yaitu kombinasi dan perhitungan proporsi. Kombinasi saat melihat segala kemungkinan dari unsur-unsur yang ada dan proporsi ketika membandingkan dan menghitung suatu probabilitas. Missal, 2/3=4/6. e. Dua reversibilitas Disini anak sudah mampu mebentuk suatu system kombinasi dan struktur fundamental yang menunjukkan suatu sintesis lengkap, yaitu inversi(lawan) dan resiprok(kebalikan). Missal, A £ B dan B ³ A , maka anak menyimpulkan A=B.

26 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Teori

tahap

pertumbuhan

dari

jean

piaget

mendeskripsikan

mengenai

perkembangan kognitif anak. Perkembangan kognitif menyertakan perubahan kognitif dan bakat. Dalam pandangan piaget, perkembangan kognitif anak menyertakan proses dasar yang melibatkan interaksi dan operasinya terhadap lingkungan. Menurut teori piaget, tahapan-tahapan pada perkembangan kognitif anak bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur. Jikalaupun hal itu terjadi, perkembangan anak sungguh tidak akan normal atau dengan kata lain dapat kita katakan bahwa perkembangan anak itu mengalami keterbelakangan dalam konteks keterlambatan dalam perkembangannya, menerima baik itu menerima respon atau merespon kembali. Secara umum dari 4 tahap atau fase-fase perkembangan kognitif menurut jean piaget, dapat disimpulkan bahwa : 1. Tahap sensorimotor : Bayi lahir dengan refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa kanakkanak ini, anak beum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya. 2. Tahap pra-operasional : Pada anak mulai timbul pertumbuhan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada hal-hal yang dapat dijumpai (dilihat) di dalam lingkungannya saja. 3. Anak telah dapat mengetahui symbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak (tak berwujud).

27 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

4. Pada tahap operasional formal, anak-anak sudah mampu memahami bentuk argumen dan tidak dibingungkan oleh isi argumen (karena itu disebut operasional formal) serta berargumen balik akan hal yan ia temukan. Tahap ini mengartikan bahwa anak-anak mulai memasuki tahap baru dalam logika orang dewasa, yaitu mampu melakukan penalaran abstrak. Pemikiran yang logis disertai fakta. Sama halnya dengan penalaran abstrak sistematis, operasi-operasi formal memungkinkan berkembangnya system nilai dan ideal, serta pemahaman untuk masalah-masalah filosofis. Jadi tahapan-tahapan tersebut juga berupa keseluruhan yang terorganisasi, tersusun secara logis dan sifatnya hierarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi). Menurut teori perkembangan ini, anak tak hanya mampu menganalisa perbedaan kuantitatif tapi juga hal-hal yang bersifat kualitatif.

3.2. Saran
Dalam mempelajari dan memahami teori perkembangan kognitif anak dari jean piaget ini, sebagai seorang pendidik adalah wajib dan bijaksana untuk mengadakan sebuah evaluasi awal terhadap fase-fase perkembangan itu sendiri. Di tiap-tiap tahap perkembangan anak ini, perlu adanya sebuah perhatian lebih sebab tahapan-tahapan pada perkembangan kognitif anak bisa dicapai dalam usia bervariasi sehingga dapat diminimalisasi adanya miss concept terhadap perkembangan anak. Pemahaman yang benar terhadap fase-fase perkembangan anak, tentu memberikan sebuah acuan, sebagai tolak ukur dalam pemahaman terhadap peserta didik, sehingga implementasi hasil evaluasi ke lapangan juga ballance dengan apa yang diharapkan.

28 |f a s e - f a s e

p er k e m ba n g a n

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->