P. 1
Kolokium Kisi Difraksi

Kolokium Kisi Difraksi

5.0

|Views: 2,858|Likes:
Published by moammar qadafi
kolokium jurusan pendidikan fisika stkip hamzanwadi selong 2008/2009
kolokium jurusan pendidikan fisika stkip hamzanwadi selong 2008/2009

More info:

Published by: moammar qadafi on Dec 19, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2013

pdf

text

original

Sections

PENGUKURAN PANJANG GELOMBANG

SPEKTRUM WARNA CAHAYA LAMPU NEON
DENGAN MENGGUNAKAN KISI DIFRAKSI








KOLOKIUM

Oleh :
MOAMMAR QADAFI
NPM. 06230266



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN P. MIPA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) HAMZANWADI SELONG
2009

ii

HALAMAN PERSETUJUAN

Kolokium ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan
Tim Penguji Kolokium Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(STKIP) Hamzanwadi Selong.





Persetujuan Pembimbing


SATUTIK RAHAYU, M.Pd
NIS. 3303031306

iii

HALAMAN PENGESAHAN
Kolokium ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji
Kolokium Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP)
Hamzanwadi Selong.

Pada Hari : .................................
Tanggal : .................................
Tim Penguji Kolokium
Nama Terang Tanda Tangan

Penguji I ..................................... : ......................................................
Penguji II .................................... : ......................................................

Disahkan Oleh
Ketua Program Studi Pendidikan Fisika

Kasnawai Al Hadi, S.Pd., M.Si
NIS. 3303031151

iv

ABSTRAK
Moammar Qadafi, PENGUKURAN PANJANG GELOMBANG
SPEKTRUM WARNA CAHAYA LAMPU NEON DENGAN MENGGUNAKAN
KISI DIFRAKSI. Kolikium, Selong: Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam STKIP Hamzanwadi Selong, Juli 2009.

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium PMIPA Fisika Sekolah Tinggi
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan STKIP Hamzanwadi Selong, tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui bagaimana cara menentukan spektrum warna cahaya yang
dipancarkan oleh lampu neon dan untuk mengetahui bagaimana cara pengukruan
panjang gelombang dari spektrum warna cahaya tampak yang dihasilkan oleh cahaya
lampu neon dengan menggunakan kisi difraksi. Pada penelitian ini cara yang
digunakan untuk menentukan panjang gelombang cahaya yang dipancarkan adalah
dengan menggunakan kisi difraksi 300 garis/mm yang kemudian setelah diarahkan
berkas cahaya lampu neon didapatkan spektrum cahaya yang tampak adalah warna
biru, hijau dan jingga. Setelah dilakukan pengukuran dari tiap-tiap warna didaptkan
panjang gelombang yang berbeda-beda dari tiap warna yaitu untuk warna biru, hijau
dan jingga berturut-turut adalah 4,8 x 10
-7
m, 5,6 x 10
-7
m, dan 6,8 x 10
-7
m. Dari
penelitian ini, dapat diambil kesimpulan bahwa pada setiap pengukuran panjang
gelombang cahaya dari tiap-tiap spektrum seperti biru, hijau dan jingga walaupun
jarak antara layar dengan kisi diubah-ubah tidak mempengaruhi perubahan panjang
gelombang dari masing-masing spektrum cahaya neon. Hal ini disebabkan oleh jarak
antara pusat terang dengan masing-masing spektrum yang diukur juga berubah jika
jarak antara kisi dengan layar diubah.



Kata Kunci : Panjang gelombang, spektrum, cahaya, neon, difraksi kisi.


v

MOTTO

Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada
yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu
ang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.
(Thomas A. Edison)


Pengetahuan tidaklah cukup; kita harus
mengamalkannya. Niat tidaklah cukup; kita harus
melakukannya.
(Johann Wolfgang von Goethe)


³Kerugian besar bagi suatu kaum bila para murid tidak menjadi lebih
pandai dari pada para gurunya.´

vi

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini Kupersembahkan Kepada :
Kedua orang tuaku yang tercinta dan kusayang, Ibundaku Jamalia dan
Ayahandaku Nurul Arifun (Alm). Karena dengan segala rasa cinta, kasih
sayang, perhatian, Do¶a dan juga pengorbanan yang begitu besar yang
tak bisa anakda lupakan sehingga anakda bisa menyelesaikan tugas
dengan baek dan tepat waktu.
Wali kosku, yang kusayang seolah-olah tidak ada bedanya dengan Ibu
kandungku yaitu : Inq. Abdullah (Pancor Sanggeng), yang selalu sabar
dalam mendidik dan selalu tampak ceria dan senang walaupun pada
kenyataannya penuh dengan kesusahan, semua pengorbanan dan kasih
sayang yang engkau berikan tidak akan pernahku lupakan sampai
selamanya.
Semua sahabat karibku yang selalu menemani dan memberikan semangat
dalam menyelesaikan tugas ini.( Sarlan, Muzaidi dll)

vii

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah kolokium ini
yang berjudul ³ PENGUKURAN PANJANG GELOMBANG SPEKTRUM
WARNA CAHAYA LAMPU NEON DENGAN MENGGUNAKAN KISI
DIFRAKSI.´
Penyusunan Kolokium ini tidak dapat lepas dari bantuan dan bimbingan
berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
yang terhormat:
1. Bapak Kasnawi Al Hadi, M.Si, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hamzanwadi Selong.
2. Bapak Tsamarul Hizbi, S.Pd, selaku Koordinator kolokium ini.
3. Ibu Satutik Rahayu, M.Pd, selaku pembimbing yang telah memberikan
pengarahan dan bimbingan, sehingga penyusunan kolokium ini dapat
terselesaikan.
4. Bapak Zainal Abidin, S.Pd, selaku Laboran Fisika yang telah membantu dalam
penelitian ini.
5. Rekan-rekan dan semua pihak yang telah membantu secara lahir dan bathin dalam
penyusunan kolokium ini.

viii

Semoga segala amal kebaikan semua pihak tersebut mendapatkan imbalan
yang sepadan dari Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa kolokium ini masih jauh dari sempurna, semoga
kolokium ini bermanfaat bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam, khususnya
fisika dan pembaca budiman.

Selong, 2 Juli 2009

Penulis

ix

DAFTAR ISI
JUDUL ............................................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii
ABSTRAK ...................................................................................................... iv
MOTTO ........................................................................................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... vi
KATA PENGANTAR.................................................................................... vii
DAFTAR ISI ................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ........................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xii
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah ...................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ............................................................................. 5
C. Pembatasan Masalah ........................................................................... 5
D. Perumusan Masalah ............................................................................. 5
E. Tujuan Penelitian ................................................................................. 6
F. Manfaat Penelitian ............................................................................... 6
G. Definisi Operasional ............................................................................. 6
BAB II. KAJIAN PUSTAKA ......................................................................... 8
A. Kajian Teori ........................................................................................ 8
1. Warna dan Panjang Gelombang .................................................. 8
2. Spektrum ...................................................................................... 9
3. Cahaya ........................................................................................ 11
4. Lampu Neon ............................................................................... 13
5. Kisi Difraksi ................................................................................ 13
B. Kerangka berpikir ............................................................................. 18

x

BAB III. METODOLOGI ............................................................................. 20
A. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................... 20
B. Metode Penelitian .............................................................................. 20
C. Desain Penelitian .............................................................................. 20
D. Posedur Penelitian ............................................................................. 21
E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 21
F. Teknik Analisis Data .......................................................................... 23
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 26
A. Data Hasil Penelitian ......................................................................... 26
B. Analisis Data Hasil Penelitian ........................................................... 27
C. Pembahasan ....................................................................................... 41
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 43
A. Kesimpulan ........................................................................................ 43
B. Saran ................................................................................................... 43
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 45
LAMPIRAN .................................................................................................. 46


xi


DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Data Hasil Penelitian Pada Spektrum Cahaya Neon ............................... 22
Tabel 3.2 Data Hasil Penelitian Pada Spektrum Cahaya Neon ............................... 22
Tabel 3.3 Data Hasil Penelitian Pada Spektrum Cahaya Neon ............................... 23
Tabel 4.1. Data Hasil Pengamatan Pada Spektrum Cahaya Biru ............................ 26
Tabel 4.2. Data Hasil Pengamatan Pada Spektrum Cahaya Hijau .......................... 26
Tabel 4.3. Data Hasil Pengamatan Pada Spektrum Cahaya Jingga ......................... 27
Tabel 4.4 Tabel Perhitungan Spektrum Cahaya Biru ............................................. 28
Tabel 4.5 Tabel Bantuan Analisa Data Spektrum Cahaya Biru .............................. 29
Tabel 4.6 Tabel Hasil Pengamatan Spektrum Cahaya Hijau .................................. 33
Tabel 4.7. Tabel Bantuan Analisa Data Spektrum Cahaya Hijau ........................... 33
Tabel 4.8. Tabel Hasil Pengamatan Spektrum Cahaya Jingga ................................ 37
Tabel 4.9. Tabel Bantuan Analisa Data Spektrum Cahaya Jingga .......................... 38
Tabel 4.10 Tabel Nilai Panjang Gelombang Spektrum Cahaya Hasil
Analisa Data ......................................................................................................... 42





xii


DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Spektrum Cahaya Oleh Neon ........................................................ 10
Gambar 2.2 Pelangi ......................................................................................... 10
Gambar 2.3 Pola Cahaya Interferensi Dan Difraksi .......................................... 14
Gambar 2.4 Difraksi Cahaya Oleh Kisi Difraksi .............................................. 16
Gambar 2.5 Segitiga Siku-Siku ........................................................................ 16
Gambar 3.1 Rangkaian Percobaan ................................................................... 21

xiii


DAFTAR LAMPIRAN
Tabel 6.1 Jadwal Penelitian ............................................................................. 47
Tabel 6.2 Spektrum Cahayu Biru ..................................................................... 48
Gambar 6.1 Grafik Hubungan Jarak x dengan y
Pada Spektrum Cahaya Biru ............................................................................ 48
Tabel 6.3 Spektrum Cahaya Hijau.................................................................... 48
Gambar 6.2 Grafik Hubungan Jarak x dengan y
Pada Spektrum Cahaya Hijau ........................................................................... 48
Tabel 6.4 Spektrum Cahaya Jingga .................................................................. 49
Gambar 6.3 Grafik Hubungan Jarak x dengan y
Pada Spektrum Cahaya Jingga ......................................................................... 49
Gambar 6.4 Alat dan Bahan ............................................................................. 50
Gambar 6.5 Rangkaian Alat ............................................................................. 50
Gambar 6.6 Peneliti Sedang Mengatur Jarak Kisi dengan Layar....................... 50
Gambar 6.7 Peneliti Sedang Mengamati .......................................................... 51
Gambar 6.8 Spektrum Cahaya Tampak Oleh Lampu Neon
dengan Kisi 300 garis/mm ............................................................................... 51
Gambar 6.9 Peneliti Mengatur Jarak Layar ...................................................... 51

xiv



1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah perkembangan lampu listrik sudah dimulai sejak berabad-abad
lampau, ketika kebutuhan manusia akan penerangan pada malam hari muncul.
Penemuan lampu pijar oleh penemu serba bisa Thomas Alva Edison, menjawab
persoalan itu. Berkat temuannya ini manusia di dunia bisa menikmati cahaya
pada malam hari. Penemuan brilian Edison ini kemudian diadaptasi oleh seorang
insinyur dan ahli kimia yaitu Georges Claude pada 1902. Pria kebangsaan
Prancis ini menemukan sinar cahaya melalui lampu neon untuk keperluan
periklanan. Berkat usahanya, seluruh dunia mulai mengenal neon (TL/ Tube
Lamp) hingga saat ini.
Pada 1902, insinyur dan ahli kimia Georges Claude ini berusaha
mengembangkan aliran listrik ke dalam tabung gas neon. Usahanya pun berbuah
manis. Ia berhasil membuat lampu neon (neon berasal dari bahasa Yunani neos,
yang berarti gas baru), berwarna merah. Merasa tertarik ia lalu menambah
jumlah tabung dan mengisinya dengan neon. Segera setelah itu ia mendapatkan
untuk pertama kalinya tabung neon yang sesungguhnya.
Sebagian besar literatur menyebutkan, lampu neon ciptaan Georges
Claude, memiliki sebuah tabung kaca tertutup yang mengandung sangat sedikit
2

udara, sedikit air raksa, bubuk putih fosfor, dan dua elektroda (katoda dan
anoda) pada setiap ujung tabung. Selain itu terdapat transformer yang mengatur
aliran listrik ke tabung. Begitu saklar dihidupkan transformer mengaliri listrik ke
dalam tabung. Aliran listrik tersebut meloncat (arc) dari katoda ke anoda
sehingga menguapkan air raksa menjadi ion. Gas air raksa mengeluarkan sinar
ultraviolet yang tidak tampak yang membentur bubuk putih fosfor sehingga
menghasilkan cahaya yang memancar.
Namun penemuan lampu neon belum sempurna. Sinar tabung-tabung
merah itu tak seperti sumber cahaya lainnya yang berguna untuk keperluan
umum sehari-hari, seperti menerangi rumah atau jalan tangga, akibatnya lampu
neon menjadi lembap. Pada waktu itu, para ilmuwan dan saintis menyebutkan,
kelemahan lampu neon pada waktu itu diakibatkan neon tak bisa di
kompilasikan dengan elemen lain pada tabung lainnya, artinya gas baru tak
membutuhkan katup gas.
Meski demikian, Claude tidak menyerah dan berusaha untuk
menyempurnakan temuannya ini. Setelah melakukan penelitian, lampu neon
yang memancarkan warna merah ini menarik perhatian dan kemampuannya
bertahan di tengah siraman hujan dan kabut. Alhasil, temuan yang spektakuler
ini cukup efektif digunakan untuk iklan dan reklame. Hasil temuannya ini, ia
publikasikan di Paris pada 1910. Atas bantuan kawannya, ia memperkenalkan
lampu 333333buatannya itu ke Amerika. Agar temuannya tidak ditiru orang.
Claude mematenkan lampu neon di Amerika Serikat. Semenjak itu ia mulai
3

dikenal sebagai seorang jenius yang berhasil menemukan lampu neon yang
merupakan pelopor lampu pijar untuk keperluan periklanan.
Lampu neon yang ditemukan oleh Georges Claude (1902) sudah akrab
sekali ditelinga kita dan bahkan sebagian besar penerangan yang digunakan oleh
masyarakat adalah lampu neon. Walaupun lampu pijar lebih dulu dikenal
dimasyarakat dari pada lampu neon tapi, tingkat penggunaan lampu neon lebih
besar dibandingkan dengan lampu pijar hal ini disebabkan lampu neon memiliki
kelebihan tersendiri dari pada lampu pijar diantaranya : 1. Lampu neon memiliki
usia 10 kali dari pada lampu pijar, 2. Lampu pijar sangat boros dalam efisiensi
energi dan cahayanya tidak cukup terang, sehingga di negara-negara maju lampu
ini sudah jarang dipakai lagi.
Segala sesuatu yang ada didunia, baik yang alami lebih-lebih buatan
manusia memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Kekurangan yang
terdapat pada lampu neon ada pada kandungan merkuri pada lampu itu sendiri
tidak baik bagi kesehatan manusia maupun lingkungan. Untuk menghasilkan
cahaya lampu neon memerlukan uap merkuri untuk menghasilkan sinar
ultraungu (UV light). Sinar ini kemudian diserap oleh fosfor yang melapisi
bagian dalam kaca sehingga cahaya akan berpendar.
Cahaya merupakan sejenis energi berbentuk gelombang elekromagnetik
yang bisa dilihat dengan mata. Sifat-sifat cahaya ialah, cahaya bergerak lurus ke
semua arah. Matahari sebagai sumber kehidupan memancarkan cahaya putih.
Warna putih dari matahari terdiri dari warna merah, jingga, kuning, hijau, biru,
4

nila dan ungu. Warna-warna dalam cahaya putih matahari dapat dipecahkan
dengan menggunakan prisma menjadi jalur warna. Jalur warna ini dikenal
sebagai spektrum sedangkan pemecahan cahaya putih kepada spektrum ini
dikenal sebagai penyerakan cahaya. Pelangi adalah contoh spektrum yang
terbentuk secara alamiah. Pelangi terbentuk selepas hujan, ketika cahaya
matahari dibiaskan oleh tetesan air hujan. Tetesan air hujan itu bertindak sebagai
prisma yang menyerakan cahaya matahari menjadi tujuh warna.
Cahaya dapat bersifat sebagai gelombang maupun partikel, inilah yang
disebut sebagai dualisme cahaya. Ini adalah teori modern yang menjelaskan
sifat-sifat cahaya, dan bahkan sifat-sifat partikel secara umum. Teori ini pertama
kali dijelaskan oleh Albert Einstein pada awal abad 20, berdasarkan dari karya
tulisnya tentang efek fotolistrik, dan hasil penelitian Planck.
Berbicara mengenai cahaya sebagai gelombang, dimana cahaya yang
dipancarkan oleh suatu gas memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda.
Lampu neon memiliki panjang gelombang yang berbeda dengan lampu pijar hal
yang mendasar inilah yang membedakan sifat dari kedua lampu tersebut. Lampu
neon memancarkan cahaya yang terdiri dari beberapa warna. Untuk menentukan
warna yang dipancarkan dan berapa panjang gelombang dari masing-masing
warna kita harus menggunakan sebuah alat diantaranya adalah kisi difraksi. Hal
inilah yang mendorong peneliti mengambil judul ´PENGUKURAN PANJANG
GELOMBANG SPEKTRUM WARNA CAHAYA LAMPU NEON
MENGGUNAKAN KISI DIFRAKSI.´
5

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka peneliti dapat
mengidentifikasi suatu permasalahan sebagai berikut:
1. Adanya spektrum cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda,
yang dipancarkan oleh berbagai jenis sumber cahaya.
2. Pengukuran panjang gelombang dari tiap spektrum cahaya dapat
menggunakan prisma atau kisi difraksi.
C. Pembatasan Masalah
Adapun batasan-batasan masalah yang ada dalam penelitian ini sebagai
berikut:
1. Panjang gelombang spektrum cahaya yang diukur adalah cahaya dari lampu
neon.
2. Alat yang digunakan untuk mengukur panjang gelombang spektrum cahaya
lampu neon adalah kisi difraksi.
D. Perumusan Masalah
Permasalahan-permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah cara menentukan spektrum warna cahaya yang dipancarkan
oleh lampu neon?
2. Bagaimanakah cara menggunakan kisi difraksi dalam mengukur panjang
gelombang spektrum cahaya lampu neon?

6

E. Tujuan Penelitian
Terdapat beberapa tujuan dari penelitian ini diantaranya adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana cara menentukan spektrum warna cahaya yang
dipancarkan oleh lampu neon.
2. Untuk mengetahui cara pengukuran panjang gelombang dari spektrum warna
cahaya tampak yang dihasilkan oleh cahaya lampu neon dengan
manggunakan kisi difraksi.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan hendaknya memberikan manfaat. Penelitian
ini memberi manfaat diantaranya adalah:
1. Memberikan wawasan pengetahuan tentang cahaya dan bagaimana
sebenarnya cahaya itu.
2. Memberikan pengetahuan tentang cahaya yang dipancarkan oleh lampu neon
tidaklah hanya cahaya putih tapi terdapat beberapa warna cahaya yang lain.
3. Memberikan pengetahuan bahwa panjang gelombang cahaya dari spektrum
warna cahaya lampu neon itu berbeda-beda.
G. Definisi Operasional
1. Gelombang adalah getaran yang merambat melalui suatu medium.
2. Spektrum adalah jalur-jalur warna yang dihasilkan dari pemecahan warna
cahaya putih.
7

3. Cahaya merupakan sejenis energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang
bisa dilihat dengan mata.
4. Neon (Ne) merupakan unsur gas mulia yang memiliki nomor atom 10 dan
nomor massa 20,17.
5. Kisi difraksi adalah suatu kepingan dengan celah-celah kecil yang banyak
sekali.

8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Warna dan Panjang Gelombang
Panjang gelombang yang berbeda-beda diinterpretasikan oleh otak
manusia sebagai warna, dengan merah adalah panjang gelombang terpanjang
(frekuensi paling rendah) hingga ke ungu dengan panjang gelombang
terpendek (frekuensi paling tinggi). Cahaya dengan frekuensi di bawah 400
nm dan di atas 700 nm tidak dapat dilihat manusia. Cahaya disebut sebagai
sinarultraviolet pada batas frekuensi tinggi dan inframerah (IR atau Infrared)
pada batas frekuensi rendah. Walaupun manusia tidak dapat melihat sinar
inframerah kulit manusia dapat merasakannya dalam bentuk panas. Ada juga
kamera yang dapat menangkap sinar Inframerah dan mengubahnya menjadi
sinar tampak. Kamera seperti ini disebut night vision camera
Radiasi ultraviolet tidak dirasakan sama sekali oleh manusia kecuali
dalam jangka paparan yang lama, hal ini dapat menyebabkan kulit terbakar
dan kanker kulit. Beberapa hewan seperti lebah dapat melihat sinar
ultraviolet, sedangkan hewan-hewan lainnya seperti Ular Viper dapat
merasakan inframerah dengan organ khusus.

9

2. Spektrum
Spektrum adalah sebuah kata dari bahasa Latin yang artinya ³hantu´.
Pertama, cahaya adalah gelombang. Memang cahaya adalah partikel, tapi
cahaya adalah gelombang. Gelombang mempunyai frekuensi, panjang
gelombang, dan kecepatan. Cahaya dengan panjang gelombang tertentu
memiliki warna tertentu juga. Misalnya, 650 nm adalah merah, sedangkan
400 nm adalah biru. Nilai panjang gelombang yang lain menentukan
warnanya, seperti yang terdapat pada gambar pelangi dibawah.
Sekarang, cahaya bisa dicampur. Misalnya, campuran semua warna
pelangi menjadi putih, sedangkan merah dicampur hijau menjadi kuning.
Spektrum merupakan susunan warna-warna yang menghasilkan suatu warna.
Misalnya, merah dan hijau dengan intensitas sama menjadi kuning. Jika
hijaunya sedikit, dihasilkan oranye.
Demikian juga, cahaya putih matahari, lampu fluoresens (´neon´),
LED putih, putih layar komputer tersusun atas komposisi warna-warna yang
(mungkin) berbeda. Misalnya, cahaya matahari merupakan campuran semua
warna violet sampai merah dengan intensitas yang sesuai dengan pola radiasi
benda hitam, dengan sedikit perubahan: pada nilai-nilai panjang gelombang
tertentu ada sedikit pelemahan, ini disebut garis Fraunhofer. Sedangkan, putih
lampu ³neon´ ternyata merupakan campuran tiga nilai panjang gelombang
saja yang dominan, yaitu biru sekian nanometer, hijau sekian nm, dan jingga
10

sekian nm. Ini menunjukkan bahwa lampu ³neon´ tidak berisi gas neon, tetapi
gas raksa.

Gambar 2.1. Spektrum Cahaya Oleh Neon
Foto ini agak beda dengan kalau dilihat langsung, karena kameranya
hanya punya sensor cahaya merah, hijau, biru (RGB). Jadi warna kuning dan
ungu tidak tertangkap. Sebenarnya ada satu garis lagi di daerah jingga.
Bentuk dari suatu spektrum dapat kita lihat pada kehidupan sehari-
hari yaitu pelangi.

Gambar 2.2. Pelangi

11

Pelangi merupakan salah satu contoh yang sudah tidak lagi asing
bagi kita. Pelangi adalah contoh spektrum yang terbentuk secara alamiah.
Pelangi terbentuk selepas hujan, ketika cahaya matahari dibiaskan oleh
tetesan air hujan. Tetesan air itu hujan bertindak sebagai prisma yang
menyerakkan cahaya matahari menjadi tujuh warna.
Jadi, bisa di katakan bahwa spektrum adalah uraian dari campuran
berbagai cahaya.
3. Cahaya
Cahaya merupakan sejenis energi berbentuk gelombang
elekromagnetik yang bisa dilihat dengan mata. Cahaya juga merupakan dasar
ukuran meter: 1 meter adalah jarak yang dilalui cahaya melalui vakum pada
1/299.792.458 detik. Kecepatan cahaya adalah 299.792.458 meter per detik.
Cahaya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Matahari adalah
sumber cahaya utama di Bumi. Tumbuhan hijau memerlukan cahaya untuk
membuat makanan.
Sifat-sifat cahaya ialah, cahaya bergerak lurus ke semua arah.
Buktinya adalah kita dapat melihat sebuah lampu yang menyala dari segala
penjuru dalam sebuah ruang gelap. Apabila cahaya terhalang, bayangan yang
dihasilkan disebabkan cahaya yang bergerak lurus tidak dapat berbelok.
Namun cahaya dapat dipantulkan .
12

Pandangan bahwa cahaya menjalar sebagai sederetan paket energi
(yang biasanya disebut foton) berlawanan langsung dengan teori gelombang
cahaya. Hal yang kedua menyediakan satu-satunya cara untuk menerangkan
banyak sekali efek optik khususnya difraksi dan interferensi sebagai teori fisis
yang sudah mapan. Usul Planck bahwa benda memancarkan cahaya dalam
bentuk kuanta yang terpisah pada tahun 1900 tidak bertentangan dengan
penjalaran cahaya sebagai gelombang. Namun usul Enstein yang menyatakan
bahwa cahaya bergerak melalui ruang dalam bentuk foton, menimbulkan rasa
tak percaya pada rekan-rekannya termasuk Planck. Hal itu tidak bisa
sepenuhnya diterima sampai saat pekerjaan Compton yang dilakukan 18
tahun kemudian.
Menurut teori gelombang, gelombang cahaya menyebar dari suatu
sumber seperti riak menyebar dari permukaan air jika kita menjatuhkan batu
ke permukaan air. Energi yang dibawa cahaya menurut analogi ini
terdistribusi secara kontinu ke seluruh pola gelombang. Sebaliknya, menurut
teori kuantum, cahaya menyebar dari sumbernya sebagai sederetan
konsentrasi energi yang terlokalisasi, masing-masing cukup kecil sehingga
dapat diserap oleh sebuah elektron.
Banyak sekali hipotesis fisis harus diubah atau dibuang jika hipotesis
itu bertentangan dengan eksperimen, tetapi kita belum pernah diharuskan
membangun dua teori yang sangat berbeda untuk menerangkan suatu gejala
fisis. Di sini situasinya sangat berbeda dari kasus antara relativistik dengan
13

mekanika Newton yang ternyata kemudian bahwa hal kedua merupakan
aproksimasi dari hal pertama. Tidak terdapat cara untuk menurunkan teori
kuantum cahaya dari teori gelombang cahaya atau sebaliknya, walaupun ada
kaitan antara keduanya.
4. Lampu Neon
Lampu fluorescent atau lampu neon, sering juga disebut dengan
lampu TL. Cahayanya berwarna putih, menjadikannya lebih terang
dibandingkan lampu pijar biasa. Sifat cahayanya yang terang membuatnya
banyak diaplikasikan sebagai general light pada sebuah ruangan.
Memasangnya untuk menerangi area kerja di dapur juga cukup baik.
Lampu ini tergolong lampu yang hemat energi dan tahan lama,
karena kemampuannya bertahan hingga 10.000 jam. Namun, lampu TL ini
tidak cocok dijadikan lampu aksen atau spotlight. Sebab cahaya putihnya
tidak dapat memantulkan warna asli objek yang diteranginya.
5. Kisi Difraksi
Sebuah susunan dari sejumlah besar celah sejajar, semuanya dengan
lebar a yang sama dan yang antara pusat-pusatnya dengan jarak d yang sama,
dinamakan sebuah kisi difraksi (diffraction grating). Kisi difraksi pertama
kali dibuat oleh Fraunhofer dengan menggunakan kawat-kawat halus. Kisi
dapat dibuat dengan membuat goresan-goresan halus pada sekeping kaca.
14

Kisi transmisi (Transmission grating) adalah suatu kisi dengan celah
yang memugkinkan cahaya dapat melewatinya. Kisi Refleksi (Reflection
grating) adalah suatu kisi dengan celah yang memantulkan cahaya .
Kisi umumnya mempunyai goresan mencapai 5000 goresan per
centimeter. Sehingga jarak antara dua celah sangat kecil yaitu sekitar d =
1/5000 = 20000 A.
Jika suatu kisi transmisi disinari dari belakang, tiap celah bertindak
sebagai suatu sumber cahaya koheren. Pola cahaya yang diamati pada layar
dihasilkan dari kombinasi efek interferensi dan difraksi. Tiap celah
menghasilkan difraksi, dan berkas difraksi ini berinterferensi dengan yang
lain untuk menghasilkan pola akhir.

Gambar 2.3. Pola Cahaya Interferensi dan Difraksi
Perhatikan bagaimana pola difraksi bertindak sebagai suatu
³envelop´ dan mengontrol intensitas interferensi maksimum secara teratur.
Pada Gambar 2.3 menunjukkan sebuah penampang cahaya yang
didifraksikan oleh sebuah kisi difraksi dan sebuah pola interferensi dibentuk
oleh cahaya yang ditransmisikan melalui celah-celah itu. Diagram itu
memperlihatkan hanya dua celah. Sebuah kisi yang sesungguhnya dapat
15

terdiri dari beberapa ribu celah. Jarak d di antara pusat-pusat dari celah-celah
yang berdekatan dinamakan jarak kisi. Sebuah gelombang monokromatik
bidang masuk secara normal pada kisi dari sisi kiri. Kita menganggap kondisi
medan jauh (kondisi fraunhofer) yakni, pola itu dibentuk pada sebuah layar
yang cukup jauh sehingga semua sinar yang muncul keluar dan pergi ke
sebuah titik tertentu pada layar.
Maksimum-maksimum intensitas utama dengan celah ganda terjadi
dalam arah-arah yang sama seperti untuk pola dua celah. Ini adalah arah-arah
untuk mana selisih lintasan untuk celah-celah yang berdekatan adalah
kelipatan bilangan bulat dari panjang gelombang. Maka posisi maksimum-
maksimum itu diberikan oleh:
d sin U = m P (m = 0, ±1, ±2, ±3, ...) (2.1)
keterangan : d = jarak antar celah pada kisi
U = sudut deviasi
m = garis-garis orde
P = panjang gelombang




16








Gambar 2.4. Difraksi Cahaya Oleh Kisi Difraksi
Dengan menghitung jarak antara kisi dengan layar ( x ) dan jarak
antara terang pusat m = 0 dengan spektrum cahaya yang akan diukur ( y ).
Maka, jarak spektrum warna yang diukur dengan kisi dapat ditentukan
dengan rumus phytagoras :
AC
2
= AB
2
+ BC
2

r
2
= x
2
+ y
2





Gambar 2.5. Segitiga Siku-Siku







Sumber
cahaya
m = 0
m = +1
m = +2
m = -2
m = -1
d
Kisi
difraksi
y
x
U
17

Aturan trigonometri untuk sudut siku-siku adalah sin U =
sehingga perumusan panjang gelombang untuk d sin = mP menjadi:
d = mP
mP= d
P=
P= ( 2.2 )

Bila sebuah kisi yang mengandung ratusan atau ribuan celah disinari
oleh sebuah berkas sinar-sinar cahaya monokromatik yang sejajar, maka pola
itu adalah sederet garis-garis yang sangat tajam pada sudut-sudut yang
ditentukan oleh sebuh Persamaan (2.1). Garis-garis m= ±1 dinamaka garis-
garis orde pertama, garis-garis m= ±2 dinamakan garis-garis orde kedua dan
seterusnya. Jika kisi itu disinari oleh cahaya putih dengan distribusi panjang
gelombang kontinu maka setiap nilai m bersesuaian dengan sebuah
pesekutuan kontinu dalam pola itu.
18

Kisi difraksi sangat banyak digunakan untuk mengukur spektrum
cahaya yang dipancarkan oleh sebuah sumber, dan pengukuran ini dinamakan
spektroskopi atau spektrometri.
Cahaya yang masuk pada sebuah kisi yang jarak celahnya diketahui
didispersikan ke dalam sebuah spektrum. Sudut-sudut deviasi dari
maksimum-maksimum kemudian diukur, dan Persamaan (2.2) digunakan
untuk menghitung panjang gelombang. Dengan menggunakan sebuah kisi
yang banyak celah, maka dihasilkan maksimum-maksimum yang sangat
tajam, dan sudut deviasi dapat diukur secara sangat teliti.
Bila suatu gas dipanaskan, maka gas itu memancarkan cahaya yang
panjang gelombangnya merupakan karakteristik dari atom dan molekul
tertentu yang membentuk gas itu. Pengukuran panjang gelombang ini akan
membolehkan kita untuk menentukan komposisi kimia gas itu. Satu dari
antara banyak pemakaian cara ini adalah pada bidang astronomi, di mana cara
itu digunakan untuk menguji kadar kimia dari bintang jauh dan awan gas.
B. Kerangka Berpikir
Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik dengan panjang
gelombang tertentu. Panjang gelombang dari cahaya tergantung dari sumber
cahaya itu sendiri, beberapa sumber cahaya diantaranya adalah radiasi panas
(bola lampu, matahari, partikel padat dalam suhu tinggi), emisi spektral
atomik (laser, light emitting diode, lampu gas) dan lain-lain. Lampu neon
19

sebagai salah satu sumber cahaya memancarkan cahaya dengan panjang
gelombang yang berbeda dengan panjang gelombang sumber cahaya yang
lain. Cahaya putih yang dihasilkan oleh lampu neon dapat dipecahkan
menjadi jalur-jalur warna yang disebut dengan spektrum dengan
menggunakan kisi difraksi. Warna-warna cahaya yang dihasilkan oleh kisi
difraksi memiliki panjang gelombang yang berbeda. Dengan menentukan
jarak antara kisi dengan layar dan jarak antara terang pusat dengan spektrum
masing-masing warna dan pada orde berapa warna-warna itu akan dihitung,
maka panjang gelombang dari setiap warna dapat ditentukan.

20

BAB III
METODOLOGI
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini bertempat di Pusat Laboratorium (PUSLAB) PMIPA
Fisika Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan STKIP Hamzanwadi
Selong.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan sejak pengajuan judul bulan maret 2009
sampai dengan tanggal 25 Juli 2009
B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen.
C. Desain Penelitian
1. Alat
a) Kisi Difraksi
b) Tempat lampu
c) Kabel
d) Sumber tegangan
e) Jangka sorong
f) Lensa positif
21


g) Layar
2. Bahan
a) Lampu neon
D. Posedur Penelitian
1. Meletakkan kisi seperti pada gambar di bawah, engan jarak 16 cm dari layar (
x = 16 cm)




Gambar 3.1 Rangkaian Percobaan
2. Menyalakan lampu
3. Mengatur jarak lensa dengan kisi ( 300 garis/mm ) sampai mendapatkan
spektrum yang jelas pada layar.
4. Mengamati spektrum yang tejadi melalui kisi
5. Mengukur jarak terang pusat dengan warna yang nampak pada kisi sebagai y,
masukkan data pada tabel.
6. Mengulangi percobaan ke-5 untuk x = 17 cm, 18 cm, 19 cm, 20 cm.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan menyajikan setiap data yang diperoleh sesuai dengan prosedur penelitian
Sumber
Cahaya
Lampu
Neon
Lensa positif Kisi difraksi layar
22


diatas dalam bentuk tabel. Format tabel yang direncanakan adalah sebagai
berikut:
Tabel 3.1. Data Hasil Penelitian Pada Spektrum Cahaya Neon
No. Spektrum Cahaya x ( m ) y ( m )

Orde Ke -
1.

0,16
2. 0,17
3. 0,18
4. 0,19
5. 0,20

Tabel 3.2. Data Hasil Penelitian Pada Spektrum Cahaya Neon
No. Spektrum Cahaya x ( m ) y ( m )

Orde Ke -
1.

0,16
2. 0,17
3. 0,18
4. 0,19
5. 0,20





23



Tabel 3.3. Data Hasil Penelitian Pada Spektrum Cahaya Neon
No. Spektrum Cahaya x ( m ) y ( m )

Orde Ke -
1.

0,16
2. 0,17
3. 0,18
4. 0,19
5. 0,20

Keterangan : y = jarak antara pusat terang dengan warna
U = sudut bias yang dibentuk oleh spektrum dengan pusat
terang.
P = panjang gelombang dari spektrum cahaya.
F. Teknik Analisis Data
Analisa data adalah teknik yang digunakan untuk menganalisis data
yang diperoleh dari suatu penelitian yang penting sekali. Dengan
menganalisis data dapat memberikan gambaran makna yang diperlukan dari
data yang diperoleh pada penelitian.
Analisa data dalam penelitian ini menggunakan metode kuadrat
terkecil.

24


Rumus untuk mencari panjang gelombang untuk spektrum cahaya
adalah
P= dengan = r,
Menentukan persamaan garis lurus y=mx dari rumus diatas
P=



y = m
g
x
dengan mendapatkan nilai y, m
g
dan x dalam persamaan untuk mencari
panjang gelombang. Sesuai dengan analisis data yang digunakan adalah
metode kuadrat terkecil. Maka, persamaan metode kuadrat terkecil dalam
menghitung m, n, dan dapat dicari dari data x
i
dan y
i
yang diperoleh
dari percobaan.

25






Dengan mendapatkan nilai m
g
dan m dari persamaan diatas maka panjang
gelombang cahaya yang akan dicari dapat ditentukan dengan perumusan :

Dimana :
= panjang gelombang
m
g
= garis kemiringan dari persamaan kuadrat terkecil
d = jarak antar celah pada kisi
m = garis-garis orde
26

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Data Hasil Penelitian
Tabel 4.1. Data Hasil Pengamatan pada Spektrum Cahaya Biru
No. Warna Spektra x ( m ) y ( m )

Orde Ke -
1.
Biru
0,16 0,0214 0,161424781 1
2.
0,17 0,0230 0,171685759 1
3.
0,18 0,0246 0,181673223 1
4.
0,19 0,0258 0,191743683 1
5.
0,20 0,0276 0,201895418 1

Tabel 4.2. Data Hasil Pengamatan pada Spektrum Cahaya Hijau
No. Warna Spektra x ( m ) y ( m )

Orde Ke -
1.
Hijau
0,16 0,0264 0,162163374 1
2.
0,17 0,0280 0,172290452 1
3.
0,18 0,0290 0,182321145 1
4.
0,19 0,0314 0,192577153 1
5.
0,20 0,0333 0,202753298 1


27

Tabel 4.3. Data Hasil Pengamatan pada Spektrum Cahaya Jingga
No. Warna Spektra x ( m ) y ( m )

Orde Ke -
1.
Jingga
0,16
0,0300 0,162788206 1
2.
0,17
0,0320 0,172985548 1
3.
0,18
0,0338 0,183090824 1
4.
0,19
0,0360 0,193455317 1
5.
0,20
0,0384 0,203709818 1

B. Analisis Data Hasil Penelitian
Rumus mencari panjang gelombang untuk spektrum cahaya adalah
P= dengan = r,
Menentukan persamaan garis lurus y=mx dari rumus diatas
P=


28


y = m
g
x
Persamaan yang bersesuaian pada rumus mencari spektrum cahaya
dengan persamaan garis lurus y = mx dimana y = y, m = , dan x = r.
Setelah kita mendapatkan persamaan di atas, kita akan menganalisa data dari
tiap-tiap spektrum cahaya sebagai berikut :
1. Analisa data untuk spektrum cahaya warna biru
Tabel 4.4 Tabel Perhitungan Spektrum Cahaya Biru
No. Warna Spektra y
i


1.
Biru
0,0216 0,161451417
2.
0,0233 0,171589306
3.
0,0243 0,181632844
4.
0,0261 0,19178428
5.
0,0274 0,201868175
™ y
i
= 0,1227 ™ x
i
= 0,908326022





29





Tabel 4.5 Tabel Bantuan Analisa Data Spektrum Cahaya Biru
No.
Data perhitungan
x
i
2
y
i
2
x
i
y
i

1.
0,02606656 0,00046656 0,003487351
2.
0,02944289 0,00054289 0,003998031
3.
0,03299049 0,00059049 0,004413678
4.
0,03678121 0,00068121 0,00500557
5.
0,04075076 0,00075076 0,005531188
™ ™ x
i
2
= 0,16603191 ™ y
i
2
= 0,00303191 ™ x
i
y
i
= 0,02243582
a. Menentukan besarnya nilai m, Sy dan m.
Besarnya nilai m



30





Besarnya nilai Sy







Besarnya nilai m
31








b. Menentukan besarnya nilai dan dengan jarak celah antar kisi ( d )
adalah 3.333 10
-9
m pada orde pertama ( m = 1 ).




m
32





m

c. Menentukan Ketidakpastian Relatif ( KR )




Berdasarkan nilai KR diatas maka berhak atas dua angka penting
d. Menentukan Ketelitian dari percobaan ( K )
K = 100% - KR
K = 100% - 22,4%
K = 77,6%
e. Laporan
33

Jadi besarnya panjang gelombang untuk spektrum cahaya warna
hijau adalah :
m
m





2. Analisa data untuk spektrum cahaya warna hijau
Tabel 4.6 Tabel Hasil Pengamatan Spektrum Cahaya Hijau
No. Warna Spektra y
i


1.
Hijau
0,0264 0,162163374
2. 0,0280 0,172290452
3. 0,0290 0,182321145
4. 0,0314 0,192577153
5. 0,0333 0,202753298
™ y = 0,1481 ™ x = 0,912105422

Tabel 4.7. Tabel Bantuan Analisa Data Spektrum Cahaya Hijau
34

No.
Data perhitungan
x
i
2
( m ) y
i
2
( m ) x
i
y
i
( m
2
)
1.
0,02629696 0,00069696 0,004281113
2.
0,029684 0,000784 0,004824133
3.
0,033241 0,000841 0,005287313
4.
0,03708596 0,00098596 0,006046923
5.
0,0411089 0,00110889 0,006751685
™ ™ x
i
2
= 0,167416819 ™ y
i
2
= 0,00441681 ™ x
i
y
i
= 0,027191166

a. Menentukan besarnya nilai m, Sy dan m.
Besarnya nilai m





Besarnya nilai Sy
35








Besarnya nilai m



36





b. Menentukan besarnya nilai dan dengan jarak celah antar kisi ( d )
adalah 3.333 10
-9
m pada orde ( m ) pertama.










37

c. Menentukan Ketidakpastian Relatif ( KR )




Berdasarkan nilai KR diatas maka berhak atas dua angka penting
d. Menentukan Ketelitian dari percobaan ( K )
K = 100% - KR
K = 100% - 22,5%
K = 77,5%



e. Laporan
Jadi besarnya panjang gelombang untuk spektrum cahaya warna
hijau adalah :
m
m
3. Analisa data untuk spektrum cahaya warna jingga
Tabel 4.8. Tabel Hasil Pengamatan Spektrum Cahaya Jingga
38

No. Warna Spektra y ( m )
( m )
1.
Jingga
0,0300 0,162788206
2.
0,0320 0,172985548
3.
0,0338 0,183090824
4.
0,0360 0,193455317
5.
0,0384 0,203709818
™ y = 0,1702 ™ x = 0,916029713







Tabel 4.9. Tabel Bantuan Analisa Data Spektrum Cahaya Jingga
No.
Data perhitungan
x
i
2
( m ) y
i
2
( m ) x
i
y
i
( m
2
)
1.
0,02650000 0,00090000 0,00488365
2.
0,02992400 0,00102400 0,00553554
3.
0,03352225 0,00114244 0,00618847
39

4.
0,03742496 0,00129600 0,00696439
5.
0,04149769 0,00147456 0,00782246
™ ™ x
i
2
= 0,16886890 ™ y
i
2
= 0,00583700 ™ x
i
y
i
= 0,03139450

a. Menentukan besarnya nilai m, Sy dan m.
Besarnya nilai m






Besarnya nilai Sy


40






Besarnya nilai m







41

b. Menentukan besarnya nilai dan dengan jarak celah antar kisi ( d )
adalah 3.333 10
-9
m pada orde ( m ) pertama.




m




m

c. Menentukan Ketidakpastian Relatif ( KR )


42



Berdasarkan nilai KR diatas maka berhak atas dua angka penting
d. Menentukan Ketelitian dari percobaan ( K )
K = 100% - KR
K = 100% - 22,4%
K = 77,6%
e. Laporan
Jadi besarnya panjang gelombang untuk spektrum cahaya warna
hijau adalah :
m
m
C. Pembahasan
Pada saat peneliti melakukan eskperimen yang dimulai dari menentukan
panjang gelombang spektrum cahaya biru kemudian hijau dan yang terahir
jingga. Dalam menentukan panjang gelombang dari masing-masing warna
dilakukan pengukuran yang berulang-ulang dengan mengganti jarak antara kisi
dengan layar yang mana dimulai dari jarak 16 cm, 17 cm, 18 cm, 19 cm, dan 20
cm. Kisi yang digunakan adalah kisi 300 garis/mm yang berarti jarak antar garis
dalam kisi adalah 1/3 × 10
-5
m. Pada saat mengganti jarak antar kisi dengan
layar didapatkan data-data berbeda yang nantinya kemudian dianalisis dari
43

masing-masing panjang gelombang spektrum cahaya dari neon yang tampak
pada layar. Pada saat layar disinari oleh neon melalui kisi terdapat warna
spektrum yang tampak berupa warna biru, hijau dan jingga. Dari hasil analisis
data yang diperoleh didapatkan panjang gelombang untuk warna-warna yang
berbeda yaitu sebagai berikut :
Tabel 4.10 Tabel Nilai Panjang Gelombang Spektrum Cahaya Hasil Analisa
Data
No. Warna spectrum

1 Biru 4,8 x 10
-7
m
2 Hijau 5,6 x 10
-7
m
3 Jingga 6,8 x 10
-7
m
Berdasarkan analisa data untuk panjang gelombang spektrum cahaya
neon pada tabel di atas tidak jauh berbeda dengan yang ada pada teori. Dalam
teori panjang gelombang untuk warna-warna yang tampak seperti biru, hijau dan
jingga berturut-turut berkisar 4 x 10
-7
m, 5 x 10
-7
m, dan 6 x 10
-7
m. Itulah yang
membuat peneliti yakin akan hasil eksperimen yang dilakukan.

44
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimp
ulan
Dari hasil percobaan yang dilakukan oleh peneliti dapat ditarik
beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1. Warna
cahaya yang tampak oleh lampu neon ketika melalui kisi difraksi 300
garis/mm adalah warna biru, hijau dan jingga.
2. Panjang
gelombang spektrum cahaya yang tampak seperti biru, hijau dan
jingga berturut-turut adalah 4,8 x 10
-7
m, 5,6 x 10
-7
m, dan
6,8 x 10
-7
m.
3. Panjang
gelombang spektrum cahaya tampak dari yang terpanjang sampai yang
terpendek adalah jingga, hijau dan biru.
4. Panjang
gelombang spektrum cahaya neon dari hasil eksperimen setelah di
bandingkan dengan teori ternyata tidak jauh berbeda.
B. Saran

45
Hal-hal yang perlu sekali diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang
akurat diantaranya adalah alat ukur dan kisi difraksi. Alat ukur dengan ketelitian
yang baik akan mendapatkan hasil yang lebih teliti. Sedangkan dalam
46

menentukan kisi difraksi yang digunakan dalam eksperimen adalah haruslah
yang sesaui dengan panjang gelombang cahaya apa yang diukur. Misalkan, pada
eksperimen ini menggunakan kisi difraksi 300 garis/mm, dan ketika
menggunakan kisi difraksi selain 300 garis/mm akan mendapatkan warna-warna
cahaya yang sulit untuk diukur karena warna-warna cahaya tidak terlalu jelas.
47


DAFTAR PUSTAKA
Arthur Beiser. (1987). Konsep Fisika Modern Edisi Keempat. Jakarta :
Erlangga.
Sears, Zemansky. FISIKA UNIVERSITAS JILID 2. Jakarta : Erlangga.
Rahayu Satutik. 2008. PEDOMAN PENYUSUNAN KOLOKIUM DAN KARYA
ILMIAH. Selong : HMPS Fisika STKIP Hamzanwadi Selong.
http://www.wikipedia.org/ cahaya. Diakses pada tanggal 29 Maret 2009.
Fitriansyah, Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung. (2007).
Sejarah Lampu Neon. Tersedia pada http://www.pikiran_rakyat.com/
sejarah lampu neon. Diakses pada tanggal 29 Maret 2009.






48


49


LAMPIRAN ± LAMPIRAN
50


Tebel 6.1 Jadwal Penelitian
No. Keterangan
2009
Maret April Mei Juni Juli Agustus
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1
Pengajuan
Judul


2 Penelitian
3
Konsultasi &
Bimbingan


4 Ujian
5 Revisi
6 Penjilidan
51



Tabel 6.2 Spektrum Cahaya Biru
x = r = ( m )
y (m )
0,161 0,0214
0,172 0,023
0,182 0,0246
0,192 0,0258
0,202 0,0276






Tabel 6.3 Spektrum Cahaya Hijau
x = r = ( m ) y (m )
0.16216337 0.0264
0.17229045 0.028
0.18232115 0.029
0.19257715 0.0314
0.2027533 0.0333

Gambar 6.1 Grafik Hubungan Jarak x dengan y
Pada Spektrum Cahaya Biru
Gambar 6.2 Grafik Hubungan Jarak x dengan y
Pada Spektrum Cahaya Hijau
52


Table 6.4 Spektrum Cahaya Jingga
x = r = ( m )
y (m )
0.16279 0.03
0.17299 0.032
0.18309 0.0338
0.19346 0.036
0.20371 0.0384
Gambar 6.3 Grafik Hubungan Jarak x dengan y
Pada Spektrum Cahaya Jingga
53


















Gambar 6.4 Alat dan Bahan
Gambar 6.5 Rangkaian Alat
Gambar 6.6 Peneliti Sedang Mengatur Jarak Kisi Dengan Layar
54


















Gambar 6.7 Peneliti sedang Mengamati
Gambar 6.8 Spektrum Cahaya Tampak Oleh Lampu Neon
Dengan Kisi 300 garis/mm
Gambar 6.9 Peneliti Mengatur Jarak Layar

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->