P. 1
IPTD Lap Postulat Koch Fix

IPTD Lap Postulat Koch Fix

|Views: 1,404|Likes:
Published by Andrixinata B

More info:

Published by: Andrixinata B on Dec 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2013

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR

POSTULAT KOCH

Disusun oleh : Etika Ayu Kusumadewi Radhian Ardy Prabowo Nur ’Izza Faiqotul Himmah Tatit Sastrini Triyastuti P. Ningrum Andrixinata B. A34070011 A34070012 A34070013 A34070014 A34070015 A34070016

Dosen pengajar : Dr. Ir. Suryo Wiyono, MSc. Agr Dr. Ir. Abdul Muin Adnan, MS

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2009

2

PENDAHULUAN Latar Belakang Pada umumnya penyakit yang menyerang pertanaman kacang tanah di Indonesia adalah penyakit layu bakteri, bercak daun awal, bercak daun lambat, dan karat yang masing-masing disebabkan oleh Ralstonia solanacearum, Cercospora arachidicola, Cercosporidium personatum, dan Puccinia arachidis. Penyakit karat daun Puccinia arachidis merupakan penyakit yang cukup berbahaya pada pertanaman kacang tanah. Puccinia arachidis sendiri merupakan cendawan parasit obligat yang tidak dapat hidup sebagai secara saprofit. Dalam membuktikan penyebab suatu penyakit, diperlukan metode pembuktian. Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah metode postulat koch. Postulat Koch atau Postulat Henle-Koch ialah 4 kriteria yang dirumuskan Robert Koch pada 1884 dan disaring dan diterbitkannya pada 1890. Menurut Koch, keempatnya harus dipenuhi untuk menentukan hubungan sebab-musabab antara parasit dan penyakit. Ia menerapkannyauntuk untuk menentukan etiologi antraks dan tuberkulosis, namun semuanya telah dierapkan pada penyakit lain. (Wikipedia). Postulat Koch berkembang pada abad ke-19 sebagai panduan umum untuk mengidentifikasi patogen yang dapat diisolasikan dengan teknik tertentu. Walaupun dalam masa Koch, dikenal beberapa penyebab infektif yang memang bertanggung jawab pada suatu penyakit dan tidak memenuhi semua postulatnya. Usaha untuk menjalankan postulat Koch semakin kuat saat mendiagnosis penyakit yang disebabkan virus pada akhir abad ke-19. Pada masa itu virus belum dapat dilihan atau diisolasi dalam kultur. Kini, beberapa penyebab infektif diterima sebagai penyebab penyakit walaupun tidak memenuhi semua isi postulat. Oleh karena itu, dalam penegakkan diagnosis mikrobiologis tidak diperlukan pemenuhan keseluruhan postulat. Tujuan Percobaan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman praktek Postulat koch dalam identifikasi penyebab penyakit tanaman, agar kelak mahasiswa dapat menerapkan di lapangan dan laboratorium.
1

BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Alat dan bahan yang digunakan pada inokulasi pertama adalah biji kacang tanah sebanyak 18 buah, pot kecil 6 buah, tanah untuk media penanaman, plastic, air steril, kertas label, botol semprotan, silet atau cutter, serta daun kacang tanah yang terinfeksi penyakit karat Puccinia arachidis beberapa lembar. Karena pada inokulasi awal tidak berhasil maka diperlukan bahan tambahan untuk inokulasi selanjutnya antara lain : ” Water agar” atau agar air, solatip dan gunting, Metode Patogen yang du uji pada praktikum postulat koch yang telah dilakukan adalah Puccinia arachidis yang menyebabkan penyakit karat pada kacang tanah. Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah pertama pengamatan asosiasi antara gejala dengan tanda penyakit yang ditimbulkan pada tanaman kacang tanah, asosiasi ini ditandai dengan adanya patogen pada tanaman yang sakit. Pengujian dilakukan pada enam tanaman kacang tanah yang ditanam mulai biji. Tiga tanaman digunakan sebagai kontrol dan tiga tanaman lainnya iinokulasi dengan dengan patogen penyebab karat pada kacang tanah. Setelah tanaman mulai tumbuh besar dan memiliki daun yang lebar, kira-kira berumus sekitar 2 minggu, dilakukan proses inokulasi pada tiga tanaman. Pada tahapan inokulasi patogen dilakukan dua kali pengulangan karena teknik isolasi yang lain tidak berhasil dilakukan karena pada tumbuhan yang diinokulasi dengan patogen tidak ditemukan gejala terinfeksi. Teknik inokulasi pertama dilakukan dengan menyemprotkan sumber inokulum yang sudah diambil dari tanaman yang terinfeksi Puccinia arachidis dengan cara mengeriknya dengan pisau cuter yang dicampur dengan air steril ke permukaan bawah daun kacang tanah. Inokulasi patogen ini tidak diawali dengan pelukaan pada jaringan yang akan diinokulasi patogen karena infeksi dari Puccinia arachidis melalui lubang alami, yaitu stomata yang banyak terdapat dibagian bawah permukaan daun dan karenanya penyemprotan dilakukan pada permukaan bawah daun.
2

Setelah proses inokulasi di lakukan ketiga tanaman yang sudah diinokulasi dengan patogen termasuk tanaman kontrol ditutupi oleh plastik trasparan yang terpisah agar tanaman kontrol tidak ikut terinfeksi. Penutupan dengan plastik trasparan dimaksudkan untuk menjaga kelembapan yang akan mendukung pertumbuhan patogen pada tanaman inang. Setelah satu minggu dilakukan pengamatan pada tanaman, dan ternyata tidak timbul gejala terinfeksi pada inang. Inokulasi kembali dilakukan dengan teknik yang lain, yaitu dengan menempelkan sumber inokulum yang disimpan diatas permukaan agar air pada jaringan tanaman. Hal ini dilakukan agar kelembapan dapat terus dipertahankan sehingga uredospora tetap lembab dan patogen bisa tumbuh dengan baik pada inang. Sumber inokulum dari tanaman yang sudah terinfeksi dikerik dengan pisau cuter dan di sebar pada agar air, kemudian agar air dipotong menjadi bagian-bagian kecil dan permukaan agar air yang mengandung sumber inokulum ditempelkan dengan menggunakan solatip di permukaan bawah daun. Setelah sepuluh hari masa inkubasi, dilakukan pengamatan kembali dan terdapat gejala kerusakan yang ditimbulakan oleh patogen ini, berupa bercak berwarna jingga (seperti karat) yang mendominasi permukaan bawah daun. Pada kegiatan ini tidak dilakukan isolasi karena patogen yang digunakan dalam uji ini adalah Puccinia arachidis, patogen yang bersifat parasit obligat sehingga tidak bisa dibiakkan pada media buatan.

3

HASIL DAN PEMBAHASAN Teknik Postulat Koch meliputi empat tahapan, yaitu asosiasi, isolasi, inokulasi, dan reisolasi. Asosiasi yaitu menemukan gejala penyakit dengan tanda penyakit (pathogen) pada tanaman atau bagian tanaman yang sakit. Isolasi yaitu membuat biakan murni pathogen pada media buatan (pemurnian biakan). Inokulasi adalah menginfeksi tanaman sehat dengan pathogen hasil isolasi dengan tujuan mendapatkan gejala yang sama dengan tahap asosiasi. Reisolasi yaitu mengisolasi kembali patogen hasil inokulasi untuk mendapatkan biakan patogen yang sama dengan tahap isolasi. Tahapan Postulat Koch pada penyakit karat kacang tanah tidak meliputi isolasi dan reisolasi. Hal ini dikarenakan cendawan karat merupakan parasit obligat. Menurut Sinaga (2003), parasit obligat adalah parasit yang hidupnya terbatas pada jaringan hidup saja. Parasit ini disebut juga biotropi. Organisme ini belum dapat ditumbuhkan dalam kultur arsenik atau media yang bebas dari segala organisme lain. Dengan kata lain, cendawan karat tidak dapat diisolasi di media buatan. Berdasarkan hasil pengamatan pada tahap asosiasi, gejala penyakit karat yang ditemukan adalah Inokulasi penyakit karat dilakukan pada tanaman kacang tanah yang berumur dua minggu. Inokulasi yang dilakukan menggunakan teknik semprot dengan sprayer. Dalam menginokulasi karat pada kacang tanah, daun tidak perlu dilukai atau ditusuk-tusuk karena cendawan karat menginfeksi melalui lubang alami. Cendawan karat menginfeksi melalui stomata, sehingga penyemprotan dilakukan di permukaan daun bagian bawah. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan presentasi keberhasilan inokulasi karat karena stomata banyak terdapat di permukaan daun bagian bawah. Setelah dilakukan inokulasi, pot kacang tanah disiram dan ditutup plastik agar kondisi lingkungan tetap lembab dan cocok bagi pertumbuhan cendawan. Berdasarkan hasil pengamatan pada minggu pertama setelah inokulasi, tidak ditemukan gejala karat pada kacang tanah. Pada daun kacang tanah yang telah diinokulasi cendawan karat (Puccinia arachidis) ternyata tidak ditemukan
4

bercak-bercak karat berwarna orange. Hal ini mungkin disebabkan karena tanaman kacang tanah masih terlalu muda, sehingga masih relatif tahan terhadap penyakit. Selain itu, mungkin air yang digunakan dalam pembuatan cairan inokulasi karat terlalu banyak, sehingga jumlah inokulum karat yang disemprotkan ke tanaman terlalu sedikit. Akibatnya, gejala karat belum muncul dalam satu minggu. Karena setelah satu minggu tanaman belum menunjukkan gejala karat, maka dilakukan inokulasi ulang menggunakan agar air (water agar) yang ditempelkan pada permukaan bawah daun. Inokulum karat diletakkan pada media water agar yang berfungsi untuk melembabkan sehingga uredospora dapat berkecambah dan menginfeksi tanaman. Setelah satu minggu dari reinokulasi, tanaman kacang tanah segera menunjukan gejala karat. Gejala karat berupa bercak-bercak berwarna orange yang terlihat jelas pada permukaan bawah daun. Dari tiga pot tanaman kacang tanah yang diinokulasi, total kejadian penyakitnya adalah 100%. Artinya, semua tanaman dalam ketiga pot menunjukkan gejala penyakit karat. Pada ketiga pot tanaman kontrol tidak ditemukan gejala karat. Bercak karat ternyata tidak hanya muncul pada daun yang ditempeli water agar, tetapi juga pada daun lain yang tidak ditempeli water agar. Kemunculan bercak pada daun lain ini diduga akibat inokulasi awal yang dilakukan dengan penyemprotan. Cendawan karat tersebut baru tampak gejalanya setelah dua minggu dari waktu inokulasi. Berdasarkan pengamatan, ternyata terdapat perbedaan waktu munculnya gejala antara inokulasi pertama (penyemprotan) dengan inokulasi kedua (water agar). Hal ini terjadi akibat pengaruh kelembaban. Pada inokulasi menggunakan water agar, kelembaban uredospora akan tetap terjaga sehingga cepat berkecambah. Sedangkan pada inokulasi semprot, ada kemungkinan uredospora lambat berkecambah karena menempel di daun yang kurang lembab.

5

Gambar 1. Dari kiri: 1) Pustul karat pada permukaan bawah daun 2) Daun kacang tanah yang terserang karat 3) Uredospora Puccinia arachidis Postulat Koch ialah 4 kriteria yang dirumuskan oleh Robert Koch pada tahun 1884 dan diterbitkan pada tahun 1890. Menurut Koch, keempatnya harus dipenuhi untuk menentukan hubungan sebab-akibat antara parasit dan penyakit (en.wikipedia.org). Isi Postulat Koch antara lain:
1. Organisme (parasit) harus ditemukan dalam tanaman yang sakit, tidak

pada yang sehat
2. Organisme harus diisolasi dari tanaman sakit dan dibiakkan dalam

kultur murni
3. Organisme yang dikulturkan harus menimbulkan penyakit pada

tanaman yang sehat
4. Organisme tersebut harus diisolasi ulang dari tanaman yang dicobakan

tersebut Postulat Koch berkembang pada abad ke-19 sebagai panduan umum untuk mengidentifikasi patogen yang dapat diisolasikan dengan teknik tertentu. Kini, beberapa penyebab infektif diterima sebagai penyebab penyakit walaupun tidak memenuhi semua isi postulat. Oleh karena itu, dalam penegakkan diagnosis mikrobiologis tidak diperlukan pemenuhan keseluruhan postulat. Puccinia arachidis merupakan cendawan penyebab penyakit karat pada kacang tanah. Cendawan ini menurut klasifikasinya termasuk dalam filum Basidiomycota, kelas Urediniomycetes, ordo Uredinales, famili Pucciniaceae, dan genus Puccinia. Penyakit karat dapat dikenali ketika pustul berwarna orange muncul di permukaan daun bagian bawah dan pecah mengeluarkan uredospora yang berwarna coklat kemerah-merahan. Pustul muncul pertama kali di permukaan bawah dan pada cultivar yang sangat rentan pustul awal tersebut dapat dikelilingi oleh koloni pustul-pustul sekunder (www.ikisan.com). Bentuk pustul biasanya
6

bundar dengan diameter 0,5 – 1,4 mm. Gejala penyakit ini tampak seperti bercakbercak coklat muda sampai orange (warna karat) pada daun. Daun gugur sebelum waktunya. Produksi polong pun menurun akibat serangan patogen ini, kandungan minyak pun akan menjadi lebih rendah. Pengendalian penyakit menggunakan varietas tanaman yang resisten. Tanaman yang terserang dicabut dan dibakar. Selain itu juga dengan penyemprotan fungisida yang sesuai dengan kondisi setempat. (Perdana, 2009).

Gambar 1. Tanaman kacang tanah yang terserang karat (sebagai inokulum)

Gambar 2. Pustul penyakit karat dan uredospora cendawan Puccinia arachidis

(a)

(b)

(c)

(d) (e) Gambar 3. Dari kiri atas: (a), (b), (c) dan (d) Tanaman kacang tanah hasil pengujian Postulat Koch (Gejala karat dilingkari merah), (e) Tanaman kontrol
7

KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan dan pengamatan, dapat disimpulkan bahwa Postulat Koch yang dilakukan berhasil. Tanaman kacang tanah yang diinokulasi dengan cendawan karat Puccinia arachidis menunjukkan gejala dan tanda penyakit yang sama dengan tahap asosiasi. Tahapan Postulat Koch yang digunakan hanya meliputi asosiasi dan inokulasi sebab cendawan karat merupakan parasit obligat sehingga tidak dapat diisolasi dalam media buatan.

8

DAFTAR PUSTAKA [Anonim]. 2009. Puccinia arachidis. http://en.wikipedia.org/wiki/Puccinia_ [Anonim]. Groundnut Disease. www.ikisan.com/links/ap_groundnutDisease (15 Juni 2009) [Anonim]. http://www.scielo.br/img/revistas/fb/v31n4/15f1f.jpg (15 Juni 2009) [Anonim].http://www.viarural.com.ar/viarural.com.ar/agricultura/aaenfermedades/puccinia-arachidis-02-red.jpg (15 Juni 2009) Adnan, Abdul Muin. 2009. Ilmu Penyakit Tumbuhan Dasar. Bogor: Departemen Proteksi Tanaman IPB. Perdana, Dimas Aditya. 2009. Budidaya Kacang Tanah. http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/04/budidaya-kacangtanah.html (15 Juni 2009) Sinaga, Meity Suradji. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Jakarta: Penebar Swadaya.

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->