P. 1
Analisa Strategi Preservasi Kepentingan Keamanan dan Ekonomi Amerika Serikat melalui Implementasi Smart Power dalam Strategic and Economic Dialogue Amerika Serikat-Cina di bawah Pemerintahan Barack Obama

Analisa Strategi Preservasi Kepentingan Keamanan dan Ekonomi Amerika Serikat melalui Implementasi Smart Power dalam Strategic and Economic Dialogue Amerika Serikat-Cina di bawah Pemerintahan Barack Obama

|Views: 1,195|Likes:
Published by Rainintha
i like this.
i like this.

More info:

Published by: Rainintha on Dec 21, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Selama 30 tahun terjalinnya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Cina, kedua belah pemerintah belum pernah terlibat dalam kerjasama bilateral tingkat tinggi khususnya untuk membicarakan masalah domestik dan global. Selama ini hubungan ASCina selalu dideskripsikan dengan terminologi yang menggambarkan persaingan dan kesalahpahaman. Khususnya ketika hubungan kedua negara diperburuk pasca kejadian Pembantaian Tiananmen 1989 dan friksi Cina-Taiwan. Pada tahap perkembangan politik internasional dewasa ini, Cina juga terlihat semakin jauh dari jangkauan AS, dan lebih memilih untuk menjalin kemitraan strategis dengan Rusia dalam forum Shanghai Cooperation Organization maupun ataupun memberikan bantuan pembangungan kepada berbagai negara di Afrika yang bebas persyaratan politik. Kemajuan ekonomi Cina dan stance politik Cina telah memberikan sinyalmen ancaman kepada kepentingan ekonomi dan keamanan AS. Dua pendapat berseberangan menyatakan bahwa geliat fenomena bisa dilihat sebagai tantangan ataupun peluang bagi AS. Sejak pemerintahan Bush Jr., AS lebih melihat Cina sebagai mitra dialog seperti yang diindikasikan pada proyek hasil inisiatif Presiden George Bush dan Menteri Keuangan, Henry M. Paulson yang mengajak Cina untuk duduk bersama, menyelesaikan permasalahan yang sepertinya mengganjal kepentingan nasional kedua negara terutama dalam isu ekonomi. Pertemuan tahunan ini bersifat eksklusif: dihadiri oleh petinggi negara dan bersifat tertutup untuk Cina dan AS saja. Wajah baru diplomasi AS terhadap Cina ini bernama Strategic Economic Dialogue. Karakter dialog ekslusif ini akhirnya mengalami perluasan lingkup topik di bawah kepemimpinan Presiden Obama yang tidak hanya membicarakan masalah ekonomi antara negara, namun juga masalah strategis dan geopolitik yang merupakan kepentingan kedua negara. Pertemuan ini sejak Februari 2009 diubah namanya menjadi Strategic & Economic Dialogue. Dialog ini menjadi unik, karena dialog ini adalah pionir komunikasi bilateral tingkat tinggi AS dan Cina sejak terakhir kali dialog dilakukan untuk mengadakan perjanjian antara AS-Cina supaya AS mengurangi perdagangan senjata kepada Taiwan dan supaya Cina menjaga keharmonisan dengan Taiwan1. Meski hubungan Cina dan AS terlihat konfliktual di permukaan, pendekatan Presiden Barack Obama kepada Cina bukanlah 1 Steven.I.Levine,Sino-American Relations : Testing The Limits of Discord, dalam Samuel S.Kim, China and
the World: Chinese Foreign Relations in the Post Cold War Era, (Oxford: Westview Press, 1994)hal.79

1

koersif, melainkan sangat diplomatis dan cenderung akomodatif. Bagi Obama, kedua negara sangat bergantung satu sama lain. Dialog ini juga menjawab tantangan aktual mengenai krisis keuangan AS. Sementara, Cina tidak terkena imbas krisis finansial global dan malah sedang menguasai simpanan yang merupakan surat hutang Amerika Serikat sebanyak USD 800 milyar2. AS juga mendapati bahwa Cina telah melakukan manipulasi perdagangan internasionalnya dengan AS, dimana Cina dengan ukuran ekonomi aktualnya bersikeras tidak ingin merevaluasi mata uang Renminbinya supaya bisa menciptakan keseimbangan pada neraca perdagangan kedua negara3. Selain itu, Obama melihat bahwa ada sebuah wacana untuk mempertahankan US Leadership dan membangun citra AS yang baru dan segar di muka petinggi dan publik Cina, maka AS harus menjadi AS yang lebih ”mendengar sesama” dan menjadikan Cina sebagai mitra dialog dan kerja sama, khususnya bila menyadari perkembangan politik dunia akhir-akhir ini. Bentuk interaksi seperti inilah yang akan penulis asumsikan sebagai smart power4. Respon ini bisa bervariasi menyesuaikan pada kondisinya. Gejala perubahan tata dunia kontemporer misalnya, melahirkan banyak new emerging powers yang menggoncang kedudukan AS sebagai hegemoni tunggal. Di lain pihak, politik domestik Melalui makalah ini, kita akan melihat bahwa konsep dialog bilateral eksklusif AS terhadap Cina adalah bentuk preservasi kepemimpinannya di kawasan Asia Timur maupun global dan juga sebuah bentuk kerjasama untuk meraih kepentingan nasionalnya yang hanya bisa dilakukan dengan keterlibatan Cina.

1.2.Rumusan Permasalahan Bagaimanakah konsep smart power diterapkan dalam diplomasi Amerika Serikat terhadap Cina melalui Strategic and Economic Dialogue dalam rangka preservasi kepentingan keamanan dan ekonomi AS di bawah pemerintahan Barack Obama ? 1.3.Tujuan Penulisan

2 Josef Joffe, The Default Power, dalam Foreign Affairs, 00157120, Sep/Oct2009, Vol. 88, Issue 5. Hal 24 3 C. Fred Bergsten, A Partnership of Equals: How Washington Should Respond to China’s Economic
Challenge, dalam Foreign Affairs, May/June 2009, Vol. 88, hal.59 http://www.jstor.org/stable/1403997

4 Ross Hoffman, U.S Foreign Policy, dalam Review Politik vol. 5, no,4 (Oktober 1973) hal.40, diakses dari 2

1.4.Kerangka Konsep Konsep Smart Power merupakan konsep baru yang dicetuskan oleh Suzanne Nosel. Konsep ini merupakan kolaborasi atas penggunaan hard power dan soft power. Dalam kebijakan luar negeri AS, istilah hard power merujuk pada pengunjukkan kekuatan militerSmart Power mengandung arti bahwa pemerintah bisa bekerja sama untuk sebuah kepentingan bersama dan global. Biasanya istilah soft power digunakan untuk menjelaskan berbagai pentuk persuasi AS dalam bentuk perjanjian dagang, bantuan luar negeri, diplomasi dan pengaruh budaya (melalui film atau musik)5. Hal ini juga melibatkan penggunaan leverage militer, diplomasi, politik, legal, budaya dan yang terpenting adalah pemilihan instrumen yang tepat dengan penyesuaian kebutuhan untuk melancarkan kebijakan luar negeri.6 Smart Power sangat mengedepankan khasanah implementasi kebijakan luar negeri yang mengedepankan dialog bilateral maupun multilateral maupun kemitraan dan aliansi Pada penyampaian pidato penerimaan jabatan Menteri Luar Negeri, Hillary Clinton menambahkan bahwa metode smart power akan menjadi karakteristik implementasi kebijakan luar negeri AS di bawah kepemimpinan Baarack Obama. Dalam hubungan internasional, Pendekatan ini mengurangi bobot penggunaan kekuatan militer, namun mulai mengandalkan dialog dan mkemitraan dalam segala aspek untuk mempertahankan pengaruh AS7. Smart power yang merupakan strategi Amerika saat ini mempunyai empat prinsip utama dalam politik Amerika Serikat, yaitu mempertahankan kepemimpinan Global baik dalam lingkup politik, ekonomi, dan pertahanan keamanan, mempertahanakan pola interaksi beserta Negara yang mempunyai pengaruh kuat, diteruskan memperkuat berbagai institusi internasional yang merupakan perwujudan dalam mekanisme berbagai permasalahan global yang diselesaikan dan yang terakhir untuk memperluas nilai demokrasi secara menyeluruh8

5 Richard L. Armitage dan Joseph S. Nye. Commission on Smart Power: A Smarter, More Secure America,Jr.
diakses dari http://belfercenter.ksg.harvard.edu/publication/18057/csis_commission_on_smart_power.html, hal.13

6Keith Porter, Developing an Integrated Foreign Policy: What is Smart Power. Diakses dari
http://usforeignpolicy.about.com/od/backgroundhistory/a/smartpower.htm

7 Richard L. Armitage dan Joseph S. Nye. Op.cit., hal.15 8 Ibid 3

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Diskursus Kebangkitan Cina Cina adalah salah satu aktor kuat dengan kekuatan ekonomi dan militer yang dianggap mampu menyaingi kapabilitas Amerika Serikat (AS) dewasa ini. Pemerintah Cina memiliki cadangan USD 800 milyar dalam bentuk simpanan yang merupakan hutang Amerika Serikat kepada Cina. Tingkat pendapatan domestik (GDP) Cina di tahun 2007 bertumbuh dari $3.3 triliun menjadi $8 triliun dan 9.Berbicara mengenai ranah soft power, berarti kita akan membicarakan mengenai penciptaan pengaruh dan legitimasi negara lain. Pada beberapa tahun terakhir, Cina telah menjadi pemimpin atau ketua sidang dalamberbagai sidang multilateral, dimana keterlibatan dan kepemimpinan AS memang sedang mengalami penurunan. Untuk melakukan pendekatan terhadap organisasi regional tetangga, yakni ASEAN, Cina tidak serta merta meninggalkan konsep ASEAN Way yang sering ditinggalkan atau diacuhkan oleh AS, ASEAN Way sebuah konep non-konfrontatif, pengembangan dialog dan non-intervensionis terhadap kebijakan domestik di masing-masing negara10. Cina sangat aktif dalam beberapa keanggotaan organisasi internasional seperti ASEAN Regional Forum (ARF), ASEAN + 3 dan kelompok Shanghai Cooperation Organization (SCO). Cina juga tidak hanya akan membuka pasarnya bagi negara-negara di Asia Tenggara, namun juga kepada Korea Selatan dan bahkan Utara
11

. Di belahan bumi Selatan, pengaruh Beijing

sudah mulai ditangkap oleh negara di Amerika Selatan, Timur engah maupun Afrika. Beijing membuka pangsa pasar yang besar bagi negara-negara berkembang di kawasankawasan tersebut. Selain itu, Cina juga kerap melakukan penghapusan utang negara berkembang dan sering memberikan asistensi politik maupun ekonomi yang bebas dan jauh dari prasyarat ekonomi maupun politis. Bagi negara-negara miskin dan berkembang, pengaruh Cina kepada pembangunan mereka dilihat sebagai alternatif untuk mencari perlindungan dan bantuan. Persepsi ini merupakan substitusi relatif terhadap mundurnya kepeminpinan AS secara relatif 9 Josef Joffe, The Default Power, dalam Foreign Affairs, 00157120, Sep/Oct2009, Vol. 88,
Issue 5. Hal 24

10 “________”,China’s Soft Power, http://www.time.com/time/world/article/0,8599,1939568,00.html?
iid=sphere-inline-bottom

11 Ibid 4

2.2.Pasang Surut Hubungan Luar Negeri AS-Cina Hubungan kedua negara biasanya dijelaskan dalam deskripsi yang kompleks dan penuh dengan persaingan. Kebanyakan dari persaingan ini adalah produk dari persepsi dan image mereka terhadap satu sama lain. Karakter hubungan keduanya bisa diidentifikasikan sebagai dialektika antara bukan aliansi, namun juga bukan musuh. Secara umum, Pemerintah AS tidak melihat Cina sebagai musuh, melainkan sebagai kompetitor di beberapa isu dan teman di beberapa isu tertentu lainnya. Saat ini ekonomi AS adalah yang terkuat di dunia, sedangkan Cina menempati posisi kedua, dengan menggantikan posisi Jepang12. Keduanya merupakan konsumen energi fosil, batu bara dan minyak bumi, yang terbesar di dunia. Kedua negara juga merupakan penghasil gas rumah kaca terbesar sehingga memiliki beban dan tanggung jawab yang besar dalam menanggulangi efek perubahan iklim. Sesungguhnya hubungan AS-Cina sudah relatif stabil, kendati mendapati dinamika fluktuatif dalam beberapa kesempatan seperti pencobaan intervensi AS terhadap isu pelanggaran HAM pemerintah Cina kepada rakyat di Tibet, Xinjiang, keterbatasan dalam akses terhadap informasi,tidak adanya kebebasan pers, minimnya pertumbuhan masyarakat sipil maupun status politik Taiwan. Hubungan antara keduanya diperburuk setelah kejadian di Tiananmen, Beijing. Dimana peristiwa tersebut merupakan noda terhadap konsep perlindungan rakyat oleh Cina, dan dianggap sebagai kesalahan fatal di mata Amerika Serikat karena kontradiktif terhadap kepentingan dan nilai yang dibela oleh AS. Pasca Pembantaian Tiananmen, hubungan AS dan Cina bagai berada di ujung tanduk. Respon pemerintah AS, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Ronald Reagan dan awal pemerintahan Presiden George Bush I adalah konfrontasi terhadap Cina dalam berbagai bidang. Konfrontasi pertama yang dijatuhkan AS kepada Cina adalah skorsing berupa moratorium terhadap hubungan dagang, investasi Cina ke AS, dan pembekuan perusahaan asuransi swasta Cina pada tanggal 5 Juni 198913. Moratorium ini akhirnya dicabut oleh Presiden Bill Clinton pada tahun 2001. Presiden George Bush I juga membebankan embargo ekspor persenjataan AS kepada Cina dari tahun 1990-1994. AS juga secara eksplisit menolak proposal donasi Cina terhadap World Bank dan kredit IMF yang ditujukan untuk proyek-proyek pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, karena bagi AS, Cina telah gagal memberikan kesejahteraan bahkan bagi rakyat di dalam negerinya sekalipun. Hubungan antara AS-Cina semakin diperburuk ketika NATO meledakkan kedutaan Cina di Belgrade, Serbia pada tahun 1999. NATO mengkonfirmasi bahwa unsur kesalahan 12WM Morrisson,China’s Economic Outlook,diakses dari http:// www.fas.org/sgp/crs/row/IB98014.pdf 13 Steven I. Levine, Op.cit.,hal.90 5

intelijen mereka, namun Cina tidak menerima alasan ini dan malah menuduh bahwa pengeboman tersebut dilakukan secara sengaja dan atas dasar prakarsa AS.14. Pasca serangan 9/11, mulai terlihat hawa segar normalisasi hubungan internasional Cina dan AS terutama setelah Cina menawarkan dukungan publiknya dan juga dukungan Cina di Dewan Keamanan PBB dalam resolusi 1373 mengenai penggelaran pasukan koalisi ke Afghanistan dalam misi War on Terrorism15. Cina bukan saja mendukung inisiatif AS, namun juga mendonasika USD 150 juta untuk proyek rekonstruksi Afghanistan pasca jatuhnya Taliban Banyak klaim dilontarkan bahwa kebijakan luar negeri AS sudah semakin oportunis. Hal ini terlihat pada penerapan kebijakan luar negeri AS ke Cina, dimana kendati politik domestik Cina adalah ancaman bagi nosi demokratisasi AS, namun ada beberapa kepentingan AS dan Cina yang menciptakan interdpendensi, sehingga memungkinakan untuk kedua belah pihak untuk menjadi mitra dialog dan kerja sama. Pertumbuhan pesat Cina secara ekonomi, sayangnya paradoks terhadap proteksi pemerintah terhadap HAM warga sipil sehingga cukup untuk menyatakan bahwa secara gagasan dan implementasi, merupakan ancaman kepada dominasi AS16. Lebih penting lagi, kita harus melihat dimensi bahwa kedua negara adalah mitra dagang terbesar bagi satu sama lain dan memiliki kepentingan yang sama dalam mencegah dan memberantas terorisme dan proliferasi senjata pemusnah massal. Cina memiliki USD 2 triliun,dalam bentuk surat hutang Amerika Serikat, yang merupakan konsumsi Cina untuk mendanai paket stimulus AS bagi perusahaan di dalam negeri dalam rangka memperbaiki keadaan perekonomian domestik AS pada masa krisis17. Menteri Keuangan AS sebelumnya, Henry M.Paulson pernah mengindikasikan bahwa ketidakseimbangan struktural ini juga harus diperbaiki guna membantu AS keluar krisis finansial. Pada tanggal 23 Febrruari 2009, Menteri Luar Negeri, Hillary Rodham Clinton berhasil mengunjungi Cina dan meyakinkan para petinggi Cina untuk memastikan bahwa pangsa pasar AS di Cina masih merupakan tempat aman bagi Cina untuk menanamkan investasi dan kedua belah pihak setuju untuk menggalakkan investasi dari

14“_____”, US Bombing Of Chinese Embassy: Implausible Blunder?
www.globalpolicy.org/component/content/article/.../38827.html

15“_____”,What Obama and China Disagree On, diakses dari
http://www.time.com/time/world/article/0,8599,1939568,00.html?iid=sphere-inline-bottom

16 C. Fred Bergsten, A Partnership of Equals: How Washington Should Respond to China’s Economic
Challenge, dalam Foreign Affairs, May/June 2009, Vol. 88, hal.57

17 A Special Report on China and America: A Message from Confucius, diakses dari
http://www.economist.com/specialreports/displaystory.cfm?story_id=14678507

6

negara masing-masing ke negara satu sama lain18. Meskipun Cina adalah pemegang hutang AS terbanyak saat ini, Cina dianggap sebagai juruselamat untuk memecah kebuntuan di dalam menyelesaikan krisis finansial global. 2.3.STRATEGIC & ECONOMIC DIALOGUE (Dialog Strategis dan Ekonomi) 2.3.1.Proses Pembentukan dan Metamorfosis Dialog bilateral ini merupakan bentuk dialog bilateral eksklusif yang pertama kali pernah terjadi pada sejarah hubungan diplomatik AS dan Cina. Dialog ini diprakarsai oleh Wakil Menteri Keuangan AS bernama Hank Paulson dan atas mandat dari Presiden George W.Bush. Pertemuan Strategic Economic Dialogue yang pertama kali bertempat di Beijing pada Desember 2006. Pertemuan pertama di Beijing menghasilkan keputusan, bahwa dialog tersebut bukanlah dialog eksklusif AS-Cina untuk pertama dan teakhir kalinya, namun harus terus dilanjutkan untuk terjadi setiap tahunnya. Salah satu keberhasilan diplomasi AS terhadap Cina pada masa dialog SED di bawah pemerintahan Bush adalah dimana Cina bersedia untuk mengapresiasikan nilai mata uangnya sebesar 20% terhadap dollar Amerika19. Normalisasi citra AS di mata dunia dan jalinan hubungan diplomatik yang non-koerif dengan seluruh negara adalah salah satu kunci dari kebijakan luar negeri AS di bawah pemerintahan Barack Obama 2009-2013. Pada lawatan Hilary Clinton ke Cina pada Februari 2009, Clinton menyampaikan pesan dari Presiden Obama yang menginginkan tetap diaadakanya pertemuan SED namun dengan perluasan topik pembicaraan dalam dialog bilateral. Dialog tidak hanya akan membahas mengenai masalah ekonomi dan perdagangan, namun juga isu keamanan dan politik yang menajdi agenda dan kepentingan kedua negara. Permintaan ini disambut secara positif oleh Presiden Hu Jin Tao dan Perdana Menteri Wang Qishan. Adapun Strategic & Economic Dialogue (S&ED) memiliki batasan, karena hanya isu yang merupakan kepentingan bersama oleh AS dan Cina sajalah yang menjadi topiktopik penting yang diangkat ke dalam dialog20. Maka beberapa isu sensitif seperti 18 William Cohen dan Maurice R.Greenberg, Smart Power in US-China Relations: A Report of the CSIS
Commission in China,diakses dari http://ics.leeds.ac.uk/papers/gdr/exhibits/808/US-China.pdf, hal. 11

19 Dennis Wilder,The U.S-China Strategic and Economic Dialogue: Continuity and Change in Obama’s
China Policy, http://www.jamestown.org/programs/chinabrief/single/? tx_ttnews[tt_news]=34989&tx_ttnews[backPid]=25&cHash=fb1545df57

20 Thomas Wilkins, The New Equlibrium of From US and China, http://www.chinastakes.com/2009/8/thenew-equilibrium-from-the-us-china-sed.html

7

perlindungan HAM dan normalisasi hubungan Taiwan dan Cina, tidak akan dibahas di sini. Dialog ini menjadi lebih menarik di bawah kepemimpinan Obama, terutama ketika Obama mencantumkan nama Hilary Clinton, Menteri Luar Negeri AS dalam daftar nama negosiator AS kepada Cina. Hal ini menegaskan bahwa ranah kerjasama AS dan Cina melalui S&ED bukanlah domain menteri keuangan semata, sehingga menegaskan bahwa AS melihat agenda S&ED sadalahagenda penting dalam kebijakan luar negerinya sehingga dirinya harus sampai melibatkan Menter Luar Negeri dalam dialog. Dalam kerangka kerja Strategic&Economic Dialogue, AS dan Cina bekerja sama dalam Energy and Cooperation Framework yang sesungguhnya sudah dirintis sejak rezim George W.Bush. Beberapa butir kesepakatannya yang dihasilkan dari kunjungan Obama ke Cina, yang juga disepakati oleh Perdana Menteri Cina Hu Jin Tao, Menteri Keuangan AS Timothy Geithner dan Wakil Perdana Menteri Cina Wang Qishan pada 27-28 Juli 2009 adalah:
2.3.1.1. ISU STRATEGIS DAN GEOPOLITIK

Kerjasama dalam meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan mitigasi perubahan iklim. Kedua negara sepakat bahwa energi dan air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kebutuhan ekonomi dan keamanan nasional. Saat ini, penggunaan energi oleh Cina dan AS memang lebih difokuskan pada penggunaan bahan bakar fosil yang kurang ramah lingkungan. Penggunaan batu bara dalam skala masif misalnya telah dilihat sebagai kebutuhan yang tidak terelakkan oleh kedua negara. Namun keduanya menyadari bahwa ekstraksi dan pengolahan batu bara memiliki dampak ekonomi dan sosial yang destruktif. Kerjasama ini akan mendorong terjadinya komitmen berdasarkan kepada tenggat waktu yang telah disepakati. Dalam hal keamanan energi dan lingkungan hidup, AS dan Cina samasama melihat bahwa pertumbuhan ekonomi dan penduduk mereka menyebabkan kerusakan kolateral terhadap pertumbuhan ekonomi yang tidak hemat energi dan ramah lingkungan. Kerjasama AS-Cina di dalam isu ini tentulah sangat diharapkan oleh kita semua sebagai bentuk komitmen dan partisipasi mereka untuk menyelesaikan masalah globalHilary Clinton telah membawa isu lingkungan dan perubahan iklim menjadi agenda prioritas dalam dialog. Rencana pembentukan Clean Development Mechanism untuk pengembangan ekonomi yang rendah karbon dan ramah lingkungan antara AS dan Cina yang tidak hanya melibatkan pemerintah dan pemerintah (government to government) namun juga rakyat biasa dan perusahaan

8

pelaku bisnis21. Kedua negara juga berhasil merampungkan negosiasi ke dalam a Memorandum of Understanding to Enhance Cooperation on Climate Change, Energy and the Environment (MOU), yang dipimpin oleh Kementerian Luar Negeri AS. • Eksplorasi Pengembangan Tenaga Nuklir untuk Kebutuhan Komersil. Kerja sama akan melibatkan diskusi tingkat tinggi dalam komersialisasi tenaga nuklir. Cina sedang giat mengembangkan tenaga nuklirnnya dalam rangka memenuhi kebutuhan pasokan listrik dalam negeri. Sementara itu, AS sangat menaruh perhatian kepada prosedur keselamatan proyek pengembangan nuclear for peace bagi Cina, sehingga teknologi, manual dan know-how tidak jatuh kepada tangan yang salah dan disalahgunakan. Tiap negara menyumbangkan USD 75 juta untuk proyek pengembangan kendaraan bertenaga listrik dan sumber-sumber energi yang terbaharukan22. Namun Obama sendiri mengkhendaki bahwa perjanjian bilateral ASCina mengenai kerjasama pengamanan kebutuhan energi dan wacana mitigasi perubahan iklim melalui adaptasi model pembangunan ekonomi mereka harus disesuaikan dengan perjanjian multilateral yang disepakati oleh Konferensi UNFCCC 15 di Copenhagen 23 • Kolaborasi dalam Isu Strategis misalnya: 1)Eksplorasi Arktik. Arktik mulai menjadi sebuah bahan diskusi hangat terutama semenjak diskursus pemanasan global telah menciptakan wacana bahwa es disana sedang mencair, sehingga telah tercipta jalur air baru yang ,enghubungkan Amerika Utara dengan lebih mudah untuk masuk ke perairan Eropa dan Asia melalui Rusia, 2) Kedua belah pihak juga membahas permasalahan mengenai pemberantasan terorisme dan beberapa rincian mengenai cara untuk merangkul dan menjalin dialog dengan Iran, Korea Utara, Sudan, dan Pakistan24. AS dan Cina membahas keamanan perbatasan di bagian Barat Cina, dimana banyak penyelundup narkotika dan obat-obatban terlarang datang dari 21 William Cohen dan Maurice R.Greenberg, Smart Power in U.S-China Relations: A Report of the CSIS
Commision on China,diakses dari http:// www.fas.org/sgp/crs/row/RS22777.pdf

22 Joint Press Release on the First Round of the U.S.-China Strategic and Economic Dialogue,
http://www.ustreas.gov/press/releases/tg242.htm

23 Hu Shuli,
The Effect of the Crisis on the U.S.-China Economic Relationship, http://www.roubini.com/briefings/34474.php#44741

24 Pernyataan resmi Menteri Luar Negeri, Hilary Roadham Clinton,
http://www.ustreas.gov/press/releases/tg242.htm

9

Afghanistan dan Myanmar. Ini juga sesungguhnya bisa dijadikan sebagai epilog wicara antara AS dan Cina untuk membahas mengenai masalah di Pakistan, meskipun hingga hari ini agenda dan subjek pmbicaraan demikian belum juga terlaksana, 3) Kedua pihak menekankan pentingnya pengembangan dialog menangani denuklirisasi Korea Utara dalam kerangka kerja Six Party Talks untuk meraih stabilitas dan pedamaian di Semenanjung Korea dan Kawasan Asia Timur. 2.3.1.2. Isu Ekonomi dan Keuangan • Perwujudan pertumbuhan ekonomi yang stabil . Kedua negara telah memitigasi daya finansial dalam negeri dengan menggelar program stimulus yang berperan dalam mengembalikan kepercayaan diri perusahaan domestik terutama bagi perusahaan yang memiliki banyak peran dalam tingkat global. AS dan Cina sepakat untuk lebih meningkatkan kerja sama untuk meningkatkan daya adaptabilitas masing-masing untuk menjaga diri dan memperbaiki perekonomian mereka dari dampak krisis. Untuk mencapai tujuan ini, kedua negeri bersepakat untuk meningkatkan komunikasi dan pertukaran informasi menegani kebijakan ekonomi makro dan akan bekerja sama untuk menyesuaikan permintaan domestik dan harga relatif demi menjaga neraca perdagangan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil. Untuk itu AS berjanji untuk menekan konsumsi dan memperbanyak penyimpanan, sementara Cina berjanji untuk melakukan sebaliknya. Cina berjanji untuk melksanakan kebijakan ekonomi makro yang akan memaksa rakyatnya untuk meningkatkan konsumsi. Adapun prestasi mengesankan yang didapat dari pilar ini adalah bagaimana kedua kekuatan ekonomi terbesar dunia negara sama-sama membicarakan strategi untuk mengeluarkan diri dari jerat krisis. Baik AS dan Cina telah menyiapkan dana sebesar USD 1,4 triliun (dimana AS menyumbangkan USD 787 milyar dan Cina memberikan USD 585,4 milyar untuk program ini) sebagai dana stimulus • Pembentukan Fondasi Struktur Keuangan yang kuat. Kedua negara menyadari bahwa institusi keuangan yang transparan dan berdasarkan kepada keijakan pasar akan mampu menyokong pertumbuhan ekonomi global yang seimbang. Masingmasing negara melihat bahwa reformasi komprehensif terhadp kebijakan keuangan dan sistem pengawasan itu penting untuk menyokong terjadinya sistem keuangan yang lebih stabil. Untuk tujuan ini, AS akan terus memberikan kemudahan bagi BUMN (Government-Sponsored Enterprises) mereka, sementara Cina berjanji akan

10

terus membuka diri terhadap investasi bank asing yang sudah memenuhi ketentuan dan standar pemerintah Cina. • Perdagangan dan Investasi . AS dan Cina melihat dirinya sebagai pihak yang diuntungkan karena terjadinya sistem perdagangan global. Oleh karena itu kedua negara akan terus bekerja sama untuk membuka kesempatan agar terjadi liberalisasi pasar dan menghentikan proteksionisme, karena melihat bahwa liberalisasi pasar telah memberikan efek yang baik bagi diri mereka dan sudah sepatutnya memberikan keuntungan bagi pihak lain pula. AS memberikan konfirmasi kepada Cina bahwa Commitee on Foreign Investment milik AS akan bersikap konsisten dan adil dalam memberikan perlakuan terhadap investasi asing tanpa ada diskriminasi berdasarkan negara asal investasi tersebut25. Cina juga ditekan untuk melakukan hal serupa dan mendorong lebih terbukanya kesempatan bagi perusahaan AS untuk menanamkan sahamnya di Cina. • Intensifikasi dan Utilisasi Institusi Ekonomi dan Keuangan Internasional. AS dan Cina secara bersamaan sangat mengapresiasikan terjadinya dialog bilateral tingkat tinggi di antara kedua negara dan akan terus senantiasa mempertahankan terjadinya dialog, karena telah dianggap membantu memperkaya rasa percaya diri terhadap satu sama lain. Selain itu, kedua negara melihat signifikansi G20 dan berjanji akan memberikan kontribusi sebesar mungkin , agar hasil-hasil yang hendak dicapai oleh Pittsburgh Leaders Summit akan menghasilan hasil yang konkret dan positif. Kedua negara juga setuju untuk memperkuat peran IMF dalam mempromosikan stabilitas keuangan dan pertumbuhan ekonomi. 2.4.Analisis Analisis Penulis akan terbagi atas tiga tingkat pembahasan yakni: bagaimana implementasi S&ED merupakan bentuk wajah baru diplomasi AS terhadap Cina yang mengedepankan konsep smart power sebagai upaya untuk mengamankan kepentingan AS, faktor-faktor apa yang mendorong terjadinya kerjasama tingkat tinggi antara AS dan Cina, dan apa implikasi dari model kerja sama tingkat tinggi ini terhadap hubungan kedua negara, kawasan Asia Timur dan global. Penulis ingin membenarkan asumsi bahwa S&ED adalah bentuk engagement AS kepada Cina dalam usaha kolaborasi penggunaan hard power dan juga soft power. Kita telah setuju bahwa implementasi penggunaan smart power adalah kalkulasi penyesuaian kebutuhan antara menggunakan hard power 25 Henry M.Paulson. Strategic Economic Development: A Brief Report, diakses dari
http://www.foreignaffairs.com/articles/63567/henry-m-paulson-jr/a-strategic-economic-engagement

dan smart power.

11

Pelaksanaannya dilakukan melalui proses berikut: AS mengidentifikasi bahwa Cina memang tengah bangkit sebagai kekuatan ekonomi yang baru dan mengidentifikasi kemunduran kekuatan ekonomi relatif AS khususnya di bawah diskursus krisis finansial global. Di lain pihak, AS menyadari bahwa dirinya memiliki permasalahan dalam konteks perdagangan dengan Cina, dimana AS mengalami defisit perdagangan ke Cina sementara Cina mengalami surplus perdagangan ke AS. Menurut AS, hal ini terjadi karena manipulasi nilai mata uang Renminbi Yuan terhadap perdagangan internasional. Karena secara logika, kenaikan ekspor berbanding dengan jumlah impor mengindikasikan lebih banyaknya mata uang beredar di luar dan dalam negeri. Ketika suatu mata uang lebih banyak beredar, Pemerintah Cina memiliki obligasi untuk merevaluasi nilai Renminbi Yuan, terutama ketika nilai mata uang rendah ini menjadi daya tarik tersendiri (comparative advantage) untuk menjadikan produk Cina lebih laku di pasar internasional26. AS sesungguhnya melihat ini sebagai ancaman terhadap pasar domestiknya. Namun AS tidak melihat jalan konfrontasi untuk menyelesaikan masalah. Dengan metode diplomasi dan dialog damai dan dengan berdasarkan prinsip interdependensi AS terhadap Cina, AS malah mengembangkan kerjasama untuk memfasilitasi miskomunikasi dan friksi perdagangan internasional yang terjadi. Meskipun terlalu dini untuk membahas S&ED, namun S&ED menawarkan jalur untuk AS agar bisa mengupayakan kepentingan nasional AS untuk diagregasikan kepada Cina dan menghimbau Cina untuk lebih terbuka terhadap pasar internasional (dalam isu ekonomi). Strategi ini terlihat bagaimana Obama secara halus sesungguhnya menekan Cina untuk merevaluasi Renminbi Yuan dan meliberalisasi tingkat bunga dan juga meminta Cina untuk lebih terbuka pada investasi asing. Secara implisit AS sudah memainkan peran kepemimpinannya untuk menghimbau Cina yang selama ini dianggap sebagai anomali dari tradisi dan norma internasional, untuk mengembangkan prinsip: with great power comes great responsibility. Bahwa Cina tidak bisa selamanya memikirkan perdagangan internasional berdasarkan kalkulus dan rasionalitas keuntungan pribadi semata, namun juga harus memberikan kontribusi kepada dunia internasional. Karena kemajuan Cina hari ini berdasar pada perdagangan global, maka sudah sepatutnya Cina memberikan sesuatu yang bukan hanya menguntungkan perekonomian dalam negeri namun juga kepada negara lain. Permintaan-permintaan AS ini sesungguhnya menegaskan satu permintaan: pengurangan intervensi pemerintah terhadap ekonomi Cina. Ini menunjukkan bahwa pencapaian kepentingan nasional AS telah dilakukan dengan cara yang cerdas, dan telah menggabungkan konsep hard power melalui constructive engagement 26 Derek Scissors, Deng Undone: The Cost of Halting Market Reforms in China, Jurnal Foreign Affairs,
Vol.88. May/Juni 2009,hal. 45

12

kepada Cina melalui tekanan-tekanan halus di dalam negosiasi-negosiasi permintaan AS dan juga implementasi soft power melalui diplomasi dan dialog27. William Gibson dalam bukunya yang berjudul The Road of Foreign Policy mengatakan bahwa rencana kebijakan luar negeri komprehensif dan baik didasarkan pada pengalaman dalam menjalankan pemerintahan, hal ini relevan bila dikaitkan dengan cara cerdas AS dalam mendeliberasikan smart power untuk menyubstitusikan implementasi hard power di politik internasional. Ini merupakan sebuah prestasi karena perekonomian Cina masih didominasi oleh intervensi negara. Jadi untuk isu ekonomi apa yang dilakukan oleh AS hanyalah mendorong lebih banyak keterbukaan28. Apa saja dampak dari pembentukan S&ED yang baru di bawah pemerintahan Obama? Penulis melihat bahwa Obama sesungguhnya tidak melakukan banyak perubahan dan senantiasa mempertahankan kontinyuitas dari pendekatan yang sudah dibangun oleh Presiden Bush. Prinsip hubungan luar negeri Amerika Serikat dengan Cina di bawah pemerintahan Obama adalah “positif, kooperatif dan komprehensif”. Slogan ini mungkin hanya agak sedikit berbeda dari kebijakan Bush kepada Cina yang bersifat “ konstruktif, apa adanya dan kooperatif”., Namun pendekatan Obama akan menjadi semakin relevan kepada penciptaan stabilitas, khususnya di wilayah Asia Timur dimana platform kebijakan luar negeri Obama di Asia Timur adalah untuk menjalin hubungan diplomatik yang menguntungkan dengan siapa saja, mempertahankan aliansi dengan Jepang namun juga berusaha memenangkan hati dari calon-calon mitra potensial baru AS di kawasan. Henry Kissinger menyatakan bahwa strategi kebijakan luar negeri AS di wilayah Asia Timur harus memberikan AS kesempatan untuk membendung kebangkitan aktor lain di wilayah. Namun AS harus berada di tengah-tengah mereka dan muncul dengan menjalin hubungan kerja sama . Cina bukan untuk dikonfrontasi29. Banyak pihak meramalkan bahwa politik engagement AS dan Cina akan sulit untuk terealisasi, terutama bila membicarakan mengenai masalah dalam negeri di Cina, Obama telah membawa dialog ini ke dalam suatu jenjang yang baru dengan cara: 1) melibatkan Menteri Luar Negeri, Hillary Clinton ke dalam dialog tingkat tinggi, yang berbeda dengan masa Bush dimana hanya menteri Keuangan saja yang dilibatkan ke dalam dialog, 2) melebarkan sayap isu yang dibahas di dalam dialog yakni bukan hanya ekonomi namun juga masalah geopolitik dan keamanan. Penulis berpendapat bahwa pembentukan 27 William Cohen,Op.cit., hal.13 28 Derek Scissors, Op.cit., hal.37-38 29 Henry Kissinger,Does America Need A Foreign Policy, (New York: Simon&Schuster,2001) hal. 136 13

S&ED adalah bentuk respon dan kebijakan Obama kepada Cina yang sifatnya pragmatis, yang ditujukan kepada respon terhadap diskursus kebangkitan Cina sebagai kekuatan hegemoni tandingan AS dan mengenai kategori isu yang dititikberatkan untuk dibahas di dalam dialog, terutama ketika mengetahui bahwa dua agenda terbesar dalam pertemuan ini adalah membahas mengenai defisit neraca perdagangan AS kepada Cina dan juga masalah lingkungan hidup dan perubahan iklim. Penulis melihat bahwa justru melalui dialoglah, AS berhasil menyusupkan nilai-nilai dan tujuan-tujuannya yang dianggap bisa dicapai apabila dilakukan bersama-sama dengan Cina. Dengan pelabelan ekslusif dialog bilateral bernama Strategic&Economic Dialogue, ini merupakan sebuah pengimbuhan, bahwa AS mulai melihat dan mengapresiasikan keberadaan Cina dengan memberikan fasilitas dialog bilateral secara eksklusif dengan melibatkan Presiden dan orang-orang kepercayaannya. Ini menunjukkan bahwa AS sudah mulai menyadari bahwa untuk mempertahankan kepemimpinannya di kawasan Asia Timur dan dunia, AS tidak bisa secara terus-menerus mengidentifikasikan negara yang kemajuannya pesat atau memiliki ideologi yang bersinggungan dengan nilai-nilai yang diembannya, sebagai subjek untuk penerimaan nilainilai demokrasi dan liberalisme. Kedua, bila kita menyimak isu-isu yang dibahas oleh kedua negara secara satu per satu kita akan menemukan isu lingkungan hidup dan perubahan iklim. Komitmen kerjasama dua negara yang tidak meratifikasi Protokol Kyoto dan tidak memiliki kewajiban untuk mengurangi emisi karbon, sekalipun dirinya bukan lagi negara berkembang namun bisa dikategorikan sebagai negara maju, seharusnya menjadi sebuah itikad yang harus diapresiasikan oleh semua pihak

14

BAB III PENUTUP 3.1.KESIMPULAN Strategic &Economic Dialogue (S&ED) yang diprakarsai oleh Pemerintahan Bush dan ditegaskan melalui perluasan lingkup topik pembicaraan oleh Pemerintahan Obama merupakan wajah baru hubungan internasional Amerika Serikat dan Cina khususnya dalam diskursus pasca 9/11 dan krisis finansial global. S&ED adalah bentuk prservasi atas normalisasi hubungan AS-Cina. AS dan Cina adalah dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia saat ini dan kerjasama di antara keduanya dianggap krusial terhadap perkembangan politik internasional dewasa ini. Elaborasi penulis menunjukkan bahwa persepsi negatif antara kedua negara masih melekat: perdebatan dan ketidaksetujuan AS terhadap pelaksanaan politik dalam negeri Cina yang meremehkan nosi perlindungan HAM dan juga bagaimana Cina melihat bahwa dunia internasional tidak seharusnya dikuasai oleh sebuah kekuatan hegemoni, seperti yang selama ini dipraktekkan oleh AS. Namun dialog di antara keduanya mengindikasikan tantangan yang dihadapi dunia lebih penting dan hanya kedua negara yang bisa menyelesaikannya. Selanjutnya kita melihat bahwa S&ED ternyata berfungsi menjadi sebuah celah untuk mengejar beberapa agenda kepentingan AS, khususnya beberapa isu seperti restrukturisasi ketidakseimbangan neraca perdagangan antara AS-Cina dan beberapa isu yang mempertaruhkan kepemimpinan AS dalam hal politik seperti isu penyesuaian kapabilitas diri dalam isu perubahan iklim dan peralihan kepada seumber energi terbarukan yang sesungguhnya memang membutuhkan Cina. Penulis telah membuktikan bahwa penerapan S&ED meskipun terlalu dini untuk dilaksanakan evaluasinya, sesungguhnya adalah implementasi smart power, yang dengan elegannya menggabungkan kemampuan untuk memaksa aktor lain mengikuti kehendak AS untuk meraih kepentingan ekonominya untuk memperbaiki perekonomian dalam negeri dan mengatur perdagangan internasionalnya dengan Cina, dan juga namun dalam kemasan yang sediplomatis mungkin, membiarkan Cina terbuai dengan status sebagai mitra dialog ekslusif namun di saat yang sama AS membiarkan normalisasi hubungannya dengan AS Ini adalah pelajaran bahwa diskusi dan dialog adalah penangkalan dari ketidakpercayaan antara AS 15

dan Cina selama ini dan terbukti kedua negara ini adalah bentuk konsorsium bilateral paling penting di dunia.

DAFTAR PUSTAKA LITERATUR DAN JURNAL ILMIAH Bergsten, C.Fred, A Partnership of Equals: How Washington Should Respond to China’s Economic Challenge, dalam Foreign Affairs, Vol. 88, Mei/Juni 2009 Buzan, Barry,The United States and the Great Powers:World Politics in the Twenty-First Century,(Norfolk: Biddles Ltd, 2004) Joffe, Jossef, The Default Power, dalam Foreign Affairs, 00157120, Vol. 88, Sept/Okt 2009 Kim, Samuel.S, China and The World: Chinese Foreign Relations in the Post-Cold War Era,(Oxford:Westview Press,1994) Kissinger,Henry, Does America Need A Foreign Policy, (New York: Simon&Schuster, 2001) Okimoto, Daniel.L,et.al, A United States Policy for the Changing Realities of East Asia: Toward A New Consensus, (Stanford: Stanford University’s Asia Pacific Research Center,1996) Scissors, Derek, Deng Undone: The Cost of Halting Market Reforms in China, Jurnal Foreign Affairs, Vol.88. Mei/Juni 2009 Tellis, Ashley L. dan Michael Willis, Trade, Interdependence and Security: Strategic Asia 2006-2007,(Seattle: The National Bureau of Asian Research, 2006)

INTERNET http://english.people.com.cn/90001/90776/90883/6815530.html 16

http://business.globaltimes.cn/china-economy/2009-07/451285.html http://www.economist.com/specialreports/displaystory.cfm?story_id=14678579 http://www.time.com/time/world/article/0,8599,1939568,00.html?iid=sphere-inlinebottom http://www.jamestown.org/programs/chinabrief/single/? tx_ttnews[tt_news]=34989&tx_ttnews[backPid]=25&cHash=fb1545df57 http://www.foreignaffairs.com/articles/63567/henry-m-paulson-jr/a-strategiceconomic-engagement http://www.roubini.com/briefings/34474.php#44741 http://www.brookings.edu/testimony/2009/0217_chinas_economy_prasad.aspx
http://usforeignpolicy.about.com/od/backgroundhistory/a/smartpower.htm

17

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->